2. tinjauan pustaka

advertisement
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Morfologi bahasa Sunda
Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna (Zaenal &
Junaiyah 2007). Terdapat dua macam morfem, yaitu morfem bebas dan morfem
terikat. Morfem bebas adalah morfem yang berdiri sendiri misalnya: jual dan
beuli. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang digabungkan dengan
morfem lain. Contoh morfem terikat adalah: dijualbeulikeun. Kata tersebut dapat
dipecah menjadi: jual beuli dan di- + … -keun}. Kata jual dan beuli adalah dua
morfem bebas yang merupakan satuan terkecil yang tidak dapat dipecah lagi dan
yang mempunyai arti. Bentuk di-, dan -keun juga tergolong morfem karena
merupakan satuan terkecil yang mengandung makna.
Imbuhan atau afiks mempunyai arti penting dalam suatu tata bahasa
terutama dalam sebagian besar tata bahasa daerah di Indonesia. Keberadaan afiks
atau imbuhan pada kata dasar dapat mengubah bentuk, fungsi, katagori dan makna
dasar dari suatu kata. Ilustrasi imbuhan digambarkan seperti pada Gambar 1.
Gambar 1 Diagram pembentukan kata yang berimbuhan.
6
2.1.1 Imbuhan (Afiks)
Bahasa Sunda memiliki imbuhan sama halnya seperti bahasa Indonesia. Ada
lima macam imbuhan, yaitu rarangken hareup (awalan/prefiks), rarangken
tengah/seselan
(sisipan//infiks),
rarangken
tukang/ahiran
(akhiran/sufiks),
Rarangken barung (imbuhan terbelah/konfiks), dan rarangken bareng (imbuhan
gabungan/ambifiks) (Sudaryat et al. 2007).
2.1.1.1 Rarangken Hareup (Awalan)
Rarangken hareup adalah imbuhan yang terletak di awal kata. Rarangken
hareup pada bahasa Sunda yaitu: ba-, barang-, di-, ka-, N-, pa,- pada-, pang-,
para-, per-, pi-, sa-, sang-, si-, silih/sili, ti-, ting-/pating-.
1. Rarangken hareup ba- (contoh: balayar = berlayar, badarat = berjalan,
barempug=berdiskusi).
2. Rarangken hareup barang- (contoh: barangbeuli = sesuatu untuk dibeli,
baranginjeum = sesuatu yang dipinjam, barangdahar = sesuatu untuk
dimakan).
3. Rarangken hareup di- (contoh: digawe = bekerja, dibaju = memakai baju,
disada = berbunyi).
4. Rarangken hareup ka- (contoh: karasa = terasa, kabawa = terbawa, kageleng
= tergilas).
5. Rarangken hareup NPada rarangken hareup N- (nasal) terdapat alomorf m-, n-, ng-, nga-, nge-,
dan ny-. Aturan rarangken hareup N- adalah sebagai berikut:
-
Rarangken N- berubah menjadi m- apabila digunakan pada kata dasar yang
diawali konsonan b atau p (contoh: baca menjadi maca = membaca, pacul
menjadi macul = memacul).
7
- Rarangken N- berubah menjadi n- apabila digunakan pada kata dasar yang
diawali konsonan t (contoh: tulis menjadi nulis = menulis, tanya menjadi
nanya = bertanya).
- Rarangken N- berubah menjadi ng- apabila digunakan pada kata dasar
yang diawali konsonan k atau huruf vokal (contoh: karang menjadi
ngarang = mengarang, aku menjadi ngaku = mengaku).
- Rarangken N- berubah menjadi nga- apabila digunakan pada kata dasar
yang diawali konsonan b, d, g, h, j, l, m, n, w, dan y (contoh: badug
menjadi ngabadug = terbentur, dulag menjadi ngadulag = menabuh bedug,
goler menjadi ngagoler = berbaring, hampas menjadi
ngahampas =
meremehkan/membuat ampas), juru menjadi ngajuru = melahirkan, liang
menjadi ngaliang = membuat lubang, ma’lum menjadi ngama’lum =
memaklumi, riung menjadi ngariung = berkumpul, wadul menjadi
ngawadul = berbohong).
