Uploaded by User42167

tugas kel 5 kesmas raedy

advertisement
KESEHATAN MASYARAKAT
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas kelompok 1 Kesehatan Masyarakat
Dosen Pembimbing :
dr. Andi Julia Rifiana M.Kes
Disusun oleh :
1. Mega Rosnawati
2. Vina Agustina Pratiwi
3. Nurabia Tuasikal
4. Dian Irawati
5. Wiji Sumarni
6. Cut Eva S
(NPM. 173112540120616)
(NPM. 173112540120715)
(NPM. 173112540120815)
(NPM. 173112540120817)
(NPM. 173112540120816)
(NPM. 173112540120319)
NASIONAL UNIVERSITY
Sawo Manila St, West Pejaten, Pasar Minggu,RT.14/RW.3, RT.14/RW.3, Ps. Minggu,
South Jakarta, 12520
(021) 7806700
KATA PENGANTAR
1
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan
Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan
aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena hanya dengan
kerido’an-Nya Makalah dengan judul “ KONSEP PEMBERDAYAN DAN DESA SIAGA” ini dapat
terselesaikan.
Penulis menyadari dari kekurangan-kekurangan yang perlu penulis ketahui, untuk itu
sangat membutuhkan kritik, saran maupun masukan untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
yang membutuhkan.
Bandung, Maret 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Pemberdayaan ................................................................................................. 3
2.1.1 Pengertian ............................................................................................................. 3
2.1.2 Ciri Pemberdayaan Masyarakat ........................................................................... 3
2.1.3 Tujuan Pemberdayaan Masyarakat ..................................................................... 4
2.1.4 Prinsip Pemberdayaan Masyarakat ...................................................................... 5
2.1.5 Peran Petugas Kesehatan ...................................................................................... 7
2.1.6 Indikator Hasil Pemberdayaan Masyarakat ......................................................... 7
2.1.7 Sasaran ................................................................................................................. 8
2.2 Desa Siaga .................................................................................................................... 8
2.2.1 Pengertian ............................................................................................................. 8
2.2.2 Tujuan .................................................................................................................. 8
2.2.3 Kriteria Desa Siaga .............................................................................................. 9
2.2.4 Pengembangan Desa Siaga .................................................................................. 9
2.2.5 Kegiatan Desa Siaga ............................................................................................ 12
2.2.6 Pembinaan Desa Siaga ......................................................................................... 14
2.2.7 Hambatan dan Solusi Menjalankan Program Desa Siaga .................................... 15
2.2.8 Indikator Keberhasilan Desa Siaga ...................................................................... 16
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan ...................................................................................................................... 18
3.2 Saran ............................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perhatian terhadap permaslah kesehatan terus dilakukan terutama dalam perubahan
paradigma sakit yang selama ini dianut masyarakat ke paradigma sehat. Paradigma
sakit merupakan upaya untuk membuat orang sakit menjadi sehat, menekankan pada
kuratif dan rehabilitatif, sedangkan paradigma sehat merupakan upaya membuat orang
sehat tetap sehat, menekan pada pelayanan promotif dan preventif. Berubahnya
paradigma masyarakat akan kesehatan, juga akan merubah pemeran dalam pencapaian
kesehatan masyarakat, dengan tidak mengesampingkan peran pemerintah dan petugas
kesehatan. Perubahan paradigma dapat menjadikan masyarakat sebagai pemeran utama
dalam
pencapaian
derajat
kesehatan.
Dengan
peruahan paradigma
sakit menjadi paradigma sehat ini dapat membuat masyarakat menjadi mandiri dalam
mengusahakan dan menjalankan upaya kesehatannya, hal ini sesuai dengan visi
Indonesia sehat, yaitu “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”.
Pemberdayaan masyarakat terhadap usaha kesehatan agar menadi sehat sudah sesuai
dengan Undang – undang RI, Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, bahwa
pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai investasi bagi
pembangunan sumber daya masyarakat. Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan,
mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya.
Pemerintah bertanggungjawab memberdayakan dan mendorong peran serta aktif
masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan.
Dalam rangka pencapaian kemandirian kesehatan, pemberdayaan masayrakat
merupakan unsur penting yang tidak bisa diabaikan. Pemberdayaan kesehatan di bidang
kesehatan merupakan sasaran utama dari promosi kesehatan. Masyarakat merupakan
salah satu dari strategi global promosi kesehatanpemberdayaan (empowerment) sehingga
pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai
primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan.
Pengertian Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali,
mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri.
Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau proses untuk
menumbuhkan
kesadaran
kemauan
dan
kemampuan
dalam
memelihara
dan
meningkatkan kesehatan. Memampukan masyarakat, “dari, oleh, dan untuk” masyarakat
itu sendiri. Dalam melakukan pemberdayaan masyarakat maka dibentuk Desa Siaga.
