Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Laut

advertisement
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Wilayah Pesisir dan Laut
Wilayah pesisir dan laut meliputi wilayah daratan dan lautan dengan
karakteristik yang khas. Banyak pendapat yang berbeda dalam menetapkan batas
wilayah pesisir dan laut. Pendapat yang ekstrim mengatakan, wilayah pesisir dan
laut meliputi kawasan yang sangat luas, dimulai dari batas lautan terluar (zona
ekonomi eksklusif, ZEE) sampai daratan yang masih dipengaruhi oleh iklim laut.
Pendapat ekstrim lainnya mengatakan, wilayah pesisir dan laut hanyalah sebuah
kawasan yang sangat sempit, dimulai dari pasang tertinggi sampai 200 m ke arah
darat; sedangkan ke arah laut sampai dengan garis pantai pada saat surut terendah.
Dalam konteks interaksi daratan-lautan, Joseph dan Balchand (2000) mengatakan,
bahwa wilayah pesisir dan laut merupakan perluasan dataran pantai sampai bibir
luar paparan benua (continental shelf), daerah yang selalu tergenang selama
fluktuasi muka air laut terjadi.
Untuk kepentingan pengelolaan, Dahuri et al. (2004) menyarankan batas
wilayah pesisir dan laut yang dipandang dari dua pendekatan. Dari pendekatan
perencanaan (planning zone), wilayah pesisir dan laut meliputi seluruh daratan
(hulu) di mana terdapat kegiatan manusia yang masih menimbulkan dampak
secara nyata terhadap lingkungan dan sumberdaya pesisir. Dari sudut pandang
pengaturan
(regulation
zone)
atau
pengelolaan
sehari-hari
(day-to-day
management), wilayah pesisir dan laut ditetapkan sesuai dengan wilayah
kewenangan yang disepakati bersama di antara otoritas pengelola. Wilayah
pengaturan selalu lebih kecil dan berada di dalam wilayah perencanaan.
Wilayah pesisir dan laut merupakan sistem yang kompleks; di dalamnya
terjadi interaksi berbagai proses: alami (misalnya hidrologi dan geomorfologi),
sosial, budaya, ekonomi, administrasi dan pemerintahan (French, 2004). Dalam
perspektif ekonomi-ekologi, wilayah pesisir dan laut merupakan sistem yang
dicirikan oleh adanya interrelasi secara fisik, biokimia dan sosial-ekonomi
(Turner, et al., 1998). Kompleksitas sistem baik dari aspek sosial, ekonomi,
maupun biofisik inilah yang menandai keunikan wilayah pesisir dan laut (Dahuri,
1999). Wilayah pesisir dan laut juga dikenal karena keunikan historis dan
arkeologisnya (Meulen dan Haes, 1996).
Karena posisinya yang berada di daerah perbatasan antara daratan dan
lautan, wilayah pesisir dan laut memiliki kondisi lingkungan yang sangat
beragam. Faktor-faktor biofisik yang menyusun keunikan wilayah ini ditunjukkan
dengan sangat nyata, misalnya tingkat elevasi (rendah-sedang-tinggi), jenis air
(asin-payau-tawar), tingkat pasang-surut dan jenis tanah (pasir-tanah liat).
Dijumpai banyak bukit pasir (sand dunes) dan jenis tumbuhan asli (indigenous)
pantai di wilayah ini. Kebanyakan dari jenis-jenis tumbuhan itu bersifat endemik.
Karena keunikan ini, wilayah pesisir dan laut dinilai penting dalam konteks
konservasi. Clark (1998) menilai perlindungan terhadap kekayaan sumberdaya
wilayah pesisir pada sisi wetside (lautan) perlu dilakukan melalui kontrol terhadap
pemanfaatan sumberdaya yang berada pada sisi dryside (daratan).
Wilayah pesisir dan laut juga memiliki nilai penting dalam konteks sosialekonomi. Sekitar 70% penduduk dunia tinggal di wilayah pesisir (MacDonald,
2005). Berbagai aktivitas ekonomi penting penduduk dunia seperti permukiman,
industri, pertanian dan pariwisata yang terkonsentrasi di wilayah pesisir telah
memberikan dampak pada terjadinya peningkatan kepadatan penduduk secara
signifikan (Tol et al., 1996; Joseph dan Balchand, 2000). Pariwisata sebagai salah
satu sektor penting penyangga ekonomi dunia, bahkan menempatkan wilayah
pesisir dan laut sebagai salah satu daerah tujuan wisata paling dominan. Aktivitas
industri dan permukiman yang intensif telah mendorong wilayah pesisir dan laut
berkembang menjadi wilayah dengan dinamika yang semakin besar di masa yang
akan datang. Wilayah pesisir dan laut memiliki tingkat kelimpahan sumberdaya
yang tinggi namun sarat dengan berbagai kepentingan yang berbeda. Kondisi ini
cenderung menyimpan potensi konflik yang besar, yang apabila tidak dikelola
dengan baik (mismanagement), akhirnya akan membawa kerugian baik secara
ekonomi maupun ekologi (Aguero et al., 1996).
Pengelolaan wilayah laut berkaitan erat dengan kebijakan nasional masingmasing negara. Lautan merupakan kesatuan dari permukaan, kolom air, sampai ke
dasar dan bawah dasar laut. Dasar hukum yang digunakan oleh negara-negara
pantai dalam menentukan batas wilayah laut adalah Konvensi Hukum Laut PBB
1982 (UNCLOS 1982). Menurut konvensi ini, sebuah negara memiliki
kewenangan untuk mengeksploitasi sumberdaya (seperti minyak dan gas bumi,
perikanan dan berbagai bahan tambang lainnya) yang berada di dalam zona yang
diatur di dalam konvensi tersebut.
2.2 Potensi dan Permasalahan Wilayah Pesisir dan Laut
2.2.1 Sumberdaya Dapat Pulih (Renewable Resources)
Dunia yang kini berada dalam pertumbuhan ekonomi yang pesat, perlu
mengimbangi diri dengan melakukan konservasi terhadap berbagai ekosistem
alami yang masih tersisa. Perlindungan ekosistem dan pemanfaatan sumberdaya
pesisir dan laut secara berkelanjutan kini menjadi issue penting yang mendapat
perhatian besar para ilmuwan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang
semakin pesat (Joseph dan Balchand, 2000).
