Uploaded by User52528

Contoh perencanaan tenaga kerja

advertisement
PERENCANAAN TENAGA KERJA
PROVINSI SULAWESI BARAT
PERENCANAAN TENAGA KERJA PROVINSI SULAWESI BARAT TAHUN 2012-2016
TAHUN 2012-2016
ISBN : 978-602-7536-12-8
Kerjasama :
Pusat Perencanaan Tenaga kerja
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
Dengan
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat
Tahun 2012
ISBN : 978-602-7536-12-8
PERENCANAAN TENAGA KERJA
PROVINSI SULAWESI BARAT
TAHUN 2012-2016
YA
TI KAR MUKTITA
MA
KAR
MA
Kerjasama :
Pusat Perencanaan Tenaga kerja
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
Dengan
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat
Tahun 2012
PERENCANAAN TENAGA KERJA
PROVINSI SULAWESI BARAT TAHUN 2012-2016
Diterbitkan oleh :
Pusat Perencanaan Tenaga Kerja
Sekretariat Jenderal
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Jln. Jenderal Gatot Subroto Kav. 51 Jakarta Selatan 12950
Telepon : 021-5270944
Fax
: 021-5270944
Website : http://pusatptk.depnakertrans.go.id
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT PERENCANAAN TENAGA KERJA
Dalam rangka pelaksanaan amanat pasal 7 Undang – Undang
Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Jo. Peraturan Pemerintah
Nomor 15 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh Informasi
Ketenagakerjaan dan Penyusunan serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga
Kerja, bahwa Perencanaan tenaga kerja baik dalam lingkup kewilayahan
(nasional, provinsi dan kabupaten/kota) maupun lingkup sektoral/sub
sektoral (sektoral/sub sektoral nasional, sektoral/sub sektoral provinsi,
sektoral/sub sektoral kabupaten/kota), dijadikan acuan dan pedoman dalam
pembangunan
ketenagakerjaan
ditingkat
Nasional,
Provinsi,
Kabupaten/Kota, Sektoral/Sub Sektoral Provinsi, dan Sektoral/Sub Sektoral
Kabupaten/Kota. Sebagai pelaksanaan ke dua peraturan tersebut
dituangkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
Nomor :PER. 16/MEN/XI/2010 tentang Perencanaan Tenaga Kerja Makro.
Masalah utama ketenagakerjaan diantaranya adalah besarnya
pengangguran terbuka, jumlah setengah penganggur yang sangat besar,
serta masalah lain seperti rendahnya kualitas angkatan kerja, rendahnya
produktivitas kerja, dan rendahnya kesejahteraan pekerja, sehingga bersifat
multi dimensional antara berbagai faktor ekonomi, faktor sosial, dan faktor
lainnya. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang komprehensif dan multi
dimensi. Untuk itu, maka diperlukan suatu Perencanaan tenaga kerja yang
dapat dijadikan acuan oleh seluruh pemangku kepentingan di Provinsi
Sulawesi Barat.
Dengan tersusunnya Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi
Barat Tahun 2012-2016, maka dasar pembangunan yang berpihak pada
penciptaan perluasan kesempatan kerja (pro job) sudah semakin jelas dan
terarah, khususnya dalam menghadapi masalah pengangguran, penciptaan
kesempatan kerja, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.
Namun demikian, mengingat permasalahan ketenagakerjaan merupakan
permasalahan bersama, maka diperlukan upaya kolektif dari seluruh
| iii
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
pemangku kepentingan
(stakeholder) yang ada di ProvinsiSulawesi
BaratUntuk itu dalam penyusunan kebijakan, strategi dan program
pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan maka pemerintah
daerah harus berpedoman pada Perencanaan Tenaga Kerja untuk
mengatasi permasalahan ketenagakerjaan yang ada di ProvinsiSulawesi
Barat.
Akhirnya kami menyambut gembira dan memberikan penghargaan
yang setinggi – tingginya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat atas
tersusunnya buku Perencanaan Tenaga Kerja ini.
Jakarta,
Juni 2012
Kepala Pusat
Perencanaan Tenaga Kerja,
SYARIFUDDIN SINAGA, SH
NIP 19561118 197703 1 001
iv
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Kata Pengantar
Kepala Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Provinsi Sulawesi Barat
Tersusunnya Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat
Tahun 2012-2016 merupakan hasil kerjasama antara Pusat Perencanaan
Tenaga Kerja, Sekretariat Jenderal Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI dengan DinasTenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi
Sulawesi Barat Proses penyusunannya dimulai dari pembinaan Tim
Penyusun, kemudian dilaksanakan penyusunan dan asisteni dari Pusat
Perencanaan Tenaga Kerja, Setjen Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI.
Perencanaan Tenaga Kerja (PTK) Provinsi Sulawesi Barat Tahun
2012-2016 ini memuat perkiraan penduduk usia kerja, angkatan kerja,
kesempatan kerja sektoral serta kebijakan dalam penciptaan kesempatan
kerja. Angka-angka perkiraan dalam buku ini telah disesuaikan berdasarkan
data dan informasi mutakhir, dengan menggunakan berbagai asumsi
perkembangan
ekonomi
Provinsi
Sulawesi
Barat
dan
perkiraan
ketenagakerjaan, khususnya perkiraan penganggur terbuka.
Perencanaan yang dimuat dalam PTK Provinsi Sulawesi Barat ini
merupakan rencana indikatif yang digunakan untuk pengembangan
ketenagakerjaan secara umum. Oleh karena itu, angka-angka yang dimuat
dalam buku rencana tenaga kerja ini dapat dievaluasi dan disesuaikan
dengan perkembangan nyata yang terjadi.
Kami menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan dalam
buku ini, yang diakibatkan berbagai keterbatasan yang ada. Untuk itu kami
mengharapkan saran konstruktif dari pengguna dan pembaca serta seluruh
|
v
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
pihak yang terkait guna penyempurnaan di masa yang akan datang. Selain
itu kami menyampaikan terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang
berpartisipasi dalam penyusunan PTK Provinsi Sulawesi Barat Tahun 20122016 ini.
Akhirnya kami mengharapkan kiranya Buku PTK Provinsi Sulawesi
Barat Tahun 2012-2016 ini dapat kita gunakan sebaik-baiknya sebagai
acuan dalam pembangunan ketenagakerjaan.
Mamuju, Juni 2012
Kepala Dinas,
Drs. Benyamin YD, M.Pd
vi
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
RINGKASAN EKSEKUTIF
(EXECUTIVE SUMMARY)
Masalah ketenagakerjaan di Provinsi Sulawesi Barat Tahun 20122016 diperkirakan masih akan diwarnai oleh berbagai isu ketenagakerjaan
yang menyangkut penganggur terbuka, setengah penganggur, pekerja tidak
dibayar, pekerja anak, kualitas keterampilan angkatan kerja, perluasan
kesempatan kerja, penegakan hukum ketenagakerjaan, pemogokan kerja,
perselisihan hubungan industrial, produktivitas tenaga kerja, serta
kesejahteraan pekerja. Kondisi lingkungan strategis, baik dari dalam
maupun luar negeri, diperkirakan akan ikut mempengaruhi secara signifikan
berbagai isu ketenagakerjaan tersebut di atas.
Agar isu dan tantangan ketenagakerjaan tersebut di atas tidak
berkembang menjadi permasalahan ketenagakerjaan yang kompleks, maka
diperlukan konsep pembangunan ketenagakerjaan yang holistik dan
komprehensif. Adapun pedoman yang dibutuhkan adalah Rencana Tenaga
Kerja Provinsi (RTKP) Tahun 2012-2016. Hal ini telah diamanatkan Pasal 7
Ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
Jo Peraturan Pemerintah No 15 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh
Informasi Ketenagakerjaan Dan Penyusunan Serta Pelaksanaan
Perencanaan Tenaga Kerja, Jo Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI Nomor PER.16/MEN/XI/2010 tentang Perencanaan Tenaga
Kerja Makro.
Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Sulawesi Barat menunjukkan
bahwa jumlah penduduk usia kerja pada tahun 2010 berjumlah 744.721
orang, dan menjadi 763.317 orang pada tahun 2011. Dari jumlah tersebut
angkatan kerja berjumlah 532.171 orang dan menjadi 551.631 orang pada
tahun 2011. Kemudian jumlah penduduk yang bekerja pada tahun
yangsama adalah 514.867 orang dan 536.048 orang, sedangkan jumlah
penganggur terbuka pada tahun yang sama sebanyak 17.304 orang dan
15.583 orang, dengan tingkat penganggur terbuka 3,25 persen, dan
turunmenjadi 2,82 persen. Berarti kondisi penganggur terbuka mengalami
penurunan.
|
vii
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Untuk menekan jumlah pengangguran terbuka diperlukan berbagai
upaya yaitu dengan berbagai kebijakan dan program baik di bidang
perekonomian maupun ketenagakerjaan perlu dilaksanakan secara
konsisten, dengan upaya dimaksud diharapkan jumlah penganggur terbuka
dapat mengalami penurunan setiap tahunnya. Oleh sebab itu, penyusunan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat akan menggerakkan
keterkaitan antara pembangunan perekonomian dengan pembangunan
ketenagakerjaan. Dari hasil penyusunan Rencana Tenaga Kerja Provinsi
Sulawesi Barat menunjukkan bahwa perekonomian Sulawesi Barat pada
tahun 2012-2016 diperkirakan mampu tumbuh sebesar 7,88 persen pada
tahun 2012 menjadi sebesar 9,31 persen pada tahun 2016. Pertumbuhan
ekonomi yang positif tersebut juga diperkirakan akan mendorong penciptaan
kesempatan kerja, sehingga jumlah kesempatan kerja pada tahun2012
diperkirakan sebesar 547.682 orang menjadi sebesar 602.948 orang pada
tahun 2016, sehingga pada tahun 2012-2016 akan ada pertambahan
kesempatan kerja sebanyak 55.266 orang. Peningkatan penciptaan
kesempatan kerja ini akan berdampak positif terhadap tingkat pengangguran
terbuka yang diperkirakan pada tahun 2016 menurun menjadi sebesar 2,22
persen.
Untuk mencapai usaha tersebut, kebijakan dan program
pembangunan ketenagakerjaan akan dilaksanakan secara konsisten
menyangkut pendayagunaan tenaga kerja, pemerataan kesempatan kerja,
perlindungan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja dan
keluarganya. Kebijakan dan program pembangunan ketenagakerjaan
tersebut akan mengarah pada Kebijakan dan Program Umum, Daerah dan
Sektoral. Selain itu, dilaksanakan pula kebijakan dan program Pelatihan
Kerja, Penempatan Tenaga Kerja, Hubungan Industrial yang harmonis dan
Pengawasan Ketenagakerjaan.
viii
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PERENCANAAN TENAGA
KERJA …………………………………………...….…………….………...........
KATA PENGANTAR KEPALA DINAS TENAGA KERJA DAN
TRANSMIGRASI PROVINSI SULAWESI BARAT …....……….…….........…
EXECUTIVE SUMMARY …………………………………………...........……..
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..........….
DAFTAR TABEL ……………………………………………………….......…...
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………........…..
v
vii
ix
xiii
xvii
BAB I
PENDAHULUAN ……………………………………….…........….
1.1 Latar Belakang …...……………………………..…..........….
1.2 Maksud dan Tujuan …...…………………….……..............
1.3 Hasil yang Diharapkan ………………………………..........
1.4 Metodologi dan Sumber Data …………….………….........
1.4.1 Metodologi ………………………….………….........
1.4.2 Sumber Data ……………………….………........….
1.5 Pengertian Dasar, Konsep, dan Definisi….………............
1.6 Kerangka Isi …………………………………………............
1
1
4
4
5
5
7
7
9
BAB II
KONDISI KETENAGAKERJAAN PROVINSI SULAWESI
BARAT …………………………………………….…….…......…..
2.1 Kondisi Ekonomi ……...…………………………...…..........
2.2 Penduduk Usia Kerja ………….…………....………............
2.2.1 Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur …
2.2.2 Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
2.2.3 Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin …..
2.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)…...…........….
2.3.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Golongan Umur ……...…………………….........…..
2.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan ……………………..….............
2.3.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin ….…………………….…….................……
2.4 Angkatan Kerja ….…………………………….........….…….
2.4.1 Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur………...
2.4.2 Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan…….
2.4.3 Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin….......…..
|
iii
11
11
15
16
17
19
20
20
22
23
25
25
27
29
ix
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.5
2.6
2.7
BAB III
x
|
Penduduk yang Bekerja…………………………….........….
2.5.1 Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan
Usaha………………………………………….......…
2.5.2 Penduduk yang Bekerja Menurut Golongan Umur
2.5.3 Penduduk yang Bekerja Menurut Tingkat
Pendidikan…………………………………............…
2.5.4 Penduduk yang Bekerja Jenis Kelamin……...........
2.5.5 Penduduk yang Bekerja Menurut Status
Pekerjaan Utama…………………………..........…..
2.5.6 Penduduk yang Bekerja Menurut Jabatan ........….
2.5.7 Penduduk yang Bekerja Menurut Jam Kerja..........
Penganggur Terbuka…………………………….…........….
2.6.1 Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur....
2.6.2 Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan……………………………………........…
2.6.3 Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin........
Produktivitas Tenaga Kerja…..……………………........…..
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN TENAGA
KERJA……………………………………………........................…
3.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja…………………….............
3.1.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Golongan Umur……………………………..........….
3.1.2 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan…………......................………………….
3.1.3 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Jenis Kelamin………………………........…………..
3.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja…….........…
3.2.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Golongan Umur…………….......................
3.2.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Tingkat Pendidikan………….....................
3.2.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Jenis Kelamin……………….....................
3.3 Perkiraan Angkatan Kerja………………………............…..
3.3.1 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan
Umur……………….……………..…………….........
3.3.2 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan ………………………………….......….
3.3.3 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
30
31
33
34
36
37
39
41
42
42
45
47
49
51
51
52
54
57
58
58
60
62
64
64
66
68
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB IV
BAB V
BAB VI
PERKIRAAN KETENAGAKERJAAN 2012-2016 ….…….....…
4.1 Perkiraan Perekonomian Tahun 2012-2016 ………......…
4.2 Perkiraan Kesempatan Kerja …………………….......…….
4.2.1 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan
Usaha …........................…………………………….
4.2.2 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan
Umur ………………………………...........................
4.2.3 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan ………..……………………........……….
4.2.4 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin …………………………………………........
4.2.5 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status
Pekerjaan ………………………………….......…….
4.2.6 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Jabatan……………………………………….......…..
4.2.7 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja
4.3 Perkiraan Produktivitas Tenaga Kerja….…………......…..
71
71
74
74
78
82
84
85
86
87
88
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KESEIMBANGAN
ANTARA PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AKAN TENAGA
KERJA…………………………………….…….….........................
5.1 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
5.2 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan…………………………………………….........…
5.3 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis
Kelamin…………………………………………….........……..
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM
PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN ……….........……….
6.1 Rekomendasi Kebijakan Perekonomian …….……........….
6.2 Rekomendasi Kebijakan Umum …………...……........…....
6.2.1 Kebijakan Pendidikan ……………………........…....
6.2.2 Kebijakan Kesehatan ……………………….......….
6.3 Rekomendasi Kebijakan Penciptaan Kesempatan
Kerja ……………………………………………….......……..
6.3.1 Sektor Pertanian ………………………….......…….
6.3.2 Sektor Pertambangan dan Penggalian …….........
6.3.3 Sektor Industri Pengolahan ………………......…...
6.3.4 Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih…….......………
6.3.5 Sektor Bangunan………………………….........….
6.3.6 Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran….......….
|
91
93
94
96
99
101
105
105
108
109
110
110
111
112
113
113
xi
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.4
6.5
6.6
BAB VII
6.3.7 Sektor Angkutan dan Komunikasi ……….….........
6.3.8 Sektor Lembaga Keuangan, Sewa Bangunan,
Jasa Persewaan & Jasa Perusahaan……......…..
6.3.9 Sektor Pemerintah, Pertahanan & Jasa
Kemasyarakatan ….….....................................….
Rekomendasi Kebijakan Pelatihan Tenaga Kerja…...
6.4.1 Pelatihan Berdasarkan Status Pekerjaan Utama
Rekomendasi Kebijakan Penempatan Tenaga
Kerja……..……………………………………………………..
Rekomendasi Kebijakan Perlindungan Tenaga Kerja.......
6.6.1 Pengawasan Ketenagakerjaan ……………………
6.6.2 Perselisihan Hubungan Industrial dan Program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja..……......................
PENUTUP…………………………………………….......………...
DAFTAR PUSTAKA
xii
|
114
115
115
116
118
122
125
126
128
133
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1.
Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan
Menurut Lapangan Usaha Provinsi Sulawesi Barat
Tahun 2008-2011 (Dalam Miliar Rupiah). ............................. 15
Tabel 2.2.
Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Orang)............................ 17
Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Orang).............. 19
Tabel 2.3.
Tabel 2.4.
Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Orang)............................ 20
Tabel 2.5.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan
Umur Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Dalam
Persen) ................................................................................... 21
Tabel 2.6.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011
(Dalam Persen) ...................................................................... 23
Tabel 2.7.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011
(Dalam Persen) ...................................................................... 24
Tabel 2.8.
Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 27
Tabel 2.9.
Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 29
Tabel 2.10. Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 30
Tabel 2.11. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............... 32
Tabel 2.12. Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............... 34
Tabel 2.13. Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............... 35
Tabel 2.14. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 37
|
xiii
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.15. Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan
Utama Provinsi Sulawesi Barat Tahun 20082011(Orang) ........................................................................... 39
Tabel 2.16. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 40
Tabel 2.17. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 42
Tabel 2.18. Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 44
Tabel 2.19. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Persen) ............ 44
Tabel 2.20. Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............... 46
Tabel 2.21. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011
(Persen).................................................................................. 47
Tabel 2.22. Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2008-2011(Orang)............................. 48
Tabel 2.23. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Persen) ............ 48
Tabel 2.24. Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008-2011 (Juta
Rp./Tenaga Kerja) .................................................................. 49
Tabel 3.1
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan
Umur Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).... 54
Tabel 3.2
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013
(Orang) ................................................................................... 56
Tabel 3.3
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 58
Tabel 3.4
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Golongan Umur Provinsi Sulawesi Barat Tahun 20122013 (Dalam Persen) ............................................................. 60
Tabel 3.5
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Tahun
2012-2013 (Dalam Persen) ................................................... 62
xiv
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 3.6
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Barat Tahun 20122013 (Dalam Persen) ............................................................. 63
Tabel 3.7
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 66
Tabel 3.8
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 68
Tabel 3.9
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis
KelaminProvinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013
(Orang) ................................................................................... 69
Tabel 4.1
Perkiraan Kontribusi dan Pertumbuhan Produk Domestik
Bruto Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (%) ........... 72
Tabel 4.2
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 78
Tabel 4.3
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 81
Tabel 4.4
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013
(Orang) ................................................................................... 83
Tabel 4.5
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 85
Tabel 4.6
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status Pekerjaan
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 86
Tabel 4.7
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jabatan Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang)............................ 87
Tabel 4.8
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 (Orang).............. 88
Tabel 4.9
Perkiraan produktivitas Provinsi Sulawesi Barat Tahun
2012-2013 (Juta Rp./Tenaga Kerja) ...................................... 90
Tabel 5.1
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan
Umur Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 ................. 93
Tabel 5.2
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 ........ 96
Tabel 5.3.
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012-2013 ........................... 97
Tabel 6.1
Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja Menurut Status
Pekerjaan Utama dan Tingkat Pendidikan Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2012-2016 ......................................... 117
|
xv
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 6.2
Kapasitas Lembaga Latihan dan Instruktur Provinsi
Sulawesi Barat Tahun 2011................................................... 117
Tabel 6.3
Tambahan Kesempatan KerjaMenurut Status Pekerjaan
Utama dan Lapangan UsahaTahun 2012-2016 (Dalam
Ribu) ....................................................................................... 123
Tabel 6.4
PerkiraanKebutuhan Tenaga Fungsional Pengawas ............ 127
Tabel 6.5
Perangkat Hubungan Industrial ............................................. 129
Tabel 6.6
Target Penambahan Perangkat Hubungan Industrial ........... 129
Tabel 6.7
PerkiraanTambahan Kebutuhan Tenaga Mediator ............... 130
Tabel 6.8
Upah Minimum Provinsi dan Kebutuhan Hidup Layak
Tahun 2011 ............................................................................ 132
xvi
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Menurut Lapangan Usaha Provinsi Sulawesi
Barat Tahun 2008-2011. ........................................................ 13
| xvii
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tenaga kerja merupakan faktor utama dalam pembangunan
nasional, regional dan sektoral. Provinsi Sulawesi barat dengan penduduk
yang
banyak,
memiliki
potensi
yang
besar
baik
sebagai
pelaku
pembangunan maupun potensi pasar. Dalam rangka upaya mencapai tujuan
pembangunan ketenagakerjaan, berbagai kebijakan, strategi dan program
ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini untuk memberdayakan
dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi,
mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja
yang sesuai dengan kebutuhan pembanguan daerah, sampai saat ini sudah
mulai menunjukan adanya peningkatan, sehingga permasalahan ketenaga
kerjaaan di Provinsi Sulawesi Barat sedikit berkurang. Jumlah penduduk
Provinsi Sulawesi Barat sebanyak 1.158.651 jiwa yang terdiri dari Laki-laki
581.526 orang dan perempuan 577.125 orang. Dari jumlah tersebut,
penduduk yang
masuk
usia kerja sebanyak 744.721 orang dan dari
angka tersebut 532.171 orang merupakan angkatan kerja.
|
1
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Berdasarkan data Sakernas periode Agustus, angkatan kerja di
Provinsi Sulawesi Barat tahun 2008 sebanyak 495.959, tahun 2009
sebanyak 511.144 orang, tahun 2010 sebanyak 532.171 orang dan pada
tahun 2011 jumlahnya bertambah lagi menjadi sebanyak 551.631 orang
jumlah
penganggur
terbuka
periode
tahun
2009-2011
mengalami
penurunan, begitu pula tingkat penganggur terbukanya juga mengalami
penurunan. Penganggur terbuka pada tahun 2009 sebanyak 23.064 orang
dengan tingkat penganggur terbuka (TPT) sebesar 4,51 persen, tahun 2010
menurun menjadi 17.304 orang dengan TPT sebesar 3,25 persen, tahun
2011 angkanya terus mengalami penurunan menjadi 15.583 orang dengan
TPT 2,82 persen (menurun). Meskipun jumlah penganggur tersebut relatif
kecil tetapi secara ekonomi merupakan pemborosan yang sangat mahal
karena mereka tidak mempunyai mata pencaharian namun membutuhkan
biaya untuk hidup sehari-hari.
Adanya penganggur dan setengah penganggur di Provinsi Sulawesi
Barat secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap
kemiskinan, kriminalitas dan masalah-masalah sosial politik yang semakin
meningkat. Untuk mengatasi hal tersebut, maka instansi di provinsi dan
pemerintah kabupaten/kota harus dapat secara cermat membaca aspirasi
yang berkembang, kemudian merespon dan mengakomodasikannya dalam
agenda pemerintah daerah serta menuangkan ke dalam arah kebijakan
serta program pembangunan. Antara lain dengan diluncurkannya Master
Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Tahun 2011-2025 dimana untuk koridor Sulawesi berada dalam area
pengembangan koridor ekonomi sebagai Pusat Produksi dan Pengolahan
Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan
Nasional.
Strategi
utama
mengatasi
penganggur
adalah
penciptaan
kesempatan kerja yang dapat menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya.
Namun untuk menciptakan kesempatan kerja yang banyak ada berbagai
2
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
kendala yang sangat
eksternal.
kompleks baik yang bersifat internal maupun
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
masalah
penciptaan
kesempatan kerja diantaranya adalah masih sulitnya arus masuk investor
baik lokal maupun asing yang ramah terhadap tenaga kerja.
Pentingnya investasi dimaksud di atas karena dapat menjadi faktor
pemicu perekonomian yang penting. Bahkan investasi memiliki pengganda
ekonomi lebih besar dibanding konsumsi, karena daya guna investasi lebih
lama. Dengan fungsi seperti itu, investasi sangat dibutuhkan bagi
pembangunan ekonomi. Setiap daerah/negara berlomba untuk menarik
investor, baik asing maupun domestik, agar mau berinvestasi di wilayahnya.
Berbagai sarana dan kemudahan diberikan dalam rangka menarik investor
tersebut. Dengan keberadaan investor ini diharapakan dapat tercipta
kesempatan
kerja
yang
cukup
besar
guna
mengurangi
tingkat
pengangguran.
Dalam rangka memastikan pembangunan sebagai salah satu upaya
mewujudkan hak-hak dasar rakyat untuk pembangunan yang kondusif
terhadap pengembangan iklim investasi dan pembangunan itu sendiri maka
Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Barat mengembangkan visi ideologis
yang dijadikan sebagai pendekatan pembangunan bahwa pembangunan
harus berporos pada kepentingan sosial-ekonomi kerakyatan.
Dalam mengatasi masalah penganggur diperlukan berbagai upaya
dari berbagai pihak yang terkait termasuk pemerintah daerah, swasta dan
lembaga swadaya masyarakat (misalnya dalam hal pendirian serta
pengelolaan lembaga pendidikan dan pelatihan). Selain itu masih banyak
hal yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah
penganggur di antaranya adalah meningkatkan penciptaan kesempatan
kerja, merumuskan strategi dan arah kebijakan ketenagakerjaan yang tepat,
menyusun perangkat peraturan ketenagakerjaan yang memadai dan lainlain. Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mendukung perumusan
strategi, kebijakan dan program ketenagakerjaan yang tepat adalah dengan
|
3
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
melakukan
penyusunan
perencanaan
tenaga
kerja
daerah
jangka
menengah.
1.2.
Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi
Sulawesi Barat 2012-2016 ini adalah memberikan berbagai informasi
ketenagakerjaan yang diperlukan sehingga dapat digunakan sebagai bahan
perumusan strategi, kebijakan dan program ketenagakerjaan.
Secara rinci tujuan dari penyusunan Perencanaan Tenaga Kerja
Provinsi 2012-2016 ini adalah :
1. Memperkirakan ketersediaan secara kuantitatif jumlah tenaga kerja
dengan berbagai karakteristiknya tahun 2012-2016.
2. Memperkirakan
kebutuhan
tenaga
kerja
tahun
2012-2016
yang
diturunkan berdasarkan permintaan output regional dan sektoral.
3. Memprediksi
angka
pengangguran
yang
dihitung
berdasarkan
perbedaan antara kebutuhan tenaga kerja dan persediaan tenaga kerja
pada periode yang sama.
4. Menyusun rekomendasi kebijakan dan program
terkait masalah
ketenagakerjaan secara regional dan sektoral.
1.3.
Hasil Yang Diharapkan
PTKP 2012-2016 ini di harapkan menjadi dasar bagi perumusan
perencanaan pembangunan ketenagakerjaan daerah yang berbasis empiris,
serta teridentifikasinya potensi tenaga kerja tiap sektor di provinsi Sulawesi
Barat.
4
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
1.4.
Metodologi dan Sumber Data
1.4.1. Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam menyusun PTKP 20122016 ini adalah sebagai berikut :
a.
Tabulasi silang data ketenagakerjaan tahun 2008-2011
sebagai
gambaran
situasi
ketenagakerjaan
dan
merupakan data dasar dalam penyusunan perkiraan.
b.
Menyusun perkiraan persediaan dan kebutuhan tenaga
kerja provinsi Sulawesi Barat. “Manpower Utilization
Approach”
dimana
pada
pendekatan
ini
sangat
diperhitungkan waktu yang digunakan untuk bekerja yang
dinyatakan dalam partisipasinya di pasar kerja.
Untuk memperkirakan Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
dengan menggunakan formula regresi linier :
Y = a + bx
c.
Perkiraan
kebutuhan
penduduk
yang
bekerja
mengunakan “Manpower Requirement Approach” yaitu
metode yang memperkirakan kebutuhan tenaga kerja
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tertentu.
Untuk memperkirakan kebutuhan penduduk yang bekerja
atau
kesempatan
kerja
dengan
menggunakan
pendekatan elastisitas dan regresi linier :
Elastisitas :
Rli = {(Lin/Lio)i/n -1} x 100
Rli
Ei = ------Ryi ={(Yin/Yio)i/n -1} x 100
Ryi
dimana :
Ei
=
Elastisitas tenaga kerja sektor-i
|
5
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Rli =
Laju pertumbuhan kesempatan kerja sektor-i per
tahun (%)
Ryi =
Laju pertumbuhan ekonomi (PDRB) sektor-i
tahunan (%)
Li
=
Jumlah kesempatan kerja sektor-i
Y
=
PDRB sektor-i
n dan o = Masing-masing menunjukkan tahun n dan o
Linear :
Y =
d.
a + bx
Dalam penyusunan persediaan dan kebutuhan tenaga
kerja tersebut data dasar yang dipergunakan adalah data
ketenagakerjaan tahun 2008-2011 dan data ekonomi
tahun 2008-2011.
e.
Perkiraan
persediaan
tenaga
kerja
selanjutnya
ditabulasikan menurut golongan umur dan pendidikan.
f.
Perkiraan
kebutuhan
tenaga
berdasarkan jenis kelamin,
usaha,
status
pekerja,
kerja
ditabulasikan
golongan umur, lapangan
pendidikan
tertinggi
yang
ditamatkan.
g.
Berdasarkan perkiraan persediaan dan kebutuhan akan
tenaga kerja di masa yang akan datang, maka jumlah
penganggur
di
masa
yang
akan
datang
dapat
diperkirakan.
Untuk memperkirakan besarnya persediaan dan kebutuhan
tenaga kerja di masa mendatang, dibuat proyeksi persediaan
dan
kebutuhan
tenaga
kerja
yang
pertumbuhan ekonomi masa mendatang.
6
|
mengacu
pada
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
1.4.2. Sumber Data
Data kependudukan dan statistik ketenagakerjaan
yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari publikasi
hasil survei yang telah dilakukan oleh BPS. Data tersebut
antara lain: sakernas, susenas, supas dan sensus. Data
upah bersumber dari data statistik pengupahan nasional yang
telah dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Instansi
sektoral dan instansi penyedia data dan informasi lain yang
berkaitan dengan ketenagakerjaan.
1.5.
Pengertian Dasar, Konsep, dan Definisi
1. Kebutuhan Tenaga Kerja
Kebutuhan tenaga kerja (kesempatan kerja) adalah jumlah
lapangan kerja dalam satuan orang yang dapat disediakan oleh
seluruh sektor ekonomi dalam kegiatan produksi. Dalam arti
yang lebih luas, kebutuhan ini tidak hanya menyangkut
jumlahnya,
tetapi
juga
kualitasnya
(pendidikan
atau
keahliannya).
2. Persediaan Tenaga Kerja
Persediaan tenaga kerja adalah jumlah penduduk yang sudah
siap untuk bekerja, disebut angkatan kerja (labour force) yang
dapat dilihat dari segi kualitas dan kuantitas.
3. Penduduk Usia Kerja (PUK)
Penduduk Usia Kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke
atas.
|
7
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
4. Angkatan Kerja (AK)
Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (berumur 15 tahun
ke atas) yang selama seminggu sebelum pencacahan, bekerja
atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja; dan
mereka yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan.
5. Bekerja
Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang
dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh
pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak
terputus) dalam seminggu yang lalu
6. Penganggur Terbuka (PT)
Penganggur Terbuka terdiri dari :
a. Mereka yang mencari pekerjaan
b. Mereka yang mempersiapkan usaha
c. Mereka yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak
mungkin dapat pekerjaan
d. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai
bekerja.
7. Tingkat Penganggur Terbuka (TPT)
Tingkat
Penganggur
Terbuka
merupakan
rasio
jumlah
Penganggur Terbuka terhadap jumlah Angkatan Kerja.
8. Setengah Penganggur
Setengah Penganggur adalah kegiatan seseorang yang bekerja
kurang dari 35 jam per minggu.
9. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
8
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah perbandingan antara
jumlah angkatan kerja dengan jumlah seluruh penduduk usia
kerja
10. Jenis Kegiatan/Lapangan Usaha
Jenis Kegiatan/Lapangan Usaha adalah bidang kegiatan dari
pekerjaan/usaha/perusahaan/instansi
di
mana
seseorang
bekerja seperti digolongkan dalam Klasifikasi Lapangan Usaha
Indonesia(KLUI)/Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLUI).
11. Produk Domestik Bruto (PDB)
a. Menurut Pendekatan Produksi, PDB adalah jumlah nilai
barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi
di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu
(biasanya 1 tahun)
b. Menurut Pendekatan Pengeluaran, PDB merupakan jumlah
balas jasa yang diterima faktor-faktor produksi yang ikut serta
dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu
tertentu.
1.6.
Kerangka Isi
Penulisan Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi 2012-2016 ini
dibagi dalam 7 (tujuh) bab, yaitu :
BAB I
:
PENDAHULUAN
BAB II
:
KONDISI KETENAGAKERJAAN
BAB III
:
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN
TENAGA KERJA
BAB IV
:
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KEBUTUHAN
AKAN TENAGA KERJA
|
9
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB V
:
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KESEIMBANGAN
ANTARA PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AKAN
TENAGA KERJA
BAB VI
:
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM
PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN
BAB VII :
10
|
PENUTUP
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB II
KONDISI KETENAGAKERJAAN
PROVINSI SULAWESI BARAT
2.1
Kondisi Ekonomi
Perekonomian
Sulawesi Barat
pada
tahun
2011
mengalami
pertumbuhan sebelumnya, yaitu sebesar 10,41 persen. Pertumbuhan
tersebut didukung oleh beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan
positif ditahun 2011, yakni pertumbuhan tertinggi berturut-turut sektor listrik
gas dan air yang tumbuh mencapai 34,54 persen, sektor jasa-jasa sebesar
17,96 persen, sektor industri pengolahan sebesar 15,30 persen, sektor
pengangkutan dan komunikasi sebesar 12,74 persen, sektor pertambangan
dan penggalian sebesar 1,29 persen, sektor konstruksi sebesar 10,42
persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,93 persen, sektor
pertanian, perikanan dan kehutanan sebesar 7,87 persen, dan sektor
terendah yakni sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahan yang
tumbuh sebesar 3,36 persen, sumber pertumbuhan yang semakin
|
11
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
berimbang, sebagaimana tercermin pada peran investasi dan ekspor yang
meningkat.
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Barat tahun 2011 yang diukur dari
kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat sebesar
10,41 persen terhadap tahun 2010. Pada tahun ini seluruh sektor ekonomi di
Sulawesi Barat mengalami pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan
tertinggi di sektor listrik, gas, dan air bersih yang tumbuh mencapai 34,54
persen dan terendah di sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
yang hanya tumbuh 3,36 persen.Besaran PDRB Sulawesi Barat pada tahun
2011 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 12.895,36 milyar sedangkan
atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 5.238,36 milyar, sehingga
tingkat inflasi pada level harga produsen sebesar 6,30 persen.Tiga sektor
utama penggerak ekonomi di Sulawesi Barat adalah sektor pertanian; sektor
jasa-jasa; dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran secara bersamasama berperan sebesar 79,09 persen tahun 2011. sektor pertanian memberi
kontribusi 48,50 persen, sektor jasa-jasa 17,62 persen, dan sektor
perdagangan, hotel, dan restoran 12,97 persen Sisi lain yang menarik untuk
dicermati adalah besarnya sumbangan masing-masing sektor dalam
menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2011. Sektor-sektor
ekonomi yang nilai nominalnya besar tetap akan menjadi penyumbang
terbesar bagi pertumbuhan, walaupun pertumbuhan sektor bersangkutan
relatif kecil. Sektor listrik, gas dan air bersih, mengalami pertumbuhan
tertinggi, namun hanya memberikan kontribusi sebesar 0,17 persen
terhadap total pertumbuhan 10,41 persen. Sebaliknya sektor pertanian
hanya tumbuh 7,87 persen tetapi tetap menjadi sumber utama penyumbang
pertumbuhan ekonomi sebesar 3,72 persen dan yang sebagai penyumbang
terbesar kedua yangmendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat
tahun 2011 adalah sektor jasa-jasa mencapai 2,66 persen. Sumber
pertumbuhan secara lengkap dapat dilihat pada Grafik Berikut.
12
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Gambar 2.1
Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Membaiknya kondisi perekonomian domestik memberi dampak yang
positif bagi penyerapan tenaga kerja. Data ketenagakerjaan terakhir
menunjukkan tingkat pengangguran yang berada dalam trend menurun,
disertai adanya pergeseran struktur tenaga kerja yang kembali kepada
sektor formal, dan membaiknya kualitas pendidikan tenaga kerja. Angka
pengangguran terbuka tahun 2011 tercatat sebesar 2,82 persen, lebih
rendah
dibanding
periode
tahun
sebelumnya
yang
sebesar
3,25
persen.Sementara itu, komposisi partisipasi angkatan kerja pada sektor
formal meningkat dari 20 persen pada tahun 2010 menjadi 24 persen pada
tahun 2011. Pulihnya kembali peran sektor formal dalam penyerapan tenaga
kerja diharapkan berdampak positif pada kesinambungan konsumsi rumah
tangga, terutama dengan lebih terjaminnya tingkat pendapatan yang
memadai. Perkembangan positif lainnya juga terlihat pada kualitas tenaga
|
13
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
kerja yang membaik. Pada tahun 2010
jenjang pendidikan mengalami
penurunan yakni SD, SMTA Kejuruan, dan Diploma, sedangkan jenjang
pendidikan yang mengalami kenaikan yakni SMTP, SMTA Umum, dan
Universitas. Pada tahun 2011 komposisi tenaga kerja yang berlatar
belakang pendidikan dasar berada dalam trend yang menurun, sebaliknya
komposisi tenaga kerja dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi
mengalami
peningkatan
kecuali
jenjang
pendidikan
Diploma
yang
mengalami penurunan. Program wajib belajar 9 tahun merupakan salah satu
faktor yang turut mempengaruhi perbaikan kualitas pendidikan tenaga kerja
tersebut. Walaupun secara keseluruhan kondisi ketenagakerjaan terlihat
berada
dalam
trend
yang
membaik,
persoalan
terkait
tingginya
pengangguran yang dimiliki tingkat pendidikan tinggi dan daya serap
perekonomian terhadap tenaga kerja tetap perlu menjadi perhatian. Tingkat
penyerapan tenaga kerja sektoral, juga dapat dilihat dari keeratan hubungan
antara pertumbuhan PDRB masing-masing sektor dengan pertumbuhan
tenaga kerjanya. Berdasarkan nilai korelasi, diperoleh indikasi bahwa sektor
non-tradable pada umumnya mempunyai keeratan hubungan yang lebih
lemah ketimbang sektor tradable. Sementara itu, persoalan tingginya angka
pengangguran pada jenjang pendidikan diploma dan perguruan tinggi juga
menjadi salah satu agenda penting yang perlu memperoleh prioritas
penanganan. Gejala ini di satu sisi merupakan indikasi dari kurangnya
ketersediaan lapangan kerja di sektor formal untuk menyerap lebih banyak
tenaga kerja berlatar belakang pendidikan tinggi. Di sisi lain, hal ini juga
menggambarkan adanya pandangan tenaga kerja berpendidikan tinggi yang
lebih mementingkan bekerja di sektor formal. Meskipun perkembangan
lapangan kerja sektor formal sudah membaik namun masih perlu dipacu
lebih cepat agar pengangguran yang berpendidikan tinggi ini dapat
berkurang disertai upaya meningkatkan paradigma kewiraswastaan.
14
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.1
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
(Milyar Rupiah)
LAPANGAN USAHA
2008
PERTANIAN
2009
2010
2011
1.917
1.972
2.244
2.420
28
33
44
49
293
314
417
481
16
18
23
31
BANGUNAN
177
192
221
244
PERDAGANGAN
501
536
602
662
ANGKUTAN
118
129
163
183
KEUANGAN
234
265
329
340
JASA
589
648
702
828
PDRB
3.873
4.107
4.744
5.238
PERTAMBANGAN
INDUSTRI
LGA
Sumber : BPS
2.2
Penduduk Usia Kerja
Penduduk usia kerja (PUK) atau tenaga kerja (TK) adalah penduduk
yang berusia 15 tahun keatas. Kualitas dan tren PUK/TK ini tergantung pada
naik turunnya jumlah penduduk secara keseluruhan sesuai dengan
terjadinya perubahan faktor-faktor demografi. Selama empat tahun dari
tahun 2008 sampai tahun 2009 jumlah ini tampak ada cenderung meningkat,
pada tahun 2008 menjadi sebanyak 736.143 orang, pada tahun 2009
meningkat menjadi sebanyak 750.944 orang, pada tahun 2010 mengalami
penurunan sebanyak 6.223 orang menjadi sebanyak 744.721 orang dan
pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebanyak 18.596 orang menjadi
sebanyak 763.317 orang.untuk lebuh jelasnya berikut pembahasan
mengenai PUK/TK menurut karakteristik yang mencakup jenis kelamin, usia,
dan pendidikan :
|
15
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.2.1
Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Komposisi penduduk usia kerja menurut golongan umur di
Sulawesi Barat sejak tahun 2008 hingga 2011 menunjukan kondisi
sebaran penduduk usia kerja di Provinsi Sulawesi Barat yang
tergolong dalam penduduk muda sangat berpotensi sebagai
pemasok angkatan kerja dan juga dapat menjadi pemasok bukan
angkatan kerja. Proporsi penduduk usia 15-19 tahun merupakan
yang paling tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya yaitu
sebesar 14,61 persen dari penduduk usia kerja. Pada umumnya PUK
umur 15-19 tahun adalah mereka yang berada pada usia sekolah,
sehingga kemungkinan besar mereka masuk dalam golongan bukan
angkatan kerja, sehingga akan mengurangi jumlah kelompok
angkatan kerja. Kemudian dalam struktur penduduk muda kedua
tertinggi porsi penduduk usia 25-29 tahun juga menyumbang porsi
yang besar pada penduduk usia kerja yaitu sebesar 12,80 persen.
Dalam grafik terlihat bahwa jumlah penduduk usia kerja pada
kelompok umur 20-24 dan 30-34 tahun memiliki proporsi tinggi yaitu
sebesar 18,75 persen dari penduduk usia kerja. Pada interval umur
tersebut biasanya banyak terdapat new entrance pada dunia kerja.
Setelah lulus dari SLTA atau pendidikan tinggi, lapangan kerja siap
diperebutkan oleh para pencari kerja kelompok ini.
Dengan besarnya komposisi penduduk pada usia tersebut
tidak dapat dihindari bahwa penyediaan lapangan pekerjaan harus
sebanding dengan penduduk usia kerja yang siap masuk angkatan
kerja. Para pendatang baru di pasar kerja yang jumlahnya tidak
sedikit ini akan mendatangkan masalah baru jika lapangan pekerjaan
yang tersedia tidak mampu menyerapnya. Meskipun mereka
berperan sebagai penyebab meningkatnya partisipasi angkatan
kerja, namun bila mereka tidak bekerja maka mereka akan masuk ke
dalam kelompok para pencari kerja atau pengangguran. Penduduk
16
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
yang lebih banyak terdistribusi pada umur-umur muda memaksa
Provinsi Sulawesi Barat harus bersiap untuk menyediakan lapangan
pekerjaan yang lebih banyak.
Fenomena menarik dari data tersebut adalah tingginya
penduduk usia kerja yang berumur 60 tahun ke atas, bila
dibandingkan dengan penduduk usia kerja yang berumur 55 tahun
hingga 59 tahun. Hal ini mengindikasikan meningkatnya kesehatan
masyarakat sehingga meningkatkan angka harapan hidup pada
penduduk usia lanjut.
Tabel 2.2
Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat,Tahun 2008-2011
Golongan Umur
2008
2009
2010
2011
15-19
114.630
113.379
112.689
111.549
20-24
85.266
90.319
86.583
95.102
25-29
92.145
93.612
91.382
97.713
30-34
83.698
85.996
96.413
95.603
35-39
82.635
79.872
85.649
84.398
40-44
61.425
67.239
70.752
74.839
45-49
55.301
57.837
52.106
57.584
50-54
47.167
46.676
43.968
40.122
55-59
34.641
35.861
32.934
33.449
60+
79.235
80.153
72.245
72.958
736.143
750.944
744.721
763.317
Jumlah
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
2.2.2 Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Komposisi penduduk usia kerja menurut tingkat pendidikan di
Sulawesi Barat sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2011 dapat dilihat
pada Tabel 2.3. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa penduduk
|
17
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
usia kerja dengan tingkat pendidikan SD mengalami peningkatan
pada tahun 2009 sebanyak 6.970 orang sebesar 1,5 persen, namun
mengalami penurunan di tahun 2011 sebanyak 12.393 orang
sebesar
2,84
persen.
Proporsi
penduduk
usia
kerja
yang
berpendidikan SD termasuk cukup besar yaitu 55,62 persen dari
PUK Sulawesi Barat. Mengingat penduduk usia kerja masuk pada
kategori penduduk dengan umur di atas 15 tahun, maka penduduk
usia kerja yang berada di tingkat pendidikan SD dan dibawahnya
tidak
sedang
sekolah
atau
tamatan
SD.
Fenomena
ini
mengindikasikan semakin banyak angkatan kerja yang memiliki
tingkat pendidikan SD dan dibawahnya. Tentunya ini harus menjadi
perhatian bagi pemerintah melalui instansi terkait untuk menurunkan
jumlah jumlah penduduk usia kerja pada jenjang pendidikan SD dan
di bawahnya.
Proporsi terbesar penduduk usia kerja berpendidikan SMTP
umum dan penduduk dengan tingkat pendidikan SMTA masingmasing sebesar 20,03 persen dan 12,99 persen. PUK dengan tingkat
pendidikan SMTP dan SMTA diharapkan tetap masuk dalam dunia
pendidikan melalui sekolah maupun pendidikan non formal, serta
masuk dalam golongan bukan angkatan kerja, sehingga dapat
menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas tinggi serta mampu
bersaing di pasar tenaga kerja
Penduduk usia kerja pada tingkat pendidikan universitas
cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan
2011, peningkatan yang cukup tinggi pada tahun 2011 yaitu
sebanyak 11.345 orang atau sebesar 1,52 persen. Peningkatan ini
dimungkinkan oleh semakin tingginya kesadaran masyarakat akan
pendidikan lanjutan kejenjang yang lebih tinggi. Hal ini tentunya
berpengaruh positif terhadap kualitas tenaga kerja di Sulawesi Barat
walaupun proporsi PUK yang berpendidikan perguruan tinggi
18
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
termasuk rendah yaitu hanya 4,25 persen dari jumlah PUK di
Sulawesi Barat.
Tabel 2.3
Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Pendidikan
2008
2009
2010
2011
≤ SD
452.661
459.631
436.942
424.549
SMTP
146.078
138.514
142.188
152.890
SMTA Umum
85.049
81.157
93.383
99.189
SMTA Kejuruan
24.931
38.301
36.241
39.473
Diploma
13.222
14.912
14.883
14.787
Universitas
14.202
18.429
21.084
32.429
736.143
750.944
744.721
763.317
Jumlah
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
2.2.3 Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Jumlah penduduk usia kerja menurut jenis kelamin pada tahun
2008-2011 menunjukkan terjadi peningkatan dikeduanya, namun jenis
kelamin perempuan lebih besar dari pada laki-laki. Pada tahun 2008
penduduk
usia
kerja
laki-laki dan
perempuan masing-masing
sebanyak 366.368 orang dan 369.775 orang, pada tahun 2009
penduduk usia kerja laki-laki meningkat menjadi sebanyak 374.326
orang atau naik sebanyak 7.958 orang (2,17%) dan penduduk usia
kerja perempuan meningkat menjadi sebanyak 376.618 orang atau
naik sebanyak 6.843 orang (1,85%). Tahun 2010 penduduk usia kerja
yang berjenis kelamin laki-laki menurun menjadi sebanyak 368.534
orang atau berkurang sebesar 5.792 orang (1,55%), begitu pula yang
berjenis kelamin perempuan menurun menjadi 376.187 orang atau
turun 431 orang (0,11%).
|
19
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.4
Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Kelamin
2008
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
366.368
369.775
736.143
2009
2010
374.326
376.618
750.944
368.534
376.187
744.721
2011
377.569
385.748
763.317
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009, dan 2011
2.3.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ( TPAK )
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tahun 2008 sebesar 67,37
persen, pada tahun 2009 meningkat menjadi 68,07 persen dan pada tahun
2010 meningkat menjadi 71,46 persen dan pada tahun 2011 meningkat
menjadi 72,27 persen. Besarnya TPAK secara umum menunjukkan adanya
kenaikan setiap tahun, namun apabila dilihat menurut golongan umur, maka
terjadi penurunan yang signfikan terutama yang berusia muda. Penurunan
tersebut
karena
berhasilnya
sistem
pendidikan
yang
diprogramkan
pemerintah yaitu pendidikan 9 tahun wajib belajar bagi anak-anak untuk
memasuki dunia pendidikan, sementara dari sisi lainnya adalah kesadaran
masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, sehingga
kondisi
tersebut
sangat
berpengaruh
terhadap
pengurangan
atau
memperlambat angkatan kerja memasuki dunia kerja. Dengan adanya
program wajib belajar tersebut maka pertambahan jumlah angkatan kerja
untuk tahun berikutnya diharapkan akan relatif menurun dibandingkan
dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja menurut golongan umur,
tingkat pendidikan serta jenis kelamin.
2.3.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan
Umur
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut golongan umur
dari tahun 2008-2011 untuk golongan umur 15-19 tahun dan 20-24
20
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
tahun terlihat cenderung berfluktuatif, salah satunya disebabkan
karena adanya program pendidikan dasar 9 tahun disatu sisi,
sedangkan disisi lain semakin meningkatnya kesadaran masyarakat
terhadap jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dilihat perkembangan tahun 2008-2011 TPAK menurut
golongan umur 25-29 tahun, mengalami kenaikan golongan umur 3539 tahun mengalami kenaikkan, kondisi tersebut tidak berbeda jauh
dengan golongan umur 40-44 tahun dan 45-49 tahun dan golongan
umur 15-19 tahun, 20-24 tahun, golongan umur 55-59 tahun,
golongan umur 60-64 tahun, dan sangat berfluktuasi. Dari data ini
menggambarkan
bahwa
golongan
umur antara
30-59
tahun
merupakan kelompok usia produktif untuk melakukan pekerjaan yang
mempunyai hubungan kerja atau berstatus formal. Sedangkan untuk
golongan umur 15-19 tahun, masih merupakan usia sekolah
sehingga diarahkan agar TPAK nya menurun dan mempunyai
dampak mengurangi angkatan kerja memasuki pasar kerja. Namun
apabila diperhatikan TPAK golongan umur 60+ tahun keatas masih
fluktuatif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.5 di bawah
ini.
Tabel 2.5
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Golongan Umur
2008
2009
2010
2011
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60+
TPAK
41,02
67,56
72,28
78,95
78,05
79,31
81,79
77,85
72,82
48,28
67,37
37,23
66,93
72,54
79,30
79,39
81,38
83,04
82,66
75,49
50,62
68,07
36,80
65,87
79,58
83,93
82,25
83,11
85,98
83,07
82,13
58,69
71,46
38,29
67,01
80,40
83,82
83,14
87,47
89,57
84,88
75,94
54,59
72,27
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
|
21
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.3.2
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan
Kondisi
pendidikan
angkatan
kerja
secara
umum
menggambarkan relatif sangat rendah karena masih didominasi
tamatan SMTP. Untuk mengupayakan meningkatkan agar kualitas
pendidikan angkatan kerja dapat meningkat maka pemerintah
mengeluarkan kebijakan program pendidikan wajib belajar 9 tahun
agar penduduk usia kerja 15-19 tahun dapat berkurang untuk
memasuki dunia kerja, sehingga dapat untuk melanjutkan kejenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Apabila dilihat dari program pendidikan
wajib
belajar
tersebut
memberikan
dampak
positif
terhadap
meningkatnya kualitas mutu pendidikan angkatan kerja secara
keseluruhan yaitu terjadinya pergeseran dari pendidikan sekolah
dasar, dan meningkatnya jenis pendidikan SMTP ke atas yang siap
untuk memasuki lapangan kerja. Apabila dilihat dari tingkat
partisipasi angkatan kerja menurut jenis pendidikan yang ditamatkan
dari tahun 2008-2011 menunjukkan angkanya cukup berfluktuasi,
seperti pada tahun 2008 dimana TPAK lulusan pendidikan SD
sebesar
68,81
persen
serta
pada
tahun
2009
mengalami
peningkatan menjadi sebesar 68,98 persen,pada tahun 2010
mengalami peningkatan menjadi 74,17 persen, dan pada tahun 2011
mengalami peningkatan menjadi 74,53 persen. Sementara pada
TPAK
lulusan
pendidikan
SMTP
dalam
tahun
yang
sama
menunjukkan peningkatan, dimana terlihat pada tahun 2008 sebesar
55,11 persen dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 57,07 persen,
pada tahun 2010 meningkat menjadi 57,97 persen serta pada tahun
2011 meningkat menjadi 61,58 persen. Sedangkan untuk TPAK
tingkat pendidikan SMTA Umum pada tahun 2008 sebesar 71,27
persen, namun pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi
sebesar 70,85, tahun 2010 mengalami penurunan lagi menjadi
22
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
sebesar
69,97 persen dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan
menjadi sebesar 70,75 persen. Kondisi tersebut menggambarkan
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja, maka
semakin tinggi pula partisipasi terhadap dunia kerja yang dibutuhkan.
Sementara apabila dilihat dari TPAK lulusan Universitas pada tahun
2008, 2009, 2010 dan 2011 kondisinya menggambarkan bahwa
masih berfluktuasi , dimana pada tahun 2008 TPAK lulusan
Universitas sebesar 95,94 persen dan tahun 2009 mengalami
kenaikkan menjadi sebesar 97,29 persen dan tahun 2010 terjadi
kenaikkan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebesar 94,23
persen dan pada tahun 2011 mengalami kenaikkan menjadi sebesar
96,16 persen. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar dari lulusan
universitas banyak yang langsung masuk ke dalam pasar kerja,
sebelum untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi
yang membutuhkan dana cukup besar.
Tabel 2.6
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Pendidikan
≤ SD
SMTP
SMTA Umum
SMTA Kejuruan
Diploma
Universitas
Jumlah
2008
68,81
55,11
71,27
72,70
87,81
95,94
67,37
2009
68,98
57,07
70,85
70,23
85,14
97,29
68,07
2010
2011
74,17
57,97
69,97
74,42
90,65
94,23
71,46
74,53
61,58
70,75
68,87
84,60
96,16
72,27
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011
2.3.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut jenis kelamin pada jenis
kelamin perempuan dari tahun ke tahun menunjukkan angka yang signifikan
|
23
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
yaitu pada tahun 2008 sebesar 50,11 persen dan pada tahun 2009 naik
menjadi sebesar 51,91 persen serta pada tahun 2010 naik menjadi sebesar
57,35 persen
sedangkan tahun 2011 naik lagi menjadi sebesar 58,60
persen, sedangkan untuk TPAK jenis kelamin laki-laki juga berfluktuasi
dimana pada tahun 2008 sebesar 84,80 persen dan pada tahun 2009 turun
menjadi sebesar 84,32 persen dan selanjutnya pada tahun 2011 mengalami
kenaikkan menjadi sebesar 85,86 persen dan selanjutnya pada tahun 2011
mengalami kenaikkan menjadi sebesar 86,24 persen..
Bila dilihat perkembangan TPAK jenis kelamin perempuan lebih
tinggi bila dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki, namun kenaikkan
TPAK perempuan tiap tahun sangat dipengaruhi oleh peran ganda sebagai
pekerja rumah tangga dan juga mereka yang aktif dipasar kerja untuk
menambah penghasilan kebutuhan rumah tangga, disisi lain bahwa peran
kesempatan kerja bagi perempuan sangat besar untuk memenuhi berbagai
sektor lapangan usaha.
Pertambahan TPAK pada jenis kelamin perempuan disebabkan
berbagai faktor antara lain, semakin terbukanya kesempatan
kerja serta
dipengaruhi oleh adanya pengakuan peranan perempuan yang berkiprah
diluar rumah tangga, disamping ada nya jaminan kerja, perlindungan,
pelayanan dan hak perempuan makin meluas dan sangat diperhatikan. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.7 dibawah ini.
Tabel 2.7
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
2008
84,80
50,11
67,37
2009
84,32
51,91
68,07
2010
2011
85,86
57,35
71,46
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011
24
|
86,24
58,60
72,27
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.4
Angkatan Kerja
Angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja berumur
15 tahun keatas yang dapat dilhat dari beberapa klasifikasi seperti golongan
umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin dan lain sebagainya. Apabila dilihat
dari kondisi angkatan kerja dari tahun 2008-2011 menunjukkan angka yang
terus mengalami kenaikkan cukup berarti, baik menurut golongan umur,
tingkat pendidikan maupun dari jenis kelamin. Di Sulawesi Barat dapat
dilihat kondisi angkatan kerja mulai tahun 2008 sebesar 495.959 orang dan
pada tahun 2009 meningkat menjadi 511.144 orang atau 3,06 persen serta
tahun 2010 mengalami kenaikkan menjadi sebesar 532.171 orang atau 4,11
persen dan tahun 2011 menjadi sebesar 551.631 orang atau 3,66 persen.
Kondisi tersebut mengambarkan bahwa jumlah angkatan kerja Provinsi
Sulawesi Barat yang memasuki pasar kerja terus mengalami peningkatan,
maka akan dijelaskan secara rinci kondisi angkatan kerja menurut
klasifikasinya.
2.4.1
Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Angkatan kerja menurut golongan umur dari tahun 2008-
2011 di Provinsi Sulawesi Barat hampir sebagian besar mengalami
fluktuasi. Fluktuasi tersebut pada kelompok umur angkatan kerja
produktif antara 15-19 tahun, 20-24 tahun, 30-34 tahun, 35-39
tahun, 45-49 tahun, 50-54 tahun, 55-59 tahun dan 60+ tahun,
sedangkan umur 25-29 tahun dan 40-44 tahun mengalami
kenaikkan dari tahun ketahun. Pada tahun 2008 angkatan kerja
menurut golongan umur 25-29 tahun sebanyak 66.601 orang, pada
tahun 2009 meningkat menjadi sebanyak 67.909 orang atau 1,96
persen, pada tahun 2010 meningkat menjadi 72.721 orang atau
7,09 persen dan tahun 2011
mengalami kenaikkan menjadi
sebesar 78.559 orang atau 8,03 persen, begitu juga kelompok umur
angkatan kerja 40-44 tahun tahun 2008 sebesar 48.718 orang
|
25
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
meningkat menjadi 54.720 orang atau 12,32 persen, tahun 2010
naik menjadi sebesar 58.804 orang atau 7,46 persen dan tahun
2011 meningkat menjadi 65.464 orang atau 11,33 persen.
Kenaikkan
ini
menunjukkan
belum
berhasilnya
penekanan
pengurangan penduduk usia kerja. Untuk memasuki pasar kerja.
Pada tahun 2008 kelompok umur 20-24 tahun sebanyak 57.607
orang dan pada tahun 2009 terjadi kenaikkan menjadi sebanyak
60.446 orang atau naik 4,93 persen pada tahun 2010 turun menjadi
sebesar 57.030 orang atau
(5.65) persen dan tahun 2011 naik
menjadi 63.730 orang atau naik 11.75 persen.
Pada kelompok
umur produktif 30-34 tahun pada tahun 2008 sebesar 66.083 orang,
tahun 2009 mengalami kenaikkan menjadi sebesar 68.195
orang,tahun 2010 mengalami kenaikkan menjadi sebesar 80.920
orang dan tahun 2011 mengalami penurunan menjadi sebesar
80.133 orang. Untuk angkatan kerja 35-39 tahun pada tahun 2008
sebesar 64.493 orang, pada tahun 2009 mengalami penurunan
menjadi sebesar 63.407 orang, tahun 2010 mengalami kenaikkan
menjadi sebesar 70.444 orang dan tahun 2011 kembali mengalami
penurunan menjadi sebesar 70.168 orang. Begitupun golongan
umur 45-49 sampai dengan umur 60+ masih menunjukkan
fluktuatif.
26
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.8
Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Golongan Umur
2008
2009
2010
2011
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60+
47.024
57.607
66.601
66.083
64.493
48.718
45.229
36.720
25.226
38.258
495.959
42.211
60.446
67.909
68.195
63.407
54.720
48.027
38.584
27.073
40.572
511.144
41.474
57.030
72.721
80.920
70.444
58.804
44.802
36.523
27.050
42.403
532.171
42.713
63.730
78.559
80.133
70.168
65.464
51.577
34.055
25.401
39.831
551.631
Jumlah
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010, dan 2011
2.4.2. Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Secara umum persebaran komposisi angkatan kerja menurut
tingkat pendidikan yang ditamatkan pada tahun 2008 sebesar
495.959 orang, dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 511.144
orang dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 532.171 orang dan
tahun 2011 mengalami peningkatan hingga menjadi sebesar 551.631
orang. Bila dilihat menurut pendidikan, pada tahun 2008-2011 masih
didominasi oleh mereka yang berpendidikan maksimum sekolah
dasar, namun perkembangan dari tahun 2008 sampai tahun 2010
angkatan kerja pendidikan SD secara keseluruhan mengalami
peningkatan kecuali pata tahun 2011 menalami penurunan, dimana
pada tahun 2008 terdapat sebanyak 311.475 orang dan pada tahun
2009 terjadi peningkatan menjadi sebesar 317.075 orang atau naik
1,80 persen, pada tahun 2010 naik menjadi sebesar 324.074 orang
atau naik 2,21 persen serta pada tahun 2011 mengalami penurunan
|
27
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
menjadi sebesar 316.427 orang atau turun 2.36 persen. Dilihat dari
pengurangan
angkatan
kerja
berpendidikan
sekolah
dasar
menggambarkan bahwa pemerintah berhasil melaksanakan program
wajib belajar sembilan tahun pada tahun 2010, sehingga kelompok
umur
tersebut
berkurang
untuk
memasuki
lapangan
kerja.
Sedangkan pada angkatan kerja yang berpendidikan SMTP setiap
tahun mengalami kenaikkan yang cukup signifikan, dimana pada
tahun 2008 terdapat sebanyak 80.509 orang, dan tahun 2009 turun
menjadi sebanyak 79.048 orang atau turun 1.81 persen, pada tahun
2010 bertambah menjadi sebanyak 82.429 orang atau 4,28 persen,
serta pada tahun 2011 bertambah menjadi sebanyak 94.153 orang
atau 14.22 persen.kondisi tersebut terlihat bahwa angkatan kerja
berpendidikan SMTP semakin meningkat.
Komposisi angkatan kerja berpendidikan SMTA Umum
terlihat setiap tahunnya mengalami fluktuasi, seperti pada tahun
2008 terdapat sebanyak 60.613 orang dan pada tahun 2009 terjadi
penurunan menjadi sebanyak 57.498 orang atau 5,14 persen, serta
pada tahun 2010 mengalami pertambahan yang cukup besar
menjadi 65.340 orang orang atau sebesar 13,64 persen dan pada
tahun 2011 mengalami pertambahan menjadi sebesar 70.173 orang
atau sebesar 7,40 persen. Sementara dari sisi angkatan kerja
berpendidkan SMTA Kejuruan terlihat adanya kenaikkan setiap
tahunnya, dimana pada tahun 2008 sebanyak 18.126 orang, dan
pada tahun 2009 mengalami kenaikkan menjadi sebanyak 26.898
orang atau meningkat sebesar 48,39 persen, pada tahun 2010
meningkat menjadi sebesar 26.969 orang atau meningkat sebesar
0,26 persen serta pada tahun 2011 terjadi peningkatan lagi menjadi
sebanyak 27.184 orang orang atau meningkat sebesar 0,80 persen.
