Buku 2 : RPKPM

advertisement
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-1 dan Ke-2
PENGANTAR KULIAH, ARTI PENTING SERANGGA, DAN
SEJARAH ENTOMOLOGI
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Membedakan
serangga dengan
artropoda lain
 Menjelaskan sejarah
keberadaan serangga
di bumi termasuk
adaptasinya
I. Pendahuluan
1.1. Pembagian
kelompok diskusi
1.2. Perkenalan Asisten
praktikum
1.3. Review arti penting
serangga
√
√ √
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
1&2
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
√
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menjelaskan
perbedaan
serangga
dengan
artropoda
lain
Metode
Ajar
(STAR)
Aktivitas
Mahasiswa
Pembelajaran
kooperatif
Berdiskusi mengenai ciri
khas serangga
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
perbedaan
serangga
dengan
artropoda lain
Mendiskripsikan
artropoda non serangga
dan serangga
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
5, 7, 9b
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
Bab I. ARTI PENTING SERANGGA
Mengapa perlu belajar serangga?
A. Serangga berbeda dibanding hewan lain
1. Jumlah spesiesnya banyak
Serangga merupakan spesies organisme yang mendominasi kehidupan di bumi,
yaitu terdiri dari 1-4 juta spesies. Berbagai penelitian menyatakan bahwa makhluk
hidup di dunia ini terdiri dari 80% artropoda dan 20% hewan selain artropoda dan
manusia. Dari 80% artropoda, 75%nya adalah serangga dan 25% adalah artropoda lain
selain serangga. Ordo Coleoptera merupakan serangga dengan jumlah spesies
terbanyak dari seluruh kelompok serangga yang ada. Serangga merupakan hewan
purba, telah ada di bumi sejak 400 juta tahun yang lalu (jt th yl) dan diketahui sebagai
hewan daratan pertama di bumi, kelompok mamalia berada di bumi ± 230 jt th yl,
sedangkan keberadaan manusia modern baru muncul ± 1 jt th yl.
2. Serangga adalah hewan purba
Pengetahuan mengenai keberadaan serangga pada masa lampau tidaklah
lengkap, kebanyakan hanya merupakan dugaan dan berdasarkan pada bukti-bukti
secara tidak langsung. Ada 4 sumber informasi utama yang bisa dijadikan dasar tentang
keberadaan serangga di masa lampau, yaitu:
a. Fakta sejarah
Terdapat beberapa batuan permata berbentuk serangga di Mesir kuno, puisi dan
lukisan kuno tentang serangga di Cina, lempengan emas yang bergambarkan
serangga pada masa Alexander Agung, dan juga lukisan di dinding goa yang
dibuat oleh Indian Fremont, serta mahkota yang berhiaskan elytra serangga
Coleoptera di Kuil Horyuji, Nara, Jepang. Hal ini membuktikan bahwa serangga
telah ada dan telah dikenal oleh manusia sejak jaman dahulu {ribuan tahun
sebelum masehi},
b. Fosil
Fosil merupakan fakta akurat yang menunjukkan bahwa serangga merupakan
hewan purba. Serangga umumnya bertubuh lunak, oleh karena itu pada
dasarnya serangga bukanlah hewan yang mudah memfosil. Meskipun demikian
masih bisa ditemukan fosil serangga di batuan, baik pada batubara maupun
batuan sedimen. Selain pada batuan, fosil serangga juga ditemukan pada amber
{getah pohon}. Fosil artropoda yang dianggap memiliki hubungan erat dengan
serangga adalah Oncopoda, yaitu spesies Aysheaia pedunculata yang ditemukan
di Yoho National Park, Columbia pada jaman Precambian dan dianggap sebagai
nenek moyang serangga modern. Fosil lain yang sangat terkenal adalah fosil
serangga Palaeoptera yaitu Meganeura (ditemukan 350 jt th yl) yang saat ini
telah punah berbentuk seperti capung dengan bentangan sayap sepanjang 69
cm. Ini merupakan serangga terbesar yang pernah ada di bumi. Beberapa fosil
juga banyak ditemukan baik pada batuan sedimen maupun pada amber. Fosil
Coleoptera telah ditemukan pada batuan sedimen di sungai Eocene Green,
Colorado Barat, dan fosil Orthoptera ditemukan pada amber di daerah
pepohonan Columbia. Kedua fosil ini diperkirakan berumur 40 jt th yl.
Terdapat dugaan telah terjadi evolusi pada serangga. Teori evolusi menyatakan
bahwa serangga berasal dari hewan seperti cacing yang tubuhnya beruas-ruas.
Dari Ruas-ruas yang ada muncul alat-alat tubuh, pada kepala muncul antena dan
mata sederhana, pada ruas-ruas berikutnya muncul sepasang kaki sederhana.
Pada perkembangan selanjutnya antena berkembang dengan baik dan mata
sederhana berkembang menjadi mata majemuk. Ruas tubuh ke 1,2,3,4
mereduksi menjadi satu pada bagian kepala, ruas tubuh ke 5,6,7, menjadi toraks
dengan 3 pasang kaki, sedangkan ruas ke 8 dan seterusnya. menjadi abdomen
tanpa kaki. Hewan yang masih ada hingga saat ini dan dianggap serupa dengan
nenek moyang serangga modern adalah velvet worm, karena memiliki beberapa
persamaan dengan serangga yaitu peredaran darahnya terbuka, bernafas dengan
sistem trachea, dan tipe alat mulutnya adalah pengunyah.
c. Hubungan filogenetik
Para ahli entomologi menghubungkan fosil serangga yang ditemukan pada
masing-masing jaman purba dengan serangga yang ada pada saat ini, kemudian
dibuatlah sebuah bagan alur perubahan serangga purba menjadi serangga
modern berdasarkan habitat, ciri-ciri morfologi, serta berdasarkan DNA-nya.
Hubungan filogenetik ini merupakan sumber informasi yang tidak langsung
tetapi penting karena dapat digunakan sebagai pengidentifikasi seranggaserangga primitif berdasarkan pada kemiripan bentuk tubuh dengan serangga
yang ada saat ini.
d. Distribusi geografi
Distribusi geografi serangga dapat juga dijadikan sebagai dasar prediksi tentang
keberadaan serangga pada masa lampau yaitu dengan cara menginterpretasikan
penyebaran serangga secara geografis dan hubungan inter-spesies, yang terjadi
karena perubahan komposisi di bumi (terpisahnya pulau-pulau besar yang
dulunya menyatu) pada jaman Cretaceous.
Ke 4 informasi tersebut menunjukkan sebuah gambaran yang mengagumkan tentang
sejarah serangga. Berdasarkan hal tersebut dapat dijelaskan prediksi kemunculan
serangga di bumi, sebagai berikut:
Serangga primitif {serangga tak bersayap} muncul setelah tumbuhan perintis
tercipta di daratan. Pada saat itu {akhir jaman Silurian: kira-kira 410 jt th yl} semua
filum utama tumbuhan perintis dan hewan termasuk artropoda telah berkembang
dengan baik. Pada saat pertengahan jaman Devonian {375 jt th yl} kondisi udara dingin,
basah, dan lembab sehingga terjadi kemunculan tumbuhan paku yang sangat melimpah
di darat. Setelah itu iklim menjadi hangat dan lembap serta tercipta suatu kondisi
lingkungan yang semakin kompleks sehingga muncullah serangga yang bisa terbang.
Pada jaman Pennsylvanian {kira-kira 300 jt th yl} telah terdapat 12 ordo
serangga, beberapa ordo saat ini telah punah. Kebanyakan serangga berbentuk seperti
kecoa, oleh karena itu jaman Pennsylvanian juga disebut sebagai “jaman kecoa”. Pada
jaman ini juga ditandai dengan ekspansi serangga secara besar-besaran pada daerah
utara dan selatan yang berasal dari daerah katulistiwa.
Pada jaman Permian, lebih dari 10 ordo serangga telah hidup mapan di bumi
termasuk beberapa serangga modern. Pada jaman ini reptile dan tumbuhan juga
berkembang dengan cepat, dan terjadi kenaikan kompetisi pada serangga predator
{karnivora} dan herbivora. Hal ini menyebabkan peningkatan kompleksitas lingkungan
yang memacu terjadinya peningkatan keanekaragaman.
Akhir jaman Permian ditandai dengan kepunahan spesies-spesies hewan dan
tumbuhan secara masal termasuk delapan ordo serangga punah saat itu. Pada jaman
Triassic dan Jurassic spesies-spesies yang tersisa mengalami perkembangan yang
sangat pesat, disinilah terjadi perubahan besar-besaran sejarah kehidupan di bumi
(150-200 jt th yl). Pada masa ini, iklim menjadi lebih hangat dan kering serta diikuti
dengan kemunculan mamalia dan burung termasuk ektoparasitnya, sedangkan
serangga-serangga pemakan tumbuhan semakin mapan.
Selama jaman Cretaceous terjadi perubahan iklim dan pergeseran komposisi
bumi {terpisahnya pulau-pulau besar yang dulunya menyatu}. Pada jaman ini
muncullah tumbuhan angiospermae dan dengan cepat mendominasi komunitas
tumbuhan di bumi. Pada saat itu mulai terdapat serangga yang memanfaatkan bunga
sebagai sumber pakan, baik pemakan nektar maupun polen.
Pada akhir jaman Cretaceous terjadi lagi kepunahan organisme secara masal,
yaitu kira-kira 70% dari keseluruhan organisme yang hidup pada saat itu mengalami
kepunahan, termasuk Dinosaurus serta beberapa famili dan spesies serangga. Dugaan
ini dikuatkan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh ahli geologi dan
paleontologi yang menyatakan bahwa pada waktu itu terjadi peningkatan jumlah debu
di atmosfer sehingga sinar matahari terhalang dan suhu mengalami penurunan,
keadaan semacam ini terjadi selama beberapa bulan. Menurut penelitian para ahli
tersebut menyatakan bahwa terjadinya kepunahan masal itu adalah dampak dari
pergerakan matahari melalui gerakan spiral galaksi Bimasakti. Kepunahan masal
tersebut terjadi secara periodik, yaitu setiap 26 juta tahun sekali.
Jaman Tertiary dan Quarternary terjadi pergolakan iklim hingga terbentuklah
jaman es yang kini berada di daerah-daerah kutub. Hal ini juga menyebabkan terjadinya
pemencaran organisme pada daerah yang sesuai termasuk serangga. Kebanyakan genus
serangga modern telah mapan sejak 30 jt th yl dan masih ada hingga saat ini. Hal ini
membuktikan bahwa serangga benar-benar binatang purba yang masih ada hingga saat
ini.
