Manag Mutu Perumahan

advertisement
KAJIAN TERHADAP IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU
PADA PENGELOLAAN PROYEK PERUMAHAN
Muhammad Suryo Nugroho, Muhammad Bisri, M. Ruslin Anwar
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Malang
Jl. MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi manajemen mutu pada pengelolaan proyek perumahan
yang menggunakan sistem manajemen mutu (SMM) ISO dan yang tidak menggunakan SMM ISO. Penelitian
ini dilakukan melalui metode survey dengan pihak manajemen dari beberapa perusahaan pengembang
perumahan di kota surabaya. Dari 65 kuesioner yang disebar, yang berhasil dikumpulkan adalah sebanyak 60
kuesioner. Penelitian ini menggunakan metode analisa kriteria interpretasi skor dan uji – t. Variabel yang
digunakan adalah sistem manajemen mutu, tanggung jawab manajemen, pengelolaan sumber daya, realisasi
produk, pengukuran, analisis dan perbaikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi manajemen
mutu pada pengelolaan proyek perumahan adalah, perusahaan pengembang perumahan yang menggunakan
SMM ISO prosentase pilihan responden terhadap semua sub variabel yang paling banyak dipilih adalah
klasifikasi “baik”. Sedangkan yang tidak menggunakan SMM ISO, prosentase pilihan responden terhadap
semua sub variabel yang paling banyak dipilih adalah klasifikasi “cukup baik”. Untuk perbedaan
implementasi manajemen mutu pada pengelolaan proyek perumahan yang menggunakan SMM ISO dan yang
tidak menggunakan SMM ISO adalah secara signifikan ada perbedaan implementasi visi, misi, sistem
manajemen mutu, tanggung jawab manajemen, pengelolaan sumber daya, realisasi produk, pengukuran, analisis
dan perbaikan.
Kata kunci : sistem manajemen mutu, implementasi manajemen mutu
PENDAHULUAN
Saat ini dunia Jasa Konstruksi
perumahan di Indonesia harus berhadapan
dengan
beberapa
tantangan
besar.
Tantangan
pertama,
yaitu
adanya
perkembangan teknologi yang terjadi
dengan sangat cepat, tantangan kedua
adalah era globalisasi, dan yang ketiga
adalah harapan pelanggan.
Akibat dari tiga tantangan di atas,
perusahaan - perusahaan jasa konstruksi di
Indonesia memasuki kondisi usaha yang
semakin komplek dan terus berubah, suatu
kondisi yang harus dihadapi untuk tetap
bertahan dan terus berkembang dalam
dunia usahanya. Agar usaha jasa
konstruksi terus tetap bertahan dan mampu
berkembang, maka salah satu usaha yang
harus
dilakukan
adalah
dengan
menerapkan sistem manajemen mutu.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui implementasi Manajemen
Mutu
Pada
Pengelolaan
Proyek
Perumahan. Selanjutnya tujuan penelitian
dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mengetahui implementasi manajemen
mutu pada pengelolaan
proyek
perumahan yang menggunakan sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO.
2. Mengetahui ada tidaknya perbedaan
implementasi manajemen mutu pada
pengelolaan proyek perumahan yang
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO dan yang tidak menggunakan
sistem manajemen mutu ISO .
Menurut (Suharto, 2001) mutu
adalah sifat dan karakteristik produk atau
jasa yang membuatnya memenuhi
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
134
kebutuhan
pelanggan atau pemakai
(customer). Sedangkan menurut (Barie
dan Paulson, 1990) unsur dasar dari mutu
mencakup dimensi (l) karakteristik mutu,
(2) mutu dalam desain, dan (3) mutu
kesesuaian. Dengan demikian secara
umum pengertian mutu
dapat dilihat
secara konvensional maupun secara
strategik. Menurut (Tjiptono dan Diana,
2000) bahwa mutu merupakan suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan. Secara konvensional pengertian
mutu
adalah
menggambarkan
karaktersitik langsung dari suatu produk,
seperti
performance,
reliability
(keandalan), mudah dalam penggunaaan
dan estetika. Sedangkan secara strategis
pengertian mutu adalah segala sesuatu
yang mampu memenuhi keinginan atau
kebutuhan konsumen
Landasan Landasan Sistem Manajemen
Mutu ISO
Sistem Manajemen Mutu merupakan
sebuah sistem yang berevolusi dari sistem
pemeriksaan mutu, kendali mutu, kemudian
berkembang
menjadi
sistem
penjaminan mutu sampai kemudian menjadi sistem manajemen mutu terpadu.
