Uploaded by lolicok8876

Bab X Sistem Komunikasi Satelit

advertisement
X. SISTEM KOMUNIKASI SATELIT
PENDAHULUAN
Pokok bahasan pada materi “Sistem Komunikasi Satelit” meliputi konsep dari
sistem komunikasi satelit, arsitektur dan fungsi dari tiap elemen penyusun sistem
komunikasi satelit dan orbit satelit.
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa dapat memahami konsep dan prinsip
kerja dari sistem komunikasi satelit.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa dapat:
1. Memahami konsep dan prinsip kerja sistem komunikasi satelit
2. Mengetahui komponen-komponen penyusun sistem komunikasi satelit
Mengetahui jenis-jeis satelit dan orbitnya
3. Merancang sistem komunikasi Satelit dari parameter yang sudah diketahui!
1………….
2………….
3………….
4………….
SKENARIO PEMBELAJARAN
Kegiatan perkuliahan dilaksanakan dengan skenario sebagai berikut:
1. Penjelasan tentang concept map (tunjukkan di peta konsep dimana posisi
materi yang akan di bahas), pokok bahasan, dan kompetensi yang akan
dicapai (TIU dan TIK).
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-1
2. Tes pendahuluan
3. Ringkasan materi disampaikan dengan metode ceramah, information
search, jigsaw learning.
4. Test akhir materi yang disampaikan
5. Evaluasi pencapaian
6. Penutup
RINGKASAN MATERI
10.1 Konsep Dasar Sistem Komunikasi Satelit
Dasar pemikiran yang utama dari pembangunan sistem komunuikasi
satelit adalah sederhana, yaitu untuk menempatkan repeater lanjutan dari suatu
sistem komunikasi pada sebuah satelit bumi. Satelit bergerak pada orbitnya yang
posisinya cukup tinggi di atas permukaan bumi. Daya disuplai ke repeater satelit
dan satelit bumi dari baterei solar, dimana sumber utamanya tergantung pada
cahaya matahari. Dalam orbit yang cukup tinggi satelit bumi tersebut melingkupi
teritorial (cakupan area) yang sangat luas, dan oleh karena itu setiap lokasi
terminal (stasiun bumi) yang ada pada cakupannya dapat saling berhubungan
antara satu dengan yang lainnya via repeater satelit tersebut. Tiga satelit bumi
yang artificial cukup untuk mengcover seluruh permukaan bumi. Tiga satelit pada
jarak yang tepat dari bumi dapat melakukan perubahan (berevolusi) setiap 24
jam. Satelit tersebut akan tetap secara stasioner pada spot yang sama dan akan
berada pada jarak optikal setidaknya setengah dari permukaan bumi. Tiga
stasiun repeater, masing-masing 120o pada orbit yang tepat, dapat melayani
cakupan microwave dan siaran televisi ke seluruh permukaan bumi. Pada saat
yang bersamaan, teknologi modern dapat cukup menghasilkan sudut pandang
dimana energi transmitter dari satelit dapat difokuskan pada area yang terbatas,
misalnya suatu negara yang kecil. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan
satelit secara efektif guna melayani area wilayah tertentu.
X-2
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
Komunikasi satelit mulai dibangun pada era tahun 60-an setelah
kemunculan dari satelit Uni Sovyet Molniya dan satelit Amerika Telstar. Sejak itu
perkembangan sistem komunikasi stelit ke seluruh dunia berkembang cukup
pesat. Berbagai sistem komunikasi satelit dan broadcasting telah dikembangkan
untuk fungsi-fungsi yang berbeda. Ada beberapa pengertian dari bagian sistem
komunikasi satelit yang sering dijelaskan untuk lebih memahaminya,
diantaranya:

Stasiun Bumi (Earth Station)
Stasiun bumi adalah suatu stasiun komunikasi radio pada sistem
komunikasi satelit, yang diletakkan di permukaan bumi dan ditujukan
untuk komunikasi dengan stasiun lainnya melalui stasiun ruang angkasa
(objek lainnya di ruang angkasa) dengan menggunakan satelit bumi
(satelit repeater).

Komunikasi Satelit (Satellite Communication)
Komunikasi satelit adalah komunikasi antara stasiun bumi satu dengan
yang lainnya melalui stasiun ruang angkasa atau melalui satelit bumi.

Link Satelit (Satellite Links)
Link satelit adalah jalur komunikasi antara stasiun bumi melalui satu
satelit dan terdiri dari link bumi ke satelit (up-link) dan link dari satelit ke
stasiun bumi (down-link). Stasiun bumi dihubungkan ke pusat
penyambungan dari jaringan komunikasi melalui penghubung link
terrestrial.

