Uploaded by User47902

REVISI 1 SGD 5 Gerontik-Iatrogenesis dan Kurang Gizi

advertisement
TUGAS MATA KULIAH
KEPERAWATAN GERONTIK
PROGRAM REGULER A16 SEMESTER 6
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA KURANG GIZI DAN
IATROGENESIS”
Kelompok 5 :
Sarah Maulida Rahmah
(131611133006)
Ragil Titihatmanti
(131611133012)
Rufaidah Fikriya
(131611133018)
Sekar Ayu Pitaloka
(131611133021)
Neni Indryani
(131611133031)
Nesya Ellyka
(131611133038)
Novalia Puspitasary
(131611133044)
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 3
2.1 Iatrogenesis ....................................................................................... 3
2.1.1 Definisi Iatrogenesis ................................................................ 3
2.1.2 Etiologi Iatrogenesis................................................................ 3
2.1.3 Penatalaksanaan Medis ........................................................... 4
2.1.4 Pemeriksaan Fisik.................................................................... 6
2.1.5 Pemeriksaan Penunjang........................................................... 6
2.2 Kurang Gizi ....................................................................................... 6
2.2.1 Definisi Kurang Gizi............................................................... 6
2.2.2 Manifestasi Klinis Kurang Gizi .............................................. 7
2.2.3 Pemeriksaan Fisik................................................................... 8
2.2.4 Pemeriksaan Penunjang.......................................................... 9
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................... 10
3.1 Pengkajian ......................................................................................... 11
3.2 Analisis Data ..................................................................................... 20
3.3 Diagnosa............................................................................................ 21
3.4 Intervensi Keperawatan..................................................................... 21
BAB 4 KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan ...................................................................................... 23
4.2 Saran ................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 24
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lanjut usia adalah setiap orang yang berusia 60 tahun atau lebih, yang
secara fisik terlihat berbeda dengan kelompok umur lainnya. Umumnya setiap
orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua adalah masa hidup manusia
yang terakhir. Pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, dan
sosial hingga tidak melakukan tugasnya sehari-hari lagi dan bagi kebanyakan orang
masa tua kurang menyenangkan (Departemen Kesehatan RI, 2003 dalam Senjaya,
2017). Dengan meningkatnya jumlah populasi usia lanjut, masalah kesehatan yang
dialami oleh populasi usia lanjut juga semakin banyak. Jamal et. al. (2000)
menyatakan bahwa karena berbagai sebab, penggunaan obat pada lansia perlu
mendapat perhatian khusus para dokter dan apoteker. Misalnya, penggunaan obat
yang diresepkan secara tidak teliti dapat berisiko serius bagi kesehatan lansia akibat
terjadinya efek samping obat, interaksi obat dan dosis yang tidak tepat. Suatu
literatur menunjukkan bahwa polifarmasi berisiko menimbulkan reaksi samping
obat, interaksi obat, dan efek iatrogenic di kalangan lansia. Salah satu masalah
kesehatan pada lansia yaitu kurang gizi atau biasa disebut malnutrisi. Malnutrisi
sendiri merupakan masalah yang bersifat multifaktor, yaitu meliputi faktor fisik,
sosial, dan ekonomi (Tamher dan Noorkasiani, 2009).
Suatu study melaporkan bahwa 30% sampai 40% lansia yang hospitalisasi
berpengalaman dengan komplikasi iatrogenik (Jahnigen, 1986). Selama di rumah
sakit penderita lansia lebih sering kemungkinan mengalami kejadian yang tidak
diinginkan mengingat adanya kemunduran fisik dan lebih rentan. Pada lansia perlu
mewaspadai status gizi yang menurun, mengingat prevalensi yang tinggi di
kalangan mereka, yaitu sebesar 10-50%. Padahal malnutrisi ini merupakan faktor
risiko utama bagi timbulnya kesakitan dan kematian, khususnya bagi mereka yang
tinggal di panti. Seain itu, sering kali status gizi di kalangan lansia ini diabaikan
orang (Tamher dan Noorkasiani, 2009). Meenurut penelitian Rianto (2004),
menyatakan bahwa angka kejadian malnutrisi di panti sebesar 43,2% sedangkan di
1
non panti sebesar 1.4%, dan angka kejadian resiko malnutrisi di panti sebesar 48,6%
sedangkan di non panti sebesar 9,5%. Menurut Ansari et. al (2014), malnutrition
iatrogenik adalah malnutrition energi protein akibat pengobatan dan perawatan
yang didapat selama pasien berada di rumah sakit (RS). Survei menunjukkan bahwa
prevalensi malnutrition iatrogenik relatif hampir merata, baik di RS daerah maupun
RS pendidikan pada berbagai jenis penyakit dan status sosial ekonomi penderita,
sehingga diperlukan upaya yang tepat untuk mencegah malnutrition ini.
Menurut Rahmanstjah (2009), iatrogenesis merupakan penyakit yang
disebabkan oleh tindakan dokter, baik dalam membuat diagnosis maupun dalam
memberikan terapi untuk pasiennya. Iatrogenesis (penyakit akibat obat-obatan),
sering dijumpai pada lansia yang mempunyai riwayat penyakit dan membutuhkan
pengobatan dalam waktu yang lama, jika tanpa pengawasan dokter maka akan
menyebabkan timbulnya penyakit akibat obat-obatan. Proses menua pada lansia
mengakibatkan banyak perubahan, antara lain perubahan struktur dan fungsi tubuh,
kemampuan kognitif dan kesehatan mental. Salah satu diantaranya adalah
perubahan anatomis dan fisiologis pada saluran pencernaan yang akan berdampak
terhadap kemampuan kerja sistem pencernaan dan akan mempengaruhi status
nutrisi lansia (Oktariyani, 2012). Status nutrisi merupakan keadaan tubuh akibat
konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi/nutrisi (Supariasa, 2002).
Ketidakseimbangan intake nutrisi dengan kebutuhan tubuh akan mempengaruhi
status nutrisi. Ketidakseimbangan itu bisa disebut malnutrisi. Setiati & Dinda
(2010) menyatakan malnutrisi merupakan suatu keadaan defisiensi, kelebihan atau
ketidakseimbangan protein energi dan nutrien lain yang dibutuhkan oleh tubuh
yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi tubuh.
Berdasarkan latar belakang di atas mengenai iatrogenesis dan kurang gizi
pada lansia, perawat diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan dan
melakukan asuhan keperawatan pada lansia dengan permasalahan tersebut.
Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi mengenai asuhan keperawatan pada
kasus iatrogenesis dan kirang gizi yang banyak terjadi pada lansia.
2
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep iatrogenesis pada lansia?