Wilayah pesisir dan laut memiliki ekosistem alami yang perlu dijaga
kelestariannya, di antaranya adalah mangrove, terumbu karang (coral reefs),
padang lamun (seagrass beds) dan estuaria. Sumberdaya pesisir dan laut
merupakan penghasil beragam produk dan jasa bernilai ekonomi tinggi, baik bagi
generasi sekarang maupun yang akan datang (Turner et al., 1998). Pengalaman
selama ini menunjukkan, bahwa konservasi terhadap berbagai ekosistem alami
yang dilakukan secara terpadu bukan saja menguntungkan secara ekologi tapi juga
secara ekonomi dan sosial (Clark, 1998).
Ekosistem pesisir dan laut di daerah tropis mempunyai potensi besar dalam
menunjang produksi perikanan. Tingginya produktivitas perairan pada ekosistem
ini mengakibatkan ekosistem seperti mangrove, terumbu karang, padang lamun
dan estuaria merupakan habitat penting bagi berbagai jenis ikan. Ekosistem ini
berfungsi sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery
ground) dan sebagai tempat mencari makan atau pembesaran (feeding ground)
(Supriharyono, 2002).
Sebagai ekosistem yang memiliki produktivitas tinggi, ekosistem mangrove
berlokasi di daerah antara level pasang-naik tertinggi sampai level di sekitar atau
di atas permukaan air laut. Bell dan Cruz-Trinidad (1996) mengatakan, bahwa
mangrove memiliki peranan penting baik secara ekonomi maupun ekologi.
Ekosistem mangrove menghasilkan produk dan jasa yang bisa dieksplotasi secara
ekonomi. Ekosistem mangrove juga memiliki fungsi ekologi penting, yakni dalam
hal penyediaan material organik sebagai bahan nutrisi bagi udang/ikan yang masih
muda, retensi sedimen oleh sistem perakaran mangrove, pencegahan erosi,
perlindungan garis pantai dan penyedia habitat bagi banyak spesies akuatik di
dataran lumpur dan perakarannya.
Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang unik. Ekosistem ini
dijumpai di daerah tropik, di perairan yang cukup dangkal (kedalaman kurang dari
30 m) dan suhu di atas 20ºC. Menurut Widiati (2000), ekosistem terumbu karang
berperan penting sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan dan biota laut yang
bernilai ekonomi tinggi; juga sebagai pelindung pantai dari hantaman gelombang,
sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya abrasi. Agar bisa tumbuh dengan
baik, terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, suhu perairan yang
hangat, gelombang yang besar, sirkulasi air yang lancar dan terbebas dari proses
sedimentasi (Dahuri et al., 2004).
Seperti terumbu karang, ekosistem padang lamun juga dijumpai hanya di
laut dangkal. Tumbuhan lamun dinilai unik bila dibandingkan dengan tumbuhan
laut lainnya, karena perakarannya yang ekstensif dengan sistem rhizome. Daunnya
yang tumbuh lebat bermanfaat untuk mendukung tingginya produktivitas
ekosistem (Supriharyono, 2002). Ekosistem padang lamun berperan penting
dalam memerangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar dan
menjernihkan air. Pola distribusi padang lamun sangat dipengaruhi oleh kondisi
alam dan aktivitas manusia (Cunha et al., 2005). Ekosistem padang lamun
menyediakan habitat penting bagi berbagai jenis biota laut, sekaligus merupakan
sumber makanan langsung bagi kebanyakan hewan.
Estuaria adalah perairan semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut,
sehingga air laut dengan kadar garam tinggi dapat bercampur dengan air tawar.
Kombinasi pengaruh air laut dengan air tawar di daerah estuaria menghasilkan
komunitas yang khas dengan kondisi lingkungan yang beragam (Supriharyono,
2002). Karakteristik kadar garam, suhu dan sedimen di daerah estuaria
memberikan konsekuensi pada karakteristik spesies organisme yang hidup di
daerah itu. Hewan yang hidup di dalam ekosistem estuaria terdiri dari jenis hewan
laut (kemampuan mentolerir perubahan kadar garam terbatas), hewan air tawar
(tidak mampu mentolerir perubahan kadar garam), dan hewan air payau (tidak
ditemukan hidup di air laut maupun air tawar) (Widiati, 2000).
Tingginya produktivitas primer di wilayah pesisir dan laut seperti pada
ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun dan estuaria memungkinkan
tingginya produktivitas sekunder (produksi perikanan) di wilayah tersebut.
Sampai saat ini, perikanan tangkap berskala kecil (small scale fisheries) yang
diusahakan oleh masyarakat (artisanal) mendominasi jenis perikanan tangkap di
Indonesia. Perikanan rakyat ini biasanya berlokasi di pantai utara Jawa, Selat
Malaka, Selat Bali dan Selat Makassar (Supriharyono, 2002). Tingginya aktivitas
penangkapan ikan di lokasi-lokasi tersebut telah menyebabkan terjadinya
overfishing beberapa jenis ikan demersal yang berlanjut dengan terjadinya
permasalahan sosial.
2.2.2 Sumberdaya Tak Dapat Pulih (Non-renewable Resources)
Sumberdaya tak dapat pulih di wilayah pesisir dan laut terdiri dari
sumberdaya mineral dan geologi. Sumberdaya mineral terdiri dari tiga kelas, yaitu
kelas A (mineral strategis; misalnya minyak, gas dan batu bara), kelas B (mineral
vital; misalnya emas, timah dan nikel) dan kelas C (mineral industri; misalnya
granit dan pasir). Potensi sumberdaya mineral di wilayah pesisir dan laut
Indonesia merupakan penghasil devisa utama dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Cadangan minyak dan gas Indonesia tersebar di 60 cekungan (basins), yang
sebagian besar terdapat di wilayah pesisir dan laut seperti Kepulauan Natuna,
Selat Malaka, pantai selatan Jawa, Selat Makasar dan Celah Timor (Dahuri et al.,
2004). Logam mulia (emas) sekunder diperkirakan terdapat di daerah Selat Sunda
(sekitar perairan Lampung), perairan Kalimantan Selatan dan di daerah perairan
Maluku Utara serta Sulawesi Utara.
Sumberdaya geologi yang telah dieksploitasi adalah bahan baku industri dan
bahan bangunan; antara lain pasir kuarsa, pasir bangunan, kerikil dan batu
pondasi. Pemanfaatan sumberdaya geologi di wilayah pesisir dan laut diupayakan
agar tetap memperhatikan konsep keberlanjutan sehingga bisa menjamin
ketersediaan sumberdaya tersebut selama mungkin.
