Skenario HIV / AIDS Saat Ini, Opsi Pengobatan, dan Tantangan Utama dengan Kepatuhan terhadap Terapi Antiretroviral Abstract Penemuan human immunodeficiency virus (HIV) sebagai organisme penyebab dari immunodeficiency syndrome (AIDS) dan ketidakmampuan pengobatan modern untuk menemukan obatnya telah menempatkan HIV sebagai salah satu patogen paling ditakuti di abad ke-21. Dengan jutaan orang yang terinfeksi HIV, sehingga pernah dianggap menyebabkan “medical apocalypse”. Namun, dengan munculnya antiretroviral therapy (ART), sekarang sudah memungkinkan untuk pengendalian terhadap HIV. Kepatuhan terhadap ART membantu menjaga kontrol viral load dan memperpanjang waktu pengembangan menjadi AIDS, sehingga menghasilkan harapan hidup yang mendekati normal. Bahkan dengan diperkenalkannya ART, sejumlah besar pasien gagal untuk patuh karena berbagai alasan, termasuk efek samping yang merugikan, penyalahgunaan obat, gangguan mental, status sosial ekonomi, kurang pengetahuan, dan stigma sosial. Dengan ketersediaan begitu banyak pilihan untuk pengobatan HIV pada setiap tahap perkembangan penyakit, dokter dapat beralih di antara rejimen pengobatan untuk menghindari dan / atau meminimalkan efek samping obat. Pemantauan ketat, reformasi sosial besar, dan konseling yang memadai juga harus dilaksanakan untuk menghindari tantangan lain. Pengantar Dan Latar Belakang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah kondisi medis yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). Infeksi HIV adalah ancaman yang sangat baru dan dapat dengan mudah disebut sebagai kutukan pada manusia. Komunitas ilmiah pertama kali memperhatikan dan mengakui keberadaan AIDS sebagai penyakit yang sebenarnya setelah peningkatan kejadian infeksi oportunistik yang sangat langka dan kanker di antara pria homoseksual yang sehat. HIV-1 diidentifikasi sebagai organisme penyebab segera setelah pengakuan resmi pertama pasien HIV di AS. HIV-2 dilaporkan pertama kali di Afrika pada tahun 1985 dan sangat berbeda dari HIV-1. Hal tersebut sangat mirip virus simian yang menginfeksi kera di penangkaran. Virus Simian yang secara alami menginfeksi primata Afrika diduga menjangkau manusia melalui berbagai transmisi lintas spesies yang mengakibatkan penyebaran HIV-1 dan HIV-2. Prevalensi global HIV telah meningkat sejak penemuannya dan sekarang telah menyebar di seluruh dunia meskipun ada kemajuan dalam pengobatan antiretroviral (ART). Tingkat kematian dan morbiditas terkait infeksi HIV tetap tinggi di negaranegara berkembang yang sebagian besar disebabkan oleh kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Hubungan seksual jangka panjang bersamaan dan infektivitas tinggi selama fase awal infeksi HIV adalah faktor lain di balik penyebaran luas HIV pada populasi umum. Gambar 1 merangkum jumlah korban berdasarkan jenis kelamin, kejadian, dan kematian, serta data statistik terbaru yang mencakup epidemi AIDS 2014 Review The infection Tempat utama serangan (Target) adalah sistem kekebalan tubuh, terutama limfosit T CD4 (sel CD4). Setelah terinfeksi, virus secara bertahap dan diam-diam mengalahkan mekanisme pertahanan inang, menghasilkan infeksi oportunistik dan kanker yang jarang terjadi. Sel CD4 yang teraktivasi dan terdiferensiasi memiliki peran penting dalam aktivasi cell-mediated dan sistem imun humoral. Infeksi HIV mengakibatkan berkuraangnya sel CD4 pada peripheral blood. (Sel darah tepi adalah komponen seluler darah, yang terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan trombosit, yang ditemukan dalam kumpulan darah yang bersirkulasi dan tidak diasingkan dalam sistem limfatik, limpa, hati, atau sumsum tulang.) Di antara pasien yang tidak diobati, berkuraangnya sel CD4 berlanjut selama beberapa tahun sampai pasien meninggal karena AIDS. Ini adalah tahap terakhir dari infeksi HIV, dan dapat muncul kapan saja antara dua sampai15 tahun setelah infeksi. Gambar berikut ini menunjukkan garis waktu infeksi HIV dari infeksi awal hingga ekspresi gejala terdefinisi AIDS (Gambar 2). HIV subgroups HIV -1. HIV-1 terkenal karena keragaman genetiknya yang luas. Ada empat garis keturunan yang berbeda berdasarkan HIV-1: M, N, O, dan P. Virus HIV yang paling sering dilaporkan di seluruh dunia adalah kelompok M. Grup N kurang dilaporkan, hanya dilaporkan dari Kamerun. Kelompok O bertanggung jawab atas 1% dari total kasus HIV-1 dan sebagian besar ditemukan di Kamerun dan Gabon. Grup P adalah yang paling langka dari semua dan telah diidentifikasi pada wanita hamil asal Kamerun di Perancis. Memiliki prevalensi 0,06% dari total infeksi HIV. HIV-2 HIV-2 paling sering dilaporkan di Afrika Barat, dengan Guinea-Bissau dan Senegal memiliki insiden tertinggi. Ada delapan jenis HIV-2, berlabel HIV-A hingga HIV-H. Grup A dilaporkan di seluruh wilayah sub-Sahara (Negara-Negara