Konversi Lahan Pertanian Dan Perubahan Struktur

advertisement
i
Laporan Studi Pustaka (KPM 403)
PERUBAHAN STRUKTUR AGRARIA DAN PEMISKINAN RUMAH
TANGGA PETANI TEPIAN KOTA
NURUL KHOIRIAH
I34120084
Dosen
Prof. Dr. Endriatmo Soetarto, MA
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
i
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Studi Pustaka yang berjudul “PerubahanStruktur
Agraria dan Pemiskinan Rumah Tangga Petani Tepian Kota” benar-benar hasil
karya saya sendiri yang belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah pada perguruan
tinggi atau lembaga manapun dan tidak mengandung bahan-bahan yang pernah ditulis
atau diterbitkan oleh pihak lain kecuali sebagai bahan rujukan yang dinyatakan dalam
naskah. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya bersedia
mempertanggungjawabkan pernyataan ini.
Bogor, Desember 2015
Nurul Khoiriah
NIM. I34120084
ii
ABSTRAK
NURUL KHOIRIAH.Perubahan Struktur Agraria dan Pemiskinan Rumah
Tangga Petani Tepian Kota. Di bawah bimbingan ENDRIATMO SOETARTO.
Adanya pengembangan wilayah di tepian kota berimplikasi terhadap perubahan struktur
agraria berupa ketimpangan penguasan lahan dan konversi lahan yang semakin
tinggi.Perubahan ini disebabkan oleh tingginya tingkat konversi lahan yang terjadi di
wilayah tepian kota akibat dari tingginya permintaan akan lahan yang mempengaruhi
harga lahan yang semakin tinggi akibat dari pertumbuhan penduduk yang meningkat
pesat. Terjadinya perubahan struktur agaria menyebabkan petani kehilangan mata
pencaharian utama dan menurunkan pendapatan petani yang mengakibatkan petani
semakin tersubordinasi dan termarjinalkan, sehingga terbentuk stratifikasi pada petani
yang mengakibatkan terjadinya pemiskinan pada rumah tangga petani karena
keterbatasan akses terhadap sumberdaya. ketimpangan penguasaan lahan tersebut
menyebabkan petani memiliki lahan yang sempit dan menjadi buruh di tanahnya sendiri.
Hal ini tentunya menurunkan ekonomi petani dan berpengaruh terhadap kesejahteraan.
Penelitian ini akan menunjukan bagaimana perubahan struktur agraria pada masyarakat
tepian kota terjadi akibat pengembangan wilayah dan faktor apa saja yang mendorongnya
serta bagaimana pengaruhnya terhadap pemiskinan rumah tangga petani.
Kata kunci : perubahan struktur agraria, konversi lahan, masyarakat tepian kota, dan
pemiskinan.
ABSTRACT
NURUL KHOIRIAH. Structural Change and Poverty Agrarian Farmer Households
Edge City. Under the guidance of ENDRIATMO SOETARTO.
The development of the area at the edge of town has implications for changes in the
agrarian structure in the form of inequality of land tenure and land conversion were
higher. These changes are caused by the high rate of land conversion that occurs in the
edge region of the city as a result of high demand for land affects land prices are higher as
a result of the rapidly increasing population growth. Changes in agarian structural causing
loss of the main livelihood of farmers and farmers' income decrease resulting in
increasingly subordinated and marginalized farmers, thus forming a stratification of
farmers which led to the impoverishment of the peasant households because of limited
access to resources. inequality of land tenure is causing farmers have a narrow land and
become laborers on their own land. This of course lowers the economy and affect the
welfare of farmers. This study will show how changes in the agrarian structure in the
community caused by the development banks of the city and the region of what factors
are pushing and how they affect the impoverishment of farm households.Keywords:
changes in the agrarian structure, land conversion, community banks of the city, and
impoverishment.
Keywords: changes in the agrarian structure, land conversion, community banks of the
city, and impoverishment.
iii
Perubahan Struktur Agraria dan Pemiskinan Rumah Tangga
Petani Tepian Kota
Oleh
NURUL KHOIRIAH
I34120084
Laporan Studi Pustaka
sebagai syarat kelulusan KPM 403
pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
iv
LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Studi Pustaka yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa
: Nurul Khoiriah
Nomor Pokok
: I34120084
Judul
: Perubahan Struktur Agraria dan Pemiskinan Rumah Tangga
Petani Tepian Kota
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan mata kuliah Studi Pustaka (KPM 403) pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor.
Menyetujui,
Dosen Pembimbing 1
Dosen Pembimbing 2
Prof. Dr. Endriatmo Soetarto, MA
NIP. 19521225 1986 1 002
Dina Nurdinawati, S.KPm, M,Si
Mengetahui,
Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Siti Amanah, MSc
NIP: 19670903 199212 2 001
Tanggal Pengesahan: ____________________
v
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Studi Pustaka berjudul
“Pengaruh Perubahan Struktur Agraria dan Pemiskinan Rumah Tangga Petani Tepian
Kota” ini dengan baik. Laporan Studi Pustaka ini bertujuan untuk memenuhi syarat
kelulusan MK Studi Pustaka (KPM 403) pada Departemen Sains Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Endriatmo
Soetarto, MA. Sebagai pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama
proses penulisan hingga penyelesaian laporan Studi Pustaka ini. Penulis juga
menyampaikan hormat dan terima kasih kepada kedua orang tua tersayang, serta seluruh
keluarga besar yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan doa bagi kelancaran
penulisan Studi Pustaka ini. Penulis juga sampaikan terima kasih kepada keluarga besar
SKPM terutama teman – teman seperjuangan SKPM 49 yang namanya tidak dapat
disebutkan satu persatu sebagai teman berdiskusi, saling bertukar pikir, membantu dan
memotivasi penulisan dalam penulisan dan penyelesaian Studi Pustaka ini. Semoga
laporan Studi Pustaka ini bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Desember 2015
Nurul Khoiriah
NIM. I34120084
vi
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ........................................................................................................................ i
ABSTRAK ................................................................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................... iv
PRAKATA................................................................................................................................ v
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 1
Latar Belakang .................................................................................................................... 1
Tujuan Penelitian ................................................................................................................ 2
Metode Penulisan ................................................................................................................ 2
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA ........................................................................... 2
Perubahan Struktur Agraria Dan Implikasinya Terhadap Gerakan Petani Pedesaan
(Analisis Karakter Forum Paguyuban Petani Jasinga Pasca PPAN) ............................ 3
Perubahan Struktur Agraria dan Diferensiasi Kesejahteraan Petani ........................... 4
Transformasi Struktur Agraria dan Differensiasi Sosial pada Komunitas Petani ...... 6
Dampak Konversi Lahan Pertanian bagi Taraf Hidup Petani di Kelurahan Landasan
Ulin Barat Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru .............................................. 7
Dampak Sosio-Ekonomis dan Sosio –Ekologis Konversi Lahan .................................... 8
Konversi Lahan Pertanian Dan Perubahan Struktur Agraria....................................... 9
Analysis of Land Conversion and Its Impacts and Strategies in Managing Them in City of
Tomohon, Indonesia ......................................................................................................... 11
Agricultural Land Conversion Drivers: A Comparison between Less Developed,
Developing and Developed Countries ............................................................................. 12
Alih Fungsi Lahan : Potensi Pemicu Transformasi Desa-Kota (Studi Kasus Pembangunan
Terminal TIPA A”Kertawangunan”) ............................................................................. 13
Pengaruh Implementasi Kebijakan Pertanahan Terhadap Struktur Penguasaan Tanah
dan Dampaknya Terhadap Kesejahteraan Petani di Kabupaten Garut dan Subang 15
Dinamika Nafkah Rumah Tanga Petani Pedesaan dengan Pendekatan Sustainable
Livelihod Approach (SLA) (Kasus Petani Tembakau di Lereng Gunung Merapi-Merbabu,
Propinsi Jawa Tengah) ...................................................................................................... 16
Kemiskinan Petani dan Strategi Nafkah Ganda Rumahtangga Pedesaan .................. 17
Respon Petani Atas Kemiskinan Struktural .................................................................. 19
Transformasi Wilayah Peri Urban: Kasus di Kabupaten Semarang .......................... 20
Reforma Agraria Di Bidang Pertanian (Studi Kasus Perubahan Struktur Agraria dan
Differensiasi Kesejahteraan Komunitas Pekebun di Lebak Banten) .......................... 22
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN .............................................................................. 23
vii
Konsep Agraria dan Struktur Agraria............................................................................ 23
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Stuktur Agraria ........................... 24
Pola Penguasaan Lahan .................................................................................................... 25
Pemiskinan dan Petani Miskin ......................................................................................... 26
Tepian Kota........................................................................................................................ 28
SIMPULAN............................................................................................................................ 29
Hasil Rangkuman dan Pembahasan ................................................................................ 29
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Analisis Baru...................................................... 31
UsulanKerangka Analisis Baru ....................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 33
RIWAYAT HIDUP ............................................................................................................... 37
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Analisis........................................................................................33
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sumber kehidupan masyarakat mulai dari keperluan pangan hingga papan
dilakukan diatas daratan, sehingga tanah (daratan) menjadi persoalan yang krusial bagi
kehidupan masyarakat indonesia pada umumnya. Dominasi mata pencaharian masyarakat
indonesia bersumber dari eksistensi tanah yaitu sebagai petani. Tatanan agraria tradisional
di Jawa berubah seiring dengan masuknya kekuatan kolonialisme dan tentunya bersama
dengan itu berubah pula jenis – jenis penguasaan dan pemilikan tanah yang ada di Jawa.
Secara umum ada dua kategori yang terdapat dalam pola pemilikan tanah ini; pertama,
pemilikan secara individual yang dapat diwariskan; dan kedua, pemilikan secara komunal
yang diatur dalam sistem rotasi tetap atau bergilir diantara masing – masing petani
penggarap di desa. Praktek penggarapan secara komunal merupakan hasil kreasi kolonial
sejak berlakunya sistem tanam paksa di Hindia-Belanda. perkembangan sistem tanam
paksa (Cultuurstelsel) pada akhirnya meruntuhkan kedudukan petani pribumi yang tidak
lagi memiliki akses langsung dalam pemilikan dengan penguasaan terhadap tanah. Maka
pada tahun 1870 pemerintah mengeluarkan undang – undang Agrarische Wet tahun 1870.
Makna dari undang – undang ini bagi rakyat pribumi adalah kesempatan pemilikan tanah
secara individual atau hak eigendom terhadap tanah dan penghapusan sistem penggarapan
tanah komunal yang berlaku sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) (2014) memberikan laporan bahwa pada tahun 2000
jumlah penduduk di Jawa Timur sebesar 34.783.640 jiwa dan meningkat pada tahun 2010
menjadi sebesar 37.476.757 jiwa. Sementara itu banyaknya rumah tangga miskin di Jawa
timur pada tahun 2013 adalah sebesar 10.626.60 jiwa dan meningkat pada tahun 2014
adalah sebesar 10.677.60 jiwa. Sedangakan jumlah penduduk miskin di Jawa Timur
pada tahun 2014 adalah sebesar 4.748.42jiwa dengan presentase 8,30% penduduk kota
dan 15,92% penduduk yang tinggal di desa. Jumlah karakteristik rumah tangga miskin
pada tahun 2013 sebesar 4.84 orang dan pada tahun 2014 menurun menjadi 4.76 orang.
Hal ini menunjukan bahwa seiring penggunaan lahan yang semakin sempit karena laju
pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan berdampak pada ketimpangan
kepemilikan lahan dan penurunan tingkat kesejahteraan petani.
Keterkaitan antara keterbatasan atau bahkan ketiadaan akses terhadap tanah di
mana lemahnya kepastian penguasaan dan kepemilikan tanah yang dapat berujung pada
kegagalan pemilikan tanah dan modal menjadi salah satu penyebab dasar dari
kemiskinan. Proses kemiskinan petani terjadi dibawah perkembangan sistem kapitalisme
yang membuat ketergantungan petani pada sumberdaya tanah. Oleh karena itu dalam
mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan penguasaan tanah, pemerintah
mengadakan program Land Reform pada tahun 1960-an, Program redistribusi tanah
melalui program pembahariuan Agraria Nasional tahun 2007-2014 dan program Larasita
(Layanan Masyarakat untuk Sertifikat Tanah). Merujuk pada Wiradi (1999) dalam
Puwandari (2014), ketimpangan kepemilikan sumber agraria dapat digolongkan ke dalam
empat bentuk. Ketimpangan tersebut antara lain adalah penguasaan sumber-sumber
agraria, ketidakserasian dalam hal peruntukan sumber-sumber agraria, ketidakserasaian
antara persepsi dan konsepsi mengenai agraria, ketidakmerataan antara berbagai produk
hukum, sebagai akibat dari pragmantisme dan kebijakan sektoral.
Perubahan struktur agraria pada masyarakat tepian kota dapat mengakibatkan
pemiskinan karena disebabkan oleh tidak memiliki akses terhadap sumberdaya produktif
sehingga terjadi ketidakamerataan pembagian lahan. Selain itu munculnya pemiskinan
pada masyarakat tepian kota diakiabatkan oleh adanya pemekaran wilayah menjadikan
harga lahan yang strategis menjadi tinggi. Meningkatnya pertumbuhan penduduk
2
menjadikan permintaan akan lahan semakin tinggi. Hal ini mendorong terjadinya
konversi lahan.
Pergeseran kebijakan pertanahan yang semakin cenderung pro – kapitalis
mendorong perlunya mempertanyakan kembali orientasi kebijakan yang telah digariskan
oleh UUPA 1960 sebagai perwujudan pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. Faktanya masih
banyak petani yang tidak mempunyai hak atas tanahnya. Sehingga melahirkan sistem
kapitalisme para pemilik modal terhadap pemilik tanah. Akibat dari sistem kapitalisme
tersebut menjadikan petani tersubordinasi dan termarjinalkan. Tentunya hal itu memicu
terjadinya pemiskinan petani di tepian kota karena tidak memiliki akses terhadap
sumberdaya. Berdasarkan pemaparan tersebut, menarik bagi penulis untuk melihat
bagaimana perubahan struktur agraria tersebut berpengaruh terhadap pemiskinan
rumahtangga petani tepian kota1.
Tujuan Penelitian
Perubahan struktur agraria akibat dari adanya pemekaran wilayan di tepian kota
mengakibatkan ketimpangan lahan yang berujung pada penurunan tingkat ekonomi.
Ketimpangan lahan tersebut dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya kemiskinan yang
menjerat petani. Hal ini mengakibatkan nasib kaum petani semakin termarjinalkan dan
tersubordinasi, karena keterbatasan dalam pengguasaan lahan. Oleh karena itu, tujuan
penulisan studi pustaka ini adalah untuk mengetahui bagaimana terjadinya perubahan
struktur agraria dan faktor – faktor yang menyebabkan perubahan, dan mengetahui
sejauhmana implikasi perubahan struktur agraria di tepian kota terhadap pemiskinan pada
rumah tangga petani.
Metode Penulisan
Metode yang dilakukan dalam studi pustaka ini adalah dengan menganalisis data
sekunder yang relevan dengan topik studi pustaka. Data sekunder tersebut mencangkup
antara lain jurnal, disertasi, tesis, dan buku – buku mengenai agraria. Selanjutnya bahan–
bahan tersebut dipelajari, diringkas dan disusun menjadi sebuah ringkasan studi pustaka.
Kemudian ringkasan studi pustaka dianalisis dan dibuat sintesis. Sampai pada akhirnya
adalah penarikan hubungan dari langkah – langkah yang telah dilakukan untuk dapat
memunculkan kerangka teoritis yang akan menjadi rumusan pertanyaan bagi penelitian
yang akan dilakukan.
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA
1
Wiradi, Gunawan. 2002. Menuju Keadilan Agraria. Bandung[ID] : Akatiga.
3
:
1 Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi):hal
Sumber
:
:
:
:
:
:
Tanggal Unduh
:
:
:
:
Perubahan Struktur Agraria Dan
Implikasinya Terhadap Gerakan Petani
Pedesaan (Analisis Karakter Forum
Paguyuban Petani Jasinga Pasca PPAN)
2014
Jurnal
Elektronik
Sari Lestari dan Heru Purwandari
Bogor dan Program Studi Sosiologi
Pedesaan, Institut Pertanian Bogor
Jurnal Sosiologi Pedesaan
14(04): 47-58
http://id.portalgaruda.org/index.php?ref
=browse&mod=viewarticle&article=323
775
25 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang bagaimana perubahan status
sosial ekonomi setelah perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU), pengaruh perubahan status
soial ekonomi terhadap terpenuhinya dimensi – dimensi gerakan petani pedesaan dan
bagaimana pengaruh terpenuhinya dimensi gerakan petani terhadap karakter gerakan
petani pedesaan. Menurut penelitian ini perpanjangan Hak Guna Usaha di atas tanah
seluas 938 hektar di Blok Cikidung pada tahun 2008 menyebabkan masyarakat
kehilangan lahan garapan. Konflik agraria yang dipicu oleh hilangnya akses tanah yang
terjadi antara petani dengan perusahaan. konflik agraria ini melibatkan 69.975 kepala
keluarga dengan luas areal konflik mencapai 472.048.44 hektar. Terjadinya perubahan
status sosial ekonomi yang di alami pasca kehilangan tanah garapan, memicu
terpenuhinya dimensi gerakan petani. Terdapat empat dimensi gerakan petani yakni
tingkat kesadaran, tingkat kolektifitas aksi, tingkat orientasi instrumental, dan status
sosial. Dimensi gerakan petani dijadikan tolok ukur untuk melihat besar kepentingan
seorang individu untuk tergabung dalam satu organisaasi gerakan petani di Desa Curug
dan Desa Tegal Wangi, Kecamatan Jasinga untuk merebut kembali hak atas tanahnya.
