PENGEMBANGAN ALAT PERAGA PADA MATERI GERAK PARABOLA UNTUK MELATIH KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Disusun Oleh: ADAM WICAKSANA 11120106300043 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2017 LEMBAR PENGESAHAN iii LEMBAR PENGESAHAN iv SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI v ABSTRAK Adam Wicaksana (1112016300043), Pengembangan Alat Peraga Pada Materi Gerak Parabola Untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa. Skripsi Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017 Media alat peraga gerak parabola yang belum tersedia di sekolah menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan lintasan pergerakan gerak benda dan membedakan jarak terjauh pada sudut yang berbeda. hal ini menyebabkan rendahnya keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga fisika SMA materi gerak parabola yang layak, efektif dan praktis dapat digunakan untuk melatih keterampilan proses sains siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah development research. Tahap penelitian mengikuti Jan Van De Akker terdiri dari empat tahap yaitu: penelitian pendahuluan, tahap prototipe, evaluasi sumatif, serta refleksi sistematik dan dokumentasi. Evaluasi formatif mengikuti Martin Tessmer. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI SMAN 87 Jakarta dan siswa kelas XI SMAN 29 Jakarta. Sampel diambil secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan: tes, angket, wawancara, lembar validasi dan lembar observasi. Instrumen tes diberikan kepada 78 siswa, angket penilaian diberikan kepada: 10 ahli, 78 siswa (evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil, uji lapangan dan evaluasi sumatif) dan empat guru. Hasil analisis validasi ahli menunjukkan bahwa alat peraga yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran berdasarkan penilaian dari ahli materi maupun ahli media pembelajaran dengan persentase 95% dan 73%. Hasil penelitian menunjukkan: alat peraga sangat efektif dalam membantu proses pembelajaran. 92% siswa mendapatkan nilai di atas KKM pada keseluruhan evaluasi. Keterampilan proses sains siswa menunjukkan peningkatan, keterampilan mengamati, mengelompokkan data sedangkan terendah pada keterampilan meramalkan (memprediksi) dan berhipotesis. Media dinyatakan praktis (oleh siswa, total nilai 481) dan sangat praktis (oleh guru, total nilai 72) alat dapat digunakan di dalam kelas maupun di luar. Kata kunci: Alat peraga, Media Pembelajaran, Keterampilan Proses Sains, development research, layak, efektif dan praktis vi ABSTRACT Adam Wicaksana (1112016300043), Development of props on Parabolic moion to train students science process skill. The Undergraduate Thesis of Physics Education Program, Department of Natural Science Education. Faculty of Education and Teacher’s Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2017 The unavailability of parabolic motion media in school causes students to have difficulty in visualizing the motion of movement of objects and distinguishing the farthest distance at different angles. This leads to the low skills of students' science processes. This research aims to develop high school physics proponent parabolic motion materials that are valid, effective and practical can be used to train students' science process skills. The research method used is development research. The research phase following Jan Van De Akker consists of four stages: preliminary research, prototype stage, summative evaluation, as well as systematic reflection and documentation. Formative evaluation follows Martin Tessmer. Subjects in this study are students of class X and XI SMAN 87 Jakarta and students of class XI SMAN 29 Jakarta. Samples were taken by purposive sampling. Instruments used: test, questionnaire, interview, validation sheet and observation sheet. The test instrument was given to 78 students, an assessment questionnaire was given to: 10 experts, 78 students (one-on-one evaluation, small group evaluation, field test and sumative evaluation) and four teachers. The result of expert validation analysis shows that the developed tool is suitable for use as a learning media based on the assessment of the material experts and the learning media experts with the percentage of 95% and 73%. The results showed: visual aids are very effective in helping the learning process. 92% of students score above the KKM on the overall evaluation. Skills of students' science processes show improvement, observation skills, grouping data while lowest on predicting and hypothesizing skills. The media were declared practical (by the students, total score 481) and very practical (by teacher, total score 72) tools could be used inside the classroom as well as outside. Keywords: learning media; Props, Processing Skills Science, valid, effective and practice. vii KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, taufik dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Pada Materi Gerak Parabola Untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa”. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabatnya dan kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman. Aamiin ya Rabbal’alamiin. Apresiasi dan terimakasih disampaikan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Secara khusus, apresiasi dan terima kasih tersebut disampaikan kepada: 1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak Dwi Nanto, Ph.D selaku ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Bapak Iwan Permana Suwarna, M.Pd, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan banyak waktu dan pikirannya untuk membimbing dan memberikan saran kepada peneliti selama proses pembuatan skripsi ini. 5. Ibu Diah Mulhayatiah, M.Pd selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjadi mahasiswa pendidikan fisika. 6. Bapak Taufiq Al Farizi, M.Pfis selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjadi mahasiswa pendidikan fisika. 7. Seluruh dosen, staf, dan karyawan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya jurusan pendidikan IPA, Program Studi Pendidikan Fisika yang telah memberikan ilmu pengetahuan, pemahaman, dan pelayanan selama proses perkuliahan. viii 8. Ibu Hj. Patra Patiah, M.Biomed selaku Kepala SMAN 87 Jakarta, Ibu Drs. Carol Titaley selaku Kepala SMAN 29 Jakarta yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di SMA tersebut, serta Bapak Drs. Sugiyanto, Ibu Siti Khomariah, S.Pd, Ibu Hj. Miro’ah, S.Pd, Ibu Ita Yunita, S.Pd dan Ibu Nur Asiah Rangkuty, S.Pd selaku guru bidang studi fisika yang telah memberikan dukungan dan saran kepada penulis selama penelitian berlangsung. 9. Keluarga tercinta, Bapak Sukimo, S.Sos, Ibu Dyah Puspawati dan Adik Rahma Puspita Ningrum yang selalu memberikan doa, kasih sayang, motivasi dan dukungan yang luar biasa kepada penulis. 10. Keluarga Pendidikan Fisika angkatan 2012, yang senantiasa menjadi keluarga yang selalu memberikan dukungan dan motivasi agar penulis dapat menyelesaikan studi ini. 11. Om Ari yang telah membantu penulis dalam pembuatan alat peraga 12. Kania Gita Leksana yang selalu menjadi tempat berbagi informasi apapun, menjadi tempat berbagi cerita, memberikan doa, waktu, pikiran, tenaga, saran dan dukungan kepada penulis. 13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini Semoga segala bentuk bantuan, dorongan, saran dan bimbingan yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah SWT. Amin. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin. Jakarta, 12 Juni 2017 Penulis ix DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iv SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ..................................................... v ABSTRAK ............................................................................................................ vi KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii DAFTAR ISI .......................................................................................................... x DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii BAB I ...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 A. Latar Belakang ............................................................................................. 1 B. Identifikasi Masalah ..................................................................................... 6 C. Pembatasan Masalah .................................................................................... 6 D. Rumusan Masalah ........................................................................................ 7 E. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 7 F. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 7 G. Spesifikasi Produk yang Dihasilkan ......................................................... 8 BAB II .................................................................................................................... 9 KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR ............................................... 9 A. Deskripsi Teoritik......................................................................................... 9 1. Alat Peraga Sebagai Media Pembelajaran ................................................ 9 2. Keterampilan Proses Sains (KPS) .......................................................... 14 3. Kajian Materi Gerak Parabola ................................................................ 23 B. Teori Tentang Pengembangan Media Alat Peraga..................................... 27 C. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................................... 28 D. Kerangka Berpikir ...................................................................................... 32 E. Pertanyaan Penelitian ................................................................................. 33 x BAB III ................................................................................................................. 34 METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................ 34 A. Model Pengembangan ................................................................................ 34 B. Prosedur Pengembangan ............................................................................ 34 C. Desain Uji Coba ......................................................................................... 40 D. Subjek Uji Coba ......................................................................................... 41 E. Instrumen Penelitian................................................................................... 43 F. Uji Coba Produk......................................................................................... 62 G. Teknik Analisis Data .............................................................................. 62 BAB IV ................................................................................................................. 73 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................. 73 A. Hasil Penelitian Pengembangan ................................................................. 73 1. Hasil Penelitian Pendahuluan (Preliminary research) ........................... 73 2. Hasil Prototyping Stage.......................................................................... 86 3. Evaluasi Sumatif................................................................................... 124 4. Hasil Refleksi Sistematik dan Dokumentasi (Systematic Reflection and Documentation) ........................................................................................... 133 B. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................................... 140 BAB V................................................................................................................. 154 KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 154 A. Kesimpulan .............................................................................................. 154 B. Saran ......................................................................................................... 155 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 157 LAMPIRAN ....................................................................................................... 154 xi DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Rancangan Gambar Alat Peraga Gerak Parabola ............................. 13 Gambar 2.2 Lintasan Gerak Parabola .................................................................. 23 Gambar 2.2 Lintasan Gerak Parabola .................................................................. 23 Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................ 32 Gambar 3.1 Tahapan Penelitian Pengembangan Alat Peraga 35 Gambar 3.2 Alur Perancangan Alat Peraga ......................................................... 37 Gambar 3.3 Diagram tahap evaluasi formatif ................................................. 38 Gambar 3.4 Garis Kesimpulan ........................................................................ 64 Gambar 4.1 Grafik Hasil Angket Siswa pada Penelitian Pendahuluan 86 Gambar 4.2 Sketsa Rancangan Alat Peraga .................................................... 87 Gambar 4.3 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media Pembelajaran .............................................................................. 94 Gambar 4.4 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satusatu .............................................................................................. 98 Gambar 4.5 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Satu-satu ........................... 99 Gambar 4. 6 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Satu-satu............................................................. 101 Gambar 4.7 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Materi pada Evaluasi Satu-satu ...................................... 102 Gambar 4.8 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Kualitas Teknis pada Evaluasi Satu-satu ....................... 103 Gambar 4.9 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Satu-satu .............. 104 Gambar 4.10 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Implementasi pada Evaluasi Satu-satu........................... 105 Gambar 4.11 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Kelompok Kecil ........................................................................ 108 xii Gambar 4.12 Grafik Penilaian Hasil Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Kelompok Kecil ............. 109 Gambar 4. 13 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Kelompok Kecil ......................................................... 111 Gambar 4. 14 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat oleh siswa Peraga Aspek Materi pada Evaluasi Kelompok Kecil .......................... 112 Gambar 4. 15 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Kelompok Kecil ... 113 Gambar 4. 16 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Implementasi pada Evaluasi Kelompok Kecil ............... 114 Gambar 4. 17 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan ................................................................................................... 117 Gambar 4.18 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Uji Lapangan................................. 118 Gambar 4. 19 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Uji Lapangan...................................................... 120 Gambar 4. 20 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Kemampuan untuk dapat Dilaksanakan (Implementability) pada Evaluasi Uji Lapangan...................................................... 121 Gambar 4. 21 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Kesinambungan (Sustainability) pada Evaluasi Uji Lapangan ................................................................................... 122 Gambar 4. 22 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Penerimaan dan Kemenarikan pada Evaluasi Uji Lapangan ................................................................................................... 123 Gambar 4. 23 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Sumatif ...................................................................................... 126 Gambar 4. 24 Grafik Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Sumatif ................................................ 127 Gambar 4. 25 Grafik Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif ............................................................... 129 xiii Gambar 4. 26 Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif ............................................................... 131 Gambar 4. 27 Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif ............................................................... 133 Gambar 4. 28 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Satusatu ............................................................................................ 134 Gambar 4. 29 Kegiatan Post-test pada Evaluasi Satu-satu .............................. 134 Gambar 4. 30 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Kelompok Kecil ........................................................................ 136 Gambar 4. 31 Kegiatan Siswa saat sedang Berdiskusi Mengerjakan LKS pada Evaluasi Small Group ............................................................... 136 Gambar 4. 32 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Small Group .......... 137 Gambar 4. 33 Proses Penggunaan Alat Peraga Oleh Siswa pada Evaluasi Uji Lapangan ................................................................................... 137 Gambar 4. 34 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Uji Lapangan ................................................................................................... 138 Gambar 4. 35 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Uji Lapangan ........ 138 Gambar 4. 36 Proses Penggunaan Alat Peraga Oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif ................................................................................................... 139 Gambar 4. 37 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Sumatif.................. 140 xiv DAFTAR TABEL Tabel 3. 1 Tabel Subjek Uji Coba Pegembangan Alat Peraga Gerak Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa................................. 41 Tabel 3. 2 Tabel Instrumen Penelitian Pengebangan Alat Peraga Gerak Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa.................. 43 Tabel 3. 3 Pedoman Wawancara Pendahuluan Guru ................................... 44 Tabel 3. 4 Kisi-kisi Kualitas Instrumen ....................................................... 45 Tabel 3. 5 Kisi-kisi Angket Ahli Materi ...................................................... 48 Tabel 3. 6 Kisi-kisi Angket Ahli Materi Fisika ............................................ 50 Tabel 3. 7 Kisi-kisi Angket Penelitian Pendahuluan.................................... 51 Tabel 3. 8 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Satu-Satu (One-to-One Evaluation) .................................................................................. 52 Tabel 3. 9 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation) ...................................................................... 53 Tabel 3. 10 Kisi-Kisi Angket Uji Lapangan Siswa ........................................ 54 Tabel 3. 11 Kisi-kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif .............................. 55 Tabel 3. 12 Kisi-kisi Angket Uji Lapangan Guru .......................................... 56 Tabel 3. 13 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif Guru .................... 56 Tabel 3. 14 Kisi-kisi Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains Siswa .. 57 Tabel 3. 15 Kriteria Rating Scale ................................................................... 63 Tabel 4. 1 Hasil Studi Literatur (Analisis Jurnal dan Skripsi) 74 Tabel 4. 2 Hasil Wawancara Guru pada Penelitian Pendahuluan ................ 78 Tabel 4. 3 Hasil Rangkaian Alat Peraga ...................................................... 89 Tabel 4. 4 Hasil Penilaian Kelayakan Media Alat Peraga ........................... 93 Tabel 4. 5 Hasil Penilaian Kesesuaian Materi pada Alat Peraga ................. 95 Tabel 4. 6 Hasil Nilai Post test Siswa pada Evaluasi Satu-satu ................... 96 Tabel 4. 7 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satu-satu . 97 Tabel 4. 8 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Satu-satu ................................................................................................... 100 Tabel 4. 9 Hasil Nilai Post-test Siswa Evaluasi Kelompok Kecil .............. 106 xv Tabel 4. 10 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Kelompok Kecil ................................................................................................... 107 Tabel 4. 11 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga Evaluasi Kelompok Kecil ................................................................................................... 110 Tabel 4. 12 Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Uji Lapangan ................... 115 Tabel 4. 13 Hasil Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan ....................... 116 Tabel 4. 14 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Uji Lapangan ................................................................................... 119 Tabel 4. 15 Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Sumatif ............................ 124 Tabel 4. 16 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Sumatif .......... 125 Tabel 4. 17 Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif ....................................................................... 128 Tabel 4. 18 Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif ....................................................................... 130 Tabel 4. 19 Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif ....................................................................... 132 xvi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Instrumen dan Hasil Wawancara Guru Penelitian Pendahuluan154 Lampiran 2 Instrumen dan Hasil Angket Siswa pada Studi Pendahuluan ... 159 Lampiran 3 Instrumen dan Hasil validasi Ahli Media Pembelajaran ........... 162 Lampiran 4 Hasil Rekap Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media ................................................................................................... 154 Lampiran 5 Instrumen dan Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika ......... 154 Lampiran 6 Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika ................................. 159 Lampiran 7 Evaluasi Satu-satu ..................................................................... 154 Lampiran 8 Evaluasi Kelompok Kecil ......................................................... 156 Lampiran 9 Uji Lapangan ............................................................................. 166 Lampiran 10 Evaluasi Sumatif ....................................................................... 179 Lampiran 11 Hasil Validasi dan Instrumen Tes ............................................. 196 Lampiran 12 Instrumen LKS .......................................................................... 154 Lampiran 13 Surat Izin Penelitian .................................................................. 163 Lampiran 14 Surat Keterangan Penelitian ...................................................... 165 xvii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisika merupakan salah satu cabang dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Fisika berkaitan dengan cara mempelajari fenomena alam secara sistematis, sehingga fisika tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep, dan prinsip saja melainkan juga berkaitan dengan suatu proses penemuan. Pembelajaran fisika di sekolah diharapkan dapat menjadi sarana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Proses pembelajaran fisika di sekolah menekankan pada pembelajaran pengalaman secara langsung untuk dapat mengembangkan kompetensi siswa dalam memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran fisika diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.1 Kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran fisika adalah menjadi sarana siswa untuk dapat mengembangkan sikap rasa ingin tahu, jujur, tanggungjawab, logis, kritis, analitis, dan kreatif melalui pembelajaran fisika.2 Berdasarkan kompetensi tersebut pembelajaran fisika di sekolah seharusnya dirancang oleh guru untuk merangsang rasa ingin tahu siswa dalam belajar, sehingga menjadi motivasi siswa untuk dapat lebih tertarik dalam mempelajari fisika.3 Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dalam mempelajari fisika dapat dilakukan dengan membuat pelajaran lebih menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan, serta mengesankan.4 Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan permasalahan berdasarkan fenomena alam sehari-hari yang dialami 1 Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006) hlm. 157 2 Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016), h.145 3 Conny Semiawan,dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1990), cet. 6. H.10 4 Ibid., h.9 1 2 siswa yang berkaitan dengan konsep fisika. Siswa dituntut untuk dapat berpikir menggali pengetahuan dalam memecahkan masalah dengan berkerja sama melalui diskusi, melakukan percobaan dan lain-lain. Pembelajaran fisika yang seperti itu tidak lagi hanya berpusat pada guru (pola pembelajaran satu arah interaksi antara guru dan siswa), melainkan pembelajaran terpusat pada siswa. Pemberian pengalaman belajar terencana seperti ini dapat menerapkan konsep yang telah dipelajari di sekolah ke masyarakat serta menjadikan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar. Pola pembelajaran tersebut menjadi interaktif (interaksi antara guru, siswa, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/media belajar lainnya). Hal ini sesuai dengan konsep pembelajaran pada kurikulum 2013.5 Kenyataannya di sekolah-sekolah SMA di Jakarta yang telah menerapkan kurikulum 2013, tetapi sebagian besar guru tidak menerapkan pendekatan pembelajaran saintifik. Guru menyampaikan materi masih menggunakan pembelajaran yang terpusat pada guru. Guru lebih banyak menggunakan metode pembelajaran ceramah, memberikan contoh latihan soal, memberikan tugas latihan soal untuk dikerjakan oleh siswa, dan memberikan video atau animasi. Guru jarang melakukan praktik menggunakan media pembelajaran, hal ini terjadi pada materi gerak parabola.6 Kompetensi dasar yang seharusnya dilakukan guru dalam mengajarkan materi gerak parabola ke siswa yaitu: kemampuan siswa dalam menganalisis gerak parabola dengan mengunakan vektor, berikut makna fisisnya dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan siswa dalam mempresentasikan data hasil percobaan gerak parabola.7 Kompetensi tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh guru apabila di sekolah belum memiliki alat peraga yang membantu siswa dalam melakukan percobaan. Belum tersedianya alat peraga tersebut menyebabkan guru dalam menjelaskan materi gerak parabola masih terpusat pada guru, sehingga tidak memberikan kesempatan siswa untuk menemukan sendiri informasi tersebut. Hal ini 5 Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013) h.2 6 Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di sekolah SMA Negeri di Jakarta. 7 Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Mata Pelajaran Fisika (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016), h. 13 3 menyebabkan siswa cenderung lebih pasif dalam menerima pelajaran dan mengakibatkan siswa mengalami kesulitan memahami materi. Kesulitan belajar siswa dalam memahami materi diantaranya yaitu: siswa tidak dapat memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak saat diberikan sudut awal sebelum benda bergerak secara langsung, dan siswa tidak dapat memvisualisasikan perbedaan jarak terjauh benda saat lintasan diberikan sudut yang berbeda secara langsung. Kesulitan siswa dalam memahami materi tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya ketercapaian ketuntasan belajar siswa. Pengajaran untuk mengatasi masalah tersebut yaitu: pembelajaran menggunakan media animasi/video, dan melakukan percobaan/eksperimen menggunakan media alat peraga.8 Pembelajaran menggunakan animasi/video dapat efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut namun, pembelajaran menggunakan media animasi memiliki kekurangan diantaranya yaitu: siswa hanya dapat melihat pergerakan perpindahan benda tersebut hanya melalui layar komputer yang telah diprogram sehingga menyebabkan siswa tidak dapat merasakan secara langsung media yang digunakan; selain itu media animasi melalui komputer menghasilkan visual animasi yang terlalu sempurna, yang pada kenyataannya belum tentu dapat tercapai. Sedangkan media alat peraga menghasilkan data yang berbeda-beda dan berubah-ubah yang disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi. Hal tersebut justru dapat melatih keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa yang berkembang melalui proses pengamatan menggunakan alat peraga.9 Kegiatan praktikum menggunakan alat peraga dapat membuat siswa menemukan fakta-fakta nyata hasil dari interaksi dengan alat laboratorium sehingga dapat memahami suatu konsep menjadi lebih baik.10 Pembelajaran dengan melalukan praktikum di laboratorium menggunakan alat peraga dapat membuat siswa lebih aktif untuk menemukan dan menyajikan 8 D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa ”, Journal of Innovative Science Education, 2015, h.16 9 B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 2010 h.132 10 D.R. Prasetyo dkk, op. cit., h.16 4 pembelajaran yang dapat membuat siswa dapat menggali dan mencari sendiri pengetahuannya. Siswa yang aktif mencari, menemukan dan menggali sendiri pengetahuannya akan memperoleh pengalaman belajar secara langsung. Pembelajaran tersebut akan dapat meningkatkan motivasi keingintahuan siswa terhadap materi yang akan diajarkan. Sehingga pembelajaran fisika dapat benarbenar dirasakan oleh siswa dan tidak lagi hanya sebatas teori yang dihafal oleh siswa. Hal ini sesuai dengan konsep belajar penemuan dari Bruner.11 Guru memerlukan media dalam menyampaikan pelajaran kepada siswa. Siswa dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan percobaan yang disajikan oleh guru. Kegiatan percobaan tersebut dapat dilaksanakan dengan bantuan media. Penggunaan media pembelajaran dapat secara langsung dirasakan dan dilihat oleh siswa untuk merangsang siswa belajar.12 Penggunaan media pembelajaran memberikan kontribusi positif dalam proses pembalajaran dan dapat memberikan hasil yang optimal bagi pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajarinya.13 Pemilihan media berpengaruh terhadap hasil pemahaman belajar siswa dan membantu merangsang siswa untuk belajar. Siswa tidak perlu lagi berpikir untuk membayangkan materi yang disampaikan melainkan melihat secara langsung melalui media alat peraga yang disajikan. Media dapat mempermudah guru dalam menyampaikan informasi materi kepada siswa.14 Media pembelajaran dalam bentuk fisik dapat memberikan informasi secara langsung kepada siswa. Penggunaan media alat peraga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang merangsang pikiran, perasaan dan perhatian kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar.15 Media alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep dari materi yang bersifat abstrak 11 Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga,2011), h. 79 12 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2014), cet. 17, h. 1 13 Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 3 14 Ibid,. h. 6 15 Ibid., h. 7 5 agar dapat dijangkau dengan pikiran yang sederhana dan dapat dilihat, dipandang dan dirasakan.16 Pengunaan alat peraga dapat mempertinggi kualitan pembelajaran. Pembelajaran menggunakan media pembelajaran sangat diajurkan dalam pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran.17 Selain itu, alat peraga juga dapat membantu guru dalam menjelaskan secara fisis materi dan rumus-rumus pada materi fisika yang terdapat pada alat peraga tersebut. Menggunakan alat peraga diharapkan siswa dapat lebih memahami konsep materi dan diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil belajar siswa tidak hanya dapat dinilai dari penguasaan konsep (pengetahuan) namun dilihat juga dari ketrampilan proses pembelajarannya.18 Wirtha & Rapi menyatakan bahwa masih banyak siswa yang hanya menghafal konsep-konsep tanpa memahami konsep tersebut. Keberhasilan belajar dapat diukur melalui pemahaman konsep (produk sains) dan ketrampilan (keterampilan proses sains) yang akan mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.19 Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan di atas peneliti tertarik untuk mengusung judul penelitian Pengembangan Alat Peraga Pada Materi Gerak Parabola Untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa. Alat peraga yang akan dikembangkan diharapkan dapat membantu guru dalam memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak benda saat benda diberikan sudut awal sebelum benda bergerak kepada siswa, dan dapat memvisualisasikan perbedaan jarak terjauh benda saat lintasan diberikan sudut yang berbeda. Setelah menggunakan alat peraga tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 16 Azhar Arsyad, op. Cit, h. 9 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013) Cet.11, h. 3 18 Dharis Dwi Apriliyanti,dkk., “Pengembangan Alat Peraga Ipa Terpadu Pada Tema Pemisahan Campuran Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains”, journal.unnes.ac.id, 2015, h. 836 19 N.W. S. Darmayant,dkk., Pengaruh Model Collaborative Teamwork Learning Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Pemahaman Konsep Ditinjau Dari Gaya Kognitif, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, vol. 3, 2013 17 6 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah adalah sebagai berikut. 1. Pembelajaran di sekolah cenderung masih terpusat pada guru dalam menyampaikan materi di kelas, sedangkan siswa hanya memperhatikan penjelasan guru, mencatat penjelasan, dan jarang melakukan praktikum di laboratorium. 2. Belum tersedianya media alat peraga di sekolah menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak benda saat benda diberikan sudut sebelum bergerak. 3. Belum tersedianya media alat peraga di sekolah menyebabkan siswa tidak dapat memvisualisasikan gerak benda. 4. Pembelajaran menggunakan media animasi memiliki kekurangan diantaranya yaitu: siswa hanya dapat melihat pergerakan perpindahan benda melalui layar komputer yang telah diprogram sehingga menyebabkan siswa tidak dapat merasakan secara langsung media yang digunakan, selain itu media animasi dibuat oleh program komputer sehingga menghasilkan visual animasi yang sempurna 5. Rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya ketercapaian ketuntasan belajar siswa pada materi gerak parabola. C. Pembatasan Masalah Dari identifikasi masalah yang diuraikan di atas, maka penelitian ini dibatasi yaitu: Keterampilan proses sains yang digunakan dalam instrumen tes meliputi: keterampilan mengamati, mengelompokkan, memprediksi, menghipotesis, merencanakan percobaan, melaksanakan percobaan, menafsirkan, menerapkan konsep, dan mengkomunikasikan. 7 D. Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan dilatar belakang masalah, maka rumusan penelitian ini adalah, 1. Bagaimana kelayakan alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian? 2. Bagaimana efektivitas alat peraga yang dikembangkan dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa? 3. Bagaimana respon siswa dan guru terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga dalam penelitian? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui keefektivitas pembelajaran menggunakan alat peraga terhadap keterampilan proses sains siswa materi gerak parabola. 2. Untuk mengetahui kelayakan alat peraga terhadap keterampilan proses sains siswa materi gerak parabola. 3. Untuk mengetahui kepraktisan penggunaan alat peraga. F. Manfaat Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka manfaat dari penelitian adalah: 1. Penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam memvisualisasikan materi gerak parabola kepada siswa. 2. Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam mempelajari fisika khususnya materi gerak parabola. Agar siswa mudah memahami materi-materi fisika yang bersifat abstrak khususnya pada maetri gerak parabola 3. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan siswa disekolah tersebut. 8 G. Spesifikasi Produk yang Dihasilkan Spesifikasi yang diharapkan dalam penelitian ini adalah. 1. Alat peraga yang dikembangkan dapat membantu guru dalam menjelaskan materi gerak parabola. 2. Alat peraga yang dikembangkan dapat membantu guru memperlihatkan kepada siswa dari perbedaan jangkauan apabila diberikan sudut yang berbeda. 3. Alat peraga yang dikembangkan dapat membantu siswa menganalisis gerak parabola. BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR A. Deskripsi Teoritik 1. Alat Peraga Sebagai Media Pembelajaran a. Pengertian Alat Peraga Media menurut istilah berasal dari bahasa latin, yaitu medius yang secara harfiah yang berarti “tengah”, perantara atau pengantar. 20 Media dalam bahasa arab berarti tengah, perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology) dalam buku Azhar Arsyad menyatakan bahwa media memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyapaikan pesan atau informasi.21 Menurut Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Menurut Briggs berpendapat bahwa media segala alat fisik yang dalam menyajikan pesan serta dapat merangsang siswa untuk belajar.22 Dengan kata lain media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.23 Sedangkan pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar.24 Dapat disimpulkan media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi dari pengajar dan bahan ajar kepada siswa sebagai penerima pesan untuk dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa untuk belajar. 