Pengaruh Penggunaan Metode Hypno Teaching Terhadap Minat

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kajian Teori
Dalam bagian kajian teori ini berisi tentang pustaka untuk metode
hypnoteaching, metode ceramah, pembelajaran IPA, minat belajar IPA dan hasil
belajar IPA.
2.1.1 Metode Hypnoteaching
2.1.1.1 Pengertian Metode Hypnoteaching
Metode Hypnoteaching merupakan perpaduan antara kata “hypnosis” yang
berarti mensugesti dan “teaching” yang berarti mengajar. Hypnosis berasal dari
bahasa yunani “hypnos” yang diambil dari nama dewa tidur dalam mitologi
yunani. Dewa ini digambarkan memiliki dua sayap yang melekat pada kepalanya.
James Braid adalah orang pertama yang memperkenalkan kata “hypnosis”.
Novian Triwidia Jaya (2010) menyebutkan ada beberapa definisi hypnosis yang
pernah diungkap yaitu:
(1) Hipnosis adalah teknik atau praktik dalam mempengaruhi
orang lain untuk masuk dalam kondisi trancehypnosis, (2) hipnosis
adalah suatu kondisi dimana perhatian menjadi sangat terpusat
sehingga sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat tinggi,
(3) hipnosis adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi
seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya yang dapat
dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak dari Beta
menjadi Alpha dan Theta, (4) hipnosis adalah seni komunikasi
untuk mengeksplorasi alam bawah sadar, (5) hipnosis adalah
kondisi kesadaran yang meningkat.
Menurut Milton H. Erickson (dalam Noer 2010) menerangkan hipnosis
adalah suatu metode berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal, yang
persuasif dan sugestif kepada seorang klien sehingga dia menjadi kreatif dan
bereaksi. M. Noer (2010: 19) menambahkan bahwa pengertian hipnosis dapat
dibagi menjadi 4 macam situasi, yaitu:
(1) Hipnosis merupakan seni sugestif, yaitu bagaimana
seseorang dapat menyugesti orang lain, (2) hipnosis merupakan
seni komnunikasi, yakni komunikasi persuasif antara suyet (orang
yang dihipnotis) dengan hipnotis (orang yang menghipnosis), (3)
hipnosis juga bermakna seni eksplorasi alam bawah sadar karena
8
9
hipnosis terjadi ketika alam bawah sadar mempunyai peranan
tinggi dan alam sadarnya tidak difungsikan, dan (4) hipnosis
diartikan sebagai seni mengubah tingkat kesadaran yaitu dari
tingkat kesadaran yang kritis menjadi tidak kritis.
Merujuk apa yang dikatakan oleh Novian Trivian Jaya dan M. Noer maka
dalam penggunaan metode hypnoteaching guru sebagai pemberi perlakuan
hipnosis dan siswa adalah orang yang dihipnosis. Dalam melakukan hipnosis ini
guru hanya menggunakan bahasa persuasif dengan menerapkan langkah-langkah
metode hypnoteaching yang telah ada tanpa perlu menidurkan siswa.
Seorang psikolog bernama John Gruzelier melakukan sebuah riset
menggunakan Fmri, sebuah alat untuk mengetahui aktivitas otak. Greuselier
menemukan bahwa seseorang yang dalam keadaan terhipnosis, aktifitas dalam
otaknya meningkat. Pada saat keadaan terhipnosis manusia mampu melakukan hal
yang dimana dia sendiri tidak mampu memimpikannya. Sehingga hipnosis
berdampak dalam peningkatan minat, motivasi dan kinerja. Jika dihubungkan
dengan pembelajaran di kelas maka dengan menerapkan hypnosis dapat
meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, kemampuan konsentrasi,
kepeercayaan diri, kedisiplinan dan keorganisasian. Dari berbagai pendapat
mengenai pengertian hypnosis dapat disimpulkan bahwa hipnosis adalah seni
komunikasi dengan alam bawah sadar untuk meningkatkan sugestibilitas atau
daya terima saran pada orang yang terhipnosis.
