BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian masyarakatnya berkerja sebagai petani, tidak diherankan banyak masyarakat indonesia bermatapencaharian sebagai petani, Bawang daun adalah salah satu jenis tanaman sayuran yang berpotensi dikembangkan secara intensif dan komersil. Saat ini di Indonesia bawang daun merupakan salah satu produk tanaman sayur yang diunggulkan. Selain itu luas areal panen bawang daun di Indonesia setiap tahun terus meningkat, karena prospek pemasaran 18 ZIRAA’AH, Volume 42 Nomor 1, Pebruari 2017 Halaman 17-21 e - ISSN 2355-3545 komoditas ini menunjukkan kecenderungan yang semakin baik. Pemasaran produksi bawang daun segar tidak hanya untuk pasar dalam negeri (domestik) melainkan juga pasar luar negeri (ekspor). Pemasaran produksi bawang daun segar tidak hanya untuk pasar dalam negeri melainkan juga pasar luar negeri. Jenis bawang daun yang diekspor ke Singapura dan Belanda adalah bawang prei. Selain itu, permintaan bawang daun akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk (Cahyono, 2005) dan Banyak petani daun bawang melakukan berbagai macam cara untuk membuat tanamanya subur dan berkualitas baik, tidak terkecuali penyemprotan pestisida untuk mengendalikan hama tanaman. Pestisida adalah bahan kimia yang sengaja di buat dengan tujuan untuk menyebabkan kematian atau bahaya bagi makhluk hidup (Nhachi 1999). Pestisida digolongkan menjadi insektisida. fungisida, herbisida, dan nematisida yang secara berturut-turut digunakan untuk mengendalikan serangga. Dari semua golongan tersebut. Golongan insektisida yang mempunyai dampak ekonomi dan ekologi paling tinggi (McLauglin 1999) Berdasarkan bahan aktif penyusunya. pcstisida umumnya digolongkan menjadi beberapa golongan yaitu hidrokarbon berklor, organofosfat. karbonat. Piretroid sintetis, dan garam-garam turunan dan triazin dan tiocarbonat (WHO 1997). Semua pestisida kimia berhubungan erat dengan risiko kesehatan manusia dan makhluk hidup lain, karena pada tingkat seluler semua organisme mempunyai kesamaan sistem antara satu dengan yang lain (Wilkinson l988). Tingkat resiko sangat tergantung pada intensitas dan lamanva paparan pestisida terhadap makluk hidup yang bersangkutan, dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan tubuh seseorang yang terpapar (Manahan 1983). Hati merupakan salah satu organ target pestisida. Akumulasi paparan pestisida yang masuk ke dalam hati tidak dapat diuraikan serta dieksresikan dan tersimpan dalam hati akan menyebabkan gangguan sel atau organel hati. Hal ini mengakibatkan kerusakan pada parenkim hati atau gangguan permeabilitas membran sel hati sehingga enzim bebas keluar sel. Sebagai respon terhadap kerusakan pada hati maka konsentrasi enzim dalam darah akan meningkat (Tsani RA dkk 2013). Golongan organofosfat merupakan jumlah pestisida terbesar yang beredar di pasar dan banyak digunakan dalam bidang pertanian. karena tidak menyebabkan resistensi pada serangga. Dengan takaran yang rendah sudah memberikan efek yang memuaskan, selain kerjanya cepat dan mudah terurai. Keracunan organofosfat dapat terjadi melalui mulut, inhalasi, dan kulit (Achmadi, 2008 dan Sartono, 2002). Beberapa penelitian tentang residu pestisida pada sayuran didapatkan residu insektisida golongan organofosfat dengan kandungan profenofos pada beberapa sayuran yaitu sekitar 0,024 – 0,565 ppm. Sedangkan berdasarkan batas maksimum residu (BMR) untuk pestisida profenofos yaitu sebesar 0,1 mg/kg (Afriyanto, 2008) Validasi metode analisis merupakan suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004). Dengan menggunakan sampel yang telah diketahui (atau setidaknya telah dihitung sebelumnya) nilai parameter suatu produk validasi dapat memberikan informasi yang berguna mengenai akurasi, presisi, linearitas, dan karakteristik lainnya dari kinerja suatu metode yang sehari-hari digunakan pada sampel yang tidak diketahui. Sebagai tambahan, Validasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber variabilitas yang tidak diinginkan. (Torbeck L.D, 2007). Validasi ulang perlu dilakukan meskipun validasi sebelumnya menghasilkan data yang sesuai dengan kriteria penerimaan, karena metode yang dinyatakan valid pada kondisi tertentu belum tentu valid pada kondisi lain karena peralatan dan pereaksi yang digunakan, analisis yang mengerjakan dan sebagainya. Parameter validasi yang ditetapkan pada penelitian ini antara lain: Limit of detection (LOD), Limit of Quantitation (LOQ), linearitas, Presisi, dan akurasi. Menurut Mulja dan suharman (1995), penetapan kadar dapat dilakukan secara analisis spektrofotometri UV-Vis. instrumen menggunakan metode B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut 1. Apakah terjadi penurunan kadar residu pestisida profenofos pada tanaman daun bawang yang di semprot pestisida organofosfat ? 2. Apakah Metode Spektrofotometri uv-vis dapat digunakan untuk memenuhi validasi untuk penetapan kadar residu profenofos dalam daun bawang ? C. Tujuan Penelitian 1. Penentuan kadar pestisdia profenofos pada daun bawang. 2. Untuk mengetahui metode penentuan kadar pestisida profenofos dari daun bawang memenuhi kriteria validasi metode analisis (Limit Of Detektion, Limit Of Quantitation, Linearitas, Presisi, Akurasi) secara spektrofotometri uv-vis. D. Manfaat Penelitian 1. Sebagai sumber informasi tentang validasi metode analisis dari daun bawang dengan metode spektrofotometri uv-vis 2. Penentuan kadar pestisida profenofos dalam daun bawang yang dapat memberi pengetauhan tentang kadar pestisida profenofos kepada konsumen 3. Membuktikan ada atau tidaknya residu pestisida profenofos pada tanaman daun bawang yang telah terpapar oleh pestisida jenis organofosfat