MASJID DAN PERADABAN ‘MELAYU-INDONESIA’, ‘ISLAM SERANTAU/ISLAM NUSANTARA’1 Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH2. A. MASJID DAN UMAT ISLAM 1. Masjid dan Tradisi Penanaman Nilai Pertama, saya mengucapkan terima kasih atas kehormatan diundang untuk berbicara dalam dalam pertemuan yang penting dan mulia ini. Forum untuk membahas peranan masjid di kawasan Asia Tenggara sangat langka, padahal sangat penting untuk membicarakan upaya dakwah Islam yang terus harus dikembangkan di kalangan umat Islam di kawasan yang penting ini. Masjid dan umat Islam tidak dapat dipisahkan. Dimana ada umat Islam, disana pasti ada masjid, tempat kaum muslimin bersujud kepada Allah swt. Dimanapun umat Islam bersujud di atas sajadah panjang dalam kehidupannya, disana lah hamparan masjid itu terbentang dalam kehidupan umat Islam. Masjid terkait dengan tradisi sholat berjamaah yang dilakukan secara tetap menurut jadwal yang bersifat rutin. Shalat 5 waktu tiap hari, sholat jumat setiap minggu, sholat idulfitri dan idul adha setiap tahun, dan shalat, thawaf, sya’ie, dan ibadah lainnya pada saat berhaji, baik di masjidil haram di Mekkah, maupun shalat di masjid nabawi Madinah. Semua rangkaian kegiatan ibadah tersebut terpusat pada ibadah shalat di masjid, menyebabkan shalat dan masjid dipandang sebagai tiang dan pilar utama ajaran agama Islam. Selama umat Islam menjalankan ibadah shalat, baik sendiri-sendiri maupun apalagi secara berjamaah di masjidmasjid Allah, selama itu pula agama Islam akan terus ada, hidup, dan terus berkembang. Banyak agama yang dikenal dalam sejarah, ternyata menghilang dari kehidupan, karena fondasi tradisi rutinnya dalam berjamaah tidak cukup kuat. Tetapi, semua agama yang memiliki tradisi yang rutin, terutama dalam berjamaah, terus dihidupi oleh para penganutnya. Apalagi, jika substansi ajaran agama itu, dan tradisi dakwah yang dikembangkannya dalam praktik memang memenuhi hajat hidup umat manusia di sepanjang zaman, maka agama itu akan terus berperan dalam membentuk peradaban kemanusiaan yang meyakininya. Disitulah letak salah satu kekuatan agama Islam untuk terus tumbuh dan berkembang membangun peradaban umat manusia dari zaman ke zaman. 1 Disampaikan sebagai ‘keynote speech’ dalam konperensi dan festival masjid serantau di Kuala Lumpur, 7 Desember 2015. Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Republik Indonesia (DKPPRI), Ketua Dewan Penasihat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham), Wakil Ketua Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan Republik Indonesia (DGTK-RI), Pendiri/mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI, 2003-2008), mantan Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI, 2000-2005), Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI, 2005-20102015), Ketua Badan Pembina Masjid Agung Al-Azhar dan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar Jakarta, Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Masjid Raya Sriwijaya, Palembang, Pendiri/mantan Ketua Umum Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI, 1983-1988), mantan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI, 1985-1995), mantan Ketua Dewan Penasihat Dewan Masjid Indonesia (DMI, 2000-2010). 2 1 Rumah-rumah ibadah merupakan pusat dan simbol nilai-nilai spiritual yang sangat menentukan dinamika perkembangan peradaban umat manusia. Demikian pula lah masjid, peranannya sangat menentukan peradaban umat Islam dui sepanjang sejarah. Karena itu, (i) masjid selalu berhubungan atau dikaitkan dengan dinamika perkembangan (ii) pasar, (iii) istana, (iv) kampus-kampus universitas, dan (v) aneka komunitas keluarga Muslim di sepanjang sejarah umat Islam. 2. Masjid dan Pasar Dalam sejarah, pasar sering kali disalahpahami sebagai tempat kemaksyiatan banyak dilakukan. Pasar disalahmengerti seakan sebagai tempat yang kotor, sehingga harus dijauhi oleh umat Islam, dan bahkan dijauhkan dari masjid. Dalam salah satu hadits (dho’if) dinyatakan, “khoiru almakan almasjid, wa syarru almakan al-suq”. Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Juga sering diceritakan dalam riwayat bagaimana nabi Muhammad beberapa kali melarang orang berjualan di masjid, terutama sesudah sholat jum’at di masjid, karena seringkali mengganggu kekhusyu’an beribadah. Kebiasaan ini juga terus berkembang dalam praktik di banyak negara, dimana sesudah jamaah sholat jum’at ataupun sholat ‘iedul fitri dan ‘iedul adha di sekitar masjid banyak pedagang yang memanfaatkan keramaian jamaah untuk berjualan. Akibatnya, banyak masjid berubah seakan-akan menjadi pasar pada setiap hari Jum’at. Tentu hal ini harus dikelola dengan baik agar hubungan antara masjid dan pasar dapat dikembangkan secara lebih sinergis. Masjid tidak perlu dipertentangkan dengan pasar. Di pasar-pasar diperlukan masjid, dan pada waktu-waktu tertentu di masjid dapat saja dikembangkan aktifitas perdagangan atau di masjid diadakan pembahasan mengenai strategi pengembangan ekonomi pasar. Masjid adalah pusat peradaban umat Islam, sehingga perbincangan tentang perekonomian umat Islam sudah seharusnya juga dapat dibahas di masjid-masjid. Ketika nabi Muhammad mendapatkan laporan tentang persaingan pasar yang terjadi antara umat Islam dan kelompok-kelompok orang Yahudi, pembahasan tentang strategi pasar yang khusus bagi umat Islam juga dibicarakan di masjid dengan kesimpulan bahwa umat Islam harus membangun pasar sendiri. Atas dasar itulah umat Islam membangun pasar sendiri yang kemudian dapat bersaing dengan mandiri dan menyebabkan pasar umat Yahudi mengalami penurunan. Artinya, masjid memang sudah seharusnya tidak dijauhkan dari ide-ide dan bahkan kebijakan-kebijakan serta usaha-usaha konkrit di bidang perekonomian. Masjid sudah seharusnya dijadikan sumber inspirasi nilai bagi perkembangan ekonomi pasar di lingkungan umat Islam dan di masyarakat luas pada umumnya. 3. Masjid dan Istana Masjid juga tidak boleh dipisahkan dari dunia politik. Di tiap-tiap istana sudah seharusnya ada masjid, tempat para pemimpin politik bersujud di hadapan Allah. Pembicaraan mengenai politik negara di dalam masjid juga merupakan keniscayaan dakwah, asalkan sifatnya mengajak kepada kebajikan, ketaqwaan, dan persaudaraan, bukan mengajak kepada 2 kemunkaran, kepada dosa, kebencian, dan permusuhan. Politik sebagai sesuatu yang mulia ialah politik yang mempersatukan orang-orang yang saling bermusuhan, bukan malah menciptakan kebencian dan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara. Politik yang mengajak kepada kemuliaan hidup, bukan politik sebagai ekspresi hawa nafsu akan kekuasaan yang bersifat primordial, sempit, berjangka pendek, dan hanya berurusan dengan soal-soal kedudukan dan jabatan yang tidak mengutamakan kemuliaan amanah. Masjid, dengan demikian, perlu berada dalam jarak yang akrab dengan istana. Masjid, dengan demikian, memang tidak boleh menjauhi istana atau dijauhi oleh istana. Namun demikian, masjid sebaiknya tampil mandiri sebagai sumber cahaya moral dan spiritual bagi istana, bukan sebaliknya, istana yang mengungkung kemandirian moral masjid. Dalam QS. Al-Taubah : 18 ditegaskan, “Innamaa ya’muru masajidallaha man amana billahi walyaumi al-akhir, wa aqama al-shalata wa ata alzakata, wa lam yahsya illallah, fa’asa ulaaika an-yakunu minal muhtadiin” (Bahwa sesungguhnya orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu adalah (i) orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan (ii) menegakkan shalat dan menunaikan zakat, serta (iii) tidak takut kecuali kepada Allah; maka mereka itulah orangorang yang dikatakan memperoleh petunjuk). Artinya, orang-orang yang memakmurkan masjid itu adalah orang-orang tidak takut kepada apapun atau kepada siapapun kecuali kepada Allah. Karena itu, para pemakmur masjid bukanlah orang yang takut atau dapat ditakut-takuti oleh istana. Masjid tidak tunduk kepada istana, melainkan hanya tunduk kepada Allah saja. Demikian itulah posisi masjid dalam berhubungan dengan istana dimanapun atau di negara manapun istana itu adanya. Artinya, istana harus mendengarkan khutbah-khutbah di masjid dengan sebaik-baiknya, bukan sebaliknya, para khotib di masjid-masjid diatur dan dikendalikan oleh istana. 4. Masjid dan Universitas Masjid sejak awal pertama didirikan oleh nabi Muhammad difungsikan bukan saja untuk pelaksanaan shalat lima waktu. Masjid juga difungsikan sebagai majelis permusyawaratan dalam semua urusan umat Islam, termasuk dalam kaitannya dengan upaya-upaya pendidikan dan dakwah serta hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, masjid tidak lepas dari sekolah-sekolah dan kampus-kampus universitas sebagai pusat-pusat keunggulan sumber daya insani dan proses-proses yang berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kehidupan. Di masa kini, seperti ternyata dalam perkembangan dakwah Islam di banyak negara seperti di Indonesia, masjid selalu ada di lingkungan kampus-kampus universitas. Karena itu, masjid di samping ada di lingkungan komunitas perkantoran, di lingkungan komunitas pabrikpabrik industri, di lingkungan