Uploaded by Ahmad Fajri Wibowo

Paten Sederhana: Analisis Hukum dan Kasus di Indonesia

advertisement
I. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Hak kekayaan intelektual sendiri pada pokoknya merupakan hak untuk menikmati hasil
kreativitas intelektual manusia secara ekonomis1. Salah satu bentuk dari hak kekayaan
intelektual adalah paten. Paten merupakan bagian dari konsep HKI, konsep tersebut meliputi:
a. Hak milik hasil pemikiran (intelektual), melekat pada pemiliknya, bersifat tetap dan
eksklusif.
b. Hak yang diperoleh pihak lain atas izin dari pemilik, bersifat sementara. Hasil kemampuan
berpikir manusia merupakan ide yang kemudian diwujudkan dalam bentuk ciptaan atau
invensi. Pada ide itu melekat predikat intelektual yang bersifat abstrak, konsekuensinya
adalah HKI menjadi terpisah dengan benda material bentuk wujudnya, sebagai contoh Paten
adalah ide di bidang Teknologi yang disebut Hak Kekayaan Intelektual.2
Paten atau oktroi telah ada sejak abad ke-14 dan ke-15, misalnya di Italia dan Inggris. Sifat
pemberian hak paten pada waktu itu bukan ditujukan atas temuan atau invensi (uitvinding),
tetapi diutamakan untuk menarik para ahli dari luar negeri. Maksudnya agar para ahli dari luar
negeri menetap di negara-negara yang mengundangnya sehingga dapat mengembangkan
keahliannya masing-masing di negara pengundang untuk memajukan penduduk negara yang
bersangkutan. Jadi, paten atau oktroi itu berupa ijin menetap. Namun demikian, memang
kehadiran sang penemu (inventor) di negeri yang baru itu didasarkan pada keahlian dalam
bidang tertentu. Jadi, ada juga kesamaannya dengan penggunaan istilah paten dewasa ini.
Hanya saja, royaltinya ketika itu berbentuk ijin tinggal di negara itu dengan perlakuan khusus
karena ia dapat memberikan kontribusi positif untuk kemajuan rakyat di negeri tersebut. 3
Pada abad ke-16, baru diadakan peraturan pemberian hak-hak paten/oktroi terhadap invensi.
Peraturan tersebut diterapkan oleh Venesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Australia.
Kemudian, seiring dengan berlalunya waktu dan kemajuan bidang teknologi, terutama pada
abad ke-20, paten/oktroi bukan lagi sebagai hadiah, melainkan pemberian hak atas invensi.
Perkembangan peraturan perundang-undangan paten Inggris berpengaruh besar terhadap
pembentukan undang-undang paten di banyak negara di dunia karena di Inggris pertumbuhan
paten sangat baik. Kemungkinan pengaruh itu adalah akibat kedudukan Inggris sebagai negara
1
Sudaryat, Sudjana dan Rika Ratna Permata, Hak Kekayaan Intelektual, Bandung: Oase Media, 2010, hlm. 15.
Abdulkadir Muhamad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual. PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007,
hlm. 1
3
Sudaryat, Sudjana dan Rika Ratna Permata, Op.Cit, hlm. 91.
2
induk penjajah, yang sampai pertengahan abad ke-20 dan satu-dua abad sebelumnya,
mempunyai banyak wilayah jajahan dan membawa pengaruh hukum di wilayah koloninya.
