Uploaded by User46123

The World is a Cruel but Beautiful Place

advertisement
The World is a Cruel but Beautiful Place
Hizkiel Aurora
Prolog
“DALAM KENANGAN YANG TERBAGI, LAMBAT LAUN, PERLAHAN TAPI PASTI SEMUA TELAH MENGHILANG. YANG
KUYAKINI HANYALAH SEBUAH SEMU, YANG TIDAK LAIN ADALAH SEBUAH KETIDAKPASTIAN PERLAHAN MEREKA
TERUNGKAP. SEBATAS GARIS CAKRAWALA, MEREKA MELIHAT. SEBATAS LINTASAN DETIK, MEREKA MEMIKUL.
DARI BALIK EMBUN PAGI, SENYUMAN TELAH TERBAGI.
KETIKA SEMUA TELAH MENGHILANG, KAMU KEMBALI, SEBAGAI BAYANG-BAYANG, BAGAI ANGAN-ANGAN. SEMUA
MENYERUAK, TANDA TAK KEMBALI. DERUP ANGIN YANG MENDERU, BERGENDANG-GENDANG, SEAKAN
MENGAJAKKU MENARI, DEMI KEMBALINYA SANG WAKTU YANG TELAH HILANG. MEREKA HANYA BERKATA,
KEMBALILAH, KEMBALILAH, PULANGLAH, PULANGLAH. MEREKA MENUNGGUMU. ITULAH YANG DIKATAKANNYA.
SEKALI LAGI, WAKTU TELAH TERLENA, MABUK KEPAYANG MENGINGAT ITU SEMUA YANG TELAH HILANG. TAPI DIA
HANYA BERKATA DALAM DIAM, SADAR SEPENUHNYA……
SANG WAKTU TELAH TIADA, DALAM KETIDAKPASTIAN, DIA LELAH MENUNGGU.”
Kata mereka hidup itu anugerah, kata mereka dunia itu indah, kata mereka kita harus
menghargai kehidupan kita. Baik itu susah ataupun senang. Semua itu lah yang kata
mereka yang melengkapi hidup kita. Bisa dikatakan ada min dan plus-nya. Jika min
saja, kurang lengkap, dan jika plus saja juga kurang lengkap. Menurutku, dunia itu…
bisa dikatakan kejam, tidak adil, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, tidak semua
orang hidup dalam kemewahan, kepintaran, ketenaran, tampan, cantik, dan lain
sebagainya. Yang kaya, semakin kaya, yang miskin, terus menangis kelaparan.
Jika ada yang bertanya, dimanakah posisiku?
Aku menjawab, aku berada ditengah-tengah. Aku tidak kaya, dan dibilang miskin pun
juga tidak. Aku tidak pintar, dan juga tidak terlalu bodoh. Intinya aku setengahsetengah. Orang-orang memanggilku El. Aku lahir di dalam keluarga yang serba
kekurangan, hingga ibuku mendadak menjadi artis karena ajakan temannya, ayahku
pengangguran, yang hanya bisa bekerja di ladang karena rumahku satu-satunya yang
diatas bukit.
Hampir satu bulan terkadang ibu tidak pulang ke rumah, dan pulang hanya untuk
menengok ku saja sebatas itu, setelah itu pergi lagi. Tidak sampai sejam ibu dirumah,
terkadang ayah tidak bertemu ibu karena harus bekerja di rumah-rumah tetangga. Aku
tidak dilahirkan dengan otak yang cerdas, jadi nilaiku bisa dikatakan pas-pasan saja di
sekolah. Tapi seisi kelasku tahu, siapa itu aku. Aku adalah anak dari artis itu, yaitu
ibuku.
Lima tahun sudah berlalu begitu saja, kehidupan kami semakin membaik tiap harinya.
Ayah tidak perlu bekerja hingga larut malam menjaga ternak-ternak tetangga, dan
aku… bisa dikatakan sudah memulai berteman dengan anak-anak yang sebaya
2
denganku, dan salah satu dari mereka ada yang perempuan. Kala itu umurku sekitar
sepuluh tahun tahun, seingatku.
Desaku berada di kaki bukit Kehidupan, namanya, karena menurut legenda, di bawah
air terjun di desaku, konon pernah ditemukan seorang anak laki-laki, yang seharusnya
telah meniggal karena penyakit aneh yang disebut kanker yang tiba-tiba kembali hidup
dan menangis seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dan aku, seperti yang kukatakan
aku hidup dengan rumah di atas bukit itu. Rumahku terbuat dari kayu, yang kalau
hujan terkadang airnya masih masuk ke dalam, dan kalau panas ya… cukup panas.
Begitulah kehidupanku, hingga umurku kala itu sebelas tahun tahun.
Ibuku dikabarkan telah menikah dengan artis muda, yang tentunya lebih kaya dan
terkenal. Mendengarnya ayah menjadi bertingkah aneh, tak percaya, bahkan
terkadang marah-marah sendiri. Tentu aku juga. Aku tidak menyangka, ibu akan
seperti itu. Suatu hari, surat datang ke rumah. Surat dari ibu, yang isinya ibu telah
memutuskan segala hubungan dengan kami. Ayah hanya tertawa, lalu entah aku tidak
terlalu ingat, yang kuingat pada pagi harinya aku mendapatkan kabar, ayah telah
membunuh ibuku ketika sedang di panggung, yang mereka sebut dengan Opera. Pada
besok harinya, ayah dieksekusi hukum mati karena membunuh orang.
Aku tinggal sendiri. Itulah kenyataan yang harus kuhadapi. Kala itu umurku sembilan
tahun. Para tetangga menyebutku, anak dari pembunuh yang dibunuh. Anak-anak
yang sebaya denganku mulai takut bermain denganku, yang di sekolah maupun para
tetangga. Prestasiku semakin menurun tapi untungnya aku masih sempat lulus hingga
jenjang selanjutnya, karena pamanku lah yang mengambil hak asuhku. Aku mulai
hidup dengan paman dan anak perempuannya, yang bernama Camaila. Umurnya satu
tahun lebih muda dariku.
Pamanku bekerja di ladang, anaknya bersekolah denganku. Dan sekarang aku telah
duduk di bangku tahun pertama sekolah menegah.
Kehidupanku selanjutnya bermulai dari sini.
3
Eps. 1
Kala Semua Bermula.
Ketika aku mulai sadar, mata kami saling bertemu. Seakan menatap dalam waktu
yang lama, yang kuingat sedetik pada saat itu serasa seperti sejam, atau dua jam,
atau seabad mungkin. Rasa yang berdetak kencang di jantungku, membuat tubuhku
merasakan sesak yang hanya diriku saja yang merasakannya. Pada saat itu, tubuh
kami terdiam, saling berhadapan satu sama lain. Dan pada saat itu juga, mulut ingin
berucap, halo, sekedar menyapa tapi...
Kerumunan orang membuat kami terpisah satu sama lain.
“Hey Nephy! Jangan bengong aja! Bantu aku angkat belanjaan ini!” Bentak saudara
perempuan ku, Camalia, saat kusadar napas nya benar-benar lelah dan dia
menatapku dengan sangat tajam. “Bengong seperti itu tidak akan membuat
makanan-makanan ini berjalan sendirinya tahu.” Lanjutnya, dan dia
mencondongkan tubuhnya kearah ku sambil berusaha sekuat tenaga mengambil
kembali napasnya, dan menepi keringat yang mengalir di keningnya.
“M- maap Camy...” Kataku terbata-bata dan tanganku sedikit menggaruk-garuk
belakang kepala. Saat Camilia tetap memarahiku, anehnya aku tidak dapat
mendengar itu semua, semua suara dan warna seperti pudar dihadapanku, dan
mataku hanya tertuju padanya. Ya, wanita itu bernama...
Levya
Kami berjalan menyusuri bukit, yang hamparan luasnya memberikan pemandangan
padang sabana, dan hembusan angin yang cukup membuat rambut pirangnya
terhempas melambai-lambai. Seakan menari disekitarku, Camilia, melompat-lompat
kecil dan bersenandung sambil membawa sekeranjang apel merah yang diberikan
oleh pak tua, kenalan Camilia.
“Apa kau menikmati hidupmu, Nephy?” Tanyanya tiba-tiba dan aku sedikit terkejut,
seakan menyadari rasa bingung di wajahku dia sedikit terkekeh, dan punggungnya
membelakangiku seakan memberikan sirat, dia sedang menatap luasnya langit yang
kokoh mengatapi dirinya seorang.
Camilia memang berbeda, dari awal ku mengenalnya dia memiliki fisik yang kurang
sehat seperti anak biasanya. Namun, dia kuat. Dia hebat. Tidak pernah kudapati dia
menangis, atau apapun itu, bagiku dia wanita hebat yang kini tinggal bersamaku.
Terkadang, dia seperti kakak bagiku, terkadang dia seperti adik yang manja.
Membuat diriku nyaman saat bersamanya.
“Um, kupikir, iya.” Jawabku singkat.
4
“Syukurlah kalau begitu ... hehehe..” Dia tertawa singkat sambil menghadapku,
memperlihatkan gigi nya yang gingsul, membuat senyumannya semakin menarik
untuk dilihat. “Kaaauuu... tersenyum Nephy~”
“Eh“Wwweehh... apa kau suka padaku? Apa kau suka padaku? Apa kau suka padaku?
Hey, hey, hey Nephy sampai tersenyum begitu? Hihihihi.. Nephy lucu.” Dia menutup
mulutnya yang tertawa kecil dengan telapak tangannya dan berlari-lari kecil menaiki
bukit.
Aku berjalan mengikutinya, sambil membawa barang yang entah kenapa dia
menaruhnya begitu saja di depan kaki berpijak, sedikit jengkel namun, Camy, sudah
ku anggap seperti adikku yang berharga.
“Hey Nephy.. besok hari senin kan? sekolahkan?”
“Eh-
5
Eps. 2
Hiduplah!
Pagi hari.
Selamat pagi, hari mulai pagi. Pagi adalah awal dari kisah kehidupan, akhir untuk
menutup album di hari kemarin. Hadiah untuk hari ini.
Sarapanku hari ini seperti biasa, sepotong daging domba dan telur. Pamanku sejak
pagi tadi sudah bekerja di ladang para tetangga, sedangkan Camilia, katanya tidak
berangkat sekolah hari ini. Entah untuk alasan apa. Pamanku sangat baik, itulah
yang kupikirkan. Semenjak aku tinggal bersama paman, kehidupan normalku telah
kembali. Para tetangga mulai menyapaku, dan di sekolahku yang baru ku masuki
satu bulan kemarin, karena aku naik jenjang, perlahan aku sudah mendapatkan
teman. Meskipun hanya seorang saja.
Jam tujuh, aku mulai berangkat. Piring bekas ku makan kutaruh begitu saja di
westafel, berpikir paman yang akan membersihkannya. Aku mulai menuruni bukit
yang hamparannya hanya dipenuhi padang sabana nan hijau yang memanjakan
mata. Angin yang menerpa wajahku terasa segar yang diikuti cipratan kecil air
dingin dari air terjun. Meskipun aku bersemangat sekali, tapi sesampainya di
sekolah…
“Hey El, belikan kami roti gulung di kantin sana.” Beberapa komplotan geng di
sekolahan selalu mendatangiku tatkala jam makan siang.
“Oh…mmm baiklah, tapi mana uangnya?”
“Pakai uangmu dulu sana!” Salah satu dari mereka berkata.
Badanku bisa dibilang cukup kecil dibanding mereka yang dihadapanku. Dan itulah
kenyataannya. Kepahitan dari sekolah.
“Tapi, hari ini ibuku tidak memberiku jajan” Seakan seperti sandiwara temannya
yang menjawab pertanyaannya. “Bwahahahahahaha....”
“Baiklah ka... kalau begitu, kenapa tidak kau pinjam saja.” Kataku perlahan.
“He, pinjam? Baiklah kalau begitu, aku akan pinjam uangmu.” Mereka berkata
dengan senyum aneh di wajah, dan beberapa dari mereka yang dibelakang tertawa
kecil. Kali ini aku berada di gang kecil di belakang sekolah, untuk meminta tolong,
kurasa mustahil deh.
“Ta, tapi… seperti yang kau tahu… a- aku tidak pernah bawa uang jajan ke sekolah
kan?”
6
“Hee… benarkah? Bukannya ibumu seorang artis? Bwahahahahaha…..”
Apa yang dia katakan? Pikirku.
“Mintalah uang ke ibumu di alam baka sana. Hahahahaha”
“Ibumu seorang artis kan? Pasti dia banyak uangnya loh, apalagi kan… dia nikah lagi
sama orang kaya… bwahahahahaha”
Hentikan! Kumohon… hentikan!
“Hey, kau dengar tidak? Hah!”
Aku hanya menggeleng. “Ma... maafkan aku“Baiklah kalau begitu. Terima ini!”
Yang kuingat saat itu, aku terjatuh, kepalaku terbentur sesuatu, dan anak-anak
mulai memukuliku bersamaan. Hhaah…. seperti yang kuduga, inilah hidup. Aku
terus menahan rasa sakit tatkala mereka memukuliku, tanpa terasa kepalaku mulai
sedikit mengeluarkan darah. Sakit, sakit, sakit, itulah yang kukatakan dan mereka?
Tidak peduli dengan keadaanku.
Alasan aku masuk ke sekolah ini hanya karena ada wanita yang sangat kupuja
semenjak aku kecil dulu. Namanya Levya siapalah gitu. Ketika umur tujuh tahun
Levya pindah ke desa dari kota, karena alasan ayahnya membutuhkan udara segar
untuk kesembuhan penyakitnya. Dan bisnis keluarganya ibunya lah yang
mengurusnya, dan tidak menutup kemungkinan Levya menjadi orang terkaya di
desa kami.
Levya cantik menurutku, bahkan kakak-kakak kelas mulai menembaknya padahal
dia masih kelas satu sama sepertiku, tapi Levya menolaknya. Dia tinggi kisaran 160
cm, rambut hitam lurus kebelakang, pintar, merdu suaranya tatkala latihan paduan
suara, dan sekolah sangat berharap banyak darinya dalam segala hal. Bisa
dikatakan, bidadari yang turun dari surga. Dan yang paling kusuka darinya, adalah
lesung pipinya yang imut tatkala tersenyum.
Tapi, semua itu berubah disaat murid pindahan itu datang.
Namanya Rentaro, anak dari perusahaan paduan suara untuk ajang-ajang kompetisi,
sekaligus penerusnya yang sah. Dia mirip dengan Levya, tapi versi lakinya. Anakanak perempuan mulai menembaknya, tapi semua harapan itu pupus tatkala
Rentaro menembak Levya kemarin lusa siang di halaman sekolah yang disaksikan
hampir seluruh murid.
Aku sih sadar, tidak mungkin Levya akan melirik orang sepertiku, dan ternyata
benar, Levya menerimanya dengan senang hati, dan itu terjadi kemarin lusa.
7
Mungkin aku masih saja bodoh, alasanku semangat ke sekolah hanya untuk melihat
Levya, melihatnya bersama orang lain, kalau aku berbohong aku akan mengatakan,
aku tidak apa-apa. Tapi tidak. Aku merasakan segala harapanku untuk bersekolah
hancur begitu saja, karena beberapa menit itu. Dan tetap saja, orang bodoh
sepertiku hanya bisa berharap. Tapi aku senang karena pernah disapanya,
setidaknya satu kali sehari.
“Cih, sudah ayo kita pergi saja, anak ini benar-benar tidak berguna.”
Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu membaringkan tubuhku.
Tubuhku mati rasa, jari-jariku susah untuk digerakkan, bahkan untuk meluruskan
kaki saja terasa sakit teramat sangat. Tubuhku memar semua. Aku hanya bisa
terdiam, merasakan semua rasa sakit dan menyimpannya sebagai luka, atau
kumpulan luka-luka. Dunia itu busuk, dia hanya akan menganggap seseorang yang
sempurna saja, sedangkan yang tidak, akan dilupakan, dan dianggap sampah di
masyarakat. Peduli setan dengan yang namanya dunia, kehidupan. Segala macam di
dalamnya hanyalah sampah dan laknat yang tiada habisnya. Dimulai dari kedua
orang tuaku, lalu kehidupanku, dan kehidupan sekolahku. Wanita yang kusukai
begitu saja direbut, tubuhku begitu saja di babak belurkan oleh sekelompok anakanak yang tidak sama sekali kukenal latar belakangnya, bahkan nama saja aku tidak
tahu.
Hari mulai senja, perlahan tubuhku sudah mulai bisa digerakkan secara perlahan
meski masih terasa sakit yang teramat sangat kurasakan di sekujur tubuh. Aku
bangkit berdiri, darah yang menetes sudah mulai kering, keningku sejujurnya sangat
perih, tapi apa boleh buat… aku tidak bisa apa-apa. Yang hanya bisa dendam,
menangis, dan menangis. Jika nanti paman bertanya, aku akan berbohong, demi
paman juga. Sejujurnya aku merasa kasihan dengan paman, beliau sudah berumur
tapi masih saja mau menghidupkan anak yang sama sekali tidak memiliki jaminan
masa depan sepertiku. Tapi hanya pamanlah yang kupunya di dunia ini, beliaulah
yang bekerja untukku, memberiku makan, dukungan, kehangatan, dan keluarga.
Aku hampir lupa, istri paman sudah lama meninggal karena penyakit, karena paman
tinggal berdua saja dengan anaknya, Camilia, akhirnya dialah satu-satunya orang di
keluarga besarku yang mau mengambil hak asuh untukku. Aku berterimakasih pada
paman. Sungguh. Berterimakasih.
Sekolah sudah mulai sepi. Lampu-lampu di lorong menyala, hingga ke ujung. Dengan
tertatih-tatih aku berjalan ke arah kelas ingin mengambil tasku yang tertinggal.
Mungkin tidak ada orang disana, pikirku karena merasa senang karena tidak akan
ada yang tahu.
Aku berdiri cukup lama di depan pintu kelas, memang kelas terlihat kosong, dan
sunyi tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku mendengar suara pelan dari dalam,
8
tapi aku yakin itu bukan suara orang mendengkur atau apalah. Hari ini cukup buruk,
dan sejujurnya aku sudah lelah dengan hari ini.
Perlahan pintu kubuka, aku tidak melihat siapa-siapa karena penglihatanku juga
masih berkunang-kunang, tapi…
Dia melihatku.
Wanita itu sedang duduk dengan jendela terbuka disebelahnya, menghasilkan udara
nyaman yang berhembus ke penjuru ruang kelas. Dia sedang belajar. Pantas aku
seperti mendengar suara aneh, gesekan pulpen. Tapi sudah terlambat untuk kabur,
karena dia sudah melihatku.
“Maaf mengganggu.” Perlahan aku berjalan, mengambil tas.
“Ada apa denganmu, El?”
Levya terlihat terkejut, langsung saja dia menuju kearahku dan matanya memutar
memandangiku seinci demi seinci.
“A- aku baik-baik saja kok.” Aku berusaha menutupi lenganku di balik punggung,
tapi Levya menariknya, dan terkejut. Benar saja, seluruh lenganku lebam-lebam,
merah, biru dan ada juga yang hitam, dan tergores sedikit berdarah pun ada.
“Ya Tuhan, ada apa denganmu El? Apa kau baik-baik saja? Apa kau ingin ke dokter?”
“Tidak, maaf…” Aku menunduk, memerhatikan Levya memandangiku heran dan
jujur saja, aku merasa canggung, dan tidak merasakan sakit di sekujur tubuhku lagi.
Aneh memang.
“Mau kubawa ke dokter El?” Sambil menarik lenganku, nada Levya terdengar
semakin panik.
“Tidak usah kok, besok paling sudah sembuh.”
Kenapa kau memerhatikan dan peduli padaku segitunya?! Tiba-tiba kalimat itu
muncul di otakku begitu saja.
“Tidak apa-apa, aku yang akan bayar perawatanmu“Tidak apa-apa, Levya, aku baik-baik saja“Apanya yang baik-baik saja!? Sudah ah, nanti kalau terjadi apa-apa gimana?”
“KUBILANG AKU BAIK-BAIK SAJA!”
“…….”
Levya terdiam begitu lama, terkejut, dengan cepat aku menutup mulutku.
9
Maafkan aku… melihatmu mencemaskanku membuat hatiku semakin sakit karena
semakin mencintaimu.
“Maafkan aku Levya, sungguh… aku minta maaf…”
Aku berlari keluar kelas. Suara pintu terbanting terdengar keras, dan suara
langkahku terdengar berhamburan di penjuru lorong. Aku bodoh, membentak
wanita yang kucintai, apa yang kupikirkan? Sudah telat untuk menyesal, aku terus
berlari ke luar gerbang sekolah.
Sebenarnya, sejak kecil, aku memiliki sebuah kutukan aneh. Tubuhku akan
menyembuhkan luka-luka dalam waktu cepat, bisa dikatakan seperti, regenerasi.
Seperti itulah, rahasia yang selama ini kusimpan.
Aku terus berlari, sepanjang memar-memar di tubuh perlahan menghilang.
Melewati kota, terus memasuki gerbang desa, disana aku melihat rumah Levya
tinggi dan paling besar di desa. Hari sudah mulai malam ketika aku memasuki desa,
dan udaranya mulai terasa dingin, mengingat ini di kaki bukit dan ada juga air terjun
besar disana. Aku berhenti mengambil napas, kakiku bergetar karena kelelahan,
napasku tidak beraturan, keningku terasa pening yang teramat sangat.
Tanpa sadar, luka di tubuhku hilang tak berbekas walaupun sejengkal yang
menyebalkan. Hanya menyisakan seragamku saja yang koyak, lusuh, kotor dan
sedikit sobek di bagian lengan, dan juga tiga kancingnya copot.
Aku berjalan perlahan melewati pasar desa yang mulai agak sepi, yang menyisakan
tukang jajanan malam, beberapa tukang jahit yang masih sibuk mengurusi beberapa
helai pakaian, dan bapak-bapak yang sedang tertawa terbahak-bahak sambil
bermain kartu. Perlahan aku berjalan menuju rumahku.
Dari cerobong asap, aku tahu paman sudah menyiapkan makan malam, mungkin
susu perahan milik tetangga, dan kalau beruntung, makan daging domba lagi seperti
tadi pagi. Tapi aku khawatir, alasan bodoh apa yang akan kukatakan ke paman
tentang seragamku?
Tadi aku berkelahi di sekolah? Tadi aku menolong temanku yang diintimidasi?
Atau… ah, entahlah.
Yang penting, aku harus masuk dulu. Itulah yang kupikirkan.
Sebab, aku sama sekali tidak menemukan alasan yang masuk akal, dan juga bisa saja
aku mengendap-endap masuk kamar, lalu ganti baju. Tapi sejujurnya, aku tidak bisa
berbohong kepada paman.
Tapi, aku terus kepikiran, apakah Levya akan marah padaku? Mungkin dia sudah
membenciku, menganggapku orang bodoh yang suka membentak wanita yang tidak
dikenalnya. Yah… sudahlah, lagipula kan… dia sudah berpacaran, punya hak apa aku
dengannya? Punya hak apa aku memikirkannya? Semua itu hanyalah omong
10
kosong, peduli setan untuk orang busuk seperti ku, untuk dunia busuk seperti ini.
Untuk cinta yang kurasakan.
Paman bertanya padaku sesampainya ku di rumah, kenapa dengan bajumu?
Tanyanya pada waktu itu. Aku hanya menjawab, tadi aku dikejar-kejar anjing. Lalu,
paman memberikanku tas yang ketinggalan di kelas, kata paman seorang wanita
yang memberikannya, tapi paman tidak menyebutkan siapa wanita itu. Tapi, ya
sudahlah setidaknya aku tahu, siapa wanita itu. Dan setelah itu, kami makan
menggunakan telur ceplok saja di ruang makan.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Hanya menatap langit dari jendela kamarku yang
berada di lantai dua rumah ini, atau lebih tepatnya di loteng. Aku hanya kepikiran,
apa yang dirasakan dan dipikirkan Levya pada waktu itu ya… setidaknya jika dia
marah padaku, kenapa dia harus repot-repot mengembalikan tasku? Meski
rumahnya satu desa denganku, itu bukanlah alasan yang bagus untuk
mengembalikan tas seseorang yang telah membentakmu, kan?
Pada saat itu, aku benar-benar belum mengetahui perasaan Levya, dan jujur, kurasa
aku menyesal pada keesokan harinya.
Pada keesokan harinya, paman mulai bekerja di ladang seperti biasa, dan putrinya,
saudariku Camilia, kembali tidak sekolah, aku tidak bertanya, “kenapa?” Mungkin
jika aku bertanya, semua akan berubah. Mungkin jika aku lebih peka pada sekitarku,
mungkin paman…
Tiba di sekolah, kelas sudah ramai aku melihat Levya duduk dengan buku kecil di
tangannya disebelah jendela, dan kursiku tepat disampingnya. Beberapa anak yang
mem-bully ku kemarin menatapku dengan heran, mungkin jika aku jadi mereka, aku
akan bertanya-tanya, “kemana luka-luka yang kemarin? Tidak mungkin hilang begitu
saja, kan?” Mungkin begitulah yang mereka pikirkan pada waktu itu.
Ketika aku membicarakan sekolah, sekolah ini lho... seakan kamu akan berbicara
tentang sebuah penjara di tengah pulau tak dikenal yang lain hanya berucap katakata asing, sedangkan diriku hanyalah pendatang yang bahkan untuk menumpang
bernapas di area pulau itu saja pasti sudah diumpat-umpat, dan nyawa ku bisa saja
segera dipersembahkan kepada kawanan macan tutul atau bahkan paus jika aku
salah tingkah. Kurang lebih begitulah situasinya.
“Selamat pagi, Levya.” Tanpa sadar mulutku berucap. Sadar terlambat, aku sedikit
mengumpat di dalam hati.
“Selamat pagi El.”
Tiba-tiba seisi kelas menjadi sunyi, atmosfer menjadi padat, dan sayup-sayup suara
bisikan terdengar seperti, “Dia menyapa Levya…” atau “Ngapain si bodoh itu
menyapa tuan putri. Menjijikan.” Dan lain sebagainya. Menyadari hal itu, aku sedikit
11
diam, mengumpat diriku dan berharap kalau aku hanyalah seekor slime di tengah
rawa, perlahan duduk di bangku tanpa menatap kesekitar.
“Maaf untuk yang kemarin, a... aku… jujur... aku tidak bermaksud berkata seperti
itu.” Kataku pelan atau mungkin hampir bisa disebut setengah berbisik, dan untung
saja Levya menanggapnya, dia masih berkata-kata padaku. “Sumpah.” Lanjutku
sambil menatap dengan penuh harap dimaafkan.
“Aku tahu kok, El tidak akan sejahat itu kan, jika kamu dalam kondisi yang normal
meskipun kemarin itu sedikit sakit tahu!”
Dia berkata dengan sedikit cemberut, seperti seorang kakak perempuan kepada
adik kecilnya yang imut, tapi tidak. Karena yang kita bicarakan adalah aku. Itu tidak
mungkin terjadi. Jika Levya adalah seorang penyihir, mungkin yang pertama kali
terkena sihir menjadi kodoknya adalah aku, atau jika dia nyatanya seorang penyair
handal mungkin, eh tidak, pasti dengan mudahnya aku mabuk kepayang dengan
segala ucapannya, lucu melihatnya aku sedikit tertawa.
“Jadi kau tidak marah padaku?”
“Siapa yang bilang tidak marah? Sakit tahu dibentak seperti itu.”
“Iya deh, iya deh, maaf, maaf.”
Tiba-tiba keadaan kelas menjadi lebih intens, entah aku merasakan sesuatu yang
tidak beres mendekatiku, dan benar saja, Rentaro bersama geng-nya datang. Aku
menelan ludah.
Seperti ketika tikus bertemu ular, aku merasa seperti itu, sekedar untuk
mengangkat kepala saja, aku tidak berani. Tapi, Rentaro adalah anak yang paling
kubenci, dia sudah mengambil Levya, hanya karena dia anak orang kaya, dan masa
depan Levya akan cerah jika bersamanya? JANGAN BERCANDA! Tahu apa kau
tentang dunia!?
“Hey kau.” Dia mulai menyapaku.
Aku memilih untuk diam karena berbagai alasan.
“Hey, aku sedang berbicara denganmu, mana sopan santunmu, anak miskin?” Sekali
lagi dia berbicara dengan nada menyebalkan.
Seisi kelas menjadi lebih sunyi, diriku benar-benar merasakan bagaimana rasanya di
pojokkan di depan umum, sangat sempit, seperti kau sedang di atas panggung dan
para penonton menunggumu melakukan sesuatu, walau sekedar berbicara. Aku
tetap hanya fokus dengan buku di mejaku.
Aku tidak tahu itu siapa, tapi tiba-tiba tangan yang besar menggeplak kepalaku,
keras.
12
“A…aaw…”
“Oe, hentikan. Aku tidak mengijinkan kekerasan di sekolahan ini.” Tapi aku tahu
betul itu suara siapa, mungkin pikirku, dia sedang mengambil perhatian Levya
dengan berpura-pura baik di depannya. Dasar busuk.
“Baiklah, apa yang kau inginkan dariku… mmm… Rentaro, kan?”
“Hey brengsek!”
“Sudah hentikan.” Rentaro berusaha menghentikan temannya dari memukulku,
jackpot yang bagus, pecundang.
“Disini, aku hanya bertanya satu hal terkait pacarku, Levya.”
Hmm???
“Kemarin, kudengar dari salah satu anak di sekolahan ini, sepulang sekolah kau
membentak Levya ya, hanya karena kau ditanya oleh nya?”
Aku bergetar hebat menyadari apa yang kudengar barusan. Iya, itu benar. Tapi dari
siapa dia dengar, setahuku hanya sisa aku dan Levya saja waktu itu, tidak mungkin
Levya yang mengadukannya. Sadar dengan semua tuntutan itu, aku hanya terdiam.
“Apa yang kau pikirkan hah!” Rentaro marah dan mulai memukul meja di depanku,
terkejut aku menjatuhkan buku di tangan dan menatap wajah Rentaro yang
menggebu-gebu karena marah.
“Maafkan aku.” Aku berucap pelan.
“Sshh, sudah Rentaro, lagipula dia sudah minta maaf kok.”
“Sudah diam saja kau! Bukannya kemarin kau menangis karena omelan busuk dia?!”
Levya menangis, karena ku? Apa yang kulakukan dasar bodoh!
“Baiklah, aku benar-benar minta maaf Rentaro, a… aku tidak bermaksud“Untuk apa kau minta maaf padaku? Minta maaf lah pada Levya, idiot!”
Suara Rentaro mengalahkan bisik-bisikan suara anak-anak kelas, tapi sayup-sayup
suara terdengar pelan tapi sangant jelas di telingaku, “Apa yang dilakukan anak
miskin itu? Berani-beraninya dia membentak Levya.” “Iya, iya, eh dan kudengar dia
hanya tinggal dengan pamannya yang sakit-sakitan loh.” “Heeh, benarkah? Aku
tidak tahu, tapi kudengar dia memaksa pamannya agar bersekolah disini.” “Iya, iya
padahal dia saja sudah nunggak bayar selama dua bulan.” “Dasar orang miskin tidak
tahu diri!” “Mungkin dia sekolah disini hanya untuk gaya-gayaan doang.” “Prestasi
tidak punya, miskin, jelek lagi, kurang apa coba?” “Kurang mati doang
hahahahahahaha.”
13
Hentikan semua suara itu, kumohon hentikan!
“Hey, jujur saja, aku benci lihat mukamu!” Rentaro menarik kerah bajuku, aku
sedikit tersentak dan bangkit berdiri, dan benar, dia lebih tinggi dariku… “Lihat
mukamu, lusuh, jelek, miskin, dan BODOH!
“Apa semenjak hidup kau tidak pernah diajarkan sopan santun? Apa karena kau
terlalu miskin jadi kedua orang tua mu tidak tahu sopan santun? Mungkin ibumu
jadi artis, karena mengemis-ngemis hanya untuk menghidupkan manusia tidak
berguna sepertimu. Kau harusnya sadar, derajatmu dengan Levya.”
Ya aku sadar, lalu kenapa? Apa masalahmu?!
“Levya itu anak yang baik, sekalipun seumur hidup dia tidak pernah di maki oleh
siapapun.”
Ya, itu benar kurasa, kau tidak tahu siapa itu Dunia. Sekejam apa itu dunia, kau tidak
akan tahu sepahit apa aku bertahan hidup hanya untuk melihat Levya! Kau tidak
tahu, kau hanya menutup matamu dibalik bayang-bayang ketenaranmu. Kau tidak
akan pernah tahu kehidupan apa yang pernah kualami selama ini. Kau tidak akan
pernah tahu rasa sakitnya ditinggal orang tua, kau tidak akan pernah tahu rasa
sakitnya dibenci orang sedesa. Kau tidak akan pernah tahu itu!
“Ya…” Akhirnya aku berbicara dengan suara lemah, “aku memang miskin, bahkan
untuk jajan saja aku tidak pernah, ya, aku memang bodoh, jelek, tapi… meski begitu“Ya, ya, ya, dan ya! Apa kau berniat curhat padaku, hey orang miskin?!”
Rentaro masih menarik kerahku, lalu melepaskannya dan mengelap tangannya
dengan kain.
“Kau tidak akan pernah tahu, kehidupan apa yang selama ini kujalani, kau tidak akan
pernah tahu rasanya lapar di malam hari, kau tidak akan pernah tahu perasaan sakit
dihina-hina seseorang yang sama sekali tidak mengenalmu.”
“Memang, lalu kenapa? Apa itu masalah untukku?”
Kenapa? Sekeras itukah dia? Dia benar-benar berbeda dari Levya, dia busuk, hatinya
dan jiwanya. Sebusuk aku memandang dunia ini. Dunia ini tidak adil, yang kaya akan
terus kaya, dan miskin akan mati kelaparan. Selalu seperti itu, dunia. Rasa tidak adil,
main hakim sendiri, yang atas menindas yang bawah selalu terjadi selama dunia ini
masih ada.
“Baiklah, kalau begitu, kenapa kau tidak mati saja.”
Tiba-tiba kata itu, anehnya seperti mengetuk hatiku. Ya, mungkin benar, mati. Kalau
aku mati duniaku akan selesai, tidak akan ada yang menangisiku. Dan mungkin juga
14
aku tidak akan membuat hidup paman susah lagi karena ku. Dan Levya… apakah dia
akan sedih?
Tentu saja tidak, apa yang kupikirkan.
“Baiklah, kalau jika itu yang kau inginkan, kenapa tidak kucoba saja?”
“El, apa yang kau“Bagus, bagus. Itulah yang kuharapkan. Mati sana, dan akan kujamin hidup
pamanmu akan berada di bawah tanggunganku.”
Hidup paman akan membaik? Benarkah?
Merasa seperti mengerti apa yang kupikirkan, Rentaro mengangguk setuju.
“Baiklah, mungkin kau benar, mati adalah jalan terbaik untukku. Terimakasih atas
sarannya. Sampai jumpa.” Aku mengatakannya begitu saja dengan mudahnya.
Haah… akhirnya, aku merasa sedikit ada pencerahan untuk bisa terlepas dari
belenggu dunia ini. Tanpa sadar aku pergi begitu saja meninggalkan kelas,
sedangkan anak-anak lain membicarakan tentang niat bodohku. Untuk kali
terakhirnya, aku menatapa wajah Levya yang selama ini, aku mencintainya. Dia
tidak akan pernah tahu, bahkan disaat-saat terakhir seperti ini. Haah… dasar bodoh,
melihat wajahmu saja tiap harinya sudah membuatku melupakan rasa busuknya
dunia ini. Terimakasih untukmu Levya, sungguh…
“Terimakasih…”
Cuaca sedikit mendung, angin di atas air terjun benar-benar kencang menerpa
wajahku. Kali ini aku berdiri diatas batu, di atas air terjun. Mungkin bunuh diri
seperti ini tidak akan membuatku merasa sakit. Itulah yang kupikirkan. Aku ingin
tahu, sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini, apa perasaan Levya padaku
ya… apakah dia melihatku sebagai laki-laki, atau seorang pecundang? Ibu dan ayah,
sejujurnya mereka sama busuknya. Alasan kenapa ibu meninggalkan ayah, karena
ayah memang pada aslinya dia hanya bermain judi saja, hingga hutang keluarga
kami menumpuk, hingga ibu beranikan diri unutuk menerima tawaran menjadi artis
dari temannya.
Ketika aku mendengar ibu menikah lagi, awalnya aku marah. Tapi aku sadar, jika aku
jadi ibu, kenapa tidak kalau aku memilih hidup damai. Hidup diatas popularitas,
harta, mertabat, dan lain sebagainya, yang meninggalkan anak satu-satunya. Aku
yakin, pasti ibu sudah lelah hidup seperti ini. Ibu itu busuk!
“Kenapa dia meninggalkanku? Apa salahnya jika mengajakku? Apa karena aku jelek?
Bodoh?”
15
Siapa yang harus kusalahkan? Tuhan? Takdir? Atau… diriku sendiri? Aku sudah lelah,
jujur, hidup seperti ini. Aku selalu saja dikucilkan, apa karena aku orang miskin yang
tidak punya apa-apa? Apa karena aku anak dari pembunuh? Memang aku akan
terkena virus bodoh ayahku apa yang membunuh ibu karena rasa marahnya, dan
merasa tidak adil dengan dunia ini?
Kalau saja aku akan dihidupkan kembali, aku akan memilih untuk menjadi tanah.
Aku siap diinjak-injak, dihina, diludahkan, dan dilupakan. Aku siap untuk itu semua.
Tapi… ada satu hal yang harusnya disalahkan.
Diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku,
diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku,
diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku,
diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku,
diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku,
diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku, diriku,
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Diriku.
Ada satu hal yang tidak akan aku siap, aku tidak siap dibenci oleh Levya. Hanya itu,
dan itu saja. Hari semakin petang, air yang mengalir sudah semakin deras. Di
16
bawahku air terjun setinggi empat puluh kaki siap menerimaku kapan saja. Mungkin
ini saatnya“HENTIKAAAN!!!”
17
Eps.3
Arti dari Dunia adalah Mencintai Sesama
Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, kenapa kita dihidupkan? Kenapa tidak
si-A saja yang hidup? Kenapa aku harus hidup seperti ini? Kenapa, dan kenapa.
Hanya itulah yang bisa kita katakan, untuk saat ini. Sejujurnya, aku lebih dari itu, aku
bertanya-tanya, kapan aku akan mati? Kenapa aku tidak mati saja? Bagaimana
caraku untuk mati? Dan hal lain yang semisal itu. Kebanyakan dari kita sangat
terobsesi dengan dunia. Tapi, kita tidak pernah melihat dunia dari bawah,
setidaknya dari kita sendiri. Kita selalu melihat dunia dengan cara orang lain
melihatnya.
Ketenaran, popularitas, harta, dan lain sebagainya.
Kenikmatan di dunia ini hanya satu persen, itulah yang kupikirkan.
Coba saja, kalau mereka melihat dunia ini dari bawah, mereka akan berkata,
“kenapa kita selalu menghambur-hamburkan uang?” Atau mungkin saja, “Aku
menyesal tidak melakukan ini dan itu, malahan aku membuat semuanya menjadi
hancur.” Penyesalan, lalu penyesalan yang tak kunjung habis.
Hanya itu, dan hanya itu.
Menjadi tampan, kaya, masa depan cerah, seseorang yang ideal? Semua itu hanya
omong kosong. Semua bisa mendapatkannya? Omong kosong. Kau pasti bisa?
Peduli setan dengan itu semua! Hidup tidak semudah kata-kata yang kita ketik,
dengan yang kita ucapkan.
Berapa banyak orang yang tidak memiliki bakat sama sekali, memimpi-mimpikan itu
semua? Berapa banyak orang berangan-angan bisa ini dan itu, bahkan untuk makan
malam saja dia tidak tahu.
Semua itu hanya omong kosong, rasa busuk dari dunia meracuni setiap orang yang
terjebak di dalamnya.
Kata ideal tidak lebih dari bualan belaka. Seakan mereka hanya seperti seonggok
bayangan yang memeluk kita dari belakang lalu membisikan...
Mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
18
mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati,
mati, mati, mati, mati, mati,
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
19
Mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Ya… itulah idealisme yang tertanam di diriku, sampai saat ini bahkan… aku tidak
tahu, apakah itu benar?
“ITU TIDAK BENAR!”
Suara permpuan?
Tapi, siapa?
“Kau bodoh, ya bodoh! Kau lemah! Penakut! Pembohong!”
Malahan jika kupikir, aku lebih menyebutmu pembohong, dasar…
“Apa kau pikir mati menyelesaikan segalanya?”
Iya.
“Apa kau pikir kau salah karena telah dilahirkan?”
