penerapan problem solving dengan game pohon

advertisement
PENERAPAN PROBLEM SOLVING DENGAN GAME
POHON PENGETAHUAN UNTUK MENINGKATKAN
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
MATERI EKOSISTEM DI KELAS VII C
SMP 1 PURWOREJO
skripsi
disajikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Biologi
Oleh
Fajar Adinugraha
4401407029
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi saya yang
berjudul “Penerapan Problem Solving dengan Game Pohon Pengetahuan untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Ekosistem di Kelas
VII C SMP 1 Purworejo” disusun berdasarkan hasil penelitian saya dengan arahan
dosen pembimbing. Sumber informasi atau kutipan yang berasal atau dikutip dari
karya yang diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar
pustaka di bagian akhir skripsi ini. Skripsi ini belum pernah diajukan untuk
memperoleh gelar dalam program sejenis di perguruan tinggi manapun.
Semarang, Maret 2011
Fajar Adinugraha
4401407029
ii
PENGESAHAN
Skripsi dengan judul:
Penerapan Problem Solving dengan Game Pohon Pengetahuan untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Ekosistem di
Kelas VII C SMP 1 Purworejo
telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada tanggal 11Mei
2011.
Panitia Ujian
Ketua
Sekretaris
Dr. Kasmadi Imam Supardi, M.S.
Dra, Aditya Marianti, M.Si
NIP. 19511115 197903 1001
NIP. 19671217 199303 2001
Penguji utama
Drs. Ibnul Mubarok
NIP. 196307111991021001
Anggota Penguji/Pembimbing I
Anggota Penguji/Pembimbing II
Drs. Bambang Priyono, M.Si
NIP. 19570310 198810 1001
Drs. F. Putut Martin, M.Si
NIP. 196103071999031001
iii
ABSTRAK
Adinugraha, F. 2007. Penerapan Problem Solving dengan Game Pohon
Pengetahuan untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Materi
Ekosistem di Kelas VII C SMP 1 Purworejo. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing Utama Drs. Bambang Priyono, M.Si. dan Pembimbing Pendamping
Drs. F. Putut Martin HB, M.Si.
Pembelajaran IPA mencakup semua materi terkait dengan objek alam
yang mengajak siswa berpikir kritis membandingkan dari beberapa masalah yang
sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan
yang dapat memecahkan masalah tersebut. Observasi awal yang dilakukan,
diketahui siswa mengalami kesulitan dalam mencapai target ketuntasan minimal
sebesar ≥72. Selain itu, siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa
di kelas menjadi salah satu faktor pendukung tercapainya hasil belajar yang
maksimal. Guru IPA berkolaborasi dengan penulis untuk memecahkan masalah
tersebut dengan menerapkan model problem solving dengan game pohon
pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar siswa.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri 2 siklus, masing-masing siklus
melalui empat tahapan yaitu: perencanaan, tindakan , observasi dan refleksi.
Subyek penelitian adalah siswa kelas VII C SMP 1 Purworejo. Data yang akan
diambil meliputi: data keaktifan siswa, data hasil belajar, data kinerja guru selama
KBM, data tanggapan siswa dan tanggapan guru. Metode analisis data yang
digunakan adalah deskriptif kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keaktifan dan hasil
belajar siswa dari siklus I sampai siklus II. Persentase keaktifan siswa pada siklus
I dan II berturut-turut:51,61 % dan 77,42% sedangkan persentase ketuntasan
klasikal pada siklus I dan II berturut turut: 83,87% dan 93,55%. Kinerja guru
selama pembelajaran sudah mencapai kriteria baik. Selain itu, siswa memberikan
respon positif terhadap pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan problem
solving dengan game pohon pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa pada materi ekosistem di kelas VII C SMP 1 Purworejo.
Pembelajaran dengan model ini dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan
dan hasil belajar siswa.
Kata kunci : problem solving, game pohon pengetahuan, ekosistem
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
memberikan rahmat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi yang berjudul “Penerapan Problem Solving dengan Game
Pohon Pengetahuan untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada
Materi Ekosistem di Kelas VII C SMP 1 Purworejo”. Skripsi ini disusun untuk
memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi di
FMIPA UNNES.
Skripsi ini berisi mengenai penyelesaian masalah di kelas VII C SMP 1
Purworejo. Kekurangtuntasan hasil belajar dan aktivitas siswa yang cenderung
rendah membuat guru bersama penulis mengatasi permasalahan tersebut. Melalui
penerapan problem solving dan game pohon pengetahuan ternyata mampu
meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa di kelas tersebut.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin tersusun dengan baik
tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang dengan ikhlas telah merelakan
sebagian waktu, tenaga dan materi yang tersita demi membantu penulis dalam
menyusun skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih setulus hati kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan
menyelesaikan studi strata 1 Jurusan Biologi FMIPA UNNES.
2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin
untuk melaksanakan penelitian.
3. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah
membantu dalam hal administrasi.
4. Drs. Bambang Priyono, M.Si, Dosen Pembimbing I yang telah dengan sabar
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyusun skripsi.
5. Drs. F. Putut Martin HB, M.Si, Dosen Pembimbing II yang telah dengan
sabar memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyusun
skripsi.
v
6. Drs. Ibnul Mubarok Dosen Penguji yang telah dengan sabar memberikan
bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyusun skripsi.
7. Kepala Sekolah SMP 1 Purworejo yang telah berkenan membantu dan bekerja
sama dengan penulis dalam melaksanakan penelitian.
8. Mulat Tariningsih,S.Pd, Guru IPA kelas VII C SMP 1 Purworejo yang telah
berkenan membantu dan bekerja sama dengan penulis dalam melaksanakan
penelitian.
9. Guru dan staf karyawan SMP 1 Purworejo yang telah membantu peneliti
selama penelitian.
10. Siswa kelas VII C SMP 1 Purworejo yang telah berkenan menjadi subjek
dalam penelitian ini.
11. Para observer dalam penelitian ini.
12. Kedua orang tuaku tercinta beserta keluarga yang telah memberikan motivasi
selama menempuh studi di UNNES.
13. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis selama penelitian dan
penyusunan skripsi ini baik moril maupun materiil, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
Akhirnya penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Semarang, Maret 2011
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................
i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ..........................................................
ii
PENGESAHAN ..............................................................................................
iii
ABSTRAK .....................................................................................................
iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................
v
DAFTAR ISI ................................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
ix
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................
x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ...................................................................................
1
B. Rumusan masalah .............................................................................
5
C. Penegasan istilah ................................................................................
5
D. Tujuan penelitian................................................................................
6
E. Manfaat Penelitian .............................................................................
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka ................................................................................
8
B. Hipotesis ............................................................................................ 14
BAB III METODE PENELITIAN
A. Setting dan karakteristiki subyek penelitian ........................................ 15
B. Prosedur Penelitian............................................................................. 15
1. Persiapan Penelitian ...................................................................... 15
2. Pelaksanaan Penelitian .................................................................. 20
C. Data dan Cara Pengumpulan Data ...................................................... 24
1. Sumber Data dan Jenis Data ....................................................... 24
2. Cara Pengumpulan Data .............................................................. 24
D. Metode Analisis Data ........................................................................ 24
vii
Halaman
E. Indikator kinerja ................................................................................. 27
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Siklus I ............................................................................... 28
B. Deskripsi Siklus II .............................................................................. 34
C. Tanggapan siswa ................................................................................ 39
D. Tanggapan guru ................................................................................. 40
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ............................................................................................ 42
B. Saran .................................................................................................. 42
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 43
LAMPIRAN – LAMPIRAN ........................................................................... 45
viii
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1.
Tahapan Model Problem solving ............................................................
10
2.
Hasil analisis validitas soal uji coba ......................................................
17
3.
Hasil analisis reliabilitas soal uji coba ....................................................
18
4.
Hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba ........................................
19
5.
Soal yang digunakan dan dibuang ..........................................................
19
6.
Rekapitulasi data keaktifan siswa selama Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM) siklus I ......................................................................................
30
7.
Rekapitulasi hasil belajar siswa siklus I ................................................
30
8.
Rekapitulasi data keaktifan siswa selama Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM) siklus II .....................................................................................
35
Rekapitulasi hasil belajar siswa siklus II ................................................
36
10. Rekapitulasi hasil tanggapan siswa siklus I dan II ..................................
39
11. Tanggapan guru terhadap penerapan problem solving dengan game
pohon pengetahuan pada materi ekosistem ............................................
40
9.
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) .........................................
20
2. Histogram perbandingan hasil keaktifan siswa .......................................
38
3. Histogram perbandingan hasil belajar siswa ...........................................
38
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1.
Silabus ...............................................................................................
48
2.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I dan siklus II .......
51
3.
Rekapitulasi uji validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran siklus
I,II dan III .........................................................................................
82
4.
Perhitungan validitas butir soal ..........................................................
87
5.
Perhitungan reliabilitas instrument .....................................................
88
6.
Perhitungan tingkat kesukaran soal ....................................................
89
7.
Lembar observasi keaktifan siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar .
90
8.
Rekapitulasi nilai hasil belajar siswa dan aktivitas siswa siklus I dan
II........................................................................................................
95
9.
Lembar kinerja guru saat pembelajaran .............................................
98
10.
Lembar tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran .....................
100
11.
Lembar pedoman wawancara guru IPA Biologi VII C .......................
101
12.
Dokumentasi kegiatan penelitian........................................................
102
13.
Surat keputusan penetepan judul dan dosen pembimbing ...................
105
14.
Surat keterangan permohonan ijin observasi di SMP 1 Purworejo ......
106
15.
Surat keterangan permohonan ijin penelitian di SMP 1 Purworejo .....
107
16.
Surat keterangan penelitian di SMP 1 Purworejo ................................
108
xi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam
serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan
perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA
Biologi mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta
lingkungannya.
Penerapan pendidikan IPA Biologi di sekolah menengah bertujuan agar
siswa paham dan menguasai konsep alam. Pembelajaran ini juga bertujuan agar
siswa dapat menggunakan metode ilmiah untuk menyelesaikan persoalan alam
tersebut. Pendidikan IPA Biologi itu sendiri memiliki peran penting dalam
meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam menghasilkan peserta didik
yang berkualitas yang mempunyai pemikiran kritis dan ilmiah. Berpikir kritis
merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan
dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan
sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut.
Berdasarkan
wawancara dengan guru IPA Biologi kelas VII SMP 1
Purworejo, terdapat 5 rombongan belajar (kelas) yaitu kelas VII A, VII B, VII
C, VII D, dan VII E. Di antara kelima kelas tersebut, terdapat satu kelas yang
memiliki hasil belajar dan aktivitas siswa paling rendah pada mata pelajaran
IPA biologi yaitu kelas VII C. Hal ini dibuktikan dengan daftar nilai siswa
kelas VII di semester I. Kelas VII C memiliki rata-rata 71,93.
Permasalahan yang ditemui di kelas VII C antara lain kelas selalu pasif.
Pasif yang dimaksud adalah aktivitas siswa untuk belajar sangat rendah dan
sangat sulit untuk menimbulkan interaksi baik antara siswa dengan siswa dan
antara siswa dengan guru, sehingga kelas terlihat didominasi oleh guru. Siswa
cenderung belum berani bertanya serta memberikan pendapat. Hal ini
mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Sebagian siswa belum
1
2
dapat mencapai Nilai Ketuntasan Minimal yaitu ≥ 72. Jumlah siswa yang tidak
tuntas secara berturut-turut pada ulangan bab I (Gejala Abiotik dan biotik), bab
II (Keanekaragaman makhluk hidup) dan bab III (Organisasi kehidupan)
adalah 19,35%, 32,25% dan 48,38 %. Masih banyaknya siswa yang belum
tuntas menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar belum berhasil secara
klasikal.
Berdasarkan kenyataan yang ada maka guru IPA bersama penulis
mengadakan
Penelitian
Tindakan
Kelas
(PTK)
untuk
memperbaiki
pembelajaran yang di kelas VII C tersebut. Penelitian Tindakan Kelas dipilih
karena penelitian ini dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada di
kelas penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kolaboratif antara guru
dan mahasiswa. Menurut (Subiyantoro 2009), Penelitian Tindakan Kelas tidak
harus sendirian dilakukan oleh guru tetapi juga dapat berkolaborasi. Melalui
cara ini, guru akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK dan bagi
seorang mahasiswa akan memperoleh manfaat masukan yang berharga dari
guru yang benar-benar berkecimpung di dunia pendidikan. Untuk lebih
memperjelas maka disajikan pohon masalah dan pohon alternatif berikut ini.
Hasil Belajar Siswa Rendah
Akibat
Aktivitas Belajar Siswa Rendah
Sebab
Pembelajaran didominasi
oleh guru dan tidak
berpusat pada siswa
Model ceramah
Kegiatan proses
ilmiah jarang
dilakukan
Siswa hanya menerima
informasi pengetahuan
Siswa pasif saat
Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM)
Siswa belum berani untuk
bertanya dan mengajukan
pendapat dan merasa bosan
Gambar 1 Pohon masalah
( Dimodifikasi dalam buku Priyono dan Junaedi, 2001)
3
Hasil Belajar Siswa diharapkan meningkat
Aktivitas Belajar Siswa diharapkan meningkat
Penerapan model pembelajaran Problem
solving dengan game Pohon Pengetahuan
Merancang model
pembelajaran yang
mangajak siswa
berpikir kritis
Merancang model
yang mengutamakan
keterampilan proses/
proses ilmiah
Merancang model
membuat siswa senang
yaitu joyfull learning
Gambar 2 Pohon alternatif
( Dimodifikasi dalam buku Priyono dan Junaedi, 2001)
Pohon masalah di atas menunjukkan bahwa pemilihan model pembelajaran
yang kurang tepat dan keadaan siswa yang pasif saat Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) mengakibatkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah.
Keadaan siswa yang pasif tersebut merupakan suatu masalah yang perlu
dipecahkan sehingga guru perlu merubah model pembelajaran yang sudah
dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan seperti yang tergambar
dalam pohon alternatif.
Model pembelajaran yang diterapkan harus dapat mengubah perilaku
siswa menjadi lebih aktif. Model pembelajaran tersebut harus mengandung
pendekatan keterampilan proses siswa. Hal ini karena ciri khas dari
pembelajaran IPA adalah keterampilan proses. Melalui keterampilan proses,
siswa
akan
melakukan
kegiatan
seperti
mengamati,
memprediksi,
mengintepretasi dan mengambil kesimpulan terhadap masalah yang ada. Oleh
karena itu, model pembelajaran yang tepat dalam mendukung keterampilan
proses adalah model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah
4
(problem solving). Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu
model pembelajaran kontekstual yang membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir dan pemecahan masalah. Adanya permasalahan (problem)
yang diberikan akan mengajak siswa menemukan solusi yang tepat (solving)
dengan berdiskusi dengan kelompoknya.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Setiawan (2008) menunjukkan
bahwa problem solving mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Dalam pembelajaran problem solving, siswa mampu memahami masalah,
mengidentifikasi
masalah,
merencanakan
bagaimana
caranya
terbaik
mengerjakan masalah, menggunakan rencana itu untuk mencoba memecahkan
masalah, dan memeriksa jika masalah sudah dipecahkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Afcariono (2008) menunjukkan bahwa
problem solving mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa seperti
kemampuan bertanya dan menjawab permasalahan yang akan mereka
pecahkan.
Selain
itu,
guru bersama penulis
menggabungkan game pohon
pengetahuan di akhir pembelajaran. Game ini dipilih sebagai media
pembelajaran karena salah satu prinsip dari pembelajaran IPA Biologi adalah
joyfull learning. Game Pohon Pengetahuan akan membantu siswa untuk
mengendapkan materi dengan bantuan gambar pohon. Setiap ranting dari
pohon akan mengandung materi yang harus dikuasai siswa.
Berdasarkan
latar
belakang
di
atas
alternatif
untuk
mengatasi
permasalahan hasil belajar tersebut yaitu menggunakan model pembelajaran
problem solving dengan game pohon pengetahuan. Penggabungan model
pembelajaran dengan media game ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar
lebih aktif dan semangat dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa
dapat meningkat.
5
B. Rumusan masalah
Berdasarkan pohon masalah dan pohon alternatif maka permasalahan yang
akan dikaji dalam penelitian ini adalah apakah penerapan problem solving
dengan game Pohon Pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa pada materi Ekosistem di Kelas VII C SMP 1 Purworejo?
C. Penegasan istilah
Untuk menghindari penafsiran yang berbeda berkaitan dengan istilah yang
digunakan dalam penelitian ini, maka perlu adanya penegasan terhadap istilah
yang ada dalam judul tulisan ini. Istilah yang perlu ditegaskan adalah
1. Problem solving
Problem solving merupakan model pembelajaran penyelesaian masalah
yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Model
ini meliputi tahapan merumuskan masalah,
menganalisis masalah,
mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, pengujian hipotesis dan
merumuskan rekomendasi pemecahan masalah.
Model pembelajaran Problem solving adalah suatu kegiatan yang
didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa melalui
penugasan atau pertanyaan. Masalah yang diberikan harus masalah yang
pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa (Sanjaya 2006).
2. Game Pohon Pengetahuan
Game Pohon Pengetahuan merupakan suatu media pembelajaran
berbentuk permainan yang mengajak siswa untuk mengendapkan materi
dalam sebuah gambar pohon yang terdiri dari cabang dan ranting. Setiap
cabang dan ranting tersebut mengandung materi yang harus dikuasai siswa
dalam pembelajaran. Game ini dilakukan secara berkelompok.
Menurut Jamil (2009), Games kelompok adalah permainan yang
dilakukan dengan melibatkan siswa secara berkelompok yang bisa menguji
baik kemampuan dan kecerdasan secara pribadi maupun sebagai kerja sama
kelompok.
6
3. Peningkatan Aktivitas siswa
Aktivitas siswa merupakan semua kegiatan siswa yang dilakukan pada
saat kegiatan pembelajaran. Aktivita siswa ini meliputi : ketepatan waktu
hadir dalam KBM, perhatian siswa terhadap guru, kemampuan berpendapat,
kemampuan
bertanya,
kemampuan
mengamati/
praktik,
keaktifan
mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS), keseriusan saat KBM, dan
