RINGKASAN Hasil penelitian PENERAPAN PEMBELAJARAN

advertisement
RINGKASAN Hasil penelitian
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI AKTIVITAS SISWA (PBAS) PADA
KONSEP LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS X SMA NEGERI 13 AMBON
OLEH
LA ARIFIN
NIM. 2008 14 063
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DARUSSALAM AMBON
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan merupakan upaya manusia
secara sadar yang tujuannya bersifat ganda, yaitu
mengembangkan kepribadian dan kemampuan
manusia. Menurut Usman (1993:6), pembelajaran
merupakan komponen yang dapat memberikan
motivasi kepada aktivitas siswa. Dengan media
suasana belajar lebih efektif terarah, serta
memungkinkan siswa untuk menerima informasi
yang disampaikan guru. Keberhasilan siswa
dalam meningkatkan hasil belajar bukan saja
peran guru tetapi didukung oleh media
pembelajaran yang menimbulkan minat belajar
dan keingintahuan siswa terhadap apa yang
dipelajari. Hal ini juga dikemukakan oleh Arsyad
(1996:41), bahwa proses belajar mengajar akan
berjalan dengan efektif bila terjadi interaksi antara
guru dan siswa maka guru harus memanfaatan
media pembelajaran dengan tepat.
Sehubungan
dengan
hal
tersebut,
(Roestiyah, 1991 : 1), mengatakan bahwa “ guru
harus memiliki strategi dalam proses belajar
mengajar, agar siswa dapat belajar secara efektif
dan efisien, sehingga tercapai tujuan yang
diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki
strategi itulah harus menguasai teknik penyajian
atau disebut metode mengajar.”
Untuk mencapai apa yang dituntut dalam
kurikulum tingkat satuan Pendidikan KTSP
terhadap
konsep
larutan
elektrolit
dan
nonelektrolit maka guru diharapkan memilih
metode dan model yang sesuai dengan aktivitas
siswa. Olehnya itu, dalam mempelajari konsep
larutan elektrolit dan nonelektrolit siswa
diharapkan aktif untuk mencari bahan-bahan yang
digunakan dalam menguji eksperimen melalui
bahan-bahan yang di ambil dari alam seperti air
sumur, air sungai, air kelapa muda dan lain
sebagainya. (Rostiyah, 1991 : 2).
Dalam suatu proses pembelajaran, dua
faktor yang sangat penting adalah metode
mengajar dan model pembelajaran yang dipakai
pada saat guru menyampaikan materi di dalam
kelas. Oleh karena itu, guru harus jeli dalam
melihat materi yang akan disampaikan kepada
siswa agar tidak merasa bosan dan kelelahan atau
kurang semangat dalam menerima pelajaran. Hal
ini tentu tidak dapat mereka hindari, sadar
kebosanan dan kelelahan siswa adalah berpangkal
dari penjelasan yang diberikan oleh guru serta
pengalaman belajar guru yang secara bersimpang
siur dalam penyampaian materi hingga akhirnya
siswa merasa bosan dan tidak ada aktivitas belajar
serta kurangnya motivasi atau dorongan untuk
mau belajar.
Hal ini terjadi di sekolah SMA Negeri 13
Ambon ,dimana rata-rata nilai yang diperoleh
siswa yaitu 50 – 60 dan bahkan sebagian kecil saja
siswa yang mendapat nilai melebihi standar KKM,
sehingga demikian keadaan pembelajaran kimia
yang selama ini terjadi di kelas X SMA Negeri 13
Ambon kurang begitu maksimal. Dengan
berdasarkan KKM yang ditentukkan oleh
koordinator mata pelajaran kimia yang berstandar
70 maka siswa harus lebih optimal dalam belajar
karena jika tidak mencapai KKM maka akan
mempengaruhi hasil belajar.
Strategi
Pembelajaran
Berorientasi
Aktifitas Siswa (PBAS) dapat di pandang sebagai
suatu pendekatan dalam pembelajaran yang
menekankan kepada aktifitas siswa secara optimal
untuk memperoleh hasil belajar berupa panduan
antara aspek kognitif afektif, dan psikomotor
secara seimbang. Dari konsep tersebut ada dua hal
yang harus dipahami. Pertama, dipandang dari sisi
proses pembelajaran, PBAS menekankan kepada
aktivitas siswa secara optimal, artinya PBAS
menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik,
mental, termasuk emosional dan aktivitas
intelektual (kognitif) sikap (afektif), dan
keterampilan (psikomotorik). Artinya dalam
PBAS pembentukan siswa secara utuh merupakan
tujuan utama dalam proses pembelajaran. Dalam
standar proses pendidikan, pembelajaran didesain
untuk membelajarkan siswa. Artinya sistem
pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek
belajar. Dengan kata lain, pembelajaran
ditekankan atau berorientasi pada aktivitas siswa
(PBAS). Kedua di pandang dari sisi hasil belajar,
PBAS menghendaki hasil belajar yang seimbang
dan terpadu antara kemampuan intelektual
(kognitif) sikap (afektif) dan keterampilan
(psikomotor). Artinya dalam PBAS pembentukan
siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam
proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil wawancara secara
formal yang peneliti lakukan pada guru, dalam hal
ini dengan guru bidang studi, bahwa kegiatan
pembelajaran untuk mata pelajaran kimia
khususnya materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit biasanya guru mengarahkan siswa
untuk melakukan kegiatan praktikum dengan
menggunakan bahan-bahan atau indikator yang
sudah ada di laboratorium untuk menguji
eksperimen dengan larutan-larutan yang ada.
Bentuk dan jenis sumber daya alam yang
dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam
eksperimen pada pembelajaran mengenai larutan
elektrolit dan nonelektrolit bermacam-macam
seperti air laut, air sumur, air perasan belimbing,
air kelapa muda air sungai dan lain sebagainya.
Disamping itu, belajar menggunakan bahan alam
sebagai indikator dalam melakukan praktikum
menjadi sarana pengembangan media didalam
proses pembelajaran.
