Uploaded by alifia.bdini

I PENDAHULUAN TANAMAN TIMUN

advertisement
I.
A.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) berasal dari bagian utara India,
tepatnya di lereng gunung Himalaya yang kemudian masuk ke wilayah
mediterania, yaitu Cina pada tahun 1882. Mentimun termasuk famili
Cucurbitaceae (tanaman labu-labuan) dan merupakan salah satu tanaman
hortikultura yang disukai oleh semua lapisan masyarakat, karena buahnya dapat
dimanfaatkan untuk menambah cita rasa makanan. Buahnya dikonsumsi dalam
bentuk segar, pencuci mulut atau pelepas dahaga, sarana kosmetik, penjaga
kesehatan tubuh atau pengobatan beberapa jenis penyakit. Selain itu buah
mentimun telah menjadi bahan baku industri minuman, permen, dan parfum
(Rukmana, 1994)
Tanaman mentimun dapat diusahakan di dataran rendah sampai dataran
tinggi. Namun di Indonesia kebanyakan di tanam di dataran rendah. Berbagai
jenis lahan sawah, tegalan, dan lahan gambut dapat ditanami tanaman ini. Selain
itu, mentimun juga dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman palawija
atau sayuran lainnya. Jenis sayuran ini juga dapat ditanam dengan pola tumpang
sari ataupun tumpang gilir.
Tanaman mentimun (Cucumis sativa L) termasuk dalam tanaman merambat
yang merupakan salah satu jenis tanaman sayuran dari keluarga Cucurbitaceae.
Pembudidayaan mentimun meluas ke seluruh dunia, baik di daerah beriklim panas
(tropis) maupun sedang (sub-tropis). Di Indonesia tanaman mentimun banyak
ditanam di dataran rendah (Wijoyo, 2012).
2
Buah mentimun memiliki bermacam-macam manfaat dalam kehidupan
sehari-hari. Nilai gizi mentimun cukup baik karena sayuran buah ini merupakan
sumber mineral dan vitamin. Buah mentimun mengandung zat-zat saponin,
protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin A, B1, dan C. Mentimun
mentah bersifat menurunkan panas badan, juga meningkatkan stamina.
Kandungan 100 g mentimun terdiri dari 15 kalori, 0,8 g protein, 0,19 g pati, 3 g
karbohidrat, 30 mg fosfor, 0,5 mg besi, 0,02 g tianin, 0,05g riboflavin, 14 mg
asam (Sumpena, 2001).
Tanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak
dibudidayakan oleh petani di Indonesia, karena memiliki harga jual yang tinggi
dan memiliki beberapa manfaat kesehatan. Salah satunya berfungsi dalam
mengendalikan kanker karena mengandung lasparaginase dan capcaicin. Selain itu
kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada cabai dapat memenuhi kebutuhan
harian setiap orang, namun harus dikonsumsi secukupnya untuk menghindari
nyeri lambung (Prajnanta, 2001). Selain sebagai bumbu masak, buah cabai juga
digunakan sebagai bahan campuran industri makanan dan untuk peternakan .
Usaha bercocok tanam cabai masih sangat menguntungkan bagi masyarakat
Indonesia. Kebutuhan masyarakat Indonesia akan cabai tercatat pada kisaran
3kg/kapita/tahun. (Setiadi, 2000).
Berdasarkan Badan Pusat Statistik Riau produksi mentimun dari tahun
2011-2015 adalah sebagai berikut: produksi mentimun pada tahun 2011 sebesar
15.667 ton, pada tahun 2012 sebesar 13.545 ton, pada tahun 2013 sebesar 20.726
ton, pada tahun 2014 sebesar 19.332 ton dan pada tahun 2015 sebesar 14.175 ton.
Sedangkan produksi cabai dari tahun 2011-2015 antara lain, produksi cabai pada
tahun 2011 sebesar 15.832 ton, pada tahun 2012 sebesar 15.906 ton, pada tahun
3
2013 sebesar 15.509 ton, tahun 2014 sebesar 15.608 ton, dan tahun 2015 sebesar
11.956 ton. (BPS RIAU,2018)
Peningkatan jumlah penduduk di Riau maupun Indonesia, berdampak pada
peningkatkan jumlah permintaan sayuran dan buah, termasuk mentimun dan
cabai. Salah satu upaya untuk meningkatkan persediaannya, yaitu dengan
meningkatkan produksi mentimun dan cabai melalui budidaya yang kemudian
dilakukan persilangan pada cabai. Produksi mentimun di Riau masih rendah
padahal potensinya cukup tinggi. Kebanyakan para petani mentimun di Indonesia
masih menganggap bertanam mentimun adalah usaha sampingan, sehingga
penanganannya pun masih belum optimal.
Budidaya
dalam pertanian
memiliki
arti
yaitu
kegiatan
terencana
pemeliharaan sumber daya hayati yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk
diambil manfaat atau hasil panennya. Kegiatan budidaya dapat dianggap sebagai
inti dari usaha tani. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi daya adalah
usaha yang bermanfaat dan dapat memberi hasil.
Persilangan dalam biologi adalah perkawinan antar individu ataupun
populasi yang berbeda secara genetik untuk menghasilkan gabungan sifat dari
induk
ataupun rekombinasi gen-gen pada keturunannya.
Dalam
ilmu biologi
molekuler persilangan diartikan sebagai teknik berikatannya suatu untaian
tunggal DNA atau RNA dengan untaian komplemen yang berasal dari RNA atau
DNA yang berbeda. Persilangan dapat terjadi di antara individu yang
berbeda spesies (persilangan interspesifik) maupun antar individu dalam satu
spesies (persilangan intraspesifik) yang umumnya dikenal sebagai persilangan
antar galur . (Wikipedia,2018).
4
Generasi keturunan hasil suatu persilangan disebut filial disimbolkan
dengan huruf F besar dan angka yang menandakan urutan generasi. Contoh
penulisan generasi keturunan yaitu: F1 untuk generasi pertama hasil persilangan
dan F2 untuk generasi kedua hasil persilangan. Awalnya tujuan utama dari
persilangan ialah menggabungkan dua sifat baik atau unggul dari dua tetua dalam
satu individu atau populasi. Lebih lanjut dalam kegiatan pemuliaan, persilangan
digunakan
untuk
membuat
keragaman
genetik
pada
suatu
populasi
misalnya jagung, dengan harapan akan muncul fenotipe-fenotipe baru yang
sifatnya berbeda dari kedua tetua atau induknya.
Cara persilangan yang dapat dilakukan pada tanaman cabai yaitu dengan
cara penyerbukan buatan. Penyerbukan buatan di lakukan antara tanaman yang
berbeda geneticnya. Pelaksanaanya terdiri dari pengumpulan pollen (serbuk sari)
yang viable atau anter dari tanaman tetua jantan yang sehat, kemudian
menyerbukannya ke stigma tetua betina yang telah di lakukan emaskulasi.
