44 peningkatan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi ciri

advertisement
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGIDENTIFIKASI
CIRI NEGARA BERKEMBANG DAN NEGARA MAJU DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL STAD DI MTsN BANDA ACEH II
Yurisnawati, Emsa
MTsN Banda Aceh II
ABSTRAK
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya
adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru
secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan
kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas
dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat
penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan
mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsepkonsep mata pelajaran yang akan disampaikan. Untuk itu, penulis mencoba
menerapkan model STAD dengan melakukan penelitian tindakan kelas.
Subjek penelitian adalah siswa kelas IX MTsN Banda Aceh II, tahun
pelajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa 27 orang. Pelaksanaan dalam
penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 (dua) siklus. Data yang dihimpun
berupa, aktifitas siswa, dan guru serta hasil tes. Dari hasil penelitian
penerapan model STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IX
MTsN Banda Aceh II tentang materi Mengidentifikasi Ciri Negara
Berkembang dan Negara Maju Dengan Menggunakan Model STAD.
Peningkatan yang diperlihatkan siswa bukan hanya dalam proses belajar,
tetapi juga ada hasil yang diperoleh siswa baik secara perseorangan, Jika
dibandingkan antara nilai tes awal, nilai tindakan siklus I dan nilai akhir
siklus I tampak peningkatan dari 40,7% (cukup) dan 51,8% (baik), maupun
secara klasikal pada awal siklus II dan akhir siklus II terjadi peningkatan dari
62,9% (baik) ke 81,4% (sangat Baik)
Kata kunci: Kemampuan siswa, motivasi belajar siswa, ciri negara berkembang
negara maju, STAD
PENDAHULUAN
Pendidikan berkualitas merupakan perolehan nilai hasil belajar siswa. Nilai
hasil belajar siswa dapat lebih ditingkatkan apabila pembelajaran berlangsung secara
efektif dan efisien dengan ditunjang oleh tersedianya sarana dan prasarana pendukung
serta kecakapan guru dalam pengelolaan kelas dan pengusaan materi yang memadai
.Pada hakekatnya belajar bukanlah sekedar penuangan informasi ke dalam benak siswa
secara otomatis. Namun, sesungguhnya belajar memerlukan keterlibatan mental dan
kinerja siswa itu sendiri. Memberikan kepercayaan kepada siswa untuk berbuat serta
berfikir merupakan strategi guru agar siswa memperoleh pengalaman belajar karena
guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa,
motivasi, kreativitas dan sitausi belajar.
44
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
Bertumpu pada kenyataan tersebut untuk merangsang dan meningkatkan peran
aktif siswa baik secara individual dan kelompok terhadap proses pembelajaran IPS
maka masalah ini harus ditangani dengan mencari model pembelajaran yang tepat dan
sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru sebagai pengajar dan fasilitator harus
mampu melakukan pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan sehingga akan
diperoleh hasil yang maksimal. Kenyataan selama ini kegiatan belajar mengajar masih
didominasi guru yaitu kegiatan satu arah dimana penuangan informasi dari guru ke
siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah, sehingga hasil yang dicapai
siswa hanya mampu menghafal fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum, teori hanya pada
tingkat ingatan.
Tolak ukur keberhasilan pembelajaran pada umumnya adalah prestasi belajar.
Prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terpadu di kelas IX MTsN Banda Aceh
II untuk beberapa kompetensi dasar umumnya menunjukkan nilai yang rendah. Hal ini
standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS memang sarat akan materi, di samping
cakupannya luas dan perlu hafalan. Jika dilihat dari hasil ulangan harian sebagian besar
masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Rendahnya prestasi belajar IPS
terpadu di kelas IX MTsN Banda Aceh II dimungkinkan juga karena guru belum
menggunakan metode atau pun media pembelajaran serta mendesain skenario
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik materi maupun kondisi siswa
sehingga memungkinkan siswa aktif dan kreatif. Namun sebaliknya kecenderungan
guru menggunakan model pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah,
cenderung kering dan membosankan. Kegiatan pembelajaran masih didominasi guru.
Siswa sebagai obyek bukan subyek bahkan guru cenderung membatasi partisipasi dan
kreatifitas siswa selama proses pembelajaran. Yang mengakibatkan terjadinya
penurunan prestasi belajar siswa yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
1. Kurangnya minat siswa dalam pelajaran terutama dalam pelajaran IPS terpadu
2. Kurangnya motivasi belajar baik dari diri mereka sendiri maupun dari lingkungan
sekitar
3. Kurangnya strategi dalam pembelajaran dalam membangkitkan kreativitas dan
imajinasi siswa.
