Uploaded by User23325

FS PT.OEA 2019

advertisement
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelabuhan berperan sebagai pintu gerbang dari suatu negara atau daerah
sebagaimana halnya dengan pelabuhan udara. Konsep pelabuhan sebagai pintu
gerbang dilatarbelakangi dengan pendekatan peraturan dan prosedur yang harus
diikuti oleh setiap kapal yang menyinggahi suatu pelabuhan, terutama bagi kapal
asing. Dalam perkembangan selanjutnya pelabuhan mempunyai peranan yang
dinamis, yaitu sebagai suatu sistem jasa dan jaringan transportasi yang kompleks.
Pelabuhan adalah suatu unit industri tersendiri.
Pelabuhan dapat mendorong bagi pertumbuhan dan perkembangan
perdagangan, pelayaran, pembangunan dan arus penumpang dan barang dagangan,
bahkan industri dasar dan industri lainnya. Pelabuhan dipandang sebagai salah satu
mata rantai transportasi pulau dari tempat asal barang sampai ke tempat tujuan.
Dalam fungsi link, pelabuhan sering dipandang sebagai mata rantai yang lemah dan
dengan sendirinya akan mempengaruhi atau menentukan kekuatan seluruh mata
rantai. Selain itu pelabuhan berperan sebagai penyediaan berbagai fasilitas dan
pelayanan jasa yang dibutuhkan untuk memindahkan barang dari kapal yang satu
ke kapal yang lainnya dalam arti transhipment. Fasilitas-fasiltas pelabuhan tersebut
antara lain berupa infrastruktur seperti alur pelayaran, kolam pelabuhan, dermaga
dan jalan raya, juga terdapat fasilitas infrastruktur berupa gudang, storage tank,
jaringan pipa untuk bunker air dan minyak.
PT. Oti Eya Abadi adalah perusahaan yang bergerak dibidang
pertambangan bahan galian mineral logam (nikel), yang memegang Izin Usaha
Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) yang berlokasi di Kecamatan Bahodopi
Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu berdasarkan Surat
Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah : 540/364/IUP_OP/DMPTSP/2018 Tentang
Persetujuan Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi Mineral Logam
PT. OTI EYA ABADI
1
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Mineral Logam Pt. Oti Eya
Abadi pada tanggal 15 Mei 2018 seluas 3.339,2 Ha.
Untuk menunjang kegiatan pertambangan bahan galian bijih nikel
tersebut membutuhkan fasilitas sarana pelabuhan yang memadai untuk menjamin
kelancaran hasil produksi bijih nikel agar bisa sampai pada sasaran pemasaran
secara tepat waktu dan efisien.
Berbeda dengan pelabuhan umum yang diselenggarakan untuk
kepentingan masyarakat umum, terminal khusus adalah pelabuhan yang dikelola
untuk kepentingan sendiri guna kegiatan tertentu. Kepentingan sendiri maksudnya
adalah terbatas pada kegiatan lalu lintas kapal atau naik turun penumpang atau
bongkar muat barang berupa bahan baku, hasil produksi sesuai dengan jenis usaha
pokoknya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2010 tentang
kepelabuhanan dan Keputusan Menteri Perhubungan No.PM 20 Tahun 2017
Tentang Terminal Khusus dan Terminal untuk Kepentingan Sendiri, harus
mendapat legalitas berupa persetujuan penetapan lokasi, izin pembangunan dan
pengoperasian pelabuhan khusus diselesaikan secara bertahap.
Guna kepastian hukum, kepastian usaha dan tertib administrasi, PT. Oti
Eya Abadi mengajukan persetujuan izin penetapan lokasi terminal khusus yang
ditetapkan oleh Menteri Perhubungan.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud pembuatan studi kelayakan terminal khusus adalah untuk
mendapatkan informasi awal mengenai lokasi terminal, fasilitas yang ada, kegiatan
terminal,
kondisi
lingkungan,
potensi
daerah
hinterland,
dan
rencana
pengembangan. Serta memberikan gambaran potensi daerah dan manfaat
pembangunan fasilitas terminal khusus.Sedangkan tujuan dari pekerjaan ini adalah
:
1. Layak tidaknya lokasi tersebut untuk dibangun dan dikembangkan bila
ditinjau dari aspek teknis, operasional, keselamatan pelayaran, social,
ekonomi dan manfaat.
PT. OTI EYA ABADI
2
Studi Kelayakan Terminal Khusus
2. Gambaran lokasi terminal (perairan, back up area, akses jalan) berupa
gambar informasi berskala dan gambaran manfaat terminal khusus.
3. Usulan/saran pembangunan terminal khusus (dilengkapi dengan fasilitas
terminal khusus yang dibutuhkan)
1.3 Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan studi kelayakan ini meliputi, antara lain:
•
Survey di sekitar lokasi terminal khusus
•
Penentuan lokasi terminal khusus
•
Rekomendasi jenis terminal khusus
1.4 Lokasi Pekerjaan
Secara administratif lokasi terminal khusus terletak dalam wilayah Desa
Siumbatu, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
Secara geografis lokasi terminal khusus terletak pada table berikut;
Tabel 1.1. Koordinat Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi
NO
DEGREE
MIN
SEC
DEGREE
MIN
SEC
1
122
3
48,5
2
45
43
2
122
3
48,8
2
45
43,6
3
122
3
53,4
2
45
41,4
4
122
3
53,6
2
45
41,8
5
122
3
54,5
2
45
41,4
6
122
3
53,6
2
45
40
7
122
3
52,8
2
45
40,4
8
122
3
53
2
45
40,8
PT. OTI EYA ABADI
3
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 1.1. Peta Lokasi Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi
PT. OTI EYA ABADI
4
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB II
ASPEK HUKUM
2.1. Identitas Perusahaan
PT. Oti Eya Abadi adalah perusahaan yang bergerak dibidang
pertambangan bahan galian bijih nikel, dengan keterangan sebagai berikut.
Nama Perusahaan
: PT. Oti Eya Abadi
Nama Direktur
: Ahmad H. Ali
Alamat
: Jl. Chairil Anwar No.23, RT. 012. RW.003, Kel.
Basusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Palu
Status Permodalan
:-
2.2. Perizinan Usaha
PT. Oti Eya Abadi memiliki 1 (Satu) izin usaha pokok yaitu berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah : 540/364/IUP_OP/DMPTSP/2018
Tentang Persetujuan Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi Mineral
Logam Menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Mineral Logam Pt. Oti
Eya Abadi pada tanggal 15 Meu 2018 seluas 3.339,2 Ha dengan keterangan sebagai
berikut :
Komoditas
: Mineral Logam (bijih nikel)
Tanggal
: 15 Meu 2018
Luas
: 3.339,2 Ha
Jangka Waktu Berlaku
: 5 Tahun
Desa
: Siumbatu
Kecamatan
: Bahodopi
Kabupaten
: Morowali
Provinsi
: Sulawesi Tengah
PT. OTI EYA ABADI
5
Studi Kelayakan Terminal Khusus
2.3. Rekomendasi
1. Rekomendasi izin Penetapan Lokasi Terminal Khusus PT. Oti Eya
Abadi dari Bupati Morowali, Nomor : 848/297/BUP-DISHUB/V/2019.
(terlampir).
2. Rekomendasi Penetapan Lokasi Pembangunan Terminal Khusus PT.
Oti Eya Abadi oleh Dinas Perhubungan Daerah Nomor : 552/108DISHUB/V/2019. (terlampir).
3. Rekomendasi
RTRWK
Nomor
:
659/162/Rek
RTRWK/DPUPRD/V/2019. (terlampir).
2.4. Dasar Hukum
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 61 tahun 2009 tentang
Kepelabuhan
b. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 53 tahun 2002 tentang Tatanan
Kepelabuhan Nasional
c. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 55 tahun 2002 tentang
Pengelolaan Pelabuhan Khusus
d. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 63 tahun 2002 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelabuhan
e. Keputusan Menteri Perhubungan No. PM 53 tahun 2011 tentang
Pemanduan
f. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 7 tahun 2005 tentang Sarana
Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP).
g. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 20 Tahun 2017 tentang
Terminal Khusus dan Terminal untuk kepentingan sendiri.
PT. OTI EYA ABADI
6
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB III
ASPEK TEKNIS
3.1. Kapasitas Produksi PT. Oti Eya Abadi
Kapasitas produksi bijih nikel PT. Oti Eya Abadi adalah jumlah aliran
produksi bijih nikel dari lokasi tambang milik PT. Oti Eya Abadi ke terminal
khusus.keseluruhan produksi bijih nikel tersebut dimuat ke atas dump truck dan
selanjutnya ditumpahkan ke dalam tongkang. Tongkang kemudian ditarik dengan
tug boat menuju kapal dan dengan menggunakan crane, biji nikel secara berangsurangsur dimuat ke atas kapal untuk dieksport atau tongkang tersebut langsung
menuju ke industri pengolahan dan pemurnian mineral (smelter). Bagan alir dari
transportasi bijih nikel dari lokasi pertambangan sampai ke Terminal khusus dapat
dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Aliran Produksi Bijih Nikel PT. Oti Eya Abadi
PT. Oti Eya Abadi rencana akan berproduksi bijih nikel sebesar 1.200000
MT per Tahun atau rata-rata per bulannya 100.000 MT. Dan umur tambangnya 10
tahun sehingga rencana penggunaan terminal khusus juga selama 10 tahun.
3.2. Dimensi dan Elevasi Dermaga
Panjang Dermaga
: 180 Meter
Lebar Dermaga
: 51 Meter
Elevasi Lantai Dermaga
: + 3 Meter
Elevasi Dasar Laut
: - 1 Meter
PT. OTI EYA ABADI
7
Studi Kelayakan Terminal Khusus
3.3. Data Kapal
Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi rencananya akan digunakan untuk
bersandarnya kapal tongkang/barge 180-300 feet yang berkapasitas 2.000-8.000
MT.
Gambar 3.2. Dimensi Tongkang 300 feet yang berkapasitas 8.000 MT
Tabel 3.1. Dimensi Kapal yang berkunjung di Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi
Kelas
Length Overall (LOA)
Breadth
Depth
Max Draf
DWT
ABS,AL,Barge
91.54 Meter
24.50 Meter
5,79 Meter
4.77 Meter
3172 Ton
3.4. Arus Kunjungan Kapal
Berdasarkan kapasitas produksi penambangan bijih nikel PT. Oti Eya
Abadi, sebesar 1.200.000 ton per tahun dan diasumsikan kapasitas rata-rata kapal
tongkang sebesar 2.000-8.000 MT, maka arus kunjungan kapal seperti tercantum
pada tabel 3.2.
PT. OTI EYA ABADI
8
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Tabel 3.2. Arus Kunjungan Kapal di Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi
Tahun
Produksi
Nikel (Ton)
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
1.200.000
Kapasitas
Efektif Brage
(Ton)
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
2.000-8.000
Kunjungan Kapal
(Per Tahubn)
Kunjungan
Kapal (Per Hari)
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
0,41
0,41
0,41
0,41
0,41
0,41
0,41
0,41
0,41
0,41
3.5. Peralatan Penunjang
Untuk menunjang rencana produksi bijih nikel sebesar 1.200.000 ton per
tahun maka dibutuhkan rencana peralatan sebagai berikut :
Tabel 3.3. Daftar Peralatan Penunjang
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Jenis Peralatan
Dump Truck
Excavator
Bulldozer
Motor Grader
Vibro Compactor
Water Truck
Fuel Truck
Light ing Plant
Total
Jumlah (unit)
82
11
9
2
3
3
2
4
116
3.6. Tipe Dermaga
Dermaga yang akan dibangun oleh PT. Oti Eya Abadi adalah tipe dermaga
Wharf atau Quay, yaitu dermaga yang paralel dengan pantai dan biasanya berimpit
dengan garis pantai atau agak menjorok ke sungai. Wharf dibangun apabila garis
kedalaman sungai hampir merata dan sejajar dengan garis pantai. Wharf biasanya
digunakan untuk pelabuhan barang potongan atau peti kemas di mana dibutuhkan
PT. OTI EYA ABADI
9
Studi Kelayakan Terminal Khusus
suatu halaman terbuka yang cukup luas untuk menjamin kelancaran angkutan
barang.
