asal usul dinasti muawiyah

advertisement
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asal-Usul, Pertumbuhan dan Basis Sosial Dinasti Mu’awiyah
Muawiyah lahir kira-kira 15 tahu sebelum hijrah. Dia memeluk Islam bersama-sama
dengan penduduk Makkah lainnya yang berbondong-bondong masuk Islam setelah
Makkah ditaklukkan oleh kaum Muslimin. Ketika itu Mu'awiyah berumur 23 tahun.
Muawiyah mulai memegang tempuk pemerintahan pada masa Khalifah Umar bin
Khattab,. Dia diangkat menjadi Gubernur Yordania. Pada saat yang bersamaan
saudaranya, Yazid juga diangkat menjadi gubernur Damaskus oleh syaidina Umar. Tapi
Yazid wafat karena panyakit Pes yang berjangkit di kota Amuas, di masa pemerintahan
Khalifah Umar. Dan pada saat itulah khalifah umar mwnggabung wilayah Damsyik
kedalam wilayah kekuasaan Mu’awiyah. Ketika menjadi seorang gubernur, Mu’awiyah
merupakan sosok pemimpin yang memiliki pribadi sangat kuat dan amat jujur, serta ahli
dalam lapangan politik.Mu’awiyah berhasil memegang kekuasan penuh setelah Hasan bin Ali menyerahkan
jabatan itu dengan beberapa syarat, antara lain :
1. Agar Mu’awiyah tidak menaruh dendam terhadap seseorangpun dari penduduk Iraq.
2. Menjamin keamanan yan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
3. Agar pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan padanya dan diberikan setiap tahun.
4. Agar Mu’awiyah membayar kepada saudaranya, yaitu Husen bin Ali bin Abi Thalib
sebesar 2 juta dirham.
5. Pemberian kepada bani hasyim haruslah lebih besar dari pada pemberian kepada bani
Abdi Syam.
Perjanjian itu berhasil mempersatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan
politik, di bawah pimpinan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Dengan kata lain, Hasan telah
menjual haknya sebagai khalifah kepada Mu’awiyah. Akibat perjanjian itu menyebabkan
Mu’awiyah menjadi penguasa absolut. Naiknya Mu’awiyah menjadi khalifah pada
awalnya tidak melalui forum pembai’atan yang bebas dari semua umat. Mu’awiyah
dibai’at pertama kali oleh penduduk Syam karena memang berada di bawah
kekuasaannya, kemudian ia dibai’at oleh umat secara keseluruhan setelah tahun persatuan
atau ‘am jama’ah (661). Pembai’atan tersebut tidak lain hanyalah sebuah pengakuan
terpaksa terhadap realita dan dalam upaya menjaga kesatuan umat. Maka, di sini telah
masuk unsur kekuatan dan keterpaksaan menggantikan musyawarah. Karenanya dapat
dikatakan bahwa telah terjadi perceraian antara idealisme dan realita .
B. Sistem Kepemimpinan dan Penegakan Dinasti
Mu'awiyah adalah penguasa Islam yang pertama yang menggantikan sistem demokratis
republik Islam menjadi sistem Monarkis (kerajaan). Mu'awiyah pernah menegaskan
bahwa dirinya adalah seorang raja Islam yang pertama. Ia membentuk sistem kekuasaan
berdasarkan garis keturunan dengan menunjuk anaknya, Yazid, sebagai putra mahkota.
Sikapnya menunjuk putra mahkota ini akhirnya menjadi model dan diikuti oleh seluruh
penguasa Umayyah sesudahnya. Karenanya Mu'awiyah dipandang sebagai pendiri sistem
kerajaan yang turun temurun dalam sejarah umat Islam. Tradisi demokrasi kesukuan
nenek moyang bangsaArab seketika itu hilang untuk selama-lamanya dan digantikan
dengan pola kekuasaan individu dan otokrasi. Dalam hal ini Mu'awiyah mengikuti tradisi
kekuasaan absolutisme yang berkembang di Persia dan Bizantium.