di afrika selain afrika utara / primbumi berkulit hitam). Grup B dilaporkan lebih umum di Pantai Gading. Karena sifat infeksi dan kejadian sporadis, C hingga H dikategorikan sebagai transmisi “jalan buntu” yang tidak menghasilkan infeksi berikutnya. Status infeksi HIV dan angka kematian saat ini. Barat, Eropa Tengah, dan Amerika Utara. Sekitar 2,4 juta orang adalah HIV-positif di wilayah ini. Diperkirakan 85.000 infeksi HIV baru dilaporkan pada tahun 2014, dan lebih dari 50% infeksi berasal dari Amerika Serikat. Sekitar 26.000 kematian terkait AIDS juga dilaporkan pada periode yang sama. Asia dan Pasifik. Pada 2014, sekitar lima juta orang sebelumnya terinfeksi di Asia dan Pasifik, dengan sebanyak 340.000 infeksi HIV baru muncul pada tahun itu. Cina, Indonesia, dan India berkontribusi sekitar 78% dari total beban penyakit baru di Asia dan Pasifik dengan sekitar 240.000 kematian. Pasien yang menerima ART adalah sekitar 36%, dengan 3,2 juta pasien HIV aktif tidak memiliki akses ke ART. Di Pakistan, indeks kasus infeksi HIV dilaporkan pada tahun 1987. Sesuai laporan tahunan dari Pakistan National AIDS Control Program (Program Pengendalian AIDS Nasional Pakistan), kejadian HIV telah meningkat sejak pertama kali dilaporkan. Menurut UNAIDS, United Nations program on HIV/AIDS (program gabungan PBB tentang HIV / AIDS), jumlah total orang dengan infeksi HIV aktif adalah sekitar 94.000. Tingkat prevalensi di antara orang dewasa adalah antara <0,1% dan 0,2%. Saat ini, ada sebanyak 26.000 perempuan, usia 15 dan lebih tua, dan sekitar 2.100 anak-anak, hingga usia 14, saat ini hidup dengan HIV. Jumlah total kematian terkait AIDS di wilayah ini adalah 2.800 pada tahun 2014 Opsi pengobatan untuk HIV. Infeksi HIV memiliki patogenesis yang sangat kompleks dan bervariasi secara substansial pada pasien yang berbeda. Oleh karena itu, dapat dengan mudah dianggap sebagai infeksi yang sangat spesifik inang. Spesifisitas patogenesis sering mempersulit pilihan pengobatan yang saat ini tersedia untuk infeksi HIV. Manajemen infeksi HIV yang efektif dimungkinkan dengan menggunakan kombinasi obat yang berbeda. Metode pengobatan ini dikenal sebagai antiretroviral therapy (ART). ART baku terdiri dari ramuan setidaknya tiga obat (disebut sebagai “highly active antiretroviral therapy” (“terapi antiretroviral yang sangat aktif”) atau ART). ART yang efektif sering membantu mengendalikan multiplikasi HIV pada pasien yang terinfeksi dan meningkatkan jumlah sel CD4, dengan demikian, memperpanjang fase infeksi tanpa gejala, memperlambat perkembangan penyakit, dan juga membantu mengurangi risiko penularan. Gambar 3 menunjukkan persentase pasien HIV yang menggunakan ART. Kelas obat HIV yang disetujui FDA (Food And Drug Administration) Inhibitor Transkriptase Terbalik Reverse transcriptase inhibitor adalah sekelompok obat, yang dapat mengikat dan menghambat enzim reverse transcriptase untuk mencegat penggandaan HIV. Ada dua jenis inhibitor: nonnucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTI) dan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTI). Contoh-contoh kelompok obat ini termasuk AZT, ddI, abacavir, tenofovir, dan Combivir. Inhibitor Protease Regulasi protease HIV sangat penting untuk perakitan dan produksi HIV yang benar. Protease inhibitor secara efektif memblokir fungsi enzim protease dalam sel CD4 yang terinfeksi HIV secara akut dan kronis. Penghambatan enzim protease HIV menghasilkan pembebasan partikel virus yang tidak matang dan tidak menular. Contoh-contoh dari kelompok obat ini termasuk lopinavir / ritonavir, indinavir, ritonavir, nelfinavir, dan amprenavir. Inhibitor fusi Kelas obat ini bertindak dengan menghalangi HIV agar tidak memasuki sel CD4 pasien yang terinfeksi. Mereka menghambat fusi partikel HIV dengan sel CD4. Enfuvirtide adalah contoh inhibitor fusi yang digunakan dalam pengobatan HIV. Antagonis Reseptor 5 Chemokine Kelompok obat ini mencegah infeksi dengan menghalangi reseptor antagonis kemokin 5 (CCR5) yang ada pada sel CD4. Dengan tidak adanya reseptor CCR5 kosong, HIV gagal mendapatkan entri dan menginfeksi sel. Maraviroc adalah contoh antagonis CCR5 yang digunakan dalam pengobatan HIV. Integrase Strand Transfer Inhibitor Inhibitor transfer untai mencegah integrasi DNA virus ke dalam genom host sel CD4 oleh enzim integrase. Memblokir integrase mencegah HIV dari replikasi. Raltegravir, elvitegravir, dan dolutegravir adalah beberapa obat dalam kategori ini. Rejimen pengobatan untuk HIV Pedoman pengobatan HIV saat ini merekomendasikan pengobatan ART untuk semua pasien, terlepas dari jumlah CD4, untuk meningkatkan dan memperpanjang pengembangan penyakit menjadi AIDS. Kepatuhan terhadap pengobatan adalah sangat penting untuk mencapai kemanjuran penuh pengobatan dan juga untuk mencegah timbulnya resistansi obat