MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIV Dosen Pengampu: Ns. Fatma Zulaikha, M.Kep KELOMPOK 1 NAMA NIM AGUS FRIYAYI 17111024110006 AHMAD RIZAL HIDAYAT 17111024110008 EMEL LINDA 17111024110038 HUDAYATI 17111024110046 OCTAVIANI 17111024110089 SITI AYSAH 17111024110107 WINDI LESTARI 17111024110120 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR FAKULTAS KESEHATAN DAN FARMASI PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN TAHUN AKADEMIK 2019/2020 KATA PENGANTAR Asslamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillahirabbilalamin banyak nikmat yang Allah berikan tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga kami dapat menyeselaikan Makalah Asuhan Keperawatan pada Ibu Hamil dengan HIV. Dalam penyusunannya, kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu Ns. Fatma Zulaikha, M.Kep, selaku Dosen Keperawatan HIV/AIDS yang telah memberikan dukungan, dan kepercayaan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan proposal ini. Kami menyadari bahwa proposal ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami sangat menerima kritik dan saran agar penyusunan makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah berkaitan dengan Asuhan Keperawatan pada Ibu Hamil dengan HIV ini bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabaraatuh Samarinda, Oktober 2019 Penyusun DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................ i DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2 C. Tujuan .................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3 A. Pengertian ............................................................................................... 3 B. Etiologi ................................................................................................... 4 C. Patofisiologi ........................................................................................... 5 D. Manifestasi Klinis .................................................................................. 7 E. Komplikasi ............................................................................................. 9 F. Pemeriksaan Penunjang ......................................................................... 9 G. Penatalaksanaan ................................................................................... 11 H. Cara penularan ..................................................................................... 16 I. Pencegahan ........................................................................................... 17 J. Pengkajian Keperawatan ...................................................................... 17 K. Intervensi Keperawatan ........................................................................ 20 BAB III PENUTUP ........................................................................................ 24 A. Kesimpulan .......................................................................................... 24 B. Saran ..................................................................................................... 25 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 26 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Menurut data WHO (World Health Organization) tahun 2012, penemuan kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di dunia pada tahun 2012 mencapai 2,3 juta kasus, dimana sebanyak 1,6 juta penderita meninggal karena AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan 210.000 penderita berusia di bawah 15 tahun (WHO, 2012) Berdasarkan data Ditjen P2PL (Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan), statistik kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dari tahun 2011-2012 mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2011 kasus baru HIV sebesar 21.031 kasus, kemudian meningkat menjadi 21.511 kasus pada tahun 2012. Begitu juga dengan AIDS dari tahun 2011 sebanyak 37.201 kasus, meningkat menjadi 42.887 kasus pada tahun 2012. Proporsi faktor risiko penderita HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual merupakan cara penularan dengan persentase tertinggi sebesar 77,75%, diikuti oleh penasun atau injecting drug user (IDU) sebesar 9,16% dan dari ibu ke anak sebesar 3,76% (Kemenkes RI, 2012) Salah satu upaya untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan HIV/AIDS sejak dini pada remaja, karena di Indonesia kasus HIV banyak menjangkiti pada usia produktif yaitu usia 20-49 tahun dan dapat diperkirakan remaja usia 15-24 tahun virus HIV sudah berada di dalam tubuhnya, hal ini dimungkinkan karena kurangnya informasi terkait HIV/AIDS pada remaja. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari HIV/AID? 2. Apa saja etiologi dari HIV/AIDS? 3. Bagaimana patofisiologi dari HIV/AIDS? 4. Apa saja manifestasi klinis dari HIV/AIDS? 5. Bagaimana cara penularan dari HIV/AIDS? 6. Bagaimana pencegahan dari HIV/AIDS? 7. Apa saja pengkajian keperawatan HIV/AIDS? 8. Bagaimana intervensi keperawatan HIV/AIDS? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian dari HIV/AID 2. Untuk mengetahui apa saja etiologi dari HIV/AIDS 3. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari HIV/AIDS 4. Untuk mengetahui apa saja manifestasi klinis dari HIV/AIDS 5. Untuk mengetahui bagaimana cara penularan dari HIV/AIDS 6. Untuk mengetahui bagaimana pencegahan dari HIV/AIDS 7. Untuk mengetahui apa saja pengkajian keperawatan HIV/AIDS 8. Untuk mengetahui bagaimana intervensi keperawatan HIV/AIDS BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian HIV/AIDS AIDS adalah sindrom yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui (Rampengan, 1993). AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). (Aziz Alimul Hidayat, 2006). AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi HIV (Price, 2000: 224) AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immodeficiency Virus) ditandai dengan sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh. (Depkes RI, 1992: 2) AIDS adalah suatu penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan kelainan imunolegik. (Price, 2000: 241) AIDS adalah suatu syndrome atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi imune yang berat dan merupakan manifestasi stadium akhir infeksi Human Immunedeficiency Virus (Syaefulloh, 1998) AIDS merupakan syndrome defisiensi immune yang didapat, rute satusatunya teridentifikasi dari transmisi melalui darah dan semen yang terkontaminasi oleh HIV (Engram, 1998) Dari semua pengertian di atas dapat disimpulkan, AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang ditandai dengan syndrome menurunnya sistem kekebalan tubuh, sehingga pasien AIDS mudah diserang oleh infeksi oportunistik dan kanker. B. Etiologi Menurut Hudak dan Gallo (1996), penyebab dari AIDS adalah suatu agen viral (HIV) dari kelompok virus yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah melalui hubungan seksual dan mempunyai aktivitas yang kuat terhadap limfosit T yang berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh manusia. HIV merupakan Retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom. HIV mempunyai kemampuan mengcopy cetakan materi genetic dirinya ke dalam materi genetic selsel yang ditumpanginya. Sedangkan menurut Long (1996) penyebab AIDS adalah Retrovirus yang telah terisolasi cairan tubuh orang yang sudah terinfeksi yaitu darah semen, sekresi vagina, ludah, air mata, air susu ibu (ASI), cairan otak (cerebrospinal fluid), cairan amnion, dan urin. Darah, semen, sekresi vagina dan ASI merupakan sarana transmisi HIV yang menimbulkan AIDS. Cairan transmisi HIV yaitu melalui hubungan darah (transfusi darah/komponen darah jarum suntik yang di pakai bersama sama tusuk jarum) seksual (homo bisek/heteroseksual) perinatal (intra plasenta dan dari ASI) Empat populasi utama pada kelompok usia pediatrik yang terkena HIV : 1. Bayi yang terinfeksi melalui penularan perinatal dari ibu yang terinfeksi (disebut juga transmisi vertikal); hal ini menimbulkan lebih dari 85% kasus AIDS pada anak-anak yang berusia kurang dari 13 tahun. 2. Anak-anak yang telah menerima produk darah (terutama anak dengan hemofilia). 3. Remaja yang terinfeksi setelah terlibat dalam perilaku risiko tinggi. 4. Bayi yang mendapat ASI (terutama di negara-negara berkembang) C. Patofisiologi Penyebab dari AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang termasuk dalam famili retrovirus. Virus HIV melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologik lain dan akan mengalami destruksi sel secara bertahap. Sel-sel ini, yang memperkuat dan mengulang respons imunologik, dan bila sel-sel tersebut berkurang dan rusak, maka fungsi imunologik lain terganggu. HIV merupakan retrovirus yang membawa informasi genetic RANA. Pada saat virus HIV masuk dalam tubuh virus akan menginfeksi sel yang mempunyai antigen CD4+ (Sel T pembantu, helper T cell). Sekali virus masuk ke dalam sel, virus akan membuka lapisan protein sel dan menggunakan enzim Reserve transcriptase untuk mengubah RNA. DNA virus akan terintergrasi dalam sel DNA host dan akan mengadakan duplikasi selama proses normal pembelahan. Dengan memasuki limfosit T4, virus memaksa