peran lingkungan sosial dalam pencegahan malaria di kecamatan

advertisement
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
PERAN LINGKUNGAN SOSIAL DALAM PENCEGAHAN MALARIA
DI KECAMATAN KISAM TINGGI
KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN
Indah Margarethy1*,Aprioza Yenni1
1
Loka Litbang P2B2 Baturaja Jl. A.Yani KM 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan
Abstract
Malaria is still a public health problem in Ogan Komering Ulu Selatan. This is evident from the
Annual Parasite Incidence (API) in the District OKUS of 0.16 per 1000 population in 2013. The
physical and socio-cultural environment in the District Kisam Tinggi role in the distribution of
malaria in the region, as well as people's behavior cannot be separated from social conditions,
one of which social groups can influence a person's health behaviors in the prevention of
malaria. This study aims to identify social environment factor that plays a dominant role in the
prevention of malaria in Kisam Tinggi Sub District. This type of research is non-intervention
research with descriptive design.The sample was head of the family or household members
elected as many as 179 respondents. Data collection was carried out by interviews using
structured questionnaire. The results of this study, the family is the most social environment
plays a role in the prevention of malaria (36.9%), the family in question is the nuclear family and
extended family. Neighbours also acts provide examples or information about malaria
prevention to the respondents (5.6%), because of their attachment to ethnicity of respondents,
is ethnic Kisam. Cleaning up the environment around the house, using mosquito nets or
mosquito repellent, wearing protective clothingand taking malaria medicine are preventive
methods thatinfluenced by the social environment surrounding and form respondents to behave
according to what exemplified from the social environment.
Keywords:. Social environment, family, neighbours, malaria prevention
SOCIAL ROLE IN THE PREVENTION OF MALARIA
IN KISAM TINGGI SUBDISTRICT
OGAN KOMERING ULU SELATAN REGENCY
Abstrak
Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS).
Hal ini terlihat dari Annual Parasite Incidence (API) di Kabupaten OKUS sebesar 0,16 per 1000
penduduk pada tahun 2013. Lingkungan fisik maupun sosiokultural yang ada di Kecamatan
Kisam Tinggi berperan dalam distribusi malaria di wilayah ini, begitu juga perilaku
masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial, salah satunya kelompok sosial yang
dapat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang dalam pencegahan malaria. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi lingkungan sosial yang dominan berperan dalam upaya
pencegahan malaria di Kecamatan Kisam Tinggi Kabupaten OKUS. Jenis penelitian ini adalah
penelitian non intervensi dengan desain deskriptif. Sampel penelitian ini adalah kepala keluarga
atau anggota rumah tangga terpilih sebanyak 179 responden.Pengumpulan data dilakukan
melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling berperan dalam upaya pencegahan malaria
(36,9%), keluarga yang dimaksud adalah keluarga inti dan keluarga besar. Tetangga juga
*
Alamat korespondensi penulis pertama : [email protected]
1
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
berperan memberikan contoh ataupun informasi mengenai pencegahan malaria kepada
responden (5,6%), karena adanya keterikatan kesamaan suku/etnis responden, yaitu suku
Kisam. Membersihkan lingkungan di sekitar rumah, menggunakan kelambu atau obat nyamuk,
memakai baju panjang dan mengkonsumsi obat malaria merupakan cara pencegahan yang
dipengaruhi oleh peran lingkungan sosial disekitar responden dan membentuk responden untuk
berperilaku sesuai dengan apa yang dicontohkan dari lingkungan sosialnya.