aktivitas kegiatan game. Peningkatan aktivitas siswa merupakan suatu
bentuk kenaikan aktivitas siswa di dalam kegiatan belajar mengajar dari
pembelajaran sebelumnya. Untuk penilaian aktivitas siswa disediakan rubric
penilaian aktivitas siswa (lampiran 7).
Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam
proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab
dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi
belajar aktif (Anni 2007).
4. Peningkatan Hasil belajar
Hasil Belajar merupakan hasil kemampuan yang diperoleh siswa
setelah melakukan kegiatan belajar. Kemampuan yang dimiliki siswa dilihat
dari hasil yang dicapai melalui nilai tes pilihan ganda dan nilai Lembar
Kerja Siswa (LKS). Peningkatan Hasil Belajar merupakan suatu bentuk
peningkatan hasil belajar dari hasil belajar sebelumnya. Siswa mampu
mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≥ 72.
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa
setelah mengalami aktivitas belajar. Perubahan perilaku dapat berupa
penguasaan konsep atau perubahan perilaku yang lain tergantung pada apa
yang dipelajari oleh siswa (Anni 2007).
5. Materi Ekosistem
Materi Ekosistem merupakan materi dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) Biologi kelas VII C dengan Standar Kompetensi: 7.
Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem, Kompetensi Dasar: 7.1
Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem,
7
7.2 Mengidentifikasikan pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam
pelestarian ekosistem.
D. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan problem solving
dengan game Pohon Pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa pada materi Ekosistem di Kelas VII C SMP Negeri 1 Purworejo.
E. Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat
1. Bagi guru
a. Mendapat pengalaman untuk mengembangkan model pembelajaran
yang bervariasi dan efektif sehingga membantu siswa dalam memahami
materi dan dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.
b. Dapat meningkatkan kualitas guru.
c. Dapat mempermudah guru dalam penyampaian materi.
2. Bagi siswa
a. Memberikan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan.
b. Meningkatkan pemahaman terhadap konsep materi.
c. Menumbuhkan kemandirian belajar siswa.
3. Bagi sekolah
a. Meningkatkan kualitas belajar siswa di sekolah tersebut.
b. Memberikan sumbangan untuk pengembangan pembelajaran biologi.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. TINJAUAN PUSTAKA
1.
Belajar dan pembelajaran Biologi
Belajar dan pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang tidak
terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar dapat didefinisikan sebagai
suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar harus menimbulkan kegairahan dan motivasi yang kuat pada siswa
untuk mencapai tujuan pengajaran (Slameto 1997).
Menurut Mudzakir (1997), belajar adalah suatu perbuatan yang
dilakukan secara sungguh-sungguh dengan sistematis, mendayagunakan
semua potensi yang dimiliki baik fisik, mental, serta panca indra otak dan
anggota tubuh yang lain. Demikian pula, aspek-aspek kejiwaan seperti
intelegensi, bakat, motivasi, minat dan sebagainya.
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru yang
membuat tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. (Darsono
2000).
Pembelajaran Biologi yang efektif dalam pencapaian kompetensi
tertentu harus memperhatikan beberapa prinsip pembelajaran, yaitu student
centered learning, learning by doing, joyful learning, meaningful learning
dan the daily life problem solving (Saptono 2003).
Guru dituntut membantu siswa untuk mendapatkan pemahaman yang
baik terhadap konsep-konsep dan prinsip-prinsip biologi dan memudahkan
siswa dalam mempelajari biologi di kelas yang lebih tinggi. Di samping itu,
guru di kelas awal diharapkan dapat menumbuhkan sikap positif terhadap
biologi serta membangkitkan minat mereka terhadap biologi. Hal ini berarti,
proses
pembelajaran
biologi
8
yang
dilakukan
guru
hendaknya
9
memungkinkan terjadinya pengembangan pemahaman konsep, sikap, dan
meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran biologi (Setiawan 2008).
2.
Hasil Belajar Siswa
Keberhasilan belajar siswa di sekolah dalam rangka mencapai tujuan-
tujuan pendidikan tertentu ditentukan oleh beberapa aspek yang secara
langsung mempengaruhi proses belajar siswa. Guru memegang peranan
penting dalam hal menyediakan fasilitas belajar bagi siswa. Fasilitas ini
dapat
berupa variasi pendekatan pembelajaran,
penyediaan media
pembelajaran yang kreatif, serta yang tidak kalah pentingnya adalah
pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan
(Saptono 2003).
Seperangkat faktor yang memberikan kontribusi belajar adalah kondisi
internal dan eksternal siswa. Kondisi internal mencakup kondisi fisik
(seperti kesehatan organ tubuh),
kondisi psikis (seperti kemampuan
intelektual, emosional) dan kondisi sosial (seperti kemampuan bersosialisasi
dengan lingkungan. Sama kompleksnya pada kondisi internal adalah kondisi
eksternal yang ada di lingkungan pembelajar. Beberapa faktor eksternal
seperti tempat belajar, suasana lingkungan dan budaya belajar masyarakat
(Anni 2007).
3.
Aktivitas Belajar Siswa
Di dalam belajar, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna.
Oleh karena itu, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat
tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab,
berkomentar,
mengerjakan,
mengkomunikasikan,
presentasi,
diskusi)
(Suherman, 2009). Di dalam kurikulum 1994 Pendidikan Dasar dan Sekolah
Menengah Umum menekankan penggunaan pendekatan keterampilan
proses. Keterampilan proses terdiri atas sejumlah keterampilan yang satu
sama lain sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Jenis keterampilan proses
menurut (Rustaman 2003) antara lain melakukan pengamatan (observasi),
menfasirkan pengamatan (interpretasi), mengelompokan (klasifikasi),
meramalkan
(prediksi),
berkomunikasi,
berhipotesis,
merencanakan
10
percobaan atau penyelidikan, menerapkan konsep dan mengajukan
pertanyaan.
4.
Model problem solving dengan game Pohon Pengetahuan
Belajar biologi tidak hanya berhadapan dengan teori dan konsep saja,
melainkan harus melakukan sesuatu, mengetahui, dan memecahkan masalah
yang berkaitan dengan pembelajaran biologi. Model pembelajaran problem
solving adalah model pembelajaran yang bukan sekedar model mengajar,
tetapi merupakan suatu model berpikir. Hal ini karena, problem solving
menuntut siswa untuk berpikir kritis (Afcariono 2008).
Menurut Dogru (2008), problem solving merupakan suatu model yang
di dalamnya mengandung beberapa aktivitas antara lain: mengerti
permasalahan, mengumpulkan informasi berkenaan dengan problem solving
dan memberikan solusi terhadap permasalahan.
Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan oleh John Dewey
dalam Sanjaya (2006) adalah SPBM (Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah) yang kemudian dikenal dengan model pembelajaran pemecahan
masalah (Problem solving). Model pembelajaran ini dirancang dengan
menghadirkan permasalahan yang bersifat terbuka sehingga siswa diberi
kesempatan untuk mengeksplorasi, mengumpulkan dan menganalisis data
secara lengkap untuk memcahkan masalah.
Tahapan model Problem solving ada 6 tahap. Keenam tahapan tersebut
dapat dilihat di tabel 1.
Tabel 1. Tahapan Model Problem solving
Langkah- langkah
Keterangan
1. Merumuskan masalah
Siswa menentukan masalah yang akan
dipecahkan
2. Menganalis masalah
Siswa meninjau masalah dari berbagai
sudut pandang
3. Merumuskan hipotesis
Siswa merumuskan berbagai kemungkinan
pemecahan dari masalah tersebut
11
Langkah- langkah
Keterangan
4. Mengumpulkan data
Mencari informasi dari permasalahan
5. Pengujian hipotesis
Merumuskan kesimpulan sesuai dengan
hipotesis
6.Merumuskan rekomendasi Siswa menggambarkan rekomendasi yang
pemecahan masalah
diberikan terhadap masalah tersebut
(Sanjaya, 2006)
Menurut
Tanrere
meningkatkan
(2008),
kualitas
penerapan
pembelajaran.
problem
Dalam
solving
hasil
dapat
penelitiannya
menunjukkan bahwa dengan diterapkannya problem solving maka siswa
menjadi kreatif dan aktif. Hal ini karena problem solving menjadikan
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi bersifat student-centered
learning bukan teachered-centered learning. Dalam pembelajaran problem
solving, guru bertindak sebagai mediator atau fasilitator.
Sanjaya (2006) menyatakan keunggulan dan kelemahan Strategi
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Solving) adalah sebagai berikut:
1. Keunggulan
a. Pemecahan masalah (Problem solving) merupakan teknik yang
cukup bagus untuk memahami isi pembelajaran.
b. Pemecahan
masalah
(Problem
solving)
dapat
menantang
kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan
pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat untuk memahami
masalah dalam kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat membantu siswa
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan.
f. Pemecahan masalah (Problem solving) bisa memperlihatkan kepada
siswa bahwa setiap pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir
12
dan sesuatu yang harus dimengerti siswa bukan hanya belajar dari
guru atau buku.
g. Pemecahan
masalah
(Problem
solving)
dianggap
lebih
menyenangkan dan disukai siswa.
h. Pemecahan
masalah
(Problem
solving)
mengembangkan
kemampuan berpikir kritis siswa.
2. Kelemahan
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan
maka siswa enggan untuk mencoba memecahkan masalah.
b. Diperlukan cukup waktu dalam persiapan dan pelaksanaan agar
pembelajaran dengan Problem solving berhasil.
Game telah dipakai secara luas di berbagai kalangan baik organisasi
formal (instansi pemerintah, perusahaan dan sekolah-sekolah) maupun yang
bersifat informal (dalam perkumpulan pemuda, ibu-ibu, termasuk di
kalangan remaja dan anak-anak). Bagi siswa, hal ini akan bermanfaat untuk
menjadi pribadi yang terbuka, melebur, menyatu, dan belajar secara
bersama-sama dengan orang lain sehingga menjadi cikal bakal penting bagi
hidupnya kelak ketika terjun ke masyarakat. Melalui game, siswa menjadi
gembira, aktif, bersemangat, melebur, terbuka, dekat, dan berani ( Jamil
2009).
Dalam penelitian kali ini, penulis menggunakan game Pohon
Pengetahuan. Melalui game ini, siswa akan belajar bersama-sama terhadap
indikator yang harus dicapai pada setiap Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Game ini merupakan hasil modifikasi penulis dari buku “101 Games Cerdas
dan Kreatif” karangan Sya’ban Jamil.
Berikut merupakan ilustrasi game Pohon Pengetahuan:
1. Guru meminta siswa duduk berkelompok. Kelompok disusun sesuai
kesepakatan sebelum pembelajaran dimulai, setiap kelompok terdiri
dari empat orang siswa yang dilakukan secara acak.
13
2. Guru menyediakan sebuah media pohon pengetahuan yang digantung di
papan tulis sehingga siswa bisa melihat semua. Pada gambar pohon
tersebut terdapat cabang dan ranting yang berisi soal.
3. Guru menjelaskan aturan main Pohon Pengetahuan
Setiap kelompok bersaing untuk mendapatkan reward
Guru memberikan pertanyaan, kemudian salah satu siswa sebagai juru
bicara dalam setiap kelompok mengacungkan jari. Siswa dalam
kelompok yang pertama mengacungkan jari berhak menjawab
pertanyaan.
Jika jawaban benar akan mendapat reward , dan jika salah tidak akan
mendapat reward.
4. Permainan berlangsung selama 15 menit
5. Guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran menggunakan Pohon
Pengetahuan
Menurut Jamil (2009), melalui game Pohon Pengetahuan ini, ada
hal-hal penting yang bisa diungkapkan antara lain sebagai berikut:
1. Siswa akan diuji konsentrasi dan kepekaannya dalam memahami
pertanyaan sekaligus memberi jawaban secara tepat dan benar.
2. Melalui gambar Pohon Pengetahuan bisa menarik perhatian dan belajar
siswa
3. Melalui game ini siswa bisa lebih aktif dalam Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM).
5.
Materi Ekosistem
Materi Ekosistem merupakan materi dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) Biologi kelas VII C dengan Standar Kompetensi: 7.
Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem, Kompetensi Dasar: 7.1
Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem
dan 7.2 Mengidentifikasikan pentingnya keanekaragaman makhluk hidup
dalam pelestarian ekosistem. Materi yang dipelajari meliputi: 1) Satuansatuan ekosistem, 2) Komponen Ekosistem, 3) Pola Interaksi, 4) Saling
ketergantungan di antara komponen biotik, 5) Keanekaragaman hayati, 6)
14
Penyebab kelangkaan Hewan dan Tumbuhan, dan 7) Usaha-usaha
pelestarian keanekaragaman hayati.
B. HIPOTESIS
Berdasarkan pohon masalah, pohon alternatif dan tinjauan pustaka di
atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Penerapan Problem Solving
dengan game Pohon Pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa pada materi Ekosistem di kelas VII C SMP 1 Purworejo.
15
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting dan karakteristik subyek penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP 1Purworejo, Jalan Jenderal Sudirman
8 Purworejo, Telp. (0275) 321405. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran
dilaksanakan yaitu Siklus I ( Senin 21 Februari 2011) dan Siklus II (Senin 28
Februari 2011). Materi yang digunakan adalah ekosistem. Subyek penelitian
yaitu kelas VII C SMP 1 Purworejo pada semester 2 tahun ajaran 2010/2011.
Siswa kelas VII C terdiri dari 14 laki-laki dan 17 perempuan. Kelas ini dipilih
sebagai subyek penelitian karena keaktifan dan hasil belajarnya masih rendah.
Umumnya, selama kegiatan belajar mengajar berlangsung banyak siswa yang
diam, tidak berpendapat dan melakukan aktivitas yang tidak mendukung
pembelajaran.
B. Prosedur penelitian
1. Persiapan penelitian
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap persiapan adalah
a. Melakukan observasi awal untuk mengidentifikasi masalah melalui
wawancara dengan guru bidang studi IPA Biologi ( Ibu Mulat
Tariningsish) dan melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran
yang berlangsung di kelas VII C SMP 1 Purworejo.
b. Berdasarkan pohon masalah, penulis bersama dengan guru bidang studi
IPA Biologi menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah
tersebut yaitu menerapkan model pembelajaran problem solving dengan
game Pohon Pengetahuan.
15
16
c. Menyusun instrumen penelitian berupa silabus, Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa dan alat evaluasi.
d. Menyusun lembar observasi aktivitas siswa, kinerja guru dan angket
tanggapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
e. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian.
f. Melakukan uji coba soal dan menganalisis hasil uji coba soal meliputi
validitas soal, reliabilitas soal dan tingkat kesukaran soal.
Uji coba soal dilaksanakan di luar kelas penelitian (kelas yang sudah
mendapatkan materi Ekosistem). Hasil uji coba digunakan untuk
menentukan validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran yang selanjutnya
digunakan untuk mengetahui soal-soal yang memenuhi kriteria sebagai
instrumen. Soal yang digunakan dalam uji coba adalah 20 butir soal tiap
siklus. Soal yang akan digunakan sebagai instrumen adalah 15 butir soal
tiap siklus. Apabila setelah dilakukan uji coba ternyata soal yang
digunakan < 15 butir soal tiap siklus, maka soal-soal yang tidak memenuhi
kriteria diganti dengan soal-soal yang baru dan selanjutnya diujicobakan
lagi sehingga didapat soal untuk instrumen sebanyak 15 butir soal tiap
siklus. Sebaliknya, apabila soal-soal yang telah diujicobakan ≥ 15 butir
soal tiap siklus maka soal-soal tersebut dapat langsung digunakan dalam
penelitian (lampiran 4).
Rumus yang digunakan sebagai berikut:
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan
atau kesahihan suatu instrumen. Instrumen dikatakan valid apabila mampu
mengukur apa yang harus diukur (Arikunto, 2006).
Validitas butir soal diperoleh menggunakan rumus korelasi product
moment sebagai berikut
Keterangan
rxy
= koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
17
N
= banyaknya responden
∑X
= jumlah skor butir soal
∑Y
= jumlah skor total
∑XY = jumlah perkalian antara X dan Y
∑X2
= jumlah kuadrat skor suatu item
∑Y2
= jumlah kuadrat skor total
Harga rxy yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan nilai r tabel.
Apabila rxy > rtabel dengan taraf signifikan α= 5%, maka butir soal
dikatakan valid. Sedangkan, apabila rxy < rtabel maka dikatakan tidak valid
sehingga perlu dilakukan uji coba soal kembali untuk memperoleh
kevalidan butir soal. Hasil analisis validitas uji coba untuk setiap siklusnya
dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis validitas soal uji coba
Siklus
I
II
III
Nomor butir soal/ kriteria
Valid
1,2,3,4,5,6,8,10,11,12,14,15,17,18,19,20
2,3,4,5,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,19,20
1,3,4,5,8,10,11,12,13,15,16,17,18,19,20
Tidak valid
7,9,13,16
1,6,18
2,6,7,9,14
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran3.
Berdasarkan tabel analisis validitas soal uji coba di atas, maka nomor butir
soal yang termasuk ke dalam kriteria soal valid akan digunakan sebagai
soal tes tertulis yang akan dikerjakan oleh siswa setiap akhir pelaksanaan
siklus, sedangkan nomor butir soal yang termasuk ke dalam kriteria soal
tidak valid akan dibuang (tidak digunakan sebagai soal tes tertulis).
2. Reliabilitas
Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen
cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data
karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2006). Reliabilitas
dihitung dengan teknik korelasi KR-20 yang rumusnya
18
Keterangan:
r 11
= reliabilitas tes secara keseluruhan
k
= banyaknya butir soal
M
= skor rata-rata (Mean)
Vt
= varians total
(Arikunto, 2006)
Harga r yang diperoleh dikonsultasikan dengan rtabel dengan taraf
signifikan 5 %. Jika harga r hitung > rtabel maka instrumen yang dicobakan
bersifat reliabel. Sedangkan, apabila r hitung < rtabel maka dikatakan tidak
reliabel sehingga perlu dilakukan uji coba soal kembali untuk memperoleh
reliabilitas butir soal. Hasil analisis reliabilitas untuk setiap siklusnya dapat
dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil analisis reliabilitas soal uji coba
Siklus
I
II
III
N
30
30
30
r tabel
0,361
0,361
0,361
r 11
0,850
0,748
0,716
Kriteria
Reliabel
Reliabel
Reliabel
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Tabel hasil analisis reliabilitas soal uji coba di atas dapat diketahui bahwa
soal uji coba masing-masing siklus adalah reliabel, yang berarti soal
tersebut dapat digunakan sebagai soal tes tertulis karena memiliki taraf
kepercayaan yang tinggi.
3. Tingkat kesukaran soal
Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan mudah dan sukarnya
soal.
P=
Keterangan :
P= Indeks kesukaran
B= Banyaknya siswa yang menjawab soal benar
Js= Jumlah seluruh siswa peserta tes
19
Klasifikasi indeks kesukaran :
Soal dengan P antara 0,00 - 0,30 = sukar
Soal dengan P antara 0,31 - 0,70 = sedang
Soal dengan P antara 0,71 - 1,00 = mudah
(Arikunto, 2006)
Hasil analisis tingkat kesukaran untuk setiap siklusnya dapat dilihat pada
tabel 4.
Tabel 4. Hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba
Siklus
I
II
III
Nomor butir soal/ kriteria
Mudah
Sedang
1,7,10,11,14,15,16,17,18
2,4,5,6,8,9,12,13,19
1,6,7,8,9,12,1314,15
3,4,5,10,11,16,17
1,4,6,8,9,10,11,12,13,14,15 3,5,7,18,19,20
Sukar
3,20
2,20
2,16,17
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Syarat soal yang baik adalah tidak terlalu mudah dan sukar (sedang). Butir
soal yang termasuk ke dalam kriteria soal sedang akan digunakan sebagai
soal tes tertulis, untuk nomor butir soal yang termasuk ke dalam kriteria
soal mudah dan sukar ada dua kemungkinan, akan digunakan sebagai soal
tes tertulis atau dibuang (tidak digunakan sebagai soal tes tertulis).
Hasil uji coba yang memenuhi kriteria validitas, tingkat kesukaran dan
reliabilitas dapat digunakan dalam setiap siklus penelitian dengan rincian
setiap siklus 15 butir soal. Meskipun terdapat lebih dari 15 soal yang
memenuhi kriteria tiap siklusnya, soal yang digunakan tetap 15 soal
dengan pertimbangan 15 butir soal tersebut sudah memenuhi kriteria
indikator.
Tabel 5. Soal yang digunakan dan dibuang
Siklus
I
II
III
Nomor butir soal/ kriteria
Yang dipakai
1,2,3,4,5,6,8,11,12,14,15,17,18,19,20
2,3,4,5,7,8,9,12,13,14,15,16,17,19,20
1,3,4,5,8,10,11,12,13,15,16,17,18,19,20
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Tidak dipakai
7,9,10,13,16
1,6,10,11,18
2,6,7,9,14
20
2. Pelakasanaan penelitian
Dekripsi per siklus
Penelitan ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua
siklus.
Gambar 1. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas( PTK)
(Riset aksi model John Elliot dalam Subiyantoro 2009)
Dalam pelaksanaan penelitian ini ada observer (4 orang mahasiswa)
yang membantu. Adapun tugasnya adalah melakukan observasi terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran. Observer akan memberikan masukan
tentang perbaikan pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga dapat
dijadikan bahan diskusi untuk mencari solusi pemecahan masalah sebagai
pertimbangan perbaikan di siklus II.
SIKLUS I
1. Tahap Perencanaan
Perbaikan menggunakan penerapan model problem solving dengan
game Pohon Pengetahuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa. Melalui model pembelajaran ini, diharapkan siswa
mampu terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga hasil belajar menjadi
meningkat. Tahap perencanaan meliputi: Menyiapkan silabus dan
Rencana
Pelaksanaan
Pembelajaran
Siklus
I,
media
Pohon
Pengetahuan, Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus I, alat evaluasi Siklus
I, lembar observasi aktivitas siswa Siklus I, lembar observasi kinerja
guru Siklus I, lembar angket tanggapan siswa Siklus I, dan lembar
pedoman wawancara guru Siklus I.
21
2. Tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
a. Kegiatan Awal meliputi
Guru menanyakan Apakah kalian sering mengamati tumbuhan/
hewan
di
sekitar
rumah dan sekolah kalian?
Apa
