Panduan Praktikum genetika setelah UTS - Blog UB

advertisement
Panduan Praktikum
GENETIKA TANAMAN
Nama
: ______________________________________
NIM
: ______________________________________
Kelompok : ______________________________________
Asisten
: ______________________________________
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2011
21
5. TAUTAN, PINDAH SILANG DAN PEMETAAN KROMOSOM
Pemisahan dan pengelompokan secara bebas pasangan gen pada saat pembentukan
gamet merupakan dasar pengertian genetika. Gen-gen pada berbagai kromosom
didistribusikan ke dalam gamet-gamet secara bebas. Jumlah gen dalam suatu organisme
jauh melebihi jumlah pasangan kromosom sehingga pada setiap kromosom mengandung
banyak gen dan gen-gen pada kromosom yang sama cenderung tinggal bersama selama
pembentukan gamet (tidak memisah secara bebas), keadaan ini disebut linkage atau tautan
gen. Gen-gen tersebut akan menampakkan tautan karena gen-gen terletak sangat dekat satu
sama lain pada kromosom yang sama. Uji silang individu-individu dihibrida akan
menghasilkan perolehan tergantung pada gen-gen tersebut, apakah berpautan atau berada
pada kromosom-kromosom yang berbeda. Penyimpangan yang beda dari rasio 1:1:1:1 pada
keturunan hasil uji silang suatu dihibrida dapat digunakan sebagai bukti adanya peristiwa
tautan.
Kombinasi dapat terjadi dengan adanya pindah silang atau crossing over yaitu
pertukaran bahan DNA antara kromatid yang bukan berasal dari satu kromosom.
Rekombinasi dapat terjadi apabila bagian-bagian kromosom saling bertukar. Dengan
mempelajari kombinasi gen baru, seseorang dapat menentukan gen-gen mana yang terdapat
pada kromosom yang sama. Urutan gen pada letak kromosom tertentu dan jarak antara gengen tersebut yaitu pemetaan kromosom. Hubungan gen bertautan atau linkage dapat
digunakan untuk memperkirakan perubahan nisbah perubahan fenotip dan genotip dalam
persilangan-persilangan yang berbeda. Produk-produk yang dihasilkan oleh kromatid
yang tidak terlibat dalam pindah silang dinyatakan sebagai tipe parental, sedangkan yang
terlibat dalam pindah silang disebut tipe rekombinan.
Dalam linkage dikenal dua susunan gen yang menunjukkan lokasi alel pada pasangan
kromosom tersebut yaitu coupling (cis) yaitu satu tetua memberikan kedua gen dominan
dan tetua yang lain memberikan kedua gen resesif. Susunan gen yang lain ialah repulsion
(trans) yaitu satu tetua memberikan satu gen dominan dan satu gen resesif dan tetua lain
memberikan gen dominan dan gen resesif yang lain.
Frekuensi pindah silang sangat ditentukan oleh jarak sangat ditentukan oleh jarak
antar gen yaitu kemungkinan terjadinya pindah silang antara dua gen akan makin besar
antara dua gen akan makin besar apabilajarak antar gen tersebut makin jauh. Ahli genetika
menggunakan prosentase pindah silang untuk menggambarkan jarak antar gen yang
22
bertaut, menyebut satuan ukuran unit peta. Satu unit sama dengan satu persen pindah
silang (rekombinan) dan menunjukkan jarak linier antara dua gen tersebut.
5.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum adalah agar mahasiswa dapat membuat model pasangan
kromosom homolog beserta dengan sister kromatidnya kemudian melakukan proses
pindah silang sehingga memudahkan pemahaman tentang tautan, pindah silang dan
jarak antar gen
5.2 Alat dan Bahan
Spidol (Alat tulis) beraneka warna
5.3 Kegiatan
Perhatikan!
