perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KARAKTERISTIK PEMAKAIAN BAHASA
DALAM IKLAN KOMERSIAL
DI RADIO
SKRIPSI
Oleh:
ESTI PRIASTUTI
NIM K1206020
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
2010
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KARAKTERISTIK PEMAKAIAN BAHASA
DALAM IKLAN KOMERSIAL
DI RADIO
Oleh:
ESTI PRIASTUTI
NIM K1206020
Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
to user
2010
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I
Pembimbing II
Dra. Raheni Suhita, M. Hum.
NIP19630309 198803 2 001
Dr. Muhammad Rohmadi, M. Hum.
NIP19761013 200212 1 005
commit to user
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Hari
:
Tanggal :
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang
Tanda Tangan
Ketua
: Drs. Slamet Mulyono, M. Pd.
Sekertaris
: Drs. Suyitno, M. Pd.
Anggota I
: Dra. Raheni Suhita, M. Hum.
Anggota II
: Dr. Muhammad Rohmadi, M. Hum.
________________
________________
Disahkan oleh :
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Dekan,
Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd.
NIP19600727 198702 1 001
commit to user
iv
________________
________________
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRAK
Esti Priastuti. K1206020. KARAKTERISTIK PEMAKAIAN BAHASA
DALAM IKLAN KOMERSIAL DI RADIO. Skripsi. Surakarta: Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juli. 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) karakteristik
pemakaian diksi dan gaya bahasa dalam iklan komersial di radio dan (2) wujud
campur kode dan alih kode dalam iklan komersial di radio.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Populasi dalam
penelitian ini adalah bahasa iklan di radio dengan sampel bahasa iklan komersial
yang disiarkan oleh Radio JPI. Sampel diambil dengan menggunakan purposive
sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik rekam, simak, catat,
dan teknik wawancara mendalam (indepth interviewing). Validitas data dalam
penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber data dan metode. Analisis
data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis jalinan atau mengalir
(Flow Model of Analysis).
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan: (1) karakteristik diksi dalam
bahasa iklan komersial di radio meliputi: a) pemakaian kata-kata gaul,
b) pemakaian kata-kata asing, c) pemakaian kata bersinonim, d) pemakaian kata
khusus, e) pemakaian kata-kata daerah, dan f) pemakaian kata bermakna konotasi;
sedangkan pemakaian gaya bahasa dalam iklan komersial di radio meliputi:
a) gaya bahasa metonimia, b) gaya bahasa polisidenton, c) gaya bahasa asidenton,
d) gaya bahasa eksklamasio, e) gaya bahasa klimaks, f) gaya bahasa interupsi,
g) gaya bahasa hiperbola, dan h) gaya bahasa alusio. Pemakaian diksi di atas
didasarkan pada jenis produk yang diiklankan, daerah asal pendengar, usia
pendengar, dan keinginan pengiklan untuk menyampaikan pesan atau informasi
iklannya dengan bahasa yang komunikatif, terkesan modern dan gaul, serta mudah
dimengerti pendengar; sedangkan pemakaian gaya bahasanya didasarkan pada
jenis produk yang diiklankan, bentuk wacana iklan, pendengar yang menjadi
sasaran iklan, dan kebiasaan-kebiasaan pendengar. (2) wujud campur kode dalam
bahasa iklan komersial di radio meliputi: a) campur kode berwujud kata, b)
campur kode berwujud frasa, c) campur kode berwujud baster, dan d) campur
kode berwujud klausa. Wujud alih kode dalam bahasa iklan komersial di radio
bersifat ke dalam atau intern yang meliputi bahasa Jawa, dialek Jakarta, dan
bahasa Betawi. Alih kode dalam bahasa iklan komersial di radio dilatarbelakangi
oleh faktor penutur, mitra tutur, topik pembicaraan, dan membangkitkan rasa
humor. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam bidang bahasa
periklanan, khususnya iklan komersial di radio.
commit to user
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MOTTO
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh,
sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di
dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di
dalamnya. Yaitu yang bersabar dan bertawakal pada Tuhan-nya.
(Q. S. Al-Ankabut: 58-59)
commit to user
vi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSEMBAHAN
Kusuntingkan hasil karya ini untuk:
1. Kedua orang tuaku, ibu Surati dan
bapak Budi, atas segala linangan do’a
tanpa ujung yang menghantarkanku
hingga jenjang sarjana.
2. Saudara-saudaraku, Mbak Indah Nian,
Mas Hirto, Mbak Yunita, Dek Afive
Ca’em yang mengajariku makna kasih
sayang, persaudaraan, dan ketegasan
pilihan hidup.
3. Mas Top, tekad dan semangat juangmu
menjadi lentera dalam setiap episode
commit to user
kehidupanku.
vii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang
telah melimpahkan belas kasih, rahmat, dan ilmu-Nya yang Mahaluas hingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi
sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia. Selama penyusunan skripsi, tidak terlepas dari bantuan dan dukungan
berbagai pihak. Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan izin
menyusun skripsi;
2. Drs. Suparno, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret yang telah
memberikan persetujuan skripsi;
3. Drs. Slamet Mulyono, M. Pd., selaku Ketua Program Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas
Sebelas Maret yang telah memberikan izin penulisan skripsi;
4. Dra. Raheni Suhita, M. Hum. dan Dr. Muhammad Rohmadi, M. Hum., selaku
pembimbing I dan pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan
arahan kepada penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik;
5. Bapak dan ibu dosen Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang
dengan tulus memberikan ilmunya selama penulis menimba ilmu di prodi ini;
6. Teman-teman JPI semuanya, tanpa terkecuali, terima kasih atas bantuan dan
dukungannya.
7. Teman-teman Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2006 yang telah
memberikan kesempatan untuk saling mencicip indahnya suatu persahabatan;
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
menambah wawasan bagi para pembaca.
Surakarta, Juli 2010
commit to user
viii
Penulis
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR TABEL
Tabel
halaman
1. Perincian Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian …………………………… 42
2. Data Pengklasifikasian Iklan Komersial yang Disiarkan oleh Radio JPI
Periode Desember 2009-Januari 2010 ……………………………………... 46
commit to user
ix
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar
halaman
1. Kerangka Berpikir ………………………………………………………… 41
2. Analisis Data Flow Model of Analysis ……………………………………. 45
commit to user
x
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
halaman
1. Transkripsi Grafemis Iklan Komersial yang Disiarkan Radio JPI ………. 127
2. Klasifikasi Data ………………………………………………………….. 146
3. Daftar Pertanyaan ………………………………………………………... 165
4. Transkripsi Hasil Wawancara……………………………………………... 167
commit to user
xi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………..
i
HALAMAN PENGAJUAN …………………………………………………...
ii
HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………… iii
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………… iv
HALAMAN ABSTRAK ………………………………………………………
v
HALAMAN MOTTO ………………………………………………………… vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………… vii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………… viii
DAFTAR TABEL …………………………………………………………….. ix
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………….
x
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………..
xi
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….. xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………………..
1
B. Rumusan Masalah …………………………………………………
4
C. Tujuan Penelitian ………………………………………………….
4
D. Manfaat Penelitian ………………………………………………… 5
BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Landasan Teori ……………………………………………………. 6
1. Bahasa ………………………………………………………….. 6
2. Diksi ……………………………………………………………. 9
3. Gaya Bahasa ……………………………………………………. 20
4. Campur Kode …………………………………………………... 27
5. Alih Kode ………………………………………………………. 30
6. Iklan ……………………………………………………………. 33
7. Ragam Bahasa Iklan di Radio …………………………………. 35
commit to user
B. Penelitian yang Relevan …………………………………………... 39
xii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
C. Kerangka Berpikir ………………………………………………… 40
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………………. 42
B. Bentuk dan Strategi Penelitian …………………………………… 42
C. Populasi dan Sampel ……………………………………………… 43
D. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………….. 43
E. Validitas Data …………………………………………………….. 44
F. Analisis Data ……………………………………………………… 44
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data …………………………………………………….. 46
B. Analisis Data ……………………………………………………... 48
1. Karakteristik Diksi ……………………………………………... 48
2. Pemakaian Gaya Bahasa ………………………………………... 71
3. Wujud Campur Kode …………………………………………... 93
4. Wujud Alih Kode ………...…………………………………….113
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan …………………………………………………………. 120
B. Implikasi …………………………………………………………. 121
C. Saran ……………………………………………………………… 122
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 124
LAMPIRAN ………………………………………………………………….. 127
commit to user
xiii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSETUJUAN
Proposal skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim
Pembimbing Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas
Maret Surakarta pada:
Hari
:
Tanggal
:
Persetujuan Pembimbing,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dra. Raheni Suhita, M. Hum.
Dr. Muhammad Rohmadi, S. S., M. Hum.
NIP 19630309 198803 2 0001
NIP 19761013 200212 1 0005
commit to user
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..…………………………………………………………… i
HALAMAN PERSETUJUAN……………...…………………………………… ii
DAFTAR ISI …………….……………………………………………………... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...…………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………………… 4
C. Tujuan Penelitian ……….…………………………………………… 4
D. Manfaat Penelitian ……...…………………………………………… 5
BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Landasan Teori ………….……………………………………............ 6
1.
Bahasa ……...…………………………………………………... 6
2.
Diksi ……………………………………………………………. 9
3.
Gaya Bahasa ...…………………………………………........... 12
4.
Campur Kode …………………………………………………..19
5.
Alih Kode ……………………………………………………... 22
6.
Iklan …………………..………………………………………. 24
7.
Ragam Bahasa Iklan …..……………………………………... 27
B. Penelitian yang Relevan ..…………………………………………... 28
C. Kerangka Berpikir ……...…………………………………………... 29
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ….…………………………………... 31
B. Bentuk dan Strategi Penelitian ……………………………………... 31
C. Populasi dan Sampel …...…………………………………………... 32
D. Teknik Pengumpulan Data ……..…………………………………... 32
E. Validitas Data …………………..…………………………………... 33
F. Analisis Data …………………...…………………………………... 33
DAFTAR PUSTAKA ……………………...…………………………………... 35
commit to user
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PENGESAHAN
Proposal skripsi ini telah diseminarkan dan dipertahankan di hadapan Tim
Pembimbing Skripsi pada forum Seminar Proposal Skripsi Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk
memenuhi persyaratan dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari
:
Tanggal
:
Mengetahui,
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dra. Raheni Suhita, M. Hum.
Dr. Muhammad Rohmadi, S. S., M. Hum.
NIP 19630309 198803 2 0001
NIP 19761013 200212 1 0005
Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia,
Drs. Slamet Mulyono, M. Pd.
NIP 19620728 199003 1 002
Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni,
Drs. Soeparno, M. Pd.
NIP 195111127 198601 1 001
commit to user
iv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KARAKTERISTIK PEMAKAIAN BAHASA DALAM IKLAN
KOMERSIAL DI RADIO
Oleh:
Esti Priastuti
NIM K1206020
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
2010
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KARAKTERISTIK PEMAKAIAN BAHASA
DALAM IKLAN KOMERSIAL
DI RADIO
Oleh :
ESTI PRIASTUTI
NIM K1206020
Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
to user
2010
vi
1
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa digunakan manusia sebagai alat komunikasi dalam upaya
berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya, hal tersebut tidaklah mutlak
bebas. Ada seperangkat aturan berbahasa yang telah disepakati oleh suatu
masyarakat. Suatu kelompok orang atau masyarakat merupakan lingkungan untuk
seseorang hidup dan bergaul dengan anggota-anggotanya yang lain sesuai dengan
tata nilai yang menjadi pedoman mereka dalam upaya berinteraksi dengan
sesamanya.
Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi adalah cerminan bahasa
masyarakat. Masyarakat dapat menyangkut masyarakat yang sangat luas dan
dapat pula menyangkut sekelompok kecil orang. Suatu kelompok orang yang
karena faktor daerah, profesi, dan hobi menggunakan bentuk bahasa dan penilaian
yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakannya, dapat
disebut sebagai masyarakat tutur. Variasi atau ragam bahasa yang digunakan
dalam komunikasi setiap masyarakat tutur selalu berbeda.
Bahasa sebagai bagian dari masyarakat merupakan gejala sosial yang tidak
dapat dilepaskan dari pemakaiannya. Pengkajian bahasa sebagai alat komunikasi
masyarakat dan segala aktivitasnya masuk dalam ranah ilmu sosiolinguistik.
Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari berbagai
macam ragam bahasa berkenaan dengan fungsi pemakaiannya. Dalam
sosiolinguistik, bahasa dikaji sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam
masyarakat. Setiap kegiatan kemasyarakatan manusia tidak akan terlepas dari
penggunaan bahasa. Sosiolinguistik memberikan pedoman dalam berkomunikasi
dengan menunjukkan bahasa, ragam bahasa atau gaya bahasa yang harus dipakai.
Pemakaian bahasa selalu dipengaruhi faktor linguistik dan faktor
nonlinguistik. Faktor linguistik tersebut adalah faktor sosial dan situasional.
Faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa yaitu tingkat pendidikan,
user situasional yang mempengaruhi
umur, tingkat ekonomi, dan jenis commit
kelamin.toFaktor
1
2
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pemakaian bahasa yaitu siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa,
kapan, dan mengenai masalah apa. Hal ini dirumuskan oleh Fishman (dalam
Suwito, 1997: 3) Who speak what language to whom and when.
Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi.
Setiap anggota masyarakat dan komunitas selalu terlibat dalam komunikasi
bahasa, baik dia bertindak sebagai komunikator (pembicara atau penulis) maupun
sebagai komunikan (mitra bicara, penyimak, pendengar, atau pembaca). Jika
bertolak pada fungsi dari bahasa, yaitu bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau
berkomunikasi (Chaer dan Agustina, 2004: 18), maka penggunaan bahasa
meliputi seluruh ranah kehidupan manusia, baik di bidang pendidikan, ekonomi,
perdagangan, kebudayaan, politik, hukum, maupun bidang-bidang kehidupan
yang lain. Bisa dikatakan, bahasa merupakan alat yang ampuh untuk berhubungan
dan bekerja sama. Keberagaman penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia
menyebabkan munculnya ragam bahasa. Setiap ragam bahasa memiliki ciri khas
tersendiri. Hal ini juga tampak pada ragam bahasa iklan.
Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi. Iklan dalam berbagai
media penyampaiannya ada yang diucapkan secara lisan, seperti melalui televisi,
radio, dan media elektronik lainnya. Iklan juga disampaikan melalui tulisan,
seperti dalam surat kabar, majalah, dan papan reklame. Radio, sebagai salah satu
media penyampai informasi, memiliki sumbangsih yang cukup besar terhadap
dunia periklanan. Radio merupakan sarana terhandal untuk menjangkau orangorang yang mungkin tidak mempunyai akses ke media yang lain. Radio dapat juga
menjangkau orang-orang yang buta huruf yang tidak dapat membaca surat kabar.
Penggunaan suara, baik vokal maupun musikal, menjadikan radio sebagai suatu
sarana iklan yang hidup dan lebih menarik jika dibandingkan dengan media iklan
yang pasif dan statis. Efek suara juga dapat digunakan untuk menajamkan kesan.
Pendengar radio secara otomatis akan terekspos iklan yang disiarkan pada waktu
mendengarkan radio.
Iklan dapat hadir di tengah-tengah siaran tanpa mengakibatkan orang
beralih ke siaran lainnya. Oleh karena itu, radio cocok digunakan untuk
commit
to user
mengiklankan produk baru, terutama
produk-produk
yang tidak menjadi prioritas
2
3
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
bagi calon konsumen (seperti komputer pribadi atau jasa keuangan). Radio cepat
dalam penyampaian pesannya dan mudah dimengerti tanpa menuntut kemampuan
membaca dari pendengarnya. Radio, sebagai media komunikasi, menyajikan
berbagai macam programa dengan musik sebagai unsur yang essensial dalam
keseluruhan acara karena tulang punggung siaran radio adalah musik. Berbagai
program diolah dan diberi ilustrasi musik, termasuk dalam penyajian iklan.
Iklan berisi suatu pesan yang disiarkan kepada publik agar publik tertarik
pada isi informasi tersebut. Bahasa iklan dalam dunia periklanan digunakan untuk
menyampaikan informasi-informasi mengenai suatu produk atau jasa. Penggunaan
bahasa dalam iklan dibuat lebih menarik agar pesan yang disampaikan memiliki
nilai jual dan menarik perhatian publik, sehingga publik terbujuk untuk membeli
produk atau pun jasa yang ditawarkan. Sama halnya dengan penggunaan bahasa
dalam iklan di radio, pemakaian bahasa iklan memiliki sifat-sifat persuatif, gaul,
memakai ragam santai, memiliki unsur pengingat, dan lebih sering menggunakan
kata-kata yang berkonotasi. Pemakaian diksi atau pilihan kata dalam iklan di radio
sering didasarkan pada usia pendengar, daerah asal pendengar, tingkat sosial
pendengar, dan jenis produk yang diiklankan. Gaya bahasa yang dipakai harus
disesuaikan dengan mitra tutur atau pendengar, kebiasaan-kebiasaan perilaku atau
sasaran iklan, dan tempat-tempat yang biasa mereka melakukan aktivitasnya.
Penggunaan bahasa iklan dalam iklan komersial berikut ini merupakan salah satu
iklan komersial yang disiarkan oleh radio.
A
B
A
C
A
B
C
: “Wa…h, Pak. Kita butuh dana banyak lho, Pak. Buat mantu.”
: “Tenang saja, Buk. Kita ambil kredit di BPR Trihasta Prasojo saja.
Piye?”
: “A…h Bapak iki, apa-apa kok andalane BPR Trihasta Prasojo. Dulu
waktu kredit pendidikan juga di sana. Bank lain kenapa to, Pak?”
: “Bapak itu bener, Buk. Untuk anggunan kendaraan, kredit di BPR
Trihasta Prasojo prosesnya cepet. Hari ini daftar, besok cair. Ada juga ni
kredit bidikan, kredit modal kerja, kredit konsumtif untuk barang-barang
kebutuhan harian, dan ada juga kredit hajatan yang bebas bunga.”
: “Wah, wah, wah, wa…h. Jangan-jangan syarate angel.”
: “Angel piye to? Syaratnya ya umum saja. Fotokopi KTP suami istri dan
KK yang masih berlaku, fotokopi surat nikah, slip gaji, jaminan BPKB
dan SHM. Lebih detail lagi ya ke BPR Trihasta Prasojo saja.”
: “Di BPR Trihasta Prasojo
adatojuga,
commit
user produk tabungan Trihasta yang
bebas potongan dan juga tabungan Prasojo suku bunga menarik. Ada juga
3
4
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
A
C
B
A
deposito dengan suku bunga bersaing yang dijamin LPS atau pemerintah
sampai dengan dua milyar.”
: “Kosik, kosik, kosik, kosik. BPR Trihasta Prasojo ini masih di tempat
yang lama kan?”
: “Masih dong, Buk. Kantor pusatnya itu masih di Jalan SoloTawangmangu km 16 Palur telpon 825042.”
: “Atau di komplek Ruko Beteng Blok A No. 6 Solo telpon 651358.”
: “Kalau gitu let’s go yo, Pak ke BPR Trihasta Prasojo. Biar kreditnya
cepet cair. Aku selak pingin mantu.”
(Sumber: Radio JPI Sabtu, 03 Januari 2010)
Bahasa iklan yang digunakan dalam iklan di atas memunculkan ragam
bahasa informal dengan mencampur atau menggunakan beberapa bahasa dalam
satu tuturan. Pemilihan kata yang digunakan pun lebih terkesan santai, luwes,
komunikatif dan memiliki variasi yang berbeda untuk setiap jenis iklan, sehingga
bisa dikatakan penggunaan bahasa dalam iklan yang disiarkan radio tersebut
menarik dan laik untuk peneliti kaji. Dari sinilah, peneliti mencoba mengkaji lebih
dalam pemakaian bahasa iklan di radio tersebut yang peneliti tuangkan dalam
sebuah tulisan dengan judul Karakteristik Pemakaian Bahasa dalam Iklan
Komersial di Radio.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis dapat rumuskan
beberapa masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana karakteristik diksi dan gaya bahasa dalam iklan komersial yang
disiarkan Radio JPI?
2. Bagaimana wujud campur kode dan alih kode dalam iklan komersial yang
disiarkan Radio JPI?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tulisan ini bertujuan untuk:
1. mendeskripsikan karakteristik diksi dan gaya bahasa dalam iklan komersial
yang disiarkan Radio JPI.
2. mendeskripsikan wujud campur kode dan alih kode dalam iklan komersial
commit to user
yang disiarkan Radio JPI.
4
5
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoretis
Penelitian ini diharapkan nantinya dapat menambah khazanah penelitian
ilmu bahasa dan sastra Indonesia, khususnya tentang karakteristik pemakaian
bahasa iklan.
2. Manfaat praktis
a. Bagi siswa
Dapat menambah pengetahuan dan pemahaman siswa tentang
karakteristik bahasa iklan, khususnya dalam pemilihan kata dan penggunaan
gaya bahasa.
b. Bagi pengajar bahasa dan sastra Indonesia
Dapat dijadikan tambahan materi ajar bahasa dan sastra Indonesia,
khususnya yang terkait dengan pilihan kata, gaya bahasa, campur kode dan
alih kode ragam bahasa iklan.
c. Bagi praktisi radio
Dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam pembuatan iklan
komersial, khususnya yang terkait dengan pemilihan diksi.
d. Bagi penelitian lain
Dapat dijadikan referensi untuk penelitian lain yang berkaitan dengan
permasalahan yang sama dalam penelitian ini.
commit to user
5
6
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Landasan Teori
1. Bahasa
a. Hakikat Bahasa
Bahasa merupakan lambang atau sebuah rangkaian bunyi yang
membentuk suatu arti tertentu. Subroto berpendapat bahwa bahasa memiliki
sistem, asas-asas, pola-pola yaitu seperangkat kaidah yang bersifat mengatur dan
merupakan paduan dari aspek bentuk (formal aspect) dan aspek arti (semantic
aspect) bahkan juga aspek situasi (1997: 18). Sedikit berbeda dengan pendapat
tersebut, Wirjosoedarmo (dalam Husein dan Banasuru, 1996: 4) mengatakan
bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat, yang berupa
bunyi suara atau tanda atau isyarat atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia
untuk menyampaikan isi hati kepada manusia.
Kridalaksana (dalam Chaer, 1994: 32) mengatakan bahasa adalah sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial
untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Manusia
mengumpulkan lambang-lambang ini dan menyusun segala sesuatu yang
dikenalnya
sebagai
perbendaharaan
kata-kata.
Perbendaharaan
ini
pada
hakikatnya merupakan akumulasi pengalaman dan pemikiran mereka.
Pandangan muncul dari linguistik struktural dengan tokoh Bloomfield
(dalam Sumarsono dan Partana, 2002: 18) bahwa bahasa adalah sistem lambang
berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh
anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi. Bahasa
mempunyai aturan-aturan yang saling bergantung dan mengandung struktur
unsur-unsur yang bisa dianalasis secara terpisah-pisah, karena merupakan suatu
sistem. Sedikit lebih rinci, Hockett (dalam Chaer, 1994: 284) menyatakan bahwa
bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistemcommit
user subsistem, antara lain: subsistem
sistem bahasa yang dimaksud terdiri
daritolima
6
7
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantik, dan
subsistem fonetik. Hymes (dalam Purwoko, 2008: 4) mengatakan bahwa bahasa
adalah sesuatu yang integral dengan budaya sehingga bahasa merupakan petunjuk
simbolik menuju budaya. Bahasa sebagai pedoman simbolik untuk memahami
budaya masyarakat yang sedang diteliti, sehingga perilaku budaya akan tercermin
dalam penggunaan bahasa oleh penutur aslinya.
Dari berbagai pendapat para ahli di atas, penulis dapat simpulkan bahwa
bahasa bukan sekedar alat komunikasi, melainkan juga sebagai alat untuk
menunjukkan identitas kelompok. Bahasa adalah satu sistem untuk mewakili
benda, tindakan, gagasan dan keadaan. Bahasa erat kaitannya dengan kognisi pada
manusia. Bahasa senantiasa diperkaya oleh seluruh lapisan masyarakat yang
menggunakannya. Adanya bahasa memungkinkan manusia untuk memikirkan
sesuatu dalam kepala mereka, meskipun obyek yang sedang dipikirkan tersebut
tidak
berada
di
dekatnya.
Manusia
dengan
kemampuan
berbahasanya
memungkinkan untuk memikirkan suatu masalah secara terus menerus. Bukan itu
saja, dengan bahasa manusia pun dapat mengekspresikan sikap dan perasaannya.
b. Fungsi Bahasa
Kata fungsi, dalam arti yang paling sederhana, dapat dipandang sebagai
padanan kata guna dan penggunaan. Dengan demikian, fungsi bahasa dapat
diartikan sebagai cara orang menggunakan bahasa mereka, atau bahasa-bahasa
mereka bila mereka berbahasa lebih dari satu bahasa. Jika dinyatakan dalam
pengertian yang lebih sempit, yaitu orang melakukan sesuatu dengan bahasa
mereka; dengan cara bertutur dan menulis, mendengarkan dan membaca, mereka
berharap dapat mencapai banyak sasaran dan tujuan.
Fungsi bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi dapat dilakukan dengan
cara lisan maupun tertulis. Komunikasi lisan, biasanya, dilakukan dalam
percakapan antar-anggota keluarga dan percakapan dengan teman akrab.
Komunikasi lisan dapat dilakukan langsung atau melalui alat perantara, misalnya
telepon. Komunikasi secara tertulis dapat dilakukan dengan surat menyurat antaranggota keluarga, handai taulan, teman atau sahabat.
commit to user
7
8
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Di dalam kehidupan masyarakat fungsi bahasa secara tradisional dapat
dikatakan sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan oleh masyarakat untuk
berkomunikasi. Akan tetapi, fungsi bahasa tidak hanya semata-mata sebagai alat
komunikasi. Ada beberapa pengelompokan fungsi kebahasaan yang sudah
dikenal, misalnya pengelompokan yang dikemukakan oleh Malinowski (dalam
Halliday dan Hasan, 1992: 20). Dia mengelompokkan fungsi bahasa ke dalam
dua kelompok besar, yaitu penggunaan bahasa yang praktis atau pragmatik dan
penggunaan bahasa yang ritual atau magis yang berkaitan dengan kegiatankegiatan seremonial atau keagamaan dalam kebudayaan.
Berbeda dengan pendapat di atas, seorang pakar psikologi, Bűhler (dalam
Halliday dan Hasan, 1992: 20) mengatakan fungsi bahasa bukan dari sudut
pandangan kebudayaan, tetapi dari sudut pandangan perseorangan. Lebih jelasnya,
dia membedakan fungsi bahasa ke dalam bahasa ekspresif (terarah pada diri
sendiri/si pembicara), bahasa konatif (terarah pada lawan bicara) dan bahasa
representasional (terarah pada kenyataan lainnya). Secara lebih rinci, Morris
(dalam Halliday dan Hasan, 1992: 21) mengelompokkan fungsi bahasa menjadi
empat fungsi, yaitu information talking (pertukaran keterangan), mood talking
(fungsi ekspresif), exploratory talking (ujaran untuk kepentingan ujaran, fungsi
estetis, fungsi drama), dan grooming talking (tuturan yang sopan dan tidak berarti
dalam peristiwa-peristiwa sosial).
Chaer (1994: 15) berpendapat bahwa fungsi bahasa yang menjadi
persoalan dalam sosiolingustik adalah dari segi penutur, pendengar, topik, kode,
dan amanat pembicaraan. Maksud dari pernyataan tersebut adalah fungsi bahasa
akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda. Berkaitan dengan
fungsi bahasa, Halliday (dalam Sumarlam, 2005: 25) mengemukakan tujuh fungsi
bahasa, di antaranya: (1) fungsi instrumental; (2) fungsi regulasi; (3) fungsi
pemerian/representasi; (4) fungsi interaksi; (5) fungsi perorangan; (6) fungsi
heuristik; dan (7) fungsi imajinatif. Dari berbagai pendapat di atas, penulis lebih
condong pada pendapat yang dikemukakan oleh Chaer bahwa pada intinya fungsi
bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda pula,
commit to user
8
9
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
seperti ditinjau dari sudut pandang penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat
pembicaraan.
2. Diksi
a. Hakikat Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan. Pilihan
kata bukanlah masalah sederhana karena menyangkut persoalan yang bersifat
dinamis, inovatif, dan kreatif sejalan dengan perkembangan masyarakat
penunturnya. Diksi merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis
atau pembicara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 264) diksi berarti
pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan
gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Diksi atau
pilihan kata yang baik berhubungan dengan pemilihan kata yang bermakna tepat
dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan, peristiwa
dan khalayak pembaca atau pendengar.
Pilihan kata atau diksi bukan saja untuk menyatakan kata-kata yang
dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi
persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan (Keraf, 2007: 23). Fraseologi
mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya. Gaya
bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang
individual atau karakterisitik.
Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata yang harus dipakai
untuk mencapai suatu gagasan, membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat
atau menggunakan ungkapan-ungkapan. Pilihan kata atau diksi adalah
kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang
ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan
situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Pilihan kata
yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh seseorang yang memiliki
sejumlah kosa kata atau perbendaharaan kata yang banyak.
commit to user
9
10
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
b. Hakikat Kata
Kata merupakan tataran terendah dalam tataran gramatikal bahasa. Kata
merupakan kunci utama dalam upaya membentuk tulisan. Kata adalah
sekumpulan huruf atau bunyi ujaran yang mengandung arti. Para tata bahasawan
tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan
ortografi. Mereka berpendapat bahwa kata adalah satuan bahasa yang memiliki
satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan
mempunyai satu arti (Chaer, 1994: 162). Sementara itu, batasan kata yang dibuat
Bloomfield (dalam Chaer, 1994: 163) kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal
free form).
Kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung
dua aspek, yaitu aspek bentuk atau ekspresi (dapat diserap dengan panca indera)
dan aspek isi makna (reaksi yang timbul pada pendengar atau pembaca) (Keraf,
2007: 25). Chomsky (dalam Chaer, 1994: 163) mengatakan kata adalah dasar
analisis kalimat, menyajikan kata itu dengan simbol-simbol V (verba), N
(nomina), A (adjektiva), dan sebagainya. Batasan kata yang umum dijumpai
dalam berbagai buku linguistik Eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang
ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah, dan keluar
mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.
Batasan tersebut menyiratkan dua hal, yaitu (1) bahwa setiap kata
mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta
tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain dan (2) setiap kata mempunyai
kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat atau tempatnya dapat diisi atau
digantikan oleh kata lain, atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya. Dari
berbagai pendapat di atas, penulis coba simpulkan bahwa kata adalah satuan bebas
terkecil yang memiliki satu pengertian atau arti, baik dalam bentuk verba (kata
kerja), nomina (kata benda), adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang
lain sesuai pembagian kata tersebut.
commit to user
10
11
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Klasifikasi Kata
Klasifikasi kata adalah penggolongan kata atau penjenisan kata. Dalam
peristilahan bahasa Inggris disebut juga part of speech (Chaer, 1994: 166). Para
tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi untuk
mengklasifikasikan kata. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasi kelas
verba, nomina, dan ajektiva; sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk
mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina. Mereka mengatakan
(dalam Chaer, 1994: 163) yang disebut verba adalah kata yang menyatakan
tindakan atau perbuatan; yang disebut nomina adalah kata yang menyatakan
benda atau yang dibendakan; dan yang disebut konjungsi adalah kata yang
bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian
kalimat yang satu dengan bagian yang lain.
Berbeda dengan Keraf, dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya
Bahasa, dia menjelaskan bahwa untuk mencapai ketepatan pengertian lebih baik
memilih kata khusus daripada kata umum (2007: 89). Kata umum dan kata khusus
dibedakan berdasarkan luas tidaknya cakupan makna yang dikandungnya. Jika
sebuah kata mengacu pada suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya
maka kata itu disebut kata umum, sedangkan jika ia mengacu pada pengarahanpengarahan khusus dan kongkret maka disebut kata khusus.
Para tata bahasawan strukturalis (dalam Chaer, 1994: 167) membuat
klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau
konstruksi. Nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukan.
Verba adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak. Adjektifa
adalah kata-kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat. Kelompok
linguis (dalam Chaer, 1994: 168) menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai
patokan untuk menentukan kelas kata. Secara umum, fungsi subyek diisi oleh
kelas nomina; fungsi predikat diisi oleh verba atau adjektifa; fungsi objek diisi
oleh kelas nomina; dan fungsi keterangan diisi oleh adverbia.
commit to user
11
12
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
d. Hakikat Makna
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu
melekat dari suatu ujaran yang kita tuturkan. Istilah makna memiliki pengertian
yang beragam. Pateda (2001: 79) mengemukakan istilah makna merupakan katakata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada
tuturan kata maupun kalimat. Makna kata merupakan hubungan antara bentuk
dengan hal atau barang yang diwakilinya (referen-nya) (Keraf, 2007: 25). Makna
adalah pertalian antara bentuk dengan referennya.
Senada dengan pendapat di atas, Ullman (dalam Pateda, 2001: 82)
mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian.
Sementara itu, Saussure (dalam Chaer, 1994: 286) mengungkapkan pengertian
makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu
tanda linguistik. Bloomfield (dalam Wahab, 1995: 40) mengemukakan bahwa
makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas
unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya.