Pemeriksaan
mutu
(quality
inspection) dan pengendali. mutu (quality
control) merupakan sebuah upaya untuk
menghasilkan mutu yang bekerja hanya
pada pengendalian produk saja. Setelah
sebuah proses dilakukan kemudian akan
menghasil sebuah produk. Dari produk
tersebut kemudian dilakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan dapat meliputi dua hal yaitu;
1) pemeriksaan terhadap, kesesuaian
produk dengan baku mutu produk atau, 2)
pemeriksaan kesesuaian produk dengan
persyarat pelanggan. Dari pemeriksaan
tersebut kemudian diketahui apakah suatu
produk sudah dapat dipasarkan atau
diserahkan kepada pelanggan, ataukah
harus diproses ulang karena tidak sesuai
dengan kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan pada asumsi inilah.
kemudian lahirlah sistem manajemen mutu
(quality management). Sistem Manajemen
Mutu (SMM) ISO 9001:2008 merupakan
bagian dari Manajemen Mutu Terpadu
(total quality management). Untuk dapat
mengimplementasikan SMM dibutuhkan
berbagai landasan. Jika landasan tersebut
sesebuah organisasi juga semakin kokoh.
Landasan-landasan tersebut meliputi; 1)
kepedulian, 2) nilai, 3) integritas, 4)
pelatihan, dan 5) pengendalian.
Prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO
Dalam ISO 9001:2008 terdapat
delapan prinsip sistem manajemen mutu
yang dijadikan sebagai acuan kerangka
kerja yang membimbing organisasi
menuju peningkatan kerja. Kedelapan
prinsip sistem manajemen mutu yang
terdapat dalam ISO 9001:2000, adalah: (l)
Fokus Pelanggan, (2) Kepemimpinan, (3)
Keterlibatan Personel, (4) Pendekatan
Proses, (5) Pendekatan Sistem, (6)
Peningkatan
Berkesinambungan,
(7)
Pendekatan factual dalam pengambilan
keputusan, dan (8) Hubungan pemasok
yang saling menguntungkan.
Visi dan Misi
Visi didefinisikan sebagai : what we
want to be”. Dengan demikian pemyataan
visi didefinsikan sebagai : what we want
to be (Green, 1998). Pemyataan misi
yang ditulis secara baik dapat memberi
arah yang mantap pada perusahaan dalam
menghadapi
berbagai
perubahan.
Pemyataan visi seharusnya bersifat (l)
brief/singkat, (2)
inspiring, (3)
challenging, (4) descriptive of an ideal
condituion, (5) appealing to employees
and stocholders, (6) provide a direction of
the future business.
Visi adalah suatu gambaran ideal
yang ingin dicapai oleh perusahaan di
masa yang akan datang. Visi organisasi
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
135
pada
dasamya
bertujuan
memberi
kerangka kerja yang menuntun suatu nilai
dan kepercayaan perusahaan. Pemyataan
visi dari suatu organisasi memainkan
peranan
penting
dalam strategi
pengembangan kualitas. Visi memberikan
identitas organisasi dan pemahaman
terhadap arah bisnis yang ingin dituju.
Misi organisasi atau misi perusahaan
adalah alasan mengapa organisasi atau
perusahaan itu ada. Secara umum misi
perusahaan meliputi tentang macam
produk (barang dan jasa) yang diproduksi,
sasaran konsumen dan nilai-nilai yang
dianggap penting oleh pemilik perusahaan
yang harus tetap dipertahankan. Terdapat
lima alasan mengapa perumusan misi
perusahaan penting adalah (l) misi dapat
memusatkan usaha manusia ke arah satu
tujuan,
(2)
memantau
menjamin
organisasi tidak menuju ke arah
penyimpangan tujuan, (3) misi dapat
mengalokasikan secara rasional sumber
daya yang ada dalam organisasi, (4)
menetapkan lingkup tanggung jawab yang
jelas dalam organisasi, dan (5) misi
bertindak
sebagai
dasar
bagi
pengembangan organisasi.
