Uploaded by User17156

378238739-Analisis-SWOT-Program-Jumantik

advertisement
PERENCANAAN DAN EVALUASI KESEHATAN
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT DBD
DI TEMBILAHAN KOTA DAN ANALISIS SWOT
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 2
1. ARIEF WIBOWO
: 16012040
2. FERA APRINITASARI
: 16012062
3. RIA WINA KARTIKA
: 16012054
4. RUSDI HIDAYATULLAH
: 16012045
5. SUCI WULANDARI
: 16012041
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
HANGTUAH PEKAN BARU
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Jl. Mustafa Sari No. 5 Tangkerang Selatan Pekanbaru
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Salah satu Penyakit tular vektor yang ditularkan oleh nyamuk adalah Demam
Berdarah Dengue (DBD). Meskipun KLB DBD kadang-kadang masih terjadi di
Indonesia, akan tetapi berkat upaya pengendalian yang telah dilaksanakan selama
lima dasa warsa terakhir ini, angka kematian (Case Fatality Rate) DBD telah berhasil
ditekan di bawah 1% selama 14 tahun terakhir sejak tahun 2000. Angka CFR telah
dapat ditekan kurang dari 1%, berkat penatalaksanaan kasus DBD di fasilitas
kesehatan yang sangat baik.
Keberhasilan pengendalian DBD di Indonesia didukung oleh kebijakan Pemerintah
di Tingkat Pusat dan Daerah dan sumber daya yang diperlukan termasuk
pembiayaan. Upaya ini juga diperkuat dengan peran serta masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk melaksanakan 4M Plus, yaitu : 1)
Menguras dan menyikat dinding tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi
seminggu sekali, 2) Menutup rapat penampungan air, 3) Mengubur barang-barang
bekas yang ada disekitar atau diluar rumah yang dapat menampung ar hujan
seperti kaleng bekas, botol, plastik dan tempurung kelapa, 4) Mendaur ulang
barang-barang yang dapat menampung air hujan serta memantau semua wadah air
yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk. Kegiatan ini dilengkapi dengan
kegiatan Plus, seperti mengganti air vas bunga, membuang air pada tampungan air
di dispenser, menaburkan bubuk pembunuh jentik, memelihara ikan pemakan
jentik nyamuk, dan penggunaan repellen. Pengendalian DBD adalah bagian dari
Pengendalian Arbovirosis yang mencakup juga pengendalian penyakit Chikungunya
dan Japanese Encephalitis.
Penyakit Demam Berdarah Dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)
karena penyebarannya yang cepat dan berpotensi menimbulkan kematian. Penyakit
ini disebabkan oleh virus Dengue yang penularannya melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti dan Aedes Albopictus yang hidup di genangan air bersih di sekitar rumah.
Nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit pada saat pagi dan sore hari,
umumnya kasus mulai meningkat saat musim hujan.
1
Data laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir pada bulan Januari s/d
Desember 2016 kasus DBD sebanyak 190 kasus. Untuk di Kecamatan Tembilahan
Kota sendiri kasus Demam Berdarah selama tahun 2016 berjumlah 45 kasus yang
terjadi pada Laki-laki sebanyak 23 kasus, perempuan 22 kasus dan banyak terjadi
pada anak-anak usia 5-9 tahun sebanyak 22 orang.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit DBD, adapun upaya tersebut dimaksudkan untuk menekan
laju populasi nyamuk Aides aegypti terutama didaerah perimeter dan buffer area. Di
daerah perimeter angka indek harus 0 % sedangkan didaerah buffer tidak lebih dari
1%.
Pemberantasan
ini
sebagai
tindak
lanjut
dari
IHR
2005
(pasal
20).
Langkah yang akan dilaksanakan oleh KKP Kelas III Tembilahan mendorong
masyarakat untuk berpartisipasi aktif melakukan kegiatan PSN di wilayah
pelabuhan
menurunkan
secara
teratur,
kejadian
sehingga
penyakit
DBD.
akhirnya
Disamping
akan
itu
KKP
mencegah
akan
dan
proaktif
dan bekerjasama dengan masyarakat pelabuhan serta lintas sektor terkait dalam
melaksanakan pemberantasan vektor dengan cara Promotif dan Preventif.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :
Bagaimana upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir
untuk menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kecamatan Tembilahan Kota.
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari Penyusunan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
DBD di Kecamatan Tembilahan Kota ini adalah :
1. Tujuan Umum
Menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kecamatan Tembilahan Kota
sebesar 100%.
