Uploaded by common.user4700

MAKALAH DM (1)

advertisement
DIABETES MELLITUS
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Surveillans Epidemiologi
Disusun Oleh :
Alvina Triana Arindah
113217062
Anita Rizkya Ulfa
113217038
Dwi Kurniasih
113217010
Ita Siti Ningrum
113217005
Laila Mardiyyah
113217025
Siti Nur’aeni
113217017
Wiwit Arina Mursyidati
113217024
Yoga
113217095
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (S-1)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jendral Achmad Yani Cimahi
Cimahi
2018
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM) yang umum dikenal sebagai kencing manis
adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula
darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Diabetes
mellitus merupakan keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal,
yang menimbulkan berbagai
komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada
membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Bilous,
2002).
Jumlah penduduk dunia yang sakit diabetes mellitus cenderung
meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini berkaitan dengan jumlah populasi
meningkat, pola hidup, prevalensi obesitasmeningkat dan kegiatan fisik
kurang (Smeltzer & Bare, 2002). Laporan dari WHO mengenai studi populasi
DM di berbagai Negara, jumlah penderita diabetes mellitus pada tahun 2000
di Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes
mellitus dengan prevalensi 8,4 juta jiwa. Urutan diatasnya adalah India (31,7
juta jiwa), China (20,8 juta jiwa), dan Amerika Serikat (17,7 juta jiwa)
(Darmono, 2007).
Pada tahun 2010 jumlah penderita DM di Indonesia minimal menjadi 5
juta dan di dunia 239,9 juta penderita. Diperkirakan pada tahun 2030
prevalensi diabetes mellitus di Indonesia meningkat menjadi 21,3 juta. Angka
kesakitan dan kematian akibat DM di Indonesia cenderung berfluktuasi setiap
tahunnya sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang mengarah
pada makanan siap saji dan sarat karbohidrat (Depkes RI, 2006).
Jumlah tersebut semakin membuktikan bahwa penyakit Diabetes Mellitus
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Data Departemen
Kesehatan RI menyebutkan bahwa jumlah pasien rawat inap maupun rawat
jalan di Rumah Sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit
endokrin adalah Diabetes mellitus. Organisasi yang peduli terhadap
2
permasalahan Diabetes, Diabetic Federation mengestimasi bahwa jumlah
penderita Diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2008, terdapat 5,6 juta
penderita Diabetes untuk usia diatas 20 tahun, akan meningkat menjadi 8,2
juta pada tahun 2020, bila tidak dilakukan upaya perubahan pola hidup sehat
pada penderita (Tandra, 2008).
Saat ini, banyak orang masih menanggap penyakit Diabetes Mellitus
merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor
keturunan. Namun, setiap orang dapat mengidap Diabetes Mellitus baik tua
maupun muda. Tingginya kadar glukosa darah secara terus menerus atau
berkepanjangan dapat menyebabkan komplikasi diabetes. Berdasarkan
penelitian Murray (2000) tiap 19 menit ada satu orang di dunia yang terkena
stroke, ada satu orang yang buta dan ada satu orang di dunia diamputasi
akibat komplikasi Diabetes Mellitus (Maulana, 2009). Berbagai komplikasi
dapat terjadi jika penatalaksanaan Diabetes Mellitus tidak optimal.
Penatalaksanaan Diabetes Melitus dikenal 4 pilar utama pengelolaan
yaitu: penyuluhan, perencanaan makan, latihan jasmani, dan obat
hipoglikemik. Terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan
penatalaksanaan diabetes. Kepatuhan pasien terhadap prinsip gizi dan
perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pasien diabetes.
Penderita diabetes banyak yang merasa tersiksa sehubungan dengan jenis dan
jumlah makanan yang dianjurkan (Maulana, 2009). Penelitian Setyani (2007)
menggambarkan tingkat ketaatan diet bagi pasien diabetes mellitus. Hasil
penelitiannya menunjukkan hanya 43% pasien yang patuh menjalankan diet
diabetes mellitus. Sebanyak 57% pasien tidak patuh menjalankan diet yang
dianjurkan.
Penderita diabetes mellitus seharusnya menerapkan pola makan
seimbang untuk menyesuaikan kebutuhan glukosa sesuai dengan kebutuhan
tubuh melalui pola makan sehat. Suyono (2002) menyebutkan bahwa dalam
rangka pengendalian kadar glukosa darah 86,2%penderita DM mematuhi pola
diet diabetes mellitus yang diajurkan, namun secara faktual jumlah penderita
diabetes mellitus yang disiplin menerapkan program diet hanya berkisar
23,9%. Hal ini menjadi salah satu faktor risiko memperberat terjadinya
3
gangguan metabolisme tubuh sehingga berdampak terhadap keberlangsungan
hidup penderita diabetes mellitus. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa
diabetes mellitus terjadi akibat tidak seimbangnya asupan energi, karbohidrat
dan protein.
B. Perumusan Masalah
Diabetes Mellitus merupakan jenis penyakit degeneratif yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan pola makan yang mengakibatkan terjadi cacat seumur
hidup, dan gangguan psikologis bagi penderitanya. Penyakit DM ini menjadi
salah satu prioritas program kesehatan dengan arah kebijakan utama
peningkatan gizi masyarakat, penanggulangan dan pencegahan terjadinya
penderita diabetes mellitus. Masih banyak penderita diabetes mellitus yang
belum memahami bagaimana pengaturan diet yang sesuai dan tidak patuh
dalam menjalanka diitnya. Kepatuhan pasien terhadap prinsip gizi dan
perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pasien diabetes.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi mengenai Diabetes Militus
2. Untuk mengetahui klasifikasi Diabetes Militus
3. Untuk mengetahui distribusi frekuensi penderita Diabetes Militus
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian
Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau
gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan
tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.
Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi
produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau
disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin.