Kualitas Sumber Daya Manusia
Keberadaan sumber daya manusia
dalam suatu kegiatan proyek sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan suatu
proyek. Seperti diungkapkan Soeharto
(2001)
bahwa kuantitas dan kualitas
sumber daya manusia yang memenuhi
syarat
akan menjadi faktor penentu
keberhasilan suatu proyek. Faktor sumber
daya manusia yang sangat menentukan
kinerja pelaksanaan proyek adalah faktor
kualitas pribadi SDM yang ada dan
efektifitas SDM dalam kerja tim. Kualitas
pribadi SDM mencakup (1) latar belakang
pendidikan formal dan non formal, (2)
pengalaman proyek dengan ukuran setara
(man-hours), (3) pengalaman
di
lokasi/geografis serupa (musim, adat
istiadat, terpencil atau lain-lain), (4) cara
orientasi kepemimpinan.
METODE PENELITIAN
Sesuai dengan perumusan masalah
dan tujuan penelitian yang hendak dicapai,
maka penelitian ini termasuk ke dalam
jenis penelitian explanatory dengan
pendekatan survey (Singarimbun dan
Effendi, 1989). Datanya dikumpulkan
dengan teknik cross sectional survey,
artinya
data
dikumpulkan
untuk
menggambarkan fenomena saat penelitian
dilakukan. Jenis penelitian explanatory
merupakan penelitian yang menjelaskan
hubungan kausal antara variabel-variabel
penelitian melalui pengujian hipotesa.
Penelitian dilakukan pada populasi
perusahaan pengembang kelas sedang
sampai besar yang ada di kota Surabaya.
Metode pengambilan sampel dengan
menggunakan teknik purposive sampling.
Dengan unit sampel adalah pihak pihak
yang
terlibat
dalam
manajemen
perusahaan pengembang, yaitu : (1)
Jajaran Komisaris, (2) Dirut, (3) Wakil
Direktur (4) Manajer Teknik, (5) Manajer
pemasaran, (6) Manajer keuangan, (7) Staf
kantor, (8) Manajer lapangan, (9)
Pelaksana lapangan. Berdasarkan teknik
pengambilan sampel tersebut jumlah
sampel penelitian digambarkan sebagai
Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Jumlah Sampel Dilihat Dari Jenis
Perusahaan
No.
1
2
3
4
Nama
perusahaan
Citra land
Istana Mentari
Safira
Blue
Resort
Spring
of
Tomorrow
JUMLAH
Jenis
Manajem
en
ISO
Non ISO
Non ISO
Non ISO
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
Jumlah
Respode
n
30
10
10
10
60
136
responden dengan prosentase skor
dari rumus di atas dapat diketahui
implementasi pengelolaan sistem
mutu.
b. Guna menguji hipotesis uji beda
digunakan teknik uji t-tes untuk
sampel terpisah
dengan taraf
siginifikansi 0,05.
Rumus Uji t:
X1 – X2
t =
√ S12/n1 + S22/n2
Dimana:
X1
=
rerata
sampel
pertama (yang memiliki nilai besar)
=
rerata sampel kedua
X2
(yang memiliki nilai kecil)
S1 =
varian sampel pertama
S2 =
varian sampel kedua
n1 dan n2
=
jumlah kasus
pada sampel pertama dan kedua
Dalam memudahkan kegiatan analisis
tersebut di atas dilakukan dengan
bantuan software komputer yaitu
program SPSS version 16.
Instrumen Pengumpul Data dan
Pengukurannya
Guna
mengumpulkan
data
penelitian
dilakukan dengan teknik
angket/ kuesioner. Untuk keperluan
tersebut dikembangkan instrumen yang
mengacu pada variabel-variabel penelitian
yang telah ditetapkan. Variabel penelitian
diukur melalui kuesioner yang berisi
pertanyaan/pernyataan
yang
akan
mengungkap sikap/persepsi responden
terhadap manajemen mutu yang dilakukan.
Adapun variabel yang digunakan adalah
sistem manajemen mutu, tanggung jawab
manajemen, pengelolaan sumber daya,
realisasi produk, pengukuran, analisis dan
perbaikan.