Iya.
“Apa kau pikir… apa kau pikir… kita bertemu, karena kebohongan…?”
“…………”
Aku terdiam. Angin sudah semakin kencang menerpaku, tubuhku perlahan-lahan
terbawa, terseret.
“Pernahkah kau berpikir, ‘kenapa aku harus terlahir?’ Disisi lain, sebagian diriku
ingin mati, tapi… akhir-akhir ini, aku bersyukur karena aku hidup. Kenapa? Entahlah,
aku kan bodoh, makanya aku tidak tahu.”
Levya mengatakan seperti itu?
Tubuhku semakin lama, semakin terbawa angin kencang. Hanya menunggu waktu
saja untukku terjatuh. Tapi, Levya datang dengan napas berat, mungkin sepanjang
hari dia mencariku kemana-mana. Apakah dia mencemaskanku? Yah… mungkin
saja. Dia masih menggunakan seragamnya, rambut panjangnya terurai diterpa
angin, bahkan disaat-saat terkahir aku masih mencium aromanya yang wangi untuk
kali terakhirnya dari kejauhan.
“Jangan pikirkan kata-kata Rentaro, aku yang akan membayar hidup keluargamu,
El!”
20
“….” Aku hanya tersenyum. “Tidak usah repot-repot, kok. Lagipula siapa yang ingin
kau bayar, dari keluargaku?”
“He“Paman telah pergi dengan Camilia, anaknya. Rumahku telah kosong. Dia hanya
menulis surat untuk ku saja, kalau dia minta maaf karena meninggalkan ku. Kejam
ya, pamanku. Dia tidak menyisakan apa-apa untukku, bahkan uangku yang selama
ini kusimpan diambil, dibawa pergi olehnya. Mungkin dia ingin ke kota
menyembuhkan penyakitnya, atau apalah aku tidak tahu. Tenang saja, kau tidak
perlu repot-repot membayar pengobatan pamanku.”
“Tapi, aku“Ya, aku tahu. Ya, aku tahu… aku tahu kalau semua ini akan terjadi, kalau semua
orang akan pergi meninggalkanku. Semuanya. Ibu, ayah, bahkan paman. KENAPA
SEMUA ORANG SELALU BEGITU! Mereka itu egois! Busuk! Inikah yang dianamakan
‘manusia’? Inikah yang dinamakan ‘Dunia’?! Jangan bercanda, tempat sebusuk ini,
kalian sebut sebagai tempat tinggal?”
“El, hentikan! Tidak ada gunanya kau melakukan ini semua!”
“Dan tidak ada gunanya aku hidup selama ini! Setelah semua ini terjadi… coba kau
pikir, jika aku tidak mati hari ini, makan pakai apa aku untuk nanti malam? Mau
bayar uang sekolah dari mana aku? Kerja? Jadi apa? Ujung-ujungnya paling aku
menjadi pencuri, lalu dipenjara. Mana mau aku seperti itu!!! Aku bukanlah dirimu,
aku tidak sekaya, sepintar, dan seberuntung dirimu. Aku ya aku, kamu ya kamu.
Tidak ada yang berubah dari semua itu.”
“Tapi El… kalau kau mati, siapa yang kau ingin temui? Ibumu, atau ayahmu?
Bukankah lebih baik kau tetap hidup“Ya… kau benar, siapa yang ingin kutemui? Tentu saja bukan ayah dan ibuku“Baiklah kalau begitu“Neraka lah yang ingin kutemui.”
“……!”
Ya, kau benar untuk apa aku bertemu dengan ibuku, ayahku? Aku hanya ingin
bertemu denganmu. Hanya itu, tapi melihat kau, Rentaro hanya akan menimbukan
rasa dendam bodoh saja, dan lagipula…
“Baiklah kalau begitu…” Levya berkata dengan nada yang sedikit dipaksakan,
“maukah kau…… mati denganku?”
Wha-
21
“Jika kita mati bersama, kehidupan kita menjadi sejajar kan?”
“Jangan bodoh! Apa yang kau pikirkan!?”
“Lalu, apa yang kau pikirkan!? Apa kau pikir jika kau mati tidak akan ada yang
bersedih?!”
“Tentu saja tidak“Baiklah kalau begitu, mati saja sana!!!”
“…!?”
“Dasar... El BODOH!”
“.....”
“Apa kau pikir aku benar-benar akan senang kalau kau mati? Apa kau pikir aku tidak
sedih hah!?”
“Ya… mungkin sa“Mungkin dari dengkulmu! Aku sudah mengenalmu sejak lama, sejak kita masih
bermain di padang sabana depan rumahmu bersama yang lain, apa kau pikir aku
akan membiarkan temanku mati begitu saja!!!”
Teman? Apa itu? Kata bohong lagi kah? Dasar…
“Baiklah, kalau kau benar-benar tidak ingin aku mati, maukah kau mengabulkan
permintaanku?”
“Tentu saja, apa saja yang kau inginkan!”
“Baiklah kalau begitu, maukah kau hidup bersamaku?”
Mungkin awalnya kupikir dia akan menolak, tapi dengan cepat dia mengangguk
seperti senang, bahkan tanpa pikir panjang sebelumnya. Sesuai perjanjian, aku
segera menepi keluar dari arus air terjun yang semakin deras.
“Wo… woa……”
“Hati-hati!”
Hampir saja aku terjatuh karena bebatuan yang kupijak licin penuh lumut, dengan
cepat Levya menggenggam tanganku erat sekali, lalu menarikku. Dengan napas lega
dia berkata sambil menjatuhkan dirinya ke rumput-rumput di bawah kakinya.
“Dasar kau ini, apa sih yang kau pikirkan sebenarnya?”
“Iya, iya… maaf…”
22
“Kau hampir membuat jantungku copot tahu!”
“Hehehe…” Sambil menggaruk kepalaku karena kebiasaan, aku menatap langit yang
hampir mendung. “Ngomong-ngomong, masalah jantung copot, kupikir akan hujan
deh, mau berteduh di rumahku dulu?”
Levya hanya mengangguk saja. “Ok.”
Yang benar saja, belum sampai di rumah hujan mengguyur dengan lebatnya.
Terpaksa aku menyuruh Levya menggunakan kamar mandi untuk berbilas, karena
takut dia sakit, aku sekalian menyalakan api di tungku sekalian mempersiapkan roti
sisa dan satu gelas susu, dan itu juga sisa, untuk Levya. Aku duduk di kursi tua
sambil menghadap jendela memperhatikan rintikan hujan, dan berharap padanya
bahwa mimpi buruk ini akan segera berakhir. Entah, ini bisa disebut lelah, atau
putus asa, aku hanya merasa punya satu jawaban dari itu semua…
Aku tidak tahu, adalah jawabanku. Karena aku merasa tidak perlu tahu juga
alasannya.
Lima belas menit kemudian, karena wanita memang lama kalau di kamar mandi,
Levya keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah menggunakan bajuku.
Jujur saja, baju itu benar-benar tidak cocok untuknya. Mungkin karena jelek. Dia
masih mengelap-ngelap rambutnya yang masih basah dengan handuk, lalu duduk
disebelahku.
“Dan kalau tidak keberatan, tolong dimakan rotinya dan juga susunya untukmu
juga.” Kataku padanya, dan dia hanya diam menurut saja.
“Jadi…” ditengah-tengah Levya sedang makan dia bertanya padaku, “Apa yang kau
akan lakukan setelah ini?”
“Yah… untuk yang pertama, aku hanya mohon padamu, lupakan apa yang
kukatakan tadi, ya…”
“……?”
Mungkin ini yang terbaik. Konyol saja aku menghidupkan Levya dengan kondisi ini?
Apa yang kupikirkan. Untuk makan saja aku tidak tahu, jadi aku akan merasa sangat
bersalah kalau memaksa Levya harus tinggal denganku, dan lagipula, jawabannya
lah yang membuatku tercengang.
“Aku tidak mau.”
Apa dia sudah rusak? Tentu saja aku tidak mengatakannya keras-keras, tapi aku
hanya bisa tersenyum dan perlahan menghampirinya lalu mengelus kepalanya.
23
“Aku akan segera pergi dari desa ini, mungkin aku akan mengembara, dan tidak
mungkin kan aku harus mengajakmu. Dan lagipula, kau sudah punya kehidupan
yang indah kok Levya, dan sebagai temanmu, aku sama sekali tidak ingin merebut
itu semua, kau paham kan?”
“Kau hanya belum tahu saja El, kehidupanku yang sebenarnya.”
Aku terdiam.
Malam itu Levya menceritakan semuanya padaku. Iba, sedih, dan marah. Aku
merasakan itu semua. Dan aku, benar-benar tidak ingin mengatakannya. Apa aku
harus membawanya? Itulah yang kupikirkan. Jika aku membawanya, aku akan
menjadi buronan. Sampai kapan? Itulah pertanyaannya. Apa aku siap menanggung
itu semua? Tidak hanya menanggung sebagai buronan, aku juga harus selalu
menjaga Levya.
Apa aku siap dengan itu semua? Entahlah.
Baiklah inilah cerita Levya, versi aslinya, yang kudengar langsung darinya.
Dia hidup di dalam kalangan keluarga elit. Bahkan keluarganya bisa sampai
memainkan politik yang terjadi di kota karena saking kuatnya link kekuatan keluarga
Levya, dalam hal pendidikan, bisnis, bermain dengan saham, bahkan transaksitransaksi illegal, seperti apa yang mereka sebut sebagai gangster. Dan terkadang
juga keluarganya sering memainkan sidang-sidang resmi demi kelancaran bisnisnya.
Lalu, Levya lahir dari keluarga dengan latar belakang seperti itu.
Ibu Levya hanya seorang wanita desa biasa, yang tinggal di pendesaan dengan
ekonomi serba kekurangan. Ayah Levya yang kala itu sedang survey tempat untuk
acara memancing, karena desa itu terkenal dengan danaunya yang indah, tidak
sengaja bertemu dengan wanita desa itu, dan langsung saja, setelah acara keluarga
selesai ayahnya langsung melamar wanita desa itu.
Tidak berpendidikan, miskin, tapi cantik. Itulah ibu Levya. Sedangkan ayahnya,
jawara di kampusnya dalam segala hal yang berkaitan dengan akademis, atletik,
martabat, disukai semua wanita, dan disayang oleh para dosennya. Itulah sosok
idealis seorang ayah Levya.
Lalu, semenjak Levya lahir ayahnya hanya memegang bisnis keluarga yang
bersangkutan dengan musik, seperti panduan suara. Karena dalam hal bisnis ayah
Levya kalah, bisnis itu segera terambil alih oleh keluarga Rentaro. Karena ayah Levya
takut kalau semua itu akan hilang, Levya mulai dikenalkan kepada keluarga Rentaro
dengan harapan, hidup Levya akan terus membaik jika bersama Rentaro itu. Karena
itu terpaksa, Levya hanya bisa diam. Meski sebenarnya ayah Levya, tidak sama
sekali berharap itu akan terjadi, tapi hutang keluarganya semakin besar tatkala
ayahnya jatuh sakit.
24
Berkat rumah sakit yang dijalankan keluarga Rentaro, ayahnya Levya perlahan
membaik tapi masih tetap membutuhkan perawatan, berupa udara segar. Tentu
saja semua itu dengan sebuah syarat konyol, Levya harus menikahi Rentaro
nantinya.
Merasa muak, Levya hanya bisa menerima dengan penuh keterpaksaan.
Dan kemudian, jadilah mereka pacaran untuk awal saling mendekatkan diri satu
sama lain.
Sebatas itu saja yang ingin dibicarakan Levya padaku. Dan lagipula, mendengarnya
lebih jauh lagi hanya membuatku muak saja. Tak terasa hujan telah mereda, dan
bintang-bintang mulai berhamburan di langit dengan indahnya.
“Jadi, kau merasa hidupmu adalah keterpaksaan yang harus kau jalani? Bahkan
tanpa persetujuan darimu?”
Levya hanya mengangguk sambil memegang gelas kosong bekas susu yang
diminumnya.
“Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi, jujur untuk orang sepertiku, bukankah
sangat disayangkan jika kau malah milih kabur bersamaku dan meninggalkan segala
hal yang kau miliki Levya?”
“Selama itu yang kuinginkan, aku sama sekali tidak merasa keberatan kok, malahan
aku benar-benar berterimakasih padamu karena kamu mau mengajak ku,
merasakan dunia yang seperti kau dan aku harapkan.”
Kau dan aku harapkan? Apa kau benar-benar mencintaiku, Levya?
“Ba, baiklah, akan kupikirkan kembali, tapi sebelum itu, apa kau ingin pulang? Aku
bisa mengantarmu kok.”
“Oh, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Dan lagipula aku tidak boleh
merepotkanmu lebih dari ini.”
“Malahan, akulah yang merasa merepotkanmu hari ini. Terimakasih Levya,
berkatmu aku… masih diberi kesempatan hidup lebih lama di dunia ini.
Terimakasih.”
Dia hanya membalas tersenyum saja, lalu pergi.
25
Eps.4
Pilihan Hanya Selalu ada Dua
Menyebalkan memang, akhirnya aku hidup sendiri lagi. Buku-buku paman yang
tertinggal sudah kubereskan semua, karena terlalu banyak aku menaruhnya di
gudang. Berkat perkataan Levya padaku, entah kenapa aku sama sekali tidak
memiliki dendam sama pamanku. Mungkin inilah yang disebut, kau akan
mendengar perkataan seseorang yang kau cintai, yang sering diucapkan ibuku
waktu aku masih kecil.
Aku masih tidak tahu kenapa, kalau semua ini terjadi, dan ketika aku benar-benar
sadar kalau semua ini telah selesai, aku merasa sedikit bersalah. Mungkin apa
karena aku terus menyalahkan orang lain? Kembali ke pokok permasalahan, apa
yang akan kulakukan kedepannya nanti? Apa benar aku akan mengembara?
Tapi kemana?
Untuk kali ini aku hanya berkali-kali menatap ruangan seisi rumahku. Rumah ini
sudah reot, bahkan tinggal nunggu ambruknya saja. Atap-atapnya sudah bolong,
kayu-kayunya banyak dimakan rayap, dan bahkan juga perabotan disini benar-benar
sudah kusam dimakan usia. Meski banyak kenangan yang tersimpan di rumah tua
ini, benar aku tidak ingin langsung meninggalkan rumah ini begitu saja.
Mataku masih berkeliling, hingga sampai pada titik tertentu, aku menemukan
sebuah yang ganjal. Lemari tempat aku menaruh buku-buku ku sedikit berubah
posisinya. Atau hanya perasaanku saja?
Aku segera bangkit berdiri dari sofa tua, berjalan pelan sambil melihat ke sekeliling
lemari. Perasaanku, aku hanya lagi itu memindahkan buku peninggalan kakek ku
yang hanya berisi manuskrip-manuskrip kuno yang sudah lagi tak terbaca. Tapi
hampir posisi buku-buku itu berubah, karena aku memang hapal tata letaknya. Aku
mengambil satu buku secara acak dari lemari itu.
Kubuka halaman pertamanya, tidak ada yang aneh. Lalu selanjutnya, dan
selanjutnya.
Berganti ke buku berikutnya, dan ku ambil dua buku sekaligus untuk langsung
kuperiksa. Aku merasa ada keganjalan aneh, ketika melihat buku-buku itu tersusun.
Empat buku yang disampingku ku taruh berdasarkan susunan tadi, lalu kuperhatikan
dari jauh lemari itu dengan teliti.
Setiap buku dengan susunan baru memiliki tinggi yang berbeda-beda, karena aku
membereskan buku itu sesuai abjad, dan tingginya, dan juga susunan awal abjadnya
jadi semakin acak untuk susunan yang terbaru. Jika kuingat-ingat lagi, semua buku
itu berasal dari kakek ku, yang meninggal karena terjatuh ke jurang, entah kenapa
26
aku benar-benar sedikit tertarik dengan buku-buku tua itu, sebenarnya ada sedikit
teka-teki di buku-buku itu yang membuatku sangat penasaran. Dan jika lebih
kuperhatikan lagi…
Pada saat itu aku baru sadar, takdir apa yang menungguku di depan.
Lemari itu ada empat tingkatan. Tingkatan pertama terdiri dari empat buku tinggi
dan tiga buku pendek, rata-rata dari buku itu menunjukkan huruf SOS dari judul
buku adalah yang paling menonjol, entah dari sisi mana aku melihatnya.
Selanjutnya, terisi buku-buku cerita rakyat, lima diantaranya menceritakan tentang
kelanjutan kisah siluman yang mencari arti dari Dunia, tapi aku tidak melihat dari
situ, kelima seri buku itu tersusun secara acak, dan kalau aku ingat-ingat lagi
ceritanya, inti dari itu semua adalah, kisah yang teracak.
Aku masih belum tahu apa maksudnya, tapi aku baru sadar kalau di seri ketiga
berdekatan dengan seri kelima, yang dimana di kedua seri itu pertemuan siluman
dengan kekasihnya setelah berbagai rintangan yang dihadapinya. Tapi apakah itu
benar, hanya sebatas buku ketiga dan kelima? Lalu bagaimana dengan buku kedua
dan keempat, dan buku pertama yang ditaruh yang paling akhir.
Buku pertama menceritakan, kalau sang siluman sedang mencari kekasihnya yang
hilang, pikiranku fokus pada ‘mencari’ karena kata itulah yang paling mencurigakan,
dan buku kedua dan keempat, jujur aku tidak tahu apa itu maksudnya, tapi inti
kedua buku itu benar-benar bertolak belakang, di buku kedua sang siluman selalu
dihina-hina, dan di buku keempat sang siluman mulai melawan sistem yang selama
ini mengekangnya. Tapi, apa yang bersangkutan dengan kata SOS, dan kelima buku
itu?
Sisa buku yang dibawah, tidak terlalu banyak perubahan karena memang itu bukubuku tebal yang langsung ditulis menggunakan tangan, untuk membacanya butuh
kesabaran penuh, tintanya kebanyakan sudah menghilang.
Baiklah, coba kupikirkan, apa arti dari SOS? Butuh bantuan? Bisa jadi, lalu kelima
buku itu, kalau diurutkan, pertemuan, menghilang, bertolak belakang. Dan kalau
buku-buku tebal digabungkan, intinya, mungkin menghilang.
Dan juga aku baru sadar, buku-buku ku yang kemarin ketinggalan di kelas berada di
atas meja kecil di sebelah lemari.
“Tunggu dulu.”
Dari semua tumpukan aneh ini, aku merasa ganjil. Kalau tidak salah, arti dari buku
pertama, jika diterjemahkan judul bukunya, adalah ‘mengembalikan’, jadi jika
kuurutkan menjadi…
Pertolongan, kekasih, betolak belakang, mengembalikan, buku-buku, hilang.
27
“Pertolongan, kekasih, betolak-belakang, mengembalikan, buku-buku, hilang.
Pertolongan, kekasih, betolak-belakang, mengembalikan, buku-buku, hilang.
Pertolongan, kekasih, betolak-belakang, mengembalikan, buku-buku, hilang.”
Otakku terus-menerus mengulang kalimat tersebut seperti kaset rusak.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari ke luar rumah. Udara di luar sudah
mulai dingin sedikit berkabut. Awan-awan hitam yang berjalan dengan sombong di
langit, mengeluarkan suara gemuruh demi menyingkirkan awan-awan lain darinya.
Angin berhembus kencang tak karuan. Aku tidak bisa melihat lebih jauh jalan yang
kulewati, hanya bermodal insting dan hapalanku akan jalan ini yang terus
menuntunku berlari.
Napasku sedikit mengeluarkan uap putih, keringat dingin bercucuran di sekujur
tubuhku, otakku kacau, yang kupikirkan hanyalah, Levya.
Pertolongan, artinya ada yang membutuhkan pertolongan. Kekasih, adalah wanita
yang didekatmu, lalu kata selanjutnya menjabarkan kata ‘kekasih’, bertolak
belakang, seorang wanita yang dekat denganku, tapi bertolak belakang dengaku,
mungkin dari segi kehidupannya, itulah yang langsung terpikir olehku. Dan juga kata
‘mengembalikan’ dan ‘buku-buku’ lah yang membenarkan hipotesis aneh itu. Yang
terakhir, menghilang. Tanpa memikirkan lagi, aku berasumsi besar, Levya sedang
dalam kesulitan.
Aku mulai sampai di alun-alun desa. Keadaannya benar-benar sepi, tapi terasa aneh
dengan kesunyian ini. Aku segera berlari kearah rumah besar di depan air terjun,
dan kalau kupikir lagi, mungkin alasan Levya menemukanku karena ada orang aneh
yang berdiri diatas batu di atas air terjun dari rumahnya, dan dia teringat akan katakataku di kelas tadi pagi.
Dan benar saja, sebelum aku melanjutkan, perlahan aku menelan ludah.
Pagar rumah Levya sedikit terbuka, dan rumahnya benar-benar kosong seperti mati.
Semua gelap. Aku berjalan pelan melewati gerbang, dan tak lupa untuk menjinjitkan
langkahku untuk mengurangi suara yang ditimbulkan. Aku berjalan melewati semaksemak, berlindung di belakang pohon agak besar, mirip seperti pohon kelapa, dan
melihat ke dalam kegelapan dari arah jendela.
Mungkin itu ruang tamunya. Pikirku. Apa tidak apa-apa aku masuk ke dalam begitu
saja? Nanti kalau dikira maling, habislah hidupku… ketakutan semacam itu merajai
otak busukku berkali-kali, dan berulang-ulang. Seperti rekaman video yang terus
diputar kembali. Tapi kalau kuingat, pada saat itu…
Kalau tidak salah, senyuman Levya di saat sebelum dia pulang, sedikit menurun
bibirnya. Mungkin sedikit menandakan dia sedang menahan sedihnya, tapi tidak
bisa.
28
Jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Merambat ke kepala, terasa
berdenyut namun tak nyeri. Aku harus memberanikan diri. Dari jendela yang agak
longgar, aku mulai memasuki rumahnya dari arah timur aku masuk tadi. Menunduk
dan bersembunyi di balik vas yang cukup besar. Perlahan-lahan mataku mulai
menyesuaikan dan aku sedikit bisa melihat di dalam kegelapan. Pertama-tama, aku
berpikir. Kamar mungkin di lantai dua. Jika memang ada yang terjadi dengan Levya,
pasti kamar adalah tempat yang pertama dicari atau diincar.
Namun kalau Levya tahu dia sedang diincar, pasti dia menjauhi tempat itu. Kalau
aku jadi dia, ada tiga tempat yang mungkin akan ku jadikan tempat persembunyian
sementara. Pertama, kamar mandi, kedua, taman belakang rumah, dan ketiga, kalau
dilihat dari struktur rumahnya, karena aku sedikit menghapal bentuknya dari luar,
mungkin aku akan“Kyaaaa….”
Tiba-tiba suara itu bergema kesekeliling ruangan. Segera ku alihkan pandanganku ke
dalam ruangan persegi di sisi sayap kanan rumah, yang pintunya terbuka sedikit.
Rumah ini memiliki sisi dua sayap. Jika diperhatikan lebih jauh sayap yang ada di sisi
kiri adalah untuk minum teh sambil menghadap ke taman luas, sedangkan di sisi
sebelahnya adalah ruang musik. Struktur rumah Levya mirip seperti struktur rumah
ibu yang di kota. Kata ibu, itu biasanya adalah buatan arsitek terkenal, kalau tidak
salah namanya Angel. Mungkin. Rumah ini didesain mengikuti adat kebudayaan
suku Rastec, lebih tepatnya mengikuti desain rumah kepala suku Rastec. Biasanya di
belakang tangga terdapat jalan kecil yang mengarah tiga ratus meter dari luar
rumah, dan jika dihitung-hitung tiga ratus meter dari sini…
Adalah rumahku.
“Tolong hentikan! Lepaskan aku! Lepaskan! Tolong! Siapapun!”
Cih, sial. Disaat-saat darurat seperti ini apakah pahlawan akan datang tanpa
persiapan? Jangan bercanda! Apa yang bisa dilakukan olehku?!
Tunggu dulu.
Dan kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa aku memerlukan persiapan? Aku kan bodoh.
Aku berlari ke belakang tangga sambil membungkukkan badan dan menjinjitkan
kaki. Kuperiksa, ternyata benar ada pintu kecil disini. Kalau saja, aku berhasil
membuat sibuk bajingan itu, aku akan menggiring Levya kedalam sini. Tapi,
bagaimana caranya?
“Diam kau! Jangan banyak berontak, dasar sialan!”
“Aa…”
Suara benturan terdengar keras dari dalam ruangan. Tunggu, benturan!?
29
“Apa yang kau inginkan dariku? Ayahku sedang tidak ada di rumah! Cepat keluar
sana!”
“Hey, hey… ngomong apa kau? Tentu saja aku kesini hanya untuk menculikmu saja.
Lalu sebelum kulepaskan kau, bolehkah aku bermain-main sebentar dengan tubuh
indah mu i“Hyaaa…… enyahlah kau bajingan!!!”
Suara keras terdengar bergema, penjahat itu sedikit roboh menjauh dari Levya.
“Cepat pergi dari sini, Levya!”
Suaraku terdengar parau, mungkin karena rasa takut menjalar keseluruh urat
nadiku. Levya masih saja terpaku melihat semua kejadian ini, tubuhnya bergetar
hebat, tapi tidak ada waktu untuk itu semua!
“Cepat pergi, nanti aku akan menyusul!”
“Apa yang kau katakan El. Bagaimana bisa aku“Sudah pergi sana dasar bodoh!”
“Hey, hey… bocah sialan sepertimuDengan keras aku memukul kepalanya sekali lagi. Tongkat besi yang kupegang
sedikit penyok di bagian atasnya, orang itu kembali tersungkur di atas lantai sambil
mengusap-usap kepalanya. Dan berkali-kali mengumpat tak jelas.
“Kau tahu kan harus pergi kemana? Nanti aku akan menyusul, aku janji.”
Melihatku berkata seperti itu, jika aku jadi Levya aku akan pergi. Dan itulah yang
dilakukannya. Levya berlari kearah belakang tangga tanpa sedikitpun menoleh
kearahku. Mungkin itulah yang terbaik, jika aku memang ditakdirkan mati disini,
setidaknya aku akan tersenyum karena aku mati dalam keadan keren seperti ini.
Cih, apa yang kupikirkan.
Aku benar-benar bisa mati loh kalau begini terus.
Penjahat itu perlahan bangkit berdiri, dan tangan kanannya terus-terusan mengusap
kepalanya itu. Memang pukulanku sesakit itu ya?
“Hey paman, apa yang kau inginkan dari Levya?” Aku memaksakan suaraku keluar,
dengan kedua kakiku yang menggigil hebat.
“Cih, anak bodoh sepertimu, tidak pantas berkata seperti itu.”
“Lalu, apa yang kau inginkan dari ini?”
“Itu bukan urusanmu bocah. Ya sudahlah karena malam ini aku gagal, aku akan
mencobanya lain kali.”
30
Mecobanya lagi, dia itu?!
“Dah, jaga dirimu baik-baik bocah.”
Penjahat itu tanpa aku sadari sudah melompat keluar melewati kaca. Lalu berlari
kearah belakang rumah, dan dalam hitungan detik suara langkahnya sudah tidak
terdengar lagi. Dia benar-benar hebat. Bahkan dia sama sekali tidak melakukan hal
bodoh meski mangsanya telah pergi. Kali ini, aku berdiri sendiri di dalam kegelapan
yang menyelimutiku. Aku perhatikan kesekitar, memang kalau dilihat-lihat ini
adalah ruang musik seperti yang ku perkirakan. Apakah aku harus bangga karena
berhasil mengusir bedebah itu? Yah, jika dipikir-pikir lagi aku tidaklah seburuk yang
kupikirkan. Setidaknya aku berhasil mengusir penjahat dan menyelamatkan Levya.
Eh, tunggu. Levya?!
“Seharusnya aku mengejar dia sekarang!”
Aku berlari melewati jalan rahasia di belakang tangga. Karena kalau kupikir-pikir lagi
cukup beresiko kalau keluar lewat jalan desa, mengingat keributan besar yang
terjadi. Jalan rahasia ini cukup sempit, yang hanya bisa dilewati dua orang saja.
Berdinding kayu, sedikit air menetes dari langit-langitnya. Aku berjalan lurus. Jarak
pandangku pendek, bukan hanya gelap saja, tapi sedikit berkabut yang benar-benar
mengganggu penglihatanku.
Sudah cukup lama aku di dalam situ, beberapa saat kemudian aku sedikit melihat
cahaya di ujung. Susah untuk menggambarkan apa yang kurasakan, tapi itu semua
adalah perasaan lega, dan bahagia. Aku segera berlari cepat, tidak peduli berapa kali
aku tersandung, bahkan hampir jatuh, aku tetap berlari menuju cahaya remang itu
yang masuk melalui celah-celah pintu kayu yang tertutup, aku membukanya.
Udara segar segera menyambutku begitu aku keluar. Perasaan bersyukur karena
bisa bebas, sedikit air mata menetes lembut mengusap kedua pipiku. Aku tidak
pernah merasa sesenang ini, tapi aku yakin alasanku bisa sebahagia ini, karena ini
adalah kali pertamanya aku membantu seseorang selain diriku. Sungguh, betapa
bodohnya diriku ini, ketika aku sadar akan hal itu, aku hanya bisa tertawa saja. Ya,
menertawai diriku yang tidak berguna ini.
Mungkin itulah yang kupikirkan saat itu, sebelum aku sadar Levya melompat
kearahku sambil memelukku erat sekali. Lalu…
“Bodoh~”
Kami terjatuh bersamaan diatas rumput yang bergoyang dimainkan angin kekiri dan
kekanan. Udara segar menyapu wajahku terasa nyaman, tanganku dengan
sendirinya memeluk erat Levya yang menindihku sambil menangis sejadi-jadinya di
pundakku.
“Bodoh, bodoh, bodoh. Apa yang kau pikirkan dasar bodoh!”
31
Aku hanya bisa tersenyum. Seperti aku benar-benar paham perasaannya saat ini.
Aroma harum dari rambutnya yang lembut terbawa angin berhembus bebas,
menikmati malam yang indah, yang berhamburan bintang-bintang yang menari-nari
dengan cahayanya pada saat itu. Levya masih menangis, mungkin mengkhawatrikan
ku, memikirkan hal itu, aku jadi tahu, dunia tidak seburuk yang kupikirkan sekali lagi.
Sekali lagi, aku ingin hidup.
Sekali lagi, aku ingin merasakan kehidupan ini.
Sekali lagi, berikanlah aku kesempatan sekali lagi, untuk melakukan itu semua.
Tanpa terasa aku menangis. Aku terus memohon tak henti-hentinya agar doa ku
bisa terkabul. Untuk sekali lagi, biarkanlah aku lebih mengenal dunia yang selama ini
kulupakan dan kuacuhkan. Untuk sekali lagi, biarkanlah aku bersama Levya pada
saat ini…
Aku memberikan selimut dan susu hangat pada Levya. Selagi menunggu daging
dombaku matang, aku menyalakan api di tungku yang sempat padam ketika aku
pergi. Levya tidak berkata apa-apa pada saat itu. Dia hanya terdiam menatap
gelasnya. Mungkin itu wajar, melihat rasa syok berat akibat kejadian tadi, aku hanya
bisa membiarkan Levya mendinginkan kepalanya untuk sesaat. Kayu-kayu di tungku
mulai terbakar, aroma daging domba yang kumasak juga mulai beraroma sedap,
tapi sayang itu juga untuk Levya. Baiklah, bagaimana kalau aku mencoba untuk
mencairkan suasana ini. Pikirku.
Di dalam lemari kamar orang tuaku, aku mengambil dua buah penjepit rambut biasa
berwarna merah dan syal tebal berwarna merah juga sepeninggalan mendiang
ibuku. Levya, masih belum sadar seutuhnya, jadi aku memakaikan penjepit itu di
rambutnya dan melilitkan syal di lehernya, lalu aku berkata…
“Kau jauh lebih cantik dari biasanya, Levya. Kau mirip ibuku.” Dengan tersenyum.
Dia sedikit tersipu, kedua pipinya seketika berwarna merah, tapi dia belum
berbicara sedikitpun.
“Oh, ayolah, kau jelek Levya kalau merengut kayak gitu. Aku ingat kata pamanku,
make-up terbaik seorang wanita adalah senyumannya. Jadi, tersenyumlah.”
Tetap saja, dia masih terdiam.
Tidak kehabisan akal, aku mencoba menggodanya lagi.
“Okelah, aku tahu kamu memang habis syok karena kejadian tadi, tapi cobalah
kamu berkaca, apa pantas wanita cantik bersyal sepertimu cocok memasang wajah
kayak gitu? “
32
“Aku, hanya berpikir saja…” Tiba-tiba Levya berbicara ketika aku sudah menyerah
menggodanya. “Kenapa kamu sebegitu pedulinya padaku. Apa karena aku
menyelamatkanmu doang. Aku tahu ini bodoh, tapi aku benar-benar takut kalau
terjadi apa-apa denganmu. Hanya itu saja.” Dan dia terdiam lagi.
Jadi intinya Levya hanya mencemaskanku? Aku terlalu bodoh karena tidak tahu itu
dan mencoba menggodanya selagi dia benar-benar khawatir akan keadaanku. Apa
yang dipikirkan olehku?
“Baiklah, tenang saja kok. Selama aku masih ada disini tidak akan kubiarkan
siapapun menyentuh tuan putri Levya, mahkota kerajaan Rastec.” Aku berbicara
seperti nada-nada pangeran bodoh dunia khayalan, dengan gayanya yang seperti
menantang dunia, dan berpikir kalau spatula di tanganku adalah pedang legenda
Excalibur. Tapi syukurlah itu sedikit berhasil, Levya tertawa sedikit. Aku tersenyum.
Ketika daging dombanya telah masak, aku terkejut Levya memakannya dengan
lahap. Apa cemas mamang bikin manusia lapar? Aku hanya dapat melihat Levya
sambil mencuci penggorengan di westafel. Sedikit perutku keroncongan. Aku
mencoba mencari-cari roti sisa di rak, tapi apa boleh buat roti terakhir yang kumiliki
dimakan oleh Levya, beberapa saat lalu. Dan aku tahu itu dengan betul.
Aku mendekatinya dan duduk di kursi yang di depannya, “Apa benar, a… aku terlihat
lebih cantik?” tiba-tiba saja dia berkata seperti itu.
“Tentu kok. Kamu mirip seperti ibuku.” Tanpa sengaja, dan tersadar sudah
terlambat, aku hanya menggaruk-garuk kepala sambil tertawa bodoh.
Melihat ekspresi Levya yang terkejut, kupikir dia akan marah tapi…
“Dasar, kamu memang bodoh ya El.” dia berkata sambil membenarkan posisi
penjepit yang kuberi di poninya, lalu tersenyum ramah.
Jantungku seketika berdetak lebih cepat, seperti hampir copot rasanya. Aku tahu
semenjak bertemu pertama kali dengannya. Dia adalah wanita yang baik, anak-anak
laki selalu mencoba mendekatinya sewaktu bermain tapi dia –Levya- hanya
menatap itu adalah hal yang biasa untuk seorang teman.
Aku bertanya pada Levya, kenapa rumahmu kok kosong? Dia menjawab, ibunya
sedang pergi untuk memeriksa ayahnya yang semakin hari semakin memburuk
keadaannya di rumah sakit terbesar di kota, dan para pembantu sebagian mereka
pulang, mengambil hari libur. Sebenarnya dia tinggal dengan kakak laki-lakinya, tapi
karena alasan mendadak bisnis, terpaksa Levya ditinggal karena dia harus sekolah
besok. Dia berterimakasih padaku dengan teramat sangat, karena aku
menyelamatkannya, lalu Levya bertanya padaku,
“Ngomong-ngomong kok kamu tahu kalau aku dalam bahaya?”
33
Aku sedikit terkejut, karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Aku
mendapat pesan misterius gitu? Tidak mungkin aku mengatakan seperti itu. Yang
hanya memberiku satu-satunya pilihan bodoh, tanpa pikir panjang aku berkata,
“Perasaanku mungkin yang memberitahunya, atau… feelingku padamu? Entahlah,
a“Terimakasih, El.” Suaranya lembut
Lho? Apa ini kali pertamanya untukku mendapatkan rasa terimakasih dari
seseorang, apalagi dari wanita? Entahlah, jika kuingat kembali masa-masa seperti
ini, aku seperti mengingat dengan ibu dulu. Aku tidak percaya, dan tidak ingin
mempercayainya kalau ibu meninggalkan ku begitu saja. Bukan untuk alasan yang
jelas, tapi karena aku tidak pernah mendapatkan alasan untuk itu. Hanya dengan
melihat Levya memakai beberapa barang peninggalan ibu, membuat rasa nostalgia
dengan ibu sangatlah kental. Tak tahan aku menahan air mata, Levya terkejut
melihatku menangis begitu saja.
Mendekapku untuk kenyamanan, aku merasakan itu semua dan menenggelamkan
penglihatanku di balik rasa hangat dari dadanya.
Sungguh memalukan memang, aku menangis di dada seorang wanita yang sebaya
denganku hanya karena mengingat momenku bersama ibu dulu. Tapi tak bisa
kupungkiri, aku seperti bayi cengeng yang tidak diberi susu pada malam itu.
34
Eps.5
Jika itu Kamu, apa yang Kamu inginkan?
Namaku Levya Nock Fliz. Aku lahir dari sebuah keluarga konglomerat yang hobi
bermain saham dari dunia bisnis. Dimulai dari bisnis permusikan, perusahaanperusahaan swasta, farmasi, botani, teknologi, pendidikan, bahkan hingga bisnis
gelap seperti barang illegal, pemasok gangster untuk melindungi petinggi keluarga,
anggur merah, dan hal-hal yang berbau licik lainnya yang masih belum sepenuhnya
kumengerti. Tapi, aku hanya lahir dari keluarga cabang, yang mana hanya
memerankan bisnis-bisnis kecil-kecilan saja untuk menutupi beban keluarga utama
yang begitu epik dalam mengelola saham besar yang bisa mebuat bangkrut siapa
saja dalam hitungan detik, bisa dikatakan hanya sekedar membantu saja, tugas dari
keluarga cabang. Dan ayahku, mendapatkan bagian bisnis yang mengurusi industri
musik yang biasa digunakan untuk ajang lomba-lomba beasiswa studi permusikan di
kota.
Sesuai hobiku, aku mulai menekuni bidang permusikan dalam kategori paduan
suara, dan piano sejak umur lima tahun. Ayahku sangat mensupport ku untuk terus
berlatih, dan terus berlatih. Di usiaku yang ke-8, berkat latihan keras yang kujalani
aku berhasil menjadi juara paduan suara termuda dalam lomba Fliz.corp. Tapi,
berkat itu semua aku jadi sadar akan satu hal, pada saat ketenaranku sampai pada
puncaknya, teman-teman sebaya denganku menjadi enggan untuk dekat-dekat
denganku, alhasil secara tidak langsung disaat aku sadar aku sudah tidak lagi
memiliki seorang teman.
Beberapa bulan kemudian, pasca kemenanganku di lomba itu, tiba-tiba saja ayah
jatuh sakit. Saham yang dipegangnya pun mulai mengalami penurunan yang
signifikan. Terpaksa ibu yang mengambil alih dari itu semua, tapi sekeras apapun ibu
mencoba tetap saja saham itu terus saja merosot, bahkan semakin tajam.
Ibuku berasal dari desa di sebelah utara yang secara tidak sengaja bertemu dengan
ayah ketika ayah berkunjung ke desa ibu untuk survey tempat kumpul keluarga
cabang Fliz. Kakek dari ibu, bekerja sebagai petani, dan terkadang juga beliau
menggembala ternak-ternaknya keatas bukit di belakang rumahnya. Sedangkan
nenek, hanya menyulam anyaman bambu saja karena hobinya sejak kecil. Aku
jarang berkunjung ke kampung ibu, dengan alasan ayah terlalu sibuk. Setelah
pertemuan ayah dan ibu pada saat itu, langsung saja pada saat itu juga di hadapan
para petinggi keluarga cabang ayah melamar ibu, yang kala itu statusnya adalah
anak desa.
Hal itu cukup membuat sedikit permasalahan di dalam keluarga, tapi ketika kakek
melihat tekad ayah untuk menikahi ibu sangatlah besar, kakek mengijinkan dengan
syarat, ibu harus paham betul tentang permainan saham sebelum menikah. Ayah
35
hampir setiap minggu datang ke rumah ibu hanya untuk mengajarkan ibu dasardasar ilmu bisnis. Ayah adalah salah satu lulusan universitas terbaik pada saat itu.
Banyak wanita-wanita kaya mengagumi ayah, karena sosok spesialnya.
