Uploaded by Annisa Nur Fitriasari

MANAGEMENT PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DI SMA IT FITHRAH INSANI

advertisement
MANAJEMEN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DI SMA IT FITHRAH INSANI
LAPORAN OBSERVASI
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengelolaan
Pendidikan dengan Dosen Pengampu Dr. H. Abubakar, M.Pd
dan Muhammad Ajid Abdul Majid,M.Pd
Disusun oleh :
Rosid Wahidi
1700487
Roby Jaelani
1701129
Nining Khoerunnisa
1701259
Vina Khiznatul Aulia
1702976
Ade Nasep Sumardi
1703981
Syifa Nur Medisha
1705491
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2019
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Makalah : Management Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Di Sma
IT Fithrah Insani
2. Ketua Pembuat Makalah
a. Nama Lengkap
: Rosid Wahidi
b. Jenis Kelamin
: Laki-Laki
c. Alamat email
: [email protected]
3. Anggota Kelompok Makalah : 5 Orang
4. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar
: Muhammad Ajid Abdul Majid,M.Pd
b. NIP
:-
c. Alamat Rumah
:-
d. No Tel./HP
:Bandung, Maret 2019
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Ketua Pemakalah
( Muhammad Ajid Abdul Majid,M.Pd )
( Rosid Wahidi )
Dosen Pengelolaan Pendidikan
( Dr. H. Abubakar, M.Pd )
i
KATA PENGANTAR
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakatuh
Alhamdulillāhirabbil’ālamīn, banyak nikmat yang Allāh berikan, tetapi sedikit
sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allāh atas segala berkat,
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penyusun
dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Ṣalawat dan Sallām semoga
senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muḥammad saw., kepada keluarganya,
sahabatnya, dan sampai kepada kita selaku umatnya.
Dalam penyusunannya, penyusun mengucapkan terimakasih kepada dosen yang
telah memberikan dukungan, kasih dan kepercayaan yang begitu besar. Dari
sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penyusun berharap isi dari Laporan kami ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penyusun
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tugas laporan ini dapat
lebih baik lagi.
Akhir kata penyusun mengucapkan
terimakasih, semoga hasil laporan ini
bermanfaat.
Bandung, Maret 2019
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang Studi Lapangan ............................................................... 1
1.2
Tujuan Studi Lapangan ............................................................................ 2
1.3
Manfaat Studi Lapangan .......................................................................... 3
1.4
Lokasi dan Sumber Studi Lapangan ......................................................... 3
1.5
Pedoman Studi Lapangan ......................................................................... 3
1.6
Pembagian Tugas Personalia .................................................................... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................... 4
2.1
Pengertian Management ........................................................................... 4
2.2
Pengertian Pendidik dan Tenaga Kependidikkan ..................................... 4
2.3
Management Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Persfektif Islam
8
BAB III PEMBAHASAN HASIL STUDI LAPANGAN ................................ 11
3.1
Hasil Studi Lapangan ............................................................................. 11
3.1.1
Profil ................................................................................................... 11
3.1.2
Deskripsi Pedoman ............................................................................. 12
3.2
Pembahasan ............................................................................................ 19
3.3
Analisis Hasil Studi Lapangan ............................................................... 30
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN............................................................ 32
4.1
Kesimpulan ............................................................................................. 32
iv
4.2
Implikasi ................................................................................................. 32
4.3
Rekomendasi .......................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 33
LAMPIRAN ......................................................................................................... 34
Foto Kegiatan .................................................................................................... 34
Instrumen Observasi .......................................................................................... 35
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Studi Lapangan
Sumber daya manusia adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia
untuk mewujudkan peranannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan
transformative serta mampu mengelola dirinya sendiri termasuk potensi yang ada
disekitarnya dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pendidikan
sendiri, sumber daya manusia adalah sumber daya yang paling dominan dan yang
menjadi penentu terwujudnya tujuan pendidikan yakni peranan pendidik dan
tenaga kependidikan (Saud U. S., 2018).
Tahun 2018, tepatnya pada bulan April, Dewan Perwakilan Daerah Republik
Indnesia melakukan perubahan Undang-Undang guru dan dosen nomor 14 tahun
2005. Dibentuklah 5 tim ahli. Dari hasil proses kerja tim ahli dan anggota Dewan
Perwakilan Daerah itu ditemukan masalah-masalah guru, diantaranya menyangkut
pemerataan. Tercatat bahwa ada 735,82 ribu guru bukan PNS di sekolah negeri,
798,2 ribu guru bukan PNS yang mengajar di swasta, 1,53 juta guru honores K2,
dari jumlah keseluruhan sebanyak 3,2 juta orang. Dan saat ini Indonesia
kekurangan guru berstatus Pegawai Negeri Sipil sebanyak 988.133 orang
(Primadhyta, 2018).
Sehubungan dengan tuntutan ke arah profesionalisme tenaga pendidik dan
kependidikan, maka semakin dirasakannya desakan untuk peningkatan mutu
pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan yang telah menjadi komitmen
pendidikan nasional. Untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan
mutu tenaga pendidik dan kependidikan, kita harus memahami terlebih dahulu
bagaimana mengelola pendidik dan tenaga kependidikan (Hidayati, 2014).
1
2
Dan pada studi lapangan ini penulis tertarik untuk menganalisis mengenai
manajemen pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah
Insani, meninjau pada kompetensi khusus yang di terapkan di SMA IT Fithrah
Insani kepada para pendidik dan tenaga kependidikan yakni mereka di tuntut
untuk memiliki semangat berdakwah melalui lembaga kependidikan,sehingga
mereka memiliki manajemen khusus terhadap pengelolaan tenaga pendidik dan
kependidikan di SMA IT Fithrah Insani.
1.2 Tujuan Studi Lapangan
1. Mengidentifikasi penentuan ketenagaan di SMA IT Fithrah Insani
2. Mengidentifikasi berapa kebutuhan tenaga pendidik dan kependidikan di
SMA IT Fithrah Insani
3. Mengidentifikasi pemilihan calon ketenagaan yang mampu menjawab
tantangan bagaimana meningkatkan mutu pendidikan melalui tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan yang di rekrut di SMA IT Fithrah Insani
4. Mengidentifikasi kekurangan pegawai atau tambahan formasi pendidik
dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani
5. Menganalisis layanan dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diemban
sebagai jabatan professional pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT
Fithrah Insani
6. Menganalisis peningkatan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan serta
kualitas pendidikan di SMA IT Fithrah Insani
7. Mengidentifikasi seberapa jauh penghargaan yang diberikan kepada tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan terkait dengan tugas dan kewajiban
yang telah dilakukan dalam memberikan layanan pendidikan di SMA IT
Fithrah Insani
8. Menganalisis
kinerja
tenaga
pendidik
dan
kependidikan
dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagaimana peraturan
pemerintah yang dijadikan sebagai rujukan untuk menilai yaitu peraturan
pemerintah no.46 tahun 2011 di SMA IT Fithrah Insani
9. Mengidentifikasi pemberhentian tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
di SMA IT Fithrah Insani
3
1.3 Manfaat Studi Lapangan
1. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai pendidik dan tenaga
kependidikan
2. Mendapatkan gambaran nyata mengenai prakter teori managemen
pendidik dan tenaga kependidikan yang dipelajari
3. Mendapatkan gambaran yang realistis mengenai penentuan ketenagaan di
SMA IT Fithrah Insani
4. Mendapatkan informasi nyata mengenai jumlah kebutuhan tenaga
pendidik dan kependidikan di SMA IT Fithrah Insani
5. Memperoleh gambaran calon pendidik dan tenaga kependidikan yang
bermutu
6. Mendapatkan informasi nyata mengenai layanan dalam melaksanakan
tugas dan fungsi yang diemban sebagai jabatan professional pendidik dan
tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani
1.4 Lokasi dan Sumber Studi Lapangan
1. Lokasi :
SMA Islam Terpadu Fithrah Insani
Jl. Haji Gofur No.10B Tanimulya Kecamatan Ngamprah, Kabupaten
Bandung Barat Jawa Barat 40552
2. Sumber Studi Lapangan :
Ketua Yayasan Fithrah Insani Bid. SDM
: Bapak Harsya Tafani
Wakil Kepala SMA IT Fithrah Insani
: Ibu Ariani Prasetyawati
1.5 Pedoman Studi Lapangan
Terlampiran
1.6 Pembagian Tugas Personalia
1. Ade Nasep Sumardi : Mengurusi pembuatan surat pengajuan observasi
dari prodi ke fakutas. Bertugas sebagai pewawancara dalam kegiatan
observasi, dan bagian mengolah data hasil observasi yang akan di
lampirkan dalam makalah (pengerjaan BAB III mengenai Pembahasan dan
Analisis Lapangan).
4
2. Nining Khoerunisa
: Mengurus surat observasi di bagian fakutas.
Bertugas sebagai Notulen dalam kegiatan observasi, dan pengerjaan BAB
II pada makalah.
3. Roby Jaelani
: Bertugas sebagai dokumentasi dalam kegiatan
observasi, dan bagian mengolah data hasil observasi yang akan di
lampirkan dalam makalah (pengerjaan BAB III mengenai Pembahasan dan
Analisis Lapangan).
4. Rosid Wahidi
: Bertugas sebagai pewawancara dalam kegiatan
observasi, dan bagian mengolah data hasil observasi yang akan di
lampirkan dalam makalah (pengerjaan BAB III mengenai Pembahasan dan
Analisis Lapangan).
5. Syifa Nur Medisha
: Mengurus surat observasi di bagian fakutas.
Bertugas sebagai dokumentasi dalam kegiatan observasi, dan pengerjaan
BAB II pada makalah.
6. Vina Khiznatul Aulia :
Mengurus surat observasi ke SMA IT Fitrah
Insani sekaligus mengurus surat balasan bukti telah melaksanakan
observasi. Bertugas sebagai Notulen dalam kegiatan observasi, dan
pengerjaan BAB I pada makalah, BAB III mengenai Profil Sekolah, dan
menyusun sistematika penulisan makalah dari mulai cover sampai
lampiran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Management
Manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur/mengelola.
Kata manage berasal dari bahasa Italia Maneggio yang di adopsi dari bahasa latin
managiare, yang berasal dari kata manus yang artinya tangan. (Saud U. S., 2018,
p. 178) Berikut merupakan makna dari manajemen pendidikan dari berbagai sudut
pandang.