Desa siaga merupakan strategi baru pembangunan kesehatan. Desa siaga lahir
sebagai respon pemerintah terhadap masalah kesehatan di Indonesia yang tak kunjung
selesai. Tingginya angka kematian ibu dan bayi, munculnya kembali berbagai penyakit
lama seperti tuberkulosis paru, merebaknya berbagai penyakit baru yang bersifat
pandemik seperti SARS, HIV/AIDS dan flu burung serta belum hilangnya penyakit
endemis seperti diare dan demam berdarah merupakan masalah utama kesehatan di
Indonesia. Bencana alam yang sering menimpa bangsa Indonesia seperti gunung meletus,
tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan kecelakaan massal menambah
kompleksitas masalah kesehatan di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan konsep pemberdayaan masyarakat ?
2. Bagaimanakah Konsep dari Desa Siaga?
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat sebagai pedoman atau acuan dalam memahami materi
mengenai pemberdayaan masyarakat dan Desa Siaga.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Permberdayaan
2.1.1 Pengertian
Pemberdayaan
masyarakat adalah
suatu
upaya
atau
proses
untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali,
mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka
sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau proses
untuk menumbuhkan kesadaran kemauan dan kemampuan dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan (Supardan, 2013).
Gerakan
pemberdayaan
masyarakat
merupakan
suatu
upaya
dalam
peningkatan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat dan
derajat kesehatannya. Peningkatan keberdayaan berarti peningkatan kemampuan
dan kemandirian masyarakat agar dapat mengembangkan diri dan memperkuat
sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kemajuan. Gerakan pemberdayaan
masyarakat juga merupakan cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan norma
yang membuat masyarakat mampu untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
Dalam arti sempit istilah pengembangan masyarakat di Indonesia sering
dipadankan dengan pembangunan masyarakat desa dengan mempertimbangkan
desa dan kelurahan berada pada tingkatan yang setara sehingga pengembangan
masyarakat (desa) kemudian menjadi dengan konsep pengembangan masyarakat
lokal (locality development). UKBM (upaya kesehatan bersumberdaya manusia)
adalah salah satu wujud nyata peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan. Kondisi ini ternyata mampu memacu munculnya berbagai bentuk
UKBM lainnya seperti Polindes, POD (pos obat desa), pos UKK (pos upaya
kesehatan kerja), TOGA (taman obat keluarga), dana sehat dan lain-lain.
2.1.2 Ciri Pemberdayaan
Suatu kegiatan atau program dapat dikategorikan ke dalam pemberdayaan
masyarakat apabila kegiatan tersebut tumbuh dari bawah dan non-instruktif serta
dapat memperkuat, meningkatkan atau mengembangkan potensi masyarakat
setempat guna mencapai tujuan yang diharapkan. Bentuk-bentuk pengembangan
potensi masyarakat tersebut bermacam-macam, antara lain sebagai berikut :
1. Tokoh atau pimpinan masyarakat (Community Leader)
Pemimpin atau tokoh masyarakat dapat bersifat format (camat, lurah,
ketua RT/RW) maupun bersifat informal (ustadz, pendeta, kepala adat). Pada
tahap awal pemberdayaan masyarakat, maka petugas atau provider kesehatan
terlebih dahulu melakukan pendekatan-pendekatan kepada para tokoh
masyarakat.
2.
Organisasi masyarakat (Community Organization)
Dalam suatu masyarakat selalu ada organisasi-organisasi kemasyarakatan
baik formal maupun informal, misalnya PKK, karang taruna, majelis taklim,
koperasi-koperasi dan sebagainya.
3.
Pendanaan masyarakat (Community Fund)
Sebagaimana uraian pada pokok bahasan dana sehat, maka secara ringkas
dapat digaris bawahi beberapa hal sebagai berikut: “Bahwa dana sehat telah
berkembang
di
Indonesia
sejak
lama(tahun
1980-an)
Pada
masa
sesudahnya(1990-an) dana sehat ini semakin meluas perkembangannya dan
oleh Depkes diperluas dengan nama program JPKM (Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan Masyarakat)
4.
Material masyarakat (Community Material)
Seperti telah diuraikan disebelumnya sumber daya alam adalah
merupakan salah satu potensi masyarakat. Masing-masing daerah mempunyai
sumber daya alam yang berbeda yang dapat dimanfaatkan untuk
pembangunan.
5. Pengetahuan masyarakat (Community Knowledge)
Semua
bentuk
penyuluhan
kepada
masyarakat
adalah
contoh
pemberdayaan masyarakat yang meningkatkan komponen pengetahuan
masyarakat.
6.
Teknologi masyarakat (community technology)
Dibeberapa komunitas telah tersedia teknologi sederhana yang dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan program kesehatan.