Mu'awiyah setelah menjadi raja tampaknya masih menjalankan kedudukan dan fungsi
khalifah, seperti menyampaikan khutbah dan menjadi imam shalat Jum'at, tetapi ia terlalu
menjaga jarak dengan kehidupan masyarakat. Mu'awiyah hidup dalam kemewahan istana
yang selalu dijaga oleh pengawal bersenjata, baitul mal dijadikan sebagai harta kekayaan
pribadi dan memutuskan segala yang penting hanya menggunakan pertimbangannya
sendiri tanpa melalui musyawarah. Di sinilah letak perbedaannya dengan pemerintahan
masa sebelumnya. Mu'awiyah selama memerintah berhasil menegakkan kerukunan antar
bangsaArab wilayah utara (Kaisaniyyah) dengan bangsa Arab wilayah selatan (kalbiyah).
Sekalipun nasab Mu'awiyah lebih dekat kepada kelompok kaisaniyyah, namun ia justru
mengangkat putra mahkota dari istrinya yang berketurunan Kalbiyah. Selama masa
pemerintahannya, penguasa dan rakyat hidup rukun. Ia juga bertindak cukup bijaksana
terhadap penganut agama Kristen. Hal ini terbukti dengan diangkatnya beberapa orang
nasrani sebagai pejabat negara, salah satunya menjabat sebagai dewan penasihat.
C. Dinasti-Dinasti Mu’awiyah
1. Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-681 M)
Muawiyah ibn Abi Sufyan adalah pendiri Daulah Bani Umayyah dan menjabat sebagai
Khalifah pertama. Ia memindahkan ibu kota dari Madinah al Munawarah ke
kotaDamaskus dalam wilayah Suriah. Pada masa pemerintahannya, ia melanjutkan
perluasan wilayah kekuasaan Islam yang terhenti pada masa Khalifah Ustman dan Ali.
Disamping itu ia juga mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang
ditetapkan oleh tentara di Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan juga
menetapkan aturan kiriman pos. Muawiyah meninggal Dunia dalam usia 80 tahun dan
dimakamkan di Damaskus di pemakaman Bab Al-Shagier.
2. Yazid ibn Muawiyah (681-683 M)
Lahir pada tahun 22 H/643 M. Pada tahun 679 M, Muawiyah mencalonkan anaknya,
Yazid, untuk menggantikan dirinya. Yazid menjabat sebagai Khalifah dalam usia 34
tahun pada tahun 681 M. Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh di Madinah tidak mau
menyatakan setia kepadanya. Ia kemudian mengirim surat kepada Gubernur Madinah,
memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara
ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair.
Bersamaan dengan itu, Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan)
kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh Husein ibn Ali.
Pada tahun 680 M, ia pindah dari Mekkah ke Kufah atas permintaan golongan Syi’ah
yang ada di Irak. Umat Islam di daerah ini tidak mengakui Yazid. Mereka mengangkat
Husein sebagai Khalifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, sebuah
daerah di dekat Kufah, tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya
dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala (Yatim,
2003:45). Masa pemerintahan Yazid dikenal dengan empat hal yang sangat hitam
sepanjang sejarah Islam, yaitu :
a. Pembunuhan Husein ibn Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad.
b. Pelaksanaan Al ibahat terhadap kota suci Madinah al - Munawarah.
c. Penggempuran terhadap baiat Allah.
d. Pertama kalinya memakai dan menggunakan orang-orang kebiri untuk barisan
pelayan rumah tangga khalif didalam istana. Ia Meninggal pada tahun 64 H/683 M dalam
usia 38 tahun dan masa pemerintahannya ialah tiga tahun dan enam bulan.
3. Muawiyah ibn Yazid (683-684 M)
Muawiyah ibn Yazid menjabat sebagai Khalifah pada tahun 683-684 M dalam usia 23
tahun. Dia seorang yang berwatak lembut. Dalam pemerintahannya, terjadi masa krisis
dan ketidakpastian, yaitu timbulnya perselisihan antar suku diantara orang-orang Arab
sendiri. Ia memerintah hanya selama enam bulan.
