hubungan antara harga diri dengan prasangka etnis pada etnis

advertisement
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PRASANGKA
ETNIS PADA ETNIS DAYAK PASCA KONFLIK
DAYAK-MADURA DI SAMPIT
Eva Fauziah
Sonny Andrianto
INTISARI
Peneltian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan negatif
antara harga diri dan prasangka etnis. Dugaan awal yang diajukan dalam
penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara harga diri dan prasangka etnis
pada etnis Dayak di Sampit. Semakin tinggi harga diri semakin rendah prasangka
etnis. Sebaliknya semakin rendah harga diri semakin tinggi prasangka etnis.
Subyek dalam penelitian ini adalah etnis Dayak yang tinggal di Sampit,
pria dan wanita dengan usia minimal 25 tahun. Teknik pengambilan subyek yang
digunakan adalah metode quota sampling. Adapun skala prasangka etnis yang
digunakan mengacu pada aspek dari teori Baron & Byrne (2004), Sears dkk
(1994), Hudaniah & Dayakisni (2003) yang berjumlah 34 aitem dan skala harga
diri yang disusun berdasar aspek dari Baron & Byrne (2004) yang berjumlah 29
aitem.
Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan
fasilitas program SPSS versi 12,0 for windows untuk menguji apakah terdapat
hubungan antara harga diri dan prasangka etnis. Korelasi product moment dari
Pearson menunjukkan korelasi sebesar r = -0,419 yang artinya ada hubungan
yang signifikan antara harga diri dengan prasangka etnis. Jadi hipotesis
penelitian diterima.
Kata Kunci : Harga Diri, Prasangka Etnis
1
Pengantar
Menurut Tjokrowinoto (2001) didalam pandangan orang Dayak (dan juga
suku pendatang lainnya), pendatang dari Madura cenderung dipandang negatif
sebagai orang yang berperilaku kasar, keras, selalu mempersenjatai diri dengan
clurit dan siap untuk membunuh, bersifat ekspansif dengan kalau perlu
merampas hak-hak penduduk asli dan sebagainya. Karenanya, masyarakat
Dayak terhinggapi syndroma bogey man atau syndrome wewe-gombel
memandang etnis pendatang dari Madura sebagai bogey man yang berpotensi
mengancam eksistensi dan lebensraum mereka. Perasaan adanya common
enemy ini akan makin memperkuat solidaritas internal mereka yang dapat
meningkatnya intensitas konflik. Di pihak lain, masyarakat pendatang yang
berasal dari suku Madura juga melakukan stigmatisasi dan stereotyping terhadap
suku Dayak, memandang masyarakat Dayak sebagai pemalas, pendengki,
pemabuk, pengiri dan sebagainya. Perbenturan dua etnis yang mempunyai
perbedaan di semua dimensi prefensi nilai justru cenderung memperkuat
etnosentrisme masing-masing.
Penyang (2004) meminta agar rencana pemulangan pengungsi Madura
ke Kalteng tidak tergesa-gesa. Malah sebaliknya kata Damang jangan dulu
karena masih ada warga yang trauma “saya khawatir warga tidak begitu aman
dengan hadirnya warga Madura. Sehingga akan ada rasa was-was. Apalagi jika
ada pihak tertentu, yang bisa menjadi pemicu pecahnya permasalahan baru.
Orang yang penampilannya baik, belum tentu hatinya juga baik” tambah Simal
panjang lebar.
2
Penilaian orang Dayak terhadap orang Madura tidak terlepas dari
pengalaman pribadi mereka dalam waktu berinteraksi selama berpuluh-puluh
tahun. Orang Dayak mulai menyimpulkan bahwa orang Madura suka kekerasan
yang diperlihatkan dengan budaya carok. Kemana-mana selalu membawa
celurit.
Adanya streotip antara etnis Dayak dan Madura akibat perbedaan
budaya. Pandangan seseorang atau kelompok etnis menurut budayanya masingmasing akan menentukan streotip etnis lainnya. Hal tersebut terlihat dari
pernyataan dari salah satu warga Madura dan Dayak. Menurut Haji Tarap (warga
Madura) hal yang paling dibencinya dari orang Dayak adalah adat istiadat,
hukum adatnya. Kalau ada kesalahan selalu ada adatnya. Orang Dayak sangat
menjunjung tinggi adat-istiadat, hukum adat. Menurut Timanggong Miden (warga
Dayak) adat-istiadat dan hukum adat harus dilaksanakan. Jika ada yang
melanggar dan tidak mau membayar denda adat sama dengan menghina suku.