20 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rajawali Press, 2002), h. 3 Ibid 22 Arief S. Sadiman. Dkk., Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), Cet. 21 17, h. 6 23 Ibid., h. 7 Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 6 24 9 10 Satu di antara media pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatiandan minat siswa untuk belajar adalah alat peraga atau yang terkadang disebut sebagai alat bantu pembelajaran.25 Alat peraga merupakan alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Karena alat peraga berfungsi untuk membantu dan meragakan sesuatu dalam proses pembelajaran.26 b. Fungsi Alat Peraga sebagai Media Pembelajaran Secara umum menurut Arief Sadiman menyatakan media mempunyai fungsi diantaranya yaitu:27 1) Memperjelas penyajian pesan agar tifak terlalu bersifat verbalistis. 2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera seperti a) Objek yang terlalu besar, bisa digantikan dengan gambar, film bingkai, atau model. b) Objek yang terlalu kecil, dibantu dengan proyektor mikro, film, atau gambar c) Gerak yang terlalu cepatatauoun terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography. d) Kejadian atau peristiwa yang telah terjadi masa lalu bisa ditampilkan dengan rekaman film, video, foto e) Objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan model, diagram, f) Konsep yang terlalu luas dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar dan lain-lain. 3) Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif peserta didik. a) Menimbulkan kegairahan belajar b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung anatara peserta didik dengan sumber belajar.. c) Memungkinkan peserta didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. 4) Memberikan perangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama 25 Ibid., h. 7 Th. Widyanti dan Sigit Tri Guntoro, Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika di SMP, (Yogyakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika, 2010), h. 7 27 Arief S. Sadiman. Dkk, op. cit., h. 17-18 26 11 Fungsi media dalam proses pengajaran adalah.28 1) Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. 2) Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh siswa dalam proses belajarnya. Paling tidak guru menempatkan media sebagai sumber pertanyaan atau stimulus siswa. 3) Sumber belajar bagi siswa. artinya media dapat berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa baik individual maupun kelompok. Hal tersebut dapat membatu guru dalam kegiatan mengajar. c. Manfaat Alat Peraga sebagai Media Pengajaran Manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa menurut Sudjana dan Rivai yaitu29 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran yang baik. 3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran. 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemontrasikan dan lain-lain. Manfaat media pembelajaran menurut Encyclopedia of Education Research dalam buku Rostina sebagai berkut:30 1) 2) 3) 4) Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir. Memperbesar perhatian siswa. Membuat pelajaran lebih menetap dan tidak lupa dilupakan. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan para siswa. 5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. 28 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo., 2013),h. 6-7 29 Ibid., h.2 30 Rostina, op, cit., h.11 12 6) Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa. 7) Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembanganya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak. Manfaat penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir kongkret menuju berpikir abstrak, dimulai dari berpikir yang sederhana menuju berpikir kompleks. Penggunaan media pengajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan dan halhal yang kompleks dapat disederhanakan.31 Pembelajaran menggunakan media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. hal tersebut berdasarkan penelitian yang terdapat pada buku Sudjana dan Rivai terhadap penggunaan media pengajaran dalam proses belajar-mengajar menghasilkan kesimpulan “bahwa proses pembelejaran dan hasil belajar siswa menunjukkan perbedaan yang berarti antara pembelajaran tanpa menggunakan media dan pembelajaran menggunakan media. Oleh sebab itu penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas hasil pengajaran.”32 Kegunaan media pembelajaran memiliki manfaat salah satunya dapat meningkatkan hasil belajar siswa namun, kebanyakan guru masih enggan menggunakan media dalam mengajar. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh Thomas Wibowo dalam buku Rostina yaitu faktor-faktor yang menyebabkan guru tidak menggunakan media pembelajaran dalam mengajar sebagai berikut.33 1) Menggunakan media itu repot. 2) Media itu canggih dan mahal. 3) Tidak bisa menggunakan atau takut menggunakan media. 31 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, op. cit., h.3 Ibid 33 Rostina, op. cit., h.31-32 32 13 4) Media itu hiburan (membuat siswa main-main, dan tidak serius), sedangkan belajar itu serius. 5) Tidak tersedianya media pembelajaran di sekolah. 6) Telalu kebiasaan menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan pembelajaran. 7) Kurangnya penghargaan dari atasan. d. Alat Peraga Gerak Parabola Alat peraga yang digunakan dalam penelitian merupakan alat peraga yang peneliti buat sendiri berdasarkan hasil analisis terhadap konsep-konsep materi gerak parabola. Alat peraga ini menggambarkan konsep-konsep dari gerak suatu benda yang membentuk lintasan gerak parabola dengan hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan terjauh dan titik tertinggi pada lintasan gerak parabola. Komponen utama yang digunakan pada alat peraga ini adalah air yang digunakan untuk menggambarkan kepada siswa lintasan gerak dari gerak parabola. Air yang digunakan sebagai penggambaran geraknya suatu benda apabila diberikan sudut elevasi yang berbeda-beda akan berpengaruh terhadap jarak jangkauan dan titik tertinggi dari gerak sehingga membentuk lintasan setengah lingkaran atau disebut lintasan parabola. Gambar 2. 1 Rancangan Gambar Alat Peraga Gerak Parabola 14 2. Keterampilan Proses Sains (KPS) a. Pengertian Keterampilan Proses Sains (KPS) Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk krativitas. Proses dapat didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah. Proses juga merupakan konsep besar yang dapat diuraikan menjadi komponen-komponen yang harus dikuasai seseorang apabila akan melakukan penelitian. Keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan-kemampuan mendasar yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuwan berhasil menemukan sesuatu yang baru.34 Keterampilan tersebut sesungguhnya telah ada dalam diri peserta didik maka tugas gurulah untuk mengembangkan keterampilan baik intelektual, sosial maupun fisik melalui kegiatan pembelajaran. Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual manual dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena dengan melakukan keterampilan proses peserta didik menggunakan pikirannya. Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mungkin peserta didik melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat. Keterampilan sosial dimaksudkan bahwa mereka berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan keterampilan proses misalnya mendiskusikan hasil pengamatan. Keterampilan proses diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mendasar dalam peserta didik agar mampu menemukan perolehannya. Pembelajaran dilaksanakan melalui komunikasi timbal balik melalui tanya jawab, diskusi atau kerja kelompok. Peserta didik perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap 34 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.17. 15 suatu masalah,35 sehingga peserta didik terbiasa berpikir dan bertindak secara kreatif dalam menghadapi suatu masalah. Menurut Rustaman, keterampilan proses melibatkan keterampilanketerampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kohnitif atau intelektual dengan melakukan keterampilan proses peserta didik menggunakan pikirannya, keterampilan manual terlibat dalam penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat, keterampilan sosial dimaksudkan bahwa dengan keterampilan proses peserta didik berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Cara berpikir dalam sains, fisika misalnya, adalah keterampilan-keterampilan proses. Semiawan menyatakan bahwa keterampilan adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuankemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.36 Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan peserta didik mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.37 Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dapat diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, dan akhirnya akan terjadi akan terjadi interaksi antara konsep/prinsip/teori yang telah ditemukan atau dikembangkan, serta akan menimbulan sikap dan nilai yang diperlukan dalam penemuan ilmu pengetahuan. Pembelajaran dengan keterampilan proses merupakan suatu cara mengajar yang menitik beratkan pada pengembangan keterampilan-keterampilan perolehan yang pada gilirannya akan menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai.38 35 Ibid., h.15. Ibid. 37 Ibid., h.18. 38 Ibid. 36 16 b. Jenis-Jenis Keterampilan Proses Sains Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses yang dapat dikembangkan dalam diri peserta didik. Keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan terintegrasi (integrated skills). Menurut Yew Mei bahwa keterampilan dasar dalam keterampilan proses merupakan dasar dari keterampilan terintergrasi yang pada umumnya lebih kompleks dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu eksperimen.39 Dari kedua ungkapan di atas diperoleh bahwa keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yakni mengobservasi, menginterpretasi, mengklasifikasi, memprediksi, merencanakan percobaan, dan menerapkan konsep. Keterampilan proses terdiri atas sejumlah keterampilan yang satu sama lain sebenernya tak dapat dipisahkan, namaun ada penekanan khusus dalam masingmasing keterampilan proses tersebut.40 Keterampilan proses yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran IPA adalah sebagai berikut: 1) Melakukan pengamatan (observasi) Keterampilan ini berhubungan dengan penggunaan secara optimal dan proporsional seluruh alat indera untuk menggambarkan objek dan hubungan ruang waktu atau mengukur karakteristik fisik benda-benda yang diamati. Dalam pendidikan IPA, pengembangan keterampilan proses sains harus memungkinkan peserta didik dapat melakukan pengamatan dengan menggunakan seluruh panca inderanya. 2) Menafsirkan pengamatan (interpretasi) Interpretasi meliputi keterampilan mencatat hasil pengamatan dengan bentuk angka-angka, menghubung-hubungkan hasil pengamatan, menemukan pola keteraturan dari satu seri pengamatan hingga memperoleh kesimpilan. Sedangkan 39 Grace Teo Yew Mei, Promotion Science Process Skills and The Relevance of Science Through Science Alive Programme, dalam Proceeding of Redesigning Pedagogy : Culture, Knowledge and Understanding Conference, Singapore May 2007, h.2. 40 Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang : Universitas Negeri Malang, 2005), h.78. 17 inferensi adalah kesimpulan sementara terhadap data hasil observasi. Bahkan, merupakan penjelasan sederhana terhadap hasil observasi. 3) Mengelompokkan (klasifikasi) Dasar keterampilan mengklasifikasikan adalah kemampuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan antara berbagai objek yang diamati. Termasuk ke dalam jenis keterampilan ini adalah menggolong-golongkan, membandingkan, mengkontraskan, dan mengurutkan. 4) Meramalkan (prediksi) Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau pola data yang sudah ada. 5) Berkomunikasi Menginformasikan hasil pengamatan, hasil prediksi atau hasil percobaan kepada orang lain termasuk keterampilan berkomunikasi. Bentuk komunikasi ini bisa dalam bentuk lisan, tulisan, grafik, tabel, diagram atau gambar. Jenis komunikasi dapat berupa paparan sistematik (laporan) atau transformasi parsial. 6) Berhipotesis Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel atau mengajukan perkiraan penyebab sesuatu terjadi. Bila prediksi, inferensi dan interpretasi didasarkan pada data atau pola data dan kecenderungan dengan metode induktif, maka hipotesis didasarkan pada pemahaman suatu teori atau konsep dengan metode deduktif. 7) Merencanakan percobaan atau penyelidikan Keterampilan ini meliputi keterampilan menentukan alat dan bahan yang diperlukan untuk menguji atau menyelidiki sesuatu dalam lembar kerja peserta didik (LKS) tidak dicantumkan secara khusus alat dan bahan yang diperlukan. 8) Menerapkan konsep atau prinsip Keterampilan ini meliputi antara lain keterampilan menggunakan konsepkonsep yang telah dipahami untuk menjelaskan peristiwa baru, menerapkan konsep yang dikuasai pada situasi baru atau menerapkan rumus-rumus pada pemecahan soal-soal baru. 18 9) Mengajukan pertanyaan Keterampilan ini sebenarnya merupakan keterampilan mendasar yang harus dimiliki peserta didik sebelum mempelajari suatu masalah lebih lanjut. Keberanian peserta didik untuk bertanya, harus ditumbuhkan guru dalam setiap pembelajaran. 10) Keterampilan menyimpulkan Keterampilan-keterampilan proses yang dipaparkan di atas menjadi kurang begitu bermakna bagi hasil belajar peserta didik, terutama dalam hal penguasaan konsep, apabila tidak ditunjang dengan keterampilan menarik suatu generalisasi dari serangkai hasil kegiatan percobaan atau penyelidikkan, tetapi perlu diingat bahwa untuk peserta didik pada pendidikan dasar, kesimpilan yang dibuat harus dibimbing guru secara proporsional sesuai tingkat usia mereka hingga pada akhirnya menyimpilkan secara mandiri.41 Aspek-aspek keterampilan proses menurut Semiawan adalah: 1) Observasi atau pengamatan: observasi mencakup perhitungan, pengukuran, klasifikasi, maupun mencari hubungan antara ruang dan waktu. 2) Pembuatan hipotesis 3) Perencanaan penelitian/eksperimen. 4) Pengendalian variabel. 5) Interpretasi data. 6) Menyusun kesimpulan sementara (inferensi). 7) Meramalkan (prediksi). 8) Menerapkan (prediksi). 9) Mengkomunikasikan.42 Setiap kemampuan pada keterampilan proses sainsi memiliki indikator yang berbeda. Adapun indikator pada setia kemampuan keterampilan proses sains yang dapat dilihat pada tabel berikut ini: 41 Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta,2009), h.54. 42 Conny Semiawan, op.cit., Hal.18. 19 Tabel 2.1 Keterampilan Proses Sains dan Indikator43 No. 1. Kemampuan Observasi Keterampilan Menggunakan sebanyak mungkin indera Menggunakan fakta relevan 2. Klasifikasi Mencatat setiap pengamatan Mencari perbedaan/persamaan Mengontrasikan ciri-ciri Membandingkan Mencari dasar pengelompokkan Menghubungkan hasil pengamatan 3. Interprtasi Menghubungkan hasil pengamatan Menemukan pola dalam satu seri pengamatan Menyimpulkan 4. Prediksi Menggunakan pola/hasil pengamatan Mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati 5. 6. Mengajukan Bertanya apa, bagaimana, mengapa Pertanyaan Bertanya untuk meminta penjelasan Berhipotesis Mengetahui bahwa ada lebih dari satu kemungkinan penjelasan dari satu kejadian Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu diuji kebenarannya dengan memperoleh bukti 7. Merencanakan Menentukan alat/bahan yang digunakan Percobaan Menentukan variabel/faktor penentu Menentukan apa yang akan diukur, diamati, dan dicatat 8. Menggunakan Memakai alat/bahan Alat/Bahan 43 Nuryani Rustaman, op.cit. 20 No. Kemampuan Keterampilan Mengetahui alasan mengapa menggunakan alat/bahan Mengetahui bagaimana menggunakan alat/bahan Menerapkan Konsep Menerapkan konsep pada situasi baru 9. Menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi 10. Berkomunikasi Memberikan data empiris hasil percobaan dengan tabel/grafik/diagram Menyampaikan laporan sistematis Menjelaskan hasil percobaan Membaca grafik Mendiskusikan hasil kegiatan 11. c. Eksperimentasi Kelebihan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Keterampilan Proses Sains Zulfiani dkk menjelaskan beberapa alasan keterampilan proses sains diperlukan dalam pendidikan dasar dan menengah ialah: 1. Memiliki manfaat dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 2. Memberi bekal peserta didik untuk membentuk konsep sendiri dan cara bagaimana mempelajari sesuatu. 3. Membantu peserta didik mengembangkan dirinya sendiri. 4. Sangat membantu peserta didik yang masih berada pada taraf perkembangan berpikir kongkrit. 5. Mengembangkan kreativitas peserta didik.44 44 Zulfiani, dkk., op.cit., h.51-52. 21 d. Kekurangan dalam Pelaksanaan Pembelajaran dengan Keterampilan Proses Sains Alasan kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan keterampilan proses sains yang sering dikemukakan oleh guru pada umumnya adalah: 1. Bahan pengajaran yang terlalu padat sehingga tidak sempat untuk mengajarkan dengan menggunakan keterampilan proses tersebut. 2. Alat-alat untuk melakukan kegiatan sains tidak ada atau tidak memadai. 3. Guru sendiri kurang memahami dengan baik apa artinya keterampilan proses yang dimaksud dan bagaimana melakukannya. 4. Soal-soal latihan, seperti Ujian Akhir Semester (UAS) atau Ujian Akhir Nasional (UAN) hampir tidak pernah memunculkan soal-soal yang mengukur keterampilan proses. e. Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Fisika Fisika dan pembelajaran fisika tidak hanya sekedar pengetahuan yang bersifat ilmiah saja melainakn terdapat dimensi-dimensi ilmiah penting yang menjadi bagian fisika. Dimensi dalam fisika dan pembelajaran fisika tersebut dibedakan menjadi tiga dimensi. Dimensi pertama, adalah muatan sains (content of science) yang berisi berbagai fakta, konsep, hukum, dan teori-teori. Dimensi inilah yang menjadi objek kajian ilmiah manusia. Dimensi kedua, sains adalah proses dalam melakukan aktivitas ilmiah dan sikap ilmiah dari aktivitas sains. Proses dalam melakukan aaktivitas-aktivitas yang terkait dengan sains biasa disebut dengan keterampilan proses sains (Science Process Skills). Keterampilan proses inilah yang digunakan setiap ilmuwan ketika mengerjakan aktivitas-aktivitas sains, keterampilan ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, karena kita menemukan persoalan-persoalan keseharian dan kita harus mencari jawabannya. Jadi, mengajarkan keterampilan yang nantinya akan mereka gunakan dalam kehidupan keseharian mereka. Dimensi ketiga dari sains merupakan dimensi yang terfokus pada karakteristik sikap dan watak ilmiah. Dimensi ini meliputi keingintahuan seseorang 22 dan besarnya daya imajinasi seseorang, juga antusiasme yang tinggi untuk mengajukan pertanyaan dan memecahkan permasalahan. Sikap lain yang juga harus dimiliki seorang ilmuwan adalah sikap menghargai terhadap metode-metode dan nilai-nilai di dalam sains. Metode-metode sains yang dimaksud di sini meliputi usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menggunakan bukti-bukti, kemauan untuk mengakui pentingnya mengecek ulang data yang diperoleh, dan memahami bahwa pengetahuan ilmiah dan teori-teori berubah sepanjang waktu selama informasi-informasi yang lebih banyak dan lebih baik diperoleh. Keterampilan proses sains peserta didik perlu dikembangkan dalam pembelajaran IPA khusunya fisika. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, dengan mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan proses sains dapat mengembangkan tujuh kemampuan dasar peserta didik, yaitu kemampuan berpikir kreatif, kemampuan berpikir pengamatan/penemuan, kritis, kemampuan kemampuan memecahkan dalam masalah, melakukan kemampuan menggunakan panca indera dengan efektif, kemampuan dalam membangun relasi yang baik dengan teman, dan kemampuan berkomunikasi.45 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Lembar Kegiatan Peserta didik (LKS) pembuatan teropong bintang sederhana untuk mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fethiya Karsli, secara ilmiah mendidik peserta didik agar menjadi lebih kreatif bisa dengan cara meningkatkan keterampilan proses sainsnya dalam pembelajaran sehari-hari. Guru memiliki peran penting untuk melaksanakan pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan proses sains melalui aktivitas belajar.46 Sehingga penggunaan LKS pembuatan teropong bintang sederhana dalam pembelajaran yang mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik perlu 45 Davut Hotaman, 2008, The Examination Of The Basic Skill Levels Of The Students In Accordance With The Perceptions Of Teacher, Parents And Students, Yildiz Technical University, Faculty of Education, Istanbul, Turkey. 46 Fethiye Karsli, 2009, Developing worksheet Based On Science Process Skills: Factors Affecting Solubility, Giresun University, Education Faculty, Department of Elementary Science Education, Giresun/Turkey. 23 dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA yang menuntut peserta didik untuk dapat menjadi lebih aktif dan kreatif. 3. Kajian Materi Gerak Parabola Gerak parabola adalah resultan perpindahan suatu benda yang serentak melakukan gerak lurus beraturan pada arah horizontal dan gerak lurus berubah beraturan pada arah vertikal. 47. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Galileo dalam tulisan berjudul Discources on Two New Sciences mengemukakan ide yang berguna dalam menganalisis gerak parabola. Menurut Galileo menyatakan bahwa gerak parabola sebagai gerak lurus beraturan pada sumbu horizontal (sumbu-X) dan gerak lurus berubah beraturan pada vertikal (sumbu-Y) secara terpisah. Setiap gerak tidak saling mempengaruhi tetapi gabungannya dari kedua gerak tersebut berupa gerak parabola.48 Lintasan gerak parabola dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi karena gerak tidakvertikal ke atas.49 Persamaan Posisi dan Kecepatan pada Gerak Parabola Gambar 2. 2 Lintasan Gerak Parabola Sumber : https://istanamengajar.files.wordpress.com/2013/08/c.jpg Gambar 2. 3 Lintasan Gerak Parabola 47 Sumber : https://istanamengajar.files.wordpress.com/2013/08/c.jpg Marthen Kanginan, Seribu Pena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Erlangga, 2008), h.5 48 49 Marthen Kanginan, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI , (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 40 Ganijati Aby Sarojo, Mekanika, (Jakarta: Salemba Teknika, 2012), h. 45 24 Gerak parabola dapat dianalisis dengan meninjau gerak lurus beraturan pada sumbu-X dan gerak lurus berubah beraturan pada sumbu-Y secara terpisah. Pada sumbu-Y dipengaruhi oleh percepatan gravitasi (g) pada gerak jatuh bebas. Lintasan yang dibentuk berupa pabola, arah tembakan membentuk sudut terhadap arah horizontal yang disebut sebagai sudut elevasi. Jika kecepatan awal peluru ditembakan adalah vo maka kecepatan dalam arah sumbu-X adalah vx dan kecepatan dalam sumbu-Y adalah vy. Sehingga diperoleh kecepatan dalam arah X. 𝑣𝑥 = 𝑣0 cos 𝛼 (2.1) Keterangan 𝑣𝑥 = kecepatan pada sumbu 𝑥 𝑣0 = kecepatan awal Perpindahan dalam arah sumbu X 𝑋 = 𝑣0 cos 𝛼 𝑡 (2.2) Keterangan: 𝑋 = jarak pada sumbu 𝑥 (𝑚) 𝑡 = waktu (𝑠) Pada sumbu Y berlaku persamaan gerak lurus berubah beraturan, yaitu 1 𝑣 = 𝑣0 + 𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑋 = 𝑣0 𝑡 + 2 𝑎𝑡 2 (2.3) Percepatan a = -g (berarah ke bawah. Persamaan gerak menurut smbu y memenuhi persamaan 𝑣𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 − 𝑔𝑡 1 (2.4) 𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 𝑡 − 2 𝑔𝑡 2 (2.5) Keterangan 𝑣𝑦 = kecepatan pada sumbu 𝑦 (𝑚⁄𝑠) 25 𝑣0 = kecepatan awal (𝑚⁄𝑠) 𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚⁄𝑠 2 ) 𝑡 = waktu (𝑠) Tinggi Maksimum dan Jarak Terjauh Menentukan tinggi maksimum dan jarak terjauh yang dapat dicapai benda yang bergerak dengan lintasan parabola ditentukan waktu mencapai titik tertinggi dan jarak terjauh a. Waktu untuk mencapai tinggi maksimum Ketika mencapai tinggi maksimum kecepatan pada arah vertikal sama dengan nol, vy = 0. 𝑣𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 − 𝑔𝑡 (2.6) 0 = 𝑣0 sin 𝛼 − 𝑔𝑡 (2.7) 𝑡ℎ 𝑚𝑎𝑥 = 𝑣0 sin 𝛼 (2.8) 𝑔 Keterangan 𝒕𝒉 𝒎𝒂𝒙 = waktu saat benda pada titik maksimum (s) b. Tinggi maksimum (ymax) Titik maksimum yang dapat dicapai benda dapa dihitung dari titik awal lemparan dan dengan mensubtitusikan persamaan waktu untuk mencapai tinggi maksimum ke persamaan ketinggian 1 𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 𝑡 − 2 𝑔𝑡 2 (2.9) 𝑦 = 𝑣0 sin 𝛼 ( 𝑦= 𝑣0 sin 𝛼 𝑔 2𝑣0 2 sin2 𝛼 2𝑔 𝑣0 sin 𝛼 2 1 ) − 2𝑔( − 𝑔 𝑣0 2 sin2 𝛼 2𝑔 ) (2.10) (2.11) 26 𝒚𝒎𝒂𝒛 = 𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧𝟐 𝜶 𝟐𝒈 (2.12) Keterangan 𝒚𝒎𝒂𝒛 = tinggi benda saat maksimum (m) c. Jarak Terjauh pada sumbu-X (xmax) Dengan menssubtitusikan waktu terjauh ke dalam persamaan lintasan pada sumbu X, diperoleh jarak terjauh sebagai berikut.50 𝑋 = 𝑣0 cos 𝛼 𝑡 (2,13) 𝑋 = 𝑣0 cos 𝛼 2 ( 𝑥= 𝑥= 𝑣0 sin 𝛼 𝑔 ) (2.14) 2𝑣0 2 sin 𝛼 cos 𝛼 𝑔 𝑣0 2 (2 sin 𝛼 cos 𝛼) 𝑔 (2.15) (2.16) 2 sin 𝛼 cos 𝛼 = sin 2𝛼 , 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑥= 𝑣0 2 (sin 2𝛼) 𝑔 (2.17) Keterangan 𝑥 = jarak jangkauan terjauh dari benda (m) 50 Agus Taranggono dan Hari Subagya, Sains FISIKA 2 SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.27 27 B. Teori Tentang Pengembangan Media Alat Peraga Penelitian pengembangan merupakan penelitian yang tersusun secara sistematis dari mendesain, mengembangkan, mengevaluasi program, proses dan produk.51 Pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan produk yang dapat memecahkan masalah. Produk yang dikembangkan pada penelitian ini adalah media pembelajaran alat peraga materi gerak parabola. Media alat peraga yang dibuat harus memenuhi tiga pertanyaan penelitian, yaitu: a. Kelayakan : Apakah media pembelajaran dikatakan layak oleh ahli? b. Kepraktisan : apakah administrasi dan implementasi media AR lancar dan bebas hambatan? c. Keefektifan : apakah media AR menjadi media yang efektif bagi guru untuk mengukur kemampuan siswa yang hendak di ukur?52 Adapun karakteristik dari penelitian pengembangan adalah sebagai berikut: a. Interventionist : penelitian bertujuan untuk merancang suatu intervensi dalam dunia nyata b. Iterative : penelitian menggabungkan pendekatan siklikal (daur) yang terdiri dari perancangan, evaluasi, dan revisi c. Process oriented : model kotak hitam pada input-output diabaikan, dan lebih difokuskan pada pemahaman dan peningkatan intervensi d. Theory oriented : rancangan dibangun berdasarkan pada preposisi teoritis kemudian dilakukan uji lapangan untuk memberi konstribusi pada teori.53 Pengembangan ini menggunakan tahapan dari penelitian pengembangan Jan Van De Akker menggunakan model development study. Tahapan penelitian pengembangan yang digunakan sebagai berikut: a. Preliminary research : analisis konteks dan masalah untuk pengembangan landasan kerangka konseptual melalui review literatur b. Prototyping stage : merancang, petunjuk desain, mengoptimalkan prototype melalui daur rancangan, evaluasi formatif dan revisi 51 Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) Christina Keing, et al., “Summative eAssessments: Piloting, acceptability, Practicality and effectiveness, Proceeding of the 19th annual World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia & Telecommunications, (Canada:2007), pp. 488 53 Jan van den Akker, Ibid, p. 5 52 28 c. Summative evaluation: evaluasi terhadap efektifitas pelaksanaan dan penggunaan prototype. Systematic reflection and documentation: menggambarkan keseluruhan studi untuk mendukung analisis, kemudian melakukan spesifikasi prinsip desain yang mengartikulasikan hubungannya dengan kerangka berpikir yang telah ditetapkan.yang terdiri dari preeliminary research, prototyping stage, summative evaluation dan Systematic reflection and documentation.54 C. Hasil Penelitian yang Relevan Berikut ini adalah beberapa penelitian yang relevan terkait penelitian yang akan dilaksanakan oleh peniliti, diantaranya adalah: 1. Duwita Sekar Indah, Prabowo dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa” yang berkesimpulan bahwa alat peraga sederhana gerak parabola yang dikembangkan layak untuk dapat memotivasi siswa belajar fisika pokok bahasan gerak parabola dan menunjukkan peningkatan hasil belajar. 55 2. Husnul Inayah Saleh, Nurhayati B, Oslan Jumadi. dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” yang berkesimpulan bahwa penggunaan media alat peraga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa materi sistem peredaran darah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba.56 3. D.R. Prasetyo, N. Hindarto, Masturi dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa” yang berkesimpulan bahwa alat praktikum yang dikembangkan layak digunakan di dalam pembelajaran, (2) alat praktikum refraktometer efektif dalam 54 Jan van den Akker, Ibid, p. 154 Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 89-94 55 Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal Sainsmat, (2015) 56 29 meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. (3) alat praktikum refraktometer efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa.57 4. B. Hartati dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA” yang berkesimpulan bahwa penggunaan alat peraga mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan hasilnya berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik.58 5. Winda Eky Susanti, Prabowo dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” berkesimpulan bahwa alat peraga uji indeks bias zat cair yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran fisika pada sub materi pemantulan dan pembiasan, memberikan respon positif terhadap hasil belajar siswa dan siswa memberikan respon baik terhadap alat peraga yang dikembangkan. 59 6. Widayanto dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik” berkesimpulan bahwa Keterampilan proses dan pemahaman siswa kelas X SMA N 3 Sragen dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan Kit optik dalam pembelajaran pembiasan cahaya. Faktor penting dalam peningkatan keterampilan proses sains dan pemahaman adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan praktikum. Semakin tinggi keterlibatan siswa dalam kegiatan praktikum semakin tinggi pencapaian pemahaman dan ketrampilan proses sains siswa.60 7. Saima Rasul, Qadir Bukhsh, Shazia Batool dalam penelitian yang berjudul “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning 57 D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa ”, Journal of Innovative Science Education (2015). H. 22 58 B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010) h.128-132 59 Winda Eky Susanti, Prabowo,“Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 2015, h. 105 60 Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 1-7, h. 7 30 process at uvniversity level” berkesimpulan bahwa responden melihat bahwa alat bantu AV berperan penting dalam proses belajar mengajar, (ii) Alat bantu AV membuat mengajar proses pembelajaran yang efektif, (iii) Para responden melihat bahwa alat bantu AV memberikan pengetahuan secara mendalam dan rinci, (iv) itu membawa perubahan lingkungan ruang kelas, (v) dapat memotivasi untuk guru dan siswa dalam pembelajaran.61. 8. Melor Md. Yunus, Hadi Salehi, Dexter Sigan Anak John dalam penelitian yang berjudul “Using Visual Aids as a Motivational Tool in Enhancing Students’ Interest in Reading Literary Texts”, berkesimpuan bahwa Hasil yang dapat disajikan sebagai pedoman guru ketika menerapkan alat bantu visual dalam mengajar, karena mereka ingin siswa mereka untuk sepenuhnya berkonsentrasi pada pelajaran, dengan menyadari harapan dan kebutuhan dalam mengajar. Ketika para guru tahu bagaimana cara untuk dapat menarik perhatian siswa, guru dapat memberikan suasana yang ramah dan menarik bagi siswa untuk belajar. Hal ini akan mendorong siswa untuk tidak hanya belajar dengan mendengarkan dan menulis apa yang guru sampaikan, tetapi mereka akan menemukan inisiatif sendiri untuk membaca apa yang akan mereka pelajari dalam rangka meningkatkan pemahaman mereka sendiri terhadap pelajaran. Selanjutnya, pelaksanaan bantu visual dalam literatur mengajar kurang memakan waktu. Akibatnya, para guru akan memiliki lebih banyak waktu untuk membuat kegiatan kelas menyenangkan dan melakukan proses belajar mengajar yang efektif. 9. Nalliveettil George Mathew & Ali Odeh Hammoud Alidmat dalam peneliian yang berjudul “A Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL Classroom: Implications for Effective Instruction” berkesimpulan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan audio-visual sebagai metode pengajaran merangsang pemikiran dan meningkatkan lingkungan belajar di Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning process at uvniversity level” Procedia - Social and Behavioral Sciences 28, 2011, h. 78 – 81 61 31 kelas. Efektif menggunakan alat bantu audio-visual pengganti lingkungan belajar monoton.62 Nalliveettil George Mathew & Ali Odeh Hammoud Alidmat, “A Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL Classroom: Implications for Effective Instruction”, International Journal of Higher Education (2013) Vol. 2, No. 2 62 32 D. Kerangka Berpikir Kerangka berpikir dalam penelitian pengembangan yang dilakukan peneliti sebagai berikut Masalah Penelitian a. Hasil belajar fisika siswa cenderung rendah. b. Guru dalam pembelajaran cenderung masih mendominasi yaitu memberikan materi di kelas sedangkan siswa hanya memperhatikan penjelasan guru, mencatat penjelasan, dan jarang melakukan praktikum di laboratorium. c. Penggunaan media yang kurang tepat menyebabkan siswa cenderung bosan dan jenuh belajar di kelas d. Tidak terdapatnya alat peraga di sekolah untuk membantu guru menjelaskan materi Studi Pendahuluan Melakukan studi lapangan di beberapa sekolah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi sesuai dengan masalah penelitian yang terdapat pada studi literatur. Media Pembelajaran Alat Peraga Kelebihan Alat Peraga Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran yang baik Membuat desain dan alat peraga Menguji efektifitas Menguji kelayakan alat peraga yang dikembangkan dalam upaya meningkatkan hasi belajar Hasil Alat Peraga yang tervalidasi dan layak digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Gambar 2. 4 Kerangka Berpikir 33 E. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian teori pertanyaan penelitian dalam pengembangan ini adalah “Apakah produk pengembangan alat peraga dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, praktis, dan dapat diterima oleh guru maupun siswa?” BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Model Pengembangan Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Metode penelitian pengembangan memiliki dua model yaitu model validation study dan development study. Model validation study bertujuan untuk membuktikan teori-teori belajar, sedangkan development study bertujuan untuk memecahkan masalah pendidikan berdasarkan teori yang terkait.63 Berdasarkan teori tersebut peneliti menggunakan model penelitian development study yang bertujuan menghasilkan produk yang digunakan untuk memecahkan masalah di bidang pendidikan berdasarkan pada masalah yang berada di lapangan dan dalam pelaksanaannya melibatkan partisipan, peneliti, ahli, dan stakeholder.64 Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dari Van Den Akker. Tahapan/prosedur pengembangan yang dikembangan mengikuti tahapan dari Van Den Akker. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut Preliminary Research, Prototyping Stage, Summative Evaluation, systematic reflection and Documentation. B. Prosedur Pengembangan Prosedur penelitian pengembangan yang digunakan oleh peneliti dalam mengembangkan media alat peraga berdasarkan bagan berikut. 63 Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) h. 152. 64 Ibid., h. 154. 34 35 Tahapan Pengembangan Tahapan Penelitian Studi Pendahuluan Preliminary Research Studi Literatur Studi Lapangan Pembuatan Media Alat Peraga Evaluasi Formatif dan Revisi Prototyping Stage Penyempurnaan Media Alat Peraga Evaluasi Sumatif Summative Evaluation Systematic reflection and Documentation. Uji Efektifitas Uji Praktibilitas Refleksi Sistematik dan Dokumentasi Gambar 3. 1 Tahapan Penelitian Pengembangan Alat Peraga 36 a. Penelitian Pendahuluan (Prelimenary Research) Penelitian pendahuluan merupakan tahap awal sebelum melakukan penelitian. Pada tahap ini peneliti ingin mengetahui informasi dari proses pembelajaran fisika di sekolah yaitu dengan melakukan studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang: proses pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru di sekolah berdasarkan kurikulum 2013, efektifitas pembelajaran menggunakan alat peraga dalam meningkatnya kemampuan rasa ingin tahu siswa, dan melakukan pemilihan materi fisika yang belum terdapat alat peraga di sekolah. Hasil analisis permasalahan berdasarkan studi literatur disesuaikan dengan permasalahan yang terjadi sebenarnya di sekolah dengan melakukan studi lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan mewawancara kepada perwakilan guru fisika di sekolah dan memberikan angket kepada beberapa siswa kelas XII. Studi lapangan dilakukan di SMAN 87 Jakarta, SMAN 86 Jakarta dan SMAN 29 Jakarta dengan tujuan untuk mengetahui proses pembelajaran fisika yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi, kelengkapan sarana dan prasarana alat peraga yang dimiliki sekolah, dan hasil belajar siswa pelajaran fisika. b. Tahap Prototipe (Prototyping Stage) Hasil data yang diperoleh tentang permasalahan pembelajaran fisika berdasarkan hasil dari studi literatur dan studi lapangan, maka tahap selanjutnya yaitu tahap pembuatan prototipe yang digunakan untuk memecahkan permasalahan. Tahapan pembuatan prototipe alat peraga pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 37 Menganalisis konsep materi menentukan variabel yang diukur pada alat peraga Menentukan konsep materi Analisis variabel alat peraga Menelaah variabel Membuat gambar sketsa rancangan alat peraga Perancangan alat peraga berdasarkan sketsa Pemilihan material alat yang digunakan Perbaikan dan penyempurnaan alat peraga Alat peraga diteliti pada evaluasi sumatif Uji coba alat peraga pada evaluasi formatif Gambar 3. 