Terkait dengan hal tersebut, Aminuddin (1998: 50) mengemukakan bahwa
makna merupakan hubungan antara bahasa dengan bahasa luar yang disepakati
bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling dimengerti. Dari pengertian
para ahli bahasa di atas, dapat penulis simpulkan bahwa batasan tentang
pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki
kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau
kata.
e. Jenis Makna
Ada berbagai jenis makna di dalam bahasa yang secara dikotomis
dibedakan menjadi beberapa macam. Penggolongan makna dilihat dari sudut
pandang yang berbeda-beda. Wijana dan Rohmadi (2008: 22-26) menggolongkan
jenis-jenis makna menjadi 8, yang meliputi: (1) makna leksikal; (2) makna
gramatikal; (3) makna denotatif; (4) makna konotatif; (5) makna literal; (6) makna
figuratif; (7) makna primer; dan (8) makna sekunder.
Makna leksikal lazim dipandang sebagai sifat kata sebagai unsur leksikal.
commit
to user
Makna leksikal adalah makna yang
muncul
tanpa menggabungkan antara unsur
12
13
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
yang satu dengan unsur yang lain, sedangkan makna gramatikal adalah makna
yang muncul dengan menggabungkan unsur yang satu dengan yang lain (Wijana
dan Rohmadi, 2008: 22).
Jenis makna yang selanjutnya yaitu makna denotasi dan makna konotasi.
Makna denotasi dan makna konotasi oleh para ahli semantik lazim dibedakan.
Makna denotasi adalah referensi pada sesuatu yang ekstralingual menurut makna
kata yang bersangkutan, sedangkan makna konotasi adalah “arti” yang dapat
muncul pada penutur akibat penilaian afektif atau emosional (Verhaar,
2008: 390). Senada dengan pendapat tersebut, Wijana dan Rohmadi (2008: 23)
mengungkapkan bahwa makna denotatif adalah keseluruhan komponen makna
yang dimiliki oleh sebuah kata atau makna yang langsung berhubungan dengan
acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran, sedangkan makna konotatif adalah
makna suatu kata yang muncul karena pengaruh nilai atau rasa emotifnya.
Makna literal adalah makna yang langsung menunjuk pada sesuatu, baik
benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses; makna yang langsung
berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran. Makna figuratif
adalah makna bentuk kebahasaan yang menyimpang dari referennya (Wijana dan
Rohmadi, 2008: 25). Makna primer adalah makna satuan kebahasaan yang dapat
diidentifikasi tanpa bantuan konteks, sedangkan makna sekunder adalah makna
satuan kebahasaan yang dapat diidentifikasi dengan bantuan konteks (Wijana dan
Rohmadi, 2008: 26).
Berbeda dengan pendapat di atas, Keraf (2007: 27) membedakan jenisjenis makna menjadi dua, yaitu makna konotatif dan makna denotatif. Makna
konotatif muncul jika makna suatu kata mengandung makna tambahan, perasaan
tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar; sedangkan makna
denotatif adalah suatu makna yang muncul jika makna suatu kata tidak
mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan, hanya makna dasarnya
saja.
f. Hubungan Makna
Kata-kata biasanya mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini
to useryang memperlihatkan kesamaan,
mengakibatkan adanya berbagaicommit
hubungan
13
14
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pertentangan, dan tumpang tindih. Dalam hal ini, para ahli semantik telah
mengklasifikasikan hubungan makna ke dalam beberapa kategori, yang meliputi:
sinonimi, antonimi, polisemi, homonimi, dan hiponimi.
1) Sinonimi
Sinonimi digunakan untuk menyatakan sameness of meaning
‘kesamaan arti’ (Djajasudarma, 1993: 36). Wijana dan Rohmadi (2008: 28)
mengungkapkan bahwa sinonimi, yaitu hubungan atau relasi persamaan
makna. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata wafat, gugur, meninggal,
dan mati sering dikatakan bersinonim, tetapi masing-masing kata
mempunyai tempat sendiri dalam pemakaiannya sehari-hari.
Sama halnya dengan pendapat di atas, Keraf (2007: 34) berpendapat
bahwa sinonimi adalah telaah dua kata atau lebih yang memiliki makna
yang sama. Istilah sinonim digunakan untuk menyatakan kata-kata yang
memiliki makna yang sama. Sinonim digunakan untuk menghindari
pengulangan kata untuk gagasan yang sama. Meskipun demikian, sedikit
sekali kata yang bersinonim secara sempurna, dalam arti bisa
dipertukarkan dalam segala konteks tanpa ada perubahan sedikit pun dari
makna objektifnya, rasa nada atau nilai evokatifnya. Jika ada dua kata atau
lebih untuk mengekspresikan satu gagasan, maka akan dipilih satu kata
yang paling cocok untuk konteksnya, yaitu kata yang paling mampu
memuat beban emosi dan tekanan (empasis), yang paling serasi untuk
struktur fonetik kalimat, dan yang paling mampu mendukung nada umum
ujaran.
Collinson (dalam Ullman, 2007: 177) mentabulasikan perbedaanperbedaan antara sinonimi, yang meliputi: a) satu kata lebih umum dari
yang lain, misal kata binatang-hewan; b) satu kata lebih intens dari yang
lain, misal kata mengamati-memandang; c) satu kata lebih emotif dari yang
lain, misal kata memohon-meminta; d) satu kata lebih profesional dari yang
lain, misal kata riset-penelitian; e) satu kata lebih literer dari yang lain,
misal kata mafhum-memahami; f) satu kata lebih kolokial dari yang lain,
commit
userdialek dari yang lain, misal kata
misal kata aku-saya; g) satu
katatolebih
14
15
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
lu-kamu; h) satu kata dapat mencakup penerimaan atau penolakan moral
sedang yang lain netral, misal kata sedekah-pemberian; dan i) salah satu
dari sinonim termasuk bahasa kanak-kanak, misal kata mimik-minum.
Sinonim adalah kata-kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan
makna. Dalam bahasa iklan sekali pun, sinonim lebih membuka peluang
untuk memilih kosakata yang lebih sesuai dengan konteks tanpa harus
mengubah gagasan. Penggunaan kata mulus, yang bersinonim dengan kata
halus, lebih sering digunakan dalam bahasa iklan kecantikan dibanding
dengan kata halus. Selain itu, penggunaan sinonim mampu mengadakan
variasi dalam pemakaian kosakata sehingga ujaran atau tuturan yang
ditampilkan menjadi lebih segar, dan menarik.
2) Antonimi
Antonimi adalah relasi antarmakna yang wujud logisnya sangat
berbeda atau bertentangan (Keraf, 2007: 39). Istilah antonimi dipakai
untuk menyatakan lawan makna, sedangkan kata yang berlawanan disebut
antonim. Rustamaji (2003: 47) mengungkapkan bahwa antonim adalah
kata-kata yang memiliki makna yang berlawanan.
Senada dengan pendapat di atas, Wijana dan Rohmadi (2008: 30)
mengatakan bahwa antonimi, yaitu perlawanan makna. Antonim adalah
suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain, misal kata keraslembek, naik-turun, kaya-miskin, surga-neraka, laki-laki-perempuan, atasbawah.
3) Polisemi
Wijana dan Rohmadi (2008: 37) mengatakan bahwa polisemi, yaitu
sebuah bentuk kebahasaan yang memiliki berbagai macam makna. Senada
dengan pendapat tersebut, Keraf (2007: 36) berpendapat bahwa polisemi
adalah suatu bentuk kata yang mempunyai beberapa makna. Polisemi
adalah suatu kata yang memiliki makna ganda. Namun demikian, di antara
makna tersebut masih terdapat hubungan makna.
commit to user
15
16
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
4) Homonimi
Wijana dan Rohmadi (2008: 53) mengatakan bahwa homonimi, yaitu
dua kata atau lebih yang secara kebetulan memiliki pola bunyi yang sama.
Homonim adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi
lafal atau ejaan sama. Jika lafalnya sama disebut homograf, namun jika
yang sama adalah ejaannya maka disebut homofon.
Sementara itu, Keraf (2007: 36) berpendapat bahwa homonimi
adalah dua kata atau lebih, tetapi memiliki bentuk yang sama (homograf
dan homofon). Kata amplop dalam kalimat Untuk mengirim surat kepada
bapak presiden kita harus menggunakan amplop memiliki arti yang
berbeda dengan kata amplop dalam kalimat Agar bisa diterima menjadi
PNS ia memberi amplop kepada para pejabat. Kata amplop pada kalimat
pertama memiliki arti amplop surat biasa, sedangkan pada kalimat kedua
memiliki arti sogokan atau uang pelicin.
5) Hiponimi
Hiponimi merupakan cakupan-cakupan makna dalam sebuah makna
yang lain. Hiponim adalah suatu kata yang maknanya telah tercakup oleh
kata yang lain (Rustamaji, 2003: 48). Hubungan makna kata yang satu
dengan yang lain akan menghasilkan kata (superordinat dan subordinat).
Kata bunga yang merupakan superordinat dapat menghasilkan kata melati,
mawar, anggrek yang merupakan subordinat.
Wijana dan Rohmadi (2008: 68) mengatakan bahwa hiponimi, yaitu
hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik; atau antara
anggota taksonomi dengan nama taksonomi. Hampir sama dengan
pendapat tersebut, Keraf (2007: 36) berpendapat bahwa hiponimi adalah
semacam relasi antarkata yang dalam suatu makna terkandung sejumlah
komponen yang lain.
Dari berbagai pendapat dari para ahli bahasa di atas, penulis coba
simpulkan bahwa hubungan makna meliputi sinonim, yaitu dua buah kata
yang mempunyai kemiripan makna diantaranya disebut dua kata yang
commit to makna
user yang dipakai untuk menyebut
sinonim; antonim, yaitu hubungan
16
17
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
makna yang berlawanan; hiponim, yaitu menyatakan hubungan makna
yang mengandung pengertian hubungan hierarkis. Bila sebuah kata
memiliki semua komponen makna kata lainnya, tetapi tidak sebaliknya,
maka hubungan itu disebut hiponimi; homonimi, yaitu bila terdapat dua
buah makna atau lebih yang dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama;
dan polisemi, yaitu kata yang mempunyai banyak makna.
g. Ungkapan atau idiom
Dalam bahasa Indonesia, idiom disejajarkan dengan pengertian peribahasa.
Idiom adalah pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa
yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan
secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang
membentuknya (Keraf, 2007: 109). Pemahaman makna idiomatis tiada cara lain
kecuali dengan cara memahami istilah demi istilah secara benar.
Hampir senada dengan pendapat di atas, Rustamaji mengungkapkan idiom
atau ungkapan adalah kata yang memiliki makna khusus dan tidak dapat
diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa dan situasi lain (2003: 45).
Bentuk-bentuk idiom hanya bisa dipelajari dari pengalaman-pengalaman, bukan
melalui peraturan-peraturan umum bahasa. Hal ini disebabkan, sebuah idiom
bersifat tradisional dan bukan bersifat logis. Kata-kata tertentu yang terusun dalam
suatu idiom mampu mengungkapkan atau menggambarkan siatuasi secara cermat.
Dalam Ensiklopedia Bebas dikatakan bahwa idiom merupakan suatu
ungkapan (seperti istilah atau frase) yang maknanya tak dapat diturunkan dari
definisi langsung dan penyusunan bagian-bagiannya, melainkan merupakan suatu
makna tak langsung yang hanya dikenal melalui penggunaan umum. Dalam ilmu
bahasa atau linguistik, idiom umumnya dianggap sebagai gaya bahasa yang
bertentangan dengan prinsip penyusunan (principle of compositionality). Idiom
dapat membingungkan orang yang belum terbiasa dengannya.
Orang-orang yang belajar suatu bahasa harus mempelajari makna idiom
bahasa tersebut sebagaimana mereka mempelajari kosa kata lain dalam bahasa itu.
Untuk mengetahui makna sebuah idiom, setiap orang harus mempelajarinya
commit to user
sebagai seorang penutur asli, tidak mungkin hanya dengan melalui makna dari
17
18
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kata-kata yang membentuknya. Beberapa contoh dari idiom yang diambil dari
bahasa Indonesia antara lain: cuci mata, kambing hitam, jago merah, kupu-kupu
malam, dan hidung belang. Dari beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan
bahwa idiom atau disebut juga dengan ungkapan adalah gabungan kata yang
membentuk arti baru yang tidak berhubungan dengan kata pembentuk dasarnya.
h. Kata-kata Gaul
Secara harfiah, istilah gaul memiliki arti hidup berteman (KBBI,
2005: 339). Bahasa gaul merupakan bahasa pergaulan. Bahasa gaul sudah muncul
sejak tahun 1970-an. Bahasa gaul juga sering disebut dengan bahasa prokem. Kata
prokem merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa gaul atau prokem
awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain
secara rahasia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan
dipengaruhi
oleh
bahasa
Betawi
yang
mengalami
penyimpangan
atau
pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di
Jakarta. Saragih (2010) mengatakan bahwa bahasa gaul dianggap lebih bergengsi
karena merupakan campuran antara bahasa masyarakat ibu kota (etnis Betawi)
dengan bahasa asing, sehingga masyarakat khususnya remaja secara psikologis
ingin dianggap memiliki gengsi yang lebih tinggi dengan menggunakan bahasa
gaul.
Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja merupakan
dialek bahasa Indonesia non-formal. Pada dasarnya, bahasa gaul digunakan untuk
memberikan kode kepada lawan bicara. Rumusan bahasa gaul di tiap komunitas
atau daerah berbeda satu sama lain, termasuk bahasa gaul yang digunakan oleh
kalangan militer, kalangan kepolisian, atau kalangan homo seksual (waria) di
suatu daerah atau komunitas.
Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai. Bahasa
gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk
percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial, bahkan dalam
media-media populer serperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali
digunakan dalam bentuk pengumuman-pengumuman. Bahasa gaul merupakan
commit
to useratau kelompok tertentu, bersifat
bahasa sandi yang dipahami oleh
kalangan
18
19
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
sementara, dan hanya berupa variasi bahasa. Penggunaan bahasa gaul meliputi
kosakata, ungkapan, singkatan, intonasi, pelafalan, pola, konteks dan distribusi.
Kelompok-kelompok tertentu yang menggunakan bahasa gaul (Ensiklopedia
Bebas) seringkali merancang kata-kata baru dengan cara mengganti kata ke lawan
kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem,
distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Kelompok-kelompok
tertentu tersebut menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku.
Struktur dan tatabahasa dari bahasa gaul tidak terlalu jauh berbeda dari
bahasa formal, yaitu bahasa Indonesia. Perbedaan utama antara bahasa formal
dengan bahasa gaul, yaitu dalam hal perbedaharaan kata. Kosakata yang dimiliki
hanya merupakan singkatan dari bahasa formalnya. Saleh (2006) menyatakan
bahwa kosakata bahasa gaul sering tidak beraturan atau tidak memiliki rumus
tertentu, sehingga perlu upaya untuk menghafal setiap kali muncul istilah atau
kata baru. Salah satu kosakata baru dalam bahasa gaul yang tidak memiliki rumus
tertentu, misal untuk sebuah lawakan yang tidak lucu biasa disebut dengan istilah
garing, jayus, jasjus; untuk sesuatu yang tidak bagus atau tidak cocok biasa
disebut dengan istilah cupu.
Partikel sich, nich, tuh, dan dong merupakan sebagian dari partikelpartikel bahasa gaul yang membuatnya terasa lebih hidup dan membumi,
menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat mereka
merasa berbeda dengan orang-orang tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel
bahasa gaul memiliki arti jauh lebih bermakna melebihi jumlah huruf yang
menyusunnya. Partikel-partikel tersebut mampu memberikan informasi tambahan
kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti
tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati atau ekspresi
pembicara, dan suasana pada kalimat yang diucapkan.
Kosakata bahasa gaul di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang
hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya
sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa gaul
berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan
commit to user
19
20
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menggunakan bahasa gaul, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota
kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.
3. Gaya Bahasa
a. Hakikat Gaya Bahasa
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah
style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk
menulis pada lempengan lilin (Keraf, 2007: 112). Ada dua aliran yang terkenal,
yaitu: (1) Aliran Platonik yang menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan
dan (2) Aliran Aristoteles yang menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas
yang inheren, yang ada dalam tiap ungkapan.
Majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang
mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran
yang terpendam di dalam jiwanya (Rustamaji, 2003: 83). Kata gaya secara umum
dapat dikatakan sebagai cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui bahasa,
tingkah laku, maupun cara berpakaian. Semakin baik gaya bahasa seseorang,
semakin baik pula penilaian orang lain terhadap orang tersebut; sebaliknya
semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian diberikan
pada orang tersebut. Dari beberapa pendapat dia atas dapat penulis simpulkan
bahwa style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran
melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seseorang
(pemakai bahasa).
b. Macam-macam Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau majas dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut
pandang. Pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat tentang gaya bahasa
sejauh ini sekurang-kurangnya dapat dibedakan, pertama, dilihat dari segi
nonbahasa, dan kedua dilihat dari segi bahasanya sendiri (Keraf, 2007: 115). Pada
dasarnya majas atau gaya bahasa dapat dibagi menjadi empat, yang meliputi:
(1) majas perbandingan; (2) majas sindiran; (3) majas penegasan; dan (4) majas
pertentangan.
commit to user
20
21
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1) Majas perbandingan
Majas perbandingan adalah majas yang berupa kata-kata kias untuk
menyatakan perbandingan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya
terhadap pendengar atau pembaca. Majas perbandingan dibagi menjadi
lima belas, di antaranya: (1) gaya bahasa personifikasi; (2) gaya bahasa
metafora; (3) gaya bahasa eufemisme; (4) gaya bahasa sinekdokhe;
(5) gaya bahasa alegori; (6) gaya bahasa hiperbola; (7) gaya bahasa
simbolik; (8) gaya bahasa litotes; (9) gaya bahasa alusio; (10) gaya bahasa
asosiasi; (11) gaya bahasa perifrasis; (12) gaya bahasa metonimia;
(13) gaya bahasa antonomasia; (14) gaya bahasa tropen; dan (15) gaya
bahasa parabel.
Majas personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda
dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati,
sedangkan majas metafora adalah majas yang melukiskan suatu benda
dengan perbandingan langsung dengan benda lain atas dasar sifat yang
sama atau hampir sama (Rustamaji, 2003: 83). Contoh dari masing-masing
gaya bahasa di atas, misalnya Baru 3 km berjalan mobilnya sudah batukbatuk (personifikasi) dan Raja siang (matahari) telah pergi ke
peraduannya (metafora). Sementara itu, majas eufemisme adalah majas
yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih lembut dan
sopan untuk menggantikan kata-kata lain, misal Para tunakarya perlu
perhatian yang serius dari pemerintah.
Keraf (2007: 142) menyatakan bahwa majas sinekdokhe adalah
suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang
berarti menerima bersama-sama. Majas ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
sinekdokhe pars pro toto dan sinekdokhe totem pro parte. Rustamaji
(2003: 83) mengatakan sinekdokhe pars pro toto adalah majas yang
menuliskan sebagian tetapi yang dimaksud adalah seluruhnya, sebaliknya
totem pro parte adalah majas yang melukiskan keseluruhan tetapi yang
dimaksud sebagian, misal pada contoh kalimat berikut ini. Dia mempunyai
commit to user
21
22
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
lima ekor kuda (pars pro toto) dan Kaum wanita memperingati hari
Kartini (totem pro parte).
Untuk majas alegori, Rustamaji (2003: 84) menyatakan bahwa
majas alegori adalah majas yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh
dan
membentuk
kesatuan
yang
menyeluruh,
misal
Hidup
ini
diperbandingkan dengan perahu yang tengah berlayar di lautan. Berbeda
dengan pendapat di atas, Keraf berpendapat bahwa majas alegori adalah
suatu cerita singkat yang mengandung kiasan (2007: 140). Sementara itu,
majas hiperbola adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mengganti
peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat
pengertiannya untuk menyangatkan arti, misal Kakak membanting tulang
demi menghidupi keluarganya. Senada dengan pengertian di atas, Keraf
(2007: 135) menyatakan bahwa hiperbol adalah semacam gaya bahasa
yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesarbesarkan sesuatu hal.
Majas simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan
memperbandingkan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang,
misal Dari dulu tetap saja ia menjadi lintah darat. Litotes adalah majas
yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya
dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri, misal
Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas. Alusio adalah
majas dengan menggunakan ungkapan peribahasa, misal Ah, dia itu tong
kosong nyaring bunyinya. Asosiasi adalah majas yang membandingkan
sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat, misal
Wajahnya muram bagai bulan kesiangan. Perifrasis adalah majas yang
melukiskan sesuatu dengan menguraikan sebuah kata menjadi serangkaian
kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu,
misal Petang barulah dia pulang kalimat tersebut menjadi Ketika
matahari hilang di balik gunung barulah dia pulang.
Metonimia adalah majas yang menggunakan merk dagang untuk
to user sehingga kata itu berasosiasi
melukiskan sesuatu yangcommit
dipergunakan,
22
23
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dengan benda keseluruhan. Kata metonimia (Keraf, 2007: 142) diturunkan
dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan anoma
yng berarti nama, misal Kemarin dia memakai Fiat (mobil merk Fiat).
Antonomasia adalah majas yang menyebutkan nama lain terhadap
seseorang berdasarkan ciri atau sifat menonjol yang dimilikinya, misal si
pincang, si jangkung, si keriting. Tropen adalah majas yang melukiskan
sesuatu dengan membandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan
kata-kata lain yang mengandung pengertian yang sejalan dan sejajar, misal
Setiap malam ia menjual suaranya untuk nafkah anak dan istrinya.
Parabel adalah majas perbandingan dengan menggunakan perumpamaan
dalam hidup. Majas ini terkandung dalam seluruh isi karangan, misal
Baghawat Gita, Mahabarata, Bayan Budiman.
2) Majas Sindiran
Majas sindiran adalah majas yang yang bertujan untuk menyindir.
Majas sindiran meliputi ironi, sinisme, dan sarkasme. Ironi adalah majas
sindiran yang melukiskan sesuatu yang menyatakan sebaliknya dari apa
yang sebenarnya dengan maksud untuk menyindir orang. Keraf
(2007: 143) berpendapat bahwa ironi adalah suatu acuan yang ingin
mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang
terkandung dalam rangkaian kata-katanya, misal Harum benar bunga
bangkai ini!
Sinisme adalah majas sindiran dengan menggunakan kata-kata
sebaliknya seperti ironi tetapi kasar, misal Itukah yang dinamakan
bekerja. Dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa, Keraf (2007: 143)
mengatakan bahwa sinisme diartikan sebagai suatu sindiran yang
berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan
ketulusan hati, sedangkan sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih
kasar dari ironi dan sinisme. Sarkasme adalah majas sindiran yang terkasar
serta langsung menusuk perasaan, misal Otakmu memang otak udang!
commit to user
23
24
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3) Majas Penegasan
Majas penegasan adalah majas yang betujuan untuk menegaskan
sesuatu. Majas penegasan dibagi menjadi lima belas, yaitu (1) pleonasme;
(2) repetisi; (3) pararelisme; (4) tautologi; (5) simetri; (6) enumerasio;
(7) klimaks; (8) antiklimaks; (9) retorik; (10) koreksio; (11) asidenton;
(12) polisidenton; (13) ekslamasio; (14) praeterito; dan (15) interupsi.
Rustamaji (2003: 84) mengatakan bahwa pleonasme adalah majas
penegasan yang menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu
dikatakan lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang
diterangkan, misalnya Salju putih sudah mulai turun ke bawah. Repetisi
adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata
atau beberapa kata berkali-kali, yang biasanya dipergunakan dalam pidato,
sedangkan pararelisme adalah majas penegasan seperti repetisi tetapi
dipakai dalam puisi. Pararelisme dibagi menjadi dua, yaitu: anafora dan
epifora. Anafora, yaitu bila kata atau frase yang diulang terletak di awal
kalimat, sedangkan epifora, yaitu bila kata atau frase yang diulang terletak
di akhir kalimat atau lirik.
Tautologi adalah majas penegasan yang melukiskan suatu dengan
mempergunakan kata-kata yang sama artinya (bersinonim) untuk
mempertegas
arti,
misal
Saya
khawatir
serta
was-was
akan
keselamatannya. Simetri adalah majas penegasan yang melukiskan suatu
dengan mempergunakan satu kata, kelompok kata atau kalimat yang
diikuti oleh kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang
pertama, misal Kakak berjalan tergesa-gesa, seperti orang dikejar anjing
gila. Enumerasio adalah majas penegasan yang melukiskan beberapa
peristiwa membentuk satu kesatuan yang dituliskan satu per satu supaya
tiap-tiap peristiwa dalam keseluruhannya tampak jelas, misal Angin
berhembus, lalu tenang, bulan memancar lagi.
Masih dalam bukunya yang sama, Keraf (2007: 124) berpendapat
bahwa majas klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung
user
urutan-urutan pikiran yangcommit
setiap to
kali
semakin meningkat kepentingannya
24
25
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dari gagasan-gagasan sebelmnya. Bisa dikatakan, klimaks adalah majas
penegasan dengan menyatakan beberapa hal berturut-turut dengan
menggunakan urutan kata-kata yang makin lama makin memuncak
pengertiannya, misal Anak-anak, remaja, dewasa datang menyaksikan
film “Saur Sepuh”. Antiklimaks adalah majas penegasan dengan beberapa
hal berturut-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang makin lama
makin melemah pengertiannya, misal Jangankan seribu, atau seratus,
serupiah pun tak ada. Untuk majas antiklimaks, Keraf (2007: 125)
berpendapat bahwa antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu
acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturutturut ke gagasan yang kurang penting.
Retorik adalah majas penegasan dengan mempergunakan kalimat
tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah
diketahuinya, misalnya Mana mungkin orang mati hidup kembali?
Koreksio adalah majas penegasan berupa membetulkan (mengoreksi)
kembali kata-kata yang salah diucapkan, baik disengaja maupun tidak,
misal Hari ini sakit ingatan, eh … maaf, sakit kepala maksudku. Dengan
memberikan istilah yang lain dari majas koreksio ini, yaitu majas
epanortosis, Keraf (2007: 135) mengatakan bahwa koreksio atau
epartonosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan
sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Berikutnya, majas yang masih termasuk dalam kelompok majas
penegasan adalah asidenton. Asidenton adalah majas penegasan yang
menyebutkan beberapa benda, hal atau keadaan secara berturut-turut tanpa
memakai kata penghubung (Rustamaji, 2003: 85). Dengan sedikit
memberikan penjelasan yang lebih lengkap, Keraf (2007: 131)
mengatakan bahwa asidenton adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang
bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang
sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung, misal Kemeja, sepatu,
kaos kaki, dibelinya di toko itu. Majas penegasan yang merupakan
commitpolisidenton.
to user
kebalikan dari asidenton adalah
Bisa dikatakan, polisidenton
25
26
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
adalah majas penegasan yang menyatakan beberapa benda, hal atau
keadaan secara berturut-turut dengan memakai kata penghubung, misal
Dia tidak tahu, tetapi tetap saja ditanyai, akibatnya dia marah-marah.
Ekslamasio adalah majas penegasan yang memakai kata-kata seru
sebagai penegas, misal Amboi, indahnya pemandangan ini! Praeterio
adalah
majas
penegasan
yang
melukiskan
sesuatu
dengan
menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu dan pembaca harus menerka
apa yang disembunyikan itu, misal Tidak usah kau sebut namanya, aku
sudah tahu siapa penyebab kegaduhan ini. Interupsi adalah majas
penegasan yang mempergunakan kata-kata atau bagian kalimat yang
disisipkan di antara kalimat pokok guna lebih menjelaskan dan
menekankan bagian kalimat sebelumnya, misal Aku, orang yang sepuluh
tahun bekerja di sini, belum pernah dinaikkan pangkatku.
4) Majas Pertentangan
Majas
pertentangan
mempertentangkan
sesuatu.
adalah
majas
Kata-kata
yang
berkias
bertujuan
yang
untuk
menyatakan
pertentangan dengan yang dimaksudkan sebenarnya oleh pembicara atau
penulis dengan maksud untuk memperhebat atau meningkatkan kesan dan
pengaruhnya kepada pembaca atau pendengar. Majas pertentangan dibagi
menjadi empat, yang meliputi: (1) antitesis; (2) paradoks; (3) okupasi; dan
(4) kontradiskio intermimis.
Antitesis adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu
dengan mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti, misal
Cantik atau tidak, kaya atau miskin, bukanlah suatu ukuran nilai
seseorang
wanita.
Untuk
majas
paradoks
Keraf
(2007:
136)
mengungkapkan bahwa paradoks adalah semacam gaya bahasa yang
mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Senada dengan hal tersebut, Rustamaji (2003: 84) berpendapat paradoks
merupakan majas pertentangan yang melukiskan sesuatu seolah-olah
bertentangan, padahal maksud sesungguhnya tidak, misal Hatinya sunyi
commit
to user
tinggal di kota Jakarta yang
ramai.
26
27
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Majas
pertentangan
yang
berikutnya,
yaitu
okupasi
dan
kontradiskio intermimis. Okupasi adalah majas pertentangan yang
melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan
atau diakhiri dengan kesimpulan, sedangkan kontradiskio intermimis
adalah majas pertentangan yang memperlihatkan pertentangan dengan
penjelasan semua (Rustamaji, 2003: 85). Misalnya, Merokok itu merusak
kesehatan, akan tetapi si perokok tak dapat menghentikan kebiasaannya.
Maka, muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak
(okupasi); Semua murid kelas ini hadir, kecuali si Hasan yang sedang ikut
jambore (kontradiskio intermimis).
4. Campur Kode
a. Hakikat Campur Kode
Nababan mengatakan bahwa (1993: 32) campur kode (code-mixing)
adalah bilamana orang mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa
dalam suatu tindak bahasa (speech act or discourse) tanpa ada sesuatu dalam
situasi berbahasa itu menentukan percampuran bahasa itu. Proses ini terjadi
apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan yang
mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya
berhubungan dengan karakteristik penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat
pendidikan, dan rasa keagamaan.
Apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase
yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid
phrases) dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi
sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode. Seorang penutur
misalnya, yang dalam berbahasa Indonesia banyak menyelipkan serpihan-serpihan
bahasa daerahnya, bisa dikatakan telah melakukan campur kode. Akibatnya, akan
muncul satu ragam bahasa Indonesia yang kejawa-jawaan (kalau bahasa
daerahnya adalah bahasa Jawa).
Nababan (dalam Purwo, 1989: 94) memberikan batasan, yaitu campur
commit tobahasa
user dan ragam bahasa yang hanya
kode sebagai pemilihan atau penggunaan
27
28
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
ditentukan oleh kebiasaan atau enaknya perasaan oleh mudahnya pengungkapan
seseorang pengguna bahasa. Hampir senada dengan pendapat tersebut, Kachru
(dalam Suwito, 1997: 76) memberikan batasan mengenai campur kode sebagai
pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa
yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten.
Kridalaksana (dalam Saddhono, 2007: 26) berpendapat bahwa campur
kode adalah (1) interferensi dan (2) penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke
bahasa lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa; termasuk di
dalamnya pemakaian kata, klausa, idiom, dan sapaan. Dari beberapa pendapat
para ahli di atas dapat penulis simpulkan hakikat campur kode pada dasarnya
hampir sama, yaitu fenomena pencampuran bahasa kedua ke dalam bahasa
pertama, pencampuran bahasa asing atau daerah ke dalam struktur bahasa ibu baik
dalam tingkat kata, frase, klausa, idiom, maupun sapaan.
b. Ciri-ciri Campur Kode
Campur kode memiliki beberapa ciri penanda. Ciri-ciri campur kode di
antaranya: (1) ciri-ciri ketergantungan ditandai oleh adanya hubungan timbal balik
antara peranan dan fungsi kebahasaan, (2) unsur-unsur bahasa atau variasivariasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai fungsi
sendiri, dan (3) dalam kondisi yang maksimal, campur kode merupakan
konvergensi kebahasaan (linguistic convergence) yang unsur-unsurnya berasal
dari beberapa bahasa yang masing-masing telah meninggalkan fungsi bahasa yang
disisipinya, baik campur kode ke dalam maupun keluar (Suwito, 1997: 75).
Ciri-ciri ketergantungan campur kode ditandai oleh adanya hubungan
timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Peranan maksudnya siapa
yang menggunakan bahasa itu, sedangkan fungsi kebahasaan berarti apa yang
hendak dicapai oleh penutur dengan tuturannya. Unsur-unsur bahasa atau variasivariasinya menyisip di dalam bahasa lain dan tidak lagi mempunyai fungsi
tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan
secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi. Dalam kondisi yang maksimal,
campur kode merupakan konvergensi kebahasaan (linguistic convergence) yang
commit to user
28
29
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
unsur-unsurnya berasal dari beberapa bahasa yang masing-masing telah
menanggalkan fungsinya dan mendukung fungsi bahasa yang disisipinya.
c. Latar Belakang Campur Kode
Suwito (1997: 90) mengatakan latar belakang terjadinya campur kode
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tipe yang berlatar belakang pada sikap
(Attitudinal Type) dan tipe yang berlatar belakang kebahasaan (Linguistic Type).
