Uploaded by User16261

E08rha

advertisement
PEMBUATAN PAPAN PARTIKEL
DARI LIMBAH PLASTIK DAN SEKAM
RIZKA HASNI
DEPARTEMEN HASIL HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Judul Skripsi : Pembuatan Papan Partikel dari Limbah Plastik dan Sekam
Nama
: Rizka Hasni
NRP
: E 24104055
Menyetujui:
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Dede Hermawan, M.Sc
NIP : 131950984
Mengetahui:
Dekan Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor,
Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr
NIP :
RINGKASAN
Rizka Hasni, Pembuatan Papan Partikel dari Limbah Plastik dan Sekam,
Dibimbing oleh DEDE HERMAWAN
Limbah plastik dan sekam jumlahnya cukup besar di Indonesia. Jumlah
sampah plastik telah mencapai 1,6 juta ton per tahun atau sekitar 4.400 ton per
hari (harian Sinar Harapan 2001) dan jumlah itu akan terus meningkat seiring
dengan meningkatnya produksi plastik setiap tahunnya. Sedangkan menurut BPS
(2007) produksi padi sekitar 57,05 juta ton per tahun dan sekam yang dapat
dihasilkan sekitar 11,41 juta ton per tahun. Jika jumlah dari limbah plastik dan
sekam terus meningkat dikawatirkan akan memberikan dampak yang buruk
terhadap lingkungan. Untuk itu perlu ada alternatif untuk menggunakan kembali
limbah plastik dan sekam. Alternatif yang dapat digunakan adalah dengan
menggunakan kedua bahan tersebut menjadi bahan baku papan partikel. Plastik
yang digunakan adalah plastik daur ulang jenis Polypropylene. Disamping dapat
mengurangi limbah plastik dan sekam, papan partikel yang dibuat dapat menjadi
subtitusi kayu.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis papan
partikel plastik daur ulang. Bahan baku yang digunakan adalah sekam dengan
ukuran 10 dan 40 mesh dan plastik Polypropylene daur ulang. Proses
pembuatannya adalah 70% berat plastik Polypropylene dicampur dengan partikel
sekam. Sisa berat plastik masing-masing 15% ditabur pada permukaan atas dan
bawah. Kemudian dikempa dengan tekanan 25 kg/cm2 pada suhu 1800C selama
20 menit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekam dan plastik Polypropylene
daur ulang dapat digunakan sebagai bahan baku papan partikel. Sifat fisis papan
partikel daur ulang mempunyai sifat lebih baik dibandingkan dengan JIS A 5908,
terutama untuk kadar air dan pengembangan tebal. Namun, sifat mekanisnya tidak
memenuhi standar JIS A 5908 untuk papan partikel struktural. Papan yang dibuat
dalam penelitian ini adalah papan partikel non struktural.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pembuatan Papan
Partikel dari Limbah Plastik dan Sekam adalah benar-benar hasil karya saya
sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan
sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor , September 2008
Rizka Hasni
NRP E24104055
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi hasil penelitian. Judul
dari skripsi adalah “Pembuatan Papan Partikel dari Limbah Plastik dan Sekam”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penelitian dan proses
penyelesaian skripsi banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Ir. Dede Hemawan, M.Sc, sebagai dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dan arahan sehingga skripsi dapat selesai dengan baik
2. Ayah, Ibu, Kakak dan Adik yang selalu mendoakan agar selalu berhasil
3. Dr. Ir. Endes N. Dahlan, M.S dan Ir. Endang A. Husaeni sebagai dosen penguji
4. Teman satu bimbingan, yaitu Ica dan Budi
5. Pak Abdullah dan Pak Amin, yang telah membantu dalam membuat papan
partikel dan pengujian papan partikel
6. Galuh, Langlang, Danang, Dinda, Irma, Resmol, Ivon, Lambok, Afwan, dan
seluruh anggota IFSA LC IPB.
7. Keluarga besar Pondok D’QAKA, Rahmat, Yoga, Indra, Iwan, Ocit, Fendi,
Candra, Fakhrul, Sapto, Tri, Budi, Arie, dll
8. Kusnan, Citra, Putri, Ozo, Nining, Maya, Helmy, Sahroni, Kurkur, Harzan,
Niam, Dany, Aswita, Ana, Kaka, dan Rima.
9. Seluruh teman-teman THH 41, BDH 41, KSHE 41, MNH 41 dan teman-teman
dari Demak, dan
10. Semua pihak yang telah membantu yang tidak mungkin penulis dapat sebutkan
satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih terdapat
kekurangan. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat memberikan
manfaat bagi pihak semua yang membacanya.
Bogor, September 2008
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten
Demak pada tanggal 16 Juli 1986. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Orangtua penulis bernama Susanto dan Sumarni. Pekerjaan orang tua penulis
adalah Pegawai Negeri Sipil yang mengabdi sebagai Guru Sekolah Dasar.
Pada tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Demak dan pada tahun
yang sama diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor lewat jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Program studi yang dipilih oleh penulis
adalah Teknologi Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.
Selama menjadi mahasiswa di IPB, penulis pernah aktif dalam beberapa
oraganisasi, yaitu International Forestry Students’ Association Local Committee
IPB (IFSA LC IPB) dan Ikatan Alumni dan Mahasiswa Demak (IKAMADE).
Selama berada di IFSA LC IPB, penulis pernah diberikan amanah sebagai ketua
Departemen Human Resources Development, delegasi Pemuda dari Youth And
Children Major Group di CLI on Support the 7th UNFF, dan delegasi IFSA di
IUFRO All Division 5 (Forests Product) Conference di Taipei, Taiwan sebagai
peserta dan volunteer untuk membantu panitia konferensi. Sedangkan di
IKAMADE, penulis pernah menjabat sebagai sekretaris dan bersama teman-teman
dari Demak pernah meraih juara I Java Cup. Tahun 2008, penulis pernah
melakukan Praktek Kerja Lapang di PT. Paparti Pertama.
Untuk memperoleh gelar sarjana kehutanan IPB penulis menyelesaikan
skripsi dengan judul Pembuatan Papan Partikel dari Limbah Plastik dan Sekam.
Penelitian ini dibimbing oleh Dr.Ir.Dede Hermawan, M.Sc.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................
i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 3
2.1 Papan Partikel ..................................................................................... 3
2.2 Sekam Padi.......................................................................................... 4
2.3 Plastik.................................................................................................. 5
2.4 Polypropylene ..................................................................................... 7
BAB III METODOLOGI ................................................................................. 9
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................. 9
3.2 Alat dan Bahan..................................................................................... 9
3.3 Metode Penelitian ................................................................................ 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 17
4.1 Sifat Fisis.............................................................................................. 17
4.2 Sifat Mekanis ....................................................................................... 23
BAB V KESIMPULAN ................................................................................... 29
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 29
5.2 Saran..................................................................................................... 29
iii
DAFTAR TABEL
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Halaman
Karakterisitik Polypropylene………………………….............................
Analisis keragaman kerapatan papan partikel…………………………...
Analisis keragaman kadar air papan partikel…………….……………...
Analisis keragaman daya serap air papan partikel selam 2 jam…………
Analisis keragaman daya serap air papan partikel selam 24 jam………..
Analisis keragaman pengembangan tebal papan partikel selama 2 jam...
Analisis keragaman pengembangan tebal papan partikel selama 24 jam.
Analisis keragaman keteguhan patah papan partikel……………………
Analisis keragaman keteguhan lentur papan partikel……………………
Perbandingan sifat fisis dan mekanis papan partikel hasil penelitian…...
8
18
19
21
21
22
22
24
25
26
DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1. Skema pembuatan papan partikel plastik daur ulang……………………. 11
2. Pola pemotongan contoh uji papan partikel plastik daur ulang..………… 12
3. Histogram kerapatan papan partikel plastik daur ulang…………………. 17
4. Histogram kadar air papan partikel plastik daur ulang...………………… 19
5. Histogram daya serap air papan partikel plastik daur ulang……………... 20
6. Histogram pengembangan tebal papan partikel plastik daur ulang……… 22
7. Histogram keteguhan patah papan partikel plastik daur ulang…………... 23
8. Histogram keteguhan lentur papan partikel plastik daur ulang………….. 24
9. Histogram perbandingan nilai keteguhan lentur papan partikel dari
27
sekam tanpa direndam panas dengan sekam perendaman panas…………
10. Histogram perbandingan nilai keteguhan patah papan partikel dari sekam
28
tanpa direndam panas dengan sekam perendaman panas.