jenis
tumbuhan/hewan yang kalian lihat?
Guru mengajak siswa untuk membayangkan bebek yang sedang
mandi bergerombol di sungai dan seekor ayam yang juga sedang
mencari makan di sekitar sungai. (mengkaitkan tentang individu dan
populasi)
b. Kegiatan Inti meliputi
Siswa berkelompok. Setiap kelompok 4 siswa (Pembagian kelompok
secara acak)
Siswa menerima Lembar Kerja Siswa (LKS)
Siswa
melakukan
pengamatan
akuarium
buatan
komponen
ekosistem dan melakukan diskusi dengan panduan Lembar Kerja
Siswa “Problem Solving” dengan judul Pengamatan Komponen
Penyusun Ekosistem (terlampir)
Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan
melakukan diskusi kelas dengan bimbingan guru.
Guru bersama siswa bermain Game Pohon Pengetahuan.
c. Kegiatan Akhir meliputi
Guru bersama siswa merangkum materi pembelajaran tentang
komponen penyusun ekosistem dan memberi tugas.
Siswa mengerjakan tes Siklus I secara individu.
3. Tahap Pengamatan
Pengamatan merupakan kegiatan mengamati jalannya pelaksanaan
tindakan. Pengamatan dilakukan oleh observer. Observer melakukan
pengamatan terhadap tindakan pembelajaran seperti aktivitas belajar
siswa di kelas, penyampaian materi oleh guru dan keefektifan
penggunaan model pembelajaran.
22
4. Tahap Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan mengulas secara kritis perubahan yang
terjadi pada siswa, guru dan suasana pembelajaran di kelas. Data
observasi yang diperoleh dianalisis dan direfleksikan bersama untuk
mengetahui perubahan yang terjadi selama tindakan penerapan problem
solving dengan game Pohon Pengetahuan. Hasil dari refleksi adalah
diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan untuk
mengetahui kinerja guru pada pertemuan selanjutnya.
Indikator siklus I yang ditentukan belum tercapai sehingga perlu
dilakukan siklus kedua.
SIKLUS II
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan dibuat berdasarkan refleksi pada siklus I yaitu kekurangan
yang perlu diperbaiki selama siklus I berlangsung. Pada siklus ini,
perbaikan masih dititikberatkan pada penerapan problem solving
dengan game Pohon pengetahuan. Tahap perencanaan meliputi:
Menyiapkan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II,
media Pohon Pengetahuan, Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus II, alat
evaluasi Siklus II, lembar observasi aktivitas siswa Siklus II, lembar
observasi kinerja guru siklus II, lembar angket tanggapan siswa Siklus
II, dan lembar pedoman wawancara guru Siklus II.
2. Tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
a. Kegiatan Awal meliputi
Guru menanyakan Apakah kalian pernah melihat ulat memakan
daun, kemudian ulat tersebut dimakan burung? Nah, mengapa ulat
yang memakan daun bisa hidup? Apa yang dihasilkan daun sehingga
ulat bisa hidup?
Guru menampilkan
menceritakan seekor burung jalak yang
mematuk punggung kerbau. Kemudian guru menanyakan: Apa yang
sedang dilakukan burung jalak? Mengapa dia melakukan hal itu?
23
b. Kegiatan Inti meliputi
Siswa duduk secara berkelompok. Anggota kelompok sama seperti
siklus I
Siswa melakukan pengamatan uji amilum dan melakukan diskusi
dengan panduan Lembar Kerja Siswa (LKS) “Problem Solving”
dengan judul “ Pola interaksi antar komponen penyusun ekosistem”
(telampir)
Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan
diskusi.
Guru dan siswa bermain Game Pohon Pengetahuan
c. Kegiatan Akhir meliputi
Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran
Siswa mengerjakan tes Sikus II secara individu
3. Tahap Pengamatan
Pengamatan merupakan kegiatan mengamati jalannya pelaksanaan
tindakan. Pengamatan dilakukan oleh observer. Observer melakukan
pengamatan terhadap tindakan pembelajaran seperti aktivitas belajar
siswa di kelas, penyampaian materi oleh guru dan keefektifan
penggunaan model pembelajaran.
4. Tahap Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan mengulas secara kritis perubahan yang
terjadi pada siswa, guru dan suasana pembelajaran di kelas. Data
observasi yang diperoleh dianalisis dan direfleksikan bersama untuk
mengetahui perubahan yang terjadi selama tindakan pembelajaran
menggunakan model pembelajaran problem solving dengan game
pohon pengetahuan.
Pada siklus II aktivitas dan hasil belajar siswa terhadap materi
Ekosistem sudah tercapai. Meskipun di setiap kegiatan pembelajaran
pasti ada kekurangannya sebagai seorang guru yang baik, harus bisa
merefleksikan diri untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.
24
C. Data dan cara pengambilan data
1. Sumber data
Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif yang terdiri
dari
a. Data aktivitas siswa
b. Data hasil belajar siswa
c. Data kinerja guru
d. Data tanggapan siswa selama pembelajaran
e. Data tanggapan guru terhadap penerapan metode pembelajaran
2. Cara pengambilan data
a. Data aktivitas siswa diambil menggunakan metode observasi dengan
instrumen check list
b. Data hasil belajar siswa diambil menggunakan metode tes dengan
instrumen soal pilihan ganda dan nilai Lembar Kerja Siswa (LKS)
c. Data kinerja guru diambil menggunakan metode observasi dengan
lembar observasi kinerja guru
d. Data tanggapan siswa selama pembelajaran diambil menggunakan
metode angket dengan lembar angket tanggapan siswa
e. Data tanggapan guru terhadap penerapan model pembelajaran
diambil menggunakan metode wawancara dengan instrumen
Pedoman Wawancara
D. Metode analisis data
1.
Analisis data aktivitas siswa
Data aktivitas siswa dianalisis dengan cara deskriptif persentase
dengan
a.
Menghitung jumlah skor yang diperoleh.
𝑛
Np %= 𝑁 x 100%
Keterangan
Np %
= Persentase nilai siswa yang diperoleh
n
= Jumlah skor yang diperoleh
N
= Jumlah skor maksimal
25
b. Menentukan kriteria keaktifan siswa dengan tabel berikut
No
Tingkat Penguasaan
Kategori
Keterangan
1
86% ≤X≤ 100%
A
Sangat aktif
2
71%≤X≤ 85%
B
Aktif
3
61%≤ X≤70%
C
Cukup aktif
4
51% ≤ X≤60%
D
Kurang aktif
5
X< 50%
E
Tidak aktif
c. Menghitung tingkat keaktifan siswa secara klasikal dengan rumus :
P
 ni X 100%
n
Keterangan:
P
: tingkat keaktifan siswa
∑ ni : Jumlah siswa yang tuntas secara individual (nilai A dan B)
∑n
2.
: Jumlah total siswa
Analisis hasil belajar siswa
Nilai hasil belajar siswa terdiri atas nilai tes tertulis dan nilai tugas
siswa. Rumus yang digunakan untuk menentukan hasil belajar siswa
adalah sebagai berikut
a.
Menghitung nilai evaluasi akhir dengan cara:
Nilai evaluasi 
b.
Jumlah skor yang diperoleh
 100
Menghitung Nilai Akhir (NA) atau hasil belajar dengan cara:
Nilai Hasil Belajar 
c.
Skor maksimal
1  nilai LKS   2  nilai tes akhir 
3
Menghitung persentase ketuntasan siswa secara klasikal
Tuntas Belajar Klasikal 
Jumlah siswa  72
Jumlah seluruh siswa
 100%
26
3.
Analisis kinerja guru
Data kinerja guru dilakukan dengan cara Chek List. Jika “ya” maka
diberi skor 1. Sedangkan jika”tidak” maka diberi skor 0
Data kinerja guru dianalisis dengan cara deskriptif persentase dengan
rumus
Np% =
n
X 100%
N
Keterangan :
Np% = Persentase nilai kinerja guru
n
= Jumlah aktivitas yang dilakukan guru
N
= Jumlah aktivitas yang seharusnya dilakukan guru
Setelah itu dikonversikan ke dalam parameter berikut ini:
Kriteria penilaian:
0 – 20 %
= sangat rendah
21% - 41% = rendah
41% - 60% = sedang
61% - 80% = tinggi
81% - 100% = sangat tinggi
4.
Analisis tanggapan siswa
Analisis data tanggapan siswa terhadap pembelajaran dianalisis secara
deskriptif persentase dengan menggunakan rumus:
P=
f
x 100 %
n
Keterangan:
P
= Persentase
f
= Banyaknya responden yang memilih jawaban ya
n
= banyaknya responden yang menjawab kuesioner
(Sudijono 2005)
5.
Data tanggapan guru
Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui tanggapan guru
terhadap penerapan problem solving dengan game Pohon Pengetahuan
27
terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi
Ekosistem di Kelas VII C SMP Negeri 1 Purworejo.
E. Indikator kinerja
Kompetensi siswa tercapai dengan kriteria
1. Pada aktivitas siswa, kompetensi yang diharapkan adalah 75% siswa
mencapai kriteria aktif dan/atau sangat aktif
2. Lebih dari 85% siswa mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) sebesar ≥72
28
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data dari siklus I sampai siklus II dapat
dikemukakan bahwa telah terjadi perubahan pada siswa ke arah yang lebih baik.
Pada pembelajaran menggunakan problem solving dengan game pohon
pengetahuan pada materi Ekosistem telah terjadi proses belajar mengajar yang
menghasilkan suatu interaksi antar siswa dan guru dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Tujuan perbaikan pembelajaran ini yaitu siswa menjadi paham
pada materi IPA (Ekosistem) dan siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran.
1. Deskripsi siklus I
Kegiatan perbaikan pada siklus I didasarkan pada pembelajaran
sebelumnya (studi awal). Pada studi awal diperoleh data sekitar 48,38 %
siswa tidak tuntas dalam pembelajaran (lampiran 8). Oleh karena itu, siklus I
dirancang pembelajaran yang sekiranya dapat meningkatkan hasil belajar dan
aktivitas siswa. Pelaksanaan pembelajaran diseting dengan proses ilmiah
(merumuskan masalah) agar siswa mampu meningkatkan kemampuan
berpikir kritis (pemecahan masalah). Selain itu, di akhir pembelajaran
dilakukan game pohon pengetahuan untuk mengendapkan materi yang sudah
dipelajari.
Guru IPA bersama penulis merancang kegiatan pembelajaran
menggunakan model pembelajaran problem solving dengan game pohon
pengetahuan.
Pada siklus I ini, pembelajaran diseting dengan pengamatan akuarium
buatan dan diskusi problem solving. Pengamatan ekosistem buatan dalam
akuarium merupakan suatu bentuk keterampilan proses sains yang merupakan
ciri khas pembelajaran IPA Biologi. Melalui pengamatan akuarium siswa
akan memiliki keterampilan proses antara lain melakukan observasi
(pengamatan), menafsirkan pengamatan, mengelompokkan, meramalkan
(prediksi), dan berkomunikasi.
28
29
Pengamatan akuarium ini dilakukan oleh siswa selama 6 hari dengan 3
kali pengamatan. Siswa kelas VII C membuat model ekosistem akuarium
yang diletakkan di belakang kelas dengan tujuan agar mudah dalam
pengamatan. Hari pertama, ekosistem akuarium tersebut diamati oleh siswa
bersama kelompoknya. Siswa mengukur suhu air dan mencatat waktu
pengamatan. Selain itu, siswa juga mengamati keadaan ikan dan hewan air
lainnya. Setelah dua hari, tanaman air dalam akuarium dikeluarkan kemudian
siswa mengamati keadaan ekosistem juga di hari itu dengan mencatat di
lembar diskusi siswa. Dua hari kemudian, siswa melakukan pengamatan
terakhir terhadap ekosistem akuarium. Pengamatan ini dilakukan di saat jam
istirahat sehingga tidak menggangu aktivitas belajar mengajar. Pada tanggal
21 Februari 2011, di saat pembelajaran siklus I siswa dibimbing oleh guru
melakukan diskusi.
Dalam pembelajaran problem solving terdapat tahapan yang harus
dilakukan oleh siswa seperti merumuskan masalah, menganalisis masalah,
mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, pengujian hipotesis dan menarik
kesimpulan. Berdasarkan hasil pengamatan oleh observer dan lembar diskusi
siswa, dari 8 kelompok masih terdapat 5 kelompok siswa (kelompok A, B, D,
E dan F) masih kesulitan dalam merangkai kata-kata untuk menentukan
rumusan masalah. Umumnya, rumusan masalah yang ditulis adalah tujuan
praktikum.
Dalam
menganalisis
masalah,
semua
kelompok
sudah
mengkaitkan permasalahan dengan teori-teori yang mendukung dari bukubuku. Namun di dalam mengajukan hipotesis, hanya terdapat 2 kelompok
(kelompok A dan F) yang tidak menulis hipotesis di lembar kerja siswa. Hal
ini karena, mereka belum paham apa yang dimaksud dengan hipotesis.
Sedangkan 6 kelompok (kelompok B, C, D, E, G dan H) sudah bisa
mengajukan hipotesis meskipun dengan kata-kata yang kurang baku. Pada
tahap pengumpulan data, siswa melakukan pengamatan selama 6 hari dengan
3 kali pengamatan. Data yang diambil dalam pengamatan meliputi suhu air
dan keadaaan hewan air di dalamnya. Pengukuran suhu dilakukan
menggunakan thermometer. Semua kelompok sudah dapat menggunakan
30
thermometer dengan benar. Namun ada 2 anggota dari kelompok A (nomor
dada A1 dan A3) memegang thermometer dengan cara yang salah yaitu
memegang tidak pada tali penggantung thermometer tetapi di badan
thermometer. Hal ini diketahui oleh guru dan guru langsung membenarkan
cara penggunaan thermometer yang benar. Di lembar kerja siswa, siswa
menulis data dalam bentuk histogram. Terdapat 5 kelompok (kelompok A, B,
D, F, danG) yang sudah menggambarkan histogram dengan benar. Kelompok
E dan H sudah menggambar dengan benar, tetapi tidak menuliskan judul
histogram. Sedangkan kelompok C, dalam menggambar histogram tidak
menulis keterangan gambar. Pada tahap pengujian hipotesis dan penarikan
kesimpulan, semua kelompok sudah melakukan dengan benar (data diambil
dari Lembar Kerja Siswa).
Umumnya, pada saat mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) siswa
masih merasa bingung karena ketika guru menjelaskan LKS banyak siswa
yang tidak memperhatikan sehingga guru perlu menjelaskan lagi ketika siswa
melakukan diskusi. Hal ini menyebabkan waktu terbuang untuk menjelaskan
kembali LKS. Berdasarkan pengamatan observer, kemampuan berpendapat
siswa masih rendah yaitu 42 %. Selain itu, kemampuan bertanya siswa juga
masih kurang yaitu hanya 38 % siswa yang mengemukakan pertanyaan
(lampiran 7). Saat presentasi, siswa masih menyelesaikan pekerjaaan LKS
nya sehingga tidak memperhatikan kelompok yang presentasi di depan. Hal
ini,
ketika
dibuka
kesempatan
mengajukan
pendapat
jarang
yang
mengacungkan jari untuk memberikan pendapat.
Pada saat pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar siklus I, aktivitas
siswa sudah meningkat dibanding pembelajaran sebelumnya meskipun belum
sesuai target yaitu 75% siswa mencapai kriteria aktif dan/atau sangat aktif.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran masih kurang memuaskan. Hal ini dapat
dilihat siswa yang memiliki kriteria aktif dan sangat aktif masih 51,61 %.
Data aktivitas siswa disajikan pada tabel 6 berikut ini.
31
Tabel 6. Rekapitulasi data keaktifan siswa selama Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM) siklus I
No
1.
2.
3
4.
5.
Kategori
Kriteria
Skor
86% ≤X≤ 100%
Sangat aktif
71%≤X≤ 85%
Aktif
61%≤ X≤70%
Cukup aktif
51% ≤ X≤60%
Kurang aktif
X< 50%
Tidak aktif
Ketuntasan klasikal keaktifan
∑ siswa
2
14
9
6
51,61 %
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.
Meskipun sudah lebih dari separuh jumlah siswa tetapi belum
mencapai ketuntasan klasikal yang ditetapkan yaitu 75 % siswa berkriteria
aktif dan/atau sangat aktif.
Pembelajaran yang didesai dengan pengamatan ekosistem akuarium dan
diskusi kelompok untuk memecahkan masalah telah mampu menunjukkan
hasil yang baik. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang mengedepankan
keterampilan proses sains dan problem solving membantu siswa untuk aktif
dalam pembelajaran. Menurut Rustaman (2003), keterampilan proses sains
melibatkan keterampilan kognitif karena siswa menggunakan pikirannya
ketika melakukan ketrampilan proses sains. Selain itu, siswa tidak hanya
mendengarkan guru mengajar tapi juga melakukan sesuatu dan bekerjasama
dengan siswa lain. Hal ini sesuai dengan pilar pendidikan menurut UNESCO
dalam Suparlan (2009) yaitu learning to do dan learning how to live together,
yang mengajarkan siswa untuk bersosialisasi melalui kegiatan pengamatan
dan diskusi. Ketuntasan hasil belajar klasikal siswa mencapai 83,87 %. Hal
ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini dapat digunakan untuk
mengatasi permasalahan di kelas VII C, meskipun belum semua siswa tuntas
mencapai kriteria ketuntasan miminal. Data disajikan dalam tabel 7 berikut
ini.
32
Tabel 7. Rekapitulasi hasil belajar siswa siklus I
No
Rentang nilai
1.
0 – 10
2.
11 – 20
3.
21 – 30
4.
31 – 40
5.
41 – 50
6.
51 – 60
7.
61 – 70
8.
71 – 80
9.
81 – 90
10.
91 – 100
Nilai tertinggi
Nilai terendah
∑ siswa
5
8
16
2
92,67
65,33
Jumlah siswa yang tuntas
26
Jumlah siswa yang tidak tuntas
5
Ketuntasan klasikal
Rata-rata
83,87 %
80,62
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.
Penerapan problem solving dengan game pohon pengetahuan sudah
memberikan kemajuan yang bagus terhadap kelas VII C. Hal ini bisa
dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya (lampiran 8). Pada
pembelajaran sebelumnya hanya terdapat 48, 38 % siswa yang tidak tuntas
dalam pembelajaran. Pada pembelajaran sebelumnya siswa hanya menerima
materi dan tidak melakukan kegiatan yang mendukung proses ilmiah. Namun
setelah problem solving dengan game pohon pengetahuan diterapkan nilai
hasil belajar siswa sudah meningkat yaitu 16, 13 % siswa tidak tuntas.
Menurut Rustaman (2003), diskusi kelompok problem solving
menuntut keterlibatan anggota kelompok yang ditunjang oleh aktivitas
anggotanya, sehingga anggota kelompok harus saling membantu dalam
proses pengkonstruksian pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Setiawan (2008), proses pengkonstruksian pengetahuan dilakukan bersamasama akan
menggantikan proses pembelajaran klasikal yang proses
33
pengkonstruksian
pengetahuannya
dilakukan
sendiri.
Siswa
dapat
mengungkapkan gagasan dan mendengarkan pendapat. Melalui kegiatan ini,
siswa akan bersama-sama membangun pengertian pengetahuan dari masalah
yang dipecahkan. Pemecahan masalah (problem solving) berangkat dari
masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan
(Rustaman, 2003). Menurut Sanjaya (2006), dengan memecahkan masalah
dan berdiskusi bersama akan mudah memahami isi pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran, guru bersama siswa bermain game pohon
pengetahuan. Permainan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengendapkan
materi yang sedang dipelajari. Siswa bersama kelompoknya berebut
menjawab soal yang terdapat di gambar pohon tersebut dengan dipandu oleh
guru. Siswa sangat antusias meskipun tidak semua siswa aktif menjawab soal.
Hal inidapat dilihat di lampiran 7, sekitar 56 % siswa aktif mengacungkan jari
dan menjawab soal dari pohon pengetahuan. Melalui game ini, diharapkan
siswa dapat belajar sambil bermain (Suparlan 2009) sehingga siswa menjadi
senang dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini merupakan salah satu ciri dari
pembelajaran biologi yaitu joyfull learning (Saptono 2003). Siswa yang
senang dan tertarik dengan pembelajaran akan membuat siswa aktif dan akan
memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan (Jamil 2009).
Siswa yang memiliki keaktifan tinggi memiliki hasil belajar yang lebih
baik sehingga mampu mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan standar
yang telah ditentukan. Siswa yang bersungguh-sungguh melaksanakan
pengamatan, diskusi, dan aktif dalam mengemukakan pendapat akan
mendapat pemahaman materi yang lebih baik sehingga dalam menjawab soalsoal evaluasi siswa tidak akan mengalami kesulitan. Hal ini dapat dilihat pada
lampiran 8, sekitar 48 % siswa aktif dan tuntas dalam belajar.
Berdasarkan rekapitulasi aktivitas dan hasil belajar siswa, terdapat 10
siswa yang memiliki aktivitas rendah (berkualifikasi cukup aktif dan kurang
aktif) tetapi tuntas dalam belajar (lampiran 8). Setiap siswa memiliki
karakterisitik yang berbeda-beda dalam melakukan suatu proses belajar.
Siswa yang beraktivitas rendah umumnya memiliki hasil belajar yang rendah
34
tetapi untuk sebagian siswa hal ini tidak berlaku. Kemungkinan siswa
tersebut enggan beraktivitas di dalam kelas karena merasa tidak tertarik
melakukan aktivitas itu. Hal ini dapat dilihat dari angket tanggapan siswa
yaitu terdapat siswa yang tidak tertarik dengan pembelajaran yang
berlangsung.
Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa tidak lepas dari peran
guru. Kinerja guru yang baik dapat memberikan kontribusi yang baik
terhadap proses pembelajaran khususnya peningkatan hasil belajar siswa.
Berdasarkan pengamatan siklus I, kinerja guru saat pelaksanaan
perbaikan siklus I sudah berkriteria baik. Hanya saja, guru kurang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat.
Kinerja guru dapat mempengaruhi hasil belajar siswa karena peran guru di
dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing
kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil refleksi terhadap proses perbaikan siklus I, kiranya
perlu diadakan perbaikan pada siklus II untuk memperbaiki kekurangankekurangan yang ada. Walaupun 83,87% siswa sudah tuntas dalam hasil
belajar, masih terdapat beberapa siswa yang belum tuntas belajar. Selain itu,
48,39 % siswa belum aktif dalam pembelajaran. Diharapkan pada siklus II,
kekurangan-kekurangan itu dapat diperbaiki.
Di dalam pelaksanaan siklus I masih terdapat hal yang perlu diperbaiki
antara lain siswa masih enggan menyatakan pendapat karena masih terbiasa
dengan model pembelajaran sebelumnya. Namun, setiap siswa sudah
termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini dibuktikan dari aktivitas
siswa, seluruh siswa dalam kelas tersebut sangat antusias ketika mengamati
ikan dalam akuarium dan mengikuti game di akhir pembelajaran.
Guru masih mendominasi pembelajaran meskipun sudah ada kemajuan
untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengemukakan pendapat
(lampiran 9). Selain itu, siswa juga sudah diajak untuk mengamati komponen
ekosistem dalam akuarium. Hal ini membuat siswa menjadi lebih aktif dalam
pembelajaran.
35
2. Deskripsi siklus II
Perencanaan siklus II didasarkan atas refleksi di siklus I. Siklus II
masih menitikberatkan pada penerapan problem solving dengan game pohon
pengetahuan. Pada siklus I, siswa masih enggan mengajukan pendapat maka
di siklus II ini guru lebih mendorong siswa dengan memberikan pertanyaan
pancingan kepada siswa. Di siklus I, siswa masih bingung mengerjakan LKS
maka di siklus II ini guru mengajak siswa untuk memperhatikan penjelasan
terhadap kegiatan yang akan dilakukan sehingga siswa tidak perlu
menanyakan lagi saat pelaksanaan diskusi.
Pembelajaran Siklus II didesain dengan pengamatan lichens dan diskusi
problem solving. Siklus II dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2011. Siswa