4. Media/metode yang digunakan kurang tepat dan kurang sesuai sehingga membuat
siswa kurang bersemangat dalam proses pembelajaran.
Dengan adanya pemasalahan tersebut guru selaku pembimbing dan pengajar
harus segera mengambil tindakan dengan melakukan pendekatan atau mencari model
pembelajaran yang tepat dan efektif dan juga menarik sehingga bahan pelajaran yang
disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari
bahan pelajaran tersebut shingga timbul minat, motivasi siswa dalam meningkatkan
prestasi belajar terutama dalam hal mengidentifikasi ciri-ciri Negara berkembang dan
Negara maju.
Penerapan Pembelajaran kooperatif model STAD, merupakan tindakan
pemecahan masalah yang ditetapkan dalam upaya meningkatkan kemampuan belajar
IPS khususnya kompetensi dasar ciri-ciri Negara berkembang dan Negara maju, bagi
siswa kelas IX semester I MTsN Banda Aceh II tahun Pelajaran 2009/2010. sehingga
diharapkan dapat membantu para guru untuk mengembangkan gagasan tentang strategi
kegiatan pembelajaran yang efektif dan inovatif serta mengacu pada pencapaian
kompetensi individual masing-masing peserta didik.
45
Yurisnawati, Emsa
Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka
melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam persiapan itu
sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode
mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu
setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih
dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara
memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan
menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evalasi. Khususnya dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, agar siswa dapat memahami materi yang
disampaikan guru dengan baik, maka proses pembelajaran kontektual, guru akan
memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin
dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa.
Salah satu pendekatan yang akan digunakan dalam pembelajaran
mengidentifikasi ciri Negara maju dan Negara berkembang adalah dengan pendekatan
menggunakan model STAD. Memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan
pendekatan pembelajaran yang lainnya, diantaranya adalah menghubungkan materi
dengan kondisi dengan kondisi nyata siswa. Penerapan dengan model STAD
diharapkan dapat membantu siswa lebih baik lagi dalam pemahaman tentang
mengidentifikasi ciri Negara maju dan Negara berkembang.
Berdasarkan pengetahuan penulis, hasil belajar siswa dalam bidang studi IPS
sangat rendah, terutama pada meteri mengidentifikasi Negara Berkembang dan Negara
maju. Oleh karena itu guru menggunakan model STAD agar peningkatan kemampuan
siswa dalam pemahaman tentang mengidentifikasi ciri-ciri Negara berkembang dan
Negara maju dapat lebih baik dan meningkat. Hal itu pentingnya siswa dalam
memahami bagaimana dalam mengidentifikasi Negara berkembang dan Negara maju
dengan menggunakan model STAD. Hal ini juga diterapkan pada siswa kelas IX di
MTsN Banda Aceh II. Dengan menggunakan metode STAD siswa akan lebih mudah
memahami dan mengerti tentang mengidentifikasi Negara berkembang dan Negara
maju dikelas IX MTsN Banda Aceh II.
Sesuai dengan latar belakang di atas penulis dapat mengidentifikasikan masalah
dalam beberapa hal yaitu:
1) Siswa masih kurang aktif dalam pembelajaran dan materi yang diterima oleh siswa
belum terpenuhi
2) Hasil belajar siswa rendah
3) Guru belum menggunakan metode atau model yang lebih sesuai untuk mencapai
ketuntasan belajar
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah
sebagai berikut : Apakah dengan model STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam mengidentifikasi ciri-ciri Negara berkembang dan Negara maju di kelas IX
MTsN Banda Aceh II?
Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah: Untuk meningkatkan kemampuan belajar
siswa pada pelajaran IPS terpadu di Kelas IX MTsN Banda Aceh II.
Tujuan Khusus penelitian ini adalah untuk:
46
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
1) Meningkatkan pemahaman siswa dalam mengidentifikasikan ciri Negara
berkembang dan Negara maju di Kelas IX MTsN Banda Aceh II.
2) Meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengidentifikasikan ciri Negara
berkembang dan Negara maju dengan menggunakan model STAD di Kelas IX
MTsN Banda Aceh II.
LANDASAN TEORI
Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Sanjaya (2006:242) pengertian pembelajaran kooperatif merupakan
model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil, yaitu
antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan
akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen). Wahab dan
Solehuddin (dalam Ratnasari, 2007: 11) menyatakan bahwa ”belajar kooperatif dapat
merangsang siswa mengoptimalkan dirinya dalam perkembangan intelektual dan selain
itu juga dapat meningkatkan keterampilan siswanya, hal ini disebabkan karena dalam
belajar kooperatif siswa dituntut untuk mengimplementasikan penalarannya dan saling
membagi-bagikan pengalamannya untuk memecahkan masalah.
