0 PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN PROPOLIS

advertisement
PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN PROPOLIS DALAM
MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Aggregatibacter actinomycetemcomitans
(Aa) PENYEBAB PERIODONTITIS
NASKAH PUBLIKASI
Disusun untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Disusun Oleh:
Rizqia Lintang Pratama
J520110036
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
0
1
THE EFFECT OF VARIOUS PROPOLIS SOLUTION AGAINST Aggregatibacter
actinomycetemcomitans (Aa) growth as periodontitis agent
Rizqia Lintang Pratama1, Ana Riolina2, Nanang Krisnawan3
1
Student of Dentistry Faculty, Muhammadiyah University of Surakarta
2
Lecturer of Dentistry Faculty, Muhammadiyah University of Surakarta
ABSTRACT
Periodontal disease was common disease found on people nowdays, one of them was
known as periodontitis. Periodontitis caused by gram negative anaerobic bacteria called
Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa). Propolis was a bee product that contain active
compound which could inhibit bacteria growth. The study was conducted to understand the
effect of various propolis solution againts Aa growth.
This was purely experimental laboratory study with post test only group design.
Antimicrobial susceptibility was tested using disk diffusion method. The sample were divided
into five treatment groups and twi control groups. Material test consistend of propolis
solution, povidone iodine as positive control and aquades as negative control. Propolis
solution were prepared into 5 differetny concentration, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, positive
control, negative control and were replicated 3 times than incubated 24 hours within 37°C.
Clear zone that appeared around the disk were measured by millimeter caliper.
The result showed that propolis solution with 30%, 40%, 50%, 60%, 70% concentration
could give effective antimicrobial susceptibility against Aa growth (p=0.000). It can be
concluded that various propolis solution could affect Aa growth, while the most effective
solution to inhibit was 70% concentration.
Keywords : Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa), anaerobic bacteria, periodontitis
disease, propolis.
PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN PROPOLIS DALAM
MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Aggregatibacter
actinomycetemcomitans(Aa) PENYEBAB PERIODONTITIS
Rizqia Lintang Pratama1, Ana Riolina2, Nanang Krisnawan2
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
2
Dosen Pembimbing Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
1
INTISARI
Penyakit periodontal adalah penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat di
dunia saat ini, salah satu penyakit periodontal adalah periodontitis. Penyebab periodontitis
adalah bakteri anaerob gram negatif yaitu Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa).
Propolis merupakan produk dari lebah yang mempunyai banyak senyawa aktif yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh berbagai
kosentrasi larutan propolis dalam menghambat pertumbuhan bakteri Aa secara in vitro.
Penelitian ini termasuk dalam eksperimental murni laboratoris dengan rancangan Post
Test Only Design Group. Uji daya hambat menggunakan metode difusi sumuran, dibagi
menjadi lima kelompok perlakuan dan dua kelompok kontrol. Bahan uji berupa larutaan
2
propolis, povidone iodine sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai kontrol negatif.
Larutan propolis diencerkan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 30%, 40%, 50%,
60%,70%, kontrol positif dan kontrol negatif kemudian direplikasi sebanyak 3 kali dan
diinkubasi dengan suhu 37ºC selama 24 jam. Zona bening yang terlihat disekitar sumuran
kemudian diukur menggunakan jangka sorong dengan satuan milimeter.
Hasil penelitian adalah larutan propolis konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60% dan 70%
mempunyai daya hambat antibakteri yang efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri Aa
(p=0,000). Kesimpulan dari penelitan didapatkan bahwa berbagai konsentrasi larutan propolis
mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Aa dan konsentrasi yang paling efektif
dalam menghambat pertumbuhan Aa adalah konsentrasi 70%.
Kata Kunci : Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa) , bakteri anaerob, penyakit
periodontitis, propolis.
PENDAHULUAN
Penyakit
periodotal
adalah
penyakit yang banyak diderita oleh
masyarakat dunia dan mencakup
50% dari popolasi didunia. Menurut
hasil morbiditas, prevalesi karies
yaitu 90,05%, sedangkan prevalensi
penyakit periodontal adalah 96,58%1.
Penyakit periodontal merupakan
salah satu penyakit yang dapat
menyebabkan tanggalnya gigi akibat
inflamasi bakteri dengan cara
menghasilkan kerusakan progresif
pada jaringan penunjang gigi. Salah
satu penyakit periodontal adalah
periodontitis, penyakit periodontitis
ditunjukkan dengan adanya inflamasi
pada jaringan periodontal yang sudah
sampai pada jaringan pendukung gigi
yang lebih dalam, periodontitis
banyak dijumpai pada orang usia 3040 tahun2. Periodontitis juga dapat
disebabkan oleh infeksi bakteri.
