ANALISIS KELAYAKAN USAHA KEBUN STRAWBERRY MK. EKONOMI TEKNIK Dosen : Ir. I Gst Ngurah Apriadi Aviantara, MT Oleh Kelompok 2 Pasek Made Sada Wedantara 1311305011 Nindi Widyasari 1311305013 Dewa Putu Yoga Gautama 1311305015 Bob Evan T. 1311305016 Ni Putu Ayu Purnamayanti 1311305018 Ida Ayu Inten Dwi Sulatri 1311305019 Budi Mustapa Husin Sagala 1311305021 Budi Dayus 1311305022 Johanes Paulus Djandon Jr. 1311305023 Prihandoni Widodo 1311305025 Verawati Aritonang 1011305020 JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA 2014 Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat-Nya, penulis mampu menyelesaikan Laporan Praktikum Mata Kuliah Ekonomi Teknik ini dengan tepat waktu. Dalam penyusunan laporan ini, kami juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ir. I Gst Ngurah Apriadi Aviantara, MT selaku dosen pengajar mata kuliah Ekonomi Teknik. Kami menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan ini tentunya tidak terlepas dari segala kekurangan maupun kelebihannya. Oleh karena itulah, kritik dan dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi kesempurnaan penyusunan laporan ini. Bukit Jimbaran, 18 Desember 2014 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR …………………………………………………………………... i DAFTAR ISI …………………………………………………………………………..... ii BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………….... 1 1.1 Latar Belakang……………………………………………………………….. 1 1.2 Tujuan Penelitian……………………………………………………………... 2 1.3 Metode Pengumpulan Data………………………………………………....... 2 1.4 Ruang Lingkup Penelitian………………………………………………….… 2 1.5 Manfaat Penelitian…………………………………………………………… 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………... 3 BAB III ANALISIS EVALUASI………………………………………………………. 7 3.1 Metode Net Present Value (NPV)…………………………………………… 7 3.2 Metode Break Event Point (BEP)……………………………………………. 9 3.3 Metode Internal Rate of Return (IRR)……………………………………….. 10 3.4 Metode Payback Period (PBP)……………………………………………….. 13 3.5 Metode Benefit Cost Ratio (BCR)…………………………………………… 14 BAB IV PENUTUP……………………………………………………………………… 17 4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………… 17 4.2 Saran………………………………………………………………………….. 17 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………. 18 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Studi kelayakan di bidang pertanian khususnya dalam pengembangan kebun strawberry merupakan suatu studi evaluasi investasi. Investasi merupakan kegiatan menanamkan modal jangka panjang, yang diikuti dengan pengeluaran secara periodik antara lain biaya operasional (operasional cost), biaya perawatan (maintenance cost), dan biaya yang tidak dapat dihindarkan, selain itu investasi akan menghasilkan sejumlah keuntungan dalam bentuk produk atau jasa atau penyewaan fasilitas. Analisis kelayakan usaha kebun strawberry tersebut bertujuan untuk menentukan layak atau tidak layaknya lahan yang telah dirancang tersebut dapat dijalankan yang dinilai dari segi analisis biaya ekonomi/keuangan. Hasil analisis kelayakan ekonomi usaha tersebut menggambarkan usaha yang akan dijalankan termasuk perkiraan laba yang akan diperoleh dimasa depan. Pada prakteknya banyak sekali rencana bisnis yang dalam penyajiannya hanya menitikberatkan pada aspek pasar dan keuangan (Marselius, 2007). Oleh sebab itu diperlukan analisis finansial, dimana analisis tersebut merupakan suatu analisis yang membandingkan antara biaya-biaya dengan manfaat (keuntungan) untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek. Pengkajian aspek ekonomi dan keuangan dapat memperhitungkan berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun kemudian mengoperasikan proyek (Sutojo, 1993). Ardi (2007) menambahkan bahwasanya maksud dan tujuan menganalisis aspek keuangan dengan baik dari suatu studi kelayakan proyek adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dapat membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan guna menghindari kerugian yang timbul akibat analisis keuangan yang tidak tepat. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kelayakan usaha kebun strawberry dari aspek ekonomi dan keuangan. 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kelayakan rancangan usaha kebun strawberry (Fragaria) di daerah Bedugul dari segi biaya ekonomi. 1.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam praktikum ini yaitu dengan menggunakan metode wawancara langsung dengan pemilik usaha perkebunan Strawberry yang bernama I Nyoman Suta (Pemilik Usaha Strawberry Stop). 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Analisis kelayakan usaha meliputi beberapa aspek yang sangat penting yaitu : aspek lokasi, manajemen, ekonomi, keuangan, hukum dan lingkungan. Namun dalam penelitian ini dibatasi pada analisis kelayakan kebun strawberry berdasarkan aspek ekonomi dan keuangan. Untuk menjelaskan kelayakan usaha kebun strawberry dari aspek ekonomi dan keuangan maka dilakukan perhitungan beberapa analisis sebagai berikut : - Analisis perhitungan Total Capital Investment /(TCI) - Analisis perhitungan biaya tetap dan biaya variable - Analisis perhitungan biaya produksi keseluruhan (Total Production Cost) - Analisis metode evaluasi pabrik yaitu Break event Point, NPV, Internal rate of return, pay back periode, dan B/C ratio 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut: - Untuk melakukan penilaian dari kelayakan usaha produksi strawberry sehingga dapat dijadikan dasar bagi investor untuk membuat keputusan secara lebih obyektif. - Dapat dimanfaatkan sebagai penunjang kelancaran tugas dalam melakukan penilaian usaha produksi strawberry baru serta pengembangannya dimasa yang akan datang. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Strawberry (Fragaria) Strawberry adalah sebuah varietas stroberi yang paling banyak dikenal di dunia. Seperti spesies lain dalam genus Fragaria (stroberi), buah ini berada dalam keluarga Rosaceae. Secara umum buah ini bukanlah buah, melainkan buah palsu artinya daging buahnya tidak berasal dari ovari tanaman (achenium) tapi dari bagian bawah hypanthium yang berbentuk mangkok tempat ovari tanaman itu berada (Wikipedia 2014) Buah stroberi berwarna hijau keputihan ketika sedang berkembang, dan pada kebanyakan spesies berubah menjadi merah ketika masak. Namanya berasal dari bahasa Inggris kuno streawberige yang merupakan gabungan dari streaw atau "straw" dan berige atau "berry". Alasan pemberian nama ini masih tidak jelas. Beberapa spesies Lepidoptera mengambil sumber makanannya dari tumbuhan stroberi, menjadikan spesies ini hama utama tanaman stroberi. Kedudukan tanaman strawberry dalam taksonomi tumbuhan menurut Plantamor (2008) adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisio : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Rosales Familia : Rosaaceae Upafamili : Rosoideae Genus : Fragaria Spesies : F. × ananassa Sektor usaha perkebunan di Indonesia telah tumbuh dan berkembang melalui usaha perkebunan rakyat. Salah satu komoditas perkebunan yang dapat dikembangkan melalui kemitraan usaha tersebut adalah strawberry. Strawberry merupakan salah satu komoditi andalan sub sektor perkebunan, karena peranannya yang cukup menonjol sebagai sumber pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan perolehan devisa. Rata-rata produksi tanaman strawberry adalah (1 kuintal strawberry/ha/hari), Bila dikelola secara intensif, produksinya bisa mencapai 2-3 kuintal/ha/hari dengan rendemen sekitar 18%. Umumnya tanaman ini dapat dipanen setelah tiga bulan, dan bisa dipanen lagi setiap harinya setelah panen pertama. 