Dari kondisi tersebut menunjukkan bahwa angkatan kerja yang
28
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
berpendidikan SMTA Kejuruan mengalami peningkatan yang cukup
besar. Angkatan kerja pendidikan yang lebih tinggi yaitu Diploma
berfluktuasi sementara untuk tingkat Universitas terlihat selama
empat tahun
mengalami kenaikkannya yang cukup signifikan,
dikarenakan masih banyak yang ingin mendapatkan perkerjaan
menyesuaikan dengan keahlian dimiliki. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 2.9 di bawah ini.
Tabel 2.9
Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Pendidikan
≤ SD
SMTP
SMTA Umum
SMTA Kejuruan
Diploma
Universitas
Jumlah
2008
2009
311.475
80.509
60.613
18.126
11.610
13.626
495.959
317.075
79.048
57.498
26.898
12.696
17.929
511.144
2010
324.074
82.429
65.340
26.969
13.491
19.868
532.171
2011
316.427
94.153
70.173
27.184
12.510
31.184
551.631
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2008,2009,2010, dan 2011
2.4.3. Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Komposisi angkatan kerja menurut jenis kelamin dilihat dari
tahun 2008-2011 didominasi oleh angkatan kerja yang berjenis
kelamin laki-laki. Pada tahun 2008 angkatan kerja berjenis kelamin
laki-laki berjumlah 310.664 orang dan perempuan berjumlah sebesar
185.295 orang, pada tahun 2009 untuk angkatan kerja berjenis
kelamin laki-laki meningkat menjadi sebanyak 315.647 orang atau
naik sebesar 1,60 persen, dan jumlah angkatan kerja perempuan
meningkat menjadi sebanyak 195.497 orang atau 5.51 persen,
selanjutnya
pada tahun 2010 mengalami peningkatan untuk
angkatan kerja jenis kelamin laki-laki sebanyak 316.412 orang atau
|
29
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
sebesar 0,24 persen, sedangkan angkatan kerja jenis kelamin
perempuan terjadi peningkatan menjadi sebesar 215.759 orang atau
10,36 persen dari tahun sebelumnya, dan tahun 2011 angkatan kerja
jenis kelamin laki-laki menjadi sebesar 325.601 orang atau 2,90
persen sedangkan angkatan kerja jenis kelamin perempuan menjadi
sebanyak 226.030 orang atau 4,76 persen.
Dilihat
dari
komposisi
jenis
kelamin
angkatan
kerja
perempuan setiap tahun mengalami peningkatan yang cukup
signifikan, hal tersebut secara umum dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain meningkatnya tingkat pendidikan perempuan,
perubahan gaya hidup keluarga yang sebelumnya banyak anak
sekarang menjadi sedikit, sehingga dengan demikian sedikitnya
jumlah anak serta berkembangnya teknologi peralatan rumah tangga
maka akan mendorong perempuan untuk bersaing dengan laki-laki
dipasar kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.10
dibawah ini.
Tabel 2.10
Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
2008
310.664
185.295
495.959
2009
2010
315.647
195.497
511.144
316.412
215.759
532.171
2011
325.601
226.030
551.631
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2008, 2009, 2010, 2011
2.5.
Penduduk yang Bekerja
Penduduk yang bekerja selama tahun 2008-2011 mengalami
peningkatan yang signifikan, pada tahun 2009 penduduk yang bekerja
mengalami pertumbuhan sebesar 3,12 persen, yakni dari sebanyak 473.309
30
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
orang pada tahun 2008 meningkat menjadi sebanyak 488.080 orang. Pada
tahun 2010 penduduk yang bekerja mengalami pertumbuhan sebesar 5,49
persen atau mengalami pertambahan sebanyak 26.787 orang sehingga
menjadi 514.867 orang dan tahun 2011 terus mengalami pertumbuhan
sebesar 4,11 persen atau mengalami pertambahan sebanyak 21.181 orang
menjadi 536.048. Untuk mengetahui perkembangan penduduk yang bekerja
menurut sektor lapangan usaha selama tahun 2008-2011 dari berbagai
karakteristiknya akan dijelaskan lebih rinci dibawah ini.
2.5.1. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Situasi perekonomian di Sulawesi Barat tahun 2008-2011
menunjukkan adanya perbaikan yang cukup signifikan, sehingga
mempunyai dampak terhadap peningkatan didalam penyerapan
tenaga kerja diberbagai sektor lapangan usaha. Penyerapan tenaga
kerja masih didominasi sektor pertanian, perdagangan, Jasa dan
sektor Industri. Pada tahun 2008 bahwa penyerapan tenaga kerja
yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 305.968 orang dan pada
tahun 2009 menurun menjadi sebanyak 300.357 orang atau turun
sebesar -1,83 persen, tahun 2010 meningkat menjadi 320.181 orang
atau tumbuh sebesar 6,60 persen dan pada tahun 2011 turun lagi
menjadi sebesar 315.762 orang atau turun sebesar -1,38 persen
atau berkurang sebesar 4.419 orang. Sektor perdagangan pada
penduduk yang bekerja tahun 2008 sebanyak 61.594 orang, pada
tahun 2009 mengalami peningkatan sehingga menjadi 62.981 orang
atau tumbuh sebesar 2,25 persen dan pada tahun 2010, meningkat
menjadi sebanyak 64.463 orang atau tumbuh sebesar 2,35 persen
serta pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan lagi menjadi
sebesar 72.203 orang atau tumbuh sebesar 12,01 persen.
|
31
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.11
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Lapangan Usaha
Pertanian
Pertambangan
Industri
Listrik, Gas dan Air
Bangunan
Perdagangan
Angkutan
Keuangan
Jasa
Jumlah
2008
2009
2010
2011
305.968
2.369
25.443
530
13.479
61.594
16.554
1.672
45.700
300.357
1.711
31.058
836
16.734
62.981
15.856
1.668
56.879
320.181
2.295
29.414
336
14.864
64.463
15.907
1.703
65.704
315.762
5.629
30.973
1.236
20.758
72.203
14.685
4.508
70.294
473.309
488.080
514.867
536.048
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009, dan 2011
Sektor jasa mempunyai perkembangan yang cukup besar.
Hal ini terlihat pada tahun 2008 penduduk yang bekerja disektor jasa
sebanyak
45.700
orang,
dan
pada
tahun
2009 mengalami
peningkatan sehingga menjadi sebesar 56.879 orang atau tumbuh
sebesar 24,46 persen, tahun 2010 meningkat lagi menjadi 65.704
orang atau tumbuh sebesar 15,52 persen serta tahun 2011 terus
mengalami pertumbuhan menjadi 70.294 orang atau tumbuh sebesar
6,99 persen
Sektor
industri
pada
tahun
2008-2011
masih
mendominasi di dalam penyerapan tenaga kerja yang terus
meningkat, yaitu dari sebanyak 25.443 orang pada tahun 2008
meningkat menjadi sebanyak 31.058 orang pada tahun 2009 atau
tumbuh sebesar 22,07 persen, pada tahun 2010 menurun cukup
besar sehingga menjadi sebanyak 29.414 orang atau turun sebesar
5,29 persen dan pada tahun 2011 tumbuh menjadi 30.973 orang
atau tumbuh sebesar 5,30 persen.. Dilihat dari perkembangan minat
para pencari kerja telah mengalami perubahan dari sektor pertanian
ke sektor lainnya, hal tersebut disebabkan adanya peningkatan dari
32
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
sisi pendidikan sehingga pola pencari kerja bergeser dari berbasis
tradisional beralih pada cara kerja yang lebih modern, sesuai dengan
perkembangan perekonomian.
2.5.2. Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Penduduk yang bekerja menurut golongan umur tahun 20082011 yang paling besar pada golongan umur 30-34 tahun. Pada
tahun 2008 sebanyak 64.718 orang dan pada tahun 2009 mengalami
kenaikkan menjadi sebanyak
66.274 orang
atau mengalami
pertumbuhan 2,40 persen, pada tahun 2010 meningkat menjadi
sebanyak 79.224 orang atau tumbuh sebesar 19,54 persen dan
tahun 2011 mengalami penurunan menjadi sebesar 78.693 orang
atau pertumbuhan minus sebesar 0,67 persen. Sedangkan golongan
umur 35-39 tahun pada tahun 2009 mengalami pertumbuhan minus
sebesar -3,06 persen, yakni dari 63.372 orang pada tahun 2008
menjadi 61.435 orang pada tahun 2009.
Pada tahun 2010 penduduk yang bekerja rata-rata mengalami
peningkatan, kecuali untuk golongan umur 20-24 tahun tumbuh
minus sebesar 2,64 persen, dan golongan umur 45-49 tahun tumbuh
minus sebesar 4,68 persen dan golongan umur 50-54 tahun tumbuh
minus sebesar 4,86 persen. Untuk golongan umur 30-34 tahun
mengalami pertumbuhan yang paling besar, yakni mencapai 19,54
persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.12 di bawah
ini.
|
33
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.12
Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Golongan Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60+
Jumlah
2008
2009
2010
2011
37.908
53.303
63.038
64.718
63.372
48.117
43.986
36.265
24.703
37.899
473.309
35.430
54.792
65.148
66.274
61.435
53.422
46.416
38.195
26.538
40.430
488.080
37.153
53.345
69.872
79.224
69.606
57.867
44.243
36.339
26.729
40.489
514.867
38.432
58.389
76.572
78.693
69.885
65.330
50.134
34.054
24.730
39.829
536.048
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011
2.5.3 Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan ditamatkan merupakan gambaran kualitas
penduduk yang bekerja. Melihat kualitas sumber daya manusia yang
bekerja menurut pendidikan ditamatkan dari tahun 2008-2011
sebagian besar masih didominasi yang berpendidikan maksimum
Sekolah Dasar, walaupun setiap tahunnya sudah mengalami
penurunan. Pada tahun 2008 penduduk yang bekerja dengan
pendidikan maksimum SD sebanyak 300.994 orang, pada tahun
2009 mengalami pertumbuhan sehingga menjadi sebanyak 305.197
orang atau tumbuh 1,40 persen, pada tahun 2010 tumbuh lagi
menjadi sebanyak 317.506 orang atau tumbuh 4,03 persen dan
tahun 2011 mengalami penurunan menjadi sebesar 311.843 orang
atau turun 1,78 persen, kondisi tersebut disebabkan adanya program
pemerintah wajib belajar sembilan tahun, sehingga memperlambat
tamatan pendidikan SD memasuki pasar kerja maka terjadi
34
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
pergeseran ke tamatan SMTP atau pendidikan lebih tinggi untuk
memasuki pasar kerja.
Pada tahun 2009 penduduk yang bekerja yang berpendidikan
di atas
SD
rata-rata
mengalami peningkatan, kecuali yang
berpendidikan SMTP dan SMTA Umum masing-masing mengalami
pertumbuhan minus sebesar 1,74 persen dan 4,90 persen, untuk
tahun 2010 semua tingkat pendidikan mengalami peningkatan
kecuali
yang
pertumbuhan
berpendidikan
minus
sebesar
SMTA
1,80
Kejuruan
persen.
mengalami
Kondisi
tersebut
menggambarkan bahwa kualitas penduduk yang bekerja semakin
meningkat.
Tabel 2.13
Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Pendidikan
≤ SD
SMTP
SMTA Umum
SMTA Kejuruan
Diploma
I/II/III/Akademi
Universitas
Jumlah
2008
2009
2010
2011
300.994
76.531
55.592
16.306
305.197
75.199
52.868
25.484
317.506
79.467
62.115
25.026
311.843
92.544
64.756
24.036
11.147
11.956
12.416
12.157
12.739
17.376
18.337
30.712
473.309
488.080
514.867
536.048
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011
Pada tahun 2010 penduduk yang bekerja dengan pendidikan
SMTA Umum mengalami pertumbuhan yang paling besar, yakni
mencapai 17,49 persen, yakni dari sebanyak 52.868 orang pada
tahun 2009 meningkat menjadi sebanyak 62.115 orang pada tahun
2010 dan terus meningkat ditahun 2011 menjadi sebesar 64.756
orang atau tumbuh sebesar 4,25 persen. Besarnya laju pertumbuhan
penduduk yang bekerja dengan pendidikan SMTA Umum ini
|
35
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
menandakan semakin meningkatnya kualitas tenaga kerja, sehingga
dapat berdampak pada kesejahteraan penduduk.
2.5.4
Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin
Penduduk yang bekerja menurut jenis kelamin didominasi
oleh jenis kelamin laki-laki. Pada tahun 2008 penduduk bekerja jenis
kelamin laki-laki sebanyak 300.631 orang dan jenis kelamin
perempuan sebanyak 172.678 orang. Pada tahun 2009 jumlah
penduduk bekerja yang berjenis kelamin laki-laki meningkat menjadi
sebanyak 303.311 orang atau tumbuh sebesar 0,89 persen,
sedangkan yang berjenis kelamin perempuan meningkat menjadi
sebanyak 184.769 orang atau tumbuh sebesar 7,00 persen, pada
tahun 2010 jumlah penduduk bekerja yang berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 309.245 orang atau mengalami pertumbuhan sebesar 1,96
persen, sedangkan pekerja yang berjenis kelamin perempuan
berjumlah 205.622 orang atau mengalami pertumbuhan sebesar
11,29 persen dan tahun 2011 jumlah penduduk bekerja yang berjenis
kelamin
laki-laki
sebanyak
317.447
orang
atau
mengalami
pertumbuhan sebesar 2,65 persen, sedangkan pekerja yang berjenis
kelamin perempuan berjumlah 218.601 orang atau mengalami
pertumbuhan sebesar 6,31 persen.
Kenaikkan jumlah pekerja perempuan yang bekerja sangat
banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain, semakin
terbukanya
meningkatnya
lapangan
tingkat
pekerjaan
pendidikan
bagi
perempuan,
perempuan
serta
semakin
adanya
keleluasaan perempuan untuk berkiprah diluar rumah tangga untuk
dapat menambah penghasilan didalam rumah tangga. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.14 di bawah ini.
36
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.14
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
2008
2009
2010
300.631
172.678
473.309
303.311
184.769
488.080
309.245
205.622
514.867
2011
317.447
218.601
536.048
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
2.5.5 Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama
Penduduk yang bekerja menurut satus pekerjaan utama
dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok besar yaitu status
pekerjaan utama disektor formal (kegiatan ekonomi formal) dan
sektor informal (kegiatan ekonomi informal). Berusaha dengan buruh
tetap dan sebagian dari pekerja/buruh/karyawan merupakan bagian
dari sector formal. Sedangkan berusaha sendiri tanpa bantuan,
berusaha dengan di bantu buruh tidak tetap, pekerja bebas di sector
pertanian, pekerja bebas di sektor non pertanian, pekerja tak di bayar
dan sebagian dari pekerja/buruh/karyawan merupakan bagian dari
sektor informal. Pada tahun 2008 yang bekerja disektor formal
sebagian besar berusaha sebagai pekerja/buruh/karyawan 73.110
orang, dan selebihnya bekerja dengan buruh tetap sebanyak 13.460
orang, sedangkan yang termasuk pekerja informal yaitu berusaha
sendiri sebanyak 98.955 orang dan berusaha dengan dibantu buruh
tidak tetap sebesar 149.002 orang serta berikutnya yang cukup
banyak menyerap tenaga kerja terdapat pada pekerja tidak dibayar
atau termasuk didalam pekerja keluarga sebanyak 113.933 orang.
Pada tahun 2009 pada pekerja formal mengalami kenaikkan sangat
signifikan, di sektor formal pada pekerja/buruh/karyawan naik
menjadi 99.617 orang atau sebesar 36.26 persen dan bekerja
|
37
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
dengan menggunakan buruh tetap turun menjadi sebesar 11.682
orang atau sebesar 13,32 persen. Sementara pada pekerja informal
yang berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain adanya penurunan
sehingga menjadi sebanyak 98.919 orang atau turun sebesar 0,04
persen, berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap turun menjadi
sebanyak 134.864 orang atau turun sebesar 9.49 persen, berusaha
sebagai pekerja tidak dibayar naik menjadi 117.469 orang atau
tumbuh sebesar 3,10 persen. Tahun 2010 penduduk bekerja
menurut
status
pekerjaan
utama
disektor
formal
sebagai
pekerja/buruh/karyawan jumlahnya turun menjadi 90.132 orang atau
sebesar 9,52 persen, yang berusaha dengan buruh tetap mengalami
pertambahan menjadi sebesar 12.258 orang atau naik sebesar 4,93
persen. Tahun 2011 penduduk bekerja menurut status pekerjaan
utama disektor formal sebagai pekerja/buruh/karyawan jumlahnya
turun menjadi 119.017 orang
atau sebesar 32,05 persen, yang
berusaha dengan buruh tetap mengalami penurunan menjadi
sebesar 11.193 orang atau turun sebesar 8,69 persen.
Bila diperinci dalam empat tahun terakhir 2008-2011,
penduduk yang bekerja masih didominasi pada sektor informal,
seperti pekerja tidak dibayar dan pekerja berusaha dengan dibantu
terus mengalami pertambahan cukup signifikan, padahal kondisi
tersebut tidak memberikan nilai ekonomis bagi pekerja tersebut.
Kondisi tersebut menggambarkan masih rendahnya produktivitas
kerja, rendahnya kemampuan perekonomian dalam menyerap
tenaga kerja sehingga berdampak pada banyaknya setengah
pengangguran serta meningkatnya pekerja paruh waktu, walaupun
secara umum bahwa pekerja informal tersebut merupakan jaring
pengaman dalam penyerapan tenaga kerja. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 2.15 di bawah ini.
38
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.15
Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Status Pekerjaan
2008
2009
2010
2011
Berusaha Sendiri
Berusaha Dibantu Buruh tidak tetap
Berusaha dibantu buruh tetap
Buruh/Karyawan/Pegawai
Pekerja bebas di pertanian
Pekerja bebas di non pertanian
Pekerja tidak dibayar
98.955
149.002
13.460
73.110
20.004
4.845
113.933
98.919
134.864
11.682
99.617
16.722
8.807
117.469
97.503
149.748
12.258
90.132
10.070
6.495
148.661
79.440
149.393
11.193
119.017
26.217
10.569
140.219
Jumlah
473.309
488.080
514.867
536.048
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
2.5.6. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan
Penduduk yang bekerja menurut jabatan tahun 2008-2011
masih didominasi pada jabatan, tenaga usaha pertanian, tenaga
produksi, dan tenaga usaha penjualan, pada tahun 2008 proporsinya
mencapai 89,85 persen, meningkat menjadi 91,82 persen pada
tahun 2009, meningkat lagi menjadi 98,32 persen pada tahun 2010
dan terus meningkat menjadi 97,62 persen tahun 2011. Pada tahun
2008 jabatan tenaga usaha pertanian masih tetap dominan sebanyak
304.059 orang, disusul jabatan tenaga produksi, operator alat angkut
dan tenaga kasar, yakni sebanyak 64.139 orang, pada jabatan
tenaga usaha penjualan sebanyak 57.081 orang dan jabatan tenaga
profesional,
teknisi
dan
sejenis
sebanyak
21.986
orang.
Perkembangan pada tahun 2009 menunjukkan adanya peningkatan
dari seluruh jabatan, kecuali pada jabatan tenaga usaha jasa
mengalami penurunan sehingga menjadi 4.516 orang atau turun 44,00 persen, usaha penjualan juga mengalami penurunan menjadi
54.298 orang atau turun 4,88 persen, begitu juga usaha lainnya turun
menjadi 1.439 atau turun 2,97 persen.Pada tahun 2010 untuk
|
39
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
jabatan tenaga pertanian kembali mengalami kenaikkan sehingga
menjadi sebanyak 314.797 orang atau tumbuh sebesar 16,45
persen, untuk tenaga produksi/operator mengalami penurunan
sehingga menjadi 79.491 orang atau turun sebesar 27,72 persen,
pada jabatan tenaga usaha penjualan naik menjadi sebanyak 56.883
orang atau meningkat sebesar 4,76 persen, untuk jabatan tenaga
professional dan tenaga kepemimpinan dalam tiga tahun terakhir
terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, kondisi tersebut
dikarenakan penduduk yang bekerja mengalami peningkatan dalam
pendidikan maupun keahlian untuk sebagai tenaga profesional
maupun kepemimpinan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
2.16 di bawah ini.
Tabel 2.16
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Pekerjaan/Jabatan
0/1 Tenaga Profesional
2 Tenaga Kepemimpinan
3 Tenaga Tata Usaha
4 Tenaga Usaha Penjualan
5 Tenaga Usaha Jasa
6 Tenaga Usaha Pertanian
7/8/9 Tenaga Produksi
X/00 Lainnya
Jumlah
2008
2009
2010
2011
21,986 27,611
31,926
28,309
2,053
3,818
4,109
3,918
14,443 16,085
18,635
26,438
57,081 54,298
56,883
69,459
8,065
4,516
6,582
12,988
304,059 270,333 314,797 309,213
64,139 109,980
79,491
83,362
1,483
1,439
2,444
2,361
473,309 488,080 514,867 536,048
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
Keterangan : 0/1. Tenaga professional, 2. Tenaga kepemimpinan, 3.
Tenaga tata usaha, 4. Tenaga usaha penjualan, 5. Tenaga usaha jasa, 6.
Tenaga usaha pertanian, 7/8/9. Tenaga produksi, X/00. Lainnya
40
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.5.7. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja
Perekonomian nasional yang membaik biasanya tercermin
dari meningkatnya berbagai kegiatan produksi barang dan jasa
diberbagai sektor lapangan usaha. Peningkatan tersebut dapat
dicapai jika penduduk yang bekerja melaksanakannya diatas jam
kerja normal (lebih 35 jam seminggu). Dilihat dari penduduk yang
bekerja menurut jam kerja selama tahun 2008-2011 menggambarkan
bahwa penduduk yang bekerja di atas 35 jam
perminggu
berflkuktuasi. Pada tahun 2008 penduduk yang bekerja antara 1-9
jam kerja sebanyak 15.236 orang, 10-14 jam sebanyak 26.722
orang, 15-24 jam sebanyak 79.727 orang, 25-34 jam sebanyak
99.246 orang, 35-44 jam sebanyak 118.959 orang, 45-59 jam
sebanyak 80.970 orang dan > 60 jam sebanyak 38.219 orang. Pada
tahun 2009 dibandingkan dengan tahun lalu adanya kenaikkan yang
cukup signifikan terutama pada 35-44 jam kerja sehingga menjadi
sebanyak 139.400 orang atau naik sebesar 17,18 persen, namun
ditahun 2010 pada jam kerja yang sama mengalami penurunan
sehingga menjadi sebanyak 98.546 orang atau turun sebesar 29,31
persen, dan pada tahun 2011 mengalami kenaikan menjadi sebesar
105.729 orang atau naik 7,29 persen demikian juga pada penduduk
yang bekerja 10-14 jam ditahun 2010 naik menjadi sebesar 39.111
orang atau naik 46,24 persen dan tahun 2011 naik lagi menjadi
53.698 orang atau naik sebesar 37,30 persen. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 2.17 di bawah ini.
|
41
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.17
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jam Kerja
0**
1-9
10-14
15-24
25-34
35-44
45-59
≥ 60
Jumlah
2008
2009
2010
2011
14.230
15.236
26.722
79.727
99.246
118.959
80.970
38.219
473.309
21.577
25.616
26.745
74.243
82.987
139.400
90.813
26.699
488.080
15.420
35.642
39.111
99.634
102.787
98.546
87.809
35.918
514.867
36.496
44.903
53.698
110.601
88.149
105.729
70.717
25.755
536.048
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
2.6.
Penganggur Terbuka
Penganggur
terbuka
adalah
mereka
yang
sedang
mencari
pekerjaan, mereka yang mempersiapkan usaha, mereka yang tidak mencari
pekerjaan karena tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan mereka yang
sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Dilihat dari tahun 20082011 jumlah pengangguran terbuka di provinsi Sulawesi Barat mengalami
penurunan. Dimana pada tahun 2008 jumlah pengangguran sebanyak
22.650 orang, pada tahun 2009 terjadi peningkatan menjadi sebanyak
23.064 orang, pada tahun 2010 menurun menjadi sebanyak 17.304 orang
dan pada tahun 2011 terus menurun menjadi 15.583 orang.
2.6.1. Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Bila dilihat di Provinsi Sulawesi Barat jumlah pengangguran
menurut golongan umur tahun 2008-2011 secara keseluruhan
menunjukkan
penurunan
peningkatan.
Untuk
penurunan
tersebut
42
|
yang
pada
kecuali
golongan
signifikan.
dasarnya
di
tahun
2009
mengalami
umur 15-19
tahun
mengalami
Penurunan
dipengaruhi
jumlah
oleh
pengangguran
beberapa
faktor
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
diantaranya, makin membaiknya perekonomian daerah sehingga
terbukanya perluasan kesempatan kerja diberbagai sektor lapangan
usaha yang dapat mengurangi jumlah tingkat pengangguran. Pada
tahun 2008 jumlah pengangguran terbuka menurut golongan umur
25-29 tahun sebanyak 3.563 orang pada golongan umur 30-34 tahun
sebanyak 1.365 orang, untuk golongan umur 35-39 tahun sebanyak
1.121 orang. Namun pada tahun 2009 jumlah golongan umur 25-29
tahun mengalami penurunan sehingga menjadi sebanyak 2.761
orang, atau turun sebesar 22,51 persen, pada golongan umur 30-34
tahun dan 35-39 tahun juga mengalami penurunan dari tahun
sebelumnya. Tahun 2010 penganggur terbuka untuk semua
golongan umur mengalami penurunan kecuali pada golongan umur
25-29 tahun mengalami kenaikan menjadi sebesar 2.849 orang atau
naik 3,19 persen dan umur 60+ naik menjadi sebesar 1.914 orang
atau
naik
1.772
menggambarkan
persen.
Menurunnya
penambahan
jumlah
perluasan
pengangguran
kesempatan
kerja
dibeberapa sektor lapangan usaha seperti pertanian, perdagangan,
jasa dan angkutan serta disektor informal cenderung juga mengalami
kenaikkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.18 di
bawah ini.
|
43
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.18
Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Golongan Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60+
Jumlah
2008
2009
2010
2011
9.116
4.304
3.563
1.365
1.121
601
1.243
455
523
359
22.650
6.781
5.654
2.761
1.921
1.972
1.298
1.611
389
535
142
23.064
4.321
3.685
2.849
1.696
838
937
559
184
321
1.914
17.304
4.281
5.341
1.987
1.440
283
134
1.443
1
671
2
15.583
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
Berdasarkan kelompok umur, kecenderungannya adalah
semakin tinggi umur angkatan kerja semakin rendah pula tingkat
penganggurannya.
Tabel 2.19
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Golongan Umur
2008
2009
2010
2011
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60+
Total
19,39
7,47
5,35
2,07
1,74
1,23
2,75
1,24
2,07
0,94
4,57
16,06
9,35
4,07
2,82
3,11
2,37
3,35
1,01
1,98
0,35
4,51
10,42
6,46
3,92
2,10
1,19
1,59
1,25
0,50
1,19
4,51
3,25
10,02
8,38
2,53
1,80
0,40
0,20
2,80
0,00
2,64
0,01
2,82
Sumber : BPS, data diolah
44
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.6.2. Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Penganggur terbuka menurut tingkat pendidikan yang cukup
signifikan mengalami penurunan yaitu pada jenis pendidikan SD,
SMTP dan SMTA Umum, penurunan penganggur pada jenis
pendidikan tersebut disebabkan adanya keberhasilan program wajib
belajar bagi angkatan
kerja muda yang
harus melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya
pengurangan
pengangguran
dipasar
kerja.yang
mengalami
penurunan yang cukup tinggi terdapat pada tingkat pendidikan SD
yaitu sebanyak 10.481 orang pada tahun 2008 namun meningkat
pada tahun 2009 yaitu sebanyak 11.878 orang tetapi mengalami
penurunan pada tahun 2010 yaitu sebanyak 6.568 orang dan terus
mengalami penurunan di tahun 2011 yaitu sebanyak 4584 orang.
Untuk tingkat pendidikan SMTP sebanyak 3.978 orang serta yang
berpendidikan SMTA Umum sebanyak 5.021 orang di tahun 2008, di
tahun 2009 mengalami penurunan menjadi sebanyak 3.849 orang
untuk tingkat pendidikan SMTP serta yang berpendidikan SMTA
umum juga mengalami penurunan menjadi sebanyak 4.630 orang, di
tahun 2010 tingkat pendidikan SMTP mengalami penurunan menjadi
sebanyak 2.962 orang serta yang berpandidikan SMTP umum
mengalami penurunan menjadi sebanyak 3.225 orang, dan di tahun
2011 terus mengalami penurunan menjadi sebanyak 1.609 orang
yang
berpandidikan
SMTP.
sementara
untuk
tingkat
SMTA
mengalami peningkatan dari tahun 2008 menjadi sebanyak 1.820
orang mengalami penurunan menjadi sebanyak 1.414 orang di tahun
2009 namun di tahun 2010 mengalami penurunan menjadi sebanyak
1.943 orang dan di tahun 2011 terus mengalami peningkatan
menjadi sebanyak 3148 orang. Untuk yang berpendidikan Diploma
dan Universitas mengalami fluktuasi. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 2.20 di bawah ini.
|
45
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.20
Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Pendidikan
≤ SD
SMTP
SMTA Umum
SMTA Kejuruan
Diploma
Universitas
Jumlah
2008
2009
2010
2011
10.481
3.978
5.021
1.820
463
887
22.650
11.878
3.849
4.630
1.414
740
553
23.064
6.568
2.962
3.225
1.943
1.075
1.531
17.304
4.584
1.609
5.417
3.148
353
472
15.583
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011
Pada tahun 2010-2011 tingkat penganggur terbuka yang
berpendidikan SD sebesar 37,96 persen menurun menjadi sebesar
29,42 persen, pada tahun 2010 tingkat penganggur terbuka pada
pendidikan SMTP dan SMTA Umum mengalami penurunan dari
tahun sebelumnya yang berfluktuasi, adapun yang mengalami
penurunan yang cukup besar terdapat pada pendidikan SMTP dan
SMTA Umum. Penurunan tingkat pengangguran pada kedua jenis
pendidikan tersebut disebabkan terbukanya peluang kesempatan
kerja untuk kedua pendidikan tersebut. Sedangkan tahun 2010
tingkat pengangguran terbuka pada jenjang pendidikan lebih tinggi
menunjukkan angka kenaikan dari tahun sebelumnya, namun masih
menunjukkan jumlah tingkat pengangguran yang cukup besar,
kendala tersebut dikarenakan terbatasnya ketersediaan lapangan
pekerjaan sehingga membuat kompetisi semakin ketat antar pencari
kerja dan sering kali mereka melamar dan memerima pekerjaan apa
saja meskipun tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikannya, untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
46
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 2.21
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Pendidikan
≤ SD
SMTP
SMTA Umum
SMTA Kejuruan
Diploma
Universitas
Jumlah
2008
2009
3,36
4,94
8,28
10,04
3,99
6,51
4,57
2010
3,75
4,87
8,05
5,26
5,83
3,08
4,51
2011
2,03
3,59
4,94
7,20
7,97
7,71
3,25
1,45
1,71
7,72
11,58
2,82
1,51
2,82
Sumber : BPS, data diolah
2.6.3 Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Apabila dilihat menurut jenis kelamin laki-laki, pada tahun
2008 pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 10.033 orang dan
perempuan sebanyak 12.617 orang, dan pada
tahun 2009
penganggur laki-laki sedikit mengalami peningkatan sehingga
menjadi sebanyak 12.336 orang, sedangkan penganggur terbuka
perempuan mengalami penurunan sehingga menjadi sebanyak
10.728 orang turun sebanyak
1.889 orang atau sebesar 14,97
persen, pada tahun 2010 jumlah penganggur terbuka laki-laki
mengalami penurunan sehingga menjadi sebanyak 7.167 orang,
turun sebanyak 5.169 orang atau sebesar 41,90 persen, sedangkan
penganggur
terbuka
perempuan
menurun
sehingga
menjadi
sebanyak 10.137 orang atau mengalami penurunan sebanyak -591
orang atau turun sebesar 5,51 persen. Pada tahun 2011 jumlah
penganggur terbuka laki-laki mengalami peningkatan menjadi 4.584
orang atau sebanyak 987 orang naik sebesar 13,77 persen
sedangkan penganggur terbuka perempuan menurun sehingga
menjadi sebanyak 7.429 orang atau mengalami penurunan sebanyak
|
47
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.708 orang atau turun sebesar 26,71 persen. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 2.22 di bawah ini.