2.1.3 Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya atau proses untuk menumbuhkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi,
memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Batasan
pemberdayaan dalam bidang kesehatan meliputi upaya untuk menumbuhkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatan sehingga secara bertahap tujuan pemberdayaan masyarakat bertujuan
untuk :
1. Tumbuhnya kesadaran, pengetahuan dan pemahaman akan kesehatan bagi
individu, kelompok atau masyarakat. Pengetahuan dan kesadaran tentang cara –
cara memelihara dan meningkatkan. Kesadaran dan pengetahuan merupakan
tahap awal timbulnya kemampuan, karena kemampuan merupakan hasil proses
belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses yang dimulai dengan adanya
alih pengetahuan dari sumber belajar kepada subyek belajar. Oleh sebab itu
masyarakat yang mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan juga melalui
proses belajar kesehatan yang dimulai dengan diperolehnya informasi kesehatan.
Dengan informasi kesehatan menimbulkan kesadaran akan kesehatan dan
hasilnya adalah pengetahuan kesehatan.
2. Timbulnya kemauan atau kehendak ialah sebagai bentuk lanjutan dari kesadaran
dan pemahaman terhadap obyek, dalam hal ini kesehatan. Kemauan atau
kehendak merupakan kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan. Kemauan
ini kemungkinan dapat dilanjutkan ke tindakan tetapi mungkin juga tidak atau
berhenti pada kemauan saja. Berlanjut atau tidaknya kemauan menjadi tindakan
sangat tergantung dari berbagai faktor. Faktor yang paling utama yang
mendukung berlanjutnya kemauan adalah sarana atau prasarana untuk
mendukung tindakan tersebut.
3. Timbulnya kemampuan masyarakat di bidang kesehatan berarti masyarakat, baik
seara individu maupun kelompok, telah mampu mewujudkan kemauan atau niat
kesehatan mereka dalam bentuk tindakan atau perilaku sehat.
2.1.4 Prinsip Pemberdayaan Masyarakat
Prinsipnya pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkan kemampuan
masyarakat dari dalam masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat bukan
sesuatu yang ditanamkan dari luar. Pemberdayaan masyarakat adalah proses
memampukan masyarakat dari oleh dan untuk masyarakat itu sendiri, berdasarkan
kemampuan sendiri. Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan:
1. Menumbuhkembangkan potensi masyarakat.
Tinggi rendahnya potensi sumber daya manusia disuatu komunitas lebih
ditentukan oleh kualitas, bukan kuatitas sumber daya manusia. Sedangkan
potensi sumber daya alam yang ada di suatu masyarakat adalah given.
Bagaimanapun melimpahnya potensi sumber daya alam, apabila tidak
didukung dengan potensi sumber daya manusia yang memadai, maka
komunitas tersebut tetap akan tertinggal, karena tidak mampu mengelola
sumber alam yang melimpah tersebut.
2. Mengembangkan gotong royong masyarakat.
Peran petugas kesehatan atau provider dalam gotong royong masyarakat
adalah memotivasi dan memfasilitasinya, melalui pendekatan pada para tokoh
masyarakat sebagai penggerak kesehatan dalam masyarakatnya.
3.
Menggali kontribusi masyarakat.
Menggali dan mengembangkan potensi masing – masing anggota
masyarakat agar dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan terhadap
program atau kegiatan yang direncanakan bersama. Kontribusi masyarakat
merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam bentuk tenaga, pemikiran atau
ide, dana, bahan bangunan, dan fasilitas – fasilitas lain untuk menunjang usaha
kesehatan.
4. Menjalin kemitraan
Jalinan kerja antara berbagai sektor pembangunan, baik pemerintah, swasta
dan lembaga swadaya masyarakat, serta individu dalam rangka untuk mencapai
tujuan bersama yang disepakati. Membangun kemandirian atau pemberdayaan
masyarakat, kemitraan adalah sangat penting peranannya.
5.
Desentralisasi
Upaya dalam pemberdayaan masyarakat pada hakikatnya memberikan
kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengembangkan potensi daerah
atau wilayahnya. Oleh sebab itu, segala bentuk pengambilan keputusan harus
diserahkan ketingkat operasional yakni masyarakat setempat sesuai dengan
kultur masing-masing komunitas dalam pemberdayaan masyarakat, peran
sistem yang ada diatasnya adalah :
a. Memfasilitasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan atau program-program
pemberdayaan. Misalnya masyarakat ingin membangun atau pengadaan air
bersih, maka peran petugas adalah memfasilitasi pertemuan-pertemuan
anggota masyarakat, pengorganisasian masyarakat, atau memfasilitasi
pertemuan dengan pemerintah daerah setempat, dan pihak lain yang dapat
membantu dalam mewujudkan pengadaan air bersih tersebut
b. Memotivasi masyarakat untuk bekerjasama atau bergotong-royong dalam
melaksanakan kegiatan atau program bersama untuk kepentingan bersama
dalam masyarakat tersebut. Misalnya, masyarakat ingin mengadakan
fasilitas pelayanan kesehatan diwilayahnya. Agar rencana tersebut dapat
terwujud dalam bentuk kemandirian masyarakat, maka petugas provider
kesehatan berkewajiban untuk memotivasi seluruh anggota masyarakat
yang bersangkutan agar berpartisipasi dan berkontribusi terhadap program
atau upaya tersebut.