Bakteri anaerob gram negative
penyebab
periodontitis
seperti,
Actinobacillus
actinomycetemcomitans, Fusobacterium nucleatum,
Treponema , Bacteriodes forsytusdan
Porphyromonas gingivali. Diantara
bakteri tersebut yang memiliki
kemampuan patogenik paling kuat
adalah Actinobacillus actinomycetemcomitans. Actinobacillus actinomycetemcomitans sering dikenal
dengan
nama
Aggregatibacter
actinomycetemcomitans
kemudian
3
disingkat menjadi Aa . Bakteri Aa
merupakan bakteri coccobacillus
gram negatif. Bakteri Aa adalah
virulen peripatogen yang terlibat
dalam etiologi dan patogenesis
penyakit periodontitis4. Pencegah
periodontitis dapat dilakukan dengan
kontrol plak, menyikat gigi dan
menggunakan obat kumur, yang
mengandung substansi antibakteri.
Banyak peneliti yang meneliti
tentang
bahan alamiah yang
mengandung antibakteri sebagai
pengganti obat - obatan sintetis, salah
satu bahan alamiah tersebut adalah
propolis.
Propolis merupakan senyawa
resin yang dikumpulkan lebah untuk
melindungi sarangnya agar madu
yang terdapat dalam sarang tetap
dalam keadaan baik5. Propolis
merupakan produk lebah yang sudah
sejak lama digunakan sebagai
antiseptik dan obat luka luar.
Menurut
beberapa
penelitian
3
sebelumnya, propolis dapat berfungsi
sebagai
antikanker,
antifungal,
antioksidan
antiinflamasi
dan
antibakteri. Propolis juga dapat
menyembuhkan lesi kecil dimulut
dan infeksi kulit yang disebabkan
karena mikroorganisme yang resisten
terhadap
antibiotik.
Propolis
mempunyai senyawa aktif yang
mampu berinteraksi dengan DNA
bakteri, hasil interaksi tersebut
menyebabkan rusaknya permeabilitas
dinding sel bakteri, mikrosom, dan
lisosom6.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui
pengaruh
berbagai
konsentrasi
popolis
dalam
menghambat pertumbuhan bakteri
Aa secara in vitro. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan
informasi
kepada
masyarakat
mengenai konsentrasi dari larutan
propolis yang dapat digunakan
sebagai antibakteri.
dengan metode difusi sumuran, pada
masing-masing media Muller Hinton
Agar diusapkan bakteri Aa secara
merata dengan kapas lidi steril. Pada
media Muller Hinton Agar dibuat 7
lubang sumuran dengan diameter
6mm
dan
kedalaman
4mm.
Kemudian di isi larutan propolis
konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60%,
70%, kontrol positif dan kontrol
negatif menggunakan mikropipet.
Media Muller Hinton yang sudah
ditetesi berbagai konsentrasi larutan
propolis diinkubasi pada suhu 37ºC
selama 24 jam, setelah itu zona
bening
yang
terbentuk
pada
sekeliling lubang sumuran diukur
dengan jangka sorong.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
penelitian
berbagai
konsentrasi larutan propolis terhadap
bakteri Aa menunjukkan bahwa
terbentuknya zona bening disekitaran
lubang sumuran yang telah berikan
perlakuan konsentrasi 30%, 40%,
50%, 60%, 70% dan kontrol positif.
Data yang sudah diperoleh dari
perhitungan kemudian
di
uji
normalitas dan homogenitas sebagai
syarat untuk melakukan uji One-way
Anova. Hasil dari uji normalitas
Shapiro-Wilk (p>0,05) menunjukkan
bahwa semua kelompok terdistribusi
normal. Hasil uji homogenitas
menggunakan uji Homogenity of
Variances dengan levene test yang
bertujuan untuk melihat perbedaan
varian data terdistribusi homogen
apabila (p>0,05). Hasil uji homogenitas menunjukan p=0,076 yang
mengartikan bahwa nilai p>0,05
sehingga data penelitian bersifat
homogen. Hasil uji normalitas dan
uji homogenitas didapatkan bahwa
data menemuhi
syarat
untuk
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
merupakan
penelitian
eksperimental
murni
laboratoris dengan Post Test Only
Control Group Design7. Penelitian
ini dilaksanakan di laboratorium
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Hewan UGM pada bulan Maret 2014
- Januari 2015. Penelitian ini
menggunakan 5 konsentrasi propolis
yaitu 30%, 40%, 50%, 60%, 70%,
povidone iodine sebagai kontrol
positif dan aquadest sebagai kontrol
negatif.