1. Manajemen pendidikan sebagai kerjasama untuk mencapai tujuan
pendidikann nasional
2. Manajemen pendidikan sebagai proses untuk mencapai dari tujuan
pendidikan
3. Manajemen pendidikan merupakan suatu sistem
4. Manajemen pendidikan sebagai suatu upaya untuk mendaya gunakan
sumber-sumber untuk mencapai tujuan pendidikan
5. Manajemen pendidikan sebagai suatu kepemimpinan manajemen
6. Manajemen pendidikan sebagai proses pengambilan keputusan dan
aktivitas komunikasi. (Suryosubroto, 2014, p. 15)
Makna
Manajemen
Pendidikan.
Pertama,
manajemen
pendidikan
mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai pendidikan. Seperti halnya kita
ketahui tujuan pendidikan itu dimulai dari yang sederhana sampai yang kompleks,
tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud.
Kedua, manajemen pendidikan mengandung pengertian sebuah proses. Proses itu
dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan dan
penilaian. (Suryosubroto, 2014, p. 16).
2.2 Pengertian Pendidik dan Tenaga Kependidikkan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah sebuah ‘profesi’ yang seringkali
menjadi perdebatan karena perbedaan kedua istilah tersebut. Keduanya sangat
4
5
berkaitan erat dengan dunia pendidikan, namun lingkupnya berbeda. Pada Pasal 1
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Tenaga
kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat
untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Dan
menurut Peraturan
Pemerinth No.2 tahun 1992 tanggal 17 Juli 1992 tenaga kependidikan adalah
anggota
masyarakat
yang
mengabdikan
diri
secara
langsung
dalam
penyelenggaraan pendidikan. Sementara Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor,
instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (UPI, 2009, p. 230) Dengan
begitu tenaga pendidik masuk dalam lingkup tenaga kependidikan yang
cakupannya lebih luas.
Hal ini telah dipertegas dalam Pasal 39 Undang-Undang No. 20 tahun 2003
tentang Sisdiknas, yang menyatakan bahwa (1) Tenaga kependidikan bertugas
melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan
pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan, dan
(2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.29 tahun 2001 pasal 1 ayat
(5) dan ayat (6) :
(5) tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
(6)
pendidik
adalah
tenaga
kependidikan
yang
berkuslifikasi
sebagai
guru,dosen,konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator,
dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
penyelenggaraan pendidikan. (Saud U. S., 2018, p. 180)
6
Tujuan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan berbeda dengan
manajemen sumber daya manusia pada konteks bisnis, di dunia pendidikan tujuan
manajemen SDM lebih mengarah pada pembangunan pendidikan yang bermutu,
membentuk SDM yang handal, produktif, kreatif dan berprestasi. (UPI, 2009, p.
231)
Pendidik dan Tenaga Kependidikan berhak memperoleh
1. Penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai
2. Penghargaan sesuai tugas dan prestasi kerja
3. Pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas
4. Perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil
kekayaan intelektual, dan
5. Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas
pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.
Dalam Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional no 20 tahun 2003 pasal
3 Tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan,
penilik, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang pendidikan, pustakawan,
laboran, teknisi sumber belajar, dan menguji. Sementara Tenaga pendidik terdiri
atas pembimbing, pengajar, dan pelatih. Dengan begitu, tugas pendidik dan tenaga
pendidik sudah jelas dalam undang-undang harus mencapai keberhasilan yang
dirasakan peserta didiknya. Bukan hanya itu, administrasi, sarana prasarana juga
harus mendukung dalam proses pembelajaran. Oleh karenanya tidak heran jika
banyak tuntutan kepada pendidik dan tenaga pendidik untuk mencapai suatu
keberhasilan demi mensukseskan pendidikan. Dalam Peraturan Pemerintah
tersebut dinyatakan bahwa pendidik harus memiliki kompetensi pedagogik, yaitu
kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya (Yuliana, 2007). Secara umum tenaga kependidikan
dapat dibedakan menjadi lima kategori yaitu :
1. Dalam suatu lembaga pendidikan harus ada “Tenaga Pendidik” agar memenuhi
syarat ideal suatu lembaga pendidikan
7
2. Setelah adanya tenaga pendidik adanya “Tenaga Fungsional Kependidikan”
3. Dengan adanya tenaga fungsional kependidikan, maka harus dilengkapi dengan
“Tenaga Teknis Kependidikan”
4. Kemudian adanya “Tenaga Pengelola Satuan Pendidikan”
5. Dan yang terakhir adanya “Tenaga Administratif Staf Tata Usaha” (Yuliana,
2007, hal. 5).
Perencanaan Tenaga Kependidikan. Arti dari perencanaan adalah proses
peramalan, pengembangan, pengimpletasikan dan pengontrolan yang menjamin
lembaga mempunyai kesesuaian jumlah pegawai, penempatan pegawai secara
benar, waktu yang tepat secara ekonomis dan lebih bermanfaat. Lain hal dengan
rekruitmen, rekuitmen tenaga kependidikan adalah pengadaan tenaga pegawai
yang dimaksudkan untuk mengisi formasi yang lowong, memperoleh tenaga yang
berkualitas, profesional, handal sesuai dengan tuntutan organisasi (Yuliana, 2007,
hal. 6).
Menurut PP no 13 tahun 2002 pengangkatan dan penempatan harus memiliki
kualifikasi dan tingkat pendidikan yang ditentukan. Selain perencanaan dan
rekuitmen, ada faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penempatam:
1. Senioritas dalam kepangkatan
2. Usia
3. Pendidikan dan Pelatihan ( Diklat ) Jabatan
4. Pengalaman (Yuliana, 2007, hal. 47).
Dengan begitu perlunya pembinaan tenaga kependidikan agar kualitas
pendidik
maupun
tenaga
kependidikan
lebih
baik.
Pembinaan
tenaga
kependidikan semua upaya yang dilakukan oleh lembaga untuk mempertahankan
para pegawai agar tetap berada dilingkungan organisasi dan mengupayakan pula
kedinamisan keterampilan, pengetahuan, serta sikapnya agar mutu kerjanya bisa
tetap dipertahankan. Dalam proses berjalannya sistem pendidikan, juga
mempunyai auran untuk pemberhentian pendidik atau tenaga pendidik itu sendiri.
Pemberhentian
Tenaga
Kependidikan
Akhir
dari
masa
jabatan
adalah
pemberhentian masa jabatan. Proses pemberhentian Pegawai Negri sipil adalah
8
pemberhentian seorang pegawai yang mengakibatkan yang bersangkutan
kehilangan statusnya sebagai pegawai (Yuliana, 2007, hal. 81).
2.3 Management Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Persfektif Islam
Manajemen tenaga kependidikan merupakan
penetapan
norma,
penatalaksanaan,
standar,
kesejahteraan
prosedur,
dan
kegiatan
yang
pengangkatan,
pemberhentian
mencakup
pembinaan,
tenaga kependidikan
sekolah agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mencapai tujuan
sekolah. Manajemen
tenaga
kependidikan
merupakan
kegiatan
yang
mencakup penetapan norma, standar, prosedur, pengangkatan, pembinaan,
penatalaksanaan, kesejahteraan dan pemberhentian tenaga kependidikan sekolah
agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mencapai tujuan sekolah
(Tafsir, 2008).
Dalam ungkapan Moh. Fadhil al-Jamali, pendidik adalah orang yang
mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik, sehingga terangkat derajat
kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki manusia.
Sedangkan dalam bahasa Marimba, pendidik adalah orang yang memikul
pertanggungjawaban sebagai pendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak
dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan peserta didik. AlGhazali menukil beberapa teks hadits yang berkenaan dengan keutamaan seorang
pendidik, dan berkesimpulan bahwa pendidik merupakan orang-orang besar yang
aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Selanjutnya Al-Ghazali
berasumsi bahwa pendidik merupakan pancaran cahaya keilmuan dan
keilmihannya. Apabila dunia tanpa ada pendidik, niscaya manusia seperti
binatang, sebab “pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat
kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah
dan ilahiyah” (Tafsir, 2008).
Pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik
(Tafsir, 2008, hal. 74). Pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang
dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan
dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanat
pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik dilegitimasi oleh agama,
sementara yang menerima tanggung jawab dan amanat adalah setiap orang
9
dewasa. Ini berarti bahwa pendidik merupakan sifat yang lekat pada setiap orang
karena tanggung jawabnya atas pendidikan (Tafsir, 2008).
Pada konteks manajemen dalam perspektif Islam, pengorganisasian atau (
‫ )التنظيم‬adalah penyusunan dan pengaturan bagian-bagian hingga menjadi suatu
kesatuan. Pada konsep Islam, perencanaan atau planning adalah gambaran dari
sesuatu kegiatan yang akan datang dengan waktu, metode tertentu. Sebagaimana
Nabi telah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang
jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas, dan
tuntas).” (HR. Thabrani). Dalam al-Qur’an Allah berfirman :
Yang artinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanlah
hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8).
Dalam proses manejemen terhadap program pendidikan yang akan
dilaksanakan, khususnya dalam lembaga pendidikan Islam, maka prinsip
perencanaan harus mencerminkan nilai-nilai keislaman yang bersumberkan pada
Al-Qur’an dan hadis. Sebelumnya harus memahami apa itu manajemen tenaga
kependidikan. Manajemen tenaga kependidikan
(Mustari, 2014, hal. 213)
merupakan kegiatan yang mencakup penetapan norma, standar, prosedur,
pengangkatan, pembinaan, penatalaksanaan, kesejahteraan dan pemberhentian
tenaga kependidikan sekolah agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam
mencapai tujuan sekolah. Dan pendapat lain, manajemen tenaga pendidik dan
kependidikan
adalah
kegiatan
mengelola
personal
pendidikan
dalam
melaksanakan tugastugas sesuai tugas dan fungsinya agar berjalan dengan efektif
(Rugaiyah, 2010).
Dalam persefektif Islam seorang tenaga kependidikan harus mempunyai
keahlian dan ilmu sesuai dengan bidangnya, Rasulullah SAW pernah
mengingatkan dalam sebuah hadisnya:
)‫ِإذَا ُو ِسدَ أاْل َ أم ُر ِإلَى َغي ِأر أ َ أه ِل ِه فَا أنت َِظ ِر السَّا َعةَ ( البخاري‬
Artinya: Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka
tunggulah masa kehancuranya. (HR. Al-Bukhari dari Abi Hurairah).