Kedua tipe tersebut saling bergantung dan tidak jarang bertumpang tindih (over
laping). Atas dasar latar belakang sikap dan kebahasaan yang saling bergantung
dan bertumpang tindih, maka dapat diidentifikasikan beberapa alasan atau
penyebab yang mendorong terjadinya campur kode, di antaranya: (a) identifikasi
peranan; (b) identifikasi ragam; dan (c) identifikasi keinginan menjelaskan dan
menafsirkan.
Untuk identifikasi peranan adalah sosial, registral, dan edukasional.
Identifikasi ragam ditentukan oleh bahasa seorang penutur melakukan campur
kode yang akan menempatkan dia di dalam hierarki status sosialnya. Identifikasi
keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan tampak dalam sikap dan hubungan
orang lain terhadap orang lain.
Dengan demikian, campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal
balik antara peranan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa. Penutur yang
mempunyai latar belakang sosial tertentu, cenderung memilih bentuk campur
kode tertentu untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu. Pemilihan tersebut
dimaksudkan untuk menunjukkan status sosial dan identitas pribadinya dalam
masyarakat.
d. Macam-macam Campur Kode
Campur kode yang bersumber dari bahasa asli atau daerah dengan segala
variasinya disebut campur kode ke dalam (Innercode Mixing), sedangkan campur
kode yang berasal dari bahasa asing disebut campur kode ke luar (Outercode
Mixing). Campur kode itu dapat berupa percampuran serpihan kata, frase, dan
klausa suatu bahasa di dalam bahasa lain yang digunakan. Intinya, ada satu bahasa
yang digunakan, tetapi di dalamnya terdapat serpihan-serpihan dari bahasa lain.
commit to user
29
30
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Di dalam campur kode, ada sebuah kode utama atau kode dasar yang
memiliki fungsi dan keotonomiannya; sedangkan kode-kode lain yang terlibat
dalam peristiwa tutur itu hanyalah berupa serpihan-serpihan saja, tanpa fungsi
atau keotonomian sebagai sebuah kode. Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan
yang terlibat di dalamnya, Suwito (1997: 78-80) mengklasifikasikan campur kode
menjadi 6 macam, antara lain: 1) penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata,
misal Mangka seringkali sok ada kata-kata seolah-olah bahasa; 2) penyisipan
unsur-unsur yang berwujud frasa, misal Nah, karena saya kadhung apik sama dia,
ya tak teken; 3) penyisipan unsur-unsur yang berwujud baster, misal Banyak klap
malam yang harus ditutup; 4) penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan
kata, misal Sudah waktunya kita menghindari backing-backingan dan klik-klikan;
5) penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom, misal Pada waktu
ini hendaknya kita hindari cara bekerja alon-alon asal kelakon; dan 6) penyisipan
unsur-unsur yang berwujud klausa, misal Pemimpin yang bijaksana akan selalu
bertindak ing ngarso sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tut wur handayani.
5. Alih Kode
a. Hakikat Alih Kode
Nababan (1993: 31) berpendapat bahwa alih kode adalah peralihan dari
satu ragam fungsiolek (umpamanya ragam santai) ke ragam yang lain
(umpamanya ragam formal), atau dari satu dialek ke dialek lain. Senada dengan
Nababan, Chaer (1994: 141) menyatakan bahwa alih kode merupakan perubahan
dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau juga ragam resmi ke ragam santai.
Suwito (1997: 81) menyatakan alih kode sebagai suatu peristiwa peralihan
dari kode yang satu ke kode yang lain. Jadi, apabila penutur menggunakan kode A
(misalnya bahasa Indonesia) kemudian beralih kode (umpamanya bahasa Jawa),
maka peristiwa peralihan pemakaian bahasa seperti itu disebut dengan alih kode.
Thelander (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 115) mengungkapkan bahwa bila di
dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke
klausa bahasa yang lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Sedikit
berbeda dengan pendapat di atas,commit
Fasold to
(dalam
user Chaer dan Agustina, 2004: 115)
30
31
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
mengatakan bahwa apabila satu klausa jelas-jelas memiliki struktur gramatika
bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode.
Alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih
memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja karena
sebab-sebab tertentu. Appel (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 107) memberikan
batasan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan
situasi. Berbeda dengan Appel yang mengatakan alih kode itu terjadi antarbahasa,
maka Hymes (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 107) menyatakan alih kode bukan
hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gayagaya yang terdapat dalam suatu bahasa.
Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (language
dependency) dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual
sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa. Dalam alih
kode masing-masing bahasa masih cenderung mendukung fungsi masing-masing
dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya.
b. Ciri-ciri Alih Kode
Alih kode mempunyai sejumlah ciri-ciri sebagaimana yang diungkapkan
oleh Suwito (1997: 69), antara lain: (1) alih kode merupakan salah satu aspek
tentang saling ketergantungn masyarakat multilingual; (2) masing-masing bahasa
masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya; (3) fungsi
masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan
konteks; dan (4) dalam peristiwa alih kode mungkin terjadi kontinum yaitu
peralihan antara kode satu ke kode yang lain. Dengan demikian, alih kode
menunjukkan suatu gejala adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual
dan situasi relevansi di dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.
Gejala tersebut dalam praktiknya, sering ditemukan peristiwa tutur tertentu
terjadi alih kode intern dan alih kode ekstern secara beruntun. Hal tersebut terjadi
apabila fungsi kontekstual dan situasi relevansialnya dinilai oleh penutur cocok
untuk dilakukan.
commit to user
31
32
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Latar Belakang Alih Kode
Peristiwa alih kode tidak terjadi begitu saja. Banyak faktor yang
melatarbelakanginya. Suwito (1997: 85-87) menyatakan beberapa faktor yang
menyebabkan alih kode, antara lain: (1) penutur; (2) lawan tutur; (3) hadirnya
penutur ketiga; (4) pokok pembicaraan; (5) membangkitkan rasa humor; dan
(6) untuk sekedar bergengsi.
Seorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur
karena suatu tujuan atau maksud. Misalnya, mengubah situasi dari resmi menjadi
tidak resmi atau sebaliknya. Dengan kata lain, seorang pembicara atau penutur
seringkali melakukan alih kode untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat dari
tindakannya tersebut. Alih kode yang dilakukan seorang penutur untuk
memperoleh
keuntungan
biasanya
terjadi
dalam
peristiwa
tutur
yang
mengharapkan bantuan lawan tuturnya.
Faktor kedua penyebab alih kode adalah mitra tutur. Lawan bicara atau
mitra tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode, misalnya karena si penutur
ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si mitra tutur. Mitra tutur yang latar
belakang kebahasaannya sama dengan penutur biasanya beralih kode dalam wujud
alih varian dan bila mitra tutur berlatar belakang kebahasaan berbeda cenderung
alih kode berupa alih bahasa. Perbedaan latar belakang bahasa juga berkitan erat
dengan hadirnya penutur ketiga dalam pembicaraan.
Kehadiran orang ketiga atau pihak lain yang tidak memiliki latar belakang
bahasa yang sama dengan latar belakang bahasa yang digunakan oleh penutur dan
mitra tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Untuk menetralisasi situasi
dan menghormati kehadiran mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur
beralih kode, apalagi bila latar belakang kebahasaan mereka berbeda. Chaer dan
Agustina (2004: 110) menambahkan bahwa status penutur ketiga dalam alih kode
juga menentukan bahasa atau varian yang digunakan.
Pokok pembicaraan atau topik merupakan faktor yang dominan dalam
menentukan terjadinya alih kode. Pokok pembicaraan yang bersifat formal
biasanya diungkapkan dengan ragam baku dengan gaya netral dan serius,
commit
to user
sedangkan pokok pembicaraan yang
bersifat
informal disampaikan dengan bahasa
32
33
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
tak baku, gaya sedikit emosional, dan serba seenaknya. Meskipun demikian, alih
kode tidak akan terjadi jika pergantian topik pembicaraan masih dalam situasi
formal (Chaer dan Agustina, 2004: 112), misalnya topik tentang kesejahteraan
masyarakat tuna susila berubah menjadi topik tentang pengurangan hak seorang
napi, yang dalam masyarakat tutur Indonesia harus menggunakan ragam resmi.
Perubahan yang terjadi hanya mungkin pada registernya.
Faktor berikutnya, yang melatar belakangi terjadinya alih kode, adalah
faktor humor dan gengsi. Alih kode juga sering dimanfaatkan oleh guru,
pemimpin rapat, atau pun pelawak untuk membenagkitkan rasa humor. Biasanya
dilakukan dengan alih varian, alih ragam, atau alih gaya bicara. Untuk sekedar
bergengsi oleh penutur walaupun faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor
sosio-situasional tidak mengharapkan adanya alih kode. Hal ini terjadi apabila si
penutur mempunyai penilaian bahasa yang satu dianggap lebih tinggi dan bahasa
lainnya dianggap lebih rendah. Faktor-faktor penyebab alih kode tersebut sangat
berkaitan dengan verbal repertoire yang terdapat dalam masyarakat tutur.
6. Iklan
a. Hakikat Iklan
Iklan adalah produk tontonan yang dikemas dalam sebuah rangkaian yang
berisi berbagai tanda, ilusi, manipulasi, citra, dan makna. Informasi melalui iklan
dinilai berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap persepsi,
pemahaman, dan tingkah laku masyarakat (Darmawan, 2006). Rahmadi
(1994: 36) menyatakan bahwa iklan atau advertising berasal dari bahasa Latin
adverte yang berarti mengarahkan. Berbeda dengan pendapat Rahmadi, Sudiana
(1986: 1) menyatakan bahwa iklan merupakan bagian dari reklame yang berasal
dari bahasa Prancis re-clame yang berarti meneriakkan berulang-ulang.
Wright (dalam Liliweri, 1992: 20) berpendapat bahwa iklan adalah
komunikasi yang mempunyai kekuatan yang sangat penting sebagai alat
pemasaran yang membantu menjual barang, memberikan layanan serta gagasan
atau ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif. Suatu
user gaya, dan daya tarik (appeal)
iklan yang baik memperhatikan commit
strukturtopesan,
33
34
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pesan yang terkandung di dalamnya (Liliweri, 1992: 75). Struktur pesan adalah
cara menampilkan pesan dalam bentuk simpulan (tersirat atau tersurat). Gaya
adalah cara pemilihan pesan. Daya tarik (appeal) mengacu pada motif-motif
psikologis yang terkandung seperti pesan yang rasional, emosional, dan daya tarik
ganjaran tertentu.
Institusi praktisi periklanan Inggris (dalam Frank, 1996: 5) menyatakan
bahwa iklan merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang
diarahkan kepada calon pembeli yang paling potensial atas produk dan jasa
tertentu dengan biaya semurah-murahnya. Dalam hal ini, iklan merupakan pesan
komersial yang dibiayai oleh perusahaan untuk menawarkan produknya.
Melihat berbagai pendapat mengenai pengertian iklan di atas, dapat ditarik
simpulan bahwa iklan adalah pesan atau pemberitahuan atau informasi yang
disampaikan mengenai suatu barang atau jasa dari produsen kepada konsumen
dengan bahasa dan kata-kata persuatif. Bahasa persuatif adalah bahasa yang dapat
menimbulkan rasa ketertarikan dan rasa keingintahuan masyarakat terhadap
barang yang ditawarkan.
b. Klasifikasi Iklan
Para praktisi periklanan menggolongkan iklan menjadi beberapa macam.
Frank (1996: 39) menggolongkan iklan menjadi tujuh kategori pokok, antara lain:
(1) iklan konsumen; (2) iklan bisnis atau iklan antar bisnis; (3) iklan perdagangan;
(4) iklan eceran; (5) iklan keuangan; (6) iklan langsung; dan (7) iklan lowongan
kerja. Iklan konsumen (consumen advertising) merupakan iklan barang-barang
yang umum dibeli masyarakat, misalnya bahan makanan, shampoo, sabun.
Iklan antarbisnis (business to business advertising) berguna untuk
mempromosikan barang-barang atau jasa nonkonsumen. Iklan perdagangan secara
khusus ditujukan kepada kalangan distributor, para agen, para pedagang besar dan
kecil. Iklan eceran (retail advertising) merupakan iklan-iklan yang dilancarkan
oleh para swalayan atau toko-toko serba ada berukuran besar. Iklan keuangan
(financial advertising) merupakan iklan-iklan untuk bank, jasa tabungan, asuransi,
dan inventasi. Iklan rekruitmen (recruitment advertising) merupakan iklan yang
bertujuan merekrut calon pegawai.commit to user
34
35
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Kasali (1995: 121) menyatakan bahwa terdapat 3 jenis iklan yaitu (1) iklan
komersial; (2) iklan layanan masyarakat; (3) iklan trailer. Iklan komersial adalah
iklan yang menawarkan barang atau jasa. Iklan layanan masyarakat adalah iklan
yang bertujuan menggalang solidaritas masyarakat. Iklan trailer adalah iklan
potongan adegan film atau sinetron.
Pembicaraan mengenai klasifikasi iklan sangat beragam, hal ini
disebabkan oleh dasarnya penggolongan yang berbeda. Berkenaan dengan hal
tersebut penulis akan berpijak pada pendapat Kasali, yaitu seperti yang telah
disebutkan di atas bahwa iklan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu iklan komersial,
iklan layanan masyarakat, dan iklan trailer.
c. Media Iklan
Dalam menyampaikan iklan diperlukan media. Sudiana (1986: 53)
menyatakan bahwa media iklan meliputi televisi, radio, surat kabar, majalah,
papan reklame, dan pameran di tempat penjualan. Secara lebih rinci, Sigit
(1982: 53) membagi media iklan menjadi lima jenis, antara lain: (1) harian untuk
umum dan golongan tertentu, majalah untuk umum dan golongan tertentu, buletin,
katalog; (2) pada kendaraan atau bangunan meliputi kereta api, truk, mobil, kapal,
tembok-tembok, lantai, jembatan; (3) alat hiburan meliputi radio, televisi,
bioskop, slides, dan sebagainya; (4) direct advertising meliputi folders, bookets,
kalender, kartu pos, surat edaran, dan sebagainya; dan (5) demonstrasi pameran
dan pertunjukkan.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa media iklan
sebenarnya sangat banyak. Pemasangan iklan dapat dilakukan dimana saja asalkan
bisa dijangkau publik. Iklan dapat dipasang di tembok-tembok, jembatan, pinggir
jalan. Iklan dapat juga disampaikan melalui selebaran-selebaran, pamflet,
kalender, dan surat edaran.
7. Ragam Bahasa Iklan di Radio
Dalam setiap bahasa memiliki bermacam-macam variasi-variasi bahasa.
Setiap variasi bahasa memiliki kekhasan tersendiri. Variasi bahasa tersebut
commit
to user
disebut ragam bahasa. Berdasarkan
tingkat
formalitas (keresmian) ragam bahasa
35
36
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
oleh Nababan (1993: 22-23) dibagi menjadi lima tingkatan, antara lain: (1) ragam
beku (frozen) adalah ragam bahasa yang paling resmi yang dipergunakan dalam
situasi-situasi yang khidmat dan upacara-upacara resmi; (2) ragam resmi (formal)
adalah ragam bahasa yang dipakai dalam pidato-pidato resmi, rapat dinas, atau
rapat resmi pimpinan suatu badan; (3) ragam usaha (consultative) adalah ragam
bahasa yang sesuai dengan pembicaraan biasa di sekolah, perusahaan dan rapatrapat usaha yang berorientasi kepada hasil dan produksi; (4) ragam santai (casual)
adalah ragam bahasa santai antarteman dalam bincang-bincang, rekreasi, olah
raga, dan sebagainya; dan (5) ragam akrab (intimate) adalah ragam bahasa antar
anggota-anggotanya yang akrab dalam keluarga, teman-teman yang tidak perlu
berbahasa secara lengkap dengan artikulasi yang terang, tetapi cukup dengan
ucapan-ucapan pendek.
Frank (1996: 228) menyatakan bahwa dalam pembuatan naskah iklan
perlu diperhatikan kata-kata kunci, di antaranya klise, kata aksi, dan kata-kata
yang menggugah perasaan dan menyenangkan. Klise atau cliches merupakan
kata-kata sederhana yang biasa digunakan dan tampak unik dalam pembuatan
suatu iklan, misal kata gratis, sekarang, baru, di sini, hari ini. Kata-kata tersebut
dapat digunakan dalam berbagai cara, misalnya dicantumkan pada alamat
pengiklan jika fasilitas bebas biaya pengiriman.
Kata aksi merupakan kata kerja yang dapat digunakan untuk memberikan
suatu derajat keurgensian pada iklan untuk membantu iklan mengalir dan tidak
terkesan kaku. Hampir semua kata-kata aksi merupakan kata-kata singkat, misal
kata-kata aksi yang biasa digunakan dalam periklanan adalah cobalah,
saksikanlah, belilah, dapatkan, hubungi. Kata-kata aksi tersebut akan membantu,
memperkuat, dan menghidupkan pesan penjualan; menciptakan citra yang positif
terhadap produk atau jasa yang diiklankan; serta menciptakan keinginan dan
mempertebal keyakinan.
Kata kunci yang lain dalam pembuatan naskah iklan adalah kata-kata yang
menggugah perasaan dan menyenangkan. Kata jenis ini adalah kata sifat, yaitu
kata yang menggambarkan dan memaparkan fakta-fakta. Beberapa kata sifat yang
user adalah kata sempurna, indahnya,
dapat digunakan untuk pembuatancommit
naskahtoiklan
36
37
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menyenangkan, ekonomis, hemat, menggiurkan, tidak mahal. Struktur kata dalam
iklan harus mampu menggugah khalayak, yaitu dengan mencermati kebutuhan
konsumen, memberikan solusi, dan memberikan perhatian. Struktur kata dalam
iklan di radio haruslah lebih informatif dengan menggunakan kata-kata yang jelas,
bersahabat, komunikatif, dan persuasif. Rangkaian kalimat iklan yang digunakan
dapat membuat konsumen nyaman, senang, dan terhibur.
Bahasa yang dipakai dalam iklan di radio harus mengarahkan target
khalayak atau pendengar untuk membeli, menggunakan, atau beralih pada produk
jasa yang diiklankan. Gaya bahasa yang dipakai harus disesuaikan dengan siapa ia
berbicara, bagaimana kebiasaan perilaku atau sasaran iklan, dan di mana mereka
berada. Terkadang, dalam bahasa iklan dipandang menarik jika bersifat mainmain atau Sulistyaningtyas (2008: 498) mengatakan bersifat “lanturan”. Kata
lanturan berbeda dengan kata yang melantur atau ngawur, tidak nyambung
dengan topik yang dibahas. Lanturan adalah sengaja melantur atau melantur
dengan tujuan. Namun, lanturan yang dibuat harus selalu dijaga relevansinya.
Relevansi dalam konteks ini adalah kata asli yang diplesetkan atau disimpangkan
dari arti sebenarnya dari kata tersebut.
Dalam setiap iklan memunculkan unsur pengingat atau catcher baik yang
berupa suara, gambar, atau bahasa verbal menjadi amat penting; sehingga suatu
saat hanya dengan mendengar, melihat, atau membaca pengingat itu, konsumen
langsung terhubung dengan produk yang diiklankan. Permainan bahasa dan
pemakaian makna konotatif umum dipakai dan diterapkan pada bahasa iklan.
Rahmadi (1994: 34) menyatakan bahwa bahasa iklan memiliki ciri-ciri yaitu,
singkat, jelas, dan kata-katanya bersifat persuatif. Persuasi adalah suatu seni
verbal yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang
dikehendaki pembicara pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 215) persuasi berarti bujukan atau bujuk
rayu (yang meyakinkan).
Beriklan dengan media radio berarti menuntut kemampuan mendengar
dari target khalayak sebagai pendengar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
user mendengar apa yang diiklankan,
penyusunan iklan radio agar targetcommit
tertariktountuk
37
38
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
antara lain: (1) menarik perhatian; (2) memuat tema atau topik tunggal;
(3) mengandung inti pesan; dan (4) mampu memandu penyusunan kalimat
berikutnya. Terdapat tiga macam peralatan dalam menyampaikan pesan melalui
iklan radio atau radio spot, meliputi: (1) suara manusia; (2) musik; dan (3) efek
suara.
Suara manusia baik suara pemeran percakapan maupun suara penyiar
(announcer) adalah elemen yang paling penting. Suara-suara tersebut dapat
terdengar dalam suatu jingle, dialog, maupun pemberitahuan. Kebanyakan iklan
radio memunculkan suara penyiar, baik sebagai suara utama maupun menjadi
penutup iklan dengan identifikasi produk. Dialog dalam iklan radio sebaiknya
diperankan oleh orang-orang yang bisa memberi imajinasi atau gambaran seperti
keadaan sesungguhnya terhadap pendengarnya, terutama sasaran iklan tersebut.
Musik adalah elemen penting lainnya. Banyak iklan radio yang
menampilkan musik instrumental saja, tetapi tidak sedikit iklan yang hanya
berupa jingle. Musik yang sederhana dan mudah, baik nada maupun lirik, akan
dapat dengan mudah diingat atau bahkan dinyanyikan oleh pendengarnya dalam
berbagai kesempatan. Apalagi jika dinyanyikan oleh penyanyi yang sedang
menjadi pujaan publik. Musik juga dapat digunakan sebagai ilustrasi latar
belakang di dalam dialog. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan atau
pemilihan musik dalam iklan radio adalah jangan sampai ada suara yang
bertabrakan.
Alat penyampai iklan radio yang terakhir adalah efek suara. Efek suara
dapat banyak membantu dalam pembuatan iklan radio. Efek suara ini bisa
merupakan suara aneh yang dapat menarik perhatian pendengar atau suara latar
belakang yang memberi kesan hidup pada suatu percakapan. Suara ombak
berdebur misalnya, bisa memberi imajinasi suatu percakapan yang berlangsung di
pantai. Begitu juga suara-suara piring pecah, derit ban mobil, hingar bingar lalu
lintas yang mengalami kemacetan, dan suara-suara yang lainnya.
Dari beberapa paparan di atas, penulis dapat simpulkan bahwa dalam
pembuatan naskah iklan atau ragam bahasa iklan di radio terdapat beberapa hal
commit
to user
yang perlu diperhatikan agar iklan
yang
diproduksi bisa lebih efektif dalam
38
39
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
memperkenalkan produknya ke pendengar. Spot iklan yang dibuat harus dapat
membuat pendengar tertarik untuk mendengarkan, membangkitkan rasa
keingintahuan pendengar, dan mampu menggugah perasaan pendengar dengan
penggunaan musik, efek suara dan tentunya naskah iklan yang tepat. Penyampaian
pesan-pesan promosi atau iklan harus dengan cara-cara yang personal, seperti saat
sedang berbicara dengan rekan, adanya pelibatan pendengar atau mitra tutur
sehingga pendengar merasa tertarik dan terhibur.
B. Penelitian yang Relevan
Pada penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2001) yang berjudul
Karakteristik Bahasa Iklan di Majalah Remaja menghasilkan temuan sebagai
berikut. Karakteristik bahasa iklan dalam majalah remaja, meliputi ejaan, diksi,
dan kalimat. Wujud interferensinya meliputi interferensi morfologi, sintaksis, dan
kosakata, sedangkan wujud campur kode meliputi tingkatan reduplikasi dan kata.
Bahasa iklan diteliti juga dari aspek karakteristik kata-kata yang
digunakan, karakteristik wacana iklan, dan maksud ujaran oleh Sustiyanti dalam
penelitiannya yang berjudul Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Wacana Iklan
Majalah (2000). Dalam penelitiannya dihasilkan karakteristik kata-kata yang
digunakan dari segi fenomena kebahasaan memanfaatkan unsur bahasa lain, yaitu
bahasa Jawa, Arab, Inggris, dan Belanda. Pada karakteristik wacana dapat
diketahui jenis wacana yang berupa wacana verbal bila ditinjau dari segi
realitasnya, dari segi pemaparannya digolongkan ke dalam wacana ekspositori,
dan dari segi jenis pemakaiannya berwujud monolog.
Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Sulistyaningtyas dalam
jurnal Sosioteknologi (2008) yang berjudul Diksi dalam Wacana Iklan Berbahasa
Indonesia: Satu Kajian Sosiopragmatik menghasilkan temuan berupa kata-kata
dalam iklan merupakan tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Kata-kata
tersebut merupakan jenis ilokusi langsung dan taklangsung, serta memiliki fungsi
asertif. Penelitian tentang bahasa iklan juga dilakukan oleh Susilo (2007) dengan
judul penelitian Pilihan Bahasa dalam Iklan Televisi. Pada penelitiannya
user dalam iklan televisi terdiri atas
dihasilkan temuan berupa wujudcommit
pilihan tobahasa
39
40
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode. Tunggal bahasa berupa bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris, serta terdapat adanya ragam yaitu ragam usaha atau
konsultatif dan ragam santai atau kasual. Wujud alih kode pada peristiwa tutur
dalam iklan televisi yaitu berupa kalimat. Wujud campur kode pada peristiwa
tutur dalam iklan televisi dapat berupa kata dan frasa. Sementara itu, pada
penelitian ini peneliti akan menganalisis tentang karakteristik diksi, gaya bahasa,
wujud campur kode dan alih kode dalam iklan komersial di radio.
C. Kerangka Berpikir
Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa simbol
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Sebagai alat komunikasi, bahasa
merupakan saluran perumusan maksud, melahirkan perasaan dan memungkinkan
seseorang menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Bertolak dari hal
tersebut, kemunculan berbagai ragam bahasa yang sesuai dengan keperluan dan
tujuan semakin dibutuhkan, termasuk ragam bahasa iklan. Sebagai salah satu
media penyampai iklan, radio memiliki peranan yang cukup penting dalam hal ini.
Iklan di radio merupakan kombinasi tiga unsur, yaitu ilustrasi atau musik,
bahasa atau kata-kata, dan efek suara. Ketiga unsur tersebut saling berpadu
sehingga menjadikan iklan sangat menarik dan memberikan informasi yang jelas.
Radio merupakan salah satu media komunikasi yang sering dipakai masyarakat.
Audience atau khalayak yang menjadi objek sasaran iklan membutuhkan bahasa
yang jelas dan menarik, sehingga mereka akan tergugah untuk membeli produk
yang ditawarkan.
Permainan bahasa, pilihan diksi yang enak didengar dan mudah dipahami,
serta pemakaian makna konotatif umum dipakai dan diterapkan pada bahasa iklan
di radio. Ragam bahasa iklan yang disiarkan oleh sebuah radio, khususnya Radio
JPI sebagai sampelnya, akan dianalisis dari segi diksi, gaya bahasa, wujud campur
kode, dan alih kode. Hasil analasis, yang merupakan simpulan dari penelitian ini,
memunculkan karakteristik pemakaian bahasa iklan di radio.
commit to user
40
41
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Bahasa
Ragam Bahasa Iklan Komersial di Radio
Diksi (Pilihan Kata)
Gaya Bahasa
Karakteristik Pemakaian Bahasa
Iklan Komersial di Radio
Gambar 1. Kerangka Berpikir
commit to user
41
Campur Kode dan Alih Kode
42
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan secara fleksibel sesuai dengan kondisi dan
situasi saat penelitian dilakukan. Waktu penelitian dimulai bulan November 2009
hingga bulan April 2010. Adapun rincian waktu dan jenis kegiatan penelitian
dapat dilihat dalam tabel 1 berikut.
Tabel 1. Perincian Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian
Waktu
November
Jenis
Kegiatan
1
A. Tahap
persiapan
1. Pengajuan
proposal
2. Revisi
proposal
3. Persetujuan
proposal
2
3
x
x
Desember
4
1
2
3
x
x
x
x
Januari
4
Februari
1
2
3
4
x
x
x
x
x
x
x
x
1
2
x
x
Maret
3
4
x
x
1
2
x
x
3
April
4
1
2
3
4
x
x
x
x
x
x
B. Tahap
pelaksanaan
1. Pengajuan
materi bab I, II,
III
2. Pencarian data
3. Seleksi data
4. Verifikasi data
x
x
x
x
C. Tahap akhir
1. Pengecekan
data
2. Penarikan
kesimpulan
3. Penyusunan
laporan
x
B. Bentuk dan Strategi Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu pemerian data yang
berupa kata-kata dan bukan angka-angka (Aminuddin, 1990: 16). Istilah deskriptif
mengacu pada penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada
faktor-faktor yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada
penutur-penuturnya (Sudaryanto, 1993: 62). Strategi penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah naturalistik. Nasution (2002: 5) menjelaskan bahwa
commit to user
strategi ini dilakukan dalam situasi yang wajar atau dalam “natural setting”. Lebih
42
43
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
lanjut dia mengungkapkan, pada hakikatnya, penelitian kualitatif ialah mengamati
orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha
memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.
C. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian linguistik, populasi pada umumnya adalah bahasa yang
dipakai oleh sekelompok orang tertentu atau segi tertentu dan bahasa tertentu
(Subroto, 1997: 32). Populasi penelitian ini adalah bahasa iklan di radio. Adapun
pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu
memilih bahasa iklan komersial yang disiarkan radio yang dianggap sesuai
dengan kajian dan memungkinkan penerapan teori yang ada.
Penelitian ini tidak memungkinkan menjangkau keseluruhan populasi,
maka peneliti memilih bahasa iklan komersial yang disiarkan oleh Radio Jaya
Pemuda Indonesia (JPI) sebagai sampelnya. Hal ini dilakukan dengan
pertimbangan: (1) Radio JPI belum pernah menjadi objek penelitian dengan
materi yang sama; (2) bahasa iklan yang disiarkan Radio JPI sesuai dengan kajian
penelitian; (3) komunikasi dan wawancara dengan informan mudah dilakukan;
dan (4) lokasinya mudah dijangkau. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan
Desember 2009 hingga bulan Januari 2010.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
teknik rekam, teknik simak, dan teknik catat. Teknik rekam adalah pemerolehan
data dengan menggunakan alat rekam (Subroto, 1997: 36). Teknik simak dan catat
adalah mengadakan penyimakan terhadap pemakaian bahasa yang bersifat
spontan dan mengadakan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai dengan
sasaran dan tujuan penelitian (Subroto, 1997: 43). Peristiwa tutur yang telah
direkam
di
pita
kaset
(dengan
menggunakan
handrecord)
kemudian
ditranskripsikan ke dalam bentuk transkripsi grafemis. Setelah data diperoleh
kemudian dicatat dalam kartu data untuk diseleksi dan diklasifikasikan
commit
to user
(Sudaryanto, 1993: 135) agar dapat
mempermudah
pelaksanaan kerja analisis
43
44
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
data. Kegiatan penelitian ini dengan langkah-langkah mencatat data dalam kartu
data, lalu membuat pengklasifikasian data untuk dianalisis.
Selain itu, peneliti juga akan menggunakan teknik wawancara mendalam
(indepth interviewing). Kegiatan ini dilakukan dengan informan, baik manajer
bagian iklan di Radio JPI maupun para pendengar radio JPI, khususnya yang
masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
E. Validitas Data
Guna menjamin dan mengembangkan validitas data yang dikumpulkan
dalam penelitian ini, teknik pengembangan validitas data yang digunakan dalam
penelitian kualitatif ini adalah teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu
(Moeleong, 2000: 178).
Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber
data dan metode. Triangulasi sumber data yaitu dengan menggunakan berbagai
sumber data untuk memperoleh data yang sama. Sumber data diperoleh dari
transkripsi grafemis rekaman iklan, pihak radio JPI, dan pendengarnya. Sementara
itu, teknik triangulasi metode yaitu dengan metode wawancara, mengkaji
transkripsi rekaman iklan dan jajak pendapat terhadap pendengar JPI.
F. Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan satuan uraian data, sehingga dapat ditemukan temanya.
Peneliti dalam menganalisis data menggunakan model analisis jalinan atau
mengalir (Flow Model of Analysis), yaitu saling terjalinnya tiga komponen utama
analisis yang dilakukan secara bersamaan dalam proses pengumpulan data
(Sutopo, 2002: 85).
Teknik ini meliputi pengumpulan data, reduksi data (memilih dan memilah
data sebagai usaha pemfokusan, penyaringan, dan penyelesaian), sajian data
commit to user
44
45
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
(merakit data yang telah terklarifikasi), dan penarikan simpulan. Uraian tersebut
dapat diperjelas dengan gambar berikut.
Pengumpulan data
Reduksi data
Penulisan laporan
Sajian data
Penarikan simpulan
Gambar 2. Analisis Data Flow Model of Analysis (Sutopo, 2002: 86)
commit to user
45
46
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data yang berupa iklan
komersial yang disiarkan oleh Radio JPI pada periode Desember 2009-Januari
2010. Peneliti mengambil data iklan pada periode bulan Desember 2009 hingga
bulan Januari 2010 dengan tujuan agar sampel data dalam penelitian ini mampu
mewakili iklan-iklan yang disiarkan oleh radio JPI dalam kurun waktu tahun 2009
hingga tahun 2010. Hal ini didasarkan pada periode kontrak iklan yang sebagian
menggunakan sistem kontrak per tahun dan sebagian lagi sistem kontrak per tiga
bulan.
Keseluruhan data yang terkumpul berjumlah 26 data iklan. Semua data
iklan yang telah direkam dan ditranskripsikan terdiri dari 5 iklan komersial yang
berupa monolog dan 21 iklan komersial yang berupa dialog. Sebelum dianalisis,
data iklan terlebih dahulu diklasifikasikan atau digolong-golongkan. Berikut ini
data iklan komersial yang disiarkan oleh Radio JPI yang telah terklasifikasi.
