PERANAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SEBAGAI BIOPESTISIDA NABATI MAKALAH SEMINAR BIOLOGI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Mata Kuliah Seminar Biologi Oleh DESI PUTRI AYU 1605122401 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS RIAU 2019 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah Subhana wata ‘ala, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah seminar dengan judul “Peranan Senyawa Metabolit Sekunder sebagai Biopestisida Nabati”. Makalah ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Mata Kuliah Seminar Biologi. Dalam pembuatan makalah penelitian ini penulis telah banyak dibantu oleh berbagai pihak dan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: kedua orang tua yang telah memberikan bantuan berupa moril dan materil yang sungguh tidak ternilai harganya. Terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan penulisan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang telah memberikan semangat dan dukungannya. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan, baik dalam bentuk kritik, saran dan sarana sehingga makalah ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya dapat membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Pekanbaru, 04 April 2018 Desi putri ayu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Senyawa bahan alam adalah hasil metabolisme suatu organisme hidup (tumbuhan,hewan, sel) berupa metabolit primer dan sekunder. Senyawa kimia yang biasa dijumpaisepertikarbohidrat, lipid, vitamin dan asam nukleat termasuk dalambahan alam, namun ahli kimia memberikan arti yang lebihsempit tentang istilah bahan alam yakni senyawakimia yangberkaitan dengan metabolit sekunder saja seperti alkaloid, flavonoid, steroid,terpenoid, golongan fenol, feromon, saponin, tanin, kuinon, dan sebagainya (Meta, 2011). Senyawa metabolit umumnyamempunyai sekunder merupakan kemampuan biokatifitas senyawa dan kimia berfungsi yang sebagai pelindungtumbuhan dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan tersebut atau lingkungan.Senyawa metabolit sekunder digunakan sebagai zat warna, racun, aroma makanan,danobat tradisional pada kehidupan sehari-hari (Meta, 2011). Pestisida adalah suatu substansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Pada umumnya pestisida yang digunakan bukan hanya dalam pertanian saja namun juga diperlukan dalam bidang kesehatan dan rumah tangga. Dalam kesehatan masyarakat, pestisida digunakan untuk membunuh berbagai vektor penyakit, salah satunya adalah penyakit malaria, DBD yang ditularkan oleh nyamuk.Mengurangi dampak negatif tersebut, salah satu alternatif pengendalian yang dapat ditempuh dengan menggunakan pestisida nabati.Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu dan bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Bahan aktif tersebut diperoleh dari ekstrak tumbuhan yang mengandung zatzat yang berpotensi sebagai pestisida. Pestisida nabati bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandulan), pembunuh, dan bentuk lainnya. Sifat pestisida nabati mudah terurai (bio-degradable) di alam karena terbuat dari bahan alami atau nabati, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia, ternak, dan lingkungan karena residu (sisasisa zat) mudah hilang (Syakir, 2011). Cukup tingginya dampak negative dari penggunaan pestisida kimia, mendorong berbagai usaha untuk menekuni pemanfaatan pestisida alami sebagai alternatif pengganti pestisida kimia. Salah satu pestisida nabati yang dapat digunakan adalah ekstrak dari berbagai tanaman (kulit jengkol dan umbi bawang putih). Selain ramah lingkungan, pestisida nabati merupakan pestisida yang relatif aman dan ramah lingkungan serta ekonomis.Berdasarkan uraian diatas maka perlunya penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peranan berbagai metabolit sekunder sebagai biopestisida nabati dari daun pandan wangi, kulit jengkol, dan umbi bawang putih. 1.2 Rumusan masalah Bagaimana peranan tumbuhan yang mengandung metabolit sekunder sebagai biopestisida nabati ? 1.3 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peranan tumbuhan yang mengandung metabolit sekunder sebagai biopestisida nabati. 1.4 Manfaat Makalah ini diharapkan dapat dijadikan informasi fisiologi tumbuhan dan mikrobiologi khususnya ditinjau dari peranan tumbuhan yang mengandung metabolisme sekunder sebagai biopestisida nabati. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Senyawa Metabolit Sekunder Metabolisme merupakan modifikasi senyawa kimia secara biokimia di dalam organisme dan sel. Metabolisme mencakup sintesis (anabolisme) dan penguraian (katabolisme) molekul organik kompleks. Sedangkansenyawasenyawa organic yang dihasilkandan terlibat dalam metabolism itu disebut sebagai metabolit. Beberapa metabolit penting dalam metabolisme tersebut adalah senyawa senyawa: karbohidrat, protein, lemak dan asam nukleat; yang ke semuanya (kecuali lemak) berupa senyawa berbentuk polimerik; yaitu senyawa karbohidrat tersusun dari unit-unit gula, protein tersusun dari asam-asam amino, dan asam nukleat terdiri dari nukleotid-nukleotid. Senyawa metabolit sekunder merupakan sumber bahan kimia yang tidak akan pernah akan pernah habis, sebagai sumber habis, sebagai sumber inov inovasi asi dalam penemuan dan dalam penemuan dan pengembang obat-obat baru ataupun untuk menunjang berbagai kepentingan industri. Hal ini obat-obat baru ataupun untuk menunjang berbagai kepentingan industri. Hal ini terkait dengan keberadaannya didalam yang tidak terbatas jumlahnya sejalan dengan hal itu dan diikuti oleh keberadaan organisme yang juga tidak terbatas dengan hal itu dan diikuti oleh keberadaan organisme yang juga tidak terbatas jumlahnya, maka topik penelitian bahan alam juga tidak akan pernah habis. Ini didukung pula oleh fakta bahwa di muka bumi ini terdapat kurang lebih 250.000. Jenis tumbuhan tingkat tinggi, akan tetapi tidak lebih dari 0,4% dari jumlah tumbuh tersebut telah diselidiki oleh peneliti untuk berbagai kepentingan. Sebagian besar dari penelitian itupun masih sangat dangkal sifatnya atau belum menyeluruh, lagi pula terbatas pada tumbuhan yang terdapat di daerah beriklim sedang. Dari 250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi seperti dikemukan di atas sedang. 54% diantaranya terdapat dihutan tropika dan indonesia dengan hutan tropikanya yang mengandung lebih dari 30.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi sangat berpotensial untuk diteliti dan dikembangkan oleh para peneliti Indonesia. 2.2. Biopestisida Dalam pertanian modern, hama dan penyakit tanaman harus dikendalikan secara terpadu. Biopestisida merupakan salah satu komponen dalam pengelolaan hama dan penyakit. Biopestisida didefinisikan sebagai bahan yang berasal dari mahluk hidup (tanaman, hewan atau mikroorganisme) yang berkhasiat menghambat pertumbuhan dan perkembangan atau mematikan hama atau organisme penyebab penyakit. Schumann and D’Arcy (2012) mendefinisikan biopestisida sebagai senyawa organik dan mikrobia antagonis yang menghambat atau membunuh hama dan penyakit tanaman. Biopestisida memiliki senyawa organik yang mudah terdegradasi di alam. Namun di Indonesia jarang dijumpai tanaman yang berkhasiat menghambat atau mematikan hama dan penyakit tanaman. Penggunaan biopestisida kurang disukai petani karena efektivitasnya relatif tidak secepat pestisida kimia. Biopestisida cocok untuk pencegahan sebelum terjadi serangan hama dan penyakit (preventif bukan kuratif) pada tanaman. Biopestisida dilihat dari asalnya atau bahan utamanya dibagi menjadi dua jenis. Sebagaimana menurut Achmad Djunaedy (2009, hlm. 89) sebagai berikut: “Berdasarkan asalnya, Biopestisida dapat dibedakan menjadi dua yakni pestisida nabati dan pestisida hayati. Pestisida nabati merupakan hasil ekstrasi bagian tertentu dari tanaman baik dari daun, buah, biji atau akar. Pestisida hayati merupakan formulasi yang mengandung mikroba tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun virus.” Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan (Botanical Pesticide), merupakan kearifan lokal masyarakat Indonesia, karena sejak jaman dahulu kala nenek moyang kita sudah memanfaatkannya untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (Mega Biodiversity) kedua terbesar di dunia setelah Brazil, memiliki ribuan tanaman yang mengandung sifat pestisida yang dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan pestisida nabati. Oleh karena itu, potensi Indonesia untuk mengembangkan pestisida nabati yang dapat mensuplai kebutuhan dunia sangatlah besar, sehingga kegiatan-kegiatan penelitian untuk pengembangan pestisida nabati sangatlah penting. 2.3. Peran metabolit sekunder sebagai biopestisida Pemanfaatan daun pandan wangi dan umbi bawang putih dengan metode ekstraksi dapat dibuat sebagai pestisida nabati. Sedangkankulit jengkol dan umbi bawang putih bisa dijadikan biopestisida. 2.4 Metabolit sebagai biopestisida nabati Tabel 1. Hasil identifikasi metabolit sekunder ekstrak kulit jengkol dan umbi bawang No. Identifikasi Hasil Pustaka Sebelum Setelah Uji Uji 1. Alkaloid Terbentuk Warna Terbentuk Ekstrak kental + endapan putih ekstrak yang endapan krem lima tetes atau Krem dihasikan kloroform + (Harbone, 1987). coklat tua Flavonoid Perubahan warna Warna Ekstrak kental + larutan menjadi ekstrak yang berubah satu gram Mg + merah, kuning dihasilkan 1 ml HCl pekat atau jingga coklat tua lima tetes pereaksi mayer 2. Larutan menjadi merah (Harbone, 1987). 