View/Open - Repository | UNHAS

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Banyak masalah yang dialami oleh anak cacat khususnya anak
cacat mental diantaranya diskriminasi hukum, sosial, kekerasan ataupun
yang lainnya. Belum lagi masalah psikologis yang menimpa orang tua
mereka, bahkan ada orang tua yang menyembunyikan dan menutup-nutupi
anaknya yang cacat dengan alasan mempunyai anak cacat adalah aib
keluarga. Mendidik anak cacat dibutuhkan kesabaran, pengulangan
pengajaran berkali-kali serta komunikasi yang ringan dan mudah
dimengerti. Hal tersebut tidak lepas dari kemampuan anak cacat mental
yang kemampuan IQ-nya di bawah rata-rata anak normal pada umumnya.
Kenyataan hingga sekarang ini bahwa sebagian dari anak-anak ini
hidup dengan mimpi buruk yang begitu menghantui mereka sehingga
setiap gerakan dipenuhi dengan teror yang tidak diketahui. Sebagian hidup
dengan kekerasan dan kekejian baik dari lingkungan luar maupun dalam
keluarga mereka, bahkan hidup dengan martabat yang hanya layak
dimiliki oleh hewan. Sebagian hidup tanpa cinta, harapan, tapi mereka
menerima semua itu.
Opini masyarakat yang kadang tidak sesuai dengan kenyataan
mengenai anak cacat mental penting untuk dikomunikasikan. Baik itu
berupa teks dan diekspresikan dalam wacana ataupun pembicaraan. Hal ini
mampu menjadi dasar bagi orang tua yang memilik anak cacat mental
2
untuk pembelajaran maupun berbagi pengalaman. Foucault dalam Wijana,
(2009:69), menyimpulkan bahwa wacana kadang kala sebagai bidang dari
semua pernyataan, kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok
pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari
sejumlah pernyataan.
Wacana, selain secara lisan, dapat pula direalisasikan dalam bentuk
karangan utuh (buku/novel, seri ensiklopedi, majalah, koran, dsb),
paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap. Dengan kata
lain media massa mengandung wacana baik lisan maupun tulisan dalam
bentuk cetak dan elektronik. Salah satu media massa yang memiliki peran
penting dalam penyebaran ideologi yaitu buku/novel.
Selanjutnya, dijelaskan oleh Dominick dalam Ardianto (2007:1416) fungsi media massa terdiri dari surveillance (pengawasan) yaitu
pengontrol lingkungan sosial masyarakat berupa penyampaian atau
penyebaran informasi yang dapat membantu kalayak dalam kehidupan
sehari-hari.
Kemudian
yang
kedua
adalah
fungsi
interpretation
(penafsiran) yaitu media massa tidak hanya memasok fakta dan data tetapi
juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Fungsi
yang ketiga yaitu linkage (pertalian). Media massa dapat menyatukan
anggota masyarakat yang beragam sehingga membentuk pertalian
berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu. Fungsi
yang keempat yaitu transmission of values (penyebaran nilai-nilai) yaitu
media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu ditonton, didengar
3
dan dibaca. Media massa memperlihatkan bagaimana mereka bertindak
dan apa yang mereka harapkan. Serta fungsi yang kelima yaitu
entertainment (hiburan) tujuannya untuk menguragi ketegangan pikiran
khalayak, karena dengan membaca berita-berita ringan atau meihat
tayangan hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar
kembali.
Dalam novel ini Torey menceritakan pengalaman pribadinya
menjadi guru bagi anak-anak cacat mental. Hal ini akan melihatkan
bagaimana konstruksi dari sebuah teks atau wacana akan melahirkan
sesuatu. Konstruksi realitas (sosial) adalah upaya “menceritakan”
(konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, orang atau benda tak
terkecuali hal-hal yang berkaitan dengan sosial.
Konstruktivisme dapat dilihat sebagai sebuah kerja kognitif
individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada, karena terjadi relasi
sosial antara individu dengan lingkungan atau orang di sekitarnya.
Kemudian individu membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang
dilihatnya itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada
sebelumnya.
Sebuah teks seringkali diibaratkan sebagai hasil konstruksi atas
realitas sosial yang sedang berkembang. Hadirnya teks juga dipengaruhi
oleh kondisi sosial
yang menjadi asas lahirnya sebuah teks. Bahasa
merupakan unsur utama dalam konstruksi sosial.