Namun, ketika aku tanya kenapa ayah menikahi ibu, ayah hanya menjawab,
“Tidak perlu sosok spesial untuk kau nikahi. Selama pasanganmu sudah
membuatmu nyaman, itu sudah lebih dari cukup.”
Kembali ke pokok masalah, ketika ayahku jatuh sakit dan saham yang dipegangnya
mengalami kemunduran, keluarga Emiya, ayah dari Rentaro datang menawarkan
kerja sama dengan syarat aku harus menikahi Rentaro. Awalnya ayah menolak keras
semua itu, karena bagi ayah cinta adalah kebebasan. Aku memiliki hak untuk
memlih pasanganku sendiri. Tapi desakan dari keluarga pusat jauh lebih keras,
dengan dalih “Demi kebaikan keluarga”. Alih-alih ayah terpaksa setuju, tapi ayah
mengajukan satu syarat yang dianggap bodoh oleh keluarga Emiya sebelum
menandatangani surat itu.
“Kalau Levya mendapatkan orang yang berkompeten dalam bidang bisnis untuk
dijadikan suaminya, maka perjanjian ini dibatalkan.”
Dengan mudah keluarga Emiya langsung setuju.
Dan setelah itu aku tidak tahu bagaimana dengan perjanjian itu, yang hanya kutahu,
keluarga Emiya akan mengurus pengobatan ayah karena bentuk apresiasi besar
terhadap ayah. Bisa dianggap seperti rasa terimakasih besar.
Satu minggu setelah mulainya pengobatan ayah, aku pindah ke desa karena ayah
sangat membutuhkan udara segar demi kesehatannya. Kala itu aku sedang jalanjalan dengan kakak laki-lakiku, namanya Shirou Nock Fliz. Kami berkeliling desa di
hari pertama kami pindahan untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan. Anak
laki-laki pertama yang datang padaku, ketika itu dia mengatakan pada kakakku,
“kalian anak kota, meskipun kalian senang disini, tapi kalian belum siap untuk
tinggal disini.” Dan benar saja ketika aku mulai sadar, anak itu bernama Nephium L
Colaros, atau aku sering menyebutnya El. Entah sejak kapan aku mulai
menyebutnya dengan nama seperti itu. Aku hanya merasa, nama itu cocok
dengannya. Itu saja.
Semenjak pertama kali datang ke desa aku selalu ingin berteman dengan El, untuk
alasan tidak jelas aku seperti sangat menginginkan itu terjadi. Dan kakakku
memperbolehkan aku untuk bermain dengannya, tapi karena omongan dari
sebagian teman di sekolah, perlahan aku mengurungi niat itu, karena kata mereka El
lahir dari keluarga tidak jelas dan itu menularkan kepada El sifat buruk ayahnya.
Berlanjut beberapa tahun kemudian, tepatnya ketika aku lulus dari sekolah dasar,
ketika aku masih berusaha mendekati El, aku mendengar dari kakak kalau dulu ibu
El adalah seorang artis yang menikah dengan ****, yang meninggal karena dibunuh.
36
Lalu aku mulai berpacaran dengan Rentaro, karena hal itu acap kali aku menatap El,
terkadang tatapannya terlihat ‘kosong’ seperti dia tidak menatap apa-apa.
Tapi aku tahu kalau El terkadang dijadikan bahan olokkan karena kemiskinannya.
Dan juga, karena kematian kedua orangtuanya. Bagiku, El adalah laki-laki kuat. Tidak
peduli bagaimana yang menatapnya, tapi El tetap bersikap biasa saja, seperti tidak
terjadi apa-apa. Itulah yang kupikirkan tentangnya, hingga pada hari itu terjadi
ketika El mencoba ingin bunuh diri, yang tidak sengaja kulihat sepulangku dari
sekolah.
Awalnya aku tidak tahu kalau itu adalah El. Tapi, ketika aku mengingat kembali
perkelahian El dan Rentaro, tanpa pikir panjang aku yakin kalau itu adalah El.
Berlanjut hingga El menolongku pada insiden malam itu, dan tanpa kusadari, kalau
‘rasa’ itu mulai tumbuh.
Malam itu El menyuruhku untuk tinggal sementara di rumahnya takut-takut kalau
penjahat itu balik lagi menyerangku. Awalnya aku senang, tapi ketika aku mencoba
berkeliling rumahnya pada malam itu, setelah El tertidur di kursi kayu, aku baru
sadar.
Hidup seperti apa yang selama ini dia jalani ditengah-tengah olokan terhadapnya
yang begitu kejam. Dan tidak sengaja aku menemukan potonya dengan seorang
wanita, yang kupikir itu adalah ibunya. Aku belum pernah melihatnya secara
langsung, tapi dilihat dari potonya, ibu El sangatlah cantik, dan dia seperti seorang
yang murah senyum. El sangat kecil di poto itu, dan dia terlihat sangat imut sekali.
Lanjut cerita, aku menemukan banyak sekali poto-poto El dengan ibunya, sebelum
dan sesudah ibunya menjadi seorang idol. Dia menyimpannya begitu rapi di bawah
kasur, dengan barang-barang lainnya yang kurasa sama penting baginya, mengingat
tentang ibunya, entah kenapa aku benar-benar senang diberi penjepit dan syal milik
ibunya. Apa mungkin itu berarti dia menganggap ku seorang yang penting baginya?
Dan katanya, aku mirip seperti ibunya. Jika kupikirkan, apa maksudnya ya...?
Pagi harinya aku membangunkan El yang masih tertidur di kursi, menyuruhnya
mandi dulu, lalu sarapan. Aku merasa cukup nyenyak tidur tadi malam, karena aku
merasa mungkin aku aman disini, karena ada El. Selagi menunggu dia keluar dari
kamar mandi, aku memeriksa dapurnya barang kali aku bisa membuat sarapan
untuk kita berdua. Alhasil aku terkejut, tidak ada satupun makanan di dapurnya
kecuali beberapa butir telur yang disimpan rapi di dalam lemari kayu berukuran
kecil di pojok dapur.
El keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian. Rambutnya masih basah
dengan sedikit beruap di sekujur tubuhnya, karena mungkin dia menggunakan air
panas mengingat pagi ini cukup dingin, aku memanggilnya dan menyuruhnya
sarapan. Ini pertama kalinya aku menginap di rumah laki-laki, lalu membuatkannya
37
sarapan, dan makan bersama. Aku sedikit canggung. Kami duduk berhadapan. El
menatap makanan di depannya, tapi terlihat dari mukanya dia sedikit kecewa,
karena penasaran apa yang dia pikirkan, aku bertanya sambil menyuap telur yang
kubuat.
“Apa kau tidak apa-apa El? Mukamu cemberut sekali, apa kau begitu tidak sukanya
aku buatkan sarapan?” Aku mencibir. El kelihatan tidak bereaksi-mungkin dia benarbenar membenci telur yang kubuat, jujur aku merasa sedih, “kalau memang tidak
enak, tidak usah dimakan tidak apa-apa kok.” Karena perasaan itu, aku
menundukkan kepalaku, menatap kakiku yang menyentuh lantai kayu.
“Bukan begitu.” Tiba-tiba dia berkata sambil menyuap beberapa kali, “aku hanya
berpikir, apa ini layak, sarapan dengan sebuah telur doang untukmu?” Tapi melihat
reaksi El, dia sedikit bahagia dengan senyum-senyum sendiri, “tapi aku senang kok,
kamu susah-susah membuatkan sarapan untukku. Terimakasih Levya.”
“Bilang aja enak. Dasar...”
Bisa dikatakan, pagi itu, aku tidak pernah merasakan pagi seperti itu. Aku merasa
sangat nyaman, bahagia, dan disamping itu semua aku bisa melupakan kejadian tadi
malam, malah aku ingin berterimakasih karena berkat itu, aku bisa ngobrol dan
tertawa bersama El. Walaupun hanya dengan dua buah telur tiap orangnya, yang
dinaungi rumah kayu yang perlahan dimakan umur, jika dingin tetap saja dingin
tidak menghangatkan, tapi suasana seperti inilah yang perlahan aku sadar, aku tidak
pernah mendapatkannya.
“Eh, kamu kenapa Levya?”
Aku hanya merasa saja, jika itu aku yang menjadi El, merasakan semua kepahitan
hidup ini, apa aku akan sanggup? Apa aku tahan untuk tidak menangis setiap
malamnya? Itukah yang dirasakan El? Selalu di tengah-tengah itu semua temanteman di sekolah selalu mengejeknya, tiap hari, dan tiap hari. Bahkan terkadang aku
juga termasuk.
Pernah suatu hari di awal masuk sekolah, aku duduk-duduk dengan beberapa
teman perempuan di taman. Kala itu kami sedang membicarakan beberapa fashion
terbaru di kota, tidak sengaja kami melihat El duduk di bangku taman dekat dengan
pintu kantin lagi menatap anak-anak lainnya makan. Salah satu dari kami berkata,
“Anak itu kudengar dari tetangganya, dia memaksakan pamannya yang sakit-sakitan
untuk bersekolah disini.”
Mendengar itu aku langsung merespon, aku berkata dengan sombongnya, kalau
anak itu- El, tidak pernah jajan dari awal masuk sekolah, tapi dia selalu melihat
kearah kantin. Jijik sekali. Begitulah kurang lebihnya. Yang kutahu sejak awal, El itu
bodoh, di segala pelajaran. Kami semua beranggapan seperti itu. Awalnya kukira,
38
dia hanya anak bodoh yang bersekolah di tempat seperti ini, tapi perlahan aku tahu,
kalau dia punya bakat, bahkan aku mulai meragukan kalau dia itu bodoh.
Suatu hari, ketika aku pulang telat, karena urusan piket kelas, aku menemukan buku
catatan di lorong depan kelas. Aku memungutnya, kulihat kiri kanan, lorong sudah
kosong, jadi aku memutuskan untuk membawanya ke dalam, mungkin ada namanya
di dalam. Itulah yang kupikirkan. Tapi ternyata tidak. Seluruh kertas di dalamnya
penuh dengan catatan keuangan yang cukup besar nominalnya, dan tidak ada
satupun petunjuk pemilik buku tersebut. Lalu El datang.
Kursi kami bersebelahan, melihatku sedang berpikir keras membolak-balikan kertas
di buku itu, dia berkata,
“Itu bukan milikmu kan?”
Karena terkejut, aku bertanya, “kenapa kamu tahu?”
“Dilihat saja sudah jelas kan, kamu menatap buku itu dengan tatapan seakan-akan
berkata, “ini punya siapa, tidak ada nama di dalamnya”, kan?”
Aku benar-benar terkejut, lalu aku bertanya lagi, “Kamu tahu ini punya siapa?”
Tanpa berkata-kata, dia mengambil buku itu. El membolak-balikan halaman demi
halaman, lalu melihat sampulnya beberapa kali, sejenak berpikir, kemudian
menagatakan kalau buku itu milik kepala sekolah. Aku bertanya padanya, “kok
kamu tahu ini punya kepala sekolah, apa kamu pernah melihat sebelumnya?”
Sambil merangkul tas di pundak dan mengecek sebentar loker mejanya dia berkata,
“kalau dilihat dari isi bukunya, sekilas itu adalah catatan-catatan terkait keuangan
kan? Memang sepenuhnya tidak salah, tapi tidak hanya itu, di dalam catatan itu
tertulis memo-memo singkat seperti, daftar-daftar sayur-sayuran. Memang itu
aneh, catatan keuangan dengan sayur-sayuran. Apa itu milik tukang sayur yang di
desa? Tentu saja bukan. Tapi bisa jadi iya.
“Disini tidak ada satu orang pun yang berprofesi seperti itu. Tapi bisa jadi
bagaimana kalau dia menyembunyikan profesi itu karena takut status dia sebagai
salah satu petinggi di sekolah ini. Harga diri yang tinggi, dan ego yang besar. Kepala
sekolah memiliki tanah tujuh hektar di belakang desa, lebih tepatnya sisi lain dari
bukit. Disana dia menjalakan bisnisnya, sekaligus menjadi kepala Persatuan
Perserikatan Dagang Pasar.
“Delapan puluh persen hasil sayur dan buah di pasar adalah dari tanah miliknya.
Sebenarnya bukan rahasia umum lagi diantara kami, tapi tetap saja untuk
menghargai status kepala sekolah, kami merahasiakannya karena takut hal-hal yang
buruk.” Jelasnya yang begitu detail.
Aku hanya bisa melongo mendengarnya, lalu menelan ludah sambil bertanya,
39
“Bagaimana kamu yakin kalau itu milik kepala sekolah?”
“Pertama, dilihat dari bentuk tulisannya. Setiap orang setidaknya punya satu atau
lebih tulisan huruf yang berbeda, tergantung dari cara mereka memegang pena.
Dan tulisan khas dari kepala sekolah ada di huruf P, S, dan A-nya. Yang kedua,
catatan ini sedikit berbau tanah gempur. Tanah yang sering dipegang oleh kepala
sekolah untuk mencocok sayur-sayurannya. Dan yang ketiga, buku catatan ini. Disini
tertulis di halaman depannya, beberapa nama yang dicoret-coret, pertama aku
pikir, apakah ini nama murid yang di keluarkan, namun nilai angka-angka yang
begitu besar yang di tulis di halaman selanjutnya menjelaskan itu semua. Mereka
ditulis dalam waktu yang sama. Kepala sekolah menulisnya di kantor dengan tulisan
cepat pada saat itu. Lihat saja tulisannya dengan cermat, nanti kamu juga akan
paham kok.”
Tanpa berkata-kata lagi El segera keluar dari kelas sambil melambaikan tangannya
kearahku. Pada saat itulah aku yakin, El benar-benar sangat hebat, tapi dia
menyembunyikan itu semua karena alasan yang tidak kuketahui.
“Hey, kamu kenapa sih Levya?” Lamunanku pecah dan aku sedikit kaget menyadari
wajahku dengan El hanya beberapa senti saja. “Kamu kenapa sih, dari tadi melamun
aja. Cepat habiskan sarapanmu lalu berangkat ke sekolah, aku ingin merapikan
rumahku dulu lalu membeli sayuran untuk nanti malam.” Dia segera menjauhkan
wajahnya ketika aku mulai sadar. Berjalan kearah westafel dan menaruh piring
kotornya disana sambil memeriksa lemari kecil tadi sewaktu aku mengambil telur.
Sadar akan sesuatu, aku bertanya, “Lho, kamu emang kagak sekolah hari ini?”
El berpikir sejenak, lalu dengan cepat dia menggeleng pelan sambil berkata, “Kurasa
aku putus sekolah mulai hari ini.”
Aku terkejut. El putus sekolah? Padahal kalau dia ku kenalkan pada ayah, apakah
tunanganku dengan Rentaro batal, itulah yang kupikirkan beberapa menit lalu.
Tapi, kalau El putus sekolah, ayah pasti menolak El begitu saja. Karena penasaran,
aku bertanya, “Kenapa?”
“K- kenapa? Ya... wajar sih, aku sudah tidak sanggup lagi untuk bayar sekolah. Untuk
makan saja mungkin susah, hehehehe...”
Tidak! Itu tidak benar! El pintar, aku tahu itu! Apapun yang terjadi, El tidak boleh
putus sekolah! Tidak boleh!
“Mmm... El, ka- kalau mau biaya sekolahmu aku yang tanggung, bagaimana?”
Sedikit terkejut, lalu El hanya tersenyum. Lalu berkata,
“Oh, aku menghargai kebaikanmu Levya, tapi maaf alasanku putus sekolah juga
karena aku ingin pindah ke kota.”
40
“Pindah, kenapa?”
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya pada siapapun, tapi tolong jaga rahasia
ini.”
Aku mengangguk.
“Aku dapat surat misterius tadi pagi, sebenarnya aku juga tidak percaya, tapi disurat
itu mengatakan kalau ibuku masih hidup.”
Ibu El masih hidup? Tapi kata kakak dia sudah mati.
“Aku juga tidak terlalu percaya, tapi aku ingin membuktikan dulu kalau ibuku
memang sudah mati.”
“Ta- tapi... gimana caranya?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku akan mencari tahunya sewaktu di kota,
mungkin.”
Kata-kata El seperti mengetuk hatiku. Dan yang dibelakang pintu itu adalah
gumpalan awan besar yang berusaha memberiku mimpi buruk untukku. Lagi-lagi El
pergi. Lagi-lagi harapan yang berusaha ku perjuangkan perlahan luluh, tak
terkendali. Lalu hancur, berubah menjadi ribuan debu kotor yang berterbangan
tanpa arah. Berhembus bebas dimakan cakrawala, dilupakan khatalustiwa. Jika ini
semua ku namakan, akan menjadi judul bencana yang dinamakan, Keputusan
Takdir.
Besok El akan pergi, itulah katanya sesaat sebelum aku memutuskan untuk kembali
ke rumah, karena ayahku akan pulang siang ini. Dan benar, ayahku pulang tepat jam
satu siang bersama ibu dan kakak. Kerusakan yang terjadi semalam tidak terlalu
parah, kecuali kaca jendela depan sebelah kanan. Ayah bertanya padaku
sepulangnya, “kenapa itu pecah?”
Aku hanya menjawabnya kalau itu perbuatan kucing. Tapi tentu saja kucing tidak
akan sampai berbuat seperti itu. Menyadari buruknya aku berbohong, ayah hanya
menggeleng-geleng kepala selagi aku tertawa kecil sambil mengusap-usap belakang
kepalaku.
“Oh iya Levya.” Ayah kembali memanggilku ketika aku mulai menaiki tangga,
“siapkan barang-barangmu, besok kita akan pindah ke kota. Ayah sudah menyuruh
Shirou untuk mengurus perpindahanmu untuk besok, bagaimana? Tentu saja kalau
kau masih betah tinggal disini kau boleh menggunakan rumah ini.”
Selama satu jam berikutnya, aku menceritakan pada ayah apa yang terjadi tadi
malam, dan aku juga menceritakan tentang El yang menyelamatkanku. Mendengar
41
itu ayah tidak terlihat terkejut, malah seperti dia menyembunyikan amarahnya
didepanku. Aku hanya terdiam, sambil bertautan jari-jariku aku menatap lantai
marmer yang sedikit memantulkan cahaya remang matahari yang menembus
melalui tirai yang tertutup di jendela.
“Kalau boleh ayah,” merasakan hening beberapa saat aku berucap pelan, “bolehkah
kita ajak El ke kota, dan kita biayai dia untuk sekolah?” Aku sedikit takut untuk
mengatakan itu. Yang hanya membuatku terdiam setelahnya dan menunggu
jawaban dengan perasaan berdebar-debar.
“Ayah akan kembali pertimbangkan, tapi sebelum itu coba panggil dia kemari. Ayah
ingin melihat anaknya langsung.”
Kakak memaksa untuk ikut. Aku sudah bilang padanya, aku hanya sebentar saja
perginya, tapi dia berkata dengan acuh tak acuh, “kakak harus bertemu langsung
dengan anak itu.” Tanpa peduli kalau mulutku sudah lelah untuk melarangnya,
akhirnya dia terpaksa kuajak. Kami menaiki mobil sampai di bawah bukit, lalu aku
dan kakak berjalan kaki keatas. Kalau kulihat dari bawah, rumah El terlihat seperti
sebuah kabin, yang kala itu kulihat di tepi danau White Swan di pinggiran kota. Aku
tidak terlalu memikirkannya.
El pernah bilang, dia akan ke kota pagi besok. Aku berharap dia benar belum
berangkat. Rumahnya terlihat sepi. Jam di tangan menunjukan pukul setengah dua
siang, karena kakak terlalu lambat jalannya aku menarik tangannya selagi dia
melihat air terjun di sebelahnya. Sesampai di depan rumah, mendadak kakak
langsung membuka pintu rumahnya begitu saja.
“Hei, kak, apa yang kau lakukan?”
Dia tidak menghiraukan omonganku, dan langsung masuk, bahkan tanpa melepas
sepatunya. Aku segera mengikutinya dari belakang.
“Kak, tidak sopan! Ini rumah orang tahu!”
“Sst, berisik! Temanmu sudah tidak ada.”
Melihat ke arah ruang tamu, lalu ke arah dapur. Kakak menyuruhku memeriksa tas
yang ada di atas meja di dapur. Awalnya kupikir itu milik El, karena aneh sekali El
pergi tanpa membawa tasnya. Kakak segera lari menuju lantai dua. Aku langsung ke
arah dapur. Memang kalau dipikir, mustahil El pergi begitu saja, dan kakak, kurasa
dia sekedar becanda, karena dari kecil kakak memang selalu ingin menjadi detektif,
seperti di anime yang selalu dia lihat tiap paginya. Bahkan hingga sekarang ini.
Sebelum kubuka tas itu, aku melihat ke sekeliling. Barang-barang masih telihat rapi,
tidak ada tanda-tanda kekerasan dimanapun, dan kalau dilihat ruang tamunya sama
seperti tadi pagi sebelum aku meninggalkan rumah ini. Hanya saja, aku sedikit
42
merasa aneh dengan tas itu, dan tanpa kusadari aku menginjak kertas yang dijepit
menggunakan kursi di dekat galon air.
Aku mengambil kertas itu. Tidak ada tulisan apapun. Hanya putih bersih, tidak ada
coretannya.
“Aneh...” Aku bergumam sendiri. Setelah berkeliling beberapa kali, aku mulai
memeriksa tas itu. Isinya seperti biasa. Seperti orang yang ingin berpergian jauh
untuk waktu yang lama. Tiga stel kaos lengan pendek, dua kaos lengan panjang,
lima celana panjang, empat celana pendek, delapan celana dalam, lalu... sebuah
buku. Buku kecil berwarna biru muda di balik tumpukan kompas dan peta, lalu ada
juga pulpen, beberapa buku baca salah satunya buku yang sudah usang, dan juga
empat buah surat yang belum dibuka.
Beberapa saat kemudian kakak kembali dengan muka kurang puas. Berkeliling
mengitari meja makan, dengan tangan kanan menyentuh dagunya, seperti sedang
berpikir keras, aku berkata dengan nada sebal.
“Kita sudahi permainan detektifnya kak, tidak baik memeriksa rumah orang begitu
saja tahu!”
Selama beberapa putaran akhirnya kakak berhenti, lalu menatapku dengan serius.
“Temanmu barusan saja diculik, dasar bodoh.”
43
Eps. 6
Kalau itu Kamu, apa yang Kamu inginkan? <part 2>
Sewaktu kecil, aku hanya bermain beberapa kali saja dengan El. Dia anak yang
pemalu, tidak akan bergerak jika tidak ada yang menyuruhnya, tidak tertarik dengan
candaan anak kecil, dan juga tidak tertarik dengan taman bermain. Awalnya aku
pikir, dia anak yang membosankan, tidak bisa diajak bermain, bahkan tidak tertarik
bermain apapun. Tapi beberapa hari kemudian aku baru sadar, kalau dia belum
terbiasa berbaur dengan orang lain. Dia selalu mengambil tempat paling pojok, lalu
menyendiri disana. Terkadang dia tidak nyambung kalau diajak berbicara tentang
mainan terbaru, iklan-iklan terbaru, bahkan sampai jajanan terbaru di sekolah.
Perlahan aku juga mulai sadar tentang itu, El tidak pernah jajan, dan tidak punya
mainan. Lalu suatu hari aku membawakan mainan kakak, dan memberikannya. El
terlihat kebingungan, dia hanya melihat-lihat robot yang ku berikan, lalu bertanya.
“Untuk apa ini?”
“Diculik? Jangan becanda kak“Aku serius! Dia baru saja diculik. Mungkin beberapa saat lalu, sebelum kita kesini.”
Kakak kembali mengitari meja makan, “kapan terakhir kamu bertemu dengannya?”
Lalu bertanya sambil mengambil satu piring di westafel.
“Pagi tadi, sebelum pulang ke rumah.” Jawabku.
“Ya, tau. Kapan lebih tepatnya?” Kakak semakin serius menanyakannya.
“Mmm... sekitar jam delapan, mungkin?”
Setelah melihat ke sekitar, kakak kembali menaruh piring itu di westafel. “Piring ini,
baru saja digunakan. Dia memakan sayur bayam pak Kepala sekolah, sekitar tiga
puluh menit yang lalu.”
“Dari mana kakak tahu?”
“Ya, jika dilihat-lihat saja sih mungkin“Bukan yang itu. Dari mana kakak tahu, kalau El habis makan sayur bayam pak
Kepala sekolah?”
“Tadi kakak mencobanya sedikit.”
44
Mendengarnya aku sedikit mual. Kakak kembali memeriksa dapur lebih teliti lagi,
sampai-sampai memeriksa kolong-kolong lemari, meja, lalu menemukan kertas itu
di bawah meja.
“Kertas apa ini?” Lalu mengambilnya.
Kakak membuka surat itu, dan ketika melihat kertas itu kosong, dia mencium kertas
itu. Karena semakin aneh, aku menjauhi kakak, dan duduk di sofa tua di ruang tamu.
Aku merebahkan punggungku, menghela napas, dan menaruh buku biru kecil itu di
meja bulat di samping. Aku masih tidak percaya El diculik, lagipula siapa yang ingin
menculiknya? Pikirku dalam-dalam. Suara di dapur semakin risuh, kurasa kakak
membongkar-bongkar lemari. Biar saja, kalau El pulang aku akan pura-pura tidak
kenal dengan orang aneh itu.
Ketika mataku memandang tiap inci dari rumah ini, aku sadar rumah ini hanya
berukuran 8x8 saja, seluruh temboknya hampir terbuat dari kayu, begitu pula
dengan perabotannya, lalu kamar yang ada di lantai dua berukuran lebih kecil,
kisaran 3x3 saja. Rumah El bisa dikatakan seperti kabin, perapian yang ada di ruang
tamu sedikit berdebu, empat poto El dan ibunya yang dipajang di atas perapian juga
sedikit berdebu. Tapi rak bukunya terlihat sangat bersih dan terawat. Jendela kaca
di ruang tamu langsung menghadap kearah taman kecil di depan rumah, membuat
cahaya matahari menjadi satu-satunya sumber cahaya di rumah ini. Rumah El
kosong. Tidak ada televisi, radio, ataupun internet. El sejak kecil hanya
diperbolehkan membaca buku. Kakeknya sangat menghormati buku lebih dari
apapun, dan sifat itu sedikit tertular kepada El.
Sudah hampir setengah jam kakak mengobrak-abrik dapur, dan aku, aku hanya
duduk sambil mendengarkan suara melodi piano dari telepon genggam. Aku
memang sedikit curiga, El kok lama sekali datangnya? Yang membuatku menerima
satu-satunya pilihan, kalau El memang diculik. Tiba-tiba dengan wajah menakutkan,
karena alis tebalnya ditekuk, kakak menghampiriku, terkejut aku langsung saja
berdiri dan bertanya,
“Bagaimana kak hasilnya?”
Kakak hanya menggeleng saja. “Aku hanya dapat surat kosong itu, dan parfumnya...
ada yang aneh...”
Tanpa berkata aku langsung mengambil surat itu dari kakak, dan menciumnya. Dan
benar saja, aroma parfum yang sangat menyengat tercium darinya. Aroma ini terasa
familiar di hidungku. Aku tahu parfum ini hanya ada di kota saja, dan juga setahuku
El tidak pernah pakai parfum.
“Apa kakak tahu, parfum apa ini?” Aku bertanya sambil mengembalikan surat itu.
45
Jari telunjuk kakak berputar-putar di udara, sambil kepala menganga, berkeliling,
dan sedikit bergumam. “Kurasa aku tahu itu punya siapa.” Tiba-tiba kakak berkata
dengan nada yang antusias.
“Siapa kak?!” Terkesiap aku lengsung melompat kearahnya, dan memegang
pundaknya erat.
“Oe, oe, oe, biasa saja kali.” Kakak mendorongku sedikit menjauhinya, selagi dia
perlahan duduk di sofa tadi kutempati, dia mengambil buku kecil biru itu.
“Semalam, berapa orang yang datang kerumah?” Dan bertanya sambil membuka
halaman pertama buku kecil itu.
“Satu orang“Dan bentuk fisiknya seperti apa?”
“Besar, suaranya berat, dan kurasa dia botak.”
“Baiklah itu cukup. Jangan kaget ya...”
Aku mengangguk sekaligus tidak paham apa yang dimaksudnya.
“El diculik dengan orang yang sama yang ingin menculikmu tadi malam.”
Karena hampir tidak percaya, aku tertawa kecil. Aku menatap kakak seolah-olah itu
adalah hal yang mustahil, tapi kakak menatapku serius yang membuatku ketakutan
sekaligus mulai percaya, kalau El benar-benar diculik. “Yang benar saja, kakak
jangan bercanda“Siapa yang bercanda, dasar bodoh!” Nadanya sedikit diangakat, “cemas dikit kek
sama temanmu, dasar adik bodoh!” Lanjutnya tanpa sedikit pun memandangiku.
Aku tersentak. Napasku seakan berhenti, jalur oksigen di tenggorokan seakan
menyempit. Perlahan karena cemas, aku menelan ludah. Menyadari kegelisahanku,
kakak berkata sambil melempar buku itu padaku.
“Ini pegang. Besok kita akan ke kota, dan jangan beritahu ayah soal ini. Kakak janji
sesampainya di kota kakak akan membawa temanmu pulang.”
Terkejut mendengarnya aku sedikit tidak percaya, “apakah kakak tahu siapa
menculiknya?”
“Belum pasti juga, tapi hanya dia yang melakukan ini semua. Dan juga parfum itu
dari perusahaan terkenal namanya kalau tidak salah, El Dorado.”
Sore harinya kakak langsung pergi ke kota ditemani bibi Maya menggunakan mobil
sedan hitam miliknya. Sebelum pergi, kakak menyuruhku menghubungi Rentaro,
pesannya suruh menemui kakak di tempat itu. Aku tidak tahu, apa tempat itu.
46
Segera setelahku membantu ibu memasak untuk makan malam aku menelponnya.
Kamarku setengahnya perlahan mulai kosong, hanya menyisakan tempat tidur,
lemari, cermin dengan meja tempatku menaruh alat-alat kecantikan, komputer, dan
beberapa kardus kosong yang belum kuisi dengan baju-baju. Kata ayah jam tujuh
besok aku perginya bersama ibu, sedangkan ayah dan paman Felix sibuk mengurusi
sisa-sisa piutang pak kepala sekolah yang bersangkutan dengan tanahnya.
“Halo, ada apa Levya?” Tiba-tiba suara Rentaro memecah lamunanku dari balik
ponsel. “Halo...”
“O, oh ya... apa kabar Rentaro?” Karena terkejut aku tidak sengaja melepas boneka
panda ku.
“Baik-baik saja. Ada perlu apa telepon jam segini?”
“Enggak, aku hanya.... maksudku tadi kakak sebelum pergi“Oh ya, kudengar kamu mau balik ke kota ya? Kapan?”
“Besok, mungkin.”
“Nanti kamu mau ngelanjut sekolah dimana? Bagaimana kalau di sekolahanku.
Nanti akan kuurus semuanya kok, kamu mau kan?”
“Entahlah Rentaro, aku juga belum tahu mau kemana. Untuk saat ini, aku punya
sedikit masalah, jadi aku masih belum“Masalah? Memang masalah apa?”
“Enggak kok, masalah sepele doang.”
“Kalau kamu memang butuh tempat curhat, aku mau kok mendengarnya, karena
kita kan paca“Oh ya, ngomong-ngomong tadi sebelum kakak pergi dia menitipkan pesan
padaku,” sepontan aku memotong perkataannya, “katanya besok kamu harus ke
tempat itu.” Sambungku.
“Tempat itu?”
“Aku juga enggak tahu, kakak cuma ngasih tahu gitu doang. Memang kamu enggak
tahu dimana?” Sambil berjalan mengambil bonekaku yang terjatuh, aku mengambil
buku biru itu di meja, lalu membuka halaman pertamanya.
“Enggak tuh, tapi mungkin kakakku tahu. Nanti akan kusampaikan.”
“Ya sudah terimakasih, bye.”
Segera aku menutup teleponnya, dan melempar hp kearah kasur. Jujur saja, aku
tidak tertarik sama sekali dengan Rentaro. Bukan karena aku terpaksa pacaran
47
dengannya, tapi aku hanya tidak suka dengan sifatnya, dan juga... keluarganya.
Terutama kakak laki-lakinya. Dia adalah orang pertama yang tidak ingin kuingat
tentangnya. Sifatnya buruk, hanya memikirkan ambisi bodohnya untuk menguasai
seluruh saham keluarga besarnya, dan juga kesombongannya tak kalah dengan
egonya yang sangat besar.
Halaman pertama buku milik El, hanya berisi tulisan-tulisan aneh yang sama sekali
tidak kumengerti. Contohnya, di pojok kanan atas ada lambang lima bintang yang
dilingkari, lalu di bagian tengah kertas empat nama aneh, seperti: Niphelheim,
Rahasia Tujuh Bintang, Salju yang Menangis, Golden Apple. Dan ada juga tulisan
kecil, Pohon Dunia. Segera kubuka halaman selanjutnya. Isinya poto ibu El yang
sengaja dipotong kepala orang yang disebelah poto itu. Aku tidak tahu itu siapa,
tidak ada keterangan apapun disini.
Ibu El sangat cantik, jujur saja. Aku sangat mengaguminya. Rambutnya panjang
sepundak berwarna cokelat oriental, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu
pendek, suaranya halus, tatapannya juga sangat bersahabat. Awal ku bertemu ibu El
waktu di panggung Opera setelah beliau pentas drama tentang para dewa-dewi
yang berperang demi wanita yang ingin dinikahinya, aku banyak mengobrol
dengannya waktu itu. Dia banyak sekali menceritakan tentang keluarganya yang ada
di desa, dia juga memberitahuku kalau ibu El punya anak laki-laki yang seumuran
denganku. Lalu aku juga bertukar pengalaman sedikit bersamanya.
Awalnya aku pikir semua akan berjalan sesuai keinginanku. Kehidupan ini. Aku ingin
bersama orang yang kucintai, hidup senang, bersekolah, tidak ada sama sekali
hambatan. Itulah yang selalu kupikirkan, sampai aku tahu betapa menyedihkannya
hidup sampai-sampai banyak orang yang berakhir sebagai penjahat karena bukan
keinginannya, bunuh diri karena hutang yang begitu menumpuk, menjadi
berandalan, pengemis, bahkan sampai gila.
Mereka hanya memandang dengan mata sebelah, hanya berucap dibalik layar, dan
berteriak-teriak dengan nama Hak Asasi Manusia, mereka itu tidak lebih hanyalah
sampah yang sebenarnya.
Kubuka halaman selanjutnya.
Mereka menyebut tempat ini dunia,
Kusebut dengan sampah.
Mereka sebut cinta itu segalanya,
Kusebut tidak lain hanyalah omong-kosong.
Mereka sebut cairan emas adalah harta,
Kusebut tangisan pedih.
48
Merekalah sampah dunia yang berteriak di balik nama Hak Asasi Manusia.
Yang tertawa di balik tangisan kelaparan,
Yang berpesta di balik laparnya satu keluarga.
Dunia kejam, tapi tempat yang indah,
Jika kau menemukannya.
Puisi singkat itu selesai. Di bawahnya ada nama Nephium L Coloros.
Dan sekali lagi... secarik kertas yang tertulis beberapa bait puisi yang tersusun rapi.
Aku berdiri bagai sebuah nama di ujung jalan.
Ditelan bayang-bayang, yang terkikis oleh angan-angan.
Terhuyung tapak ini melangkah bagai tiupan angin yang tak dapat kuhentikan.
Menuju mentari di ujung senja tanpa mampu kuhalang.
Lenyap ingatanku sesaat kali ini tanpa mampu kutahan.
Terlihat larik cahaya panasnya sang mentari, terbayang rumpun bunga yang bersemi.
Semua menyeruak bagai mengiris hati.
Lentera hijau yang terang kini mulai meredup.
Mengantarkanku ke sisi sunyi kehidupan yang terbungkus oleh katup.
Meninggalkan sebuah cinta dan kenangan yang terukir setiap waktu.
Akhirnya kotak Pandora pun tertutup.
Bagai sebuah nama,
Aku berdiri di ujung jalan.
Aku tidak tahu kenapa, air mataku terjatuh begitu saja. Dan aku sadar aku seperti
disindir secara tidak langsung. Entah, aku tertawa pelan, menertawai diriku sendiri.
“Levya... ada temanmu nih datang....”
Dari lantai satu suara ibu memanggilku. Aku tidak langsung menanggapinya tidak
seperti biasanya kulakukan, aku masih saja terpaku dengan puisi ini. Udara yang
senyap, ranting-ranting yang mengetuk-ngetuk jendela serasa memelukku begitu
erat hingga sulit untukku bernapas. Yang tertawa di balik tangisan kelaparan,
membuat perutku sakit, sesakit mereka merasakannya. Mungkin ini hanya sekedar
ilusi semata saja, tapi mengingat wajah El terlintas tipis di benakku membuatku
merasakan hal itu semua.
49
Lalu, aku memberanikan diri membuka halaman selanjutnya buku kecil ini.
Tanggal 29. Hari ini aku sempat berbicara dengan Levya meskipun hanya sebentar.
Aku senang, setidaknya dia tidak memandangku seperti anak-anak lain melihatku.
Besok aku harus memberanikan diri menyapanya lagi. Semangat diriku!
Aku meraih pulpen di meja setengah lingkaran yang terbuat dari pahatan kayu
mahoni khusus di sebelah ranjangku. Lalu menuliskannya sebagai jawaban dariku.
Tanggal 29, aku juga senang disapa oleh El. Aku harap untuk kedepannya dia akan
lebih sering menyapaku lagi. Levya.
Malam itu kuhabiskan untuk membalas semua tulisan diary-nya, hingga tidak terasa
jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam. Udara di luar semakin dingin yang
masuk melalui celah-celah jendela, suara khas burung hantu meramaikan malam
yang sepi ditemani jutaan bintang bersinar terasa nyaman begitu kurasakan. Dari
kecil aku sangat menyukai malam. Karena ada bintang. Dulu kakek pernah berkata
padaku,
“Jika Levya menemukan bintang yang menari-nari itu artinya ada seseorang yang
kangen dengan Levya.”
Waktu itu aku menjenguk kakek dari ibu waktu liburan sekolah. Meski hanya
beberapa hari saja aku merasa terlepas dari semua penat dunia yang selalu
mengejar-ngejar ku. Aku kangen dengan kakek dan nenek. Selama hidup mereka,
aku hanya bertemu lima kali saja. Dan itu adalah lima hari terbaikku di dunia. Nenek
meninggal karena penyakit, dan kakek terjatuh ke jurang saat menggiring dombadombanya di bukit. Ibu sempat syok saat itu selama beberapa hari, hasilnya kerjaan
ayah mengurus bisnis sempat terhambat.
Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda pesan masuk. Aku membukanya. Icon kecil di kanan
atas menggambarkan icon pesan sebanyak lima buah sekaligus. Pesan itu semua
dari kakak. Kubuka yang pertama dengan jantung yang berdetak lebih cepat yang
hampir copot rasanya.
El sudah aman. Saat ini dia sedang istirahat di rumah kakak. Maya yang merawat
sebagian luka-lukanya jadi tidak usah khawatir.
Seperti hatiku ingin meledak saja, aku sangat bahagia. El selamat. Hanya kata-kata
itu saja yang terngiang di otakku selama beberapa saat. Mataku berusaha menahan
air mata terjatuh tapi begitu sulit mengingat betapa senangnya diriku. Tak hentihentinya aku bersyukur. Lalu pesan kedua, kakak memberitahuku besok pagi aku
langsung saja ke rumah kakak. Pesan ketiga, Kakak minta dibawakan novel-novel
detektifnya yang tertinggal di kamarnya. Yang keempat, kakak minta bawain puding
sisaan di kulkas untuk dibawa ke rumahnya besok pagi. Dan yang kelima, aneh.
Hanya pesan kosong. Mungkin kakak kepencet atau apalah. Itulah yang kupikirkan.
50
Jika teringat olehku, malam itu aku tidak bisa tidur. Hanya wajah El yang kulihat
ketika mataku terpejam lembut, aku mengingatnya sekali lagi, aku tidak bisa
melupakannya untuk selamanya.
51
Eps. 7
Jika Kusadar, Pada Saat Itu Aku Mulai Mencintaimu.
Sinar matahari yang masuk melalu celah-celah tirai yang masih tertutup
membangunkanku seketika, ketika kusadar cahaya hangatnya memaksa mataku
terbuka, lalu tersadar saja kamarku masih gelap. Suara risuh di bawah diikuti suara
ibu berkali-kali menyebut satu per satu nama pembantuku yang pertama kali
kudengar setelah suara kicauan merdu burung yang masih bertengger di dahan
pohon bermelodi lembut yang memanjakan telinga.
