Uploaded by User22586

Airin Astuti Delusi yang bukan hanya sekedar mimpi cerpen Adara 083120277028

advertisement
DELUSI YANG BUKAN HANYA SEKEDAR MIMPI
Alhamdulillah..
Satu lagi nikmatMu yang aku rasakan, kututup mataku sejenak. Menikmati cahaya senja yang
samar-samar menyapu kulitku;hangat. Angin berhembus sedang, langit mulai menggelap namun
aku masih duduk bersimpuh di samping posko utama, menunggu Ummi yang masih bekerja di
dalam. Tenda ini dibangun kembali sekitar dua tahun yang lalu, setelah terakhir kali rusak karena
tentara Israel.
Ummi tidak bekerja disini, sebenarnya ia hanya membantu para pengungsi lainnya.
Tenda ini seumpama benda paling berharga diantara kami, seperti lumbung padi namun bedanya
tak hanya padi. Ada beberapa kebutuhan sandang dan pangan untuk para pengungsi.
Yah..walaupun semakin hari persediaannya semakin menipis.
Tepukkan pelan di pundak menyadarkanku,
“Astagfirullah, ummi mengagetkan saja.” Ternyata itu Ummi
“Ayo pulang, langit sudah gelap sebentar lagi pasti magrib. Aish belum mandi kan?”
“Hmm, ayo” aku menggangguk samar,
Tendaku tidak terlalu jauh dengan posko utama, hanya berjarak enam sampai tujuh
meter. Dan benar saja kata Ummi, sehabis aku membersihkan diri adzan maghrib berkumandang.
Tidak lewat speaker tapi muadzin berdiri diatas dataran lebih tinggi diantara tenda kami.
Sebenarnya kami tidak takut mengumandangkan adzan lewat pengeras suara, hanya saja listrik di
daerah kami seperti hujan dipertengahan kemarau. Sulit menemukan hari yang sepanjangnya
listrik tidak padam.
Waktu seakan cepat berlalu, cahaya bulan yang semakin tinggi dan langit yang semakin
gelap. Menandakan bahwa hari sudah malam, suara angin terdengar seperti bersiur beradu
dengan tanah kering yang membuat debu berterbangan diantara kami. Aku sudah selesai
membereskan alat makan, ya. Makan malam seadanya setelah dari pagi kami berpuasa karena
persediaan makanan sudah mulai krisis.
Aku hanya tinggal bersama Ummi, setahun lalu Abi ditahan di sell tahanan. Kudengar itu
karena beliau bekerja di klinik Hamas, hubungan kerja itu alasan kuat mengapa Israel
menangkapnya. Tanpa ampun.
Remang-remang aku menyusuri jalan menuju toilet bersama, hanya ada obor di tangan
kananku dan cahaya rembulan di penghujung tanggal yang sedikit membantu menerangi jalan.
Sejujurnya disekeliling toilet banyak berdiri tenda warga sehingga aku tidak kesulitan untuk
menghalau rasa takut menapaki jalan di tengah malam seperti ini. Aku mulai membasuh kaki dan
mengambil air wudhu, kebiasaan sebelum tidur yang sejak kecil diajarkan oleh Abi. Ah setahun
lalu Abi masih mengantarku ke toilet, ah sudahlah.
***
Suara bising dari dapur membangunkanku, aku rasakan hangatnya selimut membalut
tubuhku. Membuatku enggan beranjak dari kasur. Tapi suara Ummi kembali terdengar kali ini
lebih jelas dan langkah kakinya pun terdengar hingga ketelingaku.
“Aish, wake up. Jangan lupa loh hari ini kembali sekolah.” Ummi mengetuk pintu, dan
tadi apa? Sekolah?
“Aish.. Abi sudah lama menunggu di meja makan. Jangan biarkan hari ini abi telat
bekerja.”
Aku menyibakkan selimutku, bergegas membuka pintu dan berlari menuju meja makan. Abi
sudah pulang dari kukungan tentara israel? Ah senangnya,
Tanpa terasa aku sudah sampai di sana, napasku masih memburu namun tak kupedulikan.
Segera aku menghambur kepelukannya. Menghembuskan napas lega dan beberapakali
menyematkan gumaman ‘terima kasih’ dalam pelukan yang tentu saja gumamanku teredam tak
ada yang mendengarnya.
“Abi.. “
“Aisha anak abi yang paling pinter, tak terasa sudah tumbuh besar ya. Berapa umur Aish
sekarang? 14? 15? Atau 16 tahun?hahaha anak abi sudah jadi remaja.” Abi masih sama seperti
dahulu masih sering melemparkan guyonan.
“Aish masih 14 tahun abi,” itu suara ummi, ia masih sibuk menyiapkan sarapan.
Pagi ini sarapan berjalan sempurna tak terasa kami menghabiskan waktu satu setengah
jam hanya untuk berbincang-bincang kecil menebus rindu sejak satu tahun yang lalu.
Ummi bilang hari ini aku mulai sekolah kembali, ah senangnya bisa bertemu kawankawan , bermain-main saat jam istirahat lagi. Sungguh aku sangat bahagia di pagi yang cerah ini.
Abi mengajaku berjalan kaki menuju sekolah, keadaan kota saat ini belum stabil. Belum
ada kendaran yang bisa mengantarkan kami seperti dulu. Sepanjang jalan aku mengamati
sekeliling, benarkah kami sudah menang? Benarkah aku sudah bisa hidup tenang tanpa gangguan
suara bom yang sahut-menyahut?. Keadaan sekitar memang masih rusak parah, beberapa
bagunan rubuh masih belum di benahi. Hah, aku lega akhirnya penderitaan kami berakhir. Mulai
saat ini mungkin air bersih akan selalu ada, mungkin juga bisa menyiapkan air hangat untuk
manti. Ah tidak terbayang betapa senangnya aku—
“Aish, bangun. Shalat subuh nak,” aku mengerjapkan mata, mencoba bagun dari tidur
nyenyakku, ku buka sleeping bag yang membungkus tubuhku, hah. Ternyata tadi hanya mimpi,
tidak ada selimut tebal, tidak ada sarapan lezat, dan juga tidak ada—Abi.
Dulu abi selalu bilang bahwa saat kita tidur dalam keadaan suci(wudhu) maka mimpi
yang datang kepada kita adalah mimpi dari Allah swt, maka insya Allah mimpi itu menjadi
kenyataan. Dan kuharap mimpi tadi menjadi kenyataan. Bukan hanya delusi yang setiap waktu
aku bayangkan. Ya semoga.
.
Download