Uploaded by Ahmad Efendi

Pengembangan Alat Peraga Gerak Parabola untuk Keterampilan Proses Sains

advertisement
PENGEMBANGAN ALAT PERAGA PADA MATERI GERAK
PARABOLA UNTUK MELATIH KETERAMPILAN PROSES
SAINS SISWA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah
Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Disusun Oleh:
ADAM WICAKSANA
11120106300043
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
iii
LEMBAR PENGESAHAN
iv
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
v
ABSTRAK
Adam Wicaksana (1112016300043), Pengembangan Alat Peraga Pada Materi
Gerak Parabola Untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa. Skripsi
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam.
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017
Media alat peraga gerak parabola yang belum tersedia di sekolah
menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan lintasan
pergerakan gerak benda dan membedakan jarak terjauh pada sudut yang berbeda.
hal ini menyebabkan rendahnya keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan alat peraga fisika SMA materi gerak parabola
yang layak, efektif dan praktis dapat digunakan untuk melatih keterampilan proses
sains siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah development research.
Tahap penelitian mengikuti Jan Van De Akker terdiri dari empat tahap yaitu:
penelitian pendahuluan, tahap prototipe, evaluasi sumatif, serta refleksi sistematik
dan dokumentasi. Evaluasi formatif mengikuti Martin Tessmer. Subjek dalam
penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI SMAN 87 Jakarta dan siswa kelas XI
SMAN 29 Jakarta. Sampel diambil secara purposive sampling. Instrumen yang
digunakan: tes, angket, wawancara, lembar validasi dan lembar observasi.
Instrumen tes diberikan kepada 78 siswa, angket penilaian diberikan kepada: 10
ahli, 78 siswa (evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil, uji lapangan dan
evaluasi sumatif) dan empat guru. Hasil analisis validasi ahli menunjukkan bahwa
alat peraga yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran
berdasarkan penilaian dari ahli materi maupun ahli media pembelajaran dengan
persentase 95% dan 73%. Hasil penelitian menunjukkan: alat peraga sangat efektif
dalam membantu proses pembelajaran. 92% siswa mendapatkan nilai di atas KKM
pada keseluruhan evaluasi. Keterampilan proses sains siswa menunjukkan
peningkatan, keterampilan mengamati, mengelompokkan data sedangkan terendah
pada keterampilan meramalkan (memprediksi) dan berhipotesis. Media dinyatakan
praktis (oleh siswa, total nilai 481) dan sangat praktis (oleh guru, total nilai 72) alat
dapat digunakan di dalam kelas maupun di luar.
Kata kunci: Alat peraga, Media Pembelajaran, Keterampilan Proses Sains,
development research, layak, efektif dan praktis
vi
ABSTRACT
Adam Wicaksana (1112016300043), Development of props on Parabolic moion
to train students science process skill. The Undergraduate Thesis of Physics
Education Program, Department of Natural Science Education. Faculty of
Education and Teacher’s Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University
Jakarta, 2017
The unavailability of parabolic motion media in school causes students to
have difficulty in visualizing the motion of movement of objects and distinguishing
the farthest distance at different angles. This leads to the low skills of students'
science processes. This research aims to develop high school physics proponent
parabolic motion materials that are valid, effective and practical can be used to
train students' science process skills. The research method used is development
research. The research phase following Jan Van De Akker consists of four stages:
preliminary research, prototype stage, summative evaluation, as well as systematic
reflection and documentation. Formative evaluation follows Martin Tessmer.
Subjects in this study are students of class X and XI SMAN 87 Jakarta and students
of class XI SMAN 29 Jakarta. Samples were taken by purposive sampling.
Instruments used: test, questionnaire, interview, validation sheet and observation
sheet. The test instrument was given to 78 students, an assessment questionnaire
was given to: 10 experts, 78 students (one-on-one evaluation, small group
evaluation, field test and sumative evaluation) and four teachers. The result of
expert validation analysis shows that the developed tool is suitable for use as a
learning media based on the assessment of the material experts and the learning
media experts with the percentage of 95% and 73%. The results showed: visual aids
are very effective in helping the learning process. 92% of students score above the
KKM on the overall evaluation. Skills of students' science processes show
improvement, observation skills, grouping data while lowest on predicting and
hypothesizing skills. The media were declared practical (by the students, total score
481) and very practical (by teacher, total score 72) tools could be used inside the
classroom as well as outside.
Keywords: learning media; Props, Processing Skills Science, valid, effective and
practice.
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, taufik
dan
karunia-Nya
penulis
dapat
menyelesaikan
skripsi
yang
berjudul
“Pengembangan Alat Peraga Pada Materi Gerak Parabola Untuk Melatih
Keterampilan Proses Sains Siswa”. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan
kepada Nabi Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabatnya dan kita
semua selaku umatnya hingga akhir zaman. Aamiin ya Rabbal’alamiin.
Apresiasi dan terimakasih disampaikan kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam penelitian ini. Secara khusus, apresiasi dan terima kasih
tersebut disampaikan kepada:
1.
Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2.
Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.
Bapak Dwi Nanto, Ph.D selaku ketua Program Studi
Pendidikan Fisika
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.
Bapak Iwan Permana Suwarna, M.Pd, selaku dosen pembimbing yang telah
meluangkan banyak waktu dan pikirannya untuk membimbing dan
memberikan saran kepada peneliti selama proses pembuatan skripsi ini.
5.
Ibu Diah Mulhayatiah, M.Pd selaku dosen pembimbing akademik yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis selama menjadi mahasiswa pendidikan
fisika.
6.
Bapak Taufiq Al Farizi, M.Pfis selaku dosen pembimbing akademik yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis selama menjadi mahasiswa pendidikan
fisika.
7.
Seluruh dosen, staf, dan karyawan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
khususnya jurusan pendidikan IPA, Program Studi Pendidikan Fisika yang
telah memberikan ilmu pengetahuan, pemahaman, dan pelayanan selama
proses perkuliahan.
viii
8.
Ibu Hj. Patra Patiah, M.Biomed selaku Kepala SMAN 87 Jakarta, Ibu Drs.
Carol Titaley selaku Kepala SMAN 29 Jakarta yang telah memberikan izin
untuk melakukan penelitian di SMA tersebut, serta Bapak Drs. Sugiyanto, Ibu
Siti Khomariah, S.Pd, Ibu Hj. Miro’ah, S.Pd, Ibu Ita Yunita, S.Pd dan Ibu Nur
Asiah Rangkuty, S.Pd selaku guru bidang studi fisika yang telah memberikan
dukungan dan saran kepada penulis selama penelitian berlangsung.
9.
Keluarga tercinta, Bapak Sukimo, S.Sos, Ibu Dyah Puspawati dan Adik Rahma
Puspita Ningrum yang selalu memberikan doa, kasih sayang, motivasi dan
dukungan yang luar biasa kepada penulis.
10. Keluarga Pendidikan Fisika angkatan 2012, yang senantiasa menjadi keluarga
yang selalu memberikan dukungan dan motivasi agar penulis dapat
menyelesaikan studi ini.
11. Om Ari yang telah membantu penulis dalam pembuatan alat peraga
12. Kania Gita Leksana yang selalu menjadi tempat berbagi informasi apapun,
menjadi tempat berbagi cerita, memberikan doa, waktu, pikiran, tenaga, saran
dan dukungan kepada penulis.
13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam penyusunan skripsi ini
Semoga segala bentuk bantuan, dorongan, saran dan bimbingan yang
diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah SWT.
Amin.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan untuk perbaikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak. Amin.
Jakarta, 12 Juni 2017
Penulis
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iv
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ..................................................... v
ABSTRAK ............................................................................................................ vi
KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................................................... 6
C. Pembatasan Masalah .................................................................................... 6
D. Rumusan Masalah ........................................................................................ 7
E. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 7
F.
Manfaat Penelitian ....................................................................................... 7
G.
Spesifikasi Produk yang Dihasilkan ......................................................... 8
BAB II .................................................................................................................... 9
KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR ............................................... 9
A. Deskripsi Teoritik......................................................................................... 9
1.
Alat Peraga Sebagai Media Pembelajaran ................................................ 9
2.
Keterampilan Proses Sains (KPS) .......................................................... 14
3.
Kajian Materi Gerak Parabola ................................................................ 23
B. Teori Tentang Pengembangan Media Alat Peraga..................................... 27
C. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................................... 28
D. Kerangka Berpikir ...................................................................................... 32
E. Pertanyaan Penelitian ................................................................................. 33
x
BAB III ................................................................................................................. 34
METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................ 34
A. Model Pengembangan ................................................................................ 34
B. Prosedur Pengembangan ............................................................................ 34
C. Desain Uji Coba ......................................................................................... 40
D. Subjek Uji Coba ......................................................................................... 41
E. Instrumen Penelitian................................................................................... 43
F.
Uji Coba Produk......................................................................................... 62
G.
Teknik Analisis Data .............................................................................. 62
BAB IV ................................................................................................................. 73
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................. 73
A. Hasil Penelitian Pengembangan ................................................................. 73
1.
Hasil Penelitian Pendahuluan (Preliminary research) ........................... 73
2.
Hasil Prototyping Stage.......................................................................... 86
3.
Evaluasi Sumatif................................................................................... 124
4. Hasil Refleksi Sistematik dan Dokumentasi (Systematic Reflection and
Documentation) ........................................................................................... 133
B. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................................... 140
BAB V................................................................................................................. 154
KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 154
A. Kesimpulan .............................................................................................. 154
B. Saran ......................................................................................................... 155
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 157
LAMPIRAN ....................................................................................................... 154
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Rancangan Gambar Alat Peraga Gerak Parabola ............................. 13
Gambar 2.2 Lintasan Gerak Parabola .................................................................. 23
Gambar 2.2 Lintasan Gerak Parabola .................................................................. 23
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................ 32
Gambar 3.1 Tahapan Penelitian Pengembangan Alat Peraga
35
Gambar 3.2 Alur Perancangan Alat Peraga ......................................................... 37
Gambar 3.3
Diagram tahap evaluasi formatif ................................................. 38
Gambar 3.4
Garis Kesimpulan ........................................................................ 64
Gambar 4.1
Grafik Hasil Angket Siswa pada Penelitian Pendahuluan 86
Gambar 4.2
Sketsa Rancangan Alat Peraga .................................................... 87
Gambar 4.3
Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media
Pembelajaran .............................................................................. 94
Gambar 4.4
Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satusatu .............................................................................................. 98
Gambar 4.5
Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Satu-satu ........................... 99
Gambar 4. 6
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
pada Evaluasi Satu-satu............................................................. 101
Gambar 4.7
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Materi pada Evaluasi Satu-satu ...................................... 102
Gambar 4.8
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Kualitas Teknis pada Evaluasi Satu-satu ....................... 103
Gambar 4.9
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Satu-satu .............. 104
Gambar 4.10
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Implementasi pada Evaluasi Satu-satu........................... 105
Gambar 4.11
Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi
Kelompok Kecil ........................................................................ 108
xii
Gambar 4.12 Grafik Penilaian Hasil Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Kelompok Kecil ............. 109
Gambar 4. 13 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada
Evaluasi Kelompok Kecil ......................................................... 111
Gambar 4. 14
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat oleh siswa Peraga
Aspek Materi pada Evaluasi Kelompok Kecil .......................... 112
Gambar 4. 15
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Kelompok Kecil ... 113
Gambar 4. 16
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Implementasi pada Evaluasi Kelompok Kecil ............... 114
Gambar 4. 17
Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan
................................................................................................... 117
Gambar 4.18
Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Uji Lapangan................................. 118
Gambar 4. 19
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
pada Evaluasi Uji Lapangan...................................................... 120
Gambar 4. 20
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Kemampuan untuk dapat Dilaksanakan (Implementability)
pada Evaluasi Uji Lapangan...................................................... 121
Gambar 4. 21
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Kesinambungan (Sustainability) pada Evaluasi Uji
Lapangan ................................................................................... 122
Gambar 4. 22
Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Penerimaan dan Kemenarikan pada Evaluasi Uji Lapangan
................................................................................................... 123
Gambar 4. 23
Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi
Sumatif ...................................................................................... 126
Gambar 4. 24
Grafik Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan
Berpikir pada Evaluasi Sumatif ................................................ 127
Gambar 4. 25
Grafik Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru
pada Evaluasi Sumatif ............................................................... 129
xiii
Gambar 4. 26
Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa
pada Evaluasi Sumatif ............................................................... 131
Gambar 4. 27
Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru
pada Evaluasi Sumatif ............................................................... 133
Gambar 4. 28
Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Satusatu ............................................................................................ 134
Gambar 4. 29 Kegiatan Post-test pada Evaluasi Satu-satu .............................. 134
Gambar 4. 30
Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi
Kelompok Kecil ........................................................................ 136
Gambar 4. 31
Kegiatan Siswa saat sedang Berdiskusi Mengerjakan LKS pada
Evaluasi Small Group ............................................................... 136
Gambar 4. 32 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Small Group .......... 137
Gambar 4. 33
Proses Penggunaan Alat Peraga Oleh Siswa pada Evaluasi Uji
Lapangan ................................................................................... 137
Gambar 4. 34
Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Uji Lapangan
................................................................................................... 138
Gambar 4. 35
Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Uji Lapangan ........ 138
Gambar 4. 36
Proses Penggunaan Alat Peraga Oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif
................................................................................................... 139
Gambar 4. 37
Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Sumatif.................. 140
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3. 1
Tabel Subjek Uji Coba Pegembangan Alat Peraga Gerak Parabola
Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa................................. 41
Tabel 3. 2
Tabel Instrumen Penelitian Pengebangan Alat Peraga Gerak
Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa.................. 43
Tabel 3. 3
Pedoman Wawancara Pendahuluan Guru ................................... 44
Tabel 3. 4
Kisi-kisi Kualitas Instrumen ....................................................... 45
Tabel 3. 5
Kisi-kisi Angket Ahli Materi ...................................................... 48
Tabel 3. 6
Kisi-kisi Angket Ahli Materi Fisika ............................................ 50
Tabel 3. 7
Kisi-kisi Angket Penelitian Pendahuluan.................................... 51
Tabel 3. 8
Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Satu-Satu (One-to-One
Evaluation) .................................................................................. 52
Tabel 3. 9
Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Kelompok Kecil (Small
Group Evaluation) ...................................................................... 53
Tabel 3. 10
Kisi-Kisi Angket Uji Lapangan Siswa ........................................ 54
Tabel 3. 11
Kisi-kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif .............................. 55
Tabel 3. 12
Kisi-kisi Angket Uji Lapangan Guru .......................................... 56
Tabel 3. 13
Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif Guru .................... 56
Tabel 3. 14
Kisi-kisi Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains Siswa .. 57
Tabel 3. 15
Kriteria Rating Scale ................................................................... 63
Tabel 4. 1
Hasil Studi Literatur (Analisis Jurnal dan Skripsi) 74
Tabel 4. 2
Hasil Wawancara Guru pada Penelitian Pendahuluan ................ 78
Tabel 4. 3
Hasil Rangkaian Alat Peraga ...................................................... 89
Tabel 4. 4
Hasil Penilaian Kelayakan Media Alat Peraga ........................... 93
Tabel 4. 5
Hasil Penilaian Kesesuaian Materi pada Alat Peraga ................. 95
Tabel 4. 6
Hasil Nilai Post test Siswa pada Evaluasi Satu-satu ................... 96
Tabel 4. 7
Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satu-satu . 97
Tabel 4. 8
Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Satu-satu
................................................................................................... 100
Tabel 4. 9
Hasil Nilai Post-test Siswa Evaluasi Kelompok Kecil .............. 106
xv
Tabel 4. 10
Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Kelompok Kecil
................................................................................................... 107
Tabel 4. 11
Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga Evaluasi Kelompok Kecil
................................................................................................... 110
Tabel 4. 12
Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Uji Lapangan ................... 115
Tabel 4. 13
Hasil Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan ....................... 116
Tabel 4. 14
Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Uji
Lapangan ................................................................................... 119
Tabel 4. 15
Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Sumatif ............................ 124
Tabel 4. 16
Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Sumatif .......... 125
Tabel 4. 17
Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru pada
Evaluasi Sumatif ....................................................................... 128
Tabel 4. 18
Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa pada
Evaluasi Sumatif ....................................................................... 130
Tabel 4. 19
Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru pada
Evaluasi Sumatif ....................................................................... 132
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Instrumen dan Hasil Wawancara Guru Penelitian Pendahuluan154
Lampiran 2
Instrumen dan Hasil Angket Siswa pada Studi Pendahuluan ... 159
Lampiran 3
Instrumen dan Hasil validasi Ahli Media Pembelajaran ........... 162
Lampiran 4
Hasil Rekap Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media
................................................................................................... 154
Lampiran 5
Instrumen dan Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika ......... 154
Lampiran 6
Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika ................................. 159
Lampiran 7
Evaluasi Satu-satu ..................................................................... 154
Lampiran 8
Evaluasi Kelompok Kecil ......................................................... 156
Lampiran 9
Uji Lapangan ............................................................................. 166
Lampiran 10
Evaluasi Sumatif ....................................................................... 179
Lampiran 11
Hasil Validasi dan Instrumen Tes ............................................. 196
Lampiran 12
Instrumen LKS .......................................................................... 154
Lampiran 13
Surat Izin Penelitian .................................................................. 163
Lampiran 14
Surat Keterangan Penelitian ...................................................... 165
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisika merupakan salah satu cabang dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA). Fisika berkaitan dengan cara mempelajari fenomena alam secara sistematis,
sehingga fisika tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan berupa fakta-fakta,
konsep, dan prinsip saja melainkan juga berkaitan dengan suatu proses penemuan.
Pembelajaran fisika di sekolah diharapkan dapat menjadi sarana bagi siswa untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Proses pembelajaran fisika di sekolah
menekankan pada pembelajaran pengalaman secara langsung untuk dapat
mengembangkan kompetensi siswa dalam memahami alam sekitar secara ilmiah.
Pembelajaran fisika diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat
membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
alam sekitar.1 Kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran fisika adalah
menjadi sarana siswa untuk dapat mengembangkan sikap rasa ingin tahu, jujur,
tanggungjawab, logis, kritis, analitis, dan kreatif melalui pembelajaran fisika.2
Berdasarkan kompetensi tersebut pembelajaran fisika di sekolah seharusnya
dirancang oleh guru untuk merangsang rasa ingin tahu siswa dalam belajar,
sehingga menjadi motivasi siswa untuk dapat lebih tertarik dalam mempelajari
fisika.3
Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dalam mempelajari fisika dapat
dilakukan dengan membuat pelajaran lebih menantang, merangsang daya cipta
untuk menemukan, serta mengesankan.4 Hal tersebut dapat dilakukan dengan
memberikan permasalahan berdasarkan fenomena alam sehari-hari yang dialami
1
Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta: Badan Standar
Nasional Pendidikan, 2006) hlm. 157
2
Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016
Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2016), h.145
3
Conny Semiawan,dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan
Siswa dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1990), cet. 6. H.10
4
Ibid., h.9
1
2
siswa yang berkaitan dengan konsep fisika. Siswa dituntut untuk dapat berpikir
menggali pengetahuan dalam memecahkan masalah dengan berkerja sama melalui
diskusi, melakukan percobaan dan lain-lain. Pembelajaran fisika yang seperti itu
tidak lagi hanya berpusat pada guru (pola pembelajaran satu arah interaksi antara
guru dan siswa), melainkan pembelajaran terpusat pada siswa. Pemberian
pengalaman belajar terencana seperti ini dapat menerapkan konsep yang telah
dipelajari di sekolah ke masyarakat serta menjadikan lingkungan masyarakat
sebagai sumber belajar. Pola pembelajaran tersebut menjadi interaktif (interaksi
antara guru, siswa, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/media belajar
lainnya). Hal ini sesuai dengan konsep pembelajaran pada kurikulum 2013.5
Kenyataannya di sekolah-sekolah SMA di Jakarta yang telah menerapkan
kurikulum 2013, tetapi sebagian besar guru tidak menerapkan pendekatan
pembelajaran saintifik. Guru menyampaikan materi masih menggunakan
pembelajaran yang terpusat pada guru. Guru lebih banyak menggunakan metode
pembelajaran ceramah, memberikan contoh latihan soal, memberikan tugas latihan
soal untuk dikerjakan oleh siswa, dan memberikan video atau animasi. Guru jarang
melakukan praktik menggunakan media pembelajaran, hal ini terjadi pada materi
gerak parabola.6 Kompetensi dasar yang seharusnya dilakukan guru dalam
mengajarkan materi gerak parabola ke siswa yaitu: kemampuan siswa dalam
menganalisis gerak parabola dengan mengunakan vektor, berikut makna fisisnya
dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan siswa dalam
mempresentasikan data hasil percobaan gerak parabola.7
Kompetensi tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh guru apabila di sekolah
belum memiliki alat peraga yang membantu siswa dalam melakukan percobaan.
Belum tersedianya alat peraga tersebut menyebabkan guru dalam menjelaskan
materi gerak parabola masih terpusat pada guru, sehingga tidak memberikan
kesempatan siswa untuk menemukan sendiri informasi tersebut. Hal ini
5
Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun
2013, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013) h.2
6
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di sekolah SMA Negeri di Jakarta.
7
Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Mata
Pelajaran Fisika (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016), h. 13
3
menyebabkan siswa cenderung lebih pasif dalam menerima pelajaran dan
mengakibatkan siswa mengalami kesulitan memahami materi. Kesulitan belajar
siswa
dalam
memahami
materi
diantaranya
yaitu:
siswa
tidak
dapat
memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak saat diberikan sudut awal sebelum
benda bergerak secara langsung, dan siswa tidak dapat memvisualisasikan
perbedaan jarak terjauh benda saat lintasan diberikan sudut yang berbeda secara
langsung. Kesulitan siswa dalam memahami materi tersebut berdampak pada
rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya ketercapaian ketuntasan belajar siswa.
Pengajaran untuk mengatasi masalah tersebut yaitu: pembelajaran menggunakan
media animasi/video, dan melakukan percobaan/eksperimen menggunakan media
alat peraga.8 Pembelajaran menggunakan animasi/video dapat efektif untuk
mengatasi permasalahan tersebut namun, pembelajaran menggunakan media
animasi memiliki kekurangan diantaranya yaitu: siswa hanya dapat melihat
pergerakan perpindahan benda tersebut hanya melalui layar komputer yang telah
diprogram sehingga menyebabkan siswa tidak dapat merasakan secara langsung
media yang digunakan; selain itu media animasi melalui komputer menghasilkan
visual animasi yang terlalu sempurna, yang pada kenyataannya belum tentu dapat
tercapai. Sedangkan media alat peraga menghasilkan data yang berbeda-beda dan
berubah-ubah yang disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi. Hal tersebut
justru dapat melatih keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa yang
berkembang melalui proses pengamatan menggunakan alat peraga.9 Kegiatan
praktikum menggunakan alat peraga dapat membuat siswa menemukan fakta-fakta
nyata hasil dari interaksi dengan alat laboratorium sehingga dapat memahami suatu
konsep menjadi lebih baik.10
Pembelajaran dengan melalukan praktikum di laboratorium menggunakan
alat peraga dapat membuat siswa lebih aktif untuk menemukan dan menyajikan
8
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa ”, Journal of Innovative Science
Education, 2015, h.16
9
B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan
Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 2010 h.132
10
D.R. Prasetyo dkk, op. cit., h.16
4
pembelajaran yang dapat membuat siswa dapat menggali dan mencari sendiri
pengetahuannya. Siswa yang aktif mencari, menemukan dan menggali sendiri
pengetahuannya akan memperoleh pengalaman belajar secara langsung.
Pembelajaran tersebut akan dapat meningkatkan motivasi keingintahuan siswa
terhadap materi yang akan diajarkan. Sehingga pembelajaran fisika dapat benarbenar dirasakan oleh siswa dan tidak lagi hanya sebatas teori yang dihafal oleh
siswa. Hal ini sesuai dengan konsep belajar penemuan dari Bruner.11
Guru memerlukan media dalam menyampaikan pelajaran kepada siswa.
Siswa dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan
percobaan yang disajikan oleh guru. Kegiatan percobaan tersebut dapat
dilaksanakan dengan bantuan media. Penggunaan media pembelajaran dapat secara
langsung dirasakan dan dilihat oleh siswa untuk merangsang siswa belajar.12
Penggunaan media pembelajaran memberikan kontribusi positif dalam proses
pembalajaran dan dapat memberikan hasil yang optimal bagi pemahaman siswa
terhadap materi yang sedang dipelajarinya.13 Pemilihan media berpengaruh
terhadap hasil pemahaman belajar siswa dan membantu merangsang siswa untuk
belajar. Siswa tidak perlu lagi berpikir untuk membayangkan materi yang
disampaikan melainkan melihat secara langsung melalui media alat peraga yang
disajikan. Media dapat mempermudah guru dalam menyampaikan informasi materi
kepada siswa.14
Media pembelajaran dalam bentuk fisik dapat memberikan informasi secara
langsung kepada siswa. Penggunaan media alat peraga dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan yang merangsang pikiran, perasaan dan perhatian kemauan
siswa sehingga dapat mendorong proses belajar.15
Media alat peraga
dapat
membantu siswa dalam memahami konsep-konsep dari materi yang bersifat abstrak
11
Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga,2011), h.
79
12
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2014), cet. 17, h.
1
13
Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika,
(Bandung: Alfabeta, 2015), h. 3
14
Ibid,. h. 6
15
Ibid., h. 7
5
agar dapat dijangkau dengan pikiran yang sederhana dan dapat dilihat, dipandang
dan dirasakan.16 Pengunaan alat peraga dapat mempertinggi kualitan pembelajaran.
Pembelajaran menggunakan media pembelajaran sangat diajurkan dalam
pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran.17 Selain itu, alat peraga
juga dapat membantu guru dalam menjelaskan secara fisis materi dan rumus-rumus
pada materi fisika yang terdapat pada alat peraga tersebut. Menggunakan alat
peraga diharapkan siswa dapat lebih memahami konsep materi dan diharapkan
siswa dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil belajar siswa tidak hanya dapat
dinilai dari penguasaan konsep (pengetahuan) namun dilihat juga dari ketrampilan
proses pembelajarannya.18 Wirtha & Rapi menyatakan bahwa masih banyak siswa
yang hanya menghafal konsep-konsep tanpa memahami konsep tersebut.
Keberhasilan belajar dapat diukur melalui pemahaman konsep (produk sains) dan
ketrampilan (keterampilan proses sains) yang akan mempengaruhi keberhasilan
belajar siswa.19
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan di atas peneliti tertarik
untuk mengusung judul penelitian Pengembangan Alat Peraga Pada Materi
Gerak Parabola Untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa. Alat peraga
yang
akan
dikembangkan
diharapkan
dapat
membantu
guru
dalam
memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak benda saat benda diberikan sudut
awal sebelum benda bergerak kepada siswa, dan dapat memvisualisasikan
perbedaan jarak terjauh benda saat lintasan diberikan sudut yang berbeda. Setelah
menggunakan alat peraga tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
16
Azhar Arsyad, op. Cit, h. 9
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
2013) Cet.11, h. 3
18
Dharis Dwi Apriliyanti,dkk., “Pengembangan Alat Peraga Ipa Terpadu Pada Tema
Pemisahan Campuran Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains”, journal.unnes.ac.id, 2015,
h. 836
19
N.W. S. Darmayant,dkk., Pengaruh Model Collaborative Teamwork Learning Terhadap
Keterampilan Proses Sains Dan Pemahaman Konsep Ditinjau Dari Gaya Kognitif, e-Journal
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, vol. 3, 2013
17
6
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dapat diidentifikasikan masalah adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran di sekolah cenderung masih terpusat pada guru dalam
menyampaikan materi di kelas, sedangkan siswa hanya memperhatikan
penjelasan guru, mencatat penjelasan, dan jarang melakukan praktikum di
laboratorium.
2. Belum tersedianya media alat peraga di sekolah menyebabkan siswa
mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak
benda saat benda diberikan sudut sebelum bergerak.
3. Belum tersedianya media alat peraga di sekolah menyebabkan siswa tidak
dapat memvisualisasikan gerak benda.
4. Pembelajaran menggunakan media animasi memiliki kekurangan diantaranya
yaitu: siswa hanya dapat melihat pergerakan perpindahan benda melalui layar
komputer yang telah diprogram sehingga menyebabkan siswa tidak dapat
merasakan secara langsung media yang digunakan, selain itu media animasi
dibuat oleh program komputer sehingga menghasilkan visual animasi yang
sempurna
5. Rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya ketercapaian ketuntasan belajar
siswa pada materi gerak parabola.
C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah yang diuraikan di atas, maka penelitian ini dibatasi
yaitu: Keterampilan proses sains yang digunakan dalam instrumen tes meliputi:
keterampilan
mengamati,
mengelompokkan,
memprediksi,
menghipotesis,
merencanakan percobaan, melaksanakan percobaan, menafsirkan, menerapkan
konsep, dan mengkomunikasikan.
7
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan dilatar belakang masalah,
maka rumusan penelitian ini adalah,
1. Bagaimana kelayakan alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian?
2. Bagaimana efektivitas alat peraga yang dikembangkan dalam meningkatkan
keterampilan proses sains siswa?
3. Bagaimana respon siswa dan guru terhadap pembelajaran menggunakan alat
peraga dalam penelitian?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui keefektivitas pembelajaran menggunakan alat peraga
terhadap keterampilan proses sains siswa materi gerak parabola.
2. Untuk mengetahui kelayakan alat peraga terhadap keterampilan proses sains
siswa materi gerak parabola.
3. Untuk mengetahui kepraktisan penggunaan alat peraga.
F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka manfaat dari penelitian adalah:
1. Penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam memvisualisasikan
materi gerak parabola kepada siswa.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam
mempelajari fisika khususnya materi gerak parabola. Agar siswa mudah
memahami materi-materi fisika yang bersifat abstrak khususnya pada maetri
gerak parabola
3. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan siswa
disekolah tersebut.
8
G. Spesifikasi Produk yang Dihasilkan
Spesifikasi yang diharapkan dalam penelitian ini adalah.
1. Alat peraga yang dikembangkan dapat membantu guru dalam menjelaskan
materi gerak parabola.
2. Alat peraga yang dikembangkan dapat membantu guru memperlihatkan kepada
siswa dari perbedaan jangkauan apabila diberikan sudut yang berbeda.
3. Alat peraga yang dikembangkan dapat membantu siswa menganalisis gerak
parabola.
BAB II
KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR
A. Deskripsi Teoritik
1. Alat Peraga Sebagai Media Pembelajaran
a. Pengertian Alat Peraga
Media menurut istilah berasal dari bahasa latin, yaitu medius yang
secara harfiah yang berarti “tengah”, perantara atau pengantar. 20 Media dalam
bahasa arab berarti tengah, perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada
penerima pesan. Menurut AECT (Association of Education and Communication
Technology) dalam buku Azhar Arsyad menyatakan bahwa media memberi batasan
tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk
menyapaikan pesan atau informasi.21 Menurut Gagne menyatakan bahwa media
adalah berbagai komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa
untuk belajar. Menurut Briggs berpendapat bahwa media segala alat fisik yang
dalam menyajikan pesan serta dapat merangsang siswa untuk belajar.22 Dengan kata
lain media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.23 Sedangkan
pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan
ajar.24 Dapat disimpulkan media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi
dan digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi dari pengajar dan bahan ajar
kepada siswa sebagai penerima pesan untuk dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan minat siswa untuk belajar.
20
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rajawali Press, 2002), h. 3
Ibid
22
Arief S. Sadiman. Dkk., Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), Cet.
21
17, h. 6
23
Ibid., h. 7
Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika,
(Bandung: Alfabeta, 2015), h. 6
24
9
10
Satu di antara media pembelajaran yang dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan dan informasi untuk merangsang pikiran, perasaan,
perhatiandan minat siswa untuk belajar adalah alat peraga atau yang terkadang
disebut sebagai alat bantu pembelajaran.25 Alat peraga merupakan alat-alat yang
digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran.
Karena alat peraga berfungsi untuk membantu dan meragakan sesuatu dalam proses
pembelajaran.26
b. Fungsi Alat Peraga sebagai Media Pembelajaran
Secara umum menurut Arief Sadiman menyatakan media mempunyai
fungsi diantaranya yaitu:27
1) Memperjelas penyajian pesan agar tifak terlalu bersifat verbalistis.
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera seperti
a) Objek yang terlalu besar, bisa digantikan dengan gambar, film
bingkai, atau model.
b) Objek yang terlalu kecil, dibantu dengan proyektor mikro, film,
atau gambar
c) Gerak yang terlalu cepatatauoun terlalu cepat, dapat dibantu
dengan timelapse atau high-speed photography.
d) Kejadian atau peristiwa yang telah terjadi masa lalu bisa
ditampilkan dengan rekaman film, video, foto
e) Objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan model,
diagram,
f) Konsep yang terlalu luas dapat divisualisasikan dalam bentuk film,
gambar dan lain-lain.
3) Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat
mengatasi sikap pasif peserta didik.
a) Menimbulkan kegairahan belajar
b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung anatara peserta didik
dengan sumber belajar..
c) Memungkinkan peserta didik belajar sendiri menurut kemampuan
dan minatnya.
4) Memberikan perangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman
dan menimbulkan persepsi yang sama
25
Ibid., h. 7
Th. Widyanti dan Sigit Tri Guntoro, Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran
Matematika di SMP, (Yogyakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika, 2010), h. 7
27
Arief S. Sadiman. Dkk, op. cit., h. 17-18
26
11
Fungsi media dalam proses pengajaran adalah.28
1) Alat untuk memperjelas
bahan pengajaran pada saat guru
menyampaikan pelajaran.
2) Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih
lanjut dan dipecahkan oleh siswa dalam proses belajarnya. Paling tidak
guru menempatkan media sebagai sumber pertanyaan atau stimulus
siswa.
3) Sumber belajar bagi siswa. artinya media dapat berisikan bahan-bahan
yang harus dipelajari oleh siswa baik individual maupun kelompok. Hal
tersebut dapat membatu guru dalam kegiatan mengajar.
c. Manfaat Alat Peraga sebagai Media Pengajaran
Manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa menurut Sudjana dan
Rivai yaitu29
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan
pengajaran yang baik.
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi
verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak
bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar
untuk setiap jam pelajaran.
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya
mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemontrasikan dan lain-lain.
Manfaat media pembelajaran menurut Encyclopedia of Education Research
dalam buku Rostina sebagai berkut:30
1)
2)
3)
4)
Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir.
Memperbesar perhatian siswa.
Membuat pelajaran lebih menetap dan tidak lupa dilupakan.
Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan
kegiatan berusaha sendiri dikalangan para siswa.
5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu.
28
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo.,
2013),h. 6-7
29
Ibid., h.2
30
Rostina, op, cit., h.11
12
6) Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan
kemampuan berbahasa.
7) Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh
dengan cara lain serta membantu berkembanganya efisiensi yang lebih
mendalam serta keragaman yang lebih banyak.
Manfaat penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi proses dan
hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. taraf berpikir
manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir kongkret menuju
berpikir abstrak, dimulai dari berpikir yang sederhana menuju berpikir kompleks.
Penggunaan media pengajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut
sebab melalui media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan dan halhal yang kompleks dapat disederhanakan.31
Pembelajaran menggunakan media pembelajaran dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. hal tersebut berdasarkan penelitian yang terdapat pada buku Sudjana
dan Rivai terhadap penggunaan media pengajaran dalam proses belajar-mengajar
menghasilkan kesimpulan “bahwa proses pembelejaran dan hasil belajar siswa
menunjukkan perbedaan yang berarti antara pembelajaran tanpa menggunakan
media dan pembelajaran menggunakan media. Oleh sebab itu penggunaan media
pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi
kualitas hasil pengajaran.”32
Kegunaan media pembelajaran memiliki manfaat salah satunya dapat
meningkatkan hasil belajar siswa namun, kebanyakan guru masih enggan
menggunakan media dalam mengajar. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh
Thomas Wibowo dalam buku Rostina yaitu faktor-faktor yang menyebabkan guru
tidak menggunakan media pembelajaran dalam mengajar sebagai berikut.33
1) Menggunakan media itu repot.
2) Media itu canggih dan mahal.
3) Tidak bisa menggunakan atau takut menggunakan media.
31
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, op. cit., h.3
Ibid
33
Rostina, op. cit., h.31-32
32
13
4) Media itu hiburan (membuat siswa main-main, dan tidak serius),
sedangkan belajar itu serius.
5) Tidak tersedianya media pembelajaran di sekolah.
6) Telalu
kebiasaan
menggunakan
metode
ceramah
dalam
menyampaikan pembelajaran.
7) Kurangnya penghargaan dari atasan.
d. Alat Peraga Gerak Parabola
Alat peraga yang digunakan dalam penelitian merupakan alat peraga yang
peneliti buat sendiri berdasarkan hasil analisis terhadap konsep-konsep materi gerak
parabola. Alat peraga ini menggambarkan konsep-konsep dari gerak suatu benda
yang membentuk lintasan gerak parabola dengan hubungan antara sudut elevasi
terhadap jarak jangkauan terjauh dan titik tertinggi pada lintasan gerak parabola.
Komponen utama yang digunakan pada alat peraga ini adalah air yang digunakan
untuk menggambarkan kepada siswa lintasan gerak dari gerak parabola. Air yang
digunakan sebagai penggambaran geraknya suatu benda apabila diberikan sudut
elevasi yang berbeda-beda akan berpengaruh terhadap jarak jangkauan dan titik
tertinggi dari gerak sehingga membentuk lintasan setengah lingkaran atau disebut
lintasan parabola.
Gambar 2. 1 Rancangan Gambar Alat Peraga Gerak Parabola
14
2.
Keterampilan Proses Sains (KPS)
a.
Pengertian Keterampilan Proses Sains (KPS)
Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan
perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk
krativitas. Proses dapat didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks
yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah. Proses juga
merupakan konsep besar yang dapat diuraikan menjadi komponen-komponen yang
harus dikuasai seseorang apabila akan melakukan penelitian.
Keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan
kemampuan-kemampuan mendasar yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan
dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuwan berhasil menemukan sesuatu
yang baru.34 Keterampilan tersebut sesungguhnya telah ada dalam diri peserta didik
maka tugas gurulah untuk mengembangkan keterampilan baik intelektual, sosial
maupun fisik melalui kegiatan pembelajaran.
Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau
intelektual manual dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena
dengan melakukan keterampilan proses peserta didik menggunakan pikirannya.
Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mungkin
peserta didik melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau
perakitan alat. Keterampilan sosial dimaksudkan bahwa mereka berinteraksi
dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan
keterampilan proses misalnya mendiskusikan hasil pengamatan.
Keterampilan proses diarahkan untuk mengembangkan kemampuan
mendasar dalam peserta didik agar mampu menemukan perolehannya.
Pembelajaran dilaksanakan melalui komunikasi timbal balik melalui tanya jawab,
diskusi atau kerja kelompok. Peserta didik perlu dilatih untuk selalu bertanya,
berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap
34
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan
Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.17.
15
suatu masalah,35 sehingga peserta didik terbiasa berpikir dan bertindak secara
kreatif dalam menghadapi suatu masalah.
Menurut Rustaman, keterampilan proses melibatkan keterampilanketerampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kohnitif
atau intelektual dengan melakukan keterampilan proses peserta didik menggunakan
pikirannya, keterampilan manual terlibat dalam penggunaan alat dan bahan,
pengukuran, penyusunan atau perakitan alat, keterampilan sosial dimaksudkan
bahwa dengan keterampilan proses peserta didik berinteraksi dengan sesamanya
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Cara berpikir dalam sains, fisika
misalnya, adalah keterampilan-keterampilan proses. Semiawan menyatakan bahwa
keterampilan adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuankemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan dalam suatu
kegiatan para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.36 Dengan
mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan peserta didik
mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan serta menumbuhkan
dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.37
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan
proses adalah keterampilan fisik dan mental yang meliputi aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik yang dapat diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga
mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, dan akhirnya akan terjadi
akan terjadi interaksi antara konsep/prinsip/teori yang telah ditemukan atau
dikembangkan, serta akan menimbulan sikap dan nilai yang diperlukan dalam
penemuan ilmu pengetahuan.
Pembelajaran dengan keterampilan proses merupakan suatu cara mengajar
yang menitik beratkan pada pengembangan keterampilan-keterampilan perolehan
yang pada gilirannya akan menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan
fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai.38
35
Ibid., h.15.
Ibid.
37
Ibid., h.18.
38
Ibid.