2.1.5 Peran Petugas Kesehatan
Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat adalah :
1. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program
pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat.
2. Memberikan
motivasi
kepada
masyarakat
untuk
bekerja
sama
dalam
melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi
terhadap program tersebut
3. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat
dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.
2.1.6 Indikator Hasil Pemberdayaan Masyarakat
1. Input
Input meliputi SDM, dana, bahan-bahan, dan alat-alat yang mendukung
kegiatan pemberdayaan masyarakat.
2. Proses
Proses, meliputi jumlah penyuluhan yang dilaksanakan, frekuensi pelatihan
yang dilaksanakan, jumlah tokoh masyarakat yang terlibat, dna pertemuanpertemuan yang dilaksanakan.
3. Output
Output, meliputi jumlah dan jenis usaha kesehatan yang bersumber daya
masyarakat, jumlah masyarakat yang telah meningkatkan pengetahuan dari
perilakunya tentang kesehatan, jumlah anggota keluarga yang memiliki usaha
meningkatkan pendapatan keluarga, dan meningkatnya fasilitas umum di
masyarakat.
4.
Outcome
Outcome dari pemberdayaan masyarakat mempunyai kontribusi dalam
menurunkan angka kesakitan, angka kematian, dan angka kelahiran serta
meningkatkan status gizi kesehatan.
2.1.7 Sasaran
1. Individu berpengaruh
2. Keluarga dan perpuluhan keluarga
3. Kelompok masyarakat : generasi muda, kelompok wanita, angkatan kerja
4. Organisasi masyarakat: organisasi profesi, LSM, dll
5. Masyarakat umum: desa, kota, dan pemukiman khusus.
2.2 Desa Siaga
2.2.1 Pengertian Desa Siaga
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan serta kemauan untuk untuk mencegah dan
mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawadaruratan, kesehatan secara
mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas – batas wilayah, yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan
dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Si (siap),
yaitu pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil, siap mendampingi ibu, siap
menjadi donor darah, siap memberi bantuan kendaraan untuk rujukan, siap
membantu pendanaan, dan bidan wilayah kelurahan selalu siap memberi
pelayanan. A (antar), yaitu warga desa, bidan wilayah, dan komponen lainnya
dengan cepat dan sigap mendampingi dan mengatur ibu yang akan melahirkan
jika memerlukan tindakan gawat darurat. Ga (jaga), yaitu menjaga ibu pada saat
dan setelah ibu melahirkan serta menjaga kesehatan bayi yang baru dilahirkan.
2.2.2 Tujuan
a. Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat,
peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
b. Tujuan khususnya adalah sebagai berikut.
1) Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang
pentingnya kesehatan.
2) Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap
risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan
(bencana, wabah, kegawadaruratan dan sebagainya)
3) Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan
dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang
kesehatan.
2.2.3 Kriteria Desa Siaga
Suatu desa dikatakan menjadi desa siaga apabila memenuhi kriteria berikut:
1. Memiliki 1 orang tenaga bidan yang menetap di desa tersebut dan sekurangkurangnya 2 orang kader desa.
2. Memiliki minimal 1 bangunan pos kesehatan desa (poskesdes) beserta
peralatan dan perlengkapannya. Poskesdes tersebut dikembangkan oleh
masyarakat yang dikenal dengan istilah upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat (UKBM) yang melaksanakan kegiatan-kegiatan minimal :
a. Pengamatan epidemiologis penyakit menular dan yang berpotensi menjadi
kejadian luar biasa serta faktor-faktor risikonya.
b. Penanggulangan penyakit menular dan yang berpotensi menjadi KLB
serta kekurangan gizi.
c. Kesiapsiagaan
penanggulangan
bencana
dan kegawatdaruratan
kesehatan.
d. Pelayanan
kesehatan
dasar, sesuai
dengan kompetensinya.
e. Kegiatan pengembangan seperti promosi kesehatan, kadarzi, PHBS,
penyehatan lingkungan dan lain-lain.
2.2.4 Pengembangan Desa Siaga
Pengembangan
desa
membantu/memfasilitasi/mendampingi
siaga
masyarakat
dilaksanakan
untuk
menjalani
dengan
proses
pembelajaran melalui siklus atau spiral pemecahan masalah yang terorganisasi dan
dilakukan oleh sebuah organisasi desa siaga. Organisasi desa siaga ini berada di
tingkat desa/kelurahan dengan penanggung jawab umum kepala desa atau lurah.