(Direktorat P2PTM, 2018)
DM
merupakan
suatu
kelompok
penyakit
metabolik
dengan
karakretistik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya. (Adi Soelistijo dkk, 2015)
Diabetes Melitus (DM) atau disingkat Diabetes adalah gangguan
kesehatan yang berupa kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan
kadar gula darah (glukosa) darah akibat kekurangan ataupun resistensi
insulin. Penyakit ini sudah lama dikenal, terutama di kalangan keluarga,
khususnya keluarga ‘berbadan besar’ (kegemukan/0 bersama dengan gaya
hidup ‘tinggi’. Kenyataanya, kemudian, DM menjadi penakit masyarakat
umum, menjadi beban kesehaaan masyarakat, meluar dan membawa banyak
kematian. (Najib Bustan, 2015)
2.2. Klasifikasi
Dikenal 2 jenis utama DM. Kedua jenis DM dibagi dengan melihat
faktor etiologisnya. (Najib Bustan, 2015)
1.
DM tipe 1 (Tipe I IDDM) disebabkan oleh gangguan sel Beta
pancreas. DM ini berhubungan dengan antibody berupa Islet Cell
Antibodies (ICA), Insulin Autoantibodies (IAA), dan Glutamic Acid
Devarboxylase Antibodies (GADA). Anak-anak penderita IDDM 90%
mempunyai jenis antibody. Ada juga jenis lainnya seperti Gestasional
5
Diabetes. Pada DM tipe 1 terjadi destruksi sel Beta, ditandai dengan
defisiensi insulin absolut.
2.
DM tipe 2 (DDM): yang terjadi dari bervariasi sebab, dari dominasi
insulin resisten relatif sampai defek sekresi insulin sebagai gambaran
perbandingan DM tipe 1 dan tipe 2 dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 2.1
Perbandingan Keadaan DM Tipe 1 dan DM Tipe 2
DM Tipe 1
DM Tipe 2
-
Sel pembuat insulin rusak
-
Lebih sering dari tipe 1
-
Mendadak, berat dan fatal
-
Faktor turunan positif
-
Umumnya usia muda
-
Muncul saat dewasa
-
Insulin
absolut
dibutuhkan -
seumur hidup
-
Bukan turunan tapi autoimun
Biasanya
diawali
(trigger)
dengan kegemukan
-
Komlikasi
kalua
tidak
terkendali
3.
DM gestasional: diabetes karena dampak kehamilan
1.
Muncul pada saat hamil muda, tapi akan normal setelah
persalinan
4.
2.
Risiko pada ibu bias fatal.
3.
Risiko pada janin: cacat bawaan sampai mati.
4.
Memerlukan insulit (sementara waktu).
5.
Punya risiko DM di kemudian hari.
DM tipe lain: bisa berupa defek genetik fungsi insulin, defek genetik
kerja insulin, infeksi, karena obat/kimiawi, sebab imunologis lain,
sindrom genetik yang terkait DM.
1.
Kekurangan kalori dan protein jangka Panjang.
2.
Berkaitan dengan penyakit sistemik lain.
3.
Umumnya kurus
4.
Insulin dibutuhkan absolut.
5.
Karena obat atau zat kimia lain
6.
Faktor keturunan
6
7.
infeksi
2.3. Riwayat Alamiah
2.3.1.Faktor Penentu Diabetes Melitus, yaitu (Dethan, 2013):
1.
Penjamu / Host
Faktor yang terkena atau terinfeksi penyakit. Diabetes
melitus dapat menyerang manusia dan hewan. Pada manusia,
tingkat kejadian akan lebih tinggi pada individu yang mempunyai
riwayat keturunan, dan individu yang memiliki berat badan
berlebih.
Sedangkan pada hewan yang dapat menderita diabetes
melitus contohnya kucing, anjing, kelinci, dan lainnya.
Perjalanan sakitnya kurang lebih sama dengan yang dialami oleh
manusia.
2.
Agent
Agent adalah faktor yang menyebabkan penyakit. Diabetes
melitus bukan penyakit menular yang disebabkan oleh satu agent
yang pasti. Yang dapat menyebabkan diabetes melitus antara
lain:
a.
Pola atau kebiasaan buruk individu
Kebiasaan buruk yang dimaksud misalnya kesalahan
terhadap konsumsi makanan atau minuman, keadaan ini
menimbulkan
ketidakseimbangan
gizi
dan
beresiko
obesitas. Kebiasaan lainnya karena kurangnya aktivitas
fisik atau tidak berolah raga, hal ini membuat kadar gula
dalam darah tetap karena tidak diubah menjadi energi.
b.
Gangguan pankreas maupun resistiensi insulin
Gangguan
pankreas
dimana
pankreas
tidak
dapat
menghasilkan insulin yang cukup untuk mengubah glukosa
menjadi energi. Kerusakan pankreas bisa saja karena
adanya virus yang mempengaruhi dan merusak sel – sel
beta pada pankreas yang berfungsi untuk menghaslikan
insulin. Virus yang diduga adalah Rubella,
7
Coxsackievirus B. Gangguan ini biasanya bersifat bawaan
dan akan diturunkan dari orang tua kepada anaknya.
Resistensi insulin dapat terjadi dimana konsentrasi insulin
dalam tubuh yang sangat tinggi namun tubuh tidak
memberikan respon yang semestinya terhadap kerja insulin,
sehingga seakan – akan tubuh kekurangan insulin.
Resistensi insulin terjadi karena kelainan insulin, dan
biasanya keadaan ini bukan sifat bawaan dari orang tua
melainkan lebih sering terjadi akibat obesitas dan bisa juga
karena pengaruh dari obat – obatan yang memicu
penurunan sistem kerja insulin. Obat yang diduga dapat
memicu diabetes melitus Pentamidin dan Vacor atau obat
racun tikus.
3.
Lingkungan/Environment
Kejadian diabetes melitus lebih tinggi dialami oleh individu
yang berasal dari kondisi sosial ekonomi yang baik. Hal ini
kemungkinan dikaitkan juga dengan obesitas yang terjadi karena
ketidakseimbangan gizi. Prevalensi yang tinggi juga ditunjukkan
oleh penderita wanita dari pada pria, dan komplikasi lebih sering
terjadi pada penderita usia dewasa dari pada anak – anak.