4
Torey Hayden, seorang psikolog pendidikan dan guru pendidikan
luar biasa menulis pengalaman pribadinya menghadapi murid-murid yang
menderita gangguan mental dan emosi yang cukup parah. Novel Sheila
Luka Hati Seorang Gadis Kecil adalah novel pertamanya yang merupakan
terjemahan dari One Child. Novel tersebut terbit pada tahun 1980. Di
Indonesia diterbitkan oleh Qanita pada Juni 2003.
Pengalaman beliau mengajar dituangkan melalui novel berjudul
Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil tersebut. Novel ini bercerita tentang
dunia pendidikan, kemanusiaan, perjuangan serta kekerasan ganda yang
dialami seorang anak perempuan yang digambarkan dengan cara yang
berbeda. Beliau menceritakannya dari sudut pandang seorang pendidik.
Menghadapi murid seistimewa ini, bekal sang guru hanyalah kesabaran,
kasih sayang yang mendalam serta komunikasi yang baik yang bisa
diterima oleh anak seperti ini.
Cerita dari novel ini sendiri ditulis dengan amat sangat cepat yaitu
hanya delapan hari dari awal sampai akhir. Lalu, dibutuhkan waktu hanya
42 hari sejak dia menulis novel ini sampai diterbitkan. Novel ini kemudian
menjadi novel International Best Seller karena mendapat sambutan yang
cukup luas dari khalayak masyarakat baik di New York, tempat pertama
diterbitkan maupun di negara-negara lainnya termasuk di Indonesia
sendiri. Sampai tahun 2010 novel tersebut telah terjual 60 ribu eksemplar,
terbit dalam 28 bahasa dan sudah diadaptasi dalam berbagai format, antara
lain opera satu babak, sandiwara boneka jepang dan sinetron untuk TV.
5
Torey
Hayden
dalam
novelnya
menceritakan
pengalaman
pribadinya sebagai seorang guru sekolah luar biasa yang bertanggung
jawab atas sebuah kelas. Ada 8 murid di kelasnya. Usia mereka tak lebih
dari 10 tahun, dengan latar belakang yang beragam. Seorang anak yang
kondisi neurologisnya memburuk, seorang pernah dua kali mencoba
bunuh diri, seorang anak buta, pemarah dan agresif luar biasa, dua orang
anak menderita autisme, seorang skizofrenia, seorang pernah mengalami
penganiayaan fisik dan seksual sedangkan yang terakhir menderita
beragam fobia.
Dengan 8 anak bermasalah tersebut, Torey hanya dibantu 2 orang
asisten yang tidak kompeten, 1 orang laki-laki yang belum berpengalaman
mendidik anak berkebutuhan khusus dan seorang relawan pelajar SMP.
Dalam keadaan yang demikian, Torey dipaksa menerima seorang murid
baru bernama Sheila. Sheila adalah seorang gadis kecil berusia 6 tahun,
yang baru saja menculik seorang anak laki-laki berumur 3 tahun lalu
mengikatnya di sebuah pohon dan membakarnya hingga nyaris tewas.
Sheila mempunyai problem emosional yang parah. Dia agresif dan
membangkang. Anehnya, meski dalam keadaan sedih, marah atau
kesakitan, tak sekali pun Sheila menangis.
Satu-persatu fakta pun terungkap. Ternyata Sheila adalah anak
yang luar biasa, IQ-nya diatas 180. Banyak sekali bekas luka di tubuhnya.
Saat berusia 4 tahun, ibunya mendorong Sheila dari mobil dan
meninggalkannya begitu saja di jalan raya. Ayahnya keluar masuk penjara,
6
pemabuk, dan tidak mampu memberinya pengasuhan yang layak. Lalu
saat semuanya sudah mulai membaik, saat Sheila sudah bisa dikendalikan
dan bisa bersikap seperti anak-anak normal lainnya, hal yang buruk pun
terjadi. Anak 6 tahun itu mengalami kekerasan seksual yang mengerikan,
yang dilakukan oleh pamannya sendiri.