Sedangkan pengelola kegiatan harian desa siaga, bertugas melaksanakan kegiatan
lapangan seperti pemetaan balita untuk penimbangan dan imunisasi, pemetaan ibu
hamil, membantu tugas administrasi di poskesdes dan lain-lain. Pengembangan desa
siaga merupakan aktivitas yang berkelanjutan dan bersifat siklus. Setiap tahapan
meliputi banyak aktivitas.
1. Pada tahap 1 dilakukan sosialisasi dan survei mawas diri (SMD), dengan kegiatan
antara lain : Sosialisasi, Pengenalan kondisi desa, Membentuk kelompok
masyarakat yang melaksanakan SMD, pertemuan pengurus, kader dan warga desa
untuk merumuskan masalah kesehatan yang dihadapi dan menentukan masalah
prioritas yang akan diatasi.
2. Pada tahap 2 dilakukan pembuatan rencana kegiatan. Aktivitasnya, terdiri dari
penentuan prioritas masalah dan perumusan alternatif pemecahan masalah.
Aktivitas tersebut, dilakukan pada saat musyawarah masyarakat 2 (MMD-2).
Selanjutnya, penyusunan rencana kegiatan, dilakukan pada saat musyawarah
masyarakat 3 (MMD-3). Sedangkan kegiatan antara lain memutuskan prioritas
masalah, menentukan tujuan, menyusun rencana kegiatan dan rencana biaya,
pemilihan pengurus desa siaga, presentasi rencana kegiatan kepada masyarakat,
serta koreksi dan persetujuan masyarakat.
3. Tahap 3, merupakan tahap pelaksanaan dan monitoring, dengan kegiatan berupa
pelaksanaan dan monitoring rencana kegiatan.
4. Tahap 4, yaitu : kegiatan evaluasi atau penilaian, dengan kegiatan berupa
pertanggung jawaban.
Pada pelaksanaannya, tahapan diatas tidak harus berurutan, namun
disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa/kelurahan. Dalam pengembangan
desa siaga juga sangat diperlukan forum komunikasi masyarakat yaitu terbagi
menjadi empat, yiatu:
1. Pengembangan tim petugas.
Tujuan langkah ini adalah persiapan para petugas kesehatan yang
berada diwilayah
puskesmas,
baik
petugas
teknis
maupun
petugas
administrasi. Persiapan para petugas ini dapat berbentuk sosialisasi, pertemuan,
atau pelatihan yang bersiafat konsolidasi, yang di sesuaikan dengan kondisi
setempat. Keluaran atau out put dari langkah ini adalah para petugas yang
memahami tugas dan fungsinya, serta siap bekerja sama dalam satu tim untuk
melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat.
2. Pengembangan tim di masyarakat.
Tujuan langkah ini adalah mempersiapakan para petugas, tokoh masyarakat,
dan masyarakat (forum masyarakat desa ) agar mereka mengetahui dan mau
bekerja sama dalam satu tim untuk mengembangkan desa siaga. Langkah ini,
termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, bertujuan agar
mereka mau memberi dukungan, baik berupa kebijakan atau anjuran, persetujuan,
dana, maupun sumber daya lain sehingga pengembangan desa siaga dapat
berjalan denag lancar. Pendekatan pada tokoh – tokoh masyarakat bertujuan agar
mereka memahami dan mendukung ,khususnya dalam membentuk opini
masyarakat guna menciptakan iklim yang kondusif bgi pengembangan desa siaga.
3. Survei Mawas Diri
Survei Mawas Diri (SMD) atau telah mawas diri (TMD) atau Comunity Self
Survei (CSS) bertujuan agar tokoh masyarakat mampu melakukan telah mawas
diri untuk desanya. Survei harus dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat
dengan bimbingan tenaga kesehatan.
4. Musyawarah masyarakat desa
Tujuan penyelenggaraan musyawarah masyarakat desa (MMD) ini adalah
mencari alternatif penyelesaian,masalah kesehatan dan upaya membangun
poskesdes di kaitkan dengan potensi yang dimiliki desa.Disamping itu,untuk
menyusun rencana jangka panjang pengembangan desa siaga.Data serta temuan
lain yang diperoleh pada saat SMD disampaikan,biasanya adalah daftar masalah
kesehatan,data potensi serta harapan masyarakat.Hasil pendataan tersebut
dimusyawarahkan untuk menentukan prioritas,serta langkah-langkah solusi untuk
pengembangan poskesdes dan pengembangan desa siaga.
Pada dasarnya prinsip dari pengembangan Desa Siaga yaitu:
1. Desa siaga adalah titik temu antara pelayanan kesehatan dan program
kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan upaya masyarakat
yang terorganisir.
2. Desa siaga mengandung makna “kesiapan” dan “kesiagaan” Kesiagaan
masyarakat dapat didorong dengan memberi informasi yang akurat dan cepat
tentang situasi dan masalah-masalah yang mereka hadapi.