limfosit T4 untuk memperbanyak dirinya sehingga akhirnya menyebabkan kematian limfosit T4. kematian limfosit T4 membuat daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi dari luar (baik virus lain, bakteri, jamur atau parasit). Hal itu menyebabkan kematian pada orang yang terjangkit HIV/AIDS. Selain menyerang limfosit T4, virus AIDS juga memasuki sel tubuh yang lain. Organ yang paling sering terkena adalah otak dan susunan saraf lainnya. Virus AIDS diliputi oleh suatu protein pembungkus yang sifatnya toksik (racun) terhadap sel. Khususnya sel otak dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang dapat mengakibatkan kematian sel otak. Sel CD4+ (Sel T pembantu / helper T cell) sangat berperan penting dalam fungsi system immune normal, mengenai antigen dan sel yang terinfeksi, dan mengaktifkan sel B untuk memproduksi antibody. Juga dalam aktivitas langsung pada cell-mediated cell immune (immune sel bermedia) dan mempengaruhi aktivitas langsung pada sel kongetitis duplikasi. Menurut Long (1996) retrovirus /HIV dibawa oleh hubungan seksual, tranfusi darah dan oleh ibu yang terkena infeksi ke fetus. Pada saat virus HIV masuk ke dalam aliran darha maka HIV mencari sel T4 dan pembantu sel virus melekat pada isyarat dari T4 dan masuk ke dalam sel dan mengarahkan metabolisme agar mengabaikan fungsi normal (kematian sel T4) dan memperbanyak dari HIV. HIV baru menempel kepada sel T4 dan menghancurkannya. Hal ini terjadi berulangulang kemudian terjadi sebagai berikut: 1. Infeksi Akut Terjadi infeksi imun yang aktif terhadap masuknya HIV ke dalam darah. HIV masih negatif. Gejala lainnya seperti demam, mual, muntah, berkeringat malam, batuk, nyeri saat menelan dan faringgitis. 2. Infeksi kronik Terjadi bertahun-tahun dan tidak ada gejala (asimtomatik), terjadi refleksi lambat pada sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel lainnya. 3. Pembengkakan kelenjar limfe Gejala menunjukkan hiperaktivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe dapat persisten selama bertahun-tahun dan pasien tetap merasa sehat. Pada masa ini terjadi progresi terhadap dari adanya hiperplasia folikel dalam kelenjar limfe sampai dengan timbulnya involusi dengan tubuh untuk menghancurkan sel dendritik pada otak juga sering terjadi, pembesaran kelenjar limfa sampai dua tahun atau lebih dari nodus limfa pada daerah inguinal selama tiga bulan atau lebih. HIV banyak berkonsentrasi pada liquor serebrospinal. 4. Penyakit lain akan timbul antara lain: a. Penyakit kontitusional b. Gejala dengan keluhan yang disebakan oleh hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan HIV seperti diare, demam lebih dari 1 bulan, berkeringat malam, terasa lelah yang berlebih, berat badan yang menurun sampe dengan 10% yang mengindikasikan AIDS (slim disease) c. Gejala langsung akibat HIV/Kompleks Demensia AIDS (AIDS demensia complex) d. Muncul penyakit-penyakit yang menyerang sistem syaraf antara lain mielopati, neuropati perifer, penyakit susunan syaraf otak, kehilangan memori secara fluktoatik, bingung, kesulitan konsentrasi, apatis dan terbatasnya kecepatan motorik. Demensia penuh dengan adanya gangguan kognitif, verbalisasi, kemampuan motorik, penyakit kontitusional. e. Infeksi akibat penyakit yang di sebabkan parasit: pneumonia carinii protozoa (PCP), cryptosporidictis (etero colitis), toxoplasmosis (CNS dissemminated desease), dan isoporiasis (coccodiosis), bakteri (infeksi mikrobakteri, bakteriemi, salmonella, tubercullosis), virus sitomegelovirus: hati, retinaparu-paru, kolon; herpes simplek) dan fungus (candidiasis pada oral, esofagus, intestinum) f. Kanker sekunder g. Muncul penyakit seperti sarcoma kaposi. h. Infeksi sekunder atau neoplasma lain yang berakibat pada kematian dimana sistem imunitas tubuh sudah pada batas minimal atau mugkin habis sehingga HIV menguasai tubuh. D. Manifesasi Klinis Masa antara terinfeksi HIV dan timbul gejala-gejala penyakit adalah 6 bulan-10 tahun. Rata-rata masa inkubasi 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan/5tahun pada orang dewasa. Tanda-tanda yang di temui pada penderita AIDS antara lain: 1. Gejala yang muncul setelah 2 sampai 6 minggu sesudah virus masuk ke dalam tubuh: sindrom mononukleosida yaitu demam dengan suhu badan 38 C sampai 40 C dengan pembesaran kelenjar getah benih di leher dan di ketiak, disertai dengan timbulnya bercak kemerahan pada kulit. 