Masalah-masalah sosial, pendidikan, kekerasaan terhadap anak dan
kegigihan seorang guru menghadapi anak cacat mental yang menjadi dasar
penulis untuk melakukan penelitian tentang bagaimana konstruksi realitas
perilaku dari salah satu anak cacat mental yang ada dalam novel ini hingga
bentuk komunikasi dalam menghadapi perilaku dari anak cacat mental itu
sendiri. Konstruksi realitas ini sendiri dianalisis dengan model analisis
wacana Van Dijk yang mencoba mengkaji dan mengungkap fungsi dan
makna dibalik penggunaan teks / unsur bahasa, struktur sosial, serta
bagaimana konteks tersebut diproduksi dan dikonsumsi.
Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan di atas, penulis memilih
untuk mengkaji novel Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil ke dalam
bentuk skripsi dengan judul :
Konstruksi Perilaku Sheila Sebagai Anak Cacat Mental
Dalam Novel “Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil”
(Studi Analisis Wacana)
7
B. Rumusan Masalah :
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas maka penulis
merumuskan masalah yaitu:
1. Bagaimana konstruksi perilaku Sheila sebagai anak cacat mental dalam
novel Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil.
2. Bagaimana komunikasi verbal dan non verbal Torey Hayden sebagai
guru dalam menghadapi perilaku Sheila sebagai anak cacat mental.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian :
a. Tujuan Penelitian :
1. Untuk mengetahui konstruksi perilaku Sheila sebagai anak cacat
mental dalam novel Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil.
2. Untuk mengetahui komunikasi verbal dan non verbal Torey
Hayden sebagai guru dalam menghadapi perilaku Sheila sebagai
anak cacat mental.
b. Kegunaan Penelitian :
1. Secara Teoritis
a.
Sebagai masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya ilmu komunikasi, terutama pengetahuan tentang
analisis wacana buku.
b.
Sebagai bahan referensi mengenai komunikasi massa dan
analisis teks media.
8
c.
Sebagai bahan rujukan bagi mahasiswa komunikasi yang
ingin mengkaji tentang analisis wacana.
2. Secara Praktis
a.
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca agar lebih
kritis terhadap informasi yang disajikan media
b.
Untuk masukan kepada pembaca terutama yang tertarik
dengan pembahasan analisis wacana pada buku atau novel
terutama yang menyangkut sosial dan pendidikan.
D. Kerangka Konseptual
1. Novel sebagai Media
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif
(Wikipedia). Novel merupakan sutu karya imajinasi seseorang atau
merujuk pada kehidupan nyata yang telah terjadi. Pengarang membuat
sedemikian rupa dengan cara mengkreasikan dan menyiasati masalah
kehidupan untuk menjadi berbagai kemungkinan dan kebenaran. Novel
sesuai
dengan
isinya
mengandung
gagasan
yang
mungkin
dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial tertentu, ataupun dapat
mencetuskan suatu peristiwa tertentu. Novel merupakan proses
komunikasi yang membutuhkan pemahaman yang sangat luas.
Kedudukan novel sama dengan ilmu pengetahuan lain, yaitu
sesuatu yang penting bagi kehidupan dan kemajuan masyarakat.
9
Dengan karya novel pengarang bisa menanamkan nilai-nilai moral dan
pesan-pesan tertentu kepada masyarakat pembacanya. Subjektivitas
yang disampaikan pengarang melalui karya novel mampu untuk
memberikan motivasi atau dorongan bagi suatu perubahan pola pikir
baik secara individu atau masyarakat.
Novel merupakan salah satu media massa yang dapat memberikan
masukan
dan
pengaruh
besar
bagi
masyarakat.
Seseorang
menggunakan media massa untuk memperoleh informasi tentang
sesuatu, kemudian dia menggunakan media sebagai bagian dari
pengetahuan. Kebutuhan dasar lainnya adalah hiburan serta untuk
memenuhi kepentingan sosial. Pakar psikologi mengidentifikasikan
penetapan integrasi sosial, mencakup kebutuhan untuk memperkuat
hubungan dengan keluarga, teman atau yang lainnya dalam
masyarakat. Kebutuhan ini diperoleh melalaui pembicaraan atau
diskusi tentang sebuah program TV, film terbaru ataupun novel best
seller. Media memberikan kesamaan landasan untuk pembicaraan
masalah sosial (Ardianto, 2007:24-25).
2. Bahasa, Teks, Konteks, dan Makna
a. Bahasa
Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan
fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk
membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa erat kaitannya
10
dengan kognisi manusia, dinyatakan bahasa adalah fungsi kognisi
tertinggi. Bahasa merupakan alat yang dipergunakan dalam usaha
memengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Bahasa
juga mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu
masyarakat.