Skala pengukuran yang digunakan
dalam penelitian ini adalah skala semantic
deferential dari 5 tingkat, dimana nilai 5
untuk jawaban positif dan nilai 1 negatif
(Sugiyono, 2004). Pernyataan yang ada
disesuaikan dengan pertanyaan pada setiap
item.
Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan teknik:
1. Guna mengetahui
implementasi
pengelolaan sistem manajemen mutu
dilakukan dengan cara mengkonversi
skor mentah (dari kuesioner) menjadi
skor standar dengan norma relatif skala
lima.
a. Mencari nilai rerata (mean) masingmasing skor sub variabel/indikator
yang diperoleh dari responden
melalui jawaban pada kuesioner.
Dimana:
Mean skor ideal jawaban resonden
= 5
Mean skor terendah jawaban
responden = 1
Mengacu pada mean skor ideal dan
mean skor tertendah tersebut, dibuat
pedoman kriteria interpretasi skor
pada
Tabel
3.
Dengan
membandingkan skor mean yang
diperoleh
melalui
kuesioner
HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Deskripsi Hasil Penelitian
Hasil
deskripsi
variabel
implementasi manajemen mutu pada
perusahaan pengembang perumahan yang
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO ditunjukkan pada Tabel 4.berikut :
Tabel 4. Ringkasan deskripsi variabel ISO
No.
1
2
3
4
5
6
7
Variabel
Visi
Misi
Sistem
manajemen mutu
Tanggung jawab
Manajemen
Pengelolaan
Sumber Daya
Realisasi produk
Pengukuran ,
analisis dan
perbaikan
F % Kualifikasi
15 50
Baik
14
47
Baik
17
57
Baik
16
53
Baik
16
16
53
53
Baik
Baik
16
53
Baik
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
137
Hasil
deskripsi
variabel
implementasi manajemen mutu pada
perusahaan pengembang perumahan yang
tidak menggunakan sistem manajemen
mutu ISO ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 3. Kriteria Interpretasi Skor
Rentangan Prosentase
Skor
1
Angka 81% - 100%
2
Angka 61% - 80 %
3
Angka 41 % - 60 %
4
Angka 21 % - 40 %
5
Angka 0% - 20 %
Sumber : Ridwan (2002:15)
No
Tabel 5. Ringkasan deskripsi variabel Non
ISO
No
1
2
3
4
5
6
7
Variabel
F
%
Visi
13 43
Misi
12 40
Sistem
manajemen mutu 12 40
Tanggung jawab
Manajemen
11 37
Pengelolaan
sumber daya
12 40
Realisasi produk 14 47
Pengukuran ,
analisis dan
perbaikan
10 33
Kualifikasi
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Analisis Hasil Uji- t
Tabel 6. Nilai Rerata Variabel
No
1
2
3
4
5
6
7
Variabel
Visi
Misi
Sistem
Manajemen
Mutu
Tanggung
jawab
manajemen
Pengelolaan
sumber daya
Realisasi produk
Pengukuran ,
analisis dan
perbaikan
ISO
Mean
Non ISO
3.9733
3.9417
2.76
2.8417
4.1311
2.6244
4.1786
2.6187
4.1000
3.9053
2.5600
2.4737
4.0800
2.46033
Rentangan Skor
Mean
4.05 - 5.00
3.05 - 4.04
2.05 - 3.04
1.05 - 2.04
0.00 - 1.04
Kualifikasi
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
sangat kurang
Dari Tabel 6 di atas nampak bahwa
rerata
skor
(mean)
implementasi
manajemen mutu tiap variabel perusahaan
pengembang yang menggunakan sistem
manajemen
ISO
dan
perusahaan
pengembang yang tidak menggunakan
sistem manajemen ISO
nampak ada
perbedaan rerata skor. Guna menentukan
apakah perbedaan tersebut tidak dapat
diabaikan atau terjadi secara kebetulan,
perlu dilakukan uji lebih lanjut.
1. Visi Perusahaan Pengembang
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 17.197 > t tabel
1.994 dengan tingkat probabilitas 0,000.