Penyiaran Satelit (Satellite Broadcasting)
Satellite broadcasting adalah transmisi dari program radio penyiaran dari
stasiun transmisi bumi ke stasiun penerima di bumi melalui stasiun ruang
angkasa (repeater aktif). Jadi satellite broadcasting adalah permasalahan
utama dari sistem komunikasi satelit, dimana perangkat utama dari pesan
satu arah (one-way message) ditransmisikan dan pesan-pesan ini
diterima seluruhnya oleh beberapa stasiun bumi atau oleh banyak stasiun
penerima.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-3
Berikut ini adalah pelayanan komunikasi radio, tergantung pada tipe
stasiun bumi dan tujuan dari sistem, yaitu:
1. Pelayanan perbaikan satelit, antara stasiun bumi yang letaknya fixed
pada titik yang pasti.
2. Pelayanan satelit bergerak, untuk melayani komunikasi antara stasiun
bumi yang bergerak yang menggunakan satu atau beberapa stasiun
ruang angkasa.
3. Pelayanan penyiaran radio satelit, suatu pelayan komunikasi radio
yang mana sinyal dari stasiun ruang angkasa ditujukan untuk
penerimaan langsung oleh penerima. Dalam hal ini penerimaan
secara individual dan kolektif mempertimbangkan penerimaan secara
langsung. Langkah berikutnya adalah pendistribusian program
broadcast (siaran audio dan televisi) ini ke pelanggan melalui jaringan
terrestrial dengan memanfaatkan saluran kabel atau sistem
gelombang udara oleh pemancar radio yang lebih kecil. Blok diagram
pelayanan komunikasi satelit dapat dilihat pada Gambar 10.1.
Space Station
LDTE
Earth Station
Earth Station
LDTE
LDTE : Long-Distansce Telephone Exchange
Gambar 10.1 Sistem Komunikasi Satelit
Sistem komunikasi satelit digunakan untuk mentransmisikan jenis
informasi yang berbeda-beda, diantaranya:
X-4
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
1. Program TV, dalam hal ini ada sistem untuk merubah program TV antara
stasiun bumi yang equal dan sistem untuk distribusi satu arah atau
program untuk sebuah stasiun transmisi ke berbagai stasiun bumi
penerima.
2. Jenis-jenis message satu arah yang berbeda, sebagian besar sering
sebagai one-way alami, wire photos, program audio broadcasting
3. Pesan-pesan telepon, two-way system, channel frekuensi audio atau
kelompoknya dapat digunakan untuk transmisi jenis informasi yang
berbeda seperti telegraf, informasi diskrit dari komputer atau sumber
lainnya.
Berdasarkan tipe informasi yang ditransmisikan, ada beberapa sistem
multifungsional general-purpose dengan stasiun bumi yang merubah jenis
informasi yang berbeda, dan sistem transmisi yang berbeda atau beberapa
jenis informasi yang seragam.
Berdasarkan area cakupan yang dilayani, lokasi dan jenis stasiun bumi,
dan struktur dari pengendalian, sistem komunikasi satelit dapat dibagi
menjadi dua sistem, yaitu:
1. Sistem komunikasi satelit nasional
Sistem komunikasi satelit dalam hal ini digunakan untuk kepentingan
nasional suatu negara, dimana stasiun bumi diletakan di negara yang
bersangkutan
dan
digunakan
biasanya
untuk
komunikasi
antar
departemen. Sistem komunikasi dapat digunakan untuk hal komersial
/bisnis maupun untuk kepentingan pemerintah/militer.
2. Sistem komunikasi satelit internasional
Sistem komunikasi satelit internasional memungkinkan komunikasi antara
dua stasiun bumi yang lokasinya berbeda dan terpisah di dua negara.
Dalam hal ini komunikasi global dapat dilangsungkan antar stasiun bumi
yang tersebar di berbagai negara. Contohnya intelsat, intersputnik.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-5
Dalam seluruh sistem komunikasi satelit, apapun perbedaannya, ada
beberapa elemen yang dipergunakan untuk tujuan yang sama, seperti stasiun
bumi yang berbeda, stasiun angkasa sebagai repeater trasmisi, solar baterei,
pengarah antena, sistem koreksi orbit, dan lain sebagainya.

Stasiun Bumi Penerima (Receiving Earth Station)
Stasiun bumi penerima dari sistem distribusi adalah tipe stasiun yang
paling sederhana. Digunakan secara sederhana untuk menerima program
TV atau informasi broadcasting yang lain, sebagai contoh audio
broadcasting atau wirephotos. Stasiun bumi penerima biasanya
dilengkapi dengan antena kecil untuk menekan biaya. Biasanya ada
berbagai stasiun bumi dalam suatu sistem.

Stasiun Bumi Pengirim (Transmitting Eart Station)
Pemancar stasiun bumi dari sistem broadcasting adalah stasiun yang
menampilkan transmisi dalam suatu link earth-satellite dari informasi
penyiaran yang ditujukan untuk distribusi melalui suatu jaringan stasiun
penerima. Jika stasiun bumi pengirim diletakkan dalam area pelayanan
dan sinyal yang dipancarkan oleh satelit bumi dari sistem tersebut bisa
diterima, maka transmisi sinyal dapat dilakukan.