B.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah,
1. Untuk mengetahui cara budidaya mentimun wuku dan mentimun biasa
2. Untuk mengetahui cara persilangan cabai rawit dan cabai copay
3. Untuk mengetahui deskripsi tanaman mentimun
4. Untuk mengetahui deskripsi tanaman cabai
5. Untuk mengetahui berat sampel tanaman mentimun
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Mentimum adalah salah satu jenis sayur-sayuran yang dikenal di hampir
setiap negara. Tanaman ini berasal dari Himalaya di Asia Utara. Saat ini, budidaya
mentimum sudah meluas ke seluruh dunia baik daerah tropis atau subtropis. Di
Indonesia mentimun memiliki berbagai nama daerah seperti timun (Jawa),
bonteng (Jawa Barat), temon atau antemon (Madura), ktimun atau antimun (Bali),
hantimun (Lampung) dan timon (Aceh) (Rukmana 1994).
Menurut Sharma (2002), tanaman mentimun dalam taksonomi tanaman,
dapat diklasifikasikan sebagai berikut, Kingdom : Plantae Divisio: Spermatophyta
Subdivisio: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Ordo: Cucurbitales Famili:
Cucurbitaceae Genus : Cucumis Spesies: Cucumis sativus L.
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman semusim yang bersifat
menjalar. Sulur ketimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka
sentuhan. Bila menyentuh galah atau ajir, sulur akan mulai melingkarinya. Dalam
14 jam sulur itu telah melekat kuat pada galah itu. Kira-kira sehari setelah
sentuhan pertama sulur mulai bergelung, atau menggulung dari bagian ujung
maupun pangkal sulur. Gelung-gelung terbentuk mengelilingi suatu titik di tengah
sulur yang disebut titik gelung balik. Dalam 24 jam sulur telah tergulung ketat
(Sunarjono, 2012).
Batang tanaman mentimun bersifat menjalar atau memanjat dengan
perantaraan pemegang yang berbentuk pilin (spiral). Batangnya basah, berbulu
serta berbuku-buku. Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai 50-250 cm,
nercabang dan bersulur yang tumbuh disisi tangkai daun (Wijoyo, 2012).
6
Daunnya merupakan daun tunggal, letaknya berseling, bertangkai panjang
dan berwarna hijau. Bentuknya bulat lebar, bersegi mirip jantung dan bagian
ujung daunnya meruncing serta tepi daun bergerigi. Panjangnya 7-18 cm, lebar 715 cm, daun ini tumbuh berselang-seling keluar dari buku-buku (ruas) batang
(Wijoyo, 2012). Buah mentimun letaknya menggantung dari ketiak antara daun
dan batang. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, tetapi umumnya bulat
panjang atau bulat pendek. Buah mentimun ada yang permukaannya halus dan ada
yang permukaan buahnya berbintil-bintil. Warna kulit buah antara hijau keputihputihan, hijau muda, dan hijau gelap (Tafajani, 2011).
Perakaran mentimun yaitu akar tunggang dan memiliki rambu-rambut akar,
tetapi daya tembus relatif dangkal, pada kedalaman sekitar 30―60 cm. Oleh
karena itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan
air. Tanaman mentimun membutuhkan banyak air, terutama waktu berbunga,
tetapi tidak sampai menggenang (Sunarjono, 2005).
Mentimun (Cucumis sativus L.) diklasifikasikan sebagai tanaman berumah
satu, dimana bunga jantan dan betina terdapat dalam satu tanaman. Pada dasarnya
tanaman
mentimun
berbunga
sempurna
(hermaphrodite),
tetapi
pada
perkembangan evolusinya salah satu jenis kelaminnya mengalami degenerasi,
sehingga tinggal salah satu jenis kelaminnya yang berkembang menjadi bunga
secara normal. Letak bunga jantan dan bunga betina terpisah tetapi masih dalam
satu tanaman (monoecious). Bunga mentimun mirip terompet dengan mahkota
bunga berwarna putih atau kuning cerah. Bunga jantan dicirikan tidak mempunyai
bagian yang membengkak di bawah mahkota bunga, jumlahnya lebih banyak dan
keluarnya beberapa hari lebih dulu dibandingkan bunga betina. Sedangkan bunga
betina mempunyai bakal buah yang membengkak terletak di bawah mahkota
7
bunga dan umumnya baru muncul pada ruas ke-6 setelah bunga jantan, bunga
betina mampu berkembang menjadi buah. Biji mentimun berjumlah banyak
dengan bentuk lonjong meruncing (pipih) atau putih kekuning-kuningan sampai
cokelat. Biji ini dapat digunakan sebagai alat perbanyakan tanaman.
Tanaman mentimun memiliki 2 varietas, yaitu varietas roman dan varietas
soarer. Varietas roman merupakan varietas hibrida nasional, yaitu varietas
mentimun hibrida yang berasal dari dalam wilayah Indonesia. Tanaman mentimun
varietas roman ini pertumbuhannya sangat kuat dan seragam serta mampu
beradaptasi baik di dataran rendah (20-165 m di atas permukaan laut) hingga
dataran menengah. Buah berwarna hijau silindris dan tidak pahit, memiliki
panjang buah 22-24 cm, berdiameter 5-5,5 cm dengan berat 390-400 gr/buah serta
jumlah buah per tanaman 6-8 buah. Kebutuhan benih 500-550 g/ha dengan jarak
tanam 70 x 40 cm. Varietas roman ini dapat dipanen pada umur 34-35 hari setelah
pindah tanam dengan potensi hasil 59-72 ton/ha (PT. Agri Makmur Pertiwi,
2012).
Varietas soarer merupakan varietas hibrida introduksi, yaitu varietas
mentimun hibrida yang didatangkan dari luar wilayah Indonesia. Tanaman
mentimun varietas soarer ini termasuk dalam jenis mentimun jepang. Varietas
soarer ini cocok ditanam pada dataran tinggi dan rendah, panjang buah 21-22 cm,
diameter 2,5-3 cm, berat 90-100 gram. Umur 28 hari sesudah tanam sudah petik
buah pertama (Takii, 2012). Pada umumnya mentimun jepang berukuran panjang
ramping, berdagaing lembut, dan berkulit halus, rasanya manis dan renyah.
Kandungan airnya rendah, berbeda dengan jenis mentimun lainnya yang
cenderung banyak mengandung air. Sesuai namanya mentimun ini berasal dari
Jepang.
8
Jenis mentimun dibagi menjadi dua golongan, yaitu mentimun yang pada
buahnya terdapat bintil-bintil terutama bagian pangkalnya dan mentimun yang
buahnya halus (tidak berbintil). Mentimun yang buahnya berbintil, dibedakan
menjadi tiga macam, antara lain: Mentimun biasa. Mentimun biasa ditandai
dengan penampilan kulit buah yang tipis, lunak dan pada saat buah muda
berwarna hijau keputih-putihan, tetapi setelah tua berwarna cokelat. Mentimun
watang, memiliki ciri-ciri kulit buah tebal, agak keras, buah muda berwarna hijau
keputih-putihan dan setelah tua berwarna kuning tua. Mentimun wuku memiliki
ciri-ciri kulit buah agak tebal dan warna buah mudanya agak cokelat. Golongan
mentimun yang buahnya halus tidak berbintil ada dua jenis, yaitu: Krai, buahnya
besar dan memiliki ciri citarasa seperti mentimun biasa. Mentimun suri atau
mentimun puan memiliki ciri-ciri ukuran buahnya besar, bentuknya lonjong,
rasanya manis renyah, dan umumnya dipanen saat buah tua /masak (Wijoyo.