Oleh Karena itu, mengingat karena
didalam proses pembelajaran kurangnya aktivitas
dari siswa maka disini peneliti merasa tertarik
untuk mengangkat sebuah judul tentang
“Penerapan Pembelajaran Berorientasi Aktivitas
Siswa (PBAS) pada Konsep larutan Elektrolit
dan Nonelektrolit Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 13
Ambon.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang
masalah di atas, maka permasalahan dalam
penelitian ini adalah “Apakah Penerapan Model
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
(PBAS) pada konsep Larutan Elektrolit dan
Nonelektrolit dapat Meningkatkan Hasil Belajar
Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 13 Ambon.
1.3
Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini hanya
dibatasi pada materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit dengan menggunakan bahan-bahan
dari alam sebagai indikator seperti : air sumur, air
sungai, air kelapa muda, air perasan belimbing, air
laut, larutan asam cuka dan alkohol.
1.4
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah
dirumuskan, maka tujuan umum penelitian ini
adalah “Untuk Mengetahui Penerapan Model
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
(PBAS) dalam meningkatkan hasil belajar kimia
konsep Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit pada
siswa kelas X SMA Negeri 13 Ambon.
1.5
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Memberikan motivasi atau dorongan
kepada siswa dan guru terhadap
pentingnya proses pembelajaran kimia
melalui model pembelajaran yang
diterapkan oleh peneliti serta menambah
pengetahuan serta pemahaman kepada
penulis dan guru dalam memilih model
pembelajaran
sebagai
alat
untuk
mewujudkan tujuan yang diinginkan
bersama.
2. Dapat menjadi bahan masukan bagi guru
dalam usaha meningkatkan hasil belajar
siswa dan menemukan sumber-sumber
belajar yang dapat membuat siswa kreatif
dalam proses pembelajaran.
1.6
Definisi Operasional
Agar tidak timbul suatu penafsiran yang
keliru dalam memahami judul yang penulis
paparkan, maka penulis merasa perlu untuk
menjelaskan istilah-istilah yang berkaitan dengan
judul penelitian ini sebagai berikut :
1. Pembelajaran
Berorientasi
Aktifitas
Siswa adalah suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang menekankan kepada
aktifitas siswa secara optimal untuk
memperoleh hasil belajar berupa paduan
antara aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor secara seimbang. (Dwi, 2010 ;
23)
2. Hasil Belajar kimia adalah suatu
gambaran prestasi belajar siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar pada
suatu jenjang yang diikutinya. (Djamarah,
2000)
3. Media bahan alam adalah sesuatu yang
digunakan (bahan, alat atau suatu kegiatan
yang bersifat alamiah atau berasal dari
alam / lingkungan sekitar kita yang
merangsang perhatian, minat, atau
motivasi siswa dalam belajar sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
(Rohani, 1997)
4. Larutan elektolit adalah larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik dan larutan
nonelektrolit adalah larutan yang tidak
dapat menghantarkan arus listrik. (Taufik,
2006: 27)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Bila terjadi proses belajar, maka bersama
itu pula terjadi proses belajar. Kalau sudah terjadi
proses / saling berintegrasi, antara yang mengajar
dan yang belajar. Sebenarnya berada pada suatu
kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak
sengaja, masing-masing pihak berada dalam
susasana belajar. Jadi guru walaupun dikatakan
sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak
langsung guru melakukan belajar (Sardiman, 2000
: 104).
Pada hakikatnya belajar adalah perubahan
yang terjadi didalam diri seseorang setelah
melakukan aktivitas belajar (Djamarah, 2006 : 58).
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya (Slameto, 2003 : 127). Oleh sebab
itu, aktivitas mempelajari bahan tersebut
tergantung pada kemampuan siswa. Dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah
perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik
(Yusfiani, 2006 : 65).
2.2
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu gambaran
prestasi belajar siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar pada suatu jenjang yang
diikutinya. Menurut Djamarah, 2000 “ hasil
belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesankesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dan aktivitas dalam belajar.”
Hasil belajar itu merupakan hasil yang diperoleh
siswa setelah menyelesaikan suatu paket belajar
tertentu, yang dapat di ukur dalam berbagai bentuk
melalui proses evaluasi tertentu. Hasil yang
dicapai dapat berupa ranah kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan)
yang semuanya itu tercermin dalam hasil belajar
siswa. Dengan demikian hasil belajar adalah hasil
yang diperoleh berupa kesan-kesan yang
mengakibatkan perubahan tingakah laku dalam
diri siswa sebagai hasil dari aktivitas dalam
belajar. Jadi, hasil belajar yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam
mata pelajaran kimia, yaitu diperoleh melalui tes
yang diberikan pada sampel penelitian. (Djamarah,
2002 : 74)
2.3 Media sebagai Alat Bantu
Media sebagai alat bantu dalam proses
belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang tidak
dapat dipungkiri karena memang gurulah yang
menghendakinya untuk membantu tugas guru
dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan
pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak
didik. Guru menyadari bahwa tanpa bantuan
media maka bahan pelajaran sukar dicerna,
dipahami oleh setiap anak, terutama bahan
pelajaran yang rumit atau kompleks. (Raharjo,
1991), menyatakan bahwa media dalam arti
terbatas yaitu sebagai alat bantu pembelajaran.
Hal ini berarti media sebagai alat bantu yang
digunakan guru untuk
a) Memotivasi siswa belajar
b) Memperjelas informasi bagi peserta
pengajar
c) Memperjelas struktur pengajaran
d) Memberi variasi pengajaran
e) Memberi tekanan pada bagian-bagian
yang penting.
Ada beberapa asumsi perlunya pembelajaran
berorientasi pada aktivitas siswa. Pertama, asumsi
filosofis
tentang
pendidikan.
Pendidikan
merupakan usaha sadar mengembangkan manusia
menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual,
sosial, maupun kedewasaan moral.
Oleh Karena itu proses pendidikan bukan
hanya mengembangkan intelektual saja, tetapi
mencakup seluruh potensi yang dimiliki oleh
siswa. Dengan demikian, hakikat pendidikan pada
dasarnya adalah interaksi manusia pembinaan dan
pengembangan potensi manusia, berlangsung
sepanjang hayat kesesuaian dengan kemampuan
dan tingkat perkembangan siswa, keseimbangan
antara kebebasan subjek didik dan kewibawaan
guru, dan peningkatan kualitas manusia. (Dwi,
2010 : 15)
Kedua, asumsi tentang siswa sebagai
subjek pendidikan, yaitu siswa bukanlah manusia
dalam ukuram mini akan tetapi manusia yang
sedang dalam tahap perkembangan, setiap manusia
mempunyai kemampuan yang berbeda.