Merujuk pada Wiradi (1999) ketimpangan kepemilikan sumber agraria dapat
digolongkan ke dalam empat bentuk. Ketimpangan tersebut antara lain ketimpangan
dalam hal penguasaan sumber-sumber agraria, ketidakserasian dalam hal “peruntukan”
sumber-sumber agraria, ketidakserasian antara persepsi dan konsepsi mengenai agraria,
ketidakserasian antara berbagai produk hukum, sebagai akibat dari pragmantisme dan
kebijakan sektoral. Struktur agraria menurut Wiradi (2009) merujuk kepada susunan
sebaran atau distribusi tentang pemilikan (penguasaan formal) dan penguasaan efektif
(garapan/operasional) atas sumber-sumber agraria, juga sebaran alokasi dan
peruntukannya.Perubahan struktur agraria lokal berupa hilangnya akses terhadap
menyebabkan perubahan sosial ekonomi yang dialami oleh anggota paguyuban.
Pengurangan luas penguasan dan penurunan tingkat pendapatan terjadi setelah hilangnya
akses terhadap lahan garapan. Pada mulanya lahan seluas 2000 hektar di kecamatan
Jasinga dimanfaatkan oleh desa Curug dan desa tegal Wangi sebagai lahan garapan.
Tidak semua lahan eks Hak Guna Usaha PT .PJ diperpanjang hanya 938 hektar ikut
dalam perpanjangan, sedangkan 1200 hektar diberikan kepada masyarakat pada Program
Pembaharuan Agraria Nasional.
4
Zuber (2007) mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi perubahan
struktur agraria, diantaranya: permintaan lahan dari kegiatan non-pertanian seperti
pembangunan real estate, pabrik, areal perdagangan dan pelayanan lainnya yang
membutuhkan areal tanah yang luas; faktor sosial budaya, seperti adanya aturan warisan;
kerusakan lingkungan seperti adanya musim kemarau panjang yang mengakibatkan
kekeringan terutama pada usaha pertanian; penggunaan pestisida ataupun pupuk yang
dapat mematikan predator dan kerusakan lahan pertanian; dan kelemahan hukum yang
mengatur bidang pertanian, seperti harga pupuk yang tinggi, harga gabah yang rendah
dan masalah pengaturan harga beras yang sampai sekarang masih sangat pelik. Setelah
adanya perpanjangan Hak Guna Usaha masayarakat yang memiki lahan rendah
bertambah, sedangkan masyarakat yang memiliki lahan tinggi semakin berkurang. Hal ini
dikarenakan oleh perubahan akses yang dialami oleh masyarakat. Sehingga pendapatan
masyarakat menjadi menurun akibat tidak adanya hasil sadapan karet. Sedangkan
masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi Pasca HGU adalah masyarakat yang
memiliki usaha di sektor non pertanian. Dampak lanjutan dari hilangnya lahan garapan
adalah banyaknya anak – anak yang putus sekolah.
Analisis Pustaka
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan kepemilikan lahan
menjadi salah satu pemicu konflik antara petani penggarap dengan Perusahaan
menyangkut Hak Guna Usaha. Hal ini menyebabkan perubahan struktur ekonomi petani.
Sehingga muncul gerakan petani sebagai reaksi dari untuk merebut kembali hak petani.
Kelebihan dalam jurnal tersebut sudah disertai dengan data yang memudahkan pembaca.
Selain itu penelitian tersebut sudah menjawab permasalahan yang akan dibahas dan pada
bagian kesimpulan sudah disertai dengan saran baik untuk pemerintah maupun untuk
paguyupan petani. Penelitian ini sudah mencangkup bagaimana perubahan struktur
agraria berdampak pada penurunan status ekonomi dan memunculkan gerakan petani.
Kelemahan dari penelitian ini yaitu kurangnya penjelasan secara rinci data hasil
penelitian yang dicantumkan dalam tabel. Kaitan penelitian ini dengan penelitian yang
akan saya ambil adalah bahwa jenis perubahan struktur agraria yang terjadi yaitu adanya
HGU yang mengubah lahan garapan masyarakat menjadi perkebunan. Penyebab dari
adanya perubahan ini karena adanya perpanjangan HGU untuk PT. PJ setelah adanya
progam Permbaharuan Agraria Nasional (PPAN). Hal ini tentunya berpengaruh terhadap
hilangnya akses masyarakat terhadap lahan garapan yang dapat menyebabkan perubahan
sosial ekonomi dan berimplikasi pada menurunya pendapatan berujung pada adanya
pemiskinan rumah tangga petani.
2. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume
:
Perubahan Struktur Agraria dan
Diferensiasi Kesejahteraan Petani
:
:
:
:
2008
Laporan Penelitian
Cetak
MT. Felix Sitorus, Arya H. Dharmawan,
Undang Fadjar, dan Martua Sihaloho
: : Bogor, Program Studi Sosiologi Pedesaan,
Institut Pertanian Bogor
: Sodality : Jurnal Transdisiplin Sosiologi,
Komunikasi, dan Ekologi Manusia
:
5
Sumber
Tanggal Unduh
: : -
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini menitikberatkan pada sejauhmana lembaga lokal mendukung atau
menghambat proses perubahan struktur agraria perkebunan kakao dan kelapa sawit,
bagaimana perubahan struktur agraria terwujud dalam perkebunan kakao dan kelapa
sawit, sejauhmana perubahan struktur agraria tersebut mengubah tingkat kesejahteraan
komunitas pekebun yang mengelola komoditas dengan tingkat komersalisasi serta pola
pengembangan yang berbeda, menyusun kebijakan reforma agraria dan revitalisasai
pertanian bagi pekebun. Penelitian ini dilakukan di empat komunitas petani kakao di
Sulawesi Tengah dan Nangroe Aceh Darussalam. Hasil penelitian tersebut menjelaskan
bahwa lahan bukan hanya sebagai faktor produksi tunggal melainkan menjadi salah satu
dari dua faktor yang saling terkait yaitu sebagai lahan dan modal finansial untuk
penguasaan alat/bahan produksi pendukung lainnya. Hal ini mendorong terciptanya
struktur agraria baru yaitu munculnya pola hubungan sosial produksi dengan berbagai
pihak dan munculnya pola hubungan sosial produksi dan pihak yang semakin
terakumulasi/tersubordinasi antara pemilik lahan yang semakin kuat dan penggarap yang
semakin lemah. Pada penelitian ini penguasaan lahan mencangkup pengertian penguasaan
tetep (pemilik peroragan) dan penguasaan sementara (bagi hasil, sewa, buruh upah, sadap,
dan gadai). Data hasil sensus di lokasi penelitian menunjukan bahwa struktur agraria
komunitas petani berbasis tanaman sawit dan karet dibangun oleh beragam lapisan sosial
di antaranya pemilik, pemilik dan penggarap, pemilik dan buruh tani, penggarap,
penggarap dan buruh tani, dan buruh tani. Sedangkan struktur agraria pada komunitas
sawit dibangun oleh lapisan yang sederhana yaitu petani pemilik, pemilik dan penggarap
serta buruh tani.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya mekanisme yang mendorong
perubahan struktur agraria menuju stratifikasi yaitu pola bagi hasil dan pewarisan serta
penjualan kebun dan buruh upahan dan akses petani terhadap program pemerintah. Petani
pemilik masih berada dalam kategori miskin dan sedang karena luas lahanya masih
kurang dari satu hektar, petani penggarap termasuk kedalam kategori miskin dan sedang,
sedangkan penggarap kaya adalah petani yang menyewa kebun kelapa petani lain.
Pengeluaran per kapita petani lapisan pemilik eksklusif merupakan lapisan petani paling
sejahtera pengeluaran per kapita Rp. 3.590.730,-. Petani pemilik kombinasi berada pada
tingkat kesehjahteraan sedang dengan pengeluaran per kapita Rp, 2.063.629,- sampai
Rp.2.428.646,- . petani penggarap memiliki pengeluaran per kapita sebesar Rp. 1.544.111
dan penggarap buruh tani Rp.1.492.667,-. Lapisan petani kesejahteraan rendah
pengeluaran per kapita sebesar Rp. 1.461.613,-. Berkurangnya peluang petani untuk
meningkatkan kesejahteraanya karena semakin banyaknya kebutuhan pokok petani yang
harus dibeli. Adanya ketidakmeratan akses terhadap program pemerintah mendorong
terjadinya polarisasi.
Analisis Pustaka
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui protet tetang perbedaan perubahan
struktur agraria dan kesejahteraan komunitas pekebun yang mengelola komoditas dengan
tingkat komersalisasiserta pola pengembangan yang berbeda, menyusun kebijakan
reforma agraria dan revitalisasi pertanian bagi pekebun. Strategi yang diterapkan adalah
studi kasus historis dan studi kasus majemuk. Penelitian ini dilaksanakan bukan sebagai
penelitian deskriptif-planatif sehingga penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mengukur
secara ketat besaran atau tingkatan relitas sosial tetapi untuk memberikan pemahaman
6
tentang bagaimana realitas sosial itu terbentuk dan sejauhmana realitas sosial tersebut
memberi arti. Kaitan penelitian ini dengan judul penelitian yang akan saya ambil adalah
jenis perubahan struktur agraria yang terjadi pada perekebunan kakao dan kelapa sawit
menjadikan masyarakat kehilangan lahan sawah. Penyebab perubahan ini adalah karena
program yang disusun oleh pemerintah yang tidak memihak pada petani dan lemahnya
kelembagaan lokal. Sehingga memunculkan perubahan struktur agraria baru yang
memicu terjadinya pola hubungan yang tersubordinasi/termarjinalkan. Pengaruh dari
perubahan ini adalah meningkatnya petani miskin karena keterbatasan akses lahan di
mana petani yang memiliki modal yang besar ia akan perpindah mata pencahariana ke
sektor non pertanian, sedangkan petani yang lemah akan menjadi buruh tani. Hal ini dapat
mengindikasi bahwa ketiadaan akses terhadap lahan dapat menurunkan tingkat
kesejahteraan petani.
3. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume
Sumber
Tanggal Unduh
: Transformasi
Struktur
Agraria
dan
Differensiasi Sosial pada Komunitas Petani
: 2009
: Desertasi
: Cetak
: Undang Fadjar
: : Bogor
:
:
:
:
-
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini dilakukan di empat komunitas petani kakao, dua komunitas di
Sulawesi Tengah dan dua lainya di Nanggroe Aceh Darusalam. Penelitian ini dilakukan
kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa kapitalisme
terhadap perkembangan praktek moda produksi cenderung semakin kuat. Pengaruh
tersebut dimiliki dengan terjadinya perubahan prektek moda produksi pertanian,
khususnya perubahan dari praktek moda produksi yang menopang sistem pertanian
ladang berpindah terutama untuk memproduksi tanaman pangan menjadi praktek moda
produksi yang menopang pertanian menetap untuk memproduksi komoditas perdagangan.
Pada kasus penelitian tersebut seluruh proses produksi pertanian di empat komunitas
petani hanya dijalankan dengan satu sistem, yaitu pertanian menetap. Implikasi
kapitalisme terhadap praktek moda produksi komunitas petani ternyata membelah
komunitas petani menjadi beberapa bagian yang terpisah akibat perbedaan praktek moda
produksi.
Berlangsungnya perubahan sistem pertanian dari perladangan berpindah ke
pertanian menetap telah memperkuat proses transformasi struktur agraria, dimana basis
penguasaan sumberdaya agararia beralih dari penguasaan kolektif ke penguasaan
perorangan. Namun masih kuatnya hubungan sosial produksi yang berpijak pada ikatan
moral tradisional (terutama ikatan kekerabatan, pola pewarisan dan solidaritas lokal untuk
menjaga kebutuhan warga komunitas) turut mendorong petani untuk menerapkan pola
penguasaan sementara atas sumberdaya. Hal ini memicu timbulnya masyarakat petani
yang terstratifikasi oleh banyak lapisan. Penguasaan lahan tersebut dibangun oleh
beragam lapisan masyarakat yaitu pemilik, pemilik + penggarap, pemilik + buruh tani,
7
penggarap, penggarap + buruh tani dan buruh tani. Proporsi petani tunakisma di Desa
Jono Oge Sulawesi Tengah sebesar 34,2%.
Bersamaan dengan terjadinya differensiasi sosial masyarakat agraris juga terjadi
differensiasi kesejahteraan dalam komunitas petani. Dalam penelitian ini petani dibagi
menjadi tiga yaitu : petani kaya, petani sedang, dan petani miskin. Petani NAD termasuk
dalam kategori petani miskin. Sentara petani di Sulawesi Tengah termasuk dalam kategori
petani miskin dan relatif seimbang. Transformasi agraria dapat menurunkan kesejahteraan
petani yang berakibat pada penghasilan yang minimum.
Kesimpulan dari penilitian ini adalah terjadinya perubahan struktur agraria
mengarah pada petani yang semakin terpolarisasi dan ketimpangan dalam penguasaan
sumberdaya agraria da dalam kesejahteraan. Terjadinya commodity-driven relation of
production pada komunitas petani.
Analisis Pustaka
Penelitian ini menjelaskan tentang transformasi struktur agraria mengakibatkan
terjadinya penurunan kesejahteraan akibat dari petani yang terstratifikasi. Kelebihan dari
penelitian ini adalah sudah sesuai dengan topik yang dikaji dan menjawab seluruh
permasalahan penelitian tersebut. Namun, kelemahan dari penelitian ini adalah dalam
penjabaran data kurang begitu maksimal. Kaitan penelitian ini dengan penelitian yang
saya lakukan adalah perubahan struktur agraria yang terjadi yaitu perubahan penguasaan
sumberdaya dari kolektif ke individual. Penyebab terjadinya perubahan struktur agraria
ini dilatarbelakangi oleh perubahan sistem pertanian dari perladangan berpindah ke
pertanian menetap. Namun adanya perubahan struktur agraria ini mengakibatkan
penurunan kesejahteraan petani karena akibat dari adanya petani yang terstratifikasi.
Implikasi dari perubahan struktur agraraia ini adalah terciptanya pemiskinan pada rumah
tangga petani akibat dari menurunya pendapatan petani. Sebagain petani yang berada di
pinggiran menjual lahanya karena adanya pengaruh gaya hidup dan modernisasi membuat
mereka menjual lahan sebagai bentuk dari adanya transformasi desa-kota. Karena
pengaruh dari modernisasai tersebut banyak petani yang beralih mata pencahariaan ke
sektor non-pertanian dan sebagaian tetap memilih menjadi buruh. Sehingga kehidupan
petani yang berada di tepian kota akan semakin termarjinalkan oleh adanya perubahan
struktur agraria ini.
4
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
: Dampak Konversi Lahan Pertanian bagi
Taraf Hidup Petani di Kelurahan Landasan
Ulin Barat Kecamatan Liang Anggang Kota
Banjarbaru
: 2012
: Jurnal
: Elektronik
: Agung Hadi Hidayat, Usamah Hanfie, dan
Nurmelati Septiana
: : : Jurnal Agribisnis Pedesaan
: 12(02):95-107
: http://ejournal.unlam.ac.id/index.php/agride
s/article/view/224
8
Tanggal Unduh
: 26 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kodisi taraf hidup petani sebelum dan
sesudah terjadinya konversi lahan, serta mengetahui dampak sosial ekonomi yang
ditimbulkan dari adanya konversi lahan. Konversi lahan yang terjadi akibat dari
penggunaan lahan pertanian ke non- pertanian. Kegiatan tani yang sudah dilakukan lebih
dari 20 tahun di Jalan Karya Manuntung RT 1 Kelurahan Landasan Ulin Barat membuat
petani beralih profesi. Rendahnya tingkat pendidikan membuat petani menjadi semakin
termarjinalkan karena pekerjaan mereka yang kurang bisa mencukupi kebutuhan
ekonomi. Sebelum adanya konversi lahan pendapatan petani hanya bergantung pada
tanaman yang dapat ditanam di musim tertentu saja. Namun setelah adanya konversi
lahan menciptakan pekerjaan baru pada sektor non pertanian. Pendapatan petani pun ada
yang meningkat, tetap, dan menurun. Jika dilihat dari aspek kondisi rumah sangat
bervariasi serta sarana MCK yang masih jauh dari kata layak. Para petani rata-rata hanya
memiliki tanah seluas 1,5 ha yang digunakan untuk pertanian dan tempat tinggal.