Jika sudah menghina suku berarti nyawa taruhannya (Surata & Andrianto, 2001).
Begitu pula menurut Giring (2004) pencitraan orang Madura di mata
orang Dayak Kanayatn Salatiga tidak terlepas dari sistem makna dan sistem nilai
yang dipegang oleh orang Dayak Kanayatn dalam menanggapi orang Madura.
Orang Madura yang dicitrakan suka kekerasan, dalam hal ini memiliki relasi yang
kontras dengan imajinasi Dayak Kanayatn mengenai kehidupan bersama dengan
orang dari etnis lain yang memiliki nilai tentram dan tenang.
Hubungan antar etnis Dayak dan Madura di Kalimantan Barat
berdasarkan hasil penelitian oleh Prof. Sudagung pada tahun 1988 diwarnai
dengan sikap prasangka dan persaingan. Hubungan yang kurang harmonis ini
diakibatkan oleh faktor perbedaan agama, adat-istiadat dan tingkat ekonomi yang
3
hampir sejajar. Kondisi inilah yang dapat memicu perselisihan diantara dua etnis
tersebut. Madura sebagai etnis pendatang terbilang cukup sukses dan berhasil di
daerah lain. Keberhasilan ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang mengancam
keberlangsungan dan masa depan etnis Dayak. Nagian mengakui bahwa etnis
Dayak adalah penduduk asli Kalimantan yang selama ini tersisihkan dari sisi
ekonomi, pemerintahan dan politik. Hutan-hutan mereka dihabisi, mereka tidak
diberi peran tetapi mereka tidak bereaksi. (Surata & Andrianto, 2001).
Penelitian yang dilakukan oleh Hidayah (2004) pada mahasiswa
Kotawaringin Timur yang berasal dari etnis Dayak dan etnis Madura
menunjukkan bahwa prasangka mahasiswa etnis Dayak lebih tinggi daripada
mahasiswa Kotim yang beretnis Madura. Penelitian ini memperkuat bahwa
adanya prasangka etnis yang terbentuk akibat konflik etnis yang terjadi pada
tahun 2001 di Sampit.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara
harga diri dengan prasangka etnis dayak pasca konflik dayak-madura di Sampit.
Prasangka merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan
manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan yang berbeda dengan
golongan orang yang berprasangka itu (Gerungan, 2004).
Menurut Baron dan Byrne (2004) prasangka adalah sebuah sikap
(biasanya negatif) terhadap anggota kelompok tertentu, semata berdasarkan
keanggotaan individu tersebut dalam kelompok tersebut. Menurut sears, dkk
(1994) prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang
individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu,
penilaian terhadap orang lain itu didasarkan kategori rasial dan tidak berdasarkan
informasi atau faktor tentang diri mereka sebagai individu.
4
Berbicara mengenai teori dan sebab terjadinya prasangka etnis tidak bisa
dipisahkan dari pembahasan tentang teori dan sebab prasangka itu sendiri. Dari
berbagai literatur yang ada, terdapat beberapa pendekatan teoritik yang
berusaha membahas prasangka, diantaranya dikemukakan oleh Dayakisni &
Hudaniah, (2003) yang membaginya dalam dua tipe analisa yaitu pendekatan
sosial dan pendekatan individual. Secara garis besar pendekatan individual
diwakili oleh pendekatan kognitif dan psikodinamika. Sedangkan pendekatan
sosial
diwakili
oleh
pendekatan
situasional,
pendekatan
sejarah
dan
sosiokultural. Sehingga terbagi menjadi empat pendekatan. Namun, dalam
penjabarannya ditambah lagi pendapat para ahli psikologi sosial tentang
penyebab prasangka dalam empat pendekatan tersebut yaitu :
a. Pendekatan Kognitif. Dalam pendekatan kognitif penyebab timbulnya
prasangka ada dua aspek, yaitu : atribusi dan ingroup-outgroup.
b. Pendekatan Psikodinamika. Menurut pendekatan ini penyebab timbulnya
prasangka ada 2 hal, yaitu : prasangka merupakan agresi seseorang
yang dialihkan dan prasangka bersumber dari individu yang mempunyai
kepribadian yang otoriter (Sears dkk, 1994).