Menurut Usman, ada tiga tujuan yang diharapkan dapat tercapai dalam
pembelajaran koperatif, yaitu:
a. Prestasi Akademik
Pembelajaran kooperatif sangat menguntungkan baik bagi siswa berkemampuan
tinggi maupun rendah. Khususnya bagi siswa berkemampuan tinggi, secara
akademik akan mendapat keuntungan karena semakin mendalam.
b. Penerimaan Terhadap Keanekaragaman
Heterogen yang ditonjolkan dalam pemilihan anggota kelompok akan
mengarahkan siswa untuk mengakui dan menerima perbedaan yang ada antara
dirinya dan orang lain.
c. Pengembangan Keterampilan Sosial
d. Pembelajaran kooperatif bertujuan mengarahkan kepada keterampilanketerampilan kerjasama sebagai suatu tim. Keterampilan ini kelak akan sangat
bermanfaat bagi siswa ketika mereka terjun di masyarakat
Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Kelas dibagi atas kelompok kecil. Anggota kelompok terdiri dari siswa dengan
kemampuan yang bervariasi meliputi tinggi, sedang, dan rendah. Usahakan anggota
kelompok bersifat heterogen, baik perbedaan suku, jenis kelamin, latar belakang sosial
ekonomi, budaya dan lain-lain sebagainya.
a. Siswa belajar dalam kelompoknya secara kooperatif untuk menguasai materi
akademis. Tugas anggota kelompok adalah salin membantu teman sekelompoknya
untuk mencapai ketuntasaan belajar.
b. Sistem penghargaan lebih beriorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran kooperatif dapat lebih efektif, ada unsur-unsur dasar yang
perlu diperhatikan (dalam Nurhadi:2003) adalah sebagai berikut:
a. Saling ketergantungan positif. Anak didik harus merasakan bahwa mereka saling
membutuhkan, hubugan saling membutuhkan inilah yang dinamakan dengan saling
ketergantungan positif. Perasaan saling ketergantungan ini mendorong siswa untuk
saling memotivasi untuk meraih hasil yang optimal. Kekompakan timbul karena
47
Yurisnawati, Emsa
mereka satu kesatuan yang terikat dalam satu tanggung jawab untuk kesuksesan
kelompok. Interaksi tatap muka.
Tatap muka dalam kelompok memungkinkan mereka berdialog, baik dengan guru
maupun siswa. Pada kesempatan ini semua anggota kelompok dapat menjadi sumber
belajar, sehingga sumber belajar menjadi beragam. Interaksi tatap muka dapat
memperkaya wawasan siswa Karena sumbangan pikiran dan saran tiap anggota
mempengaruhi daya pikir anggota kelompok.
a. Akuntabilitas individual. Di samping memiliki tanggung jawab terhadap temanteman dalam kelompoknya, para siswa juga dituntut tanggung jawab lain terhadap
diri sendiri.
b. Dalam pembelajaran kooperatif adanya tenggang rasa, saling menghargai,
bersikap sopan, tidak mendominasikan orang lain, mengkritik ide dan bukan
mengkritik pribadi teman, harus di pupuk. Guru mengajarkan dan mendorong
timbulnya keterampilan sosial tersebut agar kerja kelompok dalam pembelajaran
kooperatif efektif.
Dalam pembelajaran kooperatif adanya tenggang rasa, saling menghargai,
bersikap sopan, tidak mendominasikan orang lain, mengkritik ide dan bukan
mengkritik pribadi teman, harus di pupuk. Guru mengajarkan dan mendorong
timbulnya keterampilan sosial tersebut agar kerja kelompok dalam pembelajaran
kooperatif.
Model Pembelajaran Kooperatif Model STAD
Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah STAD (Student Team
Achievement division). Kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran
kooperatif yang paling sederhana, sehingga bentuk ini mudah digunakan oleh guru
yang baru memulai menggunakan pendekatan kooperatif. Dalam STAD, para siswa
dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda tingkat
kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya.
STAD telah digunakan dalam berbagai mata pelajaran yang ada, mulai dari
matematika, bahasa, seni, sampai dengan ilmu sosial dan ilmu pengetahuan lain, dan
telah digunakan mulai dari siswa kelas dua sampai perguruan tinggi. Model ini paling
sesuai untuk mengajarkan bidang studi yang sudah terdefinisikan dengan jelas, seperti
matematika, berhitung dan studi terapan.