36
16
b. Jenis-Jenis Keterampilan Proses Sains
Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses yang dapat
dikembangkan dalam diri peserta didik. Keterampilan-keterampilan tersebut terdiri
dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan terintegrasi
(integrated skills).
Menurut Yew Mei bahwa keterampilan dasar dalam keterampilan proses
merupakan dasar dari keterampilan terintergrasi yang pada umumnya lebih
kompleks dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu eksperimen.39
Dari kedua ungkapan di atas diperoleh bahwa keterampilan-keterampilan
dasar terdiri dari enam keterampilan, yakni mengobservasi, menginterpretasi,
mengklasifikasi, memprediksi, merencanakan percobaan, dan menerapkan konsep.
Keterampilan proses terdiri atas sejumlah keterampilan yang satu sama lain
sebenernya tak dapat dipisahkan, namaun ada penekanan khusus dalam masingmasing keterampilan proses tersebut.40 Keterampilan proses yang dapat
dikembangkan dalam pembelajaran IPA adalah sebagai berikut:
1) Melakukan pengamatan (observasi)
Keterampilan ini berhubungan dengan penggunaan secara optimal dan
proporsional seluruh alat indera untuk menggambarkan objek dan hubungan ruang
waktu atau mengukur karakteristik fisik benda-benda yang diamati. Dalam
pendidikan IPA, pengembangan keterampilan proses sains harus memungkinkan
peserta didik dapat melakukan pengamatan dengan menggunakan seluruh panca
inderanya.
2) Menafsirkan pengamatan (interpretasi)
Interpretasi meliputi keterampilan mencatat hasil pengamatan dengan
bentuk angka-angka, menghubung-hubungkan hasil pengamatan, menemukan pola
keteraturan dari satu seri pengamatan hingga memperoleh kesimpilan. Sedangkan
39
Grace Teo Yew Mei, Promotion Science Process Skills and The Relevance of Science
Through Science Alive Programme, dalam Proceeding of Redesigning Pedagogy : Culture,
Knowledge and Understanding Conference, Singapore May 2007, h.2.
40
Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang : Universitas Negeri
Malang, 2005), h.78.
17
inferensi adalah kesimpulan sementara terhadap data hasil observasi. Bahkan,
merupakan penjelasan sederhana terhadap hasil observasi.
3) Mengelompokkan (klasifikasi)
Dasar
keterampilan
mengklasifikasikan
adalah
kemampuan
mengidentifikasi perbedaan dan persamaan antara berbagai objek yang diamati.
Termasuk ke dalam jenis keterampilan ini adalah menggolong-golongkan,
membandingkan, mengkontraskan, dan mengurutkan.
4) Meramalkan (prediksi)
Keterampilan
meramalkan
atau
prediksi
mencakup
keterampilan
mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu
kecenderungan atau pola data yang sudah ada.
5) Berkomunikasi
Menginformasikan hasil pengamatan, hasil prediksi atau hasil percobaan
kepada orang lain termasuk keterampilan berkomunikasi. Bentuk komunikasi ini
bisa dalam bentuk lisan, tulisan, grafik, tabel, diagram atau gambar. Jenis
komunikasi dapat berupa paparan sistematik (laporan) atau transformasi parsial.
6) Berhipotesis
Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel atau mengajukan
perkiraan penyebab sesuatu terjadi. Bila prediksi, inferensi dan interpretasi
didasarkan pada data atau pola data dan kecenderungan dengan metode induktif,
maka hipotesis didasarkan pada pemahaman suatu teori atau konsep dengan metode
deduktif.
7) Merencanakan percobaan atau penyelidikan
Keterampilan ini meliputi keterampilan menentukan alat dan bahan yang
diperlukan untuk menguji atau menyelidiki sesuatu dalam lembar kerja peserta
didik (LKS) tidak dicantumkan secara khusus alat dan bahan yang diperlukan.
8) Menerapkan konsep atau prinsip
Keterampilan ini meliputi antara lain keterampilan menggunakan konsepkonsep yang telah dipahami untuk menjelaskan peristiwa baru, menerapkan konsep
yang dikuasai pada situasi baru atau menerapkan rumus-rumus pada pemecahan
soal-soal baru.
18
9) Mengajukan pertanyaan
Keterampilan ini sebenarnya merupakan keterampilan mendasar yang harus
dimiliki peserta didik sebelum mempelajari suatu masalah lebih lanjut. Keberanian
peserta didik untuk bertanya, harus ditumbuhkan guru dalam setiap pembelajaran.
10) Keterampilan menyimpulkan
Keterampilan-keterampilan proses yang dipaparkan di atas menjadi kurang
begitu bermakna bagi hasil belajar peserta didik, terutama dalam hal penguasaan
konsep, apabila tidak ditunjang dengan keterampilan menarik suatu generalisasi
dari serangkai hasil kegiatan percobaan atau penyelidikkan, tetapi perlu diingat
bahwa untuk peserta didik pada pendidikan dasar, kesimpilan yang dibuat harus
dibimbing guru secara proporsional sesuai tingkat usia mereka hingga pada
akhirnya menyimpilkan secara mandiri.41
Aspek-aspek keterampilan proses menurut Semiawan adalah:
1) Observasi atau pengamatan: observasi mencakup perhitungan, pengukuran,
klasifikasi, maupun mencari hubungan antara ruang dan waktu.
2) Pembuatan hipotesis
3) Perencanaan penelitian/eksperimen.
4) Pengendalian variabel.
5) Interpretasi data.
6) Menyusun kesimpulan sementara (inferensi).
7) Meramalkan (prediksi).
8) Menerapkan (prediksi).
9) Mengkomunikasikan.42
Setiap kemampuan pada keterampilan proses sainsi memiliki indikator yang
berbeda. Adapun indikator pada setia kemampuan keterampilan proses sains yang
dapat dilihat pada tabel berikut ini:
41
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Jakarta,2009), h.54.
42
Conny Semiawan, op.cit., Hal.18.
19
Tabel 2.1 Keterampilan Proses Sains dan Indikator43
No.
1.
Kemampuan
Observasi
Keterampilan
 Menggunakan sebanyak mungkin indera
 Menggunakan fakta relevan
2.
Klasifikasi
 Mencatat setiap pengamatan
 Mencari perbedaan/persamaan
 Mengontrasikan ciri-ciri
 Membandingkan
 Mencari dasar pengelompokkan
 Menghubungkan hasil pengamatan
3.
Interprtasi
 Menghubungkan hasil pengamatan
 Menemukan pola dalam satu seri pengamatan
 Menyimpulkan
4.
Prediksi
 Menggunakan pola/hasil pengamatan
 Mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada
keadaan yang belum diamati
5.
6.
Mengajukan
 Bertanya apa, bagaimana, mengapa
Pertanyaan
 Bertanya untuk meminta penjelasan
Berhipotesis
 Mengetahui
bahwa
ada
lebih
dari
satu
kemungkinan penjelasan dari satu kejadian
 Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu diuji
kebenarannya dengan memperoleh bukti
7.
Merencanakan
 Menentukan alat/bahan yang digunakan
Percobaan
 Menentukan variabel/faktor penentu
 Menentukan apa yang akan diukur, diamati, dan
dicatat
8.
Menggunakan
 Memakai alat/bahan
Alat/Bahan
43
Nuryani Rustaman, op.cit.
20
No.
Kemampuan
Keterampilan
 Mengetahui
alasan
mengapa
menggunakan
alat/bahan
 Mengetahui bagaimana menggunakan alat/bahan
Menerapkan Konsep  Menerapkan konsep pada situasi baru
9.
 Menggunakan konsep pada pengalaman baru
untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi
10.
Berkomunikasi
 Memberikan data empiris hasil percobaan dengan
tabel/grafik/diagram
 Menyampaikan laporan sistematis
 Menjelaskan hasil percobaan
 Membaca grafik
 Mendiskusikan hasil kegiatan
11.
c.
Eksperimentasi
Kelebihan
dalam
Pelaksanaan
Pembelajaran
Menggunakan
Keterampilan Proses Sains
Zulfiani dkk menjelaskan beberapa alasan keterampilan proses sains
diperlukan dalam pendidikan dasar dan menengah ialah:
1.
Memiliki manfaat dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
2.
Memberi bekal peserta didik untuk membentuk konsep sendiri dan cara
bagaimana mempelajari sesuatu.
3.
Membantu peserta didik mengembangkan dirinya sendiri.
4.
Sangat membantu peserta didik yang masih berada pada taraf perkembangan
berpikir kongkrit.
5.
Mengembangkan kreativitas peserta didik.44
44
Zulfiani, dkk., op.cit., h.51-52.
21
d. Kekurangan dalam Pelaksanaan Pembelajaran dengan Keterampilan
Proses Sains
Alasan kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan
keterampilan proses sains yang sering dikemukakan oleh guru pada umumnya
adalah:
1.
Bahan pengajaran yang terlalu padat sehingga tidak sempat untuk mengajarkan
dengan menggunakan keterampilan proses tersebut.
2.
Alat-alat untuk melakukan kegiatan sains tidak ada atau tidak memadai.
3.
Guru sendiri kurang memahami dengan baik apa artinya keterampilan proses
yang dimaksud dan bagaimana melakukannya.
4.
Soal-soal latihan, seperti Ujian Akhir Semester (UAS) atau Ujian Akhir
Nasional (UAN) hampir tidak pernah memunculkan soal-soal yang mengukur
keterampilan proses.
e.
Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Fisika
Fisika dan pembelajaran fisika tidak hanya sekedar pengetahuan yang
bersifat ilmiah saja melainakn terdapat dimensi-dimensi ilmiah penting yang
menjadi bagian fisika. Dimensi dalam fisika dan pembelajaran fisika tersebut
dibedakan menjadi tiga dimensi. Dimensi pertama, adalah muatan sains (content of
science) yang berisi berbagai fakta, konsep, hukum, dan teori-teori. Dimensi inilah
yang menjadi objek kajian ilmiah manusia. Dimensi kedua, sains adalah proses
dalam melakukan aktivitas ilmiah dan sikap ilmiah dari aktivitas sains. Proses
dalam melakukan aaktivitas-aktivitas yang terkait dengan sains biasa disebut
dengan keterampilan proses sains (Science Process Skills).
Keterampilan proses inilah yang digunakan setiap ilmuwan ketika
mengerjakan aktivitas-aktivitas sains, keterampilan ini juga dapat diterapkan dalam
kehidupan kita sehari-hari, karena kita menemukan persoalan-persoalan keseharian
dan kita harus mencari jawabannya. Jadi, mengajarkan keterampilan yang nantinya
akan mereka gunakan dalam kehidupan keseharian mereka.
Dimensi ketiga dari sains merupakan dimensi yang terfokus pada
karakteristik sikap dan watak ilmiah. Dimensi ini meliputi keingintahuan seseorang
22
dan besarnya daya imajinasi seseorang, juga antusiasme yang tinggi untuk
mengajukan pertanyaan dan memecahkan permasalahan. Sikap lain yang juga harus
dimiliki seorang ilmuwan adalah sikap menghargai terhadap metode-metode dan
nilai-nilai di dalam sains. Metode-metode sains yang dimaksud di sini meliputi
usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menggunakan bukti-bukti, kemauan
untuk mengakui pentingnya mengecek ulang data yang diperoleh, dan memahami
bahwa pengetahuan ilmiah dan teori-teori berubah sepanjang waktu selama
informasi-informasi yang lebih banyak dan lebih baik diperoleh.
Keterampilan proses sains peserta didik perlu dikembangkan dalam
pembelajaran IPA khusunya fisika. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, dengan
mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik mampu menjelaskan
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu
pembelajaran dengan
mengembangkan keterampilan proses
sains
dapat
mengembangkan tujuh kemampuan dasar peserta didik, yaitu kemampuan berpikir
kreatif,
kemampuan
berpikir
pengamatan/penemuan,
kritis,
kemampuan
kemampuan
memecahkan
dalam
masalah,
melakukan
kemampuan
menggunakan panca indera dengan efektif, kemampuan dalam membangun relasi
yang baik dengan teman, dan kemampuan berkomunikasi.45
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Lembar Kegiatan Peserta didik
(LKS)
pembuatan
teropong
bintang
sederhana
untuk
mengembangkan
keterampilan proses sains peserta didik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Fethiya Karsli, secara ilmiah mendidik peserta didik agar menjadi lebih kreatif bisa
dengan cara meningkatkan keterampilan proses sainsnya dalam pembelajaran
sehari-hari. Guru memiliki peran penting untuk melaksanakan pembelajaran
dengan mengembangkan keterampilan proses sains melalui aktivitas belajar.46
Sehingga penggunaan LKS pembuatan teropong bintang sederhana dalam
pembelajaran yang mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik perlu
45
Davut Hotaman, 2008, The Examination Of The Basic Skill Levels Of The Students In
Accordance With The Perceptions Of Teacher, Parents And Students, Yildiz Technical University,
Faculty of Education, Istanbul, Turkey.
46
Fethiye Karsli, 2009, Developing worksheet Based On Science Process Skills: Factors
Affecting Solubility, Giresun University, Education Faculty, Department of Elementary Science
Education, Giresun/Turkey.
23
dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA yang menuntut peserta didik untuk
dapat menjadi lebih aktif dan kreatif.
3. Kajian Materi Gerak Parabola
Gerak parabola adalah resultan perpindahan suatu benda yang serentak
melakukan gerak lurus beraturan pada arah horizontal dan gerak lurus berubah
beraturan pada arah vertikal. 47. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Galileo dalam
tulisan berjudul Discources on Two New Sciences mengemukakan ide yang berguna
dalam menganalisis gerak parabola. Menurut Galileo menyatakan bahwa gerak
parabola sebagai gerak lurus beraturan pada sumbu horizontal (sumbu-X) dan gerak
lurus berubah beraturan pada vertikal (sumbu-Y) secara terpisah. Setiap gerak tidak
saling mempengaruhi tetapi gabungannya dari kedua gerak tersebut berupa gerak
parabola.48 Lintasan gerak parabola dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi
karena gerak tidakvertikal ke atas.49
Persamaan Posisi dan Kecepatan pada Gerak Parabola
Gambar 2. 2 Lintasan Gerak Parabola
Sumber : https://istanamengajar.files.wordpress.com/2013/08/c.jpg
Gambar 2. 3 Lintasan Gerak Parabola
47
Sumber
: https://istanamengajar.files.wordpress.com/2013/08/c.jpg
Marthen Kanginan,
Seribu Pena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Erlangga,
2008), h.5
48
49
Marthen Kanginan, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI , (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 40
Ganijati Aby Sarojo, Mekanika, (Jakarta: Salemba Teknika, 2012), h. 45
24
Gerak parabola dapat dianalisis dengan meninjau gerak lurus beraturan pada
sumbu-X dan gerak lurus berubah beraturan pada sumbu-Y secara terpisah. Pada
sumbu-Y dipengaruhi oleh percepatan gravitasi (g) pada gerak jatuh bebas.
Lintasan yang dibentuk berupa pabola, arah tembakan membentuk sudut
terhadap arah horizontal yang disebut sebagai sudut elevasi. Jika kecepatan awal
peluru ditembakan adalah vo maka kecepatan dalam arah sumbu-X adalah vx dan
kecepatan dalam sumbu-Y adalah vy. Sehingga diperoleh kecepatan dalam arah X.
𝑣𝑥 = 𝑣0 cos 𝛼 (2.1)
Keterangan
𝑣𝑥 = kecepatan pada sumbu 𝑥
𝑣0 = kecepatan awal
Perpindahan dalam arah sumbu X
𝑋 = 𝑣0 cos 𝛼 𝑡 (2.2)
Keterangan: 𝑋 = jarak pada sumbu 𝑥 (𝑚)
𝑡 = waktu (𝑠)
Pada sumbu Y berlaku persamaan gerak lurus berubah beraturan, yaitu
1
𝑣 = 𝑣0 + 𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑋 = 𝑣0 𝑡 + 2 𝑎𝑡 2 (2.3)
Percepatan a = -g (berarah ke bawah. Persamaan gerak menurut smbu y
memenuhi persamaan
𝑣𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 − 𝑔𝑡
1
(2.4)
𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 𝑡 − 2 𝑔𝑡 2 (2.5)
Keterangan
𝑣𝑦 = kecepatan pada sumbu 𝑦 (𝑚⁄𝑠)
25
𝑣0 = kecepatan awal (𝑚⁄𝑠)
𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚⁄𝑠 2 )
𝑡 = waktu (𝑠)
Tinggi Maksimum dan Jarak Terjauh
Menentukan tinggi maksimum dan jarak terjauh yang dapat dicapai benda
yang bergerak dengan lintasan parabola ditentukan waktu mencapai titik tertinggi
dan jarak terjauh
a. Waktu untuk mencapai tinggi maksimum
Ketika mencapai tinggi maksimum kecepatan pada arah vertikal sama
dengan nol, vy = 0.
𝑣𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 − 𝑔𝑡 (2.6)
0 = 𝑣0 sin 𝛼 − 𝑔𝑡 (2.7)
𝑡ℎ 𝑚𝑎𝑥 =
𝑣0 sin 𝛼
(2.8)
𝑔
Keterangan
𝒕𝒉 𝒎𝒂𝒙 = waktu saat benda pada titik maksimum (s)
b. Tinggi maksimum (ymax)
Titik maksimum yang dapat dicapai benda dapa dihitung dari titik awal
lemparan dan dengan mensubtitusikan persamaan waktu untuk mencapai tinggi
maksimum ke persamaan ketinggian
1
𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 𝑡 − 2 𝑔𝑡 2 (2.9)
𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 (
𝑦=
𝑣0 sin 𝛼
𝑔
2𝑣0 2 sin2 𝛼
2𝑔
𝑣0 sin 𝛼 2
1
) − 2𝑔(
−
𝑔
𝑣0 2 sin2 𝛼
2𝑔
) (2.10)
(2.11)
26
𝒚𝒎𝒂𝒛 =
𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧𝟐 𝜶
𝟐𝒈
(2.12)
Keterangan
𝒚𝒎𝒂𝒛 = tinggi benda saat maksimum (m)
c.
Jarak Terjauh pada sumbu-X (xmax)
Dengan menssubtitusikan waktu terjauh ke dalam persamaan lintasan pada
sumbu X, diperoleh jarak terjauh sebagai berikut.50
𝑋 = 𝑣0 cos 𝛼 𝑡 (2,13)
𝑋 = 𝑣0 cos 𝛼 2 (
𝑥=
𝑥=
𝑣0 sin 𝛼
𝑔
) (2.14)
2𝑣0 2 sin 𝛼 cos 𝛼
𝑔
𝑣0 2 (2 sin 𝛼 cos 𝛼)
𝑔
(2.15)
(2.16)
2 sin 𝛼 cos 𝛼 = sin 2𝛼 , 𝑚𝑎𝑘𝑎
𝑥=
𝑣0 2 (sin 2𝛼)
𝑔
(2.17)
Keterangan
𝑥 = jarak jangkauan terjauh dari benda (m)
50
Agus Taranggono dan Hari Subagya, Sains FISIKA 2 SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), h.27
27
B. Teori Tentang Pengembangan Media Alat Peraga
Penelitian pengembangan merupakan penelitian yang tersusun secara sistematis dari
mendesain, mengembangkan, mengevaluasi program, proses dan produk.51 Pengembangan
yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan produk yang dapat memecahkan masalah.
Produk yang dikembangkan pada penelitian ini adalah media pembelajaran alat peraga
materi gerak parabola. Media alat peraga yang dibuat harus memenuhi tiga pertanyaan
penelitian, yaitu:
a.
Kelayakan : Apakah media pembelajaran dikatakan layak oleh ahli?
b.
Kepraktisan : apakah administrasi dan implementasi media AR lancar dan bebas
hambatan?
c.
Keefektifan : apakah media AR menjadi media yang efektif bagi guru untuk mengukur
kemampuan siswa yang hendak di ukur?52
Adapun karakteristik dari penelitian pengembangan adalah sebagai berikut:
a.
Interventionist : penelitian bertujuan untuk merancang suatu intervensi dalam dunia
nyata
b.
Iterative : penelitian menggabungkan pendekatan siklikal (daur) yang terdiri dari
perancangan, evaluasi, dan revisi
c.
Process oriented : model kotak hitam pada input-output diabaikan, dan lebih
difokuskan pada pemahaman dan peningkatan intervensi
d.
Theory oriented : rancangan dibangun berdasarkan pada preposisi teoritis kemudian
dilakukan uji lapangan untuk memberi konstribusi pada teori.53
Pengembangan ini menggunakan tahapan dari penelitian pengembangan Jan Van
De Akker menggunakan model development study. Tahapan penelitian pengembangan
yang digunakan sebagai berikut:
a. Preliminary research : analisis konteks dan masalah untuk pengembangan landasan
kerangka konseptual melalui review literatur
b. Prototyping stage : merancang, petunjuk desain, mengoptimalkan prototype melalui
daur rancangan, evaluasi formatif dan revisi
51
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006)
Christina Keing, et al., “Summative eAssessments: Piloting, acceptability, Practicality and
effectiveness, Proceeding of the 19th annual World Conference on Educational Multimedia,
Hypermedia & Telecommunications, (Canada:2007), pp. 488
53
Jan van den Akker, Ibid, p. 5
52
28
c. Summative evaluation: evaluasi terhadap efektifitas pelaksanaan dan penggunaan
prototype.
Systematic reflection and documentation: menggambarkan keseluruhan studi
untuk mendukung analisis, kemudian melakukan spesifikasi prinsip desain yang
mengartikulasikan hubungannya dengan kerangka berpikir yang telah ditetapkan.yang
terdiri dari preeliminary research, prototyping stage, summative evaluation dan
Systematic reflection and documentation.54
C. Hasil Penelitian yang Relevan
Berikut ini adalah beberapa penelitian yang relevan terkait penelitian yang
akan dilaksanakan oleh peniliti, diantaranya adalah:
1.
Duwita Sekar Indah, Prabowo dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan
Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa” yang
berkesimpulan
bahwa
alat
peraga
sederhana
gerak
parabola
yang
dikembangkan layak untuk dapat memotivasi siswa belajar fisika pokok
bahasan gerak parabola dan menunjukkan peningkatan hasil belajar. 55
2. Husnul Inayah Saleh, Nurhayati B, Oslan Jumadi. dalam penelitian yang
berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar
Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2
Bulukumba” yang berkesimpulan bahwa penggunaan media alat peraga
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa materi sistem peredaran darah siswa
kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba.56
3.
D.R. Prasetyo, N. Hindarto, Masturi dalam penelitian yang berjudul
“Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa” yang
berkesimpulan bahwa alat praktikum yang dikembangkan layak digunakan di
dalam pembelajaran, (2) alat praktikum refraktometer efektif dalam
54
Jan van den Akker, Ibid, p. 154
Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola
Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal
Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 89-94
55
Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil
Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal
Sainsmat, (2015)
56
29
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. (3) alat praktikum
refraktometer efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa.57
4. B. Hartati dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Gaya
Gesek Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA” yang
berkesimpulan bahwa penggunaan alat peraga mampu meningkatkan
keterampilan berpikir kritis siswa dan hasilnya berpengaruh terhadap
peningkatan hasil belajar peserta didik.58
5. Winda Eky Susanti, Prabowo dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan
Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika
Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” berkesimpulan bahwa alat
peraga uji indeks bias zat cair yang dikembangkan layak digunakan sebagai
media pembelajaran fisika pada sub materi pemantulan dan pembiasan,
memberikan respon positif terhadap hasil belajar siswa dan siswa memberikan
respon baik terhadap alat peraga yang dikembangkan. 59
6. Widayanto dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Keterampilan
Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik” berkesimpulan
bahwa Keterampilan proses dan pemahaman siswa kelas X SMA N 3 Sragen
dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan Kit optik dalam pembelajaran
pembiasan cahaya. Faktor penting dalam peningkatan keterampilan proses
sains dan pemahaman adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan praktikum.
Semakin tinggi keterlibatan siswa dalam kegiatan praktikum semakin tinggi
pencapaian pemahaman dan ketrampilan proses sains siswa.60
7. Saima Rasul, Qadir Bukhsh, Shazia Batool dalam penelitian yang berjudul “A
study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning
57
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa ”, Journal of Innovative Science
Education (2015). H. 22
58
B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan
Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010) h.128-132
59
Winda Eky Susanti, Prabowo,“Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair
Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi
Pendidikan Fisika (JIPF), 2015, h. 105
60
Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X
Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 1-7, h. 7
30
process at uvniversity level” berkesimpulan bahwa responden melihat bahwa
alat bantu AV berperan penting dalam proses belajar mengajar, (ii) Alat bantu
AV membuat mengajar proses pembelajaran yang efektif, (iii) Para responden
melihat bahwa alat bantu AV memberikan pengetahuan secara mendalam dan
rinci, (iv) itu membawa perubahan lingkungan ruang kelas, (v) dapat
memotivasi untuk guru dan siswa dalam pembelajaran.61.
8. Melor Md. Yunus, Hadi Salehi, Dexter Sigan Anak John dalam penelitian yang
berjudul “Using Visual Aids as a Motivational Tool in Enhancing Students’
Interest in Reading Literary Texts”, berkesimpuan bahwa Hasil yang dapat
disajikan sebagai pedoman guru ketika menerapkan alat bantu visual dalam
mengajar, karena mereka ingin siswa mereka untuk sepenuhnya berkonsentrasi
pada pelajaran, dengan menyadari harapan dan kebutuhan dalam mengajar.
Ketika para guru tahu bagaimana cara untuk dapat menarik perhatian siswa,
guru dapat memberikan suasana yang ramah dan menarik bagi siswa untuk
belajar. Hal ini akan mendorong siswa untuk tidak hanya belajar dengan
mendengarkan dan menulis apa yang guru sampaikan, tetapi mereka akan
menemukan inisiatif sendiri untuk membaca apa yang akan mereka pelajari
dalam rangka meningkatkan pemahaman mereka sendiri terhadap pelajaran.
Selanjutnya, pelaksanaan bantu visual dalam literatur mengajar kurang
memakan waktu. Akibatnya, para guru akan memiliki lebih banyak waktu
untuk membuat kegiatan kelas menyenangkan dan melakukan proses belajar
mengajar yang efektif.
9.
Nalliveettil George Mathew & Ali Odeh Hammoud Alidmat dalam peneliian
yang berjudul “A Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL
Classroom: Implications for Effective Instruction” berkesimpulan bahwa hasil
penelitian menunjukkan bahwa menggunakan audio-visual sebagai metode
pengajaran merangsang pemikiran dan meningkatkan lingkungan belajar di
Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching
learning process at uvniversity level” Procedia - Social and Behavioral Sciences 28, 2011, h. 78 –
81
61
31
kelas. Efektif menggunakan alat bantu audio-visual pengganti lingkungan
belajar monoton.62
Nalliveettil George Mathew & Ali Odeh Hammoud Alidmat, “A Study on the Usefulness
of Audio-Visual Aids in EFL Classroom: Implications for Effective Instruction”, International
Journal of Higher Education (2013) Vol. 2, No. 2
62
32
D. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian pengembangan yang dilakukan
peneliti sebagai berikut
Masalah Penelitian
a. Hasil belajar fisika siswa cenderung rendah.
b. Guru dalam pembelajaran cenderung masih mendominasi yaitu
memberikan materi di kelas sedangkan siswa hanya memperhatikan
penjelasan guru, mencatat penjelasan, dan jarang melakukan
praktikum di laboratorium.
c. Penggunaan media yang kurang tepat menyebabkan siswa cenderung
bosan dan jenuh belajar di kelas
d. Tidak terdapatnya alat peraga di sekolah untuk membantu guru
menjelaskan materi
Studi Pendahuluan
Melakukan studi lapangan di beberapa sekolah untuk mengetahui
permasalahan yang terjadi sesuai dengan masalah penelitian yang terdapat
pada studi literatur.
Media Pembelajaran Alat
Peraga
Kelebihan Alat Peraga
Bahan pengajaran akan lebih jelas
maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan
memungkinkan siswa menguasai tujuan
pengajaran yang baik
Membuat desain dan alat peraga
Menguji efektifitas
Menguji kelayakan alat peraga yang dikembangkan dalam upaya meningkatkan hasi
belajar
Hasil
Alat Peraga yang tervalidasi dan layak digunakan untuk meningkatkan
hasil belajar siswa.
Gambar 2. 4 Kerangka Berpikir
33
E. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kajian teori pertanyaan penelitian dalam pengembangan ini adalah
“Apakah produk pengembangan alat peraga dapat menjadi media pembelajaran yang
efektif, praktis, dan dapat diterima oleh guru maupun siswa?”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Model Pengembangan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Metode
penelitian pengembangan memiliki dua model yaitu model validation study
dan development study. Model validation study bertujuan untuk membuktikan
teori-teori belajar, sedangkan development study bertujuan untuk memecahkan
masalah pendidikan berdasarkan teori yang terkait.63 Berdasarkan teori tersebut
peneliti menggunakan model penelitian development study yang bertujuan
menghasilkan produk yang digunakan untuk memecahkan masalah di bidang
pendidikan berdasarkan pada masalah yang berada di lapangan dan dalam
pelaksanaannya melibatkan partisipan, peneliti, ahli, dan stakeholder.64
Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
dari Van Den Akker. Tahapan/prosedur pengembangan yang dikembangan
mengikuti tahapan dari Van Den Akker. Adapun tahapannya adalah sebagai
berikut Preliminary Research, Prototyping Stage, Summative Evaluation,
systematic reflection and Documentation.
B. Prosedur Pengembangan
Prosedur penelitian pengembangan yang digunakan oleh peneliti dalam
mengembangkan media alat peraga berdasarkan bagan berikut.
63
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006)
h. 152.
64
Ibid., h. 154.
34
35
Tahapan
Pengembangan
Tahapan Penelitian
Studi Pendahuluan
Preliminary
Research
Studi Literatur
Studi Lapangan
Pembuatan Media Alat Peraga
Evaluasi Formatif dan Revisi
Prototyping Stage
Penyempurnaan Media Alat
Peraga
Evaluasi Sumatif
Summative
Evaluation
Systematic reflection
and Documentation.
Uji Efektifitas
Uji Praktibilitas
Refleksi Sistematik dan
Dokumentasi
Gambar 3. 1 Tahapan Penelitian Pengembangan Alat Peraga
36
a. Penelitian Pendahuluan (Prelimenary Research)
Penelitian pendahuluan merupakan tahap awal sebelum melakukan
penelitian. Pada tahap ini peneliti ingin mengetahui informasi dari proses
pembelajaran fisika di sekolah yaitu dengan melakukan studi literatur dan studi
lapangan. Studi literatur bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang:
proses pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru di sekolah
berdasarkan kurikulum 2013, efektifitas pembelajaran menggunakan alat
peraga dalam meningkatnya kemampuan rasa ingin tahu siswa, dan melakukan
pemilihan materi fisika yang belum terdapat alat peraga di sekolah.
Hasil analisis permasalahan berdasarkan studi literatur disesuaikan
dengan permasalahan yang terjadi sebenarnya di sekolah dengan melakukan
studi lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan mewawancara kepada
perwakilan guru fisika di sekolah dan memberikan angket kepada beberapa
siswa kelas XII. Studi lapangan dilakukan di SMAN 87 Jakarta, SMAN 86
Jakarta dan SMAN 29 Jakarta dengan tujuan untuk mengetahui proses
pembelajaran fisika yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi,
kelengkapan sarana dan prasarana alat peraga yang dimiliki sekolah, dan hasil
belajar siswa pelajaran fisika.
b. Tahap Prototipe (Prototyping Stage)
Hasil data yang diperoleh tentang permasalahan pembelajaran fisika
berdasarkan hasil
dari studi literatur dan studi lapangan, maka tahap
selanjutnya yaitu tahap pembuatan prototipe yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan. Tahapan pembuatan prototipe alat peraga pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
37
Menganalisis konsep
materi menentukan
variabel yang diukur
pada alat peraga
Menentukan
konsep materi
Analisis
variabel alat
peraga
Menelaah
variabel
Membuat
gambar sketsa
rancangan alat
peraga
Perancangan alat peraga
berdasarkan sketsa
Pemilihan
material alat yang
digunakan
Perbaikan dan
penyempurnaan alat
peraga
Alat peraga diteliti
pada evaluasi
sumatif
Uji coba alat
peraga pada
evaluasi formatif
Gambar 3. 2 Alur Perancangan Alat Peraga
Evaluasi Formatif
Alat peraga yang telah dibuat, maka tahap selanjutnya yaitu melakukan
evaluasi formatif (formative evaluation) yang mengadopsi dari Martin
Tessmer. Evaluasi formatif terdiri dari beberapa tahap yang terdapat pada
gambar 3.3 yaitu uji ahli (expert review), evaluasi satu-satu (one-to-one
evaluation), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan uji
lapangan (field study).65
Evaluasi
formatif
adalah
proses
yang
dimaksudkan
untuk
mengumpulkan data tentang kelayakan dan efektivitas pembelajaran
menggunakan
65
alat
peraga.
Data-data
tersebut
dimaksudkan
untuk
Martin Tessmer, Planning and Conducting Formative Evaluations, (London: Routledge,
1993), p.15
38
memperbaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar lebih
efektif dan efisien.66
Expert
Review
Small
Group
Evaluation
One-to-one
Evaluation
Field Test
Martin Tessmer, 1993
Gambar 3. 3 Diagram tahap evaluasi formatif
1) Uji Ahli (Expert Review)
Uji ahli (Expert Review) merupakan tahap pengujian produk kepada
ahli untuk melakukan review atas kelebihan dan kekurangan alat.
Pengelompokkan ahli reviewer kedalam beberapa kategori; Ahli
materi merupakan orang yang telah memperoleh pengetahuan penuh
tentang topik pembelajaran. Ahli media pembelajaran merupakan
orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang media pembelajaran
alat peraga. Ahli media diperlukan untuk mereview aspek-aspek yang
terkait dengan rancangan alat untuk digunakan dalam pembelajaran,
sedangkan ahli materi diperlukan untuk mereview kesesuaian alat
peraga terhadap materi.
2) Evaluasi Satu-satu (One-to-one Evaluation)
Evaluasi satu-satu merupakan evaluasi yang melibatkan dua atau lebih
siswa yang dapat mewakili populasi target dari media yang dibuat
untuk mereview hasil desain media pembelajaran alat peraga yang
sedang dikembangkan. Kedua orang siswa yang dipilih hendaknya
66
Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2014, h. 182
39
satu siswa dari populasi target yang berkemampuan umumnya sedikit
di bawah rata-rata dan satu siswa dipilih di atas rata-rata.67
3) Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation)
Evaluasi kelompok kecil merupakan evaluasi yang dicobakan kepada
10-20 siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih
dalam evaluasi hendaknya mencerminkan karakteristik populasi.68
4) Uji Lapangan (Field Study).
Evaluasi lapangan adalah tahap terakhir dari evaluasi formatif yang
dilakukan setelah melalui dua tahap evaluasi sebelumnya untuk
mengetahui kekurangan media alat peraga yang akan digunakan untuk
diuji coba. Tahap evaluasi lapangan diujicobakan kepada sekitar 30
siswa dengan berbagai karakteristik sesuai dengan populasi sasaran.69
c. Tahap Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumantif adalah proses pengumpulan data setelah media
diperbaiki dan disempurnakan untuk menentukan media yang digunakan
layak, efektif dan praktis untuk digunakan dalam situasi-situasi tertentu
seperti yang diharapkan.70 Tahap evaluasi sumatif merupakan tahap evaluasi
untuk menguji kefektifan dari prototipe yang akan digunakan dalam
pembelajaran. Pada tahap ini alat peraga yang telah dikembangkan kemudian
akan diuji cobakan kepada siswa dan dilanjutkan memberikan soal posttest.
Setelah alat peraga selesai diuji cobakan siswa diminta untuk mengisi angket
respon siswa terhadap pembelajaran dengan media alat peraga.
Selain siswa, guru dimintakan pendapat tentang kefektifan dan
kepraktisan belajar menggunakan media alat peraga melalui angket.
Selanjutnya data angket respon siswa, hasil angket guru dan hasil posttest
67
Sadiman, op. cit., h,183
Ibid., h.184
69
Ibid., 185
70
Uus Ruswandi dan Badrudin, Media Pembelajaran, (Bandung: Insan Mandiri, 2008) h.
68
141
40
siswa akan diolah untuk menganalisis keefektifan dan kepraktisan dari
pembelajaran menggunakan media alat peraga.
d. Refleksi Sistematik dan Dokumentasi (Systematic reflection and
documentation)
Tahap refleksi sistematik dan dokumentasi merupakan tahap akhir dari
prosedur pengembangan. Pada tahap ini peneliti menggambarkan seluruh
hasil studi yang dilakukan untuk mendukung analisis, diikuti oleh spesifikasi
prinsip-prinsip desain dan menghubungkan dengan kerangka konseptual.71
C. Desain Uji Coba
Desain uji coba prototipe dilakukan pada tahap: evaluasi formatif
(formatif evaluation) dan evaluasi sumatif (summative evaluation). Pada
tahap formatif menggunakan acuan dari Martin Tessmer yang terdapat pada
gambar 3.4 yaitu uji ahli (expert review), evaluasi satu-satu (one-to-one
evaluation), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan uji
lapangan (field study). Uji coba tahap formatif bertujuan untuk mengetahui
kelebihan dan kekurangan dari media alat peraga yang digunakan agar dapat
meningkatkan efektifitas dan daya tarik siswa dalam pembelajaran.
Uji coba pertama dari media alat peraga yang dikembangkan yaitu
tahap uji coba validitas oleh ahli media dan ahli materi fisika untuk
mengetahui kelayakan media alat peraga untuk digunakan dalam
pembelajaran berdasarkan materi. Uji coba selanjutnya yaitu tahap evaluasi
satu-satu (one-to-one evaluation), tahap evaluasi kelompok kecil (small
group evaluation), dan tahap uji lapangan (field study). Uji coba tersebut
bertujuan untuk mengetahui respon siswa dan guru tentang evektivitas,
kemenarikan dan kemampuan media alat peraga untuk digunakan dalam
mengetahui keterampilan proses sains siswa. Setelah mengetahui respon
71
Jan Van De Akker, et.al, op.cit, p. 154
41
siswa dan guru terhadap media alat peraga yang dikembangkan maka akan
dilakukan perbaikan dan penyempurnaan akhir produk.
Setelah media alat peraga diperbaiki dan disempurnakan pada tahap
evaluasi formatif, maka media alat peraga dilakukan uji coba selanjutnya
yaitu evaluasi sumatif. Tujuan evaluasi sumatif adalah untuk mengetahui
media alat peraga yang dikembangkan benar-benar layak, efektif dan menarik
untuk digunakan dalam pembelajaran.
D. Subjek Uji Coba
Subjek uji coba pada penelitian ini terdiri dari siswa dan guru di tiga
SMA Negeri Jakarta Selatan yaitu: SMAN 87 Jakarta, SMAN 86 Jakarta
dan SMAN 29 Jakarta. Alasan peneliti memilih sekolah karena ketiga
sekolah tersebut telah menggunakan kurikulum 2013 edisi revisi 2016.
Populasi yang digunakan adalah seluruh siswa SMA Negeri dari ketiga
sekolah tersebut. Sampel yang digunakan pada penelitian menggunakan
purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu.72 Sampel subjek uji coba yang digunakan
pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 1 Tabel Subjek Uji Coba Pegembangan Alat Peraga Gerak
Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa
Tahap Penelitian Pengembangan
Penelitian Pendahuluan
Subjek Uji Coba
1. SMAN 87 Jakarta: 10
(Prelimenary Research)
siswa kelas XII dan 1 guru
fisika
2.
SMAN 29 Jakarta: 10
siswa kelas XII dan 1 guru
fisika
72
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA,
2013), h. 85
42
3. SMAN 86 Jakarta: 10
siswa kelas XII dan 1 guru
fisika
1. 5 orang ahli media
Uji validitas ahli
(expert review)
2. 5 orang ahli materi
3 siswa kelas X SMAN 87
Evaluasi satusatu (one-to-one
evaluation)
Tahap
Prototipe
(Prototyping
Stage)
 Evaluasi
Formatif
(Formative
Evaluation)
Jakarta. Terdiri dari 1 siswa
berkemampuan tinggi, 1 siswa
berkemampuan sedang dan 1
siswa berkemampuan rendah
15 siswa kelas X SMAN 87
Evaluasi
kelompok kecil
(small group
evaluation)
Jakarta. Terdiri 5 siswa
berkemampuan tinggi, 5 siswa
berkemampuan sedang dan 5
siswa berkemampuan tinggi
1. 30 siswa kelas XI SMAN
87 Jakarta. Terdiri dari 10
siswa berkemampuan
Uji lapangan
(field study)
tinggi, 10 siswa
berkemampuan sedang dan
10 siswa berkemampuan
rendah.