diajak untuk mengamati lichens/ lumut kerak. Sebelumnya, guru memberi
tahu habitat lichens. Hal ini karena, semua siswa di kelas VII C tidak tahu
lichens/lumut kerak . Siswa bersama kelompoknya mencari lichens dan
mengamatinya serta mencatatnya di lembar diskusi siswa. Semua kelompok
(kelompok A, B, C, D, E, F, G dan H) sudah melakukan sesuai petunjuk yaitu
membawa lichens ke sekolah dan mendiskusikan di kelas. Di dalam Lembar
diskusi siswa terdapat beberapa pertanyaan yang ditujukan untuk mengetahui
tentang simbiosis yang terjadi pada lichens. Semua kelompok sudah mampu
menjawab pertanyaan dengan benar. Siswa mampu menjelaskan lichens
banyak ditemukan di sisi batang yang menghadap sinar matahari. Siswa
mampu menyimpulkan bahwa terjadi interaksi lichens yang membutuhkan
sinar matahari. Hal ini membuat siswa paham, mengapa jamur tersebut harus
bersimbiosis dengan alga.
Selain itu, siswa juga diberi permasalahan tentang hujan abu yang
membuat tanaman di kota Purworejo layu bahkan mati. Siswa diajak untuk
mengetahui penyebab layunya tumbuhan tersebut. Siswa dihadapkan pada
dua gambar tanaman dan diajak untuk menjelaskan perbedaan dua gambar
tanaman pada saat sebelum terkena hujan abu dan sesudah terkena hujan abu.
Permasalahan ini ditampilkan kepada siswa untuk membuktikan bahwa sinar
matahari berperan dalam interaksi makhluk hidup. Semua kelompok sudah
36
bisa menjawab pertanyaan dalam LKS dengan benar. Hal ini karena siswa
mengamati langsung kejadian yang terjadi saat gunung merapi meletus.
Namun, sebagian kelompok (kelompok A, B, G, E dan H) tidak mengerti
mengapa abu vulkanik dapat membuat tanaman layu. Di akhir pembelajaran,
guru bersama siswa bermain game pohon pengetahuan.
Pada siklus II ini, semua siswa sudah lebih aktif daripada siklus I, 72 %
siswa sudah berani untuk mengemukakan pendapat dan mengajukan
pertanyaan karena guru lebih memberikan motivasi kepada siswa untuk
berpendapat (lampiran 7). Guru sudah memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang memacu siswa untuk mengajukan pendapat. Namun, masih terdapat
siswa yang tidak mau mengajukan pendapat yaitu 17 % siswa (lampiran 7).
Hal ini karena siswa tersebut tidak tertarik dengan pembelajaran (data angket
tanggapan siswa tabel 10). Pengerjaan LKS juga sudah lancar dibanding
siklus I. Semua kelompok sudah baik di dalam merumuskan masalah dan
mengajukan hipotesis.
Aktivitas siswa pada siklus II sudah mencapai ketuntasan klasikal
indikator kinerja yang ditetapkan yaitu sebesar 77,42 % (tabel 8). Hal ini
ditunjukkan dengan keterlibatan siswa dalam diskusi, kerjasama antara teman
kelompok sudah terjalin untuk menyelesaikan permasalahan dan siswa sudah
aktif dalam bertanya dan aktif dalam mencari informasi. Selain itu, siswa
lebih antusias ketika bermain game pohon pengetahuan. Siswa berebut
mengacungkan jari ketika akan menjawab soal yang diberikan guru. Hal ini
dapat dilihat di lampiran 7. Berikut ini data aktivitas siswa siklus II.
Tabel 8. Rekapitulasi data keaktifan siswa selama Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM) siklus II
No Kategori Skor
Kriteria
∑ siswa
1. 86% ≤X≤ 100%
Sangat aktif
4
2. 71%≤X≤ 85%
Aktif
20
3 61%≤ X≤70%
Cukup aktif
7
4. 51% ≤ X≤60%
Kurang aktif
5. X< 50%
Tidak aktif
Ketuntasan klasikal keaktifan
77,42 %
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.
37
Terdapat 23,58 % siswa memiliki aktivitas belajar yang rendah (tabel
8), meskipun sudah meningkat dari siklus I. Aktivitas yang dimaksud adalah
aktivitas fisik siswa selama pembelajaran. Beberapa siswa memang sulit
diajak untuk aktif di dalam kelas. Hal ini karena siswa kurang merasa tertarik
dalam pembelajaran (tabel 10). Kekurangtertarikan terhadap sesuatu akan
membuat siswa enggan melakukan sesuatu (Suparlan 2009).
Pada umumnya, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan
menumbuhkan semangat belajar dan pada akhirnya akan berpengaruh
terhadap peningkatan hasil belajar. Keaktifan dan keterlibatan siswa dalam
proses pembelajaran merupakan faktor pendukung keberhasilan belajar siswa.
Kemampuan siswa dalam diskusi lebih baik daripada siklus I. Hal ini
karena, di siklus II
kerjasama antar anggota kelompok sudah terlihat.
Menurut Setiawan (2008) diskusi yang berdasarkan pada masalah akan
melatih siswa untuk belajar sekaligus mengajari teman lain melalui
komunikasi yang efektif tentang apa yang diketahui maupun apa yang tidak
diketahuinya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan berpikir siswa melalui
kemampuan bertanya dan menjawab siswa terhadap permasalahan yang ada
diberikan. Permasalahan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuan
siswa (Sanjaya 2006) dan kontekstual yaitu menghubungkan materi dengan
kehidupan nyata siswa (Saptono 2003) sehingga siswa mampu mempelajari
IPA biologi dengan mudah (Setiawan 2008).
Ketuntasan klasikal hasil belajar siswa pada siklus II meningkat
menjadi 93,55 % (tabel 9). Peningkatan hasil belajar karena siswa semakin
aktif dalam pembelajaran. Siswa lebih konsentrasi dalam pembelajaran yaitu
memperhatikan guru saat menjelaskan dan melakukan diskusi dengan baik.
Pada pembelajaran sebelumnya terdapat beberapa siswa yang kurang
konsentrasi dalam pembelajaran seperti mengobrol sendiri. Hal ini
menyebabkan materi pelajaran atau diskusi kelas yang sedang berlangsung
tidak dapat dipahami siswa. Data disajikan pada tabel berikut.
38
Tabel 9. Rekapitulasi hasil belajar siswa siklus I dan II
No
Rentang nilai
1.
0 – 10
2.
11 – 20
3.
21 – 30
4.
31 – 40
5.
41 – 50
6.
51 – 60
7.
61 – 70
8.
71 – 80
9.
81 – 90
10.
91 – 100
Nilai tertinggi
Nilai terendah
(∑ siswa)
6
20
5
97,33
70,67
Jumlah siswa yang tuntas
29
Jumlah siswa yang tidak tuntas
2
Ketuntasan klasikal
Rata-rata
93,55 %
86,00
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.
Pada siklus II ini masih terdapat siswa yang tidak tuntas dalam belajar.
Dilihat dari nilai siklus I, siswa yang tidak tuntas di siklus II juga tidak tuntas
di siklus I (lampiran 8). Hal ini memang menjadi kendala tersendiri bagi
seorang guru karena setiap siswa memiliki daya tangkap pemahaman
terhadap materi berbeda-beda. Namun, nilai siswa tersebut sudah mengalami
peningkatan sehingga diharapkan akan tuntas di pembelajaran selanjutnya.
Kinerja guru pada siklus II sudah mencapai kriteria sangat baik. Hal ini
tidak terlepas dari tindakan-tindakan yang diambil pada perbaikan siklus
sebelumnya seperti: guru berusaha menumbuhkan rasa percaya diri siswa
dalam belajar, guru berusaha mempertahankan perhatian siswa untuk tetap
konsentrasi dalam pembelajaran dan lebih banyak memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengemukakan pendapat. Menurut Suparlan (2009),
kreativitas guru juga mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan
yang menarik bagi siswa.
39
Peningkatan hasil belajar ini sebagai bukti bahwa problem solving
dengan game pohon pengetahuan cocok diterapkan di kelas VII C.
Pembelajaran problem solving
yang dirancang dengan pengamatan dan
diskusi kelompok mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal
ini karena di dalam problem solving terhadap tahapan tahapan yang
mendukung proses ilmiah seperti merumuskan masalah, menganalisis
masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan
menyimpulkan data. Hal ini akan mengajak siswa aktif dan lebih mudah
memahami materi.
Guru harus tetap terus berusaha untuk mengatasi beberapa siswa yang
tidak mencapai ketuntasan dalam hasil belajar. Ketuntasan secara klasikal
memang memberi kepuasan tersendiri bagi seorang guru. Akan tetapi,
pendidikan secara klasikal tidak dapat mengesampingkan siswa yang tidak
bisa tuntas dalam hasil belajar. Siswa yang tidak tuntas tersebut perlu dikaji
lebih lanjut oleh guru agar bisa menyesuaikan dengan materi selanjutnya. Hal
ini dapat dilakukan dengan menggunakan model ini, karena siswa yang
pandai bisa ikut membantu siswa yang lemah dalam pemahaman materi.
Pada siklus II ini juga terdapat siswa yang keaktifan belajarnya rendah
(berkualifikasi cukup aktif dan kurang aktif) tetapi tuntas dalam belajar. Akan
tetapi, jumlahnya menurun dari siklus sebelumnya yaitu 5 anak (lampiran 8).
Di dalam pembelajaran IPA, selain hasil belajar juga diperlukan suatu
keterampilan proses (Rustaman 2003), karena pada hakikatnya pembelajaran
IPA mengedepankan proses ilmiah siswa (Saptono 2003) sehingga sebagai
seorang guru perlu menanamkan proses ilmiah itu kepada siswa.
Oleh karena itu, meskipun sudah terjadi peningkatan dalam aktivitas
dan hasil belajar, guru tidak bisa merasa puas begitu saja. Guru perlu
mengupayakan pembelajaran yang menyenangkan dan berasas proses ilmiah.
Untuk lebih memperjelas hasil peningkatan yang terjadi selama siklus I
dan II maka disajikan histogram sebagai berikut.
40
Histogram Perbandingan Keaktifan Siswa
77.42
80
Persentase (%)
70
60
51.61
48.38
Berkriteria sangat aktif
dan/atau aktif
50
40
Berkriteria cukup aktif
dan kurang aktif
22.58
30
20
10
0
I
Siklus
II
Gambar 2. Histogram pencapaian keaktifan siswa setiap siklus
Histrogram perbandingan hasil belajar siswa
93.55
83.87
Persentase (%)
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Tuntas
Tidak tuntas
16.13
6.45
I
II
Siklus
Gambar 3. Histogram pencapaian hasil belajar setiap siklus
41
3. Angket tanggapan siswa
Berdasarkan hasil analisis tanggapan siswa terhadap pelaksanaan
pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem solving dengan
game pohon pengetahuan pada materi Ekosistem, menunjukkan bahwa
sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran
yang sudah berlangsung (tabel 9).
Ketertarikan dan tanggapan positif yang ditunjukkan siswa ini
dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan yang berlangsung dalam pembelajaran.
Kegiatan pengamatan dan diskusi problem solving dapat membuat siswa
semangat, karena siswa dapat mengeluarkan pendapat dengan teman
kelompok. Pengamatan terhadap komponen ekosistem juga membantu siswa
untuk memahami materi ekosistem. Kegiatan diskusi mampu meningkatkan
kerjasama antar siswa. Permasalahan yang diangkat dalam pembelajaran
merupakan permasalahan yang ada di kehidupan nyata sehingga siswa dapat
mengkaitkan kehidupan nyata di sekitarnya dengan materi pelajaran.
Di akhir pembelajaran terdapat game pohon pengetahuan yang
membuat siswa menjadi lebih senang. Reward yang diberikan oleh guru
ketika siswa menjawab benar membuat siswa menjadi tertantang untuk
menjawab pertanyaan berikutnya. Ketertarikan siswa terhadap proses
pembelajaran akan membuat siswa menjadi antusias dalam pembelajaran dan
memudahkan siswa dalam memahamai materi.
Beberapa responden memberikan respon negatif terhadap pembelajaran.
Hal ini dapat dilihat dari tabel 9, beberapa responden tidak tertarik, tidak
termotivasi, tidak bisa bekerjasama dengan siswa lain dan tidak bisa
mengkaitkan materi dengan kehidupan sekitar. Tidak semua siswa senang
dengan metode/model pembelajaran yang baru diterapkan. Setiap siswa perlu
beradaptasi dengan metode/model pembalajaran yang diterapkan. Seorang
guru perlu memberikan motivasi yang lebih kepada siswa agar siswa menjadi
antusias dalam pembelajaran. Hal ini menjadi refleksi bagi guru untuk lebih
meningkatkan profesionalisme guru dalam menghadapi permasalahan.
42
Rekapitulasi hasil tanggapan siswa disajikan pada tabel 10.
Tabel 10. Rekapitulasi hasil tanggapan siswa siklus I dan II
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Tanggapan siswa
Ya (%)
Tidak (%)
Pernyataan
Menarik dan menyenangkan.
Memotivasi siswa untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran.
Membantu siswa untuk memahami materi
Ekosistem.
Membuat siswa lebih tertarik untuk melakukan
diskusi.
Memotivasi siswa untuk berpikir lebih kritis dan
logis
Membuat siswa lebih aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
Membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.
Meningkatkan kerjasama antar siswa.
Melatih siswa untuk saling menghargai
Membuat siswa mengakaitkan biologi dengan
kehidupan sehari-hari
100 %
100 %
0%
0%
100 %
0%
96,77 %
3, 22 %
96,77 %
3, 22 %
100 %
0%
93, 54 %
93, 54 %
90, 33 %
87, 10 %
6, 45 %
6, 45 %
6, 45 %
12, 90 %
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.
4. Tanggapan guru terhadap kegiatan belajar mengajar
Berdasarkan wawancara dengan guru tentang proses pembelajaran yang
telah berlangsung, guru sangat setuju dengan model pembelajaran problem
solving dengan game pohon pengetahuan (tabel 11). Guru merasa sangat
terbantu untuk mewujudkan kelas yang aktif dan membangkitkan berpikir
kritis siswa sesuai dengan hakekat pendidikan IPA. Guru melihat perubahan
aktivitas siswa yang semakin meningkat.
Guru
juga
menemukan kendala
dengan
menggunakan
model
pembelajaran ini. Pengaturan waktu yang sangat terbatas, mengingat
pembelajaran IPA Biologi berlangsung setelah upacara bendera sehingga
banyak waktu yang terbuang apabila upacara tidak dilaksanakan tepat waktu.
Guru berharap model ini bisa diterapkan untuk pembelajaran selanjutnya di
kelas VII C.
43
Tabel 11. Tanggapan guru terhadap penerapan problem solving dengan game
pohon pengetahuan pada materi ekosistem
Pertanyaan
Jawaban
Kesan Ibu terhadap pembelajaran Sangat bagus, siswa lebih termotivasi
materi Ekosistem menggunakan dalam mengikuti pembelajaran.
model
pembelajaran
Problem
Solving dengan game Pohon
Pengetahuan
Kesulitan yang ditemukan dalam
pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Problem Solving
dengan game Pohon Pengetahuan
Kesulitan yang dialami adalah
pengaturan waktu dan kemampuan
menjawab siswa saat bermain pohon
pengetahuan terbatas.
Peningkatan aktivitas pembelajaran Ada. Hal ini karena model ini
setelah
diterapkan
model membuat siswa tertarik dalam
pembelajaran Problem Solving pembelajaran, siswa dapat melakuakn
dengan game Pohon Pengetahuan
dua hal yaitu bermain sambil belajar.
* Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7.
44
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
penerapan problem solving dengan game pohon pengetahuan dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi ekosistem di kelas
VII C SMP 1 Purworejo.
B. Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka saran yang dapat disampaikan adalah
1. Model pembelajaran problem solving dengan game pohon pengetahuan
hendaknya diterapkan berkelanjutan pada materi lainnya. Hal ini bertujuan
untuk meningkatkan aktivitas dan pemahaman materi biologi.
2. Guru sebaiknya selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengemukakan pendapat. Guru juga perlu mengkaitkan permasalahan
yang ada di sekitar kita dalam penyampaian materi.
42
45
DAFTAR PUSTAKA
Afcariono M. 2008. Penerapan berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan
berpikir siswa pada mata pelajaran biologi. Jurnal Pendidikan Inovatif 3
(2): 65-68.
Anni CT, A Rifa’i, E Purwanto & D Purnomo. 2006. Psikologi Belajar. Edisi
Revisi. Semarang: Penerbit Universitas Negeri Semarang Press.
Arikunto S. 2006. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi Keenam. Jakarta: Penerbit PT
Rineka Cipta.
Darsono M, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Dogru M. 2008. The application of problem solving method on science teacher
trainees on solution of enviromental problems. Journal of enviromental &
science education 3 (1): 9-18.
Jamil S. 2009. 101 Games Cerdas dan Kreatif. Jakarta: Penerbit Penebar Plus+.
Mudzakir A. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: Penerbit PT Rineka Cipta.
Priyono A dan Djunaedi H. 2001. Petunjuk Praktis : Classroom-Based Action
Research. Semarang : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP
Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Tengah.
Rahayu ES & S Ngabekti. 2009. Pedoman Penyusunan Skripsi Jurusan Biologi.
Edisi dua. Semarang: Penerbit Biologi UNNES.
Rustaman NY,dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia
Saptono S. 2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Semarang: Buku Paparan
Kuliah SBM UNNES
Sanjaya W. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Penerbit Kanisius.
Setiawan IGAN. 2008. Penerapan pengajaran kontekstual berbasis masalah untuk
meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas x sma laboratorium 2
singaraja. Jurnal penelitian dan pengembangan pendidikan UNDHIKSA 2
(1) : 45-49.
46
Suherman E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi
Siswa. Jurnal Pendidikan. On line at http://educare.e-fkipunla.net/ [diakses
tanggal 2 Januari 2011].
Suparlan, dkk. 2009. PAKEM Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan. Bandung: Penerbit PT Genesindo.
Slameto. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Syah M. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Penerbit Remaja Rosdaka.
Tanrere M. 2008. Enviromental problem solving in learning chemistry for high school
students. Jurnal of department of environmental engineering Sepuluh November
Institute of Technology. 3 (1): 47-50.
47
48
49
SILABUS
Sekolah
: SMP 1 Purworejo
Kelas
: VII (Tujuh)
Semester
: 2 (Dua)
Mata Pelajaran
: IPA Terpadu (Biologi)
Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekositem
Penilaian
Kompetensi MateriPokok/
Kegiatan pembelajaran
Dasar
Pembelajaran
7.1
Ekosistem
Menentukan
ekosistem dan
saling
hubungan
antara
komponen
ekosistem
Indikator
Bentuk
Teknik
Instrumen Contoh Instrumen
 Melakukan diskusi  Mengingat satuan- Tes tulis Pilihan
kelompok tentang “ satuan
dalam
ganda
Satuan
dan ekosistem
Komponen penyusun  Memahami
Ekosistem “
komponen
 Bermain game Pohon penyusun
pengetahuan
ekosistem
 Mengerjakan
Tes
Siklus I.
Alokasi
Sumber Belajar
Waktu
Terdapat hamparan2 × 40’
gurun
dengan
sekumpulan kaktus.
Di dekatnya terdapat
seekor kalajengking
yang bernaung dari
terik matahari. Dari
jauh tampak barisan
unta berjalan menuju
sumber air. Dari
sepenggal cerita di
atas, manakah yang
disebut individu?
a. kalajengking
b. unta
c. kaktus
d. gurun
Jati,
Wijaya.
2003.
Sains
Biologi
Mengungkap
Rahasia
Alam
Kehidupan untuk
kelas 1 SMP
semester
2.
Penerbit
Yudhistira.
Halaman 27-67.
Buku-buku
pelajaran
IPA
yang relevan.
50
Penilaian
Kompetensi MateriPokok/
Kegiatan pembelajaran
Dasar
Pembelajaran
Indikator
Bentuk
Teknik
Instrumen Contoh Instrumen
 Membuat beberapa  Mendiskusikan Tes tulis Pilihan
model diagram rantai
matahari
ganda
makanan dan jaringmerupakan
jaring makanan.
sumber
energi
 Bermain game Pohon
utama dan aliran
pengetahuan
energi
dalam
 Mengerjakan
Tes
ekosistem
Siklus II
 Memahami
interaksi
antar
komponen
ekosistem
 Memahami
saling
ketergantungan
di
antara
komponen
penyusun
ekosistem
7.2
Mengidentifik
asikan
pentingnya
keanekaragam
Keanekaraga  Mencari
informasi  Mengingat
Tes tulis Pilihan
man makhluk
melalui studi pustaka
contoh tumbuhan
ganda
hidup dalam
untuk merumuskan
dan hewan yang
pelestarian
pentingnya
tergolong
ekosistem
membudidayakan
makhluk hidup
Alokasi
Sumber Belajar
Waktu
Daftar
organisme 2x 40’
penghuni ekosistem
kolam
berupa:
zooplankton,
fitoplankton,
ikan
gabus dan ikan kecil.
Susunlah organisme
tersebut
menjadi
suatu
rantai
makanan!
a. fitoplankton→zoo
plankton→ikan
gabus→ikan kecil
b.fitoplankton→zoo
plankton→ikan
kecil→ikan gabus
c. zooplankton→fito
plankton→ikan
kecil→ikan gabus
d.zooplankton→fito
plankton→ikan
gabus→ikan kecil
Salah satu alasan 2 × 40’
pentingnya
membudidayakan
tumbuhan dan hewan
langka agar ....
Jati,
Wijaya.
2003.
Sains
Biologi
Mengungkap
Rahasia
Alam
51
Penilaian
Kompetensi MateriPokok/
Kegiatan pembelajaran
Dasar
Pembelajaran
an makhluk
hidup dalam
pelestarian
ekosistem
Indikator
Bentuk
Teknik
Instrumen Contoh Instrumen
tumbuhan dan hewan
langka di suatu
langka.
lokasi.
 Bermain game Pohon  Menerapkan
pengetahuan
pentingnya
 Mengerjakan
Tes
membudidayaka
Siklus III
n tumbuhan dan
hewan langka.
 Menganalisis
pentingnya
kelestarian
ekosistem
a.
terjaminnya
ketersediaan
plasma nutfah
b. jumlah tumbuhan
dan hewan tidak
berkurang
c.
memperindah
alam
d.
memutus
kelangsungan daur
hara yang di alam
Alokasi
Sumber Belajar
Waktu
Kehidupan untuk
kelas 1 SMP
semester
2.
Penerbit
Yudhistira.
Halaman 27-67.
Buku-buku
pelajaran
IPA
yang relevan.
Purworejo,Desember 2010
Guru IPA Biologi VII C
Mahasiswa
Mulat Tariningsih, S.Pd
Fajar Adinugraha
NIP. 196808071998022002
Mengetahui
Kepala Sekolah SMP 1 Purworejo
Sutopo Slamet, S.Pd. MM
NIP. 196107261983031012
NIM. 4401407029
52
53
Lampiran 2. RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) SIKLUS I
Mata Pelajaran
: IPA Biologi
Satuan Pendidikan
: SMP 1 Purworejo
Kelas/ Semester
: VII (Tujuh)/ 2
Alokasi Waktu
: 2 jam pelajaran (80 menit)
Standar Kompetensi
: 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem
Kompetensi Dasar
: 7.1
Menentukan ekosistem dan saling hubungan
antara komponen ekosistem
Indikator
: 1. Mengingat satuan-satuan dalam ekosistem
2. Memahami komponen penyusun ekosistem
A.
Tujuan Pembelajaran
1. Melalui diskusi ”Problem solving”, siswa dapat mengingat satuan-satuan
ekosistem.
2. Melaului diskusi ”Problem solving”, siswa dapat memahami komponen
ekosistem.
B.
Materi Pembelajaran
Satuan penyusun ekosistem adalah individu, populasi dan komunitas
Ekosistem dibangun oleh komponen biotik dan abiotik.
Komponen biotik dapat berupa produsen, konsumen dan dekomposer
Komponen abiotik dapat berupa ketersediaan air, tanah dengan struktur yang
khas, udara, suhu, kelembaban.
Ekosistem dibagi menjadi 2 yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan.
C.
Model Pembelajaran
Problem Solving dengan games Pohon Pengetahuan
54
D.
Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
Apersepsi ( 3 menit)
 Guru menanyakan Apakah kalian sering mengamati tumbuhan/ hewan di
sekitar rumah dan sekolah kalian? Apa jenis tumbuhan/hewan yang kalian
lihat?
Motivasi (3 menit)
 Guru menampilkan gambar bebek yang mencari makan sendiri dan
gambar bebek yang sedang mandi bergerombol di sungai. Guru
menanyakan pendapat siswa tentang dua gambar tersebut.
 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu Siswa dapat memahami
dan menjelaskan satuan-satuan ekosistem. Siswa dapat memahami dan
menjelaskan komponen ekosistem. ( 4 menit)
2. Kegiatan Inti (45 menit)