Kata Kunci: Lingkungan sosial, keluarga, tetangga, pencegahan malaria
Naskah masuk: tanggal 1 Februari 2016 ; Review I: tanggal 9 Februari 2016; Review II: tanggal 15 April 2016; Layak
Terbit: tanggal 23 Juni 2016
PENDAHULUAN
Malaria adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh parasit (protozoa) dari
genus Plasmodium, yang dapat ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anophelesspp, yang
ditandai dengan gejala demam (fever), sakit
kepala, pembengkakan limpa disertai
anemia.1
Malaria ditemukan hampir di seluruh
belahan dunia, terutama di negara-negara
yang
beriklim
tropis
dan
subtropis.Penduduk yang berisiko terkena
malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau
41% dari populasi dunia. Guerra CA, dkk
pada tahun 2008 memperkirakan sekitar
35% dari populasi dunia tinggal di daerah
yang berisiko penularan Plasmodium
falciparum, dan sekitar 1 milyar orang-orang
yang tinggal di daerah yang berisiko rendah
masih ada penularan malaria.2
Badan Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan insiden malaria di dunia
pada tahun 2010 mencapai 215 juta kasus
dan diantaranya yang terinfeksi parasit
Plasmodium sekitar 655 ribu, sebanyak 90
persen kematian terjadi pada anak-anak
dengan rasio 1:4 anak balita di Afrika
meninggal karena malaria.2 Malaria juga
menyebabkan negara kehilangan 12% dari
pendapatan nasional untuk menanggung
biaya penanggulangan malaria, selain itu di
berbagai negara, penyakit ini bukan hanya
permasalahan kesehatan semata, namun
telah menjadi masalah sosial, ekonomi,
seperti kerugian ekonomi (economic lost),
kemiskinandan keterbelakangan.3 Malaria
menjadi masalah kesehatan di lebih dari 90
negara dan endemis disekitar 100 negara,
termasuk Indonesia.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi
WHO menetapkan malaria sebagai salah
satu penyakit yang menjadi prioritas
Millennium Development Goals (MDGs) dan
menjadi perhatian serius oleh pemerintah
salah satunya dengan adanya program
eliminasi malaria tahun 2030 yang diatur
dalam
KEPMENKES
Nomor
293/MENKES/SK/IV/2009. Eliminasi malaria
di Indonesia dilakukan secara bertahap,
yaitu DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu
eliminasi pada tahun 2010, Pulau Jawa,
Provinsi NAD dan Provinsi Kepulauan Riau
pada tahun 2015, dan Pulau Sumatera,
Provinsi NTB, Pulau Kalimantan, dan Pulau
Sulawesi pada tahun 2020, serta provinsi
Papua, Povinsi Papua Barat, Provinsi NTT,
Provinsi Maluku, dan Provinsi Maluku Utara
pada tahun 2030.3
Malaria di Indonesia ditemukan
tersebar luas pada semua pulau dengan
derajat
dan
berat
infeksi
yang
bervariasi.Menurut data yang berkembang
hampir separuh dari populasi Indonesia
bertempat tinggal di daerah endemik
malaria dan diperkirakan ada 30 juta kasus
malaria setiap tahunnya.1 Dari 200 lebih
kabupaten/kota yang ada di Indonesia,
sebanyak 167 kabupaten/kota merupakan
wilayah endemis malaria, salah satunya
kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi
Sumatera Selatan.4
Provinsi
Sumatera
Selatan
merupakan salah satu provinsi di Indonesia
yang sedang berkembang dengan luas
wilayah ± 87.017,42 km2 yang terdiri dari
daerah
pegunungan
dan
dataran
rendah/rawa-rawa. Secara geografis kondisi
wilayah di daerah Sumatera Selatan yang
terdiri dari rawa-rawa, hutan, perkebunan,
persawahan merupakan habitat alami dari
2
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
vektor nyamuk Anopheles dan pada saat
musim tanam/panen penduduk banyak
yang bermukim di lokasi pertanian dan
perkebunan, oleh sebab itu malaria masih
menjadi masalah kesehatan yang utama di
Provinsi Sumatera Selatan, salah satunya di
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
(OKUS). Hal ini terlihat dari Annual Parasite
Incidence (API) di Kabupaten OKUS
sebesar 0,16 per 1000 penduduk pada
tahun 20135, selain itu Kabupaten OKUS,
khususnya Kecamatan Kisam Tinggi
memiliki
kondisi
topografi
wilayah
perbukitan-perkebunan
dan
mata
pencaharian masyarakatnya yang rata-rata
bertani/berkebun tanaman karet dan kopi
mempunyai peranan besar dalam distribusi
malaria. Kebun-kebun karet dan kopi yang
dimiliki masyarakat pada umumnya berada
di wilayah perbukitan dan mereka
mendirikan rumah-rumah sederhana di
dekat kebun sebagai tempat beristirahat
bahkan untuk tinggal beberapa malam.