10
Secara garis besar manajemen tenaga kependidikan atau manajemen
personalia pendidikan Islam biasanya dikelompokkan menjadi dua kelompok;
yaitu:
a. Pegawai edukatif, yaitu pegawai yang bertangung jawab dalam kegiatan
belajar-mengajar, baik langsung di dalam kelas menangani bidang studi
tertentu, maupun yang tidak langsung sebagai petugas Bimbingan dan
Penyuluhan.
b. Pegawai non edukatif, yaitu pegawai yang membantu kelancaran kegiatan
belajar-mengajar, sebagai petugas tata usaha dan penjaga/pesuruh.
Lebih luasnya manajemen tenaga kependidikan Islam (guru dan personil)
mencakup:
1) Perencanaan pegawai, adalah kegiatan yang dilakukan suatu persahaan
untuk kebutuhan perusahaan dalam membantu terwujudnya tujuan.
2) Pengadaan pegawai (procurement), adalah proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
3) Pembinaan dan pengembangan pegawai (development), adalah proses
peningkatan keterampilan teknis, konseptual, dan moral karyawan melalui
pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus
sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan.
4) Promosi dan mutasi, adalah kegiatan yang sewaktu waktu dapat dilakukan
jika terjadi peristiwa ada yang melanggar peraturan atau kebutuhan
mendadak dan akan dimutasikan.
5) Pemberhentian pegawai (separation), adalah putusnya hubungan kerja
sesorang dari suatu perusahaan.
6) Kompensasi (compensation), adalah pemberian balas jasa langsung
(direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
7) Penilaian pegawai, adalah suatu kegiatan untuk evaluasi untuk masingmasing karyawan Invalid source specified..
Mengenai kewajiban untuk membuat perencanaan yang teliti ini, banyak
terdapat di dalam ayat Al-Qur’an, baik secara tegas maupun secara sindiran
11
(kinayah) agar sebelum mengambil sesuatu tindakan harus dibuat perencanaan.
Salah satu ayat adalah: Artinya: “Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik
bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal”.
(Qs. Al-Baqarah: 197).
BAB III
PEMBAHASAN HASIL STUDI LAPANGAN
3.1 Hasil Studi Lapangan
3.1.1
Profil
Yayasan Fithrah Insani Bandung berdiri sejak tahun 2002. Sekolah ini
sejak pertama kali berdiri senantiasa berusaha mewujudkan suatu pendidikan
yang memadukan pendidikan keilmuan, karakter,
dan keIslaman dengan
tujuan menyeimbangkan antara pembinaan akal, jasad, dan ruh. Yayasan
Fithrah Insani Bandung mengelola beberapa sekolah Islam terpadu ( SIT )
yang diantaranya SDIT FI 1, SDIT FI 2, SDIT FI 3, SMPIT FI 1, SMPIT FI 2,
SMK Informatika FI serta SMAIT FI.
SMA IT Fithrah Insani dibuka angkatan pertama pada tahun ajaran
2014/2015 dengan luas tanah 1000 m2. Kepemilikan SMA IT Fithrah Insani
berada di bawah naungan yayasan,dengan status lembaga swasta. SK
pendirian sekolah 421/5362/Disdikpora 2015, tanggal SK pendirian pada
tanggal 20 Desember 2015, dengan SK izin operasional 421/5362/Disdikpora
2015 dan tanggal SK izin operasional pada tanggal 20 Desember 2015. Dalam
proses pendidikannya, SMA IT Fithrah Insani Bandung diarahkan guna
membentuk karakter peserta didik yang mengembangkan kecerdasan IQ,EQ,
SQ, serta mengembangkan berbagai kreatifitas dalam proses pembelajaran
sehingga terwujud suatu keselarasan dalam pembentukan karakter peserta
didik.
SMA IT Fithrah Insani memiliki 49 orang pendidik dan tenaga
kependidikan, dengan jumlah siswa laki-laki sekitar 105 orang, dan siswa
perempuan 143 orang dengan jumlah ruang kelas sebanyak 10 ruang kelas,
memiliki 5 laboratorium, 1 perpustakaan dan 2 sanitasi siswa.
11
12
Visi SMA IT Fithrah Insani Bandung
Menjadi lembaga pendidikan unggul dalam membina pribadi yang
cerdas, mandiri, dan Islami
Misi SMA IT Fithrah Insani Bandung
a. Mendidik siwa/siswi memiliki dasar keilmuan yang baik dan siap
melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dalam dan luar negeri
b. Mendidik siswa/siswi agar memiliki akhlak Islami dan Mulia ( Jujur,
disiplin, bertanggungjawab, berani, rajin dan santun )
c. Mendidik siswa/siswi agar memiliki keterampilan dan kemandirian dalam
hidup
d. Menumbuhkan pribadi qur’ani yang memiliki jiwa seni dan keterampilan
komunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris
Program Unggul SMA IT Fithrah Insani
a. Tilawah dan Tahfidz Qur’an
b. Pembinaan Keislaman ( Halaqah Tarbawiyah )
c. Pembinaan prestasi sains
d. Pengembangan kemahiran bahasa asing
e. Pengabdian pada masyarakat
3.1.2
Deskripsi Pedoman
3.1.2.1 Perencanaan Pengelolaan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah
Insani
Fitrah insani memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan dengan
sekolah yang lain, yaitu pada tahap perencanaan mereka senantiasa
melakukan pembinaan kepada setiap PTK yang ada di sekolahnya.
Pembinaan tersebut dilaksanakan rutin setiap satu pekan sekali. Hal ini
diharapkan bisa turut menunjang kualitas tenaga pendidik itu sendiri.
Sehingga diharapkan dapat memberikan implementasi terbaik kepada
peserta didik. Selain itu tujuan lainnya yaitu sebagai sebuah sarana untuk
menampung aspirasi dan keluh kesah yang ada dalam menjalani Pendidikan,
hal inilah biasanya dimanfaatkan sebagai salahsatu media untuk
13
menyampaikan aspirasi sehingga dapat mempengaruhi kedalam analisis
perencanaan perekrutan.
Ada dua sumber kewenangan dalam hal penentuan perencanaan yaitu
dari pihak sekolah adalah kepala sekolah dan dipihak lainnya adalah pihak
Yayasan itu sendiri yang memiliki wewenang penuh terhadap segala
kegiatan sekolah. Perencanaan yang terpusat biasanya dilaksanakan ketika
akan menghadapi tahun ajaran baru. Diwaktu ini semuanya mulai dirapatkan
semua pihak terkait ikut serta didalamnya.
Tahap perencanaan itu merupakan fase yang terpenting, dalam
menentukan ketenagaan di sekolah. Tetapi apabila ada dalam keadaan
darurat maka yang pertama dilakukan adalah melakukan mutasi dari guru
SMK atau guru yang melakukan magang untuk mengisi kekosongan yang
ada. Apabila tahap itu tidak dapat dijadikan solusi maka sekolah meminta
kepada Yayasan untuk dilakukan prekrutan dadakan sesuai dengan
kekosongan tenaga tersebut.
Gambaran prosedur secara umum tentang perencanaan tenaga kerja
dilakukan melalui rapat akbar oleh pihak internal terlebih dahulu (sekolah).
Jika sudah ada keputusan dari perancangan tersebut maka selanjutnya
dikembalikan kepada pihak Yayasan untuk menindak lanjuti. Pihak
yayasanlah yang memiliki kebijakan penuh tentang semua aspek termasuk
tenaga kerja. Sekolah hanya sebatas mengolah dan menganalisa apa saja
yang memang diperlukan oleh sekolah, dan hasilnya akan diputuskan oleh
Yayasan.
3.1.2.2 Rekrutmen PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani
Sekolah Fitrah Insani memiliki kualifikasi khusus bagi para calon PTK,
diluar kualifikasi umum yang biasanya dilakukan oleh sekolah lain. Yaitu
diantaranya :
1) Bagi calon PTK laki-laki berkomitmen untuk tidak merokok. Apabila
merokok bagi Calon PTK sudah pasti ditolak, dan apabila telah menjadi
14
PTK lalu merokok akan di DropOut Karena merokok merupakan
pelanggaran berat.
2) Sebagai Calon PTK seluruhnya diharuskan berpenampilan sesuai
dengan syariat
3) Setiap pergaulan dibatasi antara PTK laki-laki dan perempuan. Nanti
akan diberlakukan seperti guru perempuan akan mengajar perempuan,
begitupun sebaliknya.
4) Setiap PTK diharuskan mengikuti halaqah, hal ini dimaksudkan agar
menjadikan PTK yang islami
5) Setiap calon PTK diharuskan lancar membaca Al-Qur’an
6) Bagi Tenaga Pendidik diwajibkan hafal 5 juz Al-Quran. Dan bagi
Tenaga Kependidikan 1 juz Al-Qur’an
7) Setiap PTK diharapkan dapat mengoprasikan teknologi yang dapat
menopang jalannya Pendidikan di sekolah.
Semua wewenang berada ditangan Yayasan. Sehingga yang melakukan
seleksi adalah pihak Yayasan. Sekolah hanya sebatas memberikan
rekomendasi, selebihnya keputusan diberikan kepada Yayasan.
Apabila PTK meninggal, dan tidak ada yang bisa menggantikan
(mutasi), maka akan dilakukan perekrutan dadakan apabila terjadi
kekosongan tenaga kerja, itu juga harus berdasarkan wewenang yayasan.
Di sekolah SMA fitrah insani memiliki sebuah keinginan bahwa tidak
hanya murid saja yang harus berwawasan luas dan berakhlak baik. akan
tetapi mencakup murid, PTK, dan Masyarakat serta orangtua murid itu
sendiri, karena sekolah yakin bahwa keberhasilan Pendidikan karakter, tidak
dapat berjalan disatu sisi maka harus melibatkan segala aspek. Hal ini juga
merupakan kualifikasi yang memang dirasa dapat mendorong terwujudnya
harapan pemerintah terhadap masyarakat.
Rekruitmen dilakukan dengan melakukan kerjasama antara pihak
sekolah dan pihak Yayasan. Di sekolah semua pihak terkait melakukan rapat
untuk melakukan Analisa mengenai kebutuhan tenaga kerja yang
dibutuhkan. Setelah didapatkan sebuah hasil maka informasi tersebut
15
diberikan kepada Yayasan. Pihak Yayasan yang akan menyetujui atau
tidaknya mengenai Analisa yang telah dilakukan pihak sekolah. Jika
Yayasan setuju maka akan dilakukan sesuai dengan Analisa, apabila tidak
maka akan dikembalikan kepada sekolah untuk melakukan Analisa ulang.
Setelah itu biasanya Yayasan menyerahkan wewenangnya kepada sekolah
untuk melakukan orientasi, pembinaan dan penempatan bagi PTK yang baru
diterima.