3. Serangga sangat hebat adaptasinya
Serangga hidup di semua habitat dan nice dibumi ini, baik di darat maupun
diperairan. Hal ini menunjukkan bahwa serangga memiliki kemampuan adaptasi yang
sangat hebat terhadap lingkungan. Keberadaan serangga hingga saat ini menunjukkan
bahwa serangga adalah hewan yang sukses hidup dengan adaptasi yang sangat hebat.
Adaptasi serangga ini didukung oleh: ukuran tubuh serangga yang kecil, mempunyai
eksosekeleton, kecepatan reproduksi yang tinggi, bermetamorfosis, mempunya
kemampuan terbang, serta memiliki kemampuan mempertahankan diri baik terhadap
cekaman lingkungan maupun terhadap musuhnya.
B. Mempunyai peranan penting bagi manusia
1. Serangga bermanfaat dan serangga netral
Serangga bermanfaat dan serangga netral terdiri dari 90% dari keseluruhan
serangga yang ada dimuka bumi ini. Berbagai peran serangga bermanfaat adalah
sebagai rantai makanan dalam ekosistem, pengurai bahan organik, pembantu aerasi
dalam tanah, pembantu keseimbangan ekosistem dan konservasi hutan, penyerbuk
tanaman, model dalam ilmu pengetahuan, indikator lingkungan dan iklim, bahan baku
industri, makanan, dan bahan inspirasi seni.
2. Serangga yang merugikan / sebagai hama
Serangga yang bersifat sebagai hama hanya 10% dari serangga yang ada di muka
bumi meskipun demikian peranan serangga ini menjadi sangat penting bagi manusia
karena telah mampu menyebabkan kerugian yang sangat besar baik pada manusia
secara langsung maupun pada tanaman serta pemukiman. Serangga yang merugikan ini
umumnya bersifat sebagai hama pada daerah pemukiman, tanaman budidaya (hama
tanaman maupun hama gudang), manusia (mengganggu secara langsung), maupun
sebagai vektor penyakit manusia, hewan, tumbuhan.
C. Sejarah entomologi
Ilmu tentang serangga dimulai pada jaman Fir’aun, yaitu masa Ramses II pada
tahun 400 SM yang dibuktikan dengan laporan seorang penulis Mesir tentang belalang
yang menjadi hama pada pertanaman gandum. Pasca periode Renaisance (biologi
modern) pada tahun 1667, Fransisco Redi mampu membantah teori Generatio
spontanea dengan memanfaatkan seekor lalat. Pada tahun 1668 dipublikasikannya
morfologi malphigi ulat sutera. Penamaan biologi yang dikenal dengan Sistema natural
oleh Linnaeus yang dipublikasikan pada tahun 1758 merupakan sistem penamaan
binomial pertama kali yang diperkenalkan di dunia. Sistema natural oleh Linnaeus ini
digunakan untuk menamai tumbuhan dan hewan tingkat tinggi yang ada di muka bumi,
sedangkan sistem penamaan binomial pada serangga dilakukan oleh muridnya yaitu
Fabricius pada tahun 1775 yang disebut dengan sistema entomology.
Entomologi adalah salah satu cabang ilmu zoology yang mempelajari segala
sesuatu mengenai serangga (Entomon adalah serangga; logos adalah ilmu) dan orang
yang mempelajarinya disebut entomologist atau entomologiwan. Orang yang
mempelajari serangga bisa jadi berprofesi sebagai peneliti, guru, dosen, petani, dan
bahkan para penghobi. Charles Darwin merupakan orang pertama yang dengan
antusias mengoleksi kumbang sebagai hobi yang akhirnya ia teliti evolusinya dan
menceritakannya kepada seluruh entomologiwan di seluruh dunia. Dewasa ini terdapat
beberapa penghobi koleksi serangga dan bahkan menjualnya sebagai mata pencaharian;
terutama serangga-serangga yang secara estetika menarik seperti kupu-kupu dari
Bantimurung-Indonesia, kupu-kupu, kumbang, dan serangga lain dari Kuala LumpurMalaysia.
Assessment Pertemuan I dan II
1. Jelaskan pengertian entomologi!
2. Sebutkan dan jelaskan peran serangga di alam!
3. Sebutkan dan jelaskan masalah yang ditimbulkan oleh serangga!
4. Jelaskan diagram pie mengenai proporsi jumlah serangga di bumi dibandingkan
dengan jumlah hewan selain serangga!
5. Jelaskan sejarah entomologi!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-3
CARA KOLEKSI SERANGGA
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Mengoleksi serangga
secara benar dengan
menggunakan alat
yang tepat
 Memanfaatkan jenisjenis alat koleksi
serangga dengan baik
 Memahami tempat
hidup masing-masing
jenis serangga
 Mengawetkan
serangga secara
benar
II. Cara Koleksi dan
Pengawetan
Serangga
2.1. Review cara-cara
koleksi dan
pengawetan
serangga
2.2. Peralatan koleksi
serangga
2.3. Peralatan
pengawetan
serangga
√ √ √ √ √
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
3
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
berbagai
metode
koleksi dan
preservasi
serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
berbagai
metode
koleksi dan
preservasi
serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Aktivitas
Mahasiswa
Berdiskusi menentukan
metode koleksi
berdasarkan habitat dan
perilaku serangga
menurut kelompoknya
masing-masing
Berdiskusi menentukan
metode preservasi
berdasarkan stadium dan
tubuh serangga menurut
kelompoknya masingmasing
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
2, 8, 9b
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
II. CARA KOLEKSI DAN PRESERVASI SERANGGA
A. Metode Koleksi
Serangga merupakan organisme yang sangat melimpah keberadaannya dan
mampu hidup dimana saja, baik di darat maupun di air. Habitat serangga sangat
bervariasi, masing-masing spesies mempunyai kekhasan tempat hidup oleh karena itu
perlu dipikirkan metode penangkapan dan koleksi yang tepat untuk mendapatkan
spesies serangga yang diinginkan. Masing-masing metode dikembangkan untuk
menangkap serangga yang khas yang didasarkan pada perilaku dan habitatnya.
Koleksi serangga memerlukan peralatan tertentu yang telah disiapkan di dalam
tas cangklong yang sewaktu-waktu siap untuk dikeluarkan. Peralatan tersebut adalah:
 Aspirator
 Jaring serangga
 Pinset
 Botol pembunuh
 Vial yang berisi alkohol 80%
 Kertas HVS dibentuk segitiga
 Kantong plastik
 Kantong kertas
 Kuas kecil
 Pisau kecil/pisau lipat
 Buku catatan
 Pensil
 Kertas label
1. Penangkapan serangga dengan menggunakan aspirator
Aspirator (Gambar 1) digunakan untuk menangkap serangga yang kecil dan
pergerakannya sangat cepat, seperti: parasitoid ordo Hymenoptera, lalat Agromyzidae,
trip, dan afid.
Gambar 1. Aspirator
Aspirator ini bisa digunakan langsung untuk menyedot serangga pada tanaman
atau serangga-serangga kecil yang berada di dalam jaring serangga [kombinasi]. Semua
serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam
botol pembunuh (Gambar 2)
Gambar 2. Botol pembunuh serangga
2. Penangkapan serangga dengan menggunakan tangan/pinset/kuas
Cara penangkapan ini efektif untuk serangga yang relatif besar dan
pergerakannya relatif tidak begitu gesit, seperti: ulat daun, belalang sembah, kumbang,
dan semut. Penangkapan dengan menggunakan tangan perlu suatu pengalaman dan
keterampilan khusus. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika hendak menangkap
serangga-serangga yang beracun atau bersengat, seperti ulat api famili Limacodidae dan
semut subfamili Ponerine maka perlu alat bantu berupa pinset. Sedangkan kuas juga
dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menangkap serangga-serangga kecil yang
lunak, seperti: nimfa Ephemeroptera dan Plecoptera.
3. Penangkapan serangga dengan menggunakan jaring serangga
Ada tiga jenis jaring yang umum dipakai untuk menangkap serangga, yaitu:
a. Aerial nets (Gambar 3) adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan
untuk menangkap serangga yang aktif terbang, seperti: kupu-kupu, capung,
lebah, dan tawon. Sebaiknya gagang jaring dibuat dari bahan yang sangat
ringan dan jaringnya terbuat dari kain kasa yang lembut. Biasanya kain kasa
yang dipakai berwarna putih, tetapi beberapa ahli lebih suka menggunakan
kain kasa yang berwarna hitam untuk menghindari terjadinya pantulan
cahaya yang membuat takut serangga sebelum terjaring. Semua serangga
yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam
botol pembunuh.
Gambar 3. Aerial nets
b. Sweep nets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk
menangkap serangga-serangga kecil yang gesit dan berada di rerumputan
atau pada pucuk-pucuk tanaman, seperti: kumbang Coccinellidae, wereng
Cicadellidae dan Delphacidae. Semua serangga yang telah ditangkap
kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.
c. Aquatic nets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk
menangkap serangga-serangga yang hidup didalam air [serangga air],
seperti: larva Trichoptera dan Lepidotera.
4. Penangkapan serangga dengan menggunakan beating sheets
Metode ini dilakukan dengan cara penggoyangan tumbuhan dengan keras yang
dibawahnya telah dipasang beating sheets. Penangkapan dengan cara ini sangat sesuai
untuk serangga-serangga yang tidak bersayap terutama efektif untuk serangga yang
berklamufase dengan tumbuhan atau tersembunyi dan juga untuk serangga-serangga
yang pergerakannya lamban, seperti: serangga ordo Phasmatodea, beberapa serangga
ordo Coleoptera, Hemiptera, dan Hymenoptera. Semua serangga yang telah ditangkap
kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.
5. Penangkapan serangga dengan menggunakan kain/wadah bentuk kerucut
sebagai tadah
Metode ini dilakukan dengan cara penyemprotan zat beracun atau insektisida
pyrethroid pada tumbuhan yang dibawahnya telah dipasang kain sebagai wadah
serangga-serangga yang mati dan jatuh. Cara ini sangat efektif untuk serangga-serangga
yang hidup pada kanopi pohon, seperti beberapa serangga ordo Hymenoptera,
Hemiptera, dan Phasmatodea yang tidak bisa dijangkau oleh tangan atau jaring
serangga.
6. Penangkapan serangga dengan menggunakan corong Berlese
Metode ini dilakukan dengan cara mengambil seresah tumbuhan yang kemudian
diletakkan di dalam corong Berlese. Cara ini efektif untuk menangkap seranggaserangga sangat kecil yang hidup di dalam seresah umumnya berperan sebagai
pengurai bahan organik, seperti: beberapa jenis semut, kumbang Tenebrionidae,
Thysanura, dan beberapa Hexapoda bukan serangga seperti Collembola, Protura, dan
Diplura.