Hasil studi dinamika penularan malaria di
Desa Tenang Kecamatan Kisam Tinggi
Kabupaten OKU Selatan menunjukkan
masyarakat pemilik kebun memiliki rumah
permanen (menetap) di pusat desa, dan
aktivitas berkebun kopi dapat dikerjakan
dalam satu hari ataupun selama beberapa
hari dan menginap di kebun. Selain itu
sebagian masyarakat yang menempati
rumah-rumah sementara di areal kebun
kopi adalah para petani penggarap yang
sehari-hari
memang
menghabiskan
waktunya di kebun kopi dan sesekali turun
ke desa terdekat untuk membeli keperluan
rumah tangga.6 Penelitian yang dilakukan
oleh Bogh dan kawan-kawan (2004) di
lokasi
yang
sama
menunjukkan
kebanyakan penderita malaria klinis yang
datang ke tempat pelayanan kesehatan
(Puskesmas dan Bidan) tinggal di kebun
kopi atau banyak menghabiskan waktunya
di kebun kopi.7
Menurut sosiolog, bahwa perilaku
manusia tidak bisa dipisahkan dari konteks
atau setting sosialnya8, salah satunya
kelompok sosial.Setiap individu menjadi
anggota dari satu atau lebih kelompok
sosial
di
dalam
masyarakat
dan
menjalankan perannya sesuai dengan
kedudukan dalam kelompoknya.Selama
proses
sosialisasi,
individu
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
mengembangkan
kepribadian
melalui
interaksi dengan setiap individu lain di
dalam kelompok-kelompok tersebut, dan
kelompok-kelompok tersebut merupakan
agen/mediasosialisasi dalam membentuk
kepribadian seseorang, yang juga dapat
mempengaruhi
perilakunya,
termasuk
perilaku kesehatannya. Kelompok-kelompok
yang
merupakan
agen/media
sosial
menurut ilmu sosiologi yang dapat
mempengaruhi perilaku individu mencakup:
keluarga, teman sepergaulan, lembaga
pendidikan (sekolah), media massa dan
agen lainnya, seperti institusi agama,
tetangga,
organisasi
rekreasional
masyarakat dan lingkungan kerja.9
Perilaku kesehatan pada dasarnya
adalah
suatu
respon
seseorang
(organisme) terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan.Perilaku seseorang terhadap
sakit dan penyakit adalah bagaimana
manusia berespons, baik secara pasif
(mengetahui, bersikap dan mempersepsi
penyakit atau rasa sakit yang ada pada
dirinya dan diluar dirinya), maupun aktif
(tindakan) yang dilakukan sehubungan
dengan
penyakit
atau
sakit
tersebut.Perilaku terhadap sakit dan
penyakit ini dengan sendirinya sesuai
dengan
tingkat-tingkat
pencegahan
penyakit,
salah
satunya
perilaku
pencegahan penyakit (health preevention
behaviour)
adalah
respons
untuk
melakukan pencegahan penyakit, misalnya
tidur memakai kelambu untuk mencegah
gigitan nyamuk malaria, imunisasi, dan
sebagainya.10
Penelitian ini bertujuan untuk melihat
lingkungan sosial yang dominan berperan
dalam upaya pencegahan malaria di
Kecamatan Kisam Tinggi Kabupaten OKUS.
METODE
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan
Kisam Tinggi Kabupaten Ogan Komering
Ulu Selatan. Jenis penelitian ini adalah
penelitian non intervensi, yakni peneliti
hanya menjelaskan dan menganalisis
obyek atau situasi tetapi tidak melakukan
intervensi,
dengan desain penelitian
3
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
deskriptif.
Populasi penelitian adalah
penduduk yang berada di Kecamatan Kisam
Tinggi sebesar 21.479 penduduk. Sampel
penelitian ini adalah Kepala Keluarga (KK)
atau anggota rumah tangga terpilih yang
memenuhi kriteria inklusi, yaitu berumur 17
tahun ke atas dan sehat jasmani
rohani.Besarnya sampel yang diambil
dalam
penelitian
ini
dilakukan
menggunakan rumus Solvin, yaitu:
n
N
1  Ne 2
Dimana :
n
= Ukuran Sampel
N
= Ukuran Populasi (21.479)
e
= Nilai Kritis (batas ketelitian) yang
diinginkan (0,0745)
maka diperoleh jumlah sampel 179
responden.
Penarikan
sampel
menggunakan teknik acak sederhana
(Simple Random Sampling). Instrumen dan
cara pengumpulan data dilakukan dengan
cara wawancara menggunakan instrumen
kuesioner terstruktur. Data kuantitatif yang
berhasil dikumpulkan dianalisis secara
deskritif.
HASIL
1. Karakteristik Responden
Jumlah responden yang diwawancarai
dalam penelitian ini sebanyak 179 orang
yang sebagian besar berjenis kelamin
perempuan (59,2%), dengan kisaran
kelompok umur paling banyak yaitu 20-30
tahun
(41,3%).