Perkembangan paten di Indonesia telah cukup jauh tertinggal, baru tahun 1844 pemerintah
Hindia Belanda memperkenalkan HKI dan dilanjutkan dengan pembuatan UU Paten.4 Sebelum
dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1989 yang telah diperbarui dengan UndangUndang Nomor 13 Tahun 1997 dan terakhir dengan Undang-Undang nomor 14 Tahun 2001
tentang Paten, paten diatur berdasarkan Octroiwet 1920 hingga dikeluarkannya Pengumuman
Menteri Kehakiman tertanggal 12 Agustus 1953 Nomor J.S.5/41/4 Tentang Pendaftar
Sementara Oktroi dan Pengumuman Menteri Kehakiman tertanggal 29 Oktober 1953 Nomor
J.G.1/2/17 Tentang Permohonan Sementara Oktroi dari Luar Negeri. Sejarah pengaturan paten
di negara yang pernah dijajah dipengaruhi oleh pengaturan paten di negara penjajah. Hal itu
juga yang terjadi di negara-negara persemakmuran Inggris, seperti Australia, Singapura, dan
Malaysia. Sementara itu, sejarah pengaturan paten di Indonesia sangat dipengaruhi oleh
pengaturan paten di Belanda.5
Tanggal 7 Mei 1997, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Paris dengan
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1997 Tentang Perubahan Keputusan
Presiden Nomor 24 Tahun 1979 Tentang Pengesahan Paris Convention for the Protection of
Industrial Property dan Convention Establishing the World Intellectual Property Organization,
dengan mencabut persyaratan (reservasi) terhadap Pasal 1 sampai dengan Pasal 12. Sebagai
konsekuensinya, Indonesia harus memperhatikan ketentuan yang bersifat substantif yang
menjadi dasar bagi pengaturan dalam peraturan perundang-undangan di bidang paten,
disamping merek maupun desain Industri.6 Sejalan dengan perjanjian-perjanjian internasional
yang telah diratifikasi Indonesia, diperlukan penyempurnaan Undang-Undang Paten yaitu
UndangUndang Nomor 6 Tahun 1989 (Lembaran Negara RI Tahun 1989 Nomor 39)
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1997 (Lembaran Negara RI
Tahun 1997 Nomor 30) setelah itu Undang-Undang Paten Nomor 14 Tahun 2001 berlaku yang
saat ini ketentuan tersebut diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten
(UU Paten). Dalam UU Paten, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada
inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan
4
Juldin Bahriansyah. Informasi Paten Sebagai Perangkat Bisnis. Media HKI, Volume IV, Nomor. 2, Jakarta, 2007,
hlm. 22
5
Sudaryat, Sudjana dan Rika Ratna Permata, Op.Cit, hlm. 92
6
Citra Citrawinda Priapantja, Hak Kekayaan Intelektual Tantangan Masa Depan, Gitama Jaya, Jakarta, 2003,
hlm. 14
sendiri invensi tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk
melaksanakannya.7
Salah satu jenis Paten diantaranya adalah Paten Sederhana, yaitu penemuan (yang
selanjutnya disebut invensi) yang memiliki nilai kegunaan lebih praktis daripada invensi
sebelumnya dan bersifat kasat mata atau berwujud (tangible). Adapun invensi yang sifatnya
tidak kasat mata (tangible) seperti metode atau proses, penggunaan, komposisi, dan produk
yang merupakan product by process tidak dapat diberikan perlindungan sebagai paten
sederhana. Meski demikian, sifat baru dalam paten sederhana sama dengan paten biasa yang
bersifat universal.8 Dalam UU Paten juga dijelaskan bahwa Paten sederhana diberikan untuk
Invensi yang berupa produk yang bukan sekadar berbeda ciri teknisnya, tetapi harus memiliki
fungsi/kegunaan yang lebih praktis daripada Invensi sebelumnya yang disebabkan bentuk,
konfigurasi, konstruksi, atau komponennya yang mencakup alat, barang, mesin, komposisi,
formula, penggunaan, senyawa, atau sistem. Paten sederhana juga diberikan untuk Invensi yang
berupa proses atau metode yang baru.9
Paten sederhana diberikan untuk setiap Invensi baru, pengembangan dari produk atau proses
yang telah ada, dan dapat diterapkan dalam industri.10 Ketiga syarat tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
a. Invensi Baru
Yang dimaksud dengan invensi yang baru bukanlah dari tidak ada menjadi ada, akan
tetapi jika pada Tanggal Penerimaan,invensi tersebut tidak sama dengan teknologi yang telah
pernah diungkap atau didaftarkan sebelumnya."Tidak sama" adalah bukan sekadar beda,
tetapi harus dilihat sama atau tidak sama dari fungsi ciri teknis (features) Invensi tersebut
dibanding fungsi ciri teknis Invensi sebelumnya. Padanan istilah teknologi yang
diungkapkan sebelumnya adalah state of the art atau prior art, yang mencakup literatur
Paten dan bukan literatur Paten.