Pembangunan perumahan Citra Graha memberikan dampak besar terhadap lingkungan
sekitar. Akibat dari pembangunan ini mengakibatkan saluran irigasi menjadi terhambat
dan lahan pertanian semakin terbatas. Adanya perumahan tersebut membuat lahan
semakin menyempit dan mengurangi pasokan sayur-sayuran di Kalimantan Selatan.
Analisis pustaka
Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi taraf hidup petani
sebelum dan sesudah konversi lahan. Kelemahan dalam penelitian ini adalah tidak adanya
data yang menunjukan presentase petani yang mengalami kenaikan, tetap atau penurunan
taraf hidup. Hal ini sangat penting karena dapat tergambar sejauhmana kondisi taraf hidup
para petani sebelum dan sesudah adanya konversi. Penelitian ini memberikan penjelasan
bahwa terjadinya konversi lahan dapat menurunkan tingkat ekonomi masyarakat.
Penyebanya karena adanya pengaruh modernisasi untuk menjual lahan karena dirasa tidak
dapat mencukupi kebutuhan ekonomi. Sehingga konversi lahan dapat menciptakan
pekerjaan baru di bidang non-pertanian. Namun di beberapa petani konversi lahan
tersebut membuat petani semakin miskin karena penguasaan lahan semakin menyempit
seiring dengan semakin banyaknya permintaaan akan lahan untuk dialih fungsikan ke
sektor non-pertanian. Apabila kondisi pertanian masyarakat pinggiran pada awal sebelum
konversi kemudian terjadi konversi petani tetap tidak mempunyai akses terhadap
sumberdaya maka akan semakin miskin dan terpinggirkan. Akibat dari transformasi
wilayah desa-kota yang mendorong orang desa berakteristik kekotaan, maka dengan
terjadinya konversi lahan orang desa akan cenderung menjual lahanya dengan asumsi
bahwa kegiatan non-pertanian akan lebih menguntungkan di banding pertanian.
5 Judul
.
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
: Dampak Sosio-Ekonomis dan Sosio
Ekologis Konversi Lahan
: 2011
: Jurnal
: Elektronik
: Asri Lestari dan Arya Hadi Dharmawan
: : : Jurnal Transdisiplin Sosiologis,
Komunikasi an Ekologi Manusia
–
9
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: 05(01):1-12
: http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/a
rticle/viewFile/5835/4500
: 27 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai tipe-tipe konversi lahan, mengetahui
dampak sosio-ekonomis konversi lahan terhadap rumah tangga setempat, dan mengetahui
dampak sosio-ekologis konversi lahan terhadap kawasan setempat. Desa Tugu Utara,
Kecamatan Cisarua, Bogor. Daerah ini mengalami konversi lahan akibat dari
pembangunan fasilitas wisata berupa villa, hotel maupun restoran. Perubahan tata ruang
di desa ini mengakibatkan banjir di kawasan hilir DAS Ciliwung. Penelitiann ini
dilakukan di dua kampung di desa Tugu Utara yaitu kampung Sampay dan kampung
Sukatani. Daerah Kampung Sampay terjadi konversi lahan secara besar-besaran,
sedangkan di Kampung Sukatani masih banyak lahan pertanian dan konversi lahan masih
sangat lambat. Pelaku konversi lahan sendiri dibagai menjadi dua yaitu warga lokal yang
mengkonversi lahan dengan membangun tempat tinggal dan warga luar desa yang
membangun fasilitas wisata. Terjadinya konversi lahan memberikan dampak negatif
terhadap aspek sosio-ekonomis seperti; perubahan penguasana lahan, kesempatan kerja,
perubahan pola kerja, kondisi tempat tinggal, dan hubungan antar warga.
Pada Desa Tugu Utara terjadi peningkatan rumah tangga menjadi tunakisma dan
telah terjadi derajat penguasaan lahan dari pemilik menjadi penyewa. Selain itu juga
terjadi penurunan derajat penguasan lahan. Hal ini terlihat dari kesempatan kerja di
bidang non-pertanian lebih banyak berada di kampung Sampay dibanding Sukatani.
Konversi lahan mengakibatkan rata-rata pendapatan petani menjadi menurun. Perubahan
peruntukan lahan pertanian menjadi non-pertanian mengakibatakan munculnya prostitusi
di Desa Tugu Utara.
Selain itu masalah sosio-ekologi juga menjadi menjadi pemicu menurunya akses terhadap
sumberdaya khususnya air. Perubahan tata ruang mengakibatkan banjir di kawasan hulu
dan hilir karena adanya proses konversi lahan. Alih fungsi ini berdampak pada
meningkatnya kemacetan dan kebisingan di lingkungan.
Analisis pustaka
Penelitian ini sudah menggunakan data – data yang lengkap dan relevan sesuai
dengan topik yang dikaji. Sehingga data yang disajikan dapat menjawab permasalahan
yang diangkat di Desa Tugu Utara. Kaitan penelitian ini dengan judul penelitian yang
saya lakukan adalah bahwa terjadinya konversi lahan akibat dari alih fungsi lahan
pertanian untuk pembangunan fasilitas wisata berupa villa, hotel maupun restoran.
Penyebab terjadinya konversi lahan ini karena pekerjaan sektor non-pertanian lebih
menjanjikan dibanding sektor pertanian. Pengaruh adanya konversi lahan yang dikuasai
oleh petani semakin sempit karena banyak digunakan untuk kegiatan di luar bidang
pertanian. Sehingga membuat petani yang miskin semakin miskin dan tidak mampu
mencukupi kebutuhan pokok karena sumber penghasilan mereka menjadi hilang.
6
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
: Konversi Lahan Pertanian Dan Perubahan
Struktur Agraria
: 2007
: Jurnal
: Elektronik
: Martua Sihaloho, Arya Hadi Dharmawan,
Said Rusli
10
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: : Bogor, Program Studi Sosiologi Pedesaan,
Institut Pertanian Bogor
: Jurnal Trandisiplin Sosiologi, Komunikasi
dan Ekologi Manusia
: 01(02); 253-270
: hhtp://download.portugalgaruda.org/
article.php?article=83495&val=223&
title=konversi%20Lahan%20Pertani
an%20Dan%20Perubahan%20Struk
tur%20Agraria%20Kelurahan%20
Mulyaraja%20Kecamatan%20Bogo
r%20Selatan%20Kota%20Bogor%2
0Jawa%20Barat)
: 27 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini mentikberatkan pada adanya konversi lahan dan perubahan struktur
agraria di Kelurahan Mulyaraja. Dampak dari adanya konversi lahan tersebut
mengakibatkan ketimpangan struktur agraria lahan terhadap kehidupan masyarakat
menyangkut perubahan pola penguasaan lahan, pola nafkah dan hubungan pola produksi.
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposif melalui pendekatan kualitatif.
Penelitian ini memadukan metode pengamatan, wawancara mendalam, studi / analisis
data dokumen/sekunder. Kasus konversi lahan yang terjadi di Kelurahan Mulyaraja yang
awalnya adalah lahan pertanian berubah menjadi wilayah permukiman. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya akses pada sumberdaya agraria dan meningkatkan buruh
tani yang berdampak pada perubahan pola nafkah agraria. Terjadinya konversi lahan
tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya; pertumbuhan penduuduk,
keterdesakan ekonomi, faktor luar, intervensi pihak swasta dan intervensi pemerintah.
Perubahan struktur agraria dari segi pola penguasaan sumberdaya agraria dibagi
menjadi dua yaitu pemilik sekaligus penggarap dan pemilik yang mempercayakan kepada
penggarap dengan sistem bagi hasil. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa tanah di
Kelurahan Mulyaraja sebagaian sudah dimiliki oleh orang luar Kelurahan dan PT.
Masyarakat Kelurahan Mulyaraja bermata pencahariaan dari sektor pertanian sebagai
petani dan buruh tani, sedangkan pada sektor non – pertanian menjadi wiraswasta, tukang
ojek, supir angkot, dll. Terdapat pola konversi lahan di Kelurahan Mulyaraja yaitu
pertama, konversi gradual – berpola sporadis yang diakibatkan oleh lahan yang kurang
subur dan keterdesakan ekonomi. Kedua, konversi sistematik berpola ‘enclave. Ketiga,
konversi lahan sebagai respon atas pertumbuhan penduduk. Keempat, konversi yang
disebabkan oleh masalah sosial. Kelima, konversi tanpa beban. Keenam, konversi
adaptasi agraris. Ketujuh, konversi multi bentuk atau tanpa bentuk / pola. Implikasi dari
perubahan pandangan masyarakat terhadap penggunaan sumber agraria menyebabkan
terjadinya pergeseran ke arah pemanfaatan tanah untuk fungsi reproduksi seperti
perumahan. Perubahan struktur agraria tersebut berimplikasi pada menguatnya proses
marginalisasi bagi warga setempat dan memberikan keuntungan bagi pihak pemodal.
Analisis Pustaka
Penelitian tersebut menjelaskan bagiamana proses konversi lahan yang terjadi di
Kelurahan Mulyaraja dan perubahan struktur agraria menghasilkan ketimpangan
struktur agraria bagi masyarakat setempat. Ketimpangan tersebut berimplikasi negatif
11
terhadap pola nafkah yang
mengakibatkan penurunan
kesejahteran petani.
Pengalihfungsian tanah untuk perumahan membuat nasib petani semakin termajinalkan
dan memberikan keuntungan bagi pemilik modal. Penjelasan dalam penelitian ini masih
belum mencangkup semua, melainkan hanya menjelaskan secara singkat proses konversi
dan perubahan struktur agraria yang menghasilkan ketimpangan. Perlu adanya alasan
yang lebih kuat untuk menjelaskan bagaimana konversi lahan dan perubahan struktur
agraria berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Keterkaitan penelitian tersebut dengan
penelitian yang saya lakukan berdasarkan jenis perubahan struktur agraria dari segi
terjadinya konversi lahan dari pertanian ke non-pertanian. Penyebab terjadinya konversi
lahan karena meningkatanya pertumbuhan penduuduk, keterdesakan ekonomi, faktor luar,
intervensi pihak swasta dan intervensi pemerintah.Pengaruh dari adanya konversi lahan
yaitu berimplikasi pada menguatnya proses marginalisasi bagi warga memicu terciptanya
pemiskinan petani setempat dan memberikan keuntungan bagi pihak pemodal.
7.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Analysis of Land Conversion and Its
Impacts and Strategies in Managing Them
in City of Tomohon, Indonesia
: 2013
: Jurnal
: Elektronik
: Noortje M.Benu, Maryunani, Sugiyanto, and
Paulus Kindangen
: : : Asian Transactions on Basic and Applied
Science
: 03 (02) : 65-72
: www.asiantransactions.org/Journals/Vol03Issue02/AT
BAS/ATBAS-40329021.pdf
: 30 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini menitikberatkan pada pengembangan strategi penanganan konversi
lahan yang terjadi di Kota Tomohon, Sulawesi Utara yang menguji faktor dominan yang
memepengaruhi konversi lahan dan menganalisis strategi pembangunan. Teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik proportional random sampling dengan
responden petani yang mengkonversi lahannya serta menggunakna metode analisis faktor
dan proses analisis hirarki. Pembangunan di Tomohon yang membutuhkan banyak lahan
membuat terjadinya alih funsi lahan. Daerah di perkotaan dipandang sebagai lokasi yang
paling efisien untuk kegiatan non-pertanian yang propduktif karena ketersediaan
infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya.
Terdapat dua jenis proses konversi sawah yaitu konversi langsung sawah oleh
petani dan oleh pemilik tanah non petani yang dilakukan melalui proses penjualan.
Konversi melalui penjualan berlangsung dengan dua cara yaitu cara di mana posisi petani
adalah sebagai monopoli penjual dan pembeli monopsoni yang terjadi akibat adanya
fragmentasi pasar tanah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan di
Tomohon adalah faktor ekononomi, lanskap dan keamanan pangan. Dari aspek ekonomi,
tingkat pendapatan petani, kegiatan ekonomi dan harga tanah berpengaruh cukup tinggi
12
pada konversi lahan. Pendapatan petani yang tidak terlalu tinggi membuat petani memilih
untuk menjual lahanya. Dilihat dari aspek lanskap yang paling berpengaruh pada konversi
lahan di Tomohon adalah infrastruktur atau kedekatan dengan lokasi lahan, tingkat
aksesibilitas lahan dan kebutuhan lahan. Terjadinya konversi lahan sangat berpengaruh
dalam dinamika perubahan struktur agraria. Perubahan yang terjadi yaitu : 1. Perubahan
pola pemilikan tanah, 2. Perubahan pola penggunaan lahan, 3. Perubahan pola hubungan
agraria, 4.perubahan pola hidup agraria dan 5. Sosial dan perubahan masyarakat.
Rusaknya kawasan lindung akan mengakibatkan daya dukung yang semakin
menurun seiring dengan meningkatnya konversi lahan, sehingga menyebabkan harga
tanah meningkat di luar kendali dan menurunkan ketersediaan kebutuhan dasar. Sehingga
diperlukan strategi pengembangan untuk Kota Tomohon berdasarkan pendapat para ahli
adalah strategi pengembangan ekowisata, sehingga lahan pertanian tetep terjaga dan
menekan angka konversi lahan.
Analisis:
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakuakan dijelaskan bahwa terjadinya
konversi lahan di Kota Tomohon akibat dari pendapatan petani yang rendah memicu
petani untuk menjual tanahnya. Dalam pembangunan infrastruktur dibutuhkan lahan
pertanian yang luas, sehingga menjdorong terjadinya konversi lahan. Lahan yang awalnya
mudah diakses menjadi hal yang langka dan menjadi incaran untuk dikonversi untuk
kegiatan non pertanian yang lebih produktif. Penelitian ini sudah memaparkan scara jelas
proses terjadinya konversi lahan akibat dari pembangunan dalam kegiatan ekonomi.
Perubahan konversi lahan yang terjadi yaitu dari lahan pertanian ke pembangunan
infrastruktur dan prasarana seperti ekowisata dan bangunan. Penyebabnya karena
pendapatan petani yang tidak terlalu tinggi dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya,
maka petani lebih memilih untuk menjual lahannya pada investor. Keberadan lokasi lahan
yang strategis membuat harga lahan semakin tinggi, sehingga petani lebih memilih
menjualnya dan beralih mata pencaharaian ke sektor non-pertanian. Keterkaitan
penelitian ini dengan penelitian yang saya lakukan adalah bahwa lokasi yang strategis
tepian kota akan lebih banyak terkonversi karena dipengaruhi oleh tingginya harga jual
lahan yang mendorong petani untuk beralih ke sektor lain. Hal ini sangat berimplikasi
dapat menimbulkan penyempitan kepemilikan lahan yang dapat menurunkan pendapatan
petani sebagai awal pemiskinan pada petani karena mereka setelah menjual lahan tidak
memiliki sumber penghasilan yang tetap.
8.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
Ringkasan Pustaka
: Agricultural Land Conversion Drivers: A
Comparison between Less Developed,
Developing and Developed Countries
: 2010
: Jurnal
: Elektronik
: H. Azadi, P.Ho, dan L.Hasfiati
: : : Land Degradation and Development
: 03 (02) : : http://www.mearc.eu/resources/04ArtLandDe
grDev2010.pdf
: 30 September 2015
13
Penelitian menitikberatkan pada faktor penggerak utama terjadinya konversi lahan
pertanian adalah yang dikenal sebagai Agricultural Land Conservation (ALC) di seluruh
dunia. ALC secara dapat dilihat sebagai konsekuensi dari industrialisasai di negara
kurang berkembang, sedang berkembang dan negara – negara maju. Pertumbuhan
penduduk mempengaruhi meningkatnya kebutuhan terutama di daerah perkotaan
sehingga menuntut banyak pasokan kebutuhan untuk masyarakat di perkotaan.
Meningkatnya kebutuhan di perkotaan mengakibatkan tanah diperkotaan menjadi langka
dan lebih mahal. Sehingga adanya ALC mengakibatkan terjadinya dampak negatif jangka
panjang seperti kehilangan tanah, perubahan pada produksi, pekerjaan dan infrastruktur.
