Kota dan Kemiskinan Salah satu masalah yang mendapat sorotan dari para antropolog adalah masalah kemiskinan yang dialami oleh golongan tertentu dalam kota-kota besar. Budaya kemiskinan (culture of poverty) merupakan interpretasi kemiskinan sebagai gaya hidup yang bersifat integral, di mana terjadi bentuk-bentuk tertentu dari penyesuaian dan partisipasi terhadap dunia yang ada di sekelilingnya. Kemiskinan di wilayah perkotaan umumnya berkaitan dengan kawasan pemukiman kumuh di perkotaan. Ada beberapa pendekatan utama yang sering diacu guna menangani masalah pemukiman kumuh tersebut, terutama oleh pihak pemerintah, yaitu: a) Sikap laisser fair, di sini pemerintah membiarkan bangunan perumahan liar mengikuti permainan ekonomi, b) Alamist approach, pendekatan yang memandang kehadiran pemukiman kumuh yang dihuni oleh kelompok warga miskin di perkotaan sebagai ancaman; c) Pendekatan parsial (partial approach), pemerintah memberikan subsidi kepada perushaan swasta yang mendidrikan perumahan bagi penduduk yang mampu membayar secara kredit, d) Total approach, pendekatan menyeluruh, pemerintah membangun perumahan berskala besar untuk kaum ekonomi lemah, dan e) Pendekatan progresif (progressive approach), pemecahan bersama penghuninya. Sikap Manusia Terhadap Kota Dalam menilai kota terdapat polarisasi, yakni golongan kolot, yakni para lokalis yang lebih berpangkal pada emosi, pengamatan pribadi, dan nostalgia. Mereka berpendapat bahwa yang ada tak usah dirubah, demi nilai sejarahnya. Golongan cosmopolitans, menghendaki perubahan drastis, yakni supaya wajah kota dirubah, sehingga lebih nampak corak modern dan internasional. Bagi lokalis, ini berarti perlindungan terhadap yang ada sedangkan bagi cosmopolitans, itu berarti pemugaran yang disertai pertimbangan penggunaan ruang secara efektif dan kreatif. Kota dan Proses Pengasingan Dalam masyarakat modern di kota-kota besar sering terjadi apa yag disebut proses keterasingan (alienation). Proses terjadi karena orang tidak mempunyai perasaan ikut memiliki fasilitas, lembaga, dan kesempatan. Sehingga karena itu orang-orang terasing tersebut merasa tidak menjadi bagian dari masyarakat kota. Perasaan keterasingan menyebabkan hilangnya rasa tanggung jawab bahkan ketidakperdulian. Tidak adanya tanggung jawab dan kepedulian tersebut menimbulkan sikap non-partisipasif. Itulah sebabnya kota-kota besar itu cenderung kotor. Sebab warganya tidak merasa ikut memiliki dan karena itu tidak merasa berkewajiban untuk memelihara berbagai faslitas publik yang telah disediakan oleh pemerintah. Gejala kekotoran berkorelasi dengan kepadatan penduduk dan kemiskinan. Kota dengan demikian diperlakukan sebagai konteks atau variabel yang menjelaskan keberadaan permasalahan yang ada di dalam kehidupan perkotaan, dan kota adalah juga sebagai permasalahan perkotaan itu sendiri. Secara lebih khusus, ‘kultur’ dapat juga dirumuskan sebagai tingkat kemampuan seseorang atau masyarakat untuk merumuskan maupun menciptakan ketentuan bagi pengaturan tata kehidupannya, dalam hubungannya dengan lingkungan sosial maupun lingkungan alam, serta tingkat kemampuan seseorang atau masyarakat itu untuk mematuhi dan menaati ketentuan-ketentuan itu. Dengan demikian, komunitas kota dapat dikatakan memiliki intensitas progres ‘kultur’-itas yang tinggi. Komunitas kota lebih berorientasi kepada hal-hal yang bersifat material dan rasional sehingga hubungan menjadi impersonal dan sekunder, bukan lagi ‘relation base emotional oriented’. Individu menjadi teratomisasi dan teranomisasi sehingga setiap individu diharuskan menciptakan jalur eksistensi kehidupannya. Begitu banyaknya dan bervariasinya tuntutan dalam bertingkah laku dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang berorientasi pada (goal) dan pencapaian (achievement), maka, gaya hidup masyarakat kota lebih diarahkan pada penampilan fisik dan kualitas fisik sehingga tampak civilized. Gejala lain dalam komunitas kota adalah adanya kecenderungan masyarakat menjadi masyarakat massa (mass society) yang cenderung mengakibatkan individu kehilangan identitas pribadinya (self identity). Peran penting kota yang mengawal kehidupan masyarakat adalah ketika kota menjelma sebagai pusat kekuasaan, ekonomi, pengetahuan, inovasi, dan peradaban. Kota kemudian menjadi ruang (ekspektasi)peningkatan kualitas hidup manusia. Keadaan ini sebanding dengan konsep ‘civilized’ yang berarti kualitas tertinggi pada masyarakat manusia.