LAPORAN PBL BLOK ENDOKRIN MODUL 1 SUB-MODUL II “DIABETES MELITUS” Tutor: dr. Jekti T. Rochani, Sp.MK, MS KELOMPOK 3 Fahriz Yusuf Bima Anretama P Ardika Djandra Bramantyo M Aulia Diandra Shafiera Fathi Rahmah Safira Indah Mardiana Indri Erda Yahya Putri Khalillah Neng ratna sari Syafira Febrianti Triwahyuni Aulia Wanda tri Wulandari 2017730045 2017730026 2017730013 2017730026 2017730020 2017730047 2017730058 2017730059 2017730091 2017730086 2017730117 2017730122 2017730126 FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2018/2019 KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah dilimpahkan berbagai macam nikmat baik nikmat jasmani maupun nikmat rohani. Shalawat serta salam kami curahkan pada kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat serta karunianya kami dapat menyelesaikan laporan modul 1 sub modul 2 “DIABETES MELITUS” dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada dr. Jekti T. Rochani, Sp.MK, MS. selaku tutor PBL kami. Kami sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka pembelajaran serta menambah wawasan pengetahuan kami, baik penyusun maupun pembaca. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini masih terdapat kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharapadanya kritik dan saran demi perbaikan laporan di masa yang akan datang. Semoga laporan yang kami buat dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sebeluumnya kami mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan dan juga jika laporan ini ada kesalahan teknis baik dari segi pengetikan dan lain sebagainya. Terimakasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum Wr. Wb Jakarta,28 Februari 2019 Kelompok 3 2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………….……………... ………………………………………………2 DAFTAR ISI................................................................................................................................3 SKENARIO .................................................................................................................................4 LANGKAH-LANGKAH Langkah 1 .......................................................................................................................4 Langkah 2 .......................................................................................................................4 Langkah 3 .......................................................................................................................5 Langkah 4 .......................................................................................................................5 Langkah 5 .......................................................................................................................6 Langkah 6 .......................................................................................................................6 Langkah 7 .......................................................................................................................6 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 3 Skenario 1 Tutorial Modul 1 sub modul 2 Seorang perempuan berusia 58 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan gatal di bagian bawah payudara sejak 3 bulan yang lalu. Pasien adalah penyandang DM tipe 2 sejak 5 tahun yang lalu. Mendapat terapi metformin 500 mg 3 kali sehari sesudah makan. Pemeriksaan glukosa darah puasa (GDP) 145 mg/dL, glukosa darah 2 jam sesudah makan 210 mg/dL. Penyandang hipertensi sejak 5 tahun yang lalu mendapat terapi amlodipin 10 mg 1 tablet sehari. Obat diminum secara teratur dengan tekanan darah terakhir 138/85 mmHg. Langkah 1 Menemukan kata-kata yang sulit - Metformin Menemukan kata kunci dan mendefinisikan kembali skenario berdasarkan kata kunci Kata Kunci - Perempuan, 58 th - KU : Gatal di bawah payudara , 3 bulan - GDP : 145 mg/dL - GD2PP : 210 mg/dL - RPD : - Diabetes Melitus - Hipertensi Langkah 2 1. Apa saja komplikasi dari DM tipe 2? 2. Bagaimana tatalaksana farmako dan Non-farmako pada DM tipe 2? 3. Bagaimana aturan nutrisi yang harus diberikan pada pasien? 4. Apa saja obat hipoglikemik oral ? Jelaskan ! 5. Bagaimana evaluasi dari pencapaian target pasien pada scenario? 6. Bagaimana melakukan skrining komplikasi kronik pada pasien? 7. Bagaimana cara melakukan rujukan DM yang mengalami komplikasi? 8. Apa saja faktor resiko yang meningkatkan penyakit DM? 4 9. Bagaimana cara memakai dan mengkombinasikan obat hipoglikemi OHO? Langkah 3 Menganalisa permasalahan dengan menjawab pertanyaan LANGKAH 4 Mengklarifikasi jawaban atau pertanyaan –pertanyaan yang telah disampaikan 5 LANGKAH 5 Menentukan sasaran/tujuan pembelajaran: Mempelajari : 1. Tentang tatalaksana non-farmakologik penyakit DM 2. Tentang tatalaksana farmakologik penyakit DM 3. Identifikasi faktor-faktor risiko yang meningkatkan terjadinya komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah 4. evaluasi dan mengetahui pencapaian target pengendalian tatalaksana DM. 5. skrining komplikasi kronik DM 6. Identifikasi dan rujukan pasien DM yang mengalami komplikasi LANGKAH 6 Melakukan pembelajaran secara mandiri oleh seluruh anggota. LANGKAH 7 Melaporkan pernyataan-pernyataan dari sasaran pembelajaran dan semua informasi yang didapat 6 Aulia Diandra Shafiera 2017730020 Tatalaksana Non-Farmakologik penyakit DM Menurut Perkeni(Perhimpunan Endokrinologi Indonesia) ada lima pilar penanganan DM, dengan tujuannya adalah mengontrol kadar gula darah, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien DM. Lima pilar penanganan DM tersebut meliputi: 1. EDUKASI Edukasi dalam penangan DM meliputi pemahaman pasien DM tentang: o Penyakit DM o Perlunya pengendalian dan pemantauan penyakit DM o Pengobatan secara farmakologis (dengan obat-obatan) dan non-farmakologis (tanpa obatobatan) o Tanda – tanda hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) dan cara pencegahan hipoglikemia. Tanda-tanda hipoglikemia, antara lain: sakit kepala, berdebar-debar,gemetaran, lapar, mual dan muntah, berkeringat, bahkan dapat juga berupa penurunan kesadaran. o Perawatan kaki pada pasien diabetes dan pencegahan timbulnya kaki diabetes Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya luka pada kaki penderita DM, yaitu: penderita harus selalu menjaga kebersihan kakinya, mengetahui sedini mungkin jika ada luka, bengkak, atau perdarahan pada kaki, sesering mungkin menggunakan alas kaki, meskipun di dalam rumah, untuk mencegah trauma pada kaki, tidak menggunakan alas kaki yang terlalu sempit, menjaga agar kaki tidak lembab, dan segera ke dokter jika terdapat luka pada kaki atau kaki menjadi kurang terasa. 