- Rarangken N- berubah menjadi nge- apabila digunakan pada kata dasar
yang diawali konsonan dan hanya terdiri dari satu suku kata (contoh: cet
menjadi ngecet = mengecat, bor menjadi ngebor = mengebor).
- Rarangken N- berubah menjadi ny- apabila digunakan pada kata dasar
yang diawali konsonan c dan s (contoh: colok menjadi nyolok = menusuk,
sapih menjadi nyapih = menyapih).
6.
Rarangken hareup pa- (contoh: tani menjadi patani (petani), tugas menjadi
patugas = petugas, takol menjadi panakol = pemukul).
7.
Rarangken hareup pada- (contoh: kepung menjadi padangepung (sedang
mengepung), dagang menjadi padadagang (sedang dagang), kuat menjadi
padakuat (sama-sama kuat)).
8.
Rarangken hareup para- (contoh: guru menjadi paraguru (guru-guru), siswa
menjadi parasiswa (siswa-siswa), bapa menjadi parabapa (bapak-bapak)).
8
9.
Rarangken hareup per- (contoh: lambang menjadi perlambang (tanda-tanda),
watak menjadi perwatak)
10. Rarangken hareup pi- (contoh: tuduh menjadi pituduh (petunjuk), ruhak
menjadi piruhak (arang yang masih membara), tapak menjadi pitapak (jejak),
damel menjadi pidamel (mengerjakan))
11. Rarangken hareup sa- (contoh: rupa menjadi sarupa (serupa), kilo menjadi
sakilo=sekilo)
12. Rarangken hareup sang- (contoh: hulu menjadi sanghulu (kepala mengarah
ke suatu arah), hareup menjadi sanghareup (mengarah ke depan).
13. Rarangken hareup si- (contoh: dakep menjadi sidakep (posisi tangan dilipat
didepan perut (seperti posisi shalat)), deang menjadi sideang (memanaskan
badan di perapian)).
14. Rarangken hareup silih- (contoh: teunggeul menjadi silihteunggeul (saling
pukul), tajong menjadi silihtajong (saling tendang).
15. Rarangken hareup ti- (contoh: tajong menjadi titajong (tertendang), teuleum
menjadi titeuleum (tenggelam)).
16. Rarangken hareup ting-/pating- (contoh: gerendeng menjadi tinggerendeng
(beberapa orang saling berbicara tapi tidak terlalu keras), burinyay menjadi
tingburinyay (berkilatan)).
2.1.1.2 Rarangken Tengah (Sisipan)
Rarangken tengah adalah imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar,
Rarangken tengah pada bahasa Sunda yaitu: -ar-, -in-, -um-. Berikut adalah
penjelasan rincinya.
1. Rarangken tengah -arPada rarangken tengah -ar- terdapat alomorf -al-, -ar-, dan ra- Rarangken tengah -ar- berubah menjadi -al- apabila:
9
1) Digunakan pada kata dasar yang diawali konsonan l (contoh: lieur
menjadi lalieur (pusing-pusing), leuleus menjadi laleuleus (lemaslemas)).
2) Digunakan pada kata dasar yang diakhiri konsonan r (contoh: bageur
menjadi balageur (banyak yang baik hati), pinter menjadi palinter
(banyak yang pintar).
3) Digunakan pada kata dasar yang mengandung konsonan gabung br, tr,
cr, kr, pr, jr, dan dr (contoh: kempreng menjadi kalempreng (tangantangan yang kaku), gombrang menjadi galombrang (pakaian yang
kedodoran)).
- Rarangken tengah -ar- berubah menjadi ar- apabila digunakan pada kata
dasar yang diawali huruf vokal (contoh: asup menjadi arasup (banyak
yang masuk), ulin menjadi arulin (banyak yang main)).