3.1.2.3 Menempatkan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani
Sekolah fitrah insani berusaha memaksimalkan prinsip The right man
on the right job. Akan tetapi masih terjadi sedikit kendala yang memang
prinsip tersebut tidak terlaksana dengan sempurna. Seperti pengajar yang
memang tidak expert dibidangnya, tetapi sekolah mencarikan solusi
secepatnya seperti bimbingan professional. Penempatan dilakukan sesuai
dengan analisis yang dilakukan saat dilakukannya perencanaan, sehingga
hal tersebut telah di pikirkan sematang mungkin. Setelah penempatan
dilakukan selanjutnya PTK diberi waktu percobaan atau waktu magang
selama 50 hari.
Kesalahan penempatan biasanya terjadi karena memang dalam keadaan
darurat saja. Biasanya terjadi itu karena persoalan tidak ada pengajar yang
tersedia saat itu, sehingga diperlukan permutasian dari tenaga yang lain
yang tentunya diadakan pembinaan professional sehingga diharapkan
menjadi upaya penyesuaian. Tetapi biasanya hal tersebut langsung
ditangani.
Setelah lulus secara resmi maka sekolah menempatkan pegawai sesuai
dengan jenis dan jabatan pada posisi yang perlu di isi dari hasil rencana
rekruitmen, dan ada jangka waktu pemagangan masa waktu pemagangan 50
hari, setelah itu dilakukan penilaian serta diusulkan ke Yayasan untuk
memberikan informasi layak atau tidak, jika sudah maka dilakukan tindak
lanjut kegiatan yang lainnya.
16
3.1.2.4 Pembinaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu
organisasi di SMA Fitrah Insani
Fitrah Insani merupakan salah satu sekolah yang senantiasa
memerhatikan pembinaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu
organisasi. Seperti halnya dengan melakukan pengadaan workshop, selain
itu juga yang tak kalah penting yaitu berkaitan dengan pembinaan tentang
bagaimana cara penanganan apabila murid melakukan pelanggaranpelanggaran dalam proses kegiatan pembelajaran.
Ada tiga hal pembinaan yang diterapkan di SMA Fitrah Insani ini.
Pertama, pembinaan yang dilakukan satu kali dalam sepekan (halaqoh)
merupakan kewenagan sekolah. Kedua, pembinaan Profesional yang
dilakukan sebulan dua kali itu merupakan wewenang dari yayasan. Ketiga,
berkenaan dengan kegiatan Workshop yang merupakan wewenang dari
sekolah. Tak lupa Fitrah Insani juga telah mengupayakan mendatangkan
seorang konsultan yaitu Erwin Kurnia Wijaya untuk mengetahui sejauh
mana hasil pembinaan yang telah dilakuakan.
Pembinaan sendiri biasa dilakukan sekali dalam sepekan untuk
halaqoh bagi PTK yang ada di Fitrah Insani. Pembinaan ini sendiri sifatnya
berkelanjutan, yang mana setiap PTK diwajibkan mengikutinya. Hal ini bisa
terlihat dengan tidak adanya pemberlakuan istilah senior atau pun junior.
Hal ini bisa terlihat dengan tetap adanya kewajiban kepada seluruh PTK
untuk mengikuti kegiatan pembinaan baik itu senior ataupun junior.
Fitrah Insani sendiri berpandangan bahwasanya proses membina
yang baik harus diawali dengan halaqah yang memang pada dasarnya
bertujuan untuk memberikan kontrol terhadap perkembangan PTK itu
sendiri. Sehingga diharapkan dengan rutinnya pelaksanaan halaqah dalam
menghadirkan peningkatan kualitas terhadap diri PTK itu sendiri dan juga
kepada kualitas pendidikan di sekolah Fitrah Insani.
17
3.1.2.5 Sistem pengembangan karir PTK terhadap peningkatan
kinerja di SMA Fitrah Insani
Perlu diketahui dalam pengembangan karir PTK di Fitrah Insani
bersumber dari pihak yayasan itu sendiri. Namun tentu saja dalam hal
pengembangan karir PTK itu sendiri tak lepas dari campur tangan dari pihak
luar seperti contoh dalam hal pelatihan micro teaching dan lain-lain.
Di Fitrah Insani sendiri semua PTK yang ada mendapatkan kesempatan
dalam hal pengembangan karir. Namun, dalam hal pengembangan karir itu
sendiri tentu bergantung kepada masing-masing PTK itu sendiri. Karena
terkadang ada saja PTK yang sudah merasa cukup dengan pencapaian karir
mereka saat ini. Pengembangan PTK di Fitrah Insani sendiri kerap
dilakukan dalam kurun waktu dua periode, yang mana tiap periodenya itu
berlangsung selama 2 tahun.
Dalam menanggapi pernyataan yang menyatakan bahwa penyebab
pengembangan karir yang terus dilakukan namun tidak mampu mencapai
tujuan, Fitrah Insani beranggapan bahwasannya di sekolah ini kami berfikir
seharusnya setiap individu sudah tertanam dalam dirinya itu akhlak yang
baik. Sehingga ketika oleh pemerintah diberi insentifikasi seharusnya bisa
berbuat lebih dan tidak lalai. Sebagaimana yang telah dilakukan sekolah
Fitrah Insani. Pembinaan yang diharapkan berupa pembinaan yang dapat
membuat masing-masing individu PTK itu bisa taat dan sesuai dengan apa
yang diharapkan pada PTK seperti halnya tidak merokok, menjaga
pergaulan, dan memberikan uswah hasanah.
3.1.2.6 Sistem kesejahteraan dan penghargaan PTK dalam layanan
pendidikan di SMA Fitrah Insani
Dalam menyikapi pernyatakan yang menyatakan bahwa kemerosotan
akhlak anak di Indonesia akibat kurang sejahteranya para pendidik, Fitrah
Insani beranggapan bahwa hal itu tidak dapat di salahkan sebelahlah pihak
karena itu semua tergantung kembali kepada peserta didiknya itu sendiri.
Memang benar sekolah, ,masyarakat, dan lingkungan menjadi penentu
18
bagaimana akhlak peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Namun perlu
diketahui juga bahwasannya orang tua pun memberikan sumbangsih besar
terhadap pembentukan akhlak atau moral anak itu sendiri sehingga dalam
hal ini bukan perkara kesejahteran yang menjadi problematikanya. Akan
tetapi kurangnya kolaborasi antara pendidik dan orang tua. Dalam
penerapanya Fitrah Insani menerapkan hal-hal positif seperti halnya wali
kelas dan orang tua memiliki grup WhatsApp yang bertujuan saling
memberikan informasi tentang setiap kegiatan anak selama berada di
sekolah.
Fitrah
Insani
sendiri
merupakan
sekolah
yang
senantiasa
memperhatikan terkait penghargaan yang diberikan kepada PTK. Seperti hal
nya pemberian reward berupa sertifikat dari pihak yayasan kepada PTK
yang bisa menjadi teladan bagi PTK yang lain di Fitrah Insani. Selain itu
reward lain yang diberikan adalah berupa penghargaan kepada PTK yang
telah mengabdikan dirinya selama 5 tahun. Pihak sekolah dan juga yayasan
telah mengupayakan agar setiap PTK yang ada di Fitrah Insani senantiasa
mendapatkan upah yang layak selain dari apa yang mereka dapatkan dari
pemerintah.
3.1.2.7 Evaluasi kinerja PTK dalam pelaksanaan tugas pendidikan di
SMA Fitrah Insani
Fitrah Insani senantiasa melakukan evaluasi kinerja professional
dengan menggunakan supervisi. Dan perlu diketahui bahwa Fitrah Insani
sendiri kerap melaksanakan evaluasi kerja setiap tahun, setiap semester
bahkan setiap bulan juga dilakukan evaluasi pada saat halaqah di
laksanakan. Di Fitrah Insani yang mengevaluasi kinerja professional
sekolah, adalah pihak yayasan dengan cara murabbi setiap tanggal 25
memberikan laporan. Sama halnya dengan kepala sekolah yang membuat
laporan dengan dibantu wakasek dan diberikan kepada pihak yayasan.
Memperbaiki dan terus mengembangkan agar lebih baik lagi kedepannya.
19
3.1.2.8 Pemberhentian kinerja di SMA Fitrah Insani
Fitrah Insani sebenarnya jarang melakukan pemberhentian terhadap
PTK yang ada karena memang mereka awalnya telah diseleksi oleh pihak
sekolah maupun pihak yayasan. Akan tetapi pemberhentian itu akan
dilakukan ketika ada pelanggaran berat seperti halnya melakukan pergaulan
salah, merokok di tempat umum dan lain-lain setelah mereka mendapatkan
peringatan dari pihak sekolah maupun pihak yayasan. Selain itu juga ketika
PTK tidak mau dibina dan tidak mau mengikuti halaqah pihak sekolah dan
yayasan akan memberhentikannya.
Berkenaan dengan wewenang memberhentikan PTK, maka wewenang
untuk memberikan PTK ini adalah pihak yayasan yang mendapatkan
pengajuan dari sekolah. Pada hal pemberhentian PTK ini, Fitrah Insani
belum pernah ada yang diberhentikan akibat melanggar ketetapan yang ada
disekolah maupun pensiun karena memang guru gurunya masih muda dan
juga sekolah ini masih baru.
3.2 Pembahasan
Perencanaan
Dalam sub bab perencanaan pengelolaan tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan di SMA Fitrah Insani memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan
dengan sekolah yang lain, yaitu pada tahap perencanaan, dalam tahap perencanaan
ini pertama-tama yang mereka lakukan adalah memperhatikan jumlah pegawai
yang berada di Yayasan fitrah insani, menurut data tahun 2018-2019 fitrah insani
memiliki 450-500 pegawai. Untuk perencanaan yang matang mereka melakukan
Analisa terhadap kebutuhan PTK yang akan direkrut, biasanya mereka
membutuhkan sekitar 70 tenaga kerja setiap tahunnya, tetapi setiap tahun
dinamika itu terus bergerak, dan disesuaikan dengan kebutuhan PTK yang sering
berubah karena beberapa faktor, seperti cutinya para pegawai, kecelakaan yang
menyebabkan berhenti para pegawai, dan hal lain yang menyebabkan komposisi
rekrutan berubah, dan juga karena Fitrah Insani ini dalam proses pengembangan
Lembaga sehingga dinamika selalu berubah.