Larutan
propolis
sediaan
diencerkan menggunakan aquadest
steril yaitu pada konsentrasi 30%,
40%, 50%, 60% dan 70%.
Dilanjutkan dengan uji aktivitas
antibakteri berbagai konsentrasi
larutan propolis terhadap bakteri Aa
4
dilakukan uji One-way Anova,
kemudian dilakukan uji One-way
Anova. Berikut hasil perhitungan
olahan data dengan uji One-way
Anova.
Hasil uji One-way Anova
menunjukkan bahwa nilai p=0,00
(p<0,05) yang berarti adanya
perbedaan daya antibakteri pada
berbagai konsentrasi larutan propolis
(Apis melifera) terhadap bakteri
Aasecara in vitro. Perbedaan pada
hasil uji One-way Anova selanjutnya
dilakukan uji Post Hoc Least
Significant Different (LSD) untuk
mengetahui
perbedaan
yang
bermakna antar kelompok perlakuan.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui
pengaruh
larutan
propolis
berbagai
konsentrasi
terhadap pertumbuhan bakteri Aa.
Hasil dari penelitian menunjukan
bahwa ada perbedaan zona bening
pada sekitar lubang sumuran yang
ditetesi dengan berbagai konsentrasi
larutan propolis (Apis melifera) yaitu
konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60%,
70% dan kontrol positif. Semua
konsentrasi
larutan
propolis
menunjukan
adanya
perbedaan
hambatan
dalam
menghambat
pertumbuhan bakteri Aa secara in
vitro, tetapi terdapat perbedaan yang
tidak bermakna pada konsentrasi
30% terhadap konsentrasi 40% dan
50%. Faktor yang menyebabkan
perbedaan yang tidak bermakna
adalah perbedan yang kecil pada
rerata hasil perhitungan. Penelitian
ini menunjukan bahwa konsentrasi
70% adalah konsentrasi paling besar
yang dapat menghambat bakteri Aa.
Propolis konsentrasi 70% lebih besar
dalam menghambat pertumbuhan
bakteri Aa dibandingkan dengan
povidone iodine.
Diameter zona hambat yang
terbentuk pada masing-masing konsentrasi dari larutan propolis menunjukkan
adanya
perbedaan.
Semakin kecil konsentrasi larutan
propolis semakin kecil juga zona
bening atau zona bening yang
terlihat. Sebaliknya semakin besar
konsentrasi larutan propolis semakin
besar pula zona bening yang terdapat
pada tepian sumuran. Perbedaan
zona beningini terjadi karena adanya
perbedaan perlakuan konsentrasi
yang diberikan kepada bakteri Aa.
Pernyatan ini sesuai dengan pendapat
Harvey, yang mengatakan bahwa
kosentrasi suatu zat antibakteri dapat
mempengarui zona hambat yang
terbentuk pada sekitaran lubang
sumuran. Semakin tinggi konsentrasi
zat antibakteri maka semakin banyak
sel mikroorganisme mati.
Zona bening yang terbentuk pada
sumuran
membuk-tikan
bahwa
konsentrasi
larutan
propolis
mengandung daya anti-bakteri yang
dapat menghambat pertumbuhan Aa.
Propolis dapat menghambat bakteri
Aa karena propolis mempunyai
banyak senyawa aktif yang dapat
meng-hambat pertumbuhan baktei
Aa. Kemampuan antibakteri yang
dimiliki propolis diperoleh dari
senyawa aktif yang terkandung
dalam propolis dengan cara merusak
dinding sel karena beriktan dengan
protein untuk melisis sel pada bakteri
sehingga bakteri mati11. Senyawa
aktif yang terdapat dalam propolis
dapat memberikan efek toksik
terhadap bakteri disebabkan karena
gugus hidroksil yang terdapat pada
struktur senyawa flavonoid pada saat
tranpor nutrisi8.