- Rarangken tengah -ar- berubah menjadi ra- apabila digunakan pada kata
dasar yang hanya terdiri dari satu suku kata dan diawali huruf konsonan
(contoh: cleng menjadi racleng (berloncatan), beng menjadi rabeng
(berterbangan)).
2.
Rarangken tengah -in- (contoh: tulis menjadi tinulis (tertulis/ditulis), panggih
menjadi pinanggih (bertemu), sareng menjadi sinareng (bersama)).
3. Rarangken tengah -um- (contoh: sujud menjadi sumujud (bersujud), gantung
menjadi gumantung (tergantung), lengis menjadi lumengis (memelas-melas)).
Pada rarangken tengah -um- terdapat alomorf um-, yang terjadi apabila
digunakan pada kata dasar yang diawali huruf vokal (contoh: amis menjadi
umamis (macam-macam manis), aing menjadi umaing (egois)).
2.1.1.3 Rarangken Tukang (Akhiran)
Rarangken tukang adalah imbuhan yang diletakkan pada akhir kata dasar.
Rarangken tukang pada bahasa Sunda yaitu: -an, -eun, -keun, -na, -ing/-ning.
Berikut adalah penjelasan rincinya.
10
1. Rarangken tukang -an (contoh: sakola menjadi sakolaan (sekolahan), tulis
menjadi tulisan (tulisan), omong menjadi omongan (omongan), meter
menjadi meteran (meteran).
2. Rarangken tukang -eun (contoh: dahar menjadi dahareun (untuk dimakan),
rujak menjadi rujakeun (untuk dirujak)).
3. Rarangken tukang -keun (contoh: kawih menjadi kawihkeun (nyanyikan),
gambar menjadi gambarkeun (gambarkan),
tiung menjadi tiungkeun
(kerudungkan)).
4. Rarangken tukang -na
Pada Rarangken tukang -na terdapat alomorf -ana dan -nana
- Rarangken -na berubah menjadi -ana apabila:
1) Digunakan pada kata dasar yang sudah ditambahkan akhiran -eun
(contoh: bawa menjadi bawaeunana (hal yang harus dibawanya),
dahar menjadi dahareunana (makan yang harus dimakanannya)).
2) Digunakan pada kata dasar yang sudah ditambahkan akhiran -an
(contoh: tilu menjadi tiluanana = ketiga-tiganya, kabeh menjadi
kabehanana (semuanya)).
3) Digunakan pada kata dasar yang sudah ditambahkan akhiran -keun
(contoh: catet menjadi nyatetkeunana (mencatatkannya), bawa
menjadi mawakeunana (membawakan untuk orang lain)).
-
Rarangken -na berubah menjadi -nana apabila digunakan pada kata dua
dan eta (contoh: dua menjadi duanana (kedua-duanya), eta menjadi
etanana (menunjukkan itu)).
5. Rarangken tukang -ing/-ning (contoh: bakat menjadi bakating (karena
terlalu),kersaning menjadi kersaning (keinginan, kehendak), awah menjadi
awahing (karena terlalu)).
11
Rarangken -ing digunakan pada kata yang diakhiri konsonan (contoh:
mungguh menjadi munguhing (sesungguhnya), bakat menjadi bakating
(karena terlalu) sedangkan rarangken tengah -ning digunakan pada kata yang
diakhiri vokal (contoh: estu menjadi estuning (sebenarnya), kersa menjadi
kersaning (ketentuan = kehendak)).
2.1.1.4 Rarangken Barung (Imbuhan Terbelah)
Rarangken barung adalah imbuhan yang dipakai di awal dan atau di akhir
kata dasar secara bersamaan. Ciri utama rarangken barung adalah apabila salah
satu imbuhan (awalan atau akhiran) dihilangkan, kata tersebut tidak dapat berdiri
sendiri. Rarangken barung pada bahasa Sunda yaitu: ka- -an, kapi-, pa- -an, pang-na pang- -keun, pi- -eun, pika-, pika- -eun, sa- -na, dan sa- -eun.
