Uploaded by User27977

SHP-1

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Penelitian
Rumah pada dasarnya adalah sebuah tempat untuk bertahan diri
bagi manusia dari perubahan iklim atau cuaca. Dalam hal ini menurut
Undang – Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Pemukiman
menyebutkan “Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari
permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan
prasarana, saran dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah
layak huni”. Tetapi dalam perkembangannya fungsi rumahpun mengalami
perubahan. Bagi masyarakat, kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal
merupakan hal yang penting untuk di wujudkan dengan sebaik-baiknya. Hal ini
dikarenakan rumah memiliki fungsi penting yaitu sebagai tempat tinggal dan
tempat berlindung. Hal inilah yang mendorong pihak pemerintah dan pihak
swasta yaitu pihak developer atau pengembang perumahan untuk
membangun sebuah perumahan.
Pengembang merupakan seseorang atau tim yang ahli di bidang
pembangungan, yang meliputi segi arsitektur, teknisi, pemasaran, keuangan,
konstrusi, dan manajemen properti. Di indonesia, pengembang pada umumnya
selaku pihak yang mengelola kawasan di suatu lahan yang telah dibebaskan dan
mengembangkan (membangun) lahan tersebut untuk dijadikan kawasan
perumahan lalu menjualnya kepada konsumen.
Seiring dengan perkembangannya, para pengembang perumahan
memerlukan sebuah media dalam memasarkan rumah yang telah mereka
1
buat. Dimana media ini menggunakan sebuah iklan atau brosur yang
mengandung promosi yang juga menampilkan sebuah contoh rumah yang
mereka buat dan kelebihan dari rumah atau perumahan yang telah
dibangun tersebut. Karena iklan dan brosur dianggap sebagai sebuah
sarana bagi masyarakat untuk memperoleh sebuah informasi, dalam
peredarannya iklan dan brosur sangat mudah untuk didapat. Tetapi dalam
perkembangannya banyak dari pihak pengembang perumahan yang
menyalahgunakan media iklan dan brosur tersebut. Dimana para pihak
pengembang tidak memberikan informasi yang sebenarnya didalam
mengiklankan rumah atau perumahan yang mereka buat tersebut. Tujuan
dari hal tersebut adalah tidak lain untuk memikat calon pembeli rumah
supaya tertarik untuk membeli dan pihak pengembang dapat mengambil
keuntungan yang sebesar – besarnya dalam proses jual beli rumah tersebut.
Pemberian informasi yang tidak sesuai tersebut akan menyesatkan
atau membohongi kosumen. Hal ini akan menimbulkan kerugian pada
salah satu pihak yaitu konsumen yang tertipu dengan informasi pada
brosur
atau
iklan
tersebut
yang
ketika
membeli
rumah
tidak sesuai dengan apa yang tercantum dalam iklan atau brosur yang
dibuat oleh pihak pengembang perumahan. Pemberian informasi yang
tidak sesuai dapat berupa fasilitas yang dicantumkan dalam brosur atau
iklan yang disebar tidak terdapat dalam komplek perumahan tersebut.
Seperti contoh iklan dan brosur sebuah rumah atau perumahan yang
menyatakan bahwa daerah rumah atau perumahan tersebut bebas dari
2
banjir tetapi setelah ditempati rumah atau perumahan tersebut tidak sesuai
dengan fakta yang tertera dalam iklan dan brosur.
Pemberian informasi yang tidak sesuai lainnya dapat berupa,
pemberian informasi berupa promosi potongan uang muka yang tidak
sesuai dengan kenyataannya. Dalam beberapa kasus pihak pengembang
dalam promosinya menjanjikan uang muka yang relatif ringan namun pada
kenyataannya pada akhir proses konsumen akan dibebakan biaya uang
muka melebihi ketentuan promosi. Hal ini serupa dengan kejadian yang
disaksikan langsung oleh penulis dalam promosi uang muka pada
Perumahan Griya Surakarta, yang awalnya dalam iklan promosi
menjanjikan uang muka kecil namun saat proses pengurusan pengambilan
perumahan menjadi berbeda.
Menyadari bahwa posisi konsumen untuk memperoleh informasi
yang jujur dan benar dari pelaku usaha sangat lemah, maka pemerintah
telah memberikan sebuah perlindungan terhadap konsumen dalam Undang
– Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK)
yang secara jelas juga tercantum dalam Pasal 9 ayat (1) yang dinyatakan
bahwa
pelaku
usaha
dilarang
menawarkan,
mempromosikan,
mengiklankan suatu barang atau jasa secara tidak benar. Kemudian, dalam
Pasal 9 ayat (2) dan (3) dinyatakan agar barang dan atau jasa sebagaimana
dimaksudkan dalam ayat (1) dilarang untuk diperdagangkan serta dilarang
untuk dilanjutkan proses penawaran, promosi dan pengiklananannya.
