hubungan pemberian kompres dingin terhadap penurunan nyeri

advertisement
HUBUNGAN PEMBERIAN KOMPRES DINGIN TERHADAP PENURUNAN
NYERI PADA PASIEN PRE OPERASI APENDISITIS DI RUANG BEDAH
RUMAH SAKIT MUJI RAHAYU SURABAYA
Mar’atus Sa’diyah, Sri Hananto Ponco, Alifin
…………......……….…… ……
. .….ABSTRAK…… … ......………. ……
…… . .….
Appendicitis represent most abdomen serious condition case often happened with sigh of
pain in bone or pain representing compared to especial sigh of other sigh. This matter is
experienced of many patients pre operate appendicitis in Muji Rahayu Hospital, Surabaya.
The design of research is one group pre post test design with sample amounting to 20 responder
and election of sample conducted by purposive sampling.
The collecting data is using pain in bone scale observation sheet at the patient of pre operate for
appendicitis. The processing data by editing, coding, scoring, tabulating than it as percentaged and
analyzed using of parried t test.
The result of research showed before giving of cool compress most experiencing of pain in
bone, that is light pain in bone counted 2 people (10%), heavy pain in bone counted 6 people (30%)
and heave pain in bone controlled by counted 12 people (60%). While after giving of cool
compress, especially heavy pain in bone which initially 60% becoming 0%. The correlation giving
of cool compress to degradation of pain in bone storey with t count = 9,200 and p=0,000 where
p<0,05 hence Ho refused its meaning there is correlation giving of cool compress with degradation
of pain in bone.
See resul of this research the importance of cool compress to degrade pain in bone at
patient of pre operate for appendicitis.
Keywords: Pain In Bone Level, Cool Compress
Perubahan rasa nyaman akan menimbulkan
perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman
dalam berespon terhadap stimulus yang
berbahaya (Capernito, 1998). Proses dalam
memenuhi kebutuhan rasa nyaman, terutama
akibat nyeri merupakan hal yang harus
diatasi secepatnya karena dapat menimbulkan
respon sakit berupa perubahan fisik dan
psikis seseorang.
Menurut
Syamsuhidajat
(2004)
alasan utama seseorang yang diduga
apendisitis adalah akibat respon sakit yang
mereka rasakan. Insiden apendisitis di negara
maju lebih tinggi dari pada di negara
berkembang dan dalam tiga – empat dasa
warsa terakhir menurun secara bermakna,
dengan perbandingan antara pria dan wanita
pada umumnya sama kecuali pada umur 20 -
PENDAHULUAN. …… .
… ….
Apendisitis merupakan kasus gawat
abdomen yang paling sering terjadi.
Menurut Sabiston (2000) berpendapat bahwa
apendisitis adalah suatu penyakit prototipe
yang berlangsung melalui peradangan akibat
obstruksi dan iskhemia dalam rangka waktu
bervariasi
dimana
gejala
pasien
mencerminkkeadaan penyakit dalam waktu
penyakit. Pada kasus apendisitis hampir 97 –
100 % kasus disertai dengan keluhan awal
berupa sakit atau nyeri yang merupakan
keluhan utama dibandingkan keluhan lain
yang
menyerta
(Soeparman,
1999).
Kebutuhan rasa nyaman adalah suatu
keadaan yang membuat seseorang merasa
nyaman, terlindung dari ancaman psikologis,
bebas dari rasa sakit terutama rasa nyeri.
SURYA
45
Vol.02, No.IX, Agus 2011
Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Pasien Pre Operasi Apendisitis
30 tahun insiden pria lebih tinggi di
bandingkan wanita, sedangkan data nasional
menunjukkan
prognosis
pada
pasien
apendisitis dengan kematian 0 – 3 % dengan
apendisitis sederhana dan 2 % atau lebih,
pada kasus yang mengalami perforasi, pada
anak dan orang tua perforasi menyebabkan
kematian berkisar 10 -15 % diakibatkan
pasien terlambat memeriksakan diri dan
keterlambatan dokter dan ahli bedah yang
bersangkutan untuk memberikan pertolongan
(Syamsuhidajat, 2004).
