Uploaded by Ahmad Rifqi

bab 1 PERILAKU INDIVIDU ok

advertisement
BAB
1
Perilaku Karyawan
Tujuan Pembelajaran:
1.
Mahasiswa mengetahui dan Memahami konsep Perilaku
2.
Mahasiswa mengetahui dan Memahami perbedaan perilaku individu
3.
Mahasiswa mengetahui dan Memahami Variabel yang mempengaruhi
perbedaan individu
4.
Mahasiswa mengetahui dan Memahami Teori- teori Perilaku
1.1. Pengertian Perilaku
Perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap
rangsangan dari luar subjek tersebut. Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi
organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang
diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan.
Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu.
Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan
respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
1.2.Perbedaan-perbedaan Perilaku Individu
Mengapa manusia itu berbeda dalam bertindak diantaranya adalah:
a. Manusia berbeda karena berbeda kemampuannya.
Setiap manusia memiliki perbedaan dalam berperilaku karena proses
penyerapan informasi yang berbeda dari setiap individu tersebut yang
kemudian mempangaruhi perilaku seseorang dalam bertindak.
b. Manusia berbeda perilakunya karena adanya perbedaan kebutuhan.
Hal ini merupakan bagian dari teori motivasi yang ditemukan oleh para
ilmuwan psikologi seperti, Maslow, Mcleland, McGregor, dll. Kebutuhan
manusia menjadi motif secara intrinsik individu tersebut dalam berperilaku.
c. Manusia berbeda karena mempunyai lingkungan yang berbeda dalam
mempengaruhinya.
~1~
Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada manusia, suatu keputusan yang
dibuat oleh individu dapat dipengaruhi dengan apa yang terjadi diluar dari
dirinya dengan kata lain motivasi eksternal berperan disini. Lingkungan
membentuk manusia menjadi lebih baik atau menjadi jahat, ramah, atau
sombong.
d. Faktor Like or Dislike with Something
Percaya atau tidak faktor ini juga mempengaruhi seseorang dalam berperilaku,
apabila seseorang tidak suka pada atasannya dalam memimpin, maka apapun
yang dikatakan atasan hanya merupakan masukan tidak langsung dilakukan.
1.3. Variabel – Variabel yang Mempengaruhi Perilaku Individu
1. Kelompok variable individu terdiri dari :
a. variable kemampuan dan keterampilan,
b.
latar belakang pribadi dan
c.
demografis.
Menurut Gibson ( 1987 ) : Variabel kemampuan dan ketrampilan merupakan
faktor utama yang mempegaruhi perilaku kerja dan kinerja individu . Sedangkan
variabel demografis mempunyai pegaruh yang tidak langsung .
Kelompok variabel psikologis terdiri dari variabel persepsi , sikap, kepribadian ,
belajar dan motivasi. Variabel ini menurut Gibson ( 1987 ) banyak di pengaruhi
oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman kerja sebelumnya dan variabel
demografis.
1.4. Teori – Teori yang Mempengaruhi Perilaku
1.
Teori Kepemimpinan ( Leadership )
Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain
yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sukarela
berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.Salah satu contoh teori
kepemimpinan :
a. Teori LPC dari Fielder . Fielder mengembangkan suatu ukuran orientasi
pemimpin yang disebut rekan sekerja yang kurang disukai dan rekan kerja yang
disukai ( LPC ).
~2~
a.
b.
Pemimpin yang Memberi Nilai LPC Rendah
o
Dianggap terutama berorientasi pada pekerjaan
o
Pemimpin yang Memberi Nilai LPC Tinggi

Dianggap terutama berorintasi terhadap hubungan.
Teori Kemungkinan

Pemimpin mempunyai hubungan yang baik dengan anggota – anggota
kelompok, sebagaimana dapat diukur dari tingkat penerimaan mereka
terhadap pemimpin itu.

Kekuasaan serta kedudukan pemimpin itu sedemikian tingginya sehingga
bermenangu untuk memberi imbalan ( Reward ) atau menghukum
anggotanya.

Tugasnya memiliki struktur yang baik sehingga ada tujuan yang jelas,
beberapa cara untuk menyelesaikan tugas dan kritera yang jelas mengenai
keberhasilan.
c.
Teori Behaviorisme
Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja,
yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih
dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil
belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan.
Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional
atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya
dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih
menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk
reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan
akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin”
(Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan
bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan
pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan
mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar
yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini
sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan
oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
~3~
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya..
Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalan
belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol
tingkah laku. Behaviorisme memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi
terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwaperistiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka.
Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.
1.5. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
1.5.1.Faktor Personal :
a. Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu
dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial
dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam
jiwa manusia.
b. Faktor Sosiopsikologis
Kita dapat mengkalsifikasikannya ke dalam tiga komponen.
1). Komponen Afektif, merupakan aspek emosional dari faktor
sosiopsikologis,
didahulukan
karena
erat
kaitannya
dengan
pembicaraan sebelumnya.
2). Komponen Kognitif, Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa
yang diketahui manusia.
3) Komponen Konatif , Aspek volisional, yang berhubungan dengan
kebiasaan dan kemauan bertindak.
1.5.2. Faktor Situsional
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional.
Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.
Faktor-faktor situasional ini berupa: faktor ekologis, misal kondisi alam atau
iklim, faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang, faktor temporal,
~4~
misal keadaan emosi, suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara,
teknologi, faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik
sosial individu, lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap
lingkungannya, stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa manusia itu unik dan
berbeda, dari perbedaan itu pula yang menyebabkan adanya interaksi social
diantara manusia.
Teori – teori diatas juga menunjukkan pada kita bahwa perilaku itu didorong dan
diarahkan ketujuan. Mereka juga menunjukkan pada kita bahwa perilaku yang
ingin mencapai tujuan cenderung untuk menetap.
Terkadang manusia merasa nyaman dengan perbedan tetapi ada juga yang tidak
merasa nyaman dalam perbedaan yang ada dikarenakan lingkungan tempat
manusia tersebut.
1.5.3.Dasar-dasar Perilaku Individu
Dalam ilmu management, seorang manager harus mengetahui perilaku individu.
Dimana setiap individu ini tentu saja memiliki karakteristik individu yang
menentukan terhadap perilaku individu. Yang pada akhirnya menghasilkan
sebuah
motivasi
individu.
Karakteristik individu dalam organisasi antara lain :
1.
Karakteristik biografis meliputi : Umur, Jenis kelamin, Status kawin, masa
kerja, Kemampuan, kemampuan fisik
2.
Kemampuan intelektual, meliputi : Kepribadian, Proses belajar, Persepsi,
Sikap, Kepuasan kerja
Perilaku Individu dalam organisasi antara lain dilihat dari :

Produktifitas kerja

Kepuasan kerja

Tingkat absensi

Tingkat turnover
Pertama, mari kita membahas tentang dasar-dasar Perilaku Individu yang
mempunyai karakteristik individu.
~5~
1. Karakteristik biografis, yaitu karakteristik pribadi seperti umur, jenis kelamin,
dan status kawin yang objektif dan mudah diperoleh dari rekaman pribadi.
a. Umur (age)

Hubungan umur - Turnover = Umur meningkat maka tingkat turnover
menurun. Alasannya karena alternatif pekerjaan (option) yang semakin
sedikit, penghasilan lebih tinggi yang telah diperoleh, dan tunjangan
pensiun yang lebih menarik.

Hubungan Umur - Absensi = Umur meningkat, maka ketidakhadiran yang
disengaja menurun, dan ketidakhadiran yang tidak disengaja meningkat
pula. Mengingat umur yang bertambah berarti adanya keluarga yang harus
dibina. ketidakhadiran yang disengaja jarang sekali dilakukan, karena
melihat pada nilai gaji yang terpotong bila tidak masuk kerja. Dan
ketidakhadiran yang tidak disengaja meningkat pula, contoh : bila ada
salah satu anaknya yang sakit.

Hubungan Umur - Produktivitas = umur meningkat, maka produktifitas
menurun. Alasan : menurunnya kecepatan, kecekatan, dan kekuatan. Juga
meningkatnya kejenuhan atau kebosanan, dan kurangnya rangsangan
intelektual. Namun ada juga study yang mengemukakan bahwa hubungan
umur dengan produktifitas ternyata tidak ada hubungannya sama sekali.
Dengan alasan : menurunnya ketrampilan jasmani tidak cukup ekstrem
bagi menurunnya produktifitas. Dan meningkatnya umur biasanya
diimbangi dengan meningkatnya pengalaman.


hubungan umur - kepuasan kerja =
o
bagi karyawan profesional : umur meningkat, kepuasan kerja juga
meningkat
o
karyawan non-profesional : kepuasan merosot selama usia tengah
baya dan kemudian naik lagi dalam tahun-tahun selanjutnya. Bila
digambarkan dalam bentuk kurva, akan berbentuk kurva U ("U"
curve).
~6~
b. Jenis kelamin (gender)

tidak ada beda yang signifikan / bermakna dalam produktifitas kerja antara
pria dengan wanita.

tidak ada bukti yang menyatakan bahwa jenis kelamin karyawan
memperngaruhi kepuasan kerja.

hubungan gender - turnover = beberapa studi menjumpai bahwa wanita
mempunyai tingkat keluar yang lebih tinggi, dan studi lain menjumpai
tidak ada perbedaan antara hubungan keduanya.

hubungan gender - absensi = wanita mempunyai tingkat absensi yang lebih
tinggi (lebih sering mangkir). dengan alasan : wanita memikul tanggung
jawab rumah tangga dan keluarga yang lebih besar, juga jangan lupa
dengan masalah kewanitaan.
c. Status kawin (mariial status)

tidak ada studi yang cukup untu menyimpulkan mengenai efek status
perkawinan terhadap produktifitas.

karyawan yang menikah lebih sediki absensinya, pergantian yang lebih
rendah, dan lebih puas dengan pekerjaannya.
d. Masa kerja

tidak ada alasan bahwa karyawan yang lebih lama bekerja (senior) akan
lebih produktif dari pada yang junior.

senioritas / masa kerja berkaitan secara negatif dengan kemangkiran dan
dengan tingkat turnover.
a. masa kerja tinggi , tingkat absensi dan turnover rendah
b. masa kerja rendah, tingkat absensi dan turnover tinggi
Keduanya hal di atas berkaitan secara negative, namun berbeda dengan
hubungan antara masa kerja dan kepuasan kerja : masa kerja tinggi, kepuasan
kerja tinggi dan masa kerja rendah, kepuasan kerja rendah. Kedua hal di atas
berkaitan secara positif
2. Kemampuan, yaitu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas
dalam suatu pekerjaan.
~7~

Kemampuan intelektual. merupakan kemampuan yang diperlukan untuk
mengerjakan
kegiatan
mental.
misalnya
:
berpikir,menganalisis,
memahami. yang mana dapat diukur dalam berbrntuk tes (tes IQ). Dan
setiap orang punya kemampuan yang berbeda.

Kemampuan fisik. merupakan kemampuan yang diperlukan untuk
melakukan tugas yang menuntut stamina, kecekatan dan kekuatan.
Kepribadian
Merupakan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.
kepribadian terbentuk dari faktor keturunan, juga lingkungan ( budaya, norma
keluarga dan pengaruh lainnya), dan situasi.
Ciri dari kepribadian merupakan karakteristik yang bertahan, yang
membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat malu, agresif, mengalah,
malas, ambisius, setia.
Proses belajar (pembelajaran)
adalah bagaimana kita dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku, dan pahami
bagaimana orang belajar.
Belajar adalah setiap perubahan yang relative permanen dari perilaku yang
terjadi sebagai hasil pengalaman.

belajar melibatkan perubahan (baik ataupun buruk)

perubahan harus relatif permanen

belajar berlangsung jika ada perubahan tindakan / perilaku

beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk belajar. pengalaman dapat
diperoleh lewat pengamatan langsung atau tidak langsung (membaca) atau
lewat praktek.
Persepsi
Merupakan suatu proses dengan mana individu-individu mengorganisasikan dan
menafsirkan kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi
lingkungannya.
Distorsi persepsi (penyimpangan persepsi) :
~8~

Persepsi selektif, orang-orang yang secara selektif menafsirkan apa yang
mereka saksikan berdasarkan kepentingan, latar belakang, pengalaman,
dan sikap.

Efek halo, menarik suatu kesan umum mengenai individu berdasarkan
suatu karakteristik tunggal (kesan pertama)

Efek kontras, evaluasi dari karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh
perbandingan dengan orang lain yang baru dijumpai, yang berperingkat
lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama.

Proyeksi, menghubungkan karakteristik pribadinya terhadap karakteristik
pribadi orang lain.

Stereotype, menilai seseorang atas dasar persepsi kita terhadap kelompok
dari orang tersebut (menggeneralisasikan)
Sikap
Merupakan pernyataan atau pertimbangan evaluatif (menguntungkan atau tidak
menguntungkan) mengenai objek, orang dan peristiwa. Sikap mencerminkan
bagaimana seseorang merasakan mengenai sesuatu. Dalam perilaku organisasi,
pemahaman atas sikap penting, karena sikap mempengaruhi perilaku kerja.
Komponen sikap meliputi :

Kognitif, segmen pendapat atau keyakinan dari suatu sikap

Afektif, segmen emosional dari suatu sikap

Perilaku,suatu maksud untuk perilaku dalam suatu cara tertentu terhadap
seseorang atau sesuatu.
Kepuasan kerja
adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. atau persaan
senang atau tidak senang terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja
mempengaruhi sikap.Apa yang menetukan kepuasan kerja ?

kerja yang secara mental menantang. kesempatan menggunakan
ketrampilan / kemampuan, tugas yang beragam, kebebasan, dan umpan
balik.

ganjaran yang pantas. sistem upah dan kebijakan promosi yang adil.

kondisi kerja yang mendukung. lingkungan kerja yang aman, nyaman,
fasilitas yang memadai.
~9~

rekan kerja yang mendukung. rekan kerja yang ramah dan mendukung,
atasan
yang
ramah,
memahami,
menghargai
dan
menunjukan
keberpihakan kepada bawahan.

kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan. bakat dan kemampuan
karyawan sesuai dengan tuntutan pekerjaan.
Peranan kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap perilaku karyawan
Berdasarkan permasalahan dan landasan teori yang ada, nampak jelas
bahwa perilaku seseorang sangat berkaitan dengan kepemimpinan seseorang dan
budaya dimana yang bersangkutan melaksanakan aktivitas-aktivitasnya. Pimpinan
pada saat mendelegasikan sebagian wewenangnya, tidak akan terlepas terhadap
bagaimana caranya dapat mempengaruhi bawahannya untuk melaksanakan tugas
sesuai dengan harapannya. Tentunya hal ini tidak mudah karena berbagai perilaku
bawahan akan selalu berbeda–beda, yang kadang-kadang perilaku mereka akan
sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang dipenuhi dengan karakteristik individu.
Perilaku karyawan akan makin meningkat secara positif apabila kepuasan kerja
mereka dapat dirasakan sebagai hasil dari kontribusinya terhadap organisasi.
Mengingat banyaknya gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh seseorang, untuk
itu seorang pimpinan harus dapat memilih gaya kepemimpimnan apa yang sesuai
dengan lingkungan dan karakteristik budaya organisasi yang ada. Ogbonna dan
Lloyd (2000); Gaya kepemimpinan berhubungan dengan perilaku dan kinerja
karyawan dan akhirnya akan berdampak pada kinerja organisasi. Sedangkan
Susanto (1997: 65); Para eksekutif benar-benar harus menjadi panutan yang dapat
dicontoh oleh karyawan lainnya. Every manager has to be able to show their
capabilities & professionalism when necessary and every manager has to be
friendly to his/her subordinates. Tentang budaya organisasi sebagai pedoman
perilaku karyawan sangat dibutuhkan, karena dari budaya yang kuat akan
mengarah
kepada
komitmen
organisasi
yang
tinggi.
Jonier
(2001);
mengemukakan bahwa budaya organisasi merupakan suatu sistem, merupakan
bagian dalam organisasi dan berpengaruh terhadap perilaku karyawan dalam
melakukan kegiatan. Hubungan antara kepemimpinan dan budaya organisasi
terhadap perilaku karyawan berkaitan pula dengan tujuan perusahaan,
sepertidalam gambar berikut ini :
~ 10 ~
Gambar
Hubungan antara Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap
Perilaku Karyawan
Kepemimpinan
• Autokratik
• Pertisipatif
• Bebas Kendali
Kinerja Karyawan
Tujuan Perusahaan
Budaya Organisasi
• Budaya kuat
• Budaya lemah
Perilaku Karyawan
Kemakmuran Stake
Holder
A. Kesimpulan
 Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi
dan
memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
Dan tingkat keberhasilan seorang pemimpin adalah apabila ia mampu
mempengaruhi karyawan untuk melakukan satu tujuan yang sama yaitu
memajukan perusahaan.
 Budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh
anggota-anggota organisasi itu; suatu sistem dari makna bersama. Budaya
organisasi memiliki kepribadian yang menunjukkan ciri suasana
psikologis organisasi, yang memiliki arti penting bagi kehidupan
organisasi, kenyamanan, kelancaran, dan keefektifan organisasi.Suasana
psikologis terbangun pola-pola kepercayaan, ritual, mitos, serta praktekpraktek yang telah berkembang sejak lama, yang pada gilirannya
~ 11 ~
menciptakan pemahaman yang sama diantara para anggota organisasi
mengenai bagaimana sebenarnya organisasi itu dan bagaimana para
anggota harus berperilaku. Budaya organisasi itu mencakup keyakinan,
ideologi, bahasa, ritual, dan mitos dan pada akhirnya dapat disimpulkan
bahwa budaya organisasi adalah keseluruhan norma, nilai, keyakinan, dan
asumsi yang dimiliki oleh anggota di dalam organisasi.
 Perilaku karyawan timbul karena adanya ketidak seimbangan atau
ketidaksesuian pada struktur kognitif yang dihasilkan oleh persepsi
seseorang terhadap lingkungan yang ada. Jadi perilaku karyawan
merupakan fungsi dari pernyataan-pernyataan masa saat ini dari sistem
kognitif yang ada pada diri seseorang tanpa memperhatikan bagaimana
pernyataan tersebut dapat berada dalam suatu sistem.
 Berdasarkan pengaruh kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap
perilaku karyawan memiliki hubungan positif. Jurnal para peneliti
mengemukakan bahwa apabila Dalam mengarahkan perilaku karyawan
terhadap aktivitas yang dilakukan diperlukan seorang pimpinan yang dapat
mengakomodir berbagai karakteristik yang dimiliki oleh bawahannya.
Mengingat masing-masing individu dalam berperilaku cenderung akan
dipengaruhi oleh stimulus yang ada dalam lingkungannya maka sedini
mungkin semua karyawan harus mengetahui tentang visi dan misi
perusahaan. Visi dan misi perusahaan merupakan arah dalam mencapai
tujuan perusahaan. Budaya organisasi sebagai pedoman berperilaku bagi
semua anggota organisasi harus disosialisasikan sedini mungkin sejak
karyawan pertama kali masuk menjadi anggota organisasi sampai pada
waktu pemisahaan dari perusahaan. Pada umumnya karyawan dalam
berperilaku hanya berdasarkan kepada habits (kebiasaan-kebiasaan) yang
dianggap benar dan disepakati seara bersama dalam bentuk peraturan.
Budaya organisasi merupakan basic assumptions (asumsi-asumsi dasar)
yang harus diyakini dan dimengerti oleh semua angota organisasi dalam
melakukan semua aktivitasnya (mulai dari pimpinan sampai dengan strata
karyawan yang terbawah).
~ 12 ~
BAB
2
Karyawan Bermasalah
Tujuan Pembelajaran:
1. Mahasiswa mengetahui bentuk -bentuk Perilaku Karyawan
2. Mahasiswa mengetahui keunikan masing-masing individu
3. Mahasiswa mengetahui karakteristik karyawan bermasalah
4. Mahasiswa mengetahui tingkatan kebermasalahan karyawan
Perilaku karyawan adalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan oleh
anggota
organisasi
yang
dapat
secaralangsungmaupun
tidak
langsung
memengaruhi efektifitas kerja suatu organisasi.Antra satu individu dengan
individu yang lainnya memiliki sifat yang berbeda.Ada individu yang cekatan
dalam
melaksanakan
tugasnya,ada
individu
yangpintar,tetapi
susah
berorganisasi,dan mungkin ada juga individu yang suka membuat alasan agar
dapat membolos kerja.Karena perilaku tiap individu tidak sama,manajer sumber
daya manusia harus benar-benar memahami perilaku masing-masing karyawan
2.1 .Bentuk perilaku karyawan
Seorang manajer harus mampu memahami para karyawannya.Pemahaman
ini penting karenaberpengaruh terhadap kinerja perusahaan.Untuk memahami
kondisi karyawannya,seorang manajer dapat melihatnya melalui perilaku
karyawanya di kantor.ada tiga bentuk perilaku karyawan,yaitu perilaku kewargaan
organisasi dan perilaku kontra produktif
Bentuk-Bentuk Perilaku Karyawan
Perilaku karyawan merupakan pola tindakan oleh anggota organisasi yang
secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi efektivitas organisasi
1) Perilaku Kinerja (performance behavior) Perilaku kinerja adalah
keseluruhan perilaku yang berhubungan dengan pekerjaanya yang
diharapkan
oleh
organisasi
ditunjukan
oleh
~ 13 ~
karyawanya.intinya,perilaku yang di targetkan secara langsung untuk
suatu jabatan.
2) Keanggotaan
organisasi
(organizational
citizenship)Keanggotaan
organisasi,yaitu perilaku positif dan kontribusi keseluruhan yang tidak
secara langsung menyumbang pada lini bawah
3) Perilaku kontraproduktif ( counterproductive behavior) perilaku
kontraproduktif adalah mereka yang mengurangi (bukan berkontibusi )
kinerja organisasi. Contoh perilaku kontraproduktif: absen , turnover
(keluar
dari
pekerjaan),
pencurian
,sabotase,
pelecehan,
diskriminasi,agresi dan kekerasan
Perbedaan individual antara karyawan perbedaan individu adalah
atribut pribadi yang bervariasi dari satu orang ke orang lain dan
mungkin fisik,psikologis,dan emosional
Keunikan Tiap Individu
Tiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang
lainya.seperti yang sudah dibahas diatas,ada pula karyawan yang memiliki kinerja
yang baik,tetapi merupakan sosok yang acuh tak acuh.Di sisi lain,ada pula
karyawan yang memiliki kinerja yang buruk,tetapi merupakan sosok yang hangat
dan ramah.Itulah sebabnya mengapa manusia itu unik.Keunikan ini merupakan
gambaran dari dua karateristik dasar manusia,yaitu kepribadian dan sikap dalam
bekerja
2.2. Definisi Karyawan Bermasalah
Karyawan bermasalah adalah seseorang yang tidak mampu sepenuhnya
memenuhi standar kinerja pekerjaannya sesuai tuntutan organisasi dan terutama
tuntutan manajernya. Karyawan bermasalah tidak selalu yang berperangai buruk.
Karyawan bermasalah adalah karyawan yang
tingkat kinerjanya tidak bisa
mencapai standar. Masalah yang dihadapi bisa pada satu bidang atau banyak
bidang di pekerjaannya. Sepanjang standar kinerja tersebut tidak bisa dipenuhi,
selama itu pula masalah kinerja tetap muncul.
~ 14 ~
Harus diingat, jika terdapat karyawan yang kinerjanya di bawah standar,
kemungkinan masalahnya ada pada kita, bukan berarti karyawan tersebut adalah
orang yang buruk.
Dalam menghadapi ini, tujuan manajer adalah mengeluarkan masalah dari
karyawan tersebut, bukan mengeluarkan karyawan dari pekerjaannya. PHK adalah
cara tercepat untuk memecahkan masalah kinerja. Namun, jika PHK ini
digunakan sebagai strategi utama, maka manajer akan kesulitan untuk
menemukan karyawan yang bisa bekerja dengan Anda.
Keluar masuknya karyawan, terutama jika dilakukan dengan semau-maunya,
sangat memakan biaya. Berikut ini adalah beberapa biaya yang harus dipikul
organisasi akibat keluar masuknya karyawan dengan model seperti ini:

Waktu dan biaya untuk merekrut dan mengangkat karyawan baru.

Melatih karyawan baru untuk bisa bekerja dengan baik.

Gaji dan tunjangan yang telah dibayarkan kepada karyawan yang di-PHK.

Kompensasi PHK, dan kemungkinan, uang pesangon.

Rusaknya semangat kerja karyawan yang tetap tinggal.

Kemungkinan tuntutan hukum akibat PHK yang keliru.
Namun, jika manajer berupaya untuk memperbaiki situasi bermasalah pada
kinerja karyawan, kemungkinan besar kinerja karyawan akan menjadi lebih baik.
Sejauh ini, memperbaiki kinerja karyawan merupakan cara yang paling murah
untuk mencegah tragedi keluar masuknya karyawan yang terlalu besar.
2.3.Tingkatan Kebermasalahan Karyawan
Karyawan bermasalah memiliki beragam tingkatan, dari yang relatif
sederhana sampai yang paling sulit. Berikut ini adalah gambaran mengenai jenis
tingkatan karyawan bermasalah yang paling umum:
Karyawan Baru
Karyawan baru adalah karyawan bermasalah, karena dia tidak tahu harus
bekerja seperti apa. Dan untuk mengembangkan kompetensinya, memerlukan
~ 15 ~
pelatihan yang cukup lama.
Mereka membutuhkan pelatihan dan bimbingan
untuk bisa bekerja dengan baik sesuai dengan tuntutan organisasi dan manajernya.
Karyawan yang Tidak Konsisten
Karyawan yang tidak konsisten adalah karyawan yang bekerja dengan
kinerja yang tidak tetap, maksudnya: dalam beberapa hari mereka melakukan
kinerja dengan baik, kemudian dalam beberapa hari jelek; dalam beberapa minggu
lancar, kemudian dalam beberapa minggu berikutnya berantakan; dalam beberapa
bulan memuaskan, kemudian beberapa bulan berikutnya mengecewakan.
Biasanya mereka adalah orang yang mampu atau bisa melakukan semua aspek
pekerjaan dengan baik, tetapi tidak melakukannya secara konsieten.
Karyawan yang tidak konsisten ini banyak terdapat di bawah manajer yang
menggunakan pendekatan laissez-faire, atau yang mengandalkan ingatan jangka
pendek dalam memantau kinerja. Akibatnya, kinerja terbaik karyawan ini nampak
saat menjelang evaluasi tahunan saja. Kemudian setelah hasil evaluasinya baik
dan nilainya naik, maka kinerjanya merosot kembali.
Karyawan yang Tidak Seimbang
Karyawan yang tidak seimbang, biasanya sangat kuat pada suatu aspek
pekerjaan, yang paling sering adalah aspek teknik atau kecerdikan dan sangat
lemah pada aspek lainnya seperti yang paling sering adalah perilaku. Umumnya ,
karyawan ini merupakan karyawan yang sangat berbakat, tetapi karena
perilakunya atau hubungan kerjanya bermasalah, maka kinerjanya ikut menjadi
tidak baik.
Karyawan yang tidak seimbang biasanya tampil dalam salah satu versi
berikut ini:

Antagonis
Tipe antagonis adalah orang yang selalu bertentangan dengan orang lain
pada umumnya. Ketika berbeda pandangan, lagak dan perilakunya baik
secara umum atau secara pribadi, melecehkan atau menyerang,
~ 16 ~
merendahkan, menghina, dan mengkritik. Mereka adalah orang yang tidak
banyak berpikir dan langsung mengeluarkan unek-uneknya. Akibatnya,
membuat perasaan orang lain terluka.

Maverick
Jenis maverick adalah orang yang bekerja semaunya sendiri, tidak peduli
atau berusaha menyesuaikan dengan peraturan kelompok. Salah satu
contoh dari jenis karyawan yang tidak seimbang ini adalah tokoh Hawkeye
Pierce, yang diperankan oleh Alan Alda, dalam acara televisi yang popular
di A.S.,MASH. Pierce adalah seorang sersan brilian yang tidak peduli
dengan peraturan atau perintah ketentaraan, atau bekerja cuek dengan
orang-orang yang tidak menyukainya. Maverick ini menimbulkan
kemarahan pejabat-pejabat yang memerintahnya.