Oleh karena t hitung > t tabel dan probabilitas
< 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi visi antara perusahaan
pengembang
perumahan
yang
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO dan yang tidak menggunakan sistem
manajemen mutu ISO
2. Misi Perusahaan Pengembang
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 10.380 > t tabel
dengan tingkat probabilitas 0,000. Oleh
karena t hitung > t tabel dan probabilitas <
0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi pengelolaan mutu antara
perusahaan pengembang perumahan yang
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
138
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO dan yang tidak menggunakan sistem
manajemen mutu ISO
3. Sistem Manajemen Mutu
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 32.00 > t tabel
dengan tingkat probabilitas 0,000. Oleh
karena t hitung > t tabel dan probabilitas <
0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi sistem manajemen mutu
antara perusahaan pengembang perumahan
perumahan yang menggunakan sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO
4. Tanggung jawab manajemen
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 27.453 > t
dengan tingkat probabilitas 0,000.
tabel
Oleh karena t hitung > t tabel dan probabilitas
< 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi tanggung jawab manajemen
antara perusahaan pengembang perumahan
perumahan yang menggunakan sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO.
5. Pengelolaan Sumber Daya
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 27.453 > t
dengan tingkat probabilitas 0,000.
tabel
Oleh karena t hitung > t tabel dan probabilitas
< 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi pengelolaan sumber daya
antara perusahaan pengembang perumahan
perumahan yang menggunakan sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu ISO.
6. Realisasi produk
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 27.033 > t tabel
dengan tingkat probabilitas 0,000. Oleh
karena t hitung > t tabel dan probabilitas <
0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi realisasi produk
antara
perusahaan
pengembang
perumahan
perumahan yang menggunakan sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO
7. Pengukuran, analisis, perbaikan
Berdasarkan t hitung dengan equal
variance assumed adalah 27.033 > t tabel
dengan tingkat probabilitas 0,000. Oleh
karena t hitung > t tabel dan probabilitas <
0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya secara signifikan ada perbedaan
implementasi pengukuran, analisis dan
perbaikan antara perusahaan pengembang
perumahan
perumahan
yang
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO dan yang tidak menggunakan sistem
manajemen mutu ISO
PEMBAHASAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
implementasi
pengelolaan mutu perumahan yang
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO dan yang tidak menggunakan
manajemen mutu ISO berbeda secara
signifikan.
Dimana secara umum
implementasi
manajemen
mutu
perusahaan pengembang perumahan yang
menggunakan sistem manajemen mutu
ISO termasuk kualifikasi baik, sedangkan
perusahaan pengembang yang tidak
menggunakan manajemen mutu
ISO,
termasuk kualifiasi cukup baik. Hal ini
mengindikasikan implementasi manajemen
mutu perusahaan pengembang yang tidak
menggunakan manajemen mutu ISO masih
belum dilakukan secara maksimal oleh
pengembang
perumahan.
Kondisi
pengelolaan mutu yang demikian, tentu
tidak dapat mengurangi munculnya klaim
dari pihak konsumen. Seperti diungkapkan
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
139
oleh PT. Pembangunan Perumahan (2003)
bahwa munculnya klaim konsumen, lebih
banyak diakibatkan oleh penerapan
manajemen/pengelolaan
mutu
yang
masih belum optimal. Menurut menurut
Olomolaiye dkk, (1998) banyak faktor
yang
menghambat
pelaksanaan
manajemen mutu dalam suatu perusahaan
jasa konstruksi antara lain sumber daya
manusia yang tidak terampil, peralatan
yang tidak memadai dan masalah
keuangan.
Perusahaan pengembang besar yang
memiliki modal besar, kualitas sumber
daya manusia yang memadai, dan
peralatan yang lengkap baik dari segi
kuantitas maupun kualitas akan mampu
mengoptimalkan sistem manajemen secara
optimal, sehingga pengelolaan mutu pada
perusahaan yang bersangkutan akan
sangat baik.