2. Bagaimana konsep kurang gizi pada lansia?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan iatrogenesis dan
inanition?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan konsep iatrogenesis pada lansia
2. Menjelaskan konsep kurang gizi pada lansia
3. Menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia dengan iatrogenesis dan
inanition
3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Iatrogenesis
2.1.1 Definisi Iatrogenesis
Berasal dari bahasa Yunani “ iatros” yang berarti medis dan “genes” yang
berarti origin/asal, iatrogenik didefinisikan sebagai terjadinya efek negatif yang
disebabkan oleh prosedur medis. Iatrogenesis mengarah pada ketidaksengajaan
efek samping atau kompliksi yang disebabkan oleh intervensi kedokteran atau
peresepan obat.Iatrogenic juga mengarah pada pekerja professional kesehatan yang
lain seperti psikologis, farmasis, terapis, perawat dan dokter gigi. Ketika seorang
dokter (atau tenaga medis lain) dalam usahanya menyembuhan, memperbaiki, atau
mengobati pasien menimbulkan kelainan psikologis, fungsional, atau organik
dalam bentuk nyeri, penyakit atau gangguan, ia bersifat iatrogenik. Jadi, penyakit
iatrogenik didefinisikan sebagai tindakan medis, terapetik, diagnostik, atau
profilaksis apapun, yang secara tidak sengaja menyebabkan gejala yang
membutuhkan terapi, menyebabkan perawatan di rumah sakit, meningkatkan lama
rawat inap di rumah sakit, menyebabkan ketidamampuan permanen atau perlukaan,
atau mengarah pada kematian.
2.1.2 Etiologi
Penyakit iatrogenik adalah akibat dari prosedur terapi dan diagnosis yang
diterima oleh pasien. Dengan berbagai macam jenis obat pada satu orang pasien
maka reaksi efek samping obat dapat terjadi.
Gangguan iatrogenik terjadi ketika efek samping dari regimen diagnosis atau
terapi menyebabkan sebuah kondisi patologis. Prosedur diagnostik (mekanik dan
radiologis), regiment terapi (obat, pembedahan, atau prosedur invasif lainnya),
hospitalisasi dapat menyebabkan gangguan iatrogenik.
Dari beberapa studi yang telah dilakukan, terdapat beberapa predictor penting
untuk terjadinya iatrogenesis seperti usia tua, jumlah obat yang diminum per hari,
4
kondisi patologis yang berhubungan, kondisi medis yang buruk saat masuk rumah
sakit, gangguan fungsi ginjal dan penggunaan akses intravena. Beberapa faktor
resiko lain yang diketahui menyebabkan kejadian iatrogenesis di rumah sakit antara
lain :
1) Kesalahan medis, penulisan resep obat yang buruk (tidak terbaca)
2) Kealpaan tenaga kesehatan
3) Prosedur, teknik, informasi dan metode yang tidak tepat
4) Interaksi obat akibat kesalahan peresepan dan polifarmasi
5) Efek samping obat
6) Penggunaan obat yang berlebihan dan ketidakpatuhan sehingga
menyebabkan resistensi obat
7) Infeksi nosokomial
8) Tranfusi darah
9) Distress emosi yang membahayakan
2.1.3 Penatalaksanaan medis
Pendekatan multidimensi berusaha untuk menguraikan berbagai masalah
pada pasien geriatri, mengidentifikasi semua aset pasien, mengidentifikasi jenis
pelayanan yangdibutuhkan, dan mengembangkan rencanna asuhan yang
berorientasi pada kepentingan pasien. Beberapa penatalaksaan secara umum
sindrom geriatrik diantaranya
a.Pemberian asupan diet protein , vitamin C,D,E dan mineral yang cukup.
Orang usia lanjut umumnya mengkonsumsi protein kurang dari angka
kecukupan gizi. Proporsi protein yang adekuat merupakan faktor penting, bukan
dalam jumlah besar pada sekali makan. Protein sebaiknya mengandung asam
aminoesensial. Leusin adalah asam amino esensial dengan kemampuan anabolisme
protein tertinggi sehingga dapat mencegah sarkopenia.
b.Pengaturan olahraga secara teratur
5
Kemampuan dasar seperti berjalan, keseimbangan, fungsi kognitif.
Aktivitas fisik dapat menghambat penurunan massa dan fungsi otot dengan memicu
peningkatan masa dan kapasitas metabolik otot sehingga memengaruhi energi
expenditure, metabolis glukosa dan cadangan protein
c. Pencegahan infeksi dengan vaksin
d. Antisipasi kejadian yang dapat menimbulkan stres misalnya pembedahan elektif
dan reconditioning cepat setelah mengalami stres dengan renutrisi dan fisioterapi
individual
e. Terapi pengobatan pada lansia berbeda dari pasien pada usia muda, karena
adanya perubahan kondisi tubuh yang disebabkan oleh usia, dan dampak yang
timbul dari penggunaan obat-obatan yang digunakan sebelumnya.
2.1.4 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan tanda vital.
1.
Pemeriksaan fisik tekanan darah, dilaksanakan dalam keadaan tidur, duduk
dan berdiri, masing-masing dengan selang 1-2 menit, untuk melihat
kemungkinan terdapatnya hipotensi ortostatik
2.
Pemeriksaan fisik untuk menilai sistem. Pemeriksaan organ dan sistem ini
disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemeriksa.Yang penting adalah
pemeriksaan secara sistem ini menghasilkan dapatan ada atau tidaknya
gangguan organ atau sistem.
3. Pemeriksaan fisik dengan urutan seperti pada anamnesis penilaian sistem,
yaitu :
a) Pemeriksaan susunan saraf pusat (Central Nervous System).
b) Pemeriksaan panca indera, saluran nafas atas, gigi-mulut.
c) Pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, bising arteri karotis.
d) Pemeriksaan dada, paru-paru, jantung dan abdomen perlu dilakukan
dengan cermat.
6
e) Pemeriksaan ekstremitas, refleks-refleks, gerakan dan kelainan sendisendi perlu diperiksa :sendi panggul, lutut dan kolumna vertebralis.
f) Pemeriksaan kulit-integumen, juga perlu dilakukan.
Pemeriksaan fisik perlu dilengkapi dengan beberapa uji fisik seperti “get up
and go” (jarak 3 meter dalam waktu kira-kira 20 detik), mengambil benda di
lantai, beberapa tes keseimbangan, kekuatan, ketahanan, kelenturan, koordinasi
gerakan.Bila dapat mengamati cara berjalan (gait), adakah sikap atau gerakan
terpaksa.Pemeriksaan organ-sistem adalah melakukan pemeriksaan mulai dari
ujung rambut sampai ujung kaki secara sistematis (Kuswardhani, RAT. 2011).
2.1.5 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tambahan disesuaikan dengan keperluan penegakan kepastian
diagnosis, tetapi minimal harus mencakup pemeriksaan rutin.
a) X-foto thorax, EKG
b) Laboratorium :- DL,UL, FL
Apabila terdapat kecurigaan adanya kelainan yang belum jelas atau diperlukan
tindakan diagnostik atau terapi, dapat dilakukan konsultasi (rujukan) kepada subbagian atau disiplin lain, atau pemeriksaan dengan alat yang lebih spesifik : FNB,
EKG, CT-Scan.
