MANAJEMEN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DI SMA IT FITHRAH INSANI LAPORAN OBSERVASI Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan dengan Dosen Pengampu Dr. H. Abubakar, M.Pd dan Muhammad Ajid Abdul Majid,M.Pd Disusun oleh : Rosid Wahidi 1700487 Roby Jaelani 1701129 Nining Khoerunnisa 1701259 Vina Khiznatul Aulia 1702976 Ade Nasep Sumardi 1703981 Syifa Nur Medisha 1705491 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2019 LEMBAR PENGESAHAN 1. Judul Makalah : Management Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Di Sma IT Fithrah Insani 2. Ketua Pembuat Makalah a. Nama Lengkap : Rosid Wahidi b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Alamat email : [email protected] 3. Anggota Kelompok Makalah : 5 Orang 4. Dosen Pembimbing a. Nama Lengkap dan Gelar : Muhammad Ajid Abdul Majid,M.Pd b. NIP :- c. Alamat Rumah :- d. No Tel./HP :Bandung, Maret 2019 Menyetujui, Dosen Pembimbing Ketua Pemakalah ( Muhammad Ajid Abdul Majid,M.Pd ) ( Rosid Wahidi ) Dosen Pengelolaan Pendidikan ( Dr. H. Abubakar, M.Pd ) i KATA PENGANTAR Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakatuh Alhamdulillāhirabbil’ālamīn, banyak nikmat yang Allāh berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allāh atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Ṣalawat dan Sallām semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muḥammad saw., kepada keluarganya, sahabatnya, dan sampai kepada kita selaku umatnya. Dalam penyusunannya, penyusun mengucapkan terimakasih kepada dosen yang telah memberikan dukungan, kasih dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penyusun berharap isi dari Laporan kami ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tugas laporan ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penyusun mengucapkan terimakasih, semoga hasil laporan ini bermanfaat. Bandung, Maret 2019 Penyusun iii DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... i KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Studi Lapangan ............................................................... 1 1.2 Tujuan Studi Lapangan ............................................................................ 2 1.3 Manfaat Studi Lapangan .......................................................................... 3 1.4 Lokasi dan Sumber Studi Lapangan ......................................................... 3 1.5 Pedoman Studi Lapangan ......................................................................... 3 1.6 Pembagian Tugas Personalia .................................................................... 3 BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................... 4 2.1 Pengertian Management ........................................................................... 4 2.2 Pengertian Pendidik dan Tenaga Kependidikkan ..................................... 4 2.3 Management Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Persfektif Islam 8 BAB III PEMBAHASAN HASIL STUDI LAPANGAN ................................ 11 3.1 Hasil Studi Lapangan ............................................................................. 11 3.1.1 Profil ................................................................................................... 11 3.1.2 Deskripsi Pedoman ............................................................................. 12 3.2 Pembahasan ............................................................................................ 19 3.3 Analisis Hasil Studi Lapangan ............................................................... 30 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN............................................................ 32 4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 32 iv 4.2 Implikasi ................................................................................................. 32 4.3 Rekomendasi .......................................................................................... 32 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 33 LAMPIRAN ......................................................................................................... 34 Foto Kegiatan .................................................................................................... 34 Instrumen Observasi .......................................................................................... 35 iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Studi Lapangan Sumber daya manusia adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan peranannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformative serta mampu mengelola dirinya sendiri termasuk potensi yang ada disekitarnya dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pendidikan sendiri, sumber daya manusia adalah sumber daya yang paling dominan dan yang menjadi penentu terwujudnya tujuan pendidikan yakni peranan pendidik dan tenaga kependidikan (Saud U. S., 2018). Tahun 2018, tepatnya pada bulan April, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indnesia melakukan perubahan Undang-Undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005. Dibentuklah 5 tim ahli. Dari hasil proses kerja tim ahli dan anggota Dewan Perwakilan Daerah itu ditemukan masalah-masalah guru, diantaranya menyangkut pemerataan. Tercatat bahwa ada 735,82 ribu guru bukan PNS di sekolah negeri, 798,2 ribu guru bukan PNS yang mengajar di swasta, 1,53 juta guru honores K2, dari jumlah keseluruhan sebanyak 3,2 juta orang. Dan saat ini Indonesia kekurangan guru berstatus Pegawai Negeri Sipil sebanyak 988.133 orang (Primadhyta, 2018). Sehubungan dengan tuntutan ke arah profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan, maka semakin dirasakannya desakan untuk peningkatan mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan yang telah menjadi komitmen pendidikan nasional. Untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana mengelola pendidik dan tenaga kependidikan (Hidayati, 2014). 1 2 Dan pada studi lapangan ini penulis tertarik untuk menganalisis mengenai manajemen pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani, meninjau pada kompetensi khusus yang di terapkan di SMA IT Fithrah Insani kepada para pendidik dan tenaga kependidikan yakni mereka di tuntut untuk memiliki semangat berdakwah melalui lembaga kependidikan,sehingga mereka memiliki manajemen khusus terhadap pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan di SMA IT Fithrah Insani. 1.2 Tujuan Studi Lapangan 1. Mengidentifikasi penentuan ketenagaan di SMA IT Fithrah Insani 2. Mengidentifikasi berapa kebutuhan tenaga pendidik dan kependidikan di SMA IT Fithrah Insani 3. Mengidentifikasi pemilihan calon ketenagaan yang mampu menjawab tantangan bagaimana meningkatkan mutu pendidikan melalui tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang di rekrut di SMA IT Fithrah Insani 4. Mengidentifikasi kekurangan pegawai atau tambahan formasi pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani 5. Menganalisis layanan dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diemban sebagai jabatan professional pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani 6. Menganalisis peningkatan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan serta kualitas pendidikan di SMA IT Fithrah Insani 7. Mengidentifikasi seberapa jauh penghargaan yang diberikan kepada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan terkait dengan tugas dan kewajiban yang telah dilakukan dalam memberikan layanan pendidikan di SMA IT Fithrah Insani 8. Menganalisis kinerja tenaga pendidik dan kependidikan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagaimana peraturan pemerintah yang dijadikan sebagai rujukan untuk menilai yaitu peraturan pemerintah no.46 tahun 2011 di SMA IT Fithrah Insani 9. Mengidentifikasi pemberhentian tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani 3 1.3 Manfaat Studi Lapangan 1. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai pendidik dan tenaga kependidikan 2. Mendapatkan gambaran nyata mengenai prakter teori managemen pendidik dan tenaga kependidikan yang dipelajari 3. Mendapatkan gambaran yang realistis mengenai penentuan ketenagaan di SMA IT Fithrah Insani 4. Mendapatkan informasi nyata mengenai jumlah kebutuhan tenaga pendidik dan kependidikan di SMA IT Fithrah Insani 5. Memperoleh gambaran calon pendidik dan tenaga kependidikan yang bermutu 6. Mendapatkan informasi nyata mengenai layanan dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diemban sebagai jabatan professional pendidik dan tenaga kependidikan di SMA IT Fithrah Insani 1.4 Lokasi dan Sumber Studi Lapangan 1. Lokasi : SMA Islam Terpadu Fithrah Insani Jl. Haji Gofur No.10B Tanimulya Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat 40552 2. Sumber Studi Lapangan : Ketua Yayasan Fithrah Insani Bid. SDM : Bapak Harsya Tafani Wakil Kepala SMA IT Fithrah Insani : Ibu Ariani Prasetyawati 1.5 Pedoman Studi Lapangan Terlampiran 1.6 Pembagian Tugas Personalia 1. Ade Nasep Sumardi : Mengurusi pembuatan surat pengajuan observasi dari prodi ke fakutas. Bertugas sebagai pewawancara dalam kegiatan observasi, dan bagian mengolah data hasil observasi yang akan di lampirkan dalam makalah (pengerjaan BAB III mengenai Pembahasan dan Analisis Lapangan). 