Negara – negara berkembang pertumbuhan ekonomi berlangsung sangat cepat hingga
menyebabkan terjadinya konversi lahan pertanian. Selain itu perkembangan sektor
industri dapat mempercepat konversi lahan pertanian. Kebijakan pemerintah mengenai
industrialisasi juga muncul mendorong pengembangan kawasan industri
untuk
mengambil lahan pertanian di daerah pinggiran kota. Pengembangan zona ini mendorong
investasi di bidang industrialisasi dan mendorong orang – orang untuk bermigrasi dan
mencari peluang kerja baru. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ALC untuk ketiga
kelompok negara meningkat. Hal ini menunjukan bahwa ALC akan berlanjut di masa
mendatang jika tidak adanya kebijakan pemerintah yang mampu menghentikan, selain itu
urbanisasi merupakan salah satu penyebab utama dari ALC. Karena perkembangan
wilayah perkotaan yang semakin cepat mengakibatkan banyaknya terjadi konversi lahan.
Analisis Pustaka
Penelitian ini dilakukan sebagai analisis time-series kuantitatif untuk periode
1961-2003 dan data yang diperoleh melalui data base online yaitu Nation Master dn
Earth Trends Data Base. Pengambilan sample menggunakan stratified random sampling
dengan sample dibagi menjadi tiga strata, yaitu Kurang berkembang, sedang berkembang
dan negara maju. kelebihan penelitian ini penulis sudah mampu menjawab permasalahan
penelitian. Sedangkan kekurangan dari penelitian ini adalah data yang digunakan dari
hasil online bukan dari survey secara langsung. Perubahan struktur agraria yang terjadi
yaitu lahan pertanian yang berada di tepian kota dimanfaatkan untuk pembangunan
kawasan industri sebagai akibat dari adanya modernisasi yang sehingga banyak petani
yang memilih mengkonversikan lahan pertanian ke non pertanian. Penyebabnya adalah
adanya para investor yang mau membeli lahan pertanian dengan harga yang tinggi, selain
itu adanya dorongan untuk mencari pekerjaan baru yang memberi penghasilan yang
tinggi. Keterkaitan penelitian ini dengan penelitian yang saya lakukan adalah
perkembangan wilayah perkotaan yang semakin pesat menjadikan harga lahan di tepian
kota menjadi tinggi. Hal ini tentunya mengundang minat petani untuk menjual lahanya
dan beralih profesi sehingga proses konversi lahan menjadi meningkat. Padahal setelah
petani menjual lahannya sebagian petani akan beralih mata pencahariaan ke sektor non
pertanian dan kehilangan mata pencaharian utama mereka. Sehingga tidak sedikit petani
yang awalnya berpengahasilan rendah akan menjadi semakin miskin dan termajinalkan.
Proses penjualan lahan akan mengakibatkan terjadinya proses pemiskinan pada rumah
tangga petani karena peluang usaha akan semakin terbatas.
9.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
: Alih Fungsi Lahan : Potensi Pemicu
Transformasi Desa-Kota (Studi Kasus
Pembangunan
Terminal
TIPA
A”Kertawangunan”)
: 2010
: Jurnal
: Elektronik
14
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Evi Novia Nurjanah dan Heru Purwandari
: : : JSEP
: 06 (03) : 54-68
: http://jurnal.unej.ac.id/index.php
/JSEP/article/viewFile/810/625
: 30 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana mekanisme konversi lahan
memberikan efek terhadap arah pengembangan wilayah Kabupaten Kuningan. Faktorfaktor yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan sawah menurut Sumaryanto, dkk
(1994) adalah kebijaksanaan pemerintah dan lokasi sawah terhadap pusat pertumbuhan
ekonomi. Konversi lahan yang terjadi berdampak terhadap perubahan hubungan aktor dan
berimplikasi terhadap pengembangan wilayah. Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena memberikan pemahaman yang
mendalam mengenai suatu peristiwa atau gejala sosial dengan menggunakan metode
triangulasi.Penggunaan lahan di kebupaten Kuningan cenderung menurun tahun 2003
sampai 2005 dengan presentase 29,51 persen tahun 2003 sekitar 29,28 persen tahun 2004
dan sekitar 25,14 persen pada tahun 2005. Penurunan ini disebabkan oleh kepentingan
pemerintah daerah untuk membangun fasilitas umum karena meningkatanya jumlah
penduduk yang begitu pesat untuk pemukiman, sarana transportasi, dan kebutuhan akan
jalan sehingga permintaan akan lahan semakin meningkat. Sebagian besar penggunaan
lahan di Desa Kertawangunan digunakan untuk lahan sawah. Lahan sawah irigasi ini
digarap oleh masyarakat desa Kertawangunan degan sistem sewa dan bagi hasil. Harga
sewa lahan untuk tanah milik perangkat desa oleh masyarakat (petani) sebesar Rp
400.000,00 sampai Rp 500.000,00/100 bata.
Aktor pemanfaatan sumberdaya agraria dibagai menjadi tiga yaitu pemerintah,
masyarakat dan swasta. Pada kasus konversi lahan yang tejadi di Desa Kertawangunan
untuk pembangunan terminal Tipe A diawali dengan transfer pemilikan lahan dari
masyarakat pemilik lahan kepada pemerintah daerah melalui jual beli. Pembebasan lahan
yang digunakan untuk pembangunan Terminal adalah lahan sawah seluas 5,7 ha. Faktor
yang mendorong terjadinya konversi lahan menjadi Terminal adalah faktor kebijakan
lokal dan lokasi sawah yang strategis dengan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan
terminal Kertawangunan belum sinergi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Kuningan pasalnya terminal tersebut dibangun ketika RTRW belum selesai
disusun. Letak lahan yang sangat strategis dekat dengan jalan raya menjadi sasaran utama
untuk dikonversi. Pembangunan Terminal dapat membuka akses terhadap pertumbuhan
ekonomi dibuktikan dengan munculnya kios-kios di sekitar terminal. Hal ini memicu
meningkatnya harga lahan menjadi dua kalipat dari harga pasaran. Setelah terbnagun
terminal harga tanah meningkat 200 persen dari harga sebelumnya. Harga tanah pada
waktu pembebasan lahan sebesar Rp 1.500.000,00 per batanya menjadi Rp 6.000.000,00
per batanya.
Adanya konversi lahan merubah orientasi nilai terhadap suatu lahan yang dibagi
menjadi tiga yaitu nilai keuntungan, nilai kepentingan umum, dan nilai sosial. Dampak
dari adanya konversi lahan ini mengubah hubungan antar pemilik dan penggarap serta
hilangnya kemampuan dalam menyediakan beras secara mandiri. Petani harus membeli
beras dalam mencukupi pangan sehari- hari. petani banyak yang beralih mata pencaharian
ke sektor non pertanian sedangkan yang bertahan menjadi petani mereka menggarap
15
sawah dengan sistem maro. Masyarakat yang beralih mata pencaharian rata-rata
mendapatakan pekerjaan dengan upah rendah karena tingkat pendidikan mereka yang
tergolong rendah.
Menurut Kustiawan (1997) faktor eksternal yang berpengaruh dalam konversi lahan
pertnaian berkaitan dengan dinamika pertumbuhan perkotaan yaitu perkembangan
kawasan terbangun, pertumbuhan penduduk perkotaan dan pertumbuhan PDRB.
10. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Pengaruh Implementasi Kebijakan Pertanahan
Terhadap Struktur Penguasaan Tanah dan
Dampaknya Terhadap Kesejahteraan Petani di
Kabupaten Garut dan Subang
: 2008
: Jurnal
: Elektronik
: Sintaningrum
: : : Jurnal Kependudukan Padjajaran
: 10(01):23-33
: file:///D:/makalah/Downloads/4023-7080-2PB.pdf
: 26 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan terkait dengan adanya
ketimpangan struktur penguasaan tanah dan rendahnya kesejahteraan petani di Kabupaten
Subang dan Garut. Kemiskinan petani di Indonesia terlihat dari meningkatnya jumlah
petani gurem tahun 2003 menjadi 56,5%. Salah satu masalah kemiskinan tersebut
diakibatkan oleh ketimpangan struktur penguasan tanah dan masih rendahnya
kesejahteraan petani disebabkan oleh implementasi kebijakan pertanahan yang belum
optimal, baik ditinjau dari konten kebijakan maupun konteks dimana kebijakan tersebut
diiplementasikan.
Ketimpangan struktur agraria ini berawal dari petani penggarap tidak menjual
tanah mereka secara langsung, melainkan bertahap melalui sewa-menyewa atau dengan
menggadaikan tanahnya. Namun setelah jatuh tempo, karena tidak bisa membayar
akhirnya petani tersebut menjual tanahnya. Jual beli tersebut dilakukan dibawah tangan
dengan tidak merubah nama SK redistribusi penerima hak. Peningkatan kesejahteraan
meningkat pada sedikit petani yang berhasil menjadikan sebagai tuan tanah baru. Dimensi
yang paling berperan dalam konteks implementasi kebijakan adalah dimensi karakteristik
kelembagaan dan penguasaan, serta dimensi kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor
yang terlibat.
Implementasi kebijakan redistribusi tanah di Kabupaten Subang dan Garut
menunjukan terjadinya proses politik yang kental yang menyebabkan lemahnya
pelaksanaan program. Tarik menarik kepentingan di antara berbagai aktor yang terlibat
mengakibatkan program redistribusi tanah tidak berjalan mulus. Implikasinya adalah
munculnya konflik – konflik sengketa tanah antara berbagai pihak baik petani dengan
petani maupun petani dengan penggarap. Konflik tersebut terjadi karena adanya
16
perbedaan persepsi tentang riwayat kepemilikan tanah dan pemanfaatan tanah – tanah
yang yang kemudian disepakati dan dikelola bersama.
Analisis Pustaka
Pada hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi kebijakan pertanahan
berpengaruh signifikan terhadap struktur penguasaan tanah dan berdampak terhadap
kesejahteraan petani di Kabupaten Garut dan Subang. Kelebihan dari penelitian ini sudah
menggunakan metode explanatory research yaitu penelitian yang menyangkut pengujian
hipotesis penelitian dikombinasikan dengan analisis deskriptif yang bertujuan
menggambarkan keadaan nyata di lapang. Kelemahan penelitian ini belum menampilkan
data–data struktur penguasaan tanah secara lengkap, namun lebih menjelaskan hasil dari
pengolahan data yang didapat. Hal ini tentunya membuat pembaca kesulitan untuk
membandingkan presentasi lahan yang dimiliki dan dijual belikan. Selain itu dalam
penelitian tidak terdapat kerangka pemikiran yang menunjukan variabel apa saja yang
ingin diukur. Keterkaitan penelitian ini dengan penelitian yang akan saya ambil adalah
penyebab perubahan struktur agraria karena kebijakan pemerintah yang tidak memihak
kepada petani mengakibatkan petani menjual tanahnya kepada pemilik modal tanpa
pemindahan nama. Hal ini menimbulkan ketimpangan struktur agraria yang berimplikasi
pada kemiskinan. Penyebab terjadinya kemiskinan ini akibat dari kebijakan pemerintah
yang tidak berjalan optimal dan cenderung memihak pada pemilik modal. Sehingga
membuat masyarakat pinggiran menjadi lebih termarjinalkan.
11
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi):hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Dinamika Nafkah Rumah Tanga Petani
Pedesaan dengan Pendekatan Sustainable
Livelihod Approach (SLA) (Kasus Petani
Tembakau di Lereng Gunung MerapiMerbabu, Propinsi Jawa Tengah)
: 2010
: Jurnal
: Elektronik
: Widiyanto, Suwarto dan Retno Setyowati
: : Surabaya dan Universitas Negeri
Surabaya
: Agritext
: 28(12):80-88
: http://eprints.uns.ac.id/11094/1/Publikasi
_Jurnal_(20).pdf
: 27 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini dilakukan untuk memahami kemiskinan dengan menggunakan
pendekatan sustainable livelihood. Pendekatan ini menekankan pada unsur tidak hanya
pendapatan dan pekerjaan juga pada unsur holistik mengenai bagaimana kehidupan orang
miskin dan apa prioritas hidup mereka. Dalam upaya pengentasan kemiskinan dapat
dilakukan dengan proses pemberdayaan yang mencangkup dua level yaitu pertama,
personal empowerment mengacu pada peningkatan ketrampilan dan percaya diri
masyarakat untuk mengatasi hambatan ekonomi seperti; melakukan aktifitas menabung.
Kedua, social empowerment, penguatan organisasi lokal yang ada untuk membangun
kapasitas anggota komunitas untuk merencanakan dan mengimplementasikan aktifitas
pembangunan yang muncul assesment kebutuhan secara partisipatif. Lahan pertanian
17
sebagai modal utama bagi petani di lereng gunung Merapi-Merbabu menjadikan lahan
tersebut sebagai sumber ekonomi sehari – hari dengan komoditas utamanya yaitu
tembakau dan tanaman holtikultura. Namun seiring dengan terjadinya frangmentasi yang
mempersempit kepemilikan lahan maka banyak yang beralih profesi. Karena sempitnya
lahan banyak petani lahan sempit yang menyewa tanah kas desa dan juga tanah oro –
oro yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah untuk bercocok tanam.
Berdasarkan karakteristik geografis petani yang tinggal dilereng gunung merbabau
lebih menguntungkan karena disana terdapat sinar matahari yang berpengaruh terhadap
kualitas tembakau rajangan yang dihasilkan. Sedangkan pada lereng gunung merapi
banyak menjual tembakau dalam bentuk daun dengan sistem tebas. Woolcock (2006)
membedakan tipe modal sosial menjadi tiga yaitu pertama, bounding social capital yang
dicirikan dengan adanya ikatan yang kuat antara anggota dalam kelompok etnik tertentu.
Kedua, social bridging, dicirikan oleh adanya hubungan yang inklusif dengan kelompok
dari luar komunitas atau etnik. Ketiga, social linking, modal sosial dibangun pada tataran
yang lebih luas. Salah satu strategi yang dibangun oleh petani tembakau dalam upaya
melakukan keberlanjutan sistem nafkahnya adalah tidak hanya mengandalkan bounding
social tetapi juga social bridging. Pada kondisis krisis (gagal panen) petani akan
berhutang dan menjual beberapa aset yang dimiliknya untuk bertahan hidup. Selain itu
mereka mengandalkan strategi social-kolektif atau sambatan sebagai bagian penting
kegiatan produksi tembakau. Pada situasi normal maupun surplus petani akan
menerapkan strategi konsolidasi, dimana usahatani hanya mampu memenuhi kebutuhan
subsisten. Sedangkan pada situasi krisis (gagal panen) petani akan menerapkan strategi
bertahan hidup dimana rumahtangga petani akan mengalokasikan sebagaian dari tenaga
kerja mereka tanpa modal.
Analisis Pustaka
Penelitian tersebut menjelaskan mengenai dinamika naflkah rumahtangga dengan
menggunakan pendekatan sustainablelivelihood approach. Situasi kerentanan yang
dihadapi oleh petani diakibatkan oleh fluktuasi harga, perubahan cuaca dan musim,
kepemilikan dan penguasaan lahan dan degradasi lingkungan. Keempat elemen tersebut
yang menyebabkan kemiskinan pada petani, sehingga diperlukan pendekatan dalam
upaya memahami kemiskinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode kombinasi antara metode survei dan partisipatif dengan menggunakna teknik
FGD semi terstruktur, membuat rangking kepemilikan aset secara partisipatoris, dan
mengadakan survei rumahtangga. Selain itu juga dilengkapi dengan bagan yang
memudahkan pembaca dalam memahami isi yang disampaikan. Namun, dalam penelitian
ini tidak disertai data yang menunjukan presentase nafkah petani baik dalam kondisi
normal maupun sedang terjadi krisis. Jenis perubahan yang terjadi karena adanya
fragmentasi penyempitan lahan akibat dari lahan yang kurang subur menyebabkan petani
banyak yang beralih profesi ke sektor lain. Perubahan tersebut diakibatkan oleh kondisi
struktur tanah yang tidak subur untuk lahan pertanian. Hal ini berpengaruh terhadap
produktivitas yang menurun. Apabila ini terjadi secara terus menerus maka komoditas
yang ditanam oleh petani tidak mampu mencukupi kebutuhan petani yang semakin
meningkat. Selanjutnya petani akan mencari alternatif untuk meningkatkan pendapatan
mereka melalui sewa tanah yang lebih subur.
12. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
: Kemiskinan Petani dan Strategi Nafkah
Ganda Rumahtangga Pedesaan
: 2007
: Jurnal
: Elektronik
18
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Titik Sumarti
: : Bogor, Program Studi Sosiologi Pedesaan,
Institut Pertanian Bogor
: Jurnal Trandisiplin Sosiologi, Komunikasi
dan Ekologi Manusia
: 01(02); 271-232
: http://download.portugalgaruda.org/article.
php?article=83585&val=223&title=
: 27 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini mengkaji tentang gejala kemiskinan petani kelapa di Indagri Hilir dan
petani kelapa sawit di Kampar selama periode krisis ekonomi akibat tekanan
kelembagaan dan strategi nafkah ganda agar dapat meningkatkan taraf hidupnya. Kasus
perkebunan kelapa di wilayah Inhil diakibatkan oleh penguasaan asset/modal dan tatanan
kelembagaan ekonomi lokal (patronase) serta kondisi turunya harga yang mengakibatkan
ketidakmampuan petani dalam mendapatkan akses. Hal tersebut berdampak pada
penurunan kesejahteraan ekonomi petani. Kelembagaan yang tradisional permodalan dan
pemasaran yang masih digunakan adalah tauke (pelepas uang, pedagang pengumpul),
sedangkan lembaga modern yang digunakan adalah koperasi dan perusahaan besar
(pabrik minyak kelapa/goreng). Lembaga tersebut tidak berperan sebagaimana mestinya
karena petani tidak bisa terlibat langsung dalam penentuan harga. Petani hanya menerima
harga yang sudah ditetapkan oleh para tauke sehingga tidak memberikan mobilitas sosial
bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraannya. Sedangkan pada kasus PIR –trans
kelapa sawit di wilayah Kampar kelembagaan sarana produksi dan pemasaran dalam
usaha perkebunan kelapa sawit yang masih berjalan adalah KUD. Para tauke disini
berperan sebagai lembaga permodalan yang memberikan pinjaman kepada petani.
Sedangkan kelembagaan pemasaran yang lebih besar sebagai penampung adalah pabrik
kelapa sawit milik perusahaan inti. Adanya KUD ini belum mampu memfasilitasi petani
untuk meningkatkan modal sosial. Karena pada dasarnya KUD hanya menguatkan
kelembagaan bagi perusahaan inti dan tidak memihak kepada petani. Karena petani
cenderung pasif terhadap semua kegiatan KUD.
Pada penelitian tersebut menunjukan bahwa kondisi kesejahteraan ekonomi
petani pada beragam lapisan di perkebunan rakyat pasca krisis ekonomi semakin
merosot. Hal ini terjadi karena anjloknya harga komoditas perkebunan. Tentunya dengan
merosotnya pendapatan petani menjadikan petani memiliki strategi nafkah ganda seperti;
menjadi tukang ojek, buruh, sopir, pedagang, dll. Pola strategi adaptasi dalam mengatasi
kemiskinan dilakukan dengan dua cara yaitu, pertama, optimalisasai tenaga kerja; pola
nafkah ganda dan kedua, pengembangan jaringan dan partisipasi kelembagaan. Upaya
penanggulangan kemiskinan harus didukung oleh pengembangan kapasitas.
Analisis Pustaka
Pada penelitian tersebut menjelaskan bahwa gejala kemiskinan yang terjadi di
Indragiri Hilir dan petani kelapa sawit di Kampar diakibatkan oleh menurunya harga
komoditas perkebunan akibat dari perubahan pada kelembagaan ekonomi lokal. Sehingga
menciptakan strategi nafkah ganda sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup petani.
Pada penelitian tersebut tidak menyajikan data berapa persen tingkat pendapatan petani
yang menyatakan bahwa petani tersebut miskin, namun penelitian tersebut hanya
mendeskripsikan apa yang di dapatkan di lapangan tanpa mencantumkan data yang
akurat. Sehingga pembaca tidak mengetahui dengan jelas data yang disajikan oleh
19
penulis. Keterkaitan penelitian ini dengan penelitian yang saya lakukan adalah bahwa
jenis perubahan yang terjadi akibat dari penguasaan asset/modal dan tatanan kelembagaan
ekonomi
lokal (patronase) serta kondisi turunya harga yang mengakibatkan
ketidakmampuan petani dalam mendapatkan akses. Perubahan ini berpengaruh terhadap
penurunan kesejahteraan ekonomi petani. Jika ditinjau dari aspek penelitian yang saya
lakuakan adalah peran kelembagaan lokal dalam meningkatkan nafkah petani dalam
mengurangi pemiskinan akibat dari adanya perubahan struktur agraria.
13 Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Respon Petani Atas Kemiskinan
Struktural
: 2011
: Jurnal
: Elektronik
: Heru Purwandari
: : Bogor,
Program
Studi
Sosiologi
Pedesaan, Institut Pertanian Bogor
: Jurnal J-SEP
: Vol 05(02); 24-37
: http://download.portalgaruda.org/articl
e.php?article=95426&val=5046
: 30 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian tersebut menitikberatkan pada kemiskinan struktural masyarakat desa
hutan dan masyarakat desa perkebunan. Kemiskinan ini di awali oleh paradigma
pengelolaan sumberdaya alam yang berhaluan kapitalisme dengan materi sebagai ukuran
keberhasilan, serta paradigma yang mengatakan bahwa negara sama dengan pemerintah
sehingga pengelolaan sumberdaya alam oleh negara diartikan sebagai pengelolaan
sumberdaya alam oleh pemerintah. Bagi masyarakat yang berada di kawasan
perkebunan, kemiskinan struktural akibat dari terpuruknya perekonomian masyarakat
akibat ketimpangan akses lahan. Hal ini terjadi karena pengambilan lahan perkebunan
secara paksa yang berdampak pada menurunya kehidupan petani. Fokus kajian ini
adalah dua komunitas yaitu masyarakat dalam / sekitar hutan yang merupakan
masyarakat lokal yang berdomisili secara turun temurun dan masyarakat perkebunan.
Sistem kapitalisme dalam penguasaan modal maupun sumberdaya membuat
masyarakat menjadi termarjinalkan dan menciptakan differensiasi sosial. Pada
masyarakat kehutanan intervensi kapitalisme mengarah kepada pengelolaan sumberdaya
alam yang ada di sekitar hutan. Hal ini mengindikasi munculnya kemiskinan struktural.
Kemiskinan struktural yang menyebabkan
masyarakat termarjinalisasi dan sulit
memperoleh akses terhadap berbagai sumberdaya. Menurut Seomardjan (1980),
ketimpangan distribusi penguasaan lahan merupakan sumber utama kemiskinan
struktural di dalam masyarakat yang bersangkutan. kemiskinan struktural dapat dikaji
melalui unsur – unsur meliputi ; kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial,
stratifikasi sosial, kekuasaan dan wewenang. Kemiskinan struktural yang terjadi pada dua
komunitas dipicu oleh adanya kapitalisme yang merasuki seluruh sektor perkebunan dan
kehutanan. Nasib petani yang semakin termarjinalkan menjadi buruh tani akibat dari
ketidakadilan penguasan sumber agraria menjadikan petani miskin dan dimiskinkan.
Rendahnya kesadaran petani menjadi salah satu pendorong terjadinya marginalisasi.
Sedangkan kapitalisme di perkebunan yaitu muncul ketika tanah sudah tak lagi dimiliki
oleh masyarakat melainkan masyarakat hanya menjadi buruh di tanahnya sendiri,
20
sehingga mencipkan kemiskinan struktural. Hal ini memunculkan hubungan patron –
klien yang menimbukan saling ketergantungan di antara keduanya. Sedangkan
kemiskinan struktural pada masyarakat kehutanan dipicu oleh tertutupnya akses
informasi kebijakan tentang sumberdaya hutan kepada masyarakat adat. Akibat dari
kemiskinan struktural baik bagi masyarakat perkebunan maupun kehutanan mendorong
munculnya gerakan tani oleh kelompok elit atau kelompok yang memiliki kesadaran yang
tinggi.
Analisis Pustaka
Pada penelitian tersebut menjelaskan tentang kemiskinan struktural yang dialami
oleh masyarakat perkebunan maupun masyarakat kehutanan disebabkan oleh adanya
kapitalisme yang merasuki berbagai sektor. Sehingga kemiskinan struktural tersebut
mengakibatkan masyarakat semakin termarjinalisasi. Penelitian memberikan pemahaman
bahwa petani mengalami pemiskinan dan dibatasi dalam penggunanan akses atas
sumberdaya akibat dari rendahnya kesadaran petani. Perubahan agraria yang terjadi pada
penelitian ini adalah adanya hubungan patron-klien akibat dari sistem kapitalisme yang
berdampak pada munculnya kemiskinan struktural pada petani. Keterkaitan penelitian ini
dengan penelitian yang saya ambil adalah adanya faktor – faktor yang mempengaruhi
terjadinya kemiskinanan struktural sangat sesuai dengan topik yang akan saya lakukan.
14. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Transformasi Wilayah Peri Urban: Kasus di
Kabupaten Semarang
: 2011
: Jurnal
: Elektronik
: Puji Hardati
: : : Jurnal Geografi
: 08(02); 108-117
: http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/ar
ticle/viewFile/1661/1868
: 27 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini dilakukan
untuk memaparkan tentang faktor-faktor yang
mendorong terjadinya transformasi pada wilayah peri urban. Transformasi wilayah
merupakan representasi dari perkembangan wilayah yang digambarkan sebagai suatu
proses perubahan dan pergeseran karakteristik dari komponen wilayah dalam kurun
waktu tertentu sebagai akibat dari hubungan timbal balik antara komponen tersebut. hasil
penelitian (Ginarsih, Muta’ali dan Pamono, 2003) menjelaskan bahwa transformasi
wilayah mmerupakan rentetan yang panjang dan berkaitan satu dengan lainnya. Rentetan
peristiwa panjang tersebut mengubah sifat kedesaan ke sifat kekotaan. Yunus (2008)
menjelsakan bahwa daerah tepian kota adalah suatau daerah yang juga dikenal sebagai
daerah Urban Fringeatau daerah Peri Urban atau nama lain yang muncul kemudian
merupakan daerah yang memerlukan perhatian yang serius karena begitu pentingnya
daerah tersebut terhadap peri kehidupan penduduk baik desa maupun kota di masa yang
akan datang. Terjadinya proses alih fungsi lahan dari pertanian ke non-pertanian
menunjukan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan akan ruang.
21
Transformasi secara spatial di daerah peri urban ini secara morfologis akan mengubah
bentuk pemanfaatan lahan.
Sargent (1976 dalam Giyarsih, 2009), menjelaskan bahwa ada lima kekuatan yang
menyebabkan terjadinya pemekaran kota secara fisikal, yaitu peningkatan jumlah
penduduk, peningkatan kesejahteraan penduduk, peningkatan pelayanan transfortasi,
adanya gejala penurunan peranan pusat kota sebagai pusat kegiatan, dan peningkatan
peranan para pembangun (developers).Sedangkan menurut Sundaram dan Rao (1984)
menyatakan adaya empat faktor yang mempengaruhi perekembangan lahan kekotaan di
daerah pinggiran kota, yaitu: adanya jalur transfortasai yang memadai, proksimitas
dengan pusat kegiatan, preferensi penduduk maupun fungsi-fungsi kekotaan untuk
memilih lokasi di kota.Lee (1979) melakukan penelitian tentang proses perubahan
pemanfaatan lahan di daerah pinggiran kota telah menentukan enam faktor yang
mempengaruhi proses perubahan pemanfaatan lahan di daerah pingiran kota yaitu :
karakteristik fisikal dari lahan, peraturan-peraturan mengenai pemanfaatan lahan,
karakteristik
personal pemilik lahan, banyak sedikitnya utilitas umum, derajad aksesibilitas lahan, dan
inisiatif para pembangun. Kabupataen semarang merupakan salah satau daerah yang
mengalami transformasi wilayah ditinjau dari banyaknya alih fungsi lahan pertanian ke
non-pertanian yang meningkat pesat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Yunus (2001) bahwa kepadatan penduduk merupakan faktor utama yang
menyebabkan terjadinya transformasi wilayah peri urban. Tentunya kepadatan penduduk
ini erta kaitanya dengan daya dukung lingkungan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah transformasi wilayah dapat diakibatkan oleh
faktor – faktor diantaranya kepadatan penduduk yang semakin bertambah, mata
pencaharian penduduk yang didominasi oleh sektor non-pertanian, dan daya dukung
lahan yang tidak mencukupi. Keberadaan daerah pinggiran tidak dapat dilepaskan
kaitanya dengan pusat kegiatan sosial, budaya dan ekonomi kekotaan terdekat maka
struktur kegiatan penduduk pada daerah pinggiran kota akan terkena pengaruhnya dari
kota tersebut. hal ini berlaku konsep distance decay principke, yaitu semakin dekat ke
kota maka pekerjaan di bidang non pertanian akan lebih banyak, sedangkan semakin
dekat dengan desa maka pekerjana di bidang pertanian akan lebih banyak.
Analisis Pustaka
Penelitian tersebut menitikberatkan pada faktor – faktor yang meneyebabkan
terjadinya transformasi wilayah peri urban. Pada penelitian ini penyebab perubahan
struktur agraria yang terjadi adalah lahan pertanian ke non-pertanian seperti bangunan
dan industri. Penyebab perubahan struktur agraria ini akibat dari adanya transformasi
wilayah di daerah tepian kota yang menjadikan masyarakat desa menjadi kekotaan. Hal
ini tentunya berkaitan dengan kemiskinan karena apabila alih fungsi lahan terjadi secara
terus menerus akan menyebabkan masyarakat kehilangan mata pencahariaan dan
menyebabkan tingkat pendapatan yang rendah. Sehingga masyarakat tidak mampu
mencukupi kebutuhan pokok karena sumber mata pencaharian mereka hilang. Hal
tersebut memicu terjadinya kemiskinan pada rumah tangga petani yang kehilangan akses
terhadap lahan sebagai sumber utama kehidupan mereka. Kelebihana dari penelitian ini
sudah menggunakan data sekunder hasil sensus penduduk, Susenas, dan registrasi
penduduk, serta menggunakan analisis tabel untuk memberikan gambaran tentang faktor
yang mendorong terjadinya transformasi wilayah peri urban.
22
15. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Kota dan Nama Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi): hal
Sumber
Tanggal Unduh
: Reforma Agraria Di Bidang Pertanian
(Studi Kasus Perubahan Struktur
Agraria dan Differensiasi Kesejahteraan
Komunitas Pekebun di Lebak Banten)
: 2009
: Jurnal
: Elektronik
: Martua Sihaloho, Heru Purwandari dan
Anton Supriyadi
: : Bogor, Program Studi Sosiologi Pedesaan,
Institut Pertanian Bogor
: Jurnal Trandisiplin Sosiologi,
Komunikasi dan Ekologi Manusia
: 03(01); 1-16
: http://download.portalgaruda.org/article.
php?article=83561&val=223&title=Refor
ma%20Agraria%20Di%20Bidang%20Pe
rtanian%20:%20Studi%20Kasus%20Per
ubahan%20Struktur%20Agraria%20dan
%20Diferensiasi%20Kesejahteraan%20
Komunitas%20Pekebun%20di%20Lebak
,%20Banten
: 27 September 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini menitikberatkan pada reforma agraria di bidang pertanian khususnya
dengan mengkaji hubungan antara perubahan struktur agraria dan differensiasi
kesejahteraan petani. Peniltian ini menggunakan metode triangulasi. Sedangkan analisis
data menggunakan pendekatan analisis kualitatif yang mampu mendeskripsikan pola –
pola hubungan sosial, baik dimensi struktur, dimensi pengaturan, serta sistem –sistem
makna yang melandasi dan memberi pedoman terhadap pola – pola hubungan. Kasus
pada penelitian tersebut yaitu adanya pembukaan lahan di Lebak Banten untuk
pengembangan perkebunan. Pada awalnya lahan tersebut di kelola oleh PTPN namun
diserahkan kepada masyarakat dengan luasan 0,2 hektar untuk perumahan dan 0,3 hektar
untuk kebun. Di tingkat petani sendiri mulai dibentuk KUD – KUD. KUD tersebut
berfungsi untuk penyedia saprotan petani dari PTPN dan pengumpul hasil panen petani.
Pada tahun 1997 KUD dibubarkan karena terjadi persoalan ketidakpercayaan masyarakat
terhadap peran KUD.
Munculnya struktur agraria baru akibat dari lahan dan modal untuk menguasai alat
produksi menimbulkan munculnya pola hubungan sosial produksi yang semakin
tersubordinasi dimana pemilik lahan menjadi semakin kuat dan penggarap menjadi
semakin lemah dan terjadinya stratifikasi. Penguasaan lahan tersebut dibangun oleh
beragam lapisan masyarakat yaitu pemilik, pemilik + penggarap, pemilik + buruh tani,
penggarap, penggarap + buruh tani dan buruh tani. Proporsi petani pemilik mencapai
79% dengan rata – rata kepemilikan di lokasi penelitian sebesar 5,1 hektar / KK.
Terjadinya perubahan struktur agraria menuju stratifikasi adalah : pola bagi hasil dan
pewarisan. Sedangkan mekanisme yang mendorong polarisasi adalah penjualan kebun,
gadai, dan buruh upahan serta akses petani terhadap program pemerintah.