2.2 Kurang Gizi
2.2.1 Definisi Kurang Gizi
Kurang gizi atau Malnutrisi adalah suatu keadaan tidak terpenuhinya energi,
protein atau keduanya dari asupan makanan. Malnutrisi pada pasien bisa terjadi
karena proses penyakit yang dideritanya yang bisa mempengaruhi asupan makanan,
meningkatkan kebutuhan, merubah metabolisme dan bisa terjadi malabsorpsi. Dan
bisa juga karena tidak adekuatnya asupan kalori makanan yang dikonsumsi oleh
7
pasien. Umumnya kedua hal ini secara bersama-sama menyebabkan malnutrisi
pada pasien. Malnutrisi pada lansia merupakan masalah gizi yang muncul pada saat
tua yang dikarenakan akibat dari gaya hidup yang salah selama usia muda.
Malnutrisi pada lansia terbagi menjadi 2 yaitu gizi kurang dan gizi lebih.
Keadaan kurang gizi dapat dilihat sebagai suatu proses kurang
makan ketika kebutuhan normal terhadap satu atau beberapa nutrien tidak
terpenuhi, atau nutrien-nutrien tersebut hilang dengan jumlah yang lebih besar
daripada yang didapat.
Kekurangan gizi pada lansia yang ditandai dengan penurunan berat badan yang
drastis terjadi akibat kurangnya nafsu makan (anoreksia) yang berkepanjangan.
Penderita dengan penyakit infeksi kronis dan keganasan berat badannya juga
menurun, misalnya pada penderita TBC dan kanker. Seorang dikatakan menderita
kurang gizi apabila IMT <18,5, selain itu pemeriksaan klinis dapat terlihat bahwa
orang tersebut sangat kurus dan tulang- tulangnya menonjol.
2.2.2 Manifestasi klinis
Tanda-tanda pada pasien sering ditemukan dalam keadaan avitaminosis, defisiensi
mineral atau hanya terdapat tanda berkurangnya berat badan, cepat lelah atau
penurunan kemampuan kognitif
Beberapa indikator keadaan gizi kurang/buruk pada lanjut usia (Kretchmer &
Zimmermann, 1997) :
1. Penurunan berat badan secara berkelanjutan
2. Berat Badan / Tinggi Badan yang rendah secara bermakna
3. Penurunan serum protein secara bermakna
4. Perubahan fungsi tubuh secara bermakna
5. Asupan energi dan zat gizi lain di bawah AKG
6. Penurunan lingkar lengan atas secara bermakna
8
7. Penurunan tebal lemak bawah kulit/lipatan kulit secara bermakna
8. Munculnya obesitas berdasarkan berat badan ideal, indeks massa tubuh
9. Munculnya gangguan kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti
osteoporosis, defisiensi asam folat dan vitamin B12.
2.2.3 Penatalaksanaan
1. Pemantauan nutrisi pada lansia

Penimbangan Berat Badan
a. Menghitung berat badan ideal pada dewasa:
Rumus: Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)
Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan
TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus :
Berat badan ideal = TB dalam cm – 100
Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

Mini Nutritional Assesment (MNA)
Mini Nutrional Assesment (MNA) merupakan salah satu alat ukur
yang digunakan untuk menskrining status gizi pada lansia. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui apakah seorang lansia memiliki resiko
mengalami malnutrisi akibat penyakit yang di derita dan atau perawatan di
rumah sakit. Kesimpulan dari pemeriksaan MNA adalah menggolongkan
klien atau lansia dalam keadaan status gizi baik, beresiko malnutrisi ringan
ataukah mengalami malnutrisi berat.
9
2. Perencanaan makan untuk lansia
Perencanaan makan secara umum
a. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam,
yang terdiri dari: zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
10
b. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan
hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih
sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu:
Pagi
: Bubur ayam
Jam 10.00
: Roti
Siang
: Nasi, pindang telur, sup, pepaya
Jam 16.00
: Nagasari
Malam
: Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang
c. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat
memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang
terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan
terjadinya darah tinggi.
d. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang
berlemak seperti santan, mentega dll.
e. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
 Makanlah makanan yang mudah dicerna
 Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
 Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik,
makanan harus lunak/lembek atau dicincang
 Makan dalam porsi kecil tetapi sering
 Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya
diberikan
f. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab
berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu
makan.
g. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur,
daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
h. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus,
atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng
3. Pemenuhan nutrisi untuk lansia
11
Lansia berisiko tinggi mengalami masalah nutrisi. Hal ini cukup
beralasan sehingga prevelansi yang tinggi mengenai masalah nutrisi pada
lansia ini telah menjadi sorotan dalam sejumlah survei karena terdapat fakta
bahwa sebagian besar lansia di komunitas mengalami masalah nutrisi.
a. Gizi tepat untuk lansia
b. Dengan
memperhatikan
prinsip-prinsip
kebutuhan
gizinya
yaitu
kebutuhan energi memang lebih rendah dari pada usia dewasa muda (turun
sekitar 5-10%), kebutuhan protein sebesar 1 gr/kg BB, kebutuhan lemak
berkurang, kebutuhan karbohidrat cukup (sekitar 50%), kebutuhan vitamin
dan mineral sama dengan usia dewasa muda. Atau dengan cara praktis
melihat di DKGA (Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan)
c. Menu yang disajikan untuk lansia harus mengandung gizi yang seimbang
yakni mengandung sumber zat energi, sumber zat pembangun dan sumber
zat pengatur. Dalam hal ini kita bisa mengacu pada makanan empat sehat
lima sempurna.
d. Karena lansia mengalami kemunduran dan keterbatasan maka konsistensi
dan tekstur atau bentuk makanan harus disesuaikan. Sebagai contoh:
gangguan pada gigi (gigi tanggal/ompong), maka bentuk makanannya
harus lunak, misal nasi ditim, lauk pauk dicincang (ayam disuwir, daging
sapi dicincang/digiling)
e. Makanan yang kurang baik bagi lansia adalah makanan berlemak tinggi
seperti seperti jerohan (usus, hati, ampela, otal dll), lemak hewan, kulit
hewan (misal kulit ayam, kulit sapi, kulit babi dll), goreng-gorengan,
santan kental. Karena seperti prinsip yang disebutkan tadi bahwa
kebutuhan lemak lansia berkurang dan pada lansia mengalami perubahan
proporsi jaringan lemak. Hal ini bukan berarti lansia tidak boleh
mengkonsumsi lemak. Lansia harus mengkonsumsi lemak namun dengan
catatan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh misalnya bila menu
hari ini lauknya sudah digoreng, maka sayurannya lebih baik sayur yang
tidak bersantan seperti sayur bening, sayur asam atau tumis. Bila hari ini
sayurnya bersantan maka lauknya dipanggang, dikukus, dibakar atau
ditim.
12
f. Lansia harus diberi pengertian untuk mengurangi atau kalau bisa
menghindari makanan yang mengandung garam natrium yang tinggi.