20
Dalam mengatasi kejenuhan dalam bekerja pihak Yayasan selalu melakukan
rotasi dan mutasi terhadap pegawai, agar setiap tahun merasakan suasana yang
baru, hal ini dilakukan dengan sekolah smk atau sekolah yang lainnya, yang
dimiliki fitrah insani, dan tentunya harus sesuai dengan bidang yang pekerja
kuasai. Mutasi dan rotasi ini dilakukan juga untuk mengantisipasi PPDB yang
tidak stabil, karena bisa saja dalam satu tahun yang mendaftar melebihi dari target
biasanya seperti tahun sebelumnya, sehingga diperlukan tenaga tambahan dan
biasanya tenaga tambahan ini dilakukan rotasi dan mutasi dari tenaga kerja yang
dimiliki yayasan, atau bahkan sampai melakukan rekruitmen yang sedikit lebih
banyak dibanding rekruitmen biasanya. Juga sebaliknya jika pendaftar tidak
memenuhi kuota kelas maka hal yang sama dilakukan.
Selanjutnya yayasan fitrah insani memiliki kualifikasi atau kesempatan
beberapa lowongan bagi para PTK yang ingin bergabung dengan Fitrah Insani
yaitu sebagai berikut: Guru Qur’an, Matematika, PKN, B. Indonesia, Fisika,
B.inggris, Olah raga, Seni Rupa, Bimbingan Konseling, Komputer, Security,
Pengasuh TPA, Perawat, PGSD.
Selain dari itu yang unik adalah mereka senantiasa melakukan pembinaan
kepada setiap PTK yang ada di sekolahnya. Pembinaan tersebut dilaksanakan
rutin setiap satu pekan sekali. Hal ini diharapkan bisa turut menunjang kualitas
tenaga pendidik itu sendiri. Sehingga diharapkan dapat memberikan implementasi
terbaik kepada peserta didik.
Selain itu tujuan lainnya yaitu sebagai sebuah sarana untuk menampung
aspirasi dan keluh kesah para PTK yang ada dalam menjalani pekerjaannya,
Pembinaan ini disebut halaqah, biasanya setiap PTK dibagi menjadi beberapa
kelompok, yang didalamnya diketuai oleh PTK senior yang memang memiliki
keilmuan yang lebih dibandingkan yang lainnya, adanya halaqah ini berpengaruh
terhadap kontribusi para PTK terhadap perencanaan agar terjadi saling tukar
informasi antar pegawai hal inilah biasanya dimanfaatkan sebagai salahsatu media
untuk menyampaikan aspirasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam proses analisis
perencanaan, membuat Analisa sekolah yang dilakukan dirapat menjadi lancar.
21
Sekolah SMA Fitrah Insani memiliki dua pusat wewenang yaitu pihak
sekolah dan pihak Yayasan. Kedua pihak ini berpengaruh besar terhadap
keberlangsungan pengelolaan sekolah. Termasuk kedalam sebuah perencanaan
dalam menyiapkan para PTK yang akan bekerja di sekolahnya. Biasanya waktu
yang digunakan untuk diadakannya rapat akbar ketika akan menghadapi tahun
ajaran baru. Diwaktu ini semuanya mulai dirapatkan semua pihak terkait ikut serta
didalamnya.
Tahap perencanaan itu merupakan fase yang terpenting, dalam menentukan
ketenagaan di sekolah. Tetapi tidak sedikit faktanya ketika dalam bekerja seharihari sering ditemukannya beberapa kendala, seperti misal terjadinya kecelakaan
yang menyebabkan para PTK meninggal dunia, atau seorang PTK wanita yang
mengambil cuti hamil dan lain sebagainya, hal ini membuat kekosongan PTK
dibidang yang ditinggalkan. Oleh karenanya apabila ada dalam keadaan darurat
maka yang pertama dilakukan adalah melakukan mutasi dari PTK atau biasanya
para guru SMK , guru yang melakukan magang untuk mengisi kekosongan yang
ada. Apabila tahap itu tidak dapat dijadikan solusi maka sekolah meminta kepada
Yayasan untuk dilakukan prekrutan dadakan sesuai dengan kekosongan tenaga
tersebut. Gambaran prosedur secara umum tentang perencanaan tenaga kerja
dilakukan melalui rapat akbar oleh pihak internal terlebih dahulu (sekolah). Jika
sudah ada keputusan dari perancangan tersebut maka selanjutnya dikembalikan
kepada pihak Yayasan untuk menindak lanjuti. Pihak yayasanlah yang memiliki
kebijakan penuh tentang semua aspek termasuk tenaga kerja. Sekolah hanya
sebatas mengolah dan menganalisa apa saja yang memang diperlukan oleh
sekolah, dan hasilnya akan diputuskan oleh Yayasan. Dalam menjalani
perencanaan agar menghasilkan perencanaan yang maksimal maka harus terjalin
hubungan yang baik antara sekolah dengan yayasan. Harus dikedepankan
transparansi sehingga dapat terjalin kerjasama yang baik. Karena pihak yayasan
tidak mengetahui keadaan dilapangan secara detail dan rinci, tetapi pihak sekolah
sangat mengetahui dengan detail permasalahan apa yang dijalani sekolah terdahap
perencanaan.
22
Rekruitmen
Dalam sub bab rekruitmen yang salah satu tujuannya untuk memilih calon
ketenagaan yang mampu menjawab tantangan bagaimana meningkatkan mutu
pendidikan melalui tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang di rekrut, agar
tujuan itu tercapai maka sekolah SMA Fitrah Insani memiliki beberapa kualifikasi
yang dapat menjawab tantangan tersebut dan untuk mewujudkan keinginan bahwa
tidak hanya murid saja yang harus berwawasan luas dan berakhlak baik. akan
tetapi mencakup murid, PTK, dan Masyarakat serta orangtua murid itu sendiri,
karena sekolah yakin bahwa keberhasilan Pendidikan karakter, tidak dapat
berjalan disatu sisi maka harus melibatkan segala aspek. Hal ini juga merupakan
kualifikasi yang memang dirasa dapat mendorong terwujudnya harapan
pemerintah terhadap masyarakat. Maka setiap calon PTK yang ingin bergabung
harus mentaati dan menjalankan kualifikasi sebagai berikut: Bagi calon PTK lakilaki berkomitmen untuk tidak merokok. Apabila merokok bagi Calon PTK sudah
pasti ditolak, dan apabila telah menjadi PTK lalu merokok akan di DropOut
Karena merokok merupakan pelanggaran berat. Sebagai Calon PTK seluruhnya
diharuskan berpenampilan sesuai dengan syariat, Setiap pergaulan dibatasi antara
PTK laki-laki dan perempuan. Nanti akan diberlakukan seperti guru perempuan
akan mengajar perempuan, begitupun sebaliknya. Setiap PTK diharuskan
mengikuti halaqah, hal ini dimaksudkan agar menjadikan PTK yang islami. Setiap
calon PTK diharuskan lancar membaca Al-Qur’an. Bagi Tenaga Pendidik
diwajibkan hafal 5 juz Al-Quran. Dan bagi Tenaga Kependidikan 1 juz Al-Qur’an.
Setiap PTK diharapkan dapat mengoprasikan teknologi yang dapat menopang
jalannya Pendidikan di sekolah. Selain kualifikasi khusus tentunya diharuskan
untuk memenuhi kualifikasi umum yang ditentukan seperti menguasai bidang
yang memang akan ditekuninya, mengirimkan berkas-berkas seperti CV pelamar,
ijazah, transkrip nilai, foto dan persyaratan lainnya.
Dalam sistem rekruitmen ini, sekolah fitrah insani memberikan kesempatan
terhadap input yang bersumber dari masyarakat yang memenuhi syarat baik yang
bersifat umum ataupun yang khusus seperti yang disebutkan diatas untuk
berkompetisi secara transparan dan akuntabel sebagaimana pengumuman yang
23
telah di publikasikan secara luas, yang dimaksudkan untuk mendapat calon
pegawai yang diharapkan
Semua wewenang berada ditangan Yayasan. Sehingga yang melakukan
seleksi adalah pihak Yayasan. Sekolah hanya sebatas menganalisa dan
memberikan rekomendasi Setelah didapatkan sebuah hasil maka informasi, maka
diberikan kepada Yayasan. Pihak Yayasan yang akan menyetujui atau tidaknya
mengenai Analisa yang telah dilakukan pihak sekolah. Jika Yayasan setuju maka
akan dilakukan sesuai dengan Analisa, apabila tidak maka akan dikembalikan
kepada sekolah untuk melakukan Analisa ulang. Setelah itu biasanya Yayasan
menyerahkan wewenangnya kepada sekolah untuk melakukan orientasi,
pembinaan dan penempatan bagi PTK yang baru diterima.
Seleksi dilakukan pihak yayasan ketika memperoleh data pelamar
berdasarkan kualifikasi yang dilakukan sebelumnya, dan menyerahkan ijazah
transkrip nilai terakhir. Selanjutnya pihak yayasan melakukan pengetesan melalui
bidang SDM seperti microteaching, pembacaan al-quran, psikotes, kesemaptaan
fisik, dan kompetensi lainnya yang dapat mendukung.
Adapun susunannya seperti :
1. seleksi Administrasi,
2. test tertulis keislaman, akademik dan IPTEK
3. test pembacaan al-qur’an dan tahfidz
4. Microteaching
5. Tahap penilaian segala aspek
6. Lebeling
Bagi yang lulus diterima dilanjutkan dengan pengondisian awal sebelum
mengajar biasanyya dibulan juli, lalu disalurkan untuk mengikuti rapat kerja, lalu
diserahkan kesekolah dan dilakukan penempatan.
Penempatan
Setelah tahapan seleksi dilakukan pada proses rekruitmen dan sudah
ditetapkan peserta yang dinyatakan lulus dengan resmi oleh sekolah dan yayasan,
maka unit atau instansi menempatkan pegawai sesuai jenis jabatan pada posisi
24
yang perlu di isi dari hasil rekruitmen yang sudah selesai dilaksanakan tersebut.
Penempatan pegawai merupakan salah satu program kegiatan yang dilakukan
untuk memenuhi kekurangan pegawai atau tambahan formasi terhadap sekolah
yang memerlukan sekaligus memenuhi kebutuhan untuk ketercapaian tujuan
organisasi.
