Efek Cognitive Load Theory dalam Mendesain Bahan Ajar Geometri

advertisement
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015
PM -165
Efek Cognitive Load Theory dalam Mendesain
Bahan Ajar Geometri
Fitraning Tyas Puji Pangesti
(Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta)
[email protected]
Abstrak—Belajar adalah proses perubahan susunan pengetahuan yang telah tersimpan
dalam memori melalui rekonstruksi pengetahuan lama maupun mengkonstruksi
pengetahuan baru. Belajar melibatkan suatu sistem memori (sistem kognitif) dalam
proses memperoleh, mengolah, dan menyimpan pengetahuan. Cognitive Load Theory
merupakan salah satu teori desain pembelajaran yang terkait dengan proses belajar
siswa. Teori ini menekankan pada metode untuk membantu siswa mencapai
kemampuan optimal yang didasarkan pada cara kerja sistem kognitif. Selain memilih
metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan awal siswa, penggunaan bahan
ajar juga berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memperoleh dan memahami
pengetahuan. Pada pembelajaran matematika khususnya materi geometri, masih
banyak siswa mengalami kesulitan belajar sehingga menyebabkan rendahnya prestasi
geometri. Penyusunan bahan ajar geometri menjadi suatu alternatif untuk membantu
siswa memahami materi geometri. Penyajian worked example dipilih dalam
mendesain bahan ajar geometri ini. Worked example menyediakan langkah demi
langkah dalam menyelesaikan masalah. Teknik penyusunan worked example harus
menghindari split attention dan efek redundancy. Split attention terjadi ketika
setidaknya ada dua sumber informasi yang menyebabkan perhatian siswa terpisah
baik secara ruang maupun waktu. Efek redundancy terjadi apabila sumber-sumber
berbeda menyajikan informasi yang sama. Split attention dan efek redundancy
menyebabkan peningkatan beban siswa dalam memperoleh pengetahuan. Dalam
makalah ini akan dibahas efek Cognitive Load Theory beserta penerapannya dalam
mendesain bahan ajar geometri.
Kata kunci: bahan ajar geometri, efek redundancy, split attention, worked example
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar adalah proses perubahan susunan pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori melalui
rekonstruksi pengetahuan lama maupun mengkonstruksi pengetahuan baru. Belajar melibatkan suatu
sistem memori (sistem kognitif) dalam proses memperoleh, mengolah, dan menyimpan pengetahuan.
Pengetahuan tentang bagaimana manusia belajar, berpikir, dan memecahkan masalah berhubungan
dengan arsitektur kognitif manusia. Sweller menyatakan“Cognitive Load Theory (CLT) began as an
instructional theory based on our knowledge of human cognitive architecture” [1]. CLT bermula sebagai
teori pembelajaran yang berbasis pada pengetahuan tentang arsitektur kognitif manusia. Terdapat tiga
komponen utama dari memori manusia, yaitu: memori penginderaan, memori kerja, dan memori jangka
panjang. Pemahaman mengenai arsitektur kognitif manusia dalam memperoleh, mengolah dan
menyimpan informasi merupakan dasar penjelasan mengapa beberapa metode instruksional bekerja
sementara yang lain gagal. Pemrosesan informasi untuk menjadi pengetahuan yang tersimpan dalam
memori manusia atau proses pengolahan pengetahuan di memori disebut dengan proses kognitif [2]. CLT
menekankan pada metode untuk membantu siswa mencapai kemampuan optimal yang didasarkan pada
cara kerja sistem kognitif.
