1 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.1 Status Sosial

advertisement
1
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
2.1 Status Sosial Ekonomi Orang Tua
2.1.1
Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi berasal dari tiga buah kata yang memiliki
makna yang
berbeda-beda.
Status adalah penempatan orang pada
suatu jabatan tertentu sedangkan status sosial adalah sekumpulan hak
dan kewajian yang dimiliki seseorang manusia sebagai makluk sosial
dalam masyarakatnya serta Ekonomi adalah berasal dari kata ekos dan
nomos yang berarti rumah tangga. Yang secara harfiah keadaan rumah
tangga.
Status sosial ekonomi menurut Abdulsyani (1994 : 57) adalah
kedudukan atau
posisi sesorang
dalam kelompok manusia yang
ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan,
jenis rumah tinggal, dan pemilikan kekayaan atau fasilitas. Menurut
peneliti sosial ekonomi adalah tingkat keinginan seseorang untuk
memenuhi kebutuhannya sesuai dengan tingkat pendapatan, sedangkan
menurut Soerjono Soekanto (2001 : 34) sosial ekonomi adalah posisi
seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti
lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya
dalam hubunganya dengan sumber daya, sedangkan menurut penulis
sosial ekonomi adalah keadaan ekonomi seseorang yang tidak lepas dari
kebutuhan dan keinginan sesuai dengan tingkat pendapatan.
2
Berdasarkan
beberapa
pendapat
diatas,
dapat
disimpulkan
pengertian keadaan social ekonomi dalam penelitian ini adalah
kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan
tingkat pendidikan, tingkat pendapatan pemilikan kekayaan atau fasilitas
serta jenis tempat tinggal.
Dari pengertian di atas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa
orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi
dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status
sosialnya rendah. Pada dasarnya kelas sosial ekonomi adalah status atau
kedudukan seseorang di masyarakat, di mana berdasarkan pada
pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang
diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang
rendah dengan mengacu pada pengelompokan menurut kekayaan.
2.1.2
Faktor-Faktor Yang Menentukan Keadaan Sosial Ekonomi
Berdasarkan
yang
sama
kodratNya
dan
manusia dilahirkan memiliki kedudukan
sederajatnya,
akan
tetapi
sesuai
dengan
kenyataan setiap manusia yang menjadi warga suatu masyarakat,
senantiasa
mempunyai status atau kedudukan dan peranan. Ada
beberapa faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya keadaan sosial
ekonomi
orang tua
di masyarakat,
diantaranya
tingkat pendidikan,
jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, status lingkungan tempat tingal,
pemilikan
kekayaan,
dan partisipasi dalam aktivitas kelompok dari
komunitasnya. Dalam hal ini uraiannya dibatasi hanya 4 faktor yang
3
menentukan yaitu tingkat pendidikan, pendapatan, dan kepemilikan
kekayaan, dan jenis tempat tinggal.
a. Tingkat Pendidikan
Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 1, pada dasarnya jenjang
pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan
kemampuan yang dikembangkan.. Pendidikan
adalah
aktivitas
dan
usaha untuk meningkatkan kepribadian dengan jalan membina potensipotensi pribadinya, yaitu rokhani (pikir, cipta, rasa, dan hati nurani) serta
jasmani (panca indera dan keterampilan- keterampilan).
b. Pendapatan
Pendapatan adalah jumlah semua pendapatan kepala keluarga
maupun anggota keluarga lainnya yang diwujudkan dalam bentuk uang
dan barang. Berdasarkan jenisnya, Biro Pusat Statistik membedakan
pendapatan menjadi dua yaitu:
1) Pendapatan berupa barang
2) Pendapatan berupa uang
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pendapatan orang tua
adalah penghasilan berupa uang yang diterima sebagai balas jasa dari
kegiatan baik dari sektor formal dan informal selama satu bulan dalam
satuan rupiah. Besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh setiap
penduduk akan berbeda antara yang satu dengan yang lain, hal ini karena
dipengaruhi oleh keadaan penduduk sendiri dalam melakukan berbagai
4
macam kegiatan sehari-hari. Menurut Sumardi (2004) dalam Maftukah
(2007) mengemukakan bahwa pendapatan yang diterima oleh penduduk
akan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya, sedangkam
menurut penulis pendapatan yang diterima oleh penduduk selain
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya akan di pengaruhi
olah keinginan dan kemauan untuk berusaha. Dengan pendidikan yang
tinggi dan mempunyai keinginan serta kemauan untuk berusaha mereka
akan dapat memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan
pekerjaan yang lebih baik disertai pendapatan yang lebih besar.