Sebaliknya perusahaan pengembang
kelas menengah dengan struktur modal
yang kurang begitu besar, SDM yang
kurang
berkualitas
dan
kurang
berpengalaman serta peralatan kurang
memadai
tentu tidak mampu
menggerakan
sistem
manajemen
perusahaan secara optimal, sehingga
proses pengelolaan mutu juga tidak dapat
dilakukan secara maksimal. Adanya
perbedaan ketiga faktor (permodalan,
kualitas SDM dan kualitas /kuantitas
peralatan) tersebut merupakan penyebab
adanya perbedaan kualitas pengelolaan
mutu antara perusahaan pengembang
perumahan kelas besar dan pengembang
perumahan kelas menengah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan atas hasil penelitian dan
pembahasan dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Implementasi manajemen mutu pada
pengelolaan proyek perumahan:
a. Perusahaan pengembang perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO prosentase
pilihan responden terhadap semua
sub variabel manajemen mutu yang
paling banyak dipilih
adalah
klasifikasi “baik”,
b. Perusahaan pengembang perumahan
yang tidak menggunakan sistem
manajemen mutu ISO, prosentase
pilihan responden terhadap semua
sub variabel yang paling banyak
dipilih adalah klasifikasi “cukup
baik”.
2. Perbedaan implementasi manajemen
mutu
pada pengelolaan proyek
perumahan yang menggunakan sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu ISO.
a. Visi Perusahaan
Secara
signifikan
ada
perbedaan implementasi visi antara
perusahaan pengembang perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang
tidak menggunakan manajemen
mutu ISO, hal ini diperkuat dengan
nilai thitung sebesar 17.197 > ttabel
dengan tingkat probabilitas 0,000.
Disamping itu dapat diilihat dari
nilai.skor mean kedua perusahaan
pengembang tersebut, dimana skor
mean visi untuk perusahaan
pengembang dengan sistem ISO
adalah 3.4358 termasuk kualifikasi
“baik”, sedangkan skor mean untuk
perusahaan pengembang yang tidak
menggunakan ISO adalah 2.4498
termasuk kualifikasi “cukup”.
b. Misi Perusahaan
Secara
signifikan
ada
perbedaan implementasi misi antara
perusahaan pengembang perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang
tidak menggunakan manajemen
mutu ISO, hal ini diperkuat dengan
nilai thitung sebesar 10.380 > ttabel
dengan tingkat probabilitas 0,000.
Disamping itu dapat diilihat dari
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
140
nilai.skor mean kedua perusahaan
pengembang tersebut, dimana skor
mean misi untuk perusahaan
pengembang dengan sistem ISO
adalah 3.876 termasuk kualifikasi
“baik”, sedangkan skor mean untuk
perusahaan pengembang yang tidak
menggunakan ISO adalah 2.467
termasuk kualifikasi “cukup”.
c. Sistem Manajemen Mutu
Terdapat
perbedaan
yang
signifikan implementasi variabel
sistem manajemen mutu antara
perusahaan pengembang perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu
ISO, hal ini diperkuat dengan nilai
32.000
> ttabel
thitung sebesar
dengan tingkat probabilitas 0,000.
Disamping itu dapat diilihat dari
nilai skor mean kedua perusahaan
pengembang tersebut, dimana skor
mean program penjaminan mutu
untuk
perusahaan
pengembang
dengan sistem ISO adalah 3.987
termasuk
kualifikasi
“baik”,
sedangkan
skor
mean
untuk
perusahaan pengembang yang tidak
menggunakan ISO adalah 2.321
termasuk kualifikasi “cukup”.
d. Tanggung Jawab Manajemen
Terdapat
perbedaan
yang
signifikan implementasi variabel
tanggung jawab manajemen antara
perusahaan pengembang perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu
ISO, hal ini diperkuat dengan nilai
sebesar
27.453 > ttabel
thitung
dengan tingkat probabilitas 0,000.
Disamping itu dapat diilihat dari
nilai skor mean kedua perusahaan
pengembang tersebut, dimana skor
mean
implementasi
variable
tanggung jawab manajemen untuk
perusahaan pengembang dengan
sistem ISO adalah 4.175 termasuk
kualifikasi “ sangat baik”, sedangkan
skor mean untuk perusahaan
pengembang
yang
tidak
menggunakan ISO adalah 2.784
termasuk kualifikasi “cukup”.
e. Pengelolaan Sumber Daya
Ditinjau
dari
variabel
pengelolaan sumber daya secara
signifikan
ada
perbedaan
implementasi pengelolaan sumber
daya antara perusahaan pengembang
perumahan
perumahan yang
menggunakan sistem manajemen
mutu
ISO
dan
yang
tidak
menggunakan manajemen mutu
ISO. Hal ini dapat diilihat dari nilai
equal variance
t hitung dengan
assumed adalah 27.453 > t tabel
dengan tingkat probabilitas 0,000.