2012)
Pada dasarnya mentimun dapat tumbuh dan beradaptasi dihampir semua
jenis tanah. Kemasaman tanah yang optimal untuk mentimun adalah antara 5,56,5. Tanah yang banyak mengandung air, terutama pada waktu berbunga,
merupakan jenis tanah yang cocok untuk penanaman mentimun diantaranya
alluvial, latosal, dan andosol. Tanaman mentimun dapat tumbuh baik di
ketinggian 0-1000 m di atas permukaan air laut.
Untuk tumbuh dengan baik, tanaman mentimun cocok pada suhu tanah
antara 18-300C. Dengan suhu dibawah atau diatas kisaran tersebut, maka
pertumbuhan tanaman mentimun kurang optimal. Namun, untuk perkecambahan
benih, suhu optimal yang dibutuhkan antara 25-350 C. Untuk cahaya, cahaya
9
merupakan faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan tanaman mentimun.
Penyerapan unsur hara akan berlangsung dengan optimal jika pencahayaan
berlangsung antara 8-12 jam/hari. Kelembapan relatif udara yang dikehendaki
oleh tanaman mentimun untuk pertumbuhannya antara 50-85%. Sementara curah
hujan optimal yang diinginkan tanaman ini antara 200-400 mm/bulan. Curah
hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan tanaman mentimun,
terlebih pada saat mulai berbunga karena curah hujan yang tinggi banyak
menggugurkan bunga (Sumpena, 2001).
Tanaman mentimun kurang tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Hal ini
mengakibatkan bunga-bunga yang terbentuk berguguran, sehingga gagal
membentuk buah. Demikian pula, pada daerah yang temperatur siang dan malam
harinya berbeda sangat menyolok, sering memudahkan serangan penyakit tepung
(Powdery Mildew) maupun busuk daun (Downy Mildew) (Wijoyo, 2012).
Pemupukan adalah penambahan unsur hara (nutrisi) yaitu pupuk ke dalam
tanah agar tanah menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah
penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Contoh
penambahan pasir pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik,
pengapuran dan sebagainya. (Sutejo,2002).
Tujuan
pemupukan
adalah
untuk
memperbaiki
kesuburan
tanah,
menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, mencukupkan handungan zatzat mineralnya, menambah kandungan bahan-bahan organik. Pemupukan
dilakukan apabila tanah mengalami kemunduran artinya berkurang kesuburannya
akibat p[enghanyutan hara oleh erosi, pencucian hara , dan terangkut pada saat
panen (Kartasapoetra, 1985).
10
Nitrogen (N) dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhan sampai
pematangan biji. Tanaman menghendaki tersedianya nitrogen secara terus
menerus pada semua stadia pertumbuhan sampai pembentukan biji. Bila
kekurangan N tanaman akan menjadi kerdil dan daun akan menjadi sempit.
Tanaman membutuhkan pasokan unsur P sampai stadia lanjut, khususnya saat
tanaman masih muda. Gejala kekurangan fosfot akan terlihat sebelum tanaman
setinggi lutut. Kalium diambil tanaman sejak tanaman setinggi lutut sampai
selesai pembungaan. Pada tanah yang kaya akan kalium, pemupukan dengan
kalium ini dapat ditiadakan. Kekurangan magnesium akibatnya adalah klorosis,
gejala-gejalanya akan tampak pada permukaan daun sebelah bawah. Kekurangan
Ca akan mengakibatkan pertumbuhan ujung dan bulu-bulu akar akan terhambat
sedangkan bagian-bagian yang telah terbentuk akan mati dan berwarna cokelat
kemerah-merahan. Kekurangan Ca pada tanaman gejalanya pada pucuk.
Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman adalah untuk merangsang
pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Nitrogen
juga berperan penting dalam pembentukan hijau daun yang sangat berguna dalam
Fotosintesis. Fungsi lain dari nitrogen ialah membentuk protein, lemak dan
berbagai persenyawaan organik lainnya. Nitrogen berasal dari organik (sisa-sisa
tanaman / sampah tanaman) yang melapuk, yang ternyata dapat menyuburkan
tanah sehingga tanah tersebut mampu untuk pertumbuhan tanaman dan
memberikan hasil bagi pertumbuhan mentimun (Lingga, 2007).
Fosfor (P) juga berperan penting bagi pertumbuhan mentimun yiatu
mempercepat pertumbuhan akar semai, serta memperkuat pertumbuhan tanaman
muda
menjadi
tanaman
dewasa.
Pada
umumnya,
dapat
mempercepat
11
pembungaan, pemasakan buah, biji atau gabah dan juga dapat meningkatkan
produksi biji-bijian.
Pupuk (K) kalium juga penting bagi tanaman mentimun karena dapat
membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Kalium juga berperan dalam
memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur.
Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan,
dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi.
Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos diantaranya jerami, sekam
padi, tanaman pisang, gulma, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering
digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang
terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di
antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan Azolla.
Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya disekeliling tanaman.
Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan
menurunnya temperatur kompos (dibawah 400 c). Beberapa kegunaan kompos
adalah memperbaiki struktur tanah,
hara) tanah
berpasir,
meningkatkan
memperkuat daya ikat agregat (zat
daya
tahan
dan
daya
serap
air,
memperbaiki drainase dan pori - pori dalam tanah serta menambah dan
mengaktifkan unsur hara.
Kutu daun, Aphis gossypii Clover (Hemiptera: Aphididae); Aphis gossypii
merupakan hama yang tersebar hampir di seluruh dunia. Kutu daun merupakan
hama utama pada tanaman kapas dan timun-timunan(Famili Cucurbitaseae), dan
merupakan hama minor pada berbagai tanaman lain seperti bawang, okra,
tembakau, kakao, dan lain lain (CABI 2005). A. gossypii berukuran 1-2 mm,
berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala
12
yang ditimbulkan kutu daun ini adalah daun keriput, keritting dan menggulung,
selain itu kutu ini juga merupakan vektor virus (Mossler et al. 2007).
Pengendalian A. gossypii dapat dilakuakan dengan pemanfaatan musuh
alami antara lain serangga dari Famili Coccinellidae, Syrphidae, Chrysopidae,
Hemerobiidae, serta beberapa jenis laba-laba predator. Selain pemanfaatan musuh
alami, dapat juga dengan cara menggunakan tanaman resisten dan penggunaan
insektisida. Jenis insektisida yang dapat digunakan antara lain aldicarb ,
bifenthrin, chlorpyrifos, deltamethrin, diazinon, endosulfan dan malathion (CABI
2005).
Trips, Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae); merupakan
jenis trips yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, yang merupakan hama utama
pada tanaman pepaya, semangka dan cabai (CABI 2005). Tubuh berukuran kecil
sekitar 1 mm, berwarna coklat kehitaman, dengan abdomen berbentuk kerucut
berwarna gelap (Moritz et al. 2004). Kerusakan yang diakibatkan oleh serangan T.
parvispinus adalah berupa lapisan keperakan pada permukaan bawah daun yang
sering menyebabkan daun menjadi keriting, kerdil dan tidak dapat membentuk
buah secara normal (Sastrosiswojo 1991). Pengendalian trips dapat dilakukan
dengan pemanfaatan musuh alami seperti Neoseiulus sp. (Acarina: Phytoseidae).
Selain itu juga dapat menggunakan insektisida berbahan aktif malathion, salithion,
bromofos, phenothate, cartap dan methomil (Chang 1991 dalam CABI 2005).