Dalam perkembangannya hingga saat ini, hipnosis sangat membantu
dalam mengembangkan performa diri dan proses belajar-mengajar hingga
munculah istilah hypnoteaching. Metode hypnoteaching ditemukan oleh seorang
pakar motivator bernama Novian Triwidia Jaya, dengan menggabungkan metode
pembelajaran Quantum Learning, Accelerate Learning, Power Teaching, NeuroLinguistic Programming (NLP) dan Hypnosis. Penggabungan kelima metode
terlihat dalam langkah-langkah pembelajaran Hypnoteaching. Menurut Novian
dalam proses belajar mengajar, ternyata pikiran alam bahwa sadar lebih dapat
dimasuki, di antaranya mempengaruhi keyakinan, nilai, dan persepsi. Pendapat
Novian tersebut dikuatkan dengan hypnotis yang ada di televisi, yaitu kegiatan
mempengaruhi orang lain dengan memasukkan sugesti saat orang yang dihypnotis
10
mengalami keadaan di dalam alam bawah sadar. Novian Triwidia Jaya (2010)
menyebutkan bahwa
metode hypnoteaching adalah mengaktifkan inner
motivation dan mempersuasi siswa. Mempersuasi siswa untuk nyaman dan betah
dalam belajar serta dengan sugesti yang diberikan guru siswa akan termotivasi
untuk terus menikmati belajarnya. Novian juga menambahkan bahwa metode
Hypnoteaching adalah perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar
(Conscious Mind) dan pikiran bawah sadar (Sub Conscious Mind). Dari berbagai
pendapat mengenai pengertian metode hypnoteaching dapat disimpulkan bahwa
metode hypnoteaching adalah metode pembelajaran yang digunakan untuk
mengeksplorasi alam bawah sadar siswa sehingga guru bisa memberi sugesti
melalui kata-kata dan sikap dalam mengajar tanpa membuat siswa itu tidur.
2.1.1.2 Langkah-Langkah Metode Hypnoteaching
Langkah-langkah yang dapat dilakukan menurut Ibnu Hajar (2011) dalam
melakukan metode hpnoteaching antara lain: (1) niat dan motivasi dalam diri, (2)
pacing, (3) leading, (4) penggunaan kata positif, (5) pemberian pujian, (6)
modeling. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1
Sintaks Metode Hypnoteaching
No. Sintaks
1.
Niat dan Motivasi
2.
Pacing
3.
Leading
4.
Penggunaan kata positif
5.
Reward and punishment
6.
Modelling
Keterangan
Niat yang besar akan memunculkan minat,
motivasi serta komitmen yang tinggi pada
bidang yang di tekuni atau hal yang akan
dipelajari
Menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta
gelombang otak dengan orang lain atau peserta
didik.
Memimpin atau mengarahkan setelah proses
pacing yang telah dilakukan.
Kata-kata yang positif dari pendidik dapat
membuat peserta didik merasa lebih percaya
diri dalam menerima materi yang diberikan.
Dengan pujian, seseorang akan terdorong
untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya.
Proses memberi tauladan atau contoh melalui
ucapan dan perilaku yang konsisten.
11
Niat dan motivasi dalam diri merupakan langkah yang pertama. Niat yang
besar akan memunculkan minat, motivasi serta komitmen yang tinggi pada bidang
yang di tekuni atau hal yang akan dipelajari. Kesuksesan seseorang tergantung
pada niat dari diri seseorang untuk bersusah payah dan kerja keras dalam
mencapai kesuksesan tersebut.
Langkah kedua adalah Pacing. Pacing adalah penyamakan posisi, gerak
tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain atau peserta didik. Secara
alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk
berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya sehingga akan
merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari
kesamaan gelombang otak ini, maka setiap pesan yang disampaikan dari orang
satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat
baik.
Setelah pacing, maka langkah yang ketiga adalah leading. Leading berarti
memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing yang telah dilakukan. Setelah
melakukan pacing, maka peserta didik akan merasa nyaman dengan kita. Pada
saat itulah hampir setiap apapun yang kita ucapkan atau tugaskan pada peserta
didik, maka peserta didik akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia.
Sesulit apapun materinya, maka pikiran bawah sadar peserta didik akan
menangkap materi pelajaran kita adalah hal yang mudah, maka sesulit apapun soal
ujian yang diujikan, akan ikut menjadi mudah, dan peserta didik akan dapat
meraih prestasi belajar yang gemilang.
Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing
dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah
sadar yang tidak mau menerima kata negatif. Kata-kata yang diberikan oleh
pendidik entah langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi kondisi
psikis peserta didik. Kata-kata yang positif dari pendidik dapat membuat peserta
didik merasa lebih percaya diri dalam menerima materi yang diberikan. Kata-kata
tersebut dapat berupa ajakan dan himbauan. Jadi apabila ada hal-hal yang tidak
boleh dilakukan oleh peserta didik, hendaknya menggunakan kata ganti yang
positif untuk mengganti kata-kata negatif tadi. Sebagai contoh apabila akan
12
menenangkan kelas yang ramai, biasanya kata perintah yang keluar adalah
“jangan ramai”. Kata-kata “jangan ramai” ini dalam pelaksanaan metode
hypnoteaching hendaknya diganti dengan “mohon tenang”, dan sebagainya.