4 2. Nining Khoerunisa : Mengurus surat observasi di bagian fakutas. Bertugas sebagai Notulen dalam kegiatan observasi, dan pengerjaan BAB II pada makalah. 3. Roby Jaelani : Bertugas sebagai dokumentasi dalam kegiatan observasi, dan bagian mengolah data hasil observasi yang akan di lampirkan dalam makalah (pengerjaan BAB III mengenai Pembahasan dan Analisis Lapangan). 4. Rosid Wahidi : Bertugas sebagai pewawancara dalam kegiatan observasi, dan bagian mengolah data hasil observasi yang akan di lampirkan dalam makalah (pengerjaan BAB III mengenai Pembahasan dan Analisis Lapangan). 5. Syifa Nur Medisha : Mengurus surat observasi di bagian fakutas. Bertugas sebagai dokumentasi dalam kegiatan observasi, dan pengerjaan BAB II pada makalah. 6. Vina Khiznatul Aulia : Mengurus surat observasi ke SMA IT Fitrah Insani sekaligus mengurus surat balasan bukti telah melaksanakan observasi. Bertugas sebagai Notulen dalam kegiatan observasi, dan pengerjaan BAB I pada makalah, BAB III mengenai Profil Sekolah, dan menyusun sistematika penulisan makalah dari mulai cover sampai lampiran. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Management Manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur/mengelola. Kata manage berasal dari bahasa Italia Maneggio yang di adopsi dari bahasa latin managiare, yang berasal dari kata manus yang artinya tangan. (Saud U. S., 2018, p. 178) Berikut merupakan makna dari manajemen pendidikan dari berbagai sudut pandang. 1. Manajemen pendidikan sebagai kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikann nasional 2. Manajemen pendidikan sebagai proses untuk mencapai dari tujuan pendidikan 3. Manajemen pendidikan merupakan suatu sistem 4. Manajemen pendidikan sebagai suatu upaya untuk mendaya gunakan sumber-sumber untuk mencapai tujuan pendidikan 5. Manajemen pendidikan sebagai suatu kepemimpinan manajemen 6. Manajemen pendidikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas komunikasi. (Suryosubroto, 2014, p. 15) Makna Manajemen Pendidikan. Pertama, manajemen pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai pendidikan. Seperti halnya kita ketahui tujuan pendidikan itu dimulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud. Kedua, manajemen pendidikan mengandung pengertian sebuah proses. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan dan penilaian. (Suryosubroto, 2014, p. 16). 2.2 Pengertian Pendidik dan Tenaga Kependidikkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah sebuah ‘profesi’ yang seringkali menjadi perdebatan karena perbedaan kedua istilah tersebut. Keduanya sangat 4 5 berkaitan erat dengan dunia pendidikan, namun lingkupnya berbeda. Pada Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Dan menurut Peraturan Pemerinth No.2 tahun 1992 tanggal 17 Juli 1992 tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Sementara Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (UPI, 2009, p. 230) Dengan begitu tenaga pendidik masuk dalam lingkup tenaga kependidikan yang cakupannya lebih luas. Hal ini telah dipertegas dalam Pasal 39 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yang menyatakan bahwa (1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan, dan (2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.29 tahun 2001 pasal 1 ayat (5) dan ayat (6) : (5) tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. (6) pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkuslifikasi sebagai guru,dosen,konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan. (Saud U. S., 2018, p. 180) 6 Tujuan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan berbeda dengan manajemen sumber daya manusia pada konteks bisnis, di dunia pendidikan tujuan manajemen SDM lebih mengarah pada pembangunan pendidikan yang bermutu, membentuk SDM yang handal, produktif, kreatif dan berprestasi. (UPI, 2009, p. 231) Pendidik dan Tenaga Kependidikan berhak memperoleh 1. Penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai 2. Penghargaan sesuai tugas dan prestasi kerja 3. Pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas 4. Perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual, dan 5. Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Dalam Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional no 20 tahun 2003 pasal 3 Tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang pendidikan, pustakawan, laboran, teknisi sumber belajar, dan menguji. Sementara Tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar, dan pelatih. Dengan begitu, tugas pendidik dan tenaga pendidik sudah jelas dalam undang-undang harus mencapai keberhasilan yang dirasakan peserta didiknya. Bukan hanya itu, administrasi, sarana prasarana juga harus mendukung dalam proses pembelajaran. Oleh karenanya tidak heran jika banyak tuntutan kepada pendidik dan tenaga pendidik untuk mencapai suatu keberhasilan demi mensukseskan pendidikan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dinyatakan bahwa pendidik harus memiliki kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Yuliana, 2007). Secara umum tenaga kependidikan dapat dibedakan menjadi lima kategori yaitu : 1. Dalam suatu lembaga pendidikan harus ada “Tenaga Pendidik” agar memenuhi syarat ideal suatu lembaga pendidikan 7 2. Setelah adanya tenaga pendidik adanya “Tenaga Fungsional Kependidikan” 3. Dengan adanya tenaga fungsional kependidikan, maka harus dilengkapi dengan “Tenaga Teknis Kependidikan” 4. Kemudian adanya “Tenaga Pengelola Satuan Pendidikan” 5. Dan yang terakhir adanya “Tenaga Administratif Staf Tata Usaha” (Yuliana, 2007, hal. 5). Perencanaan Tenaga Kependidikan. Arti dari perencanaan adalah proses peramalan, pengembangan, pengimpletasikan dan pengontrolan yang menjamin lembaga mempunyai kesesuaian jumlah pegawai, penempatan pegawai secara benar, waktu yang tepat secara ekonomis dan lebih bermanfaat. Lain hal dengan rekruitmen, rekuitmen tenaga kependidikan adalah pengadaan tenaga pegawai yang dimaksudkan untuk mengisi formasi yang lowong, memperoleh tenaga yang berkualitas, profesional, handal sesuai dengan tuntutan organisasi (Yuliana, 2007, hal. 6). Menurut PP no 13 tahun 2002 pengangkatan dan penempatan harus memiliki kualifikasi dan tingkat pendidikan yang ditentukan. Selain perencanaan dan rekuitmen, ada faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penempatam: 1. Senioritas dalam kepangkatan 2. Usia 3. Pendidikan dan Pelatihan ( Diklat ) Jabatan 4. Pengalaman (Yuliana, 2007, hal. 47). Dengan begitu perlunya pembinaan tenaga kependidikan agar kualitas pendidik maupun tenaga kependidikan lebih baik. Pembinaan tenaga kependidikan semua upaya yang dilakukan oleh lembaga untuk mempertahankan para pegawai agar tetap berada dilingkungan organisasi dan mengupayakan pula kedinamisan keterampilan, pengetahuan, serta sikapnya agar mutu kerjanya bisa tetap dipertahankan. Dalam proses berjalannya sistem pendidikan, juga mempunyai auran untuk pemberhentian pendidik atau tenaga pendidik itu sendiri. Pemberhentian Tenaga Kependidikan Akhir dari masa jabatan adalah pemberhentian masa jabatan. Proses pemberhentian Pegawai Negri sipil adalah 8 pemberhentian seorang pegawai yang mengakibatkan yang bersangkutan kehilangan statusnya sebagai pegawai (Yuliana, 2007, hal. 81). 2.3 Management Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Persfektif Islam Manajemen tenaga kependidikan merupakan penetapan norma, penatalaksanaan, standar, kesejahteraan prosedur, dan kegiatan yang pengangkatan, pemberhentian mencakup pembinaan, tenaga kependidikan sekolah agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mencapai tujuan sekolah. Manajemen tenaga kependidikan merupakan kegiatan yang mencakup penetapan norma, standar, prosedur, pengangkatan, pembinaan, penatalaksanaan, kesejahteraan dan pemberhentian tenaga kependidikan sekolah agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mencapai tujuan sekolah (Tafsir, 2008). Dalam ungkapan Moh. Fadhil al-Jamali, pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik, sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki manusia. Sedangkan dalam bahasa Marimba, pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban sebagai pendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan peserta didik. AlGhazali menukil beberapa teks hadits yang berkenaan dengan keutamaan seorang pendidik, dan berkesimpulan bahwa pendidik merupakan orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Selanjutnya Al-Ghazali berasumsi bahwa pendidik merupakan pancaran cahaya keilmuan dan keilmihannya. Apabila dunia tanpa ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab “pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah dan ilahiyah” (Tafsir, 2008). Pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik (Tafsir, 2008, hal. 74). Pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanat pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik dilegitimasi oleh agama, sementara yang menerima tanggung jawab dan amanat adalah setiap orang 9 dewasa. Ini berarti bahwa pendidik merupakan sifat yang lekat pada setiap orang karena tanggung jawabnya atas pendidikan (Tafsir, 2008). Pada konteks manajemen dalam perspektif Islam, pengorganisasian atau ( )التنظيمadalah penyusunan dan pengaturan bagian-bagian hingga menjadi suatu kesatuan. Pada konsep Islam, perencanaan atau