perkebunan dan pertambangan, dan bahkan di pasar-pasar dan mal-mal atau pun super-market, juga selalu ada di lingkungan lembaga-lembaga pendidikan, sekolah dan universitas. Tentu, fungsinya tidak hanya untuk melaksanakan kewajiban shalat 5 waktu, tetapi juga untuk memberikan bimbingan rohani dan pencerahan moral dan spiritual 3 bagi perkembangan pemikiran-pemikiran ilmiah dan pembinaan sumber daya insani umat Islam. Masjid harus difungsikan sebagai pembimbing moral dan penempa karakter mahasiswa dan dosen serta seluruh civitas akademika dalam memperkembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah. Ide-ide “Islamisasi sains dan teknologi” dan agenda pembentukan karakter Islami berdasarkan prinsip “akhlaqul-karimah” bagi para ilmuwan dan para mahasiswa dapat dikembangkan dari masjid-masjid kampus perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dengan begitu masjid di lingkungan kampus-kampus universitas dan di sekolah-sekolah dapat berperan penting yang terintegrasi dengan program-program riset dan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan dimaksud. Dengan demikian, pada saatnya, masjid-masjid dapat pula berkembang sebagai sumber pencerahan moral dan spiritual yang membimbing dan mengarahkan proses-proses pembangunan nasional secara lebih luas. 5. Masjid dan Komunitas Keluarga Muslim Selain dibutuhkan oleh komunitas-komunitas perkantoran, pasar, dan dunia pekerjaan pada umumnya, komunitas-komunitas pendidikan, komunitas kesenian dan lingkungan kebudayaan, dan komunitas-komunitas politik dan pemerintahan negara, masjid juga selalu hadir dan dibutuhkan oleh komunitas-komunitas pemukiman penduduk Muslim. Jamaah masjid sampai sekarang tidak dapat mengadministrasikan keanggotaan jamaah secara terstruktur seperti yang dilakukan oleh gereja Kristen dan Katolik yang mempunyai keanggotaannya sendiri-sendiri. Keberadaan gereja tidak diorientasikan pada komunitas pemukiman penduduk. Gereja biasa dibangun dimana saja, meskipun anggota jamaahnya tidak berasal dari daerah sekitarnya (community based). Akan tetapi, masjid selalu berorientasi pada komunitas jamaah di sekitarnya. Setiap komunitas penduduk Muslim dimana saja selalu berusaha mempunyai masjidnya sendiri untuk kepentingan bersama. Karena itu, salah satu tipe masjid yang dibangun oleh kaum Muslimin dimana saja adalah masjid komunitas yang sangat akrab dengan keluarga Muslim yang hidup di sekitarnya. Karakter masjid yang seperti ini ditemukan di semua komunitas pemukiman penduduk Muslim di seluruh Indonesia. Tidak ada pemukiman penduduk Muslim yang tidak berusaha membangun masjid, karena kebutuhan keluarga Muslim untuk menyelenggarakan sholat berjamaah bersifat rutin dan terus menerus ataupun pengajian untuk kepentingan bersama dalam membina keimanan dan ketaqwaan setiap keluarga Muslim. Peran masjid dalam pembinaan keluarga Muslim inilah pangkal tolak perkembangan kaum Muslimin dimana saja mereka berada, dan dalam proses membangun bangsa dan membangun peradaban kemanusiaan. B. BANGSA-BANGSA MUSLIM DAN PERADABAN ISLAM 1. Sumbangan Bangsa Arab 4 Selama 14 abad sejak masa nabi Muhammad, Islam telah berkembang melalui proses kemajuan yang sangat fantastis. Dinamika perkembangan peradaban umat Islam dalam sejarah tentu bersifat pasang-surut, tetapi secara umum sampai sekarang terus berkembang dan dengan tercatat sebagai agama dengan jumlah penganut terbesar kedua di dunia, setelah Kristen Protestan. Semua ini tidak dapat dilepaskan dari sumbangan bangsa Arab sebagai bangsa besar pertama yang memperkenalkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Pengaruh Islam terus meluas ke seluruh wilayah Afrika Utara sampai menyeberang ke Spanyol atas jasa bangsa Arab. Bahkan sejak masa-masa awal perkembangan Islam, ada saja catatan sejarah yang menunjukkan bahwa para pedagang Arab telah memperkenalkan Islam, seperti di tanah Melayu, di tanah Jawa, ke Asia Tengah dan Asia Selatan, dan kawasan-kawasan lainnya, sehingga bangsa Persia, Turki, Mongul, dan lain-lain pun akhirnya memeluk ajaran Islam, semuanya karena jasa bangsa Arab. 2. Sumbangan Bangsa Persia Bangsa kedua yang banyak sumbangannya bagi perkembangan dakwah Islam di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya sampai ke Asia Tengah dan Asia Selatan adalah bangsa Persia. Perkenalan bangsa Persia dengan Islam sangat menentukan perjalanan peradaban Islam di kemudian hari. Kebudayaan Persia menerima Islam tanpa mengubah karakternya menjadi Arab. Cita-rasa bahasa Persia pun terus tercermin dalam bahasa