Siswa berkelompok. Setiap kelompok 4 siswa (Pembagian kelompok secara
acak). ( 5 menit)

Siswa melakukan pengamatan terhadap ekosistem buatan dengan panduan
Lembar Kerja Siswa “Problem Solving” dengan judul Komponen Penyusun
Ekosistem. (Pada pertemuan sebelumnya siswa sudah diberi tugas untuk
membuat ekosistem buatan) (15 menit)

Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan melakukan
diskusi kelas dengan bimbingan guru. ( 10 menit)

Guru bersama siswa bermain Game Pohon Pengetahuan.( 15 menit)
3. Kegiatan Penutup (25 menit)

Guru bersama siswa merangkum materi pembelajaran tentang komponen
penyusun ekosistem dan memberi tugas dengan LKS Pertemuan II (Siklus
II) ( 5 menit)

Siswa mengerjakan tes Sikus I secara individu. (20 menit)
55
E.
Media Pembelajaran
 Lembar Diskusi Siswa ”Problem solving” dengan judul Pengamatan Komponen
Penyusun Ekosistem
 Media Game Pohon Pengetahuan
 Alat dan untuk membuat akuarium buatan (terlampir di LKS)
F.
Sumber Belajar
1. Jati, Wijaya. 2003. Sains Biologi Mengungkap Rahasia Alam Kehidupan
untuk kelas 1 SMP semester 2. Penerbit Yudhistira. Halaman 27-67.
2. Buku-buku pelajaran IPA yang relevan.
G.
Penilaian
1. Teknik
: Tes tertulis
2. Instrumen penilaian : Pilihan Ganda, Lembar Diskusi Siswa (LDS)
Penilaian Aktivitas Siswa
Purworejo,Desember 2010
Guru IPA Biologi VII C
Mahasiswa
Mulat Tariningsih, S.Pd
Fajar Adinugraha
NIP. 196808071998022002
NIM. 4401407029
Mengetahui
Kepala Sekolah SMP 1 Purworejo
Sutopo Slamet, S.Pd. MM
NIP. 196107261983031012
56
Mungkin kamu berpikir bahwa ekosistem itu mencakup daerah
yang luas. Tetapi pada kenyataannya dapat terbentuk dengan
ukuran yang kecil. Bahkan kamu dapat menyusun ekosistem
dalam aquarium.
Ekosistem Akuarium
Apa yang Kamu Perlukan
2. Pasir
3. Kerikil akuarium
4. Air
5. Tumbuhan air
6. Ikan
7. Termometer
8. Alat tulis
Apa yang Kamu Teliti
Bagaimana interaksi antar komponen
dalam ekosistem itu?
Perhatian
Penerapan
1. Jelaskan apa saja komponen
ekosistem yang ada di aquarium dan
bagaimana interaksi antar komponen
tersebut?
2. Apa yang diperlukan untuk menjaga
agar ekosistem tersebut sehat?
Apa yang Kamu Lakukan
1. Tuangkan lapisan pasir setebal 5-10
cm di bagian dasar aquarium.
2. Isilah aquarium tersebut dengan air
sampai 5 cm di bawah permukaan
aquarium.
3.Tanamlah
tumbuhan
air
dan
tambahlah 2 cm lapisan kerikil.
4. Bila air telah jernih, tambahkanlah
Beberapa ekor ikan
5.Tutuplah bagian atas aquarium
7. Sekarang kamu telah membuat
ekosistem.
8. Amatilah ekosistemmu setiap 2 hari
dan catatlah apa yang kamu amati
dalam lembar kerja ini. Pastikan ka mu
mengamati tentang bagian yang hidup
dan bagian yang tak hidup dalam
ekosistemmu.
Problem Solving
3. Setelah 2 hari kamu mengamati,
sekarang coba ambil tanaman di
dalam air. Dan amati keadaan
ekosistem dalam aquarium itu
setiap 2 hari selama 6 hari. Amati
apa yang terjadi!
4. Mengapa hal itu bisa terjadi?
57
Kelompok:
1.
/
2.
/
3.
/
4.
/
Siswa, Gunakan LKS di depan sebagai petunjuk mengisi lembar diskusi ini!
 Tulislah rumusan masalah!
………………………………………………………………………………………………….
 Sebelum kamu mengamati selama seminggu, menurutmu apabila tanaman di
dalam kolam itu dikeluarkan. Apakah yang akan terjadi dengan hewan-hewan di
akuarium itu?
…………………………………………………………………………………………………..
Catat, hasil pengamatanmu dalam tabel ini!
Tabel pengamatan
No Hari ke-/ Suhu
Jumlah
Jumlah
jam
(0C)
Ikan kecil
Ikan nila
1.
2.
3.
 Buat histogram terhadap datamu!
Jumlah
Siput air
Keadaan ikan
58
 Jawablah pertanyaan yang ada di LKS itu!
1…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………..
2…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………..
3…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
4…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
Hey.. ayo kita simpulkan hasil diskusi kita kali ini!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
59
PANDUAN KUNCI LEMBAR DISKUSI SISWA SIKLUS I
 Rumusan masalah
Apa yang terjadi dengan hewan dalam akuarium jika tanaman tersebut diambil? (skor 1)
 Hipotesis
Hewan-hewan tersebut akan mati. (skor 1)
 Data pengamatan
No
Jumlah
Ikan kecil
(skor 1)
Jumlah
Ikan nila
(skor 1)
Jumlah
Siput air
(skor 1)
Keadaan ikan
1.
Hari ke-/ Suhu
jam
(0C)
(skor 1)
(skor 1)
2.
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
(skor 1)
3.
 Histogram
Grafik pengamatan organisme di akuarium
Jumlah oragnisme
5
4
3
Ikan kecil
2
Ikan nila
siput air
1
0
I
II
Pengamatan ke-
 Data sesuai dengan tabel (skor 1)
 Judul grafik (skor 1)
 Keterangan sumbu horizontasl (skor 1)
 Keterangan sumbu vertikal (skor 1)
 Keterangan legenda
III
60
1. Di dalam botol terdapat komponen abiotik meliputi, pasir, kerikil, air dan cahaya (skor 1)
Selain itu, terdapat komponen biotic meliputi tanamn air dan ikan. (skor 1)
Komponen biotik memiliki ciri-ciri makhluk hidup sedangkan komponen abiotik tidak (skor 1)
Di dalam ekosistem buatan tadi terjadi interaksi antar komponen biotik dan biotik serta
komponen biotik dan abiotik (skor 1)
2. Ikan selalu diberi makan (skor 1)
Kondisi air harus bersih (skor 1)
Pengaturan cahaya (skor 1)
3. Hewan-hewan tersebut akan lemas bahkan mati (skor 1)
4. Karena di aquarium tersebut terdapat tanaman yang menghasilkan oksigen (skor 1)
Selain itu, tanaman juga bertindak sebagai produsen (skor 1)
*Tidak menjawab skor 0
TOTAL SKOR: 25
NILAI= Total skor x 100%
25
61
5........................
10......................
.....
9........................
...
4........................
6........................
...
...
...
DIBAGI MENJADI
1……………………………
3…………………………
8........................
...
ABIOTIK
BIOTIK
2………………………
KOMPONEN
7........................
SATUAN
...
EKOSISTEM
PENYUSUN
EKOSISTEM
POHON PENYUSUN EKOSISTEM
Peraturan main:
1. Siswa duduk berkelompok, tiap kelompok 4 siswa (Kelompok sama seperti kelompok diskusi)
2. Guru memberikan pertanyaan (terlampir) dan siswa berebut menjawab dengan mengacungkan jari
3. Kelompok yang anggotanya pertama kali mengacungkan jari, yang berhak menjawab pertanyaan di
mana yang menjawab adalah juru bicara kelompok.
62
4. Apabila jawaban benar maka diberi reward.
5. Apabila jawaban salah maka tidak mendapat reward.
SOAL KUIS:
Siswa, berdasarkan pengamatan terhadap akuarium yang sudah kita buat. Ada pertanyaan:
1. Jelaskan pengertian komponen abiotik!
Komponen penyusun ekosistem yang terdiri dari benda tak hidup
2. Sebutkan contoh komponen abiotik yang ada di akuarium
Air, pasir, cahaya
3. Jelaskan pengertian komponen biotik!
Komponen penyusun ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup/organisme
Komponen bioitk dibagi menjadi 3. Sebutkan dan berikan satu contoh organismenya!
4. - Produsen: Tumbuhan air
5. -Konsumen: ikan dan siput
6. -Dekomposer: Bakteri
Selain komponen ekosistem, kita juga mengenal satuan penyusun ekosistem.
7. Satuan makhluk hidup tunggal disebut..... Berikan satu contoh...
Individu. Seekor siput
8.
Sekumpulan makhluk hidup sejenis yang tinggal di tempat tertentu dan saling berinteraksi
disebut.... . Berikan satu contoh....
Populasi. Kumpulan ikan nila
9.
Kumpulan dari beberapa populasi dan saling berinteraksi disebut... Berikan satu contoh...
Komunitas. Komunitas kolam
10. Kumpulan dari beberapa komunitas yang saling berinteraksi dengan komponen abiotik....
Berikan satu contoh...
Ekosistem. Ekosistem air tawar
TOTAL SKOR: 10 reward
63
SOAL INSTRUMEN
EKOSISTEM
SMP KELAS VII
SIKLUS I
Berilah tanda silang (x)pada jawaban yang kalian anggap paling benar di huruf a, b, c
atau d di lembar jawaban yang tersedia!
1. Makhluk hidup tunggal penyusun komponen ekosistem disebut....
a. populasi
b. individu
c. komunitas
d. bioma
2.
Gambar di samping merupakan salah satu contoh pengertian
dari….
a.
b.
c.
d.
ekosistem
individu
populasi
biosfer
3. Terdapat hamparan gurun dengan sekumpulan kaktus. Di dekatnya terdapat seekor
kalajengking yang bernaung dari terik matahari. Dari jauh tampak barisan unta berjalan
menuju sumber air. Dari sepenggal cerita di atas, manakah yang disebut populasi?
a. unta
b. kalajengking
c. kaktus
d. gurun
4. Di sebuah sungai terdapat kumpulan itik. Kumpulan itik merupakan satuan penyusun
ekosistem yang disebut….
a. populasi
b. individu
c. komunitas
d. bioma
5. Berikut yang termasuk contoh populasi adalah….
a. seekor ayam di dalam kandang
b. seekor itik di sungai
c. sekumpulan ayam dan itik di sawah
d. sekumpulan ayam
64
6. Tuti berjalan-jalan di sawah. Dia melihat kumpulan itik, kumpulan ayam dan beberapa
belalang yang hinggap di padi. Kumpulan beberapa populasi di sawah tersebut disebut....
a. ekosistem
b. individu
c. populasi
d. komunitas
7. Berikut ini yang termasuk anggota komunitas sawah adalah....
a. padi, cacing, anjing dan rumput
b. padi, rumput, cacing, dan belalang
c. rumput, tanah, belalang, dan kucing
d. tanah, udara, air dan batu
8.
Berikut ini termasuk komponen biotik adalah....
a. petir
b. kekeruhan air
c. padi
d. lumpur
9. Komponen penyusun ekosistem yang terdiri dari benda tak hidup disebut komponen....
a. abiotik
b. biotik
c. bioma
d. boisfer
10. Ada beberapa komponen ekosistem sebagai berikut.
1. Rumput, air dan udara
2. Udara, tanah dan air
3. Batu, semut dan oksigen
4. Oksigen dan air
5. Karbondioksida dan oksigen
Yang termasuk komponen abiotik adalah....
a. 1), 2) dan 3)
b. 1), 4) dan 5)
c. 2), 4) dan 5)
d. 3), 4) dan 5)
11. Organisme yang mampu membuat makanan sendiri/ autotrof disebut....
a. konsumen
b. pengurai
c. dekomposer
d. produsen
65
12. Berikut adalah contoh hewan herbivora (pemakan tumbuhan), kecuali....
a. harimau
b. kambing
c. kerbau
d. sapi
13. Ada beberapa hewan sebagai berikut.
1. Ayam, orang utan, kera
2. Harimau, burung elang, serigala
3. Kambing, kerbau, sapi
4. Ayam, itik, sapi
Manakah yang tergolong karnivora dan omnivora?
a.
b.
c.
d.
1 dan 3
1 dan 4
1 dan 2
2 dan 4
Gambar di bawah ini berhubungan dengan soal nomor 8 dan 9.
14. Berikut merupakan alasan organisme dalam akuarium masih dapat bertahan beberapa
hari, kecuali….
a. kebutuhan air organisme tercukupi
b. jumlah gas oksigen dan karbondioksida cukup
c. tumbuhan sebagai bahan makanan hewan
d. jumlah gas karbondioksida melebihi gas oksigen
15. Jika semua tumbuhan air dikeluarkan, mengapa ikan dan hewan lain tidak dapat bertahan
hidup lebih lama....
a. berkurangnya kadar oksigen
b. kotoran ikan menimbulkan polusi
c. kadar karbondioksida meningkat
d. gas oksigen dan karbondioksida tidak seimbang
66
67
68
69
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) SIKLUS II
Mata Pelajaran
: IPA Biologi
Satuan Pendidikan
: SMP 1 Purworejo
Kelas/ Semester
: VII (Tujuh)/ 2
Alokasi Waktu
: 2 jam pelajaran
Standar Kompetensi
: 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem
Kompetensi Dasar
: 7.1
Menentukan ekosistem dan saling hubungan
antara komponen ekosistem
Indikator
: 1. Mendiskusikan matahari merupakan sumber energi
utama dan aliran energi dalam ekosistem
2. Memahami interaksi antar komponen ekosistem.
3. Memahami saling ketergantungan diantara komponen
biotik.
A.
Tujuan Pembelajaran
1. Melalui diskusi ”Problem solving,”Siswa dapat mendiskusikan matahari
merupakan sumber energi utama dan aliran energi dalam ekosistem
2. Melalui diskusi ”Problem solving,”Siswa dapat memahami interaksi antar
komponen ekosistem.
3. Melalui diskusi ”Problem solving,”Siswa dapat
memahami
saling
ketergantungan diantara komponen biotik.
B.
Materi Pembelajaran
Matahari merupakan sumber energi utama. Matahari mempunyai peran dalam
membantu fotosintesis tumbuhan untuk menghasilkan amilum (karbohidrat).
Ada berbagai macam pola interaksi antara lain mutualisme, parsitisme dan
komensalisme.
Saling ketergantungan antarkomponen biotik akan membentuk rantai makanan.
Di dalam rantai makanan terjadi aliran energi.
70
Rantai makanan akan membentuk jaring- jaring makanan.
C.
Model Pembelajaran
Problem Solving dengan games Pohon Pengetahuan
D.
Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
Apersepsi ( 3 menit)
 Guru menanyakan Apakah kalian pernah melihat ulat memakan daun,
kemudian ulat tersebut dimakan burung?
Nah, mengapa ulat yang
memakan daun bisa hidup? Apa yang dihasilkan daun sehingga ulat bisa
hidup?
Motivasi (3 menit)
 Guru menampilkan
menampilkan foto/gambar burung jalak yang
mematuk punggung kerbau. Kemudian guru menanyakan: Apa yang
sedang dilakukan burung jalak? Mengapa dia melakukan hal itu?
 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. ( 4 menit)
2. Kegiatan Inti (45 menit)