Sinis
Orang yang sinis adalah seperti apel busuk yang dengan cepat bisa
menular ke apel-apel lain dalam keranjang. Mereka sering mengkritik
keputusan manajemen atau tidak membantu upaya kelompok. Mereka
memberi peringatan dengan sinisme dan diam-diam disebar ke seluruh
unit kerja. Maka, secara otomatis, gagasan atau keputusan yang oleh
pesisnis ini dianggap buruk oleh kelompok yang dianggap buruk pula.
Karyawan Asal Kerja
Karyawan asal kerja hanya menjalankan tugas-tugas utamanya saja; dia
menjalankan tugas rutin dan hanya mencapai standar minimal. Karyawan ini
tidak memiliki mutu kerja yang tinggi dan tidak berusaha untuk bekerja lebih baik
lagi. Jika ada tenaga yang amat dibutuhkan atau ada proyek khusus, karyawan ini
biasanya diletakkan pada posisi paling bawah di antara karyawan lain yang akan
diberi tugas untuk menjalankan proyek tersebut.
~ 17 ~
Karyawan Marjinal
Karyawan marjinal adalah karyawan yang kinerjanya berada di bawah
standar pada sebagian besar aspek pekerjaan. Karyawan jenis ini termasuk
kategori karyawan bermasalah karena banyak membuang-buang waktu, tidak
bekerja secara produktif. Meskipun karyawan ini bermasalah, biasanya mereka
diam dan tidak begitu menonjol. Karyawan marjinal banyak terdapat pada
departemen yang besar, di mana dia dengan mudah bisa hilang di tengah
“kerumunan” .
Karyawan yang Tidak Bisa Ditoleransi
Karyawan yang tidak bisa ditoleransi adalah karyawan yang jarang sekali
bisa bekerja dengan benar, atau jarang sekali bekerja tepat waktu; hasil kerjanya
sangat rendah, tingkat ketidakhadirannya sangat tinggi, perilakunya mengganggu
orang lain. Ini merupakan karyawan yang perilakunya maupun kemampuan
teknisnya tidak bisa lagi ditoleransi oleh manajernya. Pada tahap ini, sering
melimpahkan permasalahannya ke Bagian SDM dan meminta dilakukan tindakan
pendisiplinan resmi segera atau tindakan PHK segera. Biasanya, masalah
semacam ini muncul karena sang manajer telah mentoleransi kinerjanya yang
buruk dalam jangka waktu cukup lama dan membiarkan karyawan bermasalah ini
tumbuh menjadi tidak bisa ditoleransi dan menjadi masalah yang berat.
Jika sebagai manajer, semakin lama Anda tidak segera mengatasi masalah
kinerja yang muncul, maka semakin sulit bagi Anda untuk bisa menyelesaikannya
secara konstruktif. Karyawan yang bermasalah tidak begitu saja muncul menjadi
karyawan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Namun mereka tumbuh mulai dari
kinerja yang tidak konsisten, tidak seimbang, atau menjadi karyawan yang asal
kerja, tetapi tidak diberi koreksi. Akibatnya, kesalahan yang dilakukannya
menjadi semakin berat, dan tidak bisa ditoleransi lagi.
Pada tahun 1980-an di A.S., gugatan terhadap PHK yang keliru hampir menjadi
praktik yang umum. Pada sebagian besar kasus, perusahaan selalu kalah.
~ 18 ~
Sedangkan tahun 1990-an, posisi perusahaan ini menjadi semakin lemah dengan
semakin kuatnya persaingan. Saat ini, bik dalam sektor swasta maupun
pemerintah, manajer lebih dituntut untuk secara lebih efektif mengelola kinerja
bawahannya.
Tugas
Isilah tempat kosong dibawah ini. Jika Anda sebagai seorang manajer bekerja
sama dengan anak buah untuk memperbaiki masalah kinerja yang muncul, maka
kemungkinan kinerja tersebut akan_______________.
Tentu saja jawabannya membaik. Selain karyawan itu sendiri, orang yang
memiliki pengaruh besar pada kinerjanya adalah manajer. Jika sebagai manajer
Anda berpendapat bahwa kinerja karyawan tidak bisa diperbaiki lagi, maka
kemungkinan besar kinerjanya akan menjadi lebih buruk, bukan menjadi lebih
baik. Namun, jika Anda berupaya untuk memperbaikinya, maka kemungkinan
kinerja tersebut akan menjadi lebih baik.
Perbaikilah sasaran yang Anda inginkan. Oleh karena itu, kita harus selalu
mengingatkan diri kita dengan pesan berikut ini:
KEBANYAKAN ORANG
MENGINGINKAN DAN
BERUSAHA BEKERJA
DENGAN BAIK
Penilaian Singkat untuk Manajer
Jawablah pertanyaan berikut ini:
1. Apakah Anda ingin dan berusaha bekerja dengan baik?
2. Jika bawahan Anda ditanya apakah mereka ingin berusaha bekerja dengan
baik, kemungkinan besar apa jawaban mereka?
~ 19 ~
Saya telah mengajukan pertanyaan ini kepada ratusan manajer dan
jawaban mereka adalah ya.kebanyakan orang ingin berusaha untuk bekerja
dengan baik.
3. Jika Anda tidak bekerja dengan baik, apakah Anda mengetahui kelemahan
dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut? Menurut Anda, apakah jawaban
tadi berlaku bagi sebagian besar karyawan?
Ketika pertanyaan ini diajukan, dengan tidak bersedia menyebutkan
namanya, mereka menjawab ya. Mengapa? Jawaban yang paling banyak
adalah “Dengan demikian, saya bisa melakukan koreksi atau perbaikan
yang diperlukan”.
Jawaban tersebut mencerminkan bahwa PESAN di atas memang penting
untuk diingat. Bagaimanapun juga , karyawan bermasalah adalah orang.
Meskipun masalah yang Anda hadapi adalah orang yang bermasalah,
tetapi kebanyakan dari mereka ingin dan berniat untuk bekerja dengan
baik, dan ingin mendapat kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya.
Sebagai seorang manajer, mengingat PESAN di atas, akan membantu
Anda mendekati siuasi karyawan bermasalah secara positif dan
konstruktif. Fokuskan untuk melakukan perbaikan, apabila Anda berniat
melakukan perbaikan maka perbaikan tersebut juga akan tercipta
TANDA PERINGATAN UMUM
Berikut ini adalah pernyataan para manajer mengenai empat belas tanda
berkembangnya masalah kinerja yang ditunjukkan oleh karyawan:
~ 20 ~
1. Hasil menurun. Jumlah pekerjaan yang diselesaikan menurun.
Penjualan atau produksi di bawah normal.
2. Kualitas kerja. Kesalahan meningkat. Hasil kerja Nampak ceroboh
dan sering tidak tuntas.
3. Melanggar batas waktu. Penyelesaian tugas/proyek terlambat, atau
tidak lengkap.
4. Menunjukkan sedikit atau tidak ada inisiatif. Karyawan tidak mulai
bekerja tanpa didorong atau diingatkan.
5. Menghindari tugas dan pekerjaan yang lebih berat. Karyawan
mengeluh menghadapi tugas yang lebih berat. Sering, karyawan
berusha untuk mengalihkan pekerjaan tersebut kepada karyawan lain.
6. Banyak mengeluh. Karyawan menganggap bahwa keputusan yang
dibuat orang lain, tugas yang dikerjakan orang lain, serta upaya orang
lain hampir selalu salah.
7. Kurang berinteraksi dengan orang lain. Karyawan cenderung diam
pada pertemuan dan lebih sering bekerja sendiri.
8. Enggan melaksanakan perintah. Perintah harus disampaikan
berulang-ulang.
Karyawan
sering
menyampaikan
alasan
ketidakmungkinan untuk melaksanakan tugas sebelum mencoba
pekerjaan tersebut terlebih dahulu.
9. Defensif dan mudah marah. Sulit untuk melakukan percakapan
dengan karyawan tersebut secara tenang dan rasional. Lebih banyak
emosi daripada pemikiran.
10. Sulit diajak kerja sama. Menjadi semakin sulit untuk bisa sejalan dan
bekerja sama dengan karyawan lain. Sering mulai muncul konflik.
11. Menyalahkan kesalahan atau kegagalan pada orang lain.
Karyawan tidak ma menerima tanggung jawab atas tindakannya
sendiri dan dengan cepat menyalahkannya pada orang lain.
12. Sering menghilang dari meja kerjanya. Karyawan tersebut tidak ada
ketika diperlukan, dan tak seorang pun tahu kemana perginya.
~ 21 ~
13. Masukan negatif dari orang lain. Semakin banyak karyawan lain
atau
pelanggan
yang
mengeluhkan
mengenai
kesulitan
atau
kekecewaan yang mereka dapatkan ketika berurusan dengan karyawan
tersebut.
14. Sering tidak hadir.
Kebanyakan manajer bisa mengenali berkembangnya tanda-tanda masalah
ini. Kunci utama untuk memecahkan masalah kinerja , yaitu mengeluarkan
masalah
dari
karyawan,
adalah
dengan
mengenali
tahap
awal
perkembangan permasalahannya, menyelesaikan sejak dini merupakan
cara termudah untuk mengoreksi kekeliruan.
Sayangnya, banyak manajer memilih untuk menggunakan pendekatan
“Manajemen dengan Berharap dan Menghindar” ketika tanda-tanda
masalah ini muncul: manajer berharap karyawan bermasalah akan sadar
dengan sendirinya dan menghindari untuk menghadapi langsung
permasalahannya. “Masalahnya tidak begitu serius,” adalah kalimat yang
sering muncul dari manajer jenis ini. Sebenarnya, karyawan tidak bisa
membaca pikiran manajer; apabila masalah kinerja diabaikan, mereka
cenderun menjadi lebih buruk lagi, bukan menjadi lebih baik.
Manajer lain menerapkan pendekatan “Manajemen dengan Ancaman dan
Catatan” ketika menemukan tanda munculnya karyawan bermasalah.
Dengan pendekatan ini, manajer menggunakan taktik gertakan dan
ancaman atau menuliskan surat pendisiplinan ke file personel. Karyawan,
yang tercengang dan kaget dengan tindakan ini, akan menjadi defensif dan
konfrontatif. Pendekatan hukuman cenderung memprovokasi lahirnya
perlawanan dn rasa tidak percaya sehingga masalahnya tetap tidak
terpecahkan.
~ 22 ~
Seperti telah disebutkan sebelumnya, kebanyakan karyawan ingin tahu apa
kekeliruannya. Jika Anda tahu kekeliruannya secara spesifik, dan bekerja
sama untuk mengoreksinya (Manajemen dengan Koreksi dan Intervensi),
Anda memiliki kesempatan yang baik untuk menemukan kesempatan
memperbaiki kinerja.
2.4. Model Intervensi Dalam Menghadapi Karyawan Bermasalah
Berikut ini adalah enam model intervansi enam langkah agar berhasil
dalam menghadapi karyawan bermasalah:
 Langkah 1 : Mengidentifikasi dan mendefinisikan
masalah kinerja.
 Langkah 2 : Menjelaskan dampak masalah.
 Langkah 3 : Menganalisis penyebab masalah.
 Langkah 4 : Mendefinisikan standar kinerja yang
diharapkan.
 Langkah 5 : Menggali gagasan untuk
menetapkan solusi.
 Langkah 6 : Menuliskan rencana perbaikan ,
TIGA PRINSIP UTAMA
termasuk rencana tindakan dan target tanggalnya.
Model intervensi ini bisa berfungsi dengan baik jika pelaksanaannya
mengikuti prinsip-prinsip utama berikut ini:
1. Lakukan Tindakan Koreksi, JANGAN Menghukum
Penekanannya di sini adalah pada perbaikan. Apabila kinerjanya tidak bisa
memenuhi standar, maka upaya yang dilakukan diarahkan pada
~ 23 ~
identifikasi kekeliruan. Tetapi yang lebih penting adalah mencari cara
untuk memperbaiki kinerja tersebut.
Upaya koreksi harus difokuskan pada apa yang bisa dilakukan, bukan pada
apa yang seharusnya tidak dilakukan. Hukuman memang bisa berfungsi
baik jika diterapkan pada penjahat, tetapi akan menimbulkan rasa takut,
kekesalan atau perlawannan jika diterapkan pada karyawan. Hukuman
tidak bisa memberi tahu karyawan bagaimana memperbaiki kinerjanya.
2. Beri Nasihat dan Bimbingan Sebelum Mengambil Tidakan Pendisiplinan
Salah satu tugas manajer adalah mengingatkan karyawan bahwa karyawan
tersebut bermasalah. Manajer harus member nasihat dan bimbingan dalam
melakukan upaya perbaikan sebelum mengambil tindakan pendisiplinan,
tentu saja ini tidak berlaku kalau pelanggarannya berat. Tindakan
pendisiplinan bisa diambil apabila setelah jangka waktu cukup lama tidak
ada perbaikan.
Tindakan pendisiplinan yang diambil harus sebagai koreksi dan
merupakan konsekuensi logis dari masalah kinerja yang disandangnya.
Jadi, tidak ada kejutan, tidak ada sesuatu yang disembunyikan, atau
tidakan sewenang-wenag. Meskipun tindakan pendisiplinan akan diambil,
masih harus tetap dibuat rencana perbaikan kinerja.
3. Tegas, Adil, dan Peduli
Bahas masalahnya secara langsung dan tepat waktu, pada tahap awal
munculnya masalah. (Tegas)
~ 24 ~
Jika perlu, beritahukan konsekuensinya. Sebagai contoh, “Sebelum tugas
ini dilakukan secara akurat, Anda tidak akan dilibatkan dalam proyek
khusus yang telah Anda ajukan.” Tunjukkan pula konsekuensi positifnya,
bukan sekedar yang negatif. ( Adil )
Yang penting, tunjukkan langsung pada karyawan yang bersangkutan
secara pribadi. Langsung bicarakan dengan karyawan bermasalah tersebut.
(Peduli)
Menjalankan ketiga prinsip utama berarti bertindak secara asertif. Tegas,
adil, dan peduli tiga yang harus diikuti.
*****
Dalam menerapkan ketiga prinsip pada model intervensi, tindakan PHK
diambil hanya setelah semua upaya perbaikan telah dilakukan dan gagal,
alasan PHK harus jelas bagi semua pihak yang terlibat, terutama bagi
karyawan yang di-PHK.
Sering PHK bisa dicegah. Biasanya karyawan bersedia memperbaiki
kinerjanya, atau memutuskan untuk pindah kerja apabila tidak mungkin
untuk melakukan perbaikan. Dengan mengikuti tahapan yang benar,
kesulitan dan tekanan bisa diminimalkan. Manajer dan karyawan merasa
bisa melepaskan rasa tertekannya, bahkan ketika PHK harus dilakukan.
Bagaimana pun, masalah kinerja bisa diselesaikan dengan cara yang
positif.
~ 25 ~
BAB
3
Kepribadian, Kemampuan,
Nilai Dan Sikap
Tujuan Pembelajaran:
1.
3.
4.
Mahasiswa mengetahui definisi Kepribadian,Kemampuan,Nilai-Nilai dan
Sikap
Mahasiswa dapat menganalisa pengaruh kepribadian , kemampuan dan
sikap terhadap perilaku karyawan.
Mahasiswa dapat mengetahui Contoh Kasus / Penelitian yang relevan
Soal-soal Latihan
1.
Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli
2.
Pengertian kepribadian banyak di tanggapi berbeda-beda oleh para ahli Sosiologi.
Namun dari definisi pengertian kepribadian saling melengkapi dan memperkata
konsep kepribadian.Beberapa definisi kepribadian menurut para ahli sosiologi
antara lain sebagai berikut:

Gardon
W.Allport
:
Menurutnya,pengertian
kepribadian
adalah
organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang
menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkunganya

M.A.W.Brower : Pengertian kepribadian menurut M.A.W.Brower adalah
corak tingkah laku sosial yang terdiri dari corak kekuatan, dorongan,
keinginan,opini,dan sikap-sikap seseorang.

Theodore
M.Newcomb:
Menurut
Theodore
M.Newcom
bahwa
pengertian kepribadian adalah organisasi sikap-sikap (predispositions)
yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang pemiliknya.

J.Milton Yinger: Kepribadian adalah keseluruhan perilaku seseorang
individu dengan system kecenderungan tertentu dengan berinteraksi
dengan serangkaian situasi.
1.1
Aspek-Aspek kepribadian
~ 26 ~
Menurut Abin syamsuddin (2003) yang mengemukakan mengenai aspek
aspek kepribadian yaitu sebagai berikut:

Karakter,adalah konsekuen tidaknya mematuhi etika perilaku konsisten
tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.

Temperamen,adalah disposisi rekatif seorang ,atau cepat lambatnya
mengenai mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan akan yang datang
dari lingkungan.

Sikap, ialah sambutan terhadap objek yang sifatnya positif,negatif atau
ambivalen

Stabilitas emosi, yaitu ukuran kestabilan reaksi emosional terhadap
rangsangan lingkungannya. Misalnya mudah tidak tersinggung, marah,
putus asa atau sedih.

Responsibilitas (tanggung jawab) yaitu kesiapan untuk menerima risiko
dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Misalnya mau menerima
risiko yang wajar,cuci tangan atau melarikan diri dari risiko yang dihadapi

Sosialibita ,adalah disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan
internasional.Misalnya sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Secara umum, Pengertian kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang
terdiri dari corak kekuatan,dorongan, keinginan opini,dan sikap yang melekat
pada seseorang jika berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu
keadaan. Istillah kepribadian adalah konsep yang luas sehingga tidak mungkin
membuat definisi berlaku untuk semua orang. Dapat
dikatakan kepribadian
merupakan latar belakang corak perilaku seseorang
Kepribadian mencangkup kebiasaan,sikap,sifat,yang dimiliki seseorang yang
berkembang ketika seseorang berhubungan dengan orang lain.Kepribadian sangat
kaitanya dengan nilai dan norma,dan perilaku
~ 27 ~
1.2. Ciri-Ciri Kepribadian
Ciri-ciri kepribadianya merupakan karakteristik yang menggambarkan
perilaku dan budi pengerti seseorang.Ciri-ciri kepribadian adalah sebagai berikut :

Ketekunan

Ambisi

Kelainan seksual

Timbulnya kecendrungan
Sedangkan Ciri-Ciri Kepribadian sehat adalah:

Mampu menilai diri secara realitas, mengenai kelebihan dan kekurangan
baik secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.

Mampu menilai prestasi yang di peroleh secara realistik ; dapat menilai
keberhasilan yang diperoleh dan diraih secara rasional tidak menjadi
sombong, angkuh,atau mengalami superiority compelx jika memperoleh
prestasi yang tinggi atau kesuksesan.

Kemandirian; mempunyai sifat yang mandiri dalam cara berfikir,dan
bertindak,mampu
mengambil
keputusan,
mengarahkan
dan
mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku
dilingkungannya.

Mampu menilai secara realistik, dapat menghadapi situasi dengan kondisi
kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara
wajar,tidak mengharapkan kondisi kehidupan sebagai sesuatu yang
sempurna.

Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya dengan berdasarkan
filsafat hidup berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.

Beriorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang
lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah yang
terdapat dilingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir,menghargai
dan menilai orang lain misalnya dirinya merasa nyaman dan terbuka
terhadap orang lain,tidak membiarkan dirinya di manfaatkan untuk
~ 28 ~
menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain,karena
kekecewaannya dirinya

Berbahagia; situasi kehidupannya di warnai dengan kebahagian,yang
didukung factor-faktor achievement (prestasi), acceptance ( penerimaan)
dan affection

(kasih sayang).
Penerima sosial; mau berpatisipai aktif di kegiatan sosial dan mempunyai
sikap bersahabat dalam berhubungan terhadap orang lain.

Beriorientasi tujuan; dapat memutuskan tujuan-tujuan dalam sikap
aktivitas dan paksaan dari luar,dan berupaya mencapai tujuan dengan cara
mengembangkan kepribadian ( wawasan), pengetahuan dan keterampilan.

Mampu mengontrol emosi ; merasa nyaman dengan emosinya,dapat
menghadapi situasi frustasi, depresi,atau stress secara positif atau
konstruktik, tidak destruktif (merusak).

Menerima
tanggung
jawab;dia
memiliki
keyakinan
terhadap
kemampuannya untuk mengatasi berbagai masalah yang di hadapinya
Ciri-Ciri Kepribadian Tak Sehat antara lain:

Mudah marah (tersinggung)

Hiperaktif

Sulit tidur

Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas

Pesimis dalam menghadapi kehidupan

Sering tertekan (stress atau depresi)

Menunjukan kekhawatiran dan kecemasan

Bersikap kejam atau senang menganggu orang lain yang usianya jauh
lebih muda atau dengan binatang

sudah diperingati atau dihukum

Senang mengkritik.mencemooh orang lain

Kurang bergairah (bermuram durja) di kehidupan yang dijalani

Kurang mempunyai kesadaran untuk mentaati ajaran agama
~ 29 ~

Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan factor
yang bersifat organis)
Unsur-Unsur Kepribadian / Susunan Kepribadian
Pola-pola perilaku dari setiap manusia individual sebenarnya unik dan berbeda
satu sama lainya. Perilaku manusia ditentukan dari naluri,dorongan-dorongan,
refleks-refleks,atau kelakuan manusia yang tidak dipengaruhi lagi dan di tentukan
melalui akal dan jiwanya seperti tindakan yang membagi buta.
Unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu
itu disebut susunan kepribadian yang meliputi dari hal-hal dibawah ini:
a. Pengetahuan
Pengetahuan individu terisi dengan fantasi,pemahaman,dan konsep-konsep
yang lahir dari pengamatan dan pengelaman mengenai bermacam macam hal yang
berbeda dari dalam lingkungan individu tersebut. Semua itu direkam dalam otak
dan sedikit demisedikit diungkapan oleh individu dalam bentuk perilaku.
b. Perasaan
Perasaan adalah suatu keadaan kesadaran manusia dengan menghasilkan
penilaian positif atau negative terhadap suatu. Bentuk penilaian itu di pengaruhi
oleh pengetahuannya. Sehingga perasaan selalu bersifat subjektif dengan adanya
unsure penilaian sebelumnya. Yang dapat jadi berbeda dengan penilaian orang
lain. perasaan mengisi penuh kesadaran manusia di tiap saat dalam hidupnya.
c. Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah kemampuan yang suda menjadi naluri bagi setiap
manusia. Sedikitnya terdapat tujuh macam dorongan naluri antara lain sebagai
berikut

Dorongan untuk mempertahankan hidup

Dorongan seksual

Dorongan untuk mencari makan

Dorongan untuk berbakti

Dorongan untuk bergaul dan juga berinteraksi antar sesama manusia

Dorongan dalam meniru setiap tingkah laku dari sesamanya
~ 30 ~

Dorongan akan keindahan bentuk,warna,suara,dan gerak
Jenis-jenis Kepribadian manusia
Manusia memiliki beberapa macam atau jenis kepribadianya antara lain
sebagai berikut:
a. Introvert ( introvision)
Introvert
atau
introvision
adalah
kepribadian
manusia
yang
mengutamakan dunia dalam pikiran manusia itu sendiri.jadi manusia dengan sifat
atau jenis kepribadian introvert adalah cenderung menutup diri dari kehidupan
tempat yang banyak orang.
Ciri-Ciri Introvert :

Pemikir

Pendiam

Senang menyendiri

Pemalu

Susah bergaul ( kuper)

Lebih senang bekerja sendirian

Lebih suka berinteraksi secara langsung dengan1 orang ( 1 on1
interaction)

Berpikir dulu baru berbicara/melakukan

Senang berimajinasi

Lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan tulisan

Lebih senang mengamati dalam sebuah interaksi

Jarang berbicara,tetapi suka mendengarkan orang bercerita

Senang dengan kegiatan tenang misalnya membaca,memancing,bermain
komputer dan bersantai
2.
Extrovert (Extraversion)
Extrovert atau extraversion adalah kepribadian manusia yang mengutamakan
dunia luar manusia tersebut. Extrovert merupakan kebaikan dari introvert. Jadi
manusia dengan sifat atau jenis kepribadian extrovert adalah kepribadian yang
~ 31 ~
cenderung membuka diri dengan kehidupan luar yang lebih beraktivitas dan lebih
sedikit berpikir serta orang yang senang berada di keramaian atau kondisi yang
terdapat banyak orang,dari pada di tempat yang sunyi
Ciri-Ciri Extrovert (Extraversion)

Aktif

Senang bersama orang

Percaya diri (kadang dapat berlebihan)

Senang beraktivitas

Lebih senang jika bekerja kelompok

Gampang bergaul (supel)