Dalam mengelola PTK diperlukan sebuah ilmu dan pengetahuan secara
komprehensif disamping pengalaman yang memadai, lembaga harus dapat
menjadikan penempatan sebagai awal dan akhir keberhasilan suatu organisasi
dalam melakukan pembinaan sekaligus pengembangan karir. Karena jika salah
menempatkan
Bagaimanapun
berakibat
fatal
terhadap
sistem
pertimbangan-perttimbangan
serta
yang
sedang
kehati-hatian
berjalan.
dalam
menempatkan seseorang perlu dilakukan dan dapat diketahui sebelumnya apakah
cocok atau tidak seseorang menempati posisi pada suatu bidang pekerjaan dalam
lembaga tersebut, dan dalam hal ini berhubungan erat dengan analisis perencanaan
dan rekruitmen.
Penempatan pegawai sesuai jenis jabatan pada posisi yang perlu diisi.
Sekolah Fitrah Insani berusaha memaksimalkan prinsip The right man on the right
job, dimana seorang yang berkecimpung didalam pekerjaannya merupakan orang
yang telah professional. Akan tetapi masih ada sedikit kendala yang memang
prinsip tersebut tidak terlaksana dengan sempurna. Memang ada beberapa PTK
yang bekerja tidak sesuai dengan kemampuan mereka seperti pengajar yang
memang tidak expert dibidangnya, tetapi sekolah mencarikan solusi secepatnya
seperti bimbingan professional. Penempatan dilakukan sesuai dengan analisis
yang dilakukan saat dilakukannya perencanaan, sehingga hal tersebut telah di
pikirkan sematang mungkin. Setelah penempatan dilakukan, selanjutnya PTK
diberikan kesempatan waktu percobaan atau waktu magang dilakukan selama 50
hari. Setelah lulus secara resmi maka sekolah menempatkan pegawai sesuai
dengan jenis dan jabatan pada posisi yang perlu di isi. Kesalahan penempatan
biasanya terjadi karena memang dalam keadaan darurat saja. Biasanya terjadi itu
karena persoalan tidak ada pengajar yang tersedia saat itu, sehingga diperlukan
permutasian dari tenaga yang lain yang tentunya diadakan pembinaan professional
25
sehingga diharapkan menjadi upaya penyesuaian. Tetapi biasanya hal tersebut
langsung ditangani.
Pembinaan
Sub bab selanjutnya yaitu pembinaan PTK istilah pembinaan PTK sebagai
pemeliharaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu organisasi yang
merupakan program tindak lanjut dari hasil rekruitmen, penempatan dan
selanjutnya dilakukan pembinaan, yang memiliki tujuan untuk memberikan
layanan dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diemban sebagai jabatan
profesional yang merupakan tanggung jawab dan kewenangannya sesuai dengan
perencanaan pengadaan dan penempatan yang mengedepankan prinsip the right
man on the right job.
Dalam rangka peningkatan kualitas kompetensi terhadap pemberian layanan
proses kegiatan penunjang pendidikan. Fitrah Insani sendiri melakukan pengadaan
workshop seperti kurikulum baru, dalam workshop dijelaskan tentang cara
menghadapi sistem kurikulum yang baru, seperti penyesuaian materi yang
awalnya untuk kelas 12 menjadi untuk kelas 10, intinya workshop ini berfungsi
untuk pengenalan dan juga pembekalan jika kedepan ada hal yang baru dalam hal
diatas seperti kurikulum dan ang lainnya. Selain itu juga yang tak kalah penting
yaitu berkaitan dengan pembinaan tentang bagaimana cara penanganan apabila
murid melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam proses kegiatan pembelajaran.
Ada tiga hal pembinaan yang diterapkan di SMA Fitrah Insani ini. Pertama,
pembinaan yang dilakukan satu kali dalam sepekan (halaqoh) merupakan
kewenagan sekolah, yang didalam memuat kajian ayat, muhasabah, pembekalan
dalam mengajar keseharian sesuai dengan prinsip-prinsip al-qur’an dan as-sunnah
dan diberikan kebebasan kepada para PTK untuk mengemukakan aspirasi mereka,
dan yang terakhir dapat diadakannya evaluasi dilakukan setiap seminggu sekali.
Kedua, pembinaan Profesional yang dilakukan sebulan dua kali itu merupakan
wewenang dari yayasan, dalam pembinaan profesional ini para PTK diberikan
pembekalan terhadap profesi setiap PTK yang ada biasanya iadakan sebulan dua
kali setiap hari sabtu. Ketiga, berkenaan dengan kegiatan Workshop yang
merupakan wewenang dari sekolah.
26
Pembinaan ini sendiri sifatnya berkelanjutan, yang mana setiap PTK
diwajibkan mengikutinya. Hal ini bisa terlihat dengan tidak adanya pemberlakuan
istilah senior atau pun junior dengan adanya kewajiban bagi seluruh PTK untuk
mengikuti kegiatan pembinaan ini. Fitrah Insani berpandangan bahwasanya proses
membina yang baik harus diawali dengan halaqah yang memang pada dasarnya
bertujuan untuk memberikan kontrol terhadap perkembangan PTK itu sendiri.
Sehingga diharapkan dengan rutinnya pelaksanaan halaqah dalam menghadirkan
peningkatan kualitas terhadap diri PTK itu sendiri dan juga kepada kualitas
pendidikan di sekolah Fitrah Insani.
Pengembangan karier
Sub bab selanjutnya yaitu pengembangan karir PTK terhadap peningkatan
mutu kinerja dalam proses pendidikan, juga memberikan nilai tambah bagi
pendidik dan tenaga kependidikan atau yang bersangkutan, serta lembaga dan
pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Perlu diketahui dalam pengembangan karir PTK di Fitrah Insani bersumber
dari pihak yayasan itu sendiri. Namun tentu saja dalam hal pengembangan karir
PTK ini tak lepas dari campur tangan dari pihak luar seperti contoh dalam hal
pelatihan micro teaching dan lain-lain.
Di Fitrah Insani sendiri semua PTK yang ada mendapatkan kesempatan
dalam hal pengembangan karir. Namun, dalam hal pengembangan karir itu sendiri
tentu bergantung kepada masing-masing PTK-nya. Karena terkadang ada saja
PTK yang sudah seolah merasa cukup dengan pencapaian karir mereka saat ini.
Dalam orientasi pengembangan karir berorientasi pada aspek administrasi
yang memang mengharuskan PTK tersebut paham atas administrasi pengajaran.
Selain itu, juga pengembangan terhadap penguasaan komunikasi dan interaksi
serta penguasaan manajemen. Selain itu, pengembangan karir disini pun juga
memperhatikan
berkenaan
dengan
hal
struktural
dengan
mencoba
mengembangkan kompetensi PTK tersebut pada jabatan tertentu. Sehingga
membuat PTK tersebut memiliki kemampuan agar PTK tersebut tetap dapat
berkarir sesuai dengan perkembangan zaman.
27
Tujuan pengembangan ini sebenarnya sama dengan tujuan latihan pegawai
dimana kegiatan pengembangan ini ditunjukkan untuk memperbaiki efektivitas
kerja dengan cara memperbaiki pengetahuan, keterampilan dan sikap pegawai itu
sendiri dengan tugas-tugasnya.
Di sekolah Fitrah Insani setiap dua tahun sekali yayasan menempatkan
jenjang pangkat untuk masing masing PTK seperti Walikelas, Pemimpin bagian di
sekolah, atau bahkan sebagai kepala sekolah. Bursa calon kepemimpinan jika
telah mencapai lima tahun maka akan ditingkatkan tentunya tidak terlepas dari
kemampuan yang selama ini telah dilakukan dilima tahun terakhir.
Kesejahteraan
Sub bab selanjutnya yaitu kesejahteraan dan pemberian penghargaan kepada
PTK dalam memberikan layanan pendidikan. Sistem kesejahteraan dan
penghargaan bagi setiap ketenagaan berhak mendapatkan imbalan jasa baik
berupa finansial maupun non finansial. Finansial yang diberikan kepada seorang
pegawai baik berupa gaji maupun tunjangan sembagai penghasilan tambahan yang
dapat memenuhi kebutuhannya. Penghargaan yang diberikan kepada tenaga
pendidik dn tenaka kependidikan adalah terkait dengan tugas dan kewajiban yang
telah dilakukan dalam memberikan layanan pendidikan.
Fitrah Insani sendiri merupakan sekolah yang senantiasa memperhatikan
terkait penghargaan yang diberikan kepada PTK. Seperti hal nya pemberian
reward berupa sertifikat dan insentifikasi gaji dari pihak yayasan kepada PTK
yang bisa menjadi teladan bagi PTK yang lain. Pihak sekolah dan juga yayasan
selalu mengupayakan agar setiap PTK yang ada di Fitrah Insani senantiasa
mendapatkan upah yang layak selain dari apa yang mereka dapatkan dari
pemerintah. Namun dalam pemberian reward tentunya memiliki aturan tersendiri,
seperti pemberian reward terkait dengan hak dan kewajiban PTK itu sendiri
seperti status pegawaian itu sendiri. Di fitrah insani setiap pegawai memiliki
klasifikasi tersendiri, seperti pegawai yang magang, pegawai tahun satu, pegawai
tahun dua, pegawai tahun tiga sampai pegawai tahun 16.
28
Adapun yang menyebabkan perbedaan reward itu tergantung terhadap strata
kelulusan setiap lulusan tentunya akan berbeda terhadap rewardnya, selain itu
tentunya para PTK diberikan tunjangan transport, makan, kesehatan (BPJS),
Ketenaga kerjaan (BPJS)
Di fitrah insani juga ada program bagi mereka yang memiliki kinerja sangat
baik meliputi kehadiran, kemampuan, disebut PKKP program kinerja kualifikasi
pegawai. Reward biasanya diberikan selama dua bulan sekali, Dimana ada reward
biasanya ada yang disebut dengan punnishment yaitu jika para pegawai tidak
disiplin maka akan diberikan hukuman berupa pemotongan gaji atau bahkan
pemberhentian kerja.
Evaluasi Kinerja
Sub bab selanjutnya yaitu evaluasi kinerja yaitu capaian
kinerja yang
dilakukan oleh seseorang PTK dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam
kurun waktu tertentu. Dalam pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh atasan
langsung.
Evaluasi PTK dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya dalam rangka
memajukkan dan mengetahui beragam permasalahan yang terjadi dalam proses
sebelumnya untuk diperbaiki pada kegiatan berikutnya. Fitrah Insani sendiri
senantiasa melakukan evaluasi kinerja professional dengan menggunakan
supervisi.
Dan perlu diketahui bahwa Fitrah Insani sendiri kerap melaksanakan
evaluasi kerja setiap tahun, setiap semester bahkan setiap bulan juga dilakukan
evaluasi pada saat halaqah di laksanakan. Di Fitrah Insani yang mengevaluasi
kinerja professional sekolah, adalah pihak yayasan dengan cara murabbi setiap
tanggal 25 memberikan laporan. Sama halnya dengan kepala sekolah yang
membuat laporan dengan dibantu wakasek dan diberikan kepada pihak yayasan.