2. DIET NUTRISI (PERENCANAAN MAKAN) 3J 3. AKTIVITAS FISIK (FITT) 4. INTERVENSI MEDIKAMENTOSA 7 5. PEMANTAUAN (target pengendalian tatalaksan diabetes dan pemeriksaan glukosa darah mandiri (PDGM)) EDUKASI PEMANTAU AN INTERVENSI MEDIKAMANT OSA DIET NUTRISI (3J) AKTIVITAS FISIK (FITT) Edukasi Agar pengobatan diabetes mellitus dapat optimum pasien perlu diberikan pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan diabetes mellitus.Tetapi tidak hanya untuk pasien saja yang mendapat edukasi namun keluarganya juga harus mendapat pengetahuan yang cukup mendalam mengenai peyebab dan strategi terapi diabetes mellitus. Pengobatan akan dipermudah bila pasien mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam perawatan penyakitnya sehari - hari. Pemberian pengetahuan secara dini hendaklah menekankan pentingnya segi-segi praktis pengobatan penyakit, yang meliputi perencanaan diet dan tekhnik pemantauan glukosa dan keton-keton. Perlu disampaikan kepada pasien kaitan-kaitan yang ada antara diet, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Dukungan dari dokter (pemberi diagnosis/sebagai pemberi instruksi), apoteker (pemberi obat dan informasi), dan ahli gizi serta perawat (untuk membantu perawatan) merupakan hal penting dalam mencapai sasaran pemberian pengetahuan. Pemberian pengetahuan dan pengobatan akan paling efektif bila semua unsur profesional tersebut saling berkomunikasi mengenai pasiennya secara perorangan. . Edukasi yang diberikan pada penderita diabetes ditujukan untuk mempengaruhi banyaknya pengetahuan dan keterampilan , sikap mereka terhadap diabetes, motivasi untuk menerapkan perawatan mandiri diabetes yang tepat , keinganan dan 8 kemampuan untuk mengubah perilaku dan tingkat penyesuaian diri secara psikososial terhadap diabetes Macam-macam pendekatan dalam proses edukasi o Pendekatan ketaatan (“compliance”) edukasi bertujuan untuk meningkatkan ketaatan pasien pada rekomendasi terapi yang diberikan oleh tenaga kesehatan. o Pendekatan pemberian wewenang (“empowerment”), tujuan utama edukasi adalah mempersiapkan pasien diabetes agar mampu membuat keputusankeputusan dalam perawatan diabetes mereka sendiri. Pendekatan ini berasumsi bahwa, kebanyakan penyandang diabetes harus bertanggung jawab dalam membuat keputusan penting dan kompleks ketika melaksanakan perawatan diabetes mereka sehari-hari. Asumsi lainnya dari pendekatan ini yaitu pasien mempunyai hak dan tanggung jawab sebagai pembuat keputusan utama yang berhubungan dengan penanganan diabetes dalam kehidupan sehari-hari. o Pendekatan kombinasi, penyandang diabetes memiliki berbagai kebutuhan dan toleransi terhadap keputusannya sendiri tentang perawatan mandiri diabetesnya yang didasari beberapa faktoe. Contoh : seseorang yang baru terdiagnosa dengan diabetes akan membiarkan tim perawat kesehatan membuat sebagian besar keputusan-keputusan bagi diri mereka sampai diri mereka lebih terbiasa dengan nilai dan keuntungan dari berbagai cara perawatan mandiri diabetes S Soegondo, P Soewondo, I Subekti . 2009 . Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 9 Bima Anretama Putra 2017730026 Latihan Jasmani/Olahraga bagi Penderita Diabetes Prinsip latihan jasmani bagi penyandang diabetes pada prinsipnya sama saja dengan prinsip latihan jasmani pada umumnya, yaitu mengikuti : F,I,D,J, yang dapat dirinci sebagai berikut : - (F) Frekuensi 3-5 kali perminggu secara teratur (I) Intensitas ringan dan sedang (60% - 70% Maximum Heart Rate) (D) Durasi 30-60 menit setiap melakukan latihan jasmani (J) Jenis latihan yang dianjurkan adalah erobik yang bertujuan untuk meningkatkan stamina seperti jalan, jogging, berenang, senam kelompok/erobik dan bersepeda. Jenis latihan jasmani harus ditentukan secara hati-hati agar tidak membahayakan bagi penyandang diabetes. Patut diperhatikan pula agar latihan jasmani yang dipilih adalah latihan jasmani yang disenangi atau memungkinkan untuk dilakukan oleh penyandang diabetes. Menentukan Intensitas Untuk menentukan Intensitas latihan, terlebih dahulu ditentukan denyut nadi maksimum (MHR) yaitu: 220-umur, lalu ditentukan denyut nadi sasaran (THR = Target Heart Rate). Sebagai contoh: pada penyandang DM yang baru mulai melakukan latihan jasmani (pemula) yang berusia 40 tahun diberikan intensitas latihan sebesar 60%, berarti THR = 60% x (220 – 40) = 108 THR adalah denyut nadi yang harus dicapai pada saat seseorang melakukan olahraga (training zone) dan durasi pencapaian ini diharapkan berlangsung selama minimal 15-20 menit agar memberikan hasil yang diinginkan. Dengan demikian bila penyandang DM ini melakukan latihan jasmani, intensitasnya jangan melebihi 60% yaitu denyut nadi pada training zone = zona latihan tidak melebihi 108. Berat ringannya intensitas latihan ditentukan oleh antara lain tingkat kebugaran, umur dan kondisi penyandang diabetes. Sebaiknya intensitas latihan dikoreksi setiap selang waktu tertentu sesuai perkembangan kebugaran dan kondisi penyandang diabetes. Manfaat Latihan Jasmani Bagi Penyandang Diabetes DM Tipe 1 Peran latihan jasmani yang teratur pada penurunan kadar glukosa darah DM tipe 1 masih kontrversial. Perbedaan DM tipe 1 dan DM tipe 2 adalah DM tipe 1 mempunyai kada insulin darah yang rendah akibat kurang atau tidak adanya produksi insulin oleh pankreas. Pada DM tipe 1 mudah mengalami hipoglikemia selama dans egera sesudah melakukan latihan jasmani. Meskipun latihan jasmani pada DM tipe 1 tidak begitu 10 mempengaruhi pengaturan kadar glukosa darah namun beberapa keuntungan lain yang dapat ditimbulkannya seperti dapat mengurangi risiko penyakit jantung, gangguan pembuluh darah dan saraf. DM Tipe 2 Latihan jasmani pada DM tipe 2 berperan utama dalam pengaturan kadar glukosa darah. Pada tipe ini produksi insulin umumnya tidak terganggu terutama pada awal menyandang penyakit ini. Masalah utama adalah kurangnya respons reseptor insulin terhadap insulin, sehingga insulin tidak dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh kecuali otak. Otot yang terkontraksi atau aktif tidak memerlukan insulin untuk memasukkan glukosa ke dalam sel karena pada otot yang aktif sensitivitas reseptor insulin meningkat. Oleh karena itu latihan jasmani pada DM tipe 2 akan menyebabkan berkurangnya kebutuhan insulin eksogen. Perencanaan Makan bagi Penderita Diabetes Sebelum melakukan perencanaan makan bagi penderita diabetes, kita harus mengetahui faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori terlebih dahulu, yaitu: Jenis Kelamin Kebutuhan kalori basal perhari untuk perempuan sebesar 25 kal/kgBB sedangkan untuk laki-laki sebesar 30 kal/kgBB Usia o Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk setiap dekade antara 40 dan 59 tahun. o Pasien usia diantara 60 dan 69 tahun, dikurangi 10% o Pasien usia diatas 70 tahun, dikurangi 20% Aktivitas Fisik atau Pekerjaan o Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. o Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada keadaan istirahat. o Penambahan sejumlah 20% pada pasien dengan aktivitas ringan: pegawai kantor, guru, ibu rumah tangga. o Penambahan sejumlah 30% pada aktivitas sedang: pegawai industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang. o Penambahan sejumlah 40% pada aktivitas berat: petani, buruh, atlet, militer dalam keadaan latihan. o Penambahan 50% pada aktivitas sangat berat: tukang becal, tukang gali. 11 Stress Metabolik o Penambahan 10%-30% tergantung dari beratnya stress metabolik (sepsis, operasi, trauma) Berat Badan o Penyandang DM yang gemuk, kebutuhan kalori dikurangi sekitar 20-30% tergantung pada tingkat kegemukkan. o Penyandang DM kurus, kebutuhan kalori ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB. o Jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kal perhari untuk perempuan dan 1200-1600 kal perhari untuk laki-laki. Kandungan Kalori pada Makanan dan Minuman Makanan/Minuman Jumlah kalori 100gram Nasi 175 kal 50gram Daging Sapi 95 kal 50gram Tempe 80 kal 100gram Sayuran Golongan A 50 kal 50gram Pisang 40 kal 200gram Susu Sapi 110 kal Sayuran dan penggantinya 100gram sayuran golongan