Aku segera menyingkirkan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhku, dan
beranjak dari kasur. Cahaya matahari yang masuk seutuhnya setelah tirai kubuka
adalah satu-satunya sumber cahaya di kamarku yang menerangi keseluruhan
ruangan yang sebentar lagi kutinggal. Mungkin aku akan sedikit rindu dengan
kamarku ini, dan juga desa ini. Mengingat sebagian masa kecilku kuhabiskan di
tempat ini.
Suara berat yang pelan terdengar dari balik pintu kamar perlahan mendekat. Suara
pintu terbuka diikuti suara ibu yang memanggil namaku muncul sedikit
mengejutkan kusesaat.
“Levya, ayo sarapan lalu kita berangkat.”
Aku hanya mengangguk lalu berkata, “Ya bentar lagi bu. Aku ingin siap-siap dulu.”
Kemudian ibu menutup pintu tanpa berkata apa-apa sambil tersenyum. Kubuka
lemari mengambil satu dress panjang berwarna kuning cerah dan memakainya.
Mengambil ikat rambut di laci lemari, dan memakainya hingga rambutku rapi berstyle pony tail. Kusisir sesaat. Setelah aku yakin siap, aku beranjak keluar dari
kamar. Ruangan lantai dua sudah mulai kosong, yang hanya menyisakan sisa-sisa
kardus beberapa tumpuk di depan kamar kakak dan ibu. Di lantai satu beberapa
petugas pengangkut barang mondar-mandir memindahkan barang ke dalam mobil
untuk siap diangkut. Aroma roti bakar dengan susu hangat bertebaran di atmosfer
padat rumah, merasakan perutku keroncongan karena lapar langsung saja aku
menuruni tangga dan berjalan ke dapur.
Ibu dibantu empat orang pembantu menyiapkan sarapan yang tersusun rapi di atas
meja. Selama sarapan ibu tidak mengatakan apa-apa, hanya suara gesekan garpu
dan sendok yang mengisi kekosongan diantara kami berdua. Setelah sarapan suara
klakson mobil berkali-kali terdengar, menurut saja ketika ibu menyuruhku untuk
berangkat duluan aku membawa beberapa novel kakak yang tertinggal yang sudah
disiapkan salah satu pembantuku. Dia memberikanku buku itu.
“Ayo cepat Levya, kereta akan berangkat.”
52
Yang mengantarkan aku ke kota adalah salah satu pamanku, namanya Gin
Akashirama.
“Kau hanya membawa tasmu saja?” Paman bertanya padaku sambil memakai kaca
mata hitam kesayangannya yang selalu dipakai setiap acara apapun, yang selama
aku tahu darinya sambil berkaca di spion mobil.
“Barang-barangku beberapa sudah diangkut tadi malam paman.” Jawabku sambil
memperhatikan paman yang tidak henti-hentinya bercermin.
“Baiklah. Ok kalau begitu.”
Perjalanan dari desa ke kota hanya mengambil waktu empat jam saja menggunakan
mobil lewat via tol yang baru saja dibangun beberapa bulan lalu. Paman tak hentihentinya bersenandung sesekali besiul seperti burung. Jalan yang menghubungkan
ke arah kota ada lima jalan utama, dan tiganya adalah via tol. Baru-baru ini pak
walikota sengaja membuat tol dengan membelah bukit, dengan alasan sebagai
pemandangan tambahan berupa pegunungan sebelum masuk ke kota. Memang,
kali ini mobil sedan berkecepatan 230 km/jam yang kutumpangi tengah melintas di
tengah-tengah jalan tol yang kosong. Serasa dipeluk oleh alam sekelilingku selama
perjalanan satu setengah jam hanya dipenuhi pegunungan dan sawah-sawah.
Sesekali terlihat kembing-kambing diatas bukit, dan llama liar yang begitu saja
berjalan di tengah-tengah jalan.
Angin kencang diikuti udara segar pegunungan menampar-nampar wajahku begitu
nyaman, perlahan mataku terpejap-pejap.
“Sudah mulai ngantuk?” Suara paman tiba-tiba seperti mengejutkan ku sesaat.
Aku hanya menggeleng saja. Paman Gin salah satu orang setelah keluargaku yang
kurang setuju hubunganku dengan Rentaro, menurut paman keluarga Rentaro
sudah menjadi rahasia umum diantara para pembisnis besar, bahwa keluarganya
selalu melakukan kecurangan tiap kali bersangkutan dengan politik, permainan
saham, dan kontrol dagang pasar di tiap keluarga cabangnya. Kata paman, aku
berhak mencari laki-laki keinginanku, dan juga diam-diam paman berusaha
membuat hubunganku dengan Rentaro renggang.
Tapi karena paman bercerai dengan istri pertamanya lima bulan lalu, paman
sekarang menjadi lebih tertutup, entah karena alasan apa. Tidak ada alasan untukku
mencampuri urusannya, membuatku terdiam, dan sedikit berpikir, kalau paman
sudah tidak berniat mencari pengganti lagi. Suara hembusan angin yang sedikit
kencang, karena awan-awan hitam perlahan berkumpul disekitar gunung
menghembuskan angin yang cukup kencang, dan aroma hujan yang perlahan
tercium, paman sedikit mengencangkan mobil hingga sampai 250 km/jam.
“Kudengar dari ayahmu, kau ingin membantu temanmu itu, e... kalau tidak salah
namanya... El? Apa kau yakin?”
53
“Inginnya sih begitu, tapi ayah masih belum mengijinkannya. Katanya ayah ingin
lihat dulu anaknya, baru ngasih keputusan.”
“Kalau menurut paman, kenapa tidak?”
“Lho, alasannya kenapa paman? Apa paman tipe orang yang percaya pada orang
asing yang belum dikenalnya?”
“Tidak, hanya saja kalau yang ngomong itu Levy kecilku, tentu paman akan
percaya.”
Mendengarnya, aku hanya diam saja sambil menatap kearah pegunugan yang
semakin jauh.
“Apa paman sekarang menjadi pedophil?” Aku mengatakannya sambil merasa jijik
membayangkannya.
“Hahahaha... bilang apa kamu Levy. Tentu saja paman tidak seperti itu.” Sebelum
melanjutkannya, paman membuang putung rokok ke jalan. “Cinta paman kepadamu
lebih tepatnya, seperti bapak dan anak. Kau harus tahu itu, jadi masa depanmu
adalah masa depan paman juga. Masalah siapa yang kau sukai itu terserah kamu,
paman hanya bisa mendukung, tapi ingat kalian belum nikah, paman tidak akan
mengijinkan kalian bertindak ‘jauh’ oke?”
“A... a.... apa maksud paman?! Enggak mungkinlah aku seperti itu! Dasar paman!”
“Iya hahahaha, maaf, maaf... tapi camkan kata-kata paman ya... Levy kecilku...”
Lalu kami sampai di gerbang kota beberapa menit kemudian. Kota ELvenGarden
berada di balik dinding besar yang terbuat dari lempengan besi, memutari seluruh
kota dengan kemewahannya. Gerbang barat yang dilalui paman dijaga empat
penjaga bersenjata lengkap memberhentikan mobil kami.
“Ya... hari yang indah kawan...” Tanpa basa-basi yang kubenci dari orang dewasa
biasa melakukannya, pamanku segera mengeluarkan kartu otoritas bangsawan,
begitulah mereka menyebutnya. Sebuah kartu nama keluarga bangsawan, yang
dicap langsung oleh keluarga kerajaan ELvenGarden.
“Silahkan masuk tuan, maaf mengganngu mu.” Penjaga itu segera membalikkan
badannya, dan mempersilahkan paman lewat.
“Penjaga itu benar-benar menyebalkan ya, Levy.” Kata paman setelah melewati
panjaga itu sekitar satu menit kemudian. Aku hanya mengangguk sambil
memerhatikan penjaga itu menutup kembali portal.
“Maksud paman apa?” Aku bertanya setelah sesampainya di bunderan menuju
kediaman kakak yang berjarak empat kilometer dari pusat kota.
54
“Mmm... kalau kau tahu ya Levy kecilku, sebenarnya mereka hanya melayani orang
seperti kita saja. Tapi bagi orang-orang imigrasi mereka itu sama halnya dengan
para koruptor di kerajaan yang sering bermain saham-saham busuk dengan para
bangsawan.”
Aku sedikit mengerti, setidaknya yang kutahu ibukota kerajaan ELvenGarden
sekarang diajabat oleh ratu muda yang berumur dua puluh empat tahun, Ratu Emliy
L Freyja namanya. Setelah Raja Regis meninggal dunia diumurnya yang ke-65,
anaknya Emily L Freyja diangkat menjadi ratu diumurnya yang ke-20 tahun. Dan itu
sedikit membuat para menteri yang sedikit haus akan kekuasaan perlahan selalu
membuat onar di kerajaan. Ibukota kini sedang tahap kerisis ekonomi dikarenakan
beberapa tanah kerjaan yang diuar gerbang perlahan diambil alih oleh kerajaan
tetangga.
Perang memang telah terjadi jauh sebelum raja Regis meninggal, tapi belum sampai
pertumpahan darah, hanya perang ideologi, dan intertaiment, dengan kata lain
menyebarkan isu-isu buruk di beberapa channel berita. Ratu Emily tidak jarang
selalu mengirim utusannya ke kerajaan Vanaheimr hanya untuk mengadakan
gencatan senjata, tapi selalu ditolak dengan alasan tidak jelas, seperti “Aku tidak
akan mau menerima dunia busuk ini selamanya!” Itulah yang dikatakan paman
padaku.
Memang untuk anak kecil seusiaku, ini adalah masalah besar yang tidak mungkin
kupahami begitu saja, tapi setidaknya aku yakin begitu saja, El tahu tentang ini kalau
diselidiki lebih jauh tentangnya. Ngomong-ngomong tentang El, kami mulai
memasuki jalan menuju perumahan mansion kakak di tengah-tengah ibukota.
Mansion kakak hanya berjarak dua puluh menit saja dari istana Ratu Freyja, dan
lima menit dari taman besar ibukota yang disebut AsgardGarden. Disebut mansion
sebenarnya kurang, karena kakak sebenarnya tinggal di kantor perusahaannya, yang
mana lantai atasnya dijadikan kakak sebagai rumahnya.
Gedung kakak memiliki lima puluh lantai, yang dimana setiap lantai mengurusi
bisnis yang berbeda-beda milik cabang keluarga, karena kakak setelah kelulusannya
dari untiversitas langsung ditunjuk sebagai kepala cabang oleh kakek, selaku
pemimpin umum keluarga Fliz. Paman memberhentikan mobilnya di depan pintu
gedung yang dijaga dua orang satpam bertubuh besar, berpakaian serba hitam
dengan kaca mata hitam menutupi kedua matanya.
“Ok Levy, paman hanya bisa mengantarkanmu sampai sini saja ya.”
“Terimakasih paman, oh ya“Sebelum itu Levy,” sebelum aku membuka pintu mobil paman menarik tangan
kiriku yang hendak melepas pengunci sabuk pengaman, “sebenarnya, kalian berdua
sudah paman daftarkan di sekolah milik teman paman, jadi pastikan besok kalian
tidak terlamabat, oke?” Sambungnya.
55
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk. “Baiklah paman, terimakasih atas
bantuannya.”
Pintu kaca otomatis terbuka begitu saja, mempersilahkanku masuk diikuti dua orang
satpam tadi mengikutiku hingga pintu lift di sebelah tangga berputar yang
menghilang di balik tembok bercat krem cerah. Ruangan lantai satu gedung ini diisi
satu meja tempat resepionis, ruang tunggu di sebelah taman kecil di samping
gedung, lift yang dihiasi vas berisi bunga lily di samping pintunya, meja dari kayu
mahoni terbuat khusus untuk tempat tunggu orang yang berkepentingan disebelah
meja resepsionis itu, yang sekarang dijaga oleh kenalan kakak sewaktu di
kuliahannya. Aku menekan tombol lantai lima puluh sewaktu di dalam lift, dan aneh
saja, tidak ada alasan khusus sewaktu kupikirkan, kenapa jantungku berdetak begitu
cepat?
Satu menit terasa begitu lama seperti sejam, atau mungkin lebih di dalam lift. Jika
aku tidak berbohong, mungkin saat ini aku lebih mencemaskan El, ketimbang
siapapun di dunia saat ini. Aku hanya menatap kota dari ketinggian, yang
mengungkapkan tirai keanggunan ibukota dari dalam lift yang tembus pandang, aku
bernapas dalam kesendirian, berpikir lebih keras dalam kecemasan, yang
memaksaku untuk tetap bersikap tenang sewaktu detik berjalan begitu saja
melewatiku tanpa permisi, dalam kesombongan dia berlari meninggalkan siapapun
yang tidak mengikuti arusnya yang disebut kehidupan.
Akhirnya sampai, pintu lift terbuka di depanku menampakkan ruangan, atau lebih
tepatnya lorong yang lebih sempit dari lantai satu di hadapanku saat ini. Aku
melangkah keluar, berbelok ke barat dan berjalan di keheningan ruangan kosong
yang menyapaku dari dalam ruangan hampa yang menghasilkan suara langkahku
bergema memelukku erat.
Sesampainya di depan pintu ruangan pribadi kakak, aku terdiam. Sekali lagi karena
alasan bodoh yang tidak kuketahui, tanganku sedikit bergetar memegang knop
pintu.
“Aku yakin El ada disini, aku percaya dengan kakak sepenuhnya.” Kata-kata itu
selalu ku lapalkan di hati berkali-kali, seperti seorang alkemi mengucap mantra
jampi-jampinya sewaktu ingin menyummon monster yang sangat besar, begitulah
kurasakan. Setidaknya.
“Permisi.....”
Mungkin inilah yang disebut takdir. Takdir dalam pertemuan yang bodoh, aku
melihatnya duduk di beranda dengan angin sepoi-sepoi meniup lembut rambutnya
yang hitam panjang itu ditemani secangkir apalah itu, aku tidak tahu. Aku
menatapnya dengan senyum bahagia pada saat itu.
Mungkin inilah yang disebut...
56
Sebagai ‘Cinta Bodoh’.
57
Eps.8
Kamu Boleh Menyebutku Bodoh
Suara adalah salah satu cara agar manusia bisa mengenalmu lebih jauh. Disaat kau
berkata, berpikir seperti kritikus terkenal, atau bernyanyi seperti artis terkenal kamu
akan lebih cepat dikenal oleh khalayak ramai. Berbeda dengan orang yang
menghabiskan sehari-harinya dibalik layar, seperti penulis, produser suatu film,
mangaka, atau apapun itu, mungkin cukup memakan waktu panjang, tapi dengan
cara itulah terlahirnya orang yang berdiri di depan sebagai pemeran. Aku, tidak,
yang kupikirkan apakah aku harus selalu berdiri dibalik bayang-bayang Levya, atau
berdiri di depannya?
Tiap kali kupikirkan semakin dalam, semakin aku tidak dapat jawabannya.
Bisa dikatakan, jalan buntu yang tak berujung suatu kepastian dalam pilihan rumit.
Kakak Levya menitipkan padaku kamar ini. Kamar seluas 6x8 meter diatas lantai
tertinggi yang hanya diisi satu kamar tidur di dekat ruang keluarga, dicat warna
oriental margenta cerah dengan kombinasi warna terang, dan kamar mandi berada
di dekat kolam renang outdoor di beranda, lalu dapur, lapangan golf kecil, satu
piano di tengah ruangan melingkar yang sebenarnya desain dasar dari kamar kecil
yang megah, dan satu alat yang kakak Levya sebut sebagai VR namanya.
Katanya, hari ini Levya akan datang, dan berhubungan sekolah baruku dan Levya
mulai besok kakak sudah menyiapkan segalanya. Namun, surat itu muncul lagi
dihadapanku. Surat yang mengatakan kalau Levya dalam bahaya tempo hari yang
lalu, kini datang lagi padaku dalam bentuk, aku harus menempati rumah yang
disiapkan untukku di pinggiran kota. Surat itu kini di tanganku, pilihan mana yang
harus kupilih? Aku tidak bisa mengatakan begitu saja kalau surat ini berbohong, dan
tidak bisa begitu mudahnya percaya oleh sesuatu yang belum jelas kepastiannya.
Angin yang bertiup kencang di atas lantai lima puluh memang suatu yang berbeda
dengan diatas air terjun, aku hanya merasa lebih nyaman saja dalam bentuk alasan
yang klise. Tapi di surat ini, tertulis dari ‘paman’ku dari ayah. Aku sedikit bahkan
lebih dari terkejut, selama ini kupikir aku tidak akan mengetahui keluarga dari ayah,
yaitu keluarga L. Aku sebenarnya bersyukur dapat pergi ke kota, karena aku yakin
aku akan mengetahui sesuatu yang baru di dalamnya, dan di surat itu mengatakan
juga, tiap bulannya aku akan diberi uang saku selama sekolah. Aku tidak keberatan
sebenarnya, hanya saja apakah aku harus mulai hidup mandiri mulai dari sekarang?
Suara pintu otomatis terbuka.
58
Dahulu, aku hanya tahu tentang dunia ini selalu memiliki dua pilihan saja, iya dan
tidak. Membuatku terikat pada kata maju atau mundur, tidak pada konsep kata
menetap. Sebenarnya, selalu yang kupikiran tentang kenapa semua selalu berakhir
menjadi sesuatu yang terkadang tidak diharapkan adalah......
Kapan dia akan memulai langkah awalnya dan segera memperbaiki kesalahan?
Kakiku berdiri dengan sendirinya, mataku menatap seolah sesuatu yang tidak akan
kulihat lagi setelahnya, bagitu dalam aku merasakannya, seakan tangan ingin
memeluk, kaki ingin berlari, mata ingin menangis, mulut seolah mengatakan, kau
bodoh, mungkin saja... iya kan?
“Selamat datang, El.” Suara Levya pelan dengan raut wajahnya yang merah
menyapaku dari kejauhan, membuat mulutku kelu sekedar berucap, aku pulang.
Beberapa saat seperti berjam-jam lamanya. Sekedar berdiri menatap sambil
merasakan atmosfer bebas memelukku erat dari berbagai arah mereka berdatangan
menyuruhku datang, segera balas memeluk dengan air mata berjatuhan membasahi
bayang-bayang yang sukar untuk mengatakan sebuah kata serapah pujian dari
pujangga yang kukenal, itulah yang kulihat darinya saat ini.
“Setidaknya katakanlah, ‘aku pulang’ atau apalah –
“Aku pulang... tidak, akulah yang seharusnya mengatakan... ‘selamat datang’ Levya.
Aku sudah menunggumu.”
“Ya, aku pulang, El.”
Begitulah kami mulai pertemuan kami yang tertunda sebelumnya. Tidak banyak
yang kujadikan saksi buta untuk detik-detik ini, tapi aku yakin, perasaanku
tersampaikan kan?
Satu yang selama ini kutakutkan, dan hanya satu. Apakah mungkin manusia itu akan
selalu bersama, bahkan walaupun mereka telah terkekang oleh janji? Pertama kali
saat aku sadar akan perasaan itu, aku selalu takut untuk berada dekat dengannya.
Aku hanya merasa bahwa pada akhirnya aku akan dicampakkan, melihatnya
tumbuh, sukses menurutku sudah lebih dari cukup bagiku. Karena aku ingin selalu
bersamanya, karena aku mencintainya.
Levya mengatakan padaku, kalau ayahnya ingin ngobrol denganku pada saat aku
menghilang. Makanya pada saat itu, Levya selalu menganggapku diculik oleh orang
yang sama pada malam itu. Aku hanya bisa tertawa lepas beberapa saat. Kami
duduk santai di sofa di tengah ruangan ditemani beberapa cemilan yang Levya bawa
dari rumahnya, dia mengatakan bahwa keluarganya akan resmi pindah ke kota hari
59
ini, dan besok sudah mulai sekolah untuk kami berdua, jadi dia sangat menekanku
untuk mencari tempat tinggal, karena tentu saja aku tidak bisa tinggal di gedung ini
lebih lama lagi.
“Dan juga, ngomong-ngomong pada saat itu, kamu diculik sama siapa? Apa El tahu
wajahnya, penculik itu?”
“Mmm.... entahlah,” aku mengatakannya sambil mengangkat kedua bahu, “aku
tidak terlalu ingat sejujurnya, tapi aku sedikit hapal dengan suaranya, sedikit tapi
loh, jangan berharap lebih dariku untuk masalah ini.”
“Aku cemas tahu, kukira aku tidak bisa bertemu lagi denganmu, karena tiba-tiba
saja kamu menghilang begitu saja, dasar bodoh.”
“Iya, iya maaf, maaf... tapi tahu dari mana kamu aku diculik?”
“Kalau begitu kamu sendiri tahu darimana aku sedang dalam bahaya pada malam
itu?”
“Hmm... perasaan... kah?”
“Kalau itu jawabanmu, mungkin aku juga sama.”
“He“Aku juga merasakan kalau El dalam bahaya, jadi... ah sudahlah aku malu tahu,
dasar bodoh.” Levya hanya cengar-cengir selagi mulutnya sedikit penuh oleh kuekue coklat yang dia bawa.
Aku mengulurkan tanganku dan menggapai kedua tangan Levya, selagi dia merasa
aneh apa yang kulakukan diriku hanya merasa inilah yang harus kulakukan,
membuatku menjadi seperti orang mesum yang hanya berkata pada dirinya, apakah
ini yang kuingikan ketika aku merasa semua telah terjadi, yang membuatku akan
berada dipusaran antara apa yang menungguku didepan sana, tapi aku berharap...
“Bolehkah aku selalu disampingmu?” Mulutku berkata tiba-tiba, “aku hanya merasa
kalau aku“Boleh.” Lalu Levya mengejutkanku dengan kata-kata simple, melihatku seperti
orang kebingungan dia menatapku, “kalau itu El aku mau, tapi jangan tanya
alasannya ya?” Sambungnya tanpa peduli apa yang sedang kupikirkan kali ini, “aku
malu soalnya, hehehehe...”
Tiba-tiba suara berdering dari tas kecil Levya menghancurkan keheningan diantara
kami, karenanya aku sedikit bersyukur karena alasan yang abstrak.
“Aku permisi dulu.” Katanya selagi dia mengangkat telepon.
Aku mengangguk.
60
“Ya, halo...”
Levya berjalan kearah serambi dan duduk sambil menghadap ke gedung-gedung
tinggi di hadapannya, dengan suara bising khas ibukota memeluknya, keributan
yang terjadi seperti atmosfer padat merayap hiruk-pikuk kehidupan disini. Aku
menghela napas panjang, ketika merasa kalau nyawaku akan hilang dalam sekejap.
Duduk berdua dengan Levya membuatku tidak bisa berpikir rasional, dan jantungku
hampir copot berkali-kali karenanya. Sekali lagi mataku menatap sekitar,
membayangkan bagaimana kalau rumahku nanti seperti ini.
Rumah minimalis, rapi, tidak terlalu megah, dan terlihat sederhana walau elegan
tampaknya. Tapi tiba-tiba saja pikiranku kembali mengingat apa yang terjadi
beberapa jam lalu, tepat saat aku dibawa ke ibukota. Yang sama sekali ingin
kulupakan seutuhnya, tapi melekat sangat erat di pikiranku seperti seutas benang
yang saling terikat, sukar untuk dilepas kecuali dipaksa.
<Beberapa jam yang lalu...>
Udara sempit mengelilingiku dikarenakan debu-debu menumpuk disekitarku,
keadaan sangat gelap seperti gudang ketika kubuka mata perlahan-lahan, dan
ketika kesadaran menghampiriku aroma cat yang tajam menusuk hidungku disertai
bau tiner. Beberapa tumpukan balok panjang dibiarkan menumpuk didekat ventilasi
yang pecah kacanya sebagian, sedangkan bohlam lampu yang menggantung
menjadi satu-satunya sumber cahaya sedikit bergoyang-goyang ketika langkah kaki
berat terus melangkah di atas kepalaku yang hanya dibatasi lantai kayu yang sedikit
rapuh.
Aku sedikit memberontak disaat aku sadar kedua tangan dan kakiku diikat dikursi.
Sial! Aku bergumam dalam hati, lalu aku melihat kesekeliling ketika sudah terbiasa
melihat dalam kegelapan. Tidak ada jalan keluar kecuali lewat pintu dan jendela.
Aku terus memberontak, perlahan ikatan di tangan sedikit mengendur. Tiba-tiba
suara langkah berat seperti dua orang datang mendekat, dalam keadaan sulit yang
mengharuskanku untuk tetap tenang, aku pura-pura tertidur.
Pintu suara terbuka pun terdengar.
“Lalu, kita harus bagaimana?” Suara yang agak serak terdengar setelahnya. Entah
itu siapa, mataku masih tetap tertutup.
“Entahlah, setidaknya kita harus lapor dulu, bisa bahaya kalau tidak.” Diikuti suara
temannya langkah satu orang perlahan menjauh.
“Ya, kau benar.”
Tiba-tiba percakapan itu berhenti diikuti langkah kaki yang mendekat.
61
“Apa dia masih pingsan?”
Tangan yang besar dan kasar menampar pelan wajahku yang tertunduk lemas
beberapa kali.
“Kurasa, tidak aneh kalau dia pingsan sangat lama mengingat betapa kerasnya D
memukul kepalanya.”
D? Tiba-tiba kepalaku terasa nyeri yang teramat sangat sambil menghapal inisial D
di otak.
“Tapi enggak terlalu lama apa dia tertidur, kurasa dia hanya berpura-pura saja.”
Jantungku berdetak cepat, satu dua keringat panas dingin bercucuran disekujur
tubuhku. Langkah kaki kembali mendekat, hingga aku merasa kalau jarakku
dengannya hanya beberapa jengkal saja.
“Ngomong-ngomong tentang berpura-pura, apakah tidak aneh kalau ratu Freyja
terus mencari anak yang berinisial L selama ini?”
L? Karena alasan abstrak jantungku kembali berdetak sangat cepat. Siapa itu Ratu
Freyja? Dimana aku sebenarnya? Aku semakin fokus mendengar omongan mereka
selagi mataku masih tertutup, dan merasa aneh di dalam hatiku, entah karena
alasan apa aku hanya merasa kalau itu diriku.
“Sudah hampir lima tahun dia mencarinya, apalagi semenjak pembunuhan artis
terkenal itu, dia semakin menjadi-jadi dalam mencarinya. Apa menurutmu anak ini
bersangkutan dengan itu semua?”
“Bisa jadi. Bos mana mungkin menangkap anak desa kayak dia. Kalau dia benar L
yang sedang dicari-cari, kita bisa memanfaatkannya sabagai sandera selagi
kekuasaan ratu terkikis.”
“Ya, kau benar Crimson.”
“Sshh, sudah kukatakan jangan menyebut nama asli dasar bodoh!”
“Iya. Iya maaf, maaf...”
Kedua orang itu perlahan menjauh lalu suara pintu berat tertutup terdangar keras.
“Baiklah lebih baik kita laporkan ke bos kalau anak itu masih tertidur.”
Ketika langkah tidak terdengar, dan kesunyian kembali menemaniku dalam waktu
yang cukup lama, aku buka mataku pelan-pelan dan mendapati sebuah surat di atas
meja di dekat jendela. Tidak ada waktu untuk berpikir, yang terlintas berkali-kali di
benakku aku harus segera pergi dari tempat ini, dan melaporkan kepada ratu yang
mereka maksudkan. Aku kembali memberontak selama beberapa detik hingga
ikatan di tangan benar-benar terlepas, lalu melepas ikatan di kaki, dan menutup
62
pintu itu dengan beberapa tumpukan belok di gagangnya. Aku sudah
memutuskannya, aku akan keluar lewat jendela.
Aku mengambil sebuah surat, tiga plastik berisi bensin, dan pisau kecil di laci meja.
Ketika aku melihat keluar beberapa penjaga berada di beberapa titik, dan dua
penjaga berada di atas menara dengan lampu tembak. Perlahan aku membuka
jendela, lalu melompat keluar. Hal pertama yang kurasakan adalah udara segar
setelah hujan mengguyur hebat, dilihat dari genangan dan suara sungai yang sangat
deras.
Sungai!?
Sekarang ini mungkin aku berada ditengah-tengah hutan lebat, yang hanya satu
gudang besar di belakangku tempat dimana aku ditawan. Dan dua mobil van hitam
dengan plat nomor 759 M diparkir dekat lima kandang anjing bersebrangan dari
tempatku. Lima penjaga yang berada di gerbang dilengkapi dengan senjata lengkap
berputar-putar mengamati arus sungai dan beberapa lubang di tembok yang
mengarah langsung ke dalam hutan selagi mereka sibuk menerima telepon dan
senter di tangan.
Aku perlahan menyusup diantara box-box besar dan menghindari sorotan langsung
lampu dari atas menara penjaga. Suara angin yang berasal dari hutan terdengar
seperti suara amukan seekor singa dengan angin kencang yang bertiup sedikit
menggoyangkan pohon-pohon di sekelilingku. Suara ributnya bercampur dengan
beberapa teriakan para penjaga yang saling memberi instruksi satu sama lainnya.
Ketika semua itu memenuhi telingaku, anehnya pikiranku sama sekali tenang
seperti aku sedang bersembunyi saat bermain petak umpet dulu. Hanya saja, ketika
aku melihat dari balik bayang-bayang moncong-moncong senapan karatan itu siap
menembak beberapa timah panas kapan saja bulu kudukku merinding dan sadar
kalau ini antara hidup dan mati.
Apa yang harus kulakukan? Menerobos lalu lompat kearah sungai?
Ketika pikiranku disibukan oleh pilihan-pilihan konyol yang tidak masuk akal dan
tubuhku sedikit menggigil hebat akibat angin yang cukup kencang dari dalam hutan,
hidungku mencium bau yang tajam dari tong-tong di sebelahku yang isinya adalah
bubuk mesiu. Dengan cepat aku mengambil sebuah pistol yang hanya tersisa satu
buah peluru di bawah meja yang dipenuhi kartu-kartu poker dan beberapa uang
recehan yang berserakan. Suara sirene tiba-tiba terdengar hebat di penjuru gudang,
dan beberapa orang berlarian di atas beranda lantai dua berteriak, “Tawanan
melarikan diri!!! Cepat cari dia!!!” Jantungku segera berdetak cepat seakan copot
lalu hancur berkeping-keping.
Satu gerbang utama segera ditutup dan dijaga tiga orang bersenjata lengkap, dan
seluruh penjaga berpencar dengan anjing pelacak bersama mereka. Keadaan
63
semakan ribut ketika hujan deras kembali mengguyur tempat ini, dan luapan air
sungai perlahan membanjiri tempat sekitar kanal.
Aku harus segera kabur dari tempat ini! Itulah yang kupikirkan, tapi...
“Itu dia!!! Cepat tangkap!!!”
Ketika lampu sorot itu tiba-tiba berbalik kearahku, tubuhku kaku sekedar bergerak
ataupun bernapas. Tenggorokanku menyempit, tubuhku sukar bergerak dan
beberapa anjing pelacak berlarian kearahku. Aku menembak kearah tumpukan
tong-tong bubuk mesiu tanpa berpikir panjang, lalu yang kuingat hanya ledakan
dahsyat terjadi dan tubuhku terpental kearah sungai, dan entah bagaimana
ceritanya pada pagi harinya aku mendapati tubuhku berbaring di tempat ini.
“Sudah selesai nelponnya?” Kataku ketika Levya kembali dengan wajah serius.
“Ya.” Jawabnya singkat. Kemudian hening...
Disaat aku merasa atmosfer disekitarku menjadi lebih intens, dan merasa kalau
Levya melihat-lihat ke sekujur tubuhku, aku hanya merasakan perasaan seperti
pada malam itu. Tegang, takut, dan otak ku tidak bisa berpikir secara rasional yang
hanya kurasakan. Hanya saja, kejadian itu sudah cukup membuatku depresi teramat
sangat, mengingat kematianku pada malam itu sangatlah dekat, yang mana aku bisa
mati kapan saja. Ruangan sunyi sementara Levya terus melirik-lirik kearahku, aku
mengambil sepotong kue di toples. Kesunyian tak lama kemudian dikacaukan ketika
Levya mengambil sepotong kue yang sama denganku sambil bertanya,
“Bagaimana dengan luka-lukamu?”
Aku terdiam.
“Awalnya aku tidak curiga, kenapa El menggunakan kaos lengan panjang, tapi El
selalu membatasi gerakan seperti ada yang disembunyikan dariku, iya kan?”
“.........” Aku hanya terdiam seribu kata, tertunduk dan menatap kakiku menjejakkan
di lantai yang mengkilap. Merasakan bahwa detak jantungku lebih kencang
ketimbang suara-suara derum mobil di jalan raya. Sementara jari-jariku bertautan,
aku merasa harus menjawab dengan benar pertanyaan nya. “A... aku tidak berniat“Aku sudah tahu dari kakak, tapi hanya sedikit. Maukah kamu menceritakan padaku
dari awal, dan aku janji akan memberitahumu, kenapa El bisa ada disini. Setuju?”
Yang kurasakan itu lebih seperti sebuah paksaan dan intimidasi, terkadang aku
hanya berpikir saja, ketika orang tahu kebenarannya, apa kejadian itu seakan-akan
tidak pernah terjadi? Yang membuatku pada pilihan egois selalu menutup diri dari
segala pertanyaan-pertanyaan bodoh dan menjauh dari siapapun. Namun,
64
perkataan paman seakan mengetuk hatiku, ketika paman menasihatiku,
“Terbukalah, setidaknya untuk satu orang yang kau percayai. Paman yakin kau akan
lebih lega dari sebelumnya, bahkan mungkin air matamu akan jatuh deras seperti
air terjun itu.”
Aku hanya bisa berkata, terimakasih paman. Meski aku tahu paman akhirnya
meninggalkan ku seperti yang lainnya, setidaknya aku bisa mengambil pelajaran
berharga darinya yang terus mendukungku dari belakang.
Aku mulai menceritakannya pada Levya apa yang terjadi pada malam itu. Levya
hanya mendengar dengan baik, bahkan sekali-kali bertanya, lalu mendengarkan lagi.
Beberapa menit berlalu setelah selesai aku bercerita, dia tidak memberi komentar
apapun. Yang hanya terdiam kaku seperti sedang menyaksikan film horor di adegan
klimaksnya, sedikit kecewa aku hanya berkata...
“Menyedihkan bukan? HeheheAku merasakan angin bertiup kencang kearahku, sepersekian detik berlalu begitu
cepat sekali dan saat aku sadar tubuhnya yang hangat memelukku erat dari
seberang meja, seperti tulang rusukku dan syaraf-syarafku yang menegang menjadi
rileks. Aku tidak dapat berpikir sekedar bertanya, hanya saja aku tidak bisa
berbohong, ini seperti yang dikatakan paman. “Bisa membuat air matamu terjatuh.”
Aku merasakan kehangatan sebuah kasih sayang, kepedulian yang telah lama
kubuang jauh bersama segala impianku pada saat itu. Dan merasakan titik air mata
terjatuh dari balik rambutku, lalu mengalir ke punggungku.
“Terimakasih Levya.... karena kau sudah peduli padaku....”
Pada sore harinya, ketika kakak Levya kembali, aku diantar ke alamat yang tertera di
surat dari pamanku yang lain setelah aku meminta tolong pada Levya untuk
mengantarkan ku. Meski ini kali pertamanya bagiku merasakan atmosfer padat dari
ibukota, dan menyaksikan kerumunan orang sepulang kerja di jalan-jalan trotoar,
dan juga duduk bersebelahan dengan Levya di dalam mobil mewah, perasaanku
seperti berada di tempat lain yang tidak bisa kujangkau begitu saja berbarengan
cahaya oranye senja yang terpantul di kaca-kaca gedung yang menjulang tinggi ke
langit aku seperti sedang menggapai angan-angan kosong.
Aku menggapai harapan bahwa semua ini tidak pernah terjadi.
Pada malam hari itu, sebelum aku terpental ke arus sungai, aku berlari kencang
menjauhi anjing-anjing, dan juga ratusan peluru yang ditembakkan kearahku,
bersembunyi diantara balok-balok kayu dan tong-tong besi kosong. Tiba-tiba satu
orang berhasil menangkapku. Moncong pistolnya ditodongkan ke leherku, dan aku
mencium bekas-bekas bubuk mesiu darinya. Aku memegang erat kedua tangannya
yang sedang mencengkram kedua bahuku, dan merasakan bahwa hawa panas
65
sedang menjalar ke suluruh organ-organ tubuh, tangan kananku sedikit bercahaya
biru terang.
“Lepaskan aku, lalu tembaklah tong-tong mesiu itu.”
Dengan sangat menurut orang itu melepaskan ku dan menembak anjingnya sendiri.
Mendengar suara tembakan dari arahku, para penjaga yang berada disekitar berlari
kearahku begitu cepat. Lalu orang itu menembak satu tong mesiu yang agak besar,
ledakannya pun menyambar dan menghancurkan kedua mobil van dan pintu
gudang, kemudian tidak tahu berapa tong mesiu yang meledak di samping gudang
itu, yang kuingat banyak dari mereka terbakar bahkan hingga seluruh tubuhnya, aku
pun melompat ke sungai dan tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Levya di sebelahku sibuk dengan telepon genggamnya, sekilas tanpa sengaja terlihat
dia sedang mengirim pesan ke ibunya. Mengingat tentang ibu, aku hanya
merasakan sakit dan rindu yang begitu sulit dilupakan. Tidak banyak kenangan yang
kuingat bersamanya, dikarenakan keegoisanku, aku berusaha melupakan itu semua.
Disaat senja mulai muncul di ufuk barat dengan kabut yang seakan mulai turun dari
langit, kaca-kaca besar dari gedung-gedung tinggi memantulkan sinarnya menjadi
oranye, terlihat seperti pilar-pilar cahaya disekitar orang-orang yang berjalan, dan
yang sedang istirahat di lapangan luas yang baru saja kulewati. Terlihat sekelebat
anak-anak berlarian membawa permen kapas yang besar, lalu beberapa remaja
yang tengah asyik dengan telepon genggam dan headset yang menutupi telinga
mereka di pojok-pojok taman di bawah pohon yang cukup rindang.
Aku hanya merasa suara ketikan Levya ketika dia membalas pesan ibunya, dengungdengung di luar dan siulan sopir sesekali, terasa tidak begitu nyata. Sulit untuk
menjelaskannya, tapi ini hampir seperti...
Hampa.
“Apa kamu baik-baik saja El?” Sentuhan lembut Levya di pundakku, dan suaranya
yang pelan menarikku paksa kembali ke dunia nyata, “kamu terlihat tidak sehat?
Apa luka-lukamu sudah sembuh. Aku bisa kok merawatmu sampai besok“Aku tidak apa-apa Levya.” Hanya sebatas itu saja aku menjawab, Levya menatapku
dengan sungguh-sungguh, “aku hanya merasakan lelah saja, tapi benar kok, aku
baik-baik saTiba-tiba Levya menempelkan keningnya ke keningku. Jarak diantara kami sangat
dekat bahkan aku sampai bisa merasakan napasnya berhembus pelan, dan
merasakan jantungku berdegup tidak karuan. Tubuhku kaku, ketika aku merasa
hidung kami saling bersentuhan, dan suatu yang lembut dari dadanya, kurasa,
menyentuhku.
66
Ah, sial... Aku sedikit mengumpat dalam hati.
“Maaf El. A... aku hanya...” Tiba-tiba Levya berucap, air mata perlahan bercucuran
membasahi pipinya yang merona merah, “mengkhawatirkan mu, itu saja. Jadi
janjilah padaku, kalau kamu tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi...”
Sesaat kening kami masih bersentuhan, tanganku seperti ingin memeluknya,
berkata padanya, terimakasih karena telah mencemaskanku Levya, tapi aku merasa
sesuatu yang aneh menahanku bahkan sekedar untuk berucap. Yang membuatku
menerima satu-satunya pilihan untuk tetap diam, dan merasakan sedikit
kehangatan yang sama sekali belum kudapatkan selama ini.
Terimakasih, dan...... maaf.
Beberapa menit kemudian kami sampai. Tempatnya seperti apartemen tua tapi
masih bagus di pinggiran kota. Aku keluar dari mobil diikuti Levya di belakangku.
Apartemen itu dua lantai, dan satu rumah agak kecil di sebelahnya. Dua sepeda
terparkir rapi di halaman dengan satu sepeda motor tua di sebelahnya, ada juga
gudang dan semak-semak liar yang tidak terawat tumbuh di sekitar halamannya.
Atmosfer yang aneh pun agak sedikit terasa mengencam layaknya bangunanbangunan tua pada umumnya. Levya menarik bajuku, lalu berbisik pelan.
“Apakah ini benar tempatnya El?”
“Aku juga tidak terlalu yakin, tapi...” Aku berjalan kearah sopir yang berdiri
kebingungan di depan kami, “ini benar alamatnya kan pak?” Selagi sopir itu
kebingungan lalu hanya mengangguk saja.