2.2 Analisis Kelayakan Usaha Strawberry Analisis ekonomi sangat berperan dalam menentukan layak atau tidaknya dijalankan usaha kebun strawberry yang telah dirancang dimana analisis ekonomi usaha dapat memegang peranan penting dalam peningkatan produksi. (Fazna, 2009). Suatu usaha layak didirikan jika telah memenuhi syarat yaitu keamanannya terjamin dan tentu saja dapat mendatangkan keuntungan. Untuk mendirikan suatu kebun strawberry diperlukan modal yang cukup besar. Modal ini berasal dari pinjaman bank. Sedangkan laba atau profit diperoleh dari hasil pengurangan harga jual dengan biaya produksi. Selain berorientasi pada perolehan keuntungan, pemilik usaha juga harus bisa mengembalikan modal. Uji kelayakan ekonomi dapat dinyatakan dalam bentuk titik break even point. Hal yang terpenting dari analisis ini adalah dapat memperoleh proyeksi laba rugi, dimana proyeksi laba rugi merupakan ringkasan penerimaan dan pembiayaan perusahaan setiap periode akuntansi dan memberikan kemajuan perusahaan dari waktu ke waktu. Hal ini dapat membantu para pihak manajemen keuangan dalam menganalisis keuangan dengan benar sehingga memperoleh keuntungan dari usaha tersebut (Ardi, 2007). 2.2.1 Analisis Total Capital Investment (TCI) Total capital investment merupakan modal yang dibutuhkan untuk mendirikan usaha dan menjalankannya dalam waktu tertentu. Secara garis besar capital investment dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu, modal tetap (fixed capital investment) dan modal kerja (working capital investment) Total capital investment (TCI) merupakan jumlah dari fixed capital investment dan working capital investment. 1. Modal Tetap (Fixed Capital Investment) Modal Tetap adalah jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian dan pemasangan seluruh proses serta peralatan penunjang lainnya. 2. Modal Kerja (Working Capital Investment) Modal Kerja adalah jumlah biaya yang harus dikeluarkan setelah usaha berdiri. Biaya ini dimaksudkan untuk pembiayaan kebun strawberry pada masa awal yang meliputi biaya start-up, gaji karyawan serta kebutuhan lainnya. 2.2.2 Analisis Biaya Tetap (Fixed Cost) Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan relatif sama walaupun volume produksi berubah dalam batas-batas tertentu. Contoh, biaya listrik untuk penerangan, telepon, air bersih, gaji karyawan tetap dan lain-lain. Menurut Irwanto (1980) unsur-unsur biaya tetap yang termasuk dalam komponen ini adalah: a) Biaya penyusutan Untuk mendukung kegiatan produksi, suatu usaha kebun strawberry memerlukan peralatan dan bahan dalam proses produksi seperti green house, pipa, selang, plastik yang dapat menyusut setiap tahunnya. b) Biaya pajak bumi bangunan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan atau bangunan. 2.2.3 Analisis Biaya Variable Karakteristik dari biaya variable adalah biaya berubah total sebanding perubahan tingkat aktivitas Biaya satuan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan (biaya satuan konstan). Unsur-unsur yang termasuk biaya variable sebagai berikut: 1. Biaya pembuatan green house 2. Biaya perkakas kecil 3. Gaji pesuruh kebun 2.2.4 Total Biaya Produksi (Total Production Cost) Ada beberapa jenis-jenis biaya yang harus diperhatikan dalam perhitungan biaya produksi tersebut antara lain sebagai berikut : a. Biaya produksi langsung ialah biaya yang langsung diterapkan kepada suatu jumlah hasil produksi tertentu. Biaya yang termasuk didalamnya biaya untuk membeli bahan mentah dan upah yang dibayar kepada tenaga kerja dalam suatu proses produksi langsung kepada hasil produksi yang bersangkutan. b. Biaya produksi tidak langsung adalah biaya yang tidak langsung diterapkan kepada suatu jumlah hasil produksi tertentu akan tetapi kepada suatu prestasi. Dengan perkataan lain, biaya ini merupakan biaya langsung kepada suatu prestasi tertentu. Biaya yang termasuk didalamnya adalah biaya penyusutan mesin, dan penyusutan gedung (Manulang 1981). Perhitungan biaya produksi langsung tersebut terdiri atas : biaya pembuatan (manufacturing cost), dan biaya pengeluaran umum (general expance cost) (Peters, 1991). 