2.2.3 Pencemaran
Pencemaran wilayah pesisir dan laut terjadi karena adanya konsentrasi
permukiman, pertanian, pariwisata dan industri. Berbagai aktivitas tersebut sering
menimbulkan gangguan baik secara langsung maupun tidak terhadap ekosistem
pesisir dan laut melalui limbah yang dihasilkannya. Penduduk pesisir memberikan
90% sumbangan pencemaran di wilayah ini, berupa bahan-bahan pencemar dari
daratan (land-based pollutants) seperti limbah rumah tangga, limbah industri dan
bahan-bahan toksik lainnya (Joseph dan Balchand, 2000).
Menurut Supriharyono (2002), ada tiga tipe bahan pencemar yang sering
menyebabkan terjadinya pencemaran di lingkungan laut; yaitu tipe patogenik,
estetik dan ekomorfik. Bahan pencemar tipe patogenik (pathogenic pollutants)
adalah bahan pencemar yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Bahan
pencemar tipe estetik (aesthetic pollutants) yaitu bahan pencemar yang
menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan yang tidak nyaman untuk indera
mata, telinga dan hidung. Bahan pencemar tipe ekomorfik (ecomorphic
pollutants) adalah bahan pencemar yang menghasilkan perubahan sifat-sifat fisik
lingkungan.
Dilihat dari asal bahan pencemarnya, diketahui ada dua macam bahan
pencemar (limbah) yaitu limbah domestik dan limbah industri. Limbah domestik
adalah limbah yang berasal dari aktivitas masyarakat urban yang biasanya
mengandung sampah padat (berupa tinja) dan cair yang berasal dari sampah
rumah tangga. Limbah domestik memiliki lima karakteristik, yaitu mengandung
bakteri, parasit dan kemungkinan virus dalam jumlah banyak; serta mengandung
bahan organik dan padatan tersuspensi sehingga nilai biological oxygen demand
(BOD)-nya tinggi. Selain itu juga mengandung padatan (organik dan anorganik)
yang mengendap di dasar perairan; memiliki kandungan unsur hara (terutama
fosfor dan nitrogen) yang tinggi; serta mengandung bahan-bahan terapung
(organik dan anorganik) di permukaan air atau berada dalam bentuk tersuspensi.
Dalam beberapa kasus, limbah industri sulit larut dalam air. Limbah industri
cenderung mengapung di permukaan air. Beberapa jenis limbah industri ada yang
secara langsung meracuni kehidupan perairan seperti sianida, fenol dan sodium
pentaklorofenat. Ada juga yang tidak secara langsung meracuni kehidupan
perairan, tetapi merubah kualitas lingkungan dengan turunnya oksigen terlarut
untuk perombakan bahan-bahan organik. Beberapa jenis limbah mungkin
mengalami bioakumulasi sehingga permasalahannya menjadi sangat lama.
Limbah
industri
merupakan land-based
pollutants
yang
telah
terbukti
menimbulkan kerusakan lingkungan laut secara signifikan (MacDonald, 2005).
Limbah industri berpotensi menyebabkan terjadinya eutrofikasi, sebuah fenomena
di mana perairan menerima kelebihan nutrient dan ditandai oleh adanya algal
blooms (red tides). Berbagai jenis logam berat yang terdapat di dalam limbah
industri (misalnya arsen, kadmium, kobalt, kromium, merkuri dan seng)
berpotensi menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan kronis pada manusia.
2.2.4 Degradasi dan Deplesi Sumberdaya Alam
Wilayah pesisir dan laut merupakan ekosistem yang kini tengah mengalami
permasalahan berat yang mengancam daya lenting (resilience) ekosistem tersebut
(Turner et al., 1998). Permasalahan tersebut terutama menyangkut trade-off
pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, yaitu antara kepentingan ekonomi dan
preservasi
ekologi.
Worm
(1998)
mengatakan,
bahwa
pada
umumnya
permasalahan yang dihadapi wilayah ini berupa pencemaran, reklamasi pantai
serta pembangunan perkotaan dan infrastruktur terkait lainnya. Ekspansi coastal
aquaculture secara massive telah menimbulkan dampak sosial ekonomi dan
biofisik yang besar. Kondisi itu terkait dengan hilangnya lahan basah pantai,
tingginya tingkat keasaman, salinisasi air tanah dan lahan pertanian serta
hilangnya produk dan jasa yang dihasilkan oleh ekosistem alami (Chua, 1992).
Di
negara-negara
sedang
berkembang
seperti
Indonesia,
terdapat
kecenderungan untuk mengeksploitasi sumberdaya alam (termasuk sumberdaya
pesisir dan laut) demi mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Setelah
lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 yang kemudian diganti oleh UU No. 32 Tahun
2004, kecenderungan tersebut justru nampak semakin besar. Nelson dan
Geoghegan (2002), bahkan mengatakan bahwa para pengambil keputusan di
negara-negara sedang berkembang selalu dihadapkan pada persoalan klasik
eksploitasi sumberdaya secara berlebih manakala pertumbuhan ekonomi atau
konservasi ekologi menjadi pilihan. Persepsi yang mengatakan bahwa sumberdaya
alam dapat dijadikan andalan bagi peningkatan PAD, sering menimbulkan
fenomena pengurasan sehingga timbul bahaya lingkungan yang mengakibatkan
biaya sosial yang tinggi. UU No. 32 Tahun 2004 pada hakekatnya memberikan
peluang kepada daerah untuk dapat mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya
alam yang ada bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah dan jaminan
keseimbangan fungsi lingkungan.
Menurut Fauzi dan Anna (2005) degradasi dan deplesi sumberdaya alam di
wilayah pesisir dan laut lebih banyak bersifat antropogenik (disebabkan oleh
manusia) baik berupa aktivitas produksi (penangkapan/eksploitasi) maupun
aktivitas non-produksi (pencemaran limbah domestik dan industri). Degradasi
mengacu pada terjadinya penurunan kualitas/kuantitas sumberdaya alam dapat
diperbarui
(renewable
resourcres).
Deplesi
mengacu
pada
terjadinya
pengurangan cadangan sumberdaya alam tak dapat diperbarui (non-renewable
resources). Depresiasi digunakan untuk mengukur perubahan nilai moneter dari
pemanfaatan sumberdaya alam (pengukuran tingkat degradasi dan deplesi yang
dirupiahkan).