Tabel 2.22
Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Kelamin
2008
2009
2010
2011
Laki-laki
Perempuan
10.033
12.617
12.336
10.728
7.167
10.137
8.154
7.429
Jumlah
22.650
23.064
17.304
15.583
Sumber : BPS, Sulawesi Barat Tahun 2008,2009,2010 dan 2011
Tingkat penganggur terbuka menurut jenis kelamin rata-rata
mengalami penurunan setiap tahun, namun yang paling besar
penurunan jumlah tingkat penganggur terbuka terdapat pada jenis
kelamin perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Pada tahun 2009
tingkat penganggur terbuka jenis kelamin laki-laki naik sebesar 22,95
persen dan pada jenis kelamin perempuan turun sebanyak 14,97
persen pada tahun 2010 mengalami penurunan untuk keduanya.
Tabel 2.23
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Sumber : BPS, data diolah
48
|
2008
3,23
6,81
4,57
2009
3,91
5,49
4,51
2010
2,27
4,70
3,25
2011
2,50
3,29
2,82
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.7.
Produktivitas Tenaga Kerja
Produktivitas tenaga kerja memegang peranan penting dalam proses
pertumbuhan ekonomi suatu daerah, karena pendapatan nasional maupun
pendapatan
daerah
banyak
diperoleh
dengan
cara
meningkatkan
keefektivitasan dan mutu tenaga kerja. Sampai dengan tahun 2010 nilai
tambah setiap tenaga kerja di Indonesia masih rendah.
Tabel 2.24
Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2008-2011
(Juta Rp/TK)
LAPANGAN USAHA
2008
2009
2010
2011
PERTANIAN
6,27
6,57
7,01
PERTAMBANGAN
11,82
19,29
19,22
INDUSTRI
11,52
10,11
14,18
LGA
30,19
21,53
68,78
BANGUNAN
13,13
11,47
14,86
PERDAGANGAN
8,13
8,51
9,34
ANGKUTAN
7,13
8,14
10,22
KEUANGAN
139,95
158,87
193,36
JASA
12,89
11,39
10,68
PDRB
8,18
8,41
9,21
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011
Berdasarkan
tabel
di
atas
terlihat
bahwa
7,67
8,72
15,53
25,15
11,75
9,17
12,48
75,50
11,77
9,77
sektor
keuangan
merupakan sektor yang mempunyai nilai produktivitas tertinggi, selama
empat tahun terakhir nilai produktivitas pada sektor tersebut terus
mengalami peningkatan kecuali di tahun 2011. Pengingkatan tersebut
dikarenakan sektor perbankan memperluas jaringan dengan cara membuka
kantor cabang baru begitu juga dengan lembaga keuangan yang bukan
bank yang juga ikut membuka cabang yang baru. dari data di atas laju
pertumbuhan untuk sektor pertanian yang merupakan salah satu sektor
unggulan di Sulawesi Barat terus mengalami peningkatan.
|
49
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB III
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
PERSEDIAAN TENAGA KERJA
2012-2016
Dalam perencanaan tenaga kerja, perkiraan persediaan tenaga kerja
merupakan salah satu aspek penting. Perkiraan persediaan tenaga kerja
meliputi perkiraan penduduk usia kerja, perkiraan tingkat partisipasi
angkatan kerja, dan perkiraan angkatan kerja. Informasi lain yang
dibutuhkan dalam perkiraan persediaan tenaga kerja adalah pertumbuhan
penduduk, tingkat kelahiran, tingkat kematian, migrasi masuk, migrasi keluar
dan lainnya.
3.1.
Perkiraan Penduduk Usia Kerja
Penduduk usia kerja dikelompokkan kedalam angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja. Secara teoritis, pertumbuhan penduduk usia kerja
berbanding lurus terhadap
pertumbuhan penduduk dan kesehatan
penduduk. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan penduduk Sulawesi Barat
periode 2011 – 2016 terjadi kenaikan penduduk usia kerja sebesar 8,91
|
51
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
persen. Pada tahun 2012 penduduk usia kerja di Sulawesi Barat
diperkirakan sebanyak 774.847 orang, pada tahun 2013 meningkat menjadi
787.725 orang. Dengan demikian ada pertambahan sebanyak12.878 orang
atau dengan kata lain ada kenaikan sekitar 1,66 persen. Sedangkan tahun
2014meningkat menjadi 801.419 orang atau bertambah sebanyak 13.694
orang atau sebesar 1,74 persen, tahun 2015 meningkat menjadi 815.953
orang atau bertambah sebanyak 14.534 orang atau sebesar 1,81 persen
dan tahun 2016 diperkirakan meningkat lagi menjadi 831.351 orang atau
bertambah sebanyak 15.398 orang atau sebesar 1,89 persen.
3.1.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Pada periode tahun 2012 – 2013, menurut golongan umur,
pertambahan terbesar diperkirakan pada golongan umur 20-24
tahun yakni sebanyak 5.244 orang, kemudianpada golongan
umur40–44 tahun sebanyak 3.992 orang, selanjutnya umur 25-29
sebanyak 3.989 orang, umur 45-49 bertambah sebanyak 885 orang,
umur 60+ bertambah sebanyak 727 orang, umur 55.59 tahun
bertambah sebanyak 531 orang disusul umur 30-34 tahun
bertambah sebanyak 516 dan yang bertambah paling sedikit yaitu
umur 35-39 tahun yakni sebanyak 391 orang sedangkan yang
diperkirakan mengalami penurunan yaitu umur 50-54 tahun
diperkirakan turun sebanyak 2.280 orang dan umur 15-19 tahun
diperkirakan turun sebanyak 1.117 orang.
Pada periode tahun 2013 – 2014, menurut golongan umur,
pertambahan terbesar diperkirakan pada golongan umur 20-24
tahun yakni sebanyak 5.518 orang, kemudianpada golongan
umur40–44 tahun sebanyak 4.195 orang, selanjutnya umur 25-29
sebanyak 4.146 orang, umur 45-49 bertambah sebanyak 898 orang,
umur 60+ bertambah sebanyak 734 orang, umur 55-59 tahun
bertambah sebanyak 540 orang disusul umur 30-34 tahun
52
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
bertambah sebanyak 519 orang dan yang bertambah paling sedikit
yaitu umur 35-39 tahun yakni sebanyak 392 orang sedangkan yang
diperkirakan mengalami penurunan yaitu umur 50-54 tahun
diperkirakan turun sebanyak 2.142 orang dan umur 15-19 tahun
diperkirakan turun sebanyak 1.106 orang.
Pada periode tahun 2014 – 2015, menurut golongan umur,
pertambahan terbesar diperkirakan pada golongan umur 20-24
tahun yakni sebanyak 5.807 orang, kemudian pada golongan umur
40–44 tahun sebanyak 4.408 orang, selanjutnya umur 25-29
sebanyak 4.309 orang, umur 45-49 bertambah sebanyak 912 orang,
umur 60+ bertambah sebanyak 742 orang, umur 55-59 tahun
bertambah sebanyak 548 orang disusul umur 30-34 tahun
bertambah sebanyak 522 orang dan yang bertambah paling sedikit
yaitu umur 35-39 tahun yakni sebanyak 394 orang sedangkan yang
diperkirakan mengalami penurunan yaitu umur 50-54 tahun
diperkirakan turun sebanyak 2.012 orang dan umur 15-19 tahun
diperkirakan turun sebanyak 1.095 orang
Pada periode tahun 2015 – 2016, menurut golongan umur,
pertambahan terbesar diperkirakan pada golongan umur 20-24
tahun yakni sebanyak 6.112 orang, kemudianpada golongan
umur40–44 tahun sebanyak4.631 orang,selanjutnya umur 25-29
sebanyak 4.478 orang, umur 45-49 bertambah sebanyak 925 orang,
umur 60+ bertambah sebanyak 749 orang, umur 55-59 tahun
bertambah sebanyak 557 orang disusul umur 30-34 tahun
bertambah sebanyak 525 orang dan yang bertambah paling sedikit
yaitu umur 35-39 tahun yakni sebanyak 396 orang sedangkan yang
diperkirakan mengalami penurunan yaitu umur 50-54 tahun
diperkirakan turun sebanyak 1.891 orang dan umur 15-19 tahun
diperkirakan turun sebanyak 1.083 orang. Untuk lebih detail dan
lebih lengkap diperlihatkan pada tabel di bawah ini.
|
53
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 3.1
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(orang)
Golongan Umur
2012
2013
2014
2015
2016
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
110.421
100.085
101.551
95.565
84.787
109.303
105.328
105.540
96.081
85.177
108.198
110.846
109.686
96.600
85.570
107.103
116.654
113.994
97.122
85.964
106.020
122.765
118.472
97.646
86.360
40-44
45-49
50-54
55-59
60+
Jumlah
78.638
58.455
37.696
33.972
73.678
82.630
59.340
35.416
34.503
74.405
86.825
60.238
33.274
35.043
75.139
91.233
61.149
31.262
35.591
75.881
95.864
62.075
29.372
36.147
76.630
774.847
787.725
801.419
815.953
831.351
Menurut
Tingkat
3.1.2 Perkiraan
Penduduk
Usia
Kerja
Pendidikan
Tingkat pendidikan dalam hal ini dibatasi pada Sekolah
Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Tingkat
Atas (Umum), Sekolah Menengah Tingkat Atas (Kejuruan),
Diploma, dan Universitas.
Perkiraan Penduduk Usia Kerja tahun 2012-2013 dari
perkirakan tambahan penduduk usia kerja sebanyak 12.878 orang,
diantaranya pengurangan sebanyak 5.105 orang pada tingkat SD,
pada tingkat pendidikan SMTP terdapat penambahan sebanyak
5.067 orang, 1.965 orang pada tingkat SMTA Umum, sebanyak
1.881 orang pada tingkat SMTA Kejuruan, sebanyak-23 orang pada
tingkat
Diploma,
dan
sebanyak9.091
orang
pada
tingkat
Universitas. Angka-angka tersebut menunjukkan pada tiga tingkat
pendidikanterdapatpenambahan pertumbuhan penduduk usia kerja
yang relatif besar dibandingkan pertambahan penduduk usia kerja
54
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
pada tingkat pendidikan lainnya. Keempat tingkat pendidikan
tersebut berturut-turut SLTP, SMTA Umum, SMTA Kejuruan, dan
Universitas. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas tingkat
pendidikan penduduk usia kerjadan terlihat jelas pada tingkat
pendidikan rendah seperti SD justru mengalami pengurangan
jumlah penduduk usia kerja dan SMTP mengalami penambahan
relatif lebih besar. Laju pertumbuhan, PUK dengan tingkat
pendidikan Diploma diperkirakan akan berkurang sebesar 0,16
persen, pendidikan Universitas akan tumbuh sebesar 22,64 persen
dan pendidikan SMTA Kejuruan tumbuh sebesar 4,52 persen.
Dengan
besarnya
perkiraan
laju
pertumbuhan
PUK
yang
berpendidikan SMTA ke atas, diharapkan kualitas SDM ke depan
semakin maju.
Perkiraan Penduduk Usia Kerja tahun 2013-2014 dari
perkirakan tambahan penduduk usia kerja sebanyak 13.694 orang,
diantaranya pengurangan sebanyak 5.356 orang pada tingkat SD,
pada tingkat pendidikan SMTP terdapat penambahan sebanyak
3.879 orang, 3.425 orang pada tingkat SMTA Umum, pada tingkat
SMTA Kejuruan sebanyak 1.884 orang, pada tingkat Diploma
berkurang sebanyak 90 orang, dan pada tingkat Universitas
bertambah
sebanyak
9.953
orang.
Angka-angka
tersebut
menunjukkan pada tiga tingkat pendidikan terdapat penambahan
pertumbuhan penduduk usia kerja yang relatif besar dibandingkan
pertambahan penduduk usia kerja pada tingkat pendidikan lainnya.
Keempat tingkat pendidikan tersebut berturut-turut SLTP, SMTA
Umum, SMTA Kejuruan, dan Universitas.
Perkiraan Penduduk Usia Kerja tahun 2014-2015 dari
perkiraaan tambahan penduduk usia kerja sebanyak 14.534 orang,
diantaranya pengurangan sebanyak 8.195 orang pada tingkat SD,
pada tingkat pendidikan SMTP terdapat penambahan sebanyak
|
55
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
5.229 orang, 4.611 orang pada tingkat SMTA Umum, pada tingkat
SMTA Kejuruan sebanyak 2.823 orang, pada tingkat Diploma
berkurang sebanyak 63 orang, dan pada tingkat Universitas
bertambah
sebanyak10.129
orang.
Angka-angka
tersebut
menunjukkan pada tiga tingkat pendidikanterdapatpenambahan
pertumbuhan penduduk usia kerja yang relatif besar dibandingkan
pertambahan penduduk usia kerja pada tingkat pendidikan lainnya.
Keempattingkat pendidikan tersebut berturut-turut SLTP, SMTA
Umum, SMTA Kejuruan, dan Universitas.
Perkiraan Penduduk Usia Kerja tahun 2015-2016 dari
perkiraan tambahan penduduk usia kerja sebanyak 15.398 orang,
diantaranya pengurangan sebanyak 7.710 orang pada tingkat SD,
pada tingkat pendidikan SMTP terdapat penambahan sebanyak
5.760 orang, pada tingkat SMTA Umum sebanyak 5.711 orang,
pada tingkat SMTA Kejuruan sebanyak 3.362 orang, pada tingkat
Diploma berkurang sebanyak 1.437 orang, dan pada tingkat
Universitas
bertambah sebanyak
9.711
orang. Angka-angka
tersebut menunjukkan pada tiga tingkat pendidikan terdapat
penambahan pertumbuhan penduduk usia kerja yang relatif besar
dibandingkan pertambahan penduduk usia kerja pada tingkat
pendidikan lainnya. Keempat tingkat pendidikan tersebut berturutturut SLTP, SMTA Umum, SMTA Kejuruan, dan Universitas.
Tabel 3.2
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
Tingkat Pendidikan
≤ SD
SMTP
SMTA Umum
SMTA Kejuruan
Diploma
Universitas
Jumlah
56
|
2012
417.271
159.135
101.983
41.617
14.721
40.120
774.847
2013
412.138
164.186
103.939
43.494
14.767
49.201
787.725
2014
406.729
168.038
107.346
45.369
14.797
59.139
801.419
2015
398.482
173.238
111.937
48.183
14.864
69.249
815.953
2016
390.080
178.671
117.432
51.450
14.909
78.809
831.351
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
3.1.3 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Selanjutnya ditinjau menurut jenis kelamin, pada periode
2012 -2013 pertambahan penduduk usia kerja berjenis kelamin lakilaki diperkirakan mencapai sebanyak6.068 orang, sedangkan pada
perempuan terdapat pertambahan hanya sebanyak 6.811 orang.
Ini berarti perkembangan perempuan lebih dominan dibanding lakilaki dalam penduduk usia kerja. PUK laki-laki diperkirakan akan
mengalami pertumbuhan sebesar 1,57 persen, sedangkan PUK
perempuan tumbuh sebesar 1,76 persen.Pada periode 2013 -2014
pertambahan penduduk usia kerja berjenis kelamin laki-laki
diperkirakan mencapai sebanyak 7.261 orang, sedangkan pada
perempuan terdapat pertambahan sebanyak 6.433 orang. PUK lakilaki diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,85
persen, sedangkan
PUK
perempuan tumbuh
sebesar 1,63
persen.Periode 2014 -2015 pertambahan penduduk usia kerja
berjenis kelamin laki-laki diperkirakan mencapai sebanyak6.882
orang,
sedangkan
pada
perempuan
terdapat
pertambahan
sebanyak 7.652 orang. PUK laki-laki diperkirakan akan mengalami
pertumbuhan sebesar 1,72 persen, sedangkan PUK perempuan
tumbuh
sebesar
1,91
persen.
Pada
periode
2015
-2016
pertambahan penduduk usia kerja berjenis kelamin laki-laki
diperkirakan mencapai sebanyak 7.217 orang, sedangkan pada
perempuan terdapat pertambahan sebanyak 8.181 orang. PUK lakilaki diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,77
persen, sedangkan PUK perempuan tumbuh sebesar 2,00 persen.
Secara lebih lengkap dipaparkan pada tabel dibawah ini.
|
57
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 3.3
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(orang)
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
3.2
2012
387.496
387.351
774.847
2013
393.563
394.162
787.725
2014
400.824
400.595
801.419
2015
407.706
408.246
815.953
2016
414.923
416.428
831.351
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Perkiraan tingkat partisipasi angkatan kerja ditentukan dengan cara
membandingkan angkatan kerja terhadap perkiraan penduduk usia kerja.
Perkiraan tingkat partisipasi angkataan kerja pada tahun 2012 sebesar
72,66 persen, tahun 2013 menjadi 72,94 persen, tahun 2014 sebesar 73,25
persen, tahun 2015 sebesar 73,69 persen dan tahun 2016 diperkirakan akan
terus meningkat sebesar 74,17 persen. Selama periode tersebut besarnya
TPAK diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 1,51 persen.
3.2.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Golongan Umur
Ditinjau dari sisi golongan umur perkiraan tingkat partisipasi
angkatan kerja pada tahun 2012-2013 terjadi penurunan pada
golongan umur 15–19 tahun, umur 20-24 tahun dan 30–34 tahun.
Sementara
itu,
TPAK
golongan
umur
rata-rata
mengalami
peningkatan. Peningkatan terbesar diperkirakan pada golongan umur
55-59 tahun, dengan laju pertumbuhan terbesar, yakni mencapai
sebesar 1,14 persen disusul 60+ sebesar 1,10 persen.
Pada tahun 2013-2014 terjadi penurunan pada golongan
umur 15 – 19 tahun sebesar 1,07 persen, umur 20-24 tahun sebesar
0,49 persen dan umur 30–34 tahun sebesar 0,11 persen. Sementara
itu, TPAK golongan umur yang lain rata-rata mengalami peningkatan.
Peningkatan terbesar diperkirakan pada golongan umur 55-59 tahun,
58
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
dengan laju pertumbuhan terbesar, yakni mencapai sebesar 1,14
persen, disusul umur 60+ dengan laju pertumbuhan sebesar 1,13
persen
Pada tahun 2014-2015 masih terjadi penurunan pada
golongan umur 15–19 tahun, golongan umur 20-24 tahun dan
golongan umur 30–34 tahun. Sementara itu, TPAK golongan umur
yang lain rata-rata mengalami peningkatan. Peningkatan terbesar
diperkirakan pada golongan umur 55-59 tahun dengan laju
pertumbuhan terbesar, yakni mencapai sebesar 1,18 persen, disusul
golongan umur 60+ tahun sebesar 1,15 persen dan golongan umur
40-44 tahun sebesar 1,10 persen.
Pada tahun 2015-2016 diperkirakan masih terjadi penurunan
pada golongan umur 15-19 tahun, golongan umur 20-24 tahun dan
golongan umur 30-34 tahun. Sementara itu, TPAK golongan umur
yang lain diperkirakan masih mengalami peningkatan. Peningkatan
terbesar diperkirakan pada golongan umur 55-59 tahun dengan laju
pertumbuhan terbesar yakni mencapai sebesar 1,19 persen, disusul
golongan umur 60+ tahun sebesar 1,19 persen, selanjutnya disusul
umur 40-44 tahun dengan laju pertumbuhan sebesar 1,17 persen
dan golongan umur umur 40-44 tahun sebesar 1,11 persen.
Sedangkan
TPAK
golongan
umur
15-19
tahun
diperkirakan
mengalami penurunan sebesar 1,01 persen, golongan umur 20-24
tahun sebesar 0,29 persen, dan golongan umur 30-34 tahun.
Penurunan TPAK golongan umur ini membuktikan bahwa kesadaran
masyarakat akan pendidikan yang lebih tinggi sudah semakin baik,
selain itu juga menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat
juga sudah semakin meningkat sehingga semakin banyak orang tua
yang mampu membiayai pendidikan yang lebih tinggi.
|
59
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 3.4
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(Dalam Persen)
Golongan Umur
15 - 19
20 - 24
25 - 29
30 - 34
35 - 39
40 - 44
45 - 49
50 - 54
55 - 59
60 +
TPAK
2012
37,94
67,71
81,22
83,71
84,04
87,69
89,72
85,03
74,01
55,68
72,66
2013
36,81
67,01
82,06
83,59
84,95
87,90
89,96
85,53
75,15
56,78
72,94
2014
35,74
66,52
82,90
83,48
85,87
88,12
90,03
85,94
76,31
57,91
73,25
2015
34,70
66,03
83,76
83,37
86,81
89,22
90,18
86,52
77,49
59,06
73,69
2016
33,69
65,74
84,62
83,26
87,75
90,33
90,33
87,20
78,68
60,23
74,17
3.2.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan
Dilihat dari jenjang lulusan sekolah atau pendidikan tingkat
partisipasi angkatan kerja pada tahun 2012-2013 secara umum
diperkirakan
akan
mengalami
kenaikan
kecuali
yang
berpendidikanMaksimum SD diperkirakan mengalami penurunan.
Tingkat partisipasi angkatan kerja pada pendidikan SMTA Umum
sebesar 71,20 persen dan pada tahun 2013 meningkat menjadi
71,40 persen. Hal ini dapat saja diartikan bahwa lulusan-lulusan
SMTA Umum memasuki pendidikan yang lebih tinggi.
TPAK SMTA Kejuruan pada tahun 2012-2013 diperkirakan
akan mengalami pertumbuhan yang paling tinggi, yaitu mencapai
sebesar 2,15 persen, untuk
TPAK pendidikan
lainnya
juga
mengalami pertumbuhan positif, kecuali TPAK yang berpendidikan
maksimum SD mengalami pertumbuhan minus, yakni sebesar 0,43
persen dan SLTP juga mengalami pertumbuhan minur yaitu sebesar
0,56 persen. Besarnya laju pertumbuhan TPAK SMTA Kejuruan ini
60
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
diperkirakan akan selalu mengalami peningkatan. Hal ini karena
gencarnya sosialisasi pemerintah tentang “SMK Bisa”.
TPAK tahun 2013-2014 semua
mengalami peningkatan
dimana berturut-turut TPAK tertinggi yaitu SLTA Kejuruan sebesar
1,66 persen SLTA Umum sebesar 1,47 persen, Diploma sebesar
0,70 persen dan disusul Universitas sebesar 0,50 persen kecuali
TPAK SD dan SLTP mengalami penurunan berturut-turut sebesar 0,09 persen dan 1,02 persen.
TPAK tahun 2014-2015 semua mengalami peningkatan
dimana berturut-turut TPAK tertinggi yaitu SLTA Kejuruan sebesar
2,24 persen SLTA Umum sebesar 2,05 persen, Diploma sebesar
0,15 persen dan disusul Universitas sebesar 0,04 persen kecuali
TPAK SD dan SLTP mengalami penurunan berturut-turut sebesar
0,15 persen dan 0,58 persen.
TPAK tahun 2015-2016 semua mengalami peningkatan
dimana berturut-turut TPAK tertinggi yaitu SLTA Kejuruan sebesar
2,34 persen SLTA Umum sebesar 2,15 persen, Diploma sebesar
0.54 persen dan disusul Universitas sebesar 0,01 persen kecuali
TPAK SD dan SLTP mengalami penurunan berturut-turut sebesar
0,12 persen dan 0,54 persen. Tentunya mulai dari tahun 2012-2016
TPAK SD dan SLTP cenderung mengalami penurunan, hal ini
tentunya sejalan dengan rencana pemerintah untuk wajib belajar
sembilan tahun.
|
61
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 3.5
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(Dalam Persen)
Tingkat
Pendidikan
≤ SD
SLTP
SLTA Umum
SLTA Kejuruan
Diploma
Universitas
2012
Jumlah
2013
2014
2015
2016
74,88
61,58
71,52
68,54
85,15
96,12
74,45
61,02
73,51
70,69
86,54
96,82
74,36
60,00
74,98
72,35
87,24
97,32
74,21
59,42
77,03
74,59
87,39
97,36
74,09
58,88
79,18
76,93
87,93
97,37
72,66
72,94
73,25
73,69
74,17
3.2.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut
Jenis Kelamin
Tingkat partisipasi angkatan kerjalaki-laki pada periode tahun
2012-2013 diperkirakan jauh lebih dominan dibanding perempuan.
Namun dilihat dari besarnya penambahan, partisipasi perempuan
lebih besar dibandingkan laki-laki yakni sebesar 0,59 persen. Bila
dilihat
laju
pertumbuhannya,
TPAK
perempuan
mengalami
pertumbuhan lebih besar dibanding dengan TPAK laki-laki. TPAK
perempuan meningkat sebesar 0,35 persen, sedangkan laki-laki
hanya 0,24 persen.
Pada tahun 2013-2014 Tingkat partisipasi angkatan kerja lakilaki diperkirakan jauh lebih dominan dibanding perempuan. Namun
dilihat dari besarnya penambahan, partisipasi perempuan lebih besar
dibandingkan laki-laki yakni sebesar 0,42 persen sedangkan laki-laki
sebesar 0,17 persen. Bila dilihat laju pertumbuhannya, TPAK
perempuan mengalami pertumbuhan lebih besar dibanding dengan
TPAK laki-laki. TPAK perempuan meningkat sebesar 0,71 persen,
sedangkan laki-laki hanya 0,20 persen.
62
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Pada tahun 2014-2015 Tingkat partisipasi angkatan kerja lakilaki diperkirakan jauh lebih dominan dibanding perempuan. Namun
dilihat dari besarnya penambahan, partisipasi perempuan lebih besar
dibandingkan laki-laki yakni sebesar 0,47 persen sedangkan laki-laki
sebesar 0,42 persen. Bila dilihat laju pertumbuhannya, TPAK
perempuan mengalami pertumbuhan lebih besar dibanding dengan
TPAK laki-laki. TPAK perempuan meningkat sebesar 0,79 persen,
sedangkan laki-laki hanya 0,48 persen.
Pada tahun 2015-2016 Tingkat partisipasi angkatan kerja lakilaki diperkirakan jauh lebih dominan dibanding perempuan. Namun
dilihat dari besarnya penambahan, partisipasi perempuan lebih besar
dibandingkan laki-laki yakni sebesar 0,60 persen sedangkan laki-laki
sebesar 0,40 persen. Bila dilihat laju pertumbuhannya, TPAK
perempuan mengalami pertumbuhan lebih besar dibanding dengan
TPAK laki-laki. TPAK perempuan meningkat sebesar 1,00 persen,
sedangkan laki-laki hanya 0,46 persen. Hal ini menandakan bahwa
dengan semakin tingginya pendidikan kaum perempuan mendorong
para perempuan untuk memasuki pasar kerja serta adanya
pengakuan terhadap perempuan dalam
dunia kerja semakin
membaik dan juga dapat diartikan bahwa berbagai jenis pekerjaan
yang selama ini didominasi laki-laki sudah dapat dikerjakan oleh
tenaga kerja perempuan. Pergeseran TPAK tersebut dapat dilihat
dalam tabel berikut.
Tabel 3.6
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan KerjaMenurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(Dalam Persen)
Jenis
Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
2012
86,31
59,01
72,66
2013
86,55
59,36
72,94
2014
86,72
59,78
73,25
2015
2016
87,14
60,25
73,69
87,54
60,85
74,17
|
63
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
3.3
Perkiraan Angkatan Kerja
Angkatan Kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja. Pada
tahun 2012 jumlah angkatan kerja diperkirakan sebanyak 566.548 orang
dan pada tahun 2016 diperkirakan meningkat sehingga menjadi 638.882
orang atau mengalami kenaikan sebesar 12,76 persen. Dalam berbagai
karakteristik, perkembangaan angkatan kerja disajikan sebagai berikut.
3.3.1 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Pada tahun 2012-2013 perkiraan angkatan kerja golongan
umur 15-19 tahun dan golongan umur 50-54 tahun diperkirakan akan
mengalami penurunan jumlah angkatan kerja masing-masing yakni
tahun 2012 sebesar 41.895 orang menjadi sebesar 40.234 orang
dan 32.053 orang tahun 2012 menjadi sebesar 30.290 orang pada
tahun 2013, akan tetapi pada golongan umur lainnya diperkirakan
akan mengalami kenaikan termasuk pada golongan usia lanjut.
Penurunan
angkatan
kerja
pada
golongan
umur
tersebut
kemungkinan disebabkan kesadaran angkatan kerja muda memasuki
dunia pendidikan. Angkatan kerja pada tahun 2012 paling banyak
pada golongan umur 25-29 tahun yakni mencapai sebanyak 82.485
orang dan pada tahun 2013 diperkirakan menjadi 86.606 orang,
pada golongan umur 30-34 tahun sebanyak 79.994 orang dan
meningkat menjadi 80.319 orang di tahun 2013 sedangkan golongan
umur 40-44 tahun juga meningkat yakni sebesar 68.957 orang tahun
2012 menjadi 72.636 orang tahun 2013. Tambahan angkatan kerja
yang paling besar diperkirakan pada golongan umur 25-29 tahun,
yaitu mencapai 4.121 orang atau diperkirakan tumbuh sebesar 5,00
persen.
Pada tahun 2013-2014 perkiraan angkatan kerja golongan
umur 15-19 tahun dan golongan umur 50-54 tahun diperkirakan akan
mengalami penurunan jumlah angkatan kerja masing-masing yakni
tahun 2013 sebesar 40.234 orang menjadi sebesar 38.667 orang
pada tahun 2014 dan 30.290 orang tahun 2013 menjadi sebesar
64
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
28.595 orang tahun 2014, akan tetapi pada golongan umur lainnya
diperkirakan akan mengalami kenaikan termasuk pada golongan
usia lanjut. Angkatan kerja pada tahun 2013-2014 paling banyak
pada golongan umur 25-29 tahun yakni mencapai sebanyak 90.934
orang
pada tahun 2014, dan pada golongan umur 30-34 tahun
sebanyak 80.645 orang, golongan umur 40-44 tahun sebanyak
76.511 orang sedangkan golongan umur 20-24 tahun, golongan
umur 35-39 tahun sebanyak 73.482 orang, golongan umur 45-49
tahun sebesar 54.230 orang, golongan umur 60+ tahun sebanyak
sebanyak 43.512 orang, golongan umur 50-54 tahun sebanyak
26.741 orang dan golongan umur 55-59 tahun sebanyak 26.741
orang. Tambahan angkatan kerja yang paling besar diperkirakan
pada golongan umur 25-29 tahun, yaitu mencapai 4.328 orang, dan
juga mengalami pertumbuhan paling besar yakni 5,00 persen.
Pada tahun 2014-2015 perkiraan angkatan kerja golongan
umur 15-19 tahun dan golongan umur 50-54 tahun diperkirakan akan
mengalami penurunan jumlah angkatan kerja masing-masing yakni
tahun 2014 sebesar 38.667 orang menjadi sebesar 37.161 orang
pada tahun 2015 dan 30.290 orang tahun 2014 menjadi sebesar
28.595 orang tahun 2015, akan tetapi pada golongan umur lainnya
diperkirakan akan mengalami kenaikkan termasuk pada golongan
usia lanjut. Angkatan kerja pada tahun 2014-2015 paling banyak
pada golongan umur 25-29 tahun yakni mencapai sebanyak 95.478
orang dan pada tahun 2015, dan pada golongan umur 40-44 tahun
sebanyak 81.397 orang sedangkan golongan umur 30-34 tahun,
yakni sebanyak 80.972 orang. Tambahan angkatan kerja yang paling
besar diperkirakan pada golongan umur 40-44 tahun, yaitu mencapai
4.886 orang, dan juga mengalami pertumbuhan paling besar yakni
6,39 persen.