Pada tanaman tomat, karakter tinggi dikodekan oleh gen D sedangkan d
mengkodekan gen pendek. Bentuk buah bulat (P) dominan terhadap bentuk buah
pear (p).
a. Kegiatan 1
Buatlah model persilangan tanaman tomat tinggi bulat yang heterosigot dengan
tomat pendek pear.
-
Tentukan ratio genotip dan fenotip hasil persilangan tersebut
b. Kegiatan 2
Buatlah model persilangan tanaman tomat tinggi bulat yang heterosigot dengan
tomat pendek pear, jika karakter tinggi tanaman dan bentuk buah bertautan
-
Tautan sempurna terjadi pada gen-gen dominan, maka tentukan genotip dan
fenotip filialnya
-
Tautan sempurna terjadi pada gen dominan dan resesif, maka tentukan genotip
dan fenotip filialnya
-
Tautan tidak sempurna terjadi pada gen-gen dominan, maka tentukan genotip
dan fenotip filialnya
-
Tautan tidak sempurna terjadi pada gen dominan dan resesif secara , maka
tentukan genotip dan fenotip filialnya
c. Kegiatan 3
Gambarlah model kromosom yang terjadi pada kegiatan 1 dan kegiatan 2,
kemudian tuliskan perbedaannya!
23
LATIHAN SOAL
1. Tentukan tipe pautannya, gamet-gamet yang terbentuk jika gen dalam model
kromosom ini terpaut tidak sempurna (tunjukan tipe parental dan tipe rekombinannya)
a.
A
B
a
b
b.
A
b
c. Wx gl
d. +
v
a
B
wx Gl
d
+
2. Pada tanaman tomat, karakter tinggi dikodekan oleh gen D sedangkan d mengkodekan
gen pendek. Bentuk buah bulat (P) dominan terhadap bentuk buah pear (p). Gen D
terpaut sempurna dengan gen p, maka
a. Gambarkan model kromosomnya
b. Tergolong dalam susunan apakah pautan tersebut?
3. Pada tanaman gandum beberapa karakter daun tertaut pada satu kromosom. Daun
berkilat dominan terhadap daun suram dan daun kuning dominan terhadap daun hijau.
Pautan tidak sempurna terjadi pada gen yang tersusun dominan dan resesif. Jika
tanaman gandum berdaun hijau berwarna kuning heterosigot disilangkan dengan
sesamanya. Tentukan
a. Gambar model kromosom nya
b. Jika kedua gen terpaut sempurna, buat bagan persilangannya
c. Jika kedua gen tidak terpaut sempurna, buat bagan persilangannya
d. Jika ditemukan perbedaan hasil dari soal (b) dan (c), jelaskan mengapa hal
tersebut dapat terjadi!
4. Tanaman jagung homozigot untuk gen resesif steril variable (va) menunjukan distribusi
kromosom yang teratur selama meiosis. Semai hijau kekuning-kuningan ialah hasil gen
resesif yang disebut viresen(v). Gen resesif ketiga disebut mengkilat (glossy, g)
menghasilkan daun-daun yang mengkilat. Ketiga gen berpautan. Dua tumbuhan
homozigot disilangkan menghasilkan F1 yang semunya norma. Bilai F1 diuji silangkan,
fenotip keturunan yang muncul sebagai berikut
60 viresen
48 viresen, mengkilat
7 mengkilat
270 steril variable, viresen, mengkilat
4 steril variable, viresen
40 steril variable
62 steril variable, mengkilat
235 tipe liar
5. In corn the alleles C and c result in colored versus colorless seed, Wx and wx in
nonwaxy versus waxy endosperm and Sh and sh in plump versus shrunken endosperm.