Memperhatikan substansi ketentuan Pasal 9 UUPK ini, pada
intinya merupakan bentuk larangan yang tertuju pada perilaku pelaku
3
usaha khususnya pengembang perumahan untuk menawarkan atau
mempromosikan suatu barang dalam arti rumah atau perumahan yang
seolah-olah barang tersebut memiliki standar mutu tertentu atau dalam
keadaan barang itu tidak memiliki cacat tersembunyi. Meskipun larangan
tersebut telah dibuat pemerintah dalam UUPK tetapi dalam praktiknya
masih ada saja pengembang perumahan yang melanggar aturan yang
tercantum dalam UUPK tersebut. Berdasarkan uraian di atas penulis
tertarik
untuk
melakukan
penelitian
lebih
lanjut
yang berjudul
“Perlindungan Hukum Konsumen Perumahan Terhadap Kerugian Yang
Timbul Dari Pemenuhan Hak Atas Promosi”
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah
bentuk
perlindungan
hukum
bagi
konsumen
perumahan?
2. Bagaimanakah bentuk tanggung jawab pengembang perumahan
kepada
kosumen
yang
merasa
dirugikan
dengan
adanya
promosi yang tidak sesuai?
3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimanakah bentuk perlindungan hukum bagi
konsumen perumahan.
2. Untuk mengetahui Bagaimanakah bentuk tanggung jawab pengembang
perumahan kepada kosumen yang merasa dirugikan dengan adanya
promosi yang tidak sesuai.
4
4. Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoretik
1) Hasil skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pengetahuan dan menambah wawasan dalam bidang hukum pidana
maupun perdata, khususnya berkaitan dengan perlindungan
konsumen.
2) Bagi penulis sendiri, penulisan skripsi ini bermanfaat dalam
memenuhi syarat untuk menyelesaikan studi dan meraih gelar
sarjana (S-1) di Universitas Swadaya Gunung Jati.
2. Secara Praktik
1) Dapat dijadikan rujukan dan sebagai pedoman bagi rekan – rekan
mahasiswa dan masyarakat luas untuk memperolah informasi
hukum dan pengetahuan yang lebih dalam mengenai perlindungan
konsumen.
5. Kerangka Teori
Untuk menciptakan kenyamanan dalam berusaha dan untuk
menciptakan pola hubungan yang seimbang antara pengembang (pelaku
usaha) dan konsumen maka perlu adanya hak dan kewajiban masingmasing pihak. Hal tersebut lebih lanjut diatur dalam Undang-Undang
Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Bagi pengembang (pelaku usaha), selain dibebani kewajiban
sebagaimana disebutkan di atas, ternyata dikenakan larangan-larangan
5
yang diatur dalam Pasal 8 sampai dengan 17 Undang-Undang Nomor 8
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal 8 Undang-Undang
Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur larangan
bagi pelaku usaha yang sifatnya umum.
Istilah perlindungan konsumen berkaitan dengan perlindungan
hukum. Oleh karena itu, perlindungan konsumen mengandung aspek
hukum. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan hanya
sekedar fisik, melainkan hak-haknya yang bersifat abstrak. Dengan kata
lain, perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan
yang diberikan hukum tentang hakhak konsumen1
Perlindungan hukum merupakan perlindungan terhadap harkat dan
martabat manusia serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang
dimiliki oleh subjek hukum berdasarkan ketentuan hukum yang bersumber
dari Pancasila dan konsep negara hukum2. Inti sari yang dapat disimpulkan
bahwa hukum perlindungan konsumen merupakan keseluruhan asas dan
kaidah yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan
masalah penyediaan dan penggunaan barang antar penyedia dan
penggunanya3.
Berdasarkan penjelasan diatas, penulis dapat katakana bahwa
perlindungan hukum terhadap konsumen mungkin kurang dapat dipahami
1
Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika: Jakarta, 2011,
halaman 30.
2
Philipus M. Hardjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu: Surabaya, 1987,
halaman 25.
3
Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, Kencana Prenada Media Group: Jakarta, 2013,
halaman 23.
6
sehingga menjadi peluang bagi pengambang untuk melakukan kecurangan
termasuk dalam perihal iklan dan promosi.
6. Metode penelitian
1. Metode Pendekatan
Metode pandekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah yuridis normatif. pendekatan yuridis normatif yaitu penelitian
hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data
sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara mengadakan
penelusuran terhadap peraturan-peraturan dan literatur-literatur yang
berkaitan dengan permasalahan yang diteliti4. Dalam penelitian ini
pendekatan yuridis normatif dipraktekkan dalam bentuk mengkaji
peraturan dan literatur yang berhubungan dengan perlindungan hukum
konsumen.
2. Spesifikasi Penelitian
Dilihat dari sifatnya, penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk
melukiskan tentang sesuatu hal didaerah tertentu dan pada saat
tertentu5. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
tentang manusia, keadaan gejala-gejala lainnya, agar dapat membantu
dalam memperkuat teori-teori lama, atau dalam rangka menyusun
teori – teori baru.
4
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat),
Rajawali Pers. Jakarta, 2001, halaman 13.
5
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, Grafika: Jakrta, 1991, halaman 8.
7
3. Obyek Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan mengenai Perlindungan Hukum
Konsumen akan memiliki obyek sebagian konsumen asosiasi
pengembang perumahan diwilayah kabupaten Cirebon.