b. Pengembangan Produk atau Proses yang Telah Ada
7
Indonesia, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten, Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI)
Tahun 2016 Nomor 176, dan Tambahan Lembaran Negara (TLN) Nomor 5922, Pasal 1 angka 1.
8
Abdulkadir Muhamad, Op.Cit, hlm. 145
9
Indonesia, Op.Cit, Penjelasan Pasal 3 ayat (2).
10
Ibid., Pasal 3
Yang dimaksud dengan pengembangan produk atau proses yang telah ada adalah paten
sederhana dapat diberikan terhadap suatu invensi yang telah diberikan paten sebelumnya
dengan syarat bahwa paten sederhana tersebut harus memiliki fungsi/kegunaan yang lebih
praktir dari invensi sebelumnya.
c. Dapat diterapkan dalam industri.
Invensi dapat diterapkan dalam industri jika Invensi tersebut dapat dilaksanakan dalam
industri sebagaimana diuraikan dalam Permohonan. Invensi berupa produk yang dapat
diterapkan dalam industri harus mampu dibuat secara berulang-ulang (secara massal) dengan
kualitas yang sama, sedangkan jika Invensi berupa proses maka proses tersebut harus mampu
dijalankan atau digunakan dalam praktik.
Sebuah paten sederhana diberikan untuk Invensi yang berupa produk yang bukan sekadar
berbeda ciri teknisnya, tetapi harus memiliki fungsi/kegunaan yang lebih praktis daripada
Invensi sebelumnya yang disebabkan bentuk, konfigurasi, konstruksi, atau komponennya yang
mencakup alat, barang, mesin, komposisi, formula, penggunaan, senyawa, atau sistem. Paten
sederhana juga diberikan untuk Invensi yang berupa proses atau metode yang baru. Dalam
perkembangannya jumlah paten sederhana di Indonesia cukup banyak, paten sederhana
sepanjang 2016 di DJKI Kemenkumham -berdasarkan penelusuran Klik Legal – berjumlah
441 permohonan. Lima Besar negara asal permohonan pendaftaran paten sederhana adalah
Indonesia (323 permohonan), Taiwan (44 permohonan), Jepang (29 permohonan), China (20
permohonan) dan Thailand (6 permohonan). 11
Dengan jumlah yang cukup banyak permohonan pendaftaran paten sederhana di Indonesia,
bukan berarti telah berjalan dengan baik salah satu kasus yang terjadi yaitu kasus mengenai
paten sederhana dengan nomor 167 K/Pdt.Sus-HKI/2017 antara Indra Mustakim, selaku
11
Kliklegal.com, Ini Lima Besar Negara Asal Permohonan Paten Pada 2016, https://kliklegal.com/ini-lima-besarnegara-asal-permohonan-paten-di-indonesia-pada-2016/, diakses tanggal 27 November 2018.