c. Pendekatan Sosiokultural
Pendekatan ini berusaha menjelaskan bagaimana prasangka ditimbulkan
dan dipelihara oleh lingkungan sosial. Latar belakang timbulnya
prasangka menurut pendekatan ini ada beberapa sebab, yaitu : Teori
belajar sosial dan peranan media massa.
d. Teori konflik kelompok (realistic group conflict theories)
Aspek-aspek prasangka disusun mengacu pada teori Baron & Byrne (2004),
Sears, dkk (1994), Hudaniah & Dayakisni (2003) yang menguraikan beberapa
5
aspek yang berkaitan dengan adanya sikap prasangka. Aspek tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Aspek kepribadian.
b. Aspek kecemburuan sosial.
c. Aspek konflik akibat kompetisi dan adanya agresi antar kelompok.
d. Aspek frustasi dan scapegoating.
e. Aspek etnosentrisme.
f. Aspek norma/Kultural.
g. Penilaian yang terlalu ekstrim.
Ketujuh aspek prasangka di atas memberikan gambaran perilaku atau
sikap yang ditunjukkan oleh individu atau kelompok terhadap individu atau
kelompok lain hampir seragam, meski dengan kualitas dan pola yang berbeda.
Seseorang atau suatu kelompok yang memberikan penilaian terlau ekstrim pada
individu atau kelompok tertentu akan diikuti oleh anggota intergroupnya secara
hampir sama. Penilaian ini pada akhirnya mengekspresikan perilaku diskriminatif
pada kelompok tertentu yang dikenai penilaian atau prasangka (Sears, 1994).
Menurut Mar’at (Nurdiana, 2004), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
terhadap prasangka :
a. Pengaruh pendidikan anak oleh orang tua
Nilai-nilai dan norma-norma yang diajarkan orang tua kepada anak memiliki
korelasi tinggi dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dijabarkan oleh
anaknya.
6
b. Pengaruh kepribadian
kepribadian yang otoriter membentuk sistem prasangka ke arah
etnosentrisme, curiga, berfikir dogmatis, menitikberatkan pada disiplin diri.
Hal ini menunjang perkembangan konsep prasangka.
c. Peran lembaga pendidikan dan status
Lembaga pendidikan dan status akan mempengaruhi pembentukan konsep
prasangka, semakin tinggi tingkat pendidikan dan status akan mereduksi
prasangka.
d. Peran kelompok
Norma-norma kelompok yang memiliki fungsi otonomi akan banyak
memberikan informasi secara realistis atau emosional yang mempengaruhi
sistem sikap individu.
e. Peranan komunikasi
Komunikasi memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang
baik dan komponen kognitif serta afektif akan banyak dipengaruhi oleh
media-media komunikasi seperti : film, surat kabar, radio dan televisi.
Kepribadian sebagai salah satu aspek yang penting dari setiap individu
mempunyai arti yang sangat berharga. Oleh karena itu masalah self esteem
masih menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam kehidupan
seseorang. Self esteem merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku seseorang yang tentunya juga berhubungan dengan perilaku terhadap
orang lain secara sosial. Mungkin sikap yang paling penting dikembangkan oleh
seseorang adalah sikap terhadap diri. Evaluasi terhadap diri sendiri dikenal
sebagai self esteem (harga diri). Harga diri sangat berpengaruh terhadap
7
seseorang dalam berpikir, berperilaku, bahkan dalam menentukan nilai-nilai yang
dianutnya.
Menurut Baron & Byrne (2004) self esteem adalah evaluasi diri atau sikap
yang kita miliki terhadap diri kita sendiri baik yang secara umum maupun khusus.
Hal ini sebagian didasarkan pada proses perbandingan sosial.
Sementara menurut Worchel (Dayakisni & Hudaniah, 2003) harga diri
adalah komponen evaluatif dari konsep diri yang terdiri dari evaluasi positif dan
negatif tentang diri sendiri yang dimiliki seseorang.
Menurut Baron & Byrne (2004) ada 2 macam ciri-ciri self esteem (harga
diri) yaitu pada orang yang harga dirinya tinggi dan pada orang yang harga
dirinya rendah.