Ketiga, asumsi tentang guru adalah guru
bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar
siswa, guru memiliki kemampuan professional
dalam mengajar. Guru mempunyai kode etik
keguruan, guru meiliki peran sebagai sumber
belajar,
pemimpin
dalam
belajar
yang
memungkinkan tercapainya kondisi yang baik bagi
siswa dalam belajar.
Keempat, asumsi yang berkaitan dengan
proses pengajaran adalah bahwa proses pengajaran
direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu
sistem, peristiwa belajar akan terjadi manakala
siswa berinteraksi dengan lingkungan yang diatur
oleh guru. Proses pengajaran akan lebih aktif
apabila menggunakan metode dan teknik yang
tepat dan berdaya guna, pengajaran memberi
tekanan kepada proses dan produk secara
berimbang, inti proses dan produk secara
seimbang. Inti proses pengajaran adalah adanya
kegiatan belajar siswa secara optimal.
Dalam pandangan psikologi modern
belajar bukan hanya sekedar menghapal sejumlah
fakta atau informasi akan tetapi peristiwa mental
dan proses berpengalaman. Oleh karena itu, setiap
peristiwa pembelajaran menuntut keterlibatan
intelektual-emosional siswa melalui asimilasi dan
akomodasi kognitif untuk mengembangkan
pengetahuan, tindakan serta pengalaman langsung
dalam rangka membentuk keterampilan (motorik,
kognitif, dan
sosial) penghayatan
serta
internalisasi nilai-nilai dalam membentuk sikap
(Joni, 1980 : 2)
Dari penjelasan tersebut maka PBAS
sebagai salah satu bentuk inovasi dalam
memperbaiki kualitas proses belajar mengajar
bertujuan untuk membantu peserta didik agar bisa
belajar mandiri dan kreatif, sehingga ia dapat
memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap
yang dapat menunjang terbentuknya kepribadian
yang mandiri.dengan kemampuan itu di harapkan
lulusan menjadi anggota masyarakat yang sesuai
dengan tujuan pendidikan nasioanal yang di citacitakan. Sedangkan secara khusus pendekatan
PBAS bertujuan. (Dwi, 2010 : 23)
a. Meningkatkan kualitas pembelajaran agar
lebih bermakna. Artinya melalui PBAS
siswa tidak hanya dituntut untuk
menguasai sejumlah informasi tetapi juga
bagaiman memanfaatkan informasi itu
untuk kehidupannya.
b. Mengembangkan seluruh potensi yang
dimiliki artinya melalui PBAS diharapkan
tidak hanya kemampuan intelektual saja
yang berkembang tetapi juga seluruh
pribadi siswa termasuk sikap dan mental.
2.4 Penerapan PBAS Dalam Pembelajaran
Kimia
Dilihat dari materi, dalam mempelajari
kimia bukan hanya membutuhkan pemahaman
serta penguasaan konsep saja tetapi dalam
mempelajari kimia siswa dituntut aktif bersama
guru untuk menerapkan ilmu yang dipelajari
kedalam pengembangan diri. Siswa juga
melakukan praktikum karena kimia adalah ilmu
yang mencari jawaban atas pertanyaan apa,
mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam yang
berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat
perubahan, dinamika dan energetika zat.
Oleh karena itu, pembelajaran kimia
menekankan pada pemberian pengalaman belajar
secara langsung melalui pengembangan dan
keterampilan proses dan sikap ilmiah sehingga
dalam mempelajarinya yang khusus. (Sanjaya,
2008 : 171). Dalam implementasi PBAS terutama
dalam pembelajaran kimia guru diharapkan tidak
berperan sebagai satu-satunya sumber belajar,
akan tetapi yang lebih penting guru harus bisa
memfasilitasi agar siswa belajar secara aktif. (Dwi
Retno Suyanti, 2010 : 25).
2.5 Langkah-Langkah
Pembelajaran
Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS)
Menurut Abu dan Joko Tri, 1997:130)
langkah-langkah
PBAS
dalam
proses
pembelajaran kimia adalah sebagai berikut :
a. Aktifitas dari guru yaitu :
1. Mengemukakan beberapa alternatif
tujuan pembelajaran yang harus dicapai
sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
2. Menyusun tugas-tugas belajar bersama
siswa.
3. Memberikan informasi tentang kegiatan
pembelajaran yang harus dilakukan.
4. Memberikan bantuan dan layanan
kepada siswa yang memerlukan.
5. Memberikan motifasi mendorong siswa
untuk belajar, membimbing dan lain
sebagainya, melalui pengajuan pertanyapertanyaan.
6. Membantu siswa dalam menarik
kesimpulan.
b. Aktivitas dari siswa yaitu :
1.
Menggunakan kemampuan bertanya
dan berpikir
2.
Memecahkan masalah (problem
solving).
3.
4.
5.
6.
Melakukan kegiatan pembelajaran
secara sendiri atau berkelompok.
Belajar mengatur waktu dengan baik.
Mengaplikasikan hasil pembelajaran
lewat tindakan atau action.
Melakukan
kegiatan/
praktikum
dengan belajar berkelompok.
2.6 Ruang
Lingkup
Materi
Larutan
Elektrolit dan Nonelektrolit
2.6.1 Larutan
Elektrolit
dan
Nonelektrolit
Larutan elektrolit adalah larutan yang
dapat menghantarkan arus listrik. Larutan
elektrolit dapat mengalirkan arus listrik karena
adanya ion-ion yang bebas bergerak. Larutan
nonelektrolit adalah larutan yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik. Larutan nonelektrolit
tidak dapat menghantarkan arus listrik karena
tidak adanya ion-ion yang bebas bergerak.
2.6.2 Gejala Hantaran Listrik pada
Larutan
Daya hantar listrik pada larutan dapat
diukur dengan menggunakan suatu alat uji
elektrolit. Jika yang diuji adalah larutan elektrolit,
maka perubahan yang terjadi pada alat adalah
lampu pijar menyala dan muncul gelombang gas
pada kedua elektroda. Sebaliknya, jika larutan
yang diuji adalah larutan nonelektrolit, maka
lampu pijar tidak menyala dan tidak ada
gelembung gas pada kedua elektroda.