yang dipakai di kerajaan Mughal di India, dan lagu kebangsaan Pakistan sampai sekarang. Etiket dan tatakrama serta bahasa tercermin dalam kebudayaan Afganistan. Enclave kaum Syi’ah di beberapa negara Arab sampai sekarang, seperti Lebanon Selatan, Bashra dan Najaf, dan the Gulf, pada pokoknya terkait dengan kebudayaan, agama, dan sejarah Iran dan peradaban bangsa Persia. Kebudayaan Persia Islam juga tercermin dalam kebudayaan bangsa-bangsa Asia Tengah, India, danAzerbaijan. Di akhir milenium pertama abad hijriyah, tiga kekuatan negara super power dunia Islam, yaitu Turki Osmani, Safavid Iran, dan Kerajaan Mughal India, semuanya berbasiskan kebudayaan Persia, bukan Arab. Bahasa Arab dipakai sebagai bahasa agama dan hukum, tetapi bahasa puisi dan sastra, diplomasi dan estetika dipengaruhi oleh bahasa dan kebudayaan Persia. Disitulah kekuatan peradaban Persia yang besar sekali pengaruh sumbangannya bagi kemajuan peradaban dan perkembangan Islam seterusnya dengan pengaruh sampai ke kawasan Asia Tengah dan Selatan, terus ke Eropa Barat dan Eropah Timur. 3. Sumbangan Bangsa Turki Kebesaran sumbangan kebudayaan Persia, diteruskan oleh Kekhalifahan Osmani di Turki. Setelah kota Konstantinopel ditaklukkan diubah menjadi kota Istambul yang menghubungkan Benua Asia dan Eropa, dan dari sanalah penyebaran pengaruh Islam ke daratan Eropah terus berkembang, bahkan sampai ke Russia dan wilayah-wilayah sekitarnya di Eropah Timur. Oleh karena itu, tidak salah jika bangsa Turki dianggap sebagai bangsa besar ketiga yang juga banyak sekali sumbangannya bagi perkembangan Islam. Bahkan, kerajaan Turki Osmani juga yang sering dinisbatkan sebagai kekhalifahan terakhir dalam sejarah politik 5 Dunia Islam. Karena itu, perkembangan Islam sampai ke daratan Eropah Barat sampai ke Bosnia Herzegovina dan Eropah Timur sampai ke Russia dan sekitarnya sangat banyak bersentuhan dengan peranan kekhalifahan Turki Osmani. Bahkan, karena Kekhalifahan Turki Osmani pula lah, kedudukan Sultan Hamengkubuwono yang berpusat di Yogyakarta dikaitkan dengan kekhalifahan Osmani yang berpusat di Turki, yaitu setelah Sultan Hamengkubuwono diberi gelar “Khalifatullah di Tanah Jawa” berdasarkan Surat Keputusan Khalifah Turki Osmani. Sejak resmi diterimanya Surat Keputusan itulah, Sultan Hamengkubuwono menambahkan gelar dalam dirinya sebagai “Sayyidin Panatagama Khalifatullah ing Tanah Jawa”. Bahkan, sebagian riwayat menyebutkan bagaimana akrabnya hubungan kekhilafahan Turki Osmani dengan Kerajaan Islam di Aceh dalam memerangi penjajahan Belanda. Karena itu, dapat dikatakan bahwa bangsa Turki juga sangat besar sumbangannya bagi perkembangan Dunia Islam dan peradaban umat Islam dalam sejarah. 4. Sumbangan Bangsa India Bangsa India (dan sebenarnya juga bangsa China) juga telah menyumbangkan banyak jasa bagi perkembangan Islam di masa lalu. Bahkan, sebelum Pakistan dan Bangladesh berpisah menjadi negara sendiri-sendiri, penduduk Muslim di India dapat dikatakan terbesar jumlahnya sesudah bangsa Arab yang terpecah-pecah dan perpisah-pisah di banyak negara. Setelah Pakistan dan Bangladesh terpisah, maka total jumlah penduduk Muslim di India tercatat lebih sedikit dari jumlah umat Islam di China, dan penduduk Muslim Islam di Indonesia. Namun, baik penduduk Muslim India dan China pernah berperan besar dalam memperkembangkan Islam di kawasan Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Bahkan menurut sebagian riwayat, banyak juga pendakwah Islam yang datang memperkenalkan Islam di tanah Melayu-Indonesia, selain perkenalan penduduk kawasan ini dengan para pendakwah dari tanah Arab sendiri. Ketika umat Islam mengendalikan bangsa Indonesia, jumlah penduduk Hindu tetap lebih banyak jumlahnya daripada penduduk Muslim. Namun, selama 5 abad, Kerajaan Moghul berkuasa di India dan meninggalkan jejak sejarah yang sangat kaya, sehingga dijadikan “Taj Mahal” sebagai peninggal sejarah Kerajaan Moghul Islam dijadikan ‘icon’ industri pariwisata India yang dewasa ini tercatat sebagai negara berpenduduk Hindu terbesar di dunia. Sebaliknya, yang dijadikan ‘icon’ industri pariwisata Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dewasa ini adalah Candi Borobudur, yaitu peninggalan sejarah Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa. Sekarang, kedua objek peninggalan sejarah “Taj Mahal” di India dan Borobudur di Indonesia itu sama-sama sudah diakui oleh UNESCO sebagai “World Heritage” yang dibangun di zaman yang sama, yaitu ketika di India dikuasai oleh Kerajaan Islam, dan Indonesia dikuasai oleh Kerajaan Hindu. Sekarang, Indonesia menjadi negeri Muslim terbesar pertama di dunia, sedangkan India adalah negeri dengan penduduk Muslim terbesar kedua di dunia. Namun, menurut survei yang dilakukan oleh, tingkat pertumbuhan umat Islam di India tergolong sangat tinggi, sehingga pada tahun 2050 nanti, jumlahnya diramalkan akan melampaui jumlah umat Islam Indonesia. 