Geometri menjadi salah satu aspek matematika yang penting untuk dipelajari. Terdapat tiga alasan
mengapa geometri dipelajari [3]. Pertama, “geometry uniquely connects mathematics with the real
physical word.” Geometri mengaitkan matematika dengan bentuk fisik pada dunia nyata. Misalnya sarang
lebah yang merupakan representasi dari susunan segienam. Kedua, “geometry uniquely enables ideas
from other areas of mathematics to be pictured.” Geometri memungkinkan ide-ide matematika yang lain
1169
ISBN. 978-602-73403-0-5
dapat divisualisasikan. Contohnya, penyelesaian masalah statistika menggunakan diagram batang,
diagram lingkaran, maupun berbagai macam kurva. Ketiga, “geometry nonuniquely provides an examples
of a mathematical system.” Secara umum geometri menyediakan suatu contoh mengenai sistem
matematika, misalnya pembuktian dua garis yang sejajar menggunakan teorema dasar kekongruenan.
Groth menyatakan bahwa geometri menyajikan banyak ide menarik untuk dipelajari. Ide-ide tersebut
bermula dari era sejarah sebelum Euclid namun masih relevan untuk dipelajari hingga sekarang. Tujuan
dasar belajar geometri yakni pemahaman, mampu mendefinisikan bentuk geometri, dan
mengkonstruksikan bukti [4].
Di Indonesia, sesuai dengan kurikulum tahun 2006 kompetensi dasar (KD) mengenai geometri
menempati porsi terbesar dalam pembelajaran matematika di tingkat SMP yakni 24 dari 59 KD
matematika [5]. Hal ini menunjukkan banyaknya materi geometri yang perlu dipelajari oleh siswa di
tingkat SMP. Bukti empiris di lapangan menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam
belajar geometri. Salah satu studi internasional untuk mengevaluasi pendidikan, khususnya prestasi siswa
kelas VIII SMP yang diikuti oleh Indonesia adalah Trends in International Mathematics and Science
Study (TIMSS). Dalam TIMSS 2011, Indonesia menempati posisi terendah dibandingkan negara lain di
kawasan Asia. Kemampuan rata-rata siswa di Indonesia dalam menyelesaikan masalah geometri baru
mencapai 24%. Sebagai perbandingan, kemampuan siswa dalam geometri di Singapura mencapai 71%,
Jepang 67%, Malaysia 33%, dan Thailand 29% [6]. Bukti masih rendahnya kemampuan siswa dalam
geometri ditunjukkan juga dari hasil Ujian Nasional tahun 2013/2014. Penguasaan siswa terhadap materi
geometri baru mencapai 57% [7]. Bukti di lapangan telah menunjukkan perlunya terobosan baru dalam
membelajarkan geometri agar siswa mampu memahami dan mengaplikasikan materi geometri dengan
tepat.
Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan prestasi
geometri siswa SMP belum memuaskan. Penulis menduga faktor-faktor penyebabnya antara lain karena:
(1) siswa masih beranggapan matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipelajari dan dipahami;
(2) pembelajaran masih bertujuan untuk penyampaian materi bukan pada pengembangan kompetensi; (3)
guru matematika cenderung monoton dalam menerapkan metode pembelajaran geometri; (4) siswa jarang
memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan lingkungan ketika belajar geometri; (5) terbatasnya
alat peraga dan bahan ajar geometri; dan (6) siswa cenderung menghafal rumus dalam geometri tanpa
adanya pemahaman dan penalaran dalam mengaplikasikan rumus-rumus tersebut. Lebih lanjut,
berdasarkan hasil pembicaraan terhadap beberapa guru matematika yang lain, salah satu faktor utama
penyebab rendahnya prestasi siswa SMP dalam geometri adalah terbatasnya bahan ajar berkualitas yang
beorientasi pada kegiatan siswa untuk menggunakan konsep geometri.
Bahan ajar merupakan komponen penting yang harus dipersiapkan guru sebelum melaksanakan
kegiatan pembelajaran matematika. Prastowo mengemukakan bahwa bahan ajar merupakan segala bentuk
bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran, disusun secara sistematis dan menampilkan sosok
utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa [9]. Kualitas bahan ajar matematika yang digunakan
merupakan faktor penentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, bahan ajar hendaknya disusun
berdasarkan kemampuan awal siswa sehingga akan lebih membantu siswa dalam belajar. Siswa dengan
kemampuan rendah memperoleh lebih banyak bantuan dalam penyelesaian masalah dan siswa dengan
kemampuan awal tinggi difasilitasi melalui pemecahan masalah.
Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa perlu untuk mengembangkan bahan ajar geometri SMP
dengan memperhatikan efek CLT. Dalam makalah ini akan ditunjukkan contoh desain bahan ajar geometri
SMP menggunakan worked example (contoh-kerja) yang penyajiannya menghindari efek perulangan dan
efek perhatian terpisah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang, rumusan masalah dalam makalah ini adalah
bagaimanakah mendesain bahan ajar geometri SMP yang memperhatikan efek Cognitive Load Theory?
1170
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah menghasilkan contoh desain bahan ajar geometri SMP
yang memperhatikan efek Cognitive Load Theory.
D. Manfaat Kajian
Manfaat penyusunan makalah ini yaitu:
1.
Tersedianya contoh desain bahan ajar geometri SMP yang memperhatikan efek Cognitive Load
Theory.
2.
Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang akan meneliti terkait topik ini.
II.
PEMBAHASAN
Informasi yang baru pertama kali diperoleh, diterima dan diidentifikasi awal oleh memori
penginderaan lalu diteruskan untuk diorganisasikan dan diberi makna oleh memori kerja, kemudian akan
disimpan dalam memori jangka panjang. Memori penginderaan dan memori kerja mempunyai
keterbatasan dalam kapasitas dan durasi, sehingga untuk memproses sejumlah besar informasi baru dalam
waktu yang bersamaan dapat memunculkan suatu beban kognitif pada memori kerja. Sweller menyatakan
terdapat tiga sumber beban kognitif yang mempengaruhi memori kerja yaitu intrinsic cognitive load,
extraneous cognitive load, dan germane cognitive load [1][8].
Intrinsic cognitive load ditentukan oleh tingkat kompleksitas informasi atau materi yang sedang
dipelajari. Beberapa materi secara intrinsik sulit untuk dipahami dan akhirnya diberikan tanpa
memperhatikan bagaimana seharusnya materi tersebut diajarkan. Faktor penting dalam mengajarkan suatu
materi yaitu memahami timbulnya elemen interaktivitas, yakni sejumlah elemen yang secara bersamasama harus diproses dalam memori kerja di bawah instruksi. Elemen interaktivitas yang tinggi
menyebabkan beban pada memori kerja dan intrinsic cognitive load menjadi tinggi. Unsur interaktivitas
bersifat tetap karena secara intrinsik dimiliki oleh semua materi yang harus dipelajari dan tidak dapat
diubah.
Extraneous cognitive load ditentukan oleh teknik penyajian materi. Teknik penyajian materi yang
baik, yaitu yang tidak menyulitkan pemahaman dapat menurunkan extraneous cognitive load. Sebaliknya,
teknik penyajian yang menyulitkan pemahaman akan meningkatkan extraneous cognitive load.
Pemahaman suatu materi akan mudah terjadi jika ada pengetahuan prasyarat yang cukup dan dapat
dipanggil dari memori jangka panjang. Jika pengetahuan prasyarat ini dapat hadir di memori kerja secara
otomatis, maka meminimalkan extraneous cognitive load. Semakin banyak pengetahuan yang dapat
digunakan secara otomatis, semakin minimum beban kognitif pada memori kerja. Extraneous cognitive
load juga berhubungan dengan faktor yang seharusnya diminimalkan dalam pembelajaran, misalnya
penggunaan bahan ajar yang membingungkan, suara gaduh, dan tampilan media komputer yang terlalu
banyak animasinya.
Beban kognitif konstruktif (germane cognitive load) disebabkan oleh banyaknya usaha mental yang
diberikan dalam proses kognitif yang relevan dengan pemahaman materi yang sedang dipelajari dan
proses konstruksi pengetahuan. Beban kognitif konstruktif memiliki hubungan positif dengan
pembelajaran karena berhubungan dengan pembentukan skema dan otomatisasi pengolahan informasi.