1. 30 siswa dari kelas XI di
SMAN 29 Jakarta
Evaluasi Sumatif
(Summative Evaluation)
2. 4 guru fisika SMA dari
SMAN 87 Jakarta dan
SMAN 29 Jakarta
43
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk
mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamanti.73 Instrumen yang
digunakan dalam penelitian menggunakan instrumen non-tes dan tes yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi kevalidan, keefektifan, dan
kepraktisan dari alat peraga yang dikembangkan. Instrumen yang digunakan
dalam penelitian pada setiap tahap sebagai berikut:
Tabel 3. 2 Tabel Instrumen Penelitian Pengebangan Alat Peraga Gerak
Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa
Tahap Penelitian Pengembangan
Penelitian Pendahuluan
(Prelimenary Research)
Instrumen Penelitian
 Wawancara Guru
 Instrumen Angket untuk
Siswa
Uji validitas ahli (expert Instrumen angket untuk ahli
review)
media dan ahli materi fisika
 Instrumen tes KPS untuk
siswa
Evaluasi satu-satu (one Instrumen angket untuk
to-one evaluation)
siswa
Tahap
 Lembar observasi KPS
Prototipe
untuk siswa
(Prototyping
 Instrumen tes KPS untuk
Stage)
siswa
 Evaluasi
Evaluasi kelompok kecil  Instrumen angket untuk
Formatif
(small group evaluation)
siswa
(Formative
 Lembar observasi KPS
Evaluation)
untuk siswa
 Instrumen tes KPS untuk
siswa
Uji lapangan (field
 Instrumen angket untuk
study)
siswa
 Lembar observasi KPS
untuk siswa
73
Ibid., h. 102
44


Evaluasi Sumatif
(Summative Evaluation)


Instrumen tes KPS untuk
siswa
Instrumen angket untuk
siswa
Lembar observasi KPS
untuk siswa
Instrumen angket untuk
guru
1. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara yang digunakan adalah pedoman wawancara
terstruktur. Pedoman wawancara struktur yaitu pedoman wawancara yang
disusun terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tingal
membubuhkan tanda check (√) pada nomer yang sesuai.74 Pedoman
wawancara yang digunakan bertujuan untuk mendapatkan data awal dari
guru mengenai pembelajaran fisika yang digunakan guru dalam
mengajarkan materi gerak parabola dan ketersediaan media alat peraga
gerak parabola di sekolah. Kisi-kisi pedoman wawancara yang digunakan
dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 3 Pedoman Wawancara Pendahuluan Guru
No
1
2
3
4
5
74
Pertanyaan
Apakah rata-rata hasil belajar fisika siswa sudah mencapai
kriteria ketuntasan minimum.
Metode apa yang sering digunakan oleh guru dalam mengajar
fisika di kelas
Apakah dalam mengajar fisika sering melibatkan siswa dalam
menggali pengetahuannya sendiri seperti berdiskusi kelompok
dalam memecahkan masalah, melakukan percobaan praktikum,
atau memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan fenomena
dala kehidupan sehari-hari
Dalam mengajar fisika apakah sering melakukan praktikum di
lab fisika
1. Apakah menggunakan bantuan media pembelajaran dalam
menjelaskan materi fisika.
2. Media apa yang sering digunakan.
Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2013), h. 270
45
6
7
8
9
10
Apakah pernah menggunakan media alat peraga dalam
membantu menjelaskan materi fisika.
materi fisika apa yang menjelaskan dengan meida alat peraga?
Bagaimana cara guru dalam menjelaskan materi gerak parabola
kepada siswa.
1. Apakah guru menggunakan media dalam menjelaskan
materi gerak parabola.
2. Media apa yang digunakan guru dalam menjelaskan materi
gerak parabola tersebut.
Apakah alat peraga di sekolah untuk siswa melakukan
praktikum lengkap. Khususnya dalam mengajar materi gerak
parabola?
Apakah ada perbedaan dari hasil belajar siswa yang diajarkan
dengan berbantuan media pembelajaran (alat peraga) atau
dengan metode lain
2. Daftar Chek-list
Daftar
ceklis
digunakan
untuk
mengetahui
kualitas
dan
kevaliditasan instrumen tes yang akan digunakan dalam penelitian dan
sebagai pedoman untuk perbaikan instrumen. Daftar ceklis diisi oleh dosen
dan guru fisika di sekolah. Kisi-kisi daftar ceklis yang digunakan dalam
penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 4 Kisi-kisi Kualitas Instrumen
No
A.
1.
2.
3.
4.
B.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Aspek-aspek yang di telaah
Materi
Soal sesuai dengan aspek KPS
Soal yang ditanyakan sesuai dengan indikator
Pilihan jawaban homogen dan logis
Hanya ada satu kunci jawaban
Konstruksi
Soal disusun berdasarkan pada aspek KPS
Soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas.
Rumusan soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang
diperlukan saja.
Soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban.
Soal bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan
berfungsi.
Panjang pilihan jawaban relatif sama.
46
13.
Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya.
14. Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya.
C. Bahasa
15. Kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia
16. Menggunakan bahasa yang komunikatif
17. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu
18. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama,
kecuali merupakan satu kesatuan pengertian
3. Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberikan pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab.75
Angket merupakan kumpulan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya atau hal-hal yang ingin diketahui dari responden tersebut.76
Instrumen angket yang digunakan dalam penelitian diantaranya yaitu:
a. Angket uji ahli (expert review)
Angket uji ahli (expert review) digunakan untuk memvalidasi alat
peraga yang dikembangkan dalam penelitian layak digunakan tanpa revisi
atau harus direvisi, dan alat peraga tidak layak digunakan. Angket uji ahli
terdiri dari dua yaitu angket uji ahli media pembelajaran dan uji ahli
materi pembelajaran fisika. Angket uji ahli media pembelajaran
digunakan untuk memvalidasi aspek kelayakan media dari alat peraga
yang akan dikembangkan. Sedangkan angket uji ahli pembelajaran fisika
digunakan untuk memvalidasi kesesuaian isi dan konsep yang terdapat
pada alat peraga terhadap teori fisika. Ahli dapat memberikan catatan
sebagai masukan apabila ada yang harus diperbaiki dari alat peraga.
Skala pengukuran angket uji ahli media menggunakan rating scale.
Angket uji ahli media yang digunakan dalam penelitian ini adalah ratingscale (skala bertingkat) dengan 5 kategori penilaian dari yang tertinggi,
yaitu: 4, 3, 2, 1, 0.
75
76
Sugiyono, op. cit., h. 142
Arikunto. op.cit., h.194
Sedangkan skala pengukuran angket uji ahli
47
pembelajaran fisika diolah menggunakan content validity ratio (CVR).
Kisi-kisi angket ahli media dan ahli materi fisika yang digunakan dalam
penelitian adalah sebagai berikut:
48
Tabel 3. 5 Kisi-kisi Angket Ahli Materi
No
Aspek
Penilaian
Kelayakan
Media
Kriteria
kesesuaian
dengan
bahan ajar
Indikator
Kesesuaian media alat peraga
dengan konsep yang diajarkan
jumlah
1
Kejelasan media alat peraga
dalam membantu menjelaskan
1
No.
Pertanyaan
2
3
konsep
Kesesuaian media alat peraga
dengan kompetensi siswa
Ketahanan
Alat
Ketahanan alat peraga terhadap
cuaca
Alat mudah dalam perawatan
2
Alat peraga dibuat dalam bahan
yang mudah ditemukan
Keakuratan
3
4
5
3
6
Ketahanan komponenkomponen alat peraga yang
7
sesuai pada dudukan awalnya
Ketepatan pemasangan setiap
3
komponen pada alat ukur
Efisiensi
Alat
Ketepatan skala pengukuran
9
Ketelitian pengukuran
10
Alat peraga mudah untuk
dirangkai
Alat peraga mudah untuk
4
8
digunakan/dioperasikan
Alat peraga mudah untuk
dibawa
3
11
12
13
3
49
No
Aspek
Penilaian
Kelayakan
Media
Keamanan
bagi siswa
Indikator
No.
Pertanyaan
jumlah
Alat peraga memiliki keamanan
dan kenyamanan untuk
14
digunakan oleh siswa
Konstruksi alat peraga kokoh
sehingga memiliki keamanan
5
15
3
saat digunakan oleh siswa
Alat peraga menggunakan bahan
ramah lingkungan dan tidak
16
menggunakan zat beracun
Estetika
Alat peraga memiliki warna
yang menarik dan nyaman untuk
17
digunakan
Alat peraga dirancang dengan
bentuk yang sesuai dengan
6
18
J3
kebutuhan materi
Alat peraga memiliki bentuk
yang menarik, rapi dan nyaman
19
untuk digunakan oleh siswa
Kelengkapan Alat dilengkapi dengan manual
alat
book dalam membantu
20
perangkaian alat
Alat dilengkapi dengan video
7
demonstrasi dalam membantu
21
3
menggunakan alat
Alat dilengkapi dengan lembar
kerja siswa (LKS)
8
Tempat
Penyimpana
n
Alat peraga dilengkapi dengan
tempat penyimpanan agar
22
23
3
50
No
Aspek
Penilaian
Kelayakan
Media
Indikator
No.
Pertanyaan
jumlah
mudah untuk
menyimpan/mengambil
Alat peraga dilengkapi dengan
tempat untuk memudahkan
24
dalam dibawa
Tempat penyimpanan alat
peraga memiliki ketahanan
25
dalam menyimpan alat peraga
Tabel 3. 6 Kisi-kisi Angket Ahli Materi Fisika
No
1.
2.
Indikator
Aspek Penilaian
Relevansi konten materi pada alat
peraga dengan KI/KD
Alat peraga dapat membantu
Kesesuaian memvisualisasikan materi dalam
Isi
pembelajaran
Alat peraga dapat menunjukkan
vektor gerak pada sumbu x dan y
pada gerak parabola
Alat peraga dapat menunjukkan
jarak terjauh benda
Alat peraga dapat menunjukkan
ketinggian maksimum
Alat peraga dapat menunjukkan
pengaruh sudut elevasi terhadap
Kesesuaian jarak terjauh
konsep
Alat peraga dapat menunjukkan
pengaruh sudut elevasi terhadap
ketinggian maksimum
Alat peraga dapat menujukkan
perbedaan kecepatan awal aliran
fluida pada ukuran diameter
lubang terhadap jarak jangkauan
Jumlah
No
Pertanyaan
Jumlah
1
2
3
3
4
5
6
5
7
8
8
8
51
b. Angket penelitian pendahuluan
Angket penelitian pendahuluan ini diberikan kepada siswa untuk
mengetahui proses pembelajaran fisika yang selama ini digunakan guru
dalam menjelaskan materi, dan mengetahui keefektivitas penggunaan
media alat peraga yang digunakan dalam membantu menjelaskan materi
pembelajaran fisika. Kisi-kisi angket penelitian pendahuluan siswa yang
digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 7 Kisi-kisi Angket Penelitian Pendahuluan
No
1
Pertanyaan
Apakah pelajaran fisika adalah pelajaran yang kalian sukai
(Beri alasan kenapa memilih ya/tidak)
2
3
4
5
6
7
Apakah selalu memperoleh nilai ulangan pelajaran fisika
diatas KKM? (Beri alasan kenapa memilih ya/tidak)
Metode belajar apa yang sering digunakan guru dalam
mengajar fisika
Metode belajar apa yang kalian sukai dalam guru
menjelaskan materi fisika
Pernahkah kalian melakukan percobaan praktikum di
laboratorium
Apakah kalian menyukai belajar hanya di dalam kelas
dengan memperhatikan pejelasan guru dan mencatat
penjelasan dari guru (Beri alasan kenapa memilih ya/tidak)
Apakah kalian menyukai belajar dengan melakukan
praktikum di laboratorium yang menggunakan alat peraga
(Beri alasan kenapa memilih ya/tidak)
8
Apakah guru pernah menggunakan bantuan media
pembelajaran lain seperti alat peraga dalam menjelaskan
materi fisika
c. Angket respon siswa
Angket respon siswa dalam penelitian digunakan untuk
mengetahui tanggapan siswa terhadap kemenarikan dan kemampuan
media alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran menggunakan
alat peraga yang dikembangkan pada evaluasi formatif dan kepraktisan
pembelajaran menggunakan alat peraga pada evaluasi sumatif.
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah rating-scale
(skala bertingkat) dengan 5 kategori penilaian dari yang tertinggi, yaitu:
52
4, 3, 2, 1, 0. Kisi-kisi angket respon siswa yang digunakan dalam
penelitian adalah sebagai berikut.
Tabel 3. 8 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Satu-Satu (One-to-One
Evaluation)
No
1
2
Aspek
Materi
(content)
Kualitas
Teknis
Indikator
Kesulitan
Media alat peraga membantu
mengatasi kesulitan memahami
materi
Kejelasan
Materi lebih jelas dan nyata untuk
dipelajari menggunakan media
alat peraga
Kemenarikan
Materi lebih menarik dan mudah
dipahami menggunakan media
alat peraga
Media alat peraga memiliki
kualitas bentuk yang menarik dan
nyaman untuk digunakan
Media alat peraga memiliki
kualitas warna yang menarik dan
nyaman untuk digunakan
Media alat peraga memiliki
bentuk dan ukuran yang mudah
dibawa dan digunakan
3
Desain
Pembelajaran
Kemenarikan Pembelajaran
Pembelajaran menggunakan alat
peraga menjadi lebih menarik dan
tidak bosan
Kejelasan Tujuan Pembelajaran
Alat peraga dapat membantu
untuk visualisasikan materi lebih
jelas dan nyata untuk dipahami
Kelogisan Sistematika Materi
No
Pertanyaan
Jumlah
1
2
3
3
4
5
3
6
7
3
8
9
53
No
Aspek
Indikator
No
Pertanyaan
Jumlah
Media alat peraga membantu
pembelajaran menjadi lebih logis
4
Implementasi
Efisiensi Waktu
Media alat peraga dapat
mengefisienkan waktu untuk
dipelajari
Pemanfaatan Media
untuk Pembelajaran
Media alat peraga dapat
dimanfaatkan untuk membantu
dalam pembelajaran
Kemudahan Operasi Media
Media alat peraga mudah untuk
digunakan
Jumlah
10
11
3
12
12
12
Tabel 3. 9 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Kelompok Kecil (Small
Group Evaluation)
No
1
Aspek
Materi
(content)
Indikator
Kesulitan
Media alat peraga membantu
mengatasi kesulitan memahami
materi
Kejelasan
Materi lebih jelas dan nyata untuk
dipelajari menggunakan media alat
peraga
3
Desain
Pembelajaran
Kemenarikan
Materi lebih menarik dan mudah
dipahami menggunakan media alat
peraga
Kejelasan Tujuan Pembelajaran
Alat peraga dapat membantu untuk
visualisasikan materi agar lebih
jelas dipahami
No
Pertanyaan
Jumlah
1
2
3
3
4
3
54
No
Aspek
No
Pertanyaan
Indikator
Kemenarikan Pembelajaran
Pembelajaran menggunakan alat
peraga menjadi lebih menarik dan
tidak bosan
5
Kelogisan Sistematika Materi
Media alat peraga membantu
pembelajaran menjadi lebih logis
4
Implementasi
Jumlah
6
Media alat peraga dapat
dimanfaatkan untuk membantu
dalam pembelajaran
7
Media alat peraga mudah untuk
digunakan dan dioperasikan dalam
pembelajaran
3
8
Media alat peraga dapat
mengefisiensikan waktu
9
Jumlah
9
9
Tabel 3. 10 Kisi-Kisi Angket Uji Lapangan Siswa
No
1
2
3
Aspek
Indikator Variabel
Kemampuan untuk
dapat dilaksanakan
(implementability)
Kesinambungan
(sustainability)
Penerimaan dan
Kemenarikan
Kemudahan penggunaan
Penggunaan media yang
membahayakan
Intensitas waktu
Perawatan dan
pemeliharaan media
Penggunaan media pada
waktu berikutnya
No.
Pernyataan
(+)
(-)
1, 2
Jumlah
4
3
4
5
4
6
Penggunaan bahan
pembuatan media
7
8
Minat belajar siswa
Pembelajaran yang
menarik, inovatif, dan
menyenangkan
Jumlah
9
11
10
12
4
6
6
12
55
Tabel 3. 11 Kisi-kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif
No
1
Aspek
Kepraktisan
(practically)
Indikator
Media alat peraga mudah untuk
digunakan dan dioperasikan
saat melakukan percobaan
Media alat peraga mudah untuk
dirangkai ulang
Media alat peraga dilengkapi
oleh
tempat
penyimpanan
sehingga mudah untuk dibawa.
Media alat peraga mudah dalam
perawatan
Media alat mudah untuk
ditemukan komponen pengganti
Jumlah
No.
Pernyataan
1
Jumlah
5
2
3
4
5
5
5
d. Angket respon guru
Angket respon guru dalam penelitian digunakan untuk mengetahui
tanggapan guru terhadap evektivitas, kemenarikan dan kemampuan
media alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran menggunakan
alat peraga pada evaluasi formatif dan mengetahui keefektifan dan
kepraktisan pembelajaran menggunakan alat peraga pada evaluasi
sumatif.
Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan ratingscale (skala bertingkat) dengan 5 kategori penilaian dari yang tertinggi,
yaitu: 4, 3, 2, 1, 0. Kisi-kisi angket respon guru yang digunakan dalam
penelitian adalah sebagai berikut:
56
Tabel 3. 12 Kisi-kisi Angket Uji Lapangan Guru
No
1
2
3
5
Aspek
Indikator Variabel
Kemampuan untuk
dapat dilaksanakan
(implementability)
Kemudahan penggunaan
Kesinambungan
(sustainability)
Efektivitas
(efectivity)
Penerimaan dan
Kemenarikan
Penggunaan media yang
membahayakan
Intensitas waktu
Kemudahan untuk
disesuaikan dengan
kebutuhan di lapangan
Penggunaan media pada
waktu berikutnya
Perawatan dan
pemeliharaan media
Penggunan alat dan
bahan
Ketercapaian tujuan
pembelajaran
Kemudahan dalam
menjelaskan materi ajar
Efektivitas membantu
siswa memahami materi
Efekivitas meningkatkan
rasa ingin tahu siswa
Minat belajar siswa
Pembelajaran yang
menyenangkan dan
menarik
Jumlah
No.
Pernyataan
(+)
(-)
1, 2
Jumlah
4
3
4
5
4
6
7
8
8
,4
9
10
11
12
14
13
15
4
8
8
16
Tabel 3. 13 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif Guru
No
1
Aspek
Indikator
Kepraktisan Media alat peraga praktis untuk
(practically) digunakan dan dioperasikan
saat melakukan percobaan.
Media alat peraga praktis untuk
dirangkai ulang.
Media alat peraga dilengkapi
oleh tempat penyimpanan
sehingga praktis untuk dibawa.
No.
Pernyataan
1
2
3
Jumlah
5
57
2
Efektivitas
(efectivity)
Media alat peraga praktis dalam
perawatan
Media alat mudah untuk
ditemukan komponen pengganti
Alat peraga gerak parabola
dapat membantu guru dalam
mencapai tujuan pembelajaran
Alat peraga gerak parabola
efektif untuk membantu siswa
dalam memahami konsep
Alat peraga gerak parabola
efektif untuk meningkatkan
motivasi rasa ingin tau siswa
Alat peraga efektif untuk
membantu guru agar lebih
mudah dalam mengajar
Alat peraga efektif untuk
membantu siswa dalam
memvisualisasikan konsep
Jumlah
4
5
6
5
7
8
9
10
10
10
4. Observasi
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui kemampuan keterampilan proses sains siswa selama
melakukan percobaan menggunakan alat peraga gerak parabola.
Observasi dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman
sebagai instrumen pengamatan.77 Kisi-kisi lembar observasi yang
digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut
Tabel 3. 14 Kisi-kisi Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains
Siswa
Aspek KPS
Mengamati
77
Arikunto. Op.cit., h.200
Indikator Kegiatan
Siswa
Siswa dapat
membaca skala
pengukuran pada
ketinggian dan jarak
No
Pertanyaan
Jumlah
1.
3
58
jangkauan dengan
benar
Siswa dapat
mengamati
perbedaan
ketinggian dan jarak
pada sudut elevasi
tertentu
Siswa dapat
mengamati
perbedaan dari
ketinggian dan jarak
jangkauan pada
setiap diameter mata
nozzle pada sudut
elevasi
tertentudengan
benar
Siswa dapat
mencatat setiap data
hasil percobaan
yang dilakukan
secara terpisah dan
tepat
Siswa dapat
Mengklasifikasikan mengelompokkan
(mengelompokkan) data berdasarkan
ciri-ciri perbedaan
dan persamaan dari
data hasil
percobaan
Siswa dapat
membandingkan
data yang diperoleh
Siswa dapat
menghubungkan
data-data hasil
pengamatan dengan
tepat
Menafsirkan
Siswa dapat
(Interpretasi)
menemukan pola
dan keteraturan data
berdasarkan hasil
pengamatan
Siswa dapat
menyimpulkan hasil
2.
3.
4.
3
5.
6.
7.
3
8.
9.
59
Meramalkan
(Memprediksi)
Mengajukan
Pertayaan
Mengajukan
Hipotesis
data pengamatan
dengan tepat
Siswa dapat
mengemukakan hal
yang belum diamati
menggunakan pola
atau keteraturan dari
hasil percobaan
Siswa dapat
memprediksi hal
yang akan terjadi
berdasarkan pola
atau keteraturan data
hasil percobaan
Siswa dapat
memperkirakan hal
yang terjadi pada
keadaan yang belum
diamati berdasakan
pola atau
keteraturan dari data
hasil percobaan
Siswa mengajukan
pertanyaan
berdasarkan hal-hal
yang tidak mereka
ketahui dalam
menggunakan alat
peraga
Siswa bertanya yang
berlatar belakang
hipotesis
Siswa bertanya
untuk meminta
penjelasan
berdasarkan data
pengamatan yang
diperoleh
Siswa dapat
memberikan
hipotesis terhadap
hubungan antara
sudut elevasi
terhadap jarak
jangkauan
10.
11.
3
12
13.
14.
3
15.
16.
3
60
Siswa dapat
memberikan
hipotesis hubungan
antara sudut elevasi
terhadap ketinggian
Merencanakan
Percobaan
Menggunakan
Alat dan Bahan
Menerapkan
Konsep
Siswa dapat
memberikan
hipotesis hubungan
antara kecepatan
awal terhadap jarak
jangkauan terjauh
Siswa dapat
menentukan alat dan
bahan yang akan
digunakan dalam
percobaan
Siswa dapat
mengetahui faktor
yang akan diukur
dalam percobaan
Siswa dapat
mengetahui langkah
kerja yang akan
dilakukan
siswa dapat
menggunakan alat
dan bahan dalam
percobaan dengan
benar
Siswa mengetahui
alasan penggunaan
alat dan bahan
dalam percobaan
Siswa dapat
mengetahui setap
penggunaan alat alat
percoba dengan
benar berdasarkan
langkah kerja
Siswa dapat
memperoleh data
yang sesuai dengan
konsep
17.
18.
19.
20.
3
21.
22.
23.
3
24.
25.
3
61
Siswa dapat
menerapkan hasil
data percobaan yang
diperoleh dengan
konsep
Siswa menganalisis
data yang diperoleh
berdasarkan konsep
Siswa dapat
menggambarkan
data hasil percobaan
dengan grafik
Siswa dapat
Melakukan
menjelaskan data
Komunikasi
hasil percobaan
Siswa dapat
membaca grafik
data yang diperoleh
dengan benar
Jumlah
26.
27.
28.
29.
3
30.
30
30
5. Tes (posttest)
Tes adalah alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan,
pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu
atau kelompok.78 Soal instrumen tes digunakan
pada posttest
berdasarkan pada aspek keterampilan proses sains. Aspek keterampilan
proses sains yang digunakan dalam menyusun instrumen diantaranya
yaitu
mengamati,
mengelompokkan,
meramalkan/memprediksi,
berhipotesis,
menafsirkan/
merencanakan
interprestasi,
percobaan,
menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, mengkomunikasi.
Pemberian soal bertujuan untuk mengetahui kemampuan proses
sains siswa. Pemberian soal ini merupakan salah satu kriteria yang dapat
menunjukan apakah media yang dikembangakan efektif atau tidak
digunakan dalam pembelajaran.
78
Ibid., h. 193
62
F. Uji Coba Produk
Uji coba produk dalam mengembangkan alat peraga dilakukan pada
evaluasi formatif dan evaluasi sumantif yang melibatkan siswa dan guru
sebagai subjek uji coba. Uji coba produk pada evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif dilakukan tiga sekolah bertujuan untuk mendapatkan data dari latar
belakang sumber yang berbeda untuk mewakilkan seluruh populasi.
Uji coba dilakukan pada evaluasi formatif dengan beberapa tahap
yaitu tahap evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), tahap evaluasi
kelompok kecil (small group evaluation), dan tahap uji lapangan (field study).
Hasil uji coba tahap evaluasi formatif untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan dari alat peraga untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.
Setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan alat peraga
berdasarkan hasil dari evaluasi formatif maka alat peraga akan dilakukan uji
coba pada evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif bertujuan untuk mengetahui
media alat peraga yang dikembangkan layak, efektif dan praktis digunakan
dalam pembelajaran untuk mengukur kemampuan proses sains siswa.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan produk
melalui tahapan uji validitas, uji efektifitas, dan uji praktikabilitas. Data yang
diperoleh dari wawancara akan diolah secara kualitatif. Data yang diperoleh
dari angket dengan pertanyaan menggunakan skala Likert akan diubah terlebih
dahulu ke dalam data kuantitatif. Adapun teknik analisis data yang digunakan
sebagai berikut:
a. Analisis Data Wawancara Guru
Hasil wawancara terhadap guru akan dikumpulkan menjadi satu dan
diambil
kesimpulannya
keseluruhan.
untuk
memastikan
hasil
wawancara
secara
63
b. Analisis Data Angket Validasi Ahli Media Pembelajaran, Lembar
Observasi KPS, Angket Respon Siswa dan Guru
Data yang dihasilkan dari angket validasi, angket respon siswa dan guru
akan dianalisis menggunakan rating scale (skala bertingkat). Dengan rating
scale data yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian
kualitatif. Dalam skala model rating scale, responden tidak akan menjawab
salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah
satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. angket akan diolah dengan dua
cara, yaitu menghitung persentase jawaban dari setiap item pertanyaan dan
menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban dari
responden.79
Rating scale dengan lima alternatif jawaban dapat dibuat angka 4 sampai
0. Untuk jawaban sangat baik diberi angka 4, baik diberi angka 3, ragu-ragu
diberi angka 2, tidak baikdiberi angka 1 dan sangat tidak baik diberi angka 0.
Lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 3. 15 Kriteria Rating Scale
Skor
Jawaban Siswa
4
Sangat Baik(SB)
3
Baik (B)
2
Cukup Baik (CB)
1
Tidak Baik (TB)
0
Sangat Tidak Baik (STB)
Persentase jawaban dari setiap item pertanyaan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 =
∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛
𝑥100%
∑ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥 4
Sugiyono, 2014
Untuk kesimpulannya dapat digambarkan seperti berikut:
79
Sugiyono, Ibid, h. 136
64
Sugiyono, 2014
Gambar 3. 4 Garis Kesimpulan
Persentase jawaban dari seluruh item pertanyaan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 =
∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑟𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛
𝑥100%
∑ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥 ∑ 𝑠𝑜𝑎𝑙 𝑥 4
Sugiyono, 2014
Untuk kesimpulannya dapat digambarkan seperti berikut
Sugiyono, 2014
Gambar 3. 1 Garis kesimpulan keseluruhan
a) Kriteria Penilaian Kelayakan Alaht Peraga oleh Ahli Media Pembelajaran
Kriteria penilaian rating scale dilakukan oleh lima ahli dengan tiga
indikator/aspek memiliki skor maksimal yang diperoleh sebesar 75, maka
kriteria penilaian sebagai berikut:
Skor
0 – 15
16 – 30
31 – 45
46 – 60
61 – 75
Kesimpulan
Sangat Tidak Layak
Tidak Layak
Cukup
Layak
Sangat Layak
Kriteria penilaian rating scale dilakukan oleh lima ahli dengan jumlah
seluruh aspek yang terdiri dari 24 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang
diperoleh sebesar 600, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
65
Jumlah
0 – 120
121 – 240
241 – 360
361 – 480
481 – 600
Kesimpulan
Sangat Tidak Layak
Tidak Layak
Cukup
Layak
Sangat Layak
b) Kriteria Penilaian Evaluasi Satu-satu
1) Penilaian Lembar Observasi KPS
Kriteria penilaian rating scale dilakukan tiga siswa dengan tiga
indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 75, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0–9
Sangat Tidak Baik
10 – 18
Tidak Baik
18 – 27
Cukup Baik
28 – 36
Baik
36 – 45
Sangat Baik
2) Penilaian Kelayakan Alat Peraga
Kriteria penilaian rating scale dilakukan tiga siswa dengan tiga
indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 45, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0–9
Sangat Tidak Baik
10 – 18
Tidak Baik
18 – 27
Cukup Baik
28 – 36
Baik
36 – 45
Sangat Baik
Kriteria penilaian rating scale dilakukan tiga siswa dengan jumlah sekuruh
aspek yang terdiri dari 12 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh
sebesar 600, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
66
Rentang Jumlah
Kategori
0 - 28,8
Sangat Tidak Baik
28,9 - 57,6
Tidak Baik
57,7 - 86,4
Cukup Baik
86,5 - 115,2
Baik
115,3 – 144
Sangat Baik
c) Kriteria Penilaian Evaluasi Kelompok Kecil
1) Penilaian Lembar Observasi KPS
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 15 siswa dengan tiga
indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 180, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 – 36
Sangat Tidak Baik
37 – 72
Tidak Baik
73 – 108
Cukup Baik
109 – 144
Baik
145 – 180
Sangat Baik
2) Penilaian Kelayakan Alat Peraga
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 15 siswa dengan tiga
indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 225, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 – 45
Sangat Tidak Baik
46 – 90
Tidak Baik
91 – 135
Cukup Baik
136 – 180
Baik
181 – 225
Sangat Baik
67
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 15 siswa dengan jumlah sekuruh
aspek yang terdiri dari 12 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh
sebesar 540, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
0 - 108
109 - 216
217 - 324
325 - 432
433 - 540
Kategori
Sangat Tidak Baik
Tidak Baik
Cukup Baik
Baik
Sangat Baik
d) Kriteria Penilaian Uji Lapangan
1) Penilaian Lembar Observasi KPS
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan tiga
indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 360, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 - 72
Sangat Tidak Baik
73 - 144
Tidak Baik
145 - 216
Cukup Baiik
217 - 288
Baik
289 - 360
Sangat Baik
2) Penilaian Kelayakan Alat Peraga
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan empat
indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 480, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 – 96
Sangat Tidak Baik
97 – 192
Tidak Baik
68
193 – 288
Cukup Baik
289 – 384
Baik
385 – 480
Sangat Baik
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan jumlah sekuruh
aspek yang terdiri dari 12 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh
sebesar 1440, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 - 288
Sangat Tidak Baik
289 - 576
Tidak Baik
577 - 864
Cukup Baik
865 - 1152
Baik
1153 - 1440
Sangat Baik
e) Kriteria Penilaian Evaluasi Sumatif
1) Penilaian Lembar Observasi KPS
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan tiga
indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 360, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 - 72
Sangat Tidak Baik
73 - 144
Tidak Baik
145 - 216
Cukup Baiik
217 - 288
Baik
289 - 360
Sangat Baik
2) Penilaian Kepraktisan Alat Peraga oleh siswa
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan satu
indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 120, maka kriteria
penilaian sebagai berikut:
69
Rentang Skor
Kategori
0 - 24
Sangat Tidak Praktis
25 - 48
Tidak Praktis
49 - 72
Cukup
73 - 96
Praktis
97 - 120
Sangat Praktis
Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan jumlah sekuruh
aspek yang terdiri dari 5 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh
sebesar 600, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 - 120
Sangat Tidak Praktis
121 – 240
Tidak Praktis
241 - 360
Cukup
361 - 480
Praktis
481 - 600
Sangat Praktis
3) Penilaian Kepraktisan dan Keefektifan Alat Peraga oleh Guru
Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru
dengan satu indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 20, maka
kriteria penilaian sebagai berikut:
Rentang Skor
Kategori
0-4
Sangat Tidak Praktis
5-8
Tidak Praktis
9 - 12
Cukup
13 - 16
Praktis
17 - 20
Sangat Praktis
70
Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru
dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 5 indikator. Jumlah penilaian
maksimal yang diperoleh sebesar 80, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
Rentang Jumlah
Kategori
0 – 16
Sangat Tidak Praktis
17 – 32
Tidak Praktis
33 – 48
Cukup
49 - 64
Praktis
65 - 80
Sangat Praktis
Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru
dengan satu indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 20, maka
kriteria penilaian sebagai berikut:
Rantang Nilai
Kategori
0-4
Sangat Tidak Baik
5-8
Tidak Baik
9 - 012
Cukup Baik
13 - 16
Baik
17 - 20
Sangat Baik
Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru
dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 5 indikator. Jumlah penilaian
maksimal yang diperoleh sebesar 80, maka kriteria penilaian sebagai berikut:
Rantang
Jumlah
Kategori
0 - 16
Sangat Tidak Baik
17 - 32
Tidak Baik
33 - 48
Cukup Baik
71
c.
49 - 64
Baik
65 - 80
Sangat Baik
Angket Validasi Ahli Materi, Angket Kepraktisan dan Keefektifan
Angket keefektifan guru dan angket kepraktisan guru dan siswa dalam
menentukan kesimpulan menggunakan skala Guttman. Skala Guttman akan
menghasilkan jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”. Dalam angket ini digunakan
skala “Praktis-tidak Praktis”.
Untuk menarik kesimpulan dari kelayakan media dapat dicari menggunakan
cara sebagai berikut:
∑ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛
𝑥100%
∑ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛
Keterangan :
0 - 50% = Tidak Layak
51% - 100% = Layak
d. Analisis Data Validasi Instrumen Tes
Validitas instrumen, hasil judgement ahli diolah dengan menggunakan
content validity ratio (CVR). Untuk mengukur validitas isi digunakan pendekatan
yang dikembangkan oleh Lawshe (1975)80 CVR merupakan sebuah pendekatan
validitas isi untuk mengetahui kesesuaian item dengan yang diukur berdasarkan
judgement ahli. Pemberian skor untuk butir yang dikatakan sesuai atau essentiali
adalah 1. Sedangkan skor untuk butir yang tidak sesuai atau not essentiali bernilai
0. Setelah semua item mendapatkan skor, kemudian data tersebut diolah. Berikut
ini rumus yang digunakan Lawshe untuk menghitung nilai CVR:2181
80
Iwan Permana Suwarna, Pengembangan Instrumen Ujian Komprehensif Mahasiswa
Melalui Computer Based Test Pada Program Studi Pendidikan Fisika, Laporan Penelitian
Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan, Jakarta, 2016, h. 50.
81
Dendy Siti Kamilah, Pengembangan Three-Tier Test Digital Untuk Mengidentifikasi
Miskonsepsi Pada Konsep Fluida Statis, Skripsi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta, 2016, h.
45
72
𝑁
𝑛𝑒 − 2
𝐶𝑉𝑅 =
𝑁
2
𝑛𝑒 = Jumlah responden yang menyatakan sesuai atau essential
N = Total respon
Ketentuan
1) Ketika kurang dari ½ total respon yang menyatakan essential maka nilai CVR
= (-)
2) Ketika ½ dari total respon yang menyatakan essential maka nilai CVR = 0
3) Ketika seluruh responden mengatakan essential maka nilai CVR = 1
Nilai CVR merupakan nilai statistik per butir. Nilai ini berguna untuk
menentukan tindak lanjut apakah butir tersebut akan digunakan atau dibuang. Butir
yang digunakan harus memiliki nilai CVR yang lebih besar dari nilai CVR minimal.
Sebaliknya butir yang dibuang memiliki nilai CVR yang lebih kecil dari nilai CVR
minimal. Nilai CVR minimal dapat dilihat pada tabel
Jumlah Responden
Nilai Minimal
5
0,99
6
0,99
7
0,99
8
0,75
9
0,78
10
0,62
Setelah butir yang valid teridentifikasi selanjutnya mencari nilai Content
Validity Index (CVI). Secara sederhana CVI merupakan rata-rata dari nilai CVR .
𝐶𝑉𝐼 =
∑ 𝐶𝑉𝑅
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑜𝑎𝑙
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian Pengembangan
Produk yang dihasilkan dari penelitian pengembangan ini adalah media
pembelajaran alat peraga pada materi gerak parabola untuk siswa SMA. Alat peraga
ini merupakan hasil pengembangan dari alat peraga yang sebelumnya memiliki
kekurangan untuk diperbaiki. Alat peraga yang dikembangkan mengunakan metode
pengembangan dari Akker. Berikut ini tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan:
penelitian pendahuluan (preliminary research); tahap prototipe (prototyping stage);
evaluasi sumatif (summative evaluation); refleksi sistematik dan dokumentasi
(systematic reflection and documentation).
1. Hasil Penelitian Pendahuluan (Preliminary research)
Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mencari informasi awal terkait
permasalah yang terjadi di lapangan. Tahap ini terdiri dari dua kegiatan, yaitu:
melakukan studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur dilakukan melalui
analisa dari jurnal dan skripsi terkait pembelajaran menggunakan media alat peraga.
Hasil analisa jurnal dan skripsi tersebut disajikan pada tabel berikut
73
74
Tabel 4. 1 Hasil Studi Literatur (Analisis Jurnal dan Skripsi)
No
1.
Nama Penulis
dan Sumber
Judul
Kesimpulan
Duwita Sekar
Pengembangan
Hasil belajar siswa setelah
Indah, Prabowo
Alat Peraga
melakukan pembelajaran
Sederhana Gerak
menggunakan alat peraga
Parabola Untuk
sederhana gerak parabola untuk
Memotivasi
memotivasi siswa pada
Jurnal Inovasi
Pendidikan Fisika Siswa Pada
pembelajaran fisika pokok
(JIPF)
Pembelajaran
bahasan gerak parabola terjadi
Fisika Pokok
peningkatan hasil belajar dengan
Bahasan Gerak
kategori sedang; serta siswa
Parabola
termotivasi dalam pembelajaran
menggunakan alat peraga
sederhana gerak parabola dengan
persentase angket motivasi
siswa.
Saran: materi dapat ditunjukkan
oleh alat peraga tersebut dan
tidak hanya dapat mengukur
jarak jangkauan bola saja, tetapi
juga dapat mengukur ketinggian
maksimum
2.
Dharis Dwi
Pengembangan
Alat peraga IPA terpadu tema
Apriliyanti, Sri
Alat Peraga Ipa
pemisahan campuran terbukti
Haryani, Arif
Terpadu Pada
dapat merangsang keaktifan
Widiyatmoko
Tema Pemisahan
siswa dalam pembelajaran dan
Campuran Untuk sikap ilmiah siswa. Keterampilan
75
Nama Penulis
No
Judul
dan Sumber
Kesimpulan
Unnes Science
Meningkatkan
dan sikap siswa menunjukkan
Education
Keterampilan
hasil yang sangat baik dan sangat
Journal
Proses Sains
aktif setelah mengikuti
pembelajaran melalui praktikum
menggunakan alat peraga
3.
4.
B. Hartati
Pengembangan
Penggunaan alat peraga gaya
Alat Peraga
gesek yang efektif berbasis
Jurnal Pendidikan Gaya Gesek
inkuiri dapat meningkatkan
Fisika Indonesia
Untuk
keterampilan berpikir kritis,
6
Meningkatkan
ternyata hasilnya jelas
Keterampilan
berpengaruh terhadap
Berpikir Kritis
peningkatan hasil belajar
Siswa Sma
pesertadidik.
Pengembangan
Keterampilan proses dan
Keterampilan
pemahaman siswa kelas X SMA
Proses Dan
N 3 Sragen dapat ditingkatkan
Widayanto
Jurnal Pendidikan Pemahaman
melalui pemanfaatan Kit optik
Fisika Indonesia
Siswa Kelas X
dalam pembelajaran pembiasan
Melalui Kit
cahaya.
Optik
5.