23
Analisis Pustaka
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa terjadinya reforma agraria di bidang
pertanian menjadi penting untuk di wujudkan. Hasil penelitian tersebut menunjukan
bahwa lahan dan modal menjadi faktor penting dalam usaha tani. Adanya perubahan
struktur agararia mempengaruhi differensiasi kesejahteraan petani yang berdampak pada
munculnya stratifikasi dan polarisasi. Penelitaian ini di dukung dengan data – data yang
lengkap, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari penulis.
keterkaitan penelitian ini dengan penelitian yang saya lakukan adalah perubahan struktur
agraria dari lahan pertanian untuk perluasan perkebunan. Perubahan ini diakibatkan oleh
permintaan lahan untuk perluasan perkebunan. Hal ini tentunya berkaitan dengan semakin
banyak lahan yang dikuasai oleh pemilik modal, maka kan menyebabkan masyarakat
semakin mengalami pemiskinan akibat dari ketiadaanya akses. Petani semakin kehilangan
mata pencahariaanya mereka di sektor pertanian dan mendorong terjadinya transformasi
mata pencahariaan ke sektor non pertanian. Adanya perubahan struktur agararia ini
berdamapak pada menurunya differensiasi kesejahteraan petani karena proses perubahan
tersebut akan membawa petani menujual lahanya pada pemilik modal.
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN
Konsep Agraria dan Struktur Agraria
Konsep agraria diartikan tidak hanya sebatas tanah, melainkan mencangkup
seluruh bumi dan seisinya. Menurut Wiradi (1999) “Istilah ‘agraria berasal dari kata
bahasa lain ‘ager’,artinya :a) lapangan; b) pedusunan (lawan dari perkotaan); c) wilayah;
tanah negara”. Oleh karena itu istilah ‘agraria bukanlah sekedar ‘tanah’atau ‘pertanian’
saja. Kata – kata pedususunan , ‘bukit’, dan wilayah’, jelas menunjukan arti yang lebih
luas karena di dalamnya tercangkup segala sesuatu yang terwadai olehnya. Batasan
sumber agraria menurut UUPA 1960 (UU No.5/1960) justru sesuaidengan pengertian
dasar agraria yaitu “seluruh bumi, air dan ruangangkasa, termasuk kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya...” (Pasal1 ayat 22). “Dalam pengertian bumi selain permukaan
bumi, termasukpula tubuh bumi bawahnya serta yang berada di bawah laut” (Pasal 1ayat
4). “Dalam pengertian air termasuk baik perairan pedalaman maupunlaut wilayah
Indonesia” (Pasal 1 ayat 5). “Yang dimaksud dengan ruangangkasa ialah ruang di atas
bumi dan air tersebut…” (Pasal 1 ayat 6). Sumberdaya alam hakikatnya digunakan untuk
kemakmuran rakyat, namun kenyataannya distribusi kepemilikan lahan yang timpang
masih seolah menjadi pemandangan yang lazim. Tanah bukan hanya sebagai faktor
produksi melainkan sebagai sumber penghidupan yang menyangkut hidup dan mati.
Penguasaan tanah tidak hanya bermakna ekonomis dalam arti sebagai sumberdaya, tetapi
juga bermakna kultural, bahkan cenderung magis.
Berbicara tentang agraria tentu di dalamnya terdapat ruang lingkup agraria.
Sitorus (2002) dalam Sihaloho (2004) mengemukakan tentang lingkup agraria yang
terdiri dari dua yaitu obyek agraria dan subjek agraria. Obyek agraria adalah sumber –
sumber agraria dalam bentuk fisik sementara subyek agraria adalah pihak yang memiliki
kepentingan terhadap sumber – sumber agraria tersebut. subyek agraria dibedakan
menjadi tiga yaitu komunitas (sebagai kesatuan dari unit rumah tangga), pemerintah
(sebagai representasi negara), dan swasta (privat sector).
2
Sunito, Satyawan. 2012-2013. Slide Bahan Kuliah Kajian Agraria. Bogor [ID]: IPB.
24
Struktur agraria menurut Wiradi (2009) dalam Purwandari (2014) merujuk kepada
“susunan sebaran atau distribusi tentang pemilikan (penguasaan formal) dan penguasaan
efektif (garapan/ operasional) atas sumber – sumber agraria, serta sebaran alokasi dan
peruntukannya. Struktur agraria merupakan konsep besar yang di dalamnya mencangkup
konsep penting lainya. Konsep tersebut berkenaan dengan
kepemilikan tanah,
penguasaan tanah dan pengusahaan tanah. Pemilikan tanah merupakan penguasaan
formal atas sebidang tanah sedangkan penguasaan tanah berkaitan dengan penguasaan
formal sebidang tanah. Berbeda dengan hal tersebut, pengusahaan tanah adalah cara
sebidang tanah diusahakan secara produktif. Struktur agraria bukan hanya menyangkut
masalah teknis antara manusia atau subjek dengan tanahnya atau objek, melainkan juga
menyangkut hubungan sosial manusia dengan manusia.
Menurut Fauzi (2002), menyebutkan struktur agraria adalah konfigurasi siapa –
siapa yang memiliki dan tidak memiliki tanah, siapa – siapa yang berhak memanfaatkan
dan memeproleh keuntungan daripadanya serta hubungan diantara kelompok – kelopok
yang terpisah. Struktur agraria dibentuk melalui hubungan antara subjek agraria dan objek
agraria yang saling berinteraksi. Dengan merujuk pada pasal 1 (ayat 2,4,5,6) UUPA
tahun 1960, Sitorus (2002) dalam Sihaloho (2004) menyimpulkan beberapa jenis sumber
agraria yaitu : tanah atau permukaan bumi, perairan, hutan, bahan tambang, dan udara.
Berangkat dari dua konsep tersebut dapat disimpulkan bahwa struktur agraria dapat
diartikan sebagai pola kepemilikan dan penguasaan atas suatu lahan.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Stuktur Agraria
Perubahan struktur agraria merupakan hubungan antara subjek agraria dan objek
agraria. Merujuk pada Zuber (2007) dalam Adly (2009), mengemukakan bahwa terdapat
empat faktor yang mempengaruhi perubahan struktur agraria, diantaranya: (1) permintaan
lahan dari kegiatan non-pertanian seperti pembangunan real estate, pabrik, area
perdagangangan dan lainya yang membutuhkan areal tanah yang luas, (2) faktor sosial
budaya, seperti adanya aturan warisan ; (3) kerusakan lingkungan seperti adanya kemarau
panjang yang mengakibatkan kekeringan terutama pada usaha pertanian; penggunaan
pestisida ataupun pupuk yang dapat mematikan predator dan merusak lahan pertanian;
dan (4) kelemahan hukum yang mengatur bidang pertanian; seperti harga pupuk yang
tinggi, harga gabah yang rendah dan masalah pengaturan harga beras yang sampai
sekarang masih sangat pelik.
Menurut penelitian yang telah dilakukan Sitorus et al (2008) lahan menjadi salah
satu dari dua faktor produksi yang saling berkaitan yaitu sebagai lahan dan modal
finansial untuk penguasaan alat/bahan produksi pendukung lainnya. Hal ini mendorong
struktur agraria baru, yaitu munculnya pola hubungan sosial produksi banyak pihak dan
atau munculnya pola hubungan sosial produksi dan pihak yang semakin terakumulasi/
tersubordinasi antara pemilk lahan yang semakin kuat dan penggarap yang semakin
lemah. Beberapa mekanisme yang mendorong perubahan struktur agraria menuju
stratifikasi adalah pola bagi hasil dan pewarisan. Selain itu ada beberapa mekanisme yang
mendorong polarisasi yaitu penjualan kebun dan buruh upahan serta akses petani terhadap
program pemerintah (baik yang dilakukan pemerintah maupun perusahaan swasta).
Sedangkan Sihalolo (2007) mengatakan bahwa faktor penyebab perubahan
struktur agraria adalah perubahan fungsi lahan pertanian ke non – pertanian. Lebih jauh
akibat dari perubahan fungsi lahan ini menyebabkan perubahan kepemilikan dan pola
nafkah masyarakat Mulyaharaja. Iqbal dan Soemaryanto (2007) menyatakan bahwa
istilah konversi lahan merupakan perubahan spesifik dari penggunaan untuk pertanian ke
pemanfaatan bagi non pertanian. Konversi lahan adalah berubahanya satu penggunaan
lahan ke penggunaan lainya. Sehingga permasalahan yang timbul akibat konversi lahan
banyak terkait dengan kebijakan tataguna tanah (Ruswandi ,2005 dalam lestari dan
25
Dharmawan (2011) Faktor - faktor yang menyebabkan terjadinya konversi lahan menurut
Sihaloho., et,al (2007)yaitu, (1) aras makro meliputi kebijakan pemerintah (kebijakan
spasial dan agraria) dan pertumbuhan penduduk, dan (2) aras mikro yang terdiri dari pola
nafkah rumah tangga (struktur ekonomi rumah tangga) strategi bertahan hidup rumah
tangga (tindakan ekonomi rumah tangga). Adanya proses konversi lahan dapat
menyebabkan petani semakin termarjinalkan dan tersubordinasi menjadi buruh karena
tidak memiliki lahan atau memiliki lahan yang yang relatif sempit.
Menurut Benu et,al. (2013) di Kota Tomohon menyatakan bahwa pada aspek
ekonomi konversi lahan diukur oleh tingkat pendapatan petani, kegiatan ekonomi, dan
harga tanah. Dilihat dari aspek lanskap hal yang paling berpengaruh untuk konversi lahan
diukur oleh infrastruktur atau kedekatan dengan kondisi lahan, aksesibilitas lahan dan
kebutuhan lahan. Selain itu, dari aspek ketahanan pangan diukur oleh tingkat
produktivitas lahan, tingkat kesuburan tanah, dan berbagai jenis makanan.
Pola Penguasaan Lahan
Pola penguasaan lahan dalam pertanian oleh Darwis (2008) dalam
Mardiyaningsih, Darmawan dan Tonny (2010) diklasifikasikan statusnya menjadi hak
milik, sewa, sakap (bagi hasil), dan gadai sebagai bentuk penguasaan lahan di mana
terjadi pengalihan hak garap dari pemilik lahan kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan
Wiradi (2009) yang menyebutkan tentang jenis – jenis penguasaan lahan yang
diaplikasikan di Indonesia yaitu berupa sewa, sakap atau bagi hasil, menjual lepas, gadai,
dan maro atau sewa bersama – sama dengan gadai. Dalam penelitian Fujimoto (2012)
terdapat lima macam status kepemilikan tanah yang terdapat pada masyarakat Vietnam
yaitu pemilik, pemilik - petani pemilik, tuan tanah – pemilik - petani penyewa, petani
pemilik, dan pemilik -petani penyewa. Lebih lanjut hasil penelitian Fadjar et al, (2008)
mengungkapkan bahwa “implementasi kebijakan pertanahan berpengaruh signifikan
terhadap struktur penguasaan tanah dan berdampak terhadap kesejahteraan petani di
Kabupaten Garut dan Subang”.
Menutut penelitian Winarso (2012) Penguasaan tanah khususnya di Jawa dapat
dilihat dari bentuknya yaitu tanah yasan (yoso) dan tanah milik komunal. Tanah yasan
adalah tanah yang diperoleh dari pembukaan hutan atau tanah liar untuk dijadikan tanah
garapan. Sedangkan tanah milik komunal dibagi menjadi tiga yaitu tanah gogolan
(norowito), tanah titisoro dan tanah bengkok. Lebih lanjut Winarso (2012)
mengemukakan bahwa ada delapan jenis stataus hak atas tanah yang ditetapkan oleh
UUPA yaitu (1) hak milik, (2) hak guna usaha (HGU), (3) hak guna bangunan, (4) hak
pakai, (5) hak sewa, (6) hak membuka tanah, (7) hak memungut hasil hutan, dan (8) hak –
hak lain yang tidak termasuk dalam hak tersebut. sedangkan struktur penguasaan lahan
pada penelitian susanti,.et.al (2003) menunjukan bahwa struktur penguasan lahan
pertanian (garapan) lebih merata dibandingkan struktur kepemilikan lahan pertanian
dengan presentase 24% rumah tangga yang tidak memiliki lahan pertanian dan 15 %
rumah tangga yang memiliki lahan pertanian.
Ketimpangan pemilikan sumber agraria menjadi pemandangan yang lazim.
Merujuk pada Wiradi (1999) dalam Lestari dan Purwandari (2014) menyebutkan bahwa
ketimpangan kepemilikan sumber agraria dapat digolongkan ke dalam empat bentuk.
Ketimpangan tersebut antara lain ketimpangan dalam hal penguasaan sumber – sumber
agraria, ketidakserasian dalam hal peruntukan sumber – sumber agraria, ketidakserasian
antara persepsi dan konsepsi mengenai agraria, ketidakserasian antar berbagai produk
hukum, sebagai akibat dari pragmatisme dan kebijakan sektoral. Bermula dari hilangnya
akses terhadap tanah yang dialami oleh petani penggarap memicu terjadinya konflik
antara petani yang mengakibatkan timbulnya gerakan petani sebagai bentuk perlawanan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Purwandari (2006) membahas
26
mengenai bentuk gerakan yang lebih halus dengan mengedepankan kemandirian SPPQT.
Lebih lanjut, Hartoyo (2010) dalam Purwandari (2014) involusi gerakan agraria terjadi
ketika struktur sumberdaya mobilisasai melemah (deformasi, decuopling dan stagnasi)
dan sifat struktural organisasai gerakan semakin melekat pada sistem agraria yang mapan
sedangkan program perjuangan belum terlembagakan.
Sistem produksi pertanian baru yang lebih kapitalis (transisisonal) semakin
dominan, maka terjadi transformasi struktur agraria. Taransformasi tersebut akan
bergerak dari penguasaan kolektif (collective ownership) nenuju perorangan (private
ownership). Transformasi tersebut merujuk pada gejala terjadinya penambahan kelas
petani yang akan membentuk struktur sosial komunitas yang semakin berlapis
(terstratifikasi) atau struktur sosial komunitas petani yang terpolarisasi. Stratifikasai sosial
sebagai proses perkembangan ketidaksamaan yang melipatgandakan subkelas masyarakat
agraris dalam rangkaian spektrum dari buruh tani tunakisma sampai tuan tanah yang tidak
mengusakan sendiri tanahnya. Sementara itu, polarisasi diartikan sebagai proses
perkembangan ketidaksamaan yang mengkutubkan masyarakat agraris menjadi hanya dua
lapisan : lapisan petani luas komersial yang kaya dan lapisan buruh tani tunakisma ynag
miskin. Hal ini terlihat dari penelitian Fadjar et al, (2008) yang menunjukan terjadinya
transformasi sistem produksi pertanian dari perladangan berpindah ke pertanian menetap
yang mengusahakan tanaman komersial kakao telah mendorong proses trensformasi
struktur agraria.
Pemiskinan dan Petani Miskin
Menurut Sayogyo (1982) dalam Suyoto (2002) menyebutkan bahwa kemiskinan adalah
suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kehidupan hidup minimum yang
ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan
hidup sehat berdasarkan kebutuhan beras dan gizi dengan batasan kemiskinan adalah
bahwa garis miskin pangan kurang dari setara 240 kg per kapita per tahun untuk daerah
pedesaan dan atua setar 360 kg per kapita per tahun untuk daerah perkotaan.Menurut
Jamasy (2004) membagi kemiskinan menjadi empat bentuk yaitu kemiskinan absolut,
kemiskinan relatif, kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. Kemiskinan absolut
yaitu apabila tingkat pendapatan dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatanya
tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan dan pangan. Kemiskinan relatif
adalaah kondisi dimana pendapatanya berada ada posisi di atas garis kemiskinan, namun
relatif lebih rendah ibanding pendapatan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan struktural
adalah kondisi atau situasi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum
menjangkau seluruh masyarakat sehingga mengakibatkan ketimpangan pada pendapatan.
Sedangkan kemiskinan kultural mengacu keadaan persoalan sikap seseorang atau
masyarakat yang disebabakan oleh faktor budaya.
BPS (2008 dalam Wiradi 2000) kemiskinan strutural sebagai sebagai sebuah
kondisi kemiskinan yang penyebabnya kondisi struktur, tatanan kehidupan atau tatanan
sosial yang tidak adil. Struktur yang dimaksud bisa berasal dari kebijakan atau aturan
hukum yang berimplikasi melenceng dari tujuan, karena pelaksaanaanya yang bias
kepentingan. Rumah tangga petani yang tidak atau kecil sekali memiliki akses terhadap
tanah dalam beberapa kajian pun diperlihatkan sebagai rumah tangga yang termasuk
golongan penduduk miskin dan marginal. Keterkaitan antara keterbatasan atau bahkan
ketiadaan akses terhadap tanah di mana lemahnya kepastian penguasaan dan kepemilikan
tanah yang dapat berujung pada kegagalan pemilikan tanah dan modal menjadi salah satu
penyebab dasar dari kemiskinan. Proses kemiskinan petani terjadi dibawah perkembangan
sistem kapitalisme yang membuat ketergantungan petani pada pada sumberdaya tanah.