1. Rarangken barung ka- -an (contoh: kaamanan = keamanan, kaolahan =
masakan, kaperluan = keperluan)
2. Rarangken barung kapi- (contoh: kapimilik = milik, kapiraray = selalu
terkenang-kenang)
3. Rarangken barung pa- -an (contoh: paguyuban = perkumpulan, pamandian =
kolam renang, pausahaan = perusahaan)
4. Rarangken barung pang- -na (contoh: panggeulisna = tercantik, pangagulna
= paling sombong, pangpinterna = paling pintar)
5. Rarangken barung pang- -keun (contoh: pangmawakeun = tolong bawakan,
pangdongengkeun = tolong ceritakan)
6. Rarangken barung pi- -eun (contoh: pibajueun = bahan baju, pigeuliseun =
akan cantik, pigedeeun = akan besar)
7. Rarangken barung pika-
(contoh: pikareueus = membuat bangga,
pikameumeut = selalu rindu)
8. Rarangken barung pika- -eun (contoh: pikabungaheun = membuat gembira,
pikasebeleun = menyebalkan, pikanyaaheun = membuat jadi sayang)
12
9. Rarangken barung sa- -na (contoh: salilana = selamanya, sakabehna =
semuanya, sawaregna = sekenyangnya)
10. Rarangken barung sa- -eun (contoh: satujueun = setuju, sahadapeun = lebih
bawah, samobileun = untuk satu mobil)
2.1.1.5 Rarangken Bareng (Imbuhan Gabungan)
Rarangken bareng adalah imbuhan gabungan dari dua atau lebih imbuhan
sebelumnya. Rarangken bareng pada bahasa Sunda yaitu: di- + -ar-, di- + -an, di+ -ar- + -an, di- + -keun, di- +-ar- + -keun, di- + -pi, di- + -pika, di- + pang- + keun, di- + pang- + N- + -keun, di- + pang- + N- + -ar- + -keun, di- + pang- +
N- + -ar- +-an +-keun, N- + -ar-, N- + -an, N- + -ar- + -keun, N- + -pi-, N- + pika-, N- + pang- + -keun-, pa- + N-, pang- + dipika- + -na, pang- + N- + pika+ -na, ting- + -ar-.
1. Rarangken bareng di- + -ar, contoh: diparacul = dicangkul oleh banyak
orang, ditarajong = ditendang oleh banyak orang.
2. Rarangken bareng di- + -an, contoh: dimandian = dimandikan, dibajuan =
dipakaikan baju.
3. Rarangken bareng di- + -ar- + -an, contoh: diparaculan = dicangkul
(jamak), ditarajongan = ditendang-tendang.
4. Rarangken bareng di- + -keun, contoh: dihurungkeun = dinyalakan,
dimakamkeun = dikuburkan.
5. Rarangken bareng di- +-ar- + -keun, contoh: dilalieurkeun = dibuat pusing.
6. Rarangken bareng di- + -pi, contoh dipiwarang =disuruh, dipidamel =
dikerjakan, dipirojong = didorong, dipireueus = dikasihani.
7. Rarangken bareng di- + -pika, contoh: dipikaresep = disenangi, dipikasieun =
ditakuti, dipikanyaah = disayangi, dipikatineung = teringat selalu.
8. Rarangken bareng di- + pang- + -keun, dipangdamelkeun = dikerjakan oleh
orang lain, dipangbenerkeun = dibetulkan oleh orang lain.
13
9. Rarangken bareng di- + pang- + N- + -keun, contoh: dipangmeulikeun =
dibelikan oleh orang lain, dipangnuliskeun = dituliskan oleh orang lain.
10. Rarangken bareng di- + pang- + N- + -ar- + -keun, contoh:
dipangmaraculkeun = dicangkulkan oleh orang lain.
11. Rarangken bareng di- + pang- + N- + -ar- +-an +-keun, contoh:
dipangnaruliskeun = dituliskan oleh orang lain.
12. Rarangken bareng N- + -ar-, contoh: nyarapu = menyapu, narulis = menulis.
13. Rarangken bareng N- + -an, contoh: nyapuan = menyapui, nulisan =
menulisi.
