BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keadaan Umum

advertisement
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Keadaan Umum Kabupaten Aceh Singkil
Wilayah Kabupaten Aceh Singkil terletak di sebelah selatan Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu pada posisi antara 2o02’- 2o27’30” LU dan
97o04’ - 97o45’00” BT. Luas wilayah Kabupaten Aceh Singkil adalah 2.187 Km2
(BPS Aceh Singkil, 2010).
Bagian utara Kabupaten Aceh Singkil merupakan daerah dengan fisiografi
wilayah perbukitan yang didominasi oleh sistem perbukitan berupa bukit lipatan.
Diantara bukit-bukit terdapat sungai dan anak-anak sungai yang bermuara ke
Samudera Hindia.
Pada bagian selatan, fisiografi terdiri atas dataran aluvial
sungai dan endapan pasir laut yang sebagian besar merupakan ekosistem rawa
yang unik. Disamping itu, terdapat juga bahan induk tanah berupa bahan organik
yang sebagiannya telah terdekomposisi membentuk gambut. Pada bagian selatan
juga terdapat daerah kepulauan yang umumnya didominasi oleh bahan induk bukit
kapur dan endapan pasir (BPS dan Bappeda Aceh Singkil, 2005).
Kawasan rawa gambut dalam yang terdapat di bagian barat Kabupaten
Aceh Singkil berfungsi sebagai daerah transisi antara daratan dan lautan sehingga
berpotensi untuk mencegah rembesan air laut ke darat dan sekaligus sebagai
sumber cadangan air tanah. Di samping itu, sebagian besar daerah rawa-rawa
Universitas Sumatera Utara
gambut tersebut adalah bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai
Kawasan Suaka Alam (KSA) atau Kawasan Pelestarian Alam (KPA) sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Iklim di wilayah Kabupaten Aceh Singkil termasuk dalam tipe iklim
tropis. Keadaan iklim sangat dipengaruhi oleh angin musim yang bertiup dari arah
Barat Laut dan Barat Daya, dan biasanya berlangsung dari bulan Nopember
sampai bulan Mei setiap tahunnya. Ciri umum iklim tropis adalah keadaan suhu
yang relatif tinggi, kelembaban udara tinggi dan intensitas hujan yang tinggi juga.
Suhu udara bulanan berkisar antara 29,6 – 33,2 oC; Kelembaban udara relatif
bulanan berkisar antara 97 – 100% dengan kelembaban maksimum terjadi pada
bulan Juli – September dan Nopember – Desember; Curah hujan rerata tahunan
agak bervariasi antara wilayah selatan dengan intensitas lebih dari 34,8
mm/hr/thn, wilayah Timur dengan intensitas 20,7 – 27,7 mm/hr/thn, dan wilayah
Tengah dan Utara dengan intensitas 27 – 34,8 mm/hr/thn (BPS dan Bappeda Aceh
Singkil, 2005 ).
Berdasarkan peta topografi, sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh
Singkil adalah dataran. Bentuk wilayah yang datar ini umumnya terletak di bagian
selatan. Sedangkan daerah berbukit berada di bagian utara. Bentuk muka bumi
yang relatif datar di wilayah Kabupaten Aceh Singkil memberikan implikasi
ketersediaan lahan untuk pengembangan secara ekstensif berbagai kegiatan
ekonomi produktif, khususnya pertanian lahan basah. Disamping itu, sebagian
Universitas Sumatera Utara
wilayah yang berada di pesisir pantai serta daerah kepulauan memiliki potensi
untuk pengembangan pariwisata alam dan perikanan laut. Daerah-daerah yang
berpotensi untuk pengembangan wisata alam dan perikanan laut meliputi
kecamatan: Singkil; Singkil Utara; Kuala Baru; dan Kepulauan Banyak.
Secara hidrologis, Kabupaten Aceh Singkil memiliki potensi sumberdaya
air yang sangat besar bersumber dari air sungai, danau, rawa-rawa dan mata air.
Potensi sumberdaya air terbesar bersumber dari air sungai. Sungai Krueng Singkil
(Lae Singkil) adalah sungai utama yang bermuara ke Samudera Hindia dan
merupakan pertemuan dari dua sungai, yaitu: Lae Cinendang dan Lae Soraya. Lae
Cinendang memiliki hulu di Pakpak Bharat Sumatera Utara, sedangkan Lae
Soraya berhulu di Lawe Alas Aceh Tenggara. Di samping itu terdapat beberapa
sungai lainnya yang relatif lebih kecil, diantaranya: Lae Siragian dan Lae
Silabuhan (BPS dan Bappeda Aceh Singkil, 2005).