2 Alur Perancangan Alat Peraga Evaluasi Formatif Alat peraga yang telah dibuat, maka tahap selanjutnya yaitu melakukan evaluasi formatif (formative evaluation) yang mengadopsi dari Martin Tessmer. Evaluasi formatif terdiri dari beberapa tahap yang terdapat pada gambar 3.3 yaitu uji ahli (expert review), evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan uji lapangan (field study).65 Evaluasi formatif adalah proses yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data tentang kelayakan dan efektivitas pembelajaran menggunakan 65 alat peraga. Data-data tersebut dimaksudkan untuk Martin Tessmer, Planning and Conducting Formative Evaluations, (London: Routledge, 1993), p.15 38 memperbaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar lebih efektif dan efisien.66 Expert Review Small Group Evaluation One-to-one Evaluation Field Test Martin Tessmer, 1993 Gambar 3. 3 Diagram tahap evaluasi formatif 1) Uji Ahli (Expert Review) Uji ahli (Expert Review) merupakan tahap pengujian produk kepada ahli untuk melakukan review atas kelebihan dan kekurangan alat. Pengelompokkan ahli reviewer kedalam beberapa kategori; Ahli materi merupakan orang yang telah memperoleh pengetahuan penuh tentang topik pembelajaran. Ahli media pembelajaran merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang media pembelajaran alat peraga. Ahli media diperlukan untuk mereview aspek-aspek yang terkait dengan rancangan alat untuk digunakan dalam pembelajaran, sedangkan ahli materi diperlukan untuk mereview kesesuaian alat peraga terhadap materi. 2) Evaluasi Satu-satu (One-to-one Evaluation) Evaluasi satu-satu merupakan evaluasi yang melibatkan dua atau lebih siswa yang dapat mewakili populasi target dari media yang dibuat untuk mereview hasil desain media pembelajaran alat peraga yang sedang dikembangkan. Kedua orang siswa yang dipilih hendaknya 66 Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2014, h. 182 39 satu siswa dari populasi target yang berkemampuan umumnya sedikit di bawah rata-rata dan satu siswa dipilih di atas rata-rata.67 3) Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation) Evaluasi kelompok kecil merupakan evaluasi yang dicobakan kepada 10-20 siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih dalam evaluasi hendaknya mencerminkan karakteristik populasi.68 4) Uji Lapangan (Field Study). Evaluasi lapangan adalah tahap terakhir dari evaluasi formatif yang dilakukan setelah melalui dua tahap evaluasi sebelumnya untuk mengetahui kekurangan media alat peraga yang akan digunakan untuk diuji coba. Tahap evaluasi lapangan diujicobakan kepada sekitar 30 siswa dengan berbagai karakteristik sesuai dengan populasi sasaran.69 c. Tahap Evaluasi Sumatif Evaluasi sumantif adalah proses pengumpulan data setelah media diperbaiki dan disempurnakan untuk menentukan media yang digunakan layak, efektif dan praktis untuk digunakan dalam situasi-situasi tertentu seperti yang diharapkan.70 Tahap evaluasi sumatif merupakan tahap evaluasi untuk menguji kefektifan dari prototipe yang akan digunakan dalam pembelajaran. Pada tahap ini alat peraga yang telah dikembangkan kemudian akan diuji cobakan kepada siswa dan dilanjutkan memberikan soal posttest. Setelah alat peraga selesai diuji cobakan siswa diminta untuk mengisi angket respon siswa terhadap pembelajaran dengan media alat peraga. Selain siswa, guru dimintakan pendapat tentang kefektifan dan kepraktisan belajar menggunakan media alat peraga melalui angket. Selanjutnya data angket respon siswa, hasil angket guru dan hasil posttest 67 Sadiman, op. cit., h,183 Ibid., h.184 69 Ibid., 185 70 Uus Ruswandi dan Badrudin, Media Pembelajaran, (Bandung: Insan Mandiri, 2008) h. 68 141 40 siswa akan diolah untuk menganalisis keefektifan dan kepraktisan dari pembelajaran menggunakan media alat peraga. d. Refleksi Sistematik dan Dokumentasi (Systematic reflection and documentation) Tahap refleksi sistematik dan dokumentasi merupakan tahap akhir dari prosedur pengembangan. Pada tahap ini peneliti menggambarkan seluruh hasil studi yang dilakukan untuk mendukung analisis, diikuti oleh spesifikasi prinsip-prinsip desain dan menghubungkan dengan kerangka konseptual.71 C. Desain Uji Coba Desain uji coba prototipe dilakukan pada tahap: evaluasi formatif (formatif evaluation) dan evaluasi sumatif (summative evaluation). Pada tahap formatif menggunakan acuan dari Martin Tessmer yang terdapat pada gambar 3.4 yaitu uji ahli (expert review), evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan uji lapangan (field study). Uji coba tahap formatif bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari media alat peraga yang digunakan agar dapat meningkatkan efektifitas dan daya tarik siswa dalam pembelajaran. Uji coba pertama dari media alat peraga yang dikembangkan yaitu tahap uji coba validitas oleh ahli media dan ahli materi fisika untuk mengetahui kelayakan media alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran berdasarkan materi. Uji coba selanjutnya yaitu tahap evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), tahap evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan tahap uji lapangan (field study). Uji coba tersebut bertujuan untuk mengetahui respon siswa dan guru tentang evektivitas, kemenarikan dan kemampuan media alat peraga untuk digunakan dalam mengetahui keterampilan proses sains siswa. Setelah mengetahui respon 71 Jan Van De Akker, et.al, op.cit, p. 154 41 siswa dan guru terhadap media alat peraga yang dikembangkan maka akan dilakukan perbaikan dan penyempurnaan akhir produk. Setelah media alat peraga diperbaiki dan disempurnakan pada tahap evaluasi formatif, maka media alat peraga dilakukan uji coba selanjutnya yaitu evaluasi sumatif. Tujuan evaluasi sumatif adalah untuk mengetahui media alat peraga yang dikembangkan benar-benar layak, efektif dan menarik untuk digunakan dalam pembelajaran. D. Subjek Uji Coba Subjek uji coba pada penelitian ini terdiri dari siswa dan guru di tiga SMA Negeri Jakarta Selatan yaitu: SMAN 87 Jakarta, SMAN 86 Jakarta dan SMAN 29 Jakarta. Alasan peneliti memilih sekolah karena ketiga sekolah tersebut telah menggunakan kurikulum 2013 edisi revisi 2016. Populasi yang digunakan adalah seluruh siswa SMA Negeri dari ketiga sekolah tersebut. Sampel yang digunakan pada penelitian menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.72 Sampel subjek uji coba yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. 1 Tabel Subjek Uji Coba Pegembangan Alat Peraga Gerak Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa Tahap Penelitian Pengembangan Penelitian Pendahuluan Subjek Uji Coba 1. SMAN 87 Jakarta: 10 (Prelimenary Research) siswa kelas XII dan 1 guru fisika 2. SMAN 29 Jakarta: 10 siswa kelas XII dan 1 guru fisika 72 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2013), h. 85 42 3. SMAN 86 Jakarta: 10 siswa kelas XII dan 1 guru fisika 1. 5 orang ahli media Uji validitas ahli (expert review) 2. 5 orang ahli materi 3 siswa kelas X SMAN 87 Evaluasi satusatu (one-to-one evaluation) Tahap Prototipe (Prototyping Stage) Evaluasi Formatif (Formative Evaluation) Jakarta. Terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 1 siswa berkemampuan sedang dan 1 siswa berkemampuan rendah 15 siswa kelas X SMAN 87 Evaluasi kelompok kecil (small group evaluation) Jakarta. Terdiri 5 siswa berkemampuan tinggi, 5 siswa berkemampuan sedang dan 5 siswa berkemampuan tinggi 1. 30 siswa kelas XI SMAN 87 Jakarta. Terdiri dari 10 siswa berkemampuan Uji lapangan (field study) tinggi, 10 siswa berkemampuan sedang dan 10 siswa berkemampuan rendah. 1. 30 siswa dari kelas XI di SMAN 29 Jakarta Evaluasi Sumatif (Summative Evaluation) 2. 4 guru fisika SMA dari SMAN 87 Jakarta dan SMAN 29 Jakarta 43 E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamanti.73 Instrumen yang digunakan dalam penelitian menggunakan instrumen non-tes dan tes yang bertujuan untuk mendapatkan informasi kevalidan, keefektifan, dan kepraktisan dari alat peraga yang dikembangkan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian pada setiap tahap sebagai berikut: Tabel 3. 2 Tabel Instrumen Penelitian Pengebangan Alat Peraga Gerak Parabola Terhadap Kemampuan Proses Sains Siswa Tahap Penelitian Pengembangan Penelitian Pendahuluan (Prelimenary Research) Instrumen Penelitian Wawancara Guru Instrumen Angket untuk Siswa Uji validitas ahli (expert Instrumen angket untuk ahli review) media dan ahli materi fisika Instrumen tes KPS untuk siswa Evaluasi satu-satu (one Instrumen angket untuk to-one evaluation) siswa Tahap Lembar observasi KPS Prototipe untuk siswa (Prototyping Instrumen tes KPS untuk Stage) siswa Evaluasi Evaluasi kelompok kecil Instrumen angket untuk Formatif (small group evaluation) siswa (Formative Lembar observasi KPS Evaluation) untuk siswa Instrumen tes KPS untuk siswa Uji lapangan (field Instrumen angket untuk study) siswa Lembar observasi KPS untuk siswa 73 Ibid., h. 102 44 Evaluasi Sumatif (Summative Evaluation) Instrumen tes KPS untuk siswa Instrumen angket untuk siswa Lembar observasi KPS untuk siswa Instrumen angket untuk guru 1. Pedoman Wawancara Pedoman wawancara yang digunakan adalah pedoman wawancara terstruktur. Pedoman wawancara struktur yaitu pedoman wawancara yang disusun terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tingal membubuhkan tanda check (√) pada nomer yang sesuai.74 Pedoman wawancara yang digunakan bertujuan untuk mendapatkan data awal dari guru mengenai pembelajaran fisika yang digunakan guru dalam mengajarkan materi gerak parabola dan ketersediaan media alat peraga gerak parabola di sekolah. Kisi-kisi pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 3. 3 Pedoman Wawancara Pendahuluan Guru No 1 2 3 4 5 74 Pertanyaan Apakah rata-rata hasil belajar fisika siswa sudah mencapai kriteria ketuntasan minimum. Metode apa yang sering digunakan oleh guru dalam mengajar fisika di kelas Apakah dalam mengajar fisika sering melibatkan siswa dalam menggali pengetahuannya sendiri seperti berdiskusi kelompok dalam memecahkan masalah, melakukan percobaan praktikum, atau memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan fenomena dala kehidupan sehari-hari Dalam mengajar fisika apakah sering melakukan praktikum di lab fisika 1. Apakah menggunakan bantuan media pembelajaran dalam menjelaskan materi fisika. 2. Media apa yang sering digunakan. Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 270 45 6 7 8 9 10 Apakah pernah menggunakan media alat peraga dalam membantu menjelaskan materi fisika. materi fisika apa yang menjelaskan dengan meida alat peraga? Bagaimana cara guru dalam menjelaskan materi gerak parabola kepada siswa. 1. Apakah guru menggunakan media dalam menjelaskan materi gerak parabola. 2. Media apa yang digunakan guru dalam menjelaskan materi gerak parabola tersebut. Apakah alat peraga di sekolah untuk siswa melakukan praktikum lengkap. Khususnya dalam mengajar materi gerak parabola? Apakah ada perbedaan dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan berbantuan media pembelajaran (alat peraga) atau dengan metode lain 2. Daftar Chek-list Daftar ceklis digunakan untuk mengetahui kualitas dan kevaliditasan instrumen tes yang akan digunakan dalam penelitian dan sebagai pedoman untuk perbaikan instrumen. Daftar ceklis diisi oleh dosen dan guru fisika di sekolah. Kisi-kisi daftar ceklis yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 3. 4 Kisi-kisi Kualitas Instrumen No A. 1. 2. 3. 4. B. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Aspek-aspek yang di telaah Materi Soal sesuai dengan aspek KPS Soal yang ditanyakan sesuai dengan indikator Pilihan jawaban homogen dan logis Hanya ada satu kunci jawaban Konstruksi Soal disusun berdasarkan pada aspek KPS Soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas. Rumusan soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban. Soal bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda. Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi. Panjang pilihan jawaban relatif sama. 46 13. Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya. 14. Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya. C. Bahasa 15. Kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia 16. Menggunakan bahasa yang komunikatif 17. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu 18. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian 3. Angket Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab.75 Angket merupakan kumpulan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ingin diketahui dari responden tersebut.76 Instrumen angket yang digunakan dalam penelitian diantaranya yaitu: a. Angket uji ahli (expert review) Angket uji ahli (expert review) digunakan untuk memvalidasi alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian layak digunakan tanpa revisi atau harus direvisi, dan alat peraga tidak layak digunakan. Angket uji ahli terdiri dari dua yaitu angket uji ahli media pembelajaran dan uji ahli materi pembelajaran fisika. Angket uji ahli media pembelajaran digunakan untuk memvalidasi aspek kelayakan media dari alat peraga yang akan dikembangkan. Sedangkan angket uji ahli pembelajaran fisika digunakan untuk memvalidasi kesesuaian isi dan konsep yang terdapat pada alat peraga terhadap teori fisika. Ahli dapat memberikan catatan sebagai masukan apabila ada yang harus diperbaiki dari alat peraga. Skala pengukuran angket uji ahli media menggunakan rating scale. Angket uji ahli media yang digunakan dalam penelitian ini adalah ratingscale (skala bertingkat) dengan 5 kategori penilaian dari yang tertinggi, yaitu: 4, 3, 2, 1, 0. 75 76 Sugiyono, op. cit., h. 142 Arikunto. op.cit., h.194 Sedangkan skala pengukuran angket uji ahli 47 pembelajaran fisika diolah menggunakan content validity ratio (CVR). Kisi-kisi angket ahli media dan ahli materi fisika yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: 48 Tabel 3. 5 Kisi-kisi Angket Ahli Materi No Aspek Penilaian Kelayakan Media Kriteria kesesuaian dengan bahan ajar Indikator Kesesuaian media alat peraga dengan konsep yang diajarkan jumlah 1 Kejelasan media alat peraga dalam membantu menjelaskan 1 No. Pertanyaan 2 3 konsep Kesesuaian media alat peraga dengan kompetensi siswa Ketahanan Alat Ketahanan alat peraga terhadap cuaca Alat mudah dalam perawatan 2 Alat peraga dibuat dalam bahan yang mudah ditemukan Keakuratan 3 4 5 3 6 Ketahanan komponenkomponen alat peraga yang 7 sesuai pada dudukan awalnya Ketepatan pemasangan setiap 3 komponen pada alat ukur Efisiensi Alat Ketepatan skala pengukuran 9 Ketelitian pengukuran 10 Alat peraga mudah untuk dirangkai Alat peraga mudah untuk 4 8 digunakan/dioperasikan Alat peraga mudah untuk dibawa 3 11 12 13 3 49 No Aspek Penilaian Kelayakan Media Keamanan bagi siswa Indikator No. Pertanyaan jumlah Alat peraga memiliki keamanan dan kenyamanan untuk 14 digunakan oleh siswa Konstruksi alat peraga kokoh sehingga memiliki keamanan 5 15 3 saat digunakan oleh siswa Alat peraga menggunakan bahan ramah lingkungan dan tidak 16 menggunakan zat beracun Estetika Alat peraga memiliki warna yang menarik dan nyaman untuk 17 digunakan Alat peraga dirancang dengan bentuk yang sesuai dengan 6 18 J3 kebutuhan materi Alat peraga memiliki bentuk yang menarik, rapi dan nyaman 19 untuk digunakan oleh siswa Kelengkapan Alat dilengkapi dengan manual alat book dalam membantu 20 perangkaian alat Alat dilengkapi dengan video 7 demonstrasi dalam membantu 21 3 menggunakan alat Alat dilengkapi dengan lembar kerja siswa (LKS) 8 Tempat Penyimpana n Alat peraga dilengkapi dengan tempat penyimpanan agar 22 23 3 50 No Aspek Penilaian Kelayakan Media Indikator No. Pertanyaan jumlah mudah untuk menyimpan/mengambil Alat peraga dilengkapi dengan tempat untuk memudahkan 24 dalam dibawa Tempat penyimpanan alat peraga memiliki ketahanan 25 dalam menyimpan alat peraga Tabel 3. 6 Kisi-kisi Angket Ahli Materi Fisika No 1. 2. Indikator Aspek Penilaian Relevansi konten materi pada alat peraga dengan KI/KD Alat peraga dapat membantu Kesesuaian memvisualisasikan materi dalam Isi pembelajaran Alat peraga dapat menunjukkan vektor gerak pada sumbu x dan y pada gerak parabola Alat peraga dapat menunjukkan jarak terjauh benda Alat peraga dapat menunjukkan ketinggian maksimum Alat peraga dapat menunjukkan pengaruh sudut elevasi terhadap Kesesuaian jarak terjauh konsep Alat peraga dapat menunjukkan pengaruh sudut elevasi terhadap ketinggian maksimum Alat peraga dapat menujukkan perbedaan kecepatan awal aliran fluida pada ukuran diameter lubang terhadap jarak jangkauan Jumlah No Pertanyaan Jumlah 1 2 3 3 4 5 6 5 7 8 8 8 51 b. Angket penelitian pendahuluan Angket penelitian pendahuluan ini diberikan kepada siswa untuk mengetahui proses pembelajaran fisika yang selama ini digunakan guru dalam menjelaskan materi, dan mengetahui keefektivitas penggunaan media alat peraga yang digunakan dalam membantu menjelaskan materi pembelajaran fisika. Kisi-kisi angket penelitian pendahuluan siswa yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 3. 7 Kisi-kisi Angket Penelitian Pendahuluan No 1 Pertanyaan Apakah pelajaran fisika adalah pelajaran yang kalian sukai (Beri alasan kenapa memilih ya/tidak) 2 3 4 5 6 7 Apakah selalu memperoleh nilai ulangan pelajaran fisika diatas KKM? (Beri alasan kenapa memilih ya/tidak) Metode belajar apa yang sering digunakan guru dalam mengajar fisika Metode belajar apa yang kalian sukai dalam guru menjelaskan materi fisika Pernahkah kalian melakukan percobaan praktikum di laboratorium Apakah kalian menyukai belajar hanya di dalam kelas dengan memperhatikan pejelasan guru dan mencatat penjelasan dari guru (Beri alasan kenapa memilih ya/tidak) Apakah kalian menyukai belajar dengan melakukan praktikum di laboratorium yang menggunakan alat peraga (Beri alasan kenapa memilih ya/tidak) 8 Apakah guru pernah menggunakan bantuan media pembelajaran lain seperti alat peraga dalam menjelaskan materi fisika c. Angket respon siswa Angket respon siswa dalam penelitian digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap kemenarikan dan kemampuan media alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran menggunakan alat peraga yang dikembangkan pada evaluasi formatif dan kepraktisan pembelajaran menggunakan alat peraga pada evaluasi sumatif. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah rating-scale (skala bertingkat) dengan 5 kategori penilaian dari yang tertinggi, yaitu: 52 4, 3, 2, 1, 0. Kisi-kisi angket respon siswa yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut. Tabel 3. 8 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Satu-Satu (One-to-One Evaluation) No 1 2 Aspek Materi (content) Kualitas Teknis Indikator Kesulitan Media alat peraga membantu mengatasi kesulitan memahami materi Kejelasan Materi lebih jelas dan nyata untuk dipelajari menggunakan media alat peraga Kemenarikan Materi lebih menarik dan mudah dipahami menggunakan media alat peraga Media alat peraga memiliki kualitas bentuk yang menarik dan nyaman untuk digunakan Media alat peraga memiliki kualitas warna yang menarik dan nyaman untuk digunakan Media alat peraga memiliki bentuk dan ukuran yang mudah dibawa dan digunakan 3 Desain Pembelajaran Kemenarikan Pembelajaran Pembelajaran menggunakan alat peraga menjadi lebih menarik dan tidak bosan Kejelasan Tujuan Pembelajaran Alat peraga dapat membantu untuk visualisasikan materi lebih jelas dan nyata untuk dipahami Kelogisan Sistematika Materi No Pertanyaan Jumlah 1 2 3 3 4 5 3 6 7 3 8 9 53 No Aspek Indikator No Pertanyaan Jumlah Media alat peraga membantu pembelajaran menjadi lebih logis 4 Implementasi Efisiensi Waktu Media alat peraga dapat mengefisienkan waktu untuk dipelajari Pemanfaatan Media untuk Pembelajaran Media alat peraga dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam pembelajaran Kemudahan Operasi Media Media alat peraga mudah untuk digunakan Jumlah 10 11 3 12 12 12 Tabel 3. 9 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation) No 1 Aspek Materi (content) Indikator Kesulitan Media alat peraga membantu mengatasi kesulitan memahami materi Kejelasan Materi lebih jelas dan nyata untuk dipelajari menggunakan media alat peraga 3 Desain Pembelajaran Kemenarikan Materi lebih menarik dan mudah dipahami menggunakan media alat peraga Kejelasan Tujuan Pembelajaran Alat peraga dapat membantu untuk visualisasikan materi agar lebih jelas dipahami No Pertanyaan Jumlah 1 2 3 3 4 3 54 No Aspek No Pertanyaan Indikator Kemenarikan Pembelajaran Pembelajaran menggunakan alat peraga menjadi lebih menarik dan tidak bosan 5 Kelogisan Sistematika Materi Media alat peraga membantu pembelajaran menjadi lebih logis 4 Implementasi Jumlah 6 Media alat peraga dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam pembelajaran 7 Media alat peraga mudah untuk digunakan dan dioperasikan dalam pembelajaran 3 8 Media alat peraga dapat mengefisiensikan waktu 9 Jumlah 9 9 Tabel 3. 10 Kisi-Kisi Angket Uji Lapangan Siswa No 1 2 3 Aspek Indikator Variabel Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) Kesinambungan (sustainability) Penerimaan dan Kemenarikan Kemudahan penggunaan Penggunaan media yang membahayakan Intensitas waktu Perawatan dan pemeliharaan media Penggunaan media pada waktu berikutnya No. Pernyataan (+) (-) 1, 2 Jumlah 4 3 4 5 4 6 Penggunaan bahan pembuatan media 7 8 Minat belajar siswa Pembelajaran yang menarik, inovatif, dan menyenangkan Jumlah 9 11 10 12 4 6 6 12 55 Tabel 3. 11 Kisi-kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif No 1 Aspek Kepraktisan (practically) Indikator Media alat peraga mudah untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan percobaan Media alat peraga mudah untuk dirangkai ulang Media alat peraga dilengkapi oleh tempat penyimpanan sehingga mudah untuk dibawa. Media alat peraga mudah dalam perawatan Media alat mudah untuk ditemukan komponen pengganti Jumlah No. Pernyataan 1 Jumlah 5 2 3 4 5 5 5 d. Angket respon guru Angket respon guru dalam penelitian digunakan untuk mengetahui tanggapan guru terhadap evektivitas, kemenarikan dan kemampuan media alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran menggunakan alat peraga pada evaluasi formatif dan mengetahui keefektifan dan kepraktisan pembelajaran menggunakan alat peraga pada evaluasi sumatif. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan ratingscale (skala bertingkat) dengan 5 kategori penilaian dari yang tertinggi, yaitu: 4, 3, 2, 1, 0. Kisi-kisi angket respon guru yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: 56 Tabel 3. 12 Kisi-kisi Angket Uji Lapangan Guru No 1 2 3 5 Aspek Indikator Variabel Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) Kemudahan penggunaan Kesinambungan (sustainability) Efektivitas (efectivity) Penerimaan dan Kemenarikan Penggunaan media yang membahayakan Intensitas waktu Kemudahan untuk disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan Penggunaan media pada waktu berikutnya Perawatan dan pemeliharaan media Penggunan alat dan bahan Ketercapaian tujuan pembelajaran Kemudahan dalam menjelaskan materi ajar Efektivitas membantu siswa memahami materi Efekivitas meningkatkan rasa ingin tahu siswa Minat belajar siswa Pembelajaran yang menyenangkan dan menarik Jumlah No. Pernyataan (+) (-) 1, 2 Jumlah 4 3 4 5 4 6 7 8 8 ,4 9 10 11 12 14 13 15 4 8 8 16 Tabel 3. 13 Kisi-Kisi Angket Penilaian Evaluasi Sumatif Guru No 1 Aspek Indikator Kepraktisan Media alat peraga praktis untuk (practically) digunakan dan dioperasikan saat melakukan percobaan. Media alat peraga praktis untuk dirangkai ulang. Media alat peraga dilengkapi oleh tempat penyimpanan sehingga praktis untuk dibawa. No. Pernyataan 1 2 3 Jumlah 5 57 2 Efektivitas (efectivity) Media alat peraga praktis dalam perawatan Media alat mudah untuk ditemukan komponen pengganti Alat peraga gerak parabola dapat membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran Alat peraga gerak parabola efektif untuk membantu siswa dalam memahami konsep Alat peraga gerak parabola efektif untuk meningkatkan motivasi rasa ingin tau siswa Alat peraga efektif untuk membantu guru agar lebih mudah dalam mengajar Alat peraga efektif untuk membantu siswa dalam memvisualisasikan konsep Jumlah 4 5 6 5 7 8 9 10 10 10 4. Observasi Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan keterampilan proses sains siswa selama melakukan percobaan menggunakan alat peraga gerak parabola. Observasi dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.77 Kisi-kisi lembar observasi yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut Tabel 3. 14 Kisi-kisi Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains Siswa Aspek KPS Mengamati 77 Arikunto. Op.cit., h.200 Indikator Kegiatan Siswa Siswa dapat membaca skala pengukuran pada ketinggian dan jarak No Pertanyaan Jumlah 1. 3 58 jangkauan dengan benar Siswa dapat mengamati perbedaan ketinggian dan jarak pada sudut elevasi tertentu Siswa dapat mengamati perbedaan dari ketinggian dan jarak jangkauan pada setiap diameter mata nozzle pada sudut elevasi tertentudengan benar Siswa dapat mencatat setiap data hasil percobaan yang dilakukan secara terpisah dan tepat Siswa dapat Mengklasifikasikan mengelompokkan (mengelompokkan) data berdasarkan ciri-ciri perbedaan dan persamaan dari data hasil percobaan Siswa dapat membandingkan data yang diperoleh Siswa dapat menghubungkan data-data hasil pengamatan dengan tepat Menafsirkan Siswa dapat (Interpretasi) menemukan pola dan keteraturan data berdasarkan hasil pengamatan Siswa dapat menyimpulkan hasil 2. 3. 4. 3 5. 6. 7. 3 8. 9. 59 Meramalkan (Memprediksi) Mengajukan Pertayaan Mengajukan Hipotesis data pengamatan dengan tepat Siswa dapat mengemukakan hal yang belum diamati menggunakan pola atau keteraturan dari hasil percobaan Siswa dapat memprediksi hal yang akan terjadi berdasarkan pola atau keteraturan data hasil percobaan Siswa dapat memperkirakan hal yang terjadi pada keadaan yang belum diamati berdasakan pola atau keteraturan dari data hasil percobaan Siswa mengajukan pertanyaan berdasarkan hal-hal yang tidak mereka ketahui dalam menggunakan alat peraga Siswa bertanya yang berlatar belakang hipotesis Siswa bertanya untuk meminta penjelasan berdasarkan data pengamatan yang diperoleh Siswa dapat memberikan hipotesis terhadap hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan 10. 11. 3 12 13. 14. 3 15. 16. 3 60 Siswa dapat memberikan hipotesis hubungan antara sudut elevasi terhadap ketinggian Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Siswa dapat memberikan hipotesis hubungan antara kecepatan awal terhadap jarak jangkauan terjauh Siswa dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan Siswa dapat mengetahui faktor yang akan diukur dalam percobaan Siswa dapat mengetahui langkah kerja yang akan dilakukan siswa dapat menggunakan alat dan bahan dalam percobaan dengan benar Siswa mengetahui alasan penggunaan alat dan bahan dalam percobaan Siswa dapat mengetahui setap penggunaan alat alat percoba dengan benar berdasarkan langkah kerja Siswa dapat memperoleh data yang sesuai dengan konsep 17. 18. 19. 20. 3 21. 22. 23. 3 24. 25. 3 61 Siswa dapat menerapkan hasil data percobaan yang diperoleh dengan konsep Siswa menganalisis data yang diperoleh berdasarkan konsep Siswa dapat menggambarkan data hasil percobaan dengan grafik Siswa dapat Melakukan menjelaskan data Komunikasi hasil percobaan Siswa dapat membaca grafik data yang diperoleh dengan benar Jumlah 26. 27. 28. 29. 3 30. 30 30 5. Tes (posttest) Tes adalah alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.78 Soal instrumen tes digunakan pada posttest berdasarkan pada aspek keterampilan proses sains. Aspek keterampilan proses sains yang digunakan dalam menyusun instrumen diantaranya yaitu mengamati, mengelompokkan, meramalkan/memprediksi, berhipotesis, menafsirkan/ merencanakan interprestasi, percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, mengkomunikasi. Pemberian soal bertujuan untuk mengetahui kemampuan proses sains siswa. Pemberian soal ini merupakan salah satu kriteria yang dapat menunjukan apakah media yang dikembangakan efektif atau tidak digunakan dalam pembelajaran. 78 Ibid., h. 193 62 F. Uji Coba Produk Uji coba produk dalam mengembangkan alat peraga dilakukan pada evaluasi formatif dan evaluasi sumantif yang melibatkan siswa dan guru sebagai subjek uji coba. Uji coba produk pada evaluasi formatif dan evaluasi sumatif dilakukan tiga sekolah bertujuan untuk mendapatkan data dari latar belakang sumber yang berbeda untuk mewakilkan seluruh populasi. Uji coba dilakukan pada evaluasi formatif dengan beberapa tahap yaitu tahap evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), tahap evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan tahap uji lapangan (field study). Hasil uji coba tahap evaluasi formatif untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari alat peraga untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan alat peraga berdasarkan hasil dari evaluasi formatif maka alat peraga akan dilakukan uji coba pada evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif bertujuan untuk mengetahui media alat peraga yang dikembangkan layak, efektif dan praktis digunakan dalam pembelajaran untuk mengukur kemampuan proses sains siswa. G. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan produk melalui tahapan uji validitas, uji efektifitas, dan uji praktikabilitas. Data yang diperoleh dari wawancara akan diolah secara kualitatif. Data yang diperoleh dari angket dengan pertanyaan menggunakan skala Likert akan diubah terlebih dahulu ke dalam data kuantitatif. Adapun teknik analisis data yang digunakan sebagai berikut: a. Analisis Data Wawancara Guru Hasil wawancara terhadap guru akan dikumpulkan menjadi satu dan diambil kesimpulannya keseluruhan. untuk memastikan hasil wawancara secara 63 b. Analisis Data Angket Validasi Ahli Media Pembelajaran, Lembar Observasi KPS, Angket Respon Siswa dan Guru Data yang dihasilkan dari angket validasi, angket respon siswa dan guru akan dianalisis menggunakan rating scale (skala bertingkat). Dengan rating scale data yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam skala model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. angket akan diolah dengan dua cara, yaitu menghitung persentase jawaban dari setiap item pertanyaan dan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden.79 Rating scale dengan lima alternatif jawaban dapat dibuat angka 4 sampai 0. Untuk jawaban sangat baik diberi angka 4, baik diberi angka 3, ragu-ragu diberi angka 2, tidak baikdiberi angka 1 dan sangat tidak baik diberi angka 0. Lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 3. 15 Kriteria Rating Scale Skor Jawaban Siswa 4 Sangat Baik(SB) 3 Baik (B) 2 Cukup Baik (CB) 1 Tidak Baik (TB) 0 Sangat Tidak Baik (STB) Persentase jawaban dari setiap item pertanyaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = ∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥100% ∑ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥 4 Sugiyono, 2014 Untuk kesimpulannya dapat digambarkan seperti berikut: 79 Sugiyono, Ibid, h. 136 64 Sugiyono, 2014 Gambar 3. 4 Garis Kesimpulan Persentase jawaban dari seluruh item pertanyaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = ∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑟𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥100% ∑ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥 ∑ 𝑠𝑜𝑎𝑙 𝑥 4 Sugiyono, 2014 Untuk kesimpulannya dapat digambarkan seperti berikut Sugiyono, 2014 Gambar 3. 1 Garis kesimpulan keseluruhan a) Kriteria Penilaian Kelayakan Alaht Peraga oleh Ahli Media Pembelajaran Kriteria penilaian rating scale dilakukan oleh lima ahli dengan tiga indikator/aspek memiliki skor maksimal yang diperoleh sebesar 75, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Skor 0 – 15 16 – 30 31 – 45 46 – 60 61 – 75 Kesimpulan Sangat Tidak Layak Tidak Layak Cukup Layak Sangat Layak Kriteria penilaian rating scale dilakukan oleh lima ahli dengan jumlah seluruh aspek yang terdiri dari 24 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 600, maka kriteria penilaian sebagai berikut: 65 Jumlah 0 – 120 121 – 240 241 – 360 361 – 480 481 – 600 Kesimpulan Sangat Tidak Layak Tidak Layak Cukup Layak Sangat Layak b) Kriteria Penilaian Evaluasi Satu-satu 1) Penilaian Lembar Observasi KPS Kriteria penilaian rating scale dilakukan tiga siswa dengan tiga indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 75, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0–9 Sangat Tidak Baik 10 – 18 Tidak Baik 18 – 27 Cukup Baik 28 – 36 Baik 36 – 45 Sangat Baik 2) Penilaian Kelayakan Alat Peraga Kriteria penilaian rating scale dilakukan tiga siswa dengan tiga indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 45, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0–9 Sangat Tidak Baik 10 – 18 Tidak Baik 18 – 27 Cukup Baik 28 – 36 Baik 36 – 45 Sangat Baik Kriteria penilaian rating scale dilakukan tiga siswa dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 12 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 600, maka kriteria penilaian sebagai berikut: 66 Rentang Jumlah Kategori 0 - 28,8 Sangat Tidak Baik 28,9 - 57,6 Tidak Baik 57,7 - 86,4 Cukup Baik 86,5 - 115,2 Baik 115,3 – 144 Sangat Baik c) Kriteria Penilaian Evaluasi Kelompok Kecil 1) Penilaian Lembar Observasi KPS Kriteria penilaian rating scale dilakukan 15 siswa dengan tiga indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 180, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 – 36 Sangat Tidak Baik 37 – 72 Tidak Baik 73 – 108 Cukup Baik 109 – 144 Baik 145 – 180 Sangat Baik 2) Penilaian Kelayakan Alat Peraga Kriteria penilaian rating scale dilakukan 15 siswa dengan tiga indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 225, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 – 45 Sangat Tidak Baik 46 – 90 Tidak Baik 91 – 135 Cukup Baik 136 – 180 Baik 181 – 225 Sangat Baik 67 Kriteria penilaian rating scale dilakukan 15 siswa dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 12 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 540, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah 0 - 108 109 - 216 217 - 324 325 - 432 433 - 540 Kategori Sangat Tidak Baik Tidak Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik d) Kriteria Penilaian Uji Lapangan 1) Penilaian Lembar Observasi KPS Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan tiga indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 360, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 - 72 Sangat Tidak Baik 73 - 144 Tidak Baik 145 - 216 Cukup Baiik 217 - 288 Baik 289 - 360 Sangat Baik 2) Penilaian Kelayakan Alat Peraga Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan empat indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 480, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 – 96 Sangat Tidak Baik 97 – 192 Tidak Baik 68 193 – 288 Cukup Baik 289 – 384 Baik 385 – 480 Sangat Baik Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 12 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 1440, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 - 288 Sangat Tidak Baik 289 - 576 Tidak Baik 577 - 864 Cukup Baik 865 - 1152 Baik 1153 - 1440 Sangat Baik e) Kriteria Penilaian Evaluasi Sumatif 1) Penilaian Lembar Observasi KPS Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan tiga indikator/aspek KPS. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 360, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 - 72 Sangat Tidak Baik 73 - 144 Tidak Baik 145 - 216 Cukup Baiik 217 - 288 Baik 289 - 360 Sangat Baik 2) Penilaian Kepraktisan Alat Peraga oleh siswa Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan satu indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 120, maka kriteria penilaian sebagai berikut: 69 Rentang Skor Kategori 0 - 24 Sangat Tidak Praktis 25 - 48 Tidak Praktis 49 - 72 Cukup 73 - 96 Praktis 97 - 120 Sangat Praktis Kriteria penilaian rating scale dilakukan 30 siswa dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 5 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 600, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 - 120 Sangat Tidak Praktis 121 – 240 Tidak Praktis 241 - 360 Cukup 361 - 480 Praktis 481 - 600 Sangat Praktis 3) Penilaian Kepraktisan dan Keefektifan Alat Peraga oleh Guru Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru dengan satu indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 20, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Skor Kategori 0-4 Sangat Tidak Praktis 5-8 Tidak Praktis 9 - 12 Cukup 13 - 16 Praktis 17 - 20 Sangat Praktis 70 Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 5 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 80, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rentang Jumlah Kategori 0 – 16 Sangat Tidak Praktis 17 – 32 Tidak Praktis 33 – 48 Cukup 49 - 64 Praktis 65 - 80 Sangat Praktis Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru dengan satu indikator/aspek. Skor maksimal yang diperoleh sebesar 20, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rantang Nilai Kategori 0-4 Sangat Tidak Baik 5-8 Tidak Baik 9 - 012 Cukup Baik 13 - 16 Baik 17 - 20 Sangat Baik Kriteria penilaian rating scale aspek kepraktisan dilakukan empat guru dengan jumlah sekuruh aspek yang terdiri dari 5 indikator. Jumlah penilaian maksimal yang diperoleh sebesar 80, maka kriteria penilaian sebagai berikut: Rantang Jumlah Kategori 0 - 16 Sangat Tidak Baik 17 - 32 Tidak Baik 33 - 48 Cukup Baik 71 c. 49 - 64 Baik 65 - 80 Sangat Baik Angket Validasi Ahli Materi, Angket Kepraktisan dan Keefektifan Angket keefektifan guru dan angket kepraktisan guru dan siswa dalam menentukan kesimpulan menggunakan skala Guttman. Skala Guttman akan menghasilkan jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”. Dalam angket ini digunakan skala “Praktis-tidak Praktis”. Untuk menarik kesimpulan dari kelayakan media dapat dicari menggunakan cara sebagai berikut: ∑ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑥100% ∑ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 Keterangan : 0 - 50% = Tidak Layak 51% - 100% = Layak d. Analisis Data Validasi Instrumen Tes Validitas instrumen, hasil judgement ahli diolah dengan menggunakan content validity ratio (CVR). Untuk mengukur validitas isi digunakan pendekatan yang dikembangkan oleh Lawshe (1975)80 CVR merupakan sebuah pendekatan validitas isi untuk mengetahui kesesuaian item dengan yang diukur berdasarkan judgement ahli. Pemberian skor untuk butir yang dikatakan sesuai atau essentiali adalah 1. Sedangkan skor untuk butir yang tidak sesuai atau not essentiali bernilai 0. Setelah semua item mendapatkan skor, kemudian data tersebut diolah. Berikut ini rumus yang digunakan Lawshe untuk menghitung nilai CVR:2181 80 Iwan Permana Suwarna, Pengembangan Instrumen Ujian Komprehensif Mahasiswa Melalui Computer Based Test Pada Program Studi Pendidikan Fisika, Laporan Penelitian Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan, Jakarta, 2016, h. 50. 