Pemohon Kasasi dahulu Penggugat (Pemohon Kasasi) dengan Sukianto, selaku Termohon
Kasasi dahulu Tergugat (Termohon Kasasi). Pemohon Kasasi merupakan pengusaha regulator
LPG yang mana produknya telah didaftarkan paten sederhana, pada tanggal 12 April 2010, dan
karena telah terpenuhi pemeriksaan formalitas, maka diberi tanggal Penerimaan 12 April 2010,
Nomor S00201000060, dengan Judul Alat Regulator yang disempurnakan, dan diberi Paten
Sederhana pada tanggal 8 Maret 2011, oleh Direktorat Paten, Direktorat Jenderal Kekayaan
Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. dan diterbitkan Sertifikat Paten
Sederhana Nomor lDS000001072, dengan Judul Alat Regulator LPG Yang Disempurnakan,
sesuai Klaim. Termohon Kasasi sendiri merupakan Pemegang paten sederhana Nomor
IDS000001445 atas nama Tergugat yang berjudul Regulator LPG yang memiliki mekanisme
Penguncian dan telah terdaftar dalam Daftar Umum Paten pada Direktorat Jenderal Kekayaan
Intelektual, Direktorat Paten, Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia R.I. pada tanggal
1 Maret 2016 dengan tanggal penerimaan permohonan 12 Oktober 2012.
Pemohon Kasasi selaku pemegang paten sederhana terhadap Alat Regulator yang
disempurnakan yang diberikan sertifikat pada tanggal 8 maret 2011 merasa dirugikan dengan
adanya paten sederhana yang di pegang oleh Termohon Kasasi yang mana baru mendapatkan
sertifikat paten sederhana pada 1 ,maret 2016 dengan judul Regulator LPG yang memiliki
mekanisme Penguncian, sehingga Pemohon Kasasi mengajukan permohonan pembatalan.
Dalam eksepsinya yang disampaikan pada pengadilan niaga Termohon Kasasi menyampaikan
“bahwa seharusnya Penggugat mengikutsertakan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual,
Direktorat Paten, Kementerian Hukum Dan hak Asasi Manusia R.I sebagai pihak yang ikut
serta dalam gugatan pembatalan Paten Sederhana Nomor IDS000001445, karena sertifikat
paten sederhana atas nama Tergugat merupakan produk yang diterbitkan oleh Direktorat
Jenderal Kekayaan Intelektual, Direktorat Paten, Kementerian Hukum Dan hak Asasi Manusia
R.I berupa Sertifikat Paten terdaftar Nomor IDS000001445, oleh karena Penggugat tidak
mengikutsertakan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Direktorat Paten, Kementerian
Hukum Dan Hak Asasi Manusia R.I. maka membuat gugatan Penggugat kurang pihak, oleh
karenanya gugatan Penggugat yang kurang pihak haruslah ditolak atau setidak-tidaknya tidak
dapat diterima”.
Dalam kasus tersebut Majelis Hakim pada Mahkamah Agung memutuskan bahwa menolak
permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi dengan pertimbangan Bahwa untuk menyelesaikan
perkara ini secara tuntas dan adil perlu ditarik Direktorat Paten sebagai pihak yang dalam
perkara ini tidak ikut digugat; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas,
ternyata bahwa Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara
ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi
yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Indra Muskim tersebut harus ditolak.
Dengan ditolaknya kasus tersebut yang mana objeknya adalah paten sederhana belum
terlihat bagaimanakan perlindungan paten sederhana itu sendiri dikarenakan dalam putusan
kasasi tersebut hanya mempertimbangkan terkait keterlibatan Direktorat Jendral Kekayaan
Intelektual dalam suatu perkara.
2. Perumusan Masalah
a. Bagaimanakan Pengaturan Mengenai Paten Sederhana di Indonesia dan di Jepang?
b. Apakah Putusan Kasasi dengan pertimbangan Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual harus
diikut sertakan telah tepat?