Menurut Halliday dalam Sobur, (2009:17) secara makro
fungsi-fungsi bahasa dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Fungsi ideasional: untuk membentuk, mempertahankan dan
memperjelas hubungan diantara anggota masyarakat.
2. Fungsi interpersonal: untuk menyampaikan informasi
diantara anggota masyarakat.
3. Fungsi tekstual: untuk menyediakan kerangka serta
pengorganisasian diskursus (wacana) yang relevan dengan
situasi.
b. Teks
Teks merupakan suatu kesatuan bahasa yang memiliki isi
dan bentuk, baik lisan maupun tulisan yang disampaikan oleh
seorang pengirim kepada penerima untuk menyampaikan pesan
tertentu. Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu
praktik wacana. Secara implisit terdapat hubungan antara tulisan
dan teks. Apabila tulisan adalah bahasa lisan yang difiksasikan (ke
11
dalam bentuk tulisan), maka teks adalah wacana (lisan) yang
difiksasikan ke dalam bentuk teks.
Dalam teori bahasa, apa yang dinamakan teks tak lebih dari
himpunan huruf yang membentuk kata dan kalimat yang dirangkai
dengan sistem tanda yang disepakati oleh masyarakat, sehingga
sebuah teks ketika dibaca bisa mengungkapkan makna yang
dikandungnya.
c. Konteks
Konteks menurut Guy Cook dalam Eriyanto, (2009:9)
adalah semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan
mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa,
situasi dimana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan,
dan sebagainya. Konteks begitu penting untuk menentukan makna
dari suatu ujaran. Dan bila konteks berubah maka berubah pulalah
makna itu.
Pada dasarnya, konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan
menjadi empat macam (Syafi’ie, dalam Sobur, 2009: 57), yaitu:
1. Konteks fisik yang meliputi tempat terjadinya pemakaian
bahasa dalam suatu komunikasi, objek yang disajikan
dalam peristiwa komunikasi itu, dan tindakan atau perilaku
dari para peran dalam peristiwa komunikasi itu.
2. Konteks epistemis atau latar belakang pengetahuan yang
sama-sama diketahui oleh pembicara maupun pendengar.
12
3. Konteks linguistik yang terdiri atas kalimat-kalimat atau
tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan
tertentu dalam peristiwa komunikasi.
4. Konteks sosial yang relasi sosial dan latar setting yang
melengkapi hubungan antara pembicara (penutur) dengan
pendengar.
d. Makna
Makna adalah suatu kebahasaan yang harus dianalisis
dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur
mengujarnya. Makna merupakan hubungan antara bahasa dengan
bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga
dapat saling dimengerti. Batasan tentang pengertian makna sangat
sulit
ditentukan
karena
setiap
pemakai
bahasa
memiliki
kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai
sebuah ujaran atau kata.
Pada umumnya makna dibedakan atas makna yang bersifat
denotatif dan bersifat konotatif. Makna kata
yang tidak
mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan disebut
makna denotatif , sedangkan makna kata yang menagndung arti
tambahan, perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping
makna dasar yang umum disebut makna konotatif atau konotasi
(Keraf, 2010: 27-31).
13
Menurut Hikam, dalam Sobur (2009:22-23) persoalan
makna memang merupakan persoalan yang sangat menarik. Untuk
dapat memahami tindakan manusia dengan baik, kita harus
memahami pula motif dasarnya dengan cara menempatkan diri kita
pada posisi sang pembicara. Pengucapan tidak dapat diterima
secara apa adanya meskipun ia telah memenuhi kaidah-kaidah
sintaksis dan semantik. Tetapi, ia masih memerlukan penafsiranpenafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicaranya.
Hanya dengan cara inilah, hubungan simbolik antara pendengar
dan pembicara dapat menempati posisi sentral dalam rangka
pengungkapan makna yang tersembunyi dari suatu wacana.
3. Konstruksi atas Realitas Sosial
Konstruksi sebagai suatu pandangan lain terhadap dunia bahwa
semesta secara epistimologi merupakan hasil konstruksi sosial.