4. Marwan ibn Al-Hakam (684-685 M)
Sebelum menjabat sebagai penasihat Khalifah Ustman bin Affan, ia berhasil memperoleh
dukungan dari sebagian orang Syiria dengan cara menyuap dan memberikan berbagai hak
kepada masing-masing kepala suku. Untuk mengukuhkan jabatan Khalifah yang
dipegangnya maka Marwan sengaja mengawini janda Khalifah Yazid, Ummu Khalid.
Selama masa pemerinthannya tidak meninggalkan jejak yang penting bagi perkembangan
sejarah Islam. Ia wafat dalam usia 63 tahun dan masa pemerintahannya selama 9 bulan 18
hari.
5. Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M)
Abdul Malik ibn Marwan dilantik sebagai Khalifah setelah kematian ayahnya, pada tahun
685 M. Dibawah kekuasaan Abdul Malik, kerajaan Umayyah mencapai kekuasaan dan
kemulian. Ia terpandang sebagai Khalifah yang perkasa dan negarawan yang cakap dan
berhasil memulihkan kembali kesatuan Dunia Islam dari para pemberontak, sehingga
pada masa pemerintahan selanjutnya, di bawah pemerintahan Walid bin Abdul Malik
Daulah bani Umayyah dapat mencapai puncak kejayaannya. Ia wafat pada tahun 705 M
dalam usia yang ke-60 tahun. Ia meninggalkan karyakarya terbesar didalam sejarah
Islam. Masa pemerintahannya berlangsung selama 21tahun, 8 bulan. Dalam masa
pemerintahannya, ia menghadapi sengketa dengan khalif bdullah ibn Zubair.
6. Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M)
Masa pemerintahan Walid ibn Malik adalah masa ketentraman, kemakmuran dan
ketertiban Umat Islam. Pada masa pemerintahannya tercatat suatu pestiwa besar, yaitu
perluasan wilayah kekuasaan dari Afrika Utara menuju wilayah Barat daya, benua Eropa,
yaitu pada tahun 711 M. Perluasan wilayah kekuasaan Islam juga sampai ke Andalusia
(Spanyol) dibawah pimpinan panglima Thariq bin Ziad. Perjuangan panglima Thariq bin
Ziad mencapai kemenangan, sehingga dapat menguasai kota Kordova, Granada dan
Toledo. Selain melakukan perluasan wilayah kekuasaan Islam, Walid juga melakukan
pembangunan besar-besaran selama masa pemerintahannya untuk kemakmuran
rakyatnya. Khalifah Walid ibn Malik meninggalkan nama yang sangat harum dalam
sejarah Daulah Bani Umayyah dan merupakan puncak kebesaran Daulah tersebut.
7. Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M)
Sulaiman Ibn Abdul Malik menjadi Khalifah pada usia 42 tahun. Masa pemerintahannya
berlangsung selama 2 tahun, 8 bulan. Ia tidak memiliki kepribadian yang kuat hingga
mudah dipengaruhi penasehat-penasehat disekitar dirinya. Menjelang saat terakhir
pemerintahannya barulah ia memanggil Gubernur wilayah Hijaz, yaitu Umar bin Abdul
Aziz, yang kemudian diangkat menjadi penasehatnya dengan memegang jabatan wazir
besar. Hasratnya untuk memperoleh nama baik dengan penaklukan ibu kota
Constantinople gagal. Satu-satunya jasa yang dapat dikenangnya dari masa
pemerintahannya ialah menyelesaikan dan menyiapkan pembangunan Jamiul Umawi
yang terkenal megah dan agung di Damaskus.