Pemberian pujian merupakan salah satu hal yang penting dalam
pembelajaran, atau juga biasa disebut reward and punishment. Pujian merupakan
reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk
membentuk konsep diri seseorang. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada
peserta didik. Dengan pujian, seseorang akan terdorong untuk melakukan yang
lebih dari sebelumnya.
Modeling adalah proses memberi tauladan atau contoh melalui ucapan dan
perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci
hypnoteaching. Setelah peserta didik menjadi nyaman dengan kita. Maka perlu
pula kepercayaan (trust) peserta didik pada kita dimantapkan dengan perilaku kita
yang konsisten dengan ucapan dan ajaran kita. Sehingga kita selalu menjadi figur
yang dipercaya.
Untuk
mendukung
serta
memaksimalkan
sebuah
pembelajaran
hypnoteaching, hendaknya pendidik dapat melakukan hal-hal seperti: (1)
menguasai materi secara komprehensif, (2) melibatkan peserta didik secara aktif,
(3) mengupayakan untuk melakukan interaksi informal dengan peserta didik, (4)
memberi peserta didik kewenangan dan tanggung jawab atas belajarnya, (5)
meyakini bahwa cara manusia belajar adalah berbeda satu sama lain, (6) yakinkan
peserta didik bahwa mereka mampu, (7) memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk melakukan sesuatu secara kolaboratif atau kooperatif, (8) upayakan
materi yang disampaikan kontekstual, (9) memberikan umpan balik secara
langsung dan bersifat deskriptif.
2.1.2
Metode Ceramah
2.1.2.1 Pengertian Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang paling populer dan banyak dilakukan
oleh guru, selain mudah penyajian juga tidak banyak memerlukan media
(Sumantri M dkk, 2000:136). Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan
menganggap bahwa metode ceramah itu mudah dalam penggunaannya dalam
13
proses kegiatan pembelajaran di kelas. Karena dianggap metode yang popular dan
banyak dilakukan oleh guru, maka kecenderungan untuk menganggap metode
tersebut mudah diterapkan di kelas semakin bertambah juga.
Fakta bahwa metode ceramah itu sangat dipengaruhi oleh pribadi guru
yang bersangkutan tidak bisa disingkirkan begitu saja. Seorang guru harus
memiliki keterampilan yang cukup untuk menggunakan metode ceramah dalam
proses belajar di kelas. Hal senada diungkapkan oleh Dimyati dkk (1999:28)
bahwa metode ceramah itu sangat dipengaruhi oleh personalitas guru yaitu suara,
gaya bahasa, sikap, prosedur, kelancaran, kemudahan bahasa, keteraturan guru
dalam memberikan penejelasan yang tidak dapat dimiliki secara mudah oleh
setiap guru.
Sumantri M dkk (2000) mendefinisikan metode ceramah sebagai penyajian
pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada
peserta didik. Dimyati dkk (1991: 29) menungkapkan bahwa metode ceramah
adalah sebuah bentuk interaksi belajar mengajar yang dilakukan melalui
penjelasan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap sekelompok peserta
didik. Menurut Wina Sanjaya (2006: 145) mengungkapkan bahwa metode
ceramah dapat diartikan sebagai cara penyajian pelajaran melalui penuturan secara
lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa. Menurut Nana Sudjana
(2000: 77), ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Nana Sudjana
menegaskan bahwa metode ceramah tidak senantiasa jelek bila penggunaannya
dipersiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan
batas-batas penggunaannya.
Selanjutnya, metode ceramah adalah suatu cara penyajian bahan ajar atau
cara mengajar melalui penjelasan atau penuturan secara lisan oleh guru kepada
peserta didik (PS Widi Rahardjo, 2002). Muhibbin Syah (2000), metode ceramah
dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk
menyampaikan informasi dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur
atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud metode ceramah
adalah cara belajar mengajar yang menekankan pada pemberitaan satu arah dari
14
pengajar kepada pelajar (pengajar aktif, pelajar pasif). Dari beberapa pendapat
para ahli diatas peneliti memberi kesimpulan bahwa metode ceramah adalah cara
menyampaikan sebuah materi pelajaran atau informasi dengan penuturan lisan
kepada siswa.