planning adalah gambaran dari sesuatu kegiatan yang akan datang dengan waktu, metode tertentu. Sebagaimana Nabi telah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas, dan tuntas).” (HR. Thabrani). Dalam al-Qur’an Allah berfirman : Yang artinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8). Dalam proses manejemen terhadap program pendidikan yang akan dilaksanakan, khususnya dalam lembaga pendidikan Islam, maka prinsip perencanaan harus mencerminkan nilai-nilai keislaman yang bersumberkan pada Al-Qur’an dan hadis. Sebelumnya harus memahami apa itu manajemen tenaga kependidikan. Manajemen tenaga kependidikan (Mustari, 2014, hal. 213) merupakan kegiatan yang mencakup penetapan norma, standar, prosedur, pengangkatan, pembinaan, penatalaksanaan, kesejahteraan dan pemberhentian tenaga kependidikan sekolah agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mencapai tujuan sekolah. Dan pendapat lain, manajemen tenaga pendidik dan kependidikan adalah kegiatan mengelola personal pendidikan dalam melaksanakan tugastugas sesuai tugas dan fungsinya agar berjalan dengan efektif (Rugaiyah, 2010). Dalam persefektif Islam seorang tenaga kependidikan harus mempunyai keahlian dan ilmu sesuai dengan bidangnya, Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sebuah hadisnya: )ِإذَا ُو ِسدَ أاْل َ أم ُر ِإلَى َغي ِأر أ َ أه ِل ِه فَا أنت َِظ ِر السَّا َعةَ ( البخاري Artinya: Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah masa kehancuranya. (HR. Al-Bukhari dari Abi Hurairah). 10 Secara garis besar manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan Islam biasanya dikelompokkan menjadi dua kelompok; yaitu: a. Pegawai edukatif, yaitu pegawai yang bertangung jawab dalam kegiatan belajar-mengajar, baik langsung di dalam kelas menangani bidang studi tertentu, maupun yang tidak langsung sebagai petugas Bimbingan dan Penyuluhan. b. Pegawai non edukatif, yaitu pegawai yang membantu kelancaran kegiatan belajar-mengajar, sebagai petugas tata usaha dan penjaga/pesuruh. Lebih luasnya manajemen tenaga kependidikan Islam (guru dan personil) mencakup: 1) Perencanaan pegawai, adalah kegiatan yang dilakukan suatu persahaan untuk kebutuhan perusahaan dalam membantu terwujudnya tujuan. 2) Pengadaan pegawai (procurement), adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. 3) Pembinaan dan pengembangan pegawai (development), adalah proses peningkatan keterampilan teknis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan. 4) Promosi dan mutasi, adalah kegiatan yang sewaktu waktu dapat dilakukan jika terjadi peristiwa ada yang melanggar peraturan atau kebutuhan mendadak dan akan dimutasikan. 5) Pemberhentian pegawai (separation), adalah putusnya hubungan kerja sesorang dari suatu perusahaan. 6) Kompensasi (compensation), adalah pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan. 7) Penilaian pegawai, adalah suatu kegiatan untuk evaluasi untuk masingmasing karyawan Invalid source specified.. Mengenai kewajiban untuk membuat perencanaan yang teliti ini, banyak terdapat di dalam ayat Al-Qur’an, baik secara tegas maupun secara sindiran 11 (kinayah) agar sebelum mengambil sesuatu tindakan harus dibuat perencanaan. Salah satu ayat adalah: Artinya: “Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal”. (Qs. Al-Baqarah: 197). BAB III PEMBAHASAN HASIL STUDI LAPANGAN 3.1 Hasil Studi Lapangan 3.1.1 Profil Yayasan Fithrah Insani Bandung berdiri sejak tahun 2002. Sekolah ini sejak pertama kali berdiri senantiasa berusaha mewujudkan suatu pendidikan yang memadukan pendidikan keilmuan, karakter, dan keIslaman dengan tujuan menyeimbangkan antara pembinaan akal, jasad, dan ruh. Yayasan Fithrah Insani Bandung mengelola beberapa sekolah Islam terpadu ( SIT ) yang diantaranya SDIT FI 1, SDIT FI 2, SDIT FI 3, SMPIT FI 1, SMPIT FI 2, SMK Informatika FI serta SMAIT FI. SMA IT Fithrah Insani dibuka angkatan pertama pada tahun ajaran 2014/2015 dengan luas tanah 1000 m2. Kepemilikan SMA IT Fithrah Insani berada di bawah naungan yayasan,dengan status lembaga swasta. SK pendirian sekolah 421/5362/Disdikpora 2015, tanggal SK pendirian pada tanggal 20 Desember 2015, dengan SK izin operasional 421/5362/Disdikpora 2015 dan tanggal SK izin operasional pada tanggal 20 Desember 2015. Dalam proses pendidikannya, SMA IT Fithrah Insani Bandung diarahkan guna membentuk karakter peserta didik yang mengembangkan kecerdasan IQ,EQ, SQ, serta mengembangkan berbagai kreatifitas dalam proses pembelajaran sehingga terwujud suatu keselarasan dalam pembentukan karakter peserta didik. SMA IT Fithrah Insani memiliki 49 orang pendidik dan tenaga kependidikan, dengan jumlah siswa laki-laki sekitar 105 orang, dan siswa perempuan 143 orang dengan jumlah ruang kelas sebanyak 10 ruang kelas, memiliki 5 laboratorium, 1 perpustakaan dan 2 sanitasi siswa. 11 12 Visi SMA IT Fithrah Insani Bandung Menjadi lembaga pendidikan unggul dalam membina pribadi yang cerdas, mandiri, dan Islami Misi SMA IT Fithrah Insani Bandung a. Mendidik siwa/siswi memiliki dasar keilmuan yang baik dan siap melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dalam dan luar negeri b. Mendidik siswa/siswi agar memiliki akhlak Islami dan Mulia ( Jujur, disiplin, bertanggungjawab, berani, rajin dan santun ) c. Mendidik siswa/siswi agar memiliki keterampilan dan kemandirian dalam hidup d. Menumbuhkan pribadi qur’ani yang memiliki jiwa seni dan keterampilan komunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris Program Unggul SMA IT Fithrah Insani a. Tilawah dan Tahfidz Qur’an b. Pembinaan Keislaman ( Halaqah Tarbawiyah ) c. Pembinaan prestasi sains d. Pengembangan kemahiran bahasa asing e. Pengabdian pada masyarakat 3.1.2 Deskripsi Pedoman 3.1.2.1 Perencanaan Pengelolaan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani Fitrah insani memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan dengan sekolah yang lain, yaitu pada tahap perencanaan mereka senantiasa melakukan pembinaan kepada setiap PTK yang ada di sekolahnya. Pembinaan tersebut dilaksanakan rutin setiap satu pekan sekali. Hal ini diharapkan bisa turut menunjang kualitas tenaga pendidik itu sendiri. Sehingga diharapkan dapat memberikan implementasi terbaik kepada peserta didik. Selain itu tujuan lainnya yaitu sebagai sebuah sarana untuk menampung aspirasi dan keluh kesah yang ada dalam menjalani Pendidikan, hal inilah biasanya dimanfaatkan sebagai salahsatu media untuk 13 menyampaikan aspirasi sehingga dapat mempengaruhi kedalam analisis perencanaan perekrutan. Ada dua sumber kewenangan dalam hal penentuan perencanaan yaitu dari pihak sekolah adalah kepala sekolah dan dipihak lainnya adalah pihak Yayasan itu sendiri yang memiliki wewenang penuh terhadap segala kegiatan sekolah. Perencanaan yang terpusat biasanya dilaksanakan ketika akan menghadapi tahun ajaran baru. Diwaktu ini semuanya mulai dirapatkan semua pihak terkait ikut serta didalamnya. Tahap perencanaan itu merupakan fase yang terpenting, dalam menentukan ketenagaan di sekolah. Tetapi apabila ada dalam keadaan darurat maka yang pertama dilakukan adalah melakukan mutasi dari guru SMK atau guru yang melakukan magang untuk mengisi kekosongan yang ada. Apabila tahap itu tidak dapat dijadikan solusi maka sekolah meminta kepada Yayasan untuk dilakukan prekrutan dadakan sesuai dengan kekosongan tenaga tersebut. Gambaran prosedur secara umum tentang perencanaan tenaga kerja dilakukan melalui rapat akbar oleh pihak internal terlebih dahulu (sekolah). Jika sudah ada keputusan dari perancangan tersebut maka selanjutnya dikembalikan kepada pihak Yayasan untuk menindak lanjuti. Pihak yayasanlah yang memiliki kebijakan penuh tentang semua aspek termasuk tenaga kerja. Sekolah hanya sebatas mengolah dan menganalisa apa saja yang memang diperlukan oleh sekolah, dan hasilnya akan diputuskan oleh Yayasan. 3.1.2.2 Rekrutmen PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani Sekolah Fitrah Insani memiliki kualifikasi khusus bagi para calon PTK, diluar kualifikasi umum yang biasanya dilakukan oleh sekolah lain. Yaitu diantaranya : 1) Bagi calon PTK laki-laki berkomitmen untuk tidak merokok. Apabila merokok bagi Calon PTK sudah pasti ditolak, dan apabila telah menjadi 14 PTK lalu merokok akan di DropOut Karena merokok merupakan pelanggaran berat. 2) Sebagai Calon PTK seluruhnya diharuskan berpenampilan sesuai dengan syariat 3) Setiap pergaulan dibatasi antara PTK laki-laki dan perempuan. Nanti akan diberlakukan seperti guru perempuan akan mengajar perempuan, begitupun sebaliknya. 