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
1. Hasil pengujian dan perhitungan kerapatan dan kadar air………..................
2. Hasil pengujian daya serap air (2 dan 24 jam) dan kembang susut (2 dan 24
Jam) …………………………………………………………………………
3. Hasil pengujian dan perhitungan keteguhan lentur dan keteguhan patah…...
4. Uji jarak Duncan kerapatan papan partikel.....................................................
5. Uji jarak Duncan kadar air papan partikel …….............................................
6. Uji jarak Duncan daya serap air papan partikel selama 24 jam......................
7. Uji jarak Duncan keteguhan lentur papan partikel..........................................
33
34
35
36
36
37
37
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jumlah produk plastik meningkat setiap tahunnya. Jika produk plastik
terus bertambah, maka dikhawatirkan sampah dari plastik juga ikut meningkat.
Sifat plastik yang tidak mudah terurai secara biologis akan mengakibatkan
dampak yang buruk terhadap lingkungan apabila tidak ada penghancuran atau
daur ulang terhadap limbah plastik tersebut. Menurut The Indonesian Olefin and
Plastic Industry (2007), sampai tahun 2015 permintaan plastik domestik akan
terus meningkat hingga mencapai 3,5 juta ton per tahun. Dilain pihak pada tahun
2001 menurut harian Sinar Harapan (2001), jumlah sampah yang berasal dari
produk kemasan plastik mencapai 1.600.000 ton per tahun atau 4.400 ton per hari
dan jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah
produksi plastik. Jumlah sampah plastik yang besar ini juga diikuti oleh besarnya
jumlah limbah pertanian.
Limbah yang dihasilkan dari pertanian cukup besar, terutama dari sisa
pemanenan padi, yaitu sekam. Besarnya jumlah sekam yang dihasilkan
dikarenakan jumlah produksi padi yang besar. Badan Pusat Statistik
mengumumkan angka ramalan III produksi padi tahun 2007 diperkirakan
mencapai 57,05 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Menurut Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (2006), sekam sebagai
limbah penggilingan padi jumlahnya mencapai 20-23% dari gabah. Apabila
jumlah produksi padi mencapai 57,05 juta ton maka jumlah sekam yang dapat
dihasilkan mencapai 11 juta ton. Sama halnya dengan plastik, apabila sekam tidak
didaur ulang atau dimanfaatkan kembali secara cepat maka dapat mengakibatkan
pencemaran lingkungan. Untuk itu perlu ada alternatif untuk memanfaatkan
kembali limbah plastik dan sekam. Salah satu alternatif yang bisa digunakan
adalah memanfaatan limbah plastik dan sekam untuk pembuatan papan partikel.
Pembuatan papan partikel dalam penelitian ini menggunakan plastik daur
ulang. Dimana fungsi dari plastik adalah sebagai perekat dan sekam sebagai
pengisi. Penggunaan sekam sebagai pengisi diharapkan dapat menjadi pengganti
kayu yang sampai sekarang masih digunakan untuk pembuatan papan partikel.
Papan partikel yang dibuat dimaksudkan dapat menjadi subtitusi kayu dimana
permintaan kayu dipasaran masih cukup tinggi sekitar 50 juta sampai 60 juta m3
(Departemen Kehutanan 2005). Adanya subtitusi kayu dengan papan partikel
diharapkan dapat mengurangi tingginya penggunaan kayu untuk kebutuhan
struktural dan non struktural.
Penelitian tentang pembuatan papan partikel yang dibuat dari plastik
Polypropylene daur ulang sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Iswanto
(2002), Putri (2002), Amelia (2003), Kusnadi (2003), Setyawati (2003), dan
Affandy (2007). Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa penambahan
compatibilizer dan inisiator yang berupa maleic anhydrid (MAH) dan dycumil
peroxide (DCP) dapat meningkatkan kekuatan papan partikel sampai kadar
tertentu. Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini mencoba menggunakan cara
yang berbeda untuk menigkatkan kekuatan kayu, yaitu perlakuan awal berupa
perebusan terhadap sekam selama 2 jam dengan suhu ±1000C yang diharapkan
dapat meningkatkan kekuatan papan partikel. Dimensi papan yang dibuat juga
berbeda dengan papan partikel yang sudah dilakukan di dalam penelitian
sebelumnya, yaitu dengan ukuran 25 cm x 25 cm dengan ketebalan 0,5 cm dimana
papan partikel dengan ketebalan 0,5 belum ada standar pengujiannya.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis dan sifat mekanis dari
papan komposit yang terbuat dari sekam dan plastik Polypropylene daur ulang,
serta untuk meningkatkan nilai guna dari kedua bahan tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Papan Partikel
Komposit merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan setiap
produk kayu yang terbuat dari potongan yang lebih kecil dan direkat bersamasama (Maloney 1993). Menurut Rowell et al. (1997), komposit didefinisikan
sebagai berbagai kombinasi dari dua atau lebih bahan yang disatukan dengan
beberapa tipe matrik. Salah satu jenis papan komposit adalah papan partikel.
Papan partikel merupakan salah satu jenis produk komposit/panel kayu
yang terbuat dari partikel-partikel kayu atau bahan-bahan berlignoselulosa lainnya
yang diikat dengan perekat sintetis atau bahan pengikat lain kemudian dikempa
panas (Maloney 1993). Bahan berlignoselulosa banyak ditemukan dalam tanaman.
Hal inilah yang memungkinkan papan partikel dapat dibuat dalam skala industri
dimana Indonesia kaya akan bahan bakunya.
Menurut Rowell (1988), bahan baku papan komposit dimasa mendatang
sangat bervariasi. Penggunaan berbagai campuran bahan baku dapat dilakukan
dalam pembuatan papan komposit. Penggunaan bahan baku dalam produk
komposit tidak harus berasal dari bahan yang berkualitas tinggi tetapi juga dapat
menggunakan limbah seiring dengan timbulnya isu lingkungan, kelangkaan
sumber bahan baku, penguasaan teknologi yang semakin maju, imajinasi,
pengetahuan, dan penguasaan ilmu yang semakin tinggi serta berbagai faktor lain
yang merangsang terciptanya produk komposit yang berkualitas tinggi dari bahan
baku yang berkualitas rendah. Bahan baku dengan kualitas rendah maupun tinggi
tidak terlalu menjadi masalah terhadap kualitas papan partikel karena papan
partikel dapat dibuat sesuai dengan keinginan pembuatnya, salah satunya adalah
kerapatan dari papan tersebut.
Berdasarkan kerapatannya, Maloney (1993) membagi papan partikel
menjadi beberapa golongan, yaitu:
a. Papan partikel berkerapatan rendah (low density particleboard), yaitu papan
yang mempunyai kerapatan kurang dari 0,4 gr/cm3.
b. Papan partikel berkeraptan sedang (medium density particleboard), yaitu
papan yang mempunyai kerapatan antara 0,4-0,8 gr/cm3.
c. Papan partikel berkerapatan tinggi (high density particleboard), yaitu papan
yang mempunyai kerapatan lebih dari 0,8 gr/cm3.
Selanjutnya Maloney (1993) menyatakan bahwa dibandingkan dengan
kayu asalnya, papan partikel mempunyai beberapa kelebihan seperti:
1. Papan partikel bebas mata kayu, pecah, dan retak.
2. Ukuran dan kerapatan papan partikel dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
3. Tebal dan kerapatannya seragam serta mudah untuk dikerjakan.
4. Mempunyai sifat isotropis.
5. Sifat dan kualitasnya dapat diatur.
Beberapa faktor kunci yang berpengaruh terhadap kualitas papan komposit
antara jenis kayu, bentuk partikel, kerapatan papan, profil kerapatan papan, jenis
dan kadar serta distribusi perekat, kondisi pengempaan (suhu, tekanan, dan
waktu), kadar air adonan, kontruksi papan, particle alignment, dan kadar air
partikel (Maloney 1993).
Dalam proses pembuatan papan komposit, semakin tinggi suhu kempa
yang digunakan, maka pengembangan tebal dan daya serap air semakin rendah,
keteguhan lentur dan kekuatan tarik sejajar permukaan semakin tinggi. Semakin
tinggi kadar perekat yang digunakan maka kualitas papan komposit yang
dihasilkan semakin baik. Namun karena pertimbangan biaya produksi, biasanya
kadar perekat yang digunakan pada industri papan komposit tidak lebih dari 12%
(Massijaya 1997).
2.2 Sekam Padi
Sekam padi adalah sisa dari proses penggilingan padi. Sekam padi
merupakan bagian terluar yang keras dari butir padi yang terdiri dari atas lapisan
lemma dan pellea. Sifat kekerasan pada sekam padi ini disebabkan oleh tingginya
kandungan silika (Julianto dalam Martana 2002)
Menurut Piliang dalam Irani (2001), sekam padi mengandung komponen
selulosa sebanyak 24%, hemiselulosa 12 %, serta lignin 4,5%. Selama ini, sekam
tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak maupun bahan bakar
5
tambahan dalam pembakaran batu bata, terutama di daerah pedesaan. Selain itu,
sekam padi juga digunakan sebagai bahan kompos sebagai pupuk organik.
Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah padi jenis ciherang. Padi
jenis ini termasuk dalam golongan cere. Umur tanaman 116-125 hari. Ciri-ciri dari
tanamannya adalah bagian bawah batang berwarna hijau, batang berwarna hijau,
daun telinga berwarna putih, lidah daun tidak berwarna, daun berwarna hijau,
muka daun kasar pada sebelah bawah, posisi daun tegak, daun bendera tegak,
bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kuning bersih. Kadar amilosa pada
padi adalah 23%, bobot per 1000 butir adalah 27 – 28 gram. Rata-rata produksi
dari jenis Ciherang sebesar 5-5,8 ton/ha. Jenis ini cocok ditanam pada musim
hujan dan kemarau dengan ketinggian di bawah 200 m dpl (Balai Besar Penelitian
Padi 2007).
2.3 Plastik
Menurut Osswald dan Menges (1996) dalam Mulyadi (2001), secara garis
besar plastik dapat dibedakan atas dua tipe yaitu plastik yang bersifat termoplastik
dan plastik yang bersifat thermoset.
a. Termoplastik
Termoplastik adalah plastik yang dapat dilunakkan berulang kali
(recycling) dengan temperatur tinggi (panas). Termoplastik merupakan
polimer yang akan menjadi keras apabila didinginkan. Jika dipanaskan,
material ini memiliki kemampuan untuk mengalir atau mencair kembali.
Polimer termoplastik terdiri dari dua tipe struktur yang berbeda yaitu amorf
dan semi kristalin.
Polimer amorf merupakan polimer dengan struktur molekul yang
tersusun secara acak. Pada suhu di bawah Glass Transition Temperature (Tg),
rantai polimer amorf beku pada keadaan tertentu dan polimer menjadi zat yang
keras atau mudah hancur dan rapuh. Dengan naiknya suhu mendekati Tg,
polimer menjadi lebih kenyal dan cukup air. Contoh polimer yang termasuk
amorf
termoplastik
adalah
polystyrene,
polymethyl
methacrylate,
polycarbonate, unplastikized polyvinyl chloride, dan plastikized polyvinyl
chloride.
Sebaliknya polimer semi kristalin memiliki struktur yang tersusun
secara lebih teratur daripada amorf. Di atas suhu leleh, bagian semi kristalin
akan menjadi cairan yang kental sehingga memungkinkan polimer mampu
mengalir. Dengan demikian polimer ini dapat dibentuk dengan teknik yang
biasa dipakai untuk termoplastik. Misalnya ketika polimer melunak, dapat
disuntikan ke dalam pencetak dan dibiarkan mengeras sesuai dengan bentuk
yang diinginkan. Akan tetapi ketika polimer telah dingin, bahan akan kenyal
karena tengah rantai polimernya terdapat bagian amorf. Contoh polimer semi
kristalin adalah High Density Polyethylene (HDPE), Low Density Polyethylene
(LDPE),
Polypropylene
(PP),
Polyamida
dan
Polytetrafluoroethylene
(Osswald dan Menges 1996).
Plastik High Density Polyethylene (HDPE) merupakan termoplastik
Polyethylene yang dibuat dari petroleum (Wikipedia 2007). HDPE merupakan
jenis polyethylene yang mempunyai kerapatan tinggi. HDPE lebih keras, lebih
kuat dan lebih berat dari Low Density Polyethylene (LDPE), tetapi kurang bisa
diperpanjang. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang sedikit lebih
aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia
antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan atau minuman yang
dikemas dengan plastik jenis ini. Walau begitu, plastik jenis ini juga
direkomendasikan hanya untuk sekali pakai, karena pelepasan senyawa
antimoni trioksida yang dapat meningkat seiring dengan waktu. Plastik jenis
ini biasanya diberi kode 2 dan biasanya dipakai untuk botol susu yang
berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, dan lain-lain.
LDPE atau low density polyethylene adalah jenis plastik yang biasa
dipakai untuk tempat makanan (Tupperware), plastik kemasan makanan, dan
beberapa botol-botol yang dipakai untuk kemasan minuman. Jenis plastik ini
biasa diberi dengan kode 4. Jenis plastik ini dapat di daur ulang dan baik
untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Jenis plastik
dengan kode 4 cukup sulit untuk dihancurkan tetapi tetap baik untuk tempat
makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas
dengan jenis plastik ini.
7
PS atau Polystyrene biasa dipakai sebagai bahan tempat makan jenis
styrofoam, tempat minum sekali pakai,dan lain-lain. Bahan Polystyrene bisa
membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut
bersentuhan. Bahan Styrine sangat berbahaya untuk kesehatan otak,
mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah
reproduksi, dan sistem syaraf. Bahan ini harus dihindari di beberapa negara
maju seperti Amerika dan beberapa negara di eropa telah melarang
penggunaan plastik ini.
b. Thermoset
Osswald dan Menges (1996) menyatakan bahwa thermoset adalah
bahan-bahan polimer yang memiliki kemampuan untuk berikatan silang
sehingga menyebabkan tahan terhadap panas jika sudah mengalami
pengerasan. Menurut Syarief et al. (1989), pemanasan yang tinggi
melunakkan plastik thermoset tetapi akan membentuk arang atau terurai.
Karena sifatnya yang demikian, sering digunakan sebagai tutup ketel, seperti
jenis melamine. Contoh plastik thermoset adalah epoxy, phenolics, dan
unsaturated polyester (Osswwald dan Menges 1996).
Epoxy atau polyepoxide adalah sebuah polimer epoxide thermosetting
yang bertambah bagus bila dicampur dengan sebuah agen katalis atau
"pengeras". Kebanyakan resin epoxy diproduksi dari reaksi antara
epichlorohydrin dan bisphenol-A. Percobaan komersial pertama untuk
menyiapkan resin dari epichlorohydrin terjadi pada 1927 di Amerika Serikat
(Wikipedia 2008).
2.4 Polypropylene
Polypropylene merupakan salah satu jenis termoplastik. Plastik jenis ini
dapat digunakan sebagai perekat termoplastik dalam pembuatan papan partikel.
Polypropylene termasuk jenis plastik Olefin dan merupakan polymer dari
Propylene. Diantara material plastik lainnya, Polypropylene memiliki kerapatan
yang paling rendah, yaitu berkisar antara 0.9 – 0.915 dengan Tg berkisar -200C,
serta titik leleh yang tinggi (165 – 170 0C).
Dengan sifat yang tahan terhadap panas dan bahan-bahan kimia,
Polypropylene merupakan satu-satunya plastik yang mampu dikombinasikan
untuk berbagai tujuan elektrikal. Rigiditas, kekerasan, stabilitas dimensi,
permukaan, dan melt flow lebih baik dibandingkan material termoplastik lainnya.
Selain itu harganya juga lebih murah (Meier 1996 dalam Setyawati, 2003).
Selanjutnya Meier menyatakan karena sifat-sifatnya tersebut, Polypropylene
memiliki potensi sebagai matrik molding dalam pembuatan produk dalam skala
besar.
Karakterisitik Polypropylene menurut Bost (1980) dalam Syarief et al.
(1999) adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Karakterisitik Polypropylene
Deskripsi
Satuan
Polypropylene
Densitas pada suhu 200C
gr/cm3
0,9
Suhu melunak
0
149
Titik lebur
0
C
170
Kristalinitas
%
60-70
Indeks fluiditas
-
0,2-2,5
Modulus Of Elasticity
C
kg/cm2
11000-13000
3
Tahanan Volumetrik
ohm/cm
1017
Konstanta dielektrik
1000 cycles
2,3
Permebealitas gas
-
-
Nitrogen
-
4,4
Oksigen
-
23
Gas Karbon
-
92
Uap air
-
600
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai pada bulan Maret sampai
Juni 2008. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biokomposit, Laboratorium
Rekaya dan Desain Bangunan Kayu, dan Laboratorium Peningkatan Mutu,
Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB dan PAU IPB.
3.2 Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan adalah sekam dan plastik Polypropylene (PP) daur
ulang. Jenis sekam padi yang digunakan adalah jenis Ciherang. Sedangkan alat
yang digunakan adalah Mesin Hot and Cold Press, alat uji mekanis UTM merk
Instron, mesin trimmer, dishmill, caliper, Alumunium foil, oven, timbangan,
baskom, plat alumunium berukuran 50 x 50 cm2, bingkai dari besi dengan ukuran
25 cm x 25 cm x 0,5 cm, cutter, kantong plastik, label, dan alat tulis. Sedangkan
untuk pengolahan data mengunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007 dan
SAS.