Lebih suka berinteraksi dengan banyak orang disbanding dengan sekaligus

Lebih mudah mengungkapkan perasaan melalui kata kata

Berbicara/melakukan dulu baru berpikir

Lebih senang berpatisipasi dalam sebuah interaksi

Lebih senang untuk bercerita, dari pada mendengarkan orang yang
bercerita

Senang dengan kegiatan yang banyakorang seperti jalan jalan nongkrong,
berpesta,dan pergi konser
Ambievert (Ambiversion)
Ambievert atau Ambiversion adalah kepribadian manusia yang dapat berubahubah dari introver menjadi extrovert atausebaliknya. Ambiever merupakan
kepribadian manusia dengan dua kepribadian yaitu introvert dan extrovert.
Mempunyai kepribadian ambievert yang dapat dibilang baik karena manusia
tersebut bersifat fleksibel untuk beraktivitas sebagai introvert maupun extrovert
serta berinteraksi dengan introvert dan extrovert dengan baik. Ambievert sering
terlihat moody, karena sifat yang sering berubah-ubah
2.
Kemampuan
Menurut
Mohammad Zain dalam Milman Yusdi (2010:10)mengertikan bahwa
Kemampuan adalah kesanggupan,kecakapan,kekuatan kita berusaha dengan diri
sendiri. Sedangkan Anggiat M.Sinaga dan Sri Hadiati (2001:34) mendefinisikan
~ 32 ~
kemampuan sebagai suatu dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan
dengan pelaksanaan secara efektif atau sangat berhasil.
Sementara itu,Robbin (2007:57) kemampuan berarti kapasitas seseorang individu
untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Lebih lanjut Robbin
menyatakan bahwa kemampuan (ability) adalah sebuah penilaian terkini atas apa
yang dapat dilakukan seseorang
Berdasarkan
pengertian
di
atas
dapat
disimpulkan
bahwa
kemmpuan
(Ability)adalah kecakapan atau potensi seseorang individu untuk menguasai
keahlian dalam melakukan atau mengerjakanberagam tugas dalam suatu pekerjaan
atau suatu penilaina atas tindakan seseorang.
Pada dasarnya kemampuan terdiri atas dua kelompok factor (Robbin,2007:57)
yaitu:
a. kemampuan
intelektual (intellectual ability)
yaitu
kemampuan yang
dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental-berfikir, menalar dan
memecahkan masalah
b. kemampuan fisik (physical ability) yaitu kemampuan melakukan tugastugas yang menentukan stamina,keterampilan,kekuatan,dan karakteristik
serupa
3. Pengertian Nilai dan Macam nilai
Pengertian Nilai menurut Spranger adalah suatu tatanan yang di jadikan
panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternative keputusan
dalam situasi sosial tertentu.Dalam pandangan Spranger, kepribadian manusia
terbentuk
dan
berakar
pada
tatanan
nilai-nilai
kesejarahan.
Meskipun
menempatkan konteks sosial sebagai dimensi nilai dalam kepribadian manusia,
namun Spranger mengakui akan kekuatan individual yang dikenal dengan istilah
roh subjektif. Sementara itu,kekuatan nilai-nilai kebudayaan merupakan roh
objektif. Kekuatan individual atau roh subjektif didudukan dalam posisi primer
karena nilai-nilai kebudayaan hanya akan berkembang dan bertahan apabila
didukung dan di hayati oleh individu
~ 33 ~
Penerimaan nilai oleh manusia tidak dilakukan secara pasif melainkan secra
kreatif dan aktif. Dalam proses manusia menerima nilai ini terjadi hubungan
dialektis antara roh objektif dengan roh subjektif. Artinya, roh objektif akan
berkembang jika didukung oleh roh subjektif,sebaliknya roh objektif akan
berkembang dengan berpedoman kepada roh objektif yang di posisikan sebagai
cita-cita yang harus dicapai. Nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya
dan mendorong orang untuk mewujudkannya.
Sedangkan menurut Horrocks, Pengertian Nilai adalah sesuatu yang
memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa
yang ingin dicapai atau sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Secara dinamis,nilai
dipelajari dari produk sosial dan secara perlahan diinternalisasi oleh individu serta
di terima sebagai milik bersama dengan kelompoknya, nilai ialah standar
konseptual yang relatif stabil, dimana secara eksplasit maupun implicit
membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai serta aktivitas
dalam rangka memenuhi kebutuhan psikologi
Dari pengertian nilai yang dikemukakan oleh pakar di atas,dapat disimpulkan
bahwa
Nilai adalah Sesutu yang di jadikan sebagai panduan dalam hal
mempertimbangkan keputusan yang akan diambil kemudian. Nilai merupakan
sesuatu yang bersifat abstrak,karena mencakup pemikiran dari seseorang. Penilain
yang dilakukan oleh individu yang satu belum tentu sama dengan individu yang
satu. Selanjutnya akan di bahas mengenai macam-macam nilai di bawah ini.
Macam-macam Nilai
Macam-macam nilai menurut Spranger,yaitu :
(1) Nilai keilmuan merupakan salah satu dari macam-macam nilai yang
mendasari perbuatan seseorangatau sekelompok orang yang bekerja
terutama
atas
dasar
pertimbangan
rasional.
Nilai
keilmuan
ini
dipertentangkan dengan nilai agama
(2) Nilai agama ialah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari
perbuatan seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu
itu dipandang benar menurut ajaran agama.
~ 34 ~
(3) Nilai ekonomi adalah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari
perbuatan seseorang atau sekelompok orang atasdasar pertimbangan ada
tidaknya keuntungan financial sebagai akibat dari perbuatannya itu. Nilai
ekonomi ini dikontraskan dengan nilai seni
(4) Nilai seni merupakan salah satu dari macam-macam nilai yang mendasar
perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan rasa
keindahan atau rasa seni yang terlepas dari berbagai pertimbangan material.
(5) Nilai Solidaritas ialah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari
perbuatan seseorang terhadap orang lain tanpa mengiraukan akibat yang
mungkin timbul terhadap dirinya sendiri,baik itu berupa keberuntungan
maupun ketidak beruntungan. Nilai solidaritas ini di kontraskan dengan
nilai kuasa.
(6) Nilai Kuasa adalah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari
perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan baik
buruknya untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya
Dari macam-macam nilaiyang di sebutkan di atas,nilai yang dominan pada
masyarakat tradisional adalahnilai solidaritas, nilai seni dan nilai agama. Nilai
yang dominan pada masyarakat modern ialah nilai keilmuan,nilai kuasa dan
nilai ekonomi. Sebagai konsekuensi dari proses pembangunan yang berlangsung
secara terus-menerus, yang memungkinkan terjadinya pergeseran nilai-nilai
tersebut. Pergeseran nilai keilmuan dan nilai ekonomi akan cenderung lebih cepat
dibandingkan dengan nilai nilai lainya jika menggunakan model dinamikinteraktif. Ini merupakan konsekuensi dari kebijakan pembangunan yang
memberikan prioritas ada pembangunan ekonomi dan ditunjukan oleh cepatnya
perkembangan ilmu dan teknologi
4.
Sikap
Sikap atau attitude oleh Kreitner dan Kinicki (2010:160) didefinisikan
sebagai suatu kecenderungan yang di pelajari untuk merespon dengan cara
~ 35 ~
menyenangkan atau tidak menyenangkan secara konsisten berkenan dengan objek
tertutup
Komponen sikap
Perbedaan antara sikap dan nilai-nilai diperjelas dengan mempertimbangkan
adanya
tiga
komponen
sikap,
yaitu:affective,cognitive,
dan
behavioral.
Namun,perludi catat bahwa sikap kita secara menyeluruh terhadap seseorang atau
sesuatu adalah fungsi dari pengaruh kombinasi dan ketiga komponen tersebut
(Robbins dan Judge,2011:106).
a. Affective Component
Komponen efektif dari sikap merupakan perasaan atau emosi yang dimiliki
seseorang tentang objek atau situasi tertentu. Perasaan kita tentang orang yang
berbicara dengan telepon genggam di tempat umum dapat merasa terganggu dan
marah. Sebaliknya,komponen afektif dari sikap kita bisa bersifat netral apabila
kita bersifat tidak acuh terhadap orang yang berbicara dengan telepon genggam
tersebut.
b. Cognitive Component
Komponen kognitif merupakan keyakinaan atau gagasan yang dimiliki orang
tentang objek atau situasi.Apa yang kita piker tentang perilaku orang yang
berbicara menggunakan telepon genggam di tempat umum tersebut dapat
dikatakan kurang menaruh perhatian,produktif,dapat diterima,atau kasar.
c. Behavioral Component
Komponen perilaku menunjukkan bagaimana seseorang bermaksud atau
mengharapkan bertindak terhadap seseorang atau sesuatu. Bagaimana kita
bermaksud merespon terhadap orang yang berbicara dengan telepon genggam
tersebut apabila kita berada di dekatnya.
Sedangkan komponen sikap menurut McShan dan von Glinow (2010:100)
terdiri dari beliefs, feelings,dan behavioral intentions,yang dapat di jelaskan
sebagai berikut:
a. Beliefs
Belief atau keyakinan merupakan persepsi yang ditimbulkan tentang objek
sikap,yang kita yakin benar. Misalnya kita yakin bahwa merger
~ 36 ~
mengurangi keamanan kerja untuk pekerja pada perusahaan yang
melakukan merger. Atau kita juga dapat mempunyai keyakinaan bahwa
merger dapat meningkatkan daya saing dalam era globalisasi
b. Feelings
Feelings atau perasaan mencerminkan evaluasi positif atau negatif dari
sikap objek. Sementara orang berpikir bahwa merger adalah baik,sedang
lainya berpikir bahwa merger itu buruk. Suka atau tidak suka, menurut
perspektif kognitif sikap tradisional, sebelah kiri model, fellings
diperhitungkan dari keyakinan kita tentang marger.
c. Behavioral Intentions
Intention atau maksud merupakan motivasi untuk terikat dalam perilaku
tertentu menurut objek sikap. Pada saat mendengar bahwa perusahan akan
marger dengan organisasi lain,perasaan kita terhadap merger motivasi
maksud perilaku kita, dan tindakan apa yang kita pilih tergantung pada
pengelamaan masa lalu, konsep diri, dan norma sosial dari perilaku yang
sesuai.
Pendapat tentang komponen sikap diatas pada dasarnya menunjukan persamaan
pengertian, walaupun dengan terminology yang berbeda. Apa yang di maksudkan
oleh Robbins dan Judge dengan affective adalah sama dengan apa yang
dimaksudkan McShane dan Von Glinow dengan felling. Demikian pula cognitive
mempunyai makna yang sama dengan belief ,serta behavior dan behavior
intention.
Sikap mempengaruhi perilaku
Kreitner dan Kinicki (2010:162) mengungkapkan adanya penelitian yang
menemukan bahwa penelitian terhadap pekerja setengah umur menunjukan
perilaku kerja stabil lebih dari 5 tahun
Ada tiga factor yang menyebabkan orang pada usia menengah cenderung
mempunyai stabilitas sikap yaitu:
a. Kepastian personal lebih besar
b. Merasa kelebihan pengetahuan, dan
~ 37 ~
c. Perlunya mempunyai sikap yang kuat
Berdasarkan hal tersebut berkesimpulan bahwa pandangan konvesional bahwa
sikap umum kemungkinan berubah apabila umur orang bertambah ditolak. Orang
yang lebih tua, bersamaan dengan yang lebih muda,dapat dan melakukan
perubahan sikap umumnya karena mereka lebih terbuka dan kurang percaya diri
Sikap mempengaruhi perilaku melalui maksud
Perbedaan antara sikap dan perilaku di tentukan oleh intention,yaitu kesiapan
orang untuk mewujudkan perilaku tertentu Ajzen mengembangkan model
memfokus pada intentions sebagai kunci hubungan antara sikap dengan perilaku
terencana (Kreitner dan kinicki (2010:163).
Dapat dijelaskan bahwa sebagai determinan intention adalah:
1. Attitude toward the behavior. Sikap terhadap perilaku menunjukan
tingkatan
keadaan
di
mana
orang
mempunyai
evaluasi
yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan atau penilaian terhadap perilaku
yang menjadi masalah.
2. Subjective norm. Norma subjektif adalah sebagai factor sosial yang
menunjukan tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak
melakukan perilaku.
3. Perceived behavior control.Kontrol perilaku yang dirasakan menunjukan
perasaan mudah atau sukar untuk mewujudkan perilaku dan diasumsikan
mencerminkan pengelamaan masa lalu dan demikian pula antisipasi
terhadap rintangan dan hambatan
Sikap Kerja
Work
atau
job
attitudes
atau
sikap
kerja
seperti
organizational
commitments(komitmen organisasional),job envolvement/employee engagement
(keterlibatan kerja), dan job satisfaction (kepuasan kerja) mempunyai kepentingan
ganda bagi manajer
Perilaku
organisasi
kebanyakan
membahas
tiga
sikap,
yaitu:job
satisfaction,job involvement dan organizational commitment. Sikap lain yang
~ 38 ~
penting adalah tentang perceived organizational support dan employee
engagement.
1. Job Satisfaction
Ketika orang berbicara tentang sikap pekerja, biasanya diartikan sebagai job
satisfaction atau kepuasan kerja, yang menjelaskan perasaan positif tentang
pekerjaan, sebagai hasil dari evaluasi dari karakteristiknya.
2. Job involvement
Job involvelment atau keterlibatan kerja mengukur tingkatan di mana orang
mengenal secara psikologis dengan pekerjaannya dan mempertimbangkan
merasakan tingkat kinerja mereka penting bagi harga diri.
Job involment pada dasarnya mengandung makna yang sama dengan
partisipasi. Dalam literature baru terdapat kecenderungan menggunakan
terminology invorment untuk menunjukan keterlibatan pekerja. Bahkan terakhir
banyak dipergunakan terminologi inclusion.
3. Organizational Commitment
Dalam organizational commitment, pekerja mengenal atau mengindentifikasi
dengan organisasi tertentu. Terdapat tiga dimensi komitmen organisasional yaitu:
a. Affective commitment, adalah merupakan pelengkap emosional dan
keyakinan dalam nilai-nilainya pada organisasi
b. Continuance commitment,merupakan perasaan nilai sisa ekonomi dengan
organisasi.Employee atau pekerja mungkin mempunyai komitmen pada
employer atau pemberi kerja karena di bayar baik dan merasa akan
manyakiti keluarganya apabila keluar dari pekerjaannya.
c. Normative commitment,merupakan kewajiban untuk tetap tinggal dalam
organisasi karena alasan moral dan etika. Pekerja yang memulai inisiatif
baru mungkin tetap dengan pemberi kerja karena apabila mereka keluar
akan meninggalkan pemberi kerja dalamkesukaran.
4.
Perceived Organizational Support
Merupakan tingkatan keadaan di mana pekerja yakin organisasi menghargai
kontribusi mereka dan perhatian tentang kesejahteraan mereka. Misalnya mereka
percaya organisasi akan mengakomodir mereka apabila mereka mempunyai
~ 39 ~
masalah perhatian kepada anak atau akan memaafkan dengan jujur kesalahan
dirinya.
5. Employee Engagement
Merupakan individual dengan kepuasan dan antusiasme untuk pekerjaan yang
di lakukan. Kita harus bertanya kepada pekerja tentang ketersediaan sumber daya
dan peluang mempelajari keterampilan baru.
~ 40 ~
BAB
4
Produktivitas
Tujuan Pembelajaran:
1.
Mahasiswa mengetahui Pengertian dan Type Produktifitas
2.
Mahasisiwa mengetahui Pengukuran Produktivitas Kerja Karyawan
3.
Mahasiswa mengetahui Cara Meningkatkan Produktivitas Karyawan
4.
Mahasiswa mengetahui Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Produktifitas
Kerja Karyawan
5.
Mahasiswa mengetahui cara Menilai
Salah satu masalah ekonomi yang harus dihadapi bangsa Indonesia saat ini
adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah
sumber daya manusia yang besar apabila dapat didayagunakan secara efektif dan
efisien akan bermanfaat untuk menunjang gerak lajunya pembangunan nasional
yang berkelanjutan. Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan
sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal sehingga,
tujuan dapat tercapai.
Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar
kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat tercapai. Produktivitas suatu badan
usaha dapat memberikan kontribusi pada pemerintah daerah maupun pusat
artinya, dari produktivitas nasional maupun regional dapat menunjang
perekonomian secara makro ataupun mikro.
Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, untuk itu
perusahaan harus berusaha menjamin agar faktor yang berkaitan dengan
produktivitas dapat dipenuhi secara maksimal, salah satu faktor yang
mempengaruhi adalah lingkungan kerja (Muchdarsyah:2003).
Kenyamanan lingkungan kerja karyawan dapat memicu karyawan untuk
bekerja lebih baik sehingga produktivitas kerja dapat dicapai secara maksimal.
~ 41 ~
Lingkungan kerja yang baik diharapkan dapat memacu produktivitas kerja
karyawan yang tinggi. Setiap perusahaan akan menghadapi perubahan lingkungan
yang bersifat teknis dan fenomatik (Keith dan John:1985).
Untuk mendukung tingkat produktivitas kerja karyawan dapat dilakukan
dengan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, lingkungan kerja
merupakan segala sesuatu di sekitar pekerja dan dapat berpengaruh terhadap
pekerjanya.
Lingkungan yang mendukung akan dapat mendorong karyawan untuk
bekerja lebih baik dan bersungguh-sungguh sehingga produktivitas kerja yang
maksimal dapat dicapai.sesuai dengan teori bisnis, harus ada kesesuaian antara
asumsi lingkungan yang akan di hadapi dengan visi dan misi yang diemban serta
kemampuan utama yang dimiliki agar visi perusahaan dapat menjadi kenyataan
dan tidak hanya sekedar menjadi mimpi belaka. Lingkungan dalam sebuah
pekerjaan (task environment) mencakup elemen-elemen atau kelompokkelompok yang tindakan maupun keinginannya mempengaruhi perusahaan secara
langsung. Mereka yang mempunyai kepentingan adalah para pemegang saham,
supplier, pesaing, pelanggan, kreditur, serikat pekerja, dan asosiasi dagang seperti
kadin dan pemerintah, lingkungan kerja mencakup berbagai aspek penekan umum
yang tidak secara langsung mempengaruhi aktivitas perusahaan dalam jangka
waktu pendek, tetapi dapat mempengaruhi keputusan jangka panjang perusahaan
sehingga
hal
ini
dapat
mengganggu
kegiatan
operasional
perusahaan
(Bambang:2005).
Konsep produktivitas berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses
menghasilkan keluaran dengan mengonsumsi masukan tertentu. Produktivitas
pada dasarnya adalah suatu konsep yang universal yang berlaku bagi semua
sistem, karena setiap kegiatan memerlukan produktivitas dalam pelaksanaannya
(Keith dan John:1985).
4.1. Produktivitas Kerja
Produktivitas berasal dari kata produksi, kata produksi sering digunakan
dalam istilah membuat sesuatu. Produksi adalah pengubahan bahan-bahan dari
~ 42 ~
sumber-sumber menjadi hasil yang diinginkan olehkonsumen. Hasil tersebut bisa
berupa barang ataupun jasa. Istilah produksi ini sering dikaitkan dengan istilah
produktivitas, meskipun kedua istilah tersebut sangat berkaitan, tetapi salah jika
menganggap produktivitas merupakan fasilitas produksi yang aktif. Produktivitas
adalah sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah
barang dan jasa yang diproduksi) dengan sumber (jumlah tenaga kerja, modal,
tanah, dan seterusnya) yang dipakai untuk menghasilkan hasil tersebut
(Bashu:1999).
Produktivitas juga diartikan sebagai konsep universal yang bertujuan
untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia,
dengan menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit, karena setiap
kegiatan memerlukan produktivitas dalam pelaksanaannya (Murdhansyah:2003).
Konsep produktivitas berkaitan erat dengan seberapa jauh suatu proses
menghasilkan keluaran dengan mengkonsumsi masukan tertentu. Produktivitas
merupakan rasio antara masukan dan keluaran dengan fokus perhatian pada
keluaran yang dihasilkan suatu proses, biasanya suatu kombinasi dapat digunakan
untuk menghasilkan suatu tingkat keluaran tertentu.
Produktivitas juga menyangkut masalah akhir yakni seberapa besar hasil
akhir yang diperoleh didalam proses produksi, dengan kata lain produktivitas
memiliki dua dimensi yaitu: pertama, efektifitas yang mengarah pada pencapaian
unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan
kualitas, kuantitas, dan waktu. Yang kedua yaitu efisiensi yang berkaitan dengan
upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana
pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Konsep Produktivitas
Konsep produktivitas kerja dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi
individu dan dimensi organisasian. Dimensi individu melihat produktivitas dalam
kaitannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu yang muncul
dalam bentuk sikap mental dan mengandung makna keinginan dan upaya individu
yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan
~ 43 ~
dimensi keorganisasian melihat produktivitas dalam kerangka hubungan teknis
antara masukan (input) dan keluaran (out put). Oleh karena itu dalam pandangan
ini, terjadinya peningkatan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas,
tetapi juga dapat dilihat dari aspek kualitas.
Sebuah konsep yang menggambarkan antara hasil dengan sumber modal, tanah,
energi dan sebagainya.
Ravianto (1990 :2) mengemukakan produktivitas adlah hubungan kerja antara
jumlah produk yang dihasilkan dengan jumlah sumber daya yang diperlukan
untuk menghasilkan produk tersebut atau dengan rumusan umum yang lebih rasio
antara keputusan kebutuhan dan pengorbanan yang diberikan.
Menurut berbagai pendapat di atas mengenai produktivitas, maka untuk mencapai
produktivitas harus dengan cara tepat memastikan sumber-sumber daya harus
dipergunakan.
Secara
umum
produktivitas
mencerminkan efisiensi
dari
penggunaan sumber daya yang menghasilkan. Ukuran (tenaga kerja, modal dan
energi) yang menghasilkan keluaran tersebut. Atas dasar masukan dan keluaran
tersebut, dicantumkan beberapa rumusan produktivitas yang dikemukakan oleh
Ravianto (1992 : 21) yaitu :
Produktivitas Total (PT) = Output / Input
Berdasarkan uraian mengenai pengertian-pengertian produktivitas diatas dapat
disimpulkan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output)
dengan masukan (input) pada perusahaan industri dan ekonomi secara
keseluruhan. Penghargaan serta penggunaan motivator yang tepat akan
menimbulkan produktivitas yang lebih tinggi. Semua ini mencakup pemberian
insentif dan usaha-usaha menambah kepuasan kerja melalui sarana yang beraneka
macam.
4.2. Produktifitas Sumberdaya Manusia
Produktivitas Sumber Daya Manusia dapat digambarkan sebagai suatu
proses dari fungsi proses dari sisi respons individu terhadap ukuran kerja yang
diharapkan oleh organisasi, yang mencakup desain kerja, proses pemberdayaan,
dan pembimbingan, serta dari sisi individu itu sendiri yang mencakup
~ 44 ~
ketrampilan, kemampuan, dan pengetahuannya. Oleh karena itu, dapat juga
dikatakan bahwa kinerja individu merupakan hasil suatu proses perpaduan antara
kapabilitas individu dengan sikap individu terhadap aspek pekerjaan dan
organisasi. (Walker, 1993)
Sejalan dengan pernyataan diatas, Robbins (1990) secara tegas menyatakan bahwa
produktivitas menggambarkan suatu sikap kerja yang ditampakkan oleh orangorang yang terlibat dalam suatu perusahaan dan dapat dijelaskan melalui sistem
evaluasi atau sistem penilaian kinerja. Kinerja seorang karyawan dapat
dipengaruhi oleh cara individu tersebut dalam merespons kondisi-kondisi yang
mempengaruhi proses kerjanya.
Benardin & Russel (1998) menjelaskan bahwa produktivitas karyawan adalah
hasil keluaran yang dihasilkan pada fungsi atau aktivitas kerja tertentu selama
periode waktu tertentu. Hal itu berarti bahwa produktivitas seseorang karyawan
identik dengan hasil upaya dalam menjalankan tugasnya.
4.3.Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
Perusahaan mempunyai peranan yang sangat besar terhadap produktivitas kerja
karyawan. Perusahaan harus dapat menjaga agar prodiktivitas kerja karyawan
tidak megalami penurunan dari waktu sebelumnya. Untuk dapat mengetaui turun
atau tidaknya produktivitas perusahaan harus dapat membuat standar kerja yang
ditetapkan oleh pihak perusahaan dentgan standar kerja. Sedangkan factor yang
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan yaitu :
a. Karyawan
1) Motivasi diri, integritas
2) Kompensasi
i. Pengetahuan
ii. Keterampilan
iii. Pengalaman
iv. Pendidikan dan pengalaman
3) Kesehatan dan keamanan
~ 45 ~
b. Suasana kerja
1) Hubungan sesama pegawai
2) Hubungan atasan dengan bawahan
c. Budaya kerja
1) Disiplin
2) Gugus kendali mutu
d. Manajemen
1) Gaya kepemimpinan
2) Kompetensi
i. Manajerial
ii. memimpin
iii. mengendalikan dan operasional
Pengaruh produktivitas kerja terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Suatu
perusahaan dapat meningkatkan produktivitas. Hal ini perlu dilakukan agar
perusahaan tersebut dapat melangsungkan kegiatan operasionalnya di masa yang
akan datang. Tujuan peningkatan produktivitas ini dapat dilihat dari beberapa sisi,
bagi suatu perusahaan peningkatan produktivitas ini mempunyai tujuan antara
lain:
a.
Agar perusahaan tersebut mempunyai daya saing pasar
b.
Untuk menjamin kelangsungan kegiatan di perusahaan tersebut
c.
Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan
d.
Agar perusahaan tersebut memungkinkan memperluas perusahaan
e.
Agar perusahaan tersebut dapat meningkatkan volume produksinya
Sedangkan untuk tingkat individu, tujuan dan peningkatan produktivitas ini adalah
untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta mempunyai kesempatan
untuk berperan aktif di dalam perusahaan. Peningkatan produktivitas karyawan
dapat dilihat dari bentuk :
a. Jumlah produksi meningkat dengsn menggunakan masukan yang sama
b. Jumlah produksi meningkat yang dicapai dengan menggunakan masukan yang
turun
~ 46 ~
c. Jumlah produksi yang lebih besar yang diperoleh dengan tambahan masukan
yang relatif
kecil
Dari pembahasan di atas perusahaan akan dengan mudah mencapai tujuannya
dengan adanya produktivitas kerja yang tinggi dari karyawan perusahaan tersebut.
Dengan adanya pemberian insentif maka pengaruh terhadap produktivitas kerja
karyawan akan sangat mendorong pencapaian tujuan perusahaan itu sendiri dan
pemberian insentif ini merupakan salah satu factor dapat mempengaruhi
produktivitas kerja.
4.4 Pengukuran Produktivitas Karyawan
Ada dua cara yang bisa digunakan untuk mengetahui tingkat produktifitas tenaga
kerja
Cara pertama adalah dengan membagi nilai tambah yang dihasilkan dengan
jumlah tenaga kerja. Dengan cara pertama, bisa diketahui berapa jumlah nilai
tambah yang dihasilkan oleh setiap tenaga kerja
Cara kedua adalah dengan cara membandingkan nilai tambah yang dihasilkan
dengan pengeluaran untuk tenaga kerja. dengan cara kedua, kita bisa mengetahui
besarnya nilai
tambah yang dihasilkan untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk biaya tenaga
kerja
Upaya Meningkatkan Produktivitas Karyawan
Pertama, perbaikan terus menerus, yaitu upaya meningkatkan produktivitas kerja
salah satu implementasinya ialah bahwa seluruh komponen harus melakukan
perbaikan secara terus-menerus. Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu
kiat tetapi merupakan salah satu etos kerja yang penting sebagai bagian dari
filsafat manajemen mutakhir. Suatu organisasi dituntut secara terus-menerus
untuk melakukan perubahan-perubahan, baik secara internal maupun eksternal.
Perubahan internal contohnya, yaitu: (a) perubahan strategi organisasi; (b)
perubahan kebijakan tentang produk; (c) perubahan pemanfaatan teknologi; (d)
perubahan dalam praktek-praktek sumber daya manusia sebagai akibat
~ 47 ~
diterbitkannya perundang-undangan baru oleh pemerintah. Perubahan eksternal,
meliputi: (a) perubahan yang terjadi dengan lambat atau evolusioner dan bersifat
acak; (b) perubahan yang tinggi secara berlahan tetapi berkelompok; (c)
perubahan yang terjadi dengan cepat karena dampak tindakan suatu organisasi
yang dominan peranannya di masyarakat; dan (d) perubahan yang terjadi cepat,
menyeluruh dan kontiniu.
Kedua, peningkatan mutu hasil pekerjaan. Peningkatan mutu hasil pekerjaan
dilaksanakan oleh semua komponen dalam organisasi. Bagi manajemen,
misalnya, perumusan strategi, penentuan kebijakan, dan proses pengambilan
keputusan. Yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan kegiatan organisasi
yaitu mutu laporan, mutu dokumen, mutu penyelenggaraan rapat, dan lain-lain.
Ketiga, pemberdayaan sumberdaya manusia. Memberdayakan sumberdaya
manusia mengandung kiat untuk: (a) mengakui harkat dan martabat manusia
sebagai makhluk yang mulia, mempunyai harga diri, daya nalar, memiliki
kebebasan memilih, akal, perasaan, dan berbagai kebutuhan yang beraneka ragam;
(b) manusia mempunyai hak-hak yang asasi dan tidak ada manusia lain (termasuk
manajemen) yang dibenarkan melanggar hak tersebut. Hak-hak tersebut yaitu hak
menyatakan pendapat, hak berserikat, hak memperoleh pekerjaan yang layak, hak
memperoleh imbalan yang wajar dan hak mendapat perlindungan; (c) penerapan
gaya manajemen yang partisipasif melalui proses berdemokrasi dalam kehidupan
berorganisasi. Dalam hal ini pimpinan mengikutsertakan para anggota organisasi
dalam proses pengambilan keputusan.
Keempat, kondisi fisik tempat bekerja yang menyenangkan.Kondisi fisik tempat
kerja yang menyenangkan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan
produktivitas kerja, antara lain: (a) ventilasi yang baik; (b) penerangan yang
cukup; (c) tata ruang rapi dan perabot tersusun baik; (d) lingkungan kerja yang