Pemilihan tipe dermaga wharf ini disesuaikan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi tipe struktur dermaga adalah sebagai berikut :
1. Tinjauan topografi
Pada perairan yang dangkal hingga dalam yang berada tidak jauh dari
darat, penggunaan wharf menjadi lebih ekonomis karena tidak diperlukan
pengerukan yang besar.
2. Jenis Kapal yang dilayani
Dermaga yang melayani kapal barang curah (tongkang) mempunyai
konstruksi yang ringan dibandingkan dengan dermaga potongan (general cargo),
karena dermaga tersebut tidak memerlukan peralatan bongkar muat yang besar
(crane), jalan kereta api, gudang, dan lain-lain. Untuk melayani kapal tersebut,
penggunaan dermaga wharf akan lebih ekonomis.
3. Daya dukung tanah
Kondisi tanah sangat menentukan dalam pemilihan jenis dermaga. Pada
umumnya tanah dekat daratan mempunyai daya yang lebih besar daripada tanah di
dasar sungai. Dasar sungai umumnya terdiri dari endapan yang belum padat, dalam
hal ini pembuatan dermaga wharf lebih murah.
Berdasarkan acuan tersebut maka pelabuhan yang direncanakan harus
memiliki karekteristik sebagai berikut :
1. Dermaga dapat disandari oleh kapal tongkang.
2. Kolam putar mencukupi untuk kebutuhan olah gerak kapal penarik dan
kapal tongkang.
3. Daerah luar pelabuhan memiliki kedalaman minimal 16 meter untuk dapat
dikembangkan sebagai dermaga untuk kapal besar/vessel.
4. Kolam pelabuhan harus aman dari terpaan ombak dan arus yang besar.
PT. OTI EYA ABADI
10
Studi Kelayakan Terminal Khusus
3.7. Rencana Struktur Dermaga
Struktur dermaga yang akan digunakan adalah dermaga tipe wharf
terbuka dengan pasangan turap miring. Turap yang digunakan menggunakan batu
gunung yang diikat menggunakan bronjong. Tiang pancang masih diperlukan pada
kedalaman yang curam untuk menahan gaya lateral dari kapal yang sedang sandar
atau untuk membantu turap menahan tekanan lateral tanah.
Kondisi perairan pada lokasi terminal khusus PT. Oti Eya Abadi adalah
perairan sungai sehingga arus dan gelombangnya relatif kecil sehingga cocok
menggunakan struktur dermaga wharf terbuka dengan pasangan turap miring
karena gelombang yang kecil tersebut tidak menyebabkan kerusakan saat
menghantam dinding turap dan tidak terjadi olakan air di daerah dimana kapal
sandar.
3.8. Survey Hidro-Oceanografi
a. Bathimetri
Survey bathimetri dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan
konfigurasi atau topografi dasar sungai termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek
yang mungkin membahayakan.
Untuk mendapatkan informasi bathimetri maka dilakukan pengamatan
kontur bawah laut dengan menggunakan alat selam yang di lengkapi dengan alat
ukur kedalaman.
Pengambilan data kedalaman dilakukan pada setiap perubahan 1 meter
kedalaman. Lokasi penyelaman dilakukan di sekitar areal rencana pembangunan
dermaga, hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan akurasi data batimetri.
Dengan demikian, jalur keluar masuk kapal / traking kapal dapat diketahui.
Pada peta bathimetri tersebut terlihat pada ujung dermaga dengan
kedalaman 1 m (dalam kondisi surut), 5 m (dalam kondisi pasang) kedalaman ujung
dermaga tersebut kurang aman dimana dalam penentuan kedalaman di depan
terminal khusus ditentukan berdasarkan keadaan perairan, yaitu :
a. Kedalaman pada perairan tertutup (tenang)
= 1,1 x draft kapal
PT. OTI EYA ABADI
11
Studi Kelayakan Terminal Khusus
b. Kedalaman pada perairan terbuka
= 1,2 x draft kapal
Keadaan perairan disekitar terminal khusus PT. Oti Eya Abadi di Desa
Siumbatu adalah perairan sungai tertutup, berdasarkan data kedalaman 1 m (dalam
kondisi surut), 5 m (dalam kondisi pasang), maka kapal tongkang yang akan
digunakan kapasitas 180 Feet/2.000 MT tidakakan aman apabila disandarkan.
Sedang pada ujung dermaga +250 Meter dijumpai kedalaman air laut 6 meter
(dalam kondisi surut), 15 m (dalam kondisi pasang), sehingga akan aman apabila
disandarkan kapal tongkang kapasitas 8.000 MT atau jenis tongkang 300 feet.
Gambar 3.3. Peta Batimetri Terminal Khusus Pt. Oti Eya Abadi
3.9. Pengamatan Pasang Surut
Tempat
: Desa Siumbatu Kec. Bahodopi
Posisi Stasiun
: 02 45' 41.4" Ls -122 03' 54.5" Bt
Alat yang digunakan
: Palem (Rambu Ukur)
Lama Pengamatan
: 07 Juni 2019
PT. OTI EYA ABADI
12
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Interval tiap pengamatan
: 1 jam
Metode penentuan D.T dan Muka surutan
: Admiralty
Waktu Tolok
: GMT + 08.00
Tabel 3.4. Hasil perhitungan konstanta pasang surut Harmonik Komponen Pasang Surut
Ket
So
M2
S2
N2
K1
01
M4
MS4
K2
P1
ZO
4.63
34.25
16.31
`2.35
0.70
21.95
10
118
89.48 0.66 235.89 102.81
9.16
218.01 161.06
0.66
152
A(cm) 81.29 19.66 4.94
g0
-
Berdasarkan konstanta harmonis pasang surut tersebut dapat dibuat analisa pasang
surut sebagai berikut ;
3.9.1. Sifat / Tipe pasang surut
Formula :
= (AKI + AM2 + AS2)
= 34.25 + 19.66 + 4.94
= 58,85 cm
Jadi tipe pasang surut tersebut dapat di buat Jadi tipe / sifat pasang surut di Perairan
PT. Oti Eya Abadi Desa Siumbatu Kec. Bahodopi adalah Campuran Condong ke
Harian Ganda (Mixed Semidiurnal)
3.9.2. Pasang surut Harian Tunggal
a. Umur pasang surut dihitung dengan rumus:
(XK1-X01)/n*1Jam, dimana x= g-pL+nS : g= fhase
L = bujur tempat dalam derajat
S = Meridian waktu setempat dalam jam (barat + Timur-)
P = Indek (I-tunggal: 2-ganda)
N = perubahan fhase tiap gelombang
XKI = gKI – (pL-nS) K1
= 102,7
PT. OTI EYA ABADI
13
Studi Kelayakan Terminal Khusus
XOI = g01-(pL-nS) 01 = 0,251
Jadi umur pasang surut harian tunggal adalah 112,5 Jam berarti Air Tinggi
(AT) yang ditimbulkan oleh gelombang Kl dan 01 jatuh 4 Hari 16,46 jam sesudah
kulminasi bulan pada pasang purnama.
b. Tunggang air rata-rata pada pasang Purnama :
2(AK1+A01) = 2(34,25+16,31) = 101,12 cm
c. Tunggang air rata-rata pada pasang Mati 2(Ak1-A01) = 35,85 cm
3.9.3. Pasang surut harian ganda
a. Umur pasut. Dihitung berdasarkan dari rumus
xS2-Xm2 dimana x = g-pL + nS
XS2 S2 = gS2 – (pL-nS) S2
= 68.3
XM2 = gM2 - (pL-mS) M2
= 258.3
Jadi umur pasut harian ganda adalah 187.0 Jam berarti Air Tinggi (AT) yang
ditimbulkan oleh gelombang S2 dan M2 jatuh 7 hari 18.99 Jam sesudah kulminasi
bulan pada pasang Purnama.
b. Tunggang air rata-rata pada pasang Purnama 2(AM2+AS2) = 49,2 cm
c. Tunggang air rata-rata pada pasang Mati. 2(AM2-AS2 = 3.922.12 cm
3.9.4. Perhitungan Air Rendah Perbani (LWS) dan Muka Surutan (Nilai Zo)
a. AT dan AR
Pada pasang purnama dari kedua kelompok pasang surut dapat jatuh
bersamaan apabila gK1+ g01 - gM2 berada diantara 102.81 – 9.16 Disini gK1 + gol
- gM2 = 102.610+9.160 - 24550 = 1740 maka diperoleh kesimpulan bahwa AT dan
AR pada pasang Purnama dari kedua kelompok pasut dapat jatuh bersamaan.
b. Kedudukan gelombang Kl dan K2 Fase K2
maka fase K2 = 2 *fase Kl + 2gK1 -gK2- 180
= 2 * fase Kl+ 61
PT. OTI EYA ABADI
14
Studi Kelayakan Terminal Khusus
= 61 ARK2 jatuh pada Jam Sesudah ARKI
c. Kedudukan gelombang M2, Kl dan 01
Fase M2 = fase Kl + fase 01 + gK1 + gol -gM2
= fase Kl + fase 01 + 174
Maka fase M2 = 174
ARM2 jatuh pada 0,2 Jam sesudah ARK 1
Maka fase 01 - 174 atau 186
Ar01 jatuh pada 0,4 Jam Sebelum ARK 1
d. Analisa kombinasi
Pada saat ARM2 jatuh bersamaan dengan ARKI
Pada saat ARM2 jatuh 0,2 jam sesudah ARK 1
AROI jatuh 0,4 jam sebelum ARK 1
Kombinasi terhadap gelombang Kl
O, O Kl + M2 + 01 + K2 = 34.35 + 19.66 + 16.31 + 21.95 = 92.17
AR yang disebabkan oleh pengaruh gelombang pasut K 1, adalah 92.17 cm dibawah
duduk tengah.
e. Pengaruh gelombang S2
Air Tinggi (AT) S2 selalu jatuh pada gS2/n * 1 jam = 2.13 jam atau jatuh
pada jam 02.08 dan 14.08 sedangkan, Air Rendah (AR) S2 jatuh 6 jam kemudian
yaitu jam 08.08 dan jam 20.08 AR yang disebabkan oleh pengaruh gelombang pasut
K 1, 01, K2, M2, S2 adalah 202,46 cm dibawah duduk tengah.
f. Pengaruh gelombang PI
Fase S2 = fase Kl + fase PI + gK1 + gP1
= fase Kl + fase PI + 300
Maka fase PI = - 300 atau 150
ARPI jatuh pada 4,0 Jam Sesudah ARK 1
Pengaruh PI adalah 5 cm
PT. OTI EYA ABADI
15
Studi Kelayakan Terminal Khusus
AR yang disebabkan oleh Pengaruh gelombang Pasut K 1, 01, K2, M2, S2 dan PI
adalah 89.11 cm dibawah duduk tengah
g. Pengaruh gelombang N2, M4 dan MS4
Gelombang pasut ini dapat mempertinggi maupun memperendah
kedudukan air terendah Jika diperhitungkan pengaruh yang memperendah
kedudukan air terendah maka pengaruh ke 9 gelombang pasut tersebut Kl, 01, PI,
K2, M2, S2, N2, M4 dan MS4 meruadl = 114,75 cm dibawah Duduk Tengah.
Dengan menambahkan 3.9 cm untuk pembulatan dan sebagai faktor keamanan
maka didapat nilai Zo sebesar 118 cm.