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Persiapan bahan baku
Sekam yang digunakan dalam pembuatan papan partikel terdiri dari sekam
ukuran 10 mesh dan sekam 40 mesh. Sekam dioven untuk menurunkan kadar
airnya hingga mencapai 3% sampai 6%. Perekat yang digunakan adalah plastik
Polypropylene (PP) daur ulang dalam bentuk pellet. Plastik Polypropylene daur
ulang digiling menjadi sekitar ukuran 20 mesh. Perbandingan sekam dan plastik
PP daur ulang yang digunakan adalah 50/50, 40/60, dan 30/70 terhadap berat
papan yang akan dibuat. Pelaburan plastik Polypropylene daur ulang dibagi
menjadi 3 bagian berdasarkan beratnya, yaitu 15 % permukaan atas, 70 % berat
plastik dicampur dengan sekam, dan 15% permukaan bawah.
3.3.2 Pembuatan Papan partikel
Partikel sekam dicampur dengan 70% berat Polypropylene dalam bak
plastik dan diaduk secara manual. Adonan tersebut dimasukan ke dalam cetakan
dengan ukuran 25 cm x 25 cm yang sebelumnya sudah taburi 15% berat
Polypropylene. Setelah bagian inti sudah ditaburi, kemudian bagian permukaan
atas ditaburi kembali dengan 15% berat plastik. Setelah adonan dicetak, kemudian
diletakkan diantara dua plat alumunium. Adonan tersebut dikempa pada suhu
1800C dengan tekanan 25 kg/cm2 selama 20 menit. Setelah pengempaan selesai,
papan yang dihasilkan dibiarkan selama 30 menit agar lembaran panil mengeras.
Untuk melepaskan tegangan sisa dan mencapai distribusi kadar air, maka
dilakukan pengkondisian selama satu minggu. Secara skematis proses pembuatan
papan partikel ditampilkan pada Gambar 1.
3.3.3 Pembuatan papan partikel dengan perlakuan awal
Perlakuan awal yang dilakukan adalah pemasakan sekam pada suhu 1000C
selama 2 jam. Perlakuan awal hanya dilakukan pada sekam dengan ukuran 40
mesh. Sekam yang akan digunakan untuk bahan pembuatan papan partikel
dimasak di atas kompor dengan suhu ±1000C selama dua jam. Selama pemasakan,
sekam terus diaduk terus menerus agar sekam yang menempel pada bagian
dinding panci tidak gosong. Selanjutnya, pembuatan papan partikel sama dengan
papan partikel tanpa perlakuan awal.
Setelah papan partikel dibuat, maka dilakuakan pengujian. Pengujian yang
dilakukan hanya pengujian sifat mekanis, yaitu keteguhan lentur dan keteguhan
patah.
11
SEKAM
PLASTIK POLYPROPYLENE DAUR
10 mesh dan 40 mesh
ULANG
(50%, 40%, 30%)
(50%, 60%, 70%)
PENCAMPURAN
PENGEMPAAN
25 kg/cm2, 1800C, 20 menit
PAPAN PARTIKEL
25 cm x 25 cm x 0.5 cm
PENGKONDISIAN
7 hari
PENGUJIAN
SIFAT FISIS
SIFAT MEKANIS
Gambar 1 Skema pembuatan papan pertikel plastik daur ulang
3.3.3 Pengujian Papan partikel
Papan partikel yang dibuat sebanyak 18 lembar. Pola pemotongan untuk
uji papan partikel berdasarkan standar JIS A 5908 (2003). Pola pemotongan untuk
pengujian sifat fisis dan mekanis seperti terlihat pada Gambar 2.
10 cm
20 cm
C
5 cm
25 cm
A
10 cm
B
5cm
5 cm
Gambar 2 Pola pemotongan contoh uji papan partikel
Keterangan:
A = contoh uji untuk pengujian keteguhan lentur dan keteguhan patah
B = contoh uji untuk pengujian kerapatan dan kadar air
C = contoh uji untuk pengujian daya serap air dan pengembangan tebal
13
A. Pengujian sifat fisis papan partikel
1 Kerapatan
Contoh uji berukuran 10 cm x 10 cm x 0,5 cm dalam keadaan kering udara
ditimbang beratnya, kemudian diukur panjang, lebar, dan tebal sesungguhnya
untuk menghitung volume contoh uji. Nilai kerapatan papan partikel dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
Kr
= Kerapatan (g/cm³)
M
= Berat contoh uji kering udara (g)
V
= Volume contoh uji kering udara (cm³)
2 Kadar air
Contoh uji yang digunakan adalah papan partikel yang sama digunakan
dengan menentukan kerapatan. Contoh uji berukuran 10 cm x 10 cm x 0,5 cm
diukur berat awalnya (BA). Kemudian dikeringkan dalam oven selama 24 jam
pada suhu 103±2°C sampai beratnya konstan dan diukur beratnya (BKO).
Selanjutnya kadar air papan dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
KA
= kadar air (%)
BA
= berat awal contoh uji (g)
BB
= berat tetap contoh uji setelah pengeringan (g)
3 Daya serap air
Contoh uji berukuran 5 cm x 5 cm x 0,5 cm ditimbang berat awal (B1).
Kemudian direndam dalam air dingin selama 24 jam, setelah ditimbang beratnya
(B2). Besarnya daya serap air papan dihitung berdasarkan rumus:
Keterangan:
DS
= daya serap air (%)
B1
= berat/volume contoh uji sebelum perendaman (g)
B2
= berat/volume contoh uji setelah perendaman (g)
4 Pengembangan tebal
Contoh uji pengembangan tebal sama dngan contoh uji daya serap air.
Contoh uji berukuran 5 cm x 5 cm x 0,5 cm dalam kondisi kering udara diukur
dimensi tebal (T1) pada keempat sisinya kemudian dirata-ratakan. Selanjutnya
contoh uji direndam dalam air dingin selama 24 jam, setelah itu diukur kembali
dimensi tebalnya (T2). Nilai pengembangan tebal dinyatakan dalam persen yang
dihitung dengan rumus:
Keterangan:
S
= pengembangan tebal atau linier (%)
T1
= tebal atau panjang contoh uji sebelum perendaman (mm)
T2
= tebal atau panjang contoh uji setelah perendaman (mm)
B. Pengujian sifat mekanis papan partikel
1 Keteguhan lentur (MOE)
Pengujian keteguhan lentur menggunakan contoh uji yang sama dengan
contoh uji keteguhan patah. Pada saat pengujian dicatat besarnya defleksi yang
terjadi setiap selang beban tertentu. Nilai keteguhan lentur (MOE) dihitung
dengan menggunakn rumus:
15
Keterangan:
MOE = Keteguhan lentur (kg/cm2)
P
= Beban sebelum batas proporsi (kg)
L
= Jarak sangga (cm)
Y
= Lentur pada beban P (cm)
b
= Lebar contoh uji (cm)
h
= Tebal contoh uji (cm)
2 Keteguhan patah (MOR)
Pengujian keteguhan patah dilakukan dengan menggunakan mesin uji
UTM (Universal Testing Machine). Contoh uji berukuran 5 x 20 cm pada kondisi
kering udara, lebar bentang 15 kali tebal nominal tetapi tidak kurang dari 15 cm.
Nilai MOR papan partikel dihitung dengan rumus:
Keterangan:
MOR = keteguhan patah (kg/cm2)
P
= beban maksimum (kg)
L
= jarak sangga (cm)
b
= lebar contoh uji (cm)
h
= tebal contoh uji (cm)
3.4 Analisis Data
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan
faktorial di dalam rancangan acak lengkap dengan 2 faktor perlakuan yaitu:
Faktor A : partikel serbuk sekam 10 mesh dan 40 mesh
Faktor B : plastik polypropylene daur ulang sebagai perekat yang
digunakan terdiri dari 50%, 60% dan 70% dari berat papan
partikel
Perlakuan yang diaplikasikan dua taraf, dengan pengulangan 3 kali
sehingga untuk penelitian diperlukan 3 x 2 x 3 = 18 papan. Apabila disimbolkan,
sekam 10 mesh dengan perbandingan sekam/Polypropylene 50/50 (a1b1), 60/40%
(a1b2),
dan
70/30%
(a1b3),
sekam
40
mesh
dengan
perbandingan
sekam/Polypropylene 50/50 (a2b1), 60/40 (a2b2), 70/30% (a2b3).
Model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yijk =μ+α1+βj+(αβ)ij+εijk
Keterangan:
Yijk
= nilai pengamatan pada suatu percobaan ke-k yang memperoleh
kombinasi perlakuan taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j dari
faktor B
μ
= nilai tengah populasi
αi
= pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor A
βj
= pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor B
(αβ)ij
= pengaruh interaksi taraf ke-i faktor A dan taraf faktor B
εijk
= pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh
kombinasi perlakuan ij.
i = 0, 1, 2, 3
j=1, 2
k=1, 2
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan perbandingan sekam dengan
Polypropylene dan ukuran sekam terhadap sifat-sifat papan partikel maka akan
dilakukan analisis keragaman. Analisis keragaman menggunakan criteria uji
sebagai berikut:
a. Jika F hitung lebih kecil dari F Tabel maka Ho diterima atau perlakuan
tidak memberikan pengaruh pada suatu selang kepercayaan.
b. Jika F hitung lebih besar dari F Tabel maka Ho ditolak atau perlakuan
memberikan pengaruh pada suatu selang kepercayaan.