II. Pembahasan
Paten sederhana pada dasarnya adalah penemuan yang memiliki nilai kegunaan lebih praktis
daripada invensi sebelumnya dan bersifat kasat mata atau berwujud (tangible). Adapun invensi
yang sifatnya tidak kasat mata (tangible) seperti metode atau proses, penggunaan, komposisi,
dan produk yang merupakan product by process tidak dapat diberikan perlindungan sebagai
paten sederhana. Meski demikian, sifat baru dalam paten sederhana sama dengan paten biasa
yang bersifat universal.12Paten sederhana muncul karena mengingat banyaknya penemuan atau
teknologi yang bersifat sederhana, baik dalam cara, metode atau proses serta bentuk penemuan
maupun dalam hal pelaksanaannya dapat memperoleh perlindungan paten setelah menjadi
suatu produk. Jangka waktu perlindungan paten sederhana hanya 10 tahun sejak tanggal
penerimaannya dan tidak dapat diperpanjang. Proses pemeriksaan dan kriteria hingga
persyaratan lebih singkat dan mudah daripada paten biasa.13 Paten sederhana diberikan untuk
Invensi yang berupa produk yang bukan sekadar berbeda ciri teknisnya, tetapi harus memiliki
fungsi/kegunaan yang lebih praktis daripada Invensi sebelumnya yang disebabkan bentuk,
konfigurasi, konstruksi, atau komponennya yang mencakup alat, barang, mesin, komposisi,
12
Abdulkadir Muhamad, Op.Cit, hlm.145
Suyud Margono, Hak Milik Industri Pengaturan dan Praktik di Indonesia, Ghalia Indonesia, Bogor, 2011,
hlm.142
13
formula, senyawa, atau sistem. Paten sederhana juga diberikan untuk Invensi yang berupa
proses atau metode yang baru.14
Dalam UU Paten, paten diberikan untuk diberikan untuk Invensi yang baru, mengandung
langkah inventif, dan dapat diterapkan dalam industri. Sedangkan paten sederhana diberikan
untuk setiap Invensi baru, pengembangan dari produk atau proses yang telah ada, dan dapat
diterapkan dalam industri.15 Paten sederhana hanya memiliki masa perlindungan selama 10
tahun sejak tanggal penerimaan.16 Pada Bab IX mengatur secara spesifik mengenai paten
sederhana yaitu paten sederhana hanya diberikan untuk satu invensi. Permohonan pemeriksaan
substantif atas paten sederhana dapat dilakukan bersamaan dengan pengajuan permohonan
paten sederhana atau paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan
permohonan paten sederhana dengan dikenai biaya. Apabila permohonan pemeriksaan
substantif atas paten sederhana tidak dilakukan dalam batas waktu tersebut atau biaya
pemeriksaan substantif atas paten sederhana tidak dibayar, maka permohonan paten sederhana
dianggap ditarik kembali.17
Pengumuman permohonan paten sederhana dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah 3
(tiga) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan paten sederhana. Pengumuman
tersebut dilaksanakan selama 2 (dua) bulan terhitung sejak tanggal diumumkannya permohonan
paten sederhana. Pemeriksaan substantif atas permohonan paten sederhana dilakukan setelah
jangka waktu pengumuman berakhir.18 Menteri wajib memberikan keputusan untuk menyetujui
atau menolak Permohonan Paten sederhana paling lama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak
tanggal penerimaan Permohonan Paten sederhana. Paten sederhana yang diberikan oleh
Menteri dicatat dan diumumkan melalui media elektronik dan/atau media non-elektronik.
Menteri memberikan sertifikat Paten sederhana kepada Pemegang Paten sederhana sebagai
bukti hak.19
Paten sederhana tidak hanya di kenal di Indonesia tapi juga secara global yang disebut
dengan utility model. Utility model adalah hak eksklusif yang diberikan untuk suatu invensi,
yang memungkinkan pemegang hak untuk mencegah orang lain untuk menggunakan invensi
14
Ibid, Penjelasan Pasal 3
Indonesia, Op.Cit, Pasal 3
16
Ibid, Pasal 23
17
Ibid, Pasal 122
18
Ibid, Pasal 123
19
Ibid, Pasal 124
15
tersebut, tanpa seizinnya, untuk jangka waktu tertentu. Definisi dasarnya, mungkin berbeda
pada setiap negara, utility model juga hampir mirip dengan paten. Faktanya, utility model
terkadang mereffer ke “petty patents” atau “innovation pattents”. Perbedaan mendasar antara
utility model dengan paten adalah:
a. Persyaratan untuk mendapatkan utiluty models lebih mudah dibanding paten. Dimana
peryaratan “novelty” hatur selalu dipenuhi, namun untuk “inventive step” atau “nonobviousness” mungkin lebih dipermudah atau bahkan tidak sama sekali. Dalam praktiknya,
perlindungan untuk utility model biasanya diminta untuk suati inovasi yang lebih bersifat
tambahan yang mana tidak dapat dipatenkan.