2.2.
Ekosistem Sungai
Defenisi sungai menurut Asdak (2004), adalah suatu aliran air yang
melintasi permukaan bumi dan membentuk alur aliran atau morfologi aliran air.
Morfologi sungai menggambarkan keterpaduan antara karakteristik abiotik (fisik,
hidrologi, sedimen) dan karakteristik biotik (biologi atau ekologi flora dan fauna)
daerah yang dilaluinya. Faktor yang berpengaruh pada morfologi sungai tidak
hanya faktor biotik dan abiotik saja, namun juga campur tangan manusia dalam
Universitas Sumatera Utara
kehidupannya. Pengaruh campur tangan manusia ini dapat mengakibatkan
perubahan morfologi sungai yang lebih cepat dari sebelumnya.
Sungai merupakan tempat berkumpulnya air dari lingkungan sekitarnya
yang mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Daerah sekitar sungai yang
mensuplai air ke sungai dikenal dengan daerah tangkapan air atau daerah
penyangga. Kondisi suplai air dari daerah penyangga dipengaruhi aktifitas dan
perilaku penghuninya. Pada umumnya daerah hulu mempunyai kualitas air yang
lebih baik dari pada daerah hilir. Dari sudut pemanfaatan lahan, daerah hulu relatif
sederhana dan bersifat alami seperti hutan dan perkampungan kecil. Semakin
kearah hilir keragaman pemanfaatan lahan meningkat. Pada akhirnya daerah hilir
merupakan tempat akumulasi dari proses pembuangan limbah cair yang dimulai
dari hulu (Wiwoho, 2005).
Hendrawan (2005) menyatakan bahwa pencemaran sungai dan situ dapat
berasal dari (1) tingginya kandungan sedimen yang berasal dari erosi, kegiatan
pertanian, penambangan, konstruksi, pembukaan lahan dan aktivitas lainnya; (2)
limbah organik dari manusia, hewan dan tanaman (3) kecepatan pertambahan
senyawa kimia yang berasal dari aktivitas industri yang membuang limbahnya ke
perairan. Ketiga hal tersebut merupakan dampak dari meningkatnya populasi
manusia, kemiskinan dan industrialisasi. Penurunan kualitas air akan menurunkan
dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari
sumberdaya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumberdaya
Universitas Sumatera Utara
alam. Untuk menjaga kualitas air agar tetap pada kondisi alamiahnya, perlu
dilakukan pengelolaan dan pengendalian pencemaran air secara bijaksana.
2.3.
Ekologi Makrozoobentos
Benthos adalah organisme air yang hidup dan tinggal diendapan dasar
perairan, baik yang ada didasar maupun yang berada di bawah permukaan
sedimen. Selain itu benthos juga merupakan organisme dasar perairan yang
mempunyai habitat relatif tetap sehingga perubahan-perubahan yang terjadi atas
lingkungannya sangat mempengaruhi kehidupannya (odum, 1993).
Menurut Barus (2004), umumnya benthos yang sering dijumpai di suatu
perairan adalah dari taksa Crustacea, molllusca, Insekta dan sebagainya. Benthos
tidak saja berperan sebagai penyusun komunitas perairan, tetapi juga dapat
digunakan dalam studi kuantitatif untuk mengetahui kualitas suatu perairan.
Menurut Hutabarat dan Evans (1984), dilihat secara ekologis hewan
benthos di dalam suatu perairan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar,
yaitu:
a. Menurut habitatnya :
•
Epifauna, hewan benthos yang sedang atau dalam berasosiasi dengan
permukaan dasar perairan baik yang merayap, melekat ataupun merangkak
•
Infauna, hewan benthos yang hidup di substrat lunak dengan
membenamkan diri atau membuat lubang pada dasar perairan.
Universitas Sumatera Utara
b. Menurut ukurannya :
•
Mikrobenthos, yang memiliki ukuran < 0.1 mm
•
Meiobenthos, yang memiliki ukuran 0.1 – 1 mm
•
Makrobenthos, yang memiliki ukuran > 1 mm
Selanjutnya menurut Barnes (1978) pembagiannya berdasarkan pola-pola
makannya benthos dibedakan menjadi tiga macam. Pertama sebagai suspension
feeder yang memperoleh makanannya dengan menyaring partikel-partikel
melayang di perairan. Kedua sebagai deposit feeder yang mencari makanan pada
sedimen dan mengasimilasikan material organik yang dapat dicerna dari sedimen.
