Uploaded by User7253

Kriminologi Begal

advertisement
BAB 1
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pembegalan adalah sebuah aksi merampas di tengah jalan dengan menghentikan
pengendaranya yang biasanya terjadi di jalanan yang jauh dari keramaian.
Berdasarkan informasi dari media, aksi begal berawal dari kota lampung.di kota lampung
Adapun menurut warga keberadaan begal sudah ada sejak lama, bahkan sejak zaman
soeharto. Tahun keberadaannya, tidak diketahui secara pasti yang jelas sudah ada sejak
zaman dulu. Namun pada saat itu aksi begal tidak seberani seperti saat ini .
Para komplotan begal pun sudah menyebar kemana-mana, tidak hanya di daerah
lampung saja namun di daerah Bekasi hingga medan pun ada.
Menurut yang saya baca di berita online, mereka berniat mengadu nasib, namun niat
seburuk apapun pasti akan diketahui, hal ini terbukti seperti banyak beredar berita di TV
tentang begal.
karena pelaku melihat adanya kesempatan memperoleh uang melalui aksi begal. terlebih
kesempatan tersebut didukung dengan lokasi jalan raya yang sepi dan kurang
penerangan serta hasil yang didapat sangat besar. Menurutnya, pembegalan dilakukan
rata-rata oleh pelaku yang bergerombol. Artinya, tidak memungkinkan hanya satu orang
yang membegal, apalagi yang sudah ditangkap kepolisian menunjukkan pelaku masih
berusia muda.
Psikolog forensik Universitas Pancasila Jakarta Reza Indragiri Amriel menduga kasus
pembegalan yang terjadi hanyalah aksi kriminal di permukaan yang menjadi perantara
untuk aksi kriminal lain, tidak sekadar bermotifkan ekonomi. Menurut Reza, tindakan
pelaku pembegalan telah menyimpang dan menunjukkan gangguan rasional. Dia
menduga pelaku di bawah pengaruh narkotika, obat-obatan dan minuman keras
sehingga tindakannya terhadap korban menjadi berlebihan, seperti membunuh
korbannya bahkan menyiksa.
1
Dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Tindak Pidana begal termasuk
kepada tindak pidana pencurian bab XXII diatur pada Pasal 362,363,dan 365.Artinya
dalam menghukum pelaku begal, penegak hukum harus merujuk pada pasal-pasal
tersebut.
Berikut bunyi pasal 362 KUHP “Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya
atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum,
diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Artinya pelaku begal dihukum penjara selama 5 tahun. Namun apa itu cukup ? mari kita
lihat pasal 363 KUHP.
Berikut bunyi pasal 363 KUHP “(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun :
Pasal 365 KUHP ayat (1) menyatakan “Diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atsu
mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan
melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang
dicuri”. Lalu Pasal 365 ayat (2) menyatakan dapat diancam pidana penjara 12 tahun jika
perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dan juga mengakibatkan luka-luka berat.
Kemudian jika mengakibatkan korban meninggal dunia, Pasal 365 ayat (3) pelaku
diancam dengan pidana penjara 15 tahun.
Banyak istilah lain yang pada dasarnya masuk kategori tindak pidana pencurian, namun
dimasyarakat istilahnya menjadi berbeda, seperti penjambretan, perampasan,
perampokan, ngutil, dan lain-lain. Dari ketentuan tersebut dengan jelas bahwa substansi
hukum kita dapat menjangkau kejahatan yang namanya begal, tinggal penyidik jeli
melihat unsur-unsur mana yang dapat terpenuhi, sehingga ancaman pidana yang
diterapkan dapat sesuai dengan harapan masyarakat terutama korban begal.
Lalu ada budaya hukum, budaya hukum disini menyangkut pandangan, pola pikir dan
cara bertindak masyarakat secara keseluruhan, termasuk aparat hukumnya. Sebaik
apapun kondisi dan penataan struktur hukum serta substansi hukum, tanpa adanya
budaya hukum yang mendukung, maka penegakan hukum tidak akan berjalan efektif.
Sebagai contoh penegakan hukum terhadap perjudian, sebaik apapun kerja aparat
hukum dan ketentuan hukumnya, ketika sebagaian masyarakat masih menganggap
perjudian sebagai hal lumrah, maka penegakan hukum terhadap kejahatan perjudian tak
akan pernah habis. Demikian juga halnya dengan begal, masyarakat hendaknya
berperan aktif demi tegaknya hukum. Friedman menyatakan “Tanpa budaya hukum
sistem hukum itu sendiri tidak akan berdaya, seperti ikan mati yang terkapar di keranjang,
bukan seperti ikan hidup yang berenang di lautnya.
2
Pada kasus ini, begal sangat meresahkan warga karena sangat membahayakan bagi
masyarakat yang melakukan perjalanan, masyarakat yang sedang melakukan
perjalanan tidak akan merasa tenang dan akan selalu was-was dalam berkendara.
Walaupun mereka tahu resiko jika tertangkap pada saat melakukan aksinya mereka akan di
amuk massa seperti dipukuli , dibakar , disiksa hingga hampir mati tetapi mereka tetap saja
melakukannya , apakah mereka tidak takut mengalami nasib yang sama? Apakah tidak ada efek
jera bagi pembegal ? . Berdasarkan survey pembegal tetap ada berkeliaran Karena 2 faktor
yaitu :
1.modal enteng atau modal nekat
2.hasil yang didapatkan melimpah padahal tidak perlu modal banyak tetapi bisa mendapatkan
hasil yang didapat luar biasa banyak .
Seperti kejahatan lainnya begal ini bagaikan bisnis bagi para penjahat . Namun ada juga yang
menjalankan profesi begal ini karena kebutuhan ekonomi namun ada yang menjalankannya
sebagai pekerjaan atau bisnis, Karena begal adalah motif ekonomi atau bisnis.
Menurut Sosiolog Musni Umar, dalam memberantas atau menghilangkan pembegalan,
pemerintah harus memecahkan akar masalah yang terjadi. Dikarenakan pelaku tindakan
pembegalan yang rata-rata anak muda tersebut ialah anak muda yang tidak memiliki pekerjaan
tetapi berkeinginan memiliki suatu barang.
Jadi yang terpenting ialah memecahkan akar masalah dan akar masalahnya itu kemiskinan.
Pelaku yang rata-rata anak muda tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka ingin memiliki
kendaraan namun tidak memiliki kemampuan untuk membeli.