b. Jangka waktu perlindungan utility model lebih singkat dibanding paten dan berbariasi pada
setiap negara (biasanyanya antara 7 sampai dengan 10 tahun tanpa adanya kesempatan untuk
memperpanjang atau memperbarui).
c. Dalam banyak negara yang menerapkan perlindungan utility model, pemeriksa paten tidak
memeriksa substansi sebelum pendaftaran dilakukan. Ini mengartikan bahwa proses
registrasi lebih simple dan cepat, yang rata-rata berlangsung selama 6 (enam) bulan.
d. Utility model lebih murah dalam hal mendapatkan dan pemeliharaannya.
e. Di beberapa negara, perlindungan utility model hanya dapat diberikan pada beberapa bidan
teknologi dan hanya produk bukan proses.
Utility model sangat cocok untuk UKM yang membuat perbaikan “kecil” dan adaptasi dari
produk yang telah ada. Utility models digunakan terhadap inovasi mekanis. “Innovation
pattent”, baru saja di terapkan di australia, diperkenalkan sebagai hasil penelitian ekstensif ke
dalam kebutuhan usaha kecil dan menengah, dengan tujuan menyediakan “titik awal sistem
kekayaan intelektual yang murah”. Hanya sedikit negara dan wikayah yang memberikan
perlindungan utility model.20
Di Jepang pengaturan mengenai utility model diterapkan dalam The Japanese Utility Model
Act (JUMA) yang melindungi “perangkat yang berkaitan dengan bentuk atau struktur atau
kombinasi dan dapat diterapkan dalam industri”. Mirip dengan hukum utility model di negara
20
WIPO, Protection Innovations by Utility Models What is a Utility Model,
https://www.wipo.int/sme/en/ip_business/utility_models/utility_models.htm>, dikutip pada tanggal 27
November 2018.
lain, metode, seperti proses dalam industri tidak dapat dilindungi dibawah JUMA. Sama seperti
Indonesia perlindungan utility model di jepang memiliki jangka waktu 10 tahun.21
Pengajuan utility model di jepang dapat diberikan untuk paten atau bahkan untuk desain
dengan kondisi tertentu. Namun, dikarenakan issue paten ganda, hal ini sangan tidak
dimungkinkan untuk mendapatkan perlindungan dari subjek paten yang sama dengan
mendaftarkan utility model dan paten. Sama seperti sistem utility model pada jursdiksi lain,
utility model di Jepang dapat diregistrasikan tanpa ada pemeriksaan substantif selama
persyaratan dasar telah terpenuhi seperti apakah kalim diarahkan ke subjek yang dapat
dilindungi atau tidak.22
Karena diberlakukan sistem “non-substantive examination”, penegakan hukum untuk utility
model sangat terbatas dan hanya diperbolehkan setelah memberikan peringatan terhadap
dugaan pelanggaran dengan memberikan yang dinamakan “Report of Utility Model Technical
Opinion”, yang mana merupakan laporan terhadap pendaftarannya, seperti kebaruan dan
langkah inventif, yang dikeluarkan oleh Japan Patent Office. Jika peringattan atas dugaan
pelanggaran tidak didasarkan pada penilaian penilaian yang positif dan utility model akhirnya
tidak valid, pemegang hak dapat bertanggung jawab untuk memberikan kompensasi yang
diakibatkan oleh peringatan dan penegakan hukum tersebut.23
Selain itu, karena kurangnya prosedur pemeriksaan substantif, kesempatan untum
melakukan perbaikan sangat terbatas dan sekaliannya pengajuan utility model terdaftar, hanya
ada satu kesempatan untuk melakukan koreksi pada spesifikasinya, klaim dan gambar,
meskipun pembatalan klaim diperbolehkan dilakukan beberapa kali. Seperti koreksi terbatas
untuk:24
a. Pembatasan ruang lingkup klaim;
b. Koreksi kesalahan;
c. Klarifikasi pernyataan yang ambigu; dan
d. Konversi klaim yang tergantung pada format klaim independen.