4. Jenis dan Sumber Data
1) Data Primer

Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen

Undang – Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Pemukiman
2) Data Sekunder
Bahan berupa semua publikasi tentang hukum meliputi
teks-teks, surat kabar, majalah, situs internet, skripsi, tesis,
disertasi, kamus kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, artikel-artikel
dan bacaan lainnya yang berkaitan dengan judul skripsi.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling
utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka
peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data
yang ditetapkan. Macam-macam teknik pengumpulan data yang
peneliti gunakan dalam penelitian ini diantaranya:
8
1) Penelitian Kepustakaan
Dalam pengumpulan data melalui library research
ini penulis mempelajari dan menganalisa data dan
petunjuk melalui buku-buku ilmiah, maupun dari majalah
serta literatur-literatur lainnya.
2) Penelitian Lapangan (Field Research)
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan
cara mengunjungi langsung objek penelitian. Penelitian ini
dilakukan di salah satu perumahan yang dikembangkan
oleh
asosiasi
pengembang
perumahan
diwilayah
kabupaten cirebon.
6. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh baik dari penelitian kepustakaan maupun
penelitian lapangan diolah secara:
1) Analisa Kualitatif
Yaitu: data yang diperoleh dari hasil penelitian
kemudian diseleksi menurut mutu dan sifat yang berlaku dalam
masyarakat, sehingga diperoleh data-data yang merupakan
kenyataan yang berlaku secara umum yang dapat menjawab
permasalahan yang diajukan.
2) Analisa Deskriptif
Yaitu: data yang diperoleh dianalisa sehingga dapat
menggambarkan
keadaan
yang
sebenarnya
dilapangan.
Sesuai dengan dua cara tersebut diatas maka dapat diperoleh
suatu uraian yang bersifat deskriptif kualitatif, yaitu data-data
9
yang diperoleh, diseleksi menurut mutu dan sifat yang berkaitan
dengan
masalah
yang
akan
dibahas
sehingga
dapat
menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi dilapangan
kemudian permasalahan tadi disimpulkan untuk digunakan
menjawab permasalahan sehingga mempermudah pemahaman
dalam pembahasan tesis ini kemudian hasil penelitian tersebut
diuraikan dalam suatu penuli
7. Lokasi Penelitian
Dalam Penelitian ini, peneliti memilih satu perumahan yang
dikembangkan oleh asosiasi pengembang perumahan diwilayah kabupaten
Cirebon.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan Umum Tentang Pengembang
1. Pengertian Umum Tentang Pengembang
Istilah pengembang berasal dari bahasa asing yaitu developer
yang menurut kamus bahasa inggris artinya adalah pengembang atau
pembangun perumahan. Sementara itu menurut Pasal 5 ayat (1)
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 tahun 1974, disebutkan
pengertian Perusahaan Pembangunan Perumahan yang dapat pula
masuk
dalam
pengertian
developer
atau
pengembang,
yaitu
“Perusahaan Pembangunan Perumahan adalah suatu perusahaan yang
berusaha dalam bidang pembangunan perumahan dari berbagai jenis
dalam jumlah yang besar di atas suatu areal tanah yang akan
merupakan suatu kesatuan lingkungan pemukiman yang dilengkapi
dengan prasarana – prasarana lingkungan dan fasilitas – fasilitas sosial
yang diperlukan oleh masyarakat penghuninya”.
Dalam
Undang
–
Undang
Perlindungan
Konsumen
pengembang masuk dalam kategori sebagai pelaku usaha. Pengertian
Pelaku Usaha dalam Pasal 1 angka 3 Undang – Undang Nomor 8
tahun
1999
tentang
Perlindungan
Konsumen
yaitu:
“Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha,
baik yang berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah
hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-
11
sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi”.
2. Hak, Kewajiban dan Tanggung Jawab Pengembang
Untuk menciptakan kenyamanan dalam berusaha dan untuk
menciptakan pola hubungan yang seimbang antara pengembang
(pelaku usaha) dan konsumen maka perlu adanya hak dan kewajiban
masing-masing pihak. Hal tersebut lebih lanjut diatur dalam UndangUndang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Menurut Pasal 6 Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, meliputi:
1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan
kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang
dan/atau jasa yang diperdagangkan.
2) Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan
konsumen yang beritikad tidak baik.
3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam
penyelesaian hukum sengketa konsumen.
4) Hak untuk merehabilitasi nama baik apabila terbukti secara
hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh
barang/jasa yang diperdagangkan.
Sedangkan Pasal 7 Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen mengatur mengenai Kewajiban
Pengembang (Pelaku Usaha) yang meliputi:
1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
12
2) Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa serta memberi
penjelasan penggunaan, perbaikkan, dan pemeliharaan.
3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan
jujur serta tidak diskriminatif.
4) Menjamin mutu barang/jasa yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu
barang dan/atau jasa yang berlaku.
5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji
dan/atau mencoba barang/jasa tertentu serta member
jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau
yang diperdagangkan.