2.2.4.1 Biaya Pembuatan (Manufacturing Cost) 2.2.4.2 Biaya Pengeluaran Umum (General Expence Cost) Total dari biaya pengeluaran umum (General Expence Cost) ini adalah jumlah dari keseluruhan biaya–biaya berikut : a. Biaya pengeluaran untuk keperluan administrasi seperti (kertas, perangko, materai, biaya telepon, internet) b. Biaya distribusi dan pemasaran (Peters, 1991). BAB III EVALUASI INVESTASI Pada umumnya, langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pengambilan keputusan investasi adalah sebagai berikut: 1. Adanya usulan investasi (proposal investasi). 2. Memperkirakan arus kas (cash flow) dari usulan investasi tersebut. 3. Mengevaluasi profitabilitas investasi dengan menggunakan beberapa metode penilaian kelayakan investasi. 4. Memutuskan menerima atau menolak usulan investasi tersebut. 3. 1. Metode Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) atau nilai sekarang bersih adalah analisis manfaat finansial yang digunakan untuk mengukur layak tidaknya suatu usaha dilaksanakan dilihat dari nilai sekarang (present value) arus kas bersih yang akan diterima dibandingkan dengan nilai sekarang dari jumlah investasi yang dikeluarkan. Metode ini adalah metode yang mengurangkan nilai sekarang dari uang dengan aliran kas bersih operasional atas investasi selama umur ekonomis termasuk terminal cash flow dengan initial cash flow (initial investment). Metode ini memperhatikan nilai waktu uang, maka arus kas masuk (cash inflow) yang digunakan dalam menghitung net present value (nilai sekarang bersih) adalah arus kas masuk yang didiskontokan atas dasar discount rate tertentu (biaya modal, opportunity cost, tingkat bunga yang berlaku umum). Kriteria keputusan: Jika NPV bertanda positif (NPV > 0), maka investasi akan negatif (NPV < 0), maka investasi tidak menguntungkan/feasible Jika NPV bertanda menguntungkan/unfeasible Jadi, untuk menghitung NPV dari suatu usaha perkebunan strawberry di daerah Bedugul, kami memperoleh data jumlah investasi yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 400 juta/Ha, di samping itu untuk mengoperasikan investasi tersebut Bapak I Nyoman Suta membutuhkan biaya opersional (pembelian bibit,plastik yuppy, pupuk kompos, selang drip, upah pegawai,biaya listrik air, alat perkebunan, dll) rata- rata Rp 150 juta/tahun, selanjutnya dari hasil penjualan buah strawberry yang setiap harinya menghasilkan 1 kuintal/ hari dimana harga jual buah Strawberry yaitu Rp 20.000,-/ kg akan ada pemasukan rata-rata Rp 730 juta/tahun. Dan umur investasi diperkirakan 2 tahun dengan nilai sisa Rp 50 juta. Dan suku bunga rata-rata selama umur investasi adalah 18%. Dari data di atas dapat di evaluasi kelayakan ekonomis usaha kebun Strawberry tersebut sebagai berikut Diketahui : Investasi (I) = Rp 400 juta Annual benefit (Ab) = Rp 730 juta/tahun Annual cost (Ac) = Rp 150 juta/tahun Nilai sisa (S) = Rp 50 juta Umur investasi (n) = 2 tahun Suku bunga (i) = 18%/tahun Penyelesaian : Dengan menggunakan rumus NPV = Dimana CFt = cash flow utuh dan FBP = faktor bunga present NPV = - I + Ab(P/A,i,n) + S (P/F,i,n) – Ac (P/A,i,n) NPV = - 400 + 730 (P/A,18%,2) + 50 (P/F,18%,2) – 150 (P/A,18%,2) NPV = - 400 + 730 (1,5656) + 50 (0,7182) – 150 (1,5656) NPV = - 400 + 1142,89 + 35,91 - 234,84 NPV = 543,96 juta rupiah Karena NPV = Rp 543,96 > 0, maka investasi perkebunan Strawberry tersebut direkomendasikan layak secara ekonomis. Keunggulan dan kelemahan metode NPV sebagai berikut : Keunggulan metode NPV a) Memperhitungkan nilai waktu dari uang. b) Memperhitungkan arus kas selama usia ekonomis usaha. c) Memperhitungkan nilai sisa usaha. Kelemahan metode NPV a) Manajemen harus dapat menaksir tingkat biaya modal yang relevan selama usia ekonomis. b) Jika proyek memiliki nilai invetasi inisial yang berbeda, serta usia ekonomis yang juga berbeda, maka NPV yang lebih besar belum menjamin sebagai usaha yang lebih baik. c) Derajat kelayakan tidak hanya dipengaruhi oleh arus kas, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor usia ekonomis usaha. 