5. ‘The Next’: Sumbangan Bangsa ‘Melayu-Indonesia’. 6 Sekarang yang sedang ditunggu Dunia Islam adalah peranan dan sumbangan bangsa Muslim Melayu-Indonesia bagi perkembangan dan kemajuan Dunia Islam di masa mendatang. Umat Islam di kawasan Asia Tenggara ini sangat besar jumlahnya. Bahkan, jika dilihat jumlah penduduk Muslim di satu negara, maka jumlah penduduk Muslim di Indonesia saja sudah mencapai angka terbesar di seluruh dunia, melebihi jumlah penduduk Muslim di China, India, Bangladesh, ataupun Nigeria, Mesir, dan Turki. Karena itu, sudah saatnya Dunia Islam berharap banyak kepada bangsa Muslim Melayu-Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dan menyumbang bagi kemajuan peradaban Islam di masa depan. Kebetulan, dalam perkembangan sejarah, bangsa Muslim Melayu-Indonesia yang hidup di Benua Maritim Nusantara yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam dan lain-lain, dapat dikatakan memang belum banyak menyumbang bagi perkembangan sejarah peradaban Islam di dunia. Jika ditinjau dari segi wilayahnya, dapat dikatakan kawasan Asia Tenggara sangat jauh dari pusat hiruk pikuk dunia Islam di Timur Tengah yang menyatu dengan kawasan Afrika sampai ke Asia Selatan dan ke wilayah Turki dan sebagian Eropa Timur. Sedangkan letak geografis Asia Tenggara sangat terpisah jauh dari pusat dunia Islam di Mekkah. Hal ini dapat dilihat dalam peta di bawah ini, dimana kawasan Islam di Asia Tenggara memang jauh terpisah dan justru mewakili dunia Islam seluruhnya di kawasan Asia Pasifik yang perekonomiannya sedang tumbuh dengan cepat dan diramalkan akan menjadi pusat peradaban baru umat manusia di masa depan. 6. Mencari Istilah Perekat Kawasan: ‘Islam Nusantara’ dan ‘Melayu-Indonesia’ Di kawasan Asia Tenggara pada dasarnya kita semua ini bersaudara, dan berasal dari nenek moyang yang sama. Namun, oleh karena administrasi politik dan organisasi kenegaraan, kita terpaksa harus menerima batasan-batasan konstitusional yang membedakan dan bahkan memisahkan. Ada Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada Kerajaan Federal Malaysia, ada Kesultanan Brunei Darussalam, ada Republik Singapura, Kerajaan Thailand, Republik Filipina, dan sebagainya. Pada umumnya, kita menyebut diri kita sebagai bangsa Melayu. Akan tetapi, di Indonesia banyak suku bangsa yang tidak dapat digolongkan dan bahkan juga tidak bersedia 7 dikategorikan sebagai orang Melayu, terutama suku- suku bangsa di kawasan Timur Indonesia, seperti Papua, Ambon, Flores, dan lain-lain. Di samping itu, sejak Sumpah Pemuda pada Tahun 1928, orang Indonesia menyebut dirinya sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air Indonesia, dan berbahasa persatuan di tengah 726 bahasa-bahasa daerah, yaitu bahasa nasional Bahasa Indonesia, dan sejak 17 Agustus 1945 membentuk satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, ada kesulitan besar bagi orang Indonesia dewasa ini untuk mengidentifikasikan diri atau diidentitifikasi sebagai orang Melayu dan berbahasa Melayu. Sedangkan orang Malaysia tidak ada kesulitan mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu dan berbahasa Melayu, dan malah akan menghadapi kesulitan untuk mengubahnya dengan istilah lain. Untuk itu, kita perlu mencari istilah baru yang dapat diterima bersama guna memperekatkan hubungan kebudayaan di antara sesama warga Muslim di kawasan Asia Tenggara ini. Apakah kita dapat memperkenalkan istilah yang sudah biasa digunakanya juga, misalnya, oleh Prof. Naquib Alattas, yaitu ‘Melayu-Indonesia’. Akan tetapi, dengan istilah ini, apakah orang Brunei akan merasa terwakili? Demikian pula suku bangsa Melayu di Thailand Selatan dan Filipina Selatan, apakah mereka termasuk ke dalam identitas ‘Melayu-Indonesia’? Hal ini tentu masih harus diperjelas. Mengenai wilayah nusantara yang berasal dari ‘nusa’ di ‘antara’ laut dan sungai yang terdiri atas kepulauan yang berjumlah lebih dari 17.000 an banyaknya, membentuk suatu kawasan yang disebut Benua Maritim yang tersendiri. Wilayah mulai dari Filipina sampai ke Timor Leste, dari Merauke di Papua sampai ke Sabang dan Pulau We di Aceh, dan Kepulauan Riau sampai ke Natuna, terus ke semenanjung