2.3 Pengembangan Wilayah Pesisir dan Laut
2.3.1 Dasar Pengembangan Wilayah
Banyak teori pengembangan wilayah yang dapat dijadikan acuan dalam
konteks pengelolaan lingkungan wilayah pesisir dan laut Teluk Banten. Teoriteori tersebut dibangun atas dasar dan tujuan yang berbeda-beda. Kelompok
pertama adalah teori-teori yang memberi penekanan pada kesejahteraan wilayah
(regional prosperity). Kelompok kedua memberi penekanan pada sumberdaya
alam dan lingkungan yang dinilai mempengaruhi keberlanjutan sistem produksi
(sustainable production). Kelompok ini sering disebut sebagai kelompok yang
peduli pada pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kelompok
ketiga memberi penekanan pada institusi (kelembagaan) dan proses pengambilan
keputusan (decision making) di tingkat lokal sehingga kajian terfokus pada
governance yang bertanggung jawab (responsible) dan berkinerja baik (good).
Ketiga kelompok teori ini memberikan implikasi yang berbeda dalam fokus
pengembangan wilayah. Penerapan teori ini didasarkan pada perhatian terhadap
masalah utama yang dihadapi masyarakat/wilayah dengan sasaran pada 3 aspek,
yaitu perekonomian yang baik (good economy), masyarakat yang baik (good
society) dan proses politik yang baik (good political process)(Akil, 2001). Sejalan
dengan sasaran tersebut, Haeruman
(2001)
mengatakan, bahwa dalam
perkembangannya, konsep pengembangan wilayah sejalan dengan penetapan
prioritas pembangunan ekonomi. Pada mulanya, pembangunan dilakukan untuk
tujuan efisiensi (efficiency objective). Pengalaman kemudian membawa pada
berkembangnya pemikiran untuk juga memberikan prioritas bagi tujuan
pemerataan (equity objective). Dengan adanya pergeseran orientasi tersebut,
kebijakan pembangunan tidak dapat hanya memaksimalkan efisiensi saja, tetapi
harus ada trade-off antara keduanya. Pengalaman menunjukkan, bahwa dimensi
wilayah dengan karakteristik masing-masing bersifat komplementer dan berperan
dalam meningkatkan efisiensi. Pembangunan yang berdampak pada menurunnya
kualitas lingkungan, kemudian meningkatkan pemahaman akan pentingnya tujuan
keberlanjutan (sustainability objectives) yang memasukkan wawasan lingkungan
sebagai prinsip dasar pembangunan.
Aktualisasi konsep pengembangan wilayah secara terpadu dapat diwujudkan
melalui strategi pengembangan potensi ekonomi wilayah. Dalam kaitan ini
Haeruman (2001), melihat adanya pergeseran paradigma pembangunan ekonomi
yang dipengaruhi oleh perkembangan demokrasi dan kecenderungan global yang
pada dasarnya mencakup hal-hal berikut:
a. Pergeseran dari functional integration yang memberi tekanan pada pendekatan
sektoral menuju territorial integration yang memberi tekanan pada
pemberdayaan masyarakat lokal.
b. Pergeseran dari national development menuju ke local development.
Pembangunan nasional di masa datang merupakan kerangka tindakan dari
pembangunan masyarakat lokal yang bercirikan karakteristik wilayah.
c. Pergeseran dari rural and urban dichotomy menuju ke rural-urban linkages.
Pengembangan wilayah di masa datang harus melihat keterkaitan antara desa
dan kota sebagai suatu mata rantai pengembangan ekonomi wilayah yang
saling mempengaruhi.
d. Pergeseran dari orientasi daratan menuju ke orientasi daratan dan kepulauan.
Pengembangan wilayah di masa datang perlu mempertimbangkan akses dari
simpul ke simpul, sumberdaya alam di laut yang bersifat dinamis, serta
keterkaitan antara pemanfaatan sumberdaya alam dan kewenangan masyarakat
lokal.
2.3.2 Perencanaan Penggunaan Lahan
Lahan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Sedemikian pentingnya
nilai lahan, hingga seringkali muncul konflik di antara berbagai stakeholders yang
disebabkan oleh perbedaan kepentingan dalam pemanfaatan lahan. Potensi
penggunaan lahan sangat beragam, mulai dari pertanian, pertambangan, kehutanan
dan perlindungan alam serta industri dan perkotaan. Pengambilan keputusan yang
tepat dalam pemanfaatan lahan seringkali menjadi persoalan penting dalam
masyarakat modern (Verheye, 1997).
Perencanaan penggunaan lahan (land-use planning) merupakan proses
penilaian secara sistematis terhadap potensi lahan, alternatif penggunaan lahan
dan kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam rangka menetapkan opsi
penggunaan lahan terbaik. Perencanaan penggunaan lahan selalu berhubungan
dengan beberapa aktivitas seperti penetapan penggunaan lahan untuk masa yang
akan datang (physical planning), peningkatan kondisi fisik lahan (land
development) dan penetapan metode pengelolaan lahan (land management) (van
Lier, 1998). Aktivitas ini menurut Johnsons dan Cramb (1996) membutuhkan
informasi yang tepat yang terkait dengan aspek biofisik, ekonomi dan sosial.
Tanpa dukungan data yang akurat, perencanaan tidak akan berhasil mencapai
tujuan (societal goals) yang diinginkan.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, perencanaan penggunaan lahan
menempati posisi yang sangat sentral. Perencanaan penggunaan lahan selalu
dihadapkan pada dua dimensi yang saling bertentangan, yaitu konservasi ekologi
dan pertumbuhan ekonomi. Keberlanjutan (sustainability) sebagai tujuan utama
perencanaan penggunaan lahan sering kali menjadi dilema manakala kedua
kepentingan yang saling bertentangan ini harus disatukan. Menanggapi hal
tersebut, van Lier (1998) optimis akan tetap bisa dilaksanakan apabila para pelaku
ekonomi merasa diri sebagai bagian dari lingkungan sehingga kesejahteraan
ekonomi tidak akan pernah bisa dicapai tanpa langkah-langkah nyata
perlindungan terhadap lingkungan dan basis sumberdaya yang ada. Demikian juga
perlunya penanaman kesadaran bahwa keuntungan ekonomi jangka panjang hanya
dapat diraih apabila tercipta keseimbangan lingkungan dan sumberdaya secara
dinamik. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan juga diperlukan sebagai
prasyarat bagi terciptanya keseimbangan lingkungan dan sumberdaya.