Faktor kebudayaan juga dapat memicu timbulnya diabetes
seperti pada budaya timur yang cenderung banyak mengonsumsi
makanan berkarbohidrat tinggi yang dapat menaikkan kadar gula
darah seseorang. (Dethan, 2013)
2.3.2.Perjalanan Alamiah Diabetes Melitus, yaitu (Dethan, 2013):
1.
Prepatogenesis
Pada kondisi ini, terjadi rangsangan yang menimbulkan
penyakit dan individu tersebut belum dinyatakan diabetes.
Misalnya kejadian obesitas yang mendahului sebelum diabetes.
8
2.
Patogenesis
Dalam kondisi ini, individu mulai merasakan adanya
keluhan – keluhan dan terlihat gejala diabetes. Pada patogenesis
dapat dibagi lagi ke beberapa fase, yaitu:
a.
Fase Subklinis
Pada fase ini, bisa dikatakan timbulnya gejala masih
merupakan gejala yang umum yang belum dapat dikatakan
sakit. Terjadi perubahan kondisi tubuh namun perubahan
itu belum dirasakan oleh individu. Tetapi jika dilakukan
pemeriksaan dengan alat – alat kesehatan, maka akan
ditemukan kelainan tersebut.
b.
Fase Klinis
Pada tahap ini, gejala yang muncul semakin besar dan
berat. Dan biasanya individu baru menyadari penyakitnya
dan baru melakukan pengobatan.
c.
Fase Penyembuhan
Setelah menjalani perawatan dan pengobatan, individu bisa
memasuki fase penyembuhan ataupun meninggal dunia.
Untuk penyakit diabetes melitus, kita tahu bahwa penyakit
ini belum dapat disembuhkan, penyakit ini hanya dapat
dikontol dan diberi pengawasan khusus. Namun, biasanya
individu dengan diabetes yang disertai komplikasi akan
mengalami kecacatan, misalnya pada diabetes dengan
komplikasi stroke. Sedangkan sisanya tetap akan menjadi
carier atau pembawa sifat penyakit dan dapat menularkan
kepada keturunannya.
2.4. Tanda dan Gejala
2.4.1.Gejala klinis
1.
Gejala khas, yaitu: Poliuria (sering kencing), Poliphagia (cepat
lapar), Polidipsia (sering haus), berat badan menurun, dan lemas.
2.
Gejala lain, yaitu: gatal-gatal, mata kabur, gatal di kemaluan
(wanita), impotensia, dan kesemutan. (Najib Bustan, 2015)
9
2.4.2.Gambaran laboratorium
1.
Gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl
2.
Gula darah puasa > 126
mg/dl (puasa: tidak ada masukan
makanan/kalori sejak 10 jam terakhir)
3.
Glukosa plasma 2 jam > 200 mg/dk setelah beban glukosa 75
gram.
Sebagai pedoman dalam diagnosis DM, WHO mengeluarkan
panduan diagnosis DM, sesuai tabel berikut. (Najib Bustan, 2015)
Tabel 2.2
Rekomendasi WHO Kriteria Diagnosis DM dan Hiperglikemia
Intermedia
Jenis Pemeriksaan
Nilai Normal
Diabetes:
-
Glukosa puasa
≥ 7.0 mmol/l (126 mg/dl), atau
-
Glukosa 2 jam pp
≥ 11.1 mmol/l (200 mg/dl)
Impaired Glucose Tolerance
(IGT):
< 7.0 mmol/l (126 mg/dl), dan
-
Glukosa puasa
≥ 7.8 mmo;/l dan
-
Glukosa 2 jam pp
(140 mg/dl dan 2000 mg/dl)
Impaired Fasting Glucose (IFG)
-
Glukosa puasa
6.1 – 6.9 mmol/l (110-125
-
Glukosa 2 jam pp*
mg/dl), dan < 7.8 mmol/l (140
mg/dl)
Keterangan:
+ Glucose plasma vena 2 jam setelah makan 75 gram glucose
* Jika 2 jam pp tidak diukur, status diabetes tidak jelas, dan IGT tidak
bias dikeluarkan.
10
2.5. Kausa dan Faktor Resiko
Berbagai bentuk faktor risiko DM, seperti modified dan unmudifiend
risk factors, risiko sosial, ekonomi, lingkungan, genetik dan gizi. (Najib
Bustan, 2015; Adi Soelistijo dkk, 2015)
2.5.1.Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi
1.
Ras dan etnik
2.
Riwayat kelurga dengan DM
DM tipe 2 adalah hasil interaksi faktor genetik dan keterpaparan
lingkungan. Faktor genetik akan menentukan individu yang
suseptibel atau rentan kena DM. Faktor lingkungan disini
berkaitan dengan dua faktor utama kegemukan (obesitas) dan
kurang aktivitas fisik. Karena itu, kelak kedua faktor ini ternyata
kalau dikendalikan akan memberikan hasil yang efektif dalam
pengendalian diabetes.
3.
Umur: risiko untuk menderiaa intolerasi glukosa meningkat
seiring dengan meningkatnya usia. Usia >45 tahun harus
dilakukan pemeriksaan DM.
Prevalensi DM berhubungan dengan umur, dimana makin
meningkat umur menunjukan peningkatan prevalensinya, hingga
kelompok usia lanjut. DM tipe 1 kebanyakan ditemukan pada
anak atau usia muda, minimal sebelum usia 35 tahun, karena
merupakan gangguan autoimmune (autoimmune disorder) yang
ditandai dengan kerusakan sel-sel Beta Langerhans pancreas.
Sebaliknya, DM tipe 2 akan kebanyakan menyerang usia lanjut,
karena berhubungan dengan degenerasi atau kerusakan organ dan
faktor gaya hidup.
4.
Pengalaman dengan diabetic intrauterine
Pengalaman dengan diabetic intrauterine ditandai dengna riwayat
kehamilan abnormal, berupa abortus berulang-ulang, lahir mati,
malformasi, toxwmia gravidarum, berat badan bayi lebih 4 kg,
glusuria renal waktu hamil dan diabetiks gestasional
11
5.
Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg.
bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih
tinggi dibanding dengan bayi yang lahir dengan BB normal.
6.
Riwayat minum susu formula (cow milk) pada waktu bayi
Kalau susu sapi dicurigai sebagai risiko, DM, sebaliknya dengan
ASI. ASI eksklusif, minimal 2 bulan, ternyata berhubungan
dengan reduksi 50% DM nantinya di kehidupan dewasa.
2.5.2.Faktor risiko yang bisa dimodifikasi
1.
Berat badan lebih (BBR > 110% atay IMT > 25 kg/m)
2.
Kurangnya aktivitas fisik
3.
Hipertensi (<140/90 mmHg): 2/3 penderita DM menderita
hipertensi.
DM
tambah
hipertensi
mempertinggi
risiko
komplikasi (jantung, stroke, ginjal, dan mata).
4.
Dislipidemia (HDL <35 mg/dL dan/atau trigliserida >250 mg/dL)
Peningkatan kolesterol akan menyebabkan penyakit jantung dan
pembuluh darah segera mendampingi DM. Kolesterol berbahaya
jika tinggi >200mg% dan HDL ≤35mg%.
5.
Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi glukosa dan
rendah
serat
akan
meningkatkan
risiko
menderita
prediabetes/intoleransi glukosa dan DMT2)
2.5.3.Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes melitus
1.
Penderita Polycystic Ovari Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis
lain yang terkait dengan resistensi insulin
2.
Penderita sindrom metabolic yang memiliki riwayat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu
(GDPT) sebelumnya.
3.
Penderita yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, seperti
stroke, PJK, atau PAD (Peripheral Arterial Diseases)
12
2.6. Besar Masalah
Jumlah penduduk Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 240 juta.
Menurut data RISKESDAS 2007, prevalensi nasional DM di Indonesia
untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%. Berdasarkan data IDF 2014, saat
ini diperkirakan 9,1 juta orang penduduk didiagnosis sebagai penyandang
DM. dengan angka tersebut Indonesia menempati peringkat ke-5 di dunia,
atau naik dua peringkat dibandingkan data IDF tahun 2013 yang menempati
peringkat ke-7 di dunia dengan 7,6 juta orang penyandang DM.
Masalah yang dihadapu Indonesia antara lain belum semua
penyandang DM mendapatkan akses ke pusat pelayanan kesehatan secara
memadai. Demikian juga ketersediaan obat hipoglikemik oral maupun
injeksi pada layanan primer (Puskesmas) serta keterbatasan sarana/prasarana
di beberapa pusat pelayanan kesehatan. Demikian juga kemampuan petugas
kesehatan yang belum optimal dalam penanganan kasus-kasus DM, baik
dalam aspek preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitataif. (Adi Soelistijo
dkk, 2015)
2.7. Strategi Pengendalian dan Pencegahan
2.7.1.Adapun
program
penanggulangan/pengendalian
Diabetes
bisa
dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya (Direktorat
P2PTM, 2018):
1.
Pemeriksaan Kesehatan Secara Teratur
Pedulilah akan kesehatan Anda. Banyak orang mengabaikan
gejala tipe 2 karena merasa badan sehat-sehat saja. Diabetes yang
tidak dideteksi secara dini dapat menyebar ke organ lain dan
menimbulkan penyakit komplikasi. Kalau anda ingin yakin
terbebas, maka jalan satu-satunya yang paling efektif yaitu
melakukan pemeriksaan kesehatan. Tes atau screening bisa
dilayani di setiap fasilitas penyedia kesehatan, seperti fasilitas
kesehatan, tempat praktek dokter, klinik atau laboratorium.
13
2.
Menjalani Pengobatan Secara Intensif
Tujuan pengobatan jelas untuk membuat gula darah mendekati
normal ataupun menjadi normal. Walaupun pengobatan dijalani
secara intensif, pemilihan makanan dan aktifitas sangatlah
menentukan akan normalnya gula darah. Jangan membeli obat
bebas, karena obat diabetes hanya boleh ditebus dengan resep
dokter. Obat anti diabetes ada yang dimasukkan secara oral
berupa tablet ataupun obat dalam bentuk injeksi. Insulin yang
diinjeksikan wajib untuk penderita Diabetes tipe 1 sedangkan
untuk tipe 2 digunakan obat oral.
3.
Aktif Secara Fisik
Setelah obat, maka penderita Diabetes haruslah aktif secara fisik,
artinya segala kegiatan fisik haruslah dilakukan agar membantu
kadar gula dalam darah keluar dan darah kembali memproduksi
insulin. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang punya
aktifitas fisik punya resiko lebih kecil sebanyak 30-50%
dibandingkan dengan individu pasif.
4.
Memperbaiki Kualitas Makanan
Penderita Diabetes ataupun Anda yang ingin bebas haruslah
mempunyai diet seiring dengan itu, kualitas makanan sangat
mendapatkan
peranan
penting
bagi
penderita
Diabetes.
Perbanyak makanan sehat yang dianjurkan oleh para penderita
Diabetes. Kurangi gula, minyak, dan semua makanan berlemak
lainnya. Ingatlah untuk selalu mengikutkan buah ke dalam menu
Anda. Gangguan kulit serta infeksinya mengharuskan penderita
Diabetes untuk wajib perhatikan.
5.
Dukungan Masyarakat
Masyarakat bisa memberikan dukungan untuk para penderita
Diabetes dengan aktivitas yang berhubungan dengan fisik, seperti
berjalan kaki menelusuri taman. Selain itu, masyarakat perlu
ditanamakan tentang kesadaran untuk mengobati Diabetes serta
komplikasinya. Advokasi akan penyakit Diabetes pun harus
14
dilakukan juga sehingga aktifitas fisik menjadi semakin
bertambah lagi peminatnya. Tempat-tempat publik pun harus
turut mendukung Indonesia bebas Diabetes. Penyediaan gula non
kalori harus lebih diperbanyak. Para penderita Diabetes pun
layak mendapat perlakuan yang sama dengan manusia yang
lainnya.