Contoh bahan makanan yang mengandung garam natrium yang tinggi
adalah garam dapur, vetsin, daging kambing, jerohan, atau makanan yang
banyak mengandung garam dapur misalnya ikan asin, telur asin, ikan
pindang. Mengapa lansia harus menghindari makanan yang mengandung
garam natrium yang tinggi? Hal ini dikarenakan pada lansia mudah
mengalami hipertensi. Hal ini, seperti yang dijelaskan tadi bahwa
elastisitas pembuluh darah telah menurun dan terjadi penebalan di dinding
pembuluh darah yang mengakibatkan mudahnya terkena hipertensi. Selain
itu indera pengecapan pada lansia mulai berkurang, terutama untuk rasa
asin, sehingga rasa asin yang cukup-pun terasa masih kurang bagi mereka,
lalu makanan ditambah garam yang banyak, hal ini akan meningkatkan
tekanan darah pada lansia. Jadi kita memang perlu sampaikan kepada
lansia bahwa panduan rasa asinnya tidak bisa lagi dipakai sebagai ukuran,
karena bila dengan panduan asin dari lansia, untuk kita yang belum lansia
akan terasa asin sekali.
g. Lansia harus memperbanyak makan buah dan sayuran, karena sayur dan
buah banyak mengandung vitamin, mineral dan serat. Lansia sering
mengeluhkan tentang konstipasi/susah buang air besar, nah dengan
mengkonsumsi sayur dan buah yang kaya akan serat maka akan
melancarkan buang air besar. Untuk buah, utamakan buah yang bisa
dimakan dengan kulitnya karena seratnya lebih banyak. Dengan
mengkonsumsi sayuran dan buah sebenarnya lansia tidak perlu lagi
mengkonsumsi suplemen makanan.
h. Selain konsumsi sayur dan buah, Lansia harus banyak minun air putih.
Kebutuhan air yakni 1500-2000 ml atau 6-8 gelas perhari. Air ini sangat
besar artinya karena air menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya
penyakit di saluran kemih seperti kencing batu, batu ginjal dan lain-lain.
Air juga sebagi pelumas bagi fungsi tulang dan engselnya, jadi bila tubuh
kekurangan cairan maka fungsi, daya tahan dan kelenturan tulang juga
13
berkurang. Air juga berguna untuk mencegah sembelit, karena untuk
penyerapan makanan dalam usus memerlukan air.
2.2.4 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan keadaan fisik yang berhubungan dengan
adanya malnutrisi. Prinsip pemeriksaan fisik adalah head to feet yaitu dari kepala
ke kaki.tanda tanda atau gejala klinikdefisiensi nutrisi menurut (Kozier, 2004)
adalah
Sistem
Tanda dan Gejala
Kekurangan Nutrisi
Kulit
a. Kulit bersisik, kering
a. Zinc / asam lemak esensial
b. Hiperkeratosis folikuler
b. Vitamin A, C
c. Peteki
c. Vitamin C, K
d. Dermatitis fotosensitif
d. Niacin
e. Lamanya penyembuhan luka
e. Zinc, vitamin C
a. Tipis/depigmentasi
a. Protein
b. Mudahrontok
b. Protein, seng
a. Kebutaan malam
a. Vitamin A, seng
b. Peradangan konjungtiva
b. Riboflavin
c. Keratomalasia
c. Vitamin A
a. Pendarahan gusi
a. Vitamin C, riboflavin
b. Glositis
b. Niasin, piridoxin, riboflavin
c. Atrofi papila
c. Besi
d. Hypogeusia
d. Zinc, vitamin A
a. Pembesaran tiroid
a. Yodium
b. Parotis pembesaran
b. Protein
a. Diare
a. Niacin, folat, vitamin B12
b. Hepatomegali
b. Protein
a. Tulang nyeri
a. Vitamin D
Rambut
Mata
Mulut
Leher
Abdomen
Ekstremitas
14
b. Nyeri sendi
b. Vitamin C
c. Nyeri otot
c. Tiamin
d. Muscle wasting
d. Protein, selenium vitamin D
e. Edema
e. Protein
2.2.5 Pemeriksaan penunjang
1. Serum albumin
Serum albumin tidak menurun secara bermakna dengan meningkatnya usia
pada lanjut usia sehat. Kadar albumin sering dipakai sebagai petunjuk dalam
menentukan malnutrisi protein, tapi bukan marker yang baik untuk melihat
perubahan status protein dalam jangka panjang.
2. Hemoglobin dan hematokrit
Pengukuran hemoglobin (Hb) dan hematocrit (Ht) adalah pengukuran yang
mengidentifikasi defisiensi berbagai bahan nutrisi. Pada malnutrisi berat, kadar
hemoglobin dapat mencerminkan status protein. Nilai rentang normal hemoglobin
adalah pria
13,0-17,0 gr/dL dan wanita
12,0-15,0 gr/dL
3. Transferin
Nilai serum transferrin adalah parameter lain yang digunakan dalam mengkaji
status protein viseral. Serum transferrin dalam rentang normal adalah 170-250
mg/dl
4. Kolesterol
Kadar kolesterol yang sangat rendah mungkin terlihat pada keadaan malnutrisi
berat.
15
BAB 3
KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATAN
Seorang lansia Ny.P bersia 55 tahun, hidup di Panti Indah Kusuma
selama 2 tahun. Ny.P menyatakan ia tidak memiliki penyakit berat yang sampai
dibawa ke rumah sakit, ia mengatakan bahwa ia jarang sakit dan tidak pernah
dirawat di rumah sakit. Ny. P diantar ke Rumah Sakit oleh anaknya yang bernama
Tn.U berusia 30 tahun. Ny.P mengalami masalah pada pola makan, nafsu makan
Ny.P berkurang, hanya mampu menghabiskan seperempat porsi makanan dari
biasanya. Klien kurang makan sayur dan buah-buahan, BB sebelumnya 48 kg, BB
saat ini 45 kg. Selain itu klien juga sering mengeluh rasa nyeri di kepala, matanya
berkunang-kunang dan pusing ketika ia terlalu banyak melakukan aktifitas.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan data :

Gigi tidak lengkap

Lidah terdapat sariawan

Pola makan 2x/hr

BB sebelumnya : 48kg, saat ini 45kg

TD : 100/70 mmHg

Nadi : 80x/mnt

RR : 16x/mnt

Konjungtiva anemis
3.1 Pengkajian
FORMAT PENGKAJIAN LANSIA
ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER
Nama wisma :
1. IDENTITAS
KLIEN
Tanggal Pengkajian : 2 Februari 2019
:
Nama
: Ny. P
Umur
: 55 tahun
16
Agama
: Islam
Alamat asal
: JL. Kancil Mas No.27, Surabaya
Tanggal datang
: 11 Januari 2017 Lama Tinggal di Panti 2 tahun
2. DATA
KELUARGA
:
Nama
: Ny. U
Hubungan
: Anak kandung
Pekerjaan
: Wiraswasta
Alamat
: JL. Kancil Mas No.27, Surabaya Telp : 02122422
3. STATUS KESEHATAN SEKARANG :
Keluhan utama:
Penurunan nafsu makan, sering mengeluh rasa nyeri di kepala, kunang-kunang, pusing
ketika ia terlalu banyak melakukan aktifitas.
Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:
Istirahat dan tidur
Obat-obatan:
- analgetika,
- antihipertensi,
4.
AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA)
:
Ya
FUNGSI FISIOLOGIS
1.
Kondisi Umum
Kelelahan
Perubahan BB
Perubahan
nafsu
makan
Masalah tidur
Kemampuan ADL
:
:
:
:
:
Ya
√
√
Tidak
√
√
√
2
: Klien masih dapat melakukan ADL secara mandiri.
KETERANGAN
2.
Integumen
Ya
Lesi / luka
Pruritus
Perubahan pigmen
Memar
Pola penyembuhan
lesi
KETERANGAN
3.
√
√
√
: Terjadinya perubahan pigmentasi kulit (hiperpigmentasi) di
area wajah
Ya
:
:
:
√
: Konjungtiva klien anemis
Tidak
√
√
Kepala
Sakit kepala
Pusing
Gatal pada kulit
kepala
KETERANGAN
5.
Tidak
√
√
Hematopoetic
Perdarahan abnormal
Pembengkakankellimfe
Anemia
KETERANGAN
4.
:
:
:
:
:
:
:
:
Ya
√
√
Tidak
√
: Rasa nyeri di kepala, kunang-kunang, pusing ketika ia terlalu
banyak melakukan aktifitas
Mata
Ya
Perubahan
penglihatan
Pakai kacamata
Kekeringan
mata
Nyeri
Gatal
Photobobia
Diplopia
Riwayat infeksi
KETERANGN
Tidak
:
√
:
:
√
:
:
:
:
:
: Klien tidak ada keluhan pada mata
√
√
√
√
√
√
3
6.
Telinga
Ya
Penurunan pendengaran
Discharge
Tinitus
Vertigo
Alat bantu dengar
Riwayat infeksi
Kebiasaan
membersihkan
telinga
Dampak pada ADL
KETERANGAN
Tidak
√
√
√
√
√
√
:
:
:
:
:
:
:
√
: Tidak ada
: Klien tidakada keluhan pada telinga
7. Hidung sinus
Rhinorrhea
Discharge
Epistaksis
Obstruksi
Snoring
Alergi
Riwayat infeksi
KETERANGAN
8.
Ya
:
:
:
:
:
:
:
: Klien tidak ada keluhan pada sinus
Tidak
√
√
√
√
√
√
√
Mulut, tenggorokan
Ya
Nyeri telan
Kesulitan menelan
Lesi
Perdarahan gusi
Caries
Perubahan rasa
Gigi palsu
Riwayat Infeksi
Pola sikat gigi
KETERANGAN
Tidak
√
√
√
√
√
√
√
√
:
:
:
:
:
:
:
:
: Klien sikat gigi 2x sehari
: Klien tidak ada keluhan pada mulut dan tenggorokan
9. Leher
Kekakuan
Nyeri tekan
Massa
KETERANGAN
Ya
:
:
:
: Klien tidak ada keluhan pada leher
Tidak
√
√
√
4
10. Pernafasan
Ya
Batuk
Nafas pendek
Hemoptisis
Wheezing
Asma
KETERANGAN
:
:
:
:
:
: Klien tidak ada keluhan pada leher
Tidak
√
√
√
√
√
11. Kardiovaskuler
Ya
Chest pain
Palpitasi
Dipsnoe
Paroximal
nocturnal
Orthopnea
Murmur
Edema
KETERANGAN
:
:
:
:
Tidak
√
√
√
√
:
√
:
√
:
√
: Klien tidak ada keluhan pada kardiovaskuler
12. Gastrointestinal
Ya
Disphagia
Nausea / vomiting
Hemateemesis
Perubahan
nafsu
makan
Massa
Jaundice
Perubahan pola BAB
Melena
Hemorrhoid
Pola BAB
KETERANGAN
:
:
:
:
Tidak
√
√
√
√
:
√
:
√
:
√
:
√
:
√
: Klien 1x sehari di pagi hari
: Klien tidak mengalami keluhan pada gastrointestinal
13. Perkemihan
Dysuria
Frekuensi
Hesitancy
Urgency
Hematuria
Poliuria
Oliguria
Nocturia
Ya
:
: 6-7 kali sehari
:
:
:
:
:
:
Tidak
√
√
√
√
√
√
√
5
Inkontinensia
Nyeri berkemih
Pola BAK
KETERANGAN
:
√
:
√
: Masih normal
: Klien tidak mengalami keluhan pada perkemihan
14. Reproduksi (laki-laki)
Ya
-
Tidak
-
Lesi
Disharge
Testiculer pain
Testiculer massa
Perubahan gairah sex
Impotensi
:
:
:
:
:
:
Reproduksi
(perempuan)
Lesi
Discharge
Postcoital bleeding
Nyeri pelvis
Prolap
Riwayat menstruasi
Aktifitas seksual
Pap smear
KETERANGAN
:
√
:
√
:
√
:
√
:
√
: Klien mulai menopouse semenjak usia 48 tahun
:
√
:
√
: Klien sudah menjadi janda.
15. Muskuloskeletal
Ya
Nyeri Sendi
Bengkak
Kaku sendi
Deformitas
Spasme
Kram
Kelemahan otot
Masalah gaya berjalan
Nyeri punggung
Pola latihan
Dampak ADL
KETERANGAN
Tidak
√
√
√
√
√
√
√
√
√
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: Klien jarang melakukan olahraga
: Klien dapat melakukan ADL secara mandiri
: Klien tidak mengalami gangguan pada muskuloskeletal
16. Persyarafan
Ya
Headache
Seizures
Syncope
:
:
:
Tidak
√
√
√
6
Tic/tremor
Paralysis
Paresis
Masalah memori
KETERANGAN
:
√
:
√
:
√
:
√
: Klien tidak mengalami gangguan pada persyarafan
5. POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :
Psikososial
YA
Tidak
Cemas
:
√
Depresi
:
√
Ketakutan
:
√
Insomnia
:
√
Kesulitan dalam mengambil :
√
keputusan
Kesulitan konsentrasi
:
√
Mekanisme koping
: Klien dapat tenang dan tidak cemas
Persepsi tentang kematian : klien sudah pasrah akan kematian
Dampak pada ADL : klien dapat melakukan ADL secara mandiri
Spiritual
 Aktivitas ibadah : klien rajin dalam beribadah
 Hambatan
: klien tidak mengalami kesulitan dalam beribadah
KETERANGAN: tidak ada masalah dalam psikososial dan spiritual
6.
LINGKUNGAN :




Kamar: lantai tidak licin, ada pegangan untuk lansia, terdapat pencahayaan yang
baik dan ventilasi.
Kamar mandi: menggunakan WC duduk dan sudah baik untuk lansia
Dalam rumahwisma: Luar rumah : terdapat pagar dan pegangan untuk lansia
7.