Nyeri merupakan perasaan yang
sangat subyektif dan paling ditakutkan
Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan di Muji Rahayu pada ruang Bedah
ditemukan data tentang jumlah pasien
apendiksitis dari bulan Juni – Juli 2009
mencapai jumlah 20 pasien dengan
presentase nyeri ringan sebanyak 5 orang
(25 %), nyeri sedang 5 orang (25%) dan
nyeri berat 10 orang (50 %).banyak orang.
Menurut Selye (Long, 1996 dikutip Wahid
Iqbal, 2007) rasa nyeri merupakan stressor
yang dapat menimbulkan stress dan
ketegangan dimana individu dapat merespon
secara biologis dan perilaku yang
menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon
fisik meliputi perubahan keadaan umum,
wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu badan,
sikap badan dan apabila nafas makin berat
dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler
dan syok, sedangkan respoan psikis akibat
nyeri dapat merangsang respon stress yang
dapat mengurangi sistem imun dalam
peradangan, serta menghambat penyembuhan
respon yang lebih parah akan mengarah pada
ancaman merusak diri sendiri. Sehingga
individu dituntut untuk beradaptasi baik
secara biologi, psikologi dan sosia,l dalam
mengembangkan koping yang efektif,
menghindari perilaku yang mal adatif,
mencapai fungsi optimal.
Saat orang dibawa kerumah sakit
karena diduga apendisitis akan menjalani
observasi dan bedrest serta prosedur–
SURYA
prosedur diagnostik yang diperlukan dalam
upaya menentukan terapi dan tindakan
selanjutnya. Selama masa menunggu keluhan
nyeri harus diminimalkan sekecil mungkin
(Long, 1996). Pemberian analgesik dan
pemberian narkotik untuk menghilangkan
nyeri tidak terlalu dianjurkan karena dapat
mengaburkan diagnosa (Syamsuhidajat,
2004). Menurut Carol (1996) untuk
mengurangi atau menurunkan perasaan nyeri
dapat
diberikan
kompres
dingin(es).
Pengetahuan dan teknologi yang mempelajari
efek suhu rendah pada bidang biologi dan
kedokteran sudah lama dikenal, salah satunya
efek kompres dingin (es) adalah efek anastesi
berupa hilangnya sensasi nyeri dan dapat
digunakan pula pada pengobatan nyeri dan
bengkak yang local. Menurut Lewis (2000)
bahwa pemberian kompres dingin (es) dapat
menghambat proses pembengkakan, kompres
hangat tidak dihanjurkan karena rusaknya
jaringan. Dari uraian diatas, maka perlu
dilakukan penelitian guna mengetahui
seberapa jauh manfaat pemberian kompres
dingin (es) dalam menurunkan rasa nyeri
pada pasien apendisitis. Sehingga hasil
penelitian ini dapat memberikan masukan
kepada
perawat
khususnya
dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada
pasien dengan keluhan nyeri apendisitis dan
masyarakat pada umumnya.
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan
desain penelitian pra-eksperimental dengan
menggunakan uji “pre-post test” yang
mencari hubungan pemberian kompres
dingin (es) terhadap respon nyeri, peneliti
melakukan intervensi pada sampel dengan
dua pengamatan yaitu sebelum dan sesudah
perlakuan.