Demikian pula dilihat dari nilai skor
mean kedua perusahaan pengembang
tersebut, dimana skor mean untuk
perusahaan
pengembang
yang
menggunakan ISO adalah 4.1000
termasuk kualifikasi “sangat baik”,
sedangkan
skor
mean
untuk
perusahaan pengembang yamg tidak
menggunakan ISO adalah 2.5600
termasuk kualifikasi “cukup”.
f. Realisasi Produk
Tedapat
perbedaan
implementasi
variabel
realisasi
produk
antara
perusahaan
pengembang perumahan perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu
ISO. Hal ini dapat diilihat dari nilai
skor mean kedua perusahaan
pengembang tersebut, dimana skor
mean untuk perusahaan pengembang
yang menggunakan ISO
adalah
3.9053 termasuk kualifikasi “sangat
baik”, sedangkan skor mean untuk
perusahaan pengembang yamg tidak
menggunakan ISO adalah 2.4737
termasuk
kualifikasi
“cukup”.
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
141
Demikian pula terlihat t hitung dengan
equal variance assumed adalah
27.033 > t tabel
dengan tingkat
probabilitas 0,000, jadi perbedaan
implementasi
realisasi
produk
perusahaan pengembang perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu ISO
tidak terjadi secara kebetulan.
g. Pengukuran, Analisis dan Perbaikan
Sedangkan
ditinjau
dari
variabel pengukuran, analisis dan
perbaikan, nampak t hitung dengan
equal variance assumed adalah
dengan tingkat
27.033 > t tabel
probabilitas 0,000., artinya secara
signifikan
ada
perbedaan
implementasi pengukuran, analisis
dan perbaikan antara perusahaan
pengembang perumahan perumahan
yang
menggunakan
sistem
manajemen mutu ISO dan yang tidak
menggunakan manajemen mutu
ISO. Hal ini dapat diilihat dari nilai
skor mean kedua perusahaan
pengembang tersebut, dimana skor
mean untuk perusahaan pengembang
yang menggunakan ISO
adalah
4.0800 termasuk kualifikasi “sangat
baik”, sedangkan skor mean untuk
perusahaan pengembang yamg tidak
menggunakan ISO adalah 2.6033
termasuk kualifikasi “cukup”.
SARAN
Dengan mempertimbangkan hasilhasil yang diperoleh serta mempertimbangkan beberapa keterbatasan penelitian,
maka berikut ini disampaikan beberapa
saran sebagai berikut :
1. Bagi Keilmuan
Mengingat keterbatasan penelitian
ini,
dimana
data
implementasi
manajemen mutu pada pengelolaan
proyek perumahan hanya didasarkan
kuesioner yang diberikan kepada
responden,
maka
bagi
peneliti
berikutnya disarankan untuk meneliti
implementasi
manajemen
mutu
perusahaan pengembang
dengan
menggunakan
alat
ukur
teknik
observasi. Dengan teknik observasi
maka kualitas pengelolaan mutu dalam
pelaksanaan pembangunan perumahan
dapat
diketahui
secara
nyata.
Disamping itu penelitian ini terbatas
hanya pada manajemen perusahaan
saja, tidak sampai kepada pengukuran
kepuasan pelanggan, padahal salah satu
syarat ISO 9001 :2008 adalah fokus
kepada kepuasan pelanggan, maka
peneliti berikutnya juga disarankan juga
untuk mengukur kepuasan pelanggan.
Karena dengan mengetahui tingkat
kepuasan pelanggan maka kita bisa
menilai kinerja manajemen apakah
benar benar baik atau tidak. Hasil
penelitian ini juga dapat dijadikan
pijakan
dasar
dalam
usaha
mengembangkan ilmu manajemen
konstruksi, khususnya yang terkait
dengan masalah manajemen mutu
dalam
pelaksanaan
pembangunan
perumahan.