Stasiun Bumi Pemantau (Monitoring Earth Station)
Stasiun bumi jenis ini berfungsi menjaga jejak (track) mode operasi dari
sebuah komunikasi satelit yang dilakukan dengan observasi oleh stasiun
bumi terhadap jaringan yang penting untuk pengoperasian jaringan
secara keseluruhan, power yang dipancarkan, frekuensi transmisi, dan
lain sebagainya. Stasiun penerima dari suatu jaringan sering mengambil
alih fungsi dari stasiun bumi pemantau. Hal ini memungkinkan untuk
menjamin komunikasi yang sedang berlangsung dapat terlaksana dengan
kualitas yang diharapkan. Harus ada kepastian sinyal dapat ditransmisikan
dengan level daya, frekuensi dan hal lainnya yang sesuai dengan aturan
standar.
X-6
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
10.2 Teori Dasar Geometri Ruang Angkasa
Mempelajari masalah orbit satelit, yaitu menyatakan posisi satelit sebagai
fungsi waktu dan menentukan lintasannya pada ruang angkasa, sebenarnya
sama saja dengan mempelajari gerak planet-planet mengitari matahari atau
bulan mengitari bumi. Kesamaan ini terjadi karena suatu satelit buatan dapat
dianggap sebagai suatu satelit alam, seperti halnya planet-planet bagi matahari
atau bulan bagi bumi, sehingga semua hukum gaya, gerak, kecepatan, dan
sebagainya yang berlaku pada satelit alam berlaku juga bagi satelit buatan.
Pada awal abad ke -17, Kepler menemukan hukum yang mengatur
pergerakkan planet yang kemudian dikenal sebagai hukum Kepler yang terdiri
dari tiga buah ketentuan, yaitu:
1. Hukum Kepler I : Setiap planet bergerak mengitari matahari dengan
lintasan berbentuk ellips dengan matahari sebagai salah satu
pusatnya.
2. Hukum Kepler II : Juring yang dibentuk oleh lintasan planet dan
matahari pada pusatnya pada selang waktu yang sama akan
mempunyai luas yang sama
3. Hukum Kepler III : Perbandingan kuadrat dari periode (T) terhadap
pangkat tiga dari sumbu semi mayor (a) adalah sama untuk semua
planet pada tata surya kita. T2 / a3 adalah konstan.
Sementara itu dari hukum Newton memperlihatkan bahwa hukum Kepler
ke II akan terjadi jika planet dipengaruhi oleh gaya tarik yang selalu mengarah ke
titik pusat tertentu, yaitu matahari sebagai pusat gaya. Untuk memenuhi hukum
Kepler I, gaya tersebut harus berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara
planet dan matahari (1/r2). Akhirnya, dengan memenuhi hukum Kepler III, gaya
tersebut haruslah sebanding dengan massa planet.
Hal-hal tersebut di atas dinyatakan oleh Newton dalam hukum
gravitasinya dimana
Newton
mengangap
tidak
hanya
matahari
yang
mempengaruhi planet dalam hal ini, tetapi juga setiap massa yang satu (m1)
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-7
mempengaruhi massa yang lainnya (m2), dengan sebuah gaya yang arahnya
sepanjang garis hubung antara kedua massa tersebut dan besarnya gaya (F)
dapat dihitung berdasarkan persamaan 10.1. Persamaan ini dikenal sebagai
hukum umum tentang gravitasi.
G.m1 .m2
........................(10.1)
r2
F
dimana :
F = Gaya antara dua benda
G = konstanta gravitasi (6,672 x 10 -11 N.m2/kg2)
m = massa benda yang diukur
r = jarak antara kedua benda yang diukur
10.2.1 Geometri Ellips
Sebagaimana dinyatakan dalam hukum Kepler I, ellip merupakan hal yang
sangat penting dalam mempelajari gerak satelit. Secara geometri ellips dapat
dilihat pada Gambar 10.2.
titik focus
titik focus
c
c
a
b
b
Minor
axis
a
Mayor axis
Panjang a, b, dan c yang diperlihatkan pada gambar 10.2 di atas tidak
Gambar 10.2 Geometri Ellips
saling bebas. Hubungan ketiganya dapat dilihat pada persamaan 10.2
a2 = b2 + c2 ................................ (10.2)
X-8
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
Dari persamaan 10.2, masing-masing parameter dapat dihitung jika dua
parameter lainnya diketahui.
Selain itu ada parameter lain yang sering digunakan, yaitu eksentrisitas
(e). Eksentrisitas dapat dibayangkan sebagai sebuah angka yang menyatakan
seberapa dekat suatu ellips menyerupai lingkaran. Jika eksentrisitasnya 0, maka
bentuk yang kita dapat adalah lingkaran. Semakin besar nilai eksentrisitasya,
maka semakin pipih ellips yang bersangkutan. Besarnya eksentrisitas dapat
dihitung dengan persamaan 10.2
e2 = 1 – (b/a)2 .................................(10.3)
Dari persamaan 10.3 di atas dapat dilihat bahwa e haruslah tidak berdimensi dan
berharga antara 0 dan +1. Dengan menggabungkan persamaan 10.2 dan 10.3,
dapat diturunkan persamaan yang lain menjadi persamaan 10.4
c = ae ...........................................(10.4)
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, maka selalu diperlukan dua parameter
dari empat parameter yang ada untuk menyatakan bentuk ellips. Dua parameter
lainnya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 10.2 – 10.4.
Lintasan satelit yang biasanya berbentuk ellips, dimana bumi berlaku sebagai
pusat gaya dan terletak pada salah satu titik fokus ellips (hukum Kepler I). Selain
empat parameter tadi, ada dua lagi parameter yang dapat digunakan untuk
menghitung ellips, yaitu apogee (jarak antara pusat bumi dengan titik terjauh
orbit satelit) dan perigee (jarak antara pusat bumi dengan titik terdekat orbit
satelit).
Titik terjauh (apogee) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 10.5 dan
titik terdekat (perigee) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 10.6.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-9
ra = a (1 + e) ..........................................(10.5)
rb = a (1 - e) ..........................................(10.6)
Dengan menggunakan persamaan-persamaan 10.2 – 10.6, maka bentuk ellips
dan masalah lintasan dapat dipecahkan dengan hanya mengetahui 2 saja
parameter dari 6 parameter yang ada.
Jika sumbu mayor dan minor suatu ellips sama, maka ellips menjadi
lingkaran. Dari persamaan 10.2 terlihat bahawa dengan membuat a = b, akan
memberikan nilai c = 0 dan dari persamaan 10.3, jika a = b, maka e = 0, yang
berari lintasan berbentuk lingkaran. Hal ini berarti juga bahwa kedua titik fokus
akan berimpit pada pusat lingkaran.
Pembahasan mengenai masalah orbit berikutnya tetap akan mengacu
kepada orbit berbentuk ellips, karena orbit lingkaran hanyalah salah satu kasus
dari orbit berbentuk ellips. Secara matematis, orbit lingkaran lebih mudah untuk
dipelajari, sehingga dengan mendapatkan persamaan untuk orbit ellips maka
akan diperoleh juga persamaan untuk orbit lingkaran.
10.2.2 Lintasan Satelit di Ruang Angkasa
Untuk menentukan lintasan satelit di ruang angkasa, pertama-tama akan
dibuat beberapa asumsi penyederhanaan mengenai gaya-gaya pada satelit dan
aspek-aspek lainnya. Kemudian dipecahkan masalah untuk model yang
disederhanakan tersebut. Langkah selanjutnya ditambahkan faktor-faktor koreksi
kepada hasil yang sudah diproses sebelumnya.
Langkah pertama adalah dengan menyusun daftar asumsi-asumsi yang
diterapkan untuk menyederhanakan masalah dalam menentukan gerak satelit di
orbitnya.
1. Bumi dianggap stasioner (kedudukannya tetap di ruang angkasa) dan
dipilih sistem koordinat yang titik pusatnya di pusat bumi (geocenter).
X-10
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
2. Bumi dan satelit dianggap sebagai benda bulat simetris. Hal ini
memungkinkan untuk menyatakan titik pusat massa masing-masing
terletak pada titik pusatnya. (biasanya M untuk bumi, dan m untuk
satelit).
3. Saat satelit hanya bekerja gaya yang arahnya ke geocenter, dan
besarnya berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara satelit dan
geocenter (1/r2).
Model yang dijabarkan di atas dikenal sebagai two body problem yang akan
digunakan sebagai dasar dalam analisa masalah orbital satelit selanjutnya.
Dengan asumsi yang telah dibuat sebelumnya, maka analisa masalah
orbital satelit sudah bisa dimulai. Hal penting yang harus diingat adalah bahwa
bidang orbit satelit harus selalu terletak pada bidang yang mengandung
geocenter.
Gaya yang bekerja pada satelit adalah gaya gravitasi Newton (Fg).
Sementara dari persamaan gerak melingkar, gaya tersebut sebanding dengan
gaya sentripetal (Fs). Dengan memperhitungkan kedua gaya tersebut maka
diperoleh persamaan 10.7.
Fs  Fg
mv 2 G.M .m