Memperbaiki dan terus mengembangkan agar lebih baik lagi kedepannya.
Adapun prosedur yang dilakukan oleh yayasan sendiri, setiap sebulan para
PTK di monitoring oleh kepala sekolah dibantu wakil kepala sekolah terhadap
tugas dan pelaksanaan kerjanya. Juga diperhatikan terhadap keterlambatan PTK
29
melalui finger print, pendataan ini rutin dilakukan karena berpengaruh terhadap
gaji dan reward yang akan diberikan yayasan kepada PTK.
Bentuk evaluasi ini dapat berupa supervisi yang dilakukan dua kali dalam
satu tahun, tidak hanya itu evaluasi ini juga dilakukan pada saat halaqah dan juga
rapat kerja setiap semester. Menurut yayasan evaluasi banyak dilakukan oleh
sekolah disana ada instrumen evaluasi. Segala tentang pembelajaran atau
kebijakan sekolah maka akan dibalikan kepada sekolah. Setelah adanya hasil
maka pihak sekolah mengembalikan wewenang kepada pihak yayasan.
Adapun keberhasilan dari evaluasi, cukup baik bahkan sesuai target dan
standar pelayanan yang dilaksanakan. Hanya saja dalam pelaksanaan biasanya
guru yang baru masuk terkendala pada aspek kompetensi guru maupun
pedagogiknya, karena kurangnya pengalaman dan belum siap terjuan kedunia
kerja.
Pemberhentian Kerja Pegawai
Sub bab yang terakhir yaitu pemberhentian (separation) atau disebut dengan
termination (penghentian) merupakan salah satu program dalam manajemen SDM
yang berkaitan dengan penetapan berakhirnya masa bakti PTK. Ada beberapa
alasan yang menyebabkan terjaadinya pemberhentian ini yang pertama PTK yang
mengundurkan diri, berpindah kerja maupun PTK yang meninggal dunia. Yang
kedua berdasarkan pertimbangan keputusan yayasan karena adanya masalah yang
dilakukan oleh PTK dan tidak dapat dimaklumkan.
Pemberhentian kerja pegawai di Fitrah Insani sendiri sebenarnya jarang
melakukan pemberhentian terhadap PTK yang ada karena memang mereka
awalnya telah diseleksi oleh pihak sekolah maupun pihak yayasan, seleksi ini
dimaksudkan agar para PTK berkomitmen dalam diri, sehingga tidak akan terjadi
pemberhentian. Akan tetapi pemberhentian itu akan dilakukan ketika ada
pelanggaran berat seperti halnya melakukan pergaulan yang salah, merokok di
tempat umum dan lain-lain. Hal itu pun tidak langsung ditindak dengan langsung
diberhentikan namun dengan diberikan peringatan terlebih dahulu. Ketika PTK
30
masih melakukan kesalahan dan tidak mau dibina, tidak mengikuti halaqah maka
pihak sekolah dan yayasan akan memberhentikannya.
Berkenaan dengan wewenang memberhentikan PTK, maka wewenang
spenuhnya adalah pihak yayasan yang mendapatkan pengajuan dari sekolah.
Namun selama 16 tahun berdiri belum pernah ada yang diberhentikan akibat
melanggar ketetapan yang ada disekolah maupun pensiun karena memang guru
gurunya masih muda dan juga sekolah ini masih baru. Namun ada dua orang OB
yang pensiun karena sudah tua. Mereka tetap diberikan pesangon dari pihak
yayasan itu sendiri.
3.3 Analisis Hasil Studi Lapangan
3.3.1 Perencanaan Pengelolaan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Dalam sistem perencanaan pengelolaan PTK yang
dijalankan SMA Fitrah Insani memiliki beberapa kekuatan. Seperti terjalinnya
kerjasama yang harmonis antar PTK yang ada di Sekolah Fitrah Insani.
Karena program Bimbingan halaqah mempererat hubungan ukuwah Islamiyah
sehingga tidak akan ada kecemburuan sosial jika suatu saat terjadinya
perbedaan perlakuan terhadap guru senior dan junior. Karena para guru senior
dijadikan pembimbing bagi guru junior. Dan karena halaqah ini setiap PTK
dapat mengeluarkan pendapat jika dalam menjalani pekerjaannya terjadi
hambatan-hambatan atau masalah yang berkaitan dengan PTK sehingga dapat
didiskusikan dalam forum halaqah, yang nantinya dapat diajukan kedalam
forum perencanaan saat proses Analisa. Adapun setiap PTK memiliki motivasi
yang tinggi, sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar menjadi
efektif dan efisien, karena setiap PTK diberikan kesempatan untuk
membangun sekolah menjadi lebih baik secara Bersama-sama.
Kelemahan (weaknesses): Adapun kelemahan yang memang akan dialami
oleh SMA Fitrah Insani jika menerapkan sistem seperti yang telah dijelaskan
dibagian penjelasan. Perencanaan melalui dua wewenang yang akan
menyebabkan ketidak bebasan pihak sekolah mengeksplorasi sistem di
sekolah karena ditakutkan pihak Yayasan tidak menyetujuinya. Seharusnya
wewenang dilakukannya perencanaan dikembalikan sepenuhnya kepada
31
sekolah, karena sekolahlah yang langsung terjun di lapangan dan mengetahui
kondisi yang sebenarnya. Sehingga sekolah dapat mengeksplor kekurangan
dan kelebihan sistem disekolahnya, untuk menuju sekolah yang lebih baik.
Adapun kelemahan yang lain seperti dalam perencanaan pemilihan PTK bisa
saja tidak sesuai kebutuhan dan terdapat unsur KKN. Solusinya adalah setiap
PTK diharapkan selalu menanamkan kembali sikap yang sesuai dengan tujuan
sekolahnya menerapkan sikap yang bercermin kepada al-Qur’an. Dan
dilakukan transparansi perencanaan yang berkaitan dengan perekrutan.
Peluang (opportunities): Dengan sistem perencanaan seperti dijelaskan
dalam bagian penjelasan, maka hal ini dapat membuka peluang para PTK
untuk berdemokrasi, menyampaikan aspirasi, dari yang jabatannya terendah
sampai tertinggi, melalui kegiatan halaqah yang dapat mendukung
keberlangsungan perencanaan pada saat waktunya nanti. Bisa juga nanti para
PTK tidak didengarkan suaranya oleh para pejabat sekolah, karena
keegoisannya. Solusinya kembali lagi kepada saat prekrutan harus ditekankan
bahwa para PTK harus berpegang teguh terhadap al-Quran sehingga tidak
akan terjadi hal yang demikian.
Ancaman (threats): Saat terjadinya kesalahan dalam menganalisis
kebutuhan untuk masing-masing jabatan dalam struktur organisasi, maka akan
terjadi ketidaksiapan. Mengingat pada tahap perencanaan ini juga, Fitrah
Insani tidak bisa mengukur secara sepihak akan tetapi mesti memperhatikan
penerimaan peserta didik baru karena dalam perencanaan ini pun, nantinya
pihak yayasan akan memberikan tugas kepada PTK baik berupa beban kerja
dan pendistribusian tenaga kerja.
Jumlah peneriamaan peserta didik baru yang tidak sesuai dengan apa yang
ditargetkan oleh pihak Fitrah Insani dapat menimbulkan perubahan dari
rencana yang telah disusun sebelumnya. Karena sejak pengembangan pada
tahun 2002 peserta didik yang ingin bersekolah di Fitrah Insani terus
mengalami dinamika yang turun naik. Sehingga perencanaan yang di susun
sebelumnya kepada tiap-tiap PTK yang ada di Fitrah Insani terkadang harus
32
menghadapai tantangan berupa penyesuaian terhadap jumlah peserta didik
yang didapatkan nantinya.
3.3.2 Rekrutmen PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Setiap guru yang direkrut dengan kualifikasi
seperti dijelaskan dalam penjelasan maka akan menjadikan PTK Fitrah Insani
memudahkan tercapainya tujuan Pendidikan berbasis al-Quran yang
notabenenya saat ini sedikit sekali sekolah-sekolah yang berbasis al-Quran
diluar pesantren yang murni. Tidak hanya murid saja yang dididik akan tetapi
seluruh aspek yang berkaitan dengan sekolah Fitrah Insani sehingga dapat
mewujudkan keinginan pemerintah menjadikan Bandung Religius. Sistem
Halaqah juga menjadi keunikan tersendiri, karena memang dinyatakan efektif
terhadap keberadaan pendidik yang baru masuk untuk mengenal sekolahnya
secara mendalam.
Kelemahan (weaknesses): Seleksi yang dilakukan oleh Yayasan
menjadikan beberapa kelemahan, seperti adanya KKN yang dilakukan, tidak
mengedepankan kualitas. Sehingga PTK tidak memiliki kompetensi yang di
inginkan sekolah, padahal sekolah telah melakukan analisis yang harusnya
Yayasan penuhi. Solusinya terjadinya transparansi antara pihak sekolah dan
pihak Yayasan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan prasangka yang buruk.
Sehingga dapat mencapai tujuan bersama-sama.
Peluang (opportunities): Dapat Membuka lowongan pekerjaan bagi para
PTK yang ingin bekerja dengan lingkungan yang syar’i. Selain itu dapat
menghadirkan kepercayaan dari wali murid kepada pihak sekolah dengan
menilik tenaga kerja yang ada di sekolah Fitrah Insani. Selanjutnya, banyak
yang berlomba menghafalkan al-Qur’an karena salah satu syarat menjadi guru
di SMA ini adalah hafal 5 juz. Tidak menutup kemungkinan bisa saja SMA
lain juga mengikutinya. (Rubah Sudut pandang)
Ancaman (threats): Akan terjadinya kesulitan atau perlu adanya
penyesuaian kualifikasi yang mesti dimiliki oleh PTK tersebut mengingat
33
cukup kompleksnya tuntutan kualifikasi yang harus dipenuhi bagi PTK yang
menginginkan untuk menjadi bagian dari sekolah Fitrah Insani.
3.3.3 Penempatan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Penempatan disesuaikan dengan perencanaan
sebelumnya. Jika tidak maka sekolah mencarikan solusi seperti mutasi atau
jika tidak ada maka perekrutan dadakan. Tentunya hal seperti diatas memiliki
kekuatan, yaitu kebutuhan siswa terpenuhi karena ketanggapan sekolah dalam
menyelesaikan
kekosongan
jabatan.