2. Bagi Dunia Praktisi
Bagi praktisi yang berminat pada
usaha
peningkatan
kualitas
implementasi mutu dalam pelaksanaan
pembangunan perumahan dapat dimulai
dengan peningkatan kinerja SDM
perusahaan pengembang,
karena
variabel tersebut mempunyai pengaruh
terbesar dalam peningkatan kualitas
pengelolaan mutu. Dalam perspektif
jangka panjang untuk meningkatan
kualitas pengelolaan mutu perusahaan
pengembang, tidak cukup hanya
bertumpu pada kehandalan kinerja
SDM saja, tetapi harus mampu
mengembangkan
visi
dan
misi
perusahaan secara komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Barrie,
R.S.,
&
Paulson,
B.C.
1995.
ManajemenKonstruksi
Profesional.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
142
Chung,
H.W.1999.
Understanding
Quality
Assurance in Construction. London: E &
FN Spon
Collins, J.C & Porras, J.I. (1996) Building your
company`s vision. Harvard
Kerzner, H. 1995. Project Management: A Sistem
Aproach to Planning, Scheduling, and
Controlling. New York: Van Nostrand
Reinhold Business Review. SeptemberOktober. Pp.65-77
Handoko, T.H dan Tjiptono, F. 2000. Visi dan Misi
Perusahaan: Suatu Fokus Strategik Untuk
Masa Depan Kinerja. Vol.4(2). Pp:113123.
Maylor, H. 2003. Project Management. New York:
Prentice Hall.
Olomolaiye, P.O., Jayawardane, A.K.W., & Harris,
F.C. 1998. Construction Productivity
Management. England: Longman
Ritz, G.J. 1994. Total
Contruction Project
Management. New York: McGraw-Hill
Riduwan. 2003. Skala PengukuranVariabelVariabel Penelitian. Bandung:
Penerbit Alfabeta
Suharto, I. 2001 a. Manajemen Proyek (Dari
Konseptual Sampai Operasional) Jilid 1.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Suharto, I. 2001 b. Manajemen Proyek (Dari
Konseptual Sampai Operasional) Jilid 2.
Jakarta: Penerbit Erlangga
Singarimbun, M. & Efendi, S. 1989. Metode
Penelitian Survei. Jogyakarta: UGM
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis.
Bandung: Alfabeta
Tjiptono, F & Diana, A. 2000. Total Quality
Management. Yogyakarta: Andi
Dissanayaka,
S.M.,
Kumaraswamy,
M.M.,
Karim,K., Marosszeky, 2001. Evaluating
Outcomesfrom ISO 9000-Certified Quality
Sistems of Hongkong Constructors, Total
Quality Management
Article, Routledge, Part of the Taylor &
Francis Group, Vol.12, No.1, January
2001, Hal. 29– 40
Jaafari, Ali, 2000. Construction Business
Competitiveness
and
Global
Benchmarking, Journal of Management in
Engineering,
Vol.16,
No.6,
November/Desember 2000, Hal. 43 – 53
Green, S. D., 1998. The Technocratic
Totalitarianism of Construction Process
Improvement : A Critical Perspective in
Engineering.
Construction
and
Architectural Management, New York.
Gasperz, V., 1997. Manajemen Kualitas :
Penerapan Konsep – konsep Kualitas
Dalam Manajemen Total. Jakarta : P.T
Gramedia
Pheng, Low Sui., Teo, dan Jasmin Ann., 2003.
Implementing Total Quality Management
in Construction through ISO 9000:2000,
Architecture Science Review, Vol. 46, No.
2, Pg. 159+, University of Sydney,
Faculty of Architecture
M. Fanshurullah Asa , Ismeth S. Abidin dan Yusuf
Latief. 2009. Dinamika TEKNIK SIPIL,
Volume 9, Nomor 2, Juli 2009 : 197 -202)
Mahasiswa Program Doktoral Bidang Ilmu
Teknik, Program Studi Teknik Sipil,
Dosen Fakultas Teknik, Program Studi
Teknik Sipil, Universitas Indonesia
Nee, P.A. 1996. ISO 9000 in Constraction. New
York: John Wiley & Sons, Inc.
Prabowo, S.S. 2009. Implementasi Sistem
Manajemen Mutu: ISO 9001:2008.
Malang: UIN Malang
PT. Pembangunan Perumahan. 1997. ISO 9000
Untuk Kontraktor. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Tjiptono, F & Diana, A. 2003. Total Quality
Management. Yogyakarta: Penerbit Andi.
JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658
143
Download
Random flashcards
Create flashcards