PT. OTI EYA ABADI
16
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 3.4 Sketsa Kedudukan Muka Air Laut Desa Siumbatu Kecamatan Bahodopi
Selanjutnya dilakukan Penyelaman untuk mengetahui kedalaman dengan
metode 3x sampling, sekaligus mengambil sampel Sedimentasi didasar Perairan.
kemudian membandingkan perhitungan nilai kelerengan (slope) dasar perairan
tersebut untuk menentukan jenis dasar. Perhitungan kelerengan dasar perairan
dilakukan secara acak dengan mengambil jarak tegak lurus terhadap garis pantai,
dan menggunakan kedalaman sebagai beda ketinggian. Sedangkan untuk profil
kedalaman dibuat dengan menggunakan perangkat lunak (software) Arcmap 10.1,
Global Mapper 15, Surfer 12 dan CorelDRAW X7.
PT. OTI EYA ABADI
17
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 3.5. Profil Kedalaman Perairan Pantai Desa Siumbatu Kecamatan Bahodopi
3.10. Hasil Analisa Ukuran Butir Sedimen
3.10.1. Karakteristik Pasir Sedimen Desa Siumbatu
Sedimentasi yang terjadi pada daerah garis pantai Desa Siumbatu yang
terjadi karena terdapat suplai muatan sedimen yang tinggi di lingkungan pantai
tersebut. Suplai muatan sedimen yang sangat tinggi, yang menyebabkan
sedimentasi itu hanya dapat berasal dari daratan yang dibawa ke muara melalui
aliran Sungai Desa Dampala. Selain itu, karakteristik pasir sedimen yang di jumpai
pada Desa Siumbatu sudah mengalami perubahan fisik akibat dari proses geologi
berupa sedimentasi sebelum di lakukan perlakuan rekayasa teknik. Pembukaan
lahan di daerah sepanjang aliran sungai yang meningkatkan erosi permukaan
merupakan faktor utama yang meningkatkan suplai muatan sedimen ke garis Pantai
Desa Siumbatu.
Adapun karakteristik pasir sedimen pada daerah Desa Siumbatu yang dapat
diambil setelah melakukan pengambilan data lapangan dan melakukan pengolahan
data, maka di dapatkan material sedimen berupa pasir halus (0,125-0,25 mm),
pasir sedang (0,24-0,50 mm) dan pasir kasar (0,50- 1,00 mm), dengan dijumpai
mineral-mineral pada pasir sedimen antaralain kuarsa, biotit, ortoklas, piroksin,
plagioklas, hornblende dan mineral opak. Pasir sedimen pada muara Desa
Siumbatu menunjukkan bahwa penyebaran atau distribusi dimana material sedimen
yang terendapkan cenderung lebih banyak material berukuran halus di bandingkan
material sedimen yang berukuran kasar.
PT. OTI EYA ABADI
18
Studi Kelayakan Terminal Khusus
3.10.2. Ukuran Butir
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat resistensi butiran sedimen
terhadap proses-proses eksogenetik seperti pelapukan erosi, abrasi serta proses
transportasi dan depositnya. Hal-hal tersebut merupakan variable penting dalam
melakukan suatu interpretasi menurut Boggs (1897).
Berdasarkan analisis ukuran butir, maka contoh sedimen yang mewakili
pada kelompok ini yaitu pasir halus ST 01-04 (PH) dimana ukuran mineral yaitu
berukuran 0,125-0,25 mm (Fine Sand), pasir sedang ST 05-06 (PS) dimana ukuran
mineral yaitu berukuran 0,24-0,50 mm (Medium Sand), pasir kasar ST 07 (PK)
dimana ukuran mineral yaitu berukuran 0,50- 1,00 mm (Coarse Sand). (Tabel 3.5).
Tabel 3.5 Tabel hasil analisis ukuran butir pada daerah penelitian
(menurut Wentworth, 1922 dalam Folk 1974)
No
No. Sampel
Ukuran Butir (mm)
1
2
3
4
5
6
7
ST 01 (PH)
ST 02 (PH)
ST 03 (PH)
ST 04 (PH)
ST 05 (PS)
ST 06 (PS)
ST 07 (PK)
0,125-0,25 (Fine Sand)
0,125-0,25 (Fine Sand)
0,125-0,25 (Fine Sand)
0,125-0,25 (Fine Sand)
0,25-0,50 (Medium Sand)
0,25-0,50 (Medium Sand)
0,50-1,00 (Coarse Sand)
Material-material sedimen yang terdapat dilapangan memiliki ukuran yang
sangat bervariasi berdasarkan ukuran butirnya, yang terdiri dari pasir halus, pasir
sedang serta pasir kasar, seperti yang terlihat pada (Gambar 3.6).
PT. OTI EYA ABADI
19
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Grafik Presentase Mineral
150
100
50
20
15
20
25
20
25
15
15
10
25
20
0
Qtz(%)
10
10
10
10
10
10
10
10
10
15
15
10
10
10
Bt(%)
Ort(%)
20
15
15
10
15
10
10
10
10
Prx(%)
Plg(%)
25
ST 01 (PH)
ST 02 (PH)
ST 03 (PH)
ST 05 (PS)
ST 06 (PS)
ST 07 (PSK)
10
15
10
10
15
10
20
15
15
15
15
20
15
15
Hor(%)
M.Op(%)
ST 04 (PH)
Gambar 3.6 Grafik Presentase Mineral
Dari grafik ukuran butir mineral di atas terlihat jelas bahwa terjadi gradasi
atau perubahan ukuran butir sedimen dari halus mengkasar relatif kearah contoh
sedimen yang semakin dalam.
3.11. Komposisi Mineral Pada Pasir Sedimen
Berdasarkan analisis petrografi sayatan tipis dijumpai mineral-mineral pada
pasir sedimen antaralain (kuarsa, biotit, ortoklas, piroksin, plagioklas, hornblende
dan mineral opak) pada pasir halus, pasir sedang, dan pasir kasar.
a. Kuarsa
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna absorbsi
transparan dengan warna interferensi putih, pleokreisme tidak ada (-), intensitas
rendah, bentuk subhedral-anhedral, relief rendah, tidak memiliki belahan, ukuran
mineral 0,02-0,23 mm, tidak memiliki kembaran, sudut gelapan 3o.
PT. OTI EYA ABADI
20
Studi Kelayakan Terminal Khusus
-
Foto 3.1
Foto mikrograf monomineral kuarsa difoto dengan perbesaran total 100X.
b. Biotit
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna absorbsi coklat
kehitaman dengan warna interferensi coklat, pleokreisme dwikroik, intensitas
sedang, bentuk subhedral-anhedral, relief sedang, belahan sempurna satu arah,
pecahan rata, ukuran mineral 0,03-0,29 mm, mineral ini memiliki kembaran namun
tidak terlihat, sudut gelapan 90o, jenis gelapan sejajar (paralel).
Foto 3.2
Foto mikrograf monomineral biotit difoto dengan perbesaran total 100X.
c. Ortoklas
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna absorbsi abuabu dengan warna interferensi abu-abu transparan, pleokreisme tidak ada (-),
intensitas rendah, bentuk subhedral-anhedral, relief rendah, belahan sempurna satu
arah, pecahan rata, ukuran mineral 0,02-0,20 mm, tidak memiliki kembaran, sudut
gelapan 44o, jenis gelapan miring.
PT. OTI EYA ABADI
21
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Foto 3.3
Foto mikrograf monomineral ortoklas difoto dengan perbesaran total 100X.
d. Piroksin
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna absorbsi abuabu dengan warna interferensi biru keunguan, pleokreisme dwikroik, intensitas
tinggi, bentuk subhedral-anhedral, relief tinggi, belahan sempurna satu arah,
pecahan rata, ukuran mineral 0,04-0,21 mm, tidak memiliki kembaran, sudut
gelapan 38o, jenis gelapan miring.
Foto 3.4
Foto mikrograf monomineral piroksin difoto dengan perbesaran total 100X.
e. Plagioklas
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna abrorbsi putih
keabu-abuan dengan warna interferensi abu-abu kehitaman, pleokreisme tidak ada
(-), intensitas sedang, bentuk mineral subhedral-anhedral, relief sedang, belahan
mineral sempurna satu arah, pecahan rata, ukuran mineral 0,02-0,15 mm, mineral
ini memiliki kembaran Kalsbad Albit, sudut gelapan 34o, jenis gelapan miring, jenis
plagioklas Labradorit.
PT. OTI EYA ABADI
22
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Foto 3.5
Foto mikrograf monomineral plagioklas difoto dengan perbesaran total 100X.
f. Hornblende
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna absorbsi coklat
dengan warna interferensi orange kecoklatan, pleokreisme dwikroik, intensitas
tinggi, bentuk subhedral-anhedral, relief tinggi, belahan sempurna satu arah,
pecahan rata, ukuran mineral 0,03-0,23 mm, tidak memiliki kembaran, sudut
gelapan 38o. Jenis gelapan miring.
Foto 3.6
Foto mikrograf monomineral hornblende difoto dengan perbesaran total 100X.
PT. OTI EYA ABADI
23
Studi Kelayakan Terminal Khusus
g. Mineral Opak
Kenampakan mikroskopis sayatan ini menunjukkan warna hitam ukuran
mineral 0,03-0,18 mm, hadir tersebar tidak merata, tidak tembus cahaya.
Foto 3.7
Foto mikrograf monomineral mineral opak difoto dengan perbesaran total
100X
.
Berdasarkan dari hasil analisis jumlah persentase mineral pada endapan
sedimen daerah penelitian, maka didapatkan diiterpretasikan bahwa komposisi
mineral penyusunnya antara lain, kuarsa, biotit, ortoklas, piroksin, plagioklas,
hornblende dan mineral opak. Mineral-mineral sedimen pada pasir halus, pasir
sedang, dan pasir kasar yang memiliki jumlah persentase mineral yang sangat
bervariasi seperti yang terlihat pada (Tabel 3.6, Tabel 3.7, dan Tabel 3.8).
3.12. Analisa Prersentase Mineral
1. Pasir Halus
Tabel 3.6 Tabel hasil analisis persentase mineral pada pasir halus
No
No. Sampel
Qtz
(%)
Bt
(%)
Ort
(%)
Prx
(%)
Plg
(%)
Hor
(%)
M.Op
(%)
1
2
3
4
ST 01 (PH)
ST 02 (PH)
ST 03 (PH)
ST 04 (PH)
20
25
10
15
10
10
10
10
10
10
10
15
15
20
25
25
10
10
10
10
20
10
15
10
15
15
20
15
Dari table serta komposisi dan persentase mineral, terlihat jelas bahwa
mineral piroksin, kuarsa, mineral opak begitu mendominasi di setiap contoh
sedimen yang diamati. Sebaliknya untuk mineral biotit, ortoklas, plagioklas, dan
PT. OTI EYA ABADI
24
Studi Kelayakan Terminal Khusus
hornblende memiliki kuantitas paling sedikit hampir di setiap contoh sedimen yang
diamati, dibandingkan dari mineral lain yang dijumpai.
2. Pasir Sedang
Tabel 3.7 Tabel hasil analisis persentase mineral pada pasir sedang
No
No. Sampel
Qtz
(%)
Bt (%)
Ort
(%)
Prx
(%)
1
2
ST. 05 (PS)
ST 06 (PS)
15
20
10
10
15
10
20
15
Plg
(%)
Hor
(%)
M.Op
(%)
20
15
10
20
10
10
Dari table serta komposisi dan persentase mineral, terlihat jelas bahwa
mineral piroksin, kuarsa begitu mendominasi di setiap contoh sedimen yang
diamati. Sebaliknya untuk mineral ortoklas, plagioklas, dan hornblende memiliki
kuantitas paling sedikit hampir di setiap contoh sedimen yang diamati,
dibandingkan dari mineral lain yang dijumpai.