2.6.3 Larutan Elektrolit dan Hantaran
Listrik
Hantaran listrik terjadi karena adanya ionion yang dapat melakukan serah terima elektron,
sehingga aliran elektron atau listrik dapat muncul.
Pada tahun 1887, seorang ilmuan Swedia, Svante
August Arrhenius, menjelaskan penemuannya
tentang hantaran listrik pada larutan elektrolit.
Menurut Arrhenius adanya ion-ion yang bergerak
bebas dalam larutan elektrolit menyebabkan
larutan tersebut dapat menghantarkan listrik.
Dalam air molekul HCl terurai sempurna
menjadi ion H+ dan ion Cl menurut reaksi berikut
:
HCl (aq) + H2O (l)  H3O+ (aq)
HCl (aq)  H+ (aq) + Cl
Ion-ion H+ akan bergerak menuju katoda dan
mengambil elektron, kemudian berubah menjadi
gas hidrogen. Ion-ion Cl akan bergerak menuju
anoda dan melepaskan elektron kemudian berubah
menjadi gas klorin.
2H+ (aq) 2e  H2 (g)
2Cl (aq)  Cl2 (g) + 2e
Dari hasil tersebut reaksi penguraian asam klorida
dapat di tulis sebagai berikut :
2H+(aq) + 2Cl(aq)  H219
(g) + Cl2 (g)
Arus listrik yang mengalir pada rangkaian
akan menguraikan senyawa HCl menjadi H2 dan
Cl2. Peristiwa ini lebih dikenal dengan peristiwa
elektrolisis. Kata elektrolisis berasal dari kata
electro yang berarti listrik dan lysis yang berarti
pemecahan. Jadi elektrolisis adalah proses
penguraian kimia suatu elektrolit oleh arus listrik.
2.6.4 Elektrolit Kuat dan Elektrolit
Lemah
Elektrolit kuat adalah elektrolit yang akan
mengalami ionisasi atau peruraian sempurna
menjadi ion-ion jika dilarutkan dalam air. Sebagai
contoh, NaCl akan terurai sempurna menjadi ion
Na+ dan ion Cl jika dilarutkan dalam air. Oleh
karena NaCl terurai sempurna, jumlah ion-ion
yang dihasilkan banyak dan daya hantar listriknya
pun menjadi besar. Oleh karena itu NaCl
dikelompokkan sebagai elektrolit kuat.
Elektrolit lemah adalah elektrolit yang
hanya akan mengalami ionisasi atau peruraian
sebagian menjadi ion-ion jika dilarutkan dalam air.
Oleh karena hanya terurai sebagian, daya hantar
listrik elektrolit lemah lebih kecil jika
dibandingkan dengan elektrolit kuat meskipun
konsentrasinya sama. Sebagai contoh asam asetat
atau asam cuka akan terionisasi sebagian jika
dilarutkan dalam air.
CH3COOH (aq)
CH3COO (aq) + H+(aq)
2.6.5 Elektrolit Senyawa Ion dan Senyawa
Kovalen Polar
1. Senyawa Ion
Senyawa ion yang dilarutkan dalam air
dapat menghantarkan listrik. Ketika senyawa ion
dilarutkan dalam air, ion-ionnya akan bergerak
bebas dan bisa melakukan 20
transfer elektron
sehinga menghantarkan arus listrik selain larutan
senyawa ion, lelehan senyawa ion juga dapat
menghantarkan listrik. Senyawa ion yang
berwujud, padat tidak dapat menghantarkan listrik
senyawa ion padat berada dalam suatu struktur
Kristal yang kompak, sehingga ion-ionnya tidak
dapat bergerak bebas. Agar dapat menghantarkan
listrik, senyawa ion padat harus dilelehkan terlebih
dahulu. Beberapa contoh elektrolit yang
mengandung senyawa ion adalah larutan NaCl,
larutan MgCl2, larutan KOH dan larutan NaOH.
2. Senyawa Kovalen Polar
Senyawa kovalen terdiri atas molekulmolekul. Molekul tidak dapat menghantarkan
listrik karena molekul tidak bermuatan atau
bersifat netral molekul dapat bersifat polar ataupun
nonpolar. Molekul kovalen polar terbentuk karena
adanya ikatan antara unsur-unsur yang memiliki
perbedaan keelektronegatifan yang cukup tinggi
atau bentuk molekul yang tidak simetris.
2.7
Alat dan Bahan yang Digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
berupa alat uji elektrolit yang bersifat sederhana,
berupa baterai kabel, lampu, jepitan buaya dan
batang elektroda (tembaga). Alat ini sebelumnya
telah dipersiapkan oleh peneliti dan pada
pertemuan pertama atau sebelum dilakukan proses
pembelajaran dikelas. Penulis memperkenalkan
bahan-bahan yang digunakan dan mempraktekan
alat dan bahan tersebut bersama-sama siswa di
kelas untuk lebih menambah pengetahuan siswa
tentang alat dan bahan yang digunakan pada saat
menguji elektrolit kuat dan elektrolit lemah
berdasarkan bahan yang diambil dari alam.
Bahan yang digunakan ada 7 bahan yang
berasal dari alam yaitu : air sumur, air sungai, air
laut, air perasan belimbing, air kelapa muda
larutan asam cuka, dan alkohol. Bahan-bahan yang
digunakan disesuaikan dengan konsep materi yang
ada yang mewakili larutan elektrolit dan
nonelektrolit, elektrolit kuat dan elektrolit lemah
serta senyawa ion dan senyawa kovalen polar.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) guna mengetahui hasil
belajar kimia melalui penerapan model
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
(PBAS) untuk meningkatkan hasil belajar kimia
konsep larutan Elektrolit dan Nonelektrolit pada
siswa kelas X SMA Negeri 13 Ambon.
3.2
Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan pada
SMA Negeri 13 Ambon Kecamatan
Sirimau.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan terhitung
mulai pada tanggal 14 Januari - 14
Pebruari dan akan berlangsung Ujian
Seminar setelah Hasil Penelitian ini
disahkan dan disetujui oleh pembimbing 1
dan Pembimbing 2.
3.3
Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini
adalah siswa kelas X6 SMA Negeri 13 Ambon
yang berjumlah 40 siswa.