Dari uraian tentang ciri-ciri harga diri diatas penulis menyimpulkan bahwa
ciri-ciri harga diri yang stabil, yaitu:
a. Memiliki kemampuan sosial yang memadai. Menurut Baron & Byrne (2004)
b. Agresi dan emosi.
c. Kecemasan.
d. Mengevaluasi fisik.
Hubungan antara Harga diri dan Prasangka Etnis Dayak Pasca Konflik
Dayak - Madura
Prasangka merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan
manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan, yang berlainan dengan
golongan orang yang berprasangka itu (Gerungan, 2004).
Prasangka etnis Dayak pasca konflik Dayak-Madura terbentuk akibat
yang ditimbulkan oleh konflik etnis tersebut. Seseorang akan belajar dari
pengalaman hidupnya begitu pula yang terjadi pada etnis Dayak setelah
8
mengalami konflik yang cukup berat dalam kehidupan sosialnya. Konflik tersebut
mempengaruhi kognitif, sikap dan perilaku etnis Dayak terhadap kelompok etnis
lain.
Seseorang yang berprasangka pada suatu kelompok (out-group)
cenderung mengevaluasi anggota-anggota kelompok sosial tersebut dia akan
mengkritik nilai-nilai dan perilaku yang diterapkan dalam kelompok sosial
tersebut karena tidak sesuai dengan nilai yang dianut kelompoknya (in-group).
Perasaan in-group sering menimbulkan “in-group bias” yaitu kecenderungan
untuk menganggap bahwa kelompoknya lebih baik dari pada kelompok lain (outgroup). In-group bias ini pada titik tertentu akan memunculkan pandangan
etnosentrisme, etnis yang satu merasa hebat, unggul, berhak daripada etnis lain
(Hidayah, 2002).
Keberhasilan dan kesuksesan warga Madura di Sampit dapat dianggap
sebagai sesuatu yang mengancam keberlangsungan dan masa depan etnis
Dayak. Nagian mengakui bahwa etnis Dayak adalah penduduk asli Kalimantan
yang selama ini tersisihkan dari sisi ekonomi, pemerintahan dan politik. Hutanhutan mereka dihabisi, mereka tidak diberi peran tetapi mereka tidak bereaksi.
(Surata & Andrianto, 2001). Meskipun hal itu terjadi selama puluhan tahun,
namun ketika warga Madura meneriakkan ingin menjadikan kota Sampit sebagai
kota Sampang kedua warga Dayak tidak lagi diam tetapi bereaksi keras dalam
menghadapi hal tersebut.
Isu bahwa kota Sampit akan menjadi kota Sampang kedua dipandang
warga Dayak sebagai suatu ancaman yang sangat membahayakan habitatnya
sehingga harus melakukan ngayau tersebut, menurut Sears dkk (1994) bahwa
bila dua kelompok bersaing memperebutkan sumber langka atau rasa aman
9
mereka akan saling mengancam. Hal ini menimbulkan permusuhan diantara
mereka dan dengan demikian menciptakan penilaian negatif yang bersifat timbal
balik, jadi prasangka merupakan konsekwensi dari konflik nyata yang tidak dapat
dielakkan.
Kekerasan dilakukan warga Dayak akibat merasa terancam harga dirinya
karena merasa daerahnya akan dikuasai warga Madura. Menurut Baron & Byrne
(2004) dianggap sebagai hal yang dapat meningkatkan kembali harga diri warga
Dayak yang terancam tersebut. Ketika seseorang dengan prasangka dan harga
diri yang terancam melakukan penyerangan pada saat itu harga diri orang
tersebut dalam keadaan harga diri yang rendah. Individu akan lebih cemas dan
mudah marah sehingga individu menjadi lebih terbuka dalam mengekspresikan
kemarahannya.
Seorang individu yang merasa harga dirinya terancam akan melakukan
penyerangan. Hal itu terjadi pada individu yang harga dirinya rendah karena
seseorang yang harga dirinya rendah cenderung cemas, mudah berpikir negatif
dan
lebih
mengekspresikan
kemarahannya
secara
terbuka
sehingga
penyerangan yang dilakukan disebabkan individu merasa cemas ketika dirinya
menghadapi masalah dan berpikir negatif bahwa orang lain akan menghambat
dirinya.