6) Memberi kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian atas
kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
7) Memberi kompensasi dan/atau jasa yang diterima atau
dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Bagi pengembang (pelaku usaha), selain dibebani kewajiban
sebagaimana disebutkan di atas, ternyata dikenakan larangan –
larangan yang diatur dalam Pasal 8 sampai dengan 17 Undang –
Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal
8 Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen mengatur larangan bagi pelaku usaha yang sifatnya umum
dan secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
13
1) Larangan mengenai produk itu sendiri, yang tidak memenuhi
syarat dan standar yang layak untuk dipergunakan atau dipakai
atau dimanfaatkan oleh konsumen.
2) Larangan mengenai ketersediaan informasi yag tidak benar, tidak
akurat, dan yang menyesatkan konsumen.
Di samping adanya hak dan kewajiban yang perlu diperhatikan
oleh pengembang (pelaku usaha), ada tanggung jawab (Product
Liability) yang harus dipikul oleh pengembang sebagai bagian dari
kewajiban yang mengikat kegiatannya dalam berusaha. Sehingga
diharapkan adanya kewajiban dari pengembang untuk selalu bersikap
hati – hati dalam memproduksi barang/jasa yang dihasilkannya.
Tanggung jawab (Product Liability) dapat didefinisikan
sebagai suatu tanggung jawab secara hukum dari orang/badan yang
menghasilkan
suatu
produk
(producer,
manufacturer),
dari
orang/badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan
suatu produk (processor, assembler) atau mendistribusikan (seller,
distributor) produk tersebut.
Berbicara mengenai tanggung jawab, maka tidak lepas dari
prinsip – prinsip sebuah tanggung jawab, karena prinsip tentang
tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam
perlindungan konsumen. Secara umum prinsip – prinsip tanggung
jawab dalam hukum dapat dibedakan, yaitu:
1) Prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (liability
based on fault), yaitu prinsip yang menyatakan bahwa
14
seseorang baru dapat diminta pertanggungjawabannya
secara hukum jika ada unsur kesalahan yang dilakukannya;
2) Prinsip
praduga
untuk
selalu
bertanggungjawab
(Presumption of libility), yaitu prinsip yang menyatakan
tergugat selalu dianggap bertanggung jawab sampai ia
dapat membuktikan, bahwa ia tidak bersalah, jadi beban
pembuktian ada pada tergugat.
3) Prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab
(Presump of nonliability), yaitu prinsip ini merupakan
kebalikan dari prinsip praduga untuk selalu bertanggung
jawab, di mana tergugat selalu dianggap tidak bertanggung
jawab sampai dibuktikan, bahwa ia bersalah.
4) Prinsip tanggung jawab mutlak (Strict libility), dalam
prinsip ini menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang
menentukan, nemun ada pengecualian pengecualian yang
memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab,
misalnya keadaan force majeur.
5) Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of
liability), dengan adanya prinsip tanggung jawab ini,
pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan
klausula yang merugikan konsumen, termasuk membatasi
maksimal tanggung jawabnya. Jika ada pembatasan, maka
15
harus
berdasarkan
pada
perundang-undangan
yang
berlaku.6
Tanggung jawab pelaku usaha atas kerugian konsumen dalam
Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen, diatur mulai dari Pasal 19 sampai dengan Pasal 28,
Memperhatikan substansi Pasal 19 ayat (1) Nomor 8 tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen, dapat diketahui bahwa tanggung
jawab pelaku usaha meliputi :
1) Tanggung jawab ganti kerugian atas kerusakan,
2) Tanggung jawab ganti kerugian atas pencemaran,
3) Tanggung jawab ganti kerugian atas kerugian konsumen.7
Berdasarkan hal ini, maka adanya produk barang dan/atau jasa
yang
cacat
bukan
merupakan
satu
–
satunya
dasar
pertanggungjawaban pelaku usaha. Hal ini berarti, bahwa tanggung
jawab pelaku usaha meliputi segala kerugian yang dialami konsumen.8
Penerapan konsep product liability ternyata tidak mudah,
dalam sistem pertanggungjawaban secara konvensional, tanggung
gugat produk didasarkan adanya wanprestasi (default) dan perbuatan
melawan hukum (fault). Berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata,
konsumen yang menderita kerugian akibat produk barang/jasa yang
cacat bisa menuntut pihak produsen (pelaku usaha) secara langsung.
Tuntutan tersebut didasarkan pada kondisi telah terjadi perbuatan
6
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Gramedia, Jakarta, 2010, hal 58.
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Raja Grafindo, Jakarta, 2004,
hal 125.
8
Ibid, hal 125.
7
16
melawan
hukum.
Atau
dengan
kata
lain,
konsumen
harus
membuktikan terlebih dahulu kesalahan yang dilakukan oleh pelaku
usaha.
Langkah pembuktian semacam itu sulit dilakukan karena
konsumen berada pada kondisi yang sangat lemah dibandingkan
dengan posisi pelaku usaha. Disamping sulitnya pembuktian,
konsumen
nantinya juga sulit
mendapatkan hak
ganti
rugi
(kompensasi) atas pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha.