“Baiklah kalau ini memang tempatnya, kurasa aku harus menyapa pemilik
apartemen ini dah...” Aku berkata lagi selagi mereka berdua berdiri mematung.
Diikuti Levya dibelakang ku, aku mengetuk rumah kecil ini. Beberapa saat kemudian
suara dari balik pintu pun terdengar diiringi suara langkah mendekat. “Ya... tunggu
sebentar...”
Yang muncul dihadapan kami, perempuan setengah baya dengan tank-top
berwarna hijau muda dan celana pendek sambil membawa kaleng minuman
bersoda. Mukanya sedikit agak, teler. “Selamat sore.” Aku berkata, “apa benar
alamat ini disini?” sambil aku menunjukkan padanya alamat di surat itu, terlihat
jelas wanita itu sebal denganku, mungkin sudah mengganggu istirahatnya, itulah
yang terlintas di benakku, hanya saja dia seperti menyangkalnya dengan tatapan
misterius, lalu berkata.
“Benar.”
Levya terlihat terkejut yang tidak dapat menyembunyikan ekspresinya, aku hanya
tertawa kecil sambil menggaruk-garuk belakang kepala. “Jadi...” lalu berkata lagi,
67
“salah seorang pamanku menyewakan satu buah kamar untukku entah yang mana
beliau belum memberitahuku, tapi“Oh... kamu orangnya toh... bagus-bagus, ayo masuk.” Wanita itu mempersilahkan
kami, setelah bertatap agak lama antaraku dengan Levya, akhirnya kami
mengikutinya masuk kedalam, “Maaf berantakan, anggap saja rumah sendiri.” Dan
dia mengatakannya tanpa ekspresi bersalah sedikitpun dari wajahnya.
Ruangannya terlihat sangat berantakan. Kaleng-kaleng kosong berserakan dimanamana, sesekali terdengar Levya agak mengeluh dan menatap dengan jijik, lalu
memegang erat lenganku. Kami duduk di lantai, karena memang rumah ini tidak
memiliki sofa atau apalah, hanya satu televisi tua, kulkas yang isinya botol kalengan
semua yang terlihat jelas ketika wanita itu membukanya dan diberikan kepada kami,
meja kecil tempat wanita itu menaruh laptopnya, dan... ventilasi? Entahlah, jangan
menghakimiku karena memang aku tidak bisa memberikan penjelasan lebih.
Anggap saja seperti, rumah kosong yang tidak ada apa-apanya.
Wanita itu duduk di depan kami dengan tangan kanan memegang kaleng baru, lalu
membukanya. Selagi dia memperkenalkan dirinya, angin sepoi-sepoi bertiup masuk
dalam ruangan melalui celah-celah jendela yang agak tertutupi tirai tipis. Namanya,
sebut saja Anna, katanya. Pekerjaan tidak punya, singel, pemilik apartemen yang
akan kutempati, tapi meski penampilannya seperti itu, dia lulusan s1 jurusan
ekonomi-sosial. Aku sedikit terkejut, begitu juga dengan Levya. Yang kukira dia
hanya seorang Anti-sosial, alias Hikikomori. Ternyata dia lebih parah dari itu.
“Baiklah perkenalannya sudah, sekarang siapa diantara kalian yang menempati
kamar itu?” Dia bertanya pada kami sambil memutar-mutar kaleng botol di udara.
“Aku.” Aku mengacungkan jari, melihat reaksinya seperti seakan-akan berkata, oh
kamu... pantas saja, dengan tatapan merendahnya aku agak sebal dibuatnya.
“Ok, peraturan jelas, tidak boleh bawa cewek pada lewat jam malam.
Tiba-tiba tangan kananku terasa sakit, dan sadar Levya mencubitku keras karena
sebal.
“Makan cari sendiri, uang listrik dan lain-lain juga bayar sendiri,” sambungnya
setelah sengaja membuat Levya marah, “dan dilarang membawa majalah porno.
Jelas?” Lanjutnya.
Aku hanya mengangguk.
“Ini kunci kamarnya. Jaga baik-baik. Tidak ada kunci cadangan untukmu, mengerti?”
Sikapnya seperti kakak perempuan menyebalkan, aku hanya sadar saja setelah
melihat sifatnya, wajar kalau dia masih single. Aku tertawa dalam hati. Tentu saja
aku tidak tertawa keras-keras. Setelah kami keluar dari rumahnya membawa satu
68
buah kunci kamar, Levya menarik lenganku. Tatapannya tertunduk dengan wajah
merona merah terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan dibelakangnya, aku
tertegun.
“Ada apa Levya?” Aku bertanya pelan.
“A... anu... e.... ka... kamu benar kan tidak akan...” Omongannya terpotong-potong,
lalu dilanjutkan beberapa saat kemudian ketika aku menatapnya dengan agak aneh,
“tidak membawa wanita aneh ke apartemen mu?” Sambungnya.
Aku menghela napas panjang. Tanpa sadar tanganku bergerak sendirinya, mengelus
kepalanya, dan menatapnya ramah. “Tentu saja tidak akan.” Lalu dengan kerasnya
berkata, “aku kan sudah ada cewek yang kusuka, mana mungkin aku bawa wanita
lain, kan?”
Wajah Levya tiba-tiba menjadi merah dan tatapannya sinis kearahku, aku menelan
ludah sambil melempar pandangan kearah lain dan merasakan hawa membunuh
darinya begitu meluap-luap. “E... ma, maksudku.. mungkin saja aku akan mencintai
wanita lain kan? Hehehehe.... aku salah ngomong.... kan?”
“Terserah kamu ah! Aku enggak peduli!”
“Tapi sebenarnya kamu peduli kan?” Tanpa sadar aku berkata begitu.
“He- enggak akan! Tidak akan pernah!”
“Iya, iya.. aku ngerti, aku ngerti, nyonya...”
Kamarku berada di lantai dua, lebih tepatnya nomor 203. Sebelah pojok dekat
dengan pagar tembok, dan jauh dari tangga. Kamarnya hanya seluas 4x5 dengan
satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang tengah. Jika aku deskripsikan
lebih, hampir sama dengan kamarku yang di loteng, hanya saja sedikit lebih lengkap
saja. Dilengkapi dengan AC dan pemanas ruangan, satu televisi, lalu satu buah
kulkas. Mesin cuci ada diluar, kata kakak pemilik kos, itu satu mesin cuci untuk satu
lantai. Di lantai dua hanya tiga kamar saja, dan dua di antaranya sudah terisi,
termasuk aku.
Levya segera merebahkan tubuhnya, tiduran tanpa alas di lantai yang masih agak
berdebu sedikit. Dia sedikit mengeluh sesaat. Lalu bertanya padaku, ketika aku
mulai menyapu sabagian ruangan.
“Bagaimana dengan barang-barangmu?”
“Hmm... kalau menurut surat itu, barang-barangku akan sampai sehari setelah aku
menempati apartemen ini. Memangnya kenapa?” Tanyaku balik setelah melihat
ekspresi dari jawabanku belum cukup memuaskan.
69
“Entahlah... aku hanya kepikiran saja. Tapi, apa benar kamu tinggal disini karena
kemauanmu sendiri atau“Sejujurnya sih tidak.” Aku langsung memotong ucapannya sambil mengangkat
kedua bahu, “tapi, seperti yang kamu tahu, pamanku inilah yang membiayai
hidupku, setidaknya untuk saat ini. Jadi kurasa aku akan melaksanakan
perintahnya.” Sambungku.
“Benar juga sih, tapi... jarak sekolah dari sini cukup jauh lho... kamu enggak apaapa?”
“Aku baik-baik saja kok.”
“Yakin?”
“Yakin, yakin. Tenang saja, kondisi ini berbeda dan aku sedikit menyukainya.” Selagi
aku berkata, mataku memandang sekeliling ruangan kecil ini. Dalam hatiku, aku
hanya berharap mungkin inilah yang terbaik, hidup mandiri, dan lain sebagainya. Ini
semua seperti mimpi saja bagiku, setelah semua yang terjadi. “Kalau Levya memang
khawatir datang saja kapanpun Levya mau, tapi seperti kata kakak pemilik kos,
Levya dilarang nginap, ya?”
Tiba-tiba mukanya merah, tatapannya menjadi tajam, dia berkata dengan nada
menyebalkan, “Iya, iya... bilang saja kalau kamu mau bawa wanitamu itu kesini kan,
dan aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku tahu kok.”
“Levya tidak akan pernah bertemu dengannya, jadi tidak masalah kan?”
“He“Karena orang itu adalah Levya sendiri, hehehehe....”
“Wha- a... apa yang kau katakan, dasar bodoh!!!”
Sebelum Levya pulang, setelah dia ditelpon ibunya berkali-kali, Levya memberikan
empat bungkusan padaku. “Kuharap kau menyukainya El.” Katanya.
“Terimakasih Levya“Oh ya, dan satu lagi... jangan lupa besok jangan telat di sekolah. Karena yang punya
sekolah adalah kenalan kakak ku, jadi jangan buatku malu. Ok?”
“Iya, iya aku ngerti kok, tidak boleh telat kan?”
“Dan jangan lupa makan yang benar, lalu bersih-bersih. Jangan sampai berantakan,
kamu bisa kan?”
“Iya, iya.... ibu.”
“Oh ya dan juga-
70
“Apa lagi ibu...” Ketika aku mengatakannya dengan sedikit jengkel, Levya hanya
tertawa saja beberapa saat, “apa lagi kali ini?”
“Cuci bajumu, jangan sampai numpuk, kalo kehabisan baju gimana? Dan juga
uangnya dihemat-hemat, ok? Jangan banyak jajan, apalagi beli majalah dewasa.
Awas kalau ketahuan!”
“Iya, iya... kakak...” Jawabku sambi menggaruk-garuk belakang kepala. “Oh ya... aku
punya pertanyaan.” Sambungku setelah merasa seperti habis diceramahi oleh kakak
perempuan ketika adiknya sudah mulai tumbuh dewasa sedikit, “apa kau itu kakak
ku?”
Dengan senyuman lebar, dan tatapan jengkel sambil mengangkat dagunya, Levya
menjawab, “Yap, betul sekali.... terkejut bukan?” Dan melipat tangannya di dada.
“Iya, iya aku terkejut...”
“Yang bener dong jawabnya, kamu ini ah... gak bisa diajak becanda...” sambil
memasang muka sebal dia memalingkan wajahnya dariku. Bisa ku artikan secara
harfiah, dia ngambek? Entahlah, aku tidak terlalu paham dengan wanita. Itulah yang
kupikirkan. Tapi...
“Jangan terlambat ya... besok.”
Aku tidak tahu apa ini, hanya saja seperti... semuanya mulai berwarna walau cahaya
akhir senja telah menghilang dengan kumpulan asa yang tak tersampaikan,
bersamaan dengan itu, aku sadar akan satu hal.
Cinta menumbuhkan macam warna disetiap sisinya.
71
Eps. 9
Lucius`s Family
Saat aku terbangun, yang kusadari aku tertidur tanpa alas apapun, atau selimut
apapun di ruang tengah. Kemudian diikuti suara alarm berbunyi berkali-kali, sesaat
aku menatapi seragam yang tergantung rapi dekat cermin di sebelah televisi dengan
mata yang masih mengantuk, dan bertanya-tanya dalam hati. “Seragam siapa itu?”
Seragam?!
Bel mulai berbunyi tanda jam pertama dimulai. Aku tepat waktu, entah bagaimana
itu kenyataannya. Levya sudah menungguku di depan kelas sewaktu guru memulai
perlajarannya dan memberitahukan ada murid baru. Sayup-sayup suara terdengar
dari dalam kelas, lalu seketika menjadi sunyi. Aku sedikit mendengar kata-kata,
murid ceweknya cantik lho..., atau seperti, kurasa aku pernah melihat wajahnya dah
sewaktu olimpiade paduan suara di Balai Rakyat, dan yang semacam itu masih
banyak lagi. Semuanya memuji Levya pada kali pertamanya mereka bertemu, tidak
heran kalau Levya sangatlah cantik.
Dan aku yakin, dia mendengar semua bisik-bisikkan itu, tapi tetap tenang dan
seperti menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Guru mempersilahkan kami
berdua masuk setelah membukakan pintu kelas untuk kami.
Kesan pertama yang kudapat, semua mata seperti menuju pada satu titik, yaitu
Levya. Sisanya hanya beberapa saja yang menatapku, sebagian dari mereka
menatapku remeh. Aku hanya merasakan, seakan aku seperti berdiri di samping
artis terkenal, dan aku hanya sebagai pengganggu saja yang selalu mengikuti artis
itu dan semua penonton berharap aku pergi dari tempat itu ke belakang panggung.
Sedikit kejam dengan asumsi remeh saja, tapi begitu aku merasakannya tiap kali
mengingat posisi ku selama ini.
“Sekarang, perkenalkanlah dirimu... anu... mulai dari kamu, Levya.” Kata guru sambil
menatap kearah Levya disebelahku.
Levya maju dua langkah kedepan. Ketika Levya memperkenalkan diri semua tampak
lebih intens daripada sebelumnya, terlebih murid laki-laki. Mereka tampak hampir
seperti melototi semua gerak-gerik Levya ketika dia berbicara, alhasil aku merasa
Levya seperti tidak nyaman. Namun, disaat Levya berkata, namanya adalah Fliz,
sayup-sayup terdengar bisik-bisik diantara mereka seperti kagum
membicarakannya. Selesai, Levya mundur dua langkah lagi. Kini giliranku, tapi
semua tampak tidak memedulikan. Beberapa dari mereka bahkan ketawa-ketawa
pelan, dan ada juga yang kembali membaca bukunya.
“E... na, namaku.... Nephium L Coloros-
72
“L?!” Tiba-tiba suara perempuan yang duduknya tiga dari belakang di depanku,
terkejut, berhenti membaca bukunya, lalu meminta maaf. Kemudian menatapku
dalam beberapa saat. “E... maaf, kau bisa lanjutkan.” Katanya sambil mengayunkan
pulpennya di udara.
“Terimakasih. E... a, aku murid pindahan mu... mulai hari ini.... mohon
bimbingannya.”
Hanya satu dari mereka yang menepuk tangan, entah karena alasan apa, dan itu
adalah laki-laki yang duduk di belakang samping jendela. Aku mundur dua langkah.
Setelahnya guru menyuruh kami duduk di kursi kosong bagian belakang. Aku
berjalan di belakang Levya, perbedaan ketika mereka menatap kami berdua sangat
berbeda. Levya mengambil kursi di sebelah kanan dekat pintu, aku dekat orang yang
bertepuk tangan untukku.
“Namaku... kau bisa menyebutnya Kami.”
“Kami?” Tanyaku bingung. Tiba-tiba orang itu menjulurkan tangannya, aku pun
membalas jabatannya sambil menatapnya heran. “Oh... ya... salam kenal, Kami.”
Kataku setengah berbisik.
“Sama-sama...” Jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata.
“O.... oh ya....mmm...”
Kelas pun dimulai.
Empat puluh menit berjalan begitu cepat hingga bel tanda pelajaran telah usai. Aku
meregangkan tubuh sambil memeriksa pelajaran tadi yang sudah kucatat di buku
tulis. Hanya butuh waktu beberapa detik, Levya sudah dikerubungi beberapa murid,
bahkan hampir setengahnya.
“Hari yang buruk bukan?” Tiba-tiba Kami berkata sambil memasukkan buku ke
dalam tas, kemudian menatapku.
“Mm... ya... lumayanlah“Bukan, bukan... maksudku, kemarin hari yang berat ya....”
Untuk alasan abstrak, jantungku tiba-tiba berhenti. Merasakan keringat bercucur di
punggung, aku menelan ludah sesaat. Lalu bertanya, “Apa maksudnya ya?”
“Sudahlah lupakan, L.” Tatapannya yang misterius dengan mata sipitnya yang
sebagian tertutupi rambut panjangnya yang agak berantakan, dia menatapku.
“Kalau butuh apa-apa, tanyakan padaku dan padanya saja.” Sambungnya sambil
melirik ke arah wanita di depanku, yang tadi terkejut dengan nama L-ku. “Kita
perwakilan kelas lho...”
73
“Baiklah, kalau ada apa-apa akan kutanyakan padamu.”
“Ok, mohon bantuannya.... L.”
Orang itu pergi keluar kelas. Untuk sesuatu yang tidak kumengerti, perasaanku
ketika dia menyebut namaku, aku sedikit menjadi merasa waspada, entah karena
apa... hanya saja seperti aku merasa diawasi olehnya. Seperti.... dia salah satu
anggota penculik itu, atau apalah yang berkaitan dengan insiden malam itu. Setelah
merapikan buku lalu menaruhnya di dalam laci, wanita di depanku berbalik arah
menatapku. Tatapannya menyidik, seperti dia melihatku seinci demi seinci, hendak
ingin menilaiku lebih jauh.
“Anu.... kenapa ya... apa ada sesuatu di wajahku?” Setelah merasa tidak enak, aku
bertanya heran. Tapi wanita itu diam, tidak menjawab.
Wanita itu cantik. Begitulah aku menilainya. Rambutnya coklat hazelnut sepundak,
matanya hitam tidak terlalu sipit yang dipayungi poni lurusnya yang diberi hiasan
wajah kelinci, tatapannya penuh kewibawaan para kaum elit dari elit, didekatnya
seperti sedang diawasi seluruh gerak-gerik, merasa tidak nyaman, aku kembali
bertanya.
“Si.... siapa namamu?”
Wanita itu tetap diam.
“Ka, kalau boleh tahu....”
“Namaku Lucius Ayra.” Suaranya pelan, tapi mendalam. Sulit untuk dijabarkan.
“A- Ayra... kenalkan, aku“Lucius Nephium Coloros, itu ‘kan nama aslimu?”
“......?!”
Aku tidak tahu apa-apa tentang keluargaku yang lain. Ibuku, ayah, bahkan paman
hingga kakek tidak pernah satupun dari mereka membicarakannya. Tentu saja aku
tidak bertanya, karena kata ibu, keluargaku yang lain tinggal di kota. Hanya sebatas
itu saja, tidak lebih. Dan kata ibu juga, lebih baik aku tidak pernah ke kota dan
bertemu keluargaku yang lain, entah karena kenapa, tapi....
Aku tidak terlalu mempedulikannya. Sejujurnya, aku ingin menghindari itu semua.
“Lucius nama dari ibumu, dan Coloros? Kurasa itu nama dari ayahmu.”
74
Disaat otak ku berkontradiksi, berusaha menghubungkan benang satu dengan
benang yang lain, antara mempercayai apa yang dia katakan beberapa saat lalu, dia
mengatakan, “Kau adalah keluarga Lucius.” Bukannya aku tidak percaya apa yang
dikatakannya, hanya saja seperti, dia hanya bermain-main saja denganku, sebatas
itu, mungkin....
“Aku hanya berpikir, hanya sebatas nama kita saja yang sama, belum tentu ‘kan
kalau kita“Kau tidak tahu apa-apa Neph, selama ini kau tinggal jauh di desa, dan tidak pernah
mendapat kabar apapun dari orangtua mu, dan juga....” Tiba-tiba dia berhenti,
menundukkan kepalanya, menatap sepatu kakinya menjejakkan di lantai, “aku turut
berduka atas kematian kakak, yaitu ibumu....”
Terasa sesak, aku seperti dipukul palu godam sekuat tenaga, aku tidak tahu kenapa,
disaat dia mengatakan adik dari ibuku, aku merasa sakit yang tidak dapat diuraikan
begitu saja dengan mudah. Kulihat dia mengeluarkan sedikit air mata yang mengalir
lembut di pipinya yang sedikit merona merah. Di satu sisi, jika dia adalah
keluargaku, itu membuatku senang, dan di kondisi lain, aku ingin memeluknya,
sebagai keluarga. Aku ingin menghentikan tangisannya. Hanya sebatas itu, tapi aku
tidak bisa. Seperti kelas terasa sunyi, suara bising murid-murid yang bertebaran di
atmosfer seakan menghilang begitu saja, dimakan hampa yang tak berbekas.
“Rasa sedihmu.... menular tahu, dan itu..... sakit sekali.......”
Ketika aku mengucapkan itu, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Ya.... aku tahu.”
Yang tidak kuketahui selama ini, adalah kuburan ibu dan ayah. Membuatku teringat,
akan pesan itu. Ibumu masih hidup. Antara fakta dan tulisan di surat, mereka
bertentangan, bertolak belakang satu sama lain. Aku tidak sepenuhnya percaya,
tentang surat itu, dan juga sulit bagiku menolak kabar yang telah tersebar kalau
ibuku sudah meninggal. Aku mulai bertanya padanya dan menyampingkan masalah
ibuku terlebih dahulu.
“Seberapa jauh kamu mengenalku, Ayra?”
“Sejauh yang kamu tahu, tapi aku belum bisa mengatakannyaTiba-tiba guru masuk, dan murid-murid langsung berhamburan ke tempat duduk
masing-masing.
“Kita lanjutkan nanti.” Katanya.
Ketika guru mulai menjelaskan pelajaran tentang hukum kimia, perlahan suarasuara menjadi lebih pelan, seperti mereka semua seakan-akan tidak berbicara,
suara gesekan kapur yang begitu halus menghilang, murid-murid di depanku,
75
mereka seperti berbayang-bayang diikuti kepalaku mulai terasa pening yang
teramat sangat. Hingga akhirnya semua suara seperti menghilang, hampa. Aku
hanya mengingat, mendengar suara benturan keras ketika pandanganku mulai
gelap dan merasakan sakit benturan di kepala.
Aku tidak sadarkan diri.
Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, melainkan hanya sebatas kata ‘bosan’ saja
yang kutahu. Selama ini aku terus menyembunyikan nama Lucius, seperti apa kata
ibu padaku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku hanya bisa mematuhinya saja, tiap kali
aku ditanya siapa nama L-ku, aku hanya menjawab, "tidak tahu”. Tidak tahu, dan
tidak tahu. Begitulah aku menjawabnya. Siapapun yang bertanya, aku selalu
menjawab seperti itu. Mereka bilang, aku hanya boneka ibuku, yang selalu
mematuhi kata-kata ibu. Aku tidak menyangkal itu, tapi...
Itu adalah pilihanku.
Sayup-sayup aku seperti mendengar suara di sekitarku, mungkin sekitar dua orang.
Itu suara wanita, mungkin Levya, atau.... Ayra? Entahlah, katanya aku adalah
keluarganya, lantas kenapa dia ada disini? Lagipula diamana ini? Beberapa saat
kemudian, aku kembali tidak sadarkan diri bersamaan dengan bayang-bayang itu
kembali menghantuiku setelah beberapa tahun.
Mereka seperti memanggilku dari dalam mimpi. Aku seperti berada di tengahtengah taman bermain yang begitu ramai dengan anak kecil disekelilingku. Suara
mereka, beberapa anak kecil. Laki dan perempuan, semua seperti memanggilku.
Mengajakku bermain, dan bernyanyi, lalu mereka berkata dalam satu sambil
menatapaku tajam....
Matilah.
Ketika kesadaranku pulih perlahan, yang kusadari adalah bau tajam dari alkohol
disekitarku begitu menusuk hidung dan suasana yang sangat sunyi, lalu suasana
gelap disekelilingku seakan memeluk. Tapi, aku sedikit merasakan kenyamanan di
telapak tangan meski sedikit berat lama-kelamaannya. Aku tersadar seutuhnya
setelah sayup-sayup mendengar suara burung hantu dari luar dan beberapa ranting
pohon yang mengetuk-ngetuk jendela.
Orang yang pertama kulihat adalah Levya yang tertidur di tangan kananku sebagai
bantalannya. Kulihat ke sekeliling, aku berada di ruang kesehatan. Berduaan saja
dengan Levya yang tertidur lelap di kursi. Sinar bulan yang masuk melalui jendela
yang gordennya dibiarkan terbuka, adalah satu-satunya sumber cahaya di kamar ini.
Ruangan ini dibiarkan gelap, dan begitu sunyi, semua kasur yang totalnya ada lima
selainku, semua kosong, tentu saja, bahkan perawat pun sudah lama pulang kalau
dipikir-pikir. Perlahan aku bangkit duduk karena punggungku mulai terasa sakit.
76
Aku hanya berpikir, sudah berapa lama dia disini? Mungkin ini sudah lewat tengah
malam, atau belum? Semua seperti terasa aneh ketika aku tiba-tiba mengingat
mimpi itu. Aku tidak begitu ingat wajah dari anak-anak kecil itu, tapi semuanya
terasa mirip, itulah yang kurasakan. Berusaha melupakan mimpi aneh tersebut, aku
mengusap-usap pelan rambut Levya. Semua yang telah kulalui selama ini hanya
seperti mimpi, dan ketika aku tersadar dari semua mimpi itu, aku merasa begitu
sangat ketakutan. Begitu merasa sangat kesepian, aku meraih semua harapan
kosong sesanggup yang kubisa, meski aku tahu jawaban pastinya dari itu semua....
Kosong.
Kosong adalah kosong, kosong hanyalah kosong. Sesuatu yang tidak ada, yang
sebelumnya ada. Semua hanyalah sebuah rumus filsuf tua yang tertulis abadi di
sebuah buku tabu, seolah kita tidak bisa terlepas dari semua rancangan tersebut,
dan terpaksa menjalani dengan semua pilihan. Mereka tidak ada artinya. Mereka
tetap, kosong. Dan selalu seperti, seolah tidak tahu.
Harapan, sama dengan kosong. Mereka semua berharap, namun berbeda dengan
apa yang tertulis, itulah kosong.
Tanpa kusadari, kedua tanganku mengepal erat, dan sedikit bergetar.
“Apa kau baik-baik saja, El?”
Aku mengangguk dalam diam. Diam karena setuju? Atau mungkin tidak, hanya tidak
pasti ketika aku ingin menjawabnya. Di dalam kesunyian yang terus meliputi seluruh
hampa atmosfer sesak yang berkumpul di suatu ruangan padat, napasku sedikit
berat. Aku hanya menyadari kalau Levya benar-benar khawatir denganku.
“Apa benar?” Nadanya terdengar lebih intens tiba-tiba, namun mendalam, seperti
paksaan untuk ku agar menjawabnya jujur.
“Ya“Benarkah?!” Sepersekian detik wajahnya hanya menyisakan beberapa senti dari
hidungku sebelum akhirnya bersentuhan antar hidung kami, “kamu bohong kan?
Pasti bohong kan?” Sambungnya sambil perlahan menjauhi wajahnya dariku.
“Kalau aku bilang tidak, apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku sambil
menyingkirkan selimut di tubuh, lalu duduk di tepi ranjang hendak berdiri sambil
menatap taman sekolah yang sudah sepi dan menatapnya dalam tidak menyidik,
hanya menyisakan beberapa suara jangkrik di dekat perkarangan. “Aku tahu ini
egois, tapi...... aku mohonMomen itu, aku seperti menangkapnya sekejap saat rambutnya yang terurai begitu
halusnya seperti sutra, dengan aroma harumnya seperti menyerbak mengalahkan
bau alkohol khas ruang kesehatan di hidungku. Begitu sadar, dia seperti memelukku
begitu erat, dari depan. Aku sedikit tersentak, pertama karena terkejut, kedua
77
karena merasakan beban berat tiba-tiba menghantamku, bukan karena Levya,
melainkan seperti..... seorang berkata padaku, hidupku baru saja berjalan kembali.
“Aku akan selalu bersamamu, pasti!”
Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku merasakan punggungnya begitu hangat
untuk seorang teman wanita ketika tanganku melingkari pinggulnya yang kecil dan
sedikit mengelus punggungnya sesaat, kemudian seperti mengalir melewati leher
belakangku seperti air mata, begitu nyaman, tapi merindukan suatu saat nanti
untuk sekedar dikenang.
Selagi aku mengusap pelan rambutnya yang harum seperti madu dan susu, dan
melepaskan diriku terlena akan keharumannya selama beberapa saat, Levya hanya
mengangguk saja, kemudian mendekapkan kepalanya di dadaku. Jantungku
berdetak lebih cepat, hingga kurasakan hanya hitungan detik saja hingga akhirnya
meledak, kudengar dia seperti berbisik, sayup-sayup seperti dia mengatakan, aku
suka jika berada di dekatmu. Namun, aku tidak berani bertanya lebih lanjut apa
yang dia katakan itu benar, yang hanya diriku fokus saja untuk mereda sedikit dari
rasa canggungku yang besar dan jantungku yang hampir meledak.
“Ayo kita pulang.” Ajakku tapi dia tetap diam, tak berkata sepatah pun. “Apa kau
tidak lapar? Aku lapar banget sih, mungkin aku akan mati kalau tidak makan dalam
sepuluh menit kedepan“Kalau gitu, ayo pulang. Ke apartemen mu tapi.” Aku sedikit terkejut. Menyadari
mungkin detak jantungku berubah dalam sepersekian detik, dia menatapku dalam.
“Kau sangat manja Levya. Dasar aneh.”
Saat kusadar jam dinding sekolah di halaman utama menunjukan pukul sepuluh
malam, dan hanya menyisakan kita berdua saja, aku bertanya padanya kenapa dia
tidak membangunkan ku saja. Dia hanya menjawab, menyebalkan jika harus
membangunkan orang yang belum tentu akan bangun, jadi Levya lebih memilih
menungguku. Aku menghela napas, dan berkata, ini bukanlah yang dilakukan
perempuan. Di sekolah sampai larut malam gini. Tapi dengan wajah senyuman
anehnya, dia menyalahkanku karena aku lama tidurnya, dan karena Levya bilang ke
ibunya akan nginap di rumahku dengan alasan dia membantuku mengerjakan PR,
untuk semalam saja dia diperbolehkan.
Tidak punya hak lebih untuk membantah, aku menurut saja seperti yang dilakukan
anak kepada orangtua nya.
“Sekarang aku lebih menilaimu sebagai ibuku, ketimbang sebagai teman
perempuan.”
78
Dia hanya tersenyum, lalu berkata, “Terserah kamu saja deh.” Kemudian
melanjutkan lagi dengan jari telunjuknya menyentuh pipi kananku, “tapi kurasa
akan lebih cocok lagi kalau kau menyebutku, kakak.”
“Apakah itu sebuah permohonan darimu?”
“Hm... mungkin saja-atau tidak- intinya itu terdengar jauh lebih baik daripada
disebut ‘ibu’ olehmu.”
“Terserah kamu saja lah.....”
Sesampai di apartemen aku segera membuatkan teh hangat dan nasi omelet untuk
kami berdua. Levya masih duduk di ruang tengah seperti tatapan hampa dengan
mulut penuh coklat yang dibelinya di supermarket sewaktu pulang. Aku ingat,
sesampainya di depan apartemen kakak pemilik apartemen menatapku tajam,
seolah tidak suka aku membawa Levya denganku, namun melihat ekspresi Levya
seperti depresi dan tubuhnya yang memeluk tanganku erat, kakak itu hanya
menghela napas panjang, dan mengingatkan ku agar tidak sampai di luar batas.
Aku tidak paham apa maksudnya, namun melihat kondisi Levya, setelah membalik
omelet, aku menghampirinya. Kutaruh terlebih dahulu spatula di atas kompor, dan
menghabiskan tegukan terakhir air putih di gelas kecil, yang kutaruh di samping
galon. Hendak ku lihat ke arah jendela, cahaya kecil berkedip-kedip beberapa kali.
Yang kuingat sesuatu yang cepat dan kecil bergerak lurus mengarahku, yang kulihat
jalurnya yang memotong udara berbentuk spiral memanjang. Suara kaca pecah
begitu singkat, tapi mulutku hendak berteriak terasa kelu, dan sadar sesuatu yang
kecil itu menembus tubuhku dan rasa dingin segera menghantui tubuhku dengan
cepat. Diikuti beberapa butir darah yang berterbangan di sekitarku, serasa
mengambil kesadaranku dalam penuh. Setelah merasakan kepalaku terbentur
sesuatu yang keras, dan kesadaranku perlahan menghilang, detik terakhir aku
melihat wajah Levya lebih cemas dari sebelumnya, dan dengan cepat dia berlari
kearahku sambil berteriak keras, yang anehnya aku sama sekali tidak dapat
mendengar apa yang dia katakan. Aku hanya tersenyum menyambut ajalku yang
begitu cepat menghampiri, dan berkata dalam hati, pergilah, hiduplah. Setelah itu
aku tidak mengingat apapun.
79
Eps. 10
Cinta Itu Hanyalah Omong Kosong
Semua terlihat berkabut. Begitu tebal hingga aku tidak bisa melihatnya dengan jelas
apa yang ada di depan mataku. Rasanya begitu dingin, terlebih di bagian jantungku.
Sesaat aku menghela napas panjang sambil melihat ke langit yang perlahan menjadi
gelap menyisakan beberapa larik cahaya matahari yang terbenam di balik awan
tebal. Aku sudah mati ya.... ketika kata-kata itu muncul begitu saja di kepala ku, aku
benar-benar tidak merasakan sakit apapun di tubuhku. Malahan seakan tubuh ini
menjadi begitu dingin kurasa.
Sekali lagi aku menghela napas panjang. Aku kembali memutar memori seperti
gulungan kaset bekas ketika kita berusaha mencarinya di loteng atap rumah, sekilas
terlihat berdebu, tidak terpakai, tapi aku berhasil mengingat dengan jelas
bagaimana peluru itu menembus bagian terdalam jantungku. Seperti mengkoyakkoyak, dan jantungku meledak begitu saja. Boom... lalu aku mati.
Sederhana bukan? Manusia itu mati.
Dulu aku ingin sekali mati dan meninggalkan dunia ini selamanya, kenapa?
Entahlah... aku tidak pernah mendapatkan tiap jawaban dari pertanyaan yang
muncul begitu saja di otak ku. Tapi yang selalu terpikirkan olehku hanyalah. Aku
telah menyesal dihidupkan di dunia ini.
***
Selagi Ayra menghabiskan suapan terakhir sup Asparagus, di balik ruangan makan
yang cukup luas, bahkan hampir menyamai satu rumah, sayup-sayup terdengar
suara ribut dari arah lobi. Beberapa penjaga terlihat sibuk berlarian kecil di
sepanjang lorong panjang yang mengarah ke ruangan Ratu Freyja. Suara baju
zirahnya yang berdentang dengan lantai-lantai marmer kerajaan, membuatnya
semakin ribut dan bising. Perlahan Ayra mendengus kesal.
“Ada apa sih diluar sana?” Tanya Ayra kepada pelayan wanita disebelahnya.
“Entahlah, aku juga tidak tau Tuan Putri.”
“Benarkah? Tumben sekali pagi-pagi sudah ribut? Apa ada pemberontak di kota?”
Tanyanya lagi.
Pelayan disebelahnya hanya membalas dengan senyuman kearahnya tanpa berkatakata.
Sekali lagi Ayra mendengus kesal sambil menghabiskan beberapa roti panggang
yang dioles mayonaise. Disaat berjalan di lorong yang begitu panjang, berkali-kali
80
para penjaga melewatinya dalam tergesa-gesa, dalam hatinya selalu berpikir, apa
sih yang terjadi? Masa iya ada tiba-tiba penjahat di istana? Sampainya di ruang
aula, beberapa petinggi berkumpul, terlihat di balik badan-badan besar tentara yang
berbalut baju besi, kakaknya, Alcric berbalut baju diplomasi yang rapi lengkap
dengan jas hitam dan dasi biru pemberian Ayra kala ulang tahun kakaknya satu
minggu yang lalu dikawal menuju mobil hitam panjang di depan pintu istana.
Hendak ingin menghapirinya, tiba-tiba tangannya ditarik seseorang menjauh dari
kerumunan.
“Sstt.. jangan berisik Ayra....” Jari telunjuk Kami berusaha menutup mulut Ayra yang
hendak teriak beberapa detik lalu, hanya menyisakan beberapa senti saja bahkan
Kami hampir merasakan bagaimana detak jantung Ayra berdegup begitu kencang di
dekatnya. “Begini.... dengarkan baik-baik, ok.”
Ayra hanya mengangguk kaku.
“Tadi malam, ada penembakan.”
Mendengar perkataan konyol itu dan melihat ekspresi Kami yang seakan-akan
dibuat-buat Ayra memberontak dan berjalan menjauhi Kami sambil mengambil
tasnya yang terjatuh di lantai. “Aku kira ada apa, dasar.... kalau berita itu macam
gitu mah juga sering“Tapi... yang jadi korbannya si Nephium. Bagaimana, apa kau semakin tertarik? Tuan
Putri... tidak... adiknya Nephium, Lucius Ayra. Itukan identitas aslimu?”
“.......”
***
<beberapa jam sebelumnya....>
Ketika aku merasakan suara kaca pecah di sekitarku, waktu berjalan begitu cepat.
Tubuh El yang ambruk dengan darah yang seketika keluar dari seluruh tubuhnya
membanjiri ruangan ini.Tiba-tiba aku bergetar, terdiam, mataku terbelalak melihat
darah yang begitu banyak membanjiri tubuhku. Seakan aku tidak peduli, aku hanya
terbujur kaku melihat tubuh roboh itu. A...apa yang terjadi? Kata-kata bodoh itu
terus bergema dalam otakku yang kosong. Perlahan aku mendekatinya, dan
menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil menyebut namanya.
“Hei... bangun El... bangun.... bukankah kau sudah berjanji mau membuatkan ku
nasi omelet lagi.... hei bangun.... ini tidak lucu El....”
Setelah itu aku berteriak sekencang-kencangnya diikuti beberapa langkah kaki berat
di luar kamar.
81
Ambulan datang beberapa menit setelah kakak pemilik penginapan menelpon.
Setelahnya kak Shirou datang bersama dengan paman Gin menggunakan mobil
hitam. El langsung dibawa ambulan, perawat yang membawanya hanya
menyampaikan pesan padaku, El masih bisa diselamatkan, tapi banyak-banyak lah
berdoa karena El telah kehilangan banyak darah. Aku duduk termenung dibalut
handuk yang diberikan kakak pemilik penginapan ditemani secangkir coklat hangat.
Baju seragam yang kukenakan masih berlumuran darah El. Acap kali aku mencoba
melihat darah-darah ini, mataku seakan bergetar memutar kembali memori
beberapa menit lalu. Ketika aku melihat tubuh El ambruk begitu saja, dan
merasakan seakan-akan dia hendak mengatakan sesuatu padaku pada saat itu.
Terasa hampa udara dingin yang mencoba menusuk tulang rusukku dan beberapa
polisi yang mulai memadati ruangan TKP. Ponsel di saku beberapa kali berdering,
entah dari siapa hanya saja, aku masih selalu berkata dalam hati, apakah ini mimpi?
Apakah ini mimpi? Terus-menerus berulang kali. Berkali-kali polisi bertanya padaku,
memintaku menjelaskan peristiwa pada saat itu. Aku hanya terdiam, dan menjawab
sesekali, aku tidak tahu. Atau, aku tidak melihat apapun. Aku sangat depresi, shock
berat, tapi yang terpenting rasa akan takut kehilangan seseorang itulah yang
menguasai sepenuhnya otak ku, sekali lagi aku menangis sejadi-jadinya di pelukan
paman Gin.
***
Aku mencoba berjalan. Inikah yang dinamakan alam baka? Disini dingin, berkabut
dan tidak ada siapa-siapa. Hanya beberapa pohon yang terlihat habis terbakar di
sekelilingku seakan mereka memelukku dalam erat dan imajinasi ku bermain petak
umpet di balik dahannya yang besar. Sekilas dalam sekelebat bayangan aku melihat
sosok anak kecil berlari sambil tertawa, seakan anak kecil itu memiliki daya tarik
hingga tanpa kusadari aku berlari mengejarnya. Semakin lama aku berlari, aku
melihat pohon-pohon itu perlahan semakin rapuh dan hancur menjadi jutaan debu
hitam di sekitarku, menyelimuti beberapa bagian bawah tubuhku, kemudian
menghilang.
Ini tidak masuk akal. Itulah yang kupikirkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku terus
bertanya, namun suara tawa yang terus bergema di telingaku memperlambat laju
ku berlari. Anak itu semakin menjauh. Sekuat tenaga ku coba meraihnya, dan
berkata.
“Siapa kau?”
Anak itu berhenti kemudian berbalik.
“Aku adalah kau, kau adalah aku. Kita sama, kita terikat dengan takdir, dengan apa
yang mereka sebut sebagai Dunia.” Dia berkata pelan, namun jelas. Sayup-sayup
terdengar suara beberapa anak kecil bermain, tertawa disekelilingku.
82
Semua berubah. Semula yang ku berada dalam gelapnya hutan, kini aku berada di
sebuah taman bermain. Aku terdiam, dan melihat sekitar. mataku berkeliling
merusaha fokus melihat satu per satu anak kecil itu. Tentu saja, mereka semua
adalah teman masa kecil ku, dan itu aku. Di pojokan taman dengan sebatang bunga
yang kuingat pemberian dari ibu ku setelah beliau membatu tetangga di ladang.