Sedangkan pada individu yang harga dirinya positif tidak akan mudah
mengekspresikan kemarahannya ketika harga dirinya terancam karena individu
dengan harga diri yang positif tidak mudah cemas terhadap keselamatan
hidupnya dan lebih berani menghadapi resiko sehingga inidividu menjadi lebih
obyektif dalam mengahadapi masalah-masalah serta cenderung berpikir positif
10
terhadap orang lain sehingga tidak mudah berprasangka negatif terhadap orang
lain.
Menurut Baron & Byrne (2004) hasil penelitian menunjukkan bahwa
ketika self esteem mereka terancam, individu dengan prasangka akan
menyerang kelompok yang tidak mereka sukai. Hal ini membantu untuk
meningkatkan atau mengembalikan self esteem mereka.
Lebih lanjut Baron & Byrne (2004) menjelaskan bahwa ketika individu
dengan pandangan prasangka memandang rendah sebuah kelompok yang
dipandangnya negatif, hal ini membuat mereka yakin akan harga diri mereka
sendiri untuk merasa superior dengan berbagai cara.
Metode Penelitian
Subyek penelitian yang peneliti gunakan adalah etnis Dayak yang
berdomisili di Sampit. Penelitian ini dilakukan terhadap etnis Dayak yang memiliki
karakteristik sebagai berikut :
1. suku bangsa/etnis Dayak
2. lahir dan besar di Sampit
3. usia 25 tahun keatas
4. Pria dan wanita
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data
penelitian yang tepat dan relevan dengan tujuan penelitian dan memiliki validitas
dan reliabilitas yang tinggi, maka alat pengambilan data yang sesuai adalah
metode skala. Adapun alat ukur (skala) yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
11
a. Skala Prasangka Etnis
Skala prasangka etnis yang akan digunakan disini bertujuan untuk
mengungkapkan kecenderungan prasangka. Skala prasangka yang disusun
berdasarkan teori Baron & Byrne (2004), Sears (1994), Hudaniah & Dayakisni
(2003) yang menguraikan beberapa aspek yang berkaitan dengan adanya sikap
prasangka. Aspek-aspek yang diukur dalam skala ini adalah : Kepribadian,
kecemburuan sosial, konflik akibat kompetisi dan agresi kelompok, frustasi,
etnosentrisme, norma Penilaian yang terlalu ekstrim. Skala ini terdiri dari 34
aitem, 19 aitem favourabel dan 15 aitem unfavourabel.
b. Skala Harga Diri
Skala harga diri digunakan untuk mengungkap seberapa besar harga diri
seseorang yaitu dengan penilaian atau evaluasi terhadap diri sendiri, orang lain
serta lingkungannya. Ciri-ciri yang diukur dalam skala harga diri ini adalah
memiliki kemampuan sosial yang memadai, agresi dan emosi, kecemasan,
mengevaluasi fisik. Skala ini disusun berdasar teori Baron & Byrne (2004)
ini
terdiri dari 29 aitem, 16 aitem favourabel dan 13 aitem unfavourabel.
Analisis terhadap data penelitian menggunakan Teknik Korelasi Product
Moment. Teknik Korelasi Product Moment dilakukan dengan menggunakan
program Komputer SPSS 12.0 for windows. Teknik analisis ini digunakan untruk
mengetahui secara empiris hubungan antara harga diri dengan prasangka etnis.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat
signifikan antara harga diri dengan prasangka etnis pada etnis Dayak di Sampit.
Adanya hubungan antara kedua variabel, ditunjukkan oleh koefisien korelasi (r)
sebesar menunjukan rxy2 = -0,419 dengan p = 0,000 atau p < 0,01.
12
Pembahasan
Harga diri memiliki peran penting dalam prasangka etnis pada etnis dayak
di Sampit. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data sumbangan efektif harga
diri terhadap prasangka etnis sebesar 17,6%, artinya bahwa salah satu faktor
yang mempengaruhi prasangka etnis adalah harga diri, semantara sisanya
82,4% adalah faktor-faktor lain yang turut berpengaruh terhadap prasangka etnis
yang tidak diperhatikan dalam penelitian ini. Faktor-faktor lain tersebut Menurut
Mar’at dalam Nurdiana (2004) adalah pengaruh pendidikan anak oleh orang tua,
pengaruh kepribadian yang otoriter peran lembaga pendidikan dan status, peran
kelompok, peranan komunikasi, peranan hubungan atau kontak langsung.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga diri terhadap prasangka etnis
termasuk dalam kategori tingkat tinggi. Hal ini disebabkan dengan adanya harga
diri yang stabil sehingga subyek menjadi berpikir positif atau tidak cemas,
mengevaluasi dirinya positif sehingga dengan orang lain pun positif, tidak mudah
emosi sehingga agresi terhadap orang lain tidak menonjol. Hal ini dapat
mengurangi prasangka etnis terhadap etnis lain.