Van Lier (1998) mengusulkan konsep spasial untuk menjembatani
kesenjangan antara kepentingan konservasi dengan pertumbuhan ekonomi dalam
rangka mencapai tujuan keberlanjutan. Konsep ini didekati dari 3 subkonsep,
yaitu konsep integrasi vs segregasi (integration vs segregation concept); konsep
kerangka kerja (framework concept); dan konsep jaringan ekologi (ecological
network concept). Konsep integrasi berbasis landscape ecology. Beberapa tipe
penggunaan lahan (misalnya pertanian, infrastruktur, outdoor recreation dan lalu
lintas) direncanakan dan dikembangkan dengan tetap menjaga fungsi ekologi
wilayah. Konsep kerangka kerja didasarkan pada pemahaman tentang adanya
perbedaan antara bagian wilayah yang berdinamika tinggi (misalnya pertanian,
rekreasi, permukiman dan transportasi) dengan bagian wilayah yang berdinamika
rendah (misalnya ekosistem alami). Konsep ini melakukan koreksi melalui
segregasi spasial terhadap lahan dengan penggunaan intensif (intensively-used
lands) yang memerlukan lay-out dan pemanfaatan yang fleksibel pada satu sisi,
dan lahan dengan penggunaan ekstensif yang memerlukan stabilitas pada sisi lain.
Konsep jaringan ekologi merupakan sebuah konstelasi elemen-elemen landscape
yang bersifat fungsional dalam konteks dispersi spesies di dalam landscape yang
bersangkutan. Jaringan ekologi membuat hubungan antara wilayah inti (core
regions), wilayah pengembangan (nature development regions), dan wilayahwilayah penghubung (connecting areas).
2.4 Kecenderungan Pergeseran Basis Pemanfaatan Sumberdaya Alam
Sebagai negara sedang berkembang, Indonesia dihadapkan pada berbagai
tantangan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan. Di antara berbagai
tantangan itu adalah tingginya jumlah penduduk yang masih berada di bawah
garis kemiskinan, rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan distribusi
pembangunan antar wilayah yang tidak merata. Tantangan lain yang tidak kalah
pentingnya adalah bahwa pada saat ini kita dihadapkan pada kenyataan semakin
berkurangnya minyak dan bahan tambang yang di masa lalu merupakan
komoditas ekspor andalan; juga semakin langkanya sumberdaya terrestrial
sehingga semakin sulit untuk dikembangkan. Menghadapi AFTA (ASEAN free
trade area) yang diimplementasikan mulai tahun 2003 dan APEC (Asia Pacific
economic cooperation) yang akan diimplementasikan mulai tahun 2020, tantangan
yang dihadapi Bangsa Indonesia menjadi semakin kompleks dan perlu
penyelesaian serius.
Pengalaman pembangunan selama ini menunjukkan lemahnya infrastruktur
perekonomian
Indonesia.
Kondisi
ini
memperkuat
kesadaran
perlunya
membangun fundamental ekonomi yang kokoh seiring dengan semakin
intensifnya pemanfaatan sumberdaya alam sebagai raw input pembangunan.
Segala upaya untuk mencari alternatif baru pertumbuhan ekonomi perlu semakin
digalakkan sementara sumber-sumber pertumbuhan yang telah ada tetap
dipelihara keberlanjutannya.
Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi (1,8% pada tahun 2004),
Indonesia ibarat sebuah bus dengan penumpang yang berjejal. Dengan angka
pertumbuhan sebesar itu, pada tahun 2020 Indonesia akan dipadati oleh sekitar
267 juta jiwa. Disamping peningkatan potensi dampak lingkungan (Holder, 2003),
jumlah penduduk yang besar berarti peningkatan kebutuhan yang signifikan
terhadap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental services)
(Turner, et al., 1998). Ironisnya, ketersediaan sumberdaya alam dan jasa-jasa
lingkungan itu kini telah semakin tipis akibat perilaku hedonik manusia dari
waktu ke waktu. Illegal logging telah menghabiskan jutaan hektar hutan dan
mengubahnya menjadi lahan kritis yang memilukan. Perilaku bertani yang salah
telah mengubah jutaan hektar lahan subur menjadi lahan kritis yang menyisakan
penderitaan yang berkepanjangan. Sumberdaya terrestrial kini dipandang tidak
lagi mencukupi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah. Oleh karena itu
upaya pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan kini
menjadi alternatif yang tidak bisa diabaikan begitu saja sebagai sumber
pertumbuhan baru untuk kepentingan pembangunan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia (63% wilayah kedaulatan
Indonesia berupa laut), upaya pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa
lingkungan kelautan itu menjadi sebuah keniscayaan. Hal tersebut mengingat
sampai saat ini, potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan
Indonesia yang sangat beragam, belum seluruhnya dimanfaaatkaan secara
optimal. Menurut Dahuri (2000), nilai strategis wilayah pesisir dan laut akan
menjadi semakin nyata, seiring dengan terjadinya pergeseran pusat kegiatan
ekonomi global dari poros Atlantik ke poros Pasifik. Dalam periode 2001-2010
dan periode 2011-2015, Onishi (2001) memproyeksikan laju pertumbuhan
ekonomi global tahunan rata-rata mencapai 3,0% dan 3,1%. Dalam periode itu
pula, wilayah Asia-Pasifik diproyeksikan memiliki laju pertumbuhan ekonomi
tahunan di atas rata-rata global, mencapai 4,0% dan 3,8%. Dalam kondisi ini,
apabila negara-negara sedang berkembang di wilayah Asia-Pasifik mampu
mengatasi persoalan ekonominya melalui kerja sama internasional, maka wilayah
Asia-Pasifik diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan utama menyongsong abad
21. Sektor ekonomi kelautan seperti transportasi laut, perikanan tangkap dan
budidaya, pariwisata, pertambangan dan energi serta industri kelautan di wilayah
Asia-Pasifik diperkirakan akan menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan
ekonomi pada dekade-dekade mendatang.
