Uploaded by jannuspanjaitan

Esensi Jemaat mula-mula: Esensi Gereja Awal

advertisement
Matius 18:20, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka.”Paradigma mengenai gereja yang selama ini ada dalam benak saya
terguncang.
Esensi Jemaat mula-mula
1. Esensi jemaat mula-mula adalah keluarga dan komunitas.
Komunitas adalah kehendakNya bagi gereja yang lahir dari keluarga orang
percaya. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap
di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya” (Kejadian 1:2627a).
Keluarga merupakan tempat Allah menyatakan diriNya,” menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah
memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan
bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
(Kejadian 1:27b-28).
Keluarga dan komunitas merupakan alat menjangkau dunia, “Beranakcuculah dan
bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi.”(Kejadian 1:28b).
2. Jemaat mula-mula menekankan agar setiap orang percaya mengikuti teladan Yesus Kristus
Teladan ketaatan kepada Bapa di surga(Yohanes 5:36) yang datang merendahkan
diri sebagai seorang hamba(Filipi 2:7).
-
Bersandar pada pimpinan, bimbingan dan pertolongan Roh Kudus (Lukas 4:18).
3. Dinamika jemaat mula-mula adalah hidup dalam kasih dan kehendak Tuhan untuk
pertumbuhan bersama sebagai keluarga Kerajaan Allah.
-
Saling berbagi dan membangun (Kisah Para Rasul 2:41-47).
Melaksanakan amanat agung secara natural, penginjilan sebagai gaya hidup,
sebagai terang dan garam dunia.
4. Cara kerja dalam jemaat mula-mula adalah desentralisasi.
Penggembalaan jiwa-jiwa tidak terpusat pada satu orang, tetapi setiap bagian
saling memperhatikan, menasehati, mengasihi dan mendoakan.
Pemuridan menjadi sesuatu yang natural di dalam tiap pertemuan, bukan dalam
situasi sebuah kelas antara murid dan guru tetapi dalam sistem pembapaan.
Penginjilan merupakan bagian hidup dan dilakukan oleh tiap jemaat gereja rumah
sesuai dengan karunia, talenta dan kekhasannya sebagai seorang individu.
5. Pertumbuhan jemaat mula-mula adalah alamiah.
-
Pertambahan dan pertumbuhan terjadi secara alamiah.
Pertumbuhan iman setiap jemaat terjadi secara alamiah karena berlangsungnya
proses perubahan nilai dalam komunitas.
6. Wujud jemaat mula-mula adalah ibadah atau pertemuan sekota.
-
Pertemuan gereja di rumah atau suatu tempat tertentu.
Ibadah sekota merupakan pertemuan setiap gereja rumah (jejaring) yang ada
dalam kota tersebut.
FILSAFAT DASAR GEREJA RUMAH (By Dave Broos)
1. Gereja adalah “gaya hidup”, bukan metode maupun seri pertemuan ibadah(2 Kor 5:17).
Orang hanya dapat menjadi anggota gereja rumah yang sehat, bila telah menerima Yesus
Kristus secara pribadi. Firman Tuhan akan menjadi kerinduannya (1 Ptr 2:2) dan
menyenangkan hati Tuhan dengan hidup dalam ketaatan menjadi prioritasnya.
2. Pemuridan yang berlangsung seumur hidup (Yoh 15:1-8). Tiap hari belajar di kaki Tuhan
seperti Maria duduk di kaki Yesus, mencari wajahNya, mendengar perintahNya dan taat
pada firmanNya akan membawa kita pada pertumbuhan yang membawa kita menjadi
segambar dengan Kristus.
3. Gereja rumah merupakan sarana mobilisasi jemaat seutuhnya (Za 4:6). Proses pemuridan
mendorong setiap orang bersaksi pada orang terhilang. Gereja rumah harus dibina secara
intensif oleh seorang penatua yang membapai “keluarga rohani” ini dengan teladan hidup,
dan hal itu terbukti dalam keluarganya.
4. Pengabaran Injil dengan sIstem jala.Setiap anggota “keluarga” gereja rumah bekerjasama
memenangkan jiwa dengan bersaksi dan doa yang difokuskan pada pribadi-pribadi tertentu
yang telah ditaburi oleh benih dan gaya hidup ilahi.