Jenjang
pendidikan
responden sangat bervariasi dari yang tidak
pernah sekolah sampai jenjang perguruan
tinggi/akademi, paling banyak responden
hanya sampai pada tingkat pendidikan
Sekolah Dasar (SD), dengan persentase
30,7%. Data karakteristik responden
berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur,
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
dan jenjang pendidikan secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 1.
Sebagian besar responden adalah
penduduk asli Kisam Tinggi (86%) dengan
memiliki jenis mata pencarian yang
bervariasi pula, namun sebagian besar
responden
bekerja
sebagai
petani/penggarap kebun kopi (72,1%).
Kegiatan kemasyarakatan yang paling
banyak diikuti adalah kelompok PKK
(13,4%), dan Badan Permusyawaratan
Desa (10,6%), secara rinci dapat dilihat
pada Tabel 2.
2. Peran Lingkungan Sosial dalam
Pencegahan Malaria
Cara pencegahan malaria yang
dilakukan responden merupakan perilaku
yang diketahui sendiri (54,2%), akan tetapi
sebagian responden berpendapat bahwa
cara pencegahan malaria yang dilakukan
karena melihat orang lain atau mencontoh
kebiasaan dari orang yang hidup disekitar
responden.
Kelompok acuan atau orang yang
memberi contoh kepada responden dalam
mencegah malaria sebagian besar adalah
saudara atau keluarga dekat (36,9%), lalu
tetangga (5,6%), yang menarik disini bahwa
responden lebih menerima media televisi
sebagai kelompok acuan yang memberikan
contoh
pencegahan
malaria
(2,2%)
dibandingkan
dengan
kader/petugas
kesehatan serta tokoh masyarakat, seperti
kepala desa (0,6%). Artinya media massa,
yaitu televisi mempunyai peran dalam
memberikan informasi, salah satunya
informasi mengenai penyakit malaria. Pada
Tabel 3 terlihat secara rinci mengenai cara
pencegahan malaria yang responden
adaptasikan
meliputi;
membersihkan
lingkungan di sekitar rumah (25,1%),
menggunakan
kelambu
(14%),
menggunakan
obat
nyamuk
(5,6%),
memakai baju panjang dan mengkonsumsi
obat malaria (0,6%).
4
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
Tabel 1. Distribusi persentase karakteristik responden
Karakteristik responden (N=179)
Jenis Kelamin
 Laki-laki
 Perempuan
Kelompok Umur
 < 20 tahun
 20-30 tahun
 31-40 tahun
 41-50 tahun
 > 50 tahun
Jenjang Pendidikan
 Tidak pernah sekolah
 Tidak tamat SD
 Tamat SD
 Tidak tamat SMP
 Tamat SMP
 Tidak tamat SMU
 Tamat SMU
 Akademi/PT
Suku Asal
 Baturaja
 Jawa
 Kisam
 Komering
 Lahat
 Lampung
 Muara Dua
 Ogan
 OKI
 Padang
 Palembang
 Sekayu
Pekerjaan
 Petani kebun kopi
 Nelayan
 Pedagang
 Wiraswasta/Usahawan
 Pegawai:(PNS, BUMN, BUMD, Karyawan Swasta)
 Tidak tekerja
 Ibu rumah tangga
Frekuensi
Persentase
(%)
73
106
40,8
59,2
7
74
46
34
18
3,9
41,3
25,7
19,0
10,1
5
21
55
8
35
1
42
12
2,8
11,7
30,7
4,5
19,6
0,6
23,5
6,7
1
12
154
3
1
1
1
2
1
1
1
1
0,6
6,7
86,0
1,7
0,6
0,6
0,6
1,1
0,6
0,6
0,6
0,6
129
1
6
10
20
5
8
72,1
0,6
3,4
5,6
11,2
2,8
4,5
5
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Tabel 2. Distribusi persentase responden berdasarkankelompok kegiatan kemasyarakatan
yang diikutinya
Karakteristik Responden (N=179)
Frekuensi
Mengikuti kelompok kegiatan kemasyarakatan
 Ya
 Tidak
Jika Ya, Kelompok Kegiatan yang diikuti
 PKK
 Dasawisma
 Kelompok Pengajian
 BPD
 Tokoh Masyarakat
 PKK dan Pengajian
 PKK dan Kader Posyandu
 999 (tidak berhak menjawab)
Persentase (%)
71
108
39,7
60,3
24
1
9
19
3
12
3
108
13,4
0,6
5,0
10,6
1,7
6,7
1,7
60,3
Tabel 3. Distribusi persentase pengaruh lingkungan sosial