8. Umar Ibn Abdul Aziz (717-720 M)
Umar ibn Abdul Aziz menjabat sebagai Khalifah pada usia 37 tahun . Ia terkenal adil dan
sederhana. Ia ingin mengembalikan corak pemerintahan seperti pada zaman khulafaur
rasyidin. Pemerintahan Umar meninggalkan semua kemegahan Dunia yang selalu
ditunjukkan oleh orang Bani Umayyah. Ketika dinobatkan sebagai Khalifah, ia
menyatakan bahwa mempernaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah
Islam lebih baik daripada menambah perluasannya (Amin, 1987:104). Ini berarti bahwa
prioritas utama adalah pembangunan dalam negeri. Meskipun masa pemerintahannya
sangat singkat, ia berhasil menjalin hubuingan baik dengan Syi’ah. Ia juga membari
kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan
kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali (orang Islam yang bukan dari
Arab) disejajarkan dengan Muslim Arab. Pemerintahannya membuka suatu pertanda
yang membahagiakan bagi rakyat. Ketakwaan dan keshalehannya patut menjadi teladan.
Ia selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Ia meninggal pada tahun 720
M dalam usia 39 tahun, dimakamkan di Deir Simon.
9. Yazid ibn Abdul Malik (720-724 M)
Yazid ibn Abdul Malik adalah seorang penguasa yang sangat gandrung kepada
kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya
hidup dalam ketentraman dan kedamaian, pada zamannya berubah menjadi kacau.
Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi
terhadap pemerintahan Yazid. Pemerintahan Yazid yang singkat itu hanya mempercepat
proses kehancuran Imperium Umayyah. Pada waktu pemerintahan inilah propaganda bagi
keturunan Bani Abas mulai dilancarkan secara aktif. Dia wafat pada usia 40 tahun. Masa
pemerintahannya berlangsung selama 4 tahun, 1 bulan.
10. Hisyam ibn Abdul Malik (724-743 M)
Hisyam ibn Abdul Malik menjabat sebagai Khalifah pada usia yang ke 35 tahun. Ia
terkenal negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Pada masa pemerintahannya
muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani
Umayyah. Kekuatan ini berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan
mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan selanjutnya,
kekuatan baru ini mampu menggulingkan Dinasti Umayyah dan menggantikannya
dengan Dinasti baru, Bani Abbas. Pemerintahan Hisyam yang lunak dan jujur
menyumbangkan jasa yang banyak untuk pemulihan keamanan dan kemakmuran, tetapi
semua kebajikannya tidak bisa membayar kesalahan-kesalahan para pendahulunya,
karena gerakan oposisi terlalu kuat, sehingga Khalifah tidak mampu mematahkannya.
Meskipun demikian, pada masa pemerintahan Khalifah Hisyam kebudayaan dan
kesusastraan Arab serta lalu lintas dagang mengalami kemajuan. Dua tahun sesudah
penaklukan pulau Sisily pada tahun 743 M, ia wafat dalam usia 55 tahun. Masa
pemerintahannya berlangsung selama 19 tahun, 9 bulan. Sepeninggal Hisyam, KhalifahKhalifah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin
mempercepat runtuhnya Daulah Bani Ummayyah.
11. Walid ibn Yazid (743-744 M)
Daulah Abbasiyah mengalami kemunduran dimasa pemerintahan Walid ibn Yazid. Ia
berkelakuan buruk dan suka melanggar norma agama. Kalangan keluarga sendiri benci
padanya. Dan ia mati terbunuh. Meskipun demikian, kebijakan yang paling utama yang
dilakukan oleh -Walid ibn Yazid ialah melipatkan jumlah bantuan sosial bagi
pemeliharaan orang-orang buta dan orang-orang lanjut usia yang tidak mempunyai famili
untuk merawatnya. Ia menetapkan anggaran khusus untuk pembiayaan tersebut dan
menyediakan perawat untuk masingmasing orang. Dia sempat meloloskan diri dari
penangkapan besar-besaran di Damaskus yang dilakukan oleh keponakannya. Masa
pemerintahannya berlangsung selama 1 tahun, 2 bulan. Dia wafat dalam usia 40 tahun.
12. Yazid ibn Walid (Yazid III) (744 M)
Pemerintahan Yazid ibn Walid tidak mendapat dukungan dari rakyat, karena
perbuatannya yang suka mengurangi anggaran belanja negara. Masa pemerintahannya
penuh dengan kemelut dan pemberontakan. Masa pemerintahannya berlangsung selama
16 bulan. Dia wafat dalam usia 46 tahun.