2.5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Terpadu
Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut bersifat unik dan sangat berbeda
dengan pengelolaan sumberdaya terrestrial atau perairan. Untuk itu diperlukan
program pengelolaan khusus yang disebut dengan integrated coastal zone
management (ICZM) (Clark, 1998) atau integrated marine and coastal area
management (IMCAM) (Klaus et al., 2003). ICZM didisain untuk membangun
sistem pengelolaan sumberdaya dan lingkungan pesisir dan laut dalam rangka
mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi ekologi
(Jorge, 1997).
ICZM adalah sistem pengelolaan sumberdaya yang dilakukan pemerintah
pada level lokal/regional (Holder, 2003; French, 2004) dengan bantuan
pemerintah pusat (Clark, 1998). ICZM berkolaborasi dengan berbagai
stakeholders, mulai dari masyarakat pesisir, para pelaku dari berbagai sektor
ekonomi (misalnya perikanan, pertanian, perindustrian dan pariwisata), para
konservasionist dan pemerintah pusat (Jorge, 1997).
ICZM berfokus pada pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan, konservasi
biodiversitas, perlindungan lingkungan dan penanggulangan bencana alam di
wilayah pesisir dan laut. Konsep ICZM diarahkan untuk mewarnai pembangunan
wilayah pesisir dan laut melalui pendidikan, pengelolaan sumberdaya dan
penilaian lingkungan. Di antara instrumen utama ICZM adalah peraturan
pemerintah tentang perlindungan biodiversitas dan pengendalian pemanfaatan
sumberdaya; serta penilaian lingkungan yang dapat memprediksi dampak dari
berbagai kegiatan pembangunan (Clark, 1998).
ICZM mengembangkan keluasan partisipasi publik, koordinasi antara
pemerintah dengan sektor swasta serta pengembangan keilmuan tentang
konservasi wilayah pesisir dan laut. Pada tataran perencanaan, ICZM melakukan
penilaian
terhadap
berbagai
rencana
kegiatan,
menyiapkan
rencana
penanggulangan dampak dan alternatif kegiatan yang menjamin berlangsungnya
pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan. Pada tataran pengelolaan, ICZM
memberikan guide pada proses pembangunan wilayah pesisir dan laut untuk
meningkatkan konservasi sumberdaya dan perlindungan biodiversitas dengan
menggunakan berbagai pendekatan.
Di antara beberapa pendekatan dasar yang digunakan, Joseph dan Balchand
(2000) menekankan pentingnya zoning sebagai pendekatan utama ICZM. Dalam
konteks zoning, wilayah pesisir dan laut mengenal beberapa subdivisi zona, yaitu
preservation zone, scientific research zone, wilderness zone, national park zone,
recreational zone dan general use zone. Zoning telah banyak digunakan oleh
negara-negara pantai untuk mengimplementasikan ketentuan tentang pengelolaan
sumberdaya pesisir dan laut secara efektif. Prosedur ini meliputi perizinan,
penguasaan lahan serta rehabilitasi dan revisi periodik baik secara administratif
maupun ilmiah.
Program konservasi wilayah pesisir dan laut yang kaya akan berbagai
sumberdaya dipandang penting seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang
semakin cepat. Wilayah pesisir sarat akan berbagai pemanfaatan, seperti
permukiman, perdagangan, rekreasi, militer dan industri. Di berbagai belahan
dunia, pertumbuhan ekonomi yang unsustainable dan pertumbuhan penduduk
yang pesat merupakan faktor penekan utama wilayah pesisir dan laut (Tol et al.,
1996). Konversi lahan di wilayah pesisir dan laut untuk berbagai kepentingan
berlangsung begitu massive dan berdampak pada terjadinya degradasi dan deplesi
sumberdaya alam dan pencemaran.
Beberapa program ICZM yang penting di antaranya adalah meningkatkan
produktivitas perikanan dan pendapatan dari sektor wisata, mempertahankan
fungsi hutan mangrove, serta melindungi kehidupan dan sumberdaya lainnya dari
kerusakan. ICZM menjamin keberlanjutan ekonomi berbasis sumberdaya dalam
jangka panjang. Menurut Worm (1998), pengelolaan wilayah pesisir dan laut
harus didasarkan pada kesadaran tentang potensi sumberdaya yang unik yang
dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masa depan dengan tanpa
meninggalkan prinsip-prinsip perlindungan lingkungan.
Berkaitan dengan berbagai persoalan yang dihadapi ICZM, Clark (1998)
mengemukakan beberapa persoalan penting sebagai berikut:
a. Degradasi sumberdaya.
Demand terhadap sumberdaya pesisir dan laut sampai saat ini dinilai telah
melampaui supply yang tersedia. ICZM menawarkan konsep sustainable use
management yang menjamin ketersediaan sumberdaya terbarukan (renewable)
untuk saat ini dan masa depan.
b. Pencemaran.
Pencemaran menyebabkan terjadinya penurunan dayadukung dan kualitas
sumberdaya. Pencemaran bersumber dari daratan dan terbawa ke laut melalui
sungai.
c. Biodiversitas/keanekaragaman hayati.
Konsekuensi dari pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi adalah
tekanan terhadap spesies yang memiliki nilai etis dan ekonomis tinggi.
Pengaturan melalui kebijakan pemerintah diperlukan untuk melindungi
spesies yang terancam punah.
d. Bencana alam.
ICZM mengintegrasikan perlindungan kehidupan dan sumberdaya pesisir dan
laut dari bencana alam (misalnya banjir, siklon dan amblesan tanah) ke dalam
perencanaan pembangunan.
e. Kenaikan permukaan air laut (Giles, 2002).
Kenaikan permukaan air laut lebih dari 1 kaki (30 cm) dalam kurun waktu 100
tahun terakhir yang disebabkan oleh tingginya konsentrasi gas rumah kaca
(GRK) di atmosfer berpotensi menimbulkan banjir yang mengancam
kehidupan masyarakat.
f. Abrasi pantai.
Abrasi merupakan masalah yang mengancam masyarakat yang tinggal di
dekat bibir pantai. ICZM merekomendasikan pendekatan non-struktural
seperti penataan kembali garis pantai dan pemeliharaan jarak aman dari garis
pantai untuk semua kegiatan pembangunan.
g. Penggunaan lahan.
Penggunaan lahan yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan dampak
negatif
terhadap
ekosistem
pesisir
(misalnya
terjadinya
penurunan
biodiversitas karena pencemaran). ICZM mengantisipasi hal semacam itu dan
merekomendasikan solusinya.
h. Hinterlands.