When plants grown from seed heterozygous for each of these pairs of alleles were test
24
crossed with plants from colorless, waxy shrunken seed, the progeny seeds were as
follows:
Colorless, nonwaxy, shrunken
4
Colorless, nonwaxy, shrunken
974
Colorless, waxy, shrunken
Colorless, waxy, plump
Colored, waxy, shrunken
20
2349
951
Colored, waxy, plump
Colored, nonwaxy, shrunken
99
2216
Colored, nonwaxy, plump
TOTAL
15
6708
6. Gandum berdaun berkilat-kekuningan-tak berligule, disilang dengan yang berdaun
suram-hijau dan berligule. F1 suram-hijau-ligule. Hasil testcross F1 sbb: suram-hijauligule 313, suram-hijau-takligule 86, suram-kekuningan-ligule 224, suram-kekuningantakligule 29, berkilat-hiaju-ligule 36, berkilat-hiaju-tak ligule 232, berkilat-kekuniganligule 86, dan berkilat-kekunigan-takligule 247.
a. Buatlah jarak peta ketiga gen kalau mereka berangkai. Simbol untuk masingmasing karakter ialah: G = suram, g = berkilat (glossy); V = hijau, v = kekuningan
(virescent) dan L = berligule, l = takligule (ligule ialah bagian daun atau tangkai).
b. Berapa pula nilai C-nya?
7. In tomato following genes are located on chromosome 2 :
+ tall plant
d dwarf plant
+ uniformly green leaves
m mottled green leaves
+ smooth fruit
p pubescent (hairy) fruit
Result of the cross +++/d m p X d m p/ d m p were
+ + + 470
+mp 1
++p
14
d+p
d++
0
d m p 441
+m+
19
dm+
25
30
a. Which groups in the progeny represent double cross over?
b. What is the correct gene sequence?
c. What are the distance in map units between the second and third genes ?
d. Is there interference ?
25
6. GENETIKA KELAMIN dan PEWARISAN SITOPLASMIK
6.1 Genetika Kelamin
Sifat keturunan selain ditentukan oleh gen yang terdapat pada kromosom
tubuh/autosom
ternyata
ada
pula
gen-gen
yang
terdapat
pada
kromosom
kelamin/gonosom. Gen-gen yang terdapat/terangkai pada kromosom kelamin dinamakan
gen terangkai kelamin/ sex-linked genes. Gen terangkai kelamin dapat menentukan
penentuan jenis kelamin. Mekanisme penentuan jenis kelamin pada umumnya ditentukan
oleh faktor genetik, oleh karena bahan genetik terdapat di dalam kromosom, maka
perbedaan jenis kelamin terletak dalam komposisi kromosom.
Umumnya tanaman tidak dapat dibedakan jenis kelaminnya karena bunga jantan dan
bunga betina terdapat pada tanaman yang sama (monoecious) atau mempunyai bunga yang
mengandung alat kelamin jantan dan betina (hermaphrodite). Meskipun demikian, terdapat
tanaman yang dapat dibedakan jenis kelaminnya. Tanaman ini biasanya terpisah menjadi
tanaman jantan yang mempunyai benangsari saja dan bunga betina yang mempunyai putik
saja (dioecious). Sebagai contoh ialah tanaman salak (Zalacca educalis) dan Melandrium sp. Jenis
kelamin tanaman dapat dikelompokkan ke dalam tipe jenis kelamin XY.
Pada tanaman tingkat tinggi, kromosom kelamin membedakan sifat jantan dan sifat
betina. Penampakan jenis kelamin dapat dikembangkan dengan manipulasi gen-gen pada
autosom, misalnya pada jagung menyebabkan malai berbiji dan tidak ada rambut tongkol
(tidak ada bunga betina). Individu betina memiliki sepasang kromosom-X yang disebut
homogametik (XX). Individu jantan memiliki satu kromosom-X dan satu kromosom-Y yang
disebut heterogametik (XY).