r
r2
G.M
v2 
r
G.M
v
...................................(10.7)
r
Perkalian G dan M adalah konstan. Konstanta GM merupakan konstanta yang
disebut . Karena massa bumi adalah 5,974 x 1024 kg, maka besarnya  adalah
3,986005 x 1014 m3/s2, sehingga diperoleh persamaan 10.8.
v2 = 3,986 x 1014 (1/r)..................(10.8)
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-11
untuk orbit lingkaran, dimana r dalam meter dan v dalam m/s.
Sedangkan dalam orbit ellips, kecepatan satelit berubah-ubah sepanjang
orbit, dengan persamaan 10.9:
2 1
v 2  GM   
r a
2 1
v 2  3,986 x1014   ........................(10.9)
r a
dimana :
r = jarak antara satelit dan pusat bumi (m)
a = jari-jari sumbu mayor lintasan ellips (m)
G = konstanta gravitasi bumi
M = massa bumi
v = kecepatan gerak planet (m/s)
Dari persamaan 10.9 dapat terlihat bahwa v hanya tergantung pada r
saja, karena G, M, dan a adalah suatu konstanta. Persamaan 10.9 ini
memungkinkan untuk mencari besarnya v di titik manapun pada lintasan dengan
syarat r harus diketahui. Kecepatan terbesar terjadi pada titik perigee dan
kecepatan paling lambat terjadi di titik apogee. Arah kecepatan dan gerak satelit
selalu menyinggung orbit satelit.
Dengan menggunakan persamaan 10.7 – 10.9, periode dari suatu orbit
satelit dapat dihitung. Dalam gerak melingkar v = r, dimana  = 2/T, maka
periode satelit T dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 10.10.
Untuk orbit ellips, r tidak lain adalah a (sumbu semi mayor), sehingga
persamaan periode menjadi persamaan 10.11. Untuk perhitungan satelit yang
mengelilingi bumi, dengan memasukkan nilai-nilai konstanta maka akan kita
dapat ( T dalam menit, a dalam Km). Dari persamaan 10.10 , 10.11 dan hasil-hasil
yang diperoleh dapat dilihat bahwa periode suatu satelit yang mengorbit bumi
hanya tergantung pada besarnya sumbu semi mayor dari lintasan orbitnya.
X-12
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
GM
r
r 2  GM
r
v2 
GM
 2r 

 
r
 T 
2
 r3
T  2 
 GM

.....................(10.10)