Material organik dalam sedimen biasanya disebut detritus. Ketiga sebagai detritus
feeder tersebut khusus hanya makan detritus saja. Daya toleransi bentos terhadap
pencemaran bahan organik dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Intoleran,
Toleran dan Fakultatif (Lee et al, 1978).
Menurut Fachrul (2007) secara umum berdasarkan derajat toleransinya
terhadap pencemaran, bentos dikelompokkan menjadi tiga, yaitu seperti terlihat
pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1.
No.
Kelompok benthos berdasarkan derajat toleransinya terhadap
pencemaran
Kelompok
Contoh Organisme
1.
Jenis yang tahan
terhadap pencemar
Cacing-cacing Tubificid, larva nyamuk,
terutama Masculium sp., dan Psidium sp.
2.
Jenis yang lebih
jernih (bersih)
Siput-siput yang senang arus, Bryozoa, serangga air
dan crustacea
siput,
Universitas Sumatera Utara
3.
2.4.
Jenis yang hanya
senang bersih
Siput dari suku iVivinatidae dan Amnicolidae,
serangga (larva/nimfa) dari bangsa Ephemeridae,
Odonata, Hemiptera, dan Coleoptera
Ekologi Plankton
Menurut Muhammadsuin (2002) plankton adalah organisme yang terapung
atau melayang-layang di dalam air yang pergerakannya relatif pasif. Berdasarkan
ukurannya plankton dibagi atas : 1) ultra nanoplankton yang ukurannya < 2 μm; 2)
nano plankton yang ukurannya berkisar antara 2-20 μm; 3) mikroplankton
berukuran 20-200 μm; 4) mesoplankton berukuran 200-2000 μm dan 5) mega
plankton yang ukurannya di atas 2000 μm.
Plankton di muara sangat sedikit dalam jumlah jenis dan pada umumnya
didominasi oleh jenis Diatom. Genera Diatom yang mendominiasi adalah
Skeletonema sp., Asterionella sp., Chaetoceros sp., Nitzchia sp. Zooplankton di
muara merupakan gambaran fitoplankton dalam keterbatasan dengan komposisi
spesies. Komposisi spesies juga bervariasi, baik secara musiman mengikuti
gradien salinitas ke arah hulu. Zooplankton laut yang khas yang terbawa ke luar
dan masuk bersama pasang surut meliputi spesies dari genera Copepoda
Eurytemora sp., Acartia sp., Pseudodioptomus sp., dan Centropeges sp. sementara
dari Amfipoda, yaitu Gammarus sp. (Nybakken, 1988).
Menurut Barus (2004), kualitas suatu perairan terutama perairan
menggenang dapat ditentukan berdasarkan fluktuasi populasi plankton yang akan
Universitas Sumatera Utara
mempengaruhi tingkatan trofik perairan tersebut. Fluktuasi dari populasi plankton
sendiri dipengaruhi terutama oleh perubahan berbagai faktor lingkungan. Salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi populasi plankton adalah ketersediaan
nutrisi di suatu perairan. Unsur nutrisi berupa nitrogen dan fosfor yang
terakumulasi dalam suatu perairan akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi
fitoplankton dan proses ini akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi yang dapat
menurunkan kualitas perairan.
Penggunaan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan dapat
dipakai
dengan
mengetahui
keseragaman
jenisnya
yang
disebut
juga
keheterogenan jenis. Komunitas dikatakan mempunyai keseragaman jenis tinggi,
jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi, Sebaliknya, keanekaragaman jenis
rendah jika hanya terdapat beberapa jenis yang melimpah (Fachrul, 2007).
2.5.
Kelimpahan, Indeks Keanekaragaman, Keseragaman Dan Dominansi
Komponen lingkungan, baik yang hidup (biotik) maupun yang mati
(abiotik) akan mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman biota air yang ada
pada suatu perairan, sehingga tingginya kelimpahan individu tiap jenis yang
dipakai untuk menilai kualitas suatu perairan. Perairan yang berkualitas baik
biasanya memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dan sebaliknya pada
perairan buruk atau tercemar (Fachrul, 2007).
Beberapa kriteria kualitas air berdasarkan indeks keanekaragaman jenis
Shanon-Wiener (Barus, 2004) dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.2.