Malaysia dan Singapura serta Thailand Selatan, dihuni oleh penduduk Muslim secara turun temurun sejak berabad-abad yang lalu. Karena itu, di Indonesia dewasa ini muncul istilah populer, yaitu ‘Islam Nusantara’ sebagai identitas budaya Islam yang khas dan berbeda dari karakter budaya yang tercermin dalam lingkungan pergaulan dunia Islam pada umumnya, seperti di Timur Tengah, ataupun di Afrika, di Asia Selatan, Turki, Iran dan lain sebagainya. Namun, ‘Islam Nusantara’ itu pada pokoknya dapat pula dipakai untuk pengertian yang berbeda, yaitu dalam konteks teritoral atau sifat lingkungan kewilayahan di Asia Tenggara. Dengan demikian, pengertian “Islam Nusantara” itu dapat mengandung pemaknaan yang lebih luas dan lebih inklusif atau tidak eksklusif seperti yang dicoba untuk dipopulerkan akhir-akhir ini di Indonesia. C. MASA DEPAN KAWASAN ASIA-PASIFIK DAN PERAN UMAT ISLAM 1. Krisis Timur Tengah dan Konflik Internal Dunia Islam Pentingnya umat Islam di kawasan Asia Tenggara untuk mengkonsolidasi diri sekarang dapat dikatakan sedang mendapatkan momentum yang tepat di tengah konflik berkepanjangan dunia Islam di Timur Tengah. Pola konflik Dunia Islam dewasa ini sudah sangat kompleks dan 8 ‘complicated’, ruwet dan tidak lagi terpola secara simetris. Semua kelompok dapat berkonflik dengan semua kelompok, dan bahkan misalnya, sentimen “anti syia’h” yang sedang melanda sebagian kalangan masyarakat sunny sudah sedemikian irrasionalnya sehingga cenderung mengabaikan sentimen “anti-Yahudi” sekalipun. Jika hal ini tidak dikendalikan, sangat mungkin terjadi bahwa pada suatu saat nanti, akan ada kelompok Islam Sunny yang anti Syi’ah berkolaborasi dengan Israel untuk menghadapi Iran dan para sekutu Syi’ahnya. Demikian pula pola-pola konflik lainnya di Timur Tengah, di Afrika, dan Asia Tengah dan di kawasan-kawasan lainnya menyebabkan kemajuan peradaban Islam di masa kini dan mendatang pasti terhambat. Sementara itu, gelombang-gelombang teror yang muncul dimanamana dengan menjadikan pemerintahan negara-negara barat sebagai sasaran kebencian bersama telah menyebabkan makin mendalamnya kebencian dan permusuhan terhadap Islam di akalangan masyarakat barat di Eropa, Amerika, dan bahkan Australia. Islam semakin disalahpahami oleh ummatnya sendiri, dan apalagi oleh orang-orang lain yang bukan Muslim. Ada banyak orang yang menjadi kepingin tahu tentang Islam sehingga melahirkan pula banyaknya peminat dan bahkan ‘converted Muslim’ baru di Amerika dan Eropa. Akan tetapi, yang jauh lebih banyak jumlahnya adalah mereka yang semakin salah paham, dan dihantui oleh sikap irrasional sebagai gejala ‘Islamophobia’. 2. Perkembangan Kawasan Ekonomi dan Masa Depan Kawasan Asia-Pacific Kita telah mencatat bahwa dalam perkembangan sejarah, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan perkembangan peradaban umat manusia terus bergerak dinamis, timbul dan tenggelam, serta berpindah-pindah dari zaman ke zaman. Dahulu kala, kawasan Asia Tenggara ini merupakan daratan yang luas yang sejak 11.000 tahun yang lalu terpecah-pecah menjadi 17.000-an pulau dan membentuk gugus kepulauan yang dapat disebut sebagai Benua Maritim yang tersendiri. Menurut Arysio dos Santos (Atlantis: The Lost Continent Finally Found, Indonesia, 2005) dan Stephen Oppenheimer (Eden in the East, 1999), di kawasan kita inilah dulunya pernah hidup suatu peradaban besar umat manusia yang oleh Plato disebut sebagai legenda tentang Atlantis. Namun, karena bencana alam yang dahsyat dan mungkin juga disebabkan oleh bencana budaya yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri, peradaban Atlantis itu menghilang dari sejarah. Bagaimanapun pusat-pusat peradaban umat manusia itu terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari suatu zaman ke zaman yang lain. Kawasan Timur Tengah pernah menjadi pusat peradaban umat manusia karena pengaruh Islam yang sangat besar pengaruh dan sumbangannya sejak zaman Rasul Muhammad sampai dengan abad ke-13. Kemajuan peradaban umat manusia di dunia sangat banyak berhutang dari pengaruh Islam sampai ke Spanyol dan Portugal di barat, dan sampai ke Balkan dan Russia di sebelah Timur Eropa, serta sampai ke India, China, dan bahkan ke Asia Tenggara. Setelah itu, pusat peradaban umat manusia berpindah ke barat, yaitu ke Benua Eropa. Namun, sesudah abad ke 18, pusat magnit perkembangan peradaban umat manusia mulai pindah dari Eropa menyeberangi samudera Altantik menuju benua Amerika. Sampai sekarang dapat dikatakan, pusat peradaban 9 kemanusiaan masih berpusat di Amerika