6.2 Pewarisan Sitoplasmik
Pewarisan sifat pada individu tanaman selalu dikaitkan dengan gen-gen yang terletak
di dalam kromosom/nukleus.Pada kenyataannya gen-gen kromosomal ini memegang
peranan utama di dalam pewarisan sebagian besar sifat genetik.Tetapi ada sejumlah sifat
genetik pada individu tanaman yang pewarisannya diatur oleh unsur-unsur di luar
nukleus.Pewarisan ini dikenal pula sebagai pewarisan sitoplasmik.Pewarisan sitoplasmik ini
tidak mengikuti pola Mendel. Terdapat lima hal yang dapat digunakan untuk membedakan
antara pewarisan sitoplasmik dengan pewarisan gen-gen kromosomal.
1. Perbedaan hasil perkawinan resiprok merupakan penyimpangan dari pola Mendel.
Sebagai contoh, hasil persilangan antara betina A dan jantan B tidak sama dengan
hasil persilangan antara betina B dan jantan A. Jika dalam hal ini pengaruh rangkai
26
kelamin dikesampingkan, maka perbedaan hasil perkawinan resiprok tersebut
menunjukkan bahwa salah satu tetua (biasanya betina) memberikan pengaruh lebih
besar daripada pengaruh tetua lainnya dalam pewarisan suatu sifat tertentu.
2. Sel kelamin betina biasanya membawa sitoplasma dan organel sitoplasmik dalam
jumlah lebih besar daripada sel kelamin jantan. Organel dan simbion di dalam
sitoplasma dimungkinkan untuk diisolasi dan dianalisis untuk mendukung
pembuktian tentang adanya transmisi maternal dalam pewarisan sifat. Jika materi
sitoplasmik terbukti berkaitan dengan pewarisan sifat tertentu, maka dapat dipastikan
bahwa pewarisan sifat tersebut merupakan pewarisan sitoplasmik.
3. Gen-gen kromosomal menempati loki tertentu dengan jarak satu sama lain yang
tertentu pula sehingga dapat membentuk kelompok berangkai. Oleh karena itu, jika
ada suatu materi penentu sifat tidak dapat dipetakan ke dalam kelompok-kelompok
berangkai yang ada, sangat dimungkinkan bahwa materi genetik tersebut terdapat di
dalam sitoplasma.
4. Tidak adanya nisbah segregasi Mendel menunjukkan bahwa pewarisan sifat tidak
diatur oleh gen-gen kromosomal tetapi oleh materi sitoplasmik.
5. Substitusi nukleus dapat memperjelas pengaruh relatif nukleus dan sitoplasma. Jika
pewarisan suatu sifat berlangsung tanpa adanya pewarisan gen-gen kromosomal,
maka pewarisan tersebut terjadi karena pengaruh materi sitoplasmik.
1. Tujuan
Tujuan dari praktikum adalah agarmahasiswa dapat memahami genetika kelamin melalui
salah satu penampilan bunga, pada tanaman ketimun.
LATIHAN SOAL
1. Sebuah gen resesif pada jagung monocious yang disebut mayang (tassel seed/ts) bila
homozygote menghasilkan biji-biji hanya pada tempat dimana biasanya timbul
pembungaan jantan (staminate) tidak dihasilkan serbuk sari. Sehingga individuindividu dengan genotip-genotip ts/ts secara fungsional menjadi berkelamin tunggal
yaitu betina. Pada kromosom lain gen resesif yang disebut tanpa bunga (silkless/sk),
bila homozygote menghasilkan tongkol tanpa pistilium. Tidak satupun dari tongkol
ini menghasilkan biji dan individu-individu dengan genotip sk/sk direduksi hanya
melaksanakan fungsi jantan. Gen resesif untuk mayang adalah epistasis terhadap
lokus tanpa putik.