Tabel 2. Data Pengklasifikasian Iklan Komersial yang Disiarkan oleh Radio JPI
Periode Desember 2009-Januari 2010
No.
Jenis Iklan
Nama Iklan
Kode
Iklan
1.
Iklan Produk Properti Iklan Toko Colombus
(Pr)
CLM
Iklan Toko Purnama Steel Kanopi PSKK
Kanopi
2.
Iklan Toko Meubel Jempol
MJ
Iklan Toko Margo Murah Baru
MMB
Iklan Produk
Iklan Kecap Sedaap (monolog dan KS
Makanan (Mk)
dialog)
Iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan
TNP
Iklan Sirup Niki Sari (monolog)
commit to user
SNS
46
47
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3.
4.
5.
Iklan Ale-Ale
ALE
Iklan Produk
Iklan New Give White
GW
Kosmetik (Ks)
Iklan Hair Sense
HS
Iklan Jasa (Js)
Iklan Tabib Ibu Rizal
TIR
Iklan Tabib dr. Nita, M. A.
TN
Iklan BPR Trihasta Prasojo
TP
Iklan BPR Weleri Makmur
WM
Iklan PT. Sarana Insan Mandiri
SIM
Iklan Altolud (monolog)
ALT
Iklan
Produk
(Ob)
6.
7.
8.
Obat Iklan Bio Activa (monolog)
BA
Iklan Hemaviton Jreng (monolog)
HJ
Iklan Paramex
PRX
Iklan Produk
Iklan Mama Lemon
ML
Kebersihan (Kb)
Iklan Soklin Softergent
SKS
Iklan Produk Pakaian Iklan Arco Baleno (versi 1 dan 2)
AB
dan Asesoris (Pk)
Iklan Optik Pranoto
OP
Iklan Produk
Iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya PJ
Kendaraan (Kd)
Grup
Semua iklan yang telah terklasifikasi, yang memunculkan karakteristik
bahasa iklan, baik diksi, gaya bahasa, campur kode maupun alih kode diambil
sebagai data analisis. Dari keseluruhan wacana iklan yang disiarkan oleh Radio
JPI di atas, terdapat 13 wacana iklan yang bukan merupakan buatan Radio JPI,
yaitu iklan Kecap Sedaap (baik monolog maupun dialog), iklan Teh Cap Nyapu
Pekalongan, iklan Sirup Niki Sari, iklan Ale-Ale, iklan New Give White, iklan
Altolud, iklan Bio Activa, iklan Hemaviton Jreng, iklan Paramex, iklan Arco
Baleno (versi 2), iklan Mama Lemon, dan iklan Soklin Softergent. Untuk 13
wacana iklan lainnya merupakan hasil produksi Radio JPI sendiri yang meliputi
proses pembuatan naskah iklan, pemeran iklan, sound effect atau efek suara yang
dimasukkan, dan proses pemroduksiannya.
commit to user
47
48
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Iklan-iklan buatan Radio JPI tersebut lebih banyak termasuk dalam iklan
lokal, yakni iklan produk jasa dan properti yang meliputi iklan Toko Colombus,
iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi, iklan Meubel Jempol, iklan Margo Murah
Baru, iklan Hair Sense, iklan Tabib Ibu Rizal, iklan Tabib dr. Nita M. A., iklan
BPR Trihasta Prasojo, iklan BPR Weleri Makmur, iklan PT Sarana Insan Mandiri,
iklan Arco Baleno (versi 1), iklan Optik Pranoto, dan iklan Pusat Jaya Harpindo
Jaya Grup.
Beberapa data iklan yang terkumpul merupakan iklan dengan satu merk
yang disiarkan dalam dua jenis versi, sedangkan yang lainnya merupakan iklan
dengan satu merk yang disiarkan dalam satu versi saja. Hal ini didasarkan pada
jam siaran sebuah radio yang tinggi, yang memungkinkan pemutaran sebuah iklan
radio atau sering juga disebut dengan spot iklan, memiliki frekuensi pemutaran
yang cukup tinggi. Dengan adanya upaya pembedaan versi iklan dalam satu merk
produk, diharapkan dapat menghindari kejenuhan dan kebosanan pendengar atau
khalayak sasaran iklan, seperti dalam iklan Toko Arco Baleno.
B. Analisis Data
1. Karakteristik Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan.
Penganalisisan karakteristik diksi pada iklan komersial di radio dilakukan
berdasarkan klasifikasi jenis iklan yang telah disebutkan sebelumnya. Analisis
karakteristik diksi terhadap data iklan komersial dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Iklan Produk Properti
Iklan produk properti merupakan iklan yang menawarkan produk-produk
atau barang-barang properti, seperti meja, kursi, dan almari. Iklan-iklan, yang
disiarkan Radio JPI, yang termasuk dalam iklan produk properti meliputi iklan
Toko Colombus, iklan iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi, iklan Meubel Jempol,
dan iklan Margo Murah Baru. Dari beberapa iklan produk properti tersebut
muncul karakteristik diksi yang terdiri dari pemakaian idiom, pemakaian kata-kata
asing, pemakaian kata-kata gaul, pemakaian kata bersinonim, dan pemakaian kata
commit to user
48
49
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
bermakna konotasi. Berikut ini penjelasan masing-masing karakteristik diksi
keempat iklan di atas.
1) Pemakaian Idiom atau Ungkapan
Idiom atau ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru
yang tidak berhubungan dengan kata pembentuk dasarnya. Data di bawah ini
merupakan data yang menunjukkan adanya pemakaian idiom atau ungkapan
dalam iklan produk properti.
Kulo nuwun… (Pr/ CLM/ 1)
Kata kulo nuwun di atas muncul dalam iklan produk properti dengan
berlatarkebahasaan yang sama antara pemeran-pemeran iklan, yakni bahasa
Jawa. Iklan ini, secara garis besar, menceritakan tentang si A (salah satu
pemeran iklan) yang berkomentar mengenai perabotan rumah si B (pemeran
iklan yang lain), lalu si A menawarkan alternatif solusi yang disetujui oleh si
B. Penyajian iklan tersebut disertai dengan efek-efek suara seperti suara pintu
diketuk kemudian dibuka, suara orang berjalan, dan beberapa efek suara
lainnya yang mendukung cerita.
Pemakaian idiom atau ungkapan ditunjukkan dengan gabungan antara
kata kulo dan nuwun yang membentuk kata kulo nuwun. Kedua kata tersebut
merupakan kata-kata hasil pungutan dari bahasa Jawa. Kata kulo memiliki
padanan arti dengan kata saya dalam bahasa Indonesia, sedangkan kata
nuwun memiliki arti terima kasih. Namun, gabungan kedua kata di atas
bukan merupakan kata yang dimaksudkan untuk menyatakan rasa terima
kasih seseorang, melainkan bermaksud minta izin atau permisi saat bertamu
di rumah orang lain.
Pemakaian idiom kulo nuwun pada pembukaan dialog data iklan
produk properti di atas, menurut informan, dimaksudkan untuk membentuk
setting atau latar cerita yang kejawaan. Iklan yang disiarkan radio dengan
sasaran pendengar masyarakat berdomisili Jawa, dirasa lebih cocok bila
pemakaian ungkapan yang dimasukkan dalam dialog menggunakan bahasa
daerah, yakni bahasa Jawa.
commit to user
49
50
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Soko ndhek mbiyen sampe sak iki sing jenenge Toko Meubel Jempol
di semua cabang lan kota ora pernah dodolan secara door to door.
(Pr/ MJ/ 2)
Ungkapan yang diambil dari bahasa Inggris di atas memiliki padanan
makna, dalam bahasa Indonesia, dengan dari rumah ke rumah atau menjual
produknya langsung dengan mendatangi calon pembeli di rumahnya.
Ungkapan tersebut dimunculkan dalam iklan Toko Meubel Jempol yang
menceritakan tentang keinginan salah satu pemeran iklan yang akan membeli
tempat tidur baru karena mendapat arisan. Iklan tersebut disajikan dalam
bentuk dialog dengan 2 pemeran iklan yang berlatar cerita kekeluargaan,
sehingga dialog-dialog yang muncul seringkali menggunakan bahasa Jawa.
Meskipun demikian, pemakaian kosakata bahasa asing seperti bahasa Inggris
juga dipakai guna menyampaikan maksud ujaran yang lebih tepat oleh
pengiklan. Pemakaian idiom bahasa asing di atas dirasa lebih sesuai dipakai
dalam pengiklanan produk properti karena ungkapan tersebut menyampaikan
cara pemasaran dalam suatu sistem jual beli. Selain itu, pemakaian idiom
tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kesan modern dan agar menarik
pendengar iklan.
2) Pemakaian Kata-kata Asing
Pemakaian kata asing dalam iklan produk properti juga sering
dimunculkan. Kata cash, showroom, sales, dan spring bed pada beberapa
data di bawah ini memiliki frekuensi kemunculan yang lebih sering
dibanding dengan kata tunai, tempat memamerkan produk yang dijual,
penjual, dan tempat tidur yang dilengkapi dengan per.
Cash atau kredit. (Pr/ CLM/ 3)
Makanya, segera kunjungi showroom Colombus Jalan Lawu No. 31
Karanganyar telp. 7006760 atau Jalan Honggowongso No. 97 Pasar
Kembang Solo telp. 719837, tepatnya utara Pasar Kembang.
(Pr/ CLM/ 4)
Sales kami akan datang untuk isi aplikasi yang Anda inginkan.
(Pr/ CLM/ 5)
Hah, spring bed?! (Pr/ MMB/ 6)
commit to user
50
51
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Data di atas merupakan data yang diambil dari data bahasa iklan Toko
Colombus dan Toko Margo Murah Baru yang keduanya termasuk dalam
jenis iklan produk properti. Kedua data iklan di atas, secara garis besar,
menggunakan cara penyajian yang hampir sama. Efek-efek suara seperti
suara orang berjalan, suara orang tertawa, dan suara-suara lainnya yang
mengesankan kelucuan dan humor. Iklan-iklan tersebut berlatar kekeluargaan
dan berlatar kebahasaan yang sama, yaitu bahasa Jawa. Meski demikian,
pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Inggris juga ditampilkan, yakni pada
penyampaian informasi-informasi penting iklan. Kata-kata yang diambil dari
bahasa asing dalam iklan properti di atas dirasa mampu memunculkan kesan
modern, terbaru, dan kualitas yang baik atas produk yang diiklankan. Selain
itu, menurut informan, kata-kata tersebut lebih menarik perhatian pendengar
iklan.
3) Pemakaian Kata-kata Gaul
Kata-kata gaul adalah kosakata pertemanan atau kosakata pergaulan
yang bersifat nonformal dan sangat berbeda dengan kosakata dari bahasa
induknya. Data di bawah ini menunjukkan adanya pemakaian kata-kata gaul
yang muncul pada iklan produk properti.
Nggak usah bawa uang, tinggal pilih barangnya, langsung bawa
pulang. (Pr/ CLM/ 7)
Kredit aja, Bu. Kan ada Colombus. (Pr/ CLM/ 8)
Pokoknya, semuanya dech yang berhubungan dengan stainless steel.
(Pr/ PSKK/11)
Tadi itu ada orang yang ke sini nawarin. (Pr/ MJ/ 12)
Yang nyicil 6 kali murni tanpa bunga. (Pr/ MMB/ 13)
Makasih ya, Pak. Adik dibeliin meja belajar. (Pr/ MMB/ 14)
Kalo meja belajar ini beli, Dik. (Pr/ MMB/ 15)
Penggunaan kata nggak dimaksudkan untuk mengganti kata tidak,
sedangkan kata kalo berasal dari kata kalau yang mengalami perubahan
fonem /au/ menjadi /o/. Kedua kata tersebut merupakan kata bentukan hasil
pengaruh dari dialek Jakarta. Kata saja mengalami penghilangan fonem /s/,
sehingga terbentuk kata aja seperti pada data di atas. Partikel kan dan dech,
yang merupakan partikel dialek
Jakarta,
digunakan untuk menyatakan suatu
commit
to user
51
52
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
sebab yang pasti (pernyataan). Pemakaian kata-kata gaul berupa perubahan
fonem, penghilangan fonem, penyingkatan kata, dan pemakaian partikelpartikel dialek Jakarta dimaksudkan untuk kemudahan dalam pengucapan
tuturan iklan. Kata-kata tersebut di atas terasa lebih akrab di telinga
pendengar.
Kata yang seharusnya berbunyi terima kasih berubah menjadi
makasih tanpa mengubah arti dimaksudkan agar tuturan lebih komunikatif
dan luwes. Pemakaian kata nawarin, nyicil, dan dibeliin merupakan kata-kata
gaul yang terpengaruh dialek Jakarta. Kata-kata tersebut berbunyi
menawarkan, menyicil, dan dibelikan dalam pemakaian bahasa Indonesia
yang benar. Kata-kata gaul seperti pada data di atas, sengaja pengiklan
gunakan untuk membentuk suatu tuturan bahasa iklan produk properti yang
santai, fleksibel, dan terkesan metropolitan.
4) Pemakaian Kata Bersinonim
Sinonim adalah persamaan makna kata. Dalam iklan produk properti
muncul karakteristik kata bersinonim sebagai berikut.
I…ih, kuno banget lho, Bu. (Pr/ CLM/ 16)
Segala perabotan modern ada. (Pr/ CLM/ 17)
Sales kami akan datang untuk isi aplikasi yang Anda inginkan.
(Pr/ CLM/ 19)
Spesial kanopi harga dijamin termurah dengan mutu terbaik dan ada
garansinya lho. (Pr/ PSKK/ 20)
Lha trus kapan rumah kita direnovasi? (Pr/ PSKK/ 21)
Ada juga spesial diskon lho, 50 persen. (Pr/ MMB/ 22)
Kata kuno memiliki padanan kata atau bersinonim dengan kata
tradisional, konvensional, dan lama (dari jaman dahulu). Kata tersebut
digunakan karena dianggap lebih sesuai dengan konteks tuturan dalam
menawarkan produk properti. Sama halnya dengan kata modern pada data
nomor 16 di atas, kata modern bersinonim dengan kata mutakhir, terbaru,
dan canggih. Namun, kata modern lah yang diambil untuk melengkapi
tuturan di atas. Selain itu, kata aplikasi, yang bersinonim dengan kata
formulir, lamaran, pendaftaran, dan permohonan, dirasa lebih profesional
commit
userdisebutkan sebelumnya.
dibanding dengan padanan kata
yangtotelah
52
53
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Sementara itu, kata garansi bersinonim dengan kata jaminan dan
tanggungan;
kata
renovasi
bersinonim
dengan
kata
pembaharuan,
peremajaan, dan penyempurnaan; sedangkan kata diskon bersinonim dengan
kata potongan harga. Pemakaian kata garansi, renovasi, dan diskon dalam
iklan produk properti dirasa lebih tepat dan pas dibanding kata-kata yang
lain. Hal ini didasarkan pada jenis iklan yang menawarkan barang-barang
yang berhubungan dengan rumah dan bangunan, sehingga kata-kata tersebut
mampu mewakili jenis produk yang diiklankan.
5) Pemakaian Kata Bermakna Konotasi
Kata yang bermakna konotasi yakni kata yang memiliki makna kias
atau tidak sebenarnya. Dalam iklan produk properti muncul satu data yang
menunjukkan kata bermakna konotasi, yaitu pemakaian kata bunga pada data
di bawah ini.
Yang nyicilnya setahun bunganya cuma 0,9 persen. (Pr/ MMB/ 23)
Kata bunga dalam arti yang sebenarnya berarti bagian tumbuhan yang
akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya. Namun, pada
data di atas kata bunga memiliki makna kias, yakni imbalan jasa untuk
penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan
ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan dalam persentase. Kata
tersebut dipilih pengiklan dalam tuturan iklannya, mengingat sistem jual beli
produk yang diiklankan berupa sistem kredit dengan penawaran yang spesial.
b. Iklan Produk Makanan
Iklan produk makanan merupakan iklan yang menawarkan produk atau
barang-barang berupa makanan, baik makanan yang langsung konsumsi maupun
makanan yang semi konsumsi. Iklan-iklan yang disiarkan oleh Radio JPI yang
termasuk dalam iklan produk makanan meliputi iklan Kecap Sedaap (monolog
dan dialog), iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan, iklan Sirup Niki Sari, dan iklan
Ale-Ale. Dari beberapa iklan produk makanan tersebut muncul karakteristik diksi
yang meliputi pemakaian kata-kata gaul, pemakaian kata khusus, pemakaian katacommit to user
53
54
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kata daerah, pemakaian unsur pengingat, dan pemakaian kata bersinonim. Berikut
ini penjelasan masing-masing karakteristik diksi iklan tersebut.
1) Pemakaian Kata-kata Gaul
Pemakaian kata-kata gaul yang muncul pada iklan produk makanan
ditunjukkan oleh data di bawah ini. Pemakaian kata nggak, dibikinin,
tungguin, ngliat, ngomongin, dan pake merupakan wujud kata-kata gaul
pengaruh dialek Jakarta; sedangkan partikel dong dan sich merupakan
partikel atau unsur pelengkap yang digunakan untuk mengukuhkan dan
melengkapi kalimat bentukannya.
Dibikinin teh tiap hari kok nggak pernah puas. (Mk/ TNP/ 24)
Itu sich kita juga tahu. (Mk/ ALE/ 29)
Andi, tungguin dong. (Mk/ KS/ 31)
Seneng ya ngliat anak-anak ceria. (Mk/ KS/ 32)
Karena makan pake Kecap Sedaap. (Mk/ KS/ 34)
Lagi ngomongin Kecap Sedaap ya? (Mk/ KS/ 36)
Kata nggak sama maknanya dengan kata tidak. Kata dibikinin,
tungguin, ngliat, ngomongin, dan pake dalam penggunaan bahasa Indonesia
yang sesuai dengan kaidah secara berturut-turut berbentuk dibuatkan, tunggu,
melihat, membicarakan, dan pakai. Pada kata pake terjadi penggantian
diftong /ai/ menjadi monoftong /e/. Kata-kata tersebut terpengaruh oleh
dialek Jakarta.
Pemakaian kata-kata gaul di atas dalam iklan produk makanan
dimaksudkan agar lebih mudah dalam pengucapannya, tidak kaku, dan
mudah dimengerti pendengar iklan. Kata-kata di atas sudah biasa dan akrab
di telinga pendengar, kata-kata itu sudah populer, dan kata-kata tersebut
bukan merupakan sesuatu yang asing dalam komunikasi untuk menimbulkan
suasana santai dan akrab.
Kata-kata tersebut digunakan dalam tuturan bahasa iklan di radio,
sehingga
penggunaannya
sangat
berpengaruh
terhadap
ketertarikan
pendengar terhadap iklan. Pembentukan kata-kata baru tersebut tetap tidak
meninggalkan aspek kemudahan pendengar dalam memahami maknanya.
commit to user
54
55
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Selain itu, aspek kejelasan dan keefektifan bahasa yang digunakan juga
menjadi prioritas pengiklan dalam menyampaikan iklan-iklannya.
Pemakaian partikel dialek Jakarta
yang
ditunjukkan
dengan
munculnya kata-kata dong dan sich pada kedua data di atas, berfungsi
sebagai pembentuk atau penambah kesan metropolitan dan gaul. Jika
partikel-partikel tersebut dihilangkan, maka tidak mengubah maksud atau inti
pesan ujaran di atas. Hal ini disebabkan fungsi partikel itu sendiri hanya
sebagai penambah. Penggunaan partikel-partikel di atas dikarenakan
keinginan atau kebutuhan pengiklan, khususnya iklan di radio. Para
pengiklan mempunyai tujuan utama yakni ketertarikan pendengar terhadap
iklan yang disiarkan oleh radio, sehingga memunculkan hasrat pendengar
untuk sekedar tahu produk yang ditawarkan.
2) Pemakaian Kata Khusus
Kata khusus adalah kata yang cangkupan maknanya lebih sempit.
Dalam iklan produk makanan muncul pemakaian kata khusus sedap. Kata
sedap pada awal kalimat dengan kata sedap pada akhir kalimat data di bawah
ini, memiliki makna yang berbeda.
Pakai Kecap Sedaap pasti lebih sedap. (Mk/ KS/ 39)
Kata sedap yang berada di awal kalimat, tepatnya setelah kata kecap
di atas, memiliki makna yang lebih sempit dibanding kata sedap yang berada
di akhir kalimat. Kata sedap di akhir kalimat mengacu pada makanan,
sedangkan kata sedap di awal kalimat mengacu pada merk atau nama dagang
produk yang diiklankan. Pemilihan kata sedap yang dipakai pada kalimat
tuturan iklan produk makanan dimaksudkan oleh pengiklan untuk
menyangatkan arti dan menciptakan satu pemahaman pesan kepada
pendengar iklan bahwa produk yang diiklankan sesedap namanya. Selain itu,
pemakaian kata sedap dirasa mampu memunculkan rasa penasaran oleh
pendengar iklan untuk mencoba produk tersebut.
commit to user
55
56
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3) Pemakaian Kata-kata Daerah
Kata-kata daerah yang muncul pada iklan produk makanan di bawah ii
antara lain : kata rame, hush, nyes, dan kata panggilan mbak dan jeng. Semua
kata tersebut dipungut dari kosakata bahasa Jawa.
Denger-denger, kok rame terus sama suami. (Mk/ TNP/ 40)
Hush, bukan itu maksudku. (Mk/ TNP/ 41)
Coba dech, pasti nyes. (Mk/ TNP/ 42)
Iya, Mbak. (Mk/ KS/ 43)
Hei, Jeng?! (Mk/ KS/ 44)
Kata rame berawal dari kata ramai yang mengalami perubahan
diftong /ai/ menjadi monoftong /e/. Pemakaian kata panggilan terhadap
seseorang yang berupa Mbak dan Jeng dimaksudkan untuk menciptakan
suasana tuturan yang kejawaan, komunikatif, dan akrab di telinga pendengar.
Sama halnya dengan pemakaian kata hush dan nyes di atas. Kedua
kata tersebut tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, sehingga
pengiklan tetap menggunakan kata tersebut karena dirasa cukup mampu dan
tepat mengungkapkan maksud yang diinginkan dalam iklan tersebut. Dalam
iklan jenis produk makanan ini, menurut informan, penggunaan kata nyes
sangat tepat untuk mengungkapkan rasa mantap dan kelezatan produk teh
yang diiklankan.
4) Penggunaan Unsur Pengingat
Unsur pengingat atau catcher merupakan salah satu unsur atau bagian
dalam tuturan iklan sebagai pengingat atau ciri khas sebuah iklan, agar
mudah diingat oleh pendengar atau sasaran iklan. Dalam iklan produk
makanan muncul unsur-unsur pengingat untuk iklan Kecap Sedaap dan Sirup
Niki Sari.
Yang hitam, gurih, kental itu lho. (Mk/ KS/ 45)
Sirup Niki Sari sesegar buah asli. (Mk/ SNS/ 46)
Unsur pengingat atau catcher dalam suatu iklan biasanya sering
diulang
pengucapannya,
agar
pendengar
atau
sasaran
iklan
cepat
menghafalnya. Tuturan kalimat pada data pertama di atas merupakan unsur
commit
to user
pengingat iklan produk makanan
Kecap
Sedaap, sedangkan tuturan kalimat
56
57
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pada data kedua merupakan unsur pengingat iklan produk makanan Sirup
Niki Sari. Selain pengucapan unsur pengingat yang diulang-ulang, tuturan
tersebut menjadi ciri khas produk yang diiklankan. Jadi, setiap muncul
tuturan yang menjadi catcher, masyarakat langsung tahu dan paham maksud
atau pun merek dagang suatu produk tersebut.
5) Pemakaian Kata Bersinonim
Kata-kata bersinonim juga muncul melengkapi karakteristik iklan
produk makanan. Kata bersionim adalah kata yang memiliki persamaan
makna dengan kata lain. Pemakaian kata bersinonim ditunjukkan oleh data
berikut ini.
Teh Cap Nyapu Pekalongan harum, kental, dan nikmat.
(Mk/ TNP/ 47)
Anak-anak ceria banget memulai hari mereka. (Mk/ KS/ 48)
Ayo ceriakan suasana yang ada dengan kesegaran alami.
(Mk/ SNS/ 51)
Kata harum dan nikmat pada data di atas merupakan kata-kata yang
dimasukkan dalam diksi iklan teh. Kata harum bersinonim dengan kata
wangi, sedangkan kata nikmat bersinonim dengan kata enak dan lezat.
Namun, dalam penggunaannya kata harum dan nikmat lebih dipilih dan
dirasa lebih tepat untuk mewakili atau menggambarkan rasa dan bau dari
produk teh tersebut dibanding persamaan dari kata-kata tadi.
Untuk kata alami pada data di atas digunakan untuk mengiklankan
produk sirup. Kata alami lebih dipilih oleh pengiklan untuk menyampaikan
maksud bahwa sirup atau produk yang diiklankan terbuat dari buah atau
bahan asli dari alam, tanpa pemanis buatan, tanpa pewarna sintetis, dan tanpa
pengawet. Sementara itu, kata ceria pada data yang terakhir bersinonim
dengan kata senang dan bahagia. Namun, kata ceria lebih dipilih pengiklan
untuk menyampaikan atau menggambarkan perasaan, mimik muka, dan
tingkah laku yang berseri-seri penuh semangat setelah makan dengan Kecap
Sedaap.
commit to user
57
58
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Iklan Produk Kosmetik
Iklan produk kosmetik merupakan iklan yang menawarkan produk atau
barang-barang yang berupa alat kosmetik atau kecantikan. Yang termasuk dalam
kategori ini hanya ada dua, yaitu iklan New Give White dan iklan Hair Sense.
Dalam iklan produk kosmetik, karaktristik diksi yang muncul meliputi pemakaian
kata khusus, pemakaian kata bersinonim, pemakaian kata-kata asing, dan
pemakaian kata-kata gaul. Berikut ini penjelasan masing-masing karakteristik
diksi iklan tersebut.
1) Pemakaian Kata Khusus
Rumus 2x3 kulit putih, cerah alami. (Ks/ GW/ 52)
Data di atas adalah data yang diambil dari iklan sabun mandi yang
diperankan oleh dua pemeran iklan. Iklan tersebut berlatar tempat di sebuah
ruang kelas dengan disertai efek-efek suara yang mendukung cerita.
Pemakaian kata putih pada data di atas bukan berarti putih dalam cakupan
makna warna putih pada umumnya, melainkan putih dalam konteks tuturan
yang disampaikan, yaitu warna kulit yang putih. Tuturan di atas
mendeskripsikan manfaat yang akan diperoleh konsumen jika memakai
produk yang diiklankan, yakni memiliki kulit yang putih, bersih, tidak pucat,
dan cerah alami. Pemakaian kata cerah dan alami pada tuturan di atas
digunakan sebagai penjelas dari kata putih yang ada di depannya, agar
konsumen memiliki pemahaman pesan yang utuh dan sesuai dengan
keinginan pengiklan.
2) Pemakaian Kata-kata Bersinonim
Cermin, siapakah wanita tercantik di dunia ini? (Ks/ HS/ 53)
Tuturan di atas ada pada iklan Hair Sense, yang termasuk dalam jenis
iklan produk kecantikan. Pemilihan kata dalam iklan tersebut disesuaikan
dengan sasaran produk iklannya, yaitu masyarakat usia dewasa yang merasa
mempunyai rambut yang beruban. Oleh karena itu, kata wanita lebih dipilih
daripada kata perempuan. Kata wanita memiliki arti perempuan dewasa dan
penggunaannya lebih pada bidang keprofesian, keorganisasian atau
commit to user
58
59
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
perkumpulan, sedangkan kata perempuan memiliki arti orang (manusia) yang
memiliki kelamin perempuan atau lawan jenis dari laki-laki.
Sama halnya dengan pemakaian kata cantik. Kata cantik bersinonim
dengan kata ayu, elok, dan molek. Namun, kata cantik dipilih dalam tuturan
bahasa iklan produk kosmetik di atas karena dirasa lebih sesuai dengan
konteks maksud produk iklan tersebut, yakni wanita cantik secara
keseluruhan, tidak hanya wajah atau bentuk badan saja.
Hair Sense mengandung protein sutra menutup uban dengan
sempurna. (Ks/ HS/ 54)
Kata sempurna memiliki persamaan makna dengan kata sangat baik,
utuh, dan lengkap. Pada tuturan data di atas, kata sempurna dipilih pengiklan
dengan alasan karena kata tersebut lebih tepat digunakan dan sesuai dengan
maksud iklan dalam menggambarkan keunggulan produk yang diiklankan
dibanding kata-kata yang lain, yang semakna dengan kata sempurna. Selain
itu, kata sempurna dipakai pengiklan dalam iklan produk kecantikan karena
dirasa kata tersebut lebih intens pendeskripsian maknanya dibanding katakata yang lain.
3) Pemakaian Kata-kata Asing
Data di bawah ini terdiri dari data iklan sabun mandi Give White dan
iklan pewarna rambut Hair Sense. Keduaya termasuk dalam jenis iklan
kecantikan. Iklan Give White dibuat berlatar suasana kelas yang sedikit agak
gaduh karena terdapat salah satu siswi yang selalu menyela penjelasan sang
guru, sedangkan iklan Hair Sense dibuat berlatar cerita kerajaan yang
memiliki putri cantik tetapi beruban.
Moisterwhite-nya melembapkan plus bikin kulit kita putih tapi nggak
kering. (Ks/ GW/ 55)
Hair Sense mengandung protein sutra berfungsi sebagai conditioner
khusus yang menjaga rambut tetap sehat, jadi tidak rusak dan menutup
uban dengan sempurna. (Ks/ HS/ 56)
Pemakaian kata-kata asing dalam iklan produk kecantikan ditunjukkan
dengan pemakaian kata moisterwhite, plus, dan conditioner. Dalam bahasa
user
Indonesia kata-kata tersebut,commit
secara to
berurutan,
memiliki arti pelembap yang
59
60
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
memutihkan, tambah, dan pengkondisi atau sesuatu yang digunakan untuk
merawat. Kata-kata asing di atas, sengaja dipilih untuk dimasukkan dalam
tuturan bahasa iklan produk kecantikan oleh pengiklan dengan maksud katakata tersebut memiliki ketepatan makna atau arti yang sesuai dengan maksud
pengiklan. Dengan kata lain, penggantian kata-kata tersebut dengan kosakata
bahasa Indonesia, akan mengubah makna dan maksud secara keseluruhan
dari pesan iklan. Selain itu, pemakaian kata asing dalam tuturan bahasa iklan
produk kecantikan akan menambah daya tarik dan rasa ingin tahu konsumen
terhadap produk tersebut.
4) Pemakaian Kata-kata Gaul
Pemakaian kata-kata gaul dalam iklan produk kosmetik terdiri dari
pemakaian kata dialek Jakarta, penyingkatan kata, pemakaian partikel dialek
Jakarta, dan penghilangan fonem. Data di bawah ini merupakan data yang
menunjukkan pemakaian kata-kata gaul dari kedua jenis iklan produk
kosmetik.
Give White baru dengan ekstrak pepaya atau bengkoang dan vitamin
A, B, C, E-nya bikin kulit kita sehat dan cerah alami. (Ks/ GW/ 57)
Eit, entar dulu. (Ks/ GW/ 58)
Apaan tu, Pak? (Ks/ GW/ 59)
Bagaimana dong. (Ks/ HS/ 61)
Sudah kucoba macam-macam pewarna rambut, tapi ubanku tetep aja
nongol. (Ks/ HS/ 62)
Berkat Hair Sense sekarang rambutku indah, sehat, lembut, bercahaya,
dan ubanku nggak ada lagi. (Ks/ HS/ 63)
Kata bikin, apaan, nggak, tetep, dan nongol memiliki padanan arti
dengan kata buat, apa, tidak, tetap, dan terlihat dalam bahasa Indonesia.
Kata-kata tersebut merupakan kata bentukan akibat pengaruh dialek Jakarta.
Penyingkatan kata sebentar menjadi entar dan penghilangan fonem /i/ pada
kata itu dan fonem /s/ pada kata saja, serta pemakaian partikel dong di atas
berfungsi sebagai pembentuk tuturan bahasa yang metropolitan dan gaul.
Penanggalan vokal di awal kata dimaksudkan untuk mempermudah
pengucapan kata dan tuturan terdengar tidak kaku. Partikel dong dimasukkan
dalam tuturan bahasa iklan, commit
dalam hal
ini bahasa iklan di radio, berfungsi
to user
60
61
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
sebagai penambah kesan atau suasana tuturan menjadi lebih gaul, terdengar
renyah, dan metropolis.
Pemakaian kata-kata gaul sengaja digunakan dalam tuturan bahasa
iklan produk kecantikan karena disesuaikan dengan sasaran pemasaran
produk yang diiklankan, yaitu masyarakat usia dewasa dan remaja. Oleh
karena itu, kosakata bahasa gaul akan sangat membantu ketersampaian pesan
iklan kepada khalayak sasaran iklan. Selain itu, pemakaian kata-kata gaul
bertujuan untuk pemvariasian kosakata bahasa iklan, menciptakan suasana
bahasa iklan yang variatif, komunikatif, dan menarik.
d. Iklan Jasa
Iklan jasa merupakan iklan yang menawarkan jasa atau suatu pelayanan.