2. Gejala dan tanda yang muncul setelah 6 bulan sampai 5 tahun setelah infeksi, dapat muncul gejala-gejala kronis: sindrom limfodenopati kronis yaitu pembesaran getah bening yang terus membesar lebih luas misalnya di leher, ketiak dan lipat paha. Kemudian sering keluar keringat malam tanpa penyebab yang jelas. Selanjutnya timbul rasa lemas, penurunan berat badan sampai kurang 5 kg setiap bulan, batuk kering, diare, bercak-bercak di kulit, timbul tukak (ulceration), perdarahan, sesak nafas, kelumpuhan, gangguan penglihatan, kejiwaan terganggu. Gejala ini di indikasi adanya kerusakan sistem kekebalan tubuh. 3. Pada tahap akhir, orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak akan menderita AIDS. Pada tahap ini penderita sering di serang penyakit berbahaya seperti kelainan otak, meningitis, kanker kulit, luka bertukak, infeksi yang menyebar, tuberkulosis paru (TBC), diare kronik, candidiasis mulut dan pnemonia. Menurut Cecily L Betz, anak-anak dengan infeksi HIV yang didapat pada masa perinatal tampak normal pada saat lahir dan mulai timbul gejala pada 2 tahun pertama kehidupan. Manifestasi klinisnya, antara lain: a. Berat badan lahir rendah b. Gagal tumbuh c. limfadenopati umum d. Hepatosplenomegali e. Sinusitis f. Infeksi saluran pernapasan atas berulang g. Parotitis h. Diare kronik atau kambuhan i. Infeksi bakteri dan virus kambuhan j. Infeksi virus Epstein-Barr persisten k. Sariawan orofarings l. Trombositopenia m. Infeksi bakteri seperti meningitis n. Pneumonia interstisial kronik Lima puluh persen anak-anak dengan infeksi HIV terkena sarafnya yang memanifestasikan dirinya sebagai ensefalopati progresif, perkembangan yang terhambat, atau hilangnya perkembangan motoris. E. Komplikasi 1. Pneumonia Pneumocystis carinii (PPC) 2. Pneumonia interstitial limfoid 3. Tuberkulosis (TB) 4. Virus sinsitial pernapasan 5. Candidiasis esophagus 6. Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening) 7. Diare kronik F. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium menurut Mansjoer (2000), dapat dilakukan dengan dua cara: a. Cara langsung yaitu isolasi virus dari sampel. Umumnya dengan menggunakan microskop elektron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus adalah dengan polymerase chain reaction (PCR). Penggunaan PCR antara lain untuk; 1) Tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat pemeriksaan serologis. 2) Menetapkan status infeksi pada individu seronegatif 3) Tes pada kelompok rasio tinggi sebelum terjadi sero konversi 4) Tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk rendah. b. Cara tidak langsung yaitu dengan melihat respon zat anti spesifik tes, misalnya: 1) ELISA, sensitivitas tinggi (98,1-100%), biasanya memberikan hasil positif 2-3 buah sesudah infeksi. Hasil positif harus di konfirmasi dengan pemeriksaan Western Blot. 2) Western Blot, spsifitas tinggi (99,6-100%). Namun, pemeriksaan ini cukup sulit, mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif. 3) Imonofivoresceni assay (IFA) 4) Radio Imuno praecipitation assay (RIPA) 2. Pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa dan melacak virus HIV a. Status imun 1) Tes fungsi sel CD4 2) Sel T4 mengalami penurunan kemampuan untuk reaksi terhadap antigen 3) Kadar imunoglobutin meningkat 4) Hitung sel darah putih normal hingga menurun 5) Rasio CD4: CD8 menurun 3. Complete Blood Covnt (CBC) Dilakukan untuk mendeteks adanya anemia, leukopenia dan thrombocytopenia yang sering muncul pada HIV. 4. CD4 cell count Tes yang paling banyak digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit dan terapi yang akan dilakukan. 5. Blood Culture 6. Immune Complek Dissociaced P24 Assay Untuk memonitor perkembangan penyakit dan aktivitas medikasi antivirus. 7. Tes lain yang biasa dilakukan sesuai dengan manifestasi klinik baik yang general atau spesifik, antara lain: a. Tuberkulin skin testing Mendeteksi kemungkinan adanya infeksi TBC. b. Magnetik resonance imaging (MRI) Mendeteksi adanya lymphoma pada otak c. Spesifik culture dan serology examination (uji kultur spesifik dan scrologi) d. Pap smear setiap 6 bulan Mendeteksi dini adanya kanker rahim. Mendiagnosisi infeksi HIV pada bayi dari ibu yang terinfeksi HIV tidak mudah. Dengan menggunakan gabungan dari tes-tes di atas, diagnosis dapat ditetapkan pada kebanyakan anak yang terinfeksi sebelum berusia 6 bulan. Temuan laboratorium ini umumnya terdapat pada bayi dan anak-anak yang terinfeksi HIV : a. Penurunan jumlah limfosit CD4+ absolut b. Penurunan persentase CD4 c. Penurunan rasio CD4 terhadap CD3 d. Limfopenia e. Anemia, trombositopenia f. Hipergammaglobulinemia (IgG, IgA, IgM) g. Penurunan respons terhadap tes kulit (Candida albicans, tetanus) h. Respons buruk terhadap vaksin yang didapat (difteria, tetanus, morbilli, Haemophilus influenzae tipe B) Bayi yang lahir dari ibu HIV-positif, yang berusia kurang dari 18 bulan dan yang menunjukkan uji positif untuk sekurang-kurangnya dua determinasi terpisah dari kultur HIV, reaksi rantai polimerase-HIV, atau antigen HIV, maka ia dapat dikatakan “terinfeksi HIV”. Bayi yang lahir dari ibu HIV-positif, berusia kurang dari 18 bulan, dan tidak positif terhadap ketiga uji tersebut dikatakan “terpajan pada masa perinatal”. Bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV, yang ternyata antibodi-HIV negatif dan tidak ada bukti laboratorium lain yang menunjukkan bahwa ia terinfeksi HIV maka ia dikatakan “seroreverter” G. Penatalaksanaan Hingga kini belum ada penyembuhan untuk infeksi HIV dan AIDS. Penatalaksanaan AIDS dimulai dengan evaluasi staging untuk menentukan perkembangan penyakit dan pengobatan yang sesuai. Anak dikategorikan menggunakan tiga parameter: status kekebalan, status infeksi, dan status klinik. Seorang anak dengan tanda dan gejala ringan tetapi tanpa bukti adanya supresi imun dikategorikan sebagai A2. status imun didasarkan pada jumlah CD4 atau persentase CD4, yang tergantung usia anak. Kategorisasi Anak Infeksi HIV dan AIDS Kategori Imun Kategori Klinis (N) Tanpa (A) Tanda (B) Tanda (C) Tanda Tanda dan dan Gejala dan Gejala dan Gejala Gejala Ringan Sedang Hebat (1) Tanpa tanda supresi N1 A1 B1 C1 (2) Tanda supresi sedang N2 A2 B2 C2 (3) Tanda supresi berat N3 A3 B3 C3 Keterangan: Kategori Klinis HIV 1. Kategori N: Tidak bergejala Anak-anak tanpa tanda atau gejala infeksi HIV 2. Kategori A: Gejala ringan Anak-anak mengalami dua atau lebih gejala berikut ini: a. Limfadenopati b. Hepatomegali c. Splenomegali d. Dermatitis e. Parotitis f. Infeksi saluran pernapasan atas yang kambuhan/persisten, sinusitis, atau otitis media. 3. Kategori B: Gejala sedang Anak-anak dengan kondisi simtomatik karena infeksi HIV atau menunjukkan kekurangan kekebalan karena infeksi HIV: contoh dari kondisi-kondisi tersebut adalah sebagai berikut : a. Anemia, neutropenia, trombositopenia selama > 30 hari b. Meningitis bakterial, pneumonia, atau sepsis c. Sariawan persisten selama lebih dari 2 bulan pada anak di atas 6 bulan d. Kardiomiopati e. Infeksi sitomegalovirus dengan awitan sebelum berusia 1 bulan f. Diare, kambuhan atau kronik g. Hepatitis h. Stomatitis herpes, kambuhan i. Bronkitis, pneumonitis, atau esofagitis HSV dengan awitan sebelum berusia 1 bulan. j. Herpes zoster, dua atau lebih episode k. Leiosarkoma l. Penumonia interstisial limfoid atau kompleks hiperplasia limfoid pulmoner (LIP/PLH) m. Varisela zoster persisten n. Demam persisten > 1 bulan o. Toksoplasmosis awitan sebelum berusia 1 bulan p. Varisela, diseminata (cacar air berkomplikasi) 4. Kategori C: Gejala Hebat Anak dengan kondisi berikut ini: a. Infeksi bakterial multipel atau kambuhan b. Kandidiasis pada trakea, bronki, paru, atau esofagus c. Koksidioidomikosis, diseminata atau ekstrapulinoner d. Kriptosporodisis, intestinal kronik e. Penyakit, sitomegalovirus (selain hati, limpa, nodus), dimulai pada umur > 1 bulan. f. Retinitis sitomegalovirus (dengan kehilangan penglihatan) g. Ensefalopati HIV h. Ulkus herpes simpleks kronik (durasi > 1 bulan) atau pneumonitis atau esofatis, awitan saat berusia > 1 bulan. i. Histoplasmosis diseminata atau ekstrapulmoner j. Isosporiasis, intestinal kronik (durasi > 1 bulan) k. Sarkoma Kaposi l. Limfoma, primer di otak m. m.Limfoma (sarkoma Burkitt atau sarkoma imunoblastik) n. Kompleks Mycobacterium ovium atau mycobacterium kansasii, diseminata atau ekstrapulmoner. o. Penumonia Pneumocystis carinii p. Leukoensefalopati multifokal progresif q. Septikemia salmonela, kambuhan r. Toksoplasmosis pada otak, awitan saat berumur >1 bulan. s. Wasting syndrome karena HIV Selain mengendalikan perkembangan penyakit, pengobatan ditujukan terhadap mencegah dan menangani infeksi oportunistik seperti kandidiasis dan penumonia interstisial. Azidotimidin (zidovudin), videks, dan zalcitabin (dcc) adalah obat-obatan untuk infeksi HIV dengan jumlah CD4 rendah. Videks dan ddc kurang bermanfaat untuk penyakit sistem saraf pusat Trimetoprim sulfametoksazol (Septra, Bactrim) dan pentamadin digunakan untuk pengobatan dan profilaksis pneumonia cariini Pneumocystis (PCP). Pemberian imunoglobulin secara intravena setiap bulan sekali berguna untuk mencegah infeksi bakteri berat pada anak, selain untuk hipogamaglobulinemia. Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan infeksi HIV. Sebagai ganti vaksin poliovirus oral (OPV), anak-anak diberi vaksin virus polio yang tidak aktif (IPV). Memulihkan sistem imun. 1. Obat-obat yang telah dicoba dipakai adalah imunomodulator, seperti isoprenosino, interferon (alfa dan gamma), interleukin 2. Namun, sampai sekarang belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. 2. Transfusi limfosit dan transplantasi sumsum tulang. Memberantas virusnya. Salah satu cara untuk memutuskan rantai pembiakan virus AIDS adalah dengan “inhibiton reserve transcriptace” dengan obat suramin untuk menghambat efek sitopatis virus terhadap sel limposit-T helper, namun obat ini sangat toksik. Menurut Long (1996) perawatan diri pasien dengan AIDS adalah: 1. Upaya preventif meliputi: a. Penyuluhan kesehatan pada kelompok yang beresiko terkena AIDS. b. Anjuran bagi yang telah terinfeksi virus ini untuk tidak menyumbangkan darah, organ atau cairan semen. c. Modifikasi tingkah laku dengan: 1) Membantu mereka agar bisa merubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang beresiko atau yang kurang beresiko dengan mengubah kebiasaan seksual guna mencegah terjadinya penularan. 2) Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan tubuh dengan baik yaitu dengan asupan nutrisi dan vitamin yang cukup. 3) Pandangan hidup yang positif 4) Memberikan dukungan psikologis dan sosial d. Skrining darah donor terhadap adanya antibody HIV 2. Edukasi yang bertujuan: a. Mendidik pasien dan keluarganya tentang bagaimana menghadapi kenyataan hidup bersama AIDS, kemungkinan didiskriminasikan dari masyarakat sekitar, bagaimana tanggung jawab keluarga, teman dekat atau masyarakat lain. b. Pendidikan bagaimana cara hidup sehat, dengan mengatur diet, asupan nutrisi dan vitamin yang cukup, menghindari kebiasaan. H. Cara Penularan Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap HIV seperti air ludah (saliva) dan air mata serta urin, namun ciuman, kolam renang atau kontak social seperti berjabat tangan bukanlah merupakan cara untuk penularan. Oleh karena itu seorang anak yang terinfeksi HIV belum memberikan gejala AIDS tidak perlu dikucilkan dari sekolah atau pergaulan. Pada bayi dan anak penularan HIV dapat terjadi melalui ibu hamil yang sedang mengandung dengan HIV, transfuse darah yang mengandung HIV atau produksi darah yang berasal dari donor yang mengandung HIV, jarum suntuk yang tercemar HIV, dan hubungan seksual dengan penderita HIV. 1. Ibu hamil dengan HIV (+) Ibu hamil yang mengandung HIV di dalam tubuhnya dapat menularkan ke bayi yang dikandunfnya. Ibu sendiri biasanya belum menunjukan gejala klinis AIDS. Cara transmisi ini juga disebut dengan transmisi vertical. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta (intrauterine) atau inpartum, yaitu pada waktu bayi lahir terpapar dengan darah ibu atau secret genetalia yang mengandung HIV. HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV di dalam tubuhnya. 2. Transfusi Penularan dapat terjadi melalui transfuse darah yang mengandung HIV atau produk darah yang berasal dari donor yang mengandung HIV. Dengan sudah dilakukan skrining darah donor terhadap HIV maka transmisi melalui cara ini akan menjadi jauh berkurang. 3. Jarum suntik Penularan melalui cara ini terutama ditemukan pada anak remaja penyalahgunaan obat IV yang menggunakan jarum suntik bersama. 4. Hubungan seksual dengan pengidap HIV Penularan cara ini ditemukan pada anak remaja yang berganti-ganti pasangan. I. Pencegahan Langkah-langkah untuk mencegah penyebaran penyakit AIDS, adalah: 1. Menghindari hubungan seksual dengan penderita AIDS 2. Mencegah hubungan seksual dengan partner banyak atau dengan orang yang mempunyai banyak partner 3. Menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotik yang menggunakan obat suntik. 4. Orang-orang dari kelompok resiko tinggi dicegah menjadi donor darah. 5. Pemberian transfusi darah hanya untuk pasien-pasien yang benar-benar perlu 6. Pada setiap suntikan harus terjamin sterilitas atau suntiknya 7. Penularan pada bayi dan anak dapat terjadi pada waktu hamil, melahirkan maupun postpartum, maka sebaiknya wanita dengan resiko tinggi AIDS jangan hamil dan jangan melahirkan. ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian Keperawatan 1. Data Subjektif, mencakup: a. Pengetahuan klien tentang AIDS b. Data nutrisi, seperti masalah cara makan, BB turun c. Dispneu (serangan) d. Ketidaknyamanan (lokasi, karakteristik, lamanya) 2. Data Objektif, meliputi: a. Kulit, lesi, integritas terganggu b. Bunyi nafas c. Kondisi mulut dan genetalia d. BAB (frekuensi dan karakternya) e. Gejala cemas 3. Pemeriksaan Fisik a. Pengukuran TTV b. Pengkajian Kardiovaskuler c. Suhu tubuh meningkat, nadi cepat, tekanan darah meningkat. Gagal jantung kongestif sekunder akibat kardiomiopati karena HIV. d. Pengkajian Respiratori e. Batuk lama dengan atau tanpa sputum, sesak napas, takipnea, hipoksia, nyeri dada, napas pendek waktu istirahat, gagal napas. f. Pengkajian Neurologik g. Sakit kepala, somnolen, sukar konsentrasi, perubahan perilaku, nyeri otot, kejang-kejang, enselofati, gangguan psikomotor, penurunan kesadaran, delirium, meningitis, keterlambatan perkembangan. h. Pengkajian Gastrointestinal i. Berat badan menurun, anoreksia, nyeri menelan, kesulitan menelan, bercak putih kekuningan pada mukosa mulut, faringitis, candidisiasis esophagus, candidisiasis mulut, selaput lender kering, pembesaran hati, mual, muntah, colitis akibat diare kronis, pembesaran limfa. j. Pengkajain Renal k. Pengkajaian Muskuloskeletal l. Nyeri otot, nyeri persendian, letih, gangguan gerak (ataksia) m. Pengkajian Hematologik n. Pengkajian Endokrin 4. Kaji status nutrisi 5. Kaji adanya infeksi oportunistik 6. Kaji adanya pengetahuan tentang penularan Uji Laboratorium dan Diagnostik 1. ELISA: Enzyme-linked immunosorbent assay (uji awal yang umum) untuk mendeteksi antibody terhadap antigen HIV (umumnya dipakai untuk skrining HIV pada individu yang berusia lebih dari 2 tahun). 2. Western blot (uji konfirmasi yang umum) untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV. 3. Kultur HIV untuk memastikan diagnosis pada bayi. 4. Reaksi rantai polimerase (Polymerase chain reaction)/PCR untuk mendeteksi asam deoksiribonukleat (DNA) HIV (uji langsung ini bermanfaat untuk mendiagnosis HIV pada bayi dan anak). 5. Uji antigen HIV untuk mendeteksi antigen HIV. 6. HIV, IgA, IgM untuk mendeteksi antibodi HIV yang diproduksi bayi (secara eksperimental dipakai untuk mendiagnosis HIV pada bayi). Temuan laboratorium yang terdapat pada bayi dan anak yang terinfeksi HIV : 1. Penurunan jumlah limfosit CD4+ absolut 2. Penurunan persentase CD4 3. Penurunan rasio CD4 terhadap CD8 4. Limfopenia 5. Anemia, trombositopenia 6. Hipergammaglobulinemia (IgG, IgA, IgM) 7. Penurunan respons terhadap tes kulit (Candida albicans, tetanus) 8. Respons buruk terhadap vaksin yang didapat (difteria, tetanus, morbili, Haemophilus influenzae tipe B) B. Intervensi Keperawatan No. Diagnosa keperawatan NOC NIC 1. Defisit nutrisi Setelah dilakukan asuhan Manajemen Nutrisi berhubungan dengan keperawatan selama...x24 1.1 Monitor ketidakmampuan jam, diharapkan klien dapat kecendrungan terjadinya mencerna makanan mengatasi dengan indikator : penurunan dan kenaikan Status nutrisi asupan berat badan. makanan dan cairan 1.2 Tawarkan makanan 1. Asupan makanan secara ringan yang padat gizi oral dari skala 1 ke 5 Manajemen mual 2. Asupan cairan secara oral 1.3 Kurangi atau dari skala 1 ke 5 hilangkan faktor – faktor yang bersifat personal Keterangan skala yang memicu atau 1. Tidak Adekuat meningkatkan mual ( 2. Sedikit Adekuat kecemasan, takut, 3. Cukup Adekuat kelelahan, dan kurangnya 4. Sebagian Besar Adekuat pengetahuan). 5. Sepenuhnya Adekuat 1.4 Ajari penggunaan Keterangan skala teknik nonfarmakologi 1. berat (misalnya biofeedback, 2. cukup berat hipnosis, relaksasi, 3. sedang imajinasi terbimbing, 4. ringan terapi musik, distraksi, 5. tidak Ada akupresur) untuk mengatasi mual. 2. Hipertermi berhubungan Setelah diberikan tindakan 2.1 Pantau suhu dan dengan proses penyakit keperawatan 3 x 24 jam tanda-tanda vital lainnya diharapkan suhu panas pasien 2.2 Monitor warna kulit dapat teratasi dengan dan suhu indikator : 2.3 Monitor asupan dan 1. Hipertermia dari skala (2) keluaran, sadari menjadi skala (5) perubahan kehilangan Keterangan : cairan yang tak (1)Sangat terganggu dirasakan (2)Banyak terganggu 2.4 Beri obat atau cairan (3)Cukup terganggu IV (misalnya., antipiretik, (4)Sedikit terganggu agen antibakteri, dan agen Tidak terganggu anti menggigil) 2.5 Pastikan tanda lain dari infeksi yang terpantau pada orangtua, karena hanya menunjukan demam ringan atau tidak demam sama sekali selama proses infeksi 3. Defisit nutrisi b.d. Setelah dilakukan asuhan 3.1 Tentukan status gizi ketidakmampuan keperawatan selama 3x24 dan kemampuan mencerna makanan jam, diharapkan klien dapat (pasien) untuk mengatasi asupan makanan memenuhi kebutuhan dengan indicator: gizi 1. Asupan makanan secara 3.2 Identifikasi (adanya) oral dari skala 1 ke skala alergi atau intoleransi 5 makanan yang dimiliki Keterangan: (1) Tidak adekuat (2) Sedikit adekuat pasien 3.3 Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi (3) Cukup adekuat