4) Setiap PTK diharuskan mengikuti halaqah, hal ini dimaksudkan agar menjadikan PTK yang islami 5) Setiap calon PTK diharuskan lancar membaca Al-Qur’an 6) Bagi Tenaga Pendidik diwajibkan hafal 5 juz Al-Quran. Dan bagi Tenaga Kependidikan 1 juz Al-Qur’an 7) Setiap PTK diharapkan dapat mengoprasikan teknologi yang dapat menopang jalannya Pendidikan di sekolah. Semua wewenang berada ditangan Yayasan. Sehingga yang melakukan seleksi adalah pihak Yayasan. Sekolah hanya sebatas memberikan rekomendasi, selebihnya keputusan diberikan kepada Yayasan. Apabila PTK meninggal, dan tidak ada yang bisa menggantikan (mutasi), maka akan dilakukan perekrutan dadakan apabila terjadi kekosongan tenaga kerja, itu juga harus berdasarkan wewenang yayasan. Di sekolah SMA fitrah insani memiliki sebuah keinginan bahwa tidak hanya murid saja yang harus berwawasan luas dan berakhlak baik. akan tetapi mencakup murid, PTK, dan Masyarakat serta orangtua murid itu sendiri, karena sekolah yakin bahwa keberhasilan Pendidikan karakter, tidak dapat berjalan disatu sisi maka harus melibatkan segala aspek. Hal ini juga merupakan kualifikasi yang memang dirasa dapat mendorong terwujudnya harapan pemerintah terhadap masyarakat. Rekruitmen dilakukan dengan melakukan kerjasama antara pihak sekolah dan pihak Yayasan. Di sekolah semua pihak terkait melakukan rapat untuk melakukan Analisa mengenai kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan. Setelah didapatkan sebuah hasil maka informasi tersebut 15 diberikan kepada Yayasan. Pihak Yayasan yang akan menyetujui atau tidaknya mengenai Analisa yang telah dilakukan pihak sekolah. Jika Yayasan setuju maka akan dilakukan sesuai dengan Analisa, apabila tidak maka akan dikembalikan kepada sekolah untuk melakukan Analisa ulang. Setelah itu biasanya Yayasan menyerahkan wewenangnya kepada sekolah untuk melakukan orientasi, pembinaan dan penempatan bagi PTK yang baru diterima. 3.1.2.3 Menempatkan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani Sekolah fitrah insani berusaha memaksimalkan prinsip The right man on the right job. Akan tetapi masih terjadi sedikit kendala yang memang prinsip tersebut tidak terlaksana dengan sempurna. Seperti pengajar yang memang tidak expert dibidangnya, tetapi sekolah mencarikan solusi secepatnya seperti bimbingan professional. Penempatan dilakukan sesuai dengan analisis yang dilakukan saat dilakukannya perencanaan, sehingga hal tersebut telah di pikirkan sematang mungkin. Setelah penempatan dilakukan selanjutnya PTK diberi waktu percobaan atau waktu magang selama 50 hari. Kesalahan penempatan biasanya terjadi karena memang dalam keadaan darurat saja. Biasanya terjadi itu karena persoalan tidak ada pengajar yang tersedia saat itu, sehingga diperlukan permutasian dari tenaga yang lain yang tentunya diadakan pembinaan professional sehingga diharapkan menjadi upaya penyesuaian. Tetapi biasanya hal tersebut langsung ditangani. Setelah lulus secara resmi maka sekolah menempatkan pegawai sesuai dengan jenis dan jabatan pada posisi yang perlu di isi dari hasil rencana rekruitmen, dan ada jangka waktu pemagangan masa waktu pemagangan 50 hari, setelah itu dilakukan penilaian serta diusulkan ke Yayasan untuk memberikan informasi layak atau tidak, jika sudah maka dilakukan tindak lanjut kegiatan yang lainnya. 16 3.1.2.4 Pembinaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu organisasi di SMA Fitrah Insani Fitrah Insani merupakan salah satu sekolah yang senantiasa memerhatikan pembinaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu organisasi. Seperti halnya dengan melakukan pengadaan workshop, selain itu juga yang tak kalah penting yaitu berkaitan dengan pembinaan tentang bagaimana cara penanganan apabila murid melakukan pelanggaranpelanggaran dalam proses kegiatan pembelajaran. Ada tiga hal pembinaan yang diterapkan di SMA Fitrah Insani ini. Pertama, pembinaan yang dilakukan satu kali dalam sepekan (halaqoh) merupakan kewenagan sekolah. Kedua, pembinaan Profesional yang dilakukan sebulan dua kali itu merupakan wewenang dari yayasan. Ketiga, berkenaan dengan kegiatan Workshop yang merupakan wewenang dari sekolah. Tak lupa Fitrah Insani juga telah mengupayakan mendatangkan seorang konsultan yaitu Erwin Kurnia Wijaya untuk mengetahui sejauh mana hasil pembinaan yang telah dilakuakan. Pembinaan sendiri biasa dilakukan sekali dalam sepekan untuk halaqoh bagi PTK yang ada di Fitrah Insani. Pembinaan ini sendiri sifatnya berkelanjutan, yang mana setiap PTK diwajibkan mengikutinya. Hal ini bisa terlihat dengan tidak adanya pemberlakuan istilah senior atau pun junior. Hal ini bisa terlihat dengan tetap adanya kewajiban kepada seluruh PTK untuk mengikuti kegiatan pembinaan baik itu senior ataupun junior. Fitrah Insani sendiri berpandangan bahwasanya proses membina yang baik harus diawali dengan halaqah yang memang pada dasarnya bertujuan untuk memberikan kontrol terhadap perkembangan PTK itu sendiri. Sehingga diharapkan dengan rutinnya pelaksanaan halaqah dalam menghadirkan peningkatan kualitas terhadap diri PTK itu sendiri dan juga kepada kualitas pendidikan di sekolah Fitrah Insani. 17 3.1.2.5 Sistem pengembangan karir PTK terhadap peningkatan kinerja di SMA Fitrah Insani Perlu diketahui dalam pengembangan karir PTK di Fitrah Insani bersumber dari pihak yayasan itu sendiri. Namun tentu saja dalam hal pengembangan karir PTK itu sendiri tak lepas dari campur tangan dari pihak luar seperti contoh dalam hal pelatihan micro teaching dan lain-lain. Di Fitrah Insani sendiri semua PTK yang ada mendapatkan kesempatan dalam hal pengembangan karir. Namun, dalam hal pengembangan karir itu sendiri tentu bergantung kepada masing-masing PTK itu sendiri. Karena terkadang ada saja PTK yang sudah merasa cukup dengan pencapaian karir mereka saat ini. Pengembangan PTK di Fitrah Insani sendiri kerap dilakukan dalam kurun waktu dua periode, yang mana tiap periodenya itu berlangsung selama 2 tahun. Dalam menanggapi pernyataan yang menyatakan bahwa penyebab pengembangan karir yang terus dilakukan namun tidak mampu mencapai tujuan, Fitrah Insani beranggapan bahwasannya di sekolah ini kami berfikir seharusnya setiap individu sudah tertanam dalam dirinya itu akhlak yang baik. Sehingga ketika oleh pemerintah diberi insentifikasi seharusnya bisa berbuat lebih dan tidak lalai. Sebagaimana yang telah dilakukan sekolah Fitrah Insani. Pembinaan yang diharapkan berupa pembinaan yang dapat membuat masing-masing individu PTK itu bisa taat dan sesuai dengan apa yang diharapkan pada PTK seperti halnya tidak merokok, menjaga pergaulan, dan memberikan uswah hasanah. 3.1.2.6 Sistem kesejahteraan dan penghargaan PTK dalam layanan pendidikan di SMA Fitrah Insani Dalam menyikapi pernyatakan yang menyatakan bahwa kemerosotan akhlak anak di Indonesia akibat kurang sejahteranya para pendidik, Fitrah Insani beranggapan bahwa hal itu tidak dapat di salahkan sebelahlah pihak karena itu semua tergantung kembali kepada peserta didiknya itu sendiri. Memang benar sekolah, ,masyarakat, dan lingkungan menjadi penentu 18 bagaimana akhlak peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Namun perlu diketahui juga bahwasannya orang tua pun memberikan sumbangsih besar terhadap pembentukan akhlak atau moral anak itu sendiri sehingga dalam hal ini bukan perkara kesejahteran yang menjadi problematikanya. Akan tetapi kurangnya kolaborasi antara pendidik dan orang tua. Dalam penerapanya Fitrah Insani menerapkan hal-hal positif seperti halnya wali kelas dan orang tua memiliki grup WhatsApp yang bertujuan saling memberikan informasi tentang setiap kegiatan anak selama berada di sekolah. Fitrah Insani sendiri merupakan sekolah yang senantiasa memperhatikan terkait penghargaan yang diberikan kepada PTK. Seperti hal nya pemberian reward berupa sertifikat dari pihak yayasan kepada PTK yang bisa menjadi teladan bagi PTK yang lain di Fitrah Insani. Selain itu reward lain yang diberikan adalah berupa penghargaan kepada PTK yang telah mengabdikan dirinya selama 5 tahun. Pihak sekolah dan juga yayasan telah mengupayakan agar setiap PTK yang ada di Fitrah Insani senantiasa mendapatkan upah yang layak selain dari apa yang mereka dapatkan dari pemerintah. 3.1.2.7 Evaluasi kinerja PTK dalam pelaksanaan tugas pendidikan di SMA Fitrah Insani Fitrah Insani senantiasa melakukan evaluasi kinerja professional dengan menggunakan supervisi. Dan perlu diketahui bahwa Fitrah Insani sendiri kerap melaksanakan evaluasi kerja setiap tahun, setiap semester bahkan setiap bulan juga dilakukan evaluasi pada saat halaqah di laksanakan. Di Fitrah Insani yang mengevaluasi kinerja professional sekolah, adalah pihak yayasan dengan cara murabbi setiap tanggal 25 memberikan laporan. Sama halnya dengan kepala sekolah yang membuat laporan dengan dibantu wakasek dan diberikan kepada pihak yayasan. Memperbaiki dan terus mengembangkan agar lebih baik lagi kedepannya. 19 3.1.2.8 Pemberhentian kinerja di SMA Fitrah Insani Fitrah Insani sebenarnya jarang melakukan pemberhentian terhadap PTK yang ada karena memang mereka awalnya telah diseleksi oleh pihak sekolah maupun pihak yayasan. Akan tetapi pemberhentian itu akan dilakukan ketika ada pelanggaran berat seperti halnya melakukan pergaulan salah, merokok di tempat umum dan lain-lain setelah mereka mendapatkan peringatan dari pihak sekolah maupun pihak yayasan. Selain itu juga ketika PTK tidak mau dibina dan tidak mau mengikuti halaqah pihak sekolah dan yayasan akan memberhentikannya. Berkenaan dengan wewenang memberhentikan PTK, maka wewenang untuk memberikan PTK ini adalah pihak yayasan yang mendapatkan pengajuan dari sekolah. Pada hal pemberhentian PTK ini, Fitrah Insani belum pernah ada yang diberhentikan akibat melanggar ketetapan yang ada disekolah maupun pensiun karena memang guru gurunya masih muda dan juga sekolah ini masih baru. 3.2 Pembahasan Perencanaan Dalam sub bab perencanaan pengelolaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di SMA Fitrah Insani memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan dengan sekolah yang lain, yaitu pada tahap perencanaan, dalam tahap perencanaan ini pertama-tama yang mereka lakukan adalah memperhatikan jumlah pegawai yang berada di Yayasan fitrah insani, menurut data tahun 2018-2019 fitrah insani memiliki 450-500 pegawai. Untuk perencanaan yang matang mereka melakukan Analisa terhadap kebutuhan PTK yang akan direkrut, biasanya mereka membutuhkan sekitar 70 tenaga kerja setiap tahunnya, tetapi setiap tahun dinamika itu terus bergerak, dan disesuaikan dengan kebutuhan PTK yang sering berubah karena beberapa faktor, seperti cutinya para pegawai, kecelakaan yang menyebabkan berhenti para pegawai, dan hal lain yang menyebabkan komposisi rekrutan berubah, dan juga karena Fitrah Insani ini dalam proses pengembangan Lembaga sehingga dinamika selalu berubah. 