A mengandung 50 kalori, contoh sayuran golongan A dan penggantinya: 12 Sayuran golongan A Penggantinya Bayem Daun Singkong Buncis Jagung Muda Daun Melinjo Jantung Pisang Daun Pepaya Kacang Kapri Daun Ubi Jalar Nangka Muda Perencanaan Menu Makan Penyandang Diabetes ENERGI (kalori) 1100 1300 1500 1700 1900 2100 2300 2500 Pagi: ½ 1 1 1 1½ 1½ 1½ 2 Nasi 1 1 1 1 1 1 1 1 Ikan - - ½ ½ ½ 1 1 1 Nabati S S S S S S S S Sayur A 1 1 1 1 2 2 2 2 10.00 1 1 1 1 1 1 1 1 Buah - - - - - - 1 1 Siang : 1 1 2 2 2 2½ 3 3 Nasi 1 1 1 1 1 1 1 1 Daging 1 1 1 1 1 1 1 2 Nabati S S S S S S S S Minyak Susu 13 Sayur A 1 1 1 1 1 1 1 1 Buah 1 2 2 2 2 3 3 3 ENERGI (kalori) 1100 1300 1500 1700 1900 2100 2300 2500 16.00 : 1 1 1 1 1 1 1 1 Malam : 1 1 1 2 2 2½ 2½ 2½ Nasi 1 1 1 1 1 1 1 1 Ikan 1 1 1 1 1 1 1 1 Nabati S S S S S S S S Sayur A 1 1 1 1 1 1 1 1 Buah 1 1 1 1 1 2 2 2 Minyak Buah Minyak 14 Tri Wahyuni Aulia 2017730122 Terapi farmakologi DM Terapi Obat Hipoglikemia Oral Obat-obat hipoglikemia oral terutama ditunjukan untuk membantu penanganan pasien DM tipe II. Pemilihan obat hipoglikemik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabete. Bergantung pada tingkat keparahann penyakit dan kondisi pasien, farmakoterapi hipoglikemik oral dapat dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat. Pemilihan dan penentuan rejimen hipoglikemik yang digunakan harus mempertimbangkan tinngkat keparahan diabetes (tingkat glikemia) serta kondisi kesehatan pasien secara umum termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada. 1.penggolongan obat hipoglikemik oral Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu : a. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat hipoglikemik oral golongan Sulfonilurea dan Glinida (Meglitinida dan Turunan fenilalanin) b. Sensitizer insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan Biguanida dan Tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif. c. Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain Inhibitor a-glukosidase yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial (post-meal hyperglycemia). Disebut juga “starch-blocker” Sulfunilurea Merupakan obat hipoglikemik oral yang paling dahulu ditemukan. Sampai beberapa tahun yang lalu, dapat dikatakan hampir semua obat hipoglikemik oral merupakan golongan sulfonilurea. Obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Senyawa-senyawa sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan hati, ginjal dan tiroid. Obat-obat kelompok ini bekerja merangsang sekresi insulin di kelenjar pancreas, oleh sebab itu hanya efektif apabila sel-sel β Langerhans pankreas masih dapat berproduksi. Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin oleh kelenjar pancreas. Sifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa, karena ternyata pada saat glukosa (atau kondisi hiperglikemia) gagal merangsang sekresi insulin, senyawa-senyawa obat ini masih mampu meningkatkan sekresi insulin. Oleh sebab itu, obat-obat golongan sulfonilurea sangat bermanfaat untuk penderita diabetes yang kelenjar pankreasnya masih 15 mampu memproduksi insulin, tetapi karena sesuatu hal terhambat sekresinya. Pada penderita dengan kerusakan sel-sel β Langerhans kelenjar pancreas, pemberian obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea tidak bermanfaat. Pada dosis tinggi, sulfonilurea menghambat degradasi insulin oleh hati. Absorpsi senyawa-senyawa sulfonilurea melalui usus cukup baik, sehingga dapat diberikan per oral. Setelah diabsorpsi, obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstrasel. Dalam plasma sebagian terikat pada protein plasma terutama albumin (70-90%). Efek Samping (Handoko dan Suharto, 1995; IONI, 2000) Efek samping obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea umumnya ringan dan frekuensinya rendah, antara lain gangguan saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat. Gangguan saluran cerna berupa mual, diare, sakit perut, hipersekresi asam lambung dan sakit kepala. Gangguan susunan syaraf pusat berupa vertigo, bingung, ataksia dan lain sebagainya. Gejala hematologik termasuk leukopenia, trombositopenia, agranulosistosis dan anemia aplastik dapat terjadi walau jarang sekali. Klorpropamida dapat meningkatkan ADH (Antidiuretik Hormon). Hipoglikemia dapat terjadi apabila dosis tidak tepat atau diet terlalu ketat, juga pada gangguan fungsi hati atau ginjal atau pada lansia. Hipogikemia sering diakibatkan oleh obat-obat hipoglikemik oral dengan masa kerja panjang. Interaksi Obat (Handoko dan Suharto, 1995; IONI, 2000) Banyak obat yang dapat berinteraksi dengan obat-obat sulfonilurea, sehingga risiko terjadinya hipoglikemia harus diwaspadai. Obat atau senyawasenyawa yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu pemberian obatobat hipoglikemik sulfonilurea antara lain: alkohol, insulin, fenformin, sulfonamida, salisilat dosis besar, fenilbutazon, oksifenbutazon, probenezida, dikumarol, kloramfenikol, penghambat MAO (Mono Amin Oksigenase), guanetidin, steroida anabolik, fenfluramin, dan klofibrat. Peringatan dan Kontraindikasi (IONI, 2000 dan ) • Penggunaan obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea harus hatihati pada pasien usia lanjut, wanita hamil, pasien dengan gangguan fungsi hati, dan atau gangguan fungsi ginjal. Klorpropamida dan glibenklamida tidak disarankan untuk pasien usia lanjut dan pasien insufisiensi ginjal. Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal masih dapat digunakan glikuidon, gliklazida, atau tolbutamida yang kerjanya singkat. • Wanita hamil dan menyusui, porfiria, dan ketoasidosis merupakan kontra indikasi bagi sulfonilurea. • Tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada penderita diabetes yuvenil, penderita yang kebutuhan insulinnya tidak stabil, dan diabetes melitus berat. • Obat-obat golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan berat badan. Ada beberapa senyawa obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea yang saat ini beredar (Tabel 9). Obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea generasi pertama yang dipasarkan sebelum 1984 dan sekarang sudah hampir tidak dipergunakan lagi antara lain asetoheksamida, klorpropamida, tolazamida dan tolbutamida. Yang saat ini beredar adalah obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea 16 generasi kedua yang dipasarkan setelah 1984, antara lain gliburida (glibenklamida), glipizida, glikazida, glimepirida, dan glikuidon. Senyawa-senyawa ini umumnya tidak terlalu berbeda efektivitasnya, namun berbeda dalam farmakokinetikanya, yang harus dipertimbangkan dengan cermat dalam pemilihan obat yang cocok untuk masing-masing pasien dikaitkan dengan kondisi kesehatan dan terapi lain yang tengah dijalani pasien TABEL. OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL GOLONGAN SULFONILUREA. Obat hipoglikemik oral keterangan Gliburida (Glibenklamida) Memiliki efek hipoglikemik yang poten sehingga pasien perlu diingatkan untuk melakukan jadwal makan yang ketat. Gliburida dimetabolisme dalam hati, hanya 25% metabolit diekskresi melalui ginjal, sebagian besar diekskresi melalui empedu dan dikeluarkan bersama tinja. Gliburida efektif dengan pemberian dosis tunggal. Bila pemberian dihentikan, obat akan bersih keluar dari serum setelah 36 jam. Diperkirakan mempunyai efek terhadap agregasi trombosit. Dalam batas-batas