Teknik pengujian ini melihat
hubungan antara dua variabel dependen dan
independen dengan menggunakan computer
program SPSS 11.5
46
Vol.02, No.IX, Agus 2011
HASIL .PENELITIAN
…
1. Data Umum
1) Distribusi responden berdasarkan usia
atau umur
Tabel
1
Distribusi
responden
berdasarkan
umur
di
Rumah Sakit Muji Rahayu
Surabaya mulai tanggal 10
November
sampai
31
Desember 2009
No
Umur
Jumlah
3) Distribusi responden berdasarkan jenis
kelaminnya dapat dilihat pada tabel di
bawah ini:
Tabel 3 Distribusi responden berdasarkan
jenis kelamin di Rumah Sakit
Muji Rahayu Surabaya mulai
tanggal 10 November sampai 31
Desember 2009
Prosentase
(%)
1
20 s/d 30 tahun
5
25%
2
31 s/d 40 tahun
9
45%
3
40 s/d 50 tahun
6
30%
Jumlah
20
100%
Distribusi responden berdasarkan
tingkat pendidikan
Tabel 2 Distribusi responden berdasarkan
tingkat pendidikan di Rumah
Sakit Muji Rahayu Surabaya
mulai tanggal 10 November
sampai 31 Desember 2009
Jumlah
Prosentase
(%)
1
SD
2
10%
2
SLTP
4
20%
3
SLTA
9
45%
4
Diploma/Sarjana
5
25%
Jumlah
20
100%
Laki-laki
14
2
Perempuan
6
30%
Jumlah
20
100%
Jumlah
Prosentase
(%)
Petani
2
10%
2
Wiraswasta
9
45%
3
Swasta
Pegawai
Negeri
5
25%
4
20%
Jumlah
20
100%
No
Pekerjaan
1
4
Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan
bahwa dari total 20 responden, sebagian
besar bekerja sebagai wiraswasta yaitu 9
orang (45%) dan sebagian kecil bekerja
sebagai petani yaitu 2 orang (10%).
Dari tabel di atas dapat menunjukan
bahwa sebagian besar responden yang
berpendidikan SLTA yaitu 9 orang (45 %)
dan sebagian kecil berpendidikan SD yaitu 2
orang (10%).
SURYA
1
Prosentase
(%)
70%
Jumlah
4) Sedangkan untuk distribusi responden
berdasarkan pekerjaanya dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 4 Distribusi responden berdasarkan
pekerjaan di Rumah Sakit Muji
Rahayu Surabaya mulai tanggal
10
November
sampai
31
Desember 2009
2)
Pendidikan
Jenis Kelamin
Berdasarkan
tabel
di
atas
menunjukkan
bahwa
sebagian
besar
responden berjenis kelamin perempuan yaitu
sebesar 14 orang (70%) dan sebagian kecil
responden berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 6 orang (30%).
Berdasarkan
tabel
di
atas
menunjukkan bahwa dari 20 responden
sebagian besar responden yang berumur 31
s/d 40 tahun yaitu 9 orang (45%) dan
sebagian kecil responden berumur 20 s/d 30
tahun yaitu 5 orang (25%).
No
No
47
Vol.02, No.IX, Agus 2011
Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Pasien Pre Operasi Apendisitis
2. Data Khusus
1) Sebelum Pemberian Kompres Dingin
Tabel 5 Distribusi Responden Sebelum
Pemberian Kompres di Rumah
Sakit Muji Rahayu Surabaya
mulai tanggal 10 November
sampai 31 Desember 2009
No
Skala Nyeri
Jumlah
1
Tidak nyeri
0
Prosentase
(%)
0%
2
Nyeri ringan
2
10%
3
Nyeri sedang
6
30%
12
4
5
Nyeri
berat
terkontrol
Nyeri berat tidak
terkontrol
Jumlah
3)
Hubungan
Kompres
Dingin
Terhadap Penurunan Nyeri
Tabel 7 Tabulasi hubngan kompres dingin
terhadap penurunan nyeri di
Rumah Sakit Muji Rahayu
Surabaya mulai tanggal 10
November sampai 31 Desember
2009
No
Sebelum
Sesudah
Tidak nyeri
0%
0%
2
Nyeri ringan
10%
55%
60%
3
30%
45%
0
0%
4
60%
0%
20
100%
5
Nyeri sedang
Nyeri
berat
terkontrol
Nyeri berat tidak
terkontrol
0%
0%
100%
100%
Jumlah
Berdasarkan hasil statistik dengan
menggunakan uji “Paried t test atau uji t
sampel berpasangan“ didapatkan t hitung =
9,200 dan ρ=0,000 dimana ρ<0,05 maka Ho
ditolak artinya terdapat perbedaan rata-rata
nyeri sebelum dan sesudah pemberian
kompres dingin atau dengan kata lain terdapat
hubungan
kompres
dingin
terhadap
penurunan nyeri di Rumah Sakit Muji Rahayu
Surabaya.