Siswa berkelompok. Anggota kelompok sama seperti pada siklus I ( 5
menit)

Siswa melakukan diskusi dengan panduan Lembar Diskusi Siswa “Problem
Solving” dengan judul Pola Interaksi dan saling ketergantungan komponen
biotic. (Dari tugas yang sebelumnya diberikan guru) (15 menit)

Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan melakukan
diskusi kelas dengan bimbingan guru. ( 10 menit)

Guru bersama siswa bermain Game Pohon Pengetahuan.( 15 menit)
3. Kegiatan Penutup (25 menit)

Guru bersama siswa merangkum materi pembelajaran tentang Pola Interaksi
dan saling ketergantungan komponen biotik. ( 5 menit)

Siswa mengerjakan tes Sikus II secara individu. (20 menit)
71
E. Media Pembelajaran
 Lumut dan jamur
 Lembar Diskusi Siswa ”Problem solving” dengan judul “Pola Interaksi dan
Saling Ketergantungan antar komponen biotik”
 Media Game Pohon Pengetahuan
F. Sumber Belajar
1. Jati, Wijaya. 2003. Sains Biologi Mengungkap Rahasia Alam Kehidupan
untuk kelas 1 SMP semester 2. Penerbit Yudhistira. Halaman 27-67.
2. Buku-buku pelajaran IPA yang relevan
G. Penilaian
1.Teknik
: Tes tertulis
2. Instrumen penilaian
: Pilihan Ganda, Lembar Diskusi Siswa (LDS),
Penilaian Aktivitas Siswa
Purworejo,Desember 2010
Guru IPA Biologi VII C
Mahasiswa
Mulat Tariningsih, S.Pd
Fajar Adinugraha
NIP. 196808071998022002
NIM. 4401407029
Mengetahui
Kepala Sekolah SMP 1 Purworejo
Sutopo Slamet, S.Pd. MM
NIP. 196107261983031012
72
Kegiatan 1.
Simbiosis
Apa yang Kamu Perlukan
Lichenes/ lumut kerak
PERHATIAN
Apa yang Kamu Teliti
Bagaimana
simbiosisnya/
saling
ketergantungan lichens/ lumut kerak?
Apa yang Kamu Lakukan
1. Amati organisme di atas di
lingkungan sekitarmu.
2. Catat
dalam
lembar
kerja
bagaimana
interaksi
antara
organisme
tersebut
dengan
tumbuhan inangnya?
3. Bawalah sampel tanaman tersebut
ke sekolah sebagai bukti sudah
melakukan pengamatan.
Kesimpulan dan Penerapan
1. Lichenes banyak ditemukan di sisi
batang pohon sebelah mana?
2. Apa yang kamu ketahui tentang
lichens?
Problem Solving
3. Menurut kamu, apa keuntungan
yang didapat dari kedua organism
tersebut?
Kelompok:
1.
/
2.
/
3.
/
4.
Siswa, kamu tentu sudah menemukan lichens, bukan?
/
Di mana kamu dapat menjumpai lichens itu?
…………………………………………………………………………………………………
Nah, sekarang jawab pertanyaan di LKS itu!
1…………………………………………………………………………………………………
2…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
.…………………………………………………………………………………………………
3…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
Hey, mari kita simpulkan kegiatan ini!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
73
Kegiatan 2.
Siswa, ingatkah kalian pada peristiwa gunung merapi di bulan November kemarin?
Abu vulkanik akibat letusan itu sampai ke kota kita bukan? Ketika kita bangun di pagi
hari, yang kita lihat semua abu menutupi jalan dan pohon-pohon dan langit sangat
gelap. Berikut adalah gambar sebelum dan sesudah abu vulkanik tersebut sampai
ke kota kita.
Gambar A
Gambar B
Siswa, berdasarkan 2 gambar di atas. Coba ceritakan perbedaan yang terjadi pada tanaman di
atas!
Gambar A……………………………………………………………………………………
Gambar B……………………………………………………………………………………
Mengapa tanaman pada gambar B bisa terjadi demikian?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
74
PANDUAN KUNCI LEMBAR DISKUSI SISWA SIKLUS II

Di pohon-pohon seperti kelapa, trembesi (skor 1)
1. Di sisi yang menghadap daerah yang banyak terkena sinar matahari (skor 1)
2. Lichenes merupakan sustu simbiosis (skor 1)
Simbiosis antara alga dan jamur (skor 1)
Simbiosis yang terjadi adalah mutualisme (skor1)
3. Alga merupakan organism yang dapat melakukan fotosintesis (skor 1)
Alga tidak mempunyai akar untuk menyerap zat hara (skor 1)
Jamur merupakan organism heterotrof (skor 1)
Jamur memiliki akar yang mampu menyerap zat hara (skor 1)
Alga mengambil zat hara melalui jamur dan melakukan fotosintesis (skor 1)
Hasil fotosintesis digunakan bersama antara jamur dan alga (skor 1)

Kesimpulan:
Simbiosis adalah pola interaksi antar organism (skor 1)
Macam simbiosis yaitu mutualisme, komensalisme dan parasitisme (skor 1)
Coontoh dari mutualisme adalah lichens (skor 1)
Lichenes adalah interaksi antara alga dan jamur (skor 1)
Jamur memanfaatkan hasil fotosintesis dari alga (skor 1)

Gambar A tanaman masih segar (skor 1), cahaya matahari cukup (skor 1), tanaman
mampu berfotosintesis (skor 1)

Gambar B tanaman tampak layu (skor 1), tidak ada cahaya matahari (skor 1), tanaman
tidak bisa berfotosintesis karena daun tertutup abu tebal (skor 1)