7. Penangkapan serangga dengan menggunakan perangkap
Macam-macam perangkap yang biasa digunakan untuk koleksi serangga adalah:
a. Pitfall, digunakan untuk memerangkap serangga yang aktif berjalan diatas
tanah, seperti semut, kumbang Carabidae dan Tenebrionidae.
b. Lampu, digunakan untuk menangkap serangga yang aktif pada malam hari,
seperti Noctuidae, Saturniidae, dan Sphingidae.
c. Seks Feromon atau seks Feromoid, digunakan untuk menarik serangga jantan
yang terpikat, seperti Plutella xyllostela
d. Aroma pakan sebagai zat pemikat [Methyl Eugenol dan Cue Lure] digunakan
untuk menangkap serangga yang membutuhkan pakan tertentu yang
beraroma dan mutlak diperlukan untuk kepentingan seksualnya, seperti
Bactrocera spp. dan Dacus spp.
B. Metode Preservasi Serangga
Pengawetan serangga yang benar membutuhkan suatu pengetahuan dan
keterampilan yang cukup. Serangga awetan [Spesimen] sangat penting untuk keperluan
penelitian terutama yang berkaitan dengan biodiversitas serangga. Pengawetan
serangga yang salah dapat berakibat fatal bagi spesimen yang disimpan. Pengawetan
serangga diperlukan peralatan-peralatan khusus seperti:
 Relaxing dish
 Pinset
 Span block
 Pinning block
 Jarum serangga
 Jarum penthol
 Lem PVAC
 Kertas karding
 Botol koleksi
 Alkohol 80%
 Kertas label
 Pensil atau tinta tahan luntur
Pengawetan serangga dan artropoda lain dilakukan dengan cara yang berbedabeda pada setiap spesies dan fase tumbuhnya. Ada dua cara pengawetan yang umum
dilakukan, yaitu pengawetan kering dan pengawetan basah.
Pengawetan kering dilakukan untuk serangga-serangga yang bertubuh keras
[umumya fase imago] dengan cara di pin [ditusuk dengan jarum preparat atau di
karding (Gambar 4 dan 5)].
Gambar 4. Cara pengawetan serangga dengan cara di pin serta posisi spesimen dan
label yang benar
Gambar 5. Cara pengawetan serangga dengan cara dikarding serta pemberian label
yang benar
Jarum yang dipergunakan untuk menusuk spesimen serangga harus jarum anti karat
atau stainless steel (bukan dari baja hitam atau dari kuningan) sebab jarum non-stainless
akan cepat berkarat apabila terkena cairan tubuh serangga. Ukuran diameter dan
panjang jarum bervariasi mulai dari nomor 00 sampai 9. Apabila jarum ditusukkan
secara tidak langsung ke tubuh serangga, seperti halnya karding, jarum stainless steel
tidak perlu dipergunakan, cukup dengan jarum dari baja. Beberapa serangga besar akan
berubah warna atau kotor apabila diawetkan kering, oleh sebab itu perlu dilakukan
proses pengeluaran isi perut atau ‘gutting’ sebelum serangga di pin. Buat belahan
sedikit di salah satu sisi pleural membrane diantara sternal dan tergal plates.
Pergunakan pinset untuk mengeluarkan alimentary canal, alat pencernaan makanan
perlu hati-hati jangan sampai sambungan anterior dan posterior patah. Bagian perut
kemudian dibersihkan dengan cermat dengan kapas dan tissue. Perutnya kemudian
dibentuk kembali dengan diisi kapas agar bentuk abdomen kembali seperti sebelumnya.
Belahan pada ujung pleural membrane kemudian dirapatkan kembali dan harus
tertutup kembali sebelum serangga kering.
Pengawetan basah dilakukan untuk serangga-serangga yang bertubuh lunak
[umumnya fase larva] dilakukan dengan cara menyimpan serangga didalam botol yang
telah diisi dengan alkohol 80% (Gambar 6), dengan ketentuan bahwa spesimen yang
diawetkan dalam alkohol harus disimpan dalam botol gelas dengan tutup yang rapat.
Menggunakan botol plastik tidak baik untuk tempat spesimen karena mudah retak
apabila diisi dengan alkohol. Pilih botol yang cukup besarnya agar spesimen tidak
tertekuk dan hancur, selain itu juga akan memudahkan pengambilan pada saat akan
diteliti/diamati.
Gambar 6. Cara pengawetan basah larva serangga didalam botol yang telah diisi dengan
alkohol 80%
Setiap spesies serangga dan artropoda lain mempunyai kekhasan cara
pengawetan, secara umum dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
LABA-LABA
Matikan dan awetkan dalam 80% ethanol. Sedikit ditambah glycerol pada ethanol akan
membuat spesimen lemas (fleksibel).
COLLEMBOLA
Matikan dalam 80% ethanol. Jernihkan dalam KOH dan slide mount di euparal dengan
spesimen diletakkan pada sisi kanan. Peletakan gelas obyektif dan de glass dengan
menggunakan kutek tak berwarna.
PROTURA
Matikan dalam 80% ethanol. Jernihkan dalam KOH dan slide mount di euparal dengan
spesimen diletakkan pada sisi ventral. Peletakan gelas obyektif dan de glass dengan
menggunakan kutek tak berwarna.
DIPLURA
Matikan dalam 80% ethanol, jernihkan dalam KOH dan slide mount dalam euparal.
Peletakan gelas obyektif dan de glass dengan menggunakan kutek tak berwarna.
THYSANURA
Matikan dan awetkan dalam 80% ethanol.
ODONATA
Matikan dalam botol pembunuh, sebaiknya capung dewasa dibiarkan hidup selama satu
atau dua hari di dalam kertas amplop agar isi perutnya terserap tubuh. Serangga yang
mati akan mengalami pembusukan isi perutnya sehingga akan mempengaruhi warna
kulit perutnya atau bahkan putus karena busuk. Setelah capung dewasa mati, tusuklah
dengan jarum serangga pada bagian tengah mesothorax (jarum harus keluar dari
bagian bawah tubuh diantara pasangan kaki pertama dan kaki kedua). Kembangkan
kedua pasang sayapnya dengan ketentuan letak anterior pinggir sayap belakang tegak
lurus dengan tubuh dan letak sayap depan simetris (Gambar 7).
Gambar 7. Lokasi penusukan jarum preparat dan pengaturan sayap pada Odonata
[capung]
ORTHOPTERA
Matikan belalang dewasa dalam botol pembunuh. Tusuklah dengan jarum serangga
pada bagian kanan mesothorax (biasanya pada dasar sayap depan bagian kanan)
belalang dewasa; bentangkan sayap bagian kiri dengan pinggir anterior sayap belakang
membentuk garis tegak lurus dengan tubuh; atur kaki dengan sempurna dan antena
yang panjang diatur menjulur ke belakang di atas tubuh (Gambar 8).
Gambar 8. Lokasi penusukan jarum preparat dan pengaturan sayap pada Orthoptera
[belalang]
MANTODEA
Matikan dalam botol pembunuh, untuk nimfa awetkan dalam 80% ethanol. Belalang
sembah dewasa diawetkan dengan cara ditusuk dengan jarum serangga pada garis
tengah mesothorax bagian kanan dan kembangkan sayap depan dan belakang sebelah
kiri dengan pinggir anterior sayap belakang membentuk garis tegak lurus dengan tubuh
(Gambar 9). Isi perut belalang sembah betina yang besar harus dibersihkan dan diisi
dengan kapas.
Gambar 9. Lokasi penusukan jarum preparat dan pengaturan sayap pada Mantodea
[belalangsembah]
HEMIPTERA
Matikan dalam botol pembunuh. Tusuklah dengan menggunakan jarum pada bagian
skutelum bagian kanan (Gambar 10); Serangga yang kecil harus dikarding dengan cara
menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan sepasang kaki
tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri.
Gambar 10. Lokasi penusukan jarum preparat pada Hemiptera [kepik]
THYSANOPTERA
Matikan dalam 80% ethanol. Awetkan dalam lembaran kertas persegi panjang dengan
bagian ventral menghadap ke atas, bentangkan sayap-sayapnya, kaki-kaki dan luruskan
antenanya (Gambar 11).
Gambar 11. Cara karding dan pengaturan antena, sayap serta kaki pada Thysanoptera
[trips]
NEUROPTERA
Matikan dalam botol pembunuh. Awetkan dalam lembaran kertas karding dengan cara
menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan sepasang kaki
tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri. Larvanya
awetkan dalam 80% ethanol.
COLEOPTERA
Tusuklah serangga dewasa tepat pada anterior elytron sebelah kanan sehingga jarum
keluar diantara coxa tengah dan belakang; atur kaki-kakinya sehingga ruas-ruas tarsi
dapat terlihat dengan jelas (Gambar 12). Spesies dengan ukuran sangat kecil dikarding
dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan
sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri.
Larva diawetkan dalam 80% ethanol.
Gambar 12. Lokasi penusukan jarum preparat dan pengaturan kaki pada Coleoptera
[kumbang]
DIPTERA
Tusuklah serangga dewasa pada bagian tengah mesothorax sebelah kanan. Atur sayapsayapnya untuk spesies yang besar sehingga sayap mengembang pada sisi anterior
membentuk posisi tegak lurus (Gambar 13). Serangga yang ukuran tubuhnya kecil
dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan
dengan
sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada
disebelah kiri, sayapnya dinaikkan ke atas dan kaki-kakinya diatur ke arah bawah.
Serangga dewasa famili Tipulidae diawetkan dalam 80% ethanol atau dilem dibagian
thorax pada kartu segiempat sehingga kaki-kakinya menempel pada kartu dengan
setetes lem pada setiap tibia. Larva diawetkan dalam 80% ethanol.
Gambar 13. Lokasi penusukan jarum preparat dan pengaturan sayap pada Diptera
[lalat]
LEPIDOPTERA
Tusuklah dengan jarum pada bagian garis tengah mosthorax untuk serangga dewasa;
atur kedua sayapnya dengan ketentuan sayap depan bagian posterior tegak lurus
dengan badan, sayap kedua menyesuaikan. Pengaturan posisi sayap dilakukan pada
span block (Gambar 14). Larvanya diawetkan dalam 80% ethanol.
Gambar 14. Cara pengawetan ordo Lepidoptera [kupu-kupu] menggunakan span block
HYMENOPTERA
Tusuklah serangga dewasa pada bagian kanan garis tengah mesothorax; atur sayapnya
agar terlihat jelas venasinya (Gambar 15). Spesies yang kecil dan atau semua jenis
semut perlu dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara
sepasang kaki depan dengan sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi
kepala berada disebelah kiri (Gambar 16). Larvanya diawetkan dalam 80% ethanol.