Kriteria kualitas air berdasarkan indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener (H’)
Indeks Keanekaragaman
Kualitas
>2,0
1,6 – 2,0
1,0 – 1,5
< 1,0
Tidak tercemar
Tercemar ringan
Tercemar sedang
Tercemar berat
Brower et.al, (1990) menyatakan bahwa keseragaman adalah komposisi
jumlah individu dalam setiap genus atau species yang terdapat dalam komunitas.
Nilai keseragaman suatu populasi akan berkisar antara 0–1 dengan kreteria : 0,4≤
E ≤0,6 dengan keseragaman populasi kecil;
Keseragaman populasi sedang;
sampai dengan keseragaman tinggi. Zahidin (2008), menambahkan bahwa Indeks
keseragaman adalah perbandingan keanekaragaman maksimal dalam suatu
komunitas. Nilai indeks keseragaman antara 0 – 1, makin besar nilainya berarti
penyebaran individu tiap jenis atau genera semakin merata dan tidak ada spesies
yang mendominasi, begitu pula sebaliknya.
2.6.
INDEKS BIOTIK
Pada dasarnya indeks biotik merupakan nilai dalam bentuk scoring (1-10)
yang dibuat atas dasar tingkat toleransi organisme atau kelompok organisme
terhadap cemaran. Indeks tersebut juga memperhitungkan keragaman organisme
dengan mempertimbangkan kelompok-kelompok tertentu dalam kaitannya dengan
tingkat pencemaran (Trihadiningrum & Tjondonegoro, 1998). Nilai indeks biotik
Universitas Sumatera Utara
dari suatu lokasi dapat diketahui dengan menghitung nilai skoring dari semua
kelompok biota yang ada dalam unit sampling.
Indeks biotik telah dikembangkan didaerah-daerah maju terutama dieropa.
Salah satu metoda adalah Biological Monitoring Working Party-Average Score
Per Taxon (BMWP-ASPT) yang dikembangkan di Inggris. Sistem tersebut
mengelompokkan atau membagi biota bentik menjadi 10 tingkatan berdasarkan
kemampuannya dalam merespon cemaran di habitatnya (Wardhana, 2006).
Tabel 2.3.
Nilai skoring indeks biotik dengan metode BMSP-ASPT
Kelompok Biota Aquatik
Skor
Crustaceae (udang galah), Ephemeroptera (larva lalat sehari
penggali), Plecoptera (larva lalat batu)
10
Gastropoda (limpet air tawar), Odonata (kini-kini)
8
Tricoptera (larva pita-pita berumah)
7
Bivalvia (Kijing), Crustacea (udang air tawar), Ephemeroptera
(larva lalat sehari perenang), Odonata (larva sibar-sibar)
6
Diptera (larva lalat hitam), Coleoptera (Kalajengking air,
kumbang air), Trichoptera (larva pita-pita tak berumah),
Hemiptera (kepik perenang punggung, ulir-ulir)
5
Platyhelminthes (cacing pipih), Arachnida (tugau air)
4
Hirudinea (lintah), Gastropoda (siput), Bivalvia (Kerang),
Gamaridae (kutu babi air), Shyirpidae (belatung ekor tikus)
3
Chironomidae (larva nyamuk)
2
Oligochaeta (cacing)
1
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan tabel di atas, nilai indeks biotik dapat diperoleh dengan cara
merata-ratakan seluruh jumlah nilai skoring dari masing-masing kelompok biota
yang diperoleh. Nilai indeks akan berkisar antara 0 – 10 dan sangat bervariasi
bergantung pada musim. Semakin tinggi nilai yang diperoleh akan semakin
rendah tingkat cemaran yang ada.
Range indeks Biotik
 Perairan Bersih > 10
 Perairan tercemar sedang : 3 – 9
 Perairan tercemar berat : 0 - 2
Kualitas air sungai juga dapat dinilai berdasarkan tabel 2.4 dengan
ketentuan sebagai berikut (Trihadiningrum & Tjondronegoro, 1998):
1. Air sungai akan tergolong tidak tercemar, jika dan hanya jika terdapat
Tricoptera (Sericosmatidae, Lepidosmatidae, Glossosomatidae) dan planaria,
tanpa kehadiran jenis indikator yang terdapat pada kelas 2-6.
2. Air sungai tergolong agak tercemar, tercemar ringan, tercemar, tercemar agak
berat dan sangat tercemar, bila terdapat salah satu atau campuran jenis
makroinvertebrata indikator yang terdapat dalam kelas masing-masing.