Aku berusaha mendekatinya.
Tiba-tiba Levya pun muncul. Aku teringat, itulah kali pertamanya aku berbicara
dengan Levya. Dia memberikan ku sebuah robot mainan, lalu aku bertanya, untuk
apa ini?
Kemudian memori ku berganti lagi dalam cepat. Seakan tubuhku terhisap portal
waktu yang memaksaku mengingat dengan rinci berbagai kenangan masa kecil ku.
Aku melompati waktu demi waktu, melihat dengan detail bagaimana hidup ku
selama ini. Ketika beberapa anak datang mem-bully ku dengan kasar. Namun
perlahan aku tersadar.
Aku seakan berada di posisi Levya saat ini.
Yang kusadari, selama yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya, Levya terus
mengawasi ku selama ini. Tapi untuk apa, dan kenapa? Itulah pertanyaan ku.
Beberapa bait pertanyaan kini bermunculan. Untuk apa dia hanya melihatku? Dan
kenapa dia tidak membantuku? Perlahan entah kenapa rasa kesal bersarang di
hatiku. Tiba-tiba anak itu muncul.
“Apa ini? Kenapa kau mencoba memperlihatkan padaku semua ini?” Aku bertanya
dalam suara sayup tak terdengar, namun anak itu mengangguk kaku, dan berbalik
arah. Aku kembali berjalan mengikutinya.
Hingga pada waktu itu, malam peculikan Levya.
Anak itu berkata padaku. “Semua yang kita dengar adalah pendapat, bukan fakta.
Dan apa yang kita lihat adalah cara pandang kita, bukanlah kebenaran.”
Aku melihat Levya berdiri ketakutan, lalu berlari kearah ruangan musik diikuti
penjahat dibelakangnya, dan pada saat itulah aku masuk.
Lalu memori itu menghilang. Segalanya menjadi gelap dalam sekejap rasa dingin
namun panas, bahagia tapi sedih, tertawa tapi menangis bercampur aduk dalam
hatiku. Seakan aku ingin meremas jantungku dan menghilangkan perasaan aneh
yang tidak mungkin dirasakan oleh satu orang. Bahagia tapi sedih, menangis namun
tertawa.
Tiba-tiba suara disekelilingku bergema sekali lagi.
83
“Inilah perasaan tiap orang yang hidup. Mereka hanya ingin menunjukan apa yang
ingin kau lihat bukan apa yang kau rasakan. Kau membencinya, namun kau tetap
baik dihadapannya. Inilah dosa manusia. Dosa terbesar manusia, yaitu kebohongan.
Enyahlah kalian....”
Setelahnya aku pun tersadar.
84
Eps. 11
Satu Dua Manusia, Tidaklah Cukup
Mereka yang berjuang tidaklah selalu menang. Mereka hanya melihat apa yang
telah terlihat, tanpa memandang, bagaimana yang terlihat itu melalui prosesnya.
Satu dua manusia tidaklah cukup untuk selalu menjelaskan, apa arti dari keadilan di
dunia ini. Apa yang kupelajari, keadilan itu, menaruh sesuatu tepat pada tempatnya.
Berapa banyak mereka yang membunuh, atas nama keadilan. Itu busuk bukan?
Mereka hanya bersembunyi saja di balik bayang-bayang rasa takut yang terus
tumbuh. Selagi rasa takut itu terus menghantui, mereka berteriak, memohon, lalu
memekik, bahwa mereka selalu benar. Apa yang telah dilakukannya selalu benar.
Ras manusia terlemah, tidak mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.
Aku mencium bau alkohol yang begitu menusuk, dan suara detektor jantung yang
berbunyi beberapa detik sekali bergendang-gendang di telingaku. Tubuhku begitu
lemas, aku hanya menyapu pandanganku di langit-langit, dan sesekali kearah
jendela yang begitu bising suara klakson menyapu luas di udara atmosfer padat
yang dipeluk cahaya panas matahari. Aku tahu ini di rumah sakit, tapi kenapa? Aku
menarik napas dalam-dalam, sejujurnya rasa sakit yang bersarang berasal dari
dadaku. Rasa perih di dalam, tak berbekas. Sekilas terlintas, wajah anak kecil dalam
sekejap, lalu hilang.
“Apa yang terjadi padaku?”
Sudah empat hari sejak aku terbangun dari koma, teman-teman sekolah berkali-kali
mengunjungi ku, dan Levya sejak awal selalu menemani ku pada malam harinya.
Awalnya aku menolak, dengan alasan, untuk kesehatannya dan aku takut
mengganggu sekolahnya, tapi dia tetap ngotot untuk menemaniku. Paman Gin
menyetujuinya, dan begitupula dengan kakaknya, yah.... aku enggak bisa bicara
lebih untuk menolak. Bertumpuk-tumpuk keranjang penuh dengan buah-buahan
berjejer di meja, itu keranjang dari dua hari yang lalu, tidak ada yang makan. Aku
selalu melarang mereka membawa banyak-banyak buah-buahan, tapi tiap harinya
mereka membawa lebih dari hari sebelumnya.
Jam dua belas, waktu ku istirahat, dan mereka dipersilahkan pulang menyisakan
Ayra bersamaku. Yang terakhir keluar ruangan adalah para guru. Ruangan seluas
6x6 menyisakan kami saja Ayra sibuk dengan buku-buku tebal, karena satu minggu
lagi ujian, dan sebagai siswi teladan, sudah sepatutnya untuk belajar, itulah katanya.
Aku sih engga begitu peduli dengan ujian-ujian seperti itu. Selama aku mengetahui
materi, aku akan menguasainya.
85
“Apa kau selalu serajin ini?” Tanyaku seakan hanya merasakan suara udara yang
menampar-nampar gordyn berkali-kali.
“Um....”
Dia tetap membaca buku tanpa melirik kearahku. Tiba-tiba dia, Ayra, berkata.
“Apa kau tahu Sekte Ajaran Sesat akhir-akhir ini?”
“Um... apa maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Sudahlah lupakan saja.”
Setelah meneguk air putih, dan menaruh kembali gelas di atas meja, aku bertanya
pada Ayra, kenapa dia bela-belain untuk menemaniku di rumah sakit padahal kita
baru saja bertemu. Dia hanya menjawab setelah berpikir cukup lama, hanya
kemauan ku saja. Anggap saja sebagai bukti pertemanan. Jawaban yang konyol,
terkesan dipaksakan. Tapi aku tidak bertanya lanjut padanya. Aku memandang ke
arah jendela. Langit begitu luas, cerah hanya sedikit awan-awan tipis yang terlihat.
Burung-burung terbang bebas kesana-kesini. Sedikit aku paham, bahwa dunia ini
begitu luas. Aku sadar, jika aku keluar sana, ada banyak wanita yang seperti Levya.
Bahkan bisa jadi melebihinya. Tapi bukan itu permasalahannya. Awal ku mencintai
seseorang karena sifatnya, lalu wajahnya.
Tapi begitu konyol jika kukatakan. Maksudku, apa ada laki-laki yang mencintai
seorang wanita hanya dari sifat tanpa memandang wajah. Itu omong kosong bukan?
Bahkan untuk ku sendiri, itu terdengar konyol, bodoh, dan aku mencoba
membohongi diriku dengan kata-kata itu. Aku hanya mencari wanita sempurna saja.
Itu adalah kebenaran.
Waktu terasa begitu lambat, aku memerhatikan detik-detik jam di dinding berjalan
memutar berkali-kali dan bersuara lemah, tik tok tik tok, terkadang aku merasa
bosan seperti ini, apa yang bisa kulakukan lebih sebagai manusia. Hidupku hambarhambar saja. Sekali lagi aku hanya memandang langit yang perlahan membawa
awan gelap yang bergulung-gulung.
XxxX
“Levya... levya....” Mama memanggil ku dari lantai bawah selagi aku mempersiapkan
peralatan yang ingin kubawa untuk menginap malam ini. Termasuk buku-buku
untuk persiapan ujian besok.
“Iya Ma.... sebentar.......” Teriak ku sambil menghadapkan kepala keluar kamar agar
Mama mendengarnya. Suara hujan deras disertai petir berkali-kali menghapus
segala suara dan memaksakan diriku untuk mendengar jutaan hujan yang terjatuh.
Aku segera berlari kecil ke lantai bawah, kearah dapur dan mendapati Mama sibuk
mempersiapkan makan malam dengan para pembantu. Aku hanya bisa melihat saja
sambil duduk di meja makan dan bermain Hp. Mama melarangku untuk memasak,
86
karena dulu aku pernah belajar memasak tanpa diawasi siapapun kecuali kakak ku,
beberapa menit setelahnya rumah hampir saja terbakar jika aku dan kakak tidak
cepat-cepat memadamkannya.
Aku hanya tertawa sendiri.
Lalu aku bertanya.
“Papa kapan pulang Ma?”
Sejenak Mama terdiam, lalu menjawab.
“Mungkin dua tiga hari lagi sayang. Memang kenapa?” Tanya balik Mama kepadaku.
“Enggak sih Ma.... cuma kangen aja sih sama Papa....”
Mama berhenti mengupas buah Mangga dan duduk disebelahku setelah melepas
celemeknya dan ditaruh begitu saja di atas meja makan.
“Papa akhir-akhir ini lagi sibuk Sayang....” Kata Mama sambil memeluk ku, lalu
berkata lagi “Kata Papa kemarin, Papa janji satu minggu ini akan dihabiskan di
rumah saja bersama kamu. Itu janji Papa ke Mama, ok Sayang....”
Aku hanya mengangguk tanda setuju dalam diam. Kemudian Mama tersenyum dan
melanjutkan memasaknya.
“Oh iya sayang, Mama hampir lupa.... nanti malam kamu jangan jenguk El dulu ya.”
“Hah...”
XxxX
Malam menjemput, sudah sekitar satu jam lalu Ayra pulang. Biasanya sebelum dia
pulang, Levya sudah datang, tapi sampai sekarang pun Levya tak kunjung datang.
Biarlah, mugkin lagi ada sesuatu di rumahnya. Itulah pikir ku sejenak. Aku
bersenandung lemah, dan sekali lagi hanya sambil menatap langit yang perlahan
cerah pasca hujan deras beberapa menit lalu, menampakan sosok bulan purnama
yang begitu sempurna. Levya sedang apa ya... terkadang aku berpikir seperti itu,
dan hanya memikirkannya saja sudah membuatku merasa senang yang teramat
sangat, tapi kalau boleh jujur.... dari lubuk hatiku paling dalam, bahkan sampai detik
ini aku hanya tidak percaya, kalau ada wanita cantik yang menyukai ku. Ini sungguh
keajaiban bukan? Maksudku, mungkin aku hanya ketakutan saja kalau pada
akhirnya Levya akan menjauh dariku. Acap kali aku memikirikannya aku menangis,
aku ingin sekali menemuinya, lalu memeluknya sambil berbisik, aku mencintaimu.
87
Tapi kaki ku masih begitu lemah untuk sekedar berjalan jauh-jauh. Aku tidak tahu
berapa tepatnya aku tertidur, tapi kata dokter yang merawatku, aku koma selama
tiga hari. Tapi untuk waktu tiga hari begitu aneh bukan kalau tiba-tiba kaki ku terasa
lemas tak bisa digerakan. Aku menarik selimut menutupi wajah, dan berpikir,
mungkin aku tidur aja lah....
Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin. Ku buka selimutku dan melirik, jendela yang
seharusnya tertutup rapat tiba-tiba terbuka lebar. Sinar bulan yang begitu terang,
masuk memancarkan cahaya menyinari setengah ruangan ini. Aku menghempaskan
selimut dari tubuhku dan berjalan kearah jendela. Aku melihat kearah luar,
dihadapanku berdiri beberapa bangunan, mungkin itu rumah? Atau.... Aku tidak
ingat ada bangunan yang menyerupai bangunan tua, kotor, dan terlihat tak
berpenghuni di dalam ibukota, dan aku dapat melihat dengan jelas jendelanya
pecah dan ditutupi sehelai kain yang bergoyang-goyang di hempas angin lalu,
apalagi ini di tengah kota, mustahil bukan membiarkan bangunan tua itu tetap
berdiri? Kataku dalam hati, meyakinkan diriku. Aku melihat kearah jalan. Ketika aku
memfokuskan pendengaranku, samar-samar terdengar ringkikan seekor kuda dan
keledai bersaman yang sudah sangat familiar di telingaku.
Lalu, aku segera menyapu mataku ke ujung horison dan mendapati seperti kabutkabut tipis berada di atas kota, seakan menyelimutinya dalam keheningan, tersadar
sepenuhnya, kalau kota ini, benar-benar sepi. Aku memegang erat kusen jendela ini
seperti seseorang yang takut akan ketinggian dan tidak ingin terjatuh. Tapi aku
tidak, aku hanya merasakan ketakutan saja melihat sekitarku yang begitu asing dan
mencekam.Terlihat juga, beberapa asap yang mengepul di udara, ada beberapa
titik. Setidaknya aku melihat ada empat asap. Aku menelan ludah. Tempat apa ini?
Tanyaku dalam hati, seakan sadar ini bukanlah ibukota yang kutempati. Tempatnya
begitu jadul, dimana-mana hanya terdapat bangunan-bangunan tua, dan bahkan
tidak ada satupun lampu jalan, dan jalanannya pun berlubang dan ditutupi
beberapa lumpur dan genangan air, ada juga beberapa bendi-bendi yang dibiarkan
begitu saja di jalanan tanpa ada kudanya.
Aku menelan ludah.
Dengan cepat aku membalikan badanku, dan melihat kearah belakang punggung,
dan tempat ini bukanlah rumah sakit. Itulah yang pertama kali terlintas di benakku.
Tidak ada bau alkohol, ranjangnya terbuat dari dipan-dipan kayu tua, terasa sangat
berdebu sekali. Ini sebuah kamar. Aku melihat ke sisi-sisi ruangan. Begitu kosong,
dan terdapat sarang laba-laba di tiap sudutnya. Mengambil mantel yang tergeletak
di atas lantai yang terbuat dari kayu, aku berjalan kearah pintu dengan jantungku
yang tidak berhentinya berdetak kencang.
Perlahan ku buka pintu ini dan suara yang berdecit pelan seakan mengetuk semua
pintu kamar di lorong ini, dan suaranya yang terpantulkan seakan membesar dan
88
masuk ke telingaku. Ngiik~ setidaknya begitulah suaranya. Dan aku tidak ingin
mengingat suara seperti itu selamanya. Perlahan aku kembali menelan ludah.
Lorong ini begitu sepi namun sebelah kanan-kiriku terdapat kamar dengan nomor
kamar di depan pintunya. Aku melihat ke kanan, lalu ke kiri memastikan kalau
setidaknya ada satu kamar yang masih nyala lampunya. Tapi nyatanya tidak, aku
seperti sendiri di bangunan ini. Di samping kamar sebelah kanan ku terdapat tangga
menuju bawah. Setelah menelan ludah, bahkan dua kali aku melakukan itu, kakiku
terasa berkeringat dan telapak tanganku pun basah. Aku berjalan kearah tangga dan
menuruninya perlahan. Ok baiklah, tangga ini berbentuk spiral, anak tangga nya
terbuat dari kayu dan pegangannya terbuat dari besi yang karatan dan tercium
sekali bau karatannya. Ketika aku mengintip ke lantai bawahnya, itu adalah sebuah,
mirip seperti kantin. Ada beberapa meja dan kursi panjang, dan bagian pojok
ruangannya begitu gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa.
Lalu aku pun segera kearah pintu. Dihadapanku kini sebuah jalanan sekali lagi terasa
sepi. Sekali lagi, ini kota mati, namun di beberapa titik sudut-sudut mulut gang kecil
bersender beberapa pengemis, mereka tidak tidur, hanya saja matanya menunduk
dan mencoba sekuat tenaga untuk istirahat. Ada tiga, empat, bahkan sampai tujuh
gelandangan yang terlihat meski samar-samar, karena mereka ditelan bayangbayang, baik itu tubuhnya ataupun hawa keberadaannya pun sangat tipis. Ketika
aku mulai berjalan, sayup-sayup mata mereka mengikuti langkah kaki ku, aku sedikit
merapatkan mantel kusam ini, menunjukan, aku sama seperti kalian¸ setidaknya
itulah yang ingin ku katakan. Tapi aku memutuskan untuk tetap diam, dan berjalan
kedepan dengan cahaya remang bulang yang perlahan tertutup awan yang
bergerak.
Tiba-tiba, seorang anak muncul dari dalam gang sebelahku, langkahnya begitu
cepat, aku dapat melihat itu adalah anak perempuan, masih kecil rambutnya pirang
panjang namun kusut, wajahnya pun dekil ada beberapa bekas make up yang luntur
di area pipinya, ketika wanita itu hendak melewati jalan aspal, suara kereta kuda
semakin cepat dan kencang menuju arah kami dari balik punggungku. Aku memutar
leherku ke belakang, waktu yang seakan melambat ketika aku melihat jarak antara
kereta kuda itu dengan wanita asing hanya sekitar kurang dari satu meter, aku
hendak berteriak, berhenti! Namun, mulutku kelu, dan tidak ada satupun suara yang
keluar dari tenggorokan ku.
Alhasil...
Sraakk... begitulah suaranya kurang lebih, dan wanita itu tersungkur di jalanan
dengan darah keluar dari kepala, dan... kepalanya... um.. aku tidak mau
mengatakannya tapi... itu pecah, dan aku melihat seperti otaknya sedikit keluar dari
tengkoraknya yang retak. Percayalah padaku, aku baru saja melihat dengan kepala
sendiri bagaimana cairan-cairan otak keluar melalui mata dan tengkoraknya yang
retak hebat.
89
Aku menutup mulut, mengalihkan pandangan kearah lain, dan sekuat tenaga
menahan rasa agar tidak muntah. Mataku seperti bergetar, jantungku berdetak
sangat sangat cepat dan tidak normal. Momen yang kurang dari satu menit itu,
sangat gila! Maksudku, kereta itu menabrak dan melindas wanita muda lalu pergi
begitu saja. Jalanku sempoyongan, dan berusaha meraih lampu jalan di depanku
dan bersender sesaat. A- apa itu?! I- itu gila! Kaki ku tidak henti-hentinya bergetar,
dan tanganku menggenggam erat mantel ini.
Aku harus cepat-cepat pergi dari sini!
Aku melanjutkan jalanku, kali ini aku berjalan sangat cepat, bahkan setengah berlari.
Tiba-tiba di sekelilingku berubah drastis. Kali ini aku melihat lagi, di ujung gang,
seorang wanita hendak diperkosa oleh laki-laki tinggi besar, dan satu tangannya
memegang kedua tangan wanita itu. Sambil berteriak-teriak dan menatapku dengan
permohonan yang amat sangat, wanita itu perlahan seperti pasrah dan membiarkan
laki-laki itu mengacak-acak tubuhnya. Aku memejamkan mata. Dan menggertakkan
gigi-gigiku lalu mengepal sekuat tenaga untuk mengacuhkan tatapan wanita
tersebut. Aku tidak bisa bukan? M- maksudku, laki-laki itu sangat besar dan garang,
bisa saja aku mati ditangannya dan wanita itu tetap diperkosa! Tanganku, kakiku,
tubuhku seluruhnya bergetar hebat, dan aku mendengar suara teriakan wanita itu
bercampur dengan pekikan tawa yang hebat.
“Ampuni aku, ampuni aku, tidak tidak tidak, aku tidak mau, TIDAAAKKK!!!!” Bahkan
wanita itu terus berteriak, dan aku terdiam.
Perlahan aku membuka mataku, jari-jari yang menutupinya perlahan kusingkirkan,
dan bau amis segera menyambut hidungku.
Kaki ku menyentuh sesuatu, sepatu ku basah dan seperti tergenang hingga mata
kaki. Aku menatap kakiku yang menyentuh trotoar, airnya sangat hitam, setidaknya
itulah yang kulihat, dan sedikit kental. Perlahan ketika aku mulai sadar apa yang
menenggelamkanku, bermunculan dimana-mana mayat, entah itu wanita atau pria,
muda bahkan tua. Semua muncul begitu saja seperti dedaunan yang berguguran.
Napasku seperti terangkat, saraf-saraf ku menegang, dan otakku terasa akan pecah
hanya dalam hitungan detik yang menyebalkan. Oh tidak, ini terjadi lagi! Dari
mayat-mayat itu, tiba-tiba memekik, memohon, dan berusaha menggapaiku dengan
tangan-tangannya yang perlahan mengering dan semakin kurus. Seperti sebuah
mayat hidup, mereka bahkan bisa mengucapkan satu dua kata.
Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangan ku yang berkeringat hebat,
badanku terasa kaku sekedar digerakan lari sejauh mungkin. Kaki ku hanya bergetar
saja, dan semakin lama tulang-tulangku melemas dan penglihatanku mulai kabur,
berbayang-bayang. Hhah... hhahh... napas ku semakin berat, dan bahuku serasa ada
yang menekan, dikejauhan, diujung darah-darah ini bermuara, seorang muncul. Aku
tidak dapat mendeskripsikan secara lengkap, tapi dia menggunakan topi tinggi dan...
90
membawa sebuah tongkat, perlahan berjalan kearahku. Kesadaranku semakin
menipis, disaat aku terus berpikir kalau ini hanya mimpi, berulang-ulang kali aku
mencubit lenganku sendiri dan merasakan sakit tanpa aku terbangun, ataupun
sadar dalam sesaat, kalau ini hanya mimpi.
Oh sial, aku akan mati.... lagi... kah?
Mataku tertutup sepersekian detik, dan terbangun oleh tamparan sesuatu. Aku
terkejut, dan mendapati semua kegilaan ini masih berlangsung, namun surat kabar
yang entah muncul dari mana menempel di wajahku. Segera aku menyingkirkannya
dan melihatnya. Jelas sekali, terdapat tulisan besar-besar di judulnya “Jack the
Ripper Meneror Kota” dan di halaman selanjutnya tertulis juga judul yang sama
anehnya “Rondon Telah Jatuh”
Aku membuang jauh-jauh surat kabar itu.
SialHanya hitungan detik saja, seorang itu tiba-tiba muncul di hadapanku, tersenyum
lebar dan memperlihatkan giginya yang rusak dan kotor, dan juga beberapa bekas
luka sayatan memenuhi wajahnya. Tangan kanannya bergerak cepat seperti
memotong angin. Dalam detik itu, tubuhku berhenti bergerak, sesuatu yang tipis
dan dingin menyentuh leherku. Napasku berhenti, dan tangan itu bergerak cepat
menembus jantung.
WhaPerlahan aku hanya merasakan kesadaranku menghilang diiringi dengan suara tawa
tipis... aku terjatuh.
91
Eps. 12
Teror Kota
Hujan turun lagi, entah sudah yang beberapa kalinya dalam satu hari ini. Aku
merebahkan tubuhku ke sofa dan menggigit kecil biskuit di tangan lalu menaruhnya
di atas piring kecil. Hhaahh~ aku menghela napas cukup panjang, tanganku
berusaha menggapai remote pemanas, setelah itu aku menyalakan televisi. Acara
berita yang pertama kali kulihat, kembali dengan pembunuhan berantai dengan
cara yang sama. Ada bekas sayatan tipis di leher seolah itu adalah pekerjaan
seorang dokter bedah profesional dan jantung mereka hancur di tubuh. Polisi
awalnya menduga kalau itu efek sebuah obat. Tapi dari wajah-wajah korban tidak
ada satupun gejala-gejala di wajah atau di tubuh mereka kalau mereka keracunan
sebuah obat, dan para korban lebih tepatnya mereka terlihat seperti tertidur.
Melupakan sejenak teror akhir-akhir ini, tadi pagi sekitar jam lima, seorang polisi
menemukan tubuh El tergeletak di jalanan. Setelah menghubungi Levya, El pun
dibawa ke apartemen nya. Singkat cerita, aku belum menjenguknya. Yang terbesit di
benakku awalnya, kakak seharusnya di rumah sakit, namun...
“Bagaimana dia bisa ada di jalan gitu?”
Aku memegang dagu, selagi otakku berusaha menguhubungkan beberapa clue yang
kudapat dari Kami, aku sedikit menyeruput teh lemon selagi hangat.
“Aku tidak tahu apa-apa pada akhirnya~” Setelah berkata yang nadanya terdengar
seperti nenek tua, aku menghela napasku panjang-panjang. Cahaya kuning remang
di kamar ku sedikit membuat mataku mengerjap-ngerjap, dan alunan piano yang
kusetel dari handphone ku bermelodi rendah.
Hhahh~ Kakak kah... aku berkata pada diriku sendiri, dan memejamkan mata
membayangi kakak tersenyum padaku. Aku pun tersenyum.
XxxX
Pernahkah kalian berpikir untuk menyelamatkan manusia? Atau pernahkah berpikir
manusia itu makhluk yang sempurna? Keduanya memang tidak ada sangkut pautnya
tapi, jika kalian pernah berpikir seperti itu berarti kalian, atau hati kalian benarbenar tulus saat membantu orang. Faktanya kalian sama sekali tidak membenci
manusia. Baik itu mereka sebagai sesama ras jenis, sosial di lingkungan, ataupun
sebagai pembunuh. Kalian terus berpikir, manusia itu baik dan tidak semua sama.
Masih ada yang baik diantara mereka yang siap tersenyum untuk kita saat kita
bersedih, ataupun disaat kita merasa sendiri.
92
Ketika mataku menatap langit yang begitu luas di angkasa dan tubuhku berbaring di
atas rerumputan dan angin sepoi-sepoi menyelimuti, dan ketika aku melihat
bintang-bintang jatuh di atas kepalaku, bukankah itu indah? Bukankah itu yang
selama ini kita inginkan? Merasa bebas dan membiarkan alam bersatu dengan
darah daging kita. Kita berada di atas bukit rendah dengan alunan lembut di telinga
dari perangkat mobile. Nyawa kita serasa terbang melintasi tiap ujung horison dan
kabut-kabut menjadi pakaian kita, diikuti dengan awan-awan lembut yang menjadi
tempat istirahat kala lelah. Bukankah itu indah?
Tutuplah mata kalian, dan bayangkan kalian berada di atas bukit, pada malam hari.
Di telinga kalian terpasang alunan lembut melodi yang menari-nari di hati, kalian
menutup mata dan merasakan angin sepoi nan lembut mengelus ujung-ujung
rambut kalian dan mengelus-elus kulit kalian, bersamaan dengan langit malam yang
cerah dan beberapa bintang jatuh melewati kepala kalian lalu hilang ditelan gelap.
Bunga-bunga dandelion disekitar kalian berterbangan jauh, jauh, dan jauh ke langit
seolah mereka ingin kembali tumbuh di tempat yang berbeda, angin yang berbeda,
dan langit yang berbeda.
Kemudian, perasaan indah itu tiba-tiba lenyap.
Kalian hanya melihat dan berdiri ditengah-tengah dengan mata terbuka lebar,
beberapa orang membunuh anak kecil, orang-orang berbadan tegap menangkap
wanita-wanita untuk dijadikan hiburan malam, darah bercipratan dimana-mana,
bahkan diantara mereka tertidur pulas dengan wajah tersenyum selagi darah-darah
itu masih menempel di bajunya dan tangannya memegang erat sebuah pisau besar,
seakan-akan pisau itu adalah guling baginya.
Lalu, seorang anak berlari di tengah kehancuran itu, dan tertabrak hingga kepalanya
pecah, dan orang-orang yang melihatnya hanya tertawa terbahak-bahak. Kalian
tidak sanggup berteriak ataupun membantu, kalian hanya dipaksakan untuk terus
melihat teror demi teror berlangsung sampai matahari terbit dan kabut-kabut tipis
perlahan menghilang. Setelah melihat itu semua, apakah kalian akan menganggap
manusia itu makhluk sempurna? Apakah kalian akan tetap menganggap manusia itu
makhluk sosial yang saling membantu manusia lainnya?
Jika iya...
Apakah aku harus mengatakan, kalau kalian itu... sedikit gila?
Aku membuka mataku. Untuk berapa kalinya? Entahlah. Akhir-akhir ini aku sering
kali pingsan dan tidak sadarkan diri. Dan kali ini, aku merasa berada di atmosfer
yang ku kenal, dan ku rindukan untuk beberapa hari terakhir.
Apakah ini ruanganku?
Aku menggerakan kepala ke kiri. Terlihat dapur yang begitu sederhana dengan rak
piring yang hanya teriisi oleh dua piring sedang dan empat gelas plastik. Lalu aku
93
mengalihkan pandanganku ke kanan. Disitu terdapat jendela yang mengarah ke
belakang apartemen yang rumput-rumput liar nya mulai setinggi mata kaki karena
tidak terawat seingatku terakhir kalinya kala aku membuang sampah dan
mengeceknya. Aku tersenyum dan bernapas lega. Membiarkan mataku kembali
tertutup, aku tertidur sekali lagi, dan berharap...
“Jangan membangunkan ku ya.”
Masih terbaring dalam keadaan berantakan, aku menggeleng-geleng kepala lalu
melihat kearah sekitar. Aku biasanya pandai bangun tidur, tapi alasan kenapa aku
tidak bisa berpikir jernih setelah bangun tidur, singkatnya karena aku tidak
sepenuhnya ‘tertidur’. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi dengan kota aneh
itu. Tapi hal pertama yang terpikir olehku adalah aku sedang berada di ruangan
yang begitu familiar.
“I- ini kamar ku bukan?” Suaraku keluar begitu saja dengan nada rendah.
“Oh, Neph. Kau sudah bangun?”
Awal yang kulihat adalah siluet seseorang dengan celemek bergambar beruang
kecil-kecil di sekitarnya yang didominan dengan warna merah muda sebagai warna
latarnya. Dengan rambut kunciran kuda pendek dan lengan baju dilipat setengah
hingga siku, wanita itu masih memegang spatula di tangan kanannya. Aroma entah
itu parfum atau tubuhnya yang begitu manis semerbak mengisi sampai sudut-sudut
kamar kecil ini. Ya.. ini aroma Ayra. Itulah yang ku ketahui.
“Owh A-ayra...”
Aku berusaha bangkit dengan bantuan kedua tanganku tapi tiba-tiba tulang-tulang
tanganku terasa nyeri dan keram seketika. Melihatku yang kesakitan, Ayra berlari
kearahku dan melempar spatulanya. Lalu tangannya memegang punggungku
dengan cekatan. Aku dari jarak sedekat ini bahkan dapat mencium aroma manis dari
tubuhnya yang begitu lembut. Sedikit melirik kearah wajahnya yang sedikit
berkeringat, aku tersenyum dan tanpa sadar wajahku merona merah.
“Kau seharusnya tidak memaksakan bangun dulu, dasar bodoh.”
Lalu dengan perlahan dia membaringkan kembali tubuhku keatas kasur lipat.
“T-terimakasih Ayra. Um....”
“Sama-sama. Lain kali lebih berhati-hati lah, dasar bodoh.” Setelah dia
membaringkan ku, Ayra meraih spatula-nya dan berdiri dan merapikan celemeknya
yang sedikit terlipat.
“K-kau bahkan menyebutku ‘bodoh’ dua kali ya, hehehe.”
“Tentu saja dasar bodoh. Hm.” Kemudian berpaling dan kembali ke dapur.
94
Beberapa menit kemudian, aroma segar dan sedap menusuk hidungku dalam
sekejap mata berkedip, aku merasakan perutku tiba-tiba keroncongan. Oh sial...
ketika kupikir-pikir, berapa kali aku jatuh pingsan? Lebih tepatnya berapa hari aku
tidak sadarkan diri, dan tidak makan sama sekali? Disaat pertanyaan-pertanyaan itu
bermunculan di otakku, jiwa ku yang lainnya malahan berusaha mengingat-ingat
mimpi seram itu. Apakah itu mimpi? Aku bertanya dalam hati selagi mataku
menatap Ayra dari bawah yang sedang sibuk dengan beberapa piring disekitarnya.
Dia... maksudku Ayra.. sial dia sangat manis menggunakan pakaian itu. Ketika katakata itu keluar dari mulutku –dan tentu saja dengan suara serendah-rendahnya- aku
berkata dalam hatiku, eh, a- apa yang baru saja kukatakan, m- maksudku... dia
terlihat sangat muda, dan um... aku berani bertaruh dengan taruhan apapun,
umurnya tidak lebih tua dari diriku. Aku menelan ludah.
“Hei, Ayra ...”
“Um, iya kenapa ka- m- maksudku.. Neph.” Untuk beberapa alasan, aku mulai
bertanya dalam hati, kenapa wajahnya tiba-tiba memerah begitu? Lalu dia
melanjutkan kata-katanya dengan wajah datar. “Ada apa Neph?”
“Kira-kira, Cuma sekedar pertanyaan biasa saja, um... berapa umur mu?”
“WhaAyra yang sedang terlihat mencicipi sedikit masakannya, tiba-tiba tersedak setelah
mendengar itu. Aku terkejut melihatnya, dan tubuhku tiba-tiba bangkit dan hendak
berdiri namun Ayra memberi isyarat dengan tangannya untukku agar tetap di
tempat. Aku menurut. Tentu saja, setelah aku membuatnya tersedak, dan berpikir
kalau dia marah denganku, aku menelan ludahku.
“K- k- kau tidak apa-apa... A- Ayra?” Nadaku terdengar payah dan agak dipaksakan.
Ah sial, dia pasti marah banget denganku.
“Iyaa... ada apa?!”
W- wajahnya ... sudah kuduga dia marah padaku
“M- maap.” Ucapku pelan.
“Hm.” Jawabnya sambil membuang muka dariku dan tetap perlahan memasukan
masakannya ke piring.
Saat makan, diriku terlihat sangat lahap. Aku tidak bisa bohong, aku sangat lapar.
Bahkan untuk sekedar mengangkat sendok dan mengucapkan, selamat makan,
terlalu lama bagiku. Ayra yang kuperhatikan dari awal, dia hanya menatapku saja
saat mulutku bahkan sanggup memasukkan satu potongan ayam bulat-bulat, lalu
memasukkan ikan goreng setelahnya dalam satu tarikan napas. Lalu, aku menyuap
beberapa nasi dengan daging cincang yang dibumbui pedas. Semua kulahap.
95
Beberapa detik kemudian, dia tersenyum menatapku dan mencicipi sayur nya
dengan perlahan.
“Masakanmu boleh juga Ayra.” Aku mengatakannya dengan mulut penuh berbagai
makanan. “Kamu sudah sangat cocok menjadi seorang istri nanti, sungguh.”
Tiba-tiba Ayra kembali tersedak, kali ini sungguh-sungguh sial. Dia harus meminum
hingga dua gelas sekaligus.
“Kalau makan pelan-pelan Ayra...” Ujarku setelah berusaha menghabiskan makanan
di mulut.
“Menurutmu salah siapa ini hah?!”
“Entah... apa mungkin kau saking laparnya sampai harus makan terburu-buru
begitu? Hihihi .....”
“Sudahlah hentikan, dasar bodoh.” Wajahnya dipalingkan, sambil mengerutkan
bibirnya dia merona merah, dan membuatku sedikit tertawa kecil, lalu tersenyum.
“Terimakasih ... Ayra.” Kataku.
“U- untuk apa?”
“Segalanya. Dan juga hari ini.” Jawabku.
“Sama-sama.” Jawabnya singkat sambil menyeruput sedikit minumannya.
Lalu, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami selagi makan, dan hanya suara
sendok dan garpu saja yang sedikit menghidupkan suasana, selagi Ayra melihat
berita dan gonta-ganti saluran yang isinya sama semua, yaitu membahas
pembunuhan berantai di kota, aku masih sedikit merasakan de javu tentang mimpi
waktu itu. Maksudku...
Ini hanya kebetulan saja bukan? Maksudku tidak mungkin semua ini berkaitan...
dengan mimpi itu.
“Hei.. Neph...” Tiba-tiba Ayra berbicara setelah mengelap mulutnya menggunakan
tisu di sudut ruangan dekat televisi. “Apa kau tahu ... setiap korban-korban ini
mereka semua memiliki bekas luka yang sama. Setidaknya ada dua, yang dilarang
disebarkan ke publik saat ini.” Lanjutnya sambil melirik kearahku meski hampir
setengah wajahnya menatap televisi.
“Maksudmu, bekas sayatan di leher itu bukan?” Tanyaku, dan entah kenapa rasa
takut menyelimuti tubuhku dalam sepersekian detik.
“Ada satu lagi.” Ucapnya sambil mengangkat jari telunjuknya. “Yaitu bekas di
jantung, atau lebih tepatnya terdapat bekas luka dalam di dada seakan sebuah
96
tangan masuk untuk menghancurkan jantung-jantung itu.” Lanjutnya sambil
mencoba mempraktikannya kepadaku.
Mataku bergetar, jantungku berpacu cepat, seakan-akan aku merasakan jantungku
akan hancur hingga sedikit mengabaikan satu dua butir keringat jatuh dari pelipis.
“Apa itu benar?” Tanyaku tiba-tiba.
Ayra tidak memberi jawaban kata-kata, dia hanya mengangguk kaku tanpa melihat
kearahku. Malam pun berlalu begitu cepat. Mataku terjaga hingga pagi hari, dan
seakan hatiku mengetuk kedalam jiwa ku sedalam-dalamnya, mengatakan,
“....................... menyebalkan sekali.”
97
Eps 13
Rasa Khawatir mengalahkan segalanya
Kelas pun terasa sunyi. Semua seperti tidak pernah terjadi. Semua terasa mati. Tiap mata
dengan fokusnya melihat tiap gesekkan kapur di papan tulis. Tangan-tangan dengan cekatan
menulis di lembaran-lembaran kertas putih, dan beberapa hanya menatap dengan wajah
penuh rasa malas, sebagian pun berwajah kosong. Sudah sejam lebih pelajaran ini bermulai,
rasa malas pun semakin memuncak di pundak ku. Punggung ku terasa seperti ditimpa logam
berat, perlahan pun aku ambruk dan tertidur di atas meja.
Aahh.. menyebalkan.. aku lelah sekali akhir-akhir ini... Semua ini...
Menyebalkan.
Bel pun berbunyi dalam aku masih setengah sadar. Aku menyipitkan mata, dan melihat guru
merapikan bukunya dan berangsur pergi.
“Hei... El.” Tiba-tiba suara itu terdengar menyapaku, dan entah kenapa apakah ini keajaiban
ataupun tidak, rasa kantuk tiba-tiba menghilang begitu saja. Seakan perasaan itu tertutupi
dengan suaranya yang halus. “Apa kau ingin makan bareng... di taman?” Lanjutnya, dan aku
pun mulai menatap wajahnya.
“Um... y.. yaah.. maap deh Levya.” Jawabku sambil menggaruk sedikit rambut belakang
kepala. “Aku tidak bawa bekal hari ini, dan juga“Siapa yang bilang kalau kita makan bekal sendiri-sendiri...” Katanya. “Nih.. aku sudah
buatkan satu untukmu.” Sambil menyondorkan kotak bekal kecil berwarna biru, aku
merasakan perutku tiba-tiba keroncongan. Sambil tertawa kecil, aku menjawab.
“Maaf sering merepotkanmu... Levya.”
“Dasar... wanita akan lebih suka jika kau bilang ‘terimakasih’ daripada minta maaf seperti itu
tau...”
Berjalan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah lepas dari majikannya,
jalanan koridor lantai dua ini begitu panjang, dan banyak yang lalu-lalang melewati kami
tanpa menyapa, dan beberapa menyapa. Dan tentunya, menyapa Levya saja. Beberapa
melihatku dalam pandangan jijik, seakan berkata, minggir sana! Dasar pengganggu! Stalker!
Penguntit! Mesum! Dan lain sebagainya. Hahhh... sekali lagi aku hanya dapat menghela
napas saja. Bukankah itu menyebalkan? Kasta dalam kehidupan tidaklah akan menghilang
begitu saja. Kata bijak, jika yang mengatakan adalah orang seperti aku, hanya terasa seperti
taik saja. Dan kata-kata taik yang diucapkan orang-orang kaya, akan seperti kata bijak.
Menyebalkan.
“Hey El...” Tiba-tiba Levya berkata dengan nada yang sedikit intens.
98
“I... iya Levya.. kenapa?” Jawabku sedikit terbata-bata. Ketika mata ku, karena kebiasaan,
menatap orang-orang dan menilai dalam sekejap
“Tidak apa-apa...”
Eh...