3. Pasir Kasar
Tabel 3.8 Tabel hasil analisis persentase mineral pada pasir kasar
No
No. Sampel
Qtz (%)
Bt
(%)
Ort
(%)
Prx
(%)
Plg
(%)
Hor
(%)
M.Op
(%)
1
TB 07 (PK)
20
10
10
20
15
10
15
Dari table serta komposisi dan persentase mineral, terlihat jelas bahwa
mineral piroksin, kuarsa begitu mendominasi di setiap contoh sedimen yang
diamati. Sebaliknya untuk mineral ortoklas, lagioklas, dan hornblende memiliki
kuantitas paling sedikit hampir di setiap contoh sedimen yang diamati,
dibandingkan dari mineral lain yang dijumpai.
Jadi Berdasarkan hasil analisis sayatan tipis maka dapat diasumsikan
bahwa mineral sedimen yang dijumpai daerah penelitian antara lain :
PT. OTI EYA ABADI
25
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Foto 3.8. Foto mikrograf Semua mineral difoto dengan perbesaran total 100X.
3.13. Kedalaman Perairan
Kedalaman perairan di lokasi penelitian untuk rencana dermaga,
kedalamannya mencapai 1 meter dalam kondisi surut, sedangkan dalam kondisi
pasang 5 meter. Berdasarkan kondisi kedalam perairan tidak memungkinkan kapal
PT. OTI EYA ABADI
26
Studi Kelayakan Terminal Khusus
tongkang tipe 180-300 feet bisa berlabuh di dermaga tersebut. Demikian pula
dengan alur masuk kapal dari muara sungai menuju terminal khusus kedalamannya
1-5 meter. Data hasil pengukuran kedalaman perairan lokasi penelitian tergambar
pada peta bathimetri di bawah ini.
Gambar 3.7. Peta Bathimetri di Lokasi Penelitian
3.14. Topografi
Kondisi topografi wilayah daratan pada areal rencana terminal khusus
adalah merupakan daerah relatif datar. Kondisi ini memudahkan dalam
perencanaan pemanfaatan lahan yang baik berupa membangun fasilitas- fasilitas
Terminal khusus seperti kantor, mess karyawan, gudang, workshop, tangka dll.
PT. OTI EYA ABADI
27
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 3.8. Peta Topografi Wilayah Daratan Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi
3.15. Desain Dermaga
Desain dermaga yang akan dibangun adalah dermaga tipe Wharf atau
Quay, yaitu dermaga yang paralel dengan pantai dan biasanya berimpit dengan
garis pantai atau agak menjorok ke laut dimana konstruksinya menggunakan
pancang dan beronjong batu gunung yang disusun pada tepi atau sisi kanan kiri
dermaga sedangkan pada bagian tengah dermaga ditimbun dengan tanah/pasir batu.
Detail desain dermaga dapat dilihat pada halaman berikut :
PT. OTI EYA ABADI
28
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 3.9. Desain A-B Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi
PT. OTI EYA ABADI
29
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 3.10. Desain C Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi Abadi
PT. OTI EYA ABADI
30
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 3.11. Desain Terminal Khusus PT. Oti Eya Abadi Abadi
PT. OTI EYA ABADI
31
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB IV
ASPEK KEUANGAN
Aspek keuangan merupakan aspek yang digunakan untuk menilai
keuangan perusahaan secara menyeluruh dan merupakan salah satu aspek yang
sangat penting untuk dinilai kelayakannya. Tujuan penilaian aspek keuangan adalah
untuk mengetahui prakiraan pendanaan dan aliran kas proyek usaha, sehingga dapat
diketahui layak atau tidaknya suatu rencana usaha yang dimaksud. Penilaian aspek
keuangan meliputi penilaian sumber-sumber dana yang akan diperoleh, kebutuhan
biaya investasi, estimasi pendapatan dan biaya investasi selama periode tertentu
termasuk jenis-jenis dan jumlah biaya yang dikeluarkan selama umur investasi,
proyeksi neraca dan laporan laba rugi untuk beberapa periode ke depan serta kriteria
penilaian investasi.
4.1. Sumber Dana Dan Alokasi Dana
Untuk mendanai kegiatan suatu investasi, maka biasanya diperlukan dana
yang relatif cukup besar. PT. Oti Eya Abadi dalam melakukan pembangunan
terminal khusus ini menggunakan sumber dana dari modal sendiri, yaitu modal
yang diperoleh dari pemilik perusahaan. Kebutuhan modal ini untuk melakukan
investasi yang terdiri dari modal investasi dan modal kerja. Modal investasi
digunakan untuk membeli aktiva tetap seperti tanah, bangunan, mesin-mesin dan
peralatan lainnya. Sedangkan modal kerja digunakan untuk membangun terminal
khusus tersebut. Adapun kebutuhan dana untuk rencana pembangunan terminal
khusus adalah sebagai berikut
Tabel 4.1. Alokasi Dana untuk Aktiva Tetap
Aktiva Tetap
A. Berwujud
• Tanah
• Bangunan Kantor, Mess, Gudang, dll
• Peralatan Kantor
• Mesin Genset
Jumlah (Rp)
90.000.000
239.000.000
155.000.000
40.000.000
PT. OTI EYA ABADI
32
Studi Kelayakan Terminal Khusus
•
55O.000.000
1.074.000.000
Transportasi/mobil
Sub Total (A)
B. Tidak Berwujud
• Pra Operasi (Perizinan, Survey Hidroocenografi,
Studi Kelayakan)
Sub Total (B)
Total (A + B)
865.000.000
865.000.000
1 .939.000.000
Total investasi untuk aktiva tetap sebesar Rp. 1.939.000.000 dengan usia
ekonomis terminal khusus selama 5 tahun, maka depresiasi aktiva tetap sebesar Rp.
193.900.000,Tabel 4.2. Biaya Pembangunan Terminal Khusus
Uraian
A. Pekerjaan Persiapan
1. Pembersihan Lapangan
2. Pengukuran dan Penetapan
3. Mobilisasi dan
Demobilisasi
4. Direksi Keet
5. Gudang
6. Penerangan
Sub Total (A)
B. Pekerjaan Pengurukan
C. Pekerjaan
Turap/Pancang
1. Pemasangan Turap Batu
2. Pemasanga Pancang Kayu
Bulat
Sub Total (C)
D. Pemasangan Bollard
Total (A+B+C+D)
Volume
Satuan
Harga Satuan
(Rp)
Jumlah
1
1
1
Ls
Ls
Ls
960.000.000
18.000.000
60.000.000
960.000.000
18.000.000
60.000.000
60
80
1
M2
M2
Ls
324.000
222.000
324.000
10.000
M2
100.000
324.000
222.000
324.000
125.124.000
1.000.000.000
800
200
M2
Btg
250.000
600.000
200.000.000
120.000.000
2
Pcs
22.000.000
320.000.000
44.000.000
1.489.000.000
PT. OTI EYA ABADI
33
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB V
EFISIENSI TERMINAL KHUSUS DAN ASPEK
EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA
5.1. Efisiensi Terminal khusus Terhadap Fasilitas Pelabuhan di Sekitarnya
Pertimbangan utama rencana pembangunan terminal khusus PT. Oti Eya
Abadi adalah karena tidak adanya pelabuhan umum lainnya disekitar Wilayah Izin
Usaha Pertambangan (WIUP) PT. Oti Eya Abadi yang bisa dimanfaatkan.
Pelabuhan umum disekitar WIUP PT. Oti Eya Abadi adalah pelabuhan umum
Kabupaten Morowali yang berjarak 30 Km. Jarak yang jauh tersebut dinilai akan
sangat tidak efisien apabila kegiatan pengapalan/penjualan menggunakan fasilitas
pelabuhan umum tersebut. Karena selain akan menimbulkan biaya operasional
yang besar juga akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial
masyarakat di sepanjang jalan yang akan dilalui kendaraan dump truck yang
mengangkut nikel ore tersebut.
Berdasarkan hal tersebut maka management PT. Oti Eya Abadi
merencanakan membangun terminal khusus yang letaknya dekat dengan wilayah
izin usaha pertambangan, disamping itu kondisi perairan laut di sekitar terminal
khusus tersebut dinilai layak dari aspek keamanan dan keselamatan pelayaran.
Efisiensi terhadap rencana pembangunan terminal khusus PT. Oti Eya
Abadi dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut :
a. Biaya operasioanal. Letak terminal khusus yang dekat dengan lokasi
penambangan akan menekan biaya operasional pengangkutan nikel ore
sehingga lebih kecil jika dibandingkan menggunakan fasilitas pelabuhan
umum lain yang jaraknya sangat Mengurangi resiko kecelakaan kerja
terhadap para pekerja dan peralatan kerja yang terlibat dalam kegiatan
pengangkutan dan pengapalan apabila letak terminal khusus lebih dekat
dengan lokasi penambangan.
PT. OTI EYA ABADI
34
Studi Kelayakan Terminal Khusus
b. Dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil jika dibandingkan
menggunakan fasilitasi pelabuhan umum lain yang jaraknya sangat jauh dari
lokasi penambangan.
c. Pengangkutan nikel ore ke palabuhan umum lain yang jaraknya jauh akan
mengganggu masyarakat yang berada disepanjang jalan yang dilaluidump
trusk pengangkut nikel ore.
5.2. Aspek Ekonomi
Analisis aspek ekonomi suatu proyek pembangunan terminal khusus tidak
hanya memperhatikan manfaat yang dinikmati dan pengorbanan yang ditanggung
oleh perusahaan, tetapi oleh semua pihak dalam perekonomian. Selain menjadikan
fakta makro ekonomi sebagai masukan atau input dalam studi kelayakan,
hendaknya perlu dikaji timbalbaliknya, yaitu apakah usaha yang direncanakan
hendaknya bermanfaat bagi pihak lain. Aspek-aspek penilaian manfaat
pembangunan terminal khusus dapat ditinjau dari berbagai sisi, yaitu.
a. Sisi Rencana Pembangunan Nasional
Analisis manfaat ditinjau dari Sisi ini, dimaksudkan agar :
1. Memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat
2. Menggunakan sumber daya lokal
3. Menghasilkan dan menghemat devisa
4. Menumbuhkan industri lain
5. Turut menyediakan konsumen dalam negeri sesuai dengan kemampuan
6. Menambah pendapatan nasional
Pembangunan terminal khusus yang direncanakan oleh PT. Oti Eya Abadi
mengacu pada butir-butir di atas, hal ini menunjukan bahwa proyek pembangunan
terminal khusus tersebut sejalan dengan rencana pembangunan nasional.
b. Sisi Distribusi Nilai Tambah
Proyek pembangunan terminal khusus yang direncanakan ini nantinya
akan memberikan nilai tambah yang dapat dihitung secara kuantitatif. Perhitungan
PT. OTI EYA ABADI
35
Studi Kelayakan Terminal Khusus
nilai tambah ini diperoleh dari penerimaan hasil penjualan bijih nikel yang
dikurangi dengan biaya-biaya produksi dan biaya depresiasi & amortasi sehingga
diperoleh nilai tambah bersih. Dari perhitungan tersebut maka nilai tambah bersih
ini selanjutnya didistribusikan kepada pihak-pihak tertentu dengan nilai persentase
tertentu pula. Adapun pihak-pihak yang memperoleh nilai tambah terbet adalah :
•
Pajak-pajak bagi pemerintah
•
Gaji dan upah pegawai
•
Deviden bagi pemegang saham
•
reditor/Bank
Dengan adanya nilai tambah tersebut maka proyek pembangunan terminal
khusus yang dijalankan oleh PT. Oti Eya Abadi akan meningkatkan kesejahteraan
kepada berbagai pihak.
c. Sisi Nilai Investasi per Tenaga Kerja
Penilaian dari Sisi ini adalah bahwa proyek rencana pembanguan terminal
khusus oleh PT. Oti Eya Abadinantinya akan mampu meningkatkan
kesempatan kerja. Hal ini merupakan salah satu aspek penilaian bahwa
proyek ini layak untuk diteruskan.