Selain masalah kemiskinan yang tidak kalah penting ialah kurangnya pendidikan akhlak dan
agama yang diterima anak-anak kurang mampu tersebut. Hal hasil mereka hanya memikirkan
bagaimana untuk mendapatkan uang.
Peran orang tua juga menjadi faktor penting dalam mendidik dan memberikan pelajaran akhlak
terhadap anak-anak mereka. Namun, permasalahannya di masyarakat bawah mereka tidak
terlalu memikirkan itu dikarenakan untuk persoalan hidup untuk memenuhi kebutuhan seharihari saja sudah berat.
Selain itu pihak kepolisian sebaiknya jangan hanya menangkap dan memberikan hukuman.
Melainkan, harus diberikan semangat kembali untuk mereka berubah dan mencari pekerjaan
yang lebih baik.
Karena masalahnya ialah masalah perut, kita tidak bisa mengandalkan polisi karena jika
ditangkap pun tidak bisa mengurangi. Sebaiknya, ditumbuhkan kesadaran bangkit untuk
bekerja. Selain itu, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah yang diberi tanggung jawab oleh
negara harus segera memikirkan bagaimana cara merubah para pembegal ini menjadi lebih
baik.
3
B.Begal dalam Perspektif Aliran Klasik dan Aliran Positif
1. Aliran kriminologi Klasik
Aliran pemikiran ini mendasarkan pandangan bahwa intelegensia dan rasionalitas merupakan
ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang
bersifat perorangan maupun yang bersifat kelompok. Intelegensia membuat manusia mampu
mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti dia adalah penguasa dari nasibnya, pemimpin dari
jiwanya, mahkluk yang mampu memahami dirinya dan bertindak untuk mencapai kepentingan
dan kehendaknya. Ini merupakan kerangka pemikiran dari semua pemikiran klasik, seperti
dalam filsafat, psikologi, politik, hukum dan ekonomi. Dalam konsep tersebut maka masyarakat
dibentuk sebagaimana adanya sesuai dengan pola yang dikehendakinya, kunci kemajuan
menurut pemikiran ini adalah kemampuan kecerdasan atau akal yang dapat ditingkatkan
melalui latihan dan pendidikan, sehingga manusia mampu mengontrol dirinya sendiri, baik
sebagai individu maupun sebagai suatu masyarakat. Di dalam kerangka pemikiran ini, lazimnya
kejahatan dan penjahat dilihat semata-mata dari batasan undang-undang.
Aliran klasik merupakan label umum untuk sekelompok pemikir tentang kejahatan dan
hukuman pada abad 18 dan awal abad 19. Anggota paling menonjol dari kelompok pemikir
tersebut antara lain Cesare Beccaria dan Jeremy Bentham. Dua pemikir ini mempunyai gagasan
yang sama, bahwa perilaku kriminal bersumber dari sifat dasar manusia sebagai mahkluk
hedonistik sekaligus rasional Hedonistik karena manusia cenderung bertindak demi
kepentingan diri sendiri. Sedangkan rasional, karena mampu memperhitungkan untung rugi
dari perbuatan tersebut bagi dirinya.
Dasar dari tindakan individu yang hedonistic adalah kepentingan diri sendiri. Seperti
dikatakan Bentham, alam telah menempatkan manusia di bawah kendali dua penguasa, yakni
suka dan duka. Untuk dua hal itulah manusia bergumul tentang apa yang sebaiknya dilakukan,
dan apa yang mesti dilakukan, Dua hal itu juga menentukan apa yang kita lakukan, apa yang kita
katakana, dan apa yang kita pikirkan.
Menurut Bentham, seluruh tindak tunduk manusia disadari ataupun tidak,
sesungguhnya tertuju untuk meraih kebahagiaan itu. Apa yang cocok digunakan, atau cocok
untuk kepentingan invidu adalah apa yang cenderung untuk memperbanyak kebahagiaan.
Demikian juga, apa yang cocok untuk kepentingan masyarakat, adalah apa yang cenderung
menambah kesenangan individu-individu yang merupakan anggota masyarakat itu. Orangorang biasanya akan bertindak untuk keuntungan diri sendiri, dan akan berusaha
meminimalkan rasa sakit atau biaya. Inilah yang mesti menjadi titik tolak dalam menata hidup
manusia, termasuk hukum.
Menurut aliran klasik ini, seorang individu tidak hanya hedonis tetapi juga rasional, dan
dengan demikian selalu mengkalkulasikan untung rugi dari tiap perbuatannya, termasuk ketika
4
melakukan kejahatan. Kemampuan ini memberikan mereka tingkat kebebasan tertentu dalam
memilih tindakan yang akan diambil apakah melakukan kejahatan atau tidak.
Mengakibatkan seseorang tega untuk berbuat jahat. Karena desakan ekonomi, banyak orang
yang mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
Masalah ini menyebabkan semakin tingginya angka kriminalitas terutama di daerah urban yang
padat penduduk.
Salah satu fenomena kejahatan yang terjadi dalam masyarakat saat ini adalah begitu
maraknya praktik atau aksi premanisme di kalangan masyarakat yang dilakukan dengan
berbagai cara dan motif yang kemudian disebut oleh masyarakat sebagai tindakan “Begal” ini
memang bisa tumbuh di berbagai lini kehodupan manusia. Di tengah-tengah masyarakat
lapisan bawah, tidak jarang pelaku “begal” yang tertangkap basah akan mendapat hukuman.
Perilaku “begal” merupakan problematika sosial yang berawal dari sikap mental
masyarakat yang kurang siap menerima adanya perkembangan yang terjadi sehingga apabila
dilihat dari landasan pemikiran aliran kriminologi klasik dapatlah dikatakan bahwa “begal” ini
dianggap sebagai bentuk pernyataan kehendak bebasnya setiap individu tersebut yang disertai
dengan imingan hidup bahagia tanpa didasari bangunan ekonomi yang mapan. Hal tersebut
tentunya akan menekan setiap individu di tengah-tengah masyarakat sehingga memberikan
alasan moril yang cukup dan diwujudkan dalam tindakan nyata yang keliru berupa tindakan
kriminal.