3. 2. Metode Break Event Point (BEP) Analisis titik impas atau disebut break event point/BEP analysis adalah suatu teknik analsis yang berguna untuk mengetahui hubungan antara biaya,volume penjualan dan profit. Hasil analisis BEP dapat dimanfaatkan untuk merencanakan tingkat laba yang diinginkan pada biaya dan volume penjualan tertentu atau menargetkan volume penjualan tertentu atau menargetkan volume penjualan yang mungkin dicapai pada biaya dan laba tertentu. Suatu perusahaan dikatakan break event apabila setelah dibuat perhitungan laba rugi dari suatu periode kerja atau dari suatu kegiatan tertentu, perusahaan itu tidak memperoleh laba tetapi juga tidak mengalami kerugian. BEP sangat penting dalam membuat usaha agar tidak mengalami kerugian, atau manufaktur, manfaat dari BEP adalah : - Alat perencanaan untuk menghasilkan laba Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan. - Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan Dalam hal ini data yang kami peroleh dari pemilik usaha kebun Strawberry yaitu modal awal yang dikeluarkan oleh Bapak I Nyoman Suta selaku pemilik usaha adalah sebesar Rp 400 juta dan telah memetik hasil panen strawberry setiap tahunnya sebesar 36. 000 kg/tahun dengan rata-rata panen tiap bulan yaitu 3 ton (3000 kg), dimana penjualan buah strawberry seharga Rp 20.000.-/kg. Adapun analisis break event point dalam kegiatan usaha perkebunan Strawberry di daerah Bedugul dimana kondisi titik impas tercapai saat hubungan antara biaya dan penjualan menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak (eraning before interest and tax/EBIT) sama dengan nol dapat dievaluasi sebagai berikut : Diketahui : FC = Rp 400 juta P = Rp 20.000.-/kg Ditanya : vc = 100 kg QBEP = ... ? Penyelesaian Dengan menggunakan rumus QBEP = QBEP = 20.100 kg Jadi, berdasarkan uraian di atas usaha perkebunan Strawberry yang dikelola oleh Bapak I Nyoman Suta minimal harus memproduksi 20.100 kg buah/tahun. Dalam analisis data yang kami dapatkan kebun Strawberry yang dikelola sudah melebihi jumlah minimal produksi atau hasil panen/ tahun=36.000 kg > QBEP = 20.100 kg. 3. 3. Metode Internal Rate of Return (IRR) Internal rate of return adalah perhitungan yang penting sering digunakan untuk menentukan apakah suatu investasi yang berharga. Investasi umumnya dianggap berharga jika internal rate of return lebih besar daripada kembalinya dari rata-rata peluang investasi yang sama, atau jika lebih besar daripada biaya modal kesempatan. Internal Rate of Return (IRR) mengukur tingkat kemampuan dari suatu investasi untuk menghasilkan penerimaan kas (keuntungan) atau tingkat pengembalian investasi Besaran IRR dinyatakan dengan persentase per periode waktu (misal, 18%/tahun. Makin besar nilai IRR maka tingkat kemampuan menghasilkan penerimaan kas makin besar. Artinya, investasi yang memiliki IRR makin tinggi makin diminati oleh investor (pemilik modal) Bila IRR Investasi > MARR, artinya investasi layak dijalankan. Sebaliknya,bila IRR investasi < MARR, artinya investasi tidak layak dijalankan. Besaran MARR ditentukan oleh calon investor (pemilik modal). Besaran MARR telah memperhitungkan faktor biaya modal, risiko kegagalan, dan tingkat keuntungan yang dikehendaki. Dari penjelasan di atas