Ulat mentimun, Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Pyralidae);
merupakan salah satu hama serius pada pertanaman mentimun di Asia dan Afrika
(MacLeod 2005). Ulat ini juga menyerang mentimun di Indonesia (Asikin 2004).
Larva ulat berwarna hijau gelap dengan dua garis putih sepanjang tubuh (Brown
2003). Larva memakan daun, batang muda yang lunak dan menggerak buah.
13
Kerusakan yang paling merugikan adalah jika larva menyerang buah mentimun.
Pada buah yang terserang terlihat lubang pada permukaan buah, menyebabkan
buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi dan dijual serta menyebabkan buah
menjadi cepat busuk (CABI 2005).
Pengendalian ulat mentimun dapat dilakukan dengan cara membunuh larva
ketika masih muda. Pengendalian yang lebih efektif dapat dilakukan dengen cara
penyemprotan pestisida pada bagian permukaan bawah daun. Insektisida yang
direkomendasikan untuk pengendalian adalah campuran antara Bacillus
thuringiensis dengan trichlorfon (Brown 2003).
Busuk daun atau embun bulu (Downy mildew); Gejala yang ditimbulkan
adalah pada permukaan atas daun terdapat bercak-bercak kuning, terkadang agak
bersudut karena dibatasi oleh tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bagian
bawah bercak terdapat miselium menyerupai bulu berwarna keunguan. Gejala
lanjut dari penyakit ini dapat mengakibatkan daun menjadi busuk, mengering dan
mati (Semangun 1989).
Menurut Holliday dan Semangun 1989, penyakit busuk daun disebabkan
oleh cendawan patogen Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menurut CABI
(2005), penyakit busuk daun adalah penyakit utama pada tanaman Famili
Cucurbitaseae. Cendawan ini memiliki miselium yang tidak bersekat, intraseluler,
dengan haustorium kecil, dan terkadang bercabang. Patogen merupakan parasit
obligat, yang dapat hidup hanya pada kehadiran tanaman inang. Daerah yang
ditanami mentimun sepanjang tahun dapat menjadi sumber inokulum utama
penyakit ini. Patogen dipencarkan oleh angin, hujan dan adanya kontak dengan
pekerja maupun alat-alat pertanian yang digunakan (CABI 2005).
14
Layu; Penyakit layu pada tanaman mentimun dapat disebabkan oleh
beberapa jenis patogen, diantaranya yaitu: cendawan, bakteri, dan nematoda.
Penyakit layu cendawan disebabkan oleh Fusarium oxysporum, layu bakteri
disebabkan oleh Erwinia tracheiphila dan layu nematoda disebabkan oleh
nematode puru akar Meloidogyne spp. Layu yang disebabkan oleh cendawan
disebabkan oleh F. oxysporum f.sp. cucumerinum. Dengan gejala berupa layunya
tanaman yang diikuti dengan klorosis pada daun, dan akhirnya dapat
menyebabkan nekrosis luas pada daun. Gejala layu akan bertambah parah pada
kondisi perakaran yang kaya akan unsur hara (pupuk), terutama nitrogen. Suhu
optimum bagi perkembangan cendawan adalah 29°C (Ogura et al. 1990 dalam
CABI 2005).
Bercak daun bersudut; Bercak daun bersudut disebabkan oleh bakteri
Pseudomonas lachrymans. Patogen menyebar pada saat musim hujan, gejala yang
ditimbulkan adalah bercak daun kecil kuning dan bersudut, pada serangan berat
seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan
berlubang. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan bakterisida
berbahan aktif streptomycin atau oksitetracyclin (Warintek 2007).
Busuk buah dapat disebabkan oleh beberapa cendawan antara lain: (1)
Pythium aphanidermatum (Edson) Fizt., (2) Phytophthora sp., Fusarium sp.; (3)
Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. carotovora. Infeksi terjadi di kebun
atau di tempat penyimpanan (Warintek 2007).
Gejala yang disebabkan tiap-tiap patogen berbeda-beda, gejala yang
disebabkan oleh Pythium aphanidermatum adalah buah busuk basah dan jika
ditekan buah akan mudah pecah. Gejala yang disebabkan Phytophthora adalah
adanya bercak yang agak basah, dan akhirnya menjadi lunak, berwarna coklat dan
15
berkerut; Gejala yang disebabkan Rhizopus adalah bercak agak basah, kulit buah
lunak ditumbuhi miselium cendawan dan buah mudah pecah. Gejala yang
disebabkan oleh Erwinia carotovora adalah buah membusuk, hancur dan berbau
busuk (CABI 2005)
Cabai (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditi hortikultura
yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, karena selain
sebagai penghasil gizi, juga sebagai bahan campuran makanan dan obat-obatan.
Di indonesia tanaman cabai mempunyai nilai ekonomi penting dan menduduki
tempat kedua setelah kacang-kacangan (Rompas, 2001). Di “Benua baru” itu dia
menemukan penduduk asli yang banyak menggunakan buah merah menyala
berasa pedas sebagai bumbu masakannya (Tarigan dan Wiryanto, 2003).
Klasifikasi tanaman cabai menurut Wiryanta (2006) adalah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae, Divisio : Spermatophyta, Sub Divisio : Angiospermae ,Classis
:Dicotyledonae, Ordo : Solanales, Familia : Solanaceae, Sub Familia : Solanaceae,
Genus : Capsicum, Spesies : Capsicum frutencens L var. Cengek.
Akar cabai merupakan akar tunggang yang kuat dan bercabang-cabang
kesamping membenruk akar serabut yang bisa menembus tanah sampai
kedalaman 50 cm dan menyamping selebar 45 cm (Setiadi, 2006)
Menurut
Prajnanta
(2007),
perakaran
tanaman
cabai adalah
akar
tunggang yang terdiri atas akar utama dan akar lateral. Dari akar lateral keluar
serabut‐serabut akar (Akar tersier). Panjang akar primer berkisar 35‐50 cm. Akar
lateral menyebar sekitar 35‐45 cm.
Batang utama cabai tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30‐37,5 cm,
diameter
1,5‐3
cm. Pembentukan kayu pada batang
utama
mulai terjadi
mulai umur 30 hari setelah tanam (HST). Setiap ketiak daun akan tumbuh tunas
16
baru yang dimulai pada umur 10 hari setelah tanam namun tunas‐tunas ini akan
dihilangkan sampai batang utama menghasilkan bunga pertama tepat diantara
batang primer, inilah yang terus dipelihara dan tidak dihilangkan sehingga
bentuk percabangan dari batang utama ke cabang primer berbentuk huruf Y,
demikian pula antara cabang primer dan cabang sekunder (Prajnanta, 2007)
Daun cabai berwarna hijau muda sampai hijau gelap tergantung
varietasnya. Daun ditopang oleh
tangkai daun.
Tulang daun berbentuk
menyirip. Secara keseluruhan bentuk daun cabai adalah lonjong dengan ujung
daun meruncing (Prajnanta, 2007).
Umumnya bunga cabai berbentuk seperti terompet (hypocrateriformis).
Bunga cabai tergolong bunga yang lengkap karena terdiri dari kelopak
bunga (calyx), mahkota bunga (corolla), benang
sari (stamen), dan putik
(pistilum).
Alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik) pada
cabai terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua (hermaprodit).