5. Memberi kesempatan pada Roh Kudus memakai setiap orang. Dalam gereja rumah setiap
jemaat diberdayakan untuk dipakai oleh Allah. Hingga setiap jemaat sadar tanpa Roh Kudus
kita tidak dapat melayani Dia.
Kisah Para Rasul 2:42-47 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam
persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah
mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang
telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan
selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua
orang sesuai
dengan
keperluan
masing-masing.
Dengan bertekun
dan
dengan
sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masingmasing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji
Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan
orang yang diselamatkan.
Jemaat mula-mula memiliki kekuatan dan keuntungan. Dalam sebuah ibadah di rumah atmosfir yang
terbangun adalah suasana kekeluargaan, masing-masing saling mengenal dan lahirnya kepedulian
dalam persekutuan lebih nyata.
Dengan pertemuan di rumah, kita dapat menghindari hal-hal yang kurang praktis. Umpamanya
masalah pakaian formil yang membuat beberapa orang merasa rendah diri, masalah harus bersikap
“hormat dan kudus”,dstnya. Dalam pertemuan di rumah perbedaan di antara lapisan masyarakat dapat
lebih mudah diatasi.
Jumlah umat Tuhan yang lebih sedikit memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berfungsi di
dalam ibadah dan bertumbuh secara kerohanian.
Mereka tidak memerlukan dana besar untuk membeli tanah, mendirikan bangunan, pemeliharaan dan
izin gedung gereja. Uang persembahan digunakan untuk membangun “gereja” (umat Tuhan) yang
membutuhkan, membiayai perjalanan para rasul dan pelayanan lima jawatan yang ada, pekabaran Injil
dan pelayanan diakonia(sosial).
Dalam gereja mula-mula (di rumah) pemimpin dan jemaat lebih mudah mengatasi pencobaan. Salah
satunya kesombongan rohani menganggap diri sebagai “selebritis rohani”(orang penting) atau
kesombongan organisasi. Sebagaimana sering terjadi kini ketika jumlah anggota jemaat bertambah
besar dan aset organisasi bernilai milyaran rupiah, karakter pemimpian maupun anggota jemaatnya
berubah.
Pengkaderan pemimpin lebih mudah dalam jemaat mula-mula. Menjadi pemimpin pada saat itu lebih
menekankan pada fungsi membapai dan melayani sesama bukan sebagai sebuah jabatan bergengsi
sebagaimana terjadi dalam gereja modern. Dimana pemimpin gereja lebih mirip CEO sebuah
perusahaan mapan dengan gaji besar. Patut disayangkan hal ini terjadi.
Jemaat mula-mula lebih fleksibel, mereka dapat bertemu di rumah bahkan di kuburan bawah tanah
(katakombe), di dalam gua atau hutan. Meski coba dihambat mereka merambat semakin dibabat
mereka makin mencuat. Jemaat ini sudah teruji sulit untuk dihambat meskipun mengalami
penganiayaan berat bahkan dapat dikatakan sadis.
Jemaat mula-mula menekankan setiap anggotanya untuk menjadi pelaku firman Tuhan dan berfungsi
memperluas Kerajaan Allah. Jemaat modern lebih suka mendengarkan khotbah, dengan hanya sekedar
mendengar saja kita hanya belajar sedikit. 10% dari apa yang kita dengar sajalah yang masih kita ingat
dalam tempo 3 hari. Bandingkan dengan jemaat mula-mula yang bukan saja melakukannya tetapi juga
mengajarkannya pada murid atau orang percaya lain, 90% apa yang mereka dapatkan menjadi bagian
dalam kehidupan mereka.
Jemaat mula-mula memberitakan Injil secara natural, semua orang terlibat dalam pelebaran Kerajaan
Allah dan dalam hal menghasilkan murid bukan semata tugas para rasul saja. Bandingkan dengan
gereja modern kita yang menitikberatkan tugas pelayanan atau pekerjaan Tuhan hanya pada
sekelompok rohaniwan. Lingkup memenangkan jiwa baru dan menanam gereja baru pun kini
dikerjakan oleh “pasukan elit rohaniwan” yang kita kenal sebagai penginjil dan misionaris. Tidak heran
kini gereja “mandul”.
APA AGENDA DALAM GEREJA YANG BERTEMU DI RUMAH?