5.3. Aspek Sosial
Dalam menjalankan proyek terminal khusus ini, baik pada tahapan
pembangunan maupun pengoperasiannya, PT. Oti Eya Abadi akan memperhatikan
keseimbangan kehidupan sosial karena perusahaan hidup bersama bersama
komponen-komponen lain yang berada dalam satu tatanan kehidupan yang pluralis
dan kompleks, sehingga perusahaan mempunyai tanggung jawab social. Karena
selain
mencari
keuntungan,
perusahaan
juga
mengemban
misi
sosial
kemasyarakatan sehingga dapat hidup saling menguntungkan. Misi sosial
kemasyarakatan tersebut adalah :
PT. OTI EYA ABADI
36
Studi Kelayakan Terminal Khusus
a. Perusahaan sebagai lembaga sosial
Sebuah perusahaan memiliki tugas melaksanakan bermacam-macam
kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Misalnya sebagai perusahaan
pertambangan bijih nikel, PT. Oti Eya Abadi dalam melaksanakan kegiatannya
memerlukan kontraktor-kontraktor kecil untuk pembangunan kantor, base
camp, atau bangunan lainnya yang dapat memperdayakan masyarakat sekitar
yang mempunyai keahlian dalam membangunan bangunan, selain itu
perusahaan membutuhkan supplaier bahan makanan dan sayuran atau ikan
yang mana kebutuhan tersebut dapat disupplai oleh masyarakat sekitar. Juga
melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti penelitian, penyediaan lapangan
pekerjaan yang baru, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan
dan lainnya.
b. Perubahan kondisi sosial yang kompleks, sehingga menyebabkan perubahan
keseimbangan dalam sistem social yang kompleks dalam perusahaan.
c. Perusahaan dalam masyarakat yang pluralistik. Masyarakat yang pluralistik
adalah sebuah kehidupan berbagai kelompok yang mempengaruhi kehidupan
perusahaan dalam mendapatkan harapan-harapan sosial, ekonomi, atau politik.
Perusahaan dianggap ikut bertanggung jawab dalam menciptakan kondisi
sosial yang baik serta kesejahteraan umum.
Berkaitan dengan hal-hal di atas, maka rencana pembangunan terminal khusus
yang dijalankan hendaknya memiliki manfaat-manfaat sosial yang diterima oleh
masyarakat, diantaranya.
1. Membuka lapangan kerja baru
Dengan adanya proyek pembangunan terminal khusus yang akan
dilaksanakan oleh PT. Oti Eya Abadi mampu menampung tenaga kerja untuk
operasional proyek tersebut juga memberikan peluang terutama bagi warga sekitar
untuk membuka usaha di sekitar proyek tersebut, misalnya membuka warung,
penginapan, dan lain-lain sebagainya.
PT. OTI EYA ABADI
37
Studi Kelayakan Terminal Khusus
2. Melaksanakan alih teknologi
Masyarakat di sekitar proyek dapat mempelajari teknologi yang
digunakan dalam proyek tersebut, sehingga masyarakat memperoleh pengetahuan
baru yang dapat digunakan untuk bekerja di tempat lain atau membuka usaha
sendiri
3. Meningkatkan mutu hidup
Keberadaan proyek pembangunan terminal khusus nantinya diharapkan
mampu memberikan nilai tambah terutama dari Sisi ekonomi yang dapat
meningkatkan mutu hidup terutama bagi warga sekitar proyek.
4. Pengaruh positif (fisik dan psikis)
Keberadaan proyek terminal khusus yang akan dibangun dapat
memberikan pengaruh positif baik secara fisik maupun psikis. Misalnya, adanya
perbaikan sarana jalan, sarana kesehatan, sarana pendidikan, sarana ibadah, dan
lain-lain.
5.4 Aspek Budaya
Analisa aspek budaya lebih menekankan penilaian terhadap ada atau
tidaknya pergeseran perilaku masyarakat dari adat kebiasaannya setelah adanya
proyek pembangunan terminal khusus ini nantinya. Jika terdapat pergeseran
perilaku hendaknya ke arah perilaku yang lebih baik. Pergeseran atau perubahan
budaya yang biasanya terjadi karena adanya proyek pembangunan terminal khusus
ini, diantaranya adalah :
a. Perubahan persepsi dan sikap masyarakat terhadap rencana proyek yang
akan dijalankan.
b. Perubahan pranata sosial/kelembagaan masyarakat baik di bidang ekonomi,
pendidikan, agama, dan keluarga.
c. Kemungkinan terjadinya perubahan kebudayaan melalui perubahan adat
istiadat,nilai dan norma budaya setempat.
d. Perubahan warisan budaya seperti perusakan situs cagar budaya.
PT. OTI EYA ABADI
38
Studi Kelayakan Terminal Khusus
e. Kemungkinan terjadi perubahan kekuasaan dan kewenangan melalui
kepemimpinanformal dan informal, mekanisme pengambilan keputusan di
kalangan individu yang dominan, pergeseran nilai kepemimpinan.
f. Terjadinya proses social baik proses kerjasama, konflik social, akulturisasi,
asimilasi dan integrasi maupun social lainnya. Kemungkinan terjadinya
tingkat kriminalitas dan konflik antar warga asli dan pendatang.
5.5 Hasil Analisis Aspek Ekonomi, Sosial dan Budaya
Setelah menganalisis terhadap elemen-elemen seperti yang dijelaskan di
atas, bahwa pengaruh dari proyek rencana pembangunan terminal khusus oleh PT.
Oti Eya Abadi adalah lebih banyak azas manfaatnya, terutama dari aspek ekonomi
sangat signifikan pengaruh positifnya terutama bagi masyarakat sekitar proyek.
Sedangkan dari aspek sosial dan budaya juga akan memberikan dampak yang lebih
baik walaupun ada dampak negatifnya. Akan tetapi dampak positifnya lebih banyak
ketimbang negatifnya, selain itu dampak negatif tersebut dapat diminimalkan atau
bahkan dihindari dengan kerjasama antara PT. Oti Eya Abadi dengan kepolisian
atau instansi pemerintah lainnya.
Sehingga hasil analisis aspek ekonomi, sosial dan budaya dari proyek
rencana pembangunan terminal lainnya. Hal ini disebabkan karena khusus ini
merekomendasikan layak agar rencana proyek ini akan dilanjutkan pada aspek
perusahaan mempunyai komitmen yang kuat bahwa keuntungan yang diperoleh
perusahaan sebagian akan dikembalikan kepada masyarakat. sehingga semua pihak
dapat merasakan manfaat dari keberadaan proyek pembangunan terminal khusus
ini.
PT. OTI EYA ABADI
39
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB VI
ASPEK KEAMANAAN DAN KESELAMATAN
PELAYARAN
Erat hubungannya dengan kenavigasian. Kenavigasian adalah kegiatan
yang meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan Sarana Bantu Navigasi
Pelayaran (SBNP), telekomunikasi pelayaran, hidrografi, alur dan perlintasan,
pemanduan, penanganan kerangka kapal, salvage dan pekerjaan bawah air untuk
kepentingan keselamatan pelayaran.
6.1. Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
SBNP adalah sarana yang dibangun atau berbentuk secara alami yang
berada diluar kapal, yang berfungsi membantu navigator dalam menentukan posisi
dan atau haluan kapal serta memberitahukan bahaya dan atau rintangan pelayaran
untuk kepentingan pelayaran. SBNP meliputi menara suar, rambu suar, pelampung
suar dan lampu pelabuhan. Penyelengaraan SBNP dilakukan oleh pemerintah yang
meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Pengadaan
b. Pengoperasian
c. Pemeliharaan
Untuk melaksanakan penyelengaraan SBNP perlu didirikan satuan pelayanan
SBNP yang berfungsi :
a. Melaksanakan pengoperasian, pemeliharaan dan pengawasan SBNP
b. Melakukan pengawasan penyelengaraan SBNP yang dilaksanaka oleh
pengelola terminal khusus.
Pengadaan, pengoperasian dan pemeliharaan sarana SBNP juga dapat dilaksanakan
oleh pengelola terminal khusus, tetapi harus memenuhipersyaratan :
1. SBNP yang diselenggarakan harus memenuhi persyaratan teknis.
2. Sumber pembiayaan oleh pengelola terminal khusus yangbersangkutan
3. Memiliki alat perlengkapan SBNP
PT. OTI EYA ABADI
40
Studi Kelayakan Terminal Khusus
4. Wajib memelihara keandalan SBNP
Pengoperasian dan pemeliharaan SBNP yang dilakukan oleh petugas
satuan pelayanan SBNP yang memenuhi persyaratan kesehatan, pendidikan dan
kecakapan. Untuk menjamin keamanan dan keselamatan SBNP ditetapkan zonazona keamanan dan keselamatan di sekitar instalasi dan bangunan tersebut. Zona
tersebut hanya diperuntukan bagi petugas kenavigasian dan sebagai batas
pengaman bagi konstruksi dan gangguan fungsi sarana.
Hasil survey SBNP yang dilakukan oleh Distrik Navigasi Kendari
terhadap wilayah perairan di sekitar terminal khusus PT. Oti Eya Abadi, disarankan
sebagai berikut :
a. Pemasangan lampu pada alur masuk perairan menuju terminal khusus.
b. Pemasangan lampu pelabuhan di pantai terminal khusus.
6.2. Telekomunikasi Pelayaran
Telekomunikasi pelayaran adalah setiap pemancaran, pengiriman atau
penerimaan setiap jenis tanda, gambar, suara dan informasi dalam bentuk apapun
melalui system kawat, optic, radio atau system elektromagnetik lainnya dalam dinas
bergerak pelayaran yang merupakan bagian dari keselamatan pelayaran.
Sama
halnya
dengan
SBNP,
telekomunikasi
pelayaran
penyelengaraannya yang meliputi pengadaan, pengoperasian dan pemeliharaan
dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi juga boleh dilaksanakan oleh pengelola
terminal khusus dengan persyaratan-persyaratan tertentu.
Pelayanan telekomunikasi pelayaran dilakukan melalui jaringan
telekomunikasi pelayaran yang meliputi stasiun radio pantai atau dan stasiun bumi
pantai yang dapat tersambung dengan jaringan telekomunikasi umum di darat.
Mengingat bahwa telekomunikasi pelayaran ini sangat penting untuk
keamanan dan keselamatan pelayaran, maka perlu diperhatikan tindakan-tindakan
yang dapat mengakibatkan kerusakan atau hambatan pada telekomunikasi
pelayaran, juga termasuk pada SBNP maupun alur pelayaran, yaitu :
1. Membangun di dalam zona keamanan dan zona keselamatan SBNP dan
telekomunikasi pelayaran.
PT. OTI EYA ABADI
41
Studi Kelayakan Terminal Khusus
2. Membangun pada fasilitas alur pelayaran
3. Memasang, menempatkan sesuatu pada SBNP dan fasilitas alur pelayaran.
4. Merusak atau menghancurkan atau menimbulkan cacat pada SBNP dan
fasilitas alur pelayaran.
5. Menimbulkan gangguan pada pancaran dan atau penerimaan
telekomunikasi pelayaran.
6. Mengubah SBNP, telekomunikasi pelayaran dan alur pelayaran.
7. Memindahkan SBNP
8. Menambatkan kapal pada SBNP.
Saat ini pengelola terminal khusus pertambangan bijih nikel PT. Oti Eya
Abadi senantiasa selalu berusaha untuk tidak melakukan hal-hal tersebut di atas dan
selalu menjaga keberadaan fasilitas SBNP, telekomunikasi pelayaran dan alur
pelayaran demi keamanan dan keselamatan pelayaran.
6.3. Alur Pelayaran
Alur pelayaran adalah bagian dari perairan yang alami maupun buatan
yang dari segi kedalaman, lebar dan keselamatan pelayaran lainnya yang dianggap
aman untuk dilayari.