Salah satu landasan pemikiran aliran kriminologi klasik adalah bahwa individu memiliki
hak asasi di antaranya hak untuk hidup, kebebasan dan memiliki kekayaan. Selanjutnya
pemerintah negara dibentuk untuk melindungi hak—hak tersebut dan muncul sebagai hasil
perjanjian sosial antara yang diperintah dan yang memerintah. Setiap warga negara hanya
menyerahkan sebagian dari hak asasinya kepada negara sepanjang diperlukan oleh negara
untuk mengatur masyarakat dan demi kepentingan sebagian terbesar dari masyarakat
Oleh karena itu, aliran ini berpaham indeterminisme mengenai kebebasan kehendak
manusia yang menekan pada perbuatan pelaku “begal”. Mengingat kehidupan sosial diikat oleh
kontrak sosial, maka setiap perbuatan yang melanggar norma-norma sosial yang berlaku,
dipandang sebagai tindakan menghianati kontrak sosial itu sendiri. Penghianatan terhadap
kontrak sosial itu harus dihukum setimpal dengan kerugian yang dimbulkan. Konsekuensinya
sebagai penganut paham indeterminisme maka setiap pelaku “begal” dianjurkan untuk
mendapat penghukuman yang bersifat retributive dan represif.
5
2. Aliran Kriminologi positif
Aliran pemikiran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh
Factor-faktor di luar kontrolnya, baik yang berupa factor biologis maupun kultural. Ini berarti,
manusia bukan mahkluk yang bebas untuk menuruti dorongan keinginannya dan
intelegensinya, akan tetapi mahkluk yang dibatasi atau ditentukan perangkat biologisnya dan
situasi kulturalnya.
Manusia berubah dan berkembang bukan semata-mata karena intelegensinya, akan
tetapi melalui proses yang berjalan secara pelan-pelan dari aspek biologisnya atau evolusi
kultural. Aliran pemikiran positif ini enghasilkan dua pandangan yang berbeda yaitu determinis
biologis yang menganggap bahwa perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan
mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya.
Aliran positif dalam krimonologi memandanga bahwa perilaku manusia ditentukan oleh
faktor-faktor diluar kontrolnya baik yang berupa faktor biologis maupun kultural yang dapat
mempengaruhi manusia untuk berbuat sesuatu di luar kuasanya. Artinya manusia dipandang
tidak memiliki kebebasan untuk mengikuti dorongan keinginannya dan intelegensinya dalam
menentukan pilihan untuk berbuat sesuatu secara rasional sebagaimana dikonsepsikan dalam
aliran klasik. Sebaliknyalah, menurut aliran positif, manusia dipandang sebagai mahkluk yang
dibatasi atau ditentukan oleh berbagai faktor di luar dirinya yang berupa perangkat biologis,
psikolgis, situasi kultural dalam berbuat sesuatu, baik yang berupa kebaikan maupun kejahatan.
Bagi aliran positif, semua faktor-faktor tersebut merupakan unsur utama yang
mempengaruhi perbuatan seseorang. Oleh karena itu itulah, apabila didapati fenomenanya
kejahatan yang dilakukan seseorang, maka menurut aliran ini, terjadinya kejahatan tersebut
dikarenakan pelaku kejahatan mendapat pengaruh dari faktor-faktor tertentu, antara lainnya
faktor kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan dan kesempatan, penyakit moral,
pengangguran dan kesempatan yang minim.
Aliran positif yang dipelopori para ilmuan lebih mengutamakan keunggulan ilmu
pengetahuan yang berkembang dari kenyataan hidup dalam masyarakat. Para ilmuan ini tidak
cukup puas hanya dengan berpikir untuk meningkatkan dan memodernisasi peradaban
masyarakat, tetapi mereka lebih banyak berkeinginan untuk menjelaskan semua gejala
kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat.
Hal ini apabila dikaitkan dengan fenomena “begal” sebagaimana yang telah disebutkan
pada pembahasan sebelumnya, aliran kriminologi positif beranggapan bahwa fenomena
“begal” tidaklah dapat dilepaskan dari pengaruh faktor dari luar diri setiap invidu pelaku
6
“begal” memiliki akalnya disertai kehendak bebasnya itu tidak terlepas dari pengaruh faktor
lingkungannya yang diantaranya telah disebutkan sebelumnya.
Faktor ekonomi, fenomena “begal” ini dapat terjadi karena sebagaimana teorinya
Robert Merton yang mengaitkan masalah kejahatan dengan Anomic. Dalam masyarakat yang
berorientasi kelas, kesempatan untuk menjadi yang teratas tidaklah dibagikan secara merata.
Sangat sedikit anggota kelas bawah mencapainya. Seorang anak yang lahir dari sebuah kelaurga
miskin dan tidak berpendidikan, misalnya hamper tidak memiliki peluang untuk meraih posisi
bisnis atau professionalnya sebagaimana dimiliki anak yang lahir dari sebuah keluarga kaya dan
berpendidikan. Hal ini kemudia menimbulkan frustasi di kalangan masyarakat yang tidak
mempunyai kesempatan yang sama tersebut, dan terbentuklah “begal”.
Dampak urbanisasi dan industrial, Indonesia sebagai suatu negara yang sedang
berkembang sebenarnya menghadapi suatu dilemma. Pada satu pihak merupakan suatu
keharusan untuk melaksanakan pembangunan, dan pada pihak lain pengakuan yang bertambah
kuat, bahwa harga diri pembangunan itu, adalah fenomena “begal” itu sendiri. Urbanisasi yang
berlebihan dari suatu negara. Keadaan-keadaan tersebut menimbulkan peningkatan kejahatan
yang tambah lama tambah kejam diluar kemanusiaan.
Pengaruh media komunikasi dan informasi. Media yang dimaksudkan itu adalah
misalnya melalui bacaan-bacaan, seperti surat kabar,majalah, buku-buku bahkan melalui
internet. Tidak dapat dipungkiri bahwa rangsangan untuk melakukan kejahatan jaman sekarang
ini banyak dipengaruhi oleh televise, film, surat kabar dan media lainnya. Bahwa media gagal
untuk membangkitkan respek terhadap hukum serta peraturan-peraturan lainnya. Media juga
membangkitkan kerakusan akan usaha untuk memperoleh uang secara mudah sehingga akibat
dan dampak yang timbul sangat berpengaruh bagi yang menyaksikan media tersebut.