Menurut Abdul Majid (2006:138) metode ceramah bertujuan untuk: (1)
menciptakan landasan pemikiran peserta didik melalui produk ceramah yaitu
bahan tulisan peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar melalui bahan
tertulis hasil ceramah, (2) menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan
permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran, (3) merangsang peserta didik
untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pemerkayaan
belajar, (4) memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara
gambling, (5) sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya
menjelaskan prosedur yang harus ditempuh peserta didik.
Alasan guru menggunakan metode ceramah harus benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan. Metode ceramah ini digunakan karena pertimbangan: (1)
anak benar-benar memerlukan penjelasan, misalnya karena bahan baru atau guna
menghindari kesalahpahaman, (2) benar-benar tidak ada sumber bahan pelajaran
bagi peserta didik, (3) menghadapi peserta didik yang banyak jumlahnya dan bila
metode lain sukar diterapkan, (4) menghemat biaya, waktu, dan peralatan.
Agar metode ceramah berhasil, maka ada beberapa hal yang harus
dilakukan, baik pada tahap persiapan maupun pada tahap pelaksanaan. Pada
langkah persiapan, langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah
merumuskan tujuan yang akan dicapai secara jelas dan terarah. Apa saja yang
harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran dengaan metode ceramah
berakhir. Setelah itu langkah selanjutnya adalah menentukan pokok-pokok materi
yang akan diceramahkan. Tingkat penguasaan guru terhadap materi pembelajaran
akan sangat menentukan dalam metode ceramah. Oleh sebab itu, guru sebaiknya
harus mempersiapkan terlebih dahulu pokok-pokok materi yang akan disampaikan
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Termasuk persiapanpersiapan media, ilustrasi-ilustrasi yang sesuai, agar bisa lebih memperjelas
materi ceramah yang akan disampaikan. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan
15
persepsi siswa, dan meningkatkan kualitas ceramah, sangat diperlukan alat bantu
pembelajaran, misalnya dengan mempersiapkan transparansi, media grafis, dan
lain-lain.
2.1.2.2 Langkah Pembelajaran Metode Ceramah
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam tahap pelaksanaan
adalah: langkah pembukaan, langkah penyajian, dan langkah penutup. Langkah
pembukaan
merupakan
langkah
keberhasilan pelaksanaan
metode
yang
ceramah
sangat
sangat
menentukan,
karena
ditentukan
melalui
langkah pembukaan ini. Langkah penyajian merupakan tahap penyampaian
materi pembelajaran dengan cara bertutur. Langkah yang terakhir adalah langkah
penutup. Agar materi pembelajaran yang sudah disampaikan tidak lenyap begitu
saja dalam memori siswa, sebaiknya guru dalam ceramah penutupan, menciptakan
aktifitas kegiatan-kegiatan yang membuat siswa tetap bisa mengingat materi
pembelajaran yang sudah disampaikan.
Menurut Silberman, Mel dalam (Tukiran dkk., 20012: 47-48) menjelaskan
bahwa dilakukan modifikasi pada langkah-langkah pelaksanaannya akan
mengurangi kekurangannya seperti kurangnya keaktifan siswa. Langkah-langkah
dalam metode ceramah antara lain: (1) mengemukakan cerita atau visual yang
menarik, (2) menawarkan sebuah masalah, (3) membangkitkan perhatian melalui
kegiatan tanya jawab, (4) memberi poin-poin dari ceramah pada kata-kata kunci
yang berfungsi sebagai alat bantu ingatan, (5) mengemukakan ilustrasi kehidupan
nyata mengenai gagasan dan ceramah, (6) menggunakan alat bantu visual, (7)
menghetikan ceramah secara periodik untuk memberikan pertanyaan kepada
peserta didik mengenai contoh dari konsep yang telah disajikan dalam materi, (8)
latihan-latihan atau evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa, (9) memberikan
pertanyaan yang didasarkan pada informasi yang diberikan saat ceramah, (10)
membuat rangkuman dari ceramah atau materi yang telah diberikan.
2.1.2.3 Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah
Ada beberapa kelebihan sebagai alasan mengapa ceramah sering
digunakan, yaitu: (1) ceramah merupakan metode yang murah dan mudah untuk
dilakukan atau bisa dikatakan tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit, (2)
16
ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas dalam arti materi pelajaran
yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam
waktu yang singkat, (3) ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang
perlu ditonjolkan, (4) melalui metode ceramah guru dapat mengontrol keadaan
kelas, (5) Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi
lebih sederhana.