3.4
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Silabus, RPP, LKS
2. Soal tes ulangan harian siklus I dan siklus II
3. Wawancara dan pengisian Angket (non tes)
4. Lembar observasi dan Dokumentasi atau
gambar.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini
terbagi atas tiga bagian yaitu :
1. Data primer yaitu data yang diperoleh
langsung pada saat mengadakan penelitian
dengan
mengunakan
teknik
tes,
wawancara dan angket (non tes)
2. Data sekunder yaitu : data yang didapat
atau yang diperoleh dari literatur hasilhasil penelitian dari instansi terkait dengan
permasalahan yang diteliti.
3. Data Observasi yaitu data yang diperoleh
melalui pengamatan terhadap siswa
selama kegiatan proses KBM berlangsung
di dalam kelas, baik dari sikap afektif,
kognitif dan psikomotor.
3.6 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini
dilakukan sebanyak 2 siklus yaitu Siklus pertama
selama 1 kali pertemuan dan Siklus kedua 1 kali
pertemuan.
Perencanaan
Refleksi
Siklus I
Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi
Siklus II
Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi
Siklus III
Pelaksanaan
Pengamatan
3.7 Teknik Analisis Data
1.
2.
3.
Deskripsi Hasil Observasi
Deskripsi Hasil Tes
Deskripsi Hasil Wawancara
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil Penelitian ini diperoleh dari
tindakan pada siklus I dan siklus II. Hasil
penelitian berupa hasil penilaian ulangan harian
sebagai hasil tes. Hasil nontes berupa hasil
pengamatan
afektif dan psikomotor, hasil
wawancara dengan guru dan melalui angket siswa
yang diperoleh pada akhir siklus II.
Hasil penelitian yang diperoleh dengan
menerapkan PBAS pada konsep larutan
elektrolit dan nonelektrolit di kelas X SMA
Negeri 13 Ambon dalam penerapan model
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
(PBAS) melalui bahan alam sebagai indikator
yang digunakan pada saat melakukan
praktikum. Oleh karena itu, dengan penerapan
model ini telah banyak memberikan wawasan
pada guru dan peneliti serta para siswa bahwa
begitu banyak kemungkinan pembelajaran
yang menarik dan memotivasi siswa untuk
belajar.
1.
Hasil Tes Ulangan Harian Siklus I
Penilaian hasil tes pada siklus I
menggambarkan kemampuan siswa memahami
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.
Kualifikasi pencapaian siswa pada tes siklus I
dapat dilihat pada tabel 4.1, dimana terlihat bahwa
sebanyak 8 orang siswa (20%) mencapai
kualifikasi cukup, 23 orang siswa (57,5%) lainnya
mencapai kualifikasi kurang dan 9 orang siswa
(22,5%) mencapai kualifikasi gagal. Hal ini
menunjukan bahwa dari 40 orang siswa, sebagian
besar diantaranya belum mencapai standar nilai
KKM yang ditetapkan oleh guru mata pelajaran,
sehingga peneliti perlu melakukan tindakan siklus
lanjutan agar para siswa bisa memahami materi
tentang larutan elektrolit dan nonelektrolit.
Dengan demikian dari data tersebut
peneliti sajikan dalam sebuah tabel berikut.
Tabel 4.1 Hasil Ulangan Harian Siklus I
-
Persentase
(%)
-
Sangat baik
80 - 89
-
-
Baik
70 – 79
8
20
Cukup
60 – 69
23
57,5
Kurang
< 60
9
22,5
Gagal
Jumlah
40
100
Nilai
Frekuensi
90 – 100
Kualifikasi
2. Deskripsi Hasil Observasi Selama Proses
Pembelajaran Materi Larutan Elektrolit
dan nonelektrolit
Hasil observasi yang dilakukan adalah
observasi selama kegiatan belajar mengajar
(KBM) dengan bahan alam berlangsung, yang
berupa aspek afektif dan psikomotor siswa selama
pembelajaran dengan bahan alam pada materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit. Penilaian aspek
afektif dan psikomotor siswa tersebut dicek
dengan menggunakan instrument, berupa lembar
pengamatan sikap (lampiran 14.2) dan lembar
penilaian psikomotor (lampiran 14.4). kualifikasi
pencapaian siswa pada aspek afektif dapat dilihat
pada tabel 4.2
Tabel 4.2 Kualifikasi Pencapaian Siswa
(Aspek Afektif)
Nilai
Frekuensi
Persentase(%)
Kualifikasi
90 – 100
-
-
Sangat baik
80 – 89
28
70
Baik
70 – 79
12
30
Cukup
60 – 69
-
-
Kurang
< 60
-
-
Gagal
40
100
Dari tabel 4.2 terlihat bahwa sebanyak 28
orang siswa (70%) mencapai kualifikasi baik, 12
orang siswa lainnya (30%) mencapai kualifikasi
cukup. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar
siswa mampu merespon kegiatan yang dilakukan
dengan bahan alam sebagai indikator yang
digunakan dalam praktikum sehingga dari 40
orang siswa 70% siswa diantaranya memiliki
keaktifan yang cukup baik dalam proses
pembelajaran yang dilakukan dengan metode
praktikum mengenai materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit. Selanjutnya kualifikasi pencapaian
siswa pada aspek psikomotor selama kegiatan
belajar mengajar (KBM) dengan bahan alam pada
siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3 Kualifikasi Pencapaian Siswa (Aspek
Psikomotor)
Nilai
Frekuensi
Persen(%)
Kualifikasi
90 – 100
-
-
Sangat baik
80 – 89
35
87,5
Baik
70 – 79
5
12,5
Cukup
60 – 69
-
-
Kurang
< 60
-
-
Gagal
40
100
Tabel 4.3 menunjukan bahwa sebanyak 35
orang siswa (87,5%) mencapai kualifikasi baik
dan 5 orang siswa (12,5%) lainnya mencapai
kualifikasi cukup. Dari data tersebut dapat
dikatakan bahwa penguasaan siswa terhadap aspek
psikomotor dengan penerapan PBAS pada materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit melalui metode
praktikum dengan bahan alam cukup baik.