 a3 
......................(10.11)
T  2 
GM


T = 165, 87 . 10-6 x a3/2 .......(10.12)
dan
a = 331,25 x T2/3 .................. (10.13)
10.2.3 Koreksi Terhadap Model yang Disederhanakan
Untuk mendapatkan hasil yang mendekati kenyataan sesungguhnya,
perlu diberikan koreksi terhadap hasil yang sudah didapat dalam pemecahan two
body problem, diantaranya yaitu:
1. Dalam two body problem, titik stasioner seharusnya adalah pusat massa
dari sistem, bukan pusat bumi. Karena massa bumi jauh lebih besar dari
massa satelit, maka koreksi ini dapat diabaikan.
2. Memperlakukan bumi sebagai sebuah massa titik sama saja dengan
menganggap bentuk bumi sebagai bola simetris dan distribusi massanya
merata. Padahal kenyataannya bumi tidak bulat sempurna, tetapi pepat
di kedua kutubnya (menonjol pada ekuatornya) sehingga memberikan
gaya tambahan yang mempengaruhi satelit. Hal ini menimbulkan efek
spin pada gerakan satelit.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-13
3. Satelit dipengaruhi oleh sejumlah gaya-gaya lain selain gaya tarik bumi.
Antara lain gaya tarik matahari, bulan dan planet-planet lain, gesekan
dengan atmosfer, dan tekanan radiasi dari matahari. Gaya-gaya tersebut
terlibat dalam sistem dan akan dibahas lebih lanjut.
Pada ketinggian rendah gangguan pada satelit yang paling dominan
adalah gesekan yang disebabkan oleh benturan dengan atom-atom dan ion-ion
yang berada di atmosfer bumi. Seperti diketahui, atmosfer bumi mengandung
atom-atom dan ion-ion yang distribusinya semakin rapat di permukaan bumi.
Jika satelit bertabrakan dengan atom-atom atau ion-ion tersebut, maka satelit
akan kehilangan energi sehingga kecepatannya berkurang.
Dalam orbit ellips gesekan ini sangat berpengaruh di sekitar perigee,
dengan mengurangi kecepatan satelit yang menyebabkan satelit tidak dapat
mencapai ketinggian apogee seperti sebelumnya, sehingga ketinggian apogee
berikutnya makin lama makin berkurang. Oleh karena itu gesekan oleh atmosfer
ini mengakibatkan pengurangan eksentrisitas (membuat orbit berbentuk
mendekati lingkaran) karena ketinggian apogee semakin berkurang sementara
perigee tetap.
Pada orbit lingkaran dengan ketinggian rendah, gesekan ini berpengaruh
pada seluruh lintasan orbit. Makin rendah ketinggian orbit, makin besar pula
pengaruh gesekan oleh atmosfer ini.
Efek lain yang berpengaruh adalah efek-efek dari gaya gravitasi lain selain
gravitasi bumi . Efek ini akan sangat terasa untuk orbit ellips dengan apogee yang
besar atau orbit lingkaran dengan jari-jari yang besar. Gaya gravitasi yang
mempengaruhi terutama berasal dari matahari dan bulan.
Adapun gangguan-gangguan pada orbit satelit tersebut menyebabkan
orbit satelit dapat berubah secara periodik. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengendalian dari stasiun bumi dengan cara manuver-manuver utara-selatan
dan timur-barat yang biasanya dilakukan dalam dua minggu sekali. Untuk
melakukan manuver ini dibutuhkan bahan bakar ang dipasang pada struktur
X-14
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
satelit. Pemakaian bahan bakar inilah yang membatasi usia satelit, dimana pada
saat bahan bakar habis, maka satelit tidak akan mampu mempertahankan
orbitnya dari gangguan-gangguan yang ada.
10.3 Orbit-Orbit Satelit
Orbit adalah lintasan tempat dimana satelit berada dan beredar dalam
lintasan tersebut. Orbit satelit berbeda-beda tergantung pada bentuk dan
jaraknya dari pusat bumi. Ada beberapa orbit khusus satelit diantaranya:
1. Orbit Geostasioner
Dari persamaan 10.10 dapat dilihat bahwa untuk orbit lingkaran, periode
satelit tergantung dari ketinggiannya. Dengan memilih ketinggian satelit
sebesar 35.786 km (atau jari-jari orbit 42.164 km) maka akan diperoleh
periode sebesar 23 jam 56 menit 4 detik, yang mana tepat sama dengan
periode rotasi bumi. Pada ornit inisatelit akan memiliki kecepatansebesar
3,07 km/detik (11.052 km/jam). Orbit satelit dengan ketinggian kira-kiraa
35.800 km, bergerak dari arah Barat ke Timur dan dengan inklinasi 00
disebut dengan orbit geostasioner.
Satelit dengan orbit geostasioner memiliki beberapa keuntungan, karena
periodenya tepat sama sengan periode rotasi bumi dan inklinasinya 00,
maka satelit akan tetap di ruang angkasa jika dilihat dari permukaan
bumi. Dengan demikian tracking hampir tidak perlu dilakukan dan bukan
merupakan masalah. Selain itu satelit dengan ketinggian tersebut mampu
mencakup hampir separuh permukaan bumi (42%), sehingga untuk
mencakup seluruh titik di permukaan bumi hanya diperlukan 3 buah
satelit saja.
Sementara itu jika inklinasi tidak sama dengan nol, maka groundtrack
satelit akan membentuk pola seperti angka delapan. Orbit yang demikian
dinamakan orbit geosynchronous. Jadi orbit geostasioner adalah
merupakan kasus khusus orbit geosynchronous dengan inklinasi 0 0.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-15
2. Orbit Sun Synchronous
Orbit Sun synchronous didapat jika precessionnya tepat 3600 per tahun
(0,9860 per hari). Akibatnya, kedudukan orbit satelit terhadap bumi akan
tetap sama sepanjang tahun dan selalu menghadap ke matahari.
Karena orbit melintasi bagian bumi yang sama pada waktu yang sama
setiap
harinya,
maka
hal
ini
memberikan
keuntungan
dalam
telekomunikasi dan komunikasi data lainnya. Keuntungan lainnya adalah
karena satelit dapat menerima sinar matahari setiap saat maka solar
cellnya dpat terus terisi dan ideal untuk pemantauan cuaca. Oleh karena
keuntungan-keuntungan tersebut maka seringkali orbit dipilih adar
menjadi Sun Synchronous.
3. Orbit Molniya
Dari persamaan :
 Req
w0  4,97
 a