Gambar 15. Lokasi penusukan jarum preparat dan pengaturan sayap pada
Hymenoptera [lebah]
Gambar 16. Cara karding pada Hymenoptera [semut]
C. Informasi label untuk spesimen
Serangga-serangga yang telah diawetkan harus diberi label agar mempunyai arti
ilmiah. Label berisi informasi dasar mengenai tempat serangga ditemukan, tanggal
serangga ditemukan, dan nama kolektornya. Selain itu juga perlu dituliskan nama
spesies dan pendeterminasinya (dalam hal ini hanya sampai Ordo).
Lokasi: nama lokasi serangga itu ditemukan perlu dicatat sedemikian rupa sehingga
tempat itu dapat ditemukan pada peta dengan baik. Nama kota atau desa tidak boleh
disingkat untuk mencegah diartikan keliru dengan tempat lain oleh seseorang yang
kurang mengenal daerah tersebut. Dengan meningkatnya penggunaan koleksi data-base
dan kebutuhan yang berkaitan dengan standarisasi data secara internasional maka
label-label di museum spesimen perlu mencantumkan pula garis lintang utara dan
selatan serta ketinggian tempat seperti contoh sebagai berikut: S 7043'43.80" E
112034'05.19" 2510 m dpl.
Tanggal koleksi: tanggal koleksi akan memberi data tentang musim saat koleksi. Tulis
hari/tanggal, bulan, dan tahun. Pergunakan sesuai perjanjian internasional dalam
menulis hari dan tahun merujuk angka Arab dan bulan dengan angka Roman; sebagai
alternative bulan dapat disingkat seperti 3.viii.1993 atau 3 Aug 1993. jangan ditulis
seperti ini: 3.8.1993 sebab dapat diartikan di beberapa Negara sebagai bulan Maret
tanggal 8, 1993. Jangan menyingkat tahun 1993 dengan ’93. apabila beberapa hari
berturut-turut dipergunakan untuk koleksi di sebuah lokasi, maka hari-hari tersebut
dapat ditulis sebagai berikut: 3-6.xi.1994.
Kolektor: nama kolektor memungkinkan untuk berhubungannya kolektor dari suatu
tempat (dalam/luar negeri) untuk saling bekerjasama dalam mencari informasi lebih
lanjut atau menimbang kebenaran dari label yang tercantum. Tulis ejaan nama akhir
kolektor atau nama depan disingkat.
Data lain: banyak informasi yang penting, tetapi tidak ada relevansinya atau tidak
tersedia untuk semua serangga. Biasanya ditulis dalam label tersendiri sebagai
tambahan data-data primer.
Misalnya:

Catatan tentang inang serangga parasitik dan tanaman inang dari serangga
fitopagus (apabila informasi tersebut dapat diketahui).

Macam habitat secara rinci yang meliputi ketinggian tempat, tipe ekologi, dan
kondisi cuaca saat koleksi.
Contoh label:
<18 mm
Welirang Mount, East Java
S 7043'43.80" E 112034'05.19"
2510 m dpl INDONESIA
27 xii 2003
Col. Suputa
Camponotus gigas
Sk. Yamane Det.
< 8 mm
Tanah berpasir
Cuaca cerah
Label untuk spesimen yang dipin dan atau dikarding harus dicetak rapi dengan
tinta hitam yang tidak luntur dan berkualitas baik. Ukuran label tidak boleh lebih besar
dari 18 mm x 8 mm dan apabila label pertama terlalu kecil untuk data, beberapa data
harus ditulis lagi pada label kedua yang dideretkan di bawah label pertama di bawah
pin spesimen tersebut. Label harus berjarak dari spesimen agar mudah dibaca dari atas.
Label untuk spesimen di dalam alkohol harus ditulis dengan tinta hitam yang tidak
luntur dengan kertas yang baik. Ukuran label tidak boleh lebih dari 5 x 2 cm; klasifikasi
spesimen dan data koleksi harus ditulis pada label tersebut. Label harus dimasukkan ke
dalam botol bersama-sama dengan spesimen tidak ditempel dengan lem di luar botol.
Assessment Pertemuan III
1. Jelaskan pengertian koleksi serangga!
2. Jelaskan pengertian preservasi serangga!
3. Sebutkan dan jelaskan alat-alat koleksi serangga!
4. Jelaskan cara-cara preservasi serangga!
5. Jelaskan perbedaan antara preservasi kering dan preservasi basah!
6. Jelaskan kepentingan label spesimen serangga!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-4 dan 5
MORFOLOGI EKSTERNAL SERANGGA
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Memahami karakter
morfologi luar tubuh
serangga
hubungannya dengan
evolusi secara
komprehensif
 Menjelaskan bagianbagian dan susunan
kulit serangga serta
fungsinya
 Menjelaskan
perbedaan antara
seta, spur, dan spine
 Menjelaskan tipe-tipe
antenna, mata,
kepala, alat mulut,
kaki, dan sayap
III. Morfologi Eksternal
Serangga
3.1. Kulit/kerangka luar
serangga
3.2. Evolusi serangga
3.3. Bagian-bagian
tubuh serangga
dan fungsinya
√
√ √ √
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
4&5
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
bentuk
morfologi luar
serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Aktivitas
Mahasiswa
Pembelajaran
kooperatif
Mendiskripsikan bentuk
luar tubuh serangga
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
berbagai
bentuk luar
tubuh
serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Mediskusikan evolusi
pada serangga
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
1, 2, 3, 4, 5
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
III. MORFOLOGI EKSTERNAL SERANGGA
Serangga
adalah
invertebrata
beruas
yang
memiliki
kerangka
luar
(eksoskeleton). Eksoskeleton selain berfungsi sebagai kulit serangga juga berfungsi
sebagai penyangga tubuh, alat proteksi diri, dan tempat melekatnya otot. Kulit serangga
disebut integumen yang terdiri dari kutikula dan lapisan epidermis [Gambar 17].
Kutikula merupakan lapisan tipis yang strukturnya sangat kompleks yang terdiri dari
epikutikula dan prokutikula. Epikutikula merupakan lapisan terluar integumen dan
merupakan lapisan yang tipis, sedangkan prokutikula merupakan lapisan tebal yang
terdiri atas eksokutikula dan endokutikula.
Gambar 17. Kulit serangga
Epikutikula mempunyai ketebalan antara 0,1 sampai dengan 3 µm yang tersusun
dari tiga lapisan yaitu lapisan superficial, epikutikula bagian luar, dan epikutikula
bagian dalam. Epikutikula merupakan lapisan yang sangat vital dalam mencegah
terjadinya dehidrasi dan bersifat hidrofobik.
Prokutikula mempunyai ketebalan 0, 5 sampai dengan 10 µm yang tersusun dari
dua lapisan yaitu lapisan eksokutikula dan endokutikula. Bahan utama pembentuk
prokutikula adalah kitin kompleks dengan protein. Kitin berperan sebagai elemen
penyangga dan merupakan bahan khusus yang sangat penting dalam struktur
ekstraseluler serangga. Kitin ini tersusun atas polimer tidak bercabang yaitu sebuah
polisakarida yang tersusun dari β(1-4) yang merupakan unit yang tersambung pada Nasetil-D-glukosamin [Gambar 18].
Gambar 18. Struktur kitin
Bagian kulit yang mengeras atau mengalami sklerotisasi disebut sklerit. Sklerit
ini bisa berupa bidang, garis, galur, kerutan, atau lipatan; galur dan garis biasa juga
disebut suture. Pada permukaan integumen terdapat beberapa proses eksternal yang
membentuk kerutan, taji, sisik, duri, dan rambut. Selain proses eksternal juga terdapat
proses internal yang membentuk apodem. Apodem merupakan area internal tempat
melekatnya otot serangga.
Serangga dewasa tubuhnya terbagi atas tiga bagian, yaitu caput, toraks, dan
abdomen. Caput merupakan sebuah konstruksi yang padat dan keras dan terdapat
beberapa suture yang menurut teori evolusi caput tersebut terdiri dari empat ruas yang
mengalami penyatuan [Gambar 19].
Gambar 19. Hipotesis evolusi tubuh serangga yang berasal dari hewan sejenis cacing
(Ross, 1964).
Toraks terdiri dari tiga ruas yang jelas terlihat, sedangkan abdomen terdiri dari + 9
ruas.
Caput merupakan kepala serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya
antena, mata majemuk, mata oseli, dan alat mulut. Berdasarkan posisinya kepala
serangga dibagi menjadi tiga, yaitu hypognathous, prognathous, dan ephistognathous
[Gambar 20].
Gambar 20. Tipe kepala serangga
Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh serangganya adalah
belalang Acrididae; prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke depan, contoh
serangganya adalah kumbang Carabidae; dan ephistognathous apabila alat mulutnya
menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua serangga ordo Hemiptera.
Antena serangga berjumlah dua atau sepasang, berupa alat tambahan yang
beruas-ruas dan berpori yang berfungsi sebagai alat sensor. Bagian-bagian antena
adalah antenifer, soket, scape, pedicel, meriston, dan flagelum [Gambar 21].
Gambar 21. Antena serangga
Bentuk antena serangga sangat bervariasi berdasarkan jenis dan stadiumnya [Gambar
22].
Gambar 22. Tipe-tipe antena serangga
Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan mata oseli. Mata
majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan bentuk, sedangkan mata oseli atau
biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya.
Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal terdiri dari
satu ommatidium [Gambar 23].
Gambar 23. Mata serangga
Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000 ommatidia dan satu
ommatidiumnya berukuran + 10 µ [Gambar 24].
Gambar 24. Mata serangga di foto dengan SEM {scanning electron microscope}
Serangga makan dengan menggunakan mulutnya. Ada beberapa tipe alat mulut
serangga, yaitu: penggigit-pengunyah [Gambar 25], penggigit-pengisap [Gambar 26],
penusuk-pengisap [Gambar 27], pemarut-pengisap [Gambar 28], pengait-pengisap
[Gambar 29], pencecap-pengisap [Gambar 30], dan pengisap [Gambar 31].
Gambar 25. Tipe alat mulut penggigit-pengunyah
Gambar 26. Tipe alat mulut penggigit-pengisap
Gambar 27. Tipe alat mulut penusuk-pengisap dan irisan melintang stilet
Gambar 28. Tipe alat mulut pemarut-pengisap
Gambar 29. Tipe alat mulut pengait-pengisap
Gambar 30. Tipe alat mulut pencecap-pengisap
Gambar 31. Tipe alat mulut pengisap dan irisan melintang proboscis
Leher serangga merupakan daerah bermembran yang disebut cervix. Pada
bagian cervix terdapat sepasang cervical sklerit [Gambar 32]. Sepasang cervical sklerit
ini berfungsi sebagai engsel yang menghubungkan antara caput dengan toraks. Pada
beberapa serangga cervix sklerit ini menyatu dengan pleura pada protoraks.