Pada tahun 2015-2016 perkiraan angkatan kerja golongan
umur 15-19 tahun dan golongan umur 50-54 tahun diperkirakan
masih akan mengalami penurunan jumlah angkatan kerja masingmasing yakni tahun 2015 sebesar 37.161 orang menjadi sebesar
|
65
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
35.713 pada tahun 2016 dan 27.049 orang tahun 2015 menjadi
sebesar 25.611 orang tahun 2016, akan tetapi pada golongan umur
lainnya diperkirakan akan mengalami kenaikan termasuk pada
golongan usia lanjut. Angkatan kerja pada tahun 2015-2016 paling
banyak pada golongan umur 25-29 tahun yakni mencapai sebanyak
100.249 orang dan pada tahun 2016, dan pada golongan umur 40-44
tahun sebanyak 86.595 orang sedangkan golongan umur 30-34
tahun, yakni sebanyak 81.300 orang. Tambahan angkatan kerja
yang paling besar diperkirakan pada golongan umur 40-44 tahun,
yaitu mencapai 5.198 orang, disusul umur 25-29 tahun sebesar
4.771 orang dan umur 20-24 tahun sebesar 3.680 orang, umur 60+
sebesar 1.340 orang dan umur 35-39 tahun sebesar 1.157 orang,
umur 45-49 tahun sebanyak 930 orang, umur 55-59 tahun sebanyak
863 orang dan disusul umur 30-34 tahun sebanyak 328 orang.
Tabel 3.7
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(Orang)
Golongan Umur
15 – 19
20 – 24
25 – 29
30 – 34
35 – 39
40 – 44
45 – 49
50 – 54
55 – 59
60 +
Jumlah
2012
41.895
67.765
82.485
79.994
71.256
2013
40.234
70.575
86.606
80.319
72.360
2014
38.667
73.739
90.934
80.645
73.482
2015
37.161
77.030
95.478
80.972
74.621
2016
35.713
80.710
100.249
81.300
75.778
68.957
52.447
32.053
25.142
41.022
563.015
72.636
53.384
30.290
25.929
42.249
574.582
76.511
54.230
28.595
26.741
43.512
587.056
81.397
55.145
27.049
27.578
44.813
601.243
86.595
56.075
25.611
28.441
46.153
616.626
3.3.2 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Angkatan kerja pada tahun 2012-2013 menurut tingkat
pendidikan diperkirakan akan mengalami kenaikan kecuali pada
tingkat Sekolah Dasar (SD). Angkatan kerja yang berpendidikan
66
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
maksimum SD diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar
1,80 persen atau sebesar 5.618 orang. Penurunan angkatan kerja
yang
berpendidikan
maksimum
SD
ini
diperkirakan
karena
meningkatnya kesadaran akan pendidikan yang lebih tinggi serta
pengurangan alamiah yaitu meninggalnya angkatan kerja yang
berpendidikan maksimum SD ini banyak yang sudah berusia lanjut.
Kenaikan tertinggi terdapat pada tingkat pendidikan Univesitas
sebesar 23,52 persen atau sebesar 9.071 orang, kemudian pada
tingkat SLTA Umum sebesar 4,75 persen atau sebesar 3.466 orang,
SLTA Kejuruan sebesar 7,78 persen atau sebesar 2.220 orang dan
Diploma sebesar 1,95 persen atau sebesar 244 orang. Ini
menandakan bahwa kualitas angkatan kerja menurut pendidikan
cenderung meningkat terbukti dari perkembangan pergeseran SMTP
dan SMTA Umum dan Kejuruan yang lebih rendah dibanding
Universitas.
Pada
tahun
2013-2014
menurut
tingkat
pendidikan
diperkirakan Sekolah Dasar (SD) mengalami penurunan sebesar
1,43 persen atau sebesar 4.381. Sedangkan tingkat pendidikan yang
lain mengalami kenaikan masing-masing terdapat pada tingkat
pendidikan tingkat Universitas sebesar 20,82 persen atau sebesar
9.920, SLTA Umum sebesar 5,35 persen atau sebesar 4.085 orang,
SLTA Kejuruan sebesar 6,77 persen atau sebesar 2.080 orang,
SLTP sebesar 641 orang dan Diploma sebesar 1,02 persen atau
sebesar 130 orang.
Pada
tahun
2014-2015
menurut
tingkat
pendidikan
diperkirakan Sekolah Dasar (SD) mengalami penurunan sebesar
2,23 persen atau sebesar
6.741 orang. Sedangkan
tingkat
pendidikan yang lain mengalami kenaikan masing-masing terdapat
pada tingkat pendidikan Universitas sebesar 17,13 persen atau
|
67
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
sebesar 9.862 orang, SLTA Umum sebesar 7,14 persen atau
sebesar 5.743 orang, SLTA Kejuruan sebesar 9,49 persen atau
sebesar 3.114 orang, SLTP sebesar 9,49 persen atau sebesar 3.114
orang dan Diploma sebesar 0,63 persen atau sebesar 81 orang.
Pada
tahun
2015-2016
menurut
tingkat
pendidikan
diperkirakan Sekolah Dasar (SD) mengalami penurunan sebesar
2,27 persen atau sebesar
6.708 orang. Sedangkan
tingkat
pendidikan yang lain mengalami kenaikan masing-masing terdapat
pada tingkat pendidikan Universitas sebesar 13,82 persen atau
sebesar 9.318 orang, SLTA Umum sebesar 7,83 persen atau
sebesar 6.053 orang, SLTA Kejuruan sebesar 10,13 persen atau
sebesar 3.640 orang, SLTP sebesar 2,20 persen atau sebesar 2.260
orang dan Diploma sebesar 0,92 persen atau sebesar 120 orang.
Tabel 3.8
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(Orang)
Tingkat
Pendidikan
Maksimum SD
2012
2013
2014
2015
2016
312.462
306.844
302.463
295.722
289.014
SMTP
97.995
100.178
100.819
102.946
105.206
SMTA Umum
72.935
76.401
80.486
86.229
92.982
SMTA Kejuruan
28.524
30.744
32.824
35.938
39.578
Diploma
12.535
12.779
12.909
12.990
13.110
Universitas
38.565
47.636
57.556
67.418
76.736
563.015
574.582
587.056
601.243
616.626
Jumlah
3.3.3 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Pada tahun 2012-2013 angkatan kerja yang berjenis kelamin
perempuan diperkirakan akan mengalami pertumbuhan lebih besar
dibanding dengan laki-laki. Persentase perubahan angkatan kerja
68
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
laki-laki diperkirakan sebesar 1,85 persen sedangkan angkatan kerja
perempuan diperkirakan sebesar 2,36 persen.
Pada tahun 2013-2014 persentase perubahan angkatan kerja
laki-laki diperkirakan sebesar 2,04 persen sedangkan angkatan kerja
perempuan diperkirakan sebesar 2,35 persen.
Pada tahun 2014-2015 persentase perubahan angkatan kerja
laki-laki diperkirakan sebesar 2,21 persen sedangkan angkatan kerja
perempuan diperkirakan sebesar 2,72 persen .
Pada tahun 2015-2016 persentase perubahan angkatan kerja
laki-laki diperkirakan sebesar 2,25 persen sedangkan angkatan kerja
perempuan diperkirakan sebesar 3,01 persen. Berikut disajikan
perkiraan Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin.
Tabel 3.9
Perkiraan Angkatan Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016
(Orang)
Jenis Kelamin
2012
2013
2014
2015
2016
Laki – laki
334.455
340.626
347.591
355.256
363.239
Perempuan
228.560
233.957
239.465
245.987
253.387
Jumlah
563.015
574.582
587.056
601.243
616.626
|
69
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB IV
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
KEBUTUHAN AKAN TENAGA KERJA
2012-2016
4.1
Perkiraan Perekonomian Tahun 2012 – 2016
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari perkembangan
PDRB. PDRB merupakan nilai tambah pada semua sektor yang dihitung
berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan. PDRB harga konstan
dapat melihat perkembangan nilai produksi rill per sektor pada tahun
tertentu. Hal ini karena peningkatan PDRB dapat pula dipengaruhi karena
kenaikan harga, tanpa adanya peningkatan produksi/output rill sektoral.
Perekonomian Sulawesi Barat pada tahun 2012 diperkirakan tumbuh
sebesar 7,88 persen, dan tahun 2013 diperkirakan laju pertumbuhannya
meningkat, yakni sebesar 8,65 persen dan 8,85 persen tahun 2014, sebesar
9,11 persen tahun 2015 dan diperkirakan sebesar 9,31 persen pada tahun
2016. Peningkatan ini terjadi di semua sektor perekonomian, dengan
adanya peningkatan ini diharapkan akan memperbaiki tingkat kesejahteraan
|
71
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
masyarakat, yang tercermin pada peningkatan pendapatan per kapita dan
menurunkan tingkat kemiskinan.
Tabel 4.1
Perkiraan Kontribusi dan Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012 – 2016 (%)
2012
No
Sektor Lapangan Usaha
1
2
3
4
5
Pertanian
Pertambangan & Penggalian
Industri Manufaktur
Listrik, Gas Dan Air Bers ih
Bangunan
Perdagangan, Hotel Dan
Restoran
Angkutan dan Komunikasi
Lemkeu, Sw Bgnan, Js Pswaan
& Jasa Perush
Pemerintahan, Pertahanan &
Jasa-2 Lainnya
Jumlah
6
7
8
9
2013
46.37
0.93
9.12
0.58
4.68
Laju
Pertumb
8.26
6.54
7.17
5.97
8.47
12.53
3.50
2014
46.22
0.94
9.00
0.62
4.68
Laju
Pertumb
8.30
10.47
7.27
15.46
8.53
6.99
12.36
7.79
3.47
6.44
6.94
15.85
100
Kontribusi
2015
46.01
0.96
8.88
0.66
4.67
Laju
Pertumb
8.36
11.25
7.36
15.49
8.60
7.19
12.18
7.79
3.44
6.90
16.36
8.26
15.81
7.88
100
Kontribusi
2016
45.73
0.98
8.74
0.70
4.68
Laju
Pertumb
8.43
11.30
7.41
15.51
9.37
7.26
11.98
7.85
3.40
7.45
17.56
8.36
15.75
8.65
100
Kontribusi
45.39
1.00
8.60
0.74
4.68
Laju
Pertumb
8.50
11.32
7.57
15.53
9.40
7.36
11.79
7.56
7.92
3.36
8.05
8.12
18.96
8.85
19.06
8.46
15.67
8.55
15.59
8.75
8.85
100
9.11
100
9.31
Kontribusi
Kontribusi
Sektor pertanian diperkirakan tetap menjadi penyumbang terbesar
dalam penyediaan kesempatan kerja, hal ini disebabkan karena sektor ini
dijadikan sumber pendapatan bagi mayoritas Sulawesi Barat. Ini terbukti
dengan adanya program pemerintah untuk menjadikan Sulawesi Barat
khususnya sebagai wilayah lumbung padi. Pemerintah terus mencetak lahan
persawahan baru dibeberapa daerah yang dinilai berpotensi menjadi
lumbung padi.
Sumbangan
sektor
pertambangan
pada
tahun
2012-2016
diperkirakan menduduki urutan kedua terendah yakni sebesar 0,93 persen
pada tahun 2012 dan mengalami peningkatan menjadi sebesar 1,00 persen
pada tahun 2016. Sektor ini diperkirakan akan mengalami pertumbuhan
sebesar 6,54 persen pada tahun 2012 dan mengalami peningkatan menjadi
sebesar 11,32 persen pada tahun 2016. Kedepan pemerintah daerah harus
berupaya untuk meningkatkan peranan sektor pertambangan ini dengan
membuka peluang bagi investor untuk berinvestasi di sektor ini. Adapun
upaya pemerintah diantaranya dengan membangun sarana dan prasarana
yang dibutuhkan investor, seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan lainnya.
Sektor industri diperkirakan sebagai penyumbang terbesar keempat
dalam pembentukan PDRB Sulawesi Barat, pada tahun 2012 menyumbang
72
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
9,12 persen, menurun menjadi 8,60 persen pada tahun 2016. Dari segi
penyerapan tenaga kerjanya sektor ini juga berada pada urutan keempat
setelah sektor perdagangan.
Pertumbuhan di sektor listrik, gas dan air pada tahun 2012
diperkirakan merupakan sektor terendah yakni mencapai 5,97 persen dan
mengalami peningkatan yang sangat signifikan sehingga menjadi 15,53
persen pada tahun 2016. Apabila dilihat menurut proporsinya sektor ini
terkecil dalam pembentukan PDRB yakni 0,58 persen dan meningkat
menjadi 0,74 persen pada tahun 2016. Sektor listrik, gas dan air, merupakan
sektor pendukung sektor lainnya, terutama untuk kegiatan konsumsi,
industri, dan rumah tangga.
Sumbangan sektor bangunan dalam mendukung perekonomian
Sulawesi Barat mampu menyumbang 8,47 persen pada tahun 2012 dan
8,53 persen pada tahun 2013, pertumbuhan ini masih terus meningkat pada
akhir tahun 2016 menjadi sebesar 9,40 persen. Perkembangan sektor
bangunan diperkirakan karena meningkatnya proyek-proyek infrastruktur
baik yang dibiayai pemerintah maupun swasta di antaranya jalan raya,
pelabuhan, jembatan, perumahan dan real estate, hotel, restoran dan ruko.
Sektor perdagangan, hotel dan restoran diperkirakan tumbuh
sebesar 6,99 persen pada tahun 2012 dan terus meningkat menjadi 7,56
persen pada tahun 2016. Perkembangan sektor perdagangan, hotel dan
restoran
dipengaruhi
oleh
aktivitas
dan
perkembangan
daya
beli
masyarakat. Salah satu faktor yang mendorong meningkatnya pertumbuhan
sektor ini adalah sub sektor perhotelan, yakni dengan membaiknya tingkat
hunian, baik dilihat dari jumlah maupun lamanya menginap dari wisatawan
domestik dan wisatawan asing.
Pertumbuhan sektor angkutan pada tahun 2012-2016 mengalami
sedikit peningkatan yakni sebesar 7,79 persen pada tahun 2012 meningkat
menjadi 8,05 persen pada tahun 2016. Dilihat dari kontribusinya sektor ini
terendah ketiga setelah sektor pertambangan dan penggalian dan sektor
|
73
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
listrik, gas dan air yakni pada tahun 2012 sebesar 3,50 persen bagi
perekonomian di Sulawesi Barat, dan menurun menjadi 3,36 persen pada
tahun 2012.
Pola pertumbuhan sektor keuangan diperkirakan meningkat dalam
periode 5 tahun kedepan, sehingga mempengaruhi kontribusinya terhadap
PDRB. Meningkatnya sektor ini dikarenakan semakin banyaknya lembaga
keuangan (Bank pemerintah, swasta dan BPR), lembaga pembiayaan
(leasing) dan pegadaian.
Sektor
jasa
kemasyarakatan
pada
tahun
2012
diperkirakan
menyumbang 15,85 persen dari total PDRB atau senilai 896 milyar rupiah.
Sampai dengan tahun 2016 diperkirakan akan meningkat menjadi sebesar
1.243 milyar rupiah atau 15,59 persen.
4.2.
Perkiraan Kesempatan Kerja
Penciptaan kesempatan kerja merupakan salah satu langkah untuk
penanggulangan pengangguran. Semakin banyak kesempatan kerja yang
tercipta menyebabkan rendahnya atau berkurangnya pengangguran.
Penciptaan kesempatan kerja di berbagai sektor atau lapangan usaha
sangat diharapkan sehingga memberikan peluang kepada penduduk untuk
bekerja. Perkiraan kesempatan kerja tahun 2012-2016 merupakan perkiraan
besarnya peluang kesempatan kerja pada tahun dimaksud.
Kesempatan kerja pada tahun 2012 – 2016 diperkirakan akan
mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 yakni dari 547.682 orang
meningkat menjadi 559.682 orang pada tahun 2013, meningkat menjadi
572.384 pada tahun 2014, meningkat menjadi 587.088 orang pada tahun
2015 dan meningkat lagi menjadi 602.948 orang pada tahun 2016.
4.2.1 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha
Untuk tahun 2012-2013, perkiraan kesempatan kerja menurut
lapangan usaha masih didominasi oleh 3 lapangan usaha yaitu
sektor
74
|
pertanian,
sektor
perdagangan
dan
sektor
jasa
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
kemasyarakatan. Untuk sektor pertanian diperkirakan memiliki
kesempatan kerja sebanyak 315.774 orang pada tahun 2012
meningkat sebanyak 133 orang menjadi 315.907 orang pada tahun
2013. Sektor jasa kemasyarakatan berada pada urutan kedua
dengan 13,76 persen atau 75.349 orang pada tahun 2012 dan
79.922 orang atau 14,28 persen di tahun 2013. Meningkatnya dunia
jasa menyebabkan sektor ini semakin terbuka kesempatan kerjanya.
Sektor perdagangan menempati urutan ketiga dengan kesempatan
kerja pada tahun 2012 sebanyak 74.555 orang dan pada tahun 2013
menjadi 77.492 orang. Sektor ini diperkirakan akan terus bertambah
seiring dengan semakin besarnya sektor informal.Sedangkan sektor
bangunan tahun 2012 sebesar 22.292 orang menjadi 24.061 orang
pada tahun 2013 atau bertambah sebanyak 1.769 orang, industri
pengolahan pada tahun 2012 sebesar 31.994 orang menjadi 32.764
orang pada tahun 2013 atau bertambah sebanyak 770 orang, sektor
angkutan bertambah sebanyak 97 orang dari 14.776 orang tahun
2012 menjadi 14.873 orang pada tahun 2013, sektor keuangan
bertambah sebanyak 845 orang dari 5.194 orang tahun 2012 menjadi
6.038 orang tahun 2013, sektor pertambangan bertambah sebanyak
630 orang dari 6.164 orang tahun 2012 menjadi 6.794 orang pada
tahun 2013, dan sektor listrik, gas dan air bertambah sebanyak 244
orang dari 1.585 orang tahun 2012 menjadi sebanyak 1.829 orang
tahun 2013.
Untuk tahun 2013-2014, perkiraan kesempatan kerja menurut
lapangan usaha berturut-turut sektor pertanian diperkirakan memiliki
kesempatan kerja sebanyak 315.907 orang pada tahun 2013
meningkat sebanyak 641 orang menjadi 316.548 orang pada tahun
2014. Sektor jasa kemasyarakatan berada pada urutan kedua
dengan 14,28 persen atau 79.922 orang pada tahun 2013 dan
85.081 orang di tahun 2014. Sektor perdagangan menempati urutan
|
75
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
ketiga dengan kesempatan kerja pada tahun 2013 sebanyak 77.492
orang dan pada tahun 2014 menjadi 79.448 orang, sektor ini memiliki
pertambahan terbesar ketiga juga yaitu sebanyak 1.956 orang.
Sedangkan sektor bangunan tahun 2013 sebesar 24.061 orang
menjadi 26.121 orang pada tahun 2014 atau bertambah sebanyak
2.060 orang, industri pengolahan pada tahun 2013 sebesar 32.764
orang menjadi 33.562 orang pada tahun 2014 atau bertambah
sebanyak 798 orang, sektor angkutan bertambah sebanyak 125
orang dari 14.873 orang tahun 2013 menjadi 14.998 orang pada
tahun 2014, sektor keuangan bertambah sebanyak 1.056 orang dari
6.038 orang tahun 2013 menjadi 7.094 orang tahun 2014, sektor
pertambangan bertambah sebanyak 751 orang dari 6.794 orang
tahun 2013 menjadi 7.545 oang pada tahun 2014, dan sektor listrik,
gas dan air bertambah sebanyak 156 orang dari 1.829 orang tahun
2013 menjadi sebanyak 1.986 orang tahun 2014.
Untuk tahun 2014-2015, perkiraan kesempatan kerja menurut
lapangan usaha berturut-turut sektor pertanian diperkirakan memiliki
kesempatan kerja sebanyak 316.548 orang pada tahun 2014
meningkat sebanyak 1.062 orang menjadi 317.610 orang pada tahun
2015. Sektor jasa kemasyarakatan berada pada urutan kedua
dengan 14,86 persen atau 85.081 orang pada tahun 2014 dan
90.944 orang di tahun 2015. Sektor perdagangan menempati urutan
ketiga dengan kesempatan kerja pada tahun 2014 sebanyak 79.448
orang dan pada tahun 2015 menjadi 81.586 orang, sektor ini memiliki
pertambahan terbesar ketiga juga yaitu sebanyak 2.120 orang.
Sedangkan sektor bangunan
tahun 2014 sebesar 26.121 orang
menjadi 28.549 orang pada tahun 2015 atau bertambah sebanyak
2.428 orang, industri pengolahan pada tahun 2014 sebesar 33.562
orang menjadi 34.435 orang pada tahun 2015 atau bertambah
sebanyak 873 orang, sektor angkutan bertambah sebanyak 125
76
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
orang dari 14.998 orang tahun 2014 menjadi 15.123 orang pada
tahun 2015, sektor keuangan bertambah sebanyak 1.341 orang dari
7.094 orang tahun 2014 menjadi 8.435 orang tahun 2015, sektor
pertambangan bertambah sebanyak 707 orang dari 7.545 orang
tahun 2014 menjadi 8.252 oang pada tahun 2015, dan sektor listrik,
gas dan air bertambah sebanyak 185 orang dari 1.986 orang tahun
2014 menjadi sebanyak 2.171 orang tahun 2015.
Untuk tahun 2015-2016, perkiraan kesempatan kerja menurut
lapangan usaha berturut-turut sektor pertanian diperkirakan memiliki
kesempatan kerja sebanyak 317.610 orang pada tahun 2015
meningkat sebanyak 1.907 orang menjadi 319.517 orang pada tahun
2016. Sektor jasa kemasyarakatan berada pada urutan kedua
dengan 15,49 persen atau 90.944 orang pada tahun 2015 dan
96.346 orang di tahun 2016. Sektor perdagangan menempati urutan
ketiga dengan kesempatan kerja pada tahun 2015 sebanyak 81.586
orang dan pada tahun 2016 menjadi 83.878 orang, sektor ini memiliki
pertambahan terbesar ketiga juga yaitu sebanyak 2.310 orang.
Sedangkan sektor bangunan
tahun 2015 sebesar 28.549 orang
menjadi 30.916 orang pada tahun 2016 atau bertambah sebanyak
2.367 orang, industri pengolahan pada tahun 2015 sebesar 34.435
orang menjadi 35.397 orang pada tahun 2016 atau bertambah
sebanyak 962 orang, sektor angkutan bertambah sebanyak 355
orang dari 15.123 orang tahun 2015 menjadi 15.478 orang pada
tahun 2016, sektor keuangan bertambah sebanyak 1.512 orang dari
8.435 orang tahun 2015 menjadi 9.946 orang tahun 2016, sektor
pertambangan bertambah sebanyak 825 orang dari 8.252 orang
tahun 2015 menjadi 9.077 orang pada tahun 2016, dan sektor listrik,
gas dan air bertambah sebanyak 221 orang dari 2.171 orang tahun
2015 menjadi sebanyak 2.392 orang tahun 2016.
|
77
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 4.2
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Orang)
Lapangan Usaha
2012
2013
2014
2015
2016
315,774
315,907
316,548
317,610
319,517
2. Pertambangan
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas dan Air
5. Bangunan
6,164
31,994
1,585
22,292
6,794
32,764
1,829
24,061
7,545
33,562
1,986
26,121
8,252
34,435
2,171
28,549
9,077
35,397
2,392
30,916
6. Perdagangan
7. Angkutan
8. Keuangan
9. Jasa Kemasyarakatan
74,555
14,776
5,194
75,349
77,492
14,873
6,038
79,922
79,448
14,998
7,094
85,081
81,568
15,123
8,435
90,944
83,878
15,478
9,946
96,346
547,682
559,682
572,384
587,088
602,948
1. Pertanian
Jumlah
4.2.2 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan Umur
Kesempatan kerja tahun 2012-2013 untuk golongan umur 1519 tahun diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak 1.589
orang dari 37.975 orang menjadi 36.385 orang, golongan umur
tersebut termasuk dalam usia sekolah. Menurunnya kesempatan
kerja untuk golongan umur ini, diperkirakan karena semakin
meningkatnya kesadaran masyarakat dan meningkatnya peranan
pemerintah terhadap peningkatan partisipasi sekolah. Begituj uga
golongan umur 50-54 tahun diperkirakan menurun sebanyak 1.754
orang dari 31.856 orang menjadi 30.101 orang Sedangkan golongan
umur yang lain diperkirakan cenderung mengalami kenaikan
berturut-turut yakni golongan umur 20-24 tahun, diperkirakan
mengalami kenaikan sebanyak 2.903 orang dari 63.122 orang
menjadi 66.025 orang, golongan umur 25-29 tahun, diperkirakan
mengalami kenaikan sebanyak 4.159 orang dari 81.141 orang
menjadi 85.300 orang, golongan umur 30-34 tahun, diperkirakan
mengalami kenaikan sebanyak 365 orang dari 78.244 orang menjadi
78
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
78.610 orang, golongan umur 35-39 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 1.119 orang dari 70.681 orang menjadi 71.800
orang, golongan umur 40-44 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 3.712 orang dari 68.330 orang menjadi 72.042
orang, golongan umur 45-49 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 978 orang dari 51.653 orang menjadi 52.631
orang, golongan umur 55-59 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 859 orang dari 24.308 orang menjadi 25.168
orang, demikan pula dengan golongan umur 60+ yang mengalami
kenaikan sebesar 1.249 orang dari 40.373 orang menjadi 41.621
orang, banyaknya tambahan kesempatan kerja untuk golongan umur
ini, karena membaiknya kesehatan akibat meningkatnya harapan
hidup bangsa Indonesia walaupun mereka yang sudah memasuki
usia pensiun.
Kesempatan kerja tahun 2013-2014 untuk golongan umur 1519 tahun diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak 1.534
orang dari 36.385 orang menjadi 34.851 orang,begitu juga golongan
umur
50-54
tahun
diperkirakan
akan
mengalami penurunan
sebanyak 1.688 orang dari 30.101 orang menjadi 28.414 orang.
Sedangkan kesempatan kerja diperkirakan mengalami kenaikan
berturut-turut golongan umur 20-24 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 3.206 orang dari 66.025 orang menjadi 69.231
orang, golongan umur 25-29 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 4.344 orang dari 85.300 orang menjadi 89.643
orang, golongan umur 30-34 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 342 orang dari 78.610 orang menjadi 78.952
orang, golongan umur 35-39 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 1.135 orang dari 71.800 orang menjadi 72.935
orang, golongan umur 40-44 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 3.890 orang dari 74.588 orang menjadi 80.669
|
79
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
orang,
golongan umur 45-49 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 876 orang dari 52.631 orang menjadi 53.507
orang, golongan umur 55-59 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 857 orang dari 25.168 orang menjadi 26.025
orang, golongan umur 60+ tahun, diperkirakan mengalami kenaikan
sebanyak 1.274 orang dari 41.621 orang menjadi 42.895 orang.
Kesempatan kerja tahun 2014-2015 untuk golongan umur 1519 tahun diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak 1.449
orang dari 34.851 orang menjadi 32.014 orang, begitu juga golongan
umur 50-54 tahun
diperkirakan akan mengalami penurunan
sebanyak 1.534 orang dari 28.414 orang menjadi 26.879 orang.
Sedangkan kesempatan kerja diperkirakan mengalami kenaikan
berturut-turut golongan umur 20-24 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 3.407 orang dari 69.231 orang menjadi 72.638
orang, golongan umur 25-29 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 4.623 orang dari 89.643 orang menjadi 94.266
orang, golongan umur 30-34 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 393 orang dari 78.952 orang menjadi 79.345
orang, golongan umur 35-39 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 1.199 orang dari 72.935 orang menjadi 74.133
orang, golongan umur 40-44 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 4.889 orang dari 75.931 orang menjadi 80.830
orang, golongan umur 45-49 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 924 orang dari 53.507 orang menjadi 54.430
orang, golongan umur 55-59 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 903 orang dari 26.025 orang menjadi 26.927
orang, golongan umur 60+ tahun, diperkirakan mengalami kenaikan
sebanyak 1.340 orang dari 42.895 orang menjadi 44.235 orang.
Kesempatan kerja tahun 2015-2016 untuk golongan umur 1519 tahun diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak 1.389
80
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
orang dari 33.403 orang menjadi 32.014 orang, begitu juga golongan
umur
50-54
tahun
diperkirakan
akan
mengalami penurunan
sebanyak 1.425 orang dari 26.879 orang menjadi 25.454 orang.
Sedangkan kesempatan kerja diperkirakan mengalami kenaikan
berturut-turut golongan umur 20-24 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 3.738 orang dari 72.638 orang menjadi 76.377
orang, golongan umur 25-29 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 4.860 orang dari 94.266 orang menjadi 99.126
orang, golongan umur 30-34 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 393 orang dari 79.345 orang menjadi 79.738
orang, golongan umur 35-39 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 1.217 orang dari 74.133 orang menjadi 75.350
orang, golongan umur 40-44 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 5.213 orang dari 80.830 orang menjadi 86.044
orang, golongan umur 45-49 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 939 orang dari 54.430 orang menjadi 55.369
orang, golongan umur 55-59 tahun, diperkirakan mengalami
kenaikan sebanyak 933 orang dari 26.927 orang menjadi 27.861
orang, golongan umur 60+ tahun, diperkirakan mengalami kenaikan
sebanyak 1.381 orang dari 44.235 orang menjadi 45.616 orang.
Tabel 4.3
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Orang)
Golongan Umur
15 - 19
20 - 24
25 - 29
30 - 34
35 - 39
40 - 44
45 - 49
50 - 54
55 - 59
60 +
Jumlah
2012
37,975
63,122
81,141
78,244
70,681
68,330
51,653
31,856
24,308
40,373
547,682
2013
36,385
66,025
85,300
78,610
71,800
72,042
52,631
30,101
25,168
41,621
559,682
2014
34,851
69,231
89,643
78,952
72,935
75,931
53,507
28,414
26,025
42,895
572,384
2015
33,403
72,638
94,266
79,345
74,133
80,830
54,430
26,879
26,927
44,235
587,088
2016
32,014
76,377
99,126
79,738
75,350
86,044
55,369
25,454
27,861
45,616
602,948
|
81
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
4.2.3 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi pada
saat ini kebutuhan akan tenaga kerja yang berkualitas menjadi
sebuah kebutuhan. Oleh karena itu kesempatan kerja untuk tingkat
pendidikan Maksimum SD diperkirakan mengalami penurunan
sebanyak 5.579 orang selama tahun 2012-2013, pada tahun 2012
diperkirakan jumlah kesempatan kerja yang tercipta sebanyak
308.300 orang dan pada tahun 2013 sebanyak 302.721 orang.
Sedangkan untuk perkiraan kesempatan kerja dengan jenjang
pendidikan Universitas diperkirakan akan mengalami kenaikan
walaupun secara keseluruhan jumlah kesempatan kerja yang
tersedia masih sedikit sebanyak 37.185 orang pada tahun 2012 dan
46.355 orang pada tahun 2013. Sedangkan perkiraan jumlah
kesempatan kerja yang dapat dikatakan relatif masih kecil terdapat
pada jenjang pendidikan Diploma, yakni sebanyak 12.019 orang
pada tahun 2012 dan 12.272 orang pada tahun 2013.