13. Ibrahim ibn Malik (744 M)
Diangkatnya Ibrahim menjadi Khalifah tidak memperoleh suara bulat didalam
lingkungan keluarga Bani Umayyah dan rakyatnya. Karena itu, keadaan negara semakin
kacau dengan munculnya beberapa pemberontak. Ia menggerakkan pasukan besar
berkekuatan 80.000 orang dari Arnenia menuju Syiria. Ia dengan suka rela
mengundurkan dirinya dari jabatan khilafah dan mengangkat baiat terhadap Marwan ibn
Muhammad. Dia memerintah selama 3 bulan dan wafat pada tahun 132 H.
14.Marwan ibn Muhammad (745-750 M)
Beliau seorang ahli negara yang bijaksana dan seorang pahlawan. Beberapa pemberontak
dapat ditumpas, tetapi dia tidak mampu mengahadapi gerakan Bani Abbasiyah yang telah
kuat pendudkungnya. Marwan ibn Muhammad melarikan diri ke Hurah, terus ke
Damaskus. NamunAbdullah bin Ali yang ditugaskan membunuh Marwan oleh Abbas AsSyaffah selalu mengejarnya. Akhirnya sampailah Marwan di Mesir. Di Bushair, daerah al
Fayyun Mesir, dia mati terbunuh oleh Shalih bin Ali, orang yang menerima penyerahan
tugas dari Abdullah. Marwan terbunuh pada tanggal 27 Dzulhijjah 132 H\5 Agustus 750
M. Dengan demikian tamatlah kedaulatan Bani Umayyah, dan sebagai tindak lanjutnya
dipegang oleh Bani Abbasiyah.
Setelah Dinasti mu’awiyah runtuh, maka negara Islam terpecah menjadi 30 Negara yang
terdiri dari beberapa dinasti, yaitu:
a. Dinasti Murabithun (1086-1143)
Dinasti ini perpusat di kota Maraskey, Maroko. Pasukan dinasti murabithun datang dalam
rangka membantu umat Islam melawan kwrajaan Castilla. Mereka memutuskan untuk
menguasai Andalusia setalah melihat Umat Islam terpecah belah.
b. Dinasti Muwahiddun (1146-1235)
Dinasti ini datang menggantikan dinasti Murabithun di Afrika Utara Kemudian juga
melanjutkan kepemimpinan di Andalusia. Dimana ini hidup Ibnu Rusyd, seorang pemikir
besar pasa masa itu yang banyak menafsirkan pemikiran Ariestoteles.
c. Bani Ahmar (1232-1292)
Pada 1238 Cordova jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya seluruh
Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492).
Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah—meminta bantuan Raja
Ferdinand dan Ratu Isabella—untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Abu Abdullah
sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan Isabella kemudian
menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Mereka kemudian menggempur kekuatan Abu
Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama sekali.
Sejak itu, seluruh pemeluk Islam (juga Yahudi), dikejar-kejar untuk dihabisi sama sekali
atau berpindah agama. Kekejian penguasa Kristen terhadap pemeluk Islam itu dibawa
oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun kemudian menjelajah hingga Filipina.
Kesultanan Islam di Manila mereka bumihanguskan, seluruh kerabat Sultan mereka
bantai.
Memasuki Abad 16, Tanah Andalusia—yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam—
kemudian bersih sama sekali dari keberadaan Muslim.
D. Karakteristik, Tradisi dan Peradaban Muslim Masa Mu’awiyah.
Sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya, keempat belas Khalifah dari Keluarga
Umayyah ini telah menenorehkan sejarah dengan karakteristik tersendiri. Inilah yang
kemudian dinyatakan sebagai keberhasilan atau kelemahan dalam keberadaannya. Sedikit
tentang sejarah yang ditorehkannya antara lain;
1. Mulai adanya penyempitan calon-calon yang diajukan sebagai khalifah pengganti
khalifah sebelumnya. Yaitu calon-calon tersebut harus berasalkan dari keluarga
Umayyah. Inilah yang dikatakan sebagai penyimpangan dari ajaran Islam, tetapi sejauh
mana penyimpangan tersebut. Secara lebih spesifik bahasannya disendirikan di bagian
akhir.