Aku tidak dapat melihat wajahnya, dan punggungnya sedikit terlihat kaku. Apa ada
masalah? Tanyaku dalam hati. Aku tidak ingin berkata, aku bukanlah orang yang peka... aku
tidak tahu apa-apa. Kata-kata itu tidaklah pantas untuk ku. Jika kutebak-tebak, apa karena
kejadian akhir-akhir ini dia mencemaskan ku? Bukankah itu terlalu berlebihan? Aku
menggaruk-garuk belakang kepala ku, dan meyakinkan hatiku. Sebisa mungkin aku harus
menjadikannya ceria lagi.
Tempat yang kami tuju belakang taman yang hanya seluas lapangan tenis lebih sedikit. Yang
diisi bangku-bangku panjang di bawah bayang-bayang pohon rindang, lalu sisi kanan nya
terdapat keran-keran air minum, dan sebelah barat daya terpapang besar-besar majalah
dinding informasi sekolah. Jika aku berkata dalam diriku, hebat sekali aku bisa bersekolah
dengan normal di sekolah elite seperti ini. Seperti mimpi saja. Kami duduk berdampingan.
Sepersekian detik hanya terdiam tanpa kata-kata, aku merasakan rasa canggung yang besar,
seperti...
Apa kita pernah kenalan sebelumnya napa yak? Kenapa terasa canggung sekali!!!
Aku hanya merasakan hembusan angin yang melewatiku begitu kosong, seakan mereka
lewat begitu saja tanpa ada kesan sekecilpun. Atau... hatiku yang kosong? Tapi kenapa? Aku
mendongak keatas menatap langit biru yang begitu luas, yaahh... ini menyebalkan disaat
kau hanya diam saja dengan teman dekatmu tanpa berkata apapun. Rasa canggung apa
ini?!
“El.. apa selama ini aku... membebanimu?” Tiba-tiba suara itu... aku tahu kalau itu hanya
pertanyaan biasa, namun nada saat dia mengucapkan, rasa canggung yang ku alami,
ternyata karena ini? Begitu abstrak maksud yang diinginkan tapi... “Tolong katakan
sejujurnya?” Lanjutnya, dan matanya tajam kearahku.
Aku tidak langsung menjawab. Aku terdiam beberapa saat. Menatap tangan ku, yang entah
kenapa kejadian-kejadian lama terulang seakan aku melihat sebuah film, ingatan ini terasa
nyata di dalam otakku. Garis benang merah yang kusut, perlahan terulur, dan aku paham.
“Apa karena kejadian selama ini? Dan kau menganggap ini semua karena dirimu, Levya?”
Aku menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Dia terlihat kaku. Tidak menjawab,
hanya terdiam. “Hey.. Levya. Misalkan ada seorang anak...” Aku sedikit bersandar dan
mendongakkan kepala melihat semburat-semburat cahaya matahari dari balik tirai
dedaunan yang bergoyang dihempas angin. “Dia terpaksa harus dijauhkan dari ibunya
karena ibunya alasan anak itu selalu dilecehkan orang-orang sekitarnya. Apa menurutmu?
Apa kau setuju dengan pernyataan itu? Atau kau menghalau alasan itu?”
99
“Entah ini ada hubungannya atau tidak, tapi... jika aku jadi anak itu... aku merasa, ketika
semua orang seakan membenciku dan hanya ibuku seorang yang menyayangiku, yang ku
inginkan selalu berada di sisi ibuku. Aku tidak peduli apa kata ibuku, jika ibuku hanya
seorang yang menyebabkan semua ini, tapiDia terdiam. Tiba-tiba Levya terdiam. Aku sedikit tersenyum.
“Aku... aku tidak mau berpisah dengannya.” Lanjutnya, dan nadanya terdengar semakin
lemah, lalu dia terdiam.
“Kau tahu Levya...” Setelah mengambil napas, dan menggenggam erat tangannya, aku
berkata. “Itulah yang kurasakan. Cinta itu memiliki tiga unsur. Yang pertama, kasih sayang.
Dan kau sudah memberikan itu kepadaku dari awal kita bertemu. Yang kedua, Peduli. Kau
sangat peduli padaku, bahkan ketika aku awal-awal pindah, saat kamu ingin pulang itu loh..
yang ketiga“Khawatir.” Sambungnya. Sepersekian detik aku terkejut, lalu tersenyum.
“Ya.. kau benar. Dan kejadian ini menjadikan ku yakin... aku merasa dirimu lah satu-satunya
yang mencintaiku sepenuh hati. Dan ketika kamu menyuruhku untuk menjauhi mu... apakah
aku bisa?”
“Tidak.... aku... aku juga tidak ingin tapi“Inilah pilihanku. Levya.” Aku menatap dalam-dalam bola matanya yang sedikit bergetar.
“Sejak saat kau menyelamatkan ku hari itu... aku berpikir akan selalu menjagamu. Anggap
saja... ini bayar hutangku kepadamu, Lev.”
Dia tersipu malu. Dasar... jangan malu-malu di depanku lah... Suasana yang tiba-tiba intens
medadak tiap suara yang awalnya bising-bising menjadi sunyi. Perlahan bisik-bisik yang
bergema disetiap sudut-sudut lorong memunculkan langkah-langkah kaki yang berirama
mendekat. Tanpa sadar, aku membalikkan tubuhku dan menatap, apa gerangan yang
terjadi?
Segerombolan orang berjas hitam rapi datang menghampiri. Siapa mereka? Tanyaku dalam
hati. Untuk alasan lain, hatiku berdegup kencang berpikir mereka akan menghampiriku. Dan
pada akhirnya dugaanku pun benar. Tiba-tiba Levya menggenggam erat tangan ku, dan aku
merasa tangannya berkeringat dan bergetar. Aku menatap wajahnya yang menjadi cemas,
tubuhku bergeser menutupi wajah Levya, dan menatap wajah orang-orang yang datang.
“Nephium Lucius Coloros. Bukankah begitu?”
Nadanya terdengar berat. Aku merasa keringat yang bercucuran di kening dan di
punggungku membasahi bajuku. Aku menelan ludah. Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
“Ikutlah dengan kami, Lucius.”
100
Atmosfer padat kota menyerbu bagai kolonial semut memperebutkan gula yang tejatuh.
Gaung di jalan seperti suara dengung lalat yang berterbangan. Mobil-mobil mewah berjejer di
jalan, padat merayap. Suara klakson berkali-kali terdengar dari ujung hingga ujung, seperti
sedang memperebutkan waktu tak ada siapapun dari mereka yang hendak mengalah. Polisipolisi ber-rompi biru garis kuning berdiri di tengah perempatan jalan, tangannya sibuk
menertibkan mobil-mobil laju. Dari balik kaca tengah mobil, si sopir melirik kearah ku, yang
sebagai penumpangnya yang tengah duduk diam menatap gedung-gedung pencakar langit
menjulang tinggi di kiri kanannya.
Bersetelan jas hitam rapi, rambut disisir ke belakang dengan mengkilap, jam tangan kecil
menghiasi tangan kanannya yang putih pucat. Apa semua sopir pribadi seperti ini? Tanyaku
dalam hati. Matanya tajam menonjol ke dalam, memandangi setiap inci jalan yang dilewatinya
dari dalam kaca mobil. Hari itu cuaca cukup cerah. Matahari besar terlihat menjulang tinggi
dari balik gedung biru yang lebar, lapangan bola di seberang kiri jalan dipenuhi anak-anak
bermain bola dengan seragam merah sedikit berwarna putih di sekitarnya. Ada tiga baris kata
di belakang baju mereka tapi laki-laki itu hanya membaca dua kata awalnya saja dengan aksen
inggris yang buruk.
“Victoria, Concordia.” Mungkin ‘Victoria’ itu kemenangan, dan entah apa itu ‘Concordia’,
pikirku sambil melamun.
Lima belas menit berlalu mobil sedan hitam itu melaju cepat, memotong baris waktu yang
telah terbuang, berbelok kanan di perempatan jalan dan menghilang dari balik ruko-ruko rapi
yang dipadati pejalan kaki. Suara anak kecil bermain sayup-sayup terdengar sesaat lalu
menghilang dari pendengaran, beberapa orang joging dengan headset besar terpasang
menutupi kedua telinganya. Mobil ini pun semakin melaju lebih cepat di jalan pertigaan
Bellamy Road dan Alderbrook Road, seusainya istana besar terlihat megah di hadapan si sopir.
Memiliki arsitektur mewah, yang didominan oleh warna putih dan di setiap pagar-pagarnya
terpapang bendera-bendera tinggi-tinggi. Bagian terluarnya, marmer yang tertata di dinding
luar istana yang hanya dilapisi kaca, memantulkan atmosfer ke dalam dua dimensinya dari
balik cahaya semburat matahari.
Beberapa saat sebelumya, ketika mereka menghampiriku dan Levya di halaman sekolah,
tubuhku menjadi panik tak karuan. Apakah aku akan dibunuh lagi? Kata-kata itu terus
terngiang di otak ku hampir beberapa detik. Tiba-tiba dari balik tubuh beberapa pria berjas
hitam tersebut, suara yang familiar terdengar. Dan tentu saja, itu suara Ayra. Dia berkata.
“Berhentilah bertingkah seperti ini. Ini di sekolah. Gunakanlah bahasa sopan.” Dengan nada
tegas, sampai-sampai aku berpikir, apa dia lagi mode tuan putri hari ini?
“B- baik.. tuan putri... kami paham.”
Wha- apa kata mereka? Tuan putri? Ayra?
“Selagi kalian paham, baguslah...” Dan sekarang dia maju dua langkah, berdiri di depanku dan
Levya, yang masih bersembunyi di balik badanku, lalu berkata. “Ikutlah dengan mereka Neph.
101
Kaka- maksudku, Ratu ingin bertemu denganmu hari ini.” Lanjutnya, dan kata Ratu begitu
menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan besar di kepalaku.
Siapa Ayra ini sebenarnya? Dan, tadi dia mengucap Ratu sebagai kakaknya kan?
“Apa yang kau inginkan dari El, Ayra?” Tiba-tiba Levya mengangkat suara, dan atmosfer
sekitarku menjadi berat, aku terpaksa membuat tubuhku menjadi kaku, dan secara bergantian
menatap mereka berdua. “Apa yang kau dan keluargamu rencanakan kali ini?!” Lanjutnya, dan
sekali lagi, nada nya terdengar seperti dipaksakan untuk berucap, bahkan genggaman nya pun
menjadi semakin keras.
“Ini tidak ada hubungannnya dengan mu... levya. Enyahlah dari hadapanku.” Dagu nya sedikit
dinaikkan, dan tangannya terlipat di dada. Saat ini aku benar-benar merasakan rasa intimidasi
yang besar dari wanita satu ini. Tatapan congkaknya, yang seakan mengatakan, kau tidak ada
hak untuk membantahku, bedebah. Membuatku merasa muak, dan akhirnya aku berkata.
“Baiklah...” Sedikit mengagetkan Levya, tentu saja. Aku dapat merasakan genggamannya
sesaat mengendur, dan suara pelan berkata, eh, dari balik tubuhku. “Aku akan ikut denganmu,
nyonya kecil.” Begitulah sebutanku pada wanita congkak satu ini.
“Syukurlah kalau begitu.” Dia pun menjawab dengan nada dingin pula, dan tatapan remehnya
saat ini ditunjukkan padaku dengan sangat jelas. “Cepatlah bersiap-siap. Aku tidak ingin Ratu
menunggu lama hanya untuk orang sepertimu.”
Dan begitulah cerita singkatnya. Kenapa aku bisa berakhir di tempat ini.
Mobil hitam ini perlahan melambat, berbelok, berhenti sebentar di pintu plang otomatis yang
dijaga dua penjaga berbadan tinggi tegap besar, di pinggul nya terdapat pedang dan senjata
laras pendek. Sopir berjas hitam itu turun, panas menyentrik segera menyambutnya dengan
tidak ramah. Aku hanya tersenyum ramah membalas si sopir tanpa berkata-kata. Diam, yang
meninggalkannya dengan kartu nama plus nomor telepon supir tersebut. Dia tersenyum kecil,
sambil membungkukkan badannya kearahku dan berkata,
“Tuan Nephium Lucius Coloros. Aku senang bisa melayanimu hari ini.”
Aku pun membalasanya dengan senyuman pula kearahnya dan berkata dalam hati.
Kenapa dia ini?
Kastel ini menjulang tinggi ke langit, berwarna putih diiringi hijau tua dibagian luarnya. Tamantaman terhampar luas mengelilingi kastel itu dari balik dinding tebal, yang dipenuhi air mancur
kecil disana-sini, lampu-lampu jalan yang dihias, bangku-bangku panjang di dekat beberapa
pohon rindang, dan rumput halus yang menyebar di sepanjang halaman.
Dua kandang kuda, mungkin milik pribadi milik keluarga kerajaan, itulah yang terbesit di otak
ku, terdapat di sebelah barat taman kerajaan, dekat dengan ruangan besar seperti sebuah aula
berupa kubah. Selagi ku pikir, ini tempat untuk para petinggi kerajaan mengadakan rapat
dengan jajaran jendral-jendral militer kali yak?. Sedangkan disebelah timur dipenuhi sedikit
102
barak-barak para infantry, lalu di dekat situ juga terdapat rumah pohon, dari pohon sycamore
yang bak dibuat oleh seniman profesional dan beberapa staf nya. Itulah yang kurasakan
namun, seperti dapat membaca raut wajahku, Ayra menggelengkan kepala nya, dan berkata.
“Itu... rumah pohon itu, kakak ku yang membuatnya. Sekitar lima tahun yang lalu.”
Hee... aku merasakan takjub, dan pandanganku sulit untuk melepaskan dari rumah pohon
tersebut.
Bagian dalam istana lantai satu hanya berupa aula besar di balik pintu kastel yang dikelilingi
tiga lorong memanjang, satu disebelah barat, satu disamping tangga menuju lantai dua, dan
satunya lagi disebelah timur. Lorong sebelah barat jalan menuju perpustakaan besar, tempat
para raja terdahulu biasanya menulis kisah hidupnya untuk dijadikan pelajaran oleh raja-raja
setelahnya. Dan juga lorong tersebut menuju ke ruang bawah tanah, yang katanya tempat
menyimpan benda-benda pustaka milik raja pertama, raja Emerald, “Buyutku.” Ayra
memperjelas dibagian tersebut ketika dia terus berkomat-kamit menjelaskan sturktur
bangunan ini. Di ujung lorong timur sebelum sampai di taman, terdapat empat lorong
berbentuk persegi, yang ditengahnya terdapat taman taman yang hanya diisi dua meja
panjang dengan empat bagku panjang, tiga pohon rindang, dan dua air mancur kecil berbentuk
tiga dimensi empat kubus yang saling bertumpukan satu dengan lainnya.
Selanjutnya, lorong disebelah tangga menuju dapur dan ruang makan bagi anggota keluarga
kerajaan. Lorong disebelah timur hanya sebagai jalan alternatif menuju taman istana, yang
sebenarnya digunakan oleh Ayra untuk ke rumah pohon, tempat menyindiri paling pas disaat
malam hari.
Aula lantai satu terbuat dari marmer besar bermozaik, berwarna hijau zamrud dan biasan
berbagai warna agak cerah disekitarnya. Satu lampu besar yang bertingkat bergelantungan
tepat diatas lingkaran awan ditangah aula, terbuat dari lempengan perak yang dijadikan rantairantai yang saling terikat satu dengan yang lainnya, berisikan beberapa lampu bulat berwarna
putih dengan satu paling besar ditengahnya.
Dua kaca besar dikiri-kanan pintu kastel bermacam-macam warna, menjadikan sinar matahari
saat pagi hari seperti pelangi yang menembus kedalam ruangan dengan memantulkan
terkadang gambar samar-samar seorang peri bersayap kecil sedang diangkat menuju langit.
Tinggi kaca itu sekitar empat meter dengan lebar satu setengah meter, dan dikala malam hari
tiba, empat gambar anak bayi bersayap terlihat sedang mengangkat mahkota emas dari dalam
kegelapan di kaca tersebut di dalam kastel. Hanya saja diwaktu-waktu tertentu saja jika dapat
melihat kedua gambar aneh tersebut.
Setelah Ayra panjang lebar menjelaskan dengan sangat detail, menurut versiku, kami dituntun
untuk masuk melewati salah satu lorong. Langkah sepatu kami seperti bergema-gema
disekeliling, seakan memelukku dan bergendang ria di kuping ku tanpa permisi. Sudah berapa
lama kami berjalan? Aku terus-menerus bertanya dalam hati, sambil menatap wajah Ayra
sesekali, seperti aku merasa dia sudah sangat lama tinggal di istana. Dalam hatiku sedikit masih
meragukan, kalau dia yang selama ini membantuku, dan bahkan pernah mengatakan kalau
103
kami adalah bersaudara, adalah anggota elite kerajaan. Ini konyol bukan? Maksudku ini
bukanlah seperti cerita-cerita hikayat yang sering dibacakan kakek dulu.
Selama beberapa tahun kehidupanku yang menyedihkan, ternyata aku anggota kerajaan?
Diriku ini? Benarkah? Seperti aku ingin mencubit sekeras mungkin hingga aku sadar kalau aku
masih bermimpi indah.
“Ini bukanlah mimpi, dasar bodoh.” Ayra berkata tiba-tiba. Mungkin dia menyadari raut
wajahku dengan cermat? Entahlah, wanita itu sulit diterka. “Raut wajahmu menyebalkan sekali
tahu.”
“Dasar.... kau tidak perlu mengucapkannya juga, bodoh.” Jawabku pelan.
Mataku berpaling kearah barak pelatihan yang sedang digunakan oleh beberapa tentara yang
berlatih tanding dengan sebuah pedang kayu.
Badannya yang langsing berputar-putar di udara seperti sehelai daun yang terbang dibawa
angin musim semi setelah mendapatkan serangan telak yang mengarah tepat ke dagunya.
Setetes demi setetes darah pun mengalir melewati mulutnya dan bibirnya yang terluka. Orang
itu menatap musuh di depannya yang masih berdiri tegap memegang pedang bambu
mengarah ke wajahnya. Senyuman licik pun muncul dari musuhnya, setelah orang yang kalah
itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara.
Peluit pun dibunyikan tanda pertarungan berakhir.
Kesan ku pada petarung yang kalah itu seperti seonggok daging buruan yang dibiarkan
tergeletak begitu saja oleh pemburunya, pemenang, tanpa disentuh, dan ditatap dengan wajah
erogan.
Setidaknya aku sedikit terhibur. Begitulah pikirku.
Kami terus berjalan selama beberapa detik hingga akhirnya pintu besar yang dicat putih, dua
penjaga yang lebih seram tampangnya dibanding penjaga-penjaga sebelumnya, kembali
menghentikan langkah kami. Tombak panjang dimasing-masing genggaman membentuk huruf
‘X’. Mungkin untuk menghentikan langkahku atau apalah itu, Ayra hanya berkata singkat,
“Buka kan pintunya.” Dan dengan patuhnya dia membuka pintu tersebut.
Suara yang terdengar berat saat pintu besar itu terbuka menampakkan sirat cahaya yang sedikit
menyilaukan mata, dari dalamnya aku sudah bisa merasakan kalau ruangan itu sangat besar
untuk diisi oleh seorang saja. Kami melangkah masuk, aku mengikuti setiap gerak langkah Ayra
di depanku yang berjalan dengan dada diacungkan. Ketika kami telah sampai dihadapan paduka
Ratu, Ayra dan pengawalnya membungkukkan badan, dan aku pun mengikuti gerak mereka
dengan kaku. Maklumi saja kan, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Kata ku dalam
hati ketika Ayra menatapku dengan tajam.
“Sudahlah... Angkat kepala kalian.” Suara yang sedikit tegas itu berkata-kata kepada kami, tapi
aku merasa ada sebuah tekanan lain dari nadanya yang dipaksakan untuk berwibawa.
104
Sekejap saja, aku merasakan sebuah gelombang perasaan nostalgia memenuhi ruang dada ku
yang perlahan begitu sesak kurasa. Ruangan yang begitu luas ini, mata ku hanya terpaku pada
sosok itu saja, yang dia pun matanya menyapu menatap kami satu per satu. Tanpa sadar aku pun
berucap pelan...
“IbuDan dia pun tersenyum kepadaku.
105
Eps. 14
Hikayat
Setelah mendapatkan pesan dari Ayra, kalau El akan bermalam di rumahnya, sejujurnya aku
merasa sedikit terbebani… maksudku, apakah mereka benar-benar bersaudara? Ayra adalah
anggota elite kerajaan, jadi apakah El pun begitu? Meski begitu tetap saja aku belum lama
mengenal dirinya, dimulai dari beberapa waktu lalu saat dia menyelamatkan ku, dan beberapa
kejadian yang akhir-akhir ini menimpa kami, jika kupikir, apakah aku selama ini mengenalnya
dengan baik? Apakah begitu? Bahkan meski kami telah sampai di kota, kesempatan untuk
melihat-lihat isi kota pun belum kami lakukan, cukup menyebalkan memikirkan itu semua, tapi
…
Setidaknya begitu aku ingin merasakan yang gadis-gadis lain lakukan. Keluhku dalam hati,
dengan sedikit mencibir mulutku.
“Apa kalian pernah mendengar Hikayat Air Mata?” Tiba-tiba guru yang di depan ku menutup
buku pelajaran, dan menatap kami satu per satu berharap ada yang menjawab pertanyaan nya.
“Tidak pernah pak.” Seorang murid menyahut dengan suara lantang setelah merasakan
keheningan selama beberapa saat sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Apakah itu
harus dijawab dengan nada sekeras itukah? Tanyaku dalam hati.
Aku menatap anak yang menjawab pertanyaan itu. Dia duduk di barisan tengah, urutan ke-4.
Berambut botak dan berperawakan riang, yang bibirnya penuh senyuman cerah. Ah sial, dia
menatapku. Langsung saja aku mengalihkan pandanganku kearah lain.
“Ini hanyalah sajak lama yang kira-kira mulai hilang di masyarakat,” Kata pak guru sambil
berjalan kesana-kemari. “Menurut bapak, cerita ini adalah legenda yang dimana terciptanya
kerajaan ini.” Lanjutnya, dan dia mulai membuka buku kecil dan usang itu.
“Apakah itu cerita yang menyedihkan pak?” Tanya seorang dari kami.
“Kalian bisa menyebutnya begitu, tapi...” Pak guru terdiam sebentar, dan menatap jam arloji
kecilnya di saku celana “mungkin jika bapak menceritakan ini, waktu masih cukup.”
Kami semua pun terdiam, dan beberapa mulai menutup buku pelajarannya dan menaruh alat
tulis di laci meja.
Cerita bermulai berabad-abad silam, ketika Cahaya dan Kegelapan menjadi satu di dunia ini.
Dimana umat manusia adalah minoritas. Dunia pada saat itu adalah hampa hanya menyisakan
dua orang saja, laki-laki dan seorang wanita. Eru dan Levytan. Mereka mengembara berpuluhpuluh mil hanya untuk mencari kehidupan, dan tempat tinggal yang layak. Dunia pada saat itu
dipenuhi kabut tebal, yang dimana tidak ada seorang pun tahan dengan racun yang terkandung
kabut tersebut. Namun kedua orang itu berbeda, mereka dapat menghirup udara di dalam kabut
tersebut layaknya manusia hirup udara sebagaimana biasanya.
Mereka terus berjalan menyusuri lembah demi lembah, melewati hutan-hutan lebat, dan
bertahan hidup dari kejaran makhluk asing yang hidup di dalam Kabut. Suatu hari, Levytan
106
jatuh sakit. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sebuah goa untuk beristirahat sejenak.
Panas di tubuh Levytan masih saja tidak kunjung sembuh, dengan keberanian yang
dikumpulkan, Eru mulai menjelajah seorang diri untuk mencari obat-obatan.
Pada saat itu, dia sadar. Manusia tidak mungkin dapat hidup dengan dirinya sendiri. Mereka
butuh bantuan orang lain, butuh seorang yang selalu menyemangatinya. Eru pun mulai
menjelajah setiap inci benua untuk mencari obat. Pencarian pun berlangsung selama beberapa
hari, beberapa minggu, hingga bulan. Eru pun menyerah dan memutuskan untuk kembali ke sisi
Levya hingga ajal menjemputnya, ketika dirasa dia tidak menemukan satu obat-obatan pun di
benua ini.
Sesampainya di gua, Eru mendapati Levtan sedang tertidur, disebelahnya api unggun yang
begitu kecil. Eru terus memegang erat tangan Levytan yang perlahan semakin lemah dan dingin
pada malam itu. Sejatinya dia berpikir, apa aku harus seperti ini? Menyerah? Menunggu ajal
menjemputnya? Hingga pada akhirnya memberikan keputusan, dia akan membawa Levytan
lebih lama lagi untuk mencari obat-obatanTiba-tiba, bel berbunyi begitu keras yang bergema di sepanjang lorong. Memecahkan
keheningan kami, dan menyeret kami untuk kembali sadar dari hanyut nya cerita. Pak guru
menyudahi cerita tersebut dan merapikan buku, lalu keluar begitu saja tanpa berkata-kata. Yang
kurasa, dia tidak akan melanjutkan cerita itu kah.. Pada akhirnya cerita itu pun tidak sampai
habis, dan bagiku, itu menyebalkan sekali... gantung banget sih ceritain nya.. aku mengluh
dalam hati, lalu menaruh kepala ku di atas meja.
Hhahh~
Aku mendesah cukup panjang dan menatap ke arah luar buku jendela yang sedikit terbuka, dan
angin sejuknya pun melingkupi ruang kelas ini, bersamaan dengan itu“Namaku Ilda. Salam kenal Levya.”
Tiba-tiba diriku merasakan sosok kehadiran yang belum ku kenal sebelumnya, meskipun ...
“Apakah kita sekelas?” Tanyaku dengan nada polos, dan memerhatikan mimik wajah yang
dibuatnya spontan. Dan benar saja, itu lucu ketika wajahnya seketika seperti ngambek gitu.
Wanita itu terlihat lebih pendek dariku, rambutnya berwarna pirang, dan sedikit bergelombang
yang menjulur hingga kedua pundaknya yang kecil. Mata nya, ya.. bola matanya berwarna hijau
muda, dan dengan lipstik cerah di bibirnya menambah sosok yang begitu nyaman untuk lelaki
manapun yang melihatnya tatkala didekatnya. Tiba-tiba saja aku merasakan suatu gejolak di
hati.
“Aku berharap El tidak kenal denganmu“Eh? El? Siapa? Maksudmu Lucy?”
Hah? Lucy?
“Tadi kau menyebut El? Apakah itu Lucy yang pindahan bareng kamu kah?”
“K- kenapa kau menyebutnya Lucy? Dia bukan perempuan tahu...” Aku membalasanya dengan
nada sedikit ketus, tapi perempuan itu, Ilda, membalasnya dengan sedikit tawa di wajahnya.
107
Aku pun tersenyum. Kurasa dia bukan orang jahat. Yang dari sebelum-sebelumnya, El
beberapa kali hampir menjadi incaran pembunuhan, dan entah sejak kapan aku menjadi curiga
dengan orang-orang di dekatnya, bahkan Ayra sekalipun, tapi ...
“Karena namanya, Lucius, jadi aku memanggilnya dengan Lucy saja.” Dia menjawab sambil
memegang dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jari bersamaan, seakaan sedang berpikir kerasa
seperti ilmuwan-ilmuwan gila. “Imut bukan?” Lalu tersenyum dengan riang.
Begitu polos dan imutnya anak ini.
“Y- yaa.. kurasa kamu benar, Ilda. Senang berteman dengan mu.” Lanjutku, dan aku pun
tersenyum padanya. “Maap sudah menilai yang enggak-enggak terhadapmu sebelumnya.”
“Eeehh~ memang.. aku ini seperti apa di mata mu beberapa saat lalu, kah?” Badannya sedikit
lesu, dan pundaknya pun merosot. Menghamparkan tubuhnya yang langsing di atas meja begitu
saja, dengan tonjolan nya yang melebihi ku. Entah kenapa aku merasa kesal dengan milikku ini
yang tidak pernah tumbuh. “Levytaann~ kau jahat~”
“Iya iya... maap, maap sih.” Pintaku padanya.
“Eh, tadi emang kamu pikir aku seperti apa, Levytan?”
“Hihihihi.. r-a-h-a-s-i-a.” Jawabku dengan sedikit tertawa.
Kurasa tidak baik menilai orang dari tampangnya saja. Pikirku dalam hati.
Setelah pulang sekolah, Ilda mengajak ku untuk makan di café dekat stasiun. Awalnya aku
menolak dengan alasan harus mulai membantu paman ku dalam mengumpulkan berkas-berkas
perusahaan. Paman bilang, kalau ayah akan menjadikan ku penerusnya, tapi meski aku merasa
itu terlalu mendadak, aku tidak punya alasan untuk menolaknya, secara pribadi.
“Tapi Levy.. ini cuma misal saja, tapi ..” Kata paman pada suatu hari, ketika kami sedang
menikmati secangkir teh di perkarangan rumah. “Jika kamu memang setuju dengan ini, bukan
karena apa tapi, ada kemungkinan jelas kamu akan dijodohkan dengan orang lain.” Lanjutnya
dengan nada datar, dan setelah itu dia kembali menyeruput tehnya.
Aku terkejut, tentu saja, itu adalah kali pertamanya aku mendengarnya. Maksudku bahkan ayah
saja, meskipun ditunjuk menjadi kepala cabang, tetap menikahi orang yang dipilihnya.
Menyadari wajah ku yang tiba-tiba gelisah, paman melirik kearahku dan tersnyum kecil.
“Yaahh.. kalau itu terjadi pun, paman akan membantu mu untuk bersama dia. Dan juga, itu
masih sangat jauh bukan?” Matanya menatapku licik, dan senyuman kecilnya masih menghiasi
wajahnya yang perlahan mulai menua. Bahkan paman sendiri masih lebih tua dari ayahku.
“Kamu masih sangat muda Levy.. dahulu ketika paman seumuran mu, paman bahkan tidak
pernah memikirkan sejauh itu, tapi kamu“S- sudah hentikanlah paman!” Otot-otot wajahku tertekuk dan jari-jemariku memegang erat
cangkir yang air di dalamnya mulai mendingin.
“Hey Levytaann..” Suara Ilda menarikku dengan paksa untuk kembali sadar, tanpa kusadari
mungkin aku sudah melamun cukup lama sampai-sampai dia, Ilda, membuat wajah cemberut
108
yang begitu jelas di wajahnya. “Apa kamu kepikiran dengan Lucy yang sedang berkencan
dengan Ayra?”
“Wha“Ahahahahahahaa... kamu benar-benar lucu Levytan.. ahahahaha.” Orang itu tertawa dengan
cukup keras, hingga beberapa murid yang masih berada di kelas menatap kami secara spontan,
lalu kembali menghiraukan. “Apa kau melihatnya? Wajah panikmu yang tadi? Itu benar-benar
lucu .. ahahaha.”
“B- bukan berarti aku benar-benar mengkhawatirkannya, k- kau tahu.” Tanpa kusadari aku
mengelak dengan nada terbata-bata, dan mengalihkan pandanganku dari Ilda. Dia benar-benar
tidak tahu malu, sebagai wanita bagaimana bisa dia tertawa sekeras itu?
“Hey, di kota, apalagi di kalangan anak muda, ada istilah, Tsundere.” Dia berkata pelan dan
intens di dekat telingaku. “Itu adalah sifat favorit kebanyakan laki-laki sih, jadi si wanita mau
tapi malu“H- hentikan pembicaraan ini, kau dasar tidak tahu malu... m- maksudku tertawa begitu
kerasnya di dalam kelas.” Potongku sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan
mataku menatap sekitar.
Aku segera menenggelamkan kepala ku yang memerah di kedua telapak tangan.
Ketika kusadari sudah satu minggu sejak El pergi ke istana. Ku telpon tidak pernah diangkat,
chat tidak dibalas, ketika ku sadar aku mulai kesal karena merasa dicuekin, aku menarik selimut
hingga menutupi kepala lalu bergumam pelan. “Uughhh...”
Pagi ini cukup cerah, sekolah libur, dan kedua orangtua ku pergi setelah Granpa memanggil
seluruh ketua pusat ataupun cabang keluarga ke Rumah Besar. Selagi aku memotong daging
panggang, suara di rumah sangatlah sunyi, bahkan aku merasa ketika para maid sedang
membersihkan seluruh penjuru rumah ini tetaplah lebih sunyi dari hari biasanya. Aku merasa
ada yang aneh, mungkin engga juga, mungkin ini hanya perasaan ku saja, mungkin ini“Aku lah yang merasa kesepian akhir-akhir ini...” Setelah menghela napas yang cukup panjang,
aku menyingkirkan piring di depanku dan menatap lemah kearahnya.
Se-galau ini kah? Aku berpikir sejenak dan menaruh kepala ke atas meja makan selagi
merasakan seperti tulang-tulangku keluar dari tubuh satu per satu.
Ketika kusadari, keluarga Kerajaan dengan keluarga ku bukankah memiliki hubungan rumit?
Meski keduanya adalah roda utama negara ini? Jika itu benar, bukankah hubungan kami
semakin sulit? Dan mungkin berakhir bersama Rentaro. Bukankah seperti itu seharunya?
Lagipula aku baru benar-benar sadar kali ini tapiBaru sedikit yang kuketahui.
109
Selagi pertarungan rumit itu muncul begitu saja di kepalaku, dengan segera aku pergi
meninggalkan ruang makan, mengambil handphone-ku yang tergeletak di atas meja sebelah vas
bunga, mengenakan jaket tipis dan pergi ke tengah kota.
110
Eps. 15
Mereka yang Memiliki Akal Jauh Lebih Berbahaya
Aku pergi ke perpustakaan kota.
Sebuah tempat yang ramai di tengah sudut kota, pejalan kaki yang lalu-lalang di sekelilingnya
padat merayap, lalu ada juga beberapa orang yang berlari mengelilingi lapangan luas di samping
perpustakaan. Beberapa dari mereka bahkan hanya bersandar di batang pohon dan dengan asik
mendengar lantunan musik, mungkin aja sih¸ dengan earphone di telinga mereka.
Yak, pagi ini sungguh damai. Sebenarnya tidak beda jauh dengan desa tempat ku tinggal
beberapa waktu lalu, hanya saja struktur bangunan di sebuah pusat kota paling berbeda dari
yang lain, kost El yang di pinggiran kota saja bahkan hanya ada beberapa gedung dan sisanya
perumahan-perumahan di sekelilingnya.
Aku memasuki gedung ini.
Bertanya kepada resepsionis tentang Perpustakaan Hitam. Dia menatap sinis ke arahku. Setelah
menghela napas dan merogoh tas kecil ku, lencana keluarga Fliz yang terpampang di depannya,
dengan cepat kakak resepsionis itu berbungkuk berkali-kali sambil meminta maaf.
Aku diberikan sebuah kunci, dan diarahkan untuk menaiki lift menuju lantai teratas. Setelah
mengucapkan terimakasih yang datar aku pergi meninggalkan kakak resepsionis.
Perpustakaan ini terdiri dari empat lantai untuk umum, dan ditambah satu lantai khusus totalnya
ada lima.
Di lantai teratas hanya ada beberapa rak buku saja, mungkin delapan rak yang saling
berhadapan. Lalu ada juga meja bundar kecil yang menghadap ke jendela yang menampakkan
pemandangan kota di tengah ruangan. Di pojok dekat pintu, mesin pembuat kopi dengan bubuk
kopi yang siap diseduh berjejer menampilkan varian rasa yang menusuk hidung dengan
aromanya yang berterbangan dalam ruang kosong nan sunyi ini.
Aku mulai memeriksa satu per satu, baris per baris, rak per rak tentang sejarah antara keluarga
Fliz dan Lucius. Sejarah ini kelam, hanya itu yang ku tahu dari paman, dan dia menyarankan ku
untuk pergi ke perpustakaan dengan membawa lencana keluarga untuk berjaga-jaga.
Sekitar dua puluh menit mencari, hasilnya nihil. Tidak ada dimanapun. Ini hanyalah buku-buku
catatan pemimpin kerajaan, Granpa-granpa terdahulu, dan lain sebagainya yang mengendurkan
niat baca ku.
Lelah dengan pencarian yang engga ada hasil, aku menyeduh kopi susu karamel dan duduk
termenung sambil menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi seakan
bagian ujung nya menembus tempat tinggal para dewa langit.
Dewa langit kah.. apa itu sungguh ada? Bukankah itu hanya sebatas dongeng saja?
Tiba-tiba rasa kantuk menyerang mata ku.
111
Kesadaranku perlahan pulih, pertama kali kulihat hanya cahaya jingga yang bersinar dibalik
tubuh gedung besar yang berjejer menyisakan pilar-pilar hembusan cahaya ke sudut-sudut kota.
Ditambah lagi beberapa rintik hujan dan kabut yang turun dari awan, atau itu awan yang turun?
Mulai menyelimuti kota yang suara gaduhnya digantikan oleh derum mesin yang berjalan.
Sudah berapa lama ku tertidur? Itulah yang awal kupikirkan setelah melihat jam tangan kecil
dengan mata sayup-sayup. Setelah mengecek hape, jejeran notifikasi telpon atau SMS yang
memenuhi layar kecil ini sedikit mengagetkan ku, karena hampir semua dari ibu.
Lalu di akhir baris itu, nama El terpampang.
Itu SMS, yang bertulis, aku sudah boleh pulang hari ini. Apa kamu senggang sore ini Levya?
“Eh-
Aku menatap sekitar.
Menyeruput teh dengan pelan dengan sedikit memejamkan mata. Apakah seminggu di kerajaan
membuat gaya bangsawan ku muncul? Selama seminggu aku hanya berperan sebagai seorang
murid yang diharuskan tekun selagi Ayra mengajari tata krama seorang bangsawan, apalagi
keluarga kerajaan. Karena.. mungkin yak, seluruh penduduk sekolah telah mengetahui identitas
ku yang sebagai anggota kerajaan, jadi Ayra melarangku pulang, atau bersekolah, atau apapun
itu, aktivitas harian ku sebelum menguasai dengan betul seluruh tata krama seorang bangsawan,
bahkan setelah pelajaran ketat yang seperti neraka berakhir, aku diberi lencana Lucius untuk
berjaga-jaga, dan wajib dijaga. Kepala ku akan menjadi bayarannya jika itu berakhir di tangan
orang lain.
Oh, ayolah.. berikan ku istirahat.
Kami berjanji akan bertemu disini jam enam sore. Di cafe, La Cafe. Dekat dengan gedung
perpustakaan. Oh ya dan juga selain belajar tata krama, ku diharuskan menghapal seluruh sudut
jalan, nama-nama jalan, gedung, nomor telepon wajib, dan bela diri. Dan itu semua dilakukan
hanya dalam satu minggu. Satu minggu loh.
Aku memberikan kebebasan imajinasi sendiri bagaimana kondisi ku saat itu.
Tiga puluh menit berlalu. Jika itu aku, dan yang menuggu ku Ayra, kepala ku akan melayang
dengan sendiri nya entah dengan apa. Tapi, ini sungguh bukan sifatnya. Telat seperti ini.
Sedangkan kopi yang ku pesan sudah habis tiga cangkir.
Bukankah ini parah banget?
Lalu dia muncul.
Sedikit berlari dengan kaos merah muda, celana jeans ketat, dan jaket tipis. Napasnya berat, dan
rambutnya sedikit kusut. Apakah hanya perasaanku saja, atau dia habis bangun tidur?
Menyampingkan perasaan aneh, aku berdiri dan menyambutnya.
“Selamat datang Levy-
112
“Maaf aku terambat... huff.. huff...”
“Eh.. eh.. tidak, tidak apa-apa kok. A-aku juga baru sampai disiKetika kusadar akan kebohonganku, aku menatap tiga cangkir itu dengan jantung yang hampir
copot. Sial, barang bukti.
Menarik kursi di depan ku lalu duduk dan menaruh tas kecil nya di atas meja tanpa menyadari
apa yang kukatan sebelumnya, Levya masih perlu beberapa saat untuk napasnya kembali
normal. Oh sial, bahkan melihatnya yang setengah mati dengan keringat bercucuran aroma nya
masih wangi seperti biasa. Eh, apakah ini terdengar cabul? Tapi berapa harga yang dia habiskan
untuk satu botol minyak wangi? Apakah semua bangsawan seperti ini?
Aku pernah bertanya kepada Ayra sewaktu masih tinggal di kastil,
“Kenapa para bagsawan itu selalu boros?”
Ayra hanya tersenyum licik, dan berkata.
“Dengar ya Nephy.. ketika para bangsawan membeli produk dengan harga tinggi, uang itu akan
kembali kepada rakyat, dan rakyat menggunakan uang itu untuk membeli bahan pokok dari
petani, dan petani menggunakan uang itu untuk biaya sehari-hari, yang dimana uang itu juga
kembali kepada pajak, dan sebagian kepada kami.”
“H-hei... kalau tidak salah aku seperti mendengar hal penting tadi.”