Gambar 32. Cervical sklerit pada serangga
Torakss adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen. Toraks
serangga terdiri dari tiga ruas yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks [Gambar
33]. Toraks juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada
toraks terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo
Thysanura tidak bersayap). Toraks bagian dorsal disebut notum.
Gambar 33. Toraks serangga
Kaki serangga dewasa berjumlah tiga pasang, sedangkan pada fase pradewasa
jumlah kakinya sangat bervariasi tergantung spesiesnya. Secara umum kaki serangga
terdiri dari beberapa ruas yaitu trochantin, coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus,
pretarsus, dan claw [Gambar 34].
Gambar 34. Kaki serangga
Bentuk kaki serangga dewasa juga sangat bervariasi berdasarkan pada fungsinya. Kaki
yang digunakan untuk meloncat disebut saltatorial, menggali disebut fosorial, berlari
disebut kursorial, berjalan disebut gresorial, menangkap mangsa disebut raptorial, dan
berenang disebut natatorial [Gambar 35].
Gambar 35. Tipe-tipe kaki serangga
Sayap serangga terdiri dari dua atau satu pasang. Serangga bersayap pada fase dewasa
dan
pradewasa
khusus
pada
Ephemeroptera
yang
biasa
disebut
fase
subimago/preimago. Sayap serangga secara umum berupa lembaran yang bervena
berfungsi untuk terbang. Venasi sayap ini penting untuk diketahui sebagai dasar untuk
menentukan spesies serangga tertentu, khususnya bangsa lalat dan tawon. Venasi sayap
serangga secara umum dapat dilihat pada Gambar 36.
Gambar 36. Venasi sayap serangga
Sayap serangga bentuknya sangat bervariasi, oleh karena itu entomologist
memilahkan bentuk-bentuk sayap ini sebagai dasar untuk menentukan ordo. Sayap
depan kumbang sangat tebal dan kuat yang digunakan sebagai pelindung tubuhnya
disebut elytra; sayap depan kepik yang separuh bagian basal tebal disebut corium dan
selebihnya membran, sayap depan kepik ini disebut hemelytra; sayap depan kecoa
disebut tegmina; dan sayap belakang lalat yang disebut halter berukuran sangat kecil
berujung membulat berfungsi sebagai alat penyeimbang ketika terbang [Gambar 37].
Gambar 37. Tipe-tipe sayap serangga
Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan,
ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas, rata-rata 9-10
ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan bagian yang
menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi
disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran
disebut pleura [Gambar 38].
Gambar 38. Abdomen serangga
Assessment Pertemuan IV dan V
1. Jelaskan pengertian morfologi eksternal serangga!
2. Jelaskan teori evolusi yang terjadi pada serangga!
3. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe antena serangga!
4. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe kepala serangga!
5. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe alat mulut serangga!
6. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe kaki serangga!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-6 dan 7
MORFOLOGI INTERNAL SERANGGA
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Memahami karakter
morfologi internal
serangga
hubungannya dengan
evolusi secara
komprehensif
 Menjelaskan sistem
peredaran darah,
sistem pernafasan,
sistem pencernaan
dan sistem syaraf
serangga serta alat
reproduksi serangga
IV. Morfologi Internal
Serangga
4.1. Sistem peredaran
darah
4.2. Sistem pernafasan
4.3. Sistem pencernaan
4.4. Sistem saraf
4.5. Alat reproduksi
√
√ √ √
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
6&7
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
bentuk
morfologi
internal
serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
fungsi bentuk
internal tubuh
serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Aktivitas
Mahasiswa
Mendiskripsikan bentuk
internal tubuh serangga
Mediskusikan sistem
pencernaan pada
serangga yang pakannya
berbeda-beda (nectar,
daun atau bagian
tanaman yang lain)
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
3, 4, 5, 7, 8
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
IV. MORFOLOGI INTERNAL SERANGGA
A. Sistem Pencernaan serangga
Serangga mempunyai pakan yang sangat bervariasi mulai dari pemakan tumbuhtumbuhan, serangga lain, bangkai binatang, seresah, kayu, kertas, sampai dengan
pemakan darah manusia. Dalam mencerna pakannya serangga mempunyai saluran
pencernaan yang dimulai dari mulut - faring - esophagus - crop - proventriculus –
ventriculus - pyloric ampulla - rectum - sampai ke anus sebagai tempat pembuangan.
Pakan serangga didalam mulut di hancurkan oleh mandibula yang berfungsi sebagai gigi
serangga, kemudian pakan yang telah hancur diteruskan ke faring kemudian ke
esophagus, pakan untuk sementara disimpan di dalam crop. Setelah dari crop diteruskan
lagi ke dalam proventriculus yang berfungsi sebagai penggerinda pakan, pakan yang
telah halus kemudian masuk ke dalam ventriculus yang merupakan daerah penyerapan
sari-sari makanan oleh tubuh serangga. Pakan yang sudah diserap sari makanannya
diteruskan ke pyloric ampulla kemudian diteruskan ke rectum dan dibuang melalui
anus.
Saluran pencernaan serangga dibagi tiga bagian utama yaitu foregut, midgut, dan
hindgut yang oleh beberapa ahli juga disebut sebagai stomodeum, mesenteron, dan
proctodeum (Gambar 39).
Gambar 39. Sistem pencernaan serangga
Foregut terdiri dari faring yang terletak di setelah mulut serangga; esophagus
berbentuk seperti tabung; crop berbentuk seperti tabung yang membesar berfungsi
sebagai tembolok; dan proventriculus berupa bagian seperti pipa pendek yang dinding
bagian dalamnya dilengkapi dengan gerigi yang digunakan untuk menggerinda pakan.
Midgut terdiri dari katup stomodeal yang berfungsi sebagai pintu keluarnya pakan dari
proventriculus ke ventriculus dan menghambat masuknya cairan pakan kearah yang
berlawanan; Ventriculus berupa seperti tabung yang membesar hampir sama dengan
crop tetapi fungsinya berbeda. Ventriculus merupakan daerah penyerapan sari-sari
makanan. Hindgut terdiri dari katup pyloric yang berfungsi sebagai pintu masuknya
pakan dari ventriculus ke pyloric ampulla dan menghambat masuknya pakan dari arah
sebaliknya; malpighian tubule berbentuk seperti usus memanjang; pyloric ampulla yang
berupa daerah pertemuan antara malpighian tubule dan ventriculus; rectum berbentuk
seperti pipa yang menggelembung berisi sisa-sisa makanan yang akan dibuang: anus
tempat pembuangan sisa-sisa makanan yang tidak diperlukan lagi dalam tubuh
serangga.
Bentuk morfologi sistem pencernaan serangga sangat bervariasi berdasarkan
stadia dan jenis pakannnya (Gambar 40). Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa
terjadi perbedaan morfologi sistem pencernaan pada setiap fase pertumbuhan serangga
Malacosoma americanum. Gambar 40a adalah sistem pencernaan larva yang bertipe alat
mulut penggigit-pengunyah. Gambar 40b adalah morfologi sistem pencernaan pupa,
dan Gambar 40c adalah morfologi sistem pencernaan imago M. americanum bertipe alat
mulut pengisap.
Gambar 40. Sistem pencernaan a) larva, b) pupa, dan c) imago Malacosoma americanum
Pada serangga yang bertipe alat mulut penusuk-pengisap terdapat bagian yang
disebut salivary gland dan salivary canal. Salivary gland merupakan kelenjar ludah yang
menghasilkan enzim pencernaan yang disekresikan oleh serangga melalui salivary canal
sesaat sebelum serangga tersebut menghisap pakannya. Serangga-serangga yang
mempunyai kelenjar ludah ini umumnya adalah ordo Hemiptera dan Diptera. Pada
bidang pertanian serangga jenis ini bisa jadi sangat merugikan karena berpotensi besar
sebagai vektor patogen (virus, bakteri, dan mikoplasma).
B. Sistem Pernafasan
Serangga bernafas mengambil O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 melalui
sederetan lubang pada bagian lateral tubuhnya. Lubang –lubang tempat keluarmasuknya udara tersebut disebut spirakel, dari spirakel udara diteruskan menuju
trachea yaitu merupakan tabung tidak bercabang yang berisi udara kemudian udara
diteruskan menuju tracheolus yang merupakan tabung yang lebih kecil dari trachea dan
bercabang-cabang. Tracheolus ini berujung pada jaringan tubuh serangga (Gambar 41).
Gambar 41. Sistem pernafasan terbuka pada serangga
Keluar masuknya udara melalui spirakel dibantu oleh gerakan-gerakan otot yang
berhubungan dengan sistem syaraf pusat. Di dalam sistem pernafasan serangga dikenal
juga adanya kantung udara yang berupa kantung yang bisa mengembang dan
mengempis yang berfungsi untuk menurunkan berat badan, mendistribusikan udara,
mendinginkan suhu tubuh serangga ketika serangga terbang, dan untuk meningkatkan
tekanan tubuh selama masa pergantian kulit (Gambar 42).
Gambar 42. Kantong udara pada sistem pernafasan serangga
Pada serangga terdapat dua sistem pernafasan yaitu sistem pernafasan terbuka
dan sistem pernafasan tertutup. Sistem pernafasan terbuka umumnya terdapat pada
serangga-serangga terrestrial, contoh serangganya adalah serangga ordo Orthoptera,
Hemiptera, dan Strepsiptera. Sistem pernafasan tertutup terdapat pada serangga-
serangga aquatik (yang hidup di dalam air), contoh serangganya adalah serangga ordo
Odonata, Ephemeroptera, Trichoptera, sebagian kecil ordo Coleoptera, Diptera, dan
Lepidoptera. Sistem pernafasan tertutup pada prinsipnya sama dengan sistem
pernafasan terbuka hanya pada bagian spirakelnya tidak berupa sebuah lubang tetapi
berupa sebuah lembaran atau berupa benang yang berfungsi sebagai insang (trachea
berada di dalam lembaran insang) dan O2 masuk ke dalam insang dengan cara difusi
(Gambar 43).
Gambar 43. Insang dan sistem pernafasan tertutup pada capung
C. Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah pada serangga dikenal dengan sistem peredaran darah
terbuka yaitu darah serangga bersirkulasi di dalam tubuh tanpa melalui pembuluh
darah atau vena secara lengkap. Peredaran darah pada serangga dibantu oleh gerakangerakan otot yang mampu memompa darah bersirkulasi secara baik. Serangga hanya
mempunyai pembuluh darah dorsal yang berada di sepanjang tubuh serangga bagian
dorsal dan terbuka pada daerah caput.