2. Perluasan wilayah Islam dapat diperoleh dalam waktu yang cukup singkat. Dalam
kekuasaannya selama 90 tahun, wilayah Islam semakin luas, mulai dari Spanyol, sampai
dengan India. Penaklukan militer ini berjalan cepat terutama pada pemerintahan Khalifah
Al Walid. Segenap Afrika Utara diduduki dan pada tahun 91 H / 710 M pasukan Muslim
menyebrangi Selat Gibraltar lalu masuk ke Spanyol, kemudian menyebrangi Sungai
Pyrenees dan menyerang Carolingian Prancis. Di Timur, seorang Wali Arab menyusup
melalui Makran masuk ke Sind, menancapkan Islam untuk pertama kalinya di India
(Dinasti-Dinasti Islam, 1993). Bagi beberapa kalangan luas wilayah Islam pada masa ini
adalah yang terluas dibanding dengan masa kekhalifahan lainnya. Perluasan-perluasan
berikutnya hanyalah berupa pengembangan dari luas wilayah yang telah ada. Malah pada
akhir masa Kekhalifahan Utsmani, wilayahnya semakin menyempit akibat sparatisme dan
berkembangnya nation state, sampai akhirnya hilanglah wilayah kekhalifahan Islam pada
tahun 1924 (3 Maret), saat diruntuhkannya Kekhalifahan Utsmaniyyah sehingga wilayah
Islam terpecah menjadi negeri-negeri Islam, sampai sekarang.
3. Pembangunan fisik semakin marak dilakukan. Apabila pada masa Rasulullah dan
Khulafaur Rasyiddin, pembangunan terlihat lebih fokus kepada pembangunan ruhul
Islam, dalam artian penerapan hukum-hukum Islam di muka bumi. Pada masa Umayyah
pembangunan fisik dan perkembangan ilmu pengetahuan semakin berkembang, hal-hal
yang khusus antara lain. Penghijauan daerah Mekkah dan Madinah pada masa Khalifah
Mu’awiyah, pembuatan mata uang Islam pada masa Khalifah Abdul Malik,
penghimpunan hadits-hadits Nabi pada masa Umar bin Abdul Aziz. Kemudian Masjid
Raya Damaskus didirikan oleh Khalifah Al Walid I serta Madrasah al Nuriyah di
Damaskus pun dibangun untuk sarana pendidikan
E. Yurisprudensi dan Tata Hukum Ajaran Islam Masa Mu’awiyah
Politik pemerintahan di masa dinasti Umayyah, menurut Imam Az-Zuhri, bahwa pada
masa Rosulullah, dan para khulafaur-rosyidun yang empat berlaku hokum bahwa orangorang kafir tidak mewarisi seorang muslim dan demikian pula seorang muslim tidak
mewarisi seorang kafir. Tapi Mu’awiyah pada masa pemerintahannya, telah bertindak
mewariskan seorang muslim dari seorang kafir tapi tidak mewariskan seorang kafir dari
seorang muslim. Ketentuan yang berupa bid’ah (sesuatu yang mengada-ada dalam agama
ini telah dibatalkan pada masa Umar bin Abdul Aziz dimasa pemerintahannya, tapi
Hisyam bin Abdul Malik telam mengembalikan sebagaimana keadaan yang semula,
yakni seperti dimasa Mu’awiyah .
Ibnu katsir berkata bahawa Mu’awiyah juga telah menganti sunnah Rosululloh saw. dan
para khulafaur-rasyidun dalam urusan diyat. Sebelum itu, diyat (denda) pembunuhan
terhadap seorang non-muslim yang telah mengikat perjanjian dengan negara Islam,
jumlahnya sama dengan diyat seorang muslim. Tapi Mu’awiyah mengurangi sampai
setengahnya dan dia mengambil setengah yang lain bagi dirinya sendiri.