20 Dalam mengatasi kejenuhan dalam bekerja pihak Yayasan selalu melakukan rotasi dan mutasi terhadap pegawai, agar setiap tahun merasakan suasana yang baru, hal ini dilakukan dengan sekolah smk atau sekolah yang lainnya, yang dimiliki fitrah insani, dan tentunya harus sesuai dengan bidang yang pekerja kuasai. Mutasi dan rotasi ini dilakukan juga untuk mengantisipasi PPDB yang tidak stabil, karena bisa saja dalam satu tahun yang mendaftar melebihi dari target biasanya seperti tahun sebelumnya, sehingga diperlukan tenaga tambahan dan biasanya tenaga tambahan ini dilakukan rotasi dan mutasi dari tenaga kerja yang dimiliki yayasan, atau bahkan sampai melakukan rekruitmen yang sedikit lebih banyak dibanding rekruitmen biasanya. Juga sebaliknya jika pendaftar tidak memenuhi kuota kelas maka hal yang sama dilakukan. Selanjutnya yayasan fitrah insani memiliki kualifikasi atau kesempatan beberapa lowongan bagi para PTK yang ingin bergabung dengan Fitrah Insani yaitu sebagai berikut: Guru Qur’an, Matematika, PKN, B. Indonesia, Fisika, B.inggris, Olah raga, Seni Rupa, Bimbingan Konseling, Komputer, Security, Pengasuh TPA, Perawat, PGSD. Selain dari itu yang unik adalah mereka senantiasa melakukan pembinaan kepada setiap PTK yang ada di sekolahnya. Pembinaan tersebut dilaksanakan rutin setiap satu pekan sekali. Hal ini diharapkan bisa turut menunjang kualitas tenaga pendidik itu sendiri. Sehingga diharapkan dapat memberikan implementasi terbaik kepada peserta didik. Selain itu tujuan lainnya yaitu sebagai sebuah sarana untuk menampung aspirasi dan keluh kesah para PTK yang ada dalam menjalani pekerjaannya, Pembinaan ini disebut halaqah, biasanya setiap PTK dibagi menjadi beberapa kelompok, yang didalamnya diketuai oleh PTK senior yang memang memiliki keilmuan yang lebih dibandingkan yang lainnya, adanya halaqah ini berpengaruh terhadap kontribusi para PTK terhadap perencanaan agar terjadi saling tukar informasi antar pegawai hal inilah biasanya dimanfaatkan sebagai salahsatu media untuk menyampaikan aspirasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam proses analisis perencanaan, membuat Analisa sekolah yang dilakukan dirapat menjadi lancar. 21 Sekolah SMA Fitrah Insani memiliki dua pusat wewenang yaitu pihak sekolah dan pihak Yayasan. Kedua pihak ini berpengaruh besar terhadap keberlangsungan pengelolaan sekolah. Termasuk kedalam sebuah perencanaan dalam menyiapkan para PTK yang akan bekerja di sekolahnya. Biasanya waktu yang digunakan untuk diadakannya rapat akbar ketika akan menghadapi tahun ajaran baru. Diwaktu ini semuanya mulai dirapatkan semua pihak terkait ikut serta didalamnya. Tahap perencanaan itu merupakan fase yang terpenting, dalam menentukan ketenagaan di sekolah. Tetapi tidak sedikit faktanya ketika dalam bekerja seharihari sering ditemukannya beberapa kendala, seperti misal terjadinya kecelakaan yang menyebabkan para PTK meninggal dunia, atau seorang PTK wanita yang mengambil cuti hamil dan lain sebagainya, hal ini membuat kekosongan PTK dibidang yang ditinggalkan. Oleh karenanya apabila ada dalam keadaan darurat maka yang pertama dilakukan adalah melakukan mutasi dari PTK atau biasanya para guru SMK , guru yang melakukan magang untuk mengisi kekosongan yang ada. Apabila tahap itu tidak dapat dijadikan solusi maka sekolah meminta kepada Yayasan untuk dilakukan prekrutan dadakan sesuai dengan kekosongan tenaga tersebut. Gambaran prosedur secara umum tentang perencanaan tenaga kerja dilakukan melalui rapat akbar oleh pihak internal terlebih dahulu (sekolah). Jika sudah ada keputusan dari perancangan tersebut maka selanjutnya dikembalikan kepada pihak Yayasan untuk menindak lanjuti. Pihak yayasanlah yang memiliki kebijakan penuh tentang semua aspek termasuk tenaga kerja. Sekolah hanya sebatas mengolah dan menganalisa apa saja yang memang diperlukan oleh sekolah, dan hasilnya akan diputuskan oleh Yayasan. Dalam menjalani perencanaan agar menghasilkan perencanaan yang maksimal maka harus terjalin hubungan yang baik antara sekolah dengan yayasan. Harus dikedepankan transparansi sehingga dapat terjalin kerjasama yang baik. Karena pihak yayasan tidak mengetahui keadaan dilapangan secara detail dan rinci, tetapi pihak sekolah sangat mengetahui dengan detail permasalahan apa yang dijalani sekolah terdahap perencanaan. 22 Rekruitmen Dalam sub bab rekruitmen yang salah satu tujuannya untuk memilih calon ketenagaan yang mampu menjawab tantangan bagaimana meningkatkan mutu pendidikan melalui tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang di rekrut, agar tujuan itu tercapai maka sekolah SMA Fitrah Insani memiliki beberapa kualifikasi yang dapat menjawab tantangan tersebut dan untuk mewujudkan keinginan bahwa tidak hanya murid saja yang harus berwawasan luas dan berakhlak baik. akan tetapi mencakup murid, PTK, dan Masyarakat serta orangtua murid itu sendiri, karena sekolah yakin bahwa keberhasilan Pendidikan karakter, tidak dapat berjalan disatu sisi maka harus melibatkan segala aspek. Hal ini juga merupakan kualifikasi yang memang dirasa dapat mendorong terwujudnya harapan pemerintah terhadap masyarakat. Maka setiap calon PTK yang ingin bergabung harus mentaati dan menjalankan kualifikasi sebagai berikut: Bagi calon PTK lakilaki berkomitmen untuk tidak merokok. Apabila merokok bagi Calon PTK sudah pasti ditolak, dan apabila telah menjadi PTK lalu merokok akan di DropOut Karena merokok merupakan pelanggaran berat. Sebagai Calon PTK seluruhnya diharuskan berpenampilan sesuai dengan syariat, Setiap pergaulan dibatasi antara PTK laki-laki dan perempuan. Nanti akan diberlakukan seperti guru perempuan akan mengajar perempuan, begitupun sebaliknya. Setiap PTK diharuskan mengikuti halaqah, hal ini dimaksudkan agar menjadikan PTK yang islami. Setiap calon PTK diharuskan lancar membaca Al-Qur’an. Bagi Tenaga Pendidik diwajibkan hafal 5 juz Al-Quran. Dan bagi Tenaga Kependidikan 1 juz Al-Qur’an. Setiap PTK diharapkan dapat mengoprasikan teknologi yang dapat menopang jalannya Pendidikan di sekolah. Selain kualifikasi khusus tentunya diharuskan untuk memenuhi kualifikasi umum yang ditentukan seperti menguasai bidang yang memang akan ditekuninya, mengirimkan berkas-berkas seperti CV pelamar, ijazah, transkrip nilai, foto dan persyaratan lainnya. Dalam sistem rekruitmen ini, sekolah fitrah insani memberikan kesempatan terhadap input yang bersumber dari masyarakat yang memenuhi syarat baik yang bersifat umum ataupun yang khusus seperti yang disebutkan diatas untuk berkompetisi secara transparan dan akuntabel sebagaimana pengumuman yang 23 telah di publikasikan secara luas, yang dimaksudkan untuk mendapat calon pegawai yang diharapkan Semua wewenang berada ditangan Yayasan. Sehingga yang melakukan seleksi adalah pihak Yayasan. Sekolah hanya sebatas menganalisa dan memberikan rekomendasi Setelah didapatkan sebuah hasil maka informasi, maka diberikan kepada Yayasan. Pihak Yayasan yang akan menyetujui atau tidaknya mengenai Analisa yang telah dilakukan pihak sekolah. Jika Yayasan setuju maka akan dilakukan sesuai dengan Analisa, apabila tidak maka akan dikembalikan kepada sekolah untuk melakukan Analisa ulang. Setelah itu biasanya Yayasan menyerahkan wewenangnya kepada sekolah untuk melakukan orientasi, pembinaan dan penempatan bagi PTK yang baru diterima. Seleksi dilakukan pihak yayasan ketika memperoleh data pelamar berdasarkan kualifikasi yang dilakukan sebelumnya, dan menyerahkan ijazah transkrip nilai terakhir. Selanjutnya pihak yayasan melakukan pengetesan melalui bidang SDM seperti microteaching, pembacaan al-quran, psikotes, kesemaptaan fisik, dan kompetensi lainnya yang dapat mendukung. Adapun susunannya seperti : 1. seleksi Administrasi, 2. test tertulis keislaman, akademik dan IPTEK 3. test pembacaan al-qur’an dan tahfidz 4. Microteaching 5. Tahap penilaian segala aspek 6. Lebeling Bagi yang lulus diterima dilanjutkan dengan pengondisian awal sebelum mengajar biasanyya dibulan juli, lalu disalurkan untuk mengikuti rapat kerja, lalu diserahkan kesekolah dan dilakukan penempatan. Penempatan Setelah tahapan seleksi dilakukan pada proses rekruitmen dan sudah ditetapkan peserta yang dinyatakan lulus dengan resmi oleh sekolah dan yayasan, maka unit atau instansi menempatkan pegawai sesuai jenis jabatan pada posisi 24 yang perlu di isi dari hasil rekruitmen yang sudah selesai dilaksanakan tersebut. Penempatan pegawai merupakan salah satu program kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kekurangan pegawai atau tambahan formasi terhadap sekolah yang memerlukan sekaligus memenuhi