27
a. Bagaimana rasio seks yang diharapkan pada F1 dan F2 dari persilangan ts/ts,
sk+/sk+ (betina) X ts+/ts+,sk/sk (jantan)
b. Bagaimana penggunaan untuk mayang yang tanpa putik untuk membentuk
tumbuhan jantan dan betina dioecious yang akan berlanjut dari generasi ke
generasi dan menghasilkan keturunan dengan rasio 1 jantan : 1 betina
2. A completely pistillate inflorescence (female flower) is produced in the castor bean by
the recessive genotype nn. Plants of genotype NN and Nn heve mixed pistillate
flowers in the inflorescence. Determine the types of flowers produced in the progeny
from the following crosses :
(a) NN♀ x Nn♂, (b) Nn♀ x Nn♂, (c) nn ♀x Nn♂
3. Sex determination in the dioecious plant Melandrium album (Lycnis dioica) is by the
XY method. A sex linked gene governs leaf size, the dominant allele B producing
broad leaves, and the recessive allele b producing narrow leaves. Pollen grains bearing
the recessive allele are inviable. What phenotipic result are expected from the
following crosses?
Seed Parent
Pollen Parent
(a) Homozygous broad leaf
X Narrow leaf
(b) Heterozygous broad leaf
X Narrow leaf
(c) Heterozygous broad leaf
X Broad leaf
4. In the plant genus Melandrium, sex determination is similar to that in humans. A sex
linked gene (l) is known to be lethal when homozygous in females. When present in
hemizygous condition in males (lY). It produces blotchy patches of yellow-green
color. The homozygous or heterozygous condition of the wild type allele (LL or Ll) in
female or hemizygous condition in males (LY) produces normal dark green color.
From a cross between heterozygous females and yellow green males, predict the
phenotypic ratio expected in the progeny?
5. Pada tanaman jagung sudah dikenal adanya “gen sitoplasmik” yang menyebabkan
jantan mandul. Jelaskan bagaimana perakitan jagung hibrida dengan menggunakan
jantan mandul pada tanaman jagung tersebut! Gambarkan pula bagan persilangan
nya!
28
7. Poligen
Tidak semua karakter akan menurun dalam kelas-kelas fenotip yang terbagi secara
jelas, seperti pada pola pewarisan Mendel. Pada Mendel karakter-karakter terpisah jelas
berdasarkan kelas-kelas fenotipnya. Hasil yang diperoleh Mendel pada persilangan kacang
kapri tinggi dengan kacang kapri pendek, didapatkan F1 semua tinggi. Beberapa keturunan
F2 tinggi dan sebagian lainnya adalah pendek, dengan perbandingan 3 tinggi:1 pendek.
Sedangkan hasil persilangan tembakau pendek x tinggi yang dilakukan oleh Joseph
Kolrueter (1760) F1 intermediet diantara ukuran kedua tetuanya, dan keturunan F2
menunjukkan adanya fenotipe kontiniu dari tetua pendek menuju tetua tinggi, dengan
sebaran normal. Sehingga tidak dapat dibedakan dengan jelas kelas-kelas fenotipnya.
Pada penemuan Kolrueter, alel-elel pada tembakau mempunyai pengaruh kumulatif
serta dominant tidak sempurna, sedangkan penemuan Mendel pada kacang kapri
didapatkan sifat dominan sempurna. Gen-gen yang tidak sealel mempunyai pengaruh
kumulatif pada sifat-sifat tertentu. Penjelasan keragaman kontiniu tersebut disebutkan
sebagai hipotesis gen ganda (multiple-gene hypothesis) .
Poligen ialah salah satu dari suatu seri gen ganda yang menentukan pewarisan
secara kuantitatif (karakter keturunan Nampak berderajat berdasarkan intensitas dari
ekspresi karakter tersebut). Beberapa karakter tanaman dipengaruhi oleh gen-gen ganda,
sehingga ekspresinya tidak dapat dibedakan secara jelas atau membentuk suatu sebaran
normal (kontinu). Ekspresi gen ganda dapat diamati pada karakter tinggi tanaman, bobot
biji, warna biji gandum.