Pengaruh lingkungan (N=179)
Frekuensi
Informasi cara pencegahan malaria didapatkan dari
orang lain
 Ya
 Tidak
Orang yang memberi informasi
 Saudara/Keluarga
 Tetangga
 Kader/Petugas Kesehatan
 Kepala Desa/Tokoh Masyarakat
 Media Televisi
 999 (tidak berhak menjawab)
Bentuk perbuatan pencegahan yang diadaptasi dari
orang lain
 Membersihkan lingkungan
 Menggunakan kelambu
 Menggunakan obat nyamuk
 Memakai baju panjang
 Minum obat malaria
 999 (tidak berhak menjawab)
BAHASAN
Blum dari hasil penelitiannya di
Amerika
menyatakan
bahwa
status
kesehatan seseorang itu dipengaruhi oleh
empat faktor, yaitu lingkungan, perilaku,
pelayanan
kesehatan,
dan
herditas/keturunan. Hendrick L. Blum
menyimpulkan
bahwa
lingkungan
mempunyai andil yang paling besar
terhadap status kesehatan.1 Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
Persentase (%)
82
97
45,8
54,2
66
10
1
1
4
97
36,9
5,6
0,6
0,6
2,2
54,2
45
25
10
1
1
97
25,1
14
5,6
0,6
0,6
54,2
manusia, baik berupa benda hidup, benda
mati, benda nyata ataupun abstrak.
Disamping lingkungan fisik juga ada
lingkungan sosial yang berperan, sebagai
mahluk sosial kita membutuhkan bantuan
orang lain, sehingga interaksi individu satu
dengan yang lainnya harus terjalin dengan
baik. Artinya lingkungan sosial dapat
mempengaruhi perilaku seseorang, salah
satunya perilaku pencegahan malaria.
6
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
Secara sosiologis, lingkungan sosial
secara nyata mempengaruhi perilaku
seseorang, dan perilaku seseorang akan
mempengaruhi status dan perannya
didalam masyarakat. Status adalah posisi
seseorang dalam suatu kelompok atau
posisi suatu kelompok dalam hubungannya
dengan kelompok lain. Peran adalah
perilaku yang diharapkan dari seseorang
yang memiliki status tertentu. Peran juga
berkaitan
dengan
nilai
sosial
dari
lingkungannya, individu akan memiliki peran
yang berbeda di dalam suatu masyarakat
yang disebabkan oleh faktor lingkungan
sosialnya.9
dapat dilakukan adalah mencegah
gigitan nyamuk, memberikan obat-obat
untuk mencegah penularan malaria, dan
memberi vaksin (hal ini belum diterapkan
secara luas dan masih dalam tahap
riset/percobaan lapangan).1
Pencegahan malaria adalah hal yang
patut dilakukan khususnya pada daerah
tropis atau subtropis karena wilayah
tersebut rentan terhadap penyebaran
malaria.Pencegahan malaria yang paling
utama
yakni
dengan
menghambat
perkembangbiakan nyamuk Anopheles, hal
ini dapat dilakukan dengan membersihkan
lingkungan sekitar. Cara pencegahan
malaria selain mencegah perkembangan
vektor, bisa juga dengan cara meminimalisir
kontak
dengan
nyamuk.Pencegahan
malaria secara garis besar mencakup tiga
aspek sebagai berikut:
1. Mengurangi pengandung gametosit yang
merupakan sumber infeksi (reservoar).
Hal tersebut dapat dicegah dengan jalan
mengobati penderita malaria akut
dengan obat yang efektif terhadap fase
awal dari siklus eritrosit aseksual
sehingga gametosit
tidak
sempat
terbentuk di dalam darah penderita.
Selain itu, jika gametosit telah terbentuk
dapat dipakai jenis obat yang secara
spesifik dapat membunuh gametosit
(obat gametosida).
2. Memberantas nyamuk dapat dilakukan
dengan menghilangkan tempat-tempat
perindukan nyamuk, membunuh larva
atau jentik dan membunuh nyamuk
dewasa.
Pengendalian
tempat
perindukan dapat dilakukan dengan
menyingkirkan tumbuhan air yang
menghalangi aliran air, melancarkan
aliran saluran air, dan menimbun lubanglubang yang mengandung air.