Desy, Desnita,
Pengembangan
Hasil penilaian ujicoba lapangan
Raihanati
Alat Peraga
operasional menunjukkan bahwa
Fisika Materi
produk mendapat respon yang
Gerak Melingkar
positif dari siswa.
Prosiding
Seminar Nasional
Fisika
Untuk SMA
76
No
6.
Nama Penulis
dan Sumber
Judul
Kesimpulan
Husnul Inayah
Pengaruh
Penggunaan media alat peraga
Saleh, Nurhayati
Penggunaan
berpengaruh terhadap hasil
B, Oslan Jumadi
Media Alat
belajar siswa materi sistem
Peraga Terhadap
peredaran darah siswa kelas VIII
Hasil Belajar
SMP Negeri 2 Bulukumba.
Jurnal Sainsmat
Siswa pada
Materi Sistem
Peredaran Darah
Kelas VIII SMP
Negeri 2
Bulukumba
7.
Ahmad Luthfi
Penggunaan Alat
Pemahaman konsep matematika
Firdaus
Peraga Mobil
siswa yang menggunakan alat
Garis Bilangan
peraga mobil garis bilangan lebih
Terhadap
baik jika dibandingkan dengan
Skripsi UIN
Pemahaman
pemahaman konsep matematika
Syarif
Konsep
siswa di kelas yang tidak
Hidayatullah
Matematika
menggunakan alat peraga mobil
Jakarta (2011)
Siswa Pada
garis bilangan.
Materi Bilangan
8.
Fithriyani Shafwa Pengaruh
Penggunaan alat peraga kimia
Penggunaan Alat
sederhana model alat uji
Peraga Kimia
elektrolit. Positif mempengaruhi
Skripsi UIN
Sederhana
hasil belajar siswa
Syarif
Model Alat Uji
Hidayatullah
Elektrolit
Jakarta (2008)
Terhadap Hasil
77
No
Nama Penulis
Judul
dan Sumber
Kesimpulan
Belajar Kimia
Siswa
9.
Sita Dwijayanti
Pengaruh
Penggunaan alat peraga block
Penggunaan Alat
dienes dapat meningkatkan hasil
Skripsi UIN
Peraga Block
belajar matematika siswa
Syarif
Dienes Terhadap
dibandingkan dengan hasil
Hidayatullah
Hasil Belajar
belajar matematika siswa yang
Jakarta (2014)
Matematika
tanpa menggunakan alat peraga
Siswa Pada
Pokok Bahasan
Perkalian dan
Pembagian
10.
Ahmad Jahrudin
Perbandingan
Penggunaan media alat peraga
Alat Peraga
alat peraga antara rotattion timer
Skripsi UIN
Antara Rotattion
dan roda-roda fleksibel tidak
Syarif
Timer dengan
mengalami pengaruh yang
Hidayatullah
Roda-roda
signifikan terhadap kemampuan
Jakarta (2015)
Fleksibel Pada
menganalisis siswa pada konsep
Kemampuan
gerak melingkar.
Analisis Siswa
Kelas X Konsep
Gerak Melingkar
Beraturan
Hasil dari analisa tersebut diperoleh informasi bahwa alat peraga efektif
untuk merangsang keaktifan siswa dalam pembelajaran, sikap ilmiah siswa,
pemahaman siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat menjadi media
pembelajaran yang menarik.
78
Tahap selanjutnya dari penelitian pendahuluan adalah studi lapangan
dengan melakukan wawancara kepada tiga orang guru fisika SMA (SMAN 87
Jakarta, SMAN 29 Jakarta, dan SMAN 86 Jakarta) dan menyebar angket kepada 60
siswa dari tiga sekolah tersebut. Hasil wawancara guru mengenai media
pembelajaran pada materi alat optik disajikan oleh tabel berikut:
Tabel 4. 2 Hasil Wawancara Guru pada Penelitian Pendahuluan
Jawaban Guru
No
1.
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Kesimpulan
Apakah
Tidak,
Ya, sudah
Ya, sudah
Siswa masih
rata-rata
sebelum
memenuhi tapi
memenuhi
banyak
hasil belajar
adanya
masih ada
standar
mendapatkan
fisika siswa
remedial
beberapa siswa
namun siswa
nilai yang belum
sudah
masih banyak yang belum
mengalami
memenuhi
mencapai
siswa yang
tuntas.
kesulitan saat
standar kriteria
kriteria
memperoleh
Kesulitan
memahami
ketuntasan.
ketuntasan
nilai di
siswa dalam
vektor
Kesulitan rata-
minimum
bawah batas
memahami
kecepatan,
rata siswa pada
KKM.
materi
dan
matematis, dan
terutama pada
perhitungan
analisis vektor
pemahaman
matematis
tentang
trigonometri,
perhitungan
matematis
2.
Metode apa
Ceramah,
Ceramah,
Diskusi,
Rata-rata guru
yang sering
karena lebih
terkandang
Mengguna-
menggunakan
digunakan
mudah
juga diskusi,
kan video
metode ceramah
oleh guru
dibandingkan
percobaan di
dan animasi.
dan diskusi
dalam
dengan
Saat
namun jarang
79
Jawaban Guru
No
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Kesimpulan
mengajar
metode lain
lapangan dan
penayangan
mengajak siswa
fisika di
karena
di lab. fisika
animasi atau
untuk
kelas
keterbatasan
video siswa
melakukan
waktu
sambil
percobaan
berdiskusi
3.
Apakah
Jarang,
Ya, Karena
Ya, dengan
Rata-rata guru
dalam
karena siswa
pembelajaran
mengajak
sudah
mengajar
kurang
yang
siswa
menggunakan
fisika sering
mengerti
melibatkan
berdiskusi
pembelajaran
melibatkan
dengan
siswa lebih
dan
yang melibatkan
siswa dalam
konsep yang
menarik dan
mengamati
siswa untuk
menggali
diajarkan dari menyenangkan
video dan
menggali
pengetahuan materi, selain
agar membuat
animasi yang
pengetahuan
nya sendiri
itu waktu
siswa tidak
diberikan
sendiri melalui
seperti
tidak cukup
bosan belajar
berdiskusi
untuk diskusi
ataupum
kelompok
sehingga
percobaan di
dalam
menyebabkan
lapangan
memecahka
materi tidak
n masalah,
dapat
melakukan
disampaikan
percobaan
seluruhnya ke
praktikum,
siswa.
atau
memberikan
pertanyaan
yang
berdiskusi
80
Jawaban Guru
No
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Kesimpulan
berkaitan
dengan
fenomena
dala
kehidupan
sehari-hari
4.
Dalam
Jarang
Kadang-
Tidak
Kebanyakan
mengajar
melakukan
kadang,
guru jarang
fisika
pecobaan di
diseusaikan
melakukan
apakah
lab karena
dengan materi.
pembelajaran
sering
waktu yang
Pembelajaran
praktikum di lab
melakukan
tidak cukup
praktikum
fisika
praktikum
untuk
menyebabkan
di lab fisika
melakukan
siswa tidak
percobaan
bosan belajar
di kelas terus
5.
Apakah
Tidak, hanya
Ya,
Ya, media
Setiap guru
menggunak
menggunaka
penggunaan
video dan
memiliki cara
an bantuan
n papan tulis
media yang
animasi
dalam
media
sebagai
sederhana
menggunakan
pembelajara
media
yang terdapat
media
n dalam
namun,
dilingkungan
pembelajaran
menjelaskan
terkadang
sekitar dan
animasi dan
materi
melakukan
dibuat oleh
video, membuat
fisika.
demonstrasi
siswa.
alat peraga
di depan
sederhana, dan
kelas
menjelaskan
81
Jawaban Guru
No
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Kesimpulan
Media apa
dengan papan
yang sering
tulis
digunakan.
6.
Apakah
Kadang-
Ya, media alat
Tidak
Mayoritas guru
pernah
kadang.
peraga yang
jarang
menggunak
Materi fluida
dibuat oleh
menggunakan
an media
siswa dan
alat peraga
alat peraga
terdapat di
dalam
dalam
lingkungan
pembelajaran
membantu
sekolah
menjelaskan
maupun rumah
materi
fisika.
materi fisika
apa yang
menjelaskan
dengan
media alat
peraga?
7.
Menurut
Materi gerak
Baru dapat
Menggunaka
Media yang
Anda apa
parabola
mengukur
n video
digunakan
kekurangan
hanya
sudut dan
ataupun
masih memiliki
dari media
menggunaka
angkauan
animasi
kekurangan
yang selama
n media
terjauh dari
kekurangann
yaitu tidak dapat
ini di
papan tulis
lemparan
ya siswa
mengukur
gunakan
dengan
hany dapat
ketinggian dan
dalam
membuat
mengamati
melihat
82
Jawaban Guru
No
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Kesimpulan
mengajar?
gambar gerak
tanpa
perbedaan
Pada materi
parabola dan
merasakan
vektor pada
Gerak
tidak
dan
setiap sudut
Parabola
menggunaka
mengalami
yang berbeda
n media lain.
secara
Kekurangann
langsung
ya, hanya ada
beberapa
siswa yang
paham dan
siswa di
belakang
tidak
memperhatik
an penjelasan
dan tidak
jelas melihat
ke papan
tulis.
8.
Bagaimana
Ceramah
Percobaan
Diskusi,
Hanya ada satu
cara guru
yang dilakukan dengan
guru yang
dalam
siswa di
memberikan
enjelaskan
menjelaskan
lapangan
penayangan
materi dengan
materi gerak
animasi dan
percobaan di
parabola
video
lapangan,
kepada
percobaan
selebihnya
siswa?
83
Jawaban Guru
No
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Kesimpulan
dilakukan di
lapangan
9.
Apakah
Tidak,
Ya,
Ya, Media
Media yang
guru
menjelaskan
menggunakan
animasi dan
digunakan
menggunak
gerak
media alat
video
dalam
an media
parabola
peraga yang
dalam
dengan media dibuat oleh
materi gerak
menjelaskan
papan tulis
siswa sendiri
parabola sudah
materi gerak
dengan
menggunaan
parabola?
menggunakan
media namun
Media apa
kork api dan
satu sekolah
yang
alumunim foil
masih tidak
digunakan
yang dibakar
menggunakan
guru dalam
dan
media
menjelaskan
dilontarkan
materi gerak
dengan sudut
parabola
tertentu dan
tersebut ?
menghasilkan
menjelaskan
jarak
jangkauan
10.
Apakah alat
Tidak
Kurang
Tidak
Alat peraga di
peraga di
lengkap, alat
lengkap,
lengkap
sekolah tidak
sekolah
peraga di
sehingga harus
lengkap
untuk siswa
sekolah di
dibuat sendiri
terutama materi
melakukan
kelas kurang
oleh guru
gerak parabola
praktikum
lengkap
maupun dibuat
tidak memiliki
lengkap.
terutama
oleh siswa
alat peraga.
84
Jawaban Guru
No
Pertanyaan
SMAN 87
SMAN 29
SMAN 86
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Khususnya
materi gerak
dalam
gerak
mengajar
parabola
Kesimpulan
materi gerak belum ada
parabola?
alat peraga
yang
digunakan di
sekolah
11.
Apakah ada
Iya, belajar
perbedaan
Ya,
Ya, dengan
Mayoritas guru
dengan media pembelajaran
media
menyadari
dari hasil
dapat
menjadi lebih
pembelajaran
kebermanfaatan
belajar
memudahkan
menarik, siswa
dapat
penggunakan
siswa yang
siswa
lebih paham
memudahkan
media alat
diajarkan
memahami
kaena mereka
siswa dalam
peraga dalam
dengan
materi
sendiri yang
memahami
mempermudah
berbantuan
sehingga
mencoba
materi
siswa dalam
media
membuat
memahami
pembelajara
siswa lebih
materi
n (alat
mudah
peraga) atau
mengingat
dengan
materi
metode lain
Hasil penyebaran angket pada peneltian pendahuluan kepada siswa tentang
pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas dapat dilihat pada gambar grafik di
bawah ini.
85
Siswa yang menyukai
pelajaran fisika
Perolehan nilai di atas
standar ketuntasan belajar
minimal
30,5
30
60
30
50
40
29,5
29
20
29
28,5
9
0
Ya
tidak
Ya
Tidak
Metode belajar apa yang sering digunakan guru dalam
mengajar fisika
45
40
39
38
35
30
25
25
18
20
15
10
5
7
5
0
ceramah
diskusi
latihan soal
demonstrasi
Praktikum
tanya jawab
Metode pembelajaran yang disukai oleh siswa
35
31
30
26
25
20
18
16
15
10
7
6
5
0
ceramah
diskusi
latihan soal
demonstrasi
Praktikum
tanya jawab
86
Pernah melakukan
praktikum di laboratorium
Siswa yang menyukai
pembelajaran fisika dengan
melakukan percobaan di
laboratorium
56
60
50
40
30
20
10
0
53
60
40
20
3
Ya
6
0
Tidak
ya
Penggunaan media oleh
guru
70
60
50
40
30
20
10
0
tidak
Siswa menyukai
pembelajaran fisika di kelas
60
48
50
40
30
59
20
10
ya
0
tidak
11
0
ya
tidak
Gambar 4. 1 Grafik Hasil Angket Siswa pada Penelitian Pendahuluan
Berdasarkan hasil angket yang diperoleh memperlihatkan bahwa
pembelajaran fisika yang dilakukan oleh guru menggunakan metode ceramah dan
latihan soal, sedangkan siswa menginginkan metode pembelajaran dengan
melakukan praktikum. Rata-rata siswa tidak menyukai pelajaran fisika dan
memperoleh nilai di bawah standar.
2.
Hasil Prototyping Stage
a. Hasil Perancangan Alat Peraga
1) Menentukan Konsep Materi
Pemilihan materi yang digunakan dalam penelitian adalah materi gerak
parabola. Pemilihan materi didasarkan pada hasil studi pendahuluan melalui
wawancara dengan guru yaitu, beberapa sekolah belum memiliki alat peraga
materi gerak parabola yang dapat membantu guru dalam menjelaskan materi
pelajaran.
87
2) Menganalisis Konsep dan Menentukan Variabel yang Diukur Pada Alat
Peraga
Menganalisis materi gerak parabola dilakukan dengan mengetahui
kompetensi dasar yang terdapat pada silabus kurikulum 2013 revisi 2016 dan
menentukan variabel yang dapat diukur pada alat peraga. Kompetensi dasar
yang erdapat dalam silabus yaitu “menganalisis gerak parabola dengan
menggunakan vektor, berikut makna fisisnya dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari”.82
Variabel data yang akan diukur pada alat peraga adalah jarak jangkauan
terjauh dan ketinggian maksimum yang dicapai. Berdasarkan variabel data
yang diukur siswa dapat mengetahui perbedaan vektor jarak dan ketinggian
yang dihasilkan pada sudut yang berbeda-beda. Selain sudut, siswa dapat
mengetahui pengaruh kecepatan kecepatan awal berdasarkan jarak jangkauan
terjauh.
3) Membuat Gambar Sketsa Rancangan Alat Peraga
Tahap perancangan desain merupakan tahapan awal untuk membuat
gambaran desain media alat peraga berdasarkan hasil analisis materi. Desain
gambar rancangan alat peraga seperti pada gambar di bawah ini
Gambar 4. 2 Sketsa Rancangan Alat Peraga
Gambar 4. 2 merupakan gambar desain rancangan alat peraga gerak parabola
yang akan digunakan dalam penelitian. Alat peraga dirancang dengan fluida
82
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah
Atas / Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Fisika, Jakarta: 2016
88
untuk menunjukkan vektor gerak parabola saat nozzle diberikan sudut. Sistem
dari gambar rancanganan media alat peraga gerak parabola yaitu fluida di
dalam tempat penampungan dipompa menuju nozzle untuk dipancarkan dan
ditampung oleh wadah untuk dialiri kembali ke tempat penampungan melalui
selang air.
4) Pemilihan Material Alat yang Digunakan
Pemilihan material dimaksudkan untuk menyesuaikan bahan-bahan yang
digunakan untuk membuat alat peraga dengan konsep rancangan desain yang
telah dibuat. Pemilihan material yang digunakan diantaranya yaitu:
a) Sirkulator pompa berfungsi untuk membantu mendorong fluida dari tempat
penampungan menuju ke nozzle untuk memancarkan fluida.
b) Nozzle berfungsi untuk memancarkan fluida dari tempat penampungan.
Nozzle yang digunakan memiliki diameter lubang pemancar yang berbedabeda dimaksudkan untuk membandingkan perbedaan keluarnya fluida dari
setiap lubang. Nozzle yang digunakan dibuat untuk dapat membentuk sudut
yang berbeda-beda dan diberikan busur untuk mengetahui sudut tersebut.
c) Tempat penampungan fluida digunakan untuk menampung fluida yang
digunakan sebelum dipompa menuju nozzle. Selain itu, tempat
penampungan fluida digunakan sebagai tempat penyimpanan alat peraga
d) Tempat menerima fluida (corong) digunakan untuk menampung fluida yang
dipancarkan oleh nozzle dan juga sebagai penentu jarak jangkauan fluida
terjauh saat fluida dipancarkan.
e) Selang berfungsi sebagai saluran fluida dari tempat menerima fluida ke
tempat penampungan air dan dari tempat penampungan fluida menuju
nozzle.
f) Rel berfungsi dudukan alat dan sebagai jalur penentu jarak.
g) Busur berfungsi sebagai alat untuk mengukur sudut pada nozzle.
h) Penggaris berfungsi untuk mengukur jarak jangkauan air.
i) Layar yang berfungsi untuk menangkap bayangan
j) Lampu yang berfungsi untuk memancarkan cahaya sehingga menimbulkan
bayangan pada layar
89
5) Perancangan Alat Peraga
Peracangan dibuat berdasarkan pada gambar sketsa. Hasil rancangan alat
peraga dibuat sebagai berikut:
Tabel 4. 3 Hasil Rangkaian Alat Peraga
No
1.
Gambar Hasil Rancangan
Keterangan
Tempat
penyimpanan
dan tempat
penampunyan
air
2.
Peletakkan rel
di atas tempat
penampungan
3.
Tempat
meletakkan
nozzle
90
4.
Letakkan
nozzle dengan
sejajar dengan
jarum pada
busur
5.
Pasang
penggaris
untuk
menukur jarak
6.
Letakkan
penyangga
corong di rell
91
7.
Pasang lampu
8.
Rangkaian alat
92
b. Hasil Evaluasi Formatif (Formative Evaluation)
Hasil evaluasi formatif tentang kelayakan media alat peraga dilakukan
melalui beberapa tahap yaitu, penilaian ahli, evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok
kecil dan uji lapangan. Data hasil yang diperoleh sebagai berikut:
1) Hasil Penilaian Ahli (Expert Review)
Tahap pertama dari evaluasi formatif adalah penilaian ahli. Penilaian
kelayakan alat peraga dilakukan oleh beberapa ahli. Penilaian kelayakan alat
peraga terdiri dari dua penilaian yaitu penilaian terhadap media pembelajaran dan
materi fisika. Ahli dalam penilaian kelayakan alat peraga terdiri dari 10 orang yang
ahli dalam bidangnya masing-masing. Hasil penilaian kelayakan alat peraga oleh
ahli sebagai berikut.
a) Hasil Penilaian menurut Ahli Media Pembelajaran
Ahli media pembelajaran yang terlibat dalam penilaian kelayakan alat
peraga terdiri dari lima orang ahli. Hasil analisa penilaian ahli media pembelajaran
terhadap alat peraga dapat dilihat pada tabel berikut:
93
Tabel 4. 4 Hasil Penilaian Kelayakan Media Alat Peraga
No
Aspek Penilaian
Kelayakan Media
Skor
Kesimpulan
1
Kriteria Kesesuaian
dengan Bahan Ajar
73
Sangat Layak
2
Ketahanan Alat
70
Sangat Layak
3
Keakuratan
60
Layak
4
Efisiensi Alat
70
Sangat Layak
5
Keamanan Bagi Siswa
70
Sangat Layak
6
Estetika
68
Sangat Layak
7
Kelengkapan Alat
75
Sangat Layak
8
Tempat Penyimpanan
72
Sangat Layak
558
Sangat Layak
Jumlah
Penilaian keselurahan dari setiap aspek media alat peraga mendapatkan nilai
558 dengan presentase 93% yang berarti media alat peraga gerak parabola sangat
layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Kelima ahli menyatakan
media alat peraga layak dari setiap aspek yaitu: kesesuaian dengan bahan ajar,
ketahanan, keakuratan, efisiensi alat, keamanan saat digunakan oleh siswa,
estetika, kelengkapan alat, dan tempat penyimpanan alat. Rincian grafik penilaian
94
ahli media pembelajaran dari keseluruhan aspek dapat dilihat pada gambar
berikut:
Skor Penilaian Aspek Kelayakan Alat
80
70
75
73
70
70
70
72
68
60
60
50
40
30
20
10
0
Kriteria
Ketahanan
Kesesuaian
Alat
dengan Bahan
Ajar
Keakuratan Efisiensi Alat Keamanan
Bagi Siswa
Estetika
Kelengkapan
Tempat
Alat
Penyimpanan
Gambar 4. 3 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media
Pembelajaran
Grafik di atas memperilihatkan bahwa aspek keakuratan pada alat peraga
memiliki tingkat terendah dibandingkan aspek lainnya. Keakuratan alat peraga
dinilai oleh ahli karena ketepatan alat ukur dengan objek pengukuran kurang
akurat, walaupun masih berada pada kategori layak.
Ahli media memberikan saran untuk merevisi beberapa bagian agar lebih
akurat dan presisi dalam penentuan titik acuan nol pada pengukuran, pengukuran
ketinggian maksimum harus diperhatikan dengan memberikan alat ukur dengan
acuan yang tetap, ukuran diameter lubang yang digunakan pada nozzle harus
diperhatikan, dan pada saat mengukur kecepatan awal volume air yang
dipndahkan pada gelas ukur terdapat air yang tumpah.
b) Hasil Penilaian menulrut Ahli Materi Fisika
Ahli materi fisika yang terlibat dalam penilaian kelayakan alat peraga
berdasarkan kesesuaian dengan materi fisika terdiri dari lima orang ahli. Hasil
95
analisa penilaian ahli materi fisika terhadap alat peraga dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4. 5 Hasil Penilaian Kesesuaian Materi pada Alat Peraga
Aspek
Penilaian
Ratarata
Nilai
CVI
Kesimpulan
Kesesuaian
Isi
4,7
94%
Relevan
Kesesuaian
Konsep
4,8
96%
Relevansi
Rata-rata
4,75
95%
Relevan
Berdasarkan data pada tabel di atas validasi materi terdiri dari dua aspek
yaitu aspek kesesuaian isi dan aspek kesesuaian konsep. Aspek kesesuaian isi
terdiri dari tiga indikator memiliki hasil presentase sebesar 94% dengan
kesimpulan relevan, dan aspek kesesuaian konsep terdiri dari lima indikator
memiliki presentase 96% dengan kesimpulan relevansi. Rata-rata keseluruhan
aspek memiliki presentase 95% dengan kesimpulan relevan, hal ini menunjukkan
bahwa alat peraga memiliki isi dan konsep yang sesuai tehadap materi gerak
parabola.
Pendapat ahli materi terhadap alat peraga diharapkan terdapat alat ukur
waktu, dibuatkan pengukuran yang tetap agar mudah dalam pembacaan skala,
menggunakan penunjuk skala yang lebih presisi, pastikan alat peraga terpasang
kokoh dan kuat agar lebih akuran dalam melakukan pengukuran, menggunakan
penahan air yang kuat agar air tidak tumpah, pastikan kabel dalam keadaan aman,
acuan titik nol harus dipastikan presisi, gunakan kertas milimeterblok pada layar
untuk membantu memudahkan analisis vektor. Beberapa pendapat ahli dilakukan
96
revisi namun beberapa pendapat ditampung sebagai kekurangan untuk dapat
dikembangkan oleh peneliti selanjutnya.
2) Hasil Evaluasi Satu-satu (One to one Evaluation)
Evaluasi satu-satu dilakukan pada tiga siswa di kelas X yang masing-masing
terdiri dari siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Ketiga siswa tersebut
telah mendapatkan materi gerak parabola oleh guru tanpa menggunakan bantuan
alat peraga yang dikembangkan. Analisis data yang dilakukan pada tahap evaluasi
satu-satu dilakukan dengan cara melakukan pengukuran keefektifan alat peraga
dalam meningkatkan KPS siswa dan pengukuran kelayakan alat peraga.
Pengukuran keefektifan alat peraga diukur menggunakan tes dan non tes. Tes dalam
penelitian menggunakan KPS bermuatan konsep gerak parabola. Penilaian tes
diukur setelah siswa melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga
yang dikembangkan (post-test), sedangkan penilaian non tes menggunakan lembar
observasi KPS yang bertujuan untuk mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa
saat menggunakan alat peraga. Pengukuran kelayakan alat peraga oleh siswa
dilakukan dengan memberikan angket tanggapan siswa untuk mengetahui respon
siswa terhadap alat peraga yang dikembangkan.
a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga
a) Hasil Nilai Post-test Siswa
Lembar penilaian post-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman
siswa setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil posttest evaluasi satu-satu dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 4. 6 Hasil Nilai Post test Siswa pada Evaluasi Satu-satu
Keterangan
Hasil Nilai
post test
Rata-rata Nilai Siswa
85
Nilai Tertinggi
90
Nilai Terendah
80
Persentase Ketuntasan
100%
97
Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah
90 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 87 Jakarta adalah 75. Persentase
ketuntasan hasil post-test adalah 100% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa
adalah 90 berjumlah 1 siswa, sedangkan nilai terndah adalah 80 berjumlah 1 siswa.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif
digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada
materi gerak parabola KPS yang terdapat disoal meliputi keterampilan mengamati,
mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan
(memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan
mengomunikasikan.
b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS
Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk
mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang
digunakan
dalam
lembar
observasi
meliputi:
keterampilan
mengamati,
mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan, meramalkan (memprediksi),
mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan,
menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi
secara keseluruhan siswa berikut:
Tabel 4. 7 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satu-satu
No
Aspek Keterampilan Proses Sains
Jumlah Kesimpulan
1
Mengamati (Observasi)
45
Sangat Baik
2
Mengklasifikasikan (Mengelompokkan)
37
Baik
3
Menafsirkan (Interpretasi)
36
Baik
4
Meramalkan (Memprediksi)
25
Cukup
5
Mengajukan Pertanyaan
34
Baik
6
Mengajukan Hipotesis
30
Cukup
7
Merencanakan Percobaan
36
Baik
8
Menggunakan Alat dan Bahan
40
Baik
98
9
Menerapkan Konsep
36
Baik
10
Melakukan Komunikasi
39
Baik
Tabel di atas memperlihatkan bahwa kemampuan mengamati siswa berada
dalam kategori sangat baik sedangkan kemampuan meramalkan dan melakukan
hipotesis berada dalam kategori cukup. Skor KPS siswa untuk keseluran
keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut:
Skor Rata-rata Keterampilan Proses Sains Siswa
Pada Evaluasi Satu-satu
Skor
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
45
37
40
36
36
34
36
39
30
25
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Aspek KPS
Keterangan:
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 4 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi
Satu-satu
Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan keterampilan mengamati siswa
memiliki pada evaluasi satu-satu memiliki grafik tertinggi dengan nilai 45,
sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada meramalkan dengan nilai 25.
99
Grafik KPS siswa berdasarkan tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu
kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut:
12
12
12
12
12
14
9
9
10
12
12
12
12
11
12
12
11
11
11
12
12
12
12
12
13
12
14
15
Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa
15
15
15
7
8
KT
7
Skor
16
6
KS
4
KR
2
0
1
2
3
4
5
6
Aspek KPS
7
8
9
10
Keterangan
KT = Kemampuan Tinggi
KS = Kemampuan Sedang
KR = Kemampuan Rendah
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 5 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Satu-satu
Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa siswa
berkemampuan rendah mengalami kesulitan saat melakukan hipotesis dan
memprediksi suatu keadaan sebelum melakukan percobaan namun, berbeda dengan
100
siswa berkemampuan tinggi dapat menjawab pertanyaan dengan pengetahuan yang
dimilikinya.
b. Penilian Kelayakan Alat Peraga
Angket penilaian kelayakan alat peraga yang digunakan untuk mengetahui
respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga yang dikembangkan.
Penilaianberdasarkan dari setiap aspek, indikator, dan penilaian alat peraga secara
keseluruhan. Aspek-aspek yang dievaluasi dari alat peraga yang dikembangkan
meliputi aspek materi, desain pembelajaran, implementasi dan kualitas teknis. Hasil
keseluruhan aspek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 8 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Satu-satu
No
Aspek Penilaian
Jumlah Keterangan
1
Materi
42
Sangat Baik
2
Kualitas Teknis
31
Cukup
3
Desain Pembelajaran
40
Baik
4
Implementasi
41
Sangat Baik
Jumlah
118
Baik
101
Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat
pada gambar berikut:
Skor
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Skor Angket Siswa Evaluasi Satu-satu
42
40
41
31
Materi
Kualitas
Teknis
Desain
Implementasi
Pembelajaran
Aspek
Gambar 4. 6 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa pada Evaluasi Satu-satu
Berdasarkan grafik angket siswa memperlihatkan bahwa aspek materi
memperoleh nilai tertinggi sebesar 42 dari seluruh aspek. Sedangkan pada aspek
paling rendah terdapat pada aspek kualitas teknis sebesar 31 dari keseluruhan aspek.
Aspek desain pembelajaran dan aspek implementasi mendapatkan persentase
sebesar 40 dan 41.
Aspek materi memperoleh nilai tertinggi dengan kategori sangat baik.
Indikator aspek materi yaitu tingkat kesulitan materi baik, kejelasan materi sangat
baik, kemenarikan materi sangat baik menggunakan alat peraga. Sedangkan aspek
kualitas teknis memperoleh nilai terendah dengan kategori cukup. Indikator aspek
kualitas teknis yaitu kualitas bentuk yang menarik dan nyaman saat digunakan
dengan kategori baik, kualitas warna memiliki kategori cukup, dan ukuran alat
peraga yang mudah saat dibawa dan digunakan memiliki kategori cukup.
Aspek materi memperoleh nilai 42 berada pada kategori sangat baik, dengan
rincian tingkat kesulitan materi baik (tidak terlalu sulit atau tidak terlalu mudah),
kejelasan materi sangat baik, kemenarikan materi sangat baik menggunakan alat
102
peraga. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek materi dapat dilihat pada
gambar berikut:
Skor
15,5
15
15
14,5
14
14
13,5
13
13
12,5
12
Kesulitan
Kejelasan
Kemenarikan
Indikator Aspek Materi
Gambar 4. 7 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Materi pada Evaluasi Satu-satu
Grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator keterkinian materi dan
kemenarikan materi mendapatkan nilai tertinggi sebesar 15 sedangkan indikator
kesulitan materi mendapatkan nilai terendah sebesar 13.
Aspek kualitas teknis memperoleh nilai 31 berada pada kategori cukup,
dengan rincian kualitas bentuk baik, kualitas warna pada kategori cukup, bentuk
103
dan ukuran berada pada kategori cukup. Hasil penilaian dari setiap indikator pada
aspek kualitas teknis dapat dilihat pada gambar berikut:
Skor
14
12
12
10
10
9
8
6
4
2
0
Kualitas bentuk
Kualitas Warna
Bentuk dan Ukuran mudah
Dibawa
Indikator Aspek Kualitas Teknis
Gambar 4. 8 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Kualitas Teknis pada Evaluasi Satu-satu
Grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator kualitas bentuk memiliki
nilai tertinggi dengan jumlah sebesar 12 sedangkan indikator terendah terdapat pada
bentuk dan ukuran mudah untuk dibawa-bawa.
Aspek desain pembelajaran memperoleh nilai 40 berada pada kategori baik,
dengan rincian kemenarikan media sangat baik, kejelasan tujuan pembelajaran
104
sangat baik, Kelogisan sistematika materi sangat baik, Hasil penilaian dari setiap
indikator pada aspek desain pembelajaran dapat dilihat pada gambar berikut:
Skor
14,5
14
14
14
13,5
13
12,5
12
12
11,5
11
Kemenarikan
Pembelajaran
Kejelasan Tujuan
Pembelajaran
Kelogisan Sistematika
Materi
Indikator Aspek Desain Pembelajaran
Gambar 4. 9 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Satu-satu
Aspek implementasi memperoleh nilai 41 dan berada pada kategori sangat
baik, yang meliputi efisiensi waktu pada kategori sangat baik, pemanfaatan media
pada kategori sangat baik dan kemudahan dalam operasi pada kategori baik. Hasil
penilaian dari setiap indikator pada aspek implementasi dapat dilihat pada gambar
berikut:
105
Skor
15
16
14
14
12
12
10
8
6
4
2
0
Efisiensi Waktu
Pemanfaatan Media
Kemudahan dalam operasi
Indikator Aspek Implementasi
Gambar 4. 10 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
SiswaAspek Implementasi pada Evaluasi Satu-satu
Grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator pemanfaatan media di
waktu berikutnya mendapatkan nilai tertinggi sebesar 15 sedangkan indikator
efisiensi waktu mendapatkan nilai terendah sebesar 12.
Komentar dan saran dari siswa diantaranya yaitu Alatnya sangat membantu
dalam memahami pembelajaran, cukup mudah digunakan, dan tidak membuat
siswa bosan membuat siswa ingin terus melaksanakan percobaan menggunakan
alat. Saran terhadap alat peraga yaitu, warnan alat peraga dibuat agar lebih terlihat
menarik.
3) Hasil Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation)
Tahap evaluasi kelompok kecil melibatkan 15 siswa di kelas X dengan
kemampuan masing-masing siswa terdiri dari lima siswa yang mewakili
berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa tersebut telah mendapatkan
pelajaran materi gerak parabola. Analisa data yang dilakukan pada tahap evaluasi
kelompok kecil sama dengan pengukuran pada tahap evaluasi satu-satu yaitu
pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan
pengukuran kelayakan alat peraga. Pengukuran keefektifan alat peraga diukur
menggunakan tes dan non tes. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan
konsep gerak parabola. Penilaian tes diukur setelah siswa melakukan pembelajaran
106
dengan menggunakan alat peraga yang dikembangkan (post-test), sedangkan
penilaian non tes menggunakan lembar observasi KPS yang bertujuan untuk
mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa saat menggunakan alat peraga.
Pengukuran kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan dengan memberikan angket
tanggapan siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap alat peraga yang
dikembangkan.
a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga
a) Hasil Nilai Post-test Siswa
Lembar penilaian post-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman
siswa setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil posttest evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 9 Hasil Nilai Post-test Siswa Evaluasi Kelompok Kecil
Keterangan
Hasil Nilai
post test
Rata-rata Nilai Siswa
83,3
Nilai Tertinggi
90
Nilai Terendah
60
Persentase Ketuntasan
80%
Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah
83,3 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 87 Jakarta adalah 75. Persentase
ketuntasan hasil post-test adalah 80% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa
adalah 90 berjumlah 8 siswa, sedangkan nilai siswa yang dibawah KBM berjumlah
3 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif
digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada
materi gerak parabola. KPS yang terdapat di soal meliputi keterampilan mengamati,
mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan
107
(memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan
mengomunikasikan.
b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS
Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk
mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang
digunakan
dalam
mengelompokkan
lembar
observasi
meliputi
(mengklasifikasikan),
keterampilan
menafsirkan,
mengamati,
meramalkan
(memprediksi), mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan
alat dan bahan, menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian
lembar observasi secara keseluruhan siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 10 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Kelompok Kecil
No
Aspek Keterampilan Proses
Sains
Jumlah
Kategori
1
Mengamati
201
Baik
2
Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
179
Baik
3
Menafsirkan (Interpretasi)
166
Baik
4
Meramalkan (Memprediksi)
135
Cukup
5
Mengajukan Pertanyaan
172
Baik
6
Mengajukan Hipotesis
167
Baik
7
Merencanakan Percobaan
177
Baik
8
Menggunakan Alat dan Bahan
188
Baik
9
Menerapkan Konsep
177
Baik
10
Melakukan Komunikasi
178
Baik
108
Skor KPS siswa keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat
pada gambar berikut:
Rata-rata Skor Keterampilan Proses Sains Evaluasi Kelompok
Kecil
Skor
250
201
200
188
179
172
166
150
177
177
178
9
10
167
135
100
50
0
1
2
3
4
5
6
Aspek KPS
7
8
Keterangan
1 Mengamati (Observasi)
6 Mengajukan Hipotesis
2 Mengklasifikasikan
7 Merencanakan Percobaan
(Mengelompokkan)
8 Menggunakan Alat dan Bahan
3 Menafsirkan (Interpretasi)
9 Menerapkan Konsep
4 Meramalkan (Memprediksi)
10 Melakukan Komunikasi
5 Mengajukan Pertanyaan
Gambar 4. 11 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi
Kelompok Kecil
Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan keterampilan mengamati siswa
memiliki pada evaluasi kelompok kecil memiliki grafik tertinggi dengan nilai 201,
sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada meramalkan dengan nilai
109
135. Grafik KPS siswa berdasarkan tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu
kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut
Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir
Siswa
65
62
64
53
58
57
54
58
63
63
60
63
54
60
60
63
57
54
55
49
43
50
47
56
60
56
63
64
60
60
70
69
68
Skor
80
40
KT
30
KS
KR
20
10
0
1
2
3
4
5
6
Aspek KPS
7
8
9
10
Keterangan
KT = Kemampuan Tinggi
KS = Kemampuan Sedang
KR = Kemampuan Rendah
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 12 Grafik Penilaian Hasil Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Kelompok Kecil
Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hampir disetiap
aspek KPS siswa berkemampuan tinggi lebih mengungguli dari siswa
110
berkemampuan sedang dan rendah. Namun, pada aspek merencanakan percobaan
siswa
berkemampuan
sedang
lebih
mendominasi
dibandingkan
siswa
berkemampuan tinggi dan rendah. Pada aspek Siswa berkemampuan rendah
mengalami kesulitan saat memprediksi suatu keadaan baru sebelum melakukan
percobaan namun, berbeda dengan siswa berkemampuan tinggi dapat menjawab
pertanyaan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.
b. Penilian Kelayakan Alat Peraga
Angket penilaian kelayakan alat peraga yang digunakan untuk mengetahui
respon
siswa
terhadap
pembelajaran
menggunakan
alat
peraga
yang
dikembangkan. Penilaian berdasarkan dari setiap aspek, indikator, dan penilaian
alat peraga secara keseluruhan. Aspek-aspek yang dievaluasi dari alat peraga yang
dikembangkan meliputi aspek materi, desain pembelajaran, implementasi dan
kualitas teknis. Hasil keseluruhan aspek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 11 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga Evaluasi Kelompok Kecil
No
Aspek Penilaian
Jumlah Kategori
1
Materi
190
Baik
2
Desain Pembelajaran
201
Baik
3
Implementasi
180
Baik
Jumlah
436
Baik
111
Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat
pada gambar berikut:
Skor Angket Siswa Evaluasi Kelompok Kecil
Skor
205
201
200
195
190
190
185
180
180
175
170
165
Materi
Desain Pembelajaran
Implementasi
Aspek
Gambar 4. 13 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada
Evaluasi Kelompok Kecil
Berdasarkan grafik angket siswa memperlihatkan bahwa aspek desain
pembelajaran memperoleh nilai tertinggi sebesar 201 dari seluruh aspek.
Sedangkan pada aspek paling rendah terdapat pada aspek implementasi sebesar 180
dari keseluruhan aspek. Aspek materi mendapatkan nilai sebesar 190. Ketiga aspek
yaitu aspek materi, desain pembelajaran dan implementasi memperoleh kategori
baik.
Aspek materi memperoleh nilai 190 berada pada kategori baik. Indikator
penilaian yang diukur yaitu kesulitan materi, kejelasan materi dan kemenarikan
materi. Indikator kesulitan materi memperoleh kategori baik, hal ini menunjukkan
bahwa alat peraga dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar.
Indikator kejelasan materi memperoleh kategori baik baik, hal ini menunjukkan
bahwa alat peraga dapat membuat materi lebih jelas dan nyata untuk di pelajari.
indikator kemenarikan materi memperoleh kategori baik, hal ini menunjukkan
bahwa alat peraga dapat membuat materi menjadi lebih menarik dan mudah
112
dipahami oleh siswa. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek materi dapat
dilihat pada gambar berikut:
Skor
70
68
68
65
66
64
62
60
57
58
56
54
52
50
Kesulitan
Kejelasan
Indikator Aspek Materi
Kemenarikan
Gambar 4. 14 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat oleh siswa
Peraga Aspek Materi pada Evaluasi Kelompok Kecil
Grafik penilaian tersebut memperlihatkan bahwa indikator kemenarikan
mendapat nilai tertinggi sebesar 68 sedangkan indikator kesulitan memahami
materi mendapatkan nilai terendah sebesar 57. Indikator kejelasan mendapatkan
nilai 65.