ADDITIONAL RISK FACTOR
1. kemampuan ADL : mandiri
2. aspek kognitif : pasien tidak mengalami hambatan kognitif
3. keseimbangan : pasien mampu melakukan tes ini
4. hasil pemeriksaan diagnostik : 8. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES
1.
2.
3.
4.
5.
Kemampuan ADL
: madiri
Aspek Kognitif
: tidak ada gangguan
Tes Keseimbangan
: normal
Fungsi social lansia
: baik
Hasil pemeriksaan Diagnostik : hasil pemeriksaan kadar Alb: 3,2 g/dL dan Hb:
10 gr/dL (normalnya: Alb: 3,5 - 5,0 gr/dL dan Hb: 11,7 - 13,8 gr/dL. Kasus di atas
mengalami penurunan kadar albumin dan
Pengkajian khusus:
1. Kemampuan ADL
7
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No.
1.
Item yang dinilai
Skor
Makan
0 = Tidak mampu
1 = Butuhbantuanmemotong lauk, mengoles
mentega dll
2 = Mandiri
2.
Mandi
3.
Perawatandiri
4.
0 = Tergantung orang lain
1 = Mandiri
0 = Membutuhkanbantuanorang lain
1 = Mandiridalamperawatanmuka, rambut,
gigi, danbercukur
6.
7.
8.
9.
10.
2
1
1
Berpakaian
0 = Tergantung orang lain
1 = Sebagian dibantu (misal mengancing
baju)
2 = Mandiri
5.
Skor
Klien
Buang air kecil
Buang air besar
Penggunaan toilet
2
0 = Inkontinensia atau pakai kateter dan tidak
terkontrol
1 = Kadang Inkontinensia (maks, 1x24 jam)
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7 hari)
7
0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu enema)
1 = Kadang Inkontensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)
2
0 = Tergantung bantuan orang lain
1 = Membutuhkanbantuan,
tapidapatmelakukanbeberapahalsendiri
2 = Mandiri
2
Transfer
Mobilitas (berjalan di
permukaan datar)
Naik turuntangga
0
1
2
3
=
=
=
=
Tidak mampu
Butuhbantuanuntuk bisa duduk (2 orang)
Bantuankecil (1 orang)
Mandiri
0
1
2
3
=
=
=
=
Immobile (tidak mampu)
Menggunakankursi roda
Berjalandenganbantuansatu orang
Mandiri (meskipun menggunakanalat bantu
seperti,tongkat)
0 = Tidak mampu
3
3
2
8
1 = Membutuhkanbantuan (alat bantu)
2 = Mandiri
Interpretasi:
1. Skor 20
: Mandiri
2. Skor 12-19 : Ketergantungan Ringan
3. Skor 9-11 : Ketergantungan Sedang
4. Skor 5-8
: Ketergantungan Berat
5. Skor 0-4
: Ketergantungan Total
(Lewis, Carole & Shaw, Keiba, 2006)
2. MMSE (Mini Mental Status Exam)
Nama :
Tgl/Jam:
No
Aspek
Nilai
Nilai
Kognitif
maksimal
Klien
1
Orientasi
5
5
2
3
Orientasi
Registrasi
5
3
5
5
Kriteria
Menyebutkan dengan benar :
Tahun : ..........................................
Hari :...............................................
Musim : ..........................................
Bulan : ...........................................
Tanggal :........................................
Dimanasekarangkitaberada ?
Negara: …………..........……..….…
Panti : ……………………….…..…..
Propinsi: …………………................
Wisma : …………………………......
Kabupaten/kota : ……………….….
Sebutkan 3 namaobyek (misal : kursi,
meja, kertas), kemudian
ditanyakankepadaklien, menjawab :
1) Kursi
4
Perhatiandan
kalkulasi
5
5
2). Meja 3). Kertas
Meminta klien berhitung mulai dari
100 kemudia kurangi 7 sampai 5
tingkat.
Jawaban :
1). 93
2). 86
5). 65
ATAU
3). 79
4). 72
Ejalah kata "DUNIA" secara mundur.
Skor 1 poin per huruf dalam urutan
yang benar
Variasi Jawaban Klien:
9
AINUD = 5; AIND = 4; AND = 3; AN
= 2; UINDA=1
5
Mengingat
3
3
6
Bahasa
9
9
Mintaklienuntukmengulangiketigaoby
ekpadapoinke- 2 (tiappoinnilai 1)
Menanyakan pada klien tentang benda
(sambil menunjukan benda tersebut).
1)...................................
2)...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata
berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi
Klien menjawab :
........................................................
Minta klien untuk mengikuti perintah
berikut yang terdiri 3 langkah.
4) Ambil kertas ditangan anda
5) Lipat dua
6)Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal
berikut (bila aktifitas sesuai perintah
nilai satu poin)
7). Meminta klien untuk membaca
kalimat yang bertuliskan: “Tutup mata
anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk
menulis kalimat dan
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang
saling bertumpuk
Total nilai
30
30
Interpretasihasil :
24 – 30
: tidakadagangguankognitif
18 – 23
: gangguankognitifsedang
10
0 - 17 : gangguankognitifberat
Kesimpulan : tidak ada gangguan kognitif
3. Tes Keseimbangan
Time Up Go Test
No Tanggal Pemeriksaan
1
-
Hasil TUG (detik)
Rata-rata Waktu TUG
-
Interpretasi hasil
-
Hasilpengamatan
-
Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
Tidak ada resiko jatuh
≤13,5 detik
>13,5 detik
Resiko tinggi jatuh
Diperkirakan jatuh dalam kurun
waktu 6 bulan
Diperkirakan membutuhkan bantuan
>30 detik
dalam mobilisasi dan melakukan ADL
(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer & Woolacott: 2000; Kristensen, Foss &
Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991)
>24 detik
11
4. GDS
Pengkajian Depresi
No
1.
2.
3.
4.
5.
8.
7.
8.
9.