Yang termasuk dalam kategori ini ada enam, antara lain iklan Tabib Ibu Rizal,
iklan Tabib dr. Nita, M. A., iklan BPR Trihasta Prasojo, iklan BPR Weleri
Makmur, iklan PT Sarana Insan Mandiri, dan iklan Altolud. Dalam iklan jasa,
karakteristik diksi yang muncul meliputi pemakaian idiom atau ungkapan,
pemakaian kata khusus, pemakaian kata bermakna konotasi, pemakaian kata-kata
asing, dan pemakaian kata-kata gaul. Berikut ini penjelasan masing-masing
karakteristik diksi iklan tersebut.
1) Pemakaian Idiom atau Ungkapan
Data di bawah ini adalah data iklan BPR Weleri Makmur yang
diperankan oleh dua orang pemeran iklan. Iklan tersebut berlatar suasana
pagi yang menggambarkan salah satu pemeran iklan yang menyapa pemeran
iklan lainnya saat akan mengantarkan anaknya mendaftar kuliah. Kedua
pemeran iklan diceritakan memiliki latar kebahasaan yang sama, yakni
bahasa Jawa.
Padahal anak saya juga pingin kuliah, tapi saya ini nggak gableg duit,
blas. (Js/ WM/ 64)
Kata-kata yang dicetak miring diatas merupakan idiom atau ungkapan
yang digunakan dalam tuturan bahasa iklan jasa, yaitu iklan BPR Weleri
commit to user
61
62
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Makmur. Idiom di atas merupakan idiom dari bahasa Jawa yang kurang lebih
bermakna kemudahan dan kelancaran dalam menghasilkan uang.
Idiom atau ungkapan di atas sengaja digunakan dalam tuturan bahasa
iklan jasa dengan alasan karena ungkapan tersebut mampu mendukung
maksud dan alur cerita iklan yang disusun pengiklan. Iklan BPR Weleri
Makmur merupakan iklan jenis iklan jasa yang menawarkan jasa peminjaman
uang. Oleh karena itu, pemakaian idiom atau ungkapan yang maknanya
berkaitan dengan urusan pinjam meminjam uang dirasa perlu dimasukkan
dalam dialog tuturan iklan jasa di atas.
2) Pemakaian Kata Khusus
Dengan metode refleksi Dokter Nita, M. A. (Js/ TN/ 65)
Dengan metode ala Rosul, bekam, dan kombinasi terapi modern
mengeluarkan virus, darah kotor langsung ke sumber penyakit dalam
tubuh. (Js/ TIR/ 66)
Kata metode sering digunakan dalam tuturan bahasa iklan jasa,
terutama jasa pengobatan. Kata metode memiliki arti cara teratur yang
digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan
yang dikehendaki. Pemakaian kata khusus, yaitu kata metode, pada kedua
data di atas dirasa lebih tepat dan pas jika digunakan dalam iklan jasa. Kata
tersebut dipakai untuk mengungkapkan atau mengenalkan cara-cara
pengobatan yang ditawarkan kepada sasaran iklan atau konsumen.
3) Pemakaian Kata-kata Asing
Menjadi retailer pulsa HP adalah jalan paling cepat dan nyaman untuk
hidup lebih nyaman dan jadi kaya. (Js/ ALT/ 67)
Pemakaian kata asing, yaitu retailer, pada data di atas berarti penjual
eceran. Kata tersebut digunakan dalam tuturan bahasa iklan jasa, khususnya
jasa penjualan. Pemakaian kata retailer pada tuturan bahasa iklan jasa
dimaksudkan untuk menarik perhatian dan rasa ingin tahu pendengar iklan.
Selain itu, pemakaian kata tersebut, oleh pengiklan, dirasa cocok dan mampu
untuk meningkatkan prestise calon retailer, serta terdengar lebih keren.
commit to user
62
63
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
4) Pemakaian Kata-kata Gaul
Belum nyoba ke Tabib Ibu Rizal to, Bu? (Js/ TIR/ 68)
Nggak usah operasi bisa sembuh. (Js/ TIR/ 69)
Ada juga nich kredit bidikan, kredit modal kerja, kredit konsumtif
untuk barang-barang kebutuhan harian, dan ada juga kredit hajatan
yang bebas bunga. (Js/ TP/ 72)
Masih dong, Buk. (Js/ TP/ 73)
Bisa nguliahin anak sampai perguruan tinggi. (Js/ WM/ 75)
Wah, kalo gitu saya juga mau kredit pendidikan di BPR Weleri
Makmur. (Js/ WM/ 79)
Kata-kata gaul juga digunakan dalam tuturan dialog iklan jasa.
Hampir di setiap iklan yang menawarkan layanan jasa, baik jasa pengobatan,
jasa simpan pinjam, maupun jasa penjualan semuanya menyisipkan kata-kata
gaul. Pemakaian kata-kata dan partikel yang dicetak miring pada data di atas
menunjukkan adanya pemakaian kata-kata dan partikel dari bahasa gaul yang
terpengaruh oleh dialek Jakarta. Kata-kata tersebut sudah sering digunakan
dalam percakapan sehari-hari, sehingga pengiklan memilih kata-kata tersebut
dalam dialog tuturan iklan jasanya dengan alasan untuk menciptakan kesan
akrab, mudah dimengerti, dan komunikatif.
5) Pemakaian Kata-kata atau Istilah Bahasa Jawa
Sakit nich, senut…senut… (Js/ TIR/ 80)
Kata senut senut merupakan kata dari bahasa Jawa. Kata tersebut tidak
memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Pemakaian kata senut senut
dalam tuturan bahasa iklan jasa, khususnya jasa pengobatan, dimaksudkan
untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan rasa sakit yang sedang diderita.
Pengiklan merasa tepat memasukkan kata tersebut karena kata tersebut juga
mampu memberikan pemahaman kepada konsumen bahwa rasa sakit yang
mungkin dirasa pendengar iklan tersebut sama dengan yang diiklankan. Oleh
karena itu, pendengar iklan bisa mendatangi tempat pengobatan yang
diiklankan pengiklan tersebut guna menyembuhkan penyakitnya.
6) Pemakaian Kata-kata atau Istilah Bidang Tertentu
Ada juga deposito dengan suku bunga bersaing yang dijamin LPS atau
pemerintah sampai dengan dua milyar. (Js/ TP/ 81)
Mas Suryo, pendidikan itu investasi masa depan. (Js/ WM/ 82)
commit to user
63
64
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Kredit di BPR Weleri Makmur angsurannya jelas lebih ringan.
(Js/ WM/ 83)
Mau jadi TKI ya lewat PT. Sarana Insan Mandiri saja. (Js/ SIM/ 84)
Cukup dengan modal awal lima puluh ribu. (Js/ ALT/ 85)
Pemakaian kata-kata atau istilah tertentu yang dipakai dalam iklan
jasa di antaranya deposito, suku bunga, investasi, kredit, angsuran, modal,
dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Kata-kata atau istilah tersebut merupakan
kata-kata atau istilah bidang jasa simpan pinjam uang dan jasa penyaluran
tenaga kerja. Frekuensi kemunculan kata-kata tersebut dalam iklan jasa
simpan pinjam dan jasa penyaluran tenaga kerja bisa dikatakan cukup sering.
Hal ini dikarenakan, kata-kata atau istilah di atas sangat tepat
penggunaannya, sesuai dengan bidangnya, dan mampu mewakili maksud
pesan yang diinginkan pengiklan. Meskipun kata-kata atau istilah di atas
memiliki padanan kata yang hampir sama dengan kata tersebut, namun
pengiklan lebih condong menggunakan kata-kata di atas karena ketepatan arti
dan kesesuaian bidangnya.
e. Iklan Produk Obat
Iklan produk obat adalah iklan yang menawarkan barang-barang atau
produk berupa obat. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori ini ada tiga, yang
terdiri dari iklan Bio Activa, iklan Hemaviton Jreng, dan iklan Paramex. Dalam
iklan produk obat, karakteristik diksi yang muncul meliputi pemakaian kata
bersinonim, pemakaian kata khusus, pemakaian kata-kata asing, dan pemakaian
kata-kata daerah. Berikut ini penjelasan masing-masing karakteristik diksi iklan
tersebut.
1) Pemakaian Kata Bersinonim
Telah hadir ekstrak nutrisi herbal dalam bentuk tetes. (Ob/ BO/ 86)
Bio Activa dibuat dari daun-daun herbal terbaik, ramuan tradisional
Kalimantan yang sudah terkenal khasiatnya. (Ob/ BO/ 87)
Bio Activa diproses secara inkubasi berfungsi sebagai aktivator sel
tubuh, membantu meningkatkan metabolisme, regenerasi sel, dan
meningkatkan sifat kekebalan terhadap penyakit. (Ob/ BO/ 88)
commit to user
64
65
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pemakaian kata-kata bersinonim yang digunakan dalam iklan produk
obat ditunjukkan oleh kata-kata yang dicetak miring di atas. Kata ekstrak
bersinonim dengan kata sari, pati, dan kentalan; sedangkan kata khasiat
bersinonim dengan kata manfaat, guna, dan fungsi. Untuk kata kekebalan
bersinonim dengan kata daya tahan. Meskipun kata ekstrak, khasiat, dan
kekebalan memiliki banyak sinonim atau persamaan makna dengan kata-kata
yang lain, namun ketiga kata yang muncul pada data di atas lebih dipilih
pengiklan dalam tuturan bahasa iklan obatnya. Pemilihan ketiga kata di atas
didasarkan pada alasan bahwa kata-kata tersebut memiliki makna yang tepat
dan sesuai dengan produk yang diiklankannya, yaitu iklan produk obat.
2) Pemakaian Kata Khusus
Telah hadir ekstrak nutrisi herbal dalam bentuk tetes. (Ob/ BO/ 89)
Bio Activa dibuat dari daun-daun herbal terbaik, ramuan tradisional
Kalimantan yang sudah terkenal khasiatnya. (Ob/ BO/ 90)
Bio Activa diproses secara inkubasi berfungsi sebagai aktivator sel
tubuh, membantu meningkatkan metabolisme, regenerasi sel, dan
meningkatkan sifat kekebalan terhadap penyakit. (Ob/ BO/ 91)
Kata-kata khusus yang digunakan dalam iklan produk obat di
antaranya kata nutrisi, herbal, inkubasi, metabolisme, regenerasi, dan sel.
Kata nutrisi bermakna proses pemasukan dan pengolahan zat makanan oleh
tubuh, kata herbal bermakna tumbuh-tumbuhan terna, kata ramuan bermakna
hasil meramu yakni dari bahan-bahan untuk membuat obat-obatan dari daun,
kata inkubasi bermakna pemanasan buatan, kata metabolisme bermakna
pembentukan dan penguraian zat di dalam badan yang memungkinkan
berlangsungnya hidup, kata regenerasi bermakna penggantian alat yang
rusak atau hilang dengan pembentukan jaringan sel baru, dan kata sel
bermakna bagian atau bentuk terkecildari organisme.
Pemakaian kata-kata khusus di atas didasarkan pada jenis produk yang
diiklankan. Data di atas adalah tuturan bahasa iklan produk obat, sehingga
kata-kata khusus yang digunakan pun berhubungan dengan ilmu kesehatan
dan obat-obatan.
commit to user
65
66
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3) Pemakaian Kata-kata Asing
Jreng original dengan energi vitamin C8, Jreng Lemon, Jreng
Mangga, Jreng Anggur. (Ob/ HJ/ 92)
Kata original berasal dari bahasa Inggris. Kata tersebut berarti asli.
Kata dari bahasa Inggris di atas dimasukkan dalam tuturan bahasa iklan
Hemaviton Jreng. Iklan dengan sasaran konsumen usia dewasa tersebut
dirasa tepat bila sedikit menggunakan kosakata dari bahasa asing, seperti
bahasa Inggris. Pemakaian kata asing dalam tuturan bahasa iklan produk obat
dimaksudkan untuk menarik perhatian publik atau pendengar iklan dan
meningkatkan prestise iklan itu sendiri.
4) Pemakaian Kata-kata Daerah
Cenut, cenut sakit kepala. (Ob/ PRX/ 93)
Pemakaian kata-kata daerah juga muncul dalam bahasa iklan produk
obat. Data di atas menampilkan kata cenut cenut yang berasal dari bahasa
Jawa. Kata tersebut digunakan pengiklan untuk mendeskripsikan rasa sakit
yang diderita seseorang saat sakit kepala menyerang. Selain itu, alasan
dipakainya kata-kata dari bahasa daerah ini didasarkan pada daerah asal
pendengar iklan.
f. Iklan Produk Kebersihan
Iklan produk kebersihan merupakan iklan yang menawarkan produk atau
barang-barang kebersihan. Iklan ini terdiri dari iklan Mama Lemon dan iklan
Soklin Softergent. Dalam iklan produk kebersihan, karakteristik diksi yang
muncul meliputi pemakaian kata bermakna konotasi, pemakaian kata-kata gaul,
pemakaian kata-kata asing, dan pemakaian kata bersinonim. Berikut ini
penjelasan masing-masing karakteristik diksi iklan tersebut.
1) Pemakaian Kata Bermakna Konotasi
Tapi ini lemak soto, lemak rendang, lemak sate, lemak tongseng,
lemak sambel, lemak gorengan, lemak bakso. (Kb/ ML/ 94)
Pemakaian kata bermakna konotasi muncul pada iklan produk
commit
to user
kebersihan, yaitu iklan Mama
Lemon.
Kata lemak pada data di atas bukan
66
67
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
bermakna lemak yang ada pada tubuh penyebab kegemukan (makna
sebenarnya), melainkan kotoran sisa makanan bersantan dan minyak yang
menempel di perabot makan (makna kias). Kata tersebut sengaja dipakai
pengiklan dalam iklan produk kebersihan karena kata tersebut dirasa sangat
mendukung jenis produk yang diiklankan dan alur cerita yang diinginkan.
2) Pemakaian Kata-kata Gaul
Lemakku bertambah nich…! (Kb/ ML/ 95)
Biasa aja, nggak gemuk. (Kb/ ML/ 96)
Loh Jeng, nunggu apa lagi. (Kb/ ML/ 98)
Eh sayang…gimana sekolahnya? (Kb/ SKS/ 99)
Kenapa sich? (Kb/ SKS/ 101)
lembutnya nyentuh…banget. (Kb/ SKS/ 102)
Kedua iklan produk kebersihan merupakan iklan dalam bentuk dialog.
Untuk memberikan kesan luwes, santai, dan akrab pada tuturan-tuturan
dialog, pengiklan menggunakan kata-kata gaul. Pemakaian kata-kata dan
partikel gaul yang muncul di antaranya partikel nich dan sich; kata aja,
nggak, nunggu, gimana, nyentuh, dan banget. Kata gaul tersebut ada yang
berupa pemendekan kata, yakni dari kata bagaimana dipendekkan menjadi
gimana. Selain itu, pemakaian kata-kata gaul di atas didasarkan pada
keinginan pengiklan untuk mengemas iklannya dalam bentuk wacana iklan
yang berlatar kekeluargaan dengan bahasa keseharian yang sering digunakan.
3) Pemakaian Kata-kata Asing
Mama Lemon kini dengan three action cleaning
(Kb/ ML/ 105)
Triple daya cucinya. (Kb/ ML/ 106)
Mama Lemon double extrac lemon. (Kb/ ML/ 107)
power.
Pemakaian kata asing juga ditampilkan dalam iklan produk kebersihan
di atas. Pengiklan sengaja menggunakan kosakata bahasa Inggris untuk
menyampaikan keunggulan produk yang diiklankan. Kata-kata asing yang
dibubuhkan pada tuturan bahasa iklan produk kebersihan dengan alasan agar
konsumen tertarik terhadap produk yang ditawarkan, sehingga menggugah
konsumen untuk, paling tidak, mendengarkan iklan tersebut.
commit to user
67
68
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
4) Pemakaian Kata Bersinonim
Detergen plus pelembut yang mampu membersihkan tanpa noda,
lembut, dan harumnya terasa di setiap helainya. (Kb/ SKS/ 108)
Pemakaian kata noda, lembut, dan harum muncul pada tuturan bahasa
iklan Soklin Softergent. Untuk menyampaikan manfaat yang akan didapat
konsumen jika memakai produk tersebut, pengiklan lebih memilih kata noda
dibanding kata noktah, kotoran, dan bercak. Sama halnya dengan pemilihan
kata lembut dan harum. Kedua kata tersebut lebih dipilih dibanding
sinonimnya, yakni kata halus dan wangi. Pemakaian kata-kata tersebut
didasarkan pada ketepatan arti dan kesesuaian konteks jenis produk yang
diiklankan.
g. Iklan Produk Pakaian dan Asesoris
Iklan ini merupakan iklan yang menawarkan produk-produk berupa
pakaian dan asesoris. Iklan-iklan yang termasuk iklan produk pakaian dan asesoris
ada dua jenis, yaitu iklan Arco Baleno dan iklan Optik Pranoto. Dalam iklan
produk pakaian dan asesoris, karakteristik diksi yang muncul meliputi pemakaian
kata-kata asing, pemakaian kata-kata gaul, dan pemakaian kata bersinonim.
Berikut ini penjelasan masing-masing karakteristik diksi iklan tersebut.
1) Pemakaian Kata-kata Asing
Aku mau pake softlense ah, supaya terlihat cantik dan beda.
(Pk/ OP/ 109)
Disposable warna funky tones dan disposable frequency dari seratus
tiga puluh lima ribu jadi seratus ribu. (Pk/ OP/ 110)
Besok habis ke Arco Baleno PGS di lantai basement di Blok A8-1, 2,
dan 3 kita langsung ke Arco Baleno di Jalan Cendrawasih M5 Solo
Baru. (Pk/ OP/ 111)
Pemakaian kata asing dalam iklan produk pakaian dan asesoris
ditunjukkan dengan adanya kata-kata yang dicetak miring di atas. Kata-kata
istilah tersebut sengaja dipilih pengiklan karena dengan pemakaian kata-kata
dan istilah asing mampu memunculkan rasa ketertarikan konsumen terhadap
produk yang diiklankan. Selain itu, istilah asing yang dipakai dalam tuturan
commit to user
iklan Optik Pranoto di atas merupakan iklan produk asesoris yang
68
69
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menawarkan produk barunya, sehingga akan sangat menarik dan terkesan
keren bila memasukkan istilah asing di atas.
2) Pemakaian Kata-kata Gaul
Kata-kata gaul adalah kosakata pertemanan atau kosakata pergaulan
yang bersifat nonformal dan sangat berbeda dengan kosakata dari bahasa
induknya. Pemakaian kata-kata gaul dapat terdiri dari pemakaian partikel
dialek daerah, pemakaian kata dialek Jakarta, dan perubahan fonem. Data di
bawah ini menunjukkan adanya pemakaian kata-kata gaul yang muncul pada
iklan produk pakaian dan asesoris.
Nyidam beli baju batik di Arco Baleno PGS. (Pk/ AB/ 112)
Nggak cuma itu, kaos cowox cewex, sepatu, sandal cewex diskonnya
tiga puluh persen. (Pk/ AB/ 113)
Koko bawain oleh-oleh buat Mei Mei. (Pk/ AB/ 115)
Kalo batik sarimbit di PGS diskonnya dua puluh lima persen.
(Pk/ AB/ 116)
Mei Mei pengen dianter ke Arco Baleno. (Pk/ AB/ 117)
Um… sun dulu dong, Koko. (Pk/ AB/ 118)
Kata nyidam dan pengen merupakan kata yang terpengaruh dialek
daerah; kata nggak, cowox, cewex, bawain, kalo, dan dianter merupakan
kata-kata pengaruh dialek Jakarta; dan partikel dong merupakan partikel
dialek Jakarta. Pemakaian kata-kata gaul dalam tuturan bahasa iklan produk
pakaian dan asesoris di atas dimaksudkan untuk menciptakan suasana tuturan
yang gaul, akrab, dan mudah dimengerti semua kalangan masyarakat.
3) Pemakaian Kata Bersinonim
Kata bersinonim adalah kata yang memiliki persamaan makna dengan
kata yang lain. Pada tuturan iklan produk pakaian dan asesoris juga muncul
adanya pemakaian kata bersinonim. Pemakaian tersebut ditunjukkan dengan
munculnya kata cantik, promo, diskon, dan indah seperti pada data di bawah
ini.
Aku mau pake softlense ah, supaya terlihat cantik dan beda.
(Pk/ OP/ 119)
Ada promo softlense di Optik Pranoto? (Pk/ OP/ 120)
Diskonnya sampai tiga puluh persen. (Pk/ AB/ 121)
O…h, indah sekali. (Pk/
AB/ 122)
commit
to user
69
70
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Kata cantik memiliki sinonim dengan kata ayu dan elok. Pemakaian
kata cantik lebih dipilih dalam tuturan bahasa iklan produk asesoris, yaitu
Optik Pranoto dengan alasan karena kata tersebut mampu menggambarkan
kecantikan seseorang secara keseluruhan, tidak hanya cantik wajahnya saja.
Kata promo memiliki sinonim dengan kata demo, peragaan; sedangkan kata
diskon memiliki sinonim dengan kata potongan. Namun, kata promo dan
diskon lebih dipilih dalam tuturan bahasa iklan produk pakaian dan asesoris
dengan alasan kata-kata tersebut dirasa lebih tepat dan sesuai dengan jenis
produk yang diiklankan. Untuk kata indah yang dimasukkan dalam tuturan
bahasa iklan pakaian, yaitu Arco Baleno, memiliki sinonim dengan kata
bagus dan mempesona. Pemakaian kata tersebut lebih dipilih pengiklan
dengan alasan karena kata tersebut cocok untuk mendeskripsikan keunggulan
dari produk yang diiklankan, yaitu pakaian.
h. Iklan Produk Kendaraan
Kategori atau klasifikasi iklan yang terakhir adalah iklan produk
kendaraan. Iklan produk kendaraan merupakan iklan yang menawarkan produkproduk atau barang-barang berupa mobil, motor, dan truk. Yang termasuk dalam
kategori iklan ini hanya satu, yaitu iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Group. Dalam
iklan produk kendaraan, karakteristik diksi yang muncul meliputi pemakaian katakata asing, pemakaian kata-kata gaul, dan pemakaian kata daerah. Berikut ini
penjelasan masing-masing karakteristik diksi iklan tersebut.
1) Pemakaian Kata-kata Asing
Pada tuturan bahasa iklan produk kendaraan muncul pemakaian katakata asing berupa kata man dan center. Kedua kata tersebut diambil dari
bahasa Inggris yang berarti panggilan orang laki-laki dan pusat.
Halo man, apa kabar? (Kd/ PJ/ 123)
Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup, Yamaha Center pertama di Indonesia
yang menyediakan lebih lengkap segala tipe motor Yamaha. Vega ZR,
Jupiter, Mio, Scorpio Z, Viction, dan lain-lain. (Kd/ PJ/ 124)
Pemilihan kata dalam tuturan bahasa iklan produk kendaraan
commit to user
disesuaikan dengan jenis produk yang diiklankan dan sasaran masyarakatnya.
70
71
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pemakaian kata-kata gaul di atas dianggap sesuai dengan produk kendaraan
yang ingin menampilkan image bahwa produk tersebut adalah produk dengan
kualitas internasional. Pemakaian kata-kata asing di atas dimaksudkan untuk
memunculkan kesan modern dan kemenarikan konsumen terhadap produk
yang diiklankan.
2) Pemakaian Kata-kata Gaul
Hei, brow. Tambah gaya aja kamu. Motor baru nich? (Kd/ PJ/ 125)
A…iya dong. (Kd/ PJ/ 126)
Mudik nggak repot lagi, Brow. (Kd/ PJ/ 127)
Buktikan dech sekarang juga. (Kd/ PJ/ 128)
Pemakaian kata-kata gaul yang muncul pada tuturan bahasa iklan
produk kendaraan meliputi penggunaan kata panggilan, penghilangan fonem,
penggunaan partikel dialek Jakarta, dan penggunaan kata pengaruh dialek
Jakarta. Iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup di atas termasuk jenis iklan
produk kendaraan yang memiliki sasaran pendengar masyarakat usia dewasa
dan remaja, sehingga pemakaian kata-kata gaul tersebut dirasa perlu dan
sesuai
dengan
kebutuhan.
Dari
segi
keluwesan,
kemudahan,
dan
kekomunikatifan tuturan pengiklan merasa tepat menggunakan kata-kata gaul
tersebut.
3) Pemakaian Kata Daerah
Beli motor Yamaha di Pusat Jaya gampang. (Kd/ PJ/ 129)
Iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup dibuat dengan setting atau latar
sebuah hubungan keakraban sepasang sahabat. Oleh karena itu, pemakaian
kata-kata daerah, tepatnya bahasa Jawa, dalam tuturan bahasa iklan di atas
dimaksudkan untuk mendukung latar cerita yang ingin ditampilkan. Kata
gampang memiliki padanan makna dengan kata mudah dalam bahasa
Indonesia. Pemakaian kata-kata daerah dalam tuturan bahasa iklan produk
kendaraan juga didasarkan pada asal daerah pendengar dan daerah
penyebaran iklan tersebut, yaitu Jawa.
commit to user
71
72
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Dari analisis karakteristik diksi dalam iklan komersial di radio, yang
terbagi dalam tujuh jenis iklan, memunculkan beberapa karakteristik diksi.
Karakteristik diksi yang seringkali muncul dalam iklan komersial di atas di
antaranya pemakaian kata-kata gaul, pemakaian kata-kata asing, pemakaian kata
bermakna konotasi, pemakaian kata bersinonim, dan penggunaan unsur pengingat
atau catcher. Kelima karakteristik diksi yang muncul di atas disebabkan oleh
beberapa faktor yang mempengaruhinya, di antaranya faktor jenis produk iklan,
sasaran pendengar iklan (usia, profesi, daerah asal), dan bentuk wacana iklan
(dialog atau monolog).
2. Pemakaian Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara
khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seseorang (pemakai bahasa).
Penganalisisan pemakaian gaya bahasa dalam data iklan komersial di bawah ini
dilakukan sesuai dengan jenis iklan atau klasifikasi iklan masing-masing. Analisis
pemakaian gaya bahasa terhadap data iklan komersial di radio dapat dijelaskan
sebagai berikut.
a. Iklan Produk Properti
Iklan produk properti merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk properti, seperti meja, kursi, dan perabot rumah lainnya.
Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan properti meliputi iklan Toko
Colombus, iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi, iklan Meubel Jempol, dan iklan
Margo Murah Baru. Dalam iklan produk properti, pemakaian gaya bahasa yang
muncul meliputi gaya bahasa eksklamasio, gaya bahasa personifikasi, gaya bahasa
retorik, gaya bahasa polisidenton, gaya bahasa klimaks, gaya bahasa antitesis, dan
gaya bahasa praeterito. Berikut ini penjelasan masing-masing pemakaian gaya
bahasa iklan tersebut.
1) Gaya Bahasa Eksklamasio
Dalam iklan Colombus hanya muncul satu pemakaian gaya bahasa,
yaitu gaya bahasa atau majas eksklamasio. Gaya bahasa eksklamasio adalah
to user
gaya bahasa penegasan yangcommit
memakai
kata-kata seru sebagai penegas. Data
72
73
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
di bawah ini merupakan dialog yang diucapkan narator iklan dalam
menyampaikan atau menjelaskan informasi iklan secara lebih detail. Kalimat
yang menjadi data nomor 1 ini menjadi kalimat pembuka sebelum kalimatkalimat penjelas iklan lainnya dituturkan.
Waow, spektakuler! (Pr/ CLM/ 1)
Pada kalimat di atas menggunakan gaya bahasa eksklamasio yang
ditunjukkan dengan kata waow. Kata tersebut menegaskan kata sesudahnya,
yaitu kata spektakuler. Pemakaian gaya bahasa atau majas eksklamasio dalam
bahasa iklan produk properti dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa
produk yang ditawarkan oleh pengiklan merupakan produk yang berbeda
dengan produk-produk properti lainnya dan memberikan keuntungan yang
luar biasa pada konsumen, baik dari segi kualitas maupun harga yang
ditawarkan.
2) Gaya Bahasa Personifikasi
Rumah kita terlihat makin cantik. (Pr/ PSKK/ 2)
Ni dapat hadiah kursi cantik. (Pr/ MMB/ 8)
Pada kata yang dicetak miring menunjukkan bahwa kalimat di atas
menggunakan gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa personifikasi adalah
gaya bahasa yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat
manusia kepada benda-benda mati, sehingga seolah-olah memiliki sifat
seperti manusia atau benda hidup. Pemakaian gaya bahasa personifikasi pada
bahasa iklan produk properti, khususnya iklan produk kanopi dimaksudkan
untuk mendeskripsikan salah satu keunggulan atau manfaat yang akan
diperoleh konsumen bila memakai produk ini. Selain itu, dengan memakai
gaya bahasa ini akan menimbulkan daya tarik tersendiri kepada konsumen.
3) Gaya Bahasa Retorik
Pasti pesannya di Purnama Steel Kanopi Kanopi di Jalan Raya
Telukan No. 1 selatan Jembatan Bacem, Solo Baru itu kan?
(Pr/ PSKK/ 3)
Gaya bahasa retorik adalah gaya bahasa penegasan dengan
menggunakan kalimat tanyacommit
yang to
sebenarnya
tidak memerlukan jawaban
user
73
74
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
karena sudah diketahuinya. Pada kalimat di atas, jelas menggunakan gaya
bahasa retorik yang ditunjukkan dengan kalimat tanya yang dilontarkan
kepada pendengar atau sasaran iklan. Pemakaian gaya bahasa retorik
dimunculkan dalam bahasa iklan produk properti dengan alasan karena
pemakaian gaya bahasa ini akan memberikan penekanan pada tuturan iklan
dan secara tidak langsung meminta penegasan atau persetujuan pendengar
terhadap kalimat yang disampaikan pengiklan tersebut. Selain itu, gaya
bahasa tersebut juga bisa digunakan sebagai pemvariasian gaya bicara dalam
menyampaikan alamat atau pesan iklan lainnya yang sekiranya perlu untuk
disampaikan kepada khalayak.
4) Gaya Bahasa Polisidenton
Selain ahli bikin kanopi dan besi tempa, juga ahli mengerjakan relling
tangga dan balkon, pagar, pintu, tralis. (Pr/ PSKK/ 4)
Kata-kata yang dicetak miring di atas merupakan kata penghubung
dalam kalimat yang menyebutkan beberapa benda secara berturut-turut. Gaya
bahasa yang digunakan kalimat di atas adalah gaya bahasa polisidenton, yaitu
gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa benda, hal atau keadaan
secara berturut-turut dengan memakai kata penghubung. Pemakaian gaya
bahasa polisidenton dalam tuturan bahasa iklan produk properti di atas
bertujuan untuk menghindari kemonotonan bahasa yang digunakan pengiklan
dalam menyampaikan informasi atau pesan iklan yang sangat komplek dan
banyak.
5) Gaya Bahasa Klimaks
Spesial kanopi harga dijamin termurah dengan mutu terbaik dan ada
garansinya lho. (Pr/ PSKK/ 5)
Pada kalimat di atas disebutkan beberapa hal secara berturut-turut
dengan urutan kata yang semakin lama semakin meningkat. Oleh karena itu,
kalimat tersebut menunjukkan pemakaian gaya bahasa klimaks, yaitu gaya
bahasa penegasan dengan menyatakan beberapa hal berturut-turut dengan
menggunakan urutan kata-kata yang makin lama makin memuncak
commit
to user
pengertiannya. Pemakaian gaya
bahasa
klimaks pada tuturan bahasa iklan
74
75
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
properti di atas digunakan untuk menyampaikan keunggulan-keunggulan
produk tersebut dibanding produk yang lain. Secara tidak langsung,
penyampaian dengan gaya bahasa seperti ini akan menarik perhatian
konsumen untuk mencoba produknya.
6) Gaya Bahasa Antitesis
Dengan dana minimal kami wujudkan hasil yang maksimal.
(Pr/ PSKK/ 6)
Gaya
bahasa
penegasan
yang
melukiskan
sesuatu
dengan
menggunakan kepaduan kata yang berlawanan arti disebut dengan gaya
bahasa antitesis. Pada kata yang dicetak miring di atas, yaitu kata minimal
dan maksimal, menunjukkan bahwa kalimat tersebut menggunakan gaya
bahasa antitesis. Pemakaian gaya bahasa antitesis dalam tuturan bahasa iklan
produk properti dimaksudkan untuk menyampaikan nilai lebih yang
ditawarkan pengiklan kepada konsumen. Meskipun pernyataan yang
disampaikan pengiklan dengan gaya bahasa ini (dana minimal hasil
maksimal) sedikit tidak masuk logika, namun cukup menarik perhatian
konsumen untuk mencobanya.
7) Gaya Bahasa Praeterito
Tadi itu ada orang yang ke sini nawarin. (Pr/ MJ/ 7)
Gaya bahasa praeterito adalah gaya bahasa penegasan yang
melukiskan sesuatu dengan menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu,
sehingga pendengar harus menerka maksud ujaran yang disembunyikan itu.
Pada frasa yang dicetak miring di atas menunjukan pemakaian gaya bahasa
praeterito. Para pendengar atau sasaran iklan diajak untuk menerka kira-kira
siapa yang orang yang dimaksud dalam kalimat di atas. Hal ini dilakukan
untuk menarik perhatian pendengar agar mendengarkan iklan hingga selesai.
b. Iklan Produk Makanan
Iklan produk makanan merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk makanan. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan
commit
to user
produk makanan di antaranya iklan
Kecap
Sedaap (monolog dan dialog), iklan
75
76
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Teh Cap Nyapu Pekalongan, iklan Sirup Niki Sari, dan iklan Ale-Ale. Dalam
iklan produk makanan, pemakaian gaya bahasa yang muncul meliputi gaya bahasa
polisidenton, gaya bahasa sinekdhoke totem pro parte, gaya bahasa metonimia,
gaya bahasa interupsi, gaya bahasa pararelisme anafora, dan gaya bahasa
asidenton. Berikut ini penjelasan masing-masing pemakaian gaya bahasa iklan
tersebut.