Bunga cabai biasanya menggantung, terdiri dari 6 helai kelopak bunga
berwarna kehijauan dan 5 helai mahkota
bunga berwarna putih. Bunga keluar
dari ketiak daun. (Prajnanta, 2007).
Tangkai putik berwarna putih dengan kepala putik berwarna kuning
kehijauan. Dalam satu bunga terdapat 1 putik dan 6 benang sari, tangkai saro
berwarna
putih
dengan
kepala
sari
berwarna
Setelah terjadi penyerbukan akan terjadi pembuahan.
biru
Selanjutnya
keunguan.
pada
saat
pembentukan buah, mahkota bunga rontok tetapi kelopak bunga tetap menempel
pada buah (Prajnanta, 2007).
17
Adapun klasifikasi tanaman cabai copay adalah sebagai berikut; Divisi :
Spermatophyta, Sub Divisi : Angiospermae, Kelas : Monocotyledonae, Family :
Solaneceae, Genus : Capsicum, Spesies : Capsicum annuum L
Akar tanaman cabai menyebar, tetapi dangkal. Cabang-cabang dan rambutrambut banyak terdapat di permukaan tanah, semakin ke dalam akar-akar tersebut
semakin berkurang. Ujung akar tanaman cabai hanya dapat menembus tanah
sedalam 30-40 cm (Tjahjadi, 1993).
Batang dibedakan menjadi dua macam yaitu batang utama dan batang
sekunder. Batang utama berwarna coklat hijau, berkayu panjang antara 20-28 cm
dan diameter, percabangan dikotom atau mengarpu. Cabang setiap waktu
membentuk cabang baru yang berpasangan. Antara batang utama dengan cabang
membentuk 1350, sehingga menyerupai “Y”. Batang dan percabangan berbentuk
silindris,
percabngan
tumbuh
dan
berkembang
beraturan
secara
berkesinambungan (Nawangsih,dkk, 2001).
Daun cabai umumnya berwarna hijau muda sampai gelap, tergantung
varietas. Daun cabai ditopang oleh tangki daun dan memiliki tulang
daun menyirip. Daun cabai umumnya berbentuk bulat telur, lonjong dan oval
dengan ujung meruncing, tergantung dan jenis dan varietasnya (Tarigan dan
Wiryanta, 2007).
Bunganya terbentuk pada ujung ranting. Pada tangkai bunga biasanya
terbentuk ranting yang ujungnya juga terbentuk bunga lain dan seterusnya
demikian. Bunga seakan-akan terbentuk pada ketiak daun. Pada umumnya bunga
hanya satu, menggantung, kadang-kadang juga ada yang berdiri, warna mahkota
bunga putih, berbentuk seperti bintang bersudut 5-6. Benang sari 5-6 buah, kepala
18
benang sari berwarna kebiruan bentuknya memanjang. Putik berwarna putih atau
ungu dan berkepala (Pracaya, 1995).
Berdasarkan bentuk buah, cabai besar dapat digolongkan dalam tiga tipe:
cabai merah besar, cabai keriting dan cabai paprika. Cabai merah besar buahnya
rata atau halus, agak gemuk, kulit buah agak tebal, sedangkan paprika buahnya
berbentuk segi empat panjang atau bel (Santika, 1999). Buah cabai memanjang
dengan ukuran 1-30 cm. Cabai merah keriting panjang 5-25 cm. Cabai merah
besar panjangnya 10-38 cm. Buah cabai muda berwarna hijau dan tua berwarna
merah kecoklatan hingga merah tua menyala (Tjahjadi, 1993).
Bentuk buah bervariasi mulai dari yang panjang lurus, mata kail (lurus
dengan ujung agak melengkung), sampai melintir. Varietas cabai yang panjang
lurus seperti Heru, Amando, Hot Chili, Red Beauty, Long Chili, Passion, Hot
Chili dan Varietas cabe yang melintir (Redaksi Agromedia, 2010).
Cabai dapat dengan mudah ditanam, baik di dataran rendah maupun tinggi.
Syarat agar tanaman cabai tumbuh baik adalah tanah berhumus (subur), gembur,
dan pH tanahnya antara 5-6. Cabai dikembangbiakkan dengan biji yang diambil
dari buah tua atau yang berwarna merah. Biji tersebut disemaikan terlebih dahulu
(Sunarjono,2006).
Temperatur yang sesuai untuk pertumbuhannya antara 16-23°C. Temperatur
malam di bawah 16°C dan temperatur siang di atas 23°C menghambat
pembungaan (Ashari, 2006).
Penyerbukan silang adalah peristiwa jatuhnya polen dari anther ke kepala
putik tanaman yang berbeda. Tingginya persentase penyerbukan sendiri alami
pada tanaman cabai dapat terjadi karena tanaman cabai memiliki bunga
hermaprodit yang self-compatible. Struktur bunga yang hermaprodit dan self –
19
compatible sangat berperan dalam tingginya tingkat penyerbukan sendiri pada
suatu tanaman (Damgaard et al. 1992). Tanaman menyerbuk sendiri umumnya
adalah tanaman yang memiliki tingkat penyerbukan silang alami yang rendah,
yaitu 4–5% (Sleper and Poehlman, 2006).
Namun,
beberapa
penelitian
melaporkan
bahwa
terdapat
tingkat
penyerbukan silang alami yang tinggi pada tanaman cabai. Tingkat penyerbukan
silang alami pada tanaman cabai di Italia dan Spanyol dapat mencapai lebih dari
50% (Campodonico 1983; Corella et al. 1986; Csillery 1986).
Penyerbukan silang buatan pada cabai umumnya masih mudah dilakukan
jika masih dalam satu spesies. Namun, jika penyerbukan silang dilakukan antar
spesies cabai, maka umumnya persilangan akan mengalami hambatan. Hambatan
yang sering terjadi diantaranya adalah sulit tejadi fertilisasi dan jika fertilisasi
berhasil, maka tanaman tersebut akan steril.
Penyerbukan silang alami dapat terjadi karena faktor abiotik (angin dan air)
dan faktor biotik (serangga, kalelawar, burung, dan lain – lain). Penyerbukan
silang alami karena faktor biotik umumnya akan memberikan imbalan untuk
vektor penyerbuknya. Imbalan – imbalan tersebut dapat berupa madu, polen,
tempat tinggal, tempat kawin dan tempat bertelur. Penyerbukan silang alami pada
tanaman cabai memiliki jangkauan radius yang luas. Penyerbukan silang alami
pada tanaman cabai dapat mencapai jarak 18 m.
20
III.
A.
BAHAN DAN METODA
Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum Genetika Tanaman dilakukan di lahan terbuka
Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau. Praktikum dimulai sejak awal bulan
Agustus-November 2018 dan dilaksanakan setiap seminggu sekali, yakni setiap
hari sabtu, pukul 16.00 WIB. (Lampiran.1)
B.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah, cangkul, gelas aqua, garu,
gunting, alat tulis, cottonbud, kertas padi, polybag, tali rafia, dan pinset.
Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut, benih
mentimun (galaxy super dan bintang asia), benih cabai, tanah hitam, pupuk
kandang, air beras, bubuk kayu (bubuk gergaji), dolomit, dan pupuk.
C.
Pelaksanaan Praktikum
1.