3. 4. Saponin Terbentuk busa Warna Ekstrak kental setinggi kurang ekstrak yang busa kurang dipanaskan lebih 1 cm dan dihasilkan lebih 1 cm selama 5 menit stabil selama 15 coklat tua stabil selama dan dikocok menit (Harbone, selama 5 menit 1987). Tanin Perubahan Warna Ekstak kental warna ekstrak yang warna + FeCl3 menjadi biru tua dihasilkan larutan atau coklat tua menjadi larutan hitam Terbentuk 15 menit. Perubahan kehijauan hitam (Harbone, kehijauan 1987). 5. Sulfur Perubahan Warna Ekstrak kental warna ekstrak yang warna + NaOH 40 % kecoklatan + dengan Pb acetat endapan coklat muda (Wuryanti & dengan ada Murnah, 2009). endapan larutan ada Perubahan dihasilkan larutan coklat tua menjadi Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa ekstrak kental dari kulit jengkolu dan mbi bawang putih yang telah berhasil diuji senyawa metabolit sekunder adalah alkaloid, falavanoid, saponin, tannin, dan sulfur yang bermanfaat digunakan sebagai pestisida yang berasal dari bahan alam. Pada pengujian alkaloid diperoleh hasil yang positif dengan terbentuknya endapan yang berwarna putih (krem). Penambahan kloroform bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam tannin dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid berikatan saling stabil dengan gugus hidroksil genolik dari asam tanin. Dengan terputusnya ikatan ini alkaloid akan bebas, sedangkan asam tanin akan terikat oleh kloroform. Identifikasi terhadap senyawa tannin dilakukan melalui penambahan FeCl3. Senyawa tanin adalah senyawa yang bersifat polar karena adanya gugus OH, ketika ditambahkan FeCl3 akan terjadi perbahan warna seperti biru tua atau hijau kehitaman yang menandakan adanya senyawa tanin (Jones dan Kinghorn, 2006). Tabel 2. Hasil identifikasi senyawa metabolit sekunder ekstrak daun pandan wangi-umbi bawang No. 1. Identifikasi Hasil Pustaka Sebelum Uji Setelah Uji Alkaloid Terbentuk Warna ekstrak Terbentuk Ekstrak kental endapan putih yang dihasikan endapan krem atau Krem. coklat tua Flavonoid Perubahan Warna Ekstrak kental warna yang dihasilkan + lima tetes kloroform + lima tetes pereak si mayer 2. larutan ekstrak Larutan beruba + satu 3. menjadi merah, coklat tua h menjadi merah gram Mg + 1 kuning atau ml HCl pekat jingga. Saponin Terbentuk Ekstrak setinggi kurang yang dihasilkan kurang lebih 1 busa Warna ekstrak Terbentuk busa lebih 1 cm dan coklat tua cm stabil selama al dipanaskan stabil selama 15 15 menit. selama menit. kent 5 menit dan dikocok selama 5 menit 4. Tanin Perubahan Ekstak kental warna + FeCl3 Warna ekstrak Perubahan larutan yang dihasilkan warna menjadi biru tua coklat tua menjadi atau hitam kehijauan larutan hitam kehijauan. 5. Sulfur Perubahan Ekstrak kental warna + NaOH 40 % + coklat tua dengan endapan. menjadi larutan coklat muda dengan ad a ekstrak Perubahan larutan yang dihasilkan warna kecoklatan Pb acetat Warna ada endapan Tabel 2 dapat dilihat bahwa ekstrak kental dari daun pandan wangi-umbi bawang putih yang telah berhasil diuji senyawa metabolit sekunder dan senyawa lainnya adalah alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan sulfur yang bermanfaat digunakan sebagai pestisida yang berasal dari bahan alam. Hal ini berarti daun pandan wangi-umbi bawang putih mengandung semua senyawa yang diujikan, ini karena daun panda wangiumbi bawang putih dikombinasikan dalam pembuatan ekstrak, sehingga semua senyawa metabolit sekunder pada daun pandan wangi dan umbi bawang putih berhasil diuji. Pada pengujian alkaloid diperoleh hasil yang positif dengan terbentuknya endapan yang berwarna krem. Penambahan kloroform bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam tannin dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid berikatan saling stabil dengan gugus hidroksil genolik dari asam tanin. Dengan terputusnya ikatan ini alkaloid akan bebas, sedangkan asam tanin akan terikat oleh kloroform. Pereaksi Mayer merupakan larutan kalium merkuri iodide yang membentuk edapan berwarna krem atau putih terhadap sebagian besar alkaloid. Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer, diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap (Marliana dkk., 2005). Dari kedua tabel diatas menunjukkan bahwa hasil identifikasi senyawa metabolit sekunder ekstrak daun pandan wangi, kulit jengkol dan umbi bawang putih sama BAB III KESIMPULAN