2. Tujuan Khusus
a. Menetapkan Program-program Prioritas terkait Pencegahan dan Pengendalian
yang dapat menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kecamatan
Tembilahan Kota,
b. Menentukan Sasaran Strategis dan target indikator yang akan dicapai
c. Menentukan analisis SWOT
2
1.4. Manfaat
Adapun manfaat dari penyusunan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
DBD di Kecamatan Tembilahan Kota ini adalah :
1. Untuk menurunkan angka kejadian Penyakit DBD yang ada di Kecamatan
Tembilahan Kota sebesar 100%,
2. Untuk
menetapkan
program-program
prioritas
terkait
Pencegahan
dan
Pengendalian yang dapat menurunkan angka kejadian penyakit DBD di
Kecamatan Tembilahan Kota,
3. Untuk Menentukan Sasaran Strategis dan target indikator yang akan dicapai.
4. Mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan program melalui
analisis SWOT
3
BAB II
RENCANA KEGIATAN
2.1. Kebijakan Perencanaan Strategis
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (SPPN) mengamanatkan bahwa setiap Kementerian perlu menyusun
Rencana Strategis (Renstra) yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN).
Dengan telah ditetapkannya RPJMN 2015-2019, maka Kementerian Kesehatan
menyusun Renstra Tahun 2015-2019. Renstra Kementerian Kesehatan merupakan
dokumen
perencanaan
yang
bersifat
indikatif
memuat
program-program
pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dan
menjadi acuan dalam penyusunan perencanaan tahunan.
Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat
dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui
upaya
kesehatan
dan
pemberdayaan
masyarakat
yang
didukung
dengan
perlindungan finansial dan pemeratan pelayanan kesehatan. Sasaran pokok RPJMN
2015-2019 adalah :
1.
Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak;
2.
Meningkatnya pengendalian penyakit;
3.
Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan;
4.
Meningkatnya
cakupan
pelayanan
kesehatan
universal
melalui
Kartu
Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN Kesehatan;
5.
Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin; serta
6.
Meningkatkan responsivitas sistem kesehatan.
Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan 3 pilar utama, yaitu paradigma
sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional :
1.
Pilar paradigma sehat di lakukan dengan strategi, penguatan promotif preventif
dan pemberdayaan masyarakat;
2.
Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses
pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan mutu
pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continum of care dan intervensi
berbasis risiko kesehatan;
3.
Sementara itu jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan
sasaran dan benefit serta kendali mutu dan kendali biaya.
4
Berdasarkan Arah Kebijakan Kementerian Kesehatan tersebut, untuk melaksanakan
Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD di Kecamatan Tembilahan
Kota maka dibuatlah beberapa strategi diantaranya :
a. Pelaksanaan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik
Gerakan ini dilaksanakan melalui strategi pendekatan keluarga, dimana gerakan
ini
melibatkan
setiap
keluarga
dalam
pemeriksaan,
pemantauan
dan
pemberantasan jentik nyamuk untuk pencegahan dan pengendalian DBD.
Gerakan 1 rumah 1 jumantik ini perlu diterapkan terutama di daerah endemis
DBD, didalam pelaksanaan gerakan 1 rumah 1 jumantik terdiri dari Supervisor
(tingkat kelurahan/desa/RW), Koordinator 1 dan 2 (tingkat RT) dan para
jumantik.
Peran serta masyarakat dalam hal ini adalah peran serta sebagai kader juru
pemantau jentik (Jumantik) yang melaksanakan pemantauan jentik dan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan secara rutin seminggu
sekali,
meliputi
kegiatan
menguras,
menutup
dan
mengubur
atau
memanfaatkan kembali barang-barang yang bernilai ekonomis (3M). PSN 3M
secara rutin dapat membantu menurunkan kepadatan vektor, berdampak pada
menurunnya kontak antara manusia dengan vektor, akhirnya terjadinya
penurunan kasus DBD.
Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah :
1) Melaksanakan pertemuan pembentukan kader Jumantik yang berwawasan
dan
mampu
menyebarkan
informasi
yang
tepat
dan
benar
tentang
peencegahan dan pengendalian DBD sehingga masyarakat terdorong untuk
melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin.
2) Memberikan informasi tentang pentingnya kegiatan PSN sebagai tindakan
penanggulangan penyakit DBD
3) Meningkatkan peran serta masyarakat sebagai Jumantik dalam pelaksanaan
PSN
4) Sebagai salah satu upaya pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS)
5) Mendukung upaya penurunan kasus DBD di Indonesia
b. Pelaksanaan PSN Anak Sekolah
Kelompok anak sekolah merupakan bagian kelompok masyarakat yang dapat
berperan strategis, mengingat jumlahnya sangat banyak sekitar 20% dari jumlah
penduduk Indonesia adalah anak sekolah SD, SLTP dan SLTA. Anak sekolah
tersebar di semua wilayah Indonesia, baik daerah perkotaan maupun pedesaan.