Sanitasi Lahan
Pengolahan tanah diperlukan untuk menciptakan daerah perakaran yang
baik, membenamkan sisa tanaman dan mem-berantas gulma. Pengolahan tanah
dapat menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman.
Pada hari pertama praktikum, yaitu pada hari Sabtu, 08 September 2018. Di
sekitar lahan dipenuhi oleh sampah. Lahan dibersihkan dari sampah-sampah, serta
gulma yang ada. Kegiatan membersihkan lahan ini dilakukan bersama-sama,
dengan menggunakan cangkul dan garu, kemudian beberapa sampah seperti
plastik, kaca beling, dan bebatuan diambil menggunakan tangan dan dimasukkan
ke dalam karung. Setelah lahan bisa dikatakan bersih, kegiatan selanjutnya yaitu
pembuatan bedengan. Lahan diukur menggunakan tali rafia, gunanya agar
21
mempermudah dan lebih cepat. Ukurannya yaitu 2,5 mx1 m. Bedengan dibuat
sebanyak 37 bedengan (sesuai dengan jumlah mahasiswa).
2.
Pemberian Pupuk
Pada kegiatan selanjutnya, sabtu 15 September 2018, sediakan serbuk
gergaji sebanyak 2 karung serbuk gergaji (karung 20 kg). Serbuk gergaji ditabur
di atas bedengan, kemudian disiram dengan air. Kegiatan selanjutnya yaitu
pemberian pupuk kandang. Pemberian pupuk kandang sebanyak 1 kg/bedengan.
Pupuk kandang dicampur dengan tanah. Pemberian pupuk kandang bertujuan
untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kegiatan selanjutnya adalah
pemberian pupuk dolomit sebanyak 750gr/bedengan. Pemberian dolomit ini
dimaksudkan untuk menetralkan kemasaman tanah atau menaikkan pH tanah.
Penanaman dilakukan pada tanggal 06 Oktober 2018 setelah seminggu
pemberian pupuk kompos atau pupuk kandang. Hal pertama yang dilakukan yaitu
mengukur jarak tanam yang dilakukan dengan menempatkan ajir sementara
disekitar lubang tanam. Jarak tanam yaitu 15x40 cm. Buat sebanyak 6 lobang.
Jika sudah, siram bedengan, dan tanam benih mentimun. Benih yang digunakan
ada 2, yaitu Bintang Asia dan Galaxy Super. Tanam 3 benih pada tiap lobang. Jika
sudah, letakkan aqua gelas yang sudah dilubangi bawahnya diatas lubang tanam
yang sudah ditanami tadi. Dan siram kembali, agar memacu pertumbuhan dari
benih tersebut.
Benih mentimun ditanam sebanyak 2 butir/lubang tanam kemudian ditutup
dengan tanah agar benih tidak hilang dan diberikan gelas aqua di atas lubang
tanam agar burung tak dapat memakan benih mentimun. Dalam setiap polibag di
beri 2 lubang tanam.
22
3.
Pemasangan Ajir
Mentimun merupakan tanaman yang bersifat menjalar sehingga dalam
pertumbuhannya, mentimun membutuhkan tiang penyangga atau ajir sebagai
tempat tegak dan pembentukan buah tanaman tidak terhalang atau terhambat.
Dengan kondisi pertumbuhan seperti ini maka persentase terbentuknya buah yang
normal (lurus) akan lebih banyak dibandingkan dengan buah-buah yang terbentuk
abnormal. Ajir berfungsi untuk tempat tegak tanaman, mengurangi pembentukan
buah abnormal, mengurangi terserang hama, dan memudahkan cara pemanenan.
4.
Menyemai Benih Cabai
Pada hari selasa, 18 September 2018, benih cabai mulai disemai. Hal
pertama yang dilakukan adalah pengisian polybag dengan tanah yang sudah
dicampur dengan pupuk kandang. Polybag yang digunakan yaitu ukuran 10 cm x
15 cm. Guna polybag yaitu sebagai media penyemaian.
5.
Penggemburan dan Mengembun Tanah
Karena musim penghujan, tanah harus diembun agar tidak terjadi erosi
disekitar tanaman. Tanah juga harus digemburkan untuk mempermudah akar
mencari celah untuk tumbuh.
6.
Menanam Cabai
Setelah cabai sudah disemai, pindahkan ketiap bedengan. Masing-masing
bedengan ditanami dengan 2 bibit cabai rawit dan 2 bibit cabai copay. Sistem
penanaman yang digunakan yaitu tumpang sari.
7.
Persilangan atau Pemuliaan Tanaman
Persilangan dilakukan ketika bunga betina sudah mulai muncul. Persilangan
dilakukan antara bunga jantan dengan bunga Betina dan dilakukan saat pagi hari
antara jam 06:00 sampai 09-00. Setelah dilakukan persilangan, bunga di bungkus
23
dengan kertas padi agar tidak terganggu oleh hama lalat buah dan diikat dengan
kawat atau dihekter, menggunakan hekter agar lebih rapat, dan hama tak dapat
menggangu.
D.
Parameter Pengamatan
1.
Tinggi Tanaman
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur tingginya
pertanaman mentimun. Tanaman mentimun diukur dari batang bawah sampai
pucuk daun.
2.
Jumlah Daun
Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan menghitung banyaknya daun
pertanaman mentimun
3.
Umur Berbunga
Umur berbunga dapat dihitung setelah munculnya bunga mencapai 50 %
dari total populasi.
4.
Berat buah per sampel (gr)
Dilakukan dengan cara menimbang buah yang dipanen dari masing-masing
tanaman dengan menggunakan timbangan.
5.
Berat Buah per baris (g)
Buah yang dipanen ditimbang dari masing-masing tanaman.
6.
Panjang buah per silangan
Buah hasil persilangan diukur menggunakan penggaris.
24
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Tinggi Tanaman
Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman mentimun varietas galaxy super
dan bintang asia dapat dilihat pada tabel berikut
Tinggi Tanaman (cm)
Varietas
Galaxy super
Bintang Asia
Sampel
Minggu ke-2
Minggu ke-4
A1
16 cm
110 cm
A2
11,5 cm
100 cm
A3
13,5 cm
120 cm
B1
8,5 cm
40 cm
B2
6 cm
60 cm
B3
8 cm
120 cm
Tabel 1.1 Pengamatan Tinggi Tanaman
Pada tabel diatas, memperlihatkan bahwa tanaman mentimun varietas
galaxy super lebih baik pertumbuhannya. Pada minggu ke-2 tanaman mentimun
tertinggi pada varietas galaxy super yaitu Sample A1 16 cm sedangkan pada
sampel A2 11,5cm dan sampel A3 13,5 cm.
Sementara pada varietas bintang asia tanaman tertinggi pada sampel B1
8.5cm, sampel B3 8cm dan sampel B2 6cm. Sementara pada pengukuran yang
kedua pada minggu ke-4 tanaman tertinggi pada varietas galaxy super yaitu
sampel A1 100 cm, di ikuti sampel A2 100 cm dan sample A1 120cm. Sedangkan
pada varietas Bintang Asia tanaman tertinggi pada sampel B3 120cm, sampel B2
60 cm dan sampel B1 40cm.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan pertambahan tinggi terjadi
karena adanya pembelahan mitosis. Pada tumbuhan dan perkembangan suatu
tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam maupun faktor dari luar
25
tanaman (lingkungan). Hal lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tinggi
tanaman yaitu banyaknya unsur hara (nutrisi) yang di serap oleh tanaman. Pada
tabel diatas memperlihatkan tanaman A1 pada varietas galaxy super dan tanaman
B1 pada vaietas Bintang asia lebih cepat cepat merespon pupuk NPK.