Aspek desain pembelajaran memperoleh nilai 201 berada pada kategori
baik, dengan rincian kejelasan tujuan pembelajaran pada kategori sangat baik,
kemenarikan materi pada media baik, kelogisan sistematika pada kategori baik.
Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek desain pembelajaran dapat dilihat
pada gambar berikut:
113
Skor
70
69
69
68
67
67
66
65
65
64
63
Kejelasan Tujuan
Kemenarikan
Kelogisan Sistematika
Pembelajaran
Pembelajaran
Materi
Indikator Aspek Desain Pembelajaran
Gambar 4. 15 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Kelompok Kecil
Grafik penilaian tersebut memperlihatkan bahwa kejelasan tujuan
pembelajaran mendapat persentase tertinggi sebesar 69, sedangkan kemenarikan
pembelajaran mendapatkan persentase terendah sebesar 65.
Aspek implementasi memperoleh nilai 180 berada pada kategori baik, yang
terdiri dari alat peraga dapat dimanfaatkan untuk membantu pembelajaran pada
kategori sangat baik, alat peraga mudah untuk digunakan dan dioperasikan pada
kategori baik, dan alat peraga dapat mengefisiensikan waktu terdapat pada kategori
cukup. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek implementasi dapat dilihat
pada gambar berikut:
114
Skor
80
70
60
50
40
30
20
10
0
68
61
51
alat peraga dapat
alat peraga mudah untuk
alat peraga dapat
dimanfaatkan untuk
digunakan dan dioperasikan mengefisiensikan waktu
membantu pembelajaran
Indikator Aspek Implementasi
Gambar 4. 16 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Implementasi pada Evaluasi Kelompok Kecil
Grafik penilaian tersebut memperlihatkan bahwa indikator pemanfaatan di
waktu yang akan datang mendapatkan nilai tertinggi sebesar 68, sedangkan
indikator intensitas penggunaan mendapatkan nilai terendah sebesar 51.
Komentar dan saran dari siswa diantaranya yaitu Alat peraga sangat
membantu dalam memahami materi, materi lebih mudah dimengerti dan belajar
menjadi lebih menyenangkan. Namun kekurangannya pembelajaran menjadi lebih
lamasehingga tidak mengefisienkan waktu. Saran terhadap alat peraga yaitu: Alat
dibuat lebih kokoh agar seimbang, warna pada mata nozzle dibuat berbeda agar
mudah membedakan.
4) Hasil Uji Lapangan (Field Test)
Tahap evaluasi uji lapangan dilakukan melibatkan 30 siswa di kelas XI dengan
kemampuan masing-masing siswa terdiri dari lima siswa yang mewakili
berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa tersebut belum mendapatkan
pelajaran materi gerak parabola. Analisa data yang dilakukan pada tahap uji
lapangan sama dengan pengukuran pada tahap evaluasi sebelumnya yaitu
pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan
pengukuran kelayakan alat peraga. Pengukuran keefektifan alat peraga diukur
menggunakan tes dan non tes. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan
115
konsep gerak parabola. Penilaian tes diukur setelah siswa melakukan pembelajaran
dengan menggunakan alat peraga yang dikembangkan (post-test), sedangkan
penilaian non tes menggunakan lembar observasi KPS yang bertujuan untuk
mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa saat menggunakan alat peraga.
Pengukuran kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan dengan memberikan angket
tanggapan siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap alat peraga yang
dikembangkan..
a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga
a) Hasil Nilai Post-Test Siswa
Penilaian post-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa
setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil post-test
evaluasi uji lapangan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 12 Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Uji Lapangan
Keterangan
Hasil Nilai
post test
Rata-rata Nilai Siswa
85,5
Nilai Tertinggi
95
Nilai Terendah
60
Persentase Ketuntasan
97 %
Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah
85,5 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 87 Jakarta adalah 75. Persentase
ketuntasan hasil post-test adalah 96,7% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa
adalah 95 berjumlah 2 siswa, sedangkan nilai siswa yang dibawah KBM berjumlah
1 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif
digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada
materi gerak parabola. KPS yang terdapat di soal meliputi keterampilan mengamati,
mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan
116
(memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan
mengomunikasikan.
b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS
Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk
mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang
digunakan dalam lembar observasi
meliputi
keterampilan mengamati,
mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan, meramalkan (memprediksi),
mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan,
menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi
secara keseluruhan siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 13 Hasil Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan
No
Aspek Keterampilan Proses
Sains
Jumlah
Kategori
1
Mengamati
261
Baik
2
Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
258
3
Menafsirkan (Interpretasi)
253
Baik
4
Meramalkan (Memprediksi)
214
Cukup Baik
5
Mengajukan Pertanyaan
223
Cukup Baik
6
Mengajukan Hipotesis
240
Cukup Baik
7
Merencanakan Percobaan
253
Baik
8
Menggunakan Alat dan Bahan
255
Baik
9
Menerapkan Konsep
252
Baik
10
Melakukan Komunikasi
252
Baik
Baik
117
Skor KPS siswa keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada
gambar berikut:
Rata-rata Skor Keterampilan Proses Sains Uji
Lapangan
Skor
300
261
258
253
240
250
214
253
255
252
252
7
8
9
10
223
200
150
100
50
0
1
2
3
4
5
6
Aspek KPS
Keterangan:
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 17 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Uji
Lapangan
Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan bahwa keterampilan siswa dalam
mengamati data pada uji lapangan memiliki grafik tertinggi dengan nilai 261,
sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada keterampilan siswa dalam
meramalkan (memprediksi) dengan nilai 214. Grafik KPS siswa berdasarkan
118
tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu kemampuan tingkat tinggi, sedang dan
rendah dapat dilihat pada gambar berikut:
Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir
Siswa Uji Lapangan
80
102
69
70
99
71
64
60
84
97
87
93
87
81
72
60
62
57
63
67
80
73
81
83
80
95
96
89
100
99
95
120
95
108
Skor
KT
KS
KR
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Aspek KPS
Keterangan
KT = Kemampuan Tinggi
KS = Kemampuan Sedang
KR = Kemampuan Rendah
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 18 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Uji Lapangan
119
Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hampir disetiap
aspek KPS siswa berkemampuan tinggimemiliki grafik tertinggi daripada siswa
berkemampuan sedang dan rendah.
b.
Penilaian Kelayakan Alat Peraga
a)
Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Angket penilaian kelayakan alat peraga digunakan untuk mengetahui respon
siswa terhadap kelayakan alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran
menggunakan alat peraga yang dikembangkan. Aspek-aspek yang dievaluasi dari
alat peraga yang dikembangkan meliputi kemampuan untuk dapat dilaksanakan
(implementability), kesinambungan (sustainability), penerimaan dan kemenarikan.
Hasil keseluruhan aspek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 14 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Uji
Lapangan
No
Aspek Penilaian
Jumlah
Kesimpulan
1
Kemampuan untuk dapat
dilaksanakan (implementability)
381
Baik
2
Kesinambungan (sustainability)
332
Cukup
3
Penerimaan dan Kemenarikan
435
Sangat Baik
1148
Baik
Jumlah
120
Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat
pada gambar berikut:
Skor Angket Uji Lapangan (Field Test)
Skor
500
435
450
400
381
332
350
300
250
200
150
100
50
0
Kemampuan untuk dapat
dilaksanakan
(implementability)
Kesinambungan
(sustainability)
Penerimaan dan
Kemenarikan
Aspek Penilaian Penelitian Lapangan
Gambar 4. 19 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa pada Evaluasi Uji Lapangan
Berdasarkan grafik angket siswa memperlihatkan bahwa aspek penerimaan
dan kemenarikan memperoleh nilai tertinggi sebesar 435 dari seluruh aspek.
Sedangkan pada aspek paling rendah terdapat pada aspek kesinambungan sebesar
332 dari keseluruhan aspek. Aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan
(implementability) mendapatkan nilai sebesar 381.
Aspek
kemampuan
untuk
dapat
dilaksanakan
(implementability),
Kesinambungan (sustainability) dalam kategori baik, sedangkan aspek penerimaan
dan kemenarikan memperoleh kategori sangat baik.
Aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) secara
keseluruhan memperoleh nilai 381 dengan kategori baik. Indikator dari aspek
kemampuan untuk dilaksanakan (implementability) adalah mudah untuk
digunakan, mudah untuk dipahami, tidak membahayakan saat digunakan,
121
Mengefisienkan waktu untuk dipelajari. Indikator mudah untuk digunakan
berkesimpulan sangat baik untuk digunakan, konsep materi mudah untuk dipahami
siswa berkesimpulan sangat baik, indikator tidak membahayakan saat digunakan
berkesimpulan baik, dan Mengefisienkan waktu untuk dipelajari berkesimpulan
cukup baik.
Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kemampuan untuk dapat
dilaksanakan (implementability) dapat dilihat pada gambar berikut:
Skor
120
Kemampuan untuk dapat dilaksanakan
(implementability)
108
110
98
100
80
65
60
40
20
0
Mudah untuk
digunakan
Mudah untuk
dipahami
Tidak
Mengefisienkan
membahayakan
waktu untuk
saat digunakan
dipelajari
Indikator
Gambar 4. 20 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Kemampuan untuk dapat Dilaksanakan (Implementability)
pada Evaluasi Uji Lapangan
Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator kemudahan
untuk dipahami mendapatkan nilai tertinggi sebesar 110. Indikator mengefisienkan
waktu mendapatkan nilai terendah yaitu 65.
Aspek kesinambungan (sustainability) memperoleh nilai 332 berada pada
kategori cukup. Indikator dari aspek kesinambungan yaitu mudah dalam perawatan
dan pemeliharanya, penggunaan dalam jangka waktu yang lama, tidak mudah
rusak/pecah saat digunakan (tahan lama), pemilihan bahan yang digunakan tidak
berbahaya. Indikator mudah dalam perawatan dan pemeliharanya berkesimpulan
cukup, indikator penggunaan dalam jangka waktu yang lama berkesimpulan cukup,
indikator tidak mudah rusak/pecah saat digunakan (tahan lama) berkesimpulan
122
baik, dan indikator pemilihan bahan yang digunakan tidak berbahaya
berkesimpulan sangat baik.
Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kemampuan untuk dapat
dilaksanakan (implementability) dapat dilihat pada gambar berikut:
Kesinambungan (sustainability)
Skor
120
108
100
80
74
77
73
60
40
20
0
Mudah dalam
perawatan dan
pemeliharanya
Dapat digunakan
Tidak mudah
dalam jangka
rusak/pecah saat
waktu yang lama digunakan (tahan
lama)
Bahan yang
digunakan aman
dan tidak
menggunakan
bahan berbahaya
Indikator
Gambar 4. 21 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Kesinambungan (Sustainability) pada Evaluasi Uji Lapangan
Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator pemilihan
bahan yang digunakan tidak berbahaya memiliki nilai 108. Sedangkan Indikator
yang terendah adalah intensitas penggunaan waktu yang lama mendapatkan nilai
terendah yaitu 73.
Aspek penerimaan dan kemenarikan memperoleh nilai 435 dengan kategori
sangat baik. Indikator dari aspek penerimaan dan kemenarikan adalah dapat
meningkatkan minat belajar, membuat siswa tidak malas dalam mempelajari
materi, membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, pembelajaran
menjadi tidak membosankan. Indikator dapat meningkatkan minat belajar sangat
baik, membuat siswa tidak malas dalam mempelajari materi sangat baik, membuat
123
pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan sangat baik, dan pembelajaran
menjadi tidak membosankan sangat baik.
Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kemampuan untuk dapat
dilaksanakan (implementability) dapat dilihat pada gambar berikut:
Penerimaan dan Kemenarikan
Skor
113
112
111
110
109
108
107
106
105
104
103
112
110
107
106
Dapat
meningkatkan
minat dalam
belajar
Membuat tidak
malas untuk
mempelajari materi
membuat
Membuat
pembelajaran
pembelajaran
menjadi lebih
materi gerak
menarik, inovatif, parabola menjadi
dan menyenangkan
tidak
membosankan
Indikator
Gambar 4. 22 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh
Siswa Aspek Penerimaan dan Kemenarikan pada Evaluasi Uji Lapangan
Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator pembelajaran
menjadi lebih menarik, inovatif dan menyenangkan memiliki nilai tertinggi sebesar
112. Sedangkan Indikator yang terendah adalah membuat siswa tidak malas dalam
mempelajari materi mendapatkan nilai terendah yaitu 106.
Komentar dan saran dari siswa diantaranya yaitu Alat peraga sangat
membantu dalam memahami materi, mempelajari materi fisika lebih mudah
dimengerti dan belajar menjadi lebih menyenangkan. Saran terhadap alat peraga
yaitu: Alat peraga kurang kuat dan tidak tahan lama untuk pemakaian jangka
panjang, kurang praktis, sulit untuk digerakan, seharusnya menggunakan bahan
stainless steel, seharusnya corong dimiringkan agar bisa menyesuaikan titik jatuh
124
air, penggunaan jangka di alat penyemprot air kurang akurat, alat peraga kurang
rapih.
3. Evaluasi Sumatif
Produk media alat peraga yang telah di nyatakan layak dan direvisi pada
tahap evaluasi formatif selanjutnya akan di uji keefektifan dan kepraktisan pada
evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif melibatkan 30 siswa dan guru mewakili satu
sekolah. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan konsep gerak
parabola. Pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan
pengukuran kepraktisan pembelajaran menggunakan alat peraga. Pengukuran
keefektifan alat peraga diukur menggunakan tes dan non tes. Penilaian tes diukur
setelah siswa melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang
dikembangkan (post-test), sedangkan penilaian non tes menggunakan lembar
observasi KPS yang bertujuan untuk mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa
saat menggunakan alat peraga. Pengukuran kepraktisan alat peraga dilakukan
dengan memberikan angket tanggapan siswa dan guru terhadap alat peraga yang
dikembangkan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut.
a.
Penilaian Keefektifan Alat Peraga
a)
Hasil Nilai Post-test Siswa
Penilaian keefektifan alat peraga pada tahap evaluasi sumatif dilakukan
dengan memberikan lembar post-test untuk mengukur tingkat pemahaman siswa
setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil post-test
evaluasi sumatif dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 15 Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Sumatif
Keterangan
Hasil Nilai
post test
Rata-rata Nilai Siswa
85,8
Nilai Tertinggi
100
Nilai Terendah
65
Persentase Ketuntasan
90 %
125
Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah
85,8 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 29 Jakarta adalah 75. Persentase
ketuntasan hasil post-test adalah 90% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa
adalah 100 berjumlah 1 siswa, sedangkan nilai siswa yang dibawah KBM
berjumlah 3 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang
dikembangkan efektif digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan
KPS siswa pada materi gerak parabola. KPS yang terdapat di soal meliputi
keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan
(interpretasi),
meramalkan
(memprediksi),
mengipotesis,
merencanakan
percobaan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan.
b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS
Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk
mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang
digunakan dalam lembar observasi
meliputi
keterampilan mengamati,
mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan, meramalkan (memprediksi),
mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan,
menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi
secara keseluruhan siswa dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 4. 16 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Sumatif
No
Aspek Keterampilan Proses
Jumlah
Sains
Kategori
1
Mengamati
297
Baik
2
Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
283
Baik
3
Menafsirkan (Interpretasi)
263
Baik
4
Meramalkan (Memprediksi)
226
Cukup Baik
5
Mengajukan Pertanyaan
267
Baik
6
Mengajukan Hipotesis
242
Cukup Baik
7
Merencanakan Percobaan
284
Baik
126
8
Menggunakan Alat dan
Bahan
277
Baik
9
Menerapkan Konsep
266
Baik
10
Melakukan Komunikasi
289
Baik
Skor KPS siswa keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat
pada gambar berikut:
Rata-rata Skor Keterampilan Proses Sains
Sumatif
Skor
350
300
297
283
267
263
226
250
284
277
266
7
8
9
242
289
200
150
100
50
0
1
2
3
4
5
6
10
Aspek KPS
Keterangan:
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 23 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi
Sumatif
Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan bahwa keterampilan mengamati
siswa memiliki pada uji lapangan memiliki grafik tertinggi dengan nilai 297,
sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada meramalkan dengan nilai
127
226. Grafik KPS siswa berdasarkan tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu
kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut:
74
80
83
105
101
78
92
96
92
96
90
86
83
94
95
95
96
84
86
84
83
79
92
92
89
100
100
99
97
120
99
96
Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir
Siswa Evaluasi Sumatif
Skor
59
KT
60
KS
KR
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Aspek KPS
Keterangan
KT = Kemampuan Tinggi
KS = Kemampuan Sedang
KR = Kemampuan Rendah
1 Mengamati (Observasi)
2 Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
3 Menafsirkan (Interpretasi)
4 Meramalkan (Memprediksi)
5 Mengajukan Pertanyaan
6
7
8
9
10
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Gambar 4. 24 Grafik Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan
Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Sumatif
Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hampir disetiap
aspek KPS siswa berkemampuan tinggi lebih tinggi daripada siswa berkemampuan
sedang dan rendah. Namun, pada keterampilan mengajukan pertanyaan,
128
merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, dan menerapkan konsep
siswa
berkemampuan
sedang
lebih
mendominasi
dibandingkan
siswa
berkemampuan tinggi dan rendah. Siswa berkemampuan rendah mengalami
kesulitan saat meramalkan (memprediksi) suatu keadaan baru sebelum melakukan
percobaan namun, berbeda dengan siswa berkemampuan tinggi dapat menjawab
pertanyaan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.
c)
Hasil Penilaian Angket Guru Aspek Keefektifan
Hasil penilaian angket guru aspek kefektifan media alat peraga menyatakan
alat peraga yang dikembangkan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran fisika.
Hal tersebut dikarenakan keempat guru menyatakan bahwa alat peraga tersebut
efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran dengan tingkat keefektifitasan
sangat baik. Hasil angket penilaian guru berdasarkan indikator aspek efektifitas
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 17 Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru pada
Evaluasi Sumatif
No
Indikator
Jumlah
nilai
Kategori
1
Ketercapaian tujuan
pembelajaran
14
Baik
2
Efektif untuk membantu
memahami materi
14
Baik
3
Efektif meningkatkan motivasi
dan rasa ingin tahu
14
Baik
4
Efektif membantu dalam
mengajar
14
Baik
5
Efektif membantu siswa dalam
memvisualisasikan
14
Baik
70
Sangat Baik
Jumlah
129
Tabel angket keefektifan oleh guru memperlihatkan bahwa seluruh guru
pada semua indikator berada pada kategori sangat baik. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa media alat peraga efektif untuk digunakan oleh siswa dalam pembelajaran.
Nilai keseluruhan angket keefektifan alat peraga oleh guru dalam bentuk
grafik dapat dilihat pada gambar berikut:
Skor Angket Keefektifan olehh Siswa pada
Evaluasi Sumatif
Skor
16
14
14
14
14
14
1
2
3
4
5
14
12
10
8
6
4
2
0
Indikator
Gambar 4. 25 Grafik Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh
Guru pada Evaluasi Sumatif
Grafik tersebut memperlihatkan bahwa kelima indikator yaitu ketercapaian
tujuan pembelajaran, Efektif untuk membantu memahami materi, efektif
meningkatkan motivasi dan rasa ingin tahu, efektif membantu dalam mengajar, dan
efektif membantu siswa dalam memvisualisasikan mendapatkan nilai yang sama
yaitu 14.
b. Penilaian Kepraktisan Alat Peraga
a)
Hasil Penilaian Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa
Angket penilaian kepraktisan alat peraga digunakan untuk mengetahui
respon siswa terhadap kepraktisan alat peraga untuk digunakan dalam
pembelajaran. Hasil penilaian aspek kepraktisan oleh siswa dapat dilihat pada tabel
berikut:
130
Tabel 4. 18 Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa pada
Evaluasi Sumatif
No
Indikator
Skor
Kategori
1
Kemudahan penggunaan alat
peraga untuk digunakan dan
dioperasikan saat melakukan
percobaan
111
Sangat
Praktis
2
Kemudahan alat peraga untuk
dirangkai ulang
83
Cukup
3
Alat peraga dilengkapi oleh
tempat penyimpanan
sehingga mudah untuk
dibawa.
89
Praktis
4
Kemudahan alat peraga
dalam perawatan
97
Praktis
5
Kemudahan menemukan
komponen pengganti dari alat
peraga
101
Praktis
481
Praktis
JUMLAH
131
Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat
pada gambar berikut:
Skor Angket Siswa Evaluasi Sumatif
Skor
120
111
100
83
97
101
4
5
89
80
60
40
20
0
1
2
3
Aspek Kepraktisan
Keterangan
1. Kemudahan penggunaan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan
2. Kemudahan alat peraga untuk dirangkai ulang
3. Kemudahan untuk dibawa.
4. Kemudahan alat peraga dalam perawatan
5. Kemudahan menemukan komponen pengganti
Gambar 4. 26 Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh
Siswa pada Evaluasi Sumatif
Grafik tersebut memperlihatkan bahwa indikator kemudahan penggunaan
alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan saat percobaan mendapatkan nilai
tertinggi sebesar 111. Sedangkan indikator terendah adalah kemudahan alat peraga
untuk dirakit ulang mendapatkan nilai sebesar 83.
b) Hasil Penilaian Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru
Angket penilaian kepraktisan alat peraga digunakan untuk mengetahui
respon guru terhadap kepraktisan alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran.
Hasil penilaian aspek kepraktisan oleh guru dapat dilihat pada tabel berikut:
132
Tabel 4. 19 Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru pada
Evaluasi Sumatif
No
Indikator
Skor
Kategori
1
Kepraktisan alat peraga untuk
digunakan dan dioperasikan
saat melakukan percobaan.
15
Sangat Baik
2
Kepraktisan alat peraga untuk
dirangkai ulang.
15
Sangat Baik
3
Alat peraga dilengkapi oleh
tempat penyimpanan sehingga
praktis untuk dibawa.
15
Sangat Baik
4
Media alat peraga praktis
dalam perawatan
14
Baik
5
Media alat mudah untuk
ditemukan komponen
pengganti
13
Baik
JUMLAH
72
Sangat Baik
Berdasarkan tabel di atas memperlihatkan bahwa alat peraga sangat praktis
untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan percobaan, sangat praktis untuk
dirangkai ulang, sangat praktis untuk dibawa, sangat praktis dalam perawatan, dan
alat peraga praktis untuk ditemukan komponenan pengganti alat. Nilai keseluruhan
angket kepraktisan alat peraga oleh guru dalam bentuk grafik dapat dilihat pada
gambar berikut:
133
Skor Angket Kepraktisan oleh Guru pada Evaluasi
Skor
Sumatif
15,5
15
15
15
15
14,5
14
14
13,5
13
13
12,5
12
1
2
3
4
5
Indikator
Keterangan
1. Kepraktisan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan.
2. Kepraktisan alat peraga untuk dirangkai ulang.
3. Kepraktisan untuk dibawa.
4. Kepraktisan dalam perawatan
5. Kepraktisan dalam menemukan komponen pengganti
Gambar 4. 27 Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh
Guru pada Evaluasi Sumatif
Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator terendah
adalah kepraktisan untuk menemukan komponenan pengganti alat, sedangkan skor
tertinggi terdapat pada indikator praktis untuk digunakan dan dioperasikan, sangat
praktis untuk dirangkai ulang, sangat praktis untuk dibawa.
4.
Hasil Refleksi Sistematik dan Dokumentasi (Systematic Reflection and
Documentation)
a. Tahap evaluasi Satu-satu (One to one)
Pada tahap ini dimulai dengan memberikan lembar kerja siswa (LKS)
kepada siswa. Siswa diminta untuk membaca dan mengerjakan soal prediksi
dan hipotesis yang terdapat pada LKS, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui
pemahaman siswa tentang peristiwa gerak parabola. Setelah siswa selesai
menjawab LKS siswa melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk
134
membuktikan hipotesis yang telah dikerjakan sebelumnya. Proses penggunaan
alat peraga pada tahap evaluasi satu-satu dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4. 28 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada
Evaluasi Satu-satu
Setelah selesai mengambil data masing-masing siswa melakukan
pengolahan data dan mengisi angket penilaian mengenai alat peraga yang telah
mereka gunakan. Terakhir siswa mengerjakan post-test untuk mengukur
efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat dilihat pada
gambar di bawah ini:
Gambar 4. 29 Kegiatan Post-test pada Evaluasi Satu-satu
b. Tahap Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group)
Tahap evaluasi kelompok kecil siswa dibagi dalam 5 kelompok yang
terdiri dari 3 siswa dalam satu kelompok. Sebelum menggunakan alat peraga
135
siswa membaca dan memahami LKS yang telah dibagikan ke masing-masing
siswa. Selanjutnya siswa saling berdiskusi untuk menjawab pertanyaan
prediksi dan hipotesis yang terdapat pada LKS sebelum melakukan percobaan,
hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang gerak
parabola. Setelah itu siswa melakukan percobaan menggunakan alat peraga
untuk menguji hasil hipotesis dengan hasil percobaan yang diperoleh. Proses
penggunaan alat peraga pada tahap evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada
gambar berikut:
136
Gambar 4. 30 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Kelompok
Kecil
Setelah selesai melakukan percobaan menggunakan alat peraga siswa
melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian tentang alat peraga
yang telah mereka gunakan. Kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4. 31 Kegiatan Siswa saat sedang Berdiskusi Mengerjakan LKS pada
Evaluasi Small Group
137
Terakhir siswa mengerjakan post-test untuk mengukur efektfitas
penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat dilihat pada gambar
berikut:
Gambar 4. 32 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Small Group
c. Tahap Evaluasi Uji Lapangan (Field Test)
Tahap evaluasi uji lapangan siswa dibagi dalam 6 kelompok dengan
masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Sebelum menggunakan alat
peraga siswa membaca dan memahami LKS yang telah dibagikan ke masingmasing siswa. Selanjutnya siswa saling berdiskusi bersama dengan
kelompoknya untuk menjawab pertanyaan prediksi dan hipotesis yang terdapat
pada LKS sebelum melakukan percobaan, hal tersebut bertujuan untuk
mengetahui pemahaman siswa tentang gerak parabola. Setelah itu siswa
melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk menguji hasil hipotesis
dengan hasil percobaan yang diperoleh. Proses penggunaan alat peraga pada
tahap evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada gambar berikut:
138
Gambar 4. 34 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Uji
Lapangan
Setelah selesai melakukan percobaan menggunakan alat peraga siswa
melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian tentang alat peraga
yang telah mereka gunakan. Selanjutnya siswa mengerjakan post-test untuk
mengukur efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat
dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4. 35 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Uji Lapangan
139
d. Tahap evaluasi Sumatif (Summative Evaluation)
Tahap evaluasi sumatif siswa dibagi dalam 8 kelompok dengan masingmasing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa. Sebelum menggunakan alat
peraga siswa membaca dan memahami LKS yang telah dibagikan ke masingmasing siswa. Selanjutnya siswa saling berdiskusi bersama dengan
kelompoknya untuk menjawab pertanyaan prediksi dan hipotesis yang terdapat
pada LKS sebelum melakukan percobaan, hal tersebut bertujuan untuk
mengetahui pemahaman siswa tentang gerak parabola. Setelah itu siswa
melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk menguji hasil hipotesis
dengan hasil percobaan yang diperoleh. Proses penggunaan alat peraga pada
tahap evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4. 36 Proses Penggunaan Alat Peraga Oleh Siswa pada Evaluasi
Sumatif
Setelah selesai melakukan percobaan menggunakan alat peraga siswa
melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian tentang alat peraga
yang telah mereka gunakan. Selanjutnya siswa mengerjakan post-test untuk
140
mengukur efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat
dilihat pada gambar berikut
Gambar 4. 37 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Sumatif
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini mengembangkan produk alat peraga materi gerak parabola
yang berfungsi untuk dapat memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak saat
diberikan sudut awal sebelum benda bergerak, dan siswa tidak dapat
memvisualisasikan perbedaan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian saat lintasan
diberikan sudut yang berbeda-beda. Pengembangan alat peraga tersebut
berdasarkan hasil dari studi pendahuluan dengan melakukan studi literatur dan studi
lapangan. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
menggunakan alat peraga efektif untuk merangsang keaktifan siswa dalam
pembelajaran, sikap ilmiah siswa, pemahaman siswa dan dapat meningkatkan hasil
141
belajar siswa serta dapat menjadi media pembelajaran yang menarik. Selain itu,
pengembangan alat peraga didasarkan pada keinginan menyempurnakan
kekurangan yang terdapat pada alat peraga gerak parabola yang telah
dikembangkan sebelumnya yaitu: alat peraga tersebut hanya dapat mengukur jarak
jangkauan saja, tetapi tidak dapat mengukur ketinggian maksimum.83 Berdasarkan
hasil studi lapangan dapat disimpulkan bahwa di sekolah tidak terdapat alat peraga
pada materi gerak parabola yang dapat digunakan oleh siswa dalam proses
pembelajaran. Guru dalam mengajar materi gerak parabola dengan metode
ceramah, diskusi dengan menyajikan video/animasi, dan melakukan percobaan
menggunakan alat buatan siswa yang masih memiliki banyak kekurangan pada
keakuratan.
Alat peraga yang dikembangkan mengunakan model development study dari
Van Den Akker. Tujuan penggunaan penelitian tersebut karena untuk menghasilkan
produk alat peraga yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang berada
di lapangan dan dalam pelaksanaannya melibatkan partisipan, peneliti, ahli, dan
stakeholder.84 Berikut ini tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan: penelitian
pendahuluan (preliminary research); tahap prototipe (prototyping stage); evaluasi
sumatif (summative evaluation); refleksi sistematik dan dokumentasi (systematic
reflection and documentation). Tahap prototipe terdiri tahap pembuatan alat peraga,
evaluasi formatif dan penyempurnaan alat peraga. Penilaian dan uji coba alat peraga
dilakukan pada tahap evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Penilaian evaluasi
formatif terdiri dari beberapa tahap diantaranya yaitu uji ahli (expert review),
evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), evaluasi kelompok kecil (small group
evaluation), dan uji lapangan (field study).
Penilaian pada pada evaluasi formatif dan sumatif dilakukan untuk
mengukur kelayakan, keefektifan, dan kepraktisan alat peraga dalam pembelajaran.
Penilaian kelayakan alat peraga dilakukan oleh ahli materi pelajaran fisika dan ahli
media pembelajaran. Selain dari ahli penilaian kelayakan alat peraga juga dilakukan
83
Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola
Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal
Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02. 2014, h. 93
84
Ibid, h. 154.
142
oleh siswa sebagai pengguna alat peraga. Penilaian keefektifan penggunaan alat
peraga dilihat pada hasil nilai yang diperoleh siswa setelah menggunakan alat
peraga dan keefektifan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian
kepraktisan alat peraga dilakukan oleh guru dan siswa. Penilaian kelayakan alat
peraga dilakukan ahli yang telah berpengalaman pada masing-masing bidang yaitu
bidang media pembelajaran dan materi fisika. Penilaian kelayakan alat peraga
dilakukan oleh sepuluh ahli yang terdiri dari lima ahli media pembelajaran dan lima
ahli materi fisika. Hasil penilaian ahli media pembelajaran menyatakan bahwa alat
peraga yang dikembangkan dinyatakan sangat layak untuk digunakan dalam
pembelajaran fisika materi gerak parabola. Hasil penilaian oleh ahli materi fisika
menyatakan bahwa media alat peraga yang dikembangkan dalam kategori sangat
relevan antara isi konten materi pada alat peraga dengan isi konsep materi fisika.
Kelima ahli media pembelajaran menyatakan bahwa media alat peraga
gerak parabola sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran fisika materi
gerak parabola. Hasil penilaian ahli terhadap keseluruhan indikator memperoleh
total nilai 436 yang berada pada kategori sangat layak. Penilaian alat peraga terdiri
dari delapan aspek dengan masing-masing aspek terdiri dari tiga indikator sehingga
total keseluruhan yaitu 24 indikator pernyataan. Hasil penilaian kelima ahli pada 24
indikator memperlihatkan bahwa 18 indikator (75%) menyatakan alat peraga sangat
layak dan 6 indikator (25%) menyakatan kriteria layak. Berikut ini penjelasan
peniliaian kelayakan alat peraga:
1.
Aspek pada penilaian alat peraga tersebut terdiri dari kriteria kesesuaian
dengan bahan ajar, ketahanan alat, keakuratan, efisiensi alat, keamanan bagi
siswa, estetika, kelengkapan alat, tempat penyimpanan. Aspek penilaian
kesesuaian alat peraga dengan bahan ajar oleh ahli memiliki total nilai sebesar
58 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek
ini terdiri dari kesesuaian alat peraga dengan konsep yang terdapat pada materi,
indikator kejelasan alat peraga dalam membantu menjelaskan konsep, indikator
kesesuaian alat peraga dengan kompetensi siswa. Ketiga indikator tersebut
berada pada kategori sangat layak, hal ini karena alat peraga dirancang
143
sesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, dan kompetensi
dasar pada materi.85
2.
Aspek penilaian ketahanan alat memiliki total nilai sebesar 55 dengan kategori
sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini terdiri dari
ketahanan alat peraga terhadap cuaca, kemudahan alat peraga dalam
perawatan, dan pembuatan alat peraga menggunakan bahan yang mudah
ditemukan berada pada kategori sangat layak. Alat peraga yang dikembangkan
memiliki ketahanan terhadap cuaca karena alat peraga dibuat dengan bahanbahan yang kokoh dan kuat dari berbagai cuaca sehingga alat peraga tidak
mudah rusak. Alat peraga mudah dalam perawatan karena hanya dengan
menggunakan kain basah ataupun kering untuk dapat membersihkan, dan
pembuatan alat peraga menggunakan bahan yang mudah ditemukan. karena
dibuat dengan barang-barang bekas yang terdapat pada sekitar lingkungan
rumah. Alat peraga haruslah tahan lama dan tidak mudah rusak karena alat
peraga akan sering digunakan oleh banyak siswa, sehingga hasil pengukuran
tidak akan mengalami penyimpangan, walaupun sering digunakan.86 Alat
peraga juga haruslah mudah dalam perawatan dan mudah dalam memperoleh
komponen pengganti sehingga memudahkan guru dalam merawat dan
memperbaiki alat peraga,87
3.
Aspek penilaian keakuratan alat peraga memiliki total nilai sebesar 44 dengan
kategori layak. Penilaian dilakukan ahli adalah aspek penilaian ini terendah
dibandingkan dengan aspek penilaian lainnya. Ketiga indikator pada aspek ini
berada pada kategori layak, hal ini karena rata-rata ahli media menyatakan
bahwa alat peraga yang dikembangkan masih memiliki kekurangan dan harus
diperbaiki kembali pada setiap indikator yaitu ketahanan komponen pada alat
peraga agar sesuai dengan posisi dudukan awalnya, ketepatan pemasangan
pada setiap komponen, dan ketelitian dalam pengukuran. Ketepatan dan
85
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi
Jakarta, 2012), h.82
86
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian
Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 12
87
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung (Sinar Baru Algensindo:
2013), cet.11 h.5
144
ketelitian pada alat peraga diperlukan untuk keberhasilan pengukuran,
sehingga penyimpangan hasil pengukuran oleh kesalahan alat dapat
diminimalkan agar memperoleh konsep-konsep sains yang benar.88
4.
Aspek penilaian efisiensi alat peraga memiliki total nilai sebesar 55 dengan
kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini terdiri
dari kemudahan alat peraga untuk digunakan, kemudahan alat peraga untuk
dioperasikan, dan kemudahan alat peraga untuk dibawa kemana-mana. Ketiga
indikator tersebut berada pada kategori sangat layak. Alat peraga dibuat agar
siswa memiliki kemudahan untuk digunakan dan dioperasikan oleh siswa saat
pembelajaran sehingga efektif digunakan oleh siswa. Alat peraga seharusnya
dibuat agar dapat mudah digunakan dan dimanfaatkan siswa.89 Alat peraga juga
dilengkapi dengan pegangan yang nyaman agar dapat mudah untuk dibawa
kemanapun, namun karena bentuknya yang panjang menyebabkan sebagian
ahli menyatakan alat dibuat agar lebih praktis kembali. Media seharusnya
dibuat agar bisa digunakan dimanapun dan kapapun dan mudah untuk dibawa
kemana-mana dan memiliki ukuran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan
agar memudahkan kegiatan pembelajaran.90
5.
Aspek keamanan alat peraga saat digunakan bagi siswa memiliki total nilai
sebesar 55 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat
pada aspek ini terdiri dari kemanan dan kenyamanan saat digunakan oleh
siswa, konstruksi alat peraga kokoh sehingga memiliki keamanan saat
digunakan, dan penggunaan bahan pada alat peraga yang ramah lingkungan
dan tidak mengandung zat beracun. Ketiga indikator pada aspek ini berada
apada kategori sangat baik, namun terdapat saran dari ahli yaitu harus
diperhatikan dengan sebaik-baiknya penggunaan listrik dan air agar tidak
terjadi hubungan singkat yang membahayakan untuk keamanan bagi siswa.
6.
Aspek estetika memiliki total skor nilai sebesar 53 dengan kategori sangat
layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini adalah alat peraga
88
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., h.13
89
Rayandra Asyhar, op. cit., h. 83
90
Ibid., 82
145
memiliki warna yang menarik, rancangan bentuk yang sesuai dengan
kebutuhan materi dan memiliki bentuk yang menarik rapi dan nyaman untuk
digunakan. Indikator alat peraga memiliki warna dan bentuk yang menarik
memiliki kategori layak, sedangkan indikator rancangan bentuk yang sesuai
dengan kebutuhan materi memiliki kategori sangat layak. Kelayakan alat
peraga tersebut dikarenakan bentuk alat peraga dirancang sangat sesuai dengan
kebutuhan materi, sedangkan warna dan bentuknya juga telah menarik dan
nyaman untuk digunakan. Alat yang memiliki tampilan menarik dan berwarna
indah cenderung akan disenangi siswa, sehingga dapat meningkatkan motivasi,
minat, dan mengambil pehatian siswa untuk fokus mengikuti materi yang
disajikan.91
7.
Aspek kelengkapan alat memiliki total skor 59 dengan kategori sangat layak.
Aspek ini alat peraga memiliki total nilai tertinggi dibandingkan dengan aspek
lainnya, hal ini karena alat peraga memiliki manual book, lembar kerja siswa
(LKS) dan video yang dapat membantu guru dalam merakit dan cara
menggunakan alat peraga dalam percobaan, dan dapat memudahkan siswa
dalam melakukan percobaan menggunakan alat peraga.
8.