R.A. Emerson dan E.M. East telah meneliti tentang pewarisan sifat kuantitatif serta
menguji hipotesis gen ganda pada tanaman jagung. Mereka menyilangkan tanaman jagung
dengan fenotipe panjang tongkol rata-rata 6.6 cm dengan tanaman jagung yang mempunyai
pajang tongkol rata-rata 16.8 cm. Pada keturunan F1 didapatkan panjang tongkol rata-rata
12.1 cm dengan kisaran dari 9 cm -15 cm. Sedangkan pada keturunan F2 keragaman fenotipe
yang diperoleh lebih besar daripada keragaman pada F1, dengan panjang tongkol yang
seekstrim kedua tetuanya. Apabila ada dua pasang alel yang aktif mengendalikan karakter
panjang tongkol, dan jika masing-masing gen menghasilkan pengaruh yang sama pada
penampakan karakter tersebut, maka kontribusi masing-masing gen sebagai berikut:
Kontribusi masing-masing gen = Selisih ukuran fenotipe tetua
Jumlah alel yang terlibat
29
Pada penelitian Emerson dan East tersebut diatas didapatkan kontribusi masing-masing gen
adalah = 16.8 – 6.6 = 2.55 cm tiap alel
4
Hal tersebut berarti, masing-masing alel yang berperan aktif dapat meningkatkan panjang
tongkol maksimal 2.55 cm dari karekter terpendek (6.6cm).
Penemuan tersebut menggambarkan sifat dari gen-gen dengan pengaruh kuantitatif
yang kemudian dinamakan sebagai factor-faktor ganda (multiple factors). Tetapi karena
factor-faktor tersebut sangat kecil pengaruhnya, maka selanjutnya disebut sebagai pengaruh
poligen. Masing-masing gen secara kumulatif mempunyai andil dalam penampakan
fenotipe tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan seperti pada gen tunggal.
Pada hasil perkawinan monohybrid (Aa x Aa) kita mengetahui bahwa hanya ¼
bagian dari F2 menyerupai salah satu induknya. Perhitungan mengenai banyaknya gen
ganda, banyaknya kelas genotip dan fenotip dalam keturunan dapat diikuti pada tabel
berikut :
Jumlah pasangan gen
ganda
1
2
3
n
Bagian dari F2 yang
sama dengan salah
satu induknya
1/4
1/16
1/64
(1/4)n
Jumlah kelas genotip
dalam F2
Jumlah kelas fenotip
dalam F2
3
9
27
3n
3
5
7
2n+1
LATIHAN SOAL
1. Persilangan dua tanaman inbred yang masing-masing memiliki biji 20 sentigram dan 40
sentigram menghasilkan tanaman F1 yang memiliki biji seragam (30 sentigram).
Persilangan tanaman F1 X F1 menghasilkan 1000 tanaman, empat tanaman diantaranya
memiliki biji beratnya 20 sentigram, sedang empat tanaman lainnya memiliki biji-biji
beratnya 40 sentigram. Sisa tanaman lainnya memiliki biji-biji yang mempunyai berat
bermacam-macam tetapi berkisar 20 dan 40 sentigram. Berapa banyak pasangan gen
yang ikut mempengaruhi berat dalam perkawinan ini?
2. Nilai tengah panjang ruas batang varietas gandum Abad Binder adalah 3.2 mm. Panjang
rata-rata pada varietas Asplund adalah 2.1 mm. Penyilangan kedua varietas ini
menghasilkan F1 dan F2 dengan rata-rata panjang ruas batang 2.65 mm. Kira-kira 6%
dari F2 mempunyai panjang ruas 3.2 mm dan 6% mempunyai panjang ruas 2.1 mm.
Tentukan jumlah pasangan gen yang paling mungkin yang terlibat dalam panjang ruas
batang dan kira-kira kontribusi tiap gen pada fenotip !
