Uploaded by User22375

PERIPARTUM KARDIOMYOPATI

advertisement
Peripartum
Kardiomyopati (PPCM)
Gagal jantung
Akademi Kebidanan
Yayasan Husada Madani
2015
Definisi
Heart Failure Association of the European
Society of Cardiology Working Group on PPCM: tahun 2010
Suatu keadaan kardiomiopati
idiopatik, berhubungan dengan
kehamilan, bermanifestasi sebagai gagal
jantung karena disfungsi sistolik
ventrikel kiri, biasanya terjadi pada 1
bulan terakhir kehamilan sampai 5
bulan masa postpartum
terjadi pada wanita tanpa penyakit
kardiovaskular lain, tidak harus disertai
dengan dilatasi ventrikel kiri, namun
fraksi ejeksi biasanya selalu <45%.
ANATOMI
dan
FISIOLOGI
JANTUNG
Prevalensi
1:22004000
(USA)
1:1000
(Afrika
Selatan)
0.89:1000
(Singapura)
34:100000
(Malaysia)
1% dari
semua
kelahiran
hidup
(NIGERIA)
1:837
(Pakistan)
1:1374
(India)
1:1000
(Jepang)
budaya orang Nigeria
mengharuskan setiap
ibu postpartum
memakan kanwa
(garam danau yang
sudah dikeringkan)
1:300 sembari tidur di atas
(Haiti)
tempat tidur
lempung yang
dipanaskan 2 hari
sekali selama 40 hari
setelah melahirkan.
Faktor Risiko
Mempunyai
hipertensi (tekanan
darah >140/90
mmHg setelah
kehamilan minggu
ke-20), diabetes
melitus, dan
merokok.
Umur saat hamil >32
tahun, multipara
(>3 kali hamil),
kehamilan multifetal,
penggunaan obatobatan untuk
membantu proses
melahirkan, dan
malnutrisi terutama
obesitas (BMI >30).
Ras yang
merupakan
faktor risiko
adalah AfrikaAmerika
Patofisiologi
Patofisiologi
1. Stres Oksidatif
 Data baru menunjukkan keterlibatan stres oksidatif,
prolactin-cleaving protease cathepsin D, dan prolaktin
pada patofisiologi PPCM.
 Stres oksidatif adalah suatu stimulus poten untuk
mengaktivasi Cathepsin D dan Matrix
Metalloproteinase-2 (MMP-2), suatu enzim yang
dapat menggenerasi prolaktin 16 kDa.
 Belakangan ini ditemukan korelasi erat antara Nterminal brain natriuretic peptide (NTproBNP), suatu
marker tingkat stres dinding ventrikel dan gagal
jantung, prolaktin, dan marker untuk stres oksidatif
(LDL teroksidasi) dan inflamasi (interferon-gama)
2. Prolaktin, Prolaktin 16 Kda dan Katepsin D
 Stres oksidatif sebagai trigger aktivasi cathepsin D
dalam kardiomiosit akan memotong prolactin
menjadi angiostatic and pro-apoptotic
subfragment.
 Pasien PPCM akut mempunyai kadar low density
lipoprotein (LDL) serum tinggi (suatu indikasi stres
oksidatif tinggi) dan juga peningkatan kadar serum
katepsin D yang teraktivasi, prolaktin total dan
fragmen prolaktin 16kDa yang bersifat angiostatik.
3. Miokarditis



Selain stres oksidatif, inflamasi jantung disebut juga
miokarditis, telah diketahui berhubungan dengan
PPCM.
Virus tersebut antara lain, parvovirus B19, human
herpes virus 6, Epstein-Barr virus, dan human
cytomegalovirus.
perubahan sistem imun saat hamil dapat
mengeksaserbasi infeksi de novo atau mereaktivasi
virus laten pada wanita hamil, menyebabkan
miokarditis yang berujung pada kardiomiopati
4. Autoimun
 Serum pasien PPCM ditemukan mempengaruhi maturisasi
sel dendrit in vitro, berbeda dibandingkan dengan serum
wanita postpartum sehat.