kebutuhan untuk ketercapaian tujuan organisasi. Dalam mengelola PTK diperlukan sebuah ilmu dan pengetahuan secara komprehensif disamping pengalaman yang memadai, lembaga harus dapat menjadikan penempatan sebagai awal dan akhir keberhasilan suatu organisasi dalam melakukan pembinaan sekaligus pengembangan karir. Karena jika salah menempatkan Bagaimanapun berakibat fatal terhadap sistem pertimbangan-perttimbangan serta yang sedang kehati-hatian berjalan. dalam menempatkan seseorang perlu dilakukan dan dapat diketahui sebelumnya apakah cocok atau tidak seseorang menempati posisi pada suatu bidang pekerjaan dalam lembaga tersebut, dan dalam hal ini berhubungan erat dengan analisis perencanaan dan rekruitmen. Penempatan pegawai sesuai jenis jabatan pada posisi yang perlu diisi. Sekolah Fitrah Insani berusaha memaksimalkan prinsip The right man on the right job, dimana seorang yang berkecimpung didalam pekerjaannya merupakan orang yang telah professional. Akan tetapi masih ada sedikit kendala yang memang prinsip tersebut tidak terlaksana dengan sempurna. Memang ada beberapa PTK yang bekerja tidak sesuai dengan kemampuan mereka seperti pengajar yang memang tidak expert dibidangnya, tetapi sekolah mencarikan solusi secepatnya seperti bimbingan professional. Penempatan dilakukan sesuai dengan analisis yang dilakukan saat dilakukannya perencanaan, sehingga hal tersebut telah di pikirkan sematang mungkin. Setelah penempatan dilakukan, selanjutnya PTK diberikan kesempatan waktu percobaan atau waktu magang dilakukan selama 50 hari. Setelah lulus secara resmi maka sekolah menempatkan pegawai sesuai dengan jenis dan jabatan pada posisi yang perlu di isi. Kesalahan penempatan biasanya terjadi karena memang dalam keadaan darurat saja. Biasanya terjadi itu karena persoalan tidak ada pengajar yang tersedia saat itu, sehingga diperlukan permutasian dari tenaga yang lain yang tentunya diadakan pembinaan professional 25 sehingga diharapkan menjadi upaya penyesuaian. Tetapi biasanya hal tersebut langsung ditangani. Pembinaan Sub bab selanjutnya yaitu pembinaan PTK istilah pembinaan PTK sebagai pemeliharaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu organisasi yang merupakan program tindak lanjut dari hasil rekruitmen, penempatan dan selanjutnya dilakukan pembinaan, yang memiliki tujuan untuk memberikan layanan dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diemban sebagai jabatan profesional yang merupakan tanggung jawab dan kewenangannya sesuai dengan perencanaan pengadaan dan penempatan yang mengedepankan prinsip the right man on the right job. Dalam rangka peningkatan kualitas kompetensi terhadap pemberian layanan proses kegiatan penunjang pendidikan. Fitrah Insani sendiri melakukan pengadaan workshop seperti kurikulum baru, dalam workshop dijelaskan tentang cara menghadapi sistem kurikulum yang baru, seperti penyesuaian materi yang awalnya untuk kelas 12 menjadi untuk kelas 10, intinya workshop ini berfungsi untuk pengenalan dan juga pembekalan jika kedepan ada hal yang baru dalam hal diatas seperti kurikulum dan ang lainnya. Selain itu juga yang tak kalah penting yaitu berkaitan dengan pembinaan tentang bagaimana cara penanganan apabila murid melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam proses kegiatan pembelajaran. Ada tiga hal pembinaan yang diterapkan di SMA Fitrah Insani ini. Pertama, pembinaan yang dilakukan satu kali dalam sepekan (halaqoh) merupakan kewenagan sekolah, yang didalam memuat kajian ayat, muhasabah, pembekalan dalam mengajar keseharian sesuai dengan prinsip-prinsip al-qur’an dan as-sunnah dan diberikan kebebasan kepada para PTK untuk mengemukakan aspirasi mereka, dan yang terakhir dapat diadakannya evaluasi dilakukan setiap seminggu sekali. Kedua, pembinaan Profesional yang dilakukan sebulan dua kali itu merupakan wewenang dari yayasan, dalam pembinaan profesional ini para PTK diberikan pembekalan terhadap profesi setiap PTK yang ada biasanya iadakan sebulan dua kali setiap hari sabtu. Ketiga, berkenaan dengan kegiatan Workshop yang merupakan wewenang dari sekolah. 26 Pembinaan ini sendiri sifatnya berkelanjutan, yang mana setiap PTK diwajibkan mengikutinya. Hal ini bisa terlihat dengan tidak adanya pemberlakuan istilah senior atau pun junior dengan adanya kewajiban bagi seluruh PTK untuk mengikuti kegiatan pembinaan ini. Fitrah Insani berpandangan bahwasanya proses membina yang baik harus diawali dengan halaqah yang memang pada dasarnya bertujuan untuk memberikan kontrol terhadap perkembangan PTK itu sendiri. Sehingga diharapkan dengan rutinnya pelaksanaan halaqah dalam menghadirkan peningkatan kualitas terhadap diri PTK itu sendiri dan juga kepada kualitas pendidikan di sekolah Fitrah Insani. Pengembangan karier Sub bab selanjutnya yaitu pengembangan karir PTK terhadap peningkatan mutu kinerja dalam proses pendidikan, juga memberikan nilai tambah bagi pendidik dan tenaga kependidikan atau yang bersangkutan, serta lembaga dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Perlu diketahui dalam pengembangan karir PTK di Fitrah Insani bersumber dari pihak yayasan itu sendiri. Namun tentu saja dalam hal pengembangan karir PTK ini tak lepas dari campur tangan dari pihak luar seperti contoh dalam hal pelatihan micro teaching dan lain-lain. Di Fitrah Insani sendiri semua PTK yang ada mendapatkan kesempatan dalam hal pengembangan karir. Namun, dalam hal pengembangan karir itu sendiri tentu bergantung kepada masing-masing PTK-nya. Karena terkadang ada saja PTK yang sudah seolah merasa cukup dengan pencapaian karir mereka saat ini. Dalam orientasi pengembangan karir berorientasi pada aspek administrasi yang memang mengharuskan PTK tersebut paham atas administrasi pengajaran. Selain itu, juga pengembangan terhadap penguasaan komunikasi dan interaksi serta penguasaan manajemen. Selain itu, pengembangan karir disini pun juga memperhatikan berkenaan dengan hal struktural dengan mencoba mengembangkan kompetensi PTK tersebut pada jabatan tertentu. Sehingga membuat PTK tersebut memiliki kemampuan agar PTK tersebut tetap dapat berkarir sesuai dengan perkembangan zaman. 27 Tujuan pengembangan ini sebenarnya sama dengan tujuan latihan pegawai dimana kegiatan pengembangan ini ditunjukkan untuk memperbaiki efektivitas kerja dengan cara memperbaiki pengetahuan, keterampilan dan sikap pegawai itu sendiri dengan tugas-tugasnya. Di sekolah Fitrah Insani setiap dua tahun sekali yayasan menempatkan jenjang pangkat untuk masing masing PTK seperti Walikelas, Pemimpin bagian di sekolah, atau bahkan sebagai kepala sekolah. Bursa calon kepemimpinan jika telah mencapai lima tahun maka akan ditingkatkan tentunya tidak terlepas dari kemampuan yang selama ini telah dilakukan dilima tahun terakhir. Kesejahteraan Sub bab selanjutnya yaitu kesejahteraan dan pemberian penghargaan kepada PTK dalam memberikan layanan pendidikan. Sistem kesejahteraan dan penghargaan bagi setiap ketenagaan berhak mendapatkan imbalan jasa baik berupa finansial maupun non finansial. Finansial yang diberikan kepada seorang pegawai baik berupa gaji maupun tunjangan sembagai penghasilan tambahan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Penghargaan yang diberikan kepada tenaga pendidik dn tenaka kependidikan adalah terkait dengan tugas dan kewajiban yang telah dilakukan dalam memberikan layanan pendidikan. Fitrah Insani sendiri merupakan sekolah yang senantiasa memperhatikan terkait penghargaan yang diberikan kepada PTK. Seperti hal nya pemberian reward berupa sertifikat dan insentifikasi gaji dari pihak yayasan kepada PTK yang bisa menjadi teladan bagi PTK yang lain. Pihak sekolah dan juga yayasan selalu mengupayakan agar setiap PTK yang ada di Fitrah Insani senantiasa mendapatkan upah yang layak selain dari apa yang mereka dapatkan dari pemerintah. Namun dalam pemberian reward tentunya memiliki aturan tersendiri, seperti pemberian reward terkait dengan hak dan kewajiban PTK itu sendiri seperti status pegawaian itu sendiri. Di fitrah insani setiap pegawai memiliki klasifikasi tersendiri, seperti pegawai yang magang, pegawai tahun satu, pegawai tahun dua, pegawai tahun tiga sampai pegawai tahun 16. 