Jika memori kerja telah dipenuhi oleh intrinsic dan extraneous cognitive load maka tidak ada muatan
yang tersisa untuk beban kognitif konstruktif. Apabila tidak ada beban kognitif konstruktif maka memori
kerja tidak dapat mengorganisasikan, mengkonstruksi, mengelaborasi atau mengintegrasikan materi yang
1171
ISBN. 978-602-73403-0-5
sedang dipelajari untuk menjadi pengetahuan yang tersimpan dengan baik di memori jangka panjang.
Beban kognitif konstruktif antara siswa yang satu dengan yang lain mungkin berbeda, hal ini dipengaruhi
oleh latar belakang pengalaman dan pengetahuan, serta karakteristik siswa.
Dalam pembelajaran matematika, materi-materi matematika cenderung memiliki tingkat kompleksitas
tinggi. Contohnya pada geometri dalam materi bangun ruang, siswa perlu memahami pernyataan tentang
sifat-sifat bangun ruang, mampu mengidentifikasi bentuknya, dapat menggunakan rumus-rumus yang
sesuai, dan menerapkan konsep bangun ruang dalam pemecahan masalah. Karena memiliki kompleksitas
tinggi dan hal itu bersifat tetap, maka pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan
awal siswa, misalnya menggunakan worked example (contoh-kerja) menjadi alternatif untuk membantu
siswa memahami materi matematika. Pemilihan metode pembelajaran yang tidak tepat, misalnya dengan
menyajikan informasi secara terpisah padahal seharusnya dapat disajikan secara terpadu sehingga
menyebabkan split attention (perhatian terpisah) maupun menggunakan berbagai sumber belajar dengan
informasi yang sama sehingga menyebabkan efek redundancy (perulangan) dapat mengakibatkan
bertambahnya extraneous cognitive load siswa.
CLT terutama digunakan untuk memberikan prinsip-prinsip dalam meminimalkan extraneous
cognitive load. Secara umum, extraneous cognitive load bisa disebabkan oleh satu atau lebih dari
sumber-sumber [1] berikut:
1. Ketidakcukupan pengetahuan dasar siswa yang tidak diimbangi guru dengan memberikan bimbingan
instruksional, sehingga memaksa siswa untuk mencari solusi menggunakan prosedur acak (siswa tidak
diajarkan prosedur mencari solusi dari suatu instruksi).
2. Tumpang tindih pengetahuan dasar yang tersedia dalam suatu bimbingan instruksional padahal
pengetahuan tersebut ditujukan pada kegiatan kognitif yang sama.
3. Langkah maupun informasi yang berlebihan. Menyebabkan terlalu banyak elemen informasi baru
dalam memori kerja untuk dimasukkan ke dalam struktur memori jangka panjang.
4. Terpisah (dalam ruang-waktu), terkait representasi instruksional. Siswa harus berkali-kali melakukan
proses pencarian dan mencocokkan satu informasi dengan informasi yang lain.
Salah satu metode meminimalkan extraneous cognitive load yakni menggunakan worked example.
Selain dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas, worked example dapat diterapkan pada buku(bahan
ajar)[10]. Penyusunan worked example bertujuan agar siswa memperoleh pemahaman. Worked example
secara umum digunakan untuk menunjukkan cara memecahkan suatu masalah, kemudian dilanjutkan
dengan praktek pada sejumlah masalah yang memiliki kesamaan karakteristik. Seorang guru yang
menerapkan strategi worked example harus mampu memberikan contoh pemecahan masalah yang dapat
diikuti maupun ditiru oleh siswa. Pernyataan tentang masalah beserta langkah-langkah menuju solusi
akhir beserta komentar-komentar penting dicantumkan dalam worked example. Pertimbangan penting
bagi guru ketika akan menerapkan worked example dalam proses pembelajarannya adalah bagaimana
menentukan struktur dari worked example tersebut. Sweller dan Cooper menyajikan pasangan antara
worked example dengan masalah identik yang harus diselesaikan. Sweller dan Cooper menyatakan setelah
mempelajari suatu masalah beserta pemecahannya, motivasi siswa akan meningkat untuk menyelesaikan
masalah dengan karakter yang sama. Struktur yang sering dipakai pada penyelidikan efek worked
example yaitu study one-solve one [3].