81 Dendy Siti Kamilah, Pengembangan Three-Tier Test Digital Untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Pada Konsep Fluida Statis, Skripsi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta, 2016, h. 45 72 𝑁 𝑛𝑒 − 2 𝐶𝑉𝑅 = 𝑁 2 𝑛𝑒 = Jumlah responden yang menyatakan sesuai atau essential N = Total respon Ketentuan 1) Ketika kurang dari ½ total respon yang menyatakan essential maka nilai CVR = (-) 2) Ketika ½ dari total respon yang menyatakan essential maka nilai CVR = 0 3) Ketika seluruh responden mengatakan essential maka nilai CVR = 1 Nilai CVR merupakan nilai statistik per butir. Nilai ini berguna untuk menentukan tindak lanjut apakah butir tersebut akan digunakan atau dibuang. Butir yang digunakan harus memiliki nilai CVR yang lebih besar dari nilai CVR minimal. Sebaliknya butir yang dibuang memiliki nilai CVR yang lebih kecil dari nilai CVR minimal. Nilai CVR minimal dapat dilihat pada tabel Jumlah Responden Nilai Minimal 5 0,99 6 0,99 7 0,99 8 0,75 9 0,78 10 0,62 Setelah butir yang valid teridentifikasi selanjutnya mencari nilai Content Validity Index (CVI). Secara sederhana CVI merupakan rata-rata dari nilai CVR . 𝐶𝑉𝐼 = ∑ 𝐶𝑉𝑅 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑜𝑎𝑙 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pengembangan Produk yang dihasilkan dari penelitian pengembangan ini adalah media pembelajaran alat peraga pada materi gerak parabola untuk siswa SMA. Alat peraga ini merupakan hasil pengembangan dari alat peraga yang sebelumnya memiliki kekurangan untuk diperbaiki. Alat peraga yang dikembangkan mengunakan metode pengembangan dari Akker. Berikut ini tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan: penelitian pendahuluan (preliminary research); tahap prototipe (prototyping stage); evaluasi sumatif (summative evaluation); refleksi sistematik dan dokumentasi (systematic reflection and documentation). 1. Hasil Penelitian Pendahuluan (Preliminary research) Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mencari informasi awal terkait permasalah yang terjadi di lapangan. Tahap ini terdiri dari dua kegiatan, yaitu: melakukan studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur dilakukan melalui analisa dari jurnal dan skripsi terkait pembelajaran menggunakan media alat peraga. Hasil analisa jurnal dan skripsi tersebut disajikan pada tabel berikut 73 74 Tabel 4. 1 Hasil Studi Literatur (Analisis Jurnal dan Skripsi) No 1. Nama Penulis dan Sumber Judul Kesimpulan Duwita Sekar Pengembangan Hasil belajar siswa setelah Indah, Prabowo Alat Peraga melakukan pembelajaran Sederhana Gerak menggunakan alat peraga Parabola Untuk sederhana gerak parabola untuk Memotivasi memotivasi siswa pada Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika Siswa Pada pembelajaran fisika pokok (JIPF) Pembelajaran bahasan gerak parabola terjadi Fisika Pokok peningkatan hasil belajar dengan Bahasan Gerak kategori sedang; serta siswa Parabola termotivasi dalam pembelajaran menggunakan alat peraga sederhana gerak parabola dengan persentase angket motivasi siswa. Saran: materi dapat ditunjukkan oleh alat peraga tersebut dan tidak hanya dapat mengukur jarak jangkauan bola saja, tetapi juga dapat mengukur ketinggian maksimum 2. Dharis Dwi Pengembangan Alat peraga IPA terpadu tema Apriliyanti, Sri Alat Peraga Ipa pemisahan campuran terbukti Haryani, Arif Terpadu Pada dapat merangsang keaktifan Widiyatmoko Tema Pemisahan siswa dalam pembelajaran dan Campuran Untuk sikap ilmiah siswa. Keterampilan 75 Nama Penulis No Judul dan Sumber Kesimpulan Unnes Science Meningkatkan dan sikap siswa menunjukkan Education Keterampilan hasil yang sangat baik dan sangat Journal Proses Sains aktif setelah mengikuti pembelajaran melalui praktikum menggunakan alat peraga 3. 4. B. Hartati Pengembangan Penggunaan alat peraga gaya Alat Peraga gesek yang efektif berbasis Jurnal Pendidikan Gaya Gesek inkuiri dapat meningkatkan Fisika Indonesia Untuk keterampilan berpikir kritis, 6 Meningkatkan ternyata hasilnya jelas Keterampilan berpengaruh terhadap Berpikir Kritis peningkatan hasil belajar Siswa Sma pesertadidik. Pengembangan Keterampilan proses dan Keterampilan pemahaman siswa kelas X SMA Proses Dan N 3 Sragen dapat ditingkatkan Widayanto Jurnal Pendidikan Pemahaman melalui pemanfaatan Kit optik Fisika Indonesia Siswa Kelas X dalam pembelajaran pembiasan Melalui Kit cahaya. Optik 5. Desy, Desnita, Pengembangan Hasil penilaian ujicoba lapangan Raihanati Alat Peraga operasional menunjukkan bahwa Fisika Materi produk mendapat respon yang Gerak Melingkar positif dari siswa. Prosiding Seminar Nasional Fisika Untuk SMA 76 No 6. Nama Penulis dan Sumber Judul Kesimpulan Husnul Inayah Pengaruh Penggunaan media alat peraga Saleh, Nurhayati Penggunaan berpengaruh terhadap hasil B, Oslan Jumadi Media Alat belajar siswa materi sistem Peraga Terhadap peredaran darah siswa kelas VIII Hasil Belajar SMP Negeri 2 Bulukumba. Jurnal Sainsmat Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba 7. Ahmad Luthfi Penggunaan Alat Pemahaman konsep matematika Firdaus Peraga Mobil siswa yang menggunakan alat Garis Bilangan peraga mobil garis bilangan lebih Terhadap baik jika dibandingkan dengan Skripsi UIN Pemahaman pemahaman konsep matematika Syarif Konsep siswa di kelas yang tidak Hidayatullah Matematika menggunakan alat peraga mobil Jakarta (2011) Siswa Pada garis bilangan. Materi Bilangan 8. Fithriyani Shafwa Pengaruh Penggunaan alat peraga kimia Penggunaan Alat sederhana model alat uji Peraga Kimia elektrolit. Positif mempengaruhi Skripsi UIN Sederhana hasil belajar siswa Syarif Model Alat Uji Hidayatullah Elektrolit Jakarta (2008) Terhadap Hasil 77 No Nama Penulis Judul dan Sumber Kesimpulan Belajar Kimia Siswa 9. Sita Dwijayanti Pengaruh Penggunaan alat peraga block Penggunaan Alat dienes dapat meningkatkan hasil Skripsi UIN Peraga Block belajar matematika siswa Syarif Dienes Terhadap dibandingkan dengan hasil Hidayatullah Hasil Belajar belajar matematika siswa yang Jakarta (2014) Matematika tanpa menggunakan alat peraga Siswa Pada Pokok Bahasan Perkalian dan Pembagian 10. Ahmad Jahrudin Perbandingan Penggunaan media alat peraga Alat Peraga alat peraga antara rotattion timer Skripsi UIN Antara Rotattion dan roda-roda fleksibel tidak Syarif Timer dengan mengalami pengaruh yang Hidayatullah Roda-roda signifikan terhadap kemampuan Jakarta (2015) Fleksibel Pada menganalisis siswa pada konsep Kemampuan gerak melingkar. Analisis Siswa Kelas X Konsep Gerak Melingkar Beraturan Hasil dari analisa tersebut diperoleh informasi bahwa alat peraga efektif untuk merangsang keaktifan siswa dalam pembelajaran, sikap ilmiah siswa, pemahaman siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat menjadi media pembelajaran yang menarik. 78 Tahap selanjutnya dari penelitian pendahuluan adalah studi lapangan dengan melakukan wawancara kepada tiga orang guru fisika SMA (SMAN 87 Jakarta, SMAN 29 Jakarta, dan SMAN 86 Jakarta) dan menyebar angket kepada 60 siswa dari tiga sekolah tersebut. Hasil wawancara guru mengenai media pembelajaran pada materi alat optik disajikan oleh tabel berikut: Tabel 4. 2 Hasil Wawancara Guru pada Penelitian Pendahuluan Jawaban Guru No 1. Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Kesimpulan Apakah Tidak, Ya, sudah Ya, sudah Siswa masih rata-rata sebelum memenuhi tapi memenuhi banyak hasil belajar adanya masih ada standar mendapatkan fisika siswa remedial beberapa siswa namun siswa nilai yang belum sudah masih banyak yang belum mengalami memenuhi mencapai siswa yang tuntas. kesulitan saat standar kriteria kriteria memperoleh Kesulitan memahami ketuntasan. ketuntasan nilai di siswa dalam vektor Kesulitan rata- minimum bawah batas memahami kecepatan, rata siswa pada KKM. materi dan matematis, dan terutama pada perhitungan analisis vektor pemahaman matematis tentang trigonometri, perhitungan matematis 2. Metode apa Ceramah, Ceramah, Diskusi, Rata-rata guru yang sering karena lebih terkandang Mengguna- menggunakan digunakan mudah juga diskusi, kan video metode ceramah oleh guru dibandingkan percobaan di dan animasi. dan diskusi dalam dengan Saat namun jarang 79 Jawaban Guru No Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Kesimpulan mengajar metode lain lapangan dan penayangan mengajak siswa fisika di karena di lab. fisika animasi atau untuk kelas keterbatasan video siswa melakukan waktu sambil percobaan berdiskusi 3. Apakah Jarang, Ya, Karena Ya, dengan Rata-rata guru dalam karena siswa pembelajaran mengajak sudah mengajar kurang yang siswa menggunakan fisika sering mengerti melibatkan berdiskusi pembelajaran melibatkan dengan siswa lebih dan yang melibatkan siswa dalam konsep yang menarik dan mengamati siswa untuk menggali diajarkan dari menyenangkan video dan menggali pengetahuan materi, selain agar membuat animasi yang pengetahuan nya sendiri itu waktu siswa tidak diberikan sendiri melalui seperti tidak cukup bosan belajar berdiskusi untuk diskusi ataupum kelompok sehingga percobaan di dalam menyebabkan lapangan memecahka materi tidak n masalah, dapat melakukan disampaikan percobaan seluruhnya ke praktikum, siswa. atau memberikan pertanyaan yang berdiskusi 80 Jawaban Guru No Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Kesimpulan berkaitan dengan fenomena dala kehidupan sehari-hari 4. Dalam Jarang Kadang- Tidak Kebanyakan mengajar melakukan kadang, guru jarang fisika pecobaan di diseusaikan melakukan apakah lab karena dengan materi. pembelajaran sering waktu yang Pembelajaran praktikum di lab melakukan tidak cukup praktikum fisika praktikum untuk menyebabkan di lab fisika melakukan siswa tidak percobaan bosan belajar di kelas terus 5. Apakah Tidak, hanya Ya, Ya, media Setiap guru menggunak menggunaka penggunaan video dan memiliki cara an bantuan n papan tulis media yang animasi dalam media sebagai sederhana menggunakan pembelajara media yang terdapat media n dalam namun, dilingkungan pembelajaran menjelaskan terkadang sekitar dan animasi dan materi melakukan dibuat oleh video, membuat fisika. demonstrasi siswa. alat peraga di depan sederhana, dan kelas menjelaskan 81 Jawaban Guru No Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Kesimpulan Media apa dengan papan yang sering tulis digunakan. 6. Apakah Kadang- Ya, media alat Tidak Mayoritas guru pernah kadang. peraga yang jarang menggunak Materi fluida dibuat oleh menggunakan an media siswa dan alat peraga alat peraga terdapat di dalam dalam lingkungan pembelajaran membantu sekolah menjelaskan maupun rumah materi fisika. materi fisika apa yang menjelaskan dengan media alat peraga? 7. Menurut Materi gerak Baru dapat Menggunaka Media yang Anda apa parabola mengukur n video digunakan kekurangan hanya sudut dan ataupun masih memiliki dari media menggunaka angkauan animasi kekurangan yang selama n media terjauh dari kekurangann yaitu tidak dapat ini di papan tulis lemparan ya siswa mengukur gunakan dengan hany dapat ketinggian dan dalam membuat mengamati melihat 82 Jawaban Guru No Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Kesimpulan mengajar? gambar gerak tanpa perbedaan Pada materi parabola dan merasakan vektor pada Gerak tidak dan setiap sudut Parabola menggunaka mengalami yang berbeda n media lain. secara Kekurangann langsung ya, hanya ada beberapa siswa yang paham dan siswa di belakang tidak memperhatik an penjelasan dan tidak jelas melihat ke papan tulis. 8. Bagaimana Ceramah Percobaan Diskusi, Hanya ada satu cara guru yang dilakukan dengan guru yang dalam siswa di memberikan enjelaskan menjelaskan lapangan penayangan materi dengan materi gerak animasi dan percobaan di parabola video lapangan, kepada percobaan selebihnya siswa? 83 Jawaban Guru No Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Kesimpulan dilakukan di lapangan 9. Apakah Tidak, Ya, Ya, Media Media yang guru menjelaskan menggunakan animasi dan digunakan menggunak gerak media alat video dalam an media parabola peraga yang dalam dengan media dibuat oleh materi gerak menjelaskan papan tulis siswa sendiri parabola sudah materi gerak dengan menggunaan parabola? menggunakan media namun Media apa kork api dan satu sekolah yang alumunim foil masih tidak digunakan yang dibakar menggunakan guru dalam dan media menjelaskan dilontarkan materi gerak dengan sudut parabola tertentu dan tersebut ? menghasilkan menjelaskan jarak jangkauan 10. Apakah alat Tidak Kurang Tidak Alat peraga di peraga di lengkap, alat lengkap, lengkap sekolah tidak sekolah peraga di sehingga harus lengkap untuk siswa sekolah di dibuat sendiri terutama materi melakukan kelas kurang oleh guru gerak parabola praktikum lengkap maupun dibuat tidak memiliki lengkap. terutama oleh siswa alat peraga. 84 Jawaban Guru No Pertanyaan SMAN 87 SMAN 29 SMAN 86 Jakarta Jakarta Jakarta Khususnya materi gerak dalam gerak mengajar parabola Kesimpulan materi gerak belum ada parabola? alat peraga yang digunakan di sekolah 11. Apakah ada Iya, belajar perbedaan Ya, Ya, dengan Mayoritas guru dengan media pembelajaran media menyadari dari hasil dapat menjadi lebih pembelajaran kebermanfaatan belajar memudahkan menarik, siswa dapat penggunakan siswa yang siswa lebih paham memudahkan media alat diajarkan memahami kaena mereka siswa dalam peraga dalam dengan materi sendiri yang memahami mempermudah berbantuan sehingga mencoba materi siswa dalam media membuat memahami pembelajara siswa lebih materi n (alat mudah peraga) atau mengingat dengan materi metode lain Hasil penyebaran angket pada peneltian pendahuluan kepada siswa tentang pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas dapat dilihat pada gambar grafik di bawah ini. 85 Siswa yang menyukai pelajaran fisika Perolehan nilai di atas standar ketuntasan belajar minimal 30,5 30 60 30 50 40 29,5 29 20 29 28,5 9 0 Ya tidak Ya Tidak Metode belajar apa yang sering digunakan guru dalam mengajar fisika 45 40 39 38 35 30 25 25 18 20 15 10 5 7 5 0 ceramah diskusi latihan soal demonstrasi Praktikum tanya jawab Metode pembelajaran yang disukai oleh siswa 35 31 30 26 25 20 18 16 15 10 7 6 5 0 ceramah diskusi latihan soal demonstrasi Praktikum tanya jawab 86 Pernah melakukan praktikum di laboratorium Siswa yang menyukai pembelajaran fisika dengan melakukan percobaan di laboratorium 56 60 50 40 30 20 10 0 53 60 40 20 3 Ya 6 0 Tidak ya Penggunaan media oleh guru 70 60 50 40 30 20 10 0 tidak Siswa menyukai pembelajaran fisika di kelas 60 48 50 40 30 59 20 10 ya 0 tidak 11 0 ya tidak Gambar 4. 1 Grafik Hasil Angket Siswa pada Penelitian Pendahuluan Berdasarkan hasil angket yang diperoleh memperlihatkan bahwa pembelajaran fisika yang dilakukan oleh guru menggunakan metode ceramah dan latihan soal, sedangkan siswa menginginkan metode pembelajaran dengan melakukan praktikum. Rata-rata siswa tidak menyukai pelajaran fisika dan memperoleh nilai di bawah standar. 2. Hasil Prototyping Stage a. Hasil Perancangan Alat Peraga 1) Menentukan Konsep Materi Pemilihan materi yang digunakan dalam penelitian adalah materi gerak parabola. Pemilihan materi didasarkan pada hasil studi pendahuluan melalui wawancara dengan guru yaitu, beberapa sekolah belum memiliki alat peraga materi gerak parabola yang dapat membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran. 87 2) Menganalisis Konsep dan Menentukan Variabel yang Diukur Pada Alat Peraga Menganalisis materi gerak parabola dilakukan dengan mengetahui kompetensi dasar yang terdapat pada silabus kurikulum 2013 revisi 2016 dan menentukan variabel yang dapat diukur pada alat peraga. Kompetensi dasar yang erdapat dalam silabus yaitu “menganalisis gerak parabola dengan menggunakan vektor, berikut makna fisisnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari”.82 Variabel data yang akan diukur pada alat peraga adalah jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang dicapai. Berdasarkan variabel data yang diukur siswa dapat mengetahui perbedaan vektor jarak dan ketinggian yang dihasilkan pada sudut yang berbeda-beda. Selain sudut, siswa dapat mengetahui pengaruh kecepatan kecepatan awal berdasarkan jarak jangkauan terjauh. 3) Membuat Gambar Sketsa Rancangan Alat Peraga Tahap perancangan desain merupakan tahapan awal untuk membuat gambaran desain media alat peraga berdasarkan hasil analisis materi. Desain gambar rancangan alat peraga seperti pada gambar di bawah ini Gambar 4. 2 Sketsa Rancangan Alat Peraga Gambar 4. 2 merupakan gambar desain rancangan alat peraga gerak parabola yang akan digunakan dalam penelitian. Alat peraga dirancang dengan fluida 82 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Fisika, Jakarta: 2016 88 untuk menunjukkan vektor gerak parabola saat nozzle diberikan sudut. Sistem dari gambar rancanganan media alat peraga gerak parabola yaitu fluida di dalam tempat penampungan dipompa menuju nozzle untuk dipancarkan dan ditampung oleh wadah untuk dialiri kembali ke tempat penampungan melalui selang air. 4) Pemilihan Material Alat yang Digunakan Pemilihan material dimaksudkan untuk menyesuaikan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga dengan konsep rancangan desain yang telah dibuat. Pemilihan material yang digunakan diantaranya yaitu: a) Sirkulator pompa berfungsi untuk membantu mendorong fluida dari tempat penampungan menuju ke nozzle untuk memancarkan fluida. b) Nozzle berfungsi untuk memancarkan fluida dari tempat penampungan. Nozzle yang digunakan memiliki diameter lubang pemancar yang berbedabeda dimaksudkan untuk membandingkan perbedaan keluarnya fluida dari setiap lubang. Nozzle yang digunakan dibuat untuk dapat membentuk sudut yang berbeda-beda dan diberikan busur untuk mengetahui sudut tersebut. c) Tempat penampungan fluida digunakan untuk menampung fluida yang digunakan sebelum dipompa menuju nozzle. Selain itu, tempat penampungan fluida digunakan sebagai tempat penyimpanan alat peraga d) Tempat menerima fluida (corong) digunakan untuk menampung fluida yang dipancarkan oleh nozzle dan juga sebagai penentu jarak jangkauan fluida terjauh saat fluida dipancarkan. e) Selang berfungsi sebagai saluran fluida dari tempat menerima fluida ke tempat penampungan air dan dari tempat penampungan fluida menuju nozzle. f) Rel berfungsi dudukan alat dan sebagai jalur penentu jarak. g) Busur berfungsi sebagai alat untuk mengukur sudut pada nozzle. h) Penggaris berfungsi untuk mengukur jarak jangkauan air. i) Layar yang berfungsi untuk menangkap bayangan j) Lampu yang berfungsi untuk memancarkan cahaya sehingga menimbulkan bayangan pada layar 89 5) Perancangan Alat Peraga Peracangan dibuat berdasarkan pada gambar sketsa. Hasil rancangan alat peraga dibuat sebagai berikut: Tabel 4. 3 Hasil Rangkaian Alat Peraga No 1. Gambar Hasil Rancangan Keterangan Tempat penyimpanan dan tempat penampunyan air 2. Peletakkan rel di atas tempat penampungan 3. Tempat meletakkan nozzle 90 4. Letakkan nozzle dengan sejajar dengan jarum pada busur 5. Pasang penggaris untuk menukur jarak 6. Letakkan penyangga corong di rell 91 7. Pasang lampu 8. Rangkaian alat 92 b. Hasil Evaluasi Formatif (Formative Evaluation) Hasil evaluasi formatif tentang kelayakan media alat peraga dilakukan melalui beberapa tahap yaitu, penilaian ahli, evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil dan uji lapangan. Data hasil yang diperoleh sebagai berikut: 1) Hasil Penilaian Ahli (Expert Review) Tahap pertama dari evaluasi formatif adalah penilaian ahli. Penilaian kelayakan alat peraga dilakukan oleh beberapa ahli. Penilaian kelayakan alat peraga terdiri dari dua penilaian yaitu penilaian terhadap media pembelajaran dan materi fisika. Ahli dalam penilaian kelayakan alat peraga terdiri dari 10 orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Hasil penilaian kelayakan alat peraga oleh ahli sebagai berikut. a) Hasil Penilaian menurut Ahli Media Pembelajaran Ahli media pembelajaran yang terlibat dalam penilaian kelayakan alat peraga terdiri dari lima orang ahli. Hasil analisa penilaian ahli media pembelajaran terhadap alat peraga dapat dilihat pada tabel berikut: 93 Tabel 4. 4 Hasil Penilaian Kelayakan Media Alat Peraga No Aspek Penilaian Kelayakan Media Skor Kesimpulan 1 Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Ajar 73 Sangat Layak 2 Ketahanan Alat 70 Sangat Layak 3 Keakuratan 60 Layak 4 Efisiensi Alat 70 Sangat Layak 5 Keamanan Bagi Siswa 70 Sangat Layak 6 Estetika 68 Sangat Layak 7 Kelengkapan Alat 75 Sangat Layak 8 Tempat Penyimpanan 72 Sangat Layak 558 Sangat Layak Jumlah Penilaian keselurahan dari setiap aspek media alat peraga mendapatkan nilai 558 dengan presentase 93% yang berarti media alat peraga gerak parabola sangat layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Kelima ahli menyatakan media alat peraga layak dari setiap aspek yaitu: kesesuaian dengan bahan ajar, ketahanan, keakuratan, efisiensi alat, keamanan saat digunakan oleh siswa, estetika, kelengkapan alat, dan tempat penyimpanan alat. Rincian grafik penilaian 94 ahli media pembelajaran dari keseluruhan aspek dapat dilihat pada gambar berikut: Skor Penilaian Aspek Kelayakan Alat 80 70 75 73 70 70 70 72 68 60 60 50 40 30 20 10 0 Kriteria Ketahanan Kesesuaian Alat dengan Bahan Ajar Keakuratan Efisiensi Alat Keamanan Bagi Siswa Estetika Kelengkapan Tempat Alat Penyimpanan Gambar 4. 3 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media Pembelajaran Grafik di atas memperilihatkan bahwa aspek keakuratan pada alat peraga memiliki tingkat terendah dibandingkan aspek lainnya. Keakuratan alat peraga dinilai oleh ahli karena ketepatan alat ukur dengan objek pengukuran kurang akurat, walaupun masih berada pada kategori layak. Ahli media memberikan saran untuk merevisi beberapa bagian agar lebih akurat dan presisi dalam penentuan titik acuan nol pada pengukuran, pengukuran ketinggian maksimum harus diperhatikan dengan memberikan alat ukur dengan acuan yang tetap, ukuran diameter lubang yang digunakan pada nozzle harus diperhatikan, dan pada saat mengukur kecepatan awal volume air yang dipndahkan pada gelas ukur terdapat air yang tumpah. b) Hasil Penilaian menulrut Ahli Materi Fisika Ahli materi fisika yang terlibat dalam penilaian kelayakan alat peraga berdasarkan kesesuaian dengan materi fisika terdiri dari lima orang ahli. Hasil 95 analisa penilaian ahli materi fisika terhadap alat peraga dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. 5 Hasil Penilaian Kesesuaian Materi pada Alat Peraga Aspek Penilaian Ratarata Nilai CVI Kesimpulan Kesesuaian Isi 4,7 94% Relevan Kesesuaian Konsep 4,8 96% Relevansi Rata-rata 4,75 95% Relevan Berdasarkan data pada tabel di atas validasi materi terdiri dari dua aspek yaitu aspek kesesuaian isi dan aspek kesesuaian konsep. Aspek kesesuaian isi terdiri dari tiga indikator memiliki hasil presentase sebesar 94% dengan kesimpulan relevan, dan aspek kesesuaian konsep terdiri dari lima indikator memiliki presentase 96% dengan kesimpulan relevansi. Rata-rata keseluruhan aspek memiliki presentase 95% dengan kesimpulan relevan, hal ini menunjukkan bahwa alat peraga memiliki isi dan konsep yang sesuai tehadap materi gerak parabola. Pendapat ahli materi terhadap alat peraga diharapkan terdapat alat ukur waktu, dibuatkan pengukuran yang tetap agar mudah dalam pembacaan skala, menggunakan penunjuk skala yang lebih presisi, pastikan alat peraga terpasang kokoh dan kuat agar lebih akuran dalam melakukan pengukuran, menggunakan penahan air yang kuat agar air tidak tumpah, pastikan kabel dalam keadaan aman, acuan titik nol harus dipastikan presisi, gunakan kertas milimeterblok pada layar untuk membantu memudahkan analisis vektor. Beberapa pendapat ahli dilakukan 96 revisi namun beberapa pendapat ditampung sebagai kekurangan untuk dapat dikembangkan oleh peneliti selanjutnya. 2) Hasil Evaluasi Satu-satu (One to one Evaluation) Evaluasi satu-satu dilakukan pada tiga siswa di kelas X yang masing-masing terdiri dari siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Ketiga siswa tersebut telah mendapatkan materi gerak parabola oleh guru tanpa menggunakan bantuan alat peraga yang dikembangkan. Analisis data yang dilakukan pada tahap evaluasi satu-satu dilakukan dengan cara melakukan pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan pengukuran kelayakan alat peraga. Pengukuran keefektifan alat peraga diukur menggunakan tes dan non tes. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan konsep gerak parabola. Penilaian tes diukur setelah siswa melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang dikembangkan (post-test), sedangkan penilaian non tes menggunakan lembar observasi KPS yang bertujuan untuk mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa saat menggunakan alat peraga. Pengukuran kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan dengan memberikan angket tanggapan siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap alat peraga yang dikembangkan. a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga a) Hasil Nilai Post-test Siswa Lembar penilaian post-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil posttest evaluasi satu-satu dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 4. 6 Hasil Nilai Post test Siswa pada Evaluasi Satu-satu Keterangan Hasil Nilai post test Rata-rata Nilai Siswa 85 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 80 Persentase Ketuntasan 100% 97 Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah 90 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 87 Jakarta adalah 75. Persentase ketuntasan hasil post-test adalah 100% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 90 berjumlah 1 siswa, sedangkan nilai terndah adalah 80 berjumlah 1 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada materi gerak parabola KPS yang terdapat disoal meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan (memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan. b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang digunakan dalam lembar observasi meliputi: keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan, meramalkan (memprediksi), mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi secara keseluruhan siswa berikut: Tabel 4. 7 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satu-satu No Aspek Keterampilan Proses Sains Jumlah Kesimpulan 1 Mengamati (Observasi) 45 Sangat Baik 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 37 Baik 3 Menafsirkan (Interpretasi) 36 Baik 4 Meramalkan (Memprediksi) 25 Cukup 5 Mengajukan Pertanyaan 34 Baik 6 Mengajukan Hipotesis 30 Cukup 7 Merencanakan Percobaan 36 Baik 8 Menggunakan Alat dan Bahan 40 Baik 98 9 Menerapkan Konsep 36 Baik 10 Melakukan Komunikasi 39 Baik Tabel di atas memperlihatkan bahwa kemampuan mengamati siswa berada dalam kategori sangat baik sedangkan kemampuan meramalkan dan melakukan hipotesis berada dalam kategori cukup. Skor KPS siswa untuk keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Skor Rata-rata Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Evaluasi Satu-satu Skor 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 45 37 40 36 36 34 36 39 30 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek KPS Keterangan: 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 4 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Satu-satu Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan keterampilan mengamati siswa memiliki pada evaluasi satu-satu memiliki grafik tertinggi dengan nilai 45, sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada meramalkan dengan nilai 25. 99 Grafik KPS siswa berdasarkan tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut: 12 12 12 12 12 14 9 9 10 12 12 12 12 11 12 12 11 11 11 12 12 12 12 12 13 12 14 15 Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa 15 15 15 7 8 KT 7 Skor 16 6 KS 4 KR 2 0 1 2 3 4 5 6 Aspek KPS 7 8 9 10 Keterangan KT = Kemampuan Tinggi KS = Kemampuan Sedang KR = Kemampuan Rendah 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 5 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Satu-satu Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa siswa berkemampuan rendah mengalami kesulitan saat melakukan hipotesis dan memprediksi suatu keadaan sebelum melakukan percobaan namun, berbeda dengan 100 siswa berkemampuan tinggi dapat menjawab pertanyaan dengan pengetahuan yang dimilikinya. b. Penilian Kelayakan Alat Peraga Angket penilaian kelayakan alat peraga yang digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga yang dikembangkan. Penilaianberdasarkan dari setiap aspek, indikator, dan penilaian alat peraga secara keseluruhan. Aspek-aspek yang dievaluasi dari alat peraga yang dikembangkan meliputi aspek materi, desain pembelajaran, implementasi dan kualitas teknis. Hasil keseluruhan aspek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 8 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Satu-satu No Aspek Penilaian Jumlah Keterangan 1 Materi 42 Sangat Baik 2 Kualitas Teknis 31 Cukup 3 Desain Pembelajaran 40 Baik 4 Implementasi 41 Sangat Baik Jumlah 118 Baik 101 Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Skor 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Skor Angket Siswa Evaluasi Satu-satu 42 40 41 31 Materi Kualitas Teknis Desain Implementasi Pembelajaran Aspek Gambar 4. 6 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Satu-satu Berdasarkan grafik angket siswa memperlihatkan bahwa aspek materi memperoleh nilai tertinggi sebesar 42 dari seluruh aspek. Sedangkan pada aspek paling rendah terdapat pada aspek kualitas teknis sebesar 31 dari keseluruhan aspek. Aspek desain pembelajaran dan aspek implementasi mendapatkan persentase sebesar 40 dan 41. Aspek materi memperoleh nilai tertinggi dengan kategori sangat baik. Indikator aspek materi yaitu tingkat kesulitan materi baik, kejelasan materi sangat baik, kemenarikan materi sangat baik menggunakan alat peraga. Sedangkan aspek kualitas teknis memperoleh nilai terendah dengan kategori cukup. Indikator aspek kualitas teknis yaitu kualitas bentuk yang menarik dan nyaman saat digunakan dengan kategori baik, kualitas warna memiliki kategori cukup, dan ukuran alat peraga yang mudah saat dibawa dan digunakan memiliki kategori cukup. Aspek materi memperoleh nilai 42 berada pada kategori sangat baik, dengan rincian tingkat kesulitan materi baik (tidak terlalu sulit atau tidak terlalu mudah), kejelasan materi sangat baik, kemenarikan materi sangat baik menggunakan alat 102 peraga. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek materi dapat dilihat pada gambar berikut: Skor 15,5 15 15 14,5 14 14 13,5 13 13 12,5 12 Kesulitan Kejelasan Kemenarikan Indikator Aspek Materi Gambar 4. 7 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Materi pada Evaluasi Satu-satu Grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator keterkinian materi dan kemenarikan materi mendapatkan nilai tertinggi sebesar 15 sedangkan indikator kesulitan materi mendapatkan nilai terendah sebesar 13. Aspek kualitas teknis memperoleh nilai 31 berada pada kategori cukup, dengan rincian kualitas bentuk baik, kualitas warna pada kategori cukup, bentuk 103 dan ukuran berada pada kategori cukup. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kualitas teknis dapat dilihat pada gambar berikut: Skor 14 12 12 10 10 9 8 6 4 2 0 Kualitas bentuk Kualitas Warna Bentuk dan Ukuran mudah Dibawa Indikator Aspek Kualitas Teknis Gambar 4. 8 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Kualitas Teknis pada Evaluasi Satu-satu Grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator kualitas bentuk memiliki nilai tertinggi dengan jumlah sebesar 12 sedangkan indikator terendah terdapat pada bentuk dan ukuran mudah untuk dibawa-bawa. Aspek desain pembelajaran memperoleh nilai 40 berada pada kategori baik, dengan rincian kemenarikan media sangat baik, kejelasan tujuan pembelajaran 104 sangat baik, Kelogisan sistematika materi sangat baik, Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek desain pembelajaran dapat dilihat pada gambar berikut: Skor 14,5 14 14 14 13,5 13 12,5 12 12 11,5 11 Kemenarikan Pembelajaran Kejelasan Tujuan Pembelajaran Kelogisan Sistematika Materi Indikator Aspek Desain Pembelajaran Gambar 4. 9 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Satu-satu Aspek implementasi memperoleh nilai 41 dan berada pada kategori sangat baik, yang meliputi efisiensi waktu pada kategori sangat baik, pemanfaatan media pada kategori sangat baik dan kemudahan dalam operasi pada kategori baik. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek implementasi dapat dilihat pada gambar berikut: 105 Skor 15 16 14 14 12 12 10 8 6 4 2 0 Efisiensi Waktu Pemanfaatan Media Kemudahan dalam operasi Indikator Aspek Implementasi Gambar 4. 10 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh SiswaAspek Implementasi pada Evaluasi Satu-satu Grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator pemanfaatan media di waktu berikutnya mendapatkan nilai tertinggi sebesar 15 sedangkan indikator efisiensi waktu mendapatkan nilai terendah sebesar 12. Komentar dan saran dari siswa diantaranya yaitu Alatnya sangat membantu dalam memahami pembelajaran, cukup mudah digunakan, dan tidak membuat siswa bosan membuat siswa ingin terus melaksanakan percobaan menggunakan alat. Saran terhadap alat peraga yaitu, warnan alat peraga dibuat agar lebih terlihat menarik. 3) Hasil Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation) Tahap evaluasi kelompok kecil melibatkan 15 siswa di kelas X dengan kemampuan masing-masing siswa terdiri dari lima siswa yang mewakili berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa tersebut telah mendapatkan pelajaran materi gerak parabola. Analisa data yang dilakukan pada tahap evaluasi kelompok kecil sama dengan pengukuran pada tahap evaluasi satu-satu yaitu pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan pengukuran kelayakan alat peraga. Pengukuran keefektifan alat peraga diukur menggunakan tes dan non tes. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan konsep gerak parabola. Penilaian tes diukur setelah siswa melakukan pembelajaran 106 dengan menggunakan alat peraga yang dikembangkan (post-test), sedangkan penilaian non tes menggunakan lembar observasi KPS yang bertujuan untuk mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa saat menggunakan alat peraga. Pengukuran kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan dengan memberikan angket tanggapan siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap alat peraga yang dikembangkan. a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga a) Hasil Nilai Post-test Siswa Lembar penilaian post-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil posttest evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 9 Hasil Nilai Post-test Siswa Evaluasi Kelompok Kecil Keterangan Hasil Nilai post test Rata-rata Nilai Siswa 83,3 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 60 Persentase Ketuntasan 80% Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah 83,3 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 87 Jakarta adalah 75. Persentase ketuntasan hasil post-test adalah 80% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 90 berjumlah 8 siswa, sedangkan nilai siswa yang dibawah KBM berjumlah 3 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada materi gerak parabola. KPS yang terdapat di soal meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan 107 (memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan. b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang digunakan dalam mengelompokkan lembar observasi meliputi (mengklasifikasikan), keterampilan menafsirkan, mengamati, meramalkan (memprediksi), mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi secara keseluruhan siswa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 10 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Kelompok Kecil No Aspek Keterampilan Proses Sains Jumlah Kategori 1 Mengamati 201 Baik 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 179 Baik 3 Menafsirkan (Interpretasi) 166 Baik 4 Meramalkan (Memprediksi) 135 Cukup 5 Mengajukan Pertanyaan 172 Baik 6 Mengajukan Hipotesis 167 Baik 7 Merencanakan Percobaan 177 Baik 8 Menggunakan Alat dan Bahan 188 Baik 9 Menerapkan Konsep 177 Baik 10 Melakukan Komunikasi 178 Baik 108 Skor KPS siswa keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Rata-rata Skor Keterampilan Proses Sains Evaluasi Kelompok Kecil Skor 250 201 200 188 179 172 166 150 177 177 178 9 10 167 135 100 50 0 1 2 3 4 5 6 Aspek KPS 7 8 Keterangan 1 Mengamati (Observasi) 6 Mengajukan Hipotesis 2 Mengklasifikasikan 7 Merencanakan Percobaan (Mengelompokkan) 8 Menggunakan Alat dan Bahan 3 Menafsirkan (Interpretasi) 9 Menerapkan Konsep 4 Meramalkan (Memprediksi) 10 Melakukan Komunikasi 5 Mengajukan Pertanyaan Gambar 4. 