bersih; dan (e) lingkungan kerja vang bebas dari polusi udara.
Kelima, umpan balik. Pelaksanaan tugas dan karir karyawan tidak dapat
dipisahkan dari penciptaan, pemeliharaan, dan penerapan sistem umpan balik
yang objektif, rasional, baku, dan validitas yang tinggi. Objektif dalam arti
~ 48 ~
didasarkan pada norma-norma yang telah disepakati bukan atas dasar emosi,
senang atau tidak senang pada seseorang. rasional dalam arti dapat diterima oleh
akal sehat. Jika seseorang harus dikenakan sangsi disiplin, status berat-ringannya
disesuaikan dengan jenis pelanggarannya. Validitas yang tinggi, dalam arti
siapapun yang melakukan penilaian atas kinerja karyawan didasarkan pada tolok
ukur yang menjadi ketentuan.
4.5. Produktivitas Kerja dan Lingkungan Kerja
Perusahaan berdiri tidak lain untuk menghasilkan produk baik berupa
barang maupun jasa dengan hasil yang maksimal, untuk mendapatkan hasil
produk yang maksimal dibutuhkan sumberdaya yang berkualitas. Kemudian
kebijakan – kebijakan pemimpin perusahaan dalam memberikan tugas kepada
karyawan supaya bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dan produktif.
Untuk mendapatkan produktifitas karyawan yang baik pemimpin
perusahaan perlu memberikan rangsangan kepada karyawan.selain pemberian
upah gaji, bonus, dan jam kerja yang efektif dan efisien pemimpin perusahaan
juga harus memperhatikan lingkungan kerja yang nyaman dan merangsang
produktifitas karyawan. Lingkungan kerja yang mendukung dapat menciptakan
semangat kerja antara karyawan dan perusahaan sehingga setiap pekerjaan yang
dibebankan dapat dikerjakan dengan penuh tanggung jawab.
Robert Kreitner dan Angelo kinicki (2005) menyatakan bahwa para
karyawan akan lebih termotivasi, produktif dan puas pada saat lingkungan kerja
dirancang sedemikian rupa guna menghasilkan lingkungan kerja yang kondusif.
Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dengan
merancang lingkungan kerja yang kondusif maka akan menambah motivasi
karyawan dan memberikan kepuasan kerja kepada karyawan sehingga
produktivitas kerja menjadi semakin baik
4.6. Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Produktivitas
Kepemimpinan memainkan peranan yang dominan, krusial, dan kritikal
dalam keseluruhan upaya dalam meningkatan produktivitas kerja, baik pada
tingkat individual, pada tingkat kelompok dan pada tingkat organisasi. Jika
~ 49 ~
demikian karena produktivitas kerja tidak hanya disoroti dari sudut pandang
produktivitas para tenaga pelaksana pada tingkat pelaksana berbagai kegiatan
operasional yang pada umumnya bersifat teknis akan tetapi juga dari produktivitas
kelompok kerja bahkan produktivitas manajerial.
Dominan, krusial dan kritikal peranan tersebut terlihat dengan menyeroti
definisi kepemimpinan peran dan fungsinya, pengenalan tipologinya, serta
kemampuan mengunakan gaya kepemimpinan yang bersifat situasional dengan
memahami berbagai teori tentang kepemimpinan.
-
Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain
dalam hal ini bawahannya sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan
kehendak pemimpin meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginnya. (
sondang P. Siagian)
Definisi itu disimak dengan cermat akan terlihat 3 hal :
1. Dari seorang yang menduduki jabatan pemimpin dituntut kemampuan tertentu
yang tidak dimiliki oleh sumber daya manusia lainnya didalam organisasi.
2. Kepengikutan sebagai elemen penting dalam menjalankan kepemimpinan
3. Kemampuan mengubah „‟egosentrisme‟‟ para bawahan menjadi „‟organisasi
sentrisme‟‟.
-
Peranan Pemimpin dalam organisasi
Seseorang yang menduduki jabatan pemimpin atau manajerial dalam organisasi
memainkan peranan yang sangat penting tidak hanya secara internal baik organisasi yang
bersangkutan akan tetapi juga dalam menghadapi berbagai pihak organisasi yang semua
dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan organisasi mencapai tujuannya. Peranan
tersebut dapat dikategorikan dalam 3 bentuk yaitu bersifat interpersonal , hiporamasional
dan dalam kanca pengambilan keputusan.
a. Peranan yang bersifat interpersonal
Dewasa ini umum diterima bahwa salah satu yang harus dipenuhi oleh
seorang manajer iaiah keterampilan insani ( human skill). Keterampilan tersebut mutlah
perlu karena pada dasarnya dalam menjalankan kepemimpinan seorang manajer
berinteraksi dengan manusia bukan hanya pada bawahannya tetapi juga dengan berbagai
pihak kepentingan yang dikenal dengan stockholders. Didalam dan diluar organisasi
~ 50 ~
itulah yang dimaksud dengan peran interpersonal yang menampakkan diri dalam tiga
bentuk.
Pertama : selaku simbol keberadaan organisasi. Peranan tersebut dimainkan
dalam berbagai kegiatan yang bersifat legal dan ceremonial. Menghadiri berbagai upacara
resmi, memenuhi undangan atasan, rekan setingkat para bawahan dan mitra kerja itu
contoh-contohnya.
Kedua : selaku pemimpin yang bertanggung jawab untuk memotivasi dan
memberikan arahan kepada bawahan yang dalam kenyataaan berarti berurusan dengan
bawahan.
Ketiga : peran selaku penghubung dimana seorang manajer harus mampu
menciptkan jaringan yang luas dengan memberikan perhatian khusus kepada mereka
yang mampu berbuat sesuatu bagi organisasi dan berbagai pihak yang memiliki informasi
yang diperlukan organisasi. Peran tersebut dimainkan dengan berbagai cara seperti
pembicaraan ditelepon, menggunakan email, pertemuan rapat dan kunjungan kerja.
b. Peranan yang Bersifat Informasional
Kini semakin kuat gaung pendapat yang mengatakan bahwa informasi
merupakan aset organisasi yang kritikal sifatnya. Dikatakan demikian karena
dewasa ini dan dimasa yang akan datang sukar membayangkan adanya kegiatan
organisasi yang dapat terlaksana dengsn efisien dan efektif tanpa dukungan
informasi yang muktahir, lengkap dan dapat dipercaya karena diolah dengan baik.
Peran tersebut mengambil tiga bentuk yaitu
Pertama : karena seorang manajer adalah pemantau arus informasi
yang terjadi dari dan kedalam organisasi. Seorang manajer selalu menerima
berbagai informasi dari dalam dan diluar organisasi , bahkan juga informasi yang
sebenarnya tidak harus ditujukan kepadanya tetapi kepada orang lain dalam
organisasi. Dalam kaitan ini perlu ditekankan bahwa berkat kemajuan dan
terobosan dalam bidang teknologi informasi yang dihadapi oleh para manajer
dewasa ini ialah melimpahkan informasi yang diterimanya informasi ini tidak
semua diperlukan dan tidak semua bermutu tinggi. Dengan demikian peran
manajer memantau yang tidak mengetahui arus keluar informasi akan teapi
mampu mengambil langkah-langkah agar informasi bermutu yang diterima.
~ 51 ~
Kedua : peran sebagai pembagi atau diseminator informasi. Berbagai
informasi yang diterima mungkin berguna dalam penyelenggara fungsi manajerial
atau mungkin disalurkan kepada orang atau pihak lain dalam organisasi. Peran ini
menuntut kemahaman yang mendalam tentang makna informasi yang diterimanya
dan pengetahuan tentang berbagai fungsi yang harus diselenggarakan.
Ketiga : peran sebagai selaku juru bicara organisasi. Peran ini
memerlukan kemampuan menyalurkan informasi secara tepat kepada berbagai
pihak diluar organisasi terutama jika mencakup informasi tentang rencana,
kebijaksanaan tindakan dan hasil yang telah dicapai organisasi.
c. Peran Pengambilan Keputusan
Jika pilihan yang dijatuhkan pada tiga peran yang harus dimainkan
seorang pemimpin dalam organisasi mungkin akan banyak orang akan
menjatuhkan pilihan pada peran ketiga ini . peranan ini mengambil empat bentuk
sebagai berikut :
1. Selaku Entrepreneur
2. Peredam Gangguan
3. Pembagi sumber dana dan daya
4. Perunding bagi organisasi
~ 52 ~
BAB
5
Total Quality Management
Tujuan Pembelajaran
1.
Mahasiswa mengetahui & MemahamiPengertian dan Prinsip TQM
2.
Mahasiswa mengetahui & MemahamiPetimbangan untuk Melaksanakan
TQM
3.
Mahasiswa mengetahui & MemahamiFaktor – Faktor yang Menyebabkan
Kegagalan TQM
4.
Mahasiswa mengetahui & Memahami Keuntungan / Manfaat Menerapkan
TQM
5.
Mahasiswa mengetahui & MemahamiKeterlibatan Karyawan dalam TQM
6.
Contoh Kasus / Penelitian yang relevan
7.
Soal-soal Latihan
5.1. Pengertian Total Quality Mangement
Total Quality Mangement sebagaimana diungkapkan oleh Ishikawa,
diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah
holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan
pengertian serta kepuasan pelanggan. Definisi lainnya diungkapkan oleh Santoso,
ia menyatakan bahwa TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat
kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan
melibatkan seluruh anggota organisasi.
Total Quality Management (TQM) merupakan suatu pendekatan dalam
menjalankan usaha yang mencoba memaksimalkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus-menerus terhadap produk jasa, sumber daya manusia, proses dan
lingkungannya.Sebab, berdasarkan TQM, tolak ukur keberhasilan usaha bertumpu
pada kepuasan pelanggan atas barang atau jasa yang diterimanya.Untuk
~ 53 ~
memudahkan pemahaman, maka pengertian TQM dapat dikemukakan sebagai
berikut:
"Total Quality Managemen merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan
usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.
Berdasarkan definisi-defini tentang TQM seperti di atas, Goetsch dan
Davis mengungkapkan sepuluh unsur utama (karakteristik) total quality
management, sebagai berikut:
5.1. Fokus Pada Pelanggan
Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan
driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang
disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam
menentukan kualitas manusia, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan
produk atau jasa.
5.2. Obsesi Terhadap Kualitas
Dalam organisasi yang menerapkan TQM, penentu akhir kualitas
pelanggan internal dan eksternal. Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut,
organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa yang ditentukan
tersebut.
5.3. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan TQM, terutama
untuk mendesain pekerjaan dan dalam proses pengambilan keputusan dan
pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut.
Dengan demikian data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga
(benchmark), memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.
5.4. Komitmen jangka Panjang
TQM merupakan paradigma baru dalam melaksanakan bisnis. Untuk itu
dibutuhkan budaya perusahaan yang baru pula. Oleh karena itu komitmen jangka
panjang sangat penting guna mengadakan perubahan budaya agar penerapan TQM
dapat berjalan dengan sukses.
~ 54 ~
5.5. Kerja sama Team (Teamwork)
Dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerja sama tim, kemitraan dan
hubungan dijalin dan dibina baik antar karyawan perusahaan maupun dengan
pemasok lembaga-lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
5.6. Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan
Setiap poduk atau jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses-proses
tertentu di dalam suatu sistem atau lingkungan. Oleh karena itu, sistem yang
sudah ada perlu diperbaiki secara terus menerus agar kualitas yang dihasilkannya
dapat meningkat.
5.7. Pendidikan dan Pelatihan
Dalam organisasi yang menerapkan TQM, pendidikan dan pelatihan
merupakan faktor yang fundamental. Setiap orang diharapkan dan didorong untuk
terus belajar, yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia. Dengan
belajar, setiap orang dalam perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis
dan keahlian profesionalnya.
5.8. Kebebasan Yang Terkendali
Dalam
TQM,
keterlibatan
dan
pemberdayaan
karyawan
dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan unsur yang sangat
penting. Hal ini dikarenakan unsur tersebut dapat meningkatkan "rasa memiliki"
dan tanggung jawab karyawan terhadap keputusan yang dibuat. Selain itu unsur
ini juga dapat memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan yang
diambil, karena pihak yang terlibat lebih banyak. Meskipun demikian, kebebasan
yang timbul karena keterlibatan tersebut merupakan hasil dari pengendalian yang
terencana dan terlaksana dengan baik.
5.9. Kesatuan Tujuan
Agar TQM dapat diterapkan dengan baik, maka perusahaan harus
memiliki kesatuan tujuan. Dengan demikian setiap usaha dapat diarahkan pada
tujuan yang sama. Namun hal ini tidak berarti bahwa harus selalu ada persetujuan
atau kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan mengenai upah dan
kondisi kerja.
~ 55 ~
5.10. Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan merupakan hal yang penting
dalam penerapan TQM. Pemberdayaan bukan sekedar melibatkan karyawan tetapi
juga melibatkan mereka dengan memberikan pengaruh yang sungguh berarti.
Landasan dan Akar TQM
Landasan dari Total Quality Management adalah statistical process control yang
diperkenalkan oleh Edwards Deming dan Joseph Juran untuk membantu
memulihkan industri Jepang yang hancur akibat Perang Dunia II. Model yang
dikembangkan per-tama kali adalah manajemen manufaktur, yang selanjutnya
meng-alami evolusi dan mengalami diversifikasi untuk aplikasi di bidang
manufaktur, industri jasa, kesehatan, dan juga bidang pendidikan. Perkembangan
TQM juga tidak terlepas dari kontribusi bidang manajemen dan efektivitas
organisasi dalam mem-bangun TQM. Kontribusi bidang tersebut merupakan satu
di-mensi tersendiri yang dapat disebut akar TQM. Akar TQM antara lain sebagai
berikut.
1. ScientificManagement(Manajemen Ilmiah). Manajemen Ilmiah digunakan
untuk mencari cara terbaik untuk melakukan pekerjaan melalui time and
motion study dan proses produksi secara ban berjalan. TQM memperluas
konsep ke dalam lingkup seluruh sistem.
2.
GroupDynamics.
Kelompok-kelompok
kerja
dimaksudkan
untuk
mengembangkan teknik pemecahan persoalan.
3. Pelatihan. TQM menempatkan program pelatihan pada prioritas utama di tiap
tingkat organisasi. Pimpinan puncak belajar merumuskan visi, mendelegasikan
wewenang, dan melatih bawahan. Bawahan harus belajar memecahkan
persoalan yang timbul dalam pekerjaannya.
4. AchievementMotivation (Motivasi Berprestasi). Karakteristik manusia adalah
selalu mempunyai motivasi, potensi, dan ka-pasitas untuk bertanggung jawab
terhadap organisasi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana peran
manajemen untuk merealisasikan karakteristik tersebut. Dalam TQM manajer
harus percaya pada bawahannya guna melakukan pekerjaan menuju kualitas.
~ 56 ~
5. Pelibatan karyawan. TQM memberi peluang kepada para karyawan untuk ikut
terlibat dalam proses pemecahan masalah.
6. SociotechnicalSystems (Sistem Sosioteknikal). Organisasi dipandang sebagai
sistem yang terbuka, organisasi mengambil sumber daya dari lingkungannya,
mengolahnya dan menyampaikan hasilnya kepada lingkungannya. TQM
memperhatikan dimensi sistem organisasi secara eksplisit. TQM memusatkan
perhatian pada interface antara unsur-unsur yang saling mempengaruhi
7. Pengembangan Organisasi (OrganizationDevelopment). Hal ini merupakan
turunan dari group dynamics yang bertujuan melatih seluruh organisasi (tidak
hanya satu kelompok) agar lebih produktif. Organisasi akan lebih efektif
belajar dari pengalaman dan melakukan perubahan apabila anggotanya dilibatkan dalam proses pengumpulan data dan proses pengambilan keputusan. TQM
menambahkan dua unsur, yaitu titik berat pada kualitas dan menuntut hasil
yang dapat diukur.
8. Budaya Perusahaan. Adalah pola nilai-nilai, keyakinan dan harapan yang
tertanam dan berkembang pada diri anggota organisasi mengenai pekerjaannya.
TQM mengembangkan konsep tersebut di mana budaya perusahaan terdiri dari
dua komponen dasar, yaitu keyakinan dan nilai-nilai (values)
9. Teori Kepemimpinan Baru. Menurut teori baru, pemimpin dituntut untuk
memetakan pandangannya ke depan (vision), manajer dituntut untuk
merealisasikan visi tersebut. Memimpin berarti menciptakan dinamika
organisasi yang kondusif agar para anggota mau dan komitmen terhadap tujuan
organisasi. Melakukan manajemen berarti menata, mengarahkan serta
mengendalikan para anggota secara sistematis agar tujuan organisasi tercapai.
TQM mendasarkan pada teori kepemimpinan tersebut di mana pimpinan harus
mempunyai strategic vision yang baik.
10. Perencanaan Strategis. Perencanaan strategis adalah suatu proses di mana
pimpinan puncak organisasi menggambarkan masa depan organisasi tersebut
dan mengembangkan prosedur yang diperlukan beserta pengoperasiannya.
TQM ber-pendapat bahwa data yang penting untuk perencanaan harus berasal
~ 57 ~
dari yang dekat dengan konsumen dan data ini sebagai pertimbangan
perencanaan yang berorientasi pada pelanggan.
Manfaat TQM
Salah satu cara terbaik dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan
suatu produk barang/jasa dengan kualitas terbaik. Kualitas terbaik akan diperoleh
dengan melakukan upaya perbaikan secara terus-menerus terhadap kemampuan
manusia, proses, lingkungan. Penerapan TQM adalah hal yang sangat tepat agar
dapat memperbaiki kemampuan unsur-unsur tersebut secara berkesinambungan.
Penerapan TQM dapat memberikan beberapa manfaat utama, sebagai berikut.
Dengan
perbaikan
kualitas
berkesinambungan,
memperbaiki posisi persaingan. Dengan posisi
perusahaan
akan
dapat
yang lebih baik akan
meningkatkan pangsa pasar dan menjamin harga yang lebih tinggi. Hal ini akan
memberikan penghasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yang diperoleh
semakin meningkat. Upaya perbaikan kualitas akan menghasilkan peningkatan
keluaran (output) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat.
Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang
dikeluarkan perusahaan sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.
Prinsip dan Unsur Pokok Dalam TQM
Total quality management merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan
sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu diperlukan perubahan besar
dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi. Menurut Hensler dan Brunell, ada
empat prinsip utama dalam TQM, yaitu:
1. Kepuasan Pelanggan
Memberikan kepuasan kebutuhan pelanggan (internal dan eksternal) dalam
segala aspek, termasuk di dalamnya harga, keamanan, dan ketepatan waktu.
Oleh karena itu, segala aktivitas perusahaan harus dikoordinasikan untuk
memuaskan para pelanggan.
Kualitas yang dihasilkan suatu perusahaan sama dengan nilai (value) yang
diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pelanggan. Semakin
tinggi nilai yang diberikan, semakin besar pula kepuasan pelanggan.
~ 58 ~
2. Respek Terhadap Setiap Orang
Dalam perusahaan yang berkelas dunia, setiap karyawan dipandang sebagai
individu yang memiliki talenta dan kreativitas yang unik. Dengan demikian,
karyawan merupakan sumber daya organisasi yang paling bernilai. Oleh karena
itu, setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi
kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.
3. Manajemen Berdasarkan Fakta
Perusahaan kelas dunia berorientasi pada fakta, setiap keputusan didasarkan
pada data, dengan mengacu pada konsep prioritisasi (prioritization) dan variasi
(variation), dan bukan sekedar pada perasaan (feeling).
4. Perbaikan Berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses secara sistematis
dalam melaksanakan perbaikan berkesinambungan. Konsep yang berlaku di
sini adalah siklus PDCA (plan-do-check-action), yang terdiri dari langkahlangkah perencanaan, pelaksanaan rencana, pemeriksaan hasil pelaksanaan
rencana, dan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh.
Manajemen Mutu
Kualitas atau mutu merupakan kata yang sering kita dengar. Mutu
merupakan sesuatu yang menjadikan suatu barang atau jasa memiliki arti atau
berharga tergantung dari sisi mana orang memandangnya dan tentu dari perspektif
yang bermacam-macam. Individu mengartikan kualitas atau mutu tentu tidak
sama dengan individu lainnya, karena mutu memiliki banyak dimensi tergantung
dari mana individu tersebut menilainya. Ada mutu dalam produk atau barang ada
juga yang berbentuk jasa atau pelayanan.
Para tokoh mengartikan mutu atau kualitas dengan berbagai arti sesuai
dengan bidang mereka masing-masing, namun dari beberapa banyak pengertian
tentang mutu tersebut tidak terlalu bias dari satu pengertian dengan pengertian
lainnya. Secara keseluruhan kualitas tetap pada artinya secara umum yaitu sesuatu
yang memiliki kesitimewaan yang membuat orang tertarik dan kagum pada
sebuah barang atau jasa. Karena itulah tidak ada pendapat yang paling benar
~ 59 ~
tentang arti dari kualitas tersebut secara pasti melihat banyaknya dimensi yang
digunakan para tohoh dalam mengartikan dan mendefinisikan mutu atau kualitas.
Pada mulanya mutu atau kualitas lebih terkenal hanya pada organisasiorganisasi profit pada barang atau sebuah produk, namum dengan berjalannya
waktu, kualitas pun terlahir dari organisasi-organisasi nonprofit seperti pendidikan
dan lain sebagainya. Kemudian bermunculanlah berbagai arti tentang mutu. Ada
yang mengatakan mutu sebagai kepuasan pelanggan, ada juga yang mengartikan
mutu atau kualitas sebagai kesesuaian dengan standar atau bahkan melebihi, dan
juga tercapainya tujuan.
Secara bahasa mutu atau kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu;
kadar, derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dsb).Dalam kamus Oxford mutu
atau kualitas diartikan sebagai the standard of something as measured against
other thing of a similar kind,yang artinya secara bebas adalah standar sesuatu
sebagai pengukur yang membedakan suatu benda dengan yang lainnya. Di sini
keberadaan mutu tersebutlah yang menjadikan suatu benda itu berbeda. Perbedaan
yang terdapat pada benda ini menjadikan benda ini istimewa dan spesial
dibandingkan dengan benda lainnya yang masih tergolong sama.
Kepuasan merupakan satu kata yang cukup representatif ketika kita berbicara
tentang mutu atau kualitas. Mutu adalah barang atau jasa yang memiliki nilai
sangat bagus dan berharga. Secara fisik barang yang bermutu dicerminkan dengan
kata-kata baik, indah, benar, istimewa, dan lain sebagainya.
Dalam sebuah organisasi nonprofit biasanya mutu dapat dilihat dari pelayanan
yang diberikan kepada pelanggan oleh seseorang atau sebuah organisasi sehingga
pelanggang merasa puas, tanpa adanya keluhan atas pelayanan yang didapat dari
organisasi tersebut.
Setiap orang dapat mengartikan mutu sesuai persepsi masing-masing. Hal ini
dikarenakan mutu belum memiliki arti yang tetap sehingga para pakar masih
mengartikan mutu sesuai persepsi dan bidangnya. Berikut merupakan beberapa
pengertian mutu berdasarkan kriteria yang berbeda-beda:
~ 60 ~
1. Melebihi dari yang dibayangkan atau diinginkan
2. Kesesuaian antara keinginan dan kenyataan pelayanan
3. Sangat cocok dalam pemakaian
4. Selalu dalam perbaikan dan penyempurnaan terus menerus
5. Dari awal tidak ada kesalahan
6. Membanggakan dan membahagiakan pelanggan
7. Tidak ada cacat atau rusak.
Beberapa ahli telah mendefinisikan mutu sebagaimana di bawah ini:
1.
Joseph Juran, memiliki pendapat bahwa quality is fitness for use. Secara
bebas mutu di sini diartikan sebagai kesesuaian atau enaknya barang itu
digunakan (mutu produk).Contoh sederhana dari mutu seperti ini adalah
ketika kita membeli suatu produk dan produk itu sesuai dengan yang kita
inginkan maka kita menilai produk itu bagus atau baik. Misalnya baju yang
kita beli memiliki mutu jika ketika kita memakai baju tersebut merasa puas
karena terlihat baik dan bagus sesuai keinginan kita meskipun mahal.
Berbeda dengan sebaliknya, apabila baju yang kita beli tidak cocok maka kita
akan menilai baju atau produk tersebut tidak bermutu. Demikian juga mutu
dalam organisasi nonprofit (jasa).
Sebuah contoh yaitu jasa laundry, jika pakaian yang kita titipkan untuk dicuci di
jasa laundry tersebut memuaskan kita dengan hasil harum dan bersih maka kita
akan merasa senang dan puas seraya kita menilai jasa laundry tersebut bermutu.
Namun berbeda jika pakaian yang kita titipkan itu ternyata masih kotor dan bau,
maka kita akan menilai jasa laundry tersebut tidak bermutu atau mutunya jelek.
Pengertian yang dikemukakan Juran di atas merupakan definisi mutu dalam arti
sempit dari segi konsumen atau pelanggan. Ditinjau dari pandangan produsen,
mutu merupakan kata yang cukup rumit untuk didefinisikan karena mutu dari
segi produsen bergantung pada beberapa hal berikut: merancang, memproduksi,
mengirimkan atau menyerahkan barang kepada konsumen, pelayanan pada
konsumen, dan penggunaan barang (jasa) tersebut oleh konsumen.
~ 61 ~
Mutu dari sisi produsen dapat diartikan sebagai yang diungkapkan Suyadi
adalah, “Mutu suatu produk adalah keadaan fisik, fungsi, dan sifat suatu produk
bersangkutan yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan
memuaskan sesuai nilai uang yang telah dikeluarkan.” Dalam pengertian yang
lebih luas, Juran mengartikan mutu sebagai kinerja organisasi secara keseluruhan
yang difokuskan secara sinergi pada kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Di
sinilah mutu dipersepsikan sebagai total quality management.
Itulah pengertian mutu menurut salah satu tokoh yaitu Juran. Mengenai
contoh-contoh lain dari pengertian mutu sebagaimana yang didefinisikan di atas
dapat kita terapkan dalam berbagai produk, barang, atau jasa yang kita lihat dan
alami sehari-hari, seperti di bank-bank, warung, panti pijat, tukang cukur, di
bengkel, di pasar, dan di institusi-institusi pendidikan di sekitar kita.
2. Philip B. Crosby mendefinisikan mutu sebagai kesesuaian dengan apa yang
disyaratkan
atau
distandarkan
(Conformance
to
requirement).Secara
sederhana sebuah produk dikatakan berkualitas apabila produk tersebut sesuai
dengan standar kualitas yang telah ditentukan yang meliputi bahan baku,
proses produksi, dan produk jadi.
Dari definisi ini, mutu itu diartikan sebagai kesesuaian dengan standar yang ada.
Sebagai contoh dalam sebuah organisasi memproduk sebuah produk atau barang
akan dikatakan bermutu jika barang atau produk tersebut sudah sesuai dengan
standar yang ada. Dalam organisasi nonprofit misalhnya, didunia pendidikan
memiliki beberapa standar. Organisasi pendidikan itu dikatakan bermutu jika
organisasi tersebut telah memenuhi standar-standar yang ada.
3.
W. Edwards Deming menyatakan bahwa kualitas atau mutu adalah
kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen.Dalam arti ini, mutu
adalah apa saja yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kalau
dillihat dari definisi di atas, keinginan konsumen yang selalu berubah-
~ 62 ~
berubah akan memengaruhi mutu suatu produk sesuai dengan yang
dikehendaki konsumen. Dapat disimpulkan mutu di sini bukanlah hal yang
tetap, melainkan hal yang selalu berubah-ubah mengikuti keinginan
pelanggan. Definisi ini berbeda deangan yang dikemukakan Juran fitnees for
use dan Crosby yang mengatakan mutu adalah conformance to requirements.
4.
Armand V. Fiegenbaum, mendefinisikan mutu sebagai kepuasan pelanggan
sepenuhnya (full customer satisfaction).Suatu produk atau jasa dikatakan
berkualitas apabila produk tersebut benar-benar membuat pelanggan puas.
Suatu contoh, pedagang Ayam Bakar Wong Solo, warung ini dikatakan
bermutu karena warung ini dapat memuaskan pelanggan setelah pelanggan
mencoba makan di warung tersebut, dengan berbagai menu yang disajikan
terutama menu ayam bakarnya yang khas.
5.
Goetssch dan Davis, mutu merupakan suatu kondisi
dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan.Dari pengertian ini jelas sekali bahwa mutu
itu merupakan hal yang dinamis karena berusaha untuk memenuhi harapanharapan pelanggan.
6. Edwar Sallis, mutu dipandang sebagai sebuah konsep yang absolut sekaligus
relatif. Dalam artian absolut, mutu sama halnya dengan sifat baik, cantik, dan
benar, merupakan suatu idealisme yang tidak dapat dikompromikan. Sesuatu
yang bermutu bagian dari standar yang sangat tinggi dan tidak dapat
diungguli. Adapun mutu itu relatif dipandang sebagai sesuatu yang melekat
pada sebuah produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggannya. Karena itu,
produk atau layanan dianggap bermutu bukan karena ia mahal dan eksklusif,
tetapi karena memiliki nilai, misalnya keaslian produk, wajar, dan pamiliar.
Dari pendapat yang terakhir ini, terlihat bahwa memandang mutu dari dua
sisi, yaitu sisi di mana mutu sebagai nilai-nilai universal yang absolut dan bersifat
tetap, sisi yang lain memandang mutu sebagai nilai-nilai yang dapat berubahberubah atau relatif karena berusaha memenuhi dan memuaskan para pelanggan.
~ 63 ~
Di sinilah produsen benar-benar dituntut untuk selalu mengikuti apa yang menjadi
harapan dan keinginan pelanggan yang selalu berkembang dan tentunya berbeda
satu individu dengan individu lainnya mengenai penilaiannya terhadap produk
atau jasa yang ditawarkan.