3. Melindungi orang yang rentan dan
beresiko terinfeksi malaria, upaya yang
Hasil
lapangan
di
dapatkan
bahwacara pencegahan malaria yang
responden
adaptasikan
meliputi;
membersihkan lingkungan di sekitar rumah,
menggunakan kelambu, menggunakan obat
nyamuk, memakai baju panjang dan
mengkonsumsi
obat
malaria.
Cara
pencegahan tersebut dipengaruhi oleh
peran lingkungan sosial disekitar responden
dan
membentuk
responden
untuk
berperilaku sesuai dengan apa yang
diinformasikan/dicontohkan dari lingkungan
sosialnya. Menurut Andi A Arsin (2012)
terwujudnya sikap agar menjadi suatu
perbuatan (tindakan) nyata diperlukan
pendukung
atau
kondisi
yang
memungkinkan, misalnya faktor dukungan
dari pihak keluarga, teman dekat ataupun
masyarakat sekitarnya.1
Saparina
Sadli
(1982)
menggambarkan bahwa hubungan individu
dengan
lingkungan
sosial
saling
mempengaruhi, setiap individu sejak lahir
berada di dalam suatu kelompok, terutama
kelompok keluarga. Kelompok ini akan
membuka kemungkinan untuk dipengaruhi
dan
mempengaruhi
anggota-anggota
kelompok lain. Oleh karena pada setiap
kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan
dan norma-norma sosial tertentu, maka
perilaku setiap individu anggota kelompok
berlangsung didalam jaringan normatif,
demikian pula perilaku individu terhadap
masalah-masalah kesehatan.10Hubungan
individu
dengan
lingkungan
sosial
sehubungan dengan perilaku kesehatan,
dimulai dari lingkungan keluarga yang akan
mempengaruhi perilaku individu bagaimana
kebiasaan-kebiasaan tiap anggota keluarga
mengenai kesehatan, lingkungan terbatas
yang mencakup tradisi, adat-istiadat, dan
kepercayaan
masyarakat
sehubungan
dengan kesehatan, lingkungan umum
meliputi kebijakan-kebijakan pemerintah di
bidang
kesehatan,
undang-undang
kesehatan, program-program kesehatan,
dan sebagainya.10
7
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Pendapat Saparina Sadli (1982) di
atas memperjelas temuan hasil penelitian di
wilayah Kecamatan Kisam Tinggi OKUS,
bahwa
lingkungan
sosial
yang
mempengaruhi
responden
untuk
berperilaku dalam pencegahan malaria
adalah lingkungan keluarga, yaitu keluarga
inti maupun keluarga besar; lingkungan
terbatas, yaitu tetangga; dan lingkungan
umum,
meliputi
media
massa,
kader/petugas kesehatan, dan kepala desa.
Penyakit malaria hingga kini belum
sepenuhnya
dapat
diatasi
dengan
maksimal, masih banyak orang yang tertular
penyakit mematikan ini. Untuk mencegah
terjadinya
penularan
malaria,
peran
keluarga sangat dibutuhkan, karena hampir
setiap orang paling sering melakukan
interaksi atau komunikasi dengan keluarga.
Keluarga adalah unit terkecil dalam
masyarakat, menurut WHO, keluarga
adalah anggota rumah tangga saling
berhubungan melalui pertalian darah,
adopsi atau perkawinan. Keluarga adalah
kumpulan dua atau lebih yang hidup
bersama dengan keterikatan aturan,
emosional dan individu mempunyai peran
masing-masing yang merupakan bagian
dari keluarga (Friedman, 1998).11Disinilah
manusia mulai mengenal dirinya sebagai
makhluk individu sekaligus makhluk sosial
dimasyarakatnya. Perilaku individu sebagai
anggota masyarakat banyak dibentuk dan
dipengaruhi oleh keluarganya sebagai
lembaga pertama dan utama dalam
kehidupan. Selain keluarga inti (nuclear
family), di masyarakat kita juga dikenal
keluarga besar (extended family), menurut
Sudiharto (2007) keluarga besar (extended
family) adalah keluarga inti ditambah
keluarga lain (karena hubungan darah),
misal kakek, nenek, bibi, paman, sepupu.12
Wilayah Kisam Tinggi merupakan
masyarakat perdesaan/tradisional yang
memegang erat hubungan kekeluargaan,
sehingga perilaku keluarga masih sangat
dipengaruhi oleh anggota keluarga inti
ataupun
keluarga
besar,
khususnya
masalah malaria. Temuan ini sejalan