1) Gaya Bahasa Polisidenton
Dari bahan alami, proses multifiltrasi, tiga kali penyaringan, higienis,
dan bergizi. (Mk/ KS/ 9)
Teh Cap Nyapu Pekalongan harum, kental, dan nikmat.
(Mk/ TNP/ 13)
Kedua kalimat di atas menyebutkan beberapa hal secara berurutan
dengan menggunakan kata hubung, yaitu kata hubung dan. Pemakaian ini
sesuai dengan pengertian gaya bahasa polisidenton. Gaya bahasa yang
menyebutkan beberapa benda, hal atau keadaan secara berturut-turut dengan
memakai kata penghubung disebut dengan gaya bahasa polisidenton.
Pemakaian gaya bahasa polisidenton dalam tuturan bahasa iklan produk
makanan bertujuan untuk menyebutkan keunggulan-keunggulan suatu produk
yang ditawarkan pengiklan. Untuk menghindari kemonotonan dalam
penyebutannya, pengiklan membubuhkan tanda hubung pada kata terakhir
atau hal terakhir yang disampaikannya.
2) Gaya Bahasa Sinekdhoke Totem Pro Parte
Seneng ya ngliat anak-anak ceria. (Mk/ KS/ 10)
Ya di warung-warung, di toko-toko. (Mk/ TNP/ 12)
Penyebutan kata anak-anak, warung-warung, dan toko-toko pada
kalimat di atas hanya mengacu pada anak, warung dan toko yang dimaksud
dalam alur cerita produk di atas. Pada kalimat di atas yang dimaksud dengan
kata anak-anak hanya mengacu pada anak-anak pemeran iklan di atas (Andi
dan Ricky) yang makan dengan Kecap Sedaap. Sama halnya dengan kata
warung-warung dan toko-toko pada data kedua di atas. Kata warung-warung
dan toko-toko hanya mengacu pada warung dan toko yang menjual produkcommit to user
produk tersebut.
76
77
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Hal ini menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa sinekdhoke
totem pro parte, yaitu gaya bahasa perbandingan yang melukiskan
keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian. Pemakaian gaya bahasa
sinokdhoke totem pro parte dalam tuturan bahasa iklan produk makanan di
atas dimaksudkan sebagai penjelas atau gaya pemaparan pengiklan kepada
pendengar atau sasaran iklan yang apabila mereka makan memakai Kecap
Sedaap atau mengkonsumsi produk (teh cap Nyapu Pekalongan) yang
ditawarkan pengiklan di atas, maka mereka atau konsumen sekeluarga akan
merasa ceria seperti pada iklan tersebut dan mendapatkan kemudahan dalam
mendapatkan produk tersebut.
3) Gaya Bahasa Metonimia
Dukung ALE dong…! (Mk/ ALE/ 17)
Rasa dan segernya, ALE-ALE juaranya…! (Mk/ ALE/ 18)
Pengulangan kata yaitu kata ALE-ALE di atas menunjukkan adanya
pemakaian gaya bahasa metonimia. Gaya bahasa metonimia adalah gaya
bahasa perbandingan yang menggunakan merk dagang atau nama barang
untuk melukiskan sesuatu yang digunakan atau dikerjakan, sehingga kata itu
berasosiasi dengan benda keseluruhan. Pemakaian gaya bahasa metonimia
dalam tuturan bahasa iklan produk makanan, khususnya iklan ALE-ALE, di
atas didasarkan pada alasan karena penggunaan merk dagang atau nama
produk dalam iklan akan memudahkan pengiklan dalam menyampaikan
pesan atau informasi kepada konsumen. Produk ALE-ALE termasuk produk
minuman yang dapat langsung dikonsumsi oleh konsumen, sehingga
pengiklan merasa perlu menyebutkan langsung nama produk untuk
memudahkan konsumen mengingatnya.
4) Gaya Bahasa Interupsi
Minumlah, minuman yang segar bermutu, Sirup Niki Sari.
(Mk/ SNS/ 14)
ALE-ALE, minuman dengan gula asli dan vitamin C, ada orange,
strawberry, dan apel fuji. (Mk/ ALE/ 19)
Pemakaian gaya bahasa interupsi muncul pada kalimat di atas yang
commit to user
ditunjukkan dengan penyisipan kalimat di antara kalimat pokok. Gaya bahasa
77
78
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
interupsi adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata atau
bagian kalimat yang disisipkan di antara kalimat pokok, guna lebih
menjelaskan dan menekankan bagian kalimat sebelumnya. Pemakaian gaya
bahasa interupsi dalam tuturan bahasa iklan produk makanan dimaksudkan
untuk menjelaskan atau mendeskripsikan secara detail jenis dan keunggulan
produk yang ditawarkan dalam iklan tersebut, yaitu Sirup Niki Sari dan
minuman ALE-ALE.
5) Gaya Bahasa Pararelisme Anafora
Sirup Niki Sari sesegar buah asli.
Sirup Niki Sari sahabat kita semua.
Sirup Niki Sari beraneka rasanya. (Mk/ SNS/ 15)
Kecap Sedaap lebih hitam, kental, dan gurih.
Kecap Sedaap untuk semua masakan, untuk semua makanan.
(Mk/ KS/ 11)
Pengulangan kata-kata yang dicetak miring di atas menunjukkan
adanya pemakaian gaya bahasa pararelisme anafora. Gaya bahasa
pararelisme anafora adalah gaya bahasa penegasan yang mengulang kata atau
frase dengan pengulangan yang terletak di awal kalimat. Pemakaian gaya
bahasa pararelisme anafora dalam tuturan bahasa iklan produk makanan,
khususnya iklan Sirup Niki Sari dan Kecap Sedaap yang berbentuk monolog
di atas, dimaksudkan untuk membentuk keserasian bunyi pada setiap
tuturannya. Hal ini bertolak pada gaya penyampaian iklan tersebut, yakni
berbentuk sebuah jingle lagu.
6) Gaya Bahasa Asidenton
Frambors, jeruk, mocca, rose melon. (Mk/ SNS/ 16)
Penyebutan beberapa hal secara berurutan seperti pada kalimat di atas
dengan tanpa menggunakan kata hubung menunjukkan adanya pemakaian
gaya bahasa asidenton. Gaya bahasa asidenton adalah gaya bahasa penegasan
yang menyebutkan beberapa benda, hal atau keadaan secara berturut-turut
tanpa memakai kata penghubung. Pemakaian gaya bahasa asidenton dalam
tuturan bahasa iklan produk makanan di atas dimaksudkan untuk
commit to user
78
79
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menyampaikan macam-macam atau aneka rasa yang ditawarkan produk
tersebut.
c. Iklan Produk Kosmetik
Iklan produk kosmetik merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk kosmetik. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan
produk kosmetik ada dua, yaitu iklan New Give White dan iklan Hair Sense.
Dalam iklan produk kosmetik, pemakaian gaya bahasa yang muncul meliputi gaya
bahasa eksklamasio, gaya bahasa klimaks, gaya bahasa polisidenton, gaya bahasa
metonimia, gaya bahasa hiperbola, dan gaya bahasa sinekdhoke totem pro parte.
Berikut ini penjelasan masing-masing pemakaian gaya bahasa iklan tersebut.
1) Gaya Bahasa Eksklamasio
Waow, rumus Give White baru tu, Pak! (Ks/ GW/ 20)
Penggunaan kata waow dimaksudkan untuk menegaskan atau
menggambarkan perasaan kaget sekaligus takjub yang ingin disampaikan
pengiklan lewat kalimat di atas. Kata tersebut menunjukkan adanya
pemakaian gaya bahasa eksklamasio. Gaya bahasa eksklamasio adalah gaya
bahasa penegasan yang memakai kata-kata seru sebagai penegas. Pemakaian
gaya bahasa eksklamasio dalam tuturan bahasa iklan produk kosmetik di atas
dengan alasan karena iklan produk kosmetik di atas, yaitu iklan sabun Give
White, memiliki sasaran konsumen masyarakat remaja yang penuh ekspresi
dalam mengungkapkan suatu hal. Oleh karena itu, pemakaian gaya bahasa
eksklamasio yang berwujud waow di atas menyimbolkan pengungkapan
seorang remaja yang teramat senang dan takjub atas sesuatu yang dia dengar
sesuai dengan setting atau latar cerita iklan yang ingin pengiklan tampilkan.
2) Gaya Bahasa Klimaks
Rumus 2x3 kulit putih, cerah alami. (Ks/ GW/ 21)
Berkat Hair Sense sekarang rambutku indah, sehat, lembut,
bercahaya. (Ks/ HS/ 25)
Pemakaian gaya bahasa klimaks muncul pada kedua kalimat di atas.
Kata-kata yang dicetak miring
hasil yang akan didapat
commitmenjelaskan
to user
79
80
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pendengar jika memakai produk yang ditawarkan tersebut. Urut-urutan kata
yang digunakan menggambarkan urut-urutan yang makin lama makin
meningkat, yaitu kulit menjadi putih dan terlihat cerah alami (data nomor
21); dari rambut menjadi indah, sehat, lembut, kemudian menjadi bercahaya
(data nomor 25).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa gaya bahasa klimaks
adalah gaya bahasa penegasan dengan menyatakan beberapa hal secara
berturut-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang makin lama makin
memuncak pengertiannya. Pemakaian gaya bahasa klimaks dalam tuturan
bahasa iklan produk kosmetik dimaksudkan pengiklan untuk mengungkapkan
manfaat yang akan didapatkan konsumen apabila mengkonsumsi produk
tersebut. Manfaat yang diperoleh pun tidak seperti manfaat yang biasa
konsumen dapat bila mengkonsumsi produk sabun mandi dan pewarna
rambut pada umumnya, namun di sini pengiklan mencoba meyakinkan
konsumen dengan menggunakan urut-urutan manfaat yang disebutkan di atas
yang tentunya dengan pemakaian gaya bahasa klimaks. Hal ini dilakukan
untuk menarik perhatian konsumen.
3) Gaya Bahasa Polisidenton
Hair Sense mengandung protein sutra berfungsi sebagai conditioner
khusus yang menjaga rambut tetap sehat jadi tidak rusak dan menutup
uban dengan sempurna. (Ks/ HS/ 23)
Penyebutan beberapa hal secara berurutan seperti pada kalimat di atas
dengan menggunakan tanda hubung merupakan wujud dari pemakaian gaya
bahasa polisidenton. Gaya bahasa polisidenton adalah gaya bahasa penegasan
yang menyatakan beberapa benda, orang, hal atau keadaan secara berturutturut dengan memakai kata penghubung. Pemakaian gaya bahasa
polisidenton dalam bahasa iklan produk kosmetik didasarkan pada kebutuhan
pengiklan untuk menyampaikan keunggulan dan manfaat produk yang
ditawarkan secara bersamaan. Pengiklan merasa perlu mengungkapkan
keunggulan dan manfaat produk dengan cara menggabungkan keduanya, agar
commit to user
80
81
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
konsumen mendapatkan pesan iklan secara utuh dan merasa mendapat nilai
lebih apabila memakai produk tersebut.
4) Gaya Bahasa Metonimia
Give White baru dengan ekstrak pepaya atau bengkoang dan vitamin
A, B, C, E-nya bikin kulit kita sehat dan cerah alami. (Ks/ GW/ 22)
Berkat Hair Sense sekarang rambutku indah, sehat, lembut, bercahaya,
dan ubanku nggak ada lagi. (Ks/ HS/ 24)
Kata yang dicetak miring merupakan merk produk yang diiklankan.
Kedua tuturan di atas menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa
metonimia. Gaya bahasa metonimia adalah gaya bahasa perbandingan yang
menggunakan merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang
digunakan atau dikerjakan, sehingga kata itu berasosiasi dengan benda
keseluruhan. Pemakaian gaya bahasa metonimia dalam bahasa iklan produk
kosmetik bertujuan untuk memberitahu kepada pendengar merk produk yang
diiklankan dan dimaksudkan untuk memberikan kemudahan konsumen
dalam membedakan merk produk sabun mandi dan pewarna rambut dengan
yang lainnya.
5) Gaya Bahasa Hiperbola
Betul, putri lah wanita yang tercantik di dunia ini. (Ks/ HS/ 26)
Kalimat yang dicetak miring di atas menunjukan adanya pemakaian
gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang
melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya
dengan kata-kata yang lebih hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti.
Pemakaian gaya bahasa hiperbola dalam bahasa iklan produk kosmetik
bertujuan untuk mengungkapkan manfaat yang diperoleh konsumen dengan
memakai produk di atas. Pengungkapan tersebut pengiklan lakukan dengan
memberikan permainan makna kata agar konsumen merasa mendapatkan
sesuatu yang lebih pada produk tersebut. Selain itu, pemakaian gaya bahasa
di atas akan menarik perhatian konsumen, terutama wanita usia dewasa yang
telah beruban dan menginginkan rambutnya indah kembali.
commit to user
81
82
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
6) Gaya Bahasa Sinekdhoke Totem Pro Parte
Dapatkan Hair Sense di supermarket atau toko-toko terdekat.
(Ks/ HS/ 27)
Kalimat di atas memakai gaya bahasa sinekdhoke totem pro parte,
yaitu gaya bahasa perbandingan yang melukiskan keseluruhan benda atau hal
tetapi yang dimaksud sebagian. Kata supermarket dan toko hanya mengacu
pada supermarket dan toko yang menjual produk yang diiklankan saja, bukan
seluruh supermarket dan toko yang ada. Pemakaian gaya bahasa sinekdhoke
totem pro parte dalam tuturan bahasa iklan produk kosmetik di atas mampu
meyakinkan konsumen dalam mendapatkan produk yang diiklankan.
d. Iklan Jasa
Iklan Jasa merupakan iklan yang menawarkan layanan jasa atau service
kepada masyarakat. Dalam penelitian ini iklan jasa yang dimaksud adalah iklan
jasa pengobatan dan jasa peminjaman uang atau kredit. Iklan-iklan yang termasuk
dalam kategori iklan jasa meliputi iklan Tabib Ibu Rizal, iklan Tabib dr. Nita,
MA., iklan BPR Trihasta Prasojo, iklan BPR weleri Makmur, iklan PT Sarana
Insan Mandiri, dan iklan Altolud. Dalam iklan jasa, pemakaian gaya bahasa yang
muncul meliputi gaya bahasa polisidenton, gaya bahasa sarkasme, gaya bahasa
asidenton, gaya bahasa eksklamasio, gaya bahasa interupsi, gaya bahasa alusio,
gaya bahasa alegori, gaya bahasa klimaks, gaya bahasa metonimia, dan gaya
bahasa tropen. Berikut ini penjelasan masing-masing pemakaian gaya bahasa
iklan tersebut.
1) Gaya Bahasa Polisidenton
Seperti tumor, kanker, kista, gula, jantung, kencing manis, kencing
batu, maag, hipertensi, rematik, asam urat, strok, lemah syahwat, dan
asma cukup sekali terapi langsung sembuh. (Js/ TIR/ 28)
Kanker otak, tumor kandungan, kista, lumpuh, diabetes, ginjal,
jantung koroner, dan penyakit lainnya. (Js/ TN/ 30)
Ada juga nich kredit bidikan, kredit modal kerja, kredit konsumtif
untuk barang-barang kebutuhan harian, dan ada juga kredit hajatan
yang bebas bunga. (Js/ TP/ 33)
Brunei membutuhkan tenaga perbengkelan, teknisi AC, sopir,
commit
to lain-lain.
user
restoran, kantor, sekertaris,
dan
(Js/ SIM/ 40)
82
83
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pada keempat data di atas menunjukkan adanya pemakaian gaya
bahasa polisidenton. Kata hubung dan menjadi penanda adanya gaya bahasa
tersebut. Gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa benda, hal atau
keadaan secara berurutan dengan memakai kata hubung adalah gaya bahasa
polisidenton. Pemakaian gaya bahasa polisidenton dalam tuturan bahasa iklan
jasa di atas, baik jasa pengobatan maupun jasa perkreditan, dimaksudkan
untuk menyebutkan satu per satu jenis layanan yang ditawarkan pengiklan.
2) Gaya Bahasa Sarkasme
Jam semene isih kemul sarung, klumbrak-klumbruk. (Js/ TN/ 29)
Pada kalimat di atas penutur mengomentari secara langsung kepada
lawan tutur perihal kelakuan si lawan tutur. Kata klumbrak-klumbruk hanya
merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk menggambarkan
pakaian kering yang habis dicuci tetapi belum dilipat dan dirapikan. Jika
kalimat di atas diartikan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih akan menjadi
seperti ini, sudah jam segini masih berselimut sarung, seperti cucian yang
belum dilipat. Bisa dikatakan kalimat di atas muncul adanya pemakaian gaya
bahasa sarkasme yang dilakukan pengiklan. Gaya bahasa sarkasme adalah
adalah gaya bahasa sindiran yang terkasar serta langsung menusuk perasaan.
Pemakaian gaya bahasa sarkasme dalam tuturan iklan jasa di atas digunakan
untuk mendukung cerita yang disusun pengiklan. Gaya bahasa sarkasme di
atas mampu memberikan nilai rasa pada tuturan bahasa iklan, sehingga
konsumen lebih tertarik untuk mendengarkannya.
3) Gaya Bahasa Asidenton
Kanker payudara, keputihan separah apapun satu minggu sembuh
total, ingin keturunan dua sampai tiga kali terapi langsung hamil.
(Js/ TN/ 31)
Fasilitas asuransi, asrama, tabungan TKI. (Js/ SIM/ 41)
Penyebutan beberapa hal secara berurutan tanpa memakai tanda
hubung seperti pada kedua data di atas disebut dengan gaya bahasa asidenton.
Gaya bahasa asidenton adalah gaya bahasa penegasan yang menyebutkan
commitsecara
to userberturut-turut tanpa memakai kata
beberapa benda, hal atau keadaan
83
84
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
penghubung. Gaya bahasa ini bisa dikatakan lawan dari gaya bahasa
polisidenton. Gaya bahasa asidenton termasuk gaya bahasa penegasan yang
cukup sering digunakan dalam bahasa-bahasa iklan karena lebih singkat dan
padat. Sama halnya dengan kedua tuturan di atas, gaya bahasa asidenton
digunakan untuk menyingkat pengucapan atau penyebutan beberapa hal atau
layanan yang bisa diperoleh konsumen.
4) Gaya Bahasa Eksklamasio
Wa…h Pak, kita butuh dana banyak lho, Pak. (Js/ TP/ 32)
Wah, beruntung lho Mas Cahyo ini. (Js/ WM/ 35)
Oow… sini to tempatnya. (Js/ SIM/ 38)
Pemakaian gaya bahasa eksklamasio kembali muncul pada data di
atas. Gaya bahasa eksklamasio merupakan gaya bahasa penegasan yang
memakai kata-kata seru sebagai penegas. Kata seru oow dan wah pada
konteks kalimat di atas digunakan penutur untuk menyatakan perasaan lega
dan senang karena sudah menemukan sesuatu yang dicari-carinya, sedangkan
kata wah pada data pertama digunakan untuk menegaskan perasaan bahagia
campur bingung yang ingin disampaikan pengiklan dalam konteks iklan di
atas. Rasa bahagia dan senang karena akan punya hajat, sedangkan rasa
bingung karena harus mencari dana untuk hajatan tersebut. Pemakaian gaya
bahasa eksklamasio dalam tuturan bahasa iklan jasa di atas dimaksudkan
untuk mendukung pengungkapan maksud cerita yang disusun pengiklan.
Selain itu, gaya bahasa tersebut sengaja dipakai pengiklan karena mampu
menghilangkan kesan kaku dalam tuturan bahasa iklan di radio.
5) Gaya Bahasa Interupsi
Mau nganter anakku, si Danang, masuk kuliah. (Js/ WM/ 34)
Demikian tadi pengumuman khusus untuk Anda, yang siap menjadi
kaya, dengan menjadi retailer pulsa HP Altolud. (Js/ ALT/ 44)
Kata-kata yang dicetak miring pada data di atas mengindikasikan
adanya pemakaian gaya bahasa interupsi. Gaya bahasa interupsi adalah gaya
bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang
disisipkan di antara kalimat pokok guna lebih menjelaskan dan menekankan
commit to user
bagian kalimat sebelumnya. Bagian kalimat yang berbunyi yang siap menjadi
84
85
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kaya pada data tersebut digunakan untuk menerangkan bagian kalimat
sebelumnya, yaitu kata Anda. Kata tersebut mengacu pada pendengar atau
sasaran iklan yang merasa siap menjadi kaya dan produk ini siap untuk
membantu mewujudkannya.
Sama halnya dengan kata si Danang yang disisipkan pada kalimat
pokok data pertama di atas, dimaksudkan untuk menegaskan atau
menekankan pengertian dari kata sebelumnya, yaitu kata anakku. Bisa
dikatakan penggunaan kata si Danang untuk menjelaskan nama anak penutur
yang akan masuk kuliah seperti pada potongan kalimat iklan di atas.
Pemakaian gaya bahasa interupsi dalam tuturan bahasa iklan jasa dapat
memberikan tambahan informasi atau penjelas tuturan sebelumnya.
Pengiklan merasa perlu memakai gaya bahasa interupsi karena kejelasan dan
ketepatan maksud dapat tersampaikan kepada konsumen.
6) Gaya Bahasa Alusio
Padahal anak saya juga pingin kuliah, tapi saya ini nggak gableg duit,
blas. (Js/ WM/ 36)
Penggunaan ungkapan dalam bahasa Jawa yang dicetak miring di atas
jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih memiliki arti kemudahan
dan kelancaran memperoleh uang atau penghasilan. Ungkapan tersebut
digunakan karena dirasa pengertiannya cocok untuk melukiskan perbuatan
penutur atau untuk mengistilahkan sesuatu yang ada pada penutur. Kata-kata
tersebut menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa alusio, yaitu gaya
bahasa perbandingan yang mempergunakan ungkapan peribahasa atau katakata yang artinya diketahui umum, seperti pada data di atas. Pemakaian gaya
bahasa alusio dalam tuturan bahasa iklan jasa di atas dipilih dengan alasan
gaya bahasa tersebut mampu menampilkan istilah atau perumpamaan yang
sekiranya cocok dan sesuai dengan jenis produk yang diiklankan atau
kebutuhan pengiklan.
commit to user
85
86
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
7) Gaya Bahasa Alegori
Mas Suryo, pendidikan itu investasi masa depan. (Js/ WM/ 37)
Kata pendidikan pada kalimat di atas diibaratkan seperti investasi atau
tabungan untuk masa depan seseorang. Pendidikan diperbandingkan dengan
suatu hal secara keseluruhan dan utuh. Perbandingan yang memperlihatkan
suatu perbandingan utuh dan membentuk kesatuan yang utuh merupakan
pengertian dari gaya bahasa alegori. Dalam kalimat diatas penggunaan gaya
bahasa alegori ditunjukkan dengan kata-kata yang dicetak miring, yaitu
pendidikan itu investasi masa depan. Pemakaian gaya bahasa alegori dalam
tuturan bahasa iklan jasa di atas didasarkan pada kebutuhan pengiklan untuk
menyampaikan
pesan
iklan
dalam
bentuk
perbandingan.
Dengan
perbandingan tersebut, pengiklan secara tidak langsung telah memberikan
gambaran atau pemahaman lebih dan utuh kepada konsumennya.
8) Gaya Bahasa Klimaks
Aman, nyaman, mandiri, sejahtera. (Js/ SIM/ 39)
Pada data di atas diutarakan beberapa hal secara berurutan dari hal
yang pengertiannya sederhana hingga hal yang pengertiannya lebih
meningkat, yaitu mulai dari kata aman, nyaman, mandiri, kemudian
sejahtera. Hal tersebut menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa
klimaks, yaitu gaya bahasa penegasan dengan menyatakan beberapa hal
berturut-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang makin lama makin
memuncak. Kata aman diartikan dengan suatu keadaan yang bebas
gangguan, sedangkan kata nyaman diartikan suatu keadaan yang tanpa
gangguan, bisa membuat perasaan tenang dan enak. Urutan kata berikutnya,
yaitu kata mandiri dan sejahtera. Kata mandiri memiliki arti lebih meningkat
lagi dari dua kata sebelumnya, yaitu suatu keadaan yang tanpa bantuan orang
lain mampu mencukupi diri sendiri atau mampu menciptakan suatu karya
atau usaha sendiri; sedangkan kata sejahtera berarti suatu keadaan hidup
yang aman, nyaman, sentosa, makmur, dan bahagia. Pemakaian gaya bahasa
klimaks dalam tuturan bahasa iklan jasa di atas bertujuan untuk
commit to user
86
87
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menyampaikan manfaat-manfaat yang akan diperoleh konsumen dengan
mengikuti program atau layanan jasa yang ditawarkan pengiklan.
9) Gaya Bahasa Tropen
Menjadi retailer pulsa HP adalah jalan paling cepat dan nyaman untuk
hidup lebih nyaman dan jadi kaya. (Js/ ALT/ 42)
Penggunaan kata retailer berarti pedagang eceran, yang pada data di
atas adalah berjualan pulsa. Dalam pengklasifikasian jenis-jenis gaya bahasa,
hal ini termasuk dalam pemakaian gaya bahasa tropen. Gaya bahasa tropen
adalah gaya bahasa perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan
memperbandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan kata-kata yang
mengandung pengertian yang sejalan dan sejajar. Pemakaian gaya bahasa
tropen dalam bahasa iklan jasa dipilih pengiklan untuk menggantikan istilah
atau sebutan yang sudah biasa digunakan dengan istilah atau sebutan yang
baru tanpa mengurangi arti dengan istilah yang lama. Hal ini dimaksudkan
guna menghindari kebosanan dan kemonotonan gaya penyampaian iklan.
10) Gaya Bahasa Metonimia
Sekarang telah hadir Altolud untuk membantu Anda jadi kaya dan
lebih nyaman. (Js/ ALT/ 43)
Kata Altolud pada kalimat di atas merupakan nama jasa yang
ditawarkan. Penggunaan nama jasa pada data tersebut digunakan untuk
mengasosiasikan produk yang digunakannya atau produk yang ditawarkan
pengiklan. Pemakaian nama jasa ini mengindikasikan adanya penggunaan
gaya bahasa metonimia, yaitu gaya bahasa perbandingan yang menggunakan
merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang digunakan
atau dikerjakan, sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan.
Pemakaian gaya bahasa metonimia dalam tuturan bahasa iklan jasa
dimaksudkan untuk kemudahan dalam pengucapan atau penyampaian jenis
jasa kepada konsumen.
commit to user
87
88
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
e. Iklan Produk Obat
Iklan produk obat merupakan iklan yang menawarkan barang-barang atau
produk-produk obat. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan produk obat
ada tiga, yaitu iklan Bio Activa, iklan Hemaviton Jreng, dan iklan Paramex.
Dalam iklan produk obat, pemakaian gaya bahasa yang muncul meliputi gaya
bahasa interupsi, gaya bahasa polisidenton, gaya bahasa metonimia, gaya bahasa
asidenton, dan gaya bahasa hiperbola. Berikut ini penjelasan masing-masing
pemakaian gaya bahasa iklan tersebut.
1) Gaya Bahasa Interupsi
Bio Activa dibuat dari daun-daun herbal terbaik, ramuan tradisional
Kalimantan yang sudah terkenal khasiatnya. (Ob/ BA/ 45)
Bagian akhir dari kalimat di atas merupakan penjelas dari bagian
kalimat pokoknya atau kalimat sebelumnya, yaitu Bio Activa. Dengan
mengacu pada keterangan tersebut, bisa dikatakan bahwa data tersebut
mengandung pemakaian gaya bahasa interupsi. Gaya bahasa penegasan yang
menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat
pokok guna lebih menjelaskan dan menekankan bagian kalimat sebelumnya
adalah pengertian dari gaya bahasa interupsi. Pemakaian gaya bahasa
interupsi dalam tuturan bahasa iklan produk obat di atas didasarkan pada
keinginan pengiklan untuk
menjelaskan
lebih
detail
produk
yang
ditawarkannya. Selain itu, gaya bahasa ini pengiklan gunakan untuk
memudahkan konsumen memahami jenis obat yang diiklankannya agar tidak
takut dan was was untuk mengkonsumsinya.
2) Gaya Bahasa Polisidenton
Bio Activa terbukti sudah banyak menolong penderita diabetes, asam
urat, kolesterol, rematik, kanker, darah tinggi, maag, dan masih
banyak lagi. (Ob/ BA/ 46)
Kata hubung dan pada data di atas merupakan kata hubung yang
menggabungkan penyebutan beberapa hal secara berurutan. Hal itu
menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa polisidenton, yaitu gaya bahasa
penegasan yang menyatakan
beberapa
commit
to userbenda, hal atau keadaan secara
88
89
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
berurutan dengan menggunakan kata hubung. Pemakaian gaya bahasa
polisidenton dalam tuturan bahasa iklan produk obat bertujuan untuk
menyebutkan satu per satu keunggulan dari produk, yakni obat yang
ditawarkan, dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Penyebutan ini,
menurut informan, sangat diperlukan oleh konsumen guna mengetahui
kegunaan apa saja atau penyakit apa saja yang bisa disembuhkan oleh obat
tersebut.
3) Gaya Bahasa Metonimia
Kalau haus minum Jreng. (Ob/ HJ/ 47)
Paramex cepat sembuhkan sakit kepala. (Ob/ PRX/ 50)
Kata Jreng dan Paramex pada kalimat di atas merupakan sebutan
merk
produk
yang
ditawarkan.
Pemakaian
merk
dagang
tersebut
mengindikasikan adanya penggunaan gaya bahasa metonimia, yaitu gaya
bahasa perbandingan yang menggunakan merk dagang atau nama barang
untuk melukiskan sesuatu yang digunakan atau dikerjakan, sehingga kata itu
berasosiasi dengan benda keseluruhan. Pemakaian gaya bahasa metonimia
dalam tuturan bahasa iklan produk obat didasarkan pada keinginan pengiklan
agar merk dagang atau nama produknya lebih dikenal oleh masyarakat.
Dengan menyebutkan merk dagang secara langsung dan diikuti dengan
keunggulan dan manfaatnya, pengiklan akan lebih mudah untuk menarik
perhatian pembeli atau konsumen.
4) Gaya Bahasa Asidenton
Jreng original dengan energi vitamin C8, Jreng Lemon, Jreng
Mangga, Jreng Anggur. (Ob/ HJ/ 48)
Penyebutan beberapa hal secara berurutan tanpa memakai tanda
hubung seperti pada data di atas disebut dengan gaya bahasa asidenton. Gaya
bahasa ini bisa dikatakan lawan dari gaya bahasa polisidenton. Gaya bahasa
asidenton termasuk gaya bahasa penegasan yang cukup sering digunakan
dalam bahasa-bahasa iklan karena lebih singkat dan padat. Pemakaian gaya
bahasa asidenton dalam tuturan bahasa iklan produk obat, khususnya iklan
commitsebuah
to userjingle di atas, dimaksudkan untuk
Hemaviton Jreng yang berbentuk
89
90
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
memudahkan pengiklan dalam pengucapan bunyinya. Gaya bahasa tersebut
digunakan iklan Hemaviton Jreng hanya untuk menyebutkan aneka rasa dari
produk tersebut, sehingga pengiklan menganggap gaya bahasa tersebut tepat
dan sesuai dengan keinginan pengiklan.
5) Gaya Bahasa Hiperbola
Sakit kepalaku, mau pecah… rasanya. (Ob/ PRX/ 49)
Kalimat sakit kepalaku, mau pecah… rasanya yang dicetak miring di
atas menunjukan adanya pemakaian gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa
hiperbola adalah gaya bahasa perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan
mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih
hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti. Kalimat di atas ingin
menggambarkan keadaan seseorang yang sedang merasakan sakit kepala
yang teramat sakit, sehingga penggunaan kata kepalaku mau pecah dianggap
cukup mampu mengutarakan maksud pengiklan. Pemakaian gaya bahasa
hiperbola dalam tuturan bahasa iklan produk obat di atas secara tidak
langsung mampu menyampaikan keunggulan dari produk obat yang
ditawarkan, yakni obat Paramex. Keunggulan yang dimaksud adalah obat
Paramex mampu menyembuhkan sakit kepala yang terasa amat sakit apabila
konsumen merasa sakit kepala yang dideritanya tersebut seakan-akan mau
pecah.
f.
Iklan Produk Kebersihan
Iklan produk kebersihan merupakan iklan yang menawarkan barang-
barang atau alat-alat untuk kebersihan. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori
iklan produk kebersihan ada dua, yaitu iklan Mama Lemon dan iklan Soklin
Softergent. Dalam iklan produk obat, pemakaian gaya bahasa yang muncul
meliputi gaya bahasa asidenton dan gaya bahasa metafora. Berikut ini penjelasan
masing-masing pemakaian gaya bahasa iklan tersebut.