Di dalam kitab Ibrani 10:24-25 dikatakan,” Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita
saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari
pertemuan-pertemuan ibadah kita,seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita
saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Melalui pembacaan ayat di atas kita dapat menyadari bahwa orang Kristen berkumpul untuk saling
memperhatikan, menasehati, membangun dan mendorong satu sama lain untuk melakukan kebaikan
hingga citra Kristus makin tampak dalam kehidupan mereka setiap hari. Kata kunci jemaat mula-mula
adalah “saling”,ayat-ayat Alkitab banyak yang memuat kata tersebut tetapi kita membacanya sambil
lalu saja. Gereja kini banyak dijalankan oleh CEO rohani atau selebritis rohani alias “one man show”,
sedang anggota jemaat yang lain hanya pelengkap atau malah hanya menjadi penonton yang pasif.
Kata “saling” telah berangsur hilang dalam pertemuan Kristen kita sekarang.
Di dalam ibadah raya tiap Minggu, kita menjadikan khotbah sebagai pusat atau inti ibadah. Orang
sering datang terlambat dalam ibadah sebab mereka enggan menyanyikan pujian, mereka lebih suka
datang beberapa saat sebelum khotbah disampaikan. Sebab bagi sebagian orang, khotbah adalah
bagian terpenting dan yang lainnya hanyalah tambahan (toping). Padahal kata “berkhotbah” atau
“memproklamasikan” (dalam bahasa aslinya Yunani, Kerusso) selalu digunakan dalam konteks
penginjilan di luar perkumpulan Kristen (Kisah Para Rasul 2:14-40).
Apa yang terjadi dalam ibadah jemaat mula-mula adalah “mengajar”. Pengajaran di sini pun bukan
berbentuk monolog (satu arah) selama 30-45 menit tetapi lebih dalam bentuk dialog. Contohnya
dalam Kisah Para Rasul 20:7,”Paulus berbicara (dielegeto) kepada orang-orang”. Kata dielegeto lebih
cenderung kepada perkataan dialogis bukan oratoris. Seorang pengajar bertanggungjawab atas apa
yang disampaikan. Kisah Para Rasul 17:11, Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada
orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan
hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar
demikian.
Sebagai perbandingan dalam sebuah sidang di MPR atau DPR kita, anggota memiliki hak interupsi
untuk mempertanyakan sebuah permasalahan atau penjabaran hingga anggota tersebut beroleh
kejelasan. Begitu pula di dalam jemaat mula-mula, mereka memiliki hak untuk meminta penjelasan
yang sejelas-jelasnya dari si pengajar.
Jemaat mula-mula bertemu secara rutin dari rumah ke rumah anggotanya, tanpa memandang si kaya
atau si miskin. Hingga setiap anggota mengetahui keberadaan dan pergumulan anggota yang lain.
Dari situ dapat timbul empati terhadap sesamanya. Jemaat mula-mula mengadakan perjamuan Tuhan
setiap berkumpul, artinya makan bersama. Kisah Para Rasul 2:42,46 Mereka bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti
dan berdoa. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait
Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama
dengan gembira dan dengan tulus hati.
Kisah Para Rasul 20:7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecahmecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat
pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.
1 Korintus 11:20 Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan
Tuhan.
Yudas 1:20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar
imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.
Perjamuan Tuhan bukan semata mengadakan “perjamuan kudus” tetapi makan besar bersama dimana
setiap anggota memberikan sumbangsih bukan dibebankan pada pihak tuan rumah, bersanding
dengan roti dan anggur sebagai simbol yang nyata dari kesatuan. 1 Korintus 10:16-17 Bukankah
cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah
Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena
roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian
dalam roti yang satu itu.
Persekutuan “saling berbagi” ini merupakan agenda utama pertemuan dalam jemaat mula-mula dan
bukan khotbah. Apakah “makan bersama” agenda utama mereka? Tentu saja tidak. Saat jemaat mulamula berkumpul mereka saling mendoakan, mempelajari firman Tuhan, menyanyi bersama, mereka
memiliki tujuan untuk membangun tubuh (jemaat) dan makan bersama sebagai sebuah keluarga.
Sebagaimana ada tertulis dalam Efesus 5:19,”dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam
mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan
segenap hati.
Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga
kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan
mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Setiap orang, bukan hanya seseorang atau sebagian orang, datang berkumpul untuk membagikan
sesuatu. Sikap jemaat mula-mula adalah “memberi”, ada yang membawa pujian, pengajaran atau
karunia-karunia rohani. 1 Korintus 14:26 “Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana
kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang
lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan
bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.”
Jadi pertemuan jemaat mula-mula adalah untuk saling membangun. Ini pula yang menjadi alasan kita
harus bertemu sebagai gereja Tuhan.
PRAKTEK JEMAAT MULA-MULA
1. Berkumpul bersama-sama
Ibrani 10:25,” Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti
dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya
menjelang hari Tuhan yang mendekat.”
Sebagaimana kita telah mengetahui kata gereja diterjemahkan dari bahasa Yunani ekklesia, yang
berarti jemaat atau “mereka yang dipanggil keluar”. Dasar pemikirannya adalah bahwa gereja memiliki
panggilan yang sama untuk berkumpul dan bersekutu untuk satu tujuan khusus.
Tidak ada perintah untuk kapan dan dimana bertemu atau berkumpul.
Pada awalnya gereja mula-mula bertemu setiap hari (KPR 2:46). Tetapi ide utama ibadah orang Kristen
adalah bebas bertemu tanpa dibatasi oleh hari, tempat dan waktu. Dalam Roma
14:5 dinyatakan,” Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain,
tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam
hatinya sendiri.”
Juga ada tertulis di dalam Kolose 2:16-20,” Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum
kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri
dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan
membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada
Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendisendi, menerima pertumbuhan ilahinya. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan
bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolaholah kamu masih hidup di dunia.” Jadi sekalipun kita tidak mengubah hari ibadah kita dari hari Minggu
pagi ke hari yang lain, nilainya di mata Tuhan tetap sama.
Jemaat mula-mula bertemu di rumah orang percaya secara bergantian (KPR 2:46b, 8:3, 20:20, Roma
16:5, 1 Korintus 16:19, Kolose 4:15, Filemon 2). Jemaat ini tidak menciptakan kegiatan agamawi
berbiaya tinggi sebab gereja bukan dibangun dengan material fisik tetapi dibangun material rohani (1
Petrus 2:5)
2. Berpartisipasi dalam pertemuan
Kekristenan masa kini merupakan “kerumunan penonton”. Kata “saling” yang merupakan gambaran
partisipasi setiap anggota tubuh Kristus sangat jarang terjadi atau malah dapat dikatakan tidak ada.
Jemaat hanya diharapkan setia untuk hadir, berpartisipasi dalam kegiatan atau program yang ada,
memberikan persembahan dan perpuluhan. Hal-hal tersebut seolah sudah menandakan seseorang
adalah seorang Kristen yang setia dan bertumbuh. Sedang untuk terlibat pelayanan biasanya hanya
“jatah” para elit rohaniwan, orang awam tidak bisa turut berpartisipasi di dalamnya. Bilamana ada yang
terlibat entah sebagai penerima tamu, anggota paduan suara, pemimpin acara atau pujian plus
penyanyi latar dan pemain musik, penjaga OHP atau multimedia mereka semua harus melalui kelas
khusus terlebih dahulu yang dipandu oleh rohaniwan profesional setempat. Sebagian besar jemaat
hanya duduk dibangku dan menjadi penonton yang setia.
Bandingkan dengan jemaat mula-mula yang ditekankan untuk “saling berbagi”. Sikap mereka adalah
hendak membagikan sesuatu bagi saudaranya, entah doa, nubuatan, pengajaran, kata-kata dorongan
semangat, kesaksian pribadi, mempersembahkan pujian dan karunia-karunia yang telah Roh Kudus
karuniakan pada masing-masing anggota. Tidak ada rasa takut di dalam pertemuan atau ibadah
sebab bila pun ada kesalahan, kita dapat saling menasehati, membimbing, meluruskan suatu
pandangan yang keliru bahkan menegur dalam kasih. Setiap orang memiliki kesempatan untuk
berbagi.