2) Sesudah Pemberian Kompres Dingin
Tabel 6 Distribusi Responden Sesudah
Pemberian Kompres di Rumah
Sakit Muji Rahayu Surabaya
mulai tanggal 10 November
sampai 31 Desember 2009
No
Skala Nyeri
Jumlah
Prosentase
(%)
1
Tidak nyeri
0
0%
2
Nyeri ringan
11
55%
3
Nyeri sedang
9
45%
4
Nyeri berat terkontrol
Nyeri berat tidak
terkontrol
0
0%
0
0%
Jumlah
20
100%
PEMBAHASAN .…
.…
1. Respon Nyeri Apendisitis Sebelum
Pemberian Kompres
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan serta data-data yang dikumpulkan
didapatkan bahwa sebelum dilakukan
kompres dingin jumlah responden yang
mengalami nyeri berat terkontrol sebanyak
60%, nyeri sedang 30% dan nyeri ringan
10%, hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 di atas.
Menurut Soeparrman (1999) hampir semua
kasus apendisitis disertai dengan keluhan
awal berupa sakit atau nyeri yang merupakan
keluhan utama dibandingkan keluhan lain
yang menyerta. Tanda dan gejala yang timbul
pada pasien apendisitis meliputi rasa sakit di
daerah epigastrium daerah periubilikus, ini
merupakan gejala-gejala pertama dimana rasa
sakit ini samar-samar, ringan sampai moderat
Berdasarkan tabel diatas dapat
diketahui dari 20 responden yang telah diberi
kompres dingin sebagian besar nyeri ringan
sebanyak 11 orang (55%) dan sebagian kecil
nyeri sedang 9 orang (45%).
SURYA
Kompres Dingin
1
Berdasarkan tabel diatas dapat
diketahui dari 20 responden sebagian besar
yang mengalami nyeri berat terkontrol
sejumlah 12 orang (60%), dan sebagian kecil
nyeri berat terkontrol sejumlah 2 orang (10%).
5
Skala Nyeri
48
Vol.02, No.IX, Agus 2011
Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Pasien Pre Operasi Apendisitis
(Mansjoer, 2000). Nyeri pada apendik disini
bersifat menetap secara progresif bertambah
hebat dan semakin hebat apabila dibuat untuk
bergerak sehingga pasien tampak sakit dan
menhindari pergerakan di perut yang dirasa
nyeri. Sedangkan pada palpasi didapatkan
nyeri yang terbatas pada region iliaka kanan,
bisa disertai nyeri lepas. Selain itu nyeri
apendik sering disertai mual dan muntah
serta biasanya juga disertai konstipasi,
demam yang tidak tinggi dan denyut nadi
yang meningkat.
Perubahan
rasa
nyaman
akan
menimbulkan perasaan yang tidak enak atau
tidak nyaman dan berespon terhadap stimulus
yang berbahaya (Carpenito, 1998). Proses
dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman
terutama akibat nyeri merupakan hal yang
harus diatasi secepatnya karena dapat
menimbulkan respon sakit berupa perubahan
fisik dan psikis seseorang. Respon psikis
akibat nyeri dapat merangsang respon stress
seperti perasaan cemas dan takut akan
penyakit yang diderita dapat meningkatkan
rasa nyeri yang dirasakan. Hal ini
membuktikan bahwa nyeri dapat membuat
seseorang menjadi kurang nyaman sehingga
pemberian kompres dingin diharapkan dapat
menurunkan tingkat nyeri apendisitis.
menambah rusaknya jaringan apendik (Lewis,
2000). Kompres dingin dapat memberikan
efek anastesi berupa hilangnya sensasi nyeri
dan dapat pula digunakan pada pengobatan
bengkak yang lokal. Jadi setelah pemberian
kompres dingin didapat data yang
menunjukkan terjadi perubahan respon nyeri,
dimana perubahan respon nyeri tersebut
menunjukkan bahwa kompres dingin dapat
memberikan perubahan rasa nyaman
terhadap seseorang yang mengalami nyyeri
terutama di sini adalah nyeri apendisitis.