Kesempatan kerja tahun 2013-2014 untuk tingkat SD
diperkirakan turun sebesar 4.343 orang dari 302.721 orang menjadi
298.378 orang. Sementara tingkat pendidikan yang lain mengalami
kenaikan yaitu tingkat SMTP bertambah sebanyak 654 orang dari
98.745 orang menjadi 99.399 orang, tingkat SMTA Umum bertambah
sebanyak 4.117 orang dari 71.756 orang menjadi 75.872 orang,
tingkat SMTA Kejuruan bertambah sebanyak 2.093 orang dari
27.833 orang menjadi 29.926 orang, untuk Diploma bertambah
sebanyak 138 orang dari 12.272 orang menjadi 12.410 orang.
Tingkat Universitas bertambah sebanyak 10.044 orang dari 46.355
orang menjadi 56.399 orang.
Kesempatan kerja tahun 2014-2015 untuk tingkat SD
diperkirakan turun sebesar 6.682 orang dari 298.378 orang menjadi
291.696 orang. Sementara tingkat pendidikan yang lain mengalami
82
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
kenaikan yaitu tingkat SMTP bertambah sebanyak 2.156 orang dari
99.399 orang menjadi 101.555 orang, tingkat SMTA Umum
bertambah sebanyak 5.954 orang dari 75.872 orang menjadi 81.826
orang, tingkat SMTA Kejuruan bertambah sebanyak 3.173 orang dari
29.926 orang menjadi 33.098 orang, untuk Diploma bertambah
sebanyak 91 orang dari 12.410 orang menjadi 12.500 orang. Tingkat
Universitas bertambah sebanyak 10.013 orang dari 56.399 orang
menjadi 66.412 orang.
Kesempatan kerja tahun 2015-2016 untuk tingkat SD
diperkirakan turun sebesar 6.575 orang dari 291.696 orang menjadi
285.121 orang. Sementara tingkat pendidikan yang lain mengalami
kenaikan yaitu tingkat SMTP bertambah sebanyak 2.300 orang dari
101.555 orang menjadi 103.855 orang, tingkat SMTA Umum
bertambah sebanyak 6.763 orang dari 81.826 orang menjadi 88.590
orang, tingkat SMTA Kejuruan bertambah sebanyak 3.771 orang dari
33.098 orang menjadi 36.869 orang, untuk Diploma bertambah
sebanyak 206 orang dari 12.500 orang menjadi 12.706 orang.
Tingkat Universitas bertambah sebanyak 9.395 orang dari 66.412
orang menjadi 75.807 orang.
Tabel 4.4
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Orang)
Tingkat Pendidikan
Maksimum SD
SLTP
SMTA Umum
2012
308,300
96,532
68,150
2013
302,721
98,745
71,756
2014
298,378
99,399
75,872
2015
291,696
101,555
81,826
2016
285,121
103,855
88,590
SMTA Kejuruan
D1 - D3
Universitas
25,497
12,019
37,185
27,833
12,272
46,355
29,926
12,410
56,399
33,098
12,500
66,412
36,869
12,706
75,807
Jumlah
547,682
559,682
572,384
587,088
602,948
|
83
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
4.2.4 Perkiraan Kesempatan KerjaMenurut Jenis Kelamin
Kesempatan kerja menurut jenis kelamin diperkirakan masih
di dominasi oleh laki-laki. Hal ini terlihat dari komposisi jumlah
kesempatan kerja untuk jenis kelamin laki-laki sebanyak 326.384
orang pada tahun 2012 dan bertambah sebanyak 6.320 orang
sehingga menjadi 332.703 orang di tahun 2013. Kesempatan kerja
untuk jenis kelamin perempuan diperkirakan juga mengalami
kenaikan sebanyak5.680 orang dari 221.298 orang tahun 2012
menjadi sebanyak 226.979 orang pada tahun 2013. Perkiraan
kesempatan kerja laki-laki lebih banyak daripada perempuan
dikarenakan laki-laki sebagai tulang punggung keluarga sehingga
harus mencari nafkah.
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin tahun
2013-2014 diperkirakan masih di dominasi oleh laki-laki. Hal ini
terlihat dari komposisi jumlah kesempatan kerja untuk jenis kelamin
laki-laki sebanyak 332.703 orang pada tahun 2013 dan bertambah
sebanyak 7.086 orang sehingga menjadi 339.789 orang di tahun
2014. Kesempatan kerja untuk jenis kelamin perempuan diperkirakan
juga mengalami kenaikan sebanyak 5.616 orang dari tahun 2013
yang sebanyak 226.979 orang menjadi sebanyak 232.595 orang
pada tahun 2014.
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin tahun
2014-2015 diperkirakan masih di dominasi oleh laki-laki. Hal ini
terlihat dari komposisi jumlah kesempatan kerja untuk jenis kelamin
laki-laki sebanyak 339.789 orang pada tahun 2014 dan bertambah
sebanyak 7.875 orang sehingga menjadi 347.644 orang di tahun
2015. Kesempatan kerja untuk jenis kelamin perempuan diperkirakan
juga mengalami kenaikan sebanyak 6.849 orang dari tahun 2014
yang sebanyak 232.595 orang menjadi sebanyak 239.444 orang
pada tahun 2015.
84
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin tahun
2015-2016 diperkirakan masih di dominasi oleh laki-laki. Hal ini
terlihat dari komposisi jumlah kesempatan kerja untuk jenis kelamin
laki-laki sebanyak 347.644 orang pada tahun 2015 dan bertambah
sebanyak 7.875 orang sehingga menjadi 355.865 orang di tahun
2016. Kesempatan kerja untuk jenis kelamin perempuan diperkirakan
juga mengalami kenaikan sebanyak 7.639 orang dari tahun 2015
yang sebanyak 239.444 orang menjadi sebanyak 247.083 orang
pada tahun 2016.
Tabel 4.5
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Orang)
Jenis Kelamin
2012
2013
2014
2015
2016
Laki-laki
326,384
332,703
339,789
347,644
355,865
Perempuan
221,298
226,979
232,595
239,444
247,083
Jumlah
547,682
559,682
572,384
587,088
602,948
4.2.5 Perkiraan Kesempatan KerjaMenurut Status Pekerjaan
Status pekerjaan dapat dikategorikan menjadi 2 (dua)
kategori yaitu informal dan formal. Kategori informal memiliki
presentase yang cukup besar dibandingkan dengan kategori formal.
Hal ini terlihat pada tabel di bawah yang termasuk dalam kategori
informal sebesar 74,81 persen pada tahun 2012 dan 74,30 persen
pada tahun 2013. Yang termasuk ke dalam kategori informal adalah
berusaha sendiri, berusaha dibantu, pekerja bebas di pertanian,
pekerja bebas di non pertanian serta pekerja keluarga/tidak dibayar.
Yang termasuk kedalam kategori formal adalah berusaha dibantu
buruh tetap (pengusaha/majikan) sebesar2,05 persen pada tahun
2012 menurun menjadi 2,00 persen pada tahun 2016 dan
buruh/karyawan/pekerja diperkirakan memiliki tambahan selama
|
85
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
tahun 2012-2016 sebanyak 25.231 orang. Pada kategori informal
ada beberapa status pekerjaan utama yang mengalami penurunan
proporsi selama tahun 2012-2016 yaitu berusaha sendiri tanpa
bantuan, berusaha dengan dibantu, dan pekerja tak dibayar,
sedangkan pekerja bebas dipertanian memiliki proporsi 5,39 orang
pada tahun 2012 dan mengalami kenaikan menjadi 7,18 persen pada
tahun 2016, untuk pekerja bebas di non pertanian memiliki proporsi
2,07 persen pada tahun 2012 dan mengalami kenaikan menjadi 2,69
persen pada tahun 2016.
Tabel 4.6
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status Pekerjaan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Orang)
Status Pekerjaan
1. Brsh Sendiri tanpa bantuan
2. Brsh Dengan Dibantu
3. Brsh. Dengan Buruh
4. Pekerja/Buruh/karyawan
5. Pkj. Bebas di Pertanian
6. Pkj. Bebas di Non Pertanian
7. Pekerja tak dibayar
Jumlah
2012
81,881
146,339
11,230
126,730
29,514
11,323
140,665
547,682
2013
82,387
147,950
11,412
132,447
32,435
12,377
140,675
559,682
2014
82,824
149,449
11,587
138,301
35,613
13,517
141,093
572,384
2015
83,563
151,506
11,807
144,934
39,244
14,816
141,220
587,088
2016
84,350
153,669
12,037
151,961
43,266
16,247
141,418
602,948
4.2.6 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jabatan
Perkiraan kesempatan kerja menurut jabatan utama pada
tahun 2012-2016 masih di dominasi oleh mereka yang jenis
pekerjaannya sebagai tenaga usaha pertanian.Proporsi tenaga
usaha pertanian mencapai sebesar 56,87 persen pada tahun 2012
dan pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 4,88 persen
sehingga menjadi 51,98 persen. Untuk kesempatan kerja yang
menyerap tenaga kerja terbesar kedua yaitu tenaga produksi dan
lainnya, proporsinya mengalami peningkatan sebesar 0,94 persen,
yaitu dari sebesar 16,21 persen pada tahun 2012 dan menurun
menjadi 17,14 persen pada tahun 2016.
86
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 4.7
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jabatan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2013 (Orang)
Jenis Pekerjaan Utama
0/1. Tenaga Profesional
2. Tenaga Kepemimpinan
3. Tenaga Tata Usaha
4. Tenaga Usaha Penjualan
5. Tenaga Usaha Jasa
6. Tenaga Usaha Pertanian
7/8/9. Tenaga Produksi & lainnya
Jumlah
2012
30,070
4,147
29,010
70,192
14,053
311,450
88,761
547,682
2013
32,042
4,444
31,695
73,260
15,112
311,786
91,344
559,682
2014
34,714
4,841
34,200
77,115
16,117
312,290
93,107
572,384
2015
37,667
5,463
37,284
80,395
17,411
312,838
96,029
587,088
2016
40,102
6,447
39,880
81,015
18,696
313,434
103,374
602,948
Sumber : BPS, data diolah
4.2.7 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja
Jam kerja menunjukkan pemakaian waktu yang digunakan
oleh tenaga kerja selama mereka bekerja. Jam kerja dibagi 2
kategori yaitu bekerja penuh (penduduk yang bekerja lebih dari 35
jam seminggu) dan setengah penganggur (penduduk yang bekerja
kurang dari 35 jam seminggu).
Kesempatan kerja menurut jam kerja diatas 35 jam pada
tahun 2016-2016 diperkirakan mengalami peningkatan sebanyak
15.810 orang. Peningkatan ini untuk semua jam kerja, peningkatan
terbesar terjadi pada jam kerja 60 jam keatas yaitu mencapai
sebanyak 7.632 orang. Proporsi kesempatan kerja untuk jam kerja
35-44 jam sebesar 19,27 persen pada tahun 2012 dan pada tahun
2016 meningkat menjadi 19,93 persen. Peningkatan jam kerja ini
diperkirakan semakin meningkatnya produksi perusahaan yang
mengakibatkan para kerja membutuhkan waktu kerja lebih lama
dibandingkan dengan waktu kerja normal.
|
87
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 4.8
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Orang)
4.3
Jam Kerja
2012
2013
2014
2015
2016
0
36,928
38,962
41,997
46,753
51,760
1-9
47,358
49,640
51,703
53,661
55,386
10-14
57,335
59,709
61,787
63,107
64,713
15-24
111,170
112,157
113,538
115,085
117,130
25-34
88,808
89,274
89,701
90,690
92,066
35-44
105,517
105,704
106,260
107,480
109,162
45-59
72,811
74,507
75,759
76,760
77,345
≥ 60
27,755
29,728
31,639
33,553
35,387
Jumlah
547,682 559,682 572,384 587,088
Keterangan **) Sementara tidak bekerja (sakit, cacat, dll)
602,948
Perkiraan Produktivitas Tenaga Kerja
Besarnya produktivitas tenaga kerja merupakan gambaran besarnya
aktifitas tenaga kerja yang dapat dihasilkan, tinggi rendahnya tingkat
produktivitas tenaga kerja yang dicapai setiap sektor lapangan usaha
tergantung pada nilai pendapatan dan banyaknya jumlah pekerja yang
bekerja di sektor tersebut. Secara umum pada tahun 2012 produktivitas
tenaga kerja di Sulawesi Barat dilihat menurut sektor/lapangan usaha
produktivitas tertinggi terdapat di sektor keuangan sebesar 70,08 juta/tenaga
kerja, sektor listrik, gas dan air sebesar 20,78 juta/tenaga kerja, kemudian
sektor industri pengolahan sebesar 16,11 juta/tenaga kerja selanjutnya
diikuti sektor angkutan sebesar 13,37 juta/tenaga kerja, sektor jasa
kemasyarakatan sebesar 11,89 juta/tenaga kerja, sektor bangunan sebesar
11,87 juta/tenaga kerja, sektor perdagangan sebesar 9,50 juta/tenaga kerja
dan sektor pertambangan sebesar 8,49 juta/tenaga kerja, sektor pertanian
sebesar 8,30 juta/tenaga kerja.
Pada tahun 2013 produktivitas tenaga kerja di Sulawesi Barat dilihat
menurut sektor/lapangan usaha produktivitas tertinggi terdapat di sektor
lembaga keuangan mencapai Rp. 70,14 juta/tenaga kerja, kemudian sektor
88
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
listrik, gas dan air sebesar 20,79 juta/tenaga kerja, sektor industri
pengolahan sebesar 16,87
juta/tenaga kerja, sektor angkutan sebesar
14,32 juta/tenaga kerja, sektor jasa kemasyarakatan sebesar 12,15
juta/tenaga kerja, sektor bangunan sebesar 11,93 juta/tenaga kerja, sektor
perdagangan sebesar 9,79 juta/tenaga kerja, sektor pertanian sebesar 8,98
juta/tenaga kerja dan sektor pertambangan sebesar 8,51 juta/tenaga kerja.
Pada tahun 2014 produktivitas tenaga kerja di Sulawesi Barat dilihat
menurut sektor/lapangan usaha produktivitas tertinggi terdapat di sektor
lembaga keuangan mencapai Rp. 70,18 juta/tenaga kerja, kemudian sektor
listrik, gas dan air sebesar 22,12 juta/tenaga kerja, sektor industri
pengolahan sebesar 17,68
juta/tenaga kerja, sektor angkutan sebesar
15,31 juta/tenaga kerja, sektor jasa kemasyarakatan sebesar 12,37
juta/tenaga kerja, sektor bangunan sebesar 11,94 juta/tenaga kerja, sektor
perdagangan sebesar 10,25 juta/tenaga kerja, sektor pertanian sebesar 9,71
juta/tenaga kerja dan sektor pertambangan sebesar 8,52 juta/tenaga kerja.
Pada tahun 2015 produktivitas tenaga kerja di Sulawesi Barat dilihat
menurut sektor/lapangan usaha produktivitas tertinggi terdapat di sektor
lembaga keuangan mencapai Rp. 70,22 juta/tenaga kerja, kemudian sektor
listrik, gas dan air sebesar 23,38 juta/tenaga kerja, sektor industri
pengolahan sebesar 18,51 juta/tenaga kerja, sektor angkutan sebesar 16,39
juta/tenaga kerja, sektor jasa kemasyarakatan sebesar 12,57 juta/tenaga
kerja, sektor bangunan sebesar 11,95 juta/tenaga kerja, sektor perdagangan
sebesar 10,71 juta/tenaga kerja, sektor pertanian sebesar 10,50 juta/tenaga
kerja dan sektor pertambangan sebesar 8,67 juta/tenaga kerja.
Pada tahun 2016 produktivitas tenaga kerja di Sulawesi Barat dilihat
menurut sektor/lapangan usaha produktivitas tertinggi terdapat di sektor
lembaga keuangan mencapai Rp. 70,90 juta/tenaga kerja, kemudian sektor
listrik, gas dan air sebesar 24,51 juta/tenaga kerja, sektor industri
pengolahan sebesar 19,37
juta/tenaga kerja, sektor angkutan sebesar
17,30 juta/tenaga kerja, sektor jasa kemasyarakatan sebesar 12,90
|
89
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
juta/tenaga kerja, sektor bangunan sebesar 12,07 juta/tenaga kerja, sektor
perdagangan sebesar 11,21 juta/tenaga kerja, sektor pertanian sebesar
11,32 juta/tenaga kerja dan sektor pertambangan sebesar 8,78 juta/tenaga
kerja.
Tabel 4.9
Perkiraan Produktivitas
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016 (Juta Rp./Tenaga Kerja)
90
|
Lapangan Usaha
2012
2013
2014
2015
2016
1. Pertanian
2. Pertambangan
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas dan Air
5. Bangunan
6. Perdagangan
8.30
8.49
16.11
20.78
11.87
9.50
8.98
8.51
16.87
20.79
11.93
9.79
9.71
8.52
17.68
22.12
11.94
10.25
10.50
8.67
18.51
23.38
11.95
10.71
11.32
8.78
19.37
24.51
12.07
11.21
7. Angkutan
8. Keuangan
9. Jasa Kemasyarakatan
13.37
70.08
11.89
14.32
70.14
12.15
15.31
70.18
12.37
16.39
70.22
12.57
17.30
70.90
12.90
Jumlah
10.32
10.97
11.68
12.42
13.22
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB V
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
KESEIMBANGAN ANTARA PERSEDIAAN
DAN KEBUTUHAN AKAN TENAGA
KERJA
Dalam proses perencanaan tenaga kerja, persediaan tenaga kerja
menjadi tumpuan awal yang menentukan kuantitas dan kualitas tenaga
kerja,sedangkan kebutuhan tenaga kerja adalah sesuatu yang harus
diciptakan. Sementara itu dengan kondisi negara yang cenderung surplus
persediaan tenaga kerja seperti di Indonesia maka penciptaan kesempatan
kerja yang seluas-luasnya adalah upaya yang mutlak harus dilakukan
apapun kondisi tenaga kerja yang tersedia. Demikian pula perbaikan
berbagai sistem yang berkenaan dengan penanggulangan pengangguran.
Konsep ini berkaitan erat dengan kondisi nyata di daerah untuk mengatasi
masalah
pengangguran
yang
dengan
jelas
menunjukkan
ketidak
seimbangan antara persediaan dan kebutuhan tenaga kerja sebagaimana
telah disampaikan pada Bab II.
|
91
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Untuk itu berbagai cara dapat dilakukan antara lain dengan
peningkatan mobilitas tenaga kerja dan modal yaitu memindahkan calon
tenaga kerja menuju kesempatan kerja yang lowong dengan melatih ulang
keterampilannya untuk memenuhi kualifikasi di tempat yang baru atau
menempatkan modal/industri (padat karya) ke wilayah yang jumlah
penganggurnya
sangat
tinggi,
mengelola
permintaan/kebutuhan
masyarakat, yaitu strategi mengarahkan permintaan masyarakat ke
barang/jasa yang jumlahnya melimpah, menyediakan informasi yang cepat
dan akurat mengenai kebutuhan tenaga kerja, baik perusahaan di daerah
mana saja yang membuka lowongan berikut kualifikasi tenaga kerja yang
dibutuhkan; menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dititikberatkan pada
upaya penciptaan kesempatan kerja yang seluas-luasnya, hal perlu
dilakukan ini agar hasil dari pembangunan dapat dinikmati oleh berbagai
kalangan masyarakat, paling tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya
melalui hasil kerjanya sendiri; pengefektifan program pendidikan dan
pelatihan agar dapat langsung ditempatkan dan memenuhi kebutuhan di
tempat kerja, serta yang tidak kalah penting adalah menumbuh kembangkan
jiwa kewirausahaan agar mampu dengan cepat melihat peluang pasar dan
menciptakan kesempatan kerja paling tidak bagi dirinya sendiri.
Sejalan dengan berbagai upaya yang aktif dan terencana yang akan
dan harus terus dilakukan, maka angka penganggur terbuka di Provinsi
Sulawesi barat diharapkan akan terus menurun dari tahun ke tahun
sehingga pada tahun 2012 diperkirakan menjadi 15.333 orang, pada tahun
2013 di perkirakan menjadi 14.900 orang, pada tahun 2014 diperkirakan
menjadi 14.672 orang, pada tahun 2015 diperkirakan menjadi 14.155 orang,
dan pada tahun 2016 diperkirakan terus menurun menjadi 13.678 orang.
Begitu juga untuk Tingkat Penganggur Terbuka (TPT) nya yang diharapkan
terus menurun pada tahun 2012 menjadi 2,72 persen pada tahun 2013
menjadi 2,59 persen, pada tahun 2014 menjadi 2,50 persen, pada tahun
2015 menjadi 2,35 persen dan 2016 terus menurun menjadi 2,22 persen.
92
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
5.1
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Jika ditinjau dari sisi persediaan, sesungguhnya jumlah angkatan
kerja usia muda (15-19 tahun) tidaklah sebanyak angkatan kerja usia
produktif (25-54 tahun) namun karena kesempatan kerja yang tersedia bagi
mereka terbatas maka akibatnya penganggur usia muda dan terutama usia
sekolah diperkirakan jumlahnya masih cukup tinggi yaitu mencapai 3.920
orang pada tahun 2012 dan diharapkan turun menjadi 3.849 orang pada
tahun berikutnya. Demikian juga untuk TPT yang tertinggi adalah pada usia
sekolah yaitu golongan umur 15-19 tahun yang diperkirakan TPTnya
mencapai 9,36 persen pada tahun 2012 dan 9,57 persen pada tahun 2013.
TPT yang tergolong tinggi berikutnya adalah pada golongan umur 20-24
tahun yaitu sebesar 6,85 persen dan 6,45 persen pada tahun berikutnya.
Tabel 5.1
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016
2012
Golongan
Umur
2013
2014
2015
2016
Absolut
(Orang)
TPT (%)
Absolut
(Orang)
TPT (%)
Absolut
(Orang)
TPT (%)
Absolut
(Orang)
TPT (%)
Absolut
(Orang)
TPT (%)
15-19
3.920
9,36
3.849
9,57
3.816
9,87
3.758
10,11
3.700
10,36
20-24
4.643
6,85
4.550
6,45
4.508
6,11
4.391
5,70
4.334
5,37
25-29
1.344
1,63
1.307
1,51
1.291
1,42
1.212
1,27
1.124
1,12
30-34
1.750
2,19
1.709
2,13
1.693
2,10
1.627
2,01
1.563
1,92
35-39
575
0,81
561
0,77
547
0,74
488
0,65
428
0,56
40-44
627
0,91
594
0,82
580
0,76
567
0,70
551
0,64
45-49
794
1,51
754
1,41
724
1,33
714
1,30
705
1,26
50-54
198
0,62
189
0,62
181
0,63
169
0,63
157
0,61
55-59
834
3,32
762
2,94
716
2,68
651
2,36
580
2,04
60+
649
1,58
627
1,48
617
1,42
578
1,29
537
1,16
Jumlah
15.333
2,72
14.900
2,59
14.672
2,50
14.155
2,35
13.678
2,22
|
93
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tingginya angka penganggur usia sekolah ini mengindikasikan
bahwa upaya yang sungguh-sungguh dalam menahan agar penduduk yang
masih
berusia
sekolah
ini
masih
harus
ditingkatkan
dan
bukan
menitikberatkan pada penambahan kesempatan kerja bagi mereka. Hal ini
karena dalam upaya pengurangan penganggur ini selain menciptakan
kesempatan kerja seluas-luasnya di sisi lain harus juga ditekankan pada
peningkatan kualitas tenaga kerja secara fisik maupun psikis termasuk
tingkat kematangan dalam bekerja. Ini sejalan dengan upaya pengurangan
pekerja anak (di bawah 18 tahun) yang terus harus ditingkatkan.
Angka yang berbeda adalah pada golongan usia yang lebih senior
dimana jumlah penganggur terbukanya diperkirakan rata-rata akan terus
mengecil dalam tiap tingkatan usia yang lebih tua. Hal ini karena secara
alami persediaan tenaga kerjanya juga terus mengecil dalam tingkatan yang
lebih tua, sehingga ketika kesempatan kerja tersedia menurun tidak
membuat penganggur terbukanya meningkat.
5.2
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Tenaga kerja di Provinsi Sulawesi Barat masih didominasi oleh
mereka yang berpendidikan rendah baik dari segi persediaan maupun
kebutuhannya sehingga penganggur terbukanya juga masih didominasi oleh
penganggur terbuka berpendidikan rendah. Pada tahun 2012 jumlah
penganggur terbuka berpendidikan SD diperkirakan mencapai 4.162 orang
dan diperkirakan menurun pada tahun 2016 sehingga menjadi 3.893 orang.
Demikian juga penganggur berpendidikan SMTP diperkirakan menurun
menjadi 1.463 orang dan 1.351 orang pada tahun 2012 dan 2016.
Penganggur terbuka berpendidikan SMTA Umum diperkirakan masih
cukup tinggi mencapai 4.785 orang pada tahun 2012 dan pada tahun 2016
diharapkan turun menjadi 4.393 orang. Sedangkan untuk SMTA Kejuruan
diperkirakan akan menurun dari 3.027 orang pada tahun 2012 menjadi
94
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
2.708 orang pada tahun 2016. Lebih tingginya angka pengangguran terbuka
mereka yang berpendidikan SMTA Umum dibanding SMTA Kejuruan karena
dari segi persediaan tenaga kerjanya jumlah angkatan kerja SMTA Umum
memang masih jauh lebih tinggi dari pada SMTA Kejuruan namun demikian
kesempatan kerja bagi yang SMTA Umum pun masih mencapai dua kali
lipat daripada yang Kejuruan.
Secara historis perbandingan penganggur terbuka antara yang
Umum dan Kejuruan ini berlangsung fluktuatif sehingga perkiraan kedepan
juga masih dipengaruhi oleh kondisi di lapangan. Pemerintah dalam hal ini
melalui Dinas Pendidikan telah cukup gencar mencanangkan program “SMK
Bisa” untuk meningkatkan daya tampung dan merubah mind set masyarakat
terutama yang memiliki keterbatasan minat, kemampuan dan biaya agar
lebih memilih program kejuruan. Tujuannya antara lain untuk meringankan
beban orang tua dengan mempersingkat masa pendidikan, mempersiapkan
calon tenaga kerja agar lebih terampil sesuai kejuruan yang menjadi
minatnya dan juga yang tidak kalah penting adalah dalam menjawab
kebutuhan pasar kerja. Pada kenyataannya dunia kerja akan lebih banyak
membutuhkan pekerja setingkat operator dibanding setingkat manajer yang
seharusnya merupakan ciri lulusan perguruan tinggi, demikian pula dengan
berbagai inovasi tidak menutup kemungkinan mereka membuka usaha
mandiri dengan bekal keterampilan yang dimilikinya tersebut. Bahkan bisa
jadi dengan peluang sukses yang lebih besar karena mereka langsung
berhadapan dengan kebutuhan pasar, tahu persis pekerjaan yang
digelutinya dan pada umumnya bisa dimulai dengan permodalan yang jauh
lebih kecil. Namun, harapan tersebut pada kenyataannya masih terkendala
dengan pola pikir yang cenderung standar mengikuti tatanan kebiasaan baik
bagi calon tenaga kerja dan pemberi kerja tapi terutama karena masih
sangat minimnya jiwa kewirausahaan masyarakat di daerah pada umumnya.
Dengan demikian proyeksi penganggur terbuka menurut tingkat pendidikan
|
95
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
SMTA Umum dan Kejuruan ini pun masih fluktuatif mengikuti pola pikir yang
berkembang di tengah masyarakat.
Tabel 5.2
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2016
2012
Tingkat Pendidikan
2013
2014
2015
2016
Absolut (Orang)
TPT (%)
Absolut (Orang)
TPT (%)
Absolut
(Orang)
TPT
(%)
Absolut
(Orang)
TPT
(%)
Absolut
(Orang)
TPT
(%)
Maksimum SD
4.162
1,33
4.123
1,34
4.085
1,35
4.026
1,36
3.893
1,35
SMTP
1.463
1,49
1.433
1,43
1.420
1,41
1.391
1,35
1.351
1,28
SMTA Umum
4.785
6,56
4.646
6,08
4.613
5,73
4.403
5,11
4.393
4,72
SMTA Kejuruan
3.027
10,61
2.911
9,47
2.898
8,83
2.839
7,90
2.708
6,84
Diploma
516
4,12
508
3,97
499
3,87
489
3,77
404
3,08
Universitas
1.381
3,58
1.280
2,69
1.157
2,01
1.006
1,49
929
1,21
Jumlah
15.333
2,72
14.900
2,59
14.672
2,50
14.155
2,35
13.678
2,22
Jumlah penganggur terbuka lulusan pendidikan Diploma dan
Universitas dimana walau secara jumlah masih jauh lebih kecil daripada
tingkat pendidikan di bawahnya namun mulai menunjukkan kecenderungan
untuk merambat naik. Walau demikian dengan berbagai upaya yang
perluasan kesempatan kerja baik untuk pekerjaan formal maupun upaya
menumbuh kembangkan jiwa usahawan di kalangan lulusan perguruan
tinggi diharapkan angka penganggurnya pada tahun 2012 dan 2016
mengalami penurunan.
5.3
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Pada tahun 2012 penganggur laki-laki diperkirakan masih cukup
besar yaitu sebanyak 8.072 orang dan pada akhir tahun 2016 terus menurun
menjadi
sebanyak 7.374orang. Sedangkan untuk angka penganggur
perempuan diperkirakan akan terus menurun mencapai 7.262 orang pada
96
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
tahun 2012 dan diperkirakan menurun menjadi 6.304 orang penganggur
pada tahun 2016.
Tabel 5.3
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Sulawesi Barat, Tahun 2012-2013
2012
Jenis Kelamin
2013
2014
2015
2016
Absolut (Orang)
TPT (%)
Absolut (Orang)
TPT (%)
Absolut
(Orang)
TPT
(%)
Absolut
(Orang)
TPT
(%)
Absolut
(Orang)
TPT
(%)
Laki-Laki
8.072
2,41
7.923
2,33
7.802
2,24
7.613
2,14
7.374
2,03
Perempuan
7.262
3,18
6.987
2,98
6.870
2,87
6.543
2,66
6.304
2,49
Jumlah
15.333
2,72
14.900
2,59
14.672
2,50
14.155
2,35
13.678
2,22
Jika dibandingkan antara kedua jenis kelamin ini untuk angka
penganggur laki-laki hingga saat ini memang masih cukup besar, hal ini
karena secara tradisi laki-laki dipandang sebagai tulang punggung keluarga
sehingga yang masuk pasar kerja dan termasuk angkatan kerja jauh lebih
banyak daripada perempuan. Di sisi lain justru banyak perusahaan yang
lebih memilih perempuan sebagai tenaga kerjanya bukan semata karena
karakteristik jenis pekerjaannya tetapi (di luar keterbatasan fisiknya) tenaga
kerja perempuan dianggap lebih menguntungkan pihak manajemen
perusahaan seperti lebih telaten dan lebih mudah diatur. Hal ini
menyebabkan berbanding terbalik dengan konsep kesetaraan gender dari
tahun ke tahun jumlah penganggur laki-laki di Indonesia masih selalu lebih
tinggi dari pada perempuan.
|
97
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB VI
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI DAN
PROGRAM PEMBANGUNAN
KETENAGAKERJAAN PROVINSI
SULAWESI BARAT
Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi hasil pemekaran dari
Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki luas wilayah sekitar 16,796.19
kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 1,1 juta jiwa, memiliki
5 kabupaten. Sulawesi Barat dikenal memiliki banyak objek lokasi wisata.
Selain kakao, daerah ini juga penghasil kopi robusta ataupun kopi arabika,
kelapa dan cengkeh. Di sektor pertambangan terdapat kandungan emas,
batubara dan minyak bumi.
Sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan, yang
semakin membaik seiring dengan program pemerintah yang terus
mengembangkan sektor itu dalam rangka memacu ekonomi daerah. Selain
|
99
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
itu, pembangunan infrastuktur juga merupakan salah satu faktor yang
memicu tingginya pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat
sehingga menjadikan Sulawesi Barat menjadi Provinsi yang memiliki
pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi.