Dari berbagai definisi mutu yang dikemukakan oleh para tokoh di atas,
setidaknya ada beberapa hal yang menjadi indikator dari sebuah kualitaas atau
mutu. Antara lain: pertama, kesesuaian untuk pemakaian, kedua, kesesuaian
dengan standar, ketiga, kesesuaian dengan kebutuhan pasar, keempat, kepuasan
pelanggan, kelima, kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Berdasarkan beberapa indikator di atas penulis mencoba mendefinisikan mutu
sebagai kondisi dinamis mengenai produk, dan jasa yang menuntut untuk
pemenuhan standar, kebutuhan, harapan, dan keinginan pelanggan yang cocok
untuk digunakan dan menjadikan pelanggan merasa puas.
Dimensi Mutu
Setelah memahami beberapa konsep atau pengertian kualitas, untuk lebih
memperdalam pengetahuan kita tentang mutu maka perlu kita kaji beberapa aspek
dari mutu itu sendiri dalam suatu barang, produk atau bahkan jasa.
Ada enam dimensi spesifikasi mutu produk secara umum, sebagai berikut.
1. Kinerja (Performance)
Kinerja suatu produk harus dicantumkan pada labelnya, misalnya isi, berat,
kekentalan, komposisi, lama hidup penggunaan, dan lain sebagainya yang
menunjukkan keterangan akan produk tersebut. Ini merupakan dimensi suatu
produk.
2. Keistimewaan (Types of Features)
Produk bermutu yang mempunyai keistimewaan khusus dibandingkan dengan
produk lain. Misalnya, konsumen pembeli handphone sering mencari yang
mempunyai keistimewaan seperti touch screen, android, memiliki MP3, memilliki
TV dan lain sebagainya.
~ 64 ~
3. Kepercayaan dan Waktu (Reliability and Durability)
Produk yang bermutu baik adalah produk yang mempunyai kinerja yang konsisten
baik dalam batas-batas perawatan normal. Misalnya, radio yang bermutu baik,
secara konsisten dapat menangkap banyak gelombang siaran luar negeri dengan
suara dalam waktu 3 sampai dengan 5 tahun setelah dibeli (durability). Begitu
juga dengan kartu-kartu modem dari berbagai merek yang memiliki kecepatan
bagus dalam waktu pemakaian beberapa lama, dan akan kembali normal setelah
habis masa tersebut.
4. Mudah dirawat dan diperbaiki (Maintainability and Serviceability)
Produk bermutu baik harus memenuhi kemudahan untuk diperbaiki atau dirawat.
Dimensi ini merupakan ukuran mudahnya dirawat sehingga barang tersebut dapat
beroperasi secara baik. Misalnya, sepeda motor yang baik , salah satu dimensi
mutunya adalah mudah dirawat oleh setiap mekanik karena ketersediaan suku
cadangnya di pasar bebas.
5. Sifat Khas (Sensory Characteristic)
Untuk beberapa jenis produk mudah dikenali dari wanginya, bentuknya, rasanya,
atau suaranya. Dimensi ini memberikan citra tersendiri pada produk tersebut.
Misalnya, ayam goreng KFC yang memiliki aroma dan rasa yang khas.
6. Penampilan dan Citra Etis
Dimensi lain dari produk yang bermutu adalah persepsi konsumen atas suatu
produk. Misalnya, pelayanan yang cepat dan ramah di salah satu bank. Pelayanan
yang cepat di warung pecel lele Cengger Ayam.Inilah 6 dimensi kualitas yang
banyak digunakan para pengusaha di bidang manufaktur dalam merancang dan
membuat produk yang berkualitas tinggi. Beberapa dimensi di atas menekankan
pada produk yang dihasilkan namun tidak menutup sama sekali untuk
memperhatikan kualitas pada proses produksinya. Dimensi ini dikemukakan oleh
tokoh David A Garvin.
Karakteristik Barang atau Jasa Bermutu
Untuk menegtahui suatu mutu perlu ditelaah karakteristik suatu barang atau
produk yang ditawarkan. Produk harus jelas dan sesuai dengan keinginan
~ 65 ~
pelanggan. Jika suatu produk telah dinilai bagus, maka pelanggan akan
menanyakan proses pembentukannya. Produk yang bermutu tentu tidak lepas dari
proses yang tertata dan terkontrol dengan baik, dan proses yang bermutu
memerlukan input yang baik dan lengkap.
Ada tiga kriteria pokok dalam menilai kualitas jasa, yaitu outcome-related,
process related, dan image related criteria. Dari tiga kriteria tersebut dijabarkan
menjadi enam unsur karakteristik jasa yang bermutu yaitu:
1.
Professionalism and skills; menjadi kriteria utama suatu jasa bermutu. Para
pelanggan
percaya
bahwa
SDM
penyedia
jasa
memiliki
syarat
profesionalisme dan keahlian yang mumpuni sekaligus dapat menghasilkan
produk yang bermutu.
2. Attitude and behavior; sikap dan perilaku yang ditunjukkan personil penyedia
jasa dalam melayani atau melaksanakan proses sangat empatik dan siap
membantu pelanggan.
3.
Accessibility and flexibility; proses dirancang secara fleksibel untuk
memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam melakukan akses.
4. Reliability and trustworthiness; reputasi baik dan selalu menjaga kepercayaan
pelanggan membuat para pelanggan percaya dan yakin dengan apa yang
diberikan penyedia jasa adalah suatu pelayanan yang bermutu.
5.
Recovery; saat terjadi kesalahan atau kekeliruan, pelanggan tidak terlalu
cemas dan khawatir karena mereka percaya penyedia jasa dapat membantu
memecahkan masalahnya.
6. Reputation and credibility; image yang dibuat penyedia jasa adalah menjaga
reputasi dan kepercayaan pelanggan.
Karakteristik mutu dalam bidang jasa berbeda dengan produk karena cenderung
lebih sulit disebabkan oleh subjektifitas para pelanggan (pengguna) jasa.
Perbedaan antara mutu produk (barang) dan mutu jasa adalah:
1. Metode: Mutu jasa ditentukan oleh pelanggan dan pemberi jasa, karena jasa
diberikan secara langsung dari orang ke orang. Produk tidak mempunyai
~ 66 ~
karakteristik kedekatan pelanggan dengan produsen, tidak terdapat nilai
konsistensi atau terjebak dalam persamaan jenis yang absolut dalam
pemberian jasa.
2. Waktu: Jasa harus diberikan tepat waktu dan jasa digunakan atau dikonsumsi
tepat pada saat jasa diberikan, maka kontrol mutu selalu datang kemudian.
Untuk
menilai
pelanggan
terpuaskan
apa
tidak
dilakukan
dengan
memanfaatkan interaksi personal yang akrab dalam pemberian jasa sehingga
pemberi jasa akan mendapatkan umpan balik dan evaluasi.
3.
Pada jasa tidak bisa ditambal atau diperbaiki, sehingga standar jasa adalah
baik sejak awal. Standar ini memang sulit tercapai, tapi harus selalu menjadi
tujuan utama.
4.
Jasa lebih cenderung mirip proses dari pada produk. Cara jasa sampai ke tempat
tujuan lebih penting dari pada apa jasanya.
5. Staf senior pada jasa biasanya jauh dari pelanggan. Kebanyakan pelanggan
tidak pernah memiliki akses kepada manajer senior (kepala sekolah). Mutu
merupakan pandangan awal yang mewarnai pandangan pelanggan terhadap
keseluruhan organisasi, dan kemudian organisasi harus menemukan cara
untuk memotivasi pekerja garis depan agar selalu menyampaikan hal terbaik
kepada pelanggan.
6.
Keberhasilan produktifitas dalam jasa sulit diukur. Satu-satunya indikator
prestasi yang penting dalam jasa adalah kepuasan pelanggan. Indikator
lunak (Soft) seperti kepedulian, kesopanan, perhatian, keramahan, dan suka
membantu merupakan hal terpenting dalam pikiran pelanggan. Indikator ini
tidak bisa diraba, sehingga mempersulit jasa dalam melakukan evaluasi.
Pelanggan akan menilai mutu dengan cara membandingkan apa yang
mereka harapkan dengan apa yang mereka terima.
Karakteristik di atas merupakan beberapa ciri ketika seseorang ingin menilai
apakah barang atau produk itu bermutu atau tidak. Penulis melihat bahwa
karakteristik di atas merupakan bagaimana melihat kualitas dalam sebuah
~ 67 ~
organisasi atau industri jasa, karena lebih menekankan pada pelayanan yang
diberikan kepada pelanggan demi memuaskan para pelanggan.
Mutu atau kualitas merupakan standar yang harus dipenuhi oleh organisasi
atau industri produk dan jasa untuk memenuhi persyaratan dan apa yang menjadi
kebutuhan dan harapan pelanggan untuk memuaskannya. Mutu tentu selalu
memiliki sifat-sifat istimewa seperti baik, benar, dan indah. Ada beberapa
pengertian
mutu
yang
diutarakan
oleh
para
ahli
seperti
fitness
for
use,conformance to requirements, dan full customer satisfaction, dan masih
banyak lagi pengertian yang sebenarnya diberikan oleh para ahli mengenai mutu.
Pada dasarnya mutu belum memiliki definisi yang tetap, karena melihat dari salah
satu tujuannya adalah memenuhi harapan dan keinginan pelanggan yang tentunya
setiap individu pelanggan memilliki harapan dan keinginan yang berbeda-beda
dan terus berubah.
Untuk mengetahui apakah suatu produk itu bermutu atau tidak, ada beberapa
dimensi yang perlu diperhatikan untuk memudahkan dalam melihat dimensi mutu
suatu industri produk maupun jasa.
Contoh Artikel Yang Relevan
TOTAL QUALITY MANAGEMENT SEBAGAI WUJUD PENINGKATAN
MUTU PENDIDIKAN
Judul: TOTAL QUALITY MANAGEMENT SEBAGAI WUJUD
PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN /
EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,MPd.
Saya Dosen di IKIP PGRI Semarang
Topik: Total Quality Management
Tanggal: 8 Juli 2008
~ 68 ~
TOTAL QUALITY MANAGEMENT SEBAGAI WUJUD PENINGKATAN
MUTU PENDIDIKAN
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Sejak awal peradaban, produktivitas yang merupakan kenyataan hidup telah
ada. Hal itu muncul sebagai proses pemikiran ekonomi pada akhir abad ke-15
yang pada waktu itu sering terjadi kelaparan. Pada keadaan tersebut, kebutuhan
pertama adalah meningkatkan produktivitas tanah.
Menurut pendapat ahli pertanian, tanahlah yang menghasilkan nilai surplus
yang kemudian didukung oleh pihak lain. Walaupun teori para ahli pertanian
ternyata tidak benar, namun intuisinya adalah benar. Produktivitas pertanian
yang sebenarnya menyediakan dan menopang tenaga kerja yang diperlukan
oleh industrialisasi (Hardjosoedarmo 2002:216).
Dalam perubahan scenario, produktivitas memperoleh dimensi yang lebih
besar sebagai proses yang menghasilkan kualitas yang lebih baik. Hal ini
merupakan hasil keyakinan bahwa terdapat perbedaan antara sarana
kenikmatan hidup dan tingkat kenikmatan hidup yang diperoleh.
Dalam konteks manajemen produktivitas sangat berkaitan dengan peningkatan
mutu pendidikan. Shrode dan Voich (1974) seperti yang dikutip Fatah (2000),
mengatakan bahwa tujuan utama manajemen adalah produktivitas dan
kepuasan. Mungkin saja tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap,
seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusannya, keuntungan/profit yang
tinggi, pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan daerah/nasional, tanggung
jawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan
pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan
kelemahan, peluang dan ancaman.
Apabila produktivitas merupakan tujuan, maka perlu dipahami makna
produktivitas itu sendiri. Fatah (2000) membatasi produktivitas sebagai ukuran
kuantitas dan kualitas kinerja dengan mempertimbangkan kemanfaatan sumber
daya. Produktivitas itu sendiri dipengaruhi perkembangan bahan, teknologi,
~ 69 ~
dan kinerja manusia. Pengertian konsep produktivitas berkembang dari
pengertian teknis sampai dengan perilaku.
2. Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan TQM sebagai wujud peningkatan mutu pendidikan?
B. PEMBAHASAN MASALAH
1. Paradigma TQMmerupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang
mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus
menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya (Tjiptono &
Diana 2001:4).
Tujuan utama TQM adalah untuk mereorientasi sistem manajemen, perilaku staf,
fokus organisasi dan proses-proses pengadaan pelayanan sehingga lembaga
penyedia pelayanan bisa berproduksi lebih baik, pelayanan yang lebih efektif
yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan keperluan pelanggan
Manfaat utama penerapan TQM pada sektor publik adalah perbaikan pelayanan,
pengurangan biaya dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem
manajemen dan kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan
pelanggan. Sebagai tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan
keahlian, semangat dan rasa percaya diri di kalangan staf pelayanan publik,
perbaikan hubungan antara pemerintah dan masyarakatnya, peningkatan
akuntabilitas dan transparansi pemerintah serta peningkatan produktifitas dan
efisiensi pelayanan publik (deliveri.com).
TQM hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik sebagai berikut:
1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
2. Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas.
3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan
pemecahan masalah.
4. Memiliki komitmen jangka panjang.
5. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork).
6. Memperbaiki proses secara berkesinambungan.
~ 70 ~
7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
8. Memberikan kebebasan yang terkendali.
9. Memiliki kesatuan tujuan.
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan (Tjiptono & Diana 2001:5).
Prinsip-prinsip yang mempedomani TQM mencakup:
1. Promosi lingkungan yang berfokus pada mutu,
2. Pengenalan kepuasan pelanggan sebagai indikator kunci pelayanan bermutu
dan
3. Perubahan sistem, perilaku dan proses dalam rangka menjalankan perbaikan
selangkah demi selangkah dan terus menerus terhadap barang dan pelayanan yang
disediakan oleh sebuah organisasi (deliveri.com).
Lingkungan yang berfokus pada mutu adalah sebuah organisasi dimana
pengadaan pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan
pelanggan dan dengan biaya terjangkau menjadi konsensus di kalangan anggota
organisasi tersebut. Inti pendekatan semacam ini adalah tingkat kepuasan
pelanggan terhadap pelayanan, yang dengan sendirinya menunjukkan efektifitas
pelayanan.
Kunci untuk mengatasi tantangan tersebut di atas adalah mempromosikan
perubahan pada sistem manajemen dan perilaku organisasi penyedia pelayanan.
Hal ini mencakup membangun komitmen untuk perubahan, mempromosikan
partisipasi semua pihak terkait dan memberdayakan tim kerja. Komitmen untuk
merubah pendekatan organisasi dalam hal pengadaan pelayanan bermula dari
tingkat manajer senior, tetapi perubahan itu sendiri dimanifestasikan oleh seluruh
staf pada semua lapisan.
Agar TQM berhasil, maka baik klien maupun tim kerja harus menjadi mitra aktif
dalam pengambangan pelayanan. Secara khusus, agar pelanggan puas maka staf
harus memiliki keahlian yang dibutuhkan dan rasa memiliki terhadap pelayanan.
Pegawai pada semua tingkatan harus bisa melatih keleluasaan dalam memenuhi
kebutuhan pelanggan, baik di dalam maupun di luar organisasi.
Di Indonesia, cakupan pengambilan keputusan pegawai negeri masih relatif kecil,
~ 71 ~
karena mereka harus menunggu izin dari atasan mereka. Untuk berpindah dari
lingkungan yang struktural dan hierarkis menuju ke pemberdayaan pegawai, perlu
perubahan perilaku, ilmu dan pengetahuan baru yang cukup subtansial.
Perubahan-perubahan struktural utama yang diperlukan untuk mendukung proses
ini mencakup pengenalan dan penghargaan terhadap kreatifitas serta inovasi,
pengenalan perbaikan yang progresif dan berlanjut serta mengadakan pelatihan
untuk para staf secara terus menerus.
Urgensi pengadaan pelatihan dan pendidikan secara berkesinambungan tidak bisa
dipandang remeh. Untuk mencipatakan tim kerja yang terberdayakan, maka
semua orang dalam lingkungan TQM perlu mendapatkan kemampuan tambahan
untuk mengembangkan proses dan kinerja. Pelatihan keahlian kerja yang spesifik
harus disediakan dan diperbaharui terus menerus untuk merefleksikan proses
yang telah berkembang.
Biasanya, tangapan awal terhadap TQM cukup positif, namun kerap hanya dalam
bentuk dukungan verbal semata. Masalah mulai muncul ketika diperlukan
dukungan aktif dari para manajer senior untuk menciptakan atmosfer yang
kondusif, dimana staf bisa bereksperimen dan mempelajari pendekatan baru tanpa
takut disalahkan, atau ketika terjadi tekanan untuk melaksanakan "proyek
pesanan" (top-down).
Keadaan ini bisa menyempitkan ruang lingkup TQM dan membuatnya tidak bisa
berjalan dalam jangka panjang. Dalam studi banding program TQM pada kantorkantor Dinas diketahui bahwa tipe kepemimpinan sangat instrumental dalam
menanggulangi masalah tersebut. Jika manajemen senior hanya memberikan
dukungan verbal, maka staf akan merespon prinsip-prinsip TQM hanya di mulut
saja. Sebaliknya, jika manajemen senior berpartispasi aktif dalam proses, maka
akan terjadi perubahan kualitatif mengenai kinerja para staf (deliveri.com).
2. Kerangka Produktivitas
Untuk dapat mengungkap kinerja, hasil dan dampak lembaga pendidikan secara
periodik dan teratur diperlukan adanya evaluasi, sehingga evaluasi tersebut
~ 72 ~
sekaligus menjadi bagian dari manajemen pendidikan. Fakry Gaffar (1989)
mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu
proses kerjasama yang sistematik dan komprehensif untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional. Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai upaya
yang terkoordinasikan secara sistematik dan sistemik untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional. Manajemen pendidikan juga mengandung arti segala sesuatu
yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai
produktivitas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Produktivitas dalam arti teknis mengacu kepada derajat keefektifan, efisiensi
dalam penggunaan sumber daya. Sedangkan dalam pengertian perilaku,
produktivitas merupakan sikap mental yang senantiasa berusaha untuk terus
berkembang.
Berdasarkan pengertian teknis produktivitas dapat diukur dengan dua standar
utama, yaitu produktivitas fisik dan produktivitas nilai. Secara fisik, produktivitas
diukur secara kuantitatif seperti banyaknya keluaran (panjang, berat, lamanya
waktu, jumlah). Sedangkan berdasarkan nilai produktivitas diukur atas dasar
nilai-nilai kemampuan, sikap, perilaku, disiplin, motivasi, dan komitmen terhadap
pekerjaan/tugas. Oleh karena itu mengukur tingkat produktivitas tidaklah mudah,
di samping banyaknya variable, juga ukuran yang digunakan sangat bervariasi.
Secara khusus di bidang pendidikan formal, produktifitas sekolah ditentukan oleh
tiga fungsi utama, yaitu
(1) fungsi administrator,
(2) fungsi psikologi, dan
(3) fungsi ekonomi.
Ketiga fungsi tersebut secara linier menentukan tinggi-rendahnya tingkat
produktivitas sekolah (Fattah 2000).
Dengan demikian produktivitas organisasi secara lebih luas mengidentifikasikan
keberhasilan dan atau kegagalan dalam menghasilkan suatu produk tertentu
(barang atau jasa) secara kualitas dan kuantitas dengan memanfaatkan sumber-
~ 73 ~
sumber dengan benar. Produktivitas merupakan criteria, pencapaian kerja yang
diterapkan kepada individu, kelompok atau organisasi.
Gillmore seperti dikutip Fattah (2000), mendasarkan produktivitas pada tiga
aspek, yaitu prestasi akademis, kreativitas, dan pemimpin. Seorang yang
mempunyai intelegen tinggi sudah barang pasti mempunyai kecenderungan
kreatif, berprestasi, dan akhirnya akan produktif. Oleh karena itu, baik secara
individu maupun kelompok apabila berkarya sebaik-baiknya, merupakan
landasan untuk mencapai produktivitas organisasi.
Pencapaian produktivitas yang tinggi ada kaitannya dengan kepuasan individu
dan kelompok. Oleh karena itu, yang penting untuk meningkatkan produktivitas
perlu diperhatikan perilaku manusia dan sosial dengan segala aspeknya. Dalam
kaitan ini Mc. Gregor sangat yakin bahwa manajer akan mendapatkan manfaat
besar, apabila menaruh perhatian pada kebutuhan social dan aktualisasi diri
bawahannya.
Demikian juga Maslow tentang kebutuhan dasar yang bertingkat mulai kebutuhan
fisiologi, sosial, rasa aman, penghargaan dan aktualisasi diri. Semuanya itu perlu
mendapat perhatian seorang manajer untuk memberi saluran, kesempatan
sehingga meningkatkan produktivitas.
Kerangka produktivitas dalam selubung TQM dimaksudkan sebagai sasaran
utama yang perlu dibidik oleh setiap penyelengara organisasi, tidak kecuali
organisasi pendidikan. Hal ini lantaran focus utama dari penyelenggaraan
pendidikan dan TQM adalah produktivitas. Dengan demikian keduanya memiliki
visi dan missi yang sama dalam meningkatkan kinerja organsiasi.
C. PENUTUP
1. Simpulan
Input, proses, output dan outcomes merupakan kristalisasi dari pentingnya
pencapaian produktivitas dalam sebuah organisasi, termasuk bidang pendidikan.
Hal tersebut dapat terwujud apabila menerapkan Total Quality Management
(TQM). Penerapan TQM sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan tidak bisa
~ 74 ~
berhasil secara instant, artinya perubahan inovatif yang diharapkan tidak dapat
terwujud secara langsung. Karenanya diperlukan upaya yang berkesinambungan
agar dapat mewujudkan produktivitas yang tinggi.
2. Saran
Mewujudkan kondisi ideal di mana TQM dapat efektif, diperlukan kebersamaan
dan kerjasama seluruh komponen penyelenggara suatu organisasi/ pendidikan,
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Kendal.
Dengan demikian produktivitas yang diharapkan sangat tergantung bagaimana
setiap komponen pendidikan memaknai dan mengaplikasikan TQM.
DAFTAR PUSTAKA
Fattah, Nanang. 2000. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
--------- 2000. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Gaffar, Fakry. 1989. Menghargai Pengabdian Guru. Bandung: University Press
Universitas Pendidikan Indonesia.
Hardjosoedarmo, Soewarso. 2002. Total Quality Management. Yogyakarta: Andi.
http://www.deliveri.org/guidelines/policy/pg-6/pg-6summaryi.htm
Tjiptono, Fandy & Anastasia Diana. Total Quality Management. Yogyakarta :
Andi.
~ 75 ~
BAB
1.
6
Peran SDM dalam Program ISO
9000 dan SNI 9000
Mahasiswa mengetahui & Memahami Standar Kualitas Internasional ISO
9000 dan 14000
2.
Mahasiswa mengetahui & Memahami SNI Seri 9000
3.
Mahasiswa mengetahui & Memahami Prinsip Prinsip SNI Seri 9000
Penggunaan Standar ISO 9000
Standar ini digunakan untuk tujuan sebagai berikut:
1. Internal Audit.
Perusahaan dapat mengaudit sistem yang ada dengan mengacu pada standar dan
memberikan umpan balik kepada manajemen mengenai kekurangan dari
sistem.
2. Penilaian Vendor.
Untuk menilai dan memastikan kemampuan vendor secara konsisten dalam
memenuhi standar kualitas barang berdasarkan standar yang diinginkan oleh
perusahaan.
3. Kemampuan pemasok.
Memberikan kepercayaan pada pelanggan mengenai kemampuannya secara
konsisten dalam memenuhi standar kualitas yang diinginkan oleh pelanggan.
Isi dari ISO 9000
ISO 9000 merupakan rangkaian dari lima standar. Deskripsi singkat masingmasing standar dijabarkan sebagai berikut untuk menyoroti perbedaan dari
masing-masing standar yang ada.
a. ISO 9000
ISO ini berisi pedoman mengenai pemilihan dan penggunaan dari rangkaian
standar, bersamaan dengan defenisi istilah dan penjelasan mengenai konsep
dasar mengenai kunci kualitas.
~ 76 ~
b. ISO 9001
Standar ini merupakan standar yang paling komprehensif dalam seri. Standar ini
menentukan persyaratan dalam sistem pembelian, desain dan pengembangan,
produksi, pemasangan dan pelayanan. Standar ini tidak diperlukan untuk usaha
rumahan atau departemen. Standar ini hanya diperlukan untuk perusahaanperusahan yang merancang atau mengembangkan beberapa barang perusahaan
secara khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Contoh standar ini
mencakup, agen pengecoran minyak, perusahaan arsitektur, dan lain-lain.
Misalnya, standar ini berlaku pada perusahaan Tata Steel karena sifat dari
departemen riset dan pengembangan pada perusahaan ini menilai secara khusus
baja-baja yang akan diproduksi untuk memenuhi syarat-syarat yang sudah
ditetapkan oleh pelanggan. Pengiriman mesin dan peralatan dari Aditya Complex
secara spesifik dirancang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan membuat
standar khusus yang hanya berlaku pada Tata Steel.
c. ISO 9002
Hampir 90% dari perusahaan yang terdaftar pada seri ini sesuai dengan standar
9002 di Inggris. Standar ini menetapkan persyaratan sistem yang berlaku untuk
pembelian, produksi, pemeriksaan (inpection), instalasi dan layanan. Standar
ini tidak berlaku pada desain, apabila tidak berkaitan dengan 9001. Standar ini
sama persis dengan 9001 tetapi tidak termasuk bagian desain atau
pengembangan.
d. ISO 9003
Standar ini merupakan standar yang banyak digunakan dalam seri standar.
Standar ini menentukan sistem persyaratan-persyaratan hanya pada inspeksi 85
dan pengujian akhir. Standar ini berlaku pada gudang, stokis (persediaan),
distributor, dan sejenisnya.
e. ISO 9004
Standar ini bukanlah standar dalam arti yang sesungguhnya. Standar ini berisi
pedoman yang sangat baik pada implementasi dan menyoroti aspek penting
yang harud dipertimbangkan ketika akan merancang sebuah sistem.
~ 77 ~
Esensi dari Standar
Untuk memasukkan standar kedalam istilah yang sederhana (standar 9001-3)
merekomendasikan bahwa suatu perusahaan harus:
sesuai
Meninjau sistem secara teratur untuk mengukur efektivitasnya
Sistem mutu dibuat secara khusus demi memenuhi kebutuhan perusahaan
agar menjadi lebih efektif. Oleh karena itu, standar mutu hanya menyediakan
kerangka dasar bagi sistem dan menawarkan kebebasan yang tak terbatas. Contoh
dari kebijakan mutu. Standar tidak menentukan isi kebijakan, apa yang boleh
dilakukan, misalnya terdapat dua titik ekstrim untuk menghasilkan zero defect
(kecacatan nol) atau menghasilkan barang dengan kecacatan pada tingkat tertentu.
Akan tetapi, standar apapun tidak dapat menentukan apa yang menjadi kebijakan,
pihak manajemen harus memastikan bahwa standar telah dipahami dan
diimplementasikan pada semua departemen dalam perusahaan. Dengan demikian,
kegiatan seperti desain, produksi dan sejenisnya standar hanya menentukan
adanya unsur pengendalian mutu seperti perencanaan, review, tindakan
pengkoreksian dan lain-lain. Terdapat kebebasan penuh pada modalitas
perusahaan yang dapat digunakan pada unsur-unsur kepuasan.
Terdapat beberapa aspek penting yang harus diperhatikan, yaitu: standar ini
menetapkan bahwa sistem mutu didokumentasikan (melalui kualitas manual,
instruksi kerja, bagan organisasi, diagram proses, dan lain-lain). Hubungan
pelanggan-pemasok (internal dan eksternal tanggungjawab berada pada pemasok
sepenuhnya untuk memperjelas dan memahami kebutuhan pelanggan yang
dinyatakan secara tersirat. Misalnya, departemen pembelian harus menjelaskan
~ 78 ~
dan meninjau semua persyaratan yang tercantum dalam permintaan pembelian
sebelum menjadikannya sebagai pesanan. Persyaratan ini juga berlaku pada
departemen desain, yang berkaitan 86 dengan desain bahan baku (input),
departemen pemasaran ketika menerima pesanan dan untuk departemen lainnya
dengan cara yang sama. Standar ini menentukan persyaratan pada biaya kualitas,
perbaikan yang berkelanjutan, dan tidak ada upah lembur bagi karyawan atas
partisipasinya dan semua kegiatan disebutkan dalam pedoman ISO 9004. Standarstandar ini merupakan bahan yang penting dari filosofi manajemen mutu. ISO
9004 memiliki dan mengambil satu langkah kearah yang menjadikan perusahaan
berdasarkan manajemen mutu. Akan tetapi, perusahaan yang berdasarkan
manajemen mutu akan selalu menyesuaikan diri dengan standar sistem mutu
seperti ISO 9000 atau yang setaranya.
Sertifikasi
Sertifikasi bukanlah suatu kewajiban bagi semua perusahaan yang menginginkan
barang yang dihasilkan sesuai dengan standar. Misalnya, jika perusahaan ingin
memutuskan bahwa vendor untuk barang tertentu harus sesuai dengan ISO 9000.
Badan sertifikasi dapat mengirimkan tim auditor yang memiliki syarat untuk
menilai perusahaan vendor. Namun, sertifikasi ISO 9000 merupakan bukti
kesesuaian dengan mengesampingkan penilaian terhadap individu. Akreditasi
untuk standar hanya akan tercapai apabila SMM perusahaan telah dinilai dan
disetujui oleh Badan Akreditasi pihak ketiga yang diakui. Sertifikasi perusahaan
dinilai secara berkala oleh badan sertifikasi yang sama untuk memastikan
kesesuaian yang berkelanjutan. Lembaga harus diakreditasi oleh “National
Accreditation Council for Certification Bodies (NACCS)”, negara Inggris UK,
atau milik pemerintah Belanda „„Radd Voorde Certificate‟‟. Di Indonesia badan
sertifikasi yang diakui antara lain BPOM untuk barang makanan dan minuman,
sertifikat Halal dari MUI, dan lain-lain.
KUALITAS DESIGN (RANCANGAN)
Kualitas merupakan prinsip-prinsip desain yang diubah oleh manajer yang
memiliki pikiran dan perilaku bisnis. Desain kualitas Lossely merupakan metode
~ 79 ~
yang menggunakan tim multidisiplin dalam melakukan pemikiran secara
konseptual, desain barang dan semua perencanaan produksi pada waktu yang
bersamaan,
Lossely
menyebutnya
dengan
insiyur
bersama
(concurrent
engineering), rekayasa simultan secara paralel. Kualitas dengan desain baru telah
mendorong perubahan dalam struktur manajemen.
Fungsi utama sebuah perusahaan adalah menyelesaikan tugas mereka dengan
“melempar keatas dinding”, atau departemen berikutnya dalam urutan selanjutnya
dan tidak perduli dengan masalah pelanggan internal yang muncul secara