Untuk kepentingan keselamatan dan kelancaran berlayar pada perairan
dapat ditetapkan sistem rute yang meliputi :
1. Skema pemisah lalu lintas di laut
2. Rute dua arah
3. Garis haluan yang dianjurkan
4. Rute air dalam
5. Daerah yang harus dihindari
6. Daerah kewaspadaan
Penetapan sistem rute di atas didasarkan pada :
a. Kondisi alur pelayaran
b. Pertimbangan kepadatan lalu lintas
c. Keadaan cuaca.
PT. OTI EYA ABADI
42
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Untuk mengetahui kondisi di lapangan dan menjamin terpenuhinya aspek
keselamatan pelayaran terhadap alur pelayaran di terminal khusus pertambangan
bijih nikel PT. Oti Eya Abadi, dapat dijelaskan sebagai berikut :
•
Alur keluar masuk ke terminal khusus pertambangan bijih nikel PT. Oti Eya
Abadi dapat melalui alur pelayaran umum.
•
Fasilitas SBNP di alur pelayaran dari atau menuju terminal khusus PT. Oti
Eya Abadi mutlak diperlukan untuk memberikan jaminan keselamatan
pelayaran bagi kapal atau tongkang dan dapat memberikan kepastian untuk
menunjang kelancaran kegiatan operasional di terminal khusus tersebut.
Dalam rencana penempatan SBNP di sekitar alur pelayaran, pengelola terminal
khusus PT. Oti Eya Abadi telah bekerjasama dengan Distrik Navigasi Kendari
untuk melaksanakan survey penempatan SBNP tersebut.
6.4. Keadaan Kapal
Keadaan kapal juga merupakan bagian penting untuk kepentingan
keselamatan pelayaran. Kapal yang layak laut adalah kapal dengan keadaan yang
memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan di
kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal serta
penumpang dan status hukum untuk berlayar di perairan tertentu.
Ada dua jenis kapal yang akan digunakan oleh PT. Oti Eya Abadi untuk
pengangkutan hasil produksi berupa bijih nikel, yaitu kapal jenis tongkang/barge
dengan kapasitas 2.000 MT. Tentunya pengelola terminal khusus PT. Oti Eya
Abadi akan memilih kapal dengan kondisi yang layak untuk berlayar yang akan
digunakan dalam pengangkutan bijih nikel tersebut. Hal ini dilakukan demi
menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran sehingga dapat memperlancar
kegiatan di terminal khusus tersebut.
PT. OTI EYA ABADI
43
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB VII
KONDISI ALAM DAN LINGKUNGAN
7.1. Ikiim
Keadaan cuaca atau klimatologi juga merupakan salah satu aspek dalam
menentukan keamanan dan keselamatan pelayaran. Terutama cuaca ekstrim yang
bisa menyebabkan terjadi kecelakaan dalam pelayaran. Pengamatan terhadap cuaca
sebaik dilakukan secara terus menerus dan mempelajari keadaan cuaca yang lalu,
misalnya sejak sepuluh tahun terakhir atau lima tahun terakhir. Hal ini mengingat
keadaan cuaca yang selalu berubah setiap tahunnya sehingga kita bisa memprediksi
keadaan cuaca dimasa yang akan datang dan mengantisipasi apabila terjadi keadaan
cuaca yang ekstrim yang bisa mengganggu keamanan dan keselamatan pelayaran.
Berikut ini adalah Data Klimatologi di sekitar perairan terminal khusus PT. Oti Eya
Abadi, yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Stasiun Meteorologi Kela III Mutiara Sis-Al Jufri Palu Provinsi Sulawesi Tengah.
a. Prakiraan Cuaca
Gambar 7.1. Prakiraan Cuaca Kabupaten Morowali Senin 10 Juni 2019
PT. OTI EYA ABADI
44
Studi Kelayakan Terminal Khusus
b. Arah Dan Kecepatan Angin
Data arah dan kecepatan angin, diperoleh dari Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, dimana
data harian arah dan kecepatan angin direkapitulasi selama sebulan lalu
digambarkan dalam grafik wind rose sehinggga memudahkan dalam memahami
data angin tersebut. Data angin diambil selama bulan Oktober sampai Desember
tahun 2017. Faktor angin sangat penting dalam keselamatan dan keamanan
pelayaran, baik ketika kapal sedang berlayar atau ketika kapal sedang bertabuh di
pelabuhan. Sehingga mengetahui dan mempelajari karakteristik angin pada lokasi
penelitan yang merupakan wilayah pengembangan fasilitas pelabuhan berupa
reklamasi menjadi prioritas. Untuk mengetahui keadaan di lokasi penelitian, maka
diambil data sekunder selama bulan Oktober - Desember 2017 yang berasal dari
kantor BMKG Stasiun Meteorologi Maritim yang berada di Kendari. Adapun
keadaan arah dan kecepatan angin sebagaimana terlihat pada tabel 4.5. dan
digambarkan dalam diagram wind rose berikut ini :
Gambar 7.2 Wind Rose Bulan Oktober 2017
PT. OTI EYA ABADI
45
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.3 Wind Rose Bulan November 2017
Gambar 7.4 Wind Rose Bulan Desember 2017
PT. OTI EYA ABADI
46
Studi Kelayakan Terminal Khusus
7.2. Prakiraan Tinggi Gelombang
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak
lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut
disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan,
menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut
sebagai gelombang.
Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada
bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan
mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan
sejajar pantai (longshore). Pada perencanaan teknis bidang teknik pantai,
gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan
menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.
Prakiraan atau prediksi tinggi gelombang diperoleh dari BMKG Stasiun
Meteorologi Maritim Kendari adalah sebagai berikut :
PT. OTI EYA ABADI
47
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.5 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 5 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
48
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.6 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 6 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
49
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.7 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 7 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
50
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.8 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 8 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
51
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.9 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 9 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
52
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.10 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 10 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
53
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.11 Prakiraan Tinggi Gelombang Significant Tangal 11 Februari 2018
PT. OTI EYA ABADI
54
Studi Kelayakan Terminal Khusus
7.3. Panjang Gelombang
Table 7.1. Panjang Gelombang
Ulangan Ke-
Sabtu
Minggu
16.00
10.00
16.00
1
10 Cm
11 Cm
25 Cm
2
11 Cm
21 Cm
30 Cm
3
25 Cm
23 Cm
40 Cm
4
25 Cm
21 Cm
30 Cm
5
20 Cm
25 Cm
35 Cm
6
25 Cm
27 Cm
30 Cm
7
10 Cm
22 Cm
40 Cm
8
20 Cm
25 Cm
35 Cm
9
35 Cm
26 Cm
30 Cm
10
20 Cm
28 Cm
35 Cm
Tabel diatas menunjukan data hasil pengukuran panjang gelombang yang
dilakukan. Data tersebut penunjukan bahwa gelombang di perairan Kabupaten
Morowali sangat rapat karena jarak antara satu gelombang dengan gelombang
yang lain panjang hanya 40cm. hal ini terjadi dikarenakan angin yang tidak
kencang sehingga gelombang tergolong pendek. Terkecuali pada musim
Barat pada bulan Juni - Agustus terjadi musim ombak Untuk Wilayah
Morowali dan Sekitarnya mencapai hingga ketinggian 2 meter. Gelombang
laut telah menjadi perhatian utama dalam catatan sejarah. Namun, sampai
sekarang, pengetahuan tentang mekanisme pembentukan gelombang dan
bagaimana gelombang berjalan di lautan masih belum sempurna. Ini sebagian
karena pengamatan karakteristik gelombang di laut sulit dilakukan dan
PT. OTI EYA ABADI
55
Studi Kelayakan Terminal Khusus
sebagian karena model matematika tentang perilaku gelombang didasarkan
pada dinamika fluida ideal, dan perairan laut tidak sepenuhnya ideal.
7.4. Tinggi Gelombang
Tabel 7.2. Tinggi Gelombang
Ulangan Ke-
Sabtu
Minggu
16.00
10.00
16.00
1
5 Cm
8 Cm
4 Cm
2
8 Cm
6 Cm
3 Cm
3
6 Cm
5 Cm
5 Cm
4
4 Cm
5 Cm
3 Cm
5
3 Cm
7 Cm
4 Cm
6
4 Cm
6 Cm
4 Cm
7
5 Cm
4 Cm
4 Cm
8
6 Cm
4 Cm
4 Cm
9
4 Cm
5 Cm
4 Cm
10
6 Cm
6 Cm
4 Cm
Tabel diatas menunjukan hasil pengukuran tinggi gelombang. Ketinggian
gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak
perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh
bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian
gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting
pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang
yang lebih besar.
PT. OTI EYA ABADI
56
Studi Kelayakan Terminal Khusus
7.5. Periode Gelombang
Table 7.3. Periode Gelombang
Ulangan Ke-
Sabtu
Minggu
Senin
10.00
16.00
10.00
16.00
10.00
1
1,36
4,28
2,60
1,66
1,71
2
1,66
2,30
2,4
2,60
1,81
3
2,06
2,4
2,5
1,13
1,62
4
1,81
1,93
2,14
1,27
1,62
5
1,76
1,93
2
2,4
1,53
6
1,81
2
2,30
2,30
1,46
7
2,06
1,71
1,81
2,22
1,81
8
2,14
1,71
1,66
2
1,71
9
2,22
1,57
1,66
2,06
1,5
10
2,14
1,5
1,62
1,87
1,30
Tabel diatas menunjukan periode gelombang yang dilakukan dengan
menghitung gelombang dalam waktu 1 menit. Data tersebut menunjukan hasil
yang beragam hal ini disebabkan oleh angin. Frekuensi gelombang atau
periode gelombang adalah sejumlahbesar gelombang yang melintasi suatu titik
dalam suatu waktu tertentu, biasanya didefinisikan dalam satuan detik, namun
pada praktikum kali ini, periode gelombang menggunakan satuan waktu menit.
Angin yang berhembus sangat kencang akan meyebabkan terjadinya
gelombang yang cepat dan besar. Pasang surut juga merupakan salah satu
pengaruh periode gelombang, saat pasang periode gelomnbang besar, saat
surut periode gelombang sedikit.
PT. OTI EYA ABADI
57
Studi Kelayakan Terminal Khusus
7.6. Sudut Refraksi
Table 7.4. Sudut Refraksi
Ulangan Ke-
Sabtu
Minggu
10.00
16.00
10.00
16.00
1
50̊
47̊
36̊
18̊
2
70̊
33̊
37̊
33̊
3
73̊
40̊
30̊
40̊
4
57̊
50̊
35̊
27̊
5
75̊
48̊
30̊
43̊
6
40̊
57̊
33̊
23̊
7
81̊
33̊
30̊
25̊
8
60̊
40̊
35̊
40̊
9
70̊
38̊
35̊
45̊̊
10
75̊
42̊
34̊
45̊
Tabel di atas menunjukan data refraksi gelombang. Refraksi gelombang
yang terjadi di pantai Morowali adalah peristiwa pembelokan gelombang yang
diakhibatkan karena perubahan kedalaman air pada saat gelombang menuju ke
garis pantai. Pembiasan gelombang terjadi saat gelombang menyebrangi
perbatasan dua medium yang berbeda. Mulanya gelombang merambat melalui
air laut. Ketika melewati garis pantai, permukaan laut akan semakin dangkal,
maka laju gelombang makin berkurang.
Hal ini menyebabkan terjadinya pembelokan arah perambatan
gelombang laut yang menyebabkan terjadinya arah perambatan gelombang.
Berkurangnya laju gelombang laut saat memasuki bagian laut yang dangkal
mengakhibatkan gelombang laut dibelokkan hingga sejajar dengan garis
PT. OTI EYA ABADI
58
Studi Kelayakan Terminal Khusus
pantai. Semakin besar sudut refraksi maka gelombang makin rendah,
sebaliknya jika semakin kecil sudut refraksi maka gelombang semakin tinggi.