Aspek terakhir pada penilaian ahli media pembelajaran adalah aspek terdapat
tempat penyimpanan alat peraga, pada aspek ini alat peraga memperoleh total
nilai sebesar 57 dengan kategori sangat layak. Indikator yang terdapat pada
aspek ini yaitu kelengkapan tempat penyimpanan yang mudah untuk
menyimpan dan mengambil alat, kelengkapan untuk dapat memudahkan alat
untuk dibawa, dan memiliki ketahanan dalam penyimpanan alat. Hasil
penilaian dari ketiga indikator berada pada kategori sangat layak, hal ini karena
alat peraga dilengkapi tempat penyimpanan yang dapat memudahkan siswa
untuk mengambil dan menyimpan kembali alat peraga sehingga membuat alat
menjadi lebih rapih. Hal ini karena jika alat peraga kurang rapih dan bersih
dapat mengurangi kemenarikan dan kejelasan alat peraga sehingga fungsinya
tidak masumal dalam memperbaik pembelajaran.92 Selain itu tempat
91
Ibid., h. 41
Ibid., h. 81
92
146
penyimpanan alat peraga juga dibuat agar kuat dan kokoh untuk menyimpan
alat dan tidak mudah rusak. Terdapatnya tempat penyimpanan dapat menjaga
agar komponen alat peraga dapat terjaga dengan baik dan kotak penyimpan alat
juga terjaga dengan baik.93
Kelima ahli materi fisika menyatakan bahwa isi materi fisika yang terdapat
pada alat peraga sangat relevansi dengan isi materi yang terdapat pada konsep gerak
parabola. Aspek yang terdapat pada penilaian terdiri dari dua yaitu aspek
kesesuaian isi dan kesesuaian konsep. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan
skala Guttman pada keseluruhan aspek penilaian yang diberikan ahli memperoleh
nilai memiliki presentase 95% yang artinya materi yang terdapat pada alat peraga
relevan (sesuai) dengan materi yang terdapat pada gerak parabola. Ahli menilai
tujuan pembelajaran yang dibuat sudah sesuai dengan kompetensi dasar yang ada
pada silabus. Kompetensi dasar yang terdapat di silabus. Kesesuaian materi fisika
yang terdapat pada alat peraga dikarenakan dalam pembuatan alat peraga haruslah
didasarkan pada hasil analisis terhadap berbagai faktor diantaranya seperti: tujuan,
kompetensi siswa, metode, materi yang diajarikan, dan waktu.94 Tujuan dari
menyesuaikan tersebut agar isi materi yang disampaikan tepat sasaran dan sesuai
keperluan, sehingga memungkinkannya terjadi interaksi yang baik antara siswa
terhadap media yang digunakan.95
Penilaian kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan pada evaluasi formatif
dengan tiga tahap yaitu: evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil dan uji
lapangan. Penilaian kelayakan alat peraga pada evaluasi satu-satu memperlihatkan
bahwa aspek materi mendapatkan kriteria sangat baik. Siswa menilai isi materi
yang terdapat pada alat peraga dapat mudah di pahami, jelas dan menarik karena
dengan menggunakan alat peraga siswa dapat memvisualisasikan materi gerak
parabola. Aspek materi dalam pembuatan alat peraga berdasarkan hasil analisis
kebutuhan di sekolah terhadap kompetensi yang diharapkan, karakteristik siswa,
93
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian
Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., h. 14
94
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung (Sinar Baru Algensindo:
2011) Cet.12, h. 104
95
Rayandra Asyhar, op. cit., h. 82
147
dan karakteristik materi,96 disebabkan karena aspek kualitas teknis dari alat peraga
memiliki nilai paling rendah dengan ketegori cukup baik dibandingkan dengan
keseluruhan aspek. Indikator kemudahan untuk dibawa mendapatkan nilai paling
rendah, menurut siswa alat ini sangat sulit untuk dibawa karena bentuknya yang
terlalu panjang menyebabkan alat ini kurang praktis untuk dibawa-bawa. Media alat
peraga seharusnya digunakan sebaiknya dapat mudah dipindahkan dan dibawa
kemana-mana agar dapat lebih efektif untuk digunakan kapan pun dan dimana
pun.97
Penilaian
kelayakan
alat
peraga
pada
evaluasi
kelompok
kecil
memperlihatkan bahwa ketiga aspek materi, desain pembelajaran dan implementasi
mendapatkan kriteria baik dengan perbedaan jumlah nilai yang tidak begitu jauh.
Setelah dilakukan perbaikan pada alat berdasarkan penilaian ahli dan repon siswa
pada tahap sebelumnya alat peraga mengalami perubahan sehingga menyebabkan
alat menjadi lebih baik. Siswa menilai isi materi yang terdapat pada alat peraga
dalam kategori baik karena alat peraga dapat membantu siswa dalam mengatasi
kesulitan materi, materi lebih jelas, menarik dan mudah untuk dipahami. Aspek
implementasi dari alat peraga memiliki nilai paling rendah dengan ketegori baik.
Skor tertinggi pada aspek ini adalah indikator alat peraga dapat dimanfaatkan untuk
membantu pembelajaran. Hal ini karena alat peraga dapat membantu dalam
mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu siswa dalam menangkap
pengertian yang diberikan guru.98 Alat peraga dapat membantu siswa dalam
pembelajaran untuk memberikan pengalamanbelajar yang konkret dan langsng
kepada siswa,99 sehingga dapat meningkatkan mutu belajar-mengajar.100
Sedangkan indikator efisiensi waktu mendapatkan nilai paling rendah, menurut
siswa pembelajaran menggunakan alat tidak terlalu efisien waktu terutama pada
penulisan laporan hasil percobaan.
96
Ibid., h. 85
Ibid., h. 82
98
Nana Sudjana, op. cit., h. 100
99
Rayandra Asyhar, op. cit., h. 41
100
Nana Sudjana, op. cit., h. 100
97
148
Penilaian kelayakan alat peraga pada uji lapangan terdiri dari tiga aspek
yaitu
aspek
kemampuan
untuk
dapat
dilaksanakan
(implementability),
kesinambungan (sustainability), penerimaan dan kemenarikan. Hasil penilaian
pada aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) berada pada
kategori baik dengan jumlah nilai sebesar 381. Indikator kemudahan alat peraga
digunakan berada pada kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa siswa
merasa mudah menggunakan alat peraga sehingga cocok untuk membantu dalam
mempelajari materi, indikator kemudahan untuk dipahami berada pada kategori
sangat baik hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan belajar menggunakan alat
peraga mempermudah dalam memahami materi tanpa harus dijelaskan oleh guru,
indikator tidak membahayakan saat digunakan berada pada kategori baik hal ini
menunjukkan bahwa siswa merasa saat menggunakan alat peraga tidak mengalami
suatu apapun dan aman saat digunakan, Indikator penilaian pada mengefisiensikan
waktu untuk dipelajari berada pada kategori cukup hal ini menunjukkan bahwa
menurut siswa belajar menggunakan alat peraga cukup mengefisiensikan waktu
namun beberapa siswa menyatakan bahwa belajar menggunakan alat peraga
menjadi lebih lama karena harus membuat laporan setelah melakukan percobaan.
Penilaian pada aspek kesinambungan memiliki indikator diantaranya yaitu
kemudahan dalam perawatan yang berada pada kategori cukup hal ini menunjukkan
bahwa sebagian siswa menyatakan bahwa alat sulit dalam perawatannya, waktu
penggunaan alat peraga dapat dilakukan dalam jangka waktu panjang berada pada
kategori cukup hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dibuat agar tidak mudah
pecah dan rusak saat diguanakan oleh siswa ataupun saat disimpan, dan indikator
terakhir pada aspek ini yaitu bahan yang digunakan tidak membahayakan orang lain
hal ini karena alat peraga dibuat dengan bahan yang aman digunakan dan tidak
membahayakan saat digunakan. Penilaian pada aspek penerimaan dan kemenarikan
memiliki indikator diantaranya yaitu alat peraga dapat meningkatkan dalam belajar,
menggunakan alat peraga membuat tidak malas untuk mempelajari materi, alat
perga membuat pembelajaran lebih menarik, inovatif dan menyenangkan, dan alat
peraga membuat pembelajaran menjadi tidak membosankan. Indikator alat peraga
dapat meningkatkan dalam belajar berada pada kategori sangat baik hal ini
149
menunjukkan bahwa siswa merasakan belajar menggunakan alat peraga dapat
meningkat minat siswa untuk belajar, indikator belajar menggunakan alat peraga
membuat siswa menjadi tidak malas untuk mempelajari materi hal ini menunjukkan
bahwa siswa belajar menggunakan alat peraga membuat siswa menjadi tidak malas
lagi untuk belajar, siswa menyatakan bahwa indikator pembelajaran menggunakan
alat peraga menjadi lebih menarik, inovatif, dan menyenangkan berada pada
kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa siswa alat peraga bisa membuat
kondisi belajar menjadi menyenangkan dan menarik serta inovatif. Indikator
pembelajaran materi gerak parabola menjadi tidak membosankan berada pada
kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa belajar menggunakan alat peraga
membuat belajar menjadi lebih efektif, menarik, dapat memotivasi siswa dalam
pembelajaran sehingga siswa menjadi tidak bosan dalam belajar.101
Penilaian tahap evaluasi satu-satu dilakukan dengan mengukur keefektifan
alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa. Hasil pengukuran keefektifan alat
peraga setelah siswa menggunakan alat peraga (post-test) memperoleh rata-rata
nilai 85 dengan ketuntasan belajar siswa (KKM) fisika adalah 75, sehingga
presentase ketuntasan siswa pada evaluasi satu-satu adalah 100%. Berdasarkan
analisis data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran meggunakan alat peraga
pada materi gerak parabola efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan
proses sains siswa, hal ini karena pembelajaran yang dilakukan tidak hanya
mengajarkan teori saja melainkan siswa juga melakukan percobaan dan berinteraksi
secara langsung dengan proses-proses yang terjadi untuk memperoleh pengetahuan,
kemampuan dan pengalaman.102 Selain berdasarkan hasil posttest penilaian
keefektifan siswa dalam meningkatkan KPS pada evaluasi satu-satu juga dilihat
berdasarkan hasil dari lembar observasi.
Hasil lembar observasi untuk mengetahui deskripsi KPS siswa saat
melakukan percobaan. Hasil penilaian tertinggi KPS pada keseluruhan siswa
101
Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching
learning process at uvniversity level”, Procedia - Social and Behavioral Sciences 28, 2011, pp. 78
– 81
102
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan
Peserta didik dalam Belajar, Jakarta: Gramedia, 1986. H. 15
150
terdapat pada kemampuan mengamati dan kemampuan meramalkan (memprediksi)
dan mengajukan hipotesis mendapatkan nilai terendah. Kemampuan mengamati
siswa sangat baik karena siswa sangat antusias untuk menggunakan alat peraga,
namun kelemahan siswa ditunjukkan pada kemampuan memprediksi dan
mengajukan hipotesis, hal ini dikarenakan pengetahuan siswa yang belum
menguasai tentang materi yang sudah diajarkan. Sedangkan hasil penilaian KPS
berdasarkan kemampuan siswa yang dibagi menjadi tiga yaitu siswa yang memiliki
kemampuan tinggi, sedang, dan rendah adalah siswa yang berkemampuan tinggi
rata-rata memiliki tingkat KPS lebih tinggi dibandingkan siswa kemampuan sedang
dan rendah, terutama pada keterampilan memprediksi dan mengajukan hipotesis
siswa berkemampuan tinggi memperoleh nilai paling tinggi dibandingkan siswa
lainnya hal ini dikarenakan siswa tersebut memiliki kemampuan memahami materi
lebih tinggi dibandingkan siswa yang lainnya.
Hasil penilaian kefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa
dalam evaluasi kelompok kecil menujukkan bahwa rata-rata nilai posttest siswa
sebesar 83 dengan 80% siswa mendapatkan nilai ≥ 75 dan 20 % siswa masih
mendapatkan nilai dibawah KKM. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa
pembelajaran meggunakan alat peraga pada materi gerak parabola efektif
digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Penggunaan alat
peraga tersebut efektif karena dengan alat peraga siswa menemukan sendiri konsep
materi tersebut dan membantu siswa dalam memvisualisasikan materi secara
langsung sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep.103
Siswa yang belum mencapai KKM disebabkan karena kurang keseriusannya siswa
dalam memahami perbedaan-perbedaan yang terjadi pada saat melakukan
percobaan.
Hasil penilaian keefektifan KPS menggunakan cara observasi pada evaluasi
kelompok kecil menunjukkan bahwa keterampilan mengamati memperoleh nilai
tertinggi dan keterampilan memprediksi memperoleh nilai terendah. Hal ini
103
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science
Education, 2015, h. 20
151
menunjukkan bahwa siswa sangat antusias untuk melakukan pengamatan
penggunakan alat peraga. Namun, siswa mengalami kesulitan dalam memprediksi
hal-hal yang terjadi sebelum melakukan percobaan. Hasil penilaian KPS
berdasarkan kemampuan siswa mununjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi
memiliki rata-rata KPS tertinggi dibandingkan siswa lainnya, sedangkan siswa
berkemampuan rendah mengalami pencapaian KPS terendah pada semua aspek
KPS terutama pada keterampilan memprediksi memiliki skor paling rendah, hal ini
karena kurangnya pahamnya siswa berkemampuan rendah dalam memperkirakan
kemungkinan yang terjadi sebelum melakukan percobaan.
Uji lapangan ini merupakan tahap uji coba media alat peraga terakhir
sehingga menjadi produk akhir yang akan di uji keefektifan pada evaluasi sumatif
Hasil uji lapangan memperlihatkan bahwa rata-rata nilai posttest siswa sebesar 85,5
dengan 97% siswa mendapatkan nilai ≥ 75, sehingga dapat dikategorikan
pembelajaran menggunakan alat peraga efektif digunakan dalam meningkatkan
keterampilan proses sains siswa. Berdasarkan hasil nilai posttest tersebut
pembelajaran menggunakan alat peraga efektif digunakan dalam meningkatkan
keterampilan siswa dalam memahami materi, hal ini karena pembelajaran dengan
alat peraga siswa dapat terlibat secara langsung dalam kegiatan eksperimen untuk
memperoleh pengalaman belajar.104
Hasil penilaian keefektifan KPS menggunakan cara observasi pada uji
lapangan menunjukkan bahwa keterampilan mengamati memperoleh nilai tertinggi
dengan kategori baik dan keterampilan memprediksi, memperoleh nilai terendah
dengan kategori cukup baik, selain itu keterampilan mengajukan pertanyaan dan
keterampilan berhipotesis siswa dalam kategori cukup baik. Keterampilan
mengamati siswa dengan ketegori baik, hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki
atusias yang baik dalam mengamati menggunakan alat peraga ditunjukkan pada
keterampilan siswa dalam membaca skala, mengamati perbedaan ketinggian dan
jarak jangkauan. Keterampilan siswa dalam memprediksi sebelum melakukan
percobaan juga termasuk dalam kategori cukup. Hal ini menunjukkan siswa kurang
Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X
Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5, 2009, h. 5
104
152
begitu mengerti siswa kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan hasil penilaian KPS berdasarkan kemampuan siswa mununjukkan
bahwa siswa berkemampuan tinggi memiliki rata-rata KPS tertinggi dikeseluruhan
aspek KPS dibandingkan dengan kemampuan siswa lainnya.
Hasil penilaian uji efektifitas alat peraga pada evaluasi sumatif yang
dilakukan siswa berdasarkan hasil nilai posttest memperlihatkan bahwa 90% siswa
dapat mencapai nilai ketuntasan ≥75. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil
tersebut adalah pembelajaran menggunakan alat peraga efektif digunakan dalam
meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Keempat guru dari dua sekolah
menilai bahwa pembelajaran menggunakan alat peraga sangat efektif digunakan
dalam pembelajaran materi gerak parabola dengan jumlah nilai keseluruhan adalah
90. Pembelajaran menggunakan alat peraga gerak parabola dapat membuat siswa
termotivasi untuk mempelajari materi gerak parabola. Hal ini mempermudah siswa
untuk memahami konsep-konsep yang ada pada materi sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.105 Penggunaan alat peraga gerak parabola dapat
melatih keterampilan siswa, sehingga dapat mempengaruhi peningkatan
pemahaman siswa terhadap materi.106 Pemahaman materi oleh siswa dalam
menggunakan alat peraga dikarenakan interaksi secara langsung siswa dengan alat
peraga dan dapat diaplikasikan secara lebih nyata materi yang diajarkan sehingga
dapat lebih mudah dipahami oleh siswa.107
Hasil penilaian keefektifan KPS menggunakan cara observasi pada evaluasi
sumatif menunjukkan bahwa keterampilan mengamati memperoleh nilai tertinggi
dan keterampilan memprediksi memperoleh nilai terendah. Sama dengan uji pada
evaluasi sebelumnya kemampuan siswa dalam mengamati menggunakan alat
peraga menjadi yang lebih tinggi hal ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias
dan menyukai pembelajaran dengan melakukan pengamatan secara langsung
105
Duwita Sekar Indah, Prabowo, op.cit., h. 93
Winda Eky Susanti, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair
Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi
Pendidikan Fisika (JIPF), 2015. H. 14
107
Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil
Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal
Sainsmat, 2015, h.11.
106
153
menggunakan media alat peraga. Namun, siswa juga mengalami kesulitan dan
kelemahan dalam memprediksi hal-hal yang terjadi sebelum melakukan percobaan.
Hasil penilaian KPS berdasarkan kemampuan siswa mununjukkan bahwa siswa
berkemampuan sedang memiliki rata-rata KPS tertinggi dibandingkan siswa
berkemampuan lainnya, sedangkan siswa berkemampuan rendah mengalami
pencapaian KPS terendah pada semua aspek KPS terutama pada keterampilan
memprediksi memiliki skor paling rendah, hal ini karena kurangnya pahamnya
siswa berkemampuan rendah dalam memperkirakan kemungkinan yang terjadi
sebelum melakukan percobaan. Berdasarkan data-data yang diperoleh keterampilan
proses sains siswa secara umum meningkat dibandingkan dengan pada saat uji coba
pada tahap uji sumatif. Dengan demikian, alat peraga yang dikembangkan terbukti
dapat merangsang keaktifan siswa dilihat dari meningkatnya KPS siswa dilihat dari
berbagai penilaian.
Hasil penilaian kepraktisan alat peraga pada evaluasi sumatif yang dilakukan
siswa menyatakan bahwa 93% alat peraga sangat praktis untuk digunakan dalam
pembelajaran fisika materi gerak parabola dengan jumlah nilai keseluruhan aspek
sebesar 481. Hasil penilaian guru menyatakan bahwa 100% alat peraga sangat
praktis digunakan dalam pembelajaran fisika materi gerak parabola dengan jumlah
keseluruhan aspek 72. Alat peraga dikatakan praktis terkait dengan mudah atau
tidaknya alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan pecobaan.
Siswa dan guru menyatakan bahwa alat peraga sangat praktis digunakan dan
dioperasikan dalam pembelajaran, hal ini karena alat peraga dibuat disesuaikan
dengan konsep materi gerak parabola dan pemilihan bahan-bahan yang dapat
mempermudah siswa dalam menggunakan dan mengoperasikan alat peraga. Siswa
dan guru menyatakan bahwa alat peraga praktis untuk dirangkai ulang, namun pada
aspek ini memiliki nilai terendah dibandingkan aspek lainnya karena menurut
beberapa siswa alat peraga terlalu rumit untuk dirangkai karena kurangnya petunjuk
yang digunakan siswa dalam merangkai alat peraga dan banyaknya komponenkomponen untuk dirakit. Siswa dan guru menyatakan alat peraga praktis dibawa
kemana-mana karena dilengkapi pegangan dan tempat penyimpanan yang kuat,
namun berberapa siswa menyatakan bahwa alat peraga memiliki bentuk yang
154
terlalu panjang sehingga sulit untuk disimpan. Siswa dan guru menyatakan bahwa
alat peraga praktis dalam perawatan karena alat peraga dibuat dengan bahan plastik
dan besi yang hanya dengan menggunakan kain basah dan kain kering untuk
membersihkan. Selain itu, siswa dan guru juga menyatakan alat peraga sangat
praktis menemukan komponen pengganti hal ini karena bahan dari pembuatan alat
peraga menggunakan bahan bekas yang ada disekitar lingkungan sekitar. Alat
peraga sudah seharusnya dibuat praktis untuk bisa dibuat sendiri atau mudah dalam
menjaga dan perawatan tanpa biaya yang oleh guru,108 alat peraga yang digunakan
praktis untuk dipindahkan dan dibawa kemana-mana agar mudah digunakan
dimanapun dan kapanpun,109 dan media alat peraga mudah untuk digunakan oleh
guru dan siswa selama proses pemebelajaran.110
Namun terdapat beberapa komentar dan saran dari guru terhadap alat peraga
yaitu: alat peraga sebaiknya dibuat dengan lebih sederhana agar dapat dibuat oleh
siswa, alat peraga mudah digunakan dan dirangkai sehingga sangat praktis
digunakan pemahaman konsep, alat peraga sebaiknya dibuat menjadi satu kesatuan
atau tidak dipisah-pisah, dan alat peraga menjadi praktis dalam membantu dalam
proses pembelajaran di sekolah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga
gerak parabola yang dikembangkan praktis digunakan dalam pembelajaran.
108
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, op. cit., h. 5
Rayandra Asyhar, op. cit., h.81-82
110
Nana Sudjana, op. cit., h. 5
109
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian pengembangan ini telah berhasil mengembangkan alat peraga
pada materi gerak parabola untuk siswa SMA. Alat peraga yang dihasilkan layak,
efektif dan praktis untuk digunakan dalam proses pembelajaran oleh siswa dan
guru. Alat peraga yang dikembangkan dapat mengukur keterampilan proses sains
siswa. Berikut ini adalah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan:
1. Alat peraga gerak parabola untuk siswa SMA layak digunakan sebagai media
pembelajaran berdasarkan validasi ahli media pembelajaran, ahli materi fisika, dan
siswa. Hasil penilaian kelayakan alat peraga oleh ahli media pembelajaran dan ahli
materi pelajaran fisika menyatakan bahwa alat peraga layak. Ahli media pembelajaran
menyatakan alat peraga sangat layak digunakan dalam pembelajaran dengan jumlah
nilai sebesar 436 (75%). Ahli materi pelajaran fisika menyatakan bahwa alat peraga
relevansi dengan materi fisika dengan presentase 95%. Hasil penilaian kelayakan oleh
siswa pada evaluasi satu-satu dengan jumlah nilai sebesar 118 berada pada kategori
baik. Evaluasi kelompok kecil dengan jumlah nilai sebesar 436 berada pada kategori
baik. Tahap uji lapangan siswa menyatakan baik dengan jumlah nilai sebesar 1148
berada pada kategori baik.
2. Alat peraga gerak parabola yang telah diuji dengan tes dan non tes sangat efektif untuk
meningkatkan KPS dalam pembelajaran. Penilaian alat peraga yang dikembangkan
dengan tes pada masing-masing tahap yaitu: tahap evaluasi
154
155
satu-satu siswa memperolehpresentase ketuntasan 100%, tahap kelompok kecil
memperoleh presentase ketuntasan 80%, tahap uji lapangan memperoleh presentase
ketuntasan 97%, dan tahap evaluasi sumatif memperoleh presentase 90%. Hasil
penilaian efektivitas KPS menggunakan non tes pada setiap tahap evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif keterampilan rata-rata siswa tertinggi pada kemampuan mengamati dan
keterampilan terendah pada kemampuan memprediksi suatu kejadian yang belum
diamati oleh siswa. Sedangkan hasil angket tanggapan guru aspek keefektifan alat
peraga memperoleh jumlah nilai 70 dengan kategori sangat baik/sangat efektif.
3. Alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian dinyatakan praktis untuk digunakan
dalam pembelajaran berdasarkan uji kepraktisan yang diberikan kepada siswa dengan
jumlah nilai yang diperoleh adalah 481. Sedangkan guru menyatakan bahwa alat peraga
sangat praktis digunakan dalam pembelajaran dengan jumlah nilai sebesar 72.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti memberikan
saran agar pengembangan penelitian selanjutnya lebih baik diantaranya sebagai
berikut:
1. Alat peraga yang sudah dibuat diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut lagi agar
dapat mengukur tidak hanya jarak jangkauan dan titik tertinggi, tetapi dapat mengukur
waktu saat air jatuh pada corong.
2. Alat peraga dapat dikembangkan lebih lanjut dengan berbantuan video yang dapat
merekam dan berbantuan aplikasi di komputer yang dapat menganalisis secara lambat
pergerakan air.
3. Berdasarkan hasil data kepraktisan diharapkan alat dikembangkan dengan ukuran yang
tidak terlalu besar sehingga memudahkan agar dibawa kemana-mana.
155
157
DAFTAR PUSTAKA
Aby, Ganijati Sarojo, Mekanika, Jakarta: Salemba Teknika, 2012
Akker, Jan van den, et al., Educational Design Research. New York: Routledge,
2006
Arikunto, Suharsimi, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, Jakarta:
Rineka Cipta, 2013
Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Depok: PT Rajagrafindo Persada, cet. 17,
2014
Asyhar,
Rayandra,
Kreatif
Mengembangkan
Media
Pembelajaran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012
Apriliyanti, Dharis Dwi,dkk., Pengembangan Alat Peraga Ipa Terpadu Pada Tema
Pemisahan Campuran Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains,
journal.unnes.ac.id, 2015
Darmayant, N.W. S., dkk., Pengaruh Model Collaborative Teamwork Learning
Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Pemahaman Konsep Ditinjau
Dari Gaya Kognitif, e-Journal Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha, vol. 3, 2013
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian
Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA.
(Jakarta: 2011), h. 12
Eky, Winda Susanti, Prabowo, Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair
Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan
Pembiasan Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 2015
George, Nalliveettil Mathew and Ali Odeh Hammoud Alidmat, A Study on the
Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL Classroom: Implications for
Effective Instruction, International Journal of Higher Education, Vol. 2,
No. 2, 2013
158
Hartati, B, Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA, Jurnal Pendidikan Fisika
Indonesia, 2010
Hotaman, Davut, The Examination Of The Basic Skill Levels Of The Students In
Accordance With The Perceptions Of Teacher, Parents And Students, Yildiz
Technical University, Faculty of Education, Istanbul, Turkey, 2008
Inayah, Husnul Saleh., dkk., Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap
Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP
Negeri 2 Bulukumba, Jurnal Sainsmat, 2015,
Kanginan, Marthen, Seribu Pena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, Jakarta:
Erlangga, 2008
-----------------------, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI, Jakarta: Erlangga, 2013
Karsli, Fethiye, Developing worksheet Based On Science Process Skills: Factors
Affecting Solubility, Giresun University, Education Faculty, Department
of Elementary Science Education, Giresun/Turkey, 2009
Keing, Christina., et al., “Summative eAssessments: Piloting, acceptability,
Practicality and effectiveness, Proceeding of the 19th annual World
Conference
on
Educational
Multimedia,
Hypermedia
&
Telecommunications, Canada, 2007
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Silabus Mata Pelajaran Sekolah
Menengah Atas / Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Fisika, Jakarta: 2016
Permana, Iwan Suwarna, Pengembangan Instrumen Ujian Komprehensif
Mahasiswa Melalui Computer Based Test Pada Program Studi Pendidikan
Fisika, Laporan Penelitian Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan,
Jakarta, 2016.
Prasetyo, D.R., dkk., “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep
Siswa”, Journal of Innovative Science Education, 2015
Rustaman, Nuryani, Strategi Belajar Mengajar Biologi, Malang : Universitas
Negeri Malang, 2005
159
Ruswandi, Uus., dan Badrudin, Media Pembelajaran, Bandung: Insan Mandiri,
2008
Saima Rasul dkk, A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in
teaching learning process at uvniversity level, Procedia - Social and
Behavioral Sciences, 2011,
Sadiman, Arief S., Dkk., Media Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, Cet.
17, 2014
Sekar, Duwita Indah, Prabowo, Pengembangan Alat Peraga Sederhana
Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok
Bahasan Gerak Parabola, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03
No. 02 Tahun 2014
Semiawan,
Conny.,
dkk.,
Pendekatan
Keterampilan
Proses,
Bagaimana
Mengaktifkan Siswa dalam Belajar, Jakarta: Gramedia, cet. 6, 1990
Siti,
Dendy
Kamilah,
Pengembangan
Three-Tier
Test
Digital
Untuk
Mengidentifikasi Miskonsepsi Pada Konsep Fluida Statis, Skripsi UIN
Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta, 2016
Sudjana, Nana., dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru
Algensindo, Cet.11, 2013
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Bandung:
ALFABETA, 2013
Sundayana, Rostina, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika,
Bandung: Alfabeta, 2015
Taranggono, Agus., dan Hari Subagya, Sains FISIKA 2 SMA/MA Kelas XI, Jakarta:
Bumi Aksara, 2007
Teo, Grace Yew Mei, Promotion Science Process Skills and The Relevance of
Science Through Science Alive Programme, dalam Proceeding of
Redesigning Pedagogy : Culture, Knowledge and Understanding
Conference, Singapore May 2007
Tessmer, Martin, Planning and Conducting Formative Evaluations, London:
Routledge, 1993
160
Widayanto, Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X
Melalui Kit Optik, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 2009
Widyanti, Th., dan Sigit Tri Guntoro, Penggunaan Alat Peraga dalam
Pembelajaran Matematika di SMP, Yogyakarta: Kementerian Pendidikan
Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Matematika, 2010
Wilis, Ratna Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Erlangga,
2011
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Jakarta, 2009
154
LAMPIRAN
Lampiran 1 Instrumen dan Hasil Wawancara Guru Penelitian Pendahuluan
155
156
157
158
159
Lampiran 2 Instrumen dan Hasil Angket Siswa pada Studi Pendahuluan
160
161
162
Lampiran 3 Instrumen dan Hasil validasi Ahli Media Pembelajaran
163
164
165
166
167
168
169
154
Lampiran 4 Hasil Rekap Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Aspek Penilaian Kelayakan
Media
Kriteria Kesesuaian dengan
Bahan Ajar
Ketahanan Alat
Keakuratan
Efisiensi Alat
Keamanan Bagi Siswa
Estetika
Kelengkapan Alat
Tempat Penyimpanan
Jumlah
A
19
18
15
18
18
17
20
19
Indikator
B
C
20 19
18
14
18
17
19
19
19
19
15
19
20
17
20
19
Skor
Kesimpulan
58
Sangat Layak
55
44
55
55
53
59
57
436
Sangat Layak
Layak
Sangat Layak
Sangat Layak
Layak
Sangat Layak
Sangat Layak
Sangat Layak
Garis Bilangan Jumlah Keseluruhan Aspek Penilaian Kelayakan Media
Pembelajaran
Nilai 436 termasuk dalam kategori interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih
mendekati sangat layak.
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Kriteria Kesesuaian
dengan Bahan
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Ketahanan Alat
Nilai 55 termasuk dalam kategori
interval “layak dan sangat layak“.
Nilai 58 termasuk dalam kategori
Tetapi lebih mendekati sangat layak.
interval “layak dan sangat layak“.
Tetapi lebih mendekati sangat layak.
Garis Bilangan Keseluruhan
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Aspek Keakuratan
Indikator Aspek Efisiensi Alat
155
Nilai 44 termasuk dalam kategori Nilai 55 termasuk dalam kategori
interval “cukup layak dan layak“. interval “layak dan sangat layak“.
Tetapi lebih mendekati sangat layak
Tetapi lebih mendekati layak
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Aspek Keamanan Bagi
Siswa
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Aspek Kelengkapan Alat
Nilai 59 termasuk dalam kategori
interval “layak dan sangat layak“.
Nilai 55 termasuk dalam kategori
Tetapi lebih mendekati sangat layak.
interval “layak dan sangat layak“.
Tetapi lebih mendekati sangat layak.
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Aspek Tempat
Penyimpanan
Nilai 57 termasuk dalam kategori
interval “layak dan sangat layak“.
Tetapi lebih mendekati sangat layak.
Garis Bilangan Keseluruhan
Indikator Aspek Estetika
Nilai 53 termasuk dalam kategori
interval “layak dan sangat layak“.
Tetapi lebih mendekati sangat layak.
154
No
1
2
3
4
5
Nama
Validator
Asrul
Aziz, DEA
Dr. Yanti
Herlanti,
M.Pd
Yudhi
Munadi,
M.Ag
Tonih
Feronika,
M.Pd
Dr. Didi
Teguh
Chandra,
M.Si
Jumlah
2
3
6
7
8
A
1
B
C
A
B
C
A
B
C
A
B
C
A
B
C
A
B
C
A
B
C
A
B
C
4
4
4
4
4
4
3
3
3
4
4
4
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
4
3
4
4
4
4
3
4
3
4
3
4
3
4
4
4
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
2
2
1
3
3
4
4
4
4
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
3
4
3
4
3
4
4
4
3
19
20
19
18
18
19
15
14
15
18
18
19
18
17
20
17
19
17
20
19
20
19
19
19
Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Aspek Penilaian Kelayakan Media
4
5
Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Ajar
Ketahanan Alat
Keakuratan
Efisiensi Alat
Keamanan Bagi Siswa
Estetika
Kelengkapan Alat
Tempat Penyimpanan
1. e
t
a
h
a
n
a
154
Garis Bilangan per Indikator
1. Aspek Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Ajar
Kesesuaian alat peraga dengan konsep Kejelasan alat peraga dalam membantu
yang diajarkan
menjelaskan konsep
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval Nilai 20 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik
mendekati baik
Kesesuaian alat peraga dengan kompetensi siswa
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik
2.
Aspek Ketahanan Alat
Ketahanan alat peraga terhadap cuaca
Alat mudah dalam perawatan
Nilai 18 termasuk dalam kategori interval Nilai 18 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
sangat baik
sangat baik.
Alat peraga dibuat dalam bahan yang mudah ditemukan
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik
3. Aspek Keakuratan
Ketahanan komponen-komponen alat
peraga yang sesuai pada dudukan
awalnya
Ketepatan pemasangan setiap komponen
pada alat ukur
155
Nilai 14 termasuk dalam kategori interval
Nilai 15 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih baik
mendekati baik
Ketepatan dan ketelitian dalam skala pengukuran
Nilai 15 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik
4. Aspek Efisiesnsi Alat
Alat peraga mudah untuk dirangkai
Alat peraga mudah untuk
digunakan/dioperasikan
Nilai 18 termasuk dalam kategori interval Nilai 18 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
sangat baik.
sangat baik.
Alat peraga mudah untuk dibawa
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat
baik
5. Aspek Keamanan Bagi Siswa
Alat peraga memiliki keamanan dan
kenyamanan untuk digunakan
Konstruksi alat peraga kokoh sehingga
memiliki keamanan saat digunakan
156
Nilai 17 termasuk dalam kategori interval
Nilai 18 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik
mendekati sangat baik.
Alat peraga menggunakan bahan ramah lingkungan dan tidak menggunakan zat beracun
Nilai 20 berada dalam kategori sangat baik
6. Aspek Estetika
Alat peraga memiliki warna yang menarik Alat peraga dirancang dengan bentuk
dan nyaman untuk digunakan
yang sesuai dengan kebutuhan materi
Nilai 17 termasuk dalam kategori interval
Nilai 19 termasuk dalam kategori
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
interval “baik dan sangat baik“. Tetapi
mendekati baik
lebih mendekati sangat baik
Alat peraga memiliki bentuk yang menarik, rapi dan nyaman untuk digunakan
Nilai 17 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik
7. Aspek Kelengkapan Alat
Alat peraga memiliki warna yang menarik Alat peraga dirancang dengan bentuk yang
dan nyaman untuk digunakan
sesuai dengan kebutuhan materi
Nilai 20 berada dalam kategori sangat baik
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik
Alat dilengkapi dengan lembar kerja siswa (LKS)
157
Nilai 20 berada dalam kategori sangat baik
8. Aspek Tempat Penyimpanan
Alat peraga dilengkapi dengan tempat Alat peraga dilengkapi dengan tempat
penyimpanan
agar
mudah
untuk untuk memudahkan dalam dibawa
menyimpan/mengambil
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval Nilai 19 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik
mendekati baik
Tempat penyimpanan alat peraga memiliki ketahanan dalam menyimpan alat peraga
Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik
154
Lampiran 5 Instrumen dan Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika
155
156
157
158
159
Lampiran 6 Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika
Validator
Aspek
Penilaian
Kesesuaian
Isi
Kesesuaian
Konsep
No
Pernyataan
Presentase
Jumlah
Edi Sanjaya,
M.Si
Elvan Yuniarti,
M.Si
Taufiq Al Farizi,
M.Pfis
Ai Nurlaela,
M.Si
Elinda,
M.PFis
1
1
1
1
1
1
5
100
2
1
1
1
1
1
5
100
3
1
0
1
1
1
4
80
1
1
1
1
1
1
5
100
2
1
1
1
1
0
4
80
3
1
1
1
1
1
5
100
4
1
1
1
1
1
5
100
5
1
1
1
1
1
5
100
Jumlah
38
760
Rata-rata
4,75
95
Kesimpulan
(%)
Sesuai
154
Lampiran 7 Evaluasi Satu-satu
A. Absen Siswa
155
A. Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa)
DATA KHUSUS
SOAL PILIHAN
GANDA
NO.
1
2
3
NAMA
LS
SZ
MF
RINCIAN KUNCI JAWABAN
JUMLAH SOAL
SKOR BENAR
EBBBACEDBDCABCBABCEC
20
5
RINCIAN JAWABAN SISWA
DBBBACEDBDCABCBAACEC
DBBBACEDBDCABCBAAEEC
DBBBACEDBDCABCBCAAEC
Rata-rata Nilai Siswa
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Persentase Ketuntasan
NILAI MAKSIMAL
JUMLAH
BENAR
18
17
16
SALAH
2
3
4
NILAI
KET
90
85
80
85
90
80
100%
LULUS
LULUS
LULUS
B. Hasil Penlialaian Observasi KPS
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Aspek Keterampilan Proses Sains
Mengamati
Mengelompokkan
Menafsirkan (Interpretasi)
Meramalkan (Memprediksi)
Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Jumlah
Indikator Kegiatan Siswa
12
10
9
5
9
6
9
11
9
10
12
9
9
6
7
7
9
10
9
10
12
9
10
5
9
8
9
10
9
10
Jumlah
36
28
28
16
25
21
27
31
27
30
269
Kesimpulan
Sangat Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Cukup
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
154
Garis Bilangan Aspek
Keterampilan Mengamati
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Mengelompokkan
Nilai 36 termasuk dalam kategori sangat
baik.
Nilai 28 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati
baik.
Garis Bilangan Aspek
Keterampilan Menafsirkan
(Interprtasikan)
Nilai 28 termasuk dalam kategori
interval “cukup baik dan baik“. Tetapi
lebih mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek
Keterampilan Mengajukan
Pertanyaan
Nilai 25 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Meramalkan (Memprediksi)
Nilai 16 termasuk dalam kategori interval
“Kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih
mendekati kurang baik
Garis Bilangan Keterampilan
Mengajukan Hipotesis
Nilai 21 termasuk dalam kategori interval
“kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik
Garis Bilangan Keterampilan
Merencanakan Percobaan
Garis Bilangan Keterampilan
Menggunakan Alat dan Bahan
Nilai 27 termasuk dalam kategori
interval “cukup baik dan baik“. Tetapi
lebih mendekati baik.
Nilai 31 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik
Garis Bilangan Keterampilan
Menerapkan Konsep
Garis Bilangan Melakukan Komunikasi
155
Nilai 27 termasuk dalam kategori
interval “baik dan sangat baik“. Tetapi
lebih mendekati baik.
Nilai 30 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik.
156
Aspek KPS Perindikator
Aspek KPS
No Nama
1
2
3
4
5
6
7
1
2
3
1 2 3 1 2 3
1
2
3 1 2 3 1
2
3 1 2 3 1
4
4
4
3 3 3 3 3 4
2
2
2 3 2 3 3
3
3 3 3 3 3
1 LS
4
4
4
4 3 3 3 3 3
2
2
2 3 2 3 2
3
3 3 3 3 4
2 SZ
4
4
4
3 3 3 3 3 3
1
2
1 3 3 3 1
1
2 3 3 3 4
3 MF
Jumlah
12 12 12 10 9 9 9 9 10 5
6
5 9 7 9 6
7
8 9 9 9 11
Kesimpulan SB SB SB B B B B B B TB CB TB B CB B CB CB CB B B B SB
Keterangan Aspek KPS
1. Mengamati
2. Mengklasifikasikan (Mengelompokkan)
3. Menafsirkan (Interpretasi)
4. Meramalkan (Memprediksi)
5. Mengajukan Pertanyaan
6. Mengajukan Hipotesis
7. Merencanakan Percobaan
8. Menggunakan Alat dan Bahan
9. Menerapkan Konsep
10. Melakukan Komunikasi
8
2
3
4
3
10
B
3
3
3
4
10
B
9
10
1 2 3 1 2 3
3 3 3 4 4 4
3 3 3 3 3 3
3 3 3 3 3 3
9 9 9 10 10 10
B B B B B B
157
Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa
No
Nama
1
KT
2
KS
3
KR
Aspek KPS
Mengamati
Mengelompokkan
Menafsirkan
Memprediksi
Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Mengamati
Mengelompokkan
Menafsirkan
Memprediksi
Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Mengamati
Mengelompokkan
Menafsirkan
Memprediksi
Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Indikator Kegiatan Siswa
1
2
3
4
4
4
3
3
3
3
3
3
2
2
2
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
2
2
2
3
2
3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
3
3
3
3
3
3
1
2
1
3
3
3
1
1
2
3
3
3
5
4
5
3
3
3
Jumlah
Kesimpulan
12
9
9
6
8
9
9
9
9
12
12
10
9
6
8
8
9
8
9
9
12
9
9
4
9
4
9
14
9
Sangat Baik
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
Sangat Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Cukup
Baik
Cukup
Baik
Baik
Sangat Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik
Sangat Baik
Baik
158
No
Nama
Aspek KPS
Melakukan Komunikasi
Indikator Kegiatan Siswa
1
2
3
3
3
3
Jumlah
Kesimpulan
9
Baik
159
C. Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
No
Aspek Penilaian
1
2
3
4
Materi
Kualitas Teknis
Desain Pembelajaran
Implementasi
Jumlah
A
10
9
11
9
Indikator
B
11
7
11
12
C
12
6
9
11
Jumlah
Keterangan
33
22
31
32
118
Sangat Baik
Cukup
Baik
Baik
Baik
Garis bilangan jumlah keseluruhan aspek penilaian angket
Nilai 118 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
baik.