 Serum wanita PPCM mengandung titer autoantibodi tinggi
terhadap protein jaringan kardium yang tidak terdapat
pada pasien kardiomiopati idiopatik.
 Autoantibodi berasal dari sel fetal (microchimerism) (yang
dapat masuk ke dalam sirkulasi maternal), dan beberapa
protein (seperti aktin dan miosin) yang dilepaskan oleh
uterus selama proses melahirkan telah terdeteksi pada
pasien PPCM. Autoantibodi ini bereaksi dengan protein
miokardium maternal yang kemudian menyebabkan
PPCM
5. Genetik
 Perempuan yang mempunyai gen DCM (dilated
cardiomyopahty), dapat berujung pada PPCM
setelah kehamilan karena adanya stres
hemodinamik. Selain itu, terdapat hubungan
antara wanita dengan keluarga laki-laki yang
mempunyai DCM.
Tanda dan Gejala
Cardiomegaly
Hepatomegaly
Jugular venous
distention
Hepatojugular
reflux
Mental status
changes
Tachycardia
Ascites
Thromboemboli
Tachypnea
Peripheral
edema
sianosis
Gejala PPCM diklasifikasikan menggunakan sistem
New York Heart Association sebagai berikut:
Kelas I–
Keadaan
tanpa gejala
Kelas II–
Gejala ringan
hanya pada
aktivitas
berat
Kelas III –
Gejala
dengan
aktivitas
ringan
Kelas IV –
Gejala pada
saat istirahat
Saat-saat yang berbahaya bagi
penderita
Pada kehamilan 32-36 minggu, dimana volume darah mencapai
puncaknya (hipervolumia).
Pada kala II, dimana wanita mengerahkan tenaga untuk mengedan
dan memerlukan kerja jantung yang berat.
Pada Pasca persalinan, dimana darah dari ruang intervilus plasenta
yang sudah lahir, sekarang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu.
Pada masa nifas, karena ada kemungkinan infeksi.
Pemeriksaan penunjang
EKG
MRI
Penatalaksanaan
(umum)
Peranan bidan selama kehamilan ibu dengan
penyakit jantung ini berlangsung sangatlah penting.
• Memberikan pengertian kepada ibu hamil untuk
melaksanakan pengawasan antenatal yang
teratur.
• Kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau
kardiolog.
• Pencegahan terhadap kenaikan berat badan dan
retensi air yang berlebihan. Jika terdapat anemia,
harus diobati.
Lanjutan…
• Timbulnya hipertensi atau hipotensi akan
memberatkan kerja jantung, hal ini harus diobati.
• Bila terjadi keluhan yang agak berat, seperti sesak
napas, infeksi saluran pernapasan, dan sianosis,
penderita harus dirawat di rumah sakit.
• Skema kunjungan antenatal: setiap 2 minggu
menjelang kehamilan 28 minggu dan 1 kali
seminggu setelahnya.
• Harus cukup istirahat, cukup tidur, diet rendah
garam, dan pembatasan jumlah cairan.
Pengobatan khusus bergantung pada kelas
penyakit :
• Tidak memerlukan pengobatan tambahan.
Kelas I :
Kelas II :
Kelas III:
Kelas IV :
• Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Mengurangi kerja fisik
terutama antara kehamilan 28-36 minggu.
• Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di
rumah sakit sejak kehamilan 28-30 minggu.
• Harus dirawat di rumah sakit dan diberikan pengobatan,
bekerjasama dengan kardiolog.
Penatalaksanaan
(Kelas I dan II)
• Penderita kelas I dan kelas II biasanya dapat
meneruskan kehamilan dan bersalin per
vaginam, namun dengan pengawasan yang
baik serta kerjasama dengan ahli penyakit
dalam.
Lanjutan…
• Bila ada tanda-tanda payah jantung
(dekompensasi kordis) diobati dengan
digitalis. Memberikan sedilanid dosis awal 0,8
mg dan ditambah sampai dosis 1,2-1,6 mg
intravena secara perlahan-lahan. Jika perlu,
dapat diulang 1-2 kali dalam dua jam. Di
kamar bersalin harus tersedia tabung berisi
oksigen, morfin, dan suntikan diuretikum.