3. Prinsip respons segera. Begitu masyarakat mengetahui adanya suatu masalah,
mereka melalui desa siaga, akan melakukan langkah-langkah yang perlu dan
apabila langkah tersebut tidak cukup, sistem kesehatan akan memberikan
bantuan (termasuk pustu, puskesmas, Dinkes, dan RSUD).
4. Desa siaga adalah “wadah” bagi masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan
untuk menyelenggarakan berbagai program kesehatan
Adapun sasaran dalam pengembangan desa siaga adalah mempermudah strategi
intervensi, sasaran ini dibedakan menjadi tiga yaitu sebagai berikut :
1. Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu
melaksanakan hidup sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan
kesehatan di wilayah desanya
2. Pihak- pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku
individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi
perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat termasuk tokoh
agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader serta petugas kesehatan
3.
Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan memberi dukungan
kebijakan, peraturan perundang –undangan, dana, tenaga, sasaran, dll,
seperti kepala desa, camat, pejabat terkait, LSM, swasta, donatur, dan
pemilik kepentingan lainnya.
2.2.5 Kegiatan Desa Siaga
Secara operasional, pembentukan desa siaga dilakukan dengan kegiatan, kegiatan
pokok yang dilakukan sebagai berikut:
Sedangkan, Kegiatan Pokok dari Desa Siaga ialah
1. Surveilans dan pemetaan : Setiap ada masalah kesehatan di rumah tangga akan
dicatat dalam kartu sehat keluarga. Selanjutnya, semua informasi tersebut akan
direkapitulasi dalam sebuah peta desa (spasial) dan peta tersebut dipaparkan di
poskesdes.
2. Perencanaan partisipatif: Perencanaan partisipatif di laksanakan melal ui survei
mawas diri (SMD) dan musyawarah masyarakat desa (MMD). Melalui SMD, desa
siaga menentukan prioritas masalah. Selanjutnya, melalui MMD, desa siaga
menentukan target dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target
tersebut. Selanjutnya melakukan penyusunan anggaran.
3. Mobilisasi sumber daya masyarakat : Melalui forum desa siaga, masyarakat
dihimbau memberikan kontribusi dana sesuai dengan kemampuannya. Dana yang
terkumpul bisa dipergunakan sebagai tambahan biaya operasional poskesdes. Desa
siaga juga bisa mengembangkan kegiatan peningkatan pendapatan, misalnya
dengan koperasi desa. Mobilisasi sumber daya masyarakat sangat penting agar desa
siaga berkelanjutan (sustainable).
4. Kegiatan khusus: Desa siaga dapat mengembangkan kegiatan khusus yang efektif
mengatasi masalah kesehatan yang diprioritaskan. Dasar penentuan kegiatan
tersebut adalah pedoman standar yang sudah ada untuk program tertentu, seperti
malaria, TBC dan lain-lain. Dalam mengembangkan kegiatan khusus ini, pengurus
desa siaga dibantu oleh fasilitator dan pihak puskesmas.
5. Monitoring kinerja : Monitoring menggunakan peta rumah tangga sebagai bagian
dari surveilans rutin. Setiap rumah tangga akan diberi Kartu Kesehatan Keluarga
untuk diisi sesuai dengan keadaan dalam keluarga tersebut. Kemudian pengurus
desa siaga atau kader secara berkala mengumpulkan data dari Kartu Kesehatan
Keluarga untuk dimasukkan dalam peta desa.
6. Manajemen keuangan: Desa siaga akan mendapat dana hibah (block grant) setiap
tahun dari DHS-2 guna mendukung kegiatannya. Besarnya sesuai dengan proposal
yang diajukan dan proposal tersebut sebelumnya sudah direview oleh Dewan
Kesehatan Desa, kepala desa, fasilitator dan Puskesmas. Untuk menjaga
transparansi dan akuntabilitas, penggunaan dana tersebut harus dicatat dan
dilaporkan sesuai dengan pedoman yang ada.
Selain kegiatan Pokok dari Desa siaga terdapat kegiatan lain yang dilakukan, yaitu;
1. Pemilihan pengurus dan kader desa siaga. Pemilihan pengurus dan kader
siaga dilakukan melalui pertemuan khusus para pimpinan formal desa dan tokoh
masyarakat Serta beberapa wakil masyarakat pilihan dilakukan secara musyawarah
dan mufakat, sesuai dengan tata cara dan Kriteria yang berlaku dengan difasilitasi
oleh masyarakat.
2. Orientasi / pelatihan kader siaga. Sebelum melaksanakn tugasnya, pengolahan dan
kader desa yang telah ditetapkan perlu di beri orientasi atau pelatihan. Orientasi /
pelatihan di laksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten / kota. Materi orientasi /
pelatihan mencakup kegiatan yang akan di laksanakan di desa dalam rangka
pembangunan desa siaga yang meliputi penolahan desa siaga secara umum,
pembangunan dan pengelolaan poskesdes, pembangunan dan pengelolaan UKBM
lain, dan hal-hal penting lain yang terkait seperti kehamilan dan persalinansehat.