Oleh karena itu, diperlukan adanya penerapan konsep strict
liability (tanggung jawab mutlak), yaitu bahwa produsen seketika itu
juga harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen
tanpa mempersoalkan kesalahan dari pihak produsen.9 Jika dicermati
sebenarnya UU Perlindungan Konsumen mengadopsi konsep strict
liability. Dalam pasal 19 ayat (1) UU Perlindungan Konsumen
disebutkan bahwa “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan
ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, atau kerugian yang diderita
konsumen akibat mengkonsumsi barang/jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan”.
Sedangkan
Pasal
28
Undang
–
Undang
Perlindungan Konsumen menyatakan “Pembuktian terhadap ada atau
tidaknya unsur dalam gugatan ganti rugi sebagaimana dimaksud
dalam pasal 19, pasal 22, dan pasal 23, merupakan beban dan
tanggung jawab pelaku usaha.”
9
N.H.T. Siahaan, Hukum Konsumen:Perlindungan Konsumen dan Tnaggung Jawab Produk,
Panta Rei, Jakarta, 2005, hal 15.
17
Lebih lanjut apabila membicarakan mengenai tanggung jawab
developer maka hal tersebut berkaitan dengan tanggung jawab moral
pengembang kepada konsumennya. Pada umumnya pengembang yang
bernaung dalam Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI)
memiliki tanggung jawab moral terhadap konsumen. Tanggung jawab
moral ini terangkum dalam kode etik Persatuan Perusahaan Real
Estate Indonesia yang dikenal dengan “Sapta Brata”. Adapun isi
dari Sapta Brata adalahal sebagai berikut:
1) Anggota Real Estate Indonesia dalam melaksanakan
usahanya senantiasa berlandaskan pada Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
2) Anggota Real Estate Indonesia dalam melaksanakan
usahanya senantiasa mentaati segala undang-undang
maupun peraturan yang berlaku di Indonesia.
3) Anggota Real Estate Indonesia dalam melaksanakan
usahanya,
senantiasa
menjaga
keselarasan
antara
kepentingan usahanya dengan kepentingan pembangunan
bangsa dan negara.
4) Anggota Real Estate Indonesia dalam melaksanakan
usahanya,
senantiasa
menempatkan
dirinya
sebagai
perusahaan swasta nasional yang bertanggung jawab,
menghormati dan menghargai profesi usaha real estate dan
menjunjung tinggi rasa keadilan, kebenaran dan kejujuran.
18
5) Anggota Real Estate dalam melaksanakan usahanya,
senantiasa menjunjung tinggi AD/ART Real Estate
Indonesia
serta
memegang
teguh
disiplin
dan
solidaritas organisasi.
6) Anggota Real Estate dalam melaksanakan usahanya,
dengan sesama pengusaha senantiasa saling menghormati,
menghargai, dan saling membantu serta menghindarkan
diri dari persaingan yang tidak sehat.
7) Anggota Real Estate Indonesia dalam melaksanakan
usahanya,
senantiasa
memberikan
pelayanan
pada
masyarakat dengan sebaik – baiknya.
Tujuh kode etik tersebut merupakan pedoman bagi seluruh
pengembang anggota Real Estate Indonesia. Para pengembang
anggota Real Estate Indonesia secara organisatoris tunduk pada
AD/ART Real Estate Indonesia terutama kode etik “Sapta Brata”.
Dalam Pasal 7 misalnya, mewajibkan anggota Real Estate Indonesia
untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Hal
ini dapat diartikan bahwa dalam melaksanakan kegiatannya terutama
dalam menawarkan rumah kepada konsumen, developer senantiasa
memberikan pelayanan yang baik dan tidak merugikan konsumen.
19
2. Tinjauan Umum Tentang Konsumen dan Pengembang
1. Pengertian Konsumen
Menurut ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang – Undang Nomor
8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dijelaskan pengertian
konsumen sebagai berikut, “Konsumen adalah setiap orang pemakai
barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi
kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup
lain dan tidak untuk diperdagangkan”.
Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper),
tetapi
semua orang (perseorangan
atau
badan usaha)
yang
mengkonsumsi jasa dan/atau barang. Jadi, yang paling penting
terjadinya suatu transaksi konsumen (consumer transaction) berupa
peralihan barang dan/atau jasa, termasuk peralihan kenikmatan dalam
menggunakannya.10
2. Hak dan Kewajiban Konsumen
Sebagai pemakai barang/jasa, konsumen memiliki sejumlah
hak dan kewajiban. Hak konsumen berdasarkan Undang – Undang
Perlindungan Konsumen Pasal 4 adalah sebagai berikut:
1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang/jasa.
2) Hak untuk memilih dan mendapatkan barang/jasa sesuai dengan
nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang/jasa.
10
Shidarta, Op.cit, hal 6.
20
4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa
yang digunakan.
5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif.
8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, atau
penggantian, jika barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.