dengan
pendapat
Kaakinen
(2010)
menjelaskan bahwa perilaku keluarga
mempengaruhi perilaku anggota keluarga
lain
dalam
menghadapi
masalah
kesehatan.13 Kemenkes (2010) juga
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
menyatakan bahwa keluarga dipandang
sebagai unsur yang dapat mempengaruhi
kesehatan.14
Hasil penelitian Ahyar Wahyudi (2012)
di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru
menyatakan
bahwa
ada
hubungan
bermakna antara tipe keluarga dengan
perilaku pencegahan malaria (nilai p<0,05;
yaitu 0,04), dengan proporsi tipe keluarga
luas lebih besar dibandingkan tipe keluarga
intidan orang tua tunggal.15 Hal ini
disebabkan keluarga Indonesia pada
umumnya
menganut
tipe
keluarga
luas/besar (extended family). Tipe keluarga
merupakan faktor dominan berpengaruh
dengan perilaku pencegahan, tipe keluarga
luas/besar berpeluang melakukan perilaku
pencegahan 1,9 kali dibandingkan dengan
tipe keluarga lain.15Hal ini sejalan dengan
pendapat Leddy dalam penelitian Ahyar
Wahyudi (2012), salah satu karakteristik
keluarga besar/luas (extended family)
adalah dukungan sosial yang kuat.15
Menurut Allender dan Spradley (2005)16,
keluarga luas/besar memperkuat standar
budaya, harapan dan dapat memberikan
dukungan emosional. Adanya dukungan
emosi
dan
sosial
mengakibatkan
komunikasi dan hubungan sosial yang lebih
baik, sehingga kepedulian mengendalikan
dan mengontrol kesehatan antar anggota
keluarga semakin baik pula.
Hal inilah yang menyebabkan tipe
keluarga
besar
keluarga
besar/luas
cenderung lebih berperilaku pencegahan
dibandingkan tipe keluarga yang lain,
seperti keluarga inti, orang tua tunggal,
karena berbagai karakteristik keluarga
memberikan pengaruh yang berbeda-beda
terhadap perilaku pencegahan penyakit,
salah satunya pencegahan malaria. Selain
itu Friedman, Bowden, Jones (2003) juga
menjelaskan bahwa extended family
mempunyai ikatan dan interaksi yang kuat
antar generasi, saling ketergantungan dan
mempertahankan pola komunikasi.17 Sikap
ini pada akhirnya akan mendorong
penyebaran dan penerimaan informasi
kesehatan yang lebih cepat.
Pada masyarakat di wilayah Kisam
Tinggi, tetangga juga mempunyai peran
memberi informasi ataupun contoh yang
membentuk perilaku pencegahan malaria
8
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
terhadap
responden
dibandingkan
kader/petugas
kesehatan,
tokoh
masyarakat maupun media massa, hal ini
disebabkan adanya keterikatan kesamaan
suku/etnis diwilayah Kisam tinggi, dimana
sebagian besar responden berasal dari
suku/etnis Kisam. Menurut Koentjoroningrat
(2002), keluarga terdiri dari beberapa suku
yang hidup dalam satu komunitas dengan
adat istiadat yang sangat kuat.18Kaakinen
(2010)
menyatakan
bahwa
perilaku
pencegahan
dipengaruhi
karakteristik
keluarga.13 Karakteristik keluarga terdiri dari
tipe keluarga, sosial ekonomi, suku, dan
tahap perkembangan keluarga (Hanson et
al, 2005).19
KESIMPULAN
Keluarga
merupakan
lingkungan
sosial yang paling berperan dalam upaya
pencegahan malaria yang dilakukan
responden, keluarga yang dimaksud adalah
keluarga inti dan keluarga besar (extended
family).
Tetangga
juga
berperan
memberikan contoh ataupun informasi
mengenai pencegahan malaria kepada
responden karena adanya keterikatan
kesamaan suku/etnis responden, yaitu
suku/etnis Kisam.
Cara pencegahan malaria yang
responden
adaptasikan
meliputi;
membersihkan lingkungan di sekitar rumah,
menggunakan kelambu, menggunakan obat
nyamuk, memakai baju panjang dan
mengkonsumsi
obat
malaria.
Cara
pencegahan tersebut dipengaruhi oleh
peran lingkungan sosial disekitar responden
dan
membentuk
responden
untuk
berperilaku sesuai dengan apa yang
diinformasikan/ dicontohkan dari lingkungan
sosialnya.