3. Pengembangan poskesdes dan UKBM lain. Dalam hal ini, pembangunan poskesdes
dapat di kembangkan dari polindes yang sudah ada. Dengan demikian, akan
diketahui bagaimana poskesdes tersebut diadakan, membangun baru dengan
fasilitas dari pemerintah, membangun baru dengan bantuan dari donator,
membangun baru dengan swadaa masyarakat atau memodivikasi bangun lain. Jika
poskesdes sudah berhasil di selenggarakan, kegiatan di lanjutkan dengan UKBM
lain, seperti posyandu dengan berpedoman pada panduan yang berlaku.
4. Penyelenggaraan desa siaga. Dengan adanya poskesdes, desa yang bersangkutan
telah di tetapkan sebagai desa siaga. Setelah desa siaga resmi dibentuk,
dilanjutkan dengan pelaksanaann kegiatan poskesdes secara rutin, yaitu
pengembanagan system surveilans berbasis nasyarakat, pengembangan kesiap
siagaan dan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana, pemberantasan
penyakit(dimilai dengan 2 penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB),
penanggulangan masalah dana, pemberdayaan masyrakat menuju kadarsi dan
PHBS, serta penyehatan lingkungan.
5. Pembinaan
dan
peningkatan.
Mengingat
permasalahan
kesehatan
sangat
dipengaruhi oleh kinerja sector lain dan adanya keterbatasan sumber daya, maka
untuk memajukan desa siaga, perlu adanya pengembangan jejaring kesjasama
dengan berbagi pihak perwujudan dari pengembangan jejaring desa siaga dapat
dilakukan melalui temu jejaring IKBM secara internal di dalam desa sendiri dan
atau temu jejaring antar desa siaga ( minimal sekali dalam setahun). Upaya ini
selain memantapkan kerjasama, juga diharapkan dapat menyediakan wahana tukar
menukar pengalaman dan memecahkan masalah yang dihadapi bersama.
Pembinaan jejaring lintas sector juga sangat penting , khususnya dengan program
pembangunan yang bersasaran desa. Salah satu kunci keberhasilan dan kelestarian
desa siaga adalah keaktifan para kader.
2.2.6 Pembinaan Desa Siaga
Pembentukan desa siaga memerlukan tim lintas sector dan komponen
masyarakat (LSM) untuk melakukan pendampingan dan fasilitasi. Tim ini
dibutuhkan ditingkat kecamatan, kabupaten, kota, dan profinsi, yang bekerja
berdasarkan surat keputusan camat , surat keputusan bupati atau wali kota dan
surat keputusan gubernur . Untuk mengingat permasalahan kesehatan sangat di
pengaruhi oleh kinerja sector lain dan adanya keterbatasan sumber daya, maka
untuk memajukan desa siaga, perlu adanya pengembangan jejaring kerja sama
denfan berbagai pihak. Perwujudan dari pengembangan jejaring desa siaga dapat
di lakukan melalui temu jejaring UKBM secara internal di dalam desa sendiri dan
atau temu jejaring antar desa siaga ( minimal sekali dalam setahun. Salah satu
kunci keberhasilan dan esa siaga adalah ke aktifan para kader. Oleh karena itu,
dalam rangaka pembinaan, perlu dikembangkan upaya-upaya untuk memenuhi
kebutuhan para kader agar tidak drop out. Kader-kader yang memiliki motifasi
memuaskan kebutuhan social psikologisnya harus di beri kesempatan seluasluasnya utuk mengembangkan kreatifitasnya. Sementara kader-kader yang masih
dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya harus dibantu untuk memperoleh
pendapatan tambahan misalnya dengan pemberian gaji/ insentif atau fasilitas atau
dapat berwira usaha. Perkembangan desa siaga perlu di pantau dan di evaluai
berkaitan dengan ini kegiatan-kegiatan desa siaga perlu di catat oleh kader,
misalnya dalam buku register UKBM (contohnya system informasi posyandu ).
2.2.7 Hambatan dan Solusi Dalam Menjalankan Program Desa Siaga
A. Hambatan yang ditemui dalam menjalankan program Desa Siaga ialah:
1. Tenaga kesehatan khususnya bidan menjadi kendala utama dalam melakukn
persalinan yg ditolong oleh tenaga kesehatan
2. SDM kader yang kurang mendukung
3. Keadaan Geografis yang sulit
4. Sarana Prasarana yang kurang memadai khususnya fasilitas kesehatan tingkat
pertama.
5.