Pertanyaan
Jawaban
Ya Tdk Hasil
0
1
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
0
1
1
1
0
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
Anda puas dengan kehidupan anda saat ini
Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan
Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong
Anda sering merasa bosan
Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu
Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda
Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu
Anda sering merasakan butuh bantuan
Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan
sesuatu hal
10. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda
1
11. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa
0
12. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda
1
13. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat
0
14. Anda merasa tidak punya harapan
1
15. Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda
1
Jumlah
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam
Gerontological Nursing, 2006)
Interpretasi :Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
4
12
5. Status Nutrisi
Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:
Skrining
Skor
Mengalami penurunan asupan makanan lebih dari tiga bulan selama adanya
penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, menelan dan kesulitan menelan
makanan
A
0 = Adanya penurunan asupan makanan yang besar
1
1 = Adanya penurunan asupan makanan yang sedang
2 = Tidak ada penurunan asupan makanan
Mengalami penurunan berat badan selama tiga bulan terakhir
0 = Penurunan BB >3 kg
B
2
1 = Tidak diketahui
2 = Penurunan BB 1-3 kg
3 = Tidak mengalami penurunan BB
Mobilitas
0 = Tidak dapat turun dari tempat tidur / kursi roda
C
2
1 = Dapat turun dari tempat tidur / kursi roda namun tidak dapat
berjalan jauh
2 = Dapat berjalan jauh
Mengalami stres psikologis atau memiliki penyakit akut tiga bulan terakhir
D
0 =Ya
2
2 = Tidak
Mengalami gangguan neuropsikologis
0 = Mengalami demensia atau depresi berat
2
E
1 = Mengalami demensia ringan
2 = Tidak mengalami gangguan neuropsikologis
Indeks massa tubuh (IMT)
0 = IMT < 19
2
F1
1 = IMT 19-21
2 = IMT 21-23
13
3 = >23
Jika IMT tidak dapat diukur ganti pertanyaan F1 dengan F2
Jangan menjawab pertanyaan F2 jika pertanyaan F1 sudah terpenuhi
Lingkar betis (cm)
F2
0 = jika < 31
11
3 = jika > 31
Hasil Skor 11
Resiko mengalami malnutrisi
Interpretasi:
12-14
8-11
0-7
: Status gizi normal
: Resiko mengalami malnutrisi
: Mengalami malnutrisi
14
6. Fungsi sosial lansia
APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA
Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia
NO
URAIAN
FUNGSI
SKORE
1.
Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (temanteman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
ADAPTATION
2
2.
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)saya
membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan
masalah dengan saya
PARTNERSHI
P
2
3.
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
aktivitas / arah baru
GROWTH
2
4.
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi
saya seperti marah, sedih/mencintai
AFFECTION
2
5.
Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya
meneyediakan waktu bersama-sama
RESOLVE
2
TOTAL
10
Kategori Skor:
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 22). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik
Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005
15
7. Pengkajiankualitastidur (PSQI)
KUESIONER KUALITAS TIDUR (PSQI)
1. Jam berapa biasanya anda mulai tidur malam? 20.00
2. Berapa lama anda biasanya baru bisa tertidur tiap malam? 30 menit
3. Jam berapa anda biasanya bangun pagi? 04.30
4. Berapa lama anda tidur dimalam hari? 7 jam
5 SeberapaseringmasalahTidakpern
1x
2x
masalahdibawahinimengganggutid
ah
seming seming
uranda?
(0)
gu
gu
(1)
(2)
a
.
b
.
c
.
d
.
e
.
f.
g
.
h
.
i.
j.
6
7
Tidak mampu tertidur selama 30
menit sejak berbaring
Terbangunditengahmalamatauterlalud
ini
Terbangun untuk ke kamar mandi
1
1
1
Tidak mampu bernafas dengan leluasa
0
Batukataumengorok
0
Kedinginandimalamhari
Kepanasandimalamhari
0
0
Mimpiburuk
0
Terasanyeri
Alasan lain ………
Seberapa sering anda
menggunakan obat tidur
Seberapa sering anda mengantuk
ketika melakukan aktifitas disiang
hari
0
0
0
2
Tidakantus
ias
(0)
8
9
Kecil
(1)
Sedang
(2)
Besar
(3)
3
Seberapa besar antusias anda ingin
menyelesaikan masalah yang anda
hadapi
Pertanyaan pre-intervensi :
Bagaimana kualitas tidur anda
selama sebulan yang lalu
Pertanyaan post-intervensi :
Bagaimana kualitas tidur anda
selama seminggu yang lalu
≥3x
seminggu
(3)
Sangatbai
k
(0)
0
Baik
(1)
Kurang Sangatkuran
(2)
g
(3)
0
16
Cara perhitungan Skor PSQI dan Interpretasi Skor
KOMPONEN
KETERANGAN
Komponen 1
Komponen 2
Komponen 3
Komponen 4
Komponen 5
Komponen 6
Komponen 7
TOTAL SKOR
SKOR
Skor pertanyaan #9
Skor pertanyaan #2 + #5a
Skor pertanyaan #2 ( <15 menit=0), (16-30
menit=1), (31-60 menit=2), ( >60 menit=3) + skor
pertanyaan #5a, jika jumlah skor dari kedua
pertanyaan tersebut jumlahnya 0 maka skornya = 0,
jika jumlahnya 1-2=1 ; 3-4=2 ; 5-6=3
Skor pertanyaan #4 ( >7=0 ; 6-7=1 ; 5-6=2 ; <5=3 )
Jumlah jam tidur pulas ( #4 ) / Jumlah jam ditempat
tidur ( kalkulasi #1 & #3 ) x 100%, ( >85%=0 ; 7584%=1 ; 65-74%=2 ; <65%=3 )
Jumlah skor 5b hingga 5j ( bila jumlahnya 0 maka
skornya =0, jika jumlahnya 1-9=1 ; 10-18=2 ; 1827=3
Skor pertanyaan #6
Skor pertanyaan #7 + #8, jika jumlahnya 0 maka
skornya =0, jika jumlahnya 1-2=1 ; 3-4=2 ; 5-6=3
Jumlah skor komponen 1-7
INTERPRETASI:
JIKA TOTAL SKOR = ≤5 menunjukkan kualitas
tidur klien yang BAIK,
JIKA TOTAL SKOR = >5-21 menunjukkan
kualitas tidur klien yang BURUK
0
0
0
0
0
0
0
0
3.2 Analisa data dan Diagnosa
No. Keluhan
1. DS :
 Klien mengatakan tidak
nafsu makan
 Klien mengatakan bahwa
klien
hanya
mampu
menghabiskan
¼
porsi
makanan
 Klien mengatakan bahwa ia
kurang makan sayur dan
jarang makan buah-buahan
 Klien mengatakan muncul
rasa penuh tiba-tiba setelah
makan
Etiologi
Gizi kurang
MK
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Mengambil
cadangan makanan
dibawah kulit
Penyusutan
jaringan
17
Badan kurus
DO :
 Gigi tidak lengkap
 Lidah terdapat sariwan
 Pola makan : 2x/hr
 BB sebelumnya : 48 Kg, BB
saat ini : 45 Kg
 Nadi : 80x/mnt
 RR : 16x/mnt
 Kongjungtiva anemis
2. DS
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Gizi kurang
Intoleransi aktifitas
 Klien mengatakan ia merasa
sakit kepala, pusing dan
berkunang-kunang
jika
terlalu banyak aktifitas
Asupan nutrisi tidak
adekuat
DO :
 TD : 100/70 mmHg
 Respon
abnormal
dari
tekanan darah atau nadi
terhadap aktifitas
 Pusing atau kelemahan
 Anoreksia, mual dan muntah
 Mukosa membrane atau
konjungtiva pucat
Metabolisme turun
Energi tidak
adekuat
Intoleransi aktivitas
3. DS
 Klien mengatakan tidak
nafsu makan
 Klien mengatakan bahwa ia
kurang makan sayur dan
jarang makan buah-buahan
DO:
 Penurunan BB (48g menjadi
45kg)
 Pusing atau kelemahan
ketika
terlalu
banyak
beaktivitas
Gizi buruk
Kelemahan
Asupan nutrisi dan
protein tidak
adekuat
Hilangnya massa
otot
Kelamahan
18
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (Domain :
2, kelas : 1, kode : 00002)
2. Intoleransi aktifitas (Domain : 4, kelas : 3, kode : 00092)
3. Keletihan (Domain : 4, kelas : 3, kode : 00093)
3.3 Rencana Asuhan Keperawatan
No.