Serikat, baik di bidang politik dan militer, ekonomi dan industri, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Amerika Serikat dewasa ini yang menjadi pengendali perkembangan di dunia, hampir di semua aspek kehidupan umat manusia dan di hampir semua aspek hubungan antar bangsa dan negara di dunia. Namun, bersamaan dengan itu, dewasa ini sudah tidak dapat lagi dipungkiri, munculnya kekuatan-kekuatan baru di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bahkan di bidang militer. Sekarang, semua mata dunia mulai tertuju kepada Asia yang dianggap akan menjadi pusat baru dalam perkembangan peradaban umat manusia. Benua Asialah yang ukuran daerahnya paling luas. Di Asia pula lah jumlah penduduk dunia terbesar berada dengan segala kompleksitas problematikanya. Jumlah negara yang terbanyak juga di Asia. Dan dalam beberapa dasawarsa terakhir negara-negara Asia yang berada di bibir kawasan cekung Pacifik lah yang memperlihatkan kinerja ekonomi yang sangat pesat pertumbuhannya. Semua negaranegara Asia di cekung Pacific tersebut bersama-sama dengan Australia, Amerika Serikat, dan Kanada secara bersama-sama memperlihatkan kinerja ekonomi yang baik untuk semakin menjadi pusat perhatian dunia di masa mendatang. 3. Peranan Umat Islam di Kawasan Asia-Pacific Di kawasan cekung Pacific yang menghubungkan bangsa-bangsa Asia dan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya, seperti Australia dan Kanada, kepentingan umat Islam dunia tentu saja diwakili oleh bangsa Muslim Melayu-Indonesia yang belum banyak menyumbang bagi kemajuan Islam dalam sejarah. Jumlah penduduk Muslim di kawasan ini tergolong sangat besar, terutama karena besarnya jumlah penduduk Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat, menempati posisi sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2010, total penduduk Indonesia tercatat sebanyak 238 juta jiwa dengan penganut agama Islam sebanyak 87% atau sekitar 207 juta jiwa. Namun, menurut laporan survei yang dilakukan PEW Research Center tahun 2015, meskipun mayoritas penduduk India beragama Hindu, tetapi diprediksi bahwa setelah tahun 2050 nanti, jumlah penduduk Muslim India lah yang akan menjadi terbesar di dunia, mengalahkan Indonesia yang sampai sekarang masih menduduki posisi sebagai negeri Muslim terbesar. Sebagai perbandingan, jika di Indonesia penduduk Muslim berjumlah 87% atau 207 juta jiwa dan penduduk Kristen sebanyak 7% atau 16,6 juta orang, maka di India jumlah penduduk Hindu tercatat 80,5% atau 857 juta jiwa berbanding umat Islam sebanyak 16,4% atau 174 juta jiwa. Akan tetapi, setelah tahun 2050, justru jumlah umat Islam di India itu akan melonjak tajam dan menjadi salah satu faktor penentu sehingga jumlah total umat Islam di dunia akan melampaui jumlah umat Kristen Protestan, Kristen Katolik, Kristen Ortodoks, dan Gereja Anglikan dijadikan satu. Penelitian PEW ini didasarkan atas data Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan jumlah penduduk pada 2010 sebanyak 6,9 miliar jiwa. Penganut agama Kristen sampai sekarang masih 10 mayoritas dengan total 31,4 persen atau sekitar 2,2 miliar jiwa. Sedangkan, agama Islam, sekitar 23,2 persen atau sekitar 1,6 miliar jiwa. Tidak beragama 16,4 persen atau sekitar 1,1 miliar orang. Agama Hindu di angka 15 persen atau sekitar 1 miliar jiwa, umat Buddha mencapai 7,1 persen atau sekitar 487,8 juta jiwa, dan selebihnya agama lain-lain seperti Yahudi, Baha-i, atheis, agama lokal, tidak beragama sama sekali, dan sebagainya. Sedangkan pada tahun 2050 nanti, dengan total populasi penduduk dunia diramalkan akan mencapai 9,3 miliar, jumlah umat Kristen akan semakin diimbangi oleh umat Islam, antara 31,4% dengan total 2,9 miliar jiwa, berbanding 29,7% atau 2,8 miliar jiwa. Malahan, menurut ‘www.religiouspopulation’ dan ‘www.muslimpopulation.com’ berdasarkan versi Guinness Book of World Records (2011) dan The Almanac Book of Facts (2011), jumlah penganut agama Islam per tahun 2011 sebenarnya sudah melampaui jumlah penganut agama Kristen seluruhnya (Kristen Katolik, Kristen Protestan, Kristen Ortodoks, dan Kristen Anglikan, dan lain-lain). Bahkan diungkapkan dalam ‘www.religiouspopulation’ bahwa jumlah pemeluk agama Islam pada 2012 sudah mencapai 2.1 milyar. Sedangkan jumlah pemeluk agama Kristen dan Protestan tinggal 2 milyar, sehingga agama Islam saat ini, kendati dibandingkan dengan pemeluk Kristen dan Protestan sekalipun, sudah menjadi agama terbesar di dunia. Tentu saja, data-data di atas ini dapat dikatakan ‘bias’ dan belum dapat dijadikan