1) Gaya Bahasa Asidenton
Tapi ini lemak soto, lemak rendang, lemak sate, lemak tongseng,
lemak sambel, lemak gorengan,
commit to lemak
user bakso. (Kb/ ML/ 51)
90
91
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Penyebutan beberapa hal secara berurutan tanpa memakai tanda
hubung seperti pada data di atas disebut dengan gaya bahasa asidenton. Gaya
bahasa asidenton termasuk gaya bahasa penegasan yang cukup sering
digunakan dalam bahasa-bahasa iklan karena lebih singkat dan padat. Data di
atas merupakan tuturan yang diambil dari tuturan bahasa iklan produk
kebersihan, yakni iklan Mama Lemon yang berbentuk dialog. Berdasar pada
bentuk penyampaian dari iklan tersebut, pengiklan menggunakan gaya
bahasa asidenton untuk menyebutkan kotoran dari jenis makanan apa saja
yang mampu dibersihkan oleh produk sabun cuci tersebut. Selain itu, gaya
bahasa ini secara tidak langsung akan memberikan keyakinan kepada
konsumen terhadap kehebatan produk sabun cuci yang diiklankan.
2) Gaya Bahasa Metafora
Habis, lembutnya handuk ini kayak dipeluk Mama lho. (Kb/ SKS/ 52)
Pemakaian gaya bahasa metafora ditunjukkan pada kata-kata yang
dicetak miring pada data di atas. Gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa
perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan
tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama. Pada tuturan kalimat data
nomor 52 di atas, kelembutan handuk yang dicuci dengan produk kebersihan
sabun cuci Soklin Softergent diasosiasikan atau disamakan dengan
kelembutan pelukan seorang mama. Pemakaian gaya bahasa metafora dalam
tuturan bahasa iklan produk kebersihan di atas, tepatnya iklan Soklin
Softergent, dipilih pengiklan dengan alasan gaya bahasa tersebut mampu
memberikan pemahaman manfaat produk atau ketersampaian pesan iklan
tersebut dapat tercapai melalui perbandingan yang digunakan pengiklan.
Gaya bahasa ini lebih mudah untuk mempengaruhi konsumen agar memakai
produk yang ditawarkannya.
g. Iklan Produk Pakaian dan Asesoris
Iklan produk pakaian dan asesoris merupakan iklan yang menawarkan
barang-barang atau produk-produk pakaian dan asesoris. Iklan-iklan yang
commitinito ada
userdua, yaitu iklan Arco Baleno dan
termasuk dalam kategori iklan produk
91
92
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
iklan Optik Pranoto. Dalam iklan produk pakaian dan asesoris, pemakaian gaya
bahasa yang muncul meliputi gaya bahasa alusio, gaya bahasa metonimia, gaya
bahasa eksklamasio, dan gaya bahasa polisidenton. Berikut ini penjelasan masingmasing pemakaian gaya bahasa iklan tersebut.
1) Gaya Bahasa Alusio
Uu…uh, istriku yang hamil muda. (Pk/ AB/ 53)
Ungkapan atau idiom hamil muda pada data di atas memiliki maksud
kehamilan yang masuk usia muda, sekitar 1-3 bulan. Pemakaian ungkapan di
atas menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa alusio. Gaya bahasa alusio
adalah gaya bahasa perbandingan yang menggunakan ungkapan peribahasa,
atau kata-kata yang artinya diketahui umum. Gaya bahasa alusio digunakan
pengiklan dalam tuturan bahasa iklan produk kebersihan dengan alasan gaya
bahasa tersebut dapat menampilkan istilah atau perumpamaan yang sekiranya
cocok dan sesuai dengan jenis produk yang diiklankan atau kebutuhan
pengiklan.
2) Gaya Bahasa Metonimia
Tapi, nama anak kita sama Arco Baleno itu hubungannya apa, Mas?
(Pk/ AB/ 54)
Penyebutan Arco Baleno pada kalimat di atas merupakan sebutan
merk yang ditawarkan. Pemakaian merk dagang tersebut mengindikasikan
adanya penggunaan gaya bahasa metonimia, yaitu gaya bahasa perbandingan
yang menggunakan merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu
yang digunakan atau dikerjakan, sehingga kata itu berasosiasi dengan benda
keseluruhan. Pemakaian gaya bahasa metonimia dalam tuturan bahasa iklan
produk pakaian didasarkan pada keinginan pengiklan agar merk dagang atau
nama produknya lebih dikenal oleh masyarakat. Dengan menyebutkan merk
dagang secara langsung dan diikuti dengan keunggulan dan manfaatnya,
pengiklan akan lebih mudah untuk menarik perhatian pembeli atau
konsumen.
commit to user
92
93
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3) Gaya Bahasa Eksklamasio
O…h, indah sekali. (Pk/ AB/ 55)
Penggunaan kata o…h pada data di atas dimaksudkan untuk
menegaskan atau menggambarkan perasaan senang dan takjub terhadap suatu
hal. Kata tersebut menunjukkan adanya pemakaian gaya bahasa eksklamasio.
Gaya bahasa eksklamasio adalah gaya bahasa penegasan yang memakai katakata seru sebagai penegas. Pemakaian gaya bahasa eksklamasio dalam
tuturan bahasa iklan produk pakaian di atas dimaksudkan untuk mendukung
pengungkapan maksud cerita yang disusun pengiklan. Selain itu, gaya bahasa
tersebut sengaja dipakai pengiklan karena mampu menghilangkan kesan kaku
dalam tuturan bahasa iklan yang berbentuk dialog di radio.
4) Gaya Bahasa Polisidenton
Ditunjang laboratorium modern, menerima resep dokter, askes, dan
jamsostek. (Pk/ OP/ 56)
Kata dan pada kalimat di atas merupakan kata hubung yang
menggabungkan penyebutan beberapa hal secara berurutan, sehingga menjadi
penanda adanya pemakaian gaya bahasa polisidenton. Pemakaian gaya
bahasa polisidenton dalam tuturan bahasa iklan produk asesoris, yakni iklan
Optik Pranoto, bertujuan untuk menyebutkan satu per satu keunggulan dari
produk, yakni layanan yang ditawarkan, dalam memberikan berbagai
pelayanan kepada konsumen. Penyebutan ini, menurut informan, sangat
diperlukan oleh konsumen guna mengetahui fasilitas atau keuntungan apa
saja yang bisa diperoleh dengan menggunakan produk ini.
h. Iklan Produk Kendaraan
Iklan produk kendaraan merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk kendaraan. Iklan yang termasuk dalam kategori iklan produk
ini hanya ada satu, yaitu iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup. Dalam iklan
tersebut muncul satu jenis gaya bahasa, yaitu gaya bahasa metonimia.
commit to user
93
94
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1) Gaya Bahasa Metonimia
Dalam iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup hanya memunculkan satu
macam pemakaian gaya bahasa, yaitu gaya bahasa metonimia. Gaya bahasa
metonimia adalah gaya bahasa perbandingan yang menggunakan merk
dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang digunakan atau
dikerjakan, sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan.
Untung ada Pusat Jaya. (Kd/ PJ/ 57)
Penyebutan Pusat Jaya pada data di atas merupakan nama merk
dagang produk yang diiklankan pengiklan yang menunjukkan adanya
pemakaian gaya bahasa metonimia. Penyebutan merk dagang secara
langsung ini dimaksudkan agar masyarakat atau sasaran iklan dapat cepat dan
mudah mengingat nama merk yang ditawarkan.
Dari hasil analisis pemakaian gaya bahasa dalam bahasa iklan komersial di
radio menunjukkan bahwa gaya bahasa-gaya bahasa yang sering digunakan atau
sering muncul dalam bahasa iklan komersial tersebut meliputi: gaya bahasa
metonimia, gaya bahasa polisidenton, gaya bahasa asidenton, gaya bahasa
eksklamasio, gaya bahasa klimaks, gaya bahasa interupsi, gaya bahasa hiperbola,
dan gaya bahasa alusio. Pemakaian gaya bahasa-gaya bahasa tersebut dikarenakan
gaya bahasa di atas mampu memberikan nilai rasa bahasa tersendiri dalam iklan
dan mampu memunculkan makna pesan yang disampaikan pengiklan, baik
langsung maupun tak langsung.
3. Wujud Campur Kode
Campur kode adalah fenomena pencampuran bahasa kedua ke dalam
bahasa pertama, pencampuran bahasa asing atau daerah ke dalam struktur bahasa
ibu baik dalam tingkat kata, frasa, klausa, idiom, maupun sapaan. Penganalisisan
campur kode dalam iklan komersial di bawah ini dilakukan berdasarkan pada
klasifikasi iklan sebelumnya. Analisis campur kode terhadap data iklan komersial
di radio dapat dijelaskan sebagai berikut.
commit to user
94
95
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
a.
Iklan Produk Properti
Iklan produk properti merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk properti, seperti meja, kursi, dan perabot rumah lainnya.
Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan properti terdiri dari iklan
Colombus, iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi, Iklan Meubel Jempol, dan iklan
Margo Murah Baru.
1) Iklan Toko Colombus
Dalam iklan Toko Colombus terdapat tiga macam campur kode yang
meliputi campur kode kata (CKK), campur kode baster (CKB), dan campur
kode frasa (CKF). Berikut ini penjelasan masing-masing campur kode
tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Kata adalah satuan bebas terkecil yang memiliki satu pengertian
atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja), nomina (kata benda),
adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain sesuai pembagian
kata tersebut. Data di bawah ini menunjukkan adanya campur kode yang
berwujud kata.
Eh Bu, kok perabotane dari dulu kok nggak ganti-ganti to, Bu.
I…ih, kuno banget lho, Bu. (CKK 2)
Pokokmen, Bu Dini tu kalo pengen apa-apa ya, datang aja ke
Colombus. (CKK 4)
Cash atau kredit. (CKK 5)
Makanya, segera kunjungi showroom Colombus Jalan Lawu No. 31
Karanganyar telp. 7006760 atau Jalan Honggowongso No. 97 Pasar
Kembang Solo telp. 719837, tepatnya utara Pasar Kembang.
(CKK 6)
Sales kami akan datang untuk isi aplikasi yang Anda inginkan.
(CKK 7)
Bahasa dasar: Bahasa Indonesia
Pada kalimat di atas terjadi penyisipan kata nggak, banget, pingin
dan partikel kok, to dan lho. Penyisipan kata dan partikel yang diambil
dari bahasa Jawa dan dialek Jakarta di atas termasuk dalam kategori
campur kode yang bersifat ke dalam. Peristiwa campur kode di atas
dimaksudkan untuk menciptakan suasana tuturan yang luwes, santai, dan
commit to user
akrab.
95
96
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Selain campur kode ke dalam, data di atas juga menampilkan
campur kode ke luar, yaitu pada data nomor 5, 6, dan 7. Penyisipan katakata bahasa Inggris seperti cash, showroom, dan sales yang dalam bahasa
Indonesia berturut-turut memiliki arti tunai, tempat untuk memamerkan
barang jualan, dan penjual merupakan peristiwa campur kode yang
bersifat ke luar. Penggunaan unsur-unsur tersebut dimaksudkan untuk
bergengsi, memberikan kesan modern, dan menarik perhatian pendengar
iklan.
b) Campur kode yang berwujud baster
Baster adalah hasil perpaduan dua unsur bahasa yang membentuk
satu makna. Campur kode yang berwujud baster ditunjukkan pada data di
bawah ini.
Eh Bu, kok perabotane dari dulu kok nggak ganti-ganti to, Bu.
(CKB 1)
Pokokmen, Bu Dini tu pengen apa-apa ya, datang aja ke Colombus.
(CKB 3)
Bahasa dasar : Bahasa Indonesia
Kata perabotane dan pokokmen pada data di atas merupakan wujud
baster. Serpihan unsur bahasa Jawa {-ne} dan {-men}, yang dalam bahasa
Indonesia tidak ada padanannya, terpengaruh oleh dialek Jawa. Peristiwa
campur kode bahasa Jawa ini termasuk dalam campur kode yang bersifat
ke dalam. Peristiwa campur kode di atas dimaksudkan untuk menciptakan
suasana tuturan yang luwes, santai, dan akrab.
c) Campur kode yang berwujud frasa
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Campur kode yang
berwujud frasa dapat dilihat pada data berikut ini.
Ada double bonus lho dari Colombus yang terlengkap, terjangkau,
tercepat, terbaik, dan terjamin. (CKF 8)
Bahasa dasar : Bahasa Indonesia
Penggunaan frasa bahasa Inggris double bonus dalam bahasa
Indonesia memiliki arti tambahan ganda. Campur kode ini termasuk
commit
to user
campur kode yang bersifat
ke luar.
Penggunaan unsur bahasa Inggris ini
96
97
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dimaksudkan untuk kemantapan dan ketepatan arti yang dimaksud dalam
suatu tuturan.
2) Iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi
Dalam iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi terdapat dua macam
campur kode yang meliputi campur kode kata (CKK) dan campur kode frasa
(CKF). Berikut ini penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Kata adalah satuan bebas terkecil yang memiliki satu pengertian
atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja), nomina (kata benda),
adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain sesuai pembagian
kata tersebut. Campur kode yang berwujud kata ditampilkan pada data di
bawah ini.
Selain ahli bikin kanopi dan besi tempa, juga ahli mengerjakan
relling tangga dan balkon, pagar, pintu, tralis. (CKK 9)
Bahasa dasar: bahasa Indonesia
Kata yang dicetak miring di atas merupakan pungutan dari bahasa
Inggris, yang secara harfiah berarti menggerakkan. Namun, kata di atas
secara keseluruhan memiliki makna tangga lipat. Pencampuran unsur
bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia (bahasa ibu) tersebut masuk
dalam campur kode yang bersifat ke luar dan pencampuran ini didasari
pada faktor keinginan pengiklan untuk menciptakan kesan modern pada
tuturannya.
b) Campur kode yang berwujud frasa
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Data di bawah ini
menunjukkan adanya campur kode yang berwujud frasa.
Pokoknya, semuanya dech yang berhubungan dengan stainless
steel. (CKF 10)
Bahasa dasar: bahasa Indonesia
Frasa stainless steel merupakan pungutan dari bahasa Inggris. Frasa
tersebut jika dijabarkan terdiri dari kata stainless berarti tidak dapat
berkarat dan steel berarti
besito (dalam
commit
user bahasa Indonesia), sehingga
97
98
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
stainless steel bisa diartikan besi yang tidak mudah atau tidak dapat
berkarat. Penggunaan frasa dari bahasa asing tersebut dilatari faktor
keinginan pengiklan untuk menggunakan suatu kata atau ungkapan yang
tepat arti dan menciptakan kesan modern. Pencampuran kode di atas
termasuk dalam campur kode yang bersifat ke luar.
3) Iklan Meubel Jempol
Dalam iklan Meubel Jempol terdapat dua macam campur kode yang
meliputi campur kode kata (CKK) dan campur kode frasa (CKF). Berikut ini
penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Wa…h, habis dapat arisan ni, Kang. Pengen beli tempat tidur baru.
(CKK 11)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Data di atas menunjukkan adanya campur kode yang berwujud kata.
Kata panggilan Kang dan kata pengen di atas merupakan kata atau unsur
dari bahasa Jawa. Kata panggilan Kang dalam bahasa Indonesia dapat
diartikan ‘kakak laki-laki, saudara laki-laki’; sedangkan kata pengen sama
maknanya dengan kata ingin. Campur kode yang unsurnya diambil dari
bahasa daerah termasuk dalam campur kode yang bersifat ke dalam.
Penggunaan kata-kata tersebut dimaksudkan untuk memunculkan suasana
tuturan yang kedaerahan, komunikasi yang dilakukan antara pembicara
atau pelaku iklan menjadi lebih santai dan akrab di telinga pendengar atau
sasaran iklan. Hal ini, juga mendukung pemahaman pendengar akan alur
cerita iklan atau pesan yang ingin disampaikan pengiklan.
Loh, maksudmu opo Kang? (CKK 12)
Wis akeh tonggo-tonggone dhewe sing keno tipu sales gadungan.
(CKK 13)
Wo…a meyakinkan tenan lho penampilane. (CKK 14)
Bahasa dasar: bahasa Jawa
Ketiga data di atas memiliki bahasa dasar berupa bahasa Jawa.
Unsur-unsur yang dicampur dalam tuturan di atas berupa bahasa
commit to
usermaksudmu, tipu, dan gadungan
Indonesia dan bahasa Inggris.
Kata
98
99
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dipungut dari bahasa Indonesia, sedangkan kata sales, yang berarti
penjual, dipungut dari bahasa Inggris. Penggunaan kata-kata tersebut
dimaksudkan untuk menimbulkan kesan metropolitan, modern, dan
kemantapan maksud pengiklan yang disampaikan.
b) Campur kode yang berwujud frasa
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Data di bawah ini
menunjukkan adanya campur kode yang berwujud frasa.
Nganggo surat pengantar, barang. (CKF 15)
Soko ndhek mbiyen sampe sak iki sing jenenge Toko Meubel
Jempol di semua cabang lan kota ora pernah dodolan secara door to
door. (CKF 16)
Bahasa dasar: bahasa Jawa
Frasa surat pengantar dan di semua cabang diambil dari bahasa
Indonesia. Frasa tersebut digunakan dalam tuturan bahasa Jawa dengan
maksud untuk ketepatan arti kata yang ingin disampaikan. Pencampuran
kode di atas merupakan campur kode yang bersifat ke dalam.
Frasa door to door diambil dari bahasa Inggris yang berarti
mendatangi dari rumah ke rumah. Frasa ini digunakan dengan maksud
untuk menimbulkan kesan modern dan kemantapan maksud yang
diinginkan. Pencampuran di atas termasuk dalam campur kode ke luar.
4) Iklan Margo Murah Baru
Dalam iklan Margo Murah Baru terdapat dua macam campur kode
yang meliputi campur kode kata (CKK) dan campur kode frasa (CKF).
Berikut ini penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Kata adalah satuan bebas terkecil yang memiliki satu pengertian
atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja), nomina (kata benda),
adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain sesuai pembagian
kata tersebut. Data yang menampilkan campur kode yang berwujud kata
dapat dilihat pada data di bawah ini.
Mumpung ada penawaran
commitspesial.
to user(CKK 19)
99
100
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Tuturan kalimat berbahasa dasar Indonesia di atas menampilkan
adanya campur kode ke dalam. Pencampuran tersebut ditunjukkan dengan
kata mumpung yang diambil dari bahasa Jawa. Kata tersebut memiliki
padanan kata dalam bahasa Indonesia, yakni selagi. Penggunaan kata
mumpung di atas oleh pengiklan dimaksudkan untuk menciptakan suasana
tuturan yang kedaerahan.
b) Campur kode yang berwujud frasa
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Frasa spring bed
pada data di bawah ini dipungut dari bahasa Inggris. Frasa tersebut berarti
tempat tidur.
Hah, spring bed?! (CKF 18)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Pencampuran unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia di atas
termasuk dalam campur kode yang bersifat ke luar. Pencampuran tersebut
dimaksudkan untuk bergengsi, kemantapan maksud tuturan pengiklan,
dan menciptakan kesan modern.
b.
Iklan Produk Makanan
Iklan produk makanan merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk makanan. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan
produk makanan meliputi iklan Kecap Teh Cap Nyapu Pekalongan, iklan Sirup
Niki Sari, dan iklan Ale-Ale.
1)
Iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan
Dalam iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan hanya ada satu macam
campur kode, yaitu campur kode kata (CKK). Kata adalah satuan bebas
terkecil yang memiliki satu pengertian atau arti, baik dalam bentuk verba
(kata kerja), nomina (kata benda), adjektiva (kata sifat), maupun bentukbentuk yang lain sesuai pembagian kata tersebut.
commit
usersuami. (CKK 20)
Denger-denger, kok rame
terustosama
100
101
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Hush, bukan itu maksudku. (CKK 21)
Kalo itu sich gampang, Bu. (CKK 22)
Coba dech, pasti nyes. (CKK 23)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Penggunaan kata denger-denger, rame, hush, gampang, dan nyes di
atas dipungut dari bahasa Jawa. Pemakaian kata denger-denger, rame, dan
gampang disebabkan faktor keinginan pengiklan untuk memunculkan
komunikasi yang bersifat kedaerahan, santai, dan mudah dipahami.
Sementara itu, kata hush dan nyes dimasukkan dalam tuturan berbahasa dasar
bahasa Indonesia di atas disebabkan dalam bahasa Indonesia tidak ada
padanan kata yang sesuai dengan kata-kata tersebut. Dengan kata lain, kata
tersebut digunakan untuk ketepatan arti atau ungkapan perasaan yang ingin
pengiklan hadirkan dalam tuturan iklannya.
2)
Iklan Sirup Niki Sari
Dalam iklan Sirup Niki Sari hanya ada satu macam campur kode, yaitu
campur kode kata (CKK). Campur kode yang muncul pada data di bawah ini
merupakan campur kode yang bersifat ke luar. Kata adalah satuan bebas
terkecil yang memiliki satu pengertian atau arti, baik dalam bentuk verba
(kata kerja), nomina (kata benda), adjektiva (kata sifat), maupun bentukbentuk yang lain sesuai pembagian kata tersebut.
Frambors, jeruk, mocca, rosemelon.(CKK24)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata rosemelon merupakan kata yang menunjukkan pencampuran
tersebut. Kata yang dipungut dari bahasa Inggris di atas memiliki arti dalam
bahasa Indonesia. Pencampuran di atas didasarkan pada keinginan untuk
sekedar bergengsi dan memberi kesan metropolitan.
3)
Iklan Ale-Ale
Dalam iklan Ale-Ale terdapat dua macam campur kode yang meliputi
campur kode kata (CKK) dan campur kode klausa (CKKl). Berikut ini
penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
commit to user
101
102
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
a) Campur kode yang berwujud kata
Kata adalah satuan bebas terkecil yang memiliki satu pengertian
atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja), nomina (kata benda),
adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain sesuai pembagian
kata tersebut. Campur kode yang berwujud kata pada data di bawah ini
termasuk dalam campur kode yang bersifat ke luar.
Ada orange, strawberry, dan apel fuji.(CKK 25)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Pencampuran tersebut ditandai dengan adanya kata orange dan
strawberry. Kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia sama maknanya
dengan kata jeruk dan stroberi. Pencampuran di atas didasarkan pada
faktor gengsi, metropolitan, dan modern.
b) Campur kode yang berwujud klausa
Klausa adalah suatu konstruksi (bangunan) yang sekurangkurangnya terdiri atas unsur subjek-predikat. Data di bawah ini
merupakan data yang menunjukkan adanya campur kode yang berwujud
klausa.
Ale-Ale terbukti sebagai minuman Indonesia dan branch a world.
(CKKl 26)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Pencampuran kode di atas ditunjukkan dengan klausa yang
dipungut dari bahasa Inggris, yakni klausa branch a world. Klausa
tersebut mempunyai makna merk dagang yang telah diakui semua
negara. Pencampuran kode tersebut termasuk dalam campur kode ke luar
yang disebabkan faktor gengsi dan menciptakan kesan modern.
c.
Iklan Produk Kosmetik
Iklan produk kosmetik merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk kosmetik atau kecantikan. Iklan-iklan yang termasuk dalam
kategori iklan produk kosmetik ada dua, yakni iklan New Give White dan iklan
Hair Sense.
commit to user
102
103
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1) Iklan New Give White
Dalam iklan New Give White ada dua macam campur kode, yaitu
campur kode frasa (CKF) dan campur kode kata (CKK). Penjelasan masingmasing campur kode dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
a) Campur kode yang berwujud frasa
Moisturewhite-nya melembapkan plus bikin kulit kita putih tapi
nggak kering. (CKF 27)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa moisturewhite dipungut dari bahasa Inggris yang berarti
pelembap yang memutihkan. Frasa asing di atas digunakan karena faktor
ketepatan arti tuturan, sekedar gengsi dan menciptakan kesan modern.
Pencampuran di atas termasuk dalam campur kode ke luar.
b) Campur kode yang berwujud kata
Kata plus merupakan kata dari bahasa Inggris yang berarti tambah.
Kata plus disebabkan faktor gengsi dan memunculkan kesan modern.
Pencampuran di atas termasuk dalam campur kode ke luar.
Moisturewhite-nya melembapkan plus bikin kulit kita putih tapi
nggak kering. (CKK 28)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
2) Iklan Hair Sense
Dalam iklan Hair Sense juga hanya ada satu macam campur kode, yaitu
campur kode kata (CKK). Kata adalah satuan bebas terkecil yang memiliki
satu pengertian atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja), nomina (kata
benda), adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain sesuai
pembagian kata tersebut. Kata conditioner termasuk kata dari bahasa Inggris
yang berarti pengkondisi atau sesuatu yang bisa digunakan untuk merawat.
Hair Sense mengandung protein sutra berfungsi sebagai conditioner
khusus yang menjaga rambut tetap sehat, jadi tidak rusak dan menutup
uban dengan sempurna. (CKK 28)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata conditioner disebabkan faktor keinginan pengiklan untuk
menggunakan kata yang dirasa mantap dengan maksud tuturan iklan, sekedar
commit to user
103
104
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
gengsi, dan memunculkan kesan modern. Pencampuran di atas termasuk
dalam campur kode ke luar.
d.
Iklan Jasa
Iklan jasa merupakan iklan yang menawarkan barang-barang atau produk-
produk berupa layanan jasa. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan jasa
di antaranya iklan Tabib Ibu Rizal, iklan BPR Trihasta Prasojo, iklan BPR Weleri
Makmur, iklan PT Sarana Insan Mandiri, dan iklan Altolud.
1) Iklan Tabib Ibu Rizal
Dalam iklan Ale-Ale hanya terdapat satu macam campur kode, yaitu
campur kode kata (CKK). Kata adalah satuan bebas terkecil yang memiliki
satu pengertian atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja), nomina (kata
benda), adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain sesuai
pembagian kata tersebut.
Sakit nich senut…senut… (CKK 29)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata senut adalah kata dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh
seseorang untuk mengungkapkan rasa sakit. Kata tersebut tidak memiliki
padanan kata yang lain dalam bahasa Indonesia. Penggunaan unsur itu hanya
untuk menyangatkan pesan atau ucapan yang disampaikan pengiklan.
Pencampuran kata senut dalam tuturan yang berbahasa dasar bahasa
Indonesia di atas dilatarbelakangi oleh faktor ketidakadaan padanan kata
dalam bahasa Indonesia. Campur kode pada data di atas termasuk dalam
campur kode yang bersifat ke dalam.
2) Iklan BPR Trihasta Prasojo
Dalam iklan BPR Trihasta Prasojo terdapat tiga macam campur kode
yang meliputi campur kode kata (CKK), campur kode baster (CKB), dan
campur kode frasa (CKF). Berikut ini penjelasan masing-masing campur
kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
to user
Buat mantu. (CKK commit
31)
104
105
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
A…h Bapak iki, apa-apa kok andalane BPR Trihasta Prasojo.
(CKK 32)
Bapak itu bener, Buk. (CKK 34)
Jangan-jangan syarate angel. (CKK 35)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Penggunaan kata mantu, iki, bener, dan angel merupakan kata-kata
yang diambil dari bahasa Jawa. Di dalam bahasa Indonesia, kata-kata
tersebut sama maknanya dengan kata punya hajat, ini, benar, dan sulit.
Pencampuran unsur suatu bahasa yang diambil dari bahasa daerah
termasuk dalam campur kode ke dalam. Percampuran kata-kata tersebut
dengan maksud ingin memunculkan suasana akrab dan santai antara
pelaku-pelaku iklan, yaitu antaranggota keluarga. Pencampuran kode
yang bersifat ke dalam di atas disebabkan faktor keinginan untuk
memunculkan suasana kedaerahan dalam tuturan yang disampaikan
pengiklan.
b) Campur kode yang berwujud baster
Baster adalah hasil perpaduan dua unsur bahasa yang membentuk
satu makna. Campur kode yang berwujud baster ditunjukkan pada data di
bawah ini.
A…h Bapak iki, apa-apa kok apa-apa kok andalane BPR Trihasta
Prasojo. (CKB 33)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata andalane di atas merupakan perpaduan dua unsur bahasa dari
dua bahasa yang berbeda, yakni bahasa Indonesia (kata andalan) dan
bahasa Jawa (akhiran /e/). Kata tersebut jika ditulis dalam penulisan yang
baku seharusnya berbunyi andalannya. Pencampuran kode yang bersifat
ke dalam di atas dilatarbelakangi oleh faktor keinginan pengiklan untuk
menciptakan suasana tuturan yang kedaerahan dan terdengar lebih luwes.
c) Campur kode yang berwujud frasa
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Frasa dari bahasa
asing yang muncul pada data di bawah ini memiliki padanan makna
commit
to user
dengan kata ayo dalam bahasa
Indonesia.
105
106
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Kalau gitu let’s go yo, Pak ke BPR Trihasta Prasojo. (CKF 36)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa let’s go mengindikasikan sebuah ajakan dengan penuh
semangat terhadap suatu hal oleh penutur kepada mitra tutur. Frasa
tersebut menunjukkan pencampuran kode yang bersifat ke luar yang
dimaksudkan untuk memberikan kesan modern dan sekedar gengsi.
3) Iklan BPR Weleri Makmur
Dalam iklan BPR Weleri Makmur terdapat dua macam campur kode
yang meliputi campur kode kata (CKK), campur kode baster (CKB), dan
campur kode frasa (CKF). Berikut ini penjelasan masing-masing campur
kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Monggo Mas Suryo. (CKK 37)
Padahal anak saya juga pengen kuliah, tapi saya ini nggak gableg
duit, blas. (CKK 38)
Kayak aku, kredit di BPR Weleri Makmur. (CKK 39)
Lha, BPR Weleri Makmur kuwi alamate mana to, Mas? (CKK 40)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Pencampuran kode berwujud kata pada data di atas termasuk
campur kode yang bersifat ke dalam. Kata monggo, pengen, blas, dan
kuwi dipungut dari bahasa Jawa; sedangkan kata kayak dipungut dari
bahasa Betawi. Kata-kata tersebut secara berurutan memiliki padanan
makna dengan kata silahkan, ingin, sama sekali, seperti, dan itu dalam
bahasa Indonesia. Pencampuran kode di atas dilatarbelakangi faktor
keinginan untuk menghormati mitra tuturnya, ketidakadaan padanan kata,
ketepatan maksud sebuah kata, dan memunculkan suasana kedaerahan.
b) Campur kode yang berwujud baster
Sebelah utara prapatan Warung Pelem itu to? (CKB 41)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Baster yang terbentuk karena perpaduan antara unsur bahasa Jawa
dan bahasa Indonesia di atas merupakan pencampuran kode yang bersifat
ke dalam. Bentuk baster prapatan yang seharusnya berbunyi perempatan
commit to user
106
107
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
didasari oleh faktor keinginan untuk menciptakan kesan tuturan yang
santai, akrab, dan mudah dipahami.
c) Campur kode yang berwujud frasa
Kalo’ nggak gableg duit, ya kredit saja. (CKF 42)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Frasa gableg duit,
hasil adopsi dari frasa bahasa Jawa, mempunyai makna mampu
menghasilkan uang lebih banyak dan lebih cepat. Pencampuran kode di
atas merupakan campur kode ke dalam yang didasari pada faktor
ketepatan dan kemantapan suatu tuturan, serta memberikan suasana
tuturan yang kedaerahan.
4) Iklan PT Sarana Insan Mandiri
Dalam iklan PT Sarana Insan Mandiri hanya ada satu macam campur
kode, yaitu campur kode kata (CKK). Kata fashion pada data di bawah ini
menunjukkan adanya pencampuran kode yang berwujud kata. Kata tersebut
dipungut dari bahasa Inggris yang berarti model.
Perusahaan mainan anak dan fashion di Malaysia Barat. (CKK 43)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Pencampuran kata fashion di atas termasuk dalam campur kode yang
bersifat ke luar. Campur kode ini dimaksudkan untuk memberikan kesan
modern dan menarik.
5) Iklan Altolud
Dalam iklan Altolud hanya ada satu macam campur kode, yaitu campur
kode kata (CKK). Penggunaan kata retailer pada data di bawah ini termasuk
campur kode ke luar, karena kata tersebut diambil dari bahasa Inggris.
Demikian tadi pengumuman khusus untuk Anda yang siap menjadi
kaya dengan menjadi retailer pulsa HP Altolud. (CKK 44)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata retailer memiliki arti penjual eceran. Campur kode yang muncul
pada data di atas didasarkan pada faktor gengsi dan agar tuturan terdengar
commit to user
lebih menarik.
107
108
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
e.
Iklan Produk Obat
Iklan produk obat merupakan iklan yang menawarkan barang-barang atau
produk-produk obat. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan produk obat
di antaranya iklan Bio Activa, iklan Hemaviton Jreng, dan iklan Paramex.
1) Iklan Hemaviton Jreng
Dalam iklan Hemaviton Jreng hanya terdapat satu macam campur
kode, yaitu campur kode kata (CKK). Kata adalah satuan bebas terkecil yang
memiliki satu pengertian atau arti, baik dalam bentuk verba (kata kerja),
nomina (kata benda), adjektiva (kata sifat), maupun bentuk-bentuk yang lain
sesuai pembagian kata tersebut. Penjelasan campur kode yang berwujud kata
dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
Mate ngantuk jadi ngejreng. (CKK 45)
Jreng original dengan energi vitamin C8, Jreng Lemon, Jreng Mangga,
Jreng Anggur. (CKK 46)
Rame-rame minum Jreng yang pake ekstrak ginseng. (CKK 47)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata mate diambil dari bahasa Betawi, kata original diambil dari
bahasa Inggris, dan kata ulang rame-rame diambil dari bahasa Jawa. Ketiga
kata di atas secara berurutan memiliki padanan makna dengan kata mata,
asli, dan ramai-ramai dalam bahasa Indonesia. Pencampuran kode pada data
nomor 45 dan 47 di atas termasuk dalam campur kode yang bersifat ke
dalam, sedangkan pencampuran kode pada data nomor 46 di atas termasuk
dalam campur kode yang bersifat ke luar.