1.
2.
Diagnosa Keperawatan
NOC
Ketidakseimbangan nutrisi Tujuan :
kurang dari kebutuhan
Setelah dilakukan
tubuh
tindakan keperawatan
selama 3x24 jam,
masalah keperawatan
Definisi :
dapat diatasi dengan
kriteria hasil :
Asupan nutrisi tidak
cukup untuk memenuhi
Status Nutrisi : Nutrisi
kebutuhan metabolic.
adekuat
Intoleransi aktifitas
Definisi :
Ketidakcukupan energy
psikologis atau fisiologis
untuk mempertahankan
atau menyelesaikan
aktivitas kehidupan
sehari-hari yang harus
 Nafsu makan
meningkat
 Berat badan
meningkat
 Adanya perubahan
pola makan
 Konjungtiva
normal
 Klien tidak tampak
lemah
Tujuan :
Setelah dilakukan
tndakan keperawatan
selama 3x24 jam,
masalah keperawatan
dapat diatasi dengan
kriteria hasil :
NIC
Manajemen Nutrisi (1100):
 Kaji adanya alergi makanan
 Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien
 Yakinkan diet yang
dikonsumsi mengandung
tinggi serat
 Ajarkan pasien membuat
catatan makanan harian
 Monitor adanya penurunan
BB dan gula darah
 Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
Toleransi Aktivitas (4310) :
 Mengobservasi adanya
pembatasan klien dalam
melakukan aktvitas
 Mengkaji adanya faktor yang
menyebabkan kelelahan
 Memonitor nutrisi dan sumber
energy yang adekuat
19
atau yang ingin
dilakukan.
3
Toleransi Terhadap
Aktifitas :
 Memonitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan
emosi secara berlebihan
 Memonitor respon
kardiovaskuler terhadap
aktivitas (takikardi, disritmia,
dyspnea, diaphoresis, pucat
dan perubahan hemodinamik)
 Memonitor pola tidur dan
lamanya
 Berpartisipasi
dalam aktivitas
fisik tanpa disertai
peningkatan
tekanan darah,
nadi dan RR
 Mampu melakukan
sktivitas seharihari (ADLs) secara
mandiri
 Keseimbangan
aktivitas dan
istirahat
Keletihan
Tujuan :
Manajemen Energi (0180) :
Setelah dilakukan
 Kaji status fisiologis pasien
Definisi :
tindakan keperawatan
yang menyebabkan kelelahan
Keletihan terus-menerus selama 3x24 jam,
sesuai dengan konteks usia
dan penurunan kapasitas masalah keperawatan
dan perkembangan
untuk kerja fisik dan
dapat diatasi dengan
 Pilih intervensi untuk
mental pada tingkat yang kriteria hasil :
mengurangi kelelahan baik
lazim.
Tingkat kelelahan:
secara farmakologis maupun
non farmakologis
 Tidak ada kelelahan  Monitor intake/ asupan nutrisi
 Selera makan naik
untuk mengetahui sumber
 ADL tidak
energy yang adekuat
terganggu
 Lakukan ROM aktif/pasif
untuk menghilangkan
Partisipasi latihan :
ketegangan otot
 Merencanakan
 Instruksikan pasien untuk
latihan dengan tepat
mengenali tanda dan gejala
dengan tenaga
kelelahan yang memerlukan
kesehatan s
pengurangan aktifitas
 Melakukan olah
raga dengan teratur Peningkatan Latihan (0200) :
 Damping individu pada saat
mengembangkan program
latihan untuk memenuhi
kebutuhannya
 Libatkan keluarga/orang yang
memberi perawatan dalam
merencanakan dan
meningkatkan program
latihan
20
Terapi Latihan : Kontrol Otot
(0226) :
 Evaluasi fungsi sensori
(misalnya, penglihatan,
pendengaran dan perabaan )
21
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Gizi sangat dibutuhkan bagi usia lanjut untuk mempertahankan kualitas
hidupnya. Bagi lanjut usia yang mengalami gangguan gizi diperlukan untuk
penyembuhan dan mencegah agar tidak terjadi komplikasi pada penyakit yang
dideritanya.Gizi merupakan unsur penting bagi kesehatan tubuh dan gizi yang baik
(Darmojo, 2011).
Lansia juga rentan mengalami penyakit iatrogenik yaitu tindakan medis,
terapetik, diagnostik, atau profilaksis apapun, yang secara tidak sengaja
menyebabkan gejala yang membutuhkan terapi, menyebabkan perawatan di rumah
sakit, meningkatkan lama rawat inap di rumah sakit, menyebabkan ketidamampuan
permanen atau perlukaan, atau mengarah pada kematian.
Beberapa penatalaksaan secara umum sindrom geriatrik diantaranya
a.Pemberian asupan diet protein , vitamin C,D,E dan mineral yang cukup.
b.Pengaturan olahraga secara teratur
c. Pencegahan infeksi dengan vaksin
d. Antisipasi kejadian yang dapat menimbulkan stres
e. Terapi pengobatan pada lansia berbeda dari pasien pada usia muda, karena
adanya perubahan kondisi tubuh yang disebabkan oleh usia, dan dampak yang
timbul dari penggunaan obat-obatan yang digunakan sebelumnya.
4.2 Saran
Perawat membutuhkan pengetahuan mengenai lansia dengan berbagai kekurangan
serta rentan terhadap penyakit salah satunya yaitu Iatrogenesis dan Kurang gizi,
dengan mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa perawat mampu
menerapkan Asuhan keperawatan yang baik pada Lansia dengan masalah kurang
gizi.
22
DAFTAR PUSTAKA
Kuswardhani, RAT. 2011. Relationship between age and metabolic disorders in
the population of Bali. Journal of Clinical Gerontology and Geriatrics
Volume 2, Issue 2, June 2011, Pages 47-52
Stanley, Mickey.2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.
Darmono,B . 2010. Geriatri, Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi 4. Balai penerbit
FK UI. Jakarta
Kozier, B., et al. 2004. Fundamental of Nursing: Concepts, Process and
Practice.(7th ed). New Jersey: Prentice -Hall, Inc.
Meridean,L., Maas et al, 2011. Asuhan Keperawatan Geriatrik: Diagnosis Nanda,
Kriteria Hasil NOC dan Intervensi NIC. Jakarta: EGC
Boedhi, Darmojo, R. (2011).Buku Ajar Geriatic (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia)
edisi ke4.Jakarta :BalaiPenerbit FKUI
23
Download