tertentu masih dapat diberikan pada beberapa pasien dengan kelainan fungsi hati dan ginjal. (Handoko dan Suharto, 1995; Soegondo, 1995b). Contoh Sediaan: Glibenclamide (generik) Abenon (Heroic) Clamega (Emba Megafarma) Condiabet (Armoxindo) Daonil (Aventis) Diacella (Rocella) Euglucon (Boehringer Mannheim, Phapros) Fimediab (First Medipharma) Glidanil (Mersi) Gluconic (Nicholas) Glimel (Merck) Hisacha (Yekatria Farma) Latibet (Ifars) Libronil (Hexpharm Jaya) Prodiabet (Bernofarm) Prodiamel (Corsa) Renabetic (Fahrenheit) Semi Euglucon (Phapros, Boeh. Mannheim) 17 Tiabet (Tunggal IA) Glipizida Contoh Sediaan: Aldiab (Merck) Glucotrol (Pfizer) Glyzid (Sunthi Sepuri) Minidiab (Kalbe Farma) Glucotrol Glikazida Contoh Sediaan: Diamicron (Darya Varia) Mempunyai masa kerja yang lebih lama dibandingkan dengan glibenklamid tetapi lebih pendek dari pada klorpropamid. Kekuatan hipoglikemiknya jauh lebih besar dibandingkan dengan tolbutamida. Mempunyai efek menekan produksi glukosa hati dan meningkatkan jumlah reseptor insulin. Glipizida diabsorpsi lengkap sesudah pemberian per oral dan dengan cepat dimetabolisme dalam hati menjadi metabolit yang tidak aktif. Metabolit dan kira-kira 10% glipizida utuh diekskresikan melalui ginjal (Handoko dan Suharto, 1995; Soegondo, 1995b). Mempunyai efek hipoglikemik sedang sehingga tidak begitu sering menyebabkan efek hipoglikemik. Mempunyai efek anti agregasi trombosit yang lebih poten. Dapat diberikan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal yang ringan (Soegondo, 1995b). Glibet (Dankos) Glicab (Tempo Scan Pacific) Glidabet (Kalbe Farma) Glimepirida Contoh Sediaan: Amaryl Glikuidon Contoh Sediaan: Glurenorm (Boehringer Ingelheim) Memiliki waktu mula kerja yang pendek dan waktu kerja yang lama, sehingga umum diberikan dengan cara pemberian dosis tunggal. Untuk pasien yang berisiko tinggi, yaitu pasien usia lanjut, pasien dengan gangguan ginjal atau yang melakukan aktivitas berat dapat diberikan obat ini. Dibandingkan dengan glibenklamid, glimepirid lebih jarang menimbulkan efek hipoglikemik pada awal pengobatan (Soegondo, 1995b). Mempunyai efek glikemia rendah maupun sedang g menimbulkan serangan hipoglikemik. Karena hampir seluruhnya diekskresi melalui empedu dan usus, maka dapat diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal yang agak berat (Soegondo, 1995b). 18 Golongan Meglitinida dan Turunan Fenilalanin Obat-obat hipoglikemik oral golongan glinida ini merupakan obat hipoglikemik generasi baru yang cara kerjanya mirip dengan golongan sulfonilurea. Kedua golongan senyawa hipoglikemik oral ini bekerja meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas. Umumnya senyawa obat hipoglikemik golongan meglitinida dan turunan fenilalanin ini dipakai dalam bentuk kombinasi dengan obat-obat antidiabetik oral lainnya. TABEL. ANTIDIABETIK ORAL GOLONGAN MEGLITINIDA DAN TURUNAN FENILALANIN Obat hipoglikemia oral Keterangan Repaglinida Contoh Sediaan: Prandin/NovoNorm/ GlucoNorm (Novo Nordisk) Nateglinida Contoh Sediaan: Starlix (Novartis Pharma AG) Merupakan turunan asam benzoat. Mempunyai efek hipoglikemik ringan sampai sedang. Diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian per oral, dan diekskresi secara cepat melalui ginjal. Efek samping yang mungkin terjadi adalah keluhan saluran cerna (Soegondo, 1995b). Merupakan turunan fenilalanin, cara kerjanya mirip dengan repaglinida. Diabsorpsi cepat setelah pemberian per oral dan diekskresi terutama melalui ginjal. Efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan obat ini adalah keluhan infeksi saluran nafas atas (ISPA) (Soegondo, 1995b). Ref : Basuki E. Penyuluhan Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S, Soewondo P dan Subekti I (eds). Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu, Pusat Diabetes dan Lipid RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo-FKUI, Jakarta, 200 19 Nama : DJANDRA BRAMANTYO P NIM : 2017730039 Golongan Biguanida Obat hipoglikemik oral golongan biguanida bekerja langsung pada hati (hepar), menurunkan produksi glukosa hati. Senyawa-senyawa golongan biguanida tidak merangsang sekresi insulin, dan hampir tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Satu-satunya senyawa biguanida yang masih dipakai sebagai obat hipoglikemik oral saat ini adalah metformin. Metformin masih banyak dipakai di beberapa negara termasuk Indonesia, karena frekuensi terjadinya asidosis laktat cukup sedikit asal dosis tidak melebihi 1700 mg/hari dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati. Efek Samping Efek samping yang sering terjadi adalah nausea, muntah, kadangkadang diare, dan dapat menyebabkan asidosis laktat. Kontra Indikasi Sediaan biguanida tidak boleh diberikan pada penderita gangguan fungsi hepar, gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung kongesif dan wanita hamil. Pada keadaan gawat juga sebaiknya tidak diberikan biguanida. TABEL 11. OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL GOLONGAN BIGUANIDA Obat Hipoglikemik Oral Keterangan Metformin Contoh Sediaan: � Metformin (generic) ini dapat memperbaiki uptake glukosa � Benoformin (Benofarma) sampai sebesar 10-40%. Menurunkan � Bestab (Yekatria) produksi glukosa hati dengan jalan � Diabex (Combiphar) mengurangi glikogenolisis dan � Eraphage (Guardian) glukoneogenesis � Formell (Alpharma) � Glucotika (Ikapharmindo) � Glucophage (Merck) � Gludepatic (Fahrenheit) � Glumin (Dexa Medica) � Methpica (Tropica Mas) � Neodipar (Aventis) � Rodiamet (Rocella) � Tudiab (Meprofarm) Satu-satunya golongan biguanida yang masih dipergunakan sebagai obat hipoglikemik oral. Bekerja menurunkan kadar glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel-sel otot. Obat 20 Golongan Tiazolidindion (TZD) Senyawa golongan tiazolidindion bekerja meningkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin dengan jalan berikatan dengan PPARγ (peroxisome proliferator activated receptor-gamma) di otot, jaringan lemak, dan hati untuk menurunkan resistensi insulin. Senyawa-senyawa TZD juga menurunkan kecepatan glikoneogenesis. TABEL 12. ANTIDIABETIK ORAL GOLONGAN TIAZOLIDINDION Obat Hipoglikemik Oral Keterangan Rosiglitazone Contoh Sediaan: � Avandia (GlaxoSmithKline) Cara kerja hampir sama dengan pioglitazon, diekskresi melalui urin dan feses. Mempunyai efek hipoglikemik yang cukup baik jika dikombinasikan dengan metformin. Pada saat ini belum beredar di Indonesia. Pioglitazone Contoh Sediaan: � Actos (Takeda Chemicals Industries Ltd) Mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein transporter glukosa, sehingga meningkatkan uptake glukosa di sel-sel jaringan perifer. Obat ini dimetabolisme di hepar. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien gagal jantung karena dapat memperberat edema dan juga pada gangguan fungsi hati. Saat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal. Golongan Inhibitor α-Glukosidase Senyawa-senyawa inhibitor α-glukosidase bekerja menghambat enzim alfa glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim α-glukosidase (maltase, isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida, pada dinding usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita diabetes. Senyawa inhibitor α-glukosidase juga menghambat enzim α-amilase pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus halus. Obat ini merupakan obat oral yang biasanya diberikan dengan dosis 150-600 mg/hari. Obat ini efektif bagi penderita dengan diet tinggi karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl. Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Obat-obat inhibitor α-glukosidase dapat diberikan sebagai obat tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan obat hipoglikemik lainnya. Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara bertahap sampai 150-600 mg/hari. Dianjurkan untuk memberikannya bersama suap 21 pertama setiap kali makan. Efek Samping Efek samping obat ini adalah perut kurang enak, lebih banyak flatus dan kadang-kadang diare, yang akan berkurang setelah pengobatan berlangsung lebih lama. Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Bila diminum bersama-sama obat golongan sulfonilurea (atau dengan insulin) dapat terjadi hipoglikemia yang hanya dapat diatasi dengan glukosa murni, jadi tidak dapat diatasi dengan pemberian gula pasir. Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara bertahap, serta dianjurkan untuk memberikannya bersama suap pertama setiap kali makan. TABEL 13. ANTIDIABETIK ORAL GOLONGAN INHIBITOR α-GLUKOSIDASE Obat Hipoglikemik Oral Keterangan Acarbose Contoh Sediaan: � Glucobay (Bayer) � Precose Acarbose dapat diberikan dalam terapi kombinasi dengan sulfonilurea, metformin, atau insulin. Miglitol Contoh Sediaan: � Glycet Miglitol biasanya diberikan dalam terapi kombinasi dengan obat-obat antidiabetik oral golongan sulfonylurea TERAPI KOMBINASI Pada keadaan tertentu diperlukan terapi kombinasi dari beberapa OHO atau OHO dengan insulin. Kombinasi yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pankreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja efektif. Kedua golongan obat hipoglikemik oral ini memiliki efek terhadap sensitivitas reseptor insulin, sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek saling menunjang. Pengalaman menunjukkan bahwa kombinasi kedua golongan ini dapat efektif pada banyak penderita diabetes yang sebelumnya tidak bermanfaat bila dipakai sendiri-sendiri. 22 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGGUNAAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL 1. Dosis selalu harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap. 2. Harus diketahui betul bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek samping obat-obat tersebut. 3. Bila diberikan bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya interaksi obat. 4. Pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemik oral, usahakanlah menggunakan obat oral golongan lain, bila gagal lagi, baru pertimbangkan untuk beralih pada insulin. 5. Hipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita lanjut usia, oleh sebab itu sebaiknya obat hipoglikemik oral yang Sumber : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 (IONI 2000). Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Departeman Kesehatan Republik Indonesia, 2000 23 Neng Ratna Sari 2017730086 INDIKASI PEMBERIAN INSULIN • Pada pasien dengan DM type 1. karena pada dm type 1 produksi insulin oleh sel beta tidak ada atau hampir tidak ada. • Pada pasien DM yang mengalami keadaan stres berat seperti pada infeksi sistemik, tindakan pembedahan, infark miokard akut atau stroke. • Dm gestasional yang tidak terkendali perencanaan dengan makan. • Dm yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral dosis maksimal • Pada pasien DM yang memiliki kontra indikasi atau alergi terhadap obat hipoglikemik tersebut Jenis dan Lama Kerja Insulin Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi 5 jenis, yakni : Insulin kerja pendek (Short-acting insulin) : Bentuknya berupa larutan jernih, mempunyai onset cepat dan durasi pendek. Yang termasuk di sini adalah insulin regular (Crystal Zinc Insulin / CZI ). Saat ini dikenal 2 macam insulin CZI, yaitu dalam bentuk asam dan netral. Preparat yang ada antara lain : Actrapid, Velosulin, Semilente. Insulin jenis ini diberikan 30 menit sebelum makan, mencapai puncak setelah 1– 3 jam dan efeknya dapat bertahan sampai 8 jam Insulin kerja menengah (Intermediateacting insulin) : Bentuknya terlihat keruh karena berbentuk hablurhablur kecil, dibuat dengan menambahkan bahan yang dapat memperlama kerja obat dengan cara memperlambat penyerapan insulin kedalam darah. Yang dipakai saat ini adalah Netral Protamine Hegedorn ( NPH ), MonotardÒ, InsulatardÒ. jenis ini awal kerjanya adalah 1.5 – 2.5 jam. Puncaknya tercapai dalam 4 – 15 jam dan efeknya dapat bertahan sampai dengan 24 jam. Insulin campuran tetap, kerja pendek dengan menengah dan kerja cepat dengan menengah (Premixed insulin). : insulin yang mengandung insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Insulin ini mempunyai onset cepat dan durasi sedang (24 jam). Preparatnya: Mixtard 30 / 40 Insulin Eksogen kerja panjang (lebih dari 24 jam) : Merupakan campuran dari insulin dan protamine, diabsorsi dengan lambat dari tempat penyuntikan sehingga efek yang dirasakan cukup lam, yaitu sekitar 24 – 36 jam. Preparat: Protamine Zinc Insulin ( PZI ), Ultratard, Insulin glargine (Lantus), Insulin detemir (Levemir) Efek samping terapi insulin : Efek samping akibat penggunaan terapi insulin salah satunya yaitu: - Pada wanita hamil 24 - - - - Peningkatan berat badan : Pada pasien dengan kendali glukosa yang buruk, peningkatan berat badan tidak dapat dihindari karena terapi insulin memulihkan massa otot dan lemak (pengaruh anabolik insulin). Penyebab peningkatan berat badan yang lain adalah makan yang berlebihan serta kebiasaan mengudap untuk menghindari hipoglikemia. Pasien yang menjalani terapi insulin umumnya melakukan diet yang lebih longgar dibandingkan dengan diet ketat saat terapi dengan obat antidiabetik oral. Hal tersebut juga dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Hipoglikemi merupakan efek samping yang paling sering terjadi dan terjadi akibat dosis insulin yang terlalu besar, tidak tepatnya waktu makan dengan waktu tercapainya kadar puncak insulin, atau karena faktor yang meningkatkan sensitivitas terhadap insulin seperti insufisiensi adrenal atau pituitari, ataupun kerja fisik yang berlebihan. Selain hipoglikemi, efek samping lain yang dapat terjadi adalah reaksi alergi dan resistensi dari insulin sendiri. Pengunaan insulin rekombinan dan insulin yang lebih murni telah dapat menurunkan insiden reaksi alergi dan resistensi. Meski demikian kadang-kadang reaksi tersebut masih dapat terjadi akibat adanya bekuan atau terjadinya denaturasi preparat insulin, atau kontaminan, atau akibat pasien sensitif terhadap senyawa yang ditambahkan dalam proses formulasi preparat insulin. Reaksi alergi lokal pada kulit yang sering terjadi akibat IgE atau resistensi akibat timbulnya antibodi IgG. Lipoatrofi jaringan lemak subkutan ditempat suntikan dapat timbul akibat varian respon imun terhadap insulin. lipohipertrofi dimana terjadi penumpukan lemak subkutan terjadi akibat efek lipogenik insulin yang kadarnya tinggi pada daerah tempat suntikan. 25 - Efek samping lainnya seperti edema, rasa kembung di abdomen dan gangguan visus timbul pada banyak pasien diabetes dengan hiperglikemia hebat atau ketoasidosis yang sedang diterapi dengan insulin. Umumnya edema akan menghilang dalam beberapa hari atau minggu kecuali bila ada gangguan fungsi jantung atau ginjal. PERKENI, 2015, Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PB PERKENI. Subekti I. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Dalam : Soegondo, dkk, editors, Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2007 26 Indri Erda Yahya 2017730059 Mekanisme kerja insulin KERJA INSULIN DI SEL. Target organ utama insulin dalam mengatur kadar glukosa adalah hepar, ototdan adipose. Peran utamanya antara lain uptake, utilisasi, dan penyimpanan nutrient di sel. Efekanabolik insulin meliputi stimulasi,utilisasi dan penyimpanan glukosa, asam amino,asam lemak intrasel; sedangkan proses katabolisme (pemecahan glikogen, lemak dan protein) dihambat. Semua efek ini dilakukan dengan stimulasi transport substrat dan ion ke dalam sel, menginduksi translokasi protein, mengaktifkan dan menonaktifkan enzim spesifik, merubah jumlah protein dengan mempengaruhi kecepatan transkripsi gen dan translasi mRNA spesifik. REGULASI TRANSPORT GLUKOSA. Stimulasi transport glukosa ke otot dan jaringan adipose merupakan hal yang krusial dari respons fisiologik terhadap insulin. Glukosa masuk ke sel melalui salah satu jenis glucose-transporter (GLUT), dan 5 dari GLUT ini (GLUT1 sampaiGLUT5) berperan pada difusi glukosake dalam sel yang bersifat Na+-independent insulin merangsang transport glukosa dengan menginduksi enersi untuk mentranslokasi GLUT4 danGLUT1 dari vesikel intrasel ke membrane plasma. Efek ini bersifat reversible, GLUT kembali ke pool intrasel saat insulin tidak bekerja lagi. Gangguan prposes regulasi ini dapat menjadi salah satu sebab DM tipe 2. Insulin mempercepat masuknya glukosa ke sel otot rangka dan adipose. Insulin masuk ke reseptor α di luar sel kemudian ke reseptor β di dalam sel. Selanjutnya merangsang fosforilase intrasel yang kompleks, berakhir dengan pembentukan transporter glukosa (GLUT4). Kemudian GLUT4 ditranslokasi ke dinding sel melalui GLUT4. Dalam sel, digunakan untuk metabolism atau disimpan sebagai glikogen atau trigliserida. REGULASI METABOLISME GLUKOSA. Konversi glukosa menjadi glukosa 6-fosfat (G6P) terjadi dengan bantuan enzim heksokinase. Keempat heksokinase (I sampai IV), seperti juga GLUT, terdistribusi di berbagai jaringan dan 2 diantaranya diregulasi insulin. Heksokinase IV yang lebih dikenal sebagai glukokinase ditemukan berhubungan dengan GLUT 2 di hepar dan sel β pancreas. Terdapat 1 gen glukokinase, tetapi dengan ekson pertama dan promotor yang berbeda yang digunakan pada 2 jenis jaringan tersebut. Gen glukokinase hepar diatur oleh insulin. Heksokinase IIberada dimana terdapat GLUT4, yakni 27 di otot skelet, jantungdan jaringan adipose. Seperti halnya GLUT4, heksokinase II diregulasi pada proses transkripsi oleh insulin. Kontra indikasi • Hipoglikemia • Hipersensitiv pada insulin Penyuntikan insulin • Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan) • Lokasi penyuntikan, cara penyuntikan maupun cara insulin harus dilakukan dengan benar • Penyuntikan insulin dengan menggunakan semprit insulin dan jarumnya sebaiknya hanya dipergunakan sekali • Penyuntikan dilakukan pada daerah: perut sekitar pusat sampai kesamping, kedua lengan atas bagian luar (bukan daerah deltoid), kedua paha bagian luar. 28 Fathi Rahmah Safira 2017730047 29 Penjelasan untuk algoritme Pengelolaan DM Tipe-2 1. Daftar obat dalam algoritme bukan menunjukkan urutan pilihan. Pilihan obat tetap harus mempertimbangkan tentang keamanan, efektifitas, penerimaan pasien, ketersediaan dan harga (tabel-11). Dengan demikian pemilihan harus didasarkan pada kebutuhan/kepentingan penyandang DM secara perseorangan (individualisasi). 2. Untuk penderita DM Tipe -2 dengan HbA1C <7.5% maka pengobatan non farmakologis dengan modifikasi gaya hidup sehat dengan evaluasi HbA1C 3 bulan, bila HbA1C tidak mencapa target < 7% maka dilanjutkan dengan monoterapi oral. 3. Untuk penderita DM Tipe-2 dengan HbA1C 7.5%-<9.0% diberikan modifikasi gaya hidup sehat ditambah monoterapi oral. Dalam memilih obat perlu dipertimbangkan keamanan (hipoglikemi, pengaruh terhadap jantung), efektivitas, , ketersediaan, toleransi pasien dan harga. Dalam algoritme disebutkan obat monoterapi dikelompokkan menjadi a. Obat dengan efek samping minimal atau keuntungan lebih banyak: Metformin Alfa glukosidase inhibitor Dipeptidil Peptidase 4- inhibitor Agonis Glucagon Like Peptide-1 30 b. Obat yang harus digunakan dengan hati-hati Sulfonilurea Glinid Tiazolidinedione Sodium Glucose coTransporter 2 inhibitors (SGLT-2 i) 4. Bila obat monoterapi tidak bisa mencapai target HbA1C<7% dalam waktu 3 bulan maka terapi ditingkatkan menjadi kombinasi 2 macam obat, yang terdiri dari obat yang diberikan pada lini pertama ditambah dengan obat lain yang mempunyai mekanisme kerja yang berbeda. 5. Bila HbA1C sejak awal ≥ 9% maka bisa langsung diberikan kombinasi 2 macam obat seperti tersebut diatas. 6. Bila dengan kombinasi 2 macam obat tidak mencapai target kendali, maka diberikan kombinasi 3 macam obat dengan pilihan sebagai berikut: a. Metformin + SU + TZD atau + DPP-4 i atau + SGLT-2 i atau + GLP-1 RA atau + Insulin basal b. Metformin + TZD + SU atau + DPP-4 i atau + SGLT-2 i atau + GLP-1 RA atau + Insulin basal c. Metformin + DPP-4 i + SU atau + TZD atau + SGLT-2 i atau + Insulin basal d. Metformin + SGLT-2 i + SU atau + TZD atau 31 + DPP-4 i atau + Insulin basal e. Metformin + GLP-1 RA + SU atau + TZD atau + Insulin basal f. Metformin + Insulin basal + TZD atau + DPP-4 i atau + SGLT-2 i atau + GLP-1 RA 7. Bila dengan kombinasi 3 macam obat masih belum mencapai target maka langkah berikutnya adalah pengobatan Insulin basal plus/bolus atau premix 8. Bila penderita datang dalam keadaan awal HbA1C ≥10.0% atau Glukosa darah sewaktu ≥ 300 mg/dl dengan gejala metabolik, maka pengobatan langsung dengan a. metformin + insulin basal ± insulin prandial atau b. metformin + insulin basal + GLP-1 RA Keterangan mengenai obat : 1. SGLT-2 dan Kolesevalam belum tersedia di Indonesia. 2. Bromokriptin QR umumnya digunakan pada terapi tumor hipofisis. Data di Indonesia masih sangat terbatas terkait penggunaan bromokriptin sebagai anti diabetes 3. Pilihan obat tetap harus memperhatikan individualisasi serta efektivitas obat, risiko hipoglikemia, efek peningkatan berat badan, efek samping obat, harga dan ketersediaan obat sesuai dengan kebijakan dan kearifan lokal. PERKENI. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe-2. 