Bagi
yang
sesuai
dengan
profesionalitasnya maka hal ini dapat menjadikan siswa percaya kepada
gurunya, sehingga dapat meningkatkan semangat dalam belajar.
Kelemahan
(weaknesses):
Meskipun
mereka
telah
diberikan
pembekalan/bimbingan profesi, akan tetapi hal tersebut tidak akan maksimal
terhadap kemampuan yang dimilikinya jika dibandingkan dengan professional
yang memang dia ahli dalam bidang tersebut. Bahkan akan ada murid yang
kurang percaya terhadap gurunya karena dia mengajarkan ilmu yang tidak ia
kuasai, tidak seperti guru professional. Dalam hal ini sekolah harus bisa
mencari secepat mungkin guru professional dan terlepas dari Yayasan hanya
dalam keadaan darurat saja. Juga pihak Yayasan harus memaklumi jika
memang keadaannya seperti demikian.
Peluang (opportunities): Kebijakan penempatan berupa rotasi yang
dilakukan Fitrah Insani dapat memberikan peluang berupa pengalaman
sesungguhnya terhadap permasalah-permasalahan yang ada di setiap sekolah
Fitrah Insani.
Ancaman (threats): Kebijakan untuk menerapkan rotasi terhadap
penempatak PTK dapat menimbulkan permasalahan tersendiri seperti halnya
membuat PTK tersebut mesti beradaptasi lagi terhadap penempatan kerja yang
baru yang mana dalam penempatan baru tersebut tidak selaras dengan
kemampuan atau latar belakang penddikan yang ia miliki.
34
3.3.4 Pembinaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu organisasi
di SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Dalam upaya pembinaan terhadap PTK, yang
dilakukan oleh Fitrah Insani memiliki beberapa kekuatan diantaranya;
semakin bertambahnya kualitas kompetensi yang dimiliki oleh tiap-tiap PTK
yang mana hal tersebut merupakan hasil dari pembinaan yang berlangsung
secara berkelanjutan. Selain itu, adanya pembinaan ini juga, dapat dijadikan
sebagai ajang kontrol dan peningkatan pemahaman terhadap PTK yang ada.
Mengingat seperti yang telah duraikan dalam penjeasan di sekolah Fitrah
Insani sendiri memiliki tiga macam upaya pembinaan yang dihadirkan.
Kelemahan (weaknesses): program pembinaan PTK di Fitrah Insani ini
menggunakan sistem senioritas yang mana PTK yang sudah lama berkiprah di
Fitrah Insani membimbing PTK muda khususnya dalam hal halaqah. Hal ini
menjadi kekurangan mengingat seharusnya, pembina yang berkualitaslah yang
berhak memberikan bimbingan bukan hanya sebatas menjadi seorang senior
saja.
Peluang (opportunities): Dapat terjalin hubungan kerjasama dengan
berbagai pihak eksternal seperti instansi yang berkaitan dengan upaya
pembinaan terhadap PTK.
Ancaman (threats): dapat menimbiulkan kejenuhan serta terpangkasnya
waktu bagi PTK untuk mengeksplor diri mereka secara personal karena
dengan adanya pembinaan ini hanya dapat menuntut kebutuhan PTK sesuai
dengan kebutuhan sekolah Fitrah Insani.
3.3.5 Sistem pengembangan karir PTK terhadap peningkatan kinerja di
SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Dalam hal pengembangan karir PTK di Fitrah
Insani, senantiasa memperhatikan beberapa aspek seperti halnya aspek
fungsional yang dapat kita lihat dengan adanya pembinaan pada aspek
administrasi guru, penguasaan komunikasi dan interaksi antara peserta didik
dengan pendidik, serta pengembangan PTK terhadap pembinaan kurikulum.
35
Selain itu, pengembangan karir disini pun juga memperhatikan berkenaan
dengan hal struktural dengan mencoba mengembangkan kompetensi PTK
tersebut pada jabatan tertentu. Sehingga membuat PTK tersebut memiliki
kemampuan agar dapat berkarir sesuai dengan perkembangan zaman dan
kebutuhan jabatan atau pekerjaan.
Kelemahan (weaknesses): dalam hal pengembangan karir Fitrah Insani
belum mampu memberikan hal tersebut kepada seluruh PTK. Hal ini terlihat
dari setiap tahunnya selalu ada PTK yang masih mendaptakan ramedial
sehingga Fitrah Insani memerlukan sistem lain yang dapat menangani upaya
tersebut.
Peluang (opportunities): Dengan adanya pengembangan karir yang baik
di Fitrah Insani tentu saja memiliki potensi terhadap meningkatnya animo
masyarakat untuk senantiasa mempercayakan proses tumbuh berkembangnya
pendidikan anak pada pihak Fitrah Insani. Mengingat adanya pengembangan
karir yang jelas terhadap PTK yang ada disana
Ancaman (threats): Karena kuaifikasi yang dibutuhkan di Fitrah Insani
adalah S1, membuat sekolah Fitrah Insani ini sulit untuk berkembang karena
bedanya kualitas PTK itu sendiri.
3.3.6 Sistem kesejahteraan dan penghargaan PTK dalam layanan
pendidikan di SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Fitrah Insani merupakan sekolah yang senatiasa
memperhatikan hal yang berkenaan terhadap kesejahteraan dan penghargaan
PTK. Hal ini dapat terlihat dengan adanya penunjangan dan pemberian rewads
yang diberikan kepada PTK terlebih dalam hal ini berupa insentif dana bahkan
terkadang
dengan
pemberian
sertifikat
samapai
dengan
kenaikan
pangkat.Membuat PTK yang ada menjadi lebih disiplin dan bersemangat
dalam melaksanakan tugas yang mereka emban karena merasa dihargai ragam
jerih payah mereka dengan diberikannya penghargaan terbaik dari Fitrah
Insani.
36
Kelemahan (weaknesses): Masih adanya PTK yang memang tidak mau
memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh pihak yayasan terkait
dengan bentuk penghargaan kenaikan golongan dan lain-lain.
Peluang (opportunities): Membuat Fitrah Insani tidak akan kesulitan
dalam hal mendapatkan PTK karena dengan tingginya peluang kesejahteraan
dan penghargaan terhadap PTK di FI dapat membuat calon PTK saling
berebut untuk mendapatkan satu tempat di Fitrah Insani.
Ancaman (threats): Jika perhitungan dalam hal keuangan tidak tepat
maka akan berdampak kepada kesetabilan keuangan di Fitrah Insani yang
mana akan mengakibatkan kurangnya pembangunan seperti dalam hal fasilitas
dan yang lainnya karena hanya fokus pada kesejahteraan PTK saja. Sehingga
perlu adanya ketelitian dalam mengatur urusan kesejahteraan PTK ini.
3.3.7 Evaluasi kinerja PTK dalam pelaksanaan tugas pendidikan di SMA
Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): Dalam hal evaluasi kinerja PTK di Fitrah Insani
dilaksanakan setiap tahun, tiap semester, bahkan tiap bulan pada saat halaqoh
berlangsung. Evaluasi kinerja ini berpacu kepada instrumen yang dibuat oleh
pihak yayasan. Dalam hal kehadiran, setiap PTK yang hadir membuktikan
kehadirannya menggunakan finger print. Sehingga kehadiran PTK itu sendiri
dapat terpantau.
Kelemahan (weaknesses): Belum bisa menindak lanjuti terhadap
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh PTK secara tegas seperti
halnya ketidaksiplinan yang dilakukan oleh PTK hanya disikapi dengan
pemberian peringatan saja.
Peluang (opportunities): Fitrah Insani sendiri sering melakukan evaluasi
berupa peningkatan kualitas sekolah agar memiliki potensi terhadap
meningkatnya animo masyarakat untuk senantiasa mempercayakan proses
pendidikan anak pada sekolah Fitrah Insani. Mengingat sekolah ini sudah
sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat.
37
Ancaman (threats): Hadir dalam aspek komitmen dan juga kompetensi
yang mana hal ini tentu menjadi ancaman tersendiri terhadap proses evaluasi
bagi PTK karena pada hakikatnya yayasan memilki instrumen KBM. Akan
tetapi, kembali lagi hal tersebut kepada PTK yang bersangkutan selaku
pemberi layanan.
3.3.8 Pemberhentian kinerja di SMA Fitrah Insani
Kekuatan (strengths): dengan diadakannya pemberhentian terhadap PTK
di Fitrah Insani ini mengakibatkan porsi guru yang ada sesuai dengan
kebutuhan di sekolah Fitrah Insani. Selain itu bisa menjaga kestabilan
keungan yang ada di sekolah Fitrah Insani.
Kelemahan (weaknesses): Peluang (opportunities): Dengan di adakannya pemberhentian PTK ini
membuat para PTK lebih berhati-hati dan taat terhadap peraturan yang
diberlakukan oleh Fitrah Insani. Sehingga menjadi peluang untuk lebih
memajukan dan meningkatkan kualitas sekolah dan penghormatan terhadap
tat tertib yang berlaku.
Ancaman (threats): Adanya pemberhentian ini membuat pihak Fitrah
Insani bisa saja kehilangan guru yang profesional dan berkualitaas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Implikasi
4.3 Rekomendasi
32
DAFTAR PUSTAKA
Harususilo, Y. E. (2018). Mendikbud: Problem Pendidikan Saat Ini, Kurangnya
Keteladanan. Jakarta: Kompas.com.
Hidayati. (2014). Management Pendidik, Standar Pendidik, Tenaga Kependidikan,
dan Mutu Pendidikan . Al-Ta'lim, 42-44.
Mustari, M. (2014). Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan. Jakarta: PT Raja.
Primadhyta, S. (2018). Separuh Jumlah Guru Indonesia Masih Berstatus Honorer
K2. Indonesia: CNN.
Rugaiyah.
(2010).
Profesi
Kependidikan
dalam
Prespektif
Manajemen
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Saud, U. S. (2018). Bunga Rampai Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Saud, U. S. (2018). Bunga Rampai Administrasi Pendidikan Teori dan Praktik .
Bandung: Alfabeta.
Suryosubroto, B. (2014). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Tafsir, A. (2008). lmu Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya.
UPI, T. D. (2009). Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Yuliana, L. (2007). Buku Pegangan Kuliah Manajemen Tenaga Kependidikan.
Yogyakarta: Yogyakarta: FIP UNY.
33
LAMPIRAN
Foto Kegiatan
34
Instrumen Observasi
35
Download