Lanjutan…
• Kala II yaitu kala yang kritis bagi penderita.
Bila tidak timbul tanda-tanda payah jantung,
persalinan dapat ditunggu, diawasi dan
ditolong secara spontan. Dalam 20-30 menit,
bila janin belum lahir, kala II segera
diperpendek dengan ekstraksi vakum atau
forseps. Kalau sosio sesarea dengan lokal
anestesi/lumbal/kaudal di bawah pengawasan
beberapa ahli multidisiplin.
Lanjutan…
• Untuk menghilangkan rasa sakit boleh
diberikan obat analgesik seperti petidin dan
lain-lain. Jangan diberikan barbiturat (luminal)
atau morfin bila ditaksir bayi akan lahir dalam
beberapa jam.
Penatalaksanaan
(Kelas I dan II)
• Penderita kelas III dan IV tidak boleh hamil
karena kehamilan sangat membahayakan
jiwanya. Bila hamil, segera konsultasikan ke
dokter ahli atau sedini mungkin abortus
buatan medikalis.
• Pada kasus tertentu tubektomi. Bila tidak mau
sterilisasi, dianjurkan memakai kontrasepsi
yang baik adalah IUD (AKDR).
Lanjutan…
• Penatalaksanaan kelas III dan IV, pada
penyakit yang tidak terlalu parah, dianjurkan
analgesia epidural.
• Kelahiran pervaginam dianjurkan pada
sebagian besar kasus yang ada indikasi
obstetrinya. Keputusan untuk SC juga harus
dipertimbangkan.
Pada Masa Nifas
• Setelah bayi lahir, pederita dapat tiba-tiba
jatuh kolaps, yang disebabkan darah tiba-tiba
membanjiri tubuh ibu sehingga kerja jantung
menjadi sangat bertambah. Perdarahan
merupakan komplikasi yang cukup berbahaya.
• Karena itu penderita harus tetap diawasi dan
dirawat sekurang-kurangnya 2 minggu setelah
bersalin.
Pada masa laktasi :
• Laktasi diperbolehkan pada wanita dengan
penyakit jantung kelas I dan II yang sanggup
melakukan kerja fisik.
• Laktasi dilarang pada wanita dengan penyakit
jantung kelas III dan IV.
Prognosis
• Prognosis penyakit jantung dalam kehamilan
bagi ibu dan janin, yakni bergantung pada
beratnya penyakit, umur dan penyulit-penyulit
lain.
• Bagi ibu pengawasan pengobatan, pimpinan
persalinan, dan kerjasama dengan penderita
serta kepatuhan dalam mentaati larangan,
ikut menentukan prognosis.
• Angka kematian maternal secara keseluruhan :
1-5%, Angka kematian maternal bagi
penderita berat : 15% Bagi janin, bila penyakit
jantung tidak terlalu berat, tidak begitu
mempengaruhi kematian perinatal. Namun
pada penyakit yang berat, prognosis akan
buruk karena akan terjadi gawat janin.
Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan :





Dapat terjadi abortus.
Prematuritas
Dismaturitas
Lahir dengan Apgar rendah atau lahir mati.
Kematian janin dalam rahim (KJDR).
Referensi
• Continuing Medical Education, IDI. Definisi,
Etiopatogenesis, dan Diagnosis Kardiomiopati Peripartum
pdf.
• Artoni F, Sedyawan J. Kelainan jantung pada kehamilan dan
persalinan tahun 2001 di RSCM. In: Pertemuan Ilmiah
Tahunan XIII POGI; 2002; Malang; 2002.
• Ratnadewi N, Suardi A. Tinjauan kasus penyakit jantung
dalam kehamilan di RSU Dr.Hasan Sadikin selama 5 tahun
(1994-1998). Maj Obstet Ginekol Indones 2000;24 (1):37 42.
• Wiratama K, Suwardewa T. Kehamilan dengan penyakit
jantung rematik (pjr) serta komplikasi stroke hemoragik. In:
Pertemuan Ilmiah Tahunan POGI XI; 1999; Semarang; 1999.
Download