Garis bilangan Aspek Materi
Garis Bilangan Kualitas Teknis
Nilai 33 termasuk dalam kategori interval
Nilai 22 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati sangat baik.
mendekati cukup baik.
Garis Bilangan Aspek Desain
Pembelajaran
Garis Bilangan Aspek Implementasi
Nilai 32 termasuk dalam kategori interval
Nilai 31 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik.
mendekati baik.
160
Hasil Penilaian perindikator Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
Aspek Penilaian
No
1
2
3
Nama
MFA
SZS
LS
Jumlah
Kesimpulan
A
4
3
3
10
Baik
Materi
B
4
4
3
11
Sangat
Baik
C
4
4
4
12
Sangat
Baik
A
3
3
3
9
Baik
Kualitas Teknis
B
2
2
3
7
Cukup
C
2
2
2
6
Cukup
Desain Pembelajaran
A
B
C
4
4
3
4
4
4
3
3
2
11
11
9
Sangat
Sangat
Baik
Baik
Baik
Implementasi
A
B
C
3
4
4
3
4
3
3
4
4
9
12
11
Sangat Sangat
Baik
Baik
Baik
Jumlah
41
40
37
118
Baik
154
1. Garis Bilangan Aspek Materi
Kesulitan
Kejelasan
Nilai 10 termasuk dalam kategori interval “baik Nilai 11 termasuk dalam kategori interval
dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati sangat baik.
Kemenarikan
Nilai 12 termasuk dalam kategori sangat baik.
2. Garis Bilangan Kualitas Teknis
Memiliki kualitas bentuk yang menarik dan
nyaman
Memiliki kualitas warna yang menarik
dan nyaman
Nilai 9 termasuk dalam kategori interval “cukup Nilai 7 termasuk dalam kategori interval
“kurang baik dan cukup baik“. Tetapi
baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik.
lebih mendekati cukup baik
Memiliki bentuk dan ukuran yang mudah dibawa dan digunakan
Nilai 6 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
3. Garis Bilangan Desain Pembelajaran
Kemenarikan pembelajaran
Kejelasan tujuan pembelajaran
155
Nilai 11 termasuk dalam kategori interval Nilai 11 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
sangat baik.
mendekati sangat baik.
Kelogisan sistematika materi
Nilai 9 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati
baik.
4. Garis Bilangan Implementasi
Efisiensi waktu
Pemanfaatan media
Nilai 9 termasuk dalam kategori interval “cukup Nilai 12 termasuk dalam kategori sangat
baik.
baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik.
Kemudahan operasi media
Nilai 11 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati
sangat baik.
156
Lampiran 8 Evaluasi Kelompok Kecil
A. Absensi Siswa
157
B. Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa)
DATA KHUSUS
SOAL PILIHAN
GANDA
NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
NAMA
MTS
MFT
WN
AHI
MFP
SJD
JRMW
SM
DAP
GBM
AD
DSP
DED
BPR
RA
RINCIAN KUNCI JAWABAN
EBBBACEDBDCABCBABAEC
RINCIAN JAWABAN SISWA
EBBBACEDBDCEBCBACDEC
EBBBACEDBDCABCBAECEA
EBBBACEDBECABCBABCEC
EBBBACEDBECABCBABCEC
EBBBACBDBDCABCBABCEC
EBBBACADBCCABCBACCDC
EBBAACABBCCCBCBACCEC
EBBBACEDBECABCBABCEC
EBBBACBDBDCABCBABDEC
EBBBACEDBECABCBABCEC
DDBBACCBBDCABCBBBDEC
EBBBACEDBECABCBABCEC
EBBBACEDBECABCBABCEC
EBBBACEDBDCABEBAECEA
EBBBACADBCCABCBAECBA
Rata-rata nilai post test
JUMLAH
SKOR
SOAL
BENAR
20
5
JUMLAH
BENAR
SALAH
17
3
17
3
18
2
18
2
18
2
15
5
13
7
18
2
18
2
18
2
14
6
18
2
18
2
16
4
14
6
Persentase Ketuntasan
Persentase tidak tuntasan
NILAI MAKSIMAL
NILAI
KET
85
85
90
90
90
75
65
90
90
90
70
90
90
80
70
83,3
80%
20%
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
TIDAK LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
TIDAK LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
TIDAK LULUS
LULUS
C. Hasil Penilaian Observasi KPS
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Aspek Keterampilan Proses Sains
Mengamati
Mengklasifikasikan (Mengelompokkan)
Menafsirkan (Interpretasi)
Meramalkan (Memprediksi)
Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Indikator Kegiatan
Siswa
1
2
3
50
46
42
30
44
35
42
47
46
46
54
44
42
31
38
43
45
46
49
44
53
44
37
29
45
44
45
48
43
44
Jumlah
Kesimpulan
157
134
121
90
127
122
132
141
138
134
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Baik
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
158
Garis Bilangan Aspek KPS Mengamati
Garis
Bilangan
Aspek
KPS
Mengelompokkan (Mengklasifikasikan)
Nilai 157 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati Nilai 134 termasuk dalam kategori interval
baik.
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek KPS Menafsirkan Garis Bilangan Aspek KPS Meramalkan
(Interprtasikan)
(Memprediksi)
Nilai 121 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik
Garis Bilangan Aspek KPS Mengajukan
Pertanyaan
Nilai 90 termasuk dalam kategori interval
“kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik
Garis Bilangan Aspek KPS Mengajukan
Hipotesis
Nilai 127 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih Nilai 122 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
mendekati cukup baik
Garis Bilangan Aspek KPS
Garis Bilangan Aspek KPS
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Nilai 132 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik
Garis Bilangan Aspek KPS Menerapkan
Konsep
Nilai 141 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik
Garis Bilangan Aspek KPSMelakukan
Komunikasi
Nilai 138 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik
Nilai 134 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
159
Aspek KPS Perindikator
No
Nama
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
MTS
MFT
WN
AHI
MFP
SJD
JRM
SM
DAP
GBM
AD
DSP
DED
BPR
RA
Jumlah
Kesimpulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
3
4
4
2
4
4
4
3
3
4
4
1
3
4
3
2
3
3
3
3
4
3
3
1
3
3
3
2
3
3
3
3
4
3
3
1
2
2
1
2
2
2
2
3
2
2
1
1
4
3
3
2
3
2
3
3
4
3
3
1
3
2
1
2
3
3
1
3
3
3
2
1
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
1
4
4
4
2
4
4
3
3
4
3
4
1
3
3
3
2
4
4
4
3
3
3
3
1
2
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
4
4
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
4
4
4
4
3
3
4
2
4
3
4
3
4
4
4
4
3
4
4
2
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4
2
1
3
3
3
3
3
4
3
3
1
4
3
2
2
3
4
2
3
4
4
3
1
3
2
3
2
3
3
2
2
4
4
3
1
3
3
2
1
3
4
3
2
3
3
3
1
4
3
1
1
2
2
2
3
2
1
2
2
2
2
2
2
1
4
2
3
2
1
2
2
2
2
2
2
1
3
3
3
2
1
2
2
2
2
2
2
1
3
2
3
3
3
2
2
3
4
3
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2
4
3
2
2
2
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
2
3
2
2
4
3
3
2
2
1
2
1
3
4
3
3
4
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
3
3
3
3
3
4
4
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
2
3
3
4
4
3
2
2
2
2
3
4
3
3
3
4
3
3
3
2
2
2
4
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
4
3
2
3
3
3
3
3
4
3
4
4
4
3
1
3
3
2
3
3
4
3
3
3
4
3
1
3
3
1
2
3
4
4
4
4
4
3
3
4
3
3
3
3
2
2
3
4
3
3
2
4
3
2
3
3
3
2
3
4
4
3
2
4
3
3
3
3
2
2
50
B
54
SB
53
B
46
B
44
B
44
B
42
B
42
B
37
CB
30
CB
31
CB
29
TB
44
B
38
CB
45
B
35
CB
43
B
44
B
42
B
45
B
45
B
47
B
46
B
48
B
46
B
49
B
43
B
46
B
44
B
44
B
160
Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa
1
1
10
2
11
3
9
4
12
5
12
Jumlah
54
Rata-rata
10,8
Kesimpulan SB
2
10
11
9
9
10
49
9,8
B
3
10
10
10
7
11
48
9,6
B
4
6
10
9
9
6
40
8
CB
Aspek KPS
5
6
11
9
11
12
8
8
9
8
9
8
48
45
9,6
9
B
B
KS
6
11
7
11
8
9
9
10
10
12
Jumlah
53
Rata-rata
10,6
Kesimpulan
B
9
10
7
11
8
45
9
B
11
9
3
10
8
41
8,2
CB
3
6
6
9
8
32
6,4
CB
8
7
7
8
12
42
8,4
B
12
9
8
8
8
45
9
B
9
9
9
10
11
48
9,6
B
12
11
9
8
8
48
9,6
B
12
9
4
9
9
43
8,6
B
11
9
6
12
9
47
9,4
B
KR
11
12
13
14
15
Jumlah
6
8
9
10
8
41
6
4
8
9
7
34
6
6
3
7
6
28
9
8
6
7
9
39
5
8
7
9
10
39
8
7
8
9
7
39
8
6
10
10
9
43
6
8
9
10
9
42
8
9
9
6
6
38
Kemampuan
Berpikir
KT
No
7
9
9
11
9
45
7
9
9
10
9
9
46
9,2
B
8
12
9
9
9
9
48
9,6
B
9
9
12
10
9
9
49
9,8
B
10
7
12
9
10
12
50
10
B
161
Rata-rata
Kesimpulan
9
B
8,2
CB
6,8
CB
5,6
TB
7,8
7,8
7,8
8,6
8,4
Cukup Cukup Cukup Baik Baik
7,6
Cukup
162
D. Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
No
1
2
3
Aspek Penilaian
Materi
Desain Pembelajaran
Implementasi
Jumlah
A
42
54
53
Indikator
B
50
50
46
C
53
52
36
Jumlah
Kategori
145
156
135
436
Baik
Baik
Baik
Baik
Garis Bilangan Aspek Materi
Nilai 145 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek Desain Pembelajaran
Nilai 156 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek Implementasi
Nilai 135 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
163
Hasil Penilaian Perindikator Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Nama
BP
RA
MFT
SJD
MTS
JRMW
AHI
WN
SM
DED
DSP
GBM
MFP
DAP
AD
Jumlah
Kesimpulan
A
4
4
4
4
3
2
2
3
3
2
3
2
1
3
2
42
Materi
B
4
4
4
4
4
3
3
2
4
3
4
2
3
4
2
50
C
4
4
4
4
4
3
4
3
4
3
4
2
3
4
3
53
Baik
Baik
Baik
Aspek Penilaian
Desain Pembelajaran
A
B
C
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
3
3
4
4
3
3
2
3
4
4
4
2
3
3
4
4
4
2
2
2
3
3
3
4
3
4
4
3
3
54
50
52
Sangat
Baik
Baik
Baik
A
4
4
4
4
4
3
3
3
4
4
4
2
3
4
3
53
Implementasi
B
4
4
4
2
4
2
2
2
4
4
3
3
3
3
2
46
Baik
Baik
Jumlah
C
4
4
4
0
3
2
1
1
2
2
4
2
2
3
2
36
36
36
36
30
33
25
26
22
33
26
34
19
24
32
24
436
Cukup
Baik
164
Garis Bilangan Perindikator
1. Aspek Materi
Kesulitan
Kejelasan
Nilai 42 termasuk dalam kategori
Nilai 50 termasuk dalam kategori interval
interval “cukup baik dan baik“. Tetapi
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
lebih mendekati baik.
mendekati baik
Kemenarikan
Nilai 53 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
2. Aspek Desain Pembelajaran
Kejelasan Tujuan Pembelajaran
Kemenarikan Pembelajaran
Nilai 42 termasuk dalam kategori Nilai 50 termasuk dalam kategori interval
interval “cukup baik dan baik“. Tetapi “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
lebih mendekati baik.
mendekati baik.
Kelogisan Sistematika Materi
Nilai 52 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
3. Aspek Implementasi
Alat peraga dapat dimanfaatkan untuk
membantu dalam pembelajaran
Alat peraga mudah untuk digunakan dan
dioperasikan
165
Nilai 53 termasuk dalam kategori interval Nilai 46 termasuk dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
mendekati baik.
Alat peraga dapat mengefisiensikan waktu
Nilai 36 termasuk dalam kategori cukup baik.
166
Lampiran 9 Uji Lapangan
A. Absensi Siswa
167
Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa)
DATA KHUSUS
SOAL PILIHAN
GANDA
NO.
NAMA
RINCIAN KUNCI JAWABAN
JUMLAH SOAL
SKOR BENAR
EBBBACEDBDCABCBABAEC
20
5
RINCIAN JAWABAN SISWA
JUMLAH
NILAI MAKSIMAL
NILAI
KET
1
ASA
EBDBACBDBDCABEAABCEC
BENAR
15
SALAH
5
75
LULUS
2
NOB
EBBBACBDBDCABEAABCEC
16
4
80
LULUS
3
MIA
EBDBACADBDCABECABCEC
15
5
75
LULUS
4
MRDZ
EBBBACEDBDCEBCBABCEC
18
2
90
LULUS
5
TKD
EBBBACBDBDCABEACBCEC
15
5
75
LULUS
6
FS
EBBBACDDDCCABCBABCEC
16
4
80
LULUS
7
TY
EBBBACDDDCCABCBABCEC
16
4
80
LULUS
8
NJA
EBBBACDDDCCABCBABCED
15
5
75
LULUS
9
KAB
EBBBACDDDCCABCBABCEC
16
4
80
LULUS
10
FS
EBCBACEEBDACBEDCBAEE
12
8
60
TIDAK LULUS
11
ASA
EBBBACEDBDCABEBABCEC
18
2
90
LULUS
12
RN
EBBBACEDBDCABEBABCEC
18
2
90
LULUS
13
MFOR
EBBBACEDBDCABEBABCEC
18
2
90
LULUS
14
SSRA
EBBBACEDBDCABEBABCEC
18
2
90
LULUS
15
FF
EBBBACEDBDCABEBABCEC
18
2
90
LULUS
16
FM
EBBBACEDBCCABCBABCEC
18
2
90
LULUS
17
RIH
EBBBACEDBCCABCAABCEC
17
3
85
LULUS
168
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
TDWM
RFA
AS
FR
SS
RA
MT
ST
ANS
WDL
MII
RAP
GP
EBBBACEDBCCABCBABCEC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBCCABCBABCEC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBCCABCBABCEC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBDCABEBABBEC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDADCDBCBABBEC
17
3
85
LULUS
EBBBACEDBDCABCBAADEC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBDCABCBABCEC
19
1
95
LULUS
EBBBACEDBDCABCBABCEC
19
1
95
LULUS
EBBBACEDBDCABCBABCBC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBDCABCBABCBC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBDCABCBABCBC
18
2
90
LULUS
EBBBACEDBDCABCBABCBC
EBBBACEDBDCAACBABCBC
18
17
2
3
90
85
85,5
97
LULUS
LULUS
LULUS
Rata-rata
Persentase Ketuntasan
169
B. Hasil Penilaian Observasi KPS
No
1
3
Aspek Keterampilan Proses Sains
Mengamati
Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
Menafsirkan (Interpretasi)
4
Meramalkan (Memprediksi)
75
64
75
214
5
Mengajukan Pertanyaan
77
70
76
223
6
Mengajukan Hipotesis
70
84
86
240
7
8
9
10
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
87
91
80
80
86
84
87
88
82
81
83
83
253
255
252
252
2
Indikator Kegiatan Siswa
87
87
87
Jumlah
261
85
89
84
258
84
84
85
253
Garis Bilangan Aspek KPS Keterampilan
Mengamati
Kategori
Baik
Baik
Baik
Cukup
Baik
Cukup
Baik
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Garis Bilangan Aspek KPS
Keterampilan Mengelompokan
Nilai 261 termasuk dalam kategori interval Nilai 258 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
baik.
Garis Bilangan Aspek KPS Keterampilan
Menafsirkan
Garis Bilangan Aspek KPS
Keterampilan Meramalkan
(Memprediksi)
Nilai 253 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati Nilai 214 termasuk dalam kategori interval
baik.
“kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Mengajukan Pertanyaan
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Mengajukan Hipotesis
170
Nilai 223 termasuk dalam kategori interval
Nilai 240 termasuk dalam kategori
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati interval “cukup baik dan baik“. Tetapi
cukup baik
lebih mendekati cukup baik
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Merencankan Percobaan
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Menggunakan Alat dan Bahan
Nilai 255 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
Nilai 253 termasuk dalam kategori interval mendekati baik.
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati
baik.
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Menerapkan Konsep
Garis Bilangan Aspek Keterampilan
Melakukan Komunikasi
Nilai 252 termasuk dalam kategori interval Nilai 255 termasuk dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
baik.
171
Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa
Aspek KPS
Kemampuan
Berpikir
KT
KS
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah
Rata-rata
10
12
12
8
9
9
9
12
9
9
99
9,9
10
11
9
10
9
9
11
10
8
9
96
9,6
12
11
9
8
9
9
6
10
9
12
95
9,5
9
11
10
6
8
8
8
8
7
8
83
8,3
9
12
11
8
8
12
8
8
7
12
95
9,5
10
11
9
8
9
8
9
12
9
8
93
9,3
11
10
10
9
10
10
10
11
8
8
97
9,7
10
11
10
9
9
9
9
10
11
11
99
9,9
12
12
8
9
8
10
11
10
11
11
102
10,2
Kesimpulan
Baik
Baik
12
12
11
11
11
10
11
11
8
11
108
10,8
Sangat
Baik
Baik
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
1
2
3
4
5
12
12
6
7
6
10
10
10
9
9
5
12
5
3
7
8
9
9
7
7
8
9
9
8
8
9
10
9
8
8
9
11
7
7
10
6
10
10
9
10
7
11
9
9
12
7
10
9
10
7
172
Aspek KPS
Kemampuan
Berpikir
KR
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
6
7
8
9
10
Jumlah
Rata-rata
Kesimpulan
9
12
11
8
12
95
9,5
Baik
6
7
9
8
11
89
8,9
Baik
6
8
9
7
8
81
8,1
Cukup
5
6
8
5
6
62
6,2
Cukup
6
8
9
8
9
80
8
Cukup
8
6
10
7
8
81
8,1
Cukup
8
11
9
6
9
87
8,7
Baik
8
11
9
6
9
87
8,7
Baik
7
6
10
7
9
84
8,4
Baik
7
6
6
8
5
80
8
Cukup
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah
Rata-rata
5
0
9
9
7
6
3
9
9
10
67
6,7
7
8
8
9
6
6
6
7
8
8
73
7,3
5
5
8
10
5
6
3
6
8
7
63
6,3
3
5
8
8
7
8
3
6
6
3
57
5,7
4
4
9
8
7
6
3
8
6
5
60
6
3
3
9
8
8
8
3
8
6
8
64
6,4
2
3
11
9
8
9
3
9
8
10
72
7,2
5
5
9
10
7
7
1
9
7
11
71
7,1
5
7
8
9
7
7
4
9
6
7
69
6,9
5
9
8
9
8
6
6
7
4
8
70
7
173
Aspek KPS
Kemampuan
Berpikir
No
Kesimpulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Cukup
Cukup
Cukup
Tidak
Baik
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
174
E. Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
No
Aspek Penilaian
2
Kemampuan untuk dapat dilaksanakan
(implementability)
Kesinambungan (sustainability)
3
Penerimaan dan Kemenarikan
1
1
Indikator Penilaian
2
3
4
Jumlah
Kesimpulan
108
110
98
65
381
Baik
74
73
77
108
332
107
106
112
110
435
1148
Cukup
Sangat
Baik
Baik
Jumlah
Garis Bilangan Jumlah Keseluruhan Aspek
Garis Bilangan Aspek Kemampuan untuk dapat dilaksanakan
Nilai 1148 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik
baik“. Tetapi lebih mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek Kesinambungan (sustainability)
Nilai 381 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“.
Tetapi lebih mendekati baik.
Nilai 332 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“.
Tetapi lebih mendekati cukup baik
Garis Bilangan Aspek Penerimaan dan Kemenarikan
Nilai 435 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“.
Tetapi lebih mendekati sangat baik.
175
Hasil Penilaian Perindikator Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
Nama
TKD
ASA
MIA
MRD
NOB
FR
KAB
FS
NJA
TY
FF
SSR
MFR
ASA
RN
RIH
RF
TD
AS
FM
SSR
FR
Kemampuan untuk dapat
dilaksanakan (implementability)
1
2
3
4
Kesinambungan (sustainability)
Penerimaan dan Kemenarikan
1
2
3
4
1
2
3
4
4
3
4
4
3
3
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
3
2
3
4
4
4
4
2
2
3
2
2
4
1
3
4
2
2
3
3
2
2
2
2
1
2
3
3
4
3
1
3
2
4
4
3
3
1
2
2
3
1
2
4
3
2
2
2
2
2
4
1
3
2
3
1
4
1
3
4
2
2
2
1
4
3
3
2
1
2
2
2
4
3
3
4
3
3
4
3
4
4
3
3
4
4
4
3
3
2
3
3
4
4
4
4
2
3
3
2
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
4
4
3
4
4
3
2
4
3
3
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
4
4
4
4
3
3
4
3
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
4
3
4
4
2
2
4
3
3
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
3
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
4
4
3
4
4
3
4
4
4
4
4
2
4
0
2
2
4
4
4
3
4
3
2
2
4
4
4
2
1
2
3
4
4
2
4
0
2
3
0
3
0
0
1
2
1
2
3
1
176
23
24
25
26
27
28
29
30
RA
ST
MT
MII
GP
WDL
ANS
RAP
Jumlah
Kesimpulan
3
4
3
4
3
3
3
4
108
Sangat
Baik
3
4
3
4
3
4
3
3
110
Sangat
Baik
3
4
3
4
4
2
3
1
98
3
2
2
0
2
2
2
4
65
2
2
2
3
2
2
3
3
74
2
2
2
4
2
1
2
1
73
3
4
2
4
3
2
2
2
77
Baik
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
3
4
3
4
4
4
3
4
108
Sangat
Baik
3
3
4
4
3
4
3
4
107
3
4
3
4
4
4
3
2
106
Baik
Baik
3
4
3
4
4
4
4
4
112
Sangat
Baik
3
4
3
4
3
4
3
4
110
Sangat
Baik
177
Garis Bilangan Perindikator
1. Aspek Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability)
Alat peraga mudah untuk digunakan
Konsep yang diajarkan melalui alat
peraga mudah untuk dipahami
Nilai 108 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
Nilai 110 berada dalam kategori interval
mendekati sangat baik.
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati sangat baik.
Alat peraga tidak membahayakan saat
digunakan
Alat peraga dapat mengefisienkan waktu
untuk dipelajari
Nilai 98 berada dalam kategori interval Nilai 65 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi
mendekati baik.
lebih mendekati cukup baik.
2. Aspek Kesinambungan (sustainability)
Alat peraga gerak parabola mudah
Alat peraga dapat digunakan dalam jangka
dalam perawatan dan pemeliharanya
waktu yang lama
Nilai 74 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih Nilai 73 berada dalam kategori interval
mendekati cukup baik.
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
Alat peraga tidak mudah rusak/pecah
saat digunakan
Bahan alat peraga aman dan tidak
menggunakan bahan yang membahayakan
178
Nilai 77 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
Nilai 108 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati sangat baik.
3. Aspek Penerimaan dan Kemenarikan
Alat peraga dapat meningkatkan minat
dalam belajar
Pembelajaran dengan alat peraga membuat
tidak malas
Nilai 107 berada dalam kategori
interval “baik dan sangat baik“. Tetapi
Nilai 106 berada dalam kategori interval
lebih mendekati baik.
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Alat peraga membuat pembelajaran
Alat peraga membuat pembelajaran menjadi
menjadi lebih menarik, inovatif, dan
tidak membosankan
menyenangkan
Nilai 112 berada dalam kategori
interval “baik dan sangat baik“. Tetapi
lebih mendekati sangat baik.
Nilai 110 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati sangat baik.
179
Lampiran 10 Evaluasi Sumatif
A. Absensi Siswa
180
B. Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa)
DATA KHUSUS SOAL
PILIHAN GANDA
RINCIAN KUNCI JAWABAN
EBBBACEDBDCABCBABAEC
NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
NAMA
RG
MMCNJ
FTP
DA
RRA
MAP
MRW
DRA
MAA
MRF
IFK
WAS
RAS
MKR
SS
JTR
SN
RINCIAN JAWABAN SISWA
DBBCACEDBDCABCBABAEC
DBBCACEDBDCABCBABAEC
DBBBACEDBDCABCCABAEC
EBBBACEDBDCBBCABBAEB
EBBBACEBBDCDBEBABEEA
EBBBACDDADCABEEABAEA
EBBBACEBBDCDBCBABCEC
EBBBACEBADCDBEBDBADA
EBBBACEDBDCABCBABCEC
EBBBACEDBDCABCBABABC
EBBBACEDBDCABCBABCEC
EBBBACEDBDCABCBABCEC
EBBBACCDBDCAEBBABEEC
EBBBACBDBDCABCBABAEC
EBBBACCDBDCABEBABEEC
EBBBACBDBDCABCBABAEC
EBBBACCDBDCABCBAACEC
JUMLAH SKOR
SOAL
BENAR
NILAI MAKSIMAL
20
5
JUMLAH
NILAI
KET
BENAR SALAH
18
2
90
LULUS
18
2
90
LULUS
18
2
90
LULUS
16
4
80
LULUS
15
5
75
LULUS
15
5
75
LULUS
17
3
85
LULUS
13
7
65
TIDAK LULUS
19
1
95
LULUS
19
1
95
LULUS
19
1
95
LULUS
19
1
95
LULUS
16
4
80
LULUS
19
1
95
LULUS
17
3
85
LULUS
19
1
95
LULUS
17
3
85
LULUS
181
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
ART
ATM
FF
DSR
AR
RR
NPA
TR
NS
KA
DD
ADA
IA
EBBBACDDBDCABCBABCEC
EBBBACEDBDCABCBABBEC
EBBBACCDADCADCEAACEB
DBBBACEDBDCABCBAAAEC
EBBBACCDBDCABCBDBAEC
EBBBACEDBDCABCBABAEC
DBBBACEDBDCACCCABAEC
EBBBACCBBDCABCBDCAEC
EBBAACEBDDCADCBDCAEC
EBBBACBBBECABEBABAEC
DBBBACEDBDCACCCABAEC
EBCBACEDBCCABCBABAEC
EBBBACEDBDCAACBABCBC
Rata-rata
Persentase Kelulusan
18
19
13
18
18
20
17
16
14
16
17
18
17
2
1
7
2
2
0
3
4
6
4
3
2
3
90
95
65
90
90
100
85
80
70
80
85
90
85
85,8
90
LULUS
LULUS
TIDAK LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
TIDAK LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
LULUS
182
C. Hasil Penilaian Observasi KPS
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Aspek Keterampilan Proses Sains
Mengamati
Mengklasifikasikan
(Mengelompokkan)
Menafsirkan (Interpretasi)
Meramalkan (Memprediksi)
Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan Hipotesis
Merencanakan Percobaan
Menggunakan Alat dan Bahan
Menerapkan Konsep
Melakukan Komunikasi
Indikator Kegiatan
Siswa
101
99
97
Jumlah
Kategori
297
Baik
94
93
96
283
Baik
89
78
91
68
96
98
92
101
89
73
84
86
92
85
87
94
85
75
92
88
96
94
87
94
263
226
267
242
284
277
266
289
Baik
Cukup Baik
Baik
Cukup Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Garis Bilangan Aspek KPS
Mengamati
Garis Bilangan Aspek KPS
Mengelompokkan
(Mengklasifikasikan)
Nilai 297 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih Nilai 283 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Garis Bilangan Aspek KPS
Menafsirkan (Interpretasi)
Meramalkan (Memprediksi)
Nilai 263 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Mengajukan Pertanyaan
Nilai 226 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Mengajukan Hipotesis
Nilai 267 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Merencanakan Percobaan
Nilai 242 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati cukup baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Menggunakan Alat dan Bahan
183
Nilai 284 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Melakukan Komunikasi
Nilai 277 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Garis Bilangan Aspek KPS
Menerapkan Konsep
Nilai 266 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Nilai 266 berada dalam kategori interval
“cukup baik dan baik“. Tetapi lebih
mendekati baik.
184
Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa
Aspek KPS
Kemampuan
Berpikir
Siswa
KT
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
9
12
10
9
9
12
7
9
11
12
2
12
10
12
12
9
9
12
12
10
12
3
11
9
8
10
9
8
9
10
9
9
4
11
9
8
8
8
8
10
10
8
8
5
9
9
6
8
8
8
9
7
8
10
6
11
10
10
7
10
8
11
10
10
11
7
9
11
11
6
8
8
9
9
9
11
8
12
10
11
6
10
9
10
9
11
12
9
9
8
8
9
7
8
9
8
8
10
10
7
11
8
9
8
8
8
8
8
10
Jumlah
100
99
92
84
86
86
94
92
92
105
Rata-rata
10
9,9
9,2
8,4
8,6
8,6
9,4
9,2
9,2
10,5
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
9
7
7
6
8
7
11
11
6
3
Kesimpulan
KS
1
185
Aspek KPS
Kemampuan
Berpikir
Siswa
KR
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
2
9
9
9
9
11
9
9
9
9
11
3
9
10
8
10
9
8
12
11
9
10
4
9
9
9
6
9
8
9
9
9
12
5
12
9
12
8
9
8
10
10
10
12
6
9
12
9
9
12
9
9
9
12
12
7
9
11
10
11
11
9
9
9
11
11
8
9
11
12
9
8
8
7
8
12
11
9
12
9
7
9
10
9
10
11
9
10
10
12
9
9
6
9
8
9
9
9
9
Jumlah
99
96
92
83
96
83
95
96
96
101
Rata-rata
9,9
9,6
9,2
8,3
9,6
8,3
9,5
9,6
9,6
10,1
Kesimpulan
Baik
Baik
Baik
Cukup
Baik
Cukup
Baik
Baik
Baik
Baik
1
9
8
6
3
8
3
9
8
5
8
2
8
10
11
6
10
8
9
9
10
12
3
9
9
9
6
7
8
9
10
12
9
186
Aspek KPS
Kemampuan
Berpikir
Siswa
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
4
9
8
8
9
9
8
8
8
6
9
5
9
10
7
6
10
8
9
9
10
7
6
12
8
6
3
6
8
11
10
5
3
7
12
9
8
6
7
8
12
12
7
10
8
11
10
9
6
10
8
10
9
8
8
9
12
9
8
6
8
6
11
11
8
8
10
6
8
7
8
9
9
7
4
7
9
Jumlah
97
89
79
59
84
74
95
90
78
83
Rata-rata
9,7
8,9
7,9
5,9
8,4
7,4
9,5
9
7,8
8,3
Baik
Baik
Cukup
Tidak
Baik
Baik
Cukup
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Kesimpulan
187
D. Hasil Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Nama
RG
MMCNJ
FTP
DA
RRA
MAP
MRW
DRA
MAA
MRF
IFK
WAS
RAS
MRR
SS
JTR
SN
ART
ATM
FF
DSR
AR
RR
NPA
TR
NS
KA
DD
ADA
IA
Jumlah
Kesimpulan
Aspek Praktis (practicality)
2
3
4
3
4
3
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
3
4
2
2
4
3
3
3
3
4
4
3
2
4
3
3
2
1
2
2
1
2
3
4
4
2
1
2
4
3
4
3
2
3
2
2
2
3
3
2
1
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
3
4
1
1
4
2
3
3
3
4
4
3
3
3
4
4
4
3
3
3
83
89
97
1
5
4
4
3
3
4
3
4
3
4
4
4
4
4
2
4
3
3
4
4
3
3
4
4
4
4
3
3
3
4
3
3
3
4
4
4
3
4
2
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
2
3
3
2
4
4
4
4
4
4
4
3
111
101
Sangat
Cukup Praktis Praktis Praktis
Praktis
18
15
18
16
18
20
17
15
16
18
16
16
12
12
17
13
18
14
13
12
17
17
18
19
11
13
19
17
20
16
481
Aspek
Praktisan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
93
Praktis
Praktis
Jumlah
188
Garis Bilangan Jumlah Seluruh Indikator Aspek Kepraktisan
Nilai 481 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati praktis.
Garis Bilangan Aspek Kepraktisan
Indikator mudah untuk digunakan
Indikator mudah untuk dirangkai
dan dioperasikan
ulang
Nilai 111 berada dalam kategori interval
“praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati sangat praktis.
Indikator Terdapat tempat
penyimpanan sehingga mudah untuk
dibawa.
Nilai 83berada dalam kategori interval
“cukup praktis dan praktis“. Tetapi lebih
mendekati cukup praktis.
Indikator kemudahan dalam
perawatan
Nilai 97 berada dalam kategori interval
Nilai 89 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih
“cukup praktis dan praktis“. Tetapi lebih mendekati praktis.
mendekati praktis.
Indikator mudah untuk ditemukan komponen pengganti
Nilai 101 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati sangat praktis.
189
E. Instrumen dan Hasil Angket Kepraktisan dan Keefektifan Alat Peraga oleh Guru
190
191
192
193
F. Hasil Penilaian Angket Kepraktisan dan Keefektifan Alat Peraga oleh
Guru
No
1
2
3
4
Jumlah
Kesimpulan
1
3
4
4
4
15
Sangat
Baik
Aspek Praktis
2
3
4
4
4
3
3
4
4
4
15
15
Sangat
Sangat
Baik
Baik
4
3
4
4
3
14
5
3
4
3
3
13
Baik
Baik
Jumlah
17
19
18
18
72
Sangat Baik
Garis Bilangan Jumlah Seluruh Indikator Aspek Kepraktisan
Nilai 72 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi
lebih mendekati sangat praktis.
Garis Bilangan Aspek Kepraktisan
Indikator peraga praktis untuk
Indikator praktis untuk dirangkai
digunakan dan dioperasikan
ulang.
Nilai 15 berada dalam kategori interval
“praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati sangat praktis.
Indikator alat peraga terdapat tempat
penyimpanan sehingga praktis untuk
dibawa.
Nilai 15 berada dalam kategori
interval “praktis dan sangat praktis“.
Tetapi lebih mendekati sangat praktis.
Indikator peraga praktis dalam
perawatan
Nilai 14 berada dalam kategori
interval “praktis dan sangat praktis“.
Tetapi lebih mendekati praktis.
Nilai 15 berada dalam kategori interval
“praktis dan sangat praktis“. Tetapi
lebih mendekati sangat praktis.
Indikator alat mudah untuk ditemukan komponen pengganti
194
Nilai 14 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi
lebih mendekati praktis.
No
1
2
3
4
Jumlah
Kesimpulan
1
3
4
3
4
14
Baik
2
3
4
4
3
14
Baik
Aspek Efektifitas
3
4
3
3
4
3
3
4
4
4
14
14
Baik
Baik
5
3
4
3
4
14
Baik
Jumlah
15
19
17
19
70
Sangat Baik
Garis Bilangan Jumlah Seluruh Indikator Aspek Keefektifan
Nilai 70 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih
mendekati sangat baik.
Garis Bilangan Aspek Keefektifan
Alat peraga dapat membantu guru
Alat peraga efektif untuk membantu
dalam mencapai tujuan pembelajaran
siswa dalam memahami konsep
Nilai 14 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Alat peraga gerak efektif
meningkatkan motivasi rasa ingin tau
siswa.
Nilai 14 berada dalam kategori interval
“baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati baik.
Alat peraga efektif untuk membantu
guru agar lebih mudah dalam
mengajar
Nilai 14 berada dalam kategori
interval “baik dan sangat praktis“.
Tetapi lebih mendekati baik.
Nilai 14 berada dalam kategori
interval “baik dan sangat praktis“.
Tetapi lebih mendekati baik.
195
Alat peraga efektif untuk membantu siswa dalam memvisualisasikan konsep
Nilai 14 berada dalam kategori interval “baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih
mendekati baik.
196
Lampiran 11 Hasil Validasi dan Instrumen Tes
A. Hasil dan Rekap Validasi Instrumen Tes oleh Ahli
1. Materi Fisika
a. Hasil Validasi Materi
197
198
199
200
b. Rekap Hasil Validasi Materi
Nomer
Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Drs. Hasian Pohan, S.Pd, M.Si
A
B
C
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Validator
Ai Nurlaela, M.Si
B
C
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Taufiq Al Farizi, M.Pfis
A
B
C
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Nilai CVR
A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
B
C
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Jumlah CVR
CVI
Kategori
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Rata-rata
CVR
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
20
1
Sangat
Sesuai
201
2. Validasi Kontruksi
a. Hasil Validasi Konstruk
202
203
b. Rekap Hasil Validasi Konstruk
Nomer
Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Validator
A
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
B
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
C
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Devi Sholehat
E
F
G
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
H
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
I
1
1
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
J
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Iwan Permana Suwarna, M.Pd
B
C
D
E
G
H
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Nilai CVR
I
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
J
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
A
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
B
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
C
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
E
G
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Jumlah CVR
CVI
Kategori
H
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
I
1
1
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
J
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Rata-rata
CVR
1,00
1,00
0,89
0,89
1,00
0,89
0,89
0,89
0,89
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
19,33
0,97
Sangat
Sesuai
204
3. Validasi Bahasa
a. Hasil Validasi Bahasa
205
206
b. Rekap Hasil Validasi Bahasa
Nomor
Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Dr. Hindun, M.Pd.
A
B
C
D
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
0
0
1
0
0
1
1
1
0
0
1
0
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
Validator
Drs. Parmono, M.Pd
A
B
C
D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Hilmawati, S.Hum
A
B
C
D
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Nilai CVR
A
-0,33
1,00
1,00
-0,33
0,33
0,33
1,00
0,33
-0,33
-0,33
1,00
0,33
-0,33
0,33
-0,33
-0,33
-0,33
-0,33
0,33
1,00
B
C
1,00
1,00
1,00
1,00
0,33
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
0,33
0,33
1,00
1,00
1,00
1,00
0,33
1,00
0,33
1,00
1,00
1,00
0,33
1,00
-0,33
1,00
1,00
1,00
-0,33
1,00
1,00
1,00
-0,33
1,00
0,33
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
Jumlah CVR
CVI
Kategori
Rata-rata CVR
D
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
0,33
1,00
0,33
1,00
1,00
1,00
0,67
1,00
0,83
0,67
0,83
0,50
1,00
0,83
0,50
0,50
1,00
0,67
0,33
0,83
0,17
0,67
0,17
0,50
0,83
1,00
13,50
0,68
Sangat Sesuai
207
B. Instrumen Tes
INSTRUMEN TES PILIHAN GANDA
GERAK PARABOLA
Mata Pelajaran
: Fisika
Bentuk Soal
: Pilihan Ganda
Kelas / Semester
: XI / 2
Waktu
: 90 menit
Tahun Ajaran
: 2016-2017
Aspek KPS
Merencanakan
percobaan
Indikator Soal
Disajikan
beberapa pilihan
gambar alat dan
bahan dalam
percobaan.
Siswa dapat
menentukan alat
dan bahan yang
tepat digunakan
dalam
percobaan gerak
parabola.
No
Soal
1.
Soal
Kunci
Jawaban
Perhatikan gambar di bawah ini !
Jawaban
208
Aspek KPS
Merencanakan
Percobaan
Indikator Soal
Disajikan desain
alat peraga
gerak parabola.
Siswa dapat
menentukan
data yang akan
No
Soal
2.
Soal
Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan menggunakan alat
peraga gerak parabola ditunjukkan dengan nomer...
a. 1, 2, 5, 9
b. 1, 3, 7, 8
c. 1, 4, 5, 7
d. 1, 5, 6, 7
e. 1, 6. 7. 8*
Kelompok II melakukan percobaan menggunakan alat peraga gerak
parabola seperti pada gambar di bawah ini
Kunci
Jawaban
209
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
Kunci
Jawaban
diukur dalam
percobaan gerak
parabola.