3, 5
5 cos 2 i  1
1  e 
2 2
.......................10.14
dapat dilihat bahwa laju perubahan argument of perigee tergantung
kepada inklinasi orbit. Dengan memilih inklinasi sebesar 63,4 0 akan
diperoleh argument of perigee yang tetap (perubahannya nol). Parameter
yang lain, yaitu argument of perigee, periode dan eksentrisitas bebas
dipilih.
Orbit satelit dengan argument of perigee 2700, eksentrisitas 0,6 – 0,7 dan
periode antara 8 sampai 12 jam dikenal dengan orbit Molniya.
Keuntungan orbit ini karena bentuk orbit yang ellips dan apogee yang
sangat tinggi, maka satelit akan beredar disekitar apogee dalam waktu
yang cukup lama.
X-16
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
4. Low Earth Orbit
Orbit satelit dengan ketinggian antara 1500 – 2000 km dikenal dengan
low earth orbit (LEO). Karena ketinggian satelit relatif rendah, maka
frekuensi dan power yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi, sehingga
peralatan antena tidak terlampau mahal dan rangkaian di dalam satelit
tidak sekompleks dibanding satelit pada orbit yang lebih tinggi. Dengan
demikian satelit akan lebih ringan, lebih kecil, dan lebih murah. Selain itu
karena ukurannya yang relatif kecil dan ringan maka dalam satu kali
peluncuran dapat memuat lebih dari satu satelit sekaligus sehingga
menghemat biaya peluncuran.
Karena keuntungan di atas Leo dewasa ini berkembang pesat dan
digunakan untuk pemetaan, geologi, penelitian, SAR, dan yang terutama
di bidang telekomunikasi. Di bidang telekomunikasi dimanfaatkan dalam
telepon seluler, penentuan posisi di bumi, komunikasi data, dan lain-lain.
Sementara itu kerugian LEO adalah karena ukurannya yang kecil
menyebakan jumlah traspondernya terbatas dan usia pakainyalebih
pendek kurang dari 5 tahun. Selain itu pada ketinggian tersebut cakupan
satelit jauh lebih sempit dan periodenya lebih cepat dari periode bumi,
sehingga dibutuhkan sejumlah satelit agar akses ke sateli dapat
berlangsung terus. Hal tersebut menimbulkan masalah utama pada
pengopeasian LEO, yaitu rumitnya tracking dan pengaturan antar satelit
agar komunikasi bisa terus berlangsung.
10.4 Perencanaan Sistem Komunikasi Satelit
Sistem komunikasi satelit pada dasarnya terdiri dari sebuah satelit yang
bertindak sebagai stasiun pengulang (repeater) di angkasa yang dihubungkan
dengan beberapa stasiun bumi. Sinyal yang berasal dari stasiun bumi diterima
dan diperkuat oleh peralatan-peralatan di satelit kemudian dikirimkan kembali
ke bumi. Sebagai contoh sistem komunikasi satelit di Indonesia adalah Sistem
Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-17
Sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) palapa adalah sistem
komunikasi satelit yang mempergunakan satelit palapa sebagai stasiun
pengulang. Satelit palapa adalah satelit komunikasi yang diorbitkan di atas
khatulistiwa pada ketinggian kira-kira 36.000 km. Satelit ini beroperasi pada
frekuensi 6 GHz untuk lintasan naik (uplink) dan 4 GHz untuk lintasan turun
(downlink).
SKSD Palapa sebagai sarana transmisi yang meungkinkan untuk
menyalurkan sinyal informasi dari satu kota ke kota lainnya. Sarananya dapat
melalui sistem SCPC, FDM/FM, TDMA, IDR, VSAT dan lain sebgainya. Di samping
itu, SKSD berkemampuan juga untuk menyalurkan informasi bergambar seperti
siaran broadcast televisi.
Sistem komunikasi satelit bertujuan untuk mengirimkan sinyal yang
menghasilkan perbandingan sinyal dengan noise yang sebesar mungkin dengan
kata lain memaksimalkan signal to noise ratio (S/N) dengan memanfaatkan daya
seminimal mungkin.
Dalam kaitannya dengan perhitungan S/N dalam pemakaian satelit, ada
beberapa parameter penting yang harus dipertimbangkan, yaitu:
1. Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)
Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) adalah besaran yang merupakan
gabungan antara penguatan antena dan daya pancar suatu sumber sinyal.
Besaran ini juga merupakan besaran lintasan naik yang sangat kritis
karena menentukan S/N atau BER pada modulator.
Tanpa melihat pada jenis antena yang dipergunakan, kita dapat
menganggap bahwa suatu sinyal berasal dari sumber yang isotropis
(memiliki arah pancaran ke semua arah sama besar). Besar EIRP ini
adalah :
EIRP = PTGT ......................................(10.15)
X-18
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
dimana:
PT = daya yang masuk ke antena (watt)
GT = Penguatan antena
2. Sudut elevasi dan jarak
Sudut elevasi adalah sudut yang diukur dari garis horizontal lokal seorang
pengamat ke satelit.
3. Saturated flux density (SFD)
Saturated flux density (SFD) adalah batas flux jenuh yang dapat diterima
oleh satelit sehingga menghasilkan daya keluaran maksimum. Nilai SFD ini
dapat dihitung dengan persamaan 10.16.
SFD 
EIRPsat
....................................(10.16)
4d 2
dimana:
EIRPsat = EIRP yang dibutuhkan untuk membuat TWTA satelit jenuh (watt).
d
= jarak antara stasiun bumi ke satelit (m)
Dalam perencanaan sistem komunikasi satelit besar SFD inilah yang
membatasi EIRP yang boleh dipancarkan oleh sebuah stasiun bumi. Besar
SFD yang dipergunakan dalam perencanaan di dasarkan pada hasil
pengukuran yang dilakukan pada saat satelit berada di orbitnya.
Besarnya hasil pengukuran ini berbeda-beda untuk tiap lokasi stasiun
bumi. Dengan melihat peta kontur penguatan antena satelit palapa maka
besar SFD untuk lokasi tertentu dapat diketahui.
Semakin kecil nilai SFDini, maka nilai C/N yang diperoleh akan semakin
kecil pula. Oleh karena itu dalam tiap transponder terdapat komponen
pad yang dapat dipergunakan apabila dibutuhkan untuk meningkatkan
nilai SFD ini.
4. Pad
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-19
Pad adalah suatu komponen yang ada pada tiap transponder yang
berfungsi untuk meningkatkan SFD transponder. Dengan meningkatkan
SFD transponder berarti EIRP yang boleh dipancarkan oleh stasiun bumi
dapat diperbesar sehingga dapat meningkatkan kualitas transmisi. Untuk
satelit palapa besarnya pad ini dapat diukur dari stasiun bumi, yaitu 0, 3,
6, atau 9 dB.
5. Figure of Merit (G/T)
Figure of merit adalah perbandingan antara penguatan penerimaan
antena dengan temperatur derau sistem penerima yang menunjukkan
untuk kerja sistem penerima dalam kaitannya dengan sensitifitas
penerimaan sinyal. Semakinbesar penguatan antena maka parameter G/T
ini akan semakin besar, demikian pula halnya jika temperatur derau
antena semakin rendah, akan semakin besar pula parameter G/T.
Besarnya parameter G/T satelit sudah ditentukan pada saat pembuatan
satelit. Selain itu G/T satelit juga bergantung pada kontur penguatan
antena satelit tersebut. Besarnya G/T satelit palapa untuk daerah
cibinong adalah 0 dB/oK. Sedangkan besar G/T untuk antena penerima
dengan diameter 10 m yang dipergunakan di stasiun pengendali utama
palapa Ci binong adalah 30 dB/oK.
6. Carrier to noise power ratio (C/N)
Carrier to noise power ratio (C/N) adalah perbandingan antara daya sinyal
pembawa dengan daya derau (noise). Besarnya perbandingan ini sering
dinyatakan dengan satuan logaritmis dB.
Dalam perhitungan lintasan satelit pembahasan C/N dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu:
-
Perhitungan C/N lintasan naik (C/N)u
-
Perhitungan C/N lintasan turun (C/N)d
-
Perhitungan interferensi (C/I)
7. Bit error rate (BER)
X-20
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
Bit error rate (BER) adalah perbandingan antara jumlah bit informasi yang
diterima secara tidak benar dengan jumlah bit informasi yang
ditransmisikan pada selang waktu tertentu. Parameter BER ini adalah
parameter yang dipergunakan untuk menilai unjuk kerja transmisi digital.
Semakin rendah parameter BER yang dihasilkan oleh suatu transmisi
digital, semakin baik unjuk kerja transmisi digital tersebut.
8. Rugi-rugi propagasi
Sistem komunikasi satelit dengan memanfaatkan atmosfer sebagai media
transmisinya sering mengalami losses (rugi-rugi) dalam propagasi
gelombangnya. Rugi-rugi ini disebabkan antara lain oleh rugi ruang bebas,
rugi atmosfer, dan rugi hujan. Rugi-rugi ini berpengaruh dalam
perhitungan lintasan satelit. Rugi-rugi yang muncul secara acak
menyebabkan kekuatan sinyal menurun dan kadang-kadang berada di
bawah harga ambang yang telah ditentukan.
Agar komunikasi dapat tetap berlangsung maka sinyal-sinyal yang
ditransmisikan harus berada di atas harga ambang. Perbedaan dalam dB
antara harga ambang (minimum) dengan harga yang diharapkan disebut
link margin. Beberapa rugi-rugi yang berpengaruh diantaranya:
- Rugi ruang bebas
Rugi ruang bebas (free space loss) adalah daya yang hilang karena
proses menjalarnya energi lektromagnetik melaui ruang. Karena
daya yang dikeluarkan oleh suatu sumber sifatnya terbatas,
sedangkan oleh antena sinyal tersebut disebarkan ke dalam
ruang, maka dengan semakian jauh jarak, besarnya daya
persatuan luas yang diterima di suatu tempat akan semakin kecil
bergantung kepada jarak tempat tersebut dari sumbernya.
Besarnya penurunan ini dianggap senbagai suatu rugi. Besarnya
rugi ruang bebas dapat dilihat pada persamaan 10.17.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-21
 4d 
Lp  
 ................................(10.17)
  