21
Francesca Giovannini, Shinya Kimura, Han-Mei Tso and Jude Yi, Petty Patents Around the World,
<https://oshaliang.com/newsletter/petty-patents-around-the-world/> , dikutip pada tanggal 27 November
2018.
22
Ibid.
23
Ibid.
24
Ibid.
Oleh karena itu, terdapat beberapa kelemahan dari sistem utility model di Jepang, dan
pemohon dapat mengetahui bahwa paten lebih menguntungkan dari utility model. Faktanya,
selama tahun 1980an, sekitar 200.000 permohonan pengajuan utility model tiap tahunnya,
namun dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya turun menjadi sekitar 7.000 saja. 25
Meskipun terdapat beberapa kelemahan, pemohon utility model mungkin masih berharga
karena klaim yang dapat diajukan relatif luas, yang mana akan terdaftar tanpa pemeriksaan
substantif,dapat secara mudah mendapatkan produk dari pesaing, tapi pesaing tidak akan segera
mengetahui apakah utility model tersebut telah terdaftar atau belum. Oleh karena itu, pemohon
utility model dapat memiliki nilai strategis jika mengajukan klaim yang tepat, termasuk klaim
yang luas dan cukup sempit diajukan.26
Keputusan majelis hakim yang menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi
berdasarkan putusan nomor 167 K/Pdt.Sus-HKI/2017 yang sebelumnya dijelaskan didasarkan
pada pertimbangan bahwa dari dalil Penggugat tersebut ternyata peranan Direktorat paten untuk
menjelaskan tentang dugaan kekeliruan/ketidaktelitian pemeriksaan substantif paten sederhana
S00201200190 yang didalilkan Penggugat cukup penting dan menentukan. Bahwa untuk
menyelesaikan perkara ini secara tuntas dan adil perlu ditarik Direktorat Paten sebagai pihak
yang dalam perkara ini tidak ikut digugat. Apabila dilihat dalam kasus nomor 167 K/Pdt.SusHKI/2017 tersebut objek yang disengketakan adalah Paten milik Termohon Kasasi yang telah
terdaftar pada tanggal 1 Maret 2016, dengan Nomor IDS 000001445, dengan tajuk “Regulator
LPG yang memiliki mekanisme Penguncian”, yang mana membuat Pemohon Kasasi merasa
dirugikan akibat terdaftarnya paten sederhana tersebut karena sebelumnya Pemohon Kasasi
telah mendapatkan hak paten sederhana yang mana memiliki kesamaan dengan paten sederhana
milik termohon kasasi. Dalam keterangan ahli kasus tersebut Dr. Cita Citrawinda, S.H., MIP
menyatakan bahwa “kedudukan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, adalah suatu
lembaga yang berwenang untuk mengelola administrasi sesuai dengan Ketentuan Pasal 110
Undang Undang Nomor 14/2001, sehingga terhadap eksepsi dari Tergugat, yang tidak
mengikutsertakan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, dan menyatakan kurang pihak
tidak tepat”. Namun tetap Majelis Hakim berpendapat lain.