Kontrol positif yang digunakan
pada penelitian ini adalah povidone
5
iodine 1%, karena povidone iodine
1% salah satu obat kumur yang
digunakan untuk penyembuhan luka
pada rongga mulut. Pada penelitian
ini dihasilkan bahwa Povidone iodine
mempunyai daya hambat terhadap
pertumbuhan bakteri Aa. Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori
bahwa povidone iodine merupakan
antiseptik yang dapat menghambat
pertumbuhan mikro-organisme yang
ada di dalam jari-ngan hidup12. Cara
kerja povidone iodine terkait dengan
kendungan iodine yang dapat dengan
cepat ber-kontak langsung terhadap
per-tumbuhan bakteri yang mengakibatkan hilangnya materi sitoplasmik dan deaktivasi enzim sehingga terjadi kerusakan struktur dan
fungsi sel bakteri. Povidone iodine
ini juga bereaksi kuat dengan ikatan
rangkap deri asam lemak tak jenuh
delam dinding sel bakteri dan
membran bakteri yang menyebabkan
pembentukan pori permanen dan
lisisnya
sel
bakteri13.
Dalam
penggunaan secara oral povidone
iodin mempunyai efek negatif yaitu
apabila diberikan jangka panjang
untuk penggunaan dalam rongga
mulut menyebabkan sensitifitas
yodium. Adapun efek samping yang
dapati ditimbulkan setelah pemberian
Povidone iodine antara lain berupa
sensitivitas, eritema lokal, nyeri,
erosi mukosa dan resiko utamanya
yang terkait dengan fungsi tiroid14.
Povidone iodine dikontraindikasikan
pada pasien yang mempunyai
kelainan fungsi tiroid, hipersensitif
terhadap povidone iodine dan juga
wanita yang sedang menyusui dan
hamil3.
KESIMPULAN
Larutan propolis mempunyai
pengaruh
dalam
menghambat
pertumbuhan bakteri Aa. Terdapat
perbedaan yang bermakna antar
kelompok perlakuan yaitu pada
konsentrasi 30% larutan propolis
terhadap konsentrasi 60% dan 70%.
Konsentrasi larutan propolis yang
paling
berpengaruh
dalam
menghambat pertumbuahan bakteri
Aa adalah konsentrasi 70%.
DAFTAR PUSTAKA
1. Situmorang, N., Dampak Karies
Gigi dan Penyakit Periodontal
Terhadap Kualitas Hidup. Studi
di Dua Kecamatan Kota Medan,
Disertasi, 2004,
Universitas
Indonesia.
2. Newman, M.G., Takei, H.H.,
Carranza, N.T. 2012. Carranza’s
Clinical Periodontology (11th
ed) St-Louis, Missouri: Saunders
Elsevier.
3. Samaranayake, L. Essential
Microbiology for Dentistry.
2012. China: Elsevier, 292-305.
4. Rego, R., Denise M., Sergio L.,
and Joni A., Transmission of
Aggregatibacter
actinomycotemcomitans
between Brazilian Woman with
Severe Chronic Periodontitis and
their Chidren, Braz Dent J 2007
18(3) 220-224.
5. Siregar H.C.H., Fuah A.M.,
Octavianty Y. Propolis Madu
Multikhasiad.
Edisi
2012.
Jakarta : PT Penebar Swadaya ,
5-65.
6. Muli, E.M., Maingi, .M.,
Macharia,
J,
Antimicrobial
Properties of Propolis and
Honey from
the
Kenyan
Stingless
bee,
Dactylurina
Schimidti, Apiacta, 2008 43, 4961.
6
7. Notoatmodjo, N. Metodologi
Penelitian Kesehatan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2010, pp. 59.
8. Sabir, A., Aktivitas antibakteri
flavonoid propolis Trigona sp
terhadap Bakteri Streptococcus
mutans (in vitro), Maj. Ked. Gigi
2005,38(3): 135-41.
9. Yunanto A., Hartoyo E., Busiarti
L.Y, Peran Alkohol 70%,
Povidone-Iodine 10% dan Kasa
Kering Steril dalam Pencegahan
Infeksi pada Perawatan Tali
Pusat. Sari Pediatri, 2005; 7(2):
58-62
10. Harvey, R. A., Champe, P.C.,
Fisher, B, D., Microbiology
2ededition, 2007 Philadelpia:
Lippincot Williams & Wilkins,
31.
11. Cristanto, C, W., 2012, Efek
Antibakteri Biji Alpukat (Persea
americana
Mill)
Terhadap
Pertumbuhan
Streptococcus
mutans, Oral Biol Dent J., 4(2) :
40-44.
12. San F.C., Chein H.L., Shu W.C.,
2011,
Povidone
Iodine
Application Induce Cornea
Death Through Fixation, BJO ,
95: 277-83.
13. Kumar S, Babu R, Reddy J,
Uttam.
Povidone
iodine–
revisited. IDJ 2011; 3(3): 617619
7
Download