Di dalam media-media tersebut sering ditimbulkan masalah-masalah abnormal dalam
bidang seks, serangan, dan kekejaman serta peniouan. Cara-cara untuk melakukan kejahatan
serta menghindari pengusutan oleh yang berwajib dapat dipelajari dalam bacaan-bacaan fiksi
atau nonfiksi, sehingga banyak sekali anak-anak yang biasanya melakukan perbuatan-perbuatan
meniru kekejaman dan kejahatan yang pernah mereka baca atau lihat dari dalam televise
ataupun melalui internet. Hal ini pula yang menyebabkan bahwa tidak sedikit anggota “begal”
itu masih berada dibawah umur (anak-anak).
7
Bab 2
A.Kajian pustaka
Secara Etimologis, kriminologi ( criminology ) berasal dari kata crime ( kejahatan) dan
logos (ilmu). Dengan demikian, Kriminologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari
tentang kejahatan. Adapun pengertian Kriminologi menurut Para Ahli yaitu :
1. W.A Bonger
Kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluasluasnya.
2. E.H. Sutherland
Kriminologi adalah keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan kejahatan
sebagai gejala sosial dan mencakup proses-proses perbuatan hukum, pelanggaran hukum dan
reaksi atas pelanggaran hukum.
3. Wood
Kriminologi adalah keseluruhan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan teori atau
pengalaman yang bertalian dengan perbuatan jahat dan penjahat dan,termaksud di dalamnya
reaksi dari masyarakat terhadap perbuatan jahat dan para penjahat.
4. Noach
Kriminologi adalah ilmu pengetahuan tentang perbuatan jahat dan perilaku tercela yang
menyangkut orang-orang terlibat dalam perilaku jahat dan perbuatan tercela itu.
5. Walter Reckless
Kriminologi adalah pemahaman ketertiban individu dalam tingkah laku delinkuen dan tingkah
laku jahat dan pemahaman bekerjanya sistem peradilan pidana.
6. Mr. Paul Moedigdo
Kriminologi adalah ilmu pengetahuan dari berbagai ilmu yang membahas kejahatan sebagai
masalah manusia. Berbagai ilmu disini menunjukkan kriminologi belum merupakan ilmu yang
berdiri sendiri”.
8
C.Tujuan Kriminologi
1. Memberi petunjuk bagaimana masyarakat dapat memberantas kejahatan dengan hasil
yang baik dan lebih-lebih menghindarinya.
2. Mengantisipasi dan bereaksi terhadap semua kebijakan di lapangan hukum pidana,
sehingga dengan demikian dapat dicegah kemungkinan timbulnya akibat-akibat yang
merugikan, baik segi si pelaku,korban, maupun masyarakat secara keseluruhan.
3. Mempelajari kejahatan,sehingga menjadi misi kriminologi adalah :
a. Apa yang dirumuskan sebagai kejahatan dan fenomenanya yang terjadi di dalam
kehidupan masyarakat, kejahatan apa dan siapa penjahatnya merupakan bahan penelitian
para kriminolog;
b. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya atau dilakukannya kejahatan.
4. Menjabarkan identitas kriminalitas dan kausa kriminologisnya untuk dimanfaatkan bagi
perencanaan pembangunan social pada era pembangunan dewasa ini dan di masa
mendatang.
D. Hubungan Kriminologi dengan Ilmu Pengetahuan Lainnya
Adapun ilmu bantu dalam Kriminologi meliputi:
a. Ilmu Filsafat
Filsafat yang mempersoalkan hakekat manusia sebagai makhluk yang tidak sejajar
dengan makhluk lain disebut ''Antropologi Filsafat''. Antropologi Filsafat yang menentukan
manusia berbeda dengan hewan. Karena itu,hewan tidak pernah akan bertindak jahat
karena untuk menentukan sesuatu yang jahat,harus ada norma serta harus ada kesadaran.
Hewan tidak bernorma dan tidak berkesadaran sehingga pasal-pasal KUHP tidak
diberlakukan.
b. Sosiologi Kriminal
Sosiolohi kriminal mempelajari faktor sosial yang menyebabkan timbulnya serta reaksi
masyarakat dan akibat kejahatan .keadaan sosial dan ekonomi yang buruk menimbulkan
kejahatan. ilmu ini berkembang dalam kriminologi sehingga melahirkan madzab lingkungan
yang dirintis oleh Perancis.
c. Antropologi Kriminal
Ilmu ini menginstrodusir sebab-sebab kejahatan karena kelaian anatomis yang dibawah
9
sejak lahir. Dengan demikian penjahat adalah salah satu jenis homosapieus yang dapat
ditentukan secara anatomis ilmu ini meneliti sebab-sebab kejahatan terletak pada
tengkorak, tengkorak yang abnormal melakukan perbuatan jahat dan melahirkan madzab
autropologi.
d. Psychologi Kriminal
Ilmu ini meneliti sebab kejahatan terletak pada penyimpanan kejiwaan, meneliti relasi
watak,penyakit (jiwa) dengan bentuk kejahatan, serta situasi Psikologis yang
mempengaruhi tindakan jahat juga meneliti aspek psikis dari para oknum yang terlibat
dalam persidangan (jaksa,hakim,panitera,terdakwa).
e. Paenologi
Paenologi membahas timbulnya dan pertumbuhan hukum, arti hukuman serta faedah
hukuman.
f. Neuro Pathologi Kriminal
Ilmu ini meneliti penyimpangan syaraf terhadap timbulnya kejahatan. Ahli yang bergerak
dibidang ini berpendapat ketidak beresan susunan urat syaraf mendorong seseorang untuk
berbuat jahat.
E. Ruang Lingkup Kriminologi
Pemahaman mengenai ruang lingkup khususnya tentang luasnya masalah yang menjadi
sasaran perhatian kriminologi dapat bertolak dari beberapa definisi serta perumusan
mengenai bidang cakupan kriminologi yang diketengahkan oleh sejumlah kriminolog yang
diakui mempunyai pengaruh besar terhadap bidang pengetahuan ilmiah ini.