14. Rarangken bareng N- + -ar- + -keun, contoh: maraculkeun = dicangkulkan,
naruliskeun = dituliskan.
15. Rarangken bareng N- + -pi-, contoh: mieling = diingatkan, miindung =
dijadikan ibu.
16. Rarangken bareng N- + -pika-, contoh: mikaeling = saling diingatkan,
mikahayang = saling ingin, mikatineung = saling rindu.
17. Rarangken bareng N- + pang- + -keun-, contoh: manghanjakalkeun =
menyayangkan.
18. Rarangken bareng pa- + N-, contoh: panumbak = sesuatu buat menombak,
panakol = sesuatu untuk memukul.
19. Rarangken bareng pang- + dipika- + -na, contoh: pangdipikanyaahna = yang
paling disayang.
20. Rarangken bareng pang- + N- + pika- + -na, contoh: pangmikameumeutna =
paling dirindukan.
21. Rarangken bareng ting- + -ar-, contoh: tingkarerut = saling berkerut.
14
2.1.2 Kata Ulang
Berbeda dengan bahasa Indonesia, kata ulang dalam bahasa Sunda sangat
produktif dan dapat berbeda bentuk dengan kata dasarnya. Bahasa Sunda
mempunyai kata ulang yang sangat beragam bentuk.
Kata ulang dalam bahasa Sunda adalah kata yang dibangun mengucapkan
kata dua kali atau lebih dari kata dasarnya, sebagian atau seluruhnya (Sudaryat et
al. 2007). Ilustrasi dari kata ulang dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Diagram pembentukan kata ulang.
Kata ulang dalam bahasa Sunda dapat dibagi menjadi dua yaitu gembleng dan
sabagian. Kata ulang juga dapat diberi imbuhan yang dalam bahasa Sunda diberi
nama rarangkenan.
2.1.2.1 Gembleng (seluruhnya)
Kata ulang gembleng (seluruhnya) dibagi lagi menjadi dua yaitu:
1. Dwilingga: Kata ulang dwilingga dibangun dengan cara mengucapkan dua
kali dari kata dasarnya. Terdapat dua dwilingga yaitu:
a. Dwimurni: kata dasar yang diulang tidak berubah, contohnya: bapa
(bapak) menjadi bapa-bapa (bapak-bapak).
15
b. Dwireka: kata dasar yang diulang berubah bunyi, contohnya: tajong
(tendang) menjadi tujang-tajong (tendang-tendang).
2. Trilingga: kata dasar diulang tiga kali, dan selalu berubah bunyi, contohnya:
plak-plik-pluk.
2.1.2.2 Sabagian (sebagian)
Kata ulang sabagian (sebagian) dibangun dengan cara mengulang kembali
salah satu suku kata dasarnya. Ada dua bentuk kata ulang sabagian, yaitu:
1. dwipurwa, yaitu jika suku kata yang diulang adalah suku kata pertama,
contohnya: tajong (tendang) menjadi tatajong,
2. dwimadya, yaitu jika suku kata yang diulang ada di tengah kata, contohnya:
sabaraha (berapa) menjadi sababaraha.
2.1.2.3 Rarangkenan (kata ulang gabungan)
Kata ulang gembleng atau sabagian dapat digabung dengan imbuhan.
Gabungan kata ulang dengan imbuhan dapat mempunyai bentuk sebagai berikut:
1. Rarangkenan di-R, suatu kata ulang dalam bentuk dwimurni atau dwireka
dan dwipurwa dapat diberi awalan di-. Contoh untuk bentuk ini adalah:
rasa menjadi dirasa-rasa, pikir manjadi dipikir-pikir, riung menjadi
diriung-riung (dikelilingi oleh banyak orang), dirarasa, dipipikir,
diririung.
2. Rarangkenan di-R-keun. Kata ulang dalam bentuk dwimurni, dwireka dan
dwipurwa dapat diberi awalan di- dan akhiran -keun, contohnya adalah:
asup menjadi diasup-asupkeun (dimasuk-masukkan), tawar menjadi
ditatawarkeun (ditawar-tawarkan).