dan data yang telah kami peroleh dapat di evaluasi Internal rate of return dalam usaha kebun Strawberry tersebut sebagai berikut Diketahui : Investasi (I) = Rp 400 juta Annual benefit (Ab) = Rp 730 juta/tahun Annual cost (Ac) = Rp 150 juta/tahun Nilai sisa (S) = Rp 50 juta Umur investasi (n) = 2 tahun Suku bunga (i) = 18%/tahun MARR = 15 %/tahun Penyelesaian : Dengan menggunakan rumus NPV = Dengan menggunakan rumus metode interpolasi IRR akan diperoleh saat NPV = 0, perlu dicari NPV dengan I yang berbeda untuk mendapatkan NPV mendekati nol. Jika i=15% NPV = - I + Ab(P/A,i,n) + S (P/F,i,n) – Ac (P/A,i,n) NPV = - 400 + 730 (P/A,15%,2) + 50 (P/F,15%,2) – 150 (P/A,15%,2) NPV = - 400 + 730 (1,6257) + 50 (0,7561) – 150 (1,6257) NPV = - 400 + 1186,76 + 37,80 – 243,86i NPV = 580,7 juta rupiah Jika i=25% NPV = - I + Ab(P/A,i,n) + S (P/F,i,n) – Ac (P/A,i,n) NPV = - 400 + 730 (P/A,25%,2) + 50 (P/F,25%,2) – 150 (P/A,25%,2) NPV = - 400 + 730 (1,4400) + 50 (0,6400) – 150 (1,4400) NPV = - 400 + 1051,2 + 32 – 216 NPV = 467,2 juta rupiah Jika i=115% NPV = - I + Ab(P/A,i,n) + S (P/F,i,n) – Ac (P/A,i,n) NPV = - 400 + 730 (P/A,115%,2) + 50 (P/F,115%,2) – 150 (P/A,115%,2) NPV = - 400 + 730 (0,6814) + 50 (0,2163) – 150 (0,6814) NPV = - 400 + 497,442 + 10,815 – 102,21 NPV = 6,027 juta rupiah Jika i=120% NPV = - I + Ab(P/A,i,n) + S (P/F,i,n) – Ac (P/A,i,n) NPV = - 400 + 730 (P/A,120%,2) + 50 (P/F,120%,2) – 150 (P/A,120%,2) NPV = - 400 + 730 (0,6611) + 50 (0,2066) – 150 (0,6611) NPV = - 400 + 482,587 + 10,33 – 99,165 NPV = -6,632 juta rupiah Ternyata NPV = 0 berada antara i=115% dengan i=120%, selanjutnya dengan metode interpolasi akan diperoleh IRR yaitu : IRR = 65,2 % Karena IRR = 65,2 % > MARR = 15%, maka investasi perkebunan strawberry tersebut dinyatakan layak secara ekonomis untuk dijalankan. 3. 4. Metode Payback Periode (PBP) Payback period adalah suatu metode berapa lama investasi akan kembali atau periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period merupakan rasio antara initial cash investment dengan cash flownya yang hasilnya merupakan satuan waktu. Suatu usulan investasi akan disetujui apabila payback period-nya lebih cepat atau lebih pendek dari payback period yang disyaratkan oleh perusahaan. Dalam penelitian kami mengenai pengelolaan kebun Strawberry di daerah Bedugul kami melihat bahwa cash flow benefit dan cost-nya bersifat annual,maka formulanya yang digunakan untuk menghitung Payback Periode adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Diketahui : Ditanya : Investasi (I) = Rp 400 juta Annual Benefit = Rp 730 juta/tahun Periode waktu = 2 tahun k(PBP) = … ? Penyelesaian Kriteria keputusan Untuk mengetahui apakah suatu investasi tersebut layak ekonomis atau tidak,diperlukan suatu ukuran/kriteria tertentu. Dalam metode Payback Period ini investasi dikatakan layak jika (feasible) jika k ≤ n. Sedangkan jika k ≥ n maka investasi tersebut dikatakan tidak layak (unfeasible). Dimana k adalah jumlah periode pengembalian dan n adalah umur investasi. Karena k = 1,37 tahun < n = 2 tahun, maka periode pengembalian investasi memenuhi syarat/layak. Payback Method memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut : Kelebihan Payback Method 1. Digunakan untuk mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi dengan resiko yang besar dan sulit. 2. Dapat digunakan untuk menilai dua usaha investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya cepat. Kelemahan Payback Method 1) Tidak memperhatikan nilai waktu dari uang 2) Tidak memperhitungkan nilai sisa dari investasi 3) Tidak memperhatikan arus kas setelah periode pengembalian tercapai. 3. 