Pembangunan
infrastruktur
merupakan
kontribusi
dari
sektor
investasi dan jasa seiring dengan pertumbuhan pembangunan Sulawesi
Barat sebagai Provinsi baru menjadi pemicu ekonomi Sulawesi Barat
membaik, hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
di daerah Sulawesi Barat terus membaik, karena pertumbuhan ekonomi
Sulawesi Barat ini telah melampaui rata rata pertumbuhan ekonomi nasional
yang masih di bawah tujuh persen.
Tingginya pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat tidak
menjadikan
provinsi
ini
terlepas
dari
masalah
ketenagakerjaan,
kompleksnya permasalahan ketenagakerjaan perlu mendapatkan perhatian
khusus dari pemerintah. Beberapa permasalahan ketenagakerjaan yang
dihadapi oleh Provinsi Sulawesi Barat, yakni kualitas angkatan kerja masih
relatif rendah, penciptaan lapangan kerja yang relatif masih terbatas,
kesempatan kerja yang didominasi oleh sektor informal.
Untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan, maka diperlukan
kebijakan ketenagakerjaan merupakan masalah yang kompleks dan luas,
sehingga mempunyai multi dimensional, dimana terdapat saling keterkaitan
antara berbagai faktor ekonomi, faktor sosial, faktor politik dan sebagainya.
Jadi, pemecahan masalah ketenagakerjaan tidak dapat dilakukan dengan
mengandalkan suatu kebijakan.
Sehubungan dengan itu, maka kebijakan komprehensif yang
dibutuhkan adalah kebijakan berkaitan dengan perluasan kesempatan kerja,
pembinaan
angkatan
kerja
dan
peningkatan
perlindungan
dan
kesejahteraan pekerja. Secara lebih rinci, uraian kebijakan tersebut adalah
sebagai berikut :
100
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.1
Rekomendasi Kebijakan Perekonomian
Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur pemerintah
melaksanakan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan
usaha untuk menaikkan dan mempertahankan kenaikan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) per kapitadengan tetap memperlihatkan tingkat
pertumbuhan penduduk disertai adanya perubahan mendasar dalam
struktur ekonomi. Dalam proses pembangunan ekonomi, pemerintah secara
sadar
dan
terencana
mengadakan
perubahan-perubahan
kearah
peningkatan taraf hidup masyarakat.
Hasil perkiraan Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (PTKD) Tahun
2012-2016
memberikan
nuansa
yang
optimis.
Hal
ini
disebabkan
perekonomian Sulawesi Barat pada lima tahun mendatang diperkirakan
mampu tumbuh sebesar 7,88 – 9,31 persen. Pertumbuhan ekonomi yang
positif tersebut juga diperkirakan akan mendorong penciptaan kesempatan
kerja, sehingga jumlah kesempatan kerja pada rentang tahun 2012-2016
diperkirakan akan bertambah sebanyak 55.266 orang menjadi 602.948
orang. Peningkatan penciptaan kesempatan kerja ini juga berdampak positif
terhadap tingkat dan jumlah penganggur terbuka. Pada tahun 2012, Tingkat
Penganggur Terbuka (TPT) diperkirakan menurun menjadi 2,72 persen atau
sebanyak 15.333 orang. Pada tahun 2016, Tingkat Penganggur Terbuka
(TPT) diperkirakan menurun menjadi 2,22 persen atau sebanyak 13.678
orang.
Kondisi perekonomian Sulawesi Barat pada 2012-2016 diperkirakan
masih tumbuh cukup tinggi dan berada pada kisaran 7% - 9%. Hal ini
disebabkan adanya optimisme pemerintah akan kenaikan penghasilan pada
lima tahun yang akan datang yang memberikan dampak positif yaitu
meningkatnya jumlah lapangan kerja dan akan semakin membaiknya
kondisi ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat.
Secara sektoral, kinerja sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan
perikanan diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi. Kinerja sektor ini
|
101
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
pada lima tahun mendatang antara lain dipengaruhi oleh peningkatan
produksi beras di Sulawesi Barat karena bertambahnya areal tanaman padi
petani berkat program percetakan sawah baru, penggunaan benih bermutu
dan perbaikan saluran drainase dan pompanisasi.
Lebih lanjut, sektor keuangan dan jasa kemasyarakatan juga
diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi seiring dengan semakin
meningkatnya pembangunan di Sulawesi Barat. Pada sisi penggunaan
pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada 2012-2016 diperkirakan akan
didorong oleh permintaan dalam negeri/domestik terutama konsumsi baik
konsumsi rumah tangga maupun pemerintah. Peningkatan Konsumsi rumah
tangga didorong oleh peningkatan daya beli masyarakat yang diperkirakan
akan terus meningkat dan konsumsi pemerintah meningkat seiring dengan
makin bertambahnya anggaran setiap tahunnya. Sementara itu, investasi
pada 2012-2016 juga diperkirakan akan tumbuh baik yang bersumber dari
sektor swasta untuk konstruksi dan pertambangan dengan semakin
kondusifnya iklim investasi di Sulawesi Barat.
Kedepan, stabilitas makro ekonomi harus diikuti secara linear
dengan peningkatan investasi sektor riil, sehingga pertumbuhan ekonomi
tidak lagi mengandalkan kekuatan konsumsi, melainkan investasi. Sektor
ekonomi potensial padat pekerja harus didorong maju. Untuk itu, perbaikan
iklim usaha harus diperbaiki agar dapat menarik investasi domestik dan
asing. Selain itu, kebijakan ekonomi juga harus diarahkan kepada ekonomi
pasar yang berporos kepada pengembangan usaha berskala kecil dan
menengah yang produktif. Jadi, selain melalui pengembangan sumber daya
manusia terus-menerus, perluasan lapangan kerja dengan kebijakan daerah
harus dilakukan melalui jembatan investasi.
Berikut
Pemerintah
adalah
dalam
langkah-langkah
upayanya
untuk
pokok
menciptakan
kesempatan kerja melalui kebijakan makro ekonomi:
102
|
yang
perlu
dan
ditempuh
memperluas
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
1.
Pemerintah secara aktif menyusun kebijakan makro ekonomi
yang ditujukan untuk mencari sumber-sumber pertumbuhan
ekonomi baru menggunakan jalur investasi, teknologi serta
perdagangan(ekspor-impor) dengan mendorong berkembangnya
sektor swasta.
2.
Pembangunan infrastruktur di wilayah Provinsi Sulawesi Barat
guna membuka isolasi wilayah serta pelayanan sampai ke
kampung serta menghubungkannya dengan pusat kegiatan
ekonomi.
3.
Peningkatan Aksesbilitasi Pendidikan dan Kesehatan.
4.
Membangun
dan
mengembangkan
memperkuat
usaha
kecil
ekonomi
dan
kerakyatan
menengah
serta
guna
mengentaskan kemiskinan di Sulawesi Barat.
5.
Membangun dan menyebarkan Pusat Pertumbuhan di Sulawesi
Barat guna menciptakan keseimbangan antar wilayah.
6.
Mengembangkan kegiatan ekonomi yang bersifat moderen yang
terkait dengan ekonomi rakyat, usaha kecil dan menengah
dengan memperhatikan aspek lingkungan dan daya dukung
sumber daya alam.
7.
Meningkatkan keterkaitan yang saling menguntungkan antara
kawasan andalan dan tertinggal dalam rangka peningkatan
kesejahteraan ekonomi daerah di sekitar kawasan andalan.
8.
Membangun kemitraan antar wilayah (kabupaten/kota) guna
mendukung
terlaksananya
pemerataan
dan
penyebaran
pertumbuhan.
9.
Menghapus hambatan investasi, khususnya dalam hal perijinan,
keamanan dan kepastian hukum (legal certainty). Berbagai
upaya yang bisa dilakukan diantaranya :
a. Pengurangan biaya dalam kaitan pendirian badan usaha.
|
103
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
b. Pengurangan biaya yang terkait dengan pengenaan pajak
dan masalah administrasi perpajakan.
c. Akselerasi
reformasi
dalam
bidang
legalisasi
guna
mempengaruhi persepsi investor secara positif.
d. Menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan property
rights karena ketidakpastian dalam hal property rights
(misalnya, ketidakpastian kepemilikan dan peruntukan tanah)
akan sangat menghambat penciptaan iklim investasi.
f.
Pemeliharaan dan penambahan sarana dan prasarana
(infrastruktur).
g. Memperbaiki berbagai Peraturan Daerah (Perda).
10. Memacu pertumbuhan ekonomi wilayah Sulawesi Barat melalui
pengembangan sektor-sektor unggulan yang berbasis sumber
daya setempat dan meningkatkan keterkaitan antar pusat
pertumbuhan wilayah;
11. Meningkatkan keterkaitan yang saling menguntungkan antara
kawasan andalan dan tertinggal dalam rangka peningkatan
kesejahteraan ekonomi daerah di sekitar kawasan andalan;
12. Membukaakses terhadap sumber dinamika pertumbuhan internal
UKM itu sendiri, sepertipembiayaan dan kredit, akses pasar,
teknologi dan perbaikan manajemen.
13. Menampung berbagai kegiatan ekonomi, memperluas lapangan
kerja, dan sekaligus memenuhi fungsi sebagai pusat pelayanan
usaha melalui pengembangan kawasan dan pusat pertumbuhan.
Harapan serta target pembangunan ekonomi dan pembangunan
ketenagakerjaan yang optimistis dalam RTKD Tahun 2012-2016 ini dapat
tercapai jika didukung oleh kuatnya serta kondusifnya kondisi perekonomian
domestik
dan
eksternal,
termasuk
juga
didalamnya
keberhasilan
implementasi kebijakan Pemerintah dalam jangka pendek, khususnya dalam
104
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
penanganan dampak krisis. Jika implementasi kebijakan pemerintah
dimaksud berhasil, maka hal ini akan menjadi pijakan yang kuat sebagai
penopang dan penentu implementasi kebijakan pemerintah lainnya yang
berspektrum jangka panjang guna mendorong pertumbuhan ekonomi ke
arah yang lebih baik. Konsistensi antara kebijakan fiskal dan moneter juga
harus terus dijaga agar menumbuhkan ekspektasi pelaku ekonomi yang
positif, yang pada akhirnya dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Meskipun
harapan
serta
target
pembangunan
ekonomi
dan
pembangunan ketenagakerjaan beserta asumsi yang digunakan dalam
RTKD Tahun 2012-2016 inicenderung optimistis, namun tetap harus
menjaga kewaspadaan mengingat masih rawannya perekonomian terhadap
dampak krisis.
6.2
Rekomendasi Kebijakan Umum
Perencanaan Tenaga Kerja pada kenyataannya terkait dengan
berbagai segi kehidupan penduduk suatu negara dan hanya dapat
diimplementasikan melalui berbagai jenis kebijakan. Segala upaya yang
dilakukan secara sadar dan terintegrasi untuk menyusun perencanaan
tenaga kerja itulah yang pada akhirnya menentukan hasil akhir yang menjadi
tujuan pembangunan nasional.
Sebagaimana diungkapkan di depan permasalahan ketenagakerjaan
sangat banyak dan kompleks. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
diantaranya melalui kebijakan umum, yang termasuk dalam kebijakan umum
tersebut antara lain kebijakan pendidikan dan kesehatan. Semua itu terkait
dengan kualitas penduduk.
6.2.1 Kebijakan Pendidikan
Kebijakan pendidikan dan kesehatan bertujuan bagi peningkatan
kualitas tenaga kerja tersedia. Hal ini terutama dari segi pendidikannya.
Tersedianya penduduk usia kerja yang terdidik dan terampil merupakan
|
105
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
dasar dari perencanaan tenaga kerja karena dengan demikian pada
umumnya akan terbuka ketersediaan perluasan dan peluang pasar kerja
yang lebih besar dan berkualitas pula. Tenaga kerja seperti itu otomatis
akan dicari oleh berbagai pelaku usaha di dalam maupun di luar negeri.
Tergantung
pada
individu
yang
bersangkutan
apakah
akan
mengembangkan diri sebagai pribadi mandiri dengan usaha sendiri (sebagai
wirausaha) atau melibatkan diri pada usaha yang telah terorganisasi
sebagai tenaga kerja yang sangat diperlukan bagi terlaksananya suatu
proses produksi.
Pada dasarnya semua jenis kemajuan atau pembangunan
dapat dipandang sebagai hasil kinerja manusia, yaitu manusia yang
telah melalui proses investasi pengembangan mutu sumber daya
manusia menjadi manusia terdidik (educated people). Suatu bangsa
akan mampu mengembangkan sistem tata kepemerintahan yang baik,
memiliki pertahanan negara yang tangguh, tata perekonomian yang
mensejahterakan dan adil,memajukan berbagai jenis pengetahuan yang
diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun secara
soliter sebagai manusia yang sadar dirinya merupakan bagian dari ‘one
earth’, kesemuanya itu hanya dan jika telah melalui proses pendidikan.
Proses pendidikan harus dipandang sebagai investasi karena
jika berhasil diwujudkan akan menghasilkan nilai tambah yang
berbentuk maslahat pribadi (private benefit) dan maslahat sosial (social
benefit). Dengan maslahat pribadi memungkinkan seseorang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya secara bermartabat, antara lain dengan
memiliki pekerjaan yang layak dan hidup sehat lahir maupun bathin.
Sedangkan
kemaslahatan
ditunjukkan
dengan
sosial
dimilikinya
berwujud
nilai
produktivitas
tambah
berkarya
yang
untuk
mewujudkan kesejahteraan lingkungan sosialnya.
Proses pendidikan memiliki dua dimensi, dimensi yang pertama
bahwa dengan melakukan pendidikan maka kualitas angkatan kerja
106
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Indonesia meningkat. Dengan meningkatnya kualitas, maka dapat
bersaing di pasar kerja dalam negeri dan luar negeri, serta dapat
termotivasi dalam berwirausaha/menjadi entrepreneur, sehingga dapat
mengolah dan mengembangkan berbagai peluang dan sumber daya
alam yang ada.
Dimensi lain, bahwa peningkatan pendidikan, khususnya
penduduk usia sekolah, maka akan berpengaruh pada pengurangan
jumlah angkatan kerja khususnya penduduk usia sekolah. Dengan
berkurangnya angkatan kerja usia sekolah, maka sangat berpotensi
besar mengurangi jumlah penganggur terbuka juga didominasi usia
muda, khususnya usia sekolah.
Kebijakan peningkatan pendidikan telah dicanangkan oleh
Pemerintah melalui program wajib belajar. Selain itu Pemerintah pusat
juga membatasi pendirian SMA dan membuka peluang pendirian SMK,
pemberian dana BOS, dan lainnya. Kebijakan ini semua memberikan
peluang pendidikan yang lebih tinggi. Berikut adalah kebijakan umum
Provinsi Sulawesi Barat dalam bidang pendidikan :
1. Mendekatkan fasilitas dan pelayanan pendidikan pada derah
terpencil dan terbelakang, melalui PAUD, Wajib belajar pendidikan
dasar Sembilan tahun, pendidikan menengah, pendidikan formal,
pendidikan non formal, pendidikan luar biasa.
2. Memberikan pelayanan pendidikan gratis bagi masyarakat di
kabupaten Mamuju.
3. Mendorong pengembangan dan Pemanfaatan
IPTEK, melalui
peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan.
Dengan berbagai program pendidikan tersebut, maka jumlah
tambahan angkatan kerja pada tahun mendatang, yakni tahun 20122016 jumlahnya semakin berkurang.
|
107
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.2.2
Kebijakan Kesehatan
Sedangkan kebijakan di bidang kesehatan merupakan faktor
pendukung peningkatan sumber daya manusia tersebut. Kesehatan
merupakan modal awal dan sekaligus merupakan indikator tingkat
kesejahteraan suatu masyarakat. Dari sisi pembangunan nasional,
generasi yang sehat dan sejahtera merupakan tujuan pembangunan
negara sementara dari sisi perencanaan tenaga kerja tingkat kesehatan
digunakan sebagai batasan perlindungan tenaga kerja dan tingkat
kesehatan.
Dengan demikian segala upaya perlu dilakukan dalam
penciptaaan tenaga kerja yang berkualitas dalam hal kesehatan,
pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Di dalam kebijakan umum selain dipengaruhi oleh kualitas
penduduk adalah pengaturan kuantitas. Pengaturan ini seperti selama
ini yang dikenal, yakni melalui program Keluarga Berencana (KB),
melalui program ini tingkat kelahiran penduduk dapat dikendalikan.
Program ini telah mengalami pasang surut sejak negara ini berdiri dan
selama ini mencapai perkembangan tertingginya pada era Orde Baru.
Oleh karena itu dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan
masyarakat, maka Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bidang
kesehatan
memiliki
kebijakan
untuk
mengupayakan
pelayanan
kesehatan gratis bagi masyarakat miskin, dengan program sebagai
berikut:
1. Peningkatan faslitas dan pelayan KIA, terutama pada daerah
terpencil dan terbelakang.
2. Peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak.
3. Sosialisasi dan penerapan program Keluarga Berencana (KB)
4. Pelayanan
kesehatan
dasar
bagi
masyarakat
miskin
dan
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular dan tidak
menular.
5. Peningkatan sumber daya manusia kesehatan.
108
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Kebijakan
dibidang
kesehatan
merupakan
faktor
pendukung
peningkatan sumber daya manusia tersebut. Kesehatan merupakan modal
awal dan sekaligus merupakan indikator tingkat kesejahteraan suatu
masyarakat. Dari sisi pembangunan regional, generasi yang sehat dan
sejahtera merupakan tujuan pembangunan daerah sementara dari sisi
perencanaan tenaga kerja tingkat kesehatan digunakan sebagai batasan
perlindungan tenaga kerja dan tingkat kesehatan. Dengan demikian segala
upaya perlu dilakukan dalam penciptaan tenaga kerja yang berkualitas
dalam hal kesehatan, pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga
kerja.
6.3
Rekomendasi Kebijakan Penciptaan Kesempatan Kerja
Pada hakekatnya, semua kegiatan ekonomi baik berskala besar,
menengah maupun kecil, formal dan informal mempunyai identitas sektoral.
Setiap sektor atau sub sektor mempunyai instansi pembina, baik ditingkat
Pusat maupun tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota. Dengan demikian
maka
kebijakan sektoral menjadi ujung
tombak
dalam
penciptaan
kesempatan kerja. Oleh karena itu,kebijakan sektoral diarahkan pada
pengembangan
aktivitas
produksi
dilingkupnya
sedapat
mungkin
berorientasi pada perluasan lapangan kerja.
Untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja sektoral sangat
ditentukan oleh kebijakan-kebijakan moneter, fiskal, investasi, sektoral,
pendidikan dan penggunaan teknologi. Instansi teknis dan lembaga
pendukung kegiatan teknis perlu melakukan koordinasi dan aktivitas
pengembangan
masing-masing
lapangan
usaha.
Dengan
demikian
tanggung jawab setiap instansi melalui kegiatan teknisnya dapat berperan
serta dalam menciptakan kesempatan kerja yang berkelanjutan.
|
109
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.3.1. Sektor Pertanian
Lapangan
usaha
primadona dalam
pertanian
penyerapan
masih
merupakan
sektor
lapangan pekerjaan, walaupun
kalangan muda kurang berminat. Berbagai kebijakan perlu dilakukan
guna meningkatkan sektor pertanian agar dapat menciptakan
kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang
bekerja di dalamnya. Kebijakan yang dilakukan antara lain :
1. Pembangunan infrastruktur pertanian dan perkebunan dalam
rangka peningkatan produksi sektor pertanian dan sektor
perkebunan di Provinsi Sulawesi Barat.
2. Pembangunan balai pertanian di setiap kecamatan dalam rangka
mendukung
program
peningkatan
produksi pertanian
dan
sebagai posko Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN).
3. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani melalui
pengembangan pendidikan dan pelatihan petani.
4. Peningkatan
kualitas
petani
dan
produktivitas
pertanian,
perikanan dan kehutanan.
5. Peningkatan ketahanan pangan yang mengarah pada swasemba
beras dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap impor.
6. Meningkatkan produksi perkebunan dan hasil hutan untuk
membuka peluang ekspor melalui program pola kemitraan.
6.3.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor pertambangan di Sulawesi Barat diperkirakan akan
menyerap tenaga kerja cukup besar. Lapangan usaha ini untuk
kedepan memiliki proporsi yang makin meningkat karena mengingat
Provinsi
Sulawesi
Barat
masih
banyak
memiliki
potensi
pertambangan dan penggalian yang belum dieksplorasi. Tetapi perlu
diperhatikan, sektor ini merupakan sektor yang membutuhkan waktu
110
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
yang cukup lama untuk memperbaharui sumber atau bahannya
(unrenewable resources).
Beberapa strategi dalam meningkatkan penyerapan tenaga
kerja antara lain:
1. Pengubahan status kawasan hutan lindung di Mamuju dari areal
hutan lindung menjadi areal penggunaan lain (APL) sehingga
lahan tambang yang masuk dalam areal hutan lindung dapat
dikelola.
2. Peningkatan SDM tenaga kerja lokal di sektor pertambangan dan
kehutanan.
3. Substitusi tenaga kerja asing dengan tenaga kerja lokal.
4. Perluasan skala usaha pertambangan dengan mekanisme
pemberian insentif yang lebih besar.
6.3.3 Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan memperlihatkan gejala yang
menggembirakan.
Ditahun-tahun
mendatang,
sektor
ini
memperlihatkan peningkatan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hal
ini terjadi dikarenakan Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi
baru yang potensial baik dilihat dari ketersediaan SDA-nya,
khususnya rotan dan kakao maupun dari letak geografis yang
strategis. Selain sebagai sumber bahan baku industri pengolahan
rotan
dan
industri pengolahan
kakao,
Sulawesi
Barat
juga
merupakan penghasil komoditi lain yang potensial yaitu nilam dan ubi
kayu. Adapun rekomendasi berikut untuk peningkatan Sektor Industri
ini :
1. Pengembangan Industri berbasis sumber daya alam.
2. Pemberian
fasilitasi
kepada
industri
yang
melakukan
pengembangan teknologi seperti, mesin peralatan penyulingan
|
111
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
minyak nilaim; bantuan Mesin atau peralatan bengkel; bantuan
mesin atau peralatan pengolahan tapioka.
3. Pengembangan industri kakao dengan membangun pabrik
pengolahan Kakao dan pabrik industri kakao.
4. Pembangunan industri rotan sebagaimana Provinsi Sulawesi
Barat akan dicanangkan sebagai daerah industri rotan.
5. Mengembangkan pasar baik di dalam negeri maupun di luar
negeri, dengan melakukan pameran dan mendorong peningkatan
penggunaan mebel rotan.
6. Meningkatkan kualitas dan keterampilan SDM.
6.3.4 Sektor Listrik, Gas & Air Bersih
Sektor ini merupakan yang paling rendah dalam menyerap
kesempatan kerja. Walaupun penyerapan dalam sektor ini tidaklah
besar, akan tetapi peranan maupun keberadaannya sangatlah
penting dan memiliki keterkaitan dengan sektor-sektor lainnya seperti
sektor
industri,
bangunan,
perdagangan
dan
kesejahteraan
masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut maka kebijakan yang
perlu ditempuh sektor ini harus disesuaikan dengan sektor dan
bidang yang terkait seperti :
1.
Pengembangan jaringan listrik untuk desa-desa yang belum
mendapatkan penerangan dengan pengembangan teknologi
sederhana dan tepat guna.
2.
Penyediaan air bersih akan menjadi sektor yang berkembang
seiring dengan menurunnya kualitas dan volume air tanah,
pengembangan teknologi dalam penciptaan air bersih akan
membuat penyerapan tenaga kerja menjadi lebih besar.
3.
Pengelolaan potensi migas dan kekayaan alam yang belum
tereksplorasi.
112
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.3.5
Sektor Bangunan
Berkembangnya
suatu
wilayah
dapat
ditandai
dengan
majunya pembangunan infrastruktur. Secara umum program yang
tercakup dalam sektor ini meliputi pengembangan infrastruktur
publik, pembangunan perkantoran, perumahan termasuk juga real
estate. Tumbuhnya sektor ini diharapkan akan membuat dampak
terhadap penciptaan dan perluasan kesempatan kerja karena sektor
konstruksi umumnya merupakan program padat karya. Sehubungan
dengan itu, maka kebijakan yang dapat diterapkan adalah tetap
meningkatkan aktivitasnya dengan mempertahankan prinsip efisiensi
dan produktivitas usaha. Sehubungan dengan itu maka kebijakan
yang dapat diambil untuk sektor ini adalah :
a. Meningkatkan
pembangunan
infrastruktur
perumahan
dan
pemukiman yang layak huni dan berkelanjutan.
b. Meningkatkan daya dukung struktur dan kapasitas jalan akses
menuju pusat-pusat produksi dan pemasaran.
c. Kebijakan tata ruang wilayah/kota dan pertahanan yang jelas dan
konsisten.
d. Dukungan pendanaan untuk industri jasa konstruksi.
6.3.6 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Pembangunan perdagangan merupakan salah satu kegiatan
bidang ekonomi yang mempunyai peran strategis dalam upaya
mempercepat pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan,
penciptaan lapangan usaha. Dengan kata lain aktivitas perdagangan
sangat berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan
mempunyaimultiplier effect yang ditimbulkan sangat besar. Beberapa
kebijakan yang dapat diberlakukan antara lain :
a.
Penciptaan iklim usaha dan penyediaan tempat usaha serta
bantuan kredit lunak.
|
113
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
b.
Mengembangkan industri kreatif, agar tumbuh dan dapat
bersaing di pasar internasional.
c.
Pemberian informasi perdagangan lewat penyuluhan.
d.
Merevitalisasi pasar-pasar tradisional agar mampu bersaing
dengan pasar modern.
6.3.7 Sektor Angkutan dan Komunikasi
Sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan
positif, yang mana hal ini tidak terlepas dari fungsinya mengantarkan
barang dan orang. Semakin besar barang yang dihasilkan oleh
sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan serta
bangunan, maka semakin besar pula mobilitas distribusi barang.
Yang lebih mangesankan adalah pertumbuhan subsektor komunikasi
(meliputi telepon seluler, bisnis internet, Media cetak dan elektronik,
dan kantor pos).
Kebijakan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja pada
sektor ini diantaranya berkaitan dengan :
a.
Perluasan jangkauan pelayanan pos dan telekomunikasi hingga
ke daerah terpencil.
b.
Meningkatkan peran swasta/masyarakat sebagai mitra usaha di
bidang pos dan telekomunikasi dalam iklim persaingan investasi
yang kondusif.
c.
Meningkatkan kelancaran pelayanan angkutan jalan secara
terpadu melalui penataan system jaringan, manajemen lalu
lintas, pemasangan fasilitas dan rambu jalan, penataan jaringan
dan izin trayek serta kerja sama antar lembaga pemerintah pusat
dan daerah.
d.
Memberikan kemudahan kepada pihak pengguna telekomunikasi
(masyarakat) dalam mendapatkan pelayanan.
114
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.3.8 Sektor Lembaga Keuangan, Sewa Bangungan, Jasa
Persewaan dan Jasa Perusahaan
Peran sektor ini dalam perekonomian memiliki fungsi yang
strategis. Walaupun konstribusinya masih sangat kecil dalam
memberikan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja. Apabila
terganggunya fungsi lembaga keuangan (Bank, Asuransi, Koperasi,
Pasar Modal, Dana Pensiun, Leasing) akan memberikan dampak
buruk terhadap sektor lain. Untuk itu kebijakan yang diterapkan
dalam sektor ini akan sangat membantu terhadap pertumbuhan
sektor-sektor lainnya seperti sektor barang. Berikut adalah beberapa
kebijakan yang dapat ditempuh :
a.
Mendorong
lembaga
untuk
mendanai
usaha-usaha
yang
dijalankan dengan prinsip padat karya.
b.
Penciptaan
regulasi
kelembagaan
untuk
mengamankan
kepentingan semua pemangku kepentingan lembaga
c.
Pembinaan dan penyediaan sumber daya manusia, guna
memenuhi kebutuhan bidang keuangan secara berkelanjutan.
6.3.9 Sektor Pemerintah, Pertahanan & Jasa &
Kemasyarakatan
Berkembangnya sektor-sektor yang ada menuntut munculnya
tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus. Dan hal ini yang
menjadikan nilai tambah bagi seorang tenaga kerja. Demikian pula
dengan sektor ini, dimana cakupan yang sangat luas sehingga
memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang relatif banyak. Cakupan
dari lapangan usaha atau sektor ini adalah jasa pemerintahan umum
dan pertahanan, jasa kemasyarakatan pemerintahan dan swasta
serta jasa perseorangan. Kesempatan kerja yang ada untuk tahuntahun mendatang cukup besar, dan hal ini diharapkan akan terus
bertambah besar. Mempersiapkan para tenaga kerja yang kompeten
|
115
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
diharapkan akan membuat tenaga kerja yang berada pada sektor ini
bertambah. Untuk pengembangan sektor jasa diperlukan kebijakan
antara lain :
a.
Optimalisasi peran subsektor swasta dalam pengembangan
ekonomi Sulawesi Barat.
b.
Bantuan promosi dalam pengembangan subsektor swasta.
c.
Pendampingan dan pelatihan pelaku jasa subsektor swasta.
d.
Bantuan
akses
permodalan
dan
informasi
pasar
dalam
pengembangan jasa swasta.
6.4
Rekomendasi Kebijakan Pelatihan Tenaga Kerja
Kebijakan pelatihan tenaga kerja bertujuan untuk meningkatkan
keterampilan, keahlian, dan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas.
Peningkatan kualitas tenaga kerja dilakukan melalui pendidikan formal,
pelatihan kerja, dan pengembangan di tempat kerja sebagai satu kesatuan
sistem pengembangan SDM yang komprehensif dan terpadu. Pelatihan
kerja akan semakin penting peranannya dalam peningkatan kualitas tenaga
kerja dalam mengantisipasi perubahan teknologi dan persyaratan kerja.
Dari perkiraan tambahan kesempatan kerja menurut status pekerjaan
utama, bahwa sebagai prioritas yang perlu kita lakukan pelatihan adalah
mereka-mereka yang akan berusaha sendiri, berusaha dengan dibantu dan
pekerja atau buruh dan berpendidikan maksimum SMTA Umum. Sementara
berusaha dengan buruh (pengusaha) tidak perlu diberikan pelatihan, karena
untuk menjadi seorang pengusaha sebagian melalui usaha sendiri atau
usaha dibantu dan apabila langsung menjadi pengusaha kemungkinan
besar sudah belajar dari keluarganya. Sedangkan mereka yang akan
bekerja dengan status pekerja bebas dan pekerja keluarga tidak perlu kita
lakukan pelatihan. Selain itu mereka-mereka yang berpendidikan SMTA
Kejuruan diperkirakan sewaktu sekolah sudah mendapat pengetahuan
praktek sesuai dengan bidangnya dinilai sudah cukup, sedangkan yang
116
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
berpendidikan diploma dan universitas rata-rata memiliki kemampuan yang
cukup apabila ingin bekerja sebagai karyawan maupun berusaha.
Berdasarkan perkiraan kesempatan kerja tahun 2012-2016, bahwa
yang perlu dilakukan pelatihan tentang :
a. Kewirausahaan (usaha sendiri dan dibantu) sebanyak 4.922 orang.
b. Karyawan sebanyak 12.675 orang.
Jumlah sasaran yang perlu dilatih selama tahun 2012-2016 adalah
sebanyak 17.597 ribu orang.
