Uploaded by shamie_istiqomah

Analisis Rasio Gross Profit Margin

advertisement
Analisis Rasio Gross Profit Margin & Rumus dan
Contoh Soal Margin Laba Kotor
Sahabat Analis, sekarang mari mengukur seberapa baik pencapaian margin laba
kotor suatu usaha dengan mengulasnya dalam artikel rumus gross profit margin
(GPM) ini. Termasuk di dalamnya akan dibahas juga pengertian dan cara
menghitung dalam bentuk contoh soal dan analisis rasio gross profit margin
dalam analisis saham.
Sebelum ini kita sudah mengulas apa itu margin laba bersih (net profit margin)
dan margin laba operasi (operating profit) beserta rumusnya sekalian.
G A B U N G
C H A N N E L
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - @ANALISSAHAM SYARIAH
Mudah sekali jika ingin tau sumber dari laba kotor dalam laporan keuangan, yaitu
dengan mengurangi penjualan atau pendapatan bersih dengan HPP atau harga
pokok penjualan.
HPP kalau dalam finansial statement berbahasa inggris diistilahkan dengan COGS,
yaitu Cost of Goods Sold yang berarti biaya penjualan atau produksi barang.
Baca dulu : Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Terbuka
Pengertian Gross Profit Margin
Secara bahasa, frase ini berasa dari bahasa Inggris yang artinya margin
keuntungan atau laba bruto.
Dikatakan laba kotor karena laba tersebut belum dipotong beban-beban ini:



Beban umum dan administrasi
Beban penjualan dan pemasaran
Beban lainnya
Di dalamnya sudah termasuk juga depresiasi / penyusutan dan amortisasi.
Adapun dalam penyampaian laporan keuangan dari tiap perusahaan terbuka di
BEI, yakni di situs resminya IDX.CO.ID, kata laba ini bisa diartikan profit, kadang
juga dengan kata ‘ earning ’.
Sedangkan penjualan kadang dengan kata revenues atau pun net sales.
Dalam ilmu trading saham, rasio finansial ini masuk dalam golongan rasio
profitabilitas, yaitu rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba, baik itu laba kotor, laba operasi dan laba bersih,
terhadap penjualannya dalam periode tertentu.
Umumnya, semakin tinggi nilai profitability ratio ini maka akan semakin baik
karena itu berarti emiten mampun melakukan manajemen yang baik dalam
meminimalkan beban, baik itu beban bunga, pajak atau pun bahan baku.
Baca juga : 2 Cara Mengetahui Saham Murah atau Mahal
Rumus Margin Laba Kotor
Formula dalam menghitung rasio ini sangat singkat, yaitu:
GPM = Laba Kotor / Penjualan (Pendapatan) Bersih
Untuk rumus yang lebih detail bisa juga dengan : (Penjualan – HPP) / Penjualan,
tapi hasilnya tetap sama karena sudah dijelaskan bagaimana rumus dari laba
kotor tersebut.
Tujuan dari analisa rasio GPM atau Gross Profit Margin ini pada dasarnya
untuk mengetahui seberapa baikkah perusahaan dalam mengefisienkan
beban atau harga pokok penjualan untuk kemudian menghasilkan laba
bruto yang lebih besar dari penjualan yang ia lakukan.
Semakin kecil nilai HPP atau COGS maka akan semakin tinggi pula angka
laba kotor yang dihasilkan.
Karenanya, untuk menaikkan nilai rasio laba kotor ini dibutuhkan usaha dan
inovasi dari manajemen dalam meminimlakan biaya produksinya. Banyak hal yang
bisa dilakukan, di antaranya:
1. dengan membayar supplier secara kontan atau cepat sehingga bisa
memperoleh bahan baku yang lebih murah
2. membeli bahan baku dari produsen yang menjual lebih murah, namun
dengan kualitas yang lebih baik,
3. melakukan penelitian komposisi bahan produk yang pas sehingga bisa
mengurangi persentase bahan tertentu tanpa mengurangi kualitas
produknya, dan lain sebagianya.
4. meminimalkan kerusakan.
5. mengurangi pemrosesan ulang dan pengerjaan ulang.
6. menggunakan jasa outsourcing pada divisi tertentu, seperti keamanan,
kebersihan dan lainnya.
7. Mengurangi rasio persediaan
8. menyederhanakan produk barang atau pun jasa.
Dan hal lainnya yang sekiranya bisa mengurangi COGS, namun tidak
mempengaruhi kepuasan pelanggan atas produk yang ditawarkan.
Baca : Cara Download Laporan Keuangan di IDX
Cara Menghitung dan Contoh Soal Analisis Rasio Gross
Profit Margin
Ada baiknya kita langsung belajar menghitung rasio margin laba kotor ini
langsung dari salah satu perusahaan terbuka di BEI.
Kebetulan sekali, sekarang saya mau menggunakan laporan keuangan terbaru
dari PT. Telekomunikasi Indonesia atau Telkom.
Perusahaan dengan kode saham TLKM ini dikenal juga sebagai perusahaan ‘plat
merah’ yang hampir selalu masuk dalam daftar saham LQ45 maupun bluechip di
bursa efek Indonesia. Jadi tak ada baiknya TLKM ini yang kita pilih.
Oke, mari kita mulai menghitung dengan rumus:
Diketahui:
Pada tanggal xxx PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, melalui situs IDX,
merilis laporan keuangan terbarunya untuk kinerja triwulan/kuartal II 2018.
Dalam laporan keuangannya tertulis bahwa penjualan bersih yang dihasilkan pada
periode tersebut adalah Rp64,368 triliun.
Dan adapun gross profit-nya sebesar xxx. Maksudnya xxx?
Apa kira2 yang aneh dari ‘xxx’ di atas?
Jangan bingung, ternyata setelah saya terlanjur download laporan keuangannnya,
Telkom tidak ada HPPnya karena termasuk perusahaan jasa. Yang ada hanya
catatan beban-beban saja.
Maaf ya, karena saya sudah terlanjur donwload Lknya, jadi saya ceritakan disini
sekalian biar tau kalau perusahaan jasa biasanya tidak punya HPP, dan kadang
juga ada tapi kecil sekali. Ya ini bisa jadi pelajaran juga buat yang pemula.
Oke sekarang kita pindah ke laporan keuangan PT BRI Syariah saja. Kode
sahamnya BRIS.
Untuk COGS PT. Bank BRI Syariah Tbk. maka yang kita ambil adalah dari ‘Hak
Pihak Ketiga dari Bagi Hasil’ dan angkanya adalah Rp640,7 milyar. Sedangkan
pendapatannya kita ambil dari “Pendapatan Pengelolaan Dana sebagai Mudharib’,
yakni sebesar Rp1.485,8 triliun.
Pertanyaannya:
Berapakah nilai rasio laba kotor dari BRIS pada kuartal II 2018?
Jawabannya:
= Laba Kotor / Penjualan
= Rp640,7 milyar / Rp1.485,8 triliun
= 0,43 kali atau 43,12%
Jadi, rasio gross profit margin dari BRIS adalah sebesar 43% lebih .
Artinya dari total kurang lebih Rp1,5 triliun pendapatan pengelolaan dananya
hanya 43% nya saja yang dapat dijaga hingga menjadi laba kotor bagi BRIS.
Contoh sederhananya begini, misal pak Teguh jual gorengan dan total penjualan
yang dihasilkan Rp1 juta, dan laba kotornya ternyata setelah dikurangi biaya gas,
tepung terigu, dan minyak hanya tersisa Rp500.000 saja.
Nah, itu artinya dari semua penjualan yang di hasilkan pak Teguh (tanpa Hidayat
ya, soalnya ini kenalan saya) hanya separuhnya saja.
Jika beliau mau menaikkan laba brutonya maka caranya ia harus bisa mencari
solusi tempat beli bahan baku yang murah, seperti terigu dan minyak. Atau
misalnya jika ada sumber bahan bakar yang murah mungkin bisa ia gunakan,
atau bisa juga nyala apinya diatur tidak terlalu besar dan lain sebagainya.
Mengenai berapa nilai yang baik untuk rasio GPM ini, tidak dijelaskan di artik el
ini. Jika ingin tau pastinya, silahkan download kalkulator saham excel yang
sudah saya publikasikan.
Ada total 35 rasio finansial di dalamnya dan semua sudah ada rumusnya
dan OTOMATIS muncul begitu data laporan keuangannya diinput.
Hal yang sulit dilakukan bagi teman-teman pemula adalah bagaimana
menghitungnya kalau pembulatan yang digunakan berbeda, misalnya ada yang
jutaan, ribuan, milyaran dan sebagainya. Tentu hasilnya beda-beda.
Belum lagi kalau anda menghitung ROE misalnya, bagaimana kalau yang dihitung
itu dari laporan keuangan kuartal 1 atau kuartal 3? Pastinya rumusnya beda lagi.
Untuk itu, miliki tools sederhana tersebut untuk memudahkan kerja analisis
teman2 semua.
Akhir kata, semoga rumus gross profit margin ini atau pun contoh soal analisis
rasio gross profit margin atau margin laba kotor ini bermanfaat untuk anda
semua. Jangan lupa pelajari juga rasio net profit / laba bersih dan operating
profit margin. Salam trader syariah!
Penilaian terhadap Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Perusahaan yang memiliki Marjin Laba Kotor yang tinggi menunjukan bahwa perusahaan tersebut
mampu untuk menjalankan produksinya secara efisien karena Harga Pokok Penjualannya relatif
lebih rendah jika dibandingkan dengan penjualan, semakin tinggi marjin laba kotornya semakin baik
keadaan operasi perusahaannya. Sebaliknya, Marjin Laba Kotor yang rendah mengindikasikan
bahwa perusahaan yang bersangkutan kurang mampu untuk dapat mengendalikan biaya produksi
dan harga pokok penjualannya, semakin rendah marjin laba kotornya semakin kurang baik keadaan
operasi perusahaannya.
Download