2.7.2.Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabete Melitus Tipe 2
1.
Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu
dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan
bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik.
Materi edukai terdiri dari materi edukai tingkat awal dan materi
edukasi tingkat lanjutan. (Adi Soelistijo dkk, 2015)
a.
Materi edukasi pada tingkat awal di Pelayanan Kesehatan
Primer yang meliputi:
1)
Materi tentang perjalanan penyakit DM.
2)
Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan
DM secara berkelanjutan
3)
Penyulit DM dan risikonya
4)
Intervensi non-farmakologis dan farmakologis serta
target pengobatan
5)
Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan
obat antihiperglikemia oral atau insulin serta obatobatan lain.
6)
Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil
glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika
pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia)
7)
Mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia
8)
Pentingnya latihan jasmani yang teratur
9)
Pentingnya perawatan kaki
10) Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan
15
b.
Materi edukasi pada tingkat lanjut dilaksanakan di
Pelayanan Kesehatan Sekunder dan/atau Tersier, yang
meliputi:
1)
Mengenal dan mencegah penyulit akut DM
2)
Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM
3)
Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain.
4)
Rencana untuk kegiatan khusus (contoh: olahraga
prestasi).
5)
Kondisi khusus yang dihadapi (contoh: hamil, puasa,
hari-hari sakit).
6)
2.
Pemeliharaan/perawatan kaki.
Terapi Nutrisi Medis (TNM)
TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan
DMT2 secara komprehensif. Kunci keberhasilannya adalah
keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli
gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan keluarganya).
Guna mencapai sasaran terapi TNM sebaiknya diberikan sesuai
dengan kebutuhan setiap penyandang DM.
Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM hamper
sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu
makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan
zat gizi masing-masing individu. Penyandang DM perlu
diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal
makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada
mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi
insulin atau terapi insulin itu sendiri. (Adi Soelistijo dkk, 2015)
3.
Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DMT2 apabila tidak disertai adanya nefropati.
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan
secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu selama sekitar 30-45
menit, dengan total 150 menit perminggu. Jeda antar latihan tidak
16
lebih dari 2 hari berturut-turut. Dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan jasmani. Apabila
kadar glukosa darah <100 mg/dL pasien harus mengkonsumsi
karbohidrat terlebih dahulu dan bila >250 mg/dL dianjurkan
utnuk menunda latihan jasmani. Kegiatan sehari-hari atau
aktivitas sehari-hari bukan termasuk dalam latihan jasmani
meskipun dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari. latihan
jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan
berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan
memperbaiki kedali glukosa darah. Latihan jasmani yang
dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersigat aerobic dengan
intensita sedang (50-70% denyut jantung maksimal) seperti: jalan
cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Denyut jantung
maksimal dihitung dengan cara mengurangi angka 220 dengan
usia pasien.
Pada
penderita
DM
tanpa
kontraindikasi
(contoh:
osteoarthritis, hipertensi yang tidak terkontrol, retinopati,
nefropati) dianjurkan juga melakukan resistance training (latihan
beban) 2-3 kali/perminggu sesuai dengan petunjuk dokter.
Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status
kesegaran jasmani. Intensitas latihan jasmani pada penyandang
DM yang relatif sehat bisa ditingkatkan, sedangkan pada
penyandang DM yang disertai komplikasi intensitas latihan perlu
dikurangi dan disesuaikan dengan masing-masing individu. (Adi
Soelistijo dkk, 2015)
4.
Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan Bersama dengan pengaturan
makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi
farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan. (Adi
Soelistijo dkk, 2015)
17
2.7.3.Pencegahan Diabete Melitus Tipe 2
1.
Pencehan Primer
Pencegahan primer dilakukan dengan tindakan penyuluhan dan
pengelolaan yang ditunjukan untuk kelompok masyarakat yang
mempunyai risiko intggi dan intoleransi glukosa. Materi
penyuluhan meliputi antara lain (Adi Soelistijo dkk, 2015):
a.
Program penurunan berat badan
1)
Diet sehat
2)
Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat
badan ideal
3)
Karbohidrat
kompleks
merupakan
pilihan
dan
diberikan secara terbagi dan seimbang sehingga tidak
menimbulkan puncak (peak) glukosa darah yang
tinggi setelah makan
4)
Komposisi diet sehat mengndung sedikit lemat jenuh
dan tinggi serat larut
b.
Latihan jasmani
Latihan jasmani yang dianjurkan:
a)
Latihan
dikerjakan
menit/minggu
sedikitknya
dengan
latihan
selama
aerobik
150
sedang
(mencapai 50-70% denyut jantung maksimal), atau 90
menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai
>70% masimal)
b)
Latihan
jasmani
dibagi
menjadi
3-4
kali
aktivitas/minggu
c.
Menghentikan kebiasaan merokok
d.
Pada kelompok dengan risiko tinggi diperlukan intervensi
farmakologis
2.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau
menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah
terdiagnosis DM. Tindakan pencegahan sekunder dilakukan
18
dengan pemberian pengobatan yang optimal. Melakukan deteksi
dini adanya penyulit merupakan bagian dari pencegahan
sekunder. Tindakan ini dilakukan sejak awal pengelolaan
penyakit DM. Program penyuluhan memegang peran penting
untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program
pengobatan sehingga mencapai target terapi yang diharapkan.
Peyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu
selalu diulang pada pertemuan berikutnya. (Adi Soelistijo dkk,
2015)
3.
Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang
diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah
terjadinya kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas
hidup. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin,
sebelum kecacatan menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap
dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi
penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan
untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.
Pencegahan
tersier
memerlukan
pelayanan
kesehatan
komprehensif dan terintegrai antar disiplin yang terkait, terutama
di rumah sakit rujukan. Kerjasama yang baik antara para ahli
diberbagai disiplin (jantung, ginjal, mata, saraf, bedah ortopedi,
bedah vascular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, podiatris, dan
lain-lain) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan
pencegahan tersier. (Adi Soelistijo dkk, 2015)
19
BAB III
ANALISIS
Berdasarkan data yang di hasilkan dari hasil pemeriksaan langsung pada pasien diabetes
militus di puskesmas soreang pada tahun 2017 sebanyak 46 orang diantaranya .