5. Metode Benefit Cost Ratio (BCR) Metode Benefit cost Ratio (BCR) adalah salah satu metode yang sering digunakan dalam tahap-tahap evaluasi awal perencanaan investasi atau sebagai analisis tambahan dalam rangka mengvalidasi hasil evaluasi yang telah dilakukan dengan metode lainnya. Metode BCR memberikan penekanan terhadap nilai perbandingan antara aspek manfaat (Benefit) yang akan diperoleh dengan aspek biaya dan kerugian yang akan ditanggung (cost) dengan adanya investasi tersebut Metode BCR didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) nilai ekivalen dari manfaat terhadap nilai ekivalen dari biaya-biaya. Nama lain rasio BCR adalah rasio investasi-penghematan. Kriteria keputusan Untuk mengetahui apakah suatu investasi layak ekonomis atau tidak yaitu sebagai berikut : Jika BCR ≥ 1 maka investasi layak (feasible) Jika BCR ≤ 1 maka investasi tidak layak (unfeasible) Dari penjelasan di atas dan data yang telah kami peroleh dapat di evaluasi Benefit Cost Ratio dalam usaha kebun Strawberry yang dikelola oleh Bapak I Nyoman Suta tersebut sebagai berikut : Diketahui : Investasi (I) = Rp 400 juta Annual benefit (Ab) = Rp 730 juta/tahun Ditanya : Annual cost (Ac) = Rp 150 juta/tahun Nilai sisa (S) = Rp 50 juta Umur investasi (n) = 2 tahun Suku bunga (i) = 18%/tahun BCR = …? Penyelesaian Dengan menggunakan rumus umum BCR yaitu Karena analisis yang dilakukan terhadap present, maka PWB = = Ab(P/A,i,n) + S (P/F,i,n) = 730 juta (P/A,18%,2) + 50 juta (P/F,18%,2) = 730 juta (1,5656) + 50 juta (0,7182) = 1142,89 + 35,91 = 1178,8 PWC = = I + Ac (P/A,i,n) = 400 juta + 150 (P/A,i,n) = 400 juta + 150 (P/A,18%,2) = 400 juta + 150 (1,5656) = 400 juta + 234,84 Karena nilai BCR = 1,856 > 1, maka investasi kebun Strawberry yang dikelola oleh Bapak I Nyoman Suta dinyatakan layak ekonomis (feasible) dan rencana investasi direkomendasikan untuk dilanjutkan. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah kami lakukan di daerah Bedugul tepatnya di Strawberry Stop bersama bapak I Nyoman Suta sebagai pengelola kami memperoleh data dan mengolahnya dengan berbagai metode pengujian layak atau tidaknya suatu usaha berjalan. Dan usaha yang dijalankan bapak I Nyoman Suta sudah dapat dikatakan layak. Berdasarkan perhitungan evaluasi investasi dengan metode NPV, BEP, IRR, PBP dan BCR kami dapat menyimpulkan bahwa investasi yang telah dilakukan bapak I Nyoman Suta terhadap pengelolaan kebun strawberry di Strawberry Stop dinyatakan layak secara ekonomis. Sebuah usaha yang sedang dirintis ataupun sedang berjalan sebaiknya harus diuji dengan Evalausi investasi agar mengetahui kelayakan usaha kedepannya. 4.2 Saran Saat melakukan pengumpulan data di lapangan, dibutuhkan ketelitian agar lebih mudah ketika mengujinya dalam analisa investasi. Pengolahan data ke dalam analisa investasi harus dilakaukan secara teliti agar hasil yang diperoleh tidak salah. DAFTAR PUSTAKA Binus University (2014). Metode Cost Benefit Analysis untuk Evaluasi Investasi Teknologi Informasi. From http://sis.binus.ac.id/2014/04/30/metode-cost-benefit-analysis-untuk- evaluasi-investasi-teknologi-informasi/ diakses pada tanggal 12 Desember 2014. Giatman, M (2006). EKONOMI TEKNIK. Jakarta, Kharisma Putra Utama Offset. Gunawan, Randi (2007). Analisis Kelayakan Ekonomi Teknik Pada Pemanfaatan Lahan Irigasi Bajayu Langau, Paya Lombang Di Kabupaten Serdang Bedagai. From http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17938/1/wah-agu2007-3%20%284%29.pdf diakses pada tanggal 10 Desember 2014 Jaziraa (2011). Tugas Ekonomi Teknik. Pengertian dari NPV, PV, IRR dan SOCC http://jaziraa.wordpress.com/2011/11/03/tugas-ekonomi-teknik-pengertian-dari-npv-pv-irrdan-socc/ diakses pada tanggal 10 Desember 2014. Rahama, Yuanita (2011). Tugas Ekonomi Teknik Menghitung Nilai NPV. From http://yuanitarahmah057.wordpress.com/2011/11/11/tugas-ekonomi-teknik-menghitung-nilainpv/ diakses pada tanggal 10 Desember 2014.