Sedangkan bagi penduduk yang berpendidikan
rendah dan tidak
mempunyai keinginan dan kemauan untuk berusaha
akan
mendapat
pekerjaan dengan pendapatan yang kecil.
Dalam penelitian ini pendapatan yang diterima penduduk dapat
digolongkan berdasarkan 4 golongan yaitu:
1. Golongan
penduduk berpendapatan rendah,
yaitu
penduduk yang berpendapatan < Rp.500.000 perbulan.
2. Golongan
penduduk
berpendapatan
cukup
tinggi,
yaitu
pendudukyang berpendapatan rata-rata antara Rp. 500.000 Rp.750.000 perbulan.
3. Golongan
penduduk
berpendapatan tinggi,
penduduk yang berpendapatan
yaitu
rata-rata antara Rp.750.000 - <
Rp.1.000.000 perbulan.
4. Golongan penduduk berpendapatan sangat tinggi yaitu penduduk
5
dengan pendapatan rata-rata > Rp.1.000.000
c. Pemilikan Kekayaan atau Fasilitas.
Pemilikan kekayaan atau fasilitas adalah kekayaan dalam bentuk
barang- barang dimana masih bermanfaat dalam menunjang kehidupan
ekonominya. Fasilitas atau kekayaan itu antara lain:
1) Barang-barang berharga
2) Jenis-jenis kendaraan pribadi.
d. Jenis tempat tinggal.
Menurut
Kaare
Svalastoga
dalam
Maftukah
(2007)
untuk
mengukur tingkat sosial ekonomi seseorang dari rumahnya, dapat dilihat
dari:
1. Status rumah yang ditempati, bisa rumah sendiri, rumah
dinas, menyewa, menumpang pada saudara atau ikut orang
lain.
2. status fisik bangunan, dapat berupa rumah permanen, kayu
dan bambu. Keluarga yang keadaan sosial ekonominya tinggi,
pada umumnya menempati rumah permanent, sedangkan
keluarga yang keadaan sosial ekonominya menengah kebawah
menggunakan semi permanen atau tidak permanen.
3. Besarnya rumah yang ditempati, semakin luas rumah yang
ditempati
pada
umunya
semakin
tinggi
tingkat
sosial
ekonominya.
Rumah dapat mewujudkan suatu tingkat sosial ekonomi bagi
6
keluarga yang menempati. Apabila rumah tersebut berbeda dalam
hal ukuran dan kualitas rumah. Rumah yang dengan ukuran besar,
permanen
dan
milik pribadi dapat menunjukkan bahwa status sosial
ekonominya tinggi berbeda dengan rumah yang keil, semi permanen dan
menyewa menunjukkan bahwa status sosial ekonominya rendah.
2.2 Prestasi Belajar Siswa
2.2.1
Pengertian Prestasi Belajar Siswa
Salah satu tujuan siswa bersekolah adalah untuk mencapai
prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuannya.Seseorang
yang telah melakukan suatu pekerjaan tentunya mengaharapkan untuk
memperoleh suatu hasil dari kegiatanya.
Menurut Sudjana (2008 : 23-28) prestasi belajar merupakan hasil
perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah kognitif terdiri atas :
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
a. Pengetahuan adalah terjemahan dari kata knowlwdge dalam
taksonomi Bloom, pengetahuan merupakan pengetahuan faktul
disamping pengetahuan hafalan atau diingat seperti rumus,
batasan, definifi dan istilah.
b. Pemahaman adalah tipe hasil belajar yang lebih dari pada
pengetahuan.
c. Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret
atau situasi khusus
7
d. Analisis adalah usaha memilih suatu integrasi menjadi unsurunsur atau begian-bagian sehingga jelas hirarkinya atau
susunanya.
e. Sintesis adalah penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke
dalam bentuk menyeluruh.
f. Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu
yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara kerja,
pemecahan, metode, materil, dll.
Saifudin Azwar (1996 : 44) prestasi belajar merupakan operasional
dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi,
angka kelulusan dan predikat keberhasilan.
Menurut Djalal (1986 : 4)
“prestasi belajar siswa adalah
gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses
belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran.
Hamalik (1994: 45) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah
perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau
setelah mempelajari sesuatu.