2) Iklan Paramex
Dalam iklan Paramex hanya terdapat satu macam campur kode, yaitu
campur kode kata (CKK). Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini
menunjukkan adanya campur kode berujud kata.
Cenut, cenut sakit kepala. (CKK 48)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata cenut adalah kata hasil pungutan dari bahasa Jawa. Kata tersebut
merupakan kata yang digunakan seseorang untuk mengungkapkan perasaan
atau rasa sakit yang dideritanya.
Dalam
bahasa Indonesia, kata tersebut tidak
commit
to user
108
109
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
memiliki padanan kata. Pencampuran kode diatas termasuk dalam campur
kode yang bersifat ke dalam. Campur kode tersebut disebabkan karena
ketidakadaan padanan kata dalam bahasa Indonesia dan keinginan untuk
menciptakan suasana kedaerahan pada tuturan.
f.
Iklan Produk Kebersihan
Iklan produk kebersihan merupakan iklan yang menawarkan barang-
barang atau alat-alat kebersihan. Iklan-iklan yang termasuk dalam kategori iklan
produk kebersihan meliputi iklan Mama Lemon dan iklan Soklin Softergent.
1) Iklan Mama Lemon
Dalam iklan Mama Lemon terdapat tiga macam campur kode yang
meliputi campur kode kata (CKK), campur kode frasa (CKF), dan campur
kode klausa (CKKl). Berikut ini penjelasan masing-masing campur kode
tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Triple daya cucinya. (CKK 49)
Ssst…ada juga yang Mama Lemon Apple lho. (CKK 50)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata triple dan apple memiliki arti tiga kali dan apel dalam bahasa
Indonesia. Kedua kata di atas dipungut dari kosakata bahasa Inggris.
Pencampuran kata di atas merupakan campur kode ke luar yang didasari
faktor gengsi dan agar terkesan modern, serta menarik.
b) Campur kode yang berwujud frasa
Mama Lemon double extrac lemon. (CKF 51)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Frasa double extrac
merupakan frasa dari bahasa Inggris. Frasa yang dicetak miring di atas
memiliki arti khasiat ganda. Pencampuran kode tersebut termasuk campur
kode yang bersifat ke luar. Campur kode itu disebabkan faktor gengsi dan
kemenarikan tuturan bahasa iklan.
commit to user
109
110
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c) Campur kode yang berwujud klausa
Mama Lemon kini dengan three action cleaning power. (CKKl 52)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Klausa three action cleaning power, dalam bahasa Indonesia,
memiliki arti kekuatan mencuci dengan tiga aksi. Pencampuran kode di
atas termasuk campur kode ke luar yang dilatarbelakangi faktor rasa
gengsi, modern, dan kemenarikan tuturan bahasa iklan.
2) Iklan Soklin Softergent
Dalam iklan Soklin Softergent hanya terdapat satu macam campur
kode, yaitu campur kode kata (CKK). Kata plus pada data di bawah ini
menunjukkan adanya campur kode ke luar. Kata tersebut mempunyai arti
tambah. Pencampuran kode tersebut didasarkan pada faktor gengsi dan
kemenarikan sebuah kata.
Deterjen plus pelembut yang mampu membersihkan tanpa noda,
lembut, dan harumnya terasa di setiap helainya. (CKK 53)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
g.
Iklan Produk Pakaian dan Asesoris
Iklan produk pakaian dan asesoris merupakan iklan yang menawarkan
barang-barang atau produk-produk berupa pakaian dan asesoris. Iklan-iklan yang
termasuk dalam kategori iklan produk pakaian dan asesoris meliputi iklan Arco
Baleno dan iklan Optik Pranoto.
1) Iklan Arco Baleno
Dalam iklan Arco Baleno terdapat dua macam campur kode yang
terdiri dari campur kode kata (CKK) dan campur kode frasa (CKF) dan.
Berikut ini penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Nyidam beli baju batik di Arco Baleno PGS. (CKK 54)
Besok habis ke Arco Baleno PGS di lantai basement di Blok A8-1,
2, dan 3 kita langsung ke Arco Baleno di Jalan Cendrawasih M5
Solo Baru. (CKK 55)
Di Arco Baleno bajunya bagus, harganya nggak bikin getun.
(CKK 56)
commit to user
Kaos dan T-shirt pasangan diskon empat puluh persen. (CKK 57)
110
111
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Keempat kata yang dicetak miring di atas menunjukkan adanya
campur kode kata. Kata nyidam dan getun berasal dari kosakata bahasa
Jawa, sedangkan kata basement dan t-shirt berasal dari kosakata bahasa
Inggris. Kata-kata tersebut secara berurutan memiliki arti menyesal,
dasar, dan kemeja dalam bahasa Indonesia. Pencampuran kode yang
terjadi pada data nomor 54 dan 56 merupakan campur kode ke dalam
dengan latar belakang faktor keinginan untuk menciptakan suasana
tuturan yang kedaerahan, sedangkan pencampuran kode yang terjadi pada
data nomor 55 dan 57 merupakan campur kode ke luar dengan latar
belakang faktor gengsi, terkesan modern, dan kemenarikan sebuah kata.
b) Campur kode yang berwujud frasa
Arco Baleno memang terkenal dengan modelnya yang up to date,
Koko. (CKF 58)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik
dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat. Frasa up to date
yang berasal dari bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia, berarti terbaru.
Frasa asing di atas mengindikasikan adanya campur kode yang bersifat ke
luar. Campur kode tersebut didasarkan pada faktor gengsi, kemenarikan
dan kemodernan sebuah kata.
2) Iklan Optik Pranoto
Dalam iklan Optik Pranoto terdapat dua macam campur kode yang
meliputi campur kode kata (CKK), dan campur kode frasa (CKF). Berikut ini
penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Lagi ada promo softlense lho. (CKK 59)
Disposable warna brilian dari seratus delapan puluh lima ribu jadi
seratus tiga puluh lima ribu. (CKK 60)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Peristiwa campur kode di atas merupakan campur kode ke luar.
Unsur bahasa asing yang berupa kata softlense dan disposable masingcommit to user
masing memiliki arti lensa lunak dan tersedia. Penyisipan ini dilakukan
111
112
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
untuk menarik khalayak terhadap iklan yang ditawarkan dan untuk
sekedar gengsi.
b) Campur kode yang berwujud frasa
Disposable warna funky tones dan disposable frequency dari seratus
tiga puluh lima ribu jadi seratus ribu. (CKF 61)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa funky tones dan disposable frequency diambil dari bahasa
Inggris. Frasa tersebut menunjukkan adanya campur kode ke luar.
Pencampuran kode di atas dimaksudkan untuk sekedar bergengsi,
terdengar modern, dan menarik.
h.
Iklan Produk Kendaraan
Iklan produk kendaraan merupakan iklan yang menawarkan barang-barang
atau produk-produk kendaraan, seperti motor, mobil, dan truk. Iklan yang
termasuk dalam kategori iklan produk kendaraan hanya ada satu, yaitu iklan Pusat
Jaya Harpindo Jaya Grup.
1) Iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup
Dalam iklan Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup terdapat dua macam
campur kode yang terdiri dari campur kode kata (CKK) dan campur kode
frasa (CKF). Berikut ini penjelasan masing-masing campur kode tersebut.
a) Campur kode yang berwujud kata
Halo man, apa kabar? (CKK 63)
Kredit gampang. (CKK 64)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Kata sapaan bahasa Inggris man yang memiliki arti sebutan bagi
orang laki-laki, merupakan peristiwa campur kode ke luar. Penggunaan
kata sapaan ini agar terkesan bergengsi dan terdengar keren. Sementara
itu, pada data nomor 64 muncul campur kode ke dalam. Hal itu
ditunjukkan dengan penggunaan kata gampang yang memiliki arti mudah
dalam bahasa Indonesia. Pencampuran kode tersebut dimaksudkan untuk
menciptakan suasana tuturan yang kedaerahan dan mudah dimengerti
pendengar.
commit to user
112
113
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
b) Campur kode yang berwujud frasa
Pusat Jaya Harpindo Jaya Grup, Yamaha Center pertama di
Indonesia yang menyediakan lebih lengkap segala tipe motor
Yamaha. (CKF 65)
Bahasa dasar : bahasa Indonesia
Frasa Yamaha Center memiliki arti Pusat Yamaha. Penggunaan
frasa tersebut dimaksudkan untuk gengsi, menimbulkan kesan modern,
terdengar keren, dan terkesan lebih menarik. Campur kode di atas
termasuk dalam campur ke luar.
4. Wujud Alih Kode
Alih kode adalah suatu peristiwa peralihan dari bahasa yang satu ke bahasa
yang lain. Analisis alih kode yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
pemakaian bahasa Indonesia ke bahasa lain atau peralihan dari bahasa lain ke
penggunaan bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa iklan yang disiarkan oleh Radio
JPI tidak hanya menggunakan kata-kata dari bahasa Indonesia, tetapi juga katakata dari bahasa lain. Dari 26 data iklan, terdapat 8 iklan yang menampilkan alih
kode. Analisis alih kode yang terdapat dalam data iklan komersial di radio dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a.
Iklan Colombus
Penutur
: si A
Mitra tutur
: si B
Topik pembicaraan
: perabotan kuno
Tujuan pembicaraan : saling mengingatkan
Situasi pembicaraan
: di rumah, informal, dan santai
Data Alih Kode (AK 1) :
A : “Kulo nuwun…”
B : “Monggo, monggo…”
A : “Eh Bu, kok perabotane dari dulu kok nggak ganti-ganti to, Bu. I…ih,
kuno banget lho, Bu.”
B : “Perabotan sekarang mahal-mahal.”
Wacana iklan Colombus berupa wacana dialog yang diperankan oleh dua
commit
to user
orang pemeran iklan dan seorang
narator.
Pada dialog di atas menampilkan
113
114
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
adanya alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Dialog tersebut diawali
penutur dengan menggunakan kata sapaan bahasa Jawa, yakni kulo nuwun. Mitra
tutur, dengan latar kebahasaan yang sama, menanggapi sapaan tersebut dengan
menggunakan bahasa Jawa pula. Penggunaan kalimat sapaan dalam bahasa Jawa
dimaksudkan agar terkesan lebih akrab dan saling menghormati antara si A dan si
B (pelaku iklan), serta lebih terdengar santai di telinga pendengar.
Pada saat si A memulai pembicaraan inti, dia beralih kode dari bahasa
Jawa ke bahasa Indonesia dialek Jakarta. Peralihan kode ini termasuk dalam alih
kode yang bersifat intern atau ke dalam. Alih kode yang ditampilkan di atas
dilatarbelakangi oleh faktor topik pembicaraan.
b.
Iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi
Penutur
: si A (bapak)
Mitra tutur
: si B (ibu)
Topik pembicaraan
: rumah berkanopi
Tujuan pembicaraan : meminta pendapat
Situasi pembicaraan
: di rumah, informal, dan santai
Data Alih Kode (AK 2) :
A : “Gimana Bu, setelah teras kita ada kanopinya?”
B : “Bagus ya Pak. Eyup. Rumah kita terlihat makin cantik.”
Wacana iklan Purnama Steel Kanopi Kanopi berupa wacana dialog yang
diperankan oleh dua orang pemeran iklan dan seorang narator. Pada dialog di atas
menampilkan adanya alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Dialog
tersebut diawali penutur dengan menggunakan tuturan berupa kalimat pertanyaan
dari bahasa Indonesia ragam santai. Pertanyaan tersebut dijawab si B atau mitra
tutur dengan bahasa Indonesia pula, namun pada kalimat berikutnya mitra tutur
mulai melakukan alih kode. Peralihan kode tersebut ditunjukkan dengan kata
eyup. Peralihan di atas termasuk dalam alih kode ke dalam (intern) yang
dilatarbelakangi faktor mitra tutur. Karena sama-sama memiliki latar kebahasaan
yang sama, yakni bahasa Jawa, maka mitra tutur melakukan alih kode tersebut.
commit to user
114
115
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c.
Iklan Meubel Jempol
Penutur
: si A
Mitra tutur
: si B
Topik pembicaraan
: keinginan membeli tempat tidur
Tujuan pembicaraan : menasehati untuk berhati-hati
Situasi tuturan
: informal dan santai
Data Alih Kode (AK 3) :
A : “Wa…h, habis dapat arisan ni, Kang. Pingin beli tempat tidur baru.
Tadi itu ada orang yang ke sini nawarin. Harganya murah-murah lho,
Kang.”
B : “Ati-ati lho, Yu.”
Wacana iklan Meubel Jempol berbentuk dialog dengan tanpa narator
diperankan oleh dua orang, yakni si A dan si B. Latar cerita dalam iklan tersebut
dibuat sesantai mungkin dengan ditandai adanya penggunaan kata panggilan Kang
(saudara atau kakak laki-laki) dan Yu (saudara atau kakak perempuan). Pada awal
dialog, si A sebagai penutur membuka pembicaraan dengan menggunakan bahasa
Indonesia ragam santai. Penutur menyampaikan keinginannya untuk membeli
tempat tidur baru karena baru saja mendapat arisan. Sebagai mitra tutur yang
memiliki latar kebahasaan yang sama dengan penutur, si B menanggapi ucapan si
A dengan menggunakan bahasa Jawa. Tanggapan yang diutarakannya hanya
sekedar peringatan atau nasihat untuk berhati-hati kalau membeli tempat tidur.
Hal ini ditunjukkan dengan kalimat ati-ati lho, Yu di atas. Peralihan kode yang
dilakukan oleh si B sebagai mitra tutur termasuk dalam alih kode yang bersifat ke
dalam.
d.
Iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan
Penutur
: Bu Ani
Mitra tutur
: Jeng Tatik
Topik pembicaraan
: perasaan tidak puas
Tujuan pembicaraan : mempertanyakan rasa keheranannya
Situasi tuturan
: di sebuah pasar, informal, dan santai
commit to user
115
116
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Data Alih Kode (AK 4) :
Bu Ani
Jeng Tatik
: “Itu lho, Jeng. Bapaknya anak-anak masak dikasih tiap
hari kok nggak pernah puas.”
: “Opo? Nggak pernah puas?”
Wacana iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan berbentuk dialog dengan
disertai seorang narator. Iklan tersebut diperankan oleh dua orang, yakni si A dan
si B. Dalam wacana iklan Teh Cap Nyapu Pekalongan muncul dua peristiwa alih
kode yang berlatarbelakang mitra tutur. Pada data nomor 4 di atas, bu Ani sebagai
penutur menggunakan bahasa Indonesia ragam santai. Penutur menceritakan
ketidakpuasaan suaminya yang dianggapnya sudah keterlaluan. Si B, sebagai
mitra tutur, menanggapi tuturan penutur tersebut dengan menggunakan bahasa
Jawa berupa kalimat tanya Opo?. Tanggapan tersebut mitra tutur lanjutkan dengan
penggunaan bahasa Indonesia ragam santai. Peralihan kode yang mitra tutur
lakukan pada data di atas, dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, merupakan alih
kode yang bersifat ke dalam.
Data Alih Kode (AK 5) :
Bu Ani
Jeng Tatik
Bu Ani
: “Teh Cap Nyapu Pekalongan? Belinya dimana to, Jeng?”
: “Ya di warung-warung, di toko-toko. Semua ada kok.
Coba dech, pasti nyes.”
: “Oo… ho oh, ho oh.”
Masih dalam iklan yang sama, alih kode kedua muncul pada dialog
selanjutnya. Data dengan nomor 5 di atas merupakan data alih kode yang bersifat
ke dalam. Penutur dalam tuturannya menggunakan bahasa Indonesia ragam santai
dan ditanggapi mitra tutur dengan bahasa Indonesia ragam santai pula. Pada
tuturan yang dilakukan penutur berikutnya, dia menggunakan bahasa Jawa dalam
bentuk kalimat pernyataan setuju. Pada data di atas, peralihan kode tersebut
ditunjukkan dengan kalimat Oo… ho oh, ho oh.
e.
Iklan Tabib dr. Nita, MA.
Penutur
: si A
Mitra tutur
: si B
commityang
to user
: penyakit
pernah diderita kambuh
Topik pembicaraan
116
117
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Tujuan pembicaraan : memberikan informasi pengobatan alternatif
Situasi pembicaraan
: di rumah, informal, dan santai
Data Alih Kode (AK 6) :
A : “Jam semene isih kemul sarung, klumbrak-klumbruk. Jane ki yo gene
to, Mbak, Mbak?”
B : “Iki lho… ambeienku kumat.”
A : “Gampang, Mbak. Nyang nggone wae dr. Nita, M. A. Mesti beres…”
Narator : Tabib Nita, M. A. ahli mengobati penyakit kewanitaan. Kanker
payudara, keputihan separah apapun satu minggu sembuh total, ingin
keturunan dua sampai tiga kali terapi langsung hamil.
Pada dialog di atas menampilkan adanya alih kode dari bahasa Jawa ke
bahasa Indonesia. Dalam iklan di atas, pembicaraan yang dilakukan antara si A
dan si B menggunakan bahasa Jawa. Pada saat narator mulai berdialog, dia
melakukan alih kode ke bahasa Indonesia ragam resmi. Peralihan kode ini
dilatarbelakangi faktor topik pembicaraan. Dialog yang diucapkan narator berupa
topik tentang penjelasan pengobatan alternatif yang diiklankan.
f.
Iklan BPR Trihasta Prasojo
Penutur
: si A (ibu)
Mitra tutur
: si B (bapak)
Topik pembicaraan
: butuh dana
Tujuan pembicaraan : memberikan informasi tempat kredit
Situasi tuturan
: di rumah, informal, dan santai
Data Alih Kode (AK 7) :
A : “Wa…h Pak, kita butuh dana banyak lho, Pak. Buat mantu.”
B : “Tenang saja, Buk. Kita ambil kredit di BPR Trihasta Prasojo saja.
Piye?”
Wacana iklan BPR Trihasta Prasojo berupa dialog yang diperankan oleh
tiga pelaku iklan dengan tanpa narator. Pada tuturan di atas menampilkan adanya
alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Peralihan ini termasuk dalam alih
kode yang bersifat intern atau ke dalam. Alih kode yang ditampilkan di atas
dilatarbelakangi oleh faktor mitra tutur. Antara penutur dengan mitra tutur,
commit
user yaitu bahasa Jawa. Hal ini dapat
keduanya memiliki latar kebahasaan
yangtosama,
117
118
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dilihat dari suasana dialog yang coba ditampilkan pengiklan, yaitu setting
keluarga. Dengan latar kebahasaan yang sama di atas, memungkinkan penutur dan
mitra tutur beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa atau sebaliknya.
Data Alih Kode (AK 8) :
B : “Angel piye to? Syaratnya ya umum saja. Fotokopi KTP suami istri dan
KK yang masih berlaku, fotokopi surat nikah, slip gaji, jaminan BPKB
dan SHM. Lebih detail lagi ya ke BPR Trihasta Prasojo saja.”
Pada dialog di atas, alih kode kembali muncul. Peralihan kode dilakukan
dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Kalimat angel piye to? memiliki arti sulit
bagaimana to? dalam bahasa Indonesia. Peralihan di atas termasuk dalam alih
kode ke dalam yang dilatarbelakangi oleh topik pembicaraan. Bahasa Jawa
digunakan untuk dialog dengan topik pembicaraan yang santai antarkeluarga,
sedangkan bahasa Indonesia digunakan untuk dialog dengan topik pembicaraan
tentang informasi penting dari produk yang diiklankan.
Data Alih Kode (AK 9) :
A
: “Biar kreditnya cepet cair. Aku selak pingin mantu.”
Peralihan kode ketiga yang dimunculkan dalam iklan BPR Trihasta Prasojo
dilatarbelakangi oleh faktor topik pembicaraan. Pada awal kalimat penutur
menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan keunggulan produk yang
diiklankan, sedangkan pada kalimat berikutnya penutur menggunakan bahasa
Jawa untuk menyampaikan keinginannya mengadakan hajatan secepat-cepatnya.
Peralihan di atas termasuk dalam alih kode yang bersifat ke dalam atau intern.
g.
Iklan BPR Weleri Makmur
Penutur
: Mas Cahyo
Mitra tutur
: Mas Suryo
Topik pembicaraan
: mengantar kuliah
Tujuan pembicaraan : menanyakan tujuan pergi
Situasi tuturan
: di jalan, informal, dan santai
Data Alih Kode (AK 10) :
Mas Cahyo : “Monggo Mascommit
Suryo.”
to user
Mas Suryo : “E…h Mas Cahyo. Mau kemana?”
118
119
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Mas Cahyo : “Mau nganter anakku, si Danang, masuk kuliah.”
Wacana iklan BPR Weleri Makmur diperankan oleh dua orang pelaku
dengan tanpa narator. Wacana iklan di atas berbentuk dialog. Dialog tersebut
diawali dengan penggunaan bahasa Jawa berupa sapaan yang dilakukan oleh
penutur. Selanjutnya, dialog dilakukan oleh mitra tutur yang menggunakan bahasa
Indonesia. Pada tuturan berikutnya, penutur beralih kode menggunakan bahasa
Indonesia ragam santai. Peralihan yang muncul pada data di atas merupakan alih
kode ke dalam. Alih kode tersebut dilatarbelakangi faktor topik pembicaraan,
yakni dari topik yang ringan hanya sekedar sapaan berubah ke topik tentang
kuliah.
h.
Iklan Hemaviton Jreng
Data Alih Kode (AK 11) :
Jreng, jreng, ya Hemaviton Jreng.
Jreng segarnya, jreng staminanya.
Hehehe… ape gue kate.
Jreng segarnya, jreng khasiatnya.
Iklan Hemaviton Jreng merupakan iklan wacana monolog. Pada iklan ini
muncul alih kode yang bersifat ke dalam, yakni bahasa Indonesia ke bahasa
Betawi. Pengalihan tersebut ditandai dengan penggunaan kalimat ape gue kate.
Kalimat tersebut merupakan kalimat tuturan dari bahasa Betawi. Pengalihan di
atas dilatar belakangi faktor humor, yaitu agar tuturan lebih terdengar lucu dan
menarik pendengar atau sasaran iklan.
commit to user
119
120
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang karakteristik
pemakaian bahasa iklan komersial di radio pada bab sebelumnya, maka peneliti
dapat simpulkan sebagai berikut.
1. Karakteristik diksi yang muncul dalam bahasa iklan komersial di radio
meliputi: a) pemakaian kata-kata gaul, b) pemakaian kata-kata asing,
c) pemakaian kata bersinonim, d) pemakaian kata khusus, e) pemakaian katakata daerah, dan f) pemakaian kata bermakna konotasi. Pemakaian kata-kata
tersebut didasarkan pada jenis produk yang diiklankan, daerah asal pendengar,
usia pendengar, dan keinginan pengiklan untuk menyampaikan pesan atau
informasi iklannya dengan bahasa yang komunikatif, terkesan modern dan
gaul, serta mudah dimengerti pendengar. Pemakaian lima karakteristik diksi
tersebut dikarenakan diksi-diksi di atas mampu menampilkan bahasa iklan
komersial yang mudah dipahami pendengar, cocok dengan jenis produk
iklannya, dan mampu menyampaikan pesan iklan tepat sasaran dan tujuan.
Sementara itu, gaya bahasa yang muncul dalam iklan komersial di radio
meliputi: a) gaya bahasa metonimia, b) gaya bahasa polisidenton, c) gaya
bahasa asidenton, d) gaya bahasa eksklamasio, e) gaya bahasa klimaks, f) gaya
bahasa interupsi, g) gaya bahasa hiperbola, dan h) gaya bahasa alusio.
Pemakaian gaya bahasa tersebut didasarkan pada jenis produk yang
diiklankan, bentuk wacana iklan, pendengar yang menjadi sasaran iklan, dan
kebiasaan-kebiasaan pendengar. Pemakaian delapan gaya bahasa tersebut
dikarenakan gaya bahasa di atas mampu memberikan nilai rasa bahasa
tersendiri dalam iklan dan mampu memunculkan makna pesan yang
disampaikan pengiklan, baik langsung maupun tak langsung.
2. Wujud campur kode yang muncul dalam iklan komersial di radio meliputi:
a) campur kode berwujud kata, b) campur kode berwujud frasa, c) campur
userberwujud klausa. Wujud alih kode
kode berwujud baster, dan d) commit
campur to
kode
120
121
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dalam iklan komersial di radio bersifat ke dalam atau intern yang meliputi
bahasa Jawa, dialek Jakarta, dan bahasa Betawi. Alih kode dalam iklan
komersial di radio dilatarbelakangi oleh faktor penutur, mitra tutur, topik
pembicaraan, dan membangkitkan rasa humor.
B. Implikasi
Implikasi adalah konsekuensi logis dari simpulan. Hasil penelitian ini,
tentunya, berimplikasi pada pemakaian bahasa iklan di radio. Selain itu, hasil
penelitian ini juga berimplikasi terhadap pengajaran bahasa Indonesia. Implikasi
terhadap pemakaian bahasa iklan ditunjukkan dengan adanya pemakaian diksi,
gaya bahasa, campur kode, dan alih kode yang memiliki karakteristik tertentu.
Bertolak pada fungsi bahasa itu sendiri, penelitian ini memberikan gambaran
bahwa fungsi bahasa sebagai gejala budaya bersifat dinamis. Bahasa akan tumbuh
dan berkembang sejalan dengan meningkatnya keanekaragaman pemakaian
bahasa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan, salah satunya adalah
pemakaian bahasa Indonesia dalam dunia periklanan. Penggunaan bahasa yang
dioptimalkan dengan baik dan tepat dalam setiap ranah akan menghasilkan suatu
karya bahasa yang menarik, komunikatif, senantiasa berkembang, dan bermanfaat
bagi kehidupan manusia. Dalam arti, manfaat penggunaan bahasa Indonesia tidak
hanya terbatas pada keperluan yang fungsional dan mendasar, akan tetapi mampu
dikembangkan dalam penerapan pengetahuan bahasa di berbagai bidang.
Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan dalam pengajaran bahasa
Indonesia khususnya mengenai diksi, gaya bahasa, campur kode, dan alih kode.
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan materi ajar tentang
perbendaharaan kata, macam-macam gaya bahasa, dan pemanfaatan bahasa
Indonesia kepada siswa, sehingga minat dan apresiasi untuk belajar bahasa akan
meningkat. Hal ini sesuai dengan salah satu kompetensi dasar yang tercantum
dalam kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia SMP, yakni siswa mampu menulis
naskah iklan dengan bahasa yang efektif, baik, dan benar.
Semakin banyak siswa dihadapkan pada hasil karya yang tidak sekedar
commit bahasa
to user akan semakin meningkat. Selain
teoretis, maka apresiasi siswa terhadap
121
122
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
itu, penelitian ini akan memberikan wawasan kepada siswa tentang pemilihan
diksi dan pemakaian gaya bahasa pada bidang periklanan, sehingga mampu
menumbuhkan kreativitas berbahasa. Semakin banyak siswa mengetahui fungsi
dan peranan pemakaian bahasa Indonesia, maka semakin tinggi apresiasi siswa
terhadap bahasa.
Karakteristik pemakaian diksi, gaya bahasa, campur kode, dan alih kode
tidak hanya ditemukan dalam iklan komersial di radio, tetapi juga dapat
ditemukan pada iklan yang ada di media cetak dan elektronik lainnya dengan
berbagai variasi dan jenis iklannya. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat
dijadikan bahan penunjang bagi penelitian-penelitian yang lain.
C. Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi di atas, peneliti dapat kemukakan
beberapa saran di antaranya:
1. kepada praktisi periklanan
Bahasa yang dipakai dalam iklan harus mengarahkan target audience
untuk membeli, menggunakan, atau beralih pada produk maupun jasa yang
diiklankan. Gaya bahasa yang dipakai harus disesuaikan dengan siapa ia
berbicara, bagaimana kebiasaan perilaku, dan di mana mereka berada.
Penggunaan bahasa yang tidak efektif menyebabkan pesan yang ingin
disampaikan kepada konsumen menjadi tidak tepat sasaran. Namun, pilihan kata
yang dipilih harus dapat memberi ketepatan makna karena pada masyarakat
tertentu sebuah kata sering mempunyai makna yang baik dan pada masyarakat
yang lain memberikan makna yang kurang baik. Penggunaan bahasa harus
disesuaikan dengan norma kebahasaan suatu kalangan.
2. kepada peneliti bahasa
Bahasa yang digunakan dalam iklan, baik iklan di media massa maupun
iklan di media elektronik, seringkali tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang baik
dan benar. Peneliti bahasa hendaknya mampu memberikan penelaahan bahasa
iklan yang mendalam untuk berbagai jenis iklan dan media penyampaiannya, agar
commit to user
122
123
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
masyarakat tidak mudah tertipu dan mendapatkan pemahaman yang positif
tentang bahasa iklan.
3. kepada pihak radio
Bahasa iklan komersial yang disiarkan melalui salah satu media
elektronik, yakni radio, memiliki ragam maupun bentuk penyampaian iklan yang
berbeda dengan media elektronik lainnya. Iklan di radio lebih menitikberatkan
pada pemakaian bahasa dan unsur suara atau efek suara pendukung iklan. Oleh
karena itu, penyampaian iklan khususnya iklan komersial harus mampu
menampilkan nilai tambah kepada pendengarnya dibanding iklan yang
disampaikan lewat media yang lain.
commit to user
123
124
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1998. Semantik. Bandung: Sinar Baru.
Aminuddin, dkk. 1990. Penelitian Kualitatif dalam Bahasa dan Sastra. Malang:
Yayasan Asah Asih Asuh.
Bahasa Prokem Indonesia Ensiklopedia Bebas. http://id.wikipedia.org (diakses
pada hari Senin, 21 Juni 2010).
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Darmawan, Ferry. 2006. “Posmodernisme Kode Visual dalam Iklan Komersial”.
Jurnal Komunikasi Mediator.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
_________, Pusat Bahasa. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 1: Pengantar Ke Arah Ilmu Makna.
Bandung: Eresco.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2009. Pedoman Penulisan Skripsi.
Surakarta: UNS.
Frank, Jefkins. 1996. Periklanan. Jakarta: Balai Pustaka.
Halliday, M. A. K. dan Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspekaspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Terjemahan Asruddin
Barori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Husein, Junus dan Arifin Banasuru. 1996. Bahasa Indonesia Tinjauan Sejarahnya
dan Pemakaian Kalimat yang Baik dan Benar. Surabaya: Usaha Nasional.
Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di
Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama.
Keraf, Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
commit to user
124
125
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Lestari, Sri. 2001. Karakteristik Bahasa Iklan di Majalah Remaja. Skripsi.
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni UNS, Surakarta.
Liliweri, Alo. 1992. Dasar-dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: PT Citra
Aditya Bakti.
Moeleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.
Nababan, P. W. J. 1993. Sosiolinguistik. Jakarta: Gramedia.
Nasution, S. 2002. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Purwo, Bambang Kaswanti (Ed). 1989. “Sosiolinguistik Suatu Pengantar” Pellba
2. Jakarta: Gramedia.
Purwoko, Herudjati. 2008. Jawa Ngoko: Ekspresi Komunikasi Arus Bawah.
Jakarta: PT Macanan Jaya Cemerlang.
Rahmadi, F. 1994. Public Relation dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Gramedia
Pustaka.
Rustamaji, dkk. 2003. Panduan Belajar Bahasa Indonesia. Surakarta: Primagama.
Saleh, Chaerul. 2006. September 15. Bahasa Gaul Gitu Looh… . Kompas. 50.
Saddhono, Kundharu. 2007. Oreng Madure dan Wong Solo (Fenomena Integrasi
Linguistik Kultural). Surakarta: UNS Press.
Saragih, Ferdinaen. 2010. Menyoal Bahasa “Gaul”. http://oase.kompas.com
(diakses pada hari Senin, 21 Juni 2010).
Subroto, D. Edi. 1997. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural.
Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.
Sudiana, Dendi. 1986. Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung: Remadja Karya.
Sulistyaningtyas, Tri. 2008. “Diksi dalam Wacana Iklan Berbahasa Indonesia”
Jurnal Sosioteknologi. Tahun ke-7, No. 15: 495-502.
Sumarsono dan Paina Partana. 2002.
Sosiolinguistik.
Yogyakarta: SABDA.
commit
to user
125
126
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Susilo, Wahyu Hastho. 2007. Pilihan Bahasa dalam Iklan Televisi. Skripsi.
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES, Semarang.
Sustiyanti. 2000. Pemakaian Bahasa Indonesia pada Wacana Iklan Majalah.
Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni UNS, Surakarta.
Sutopo, H. B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Suwito. 1997. Sosiolinguistik. Surakarta: UNS Press.
Ullman, Stephen. 2007. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Verhaar, J. W. M. 2008. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Wahab, Abdul. 1995. Teori Semantik. Surabaya: Airlangga University Press.
Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2008. Semantik (Teori dan
Analisis). Surakarta: Yuma Pustaka.
commit to user
126
Download