ICZM berperan dalam menyusun strategi untuk mengurangi dampak negatif
pemanfaatan lahan hinterlands terhadap sumberdaya pesisir dan laut.
i. Landscape.
Landscape wilayah pesisir dan laut bersifat unik, sehingga memerlukan
perhatian khusus untuk melindungi dan menjamin akses masyarakat ke
wilayah tersebut. Salah satu program ICZM adalah melakukan preservasi
keindahan landscape.
j. Konflik pemanfaatan sumberdaya.
Wilayah pesisir dan laut menyimpan potensi konflik di antara para
stakeholders.
ICZM menyediakan platform metodologi resolusi konflik
secara formal.
2.6 Pembangunan Berkelanjutan
Pada beberapa dekade terakhir, konsep pembangunan keberlanjutan
(sustainable development) semakin sering digunakan oleh banyak negara di dunia
untuk mengimplementasikan kebijakan pembangunan baik pada level nasional
maupun internasional. Saat ini, keberlanjutan (sustainability) telah menjadi
elemen inti (core element) bagi banyak kebijakan pemerintah negara-negara di
dunia dan lembaga-lembaga strategis lainnya (Ekins dan Simon, 2001).
The World Commission on Environment and Development (WCED)
mendefinisikan pembangunan keberlanjutan sebagai meeting the needs of current
generations without compromising the ability of future generations to meet their
own needs (World Commission on Environment and Development, 1987). Selain
berorientasi masa depan, secara etis definisi ini juga memberi jaminan pemenuhan
kebutuhan hidup antar generasi. Menurut Khanna et al. (1999), pembangunan
berkelanjutan berimplikasi pada keseimbangan dinamis antara fungsi maintenance
(sustainability) dan transformasi (development) dalam rangka pemenuhan
kebutuhan hidup.
Dengan context-dependent pada dimensi ekonomi, ekologi dan sosial,
sustainability bukanlah endpoint dari sebuah proses, tetapi justru merupakan
representasi dari proses itu sendiri. Menurut Cornelissen et al. (2001),
sustainability memiliki implikasi pada dinamika pembangunan yang sedang
berlangsung dan dikendalikan oleh ekspektasi tentang berbagai kemungkinan di
masa depan. Untuk memulai dan memantau pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan,
diperlukan
kerangka
kerja
terstandardisasi
(standardized
framework) yang terbagi dalam 4 tahap (Cornelissen et al., 2001): 1.
Mendeskripsikan permasalahan sesuai dengan konteksnya; 2. Mendeterminasi
permasalahan dengan context-dependent pada dimensi ekonomi, ekologi dan
sosial; 3. Menterjemahkan permasalahan ke dalam indikator keberlanjutan yang
terukur; 4. Menilai kontribusi indikator-indikator tersebut pada pembangunan
berkelanjutan secara menyeluruh.
Menurut Khanna et al. (1999), perencanaan pembangunan berkelanjutan
perlu mempertimbangkan secara mendalam adanya trade-off antara level
produksi-konsumsi dengan kapasitas asimilasi ekosistem. Sesuai dengan konsep
dayadukung (carrying capacity), peningkatan kualitas hidup hanya bisa dilakukan
bila pola dan level produksi-konsumsi memiliki kompatibilitas dengan kapasitas
lingkungan biofisik dan sosial. Melalui proses perencanaan berbasis daya-dukung
(carrying capacity-based planning process), kondisi ini bisa dicapai dengan
mengintegrasikan ekspektasi sosial dan kapabilitas ekologi ke dalam proses
pembangunan. Dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan, Khanna et al.
(1999) me nambahkan, bahwa ekonomi dipandang sebagai sebuah subsistem dari
sebuah ekosistem regional. Tidak mungkin terjadi pertumbuhan ekonomi yang
tidak terbatas. Dalam perspektif makroekonomi, hal ini berarti bahwa tingkat
pertumbuhan ekonomi harus selalu berada di dalam batas dayadukung wilayah
dan berada pada trade-off antara jumlah penduduk dan penggunaan sumberdaya
per kapita di dalam wilayah yang bersangkutan.
Perencanaan pembangunan berkelanjutan membutuhkan informasi yang
tepat tentang opsi penggunaan sumberdaya, pilihan teknologi yang digunakan,
perubahan struktur sistem, pola konsumsi, tingkat kualitas hidup yang diinginkan
dan status lingkungan yang menjamin tereduksinya tekanan ekologis oleh
berbagai proses ekonomi. Pada level wilayah, operasionalisasi skema tersebut
membutuhkan proses identifikasi keterkaitan antara kapasitas sumberdaya,
aktivitas pembangunan, kapasitas asimilasi, status lingkungan, pertumbuhan
ekonomi dan tingkat kualitas hidup yang diinginkan.
2.7 Kebijakan Publik di Bidang Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan
Permasalahan kebijakan publik di bidang pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan seringkali muncul pada saat terjadi kesenjangan (diskrepansi) antara
kualitas lingkungan pada level aktual dengan level yang dipersyaratkan. Dalam
mengatasi persoalan ini, diperlukan kebijakan publik untuk mengendalikan
perilaku produksi dan konsumsi masyarakat sehingga kesenjangan di antara kedua
level
tersebut
dapat
semakin
didekati.
Kelemahan
institusional
dalam
implementasi kebijakan, kesalahan dalam perencanaan, prosedur dan penerapan
pendekatan berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik sosial yang mahal
(Masalu, 2000; French, 2004). Berkaitan dengan hal tersebut, Fraser et al. (2006)
menyarankan diimplementasikannya multi-stakeholder processes agar tujuan
pengelolaan lingkungan dapat dicapai dengan baik.
Diperlukan kriteria yang tepat dalam mengevaluasi kebijakan dan untuk
mengidentifikasi alternatif kebijakan terbaik dalam mengatasi permasalahan.
Menurut Field dan Field (2002), sejumlah kriteria yang digunakan untuk
mengevaluasi kebijakan publik di bidang pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan di antaranya adalah efficiency dan cost-effectiveness, equity, incentives
for long-run innovations, enforceability dan agreement with moral precepts.