3. Rarangkenan mang-R. Kata ulang dwilingga dapat diberi awalan mang-,
dengan contohnya adalah sebagai berikut: kata taun menjadi mangtauntaun (bertahun-tahun), abad menjadi mangabad-abad (berabad-abad).
16
4. Rarangkenan ka-R. Kata ulang dalam bentuk dwilingga (dwireka dan
dwimurni) dan dwipurwa dapat diberi awalan ka- dengan contoh sebagai
berikut: kata ombak menjadi kaombak-ombak (kena ombak), kata seuit
menjadi kaseuit-seuit, kata candak menjadi kacacandak.
5. Rarangkenan N-R. Kata ulang dalam bentuk dwilingga (dwireka dan
dwimurni) dapat diberi nasal (N-). Contohnya adalah sebagai berikut: kata
tunggu menjadi nunggu-nunggu (menunggu-nunggu), kata beda menjadi
ngabeda-beda (membeda-bedakan).
6. Rarangkenan N-R-keun. Kata ulang dwimurni dapat diberi nasal (N-) dan
akhiran -keun, contohnya adalah sebagai berikut: kata asup menjadi
ngasup-ngasupkeun (memasuk-masukan), kata sorot menjadi nyorotnyorotkeun (menyorot-nyorotkan).
7. Rarangkenan R-eun. Kata ulang dwipurwa dapat mendapat akhiran -eun.
Contohnya adalah sebagai berikut: kata lini (gempa) menjadi lilinieun
(terasa sepeti gempa), kata jauh menjadi jajauheun (terasa jauh)
8. Rarangkenan R-um. Kata ulang dwilingga juga bisa diberi sisipan -um-,
contohnya adalah sebagai berikut: kata tuluy (terus) menjadi tuluy-tumuluy
(keterus-terusan)
9. Rarangkenan pa-R. Kata ulang dwilingga dapat diberi awalan pa-,
contohnya adalah sebagai berikut: kata tarik menjadi patarik-tarik (saling
menarik), palaun-laun (saling lambat-lambat).
10. Rarangkenan ti-R. Kata ulang dengan bentuk dwipurwa dapat diberi
awalan ti-, contohnya adalah sebagai berikut: tipoporose, tipaparetot.
11. Rarangkenan R-an. Kata ulang dengan bentuk dwilinga dan dwipurwa
dapat diberi akhiran -an, contohnya adalah: kata layar menjadi lalayaran
(berlayar-layar), kata indit (pergi) menjadi indit-inditan (pergi-pergian),
kata kawih menjadi kakawihan (menyanyikan lagu).
17
12. Rarangkenan R-na. Kata ulang dwilingga dan dwipurwa dapat diberi
akhiran -na, contohnya adalah sebagai berikut: kata gede (besar) menjadi
gegedena (yang besarnya), dalit (sahabat) menjadi dalit-dalitna (sahabatsahabatnya).
13. Rarangkenan pang-R-na. Kata ulang dwilingga dapat diberi awalan pangdan akhiran -na. Contohnya adalah sebagai berikut: alus (bagus) menjadi
pangalus-alusna (yang terbagus), bageur (baik hati ) menjadi pangbageurbageurna (yang terbaik hati).
14. Rarangkenan sa-R-na. Kata ulang dwilingga dapat diberi awalan sa- dan
akhiran -na. Contohnya adalah sebagai berikut: hade (bagus) menjadi
sahade-hadena (sebagus-bagusnya), bisa menjadi sabisa-bisana (sebisabisanya).
2.2 Stemming
Stemming adalah proses penghilangan prefiks, infiks dan sufiks dari suatu
kata. Stemming dilakukan atas dasar asumsi bahwa kata-kata yang memiliki stem
yang sama memiliki makna yang serupa sehingga pengguna tidak keberatan untuk
memperoleh dokumen-dokumen yang di dalamnya terdapat kata-kata dengan stem
yang sama dengan query-nya. Proses stemming tersebut dapat diilustrasikan
dengan Gambar 3.