Pengaruh pemberian pupuk NPK dapat membantu pertumbuhan tinggi
tanaman dengan memberikan nutrisi dan unsur hara yang terdapat pada pupuk
NPK yang sangat di butuhkan tanaman. Hal ini di karena kan pupuk NPK dapat
membantu pertumbuhan tanaman mentimun dimana N akan membantu
pertumbuhan vegetatif tanaman sedangkan unsur P akan membantu dalam
pembentukan buah (generatif) tanaman. Sedangkan pupuk KCL dapat
memperkuat struktur pada tanaman.(Arjuna,2014)
2.
Jumlah Daun
Hasil pengamatan dapat dilihat sebagai berikut
Varietas
Galaxy Super
Bintang Asia
Sample
Jumlah Daun (helai)
A1
31 helai
A2
19 helai
A3
26 helai
B1
12 helai
B2
16 helai
B3
30 helai
Tabel 1.2 Jumlah Daun
Hasil pengamatan pada tabel 1.2 menunjukan perkembangan jumlah daun
yang baik terjadi pada sample A1 varietas galaxy super. Perkembangan jumlah
daun nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan dan asupan hasil fotosintatnya.
26
Cahaya merupakan salah satu faktor luar yang merupakan faktor utama sebagai
sumber energi dalam fotosintesis untuk memproduksi tepung atau karbohidrat,
namun cahaya juga sebagai penghambat pertumbuhan meninggi karena cahaya
dapat mengurangi auksin. (Anonim, 2012).
Suhu atau temperatur juga mempengaruhi pertumbuhan pada produksi
tumbuhan. Perubahan suhu dari dingin atau panas mempengaruhi kemampuan
fotosintesis, translokasi, respirasi dan trasnpirasi. (Aini Swastika, 2015).
Kelembapan ada kaitannya dengan laju transpirasi melalui daun karena terkait
dengan laju pengangkutan air dan unsur hara terlarut.
3.
Umur Berbunga
Hasil pengamatan yang dilakukan pada tanaman mentimun sebagai berikut;
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 1.3. Umur bunga
pada tanaman timun pada sampel A1 varietas galaxy super lebih cepat tumbuh
dari pada sampel A2 dan A3 yang dimana pada sampel A1 23 hari sedangkan
sampel A2, 25 hari dan sampel A3, 26 hari setelah tanaman sudah berbunga.
Varietas
Galaxy Super
Bintang Asia
Sample
Umur Berbunga (hari)
A1
23 hari
A2
25 hari
A3
26 hari
B1
30 hari
B2
26 hari
B3
24 hari
Tabel 1.3 Umur Berbunga
27
Pada varietas bintang asia sample
B3 lebih cepat berbunga dari pada
sample B2 dan B1 yang mana sample B2 berbunga pada umur 26 hari sedangkan
pada sample B1 30 hari dan B3 24 Hari. Hal ini menunjukan bahwa tanaman
varietas galaxy super lebih cepat tumbuh dan berbunga dari pada tanaman varietas
bintang asia.
Hal yang mempengaruhi umur dari berbunganya tanaman menitmun yaitu
faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor intensitas cahaya matahari sangat
berpengaruh terhadap proses pembentukan bunga. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Wilkins (1997) bahwa cahaya dapat meningkatkan pengangkutan
unsur hara dengan memasok produk-produk dari fotosintesis yang dapat
merangsang pembentukan bunga, penyinaran juga dapat menyebabkan membuka
dan menutupnya bunga. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan dampak negatif
terhadap tanaman mentimun, hal ini sesuai dengan pernyataan Lakitan (1995)
bahwa intensitas cahaya berpengaruh langsung terhadap laju sintesis karbohidrat
pada tumbuhan, laju fotosintesis akan meningkat dengan menurunnya intensitas
cahaya sampai batas tertentu.
Cahyono (2003) menyatakan bahwa intensitas cahaya matahari yang tinggi
pada tanaman mentimun lebih dominan pembentukan bunga jantan. Umur
berbunga tanaman juga dipengaruhi oleh faktor pemupukan terutama pupuk yang
mengandung unsur P seperti TSP. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zulfatri dan
Yoesuf (2007) yang menyatakan bahwa ketersediaan unsur P yang lebih besar
akan membantu mempercepat pembentukan bunga.
4.
Berat Buah Per sampel
Dapat kita lihat pada tabel dibawah menunjukkan berat dari setiap sampel
timun yang di timbang, perbedaan berat pada setiap sampel sangat jelas. Pada
28
varietas galaxy super sampel A1 lebih menghasilkan produksi per sampel yang
efisien yakni 630 gram per sampelnya dibandingkan sampel A2 370,3 gram dan
A3 405,8 gram per sampel.
Pada varietas bintang asia tanaman yang menghasilkan produksi yang baik
yaitu B1 di bandingkan sample lainnya B2 dan B3. Produksi sample B1 yakni
468,2 gram per sampel sedangkan pada B2 86,35 gram dan B3 191,4 gram. Hal
ini membuktikan bahwa tanaman timun varietas galaxy super lebih baik hasil
produksinya di bandingkan varietas bintang asia.
Varietas
Galaxy Super
Bintang Asia
Sampel
Berat Sampel (gram)
A1
630,1 gr
A2
370,3 gr
A3
405,8 gr
B1
468,2 gr
B2
86,35 gr
B3
191,4 gr
Tabel 1.4 Berat Buah persampel
Berat buah tanaman mentimun sangat dipengaruhi oleh ketersediaan hara
tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rismunandar (1981) mengatakan
bahwa tanaman akan tumbuh baik dan menghasilkan produksi tinggi apabila
tersedia cukup makanan. Pemupukan merupakan salah satu cara untuk memenuhi
kebutuhan hara tanaman.
Pemupukan dengan Urea mempengaruhi produksi tanaman terutana karena
keberadaan unsur fosfat karena dapat merangsang pembungaan dan menghasilkan
buah yang berkualitas dan berukuran maksimal. Menurut Lingga (2007)
29
menyatakan bahwa unsur fosfor bagi tanaman berguna untuk merangsang
pembentukan bunga dan buah yang baik
5.
Berat Buah Perbaris
Dapat kita lihat pada tabel 1.5 dibawah menunjukkan berat dari sampel per
baris timun yang di timbang. Produksi buah mentimun pada varietas galaxy super
yaitu 1.406,2 gram per baris. Produksi buah mentimun pada bintang asia yakni
745,95 gram per baris. Pada data memperlihatkan bahwa tanaman varietas galaxy
super menghasilkan produksi yang lebih efisien dibandingkan varietas bintang
asia sehingga dapat meningkatkan produktivitas buah mentimun. Hasil produksi
juga di pengaruhi faktor alam karena faktor alam tidak dapat diprediksi, dan tidak
mudah untuk dikendalikan. Selain faktor alam, faktor-faktor yang mempengaruhi
suatu risiko kegiatan produksi dapat berasal dari input produksi.