3. Hubungan Kompres Dingin Terhadap
Penurunan Nyeri
Berdasarkan hasil dari Perhitungan
data dengan menggunakan program SPSS for
windows versi 11,5 dengan menggunakan uji
statistik paired t test pada kelompok
pemberian kompres dingin di daerah dinding
perut kanan bawah (titik Mc.Burney)
diperoleh hasil perbedaan nyeri 1,05.
Sehingga
korelasi antara pre dan post
didapatkan nilai ρSig = 0.00 dimana ρ = <
0,05, maka Ho ditolak yang berarti bahwa
terdapat hubungan pemberian kompres
dingin dengan penurunan nyeri apendisitis..
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebelum dilakukan kompres dingin
hampir semua mengalami nyeri baik mulai
dari nyeri ringan sebesar 10%, nyeri sedang
30%, maupun nyeri berat sebesar 60%. Data
yang diperoleh setelah pemberian kompres
dingin memang untuk nyeri ringan terlihat
lebih banyak yaitu 55% begitu juga dengan
nyeri sedang sebanyak 45%. Namun untuk
nyeri berat terkontrol menjadi 0% yang
semula sebelum pemberian kompres adalah
60%. Hal ini menunjukkan bahwa kompres
dingin mempunyai efektivitas terhadap
penurunan
nyeri.
Dari
pembahasan
sebelumnya telah dijelaskan juga bahwa
kompres dingin memberikan efek terapeutik
dimana dapat menurunkan diameter konduksi
saraf sehingga menurunkan persepsi nyeri
dan memberikan perasaan nyaman sementara
terhadap nyeri Carpenito (1998). Dengan
adanya penurunan respon nyeri
maka
kebutuhan akan rasa nyaman terutama akibat
nyeri dapat teratasi. Adanya perbedaan
sebelun dan sesudah pemberian kompres
2. Respon Nyeri Apendisitis Sesudah
Pemberian Kompres
Hasil data pada Tabel 6 menunjukkan
bahwa setelah dilakukan pemberian kompres
dingin, pasien yang mengalami nyeri ringan
sebanyak 55% dan yang mengalami nyeri
sedang sebanyak 45%. Sedangkan untuk
nyeri berat terkontrol yang semula sebanyak
60% setelah pemberian kompres dingin
menjadi 0%, hal ini dikarenakan. Pemberian
kompres dingin ini mempunyai efek
terapeutik dimana menurunkan diameter
kondisi saraf sehingga menurunkan persepsi
nyeri, selain itu efek lain dari kompres dingin
adalah mengurangi respon peradangan pada
jaringan serta dapat memberikan perasaan
nyaman sementara terhadap nyeri (Carpenito,
1998). Pada penderita apendisitis lebih
dianjurkan untuk diberikan kompres dingin
dari pada kompres hangat, hal ini
dikarekakan
kompres
hangat
dapat
SURYA
49
Vol.02, No.IX, Agus 2011
Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Pasien Pre Operasi Apendisitis
dingin tersebut mungkin juga disebabkan
karena faktor-faktor yang mempengaruhi
nyeri dimana setiap individu mempunyai
ambang toleransi nyeri yang berbeda-beda
serta penyakit apendisitis itu sendiri yaitu
terjadinya peradangan pada umbai cacing
atau apendik. Menurut Wahid Iqbal (2007)
Umumnya manusia memandang nyeri
sebagai pengalaman yang negatif. Pada
dasarnya nyeri merupakan salah satu bentuk
refleks guna menghindari rangsangan dari
luar tubuh atau melindungi tubuh dari bahaya.
Orang yang mempunyai tingkat toleransi
tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh
nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang
yang toleransi terhadap nyeri rendah akan
mudah merasa nyeri dengan stimulus kecil.
Dari uraian di atas menunjukkan
bahwa pemberian kompres dingin di daerah
dindin perut pada kuadran kanan bawah (di
titik Mc.Burney) dapat menuurunkan tingkat
nyeri. Hal ini dikarenakan pemberian
kompres dingin (es) dapat mengurangi atau
menurunkan kecepatan hantaran dari reseptor
nyeri yang memberi perasaan nyaman
terhadap nyeri.