30
3. Dua varietas jagung masing-masing tinggi 120 cm dan 180 cm dikawinkan. Tanaman F1
seragam mempunyai tinggi 150 cm dari 500 tanaman F2 terdapat 2 tanaman dengan
ukuran 120 cm dan 2 tanaman 180 cm
a. Berapa banyak poligen yang ikut berperan?
b. Berapa cm tiap gen mempengaruhi tinggi tanaman ?
4. Misalkan dua pasang gen dengan masing-masing dua alel, Aa dan Bb menentukan
penambahan tinggi tanaman dalam suatu populasi. Homozigot AABB adalah 50 cm
tingginya, sedang homozigot resesif tingginya 30 cm
a. Berapa tinggi tanaman F1 dari persilangan dua tanaman diatas?
b. Setelah perkawinan F1 x F1, genotip-genotip apakah dalam F2 yang akan mempunyai
tinggi 40 cm?
c. Berapa bagian dari tanaman F2 yang diharapkan berupa tanaman setinggi 40 cm?
31
8. GENETIKA POPULASI
Genetika populasi merupakan salah satu cabang dari genetika yang mempelajari
gen-gen dalam populasi, yang menguraikan secara sistematik akibat dari keturunan pada
tingkat populasi. Populasi adalah kelompok dari individu-individu yang dalam genetika
populasi seringkali anggota kelompok tersebut terdiri dari spesies yang sama, sehingga
makhluk hidup yang terdapat dalam populasi merupakan hasil persilangan interspesies
yang memiliki lekang gen (gene pool) yang sama. Dimana lekang gen adalah jumlah dari
semua alel yang berlainan dari suatu populasi yang membiak secara kawin.
7.1 Frekwensi Gen dan Genotip
Frekwensi adlah perbandingan antara banyaknya individu dalam suatu kelas dengan
jumlah seluruh individu. Frekwensi gen adalah frekwensi dari alel-alel. Frekwensi genotip
adalah frekwensi dari pasangan alel.
Frekwensi gen ada yang dominan dan ada yang resesif. Frekwensi gen dominan
biasanya dinyatakan dengan p sedangkan grn resesif dinyatakan dengan q. Bila A adalah
gen dominan dan a adalah gen resesif, maka frekwensi gen A=p dan frekwnsi gen a=q yang
mana nilai p dan q sering dinyatakan dalam bentuk decimal dengan nilaike duanya adalah
satu atau p+q = 1.
Adanya kawin acak dalam populasi ini mengakibatkan genotipa yang terbentuk
pada populasi keturunan tergantung pada frekwensi gen tetua. Tanaman yang mengandung
gen A dan a, kemungkinan keturunannya akan memiliki genotipa AA.Aa atau aa dengan
proporsi 1:2:1. Dengan demikian frekwensi genotipanya dapat dihitung dari frekwensi gen
tetua menggunakan rumus p2+2pq+q2=1 yang merupakan penjabaran dari (p+q)2
Formula ini dikemukakan oleh ahli matematika Inggris,Hardy dan ahli fisika Jerman.
Weinberg secara terpisah yang saat ini lebih dikenal sebagai hukum kesetimbangan HardyWeinberg. Hokum ini menyatakan bahwa dalam populasi setimbang maka baik frekwensi
gen maupun genotip akan tetap dari satu generasi ke generasi selanjutnya, denga syarat:
1. persilangan terjadi secara acak, maka fenotipe individu tidak mempengaruhipilihan
pasangannya.
2. tidak ada seleksi, semuja gamet mempunyai kesempatan sama untukmembentuk
zigot dan semua zigot mempunyai viabilitas dan fertilitas yangsama.
3. tidak ada migrasi, yaitu tidak ada introduksi alel dari populasi lain.
4. tidak ada mutasi. Mutasi adalah proses yang lambat dan perubahan frekuensigen
biasanya minimal.
32
5. tidak ada penghanyutan genetik secara acak (random genetic drift).Penghanyutan
terjadi dalam populasi kecil karena contoh gen/alel yang kecilbila dibandingkan
suatu populasi besar.