Menurut Walter C. Reckless dalam bukunya The Crime Problem mengemukakan 10 ruang
lingkup atau wilayah yang merupakan bidang kerja kriminologi;
1. Kriminologi mempelajari bagaimanakah kejahatan dilaporkan pada badan-badan resmi
dan bagaiman pulakah tindakan yang dilakukan menanggapi laporan itu;
2. Kriminologi mempelajari perkembangan dan perubahan hukum pidana dalam
hubungannya dengan ekonomi, politik, serta tanggapan masyarakatnya;
3. Kriminologi membahas secara khusus keadaan penjahat ,membandingkan dengan yang
bukan penjahat mengenai : sex, ras, kebangsaan, kedudukan ekonomi, kondisi
kekeluargaan, pekerjaan atau jabatan dan kedudukan, kondisi kejiwaan, phisik, kesehatan
jasmani,rohani dan sebagainya;
10
4. Kriminologi mempelajari daerah-daerah atau wilayah-wilayah dihubungkan dengan
jumlah kejahatan dalam daerah atau wilayah yang dimaksud dan bahkan diteliti pula bentuk
spesifik dari kejahatan yang terjadi misalnya penyelundupan di daerah pelabuhan atau
korupsi di lingkungan pejabat;
5. Kriminologi berusaha memberikan penjelasan mengenai factor-faktor penyebab
kejahatan untuk menuangkannya dalam bentuk ajaran dan teori;
6. Kriminologi mempelajari jenis kejahatan yang dimanifestasikan secara istimewa dan
menunjukkan kelainan daripada yang sering berlaku, organized crime, white-collar crime
yang berupa bentuk-bentuk kejahatan modern, termasuk pembajakan pesawat, pencucian
uang dan pembobolan ATM;
7. Kriminologi mempelajari hal-hal yng sangat erat hubungannya dengan kejahatan,
misalnya alkoholisme, narkoba, pelacuran, perjudian, Vagrancy atau gelandangan dan
pengemis;
8. Kriminologi mempelajari apakah peraturan perundang-undangannya beserta penegak
hukumnya sudah efektif;
9. Kriminologi mempelajari kemanfaatan lembaga-lembaga yang digunakan untuk
menangkap, menahan, dan menghukum;
10. Kriminologi mempelajari setiap usaha untuk mencegah kejahatan.
F. Perkembangan Kriminologi
1.
Pra Kriminologi
Kriminologi sebagaimana ilmu yang lain baru lahir pada abad XIX dimulai pada tahun
1830 adalah Adolpen dari kota Quetelet Perancis sebagai pelopornya jdi bersamaan
dengan dimulainya sosiologi, namun apabila diurut ke belakang sebagaimana pada
umumnya pengetahuan dan ilmu yang lain sudah dimulai pada Jaman Kuno meski
kajiannya tidak dapat atau hampir tidak dapat dikatakan sebagai kriminologi.
Plato (427-347 SM) filsuf jaman Yunani dalam bukunya Republik mengatakan bahwa
emas, merupakan sumber dari banyak kejahatan. Makin tinggi kekayaan dalam pandangan
manusia makin merosot penghargaan terhadap kesusilaan.
Aritoteles (384-322 SM) murid Plato dalam bukunya Politiek mengemukakan pendapatnya
tentang hubungan antara kejahatan dengan masyarakat, bahwa kemiskinan menimbulkan
kejahatan dan pemberontakan.
2. Kriminologi
11
Pada abad XIX sosiologi criminal ( kriminologi) timbul akibat dari berkembangnya sosiologi
dan statistic criminal. Sehingga studi mengenai tindak pidana dan pelaku pidana pidana
sudah mulai sungguh-sungguh dipelajari.
3. Perkembangan Kriminologi pada Era Global
Era global yang dimulai sekitar tahun 1970 sering dinamakan globalisasi mengandung
makna yang dalam dan terjadi pada segala aspek kehidupan, misalnya ekonomi, social
budaya,politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi, dan sebagainya, sebagai dampak
kemajuan teknologi transportasi, komunikasi dan informatika modern yang luar biasa.
Globalisasi yang ditandai oleh informasi menuntut nilai-nilai dan norma baru dalam
kehidupan nasional dan antar bangsa.
Kriminologi sebagai suatu ilmu pada era global memperluas cakrawala keilmuan dengan
mengkaji berbagai kejahaatan modern yang menuntut penanggukangannya secara modern
pula. Ketentuan hukum yang sesuai dan berlaku serta penegakan hukum atas terjadinya
kejahatan menjadi sorotan pula sebagai bahan kajian kriminologi.
Penjelasan kriminologi era globalisasi memerlukan pendekatan baru yang berbeda
dengan pendekatan di masa lampau; perkembangan kejahatan money laundering,
terorisme,insider trading ( kejahatan ekonomi oleh orang dalam ), penyuapan terhadap
pejabat publik asing oleh pihak swasta, kejahatan lingkungan dan global, dan masih banyak
lagi jenis kejahatan baru pada abad XXI, tidak mungkin lagi dapat dianalisis dari segi
pendekatan teori klasik maupun liberal. Penjelasan jenis kejahatan baru tersebut hanya
dapat dilakukan dengan pendekatan sosiologi ekonomi makro yang mengakui bahwa
kejahatan tipe baru terkait dengan perkembangan ekonomi global.
G. Aliran Kriminologi
1. Kriminologi Klasik
Aliran ini mendasarkan pada pandangan bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan
cirri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang
bersifat perorangan maupun kelompok.
Kunci kemajuan menurut pemikiran ini adalah kemampuan kecerdasan atau akal yang
dapat ditingkatkan melalui latihan dan pendidikan, sehingga manusia mampu mengontrol
dirinya sendiri bak sebagai individu maupun sebagai suatu masyarakat.Di dalam kerangka
pemikiran ini, lazimnya kejahatan dan penjahat dilihat semata-mata dari batasan undangundang.
2. Aliran Neo Klasik
12
Aliran Neo Klasik bertolak dari pandangan yang sama dengan Aliran Klasik, sehingga
tidak menyimpang dari konsepsi umum tentang manusia yang berlaku pada waktu itu di
Eropa,bahwa manusia bebas untuk memilih untuk berbuat kejahatan maupun berbuat baik,
menghasilkan pengecualian tertentu, yakni :
1. Anak di bawah umur 7 tahun tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap kejahatan
karena belum sanggup mengartikan pengertian perbedaan yang benar dengan yang salah;
2. Penyakit mental tertentu dapat melemahkan tanggung jawab.
Aliran Neo Klasik tidak mengekui kriminologi sebagai ilmu, walaupun demikian, aliran ini
berjasa di bidang kriminologi, pertama; pengecualian mereka terhadap prinsip bebas
bertidak, termasuk salah satu sebab walaupun cara pandang aliran ini tidak berdasarkan
ilmu,ke dua; banyak di antara undang-undang pidana dan kebijakan modern didasarkan
pada prinsip yang klasik modern.