kebetulan, kualitas dengan desain atau insiyur bersama (concurrent engineering)
membutuhkan fungsi utama yang harus dilakukan tim secara bersama. Sistem ini
menyediakan umpan balik dengan segera, mencegah terjadinya masalah kualitas
dan produktivitas.
IMPLEMENTASI ISO-9000
Langkah-langkah Untuk Menerapkan Manajemen Mutu
Terdapat sejumlah langkah yang diperlukan untuk menerapkan sistem manajemen
mutu. Langkah tersebut akan diuraikan satu per satu sebagai berikut:
1. Komitmen Manajemen Senior
Langkah yang paling penting dalam menerapkan sistem manajemen mutu yang
akan memenuhi atau melampaui standar ISO-9000 adalah adanya dukungan
penuh dari manajemen senior atau manajemen puncak. Chief Executive Officer
(CEO) harus bersedia menyediakan sumberdaya yang diperlukan untuk
mecapai sertifikasi.
2. Menunjuk Wakil Manajemen
Setelah komitmen dibuat, maka proses selanjutnya adalah dengan mengadopsi
pendekatan tim proyek dan kemudian memperlakukan usaha bisnis lainnya
tanpa ada perbedaan dari perwakilan manajemen. Orang ini bertanggungjawab
untuk mengkoordinasikan pelaksanaan dan pemeliharaan sistem mutu dan
sebagai penghubung bagi semua pihak yang terlibat dalam proses, baik internal
maupun eksternal. Penerapan sistem mutu harus melibatkan setiap orang dalam
~ 80 ~
perusahaan. Standar tersebut mengharuskan perwakilan manajemen menjadi
orang yang mampu menjamin bahwa sistem mutu dapat diimplemtasikan dan
dipelihara secara efektif.
3. Kesadaran
Langkah ini membutuhkan program kesadaran. Karena proses ini akan
memperngaruhi setiap anggota serta membutuhkan masukan dari mereka, dan
semua orang harus memaham sistem mutu. Mereka harus tahu bagaimana
sistem akan mempengaruhi kegiatan operasi setiap hari dan memanfaatkan
potensi yang ada.
4. Menunjuk Tim Pelaksana
Setelah
semua
pihak
diberitahu
mengenai
niat
perusahaan
untuk
mengembangkan sistem mutu, tim pelaksana harus segera dibentuk. Tim ini
nantinya akan merekrut anggota dari semua departemen dan tingkatan dalam
perusahan.
5. Pelatihan
Tim pelaksana, pengawas, dan tim audit harus dilatih. Kegiatan ini dapat
dilakukan dengan mengirimkan pemimpin tim untuk pelatihan dan hasil dari 96
pelatihan tersebut diseminarkan pada semua anggota tim melalui seminar
sehari atau dua hari.
6. Waktu Penjadwalan
Kegiatan ini mengembangkan waktu penjadwalan, untuk mengimplemtasikan
dan sistem pendaftaran. Kerangka waktu menuntut adanya ukuran dan jenis
perusahaan dan sejauh mana sistem mutu yang ada diperusahaan tersebut.
7. Menseleksi Elemen-Elemen Yang Dimiliki
Tim implementasi memilih elemen-elemen yang dimiliki dari masing-masing
elemen sistem. Banyak elemen yang akan menjadi anggota pada tim
implementasi. Departemen atau bidang tertentu diperusahaan kemungkinan
akan memberikan lebih dari satu elemen yang dimilikinya kepada tim
implementasi. Setiap departemen yang memiliki elemen mempunyai hak untuk
memilih sebuah tim yang akan membantu dalam proses sistem mutu.
~ 81 ~
8. Meninjau Sistem Kehadiran
Meninjau semua sistem yang berkualitas dari sekarang. Salinan manual mutu,
prsedur, instruksi kerja, dan formulir yang diperoleh dan digunakan saat ini.
Dokumen-dokumen ini diurutkan menjadi sistem elemen-elemen untuk
menentukan apa yang tersdia dan apa yang dibutuhkan dalam melengkapi
sistem.
9. Pencatatan Dokumen
Sebelum kualitas dan prosedur ditulis secara manual, dokumen tersebut
digabungkan menjadi satu dokumen. Dengan menulis intruksi kerja yang tepat
akan menjaga kualitas fungsi departemen tertentu. Proses ini harus melibatkan
setiap karyawan karena orang yang terbaik untuk menulis instruksi kerja adalah
orang yang melakukan pekerjaan secara teratur.
10. Memasang Sistem Baru
Mengintegrasikan kebijakan, prosedur, dan instruksi kerja setiap hari kerja di
perusahaan dan mendokumentasikan apa yang sedang dilakukan. Hal ini tidak
perlu dilakukan untuk semua elemen yang akan dilaksanakan pada waktu yang
bersamaan.
11. Audit Internal
Melakukan audit internal dari sistem mutu. Langkah ini diperlukan untuk
memastikan bahwa sistem ini dapat melakukan efisiensi kerja dan
menyediakan informasi bagi manajemen untuk meninjau manajemen yang
komprehensif.
12. Meninjau Manajemen
Melakukan
peninjauan
terhadap
manajemen.
Peninjauan
manajemen
digunakan untuk menentukan efektivitas sistem dalam mencapai tujuan
kualitas yang dinyatakan.
13. Pra-Penilaian
Jika pekerjaan telah dilakukan dengan baik maka pra penilaian tidak perlu
dilakukan.
~ 82 ~
14. Pendaftaran
Langkah ini membutuhkan tiga bagian penting, yaitu memilih panitera atau
pencatat, mengajukan permohonan dan melakukan audit sistem panitera.
Memilih panitera termasuk biaya, lead time (waktu jeda), penerimaan
pelanggan dari panitera, akreditasi panitera dan kesamaan dengan industri
dimana perusahaan berada. Permohonan pendaftaran juga harus mencakup
pencatat dari pemasok dengan kebijakan dan prosedur manual untuk
peninjauan kembali.
Waktu yang dilibatkan dalam sistem audit dan prosedur manual yang dicatat
untuk meninjau kembali. Waktu yang dilibatkan dalam pencatatan sistem audit
akan sangat bervariasi bergantung pada ukuran dan kompleksitas perusahaan dan
jumlah auditor yang terlibat. Biasanya diperlukan waktu antara satu sampai tiga
hari yang terdiri dari pertemuan pembukaan untuk menggambarkan proses auditor
yang akan mengikuti, audit departemen dari sistem mutu dan pertemuan penutup
untuk membahas temuan auditor
Pengertian Kinerja
Menurut Mangkunegara (2011:67), arti kinerja sebenarnya berasal dari katakata job performance dan disebut juga actual performance atau prestasi
sesungguhnya yang telah dicapai oleh serang pegawai. Jika dikaitkan dengan
performance sebagai kata benda dimana salah satu entrinya adalah hasil dari
sesuatu pekerjaan, pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang
dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian
tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan
dengan moral atau etika.
Menurut Mangkunegara (2011:67), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas
dan kuantitas yang dicapai oleh seorang egawia dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu,
~ 83 ~
pencapaian target kerja seseorang yang dinilai berdasarkan kualitas dan kuantitas
menunjukkan kinerja seseorang.
Menurut Rivai (2011:549), pengertian kinerja adalah perilaku nyata yang
ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh pegawai
sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Rivai juga menjelaskan bahwa kinerja
merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan.Untuk menyelesaikan
tugas atau pekerjaan, seseorang sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat
kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup
efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Hasibuan (2007: 94) menjelaskan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2006:113-114), kinerja
adalah apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh karyawan. kinerja para
karyawan individual adalah faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu
organisai. Selain karyawan dapat menjadi keunggulan bersaing, mereka juga
dapat menjadi liabilitas atau penghambat.Ketika karyawan terus menerus
meninggalkan perusahaan dan ketika karyawan bekerja namun tidak efektif, maka
sumber daya manusia dalam organisasi dalam keadaan merugi.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah kemampuan
seseorang atau sekelompok orang dalam unit organisasi maupun perusahaanyang
dapat dibuktikan dari hasil kerja sehari-hari serta memberikan nilai lebih bagi
kemajuan unit organisasi maupun perusahaan.
2.1.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
Menurut Mangkunegara (2007:67), faktor yang mempengaruhi pencapaian
kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Hal
ini sesuai dengan pendapat Keith Davis (dalam Mangkunegara, 2007:67), yang
merumuskan bahwa :
Human Performance = Ability + Motivation
~ 84 ~
Motivation
= Attitude +Situation
Ability
= Knowledge + Skill
a) Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan pegawai terdiri dari kemampuan potensi
IQ dan kemampuan reality. Artinya seorang pegawai yang memiliki
tingkat IQ diatas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai
untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari,
maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
b) Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk
dari sikap (attitude) seorang
pegawai dalam
menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan
organisasi (tujuan kerja).
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2006:113), kinerja
karyawan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu:
1) Kemampuan individual untuk melakukan pekerjaan tersebut
kemampuan individual karyawan ini mencakup bakat, minat dan
faktor kepribadian. Tingkat kemampuan individual adalah bahan
mentah yang dimiliki seorang karyawan seperti pengetahuan,
pemahaman, kemampuan, kecakapan interpersonal, dan kecakapan
teknis. Dengan demikian, kemungkinan seorang karyawan akan
memiliki kinerja yang baik adalah jika karyawan tersebut memiliki
kemampuan individual yang cukup.
2) Tingkat usaha yang dicurahkan
Usaha dari karyawan bagi perusahaan adalah etika kerja, kehadiran
dan motivasinya.Tingkat usaha merupakan gambaran motivasi
yang diperlihatkan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan yang
baik. Oleh karena itu, walaupun karyawan memiliki kemampuan
individual untuk mengerjakan pekerjaan, tetapi tidak akan bekerja
tanpa tingkat pencurahan usha yang rendah.
3) Dukungan organisasi
~ 85 ~
Dalam dukungan organisasional artinya fasilitas apa yang
perusahaan sediakan bagi karyawan dapat berupa pelatihan,
pengembangan, peralatan teknologi, dan manajemen.
Berdasarkan beberapa faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila
seorang pegawai memiliki kemampuan yang baik dan didorong oleh
keinginan berprestasi yang kuat, maka akan menimbulkan suatu hasil yang
baik yakni kinerja individu yang diharapkan oleh perusahaan.
2.1.2. Penilaian Kinerja
Rivai (2011:549), menjelaskan bahwa penilaian kinerja merupakan suatu
sistem formal dan terstruktur yang digunakan untuk mengukur, menilai dan
mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku, dan hasil
termasuk tingkat ketidakhadiran pegawai dalam lingkup tanggung jawabnya.
Penilaian kinerja jika dikerjakan dengan benar, hal ini akan memberikan
manfaat yang penting bagi pegawai, supervisor departemen SDM maupun
perusahaan. Supervisor, dan manajer harus mengevaluasi kinerja untuk
mengetahui tindakan apa yang akan diambil seperti menetapkan kebijaksanaan
yang berarti apakah seorang pegawai akan dipromosikan, didemosikan, dan atau
balas jasanya dinaikkan. Umpan balik yang spesifik memungkinkan mereka untuk
membuat perencanaan karier (career planning), pelatihan dan pengembangan
(training and development), peningkatan gaji (pay increases), promosi dan
keputusan-keputusan penempatan lainnya.
Hasibuan (2007:87) mendefinisikan penilaian prestasi sebagai kegiatan
manajer untuk mnegevaluasi perilaku prestasi kerja pgawai serta menetapkan
kebijaksanaan selanjutnya.Penilaian perilaku meliputi penilaian kesetiaan,
kejujuran, kepemimpinan, kerjasama, loyalitas, dedikasi, dan partisipasi
pegawai.Hasibuan juga menambahkan bahwa penilaian prestasi kerja adalah
menilai rasio hasil kerja nyata dengan standar kualitas maupun kuantitas yang
dihasilkan setiap pegawai.
Mangkunegara (2011:69), menyimpulkan dari pendapat beberapa ahli bahwa
penilaian prestasi pegawai adalah suatu proses penilaian prestasi kerja pegawai
~ 86 ~
yang dilakukan pemimpin perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan
yang ditugaskan kepadanya.
Rivai (2011:563) mengelompokkan aspek-aspek yang dinilai dalam penilaian
kinerja berdasarkan faktor yang paling umum muncul terhadap formulir penilaian
kinerja pada 61 perusahaan dari 125 perusahaan di USA dalam studi Lazer dan
Wikstrom. Adapun pengelompokkan aspek-aspek tersebut diantaranya adalah
kemampuan teknis, kemampuan konseptual, dan kemampuan hubungan
interpersonal.
a) Kemampuan teknis
Yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik, dan
peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas erta
pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya.
b) Kemampuan konseptual
Yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan dan
penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam bidang
operasional perusahaan secara menyeluruh, yang pada intinya
individual tersebut memahami tugas, fungsi, serta tanggung
jawabnya sebagai seorang pegawai.
c) Kemampuan hubungan interpersonal
Yaitu antara lain kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain,
memotivasi pegawai, melakukan negosiasi dan lain-lain.
Sedangkan menurut Mondy (2008:260), aspek kriteria penilaian kinerja
seseorang,
diantaranya
adalah
berdasarkan
sifat,
perilaku,
kompetensi,
pencapaian tujuandan potensi perbaikan.
a) Sifat
Sifat-sifat pegawai tertentu seperti sikap, penampilan, dan inisiatif
adalah dasar untuk beberapa evaluasi. Namun, banyak dari kualitas
yang umum digunakan tersebut bersifat subjektif dan bisa jadi tidak
berhubungan dengan pekerjaan atau sulit untuk didefinisikan. Dalam
~ 87 ~
hal ini, evaluasi yang tidak akurat bisa timbul dan bisa pula
menciptakan masalah hukum bagi organisasi. Sifat-sifat seperti
adaptabilitas, pertimbangan, penampilan, dan sikap bisa digunakan
jika terbukti berhubungan dengan pekerjaan.
b) Perilaku
Ketika hasil tugas seseorang sulit ditentukan, organisasi biasa
mengevaluasi perilaku atau kompetensi orang tersebut yang
berhubungan dengan tugas. Sebagai contoh, perilaku yang tepat
untuk dievaluasi dari seorang manajer mungkin adalah gaya
kepemimpinan. Sedangkan untuk orang-orang yang bekerja dalam
tim, mengembangkan orang lain, kerja tim dan kerja sama atau
orientasi pelayanan pelanggan mungkin tepat.
c) Kompetensi
Kompetensi meliputi sekumpulan ilmu pengetahuan, keterampilan,
sifat dan perilaku yang bisa bersifat teknis, berkaitan dengan
keterampilan antara pribadi, atau berorientasi bisnis. Kompetensikompetensi yang terseleksi untuk keperluan evaluasi haruslah yang
berhubungan erat dengan kesuksesan pekerjaan.
d) Pencapaian tujuan
Jika organisasi menganggap hasil akhir lebih penting daripada cara,
hasil-hasil pencapaian tujuan menjadi faktor yang tepat untuk
dievaluasi. Hasil-hasil yang dicapai harus berada dalam kendali
individu atau tim dan haruslah hasil-hasil yang mengarah pada
kesuksesan perusahaan.
e) Potensi Perbaikan
Ketika organisasi-organisasi mengevaluasi kinerja para pegawai,
banyak kriteria yang digunakan berfokus pada masa lalu. Dari sudut
pandang manajemen kinerja, masalahnya adalah kita tidak mampu
mengubah masa lalu. Dengnan demikian, perusahaan-perusahaan
harus fokus pada masa depan, memasukkan perilaku-perilaku dari
hasil-hasil yang diperlukan untuk mengembangkan pegawai, dan
~ 88 ~
dalam proses tersebut mencapai tujuan perusahaan. Hal tersebut
melibatkan penilaian potensi pegawai. Memasukkan potensi dalam
proses
evaluasi
membantu
memastikan
perencanaan
dan
pengembangan karir yang lebih efektif.
~ 89 ~
BAB
7
Kinerja Karyawan
Tujuan Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.
Pengertian dan Tujuan
Pengukuran Kinerja Karyawan
Evaluasi Kinerja Karyawan
Perbaikan Kinerja Karyawan
Model Penilaian Kinerja Karyawan
Pengertian Kinerja
Menurut Mangkunegara (2011:67), arti kinerja sebenarnya berasal dari katakata job performance dan disebut juga actual performance atau prestasi
sesungguhnya yang telah dicapai oleh serang pegawai. Jika dikaitkan dengan
performance sebagai kata benda dimana salah satu entrinya adalah hasil dari
sesuatu pekerjaan, pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang
dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian
tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan
dengan moral atau etika.
Menurut Mangkunegara (2011:67), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas
dan kuantitas yang dicapai oleh seorang egawia dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu,
pencapaian target kerja seseorang yang dinilai berdasarkan kualitas dan kuantitas
menunjukkan kinerja seseorang.
Menurut Rivai (2011:549), pengertian kinerja adalah perilaku nyata yang
ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh pegawai
sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Rivai juga menjelaskan bahwa kinerja
merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan.Untuk menyelesaikan
tugas atau pekerjaan, seseorang sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat
~ 90 ~
kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup
efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Hasibuan (2007: 94) menjelaskan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2006:113-114), kinerja
adalah apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh karyawan. kinerja para
karyawan individual adalah faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu
organisai. Selain karyawan dapat menjadi keunggulan bersaing, mereka juga
dapat menjadi liabilitas atau penghambat.Ketika karyawan terus menerus
meninggalkan perusahaan dan ketika karyawan bekerja namun tidak efektif, maka
sumber daya manusia dalam organisasi dalam keadaan merugi.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah kemampuan
seseorang atau sekelompok orang dalam unit organisasi maupun perusahaanyang
dapat dibuktikan dari hasil kerja sehari-hari serta memberikan nilai lebih bagi
kemajuan unit organisasi maupun perusahaan.
2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
Menurut Mangkunegara (2007:67), faktor yang mempengaruhi pencapaian
kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Hal
ini sesuai dengan pendapat Keith Davis (dalam Mangkunegara, 2007:67), yang
merumuskan bahwa :
Human Performance = Ability + Motivation
Motivation
= Attitude +Situation
Ability
= Knowledge + Skill
c) Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan pegawai terdiri dari kemampuan potensi
IQ dan kemampuan reality. Artinya seorang pegawai yang memiliki
tingkat IQ diatas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai
~ 91 ~
untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari,
maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
d) Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk
dari sikap (attitude) seorang
pegawai dalam
menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan
organisasi (tujuan kerja).
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2006:113), kinerja
karyawan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu:
4) Kemampuan individual untuk melakukan pekerjaan tersebut
kemampuan individual karyawan ini mencakup bakat, minat dan
faktor kepribadian. Tingkat kemampuan individual adalah bahan
mentah yang dimiliki seorang karyawan seperti pengetahuan,
pemahaman, kemampuan, kecakapan interpersonal, dan kecakapan
teknis. Dengan demikian, kemungkinan seorang karyawan akan
memiliki kinerja yang baik adalah jika karyawan tersebut memiliki
kemampuan individual yang cukup.
5) Tingkat usaha yang dicurahkan
Usaha dari karyawan bagi perusahaan adalah etika kerja, kehadiran
dan motivasinya.Tingkat usaha merupakan gambaran motivasi
yang diperlihatkan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan yang
baik. Oleh karena itu, walaupun karyawan memiliki kemampuan
individual untuk mengerjakan pekerjaan, tetapi tidak akan bekerja
tanpa tingkat pencurahan usha yang rendah.
6) Dukungan organisasi
Dalam dukungan organisasional artinya fasilitas apa yang
perusahaan sediakan bagi karyawan dapat berupa pelatihan,
pengembangan, peralatan teknologi, dan manajemen.
Berdasarkan beberapa faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila
seorang pegawai memiliki kemampuan yang baik dan didorong oleh
~ 92 ~
keinginan berprestasi yang kuat, maka akan menimbulkan suatu hasil yang
baik yakni kinerja individu yang diharapkan oleh perusahaan.
2.1.4. Penilaian Kinerja
Rivai (2011:549), menjelaskan bahwa penilaian kinerja merupakan suatu
sistem formal dan terstruktur yang digunakan untuk mengukur, menilai dan
mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku, dan hasil
termasuk tingkat ketidakhadiran pegawai dalam lingkup tanggung jawabnya.
Penilaian kinerja jika dikerjakan dengan benar, hal ini akan memberikan
manfaat yang penting bagi pegawai, supervisor departemen SDM maupun
perusahaan. Supervisor, dan manajer harus mengevaluasi kinerja untuk
mengetahui tindakan apa yang akan diambil seperti menetapkan kebijaksanaan
yang berarti apakah seorang pegawai akan dipromosikan, didemosikan, dan atau
balas jasanya dinaikkan. Umpan balik yang spesifik memungkinkan mereka untuk
membuat perencanaan karier (career planning), pelatihan dan pengembangan
(training and development), peningkatan gaji (pay increases), promosi dan
keputusan-keputusan penempatan lainnya.
Hasibuan (2007:87) mendefinisikan penilaian prestasi sebagai kegiatan
manajer untuk mnegevaluasi perilaku prestasi kerja pgawai serta menetapkan
kebijaksanaan selanjutnya.Penilaian perilaku meliputi penilaian kesetiaan,
kejujuran, kepemimpinan, kerjasama, loyalitas, dedikasi, dan partisipasi
pegawai.Hasibuan juga menambahkan bahwa penilaian prestasi kerja adalah
menilai rasio hasil kerja nyata dengan standar kualitas maupun kuantitas yang
dihasilkan setiap pegawai.
Mangkunegara (2011:69), menyimpulkan dari pendapat beberapa ahli bahwa
penilaian prestasi pegawai adalah suatu proses penilaian prestasi kerja pegawai
yang dilakukan pemimpin perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan
yang ditugaskan kepadanya.
Rivai (2011:563) mengelompokkan aspek-aspek yang dinilai dalam penilaian
kinerja berdasarkan faktor yang paling umum muncul terhadap formulir penilaian
~ 93 ~
kinerja pada 61 perusahaan dari 125 perusahaan di USA dalam studi Lazer dan
Wikstrom. Adapun pengelompokkan aspek-aspek tersebut diantaranya adalah
kemampuan teknis, kemampuan konseptual, dan kemampuan hubungan
interpersonal.
d) Kemampuan teknis
Yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik, dan
peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas erta
pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya.
e) Kemampuan konseptual
Yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan dan
penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam bidang
operasional perusahaan secara menyeluruh, yang pada intinya
individual tersebut memahami tugas, fungsi, serta tanggung
jawabnya sebagai seorang pegawai.
f) Kemampuan hubungan interpersonal
Yaitu antara lain kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain,
memotivasi pegawai, melakukan negosiasi dan lain-lain.
Sedangkan menurut Mondy (2008:260), aspek kriteria penilaian kinerja
seseorang,
diantaranya
adalah
berdasarkan
sifat,
perilaku,
kompetensi,
pencapaian tujuandan potensi perbaikan.
f) Sifat
Sifat-sifat pegawai tertentu seperti sikap, penampilan, dan inisiatif
adalah dasar untuk beberapa evaluasi. Namun, banyak dari kualitas
yang umum digunakan tersebut bersifat subjektif dan bisa jadi tidak
berhubungan dengan pekerjaan atau sulit untuk didefinisikan. Dalam
hal ini, evaluasi yang tidak akurat bisa timbul dan bisa pula
menciptakan masalah hukum bagi organisasi. Sifat-sifat seperti
adaptabilitas, pertimbangan, penampilan, dan sikap bisa digunakan
jika terbukti berhubungan dengan pekerjaan.
~ 94 ~
g) Perilaku
Ketika hasil tugas seseorang sulit ditentukan, organisasi biasa
mengevaluasi perilaku atau kompetensi orang tersebut yang
berhubungan dengan tugas. Sebagai contoh, perilaku yang tepat
untuk dievaluasi dari seorang manajer mungkin adalah gaya
kepemimpinan. Sedangkan untuk orang-orang yang bekerja dalam
tim, mengembangkan orang lain, kerja tim dan kerja sama atau
orientasi pelayanan pelanggan mungkin tepat.
h) Kompetensi
Kompetensi meliputi sekumpulan ilmu pengetahuan, keterampilan,
sifat dan perilaku yang bisa bersifat teknis, berkaitan dengan
keterampilan antara pribadi, atau berorientasi bisnis. Kompetensikompetensi yang terseleksi untuk keperluan evaluasi haruslah yang
berhubungan erat dengan kesuksesan pekerjaan.
i)
Pencapaian tujuan
Jika organisasi menganggap hasil akhir lebih penting daripada cara,
hasil-hasil pencapaian tujuan menjadi faktor yang tepat untuk
dievaluasi. Hasil-hasil yang dicapai harus berada dalam kendali
individu atau tim dan haruslah hasil-hasil yang mengarah pada
kesuksesan perusahaan.
j)
Potensi Perbaikan
Ketika organisasi-organisasi mengevaluasi kinerja para pegawai,
banyak kriteria yang digunakan berfokus pada masa lalu. Dari sudut
pandang manajemen kinerja, masalahnya adalah kita tidak mampu
mengubah masa lalu. Dengnan demikian, perusahaan-perusahaan
harus fokus pada masa depan, memasukkan perilaku-perilaku dari
hasil-hasil yang diperlukan untuk mengembangkan pegawai, dan
dalam proses tersebut mencapai tujuan perusahaan. Hal tersebut
melibatkan penilaian potensi pegawai. Memasukkan potensi dalam
proses
evaluasi
membantu
memastikan
perencanaan
dan
pengembangan karir yang lebih efektif.
~ 95 ~
BAB
8
Kepuasan Kerja Karyawan
Tujuan Pembelajaran
1.
Mahasiswa mengetahui & Memahami Pengertian Kepuasan Kerja
Karyawan
2.
Mahasiswa mengetahui & Memahami Teori – teori Kepuasan Kerja
3.
Mahasiswa mengetahui & Memahami Mengukur Kepuasan Kerja
Karyawan
4.
Mahasiswa mengetahui & Memahami Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan
5.
Contoh Kasus / Penelitian yang relevan
6.
Soal-soal Latihan
Kepuasan Kerja
Kepuasan merupakan hal yang relatif. Beberapa orang merasakan
kepuasan ketika dapat melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan
kemampuannya. Sedangkan beberapa orang yang lainnya merasakan kepuasan
ketika hasil kerja dan usahanya mendapatkan reward yang setimpal. Kepuasan
adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil)
yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.Jadi tingkat kepuasan adalah
fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Locke dalam Luthans (2005 : 243) memberikan definisi komprehensif dari
kepuasan kerja yang meliputi reaksi atau sikap kognitif, afektif, dan evaluatif dan
menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi
positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.
Kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik
pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans, 2005 : 243).
Menurut Robbins (2008) istilah kepuasan kerja merujuk kepada sikap
umum seorang individu terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Seseorang dengan
tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap kerja itu,
~ 96 ~
sedangkan seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap
yang negatif terhadap pekerjaan itu.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja
adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong seorang karyawan
yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya.
Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti
pekerjaan itu sendiri, upah atau gaji yang diterima, kesempatan promosi atau
pengembangan karir, hubungan dengan rekan kerja, penempatan kerja,
pengawasan yang diterapkan.
Indikator Kepuasaan Kerja
Menurut Luthans (2006) terdapat lima dimensi kepuasan kerja yang dapat
merepresentasikan respons kepuasan kerja karyawan, diantaranya yaitu:
1. Pembayaran gaji atau upah
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
organisasi. Pegawai menginginkan sistem upah yang dipersepsikan adil,
tidak meragukan dan segaris dengan harapannya.
2. Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal dimana pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan
untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab.Pegawai
cenderung lebih menyukai pekerjaan yang memberi kesempatan untuk
menggunakan kemampuan dan ketrampilan, kebebasan serta umpan balik.
Karakteristik ini membuat kerja lebih menantang. Pekerjaan yang kurang
menantang akan menciptakan kebosanan. Namun pekerjaan yang terlalu
menantang dapat menyebabkan frustasi dan perasaan gagal.
3. Rekan kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara
sosial. Bagi kebanyakan pegawai, kerja merupakan salah satu cara untuk
memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Oleh karena itu mempunyai rekan
kerja yang menyenangkan dapat meningkatkan kepuasan kerja.
~ 97 ~
4. Kesempatan promosi
Pada saat dipromosikan pegawai pada umumnya menghadapi peningkatan
tuntutan keahlian, kemampuan serta tanggungjawab. Sebagian besar
pegawai
merasa
positif
jika
dipromosikan.
Dengan
promosi
memungkinkan organisasi untuk mendayagunakan kemampuan dan
keahlian pegawai setinggi mungkin.
5. Pengawasan (Supervisi)