7.7. Parameter Kimia
a. pH (Derajad Keasaman Air Laut)
Tabel 7.5. pH (Derajad Keasaman Air Laut)
Ulangan ke-
Sabtu
Minggu
Senin
10.00
16.00
10.00
16.00
10.00
1
7
6
6
6
6
2
6
6
6
6
6
3
7
6
7
7
6
4
6
6
6
6
6
5
6
7
7
6
6
6
6
6
7
7
6
7
7
6
6
6
6
8
6
6
7
6
6
9
7
6
7
6
6
10
7
6
6
6
7
Tabel di atas menunjukan data hasil pengamatan pH yang dilakukan pada
10 titik dengan 5 kali ulangan. Dengan hasil pH 6 lebih banyak dibandingkan
dengan pH 7. Biasanya ph air laut itu 7,6-8,3 dan terutama mengandung ion
HCO3-.Air lautan juga mengandung asam-asam lemah seperti asam karbon
(H2CO3) dan asam boric (H3BO3) damn karena asam-asam itu berdissosiasi
maka terjadilah kondisi bahwa air lautan itu sebagai buffer yang baik sekali yaitu
bila kedalam larutan ditambahkan NaOH , maka H2CO3 dan H3BO3 akan lebih
PT. OTI EYA ABADI
59
Studi Kelayakan Terminal Khusus
terdissosiasi dan ph air lautan konstan sampai H2CO3 dan H3BO3 itu terpakai
semua, bila kedalam air lautan ditambahakan asam keras seoerti H2SO4 maka
akan terjadi proses kebalikannya dan ph tetap konstan yaitu 7,6-8,3.Fakta inilah
yang menjamin berbagai jenis ikan laut dapat hidup.
Berdasarkan ph, perairan dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu asam
dengan ph 3-6,9,netral antara 7-8,5 dan basa diatas 8,5.Dengan ph sebesar 6 di
perairan, berarti terdapat organisme dalam jumlah yang sedikit. Karena
organisme-organisme akan terganggu bila ph asam. Salah satu faktor penebab
turunya ph adalah aktifitas keramba jarring apung yang membuat perairan
tercemar. Karena sisa pakan dan kotoran dan zat terlarut lainnya.
b. Salinitas
Tabel 7.6 Salinitas
Ulangan ke-
Sabtu
Minggu
Senin
10.00
16.00
10.00
16.00
10.00
1
30
33
33
33
32
2
30
32
31
33
32
3
30
32
33
33
31
4
30
32
32
30
33
5
30
31
33
33
33
6
30
31
33
33
32
7
29
32
32
32
31
8
30
32
33
32
32
9
30
32
33
33
31
10
30
32
33
31
33
PT. OTI EYA ABADI
60
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Tabel di atas menunjukan data pengamatan salinitas yang telah dilakukan.
Dengan hasil 29ppt- 33ppt. Definisi sederhana dari salinitas adalah jumlah total
material terlarut (gram) dalam satu kilogram air laut. Sedangkan definisi lebih
lengkap dari salinitas adalah jumlah total material padat (gram) yang dilarutkan
dalam satu kilogram air laut setelah karbonat diubah menjadi oksida, bromine
dan iodine dikembalikan oleh chlorin dan semua bahan organik telah dioksidasi
secara menyeluruh. Salinitas adalah proporsi jumlah chlorin dalam air laut,
didefinisikan dengan :
S = 0,03 + 1,805 Cl
Konsentrasi rata-rata garam terlarut di laut adalah 3,5% terhadap berat atau
dengan bagian per seribu (35 ppt). Salinitas bervariasi tergantung pada
keseimbangan antara penguapan dan presipitasi serta percampuran antara air
permukaan dan air kedalaman. Secara umum, perubahan salinitas tidak
mempengaruhi proporsi relatif ion-ion utama. Konsentrasi ion-ion berubah
dalam proporsi yang sama yaitu rasio ioniknya tetap konstan. Meski demikian,
untuk beberapa lingkungan laut seperti laut-laut tertutup, cekungan, daerah yang
luas serta dalam sediment laut, terdapat kondisi dimana rasio-rasio ion
menyimpang jauh dari normal.
7.8. Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Kendari - Lasusua skala 1 :
250.000, Wilayah Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi PT. Oti Eya Abadi di Desa
Siumbatu Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali, secara regional terdiri satu
jenis batuan yaitu kelompok batuan ultrabasa berumur Kapur. Pemerian stratigrafi
dan urutan-urutan ketiga formasi batuan dari yang tertua hingga yang termuda
adalah sebagai berikut :
Batuan Ofiolit (Ku)
Terdiri dari batuan peridotit, harsburgit, dunit, gabro, basal dan sepertinit.
Peridotit, berwarna hitam kehijauan, kecoklatan; berbutir sedang sampai kasar,
PT. OTI EYA ABADI
61
Studi Kelayakan Terminal Khusus
fanerik, hablur penuh, sebagian terserpentinkan, tersusun oleh piroksen, olivin, dan
sedikit plagioklas serta bijih.
Harsburgit, berwarna hijau kehitaman; berbutir menengah, fanerik,
hipidiomorfik, sebagian telah terserpentinkan.
Dunit, berwarna hijau tua, berbutir halus sampai sedang; granular dengan
bentuk kristal tidak sempurna (anhedral, terdiri dari olivin dengan sedikit piroksen.
Serpentinit, kelabu kehijauan, agak keras, setempat mengandung asbes,
biasanya terdapat pada lajur sesar.
Basal, berwarna kelabu tua hingga kehitaman dan kehijauan, hablur
penuh; afanitik, terubah kuat.
Gabro, berwarna kelabu hingga kehitaman, hablur penuh, berbutir kasar
hingga pegmatik, fanerik, hipidiomorfik granular, hablur hampir sempurna, terlihat
adanya pengarahan karena pengaruh tekanan. Tersusun oleh mineral plagioklas
(labradorit), piroksen, olivin, klorit, dan sedikit serisit dan kuarsa.
Pada umumnya batuan ultramafik di daerah ini telah mengalami
pelapukan cukup kuat yang menghasilkan lapisan laterit, mencapai ketebalan
beberapa meter sampai belasan meter. Mineral garnierit, magnesit dan oksida besi
sering dijumpai di daerah ini. Satuan ini adalah batuan asal kerak samudera yang
merupakan batuan dasar di Lajur Hialu. Batuan ofiolit ini tertindih tak selaras oleh
Formasi Matano yang berumur Kapur Akhir.
Sehingga umur batuan diduga lebih tua dari Kapur Akhir. Struktur dan
geologi yang dijumpai di Lembar Lasusua dan Kendari adalah sesar, lipatan dan
kekar. Sesar dan kelurusan umumnya berarah barat laut-tenggara searah dengan
Sesar Lasolo. Sesar Lasolo berupa sesar geser jurus mengiri (sinistral) yang diduga
masih giat hingga kini, yang dibuktikan dengan adanya mataair panas di
batugamping terumbu yang berumur Holosen pada jalur sesar tersebut di tenggara
Tinobu. Sesar tersebut diduga ada kaitannya dengan sesar Sorong yang giat kembali
pada Kala Oligosen (Simandjuntak, drr., 1983).
Sesar naik ditemukan di daerah Wawo, sebelah barat Tampakura dan di
Tanjung Labuandala di selatan Lasolo, yaitu beranjaknya batuan ofiolit ke atas
batuan Malihan Mekongga, Formasi Meluhu dan Formasi Matano. Jenis sesar lain
PT. OTI EYA ABADI
62
Studi Kelayakan Terminal Khusus
yang dijumpai adalah sesar bongkah, atau mungkin sesar listrik (listric fault). Sesar
Lasolo berarah barat laut - tenggara, membagi Lembar Kendari menjadi dua bagian.
Sebelah timurlaut sesar disebut Lajur Hialu dan sebelah baratdaya disebut Lajur
Tinondo (Rusmana dan Sukarna, 1985). Lajur Hialu umumnya merupakan
himpunan batuan yang bercirikan asal Kerak Samudera dan Lajur Tinondo
merupakan himpunan batuan yang bercirikan asal paparan benua.
Ditafsirkan bahwa sebelum Oligosen Lajur Hialu dan Lajur Tinondo
bersentuhan secara pasif, kemudian sesar ini berkembang menjadi suatu "transform
fault' dan menjadi sesar Lasolo sejak Oligosen yaitu pada saat mulai giatnya
kembali Sesar Sorong. Daerah ini tampaknya telah mengalami lebih dari satu kali
perliukan, hal ini terlihat pada batuan Mesozoikum yang sudah terlipat lebih dari
satu kali.
Jenis lipatan pada batuan ini berupa lipatan tertutup, setempat dijumpai
lipatan lembah, lipatan pirau dan lipatan terbalik. Lipatan pada batuan Tersier
termasuk jenis lipatan terbuka, berupa lipatan yang landai dengan kemiringan
lapisan berkisar antara 150 dan 180. Kekar terdapat pada semua jenis batuan. Pada
batugamping kekar ini tampak teratur yang membentuk kelurusan, seperti yang
terlihat jelas pada foto udara. Kekar pada batuan beku umumnya menunjukkan arah
tak beraturan. Gejala pengangkatan terdapat dipantai timur dan tenggara Lembar,
yang ditunjukkan oleh undak-undak pantai dan sungai dan pertumbuhan koral.
PT. OTI EYA ABADI
63
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.12. Peta Geologi Regional Lembar Kolaka
7.9. Kawasan Hutan
Lokasi terminal khusus PT. Oti Eya Abadi berada pada kawasan Areal
Penggunaan Lain (APL), sehingga dalam pelaksanaan pembangunan dan
pengoperasian terminal khusus tidak memerlukan izin pinjam pakai kawasan hutan,
dan proses perizinan menjadi lebih mudah. Letak lokasi terminal khusus dapat
dilihat pada gambar 7.13. berikut.
PT. OTI EYA ABADI
64
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Gambar 7.13. Peta Letak Terminal Khusus PT.0ti Eya Abadi
7.10. Data Lingkungan
a. Parameter Biologi
•
Lamun
Tabel 7.7 Lamun
Pengamatan
1
2
3
4
5
Jumlah rumpun
3 cm
6 cm 12 cm 50 cm 32 cm
15cm
12cm 42 cm 28cm 42 cm
Jumlah buah
5 cm
8 cm 3 cm 5 cm
3 cm
4 cm
6 cm
6
7
8
6 cm
9
5 cm
10
7 cm
Daun terpanjang
10 cm 30 cm 13 cm 40 cm 25 cm
20 cm 15 cm 33 cm 18 cm 8 cm
Daun terpendek
9 cm
12 cm
Lebar daun
19 cm 7 cm 11 cm
7 cm
0,4 cm 1 cm 0,5 cm 0,3 cm 1 cm
8 cm 12 cm 6 cm
4 cm
0,7 cm 0,7 cm 1 cm 0,3 cm 0,6 cm
PT. OTI EYA ABADI
65
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Tabel di atas menunjukan hasil pengamatan lamun yang masing masing biota
laut mempunyai kekhasan fungsinya masing masing. Lamun, baik secara
individu ataupun kelompok (padang lamun) dalam perairan laut mempunyai ciriciri ekologis antara lain adalah :
Lamun terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir untuk
mengokoh perakarannya. Hidup pada batas terendah daerah pasang surut agar
suplai air dan nutrisi bisa terpenuhi sertadekat hutan bakau atau di dataran
terumbu karang. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter dan lebih dalam lagi
selama sinar matahari masih bisa masuk kedalam perairan guna membantunya
dalam proses fotosintesisi, sehingga angat tergantung pada cahaya matahari yang
masuk ke perairan
•
Plankton
Tabel 7.9 Plankton
N0
Jenis Plankton
Keterangan
1
R. alala
Fitoplankton
2
Lithodesmiun undulatum
Fithoplankton
3
Rhizosolenia slyuorms
Fitoplankton
4
Leplocylindricus donicus
Fitoplankton
5
Skelelomena coslalum
Fitoplankton
6
R. shrubsolei
Fitoplankton
7
Isachrysis Sp.