28 Adapun yang menyebabkan perbedaan reward itu tergantung terhadap strata kelulusan setiap lulusan tentunya akan berbeda terhadap rewardnya, selain itu tentunya para PTK diberikan tunjangan transport, makan, kesehatan (BPJS), Ketenaga kerjaan (BPJS) Di fitrah insani juga ada program bagi mereka yang memiliki kinerja sangat baik meliputi kehadiran, kemampuan, disebut PKKP program kinerja kualifikasi pegawai. Reward biasanya diberikan selama dua bulan sekali, Dimana ada reward biasanya ada yang disebut dengan punnishment yaitu jika para pegawai tidak disiplin maka akan diberikan hukuman berupa pemotongan gaji atau bahkan pemberhentian kerja. Evaluasi Kinerja Sub bab selanjutnya yaitu evaluasi kinerja yaitu capaian kinerja yang dilakukan oleh seseorang PTK dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam kurun waktu tertentu. Dalam pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh atasan langsung. Evaluasi PTK dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya dalam rangka memajukkan dan mengetahui beragam permasalahan yang terjadi dalam proses sebelumnya untuk diperbaiki pada kegiatan berikutnya. Fitrah Insani sendiri senantiasa melakukan evaluasi kinerja professional dengan menggunakan supervisi. Dan perlu diketahui bahwa Fitrah Insani sendiri kerap melaksanakan evaluasi kerja setiap tahun, setiap semester bahkan setiap bulan juga dilakukan evaluasi pada saat halaqah di laksanakan. Di Fitrah Insani yang mengevaluasi kinerja professional sekolah, adalah pihak yayasan dengan cara murabbi setiap tanggal 25 memberikan laporan. Sama halnya dengan kepala sekolah yang membuat laporan dengan dibantu wakasek dan diberikan kepada pihak yayasan. Memperbaiki dan terus mengembangkan agar lebih baik lagi kedepannya. Adapun prosedur yang dilakukan oleh yayasan sendiri, setiap sebulan para PTK di monitoring oleh kepala sekolah dibantu wakil kepala sekolah terhadap tugas dan pelaksanaan kerjanya. Juga diperhatikan terhadap keterlambatan PTK 29 melalui finger print, pendataan ini rutin dilakukan karena berpengaruh terhadap gaji dan reward yang akan diberikan yayasan kepada PTK. Bentuk evaluasi ini dapat berupa supervisi yang dilakukan dua kali dalam satu tahun, tidak hanya itu evaluasi ini juga dilakukan pada saat halaqah dan juga rapat kerja setiap semester. Menurut yayasan evaluasi banyak dilakukan oleh sekolah disana ada instrumen evaluasi. Segala tentang pembelajaran atau kebijakan sekolah maka akan dibalikan kepada sekolah. Setelah adanya hasil maka pihak sekolah mengembalikan wewenang kepada pihak yayasan. Adapun keberhasilan dari evaluasi, cukup baik bahkan sesuai target dan standar pelayanan yang dilaksanakan. Hanya saja dalam pelaksanaan biasanya guru yang baru masuk terkendala pada aspek kompetensi guru maupun pedagogiknya, karena kurangnya pengalaman dan belum siap terjuan kedunia kerja. Pemberhentian Kerja Pegawai Sub bab yang terakhir yaitu pemberhentian (separation) atau disebut dengan termination (penghentian) merupakan salah satu program dalam manajemen SDM yang berkaitan dengan penetapan berakhirnya masa bakti PTK. Ada beberapa alasan yang menyebabkan terjaadinya pemberhentian ini yang pertama PTK yang mengundurkan diri, berpindah kerja maupun PTK yang meninggal dunia. Yang kedua berdasarkan pertimbangan keputusan yayasan karena adanya masalah yang dilakukan oleh PTK dan tidak dapat dimaklumkan. Pemberhentian kerja pegawai di Fitrah Insani sendiri sebenarnya jarang melakukan pemberhentian terhadap PTK yang ada karena memang mereka awalnya telah diseleksi oleh pihak sekolah maupun pihak yayasan, seleksi ini dimaksudkan agar para PTK berkomitmen dalam diri, sehingga tidak akan terjadi pemberhentian. Akan tetapi pemberhentian itu akan dilakukan ketika ada pelanggaran berat seperti halnya melakukan pergaulan yang salah, merokok di tempat umum dan lain-lain. Hal itu pun tidak langsung ditindak dengan langsung diberhentikan namun dengan diberikan peringatan terlebih dahulu. Ketika PTK 30 masih melakukan kesalahan dan tidak mau dibina, tidak mengikuti halaqah maka pihak sekolah dan yayasan akan memberhentikannya. Berkenaan dengan wewenang memberhentikan PTK, maka wewenang spenuhnya adalah pihak yayasan yang mendapatkan pengajuan dari sekolah. Namun selama 16 tahun berdiri belum pernah ada yang diberhentikan akibat melanggar ketetapan yang ada disekolah maupun pensiun karena memang guru gurunya masih muda dan juga sekolah ini masih baru. Namun ada dua orang OB yang pensiun karena sudah tua. Mereka tetap diberikan pesangon dari pihak yayasan itu sendiri. 3.3 Analisis Hasil Studi Lapangan 3.3.1 Perencanaan Pengelolaan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Dalam sistem perencanaan pengelolaan PTK yang dijalankan SMA Fitrah Insani memiliki beberapa kekuatan. Seperti terjalinnya kerjasama yang harmonis antar PTK yang ada di Sekolah Fitrah Insani. Karena program Bimbingan halaqah mempererat hubungan ukuwah Islamiyah sehingga tidak akan ada kecemburuan sosial jika suatu saat terjadinya perbedaan perlakuan terhadap guru senior dan junior. Karena para guru senior dijadikan pembimbing bagi guru junior. Dan karena halaqah ini setiap PTK dapat mengeluarkan pendapat jika dalam menjalani pekerjaannya terjadi hambatan-hambatan atau masalah yang berkaitan dengan PTK sehingga dapat didiskusikan dalam forum halaqah, yang nantinya dapat diajukan kedalam forum perencanaan saat proses Analisa. Adapun setiap PTK memiliki motivasi yang tinggi, sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar menjadi efektif dan efisien, karena setiap PTK diberikan kesempatan untuk membangun sekolah menjadi lebih baik secara Bersama-sama. Kelemahan (weaknesses): Adapun kelemahan yang memang akan dialami oleh SMA Fitrah Insani jika menerapkan sistem seperti yang telah dijelaskan dibagian penjelasan. Perencanaan melalui dua wewenang yang akan menyebabkan ketidak bebasan pihak sekolah mengeksplorasi sistem di sekolah karena ditakutkan pihak Yayasan tidak menyetujuinya. Seharusnya wewenang dilakukannya perencanaan dikembalikan sepenuhnya kepada 31 sekolah, karena sekolahlah yang langsung terjun di lapangan dan mengetahui kondisi yang sebenarnya. Sehingga sekolah dapat mengeksplor kekurangan dan kelebihan sistem disekolahnya, untuk menuju sekolah yang lebih baik. Adapun kelemahan yang lain seperti dalam perencanaan pemilihan PTK bisa saja tidak sesuai kebutuhan dan terdapat unsur KKN. Solusinya adalah setiap PTK diharapkan selalu menanamkan kembali sikap yang sesuai dengan tujuan sekolahnya menerapkan sikap yang bercermin kepada al-Qur’an. Dan dilakukan transparansi perencanaan yang berkaitan dengan perekrutan. Peluang (opportunities): Dengan sistem perencanaan seperti dijelaskan dalam bagian penjelasan, maka hal ini dapat membuka peluang para PTK untuk berdemokrasi, menyampaikan aspirasi, dari yang jabatannya terendah sampai tertinggi, melalui kegiatan halaqah yang dapat mendukung keberlangsungan perencanaan pada saat waktunya nanti. Bisa juga nanti para PTK tidak didengarkan suaranya oleh para pejabat sekolah, karena keegoisannya. Solusinya kembali lagi kepada saat prekrutan harus ditekankan bahwa para PTK harus berpegang teguh terhadap al-Quran sehingga tidak akan terjadi hal yang demikian. Ancaman (threats): Saat terjadinya kesalahan dalam menganalisis kebutuhan untuk masing-masing jabatan dalam struktur organisasi, maka akan terjadi ketidaksiapan. Mengingat pada tahap perencanaan ini juga, Fitrah Insani tidak bisa mengukur secara sepihak akan tetapi mesti memperhatikan penerimaan peserta didik baru karena dalam perencanaan ini pun, nantinya pihak yayasan akan memberikan tugas kepada PTK baik berupa beban kerja dan pendistribusian tenaga kerja. Jumlah peneriamaan peserta didik baru yang tidak sesuai dengan apa yang ditargetkan oleh pihak Fitrah Insani dapat menimbulkan perubahan dari rencana yang telah disusun sebelumnya. Karena sejak pengembangan pada tahun 2002 peserta didik yang ingin bersekolah di Fitrah Insani terus mengalami dinamika yang turun naik. Sehingga perencanaan yang di susun sebelumnya kepada tiap-tiap PTK yang ada di Fitrah Insani terkadang harus 32 menghadapai tantangan berupa penyesuaian terhadap jumlah peserta didik yang didapatkan nantinya. 3.3.2 Rekrutmen PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Setiap guru yang direkrut dengan kualifikasi seperti dijelaskan dalam penjelasan maka akan menjadikan PTK Fitrah Insani memudahkan tercapainya tujuan Pendidikan berbasis al-Quran yang notabenenya saat ini sedikit sekali sekolah-sekolah yang berbasis al-Quran diluar pesantren yang murni. Tidak hanya murid saja yang dididik akan tetapi seluruh aspek yang berkaitan dengan sekolah Fitrah Insani sehingga dapat mewujudkan keinginan pemerintah menjadikan Bandung Religius. Sistem Halaqah juga menjadi keunikan tersendiri, karena memang dinyatakan efektif terhadap keberadaan pendidik yang baru masuk untuk mengenal sekolahnya secara mendalam. Kelemahan (weaknesses): Seleksi yang dilakukan oleh Yayasan menjadikan beberapa kelemahan, seperti adanya KKN yang dilakukan, tidak mengedepankan kualitas. Sehingga PTK tidak memiliki kompetensi yang di inginkan sekolah, padahal sekolah telah melakukan analisis yang harusnya Yayasan penuhi. Solusinya terjadinya transparansi antara pihak sekolah dan pihak Yayasan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan prasangka yang buruk. Sehingga dapat mencapai tujuan bersama-sama. Peluang (opportunities): Dapat Membuka lowongan pekerjaan bagi para PTK yang ingin bekerja dengan lingkungan yang syar’i. Selain itu dapat menghadirkan kepercayaan dari wali murid kepada pihak sekolah dengan menilik tenaga kerja yang ada di sekolah Fitrah Insani. Selanjutnya, banyak yang berlomba menghafalkan al-Qur’an karena salah satu syarat menjadi guru di SMA ini adalah hafal 5 juz. Tidak menutup kemungkinan bisa saja SMA lain juga mengikutinya. (Rubah Sudut pandang) Ancaman (threats): Akan terjadinya kesulitan atau perlu adanya penyesuaian kualifikasi yang mesti dimiliki oleh PTK tersebut mengingat 33 cukup kompleksnya tuntutan kualifikasi yang harus dipenuhi bagi PTK yang menginginkan untuk menjadi bagian dari sekolah Fitrah Insani. 