2
dimana:
d = jarak antara satelit dengan stasiun bumi (m)
 = panjang gelombang (m)
- Rugi hujan
Rugi ini merupakan hasil dari penyerapan dan hamburan yang
dilakukan oleh hujan. Rugi ini menurunkan tingkatan sinyal yang
diterima oleh stasiun bumi dan menaikkan temperatur derau
sistem penerima.
- Rugi atmosfer
Rugi ini disebabkan oleh partikel-partikel yang terdapat di
atmosfer seperti partikel debu, asap, kabut, dan uap air. Untuk
pita frekuensi C dan Ku besarnya rugi ini konstan.
9. Rugi polarisasi
Karakteristik yang penting dari pola radiasi antena dengan dua polarisasi
adalah kemurnian polarisasinya. Rugi-rugi ini disebabakan oleh
ketidaksempurnaan antena penerima yang menerima selain komponen
sinyal yang dikehendaki juga komponen sinyal lain yang tidak
dikehendaki. Komponen yang dikehendaki ini disebut komponen copolarization dan yang tidak dikehendaki disebut komponen crosspolarization. Kedua komponen ini mempunyai polarisasi yang berbeda
dan dapat menimbulkan interfrensi.
10. Rugi pengarahan antena
Penguatan maksimum antena dapat dicapai apabila beam antena
diarahkan secara tepat ke satelit. Rugi pengarahan antena dapat terjadi
X-22
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
apabila pengarahan antena tidak satu garis lurus dengan vektor posisi
satelit.
Tabel 10.1 menunjukkan besarnya rugi pengarahan antena sebagai fungsi
dari diameter antena pada frekuensi 6 Ghz.
Tabel 10.1 Rugi pengarahan antena
Diameter antena
Rugi pengarahan antena
(m)
(dB)
3,7
0,1
4,5
0,1
7,3
0,3
10
0,5
Perhitungan utama dalam merencanakan lintasan satelit secara
keseluruhan adalah kualitas pada baseband. Hal ini diukur melalui bentuk S/N
untuk transmisi analog dan BER untuk transmisi digital.
Dalam kedua hal di atas, kualitas ini dapat dihubungkan dengan carrier to
noise power ratio total (C/N)total pada masukan demodulator melalui persamaan
modulasi sebagai berikut, S/N atau BER = (C/N)total
Perhitungan C/N total untuk multi carrier per transponder (MCPT) dapat
dihitung dengan mempergunakan rumus persamaan 10.18.
1
1
1
1
 C   C 
C
C  