11 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Kelompok Kecil Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan keterampilan mengamati siswa memiliki pada evaluasi kelompok kecil memiliki grafik tertinggi dengan nilai 201, sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada meramalkan dengan nilai 109 135. Grafik KPS siswa berdasarkan tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa 65 62 64 53 58 57 54 58 63 63 60 63 54 60 60 63 57 54 55 49 43 50 47 56 60 56 63 64 60 60 70 69 68 Skor 80 40 KT 30 KS KR 20 10 0 1 2 3 4 5 6 Aspek KPS 7 8 9 10 Keterangan KT = Kemampuan Tinggi KS = Kemampuan Sedang KR = Kemampuan Rendah 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 12 Grafik Penilaian Hasil Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Kelompok Kecil Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hampir disetiap aspek KPS siswa berkemampuan tinggi lebih mengungguli dari siswa 110 berkemampuan sedang dan rendah. Namun, pada aspek merencanakan percobaan siswa berkemampuan sedang lebih mendominasi dibandingkan siswa berkemampuan tinggi dan rendah. Pada aspek Siswa berkemampuan rendah mengalami kesulitan saat memprediksi suatu keadaan baru sebelum melakukan percobaan namun, berbeda dengan siswa berkemampuan tinggi dapat menjawab pertanyaan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. b. Penilian Kelayakan Alat Peraga Angket penilaian kelayakan alat peraga yang digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga yang dikembangkan. Penilaian berdasarkan dari setiap aspek, indikator, dan penilaian alat peraga secara keseluruhan. Aspek-aspek yang dievaluasi dari alat peraga yang dikembangkan meliputi aspek materi, desain pembelajaran, implementasi dan kualitas teknis. Hasil keseluruhan aspek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 11 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga Evaluasi Kelompok Kecil No Aspek Penilaian Jumlah Kategori 1 Materi 190 Baik 2 Desain Pembelajaran 201 Baik 3 Implementasi 180 Baik Jumlah 436 Baik 111 Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Skor Angket Siswa Evaluasi Kelompok Kecil Skor 205 201 200 195 190 190 185 180 180 175 170 165 Materi Desain Pembelajaran Implementasi Aspek Gambar 4. 13 Grafik Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Kelompok Kecil Berdasarkan grafik angket siswa memperlihatkan bahwa aspek desain pembelajaran memperoleh nilai tertinggi sebesar 201 dari seluruh aspek. Sedangkan pada aspek paling rendah terdapat pada aspek implementasi sebesar 180 dari keseluruhan aspek. Aspek materi mendapatkan nilai sebesar 190. Ketiga aspek yaitu aspek materi, desain pembelajaran dan implementasi memperoleh kategori baik. Aspek materi memperoleh nilai 190 berada pada kategori baik. Indikator penilaian yang diukur yaitu kesulitan materi, kejelasan materi dan kemenarikan materi. Indikator kesulitan materi memperoleh kategori baik, hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar. Indikator kejelasan materi memperoleh kategori baik baik, hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dapat membuat materi lebih jelas dan nyata untuk di pelajari. indikator kemenarikan materi memperoleh kategori baik, hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dapat membuat materi menjadi lebih menarik dan mudah 112 dipahami oleh siswa. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek materi dapat dilihat pada gambar berikut: Skor 70 68 68 65 66 64 62 60 57 58 56 54 52 50 Kesulitan Kejelasan Indikator Aspek Materi Kemenarikan Gambar 4. 14 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat oleh siswa Peraga Aspek Materi pada Evaluasi Kelompok Kecil Grafik penilaian tersebut memperlihatkan bahwa indikator kemenarikan mendapat nilai tertinggi sebesar 68 sedangkan indikator kesulitan memahami materi mendapatkan nilai terendah sebesar 57. Indikator kejelasan mendapatkan nilai 65. Aspek desain pembelajaran memperoleh nilai 201 berada pada kategori baik, dengan rincian kejelasan tujuan pembelajaran pada kategori sangat baik, kemenarikan materi pada media baik, kelogisan sistematika pada kategori baik. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek desain pembelajaran dapat dilihat pada gambar berikut: 113 Skor 70 69 69 68 67 67 66 65 65 64 63 Kejelasan Tujuan Kemenarikan Kelogisan Sistematika Pembelajaran Pembelajaran Materi Indikator Aspek Desain Pembelajaran Gambar 4. 15 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Desain Pembelajaran pada Evaluasi Kelompok Kecil Grafik penilaian tersebut memperlihatkan bahwa kejelasan tujuan pembelajaran mendapat persentase tertinggi sebesar 69, sedangkan kemenarikan pembelajaran mendapatkan persentase terendah sebesar 65. Aspek implementasi memperoleh nilai 180 berada pada kategori baik, yang terdiri dari alat peraga dapat dimanfaatkan untuk membantu pembelajaran pada kategori sangat baik, alat peraga mudah untuk digunakan dan dioperasikan pada kategori baik, dan alat peraga dapat mengefisiensikan waktu terdapat pada kategori cukup. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek implementasi dapat dilihat pada gambar berikut: 114 Skor 80 70 60 50 40 30 20 10 0 68 61 51 alat peraga dapat alat peraga mudah untuk alat peraga dapat dimanfaatkan untuk digunakan dan dioperasikan mengefisiensikan waktu membantu pembelajaran Indikator Aspek Implementasi Gambar 4. 16 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Implementasi pada Evaluasi Kelompok Kecil Grafik penilaian tersebut memperlihatkan bahwa indikator pemanfaatan di waktu yang akan datang mendapatkan nilai tertinggi sebesar 68, sedangkan indikator intensitas penggunaan mendapatkan nilai terendah sebesar 51. Komentar dan saran dari siswa diantaranya yaitu Alat peraga sangat membantu dalam memahami materi, materi lebih mudah dimengerti dan belajar menjadi lebih menyenangkan. Namun kekurangannya pembelajaran menjadi lebih lamasehingga tidak mengefisienkan waktu. Saran terhadap alat peraga yaitu: Alat dibuat lebih kokoh agar seimbang, warna pada mata nozzle dibuat berbeda agar mudah membedakan. 4) Hasil Uji Lapangan (Field Test) Tahap evaluasi uji lapangan dilakukan melibatkan 30 siswa di kelas XI dengan kemampuan masing-masing siswa terdiri dari lima siswa yang mewakili berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa tersebut belum mendapatkan pelajaran materi gerak parabola. Analisa data yang dilakukan pada tahap uji lapangan sama dengan pengukuran pada tahap evaluasi sebelumnya yaitu pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan pengukuran kelayakan alat peraga. Pengukuran keefektifan alat peraga diukur menggunakan tes dan non tes. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan 115 konsep gerak parabola. Penilaian tes diukur setelah siswa melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang dikembangkan (post-test), sedangkan penilaian non tes menggunakan lembar observasi KPS yang bertujuan untuk mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa saat menggunakan alat peraga. Pengukuran kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan dengan memberikan angket tanggapan siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap alat peraga yang dikembangkan.. a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga a) Hasil Nilai Post-Test Siswa Penilaian post-test dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil post-test evaluasi uji lapangan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 12 Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Uji Lapangan Keterangan Hasil Nilai post test Rata-rata Nilai Siswa 85,5 Nilai Tertinggi 95 Nilai Terendah 60 Persentase Ketuntasan 97 % Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah 85,5 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 87 Jakarta adalah 75. Persentase ketuntasan hasil post-test adalah 96,7% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 95 berjumlah 2 siswa, sedangkan nilai siswa yang dibawah KBM berjumlah 1 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada materi gerak parabola. KPS yang terdapat di soal meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan 116 (memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan. b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang digunakan dalam lembar observasi meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan, meramalkan (memprediksi), mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi secara keseluruhan siswa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 13 Hasil Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan No Aspek Keterampilan Proses Sains Jumlah Kategori 1 Mengamati 261 Baik 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 258 3 Menafsirkan (Interpretasi) 253 Baik 4 Meramalkan (Memprediksi) 214 Cukup Baik 5 Mengajukan Pertanyaan 223 Cukup Baik 6 Mengajukan Hipotesis 240 Cukup Baik 7 Merencanakan Percobaan 253 Baik 8 Menggunakan Alat dan Bahan 255 Baik 9 Menerapkan Konsep 252 Baik 10 Melakukan Komunikasi 252 Baik Baik 117 Skor KPS siswa keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Rata-rata Skor Keterampilan Proses Sains Uji Lapangan Skor 300 261 258 253 240 250 214 253 255 252 252 7 8 9 10 223 200 150 100 50 0 1 2 3 4 5 6 Aspek KPS Keterangan: 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 17 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Uji Lapangan Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan bahwa keterampilan siswa dalam mengamati data pada uji lapangan memiliki grafik tertinggi dengan nilai 261, sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada keterampilan siswa dalam meramalkan (memprediksi) dengan nilai 214. Grafik KPS siswa berdasarkan 118 tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut: Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa Uji Lapangan 80 102 69 70 99 71 64 60 84 97 87 93 87 81 72 60 62 57 63 67 80 73 81 83 80 95 96 89 100 99 95 120 95 108 Skor KT KS KR 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek KPS Keterangan KT = Kemampuan Tinggi KS = Kemampuan Sedang KR = Kemampuan Rendah 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 18 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Uji Lapangan 119 Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hampir disetiap aspek KPS siswa berkemampuan tinggimemiliki grafik tertinggi daripada siswa berkemampuan sedang dan rendah. b. Penilaian Kelayakan Alat Peraga a) Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Angket penilaian kelayakan alat peraga digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap kelayakan alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran menggunakan alat peraga yang dikembangkan. Aspek-aspek yang dievaluasi dari alat peraga yang dikembangkan meliputi kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability), kesinambungan (sustainability), penerimaan dan kemenarikan. Hasil keseluruhan aspek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 14 Hasil Penilaian Kelayakan Alat Peraga pada Evaluasi Uji Lapangan No Aspek Penilaian Jumlah Kesimpulan 1 Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) 381 Baik 2 Kesinambungan (sustainability) 332 Cukup 3 Penerimaan dan Kemenarikan 435 Sangat Baik 1148 Baik Jumlah 120 Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Skor Angket Uji Lapangan (Field Test) Skor 500 435 450 400 381 332 350 300 250 200 150 100 50 0 Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) Kesinambungan (sustainability) Penerimaan dan Kemenarikan Aspek Penilaian Penelitian Lapangan Gambar 4. 19 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Uji Lapangan Berdasarkan grafik angket siswa memperlihatkan bahwa aspek penerimaan dan kemenarikan memperoleh nilai tertinggi sebesar 435 dari seluruh aspek. Sedangkan pada aspek paling rendah terdapat pada aspek kesinambungan sebesar 332 dari keseluruhan aspek. Aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) mendapatkan nilai sebesar 381. Aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability), Kesinambungan (sustainability) dalam kategori baik, sedangkan aspek penerimaan dan kemenarikan memperoleh kategori sangat baik. Aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) secara keseluruhan memperoleh nilai 381 dengan kategori baik. Indikator dari aspek kemampuan untuk dilaksanakan (implementability) adalah mudah untuk digunakan, mudah untuk dipahami, tidak membahayakan saat digunakan, 121 Mengefisienkan waktu untuk dipelajari. Indikator mudah untuk digunakan berkesimpulan sangat baik untuk digunakan, konsep materi mudah untuk dipahami siswa berkesimpulan sangat baik, indikator tidak membahayakan saat digunakan berkesimpulan baik, dan Mengefisienkan waktu untuk dipelajari berkesimpulan cukup baik. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) dapat dilihat pada gambar berikut: Skor 120 Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) 108 110 98 100 80 65 60 40 20 0 Mudah untuk digunakan Mudah untuk dipahami Tidak Mengefisienkan membahayakan waktu untuk saat digunakan dipelajari Indikator Gambar 4. 20 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Kemampuan untuk dapat Dilaksanakan (Implementability) pada Evaluasi Uji Lapangan Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator kemudahan untuk dipahami mendapatkan nilai tertinggi sebesar 110. Indikator mengefisienkan waktu mendapatkan nilai terendah yaitu 65. Aspek kesinambungan (sustainability) memperoleh nilai 332 berada pada kategori cukup. Indikator dari aspek kesinambungan yaitu mudah dalam perawatan dan pemeliharanya, penggunaan dalam jangka waktu yang lama, tidak mudah rusak/pecah saat digunakan (tahan lama), pemilihan bahan yang digunakan tidak berbahaya. Indikator mudah dalam perawatan dan pemeliharanya berkesimpulan cukup, indikator penggunaan dalam jangka waktu yang lama berkesimpulan cukup, indikator tidak mudah rusak/pecah saat digunakan (tahan lama) berkesimpulan 122 baik, dan indikator pemilihan bahan yang digunakan tidak berbahaya berkesimpulan sangat baik. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) dapat dilihat pada gambar berikut: Kesinambungan (sustainability) Skor 120 108 100 80 74 77 73 60 40 20 0 Mudah dalam perawatan dan pemeliharanya Dapat digunakan Tidak mudah dalam jangka rusak/pecah saat waktu yang lama digunakan (tahan lama) Bahan yang digunakan aman dan tidak menggunakan bahan berbahaya Indikator Gambar 4. 21 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Kesinambungan (Sustainability) pada Evaluasi Uji Lapangan Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator pemilihan bahan yang digunakan tidak berbahaya memiliki nilai 108. Sedangkan Indikator yang terendah adalah intensitas penggunaan waktu yang lama mendapatkan nilai terendah yaitu 73. Aspek penerimaan dan kemenarikan memperoleh nilai 435 dengan kategori sangat baik. Indikator dari aspek penerimaan dan kemenarikan adalah dapat meningkatkan minat belajar, membuat siswa tidak malas dalam mempelajari materi, membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, pembelajaran menjadi tidak membosankan. Indikator dapat meningkatkan minat belajar sangat baik, membuat siswa tidak malas dalam mempelajari materi sangat baik, membuat 123 pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan sangat baik, dan pembelajaran menjadi tidak membosankan sangat baik. Hasil penilaian dari setiap indikator pada aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) dapat dilihat pada gambar berikut: Penerimaan dan Kemenarikan Skor 113 112 111 110 109 108 107 106 105 104 103 112 110 107 106 Dapat meningkatkan minat dalam belajar Membuat tidak malas untuk mempelajari materi membuat Membuat pembelajaran pembelajaran menjadi lebih materi gerak menarik, inovatif, parabola menjadi dan menyenangkan tidak membosankan Indikator Gambar 4. 22 Grafik Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Penerimaan dan Kemenarikan pada Evaluasi Uji Lapangan Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator pembelajaran menjadi lebih menarik, inovatif dan menyenangkan memiliki nilai tertinggi sebesar 112. Sedangkan Indikator yang terendah adalah membuat siswa tidak malas dalam mempelajari materi mendapatkan nilai terendah yaitu 106. Komentar dan saran dari siswa diantaranya yaitu Alat peraga sangat membantu dalam memahami materi, mempelajari materi fisika lebih mudah dimengerti dan belajar menjadi lebih menyenangkan. Saran terhadap alat peraga yaitu: Alat peraga kurang kuat dan tidak tahan lama untuk pemakaian jangka panjang, kurang praktis, sulit untuk digerakan, seharusnya menggunakan bahan stainless steel, seharusnya corong dimiringkan agar bisa menyesuaikan titik jatuh 124 air, penggunaan jangka di alat penyemprot air kurang akurat, alat peraga kurang rapih. 3. Evaluasi Sumatif Produk media alat peraga yang telah di nyatakan layak dan direvisi pada tahap evaluasi formatif selanjutnya akan di uji keefektifan dan kepraktisan pada evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif melibatkan 30 siswa dan guru mewakili satu sekolah. Tes dalam penelitian menggunakan KPS bermuatan konsep gerak parabola. Pengukuran keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dan pengukuran kepraktisan pembelajaran menggunakan alat peraga. Pengukuran keefektifan alat peraga diukur menggunakan tes dan non tes. Penilaian tes diukur setelah siswa melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang dikembangkan (post-test), sedangkan penilaian non tes menggunakan lembar observasi KPS yang bertujuan untuk mengetahui proses KPS yang dilakukan siswa saat menggunakan alat peraga. Pengukuran kepraktisan alat peraga dilakukan dengan memberikan angket tanggapan siswa dan guru terhadap alat peraga yang dikembangkan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. a. Penilaian Keefektifan Alat Peraga a) Hasil Nilai Post-test Siswa Penilaian keefektifan alat peraga pada tahap evaluasi sumatif dilakukan dengan memberikan lembar post-test untuk mengukur tingkat pemahaman siswa setelah melakukan percobaan menggunakan media alat peraga. Hasil post-test evaluasi sumatif dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 15 Hasil Nilai Post test Siswa Evaluasi Sumatif Keterangan Hasil Nilai post test Rata-rata Nilai Siswa 85,8 Nilai Tertinggi 100 Nilai Terendah 65 Persentase Ketuntasan 90 % 125 Berdasarkan rata-rata nilai siswa setelah menggunakan alat peraga adalah 85,8 dengan KBM nilai pelajaran fisika di SMAN 29 Jakarta adalah 75. Persentase ketuntasan hasil post-test adalah 90% dengan nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 100 berjumlah 1 siswa, sedangkan nilai siswa yang dibawah KBM berjumlah 3 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga yang dikembangkan efektif digunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan KPS siswa pada materi gerak parabola. KPS yang terdapat di soal meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan (interpretasi), meramalkan (memprediksi), mengipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan. b) Hasil Penilaian Lembar Observasi KPS Penilaian menggunakan lembar non tes (observasi) dilakukan untuk mengukur kegiatan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian KPS yang digunakan dalam lembar observasi meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan (mengklasifikasikan), menafsirkan, meramalkan (memprediksi), mengajukan pertanyaan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep dan melakukan komunikasi. Hasil penilaian lembar observasi secara keseluruhan siswa dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 4. 16 Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa Evaluasi Sumatif No Aspek Keterampilan Proses Jumlah Sains Kategori 1 Mengamati 297 Baik 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 283 Baik 3 Menafsirkan (Interpretasi) 263 Baik 4 Meramalkan (Memprediksi) 226 Cukup Baik 5 Mengajukan Pertanyaan 267 Baik 6 Mengajukan Hipotesis 242 Cukup Baik 7 Merencanakan Percobaan 284 Baik 126 8 Menggunakan Alat dan Bahan 277 Baik 9 Menerapkan Konsep 266 Baik 10 Melakukan Komunikasi 289 Baik Skor KPS siswa keseluran keterampilan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Rata-rata Skor Keterampilan Proses Sains Sumatif Skor 350 300 297 283 267 263 226 250 284 277 266 7 8 9 242 289 200 150 100 50 0 1 2 3 4 5 6 10 Aspek KPS Keterangan: 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 23 Grafik Hasil Penilaian Observasi KPS Siswa pada Evaluasi Sumatif Berdasarkan grafik diatas memperlihatkan bahwa keterampilan mengamati siswa memiliki pada uji lapangan memiliki grafik tertinggi dengan nilai 297, sedangkan keterampilan terendah siswa terdapat pada meramalkan dengan nilai 127 226. Grafik KPS siswa berdasarkan tingkat kemampuan berpikir siswa yaitu kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada gambar berikut: 74 80 83 105 101 78 92 96 92 96 90 86 83 94 95 95 96 84 86 84 83 79 92 92 89 100 100 99 97 120 99 96 Rata-rata Skor KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa Evaluasi Sumatif Skor 59 KT 60 KS KR 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek KPS Keterangan KT = Kemampuan Tinggi KS = Kemampuan Sedang KR = Kemampuan Rendah 1 Mengamati (Observasi) 2 Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3 Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 5 Mengajukan Pertanyaan 6 7 8 9 10 Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Gambar 4. 24 Grafik Penilaian Observasi KPS Siswa Berdasarkan Kemampuan Berpikir pada Evaluasi Sumatif Berdasarkan gambar grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hampir disetiap aspek KPS siswa berkemampuan tinggi lebih tinggi daripada siswa berkemampuan sedang dan rendah. Namun, pada keterampilan mengajukan pertanyaan, 128 merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, dan menerapkan konsep siswa berkemampuan sedang lebih mendominasi dibandingkan siswa berkemampuan tinggi dan rendah. Siswa berkemampuan rendah mengalami kesulitan saat meramalkan (memprediksi) suatu keadaan baru sebelum melakukan percobaan namun, berbeda dengan siswa berkemampuan tinggi dapat menjawab pertanyaan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. c) Hasil Penilaian Angket Guru Aspek Keefektifan Hasil penilaian angket guru aspek kefektifan media alat peraga menyatakan alat peraga yang dikembangkan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran fisika. Hal tersebut dikarenakan keempat guru menyatakan bahwa alat peraga tersebut efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran dengan tingkat keefektifitasan sangat baik. Hasil angket penilaian guru berdasarkan indikator aspek efektifitas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 17 Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif No Indikator Jumlah nilai Kategori 1 Ketercapaian tujuan pembelajaran 14 Baik 2 Efektif untuk membantu memahami materi 14 Baik 3 Efektif meningkatkan motivasi dan rasa ingin tahu 14 Baik 4 Efektif membantu dalam mengajar 14 Baik 5 Efektif membantu siswa dalam memvisualisasikan 14 Baik 70 Sangat Baik Jumlah 129 Tabel angket keefektifan oleh guru memperlihatkan bahwa seluruh guru pada semua indikator berada pada kategori sangat baik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa media alat peraga efektif untuk digunakan oleh siswa dalam pembelajaran. Nilai keseluruhan angket keefektifan alat peraga oleh guru dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Skor Angket Keefektifan olehh Siswa pada Evaluasi Sumatif Skor 16 14 14 14 14 14 1 2 3 4 5 14 12 10 8 6 4 2 0 Indikator Gambar 4. 25 Grafik Hasil Penilaian Angket Keefektifan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif Grafik tersebut memperlihatkan bahwa kelima indikator yaitu ketercapaian tujuan pembelajaran, Efektif untuk membantu memahami materi, efektif meningkatkan motivasi dan rasa ingin tahu, efektif membantu dalam mengajar, dan efektif membantu siswa dalam memvisualisasikan mendapatkan nilai yang sama yaitu 14. b. Penilaian Kepraktisan Alat Peraga a) Hasil Penilaian Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa Angket penilaian kepraktisan alat peraga digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap kepraktisan alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran. Hasil penilaian aspek kepraktisan oleh siswa dapat dilihat pada tabel berikut: 130 Tabel 4. 18 Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif No Indikator Skor Kategori 1 Kemudahan penggunaan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan percobaan 111 Sangat Praktis 2 Kemudahan alat peraga untuk dirangkai ulang 83 Cukup 3 Alat peraga dilengkapi oleh tempat penyimpanan sehingga mudah untuk dibawa. 89 Praktis 4 Kemudahan alat peraga dalam perawatan 97 Praktis 5 Kemudahan menemukan komponen pengganti dari alat peraga 101 Praktis 481 Praktis JUMLAH 131 Nilai angket siswa secara keseluruhan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: Skor Angket Siswa Evaluasi Sumatif Skor 120 111 100 83 97 101 4 5 89 80 60 40 20 0 1 2 3 Aspek Kepraktisan Keterangan 1. Kemudahan penggunaan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan 2. Kemudahan alat peraga untuk dirangkai ulang 3. Kemudahan untuk dibawa. 4. Kemudahan alat peraga dalam perawatan 5. Kemudahan menemukan komponen pengganti Gambar 4. 26 Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif Grafik tersebut memperlihatkan bahwa indikator kemudahan penggunaan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan saat percobaan mendapatkan nilai tertinggi sebesar 111. Sedangkan indikator terendah adalah kemudahan alat peraga untuk dirakit ulang mendapatkan nilai sebesar 83. b) Hasil Penilaian Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru Angket penilaian kepraktisan alat peraga digunakan untuk mengetahui respon guru terhadap kepraktisan alat peraga untuk digunakan dalam pembelajaran. Hasil penilaian aspek kepraktisan oleh guru dapat dilihat pada tabel berikut: 132 Tabel 4. 19 Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif No Indikator Skor Kategori 1 Kepraktisan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan percobaan. 15 Sangat Baik 2 Kepraktisan alat peraga untuk dirangkai ulang. 15 Sangat Baik 3 Alat peraga dilengkapi oleh tempat penyimpanan sehingga praktis untuk dibawa. 15 Sangat Baik 4 Media alat peraga praktis dalam perawatan 14 Baik 5 Media alat mudah untuk ditemukan komponen pengganti 13 Baik JUMLAH 72 Sangat Baik Berdasarkan tabel di atas memperlihatkan bahwa alat peraga sangat praktis untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan percobaan, sangat praktis untuk dirangkai ulang, sangat praktis untuk dibawa, sangat praktis dalam perawatan, dan alat peraga praktis untuk ditemukan komponenan pengganti alat. Nilai keseluruhan angket kepraktisan alat peraga oleh guru dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar berikut: 133 Skor Angket Kepraktisan oleh Guru pada Evaluasi Skor Sumatif 15,5 15 15 15 15 14,5 14 14 13,5 13 13 12,5 12 1 2 3 4 5 Indikator Keterangan 1. Kepraktisan alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan. 2. Kepraktisan alat peraga untuk dirangkai ulang. 3. Kepraktisan untuk dibawa. 4. Kepraktisan dalam perawatan 5. Kepraktisan dalam menemukan komponen pengganti Gambar 4. 27 Grafik Hasil Penilaian Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Guru pada Evaluasi Sumatif Berdasarkan grafik di atas memperlihatkan bahwa indikator terendah adalah kepraktisan untuk menemukan komponenan pengganti alat, sedangkan skor tertinggi terdapat pada indikator praktis untuk digunakan dan dioperasikan, sangat praktis untuk dirangkai ulang, sangat praktis untuk dibawa. 4. Hasil Refleksi Sistematik dan Dokumentasi (Systematic Reflection and Documentation) a. Tahap evaluasi Satu-satu (One to one) Pada tahap ini dimulai dengan memberikan lembar kerja siswa (LKS) kepada siswa. Siswa diminta untuk membaca dan mengerjakan soal prediksi dan hipotesis yang terdapat pada LKS, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang peristiwa gerak parabola. Setelah siswa selesai menjawab LKS siswa melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk 134 membuktikan hipotesis yang telah dikerjakan sebelumnya. Proses penggunaan alat peraga pada tahap evaluasi satu-satu dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 4. 28 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Satu-satu Setelah selesai mengambil data masing-masing siswa melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian mengenai alat peraga yang telah mereka gunakan. Terakhir siswa mengerjakan post-test untuk mengukur efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 4. 29 Kegiatan Post-test pada Evaluasi Satu-satu b. Tahap Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group) Tahap evaluasi kelompok kecil siswa dibagi dalam 5 kelompok yang terdiri dari 3 siswa dalam satu kelompok. Sebelum menggunakan alat peraga 135 siswa membaca dan memahami LKS yang telah dibagikan ke masing-masing siswa. Selanjutnya siswa saling berdiskusi untuk menjawab pertanyaan prediksi dan hipotesis yang terdapat pada LKS sebelum melakukan percobaan, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang gerak parabola. Setelah itu siswa melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk menguji hasil hipotesis dengan hasil percobaan yang diperoleh. Proses penggunaan alat peraga pada tahap evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada gambar berikut: 136 Gambar 4. 30 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Evaluasi Kelompok Kecil Setelah selesai melakukan percobaan menggunakan alat peraga siswa melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian tentang alat peraga yang telah mereka gunakan. Kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 4. 31 Kegiatan Siswa saat sedang Berdiskusi Mengerjakan LKS pada Evaluasi Small Group 137 Terakhir siswa mengerjakan post-test untuk mengukur efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 4. 32 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Small Group c. Tahap Evaluasi Uji Lapangan (Field Test) Tahap evaluasi uji lapangan siswa dibagi dalam 6 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Sebelum menggunakan alat peraga siswa membaca dan memahami LKS yang telah dibagikan ke masingmasing siswa. Selanjutnya siswa saling berdiskusi bersama dengan kelompoknya untuk menjawab pertanyaan prediksi dan hipotesis yang terdapat pada LKS sebelum melakukan percobaan, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang gerak parabola. Setelah itu siswa melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk menguji hasil hipotesis dengan hasil percobaan yang diperoleh. Proses penggunaan alat peraga pada tahap evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada gambar berikut: 138 Gambar 4. 34 Proses Penggunaan Alat Peraga oleh Siswa pada Uji Lapangan Setelah selesai melakukan percobaan menggunakan alat peraga siswa melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian tentang alat peraga yang telah mereka gunakan. Selanjutnya siswa mengerjakan post-test untuk mengukur efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 4. 35 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Uji Lapangan 139 d. Tahap evaluasi Sumatif (Summative Evaluation) Tahap evaluasi sumatif siswa dibagi dalam 8 kelompok dengan masingmasing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa. Sebelum menggunakan alat peraga siswa membaca dan memahami LKS yang telah dibagikan ke masingmasing siswa. Selanjutnya siswa saling berdiskusi bersama dengan kelompoknya untuk menjawab pertanyaan prediksi dan hipotesis yang terdapat pada LKS sebelum melakukan percobaan, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang gerak parabola. Setelah itu siswa melakukan percobaan menggunakan alat peraga untuk menguji hasil hipotesis dengan hasil percobaan yang diperoleh. Proses penggunaan alat peraga pada tahap evaluasi kelompok kecil dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 4. 36 Proses Penggunaan Alat Peraga Oleh Siswa pada Evaluasi Sumatif Setelah selesai melakukan percobaan menggunakan alat peraga siswa melakukan pengolahan data dan mengisi angket penilaian tentang alat peraga yang telah mereka gunakan. Selanjutnya siswa mengerjakan post-test untuk 140 mengukur efektfitas penggunaan media alat peraga tersebut. Kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 4. 37 Kegiatan Evaluasi Post-test pada Evaluasi Sumatif B. Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini mengembangkan produk alat peraga materi gerak parabola yang berfungsi untuk dapat memvisualisasikan lintasan perpindahan gerak saat diberikan sudut awal sebelum benda bergerak, dan siswa tidak dapat memvisualisasikan perbedaan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian saat lintasan diberikan sudut yang berbeda-beda. Pengembangan alat peraga tersebut berdasarkan hasil dari studi pendahuluan dengan melakukan studi literatur dan studi lapangan. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan alat peraga efektif untuk merangsang keaktifan siswa dalam pembelajaran, sikap ilmiah siswa, pemahaman siswa dan dapat meningkatkan hasil 141 belajar siswa serta dapat menjadi media pembelajaran yang menarik. Selain itu, pengembangan alat peraga didasarkan pada keinginan menyempurnakan kekurangan yang terdapat pada alat peraga gerak parabola yang telah dikembangkan sebelumnya yaitu: alat peraga tersebut hanya dapat mengukur jarak jangkauan saja, tetapi tidak dapat mengukur ketinggian maksimum.83 Berdasarkan hasil studi lapangan dapat disimpulkan bahwa di sekolah tidak terdapat alat peraga pada materi gerak parabola yang dapat digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Guru dalam mengajar materi gerak parabola dengan metode ceramah, diskusi dengan menyajikan video/animasi, dan melakukan percobaan menggunakan alat buatan siswa yang masih memiliki banyak kekurangan pada keakuratan. Alat peraga yang dikembangkan mengunakan model development study dari Van Den Akker. Tujuan penggunaan penelitian tersebut karena untuk menghasilkan produk alat peraga yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang berada di lapangan dan dalam pelaksanaannya melibatkan partisipan, peneliti, ahli, dan stakeholder.84 Berikut ini tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan: penelitian pendahuluan (preliminary research); tahap prototipe (prototyping stage); evaluasi sumatif (summative evaluation); refleksi sistematik dan dokumentasi (systematic reflection and documentation). Tahap prototipe terdiri tahap pembuatan alat peraga, evaluasi formatif dan penyempurnaan alat peraga. Penilaian dan uji coba alat peraga dilakukan pada tahap evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Penilaian evaluasi formatif terdiri dari beberapa tahap diantaranya yaitu uji ahli (expert review), evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan uji lapangan (field study). Penilaian pada pada evaluasi formatif dan sumatif dilakukan untuk mengukur kelayakan, keefektifan, dan kepraktisan alat peraga dalam pembelajaran. Penilaian kelayakan alat peraga dilakukan oleh ahli materi pelajaran fisika dan ahli media pembelajaran. Selain dari ahli penilaian kelayakan alat peraga juga dilakukan 83 Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02. 2014, h. 93 84 Ibid, h. 154. 