Dari beberapa pendapat diatas maka peneliti simpulkan bahwa
prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai
siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu
baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan
kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam
angka atau pernyataan.
8
2.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
2.2.2.1. Faktor dari dalam diri siswa (intern)
Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang perlu
dibahas menurut Slameto (1995 : 54) yaitu faktor jasmani, faktor psikologi
dan faktor kelelahan.
1.
Faktor Jasmani
1) Faktor kesehatan
2) Cacat tubuh
2. Faktor psikologis
1) Intelegensi
2) Perhatian
3) Bakat
4) Minat
5) Motivasi
6) Kematangan
7) Kesiapan
3. Faktor kelelahan
Ada beberapa faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi
belajar siswa antara lain dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
9
2.2.2.2
Faktor yang berasal dari luar (faktor ekstern)
Faktor
ekstern
yang
berpengaruh
terhadap prestasi
belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga,
faktor sekolah dan faktor masyarakat (Slameto, 1995 : 60).
1.
Faktor keluarga
Faktor keluarga sangat berperan aktif bagi siswa dan dapat
mempengaruhi dari keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi
antara anggota keluarga, keadaan keluarga, pengertian orang tua,
keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan suasana
rumah.
2.
Faktor sekolah
Faktor sekolah dapat berupa cara guru
mengajar, ala-alat
pelajaran, kurikulum, waktu sekolah, interaksi guru dan murid, disiplin
sekolah, dan media pendidikan.
3.
Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor yang mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa antara
lain teman bergaul, kegiatan lain di luar sekolah dan cara hidup di
lingkungan keluarganya.
Faktor eksternal ini dapat menimbulkan pengaruh positif antara lain
dilihat dari
1) Ekonomi keluarga menurut Slameto (1993) dalam Maftukah
(2007), bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya
dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi
10
kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan
kesehatan dan lain-lain. Juga membutuhkan fasilitas belajar
seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis,
buku dan lain-lain. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika
keluarga mempunyai cukup uang.
2)
Guru dan cara mengajar merupakan faktor yang penting
bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya
pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu
menyampaikan pengatahuan itu kepada anak-anak didiknya
3) Interaksi guru dan murid dapat mempengaruhi juga dengan
prestasi belajar, karena interaksi yang lancar akan membuat
siswa itu tidak merasa segan berpartisipasi secara aktif di dalam
proses belajar mengajar.
4) Kegiatan
siswa
dalam
masyarakat
dapat
menguntungkan
terhadap perkembangan pribadinya misalnya berorganisasi,
kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan keagamaan, dan lain-lain.
5) Teman bergaul, Anak perlu bergaul dengan anak lain untuk
mengembangkan sosialisainya karena siswa dapatbelajar dengan
baik apabila teman bergaulnya baik tetapi perlu dijaga jangan
sampai mendapatkan teman bergaul yang buruk perangainya.
6) Cara hidup tetangga di sekitar rumah besar pengaruhnya pada
pertumbuhan anak Hal ini misalnya anak yang tinggal di
11
lingkungan orang-orang yang rajin belajarotomatis anak tersebut
akan berpengaruh rajin belajar tanpa disuruh.
Faktor eksternal yang dapat menimbulkan pengaruh negatif
bagi prestasi anak adalah:
1) Cara mendidik
2) Interaksi guru dan murid
2.3 Pengaruh Status Sosial Ekonomi Terhadap Prestasi Belajar
Hasil belajar yang baik tidak dapat diperoleh dengan hanya
mengandalkan keterangan-keterangan yang diberikan oleh guru di depan
kelas, tetapi membutuhkan jua alat-alat yang memadai seperti buku tulis,
pensil, peta, pena dan terlebih dahulu lagi buku bacaan. Sebagian besar
alat-alat pelajaran itu harus disediakan sendiri oleh murid-murid yang
bersangkutan. Bagi orang tua yang keadaan ekonominya kurang
memadai sudah barang tentu tidak dapat memenuhi kebutuhankebutuhan anaknya secara memuaskan. Apabila keadaan ini terjadi pada
orang tua siswa, maka siswa yang bersangkutan akan menanggung
resiko-resiko yang tidak diharapkan. Keluarga sangat berperan aktif bagi
siswa dan dapat mempengaruhi dari keluarga antara lain: cara orang tua
mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga, pengertian
orang tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan
suasana rumah.