1172
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015
Berikut ini contoh worked example geometri, khususnya pada materi balok.
Belajar melalui contoh
Contoh 1:
Perhatikan gambar balok ABCD.EFGH berikut ini,
Tentukan panjang diagonal ruang HB.
Solusi:
 langkah 1: konsep teorema Pythagoras
Perhatikan segitiga siku-siku BDH
HB2 = HD2 + BD2
Perhatikan segitiga siku-siku ABD
BD2 = AB2 + AD2
 langkah 2: menemukan hubungan diagonal ruang
dengan diagonal bidang.
HB2 = HD2 + BD2
= HD2 + (AB2 + AD2)
= HD2 + AB2 + AD2
 langkah 3: menghitung panjang HB
HB2 = HD2 + AB2 + AD2
= 72 + 52 + 4 2
= 90
HB =
Jadi panjang diagonal HB adalah
cm.
H
G
E
F
7 cm
D
C
4 cm
A
5 cm
B
Latihan soal 1:
Perhatikan gambar balok KLMN.OPQR berikut ini,
R
O
Q
P
N
Berapakah panjang diagonal ruang KQ?.
6 cm
M
5 cm
K
L
12 cm
Solusi:
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
...
Gambar 1: Contoh worked example (study one-solve one)
Dalam CLT disebutkan bahwa efek worked example efektif digunakan bagi siswa dengan kemampuan
awal rendah maupun untuk mempelajari konsep dan prosedur baru [1][3][10]. Namun, apabila
kemampuan siswa telah meningkat metode worked example dapat diganti dengan faded example yaitu
dengan mengurangi beberapa langkah maupun penjelasan dalam penyelesaian soal. Metode pemecahan
masalah diberikan dan akan lebih efektif bagi siswa dengan kemampuan awal tinggi [3].
Berikut ini contoh faded example yang merupakan pengembangan worked example.
1173
ISBN. 978-602-73403-0-5
Melengkapi langkah
Contoh 2:
Akan dibuat model kerangka balok dari kawat yang panjangnya 7 m. Jika ukuran panjang (p),
lebar(l), dan tinggi(t) balok yaitu 25 cm, 12 cm, dan 18 cm. Berapa banyak kerangka balok
yang dapat dibuat?.
Solusi:
 langkah 1: menghitung kawat yang dibutuhkan untuk membuat sebuah balok,
Panjang kawat yang dibutuhkan = 4 ( p + l + t )
karena balok memiliki 12 rusuk
= ..........................
Jadi, panjang kawat yang dibutuhkan untuk membuat sebuah balok adalah ..................
 langkah 2: menghitung banyaknya kerangka balok yang dapat dibuat.
Tersedia 700 cm kawat, berarti banyaknya kerangka balok yang dapat dibuat yaitu:
..........................
Latihan soal 2:
Akan dibuat model kerangka balok dari kawat yang panjangnya 10 m. Jika ukuran panjang
(p), lebar(l), dan tinggi(t) balok yaitu 23 cm, 16 cm, dan 19 cm. Berapa banyak kerangka balok
yang dapat dibuat?.
Solusi:
langkah 1:
...........................................................................................................................................
langkah 2:
...........................................................................................................................................
Gambar 2: Contoh faded example
Terdapat dua efek kognitif yang teridentifikasi sebagai sumber dari extraneous cognitive load yang
berpengaruh terhadap desain worked example yaitu efek perhatian terpisah dan efek pengulangan.