2015 32 Nama : Syafira Febrianti NIM : 2017730117 TITRASI DAN DOSIS PEMBERIAN INSULIN • Bila pasien memerlukan regulasi yang cepat, sebaiknya pasien dirawat untuk sementara. Setelah pasien diberikan diet sesuai kebutuhan, berikan : • insulin dodis rendah yaitu 5-10 unit / 1 kali • Setelah itu sesuaikan dengan reduksi urin (bila fungsi ginjal masih baik) atau glukosa darah • Mulailah pemberian insulin regulasi yaitu 3 dd 1, ½ jam sebelum makan • Jika dalam pemantauan setelah 2-3 hari kadar gula darah belum mencapai target, maka : • • Tambahkan 4-5 unit sampai glukosa darah mencapai target sampai reduksi menjadi negatif atau kadar glukosa darah mencapai target Setelah keadaan stabil : • Insulin regulasi diganti dengan insulin kerja sedang ½ dari dosis total insulin regulasi sehari (insulin kerja panjang sudah tidak dipakai lagi). • Dosis universal untuk insulin tidak ada karena tergantung pada individu, karena adanya perbedaan respon terhadap insulin disebabkan oleh makanan, kegiatan fisik, medikasi, kebiasaan hidup dan faktor emosi maka dosis insulin yang diperlukan untuk mendapatkan kontrol yang memuaskan tergantung pada individu. • Apabila pemberian obat hipoglikemia oral (OHO) tidak memuaskan atau karena sasaran tak tercapai, maka dapat dikombinasikan dengan pemberian insulin kerja menengah jam 22.00 / insulin basal sebelum tidur malam / insulin premix sebelum makan malam. • Pemberian OHO dapat dihentikan apabila pasien sudah nyaman dengan terapi insulin. • Apabila dalam 2-3 hari pemantauan pasien masih belum mencapai target kadar gula darah yang diharapkan dan perlu penambahan dosis insulin, maka di tambahkan 4-5 unit insulin. • Sebagian individu dapat dikelola dengan 2 x/hari (pagi dan malam). Cara ini dapat menggunakan hanya insulin kerja sedang / campuran insulin kerja cepat dan sedang. Cara ini dianggap sebagai terapi konvensional. Biasanya dosis yang di beri adalah : • • 2/3 dosis diberikan pada makan siang, dan 1/3 di berikan sebelum makan malam. Sebagian lagi dapat memerlukan insulin sebanyak 3-4 x/hari. Cara pemberian dapat dilakukan dengan beberapa kombinasi. Salah satunya adalah : • kombinasi insulin kerja cepat-sedang sebelum makan pagi 33 • insulin cepat sebelum makan malam • insulin kerja sedang sekitar jam 22.00. cara ini dapat mencegah hipoglikemia malam hari. Sumber : Suyono, Slamet Dkk. 2011. Penatalaksanaan Diabetes Terpadu. Jalarta : Balai Penerbitan FKUI 34 INDAH MARDIANA 2017730058 Faktor risiko yang meningkatkan terjadi komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah Menurut AHA, orang dewasa dengan Diabetes Melitus Tipe 2 sampai empat kali lebih mungkin meninggal akibat penyakit kardiovaskular dari pada mereka yang tidak menderita diabetes. Pada 2017. Hubungan antara diabetes tipe 2 dan penyakit jantung dimulai dengan kadar glukosa (gula darah) yang tinggi. Kadar glukosa yang berlebihan akan merusak arteri dari waktu ke waktu, menyebabkan bahan berlemak terbentuk di bagian dalam, mengeraskannya. Ini adalah kondisi yang disebut atherosclerosis. Aterosklerosis akhirnya akan memblokir aliran darah ke jantung atau otak, menyebabkan serangan jantung atau stroke yang berpotensi fatal. Risikonya bahkan lebih tinggi apabila sudah memiliki riwayat keluarga penyakit jantung. Faktor risiko utama untuk kondisi ini adalah : 1. Obesitas Obesitas adalah ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dengan kebutuhan energi yang disimpan dalam bentuk lemak (jaringan 10 subkutan tirai usus, organ vital jantung, paru-paru, dan hati). Obesitas juga didefinisikan sebagai kelebihan berat badan. Indeks masa tubuh orang dewasa normalnya ialah antara 18,5-25 kg/m2. Jika lebih dari 25 kg/m2 maka dapat dikatakan seseorang tersebut mengalami obesitas (Gusti & Erna, 2014). 2. Riwayat keluarga diabetes Seorang anak yang merupakan keturunan pertama dari orang tua dengan DM (Ayah, ibu, laki-laki, saudara perempuan) beresiko menderita DM. Bila salah satu dari kedua orang tuanya menderita DM maka risiko seorang anak mendapat DM tipe 2 adalah 15% dan bila kedua orang tuanya menderita DM maka kemungkinan anak terkena DM tipe 2 adalah 75%. Pada umunya apabila seseorang menderita DM maka saudara kandungnya mempunyai resiko DM sebanyak 10% (Kemenkes, 2008). Ibu yang terkena DM mempunyai resiko lebih besar 10-30% dari pada ayah dengan DM. Hal ini dikarenakan penurunan gen sewaktu dalam kandungan lebih besar dari seorang ibu (Trisnawati & Soedijono, 2013). 3. Kurangnya aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dan berat badan berlebih merupakan faktor yang paling utama dalam peningkatan kejadian Diebets Mellitus tipe 2 di seluruh dunia (Rios, 2010). Menurut WHO yang dimaksud dengan aktifitas fisik adalah kegiatan paling sedikit 10 menit tanpa berhenti dengan melakukan kegiatan fisik ringan, sedang maupun berat. Kegiatan fisik dan olahraga teratur sangatlah penting selain untuk menghidari obesitas, juga untuk mencegah terjadinya diabetes Mellitus tipe 2. Pada waktu melakukan aktivitas dan bergerak, otot-otot memakai lebih banyak glukosa daripada pada waktu tidak bergerak. Dengan demikian kosentrasi glukosa darah 35 akan menurun. Melalui olahraga/kegiatan jasmani, insulin akan bekerja lebih baik, sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel-sel otot untuk digunakan (Soegondo, 2008). 4. Usia Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia lebih dari 45 tahun sebaiknya harus dilakukan pemeriksaan DM. Diabetes seringkali ditemukan pada masyarakat dengan usia yang sudah tua karena pada usia tersebut, fungsi tubuh secara fisiologis makin menurun dan terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga kemampuan 9 fungsi tubuh untuk mengendalikan gluskosa darah yang tinggi kurang optimal (Gusti & Ema, 2014). Referensi : Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Interna Publishing Konsesus Pencegahan dan Pengelolaan Nasional Penatalaksanaan Diabetes Mellitus tipe 2 di Indonesia, Perkeni, 2006. ADA, Standards of Medical Care in Diabetes—2007. Diabetes Care 30:S4- S41, 2007. 3. Zimmet PZ. Th 36 Fahriz Yusuf 2017730045 Ardika 2017730013 Screening Komplikasi Akut pada DM 1. HIPOGLIKEMIA Hipoglikemia adalah kondisi di mana terjadinya penurunan kadar gula darah yang drastis akibat terlalu banyak insulin dalam tubuh, terlalu banyak mengonsumsi obat penurun gula darah, atau terlambat makan. Gejalanya meliputi penglihatan kabur, detak jantung cepat, sakit kepala, gemetar, keringat dingin, dan pusing. Kadar gula darah yang terlalu rendah bisa menyebabkan pingsan, kejang, bahkan koma. Diagnosis: 2. KETOSIADOSIS DIABETIK (KAD) Ketosiadosis diabetik adalah kondisi kegawatan medis akibat peningkatan kadar gula darah yang terlalu tinggi. Ini adalah komplikasi diabetes melitus yang terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan gula atau glukosa sebagai sumber bahan bakar, sehingga tubuh mengolah lemak dan menghasilkan zat keton sebagai sumber energi. Kondisi ini dapat menimbulkan penumpukan zat asam yang berbahaya di dalam darah, sehingga menyebabkan dehidrasi, koma, sesak napas, bahkan kematian, jika tidak segera mendapat penanganan medis. Diagnosis: darah (analisis gas darah), dan elektrolit darah. 37 3. HYPEROSMOLAR HYPERGLYCEMIC STATE (HHS) Kondisi ini juga merupakan salah satu kegawatan medis pada penyakit kencing manis, dengan tingkat kematian mencapai 20%. HHS terjadi akibat adanya lonjakan kadar gula darah yang sangat tinggi dalam waktu tertentu. Gejala HHS ditandai dengan haus yang berat, kejang, lemas, dan gangguan kesadaran hingga koma. Diagnosis: • Ditandai dengan hiperglikemia berat dan glikosuria tanpa adanya pernapasan Kussmaul, dengan bau napas buah yang segar atau tes aseton positif dalam urin. II. Screening Komplikasi Kronik pada DM 1. Diabetic retinopathy (eye disease) Etiology Retinopati diabetik merupakan penyebab utama kebutaan dan kecacatan visual. Ini disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah kecil pada lapisan belakang mata, retina, yang menyebabkan hilangnya penglihatan secara progresif, bahkan kebutaan. Symptoms Biasanya pasien mengeluh penglihatan kabur, meskipun gejala visual lainnya juga dapat hadir. Diagnosis Diagnosis perubahan dini pada pembuluh darah retina dapat dilakukan melalui pemeriksaan mata secara teratur. 