3. Hasil Refleksi Siklus I
Berdasarkan hasil tes ulangan harian
siklus I yang peneliti lakukan kepada siswa kelas
X6 sebagai kelas sampel dalam melihat ketuntasan
hasil belajar kimia pada materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit dengan menggunakan model
PBAS, belum mencapai pada hasil yang
diharapkan oleh peneliti. Dalam hal ini siswa
sudah berusaha memecahkan masalah yang
dikerjakan, namun kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal larutan elektrolit dan
nonelektrolit masih kurang dipahami oleh
sebagian siswa serta siswa masih bingung dalam
membedakan yang mana tergolong elektrolit,
elektrolit kuat, elektrolit lemah dan nonelektrolit
dari larutan yang digunakan dalam praktikum.
Selain itu masih banyak siswa kurang aktif dalam
mengikuti proses pembelajaran serta kerja sama
kelompok belum berjalan dengan baik.
Oleh karena itu, dari hasil tes ulangan
harian keseluruhan nilai rata-rata yang diperoleh
siswa kelas X6 pada siklus I sebesar 62,82. Selain
itu, peneliti melihat dari hasil observasi
pembelajaran tentang materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit pada siklus I berdasarkan langkahlangkah PBAS hanya beberapa poin saja dari
langkah-langkah PBAS yang dilakukan guru dan
siswa yaitu sebagai berikut :
1. Siswa kebanyakan diam dan siswa
tidak mengajukan pertanyaan terhadap
materi yang disampaikan oleh guru.
2. Guru tidak memberikan tugas-tugas
belajar untuk dikerjakan oleh siswa
dirumah.
3. Guru tidak memberikan motivasi atau
dorongan kepada siswa pada saat
proses pembelajaran berlangsung.
4. Siswa tidak mampu mengaplikasikan
hasil pembelajaran lewat tindakan
yang dilakukan oleh guru.
5. Siswa banyak bermain dalam kegiatan
praktikum.
Sehingga kemunculan pernyataan yang
muncul dari data observasi yaitu Ya dan Tidak.
Oleh sebab itu, dari hasil observasi tersebut
peneliti akan meninjau kembali baik dari hasil tes
maupun dari hasil observasi atau pengamatan.
Untuk itu berdasarkan hasil refleksi maka
dilanjutkan ke siklus yang ke 2 selanjutnya
masalah yang belum teratasi pada siklus 1 dilihat
kembali pada siklus 2.
4. Deskripsi Hasil Tes Ulangan Harian
Siklus II
Pencapaian hasil tes siswa dapat dilihat
pada tabel kualifikasi pencapaian siswa pada tabel
4.4 dan terlampir pada lampiran 12. Tes ulangan
harian siklus II ini dilakukan untuk memperbaiki
nilai pada tes ulangan harian siklus I sekaligus
untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa
terhadap
indikator-indikator
materi
dari
kompetensi dasar yang dikembangkan sebagai
bentuk tindakan perbaikan yang terdiri dari
kegiatan perencanaan, tindakan, observasi baik
afektif dan psikomotor dan refleksi yang dirancang
berdasarkan
kesalahan,
kelemahan
dan
kekurangan yang terjadi. Perbaikan yang
memperhatikan kesalahan dan kekurangan pada
siklus I, menghasilkan nilai ulangan harian seperti
pada tabel berikut.
Tabel 4.4 Hasil Tes Ulangan Harian Siklus II
Nilai
Frekuensi
Persentase(%)
Kualifikasi
90 – 100
4
10
Sangat baik
80 – 89
18
45
Baik
70 – 79
18
45
Cukup
60 – 69
-
-
Kurang
< 60
-
-
Gagal
40
100
Tabel 4.4 menunjukan bahwa sebanyak 4
orang siswa (10%) mencapai kualifikasi sangat
baik, 18 orang siswa (45%) mencapai kualifikasi
baik dan 18 orang siswa (45%) mencapai
kualifikasi cukup dan tidak ada siswa yang
mencapai kualifikasi gagal. Hal ini menunjukan
bahwa peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam
menyelesaikan soal-soal materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit dengan penerapan model
Pembelajaran Berorientasi Aktifitas Siswa (PBAS)
melalui praktikum pada materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit sangat baik.
4. Hasil Refleksi Siklus II
Masalah yang belum teratasi pada siklus 1
adalah kemampuan siswa untuk memahami materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit yang dilakukan
guru dengan pemberian materi melalui metode
ceramah. Maka cara mengatasinya pada siklus II
adalah dengan metode praktikum agar siswa bisa
mengetahui langsung tentang materi yang
diajarkan melalui kegiatan eksperimen untuk
menguji larutan elekrolit dan nonelektrolit. Serta
siswa bisa membedakan yang mana merupakan
larutan elektrolit, elektrolit kuat, elektrolit lemah,
dan nonelektrolit dari kegiatan tersebut.
Selain itu dari hasil observasi siklus II
berdasarkan langkah - langkah
PBAS
menunjukan bahwa :
1. Siswa aktif dalam proses pembelajaran
kegiatan
praktikum
serta
mampu
merangkai alat uji elektrolit dengan baik.
2. Siswa mulai aktif bertanya terhadap
materi yang disampaikan oleh guru.
3. Siswa mampu mengaplikasikan hasil
pembelajaran lewat tindakan.
4. Guru banyak memberikan tugas-tugas
rumah secara berkelompok.
5. Guru memberikan motivasi atau dorongan
pada
saat
proses
pembelajaran
berlangsung.
6. Guru dan siswa sama-sama aktif dalam
menarik kesimpulan.
Dari hasil observasi tersebut banyak
kemunculan pernyataan yang muncul pada data
observasi siklus II adalah pernyataan Ya. Dari
hasil tes juga pada siklus ini peneliti melihat
sangat mendukung sekali dalam keberhasilan
model PBAS dan mencapai ketuntasan hasil
belajar sangat meningkat dari keseluruhan jumlah
nilai rata-rata siswa sebesar 62,82 pada siklus I
menjadi 80,15 pada siklus II
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa penerapan model PBAS melalui metode
ceramah dan praktikum pada materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit berhasil di siklus II dan
peneliti tidak melanjutkan untuk ke siklus
berikutnya.