Selanjutnya untuk mengetahui faktor yang berpengaruh, maka pengujian
dilanjutkan dengan menggunakan uji jarak Duncan. Untuk menentukan kombinasi
papan partikel yang terbaik, sifat fisis dan mekanis papan partikel yang dihasilkan
pada setiap perbandingan sekam dengan Polypropylene dan ukuran sekam diberi
skor nilai berdasarkan Duncan Grouping.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sifat Fisis
Sifat papan partikel yang diuji terdiri dari sifat fisis dan sifat mekanis.
Sifat fisis meliputi kerapatan, kadar air, daya serap air (2 jam dan 24 jam), dan
pengembangan tebal (2 jam dan 24 jam). Sifat mekanis yang diuji meliputi
Keteguhan Lentur (MOE) dan Keteguhan Patah (MOR). Pengujian papan partikel
berdasarkan standar JIS A 5908 (2003).
4.1.1 Kerapatan
Kerapatan digunakan untuk menerangkan massa suatu bahan per satuan
volume (Hegreen dan Bowyer 1996). Nilai kerapatan papan partikel hasil
penelitian ditunjukan pada Gambar 3.
Gambar 3 Histogram kerapatan papan partikel plastik daur ulang
Berdasarkan hasil pengujian (Gambar 3), kerapatan papan partikel berkisar
antara 0,64 g/cm3 sampai 0,76 g/cm3. Hasil pe ngujian tersebut menunjukkan
bahwa papan partikel yang dibuat dari sekam ukuran 40 mesh dengan
perbandingan sekam/Polypropylene sebesar 50/50 mempunyai nilai kerapatan
papan tertinggi, sedangkan papan partikel yang dibuat dari sekam ukuran 10 mesh
dengan perbandingan sekam/polypropylene 40/60 dan 30/70 mempunyai nilai
terendah.
Secara keseluruhan, nilai rata-rata kerapatan papan partikel tidak
semuanya memenuhi target yang diinginkan yaitu 0,7 g/cm3. Hal ini diduga
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya tidak meratanya penyebaran partikel
sekam dan plastik di semua bagian papan partikel, sehingga terjadi variasi
kerapatan di setiap bagian papan maupun di antara papan yang dibuat. Ukuran
sekam dan Polypropylene yang tidak seragam juga diduga sebagai penyebabnya.
Kedua bahan yang tidak seragam menyebabkan ikatan kedua bahan tersebut tidak
kompak. Hal ini terutama terjadi pada papan partikel yang terbuat dari sekam 10
mesh (sekam utuh). Sebab, pada sekam 10 mesh (utuh) masih terdapat ruang
kosong, sehingga saat dicampur dengan Polypropylene dan kemudian dikempa,
ruang kosong di dalam sekam tersebut akan mempengaruhi kerapatan dari papan
itu sendiri.
Tabel 2 Analisis keragaman kerapatan papan partikel
Sumber
Dearjat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
0.02814774
0.00892353
0.00045511
0.02814774
0.00446177
0.00022755
25.77
4.09
0.21
0.0003
0.0443
0.8148
Hasil analisis keragaman (Tabel 2) menunjukkan bahwa ukuran sekam dan
perbandingan sekam/Polypropylene yang ditambahkan berpengaruh nyata
terhadap kerapatan. Sedangkan interaksi keduanya tidak mempengaruhi
kerapatan. Berdasarkan hasil uji jarak Duncan, ukuran sekam 40 mempunyai
kerapatan lebih tinggi daripada sekam 10 mesh. Sedangkan untuk perbandingan
sekam/Polypropylene, semakin besar jumlah plastik yang ditambahkan, nilai
kerapatannya semakin menurun. Perbandingan sekam/Polypropylene 40/60 dan
30/70 tidak berbeda nyata. Sedangkan perbandingan sekam/Polypropylene 50/50
berbeda nyata dengan perbandingan sekam/Polypropylene 40/60 dan 30/70.
4.1.2 Kadar air
Kadar air adalah banyaknya air dalam kayu atau produk kayu. Kadar Air
dapat juga didefinisikan sebagai berat air yang dinyatakan dalam persen dalam
persen berat kayu bebas air atau kering tanur (Heygreen dan Bowyer 1996). Nilai
kadar air papan partikel ditunjukan pada Gambar 4.
19
Gambar 4 Histrogram kadar air papan partikel plastik daur ulang
Berdasarkan hasil pengujian, kadar air papan partikel berkisar antara
2,47% sampai 4,56%. Dapat dilihat pada Gambar 4, bahwa semakin besar jumlah
plastik yang ditambahkan dalam pembuatan papan partikel, kadar air papan
partikel semakin kecil. Hal ini disebabkan oleh plastik Polypropylene yang
bersifat hidrophobic menghalangi masuknya uap air ke dalam papan partikel.
Sehingga dengan jumlah plastik Polypropylene semakin besar membuat uap air
yang diserap oleh papan partikel akan semakin kecil.
Tabel 3 Analisis keragaman kadar air papan partikel
Sumber
Derajat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
0.00478894
8.57706397
0.47236658
0.00478894
4.28853198
0.23618329
0.03
25.45
1.40
0.8689
<.0001
0.2838
Hal tersebut juga ditunjang dengan hasil analisis keragaman (Tabel 3),
dimana perbandingan sekam/Polypropylene memang memberikan pengaruh nyata
terhadap kadar air papan partikel. Setelah dilakukan uji jarak Duncan, semua
perbandingan sekam/Polypropylene memberikan pengaruh yang berbeda. Terlihat
bahwa semakin besar jumlah plastik Polypropylene, kadar air papan partikel
cenderung menurun. papan partikel dengan perbandingan sekam/Polypropylene
30/70 mempunyai kadar air yang paling kecil.
4.1.3 Daya serap air
Daya serap air merupakan sifat fisis yang mencerminkan kemampuan
papan partikel untuk menyerap air setelah direndam di dalam air selama 2 jam dan
24 jam. Air yang masuk ke dalam papan partikel dapat dibedakan atas 2 macam
yaitu air yang langsung masuk ke dalam papan dan mengisi rongga-rongga
kosong di dalam papan dan air yang masuk ke dalam partikel kayu penyusun
(Massijaya et al 2000). Nilai daya serap air hasil penelitian dapat dilihat pada
Gambar 5.
Gambar 5 Histogram daya serap air papan partikel plastik daur ulang
Nilai daya serap air selama 2 jam perendaman antara 0,99% sampai
7,33%, sedangkan nilai perendaman salama 24 perendaman jam antara 4,33%
sampai 17,57%. Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa nilai daya serap air
meningkat seiring dengan lamanya waktu perendaman papan partikel.
Perendaman selama 24 jam menunjukkan bahwa papan partikel dengan
perbandingan sekam/Polypropylene 50/50 mempunyai nilai daya serap tertinggi,
baik pada papan yang terbuat dari sekam ukuran 10 mesh maupun sekam ukuran
40 mesh. Jumlah plastik Polypropylene yang lebih sedikit pada perbandingan
sekam/Polypropylene 50/50 dari pada perbandingan 40/60 dan 30/70,
menyebabkan air mudah masuk ke dalam papan partikel dan berikatan dengan
sekam, sehingga pada papan partikel dengan perbandingan 50/50 mempunyai nilai
daya serap air yang lebih tinggi. Pada papan partikel yang dibuat dengan
perbandingan 30/70 mempunyai nilai daya serap air paling kecil dikarenakan sifat
21
plastik Polypropylene yang lebih banyak menghalangi jumlah air untuk masuk ke
dalam papan partikel.
Tabel 4 Analisis keragaman daya serap air selama 2 jam
Sumber
Derajat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
5.45979859
11.30591757
9.59872749
5.45979859
5.65295878
4.79936375
1.38
1.43
1.21
0.2631
0.2779
0.3316
Tabel 5 Analisis keragaman daya serap air selama 24 jam
Sumber
Derajat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
130.3127396
162.7060026
36.7606215
130.3127396
81.3530013
18.3803107
10.39
6.49
1.47
0.0073
0.0123
0.2694
Hasil analisis keragaman daya serap air selama 24 jam menunjukkan
bahwa ukuran sekam dan perbandingan sekam/Polypropylene berpengaruh nyata
terhadap daya serap air. Dari hasil uji jarak Duncan (Lampiran 6) menunjukkan
bahwa papan partikel yang dibuat dari sekam ukuran 10 mesh mempunyai
penyerapan air yang lebih besar dibandingkan dengan sekam ukuran 40 mesh. Hal
ini disebabkan pada papan partikel yang dibuat dengan sekam 10 mesh masih
terdapat ruang kosong sehingga air mudah masuk ke dalam papan partikel.