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan
perilaku. Supervisi mempunyai peran yang penting dalam suatu organisasi
karena berhubungan dengan pegawai secara langsung dan mempengaruhi
pegawai dalam melakukan pekerjaannya. Pada umumnya pegawai lebih
suka mempunyai supervisi yang adil, terbuka dan mau bekerja sama
dengan bawahan.
Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada dasarnya dapat
menjadi dua bagian. Pertama, faktor intrinsik atau faktor yang brasal dari dalam
diri karyawan itu sendiri seperti harapan dan kebutuhan individu tersebut. Kedua,
faktor ekstrinsik, yaitu faktor yang berasal dari luar diri karyawan antara lain
kebijakan perusahaan, kondisi fisik lingkungan kerja, interaksi dengan karyawan
lain, sistem penggajian dan sebagainya.
Menurut Luthans (2006), Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja akan
dapat diketahui dengan melihat beberapa hal yang dapat menimbulkan dan
mendorong kepuasan kerja yaitu:
1. Faktor Psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan
karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap
kerja, bakat dan keterampilan.
2. Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial
baik sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang berbeda
jenis pekerjaannya.
3. Faktor Fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik
lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan,
pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan
~ 98 ~
ruangan,suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan,
umur dan sebagainya.
4. Faktor Finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan
serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji,
jaminansosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi
dansebagainya
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dibedakan menjadi 2
kelompok yaitu:
a. Faktor instrinsik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri karyawan dan
dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja ditempat bekerjanya
b. Faktor ekstrinsik, yaitu menyangkut hal–hal yang berasal dari luar diri
karyawan seperti kondisi lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan
lain, sistem penggajian dan lain-lain
Banyak teori yang menjelaskan mengenai kepuasan kerja antara lain teori
M-H (Motivator-Hygiene) yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg. Teori ini
berorientasi pada kepuasan kerja, tetapi beberapa penelitian menunjukkan
hubungan yang positif antara kepuasan kerja dan turn over SDM, kepuasan kerja
dan komitmen.
Jadi intinya , teori M-H kurang sependapat dengan pemberian balas jasa yang
tinggi karena balas jasa yang tinggi hanya mampu menghilangkan keidakpuasan
kerja dan tidak mampu mendatangkan kepuasan kerja, artinya balas jasa hanya
merupakan faktor hygiene (H) bukan motivator (M). Sehingga untuk
mendatangkan kepuasan kerja, Herzberg menyarankan agar perusahaan
melakukan job enrichment yaitu upaya- upaya menciptakan pekerjaan dengan
tantangan, tanggung jawab dan otonomi yang besar (Rivai, 623)
Indikator kepuasan kerja
Secara teoritis, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah
gaya kepemimpinan, produktifitas kerja, perilaku, locus of control, pemenuhan
harapan penggajian dan efektifitas kerja.
~ 99 ~
Sedangkan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan kerja
seorang karyawan adalah:
a. Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol
terhadap pekerjaan
b. Supervisi
c. Organisasi dan manajemen
d. Kesempatan untuk maju
e. Gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti insentif
f. Rekan kerja
g. Kondisi pekerjaan
Sedangkan menurut
Job Description Index (JDI) faktor penyebab
kepuasan kerja adalah:
a. Bekerja pada tempat yang tepat
b. Pembayaran yang sesuai
c. Organisasi dan manajemen
d. Supervisi pada pekerjaan yang tepat
e. Orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat
Salah satu cara untuk menentukan apakah pekerja puas dengan
pekerjaannya ialah dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa
pekerjaan ideal tertentu (teori kesenjangan)
(Rivai, 623)
Kepustakaan
Rivai , Veithzal dkk, 2014,
Manajemen Sumberdaya Manusia untuk
perusahaan dari Teori ke Praktek, Rajawali Pers, Edisi Ketiga
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi
kepuasan hidup, karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan di tempat kerja.
Berikut ini beberapa pengertian kepuasan kerja yang diambil dari beberapa
sumber:
1. Kondisi menyenangkan atau secara emosional positif yang berasal dari
penilaian seseorang atas pekerjaannya atau pengalaman kerjanya
(Setiawan dan Ghozali, 2006:159).
~ 100 ~
2. Suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan
hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya (Robbins & Judge,
2008:107).
3. Keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan
kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya
(Handoko, 2001:193).
4. Hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan
mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans, 2006:243).
Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Banyak
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
kepuasan
kerja
karyawan.Faktor-faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan
kepada karyawan bergantung pada pribadi masing-masing karyawan (Sutrisno,
2009:82).
Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada
pada diri pegawai dan faktor pekerjaannya (Mangkunegara, 2009:120).
1. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecerdasan khusus, umur, jenis
kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja,
kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, dan sikap kerja.
2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
(golongan),
kedudukan,
mutu
pengawasan,
jaminan
finansial,
kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.
2.4.3. Indikator Kepuasan Kerja
Luthans (2006:243); Robbins dan Judge (2008:108);mengungkapkan bahwa
terdapat lima indikator kepuasan kerja,yaitu:
a. Pembayaran (Pay)
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat di mana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
organisasi. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah bagi setiap pegawai
~ 101 ~
dimana para pegawai mengharapkan pembayaran yang diterima sesuai
dengan beban kerja yang mereka dapatkan. Selain itu para pegawai
membandingkan apakah dengan beban kerja yang sama, para pegawai
tersebut mendapatkan gaji yang sama atau berbeda. Hal ini mempengaruhi
kepuasan yang mereka rasakan.
b. Pekerjaan (Job)
Pekerjaan yang diberikan dianggap menarik, memberikan kesempatan
untuk pembelajaran bagi pegawai serta kesempatan untuk menerima
tanggung jawab atas pekerjaan. Pegawai akan merasa senang dan
tertantang bila diberikan pekerjaan yang dapat membuat mereka
mengerahkan semua kemampuannya. Sementara apabila beban dan
tantangan pekerjaan yang diberikan jauh dibawah kemampuan yang
mereka miliki, para pegawai cenderung merasa bosan.Akan tetapi apabila
diberikan beban kerja dan tanggung jawab lebih besar, kemungkinan
timbul rasa frustrasi sebagai akibat dari kegagalan pegawai dalam
memenuhi tuntutan kerja yang telah diberikan oleh organisasi.
c. Kesempatan promosi (Promotion opportunities)
Adanya kesempatan bagi pegawai untuk maju dan berkembang dalam
organisasi,
misalnya:
kesempatan
untuk
mendapatkan
promosi,
penghargaan, kenaikan pangkat serta pengembangan individu. Hal ini
terkait dengan pengembangan diri setiap pegawai. Pegawai memiliki
keinginan untuk terus maju dan berkembang sebagai bentuk aktualisasi
diri sehingga pegawai akan merasa puas apabila organisasi memberikan
kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi ke jenjang yang
lebih tinggi.
d. Atasan (Supervisor)
Kemampuan atasan untuk menunjukkan minat dan perhatian tentang
pegawai, memberikan bantuan teknis, serta peran atasan dalam
memperlakukan
pegawai
mempengaruhi
perilaku
pegawai
dalam
pekerjaannya sehari-hari.Selain itu atasan dituntut memiliki kemampuan
~ 102 ~
dalam melakukan pengambilan keputusan yang secara langsung maupun
tidak langsung berdampak kepada para bawahannya.
e. Rekan kerja (Co-workers)
Sejauh mana rekan kerja pandai secara teknis, bersahabat, dan saling
mendukung dalam lingkungan kerja.Peranan rekan kerja dalam interaksi
yang terjalin diantara pegawai mempengaruhi tingkat kepuasan yang
dirasakan pegawai.Perselisihan yang timbul diantara sesama pegawai
meskipun bersifat sepele dapat mempengaruhi perilaku pegawai dalam
pekerjaannya sehari-hari. Dalam mengukur kepuasan kerja, salah satu alat
ukur yang digunakan adalah dengan menggunakan Minnesota Satisfaction
Questionnaire (MSQ) yang dikembangkan oleh Weiss et al. (1967) dalam
Sopiah (2008) dan dalam Nguni (2005). MSQ short form ini terdiri dari
beberapa pertanyaan yang digunakan untuk mengukur komponenkomponen dalam kepuasan kerja. Aspek-aspek yang diukur dalam MSQ
short form dapat dinilai dalam beberapa bagian komponen sehingga dapat
memberikan gambaran komponen-komponen mana yang mengalami
kepuasan dan ketidakpuasan.
Kepuasan Kerja
Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan merupakan hal yang relatif. Beberapa orang merasakan
kepuasan ketika dapat melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan
kemampuannya.Sedangkan beberapa orang yang lainnya merasakan kepuasan
ketika hasil kerja dan usahanya mendapatkan reward yang setimpal. Kepuasan
adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil)
yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.Jadi tingkat kepuasan adalah
fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Locke dalam Luthans (2005 : 243) memberikan definisi komprehensif dari
kepuasan kerja yang meliputi reaksi atau sikap kognitif, afektif, dan evaluatif dan
menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi
~ 103 ~
positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.
Kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik
pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans, 2005 : 243).
Menurut Robbins (2008) istilah kepuasan kerja merujuk kepada sikap
umum seorang individu terhadap pekerjaan yang dilakukannya.Seseorang dengan
tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap kerja itu,
sedangkan seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap
yang negatif terhadap pekerjaan itu.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja
adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong seorang karyawan
yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya.Perasaan
yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti pekerjaan itu
sendiri, upah atau gaji yang diterima, kesempatan promosi atau pengembangan
karir, hubungan dengan rekan kerja, penempatan kerja, pengawasan yang
diterapkan.
Indikator Kepuasaan Kerja
Menurut Luthans (2006) terdapat lima dimensi kepuasan kerja yang dapat
merepresentasikan respons kepuasan kerja karyawan, diantaranya yaitu:
1. Pembayaran gaji atau upah
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
organisasi. Pegawai menginginkan sistem upah yang dipersepsikan adil,
tidak meragukan dan segaris dengan harapannya.
2. Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal dimana pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan
untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab.Pegawai
cenderung lebih menyukai pekerjaan yang memberi kesempatan untuk
menggunakan kemampuan dan ketrampilan, kebebasan serta umpan
balik.Karakteristik ini membuat kerja lebih menantang. Pekerjaan yang
~ 104 ~
kurang menantang akan menciptakan kebosanan. Namun pekerjaan yang
terlalu menantang dapat menyebabkan frustasi dan perasaan gagal.
3. Rekan kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara
sosial. Bagi kebanyakan pegawai, kerja merupakan salah satu cara untuk
memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Oleh karena itu mempunyai rekan
kerja yang menyenangkan dapat meningkatkan kepuasan kerja.
4. Kesempatan promosi
Pada saat dipromosikan pegawai pada umumnya menghadapi peningkatan
tuntutan keahlian, kemampuan serta tanggungjawab.Sebagian besar
pegawai merasa positif jika dipromosikan.Dengan promosi
memungkinkan organisasi untuk mendayagunakan kemampuan dan
keahlian pegawai setinggi mungkin.
5. Pengawasan (Supervisi)
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan
perilaku.Supervisi mempunyai peran yang penting dalam suatu organisasi
karena berhubungan dengan pegawai secara langsung dan mempengaruhi
pegawai dalam melakukan pekerjaannya. Pada umumnya pegawai lebih
suka mempunyai supervisi yang adil, terbuka dan mau bekerja sama
dengan bawahan
Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada dasarnya dapat
menjadi dua bagian.Pertama, faktor intrinsik atau faktor yang brasal dari dalam
diri karyawan itu sendiri seperti harapan dan kebutuhan individu tersebut. Kedua,
faktor ekstrinsik, yaitu faktor yang berasal dari luar diri karyawan antara lain
kebijakan perusahaan, kondisi fisik lingkungan kerja, interaksi dengan karyawan
lain, sistem penggajian dan sebagainya.
Menurut Luthans (2006), Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja akan
dapat diketahui dengan melihat beberapa hal yang dapat menimbulkan dan
mendorong kepuasan kerja yaitu:
~ 105 ~
1. Faktor Psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan
kejiwaankaryawan yang meliputi minat, ketentraman dalam bekerja,
sikap terhadapkerja, bakat dan keterampilan.
2. Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi
sosialbaik sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang
berbeda jenispekerjaannya.
3. Faktor Fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi
fisiklingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis
pekerjaan, pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja,
keadaan
ruangan,suhu,
penerangan,
pertukaran
udara,
kondisi
kesehatan karyawan, umur dansebagainya.
4. Faktor Finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan
sertakesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji,
jaminansosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan,
promosi dansebagainya
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi kepuasan kerja dibedakan menjadi 2
kelompok yaitu:
a. Faktor instrinsik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri karyawan
dan dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai
bekerja
ditempat
bekerjanya
b. Faktor ekstrinsik, yaitu menyangkut hal – hal yang berasal dari luar
diri karyawan seperti kondisi lingkungan kerja, interaksinya dengan
karyawan lain, sistem penggajian dan lain-lain
Banyak teori yang menjelaskan mengenai kepuasan kerja antara lain teori M-H
(Motivator-Hygiene) yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg. Teori ini
berorientasi pada kepuasan kerja, tetapi beberapa penelitian menunjukkan
hubungan yang positif antara kepuasan kerja dan turn over SDM, kepuasan kerja
dan komitmen.
Jadi intinya , teori M-H kurang sependapat dengan pemberian balas jasa yang
tinggi karena balas jasa yang tinggi hanya mampu menghilangkan keidakpuasan
~ 106 ~
kerja dan tidak mampu mendatangkan kepuasan kerja, artinya balas jasa hanya
merupakan faktor hygiene (H) bukan motivator (M). Sehingga untuk
mendatangkan kepuasan kerja, Herzberg menyarankan agar perusahaan
melakukan job enrichment yaitu upaya- upaya menciptakan pekerjaan dengan
tantangan, tanggung jawab dan otonomi yang besar (Rivai, 623)
Indikator kepuasan kerja
Secara teoritis, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah
gaya kepemimpinan, produktifitas kerja, perilaku, locus of control, pemenuhan
harapan penggajian dan efektifitas kerja.
Sedangkan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan kerja
seorang karyawan adalah:
1. Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai
kontrol terhadap pekerjaan
2. Supervisi
3. Organisasi dan manajemen
4. Kesempatan untuk maju
5. Gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti insentif
6. Rekan kerja
7. Kondisi pekerjaan
Sedangkan menurut Job Description Index (JDI) faktor penyebab kepuasan kerja
adalah:
a. Bekerja pada tempat yang tepat
b. Pembayaran yang sesuai
c. Organisasi dan manajemen
d. Supervisi pada pekerjaan yang tepat
e. Orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat
Salah satu cara untuk menentukan apakah pekerja puas dengan pekerjaannya ialah
dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa pekerjaan ideal
tertentu (teori kesenjangan)
(Rivai, 623)
~ 107 ~
Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi
kepuasan hidup, karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan di tempat kerja.
Berikut ini beberapa pengertian kepuasan kerja yang diambil dari beberapa
sumber :
1. Kondisi menyenangkan atau secara emosional positif yang berasal
dari penilaian seseorang atas pekerjaannya atau pengalaman
kerjanya (Setiawan dan Ghozali, 2006:159).
2. Suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang
merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya (Robbins &
Judge, 2008:107).
3. Keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka.
Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya (Handoko, 2001:193).
4. Hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan
mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans, 2006:243).
Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Banyak
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
kepuasan
kerja
karyawan.Faktor-faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan
kepada karyawan bergantung pada pribadi masing-masing karyawan (Sutrisno,
2009:82).
Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada pada
diri pegawai dan faktor pekerjaannya (Mangkunegara, 2009:120).
1. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecerdasan khusus, umur, jenis
kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja,
kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, dan sikap kerja.
2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
(golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan
promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.
~ 108 ~
Indikator Kepuasan Kerja
Luthans (2006:243); Robbins dan Judge (2008:108);mengungkapkan
bahwa terdapat lima indikator kepuasan kerja,yaitu:
1. Pembayaran (Pay)
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat di mana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
organisasi. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah bagi setiap pegawai
dimana para pegawai mengharapkan pembayaran yang diterima sesuai
dengan beban kerja yang mereka dapatkan. Selain itu para pegawai
membandingkan apakah dengan beban kerja yang sama, para pegawai
tersebut mendapatkan gaji yang sama atau berbeda. Hal ini mempengaruhi
kepuasan yang mereka rasakan.
2. Pekerjaan (Job)
Pekerjaan yang diberikan dianggap menarik, memberikan kesempatan untuk
pembelajaran bagi pegawai serta kesempatan untuk menerima tanggung
jawab atas pekerjaan. Pegawai akan merasa senang dan tertantang bila
diberikan pekerjaan yang dapat membuat mereka mengerahkan semua
kemampuannya. Sementara apabila beban dan tantangan pekerjaan yang
diberikan jauh dibawah kemampuan yang mereka miliki, para pegawai
cenderung merasa bosan.Akan tetapi apabila diberikan beban kerja dan
tanggung jawab lebih besar, kemungkinan timbul rasa frustrasi sebagai akibat
dari kegagalan pegawai dalam memenuhi tuntutan kerja yang telah diberikan
oleh organisasi.
3. Kesempatan promosi (Promotion opportunities)
Adanya kesempatan bagi pegawai untuk maju dan berkembang dalam
organisasi, misalnya: kesempatan untuk mendapatkan promosi, penghargaan,
kenaikan pangkat serta pengembangan individu. Hal ini terkait dengan
pengembangan diri setiap pegawai. Pegawai memiliki keinginan untuk terus
maju dan berkembang sebagai bentuk aktualisasi diri sehingga pegawai akan
~ 109 ~
merasa puas apabila organisasi memberikan kesempatan untuk berkembang
dan mendapatkan promosi ke jenjang yang lebih tinggi.
4. Atasan (Supervisor)
Kemampuan atasan untuk menunjukkan minat dan perhatian tentang pegawai,
memberikan bantuan teknis, serta peran atasan dalam memperlakukan
pegawai mempengaruhi perilaku pegawai dalam pekerjaannya seharihari.Selain itu atasan dituntut memiliki kemampuan dalam melakukan
pengambilan keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung
berdampak kepada para bawahannya.
5. Rekan kerja (Co-workers)
Sejauh mana rekan kerja pandai secara teknis, bersahabat, dan saling
mendukung dalam lingkungan kerja.Peranan rekan kerja dalam interaksi yang
terjalin diantara pegawai mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan
pegawai.Perselisihan yang timbul diantara sesama pegawai meskipun bersifat
sepele dapat mempengaruhi perilaku pegawai dalam pekerjaannya seharihari. Dalam mengukur kepuasan kerja, salah satu alat ukur yang digunakan
adalah dengan menggunakan Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ)
yang dikembangkan oleh Weiss et al. (1967) dalam Sopiah (2008) dan dalam
Nguni (2005). MSQ short form ini terdiri dari beberapa pertanyaan yang
digunakan untuk mengukur komponen-komponen dalam kepuasan kerja.
Aspek-aspek yang diukur dalam MSQ short form dapat dinilai dalam
beberapa
bagian
komponen
sehingga
dapat
memberikan
gambaran
komponen-komponen mana yang mengalami kepuasan dan ketidakpuasan.
1.1 Kepuasan Kerja
1.1.1 Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan merupakan hal yang relatif.Beberapa orang merasakan kepuasan
ketika
dapat
melakukan
pekerjaan
yang
sesuai
dengan
minat
dan
kemampuannya.Sedangkan beberapa orang yang lainnya merasakan kepuasan
ketika hasil kerja dan usahanya mendapatkan reward yang setimpal. Kepuasan
~ 110 ~
adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil)
yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.Jadi tingkat kepuasan adalah
fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Locke dalam Luthans (2005 : 243) memberikan definisi komprehensif dari
kepuasan kerja yang meliputi reaksi atau sikap kognitif, afektif, dan evaluatif dan
menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi
positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.
Kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik
pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans, 2005 : 243).
Menurut Robbins (2008) istilah kepuasan kerja merujuk kepada sikap
umum seorang individu terhadap pekerjaan yang dilakukannya.Seseorang dengan
tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap kerja itu,
sedangkan seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap
yang negatif terhadap pekerjaan itu.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja
adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong seorang karyawan
yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya.Perasaan
yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti pekerjaan itu
sendiri, upah atau gaji yang diterima, kesempatan promosi atau pengembangan
karir, hubungan dengan rekan kerja, penempatan kerja, pengawasan yang
diterapkan.
1.1.2 Indikator Kepuasaan Kerja
Menurut Luthans (2006) terdapat lima dimensi kepuasan kerja yang dapat
merepresentasikan respons kepuasan kerja karyawan, diantaranya yaitu:
1. Pembayaran gaji atau upah
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
~ 111 ~
organisasi. Pegawai menginginkan sistem upah yang dipersepsikan adil,
tidak meragukan dan segaris dengan harapannya.
2. Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal dimana pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan
untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab.Pegawai
cenderung lebih menyukai pekerjaan yang memberi kesempatan untuk
menggunakan kemampuan dan ketrampilan, kebebasan serta umpan
balik.Karakteristik ini membuat kerja lebih menantang. Pekerjaan yang
kurang menantang akan menciptakan kebosanan. Namun pekerjaan yang
terlalu menantang dapat menyebabkan frustasi dan perasaan gagal.
3. Rekan kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara
sosial. Bagi kebanyakan pegawai, kerja merupakan salah satu cara untuk
memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Oleh karena itu mempunyai rekan
kerja yang menyenangkan dapat meningkatkan kepuasan kerja.
4. Kesempatan promosi
Pada saat dipromosikan pegawai pada umumnya menghadapi peningkatan
tuntutan keahlian, kemampuan serta tanggungjawab.Sebagian besar
pegawai merasa positif jika dipromosikan.Dengan promosi
memungkinkan organisasi untuk mendayagunakan kemampuan dan
keahlian pegawai setinggi mungkin.
5. Pengawasan (Supervisi)
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan
perilaku.Supervisi mempunyai peran yang penting dalam suatu organisasi
karena berhubungan dengan pegawai secara langsung dan mempengaruhi
pegawai dalam melakukan pekerjaannya. Pada umumnya pegawai lebih
suka mempunyai supervisi yang adil, terbuka dan mau bekerja sama
dengan bawahan
~ 112 ~
1.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada dasarnya dapat
menjadi dua bagian.Pertama, faktor intrinsik atau faktor yang brasal dari dalam
diri karyawan itu sendiri seperti harapan dan kebutuhan individu tersebut. Kedua,
faktor ekstrinsik, yaitu faktor yang berasal dari luar diri karyawan antara lain
kebijakan perusahaan, kondisi fisik lingkungan kerja, interaksi dengan karyawan
lain, sistem penggajian dan sebagainya.
Menurut Luthans (2006), Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja akan
dapat diketahui dengan melihat beberapa hal yang dapat menimbulkan dan
mendorong kepuasan kerja yaitu:
1. Faktor
Psikologis,
merupakan
faktor
yang
berhubungan
dengan
kejiwaankaryawan yang meliputi minat, ketentraman dalam bekerja, sikap
terhadapkerja, bakat dan keterampilan.
2. Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi
sosialbaik sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang
berbeda jenispekerjaannya.
3. Faktor Fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi
fisiklingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan,
pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan
ruangan,suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan,
umur dansebagainya.
4. Faktor Finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan
sertakesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji,
jaminansosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi
dansebagainya
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi kepuasan kerja dibedakan menjadi 2
kelompok yaitu:
1. Faktor instrinsik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri karyawan dan
dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja ditempat bekerjanya
~ 113 ~
2. Faktor ekstrinsik, yaitu menyangkut hal – hal yang berasal dari luar diri
karyawan seperti kondisi lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan
lain, sistem penggajian dan lain-lain
Banyak teori yang menjelaskan mengenai kepuasan kerja antara lain teori M-H
(Motivator-Hygiene) yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg. Teori ini
berorientasi pada kepuasan kerja, tetapi beberapa penelitian menunjukkan
hubungan yang positif antara kepuasan kerja dan turn over SDM, kepuasan kerja
dan komitmen.
Jadi intinya , teori M-H kurang sependapat dengan pemberian balas jasa yang
tinggi karena balas jasa yang tinggi hanya mampu menghilangkan keidakpuasan
kerja dan tidak mampu mendatangkan kepuasan kerja, artinya balas jasa hanya
merupakan faktor hygiene (H) bukan motivator (M). Sehingga untuk
mendatangkan kepuasan kerja, Herzberg menyarankan agar perusahaan
melakukan job enrichment yaitu upaya- upaya menciptakan pekerjaan dengan
tantangan, tanggung jawab dan otonomi yang besar (Rivai, 623)
Indikator kepuasan kerja
Secara teoritis, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah
gaya kepemimpinan, produktifitas kerja, perilaku, locus of control, pemenuhan
harapan penggajian dan efektifitas kerja.
Sedangkan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan kerja
seorang karyawan adalah:
1. Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol
terhadap pekerjaan
2. Supervisi
3. Organisasi dan manajemen
4. Kesempatan untuk maju
5. Gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti insentif
6. Rekan kerja
7. Kondisi pekerjaan
~ 114 ~
Sedangkan menurut Job Description Index (JDI) faktor penyebab kepuasan kerja
adalah:
1. Bekerja pada tempat yang tepat
2. Pembayaran yang sesuai
3. Organisasi dan manajemen
4. Supervisi pada pekerjaan yang tepat
5. Orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat
Salah satu cara untuk menentukan apakah pekerja puas dengan