Ciri-ciri Aliran Neo Klasik adalah:
1. Adanya dokrin kehendak bebas;
2. Pengakuan dari sahnya keadaan yang memperlunak;
3. Perubahan dokrin tanggung jawab sempurnah untuk memungkinkan pelunakan hukuman
menjadi tanggung jawab sebagian saja;
4. Dimasukkannya kesaksian dan atau keterangan ahli dalam acara peradilan untuk
menentukan besarnya tanggung jawab.
3. Aliran Positivisme
Aliran ini menghasilkan 2 pandangan yang berbeda yaitu
1. Determinis biologic adalah organisasi social berkembang sebagai hasil individu dan
perilakunnya dipahami dan diterima sebagai pencermanan umum dari warisan biologic.
2.Determinis cultural menganggap bahwa perlaku manusia dalam segala aspeknya selalu
berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio cultural yang melengkapinya.
Positivis menolak penjelasan yang berorietasi pada nilai, dan mengarahkan pada
aspek yang dapat diukur dari pokok persoalannya dalam usaha mencari sebab-akibat.
Tugas kriminologi adalah menganalisis sebab-sebab perilaku kejahatan melalui studi
lmiah terhadap ciri-ciri penjahat dari aspek fisik, social,dan cultural. Aliran ini dipelopori
oleh Cesare Lombrosa(1835-1909) yang dikenal dengan biologi criminal yang menyebutkan
13
bahwa factor penyebab kejahatan yaitu factor alami dan sebagian karena pengaruh
lingkungan.
4. Aliran Kritis
- Aliran ini mengatakan bahwa tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku terutama ditentukan ole
bagaimana undang-undang disusun dan di jalankan.
- Tugas kriminologi kritis adalah menganalis proses-proses bagaimana cap jahat tersebut
diterapkan terhadap tindakan dan orang-orang tertentu.
- Pendekatan kritis ini dibedakan menjadi pendekatan interaksionis dan konflik.
- Pedekatan interaksionis menentukan mengapa tindakan dan orang tertentu didefisinikan
sebagai criminal di masyarakat tertentu dengan cara mempelajari persepsi makna
kejahatan yang dimiliki masyarakat yang bersangkuutan.
- Pendekatan kriminologi konflik mengatakan bahwa orang berbeda karena memilki
perbedaan kekuasaan dalam mempengaruhi perbuatannya dan bekerjanya hokum dan
mengasumsikan bahwa manusia merupakan makhluk yang terlibat kelompok kumpulannya.
5. Aliran Social Defence ( Pembelaan Masyarakat )
Aliran ini mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai dalam perkembangan studi
kriminologi. Pergeseran nilai-nilai diawali dari studi kriminologi yang menitik beratkan pada
aspek moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat abstrak, dilanjutkan pada pandangan
terhadap pentingnya unsurnya individu dan peranan factor kepribadian serta lingkungan
dalam membentuk seseorang sebagai manusia penjahat, dan akhirnya terjadi perubahan
tentang sikap dan pandangan yang kurang menghargai penemuan-penemuan ilmiah dan
menggantikannya dengan pandangan yang lebih bersifat praktis pragmatis dalam
menghadapi penjahat. Meskipun demikian, aliran social defence tetap masih menghargai
nilai-nilai moral pada kehidupan bermasyarakat dalam arti bahwa perlakuan terhadap
kejahatan tidak lagi sebagai obyek sarana peradilan pidana namun diperlakukan sebagai
manusia dengan integritas kemanusiaannya.
H. Teori-Teori Kriminologi
1. Teori Asosiasi Diferensial ( Differential Association Theory )
Dalam teori ini dijelaskan bahwa pola-pola delinquency dan kejahatan dipelajari dengan
cara yang serupa seperti setiap jabatan atau akupasi, terutama melalui jalan imitation atau
peniruan dan association atau pergaulan dengan yang lain. Berarti kejahatan yang
dilakukan seseorang adalah hasil peniruan terhadap tindakan kejahatan yang ada dalam
14
masyarakat dan ini terus berlangsung.
2. Teori Tegang atau Teori Anomi ( Strain Theory )
Teori ini menjelaskan bahwa di bawah kondisi social tertentu, norma-norma sosial
tradisional dan berbagai peraturan, kehilangan otoritasnya atas perilaku. Dilandasi era
depresi besar yang melanda Eropa tahun 1930 sehingga terjadi perubahan besar dalam
struktur masyarakat, misalnya tradisi yang telah kehilangan dan telah terjadi a condition of
deregulation di dalam masyarakat. Keadaan demikianlah yang dinamakan ‘’anomi’’ atau
keadaan ( masyarakat) tanpa norma, artinya hancurnya keteraturan social sebagai akibat
dari hilangnya patokan-patokan dan nilai-nilai.
3. Teori Kontrol Sosial ( Social Control Theory )
Penjelasan dalam teori ini menyatakan bahwa individu dimasyarakat mempunyai
kecenderungan yang sama kemungkinannya menjadi baik atau menjadi jahat. Berperilaku
baik ataupun berperilaku jahatnya seseorang, sepenuhnya bergantung pada masyarakat
lingkungannya. Ia menjadi baik kalau saja masyarakatnya membuatnya demikian, dan
menjadi jahat apabila masyarakatnya membuatnya demikian.
4. Teori Sub-Budaya ( Sub-Culture Theory )
Teori ini menjelaskan bahwa terjadinya peningkatan perilaku delinquent di daerah kumuh
menggambarkan bahwa frustasi pada anak kelas bawah dan menegaskan sebagai
perjuangan antar kelas, hal itu terjadi ketika anak-anak kelas bawah secara bersungguhsungguh berjuang memiliki symbol material untuk kesejahteraan.
Sub-budaya dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bentuk, yakni :
1. Criminal Subculture; bentuk-bentuk perilaku gang yang ditujukan untuk kepentingan
pemenuhan uang atau harta benda;
2. Conflik subculture; bentuk gang yang berusaha mencari status dengan menggunakan
kekerasan;
3. Retreatist subculture; bentuk gang dengan ciri-ciri penarikan diri dari tujuan dan peranan
konvensional dan kemudian mencari pelarian dengan menyalahgunakan narkotika atau
sejenisnya.