Di samping mempunyai kelebihan, ceramah juga memiliki beberapa
kelemahan, diantaranya: (1) materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari
ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru, (2) ceramah yang tidak
disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme, (3) guru
yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap
sebagai metode yang membosankan, (4) melalui ceramah, sangat sulit untuk
mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum
karena ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya terkadang tidak ada seorang
pun yang bertanya, semua itu tidak menjamin siswa seluruhnya sudah paham.
2.1.3
Pembelajaran IPA di SD
IPA berasal dari kata sains yang berarti alam. IPA atau sains juga dapat
diartikan sebagai lmu yang mempelajari fakta atau peristiwa-peristiwa yang
terjadi di alam. Rustaman dkk (2011:1) menyatakan hakikat sains merupakan
produk, proses dan penerapannya (teknologi), termasuk sikap dan nilai yang
terdapat di dalamnya. Produk dari sains tersebut antara lain terdiri dari fakta,
konsep, prinsip, hukum, dan teori. Melalui penggunaan metode ilmiah, produk
sains yang diharapkan tersebut akan tercapai. Whittington dalam Rustaman (2011)
mengungkapkan bahwa suatu metode pembelajaran dapat dikembangkan cara
membaca bahan ajar, bertanya, menerapkan konsep dan prinsip, berorientasi pada
masalah dan menyelesaikan materi subyek dengan refleksi dan pemahaman.
Menurut PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006, pendidikan IPA diarahkan
untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Dari
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA atau sains merupakan
pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang didapatkan melalui langkah-
17
langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen
atau observasi mengenai alam sekitar yang akan terus berkembang.
Pembelajaran IPA juga memiliki beberapa tujuan pembelajaran bagi
peserta didik. Berdasarkan PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006, mata
pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut:
(1) memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang
Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam
ciptaan-Nya, (2) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, (3) mengembangkan rasa ingin tahu,sikap
positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat,
(4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam
sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, (5)
meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara,
menjaga dan melestarikan lingkungan alam, (6) meningkatkan
kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan. (7) memperoleh bekal
pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke SMP/ MTs.
Menurut Hernawan dkk (2010), fungsi dari Ilmu Pengetahuan Alam adalah
untuk memberikan pengetahuan mengenai lingkungan alam, mengembangkan
ketrampilan, wawasan, dan kesadaran dalam penerapannya bagi kehidupan seharihari (teknologi). Berdasarkan beberapa tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa
belajar sains bukan hanya menyimpan pengetahuan, tetapi harus dikembangkan
serta diaplikasikan ke dalam bentuk yang bermanfaat dalam kehidupan seharihari.
2.1.4
Hakikat Belajar
Belajar menurut Slameto (2010:2) adalah suatu rangkaian upaya yang
dilakukan seseorang untuk menciptakan suatu perubahan tingkah laku baru secara
keseluruhan, melalui hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Yamin (2007:7) mengemukakan bahwa belajar adalah proses
perubahan perilaku yang diakibatkan oleh interaksi dengan lingkungan. Bahri dan
Aswan (2010:10-11) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku
18
kerena pengalaman dan latihan yang dilakukannya. Dari beberapa pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan serangkaian proses
perubahan tingkah laku yang diakibatkan oleh interaksi terhadap lingkungan yang
ada. Sebuah perilaku yang dilakukan oleh individu merupakan cerminan dari
lingkungan yang mempengaruhinya. Sebagai contoh sebuah lingkungan yang
kumuh, sering terjadi kriminalitas atau pun kekerasan didalamnya maka akan
menciptakan individu kurang baik. Suatu sekolah yang kurang memperhatikan
kedisiplinan maka terbentuklah sikap kurang disiplin pula dari siswa-siswanya
begitu juga sebaliknya.
Lingkungan yang mempengaruhi dalam belajar berupa lingkungan formal
seperti sekolah dan nonformal seperti rumah atau lingkungan sekitar siswa. Dalam
proses belajar, apabila seseorang tidak mendapatkan peningkatan pengetahuan,
keterampilan serta perubahan perilaku, maka sebenarnya belum mengalami proses
belajar. Faktor yang berperan belajar yaitu faktor intern yang meliputi faktor
jasmaniah, kebosanan, psikologis dan kelelahan sedangkan faktor ekstern meliputi
faktor keluarga, sekolah dan masyarakat.