20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Definisi dan Klasifikasi Diabetes Melitus
Diabetes mellitus adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya
kadar gula dalam darah akibat gangguan sekresi insulin. Diabetes mellitus di
sebut juga penyakit kencing manis. Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
definisi kencing manis adalah penyakit yang menyebabkan air kencing yang
di produksi bercampur zat gula. Adanya kadar gula yang tinggi dalam air
kencing dapat menjadi tanda-tanda gejala awal penyakit Diabetes melitus.
Secara umum, tipe penyakit diabetes melitus dibedakan menurut
penyebab,
berbagai
macam
jenis
masalahnya,
dan
juga
metode
penanganannya. Ada 3 macam tipe penyakit diabetes melitus yang
sebaiknya diwaspadai. Ketiga jenis penyakit DM tersebut adalah DM tipe 1,
DM tipe 2, dan juga DM gestasional.
21
4.2 Hasil Surveilans
4.2.1. Distribusi Berdasarkan Bulan
Distribusi Frekuensi Penderita Diabetes Melitus
Prolanis berdasarkan Bulan di Wilayah kerja
Puskesmas Soreang Tahun 2017
10
9
9
Jumlah Penderita
8
7
7
6
6
6
6
5
4
4
3
3
2
2
2
0
0
июл.17
1
июн.17
1
0
дек.17
ноя.17
окт.17
сен.17
Bulan
авг.17
май.17
апр.17
мар.17
фев.17
янв.17
дек.16
0
Berdasarkan Distribusi Frekuensi perbulan penderita Diabetes Melitus
Prolanis di Wilayah Kerja Puskesmas Soreang, terbanyak berada pada bulan
Januari 2017 berjumlah 9 orang , di Bulan Februari 2017 sebanyak 7 orang,
Bulan Desember 2016, Maret 2017, dan april 2017 sebanyak 6 orang, Bulan
Agustus 2017 sebanyak 4 orang, Bulan September 2017 sebanyak 3 orang,
pada Bulan Mei 2017 dan Desember 2017 sebanyak 2 orang dan pada bulan
November 2017 sebanyak 1 orang.
22
4.2.2. Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin
Distribusi frekuensi jumlah penderita DM Prolanis Berdasarkan Jenis Kelamin Di
Wilayah Kerja Puskesmas Soreang Tahun 2017
laki-laki
33%
perempuan
67%
Berdasarkan Distribusi jenis kelamin, penderita Diabetes Melitus Prolanis di
wilayah kerja Puskesmas Soreang, 67% penderita berjenis kelamin
perempuan dan 33% penderita berjenis kelamin laki-laki.
4.2.3. Distribusi Berdasarkan Usia
Distribusi frekuensi jumlah penderita DM Prolanis Berdasarkan Usia Di Wilayah
Kerja Puskesmas Soreang Tahun 2017
13%
9%
37%
36-45 tahun
46-55 tahun
56-65 tahun
>65 tahun
41%
Berdasarkan distribusi Usia penderita Diabetes Melitus Prolaris di wilayah
Kerja Puskesmas Soreang. Bahwa penderita berusia 56-65 tahun sebanyak
19 penderita ( 41%), 46-55 tahun sebanyak 17 penderita (37%), >65 tahun
sebanyak 6 penderita ( 13%), dan 36-45 tahun sebanyak 4 penderita (9%).
23
4.2 Kejadian Diabetes Melitus Prolaris di wilayah Kerja Puskesmas
Soreang
Surveilans Epidemiologi Kejadian Diabetes Melitus Prolanis di
wilayah kerja Puskesmas Soreang pada Bulan Desember 2016 sampai
Desember 2017 berdasarkan bulan. Pada awal Desember 2016 terdapat 6
penderita Diabetes Melitus, dan terdapat 9 penderita pada bulan Januari
2017, lalu 7 penderita pada bulan februari 2017, 6 penderita pada bulan
Maret dan April 2017, 2 penderita pada bulan Mei dan Desember 2017, 4
penderita pada bulan Agustus 2017, kemudian 3 penderita pada bulan
September 2017 dan 1 penderita pada Bulan November 2017. Sehingga
jumlah keseluruhan adalah 46 kasus Diabetes Melitus Prolanis.
Berdasarkan distribusi Jenis kelamin penderita Diabetes Melitus
Prolanis di wilayah Puskesmas Soreang menunjukkan 67 % penderita
Diabetes Melitus Prolanis adalah Perempuan.
Berdasarkan distribusi Usia penderita Diabetes Melitus Prolanis di
wilayah Puskesmas Soreang yang berusia 36-45 sebanyak 4 penderita,
berusia 46-55 sebanyak 17 penderita, berusia 56-65 sebanyak 19 penderita
dan berusia diatas 65 tahun sebanyak 6 penderita.
4.3 Pembahasan
a. Usia
Berdasarkan hasil data ini menunjukkan presentase usia mayoritas
berada pada rentang usia 56-65 tahun. Soegondo ( 2011)
menjelaskan bahwa usia merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kesehatan seseorang. Di negara berkembang
kebanyakan penderita Diabetes Melitus berusia antara 45 sampai 64
tahun, yang merupakan golongan usia yang masih sangat produktif.