Hak – hak konsumen yang tersebut diatas berguna untuk melindungi
kepentingan
konsumen,
sebagaimana
tercantum dalam tujuan dari
perlindungan konsumen yaitu mengangkat harkat hidup dan martabat
konsumen. Sehingga diharapkan konsumen menyadari akan hak – haknya
dan pelaku usaha diharuskan untuk memerhatikan apa saja perbuatan –
perbuatan usaha yang dilarang menurut Undang – Undang Perlindungan
Konsumen sehingga tidak ada lagi pelanggaran hak – hak konsumen. Bentuk
– bentuk pelaggaran hak konsumen menurut Undang – Undang Perlindungan
konsumen berupa:
1) Menjual
produk
atau
jasa
yang
dilarang
Menurut pasal 8 ayat (1) Undang – Undang No 8 tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen, produk atau jasa yag dilarang
adalah:
21
a) Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang
dipersyaratkan dalam ketentuan peraturan perundang –
undangan.
b) Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan
jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam
label atau etiket barang tersebut.
c) Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah
dalam hitungan menurut yang sebenarnya.
d) Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan, atau
kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam lael, etiket atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut.
e) Tidak sesuai dengan mutu, tingkat komposisi,proses
pengolahan,
gaya,
mode,
atau
penggunaan
tertentu
sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang
dan/ atau jasa tersebut.
f) Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label,
etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang/jasa
terbut.
g) Tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa atau jangka waktu
penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang
tersebut.
h) Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal,
sebagaimana pernyataan ”halal” yang dicantumkan dalam
label.
i)
Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang
yang memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau
netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat
22
sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan
lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus
dipasang/dibuat.
j)
Tidak
mencantumkan
informasi
dan/atau
petunjuk
penggunaan barang dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Disamping
itu,
pengembang
(pelaku
usaha)
dilarang
memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan
tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas
barang dimaksud (pasal 8 ayat (2) Undang – Undang Perlindungan
Konsumen.
2) Memanipulasi Produk atau jasa. Diatur dalam pasal 9 yang
menjelaskan
bahwa
produk
barang/jasa
yang
ditawarkan,
dipromosikan, atau diiklankan secara tidak benar oleh pelaku usaha
dilarang, seolah barang/jasa itu:
a) Telah memenuhi atau memiliki potongan harga, harga
khusus, standar mutu tertentu, gaya atau mode tertentu,
karakteristik tertentu, sejarah atau guna tertentu;
b) Dalam keadaan baik atau baru;
c) Telah mendapatkan atau memiliki sponsor persetujuan,
perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri-ciri kerja,
atau aksesori tertentu;
d) Dibuat
oleh
perusahaan
yang
mempunyai
sponsor,
persetujuan, atau afiliasi;
e) Barang/jasa tersebut tersedia;
f) Barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;
23
3) Informasi yang menyesatkan. Berdasarkan Undang – Undang No 8
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pasal 10 kurang lebih
menyatakan bahwa pelaku usaha yang menawarkan barang/jasa
untuk diperdagangkan, dilarang menawarkan, mempromosikan,
mengiklankan, atau membuat pernyataan yang tidak benar atau
menyesatkan. Diatur dalam pasal 10 Undang – Undang No 8 tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen, pengembang (pelaku usaha
yang menawarkan barang/jasa untuk diperdagangkan, dilarang
menawarkan,
mempromosikan,
mengiklankan,
atau
membuat
pernyataan yang tidak benar dan menyesatkan mengenai:
a) harga atau tarif suatu barang/jasa;
b) kegunaan suatu barang/jasa;
c) kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu
barang/jasa;
d) tawaran
potongan
harga
atau
hadiah
menarik
yang
ditawarkan;
e) bahaya penggunaan barang/jasa.
4) Cara obral atau lelang yang mengelabui/menyesatkan konsumen
yang selanjutnya diatur dalam pasal 11 Undang – Undang No 8
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dalam hal:
a) menyatakan barang/jasa tersebut seolah-olah telah memenuhi
standar mutu tertentu;
b) menyatakan
barang/jasa
tersebut
seolah-olah
tidak
mengandung cacat tersembunyi;
c) tidak berniat untuk menjual barang yang ditawarkan
melainkan dengan maksud untuk menjual barang lain;
24
d) tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu atau jumlah
yang cukup dengan maksud menjual barang yang lain;
e) tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam
kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup dengan maksud
menjual jasa yang lain;
f) menaikkan harga atau tarif barang/jasa sebelum melakukan
obral.
5) Pemberian hadiah dalam rangka promosi suatu barang/jasa.
Diatur dalam pasal 13 ayat (1) dan pasal 14 Undang – Undang No 8
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dimana dua pasal
tersebut melarang pelaku usaha dalam menawarkan barang/jasa yang
ditujukan untuk diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui
cara undian dilarang untuk:
a) Tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang
dijanjikan;
b) Mengumumkan hasilnya tidak melalui media masa;
c) Memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;
d) Mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang
dijanjikan.
6) Melarang pelaku usaha dalam menawarkan barang/jasa untuk tidak
menepati pesanan dan tidak menepati janji atas suatu pelayanan atau
prestasi (pasal 16 Undang – Undang No 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen). Sedangkan kewajiban konsumen
dalam Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen Pasal 5, adalah sebagai berikut:
25
a) Membaca
dan
mengikuti
petunjuk
pemakaian
dan
pemanfaatan barang/jasa. Tujuannya adalah untuk menjaga
keamanan dan keselamatan bagi konsumen itu sendiri.
b) Beritikad
baik
dalam
melakukan
transaksi
pembelian
barang/jasa. Itikad baik sangat diperlukan ketika konsumen
akan bertransaksi
c) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
d) Mengikuti upaya penyelesaian hokum sengketa perlindungan
konsumen secara patut. Ketika dirasa ada keluhan terhadap
barang/jasa yang telah didapat, konsumen perlu secepatnya
menyelesaikan masalah tersebut dengan pelaku usaha.