Zooplankton
8
R. seligera
Fitoplankton
9
Exoviclla sp
Zooplankton
10
Capitcllid larva
Zooplankton
11
Balatius balanoldes
Zooplankton
PT. OTI EYA ABADI
66
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Tabel di atas merupakan hasil pengamatan plankton yang dilakukan pada fajar,
siang hari, senja dan malam hari. Pada siang hari phytoplankton lebih banyak
ditemukan, hal ini dikarenakan aktifitas fotosintesisnya, saat malam hari
zooplankton lebih banyak ditemukan karena zooplankton naik ke permukaan
untuk menghindari pemangsa.
Plankton dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan cara
makan, habitat, asal, ukuran dll. Pengelompokkan plankton yang paling umum
didasarkan pada cara makannya. Berdasarkan cara makan plankton dapat
dibedakan menjadi
fitoplankton, dan zooplankton. Di perairan, peran
plankton tersebut sangat penting. Terutama dalam usaha budidaya ikan/udang,
plankton dapat berfungsi sebagai pakan alami yang ramah lingkungan.
Plankton juga dapat digunakan sebagai indikator kesuburan perairan.
c. Parameter Fisika
•
Suhu
Tabel 7.10 Thermometer Tertutup
Ulangan Ke-
Sabtu
Minggu
Senin
10.00
16.00
10.00
16.00
10.00
1
29
31
30
31
31
2
29
31
30
30
31
3
29
30
31
30
30
4
31
31
30
31
30
5
31
30
29
30
31
6
30
29
30
31
30
7
31
31
30
31
31
8
30
30
31
31
31
9
29
30
30
30
30
PT. OTI EYA ABADI
67
Studi Kelayakan Terminal Khusus
10
29
30
31
30
30
Tabel 7.11 Thermometer terbuka
Ulangan
Ke-
Sabtu
Minggu
Senin
10.00
16.00
10.00
16.00
10.00
1
29
28
29
29
29
2
29
28
28
29
28
3
30
29
29
28
30
4
29
28
29
30
29
5
28
28
30
29
29
6
28
29
28
29
28
7
29
29
29
30
29
8
30
29
29
29
29
9
30
28
30
29
30
10
29
27
31
30
29
Tabel diatas menunjukan hasil pengukuran suhu yang dilakukan Di
Perairan Pantai Desa Siumbatu Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali,
suhu terendah 27 derajad C dan suhu tertinggi 31 derajad C. Perpedaan
temperatur tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, contohnya
intensitas cahaya. Intensitas cahaya terlambat mempengaruhi suhu karena sifat
air laut yang tidak mudah panas dan tidak mudah dingin, sehingga suhu air
tidak sesuai dengan suhu di permukaan. seperti saat siang hari udara panas
namun air laut dingin. Sebaliknya saat malam hari, udara dingin tetapi suhu
air hangat.
PT. OTI EYA ABADI
68
Studi Kelayakan Terminal Khusus
7.11. Hubungan Parameter Fisika, Kimia dan Biologi
Kualitas air laut diperkirakan yang akan mengalami perubahan akibat
kegiatan pembangunan dan pengoperasian terminal khusus. Berdasarkan
pengamatan dilapangan dan pengembilan sampel serta untuk selanjutnya di analisa.
Hasil pengukuran dan analisa kualitas air laut berdasarkan parameter
fisika, kimia, dan mikrobiologi air laut tersebut menunjukan kondisi yang masih
baik dan berada di bawah baku mutu yang dipersyaratkan.
PT. OTI EYA ABADI
69
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB VIII
IDENTIFIKASI POTENSI PNBP
Terminal Khusus selain sebagai tempat perpindahan intra dan antarmoda
trasnportasi yang melayani kepentingan sendiri sesuai dengan usaha pokoknya,
juga berpotensi cukup besar dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2015
Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Yang
Berlaku Pada Kementerian Perhubungan.
Dalam perhitungan PNBP dari terminal khusus digunakan asumsi-asumsi sebagai
berikut :
▪
Kapal yang digunakan untuk memuat bijih nikel adalah kapal tongkang
dengan ukuran 180 feet kapasitas 2.000 MT, dengan gross tonnage 3561
Tons.
▪
Lamanya tongkang sandar untuk memuat bijih nikel paling lama 7 hari
▪
Barang yang muat ke dalam tongkang adalah bijih nikel yang dikategorikan
bukan jenis barang berbahaya, sehingga tidak terkena tarif jenis barang
berbahaya.
▪
Dalam proses pengangkutan barang dimana kapal tongkangnya langsung
menuju industri pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) dan tidak
menggunakan kapal vessel, sehingga tidak ada jasa STS (Ship To Ship)
▪
Kunjungan kapal per tahun sebanyak 150 kali kunjungan
▪
Luas bangunan di atas air berupa dermaga dan trestel = 3.360 M2
▪
Masa penggunaan terminal khusus adalah 10 tahun, sama dengan umur
tambang PT. Oti Eya Abadi
Adapun identifikasi potensi PNBP sub sektor transportasi laut pada terminal
khusus milik PT. Oti Eya Abadi, adalah sebagai berikut
PT. OTI EYA ABADI
70
Studi Kelayakan Terminal Khusus
8.1. Jasa Kepelabuhan
a. Jasa Kapal
▪
Jasa Labuh Kelas 3
Tarif
= Rp. 50 per GT per 7 Hari
= Rp. 50 x 3.561 GT (dalam 7 hari)
= Rp. 178.050
Kunjungan kapal per tahun : 150 Kali kunjungan
Total PNBP dari Jasa Labuh dalam setahun
= Rp. 178.050 x 150
= Rp. 26.707.500
▪
Jasa Tambat
Tarif
= Rp. 19 per GT per Etmal
= Rp. 19 x 3.561 CT x 7 Etmal
= Rp. 473.613
Kunjungan kapal per tahun : 150 Kali kunjungan
Total PNBP dari Jasa Tambat dalam setahun = Rp. 473.613 x 150 = Rp.
71.041.950
b. Jasa Barang
Tarif
= Rp. 180 per ton
= Rp. 180 x 2.000 MTs
= Rp. 2.400.000
Kunjungan kapal per tahun : 150 Kali kunjungan
Total PNBP dari Jasa Barang dalam setahun
= Rp. 2.400.OOO x 150
= Rp. 360.000.000
c. Jasa Bangunan di Atas Air
Tarif
= Rp. 2.500 per M2 per Tahun
= Rp. 2.500 x 3.360 M2 per Tahun
= Rp. 8.400.000
PT. OTI EYA ABADI
71
Studi Kelayakan Terminal Khusus
8.2. Jasa Kenavigasian
Jasa Penggunaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
Tarif
= Rp. 250 per GT per 30 Hari
= Rp. 250 x 3561 GT (dalam 30 hari)
= Rp. 890.250
Kunjungan kapal per tahun : 150 Kali kunjungan
Total PNBP dari Jasa Penggunaan SBNP dalam setahun = Rp. 890.250 x 150
= Rp. 133.537.500
Jadi total PNBP yang disetorkan ke kas negara dari aktifitas di terminal khusus
milik PT. Oti Eya Abadi sebesar Rp.599.686.950 per tahun.
Jika dikalikan dengan masa pemakaian terminal khusus selama 10 tahun, maka total
PNBP dari terminal khusus PT. Oti Eya Abadi adalah Rp. 5.996.869.500,-
PT. OTI EYA ABADI
72
Studi Kelayakan Terminal Khusus
BAB IX
KESIMPULAN
1. Rencana Terminal khusus
Lokasi rencana terminal khusus PT. Oti Eya Abadi terletak di Desa
Siumbatu, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Tabel 9.1. Secara georafis terletak pada koordinat
NO
DEGREE
MIN
SEC
DEGREE
MIN
SEC
1
122
3
48,5
2
45
43
2
122
3
48,8
2
45
43,6
3
122
3
53,4
2
45
41,4
4
122
3
53,6
2
45
41,8
5
122
3
54,5
2
45
41,4
6
122
3
53,6
2
45
40
7
122
3
52,8
2
45
40,4
8
122
3
53
2
45
40,8
Tipe terminal khusus adalah terminal khusus Wharf atau Quay, yaitu terminal
khusus yang paralel dengan pantai dan biasanya berimpit dengan garis pantai atau
agak menjorok ke laut dengan struktur terminal khusus terbuka dengan pasangan
turap miring.
Dimensi dan Elevasi Terminal khusus .
Panjang Terminal khusus
: 180 Meter
Lebar Terminal khusus
: 51 Meter
Elevasi Lantai Terminal khusus
: + 3 Meter
Elevasi Dasar Laut
: - 1 Meter
PT. OTI EYA ABADI
73
Studi Kelayakan Terminal Khusus
1. Analisa sementara kapasitas produksi bijih nikel PT.
Oti
Eya
Abadi
sebesar 1.200.000 ton per tahun dengan kapal yang akan digunakan adalah
tongkang kapasitas 180-300 feet dengan muatan 2.000-8.000 MT tidak akan
bisa berlabu diterminal khusus yang diajukan, dengan arus kunjungan kapal
ke terminal khusus sebesar 150 kunjungan per tahun.
2. Kondisi Hidro-Oceanografi
▪
Kedalaman dasar laut pada ujung terminal khusus yang terletak pada jarak
180 meter dari garis pantai mencapai 1 meter (dalam kondisi surut), 5 meter
(dalam kondisi pasang). Pada kedalaman tersebut sangat buruk untuk
berlabuhnya tongkang dengan kapasitas 180-300 feet dengan muatan 2.0008.000 MT. Bahkan dijumpai endapan pasir sedimen yang relatif luas pada
area terminal khusus di sepanjang garis pantai.
Hasil analisa Pasang surut :
▪
Sifat Pasut di perairan lokasi terminal khusus adalah Pasut
Campuran condong ke harian ganda.
▪
HWL
: 500 cm
▪
LWL
: 85 cm
▪
MSL
: 81 cm
▪
ZO
: 118 cm
3. Beberapa kriteria atau metode yang digunakan untuk menentukan
kelayakan proyek pembangunan terminal khusus PT. Oti Eya Abadi apabila
ada penambahan ukuran atau dimensi terminal khusus maka semuanya akan
menunjukan bahwa proyek tersebut layak untuk dikerjakan.
4. Lokasi terminal khusus PT. Oti Eya Abadi berada dalam kawasan Areal
Penggunaan Lain (APL). Sehingga dalam pelaksanaan pembangunan dan
pengoperasian terminal khusus tidak memerlukan izin pinjam pakai
kawasan hutan.
Rekomendasi Terminal Khusus dari Tim Survey
•
Kondisi Hidro-Oceanografi
PT. OTI EYA ABADI
74
Studi Kelayakan Terminal Khusus
Terminal khusus yang terletak pada jarak 250 meter dari garis pantai
dengan kedalaman dasar laut pada ujung terminal 6 meter (dalam kondisi surut), 15
meter (dalam kondisi pasang). Pada kedalaman tersebut sangat baik untuk
berlabuhnya tongkang kapasitas 200-300 feet atau 2.000-8.000 MT dengan
kapasitas produksi bijih nikel sebesar 1.200.000 ton per tahun, sehingga arus
kunjungan kapal ke terminal khusus sebesar 150 kunjungan per tahun.
Tabel 9.2.Secara georafis terletak pada koordinat
NO
DEGREE
MIN
SEC
DEGREE
MIN
SEC
1
122
3
56,98
2
45
37,82
2
122
3
56,92
2
45
36,52
PT. OTI EYA ABADI
75
Download