Mubarok (2007) dan Notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa
usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pengetahuan, yaitu dengan bertambahnya usia akan terjadi
perubahan pada aspek fisik dan psikologis ( mental) seseorang yang
24
nantinya dapat mempengaruhi pengetauan seseorang. Pengetahuan
yang cukup, selanjutnya akan dapat mengubah sikap maupun
perilakunya. Apabila dihubungkan usia dengan pengetahuan
penderita Diabetes Melitus tentang diet atau pengaturan makan,
maka semakin bertambah usia, akan semakin banyak pengalaman
yang dimiliki oleh penderita diabetes melitus, semakin banyak
informasi yang diperoleh dan semakin memahami perlunya
pengaturan makan untuk pencegahan komplikasi lebih lanjut.
b. Jenis Kelamin
Kartono ( dalam Astuti, 2009) mengemukkan bahwa bahwa jenis
kelamin merupakan kualitas yang menentukan individu itu laki-laki
atau perempuan yang menyatakan bahwa perbedaan secara anatomis
dan fisiologis pada manusia menyebabkan perbedaan struktur
tingkah laku dan struktur aktivitas antara pria dan wanita.
c. Upaya Penanggulangan
Permasalahan yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Soreang
tersebut meliputi:
1. Masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor resiko
diabetes melitus
2. Masih kurangnya penyuluhan terhadap masyarakat tentang Diabetes
Melitus dan perawatan di rumah pasien Diabetes Melitus
3. Masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kepatuhan
minum obat
4. Kurangnya minat masyarakat untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan
Berdasarkan permasahan tersebut, dilakukan upaya penanggulangan
sebagai berikut :
1. Dilakukan penyuluhan secara rutin setiap bulan mengenai Diabetes
Melitus dan Hipertensi
25
2. Dilakukan senam Diabetes Melitus dan Hipertensi secara rutin setiap
bulan
3. Dilakukan penyuluhan tentang kepatuhan Minum Obat
4. Dilakukan penyuluhan tentang cara perawatan di rumah pasien
Diabetes Melitus
5. Melakukan surveilans ketat
26
BAB V
PENUTUPAN
5.1
Kesimpulan
5.1.2
Definisi diabetes Melitus
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, DM
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakretistik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. (Adi Soelistijo dkk, 2015).
5.1.3
Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi dikenal 2 jenis utama DM. Kedua jenis DM dibagi
dengan melihat faktor etiologisnya. (Najib Bustan, 2015) :
1.
DM tipe 1 (Tipe I IDDM) disebabkan oleh gangguan sel Beta
pancreas. DM ini berhubungan dengan antibody berupa Islet
Cell Antibodies (ICA), Insulin Autoantibodies (IAA), dan
Glutamic Acid Devarboxylase Antibodies (GADA). Anak-anak
penderita IDDM 90% mempunyai jenis antibody.
2.
DM tipe 2 (DDM): yang terjadi dari bervariasi sebab, dari
dominasi insulin resisten relatif sampai defek sekresi insulin.
Strategi program penanggulangan/pengendalian Diabetes bisa
dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya (Direktorat
P2PTM, 2018):
1. Pemeriksaan Kesehatan Secara Teratur
2. Menjalani Pengobatan Secara Intensif
3. Aktif Secara Fisik
4. Memperbaiki Kualitas Makanan
5. Dukungan Masyarakat
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit degeneratif
yang dapat bertambah parah apabila tidak diimbangi dengan
27
pengaturan diet yang baik. Pengelolaan Diabetes Mellitus (Tipe 2)
salah satunya dengan diet seimbang.
Dalam melaksanakan diet, penderita DM tipe 2 harus mengikuti
anjuran 3J, yaitu jumlah makanan, jenis makanan dan jadwal
makanan.
Jenis dan jumlah makanan yang banyak mengandung gula serta
jadwal makan yang tidak teratur dapat meningkatkan kadar gula
darah. Jumlah kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal,
bergantung pada jenis kelamin, umur, aktivitas, dan status gizi.
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan
kalori wanita sebesar 25kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30kal/kg
BB.
Penurunan kebutuhan energi untuk usia > 40 tahun menurut
PERKENI tahun 2011 dengan ketentuan usia 40-59 tahun, kebutuhan
energinya
dikurangi
5%
dan
usia
60-69
tahun
kebutuhan
energinya dikurangi 10%, usia >70 kebutuhan energinya dikurangi
20%
dari
kebutuhan energy
5.1.3 Distribusi Frekuensi Penderita DM
Surveilans Epidemiologi Kejadian Diabetes Melitus Prolanis di
wilayah kerja Puskesmas Soreang pada Bulan Desember 2016 sampai
Desember 2017 berdasarkan bulan. Pada awal Desember 2016
terdapat 6 penderita Diabetes Melitus, dan terdapat 9 penderita pada
bulan Januari 2017, lalu 7 penderita pada bulan februari 2017, 6
penderita pada bulan Maret dan April 2017, 2 penderita pada bulan
Mei dan Desember 2017, 4 penderita pada bulan Agustus 2017,
kemudian 3 penderita pada bulan September 2017 dan 1 penderita
pada Bulan November 2017. Sehingga jumlah keseluruhan adalah 46
kasus Diabetes Melitus Prolanis.
Berdasarkan distribusi Jenis kelamin penderita Diabetes
Melitus Prolanis di wilayah Puskesmas Soreang menunjukkan 67 %
28
penderita Diabetes Melitus Prolanis adalah Perempuan. Berdasarkan
distribusi Usia penderita Diabetes Melitus Prolanis di wilayah
Puskesmas Soreang yang berusia 36-45 sebanyak 4 penderita, berusia
46-55 sebanyak 17 penderita, berusia 56-65 sebanyak 19 penderita
dan berusia diatas 65 tahun sebanyak 6 penderita.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan didapatkan saran :
1.
Perlu adanya penyuluhan tentang pentingnya kontrol gula darah
pada setiap individu yang beresiko.
2.
Dengan adanya perkembangan jaman yaitu dengan pola hidup
dan perilaku yang salah maka akan memicu timbulnya DM, maka
dari itu perlu pencegahan sedini mungkin dalam menghindari
penyakit DM dengan cara melakukan pola makan dan pola hidup
yang sehat.
3.
Perlu adanya pembatasan makanan dengan indeks glikemik
tinggi karena indeks glikemik yang tinggi pada makanan dapat
mempengaruhi kadar glukosa darah 2 jam setelah makan. Contoh
makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi yaitu roti putih,
minuman bersoda, dan nasi putih.