“Tidak ada.”
“Enggak, enggak.. aku benar-benar mendengar hal penting“Kau tidak mendengar apa-apa Nephy.. dan juga anggap saja itu simbosis yang saling
menguntungkan, mutualisme, kan?”
Yaa.. tidak ada hak komplain setelah mendengar itu, ketimbang aku berpikir, bagaimana jadinya
setiap bangsawan malah memendam harta mereka, mungkin kestabilan ekonomi akan hancur.
Mungkin ini bagaimana dunia ini berputar.
“Apa kau baik-baik saja, Levya?” Aku bertanya setelah melihat napasnya sedikit normal,
menyampingkan rasa penasaran ku bagaimana dia berakhir selelah ini. Dia menjawabnya
dengan napas setengah berat.
“Aku baik-baik saja, Cuma butuh istirahat sebentar. Ngomong-ngomong El, seminggu ini kau
kemana saja? Ditelpon dan SMS tidak dibalas sama sekali. Jahat juga ada batasnya tahu.” Selagi
mengatakan itu dia sedikit menggembungkan pipinya yang merona merah.
Aku tidak berpikir rona merah itu dia dapatkan dari rasa malu, tapi dari lelahnya berlarian.
Tapi mungkin saja itu salah.
Kata-kata terakhirnya dia katakan dengan nada yang lebih rendah, yang seakan hanya aku saja
yang boleh mendengarnya.
Aku menelan ludah.
113
“Jadi, bagaimana rasanya tinggal seminggu di istana? Tuan pangeran.”
Ugh...
Sejujurnya aku ingin berkata, aku tidak ingin mendengar itu dari tuan putri yang hidup dengan
bendera kemewahan tiap harinya, tapi aku segera mengurungkan niat ku.
“Aku hanya belajar saja disana.”
“Tapi kau juga sampai-sampai tidak masuk sekolah kan? Ku dengar kau belajar dengan Ayra
berdua saja?”
Darimana dia mendengar itu?
“Ada banyak hal selama seminggu ini.”
Mungkin sedikit menyadari luka lebam yang belum hilang setelah berkali-kali diserang dengan
pedang kayu, mata Levya tajam seperti biasanya, dia segera mengalihkan pandangan menatap
menu, lalu memesan segelas kopi.
“Ya kau tahu, tiba-tiba mendengar kamu menjadi anggota kerajaan, setiap harinya di sekolah
beredar desas-desus seperti itu, dan parahnya anak cewek yang paling banyak
menyebarkannya.”
Apa itu rasa cemburu?
“Seminggu aku hanya belajar tata krama ala bangsawan, lalu menghapal seluruh peta kota yang
seakan aku merasa aku lah yang membuat kota ini, dan terakhir latihan bela diri, berpedang. Itu
benar-benar hari sulit ku.”
“Dan sifat gaya bicara mu juga sedikit berubah, kan? Lebih mirip seperti Ayra, seakan-akan dia
terbelah menjadi dua dan berbicara di depan ku sekarang.” Dia menatap ku dengan tatapan
sombong yang seakan telah berhasil menemukan kotak harta karun besar.
Hey... Bukankah yang satu itu sedikit kejam untuk dikatakan?
“Y-yaa.. entahlah, terkadang orang tidak sadar dengan perubahan pada diri mereka sendiri.”
Kami tertawa kecil.
“Setidaknya, kita bertemu lagi. Bukan kah itu yang terpenting?”
“Apa Levya ternyata kangen padaku? EhMenyadari suara ku keluar dengan normalnya, telat untuk menarik kembali, aku merapatkan
mulut dan mengalihkan pandangan ke jalan.
Wajahnya memerah, kupingnya memerah, air mata nya seakan ingin keluar dan dia menahannya
dengan sekuat tenaga. Dan dia benar-benar dalam ekspresi terkejut.
“Bodo amat!”
Eh. Sejak kapan kata itu mulai keluar dari mulutnya yang indah?
114
Setelah seluruh hidangan kami datang, hanya suara garpu ketika Levya menyantap kue kecilnya
yang menyelimuti kami. Rasa ini sedikit canggung setelah aku mengatakan kata-kata
memalukan. Ingin ku mereset waktu lalu, dan menyumpahi sumpah serapah kepada mulutku
yang bodoh. Tidak, sepertinya aku lah yang bodoh.
“Tentu saja.” Seakan paham dengan apa yang ku pikirkan, Levya mengucapkan kata singkat
tanpa melihat kearah ku.
“Maaf kan aku Levya..... maaf.....”
“Jadi…” Setelah menghabiskan sepotong kue nya dia bertanya dengan nada biasanya, “mulai
sekarang kamu akan tinggal dimana?”
“Di kontrakan seperti biasa, aku akan kembali kesana.”
“Ku pikir kau akan tinggal di istana atau apa gitu yang terkesan elite.”
“Awal nya seperti itu, bahkan makanan-makanan di istana benar-benar mewah yang tidak
pernah ku rasakan sebelumnya, apalagi yang sepotong daging besar yang masih berwarna merah
tapi itu benar-benar matang... apakah semua bangsawan memakan makanan enak seperti itu
setiap hari?”
“Y- yaa... kalau El mengatakan seperti itu, itu mungkin saja benar“Tapi aku tinggal berdua sekarang di kontrakan.”
“Eh- dengan siapa???”
“Hmmmm... agak sulit untuk menjelaskannya, tapi dia adik ku.”
“Jadi begitu... sulit untuk mempercayai nya tapi mengingat itu keluarga kerajaan semua nya jadi
terkesan masuk akal.”
“Apa kamu ingin mengatakan, kalau ini tidak mungkin dan terdengar bodoh“Ti- tidak begitu maksudku, maksudku- bukankah nada bicara mu benar-benar berubah El?
Sebenarnya apa yang telah dilakukan wanita itu sampai berakhir seperti ini???”
“Banyak- banyak sekali... aku harap itu semua hanya mimpi...”
“Ja- jadi kau telah melewati hari-hari berat kah... aku sungguh prihatin padamu.”
Aku menceritakan padanya tentang ‘adik’ itu, pada awalnya ibu ku berasal dari kalangan
bangsawan kerajaan, dan ayah ku... dia berasal dari keluarga cabang Fliz yang telah terbuang
karena setuju dengan pernikahan kerajaan. Setelah akhirnya mereka berdua diasingkan di
sebuah desa tempat kakek dari ayah ku tinggal, ibu ku kehilangan status kebangsawanan nya
dan begitu pula dengan ayah.
115
Mengenai kematian ibu yang dibunuh ayah itu hanya hoax. Seseorang merencanakan kejadian
itu dan menyebarkan beritanya. Yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, ayah terbunuh di kota,
ibu mengalami kecelakaan. Meski telah diselidiki sekalipun tetap nihil, tapi kecelakaan itu
terasa amat ganjil. Pada akhirnya hubungan keluarga Fliz dan Lucius kembali merenggang amat
lebar.
Tapi itu pun masih kontradiksi, bagaimana dengan surat yang kudapati yang mengatakan ibu
ku masih hidup.
Sewaktu hidup, ibu pernah mengadopsi seorang anak kecil wanita, dan sekarang anak itu tinggal
di istana, tumbuh disana sebagai tuan putri bersama Ayra. Ketika ibu berkunjung ke istana, ibu
selalu menceritakan tentang ku kepada anak tersebut, dan setelah proses yang melelahkan juga
pada akhirnya adik ku ini dibolehkan tinggal bersama ku. Meski begitu“Bukankah seharusnya kamu pindah dari tempat itu“Yup, begitulah. Keluarga Lucius memberikan ku sebuah mansion agak besar di kota.”
“M- mansion????”
Pada awalnya pernikahan dengan keluarga Fliz hanya diketahui dan disetujui beberapa pihak
saja, termasuk Granpa pada saat itu. Tujuan mereka hanya ingin membangkitkan kekuatan asli
dari keturunan Eru.
“Jadi itulah sebabnya“Dan itulah jawaban yang ingin kucari di perpustakaan tapi entah mengapa buku tersebut tidak
ada.”
“Kurasa pihak kerajaan mengambil nya, karena aku melihat buku tersebut di salah satu rak di
ruangan Ayra.”
Levya menghela napas panjang.
“Apa karena itu kita bertemu di dekat perpustakaan? Kalau begitu kenapa baru sekarang kita
bertemu misalkan itu bukannya kita bisa bertemu sore, apa Levya tertidur di perpustakaan
karena kelelahan mencari buku tersebut? Atau ada aroma yang membuatmu tertidur?”
“Se- seperti biasa, El sangat tajam tentang hal-hal ini.. ugh..”
“Ahahaha...”
“Tapi tunggu sebentar... kata-kata akhirmu tadi, apa dah?”
“Kelelahan mencari buku?”
“Setelah yang itu.”
“Tertidur karena aroma tertentu?”
Seketika wajah Levya sedikit pucat, dan dia tidak banyak ngomong setelahnya.
116
Eps. 16
Menjalani Kehidupan Nyaman
“Selamat datang kembali kak“Y- yo Iris, maaf tiba-tiba membawa orang lain tanpa sepengetahuan mu...”
“U- um.. tidak apa-apa kok kak...”
Yang disana adalah anak perempuan yang tinggal bersama dengan El mulai hari ini. Iris Lucius
Coloros namanya. Sesuai deskripsi yang El jabarkan, dia benar-benar imut dan pemalu.
Rambutnya yang berwarna emas panjang setengah, matanya yang biru mengenakan dress tipis
berwarna putih benar-benar cocok sebagai putri kerajaan. Umurnya mungkin baru 9 tahun, atau
lebih tua sedikit.
H- hey.. aku bisa melihat pundak mu itu loh.. tali nya sedikit kendor tahu.
Tapi, mereka tidak sedarah meski adik kakak.
Aku merasakan gejolak aneh yang muncul tiba-tiba.
Sebut saja ini insting wanita. El sebenarnya tidak buruk, bahkan wajahnya bisa dibilang cukup
tampan, dan dia juga pintar dalam analisis. Dan juga dia baik, meski sifatnya sedikit berubah
tapi dia tetaplah El dengan segala kecerobohannya, salah satunya dengan membawa wanita itu.
Aku ingat beberapa saat lalu, El berkata kalau ratu sekarang itu adalah adik dari ibu nya, yang
mungkin kandidat terkuat dalam tahta selanjutnya antara El atau Ayra. Yup, aku juga sedikit
terkejut, Ayra anak dari ratu. Kesampingkan sifatnya yang menyebalkan, tapi dia benar-benar
seorang putri kerajaan yang sengaja identitas aslinya dia sembunyikan. Aku paham perasaannya
gimana kalau teman dekatnya tahu yang selama ini ngobrol dengannya adalah anak dari ratu.
Tapi El berkata,
“Meski ratu sendiri yang meminta untuk menggantikannya, aku tidak tertarik untuk menjadi
seorang pemimpin. Tinggal di rumah di atas bukit di sebuah desa mungkin itu yang terbaik.”
“Tapi misalkan sekiranya Ayra ngajak mu menikah gimana? Setahu ku itu tidak masalah kan?”
“... kau mengatakan hal yang aneh Levya.”
Kembali kesadaranku, selagi aku duduk dan menyeruput teh yang disediakan Iris, tapi boleh
jujur teh ini nikmat sekali, Iris dan El sibuk menyiapkan makan malam di dapur yang bisa
terlihat dari ruang tamu.
Meskipun terlihat masih muda Iris benar-benar cekatan dan dapat diandalkan, dia tanggap
dalam membantu El. Sejujurnya melihat pemandangan ini aku sedikit cemberut, bagaimana bisa
El dan Iris benar-benar kompak hanya bertemu dalam waktu singkat. Aku merasa seperti DNA
mereka benar-benar sama.
Dan El benar-benar hebat dalam segala hal, terutama memasak.
117
Atau sebenarnya, aku lah yang tidak bisa memasak?
Saat makanan itu tiba, asap yang berkumpul di sekitar dapur mulai merambak ke ruang tengah.
Yak, itu hanyalah sebuah nasi goreng yang dibungkus telur dadar setengah matang dan
diatasnya diberi sedikit saus tomat. Meski begitu aromanya yang asing di hidung ku membuat
perut keroncongan.
“M- maaf, hanya ini yang bisa kami sediakan...”
Suaranya benar-benar pelan, selagi Iris menaruh piring di hadapanku dan sebuah air minum,
kuping nya yang cepat memerah dan tangan kecilnya yang segera disembunyikan di balik
punggungnya.
“U- um, terimakasih Iris...”
Dia tersenyum.
Dia benar-benar imut! Malaikat!
Sebagai wanita dengan ketulusan dari hati yang terdalam, aku memuji dari semua sikap dan
perilaku, lalu keimutan yang dibungkus kecantikannya di usianya.
Aku tidak yakin apakah El akan baik-baik saja tinggal dengannya.
“Kalau begitu mandi lah terlebih dahulu dengan Iris, Levya.”
“M- m- m- mandi bareng?!”
Dan begitulah kenapa kami berakhir di satu kolam yang sama.
“B- bulannya sangat indah malam ini, iya kan kak Levya...”
Setelah beberapa menit kecanggungan diantara kami, Iris memberanikan diri dengan suara yang
bahkan benar-benar hampir tidak terdengar.
“Y- ya.. kamu benar I- Iris...”
Tapi anak ini benar-benar sempurna. Tubuhnya yang kecil dan sesuai di umur nya dibalut
dengan kulit putih yang pucat, lalu rambut keemasan nya yang terjuntai aku merasakan bahwa
mata nya juga salah satu daya tariknya, warna biru nya benar-benar mata seorang bangsawan.
Dia terlalu sempurna. Malaikat kecil. Bidadari.
“Kalau boleh bertanya Iris, apakah kamu keturunan bangsawan?”
Mendengar ku, Iris sedikit terkejut dan mengeluarkan suara, Eh, tapi segera dia tahan dan
menatap kepantulan di air.
“Ibunda kak Nephy yang mengadopsi dan merawatku sejak aku kecil, jadi kenangan dengan
kedua orangtua asli ku ... aku tidak tahu apa-apa.”
Kenapa semua orang di kota memanggilnya Nephy? Meski lebih imut, tapi aku ingat seorang
yang bahkan menyebut seorang pria dengan nama wanita.
118
“O- oh begitu...”
Lalu kembali canggung.
Atmosfer ini berat. Sungguh berat.
“K- kak Levya... a- apakah kak Levya p- p- pacar kak Nephy...”
“EhSuaranya tidak terdengar. Suara imut mu selalu hampir tidak terdengar Iris. Tapi aku tahu
maksudnya.
“Y- yyaa... kami hanya... t- teman mungkin, m- maksudku kami sudah kenal sejak tinggal di
desa dari kecil, mungkin disebut teman lebih dari it“Heee.. sungguh kah???”
Tiba-tiba dia berkata dengan semangat. Baru kali ini aku mendengar suara asli nya. Benar-benar
imut, merdu, indah... ughh... malaikat yang turun. Ini begitu menyakitkan jika dia bukan adik
asliku. Pasti aku sudah menjadi Siscon. Matanya yang biru mengkilap seperti permata Saphire
yang dipoles dengan penuh kehati-hatian.
“T- tapi... tubuh kak Levya benar-benar indah ya... seperti bidadari saja, hehehe...”
“K- kenapa memangnya Iris?”
“A- aku sebenarnya, aku membuat janji dengan kak Nephy kalau sudah besar... a- aku“Aku?”
“Akan menikahi kak Nephy“EEEEHHHHHHH!!!!”
Entah kenapa ini berakhir seperti ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka ketika
mandi tapi, tatapan intimidasi itu benar-benar mengancam.
Aku menelan ludah.
“J- jadi Levya... k- kenapa dengan muka mu“Huh?!”
Giihhh... seram, Levya seram.
Disampingku Iris tertidur dengan penuh senyum di wajahnya dan tangan kecil nya memeluk
lengan kiri ku. Tubuhnya yang terbalut selimut di atas kasur lipat benar-benar telah menginjak
ranjau kayaknya deh.
“Jadi...”
119
Suara Levya benar-benar seram. Alis nya entah sudah berapa lama masih tertekuk dan menatap
ku benar-benar tajam.
“Kenapa kau membuat perjanjian nikah dengan gadis sekecil itu?! Apa kau menjadi lolicon
semenjak di istana?! Apa pelayan disana gadis-gadis yang dibalut tubuh kecil semua?!”
“Justru sebaliknya. EhKetika sadar ini terlambat untuk kembali menarik kata-kata ku, aku menutup mulut dengan
tangan dan mengalihkan pandangan ke arah jendela.
“Ara, apa maksudmu tadi, Nephy~”
Hiii.....
Akhirnya aku menceritakan nya.
Maid-maid di istana semua sesuai permintaan kriteria Ayra. Semuanya sekitar umur 20 sampai
30 dengan tubuh sempurna. Tidak ada yang loli, dan ada beberapa yang tua, dan mereka yang
sudah mengabdi kepada kerajaan dari sejak kakek buyut mereka. Ini aneh untuk seorang wanita
memiliki fetish seperti itu. Ketika kupikir, apakah Ayra itu lesbi?
“Apa dia itu lesbi? Si bodoh itu?”
Seperti biasa, Levya cepat dalam hal-hal seperti ini.
“S- seperti nya jangan pernah membahas hal ini dengan orangnya langsung deh...”
“Aku tahu kalau orang itu aneh, tapi ini jauh lebih aneh lagi.”
Pagi hari nya Iris sudah berangkat sekolah tiga puluh menit yang lalu, dan semenjak tiga puluh
menit yang lalu juga Levya belum selesai berdandan, atau bahasa halusnya berpakaian. Yang
kuingat dia pernah berkata, bagi wanita berdandan adalah setengah dari jiwa. Tapi dia tidak
mengatakan, kebiasaan terlambat adalah hal yang memalukan bagi seorang bangsawan.
Dan alhasil...
Gerbang telah terkunci.
“M- maafkan aku, El..........
“Pagi ngapain aja sampai terkunci seperti ini kalian berdua?” Ayra yang sedang memarahi kami
yang bahkan lebih tua dari umurnya terlihat seperti seorang ibu yang memarahi anak nya. “kamu sudah ku ijinkan untuk menginap tapi malah jadi beban bagi El“Hey...” Levya berdiri, “Aku tidak ingin mendengar nya dari seorang yang bahkan baru bangun
dari tidurnya.” Dan membantahnya keras, sambil menunjuk kearah hidung Ayra yang berkedutkedut memerah.
120
“U- ugghhDan ngomong-ngomong alasan kenapa kami berakhir di tempat ini, di kontrakan ku berada kak
pemilik kontrakan akan marah dan memanggil polisi jika mendapati seorang murid yang bolos,
bahkan peraturan itu terpampang jelas di tiap depan pintu masing-masing. Aku menyarankan
menghabiskan waktu berjalan di kota tapi polisi akan menangkap para murid yang bolos, dan itu
hanya akan memperburuk kondisi, bahkan sebagai syarat jaminan keluar sel harus disertai
orangtua atau wali. Begitulah pernyataan Levya. Kala itu wajahnya amat sangat menyesal.
“Kenapa seorang calon pemimpin negeri ini bertingkah seperti seorang NEET buangan?!”
Bukankah beberapa waktu lalu dia seperti galau? Kemana rasa menyesal nya yang tadi?
“Oh, hey... Aku bisa marah juga loh“Ohya... Aku pun juga“Lupakan itu.” Ayra kembali bermuka serius dan menatapku dalam-dalam, membuatku kembali
sadar dengan tatapannya yang tajam. “Buka lah surat ini.”
Dia melempar sebuah amplop putih dengan tanda stempel dari sebuah kerajaan. Stempel itu
berwarna hitam, berbeda dari yang kami miliki, dan berlogo“Bukankah ini lambang Spade, dari permainan kartu itu“Dibuka, bukan dikomplain stempelnya, ugh....”
Surat nya terlihat sangat formal. Sekilas kubaca-Eh
Apa ini? Apa maksudnya?
-Eh
“Itu surat lamaran dari pangeran di negeri tetangga yang sangat ingin menikahi Iris.”
-Eh!
Ayra terkejut, segera menatap ku seakan berkata, kok bisa?
Mana kutahu?! Iris tidak cerita apa-apa.Aku menjawab dengan tatapan juga.
Seakan masih ragu, yang terbaca jelas dari raut wajahnya, Levya menarik surat yang ada di
tanganku.
“Kok bisa“Ini masalah internal, permasalahan utama disini adalah krisis ekonomi. Tapi, ini sedikit
menyinggung Levya, jadi aku sarankan kita sudahi saja masalah ini. Yang lebih penting adalah,
apa yang akan kau lakukan El?”
...........
121
Selagi membiarkan dua wanita itu dalam satu ruangan, aku berjalan sepanjang lorong istana,
dengan pikiranku yang menjalar kemana-mana. Saling bercabang lalu mendapati jalan buntu.
Iris akan menikah? Kata-kata itu seakan menari indah di benakku seperti mengejek.
“Oh, apa yang terjadi jika Iris kecilku yang manis menikahi seorang yang aku tidak tahu latar
belakang nya“Ka- Kami?! Sedang apa kauOrang itu berbaring nyenyak di dahan pohon yang rindang, ketika kusadari aku telah berada di
taman indoor istana. Seperti auto-Pilot, tanpa menyadarinya aku telah berjalan cukup jauh dari
ruangan Ayra.
“Hup.”
Dia melompat dan mendarat dengan baik yang bertumpu dengan kedua kaki.
“Bukankah itu benar, prince Nephy?” lalu menatap ku dengan mata menyidik.
Aku menelan ludah.
“JadiPada akhirnya kami duduk di bangku panjang.
-apa kau rela dia menikah?”
..........
“Hey El, kau mau tahu dibalik alasan pernikahan ini?” Kami bertanya seakan-akan memberi
pernyataan padaku dibalik pertanyaan dengan santai nya.
“Pangeran sana melamar Iris bukan?”
“Nope.”
-Eh? Bukan? Seriusan?
“Surat itu sudah dipalsukan. Alasan utama adalah krisis ekonomi yang melanda negeri ini.”
...........
“Spade adalah negara makmur, kaya, dan kekayaan mereka bisa dikatakan tak ada batas.
Mereka memiliki tiga kekayaan utama. Alam, penambangan, dan kasino.”
Aku menelan ludah selagi mendengar penjelasan Kami.
“Negeri ini, entah kenapa seperti disabotase, kau tahu. Seperti dikelilingi, kita seperti
dikepung.”
“Oleh siapa?”
“Fliz family“Wha-
122
“Bayangkan, betapa lucunya.. disabotase oleh penduduk sendiri. Konflik ini bermulai dari
ibumu………
-ketika ibumu yang berstatus bangsawan Lucius, dan ayahmu yang dari keluarga Fliz menikah
hubungan status dua keluarga itu menjadi sedikit baik, tapi banyak diantara mereka yang
membenci pernikahan ini. Akhirnya setelah kau terlahir dengan Kristal Gelap“Eh- apa itu Kristal Gelap?”
“Diam dulu sampai akhir. Keluarga baru itu diungsikan ke sebuah desa karena tidak sesuai
ekspektasi mereka“Ekspektasi? Seperti apa“Bisa diam dulu engga sih?!”
“B- baiklah… maaf.”
“Ugghh... Sesuai rencana awal, salah satu pihak keluarga menyuruh membunuh salah satu dari
mereka dan menyebarkan hoax di masyarakat. Seperti yang kau ketahui lah, kurang lebih seperti
itu. Lalu, saat masa hidup ibumu, dia mengangkat seorang anak yang berstatus unknown, tapi
akhir-akhir ini kabar kalau kerajaan menikahkan Iris dengan negara sebelah, entah kenapa
mereka tidak akan tinggal diam. Baru itulah sejauh yang kutahu.”
“Sebentar“Dari mana aku tahu informasi ini bukan?”
“Ya, dari mana kau tahu, dan dari yang terlihat kau tidaklah berbohong.”
“Mungkin ini baru bagimu, tapi aku adalah Guardian putri Ayra.”
“G- Guardian? Penjaga? Bodyguard gitu?”
“Seperti itulah, setiap anggota kerajaan memiliki Guardian masing-masing, termasuk ibumu.”
Eh? Aku baru tahu itu.
“Dan yang menjadi Guardian ibumu, adalah kakak ku. Keluarga kami secara turun-temurun
telah mengabdi kepada negara ini.”
Tiba-tiba dari belakang Kami yang terpampang mulut pintu, kepala Iris muncul sebagian. Dia
mengintip. Lucu sekali, pikirku. Dengan wajah sedikit cemberut dan pipi digembugkan, dia
berkata dengan nada pelan.
“Ka- kakak terlihat asik ngobrol dengan KamiMelihat ekspresinya, Kami segera menepuk bahu ku lalu menjauh selagi dia melambaikan
tangannya, dia berkata.
“Hanya kau lah yang kuberi tahu, jadi diam aja oke.”
123
Sesaat aku dan Iris saling bertatapan, dia dengan malu berkata,
“Selamat siang kakak, bagaimana kabarmu.”
“Selamat siang Iris, kau terlihat cerah sekali hari ini.”
Dia tersenyum.
Apakah kau pernah melihat Cupid? Mereka dikatakan seperti malaikat kecil, dan kupikir dengan
yakin senyuman mereka pastilah kalah dengan Iris. Benar-benar Malaikat.
Lalu kami pergi ke ruang makan.
Selagi otak ku terasa kusut dan ada tanda tanya besar yang menari-nari tentang sebuah Kristal
Gelap padaku, dengan malas nya aku memotong pelan-pelan Sirloin ini, yang seharusnya
bahkan kupikir, daging ini bisa terpotong halus dengan pisau plastik karena teksturnya yang
benar-benar lembut dan termasak sempurna.
Jika kupikir tentang Kristal ini, apakah orang lain mempunyai nya, atau hanya diriku saja?
Apakah aku memiliki kecacatan? Dan bukankah inti dari perkataan Kami, secara tidak langsung
dia berkata, ibuku masih hidup?
Sial, informasi yang baru kudapat hanya sedikit, aku sadar, tidak boleh hanya menyimpulkan
dari minimnya informasi yang bisa menghasilkan jawaban yang jauh dari kata benar. Atau,
jawaban awalkuAku menatap Iris yang dengan santai menyantap dagingnya, sedangkan beberapa pelayan yang
dengan sabarnya berdiri sedikit di belakang kami berdiri tegak memutari meja makan dengan
serbet putih yang bergelantungan di tangannya.
“Iris.”
“Ya kakak?” Dia menatapku dengan mata bulatnya yang polos.
“Mungkin ini aneh untuk menanyakan nya tapi..........
Aku tersentak. Yang sebelumnya mata bulat polos itu menatapku dengan pantulan cahaya tapi
kini seakan redup. Aku mengepalkan kedua tangan ku erat. Matanya berkaca-kaca, seakan dia
tahu apa yang terlintas di benakku, apa yang tertampak di wajahku. Ruangan ini dingin, kosong,
sunyi. Para pelayan yang berdiri dalam diam seakan mereka itu patung. Yang dipahat oleh
seorang professional yang menyerupai manusia. Tapi mereka manusia.
Aku menelan ludah.
Tubuhnya sedikit gemetar, dan kini tangan mungil itu pun juga.
“Iris.” Aku memaksakan kata-kataku ini keluar dari mulut. “Jangan ragu untuk meminta
bantuanku kalau kamu butuh. Kapan pun itu, dimana pun, aku akan menjemputmu.”
Seakan paham apa yang kumaksud, senyumannya melebar, dan sedikit air mata jatuh di pipinya
yang memerah.
124
Ya... saat itu, waktu-waktu yang dingin.
Dia adikku, begitulah kupikir sebelumnya.
Tiba-tiba dia berkata dengan nada yang dipaksakan,
“Aku tidak ingin menikah kakAir matanya tetap berjatuhan.
125
Eps 17
Dia Adikku.
Pagi ini aku berbaring di atas sofa. Hanya menatap lampu yang bergelantungan dengan cahaya
nya yang redup selagi badanku perlahan terasa panas dengan cahaya matahari yang masuk
melalui celah-celah gordyn yang sedikit terbuka.
Suara kicauan burung membangunkan ku, serta menarik kesadaranku yang beberapa saat lalu
menghilang. Lamaran itu hari ini, di kerajaan Spade. Kemarin setelah berpisah dengan Iris yang
wajah sedihnya tidak disembunyikan sama sekali, dia menatapku dalam-dalam seakan berkata,
tolong aku. Selamatkan aku. Aku tidak mau ini. Dan lain sebagainya.
Aku kembali ke kontrakan ku.
Dia hanyalah anak kecil. Geramku. Kenapa digunakan sebagai alat politik, yang bahkan dia
saja bukan darah dari Lucius asli, ada apa dengan mereka semua?!
Pangeran Lexus S Panyol II, pangeran muda yang umurnya 25 tahun, adalah satu-satunya
kandidat yang menjadi Raja Spade selanjutnya. Semua saudaranya adalah perempuan.
Bayangkan, laki-laki berumur 25 yang hobi nya berjudi akan menikahi Iris. Gadis polos
berumur 12 tahun.
Dan dia adikku.
Memikirkan seorang gadis polos yang belum untuk menikah, dipaksa lamaran membuat otakku
cukup panas untuk membakar sosis di tengah-tengah salju lebat.
-Ey...”
“Hey...”
-HEY!!!”
“WhaWajahnya marah. Levya.
“Segalau ini kah karena adikmu harus menikah?!”
Dia memarahiku. Ya“Kamu marah.”
“Aku tidak marah!!”
-dia marah.
Setelah amarahnya mereda, Levya menarik napas panjang, dan duduk bersandar di sofa sambil
melemaskan sendi-sendinya yang menegang beberapa saat lalu.
126
“Apa kamu pikir aku pun melepas Iris begitu saja, melihatnya menikah dengan orang busuk
seperti nya?”
“Apa kamu mengenal pangeran itu?” Kataku sambil menghidangkan teh di depannya. Karena
dia yang minta. Apa ini baru pertama kalinya aku melihat Levya marah? Ku pikir begitu.
“Kerajaan Spade adalah salah satu investor di keluarga kami, terlebih keluargaku. Tidak,
memang di cabang keluarga ku dan di cabang milik paman.”
“Se-kaya itu kah?”
“Se-kaya itu.” Levya menyeruput teh nya yang lebih mirip seorang putri di kerajaan dongeng.
“Tapi Levya... ku dengar jika Iris menikahi orang itu, keluarga mu yang lebih kesal. Kenapa?”
“Dari mana kau tahu informasi ini?”
“Kabar burung.”
Dia menyeruput teh nya lagi.
“Kurang tepat juga sih, sebenarnya yang paling marah adalah Granpa.”
-Eh? Ketua keluarga Fliz? Kenapa?
“Aku tidak tahu detailnya, tapi permasalahan ini menjadi topik hangat di keluarga, jadi tidak
aneh kalau sedikit tersebar.”
Dia mengatakannya seakan bukanlah masalah besar, tapi pemikiran itu segera dia tepis.
“Tentu saja ini masalah. Hampir semua keluarga cabang menentang Granpa untuk kali
pertamanya. Sebenarnya, Iris itu Kristal Merah.”
Apalagi itu Kristal Merah.
“Dan kau yang sebagai Kristal Biru mungkin sedikit aneh kan, kenapa ibu mu mau
mengadopsinyaSudah ku katakan, apa itu Kristal Biru?
“Ngomong-ngomong Levya.”
“Um?”
“Apa itu Kristal yang kau sebutkan tadiTiba-tiba dia yang sedang menikmati teh nya sekali lagi, muncrat. Terkejut? Tidak, aku yang
seharusnya terkejut karena dia seperti itu.
“Uhuk.... uhuk... uhuk..”
“K- kau tidak apa-apa Levya?”
“Kenapa kau tidak tahu apa itu Kristal?”
“Y- yaa... aku mendengar dari Kami kata Kristal itu, aku baru tahu dari situ. Sejujurnya.”
127
“Ta- tapi kau kan... seharusnya Kristal Biru, bangsawan kerajaan.”
-Huh? Ngomong apa dia?
“Sebentar deh... bisa kamu jelaskan detail nya dari awal?”
Levya menghela napas lelah.
Intinya, di dunia ini manusia memiliki tiga warna Kristal. Sesuai kasta masing-masing.
Bangsawan Kerajaan memiliki Kristal Biru, keluarga Fliz Kristal Merah, selain dua keluarga itu
Kristal Hijau.
Kristal adalah bentuk dari jiwa seseorang, atau lebih mudahnya hati.
Asal-usul yang tidak diketahui dari mana, tapi Levya yakin hal ini berkaitan dengan dua
manusia pertama yang diketahui asal mula keluarga Lucius dan Fliz. Lalu juga kekuatan aneh
yang hanya dimiliki keluarga Lucius, Vision dan Obey. Dan tentu saja, dia terkejut ternyata
Kristal ku gelap. Setelah ku ceritakan perkataan Kami kemarin.
“Tidak mungkin.” Serunya. “Kamu anggota kerajaan sah, dan ibu mu adalah salah satu kandidat
Raja, kenapa“Apakah karena ayahku berasal dari Fliz?”
“Kalau begitu bukankah- hey tunggu sebentar, ayahmu... dari Fliz?”
“Aku juga baru tahu akhir-akhir ini.”
“Tapi tidak ada bilang padaku tentang hal penting ini. Kalau begitu seharusnya nama mu
Nephium Fliz Coloros“Maaf Levya, di keluarga kerajaan nama Lucius tetap dijadikan nama keluarga, entah dari jalur
ibu atau ayah“Coloros?” Tiba-tiba Levya seperti bicara sendiri dengan jari nya yang menyentuh dagu.
“I- iya... bukankah beberapa saat lalu pernah kuceritakan kan?”
“Sejujurnya, aku baru terpikirkan hal ini tapi... seperti nya aku pernah mendengar Coloros ini.
Dia salah satu keluarga cabang yang beroperasi di bidang gangstar. Dia seorang mafia, dan
terkenal jahat.”
-Eh? Ayahku? Penjahat? Mafia? Dia??? Sekeren itu kah? Eh?
Aku bingung. Katanya dia diasingkan karena menikahi ibu, ku pikir seperti itu, kalau begitu
bukankah pernikahan ini juga seperti politik?
Lalu cerita yang kudapat dariEh“Ada apa El”
“Ini aneh... kamu ingatkan ketika aku menceritakan tentang orantua ku sewaktu di cafe?”
128
“Tentu saja, ada apa?”
“Ini aneh... aku tahu cerita itu diceritakan oleh seseorang, tapi aku tidak mengingat wajahnya.”
“Apa kau sedang ngelindur El? Tidak mungkin lah.”
“Tidak, tidak. Ini serius. Aku tidak ingat wajahnya. Ku pikir itu cerita dari Ratu padaku, tapiTiba-tiba aku merasakan sakit di kepala yang teramat sangat. Sekelilingku seperti berguncang
hebat, dan Levya... dia ada dua?
Lalu, aku tidak sadarkan diri setelahnya.
Perasaan ini kembali lagi. Rasa dingin yang menusuk serta hembusan angin yang pelan, yang
berjalan di sela-sela kaki ku sedikit menggelitik sejujurnya. Aku sadar akan dua hal. Yang
pertama mataku tertutup, dan bisa kubuka kapan saja, yang kedua...
Aku sedang berdiri disini.
Apakah aku tertidur sambil berdiri? Di kontrakan? Bukankah itu aneh.
Tapi ini perasaan yang tidak asing lagi.
Aku berada di dalam mimpi.
“Yo El, akhirnya kita bertemu.”
Laki-laki. Itu laki-laki. Apakah aku pernah bertemu dengannya? Ketika ku buka mataku, sebuah
tempat yang luas, yang seperti sebelumnya, yang dikelilingi kabut tebal melingkari kami
berdua. Hanya aku dan dia. Orang itu. Wajahnya tidak asing, sejujurnya. Bahkan kalau aku
tidak kaget kali pertama melihatnya mungkin aku aneh, ya... wajah yang sangat ku kenali itu.
Itu wajahku.
Dan dia buta. Bukan, lebih dari itu. Kedua matanya menghilang.
“Siapa kau?”
“Eh... langsung ke intinya?
“Siapa kau?” Aku mengulangi perkataan ku.
“Namaku kah... namaku EL. Biasa dipanggil Eru.”
Ya, aku tidak asing dengannya. Ratu pernah menceritakan sedikit tentangnya, dia adalah kakek
dari Lucius. Lucius Eru. Aku menahan rasa kaget, takut, dan beberapa perasaan aneh yang
bergejolak di hatiku dengan cara menekan kuku-kuku jari kaki. Dan dia dengan santainya
berkata,
“Aku juga seperti itu dulu, ketika harus menahan rasa terkejut aku menekan kuku-kuku jari
kaki. Sama seperti mu saat ini. Seperti ini.” Dia menunjukkan kaki jarinya yang tanpa alas itu
sama yang seperti ku lakukan.
129
Dari mana dia tahu?! Tentu saja aku tidak mengatakannya keras-keras, tapi aku merasakan rasa
intimidasi yang dalam darinya.
“Yyaahh... tidak ku sangka aku akan memiliki cucu yang begitu mirip denganku, bahkan
sifatnya pun juga. Asal kamu tahu ya... sebelum seperti ini sifatku sangat pengecut. Suka galau,
dan yyyaa.... begitulah. Sama sepertimu, tapi...”
Dia berhenti sejenak, terlihat merenung mengingat beberapa memori yang menghilang darinya.
Seakan direbut dengan paksa.
“Semua itu berubah ketika aku bertemu dengan wanita itu.” Dia melanjutkannya. “Hey
Nephium... kau harus mati. Secepatnya.”
Setelah bersiap-siap, aku dan Levya berangkat ke pusat ibukota. Seharusnya lamaran itu hari ini,
dan seharusnya Iris sudah berangkat pagi sekali bersama Ayra. Ini seperti yang kami harapkan.
Kata Levya beberapa saat lalu, di ibukota ada sebuah toko penerima jasa teleport antar kota.
Mereka menggunakan teknologi yang disebut Lubang Cacing. Meskipun begitu, itu adalah
teknologi sihir. Tidak diragukan lagi. Aku pernah membaca seperti itu di buku kakek.
“Hey paman...” Levya menyapanya dengan hangat.
Paman itu setengah baya, umurnya sekitar tiga puluh. Tapi wajahnya yang garang seperti kuli
bangunan tidak terasa cocok dengan pakaiannya yang mirip jubah penyihir begitu. Apa dia
penyihir? Apa sihir benar-benar ada?
“Yo, nyonya.” Suaranya berat.
“Paman, kami ingin berteleport ke negara tetangga.”
“Maksudmu Spade?”
“Ya seperti itu.” Levya menjawabnya dengan jelas.
“Apa kau yakin nyonya? Apa keberuntungan mu dalam judi sebesar itu?”
“H- hey... kurasa privasi pelanggan itu dijaga.”
“Ahahaha.. tentu saja. Aku bersumpah.”
Dan paman itu berjalan ke sebuah ruangan di pojok dan membukan tirai yang menampakkan
sebuah alat seperti tabung yang terbuka di semua sisinya, dan dibawah terdapat lingkaran
dengan simbol-simbol yang pernah ku lihat di buku kakek.
“Paman, apa ini tidak apa-apa?” Aku memaksa bertanya ketika kali pertamanya melihat alat itu.
“Maksudku apa ini aman?”
“Tentu saja. Bahkan ada jaminan asuransi nya.”
“H- hey... jangan mengatakan hal seram seperti itu.”
“Ahahaha.. tenang saja.”
130
“Misalkan dengan teleport ini bisa lebih cepat, kenapa mereka malah menggunakan mobil?
Bukankah itu aneh?”
Levya menatap sinis kearahku.
“Ketika kalimat itu keluar dari mulutmu, ku rasa Ayra gagal mengajari etika kepadamu deh.
Poor Ayra.”
Eh? Kenapa? Heee“Bersiaplah dilingkaran.”
Levya menggenggam erat tanganku. Genggamannya sedikit gemetar. Apa dia takut? Apa
seseram itu? Aku sedikit melirik wajahnya. Tidak disalahkan lagi, itu wajah cemas. Yang
teramat sangat. Aku menggenggam erat juga tangannya.
Lalu berkata dengan keren,
“Jangan khawatir-
Hooeeekkk~
“Sepertinya tadi kamu mengatakan hal yang keren deh El, seperti... jangan khawatir Levya,
begitu deh.”
“Ugghh... maaf udah bertingkah sok keren... hooeekkk~
“Hihihi... engga apa-apa. Lagipula karena perkataan sok keren mu aku jadi tidak perlu cemas
lagi.” Dia menunjukkan senyumannya.
“Sepertinya kita sudah sampai. Negara Kasino. Spade.”
Aku mengusap mulutku.
131
Eps. 18
Konspirasi di Negara ini
132
Download