Kurangnya pendanaan terhadap proses pelayanan kesehatan
B. Solusi dalam memecahkan persoalan tersebut:
1. Bidan bermitra dengan dukun sehingga dukun tidak merasa tersaingi (Keg.
Kemitraan bidan & dukun)
2. Memberikan pembinaan dan latihan – latihan pada kader maupun tenaga non
medis dalam memberikan motifasi, penyuluhan tentang pentingnya pelayanan
kesehatan,dan pentingnya mencegah penyakit melalui usaha-usaha kesehatan
masyrakat
3. Mengajari masyrakat terhadap kegiatan tanggap darurat apabila terjadi
masalah kesehatan di lingkungan desa atau lingkungan tempat tinggal
4. Melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat khususnya dinas kesehatan
dalam upaya pengadaan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang mendukung
dan memadai
5. Serta perbaikan fasilitas jalan yang menuju ke tempat pelayanan kesehatan.
6. Melakukan penggalangan dana dengan memanfaatkan kreatifitas masyrakat
serta sumberdaya alam yang tersedia di lingkungan desa.
2.2.8 Indikator Keberhasilan Desa Siaga
Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat diukur dari 4 kelompok
indikator, yaitu : indikator input, proses, output dan outcome
1.
Indikator Input
a.
Jumlah kader desa siaga.
b.
Jumlah tenaga kesehatan di poskesdes.
c.
Tersedianya sarana (obat dan alat) sederhana.
d.
Tersedianya tempat pelayanan seperti posyandu.
e.
Tersedianya dana operasional desa siaga.
f.
Tersedianya data/catatan jumlah KK dan keluarganya.
g.
Tersedianya pemetaan keluarga lengkap dengan masalah kesehatan yang
dijumpai dalam warna yang sesuai.
h.
Tersedianya data/catatan (jumlah bayi diimunisasi, jumlah penderita gizi
kurang, jumlah penderita TB, malaria dan lain-lain).
2. Indikator proses
a.
Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa (bulanan, 2 bulanan dan
sebagainya).
b.
Berfungsi/tidaknya kader desa siaga.
c.
Berfungsi/tidaknya poskesdes.
d.
Berfungsi/tidaknya UKBM/posyandu yang ada.
e.
Berfungsi/tidaknya sistem penanggulangan penyakit/masalah kesehatan
berbasis masyarakat.
f.
Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS.
g.
Ada/tidaknya kegiatan rujukan penderita ke poskesdes dari masyarakat.
3. Indikator Output
a.
b.
Jumlah persalinan dalam keluarga yang dilayani.
Jumlah kunjungan neonates (KN2).
c.
Jumlah BBLR yang dirujuk.
d.
Jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik ditangani.
e.
Jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat M P-AS I.
f.
Jumlah balita yang mendapat imunisasi.
g.
Jumlah pelayanan gawat darurat dan KLB dalam tempo 24 jam.
h.
Jumlah keluarga yang punya jamban.
i.
Jumlah keluarga yang dibina sadar gizi.
j.
Jumlah keluarga menggunakan garam beryodium.
k.
Adanya data kesehatan lingkungan.
l.
Jumlah kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit menular tertentu yang
menjadi masalah setempat.
m. Adanya peningkatan kualitas UKBM yang dibina.
4.
Indikator outcome
a. Meningkatnya jumlah penduduk yang sembuh/membaik dari sakitnya.
b. Bertambahnya jumlah penduduk yang melaksanakan PHBS.
c. Berkurangnya jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.
d. Berkurangnya jumlah balita dengan gizi buruk.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
1. Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses di mana masyarakat, khususnya
mereka yang kurang memiliki akses ke sumber daya pembangunan, didorong untuk
meningkatkan kemandiriannya di dalam mengembangkan perikehidupan mereka.
Pemberdayaan masyarakat juga merupakan proses siklus terus-menerus, proses
partisipatif di mana anggota masyarakat bekerja sama dalam kelompok formal
maupun informal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman serta berusaha
mencapai tujuan bersama.
2. Konsep desa siaga adalah membangun suatu sistem di suatu desa yang bertanggung
jawab memelihara kesehatan masyarakat itu sendiri, di bawah bimbingan dan
interaksi dengan seorang bidan dan 2 orang kader desa. Di samping itu, juga
dilibatkan berbagai pengurus desa untuk mendorong peran serta masyarakat dalam
program kesehatan seperti imunisasi dan posyandu
3.2 Saran
1. Kita Sebagai tenaga kesehatan harus dapat memahami
materi pemberdayaan
masyarakat sehingga kita dapat mengaplikasikannya dengan menjadikan masyarakat
yang mandiri, masyarakat yang sadar, mau dan mampu dalam meningkatkan
kesehatannya.
2. Kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu mengaplikasikan materi Desa siaga,
sehingga kita berhasil mengembangkan Desa Siaga.
DAFTAR PUSTAKA
Konsep Desa Siaga. http://dinkes.lumajangkab.go.id/konsep-desa-siaga. Diakses tanggal
29 Maret 2018.
Srain, Sjafri. 2002. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Pemberdayaan Masyarakat Desa. https://www.slideshare.net/septianraha/makalahpemberdayaan-masyarakat-desa. Diakses tanggal 29 Maret 2018.
Download