Tabel. 6.1
Tambahan Kesempatan Kerja
Menurut Status Pekerjaan Utama dan Tingkat Pendidikan
Tahun 2012 – 2016
Status Pekerjaan
Tingkat Pendidikan
SMTA
SMTA
Umum
Kejuruan
Maks SD
SLTP
1. Brsh Sendiri tanpa bantuan
(1,036)
327
913
2. Brsh Dengan Dibantu
3. Brsh. Dengan Buruh
(3,074)
(339)
971
107
4. Pekerja/Buruh/karyawan
Jumlah
D1 - D3
Universitas
508
31
1,726
2,469
2,711
299
1,508
166
91
10
5,122
564
7,330
807
(20,364)
3,343
9,332
5,192
485
27,243
25,231
5. Pkj. Bebas di Pertanian
6. Pkj. Bebas di Non Pertanian
7. Pekerja tak dibayar
4,014
(2,065)
(316)
1,822
652
100
5,086
1,821
278
2,830
1,013
155
61
9
3,441
526
13,752
4,924
753
Jumlah
(23,179)
7,323
20,440
11,373
688
38,623
55,266
Sumber : Data diolah
Tabel 6.2
Kapasitas Lembaga Latihan dan Instruktur
Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2011
No
Provinsi
1
Sulawesi Barat
Kapasitas
Lembaga Latihan
1.440
Instruktur
12 orang
Dengan melihat kebutuhan latihan pada tahun 2012-2016 seperti
yang tertera pada tabel. 6.1 yang jumlahnya cukup besar, serta melihat
kapasitas lembaga latihan yang masih sedikit dibandingkan dengan jumlah
|
117
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
tenaga kerja yang harus dilatih, maka target kebutuhan latihan tersebut
semestinya terus ditingkatkan selama lima tahun mendatang. Peningkatan
jumlah peserta dan kapasitas lembaga latihan mengandung konsekuensi
terhadap peningkatan anggaran maupun instruktur.
Untuk mengurangi jumlah tenaga kerja yang harus dilatih maka
diperlukan penambahan jumlah SMK di masing-masing kabupaten/kota di
provinsi Sulawesi Barat. Hal ini dimaksudkan agar siswa lulusan SMTP
diarahkan untuk melanjutkan ke SMK sehingga semakin banyak lulusan
terampil yang siap masuk ke pasar kerja.
Berikut akan diuraikan beberapa kebijakan yang berkaitan dengan
pelatihan yang difokuskan kepada kewirausahaan dan untuk menjadi
pekerja/buruh/karyawan.
6.4.1
Pelatihan Berdasarkan Status Pekerjaan Utama
6.4.1.1 Berusaha Sendiri Tanpa Bantuan dan Berusaha
dengan Dibantu.
Dari perkiraan tambahan kesempatan kerja berdasar
Tabel. 6.1 terdapat 4.922 orang pada tahun 2012-2016 yang
perlu mendapatkan pelatihan dengan fokus kewirausahaan.
Dengan banyaknya tenaga kerja yang perlu dilatih maka
dibutuhkan pula biaya besar yang harus dikeluarkan. Selain itu,
jumlah lembaga pelatihan, instruktur, serta daya tampung
lembaga pelatihan
itu
sendiri perlu
ditambah mengingat
besarnya tenaga kerja yang perlu dilatih.
Program pelatihan yang potensial dikembangkan untuk
kelompok
berusaha
sendiri
tanpa
bantuan
dan
diantaranya :
1. Pelatihan cara bercocok tanam yang lebih efisien
2. Pelatihan budidaya perikanan dan peternakan
3. Pelatihan penggunaan alat-alat mesin pertanian
4. Pelatihan tata boga
118
|
dibantu
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
5. Pelatihan kerajinan tangan
6. Pelatihan pertukangan
7. Pelatihan meubel
8. Pelatihan elektronika
9. Pelatihan otomotif
6.4.1.2 Pekerja/buruh/karyawan
Berdasarkan pada perkiraan tambahan kesempatan kerja
seperti pada tabel 6.1 diperkirakan akan terdapat tambahan
sebanyak 12.675 orang pada tahun 2012-2016 yang perlu dilatih
untuk menjadi pekerja/buruh/karyawan. Jumlah tersebut adalah
mereka yang berpendidikan SMTA kebawah.
Prioritas pelatihan yang bisa dikembangkan bagi mereka
yang akan menjadi pekerja/buruh/karyawan diantaranya :
1. Pelatihan otomotif
2. Pelatihan teknologi mekanik
3. Pelatihan elektronika
4. Pelatihan komputer, sekretaris
5. Pelatihan operator mesin
6. Pelatihan pembukuan/akuntansi
7. Pelatihan perhotelan, dan lain-lain.
6.4.1.3 Pelatihan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Selain prioritas pelatihan tersebut diatas, pelatihan yang perlu
dilakukan juga bisa didasarkan pada jenis pekerjaan yang akan
dimasuki pencari kerja. Dari beberapa jenis jabatan yang ada, dapat
kita bedakan jenis pelatihan prioritasnya agar pelatihannya lebih
terarah dan keluarannya dapat diserap pasar kerja.
1.
Pertanian
Di sektor pertanian, ada beberapa jenis pelatihan yang bisa
dikembangkan, misalnya :
|
119
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
a. Pelatihan peternak unggas
b. Pelatihan operator mesin pertanian dan kehutanan
c. Pelatihan pekerja pertanian, perkebunan, dan pembibitan
d. Pelatihan petani dan nelayan
e. Pelatihan pekerja pertanian dan peternakan
2.
Industri Manufaktur
Untuk sektor industri manufaktur sebisa mungkin disesuaikan
dengan potensi daerah dan jenis industri yang ada di daerah masingmasing. Hal ini diperlukan agar jenis pelatihan yang dilakukan sesuai
dengan kebutuhan dilapangan. Beberapa jenis pelatihan yang bisa
dikembangkan, diantaranya :
a. Pelatihan pembuat roti, kue kering, dan kembang gula
b. Pelatihan tukang jahit, pembuat pakaian, dan pembuat topi
c. Pelatihan penyulam
d. Pelatihan tukang kayu dan meubel
e. Pelatihan operator mesin jahit
3.
Konstruksi
Di
bidang
konstruksi,
jenis
pelatihan
yang
masih
bisa
dikembangkan diantaranya :
a. Pelatihan tukang kayu dan meubel
b. Pelatihan pembuat kerangka bangunan
c. Pelatihan teknisi teknik sipil
4.
Jasa-jasa
Untuk sektor jasa, sebenarnya banyak pelatihan yang bisa
dikembangkan. Karena sektor ini memang mengharuskan memiliki
tingkat keterampilan yang tinggi. Beberapa jenis pelatihan yang bisa
dikembangkan diantaranya :
a. Pelatihan montir kendaraan
b. Pelatihan
pemangkas
rambut,
perias,
dan
kecantikan.
c. Pelatihan pembantu dan pembersih rumah tangga.
120
|
perawat
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
d. Pelatihan pengemudi mobil taksi.
e. Pelatihan tukang jahit, pembuat pakaian, dan pembuat topi,
dan lain-lain.
5.
Sektor lainnya
Untuk sektor lainnya yang masih bisa dikembangkan, untuk
menambah keterampilan tenaga kerja yang akan memasuki pasar
kerja diantaranya :
a. Pelatihan operator mesin forklift.
b. Pelatihan teknisi teknik mesin.
c. Pelatihan teknisi teknik listrik.
d. Pelatihan juru masak.
e. Pelatihan operator komputer dan mesin pengolah data.
6. Pelatihan pelayan restoran dan bar.
7. Pelatihan perakit peralatan listrik, dan lain-lain.
Dari uraian diatas, diperlukan strategi yang dapat mendukung
terlaksananya pelatihan yang terencana dan terarah. Strategi
dimaksud antara lain :
1. Adanya perencanaan pelatihan berdasarkan pada kebutuhan
sektor, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan status pekerjaan.
2. Mendayagunakan seluruh potensi lembaga pelatihan baik yang
dikelola
oleh
pemerintah,
swasta,
dan
perusahaan
serta
membangun BLK baru.
3. Memberikan pelatihan kepada angkatan kerja baru untuk
meningkatkan kualitasnya agar mampu mengisi kesempatan kerja
yang ada di dalam negeri maupun luar negeri.
4. Membangun link and match antara program pendidikan dan
program pelatihan dengan dunia kerja.
|
121
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
6.5
Rekomendasi Kebijakan Penempatan Tenaga Kerja
Kebijakan penempatan tenaga kerja diarahkan untuk pengembangan
pasar
kerja,
penempatan
tenaga
kerja
dalam
dan
luar
negeri,
pengembangan kesempatan kerja serta pengendalian penggunaan tenaga
kerja asing. Keempat kebijakan tersebut dilaksanakan dalam rangka untuk
mengatasi permasalahan
di bidang ketenagakerjaan
yaitu
masalah
pengangguran dan setengah pengangguran.
Pendekatan yang digunakan untuk memformulasikan kebijakan
penempatan tenaga kerja dalam Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi
(PTKP) Tahun 2012-2016 ini adalah dengan cara menentukan target utama
penempatan tenaga kerja berdasarkan jenis status pekerjaan dan lapangan
usaha (sektor).
Adapun ketiga jenis status pekerjaan yang menjadi target utama
penempatan tenaga kerja pada tahun 2012-2016 adalah kesempatan kerja
dengan status Berusaha Sendiri Tanpa Bantuan, Berusaha Dengan Dibantu,
dan Pekerja/Buruh/Karyawan. Dasar pertimbangan penetapan kesempatan
kerja dengan status Berusaha Sendiri Tanpa Bantuan serta Berusaha
Dengan Dibantu sebagai target utama penempatan tenaga kerja pada tahun
2012-2016 adalah karena kedua jenis status pekerjaan tersebut merupakan
bentuk dari Kewirausahaan. Dengan menciptakan banyak Kewirausahaan,
maka akan mendorong terciptanya banyak kesempatan kerja baru.
Sedangkan, dasar pertimbangan penetapan kesempatan kerja dengan
status
Pekerja/Buruh/Karyawan
sebagai
salah
satu
target
utama
penempatan tenaga kerja pada tahun 2012-2016 adalah karena pekerjaan
ini merupakan jenis pekerjaan yang bersifat formal. Seperti kita ketahui
bersama bahwa penciptaan kesempatan kerja formal dalam jumlah yang
banyak merupakan salah satu sasaran pembangunan ketenagakerjaan
nasional. Hal ini disebabkan pekerja sektor formal merupakan pekerja yang
bekerja pada segala jenis pekerjaan yang mendapatkan perlindungan
negara, menghasilkan pendapatan yang tetap, dengan tempat kerja yang
122
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
memiliki keamanan kerja (job security), serta dengan status permanen pada
unit usaha atau lembaga yang berbadan hukum.
Kelima lapangan usaha yang menjadi sektor prioritas dan ditetapkan
sebagai target utama penempatan tenaga kerja pada tahun 2012-2016
adalah Sektor Pertanian, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Sektor
Keuangan dan Sektor Jasa.Sektor Perdagangan dan Jasa termasuk sektor
prioritas di Sulawesi Barat dikarenakan merupakan salah satu fokus koridor
ekonomi sehingga diharapkan kesempatan kerjanya meningkat dalam lima
tahun kedepan.
Berdasarkan hasil proyeksi, diperkirakan akan terdapat tambahan
kesempatan kerja sebesar 55 ribu orang pada tahun 2012-2016 (lihat Tabel
6.1). Berdasarkan Status Pekerjaan Utama, tambahan kesempatan kerja
terbesar selama lima tahun tersebut adalah untuk Pekerja/Buruh/Karyawan.
Sedangkan, berdasarkan Lapangan Usaha Utama, tambahan kesempatan
kerja terbesar selama lima tahun tersebut adalah terdapat pada Sektor Jasa.
Tabel 6.3
Tambahan Kesempatan Kerja
Menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Usaha
Tahun 2012 – 2016 (dalam ribu)
Status Pekerjaan
Lapangan Usaha
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1. Brsh Sendiri tanpa bantuan
2. Brsh Dengan Dibantu
3. Brsh. Dengan Buruh
4. Pekerja/Buruh/karyawan
5. Pkj. Bebas di Pertanian
6. Pkj. Bebas di Non Pertanian
7. Pekerja tak dibayar
(675)
(2,005)
(221)
(6,902)
13,752
(206)
178
528
58
1,817
278
54
208
617
68
2,122
325
63
49
146
16
503
77
15
526
1,562
172
5,378
824
160
569
1,689
186
5,815
891
173
43
127
14
438
67
13
290
861
95
2,964
454
88
1,282
3,804
419
13,095
2,007
391
2,469
7,330
807
25,231
13,752
4,924
753
Jumlah
3,743
2,913
3,403
807
8,624
9,324
702
4,753
20,997
55,266
Sumber : Data diolah
Untuk kesempatan kerja dengan status Berusaha Sendiri Tanpa
Bantuan pada tahun 2012-2016 ditargetkan bertambah sebanyak 2.469
orang. Di lapangan usaha pertanian, untuk status ini diperkirakan akan
terjadi penurunan kesempatan kerja sebanyak 675 orang pada tahun 20122016. Di lapangan usaha bangunan, untuk status ini diperkirakan akan
|
123
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
terjadi kenaikan kesempatan kerja sebanyak 526 orang pada tahun 20122016. Di lapangan usaha perdagangan, untuk status ini ditargetkan
bertambah sebanyak 569 orang pada tahun 2012-2016. Di lapangan usaha
keuangan, untuk status ini ditargetkan bertambah sebanyak 290 orang pada
tahun 2012-2016. Sedangkan, di lapangan usaha Jasa, untuk status ini
ditargetkan bertambah sebanyak 1.282 orang pada tahun 2012-2016.
Untuk kesempatan kerja dengan status Berusaha Dengan Dibantu
pada tahun 2012-2016 ditargetkan bertambah sebanyak 7.330 orang. Di
lapangan usaha pertanian, untuk status ini diperkirakan akan terjadi
penurunan kesempatan kerja sebanyak 2.005 orang pada tahun 2012-2016.
Di lapangan usaha bangunan, untuk status ini diperkirakan akan terjadi
kenaikan kesempatan kerja sebanyak 1.562 orang pada tahun 2012-2016.
Di lapangan usaha perdagangan, untuk status ini ditargetkan bertambah
sebanyak 1.689 orang pada tahun 2012-2016. Di lapangan usaha
keuangan, untuk status ini ditargetkan bertambah sebanyak 861 orang pada
tahun 2012-2016. Sedangkan, di lapangan usaha Jasa, untuk status ini
ditargetkan bertambah sebanyak sebanyak 3.804 orang pada tahun 20122016.
Untuk kesempatan kerja dengan status Pekerja/Buruh/Karyawan
pada tahun 2012-2016 ditargetkan bertambah sebanyak 25.231 orang. Di
lapangan usaha pertanian, untuk status ini diperkirakan akan terjadi
penurunan kesempatan kerja sebanyak 6.902 orang pada tahun 2012-2016.
Di lapangan usaha bangunan, untuk status ini diperkirakan akan terjadi
kenaikan kesempatan kerja sebanyak 5.378 orang pada tahun 2012-2016.
Di lapangan usaha perdagangan, untuk status ini ditargetkan bertambah
sebanyak 5.815 orang pada tahun 2012-2016. Di lapangan usaha
keuangan, untuk status ini ditargetkan bertambah sebanyak 2.964 orang
pada tahun 2012-2016. Sedangkan, di lapangan usaha Jasa, untuk status
ini ditargetkan bertambah sebanyak sebanyak 13.095 orang pada tahun
2012-2016.
124
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Kebijakan, strategi, dan program penempatan tenaga kerja yang
perlu dilakukan adalah:
1. Kebijakan penciptaan pasar kerja yang luwes melalui penyempurnaan
peraturan perundang-undangan.
2. Konsolidasi program perluasan kesempatan kerja.
3. Peningkatan kualitas pelayanan penempatan dan perlindungan tenaga
kerja indonesia di luar negeri.
4. Peningkatan kualitas pusat-pusat pelayanan informasi ketenagakerjaan.
5. Peningkatan konsolidasi program-program perluasan kesempatan kerja.
6. Kebijakan pendukung lainnya.
a. Pengembangan pusat-pusat informasi ketenagakerjaan;
b. Pengembangan kualitas dan sistem informasi pasar kerja, bursa
kerja dan sistem perluasan kesempatan kerja;
c. Penyusunan Perencanaan tenaga kerja sebagai acuan dalam
penyusunan
kebijakan,
strategi,
dan
program
yang
ramah
ketenagakerjaan.
6.6
Rekomendasi Kebijakan Perlindungan Tenaga Kerja
Dalam
pembangunan
bidang
ketenagakerjaan,
tenaga
kerja
merupakan pelaku utama sekaligus tujuan pembangunan ketenagakerjaan.
Peran serta tenaga kerja dalam pembangunan nasional ini semakin
meningkat begitu pula dengan berbagai tantangan dan risiko yang
dihadapinya. Untuk itu kepada tenaga kerja perlu diberikan perlindungan,
pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan, sehingga pada gilirannya
akan dapat meningkatkan produktivitas.
Selain itu kebijakan perlindungan tenaga kerja ditujukan untuk
menciptakan suasana hubungan kerja yang harmonis melalui peningkatan
pelaksanaan fungsi dan peranan sarana hubungan industrial bagi pelaku
proses produksi barang dan jasa. Dengan demikian kebijakan perlindungan
tenaga kerja ini berguna baik pada tenaga kerja itu sendiri maupun bagi
para pelaku usaha dan lainnya sehingga mampu menciptakan iklim usaha
|
125
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
yang
kondusif,
menimbulkan
ketenangan
bekerja
dan
berusaha,
meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja, pengusaha, dan
berbagai pihak terkait. Dengan upaya ini pada akhirnya juga berpotensi
membuka berbagai peluang berusaha dan berinvestasi untuk menciptakan
perluasan kesempatan kerja baru.
6.6.1 Pengawasan Ketenagakerjaan
Bentuk
perlindungan,
pemeliharaan,
dan
peningkatan
kesejahteraan dimaksud diselenggarakan dalam bentuk pengawasan
ketenagakerjaan, penyelesaian perselisihan hubungan industrial dan
program jaminan sosial tenaga kerja. Bentuk perlindungan ini berlaku
umum untuk seluruh kegiatan yang menyangkut upaya produksi
yang melibatkan bidang ketenagakerjaan baik formal maupun
informal, untuk kelas industri berskala besar, menengah, kecil
bahkan mikro dan perorangan atau tidak dapat diklasifikasikan
sekalipun. Hanya saja untuk proses pengukuran dan perencanaan
perlindungan yang terstruktur dan sistematis perlu adanya landasan
berupa data tempat usaha/perusahaan.
Dalam bidang ketenagakerjaan, perusahaan adalah setiap
bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang
perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik
swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh
dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Untuk itu,
berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1981 tentang wajib lapor
ketenagakerjaan di perusahaan, sampai dengan tahun 2011 terdapat
3.220 perusahaan yang telah melapor, dimana jumlah perusahaan
terbanyak berada di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 922
perusahaan
disusul oleh
Kabupaten
Mamuju
sebanyak
737
perusahaan dan Kabupaten Majene sebanyak 675 perusahaan.
Sedangkan untuk pegawai pengawas yang ada saat ini berjumlah 9
orang dengan jumlah terbanyak berada di dinas provinsi sebanyak 3
126
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
orang dan selebihnya tersebar di kabupaten yang ada. Jika dilihat
perbandingan antara jumlah perusahaan dengan jumlah pegawai
pengawas terdapat perbandingan yang besar, apabila dirata-ratakan
maka satu orang pegawai pengawas mengawasi 30 perusahaan
dalam satu bulan dimana seharusnya jumlah perusahaan ideal yang
diawasi adalah 5 perusahaan tiap bulannya.
Tabel 6.4
Perkiraan Kebutuhan Tenaga Fungsional Pengawas
KONDISI PENGAWAS
SAAT INI
NO
1
2
3
4
5
6
PROVINSI,
KABUPATEN/KOTA
JUMLAH
PERUSAHAAN
Provinsi
Kabupaten Majene
Kabupaten Polewali Mandar
Kabupaten Mamasa
Kabupaten Mamuju
Kabupaten Mamuju Utara
675
922
276
737
610
3
1
0
1
2
2
PERUSAHAAN
YG DIAWASI
PER BULAN
PER
PENGAWAS
56
23
31
25
3,220
9
30
Jumlah
JUMLAH
PERKIRAAN KEBUTUHAN
PENGAWAS
11
15
5
12
10
PERUSAHAAN
YG DIAWASI
PER BULAN
PER
PENGAWAS
5
5
5
5
5
54
5
JUMLAH
Untuk kedepannya diharapkan jumlah pegawai pengawas
dapat ditambah, begitu pula untuk kabupaten/kota yang belum
memiliki pengawas untuk memilikinya agar pengawasan terhadap
perusahaan-perusahaan yang ada di kabupaten/kota tersebut dapat
berjalan maksimal.
Dalam mendukung peningkatan kuantitas dan kualitas
pelaporan serta upaya sosialisasi tersebut sangat dibutuhkan
pengawas ketenagakerjaan yang memadai, sementara jumlahnya
masih sangat minim dibandingkan jumlah perusahaan maupun
jumlah tenaga kerja yang ada. Untuk itu jumlah pengawas
ketenagakerjaan harus bertambah dari yang ada sekarang 9 orang
tenaga pengawas menjadi 54 tenaga pengawas, dengan demikian
|
127
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
setiap pengawas ketenagakerjaan mampu mengawasi 5 perusahaan
tiap bulan.
Untuk
mempercepat
penambahan
pengawas
ketenagakerjaan perlu dilakukan :
a. Pembiayaan bersama (sharing) antara pemerintah pusat dan
daerah. Hal ini karena bidang ketenagakerjaan merupakan
bagian
dari
kewenangan/urusan
wajib
setiap
tingkat
pemerintahan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan
pelayanan dasar pada masyarakat sebagaimana diatur dalam
PP Nomor 38 tahun 2007.
b. Pelatihan jarak jauh (distance training) untuk materi dan teori,
praktek di kelas maupun di lapangan.
c. Pengadaan pengawas ketenagakerjaan oleh Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi.
6.6.2 Perselisihan Hubungan Industrial dan Program Jaminan
Sosial Tenaga Kerja
Perlindungan tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan
pengawasan norma ketenagakerjaan sebagaimana tersebut di atas
tetapi
juga
industrial.
menyangkut
Untuk
penyelesaian
penyelesaian
yang
perselisihan
bersifat
hubungan
antisipatif
telah
diundangkan berbagai peraturan yang mengatur adanya perangkat
hubungan industrial ini yaitu minimal adanya Peraturan Perusahaan
(PP) atau lebih baik lagi jika ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
yang dapat menjadi acuan bersama bagi pekerja dan pemberi kerja/
pengusaha. Selain itu sebagaimana aturan yang berlaku secara
internasional perlu dibentuk Serikat Pekerja (SP) yang menjamin
kebebasan berpendapat bagi pekerja. Perangkat hubungan industrial
yang terutama adalah adanya Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit
karena diharapkan menjadi jembatan utama dalam pencarian solusi
yang menguntungkan kedua belah pihak.
128
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Tabel 6.5
Perangkat Hubungan Industrial
Tahun
2009
2010
2011
1
PP
9
45
160
2
PKB
23
41
3
SP/SB
86
4
LKS Bipartit
5
1
175
Sumber : Disnakertrans Provinsi Sulawesi Barat
No
Keterangan
Jumlah perusahaan yang memiliki PP dan PKB diharapkan
terus meningkat, sehingga pada rentang tahun 2012-2016 jumlah
perusahaan yang memiliki PP diharapkan bertambah sesuai dengan
target sebanyak 50 perusahaan pada tahun 2012-2016.Sedangkan
jumlah perusahaan yang memiliki PKB ditargetkan sebanyak 25
perusahaan pada tahun 2012-2016.Kebijakan yang dapat dilakukan
adalah melalui sosialisasi dan perusahaan yang bermasalah
dihimbau segera menyusun PP dan PKB.
Tabel 6.6
Target Penambahan Perangkat Hubungan Industrial
No
1
2
3
4
Keterangan
PP
PKB
SP/SB
LKS Bipartit
Tahun
2012* 2013* 2014* 2015*
10
10
10
10
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
2016*
10
5
5
5
Dalam hal penyelesaian perselisihan hubungan industrial
langkah terbaik adalah adanya dialog antara pekerja dan pengusaha
dalam penyelesaian yang menguntungkan kedua belah pihak (winwin solution). Untuk itu seharusnya pekerja memiliki kebebasan
berpendapat yang disalurkan secara terarah dan pada jalurnya
melalui Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Dengan demikian upaya
|
129
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
perlindungan tetap menitikberatkan pada upaya preventif sebelum
terjadinya kasus-kasus yang harus diselesaikan secara hukum.
Untuk jumlah mediator yang dimiliki sampai saat ini adalah sebanyak
5
orang
mediator.
Penambahan
mediator
diharapkan
akan
bertambah dikarenakan kemampuan mediator dalam menangani
kasus yang ada semakin maksimal serta adanya kemungkinan
pegawai mediator yang memasuki usia pensiun. Untuk Provinsi
Sulawesi Barat diharapkan adanya penambahan mediator yang saat
ini berjumlah 5 orang menjadi 34 orang dengan penambahan ini
diharapkan kerja mediator dalam menangani kasus yang ada
menjadi maksimal.
Tabel 6.7
Perkiraan Tambahan Kebutuhan Tenaga Mediator
KONDISI MEDIATOR
SAAT INI
NO
PROVINSI,
KABUPATEN/KOTA
JUMLAH
PERUSAHAAN
JUMLAH
PERUSAHAAN
YG DIBINA
PER BULAN
PER
MEDIATOR
PERKIRAAN KEBUTUHAN
MEDIATOR
JUMLAH
PERUSAHAAN
YG DIBINA
PER BULAN
PER
MEDIATOR
1
Provinsi
-
-
-
-
-
2
Kabupaten Majene
675
2
28
7
8
3
Kabupaten Polewali Mandar
922
-
-
10
8
4
Kabupaten Mamasa
276
-
-
3
8
5
Kabupaten Mamuju
737
3
20
8
8
6
Kabupaten Mamuju Utara
610
-
-
6
8
3,220
5
54
34
8
Jumlah
Kerjasama yang baik antara pekerja dan pengusaha akan
menimbulkan ketenangan bekerja bagi pekerja karena yakin hakhaknya akan dijamin sesuai dengan kontribusinya. Pengusaha pun
akan memetik keuntungan dengan peningkatan produktivitas dan
terciptanya budaya kerja yang baik. Untuk itu dari keseluruhan
perangkat hubungan industrial berupa adanya PP, PKB maupun SP
dan tenaga mediator maka yang terbaik adalah keberadaan
perangkat hubungan industrial berupa Lembaga Kerjasama (LKS)
130
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
Bipartit yang berfungsi sesuai seharusnya. LKS Bipartit yang
berfungsi baik akan meminimalisir peran pemerintah melalui LKS
Tripartit. Dengan sosialisasi dan penekanan pelaksanaan peraturan
perundangan yang berlaku maka pembentukan LKS Bipartit ini
diharapkan semakin meningkat sehingga ditargetkan pada tahun
2012-2016 menjadi 200 perusahaan yang memiliki LKS Bipartit.
Tidak dapat dipungkiri bahwa walau telah diupayakan adanya
perangkat
hubungan
industrial
yang
memadai tetapi sangat
dimungkinkan terjadi perselisihan hubungan industrial apalagi
berbagai perangkat tersebut diatas dari segi jumlah masih jauh dari
kebutuhan. Hal ini terutama agar perselisihan tersebut tidak perlu
masuk dalam ranah hukum yang pada akhirnya cenderung
merugikan kedua belah pihak baik dari segi biaya, waktu, tingkat
kerepotan yang ditimbulkan, citra buruk, rusaknya hubungan baik
hingga berbagai kerugian non materil lainnya. Untuk itu diperlukan
banyak tenaga mediator yang kompeten dalam rangka memediasi
perselisihan yang timbul.
Perlindungan tenaga kerja erat pula kaitannya dengan
pemenuhan jaminan sosial terhadap tenaga kerja dan juga bagi
keluarganya. Pekerja dan keluarganya yang hidup sejahtera inilah
yang hakekatnya menjadi tujuan dari konstitusi. Negara diwajibkan
menyediakan pekerjaan yang (berpenghasilan) layak bagi tiap-tiap
warga negaranya. Dengan demikian, masyarakat yang sejahtera
dapat terwujud. Perwujudan ini melalui jalur yang memang
seharusnya, yaitu bukan dari serangkaian program subsidi dan
bantuan namun di sisi lain mengesampingkan hak-hak pekerja yang
telah bekerja keras bagi peningkatan kesejahteraan diri dan
keluarganya. Pada kenyataannya, tenaga kerja memang relatif
mempunyai kedudukan yang lebih lemah sehingga tanggung jawab
utama dalam perlindungan dan kesejahteraan pekerja ini berada di
|
131
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
tangan pengusaha, selain tenaga kerja yang juga turut berperan aktif
dalam pelaksanaan program jaminan sosial tenaga kerja ini.
Adanya program jaminan sosial ini berkenaan dengan
pemeliharaan kesejahteraan pada saat tenaga kerja kehilangan
sebagian atau seluruh penghasilannya sebagai akibat terjadinya
risiko-risiko sosial seperti kecelakaan kerja, sakit, meninggal dunia,
dan hari tua. Jaminan sosial tenaga kerja mempunyai beberapa
aspek, antara lain :
1.
memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan
hidup minimal bagi tenaga kerja beserta keluarganya;
2.
memberikan penghargaan kepada tenaga kerja yang telah
menyumbangkan tenaga dan pikirannya kepada perusahaan
tempat mereka bekerja.
Tabel. 6.8
Upah Minimum Provinsi dan Kebutuhan Hidup Layak
Tahun 2011
Tahun
UMP
2011
1.006.000
Sumber : Kemnakertrans
KHL
UMP/KHL
1.381.470
72,82
Untuk meningkatkan daya beli buruh/karyawan, UMP setiap tahun
harus ditinjau dan ditingkatkan. Peningkatan ini harus lebih tinggi dari
peningkatan inflasi yang ada sehingga UMP yang ditetapkan akan
meningkat persentasenya bila dibandingkan dengan KHL. Besarnya UMP
Sulawesi Barat tahun 2011 sebesar Rp. 1.006.000,- meningkat sebesar 6,55
persen dibandingkan tahun 2010 yang sebesar Rp. 944.200,-. Besaran UMP
ini jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup layak (KHL) di Provinsi
Sulawesi Barat baru mencapai 72,82 persen. Diharapkan proporsi UMP
terhadap KHL ini terus meningkat setiap tahunnya sehingga kesejahteraan
buruh/karyawan juga ikut meningkat.
132
|
Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat 2012-2016
BAB VII
PENUTUP
Buku Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat
disusun
sebagai
acuan
dalam
menyusun
perencanaan
pembangunan ekonomi secara makro, khususnya apabila dikaitkan
dengan Perencanaan Kesempatan Kerja Daerah Sulawesi Barat
selama periode tahun 2012-2016.
Melalui penyusunan buku ini diharapkan dapat diperoleh
bahan masukan yang berharga bagi para perencana dan pengambil
keputusan, serta pengguna lainnya dibidang ketenagakerjaan di
Daerah.
|
133
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2010. Pendapatan Nasional Indonesia 2006 2010. BPS Sulawesi Barat
Bappenas dan UNSFIR. 2002. Indonesia 2020: long-term Issues and
priorites. Jakarta.
Internasional Labor Organization. 1999. Indonesia Imploment strategi
Mission. ILO : Jakarta.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I 2010. Perencanaan
Tenaga Kerja Nasional Tahun 2011 – 2012. Kemenakertrans :
Jakarta.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I 2010. Rencana
Tenaga Kerja Kabupaten Sragen Tahun 2011 – 2014.
Kemenakertrans : Jakarta.
Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2009 Rencana Tenaga
Kerja
2010-2014. Kemenakertrans : Jakarta.
Universitas Indonesia dan Bappenas. 1992 Studi Pegembangan
sistem dan Kebijaksanaan dan Sumber Daya Manusia. UI dan
Bappenas. Jakarta.
Universitas
Indonesia
perncanaan
dan
Sumber
Bappenas : Jakarta.
Beppenas.
Daya
1992.
Manusia
Model
Nasional.
terpadu
UI
dan
Download