Sebagaimana yang tertulis di dalam 1 Petrus 2:5,9” Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu
hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan
persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Tetapi kamulah bangsa yang
terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu
memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”
Juga ada tertulis dalam Wahyu 5:10,” Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan
menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”
Melalui dasar ayat-ayat ini kita mengetahui dan mengenali bahwa setiap orang percaya merupakan
imam dihadapan Allah. Imam bukanlah sebuah gelar tetapi fungsi kita dihadapan Allah. Sayangnya
pengertian ini menjadi “luntur”. Gereja modern menekankan ide bahwa “hanya” mereka yang memiliki
panggilan khusus saja dari Tuhan yang boleh menjadi imam. Kini penekanan kata imam lebih pada
sebuah jabatan, gelar atau memiliki surat pentahbisan. Hanya mereka yang telah ditahbiskan saja yang
boleh memberikan kontribusi dalam jemaat. Mengapa jemaat gereja modern kita saat ini “suam-suam
kuku”? Sebab perlahan tapi pasti jemaat masa kini menjadi dingin dan apatis secara rohani, disebabkan
sebagian “elit rohaniwan” takut melibatkan “kaum awam” dalam pertemuan ibadah. Kecuali melakukan
“hal-hal kecil” yang tidak menyangkut penyampaian firman Tuhan.
Apa yang Alkitab katakan dalam 1 Korintus 12:20-27? “Memang ada banyak anggota, tetapi hanya
satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan
kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggotaanggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota
tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan
terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan
oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada
anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan
dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika
satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota
turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”
Setiap anggota didorong untuk menggunakan karunia-karunianya untuk saling membangun satu
sama lain. Setiap orang penting dan diperlukan untuk menjadi komunitas yang sehat.
3. Setiap orang memiliki karunia Tuhan dan belajar mempraktekkannya
Setiap orang yang percaya pada Yesus memiliki Roh Kudus yang hidup di dalamnya sebagaimana ada
tertulis dalam Roma 8:11,”Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati,
diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan
menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roh Tuhan
memberi karunia kepada setiap orang untuk terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Roma 12:46a,”
Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu
mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus;
tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita
mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.”
1 Korintus 12:4-11,” Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu
Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya
dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan
bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan
kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang
seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk
menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada
yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia
untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk
berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan
bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan
karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Jadi setiap kita belajar beriman untuk menggunakan karunia yang dimiliki untuk membangun tubuh
Kristus.
4. Tujuan pertemuan dalam gereja
Tujuan gereja perlu untuk bertemu adalah saling membangun kehidupan orang percaya. Kini kita
terjebak pada bertemu untuk bersama-sama menyanyikan lagu pujian dan mendengarkan khotbah.
Penyembahan sebenarnya bukan sekedar menyanyikan beberapa lagu pujian, arti penyembahan lebih
luas dari “hanya” menyanyi. Penyembahan seharusnya merupakan gaya hidup, dimana pun kita berada
kita melakukan segalanya dalam takut akan Tuhan. Apa pun yang kita lakukan, kita kerjakan untuk
mempermuliakan Dia. Seringkali kita berpikir bahwa “penyembahan” hanya dilakukan saat ibadah di
gedung gereja saja. Itu kekeliruan besar! Sebab penyembahan seharusnya terjadi 24 jam. Gaya hidup
kita adalah bukti dari apa yang kita sembah!
Tujuan utama gereja berkumpul adalah untuk saling membangun satu dengan lainnya. Tujuan Tuhan
memberikan beragam karunia adalah untuk saling membangun. Efesus 4:20,”untuk memperlengkapi
orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
1 Petrus 4:10-11,” Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiaptiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah
ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia
melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala
sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.
Kata Yunani untuk membangun ialah “oikodomeo” yang berarti membangun, meneguhkan atau
menguatkan. Digunakan dalam konteks membangun bangunan Allah. Contohnya 1 Korintus 3:9,”
Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Dan dalam
Efesus 2:21,”Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di
dalam Tuhan.”
Tujuan saling membangun ini agar bangunan Allah dikuatkan dan dibangun berkesinambungan.
Sehingga setiap orang percaya dapat mencapai kedewasaan penuh.
Setiap orang percaya memiliki kebutuhan untuk dikuatkan dan menguatkan. Kita perlu untuk
berkumpul bersama untuk saling “mereparasi” sehingga kita bisa terus makin dewasa dalam Tuhan.
Hal ini hanya bisa terjadi jika ada pelayanan “saling” dalam pertemuan kita.
Disadari atau tidak saat seseorang percaya kepada Yesus, ia menjadi bagian dari keluarga Allah.
Download