Kebijakan publik yang efficient merupakan kebijakan yang mendorong perilaku
masyarakat (konsumen) bergerak ke arah keseimbangan antara marginal
abatement cost dan marginal damages. Dengan biaya yang serendah-rendahnya,
kebijakan publik yang cost-effective akan menghasilkan peningkatan kualitas
lingkungan yang setinggi-tingginya. Kriteria equity (fairness) dalam sebuah
kebijakan
publik
ditunjukkan
oleh
adanya
concern
moralitas
untuk
mendistribusikan benefits dan costs secara adil kepada seluruh anggota
masyarakat. Incentives for long-run innovations digunakan untuk mengevaluasi
apakah sebuah kebijakan publik mampu memberikan insentif yang kuat bagi
individu atau kelompok masyarakat untuk menemukan cara-cara baru yang
inovatif untuk mengurangi dampak lingkungan. Kriteria enforceability dalam
sebuah kebijakan publik dimaksudkan sebagai penguatan hukum dan dilakukan
melalui dua langkah yakni monitoring dan sanctioning. Agreement with moral
precepts dimaksudkan agar setiap kebijakan publik dijalankan sepenuhnya dengan
tanggung jawab moral yang tinggi.
Menurut Sterner (2003) serta Field dan Field (2002), beberapa alternatif
kebijakan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori besar, yaitu decentralized
polices, command and control polices dan incentives-based polices. Decentralized
polices dimaksudkan sebagai kebijakan publik yang memberikan kesempatan
kepada para pihak untuk mengelola masalah sendiri. Hal ini bisa ditempuh baik
melalui negosiasi informal maupun interaksi yang lebih formal di pengadilan.
Sistem desentralisasi pada proses pengambilan keputusan dalam perencanaan
wilayah pesisir dan laut terbukti mampu meningkatkan kompatibilitas dan
keseimbangan dalam pemanfaatan sumberdaya, penilaian lingkungan dan
partisipasi publik (Worm, 1998). Command and control polices merupakan
kebijakan publik yang menuntut perilaku masyarakat agar mematuhi standard
pengelolaan yang telah ditetapkan di dalam undang-undang. Kebijakan ini
mensyaratkan aturan hukum sebagai dasar pengelolaan untuk mencapai level
kualitas lingkungan yang diinginkan. Incentives-based polices merupakan
kebijakan publik yang memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan jasa-jasa
lingkungan melalui mekanisme charges and subsidies. Selain itu juga untuk
memperjualbelikan property right yang berupa ijin untuk mengemisikan polutan
(discharge permits) kepada pihak lain.
2.8 Sistem Dinamik
Menurut Anderson dan Johnson (1997), sistem adalah kumpulan dari
komponen-komponen yang saling berinteraksi, interrelasi atau interdependensi
(Kirkwood, 1998) dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Komponen sebuah sistem dapat berupa objek fisik yang dapat disentuh dengan
indera (misalnya berbagai spare parts yang menyusun sebuah mobil). Komponen
sebuah sistem dapat juga bersifat intangible seperti aliran informasi, kebijakan
perusahaan, interaksi interpersonal, bahkan apa yang menjadi state of minds
dalam diri seseorang seperti feeling, values dan beliefs. Anderson dan Johnson
(1997) mengatakan, bahwa sistem memiliki ciri khas yaitu tujuannya spesifik;
bagian-bagian penyusunnya lengkap, utuh dan tersusun secara spesifik; mampu
memelihara stabilitas diri melalui fluktuasi dan pengaturan; serta memiliki
mekanisme umpan balik (feedback mechanism).
Dynamic systems memiliki mekanisme internal untuk selalu mengalami
perubahan sepanjang waktu (Ottosson dan Bjorg, 2003). Dynamic systems
digunakan untuk mencari penjelasan tentang berbagai permasalahan jangka
panjang yang terjadi secara berulang-ulang di dalam struktur internal. Mekanisme
umpan balik merupakan konsep inti yang digunakan di dalam dynamic systems
untuk memahami struktur sistem. Diasumsikan bahwa keputusan secara sosial
atau individual dibuat berdasarkan informasi tentang keadaan sistem atau
lingkungan di sekitar pengambil keputusan berada.
Model-model sistem dinamik dibentuk oleh banyak lingkar simpal kausal
(causal loop diagrams) yang saling berhubungan satu sama lain. Diagram simpal
kausal pada dasarnya merupakan representasi grafis dari pemahaman tentang
struktur yang sistemik. Diagram ini sangat penting karena memberi panduan
tentang bagaimana sistem itu dibangun dan bagaimana sistem itu berperilaku
(Kim dan Anderson, 1998). Diagram ini pada dasarnya menggambarkan sistem
tertutup. Sebagian besar variabel berhubungan melalui mekanisme umpan balik
dan berupa variabel endogenous. Apabila ada beberapa faktor yang dipercaya
mempengaruhi sistem dari luar tanpa dipengaruhi oleh dirinya sendiri, faktor
tersebut dipertimbangkan sebagai variabel eksogenous di dalam model.
Diagram simpal kausal memainkan peranan penting dalam studi tentang
dynamic systems. Selama pengembangan model, diagram simpal kausal dapat
dijadikan sebagai preliminary sketches dari hipotesis kausal yang dibangun.
Selain itu, diagram simpal kausal juga dapat dianggap sebagai simplifikasi model
(Goodman, 1980). Diagram simpal kausal dan diagram alir (flow diagram; stock
and flow diagram) sangat penting untuk memahami struktur sistem sebelum
mengembangkannya ke dalam persamaan sistem. Diagram alir tersusun dari
elemen rate, level dan auxiliary (Kirkwood, 1998) yang diorganisasikan dalam
sebuah network. Level adalah akumulasi atau persediaan (stock) material atau
informasi. Elemen-elemen sistem yang menunjukkan keputusan, tindakan atau
perubahan di dalam suatu level disebut rate. Rate adalah aliran material atau
informasi ke atau dari level.
Simpal kausal dibedakan menjadi dua macam; yaitu simpal positif
(reinforcing
feedback
loop)
dan
simpal
negatif
(balancing
feedback
loop)(Bellinger, 2004). Simpal positif cenderung untuk memperkuat gangguan
dan menghasilkan pertumbuhan atau peluruhan eksponensial. Simpal negatif
cenderung
meniadakan
gangguan
dan
membawa
sistem
pada
keadaan
kesetimbangan atau mencapai tujuan. Kombinasi dari kedua jenis simpal kausal
tersebut
sering
terjadi
dan
memungkinkan
pengguna dynamic
systems
merumuskan sejumlah generalisasi atau teorema yang berguna sehubungan
dengan struktur sistem pada kecenderungan perilaku dinamik.
Download