Tujuan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling
mendukung dan membantu sama lain dalam mengatasi kemampuan yang diajarkan
oleh guru. Jika para siswa ingin agar timnya mendapatkan penghargaan tim, mereka
harus membantu teman satu timnya untuk mempelajari materinya. Mereka harus
mendukung teman satu timnya untuk bisa melakukan yang terbaik, menunjukan norma
bahwa belajar itu penting, berharga dan menyenangkan. Para siswa bekerja sama
setelah guru menyampaikan materi pelajaran.
Meski para siswa belajar bersama, mereka tidak boleh saling bantu dalam
mengerjakan kuis. Tiap siswa harus tau materinya. Tanggung jawab individual seperti
ini memotivasi siswa untuk memberi penjelasan dengan baik satu sama lain, karena
satu-satunya cara bagi tim untuk berhasil adalah dengan membuat anngota tim
menguasai informasi atau kemampuan yang diajarkan. Karena skor tim didasarkan
pada kemajuanyang dibuat anggotanya dibandingkan hasil yang dicapai sebelumnya,
semua siswa punya kesempatan untuk menjadi “bintang” tim dalam minggu tersebut,
baik dengan memperoleh skor yang lebih tinggi dari rekor mereka sebelumnya maupun
48
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
dengan membuat jawaban kuis yang sempurna, yang selalu akan memberikan skor
maksimum tanpa menghiraukan rata-rata skor terakhir siswa.
Menurut Slavin (dalam Rizwan) terdapat lima langkah utama di dalam kegiatan
belajar Kooperatif model STAD. Setiap langkah akan dijelaskan sebagai berikut.
1. Penyajian Kelas
Pada tahap penyajian kelas, guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan
tujuan pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar. Tahap ini diikuti dengan
panyajian informasi sebagaiamana pembelajaran yang berlangsung dikelas. Pada tahap
penyajian ini guru dapat menggunakan berbagai metode atau pendekatan yangs sesuai
dengan materi akan diajarkan, misalnya dengan sedikit ceramah, tanya jawab,
ekspositori, demonstrasi, peragaan dan tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan
aktivitas secara klasikal.
2. Kegiatan Belajar Kelompok
Kelompok yang dibentuk merupakan kelompok yang heterogen yang
beranggotakan 4-5 siswa dalam satu kelompok. Pemilihan anggota kelompok
berdasarkan pada tes atau nilai rapor. Agar diskusi kelompok dapat berjalan lancar,
maka pemilihan anggota kelompok perlu memperlihatkan kemampuan kognitif dan
afektif yaitu kemampuan bekerjasama dengan orang lain yang berbeda dalam
kelompoknya baik ditinjau dari segi perbedaan kemampuan akademik maupun jenis
kelamin.
3. Tes Individual
Setelah siswa belajar dalam kelompoknya masing-masing, siswa memperoleh
kuis secara individu dan siswa dalam sutu kelompok tidak boleh saling membantu.
Setiap siswa diharapkan berusaha bertanggung jawab secara individual untuk
menjawab soal tes dan memberikan hasil yang terbaik sebagai kontribusinya pada
kelompok.
4. Skor Peningkatan Individual Dan Kelompok.
Pemberian skor peningkatan individual bertujuan untuk memberikan
kesempatan bagi setiap siswa agar dapat menunjukan gambaran kinerja peencapaian
tujuan dari hasil kerja maksimal setiap individu yang disumbangkan untuk
kelompoknya. Hasil tes setiap siswa diberikan poin kemajuan yang ditentukan
berdasarkan selisih perolehan skortes terdahulu (skor tes dasar) dengan skor tes terbaru.
Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan skor maksimal
bagi kelompoknya. Kriteria pembagian poin perkembangan dapat dilihatpada tabel 2.1
berikut.
Tabel 2.1 Kriteria Poin Perkembangan Individual
Skor Peserta Didik
Poin Perkembangan
Lebih dari 10 poin dibawah skor awal
5
10 poin hingga 1 poin dibawah skor awal
10
Skor awal sampai 10 poin di atasnya
20
Lebih dari 10 poin di atas skor awal
30
Nilai sempurna (tidak berdasarkan tes awal)
30
(Sumber: Slavin, R. Z. Cooperative Learning: Theory, Reseact and Praktice.)
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang
diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat baik, hebat, dan
super. Adapun kriterianya adalah kelompok dengan rata- rata skor 15 disebut kelompok
49
Yurisnawati, Emsa
baik, kelompok dengan rata-rata skor 20 disebut kelompok hebat, dan kelompok
dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super.
5. Penghargaan Kelompok
Penghargaan kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing
kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor
kemajuan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masing-masing
anggota kelompok. Penghargaan kelompok didasarkan pada perolehan dan
perkembangan kelompok. Penentuan poin pencapaian kelompok menurut Slavin
(dalam Rizwan) digunakan rumus sebagai berikut.