2.1.5
Hasil Belajar IPA
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajar atau juga telah mengalami proses belajar. Menurut
Uno (2008), hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap
dalam
diri
seseorang
dikarenakan
adanya
interaksi
seseorang
dengan
lingkungannya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Suprijono (2009) bahwa
hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya seluruh
aspek potensi kemanusiaan saja. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiyono
(2006) hasil belajar merupakan hal yang dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa
dan sisi guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan
mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar, sedangkan
dari sisi guru adalah bagaimana guru bisa menyampaikan pembelajaran dengan
baik dan siswa bisa menerimanya. Menurut Hamalik (2006), hasil belajar adalah
apabila seseorang telah belajar maka akan terjadi perubahan tingkah laku pada
19
orangtersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti.
Dari beberapa pernyataan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah perubahan tingkah laku dan pikiran setelah melakukan
pembelajaran. Perubahan tersebut mencakup semua perubahan yang bersifat
progresif yang diharapkan kearah yang lebih baik. Bagi seorang siswa hasil
belajar ini dapat dilihat melalui perubahan yang terjadi pada seorang siswa mulai
dari belum pandai setelah belajar maka menjadi pandai. Perubahan ini tentunya
setelah siswa berinteraksi dengan lingkungannya yang diukur melalui tes, tugas,
pengamatan, atau evaluasi.
Hasil belajar IPA sendiri dapat diartikan perubahan tingkah laku dan
pikiran sebagai produk dari proses belajar IPA yang telah terjadi dan mampu
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian disimpulkan dari beberapa
pendapat para ahli mengenai hasil belajar dan juga menghubungkan dengan
hakikat pembelajaran IPA itu sendiri.
Berdasarkan teori Taksonomi Bloom dalam (Dimyati dan Mudjiono,
2009), hasil mencakup tiga kategori ranah, dua diantara yaitu kognitif dan afektif.
Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari
aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
Ranah Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima
jenjang kemampuan yaitu menerima,menjawab atau reaksi, menilai, organisasi
dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. Ranah yang lain adalah
psikomotorik. Menurut simpson dalam (Dimyati dan Mudjiono, 2009), ranah
psikomotorik mencakup 7 aspek yaitu persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing,
gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan
kreativitas. Ketiga ranah tersebut merupakan dasar dari pengukuran hasil belajar.
Slameto (2010) menyertakan sejumlah faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil belajar, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern, merupakan
faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar. Faktor intern meliputi faktor
jasmaniah (faktor kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan) dan faktor kelelahan.
20
Sedangkan faktor ekstern, merupakan faktor yang ada di luar individu. Faktor
ekstern meliputi faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan
latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi
guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran,
waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode
mengajar, dan tugas rumah), dan faktor masyarakat (kegiatan anak dalam
masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).
Faktor-faktor yang terkait dengan hasil belajar adalah hal yang sangat penting
untuk dikaitkan dengan hasil belajar yang didapatkan oleh peserta didik. Yang
paling penting untuk diketahui adalah setiap peserta didik mempunyai
karakteristik yang berbeda-beda. Sehingga metode yang digunakan seorang guru
dalam pembelajaran tidak selalu berdampak positif kepada semua peserta didik.
2.1.6
Minat Belajar IPA
Minat adalah sesuatu yang sangat penting bagi seseorang untuk melakukan
suatu aktivitas, dengan minat orang akan berusaha mencapai tujuannya. Oleh
karena itu minat dikatakan sebagai salah satu aspek psikis manusia yang dapat
mendorong untuk mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap
suatu objek, cenderung untuk memperbaiki perhatian atau merasa senang yang
lebih besar kepada objek tersebut. Namun apabila objek tersebut tidak
menimbulkan rasa senang, maka ia tidak akan memiliki minat pada objek
tersebut. Minat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kecenderungan
hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan. Menurut Suyanto dalam (Qym,
2009) mengungkapkan bahwa minat merupakan pemusatan perhatian yang tidak
sengaja yang terlahir dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan
lingkungan. Minat menurut Utami dan Fauzan dalam (Qym, 2009) adalah
kecenderungan yang relatif menetap sebagai bagian diriseseorang untuk tertarik
dan menekuni bidang - bidang tertentu. Slameto (2010) mengatakan bahwa minat
adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas
tanpa ada yang menyuruh. Manusia akan berbuat sesuatu apabila ia memenuhi
minat terhadap kegiatan tersebut, minat muncul apabila manusia menyukai
21
sesuatu. Sardiman A. M. (2008) berpendapat bahwa minat diartikan sebagai suatu
kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi
yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya
sendiri. Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli dan
berdasarkan hakikat dari pembelajaran IPA tersebut, dapat disimpulkan bahwa
minat belajar IPA adalah suatu rasa senang seseorang terhadap pembelajaran IPA
yang telah digemari dan juga disertai adanya perhatian dan keaktifan untuk
melakukan proses belajar tanpa adanya unsur paksaan dari orang lain.