Sedangkan pada uji jarak untuk perbandingan sekam/Polypropylene (Lampiran 6),
terlihat bahwa semakin besar jumlah Polypropylene yang ditambahkan,
penyerapan air papan partikel cenderung menurun.
Adanya pengaruh jumlah plastik Polypropylene terhadap penyerapan air
disebabkan oleh sifat Polypropylene yang tidak mudah menyerap air. Dengan
perbandingan sekam/Polypropylene 30/70 peluang papan partikel untuk meyerap
air lebih kecil karena terhalang oleh Polypropylene. Semakin besar luas
permukaan partikel yang dapat ditutupi oleh Polypropylene, sehingga kontak
antara partikel semakin rapat dan air akan sulit untuk masuk ke dalam panel
(Mulyadi 2001). Namun demikian, kerapatan papan partikel yang dibuat dari
perbandingan sekam/Polypropylene 50/50 tidak berbeda nyata dengan 40/60.
Begitu pula perbandingan sekam/Polypropylene 40/60 dan 30/70 tidak berbeda
nyata.
4.1.4 Pengembangan tebal
Pengembangan tebal merupakan sifat fisis yang akan menentukan apakah
suatu papan partikel dapat digunakan untuk keperluan eksterior atau interior.
Apabila pengembangan tebal papan partikel tinggi, berarti bahwa stabilitas
dimensi produk tersebut tidak dapat digunakan untuk penggunaan eksterior atau
untuk jangka waktu yang lama, karena sifat mekanis yang dimilikinya akan segera
menurun secara drastis dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama (Massijaya et
al. 2000). Nilai pengembangan tebal dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Histogram pengembangan tebal papan partikel plastik daur ulang
Nilai pengembangan pada perendaman selama 2 jam antara 0,9% sampai
2,47%, sedangkan nilai pengembangan tebal pada perendaman selama 24 jam
antara 2.14% sampai 4,44%. Sama halnya dengan daya serap air, nilai
pengembangan tebal bertambah seiring dengan lamanya waktu perendaman.
Tabel 6 Analisis keragaman pengembangan tebal papan partikel selama 2 jam
Sumber
Derajat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
1.54891741
2.92508772
2.83522777
1.54891741
1.46254386
1.41761388
0.64
0.60
0.58
0.4400
0.5633
0.5729
Tabel 7 Analisis keragaman pengembangan tebal papan partikel selama 24 jam
Sumber
Derajat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
0.00198505
3.81754678
1.22437841
0.00198505
1.90877339
0.61218920
0.00
1.05
0.34
0.9741
0.3786
0.7197
23
Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan yang diberikan telah dilakukan
analisis keragaman (Tabel 6 dan Tabel 7). Hasil analisis keragaman menunjukkan
bahwa pada perendaman selama 2 jam dan 24 jam, ukuran sekam, perbandingan
sekam/Polypropylene, maupun interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap pengembangan tebal.
4.2 Sifat Mekanis
4.2.1 Keteguhan patah (Modulus of Rupture)
Hasil pengujian keteguhan patah papan partikel plastik daur ulang
ditunjukan pada Gambar 7.
Gambar 7 Histogram keteguhan patah papan partikel plastik daur ulang
Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai keteguhan patah terendah
terdapat pada papan partikel yang dibuat dari sekam ukuran 10 mesh dengan
perbandingan sekam/Polypropylene 30/70, yaitu sebesar 95 kg/cm2. Nilai
keteguhan patah tertinggi terdapat pada papan partikel yang dibuat dari sekam
ukuran 10 mesh dengan perbandingan sekam/Polypropylene dengan perbandingan
50/50, yaitu sebesar 116 kg/cm2.
Papan partikel yang dibuat dari sekam 10 mesh dan 40 mesh cenderung
menurun dengan jumlah sekam yang semakin sedikit dan jumlah plastik
Polypropylene yang semakin besar. Hal ini disebabkan oleh lemahnya interaksi
(pengaruh timbal balik) antara permukaan Polypropylene dengan partikel, adhesi
yang lemah, penyebaran partikel yang tidak merata diseluruh perekat
Polypropylene, transfer (perpindahan) tegangan antara fase yang rendah
menyebabkan kekompakan atau kesesuaian (compatibility) yang terbatas sehingga
menghasilkan kontak yang lemah antara Polypropylene dengan partikel (Febrianto
et al. 1999 dalam Mulyadi 2001).
Tabel 8 Analisis keragaman keteguhan patah papan partikel
Sumber
Derajat Bebas
Jumlah Kuadran
Kuadrat Tengah
Nilai F
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
132.4860756
657.3023604
178.4593847
132.4860756
328.6511802
89.2296923
0.15
0.36
0.10
0.7085
0.7025
0.9067
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa ukuran sekam dan
perbandingan sekam/Polypropylene dan interaksi keduanya tidak berpengaruh
nyata terhadap nilai keteguhan patah.
4.2.2 Keteguhan Lentur (Modulus of Elasticity)
Hasil pengujian keteguhan lentur papan partikel plastik daur ulang
ditunjukan pada Gambar 8.
Gambar 8 Histogram keteguhan lentur papan partikel plastik daur ulang
Hasil pengujian menujukan bahwa nilai keteguhan lentur terendah terdapat
pada papan partikel yang terbuat dari sekam ukuran 40 mesh dengan
perbandingan sekam/Polypropylene 30/70, yaitu sebesar 5462 kg/cm2. Sedangkan
nilai keteguhan lentur tertinggi terdapat pada papan partikel yang terbuat dari
sekam ukuran 40 mesh dengan perbandingan sekam/Polypropylene 10 mesh, yaitu
25
sebesar 11068 kg/cm2. Gambar 8 menunjukkan bahwa semakin kecil jumlah
sekam yang ditambahkan atau semakin besar penambahan plastik Polypropylene,
nilai keteguhan lentur cenderung menurun. Hal tersebut disebabkan karena
semakin lemahnya interaksi antara sekam dan plastik Polypropylene dengan
penambahan jumlah plastik yang semakin besar atau jumlah sekam yang sedikit.
Walaupun secara visual keduanya menyatu, tetapi secara kimia tidak ada ikatan
yang terjadi antara keduanya (Setyawati dan Massijaya 2005).
Untuk meningkatkan interaksi antara partikel yang bersifat hidrofilik
dengan plastik yang bersifat hidrofobik dapat ditambah dengan maleic anhydride
(MAH) pada proses pembuatan papan partikel (Han 1990, Kazayawoko dan
Balatinez 1997, Stark dan Berger 1997, Febrianto 1999 dalam Setyawati 2003).
Namun, kadar MAH yang berlebihan dapat menyebabkan hasil yang tidak
diinginkan pada komposit yang dihasilkan (Setyawati 2003).
Menurut Han (1990) dalam Setyawati (2003), MAH yang berlebih dapat
bereaksi dengan zat-zat lain sehingga menyebabkan terjadinya subtansi dengan
berat molekul yang rendah pada komposit, selain itu pada tempertur tinggi
kelebihan MAH yang bersifat asam dapat menyebabkan degradasi pada filler dan
RPP pada saat proses pencampuran. Hal tersebut menyebabkan kekuatan
komposit menurun.
Tabel 9 Analisis keragaman keteguhan lentur papan partikel
Source
DF
Type III SS
Mean Square
F Value
Pr > F
A
B
A*B
1
2
2
2802006.46
71146848.51
1957750.65
2802006.46
35573424.26
978875.32
0.32
4.00
0.11
0.5848
0.0466
0.8966
Hasil
analisis
keragaman
menunjukkan
bahwa
perbandingan
sekam/Polypropylene berpengaruh nyata terhadap nilai keteguhan lentur,
sedangkan ukuran sekam dan interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap keteguhan lentur papan partikel. Uji jarak Duncan menunjukkan
bahwa semakin besar penambahan plastik Polypropylene nilai keteguhan lentur
papan
partikel
semakin
kecil.
Papan
partikel
dengan
perbandingan
sekam/Polypropylene 50/50 mempunyai nilai lebih tinggi dari perbandingan
sekam/Polypropylene 40/60 dan 30/70. Namun demikian, papan partikel yang
dibuat dengan perbandingan sekam/Polypropylene 50/50% tidak berbeda nyata
dengan 40/60. Demikian pula, papan partikel yang dibuat dengan perbandingan
sekam/Polypropylene 40/60 tidak berbeda nyata dengan 30/70.