Jumlah total poin perkembangan yang diperoleh dalam kelompok
Banyak anggota kelompok
NK adalah poin perkembangan kelompok.
NK 
Berdasarkan poin perkembangan kelompok tersebut guru memberikan hadiah
berupa predikat yang mungkin diberikan, yaitu :kelompok dengan Nk > 25 sebagai
kelompok sangat baik, kelompok dengan 20 < Nk < 25 sebagai kelompok baik, dan
kelompok dengan 15 < Nk < 20 sebagai kelompok cukup.
Menurut Nur dan Wikandari (dalam Rizwan) pelaksanaan model STAD dapat
dilakukan sebagai berikut.
a. Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok yang terdiri 4-5 anggota. Untuk
menempatkan siswa kedalam kelompok, urutkan mereka dari atas ke bawah
berdasarkan kinerja akademik tertentu ( misalnya nilai rapor yang lalu atau skor tes
awal). Kemudian ambil salah satu siswa dari tiap penempatan itu sebagai ketua tiap
kelompok, pastikan kelompok yang terbentuk itu berimbang menurut kemampuan
dan jenis kelamin.
b. Dibuat soal dan ulangan pada pelajaran yang ingin diajarkan. Selama belajar
kelompok tugas anggota kelompok adalah menguasai secara tuntas materi yang
dipresentasikan dan membantu anggota kelompok mereka menguasai secara tuntas
materi tersebut. Siswa mendapatkan soal pada materi pelajaran lain yang dapat
mereka gunakan untuk latihan keterampilan yang sedang diajarkan dan menilai diri
mereka sendiri dan anggota kelompok mereka.
c. Pada saat menjelaskan STAD di dalam kelas, dibaca tugas-tugas yang harus
dikerjakan kelompok.
d. Bila tiba saatnya memberikan ulangan, berikan bentuk evaluasi yang lain dan waktu
yang bcukup kepada siswa untuk menyelesaikan soal tes itu. Di sini siswa tidak
diizinkan untuk bekerjasama pada saat mengerjakan kuis tersebut. Siswa harus
menunjukan bahwa mereka telah belajar secara individu.
e. Menentukan skor individual dan skor kelompok. Skor kelompom pada STAD
didasarkan pada peningkatan skor anggota kelompok dibandingkan dengan skor
yang lalu mereka sendiri. Sebaiknya pengumuman skor kelompok itu dilakuakan
pada pertemuan pertama setelah ulangan tersebut, supaya dapat membuat hubungan
antara bekerja dengan baik dan menerima pengakuan secara jelas dari siswa, untuk
meningkatkan motovasi mereka untuk melakukan yang terbaik.
50
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
f. Setelah dihitung poin untuk tiap siswa dan menghitung skor kelompok, hendaknya
mempersiapkan semacam pengakuan kepada setiap kelompok yang mencapai ratarata peningkatan 20 atau lebih.
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTsN Banda Aceh II, dikelas IX dalam materi
mendeskripsikan ciri Negara berkembang dan Negara maju, diharapkan dapat
menjawab permasalahan untuk mencapai tujuan penelitian.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3 bulan dari bulan Agustus
sampai dengan bulan Oktober 2011 tahun ajaran 2011/2012 pada semester Ganjil.
Penulis melaksanakan kegiatan ini dengan alasan bahwa materi tersebut sesuai dengan
KD yang diajarkan dikelas tersebut.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX MTsN Banda Aceh II dengan
jumlah siswa 27 orang yang terdiri dari dari laki-laki 4 orang dan perempuan 23 orang.
Sumber Data
Data penelitian dalam penelitian ini berupa informasi mengenai penerapan
metode dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Data tersebut digali dari tiga
sumber sebagai berikut :
1. Peristiwa diperoleh dari: a) proses sosialisasi pembelajaran kooperatif model STAD
di sekolah kepada guru yaitu selaku teman sejawat yang merupakan guru kolaborasi
dalam pelaksanaan penelitian, dan b) guru sebagai observer yang menilai kegiatan
pembelajaran.
2. Sumber informan berasal dari: a) siswa kelas IX yang diajar menggunakan
pembelajaran model STAD, dan b) guru kelas IX mata pelajaran IPS.
3. Sumber data arsip atau dokumen, diperoleh dari: a) dokumen atau arsip dari guru
tentang prestasi belajar siswa dan efektifitas sikap siswa dalam pembelajaran IPS
Terpadu dengan menggunakan pembelajaran model STAD, dan b) dokumen atau
arsip sekolah.
Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dengan cara sebagai berikut:
1. Tes hasil belajar yang dilakukan tiap-tiap akhir pembelajaran siklus. Tes yang
diberikan berupa soal essay, yang disesuaikan dengan sub materi yang diajarkan
pada tiap akhir siklus I dan II
2. Lembar observasi mengenai aktivitas siswa dan guru pada tiap-tiap siklus.
Lembaran observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama
proses pembelajaran.
Validasi Data
Validasi data dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini dengan cara
memasukkan nilai-nilai tes siswa kedalam daftar nilai yang telah disiapkan
sebelumnya. Sedangkan validasi data untuk lembar observasi yang telah disediakan
sebelumnya berupa contrengan-contrengan sehingga terlihat hasil berupa kegagalan
maupun keberhasilan pada pembelajaran yang telah dilaksanakan.
51
Yurisnawati, Emsa
Analisis Data
Analisis data penulis lakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Hasil tes dapat dilakukan dengan menggunakan rumus menurut Depdiknas (2003):
Keterangan:
B = Banyaknya butir jawaban yang benar
N = Banyaknya butir soal, dianalisis
100 = Skor maksimum pada soal
2) Analisis data aktivitas siswa dengan menggunakan statistik deskriptif persentase,
yaitu:
f
P  x100%
(Sudijono, 2005)
N
Keterangan:
P = Angka persentase
f = Frekuensi jawaban aktivitas siswa
N = Jumlah aktivitas guru dan siswa
3) Analisis Data Keterampilan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran
Data keterampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar dengan
menggunakan statistik deskriptif dengan rata-rata skor sesuai dengan oleh
Burdiningarti (1998) sebagai berikut:
Tabel 3.1 Skor Penilaian
No Nilai
Kategori
Simbol
1. 1,00 – 1,59 Kurang Baik
D
2. 1,60 – 2,59 Cukup
C
3. 2,60 – 3,50 Baik
B
4. 3,51 – 4,00 Sangat Baik
A
Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan diharapkan pada penelitian tindakan ini:
1) Terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 (satu) ke siklus berikutnya.
2) Terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa pada setiap siklus.
3) Terjadi peningkatan pelaksanaan proses belajar mengajar yang diselenggarakan
oleh guru.
Prosedur Penelitian
Berkenaan dengan pokok permasalahan yang dirumuskan dalam judul
penelitian ini serta uraian masalah yang telah dirumuskan, maka jenis data yang akan
dikumpulkan adalah hasil belajar. Kompetensi belajar yang dimaksud adalah data
hasil/prestasi belajar dari kelompok siswa yang dijadikan eksperimen, oleh karena itu
teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Penulisan menggunakan
instrument sebagai pengumpul data berupa lembar pertanyaan yang harus diisi oleh
guru guna mengetahui peningkatan kompetensi belajar IPS melalui model STAD dalam
pembelajaran.
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti dalam melaksanakan pembelajaran
menggunakan pendekatan dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa
khususnya dalam penguasaan ketentuan-ketentuan, adapun secara singkat tindakan
52
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
akan dibagi tahapan atau siklus yang setiap siklus berisi empat langka yaitu: tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi.
1) Tahap Perencanaan
a. Menyusun silabus untuk 4x tatap muka atau 2x tatap muka yang merupakan
salah satu perangkat pembelajaran yang wajib dilaksanakan oleh setiap guru.
b. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran RPP untuk digunakan pada
pembelajaran.
c. Menyusun instrument tes untuk penelitian pada akhir pembelajaran.
d. Langkah-langkah pembelajaran disusun dan didesain sedemikian rupa dalam
RPP sesuai dengan langkah-langkah yang diterapkan.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan pembelajaran yang merupakan sekenario RPP yang telah
didesain sedemikian rupa sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang
penulis laksanakan.
A. Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan yaitu :
1. Guru memberikan salam
2. Membaca doa
3. Guru mengabsen siswa
4. Melakukan apersepsi
5. Memberikan motivasi
6. Menulis KD dan indikator pembelajaran
B. Kegiatan Inti
1. Eksplorasi yaitu : Guru bertanya kepada siswa tentang indikator dan KD
pembelajaran sehingga siswa menjawab.
a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang
materi yang akan dipelajari
c. Dengan tanya jawab menyebutkan contoh-contoh yang berkaitan dengan
materi yang dipelajari
d. menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran,
dan sumber belajar lain;
e. memfasilitasi terjadinya interaksi antara peserta didik serta antara
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
f. melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran
2. Elaborasi yaitu : Guru membagi siswa atas beberapa kelompok yang terdiri
dari kelompok heterogen.
a. Guru membentuk kelompok yang anggotanya terdiri dari 7 orang.
b. Guru menyajikan pelajaran.
c. Guru memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota kelompok agar anggota yang lain mengerti
d. Guru memberikan kuis atau pertanyaan kepada seuruh siswa dan pada
saat menjawab kuis atau soal tidak boleh saling membantu antara yang
satu dengan yang lainnya.
e. Melalui pertanyaan guru mengarahkan siswa ke penjelasan yang benar
tentang materi ciri Negara berkembang dan Negara maju.
f. Guru memberikan tugas pada siswa untuk menyelesaikan soal.