Begitu bayak prestasi yang ditorehkan oleh Muawiyah, termasuk didalamnya pembagian
departemen-departemen. Dari setiap lembaga yang ada. Termasuk didalamnya adalah
pembentukan Al-Nizham al qadha’I, yaitu lembaga bagian penegak hokum. Al-Nizham
al qadha’I ini terdiri dari tiga bagian, yaitu al-qadha, al-hisbat, danal-mazholim .
Badan al-qadha dipimpi oleh seorang Qadhi yang bertugas membuat fatwa-fatwa hokum
dan peraturan yang digali langsung dari Al-Qur’an, As-Sunnah,atau Ijma’ atau
berdasarkan Ijtihad. Badan ini bebas dari pengaruh penguasa dalam menetapkan
keputusan hokum terhadap para pejabat, pegawai negara yang melakukan pelanggaran.
Pejabat badan al-hisbat disebut al muhtasib, tugasnya menangani kriminalyang perlu
penyelesaian segera. Pejabat badan al-mazholim disebut qodhi al-mazhalim atau shahib
al-mazhalim. Kedudukan badan ini lebih tinggi daripada al-qadha atau al-hisbat. Karena
badan ini bertugas meninjau kembali akan kebenaran dan keadilan keputusan-keputusan
hokum yang dibuat oleh qodhi dan muhtasib. Bila ada suatu kasus perkara yang
keputussannya dianggap perlu ditinjau kembali, baik perkara seorang rakyat atau pejabat
yang menyalahgunakan jabatannya, badan ini menyelenggarakan mahkamat al-mazhalim
yang mengambil tempat di masjid. Siding ini dihadiri oleh lima unsure lengkap, yaitu
para pembantu sebagai juri, para hakim, para fuqaha, para katib dan para saksi, yang
dipimpin oleh al-qadhi al-muzhalim . Berarti pemerintahan dinasti Umayyah ,
sebagaimana pada pereode Negara Madinah, peradilan bebas terap ditegakan.
F. Faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran dinasti mu’awiyah
Ada beberapa factor yang menyebabkan lemahnya sampai kehancuran dinasti Umayyah,
antara lain :
1. System pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi
tradisi arab yang lebih menekan aspek senioritas. Pengaturan tidak jelas. Ketidakjelasan
sistim pegantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di
kalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflikkonflik politik yang terjadi dimasa Ali. Sisa-sisa syi’ah (pengikut Ali)dan khawarij terus
menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka, seperti dimasa awal dan di akhir maupun
secara tersembunyi seperti dimasa pertengahan kekuasan bani Umayyah. Penumpasan
terhadap gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada masa kekuasan bani Umayyah, pertentangan etnis anggaota suku Arabia Utara
(bani Qays) dan Arabia Selatan (bani Kalb) yang sudah ada sejakzaman sebelum islam,
makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa bani Umayyah
menapatkan kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu
sebagian besar golongan Mawali ( non arab ) terutama di Irak dan wilayah bagian timur
lainnya, merasa tidak puas dengan status mawali itu menggambarkan status inferioritas di
tambahkan dengan keangkuhan bangsa arab yang di perlihatkan pada masa Umayyah.
4. Lemahnya pemerintahan daulat bani Umayyah yang disebabkan oleh sikap hidup
mewah di lingkungan istana sehiungga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban
berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasan. Disamping itu, golongan agama
banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadapperkembangan agama sangat
kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan bani Umayyah adalah munculnya kekuatan
baru yang di pelopori oehketurunan Abbas ibnu Abdul Al- Muthalib.gerakan ini
mendapakan dukungan penuh dari bani Hasyim dan golongan syi’ah dan kaum mawali
yang merasa dikelasduakan oleh pemerintah Bani Umayyah.
Masih banyak factor-faktor lain yang tidak kami sebutkan yang menyebabkan keruntuhan
bani Umayyah.