SARAN
Pihak-pihak terkait seperti petugas
kesehatan,
penentu
kebijakan/stakeholderperlu
melakukan
penyuluhan
secara
intensif
kepada
masyarakat tentang malaria di lingkungan
keluarga dan komunitas di daerah ini,
sehingga pengetahuan masyarakat di
wilayah Kisam Tinggi tentang cara
pencegahan malaria semakin benar dan
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
akan berpengaruh pula pada perilaku dalam
pencegahan malaria yang semakin baik dan
meningkat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih Penulis ucapkan kepada
Kepala Loka Litbang P2B2 Baturaja atas
kesempatan dan fasilitas yang diberikan,
Ibu Dra. Rachmalina, S.P., MSc.PH atas
bimbingan dan masukannya, dan rekanrekan anggota tim penelitian yang telah
banyak membantu dalam terselesainya
penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nizar M, Suwandono A, dan Taviv Y.
Epidemiologi Malaria. Lubuk Linggau:
Penerbit Public HealthPress, 2013.
2. Arsin AA. Malaria di Indonesia
Tinjauan
Aspek
Epidemiologi.
Makasar: Penerbit Masagena Press,
2012.
3. Achmadi UF. Manajemen Penyakit
Berbasis Wilayah. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas, 2005.
4. Departemen Kesehatan RI. Pedoman
Penemuan
Penderita.
Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan
Lingkungan
(Ditjen
PP&PL). 2007.
5. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera
Selatan.
Situasi
Terkini
Perkembangan
Program
Pengendalian Malaria di Provinsi
Sumatera Selatan Tahun 2014.
6. Alwi A, Ambarita LP, Purnama D, dan
Betriyon. Studi Dinamika Penularan
Malaria di Desa Tenang Kecamatan
Muara Dua Kisam Kabupaten Ogan
Komering Ulu Tahun 2004. Laporan
Penelitian
Loka
Litbang
P2B2
Baturaja, 2005.
7. Bogh C. Malaria in the Health
Nursing:Promoting and Protecting the
Publics’s
Health/Edition
6.
Philadelphia: Lippincott William &
Wilkins, 2005.
8. Coffee Gardens of South Sumatera
(Summary of Findingsfrom Surveys
Done by OKU-VBDC). Intensified
9
SPIRAKEL, Vol. 8 No 1. Bulan Juni Tahun 2016:1-10
DOI : 10.22435/spirakel.v8i1.6132.1-10
Communicable
Project. 2003.
Disease
Peran Lingkungan Sosial … (Indah dan Aprioza)
Control
5th Edition. USA: Pearson Education
Inc, 2003.
9. Sudarma
M.
Sosiologi
Kesehatan.Jakarta. Selemba Medika,
2008.
18. Koentjaraningrat.
Masalah
Kesukubangsaan
dan
Integrasi
Nasional.
Jakarta:
Penerbit
Universitas Indonesia, 2002.
10. Soekanto
S.
Sosiologi
Suatu
Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers,
1992.
11. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan
dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta, 2007.
19. Hanson SMH, Duff VG, and Kaakinen,
JR. Family Health Care Nursing.
Theory, Practice and Reseacrh. Third
Edition. Philadelphia: F.A. Davis
Company, 2005.
12. Friedman MM. Buku ajar keperawatan
keluarga
:
Riset,
Teori
dan
Praktek.Jakarta: EGC, 2010.
13. Sudiharto.
Asuhan
Keluarga
dengan
Keperawatan
Jakarta:EGC, 2007.
Keperawatan
Pendekatan
Transkultural.
14. Kaakinen JR. Family Health Care
Nursing: Theory, Practice, and
Research Ed 4th. Philadelphia: FA
Davis Company. 2010. Tersedia di:
http://www.fadavis.com.
15. Kementerian Kesehatan RI. Modul
Asuhan Keperawatan Keluarga pada
Pasien
dengan
Malaria.
Sub
Direktorat
Bina
Pelayanan
Keperawatan Keluarga Direktorat
Bina
Pelayanan
Keperawatan.
Jakarta,
2010.
Tersedia
di:
http://depkes.go.id.
16. Wahyudi A. Hubungan Karakteristik
Keluarga, Penyuluhan Kesehatan
Langsung, dan Media Massa dengan
Perilaku Pencegahan Malaria Pada
Kecamatan
Cempaka
Kota
BanjarBaru, 2012. Tersedia di:
http://www.digilib.ui.ac.id.
17. Allender JA, Spradley BW, Friedman
M, Bowden VR dan Jones E. Family
Health Nursing. Theory and Practice
10
Download