6. meiosis
terjadi normal, sehingga hanya faktor kebetulan
yang berlaku
padagametogenesis.
Hukum Hardy-Weinberg memudahkan kita untuk menentukan apakah asumsi di
atas terpenuhi dan apakah suatu populasi berada dalam keseimbangan yang stabilfrekuensi
gen nya. Dengan membandingkan frekuensi gen dalam populasi pada lokasi berbeda, kita
dapat menentukan apakah terjadi penyimpangan dari keseimbangan. Kemudian kita dapat
meneliti apa yang menyebabkan penyimpangan tersebut. Penerapan populasi genetika pada
pemuliaan tanaman berhubungan denganpenentuan banyaknya individu yang homozigot
atau heterozigot dalam suatu populasi.S ebagai contoh, apabila kita ingin mendapatkan
suatu tanaman yang tahan terhadap hama penyakit, maka kita harus dapat mengetahui
tanaman yang betul-betul tahan, tidak menurunkan sifat kerentanannya.
7.2 Tujuan
Untuk memahami konsep frekwensi gen dan genotip pada populasi kawin acak.
7.3 Bahan dan Metode
Bahan : 1. Kancing jepret warna hitam
2. Kancing jepret warna putih
3. Kantong kain hitam
Metode : 1. Menggunakan teknik pengandaian dengan kancing jepret
2. Alel dominan dilambangkan dengan warna hitam
3. Alel resesif dilambangkan dengan warna putih
4. gamet betina dilambangkan dengan lubang kancing
5. Gamet jantan dilambangkan dengan mata kancing
6. Kumpulan gamet (lubang kancing dan mata kancing) dikelompokkan dalam
kantong kain yang berbeda sebagai pengandaian dari lekang gen (gene pool).
Pelaksanaan:
1. Membuat populasi dasar dari kancing jepretwarna hitam dan warna putih sesuai dengan
proporsi yang ditentukan yaitu I: A= 0,5= 16 dan a= 0,5 = 16, II: A=0,75=24 dan a=0,25=8
2. Mengambil kancing jantan dan betina secara acak, mencatat setiap hasil persilangan
tersebut dan mengembalikan lagi kancing yang terambil ke kantong. Kegiatan ini di
ulang terus sampai 32 kali
33
1.4 Hasil dan Perhitungan
LATIHAN SOAL
1. Dalam suatu populasi kecambah bibit kedelai didapatkan:
200 bibit albino (gg), 800 bibit hijau-kuning (Gg), 1000 bibit hijau (GG)
Berapa frekuensi gen g?
Berapa frekuensi gen G?
2. Suatu Kebun tanaman jagung yang terletak terpisah dari tanaman jagung lainnya
mempunyai 20% tanaman berbatang pendek (cebol). Apabila sifat ini ditentukan oleh
gen resesif d, sedang gen D menetukan batang berbatang normal, maka berapa % dari
tanaman normal dalam kebun itu yang
c. homozigotik
d. heterozigotik
3. Pada tanaman tomat gen A mengatur batang ungu dan alel resesifnya a menghasilkan
batang hijau. Gen C mengatur karakter daun belah dan c mengatur karakter daun
kentang. Jika pengamatan – pengamatan fenotip dari suatu populasi sampel tomat
adalah 204 ungu, belah : 194 ungu, kentang : 102 hijau, belah : 100 hijau, kentang.
Tentukan frekuensi
a. Alel belah
b. Alel untuk batang hijau
4. Dua gen resesif yang saling bersilang secara bebas pada jagung mengatur produksi
rambut salmon (sm) dan endosperm yang mengisut (sh). Suatu sample dari suatu
populasi yang kawin secara acak menghasilkan data-data sebagai berikut
6 kisut : 10 salmon,kisut : 30 tipe liar : 54 salmon.
Tentukan frekuensi-frekuensi alel salmon q dan alel kisut t !
Download