Sample
Berat Sampel Perbaris (gram)
Galaxy Super
1.406,2 gram
Bintang Asia
745,95 gram
Tabel 1.5 Berat Buah Perbaris
Hal ini sesuai dengan pernyataan Rismunandar (1981) mengatakan bahwa
tanaman akan tumbuh baik dan menghasilkan produksi tinggi apabila tersedia
cukup makanan. Pemupukan merupakan salah satu cara untuk memenuhi
kebutuhan hara tanaman.
6.
Panjang Buah Persilangan (cm)
Varietas
Panjang Buah (cm)
Cabe Rawit
-
Cabai Copay
-
Tabel 1.6 Panjang Buah Persilangan
30
Pada sampel 1 yaitu persilangan antara cabe rawit dan cabe copay yang
mana bunga betina pada cabe rawit dan bunga jantan dari tanaman cabe copay.
Pada persilangan yang pertama ini tidak menghasilkan buah pada tanaman cabe
rawit. Selanjutnya pada sampel yang kedua antara tanaman cabe copay dan cabe
rawit yang mana bunga betina cabe copay dan benang sari bunga jantan di ambil
dari bunga jantan tanaman cabe rawit.
Pada persilangan yang kedua tidak menghasilkan buah bagi tanaman cabe
copay. Hal ini dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor. Keberhasilan dan
kegagalan persilangan dapat di pengaruhi oleh waktu pelaksanaan, kondisi bunga
jantan dan bunga betina ( matang /tidaknya), cuaca, ketelitian peletakan serbuk
diatas putik.
31
V.
A.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa umur berbunga tanaman
mentimun dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor intensitas
cahaya matahari sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan bunga. Yang
kedua kolkisin yang digunakan dalam konsentrasi yang sesuai akan menyebabkan
tanaman bersifat poliploid dimana secara morfologi ukurannya lebih besar (baik
itu daun, batang, bunga, buah, dan inti sel) sehingga diharapkan mutunya lebih
baik dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi perlakuan menggunakan
kolkisin (tanaman diploid). Penggunaan pupuk kandang sangat penting dalam
budidaya mentimun karena dapat memperbaiki struktur dan tekstur tanah, aerase
tanah, serta dapat meng-aktifkan mikroorganisme tanah.
Proses persilangan yang dilakukan pada tanaman cabai rawit dengan cabai
copay tidak berhasil. Kegagalan persilangan ini dipengaruhi oleh waktu
pelaksanaan, kondisi bunga jantan dan bunga betina yang belum matang,
ketelitian peletakan serbuk diatas putik, cuaca.
B.
Saran
Alat untuk melakukan persilangan lebih di lengkapi lagi terutama dari pihak
kampus agar mahasiswa lebih memahami dan lebih cekatan lagi dalam melakukan
persilangan tanaman buah cabai.
32
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2012.
Budidaya
mentimun.
http://scholar.unand.ac.id/1
5474/2/Bab%201%20%28Pendahuluan%29.pdf. Diakses 10 Desember
2018
Anonim, 2012. I Latar Belakang. http://digilib.unila.ac.id/4729/12/BAB%20
I.pdf. Diakses 10 Desember 2018
Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Kanisius. Yogyakarta
Anonim, 2007. II Tinjauan Pustaka Mentimun. http://repository.uin-sus
ka.ac.id/2597/3/ BAB%20II.pdf. Diakses 09 Desember 2018
Anonim, 2011. II Mentimun. http://digilib.unila.ac.id/4729/13/BAB%20II.pdf Di
akses 08 Desember 2018
Anonim, 2011. Latar Belakang Mentimun. http://digilib.unila.ac.id/71/6/BAB%20
1. Pdf. Diakses 10 Desember 2018
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif, dengan Mulsa, SecaraTumpang
Gilir. Penebar Swadaya. Jakarta
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press. Jakarta
Anonim, 2014. Teknik Persilangan Pada Tanaman Cabai. http://tokoilmulo.blogs
pot.com/2014/09/teknik-persilangan-pada-tanaman-cabai.html Diakses 06
Desember 2018
Anonim, 2018. Persilangan (Biologi). https://id.wikipedia.org/wiki/Persilangan(bi
ologi) Diakses 06 Desember 2018
Anonim, 2018. BUDI DAYA. https://id.wikipedia.org/wiki/Budi_daya Diakses 06
Desember 2018
Anonim, 2013. Pupuk Buatan.
Diakses 06 Desember 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk_buatan
Anonim, 2018. https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/13223/
A09dpr.pdf;jsessionid=7C57A36A01ED4C99B30C332D2E5CAA81?seq
uence=2 Diakses 07 Desember 2018
Anonim, 2018. Tinjauan Pustaka Cabai. http://digilib.unila.ac.id/6791/12/BAB%
20II.pdf Diakses 07 Desember 2018
33
Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Praktikum Genetika Tanaman Tahun 2018
Bulan
No
Kegiatan
September
1
2
3
1
Persiapan
lahan
X
2
Pembuatan
Plot
X
3
Persemaian
X
4
Pembrian
serbuk
gergaji
X
5
Pemberian
pupuk
dolomit
X
6
Pemberian
pupuk
kandang
X
Oktober
4
1 2
3
November
4
1 2 3
4
Desember
1
2
X
X
X
7
Penanaman
8
Pemberian
pupuk NPK,
Urea, Kcl,
TSP
9
Pemeliharaan
dan
perawatan
10
Pemberian
lanjaran
11
Pengukuran
parameter
12
Persilangan
cabai
X
13
Panen
X
14
Laporan
X
X X
X
X X X X
X
X
X
3
4
34
Lampiran 2. Deskripsi Tanaman
Wuku - bintang asia
Timun tipe rujak dan lalap
Warna Buah : Hijau
Panjang Buah : Kurang Lebih 12 Cm
Diameter Buah: Kurang Lebih 4cm
Rasa Buah
: Manis dan Renyah
Ciri Tanaman : Bercabang Banyak, Tanaman Vigor
Umur Panen : 30-35 Hari Setelah Panen
Hasil Produksi : Bisa Mencapai 50 Ton/Ha
Cocok Di Dataran Rendah-Menengah
Jumlah Benih : Kurang Lebih 35-40 Biji/Gram
Daya Tumbuh : Min. 85%
Kemurnian
: 99%
Berat bersih
: 20 gr
35
Lampiran 3. Dokumentasi Praktikum Genetika Tanaman
Gambar 1. Pembuatan Bedengan
Gambar 3. Menyemai Cabai
Gambar 5. Cabai berumur 3 minggu
Gambar 7. Mentimun Berbuah
Gambar 2.Pemberian Serbuk Gergaji
Gambar 4. Mentimun berumur
seminggu HST
Gambar 6. Cabai berbunga
36
Lampiran 4. Biodata Diri
Nama
: Dini Alifia B.
Tempat/ Tanggal Lahir
: Pekanbaru, 17
Nopember 1999
Jenis Kelamin
: Perempuan
Gol. Darah
:O
Agama
: Islam
Status
: Mahasiswa
Kewarganegaraan
: WNI
Riwayat Pendidikan
-
SD
: SDN 29 Pekanbaru
-
SMP
: SMPN 4 Pekanbaru
-
SMA
: SMAN 10 Pekanbaru
Hobi
: Menulis cerita, Menonton
Fakultas
: Pertanian
Program Studi
: Agroteknologi
Kelas/Semester
: C/III
Email
: [email protected]
Download