Berdasarkan hasil pengujian sifat fisis dan mekanis papan partikel hasil
penelitian, kemudian dilakukan perbandingan hasil penelitian dengan standar JIS
A 5908 (2003) pada Tabel 10.
Tabel 10 Perbandingan sifat fisis dan mekanis papan partikel hasil penelitian
dengan standar JIS A 5908 (2003)
1
Parameter Sifat
Fisis dan Mekanis
Kerapatan (g/cm3)
2
Kadar Air (%)
3
Daya Serap Air (%)
4
Pengembangan Tebal (%)
5
6
No
0,4 – 0,9
Papan Partikel
Hasil Penelitian
0,64 – 0,76
5 – 13
2,47 – 4,56
-
-
Maks 12
0,9 – 4,4
Keteguhan Lentur (kg/cm2)
Min 20400
50462 – 11068
Keteguhan Patah (kg/cm2)
Min 82
95 - 116
Standar JIS A 5908
4.3 Sifat Mekanis Setelah Perendaman Panas
Papan partikel yang dihasilkan dalam penelitian ini masih mempunyai
kekuatan di bawah standar penggunaan papan partikel untuk kontruksi. Hal ini
disebabkan karena lemahnya interaksi antara plastik yang bersifat hidrofobik
dengan partikel sekam yang bersifat hidrofilik. Penelitian untuk meningkatkan
kekuatan papan partikel yang menggunakan plastik Polypropylene dengan bahan
yang bersifat hidrofilik sudah pernah dilakukan. Salah satu cara untuk
meningkatkan kekuatan papan partikel adalah penambahan compatibilizer dan
inisiator, yaitu berupa maleic anhydride dan dicumyl peroxide. Penelitian Iswanto
dan Febrianto (2005) menunjukkan bahwa penambahan maleic anhydride (MAH)
sebesar 6% dan dicumyl peroxide (DCP) sebanyak 15% dari berat MAH dapat
meningkatkan modulus elastisitas papan komposit dari serbuk kayu sengon dan
Polypropylene daur ulang sebesar 1,7 kali dibandingkan komposit tanpa
penambahan MAH dan DCP. Namun nilainya masih belum memenuhi standar
yang digunakan (JIS A 5908). Sama halnya dengan penelitian Affandy (2007)
27
yang menyatakan bahwa penggunaan MAH dan DCP dapat meningkatkan sifat
fisis dan mekanis papan partikel.
Penelitian Setyawati et al. (2008) menunjukan bahwa penggunaan
anyaman bambu untuk pelapis dapat meningkatkan nilai keteguhan lentur sebesar
2 hingga 7,5 kali dibandingkan dengan papan komposit tanpa penambahan
pelapis. Dalam penelitian ini mencoba untuk menambahkan perlakuan awal
berupa perebusan sekam selama 2 jam pada suhu ±1000C untuk meningkatkan
kekuatan papan. Perbandingan nilai keteguhan lentur dan keteguhan patah antara
papan yang dibuat dengan perebusan sekam dengan papan tanpa perebusan dapat
dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.
Gambar 9 Histogram perbandingan nilai keteguhan lentur papan partikel dari
sekam tanpa direndam panas dengan sekam perendaman panas
Gambar 9 menunjukan bahwa nilai keteguhan lentur papan partikel dengan
perebusan sekam menunjukan hasil yang berbeda dengan papan partikel tanpa
perebusan.
Pada
papan
partikel
yang
dibuat
dengan
perbandingan
sekam/Polypropylene 50/50 dengan perebusan menunjukan nilai yang lebih kecil
dari papan partikel tanpa perebusan pada sekamnya. Akan tetapi papan partikel
dengan perbandingan sekam/Polypropylene 40/60 dan 30/70 dengan perebusan
menunjukan hasil yang lebih tinggi dari papan partikel yang tidak dilakukan
perebusan pada sekamnya.
Gambar 10 Histogram perbandingan nilai keteguhan patah papan partikel dari
sekam tanpa direndam panas dengan sekam perendaman panas
Gambar 10 menunjukan bahwa nilai keteguhan patah papan partikel
dengan perebusan menunjukan nilai yang lebih kecil dari papan partikel tanpa
perebusan.
Perebusan panas selama 2 jam pada suhu ± 1000C terhadap sekam
mempengaruhi sifat mekanis papan partikel yang dihasilkan. Berdasarkan hasil
pengujian menunjukan bahwa pada nilai keteguhan lentur meningkat setelah
dilakukan perebusan terhadap sekam. Sedangkan pada nilai keteguhan patah
mengalami penurunan setelah dilakukan perebusan terhadap sekam.
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Sekam dan plastik Polypropylene daur ulang dapat digunakan sebagai
bahan baku papan partikel. Sifat fisis papan partikel daur ulang mempunyai sifat
lebih baik dibandingkan dengan JIS A 5908, terutama untuk kadar air dan
pengembangan tebal. Namun, sifat mekanisnya tidak memenuhi dengan standar
JIS A 5908 untuk papan partikel struktural. Perebusan sekam sebelum dibuat
papan partikel meningkatkan nilai keteguhan lentur, tetapi menurunkan nilai
keteguhan patah papan partikel. Papan yang dibuat dalam penelitian ini adalah
papan partikel non struktural.
5.2 Saran
Papan partikel yang terbuat dari sekam dan plastik Polypropylene daur
ulang perlu dikembangkan dalam sekala pabrik karena potensi bahan baku yang
cukup besar di Indonesia. Papan partikel hasil penelitian tidak disarankan untuk
pemakaian struktural. Untuk pemakaian struktural perlu penelitian dan rekayasa
teknologi lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Anggie. 2008. KOde-kode dalam Plastik. http://anggiemaya.net/blog/?p=230 [20
Agustus 2008]
Affandy, H.2007. Peningkatan Mutu Papan Komposit dari Limbah Serbuk Kayu
Sengon dan Plastik Polypropylene Daur Ulang Dengan Perlakuan Fisik
dan Kimia. Skripsi Fakultas Kehutanan IPB. Tidak Dipublikasikan.
Balai
Besar
Penelitian
Padi.
2007.
Ciherang
http://72.14.205.104/search?q=cache:PdMwJm5bpJcJ:www.pustakadeptan.go.id/publikasi/wr282068.pdf+padi+ciherang&hl=id&ct=clnk&cd=
2&gl=id&client=firefox-a [7 Juli 2008]
Departemen Komunikasi dan Informatika Indonesia. 2008. Ramalan BPS
Produksi Padi 2007 57,05 juta ton.
http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=berita&view=1&id
=BRT071110144501 [31 Juli 2008]
Haygreen, J. G. dan J.L.Bowyer.1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu
Pengantar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Japanese Standart Association. 2003. Japanese Industrial standarts Particleboard
(JIS A 5908-2003). Japanese Standart Association. Japan
Kompas. 2007. Bahan Baku dan Kapasitas Produksi Jadi Kendala.
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0705/31/ekonomi/3568849.htm
[31Juli2008]
Kusnadi, Arif. 2003. Sifat Fisis dan Mekanis Papan Komposit dari berbagai
Limbah Serbuk kayu dan Non Kayu dengan Plastik Polyethylene dan
Polypropylene Daur Ulang. Skripsi Fakultas Kehutanan IPB.Tidak
Dipublikasikan
Maloney, TM. 1993. Modern Particleboard and Dry-Process Fiberboard
Manufacturing. San Fransisco: Miller Freeman, Inc
Martana, H.2002. Pengaruh campuran pasir, bentonit, dan sekam padi terhadap
kualitas fungsional dan visual rumput Bermuda (Cynodon dactylon cv.
Tifdwardf). Skripsi Fakultas Pertanian. IPB. Tidak Dipublikasikan
31
Massijaya, M.Y, Y.S.Hadi, B. Tambunan, E.S. Bakar, W.A.Subari.2000.
Penggunaan Limbah Plastik Sebagai Komponen Bahan Baku Papan
Partikel. Jurnal Teknologi Hasil Hutan.XIII (2):18-24
Osswald TA, Menges G. 1995. Material Science of Polymer for Engineers. Ohio:
Hanser/Gardner Publications, Inc
Rowell RM. 1988. The State of Art and the Future Development of Bio-based
Composite Science and Technology Toward the 21st Century. Di dalam:
Proceeding of the Fourth Pasific Bio-based Composites Symposium.
Bogor
Rowell, R. M, Young Raymond A, Rowell, Judith K. 1997. Paper and composites
from Agro-based resources. USA. CRC Press, Inc.
Setyawati, D dan Massijaya, M,Y,. 2005. Pengembangan Papan Komposit
Berkualitas Tinggi dari Sabut Kelapa dan Polypropylene Daur Ulang (I):
Suhu dan Waktu Kempa Panas. Jurnal Teknologi Hasil Hutan XVIII (2).