pekerjaannya ialah dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa
pekerjaan ideal tertentu (teori kesenjangan)
(Rivai, 623)
Kepustakaan
Rivai , Veithzal dkk,2014,
Manajemen Sumberdaya Manusia untuk
perusahaan dari Teori ke Praktek, Rajawali Pers, Edisi Ketiga
Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi
kepuasan hidup, karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan di tempat kerja.
Berikut ini beberapa pengertian kepuasan kerja yang diambil dari beberapa
sumber:
1. Kondisi menyenangkan atau secara emosional positif yang berasal dari
penilaian seseorang atas pekerjaannya atau pengalaman kerjanya
(Setiawan dan Ghozali, 2006:159).
2
Suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan
hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya (Robbins & Judge,
2008:107).
3
Keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan
kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya
(Handoko, 2001:193).
~ 115 ~
4
Hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan
mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans, 2006:243).
2.4.2. Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Banyak
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
kepuasan
kerja
karyawan.Faktor-faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan
kepada karyawan bergantung pada pribadi masing-masing karyawan (Sutrisno,
2009:82).
Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada
pada diri pegawai dan faktor pekerjaannya (Mangkunegara, 2009:120).
1. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecerdasan khusus, umur,
jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
kerja, kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, dan sikap kerja.
2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi,
pangkat (golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan
finansial, kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan
hubungan kerja.
2.4.3. Indikator Kepuasan Kerja
Luthans (2006:243); Robbins dan Judge (2008:108);mengungkapkan
bahwa terdapat lima indikator kepuasan kerja,yaitu:
1. Pembayaran (Pay)
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat di mana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
organisasi. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah bagi setiap pegawai
dimana para pegawai mengharapkan pembayaran yang diterima sesuai
dengan beban kerja yang mereka dapatkan. Selain itu para pegawai
membandingkan apakah dengan beban kerja yang sama, para pegawai
tersebut mendapatkan gaji yang sama atau berbeda. Hal ini mempengaruhi
kepuasan yang mereka rasakan.
~ 116 ~
1. Pekerjaan (Job)
Pekerjaan yang diberikan dianggap menarik, memberikan kesempatan
untuk pembelajaran bagi pegawai serta kesempatan untuk menerima
tanggung jawab atas pekerjaan. Pegawai akan merasa senang dan
tertantang bila diberikan pekerjaan yang dapat membuat mereka
mengerahkan semua kemampuannya. Sementara apabila beban dan
tantangan pekerjaan yang diberikan jauh dibawah kemampuan yang
mereka miliki, para pegawai cenderung merasa bosan.Akan tetapi apabila
diberikan beban kerja dan tanggung jawab lebih besar, kemungkinan
timbul rasa frustrasi sebagai akibat dari kegagalan pegawai dalam
memenuhi tuntutan kerja yang telah diberikan oleh organisasi.
2. Kesempatan promosi (Promotion opportunities)
Adanya kesempatan bagi pegawai untuk maju dan berkembang dalam
organisasi,
misalnya:
kesempatan
untuk
mendapatkan
promosi,
penghargaan, kenaikan pangkat serta pengembangan individu. Hal ini
terkait dengan pengembangan diri setiap pegawai. Pegawai memiliki
keinginan untuk terus maju dan berkembang sebagai bentuk aktualisasi
diri sehingga pegawai akan merasa puas apabila organisasi memberikan
kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi ke jenjang yang
lebih tinggi.
3. Atasan (Supervisor)
Kemampuan atasan untuk menunjukkan minat dan perhatian tentang
pegawai, memberikan bantuan teknis, serta peran atasan dalam
memperlakukan
pegawai
mempengaruhi
perilaku
pegawai
dalam
pekerjaannya sehari-hari.Selain itu atasan dituntut memiliki kemampuan
dalam melakukan pengambilan keputusan yang secara langsung maupun
tidak langsung berdampak kepada para bawahannya.
4. Rekan kerja (Co-workers)
Sejauh mana rekan kerja pandai secara teknis, bersahabat, dan saling
mendukung dalam lingkungan kerja.Peranan rekan kerja dalam interaksi
~ 117 ~
yang terjalin diantara pegawai mempengaruhi tingkat kepuasan yang
dirasakan pegawai.Perselisihan yang timbul diantara sesama pegawai
meskipun bersifat sepele dapat mempengaruhi perilaku pegawai dalam
pekerjaannya sehari-hari. Dalam mengukur kepuasan kerja, salah satu alat
ukur yang digunakan adalah dengan menggunakan Minnesota Satisfaction
Questionnaire (MSQ) yang dikembangkan oleh Weiss et al. (1967) dalam
Sopiah (2008) dan dalam Nguni (2005). MSQ short form ini terdiri dari
beberapa pertanyaan yang digunakan untuk mengukur komponenkomponen dalam kepuasan kerja. Aspek-aspek yang diukur dalam MSQ
short form dapat dinilai dalam beberapa bagian komponen sehingga dapat
memberikan gambaran komponen-komponen mana yang mengalami
kepuasan dan ketidakpuasan.
Kepuasan kerjs merupakan sikap (positif) tenaga kerja terhadap pekerjaannya,
yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja. Penilaian tersebut dapat
dilakukan terhadap salah satu pekerjaannya. Penilaian dilakukan sebagai rasa
menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting dalam pekerjaan.
Karyawan yang puas lebih menyukai situasi kerjanya dari pada karyawan yang
tidak puas, yang tidak menyukai situasi kerjanya (Umam 2010 ; 192).
Menurut Robbins ( 2008 ; 99) istilah kepuasan kerja (Job Satisfaction) dapat
didefinisakan sebagai suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang
merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya. Seseorang dengan tingkat
kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan – perasaan positif tentang pekerjaan
tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki perasaan – perasaan yang
negatif tentang pekerjaan tersebut. Ketika individu membicarakan sikap karyawan
yang sering dimaksudkan adalah kepuasan kerja.
Secara umum diketahui bahwa kepuasan kerja merupakan faktor yang
berkontribusi terhadap fisik dan mental kesejahteraan pegawi. Karena itu, ia
memiliki pengaruh yang signifikan pada pekerjaan yang berhubungan dengan
perilaku seperti produktivitas, absensi, tingkat turnover dan hubungan karyawan
(Luthans 2006 ; 243). Definisi yang paling populer dan dikenal dari kepuasan
~ 118 ~
kerja yang diberikan oleh Locke (Luthans 2006 ; 243) adalah keadaan emosi
positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.
Definisi ini terdiri dari dua hal yaitu kognitif (penilaian terhadap pekerjaan
seseorang) yaitu seseorang menyimpulkan sesuatu berdasarkan hasil dari
pengalaman dan informasi yang didapatkan, dan afektif (keadaan emosi), afektif
dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu suasana emosional dan skema kognitif. Suasana
emosional keadaan dimana seseorang sangat dipengaruhi oleh suasana hati atau
perasaan pada saat itu, sedangkan skema kognitif menunjukkan sejauh mana
individu merasa positif atau negatif tentang pekerjaan mereka.
Namun, menurut Veithzal Rivai (2011 ; 856), kepuasan kerja pada dasarnya
bersifat individual. Setiap individu mempunyai tingkat kepuasan yang berbedabeda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dalam dirinya. Makin tinggi
penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka
makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Dengan kata lain, kepuasan
merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya
senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja.
Dari uraian pendapat para ahli tersebut kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya.
dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau
tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan
maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan
melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karier,
hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi.
Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa
umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan.
2.1.2 Dimensi dan faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
Luthans (2006 ; 243) membagi dimensi-dimensi pekerjaan yang berhubungan
dengan kepuasan kerja yaitu :
1. Pekerjaan itu sendiri
~ 119 ~
Dalam hal dimana pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan
untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab.
2. Gaji
Sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang
sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam
organisasi.
3. Kesempatan promosi
Kesempatan untuk maju dalam organisasi.
4. Pengawasan
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan
perilaku.
5. Rekan kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara
sosial.
Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Luthans (2006 ; 244) yaitu :
1. Pekerjaan itu sendiri
2. Gaji
3. Promosi
4. Pengawasan
5. Kelompok kerja
6. Kondisi kerja
Sedangkan menurut Robbins (2008 ; 119) ada empat faktor yang kondusif
bagi tingkat kepuasan kerja karyawan yang tinggi, yaitu :
1. Pekerjaan yang secara mental menantang
Orang lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka peluang
untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dalam
menyelesaikan tugas-tugas yang beragam. Tingkat kesulitan dalam
menyelesaikan tugas dan beragamnya jenis tugas membuat karyawan
secara mental tertantang untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
~ 120 ~
2. Imbalan yang wajar
Karyawan menginginkan sistem penggajian yang mereka anggap tidak
ambigu, dan sejalan dengan harapan mereka. Bila pembayaran itu
kelihatan
adil
berdasarkan
pada
permintaan
pekerjaan,
tingkat
keterampilan individu, dan standar pembayaran masyarakat, kepuasan
mungkin dihasilkan.
3.
Kondisi lingkungan kerja yang mendukung
Karyawan merasa prihatin dengan kondisi lingkungan kerja mereka jika
menyangkut masalah kenyamanan pribadi maupun masalah kemudahan
untuk dapat bekerja dengan baik. Banyak studi yang menunjukkan bahwa
para karyawan lebih menyukai lingkungan yang aman dan nyaman. Selain
itu kebanyakan karyawan lebih suka bekerja tidak jauh dari rumah, dalam
fasilitas bersih dan relatif modern dengan peralatan dan perlengkapan yang
memadai.
4. Rekan kerja yang suportif
Dari bekerja orang mendapatkan lebih dari sekedar uang atau prestasiprestasi yang berwujud. Bagi sebagian karyawan kerja juga dapat mengisi
kebutuhan akan interaksi sosial. Oleh karena itu, tidak heran jika seorang
karyawan memiliki rekan kerja yang suportif dan bersahabat dapat
meningkatkan kepuasan kerja mereka.
Dalam Rivai (2011 ; 860) indikator kepuasan kerja seorang karyawan terdiri dari :
1. Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang actual dan sebagai control
terhadap pekerjaan.
2. Supervise.
3. Organisasi dan manajemen
4. Kesempatan untuk maju,
5. Gaji dan keuntungan dalam bidang financial lainnya seperti adanya insentif,
6. Rekan kerja
7 . Kondisi pekerjaan.
~ 121 ~
Menurut Job Descriptive Index (JDI) dalam Rivai (2011 ; 860 ) faktor
penyebab kepuasan kerja ialah :
1. bekerja pada tempat yang tepat,
2. pembayaran yang sesuai,
3. organisasi dan manajemen,
4. supervisi pada pekerjaan yang tepat,
5. orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat.
Salah satu cara untuk menentukan apakah pekerja puas dengan pekerjaannya ialah
dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa pekerjaan ideal
tertentu (teori kesenjangan).
Setiap individu akan memiliki tingak kepuasan yang berbeda-beda yang ada
pada dirinya. Ini disebabkan adanya perbedaan persepsi pada masing-masing
individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan
individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya. Oleh
karena sumber kepuasan seorang karyawan secara subyektif menentukan
bagaimana pekerjaan yang dilakukan memuaskan. Meskipun untuk batasan
kepuasan kerja ini belum ada keseragaman tetapi yang jelas dapat dikatakan
bahwa tidak ada prinsip-prinsip ketetapan kepuasan kerja yang mengikat dari
padanya.
2.1.3 Bagaimana Karyawan dapat mengungkapkan ketidakpuasaan
Ketidakpuasan karyawan dapat diungkapkan dengan beberapa cara. Misalnya,
daripada berhenti, karyawan dapat mengeluh, tidak patuh, mencuri milik
perusahaan, atau mengelakan sebagian dari tanggung jawab kerja mereka. Berikut
ini adalah contoh respon yang biasa diungkapkan karyawan jika mereka merasa
tidak puas menurut Robbins (2008 ; 112) :
1. Mengundurkan diri (Resign), perilaku yang mengarah untuk meninggalkan
organisasi, mencakup pencarian suatu posisi baru maupun meminta
berhenti.
~ 122 ~
2. Suara (Voice), dengan aktif dan konstruktif mencoba memperbaiki
kondisi. Mencakup saran perbaikan, membahas problem-problem dengan
atasan, dan beberapa bentuk kegiatan serikat buruh.
3. Kesetiaan (Loyalty), pasif tetapi optimis menunggu membaiknya kondisi.
Mencakup berbicara membela organisasi menghadapi kritik luar dan
mempercayai organisasi dan manajemennya untuk melakukan hal yang
tepat.
4. Pengabaian (Neglect), secara pasif membiarkan kondisi memburuk ,
termasuk kemangkiran atau datang terlambat secara kronis, upaya yang
dikurangi, dan tingkat kekeliruan yang meningkat.
2.1.4
Indikator Kepuasan Kerja
Ada
empat
indikator
dalam
pengukuran
kepuasan
kerja
yang
dikembangkan dalam (Robbins 2008) yang akan digunakan dalam penelitian ini,
yaitu :
1. Gaji dan reward system
2. Pekerjaan itu sendiri
3. Program pengembangan SDM
4. Rekan Kerja
2.1.5 Pengukuran Kepuasan Kerja
Pengukuran kepuasan kerja dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan
yaitu kepuasan kerja dilihat sebagai konsep global kepuasan kerja dilihat sebagai
konsep permukaan dan kepuasan kerja dilihat sebagai fungsi kebutuhan yang
terpenuhkan. (Robbins 2008 ; 108) :
1. Pengukuran kepuasan kerja dilihat sebagai konsep global
Konsep ini merupakan konsep satu dimensi semacam ringkasan psikologi
dari semua aspek pekerjaan yang disukai atau tidak disukai dari suatu
jabatan. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunaan kuesioner satu
pertanyaan.
~ 123 ~
2. Pengukuran kepuasan kerja dilihat sebagai konsep permukaan
Konsep ini menggunakan konsep permukaan atau komponen yang
menganggap bahwa kepuasan karyawan dengan berbagai aspek situasi
kerja yang berbeda itu bervariasi secara bebas dan harus diukur secara
terpisah.
3. Pengukuran kepuasan kerja dilihat sebagai kebutuhan yang terpenuhi
Konsep ini merupakan suatu pendekatan terhadap pengukuran kepuasan
kerja yang tidak menggunakan asumsi bahwa semua orang memiliki
perasaan yang sama mengenai aspek tertentu dari situasi kerja.
Dalam Rivai (2011 ; 860) ada bebeapa alasan mengapa perusahaan harus benarbenar memperhatikan kepuasan kerja, yang dapat dikategorikan sesuai dengan
fokus karyawan atau perusahaan, yaitu :
1. manusia berhak diberlakukan dengan adil dan hormat, pandangan ini
menurut
perspektif
kemanusiaan.
Kepuasan
kerja
merupakan
perluasan refleksi perlakuan yang baik. Penting juga memperhatikan
indikator emosional atau kesehatan psikologis.
2. Perspektif kemanfaatan, bahwa kepuasan kerja dapat menciptakan
perilaku yang mempengaruhi fungsi-fungsi perusahaan. Perbedaan
kepuasan kerja antara unit-unit organisasi dapat mendiagnosis potensi
persoalan. Buhler (1994) menekankan pendapatnya bahwa upaya
organisasi berkelanjutan harus ditempatkan pada kepuasan kerja dan
pengaruh ekonomis terhadap perusahaan. Perusahaan yang percaya
bahwa karyawan dapat dengan mudah diganti dan tidak berinvestasi
dibidang karyawan maka akan menghadapi bahaya. Biasanya
berakibat tinggi turn over, diiringi dengan membengkaknya biaya
pelatihan, gaji akan memunculkan perilaku yang sama dikalangan
karyawan, yaitu mudah berganti-ganti perusahaan dan dengan
demikian kurang loyal.
~ 124 ~
BAB
9
REENGINERING
Pendahuluan
Reengineering
bisa
juga
diartikan sebagai
inovasi
proses atau
perencanaan visi strategi dan strategi kompetitif baru serta pengembangan proses
bisnis baru yang mendukung visi tersebut. Menurut herbkersman (1994),
reengineering adalah perubahan secara dratis bagaimana cara anggota organisasi
menyelesaikan cara kerja mereka. Pengakuan reengineering sebagai pradigma
baru adalah peran besar hamer (1990). Dalam tulisanya tersebut hamer
memperkenalkan esensi dan prinsip-prinsip reengineering antara lain adalah:
1.
Memfokuskan pada faktor-faktor sekitar hasil (outcome)bukan pada
tugas, artinya bahwa suatu perusahaan hendaknya memiliki seseorang
yang melaksanakan semua tahapan dalam suatu proses.
2.
Suatu perusahaan hendaknya membentuk depertemen-depertemen
terspesialisasi untuk menangani proses yang terspesialisasi pula.
3.
Mengelompokkan pemrosesan informasi
ke
dalam
fungsi
yang
menghasilkan informasi.
4.
Memperlakukan sumber-sumber yang terpisah seolah-olah tersentralisasi
5.
Mengkaitkan aktivitas-aktivitas parallel serta mengintegrasikan hasilhasilnya. Hal ini ditunjukan untuk meningkatkan keterkaitan antar fungsi
parallel sehingga unit-unit terpisah bisa melakukan satu fungsi.
6.
Menghubungkan aspek-aspek keputusan untuk menyelesaikan tugas dan
membangun system pengendalian dalam satu proses.
7.
Memperoleh informasi sekaligus pada sumbernya.
Dalam perkembangan selanjutnya reengineering pernah menjadi isu bisnis
yang paling popular di awal era 1990-an di Negara asalnya yaitu Amerika Serikat.
Apalagi dengan terpublikasinya karya Mischel Hamer dan james Champy (1993)
~ 125 ~
Reengineering the Corporation.karya tersebut berhasil menjadi best seller sejak
tahun 1994-1994 (Keidel,1994).Namun hamer sebagai salah satu pecentus ide
tersebut sudah sejak awal mempredikasi bahwa inisiatif reengineering akan
mengalami kegagalan sekitar 50%-70% untuk mencapai tujuannya.
Praktik-praktif reengineering dalam periode 1990-1994 bisa di sebut
sebagai reengineering gelombang pertama yang sebagian besar ditandai dengan
aplikasi proses-proses operasional sebagai waktu,biaya dan kualitas. Khoong
(1995) mengajukan metode REVISION untuk memperbaiki kegagalan-kegagalan
dengan meninggalkan masalah-masalah microscopis menuju masalah- masalah
yang lebih makro sehingga akan menghasilkan nilai-nilai organisasi yang lebih
besar. Pemikiran Khoong ini dikenal dengan metode second wave reengineering.
Berbagai resiko yang mungkin dialami oleh perusahan antara lain (Clemons
1995):
1. Resiko teknis yaitu resiko yang terjadi karena terbatasnya kapabilitas
tegnologi yang digunakan organisasi dalam proses reengineering.
2. Resiko finansial terjadi jika proyek reengineering tidakberjalan resmi
sesuai dengan rencana atau jika tidak selesai tepat pada waktunya dan
tidak sesuai dengan biaya yang dianggarkan.
3. Resiko politis yang terjadinya resistance to change terhadap proyekproyek reengeneering.
4. Resiko fungsional merupakan kesalahan disainer sistem dalam memahami
kebutuhan organisasi dan kurangnya keterampilan dan pengetahuan
pelaksana sehingga mengakibatkan kepabilitas sistem yang dirancang
tidak tepat.
5. Resiko proyek adalah resiko yang bisa terjadi jika personel pemroses data
tidak memahami dan tidakfamiliar terhadap teknologi baru sehingga
menimbulkanmasalah-masalah yang kompleks
SDM dan Sistem Informasi:Faktor Penyebab Kegagalan
~ 126 ~
Pada bagian sebelumnya telah dikemukakan bahwa banyak perusahaan
mengalami kegagalan setelah melakukan reengineering. Terdapat empat factor
utama penyebab kegagalan reengineering antara lain:
1. Menolak untuk berubah
Resistence to change merupakan masalah utama reengineering yang bisa
terjadi karena reengineering tidak hanya terkait dengan teknologi tetapi
juga berpengaruh perilaku, nilai-nilai,dan budaya organisasi terlebih jika
di lakukan righitszing (Reger,1994). Di samping itu resistance to change
juga di picu olehtidak adanya visi, dan lingkungan operasi, dan lingkungan
bisnis radikal.Reengineering tidak cukup hanya semata-mata mengubah
proses
tetapi
yang
lebih
penting
adalah
mengubah
manajemen,mamperdayakan SDM,memupuk kreativitas serta human
skill.untuk mewujudkan semua ini perusahaan dituntut untuk memberikan
pendekatan tentang konsep dan teknik reengineering,mengkomunikasikan
visi dan misi, mengartikulasikan situasi kompetitif perusahan serta
menanamkan pemahaman yang mendalam tentang budaya, nilai-nilai
organisasi, dan masalah-masalah organisasional.Grover, dkk. (1995)
memiliki argument bahwa terjadinya resistance to change perlu
didentifikasi penyebab utamanya, apakah disebabkan oleh SDM,sistem
atau interaksinya berbagai pihak sehingga bisa dilakukan tindakantindakan yang tepat.sedangkan Hall (1993) memberikan saran untuk
mengatasi resistance to change dengan komunikasi secara terbuka dengan
mengintensifkan interaksidan kerjasama antara pihak manajemen dan
pihak karyawan.
2. Kurangnya
Commitmen)
Komitmen
Manajemen
(Lack
Of
Management
Komitmen manajemen sangat di perlukan dalam
melakukan reengineering.Reengineering akan menghadapi kemungkinan
kegagalan yang sangat besar tanpa adanya komitmen penuh pucuk
pimpinan dalam arti mereka harus memahami bagaimana peran pimpinan
dalam suatu organisasi yang sedang mengalami perubahan radikal dan
~ 127 ~
membangun konsensus semua jenjang hirarki (Hall,dkk.1993). Hal ini
perlu dilakukan karena
fenomena menunjukan bahwa
seringkali
perusahaan dalam melakukan reengineering menyerahkan sepenuhnya
kepada konsultan. Hall,dkk. (1993),dengan berdasarkan pada penelitian
proyek reengineering menuntut komitmen jajaran manajemen untuk
menginvestasikan waktunya sekitar 20% sampai 50% pada tahap
pelaksanaan. Di samping itu juga mengevaluasikan tingkat efisiensi (cara
kerja
yang
lebih
cepat
dengan
tingkat
biaya
yang
lebih
rendah),Keefektifan (melakukan pekerjaan dengan lebih baik dan
kemampuan menghasilkan kualitas kerja yang lebih tinggi) dan
transformasi( perubahan cara mendasar pada cara kerja orang-orang
maupun depertemen maupun perubahan sifat bisnis itu sendiri) baik pada
masing masing jenjang fungsional,maupun pada organisasi secara
keseluruhan.
3. Sistem Informasi yang Kurang Memadai
Martinez (1995) mengemukakan bahwa sebagian besar perusahaan yang
gagal dalam proyek reengineering disebabkan oleh adanya sistem
informasi yang kurang memadai dan tidak menepatkan sistem informasi
sebagai mitra kerja yang benar. Berdasarkan studi empiris yang dilakukan
oleh
Moad
(1993)terhadap
CEO
menunjukan
bahwa
kegagalan
reenginering disebabkan oleh kurangnya dukungan manajemen dan sistem
informasi yang memadai. Pendapat ini didukung pula oleh Davenport dan
Staddart(1994). Kedudukan sistem informasi dalam proyek reengineering
bisa berperan sebagai mitra kerja atau sebagai pendukung.
4. Kurangnya Keluasan dan Kedalaman Analisis faktor-faktor kritis
Reengineering
Kurangnya keluasan dan kedangkalan dalam mengidentifikasi faktorfaktor kritis reengineering menyebabkan kegagalan dalam proyek
reengineering. Yang dimaksud keluasan meliputi aktivitas-aktivitas yang
perlu dilakukan manajer untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang
~ 128 ~
akan dan sedang didisain kembali untuk menciptakan nilai dalam unit
bisnis dan organisasi secara keseluruhaan sedangkan kedalam menyangkut
identifikasi
seberapa
besar
unsur-unsur
peran,
tanggung
jawab,
pengukuran dan intensif, struktur organisasi, teknologi informasi, nilai
nilai bersama, dan skill keberahasilan reengineering.
Transformasi Perusahaan dan Fungsi SDM
Transformasi fungsi SDM dilakukan tidak hanya pada perubahan fungsi
SDM melainkan juga transformasi dalam hal peran SDM dalam proses
transformasi (Walker,1998). Dalam menjalankan fungsi,peran dan tanggung
jawabnya, SDM dapat menggunakan sistem informasi yang berbasis tegnologi
untuk mengolah berbagai informasi yang menunjang pelaksanaan proses
transformasi.
Pelaksanaan transformasi perusahaan maupun fungsi SDM dihadapkan
pada kenyataan adanya empat batasan organisasional antara lain vertical (antara
berbagai tingkatan dan jabatan), horizontal (antara berbagai fungsi dan disiplin),
eksternal (antara organisasi dan supplier,konsumen pengatur), dan geografis
(antara Negara ,budaya dan pasar).
Aplikasi organisasi tanpa batas adalah virtual workplace dimana aturanaturan yang berkaitan dengan keanggotaan,identitas bagian dan tanggung jawab
pekerjaan kurang jelas. Virtual workplance mewakili perubahan yang dramatis
dalam pelaksanaan pekerjaan dan menunjukan dua tantangan baru bagi manajer
yaitu adanya transisi dan activity based menjadi result based, mengatasi
ketidakpastian apakah manajer akan tetap di hargai oleh perusahaanya jika mereka
mengelola karyawan yangsecara fisik tidak ada ditempat (Nelson)
Usaha untuk mendukung proses transformasi organisasi bisa dilakukan
melalui proses reengineering, yaitu mendesain ulang proses bisnis untuk
mencapai perbaikan dalam kinerja seperti biaya, kualitas, servis dan kecepatan
(Dessler,2000)
Leonard menyatakan usaha reengineering dikatakan gagal jika terjadi:
~ 129 ~
a. Kegagalan untuk mengartikan visi perusahaan pada masa yang akan
datang kedalam suatu budaya yang tepat dan perilaku yang di harapkan
yang dapat disampaikan pada seluruh karyawan.
b. Kurangnya perhatian yang mendukung sistem SDM yang dapat
mendukung tujuan dan perilaku yang dibutuhkan.
c. Kurang berfokus pada proses pengembangan untuk membantu individu
menghilangkan gap antara tingkat tertentu dan yang diperlukanoleh visi
reengineering
d. arti/maksud yang tidak sistematik bagi pemimpin atau karyawan untuk
menentukan praktek tertentu,keahlian,pengetahuan,yang diperlukan untuk
mencapai visi
Berbagai upaya dan pendekatan dapat dilakukan untuk melaksanakan
proses transformasi perusahaan.tetapi kunci keberhasilan proses transformasi tetap
terletak pada SDM yang terlibat dan fleksibilitas organisasi. SDM yang
diperlukan untuk mendukung proses transformasi dan menciptakan fleksibilitas
perusahaan melalui boundaryless organization haruslah KSA-based worker yaitu
SDM yang memiliki knowledge,skill, dan ability dalam merespon perkembngan
yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi maupun tegnologi
informasi yang makin pesat.dilain pihak tidak menutup kemungkinan bahwa ada
anggota/sdm
yang
menolak
untuk
melakukan
transformasi
melakukan
transformasi organisasi karena alasan tertentu.
Salah satu cara efektif untuk melaksanakan proses perubahan budaya
adalah merubah kebiasaan dan nilai individu yang sudah menjadi suatu budaya
dalam organisasi dengan cara merubah perilaku individu. Oleh karena itu, manajer
harus mampu mempengaruhi dan memotivasi anggotanya untuk mau berubah
perilaku dan menerima transformasi perusahaan yang akan dijalankan agar
transformasi dapat berjalan lebih baik.
Melalui intervensi tersebut,manajer dapat melakukan seleksi terhadap
anggota dan mensosialisasikan atau mengajarkan budaya organisasi terhadap
anggota baru dan mempertahankan anggota lama yang sesuai dengan budaya baru,
~ 130 ~
Selain mengorganisasi perubahan budaya yang berperan penting sebagai
motivator dalam proses perubahan organisasi,bahkan manajer dan komitmennya
untuk melakukan perubahan dianggap sebagai kunci keberhasilan pelaksanaan
program perubahan (Almaraz,1994).
Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam penetapan strategi ini
meliputi.aspek individu, sistem dan struktur. Aspek individu, mempertimbangkan
bagaimana kemampuan para manejer bagian, bagaimana kecocokan gaya
kepemimpinan manajer sebelumnya dengan sekarang, dan bagaimana budaya
organisasi yang ada. Aspek sistem,perlu dipertimbangkan sistem apakah yang
diperlukan telah ada, bagaimana kegiatan operasional, pemeliharaan sumber daya
manusia, sistem penghargaan,dan komunikasi yang diperlakukan dalam
organisasi. Struktur yaitu bagaimana struktur fungsional, divisional, atau unit
bisnis saat ini, bagaimana rentang kendali,tingkat hierarki, tanggung jawab, dan
derajat spesialisasi,dan apakah struktur yang berlaku telah berjalan.
Oleh karena itu perlu pengelolahan SDM secara efektif. Pfheffer (1995)
menyebutkan praktik-praktik pengelolahan SDM meliputi keselamatan pekerja
(employment security),
perekrutan karyawan secara selektif (selective in
recruiting), upah yang tinggi (high wagws), pemberian insentif (participation and
empowerment), pengelolahan tim secara mandiri (self managed team), Cross
utilization and training, simbol kesamaan derajat antar sesame tenaga kerja
(symbolic egalitarian), tekanan/ kompresi upah (wage comperassion) untuk
mengurangi kompetisi interpersonal dan meningkatkan efisiensi melalui
kerjasama, dan promosi dari dalam perusahaan (promotion from within).
~ 131 ~
Download