   
 
   .......................(10.18)
 N   N u  N  d  I t 
dimana:
(C/N)u = (C/N) lintasan up-link
(C/N)d = (C/N) lintasan down-link
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-23
(C/I)t = (C/I) total
Konsep dasar lintasan sistem komunikasi dapat dilihat pada Gambar 10.3
Nu
Penerima
TWTA
down converter
Gu/Tu
EIRPg
Lu
Ld
EIRP
Nd
GT
G/T
LNA
HPA
PT
Gambar 10.3 Konsep dasar lintasan satelit
dimana:
PT
= daya sinyal pembawa pada antena
GT
= penguatan antena stasiun bumi pemancar
Lu
= rugi ruang bebas lintasan naik
Gu/Tu = figure of merit satelit
Nu
= derau pada lintasan naik
EIRPs = EIRP satelit
Ld
= rugi ruang bebas pada lintasan turun
G/T
= figure of merit stasiun bumi
Nd
= derau pada lintasan turun
HPA
= High power amplifier
LNA
= Low noise amplifier
EVALUASI
X-24
Pengantar Sistem Telekomunikasi | IT Telkom
LATIHAN SOAL
1. Jelaskan apa itu sistem komunikasi satelit!
2. Sebutkan elemen penyusun pada sistem komunikasi satelit dan jelaskan
fungsinya masing-masing!
3. Apa yang dimaksud dengan orbit satelit!
4. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis orbit satelit!
5. Gambarkan konsep dasar lintasan transmisi pada sistem komunikasi
satelit!
6. Sebutkan parameter-parameter yang mempengaruhi kualitas transmisi
pada sistem komunikasi satelit!
REFERENSI
1. Freeman, Roger L., ”Fundamentals of Telecommunication”, Bab 9, IEEE
Press, 2005.
2. Freeman, Roger L.,”Telecommunication System Engineering ”, 3rd edition,
Bab 7 & 17, John Wiley & Son, Inc., New York, 1996.
3. Saedudin, Rohmat.,”Pengantar Sistem Telekomunikasi”, Bab 10, Diktat
Kuliah, ITTelkom, Bandung, 2005.
IT Telkom | Pengantar Sistem Telekomunikasi
X-25
Download