Gambar 3 Ilustrasi proses stemming.
Teknik-teknik stemming dapat dikategorikan menjadi:
- berdasarkan aturan sesuai bahasa tertentu,
18
-
berdasarkan kamus,
-
berdasarkan kemunculan bersama.
Stemming dalam sistem temu kembali informasi tergantung pada bahasa
yang digunakan dalam dokumen yang akan dicari. Algoritme stemming untuk
bahasa Inggris kurang optimal untuk menangani dokumen dalam bahasa
Indonesia. Selain itu bahasa Indonesia pastinya juga memiliki daftar kata buang
(stoplist) serta sistem pembentukan kata yang sangat berbeda dengan bahasa
Inggris, sehingga diperlukan algoritme stemming yang khusus untuk bahasa
Indonesia. Demikian juga untuk bahasa Sunda, juga diperlukan algoritme
stemming khusus untuk mencari kata dasar dari suatu kata dalam bahasa Sunda.
Terdapat bermacam-macam jenis stemmer, di antaranya adalah: stemmer
infleksional yaitu stemmer yang membuang imbuhan (inflection) dari kata dengan
menggunakan aturan tata bahasanya. Contoh dari stemmer ini adalah stemmer
yang menggunakan algoritme Potter. Algoritme stemmer infleksional dalam
bahasa Indonesia salah satunya diteliti oleh Adriani et al. (2007). Jenis stemmer
yang lain adalah stemmer corpus-based, yaitu stemmer yang menggunakan
koleksi dokumen untuk mendapatkan kata dasar dari sebuah kata.
Siregar (1995) dalam penelitiannya menyatakan, untuk mendapatkan kata
dasar dari suatu kata berimbuhan, dilakukan proses stemming dan untuk menguji
apakah kata hasil stemming tersebut valid maka kata tersebut dibandingkan
dengan Kamus Besar bahasa Indonesia. Adriani et al. (2007), meneliti stemmer
morfologi untuk bahasa Indonesia dengan mengemukakan algoritme stemming
yang juga membandingkan kata yang akan di-stem dengan Kamus Besar bahasa
Indonesia. Pada penelitian lainnya, Ichsan (1996) mengemukakan teknik stemmer
corpus-based dengan menggunakan statistic co-occurace dari variasi kata untuk
mencari keakuratan hasil stemming. Tala (2003) melakukan modifikasi terhadap
algoritme Potter untuk stemming bahasa Indonesia. Semua stemmer-stemmer yang
diteliti oleh para peneliti di atas menghasilkan kata dasar dengan menghilangkan
imbuhan, sisipan dan akhiran dari kata-kata berimbuhan bahasa Indonesia.
19
2.3 Kesalahan Stemming
Menurut Paice (1996), terdapat dua jenis kesalahan dalam stemming, yaitu:
1. Understemming, adalah proses stemming yang menghasilkan kata yang tidak
terkelompok dalam satu kelompok atau kelas. Hal ini menyebabkan konsep
tunggal yang tersebar di beberapa hasil stem yang berbeda. Misalnya terdapat
kata-kata sebagai berikut: disanghareupeunana, sanghareupeun, hareup,
hareupeun, nyanghareup. Kata yang diharapkan setelah proses stemming
adalah hareup, akan tetapi ternyata setelah proses stemming hasilnya adalah
sanghareup, hareup dan nyanghareup.
2. Overstemming, adalah proses stemming yang menghasilkan kata namun kata
tersebut seharusnya tidak diletakan dalam kelompok atau kelas tertentu. Pada
proses stemming ternyata kata tersebut dimasukan dalam kelompok lainnya.
Contoh overstemming adalah: kata cina menghasilkan ci, kata tini
menghasilkan ti, dan lain-lain.
Algoritme stemming yang lebih banyak menghasilkan understemming
dibandingkan overstemming dikatagorikan dalam algoritme light stemming,
Sedangkan algoritme stemming yang lebih banyak menghasilkan overstemming
dibandingkan understemming dikategorikan dalam algoritme heavy stemming.
Download