G.Kritik Refleki Objektifikasi Peradaban Masa Mu’awiyah
Dinasti Umayyah berhasil meguasai dunia selam kurang lebih 90 tahun, dalam kurun
waktu 90 tahun itulah berbagai macam perubahan telah di lakukan oleh Mu\awiyah dan
juga penerus dinasti Umayyah itu. Ada banyak perubahan yang seharusnya tidak ia
lakukan, yaitu tenang system pemerintahan yang ternyata sangat mempengaruhi
kehidupan umat Islam di seluruh belahan dunia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa
keberhasilan umat Islam dalam membangun peradaban terletak pada masa kekhalifahan
yang dimulai oleh Rosulullah saw, dan kemudian dilanjutkan oleh khulafaur-rasyidin.
Perubahan yang dilakukan Mu’awiyah secara tidak langsung telah menggerogoti
kekuatan umat Islam, karena dengan berubahnya sistem pemerintahan dari khalifah
menjadi kerajaan turun-temurun atau system demokrasi (musyawarah) menjadi sistem
Monarki (turun temurun) memjadikan umat Islam yang begitu kuat dengan
persaudaraannya menjadi mudah dihasut, sehingga menimbulkan pemberontakan yang
mengatas namakan kebenaran. Dan terbukti, salah satu factor runtuhnya dinasti Umayyah
adalah terjadinya perebutan kekuasaan antara anak-anak dan cucu-cucu dari Mu’awiyah.
Saat ini banyak diantara Umat Islam yang ingin membangun kembali Khilafah yang telah
runtuh, dan mengikrakan kembali peradaban Islam di dunia, tapi tidak memiliki
kemampuan yang cukup dan tidak memiliki pondasi yang kuat. Tapi setidaknya
Mu’awiyah telah berhasil menerapkan system pemerintahan kerajaan ini dengan mampu
menaklukan seluruh Negara Afrika bagian Utara, dikuasainya Spanyol dan masih banyak
lagi yang telah ditaklukan. Hanya saja kini semua telah kembali ke masa awal sampai
tidak ada sedikitpun bukti keberadaan Islam di Spanyol. Inilah yang menjadi pestasi
buruk.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dinasti Umayyah didirikan oleh Mu’awiyah bin Abu Suyfan pada tahun 41 H/ 661 M.
Samapai 132 H/ 750 M. dinasti ini berkuasa kurang lebih 90 tahun. Mu’awiyah
memindahkan ibukota kerajaan ke Damaskus dimana dia sangat di kenal di daearah itu
karena pernah menjadi Gubernur di Damaskus. Dan saat itulah berakhir periode madinah
yang dibangun oleh Rosulullah dan Khulafaur-rasyidun.
Disaat yang sama Muawiyah juga merubah system pemerintahan, dari demokrasi (
musyawarah) menjadi Monarki ( kerajaan turun temurun). Bermula dari sinilah terbentuk
Kerajaan Islam pertamayang di Rajai oleh Muawiyah. Dibawah ini adalah khalifahkhalifah di masa dinasti Umayyah:
1. Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-681 M)
2. Yazid ibn Muawiyah (681-683 M)
3. Muawiyah ibn Yazid (683-684 M)
4. Marwan ibn Al-Hakam (684-685 M)
5. Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M)
6. Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M)
7. Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M)
8. Umar Ibn Abdul Aziz (717-720 M)
9. Yazid ibn Abdul Malik (720-724 M)
10. Hisyam ibn Abdul Malik (724-743 M)
11. Walid ibn Yazid (743-744 M)
12. Yazid ibn Walid (Yazid III) (744 M)
13. Ibrahim ibn Malik (744 M)
14.Marwan ibn Muhammad (745-750 M)
Dari empat belas kahalfah yang ada di atas, yang prestasinya paling menonjol adalah
Umar bin Abdul Aziz. Prestasinya itu tidak lepas dari kezuhudannya. Sehingga dia tidak
tergila-gila dengan harta. Tapi sanyang Umar bin Abdul Aziz hanya memimpin selama
dua tahun, namun prestasinya bias dirasakan hingga sekarang.
Dinasti Umayyah runtuh setelah diantara anak mahkota berebut kekuasan dan harta.
Hingga tidak mampu mengendalikan keadaan lagi. Dan akhirnya mudah dikalahkan oleh
musuh.
Download