2. Deskripsi Hasil Wawancara dan
Pengisian Angket Siswa
Hasil wawancara didapatkan setelah
proses pembelajaran mengenai larutan elektrolit
dan nonelektrolit selesai. Wawancara dilakukan
pada siswa dengan menanyakan minat dan
tanggapan mereka tentang kegiatan pembelajaran
yang dilakukan dengan penerapan model PBAS.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Hasil Tes Ulangan Harian Siklus I
Berdasarkan hasil tes pada siklus I yang
dilakukan
sebelum
kegiatan
praktikum
berlangsung. Dari tabel 4.1 didapatkan bahwa
sebanyak 8 orang siswa dengan persentase 20%
mencapai kualifiaksi cukup, 23 orang siswa
dengan persentase 57,5% mencapa kualifikasi
kurang dan 9 orang siswa
22,5% lainnya
mencapai kualifikasi gagal. Hal ini menunjukan
suatu kewajaran karena materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit belum dipraktekan. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa seluruh indikator
yang dikembangkan dari standar kompetensi,
terhadap materi yang ada perlu dipraktikumkan
dan diaplikasikan .
4.2.2
Deskripsi Observasi Selama Proses
Pembelajaran
Materi
Larutan
Elektrolit dan Nonelektrolit
Berdasarkan
hasil
observasi
yang
dilakukan terhadap siswa selama proses kegiatan
belajar mengajar dikelas dengan penerapan model
PBAS pada materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit berlangsung melalui praktikum
dengan menggunakan alat dan bahan yang
sederhana diperoleh dari kedua aspek yaitu :
a. Aspek Afektif
Aspek keaktifan siswa selama kegiatan
belajar mengajar dengan penerapan model PBAS
berlangsung, dapat dilihat pada tabel kualifkasi
pencapaian siswa pada aspek afektif. Pada tabel
4.2 dimana terlihat bahwa dari 40 orang siswa
sebanyak 28 orang siswa dengan persentase 70 %
dengan pencapaian nilai interval diatas 79 %
mencapai kualifikasi baik dan 12 orang siswa
lainnya dengan persentase 30 % mencapai
kualifikasi cukup. Respon yang diperlihatkan
siswa cukup baik dengan berusaha memahami dan
mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan
dikelas, terlihat dengan kehadiran siswa yang tepat
pada waktunya dan kesiapan siswa dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran praktikum
dengan membawa atau menyiapkan alat sederhana
dan beberapa bahan atau indikator yang diambil
dari alam yang telah diinstrusikan guru
sebelumnya.
a. Aspek Psikomotor
Berdasarkan tabel 4.3 dimana kualifikasi
pencapaian siswa pada aspek psikomotor terlihat
bahwa sebanyak 35 orang siswa dengan persentase
87,5% mencapa kualifikasi baik (terampil) dan 5
orang siswa lainnya dengan persentase 12,5%
mencapai kualifikasi cukup (cukup terampil). Hal
ini menunjukan bahwa penguasaan siswa terhadap
aspek psikomotor dengan penerapan model
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
(PBAS) pada konsep larutan elektolit dan
nonelektrolit melalui kegiatan praktikum tercapai
dengan baik.
Pada aspek ini ada 6 aspek yang dinilai,
yakni keterampilan siswa dalam menyiapkan alat
dan bahan yang sesuai dengan LKS, merangkai
alat uji elektrolit, mengidentifikasi nyala lampu,
mengamati adanya gelembung gas dan mengisi
tabel pengamatan.
4.2.3
Deskrispi Hasil Tes Siklus II
Setelah proses pembelajaran dengan alat
dan bahan alam dalam melakukan praktikum
tentang uji elektrolit selesai, dilakukan tes siklus II
dalam bentuk tindakan perubahan terhadap hasil
tes pada siklus I. Hasil tes siklus II dilakukan
untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan
aktivitas siswa agar termotivasi terhadap materi
yang telah diajarkan dengan penerapan model
PBAS. Hasil tes siklus II dapat dilihat pada tabel
kualifikasi pencapaian siswa pada tes siklus II
(tabel 4.4) dan yang terlampir pada lampiran 12.
Berdasarkan tabel 4.4 terlihat bahwa
sebanyak 4 orang siswa dengan persentase 10%
mencapai kualifikasi sangat baik, 18 orang siswa
dengan persentase (45%) mencapai kualifikasi
baik dan 18 orang siswa dengan persentase (45%)
mencapai kualifikasi cukup dan tidak ada yang
mencapai kualifikasi gagal. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa siswa mampu menguasai
indikator-indikator pembelajaran pada konsep
larutan elektrolit dan nonelektrolit sesuai KKM.
Sejalan dengan hal itu, dapat disimpulkan bahwa
penerapan
model
PBAS
dalam
proses
pembelajaran mampu meningkatkan minat dan
motivasi belajar serta siswa lebih aktif dalam
kegiatan belajar mengajar karena dirasakan
langsung manfaatnya oleh setiap siswa.
4.2.4
Deskripsi Hasil Wawancara
Dari hasil wawancara yang dilakukan
dengan siswa setelah pembelajaran dengan
penerapan model PBAS yang diterapkan melalui
praktikum, siswa merasa termotivasi dan berminat
dengan pembelajaran yang dilakukan. Dan untuk
memperkuat hasil wawancara tersebut peneliti
membagikan lembar angket (lembar quisioner),
yang diisi oleh masing-masing siswa. Hasil
pengisian lembar angket tersebut dapat dilihat
pada lampiran 16 yang menunjukan bahwa 93%
siswa merasa senang dan tertarik serta termotivasi
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan
penerapan model PBAS yang diterapkan oleh
peneliti.
Motivasi yang diperlihatkan siswa tersebut
berakibat pada hasil tes siklus II yang mengalami
peningkatan hasil belajar yang baik, dimana 87,5%
siswa mampu menguasai indikator-indikator
pembelajaran pada konsep larutan elektrolit dan
nonelektrolit dengan baik. Sejalan dengan hal itu
tersebut, dapat dilihat analisis hasil tes siswa pada
siklus I dan siklus II pada lampiran 13, dimana
hasil tes siklus II yang diperoleh siswa, mengalami
peningkatan yang baik bila dibandingkan dengan
hasil tes pada siklus I. sehingga dengan demikian
dapat dikatakan bahwa penerapan model PBAS
membuat siswa merasa aktif dan termotivasi
dalam mempelajari konsep materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa penerapan model PBAS
mampu menarik dan memotivasi siswa belajar.