Skor yang diperoleh harga diri adalah 50,75< X =94,25 berada dalam
kategori tinggi. Mean empirik harga diri sebesar 72,5 dan mean hipotetik 82,35.
selain itu, prosentase subyek pada harga diri sangat tinggi sebanyak 6 orang
(7,5%), 45 orang (56,25%) mempunyai harga diri yang tinggi, 28 orang (35%)
mempunyai harga diri sedang, dan 1 orang (1,25%) mempunyai harga diri yang
rendah.
Skor yang diperoleh prasangka etnis adalah 59,5< X =110,5 berada dalam
kategori rendah dengan mean empirik 71,63 dan mean hipotetik 85. Prosentase
subyek pada prasangka etnis yang berada dalam kategori sedang 18 orang
13
(22,5%), 55 orang (68,75%) berada dalam kategori rendah, dan 7 orang (8,75%)
mempunyai rasangka etnis yang sangat rendah.
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat
signifikan antara harga diri dengan prasangka etnis pada etnis Dayak di Sampit.
Adanya hubungan antara kedua variabel, ditunjukkan oleh koefisien korelasi (r)
sebesar menunjukan rxy2 = -0,419 dengan p = 0,000 atau p < 0,01. Hal ini berarti
menggambarkan bahwa tingginya harga diri yang dimiliki seorang etnis Dayak
memiliki hubungan yang negatif terhadap prasangka etnis. Semakin tinggi harga
diri yang dimiliki seseorang maka semakin rendah prasangka etnis yang
dimilikinya, begitu pula sebaliknya semakin rendah harga diri yang dimiliki
seseorang maka semakin besar prasangka etnis yang dimiliki etnis Dayak di
Sampit.
Jadi hipotesis yang menyatakan adanya hubungan negatif antara harga
diri dengan prasangka etnis dapat diterima.
Saran
Berkaitan dengan hasil penemuan ilmiah yang terbatas, penulis mencoba
memberikan rekomendasi beberapa saran sebagai berikut:
1. Untuk masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit)
Konflik etnis yang pernah terjadi dapat diambil hikmah yang sangat besar,
betapa pentingnya membangun harmonisasi dan kedamaian hidup dalam
masyarakat multi etnik yang dinamis dan bersahaja. Dan hasil penelitian ini
diketahui bahwa ada hubungan antara prasangka etnis dengan harga diri
14
sehingga masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan harga diri yang positif
dan stabil sehingga mampu mengurangi prasangka negatif terhadap etnis lain.
Mengingat betapa bahayanya sebuah prasangka negatif terhadap etnis lain
maka diharapkan masyarakat mampu menjaga prasangka terhadap orang atau
etnis lain dan hal ini sangat penting agar kerusuhan pada tahun 2001 tidak
terulang lagi. Pentingnya kristalisasi kesadaran masyarakat Kotim terhadap
prinsip perdamaian, membangun kehidupan yang harmonis dan damai serta
saling menghargai dalam kehidupan masyarakat multietnik.
2. Untuk Masyarakat Etnis Dayak
Dari hasil penelitian ini diharapkan etnis Dayak dapat menumbuhkan
harga diri yang stabil sehingga mampu mengurangi prasangka negatif terhadap
etnis lain. Begitu pula dalam hal menyelesaikan masalah yang belum selesai
akibat konflik etnis tahun 2001. Hal ini penting agar tidak terjadi lagi konflik etnis
yang membawa penderitaan bagi masyarakat Kotim.
3. Untuk Peneliti Selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya yang tertarik dengan masalah prasangka etnis
perlu diperhatikan variabel-variabel sertaan lainnya yang berkaitan dengan
prasangka etnis. Variabel tersebut adalah kepribadian, pola asuh orang tua,
pendidikan, kontak langsung dan variabel lain yang masih belum terkontrol dalam
penelitian ini. Peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan metode wawancara
dan observasi sehingga informasi yang diambil lebih mendalam.
15
Download