Peran
serta
anak
sekolah
sebagai
5
Jumantik
dapat
digunakan
untuk
menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada usia dini, yang akan
digunakan sebagai dasar pemikiran dan perilakunya dimasa yang akan datang.
Selain itu, menggerakan anak sekolah lebih mudah dibandingkan dengan orang
dewasa dalam pelaksanaan PSN.
Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah:
1) Meningkatkan
peran
serta
anak
sekolah
sebagai
Jumantik
dalam
pelaksanaan PSN
2) Sebagai salah satu upaya pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) sejak usia dini.
3) Mendukung upaya penurunan kasus DBD di Indonesia
Mekanisme pelaksanaan Jumantik-PSN anak sekolah sebagai berikut :
1) Dinas Kesehatan bersama Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama
Kabupaten/Kota dalam wadah Pokja PSN anak sekolah memberikan
pembinaan/pelatihan Jumantik-PSN anak sekolah kepada guru-guru di
sekolah.
2) Kepala Sekolah membuat tim pelaksana Jumantik-PSN anak sekolah dan
menunjuk seorang guru penanggung jawab PSN anak sekolah.
3) Guru
penanggungjawab
PSN
anak
sekolah
menyusun
program
kerja/kegiatan JumantikPSN anak sekolah.
4) Guru yg sudah dilatih mengajarkan Jumantik-PSN kepada anak sekolah
5) Setiap minggu siswa melakukan pemantauan jentik dan PSN di sekolah dan
rumah/tempat tinggalnya masing-masing dan melakukan pencatatan hari
dan tanggal pelaksanaan, jenis tempat perkembangbiakan nyamuk, ada
tidaknya jentik dan kegiatan PSN 3M yang dilakukan.
6) Formulir pencatatan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Rumah/Tempat Tinggal dan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Sekolah dilaporkan setiap minggu ke guru penanggung jawab dan diparaf
oleh guru penanggung jawab.
7) Guru penanggungjawab memeriksa formulir tersebut, apabila laporan
ditemukan jentik maka guru wajib memberikan arahan kepada siswa untuk
meningkatkan
kegiatan
PSN
3M,
serta
membuat
rekap
laporan
ke
Puskesmas terdekat untuk ditindaklanjuti.
8) Dinas Kesehatan/Pokja PSN anak sekolah melalui Puskesmas setempat
melakukan pembinaan ke sekolah dalam rangka keberlangsungan kegiatan
Jumantik-PSN anak sekolah.
6
Dengan pelaksanaan program Promotif dan preventif tersebut diharapkan dapat
tercapainya tujuan yaitu Menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kecamatan
Tembilahan Kota sebesar 100%.
2.2. Penyusunan Program Kegiatan
a. Peserta Pertemuan
Peserta pertemuan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD terdiri
dari:
-
Lintas Sektor (KSOP, Polsek Pelabuhan, Pelindo, Dinas Kesehatan)
-
Pegawai Kantor Kesehatan Pelabuhan Tembilahan
-
Kader Jumantik dan masyarakat pelabuhan
-
Anak-anak tingkat Sekolah Dasar
-
Kepala Sekolah dan Guru Kelas (wali kelas)
b. Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan program Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD di
Kecamatan Tembilahan Kota dilaksanakan dengan metode tatap muka, diskusi,
ceramah dan tanya jawab dalam bentuk pertemuan yang dilaksanakan secara
swakelola.
c. Tahap Pelaksanaan
Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut :
1) Penyiapan bahan administrasi
2) Penyiapan bahan materi pertemuan
3) Penyiapan akomodasi dan perlengkapan
4) Pelaksanaan

Paparan/ presentasi materi oleh nara sumber

Diskusi dan Tanya jawab

Penyusunan kesimpulan dan rencana tindak lanjut
Tabel 1. Matrik Waktu pelaksanaan Kegiatan
Tahapan Kegiatan
Bulan Ke
1
2
3
Penyiapan bahan
administrasi
Pelaksanaan Kegiatan
Membuat Laporan
Evaluasi
7
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Tabel 2. Rencana Usulan Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD
di Kecamatan Tembilahan Kota
No
Upaya
Kesehatan
Kegiatan
Tujuan
Sasaran
Target
Dana
1.