142 oleh siswa sebagai pengguna alat peraga. Penilaian keefektifan penggunaan alat peraga dilihat pada hasil nilai yang diperoleh siswa setelah menggunakan alat peraga dan keefektifan KPS siswa saat menggunakan alat peraga. Penilaian kepraktisan alat peraga dilakukan oleh guru dan siswa. Penilaian kelayakan alat peraga dilakukan ahli yang telah berpengalaman pada masing-masing bidang yaitu bidang media pembelajaran dan materi fisika. Penilaian kelayakan alat peraga dilakukan oleh sepuluh ahli yang terdiri dari lima ahli media pembelajaran dan lima ahli materi fisika. Hasil penilaian ahli media pembelajaran menyatakan bahwa alat peraga yang dikembangkan dinyatakan sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran fisika materi gerak parabola. Hasil penilaian oleh ahli materi fisika menyatakan bahwa media alat peraga yang dikembangkan dalam kategori sangat relevan antara isi konten materi pada alat peraga dengan isi konsep materi fisika. Kelima ahli media pembelajaran menyatakan bahwa media alat peraga gerak parabola sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran fisika materi gerak parabola. Hasil penilaian ahli terhadap keseluruhan indikator memperoleh total nilai 436 yang berada pada kategori sangat layak. Penilaian alat peraga terdiri dari delapan aspek dengan masing-masing aspek terdiri dari tiga indikator sehingga total keseluruhan yaitu 24 indikator pernyataan. Hasil penilaian kelima ahli pada 24 indikator memperlihatkan bahwa 18 indikator (75%) menyatakan alat peraga sangat layak dan 6 indikator (25%) menyakatan kriteria layak. Berikut ini penjelasan peniliaian kelayakan alat peraga: 1. Aspek pada penilaian alat peraga tersebut terdiri dari kriteria kesesuaian dengan bahan ajar, ketahanan alat, keakuratan, efisiensi alat, keamanan bagi siswa, estetika, kelengkapan alat, tempat penyimpanan. Aspek penilaian kesesuaian alat peraga dengan bahan ajar oleh ahli memiliki total nilai sebesar 58 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini terdiri dari kesesuaian alat peraga dengan konsep yang terdapat pada materi, indikator kejelasan alat peraga dalam membantu menjelaskan konsep, indikator kesesuaian alat peraga dengan kompetensi siswa. Ketiga indikator tersebut berada pada kategori sangat layak, hal ini karena alat peraga dirancang 143 sesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, dan kompetensi dasar pada materi.85 2. Aspek penilaian ketahanan alat memiliki total nilai sebesar 55 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini terdiri dari ketahanan alat peraga terhadap cuaca, kemudahan alat peraga dalam perawatan, dan pembuatan alat peraga menggunakan bahan yang mudah ditemukan berada pada kategori sangat layak. Alat peraga yang dikembangkan memiliki ketahanan terhadap cuaca karena alat peraga dibuat dengan bahanbahan yang kokoh dan kuat dari berbagai cuaca sehingga alat peraga tidak mudah rusak. Alat peraga mudah dalam perawatan karena hanya dengan menggunakan kain basah ataupun kering untuk dapat membersihkan, dan pembuatan alat peraga menggunakan bahan yang mudah ditemukan. karena dibuat dengan barang-barang bekas yang terdapat pada sekitar lingkungan rumah. Alat peraga haruslah tahan lama dan tidak mudah rusak karena alat peraga akan sering digunakan oleh banyak siswa, sehingga hasil pengukuran tidak akan mengalami penyimpangan, walaupun sering digunakan.86 Alat peraga juga haruslah mudah dalam perawatan dan mudah dalam memperoleh komponen pengganti sehingga memudahkan guru dalam merawat dan memperbaiki alat peraga,87 3. Aspek penilaian keakuratan alat peraga memiliki total nilai sebesar 44 dengan kategori layak. Penilaian dilakukan ahli adalah aspek penilaian ini terendah dibandingkan dengan aspek penilaian lainnya. Ketiga indikator pada aspek ini berada pada kategori layak, hal ini karena rata-rata ahli media menyatakan bahwa alat peraga yang dikembangkan masih memiliki kekurangan dan harus diperbaiki kembali pada setiap indikator yaitu ketahanan komponen pada alat peraga agar sesuai dengan posisi dudukan awalnya, ketepatan pemasangan pada setiap komponen, dan ketelitian dalam pengukuran. Ketepatan dan 85 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.82 86 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 12 87 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5 144 ketelitian pada alat peraga diperlukan untuk keberhasilan pengukuran, sehingga penyimpangan hasil pengukuran oleh kesalahan alat dapat diminimalkan agar memperoleh konsep-konsep sains yang benar.88 4. Aspek penilaian efisiensi alat peraga memiliki total nilai sebesar 55 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini terdiri dari kemudahan alat peraga untuk digunakan, kemudahan alat peraga untuk dioperasikan, dan kemudahan alat peraga untuk dibawa kemana-mana. Ketiga indikator tersebut berada pada kategori sangat layak. Alat peraga dibuat agar siswa memiliki kemudahan untuk digunakan dan dioperasikan oleh siswa saat pembelajaran sehingga efektif digunakan oleh siswa. Alat peraga seharusnya dibuat agar dapat mudah digunakan dan dimanfaatkan siswa.89 Alat peraga juga dilengkapi dengan pegangan yang nyaman agar dapat mudah untuk dibawa kemanapun, namun karena bentuknya yang panjang menyebabkan sebagian ahli menyatakan alat dibuat agar lebih praktis kembali. Media seharusnya dibuat agar bisa digunakan dimanapun dan kapapun dan mudah untuk dibawa kemana-mana dan memiliki ukuran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan agar memudahkan kegiatan pembelajaran.90 5. Aspek keamanan alat peraga saat digunakan bagi siswa memiliki total nilai sebesar 55 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini terdiri dari kemanan dan kenyamanan saat digunakan oleh siswa, konstruksi alat peraga kokoh sehingga memiliki keamanan saat digunakan, dan penggunaan bahan pada alat peraga yang ramah lingkungan dan tidak mengandung zat beracun. Ketiga indikator pada aspek ini berada apada kategori sangat baik, namun terdapat saran dari ahli yaitu harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya penggunaan listrik dan air agar tidak terjadi hubungan singkat yang membahayakan untuk keamanan bagi siswa. 6. Aspek estetika memiliki total skor nilai sebesar 53 dengan kategori sangat layak. Indikator penilaian yang terdapat pada aspek ini adalah alat peraga 88 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., h.13 89 Rayandra Asyhar, op. cit., h. 83 90 Ibid., 82 145 memiliki warna yang menarik, rancangan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan materi dan memiliki bentuk yang menarik rapi dan nyaman untuk digunakan. Indikator alat peraga memiliki warna dan bentuk yang menarik memiliki kategori layak, sedangkan indikator rancangan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan materi memiliki kategori sangat layak. Kelayakan alat peraga tersebut dikarenakan bentuk alat peraga dirancang sangat sesuai dengan kebutuhan materi, sedangkan warna dan bentuknya juga telah menarik dan nyaman untuk digunakan. Alat yang memiliki tampilan menarik dan berwarna indah cenderung akan disenangi siswa, sehingga dapat meningkatkan motivasi, minat, dan mengambil pehatian siswa untuk fokus mengikuti materi yang disajikan.91 7. Aspek kelengkapan alat memiliki total skor 59 dengan kategori sangat layak. Aspek ini alat peraga memiliki total nilai tertinggi dibandingkan dengan aspek lainnya, hal ini karena alat peraga memiliki manual book, lembar kerja siswa (LKS) dan video yang dapat membantu guru dalam merakit dan cara menggunakan alat peraga dalam percobaan, dan dapat memudahkan siswa dalam melakukan percobaan menggunakan alat peraga. 8. Aspek terakhir pada penilaian ahli media pembelajaran adalah aspek terdapat tempat penyimpanan alat peraga, pada aspek ini alat peraga memperoleh total nilai sebesar 57 dengan kategori sangat layak. Indikator yang terdapat pada aspek ini yaitu kelengkapan tempat penyimpanan yang mudah untuk menyimpan dan mengambil alat, kelengkapan untuk dapat memudahkan alat untuk dibawa, dan memiliki ketahanan dalam penyimpanan alat. Hasil penilaian dari ketiga indikator berada pada kategori sangat layak, hal ini karena alat peraga dilengkapi tempat penyimpanan yang dapat memudahkan siswa untuk mengambil dan menyimpan kembali alat peraga sehingga membuat alat menjadi lebih rapih. Hal ini karena jika alat peraga kurang rapih dan bersih dapat mengurangi kemenarikan dan kejelasan alat peraga sehingga fungsinya tidak masumal dalam memperbaik pembelajaran.92 Selain itu tempat 91 Ibid., h. 41 Ibid., h. 81 92 146 penyimpanan alat peraga juga dibuat agar kuat dan kokoh untuk menyimpan alat dan tidak mudah rusak. Terdapatnya tempat penyimpanan dapat menjaga agar komponen alat peraga dapat terjaga dengan baik dan kotak penyimpan alat juga terjaga dengan baik.93 Kelima ahli materi fisika menyatakan bahwa isi materi fisika yang terdapat pada alat peraga sangat relevansi dengan isi materi yang terdapat pada konsep gerak parabola. Aspek yang terdapat pada penilaian terdiri dari dua yaitu aspek kesesuaian isi dan kesesuaian konsep. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan skala Guttman pada keseluruhan aspek penilaian yang diberikan ahli memperoleh nilai memiliki presentase 95% yang artinya materi yang terdapat pada alat peraga relevan (sesuai) dengan materi yang terdapat pada gerak parabola. Ahli menilai tujuan pembelajaran yang dibuat sudah sesuai dengan kompetensi dasar yang ada pada silabus. Kompetensi dasar yang terdapat di silabus. Kesesuaian materi fisika yang terdapat pada alat peraga dikarenakan dalam pembuatan alat peraga haruslah didasarkan pada hasil analisis terhadap berbagai faktor diantaranya seperti: tujuan, kompetensi siswa, metode, materi yang diajarikan, dan waktu.94 Tujuan dari menyesuaikan tersebut agar isi materi yang disampaikan tepat sasaran dan sesuai keperluan, sehingga memungkinkannya terjadi interaksi yang baik antara siswa terhadap media yang digunakan.95 Penilaian kelayakan alat peraga oleh siswa dilakukan pada evaluasi formatif dengan tiga tahap yaitu: evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil dan uji lapangan. Penilaian kelayakan alat peraga pada evaluasi satu-satu memperlihatkan bahwa aspek materi mendapatkan kriteria sangat baik. Siswa menilai isi materi yang terdapat pada alat peraga dapat mudah di pahami, jelas dan menarik karena dengan menggunakan alat peraga siswa dapat memvisualisasikan materi gerak parabola. Aspek materi dalam pembuatan alat peraga berdasarkan hasil analisis kebutuhan di sekolah terhadap kompetensi yang diharapkan, karakteristik siswa, 93 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., h. 14 94 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 104 95 Rayandra Asyhar, op. cit., h. 82 147 dan karakteristik materi,96 disebabkan karena aspek kualitas teknis dari alat peraga memiliki nilai paling rendah dengan ketegori cukup baik dibandingkan dengan keseluruhan aspek. Indikator kemudahan untuk dibawa mendapatkan nilai paling rendah, menurut siswa alat ini sangat sulit untuk dibawa karena bentuknya yang terlalu panjang menyebabkan alat ini kurang praktis untuk dibawa-bawa. Media alat peraga seharusnya digunakan sebaiknya dapat mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana agar dapat lebih efektif untuk digunakan kapan pun dan dimana pun.97 Penilaian kelayakan alat peraga pada evaluasi kelompok kecil memperlihatkan bahwa ketiga aspek materi, desain pembelajaran dan implementasi mendapatkan kriteria baik dengan perbedaan jumlah nilai yang tidak begitu jauh. Setelah dilakukan perbaikan pada alat berdasarkan penilaian ahli dan repon siswa pada tahap sebelumnya alat peraga mengalami perubahan sehingga menyebabkan alat menjadi lebih baik. Siswa menilai isi materi yang terdapat pada alat peraga dalam kategori baik karena alat peraga dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan materi, materi lebih jelas, menarik dan mudah untuk dipahami. Aspek implementasi dari alat peraga memiliki nilai paling rendah dengan ketegori baik. Skor tertinggi pada aspek ini adalah indikator alat peraga dapat dimanfaatkan untuk membantu pembelajaran. Hal ini karena alat peraga dapat membantu dalam mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.98 Alat peraga dapat membantu siswa dalam pembelajaran untuk memberikan pengalamanbelajar yang konkret dan langsng kepada siswa,99 sehingga dapat meningkatkan mutu belajar-mengajar.100 Sedangkan indikator efisiensi waktu mendapatkan nilai paling rendah, menurut siswa pembelajaran menggunakan alat tidak terlalu efisien waktu terutama pada penulisan laporan hasil percobaan. 96 Ibid., h. 85 Ibid., h. 82 98 Nana Sudjana, op. cit., h. 100 99 Rayandra Asyhar, op. cit., h. 41 100 Nana Sudjana, op. cit., h. 100 97 148 Penilaian kelayakan alat peraga pada uji lapangan terdiri dari tiga aspek yaitu aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability), kesinambungan (sustainability), penerimaan dan kemenarikan. Hasil penilaian pada aspek kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) berada pada kategori baik dengan jumlah nilai sebesar 381. Indikator kemudahan alat peraga digunakan berada pada kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa siswa merasa mudah menggunakan alat peraga sehingga cocok untuk membantu dalam mempelajari materi, indikator kemudahan untuk dipahami berada pada kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan belajar menggunakan alat peraga mempermudah dalam memahami materi tanpa harus dijelaskan oleh guru, indikator tidak membahayakan saat digunakan berada pada kategori baik hal ini menunjukkan bahwa siswa merasa saat menggunakan alat peraga tidak mengalami suatu apapun dan aman saat digunakan, Indikator penilaian pada mengefisiensikan waktu untuk dipelajari berada pada kategori cukup hal ini menunjukkan bahwa menurut siswa belajar menggunakan alat peraga cukup mengefisiensikan waktu namun beberapa siswa menyatakan bahwa belajar menggunakan alat peraga menjadi lebih lama karena harus membuat laporan setelah melakukan percobaan. Penilaian pada aspek kesinambungan memiliki indikator diantaranya yaitu kemudahan dalam perawatan yang berada pada kategori cukup hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa menyatakan bahwa alat sulit dalam perawatannya, waktu penggunaan alat peraga dapat dilakukan dalam jangka waktu panjang berada pada kategori cukup hal ini menunjukkan bahwa alat peraga dibuat agar tidak mudah pecah dan rusak saat diguanakan oleh siswa ataupun saat disimpan, dan indikator terakhir pada aspek ini yaitu bahan yang digunakan tidak membahayakan orang lain hal ini karena alat peraga dibuat dengan bahan yang aman digunakan dan tidak membahayakan saat digunakan. Penilaian pada aspek penerimaan dan kemenarikan memiliki indikator diantaranya yaitu alat peraga dapat meningkatkan dalam belajar, menggunakan alat peraga membuat tidak malas untuk mempelajari materi, alat perga membuat pembelajaran lebih menarik, inovatif dan menyenangkan, dan alat peraga membuat pembelajaran menjadi tidak membosankan. Indikator alat peraga dapat meningkatkan dalam belajar berada pada kategori sangat baik hal ini 149 menunjukkan bahwa siswa merasakan belajar menggunakan alat peraga dapat meningkat minat siswa untuk belajar, indikator belajar menggunakan alat peraga membuat siswa menjadi tidak malas untuk mempelajari materi hal ini menunjukkan bahwa siswa belajar menggunakan alat peraga membuat siswa menjadi tidak malas lagi untuk belajar, siswa menyatakan bahwa indikator pembelajaran menggunakan alat peraga menjadi lebih menarik, inovatif, dan menyenangkan berada pada kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa siswa alat peraga bisa membuat kondisi belajar menjadi menyenangkan dan menarik serta inovatif. Indikator pembelajaran materi gerak parabola menjadi tidak membosankan berada pada kategori sangat baik hal ini menunjukkan bahwa belajar menggunakan alat peraga membuat belajar menjadi lebih efektif, menarik, dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi tidak bosan dalam belajar.101 Penilaian tahap evaluasi satu-satu dilakukan dengan mengukur keefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa. Hasil pengukuran keefektifan alat peraga setelah siswa menggunakan alat peraga (post-test) memperoleh rata-rata nilai 85 dengan ketuntasan belajar siswa (KKM) fisika adalah 75, sehingga presentase ketuntasan siswa pada evaluasi satu-satu adalah 100%. Berdasarkan analisis data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran meggunakan alat peraga pada materi gerak parabola efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa, hal ini karena pembelajaran yang dilakukan tidak hanya mengajarkan teori saja melainkan siswa juga melakukan percobaan dan berinteraksi secara langsung dengan proses-proses yang terjadi untuk memperoleh pengetahuan, kemampuan dan pengalaman.102 Selain berdasarkan hasil posttest penilaian keefektifan siswa dalam meningkatkan KPS pada evaluasi satu-satu juga dilihat berdasarkan hasil dari lembar observasi. Hasil lembar observasi untuk mengetahui deskripsi KPS siswa saat melakukan percobaan. Hasil penilaian tertinggi KPS pada keseluruhan siswa 101 Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning process at uvniversity level”, Procedia - Social and Behavioral Sciences 28, 2011, pp. 78 – 81 102 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, Jakarta: Gramedia, 1986. H. 15 150 terdapat pada kemampuan mengamati dan kemampuan meramalkan (memprediksi) dan mengajukan hipotesis mendapatkan nilai terendah. Kemampuan mengamati siswa sangat baik karena siswa sangat antusias untuk menggunakan alat peraga, namun kelemahan siswa ditunjukkan pada kemampuan memprediksi dan mengajukan hipotesis, hal ini dikarenakan pengetahuan siswa yang belum menguasai tentang materi yang sudah diajarkan. Sedangkan hasil penilaian KPS berdasarkan kemampuan siswa yang dibagi menjadi tiga yaitu siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah adalah siswa yang berkemampuan tinggi rata-rata memiliki tingkat KPS lebih tinggi dibandingkan siswa kemampuan sedang dan rendah, terutama pada keterampilan memprediksi dan mengajukan hipotesis siswa berkemampuan tinggi memperoleh nilai paling tinggi dibandingkan siswa lainnya hal ini dikarenakan siswa tersebut memiliki kemampuan memahami materi lebih tinggi dibandingkan siswa yang lainnya. Hasil penilaian kefektifan alat peraga dalam meningkatkan KPS siswa dalam evaluasi kelompok kecil menujukkan bahwa rata-rata nilai posttest siswa sebesar 83 dengan 80% siswa mendapatkan nilai ≥ 75 dan 20 % siswa masih mendapatkan nilai dibawah KKM. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran meggunakan alat peraga pada materi gerak parabola efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Penggunaan alat peraga tersebut efektif karena dengan alat peraga siswa menemukan sendiri konsep materi tersebut dan membantu siswa dalam memvisualisasikan materi secara langsung sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep.103 Siswa yang belum mencapai KKM disebabkan karena kurang keseriusannya siswa dalam memahami perbedaan-perbedaan yang terjadi pada saat melakukan percobaan. Hasil penilaian keefektifan KPS menggunakan cara observasi pada evaluasi kelompok kecil menunjukkan bahwa keterampilan mengamati memperoleh nilai tertinggi dan keterampilan memprediksi memperoleh nilai terendah. Hal ini 103 D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science Education, 2015, h. 20 151 menunjukkan bahwa siswa sangat antusias untuk melakukan pengamatan penggunakan alat peraga. Namun, siswa mengalami kesulitan dalam memprediksi hal-hal yang terjadi sebelum melakukan percobaan. Hasil penilaian KPS berdasarkan kemampuan siswa mununjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi memiliki rata-rata KPS tertinggi dibandingkan siswa lainnya, sedangkan siswa berkemampuan rendah mengalami pencapaian KPS terendah pada semua aspek KPS terutama pada keterampilan memprediksi memiliki skor paling rendah, hal ini karena kurangnya pahamnya siswa berkemampuan rendah dalam memperkirakan kemungkinan yang terjadi sebelum melakukan percobaan. Uji lapangan ini merupakan tahap uji coba media alat peraga terakhir sehingga menjadi produk akhir yang akan di uji keefektifan pada evaluasi sumatif Hasil uji lapangan memperlihatkan bahwa rata-rata nilai posttest siswa sebesar 85,5 dengan 97% siswa mendapatkan nilai ≥ 75, sehingga dapat dikategorikan pembelajaran menggunakan alat peraga efektif digunakan dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Berdasarkan hasil nilai posttest tersebut pembelajaran menggunakan alat peraga efektif digunakan dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam memahami materi, hal ini karena pembelajaran dengan alat peraga siswa dapat terlibat secara langsung dalam kegiatan eksperimen untuk memperoleh pengalaman belajar.104 Hasil penilaian keefektifan KPS menggunakan cara observasi pada uji lapangan menunjukkan bahwa keterampilan mengamati memperoleh nilai tertinggi dengan kategori baik dan keterampilan memprediksi, memperoleh nilai terendah dengan kategori cukup baik, selain itu keterampilan mengajukan pertanyaan dan keterampilan berhipotesis siswa dalam kategori cukup baik. Keterampilan mengamati siswa dengan ketegori baik, hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki atusias yang baik dalam mengamati menggunakan alat peraga ditunjukkan pada keterampilan siswa dalam membaca skala, mengamati perbedaan ketinggian dan jarak jangkauan. Keterampilan siswa dalam memprediksi sebelum melakukan percobaan juga termasuk dalam kategori cukup. Hal ini menunjukkan siswa kurang Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5, 2009, h. 5 104 152 begitu mengerti siswa kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan hasil penilaian KPS berdasarkan kemampuan siswa mununjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi memiliki rata-rata KPS tertinggi dikeseluruhan aspek KPS dibandingkan dengan kemampuan siswa lainnya. Hasil penilaian uji efektifitas alat peraga pada evaluasi sumatif yang dilakukan siswa berdasarkan hasil nilai posttest memperlihatkan bahwa 90% siswa dapat mencapai nilai ketuntasan ≥75. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil tersebut adalah pembelajaran menggunakan alat peraga efektif digunakan dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Keempat guru dari dua sekolah menilai bahwa pembelajaran menggunakan alat peraga sangat efektif digunakan dalam pembelajaran materi gerak parabola dengan jumlah nilai keseluruhan adalah 90. Pembelajaran menggunakan alat peraga gerak parabola dapat membuat siswa termotivasi untuk mempelajari materi gerak parabola. Hal ini mempermudah siswa untuk memahami konsep-konsep yang ada pada materi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.105 Penggunaan alat peraga gerak parabola dapat melatih keterampilan siswa, sehingga dapat mempengaruhi peningkatan pemahaman siswa terhadap materi.106 Pemahaman materi oleh siswa dalam menggunakan alat peraga dikarenakan interaksi secara langsung siswa dengan alat peraga dan dapat diaplikasikan secara lebih nyata materi yang diajarkan sehingga dapat lebih mudah dipahami oleh siswa.107 Hasil penilaian keefektifan KPS menggunakan cara observasi pada evaluasi sumatif menunjukkan bahwa keterampilan mengamati memperoleh nilai tertinggi dan keterampilan memprediksi memperoleh nilai terendah. Sama dengan uji pada evaluasi sebelumnya kemampuan siswa dalam mengamati menggunakan alat peraga menjadi yang lebih tinggi hal ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias dan menyukai pembelajaran dengan melakukan pengamatan secara langsung 105 Duwita Sekar Indah, Prabowo, op.cit., h. 93 Winda Eky Susanti, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 2015. H. 14 107 Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal Sainsmat, 2015, h.11. 106 153 menggunakan media alat peraga. Namun, siswa juga mengalami kesulitan dan kelemahan dalam memprediksi hal-hal yang terjadi sebelum melakukan percobaan. Hasil penilaian KPS berdasarkan kemampuan siswa mununjukkan bahwa siswa berkemampuan sedang memiliki rata-rata KPS tertinggi dibandingkan siswa berkemampuan lainnya, sedangkan siswa berkemampuan rendah mengalami pencapaian KPS terendah pada semua aspek KPS terutama pada keterampilan memprediksi memiliki skor paling rendah, hal ini karena kurangnya pahamnya siswa berkemampuan rendah dalam memperkirakan kemungkinan yang terjadi sebelum melakukan percobaan. Berdasarkan data-data yang diperoleh keterampilan proses sains siswa secara umum meningkat dibandingkan dengan pada saat uji coba pada tahap uji sumatif. Dengan demikian, alat peraga yang dikembangkan terbukti dapat merangsang keaktifan siswa dilihat dari meningkatnya KPS siswa dilihat dari berbagai penilaian. Hasil penilaian kepraktisan alat peraga pada evaluasi sumatif yang dilakukan siswa menyatakan bahwa 93% alat peraga sangat praktis untuk digunakan dalam pembelajaran fisika materi gerak parabola dengan jumlah nilai keseluruhan aspek sebesar 481. Hasil penilaian guru menyatakan bahwa 100% alat peraga sangat praktis digunakan dalam pembelajaran fisika materi gerak parabola dengan jumlah keseluruhan aspek 72. Alat peraga dikatakan praktis terkait dengan mudah atau tidaknya alat peraga untuk digunakan dan dioperasikan saat melakukan pecobaan. Siswa dan guru menyatakan bahwa alat peraga sangat praktis digunakan dan dioperasikan dalam pembelajaran, hal ini karena alat peraga dibuat disesuaikan dengan konsep materi gerak parabola dan pemilihan bahan-bahan yang dapat mempermudah siswa dalam menggunakan dan mengoperasikan alat peraga. Siswa dan guru menyatakan bahwa alat peraga praktis untuk dirangkai ulang, namun pada aspek ini memiliki nilai terendah dibandingkan aspek lainnya karena menurut beberapa siswa alat peraga terlalu rumit untuk dirangkai karena kurangnya petunjuk yang digunakan siswa dalam merangkai alat peraga dan banyaknya komponenkomponen untuk dirakit. Siswa dan guru menyatakan alat peraga praktis dibawa kemana-mana karena dilengkapi pegangan dan tempat penyimpanan yang kuat, namun berberapa siswa menyatakan bahwa alat peraga memiliki bentuk yang 154 terlalu panjang sehingga sulit untuk disimpan. Siswa dan guru menyatakan bahwa alat peraga praktis dalam perawatan karena alat peraga dibuat dengan bahan plastik dan besi yang hanya dengan menggunakan kain basah dan kain kering untuk membersihkan. Selain itu, siswa dan guru juga menyatakan alat peraga sangat praktis menemukan komponen pengganti hal ini karena bahan dari pembuatan alat peraga menggunakan bahan bekas yang ada disekitar lingkungan sekitar. Alat peraga sudah seharusnya dibuat praktis untuk bisa dibuat sendiri atau mudah dalam menjaga dan perawatan tanpa biaya yang oleh guru,108 alat peraga yang digunakan praktis untuk dipindahkan dan dibawa kemana-mana agar mudah digunakan dimanapun dan kapanpun,109 dan media alat peraga mudah untuk digunakan oleh guru dan siswa selama proses pemebelajaran.110 Namun terdapat beberapa komentar dan saran dari guru terhadap alat peraga yaitu: alat peraga sebaiknya dibuat dengan lebih sederhana agar dapat dibuat oleh siswa, alat peraga mudah digunakan dan dirangkai sehingga sangat praktis digunakan pemahaman konsep, alat peraga sebaiknya dibuat menjadi satu kesatuan atau tidak dipisah-pisah, dan alat peraga menjadi praktis dalam membantu dalam proses pembelajaran di sekolah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat peraga gerak parabola yang dikembangkan praktis digunakan dalam pembelajaran. 108 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, op. cit., h. 5 Rayandra Asyhar, op. cit., h.81-82 110 Nana Sudjana, op. cit., h. 5 109 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian pengembangan ini telah berhasil mengembangkan alat peraga pada materi gerak parabola untuk siswa SMA. Alat peraga yang dihasilkan layak, efektif dan praktis untuk digunakan dalam proses pembelajaran oleh siswa dan guru. Alat peraga yang dikembangkan dapat mengukur keterampilan proses sains siswa. Berikut ini adalah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan: 1. Alat peraga gerak parabola untuk siswa SMA layak digunakan sebagai media pembelajaran berdasarkan validasi ahli media pembelajaran, ahli materi fisika, dan siswa. Hasil penilaian kelayakan alat peraga oleh ahli media pembelajaran dan ahli materi pelajaran fisika menyatakan bahwa alat peraga layak. Ahli media pembelajaran menyatakan alat peraga sangat layak digunakan dalam pembelajaran dengan jumlah nilai sebesar 436 (75%). Ahli materi pelajaran fisika menyatakan bahwa alat peraga relevansi dengan materi fisika dengan presentase 95%. Hasil penilaian kelayakan oleh siswa pada evaluasi satu-satu dengan jumlah nilai sebesar 118 berada pada kategori baik. Evaluasi kelompok kecil dengan jumlah nilai sebesar 436 berada pada kategori baik. Tahap uji lapangan siswa menyatakan baik dengan jumlah nilai sebesar 1148 berada pada kategori baik. 2. Alat peraga gerak parabola yang telah diuji dengan tes dan non tes sangat efektif untuk meningkatkan KPS dalam pembelajaran. Penilaian alat peraga yang dikembangkan dengan tes pada masing-masing tahap yaitu: tahap evaluasi 154 155 satu-satu siswa memperolehpresentase ketuntasan 100%, tahap kelompok kecil memperoleh presentase ketuntasan 80%, tahap uji lapangan memperoleh presentase ketuntasan 97%, dan tahap evaluasi sumatif memperoleh presentase 90%. Hasil penilaian efektivitas KPS menggunakan non tes pada setiap tahap evaluasi formatif dan evaluasi sumatif keterampilan rata-rata siswa tertinggi pada kemampuan mengamati dan keterampilan terendah pada kemampuan memprediksi suatu kejadian yang belum diamati oleh siswa. Sedangkan hasil angket tanggapan guru aspek keefektifan alat peraga memperoleh jumlah nilai 70 dengan kategori sangat baik/sangat efektif. 3. Alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian dinyatakan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran berdasarkan uji kepraktisan yang diberikan kepada siswa dengan jumlah nilai yang diperoleh adalah 481. Sedangkan guru menyatakan bahwa alat peraga sangat praktis digunakan dalam pembelajaran dengan jumlah nilai sebesar 72. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti memberikan saran agar pengembangan penelitian selanjutnya lebih baik diantaranya sebagai berikut: 1. Alat peraga yang sudah dibuat diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut lagi agar dapat mengukur tidak hanya jarak jangkauan dan titik tertinggi, tetapi dapat mengukur waktu saat air jatuh pada corong. 2. Alat peraga dapat dikembangkan lebih lanjut dengan berbantuan video yang dapat merekam dan berbantuan aplikasi di komputer yang dapat menganalisis secara lambat pergerakan air. 3. Berdasarkan hasil data kepraktisan diharapkan alat dikembangkan dengan ukuran yang tidak terlalu besar sehingga memudahkan agar dibawa kemana-mana. 155 157 DAFTAR PUSTAKA Aby, Ganijati Sarojo, Mekanika, Jakarta: Salemba Teknika, 2012 Akker, Jan van den, et al., Educational Design Research. New York: Routledge, 2006 Arikunto, Suharsimi, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2013 Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Depok: PT Rajagrafindo Persada, cet. 17, 2014 Asyhar, Rayandra, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012 Apriliyanti, Dharis Dwi,dkk., Pengembangan Alat Peraga Ipa Terpadu Pada Tema Pemisahan Campuran Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains, journal.unnes.ac.id, 2015 Darmayant, N.W. S., dkk., Pengaruh Model Collaborative Teamwork Learning Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Pemahaman Konsep Ditinjau Dari Gaya Kognitif, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, vol. 3, 2013 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 12 Eky, Winda Susanti, Prabowo, Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 2015 George, Nalliveettil Mathew and Ali Odeh Hammoud Alidmat, A Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL Classroom: Implications for Effective Instruction, International Journal of Higher Education, Vol. 2, No. 2, 2013 158 Hartati, B, Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 2010 Hotaman, Davut, The Examination Of The Basic Skill Levels Of The Students In Accordance With The Perceptions Of Teacher, Parents And Students, Yildiz Technical University, Faculty of Education, Istanbul, Turkey, 2008 Inayah, Husnul Saleh., dkk., Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba, Jurnal Sainsmat, 2015, Kanginan, Marthen, Seribu Pena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, Jakarta: Erlangga, 2008 -----------------------, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI, Jakarta: Erlangga, 2013 Karsli, Fethiye, Developing worksheet Based On Science Process Skills: Factors Affecting Solubility, Giresun University, Education Faculty, Department of Elementary Science Education, Giresun/Turkey, 2009 Keing, Christina., et al., “Summative eAssessments: Piloting, acceptability, Practicality and effectiveness, Proceeding of the 19th annual World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia & Telecommunications, Canada, 2007 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Fisika, Jakarta: 2016 Permana, Iwan Suwarna, Pengembangan Instrumen Ujian Komprehensif Mahasiswa Melalui Computer Based Test Pada Program Studi Pendidikan Fisika, Laporan Penelitian Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan, Jakarta, 2016. Prasetyo, D.R., dkk., “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science Education, 2015 Rustaman, Nuryani, Strategi Belajar Mengajar Biologi, Malang : Universitas Negeri Malang, 2005 159 Ruswandi, Uus., dan Badrudin, Media Pembelajaran, Bandung: Insan Mandiri, 2008 Saima Rasul dkk, A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning process at uvniversity level, Procedia - Social and Behavioral Sciences, 2011, Sadiman, Arief S., Dkk., Media Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, Cet. 17, 2014 Sekar, Duwita Indah, Prabowo, Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014 Semiawan, Conny., dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar, Jakarta: Gramedia, cet. 6, 1990 Siti, Dendy Kamilah, Pengembangan Three-Tier Test Digital Untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Pada Konsep Fluida Statis, Skripsi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta, 2016 Sudjana, Nana., dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algensindo, Cet.11, 2013 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Bandung: ALFABETA, 2013 Sundayana, Rostina, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, Bandung: Alfabeta, 2015 Taranggono, Agus., dan Hari Subagya, Sains FISIKA 2 SMA/MA Kelas XI, Jakarta: Bumi Aksara, 2007 Teo, Grace Yew Mei, Promotion Science Process Skills and The Relevance of Science Through Science Alive Programme, dalam Proceeding of Redesigning Pedagogy : Culture, Knowledge and Understanding Conference, Singapore May 2007 Tessmer, Martin, Planning and Conducting Formative Evaluations, London: Routledge, 1993 160 Widayanto, Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 2009 Widyanti, Th., dan Sigit Tri Guntoro, Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika di SMP, Yogyakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika, 2010 Wilis, Ratna Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Erlangga, 2011 Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009 154 LAMPIRAN Lampiran 1 Instrumen dan Hasil Wawancara Guru Penelitian Pendahuluan 155 156 157 158 159 Lampiran 2 Instrumen dan Hasil Angket Siswa pada Studi Pendahuluan 160 161 162 Lampiran 3 Instrumen dan Hasil validasi Ahli Media Pembelajaran 163 164 165 166 167 168 169 154 Lampiran 4 Hasil Rekap Penilaian Kelayakan Alat Peraga oleh Ahli Media No 1 2 3 4 5 6 7 8 Aspek Penilaian Kelayakan Media Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Ajar Ketahanan Alat Keakuratan Efisiensi Alat Keamanan Bagi Siswa Estetika Kelengkapan Alat Tempat Penyimpanan Jumlah A 19 18 15 18 18 17 20 19 Indikator B C 20 19 18 14 18 17 19 19 19 19 15 19 20 17 20 19 Skor Kesimpulan 58 Sangat Layak 55 44 55 55 53 59 57 436 Sangat Layak Layak Sangat Layak Sangat Layak Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Garis Bilangan Jumlah Keseluruhan Aspek Penilaian Kelayakan Media Pembelajaran Nilai 436 termasuk dalam kategori interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih mendekati sangat layak. Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Ketahanan Alat Nilai 55 termasuk dalam kategori interval “layak dan sangat layak“. Nilai 58 termasuk dalam kategori Tetapi lebih mendekati sangat layak. interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih mendekati sangat layak. Garis Bilangan Keseluruhan Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Aspek Keakuratan Indikator Aspek Efisiensi Alat 155 Nilai 44 termasuk dalam kategori Nilai 55 termasuk dalam kategori interval “cukup layak dan layak“. interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih mendekati sangat layak Tetapi lebih mendekati layak Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Aspek Keamanan Bagi Siswa Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Aspek Kelengkapan Alat Nilai 59 termasuk dalam kategori interval “layak dan sangat layak“. Nilai 55 termasuk dalam kategori Tetapi lebih mendekati sangat layak. interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih mendekati sangat layak. Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Aspek Tempat Penyimpanan Nilai 57 termasuk dalam kategori interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih mendekati sangat layak. Garis Bilangan Keseluruhan Indikator Aspek Estetika Nilai 53 termasuk dalam kategori interval “layak dan sangat layak“. Tetapi lebih mendekati sangat layak. 154 No 1 2 3 4 5 Nama Validator Asrul Aziz, DEA Dr. Yanti Herlanti, M.Pd Yudhi Munadi, M.Ag Tonih Feronika, M.Pd Dr. Didi Teguh Chandra, M.Si Jumlah 2 3 6 7 8 A 1 B C A B C A B C A B C A B C A B C A B C A B C 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 2 2 1 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 19 20 19 18 18 19 15 14 15 18 18 19 18 17 20 17 19 17 20 19 20 19 19 19 Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Aspek Penilaian Kelayakan Media 4 5 Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Ajar Ketahanan Alat Keakuratan Efisiensi Alat Keamanan Bagi Siswa Estetika Kelengkapan Alat Tempat Penyimpanan 1. e t a h a n a 154 Garis Bilangan per Indikator 1. Aspek Kriteria Kesesuaian dengan Bahan Ajar Kesesuaian alat peraga dengan konsep Kejelasan alat peraga dalam membantu yang diajarkan menjelaskan konsep Nilai 19 termasuk dalam kategori interval Nilai 20 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik mendekati baik Kesesuaian alat peraga dengan kompetensi siswa Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik 2. Aspek Ketahanan Alat Ketahanan alat peraga terhadap cuaca Alat mudah dalam perawatan Nilai 18 termasuk dalam kategori interval Nilai 18 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik sangat baik. Alat peraga dibuat dalam bahan yang mudah ditemukan Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik 3. Aspek Keakuratan Ketahanan komponen-komponen alat peraga yang sesuai pada dudukan awalnya Ketepatan pemasangan setiap komponen pada alat ukur 155 Nilai 14 termasuk dalam kategori interval Nilai 15 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih baik mendekati baik Ketepatan dan ketelitian dalam skala pengukuran Nilai 15 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik 4. Aspek Efisiesnsi Alat Alat peraga mudah untuk dirangkai Alat peraga mudah untuk digunakan/dioperasikan Nilai 18 termasuk dalam kategori interval Nilai 18 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. sangat baik. Alat peraga mudah untuk dibawa Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik 5. Aspek Keamanan Bagi Siswa Alat peraga memiliki keamanan dan kenyamanan untuk digunakan Konstruksi alat peraga kokoh sehingga memiliki keamanan saat digunakan 156 Nilai 17 termasuk dalam kategori interval Nilai 18 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik mendekati sangat baik. Alat peraga menggunakan bahan ramah lingkungan dan tidak menggunakan zat beracun Nilai 20 berada dalam kategori sangat baik 6. Aspek Estetika Alat peraga memiliki warna yang menarik Alat peraga dirancang dengan bentuk dan nyaman untuk digunakan yang sesuai dengan kebutuhan materi Nilai 17 termasuk dalam kategori interval Nilai 19 termasuk dalam kategori “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih interval “baik dan sangat baik“. Tetapi mendekati baik lebih mendekati sangat baik Alat peraga memiliki bentuk yang menarik, rapi dan nyaman untuk digunakan Nilai 17 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik 7. Aspek Kelengkapan Alat Alat peraga memiliki warna yang menarik Alat peraga dirancang dengan bentuk yang dan nyaman untuk digunakan sesuai dengan kebutuhan materi Nilai 20 berada dalam kategori sangat baik Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik Alat dilengkapi dengan lembar kerja siswa (LKS) 157 Nilai 20 berada dalam kategori sangat baik 8. Aspek Tempat Penyimpanan Alat peraga dilengkapi dengan tempat Alat peraga dilengkapi dengan tempat penyimpanan agar mudah untuk untuk memudahkan dalam dibawa menyimpan/mengambil Nilai 19 termasuk dalam kategori interval Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik mendekati baik Tempat penyimpanan alat peraga memiliki ketahanan dalam menyimpan alat peraga Nilai 19 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik 154 Lampiran 5 Instrumen dan Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika 155 156 157 158 159 Lampiran 6 Hasil Validasi Angket Ahli Materi Fisika Validator Aspek Penilaian Kesesuaian Isi Kesesuaian Konsep No Pernyataan Presentase Jumlah Edi Sanjaya, M.Si Elvan Yuniarti, M.Si Taufiq Al Farizi, M.Pfis Ai Nurlaela, M.Si Elinda, M.PFis 1 1 1 1 1 1 5 100 2 1 1 1 1 1 5 100 3 1 0 1 1 1 4 80 1 1 1 1 1 1 5 100 2 1 1 1 1 0 4 80 3 1 1 1 1 1 5 100 4 1 1 1 1 1 5 100 5 1 1 1 1 1 5 100 Jumlah 38 760 Rata-rata 4,75 95 Kesimpulan (%) Sesuai 154 Lampiran 7 Evaluasi Satu-satu A. Absen Siswa 155 A. Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa) DATA KHUSUS SOAL PILIHAN GANDA NO. 1 2 3 NAMA LS SZ MF RINCIAN KUNCI JAWABAN JUMLAH SOAL SKOR BENAR EBBBACEDBDCABCBABCEC 20 5 RINCIAN JAWABAN SISWA DBBBACEDBDCABCBAACEC DBBBACEDBDCABCBAAEEC DBBBACEDBDCABCBCAAEC Rata-rata Nilai Siswa Nilai Tertinggi Nilai Terendah Persentase Ketuntasan NILAI MAKSIMAL JUMLAH BENAR 18 17 16 SALAH 2 3 4 NILAI KET 90 85 80 85 90 80 100% LULUS LULUS LULUS B. Hasil Penlialaian Observasi KPS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek Keterampilan Proses Sains Mengamati Mengelompokkan Menafsirkan (Interpretasi) Meramalkan (Memprediksi) Mengajukan Pertanyaan Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Jumlah Indikator Kegiatan Siswa 12 10 9 5 9 6 9 11 9 10 12 9 9 6 7 7 9 10 9 10 12 9 10 5 9 8 9 10 9 10 Jumlah 36 28 28 16 25 21 27 31 27 30 269 Kesimpulan Sangat Baik Baik Baik Tidak Baik Cukup Cukup Baik Baik Baik Baik Baik 154 Garis Bilangan Aspek Keterampilan Mengamati Garis Bilangan Aspek Keterampilan Mengelompokkan Nilai 36 termasuk dalam kategori sangat baik. Nilai 28 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek Keterampilan Menafsirkan (Interprtasikan) Nilai 28 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek Keterampilan Mengajukan Pertanyaan Nilai 25 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik Garis Bilangan Aspek Keterampilan Meramalkan (Memprediksi) Nilai 16 termasuk dalam kategori interval “Kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih mendekati kurang baik Garis Bilangan Keterampilan Mengajukan Hipotesis Nilai 21 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik Garis Bilangan Keterampilan Merencanakan Percobaan Garis Bilangan Keterampilan Menggunakan Alat dan Bahan Nilai 27 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Nilai 31 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik Garis Bilangan Keterampilan Menerapkan Konsep Garis Bilangan Melakukan Komunikasi 155 Nilai 27 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Nilai 30 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 156 Aspek KPS Perindikator Aspek KPS No Nama 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 4 4 4 3 3 3 3 3 4 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 LS 4 4 4 4 3 3 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 4 2 SZ 4 4 4 3 3 3 3 3 3 1 2 1 3 3 3 1 1 2 3 3 3 4 3 MF Jumlah 12 12 12 10 9 9 9 9 10 5 6 5 9 7 9 6 7 8 9 9 9 11 Kesimpulan SB SB SB B B B B B B TB CB TB B CB B CB CB CB B B B SB Keterangan Aspek KPS 1. Mengamati 2. Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) 3. Menafsirkan (Interpretasi) 4. Meramalkan (Memprediksi) 5. Mengajukan Pertanyaan 6. Mengajukan Hipotesis 7. Merencanakan Percobaan 8. Menggunakan Alat dan Bahan 9. Menerapkan Konsep 10. Melakukan Komunikasi 8 2 3 4 3 10 B 3 3 3 4 10 B 9 10 1 2 3 1 2 3 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 9 9 9 10 10 10 B B B B B B 157 Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa No Nama 1 KT 2 KS 3 KR Aspek KPS Mengamati Mengelompokkan Menafsirkan Memprediksi Mengajukan Pertanyaan Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Mengamati Mengelompokkan Menafsirkan Memprediksi Mengajukan Pertanyaan Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Mengamati Mengelompokkan Menafsirkan Memprediksi Mengajukan Pertanyaan Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Indikator Kegiatan Siswa 1 2 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 1 2 1 3 3 3 1 1 2 3 3 3 5 4 5 3 3 3 Jumlah Kesimpulan 12 9 9 6 8 9 9 9 9 12 12 10 9 6 8 8 9 8 9 9 12 9 9 4 9 4 9 14 9 Sangat Baik Baik Baik Cukup Cukup Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik Baik Baik Tidak Baik Baik Tidak Baik Baik Sangat Baik Baik 158 No Nama Aspek KPS Melakukan Komunikasi Indikator Kegiatan Siswa 1 2 3 3 3 3 Jumlah Kesimpulan 9 Baik 159 C. Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa No Aspek Penilaian 1 2 3 4 Materi Kualitas Teknis Desain Pembelajaran Implementasi Jumlah A 10 9 11 9 Indikator B 11 7 11 12 C 12 6 9 11 Jumlah Keterangan 33 22 31 32 118 Sangat Baik Cukup Baik Baik Baik Garis bilangan jumlah keseluruhan aspek penilaian angket Nilai 118 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis bilangan Aspek Materi Garis Bilangan Kualitas Teknis Nilai 33 termasuk dalam kategori interval Nilai 22 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. mendekati cukup baik. Garis Bilangan Aspek Desain Pembelajaran Garis Bilangan Aspek Implementasi Nilai 32 termasuk dalam kategori interval Nilai 31 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. mendekati baik. 160 Hasil Penilaian perindikator Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa Aspek Penilaian No 1 2 3 Nama MFA SZS LS Jumlah Kesimpulan A 4 3 3 10 Baik Materi B 4 4 3 11 Sangat Baik C 4 4 4 12 Sangat Baik A 3 3 3 9 Baik Kualitas Teknis B 2 2 3 7 Cukup C 2 2 2 6 Cukup Desain Pembelajaran A B C 4 4 3 4 4 4 3 3 2 11 11 9 Sangat Sangat Baik Baik Baik Implementasi A B C 3 4 4 3 4 3 3 4 4 9 12 11 Sangat Sangat Baik Baik Baik Jumlah 41 40 37 118 Baik 154 1. Garis Bilangan Aspek Materi Kesulitan Kejelasan Nilai 10 termasuk dalam kategori interval “baik Nilai 11 termasuk dalam kategori interval dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. Kemenarikan Nilai 12 termasuk dalam kategori sangat baik. 2. Garis Bilangan Kualitas Teknis Memiliki kualitas bentuk yang menarik dan nyaman Memiliki kualitas warna yang menarik dan nyaman Nilai 9 termasuk dalam kategori interval “cukup Nilai 7 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. lebih mendekati cukup baik Memiliki bentuk dan ukuran yang mudah dibawa dan digunakan Nilai 6 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik. 3. Garis Bilangan Desain Pembelajaran Kemenarikan pembelajaran Kejelasan tujuan pembelajaran 155 Nilai 11 termasuk dalam kategori interval Nilai 11 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih sangat baik. mendekati sangat baik. Kelogisan sistematika materi Nilai 9 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 4. Garis Bilangan Implementasi Efisiensi waktu Pemanfaatan media Nilai 9 termasuk dalam kategori interval “cukup Nilai 12 termasuk dalam kategori sangat baik. baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Kemudahan operasi media Nilai 11 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. 156 Lampiran 8 Evaluasi Kelompok Kecil A. Absensi Siswa 157 B. Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa) DATA KHUSUS SOAL PILIHAN GANDA NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NAMA MTS MFT WN AHI MFP SJD JRMW SM DAP GBM AD DSP DED BPR RA RINCIAN KUNCI JAWABAN EBBBACEDBDCABCBABAEC RINCIAN JAWABAN SISWA EBBBACEDBDCEBCBACDEC EBBBACEDBDCABCBAECEA EBBBACEDBECABCBABCEC EBBBACEDBECABCBABCEC EBBBACBDBDCABCBABCEC EBBBACADBCCABCBACCDC EBBAACABBCCCBCBACCEC EBBBACEDBECABCBABCEC EBBBACBDBDCABCBABDEC EBBBACEDBECABCBABCEC DDBBACCBBDCABCBBBDEC EBBBACEDBECABCBABCEC EBBBACEDBECABCBABCEC EBBBACEDBDCABEBAECEA EBBBACADBCCABCBAECBA Rata-rata nilai post test JUMLAH SKOR SOAL BENAR 20 5 JUMLAH BENAR SALAH 17 3 17 3 18 2 18 2 18 2 15 5 13 7 18 2 18 2 18 2 14 6 18 2 18 2 16 4 14 6 Persentase Ketuntasan Persentase tidak tuntasan NILAI MAKSIMAL NILAI KET 85 85 90 90 90 75 65 90 90 90 70 90 90 80 70 83,3 80% 20% LULUS LULUS LULUS LULUS LULUS LULUS TIDAK LULUS LULUS LULUS LULUS TIDAK LULUS LULUS LULUS LULUS TIDAK LULUS LULUS C. Hasil Penilaian Observasi KPS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek Keterampilan Proses Sains Mengamati Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) Menafsirkan (Interpretasi) Meramalkan (Memprediksi) Mengajukan Pertanyaan Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Indikator Kegiatan Siswa 1 2 3 50 46 42 30 44 35 42 47 46 46 54 44 42 31 38 43 45 46 49 44 53 44 37 29 45 44 45 48 43 44 Jumlah Kesimpulan 157 134 121 90 127 122 132 141 138 134 Baik Baik Cukup Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Baik 158 Garis Bilangan Aspek KPS Mengamati Garis Bilangan Aspek KPS Mengelompokkan (Mengklasifikasikan) Nilai 157 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati Nilai 134 termasuk dalam kategori interval baik. “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek KPS Menafsirkan Garis Bilangan Aspek KPS Meramalkan (Interprtasikan) (Memprediksi) Nilai 121 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik Garis Bilangan Aspek KPS Mengajukan Pertanyaan Nilai 90 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik Garis Bilangan Aspek KPS Mengajukan Hipotesis Nilai 127 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih Nilai 122 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. mendekati cukup baik Garis Bilangan Aspek KPS Garis Bilangan Aspek KPS Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Nilai 132 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik Garis Bilangan Aspek KPS Menerapkan Konsep Nilai 141 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik Garis Bilangan Aspek KPSMelakukan Komunikasi Nilai 138 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik Nilai 134 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 159 Aspek KPS Perindikator No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 MTS MFT WN AHI MFP SJD JRM SM DAP GBM AD DSP DED BPR RA Jumlah Kesimpulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 3 4 4 2 4 4 4 3 3 4 4 1 3 4 3 2 3 3 3 3 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 1 2 2 1 2 2 2 2 3 2 2 1 1 4 3 3 2 3 2 3 3 4 3 3 1 3 2 1 2 3 3 1 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 4 4 4 2 4 4 3 3 4 3 4 1 3 3 3 2 4 4 4 3 3 3 3 1 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 4 2 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 2 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 2 1 3 3 3 3 3 4 3 3 1 4 3 2 2 3 4 2 3 4 4 3 1 3 2 3 2 3 3 2 2 4 4 3 1 3 3 2 1 3 4 3 2 3 3 3 1 4 3 1 1 2 2 2 3 2 1 2 2 2 2 2 2 1 4 2 3 2 1 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 1 2 2 2 2 2 2 1 3 2 3 3 3 2 2 3 4 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 2 4 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 2 2 3 2 2 4 3 3 2 2 1 2 1 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 4 4 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 3 2 2 2 2 3 4 3 3 3 4 3 3 3 2 2 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 1 3 3 2 3 3 4 3 3 3 4 3 1 3 3 1 2 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 3 3 2 2 3 4 3 3 2 4 3 2 3 3 3 2 3 4 4 3 2 4 3 3 3 3 2 2 50 B 54 SB 53 B 46 B 44 B 44 B 42 B 42 B 37 CB 30 CB 31 CB 29 TB 44 B 38 CB 45 B 35 CB 43 B 44 B 42 B 45 B 45 B 47 B 46 B 48 B 46 B 49 B 43 B 46 B 44 B 44 B 160 Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa 1 1 10 2 11 3 9 4 12 5 12 Jumlah 54 Rata-rata 10,8 Kesimpulan SB 2 10 11 9 9 10 49 9,8 B 3 10 10 10 7 11 48 9,6 B 4 6 10 9 9 6 40 8 CB Aspek KPS 5 6 11 9 11 12 8 8 9 8 9 8 48 45 9,6 9 B B KS 6 11 7 11 8 9 9 10 10 12 Jumlah 53 Rata-rata 10,6 Kesimpulan B 9 10 7 11 8 45 9 B 11 9 3 10 8 41 8,2 CB 3 6 6 9 8 32 6,4 CB 8 7 7 8 12 42 8,4 B 12 9 8 8 8 45 9 B 9 9 9 10 11 48 9,6 B 12 11 9 8 8 48 9,6 B 12 9 4 9 9 43 8,6 B 11 9 6 12 9 47 9,4 B KR 11 12 13 14 15 Jumlah 6 8 9 10 8 41 6 4 8 9 7 34 6 6 3 7 6 28 9 8 6 7 9 39 5 8 7 9 10 39 8 7 8 9 7 39 8 6 10 10 9 43 6 8 9 10 9 42 8 9 9 6 6 38 Kemampuan Berpikir KT No 7 9 9 11 9 45 7 9 9 10 9 9 46 9,2 B 8 12 9 9 9 9 48 9,6 B 9 9 12 10 9 9 49 9,8 B 10 7 12 9 10 12 50 10 B 161 Rata-rata Kesimpulan 9 B 8,2 CB 6,8 CB 5,6 TB 7,8 7,8 7,8 8,6 8,4 Cukup Cukup Cukup Baik Baik 7,6 Cukup 162 D. Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa No 1 2 3 Aspek Penilaian Materi Desain Pembelajaran Implementasi Jumlah A 42 54 53 Indikator B 50 50 46 C 53 52 36 Jumlah Kategori 145 156 135 436 Baik Baik Baik Baik Garis Bilangan Aspek Materi Nilai 145 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek Desain Pembelajaran Nilai 156 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek Implementasi Nilai 135 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 163 Hasil Penilaian Perindikator Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama BP RA MFT SJD MTS JRMW AHI WN SM DED DSP GBM MFP DAP AD Jumlah Kesimpulan A 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 2 42 Materi B 4 4 4 4 4 3 3 2 4 3 4 2 3 4 2 50 C 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 2 3 4 3 53 Baik Baik Baik Aspek Penilaian Desain Pembelajaran A B C 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 3 3 2 3 4 4 4 2 3 3 4 4 4 2 2 2 3 3 3 4 3 4 4 3 3 54 50 52 Sangat Baik Baik Baik A 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 2 3 4 3 53 Implementasi B 4 4 4 2 4 2 2 2 4 4 3 3 3 3 2 46 Baik Baik Jumlah C 4 4 4 0 3 2 1 1 2 2 4 2 2 3 2 36 36 36 36 30 33 25 26 22 33 26 34 19 24 32 24 436 Cukup Baik 164 Garis Bilangan Perindikator 1. Aspek Materi Kesulitan Kejelasan Nilai 42 termasuk dalam kategori Nilai 50 termasuk dalam kategori interval interval “cukup baik dan baik“. Tetapi “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih lebih mendekati baik. mendekati baik Kemenarikan Nilai 53 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 2. Aspek Desain Pembelajaran Kejelasan Tujuan Pembelajaran Kemenarikan Pembelajaran Nilai 42 termasuk dalam kategori Nilai 50 termasuk dalam kategori interval interval “cukup baik dan baik“. Tetapi “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih lebih mendekati baik. mendekati baik. Kelogisan Sistematika Materi Nilai 52 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 3. Aspek Implementasi Alat peraga dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam pembelajaran Alat peraga mudah untuk digunakan dan dioperasikan 165 Nilai 53 termasuk dalam kategori interval Nilai 46 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. mendekati baik. Alat peraga dapat mengefisiensikan waktu Nilai 36 termasuk dalam kategori cukup baik. 166 Lampiran 9 Uji Lapangan A. Absensi Siswa 167 Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa) DATA KHUSUS SOAL PILIHAN GANDA NO. NAMA RINCIAN KUNCI JAWABAN JUMLAH SOAL SKOR BENAR EBBBACEDBDCABCBABAEC 20 5 RINCIAN JAWABAN SISWA JUMLAH NILAI MAKSIMAL NILAI KET 1 ASA EBDBACBDBDCABEAABCEC BENAR 15 SALAH 5 75 LULUS 2 NOB EBBBACBDBDCABEAABCEC 16 4 80 LULUS 3 MIA EBDBACADBDCABECABCEC 15 5 75 LULUS 4 MRDZ EBBBACEDBDCEBCBABCEC 18 2 90 LULUS 5 TKD EBBBACBDBDCABEACBCEC 15 5 75 LULUS 6 FS EBBBACDDDCCABCBABCEC 16 4 80 LULUS 7 TY EBBBACDDDCCABCBABCEC 16 4 80 LULUS 8 NJA EBBBACDDDCCABCBABCED 15 5 75 LULUS 9 KAB EBBBACDDDCCABCBABCEC 16 4 80 LULUS 10 FS EBCBACEEBDACBEDCBAEE 12 8 60 TIDAK LULUS 11 ASA EBBBACEDBDCABEBABCEC 18 2 90 LULUS 12 RN EBBBACEDBDCABEBABCEC 18 2 90 LULUS 13 MFOR EBBBACEDBDCABEBABCEC 18 2 90 LULUS 14 SSRA EBBBACEDBDCABEBABCEC 18 2 90 LULUS 15 FF EBBBACEDBDCABEBABCEC 18 2 90 LULUS 16 FM EBBBACEDBCCABCBABCEC 18 2 90 LULUS 17 RIH EBBBACEDBCCABCAABCEC 17 3 85 LULUS 168 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 TDWM RFA AS FR SS RA MT ST ANS WDL MII RAP GP EBBBACEDBCCABCBABCEC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBCCABCBABCEC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBCCABCBABCEC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBDCABEBABBEC 18 2 90 LULUS EBBBACEDADCDBCBABBEC 17 3 85 LULUS EBBBACEDBDCABCBAADEC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBDCABCBABCEC 19 1 95 LULUS EBBBACEDBDCABCBABCEC 19 1 95 LULUS EBBBACEDBDCABCBABCBC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBDCABCBABCBC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBDCABCBABCBC 18 2 90 LULUS EBBBACEDBDCABCBABCBC EBBBACEDBDCAACBABCBC 18 17 2 3 90 85 85,5 97 LULUS LULUS LULUS Rata-rata Persentase Ketuntasan 169 B. Hasil Penilaian Observasi KPS No 1 3 Aspek Keterampilan Proses Sains Mengamati Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) Menafsirkan (Interpretasi) 4 Meramalkan (Memprediksi) 75 64 75 214 5 Mengajukan Pertanyaan 77 70 76 223 6 Mengajukan Hipotesis 70 84 86 240 7 8 9 10 Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi 87 91 80 80 86 84 87 88 82 81 83 83 253 255 252 252 2 Indikator Kegiatan Siswa 87 87 87 Jumlah 261 85 89 84 258 84 84 85 253 Garis Bilangan Aspek KPS Keterampilan Mengamati Kategori Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Baik Garis Bilangan Aspek KPS Keterampilan Mengelompokan Nilai 261 termasuk dalam kategori interval Nilai 258 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. baik. Garis Bilangan Aspek KPS Keterampilan Menafsirkan Garis Bilangan Aspek KPS Keterampilan Meramalkan (Memprediksi) Nilai 253 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati Nilai 214 termasuk dalam kategori interval baik. “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik. Garis Bilangan Aspek Keterampilan Mengajukan Pertanyaan Garis Bilangan Aspek Keterampilan Mengajukan Hipotesis 170 Nilai 223 termasuk dalam kategori interval Nilai 240 termasuk dalam kategori “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati interval “cukup baik dan baik“. Tetapi cukup baik lebih mendekati cukup baik Garis Bilangan Aspek Keterampilan Merencankan Percobaan Garis Bilangan Aspek Keterampilan Menggunakan Alat dan Bahan Nilai 255 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih Nilai 253 termasuk dalam kategori interval mendekati baik. “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek Keterampilan Menerapkan Konsep Garis Bilangan Aspek Keterampilan Melakukan Komunikasi Nilai 252 termasuk dalam kategori interval Nilai 255 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. baik. 171 Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa Aspek KPS Kemampuan Berpikir KT KS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata 10 12 12 8 9 9 9 12 9 9 99 9,9 10 11 9 10 9 9 11 10 8 9 96 9,6 12 11 9 8 9 9 6 10 9 12 95 9,5 9 11 10 6 8 8 8 8 7 8 83 8,3 9 12 11 8 8 12 8 8 7 12 95 9,5 10 11 9 8 9 8 9 12 9 8 93 9,3 11 10 10 9 10 10 10 11 8 8 97 9,7 10 11 10 9 9 9 9 10 11 11 99 9,9 12 12 8 9 8 10 11 10 11 11 102 10,2 Kesimpulan Baik Baik 12 12 11 11 11 10 11 11 8 11 108 10,8 Sangat Baik Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Baik 1 2 3 4 5 12 12 6 7 6 10 10 10 9 9 5 12 5 3 7 8 9 9 7 7 8 9 9 8 8 9 10 9 8 8 9 11 7 7 10 6 10 10 9 10 7 11 9 9 12 7 10 9 10 7 172 Aspek KPS Kemampuan Berpikir KR No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Kesimpulan 9 12 11 8 12 95 9,5 Baik 6 7 9 8 11 89 8,9 Baik 6 8 9 7 8 81 8,1 Cukup 5 6 8 5 6 62 6,2 Cukup 6 8 9 8 9 80 8 Cukup 8 6 10 7 8 81 8,1 Cukup 8 11 9 6 9 87 8,7 Baik 8 11 9 6 9 87 8,7 Baik 7 6 10 7 9 84 8,4 Baik 7 6 6 8 5 80 8 Cukup 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata 5 0 9 9 7 6 3 9 9 10 67 6,7 7 8 8 9 6 6 6 7 8 8 73 7,3 5 5 8 10 5 6 3 6 8 7 63 6,3 3 5 8 8 7 8 3 6 6 3 57 5,7 4 4 9 8 7 6 3 8 6 5 60 6 3 3 9 8 8 8 3 8 6 8 64 6,4 2 3 11 9 8 9 3 9 8 10 72 7,2 5 5 9 10 7 7 1 9 7 11 71 7,1 5 7 8 9 7 7 4 9 6 7 69 6,9 5 9 8 9 8 6 6 7 4 8 70 7 173 Aspek KPS Kemampuan Berpikir No Kesimpulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Cukup Cukup Cukup Tidak Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup 174 E. Hasil Penilaian Angket Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa No Aspek Penilaian 2 Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) Kesinambungan (sustainability) 3 Penerimaan dan Kemenarikan 1 1 Indikator Penilaian 2 3 4 Jumlah Kesimpulan 108 110 98 65 381 Baik 74 73 77 108 332 107 106 112 110 435 1148 Cukup Sangat Baik Baik Jumlah Garis Bilangan Jumlah Keseluruhan Aspek Garis Bilangan Aspek Kemampuan untuk dapat dilaksanakan Nilai 1148 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek Kesinambungan (sustainability) Nilai 381 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Nilai 332 termasuk dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik Garis Bilangan Aspek Penerimaan dan Kemenarikan Nilai 435 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. 175 Hasil Penilaian Perindikator Kelayakan Alat Peraga oleh Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama TKD ASA MIA MRD NOB FR KAB FS NJA TY FF SSR MFR ASA RN RIH RF TD AS FM SSR FR Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) 1 2 3 4 Kesinambungan (sustainability) Penerimaan dan Kemenarikan 1 2 3 4 1 2 3 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 2 2 3 2 2 4 1 3 4 2 2 3 3 2 2 2 2 1 2 3 3 4 3 1 3 2 4 4 3 3 1 2 2 3 1 2 4 3 2 2 2 2 2 4 1 3 2 3 1 4 1 3 4 2 2 2 1 4 3 3 2 1 2 2 2 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 4 2 3 3 2 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3 3 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 4 2 2 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 0 2 2 4 4 4 3 4 3 2 2 4 4 4 2 1 2 3 4 4 2 4 0 2 3 0 3 0 0 1 2 1 2 3 1 176 23 24 25 26 27 28 29 30 RA ST MT MII GP WDL ANS RAP Jumlah Kesimpulan 3 4 3 4 3 3 3 4 108 Sangat Baik 3 4 3 4 3 4 3 3 110 Sangat Baik 3 4 3 4 4 2 3 1 98 3 2 2 0 2 2 2 4 65 2 2 2 3 2 2 3 3 74 2 2 2 4 2 1 2 1 73 3 4 2 4 3 2 2 2 77 Baik Cukup Cukup Cukup Cukup 3 4 3 4 4 4 3 4 108 Sangat Baik 3 3 4 4 3 4 3 4 107 3 4 3 4 4 4 3 2 106 Baik Baik 3 4 3 4 4 4 4 4 112 Sangat Baik 3 4 3 4 3 4 3 4 110 Sangat Baik 177 Garis Bilangan Perindikator 1. Aspek Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (implementability) Alat peraga mudah untuk digunakan Konsep yang diajarkan melalui alat peraga mudah untuk dipahami Nilai 108 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih Nilai 110 berada dalam kategori interval mendekati sangat baik. “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. Alat peraga tidak membahayakan saat digunakan Alat peraga dapat mengefisienkan waktu untuk dipelajari Nilai 98 berada dalam kategori interval Nilai 65 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih “kurang baik dan cukup baik“. Tetapi mendekati baik. lebih mendekati cukup baik. 2. Aspek Kesinambungan (sustainability) Alat peraga gerak parabola mudah Alat peraga dapat digunakan dalam jangka dalam perawatan dan pemeliharanya waktu yang lama Nilai 74 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih Nilai 73 berada dalam kategori interval mendekati cukup baik. “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik. Alat peraga tidak mudah rusak/pecah saat digunakan Bahan alat peraga aman dan tidak menggunakan bahan yang membahayakan 178 Nilai 77 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik. Nilai 108 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. 3. Aspek Penerimaan dan Kemenarikan Alat peraga dapat meningkatkan minat dalam belajar Pembelajaran dengan alat peraga membuat tidak malas Nilai 107 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi Nilai 106 berada dalam kategori interval lebih mendekati baik. “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Alat peraga membuat pembelajaran Alat peraga membuat pembelajaran menjadi menjadi lebih menarik, inovatif, dan tidak membosankan menyenangkan Nilai 112 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. Nilai 110 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. 179 Lampiran 10 Evaluasi Sumatif A. Absensi Siswa 180 B. Hasil Post-test Siswa (Keefektifan Siswa) DATA KHUSUS SOAL PILIHAN GANDA RINCIAN KUNCI JAWABAN EBBBACEDBDCABCBABAEC NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 NAMA RG MMCNJ FTP DA RRA MAP MRW DRA MAA MRF IFK WAS RAS MKR SS JTR SN RINCIAN JAWABAN SISWA DBBCACEDBDCABCBABAEC DBBCACEDBDCABCBABAEC DBBBACEDBDCABCCABAEC EBBBACEDBDCBBCABBAEB EBBBACEBBDCDBEBABEEA EBBBACDDADCABEEABAEA EBBBACEBBDCDBCBABCEC EBBBACEBADCDBEBDBADA EBBBACEDBDCABCBABCEC EBBBACEDBDCABCBABABC EBBBACEDBDCABCBABCEC EBBBACEDBDCABCBABCEC EBBBACCDBDCAEBBABEEC EBBBACBDBDCABCBABAEC EBBBACCDBDCABEBABEEC EBBBACBDBDCABCBABAEC EBBBACCDBDCABCBAACEC JUMLAH SKOR SOAL BENAR NILAI MAKSIMAL 20 5 JUMLAH NILAI KET BENAR SALAH 18 2 90 LULUS 18 2 90 LULUS 18 2 90 LULUS 16 4 80 LULUS 15 5 75 LULUS 15 5 75 LULUS 17 3 85 LULUS 13 7 65 TIDAK LULUS 19 1 95 LULUS 19 1 95 LULUS 19 1 95 LULUS 19 1 95 LULUS 16 4 80 LULUS 19 1 95 LULUS 17 3 85 LULUS 19 1 95 LULUS 17 3 85 LULUS 181 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 ART ATM FF DSR AR RR NPA TR NS KA DD ADA IA EBBBACDDBDCABCBABCEC EBBBACEDBDCABCBABBEC EBBBACCDADCADCEAACEB DBBBACEDBDCABCBAAAEC EBBBACCDBDCABCBDBAEC EBBBACEDBDCABCBABAEC DBBBACEDBDCACCCABAEC EBBBACCBBDCABCBDCAEC EBBAACEBDDCADCBDCAEC EBBBACBBBECABEBABAEC DBBBACEDBDCACCCABAEC EBCBACEDBCCABCBABAEC EBBBACEDBDCAACBABCBC Rata-rata Persentase Kelulusan 18 19 13 18 18 20 17 16 14 16 17 18 17 2 1 7 2 2 0 3 4 6 4 3 2 3 90 95 65 90 90 100 85 80 70 80 85 90 85 85,8 90 LULUS LULUS TIDAK LULUS LULUS LULUS LULUS LULUS LULUS TIDAK LULUS LULUS LULUS LULUS LULUS LULUS 182 C. Hasil Penilaian Observasi KPS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek Keterampilan Proses Sains Mengamati Mengklasifikasikan (Mengelompokkan) Menafsirkan (Interpretasi) Meramalkan (Memprediksi) Mengajukan Pertanyaan Mengajukan Hipotesis Merencanakan Percobaan Menggunakan Alat dan Bahan Menerapkan Konsep Melakukan Komunikasi Indikator Kegiatan Siswa 101 99 97 Jumlah Kategori 297 Baik 94 93 96 283 Baik 89 78 91 68 96 98 92 101 89 73 84 86 92 85 87 94 85 75 92 88 96 94 87 94 263 226 267 242 284 277 266 289 Baik Cukup Baik Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Baik Garis Bilangan Aspek KPS Mengamati Garis Bilangan Aspek KPS Mengelompokkan (Mengklasifikasikan) Nilai 297 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih Nilai 283 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati baik. mendekati baik. Garis Bilangan Aspek KPS Garis Bilangan Aspek KPS Menafsirkan (Interpretasi) Meramalkan (Memprediksi) Nilai 263 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek KPS Mengajukan Pertanyaan Nilai 226 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik. Garis Bilangan Aspek KPS Mengajukan Hipotesis Nilai 267 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek KPS Merencanakan Percobaan Nilai 242 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati cukup baik. Garis Bilangan Aspek KPS Menggunakan Alat dan Bahan 183 Nilai 284 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek KPS Melakukan Komunikasi Nilai 277 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Garis Bilangan Aspek KPS Menerapkan Konsep Nilai 266 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. Nilai 266 berada dalam kategori interval “cukup baik dan baik“. Tetapi lebih mendekati baik. 184 Aspek KPS Berdasarkan Kemampuan Berpikir Siswa Aspek KPS Kemampuan Berpikir Siswa KT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 9 12 10 9 9 12 7 9 11 12 2 12 10 12 12 9 9 12 12 10 12 3 11 9 8 10 9 8 9 10 9 9 4 11 9 8 8 8 8 10 10 8 8 5 9 9 6 8 8 8 9 7 8 10 6 11 10 10 7 10 8 11 10 10 11 7 9 11 11 6 8 8 9 9 9 11 8 12 10 11 6 10 9 10 9 11 12 9 9 8 8 9 7 8 9 8 8 10 10 7 11 8 9 8 8 8 8 8 10 Jumlah 100 99 92 84 86 86 94 92 92 105 Rata-rata 10 9,9 9,2 8,4 8,6 8,6 9,4 9,2 9,2 10,5 Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik 9 7 7 6 8 7 11 11 6 3 Kesimpulan KS 1 185 Aspek KPS Kemampuan Berpikir Siswa KR No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 9 9 9 9 11 9 9 9 9 11 3 9 10 8 10 9 8 12 11 9 10 4 9 9 9 6 9 8 9 9 9 12 5 12 9 12 8 9 8 10 10 10 12 6 9 12 9 9 12 9 9 9 12 12 7 9 11 10 11 11 9 9 9 11 11 8 9 11 12 9 8 8 7 8 12 11 9 12 9 7 9 10 9 10 11 9 10 10 12 9 9 6 9 8 9 9 9 9 Jumlah 99 96 92 83 96 83 95 96 96 101 Rata-rata 9,9 9,6 9,2 8,3 9,6 8,3 9,5 9,6 9,6 10,1 Kesimpulan Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Baik 1 9 8 6 3 8 3 9 8 5 8 2 8 10 11 6 10 8 9 9 10 12 3 9 9 9 6 7 8 9 10 12 9 186 Aspek KPS Kemampuan Berpikir Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4 9 8 8 9 9 8 8 8 6 9 5 9 10 7 6 10 8 9 9 10 7 6 12 8 6 3 6 8 11 10 5 3 7 12 9 8 6 7 8 12 12 7 10 8 11 10 9 6 10 8 10 9 8 8 9 12 9 8 6 8 6 11 11 8 8 10 6 8 7 8 9 9 7 4 7 9 Jumlah 97 89 79 59 84 74 95 90 78 83 Rata-rata 9,7 8,9 7,9 5,9 8,4 7,4 9,5 9 7,8 8,3 Baik Baik Cukup Tidak Baik Baik Cukup Baik Baik Cukup Cukup Kesimpulan 187 D. Hasil Angket Kepraktisan Alat Peraga oleh Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama RG MMCNJ FTP DA RRA MAP MRW DRA MAA MRF IFK WAS RAS MRR SS JTR SN ART ATM FF DSR AR RR NPA TR NS KA DD ADA IA Jumlah Kesimpulan Aspek Praktis (practicality) 2 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 2 4 3 3 3 3 4 4 3 2 4 3 3 2 1 2 2 1 2 3 4 4 2 1 2 4 3 4 3 2 3 2 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 1 1 4 2 3 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 83 89 97 1 5 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 2 4 4 4 4 4 4 4 3 111 101 Sangat Cukup Praktis Praktis Praktis Praktis 18 15 18 16 18 20 17 15 16 18 16 16 12 12 17 13 18 14 13 12 17 17 18 19 11 13 19 17 20 16 481 Aspek Praktisan 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 93 Praktis Praktis Jumlah 188 Garis Bilangan Jumlah Seluruh Indikator Aspek Kepraktisan Nilai 481 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati praktis. Garis Bilangan Aspek Kepraktisan Indikator mudah untuk digunakan Indikator mudah untuk dirangkai dan dioperasikan ulang Nilai 111 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati sangat praktis. Indikator Terdapat tempat penyimpanan sehingga mudah untuk dibawa. Nilai 83berada dalam kategori interval “cukup praktis dan praktis“. Tetapi lebih mendekati cukup praktis. Indikator kemudahan dalam perawatan Nilai 97 berada dalam kategori interval Nilai 89 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih “cukup praktis dan praktis“. Tetapi lebih mendekati praktis. mendekati praktis. Indikator mudah untuk ditemukan komponen pengganti Nilai 101 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati sangat praktis. 189 E. Instrumen dan Hasil Angket Kepraktisan dan Keefektifan Alat Peraga oleh Guru 190 191 192 193 F. Hasil Penilaian Angket Kepraktisan dan Keefektifan Alat Peraga oleh Guru No 1 2 3 4 Jumlah Kesimpulan 1 3 4 4 4 15 Sangat Baik Aspek Praktis 2 3 4 4 4 3 3 4 4 4 15 15 Sangat Sangat Baik Baik 4 3 4 4 3 14 5 3 4 3 3 13 Baik Baik Jumlah 17 19 18 18 72 Sangat Baik Garis Bilangan Jumlah Seluruh Indikator Aspek Kepraktisan Nilai 72 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati sangat praktis. Garis Bilangan Aspek Kepraktisan Indikator peraga praktis untuk Indikator praktis untuk dirangkai digunakan dan dioperasikan ulang. Nilai 15 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati sangat praktis. Indikator alat peraga terdapat tempat penyimpanan sehingga praktis untuk dibawa. Nilai 15 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati sangat praktis. Indikator peraga praktis dalam perawatan Nilai 14 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati praktis. Nilai 15 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati sangat praktis. Indikator alat mudah untuk ditemukan komponen pengganti 194 Nilai 14 berada dalam kategori interval “praktis dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati praktis. No 1 2 3 4 Jumlah Kesimpulan 1 3 4 3 4 14 Baik 2 3 4 4 3 14 Baik Aspek Efektifitas 3 4 3 3 4 3 3 4 4 4 14 14 Baik Baik 5 3 4 3 4 14 Baik Jumlah 15 19 17 19 70 Sangat Baik Garis Bilangan Jumlah Seluruh Indikator Aspek Keefektifan Nilai 70 berada dalam kategori interval “baik dan sangat baik“. Tetapi lebih mendekati sangat baik. Garis Bilangan Aspek Keefektifan Alat peraga dapat membantu guru Alat peraga efektif untuk membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran siswa dalam memahami konsep Nilai 14 berada dalam kategori interval “baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati baik. Alat peraga gerak efektif meningkatkan motivasi rasa ingin tau siswa. Nilai 14 berada dalam kategori interval “baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati baik. Alat peraga efektif untuk membantu guru agar lebih mudah dalam mengajar Nilai 14 berada dalam kategori interval “baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati baik. Nilai 14 berada dalam kategori interval “baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati baik. 195 Alat peraga efektif untuk membantu siswa dalam memvisualisasikan konsep Nilai 14 berada dalam kategori interval “baik dan sangat praktis“. Tetapi lebih mendekati baik. 196 Lampiran 11 Hasil Validasi dan Instrumen Tes A. Hasil dan Rekap Validasi Instrumen Tes oleh Ahli 1. Materi Fisika a. Hasil Validasi Materi 197 198 199 200 b. Rekap Hasil Validasi Materi Nomer Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Drs. Hasian Pohan, S.Pd, M.Si A B C D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Validator Ai Nurlaela, M.Si B C 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Taufiq Al Farizi, M.Pfis A B C D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Nilai CVR A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 B C 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah CVR CVI Kategori D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rata-rata CVR 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 1 Sangat Sesuai 201 2. Validasi Kontruksi a. Hasil Validasi Konstruk 202 203 b. Rekap Hasil Validasi Konstruk Nomer Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Validator A 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 B 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 C 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Devi Sholehat E F G 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 H 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 I 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 J 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Iwan Permana Suwarna, M.Pd B C D E G H 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Nilai CVR I 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 J 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 A 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 B 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 C 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E G 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah CVR CVI Kategori H 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 I 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 J 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rata-rata CVR 1,00 1,00 0,89 0,89 1,00 0,89 0,89 0,89 0,89 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 19,33 0,97 Sangat Sesuai 204 3. Validasi Bahasa a. Hasil Validasi Bahasa 205 206 b. Rekap Hasil Validasi Bahasa Nomor Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dr. Hindun, M.Pd. A B C D 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 Validator Drs. Parmono, M.Pd A B C D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Hilmawati, S.Hum A B C D 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Nilai CVR A -0,33 1,00 1,00 -0,33 0,33 0,33 1,00 0,33 -0,33 -0,33 1,00 0,33 -0,33 0,33 -0,33 -0,33 -0,33 -0,33 0,33 1,00 B C 1,00 1,00 1,00 1,00 0,33 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0,33 0,33 1,00 1,00 1,00 1,00 0,33 1,00 0,33 1,00 1,00 1,00 0,33 1,00 -0,33 1,00 1,00 1,00 -0,33 1,00 1,00 1,00 -0,33 1,00 0,33 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 Jumlah CVR CVI Kategori Rata-rata CVR D 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0,33 1,00 0,33 1,00 1,00 1,00 0,67 1,00 0,83 0,67 0,83 0,50 1,00 0,83 0,50 0,50 1,00 0,67 0,33 0,83 0,17 0,67 0,17 0,50 0,83 1,00 13,50 0,68 Sangat Sesuai 207 B. Instrumen Tes INSTRUMEN TES PILIHAN GANDA GERAK PARABOLA Mata Pelajaran : Fisika Bentuk Soal : Pilihan Ganda Kelas / Semester : XI / 2 Waktu : 90 menit Tahun Ajaran : 2016-2017 Aspek KPS Merencanakan percobaan Indikator Soal Disajikan beberapa pilihan gambar alat dan bahan dalam percobaan. Siswa dapat menentukan alat dan bahan yang tepat digunakan dalam percobaan gerak parabola. No Soal 1. Soal Kunci Jawaban Perhatikan gambar di bawah ini ! Jawaban 208 Aspek KPS Merencanakan Percobaan Indikator Soal Disajikan desain alat peraga gerak parabola. Siswa dapat menentukan data yang akan No Soal 2. Soal Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan menggunakan alat peraga gerak parabola ditunjukkan dengan nomer... a. 1, 2, 5, 9 b. 1, 3, 7, 8 c. 1, 4, 5, 7 d. 1, 5, 6, 7 e. 1, 6. 7. 8* Kelompok II melakukan percobaan menggunakan alat peraga gerak parabola seperti pada gambar di bawah ini Kunci Jawaban 209 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal Kunci Jawaban diukur dalam percobaan gerak parabola. Merencakan Percobaan Disajikan prosedur percobaan hubungan jarak jangkauan terhadap sudut dan ketinggian maksimum. Siswa dapat mengurutkan 3. Data yang diukur oleh kelompok II dalam percobaan tersebut adalah... a. kecepatan dan ketinggian b. jarak terjauh dan ketinggian* c. waktu dan jarak d. kecepatan dan jarak terjauh e. debit dan jarak terjauh Berikut ini merupakan prosedur percobaan hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum: 1) Tentukan diameter lubang yang akan digunakan 2) Tentukan sudut elevasi yang telah ditentukan 3) Catat hasil pengukuran jarak jangkauan terjauh dan titik tertinggi 4) Susunlah rangkaian alat peraga sesuai dengan gambar yang terdapat pada LKS 5) Siapkan seperangkat alat dan bahan alat gerak parabola yang digunakan. 