3. Apabila makroinvertebrata terdiri atas campuran antara indikator dari kelaskelas yang berlainan, maka berlaku ketentuan berikut:
Universitas Sumatera Utara
a. Air sungai dikategorikan sebagai agak tercemar apabila terdapat campuran
organisme indikator dari kelas 1 & 2 atau dari kelas 1, 2 & 3.
b. Air sungai dikategorikan tercemar ringan apabila terdapat campuran
organisme indikator dari kelas 2 & 3, atau kelas 2, 3 & 4
c. Air sungai dikategorikan tercemar apabila terdapat campuran organisme
indikator dari kelas 3 & 4, atau kelas 3, 4 & 5.
Tabel 2.4.
Makroinvertebrata indikator untuk menilai kualitas air
Tingkat Cemaran
Makrozoobentos Indikator
1. Tidak Tercemar
Tricoptera
(sericosmatidae,
Glossosomatidae); Planaria
2. Tercemar ringan
Plecoptera (perlidae, Peleodidae);
3. Tercemar sedang
Molusca
(Pulmonata,
Bivalvia);
Crustacea
(Gammaridae); Odonanta (Libellilidae, Cordulidae)
4. Tercemar
Hirudinea (Glossiphonidae, Hirudidae); Hemiptera
5. Tercemar agak berat
Oligochaeta (Ubificidiae); Diptera (Chironomus
thumni-plumossus); Shyrpidae
6. Sangat tercemar
Tidak
terdapat
Makrozoobentos.
Besar
kemungkinan dijumpai lapisan bakteri yang sangat
toleran terhadap limbah organik (Sphaerotilus) di
permukaan
2.7.
lepidosmatidae,
Faktor Fisika-Kimia
2.7.1. Faktor fisika air
Universitas Sumatera Utara
Menurut Muhammadsuin (2002), faktor fisika air yang sering merupakan
faktor pembatas bagi organisme air adalah suhu, cahaya, dan kecepatan arus,
sehingga faktor fisika tersebut selalu diukur dalam studi ekologi perairan.
2.7.1.1. Suhu air
Kisaran suhu lingkungan perairan lebih sempit dibandingkan dengan
lingkungan daratan, karena itulah maka kisaran toleransi organisme aquatik
terhadap suhu juga relatif sempit dibandingkan dengan organisme daratan.
Berubahnya suhu suatu badan air besar pengaruhnya terhadap komunitas aquatik.
Naiknya suhu perairan dari kisaran biasa, karena pencemaran perairan dapat
menyebabkan organisme aquatik terganggu, sehingga dapat mengakibatkan
struktur komunitas berubah.
2.7.1.2.
Kecerahan
Pengukuran kecerahan air bisa dilakukan dengan keping secchi (secchi
disk). Prinsip penentuan kecerahan air dengan keping secchi adalah berdasarkan
batas pandangan kedalam air untuk melihat warna putih yang berada didalam air.
Semakin keruh suatu badan air akan semakin dekat batas pandangan, sebaliknya
kalau air jernih akan jauh batas pandangan tersebut. Pengukuran kecerahan air
dengan keping secchi dilakukan sebagai berikut, keping dimasukkan kedalam air
secara perlahan-lahan sambil diperhatikan sampai warna putih dari piringan itu
tidak terlihat lagi, dan dicatat berapa kedalamnnya. Seterusnya piringan itu
diturunkan lagi kedalam air beberapa meter dan berangsur-angsur ditarik keatas
Universitas Sumatera Utara
sampai warna putih terlihat kembali, dan dicatat kedalamnnya. Dari kedua
kedalaman itu dihitung rata-ratanya, dan angka itulah merupakan tingkat
kecerahan badan air yang diukur itu yang dinyatakan sebagai kecerahan keping
secchi.
2.7.1.3. Arus air
Kecepatan arus air dari suatu badan air ikut menentukan penyebaran
organisme yang hidup dibadan air tersebut. Penyebaran Plankton, baik
fitoplankton maupun zooplankton, paling ditentukan oleh aliran air. Selain itu,
aliran air juga ikut berpengaruh terhadap kelarutan udara dan garam-garam dalam
air, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kehidupan
organisme air.
2.7.2.
Faktor Kimia Air
2.7.2.1.
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan suatu ukuran dari konsentrasi ion
hidrogen. Kondisi tersebut akan menunjukkan suasana air itu bereaksi asam atau
basa. Nilai pH berkisar mulai dari angka 0 hingga 14, nilai 7 menunjukkan kondisi
bersifat netral. Nilai pH di bawah 7 menunjukkan kondisi bersifat asam dan nilai
di atas 7 bersifat basa (Boyd, 1991).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Effendi (2003) sebagian besar organisme air peka terhadap
perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7 – 7,5. Apabila nilai pH 6,0 – 6,5 akan
menyebabkan keanekaragaman plankton dan hewan makrobenthos akan menurun.