Darah serangga mengalir dari bagian anterior melalui hemocoel (merupakan
ruang dalam tubuh serangga yang dilalui darah) kemudian darah masuk ke dalam
lubang-lubang ostia pada pembuluh dorsal, di dalam ostia darah kembali ke bagian
anterior melalui aorta hingga ke daerah caput lagi. Pembuluh darah dorsal yang
terdapat lubang ostianya seringkali juga dikenal sebagai jantung serangga. Jantung
serangga ini berupa tabung berotot yang bisa berkontraksi dan merupakan pembuluh
yang sempit yang pada kedua sisi lateralnya berlubang vertikal yang disebut dengan
ostia. Ostia mempunyai katup yang menghalangi aliran darah keluar dari jantung
(Gambar 44).
Gambar 44. Sirkulasi darah dalam tubuh serangga
Aorta berupa tabung kecil yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya darah
serangga ke bagian caput, daerah tersebut bermuara di belakang dan di bawah otak.
Selain darah serangga bersirkulasi di dalam tubuh serangga, darah juga bersirkulasi di
dalam venasi sayap. Salah satu contohnya adalah sirkulasi darah yang terjadi pada
sayap lalat rumah (Diptera: Muscidae) (Gambar 45).
Gambar 45. Sirkulasi darah dalam venasi sayap lalat
Darah serangga disebut dengan haemolymph yang terdiri dari cairan plasma
yang merupakan suspensi sel darah atau disebut haemocytes. Ada beberapa tipe sel
darah serangga (haemocytes) tetapi klasifikasi yang secara komprehensif sangat sulit
dilakukan karena setiap individu mempunyai kekhasan sel darah dan kenampakan yang
berbeda-beda pada kondisi yang berbeda dan penggunaan teknik pengamatan yang
berbeda. Tetapi secara umum sel darah serangga dapat dikategorikan ke dalam empat
tipe utama yaitu prohaemocytes, plasmatocytes, granular haemocytes, cystocytes
(coagulocytes) (Gambar 46).
Gambar 46. Tipe-tipe sel darah serangga
Prohaemocytes merupakan sel yang berbentuk bulat kecil dengan nuclei yang
relatif besar dan terdapat basophilic citoplasma yang mengandung ribosom yang sangat
banyak tetapi sedikit mengandung reticulum endoplasma.
Plasmatocytes yang merupakan tipe sel darah yang banyak dijumpai pada
sebagian besar serangga bentuknya sangat bervariasi dengan sebuah basophilic
citoplasma yang mengandung beberapa ribosom, mitokondria, dan beberapa bentuk
vakuola. Sel darah ini bersifat phagositic.
Granular
haemocytes
juga
bersifat
phagositic
seperti
perbedaannya adalah terletak pada granular haemocytes terdapat
plasmatocytes
butiran-butiran
acidophilic yang tampak sebagai membran yang bulat bila dilihat dengan menggunakan
mikroskop electron. Sel-sel darah ini juga mengandung reticulum endoplasmic yang
kasar dan melimpah.
Cystocytes (coagulocytes) jika dilihat dengan phase contras microscope terdapat
butiran-butiran hitam kecil dengan ujung meruncing yang bertebaran.
Selain keempat tipe sel darah tersebut masih ada tipe sel darah yang hanya
terdapat pada serangga-serangga tertentu, yaitu oenocytoids yang terdapat pada
Coleoptera, Lepidoptera, dan beberapa Diptera dan Hemiptera subordo Heteroptera.
D. Sistem Syaraf
Berbagai aktivitas serangga dan beberapa sistem yang bervariasi di dalam tubuh
serangga selalu berhubungan dengan sistem syaraf.
Sistem syaraf ini terdiri dari sel
yang memanjang disebut neuron yang merupakan pembawa informasi dalam bentuk
impuls elektrik dari sel-sel sensor eksternal dan internal ke effector yang cocok. Sel-sel
tersebut juga disebut sebagai gliar cells yang melindungi, mendukung, dan menyediakan
nutrien untuk neurons.
Berdasarkan pada anatomi internal sistem syaraf serangga dibagi tiga bagian
utama yang merupakan bagian-bagian yang saling berhubungan. Tiga bagian utama
tersebut adalah Central Nervous Sistem (CNS), Visceral Nervous Sistem (VNS), dan
Pheriveral Nervous Sistem (PNS). Central Nervous Sistem (sistem syaraf pusat) pada
serangga tersusun atas sebuah rantai ganda ganglia yang tersambung secara lateral dan
longitudinal (Gambar 47).
Gambar 47. Sistem syaraf pada serangga
Otak serangga mempunyai struktur yang sangat kompleks dan terletak dibagian
dorsal foregut di dalam caput. Otak serangga terbentuk dari tiga bagian yang menyatu
yaitu protocerebrum, deuterocerebrum, dan tritocerebrum (Gambar 48).
Gambar 48. Otak dan sistem syaraf Stomatogastric Locusta sp. (Orthoptera)
Protocerebrum berhubungan dengan sensor pada mata majemuk dan oceli,
deuterocerebrum berhubungan dengan sensor antena, dan tritocerebrum berhubungan
dengan sensor labrum dan usus depan. Sel-sel syaraf serangga disebut juga neuron yang
terbagi atas tiga tipe yaitu neuron indra yang membawa impuls syaraf indra; neuron
perantara yang menghubungkan antara neuron indra dengan neuron motor; dan
neuron motor yang membawa impuls dari pusat integrasi ke otot.
Sistem pengontrol aktivitas foregut dan pembuluh bagian dorsal serangga adalah
sistem syaraf stomodeal. Sistem syaraf stomodeal ini merupakan komponen utama yang
mengawali terbentuknya pasangan syaraf yang mencakup sistem pencernaan dan dua
pasang kelenjar endokrin (corpora cardiaca dan corpora alata). Kedua kelenjar ini
berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangbiakan serangga.
E. Sistem Reproduksi
Serangga berkembangbiak dengan cara yang sangat bervariasi, umumnya
serangga mempunyai satu jenis kelamin pada satu individu tetapi beberapa serangga
tertentu memiliki dua jenis kelamin dalam satu individu (hermaprodit).
Serangga betina memiliki sepasang ovari (indung telur) dan setiap indung telur
terdiri atas sejumlah ovariole yang berbentuk seperti tabung yang di dalamnya terdapat
sejumlah ovum (Gambar 49). Ovari berbentuk oval dengan ujung yang meruncing yang
disebut terminal filament. Pada bagian pangkal ovari terdapat calyx yang merupakan
pertemuan antar cabang pada bagian pangkal ovariole. Bagian yang merupakan tangkai
dari ovari yang bercabang dua disebut lateral oviduct, lateral oviduct ini bertemu pada
satu titik menjadi sebuah tangkai yang menghubungkan dengan vagina yang disebut
common oviduct. Didalam sistem reproduksi serangga betina terdapat spermatecha
(kantung sperma) dan spermatechal gland (kelenjar spermatecha). Kantung sperma ini
berfungsi sebagai penyimpan sperma setelah terjadi perkawinan dengan jantan yang
digunakan untuk vertilisasi telur. Selain spermatecha juga terdapat sepasang atau dua
pasang accessory gland atau kelenjar tambahan. Kelenjar tambahan ini struktur dan
fungsinya sangat bervariasi, misalnya pada kecoa sekresi yang dikeluarkan dari kelenjar
tambahan ini berbentuk sebuah kapsul atau ootheca yang mengelilingi telur dan terjadi
akumulasi di dalam bursa capulatrix.
Gambar 49. Morfologi internal sistem reproduksi serangga betina
Sistem reproduksi serangga jantan terletak di bagian posterior abdomen dan
terdiri dari sepasang gonad (testes) yang terhubung oleh beberapa
saluran yang
membuka dan berhubungan dengan organ seksual (aedeagus=penis) (Gambar 50).
Sepasang testes berbentuk membulat yang didalamnya terdapat beberapa testicular
folikel yang berpangkal pada vas efferens yang tersambung pada sebuah tangkai yang
disebut vas defferens. Vas defferens tersebut berpangkal pada sebuah bagian yang
disebut seminal vesicle. Pada sistem reproduksi jantan terdapat ejaculatory duct yang
merupakan saluran terakhir dari alat reproduksi yang berujung pada aedeagus.
Gambar 50. Morfologi internal sistem reproduksi serangga jantan
Assessment Pertemuan VI dan VII
1. Jelaskan pengertian morfologi internal serangga!
2. Jelaskan sistem pencernaan serangga!
3. Jelaskan sistem pernafasan serangga!
4. Jelaskan peredaran darah serangga!
5. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe sel darah serangga!
6. Jelaskan sistem syaraf serangga!
7. Jelaskan sistem reproduksi serangga!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-8
UJIAN TENGAH SEMESTER
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Menjawab dan
menguraikan
permasalahan
koleksi, perservasi,
serta menganalisis
morfologi eksternal
maupun internal
serangga
Ujian Tengah
Semester
√
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
8
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
dalam
mejawab
pertanyaan
Metode
Ajar
(STAR)
Aktivitas
Mahasiswa
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Menjawab pertanyaan
tertulis dan mejawab
langsung pertanyaan saat
wawancara
Membuat soal ujian dan
mewawancarai
mahasiswa
Sumber
Ajar
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-9 dan 10
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGBIAKAN
SERANGGA
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Memahami dan
menjelaskan proses
molting pada
serangga
 Menjelaskan tipe-tipe
metamorfosis pada
serangga
 Memahami tipe-tipe
larva dan pupa
serangga
 Memahami tipe
perkembangbiakan
serangga
V. Pertumbuhan dan
Perkembangbiakan
Serangga
5.1. Review cara-cara
pertumbuhan
serangga
(metamorfosis)
5.2. Mengenal bentuk
telur, tipe larva
dan pupa
5.3. Review cara-cara
perkembangbiakan
serangga
√ √ √ √ √
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
9 & 10
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
berbagai
metamorfosis
dan
perkembangbiakan
serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Pembelajaran
kooperatif
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
berbagai
metamorfosis
dan
perkembangbiakan
serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Aktivitas
Mahasiswa
Berdiskusi mengenai
metamorphosis dan
perkembangbiakan
serangga secara
kelompok
Mendiskripsikan tipe-tipe
metamorfosis serangga
Mendiskripsikan tipe-tipe
perkembangbiakan
serangga
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
3, 4, 9b
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
V. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGBIAKAN SERANGGA
Pertumbuhan dan perkembangbiakan serangga sangat bervariasi dan melalui
tahapan-tahapan tertentu. Pertumbuhan dan perkembangbiakan serangga ini sangat
erat kaitannya dengan reproduksi. Kemampuan reproduksi serangga sangat tinggi hal
ini menguntungkan serangga dalam proses pelestarian hidup generasinya. Didalam
perkembangbiakan serangga terdapat beberapa fase yaitu fase embrionik, dan fase
pasca embrionik. Perkembangbiakan embrionik adalah perkembangbiakan serangga
mulai dari proses embrio hingga keluar menjadi sebuah individu baru. Perkembangan
embrionik pada serangga secara umum dikelompokkan ke dalam tiga tipe yaitu ovipar,
vivipar, dan ovovivipar.