yang dibutuhkan untuk (4) Sebagian besar adekuat memenuhi persyaratan (5) Sepenuhnya adekuat gizi 3.4 Ciptakan lingkungan yang optimal pada saat mengkonsumsi maknan (misalnya, bersih, berventilasi, santai, dan bebas dari bau yang menyengat) 3.5 Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan 3.6 Anjurkan pasien untuk duduk pada posisi tegak di kursi, jika memungkinkan 3.7 Pastikan makanan disajikan menarik pada suhu yang cocok untuk konsumsi secara optimal 3.8 Anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorit pasien sementara (pasien) berada di rumah sakit atau fasilitasi perawatan, yang sesuai 3.9 Pastikan diet mencakup makanan tinggi kandungan serat untuk mencegah konstipasi 4. Risiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan Terapi Nutrisi keperawatan selama 3x24 jam 3.1 Monitor instruksi diet diharapkan Status imunitas yang sesuai untuk dapat ditingkatkan dengan memenuhi kebutuhan indicator: nutrisi (pasien) perhari Tingkat sel T8 dari skala (1) sesuai kebutuhan menjadi skala (5) 3.2 Berikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai batas Keterangan: diet yang dianjurkan (1) Sangat terganggu 3.3 Ajarkan pasien dan (2) Banyak tertanggu keluarga mengenai diet (3) Cukup terganggu yang dianjurkan (4) Sedikit terganggu 3.4 Tentukan jumlah (5) Tidak terganggu kalori dan tipe nutrisi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dengan berkolaborasi bersama ahli gizi, sesuai kebutuhan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan AIDS disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu suatu lentivirus dari golongan retroviridae. Transmisi infeksi HIV dapat melalui hubungan seksual, darah atau produk darah yang terinfeksi, jarum yang terkontaminasi, serta transmisi vertikal dari ibu ke anak Gejala klinis pada infeksi HIV meliputi stadium: Serokonversi, periode inkubasi, AIDS–related complex atau persistent generalized lymphadenopathy, periode AIDS Diagnosis infeksi HIV dan AIDS dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi. Penatalaksanaan penderita dengan infeksi HIV atau AIDS meliputi pengobatan suportif, pengobatan infeksi oportunistik dengan antibiotik, antijamur, antiparasit, antivirus dan glukokortikoid, pengobatan neoplasma, serta pengobatan dengan antiretroviral (ARV). Dalam penatalaksanaan infeksi HIV, saat ini digunakan kombinasi dari beberapa obat sekaligus, yang disebut highly active antiretroviral therapy (HAART). WHO menganjurkan pemberian ARV untuk negara yang mempunyai dana yang terbatas dengan kombinasi: 2NRTI + INNRTI atau abacavir atau PI. Penatalaksanaan HIV secara klinis pada kehamilan terus dikembangkan untuk menekan transmisi secara vertikal. Salah satunya dengan pemberian antiretrovirus yang bertujuan untuk mengurangi viral load serendah mungkin. Penatalaksanaan yang efektif untuk mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak tergantung pada saat kapan wanita tersebut mengetahui status HIV-nya sehingga dapat ditentukan penatalaksanaan secepatnya. Oleh karena itu, peranan konseling dan tes HIV bagi ibu hamil sangat penting sebagai deteksi dini terhadap infeksi HIV. Untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA perlu diadakannya penyuluhan dan edukasi yang benar tentang apa itu HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya sehingga masyarakat tidak perlu sampai mengucilkan ODHA tetapi justru dapat memberikan dukungan dan motivasi kepada mereka untuk dapat bertahan hidup dan berdaya di lingkungan masyarakat. B. Saran 1. Masyarakat membutuhkan edukasi tentang bahaya penyakit HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya yang benar agar stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dapat diluruskan. Untuk itu perlu diadakannya seminar dan penyuluhan tentang HIV/AIDS serta diselenggarakannya acara testimonial dari para ODHA untuk pelajar dan mahasiswa. 2. ODHA butuh mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, selain itu Dukungan Kawan Sebaya juga dapat memberikan semangat hidup bagi penderita HIV/AIDS DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa: I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta Kuswayan. 2009. Apa itu HIV/AIDS?. http://www.kswann.com/WhatisHIVAIDS.pdf. Lamongan, 10 Desember 2010. 13.00 WIB (access online) Yati, Ida. 2010. AIDS pada ibu hamil. http://www.docstoc.com/docs/. Lamongan, 10 Desember 2010. 13.10 WIB (access online) Administrator. 2010. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) pada kehamilan. http://www.mkb-online.org/. Lamongan, 10 Desember 2010. 13.30 WIB (access online)