Pengetahuan / pandangan manusia dibentuk oleh kemampuan tubuh
inderawi dan intelektual, asumsi-asumsi kebudayaan dan bahasa tanpa
kita sadari. Bahasa dan ilmu pengetahuan bukanlah cerminan semesta,
melainkan bahasa membentuk semesta, bahwa setiap bahasa
mengkonstruksi aspek-aspek tertentu dari semesta dengan caranya
sendiri. Sebagian dari realitas sosial adalah produksi manusia, hasil
proses budaya, termasuk penggunaan bahasa.
14
Realitas sosial itu memiliki makna ketika realitas sosial
dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh individu. Jadi
individu mengonstruksi realitas sosial dan merekonstruksikannya
dalam dunia nyata serta memantapkan realitas itu berdasarkan
pandangan
subjektif
individu.
Konstruksi
juga
sarat
dengan
kepentingan, masyarakat selalu berupaya mengenalkan diri mereka
melalui hal-hal yang mereka miliki. Menurut Berger dan Luckmann
(dalam Bungin, 2008:23-25), realitas sosial adalah pengetahuan yang
bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di masyarakat seperti
konsep, kesadaran umum, wacana publik, sebagai hasil dari konstruksi
sosial.
Media massa melakukan berbagai tindakan dalam konstruksi
realitas dimana hasil akhirnya berpengaruh terhadap pembentukan
makan suatu realitas. Media massa tidak hanya dianggap sebagai
penghubung antara pengirim pesan kepada penerima pesan. Intinya
terletak pada bagaimana pesan/teks berinteraksi dengan orang untuk
memproduksi makna. (Fiske, dalam Sobur 2009: 93).
Konstruksi sosial adalah pembentukan pengetahuan yang diperoleh
dari hasil penemuan sosial. Realitas memiliki makna ketika realitas
sosial tersebut dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh
orang lain sehingga memantapkan realitas tersebut secara objektif.
Konstruksi sosial realitas merupakan teori yang mengasumsikan
sebuah persetujuan berkelanjutan atas makna, karena orang-orang
15
berbagi sebuah pemahaman mengenai realitas tersebut. (Baran &
Davis, 2009: 383)
4. Pendekatan Analisis Wacana Kritis
Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam
komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa.
Analisis wacana merupakan penekanan pada konstelasi kekuatan yang
terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Analisis wacana
lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi
bukan terbatas pada penggunaan kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga
mencakup struktur pesan yang lebih kompleks yang disebut wacana
(Littlejohn, dalam Sobur, 2009: 48).
Teun A. van Dijk dalam Eriyanto, (2009:221) memperkenalkan
model analisis wacana seseorang atau lembaga dengan perangkat
“kognisi sosial”. Menurut van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup
hanya didasarkan pada analisis atau teks belaka, karena sesungguhnya
teks hanya hasil dari sutu praktek produksi yang harus diamati. Teks
dalam hal ini harus dilihat bagaimana produksi dari suatu teks,
sehingga akan muncul sebuah penyadaran untuk memperoleh
pengetahuan mengapa sebuah teks bisa hadir.
Van Dijk dalam Eriyanto, (2009:224) menggambarkan analisis
wacana dalam tiga dimensi / bangunan yaitu teks, kognisi sosial, dan
konteks sosial. Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana
16
struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan
suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi
teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan.
Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang
berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Model analisis
Van Dijk ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Teks
Kognisi Sosial
Konteks
Sumber: diadopsi dari Eriyanto (2009: 225)
Gambar 1.1 Model Analisis Van Dijk
Secara umum, ada tiga tingkatan analisis wacana, yaitu analisis mikro,
fokus analisis pada teks terutama unsur bahasa yang digunakan; analisis
makro, analisis struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat;
dan analisis meso, analisis pada diri individu/khalayak sebagai penghasil
dan konsumen teks. Menurut van Dijk dalam Eriyanto, (2009: 226),
meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan
suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya.
Dari paparan diatas, maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah:
17
Novel Sheila Luka Hati
Seorang Gadis Kecil
Konstruksi realitas sosial dalam
novel Sheila Luka Hati Seorang
Gadis Kecil
Analisis wacana
Van Dijk
1. Teks
2. Kognisi Sosial
3. Konteks
Konstruksi perilaku Sheila
sebagai anak cacat mental
Gambar 1.2 Kerangka Konseptual
E. Definisi Operasional
18
1. Konstruksi adalah menghadirkan bentukan realitas bentuk komunikasi
dan pengajaran Torey Hayden sebagai guru terhadap perilaku seorang
anak cacat mental bernama Sheila yang ditampilkan dalam novel
Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil.