3.3.3 Penempatan PTK yang dilakukan di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Penempatan disesuaikan dengan perencanaan sebelumnya. Jika tidak maka sekolah mencarikan solusi seperti mutasi atau jika tidak ada maka perekrutan dadakan. Tentunya hal seperti diatas memiliki kekuatan, yaitu kebutuhan siswa terpenuhi karena ketanggapan sekolah dalam menyelesaikan kekosongan jabatan. Bagi yang sesuai dengan profesionalitasnya maka hal ini dapat menjadikan siswa percaya kepada gurunya, sehingga dapat meningkatkan semangat dalam belajar. Kelemahan (weaknesses): Meskipun mereka telah diberikan pembekalan/bimbingan profesi, akan tetapi hal tersebut tidak akan maksimal terhadap kemampuan yang dimilikinya jika dibandingkan dengan professional yang memang dia ahli dalam bidang tersebut. Bahkan akan ada murid yang kurang percaya terhadap gurunya karena dia mengajarkan ilmu yang tidak ia kuasai, tidak seperti guru professional. Dalam hal ini sekolah harus bisa mencari secepat mungkin guru professional dan terlepas dari Yayasan hanya dalam keadaan darurat saja. Juga pihak Yayasan harus memaklumi jika memang keadaannya seperti demikian. Peluang (opportunities): Kebijakan penempatan berupa rotasi yang dilakukan Fitrah Insani dapat memberikan peluang berupa pengalaman sesungguhnya terhadap permasalah-permasalahan yang ada di setiap sekolah Fitrah Insani. Ancaman (threats): Kebijakan untuk menerapkan rotasi terhadap penempatak PTK dapat menimbulkan permasalahan tersendiri seperti halnya membuat PTK tersebut mesti beradaptasi lagi terhadap penempatan kerja yang baru yang mana dalam penempatan baru tersebut tidak selaras dengan kemampuan atau latar belakang penddikan yang ia miliki. 34 3.3.4 Pembinaan terhadap keberadaan ketenagaan dalam suatu organisasi di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Dalam upaya pembinaan terhadap PTK, yang dilakukan oleh Fitrah Insani memiliki beberapa kekuatan diantaranya; semakin bertambahnya kualitas kompetensi yang dimiliki oleh tiap-tiap PTK yang mana hal tersebut merupakan hasil dari pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan. Selain itu, adanya pembinaan ini juga, dapat dijadikan sebagai ajang kontrol dan peningkatan pemahaman terhadap PTK yang ada. Mengingat seperti yang telah duraikan dalam penjeasan di sekolah Fitrah Insani sendiri memiliki tiga macam upaya pembinaan yang dihadirkan. Kelemahan (weaknesses): program pembinaan PTK di Fitrah Insani ini menggunakan sistem senioritas yang mana PTK yang sudah lama berkiprah di Fitrah Insani membimbing PTK muda khususnya dalam hal halaqah. Hal ini menjadi kekurangan mengingat seharusnya, pembina yang berkualitaslah yang berhak memberikan bimbingan bukan hanya sebatas menjadi seorang senior saja. Peluang (opportunities): Dapat terjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak eksternal seperti instansi yang berkaitan dengan upaya pembinaan terhadap PTK. Ancaman (threats): dapat menimbiulkan kejenuhan serta terpangkasnya waktu bagi PTK untuk mengeksplor diri mereka secara personal karena dengan adanya pembinaan ini hanya dapat menuntut kebutuhan PTK sesuai dengan kebutuhan sekolah Fitrah Insani. 3.3.5 Sistem pengembangan karir PTK terhadap peningkatan kinerja di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Dalam hal pengembangan karir PTK di Fitrah Insani, senantiasa memperhatikan beberapa aspek seperti halnya aspek fungsional yang dapat kita lihat dengan adanya pembinaan pada aspek administrasi guru, penguasaan komunikasi dan interaksi antara peserta didik dengan pendidik, serta pengembangan PTK terhadap pembinaan kurikulum. 35 Selain itu, pengembangan karir disini pun juga memperhatikan berkenaan dengan hal struktural dengan mencoba mengembangkan kompetensi PTK tersebut pada jabatan tertentu. Sehingga membuat PTK tersebut memiliki kemampuan agar dapat berkarir sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan jabatan atau pekerjaan. Kelemahan (weaknesses): dalam hal pengembangan karir Fitrah Insani belum mampu memberikan hal tersebut kepada seluruh PTK. Hal ini terlihat dari setiap tahunnya selalu ada PTK yang masih mendaptakan ramedial sehingga Fitrah Insani memerlukan sistem lain yang dapat menangani upaya tersebut. Peluang (opportunities): Dengan adanya pengembangan karir yang baik di Fitrah Insani tentu saja memiliki potensi terhadap meningkatnya animo masyarakat untuk senantiasa mempercayakan proses tumbuh berkembangnya pendidikan anak pada pihak Fitrah Insani. Mengingat adanya pengembangan karir yang jelas terhadap PTK yang ada disana Ancaman (threats): Karena kuaifikasi yang dibutuhkan di Fitrah Insani adalah S1, membuat sekolah Fitrah Insani ini sulit untuk berkembang karena bedanya kualitas PTK itu sendiri. 3.3.6 Sistem kesejahteraan dan penghargaan PTK dalam layanan pendidikan di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Fitrah Insani merupakan sekolah yang senatiasa memperhatikan hal yang berkenaan terhadap kesejahteraan dan penghargaan PTK. Hal ini dapat terlihat dengan adanya penunjangan dan pemberian rewads yang diberikan kepada PTK terlebih dalam hal ini berupa insentif dana bahkan terkadang dengan pemberian sertifikat samapai dengan kenaikan pangkat.Membuat PTK yang ada menjadi lebih disiplin dan bersemangat dalam melaksanakan tugas yang mereka emban karena merasa dihargai ragam jerih payah mereka dengan diberikannya penghargaan terbaik dari Fitrah Insani. 36 Kelemahan (weaknesses): Masih adanya PTK yang memang tidak mau memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh pihak yayasan terkait dengan bentuk penghargaan kenaikan golongan dan lain-lain. Peluang (opportunities): Membuat Fitrah Insani tidak akan kesulitan dalam hal mendapatkan PTK karena dengan tingginya peluang kesejahteraan dan penghargaan terhadap PTK di FI dapat membuat calon PTK saling berebut untuk mendapatkan satu tempat di Fitrah Insani. Ancaman (threats): Jika perhitungan dalam hal keuangan tidak tepat maka akan berdampak kepada kesetabilan keuangan di Fitrah Insani yang mana akan mengakibatkan kurangnya pembangunan seperti dalam hal fasilitas dan yang lainnya karena hanya fokus pada kesejahteraan PTK saja. Sehingga perlu adanya ketelitian dalam mengatur urusan kesejahteraan PTK ini. 3.3.7 Evaluasi kinerja PTK dalam pelaksanaan tugas pendidikan di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): Dalam hal evaluasi kinerja PTK di Fitrah Insani dilaksanakan setiap tahun, tiap semester, bahkan tiap bulan pada saat halaqoh berlangsung. Evaluasi kinerja ini berpacu kepada instrumen yang dibuat oleh pihak yayasan. Dalam hal kehadiran, setiap PTK yang hadir membuktikan kehadirannya menggunakan finger print. Sehingga kehadiran PTK itu sendiri dapat terpantau. Kelemahan (weaknesses): Belum bisa menindak lanjuti terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh PTK secara tegas seperti halnya ketidaksiplinan yang dilakukan oleh PTK hanya disikapi dengan pemberian peringatan saja. Peluang (opportunities): Fitrah Insani sendiri sering melakukan evaluasi berupa peningkatan kualitas sekolah agar memiliki potensi terhadap meningkatnya animo masyarakat untuk senantiasa mempercayakan proses pendidikan anak pada sekolah Fitrah Insani. Mengingat sekolah ini sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. 37 Ancaman (threats): Hadir dalam aspek komitmen dan juga kompetensi yang mana hal ini tentu menjadi ancaman tersendiri terhadap proses evaluasi bagi PTK karena pada hakikatnya yayasan memilki instrumen KBM. Akan tetapi, kembali lagi hal tersebut kepada PTK yang bersangkutan selaku pemberi layanan. 3.3.8 Pemberhentian kinerja di SMA Fitrah Insani Kekuatan (strengths): dengan diadakannya pemberhentian terhadap PTK di Fitrah Insani ini mengakibatkan porsi guru yang ada sesuai dengan kebutuhan di sekolah Fitrah Insani. Selain itu bisa menjaga kestabilan keungan yang ada di sekolah Fitrah Insani. Kelemahan (weaknesses): Peluang (opportunities): Dengan di adakannya pemberhentian PTK ini membuat para PTK lebih berhati-hati dan taat terhadap peraturan yang diberlakukan oleh Fitrah Insani. Sehingga menjadi peluang untuk lebih memajukan dan meningkatkan kualitas sekolah dan penghormatan terhadap tat tertib yang berlaku. Ancaman (threats): Adanya pemberhentian ini membuat pihak Fitrah Insani bisa saja kehilangan guru yang profesional dan berkualitaas. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 4.2 Implikasi 4.3 Rekomendasi 32 DAFTAR PUSTAKA Harususilo, Y. E. (2018). Mendikbud: Problem Pendidikan Saat Ini, Kurangnya Keteladanan. Jakarta: Kompas.com. Hidayati. (2014). Management Pendidik, Standar Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Mutu Pendidikan . Al-Ta'lim, 42-44. Mustari, M. (2014). Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan. Jakarta: PT Raja. Primadhyta, S. (2018). Separuh Jumlah Guru Indonesia Masih Berstatus Honorer K2. Indonesia: CNN. Rugaiyah. (2010). Profesi Kependidikan dalam Prespektif Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Saud, U. S. (2018). Bunga Rampai Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Saud, U. S. (2018). Bunga Rampai Administrasi Pendidikan Teori dan Praktik . Bandung: Alfabeta. Suryosubroto, B. (2014). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta. Tafsir, A. (2008). lmu Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya. UPI, T. D. (2009). Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Yuliana, L. (2007). Buku Pegangan Kuliah Manajemen Tenaga Kependidikan. Yogyakarta: Yogyakarta: FIP UNY. 33 LAMPIRAN Foto Kegiatan 34 Instrumen Observasi 35