pegangan mutlak, seperti juga data yang dipakai oleh organisasi resmi seperti PBB sekalipun masih harus dikonfirmasi lagi oleh surveysurvei yang lebih objektif di masa mendatang. Akan tetapi yang pasti dinamika perkembangan umat Islam di dunia sangat signifikan dan umat Islam di Asia Tenggara harus tampil lebih aktif untuk melakukan konsolidasi dakwah yang semakin efektif di masa datang. Dalam beberapa dekade terakhir, penduduk dunia bertambah sangat pesat diiringi pula oleh pertambahan pemeluk agama, terutama agama Islam. Meski pertambahan penganut agama Kristen juga meningkat, tetapi pertumbuhan jumlah pemeluk agama Islam tercatat sebagai yang paling pesat dan tinggi di seluruh dunia. Menurut Guinness Book of World Records (2011), antara 1990-2000, diperkirakan sekitar 12.5 juta orang dari berbagai agama, pindah menjadi penganut agama Islam. Perkembangan Islam yang sangat cepat ini disebabkan oleh dua faktor penting, yatu (i) oleh tingkat kelahiran (fertility rate) yang tinggi di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, dan (ii) oleh jumlah orang-orang yang pindah (conversion) dari agama lain ke agama Islam yang juga tinggi, terutama di Amerika, Eropa dan Australia dalam 20 tahun terakhir. Sekarang tiba saat, umat Islam Asia Tenggara tampil ke depan untuk semakin memperkuat konsolidasi dakwah guna memperkembangkan lebih lanjut peradaban dunia Islam yang berpusat di kawasan Asia-Pasifik. Lihatlah kawasan berwarna hijau dalam peta dunia berdasarkan kajian oleh Gallup tahun 2006-2008 yang sudah kemudian di atas. Memang sudah saatnya, umat Islam di kawasan Asia Tenggara tampil memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban Islam di masa mendatang. Jika selama ini identifikasi Islam selalu dikaitkan dengan daerah hijau mulai dari Afrika Utara sampai ke Asia Tengah dan Selatan, mulai 11 dari Tanah Arab sampai ke Turki dan Eropa Timur, maka ke depan Islam harus mulai diidentifikasikan dari kawasan baru Asia Tenggara yang berada di sekitar cekung Pasifik, sebagai daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi paling menjanjikan masa depan dunia. Karena itu, umat Islam serantau dan masjid-masjid di kawasan Asia Tenggara harus membangun forum yang efektif untuk bertukar informasi dan berbagi pengalaman guna memperkembangkan efektifitas dakwah Islam di masa mendatang. Umat Islam di Indonesia,Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Philippines dan sekitarnya harus bersatu padu untuk dakwah dan peradaban Islam nusantara D. REKOMENDASI PELEMBAGAAN PUSAT MASJID ASIA-TENGGARA Hal terakhir yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini adalah pentingnya umat Islam nusantara sebagai “umat serantau” bersatu untuk dakwah dan peradaban “Islam Nusantara” atau “Islam Serantau” melalui fungsionalisasi masjid-masjid di seluruh pelosok negeri. Untuk itu diperlukan data-base masjid serantau di seluruh negeri Asia Tenggara. Untuk itu tentu diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk mengefektifkan pelembagaan organisasi Dewan Masjid Asia Tenggara yang dulu pernah didirikan tetapi tidak berjalan. Kita perlu menghidupkan dan menggerakkan lagi kegiatan Dewan Masjid Serantau ini dengan sebaik-baiknya. Secara khusus ide ini akan saya laporkan kepada Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. H.M. Jusuf Kalla, yang kebetulan juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI). Namun, sebelum pelembagaan Dewan Masjid Asia Tenggara tersebut kembali diaktifkan, saya menganjurkan agar di setiap negara diadakan upaya-upaya persiapan internal masing-masing negara terlebih dulu, agar kali ini, pelembagaan Dewan Masjid Asia Tenggara itu benar-benar aktif karena ditopang oleh aktifitas Dewan Masjid di tiap negara anggota masingmasing. Di samping itu, di lingkungan negara-negara dengan jumlah minoritas Muslim seperti di Thailand dan Philippines, dibutuhkan pula upaya diplomasi tingkat tinggi agar aktifitas dewan masjid ini kelak tidak dipersepsi secara negative. Tujuannya tidak lain untuk mengefektifkan dakwah tanpa harus mengganggu toleransi dan persahabatan damai antar umat beragama di negeri masing-masing. Inilah karakter umat Islam Asia Tenggara yang harus dipromosikan kepada dunia, yaitu Islam yang damai dan penuh dengan toleransi, yang selalu siap hadir sebagai “rahmatan lil’alamain” dengan spirit pergaulan yang bersifat ‘inklusif’ dan terbuka. Insya Allah. Demikianlah sedikit sumbangan pemikiran saya untuk majelis yang terhormat ini. Terima kasih, “wallahu a’lam bisshowab”. 12