2. Perilaku adalah respon atau reaksi Sheila sebagai anak cacat mental
terhadap stimulus / rangsangan dari luar yang ditampilkan dalam novel
Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil.
3. Konstruksi perilaku adalah bentukan realitas dari respon atau reaksi
Sheila sebagai anak cacat mental yang dihasilkan oleh stimulus /
rangsangan dari luar yang ditampilkan dalam novel Sheila Luka Hati
Seorang Gadis Kecil.
4. Anak cacat mental adalah seseorang yang mengalami kelainan mental
(kelemahan kemampuan berfikir) yang dapat mengganggu atau
merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan
termasuk berkomunikasi secara selayaknya.
5. Novel Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil merupakan sebuah novel
yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya, Torey
Hayden. Buku ini bercerita tentang dunia pendidikan, kemanusiaan,
perjuangan dan juga tentang kekerasan ganda yang dialami seorang
anak perempuan berumur 6 tahun bernama Sheila. Dia ber-IQ di atas
180, namun menderita problem emosional parah karena kekerasan dan
kekurangan kasih sayang yang dia alami. Dalam novel ini, sang guru
yaitu Torey Hayden sendiri menuturkan pengalaman nyatanya
19
berusaha menyentuh hati si gadis kecil dan memunculkan segala
potensi yang dia miliki.
6. Analisis Wacana adalah metode penelitian yang memfokuskan pada
pengkajian struktur pesan dan makna dalam komunikasi. Analisis
wacana mengkaji muatan pesan, nuansa dan makna yang tersembunyi
dalam teks yang menggunakan pendekatan interpretatif dengan
mengandalkan interpretasi dan penafsiran peneliti.
F. Metode Penelitian
1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan
data melalui satu buah novel Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil
karya Torey Hayden serta sejumlah data yang berkaitan dengan objek
penelitian tersebut seperti berita-berita terkait, biografi penulis /
penerjemah dan dokumen-dokumen lainnya. Pada penelitian ini datadata yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angkaangka. Hal ini dilakukan seperti orang merajut sehingga setiap bagian
ditelaah satu demi satu (Moeloeng, 2002: 6).
2. Objek dan Waktu Penelitian
a. Objek Penelitian
Novel Sheila : Luka Hati Seorang Gadis Kecil karya Torey
Hayden.
20
b. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai dari bulan Agustus sampai bulan Oktober
tahun
2011.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah
melalui:
a. Pengumpulan data berupa teks-teks tertulis dari novel Sheila Luka
Hati Seorang Gadis Kecil karya Torey Hayden serta sejumlah data
yang berkaitan dengan objek penelitian tersebut, seperti beritaberita terkait, biografi penulis/penerjemah dan dokumen-dokumen
lainnya.
b. Penelitian pustaka (library research) dengan mengkaji dan
mempelajari
berbagai
literatur
yang
berkaitan
dengan
permasalahan yang diteliti untuk mendukung asumsi sebagai
landasan teori permasalahan yang dibahas.
c. Penelusuran data online, yaitu menelusuri data dari media online
seperti internet sehingga peneliti dapat memanfaatkan data
informasi online secepat dan semudah mungkin serta dapat
dipertanggungjawabkan
secara
akademis.
Peneliti
memilih
sumber-sumber data online mana yang kredibel dan dikenal
banyak kalangan.
21
4. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
menganalisis teks tentang bentuk komunikasi dan pengajaran terhadap
anak cacat mental serta perilaku seorang anak bernama Sheila yang
ditampilkan dalam novel Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil.
Berdasarkan kerangka model Van Dijk, penelitian ini menggabungkan
analisis teks, yaitu menganalisis bagaimana strategi wacana dan
strategi tekstual yang dipakai untuk menggambarkan seseorang atau
peristiwa tertentu; analisis kognisi sosial, yaitu menganalisis
bagaimana kognisi penulis dalam memahami seseorang atau peristiwa
tertentu; dan analisis konteks sosial, yaitu menganalisis bagaimana
wacana yang berkembang dalam masyarakat, proses produksi dan
reproduksi
seseorang
atau
peristiwa
digambarkan.
Dalam
mengungkapkan makna sebuah wacana tidak hanya dilihat dari teks
yang ada, tetapi mengaitkan dengan konteks yang melingkupi
kehadiran teks tersebut.
Download