Merencakan
Percobaan
Disajikan
prosedur
percobaan
hubungan jarak
jangkauan
terhadap sudut
dan ketinggian
maksimum.
Siswa dapat
mengurutkan
3.
Data yang diukur oleh kelompok II dalam percobaan tersebut adalah...
a. kecepatan dan ketinggian
b. jarak terjauh dan ketinggian*
c. waktu dan jarak
d. kecepatan dan jarak terjauh
e. debit dan jarak terjauh
Berikut ini merupakan prosedur percobaan hubungan antara sudut elevasi
terhadap jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum:
1) Tentukan diameter lubang yang akan digunakan
2) Tentukan sudut elevasi yang telah ditentukan
3) Catat hasil pengukuran jarak jangkauan terjauh dan titik tertinggi
4) Susunlah rangkaian alat peraga sesuai dengan gambar yang
terdapat pada LKS
5) Siapkan seperangkat alat dan bahan alat gerak parabola yang
digunakan.
5-4-8-2-16-7-3
Jawaban C
210
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
prosedur
percobaan yang
sesuai
4.
Mengamati
Soal
6) Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan
mengalir dari tempat penampungan menuju ke nozzle.
7) Tentukan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang
terbentuk pada sudut elevasi tersebut dengan cara menggeserkan
corong.
8) Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu
Urutan prosedur percobaan untuk mengetahui Hubungan Jarak Jangkauan
Terhadap Sudut dan Ketinggian Maksimum adalah...
a. 1-2-3-4-5-6-7-8
b. 5-4-8-2-1-6-7-3*
c. 5-4-8-6-2-1-7-3
d. 5-4-8-2-6-1-7-3
e. 8-7-5-4-3-2-1-6
Untuk soal nomor 4-5 perhatikan gambar di bawah ini!
Disajikan
gambar desain
alat peraga
gerak parabola.
Siswa dapat
menentukan
variabel yang
mempengaruhi
jarak
Berdasarkan gambar tersebut faktor atau variabel yang mempengaruhi
jarak jangkauan adalah...
Kunci
Jawaban
211
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Disajikan
gambar desain
alat peraga
gerak parabola
pada gambar
soal nomor 4.
Siswa dapat
menentukan
salah satu fungsi
dari alat peraga
5.
Disajikan
gambar desain
alat peraga
gerak parabola.
Siswa dapat
menunjukkan
titik terjauh dan
titik tertinggi
dari alat peraga
6.
Soal
a. A, dan B
b. A, dan C*
c. A, dan D
d. A, dan E
e. A, dan F
Berdasarkan gambar di atas fungsi dari alat yang ditunjukkan dengan
huruf C adalah...
a. mengatur sudut*
b. mengatur jarak jangkauan
c. mengatur debit aliran fluida
d. mengukur ketinggian fluida
e. memompa tekanan aliran fluida
Perhatikan gambar di bawah ini
Kunci
Jawaban
212
Aspek KPS
Mengelompok
kan
Indikator Soal
Disajikan
gambar Andi
memukul bola
dengan sudut
elevasi dan jarak
jangkauan
tertentu.
Tersedia tabel
dan gambar
hasil pukulan
dengan sudut
elevasi dan jarak
jangauan
berbeda-beda.
Siswa dapat
memilih gambar
jarak jangkauan
yang tepat
sesuai dengan
No
Soal
7.
Kunci
Jawaban
Soal
Berdasarkan gambar di atas yang menunjukkan titik tertinggi dan jarak
terjauh adalah...
a. 1 dan 5
b. 2 dan 5
c. 3 dan 5*
d. 3 dan 4
e. 4 dan 5
Perhatikan gambar di bawah ini !
45o
1m
Andi memukul bola golf dengan kecepatan awal adalah 10 ms-1, sehingga
menghasilkan jarak jangkauan terjauh seperti pada gambar. Jika Andi
ingin memukul bola golf dengan sudut elevasi berbeda seperti pada tabel
berikut.
No
Sudut
Elevasi
1
15o
Gambar Jarak Pukulan Bola Golf Andi
0,85 m
213
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Kunci
Jawaban
Soal
sudut elevasi
tersebut.
2
30o
0,5 m
3.
53
0,96 m
4.
75
0.5 m
Berdasarkan sudut elevasi tersebut jarak jangkauan pada gambar yang
tepat adalah...
a. 1 dan 2
b. 1 dan 4*
c. 2 dan 3
d. 2 dan 4
e. 3 dan 4
214
Aspek KPS
Indikator Soal
mengelompok
kan
Disajikan data
percobaan pada
tabel dua sudut
berbeda dengan
variabel diukur
jarak dan
ketinggian.
Siswa dapat
menunjukkan
data yang tepat
berdasarkan
tabel.
No
Soal
8.
Soal
Kunci
Jawaban
Roni dan Dimas sedang melakukan pengamatan menggunakan alat peraga
gerak parabola dengan kecepatan awal sama. Data yang mereka peroleh
dari percobaan seperti pada tabel di bawah ini!
Pasangan data yang tepat ditunjukan dengan nomer ...
a. 1 dan 4
b. 1 dan 5
c. 2 dan 4
d. 3 dan 5*
e. 3 dan 6
mengelompok
kan
Disajikan data
tabel tendangan
yang dengan
sudut berbedabeda.
9.
Dimas berlatih menendang pinalti dengan jarak x. Dimas menendang bola
sebanyak tiga kali tendangan (I, II, dan III) dengan cara yang berbeda
sudut elevasi yang berbeda seperti pada tabel di bawah ini !
Tendangan
Sudut
elevasi
Jawaban B
215
Aspek KPS
Indikator Soal
Siswa dapat
memilih gambar
yang tepat
berdasarkan
tabel.
No
Soal
Soal
I
II
III
30o
45o
75o
Gambar yang tepat berdasarkan tabel di atas adalah...
a.
b. *
c.
d.
Kunci
Jawaban
216
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
e.
Menafsirkan/
interpretasi
Disajikan
gambar tabel
pukulan bola
golf dengan
sudut elevasi
berbeda-beda.
Siswa dapat
menyimpulkan
hasil yang
memiliki
perbedaan sudut
pukulan
10.
Budi, Doni, Benny, Ilham, dan Angga sedang bermain golf di lapangan.
Mereka memukul bola dengan kecepatan awal yang sama tetapi sudut
kemiringan (𝛼) pukulan berbeda, perhatikan tabel berikut!
Sudut Elevasi Bola
Kesimpulan yang tepat berdasarkan tabel di atas adalah...
a. jarak pukulan yang terjauh dilakukan oleh Angga karena memiliki
sudut elevasi yang besar
b. jarak pukulan yang terdekat dilakukan oleh Benny karena pukulan
Benny menggunakan sudut 45o
c. urutan jarak tendangan dari yang terdekat hingga terjauh adalah
Budi, Doni, Ilham, Angga, dan Benny
Kunci
Jawaban
217
Indikator Soal
Disajikan
gambar grafik
jarak terhadap
ketinggian.
Siswa dapat
membaca grafik
yang tepat
No
Soal
11.
Kunci
Jawaban
Soal
d. jarak pukulan Doni dan Ilham sama karena hasil pukulan
walaupun berbeda sudut menghasilkan sudut yang sama*
e. jarak pukulan yang terjauh dilakukan oleh Budi dan Angga karena
besar sudut mereka memiliki jarak yang sama dan terjauh
dibandingkan yang lainnya
Perhatikan grafik jarak terhadap ketinggian di bawah ini!
Grafik jarak terhadap ketinggian
2
ketinggian (m)
Aspek KPS
1,6
1,75 1,8 1,75
1,35
1,5
1,6
1,35
1
1
1
0,55
0,55
0,5
0
0
0
0
0,8 1,6 2,4 3,2
4
4,8 5,6 6,4 7,2
8
8.8 9,6
jarak (m)
Kesimpulan yang benar berdasarkan grafik di atas adalah ....
a. jarak terjauh terdapat pada saat titik 8,8
b. pada jarak 8 m tidak memiliki ketinggian
c. ketinggian maksimum berada pada titik (4,8 ; 1,8)*
d. jarak terjauh dan ketinggian berada pada titik (9,6 ; 0,55)
e. jarak 4 m memiliki ketinggian yang sama dengan jarak 7,2 m
218
Aspek KPS
Indikator Soal
Disajikan
gambar seorang
pemain basket
melempar bola
ke ring dengan
sudut yang
berbeda, siswa
memprediksi
hasil lemparan
pemain basket
dengan sudut
yang berbeda
Meramal/mem
prediksi
No
Soal
12.
Soal
Perhatikan gambar di bawah ini!
30o
Alfin sedang berlatih melempar bola basket ke dalam ring. Alfin
melempar bola pada kecepatan awal v dan jarak antara Alfin saat
melempar bola basket dengan ring adalah x. Alfin melempar bola dengan
sudut 30o, bola berhasil masuk ke dalam ring. Jika Alfin ingin melempar
bola dengan sudut lemparan 60o, yang terjadi dengan bola lemparan Alfin
adalah...
a. bola masuk ke dalam ring karena jarak jangkauan sudut 60o dan
30o sama *
b. bola mengenai ring basket bagian depan karena jarak jangkauan
pada sudut 60o lebih pendek
c. bola mengenai ring basket bagian belakang karena jarak
jangkauan pada sudut 60o lebih jauh
d. bola tidak sampai ke ring karena memiliki jarak jangkauan pada
sudut 60o sangat lebih pendek
Kunci
Jawaban
219
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
e. bola membentur papan pada tiang ring karena jarak jangkauan
sudut 60o sangat lebih jauh
Disajikan
gambar desain
alat peraga
gerak parabola
dengan 2 mata
noozle yang
memiliki
diameter
berbeda.
Siswa dapat
memprediksi
jarak jangkauan
dari setiap
diameter
13.
Andi melakukan pengamatan menggunakan alat peraga gerak parabola
dengan menggunakan dua mata nozzle yang berdiameter berbeda. Ukuran
diameter nozzle B adalah dua kali diameter nozzle A. Seperti pada gambar
di bawah ini.
Jika Andi melakukan percobaan dengan kedua mata nozzle menggunakan
sudut elevasi dan volume air yang sama. yang akan terjadi dengan jarak
terjauh dari kedua diameter pada percobaan tersebut adalah...
a. jarak terjauh diameter a sama dengan jarak terjauh diameter B
karena memiliki sudut elevasi dan volume air yang sama
Kunci
Jawaban
220
Aspek KPS
Berhipotesis
Indikator Soal
Disajikan
gambar
seseorang
sedang
memukul bola
golf dengan dua
sudut bebeda.
Siswa
berhipotesis
jarak jangkauan
pukulan yang
dilakukan
pemain golf
dengan sudut
yang berbeda
No
Soal
14.
Soal
b. jarak terjauh diameter A lebih jauh dibandingkan diameter B
karena mata nozzle A memiliki lebih kecil dibandingakan B*
c. jarak jangkauan diameter A lebih pendek dibandingkan diameter
B karena mata nozzle A memiliki lebih kecil dibandingakan B
d. jarak terjauh kedua nozzle menghasilkan jarak yang sama karena
besar diameter tidak mempengaruhi jarak jangkauan
e. jarak jangkauan diameter A lebih pendek dibandingkan diamater
B jika volume air A lebih banyak dibandingkan B
Perhatikan gambar orang memukul bola golf di bawah ini !
Pemain golf melakukan pukulan A dengan sudut 45o bola berhasil masuk
ke lubang pada jarak X. Jika Tommy melakukan pukulan B dengan sudut
30o, bola akan jatuh di...
a. titik 1
b. titik 2
c. titik 3*
d. titik 4
e. titik 5
Kunci
Jawaban
221
Aspek KPS
Menghipotesis
Indikator Soal
Disajikan
gambar desain
alat peraga
gerak parabola
dengan tiga
mata nozzle
yang memiliki
diameter
berbeda.
Siswa
berhipotesis
jarak jangkauan
berdasarkan
diameter lubang
yang dimiliki
masing-masing
mata nozzle
No
Soal
15.
Soal
Perhatikan gambar alat peraga di bawah ini !
Pada bagian mata nozzle diganti dengan mata nozzle A, B dan C yang
memiliki diameter berbeda seperti pada tabel berikut.
Mata
Diameter
Nozzle
A
d
B
2d
C
3d
Jika alat diatur dengan sudut kemiringan yang sama dan volume fluida
yang digunakan sama, maka hipotesis apa yang akan anda kemukakan
mengenai jarak terjauh dari masing-masing mata nozzle adalah...
a. mata nozzle A memiliki jarak jangkauan terjauh, mata nozzle B
dan C memiliki jarak jangkauan yang sama
b. mata nozzle A memiliki jarak jangkauan terjauh, mata nozzle C
memiliki jarak jangkauan terdekat, sedangkan jarak jangkauan
mata nozzle B berada di antara keduanya*
Kunci
Jawaban
222
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
Kunci
Jawaban
c. mata nozzle C memiliki jarak jangkauan terjauh, sedangkan mata
nozzle A memiliki jarak jangkauan terdekat dan jarak jangkauan
mata nozzle B berada di antara keduanya
d. mata nozzle B memiliki jarak jangkauan terjauh, sedangkan A
memiliki jarak jangkauan terdekat dan jarak jangkauan mata
nozzle C di antara keduanya
e. mata nozzle B memiliki jarak jangkauan terdekat, sedangkan A
memiliki jarak jangkauan terjauh dan jarak jangkauan mata nozzle
C di antara keduanya
Menerapkan
konsep
Disajikan
gambar
kontekstual
pemain golf
memukul bola.
Siswa dapat
menerapkan
konsep gerak
parabola dalam
menentukan
hasil kecepatan
dari pukulan
bola dengan
sudut dan
16.
Perhatikan gambar di bawah ini
Dik:
𝛼 =53o
vo = 30 m/s
Dit:
vX = ........?
vy = ........?
Seorang pemain golf melakukan pukulan menuju lubang yang berada pada
titik C dengan sudut elevasi 53o membentuk lintasan parabola seperti
gambar. Jika kecepatan awal bola 30 m/s. Maka kecepatan pada sumbu x
dan sumbu y bola saat 2 detik adalah...
(sin 53 = 0,8 dan cos 53 = 0,6)
a. 18 m/s dan 4 m/s*
b. 10 m/s dan 4 ms
Jwb
vX = Vo cos
𝛼
vX = 30cos
53
vX = 18 m/s
223
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
kecepatan awal
tertentu
Menerapkan
konsep
Disajikan
gambar
kontekstual.
Siswa dapat
menerapkan
konsep gerak
parabola dalam
menentukan
letak posisi bola
Soal
c. 24 m/s dan 2 m/s
d. 18 m/s dan 2 m/s
e. 24 m/s dan 4 m/s
17.
Perhatikan gambar di bawah ini
Kunci
Jawaban
vy = vo sin
𝛼- gt
vy = 30 sin
53 – (10) 2
Vy = 4 m/s
Jawaban :
A
Dik
vo = 10 m/s
𝛼 = 37o
dit:
x = ....?
y = ....?
jwb
x = vo cos
𝛼t
x =10 cos
37o 1
x=8m
y = vo sin 𝛼
t – ½ gt2
224
Aspek KPS
Menerapkan
konsep
Indikator Soal
Disajikan
gambar
kontekstual,
siswa dapat
menerapkan
konsep gerak
parabola dalam
menentukan
perbandingan
hasil jarak
terjauh dan
ketinggian dari
tendangan
pinalti
No
Soal
18.
Kunci
Jawaban
Soal
Ihsan melakukan service shuttlecock dengan kecepatan awal pukulan 10
m/s dan sudut elevasi 37O terhadap bidang datar. Setelah satu detik
dipukul Ihsan pada jarak horizontal (x) dan vertikal (y) berapa shuttlecock
dapat dipukul oleh Jorgensen untuk mengembalikan pukulan Ihsan...
(sin 37O = 0,6 ; cos 37O= 0,8)
a. (1,8 , 4,8) m di titik C
b. (1, 8) m dititik C
c. (8, 1) m di titik E*
d. (8, 3) m di titik E
e. (3, 8) m di titik D
Perhatikan gambar di bawah ini
Ali sebagai penendang pinalti, sedangkan Doni sebagai penjaga gawang.
Jika Ali menendang bola sasaran dengan sudut elevasi bola terhadap tanah
adalah 30, maka hasil tendangan pinaltinya melalui perbandingan antara
jarak jangkauan bola dan ketinggian maksimum yang dihasilkan dari hasil
pukulan pemain tersebut adalah...
a. 4√3 : 1*
b. √3 : ½
1
c. 2 √3 : ½
d. 1: ½
e. 2√3 : 1
y = 10 sin
37o 1 – ½
10 12
y=1m
(x,y) =
(8,1) m
Dik
𝛼 = 30O
Dit
Xmaks : Ymaks
= ...?
jwb
𝑣02 sin 2𝛼
𝑔
𝑣02 𝑠𝑖𝑛2 𝛼
2𝑔
:
Sin 2 𝛼 :
sin2 𝛼
Sin 2 (30O)
:
𝑠𝑖𝑛2 60𝑜
2
225
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
Kunci
Jawaban
Sin 60o :
𝑠𝑖𝑛2 30𝑜
2
½ √3 :
1⁄
4
2
½ √3 : 1⁄8
4√3 : 1
4√3 : 1
Mengomunika
sikan
Disajikan
gambar desain
alat peraga
gerak parabola.
Siswa dapat
menentukan
grafik jarak
terhadap
ketinggian yang
sesuai dengan
data percobaan
yang disajikan
pada tabel
19.
Perhatikan gambar di bawah ini !
Roni melakukan percobaan menggunakan alat peraga gerak parabola.
Grafik yang tepat untuk menggambarkan data tersebut adalah...
226
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jarak
X
(m)
0,8
1,6
2,4
3,2
4
4,8
5,6
6,4
7,2
8
8.8
9.6
Ketinggian
Y
(m)
0,55
1
1,35
1,6
1,75
1,8
1,75
1,6
1,35
1
0,55
0
Berdasarkan percobaan yang dilakukan Roni. Grafik yang dapat
menggambarkan data tabel tersebut adalah...
a. y
𝑥
Kunci
Jawaban
227
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
b.
c.
d.
Kunci
Jawaban
228
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Kunci
Jawaban
Soal
e. *>
Mengomunika
si
Disajikan
gambar hasil
percobaan
kelompok II.
Siswa dapat
menentukan
gambar grafik
hubungan antara
sudut dan jarak
berdasarkan data
gambar yang
diperoleh
20
Perhatikan gambar hasil percobaan dari kelompok II berikut ini !
y
75𝑜
60𝑜
45𝑜
30𝑜
15𝑜
1
0
1
6
2
0
x
229
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
Grafik yang dapat menunjukkan hubungan antara jarak (R) dan sudut (𝛼)
adalah...
a. R
𝛼
90o
b.
R
𝛼
90o
c.
R
90o
d.
𝛼
R
90o
𝛼
Kunci
Jawaban
230
Aspek KPS
Indikator Soal
No
Soal
Soal
e.
R
90o
𝛼
Kunci
Jawaban
154
Lampiran 12 Instrumen LKS
A. Tujuan Pecobaan
1.
2.
3.
4.
5.
Siswa dapat mengetahui hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan
maksimum pada materi gerak parabola.
Siswa dapat mengetahui hubungan antara sudut elevasi terhadap ketinggian maksimum
pada materi gerak parabola.
Siswa dapat mengetahui perbedaan kecepatan aliran terhadap jarak jangkauan
Siswa dapat mengetahui perbedaan kecepatan aliran terhadap ketinggian maksimum
Siswa dapat mengetahui besaran-besaran pada materi gerak parabola
B. Dasar Teori
A. Pengertian Gerak Parabola
Gerak parabola adalah perpindahan benda yang bersamaan melakukan gerak lurus
beraturan beraturan (GLB) pada arah horizontal dan gerak lurus berubah beraturan (GLBB)pada
arah vertikal.111 Berdasarkan pendapat Galileo dalam tulisan berjudul Discources on Two New
Sciences mengemukakan ide yang menganalisis gerak parabola. Menurut Galileo menyatakan
bahwa gerak parabola sebagai gerak lurus beraturan pada sumbu horizontal (sumbu-X) dan
gerak lurus berubah beraturan pada vertikal (sumbu-Y) secara terpisah. Setiap geak tidak saling
mempengaruhi tetapi gabungannya dari kedua gerak tersebut berupa gerak parabola. 112 Lintasan
yang dibentuk berupa pabola, arah tembakan membentuk sudut terhadap arah horizontal yang
disebut sebagai sudut elevasi (𝜶). Jika kecepatan awal peluru ditembakan adalah vo maka
kecepatan dalam arah sumbu-X adalah vx dan kecepatan dalam sumbu-Y adalah vy.
Gambar 1 Gerak Parabola
https://istanamengajar.files.wordpress.com
Pada sumbu-X berlaku persamaan gerak lurus beraturan (GLB)
Kecepatan benda dalam arah sumbu-x pada setiap titik.
𝒗𝒙 = 𝒗𝟎 𝐜𝐨𝐬 𝜶
Keterangan
𝑣𝑥 = kecepatan pada sumbu 𝑥 (m/s)
111
Marthen Kanginan, SeribuPena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Erlangga,
2008), h.5
112
Marthen Kanginan, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI , (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 40
155
𝑣0 = kecepatan awal (m/s)
Perpindahan jarak benda dalam arah sumbu-x pada setiap titik.
𝑿 = 𝒗𝟎 𝐜𝐨𝐬 𝜶 𝒕
Keterangan
𝑋 = jarak pada sumbu 𝑥 (𝑚) 𝑡 = waktu (𝑠)
Pada sumbu Y berlaku persamaan gerak lurus berubah beraturan (GLBB)
Kecepatan benda dalam arah sumbu-y pada setiap titik.
𝒗 = 𝒗𝟎 + 𝒂𝒕
𝒗𝒚 = 𝒗𝟎 𝐬𝐢𝐧 𝜶 − 𝒈𝒕
Keterangan
𝑣𝑦 = kecepatan pada sumbu 𝑦 (𝑚⁄𝑠)
𝑣0 = kecepatan awal (𝑚⁄𝑠)
𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚⁄𝑠 2 )
𝑡 = waktu (𝑠)
Perpindahan ketinggian benda dalam arah sumbu-y pada setiap titik.
𝟏
𝑿 = 𝒗𝟎 𝒕 + 𝒂𝒕𝟐
𝟐
𝟏
𝒚 = 𝒗𝟎 𝐬𝐢𝐧 𝜶 𝒕 − 𝒈𝒕𝟐
𝟐
Keterangan
𝑣0 = kecepatan awal (𝑚⁄𝑠)
𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚⁄𝑠 2 )
𝑡 = waktu (𝑠)
y = ketinggian benda (m)
Benda pada saat tinggi tertinggi (titik C)
Benda ketika mencapai tinggi maksimum kecepatan pada arah vertikal sama dengan nol, vy
= 0.
Waktu titik tertinggi
𝒕𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 =
𝒗𝟎 𝐬𝐢𝐧 𝜶
𝒈
Keterangan
tC maks = waktu benda pada saat titik terringgi (pada titik C) (s)
𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s)
𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2)
𝛼 = sudut elevasi
156
Tinggi maksimum
𝒚𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 =
𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧𝟐 𝜶
𝟐𝒈
Keterangan
𝒚𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = benda berada pada titik tertinggi (pada titik C) (m)
𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s)
𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2)
𝛼 = sudut elevasi
Jarak benda pada titik tertinggi
𝒙𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 =
𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧 𝟐𝜶
𝟐𝒈
atau 𝒙𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 =
𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧 𝜶 𝒄𝒐𝒔 𝜶
Keterangan
𝒙𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = jarak benda berada pada titik tertinggi (titik C) (m)
𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s)
𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2)
𝛼 = sudut elevasi
Jarak Terjauh pada sumbu-X (titik E) xE maks
𝒙𝑬 𝒎𝒂𝒌𝒔 =
𝒗𝟎 𝟐 𝒔𝒊𝒏 𝟐𝜶
𝒈
2 sin 𝛼 cos 𝛼 = sin 2𝛼 , 𝑚𝑎𝑘𝑎
𝒙𝑬 𝒎𝒂𝒌𝒔 =
𝟐 𝒗𝟎 𝟐 𝒔𝒊𝒏 𝜶 𝒄𝒐𝒔 𝜶
𝒈
Keterangan
𝑥𝐸 𝑚𝑎𝑘𝑠 = jarak jangkauan terjauh dari benda (m)
𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s)
𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2)
𝛼 = sudut elevasi
𝒈
157
C. Alat dan Bahan
Gambar 2 Rangkaian Alat Peraga Gerak Parabola
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
A.
Tabel 1 Alat dan
Bahan
Jumlah
Alat dan Bahan
Sirkulator Pompa Air
Tempat penampungan air
Selang air
Corong air
Busur
Benang
Nozzle
Mata nozzle
Rel lintasan
Kertas bergaris
Layar
Lampu
Penggaris
Air
1
1
Secukupnya
1
1
Secukupnya
1
4
1
1
1
1
1
Secukupnya
Pertanyaan Pendahuluan
Pada kegiatan ini siswa diharapkan memiliki pengetahuan dasar konsep dari besaran-besaran fisis
di gerak parabola.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan pendahuluan berikut
1.
Andi ingin memukul bola golf kedalam lubang pada jarak x dan sudut elevasi yang berbeda
yaitu 30o, 45o, dan 75o seperti pada gambar jika pukulan pemain golf memiliki kecepatan
awal yang sama.
Pasangan titik mana bola golf memiliki ketinggian dan jarak jangkauan terjauh bola
berdasarkan masing-masing sudut tersebut !
(Titik A, B dan C merupakan titik tertinggi bola sedangkan titik P,Q, dan R merupakan titik
jangkauan terjauh bola)
158
Gambar 3 Pemukul Bola Golf
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
2.
erhatikan gambar di bawah ini
x
Gambar 4 Pemain bola menendang pinalti
Andri sedang berlatih menendang pinalti untuk mempersiapkan final kejuaraan antar
sekolah. Andri menendang dengan cara melambungkan bola dengan sudut 45 o dan bola
dapat masuk ke gawang.
Apa yang akan terjadi apabila Andri menendang bola dengan sudut elevasi 15o dan 60o ?
(jika tedangan dilakukan dengan kecepatan sama)
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
............................................................................................................................................. ..
B.
Hipotetsis
Tuliskan kesimpulan sementara sebelum melakukan percobaan mengenai percobaan yang akan
dilakukan berdasarkan pertanyaan di atas.
a.
Hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
159
b.
Hubungan antara sudut elevasi terhadap ketinggian
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
c.
Hubungan antara jarak jangkauan terhadap ketinggian
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
d.
Hubungan antara kecepatan awal terhadap jarak jangkauan terjauh
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
................................................................................................................................................
C.
Prosedur dan Data
Percobaan
Berdasarkan jawaban hipotesis diatas untuk membuktikan jawaban tersebut anda dapat
melakukan percobaan berikut.
Percobaan I
1.
2.
3.
4.
5.
Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan.
Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu.
Sesuaikan sudut nozzle sejajar dengan jarum pada sudut 0o.
Siapkan stopwatch dalam keadaan 0 untuk menentukan waktu aliran air.
Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat
penampungan menuju ke nozzle.
6. Letakkan gelas ukur dan tentukan volume awal dan akhir.
7. Mulai hidupkan stopwatch pada saat air mulai mengalir dari nozzle dan matikan
stopwatch saat volume air mengisi gelas ukur sampai pada volume pada titik akhir yang
ditentukan.
8. Catat waktu pada stopwach saat setelah aliran air sampai volume fluida berkurang sesuai
dengan volume yang ditentukan.
9. Hitung kecepatan awal menggunakan rumus di bawah ini:
𝑉
𝑣0 =
𝑡𝐴
v0 = kecepatan awal (m/s)
V = volume (m3)
t = waktu (s)
A = Luas Penampang (m2)
Tabel 2 Menentukan kecepatan awal aliran fluida
No
Lubang
1
2
3
4
A
B
C
D
Diameter
M
Luas Penampang
(A)
m2
Volume Fluida
Awal
Akhir
m3
m3
Waktu
s
160
Percobaan II
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan berdasarkan tabel 1
2. Susunlah rangkaian alat peraga sesuai dengan gambar 2
3. Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu
4. Tentukan sudut elevasi berdasarkan pada tabel 4
5. Tentukan diameter lubang yang digunakan berdasarkan pada tabel 2.
6. Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat
penampungan menuju ke nozzle.
7. Tentukan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang terbentuk pada sudut
elevasi tersebut dengan cara menggeserkan corong.
8. Catat hasil pengukuran jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang
diperoleh pada tabel 4
Diameter lubang
= ............................ m
Kecepatan awal aliran fluida
= ............................. m/s
Tabel 3 Hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan terjauh
dan ketinggian maksimum (Diameter kecil)
No
1
2
3
4
5
Sudut elevasi
𝛼
20
30
45
60
75
Jarak terjauh
(m)
Ketinggian maksimum
(m)
Percobaan III
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Siapkan alat dan bahan yang digunakan berdasarkan tabel 1.
Susunlah rangkaian alat peraga sesuai dengan gambar 2.
Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu.
Tentukan sudut elevasi berdasarkan pada tabel 5.
Gunakan 2 diameter mata nozzle dengan ukuran diameter paling besar dan kecil pada
setiap sudut.
Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat
penampungan menuju ke nozzle.
Tentukan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang terbentuk pada sudut
elevasi dan diameter lubang tertentu tersebut dengan cara menggeser corong
Catat hasil pengukuran jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum pada tabel 5.
Tabel 4 Hubungan Kecepatan Aliran Air Terhadap Jarak Dan Ketinggian
Maksimum (Diameter Besar)
No
1
2
3
4
5
Sudut elevasi
𝛼
20
30
45
60
75
Jarak terjauh
(m)
Ketinggian maksimum
(m)
161
Setelah melakukan percobaan, jawablah pertanyaan dibawah ini berdasarkan data
percobaan di atas.
1. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, bagaimana hubungan antara jarak
jangkauan terjauh dengan sudut elevasi yang dihasilkan?
Jawaban
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
2. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, bagaimana hubungan antara sudut elevasi
dengan ketinggian maksimum ?
Jawaban
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
3. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, bagaimana hubungan antara kecepatan
awal dengan jarak jangkauan terjauh yang dihasilkan
Jawaban
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
Gambarkan grafik gerak parabola pada sumbu x dan sumbu y yang terbentuk
berdasarkan percobaan yang dilakukan hubungan antara sudut elevasi (x) dan jarak
terjauh (y) pada percobaan I dan II
y
y
Percobaan dengan diameter kecil
x
x
Percobaan dengan diameter besar
4.
Gambarkan grafik gerak parabola pada sumbu x dan sumbu y yang terbentuk
berdasarkan percobaan yang dilakukan hubungan antara jarak terjauh (x) dan tinggi
maksimum (y) pada percobaan I dan II
162
y
x
Percobaan dengan diameter kecil
y
Percobaan dengan diameter kecil
5.
6.
D.
x
Bagaimana kesesuaian hipotesis awal kalian sebelum melakukan percobaan
dibandingkan dengan hasil percobaan? Tuliskan hipotesis yang sesuai dengan teori !
Jawaban
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.....................................................................
Tuliskan kesimpulan hasil data yang diperoleh dibandingkan terhadap teori yang sesuai !
Jawaban
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.....................................................................
Kesimpulan
Berikan kesimpulan berdasarkan data dan percobaan
..................................................................................................................................... .........................
..............................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................
............................................................
163
Lampiran 13 Surat Izin Penelitian
164
165
Lampiran 14 Surat Keterangan Penelitian
166
167
LEMBAR UJI REFERENSI
Nama
: Adam Wicaksana
NIM
: 1112016300043
Jurusan
: Pendidikan IPA – Pendidikan Fisika
Judul Skripsi : Pengembangan Alat Peraga Pada Materi Gerak Parabola Untuk
Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa
Paraf
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Footnote
BAB I
Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
(Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006) hlm. 157.
Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan
Menengah (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,
2016), h.145
Conny Semiawan,dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar,(Jakarta: Gramedia,
1990), cet. 6. H.10
Conny Semiawan,dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar,(Jakarta: Gramedia,
1990), cet. 6. H. 9
Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan
Nomor 69 Tahun 2013, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2013) h.2
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di sekolah SMA Negeri di
Jakarta
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer
Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan
Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science
Education, 2015, h.16
B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal
Pendidikan Fisika Indonesia, 2010 h.132
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer
Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan
Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science
Education, 2015, h.16
Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran,
(Jakarta: Erlangga,2011), h. 79
Pembimbing
I
168
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Depok: PT Rajagrafindo
Persada, 2014), cet. 17, h. 1
Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 3
Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 6
Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 7
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Depok: PT Rajagrafindo
Persada, 2014), cet. 17, h.9
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2013) Cet.11, h. 3
Dharis Dwi Apriliyanti,dkk., “Pengembangan Alat Peraga Ipa
Terpadu Pada Tema Pemisahan Campuran Untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains”, journal.unnes.ac.id, 2015, h. 836
N.W. S. Darmayant,dkk., Pengaruh Model Collaborative
Teamwork Learning Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan
Pemahaman Konsep Ditinjau Dari Gaya Kognitif, e-Journal
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, vol. 3,
2013
BAB II
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rajawali Press,
2002), h. 3
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rajawali Press,
2002), h. 3
Arief S. Sadiman. Dkk.,Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2014), Cet. 17, h. 6
Arief S. Sadiman. Dkk.,Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2014), Cet. 17, h. 7
Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 6
Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 7
Th. Widyanti dan Sigit Tri Guntoro, Penggunaan Alat Peraga
dalam Pembelajaran Matematika di SMP, (Yogyakarta:
Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan
Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika,
2010), h. 7
Arief S. Sadiman. Dkk., Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2014), Cet. 17, h. 17-18
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo., 2013),h. 6-7
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo., 2013), h. 2
169
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 11
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo., 2013), h. 3
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo., 2013), h. 3
Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran
Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 31-32
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta:
Gramedia, 1986). h.17.
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta:
Gramedia, 1986). h.15
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta:
Gramedia, 1986). h.15
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta:
Gramedia, 1986). h.18
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta:
Gramedia, 1986). h.18
Grace Teo Yew Mei, Promotion Science Process Skills and The
Relevance of Science Through Science Alive Programme, dalam
Proceeding of Redesigning Pedagogy : Culture, Knowledge and
Understanding Conference, Singapore May 2007, h.2.
Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang :
Universitas Negeri Malang, 2005), h.78.
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga
Penelitian UIN Jakarta,2009). H.54.
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta:
Gramedia, 1986). h.18
Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang :
Universitas Negeri Malang, 2005), h.78.
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga
Penelitian UIN Jakarta, 2009). H.51-52
Davut Hotaman, 2008, The Examination Of The Basic Skill Levels
Of The Students In Accordance With The Perceptions Of Teacher,
Parents And Students, Yildiz Technical University, Faculty of
Education, Istanbul, Turkey.
Fethiye Karsli, 2009, Developing worksheet Based On Science
Process Skills: Factors Affecting Solubility, Giresun University,
170
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
Education Faculty, Department of Elementary Science Education,
Giresun/Turkey.
Marthen Kanginan, Seribu Pena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI,
(Jakarta: Erlangga, 2008), h.5
Marthen Kanginan, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta:
Erlangga, 2013), h. 40
Ganijati Aby Sarojo, Mekanika, (Jakarta: Salemba Teknika, 2012),
h. 45
Agus Taranggono dan Hari Subagya, Sains FISIKA 2 SMA/MA
Kelas XI, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.27
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New
York: Routledge, 2006)
Christina Keing, et al., “Summative eAssessments: Piloting,
acceptability, Practicality and effectiveness, Proceeding of the 19th
annual World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia
& Telecommunications, (Canada:2007), p. 488
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New
York: Routledge, 2006), p.5
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New
York: Routledge, 2006) h. 154
Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga
Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada
Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal
Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 8994
Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat
Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem
Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal
Sainsmat, 2015, h.
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer
Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan
Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science
Education 2015, h.
B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal
Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010) h.128-132
Winda Eky Susanti, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Uji
Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub
Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi Pendidikan
Fisika (JIPF), 2015, h. 105
Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman
Siswa Kelas X Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika
Indonesia 5 (2009) 1-7, h.7
Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio
visual aids in teaching learning process at uvniversity level”
Procedia - Social and Behavioral Sciences 28 2011, p. 78 – 81
171
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
Nalliveettil George Mathew & Ali Odeh Hammoud Alidmat, “A
Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL Classroom:
Implications for Effective Instruction”, International Journal of
Higher Education (2013) Vol. 2, No. 2
BAB III
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New
York: Routledge, 2006) h. 152.
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New
York: Routledge, 2006) h. 154
Martin Tessmer, Planning and Conducting Formative Evaluations,
(London: Routledge, 1993), p.15
Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian,
Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo
Persada, 2014, h. 182
Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian,
Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo
Persada, 2014, h. 183
Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian,
Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo
Persada, 2014, h. 184
Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian,
Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo
Persada, 2014, h. 185
Uus Ruswandi dan Badrudin, Media Pembelajaran, (Bandung:
Insan Mandiri, 2008) h. 141
Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New
York: Routledge, 2006) h. 154
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D,
(Bandung: ALFABETA, 2013), h. 85
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D,
(Bandung: ALFABETA, 2013), h. 102
Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran
Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 270
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D,
(Bandung: ALFABETA, 2013), h. 142
Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran
Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 194
Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran
Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 200
Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran
Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 193
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D,
(Bandung: ALFABETA, 2013), h. 136
Iwan Permana Suwarna, Pengembangan Instrumen Ujian
Komprehensif Mahasiswa Melalui Computer Based Test Pada
172
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
Program Studi Pendidikan Fisika, Laporan Penelitian
Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan, Jakarta, 2016, h. 50.
Dendy Siti Kamilah, Pengembangan Three-Tier Test Digital Untuk
Mengidentifikasi Miskonsepsi Pada Konsep Fluida Statis, Skripsi
UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta, 2016, h. 45
BAB IV
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Silabus Mata Pelajaran
Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Fisika,
Jakarta: 2016
Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga
Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada
Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal
Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 93
Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga
Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada
Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal
Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 154
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajaran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.82
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan
Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan
Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 12
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung
(Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan
Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan
Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h.13
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.83
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.82
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.41
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 81
Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan
Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan
Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 14
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung
(Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 104
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 82
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 85
173
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 82
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung
(Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 100
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 41
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung
(Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 100
Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio
visual aids in teaching learning process at uvniversity level”,
Procedia - Social and Behavioral Sciences 28, 2011, pp. 78 – 81
Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses,
Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, Jakarta:
Gramedia, 1986. H. 15
D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer
Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan
Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science
Education, 2015, h. 20
Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan
Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan
Fisika Indonesia 5, 2009, h. 5
Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga
Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada
Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal
Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h.
93
Winda Eky Susanti, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Uji
Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada
Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi
Pendidikan Fisika (JIPF), 2015. H. 14
Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat
Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem
Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal
Sainsmat, 2015, h.11.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung
(Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5
Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran,
(Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung
(Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5
174
Jakarta, 13 Juni 2017
Yang mengesahkan,
Pembimbing
Iwan Permana Suwarna, M.Pd.
NIP. 19780504 200901 1 013
175
Biodata Penulis
Adam Wicaksana
Email : [email protected]
Facebook: Adam Wicaksana
Instagram: @adamwicaksana16
Blog: wicaksana12.wordpress.com
Lahir di Ngawi Jawa Timur 16 April 1994. Putra pertama
dari dua bersaudara pasangan Sukimo, S.Sos dan Dyah
Puspawati. Bertempat tinggal di Jalan Filodenrum I no,
18A Rt. 001/010 Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan
Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Riwayat Pendidikan. Jenjang pendidikan yang telah ditempuh penulis diantaranya
SDN 01 Pagi Sukabumi Utara lulus tahun 2006, SMPN 229 Jakarta lulus tahun
2009, dan SMAN 57 Jakarta lulus tahun 2012. Setelah lulus sekolah penulis
melanjutkan untuk kuliah pada tahun tahun 2012 di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta , Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Pendidikan Fisika.
Pengalaman Organisasi. Pengalaman organisasi selama berkuliah di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta antara lain: (1) Anggota divisi seni dan olahraga di Gabungan
Mahasiswa Muslim Fisika (GAMMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; (2) Wakil
Ketua Gabungan Mahasiswa Muslim Fisika (GAMMA) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Periode 2014-2015; (3) Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Progam Studi
Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2015; (8) Ketua
Assisten Labotarorium Mahasiswa Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta periode 2015-2016.
Download