Minat juga merupakan dorongan yang menyebabkan timbulnya perhatian
seseorang dan pemusatan pikiran. Minat pada dasarnya adalah tindakan akan
sesuatu hubungan antara diri sendiri (internal) dan di luar diri (eksternal).
Semakin besar hubungan tersebut semakin besar pula minat yang timbul.
Berdasarkan beberapa definisi minat yang telah dikemukakan dapat ditarik
kesimpulan bahwa minat adalah keinginan seseorang (individu) yang melibatkan
unsur jiwa atau batin melakukan kegiatan (aktivitas) dengan senang serta penuh
perhatian untuk mencapai tujuannya.
Suyitno (2004:2) mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah upaya
menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan
kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan
siswa serta antara siswa dengan siswa. Dengan begitu, adanya minat dalam suatu
pembelajaran adalah hal yang tidak bisa dilupakan. Hal itu dikarenakan minat
merupakan salah satu hal yang menunjang dalam proses pembelajaran termasuk
pembelajaran IPA itu sendiri.
Skinner menegaskan bahwa dalam pembelajaran ada beberapa hal yang
dapat mempengaruhi minat siswa, maka seorang pendidik harus dapat mengubah
proses
belajar
yang
membosankan
menjadi
pengalaman
belajar
yang
menggairahkan, caranya antara lain sebagai berikut: (1) materi yang dipelajari
haruslah menjadi menarik dan menimbulkan suasana baru, (2) materi pelajaran
akan menjadi lebih menarik apabila siswa mengetahui tujuan dari pelajaran itu,
(3) media yang menarik sesuai dengan materi yang diajarkan.
22
Ada dua aspek yang terdapat dalam minat antara lain aspek kognitif dan
aspek afektif. Aspek kognitif mengandung pengertian bahwa minat selalu
didahului oleh pengetahuan, pengetahuan, pemahaman dan konsep yang diperoleh
dan dikembangkan dan pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya.
Aspek afektif menunjukkan pada derajat emosional yang dinyatakan dalam
bentuk proses menilai untuk menentukan kegiatan yang disenangi. Jadi, suatu
aktivitas bila disertai dengan minat individu yang kuat, maka ia akan
mencurahkan perhatiannya dengan baik terhadap aktivitas tersebut.
Aspek minat belajar yaitu, terdiri dari partisipasi/ perbuatan, perhatian dan
perasaan senang. Minat untuk belajar tidak dapat timbul secara tiba-tiba. Tanpa
adanya partisipasi seseorang tidak akan mempunyai rasa untuk menyenangi
seseuatu yang dilakukannya. Perhatian merupakan kegiatan yang dilakukan
seseorang dalam hubungannya dengan pemulihan rangsangan yang datang dari
lingkungannya. Slameto (2010) mengemukakan bahwa istilah perhatian
merupakan bagian dari konsentrasi. Slameto (2010) juga menjelaskan bahwa
perhatian juga dapat disebut minat momentan, yaitu perasaan tertarik pada suatu
masalah yang sedang dipelajari. Konsentrasi dalam belajar dipengaruhi oleh
perasaan siswa dalam minatnya terhadap belajar. Siswa yang berperasaan tidak
senang dalam belajar dan tidak berminat dalam materi pelajaran akan mengalami
kesulitan dalam memusatkan tenaga dan energinya begitu juga sebaliknya.
Perasaan adalah suatu pernyataan jiwa yang menunjukan senang ataupun tidak
senang. Minat dan perasaan senang mempunyai hubungan timbal balik, jadi jika
siswa yang mempunyai rasa tidak senang dalam suatu pembelajaran maka bisa
dikatakan bahwa siswa juga tidak berminat dalam melakukan proses pembelajaran
tersebut.
Seorang siswa yang mempunyai minat belajar IPA yang mereka ikuti
tanpa rasa tertekan atau terdapat unsur keterpaksaan, maka tingkat konsentrasinya
dalam mengikuti pelajaran akan meningkat. Dengan begitu, dapat juga dikatakan
bahwa minat belajar akan mempengaruhi kemampuan belajar seorang siswa.
Materi pelajaran yang diberikan guru akan dipelajari dengan baik apabila siswa
dapat berkonsentrasi dengan baik pula dan juga hal itu disertai rasa senang
23
terhadap materi pelajaran yang telah diberikan. Tetapi, akan sebaliknya apabila
siswa tidak berminat dengan materi pelajaran yang telah disampaikan.