Perhatikan contoh berikut ini,
H
titik
puncak
E
G
diagonal
bidang
E
rusuk
F
diagonal
ruang
sisi
tinggi
sisi tegak
tinggi
D
titik sudut
D
A
C
limas
sisi
tegak
alas
B
A
B
Gambar 3: Teknik integratif dalam penyajian gambar bangun ruang
1174
C
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015
Teknik integratif digunakan untuk menghindari terpisahnya perhatian siswa dalam memahami gambar
beserta keterangan yang menyertainya. Berikut ini contoh penyajian soal dengan perhatian terpisah yang
seharusnya dapat dihindari dalam penyusunan bahan ajar.
Gambar 4: Penyajian soal dengan perhatian terpisah
Sumber: Buku matematika siswa kelas VIII semester II
Efek pengulangan terjadi apabila informasi yang sama disajikan secara berulang, berikut ini contohnya.
Gambar 5: Penyajian soal dengan pengulangan sumber informasi yang sama
Sumber: Buku matematika siswa kelas VIII semester II
Beberapa sumber informasi yang sama tidak perlu secara bersama-sama disajikan, karena akan
menambahkan beban siswa untuk menghubungkan dan mengecek kesesuaian antara sumber-sumber
informasi tersebut.
III.
PENUTUP
A. Simpulan
Pengetahuan tentang bagaimana manusia belajar, berpikir, dan memecahkan masalah berhubungan
dengan arsitektur kognitif manusia. Terdapat tiga komponen utama dari memori manusia, yaitu: memori
sensorik, memori kerja, dan memori jangka panjang. Pemahaman mengenai arsitektur kognitif manusia
dalam memperoleh, mengolah dan menyimpan informasi sebagai suatu pengetahuan baru merupakan
dasar penjelasan mengapa beberapa prosedur instruksional bekerja sementara yang lain gagal. Cognitive
Load Theory menekankan pada metode untuk membantu siswa mencapai kemampuan optimal yang
didasarkan pada cara kerja sistem kognitif. Memori kerja memiliki keterbatasan kapasitas dalam
1175
ISBN. 978-602-73403-0-5
mengolah sejumlah informasi secara bersama-sama. Teknik penyajian materi yang buruk dapat
mengakibatkan beban kognitif pada siswa. Pengetahuan mengenai efek CLT dapat digunakan sebagai
acuan guru dalam mendesain bahan ajar yang dapat membantu siswa memperoleh pemahaman.
B. Saran
Dalam pembelajaran geometri, guru hendaknya memperhatikan dengan seksama gambar maupun
ilustrasi pada bahan ajar yang akan digunakan dalam proses belajar siswa. Gambar maupun ilustrasi dapat
mempengaruhi kemampuan dalam memahami dan mengintepretasikan informasi yang akan disajikan.
Penyajian gambar yang tepat akan meminimalkan terjadinya miskonsepsi yang dilakukan siswa ketika
mempelajari geometri.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
Plass, J. L., Moreno, R., & Brunken, R., Cognitive Load Theory, Cambridge: Cambridge University Press, 2010.
Retnowati, E., “Keterbatasan Memori dan Implikasinya dalam Mendesain Metode Pembelajaran Matematika,” Prosiding
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, Yogyakarta: UNY, 2008.
[3] Sweller, J., Ayres, P., & Kalyuga, S., Cognitive Load Theory. Spring Street,NY: Springer, 2011
[4] NCTM, “From 1980s: What Should Not Be in The Algebra and Geometry Curricula of Average College-Bound Students?,”
Mathematics Teacher, vol. 100, pp. 72-74. 2007.
[5] Groth, R. E, Teaching Mathematics in grade 6-12, Los Angeles: SAGE Publications Inc, 2013.
[6] Kemdiknas, Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, 2006.
[7] Mullis, I. V., Martin, M. O., Foy, P., & Arora, A., TIMSS 2011 International, USA: TIMSS & PIRLS International Study
Center, 2012.
[8] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang Kemdikbud), Laporan Hasil Ujian
Nasional, 2014.
[9] Prastowo, A., Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Jogjakarta: DIVA Press, 2012.
[10] Retnowati, E., “Worked Examples in Mathematics,” 2nd International STEM in Education Conference, Beijing,China: Beijing
Normal University, 2012.
1176
Download