53
Yurisnawati, Emsa
C. Kegiatan Penutup
a. Bersama-sama dengan peserta didik membuat kesimpulan pelajaran;
b. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c. Memberikan pesan-pesan moral kepada peserta didik
d. Memberikan Tugas Rumah kepada peserta didik (PR)
e. Siswa dan guru bersama-sama berdoa.
3) Tahap Observasi
Pada tahap ini yaitu guru memperhatikan aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran yang diamati oleh teman sejawat. Pengamatan dilakukan selama kegiatan
belajar mengajar berlangsung dengan memberi tanda cek (√) yang sesuai dengan kolom
yang tersedia, adapun unsur-unsur yang dinilai pada penelitian ini adalah perangkat
pembelajaran dan aktivitas siswa.
4) Refleksi
Pada tahap refleksi penulis memberikan umpan balik secara objektif yang di
deskripsikan dari hasil pembelajaran berupa keberhasilan maupun kegagalan dalam
pembelajaran yang telah berlangsung. Sehingga pengguasaan mata pelajaran IPS
khususnya pada materi Negara berkembang dan Negara maju berdasarkan penjelasan
yang didengar dapat meningkat, maka perlu dibuat siklus ke II yang meliputi : tahap
perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi.
HASIL PENELITIAN
SIKLUS I
Pada siklus I, nilai rata-rata kelas untuk 27 siswa adalah 61,39 dan yang tuntas
hanya 14 siswa dan yang tidak tuntas 13 siswa, nilai tertinggi 68 dan yang terendah 60,
dan tuntas klasikal yang diperoleh hanya 51,8%. Kriteria ketuntasan untuk pelajaran
IPS, berdasarkan ketuntasan minimal di sekolah adalah 65. Melihat nilai seperti ini,
peneliti mencoba melakukan remedial pembelajaran pada materi yang sama dengan
pembelajaran menggunakan pembelajaran kooperatif dengan model STAD
Secara keseluruhan, aktivitas siswa mengalami hasil yang kurang aktif.
Sehingga indikator keberhasilan yang diharapkan belum tercapai karena kelompok
yang memperoleh kriteria sangat aktif belum mencapai 65%. Secara keseluruhan,
kinerja siswa menunjukkan hasil yang positif. Hal ini dapat dilihat dari hasil kegiatan
yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil dari evaluasi pada siklus I
pertemuan II diperlukan untuk peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang
diberikan melalui model STAD.
SIKLUS II
Pada siklus II, nilai rata-rata kelas untuk 27 siswa adalah 65,39 dan yang tuntas
22 siswa dan yang tidak tuntas 5 siswa, nilai tertinggi 70 dan yang terendah 64, dan
tuntas klasikal yang diperoleh 81,4%. Kriteria ketuntasan untuk pelajaran IPS,
berdasarkan ketuntasan minimal di sekolah adalah 65.
hasil observasi aktifitas siswa sebagai berikut:
a) Pada akhir pertemuan siklus II menunjukkan hampir semua siswa telah
mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.
b) Siswa sudah cukup aktif dalam bekerja sama dalam mengerjakan tugas .
c) Siswa sudah mulai menikmati model pembelajaran yang diterapkan.
d) Siswa dapat menyerap materi yang diberikan dengan baik, dibuktikan dengan hasil
tes siklus II yang sudah mencapai indikator keberhasilan.
54
Serambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 2016
ISSN : 2337 - 8085
e)
Pada siklus II, aktivitas diskusi kelompok mengalami hasil yang baik. Terdapat 3
kelompok memperoleh presentase aktivitas yang berada pada kriteria sangat aktif
dan 1 kelompok lainnya memperoleh persentase aktivitas yang berada pada kriteria
cukup.
Refleksi
Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan, hal ini
disebabkan karena setiap siswa terlibat aktif dalam setiap tahapan yang ada dalam
pembelajaran kooperatif model STAD dimana setiap siswa dalam kelompok diberi
kesempatan yang sama dalam memberikan ide atau gagasan dengan teman dalam
kelompoknya, mempelajari dan memahami konsep-konsep materi pelajaran, sehingga
diperoleh jawaban yang merupakan hasil dari kesepakatan siswa baik secara individu
maupun kelompok.
Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus
Sesuai teori belajar, siswa mengalami perubahan kinerja sebelum dan setelah
berada dalam pembelajaran. Siswa mampu memahami dan menerapkan pengetahuan
yang telah dipelajari untuk memecahkan berbagai soal dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pula dengan adanya pembelajaran kelompok memungkinkan siswa
memperoleh model berpikir, cara-cara menyampaikan gagasan atau fakta, dan
mengatasi kesalahan konsepsi yang dihadapi oleh kelompok. Aktivitas belajar yang
digunakan dalam pendekatan ini adalah memecahkan masalah secara terbuka, dan
eksperimen.
Kegiatan guru merupakan faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar,
karena di dalamnya guru menggunakan metode dalam mengajar. Kegiatan guru yang
dilakukan pada siklus I menunjukkan kinerja guru cukup baik. Namun, beberapa hal
perlu dilakukan perbaikan, diantaranya guru belum optimal dalam memberikan
motivasi pada siswa sehingga masih banyak siswa yang belum berani mengemukakan
tugas mereka di depan kelas. Padahal pendapat siswa bisa digunakan guru sebagai alat
untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mencerna dan mendorong siswa untuk
berpikir kritis.
Secara keseluruhan, pelaksanaan penelitian ini menunjukkan adanya perubahan
aktivitas belajar yang positif yaitu semakin beragamnya aktivitas siswa seperti yang
telah dirumuskan sebelumnya. Aktivitas visual ditunjukkan dengan adanya kegiatan
pengamatan oleh siswa. Aktivitas menulis ditunjukkan dengan kegiatan siswa
menyelesaikan tugas yang diberikan guru secara tertulis seperti menyelesaikan latihan
soal dan soal pemecahan masalah. Aktivitas lisan ditunjukkan dengan siswa berdiskusi
membahas tugas untuk kemudian menjawab setiap pertanyaan
dalam proses
pembelajaran kelas.
Dalam siklus II, perubahan siswa dalam pengetahuan dan pemahaman tentang
ciri Negara berkembang dan Negara maju ditunjukkan dari hasil evaluasi belajar siswa.
Pada hakikatnya hasil belajar siswa menunjukkan bahwa indikator keberhasilan
tercapai. Hal ini berdasarkan persentase banyaknya siswa yang mengalami ketuntasan
belajar pada siklus II yaitu 81,4% memperoleh nilai rata-rata 65,39. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi, antara lain sebagai berikut.
1) Terciptanya hubungan timbal balik yang baik antara guru dan siswa, ditunjukkan
dengan adanya kegiatan guru membimbing siswa yang memang sudah baik
2) Adanya saling ketergantungan siswa dalam berdiskusi dan menyelesaikan tugas
yang diberikan oleh guru sehingga menumbuhkan suasana belajar yang kondusif.
55
Yurisnawati, Emsa
3) Model pembelajaran yang baru sehingga siswa tidak merasa bosan dengan
pengajaran yang selama ini dilaksanakan di kelas.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran Berdasarkan uraian hasil penelitian diatas
dapat diketahui bahwa:
1) Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan
hasil belajar siswa dalam mengidentifikasi ciri Negara berkembang dan Negara
maju dengan baik.
2) Dengan penggunaan model STAD meningkatkan keaktifan siswa dan motivasi
belajar siswa.
3) Siswa tuntas secara klasikal dan individual meningkat dengan diterapkannya
pembeajaran kooperatif model STAD.
Saran-Saran
1) Penerapan model pembelajaran model STAD pada pembelajaran IPS sangat
besar manfaatnya bagi guru maupun siswa. Oleh karena itu, hendaknya model
ini dijadikan salah satu alternatif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
2) Guru hendaknya mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif
dengan model yang bervariasi sehingga membuat siswa lebih semangat dalam
belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Anton M. Mulyono, 2000, Kamus Besar Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Dimyati Dan Mudjiono. 1999. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Gramedia: Pustaka
Utama.
Depdiknas, 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta
Depdiknas RI, 2006. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPS Terpadu.Jakarta
Depdiknas
Gordon. T Dan Burch, N. 1997. Menjadi Guru Yang Efektif. Jakarta: Gramedia:
Pestaka Utama.
Isdiyanto, Budi. 2003. Model Pembelajaran Kooperative (Cooperative Learning).
Semarang: LKGI Jateng
Nasution, S.( 2006). Asas-Asas Kurikulum, Jakarta : Bumi Aksara
Pidarta. Made. (2003). Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta:Rineka Cipta
Sardiman, A. M, 2003, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta
Sapriya, 2009. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran, Bandung : PT Rosdakarya
Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning: Theory Research and Practice. London:
Allymand Bacon
Suryosurbroto, B. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Renika Cipta.
56
Download