26
BAB III
DESKRIPSI VARIABEL PENELITIAN
1. Ketentuan Umum Perlindungan Konsumen
1. Pengertian Perlindungan Konsumen
Berdasarkan Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindunan Konsumen Pasal 1 angka 1 menerangkan mengenai pengertian
dari perlindungan konsumen, adalah: segala upaya yang menjamin adanya
kepastian
hukum
untuk
memberi
perlindungan
kepada
konsumen.
2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Upaya perlindungan konsumen di Indonesia didasarkan pada asas
yang diyakini memberikan arahan dan implementasinya di tingkatan praktis.
Berdasarkan Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen Pasal 2, ada 5 (lima) asas perlindungan konsumen yaitu:
1) Asas Manfaat
2) Asas Keadilan
3) Asas Keseimbangan
4) Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
5) Asas Kepastian Hukum
Perlindungan konsumen sendiri menurut Undang – Undang Nomor
8 Tahun 1999, bertujuan untuk:
1) Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen
untuk melindungi diri;
27
2) Mengangkat
harkat
dan
martabat
konsumen
dengan
cara
menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan/atau
jasa;
3) Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalm memilih, menentukan
dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen
3. Tanggung Jawab Produk
Berbicara tentang perlindungan konsumen sama halnya dengan
membicarakan tanggung jawab produsen atau tanggung jawab produk,
karena pada dasarnya tanggung jawab produsen dimaksudkan untuk
memberikan perlindungan kepada konsumen.
Pengertian tanggung jawab produk sendiri adalah tanggung
jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya ke dalam
peredaran, yang menimbulkan atau menyebabkan kerugian karena
cacat yang melekat pada produk terebut.
Pertanggungjawaban yang diberikan oleh pelaku usaha
terhadap produk – produk yang dihasilkan harus sesuai dengan prinsip
pertanggungjawaban produk yang dikenal dalam dunia hukum.
Khususnya bisnis, yaitu sebagai berikut :
1) Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan,
2) Prinsip praduga untuk selalu bertanggung jawab,
3) Prinsip praduga untuk selalu tidak bertanggung jawab,
4) Prinsip tanggung jawab mutlak.
Prinsip – prinsip tanggung jawab produk terus berkembang,
dengan berkembangnya pemikiran dan kebutuhan mencari prinsip dan
28
tanggung jawab produk yang dapat memberikan perlindungan yang
lebih baik lagi bagi konsumen.
2. Promosi Iklan dan Brosur
1. Pengertian Promosi Iklan dan Brosur
Promosi iklan adalah segala bentuk pesann yang bersifat
membujuk tentang suatu produk yang disampaikan lewat media dan
dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal serta ditujukan kepada
sebagian atau seluruh masyarakat. Sedangkan periklanan adalah
keseluruhan
proses
yang
meliputi
penyiapan,
perencanaan,
pelaksanaan, dan penyampaian iklan.
Dengan demikian jelas iklan merupakan suatu komunikasi.
Iklan melibatkan produsen sebagai komunikator. Fisik iklan itu sendiri
sebegai unsur pesan. Media sebagai saluran dan khalayak sebagai
publik yang ditujunya. Sedangkan brosur adalah terbitan tidak berkala
yang dapat terdiri satu hingga sejumlah kecil halaman, tidak terkait
dengan terbitan lain dan selesai dalam sekali terbit. Halamannya
sering dijadikan satu (antara lain dengan strapler, benang, atau kawat)
biasanya menggunakan sampul, tapi tidak menggunakan jilid
keras.
Brosur atau pamflet memuat informasi atau penjelasan tentang
suatu produk, layanan, fasilitas umum, profil perusahaan, sekolah,
atau dimaksudkan sebagai sarana beriklan. Informasi dalam brosur
ditulis dalam bahasa yang ringkas, dan dimaksudkan mudah dipahami
29
dalam waktu singkat. Brosur juga didesain agar menarik perhatian,
dan dicetak di atas kertas yang baik dalam usaha membangun citra
yang baik terhadap layanan atau produk tersebut.
Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa brosur adalah
salah satu jenis dari iklan. Karena brosur digunakan juga sebagai
sarana beriklan dalam menyampaikan informasi dari suatu barang dan
jasa itu. Selain itu brosur mempunyai unsur yang sama dengan iklan.
Atau brosur dapat disebut juga dengan iklan.
3. Dasar Hukum Perlindungan Konsumen Terhadap Promosi
1. Tinjauan Tentang Promosi yang Menyesatkan
Belum terdapatnya undang – undang yang secara khusus
mengatur promosi dalam periklanan, menyebabkan pengertian
promosi yang bersifat baku dan mencakup semua aspek periklanan
belum dapat ditentukan dengan tegas, sehingga untuk mengetahui
pengertian tentang promosi dalam periklanan harus dilihat pada
berbagai pendapat yang masing – masing memiliki tinjauan yang
berbeda.