Ovipar adalah serangga yang berkembangbiak dengan cara bertelur. Telur-telur
yang diletakkan serangga ini dalam keadaan yang sudah sempurna artinya telah dibuahi
oleh sperma jantan. Proses pembuahan telur-telur oleh sperma jantan terjadi di dalam
tubuh betina sebelum telur tersebut diletakkan. Organ yang berperan di dalam
pembuahan sel-sel telur di dalam tubuh betina adalah spermatecha. Perkembangan
embrionik serangga jenis ini terjadi di luar tubuh induknya, sumber nutrien berasal dari
kuning telur. Telur-telur serangga sangat beragam baik ukurannya maupun bentuknya.
Ukuran telur serangga yang terkecil adalah 0,15 mm dan ukuran telur yang terbesar
untuk serangga diameternya mencapai 3 mm. Bentuk telur serangga sangat bervariasi
ada yang berbentuk datar atau seperti sisik yaitu telur ngengat (Carpocapsa pomonella),
ada juga telur yang berbentuk membulat yaitu telur (Scarabaeidae: Cetoniinae) dan juga
telur Papilionidae, telur berbentuk kerucut yaitu telur Pierisrapae sp. (Lepidoptera:
Pieridae), telur yang memanjang yaitu telur wereng dan Epilachna sp. (Coleoptera:
Coccinelidae) serta masih banyak lagi bentuk-bentuk telur yang lain (Gambar 51).
Gambar 51. Bentuk-bentuk telur serangga
Setiap spesies serangga yang berkembangbiak dengan cara ovipar meletakkan
telur-telurnya pada tempat yang sesuai bagi serangga pradewasanya untuk
mendapatkan pakan, misalnya kumbang penggerek batang akan meletakkan telurnya
pada celah-celah kulit batang kayu. Sedangkan kupu-kupu yang ulatnya memakan kubis
akan meletakkan telurnya pada daun-daun kubis. Ada kekhasan serangga dalam
meletakkan telur khususnya predator. Belalang sembah (Mantodea:Mantidae)
meletakkan telurnya pada ranting, ini bukan berarti bahwa belalang sembah memakan
ranting dan juga pada Chrysopa sp. (Neuroptera: Chrysopidae). Bentuk telur predator
mempunyai kekhasan tersendiri. Telur belalangsembah terbungkus oleh lapisan seperti
spon yang menutupi telur-telurnya sehingga serangga pradewasa dari telur yang telah
menetas terlebih dahulu tidak melihat telur-telur lain yang belum menetas. Demikian
juga dengan Chrysopa yang telurnya diletakkan secara sendiri-sendiri yang dilengkapi
dengan penyangga seperti ranting yang berfungsi sebagai pemisah antara telur satu
dengan lainnya agar saat menetas keturunannya tidak saling memakan (kanibal)
(Gambar 52).
Gambar 52. Telur Chrysopha sp.
Vivipar adalah serangga yang berkembangbiak dengan cara melahirkan.
Serangga pradewasa yang dilahirkan berupa serangga yang sudah sempurna dan
memiliki organ tubuh yang lengkap (tidak lagi berupa embrio). Perkembangan embrio
berlangsung di dalam tubuh induknya dan embrio memperoleh nutrien langsung dari
induknya melalui celah pada embrio yang berfungsi sebagai plasenta. Contoh serangga
yang berkembangbiak dengan cara vivipar adalah kutu daun (Afid)(Gambar 53).
Gambar 53. Afid yang sedang melahirkan anak
Ovovivipar
adalah
serangga
yang
berkembangbiak
dengan
cara
bertelur/beranak. Perkembangbiakan ovovivipar ini menyerupai perkembangbiakan
vivipar yaitu telur-telur telah dibuahi secara sempurna di dalam tubuh induknya, telur
tersebut tetap berada di dalam tubuh induknya sampai menetas. Setelah menetas
kemudian sang induk melahirkan serangga pradewasa tersebut pada tempat-tempat
yang menjadi inang bagi anaknya. Contoh serangga yang berkembangbiak dengan cara
ovovivipar ini adalah lalat-lalat (Sarcophagidae) pemakan daging atau bangkai dan
beberapa parasitoid belalang. Lalat Sarcopaghidae meletakkan anak yang berupa
tempayak pada daging atau bangkai yang merupakan pakan bagi serangga
pradewasanya.
Ada tiga tipe reproduksi serangga yaitu parthenogenesis, hermaphroditism, dan
polyembryony. Pertumbuhan dan perkembangbiakan serangga dari telur yang tidak
dibuahi disebut parthenogenesis. Beberapa tawon betina dikawin oleh tawon jantan
tetapi tidak semua telur-telurnya terbuahi, tetapi semua telur tersebut mampu menetas.
Afid betina tidak selalu dikawin oleh afid jantan tetapi mampu menghasilkan keturunan
meskipun tidak terjadi kopulasi. Serangga betina parthenogenesis yang hanya
menghasilkan keturunan betina saja disebut thelytoky, dan yang menghasilkan
keturunan jantan disebut arrhenotoky, sedangkan yang menghasilkan keturunan jantan
dan betina disebut amphitoky atau deuterotoky. Beberapa serangga parthenogenesis
seperti Heteropeza pygmaea (Diptera: Cecidomyidae) mampu menghasilkan keturunan
pada saat pradewasa (larva), fenomena ini disebut paedogenesis.
Serangga-serangga yang mampu membuahi sel-sel telurnya sendiri disebut
hermaphrodite. Icerya purchasi (Hemiptera: Margarodidae) adalah salah satu contoh
serangga yang berkembangbiak dengan cara hermaphrodite. Serangga tersebut
mempunyai gonad dan juga ovary.
Polyembryony adalah reproduksi aseksual yang menghasilkan dua atau lebih
embrio dari satu telur. Jumlah embrio yang dihasilkan dari satu telur sangat bervariasi,
tergantung dari spesies dan besar-kecilnya inang (untuk serangga parasitoid). Salah
satu contohnya adalah parasitoid Copidosoma spp. (Hymenoptera: Encyrtidae) yang
mampu menghasilkan 3000 embrio dari satu telur.
Ada tiga fase pertumbuhan serangga yaitu pertumbuhan embrionik, pradewasa,
dan dewasa. Perkembangbiakan embrionik diawali dengan vertilisasi telur. Hal ini
biasanya terjadi di dalam tubuh serangga betina karena mempunyai spermatecha.
Vertilisasi ini ditandai dengan bertemunya sperma dengan sel telur (ovum). Setelah
terjadi vertilisasi maka berlangsunglah proses pembelahan nucleus menuju ke
permukaan telur dan terbentuklah blastoderm yang merupakan sebuah lapisan seluler
tipis. Didalam telur terjadi proses pembentukan kuning telur (vitellogenesis). Pada akhir
proses terjadilah pembentukan chorion atau cangkang telur (Gambar 54).
Gambar 54. Proses pembentukan blastoderm
Proses embrionik selanjutnya adalah terbentuknya bakal embrio (germ band).
Germ band melengkung masuk ke dalam kuning telur dan setelah itu terbentuklah tiga
jaringan utama yaitu mesoderm, endoderm, dan ectoderm (Gambar 55).
Gambar 55. Mesoderm, endoderm, dan ectoderm
Mesoderm membentuk lapisan dalam yang terdiri dari otot, lemak, dan gonad
sedangkan endoderm membentuk lapisan tengah yang terdiri dari usus atau saluran
pencernaan (midgut) dan ectoderm membentuk lapisan luar yang terdiri dari usus
depan (foregut), usus belakang (hindgut), sayap dan garis trachea. Akhir dari semua
proses tersebut adalah penetasan telur dan munculnya organisme baru yang
merupakan serangga pradewasa. Semua proses reproduksi tersebut dikontrol oleh
sistem endokrin. Sistem endokrin adalah sebuah sistem komunikasi internal yang
secara relatif sangat cepat yang berhubungan dengan sistem syaraf.
Secara umum serangga pradewasa adalah telur, larva, dan pupa. Serangga yang
telah menetas dari telur disebut larva. Larva dipisahkan lagi menjadi beberapa nama
sesuai
dengan
metamorfosis
dan
tempat
hidupnya.
Semua
serangga
yang
bermetamorfosis sempurna (holometabola) larvanya disebut larva. Sedangkan
serangga yang metamorfosisnya bertahap (paurometabola) larvanya disebut nimfa, dan
serangga yang metamorfosisnya tidak lengkap (hemimetabola) disebut naiad.
Ada beberapa tipe larva pada serangga yang didasarkan pada jumlah kaki dan
bentuk tubuhnya. Bedasarkan jumlah kaki, serangga dibedakan atas tiga tipe yaitu
polipoda, oligopoda, dan apoda. Sedangkan berdasarkan bentuk tubuhnya larva
serangga dibedakan atas beberapa tipe yaitu eruciform, scarabaeiform, campodeiform,
elateriform, vermiform, dan flatyform (Gambar 56).
Gambar 56. Tipe-tipe larva serangga
Polipoda adalah larva yang berkaki lebih dari 3 pasang yaitu selain mempunyai
kaki thorakial (kaki sesungguhnya) juga mempunyai kaki tambahan yang berupa kaki
abdominal. Larva polipoda ini juga disebut bertipe eruciform dan platyform. Larva
bertipe eruciform ciri-cirinya adalah sebagai berikut: caputnya bertipe hypognathous,
sangat jelas ruas-ruas tubuhnya, kakinya pendek, antena sangat kecil, dan tubuhnya
berupa silinder dan memanjang. Contohnya adalah larva Acherontia lachesis
(Lepidoptera: Sphingidae).