Keluarga dengan pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya
12
akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan
lain. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif
rendah, pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah,
begitu juga dengan keperluan lainnya.
Menurut Hamalik (1983) keadaan sosial ekonomi yang baik
dapat
menghambat ataupun mendorong dalam belajar dan biaya
pendidikan juga merupakan sumber kekuatan dalam belajar karena
kurangnya biaya pendidikan akan sangat mengganggu kelancaran
belajar. Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak
adalah pendapatan keluarga. Tingkat sosial ekonomi keluarga mempunyai
pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah, sebab
segala kebutuhan anak yang berkenaan dengan pendidikan akan
membutuhkan sosial ekonomi orang tua. Social ekonomi orang tua dapat
diukur dari tingkat pendidikan, pendapatan, kepemilikan kekayaan, dan
jenis tempat tinggal.
Menurut Hamalik (2002 : 160) mengemukakan bahwa keadaan
keluarga sangat mempengaruhi prestasi belajar anak karena dipengaruhi
oleh beberapa faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan
individu seperti kultur keluarga, pendidikan orang tua, tingkat ekonomi,
hubungan antara orang tua, sikap keluarga terhadap masalah sosial dan
realitas kehidupan.
Menurut Slameto (2003 : 63) bahwa keadaan ekonomi keluarga
erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain
13
terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan
kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang
belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.
2.4 Kajian Penelitian Relevan Terdahulu
Berdasarkan tinjauan pada hasil penelitian sebelumnya,
mengenai pengaruh status social ekonomi orang tua terhadap prestasi
belajar siswa sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh :
1. Muhamad Nur (2011) dengan Judul Hubungan Status Sosial
Ekonomi Orang tua terhadap motivasi belajar siswa pada mata
pelajar sejarah di SMA Negeri 4 Gorontalo. Permasalahan yang
dihadapi yaitu status social ekonomi orang tua mempengaruhi
motivasi belajar terhadap siswa. Metode yang digunakan dalam
penelitian tersebut adalah metode deskriptif korelasi, dengan
menggunakan analisis regresi dan korelasi sederhana. Berdasarkan
analisis data yang dilakukan menunjukkan hubungan positif antara
variabel X (status sosial ekonomi orang tua) dan variabel Y (motivasi
belajar siswa) didukung oleh koefisien determinasi (r2) sebesar
0,3642. Hal ini bahwa 36,42% variasi yang terjadi pada motivasi
belajar siswa dijelaskan oleh variasi status sosial ekonomi orang tua
(X) melalui persamaan regresi . Hal ini menunjukkan bahwa setiap
kenaikan satu skor status sosial ekonomi orang tua akan diikuti oleh
kenaikan skor motivasi belajar sebesar 0,26 unit pada konstanta
14
81,65. Dengan kata lain makin tinggi tingkat status sosial ekonomi
orang tua, makin tinggi tingkat motivasi belajar siswa.
2. Maftukhah (2007) degan judul Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi
Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas VIII
SMP N 1 Randudongkal Kabupaten Pemalang. Permasalahan yang
diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimakah gambaran tentang
keadaan
sosial ekonomi orang tua
siswa kelas VIII SMP N 1
Randudongkal Kabupaten Pemalang, bagaimanakah pengaruhnya
kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yang berbeda terhadap
prestasi belajar Geografi dan seberapa besar pengaruh kondisi
sosial ekonomi siswa terhadap prestasi belajar Geografi. Metode
pengambilan
data
digunakan
metode
angket
dan
metode
dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 54%
responden memiliki kondisi sosial ekonomi orang tua yang tergolong
tinggi (baik). Pengaruh antara kondisi sosial ekonomi orang tua
siswa SMP N 1 Randudongkal terhadap prestasi belajar geografi
sebesar sebesar 55,066 signifikansi 0.000 > 4,05. Dengan demikian
hipotesis kerja (Ha) yang menyatakan
bahwa ada pengaruh positif
antara kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar
siswa SMP N 1 Randudongkal “diterima”.