Promosi dianggap sebagai kegiatan bisnis yang bertujuan
untuk menarik perhatian masyarakat (konsumen) terhadap produk
yang dipromosikan. Sehingga pada saat bertransaksi, masyarakat
cenderung untuk memimilih produk yang diingatnya melaui promosi
tersebut.
30
Dalam kenyataannya banyak dari pihak periklanan dan
pengusaha juga tidak jujur dalam memberikan infomasi dari barang
yang promosikan atau memberikan informasi bohong (fraudulent
misrepresentation) merupakan pemberian informasi atau keterangan
yang tidak benar atau bohong dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan pribadi atau kelompok dengan cara yang bertentangan
dengan hukum atau peraturan perundang-undangan. Tentunya, hal
tersebut akan berdampak menimbulkan kerugian kepada konsumen.
Pomosi atau iklan yang menyesatkan (false advertising) adalah
jika representasi tentang fakta dalam iklan adalah salah, yang
diharapkan untuk membujuk pembelian barang yang diiklankan, dan
bujukan pembelian tersebut merugikan pembeli, serta dibuat atas
dasar tindakan kecurangan atau penipuan11.
Promosi iklan menyesatkan tersebut dapat meliputi:
1) Iklan yang mengelabui konsumen tentang barang dari
kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan dan harga, serta tariff,
ketetapan waktu dan jaminan, garansi dari jasa.
2) Iklan yang memuat informasi secara keliru, salah, dan tidak
tepat tentang barang atau jasa.
3) Iklan yang tidak memuat informasi tentang resiko
pemakaian barang.
4) Iklan yang mengeksploitasi tanpa izin tentang suatu
kejadian atau kegiatan seseorang.
11
Milton Handler, Business Tort Case and Materials, Foundation Press: New York, 1972 halaman
475.
31
5) Iklan yang melanggar etika periklanan.
6) Iklan yang melanggar peraturan tentang periklanan.
7) Iklan yang melanggar etika dan peraturan periklanan.12
Dalam praktik bisnis, kerap akan timbul pernyataan palsu yang
tidak sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya, yang
menyesatkan (misleadstatement) atas suatu produk yang dijual atau
iklan yang membohongi konsumen dengan cara mengungkapkan halhal yang tidak benar (false statement), serta mempergunakan opini
subyektif yang berlebihan tanpa didukung fakta (puffery).
Merujuk dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan
bahwa informasi yang disampaikan pelaku usaha kepada konsumen
bukan hanya bertujuan untuk kepentingan promosi penjualan semata,
tetapi lebih dari itu informasi tersebut harus mengandung muatan yang
dikemas secara jujur dan menyesatkan konsumen.
2. Dasar Hukum Perlindungan Konsumen
Perlindungan terhadap kepentingan konsumen pada dasarnya
sudah diakomodasi oleh banyak perangkat hukum sejak lama. Secara
sporadis berbagai kepentingan konsumen sudah dimuat dalam
berbagai undang - undang, antara lain sebagai berikut:
1) Undang-Undang No.3 Tahun 1982 tentang wajib Daftar
Perusahaan.
2) Undang-Undang No.5 Tahun 1985 tentang Perindustrian.
12
Sri Handayani, Aspek Hukum Sertifikasi dan Keterkaitannya Dengan Perlindungan Konsumen,
PT. Citra Aditya Bakti: Bandung, 2003, halaman 10.
32
3) Undang-Undang
No.5
Tahun
1985
tentang
Ketenagalistrikan.
4) Undang-Undang No.14 Tahun 1993 tentang Lalu Lintas
dan angkutanjalan.
5) Undang-Undang No.2 Tahun 1992 tentang Perasuransian.
6) Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
7) Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Lingkungan
Hidup.
Kehadiran Undang – Undang No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen menjadi tonggak sejarah perkembangan
hukum perlindungan konsumen di Indonesia. Diakui, bahwa undangundang tesebut bukanlah yang pertama dan yang terakhir, karena
sebelumnya telah ada beberapa rumusan hukum yang melindungi
konsumen tersebar dalam beberapa peraturan perundang – undangan.
Beberapa pakar menyebutkan bahwa hukum perlindungan
konsumen merupakan cabang dari hukum ekonomi. Alasannya,
permasalahan yang diatur dalam hukum konsumen berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan barang/jasa. Ada pula yang mengatakan bahwa
hukum konsumen digolongkan dalam hukum bisnis atau hukum
dagang karena dalam rangkaian pemenuhan kebutuhan barang/jasa
selalu berhubungan dengan aspek bisnis atau transaksi perdagangan.
Dengan diundangkannya masalah perlindungan konsumen
dimungkinkan dilakukannya pembuktian terbalik jika terjadi sengketa
antara konsumen dan pelaku usaha. Konsumen yang merasa haknya
33
dilanggar bias mengadukan dan memproses perkaranya secara hukum
di badan penyelesaian sengketa konsumen (BPSK) yang ada di Tanah
Air.
34
Download