5-4-8-2-16-7-3 Jawaban C 210 Aspek KPS Indikator Soal No Soal prosedur percobaan yang sesuai 4. Mengamati Soal 6) Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat penampungan menuju ke nozzle. 7) Tentukan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang terbentuk pada sudut elevasi tersebut dengan cara menggeserkan corong. 8) Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu Urutan prosedur percobaan untuk mengetahui Hubungan Jarak Jangkauan Terhadap Sudut dan Ketinggian Maksimum adalah... a. 1-2-3-4-5-6-7-8 b. 5-4-8-2-1-6-7-3* c. 5-4-8-6-2-1-7-3 d. 5-4-8-2-6-1-7-3 e. 8-7-5-4-3-2-1-6 Untuk soal nomor 4-5 perhatikan gambar di bawah ini! Disajikan gambar desain alat peraga gerak parabola. Siswa dapat menentukan variabel yang mempengaruhi jarak Berdasarkan gambar tersebut faktor atau variabel yang mempengaruhi jarak jangkauan adalah... Kunci Jawaban 211 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Disajikan gambar desain alat peraga gerak parabola pada gambar soal nomor 4. Siswa dapat menentukan salah satu fungsi dari alat peraga 5. Disajikan gambar desain alat peraga gerak parabola. Siswa dapat menunjukkan titik terjauh dan titik tertinggi dari alat peraga 6. Soal a. A, dan B b. A, dan C* c. A, dan D d. A, dan E e. A, dan F Berdasarkan gambar di atas fungsi dari alat yang ditunjukkan dengan huruf C adalah... a. mengatur sudut* b. mengatur jarak jangkauan c. mengatur debit aliran fluida d. mengukur ketinggian fluida e. memompa tekanan aliran fluida Perhatikan gambar di bawah ini Kunci Jawaban 212 Aspek KPS Mengelompok kan Indikator Soal Disajikan gambar Andi memukul bola dengan sudut elevasi dan jarak jangkauan tertentu. Tersedia tabel dan gambar hasil pukulan dengan sudut elevasi dan jarak jangauan berbeda-beda. Siswa dapat memilih gambar jarak jangkauan yang tepat sesuai dengan No Soal 7. Kunci Jawaban Soal Berdasarkan gambar di atas yang menunjukkan titik tertinggi dan jarak terjauh adalah... a. 1 dan 5 b. 2 dan 5 c. 3 dan 5* d. 3 dan 4 e. 4 dan 5 Perhatikan gambar di bawah ini ! 45o 1m Andi memukul bola golf dengan kecepatan awal adalah 10 ms-1, sehingga menghasilkan jarak jangkauan terjauh seperti pada gambar. Jika Andi ingin memukul bola golf dengan sudut elevasi berbeda seperti pada tabel berikut. No Sudut Elevasi 1 15o Gambar Jarak Pukulan Bola Golf Andi 0,85 m 213 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Kunci Jawaban Soal sudut elevasi tersebut. 2 30o 0,5 m 3. 53 0,96 m 4. 75 0.5 m Berdasarkan sudut elevasi tersebut jarak jangkauan pada gambar yang tepat adalah... a. 1 dan 2 b. 1 dan 4* c. 2 dan 3 d. 2 dan 4 e. 3 dan 4 214 Aspek KPS Indikator Soal mengelompok kan Disajikan data percobaan pada tabel dua sudut berbeda dengan variabel diukur jarak dan ketinggian. Siswa dapat menunjukkan data yang tepat berdasarkan tabel. No Soal 8. Soal Kunci Jawaban Roni dan Dimas sedang melakukan pengamatan menggunakan alat peraga gerak parabola dengan kecepatan awal sama. Data yang mereka peroleh dari percobaan seperti pada tabel di bawah ini! Pasangan data yang tepat ditunjukan dengan nomer ... a. 1 dan 4 b. 1 dan 5 c. 2 dan 4 d. 3 dan 5* e. 3 dan 6 mengelompok kan Disajikan data tabel tendangan yang dengan sudut berbedabeda. 9. Dimas berlatih menendang pinalti dengan jarak x. Dimas menendang bola sebanyak tiga kali tendangan (I, II, dan III) dengan cara yang berbeda sudut elevasi yang berbeda seperti pada tabel di bawah ini ! Tendangan Sudut elevasi Jawaban B 215 Aspek KPS Indikator Soal Siswa dapat memilih gambar yang tepat berdasarkan tabel. No Soal Soal I II III 30o 45o 75o Gambar yang tepat berdasarkan tabel di atas adalah... a. b. * c. d. Kunci Jawaban 216 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal e. Menafsirkan/ interpretasi Disajikan gambar tabel pukulan bola golf dengan sudut elevasi berbeda-beda. Siswa dapat menyimpulkan hasil yang memiliki perbedaan sudut pukulan 10. Budi, Doni, Benny, Ilham, dan Angga sedang bermain golf di lapangan. Mereka memukul bola dengan kecepatan awal yang sama tetapi sudut kemiringan (𝛼) pukulan berbeda, perhatikan tabel berikut! Sudut Elevasi Bola Kesimpulan yang tepat berdasarkan tabel di atas adalah... a. jarak pukulan yang terjauh dilakukan oleh Angga karena memiliki sudut elevasi yang besar b. jarak pukulan yang terdekat dilakukan oleh Benny karena pukulan Benny menggunakan sudut 45o c. urutan jarak tendangan dari yang terdekat hingga terjauh adalah Budi, Doni, Ilham, Angga, dan Benny Kunci Jawaban 217 Indikator Soal Disajikan gambar grafik jarak terhadap ketinggian. Siswa dapat membaca grafik yang tepat No Soal 11. Kunci Jawaban Soal d. jarak pukulan Doni dan Ilham sama karena hasil pukulan walaupun berbeda sudut menghasilkan sudut yang sama* e. jarak pukulan yang terjauh dilakukan oleh Budi dan Angga karena besar sudut mereka memiliki jarak yang sama dan terjauh dibandingkan yang lainnya Perhatikan grafik jarak terhadap ketinggian di bawah ini! Grafik jarak terhadap ketinggian 2 ketinggian (m) Aspek KPS 1,6 1,75 1,8 1,75 1,35 1,5 1,6 1,35 1 1 1 0,55 0,55 0,5 0 0 0 0 0,8 1,6 2,4 3,2 4 4,8 5,6 6,4 7,2 8 8.8 9,6 jarak (m) Kesimpulan yang benar berdasarkan grafik di atas adalah .... a. jarak terjauh terdapat pada saat titik 8,8 b. pada jarak 8 m tidak memiliki ketinggian c. ketinggian maksimum berada pada titik (4,8 ; 1,8)* d. jarak terjauh dan ketinggian berada pada titik (9,6 ; 0,55) e. jarak 4 m memiliki ketinggian yang sama dengan jarak 7,2 m 218 Aspek KPS Indikator Soal Disajikan gambar seorang pemain basket melempar bola ke ring dengan sudut yang berbeda, siswa memprediksi hasil lemparan pemain basket dengan sudut yang berbeda Meramal/mem prediksi No Soal 12. Soal Perhatikan gambar di bawah ini! 30o Alfin sedang berlatih melempar bola basket ke dalam ring. Alfin melempar bola pada kecepatan awal v dan jarak antara Alfin saat melempar bola basket dengan ring adalah x. Alfin melempar bola dengan sudut 30o, bola berhasil masuk ke dalam ring. Jika Alfin ingin melempar bola dengan sudut lemparan 60o, yang terjadi dengan bola lemparan Alfin adalah... a. bola masuk ke dalam ring karena jarak jangkauan sudut 60o dan 30o sama * b. bola mengenai ring basket bagian depan karena jarak jangkauan pada sudut 60o lebih pendek c. bola mengenai ring basket bagian belakang karena jarak jangkauan pada sudut 60o lebih jauh d. bola tidak sampai ke ring karena memiliki jarak jangkauan pada sudut 60o sangat lebih pendek Kunci Jawaban 219 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal e. bola membentur papan pada tiang ring karena jarak jangkauan sudut 60o sangat lebih jauh Disajikan gambar desain alat peraga gerak parabola dengan 2 mata noozle yang memiliki diameter berbeda. Siswa dapat memprediksi jarak jangkauan dari setiap diameter 13. Andi melakukan pengamatan menggunakan alat peraga gerak parabola dengan menggunakan dua mata nozzle yang berdiameter berbeda. Ukuran diameter nozzle B adalah dua kali diameter nozzle A. Seperti pada gambar di bawah ini. Jika Andi melakukan percobaan dengan kedua mata nozzle menggunakan sudut elevasi dan volume air yang sama. yang akan terjadi dengan jarak terjauh dari kedua diameter pada percobaan tersebut adalah... a. jarak terjauh diameter a sama dengan jarak terjauh diameter B karena memiliki sudut elevasi dan volume air yang sama Kunci Jawaban 220 Aspek KPS Berhipotesis Indikator Soal Disajikan gambar seseorang sedang memukul bola golf dengan dua sudut bebeda. Siswa berhipotesis jarak jangkauan pukulan yang dilakukan pemain golf dengan sudut yang berbeda No Soal 14. Soal b. jarak terjauh diameter A lebih jauh dibandingkan diameter B karena mata nozzle A memiliki lebih kecil dibandingakan B* c. jarak jangkauan diameter A lebih pendek dibandingkan diameter B karena mata nozzle A memiliki lebih kecil dibandingakan B d. jarak terjauh kedua nozzle menghasilkan jarak yang sama karena besar diameter tidak mempengaruhi jarak jangkauan e. jarak jangkauan diameter A lebih pendek dibandingkan diamater B jika volume air A lebih banyak dibandingkan B Perhatikan gambar orang memukul bola golf di bawah ini ! Pemain golf melakukan pukulan A dengan sudut 45o bola berhasil masuk ke lubang pada jarak X. Jika Tommy melakukan pukulan B dengan sudut 30o, bola akan jatuh di... a. titik 1 b. titik 2 c. titik 3* d. titik 4 e. titik 5 Kunci Jawaban 221 Aspek KPS Menghipotesis Indikator Soal Disajikan gambar desain alat peraga gerak parabola dengan tiga mata nozzle yang memiliki diameter berbeda. Siswa berhipotesis jarak jangkauan berdasarkan diameter lubang yang dimiliki masing-masing mata nozzle No Soal 15. Soal Perhatikan gambar alat peraga di bawah ini ! Pada bagian mata nozzle diganti dengan mata nozzle A, B dan C yang memiliki diameter berbeda seperti pada tabel berikut. Mata Diameter Nozzle A d B 2d C 3d Jika alat diatur dengan sudut kemiringan yang sama dan volume fluida yang digunakan sama, maka hipotesis apa yang akan anda kemukakan mengenai jarak terjauh dari masing-masing mata nozzle adalah... a. mata nozzle A memiliki jarak jangkauan terjauh, mata nozzle B dan C memiliki jarak jangkauan yang sama b. mata nozzle A memiliki jarak jangkauan terjauh, mata nozzle C memiliki jarak jangkauan terdekat, sedangkan jarak jangkauan mata nozzle B berada di antara keduanya* Kunci Jawaban 222 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal Kunci Jawaban c. mata nozzle C memiliki jarak jangkauan terjauh, sedangkan mata nozzle A memiliki jarak jangkauan terdekat dan jarak jangkauan mata nozzle B berada di antara keduanya d. mata nozzle B memiliki jarak jangkauan terjauh, sedangkan A memiliki jarak jangkauan terdekat dan jarak jangkauan mata nozzle C di antara keduanya e. mata nozzle B memiliki jarak jangkauan terdekat, sedangkan A memiliki jarak jangkauan terjauh dan jarak jangkauan mata nozzle C di antara keduanya Menerapkan konsep Disajikan gambar kontekstual pemain golf memukul bola. Siswa dapat menerapkan konsep gerak parabola dalam menentukan hasil kecepatan dari pukulan bola dengan sudut dan 16. Perhatikan gambar di bawah ini Dik: 𝛼 =53o vo = 30 m/s Dit: vX = ........? vy = ........? Seorang pemain golf melakukan pukulan menuju lubang yang berada pada titik C dengan sudut elevasi 53o membentuk lintasan parabola seperti gambar. Jika kecepatan awal bola 30 m/s. Maka kecepatan pada sumbu x dan sumbu y bola saat 2 detik adalah... (sin 53 = 0,8 dan cos 53 = 0,6) a. 18 m/s dan 4 m/s* b. 10 m/s dan 4 ms Jwb vX = Vo cos 𝛼 vX = 30cos 53 vX = 18 m/s 223 Aspek KPS Indikator Soal No Soal kecepatan awal tertentu Menerapkan konsep Disajikan gambar kontekstual. Siswa dapat menerapkan konsep gerak parabola dalam menentukan letak posisi bola Soal c. 24 m/s dan 2 m/s d. 18 m/s dan 2 m/s e. 24 m/s dan 4 m/s 17. Perhatikan gambar di bawah ini Kunci Jawaban vy = vo sin 𝛼- gt vy = 30 sin 53 – (10) 2 Vy = 4 m/s Jawaban : A Dik vo = 10 m/s 𝛼 = 37o dit: x = ....? y = ....? jwb x = vo cos 𝛼t x =10 cos 37o 1 x=8m y = vo sin 𝛼 t – ½ gt2 224 Aspek KPS Menerapkan konsep Indikator Soal Disajikan gambar kontekstual, siswa dapat menerapkan konsep gerak parabola dalam menentukan perbandingan hasil jarak terjauh dan ketinggian dari tendangan pinalti No Soal 18. Kunci Jawaban Soal Ihsan melakukan service shuttlecock dengan kecepatan awal pukulan 10 m/s dan sudut elevasi 37O terhadap bidang datar. Setelah satu detik dipukul Ihsan pada jarak horizontal (x) dan vertikal (y) berapa shuttlecock dapat dipukul oleh Jorgensen untuk mengembalikan pukulan Ihsan... (sin 37O = 0,6 ; cos 37O= 0,8) a. (1,8 , 4,8) m di titik C b. (1, 8) m dititik C c. (8, 1) m di titik E* d. (8, 3) m di titik E e. (3, 8) m di titik D Perhatikan gambar di bawah ini Ali sebagai penendang pinalti, sedangkan Doni sebagai penjaga gawang. Jika Ali menendang bola sasaran dengan sudut elevasi bola terhadap tanah adalah 30, maka hasil tendangan pinaltinya melalui perbandingan antara jarak jangkauan bola dan ketinggian maksimum yang dihasilkan dari hasil pukulan pemain tersebut adalah... a. 4√3 : 1* b. √3 : ½ 1 c. 2 √3 : ½ d. 1: ½ e. 2√3 : 1 y = 10 sin 37o 1 – ½ 10 12 y=1m (x,y) = (8,1) m Dik 𝛼 = 30O Dit Xmaks : Ymaks = ...? jwb 𝑣02 sin 2𝛼 𝑔 𝑣02 𝑠𝑖𝑛2 𝛼 2𝑔 : Sin 2 𝛼 : sin2 𝛼 Sin 2 (30O) : 𝑠𝑖𝑛2 60𝑜 2 225 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal Kunci Jawaban Sin 60o : 𝑠𝑖𝑛2 30𝑜 2 ½ √3 : 1⁄ 4 2 ½ √3 : 1⁄8 4√3 : 1 4√3 : 1 Mengomunika sikan Disajikan gambar desain alat peraga gerak parabola. Siswa dapat menentukan grafik jarak terhadap ketinggian yang sesuai dengan data percobaan yang disajikan pada tabel 19. Perhatikan gambar di bawah ini ! Roni melakukan percobaan menggunakan alat peraga gerak parabola. Grafik yang tepat untuk menggambarkan data tersebut adalah... 226 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jarak X (m) 0,8 1,6 2,4 3,2 4 4,8 5,6 6,4 7,2 8 8.8 9.6 Ketinggian Y (m) 0,55 1 1,35 1,6 1,75 1,8 1,75 1,6 1,35 1 0,55 0 Berdasarkan percobaan yang dilakukan Roni. Grafik yang dapat menggambarkan data tabel tersebut adalah... a. y 𝑥 Kunci Jawaban 227 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal b. c. d. Kunci Jawaban 228 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Kunci Jawaban Soal e. *> Mengomunika si Disajikan gambar hasil percobaan kelompok II. Siswa dapat menentukan gambar grafik hubungan antara sudut dan jarak berdasarkan data gambar yang diperoleh 20 Perhatikan gambar hasil percobaan dari kelompok II berikut ini ! y 75𝑜 60𝑜 45𝑜 30𝑜 15𝑜 1 0 1 6 2 0 x 229 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal Grafik yang dapat menunjukkan hubungan antara jarak (R) dan sudut (𝛼) adalah... a. R 𝛼 90o b. R 𝛼 90o c. R 90o d. 𝛼 R 90o 𝛼 Kunci Jawaban 230 Aspek KPS Indikator Soal No Soal Soal e. R 90o 𝛼 Kunci Jawaban 154 Lampiran 12 Instrumen LKS A. Tujuan Pecobaan 1. 2. 3. 4. 5. Siswa dapat mengetahui hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan maksimum pada materi gerak parabola. Siswa dapat mengetahui hubungan antara sudut elevasi terhadap ketinggian maksimum pada materi gerak parabola. Siswa dapat mengetahui perbedaan kecepatan aliran terhadap jarak jangkauan Siswa dapat mengetahui perbedaan kecepatan aliran terhadap ketinggian maksimum Siswa dapat mengetahui besaran-besaran pada materi gerak parabola B. Dasar Teori A. Pengertian Gerak Parabola Gerak parabola adalah perpindahan benda yang bersamaan melakukan gerak lurus beraturan beraturan (GLB) pada arah horizontal dan gerak lurus berubah beraturan (GLBB)pada arah vertikal.111 Berdasarkan pendapat Galileo dalam tulisan berjudul Discources on Two New Sciences mengemukakan ide yang menganalisis gerak parabola. Menurut Galileo menyatakan bahwa gerak parabola sebagai gerak lurus beraturan pada sumbu horizontal (sumbu-X) dan gerak lurus berubah beraturan pada vertikal (sumbu-Y) secara terpisah. Setiap geak tidak saling mempengaruhi tetapi gabungannya dari kedua gerak tersebut berupa gerak parabola. 112 Lintasan yang dibentuk berupa pabola, arah tembakan membentuk sudut terhadap arah horizontal yang disebut sebagai sudut elevasi (𝜶). Jika kecepatan awal peluru ditembakan adalah vo maka kecepatan dalam arah sumbu-X adalah vx dan kecepatan dalam sumbu-Y adalah vy. Gambar 1 Gerak Parabola https://istanamengajar.files.wordpress.com Pada sumbu-X berlaku persamaan gerak lurus beraturan (GLB) Kecepatan benda dalam arah sumbu-x pada setiap titik. 𝒗𝒙 = 𝒗𝟎 𝐜𝐨𝐬 𝜶 Keterangan 𝑣𝑥 = kecepatan pada sumbu 𝑥 (m/s) 111 Marthen Kanginan, SeribuPena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Erlangga, 2008), h.5 112 Marthen Kanginan, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI , (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 40 155 𝑣0 = kecepatan awal (m/s) Perpindahan jarak benda dalam arah sumbu-x pada setiap titik. 𝑿 = 𝒗𝟎 𝐜𝐨𝐬 𝜶 𝒕 Keterangan 𝑋 = jarak pada sumbu 𝑥 (𝑚) 𝑡 = waktu (𝑠) Pada sumbu Y berlaku persamaan gerak lurus berubah beraturan (GLBB) Kecepatan benda dalam arah sumbu-y pada setiap titik. 𝒗 = 𝒗𝟎 + 𝒂𝒕 𝒗𝒚 = 𝒗𝟎 𝐬𝐢𝐧 𝜶 − 𝒈𝒕 Keterangan 𝑣𝑦 = kecepatan pada sumbu 𝑦 (𝑚⁄𝑠) 𝑣0 = kecepatan awal (𝑚⁄𝑠) 𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚⁄𝑠 2 ) 𝑡 = waktu (𝑠) Perpindahan ketinggian benda dalam arah sumbu-y pada setiap titik. 𝟏 𝑿 = 𝒗𝟎 𝒕 + 𝒂𝒕𝟐 𝟐 𝟏 𝒚 = 𝒗𝟎 𝐬𝐢𝐧 𝜶 𝒕 − 𝒈𝒕𝟐 𝟐 Keterangan 𝑣0 = kecepatan awal (𝑚⁄𝑠) 𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚⁄𝑠 2 ) 𝑡 = waktu (𝑠) y = ketinggian benda (m) Benda pada saat tinggi tertinggi (titik C) Benda ketika mencapai tinggi maksimum kecepatan pada arah vertikal sama dengan nol, vy = 0. Waktu titik tertinggi 𝒕𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝒗𝟎 𝐬𝐢𝐧 𝜶 𝒈 Keterangan tC maks = waktu benda pada saat titik terringgi (pada titik C) (s) 𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s) 𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2) 𝛼 = sudut elevasi 156 Tinggi maksimum 𝒚𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧𝟐 𝜶 𝟐𝒈 Keterangan 𝒚𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = benda berada pada titik tertinggi (pada titik C) (m) 𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s) 𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2) 𝛼 = sudut elevasi Jarak benda pada titik tertinggi 𝒙𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧 𝟐𝜶 𝟐𝒈 atau 𝒙𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝒗𝟎 𝟐 𝐬𝐢𝐧 𝜶 𝒄𝒐𝒔 𝜶 Keterangan 𝒙𝑪 𝒎𝒂𝒌𝒔 = jarak benda berada pada titik tertinggi (titik C) (m) 𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s) 𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2) 𝛼 = sudut elevasi Jarak Terjauh pada sumbu-X (titik E) xE maks 𝒙𝑬 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝒗𝟎 𝟐 𝒔𝒊𝒏 𝟐𝜶 𝒈 2 sin 𝛼 cos 𝛼 = sin 2𝛼 , 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝒙𝑬 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝟐 𝒗𝟎 𝟐 𝒔𝒊𝒏 𝜶 𝒄𝒐𝒔 𝜶 𝒈 Keterangan 𝑥𝐸 𝑚𝑎𝑘𝑠 = jarak jangkauan terjauh dari benda (m) 𝒗𝟎 = kecepatan awal benda (m/s) 𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2) 𝛼 = sudut elevasi 𝒈 157 C. Alat dan Bahan Gambar 2 Rangkaian Alat Peraga Gerak Parabola No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 A. Tabel 1 Alat dan Bahan Jumlah Alat dan Bahan Sirkulator Pompa Air Tempat penampungan air Selang air Corong air Busur Benang Nozzle Mata nozzle Rel lintasan Kertas bergaris Layar Lampu Penggaris Air 1 1 Secukupnya 1 1 Secukupnya 1 4 1 1 1 1 1 Secukupnya Pertanyaan Pendahuluan Pada kegiatan ini siswa diharapkan memiliki pengetahuan dasar konsep dari besaran-besaran fisis di gerak parabola. Jawablah pertanyaan-pertanyaan pendahuluan berikut 1. Andi ingin memukul bola golf kedalam lubang pada jarak x dan sudut elevasi yang berbeda yaitu 30o, 45o, dan 75o seperti pada gambar jika pukulan pemain golf memiliki kecepatan awal yang sama. Pasangan titik mana bola golf memiliki ketinggian dan jarak jangkauan terjauh bola berdasarkan masing-masing sudut tersebut ! (Titik A, B dan C merupakan titik tertinggi bola sedangkan titik P,Q, dan R merupakan titik jangkauan terjauh bola) 158 Gambar 3 Pemukul Bola Golf ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ 2. erhatikan gambar di bawah ini x Gambar 4 Pemain bola menendang pinalti Andri sedang berlatih menendang pinalti untuk mempersiapkan final kejuaraan antar sekolah. Andri menendang dengan cara melambungkan bola dengan sudut 45 o dan bola dapat masuk ke gawang. Apa yang akan terjadi apabila Andri menendang bola dengan sudut elevasi 15o dan 60o ? (jika tedangan dilakukan dengan kecepatan sama) ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ............................................................................................................................................. .. B. Hipotetsis Tuliskan kesimpulan sementara sebelum melakukan percobaan mengenai percobaan yang akan dilakukan berdasarkan pertanyaan di atas. a. Hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ 159 b. Hubungan antara sudut elevasi terhadap ketinggian ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ c. Hubungan antara jarak jangkauan terhadap ketinggian ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ d. Hubungan antara kecepatan awal terhadap jarak jangkauan terjauh ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ C. Prosedur dan Data Percobaan Berdasarkan jawaban hipotesis diatas untuk membuktikan jawaban tersebut anda dapat melakukan percobaan berikut. Percobaan I 1. 2. 3. 4. 5. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan. Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu. Sesuaikan sudut nozzle sejajar dengan jarum pada sudut 0o. Siapkan stopwatch dalam keadaan 0 untuk menentukan waktu aliran air. Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat penampungan menuju ke nozzle. 6. Letakkan gelas ukur dan tentukan volume awal dan akhir. 7. Mulai hidupkan stopwatch pada saat air mulai mengalir dari nozzle dan matikan stopwatch saat volume air mengisi gelas ukur sampai pada volume pada titik akhir yang ditentukan. 8. Catat waktu pada stopwach saat setelah aliran air sampai volume fluida berkurang sesuai dengan volume yang ditentukan. 9. Hitung kecepatan awal menggunakan rumus di bawah ini: 𝑉 𝑣0 = 𝑡𝐴 v0 = kecepatan awal (m/s) V = volume (m3) t = waktu (s) A = Luas Penampang (m2) Tabel 2 Menentukan kecepatan awal aliran fluida No Lubang 1 2 3 4 A B C D Diameter M Luas Penampang (A) m2 Volume Fluida Awal Akhir m3 m3 Waktu s 160 Percobaan II 1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan berdasarkan tabel 1 2. Susunlah rangkaian alat peraga sesuai dengan gambar 2 3. Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu 4. Tentukan sudut elevasi berdasarkan pada tabel 4 5. Tentukan diameter lubang yang digunakan berdasarkan pada tabel 2. 6. Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat penampungan menuju ke nozzle. 7. Tentukan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang terbentuk pada sudut elevasi tersebut dengan cara menggeserkan corong. 8. Catat hasil pengukuran jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang diperoleh pada tabel 4 Diameter lubang = ............................ m Kecepatan awal aliran fluida = ............................. m/s Tabel 3 Hubungan antara sudut elevasi terhadap jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum (Diameter kecil) No 1 2 3 4 5 Sudut elevasi 𝛼 20 30 45 60 75 Jarak terjauh (m) Ketinggian maksimum (m) Percobaan III 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Siapkan alat dan bahan yang digunakan berdasarkan tabel 1. Susunlah rangkaian alat peraga sesuai dengan gambar 2. Isi tempat penampungan dengan air berdasarkan volume tertentu. Tentukan sudut elevasi berdasarkan pada tabel 5. Gunakan 2 diameter mata nozzle dengan ukuran diameter paling besar dan kecil pada setiap sudut. Hidupkan saklar agar pompa sirkulasi air hingga air akan mengalir dari tempat penampungan menuju ke nozzle. Tentukan jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum yang terbentuk pada sudut elevasi dan diameter lubang tertentu tersebut dengan cara menggeser corong Catat hasil pengukuran jarak jangkauan terjauh dan ketinggian maksimum pada tabel 5. Tabel 4 Hubungan Kecepatan Aliran Air Terhadap Jarak Dan Ketinggian Maksimum (Diameter Besar) No 1 2 3 4 5 Sudut elevasi 𝛼 20 30 45 60 75 Jarak terjauh (m) Ketinggian maksimum (m) 161 Setelah melakukan percobaan, jawablah pertanyaan dibawah ini berdasarkan data percobaan di atas. 1. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, bagaimana hubungan antara jarak jangkauan terjauh dengan sudut elevasi yang dihasilkan? Jawaban ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. 2. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, bagaimana hubungan antara sudut elevasi dengan ketinggian maksimum ? Jawaban ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. 3. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, bagaimana hubungan antara kecepatan awal dengan jarak jangkauan terjauh yang dihasilkan Jawaban ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. Gambarkan grafik gerak parabola pada sumbu x dan sumbu y yang terbentuk berdasarkan percobaan yang dilakukan hubungan antara sudut elevasi (x) dan jarak terjauh (y) pada percobaan I dan II y y Percobaan dengan diameter kecil x x Percobaan dengan diameter besar 4. Gambarkan grafik gerak parabola pada sumbu x dan sumbu y yang terbentuk berdasarkan percobaan yang dilakukan hubungan antara jarak terjauh (x) dan tinggi maksimum (y) pada percobaan I dan II 162 y x Percobaan dengan diameter kecil y Percobaan dengan diameter kecil 5. 6. D. x Bagaimana kesesuaian hipotesis awal kalian sebelum melakukan percobaan dibandingkan dengan hasil percobaan? Tuliskan hipotesis yang sesuai dengan teori ! Jawaban ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ..................................................................... Tuliskan kesimpulan hasil data yang diperoleh dibandingkan terhadap teori yang sesuai ! Jawaban ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ............................................................................................................................................. ..................................................................... Kesimpulan Berikan kesimpulan berdasarkan data dan percobaan ..................................................................................................................................... ......................... .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. ............................................................ 163 Lampiran 13 Surat Izin Penelitian 164 165 Lampiran 14 Surat Keterangan Penelitian 166 167 LEMBAR UJI REFERENSI Nama : Adam Wicaksana NIM : 1112016300043 Jurusan : Pendidikan IPA – Pendidikan Fisika Judul Skripsi : Pengembangan Alat Peraga Pada Materi Gerak Parabola Untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Siswa Paraf No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Footnote BAB I Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006) hlm. 157. Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016), h.145 Conny Semiawan,dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar,(Jakarta: Gramedia, 1990), cet. 6. H.10 Conny Semiawan,dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar,(Jakarta: Gramedia, 1990), cet. 6. H. 9 Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013) h.2 Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di sekolah SMA Negeri di Jakarta D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science Education, 2015, h.16 B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 2010 h.132 D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science Education, 2015, h.16 Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga,2011), h. 79 Pembimbing I 168 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2014), cet. 17, h. 1 Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 3 Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 6 Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 7 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2014), cet. 17, h.9 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013) Cet.11, h. 3 Dharis Dwi Apriliyanti,dkk., “Pengembangan Alat Peraga Ipa Terpadu Pada Tema Pemisahan Campuran Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains”, journal.unnes.ac.id, 2015, h. 836 N.W. S. Darmayant,dkk., Pengaruh Model Collaborative Teamwork Learning Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Pemahaman Konsep Ditinjau Dari Gaya Kognitif, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, vol. 3, 2013 BAB II Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rajawali Press, 2002), h. 3 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rajawali Press, 2002), h. 3 Arief S. Sadiman. Dkk.,Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), Cet. 17, h. 6 Arief S. Sadiman. Dkk.,Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), Cet. 17, h. 7 Rostina Sundayana, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 6 Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 7 Th. Widyanti dan Sigit Tri Guntoro, Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika di SMP, (Yogyakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika, 2010), h. 7 Arief S. Sadiman. Dkk., Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), Cet. 17, h. 17-18 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo., 2013),h. 6-7 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo., 2013), h. 2 169 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 11 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo., 2013), h. 3 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo., 2013), h. 3 Rostina Sundayana,Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 31-32 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.17. Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.15 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.15 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.18 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.18 Grace Teo Yew Mei, Promotion Science Process Skills and The Relevance of Science Through Science Alive Programme, dalam Proceeding of Redesigning Pedagogy : Culture, Knowledge and Understanding Conference, Singapore May 2007, h.2. Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang : Universitas Negeri Malang, 2005), h.78. Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta,2009). H.54. Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1986). h.18 Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang : Universitas Negeri Malang, 2005), h.78. Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009). H.51-52 Davut Hotaman, 2008, The Examination Of The Basic Skill Levels Of The Students In Accordance With The Perceptions Of Teacher, Parents And Students, Yildiz Technical University, Faculty of Education, Istanbul, Turkey. Fethiye Karsli, 2009, Developing worksheet Based On Science Process Skills: Factors Affecting Solubility, Giresun University, 170 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Education Faculty, Department of Elementary Science Education, Giresun/Turkey. Marthen Kanginan, Seribu Pena Fisika untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Erlangga, 2008), h.5 Marthen Kanginan, FISIKA Untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 40 Ganijati Aby Sarojo, Mekanika, (Jakarta: Salemba Teknika, 2012), h. 45 Agus Taranggono dan Hari Subagya, Sains FISIKA 2 SMA/MA Kelas XI, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.27 Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) Christina Keing, et al., “Summative eAssessments: Piloting, acceptability, Practicality and effectiveness, Proceeding of the 19th annual World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia & Telecommunications, (Canada:2007), p. 488 Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006), p.5 Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) h. 154 Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 8994 Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal Sainsmat, 2015, h. D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science Education 2015, h. B. Hartati, “Pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010) h.128-132 Winda Eky Susanti, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 2015, h. 105 Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 1-7, h.7 Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning process at uvniversity level” Procedia - Social and Behavioral Sciences 28 2011, p. 78 – 81 171 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Nalliveettil George Mathew & Ali Odeh Hammoud Alidmat, “A Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL Classroom: Implications for Effective Instruction”, International Journal of Higher Education (2013) Vol. 2, No. 2 BAB III Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) h. 152. Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) h. 154 Martin Tessmer, Planning and Conducting Formative Evaluations, (London: Routledge, 1993), p.15 Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2014, h. 182 Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2014, h. 183 Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2014, h. 184 Arief S. Sadiman dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2014, h. 185 Uus Ruswandi dan Badrudin, Media Pembelajaran, (Bandung: Insan Mandiri, 2008) h. 141 Jan van den Akker, et al., Educational Design Research, (New York: Routledge, 2006) h. 154 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2013), h. 85 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2013), h. 102 Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 270 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2013), h. 142 Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 194 Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 200 Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian Suatu Pendekaran Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 193 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2013), h. 136 Iwan Permana Suwarna, Pengembangan Instrumen Ujian Komprehensif Mahasiswa Melalui Computer Based Test Pada 172 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Program Studi Pendidikan Fisika, Laporan Penelitian Pengembangan Tata Kelola Kelembagaan, Jakarta, 2016, h. 50. Dendy Siti Kamilah, Pengembangan Three-Tier Test Digital Untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Pada Konsep Fluida Statis, Skripsi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta, 2016, h. 45 BAB IV Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Fisika, Jakarta: 2016 Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 93 Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 154 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajaran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.82 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 12 Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h.13 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.83 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.82 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h.41 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 81 Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kemenrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembuatan Alat Peraga Fisika Untuk SMA. (Jakarta: 2011), h. 14 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 104 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 82 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 85 173 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 82 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 100 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. 41 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2011) Cet.12, h. 100 Saima Rasul dkk, “A study to analyze the effectiveness of audio visual aids in teaching learning process at uvniversity level”, Procedia - Social and Behavioral Sciences 28, 2011, pp. 78 – 81 Conny Semiawan, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar, Jakarta: Gramedia, 1986. H. 15 D.R. Prasetyo dkk, “Pengembangan Alat Praktikum Refraktometer Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa”, Journal of Innovative Science Education, 2015, h. 20 Widayanto, “Pengembangan Keterampilan Proses Dan Pemahaman Siswa Kelas X Melalui Kit Optik”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5, 2009, h. 5 Duwita Sekar Indah, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Parabola”, Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, h. 93 Winda Eky Susanti, Prabowo, “Pengembangan Alat Peraga Uji Indeks Bias Zat Cair Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Sub Materi Pemantulan Dan Pembiasan” Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 2015. H. 14 Husnul Inayah Saleh, dkk, “Pengaruh Penggunaan Media Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas VIII SMP Negeri 2 Bulukumba” Jurnal Sainsmat, 2015, h.11. Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5 Rayandra Asyhar, Kreatif Mengembangkan Media Pembalajran, (Jakarta:Referensi Jakarta, 2012), h. Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung (Sinar Baru Algensindo: 2013), cet.11 h.5 174 Jakarta, 13 Juni 2017 Yang mengesahkan, Pembimbing Iwan Permana Suwarna, M.Pd. NIP. 19780504 200901 1 013 175 Biodata Penulis Adam Wicaksana Email : [email protected] Facebook: Adam Wicaksana Instagram: @adamwicaksana16 Blog: wicaksana12.wordpress.com Lahir di Ngawi Jawa Timur 16 April 1994. Putra pertama dari dua bersaudara pasangan Sukimo, S.Sos dan Dyah Puspawati. Bertempat tinggal di Jalan Filodenrum I no, 18A Rt. 001/010 Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Riwayat Pendidikan. Jenjang pendidikan yang telah ditempuh penulis diantaranya SDN 01 Pagi Sukabumi Utara lulus tahun 2006, SMPN 229 Jakarta lulus tahun 2009, dan SMAN 57 Jakarta lulus tahun 2012. Setelah lulus sekolah penulis melanjutkan untuk kuliah pada tahun tahun 2012 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta , Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Pendidikan Fisika. Pengalaman Organisasi. Pengalaman organisasi selama berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta antara lain: (1) Anggota divisi seni dan olahraga di Gabungan Mahasiswa Muslim Fisika (GAMMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; (2) Wakil Ketua Gabungan Mahasiswa Muslim Fisika (GAMMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2014-2015; (3) Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Progam Studi Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2015; (8) Ketua Assisten Labotarorium Mahasiswa Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2015-2016.