Ketimpangan akses tanah dan kepemilikan tanah membuat nasib petani semakin
termarjinalkan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa. Oleh karena itu dalam
27
mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan penguasaan tanah, pemerintah
mengadakan program Land Reform pada tahun 1960 an, Program redistribusi tanah
melalui program pembahariuan Agraria Nasional tahu 2007-2014 dan program Larasita
(Layanan Masyarakat untuk Sertifikat Tanah).
Kemiskinan berbagai aspek sering terpusat pada ketimpangan tanah antar
kelompok masyarakat. Adanya masyarakat petani dengan menggunakan ukuran – ukuran
yang bersifat materialistik dijadikan ukuran sebagai pembedannya, seperti misalnya
kepemilikan tanah, modal usaha dan kemapuan mengadopsi teknologi. Merujuk pada
pendapat Jamasy (2004) faktor penyebab kemiskinan ada tujuh meliputi;kesempatan
kerja, upah gaji dibawah standart minimum, produktivitas kerja rendah, ketiadaan aset,
dikriminasi, tekanan harga, dan penjualan tanah.Faktor yang mempengaruhi kemiskinan
dibedakan manjadi dua yaitu faktor struktural yang terdiri dari tingkat pendapatan, tingkat
ekonomi, ketersediaan akses, dan tingkat sejahteraan keluarga. Sedangkan faktor kultural
terdiri dari etos kerja, orientasi dan disiplinan.
Merujuk pada Basrowi dan Juariyah (2010), kondisi sosial ekonomi masyarakat
petani dapat diartikan sebagai posisi individu dalam kelompok yang berkenaan dengan
ukuran rata – rata yang berlalu umum tentang pendidikan, kepemilikan barang, dan
partisipasi dalam aktivitas kelompok dari komunitasnya. Lebih lanjut penelitian (Basrowi
dan Juariyah 2010) menggunakan luas lahan garapan dan pekerjaan yang sedang dijalani
sebagai indikator untuk mengukur status sosial ekonomi masyarakat Desa Srigading,
Lampung Timur yang mayoritas penduduknya adalah petani. Kondisi sosial ekonomi
tersebut dapat dilihat dari faktor pendidikan, status pekerjaan, tingkat pendapatan,
kekayaan, kepemilikan barang berharga serta kedudukan di tengah masyarakat.
Perbedaan struktur sosial komunitas petani terkait dengan penerapan sistem produksi
pertanian seperti yang diungkapkan Soentoro (1980) dan Kano (1984) menunjukan bahwa
penggunaan sistem produksi pertanian yang relatif komersial telah mendorong perubahan
penguasaan sumberdaya agraria (lahan) yang membentuk struktur sosial terpolarisasi.
Sebaliknya, di pedesaan Jawa ini yang hanya menggunakan sistem produksi pertanian
relatif subsisten (pada usahatani padi) teryata proses perubahan penguasaan sumberdaya
agraria mengarah ke bentuk struktur sosial yang terstratifikasi.
Berbicara masalah agraria tidak lepas dari petani sebagai pelaku utama pemanfaat
agraria. Menurut Wahono (2005) petani adalah seorang laki – laki maupun perempuan
yang secara sendiri sebagai bagian dari sebuah rumah tangga yang selanjutnya disebut
sebagai keluarga batih dan yang ikut tinggal satu atap dan makan satu dapur, sebagai
bagian dari paguyuban, maupun kelompok masyarakat hukum adat, baik yang diam di
negara RI sebelum beradanya, sebagai kesatiuan administrasi dan politik maupun
sesudahnya, memiliki maupun menguasai, mengawasi maupun mengelola dan
mengembangkan sumberdaya agararia.
Wolf (2004) mendefinisikan petani sebagai pencocok tanam pedesaan yang
surplus produksinya dipindahkan ke kelompok penguasa melalui mekanisme sistematis
sepeti upeti, pajak, atau pasar bebas.Persoalan tidak hanya pemilikan lahan secara de
facto, tetapi lebih berfokus pada lepasnya penguasaan produksi dan tenaga kerja kepada
pihak lainnya.Dia kemudian membedakan antara petani pedesaan atau petani tradisional
(peasant) dengan petani pengusaha pertanian atau petani modern (farmer). Menurutnya
perbedaan utama antara petani peasant dengan pecocok tanam primitif terletak pada
orientasi dan distribusi hasil, di mana pada pecocok tanam primitif sebagian besar dari
hasil produksi digunakan untuk penghasilannya sendiri atau untuk memenuhi kewajibankewajiban kekerabatan, bukan untuk dipertukarkan dengan tujuan memperoleh barangbarang lain yang tidak dihasilkan sendiri.Sebaliknya perbedaan yang utama dengan
farmer terletak pada tujuan produksinya, di mana farmer berorientasi bisnis, pasar dan
mencari laba dalam mengelola usahataninya.
28
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sanderson (2003) dalam Sihaloho., et.al
(2007),” masyarakat agraris adalah masyarakat yang menyandarkan hidupnya pada
pertanian, baik secara pemilik sumberdaya agraria (lahan) maupun bukan pemilik
(tunakisma)”. Hal ini terlihat pada penelitian Sihaloho., et.al (2007) yang menyatakan
gambaran struktur (sosial) masyarakat agraris yang merujuk pada posisi para petani
dalam penguasaan sumberdaya agraria, baik melalui penguasaan tetap (pemilikan)
maupun penguasaan sementara (bagi hasil). Petani Jawa memiliki karakteristik yang khas
yakni pelapisan sosial tradisional berdasarkan kriteria kepemilikan atas tanah. Lahan bagi
petani adalah modal (asset) sumber nafkah yang menetukan posisi rumah tangga petani
dalam pelapisana masyarakat desa. Modal lahan menentukan kemampuan jangkauan
petani terhadap pangan, perumahan, pendidikan dan unsur kesejahteraan. Bahkan
menurut Soemardjan (1980) dalam Purwandari (2011),“ketimpangan distribusi
penguasaan lahan merupakan sumber utama kemiskinan struktural di dalam masyarakat
yang bersangkutan”. Hal ini terlihat dari penelitian Purwandari (2011) yang menyebutkan
terjadinya kemiskinan struktural dipicu oleh adanya kapitalisme yang merasuki seluruh
sektor di antaranya sektor perkebunan dan kehutanan. Respon atas kemiskinan struktural
diwujudkan dalam bentuk konsolidasi petani dalam wilayahnya termasuk juga
konsolidasi kekuatan untuk melawan kondisis yang disebabakan oleh faktor struktural.
Tepian Kota
Yunus (2008) dalam Hardati (2011) menjelaskan bahwa daerah pinggiran kota
adalah suatu daerah yang juga dikenal dengan daerah Urban Fringe atau daerah Peri
Urban atau nama lain yang muncul kemudian merupakan daerah yang memerlukan
perhatian yang serius kerena begitu pentingnya daerah tersebut terhadap peri kehidupan
penduduk baik desa maupun kota dimasa yang akan datang. Daerah pinggiran kota
tersebut semakin berkembang akibat adanya transformasi wilayah. Menurut hasil
penlitian Giyarsih,Muta’ali dan Pramono (2003)dalam Hardati (2011) menjelaskan bahwa
transformasi wilayah merupakan rentetan yang panajang dan berkaitan satu dengan yang
lainnya. Rentetan peristiwa panjang itu mengubah sifat-sifat kedesaan ke sifat kekotaan.
Sundaran dan Rao (1984) dalam hardati (2011) menyatakan adanya empat faktor
yang mempengaruhi perkembangan lahan kekotaan di pinggiran kota yaitu adanya jalur
transportasi yang memadai, proximitas dengan pusat kegiatan, preferensi penduduk
maupun fungsi-fungsi kekotaan untuk memilih lokasi di kota. Lee (1979) melakukan
penelitian tentang proses perubahan pemanfaatan lahan di daerah pinggiran kota yaitu :
karakteristik fisikal dari lahan, peraturan-peraturan mengenai pemanfaatan lahan,
karakteristik personal pemilik lahan, banyak sedikitnya utilitas umum, derajad
aksesibilitas lahan dan inisiatif para pembangun. Selain itu Nurjanah dan Purwandari
(2012) menyebutkan bahwa adanya konversi lahan sebagai pemicu terjadinya
transformasi desa-kota seperti yang terjadi pada pembangunan Terminal Kertawangunan,
masyarakat cenderung menjual lahannya kepada pemerintah daerah dengan motif untuk
menambah modal usaha ataupun uang hasil jual tanah digunakan untuk membeli tanah
kembali di daerah lain.
Terjadinya pemekaran wilayah di tepian kota menyebabakan desa mempunyai
karakteristik kekotaan. Hal ini tentunya membuat harga tanah yang berada di pinggran
kota menjadi meningkat karena kebutuhan akan tanah semakin tinggi sehingga membuat
lahan petani semakin sempit dan keterbatasan terhadap akses tanah. Karena keterbatasan
akses lahan maka pendapatan petani semakin menurun karena kehilangan mata
pencaharian utamanya. Sehingga penurunan pendapatan diakibatkan oleh hilangnya
peluang keja/usaha yang memicu terjadinya kemiskinan pada petani3.
3
Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Endriatmo Soetarto, MA pada tanggal 7 Desember 2015
29
SIMPULAN
Hasil Rangkuman dan Pembahasan
Perubahan struktur agraria ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti
permintaan lahan dari kegiatan non – pertanian, faktor sosial budaya, kerusakan
lingkungan, kelemahan hukum yang mengatur bidang pertanian. Permintaan akan lahan
semakin meningkat namun tidak disertai dengan luas wilayah yang memadai. Konversi
lahan merupakan salah satu faktor penyebabperubahan pola penguasaan lahan dan nafkah
rumah tangga petani. Faktor yang mendorong terjadinya konversi lahan yaitu aras makro
meliputi kebijakan pemerintah (kebijakan spasial dan agraria) dan pertumbuhan
penduduk dan aras mikro yang terdiri dari pola nafkah rumah tangga (struktur ekonomi
rumah tangga) strategi bertahan hidup rumah tangga (tindakan ekonomi rumah tangga).
Adanya proses konversi lahan dapat menyebabkan petani semakin termarjinalkan dan
tersubordinasi menjadi buruh karena tidak memiliki lahan atau memiliki lahan yang yang
relatif sempit.
Zuber (2007) mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi perubahan
struktur agraria, diantaranya: permintaan lahan dari kegiatan non-pertanian seperti
pembangunan real estate, pabrik, areal perdagangan dan pelayanan lainnya yang
membutuhkan areal tanah yang luas; faktor sosial budaya, seperti adanya aturan warisan;
kerusakan lingkungan seperti adanya musim kemarau panjang yang mengakibatkan
kekeringan terutama pada usaha pertanian; penggunaan pestisida ataupun pupuk yang
dapat mematikan predator dan kerusakan lahan pertanian; dan kelemahan hukum yang
mengatur bidang pertanian, seperti harga pupuk yang tinggi, harga gabah yang rendah
dan masalah pengaturan harga beras yang sampai sekarang masih sangat pelik. Faktor
tersebut mendorong perubahan struktur agraria secara signifikan.
Perubahan struktur agaria seperti yang terjadi di kebupaten Kuningan terlihat
jelas. Hal ini nampak dari Penggunaan lahan cenderung menurun dari tahun 2003 sampai
2005 dengan presentase 29,51 persen tahun 2003 sekitar 29,28 persen tahun 2004 dan
sekitar 25,14 persen pada tahun 2005 akibat adanya konversi lahan. Penurunan ini
disebabkan oleh kepentingan pemerintah daerah untuk membangun fasilitas umum karena
meningkatnya jumlah penduduk yang begitu pesat untuk pemukiman, sarana transportasi,
dan kebutuhan akan jalan sehingga permintaan akan lahan semakin meningkat.Perubahan
tersebut diakibatkan oleh dua jenis proses konversi sawah yaitu konversi langsung sawah
oleh petani dan oleh pemilik tanah non petani yang dilakukan melalui proses penjualan.
Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan seperti yang terjadi di
Tomohon adalah faktor ekonomi, lanskap dan keamanan pangan.Dilihat dari aspek
lanskap yang paling berpengaruh pada konversi lahan di Tomohon adalah infrastruktur
atau kedekatan dengan lokasi lahan, tingkat aksesibilitas lahan dan kebutuhan lahan.
Terjadinya konversi lahan sangat berpengaruh dalam dinamika perubahan struktur
agraria. Perubahan yang terjadi yaitu Perubahan pola pemilikan tanah, Perubahan pola
penggunaan lahan, Perubahan pola hubungan agraria, perubahan pola hidup agraria dan
Sosial serta perubahan masyarakat4.
4
Benu MN, Maryunani, Sugiyanto, Kindangen P. 2013. Analysis of Land Conversion and Its Impacts and
Strategies in Managing Them in City of Tomohon, Indonesia.Asian Transactions on Basic and
Applied Sciences [Internet].Jurnal. [Diunduh tanggal 27 September 2015];03 (02): 65-72. Dapat
diunduh dari: www.asian-transactions.org/Journals/Vol03Issue02/ATBAS/ATBAS-40329021.pdf
.
30
Selain itu perubahan struktur agraraia juga diakibatkan oleh pola penguasaan
lahan. Rata-rata pola penguasaan lahan pertanian yang terjadi di indonesiayaitu berupa
sewa, sakap atau bagi hasil, menjual lepas, gadai, dan maro atau sewa bersama – sama
dengan gadai. Hal ini juga terjadi di Nanggroe Aceh Darusalam dalam penelitian Sitorus
dan Dharmawan (2008) terdapat lima macam status kepemilikan tanah yang terdapat
pada masyarakat NAD yaitu pemilik, pemilik - petani pemilik, tuan tanah – pemilik petani penyewa, petani pemilik, dan pemilik -petani penyewa. Implementasi kebijakan
pertanahan tersebut berpengaruh signifikan terhadap struktur penguasaan tanah dan
berdampak terhadap kesejahteraan petani.
Seiring dengan adanya pemekaran wilayah akibat dari modernisasi di daerah
tepian kota menyebabkan harga tanah menjadi tinggi. Hal ini yang mendorong petani
yang mempunyai lahan di daerah tepian kota untuk menjual tanahnya. Sempitnya lahan
yang dikuasai serta keterbatasan akses atas tanah menjadikan petani kehilangan peluang
usaha/kerja, sehingga pendapatan petani menjadi menurun dan berdampak pada
terjadinya kemiskinan akibat dari hilanganya sumber mata pencaharian utama petani.
Ketimpangan distribusi penguasaan lahan merupakan sumber utama pemiskinan di dalam
masyarakat petani. Proses pemiskinan petani terjadi dibawah perkembangan sistem
kapitalisme yang membuat ketergantungan petani pada pada sumberdaya tanah.
Ketimpangan akses tanah dan kepemilikan tanah membuat nasib petani semakin
termarjinalkan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa. Kemiskinan petani di
Indonesia terlihat dari meningkatnya jumlah petani gurem tahun 2003 menjadi 56,5%.
Salah satu masalah kemiskinan tersebut diakibatkan oleh ketimpangan struktur
penguasan tanah dan masih rendahnya kesejahteraan
petani disebabkan oleh
implementasi kebijakan pertanahan yang belum optimal, baik ditinjau dari konten
kebijakan maupun konteks dimana kebijakan tersebut diiplementasikan. Adanya
Kebijakan pemerintah mengenai industrialisasi juga muncul mendorong pengembangan
kawasan industri
untuk mengambil lahan pertanian di daerah pinggiran kota.
Pengembangan zona ini mendorong investasi di bidang industrialisasi dan mendorong
orang – orang untuk bermigrasi dan mencari peluang kerja baru. Oleh karena itu dalam
mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan penguasaan tanah, pemerintah
mengadakan program Land Reform pada tahun 1960 an, Program redistribusi tanah
melalui program pembaharuan Agraria Nasional tahun 2007-2014 dan program Larasita
(Layanan Masyarakat untuk Sertifikat Tanah).
Terjadinya ketimpangan pemilikan sumber agraria akibat pemekaran wilayah di
tepian kota menjadi pemandangan yang lazim. Ketimpangan kepemilikan sumber agraria
dapat digolongkan ke dalam empat bentuk. Ketimpangan tersebut antara lain
ketimpangan dalam hal penguasaan sumber – sumber agraria, ketidakserasian dalam hal
peruntukan sumber – sumber agraria, ketidakserasian antara persepsi dan konsepsi
mengenai agraria, ketidakserasian antar berbagai produk hukum, sebagai akibat dari
pragmatisme dan kebijakan sektoral. Sistem produksi pertanian baru yang lebih kapitalis
(transisisonal) semakin dominan, maka terjadi transformasi struktur agraria.