2.7.2.2. Salinitas
Salinitas akan mempengaruhi penyebaran organisme baik secara horisontal
maupun secara vertikal (Odum, 1971). Salinitas juga akan mempengaruhi
penyebaran plankton, makrozoobentos dan organisme perairan lainnya. Penurunan
salinitas dapat menentukan distribusi dari invertebrata perairan, khususnya kelas
Polychaeta di muara sungai. Menurut Gross (1972) menyatakan bahwa hewan
benthos umumnya dapat mentoleransi salinitas berkisar antara 25 – 40 ‰.
Menurut Budiman dan Dwiono (1986) bahwa gastropoda yang bersifat
mobile mempunyai kemampuan untuk bergerak guna menghindari salinitas yang
terlalu rendah, namun bivalvia yang bersifat sessile akan mengalami kematian jika
pengaruh air tawar berlangsung lama. Selain itu reproduksi dari jenis-jenis
gastropoda seperti Littorina scabra sangat dipengaruhi oleh salinitas.
Muara sungai merupakan ekosistem yang mempunyai fluktuasi salinitas
yang tinggi dan gradien salinitas akan tampak pada saat tertentu. Salinitas di
muara sungai berkisar antara 5‰ – 30‰. Pola gradien salinitas bervariasi
bergantung pada musim, topografi muara, pasang surut dan jumlah dan air tawar.
Distribusi Polychaeta dapat dipengaruhi oleh perubahan salinitas terutama di
Universitas Sumatera Utara
daerah muara sungai. Perubahan salinitas yang sangat besar akan mengakibatkan
jumlah makrobenthos sedikit (Nybakken, 1988).
2.7.2.3. Oksigen terlarut (DO)
Oksigen terlarut merupakan variabel kimia yang mempunyai peranan yang
sangat penting bagi kehidupan biota air sekaligus menjadi faktor pembatas bagi
kehidupan biota. Daya larut oksigen dapat berkurang disebabkan naiknya suhu air
dan meningkatnya salinitas. Konsentrasi oksigen terlarut dipengaruhi oleh proses
respirasi biota air dan proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Pengaruh
ekologi lain yang menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut menurun adalah
penambahan zat organik (buangan organik) (Connel dan Miller, 1995).
Berkurangnya oksigen terlarut mengakibatkan masalah yang cukup serius
pada kehidupan hewan makrobenthos. Demikian pula berkurangnya oksigen
terlarut biasanya dikaitkan dengan tingginya bahan organik yang masuk ke dalam
perairan. Besarnya kandungan oksigen terlarut sangat dipengaruhi oleh laju
fotosintesis, respirasi, temperatur, salinitas, dan dekomposisi (Odum, 1971).
2.7.2.4.
Kebutuhan Oksigen Biologis (Biological Oxygen Demand /BOD)
Menurut Wardhana (2004) bahwa Biological Oxygen Demand (BOD)
merupakan kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam
air oleh mikroorganisme yang ada dalam perairan tersebut. BOD dapat pula
Universitas Sumatera Utara
digambarkan sebagai jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan
organik menjadi karbondioksida dan air oleh mikroba aerob.
Menurut Effendi (2003) BOD dapat menggambarkan jumlah bahan
organik yang dapat didekomposisi secara biologi dan bahan organik tersebut
berasal dari pembusukan tumbuhan dan hewan yang telah mati atau merupakan
hasil buangan limbah domestik dan industri.
2.7.2.5. Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid /TSS)
Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat
(pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan
dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri,
fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel
anorganik (Tarigan dan Edward, 2003).
TSS merupakan material yang halus di dalam air yang mengandung lanau,
bahan organik, mikroorganisme, limbah industri dan limbah rumah tangga yang
dapat diketahui beratnya setelah disaring dengan kertas filter ukuran 0.042 mm.
Nilai konsentrasi TSS yang tinggi dapat menurunkan aktivitas fotosintesa dan
penambahan panas di permukaan air sehingga oksigen yang dilepaskan tumbuhan
air menjadi berkurang dan mengakibatkan ikan-ikan menjadi mati (Murphy, 2007
dalam Herfinalis, 2008). Selanjutnya Wirasatriya (2011) menambahkan bahwa
kandungan TSS juga sangat menentukan kondisi kesuburan suatu perairan.
Universitas Sumatera Utara
Download