Promotif,
Preventif
Gerakan 1
Rumah 1
Jumantik
1) Melaksanakan
pertemuan
pembentukan
kader Jumantik
2) Memberikan
informasi tentang
pentingnya
kegiatan PSN
3) Meningkatkan
peran serta
masyarakat
sebagai
Jumantik dalam
pelaksanaan PSN
4) Sebagai salah
satu upaya
pembinaan
perilaku hidup
bersih dan sehat
(PHBS)
5) Mendukung
upaya
penurunan
kasus DBD di
Indonesia
- Kepala
Dinas
Kesehatan
- Kepala
KSOP
- Polsek
Pelabuhan,
- KKP
Tembilahan
- Pelindo
- Ketua RT
- Kader
Jumantik
- Mahasiswa
Stikes
Hangtuah
100%
--
Kebutuhan
Sumber Daya
Alat
Tenaga
- Sarana
penyuluh
an DBD
- Juknis
G1R1J
- Seminar
KIT
- Narasu
mber
- Kader
Indikator
Keberhasilan
Sumber
Pembiay
aan
- Tk
pengetahuan
masyarakat/k
ader
meningkat
95%
- Kasus
Kejadian DBD
di Kecamatan
Tembilahan
Kota
Menurun
100%
APBN
No
Upaya
Kesehatan
Kegiatan
Tujuan
Sasaran
Target
Dana
2.
Promotif,
Preventif
Pelaksana
an PSN
Anak
Sekolah
1) Meningkatkan
peran serta anak
sekolah sebagai
Jumantik dalam
pelaksanaan PSN
2) Sebagai salah
satu upaya
pembinaan
perilaku hidup
bersih dan sehat
(PHBS) sejak
usia dini.
3) Mendukung
upaya
penurunan
kasus DBD di
Indonesia
- Kepala
Dinas
Kesehatan
- KKP
Tembilahan
- Kepala
Sekolah
- Guru/Wali
Kelas
- Anak-anak
Sekolah
- Mahasiswa
Stikes
Hangtuah
100%
1
--
Kebutuhan
Sumber Daya
Alat
Tenaga
- Sarana
penyuluh
an DBD
- Juknis
PSN anak
sekolah
- Seminar
KIT
- PSN kit
berupa
topi,
rompi, tas
kerja,
formulir
hasil
pemeriksa
an jentik,
alat
tulis,
senter,
pipet dan
plastik
tempat
jentik dan
larvasida
- Narasu
mber
- Kader
Indikator
Keberhasilan
Sumber
Pembiay
aan
- Tk
pengetahuan
anak sekolah
meningkat
95%
- Kasus
Kejadian DBD
di Kecamatan
Tembilahan
Kota
Menurun
100%
APBN
BAB III
STRATEGI ANALISIS SWOT
3.1. Pengertian Analisis SWOT
Analisis
SWOT
mengevaluasi
merupakan
kekuatan
perencanaan
(strengths),
strategis
kelemahan
yang
digunakan
(weaknesses),
untuk
peluang
(opportunities) dan ancaman (threats) dalam suatu proyek bisnis/perusahaan atau
spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strenghts,
weaknesses, opportunities dan threats).
3.2. Analisis SWOT Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan PSN Anak Sekolah
3.2.1. Strengths (Kekuatan)
Kader Jumantik yang dibentuk berasal dari masyarakat melalui pendekatan
keluarga, terdiri dari:
1. Jumantik rumah
Adalah kepala keluarga/anggota keluarga/penghuni dalam satu rumah
yang disepakati untuk melaksanakan kegiatan pemantauan jentik di
rumahnya. Kepala keluarga sebagai penanggungjawab jumantik rumah.
2. Jumantik lingkungan
Adalah satu atau lebih petugas yang ditunjuk oleh pengelola tempattempat umum (TTU) seperti, pasar, terminal, pelabuhan, bandara,
stasiun, tempat ibadah, tempat pemakaman, tempat wisata atau tempattempat institusi (TTI) seperti, perkantoran, sekolah, dan rumah sakit,
untuk melaksanakan pemantauan jentik
3. Koordinator jumantik
Adalah satu atau leih jumantik/kader yang ditunjuk oleh ketua RT untuk
melakukan pemantauan dan pembinaan pelaksanaan jumantik rumah
dan jumantik lingkungan (crosscheck).
4. Supervisor jumantik
Adalah satu atau lebih anggota dari Pokja DBD atau orang yang ditunjuk
oleh ketua RW/Kepala Desa/Lurah untuk melakukan pengolahandata
dan pemantauan pelaksanaan jumantik di lingkungan RT.
5. PSN Anak Sekolah
Kelompok anak sekolah merupakan bagian kelompok masyarakat yang
dapat berperan strategis, mengingat jumlahnya sangat banyak sekitar
20% dari jumlah penduduk Indonesia adalah anak sekolah SD, SLTP dan
SLTA. Anak sekolah tersebar di semua wilayah Indonesia, baik daerah
perkotaan
maupun
pedesaan.