5. Teori – teori Sendiri ( The Self-Theories )
Teori ini menjalaskan bahwa teori-teori sendiri tentang kriminalitas menitikberatkan pada
interprestasi atau penafsiran individu yang bersangkutan. L. Edward Wells (1978)
berspekulasi bahwa perilaku adalah suatu usaha oleh seorang individu untuk
mengkonstruksi, menguji nengesahkan dan menyatakan apa tentang dirinya. L Edward
15
wells memandang banyak bentuk kesulitan emosional dan penyimpangan perilaku sebagai
sesuatu yang muncul dari ketidaklayakan yang dihipotesiskan agar terjadi di antara
bayangan sendiri dan pelbagai permintaan atau keinginan pribadi seperti aspirasi dan
harapan-harapan. Perilaku dan bayangan sendiri berkaitan paling sedikit dalam 2 (dua)
cara ;
1. Perilaku dapat berupa ekspresi konsep diri snediri. Oleh sebab itu apabila seseorang
memiliki opini rendah tentang dirinya biasanya direfleksikan atau dicerminkan ke dalam
susunan luas perilaku negative termasuk juga depresi ke dalamnya misalnya
penyalahgunaan alcohol dan kriminalitas;
2. Perilaku dapat juga mendukung atau menahan self consept atau konsep diri sendiri.
6.
Teori Psikoanalisis ( Psycho-Analitic )
Sigmund Freud sebagai penemu psikoanalisis berpendapat bahwa kriminalitas mungkin
hasil dari an overactive conscience yang menghasilkan perasaan bersalah yang berlebih.
Sigmund Freud menyebut bahwa mereka yang mengalami perasaan bersalah yang tak
tertahankan akan melakukan kejahatan dengan tujuan agar ditangkap dan dihukum. Begitu
mereka dihukum maka perasaan bersalah mereka akan mereda. Seseorang melakukan
perilaku yang terlarang karena hati nurani, atau superego-nya begitu lemah atau tidak
sempurnah sehingga ego-nya ( yang berperan sebagai suatu penegah antara superego
dan id ) tidak mampu mengontrol dorongan-dorongan id ( bagian dari kepribadian yang
mengandung keinginan dan dorongan yang kuat untuk dipuaskan dan dipenuhi).
7.
Teknik-teknik Netralisasi atau Teori Netralisasi ( The Techneques of
Netralization)
Teori ini menjelaskan bahwa aktivitas menusia selalu dikendalikan oleh pikirannya,di sini
mencerminkan adanya suatu pendapat bahwa kebanyakan orang dalam berbuat sesuatu
dikendalikan oleh pikirannya yang baik. Di masyarakat selalu terdapat persamaan pendapat
tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan masyarakat, dan menggunakan jalan layak
untuk mencapai hal tersebut.
8.
Teori Pembelajaran Sosial ( Social Learning Theory )
Sosial Learning Theory berinduk pada psikhologi, dengan tokohnya; Petrovich Pavlov,
John B. waston, B.F. Skinner, belakangan Albert Bandura ( sebagai tokoh utamanya) yang
mengembangkan teori pembelajaran social ini dikaitkan dengan juvenile delinquency.
Teori ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh pengalaman belajar,
pengalaman kemasyarakatan disertai nilai-nilai dan pengharapannya dalam hidup
bermasyarakat.
9. Teori Kesempatan ( Opportunity Theory )
16
Teori ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara lingkungan kehidupan,
struktur ekonomi dan pilihan pelaku yang mereka perbuat selanjutnya.
Richard A. Cloward dan Lloyd E. Ohlin dalam bukunya Delinquency and Opportunity
berpendapat bahwa munculnya kejahatan dan bentuk-bentuk perilakunya bergantung pada
kesempatan, baik kesempatan patuh norma maupun kesempatan penyimpangan norma.
10. Teori Rangsangan Patologis ( Pathological Stimulation Seeking )
Teori ini menjelaskan bahwa;
1. Kriminal dilakukan dengan sistem urat syaraf yang hiporeaktif dan otak yang kurang
member respon, keadaan demikian tidak terjadi dalm vacuum melainkn berinteraksi dengan
lingkungan tempat tinggal tertentu di mana individu hidup dalam pergaulannya;
2. Anak-anak pra delinquent cenderung membiasakan diri terhadap hukuman yang
diterimanya dan rangsangan ini dengan mudah menambah frustrasi dikalangan orang tua;
3. Interaksi orang berhadapan dengan keadaanmeliputi hipotesis;
a. Respon parental yang negative dan tidak konsisten terhadap perilaku mencari stimulasi
atau rangsangan si anak merupakan daya etiologis dalam perkembangan kecenderungankecenderungan kriminalitas selanjutnya;
b. Abnormalitas psikis si anak akan menyulitkan baginya mengantisipaso konsekuensi yang
menyakitkan atas tindakannya.
11. Teori Interaksionis ( Interactionist Theory )
Teori ini mempelajari proses interaksi soasial dan konsekuensinya terhadap masyarakat.
Teori ini menjelaskan suatu perilaku sosial berarti menjelaskan meaning (makna) perilaku
tertentu yang dilakukan dengan cara tertentu pula, baik yang bertalian dengan orang yang
melakukan tindakan itu maupun bagi mereka yang menyaksikan tindakan itu. Dengan
demikian maka pokok persoalan itu, bagaimana menjelaskan dengan sebaik mungkin
perilaku sosial manusia.
12. Teori Pilihan Rasional ( Rational Choice Theory )
Teori ini menjelaskan bahwa;
1. Teori pilihan rasioanal menitikberatkan pada pemanfaatan yang diantisipasi mengenai
taat pada hukum berlawanan dengan perilaku melanggar hukum.
2.Akibat pidana yang dialami seseorang merupakan fungsi, pilihan-pilihan langsung serta
17
keputusan-keputusan yang dibuat relative oleh pelaku tindak pidana bagi peluang-peluang
yang ada padanya.
3. Teori pilihan rasional dengan demikian berpendapat bahwa individu menimbang dari
berbagai kemungkinan , kemudian memilih pemecahan yang optimal yang dapat dilakukan;
4. Terdaoat kompleksitas dalam proses pengambilan keputusan oleh manusia yang
menunjukkan bahwa keputusan-keputusan yang diambil kadang kala tidak rasional dan
bersifat non ekonomis serta bersifat subyektif;
5. Meningkatnya pendapatan atau peluang yang lebih meluas harus berkurang, tidak saja
sebagai insentif bagi ilegalitas dan perilaku menyimpang, melainkan pula bagi perilaku
criminal yang sebenarnya seperti pada berbagai pola kejahatan konvensional, menurut
perspektif pilihan rasional.