Gambar B terjadi demikian karena daun tertutup abu vulkanik sehingga daun tidak
bisa melakukan fotosintesis (skor 1), stomata tertutup oleh abu sehingga tumbuhan
tidak bisa melakukan pertukaran gas (skor 1), abu vulkanik mengandung zat belerang
yang membuat tanaman layu (skor 1)
*tidak menjawab soal skor 0
TOTAL SKOR: 25
NILAI= Total skor x 100%
25
75
5………………………..
6…………………………
4……………………….
.
1……………………………
………………………………
9.PIRAMIDA
………….
MAKANAN
SIMBIOSIS
2………………………………
8.JARING2
…………………………………
MAKANAN
……………..
KETERGANTUNGA
N
7.RANTAI
MATAHARI SBGAI
SUMBER ENERGI
3…………………………………
……………………………………
…………………..
MAKANAN
POHON SALING KETERGANTUNGAN
ANTAR KOMPONEN EKOSISTEM
Peraturan main:
1. Siswa duduk berkelompok, tiap kelompok 4 siswa (Kelompok sama seperti kelompok
diskusi)
2. Guru memberikan pertanyaan (terlampir) dan siswa berebut menjawab dengan
mengacungkan jari
76
3. Kelompok yang anggotanya pertama kali mengacungkan jari, yang berhak menjawab
pertanyaan di mana yang menjawab adalah juru bicara kelompok.
4. Apabila jawaban benar maka diberi reward.
5. Apabila jawaban salah maka tidak mendapat reward.
SOAL KUIS:
Berdasarkan kegiatan yang kita lakukan tadi, ada beberapa pertanyaan
1. Mengapa matahari penting bagi tanaman?
Untuk membantu proses fotosintesis
2. Fotosintesis menghasilkan amilum/karbohidrat. Apa fungsi karbohidrat?
Sebagai sumber energi
3. Mengapa tanaman yang ditutupi albu vulkanik menjadi layu bahkan mati?
Abu vulkanik menghalangi sinar matahari masuk daun sehingga proses fotosintesis tidak
dapat berlangsung
Simbiosis merupakan interaksi antar komponen biotik, simbiosis dibagi menjadi
beberapa macam.
4. Lichenes merupakan bentuk simbiosis…..
Mutualisme
5. Organisme apa saja penyusun lichens?
Alga dan jamur
6. Bagaimana bentuk interaksi yang terjadi pada lichens?
Jamur memiliki akar yang mampu menyerap zat hara, alga mengambil zat hara melalui
jamur dan melakukan fotosintesis, hasil fotosintesis digunakan bersama antara jamur dan
alga
7.
Buatlah satu contoh rantai makanan dari ekosistem buatan tadi!
Tumbuhan air
8.
ikan kecil
ikan nila
Susunlah jaring-jaring makanan yang mubkin terjadi di ekosistem itu!
Tumbuhan air
ikan kecil
kepik air
Siput
ikan nila
77
9.
Bagimana menjaga agar ekosistem itu menjadi seimbang?
Jumlah komponen produsen dan konsumen harus seimbang. Produsen> konsumen
TOTAL SKOR: 9 reward
78
SOAL INSTRUMEN
EKOSISTEM
SMP KELAS VII
SIKLUS I
Berilah tanda silang (x)pada jawaban yang kalian anggap paling benar di huruf a, b, c
atau d di lembar jawaban yang tersedia!
1. Keberadaan heterotrof sangat bergantung pada keberadaan autotrof, karena autotrof
sebagai....
a. sumber energi bagi heterotrof
b. penentu keanekaragaman heterotrof
c. pasangan bagi keberadaan heterotrof
d. tempat hidup bagi heterotrof
Gambar berikut untuk menjawab soal no 2 dan 3
Gambar di atas adalah suasana sebelum dan sesudah abu vulkanik gunung merapi mengguyur
kota Purworejo. Ketika abu vulkanik mengenai tanaman, tanaman tersebut seakan akan roboh
dan daun-daun menjadi layu. Selain itu, langit sangat gelap meskipun sudah siang hari.
2. Berikut alasan mengapa tumbuhan itu layu ketika terkena abu vulkanik, kecuali….
a. Abu vulkanik menutup stomata daun sehingga udara tidak bisa masuk ke daun
b. Abu vulkanik membawa material yang berfungsi membantu fotosintesis
c. Abu vulkanik menghalangi cahaya matahari untuk fotosintesis
d. Abu vulkanik mengandung belerang sehingga membuat tanaman layu
3. Berdasarkan pengamatan di atas, tumbuhan dapat melakukan fotosintesis membutuhkan
bantuan....
a. sinar matahari
b. petir
c. sinar bulan
d. cahaya lampu
4. Fotosintesis tumbuhan menghasilkan karbohidrat. Mengapa karbohidrat/ amilum sangat
penting bagi organisme....
a. karbohidrat sebagai sumber energi
b. zat organik dikonversi dari karbohidrat
c. karbohidrat merupakan satu-satunya zat penyusun bagian tubuh organisme
d. karbohidrat merupakan sumber mineral bagi organism
79
5. Aliran energi di dalam ekosistem terjadi dari...
a. autotrof ke heterotrof, kemudian ke dekomposer
b. dekomposer ke autotrof, kemudian ke heterotrof
c. autotrof ke heterotrof dan scavenger
d. heterotrof ke autotrof
6. Daftar organisme penghuni ekosistem kolam berupa: zooplankton, fitoplankton, ikan
gabus dan ikan kecil. Untuk membentuk suatu rantai makanan maka susunan yang benar
adalah….
a. fitoplankton→zooplankton→ikan gabus→ikan kecil
b. fitoplankton→zooplankton→ikan kecil→ikan gabus
c. zooplankton→fitoplankton→ikan kecil→ikan gabus
d. zooplankton→fitoplankton→ikan gabus→ikan kecil
7. Aliran energi dalam suatu ekosistem yang terjadi melalui peristiwa makan dan dimakan,
disebut....
a. rantai makanan
b. jaring makanan
c. perpindahan makanan
d. piramida makanan
Gunakanlah skema di bawah ini untuk menjawab soal nomor 12 dan 13.
Ular
Elang
Tikus
Burung
kecil
Jagung
8.
9.
Ulat
Jika populasi jagung berkurang, populasi apakah yang pertama menderita?
a. populasi ulat
b. populasi ular
c. populasi burung
d. populasi elang
Jika populasi tikus berkurang karena diburu orang, apakah yang akan terjadi....
a. populasi jagung berkurang
b. populasi elang bertambah
c. populasi ular berkurang
d. populasi burung kecil berkurang
10.
III
II
I
80
Organisme yang menduduki bagian paling dasar piramida makanan adalah....
a. rumput
b. tumbuhan tali putri
c. anggrek saprofit
d. benalu
11. Komensalisme adalah suatu simbiosis yang satu diuntungkan, akan tetapi yang satunya
tidak dirugikan. Contoh simbiosis komensalisme adalah....
a. tali putri dan pohon inang
b. anggrek dan inang
c. jalak dan kerbau
d. singa dan kijang
12. Simbiosis yang kedua organisme yang berinteraksi merasa diuntungkan semua adalah...
a. komensalisme
b. parasitisme
c. mutualisme
d. netralisme
13. Parasitisme adalah suatu simbiosis yang satu merasa untung dan yang satu dirugikan.
Contoh parasistime adalah....
a. tali putri dan pohon inang
b. anggrek dan inang
c. jalak dan kerbau
d. singa dan kijang
14. Gambar di samping adalah contoh dari simbiosis....
a. komensalisme
b. parasitisme
c. mutualisme
d. netralisme
15. Pernyataan yang benar mengenai ekosistem, kecuali….
a. setiap organisme hanya memiliki satu interaksi dengan organism laindalam satu
lingkungan
b. semua produsen merupakan tumbuhan karena semua tumbuhan dapat melakukan
fotosintesis
c. herbivore menjadi predator bagi hewan lainnya
d. pada ekosistem buatan tidak terjadi rantai makanan
81
82
83
84
Lampiran 4. Uji validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran siklus I, II dan III
REKAPITULASI UJI VALIDITAS, RELIABILITAS DAN TINGKAT KESUKARAN
SIKLUS I, II DAN III
 Rekapitulasi hasil analisis uji coba soal siklus I
No.
1.
Aspek yang dianalisis
Validitas
Hasil dan nomor butir soal
Valid :1,2,,3,4,5,6,8,10,1,12,14,15,17,18,19,20
Tidak valid: 7, 9,13,16
2.
Reliabilitas
r11= 0,850; reliable
3.
Tingkat kesukaran
Sukar: 3,20
Sedang: 2,4,5,6,8,9,12,13,19
Mudah: 1,7,10,11,14,15,16,17,18
4.
Hasil akhir
Soal yang digunakan:
1,2,,3,4,5,6,8,11,12,14,15,17,18,19,20
Soal yang tidak digunakan: 7, 9,10, 13,16
 Rekapitulasi hasil analisis uji coba soal siklus II
No.
1.
Aspek yang dianalisis
Validitas
Hasil dan nomor butir soal
Valid : 2,3,4,5,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,19,20
Tidak valid: 1,6,18
2.
Reliabilitas
r11= 0,780; reliable
3.
Tingkat kesukaran
Sukar: 2,20
Sedang: 3,4,5,10,11,16,17
Mudah: 1,6,7,8,9,12,1314,15
4.
Hasil akhir
Soal yang digunakan:
2,3,4,5,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,19,20
Soal yang tidak digunakan: 1,6,10,11,18
85
 Rekapitulasi hasil analisis uji coba soal siklus II
No.
1.
Aspek yang dianalisis
Validitas
Hasil dan nomor butir soal
Valid : 1,3,4,5,8,10,11,12,13,15,16,17,18,19,20
Tidak valid: 2,6,7,9,14
2.
Reliabilitas
r11= 0,716; reliable
3.
Tingkat kesukaran
Sukar: 2,16,17
Sedang: 3,5,7,18,19,20
Mudah: 1,6,7,8,9,12,1314,15
4.
Hasil akhir
Soal yang digunakan:
1,3,4,5,8,10,11,12,13,15,16,17,18,19,20
Soal yang tidak digunakan: 2,6,7,9,14
86
UJI VALIDITAS, RELIABILITAS DAN TINGKAT KESUKARAN SIKLUS I
No
Tingkat Kskran Validitas
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kode Soal
U-2
U-3
U-4
U-9
U-1
U-5
U-6
U-7
U-8
U-10
U-11
U-12
U-13
U-28
U-29
U-14
U-16
U-17
U-20
U-27
U-30
U-19
U-25
U-15
U-18
U-23
U-26
U-24
U-21
U-22
∑X
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
0
22
2
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
12
3
0
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
4
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
12
5
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
11
6
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
7
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
29
8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
14
9
1
1
1
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
9
No soal
10
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
27
11
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
15
12
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
14
13
1
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
1
0
1
0
0
1
0
0
1
1
0
1
0
0
1
1
0
14
14
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
1
1
1
0
0
1
0
0
22
15
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
16
16
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
26
17
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
19
18
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
1
1
21
19
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
13
∑X2
∑XY
rxy
22
12
6
12
11
10
29
14
9
27
15
14
14
22
265
180
98
178
175
167
315
212
305
119
153
213
216
264
0,44995 0,69627 0,55757 0,66949 0,78497 0,83955 0,20708 0,82398 0,32923 0,37171 0,73468 0,83713 0,04821 0,43512
r tabel
Kriteria
B
Dengan taraf signifikan 5% dan N = 30 diperoleh r tabel = 0.361
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Tidak
Valid
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Valid
22
12
6
12
11
10
29
14
9
27
15
14
14
22
16
26
19
21
13
JS
P
Kriteria
Keterangan
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
16
26
19
231
254
290
0,7933 0,24443 0,69876
20
20
20
20
1
1
0
1
0
1
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
∑Y
∑Y
2
19
19
18
18
18
18
17
17
15
14
12
11
11
10
9
8
8
7
7
7
7
6
6
6
6
6
5
5
5
5
320
361
361
324
324
324
324
289
289
225
196
144
121
121
100
81
64
64
49
49
49
49
36
36
36
36
36
25
25
25
25
4188
21
13
6
252
188
104
0,4008 0,65305 0,63957
20
20
Reliabilitas
a = 5%; n=30 diperoleh r tabel=0.361
6
k= 20
20
M= 10,667
1,1
0,6
0,3
0,6
0,55
0,5
1,45
0,7
0,45
1,35
0,75
0,7
0,7
1,1
0,8
1,3
0,95
1,05
0,65
0,3
Mudah Sedang Sukar
Sedang Sedang Sedang Mudah Sedang Sedang Mudah Mudah Sedang Sedang Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Sedang Sukar
Vt= 25,822
r11= 0,850
Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai Dipakai Dibuang Dipakai Dibuang Dipakai Dipakai Dipakai Dibuang Dipakai Dipakai Dipakai Dibuang Dipakai Dipakai Dipakai
r11 > rtabel= reliabel
87
UJI VALIDITAS, RELIABILITAS DAN TINGKAT KESUKARAN SIKLUS II
No
Tingkat KskranValiditas
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kode Soal
U-1
U-5
U-6
U-15
U-2
U-3
U-4
U-14
U-7
U-8
U-12
U-13
U-9
U-11
U-18
U-19
U-21
U-10
U-16
U-20
U-22
U-23
U-24
U-25
U-27
U-17
U-28
U-29
U-30
U-26
∑X
∑X2
∑XY
rxy
r tabel
Kriteria
B
JS
P
Kriteria
Keterangan
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
24
2
1
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
3
1
1
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
14
4
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
14
5
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
14
6
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
25
7
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
1
18
8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
18
No soal
10
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
14
9
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
24
11
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
14
12
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
1
0
1
1
1
0
1
22
13
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
0
0
1
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
1
0
19
14
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
1
1
24
15
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
18
16
1
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
0
0
0
1
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
13
24
6
14
14
14
25
18
18
24
14
14
22
19
24
18
295
97
191
198
299
194
235
252
308
198
198
248
278
308
236
0,285244 0,538348 0,438081 0,550822 0,486399 0,140142 0,400196 0,679021 0,546383 0,550822 0,550822 0,374301 0,428518 0,546383 0,416597
13
181
0,46861
17
1
1
1
1
0
1
0
0
0
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
13
18
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
1
1
1
0
1
24
19
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
27
20
1
0
1
1
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
∑Y2
∑Y
19
18
18
18
17
16
16
14
14
14
13
13
13
13
12
11
11
11
10
10
9
9
9
8
8
6
5
6
5
5
351
361
324
324
324
289
256
256
196
196
196
169
169
169
169
144
121
121
121
100
100
81
81
81
64
64
36
25
36
25
25
4623
13
24
27
6
179
293
333
102
0,43618 0,245069 0,457998 0,638786
Dengan taraf signifikan 5% dan N = 30 diperoleh r tabel = 0.361
Reliabilitas
Tidak
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak
Valid
Valid
a = 5%; n=30 diperoleh r tabel=0.361
24
6
14
14
14
25
18
18
24
14
14
22
19
24
18
13
13
24
27
6
k= 20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
M= 10,500
1,2
0,3
0,7
0,7
0,7
1,25
0,9
0,9
1,2
0,7
0,7
1,1
0,95
1,2
0,9
0,65
0,65
1,2
1,35
0,3
Vt= 17,210
r11= 0,748
Mudah
Sukar
Sedang
Sedang
Sedang
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Sedang
Sedang
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Sedang
Sedang
Mudah
Mudah
Sukar
Dibuang
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dpakai
Dibuang
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dibuang
Dipakai
Dipakai
r11 > rtabel= reliabel
88
UJI VALIDITAS, RELIABILITAS DAN TINGKAT KESUKARAN SIKLUS III
No
Tingkat Kskran
Validitas
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kode Soal
U-1
U-2
U-15
U-10
U-9
U-8
U-7
U-6
U-4
U-26
U-22
U-17
U-11
U-30
U-3
U-24
U-12
U-5
U-19
U-18
U-16
U-13
U-28
U-25
U-23
U-21
U-20
U-14
U-27
U-29
∑X
∑X2
∑XY
rxy
r tabel
Kriteria
B
JS
P
Kriteria
Keterangan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
0
27
2
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
5
3
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
0
0
0
12
4
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
0
27
27
5
12
27
313
70
157
315
0,401245 0,333611 0,418748 0,429502
5
1
1
1
1
0
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
9
6
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
28
7
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
0
0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
1
0
1
0
0
14
8
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
18
9
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
26
No soal
10
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
1
21
11
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
0
1
21
12
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
18
13
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
0
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
16
14
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
24
15
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
1
20
16
0
0
1
0
1
0
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
17
0
0
1
1
1
1
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
18
1
1
1
0
1
1
0
0
1
0
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
10
9
28
14
18
26
21
21
18
16
24
20
6
6
10
124
314
171
232
291
266
258
234
219
280
258
90
90
138
0,45136 0,174449 0,273002 0,567559 0,081461 0,621545 0,473558 0,602166 0,712524 0,305172 0,659357 0,500144 0,500144 0,491521
19
1
1
0
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
13
20
1
1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
0
1
1
0
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
11
∑Y
∑Y
2
18
17
17
15
15
16
16
15
14
13
13
12
12
12
12
11
10
10
10
9
8
8
8
7
7
6
6
5
5
5
332
13
11
172
146
0,48127 0,426875
Dengan taraf signifikan 5% dan N = 30 diperoleh r tabel = 0.361
Reliabilitas
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Tidak
Tidak
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
a = 5%; n=30 diperoleh r tabel=0.361
27
5
12
28
9
27
14
18
26
21
21
18
16
24
20
6
6
10
13
11
k= 20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
M= 11,067
1,35
0,25
0,6
1,4
0,45
1,35
0,7
0,9
1,3
1,05
1,05
0,9
0,8
1,2
1
0,3
0,3
0,5
0,65
0,55
Vt= 15,462
Mudah
Sukar
Sedang
Mudah
Sedang
Mudah
Sedang
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Mudah
Sukar
Sukar
Sedang
Sedang
Sedang
r11= 0,716
Dipakai
Dibuang Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dibuang Dibuang Dipakai
Dibuang Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dibuang Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
Dipakai
r11 > rtabel= reliabel
324
289
289
225
225
256
256
225
196
169
169
144
144
144
144
121
100
100
100
81
64
64
64
49
49
36
36
25
25
25
4138
89
Lampiran 4. Perhitungan Validitas Butir Soal
Rumus
NSCU - SCSU
rxy 
{NSC
2
- SC
2
}{NSU
2
- SU
2
}
Butir soal Valid jika rxy > rtabel
Perhitungan
Berikut ini contoh perhitungan pada butir soal no 1, selanjutnya untuk
butir soal yang lain dihitung dengan cara yang sama, dan diperoleh
seperti pada tabel analisis butir soal.
No
Kode
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
UC-28
UC-21
UC-4
UC-6
UC-15
UC-34
UC-9
UC-13
UC-7
UC-14
UC-24
UC-5
UC-27
UC-25
UC-29
UC-31
UC-11
UC-38
UC-16
UC-36
UC-22
UC-32
UC-33
UC-30
UC-26
UC-40
UC-35
UC-8
UC-37
UC-10
Jumlah
Butir soal no
1 (X)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
0
22
Skor Total
(Y)
Y2
XY
19
19
18
18
18
18
17
17
16
14
13
12
11
10
9
8
8
8
8
7
7
6
6
6
6
6
6
6
5
5
361
361
324
324
324
324
289
289
256
196
169
144
121
100
81
64
64
64
64
49
49
36
36
36
36
36
36
36
25
25
19
19
18
18
18
18
17
17
16