Peran
serta
anak
sekolah
sebagai
Jumantik dapat digunakan untuk menanamkan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) pada usia dini, yang akan digunakan sebagai dasar
pemikiran dan perilakunya dimasa yang akan datang. Selain itu,
menggerakan anak sekolah lebih mudah dibandingkan dengan orang
dewasa dalam pelaksanaan PSN.
Dimana pembentukan dan pengawasan kinerja menjadi tanggung jawab
sepenuhnya
oleh
pemerintah
Kabupaten/Kota.
Dengan
melibatkan
masyarakat secara langsung program akan berjalan lebih efektif, karena
masyarakat dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian
DBD di lingkungan sekitarnya.
Gerakan ini merupakan program pemberantasan sarang nyamuk yang
mengajak
seluruh
masyarakat
berperan
aktif
dalam
mencegah
perkembangbiakan nyamuk, khususnya jentik nyamuk Aedes. Gerakan 1
Rumah 1 Jumantik ini sudah digaungkan sejak ASEAN Dengue Day (ADD)
2016 yang lalu di Indonesia. Program ini diyakini akan berjalan dengan baik
jika ada dukungan dan peran serta masyarakat.
3.2.2. Weaknesses (Kelemahan)
Belum semua masyarakat paham dan mengerti tentang program Gerakan 1
Rumah 1 Jumantik dan PSN Anak Sekolah.
3.2.3. Opportunities (Kesempatan/peluang)
Melalui gerakan ini, berharap sosialisasi DBD kepada masyarakat akan terus
berlanjut, sehingga masyarakat akan lebih memperhatikan lingkungan
sekitar dan kesehatan setiap anggota keluarga. Gerakan ini kembali
digaungkan untuk mendapatkan dukungan dan peran serta masyarakat
lebih luas lagi.
3.2.4. Threats (Ancaman)
Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa masalah kesehatan
terutama pencegahan dan pengendalian DBD hanya menjadi peran dan
tanggungjawab petugas kesehatan.
1
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
PSN adalah tindakan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan menutup,
menguras dan memanfaatkan barang bekas yang masih berniai (yang dikenal
dengan istiah 3M). Kegiatan PSN anak sekolah maupun Gerakan 1 Rumah 1
Jumntik meliputi pengamatan jentik dan kegiatan 3M (menutup, menguras,
memanfaatkan barang-barang bekas yang masih bernilai ekonomis). PSN 3M
merupakan kegiatan terencana secara terus menerus dan berkesinambungan.
Gerakan ini merupakan kegiatan yang paling efektif untuk mencegah terjadinya
penyakit DBD serta mewujudkan kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
4.2. Saran
Agar Jumantik-PSN Anak Sekolah dapat bertugas dan berfungsi sebagaimana yang
diharapkan maka diperlukan dukungan biaya operasional. Dukungan dana tersebut
dapat berasal dari beberapa sumber misalnya APBD, Bantuan Operasional
Kesehatan (BOK), dan lain sebagainya.
Adapun komponen pembiayaan yang diperlukan antara lain adalah:
a.
Transport/insentif bagi petugas pembina teknis di lapangan.
b.
Penyediaan PSN kit berupa topi, rompi, tas kerja, formulir hasil pemeriksaan
jentik, alat tulis, senter, pipet dan plastik tempat jentik dan larvasida.
c.
Penyediaan alat lainnya misalnya media komunikasi, informasi dan edukasi
(KIE) seperti leaflet, stiker, lembar balik (flipchart), buku saku, juknis/juklak
dan lain-lain.
d.
Biaya pelatihan/pembinaan guru-guru sekolah/guru penanggung jawab PSN
anak sekolah oleh Pokja PSN anak sekolah.
e.
Biaya pelatihan bagi jumantik anak sekolah oleh puskesmas/dinas kesehatan/
Pokja PSN anak sekolah.
f.
Biaya monitoring dan evaluasi
2
DAFTAR PUSTAKA
Dinkes Kab. Inhil. (2014). Profil Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2014. Riau
Kabupaten Indragiri Hilir.
Kemenkes RI. (2014). Petunjuk Teknis Jumantik-PSN Anak Sekolah. Jakarta. Dirjen PP dan
PL Kemenkes RI.
Kemenkes RI. (2016). Petunjuk Teknis Implementasi PSN 3M-Plus dengan Gerakan 1
Rumah 1 Jumantik. Jakarta. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular
Vektor dan Zoonotik.
3
Download