29
DAFTAR PUSTAKA
Adi Soelistijo, Soebagijo. dkk. 2015. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. Pengurus
Bessar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB. PERKENI),
Diakses di http://pbperkeni.or.id/doc/konsensus.pdf pada tanggal 20
Mei 2018 pukul 8:36 WIB
Dethan, Christin. 2013. Peranan Faktor Host, Agent, dan Lingkungan Pada
Terjadinya Penyakit Diabetes Melitus, Perjalanan Alamiah dan
Tahap–Tahap Pencegahan,
Diakses
di
https://christinedethan.wordpress.com/ 2013/04/13/peranan-faktorhost-agent-dan-lingkungan-pada-terjadinya-penyakit-diabetesmelitus-perjalanan-alamiah-dan-tahap-tahap-pencegahan/
Pada
Tanggal 20 Mei 2018
Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. 2018.
Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, diakses di
http://www.p2ptm.kemkes.go.id/informasi-p2ptm/penyakitdiabetes-melitus-dan-gangguan-metabolik pada tanggal 20-05-2018
pukul 20:25 WIB
Najib Bustan, M. 2015. Manajemen Pengendalian Penyakit Tidak Menular.
Jakarta: Rineka Cipta.
30
LAMPIRAN
3.1 Rekap Data Pasien Dm Club Prolanis Puskesmas Soreang Tahun 2017
Jan-17
UMU
R
L/
P
BULAN
MULAI
TERDAFT
AR
DIAGNO
SA
SATI
53
P
Des-16
I10; DM
2
AYAT
RUKAYAT
67
L
Des-16
I10+DM
3
YAYAH K
59
P
Des-16
E11
4
KUSMIATI
56
P
Des-16
I10+DM
5
IIN INDRIYANI
45
P
Des-16
DM
6
DEDE RUHYAT
61
L
Des-16
DM
7
KOSWARA
42
L
Jan-17
DM
8
TIA
56
L
Jan-17
DM
9
YATI MARYATI
54
P
Jan-17
DM
10
POPON W
68
P
Jan-17
I10 + DM
11
JUJU JUARIAH
49
P
Jan-17
I10+DM
12
DUHARMAN
59
L
Jan-17
I10+DM
13
EUIS BADRIAH
62
P
Jan-17
DM
14
ENDANG
SANUSI
67
L
Jan-17
DM
15
AI ARIYANAH
45
P
Jan-17
DM
N
O
NAMA
PESERTA
1
GD
P
GD
S
Feb-17
GD
P
GD
S
Mar-17
GD
P
GD
S
Apr-17
GD
P
GD
S
May-17
GD
P
GD
S
Jun-17
GD
P
GD
S
Jul-17
GD
P
GD
S
Aug-17
GD
P
GD
S
Sep-17
GD
P
GD
S
Oct-17
GD
P
GD
S
Nov-17
GD
P
GD
S
Dec-17
GD
P
GD
S
14
6
10
2
12
9
16
6
10
7
13
4
15
4
23
2
12
9
14
3
25
2
15
6
17
2
12
7
11
4
14
3
93
15
1
15
2
11
7
12
7
95
17
2
13
7
23
5
12
6
20
5
14
3
29
1
28
2
27
5
15
1
83
10
2
13
4
18
1
92
10
7
22
6
16
2
11
4
15
7
20
0
16
5
21
0
15
5
10
2
13
2
31
16
TISNA
78
L
Feb-17
DM
17
DADAH
53
P
Feb-17
DM
18
NORA
59
P
Feb-17
DM
19
ENA SUMPENA
58
L
Feb-17
DM
20
YAYAT
56
L
Feb-17
DM
21
ROKAYAH
57
P
Feb-17
DM
22
SUNDARI SINTA
50
P
Feb-17
I10 + DM
23
IDA ROSIDA
47
P
Mar-17
DM
24
EUIS KARTINI
42
P
Mar-17
DM
25
EUTIK SUMIATI
57
P
Mar-17
DM
26
WAHYUDIN
66
L
Mar-17
I10;DM
27
BEBEN SYA'BAN
72
L
Mar-17
DM
28
ASEP KOMAR
57
L
Mar-17
DM
29
YATI
62
P
Apr-17
I10;DM
30
CUCU HERLINA
62
P
Apr-17
DM
64
P
Apr-17
DM
52
L
Apr-17
DM;I10
46
P
Apr-17
DM
31
32
33
NANING
KURNIASIH
DADANG
KOSASIH
IMAS
NURJANAH
34
Hj. HALIMAH
65
P
Apr-17
DM
35
IRAH SAMIRAH
48
P
Mei-17
I10+DM
36
YEYE
INDRIYANI
49
P
Mei-17
DM
37
JAYADI
55
L
Agusrus-17
DM
38
RADEN DUDI
54
L
Agusrus-17
I10+DM
39
YANI CARYANI
48
P
Agusrus-17
I10+DM
14
3
23
5
30
7
20
5
10
5
16
8
16
5
15
2
17
8
23
1
23
1
18
3
23
9
19
3
18
5
13
6
12
6
19
0
15
6
13
5
13
5
22
9
23
2
17
9
10
5
15
7
10
7
19
3
17
9
17
9
17
8
19
3
15
2
16
2
12
7
13
3
13
0
15
2
10
5
21
2
17
3
11
0
15
1
17
2
20
7
21
0
14
1
11
6
17
6
11
9
17
9
17
9
11
5
40
0
14
1
12
7
18
5
30
3
15
9
12
0
12
0
19
7
39
0
24
3
13
5
17
5
13
4
16
5
17
3
17
2
32
40
ENTIN S
47
p
Agusrus-17
DM
41
IMAS TETI
55
P
Sep-17
DM
42
MIMIN
50
P
Sep-17
DM
43
IMAS SAROH
48
P
Sep-17
I10+DM
44
ADE SUKAESIH
48
P
Nov-17
I10+DM
45
WAI KAMILAH
58
P
Des-17
DM
46
IKAH DAIKAH
52
P
Des-17
I10+DM
17
2
12
1
14
9
21
5
30
0
12
1
10
1
17
6
14
7
10
1
18
9
20
0
17
1
17
0
12
7
15
2
21
0
13
7
18
5
15
2
33
Download