4.2.5
Data dari Sumber-sumber Lain
Penerapan Pembelajaran Berorientasi
Aktivitas Siswa (PBAS) pada konsep larutan
elektrolit dan nonelektrolit di kelas X SMA Negeri
13 Ambon memberikan banyak manfaat dan
wawasan bukan hanya bagi siswa dan peneliti
sendiri tetapi juga bagi guru dan sekolah yang
bersangkutan.
Berdasarkan hasil wawancara secara
formal yang peneliti lakukan pada guru dalam hal
ini dengan guru bidang studi, bahwa dalam
kegiatan pembelajaran praktikum untuk materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit, kami sebagai
guru kimia di SMA 13 Ambon merasa sulit karena
tidak ada ruang laboratorium sebagai tempat untuk
melakukan praktikum. Oleh karena itu, peneliti
mengambil inisiatif dengan guru untuk melakukan
praktikum dikelas dengan menggunakan bahan
dan alat yang bersifat sederhana. Salah satu contoh
alat dan bahan yang digunakan yaitu batu baterai,
kabel, lampu, batang tembaga dan jepitan buaya
sedangkan bahan yaitu air kelapa muda, air sumur,
air aqua, dan lain-lain.
Dengan keterbatasan sarana dan prasarana
yang ada di SMA 13 Ambon tentu sangat fatal bila
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit di
ajarkan secara teori. Oleh karena itu, peneliti dan
guru mata pelajaran memberikan informasi
sebelumnya kepada siswa mengenai kegiatan
praktikum ini dilaksanakan. Dengan cara
membagikan kelompok dan setiap kelompok
mencari bahan-bahan atau indikator yang ada di
lingkungan sekitar. Dengan demikian, hal ini
sangat tentu membuat siswa merasa termotivasi
dan aktif untuk belajar mengenal dan langsung
mengetahui zat yang tergolong elektrolit dan
nonelektrolit melalui praktik serta para siswa bisa
belajar sendiri atau secara berkelompok untuk
dilakukannya dirumah.
Dengan
Penerapan
Pembelajaran
Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) membuat
siswa dapat berfikir kreatif mencari bahan-bahan
dari alam yang dapat dipergunakan sebagai bahan
dalam eksperimen, sehingga dengan hal tersebut
membuat siswa tahu dan menambah wawasannya,
bahwa ternyata begitu banyak sumber daya alam
di bumi ini yang dapat dimanfaatkan sebagai
sumber belajar sehingga menimbulkan keyakinan
dan semangat yang kuat untuk terus belajar guna
peningkatan sumber daya manusia.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan yang telah diuaraikan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBAS
dalam pembelajaran konsep larutan elektrolit dan
nonelektrolit di kelas X6 SMA Negeri 13 Ambon
mampu meningkatkan hasil belajar kimia yaitu
meningkat dari nilai rata-rata siswa pada siklus I
sebesar 62,82 hingga mencapai nilai rata-rata pada
siklus II sebesar 80,15. Oleh karena itu dapat
disimpulkan secara umum sebagai berikut :
1. Kemampuan penguasaan siswa terhadap
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit
yang diperoleh melalui hasil penilaian pada
Aspek Afektif dan Psikomotor diperoleh
sebanyak 87,5% siswa mampu merespon dan
aktif dalam kegiatan pembelajaran yang
dilakukan dengan PBAS dan sebanyak 70%
siswa
memiliki
keterampilan
(aspek
Psikomotor) dengan baik dalam materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan
penerapan model Pembelajaran Berorientasi
Aktivitas Siswa (PBAS).
2. Hasil observasi pada siklus I menunjukan
kemunculan pada beberapa langkah-langkah
PBAS yang dilakukan oleh guru dan siswa
menyatakan pernyataan Ya, dan Tidak.
Sedangkan pada siklus II menunjukan
kemunculan pada beberapa langkah-langkah
PBAS yang dilakukan oleh guru dan siswa
menyatakan pernyataan Ya.
3. Hasil wawancara dengan guru dan
berdasarkan data angket yang diperoleh
secara langsung dengan siswa menunjukan
bahwa siswa merasa tertarik termotivasi dan
bertambah wawasannya dengan mengikuti
pembelajaran dengan penerapan PBAS
Terlihat dengan hasil pengisian angket siswa
sebesar 93 % siswa aktif serta mampu
merespon dan memahami materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit melalui penerapan
strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas
Siswa (PBAS) yang diterapkan oleh peneliti.
4. Dari hasil sumber data lain terlihat bahwa
penerapan
Pembelajaran
Berorientasi
Aktivitas Siswa ini mampu memberikan
semangat dan sumber belajar yang baik serta
memberikan manfaat yang baik bagi siswa,
guru maupun sekolah yang bersangkutan, hal
ini terlihat dengan pendapat yang diberikan
oleh guru, bahwa penerapan Pembelajaran
Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) mampu
meningkatkan motivasi belajar siswa
khususnya siswa SMA Negeri 13 Ambon.
5.2
Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan penulis
merasa perlu memberikan saran-saran sebagai
berikut :
1. Siswa akan lebih aktif dalam mengembang
pengetahuannya
apabila
diberikan
kesempatan untuk menemukan sendiri dan
melihat secara nyata fakta-fakta yang terkait
dengan pengetahuan yang diterimanya.
Dibandingkan dengan hanya duduk dan
mendengar guru menjelaskan di depan kelas,
maka seharusnya guru mempunyai peran
yang lebih kuat dalam menyediakan sumbersumber belajar yang dapat membuat siswa
lebih aktif dalam belajar.
2. Guru jangan hanya terpaku dengan sumber
belajar yang telah di sediakan, tapi bagaimana
guru bisa memanfaatkan sumber-sumber
belajar yang ada di alam sekitar untuk
dijadikan media dalam belajar agar lebih
menambah wawasan dan kreatifitas siswa
dalam belajar.
3. Disarankan agar para guru lebih kreatif dalam
menemukan sumber-sumber belajar yang
dapat membuat siswa lebih aktif dalam
belajar, seperti penerapan PBAS dalam
pembelajaran. Dengan demikian, para guru
selalu siap dengan berbagai cara dalam
rangka menunjang para siswa untuk belajar.
Hal ini juga akan ditiru oleh para siswa
sehingga pada pembelajaran berikutnya ideide siswa untuk Pembelajaran Berorintasi
Aktifitas Siswa (PBAS) akan semakin
meningkat.
Download