91-101
Setyawati, D, Hadi, Y,S, Massijaya, M,Y dan Nugroho N. 2008. Karakteristik
Papan Komposit dari Serat Sabut Kelapa dan Plastik Polipropilena Daur
Ulang Berlapis Anyaman Bambu. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan
Vol I No1. 18-26
Sinar
Harapan.
2001.
Menjadikan
Plastik
Ramah
Lingkungan.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0109/12/fea01.html [31 Juli 2008]
Wikipedia.2008.HDPE. http://en.wikipedia.org/wiki/HDPE [20 Agustus 2008]
.2008.Epoxy. http://en.wikipedia.org/wiki/Epoxy [20 Agustus 2008]
33
Lampiran 1 Hasil pengujian dan perhitungan kerapatan dan kadar air
Perlakuan
Ulangan
Berat Awal (gr)
A1B1
I
II
III
43.248
43.876
42.066
43.06333333
40.043
37.896
35.586
37.84166667
34.394
36.099
36.615
35.70266667
43.855
45.653
46.604
45.37066667
40.842
40.041
34.408
38.43033333
32.238
29.545
35.674
32.48566667
Rata-rata
A1B2
Rata-rata
A1B3
Rata-rata
A2B1
Rata-rata
A2B2
Rata-rata
A2B3
Rata-rata
I
II
III
I
II
III
I
II
III
I
II
III
I
II
III
Luas
Permukaan
101.5559813
100.9270625
101.0270625
103.1239688
101.027275
101.35455
Volume
Kerapatan
BKO
KA
62.32998
63.58405
59.73225
0.69385547
0.690047275
0.704242675
0.696048473
0.633232016
0.625177706
0.653216966
0.637208896
0.63332712
0.666226707
0.626485748
0.642013192
0.73236755
0.782743028
0.773444165
0.762851581
0.747338553
0.732031519
0.706569624
0.728646565
0.737595811
0.645665882
0.779803916
0.72102187
41.445
41.918
40.633
4.35034383
4.67102438
3.52669013
4.18268611
3.94569478
3.72803416
2.89431835
3.52268243
2.72998805
3.1134851
2.80203274
2.8818353
4.34461919
4.68950651
4.63873546
4.55762039
3.99246321
3.80038885
3.15076296
3.64787167
2.74077379
2.52984453
2.1679984
2.47953891
100.801575
101.2789875
101.203575
64.58139
60.61637
54.47807
0
54.30685
54.18426
58.44506
101.278875
100.7764625
100.4252625
59.88113
58.32438
60.25516
101.203575
100.8266625
100.92695
54.64993
54.69846
48.69725
100.47555
101.4049
101.379275
43.70686
45.75896
45.7474
38.523
36.534
34.585
33.48
35.009
35.617
42.029
43.608
44.538
39.274
38.575
33.357
31.378
28.816
34.917
Lampiran 2 Hasil pengujian daya serap air (2 dan 24 jam) dan kembang susut (2
dan 24 Jam)
Daya serap air
Daya serap
Pengembangan
Pengembangan
2 jam
air 24 jam
tebal 2 jam
tebal 24 jam
I
2.884
18.512
1.879
2.839
II
3.821
21.435
1.353
2.524
III
15.294
30.392
4.170
5.560
7.333
23.446
2.467
3.641
II
3.084
17.357
2.869
3.675
III
7.236
19.573
1.494
3.555
5.160
18.465
2.181
3.615
I
3.703704
17.28395
0.645161
1.075269
II
1.298701
10.38961
2.816901
1.643192
III
7.901
19.877
0.584
3.696
4.301
15.850
1.349
2.138
I
7.700
20.751
1.969
3.982
II
6.349
15.256
2.098
4.067
III
3.543
18.512
2.191
3.835
5.864
18.173
2.086
3.961
I
6.330
9.442
1.917
2.717
II
7.283
18.701
1.602
2.861
III
2.469136
16.04938
1.272265
4.122137
5.361
14.731
1.597
3.233
I
0
3.658537
0.578035
1.445087
II
1.707
5.488
0.802
0.199
III
1.282051
3.846154
1.41844
2.836879
0.996
4.331
0.933
1.494
Perlakuan
Ulangan
A1B1
Rata-rata
A1B2
I
Rata-rata
A1B3
Rata-rata
A2B1
Rata-rata
A2B2
Rata-rata
A2B3
Rata-rata
35
Lampiran 3 Hasil pengujian dan perhitungan keteguhan lentur dan keteguhan patah
Perlakuan
A1B1
Rata-rata
A1B2
Rata-rata
A1B3
Rata-rata
A2B1
Rata-rata
A2B2
Rata-rata
A2B3
Rata-rata
Ulangan
I
II
III
b(cm)
4.91
4.9025
4.775
h
0.49625
0.635
0.60875
y
0.125x + 0.867
0.109x + 0.695
0.146x + 1.280
P1
7.035906
7.026371
7.58772
P2
14.9442
14.12316
14.04747
Y1
1.746488
1.460874
2.387807
Y2
2.735025
2.234424
3.330931
∆Y
0.098854
0.077355
0.094312
∆P
7.908297
7.096787
6.459753
I
II
III
4.86
4.83
4.835
0.545
0.5825
0.54625
0.162x + 1.692
0.203x + 0.781
0.205x + 1.321
7.48888
7.392671
7.070439
12.04741
12.31656
11.94908
2.905199
2.281712
2.77044
3.64368
3.281261
3.77056
0.073848
0.099955
0.100012
4.558526
4.923885
4.878636
I
II
III
4.92
4.845
4.9425
0.53125
0.565
0.551389
0.235x + 0.810
0.231x + 0.914
0.203x + 1.056
7.057417
7.141774
7.683231
10.29051
12.98327
10.23521
2.468493
2.56375
2.615696
3.228269
4.26431
3.133747
0.075978
0.170056
0.051805
3.233091
5.8415
2.551975
I
II
III
4.915
4.9325
4.935
0.58125
0.58375
0.5
0.168x + 0.372
0.110x + 0.324
0.101x + 0.092
7.955355
7.928661
7.85401
10.99128
10.85811
10.98406
1.7085
1.196153
0.885255
2.218535
1.518392
1.20139
0.051004
0.032224
0.031613
3.035927
2.929448
3.130046
I
II
III
4.905
4.9175
4.9
0.4875
0.52125
0.49
0.191x + 0.857
0.217x + 0.878
0.303x + 0.598
7.9241
7.791483
2.075339
10.64592
10.98736
7.505481
2.370503
2.568752
1.226828
2.89037
3.262257
2.872161
0.051987
0.069351
0.164533
2.721816
3.195877
5.430142
I
II
III
4.9
4.935
5.1
0.5
0.43125
0.5
0.343x + 0.552
0.380x + 0.895
0.380x + 0.800
2.020587
7.789316
2.010857
7.356126
10.9427
9.821302
1.245061
3.85494
1.564126
3.075151
5.053225
4.532095
0.183009
0.119829
0.296797
5.335539
3.153382
7.810445
MOE
14061.47
7708.298
6706.264
9492.011
8275.286
5442.43
6528.285
6748.667
6084.067
4145.884
6270.57
5500.174
6504.323
9771.997
16927.98
11068.1
9716.896
6978.812
6038.052
7577.92
5020.23
7012.384
4353.715
5462.11
MOR
160.543
86.14188
101.7352
116.14
105.1891
93.17573
98.28511
98.88332
104.5896
100.8321
79.75383
95.0585
91.71748
115.9606
131.2383
112.9721
133.0242
110.6294
76.09406
106.5825
69.07353
162.812
88.52991
106.8051
Lampiran 4 Uji jarak Duncan Kerapatan Papan Partikel
Means with the same letter
are not significantly different.
Duncan Grouping
Mean
N
a
A
0.73750
9
a2
B
0.65841
9
a1
Means with the same letter
are not significantly different.
Duncan Grouping
Mean
N
b
A
0.72943
6
b1
B
0.68292
6
b2
0.68152
6
b3
B
B
Lampiran 5 Uji jarak Duncan kadar air papan partikel
Means with the same letter
are not significantly different.
Duncan Grouping
Mean
N
b
A
4.3701
6
b1
B
3.5853
6
b2
C
2.6807
6
b3
37
Lampiran 6 Uji jarak Duncan daya serap air papan partikel selama 24 jam
Means with the same letter
are not significantly different.
Duncan Grouping
Mean
N
a
A
14.758
9
a1
B
9.377
9
a2
Means with the same letter
are not significantly different.
Duncan Grouping
A
Mean
N
b
15.790
6
b1
11.984
6
b2
8.427
6
b3
A
B
A
B
B
Lampiran 7 Uji jarak Duncan Keteguhan Lentur papan partikel
Means with the same letter
are not significantly different.
Duncan Grouping
A
Mean
N
b
10280
6
b1
7163
6
b2
5481
6
b3
A
B
A
B
B
Download