3. Indrawati (2009) dengan judul Status Sosial Ekonomi Orang Tua
Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Di Mi Ianatusshibyan 01 Waru
Jaya Parung Bogor. Permasalahan yang di angkat Bagaimana status
15
sosial ekonomi orang tua siswa di MI Ianatusshibyan tinggi, rendah
atau sedang ?, Bagaimana prestasi belajar matematika di MI
Ianatusshibyan ?, Apakah ada pengaruh sosial ekonomi orang tua
terhadap prestasi belajar matematika siswa ?. Metode pengambilan
data digunakan pemberian tes, angket dan wawancara. Hasil
penelitian Dari data penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa
dari 30 responden orang tua siswa 76,66% status sosial ekonomi
tingkat menengah, 10% status social ekonomi tingkat menengah
kebawah, dan 13,33% tingkat ekonomi tinggi. Jika dilihat dari tingkat
ekonomi, rata-rata siswa memiliki orang tua yang tingkat social
ekonominya sedang atau menengah. Untuk prestasi belajar
matematika siswa, dari 30 siswa, yang prestasinya tinggi 23,33%,
yang berprestasi rendah 10%, dan yang berprestasi sedang 66,66%.
Dari hasil prhitungan crostabulation antara prestasi belajar dan
status social ekonomi orang tua siswa, didapatkan nilai akhir sebesar
15,534 atau X2 hit 15,534, sedangkan X2 tab(0,052) = 5,991. Ini
berarti X2 hit lebih besar dari X2 tab, yaitu = X2 hit 15,534 > X2 tab
(0.052) = 5.991. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa status sosial
ekonomi orang tua berpengaruh terhadap prstasi belajar matematika
siswa. Siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya tinggi, maka
prestasinya akan lebih tinggi.
16
Relevansi penelitian diatas dengan penelitian ini adalah sebagai
berikut
1. Penelitian ini sama-sama menekankan pada status social ekonomi
orang tua siswa.
2. Dilihat dari aspek objek, tempat, waktu penelitian pun berbeda,
sehingga hasilnya pun akan berbeda.
2.5
Kerangka Pikir
Status social ekonomi orang tua sangat mempengaruhi prestasi
belajar siswa di mana keadaan ekonomi orang tua memegang peran yang
sangat penting terutama bagi siswa untuk menunjang keberhasilannya,
maka dibutukan berupa fasilitas yang memadai, yang dapat menentukan
tinggi rendahnya keadaan sosial ekonomi orang tua di masyarakat, diantar
anya tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan,
status
lingkungan tempat tinggal, kepemilikan kekayaan sedangkan prestasi
belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah
kognitif terdiri atas : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi. Sehingga dari kedua fariabel antara ekonomi dan prestasi
belajar mempengaruhi satu sama lain, bila di lihat dari keadaan orang tua
siswa yang berbeda-beda mulai dari keadaan ekonomi paling tinggi/atas
yang bekerja sebagai pegawai maupun pejabat, keadaan ekonomi orang
tua sedang bekerja sebagai pedagang/wirasuata dan keadaan ekonomi
orang tua bawah bekerja sebagai petani/buruh ini menunjukkan
pentingnya ekonomi orang tua untuk menunjang keberhasilan siswa.
17
Di sini penulis ingin mengetahui pengaruh status sosial ekonomi
terhadap prestasi belajar. Berikut adalah bagan kerangka pikir yang
digunakan oleh peneliti.
Tingkat Pendidikan
Pendapatan
Jenis tempat tinggal
Kepemilikan Kekayaan
Stasus Sosial Ekonomi Orang Tua
( Variabel X )
Pengetahuan
Pemahaman
Aplikasi
Analisis
Sintesis
Evaluasi
Menurut Hamalik (2002) dan Slameto (2003)
Prestasi Belajar
( Variabel Y )
Gambar 1 Model Konseptual Pengaruh X Terhadap Y
24
Keluarga dengan pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya akan lebih
mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain. Berbeda dengan
keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah, pada umumnya mengalami
kesulitan dalam pembiayaan sekolah, begitu juga dengan keperluan lainnya.
Keadaan sosial ekonomi yang baik dapat yang menghambat ataupun mendorong
dalam belajar. Masalah biaya pendidikan juga merupakan sumber kekuatan dalam
belajar karena kurangnya biaya pendidikan akan sangat mengganggu kelancaran
belajar. Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak adalah
pendapatan keluarga. Tingkat sosial ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang
sangat tinggi terhadap prestasi belajar siswa, sebab segala kebutuhan anak yang
berkenaan dengan pendidikan akan membutuhkan sosial ekonomi orang tua.
2.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir di atas dapat dirumuskan hipotesis dalam
penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang positif antara status social ekonomi
orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas X di SMK Negeri I Gorontalo.
25
Download