2. Nephropathy (kidney disease) Etiology Penyakit ginjal diabetes juga disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah kecil di ginjal. Ini bisa menyebabkan gagal ginjal, dan akhirnya berujung pada kematian. Di negara maju, ini adalah penyebab utama dialisis dan transplantasi ginjal. Symptoms 38 Pasien biasanya tidak memiliki gejala sejak dini, tetapi ketika penyakit ini berkembang, mereka mungkin merasa lelah, menjadi anemia, tidak berpikir jernih, dan bahkan mengembangkan ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya. Diagnosis Diagnosis dini dapat dilakukan dengan tes urin sederhana untuk protein serta tes darah untuk fungsi ginjal. 3. Neuropathy (nerve disease) Etiology Diabetes menyebabkan kerusakan saraf melalui mekanisme yang berbeda, termasuk kerusakan langsung oleh hiperglikemia dan penurunan aliran darah ke saraf dengan merusak pembuluh darah kecil. Kerusakan saraf ini dapat menyebabkan hilangnya sensorik, kerusakan anggota badan, dan impotensi pada pria diabetes. Ini adalah komplikasi diabetes yang paling umum. Symptoms Gejala-gejalanya banyak, tergantung pada saraf yang terpengaruh: misalnya, mati rasa pada ekstremitas, nyeri pada ekstremitas, dan impotensi. Sensasi yang berkurang pada kaki dapat menyebabkan pasien tidak mengenali luka dan mengembangkan infeksi kaki. Jika tidak diobati dini, ini dapat menyebabkan amputasi (lebih lanjut tentang penyakit kaki diabetik di bawah). Diagnosis Diagnosis dini dibuat dengan pengenalan gejala awal oleh pasien dan penyedia layanan kesehatan serta dengan pemeriksaan yang cermat oleh penyedia layanan kesehatan secara berkala. Penyakit kaki diabetik, karena perubahan pembuluh darah dan saraf, sering menyebabkan ulserasi dan amputasi ekstremitas selanjutnya. Ini adalah salah satu komplikasi diabetes yang paling mahal, terutama di komunitas dengan alas kaki yang tidak memadai. Ini hasil dari proses penyakit pembuluh darah dan neurologis. Pemeriksaan teratur dan perawatan kaki yang baik dapat mencegah amputasi. Program kaki komprehensif dapat mengurangi 39 tingkat amputasi hingga 45-85%. 4. Cardiovascular disease Etiology Hiperglikemia merusak pembuluh darah melalui proses yang disebut &quot;aterosklerosis&quot;, atau penyumbatan arteri. Penyempitan arteri ini dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke otot jantung (menyebabkan serangan jantung), atau ke otak (mengarah ke stroke), atau ke ekstremitas (menyebabkan nyeri dan penurunan penyembuhan infeksi). Symptoms Gejala-gejala dari kondisi yang berbeda ini bervariasi: mulai dari nyeri dada hingga nyeri kaki, hingga kebingungan dan kelumpuhan. Diagnosis Sementara deteksi dini komplikasi ini dapat menunda perkembangan, deteksi dini faktor risiko lain seperti merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol serum tinggi, dan obesitas bahkan lebih penting. Source: World Health Organization (WHO). About diabetes. Complications of diabetes. 40 Wanda Tri Wulandari 2017730126 Kebijakan rujukan kasus diabetes melitus dari faskes primer ke Rumah Sakit harus sesuai dengan prinsip rujukan yang diatur dalam PMK no 1 tahun 2012 pasal 9, tentang sistem rujukan. Pasal tersebut mengatakan bahwa faskes dapat melakukan rujukan vertikal apabila pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau sub spesialistik dan perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengankebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atauketenagaan, tidak berdasarkan indikasi sosial. Rujukan ulangan juga dapat diberikan kembali apabila terapi oleh dokter spesialis di rumah sakit belum selesai. Berdasarkan PMK no 5 tahun 2014, dikatakan bahwa fasilitas kesehatan primer harus dapat menangani kasus DM-2 non insulin dependent, untuk kasus DM tipe 1 atau 2 dengan insulin dependent atau DM tipe lain dan Diabetes Gestasional maka faskes primer diharuskan melakukan rujukan vertikal ke rumah sakit. Untuk detail proses kapan melakukan rujukan dapat dilihat pada bagian kriteria rujukan. Kriteria Rujukan Prinsip dalam pemberian terapi pada pasien DM haruslah berkelanjutan, karena kadar gula darah yang terkontrol dengan baik dapat menurunkan angka kesakitan dan memperpanjang usia harapan hidup pada pasien DM. Untuk pemberian terapi faskes primer haruslah melihat ketersediaan obat, ketersediaan alat, serta personil yang kompeten dalam menangani kasus tersebut. Apabila satu aspek tidak dipenuhi maka harus dilakukan rujukan vertikal. 41 Berikut adalah guideline pengobatan DM tipe 2 tanpa komplikasi sesuai dengan PMK no 5 tahun 2014, mengenai panduan praktek klinis bagi dokter di faskes primer yang dikombinasikan dengan indikasi rujukan. 42 Tata Cara Pelaksanaan Rujukan Kasus Diabetes Sebelum dirujuk pada fasilitas kesehatan lain, maka pasien haruslah memenuhi kriteria untuk dirujuk seperti adanya kerusakan target organ atau komplikasi dari diabetes seperti KAD, nefropati, neuropati, retinopati,cardiomyopati atau DM tipe 1 atau 2 dengan insulin dependent atau Diabetes Gestasional. DM tipe 2 tanpa komplikasi dapat dirujuk apabila setelah pemberian 2 obat dan diet sehat pasien tidak mengalami perbaikan selama 2-3 bulan. Setelah kriteria terpenuhi maka petugas kesehatan di fasilitas primer harus mengisi formulir administrasi rujukan sebanyak 2 rangkap yang berisi : 1. 2. 3. 4. 5. Identitas jelas pasien beserta jaminan kesehatan yang digunakan serta tanggal rujukan Mencantumkan Nama Rumah Sakit tujuan dan menuliskan poliklinik penyakit dalam. Hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang yang sudah dilakukan Mencantumkan tindakan serta terapi sementara yang telah diberikan Mencantumkan tanda tangan dokter yang merujuk Pada kasus diabetes, rujukan tidak harus didampingi oleh tenaga medis, kecuali bila terjadi kegawatan seperti KAD, atau koma hipoglikemi, pasien harus didampingi oleh tenaga medis dan dikirim dengan ambulan transport yang memadai, setelah sebelumnya dokter menghubungi pihak rumah sakit tujuan, untuk dipastikan pasien tersebut mendapatkan kamar. Apabila rumah sakit tujuan penuh dan tidak memiliki ruang, maka dokter harus mencarikan rumah sakit alternatif lain yang dirasa mampu menangani kasus tersebut, tanpa memandang jaminan kesehatan yang digunakan. Apabila setelah diusahakan dan tetap tidak mendapatkan ruang di 10 rumah sakit tujuan, maka dokter harus menjelaskan kepada seluruh keluarga yang datang untuk menandatangani surat pernyataan untuk dititipkan sementara di faskes primer tersebut meskipun fasilitas dan tenaga untuk melakukan pengawasan terbatas, sehingga saat terjadi kegawatan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Setelah ditandatangani, Dokter dapat melanjutkan penanganan pada pasien lain yang mungkin sudah menunggu sembari sesekali mengecek kondisi pasien. Penting untuk diketahui adalah tidak boleh merujuk tanpa adanya konfirmasi ke rumah sakit tujuan DAFTAR PUSTAKA S Soegondo, P Soewondo, I Subekti . 2009 . Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 (IONI 2000). Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Departeman Kesehatan Republik Indonesia, 2000 Subekti I. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu PERKENI. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe-2. 2015 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Interna Publishing ADA, Standards of Medical Care in Diabetes—2007. Diabetes Care 30:S4- S41, 2007. 3. Zimmet PZ. Th 44