2.2 Penelitian yang Relevan
Kajian penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan oleh Rudy Aryanto mahasiswa Program Studi PGSD Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta yang
berjudul “Pengaruh Metode Hypnoteaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas 5
Di SD Negeri Begalon II No.241 Surakarta Tahun 2011 /2012” dilaksanakan
kemudian diuji pada Bulan Februari Tahun 2012. Hasil penelitian yang dilakukan
Rudy Aryanto (2012) menyimpulkan bahwa metode hypnoteaching mempunyai
pengaruh terhadap hasil belajar siswa di SDN Begalon II No.241 Surakarta Tahun
2011 / 2012.
Penelitian lain yang relevan yaitu penelitian Linta Rahmawatiningrum
mahasiswa Program Studi S1 PGSD FKIP Universitas Kristen Satya Wacana.
Penelitiannya yang berjudul “Efektivitas Penggunaan Metode
Hypnoteaching
dalam Pembelajaran Matematika Kelas 4 Semester 2 di SDIP H. Soebandi
Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2011/2012”. Jenis
penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasy Experimental Design).
Desain Penelitian ini adalah Two-groups post-test only design. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas pembelajaran yang signifikan
antara penggunaan Metode Hypnoteaching dengan Metode Konvensional pada
mata pelajaran Matematika siswa kelas IV SDIP H. Soebandi Kec. Bawen Kab.
Semarang Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan signifikan 2 sisi sebesar 0.000.
Koefisien signifikansi tersebut lebih kecil dari 0.05 yang berarti terdapat
perbedaan efektivitas pembelajaran yang signifikan dengan menggunakan Metode
Hypnoteaching.
24
Tabel 2
Daftar Penelitian yang Relevan
No
Nama
Tahun
Hypno
teaching
Hasil
Belajar
1.
Rudy Aryanto
2012
√
√
2.
Linta Rahmawatiningrum
2012
√
√
Minat
Belajar
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kedua penelitian tersebut dapat diketahui
perbedaan dari penelitian ini selain subjek penelitian adalah penambahan variabel
minat untuk diukur.
2.3 Kerangka Pikir
Dalam penelitian ini akan diketahui seberapa besar perbedaan yang
signifikan antara hasil dan minat belajar antara metode hypnoteaching dengan
metode ceramah. Kondisi awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen
berada dalam kondisi yang setara, hal ini diketahui dari uji kesetaraan yang
dilakukan sebelum melakukan perlakuan. Setelah diketahui bahwa kedua
kelompok adalah setara maka keduanya akan diberi perlakuan, kelompok
eksperimen menggunakan metode hypnoteaching sedangkan kelompok kontrol
menggunakan metode ceramah. Pada akhir perlakuan kedua kelompok diberi tes
kemampuan berupa soal pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar dan angket
minat untuk mengukur minat belajar.
Data yang telah didapatkan dari kedua kelompok berupa rerata dari skor
minat dan hasil belajar akan dibandingkan. Jika pada perolehan skor minat dan
hasil belajar dari kelompok eksperimen mempunyai rata-rata lebih besar atau
berbeda secara signifikan dengan kelompok kontrol yang menggunakan metode
ceramah maka dapat disimpulkan bahwa metode hypnoteaching memang
mempunyai dampak yang signifikan dalam pembelajaran. Akan tetapi jika tidak
ada perbedaan yang signifikan diantara hasil keduanya maka dapat disimpukan
bahwa metode hypnoteaching tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap
minat dan hasil belajar karena pengaruhnya sama saja dengan metode ceramah.
25
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah dan tinjauan pustaka serta kerangka
pikir tersebut maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis alternatif (Ha) bahwa
diduga ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara penggunaan metode
hypnoteaching dengan metode ceramah terhadap minat belajar dan hasil belajar
IPA pada siswa kelas 2 di SDN Sidorejo Lor 01 Salatiga semester 2 tahun
pelajaran 2012/2013. Apabila hipotesis dirumuskan secara matematis, dapat
dilihat seperti berikut:
Ho
: µQ2 = µQ4
“Tidak ada perbedaan pengaruh (rerata) yang siginfikan dari kelompok
eksperimen yang menggunaan metode hypnoteaching dengan kelompok
kontrol yang menggunakan metode ceramah.”
Ha
: µQ2 ≠ µQ4
“Terdapat perbedaan pengaruh (rerata) yang siginfikan dari kelompok
eksperimen yang menggunaan metode hypnoteaching dengan kelompok
kontrol yang menggunakan metode ceramah.”
Download