Taransformasi tersebut akan bergerak dari penguasaan kolektif (collective ownership)
nenuju perorangan (private ownership). Transformasi tersebut merujuk pada gejala
terjadinya penambahan kelas petani yang akan membentuk struktur sosial komunitas yang
semakin berlapis (terstratifikasi) atau struktur sosial komunitas petani yang terpolarisasi.
Hal ini terlihat dari penelitian Fadjar et al, (2008) yang menunjukan terjadinya
transformasi sistem produksi pertanian dari perladangan berpindah ke pertanian menetap
yang mengusahakan tanaman komersial kakao telah mendorong proses trensformasi
struktur agraria.
31
Sargent (1976 dalam Giyarsih, 2009), menjelaskan bahwa ada lima kekuatan yang
menyebabkan terjadinya pemekaran kota secara fisikal, yaitu peningkatan jumlah
penduduk, peningkatan kesejahteraan penduduk, peningkatan pelayanan transfortasi,
adanya gejala penurunan peranan pusat kota sebagai pusat kegiatan, dan peningkatan
peranan para pembangun (developers).Sedangkan menurut Sundaram dan Rao (1984)
menyatakan adaya empat faktor yang mempengaruhi perkembangan lahan kekotaan di
daerah pinggiran kota, yaitu: adanya jalaur transfortasai yang memadai, proksimitas
dengan pusat kegiatan, preferensi penduduk maupun fungsi-fungsi kekotaan untuk
memilih lokasi di kota.Lee (1979) menemukan enam faktor yang mempengaruhi proses
perubahan pemanfaatan lahan di daerah pingiran kota yaitu : karakteristik fisikal dari
lahan, peraturan-peraturan mengenai pemanfaatan lahan, karakteristik personal pemilik
lahan, banyak sedikitnya utilitas umum, derajad aksesibilitas lahan, dan inisiatif para
pembangun. Terjadinya konversi lahan akibat dari pemekaran daerah pinggiran kota
memberikan dampak negatif terhadap aspek sosio-ekonomis seperti; perubahan
penguasana lahan, kesempatan kerja, perubahan pola kerja, kondisi tempat tinggal, dan
hubungan antar warga.
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Analisis Baru
Adanya pemekaran wilayah membuat petani menuntut banyaknya permintaan akan lahan
pertanian, hal terjadi akibat dari meningkatnya jumlah penduduk yang mendorong
terjadinya konversi karena digunakan untuk pembangunan sepetti; perumahan, industri,
jalan, hotel dan restoran. Motif terjadinya konversi lahan tersebut akibat dari harga lahan
yang semakin tinggi karena letaknya yang strategis di tepian kota dan dekat dengan
pertumbuhan ekonomi. Namun dengan petani menjual lahanya maka kepemilikan lahan
petani semakin sempit dan peluang usaha/kerja semakin semakin terbatas. Hal ini
tentunya akan membawa pengaruh terhadap menurunya pendapatan petani dan dapat
berujung pada terjadinya pemiskinan petani di daerah tepian kota. Berdasarkan
rangkuman penelitian, analisis dan rangkuman dan pembahasan serta kesimpulan yang
dibuat, maka muncul pertanyaan analisis baru yang akan menjadikan dasar penelitian
selanjutnya, pertanyaan tersebut diantaranya:
1. Bagaimana perubahan struktur agraria terjadi dan apa saja faktor yang mendorong
perubahan tersebut?
2. Sejauhmana implikasi perubahan struktur agraria di tepian kota yang mengakibatkan
pemiskinan rumah tangga petani?
Usulan Kerangka Analisis Baru
Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang strategis bagi kegiatan
pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Sempitnya lahan pertanian
yang diakibatkan oleh adanya konversi lahan memicu terjadinya perubahan struktur
agraria. Salah satu yang mendasari perubahan struktur agraria karena adanya
pengembangan wilayah di tepian yang berpengaruh terhadap perubahan struktur agraria..
Proses konversi lahan pertanian tersebut menyebabkan tingkat kesejahteraan petani
semakin menurun. Kerena bukan hanya mereka kehilangan lahan pertanian tetapi juga
menurunkan pendapatan sehari – hari. Adanya perubahan struktur agraria menjadikan
petani semakin tersubordinasi dan termajinalkan. Secara khusus implikasi dan perubahan
struktur agraria adalah perubahan pola penguasaan agraria, pola nafkah, pola hubungan
produksi dan perubahan orientasi nilai terhadap sumberdaya. Faktor – faktor yang
mendorong terjadinya perubahan struktur agraria yaitu : permintaan lahan dari kegiatan
non-pertanian seperti pembangunan real estate, pabrik, area perdagangangan dan lainya
32
yang membutuhkan areal tanah yang luas, faktor sosial budaya, seperti adanya aturan
warisan ; kerusakan lingkungan seperti adanya kemarau panjang yang mengakibatkan
kekeringan terutama pada usaha pertanian; penggunaan pestisida ataupun pupuk yang
dapat mematikan predator dan merusak lahan pertanian; dan kelemahan hukum yang
mengatur bidang pertanian; seperti harga pupuk yang tinggi, harga gabah yang rendah
dan masalah pengaturan harga beras yang sampai sekarang masih sangat pelik.
Seiring dengan adanya pemekaran wilayah di tepian kota akibat dari
meningkatnya populasi penduduk sejalan dengan meningkatnya permintaan akan lahan
untuk pembangunan. Sehingga menimbukan perubahan struktur agraria di tepian
kota.Terjadinya perubahan struktur agraria erat kaitanya dengan ketimpangan peruntukan
dan pola penguasaan tanah yang disebabkan oleh adanya kebijakan dari pemerintah
terkait dengan pengaturan penggunaan sumberdaya. Ketimpangan dalam pengguasaan
tanah dilatarbelakangi oleh adanya sistem kapitalisme yang menjadikan tanah sebagai
komoditas bernilai tinggi. Hal ini berpengaruh terhadap terjadinya pemiskinan rumah
tangga petani akibat dari menurunya pendapatan petani karena hilanganya mata
pencaharian utama di sektor pertanian. Faktor yang mempengaruhi kemiskinan
disebabkaan oleh variabel antara yaitu faktor struktural yang terdiri dari: tingkat
pendapatan, tingkat ekonomi, ketersediaan akses dan tingkat kesejahteraan petani.
Sedangkan indikator yang digunakna untuk mengukur tingkat kemiskinan pada rumah
tangga petani menggunakan indikator BPS 2014 meliputi Luas lantai bangunan tempat
tinggal, Jenis lantai, Jenis dinding, Fasilitas rumah, Sumber penerangan, sumber air
minum, bahan bakar memasak, konsumsi, Sumber penghasilan, pendidikan, tidak
memiliki tabungan, biaya pengobatan.
Perubahaan Struktur Agraria
Tingkat Kemiskinan Rumahtangga
Petani
Faktor Struktural :
-Tingkat Pendapatan
-Tingkat ekonomi
-Ketersediaan akses
-Tingkat kesejahteraan
keluarga
Indikator Kemiskinan menurut BPS :
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal
2. Jenis lantai
3. Jenis dinding
4. Fasilitas
5. Sumber penerangan
6. Sumber air minum
7. Bahan bakar memasak
8. Tingkat konsumsi
9. Sumber penghasilan
10. Pendidikan
11. Tidak memiliki tabungan
12. Biaya pengobatan
Gambar 1. Kerangka Analisis
Keterangan :
: variable antara
: hubungan pengaruh
33
34
DAFTAR PUSTAKA
Achdian, Andi. 2009. Tanah Bagi Yang Tak Bertanah. Bogor[ID] : Kekal Press.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Jumlah Penduduk Miskin[Internet]. [Diunduh tanggal
03
Oktober
2015].
Dapat
diunduh
dari
:
http://bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1488.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Karakteristik Rumah Tangga Miskin dan Rumah
Tangga Tidak Miskin 2013 dan 2014[Internet]. [diunduh tanggal 03 Oktober
2015]. P. Dapat diunduh dari: http://bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/908.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014.Jumlah Penduduk Indonesia Menurut Provinsi
[Internet]. [Dikutip tanggal 03 Oktober 2015]. Dapat dikutip dari:
http://bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1267.
Egbert de Vries. 1985. Pertanian dan Kemiskinan Di Jawa. Jakarta[ID]: Yayasan Obor
Indonesia.
Fadjar. U, 2008. Transformasi Struktur Agraria dan Diferensiasi Sosial pada Komunitas
Petani[Cetak]. Disertasi. Bogor[ID].
Hidayat, Agung Hadi, Hanfie dan Septina, Nurmelati. 2012. Dampak Konversi Lahan
Pertanian bagi Taraf Hidup Petani di Kelurahan Landasan Ulin Barat Kecamatan
Liang Anggang Kota Banjarbaru[internet]. Jurnal Agribisnis Pedesaan. [diunduh
tanggal 26 September 2015]; 12(02):95-107. Dapat diunduh dari :
http://ejournal.unlam.ac.id/index.php/agrides/article/view/224.
Hardati, Puji. 2011. Transformasi Wilayah Peri Urban: Kasus di Kabupaten
Semarang[internet]. Jurnal Geografi. [diunduh tanggal 27 September 2015] 08(02);
108-117.
Dapat
diunduh
dari
:
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/article/viewFile/1661/1868
Jamasy, Owin. 2004. Keadilan Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan.
Jakarta[ID] : Belantika.
Lestari, Asri dan Dharmawan, Arya Hadi. 2011. Dampak Sosio-Ekonomis dan Sosio –
Ekologis Konversi Lahan[internet]. Jurnal Transdisiplin Sosiologis, Komunikasi an
Ekologi Manusia. [diunduh tanggal 27 september 2015]; 05(01) 1-12. Dapat
diunduh dari : http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/viewFile/5835/4500
Lestari, S dan Purwandari, H. 2014. Perubahan Struktur Agraria dan Implikasinya
Terhadap Gerakan Petani Pedesaan (Analisis Karakter Forum Paguyuban Petani
Jasinga Pasca PPAN)[Internet]. Jurnal Sosiologi Pedesaan . [diunduh tanggal 26
september
2015];
14(04)
47-58.
Dapat
diunduh
dari
:
http://id.portalgaruda.org/index.php?ref=browse&mod=viewarticle&article=323775
.
Mulyani, Lilis, dkk. 2011. Strategi Pembaharuan Agraria Untuk Mengurangi Kemiskinan.
Jakarta[ID] : PT . Gading Inti Prima (anggota IKAPI)
35
Nurjannah, S dan Nilamsari, W. 2002. Dinamika Ketimpangan Struktur Agraria.
Bogor[ID]:IPB Press.
Benu MN, Maryunani, Sugiyanto, Kindangen P. 2013. Analysis of Land Conversion and
Its Impacts and Strategies in Managing Them in City of Tomohon,
Indonesia.Asian Transactions on Basic and Applied Sciences [Internet].Jurnal.
[Diunduh tanggal 27 September 2015];03 (02): 65-72. Dapat diunduh dari:
www.asian-transactions.org/Journals/Vol03Issue02/ATBAS/ATBAS40329021.pdf .
Purwandari, Heru. 2011. Respon Petani Atas Kemiskinan Struktural[Internet]. Jurnal JSEP. [diunduh tanggal 30 September 2015];05(02); 24-37. Dapat diunduh dari :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=95426&val=5046
P.Ho, H.Azadi dan Hasfiati, L. 2010. Agricultural Land Conversion Drivers: A
Comparison between Less Developed, Developing and Developed
Countries[internet]. [diunduh tanggal 30 September 2015]; 03 (02). Dapat diunduh
dari : http://www.mearc.eu/resources/04ArtLandDegrDev2010.pdf.
Sihaloho, Martua, Dharmawan Arya Hadi, dan Rusli, Said. 2007. Konversi Lahan
Pertanian Dan Perubahan Struktur Agraria[internet]. Jurnal Trandisiplin Sosiologi,
Komunikasi dan Ekologi Manusia. [Diunduh tanggal 27 September 2015]; 01(02);
253-270.
Dapat
diunduh
dari
:
hhtp://download.portugalgaruda.org/article.php?article=83495&val=223&title=konv
ersi%20Lahan%20Pertanian%20Dan%20Perubahan%20Struktur%20Agraria%20Kel
urahan%20Mulyaraja%20Kecamatan%20Bogor%20Selatan%20Kota%20Bogor%20
Jawa%20Barat).
Sihaloho, Martua, Purwandari, Heru dan Supriyadi, Anton. 2009. Reforma Agraria Di
Bidang Pertanian (Studi Kasus Perubahan Struktur Agraria dan Differensiasi
Kesejahteraan Komunitas Pekebun di Lebak Banten)[internet]. [Diunduh tanggal 27
September
2015];
03(01);
1-16.
Dapat
diunduh
dari:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=83561&val=223&title=Reforma
%20Agraria%20Di%20Bidang%20Pertanian%20:%20Studi%20Kasus%20Perubaha
n%20Struktur%20Agraria%20dan%20Diferensiasi%20Kesejahteraan%20Komunitas
%20Pekebun%20di%20Lebak,%20Banten.
Sitorus, Felix MT, dkk. 2008. Perubahan Struktur Agraria dan Diferensiasi Kesejahteraan
Petani[cetak]. Laporan penelitian. JurnalSodality : Jurnal Transdisiplin Sosiologi,
Komunikasi, dan Ekologi Manusia.
Sintaningrum. 2008. Pengaruh Implementasi Kebijakan Pertanahan Terhadap Struktur
Penguasaan Tanah dan Dampaknya Terhadap Kesejahteraan Petani di Kabupaten
Garut dan Subang[Internet]. Jurnal Kependudukan Padjajaran. [Diunduh tanggal 27
September
2015];10(01)23-33.
Dapat
diunduh
dari
:
file:///D:/makalah/Downloads/4023-7080-2-PB.pdf.
Sunito, Satyawan. 2012-2013. Slide Bahan Kuliah Kajian Agraria. Bogor [ID]: IPB.
Suyoto. 2002. Upaya Penanggulangan Kemiskinan di Daerah Pedesaan[Internet]. Artikel
ilmiah.
[diunduh
tanggal
27
September
2015].
Dapat
diunduh
dari:http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/22/jhptump-ump-gdl-drssuyotom-1055-1upayape-3.pdf.
36
Sumarti, Titik. 2007. Kemiskinan Petani dan Strategi Nafkah Ganda Rumahtangga
Pedesaan[internet]. Jurnal Trandisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia.
[Diunduh tanggal 27 September 2015] 01(02); 271-232. Dapat diunduh dari :
http://download.portugalgaruda.org/article.php?article=83585&val=223&title=.
Sumitro dan Kartikasari, S. N. 2002. Proses Transformasi Daerah Pedalaman Di
Indonesia. Jakrarta[ID] : Yayasan Obor Indonesia.
[UUPA] Undang – Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan
Dasar Pokok – Pokok Agraria Presiden Republik Indonesia. [Internet]. [diunduh
tanggal 27 Oktober 2015]. Dapat diunduh dari: http://dkn.or.id/wpcontent/uploads/2013/03/Undang-Undang-RI-nomor-5-Tahun-1960-Tentang-PokokPokok-Dasr-agraria.pdf.
Wahono, Francis. 2005. Hak – Hak Asasi Petani Dan Proses Perumusannya.
Yogyakarta[ID] : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.
Wiradi, Gunawan. 2002. Menuju Keadilan Agraria. Bandung[ID] : Akatiga.
Zumrokhatun, S dan Syahrizal, D. Undang –Undang Agraria dan Implikasinya.
Jakarta[ID] : Dunia Cerdas.
37
RIWAYAT HIDUP
Nurul Khoiriah dilahirkan di Ponorogo pada tanggal 30 September 1995, penulis
adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Mesemun dan Ibu Siti
Andami. Pendidikan formal yang pernah dijalani penulis adalah MI Ma’arif Lengkong
2000-2006, SMP Negeri 1 Sukorejo periode 2006 – 2009, dan SMA Muhammadiyah 1
Ponorogo periode 2009-2012. Pada tahun 2012 penulis diterima sebagai mahasiswa
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, Institut Pertanian Bogor melalui jalur SBMPTN undangan.
Selain akatif dalam perkuliahan penulis juga aktif mengikuti berbagai macam
kegiatan dan organisasai di kampus. Penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Peminat
Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (HIMASIERA) sebagai
Bendahara II pada periode 2013-2014 dan menjadi anggota di Majalah Komunitas bagian
divisi Marketing periode 2013-2014 dan periode 2014-2015, UKM Lises Gentra
Kaheman tahun 2014 sebagai EO. Selain itu penulis pernah mengikuti berbagai kegiatan
lain seperti magang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2013, dan aktif di
berbagai kepanitiaan seperti KPM Garang periode 2014, IPB Green Living Movement
periode 2014, IDEA periode 2013. Sat ini penulis sedang menggeluti dunia jurnalistik di
Harian Bangsa Ponorogo dan bisnis CHOCOSWEET.
Download