Keikutsertaan Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual apabila dilihat berdasarkan
pendapat ahli tersebut memang hanya berwenang untuk mengelola administrasi saja yang mana
25
26
Ibid.
Ibid.
hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan substansi perkara ini. Dikarenakan telah adanya
kesamaan yang terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Pemohon Kasasi dirasa cukup
tanpa harus mengikutsertakan Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual. Majelis Hakimpun
dapat meminta secara langsung pembatalan paten sederhana yang mana telah terbukti adanya
kesamaan dan tidak adanya kebaruan terhadap paten sederhana tersebut. Dari hal tersebut
penulis berpendapat putusan nomor 167 K/Pdt.Sus-HKI/2017 tersebut kurang tepat.
Apabila dikaji dalam UU Paten sendiri maka, posisi Direktorat Jendral Hak Kekayaan
Intelektual sendiri tidak ditentukan secara jelas perannya sebagai pengelola administrasi sesuai
dengan Ketentuan Pasal 110 Undang Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten. Sehingga
dalam perkembangannya dengan UU Paten mungkin Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual
Perlu dilibatkan dalam kasus mengenai pembatalan suatu paten maupun paten sederhana.
III.
Kesimpulan
Perlindungan paten sederhana pada dasarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2016 tentang Paten dan secara khusus diatur dalam BAB IX Undang-Undang tersebut.
Pengaturan Paten Sederhana secara internasional disebut sebagai Utility Model yaitu hak
eksklusif yang diberikan untuk suatu invensi, yang memungkinkan pemegang hak untuk
mencegah orang lain untuk menggunakan invensi tersebut, tanpa seizinnya, untuk jangka waktu
tertentu. Penerapan paten sederhana di Jepang sendiri, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan
Indonesia yang mana memberikan perlindungan terhadap paten sederhana (utility model)
selama 10 (sepuluh) tahun.
Mengenai urgensi penarikan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dalam putusan kasasi
Nomor nomor 167 K/Pdt.Sus-HKI/2017, dari penjabaran diatas pada dasarnya Direktorat
Jendral Kekayaan Intelektual berkedudukan sebagai lembaga yang berwenang untuk mengelola
administrasi sesuai dengan Ketentuan Pasal 110 Undang Undang Nomor 14/2001. Sehingga
putusan tersebut yang menerangkan bahwa pejabat Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual
harus diikut sertakan adalah kurang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Abdulkadir Muhamad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual. PT Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2007.
Citra Citrawinda Priapantja, Hak Kekayaan Intelektual Tantangan Masa Depan, Gitama
Jaya, Jakarta, 2003.
Juldin Bahriansyah. Informasi Paten Sebagai Perangkat Bisnis. Media HKI, Volume IV,
Nomor. 2, Jakarta, 2007.
Sudaryat, Sudjana dan Rika Ratna Permata, Hak Kekayaan Intelektual, Bandung: Oase
Media , 2010.
Suyud Margono, Hak Milik Industri Pengaturan dan Praktik di Indonesia, Ghalia Indonesia,
Bogor, 2011,
B. Artikel
Kliklegal.com,
Ini
Lima Besar Negara Asal
Permohonan Paten Pada 2016,
https://kliklegal.com/ini-lima-besar-negara-asal-permohonan-paten-di-indonesia-pada-2016/,
diakses tanggal 27 November 2018.
WIPO, Protection Innovations by Utility Models What is a Utility Model,
https://www.wipo.int/sme/en/ip_business/utility_models/utility_models.htm>, dikutip pada
tanggal 27 November 2018.
Francesca Giovannini, Shinya Kimura, Han-Mei Tso and Jude Yi, Petty Patents Around
the World,<https://oshaliang.com/newsletter/petty-patents-around-the-world/> , dikutip pada
tanggal 27 November 2018.
C. Peraturan
Indonesia, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten, Lembaran Negara
Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2016 Nomor 176, dan Tambahan Lembaran Negara (TLN)
Nomor 5922.
Download