6. Teori pilihan rasional member penjelasan yang bermanfaat dalam mempelajari
kriminalitas
7. Teori pilihan rasional kurang mampu mempertanggungjawabkan mengenai perilaku
criminal untuk waktu yang relatife lama.
13. Teori – teori Perspektif Baru
Teori ini menjelaskan bahwa kejahatan secara tradisional karena melihat pada sifta-sifat
pelaku atau kepada social. Teori ini tidak hanya mempertanyaakan penjelasan tradisional
tentang pembuatan dan penegakkan hukum pidana, namun juga mempersalahkan hukum
itu dalam menghasilkan penjahat-penjahat, dan teori ini juga mempertanyakan tentang
siapa yang membuat hukum-hukum itu dan mengapa.
14. Teori Pemberian Nama ( Labeling Theory )
Teori ini menjelaskan bahwa sebab utama kejahatan dapat dijumpai dalam pemberian label
oleh masyarakat untuk mengidentifikasi anggota-anggota tertentu pada masyarakatnya.
Berdasarkan perspektif teori ini, pelanggar hukum tidak dapat dibedakan dari mereka yang
tidak melanggar hukum, terkecuali bagi adanya pemberian label terhadap mereka yang
ditentukan demikian. Oleh sebab itu, kriminal dipandang oleh teoritisi pemberian nama
sebagai korban lingkungannya dan kebiasaan pemberian nama oleh masyarakat
konvensional.
15. Teori-teori Konflik (Conflik Theories)
Konsep dari teori ini adalah power ( kekuasaan ). Struggle ( pertarungan ) untuk kekuasaan
merupakan suatu gambaran dasar eksitensi manusia. Dalam arti pertarungan kekuasaan
itulah bahwa berbagai kelompok kepentingan berusaha mengontrol perbuatan dan
penegakan hukum. Untuk memahami pendekatan teori konflik ini, perlu secara singkat
18
memandang bahwa kejahatan dan peradilan pidana sebagai sesuatu yang lahir dari
communal consensus ( consensus masyarakat).
16. Teori Pemberian Malu Reintegratif atau Teori Pembangkit Rasa Malu
( Reintregrative Shaming Theory)
Konsep-konsep dasar dari teori ini adalah ;
1. Interdependency atau saling ketergantungan bersifat individual,mencakup keikutsertaan
warga masyarakat dalam suatu jaringan social dimana di dalamnya mereka merasa
bergantung pada warga masyarakat lain untuk mencapai tujuan akhir dan warga
masyarakat yang lainpun bergantung padanya.
2. Communitarianism, bersifat kemasyarakatan, artinya di dalam masyarakat yang demikian
warga terikat kuat dalam suatu hubungan saling ketergantungan yang dicirikan adanya
perasaan saling mempercayai dan saling membantu.
3.Shaming ( rasa malu ) adalah semua proses social tentang pernyataan sikap pencelaan
yang mengekibatkan timbulnya penyesalan paling dalam bagi seseorang yang di
permalukan atau pencelaan oleh pihak lain yang telah menyadari hal itu.
4.Stigmatization atau Stigmatisasi adalah wujud dari disintegrative shaming atau pemberian
malu yang disintegrative, adalah menstigmatisasi dan meniadakan, jadi menciptakan suatu
class of outcast (kelas orang-orang terusir/terbuang).
5. Reintegrative atau mengintegrasikan.
17. Krimonologi Kritis ( Radicai ( Critical) Criminology )
Ian Tailor, Paul Walton, dan Jack Young-kriminolog Marxis dari Inggris menyatakan bahwa
kelas bawah ( kekuatan buruh dari masyarakat industri) yang dikontrol melalui hukum
pidana dan para penegaknya, sementara pemilik buruh-buruh itu hanya terikat oleh hukum
perdata yang mengatur persaingan antar mereka. Institusi ekonomi kemudian merupakan
sumber dari konflik , pertarungan antar kelas selalu berhubungan dengan distribusi sumber
daya kekuasaan, dan hanya apabila kapitalisme dimusnahkan maka kejahatan akan hilang.
19
Bab 3
METODE PENELITIAN
A.Tujuan penelitian
1. memberikan penjelasan tentang kriminal begal
2. menjelaskan faktor-faktor apa saja yang membuat adanya begal
3. menjelaskan cara melindungi diri dari begal
B. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan sebuah rumah tahanan / penjara dimana dapat ditemui para
pelaku begal yang tertangkap. Dengan melakukan sesi wawancara beberapa saat, hasil
yang didapatkan adalah mereka melakuan begal karena kebutuhan ekonomi adapun
yang karena diajak kerja sama bersama temannya.
C. Latar penelitian
Dengan semakin majunya perkembangan zaman menyebabkan urbanisasi yang
berlebihan dari suatu negara. Keadaan-keadaan tersebut menimbulkan peningkatan
kejahatan yang tambah lama tambah kejam diluar kemanusiaan karena semakin
tingginya pembangunan dan meningkatnya pajak serta semakin tingginya kebutuhan
ekonomi tetapi masyarakat lapisan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
tersebut hiingga terjadinya begal.
D. Metode dan prosedur penelitian
Penelitian ini merupakan perpaduan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, karena
mengandalkan metode pada kekuatan hasil wawancara,studi dokumentasi,dan
observasi
E. Data dan Sumber data
Penelitian itu menggunakan metode observasi yang mana penulis mengambil sumber
dari narasumber yang ada di sebuah rumah tahanan serta informasi yang berada di
internet
F. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan 2 teknik atau instrument yaitu :
20
1. Studi dokumentasi dan Pustaka
Berbagai dokumen penting tentang begal baik dari penulis dan juga dari berbagai
sumber baik dari artikel,berita online,majalah,buku-buku dan surat kabar yang
relevan akan dikaji.
Dipadukan dan dijadikan sebagai kerangka teori dari penelitian ini.
2. Wawancara dan diskusi kelompok terfokus (FGD)
wawancara dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dilakukan secara terbatas, baik
kepada informan yang menjadi fous penelitian ini, yaitu pelaku begal. Adapun yang
ingin di ungkap dan dieksplorasi dari informan adalah : (1) Alasan melakukan
pembegalan (2) apakah tidak ada efek jera setelah terkena kosekuensinya
21
Download