KESIMPULAN DAN SARAN.
1.
1)
2)
3)
penelitian dapat dijadikan pendukung teori
yang sudah ada.
Dengan adanya pelitian tentang
kompres dingin, maka masyarakat pada
umumnya dan responden pada khususnya
dapat mengaplikasikan kompres dingin
sebagai alternatif pengurang rasa nyeri pada
apendisitis, sehingga dapat memberikan rasa
nyaman sementara.
Perlunya penelitian yang lebih lanjut
dengan menggunakan responden yang lebih
besar dan representatif denagn metode yang
lebih akurat, serta penelitian dilakukan dalam
lingkup yang lebih luas, sehingga penelitian
dapat digerenalisasikan dengan melibatkan
faktor-faktor
pengontrol/perancu
yang
mngkin mempengauhi tindakan keperawatan
preoperatif pada apendisitis.
. . .DAFTAR PUSTAKA . . .
________
(2004),
Buku
Panduan
Penyusunan
Proposal
dan
Skripsi Program Studi Ilmu
Keperawatan,
Stikes
Muhammadiyah, Lamongan.
________ (2009) Buku Panduan Aplikasi
Program SPSS Versi 11.5
Untuk
Penolahan Data
Penelitian Kesehatan. Stikes
Muhammadiyah Lamongan.
…
Kesimpulan
Sebagian besar klien yang menderita
apendisitis mengalami nyeri berat
terkontrol.
Pada klien yang menderita apendisitis
sesudah pemberian kompres dingin
sebagian besar mengalami nyeri ringan .
Ada hubungan pemberian kompres
dingin terhadap penurunan nyeri
apendisitis di ruang bedah Rumah Sakit
Muji Rahayu Surabaya.
Saran
Diharapkan penelitian ini dapat
dijadikan pertimbangan dalam pemberian
asuhan keperawatan pada klien apendisitis
guna untuk menurunkan tingkat nyeri serta
dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas
pelayanan keperawatan preoperatif yang
lebih baik.
Dengan adanya pengetahuan tentang
hubungan
kompres
dingin
terhadap
penurunan nyeri apendisitis, sehingga hasil
Arikunto,
Suharsimi. (2002). Prosedur
Penelitian. Edisi5. Jakarta:
Rineka Cipta
Carpenito,
J.L.
(1998).
Diagnosa
Keperawatan: Aplikasi Pada
Praktik Klinis. Edisi3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2.
SURYA
Koizer, B. (2004). Fundamental Of Nursing:
Consepts,
Process,
And
Practice. New Jersey: Prentice
Hall
Mansjoer, Arif, dkk. (2000). Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi3. Jakarta:
Media Aesculapius
50
Vol.02, No.IX, Agus 2011
Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Pasien Pre Operasi Apendisitis
Notoadmojo,
S.
(2002).
Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta
Shannon Ruf Dirksen. (2000). Medical
surgical Nursing. St Louis:
Moshby Company
Nursalam.
(2000). Pendekatan Praktis
Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta : C.V. Infomedia
Sjamsuhidayat, R & Win D.J. (2004).
Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta :
EGC
Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan.
Jakarta
:
Salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C. (2007). Buku Ajar
Keperwatan Medikal Bedah.
(vol. 2). Jakarta: EGC
Sudoyo, Aru W. (2007). Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Depertemen
Penyakit Dalam FKUI
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan
Metodelogi Penelitian Ilmu
Keperawatan, Pedoman Skripsi,
Tesis dan Istrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
Potter
&
Taylor, C, Carol, dkk. (1997). Fundamental
Of Nursing ; The Art and
Science of Nursing. Lippicott
Philadelphia.
Perry. (2005). Fundametal
keperawatan : Edisi 4. Jakarta:
EGC
Wahit Iqbal & Nurul Chayatin. (2007). Buku
Ajar Kebutuhan Dasar Manusia
(Teori dan Aplikasi dalam
Praktek). Jakarta: EGC
Price & Wilson. (2005). Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Jakarta: EGC
SURYA
51
Vol.02, No.IX, Agus 2011
Download