14
0
12
11
10
9
0
8
8
0
0
7
6
6
6
0
6
6
0
0
0
327
4319
269
Dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh :
rxy =
30
30
x
x
4319
22
-
22
2
22
x
30
x
rxy = 0,450
Hasil perhitungan bahwa nilai rhitung adalah = 0,4500
Karena r hitung > r tabel, maka soal no 1 valid.
327
4319
-
327
2
90
Lampiran 5. Perhitungan Reliabilitas Instrumen
Rumus:
M(k - M 
 k 
r11  
 1 
kVt 
 k -1 
Keterangan:
k
: Banyaknya butir soal
M
: Mean Skor Total
Vt
: Varians total
Kriteria
Apabila r11 > r tabel, maka instrumen tersebut reliabel.
Berdasarkan tabel pada analisis ujicoba diperoleh:
k =
M =
20
10,6667
_
4188
Vt
=
r11
=
320
30
30
20
20
1
1
_
2
= 25,8222
10,67
20
20
- 10,67
25,822
= 0,850
Pada a = 5% dengan n =
30 diperoleh r tabel=0.361
Karena r11 > rtabel, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut
reliabel
91
Lampiran 6. Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal
Rumus
B
JS
P 
Keterangan:
P : Indeks kesukaran
B : Jumlah butir soal yang dijawab benar
JS : Jumlah total responden
Kriteria
Interval IK
0,00 <
0,30 <
0,70 <
TK
TK
TK
<
<
<
Kriteria
0,30
0,70
1,00
Sukar
Sedang
Mudah
Berikut ini contoh perhitungan pada butir soal no 1, selanjutnya untuk
butir soal yang lain dihitung dengan cara yang sama, dan diperoleh
seperti pada tabel analisis butir soal.
Kelompok Atas
No
Kode
Skor
1
U-2
1
2
U-3
1
3
U-4
1
4
U-9
1
5
U-1
1
6
U-5
1
7
U-6
1
8
U-7
1
9
U-8
1
10
U-10
1
11
U-11
0
12
U-12
1
13
U-13
1
14
U-28
1
15
U-29
1
Jumlah
14
IK
=
14
+
20
Kelompok Bawah
No
Kode
Skor
1
U-14
0
2
U-16
1
3
U-17
1
4
U-20
0
5
U-27
0
6
U-30
1
7
U-19
1
8
U-25
1
9
U-15
1
10
U-18
0
11
U-23
1
12
U-26
1
13
U-24
0
14
U-21
0
15
U-22
0
Jumlah
8
8
= 1,10
Berdasarkan kriteria, maka soal no 1 mempunyai tingkat kesukaran
yang mudah
92
Lampiran 7. Lembar observasi keaktifan siswa dalam Kegiatan Belajar Menagjar
LEMBAR OBSERVASI KEAKTIFAN SISWA
Sekolah
: SMP 1 Purworejo
Kelas/Semester
: VII C/ Genap
Materi
: Ekosistem
Siklus
:
Kelompok
:
Hari/tanggal
:
Petunjuk
No
: Isilah skor aktivitas siswa selama diskusi pada kolom yang tersedia!
Nama
Kode
Kelompok
Siswa
Aspek Yang Diamati
Skor
Total
A
B
C
D
E
F
G
Kriteria
H
Keterangan :
A : Ketepatan waktu
E: Kemampuan mengamati/ praktik
B : Perhatian penjelasan guru
F : Kemampuan mengerjakan LDS
C : Kemampuan berpendapat
G: Keseriusan saat KBM
D : Kemampuan bertanya
H: Aktivitas kegiatan game
Purworejo, Februari 2011
Observer
93
RUBRIK PENILAIAN AKTIVITAS SISWA
PADA SAAT PEMBELAJARAN
Tanggal Observasi
:
Nama Sekolah
:
Petunjuk
: Gunakan kriteria di bawah ini untuk menentukan skor pada setiap
aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.
No Aspek
Skor Kriteria
A.
3
Datang sebelum pelajaran dimulai
2
Saat pelajaran dimulai
1
Terlambat (maksimal 15 menit)
B.
Ketepatan waktu
Perhatian
penjelasan 3
guru
C.
D.
E.
F.
G.
H.
Sikap wajar dan tenang, mencatat
2
Sikap tidak wajar dan tidak tenang, mencatat
1
Sikap tidak wajar dan tidak tenang, tidak mencatat
Kemampuan
3
Inisiatif sendiri, pendapat relevan
berpendapat
2
Inisiatif sendiri, pendapat tidak relevan
1
Tidak mengeluarkan pendapat
3
Inisiatif sendiri, pertanyaan jelas
2
Inisiatif sendiri, pertanyaan tidak jelas
1
Tidak memberikan pertanyaan
Kemampuan
3
Inisiatif sendiri, mengamati
mengamati/ praktik
2
Tidak inisiatif sendiri, mengamati
1
Tidak mengamati
Kemampuan
3
Tepat waktu, jawaban sesuai
mengerjakan LDS
2
Tepat waktu, jawaban tidak sesuai
1
Tidak tepat waktu
3
Tidak pernah berbuat gaduh
2
Berbuat gaduh setelah 1-2 kali diperingatkan
1
Berbuat gaduh setelah >3 kali diperingatkan
Kemampuan bertanya
Keseriusan saat KBM
Aktivitas
game
kegiatan 3
Menjawab soal dengan jawaban benar
2
Menjawab soal dengan jawaban salah
1
Tidak menjawab soal
94
Menghitung tingkat keaktifan siswa
𝑛
Np %= 𝑁 x 100%
Keterangan
Np %
= Prosentase nilai siswa yang diperoleh
n
= Jumlah skor yang diperoleh
N
= Jumlah skor maksimal
Tabel kualifikasi keaktifan siswa
No
Tingkat Penguasaan
Kategori
Keterangan
1
86% ≤X≤ 100%
A
Sangat aktif
2
71%≤X≤ 85%
B
Aktif
3
61%≤ X≤70%
C
Cukup aktif
4
51% ≤ X≤60%
D
Kurang aktif
5
X< 50%
E
Tidak aktif
Menghitung tingkat keaktifan siswa secara klasikal dengan rumus :
SIKLUS I
P
 ni X 100%
n
= 16 X 100%
31
= 51, 61%
SIKLUS II
P
 ni X 100%
n
= 24 X 100%
31
= 77, 42%
95
REKAPITULASI NILAI AKTIVITAS SISWA KELAS VII C SIKLUS I
Rubrik
No
B
C
D
E
F
G
H
dada A
A1
3
2
1
1
3
1
3
2
A2
3
2
2
2
3
1
2
3
A3
3
1
1
1
3
1
2
1
A4
3
3
1
1
3
1
3
2
B1
3
1
3
1
3
2
3
3
B2
3
1
1
1
3
2
2
2
B3
3
2
1
2
3
2
2
1
B4
3
1
2
1
3
2
3
1
C1
3
2
2
2
3
3
2
1
C2
3
3
1
2
3
3
3
3
C3
3
3
3
3
3
2
3
2
C4
3
2
2
2
3
3
3
2
D1
3
1
2
1
3
3
3
2
D2
3
2
2
1
3
3
3
1
D3
3
1
3
2
3
3
2
3
E1
3
3
2
1
3
2
3
1
E2
3
1
1
2
3
2
3
3
E3
3
2
1
1
3
2
3
1
E4
3
1
1
1
3
2
2
3
F1
3
2
2
1
3
1
2
1
F2
3
2
1
1
3
1
2
3
F3
3
1
1
1
3
1
2
1
F4
3
1
1
2
3
1
2
1
G1
3
3
2
1
3
2
2
3
G2
3
2
2
2
3
2
3
1
G3
3
3
1
2
3
2
2
3
G4
3
1
1
1
3
2
2
1
H1
3
2
1
1
3
1
2
3
H2
3
1
1
1
3
1
2
1
H3
3
2
1
1
3
1
2
1
H4
3
2
3
3
3
1
2
1
%
100 61 42 38 100 64 100 56
Total
16
18
13
17
19
15
16
16
18
21
22
20
18
18
20
18
18
16
16
15
16
13
14
19
18
19
14
16
13
14
18
Persentase
(%)
66,67
75,00
54,17
70,83
79,17
62,50
66,67
66,67
75,00
87,50
91,67
83,33
75,00
75,00
83,33
75,00
75,00
66,67
66,67
62,50
66,67
54,17
58,33
79,17
75,00
79,17
58,33
66,67
54,17
58,33
75,00
REKAPITULASI NILAI AKTIVITAS SISWA KELAS VII C SIKLUS II
Rubrik
Persentase
No
Total
B
C
D
E
F
G
H
(%)
dada A
A1
3
3
2
2
3
2
3
1
19
79,17
A2
3
2
2
2
3
2
3
3
20
83,33
A3
3
2
2
3
3
2
3
1
19
79,17
A4
3
3
2
2
3
2
3
3
21
87,50
B1
3
3
2
3
3
3
3
1
21
87,50
B2
3
2
2
2
3
3
3
3
21
87,50
B3
3
3
3
3
3
3
2
1
21
87,50
B4
3
3
1
2
3
3
3
1
19
79,17
C1
3
1
2
2
3
3
2
3
19
79,17
C2
3
2
3
3
3
3
3
1
21
87,50
C3
3
3
3
3
3
2
2
2
21
87,50
C4
3
3
2
1
3
3
3
1
19
79,17
D1
3
2
2
1
3
3
3
3
20
83,33
D2
3
3
2
2
3
3
3
1
20
83,33
D3
3
3
3
3
3
2
2
3
22
91,67
E1
3
3
2
2
3
3
2
2
20
83,33
E2
3
2
2
3
3
1
3
3
20
83,33
E3
3
3
2
2
3
3
3
1
20
83,33
E4
3
3
2
2
3
3
2
2
20
83,33
F1
3
2
2
2
3
2
2
3
19
79,17
F2
3
2
2
2
3
3
3
2
20
83,33
F3
3
3
1
2
3
3
2
1
18
75,00
F4
3
2
2
3
3
3
2
1
19
79,17
G1
3
2
3
2
3
3
3
1
20
83,33
G2
3
3
3
3
3
3
2
2
22
91,67
G3
3
2
1
3
3
2
3
2
19
79,17
G4
3
2
1
1
3
2
2
2
16
66,67
H1
3
3
1
3
3
1
2
1
17
70,83
H2
3
2
2
1
3
2
2
1
16
66,67
H3
3
2
1
2
3
2
3
1
17
70,83
H4
3
2
1
3
3
2
2
1
17
70,83
%
100 100 83 93 100 74 100 62
Purworejo, 28 Februari 2011
Tina Adityana
96
Lampiran 8. Data observasi hasil belajar siswa semester I dan rekapitulasi nilai siklus I dan II
DATA STUDI AWAL/ OBSERVASI KELAS VII C
NO
NAMA
ADITYA YUDANTOKO
AGHATA GRISTYANTIKA
AJI CAHYONO
ALAM REFORMASI PUTRA PAMUNGKAS
ALESSANDRO ERVAN SATYA MAHENDRA
ARDIAN CAHYA SEPTIANTO
ARTI ARIYANI
BINTANG RISKI SULISTYOWATI
DEVI LAILA RAMADHANI
DIMAH MUZAMIL
DONNA FITRIYANA GUSMAN
FIZERA LINDIANA
JOSSY SRIE SAFITRI
KANTI ENDAH SUSILO
KRISMA ASPURI APRIAJI
KRISTI PUSPITASARI
MOCHAMAD HIKAM BISALAM
MUHAMAD FAIZIN
MUHAMMAD ZAKYAZIZI
NOVIAN DENY CAHYO AJI
OKTIANA PRI DIANTI
RAFIF NUR FAWWAZ
RAHMADANI REFON NUGROHO
RIANDINI AYU RAHADANTI
RONALDO HENTA PRATAMA
SAFITRI DEWI NUGRAHENI
SENDY ANDRIANI
SINDY SUKMA PUTRI
WIDIASRI FAJAR HIDAYAH
WISNU PRADANA
YOLANDA TASYA TILLANA
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
Rata-rata
Persentase ketidaktuntasan
L= 14 P= 18
L
P
L
L
L
L
P
P
P
P
P
P
P
P
L
P
L
L
L
L
P
L
L
P
L
P
P
P
P
L
P
KKM
UK1
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
UK2
UK3
75
75
85
75
65
90
75
80
75
75
75
60
75
85
65
80
70
80
80
70
85
75
75
80
80
80
70
75
85
85
70
75
70
80
80
75
60
60
60
75
70
70
55
80
65
85
80
75
70
70
45
85
60
60
80
90
70
85
60
80
75
75
60
60
80
75
70
70
55
80
80
85
75
70
55
75
80
85
75
85
80
75
80
85
80
70
75
80
70
60
75
60
70
75,16129 74,35484 71,93548
19,35%
32,25%
48,38%
97
REKAPITULASI NILAI HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA SIKLUS I
KELAS VII C SMP 1 PURWOREJO
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
NO
INDUK
11848
11849
11850
11851
11852
11853
11854
11856
11857
11858
11859
11860
11861
11862
11863
11864
11865
11866
11867
11868
11869
11870
11871
11872
11873
11874
11875
11876
11877
11878
11879
NO
DADA
D1
G1
B2
C3
C4
B3
E4
H4
H1
G3
F1
F2
H3
G2
B4
G4
D2
A1
A4
B1
H2
C1
A3
E3
D3
F3
E2
F4
E1
A2
C2
NAMA
ADITYA YUDANTOKO
AGHATA GRISTYANTIKA
AJI CAHYONO
ALAM REFORMASI PUTRA PAMUNGKAS
ALESSANDRO ERVAN SATYA MAHENDRA
ARDIAN CAHYA SEPTIANTO
ARTI ARIYANI
BINTANG RISKI SULISTYOWATI
DEVI LAILA RAMADHANI
DIMAH MUZAMIL
DONNA FITRIYANA GUSMAN
FIZERA LINDIANA
JOSSY SRIE SAFITRI
KANTI ENDAH SUSILO
KRISMA ASPURI APRIAJI
KRISTI PUSPITASARI
MOCHAMAD HIKAM BISALAM
MUHAMAD FAIZIN
MUHAMMAD ZAKYAZIZI
NOVIAN DENY CAHYO AJI
OKTIANA PRI DIANTI
RAFIF NUR FAWWAZ
RAHMADANI REFON NUGROHO
RIANDINI AYU RAHADANTI
RONALDO HENTA PRATAMA
SAFITRI DEWI NUGRAHENI
SENDY ANDRIANI
SINDY SUKMA PUTRI
WIDIASRI FAJAR HIDAYAH
WISNU PRADANA
YOLANDA TASYA TILLANA
L=14
P=17
L
P
L
L
L
L
P
P
P
P
P
P
P
P
L
P
L
L
L
L
P
L
L
P
L
P
P
P
P
L
P
KKM
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
NILAI TES NILAI LDS
93
93
86
80
73
80
86
86
60
80
86
73
66
86
93
93
86
80
66
86
60
86
80
73
93
66
80
60
73
100
80
92
84
80
86
86
80
86
76
76
84
84
84
76
84
80
84
92
76
76
80
76
86
76
86
92
84
86
84
86
76
86
NILAI HB
SIKLUS I
82,00
90,00
84,00
82,00
77,33
80,00
86,00
82,67
65,33
81,33
85,33
76,67
69,33
85,33
88,67
90,00
88,00
78,67
69,33
84,00
65,33
86,00
78,67
77,33
92,67
72,00
82,00
68,00
77,33
92,00
82,00
KETERANGAN
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
NILAI
KETERANGAN
AKTIVITAS (%)
75,00 aktif
79,17 aktif
62,50 cukup aktif
91,67 sangat aktif
83,33 aktif
66,67 cukup aktif
75,00 aktif
75,00 aktif
66,67 cukup aktif
79,17 aktif
62,50 cukup aktif
66,67 cukup aktif
54,17 kurang aktif
75,00 aktif
66,67 cukup aktif
58,33 kurang aktif
75,00 aktif
66,67 cukup aktif
70,83 cukup aktif
79,17 aktif
54,17 kurang aktif
75,00 aktif
54,17 kurang aktif
66,67 cukup aktif
83,33 aktif
54,17 kurang aktif
75,00 aktif
58,33 kurang aktif
75,00 aktif
75,00 aktif
87,50 sangat aktif
Purworejo, 28 Februari 2011
Mengetahui
Mulat Tariningsih, S.Pd
NIP. 196808071998022002
98
REKAPITULASI NILAI HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA SILKIS I
KELAS VII C SMP 1 PURWOREJO
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
NO
INDUK
11848
11849
11850
11851
11852
11853
11854
11856
11857
11858
11859
11860
11861
11862
11863
11864
11865
11866
11867
11868
11869
11870
11871
11872
11873
11874
11875
11876
11877
11878
11879
NO
DADA
D1
G1
B2
C3
C4
B3
E4
H4
H1
G3
F1
F2
H3
G2
B4
G4
D2
A1
A4
B1
H2
C1
A3
E3
D3
F3
E2
F4
E1
A2
C2
NAMA
ADITYA YUDANTOKO
AGHATA GRISTYANTIKA
AJI CAHYONO
ALAM REFORMASI PUTRA PAMUNGKAS
ALESSANDRO ERVAN SATYA MAHENDRA
ARDIAN CAHYA SEPTIANTO
ARTI ARIYANI
BINTANG RISKI SULISTYOWATI
DEVI LAILA RAMADHANI
DIMAH MUZAMIL
DONNA FITRIYANA GUSMAN
FIZERA LINDIANA
JOSSY SRIE SAFITRI
KANTI ENDAH SUSILO
KRISMA ASPURI APRIAJI
KRISTI PUSPITASARI
MOCHAMAD HIKAM BISALAM
MUHAMAD FAIZIN
MUHAMMAD ZAKYAZIZI
NOVIAN DENY CAHYO AJI
OKTIANA PRI DIANTI
RAFIF NUR FAWWAZ
RAHMADANI REFON NUGROHO
RIANDINI AYU RAHADANTI
RONALDO HENTA PRATAMA
SAFITRI DEWI NUGRAHENI
SENDY ANDRIANI
SINDY SUKMA PUTRI
WIDIASRI FAJAR HIDAYAH
WISNU PRADANA
YOLANDA TASYA TILLANA
L=14
P=17
L
P
L
L
L
L
P
P
P
P
P
P
P
P
L
P
L
L
L
L
P
L
L
P
L
P
P
P
P
L
P
KKM
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
NILAI TES NILAI LDS
100
93
93
100
93
93
86
86
66
100
86
86
73
100
93
93
86
86
86
86
66
93
80
93
86
80
86
73
73
100
86
92
84
80
86
86
80
86
80
80
84
84
84
80
84
80
84
92
80
80
80
80
86
80
86
92
84
86
84
86
80
86
NILAI HB
SIKLUS I
97,33
90,00
88,67
95,33
90,67
88,67
86,00
84,00
70,67
94,67
85,33
85,33
75,33
94,67
88,67
90,00
88,00
84,00
84,00
84,00
70,67
90,67
80,00
90,67
88,00
81,33
86,00
76,67
77,33
93,33
86,00
KETERANGAN
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
NILAI
KETERANGAN
AKTIVITAS (%)
83,33 aktif
83,33 aktif
79,17 aktif
87,50 sangat aktif
79,17 aktif
79,17 aktif
83,33 aktif
70,83 cukup aktif
70,83 cukup aktif
79,17 aktif
75,00 aktif
83,33 aktif
70,83 cukup aktif
91,67 sangat aktif
79,17 aktif
66,67 cukup aktif
83,33 aktif
79,17 aktif
87,50 sangat aktif
75,00 aktif
66,70 cukup aktif
79,17 aktif
79,17 aktif
83,33 aktif
87,50 sangat aktif
75,00 aktif
83,33 aktif
70,83 cukup aktif
83,33 aktif
83,33 aktif
70,83 cukup aktif
Purworejo, 28 Februari 2011
Mengetahui
Mulat Tariningsih, S.Pd
NIP. 196808071998022002
99
Rekapitulasi jumlah siswa kaitan antara aktivitas dan hasil belajar
No
Pernyataan
1
2
3
4
Aktivitas tinggi, hasil belajar tinggi
Aktivitas tinggi, hasil belajar rendah
Aktivitas rendah, hasil belajar tinggi
Aktivitas rendah, hasil belajar rendah
Jumlah siswa
Siklus I
Siklus II
16
24
0
0
10
5
5
2
Keterangan
Aktivitas tinggi: kriteria sangat aktif dan aktif
Aktivitas rendah: kriteria cukup aktif,kurang aktif dan tidak aktif
Hasil belajar tinggi: >= 72
Hasil belajar rendah: <=72
100
LEMBAR KINERJA GURU SAAT PEMBELAJARAN EKOSISTEM
Sekolah
Kelas/Semester
Materi
Siklus
Nama guru
Hari/tanggal
: SMP 1 Purworejo
: VII C/ Genap
: Ekosistem
: Siklus I
: Mulat Tariningsih, S.Pd
: 21 Februari 2011
Petunjuk :
Berilah tanda () pada skala kriteria penilaian yang sesuai dengan keadaan guru yang
diobservasi dalam proses pembelajaran!
Dilakukan*)
No
.
Aspek yang diamati
1.
Memeriksa kehadiran siswa
1
0
2.
Menyampaikan apersepsi dan motivasi
1
0
3.
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan
kesepakatan pembelajaran
0
1
4.
Mengorganisir siswa dalam kelompok
1
0
5.
Menjelaskan Lembar Diskusi Siswa
(LDS)
1
0
6.
Membimbing siswa saat diskusi
1
7.
Memberi kesempatan siswa untuk
menyampaikan pendapat/ tanggapan
0
1
8.
Membimbing siswa saat bermain game
Pohon pengetahuan
1
0
9.
Membimbing
pembelajaran
1
0
10.
Mengawasi siswa saat mengerjakan tes
siklus
1
0
Ya
Jumlah
Rata-rata kinerja guru
Kriteria
siswa
menyimpulkan
Tidak
8
2
8 x 100% = 80%
10
Tinggi
101
LEMBAR KINERJA GURU SAAT PEMBELAJARAN EKOSISTEM
Sekolah
Kelas/Semester
Materi
Siklus
Nama guru
Hari/tanggal
: SMP 1 Purworejo
: VII C/ Genap
: Ekosistem
: Siklus II
: Mulat Tariningsih, S.Pd
: 28 Februari 2011
Petunjuk :
Berilah tanda () pada skala kriteria penilaian yang sesuai dengan keadaan guru yang
diobservasi dalam proses pembelajaran!
Dilakukan*)
No
.
Aspek yang diamati
1.
Memeriksa kehadiran siswa
1
0
2.
Menyampaikan apersepsi dan motivasi
1
0
3.
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan
kesepakatan pembelajaran
1
0
4.
Mengorganisir siswa dalam kelompok
1
0
5.
Menjelaskan Lembar Diskusi Siswa
(LDS)
1
0
6.
Membimbing siswa saat diskusi
1
0
7.
Memberi kesempatan siswa untuk
menyampaikan pendapat/ tanggapan
1
0
8.
Membimbing siswa saat bermain game
Pohon pengetahuan
1
0
9.
Membimbing
pembelajaran
1
0
10.
Mengawasi siswa saat mengerjakan tes
siklus
1
0
Ya
siswa
menyimpulkan
Tidak
Jumlah
Rata-rata kinerja guru
10
0
10 x 100% = 100%
10
Kriteria
Sangat tinggi
Observer
Fajar Adinugraha
102
Lampiran 10. Lembar Tanggapan Siswa Terhadap Proses Pembelajaran
LEMBAR TANGGAPAN SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN EKOSISTEM
MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM SOLVING DENGAN GAME
POHON
PENGETAHUAN
Petunjuk pengisian:
 Jawablah pernyataan berikut sesuai dengan pendapatmu sendiri!
 Pilih salah satu jawaban yang tersedia dengan memberi tanda cek (√) pada kolom
kategori “ya” atau “tidak”
 Minta penjelasan guru apabila terdapat hal-hal yang belum jelas!
 Jawaban yang Anda berikan tidak mempengaruhi nilai akademik Anda.
Menurut Anda, bagaimana pendapat Anda mengenai model problem solving dengan game
Pohon Pengetahuan, apakah :
No
.
1.
2.
Pernyataan
Ya
31
Menarik dan menyenangkan.
Memotivasi
siswa
untuk
mengikuti
kegiatan
pembelajaran.
3.
Membantu
siswa
untuk
memahami
materi
Ekosistem.
4.
Membuat siswa lebih tertarik untuk melakukan
diskusi.
5.
Memotivasi siswa untuk berpikir lebih kritis dan
logis
6.
Membuat
siswa
lebih
aktif
dalam
kegiatan
pembelajaran.
Kategori
(%)
Tidak
0
100 %
(%)
0%
31
100 %
0
0%
31
100 %
0
0%
30
96,77 %
1
3, 22 %
30
96,77 %
1
3, 22 %
31
100 %
0
0%
7.
Membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.
29
93, 54 %
2
6, 45 %
8.
Meningkatkan kerjasama antar siswa.
29
93, 54 %
2
6, 45 %
9.
Melatih siswa untuk saling menghargai
28
90, 33 %
3
6, 45 %
10.
Membuat
27
87, 10 %
4
12, 90 %
siswa
mengakitkan biologi dengan
kehidupan sehari-hari
103
Lampiran 11. Lembar Pedoman Wawancara guru IPA Biologi VII C
LEMBAR PEDOMAN WAWANCARA GURU IPA BIOLOGI VII C TERHADAP
PEMBELAJARAN EKOSISTEM MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM SOLVING
DENGAN GAME POHON PENGETAHUAN
1. Bagaimana kesan Ibu terhadap pembelajaran materi Ekosistem menggunakan model
pembelajaran Problem Solving dengan game Pohon Pengetahuan?
Jawab: Sangat bagus, siswa lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.
2. Bagaimana aktivitas belajar siswa ketika penyampaian materi menggunakan model
pembelajaran Problem Solving dengan game Pohon Pengetahuan?
Jawab: Baik sekali, banyak siswa yang aktif dan antusias mengikuti pembelajaran.
3. Kesulitan apa saja yang ditemukan dalam pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Problem Solving dengan game Pohon Pengetahuan?
Jawab: Kesulitan yang dialami adalah pengaturan waktu dan kemampuan menjawab
siswa saat bermain pohon pengetahuan terbatas.
4. Apakah ada peningkatan aktivitas pembelajaran setelah diterapkan model pembelajaran
Problem Solving dengan game Pohon Pengetahuan?
Jawab: Ada. Hal ini karena model ini membuat siswa tertarik dalam pembelajaran, siswa
dapat melakuakn dua hal yaitu bermain sambil belajar.
104
Lampiran 12. Dokumentasi kegiatan penelitian
DOKUMENTASI
Berdoa sebelum KBM dimulai
Apersepsi dan motivasi oleh guru
Pembagian kelompok diskusi
Penjelasan kegiatan yang akan dilakukan
Siswa melakukan pengamatan
Siswa melakukan pengamatan
105
Siswa melakukan pengamatan
Guru membimbing diskusi
Presntasi kelompok
siswa bermain game pohon pengetahuan
Guru memimpin game pohon pengetahuan
Reward berupa permen
106
Observer membantu pengamatan
Observer membantu pengamatan
Siswa mengerjakan tes siklus I
Siswa mengerjakan tes siklus II
Siswa mengisi angket tanggapan
Foto bersama siswa dan bu Mula Tariningsih
Download