Sedangkan ciri larva yang bertipe flatyform adalah caputnya bertipe
hypognathous, kakinya sangat pendek, tubuhnya gepeng, umumnya pemakan
tumbuhan dan beberapa spesies mempunyai spines yang beracun. Contohnya adalah
larva Parasa lepida (Lepidoptera: Limacodidae). Oligopoda adalah larva yang berkaki 3
pasang yaitu kaki thorakial saja. Larva oligopoda ini juga disebut bertipe scarabaeiform,
campodeiform, dan elateriform. Ciri-ciri larva yang bertipe scarabaeiform adalah
caputnya bertipe hypognathous, tubuhnya silender dan berbentuk seperti huruf C dan
kakinya pendek. Contohnya adalah larva Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae).
Ciri larva yang bertipe campodeiform adalah caputnya bertipe prognathous, kakinya
panjang, umumnya sangat aktif dan berperan sebagai predator. Contohnya adalah larva
Coccinela septempunctata (Coleoptera: Coccinelidae). Sedangkan ciri larva yang bertipe
elateriform adalah caputnya bertipe prognathous, kakinya pendek, tubuhnya silinder
memanjang (sangat panjang), dan umumnya pemakan tumbuhan. Contohnya adalah
larva Tenebrio molitor (Coleoptera: Tenebrionidae). Apoda adalah larva yang tidak
berkaki disebut juga bertipe vermiform. Larva serangga jenis ini biasanya bergerak
dengan menggunakan peristaltik hidroskleleton tubuhnya, tidak mempunyai caput, dan
tidak bermata. Contoh serangga jenis ini adalah larva Bactrocera umbrosus (Diptera:
Tephritidae).
Serangga memiliki eksoskeleton sehingga dalam pertumbuhannya harus
mengalami proses pergantian kulit. Larva tumbuh dan berkembang melalui proses
ekdisis yaitu pergantian kulit untuk tumbuh menjadi serangga yang lebih besar.
Stadium larva serangga mengalami beberapa ganti kulit rata-rata antara 4-10
pergantian kulit. Batas antar pergantian kulit disebut instar. Serangga yang baru saja
menetas dari telur disebut instar 1 dan setelah ganti kulit pertama disebut sebagai larva
instar 2, begitu seterusnya.
Setelah fase larva khususnya untuk serangga yang
bermetamorfosis sempurna (holometabola) akan memasuki fase pupa. Ada tiga tipe
pupa berdasarkan bentuknya yaitu eksarata, obtekta, dan coarctata (Gambar 57).
Eksarata adalah pupa serangga yang morfologinya atau bentuknya sudah menyerupai
imago yaitu bakal caput, torak, abdomen, kaki, dan antenanya sudah terlihat jelas dan
tidak lagi menyatu dalam satu bentuk (seperti bentuk patung). Contoh serangganya
adalah pupa Oecophylla smaragdina (Hymenoptera: Formicidae). Obtekta adalah pupa
serangga yang bentuknya hampir menyerupai bentuk imago yaitu bakal caput, torak,
abdomen, kaki, dan antenanya terlihat berupa relief. Contoh serangganya adalah pupa
Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae). Coarctata adalah pupa serangga yang
bentuknya seperti tong tidak terlihat bakal caput, torak, abdomen, kaki, dan antenanya.
Contoh serangganya adalah Dacus petioliforma (Diptera: Tephritidae).
Gambar 57. Tipe-tipe pupa serangga
Setelah fase pupa atau fase nimfa untuk serangga yang metamorfosisnya
sederhana akan masuk ke dalam fase dewasa yaitu mejadi serangga dewasa. Umumnya
serangga dewasa hidup di daratan hanya beberapa spesies serangga dewasa yang hidup
di atas permukaan air.
Serangga mengalami proses metamorfosis dalam tumbuh dan berkembang mulai
dari pradewasa sampai dewasa. Metamorfosis adalah perubahan bentuk serangga dari
satu fase ke fase berikutnya. Ada tiga tipe metamorfosis pada serangga yaitu
metamorfosis sederhana, metamorfosis sempurna, dan metamorfosis antara.
Metamorfosis sederhana dibagi menjadi tiga tipe pertumbuhan serangga yaitu
ametabola, hemimetabola, dan paurometabola. Ametabola adalah serangga-serangga
yang tidak mengalami metamorfosis yaitu bentuk antara serangga pradewasa dan
dewasanya sama persis, dalam hal ini serangga hanya mengalami perkembangan pada
organ seksualnya yaitu terjadi kematangan gonad pada serangga dewasanya. Contoh
serangganya adalah ordo Thysanura (Gambar 58).
Gambar 58. Metamorfosis Thysanura
Hemimetabola adalah serangga yang mengalami metamorfosis tidak lengkap
yaitu umumnya adalah serangga semi aquatic. Serangga dengan pertumbuhan
hemimetabola ini habitat fase pradewasanya adalah di dalam air disebut dengan naiad
sedangkan fase dewasanya adalah di darat. Contoh serangganya adalah ordo
Ephemeroptera, Odonata (Gambar 59), dan Plecoptera.
Gambar 59. Metamorfosis Odonata
Paurometabola yaitu serangga yang bermetamorfosis secara bertahap. Serangga
jenis ini baik pradewasa yang disebut nimfa maupun dewasanya hidup pada habitat
yang sama. Contoh serangganya adalah ordo Hemiptera, Orthoptera (Gambar 60),
Isoptera, Phasmatodea, Blattodea, Mantodea, dan Mantophasmatodea.
Gambar 60. Metamorfosis Orthoptera
Metamorfosis sempurna dibagi menjadi satu tipe pertumbuhan yaitu
holometabola. Serangga ini mengalami metamorfosis mulai dari telur, larva, pupa, dan
imago. Contoh serangganya adalah ordo Lepidoptera (Gambar 61), Coleoptera,
Hymenoptera, Trichoptera, dan Diptera.
Gambar 61. Metamorfosis Lepidoptera
Metamorfosis antara adalah gabungan antara metamorfosis sederhana dan
metamorfosis sempurna. Serangga ini mengalami metamorfosis mulai dari telur, nimfa,
pupa, dan imago. Contoh serangganya adalah ordo Thysanoptera dan beberapa ordo
Hemiptera (Gambar 62).
Gambar 62. Metamorfosis Hemiptera
Di dalam metamorfosis serangga mengalami molting atau ecdysis yaitu
terkelupasnya kulit atau kutikula lama (exuvium). Tahapan pertama pada molting
adalah terjadinya apolysis yaitu ditandai dengan terpisahnya kutikula dari lapisan
epidermis dan saat disekresikannya gel molting. Kemudian terbentuklah epikutikula
baru dibawah gel molting. Hormon yang berperan pada kedua proses diatas adalah
Prothoracicotropic hormone (PTTH) yang menstimulasi kelenjar protorak untuk
melepaskan hormon molting (ecdysone). Ecdyson mengaktivasi proses apolisis dan
terbentuknya epikutikula baru serta pengendapan prokutikula. Tahap berikutnya
adalah gel molting diaktivasi untuk meleburkan prokutikula lama. Setelah itu
prokutikula baru yang sangat lembut terbentuk di bawah epikutikula baru, saat inilah
proses ecdysis berlangsung yaitu kulit kutikula lama terkelupas. Proses ecdysis tersebut
diaktivasi oleh hormon eclosion
yang tersimpan di dalam corpora cardiaca dan
berperan di dalam simpul syaraf ventral. Setiap serangga mempunyai ecdysial line yaitu
bagian kutikula terluar dari serangga yang akan terbelah ketika proses ecdysis
berlangsung. Setelah pergantian kulit terjadi seketika itu juga diikuti oleh pertumbuhan
serangga yang meliputi pengembangan kutikula, pengerasan, dan pewarnaan (tanning)
serta pengendapan endokutikula. Proses ini dikontrol oleh hormon bursicon yang
dikeluarkan dari otak serangga. Salah satu penelitian yang cukup menarik adalah yang
dilakukan oleh Stefan Kopec yang membuktikan bahwa hormon bursicon terbukti
terdapat di otak serangga (Gambar 63).
Gambar 63. Ligasi pada ulat untuk membuktikan asal hormone diproduksi
Secara garis besarnya proses molting pada serangga dapat dilihat pada Gambar 64 di
bawah ini.
Hormonal Signal
Molting Event
PTTH
Ecdysone
Eclosion Hormone
Bursicon
1. Apolysis
2. Epicuticle deposition
3. Procuticle deposition
4. Ecdysis
5. Cuticle Expansion
6. Hardening & Darkening
7. Endocuticle deposition
Gambar 64. Bagan molting serangga
Assessment Pertemuan IX dan X
1. Jelaskan pengertian pertumbuhan dan perkembangan!
2. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe perkembangan embrionik pada serangga!
3. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe larva serangga!
4. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe pupa serangga!
5. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe metamorfosis serangga!
6. Jelaskan proses pergantian kulit pada serangga!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-11
PERILAKU SERANGGA
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Memahami dan
menjelaskan caracara pertahanan diri
pada serangga
 Membedakan antara
mimikri dan kriptik
 Menjelaskan mimikri
serangga antara
Batesian dan
Mullerian
VI. Perilaku
Pertahanan Diri
Serangga
6.1. Review cara-cara
pertahanan diri
serangga
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
11
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
√ √ √ √ √ √
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
berbagai
perilaku
pertahanan
diri serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Pembelajaran
kooperatif
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
berbagai
perilaku
pertahanan
diri serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Aktivitas
Mahasiswa
Berdiskusi mengenai
mimikri Batesian dan
Mullerian berdasarkan
kelompoknya masingmasing
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
4, 6, 9b
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
VI. PERILAKU PERTAHANAN DIRI SERANGGA
Serangga merupakan hewan purba yang masih ada hingga saat ini. Salah satu
keberhasilan hidup serangga adalah terdapatnya sistem proteksi pertahanan diri
terhadap musuh-musuhnya. Beberapa bentuk pertahanan diri serangga adalah
mempunyai bentuk yang sama dengan tempat hidupnya, membangun struktur untuk
melindungi tubuhnya, beracun, menggigit, menyengat, mengeluarkan zat yang
mengganggu, dan menyerupai spesies lain (mimicry).
Serangga yang menyerupai bentuk yang sama dengan tempat hidupnya salah
satu contohnya adalah belalang ranting (Phasmatodea). Belalang ranting ini sangat
mirip dengan ranting sungguhan dimana serangga tersebut hinggap. Pada negara empat
musim belalang ranting ini mempunyai perilaku yang dapat menyesuaikan dengan
keadaan sekitarnya. Misalnya pada musim semi belalang ranting berada pada fase
pradewasa yang berwarna hijau, sedangkan pada musim gugur belalang ranting telah
menjadi serangga dewasa dan berwarna coklat. Selain belalang ranting juga terdapat
beberapa ngengat yang sama persis dengan batang sebuah pohon, belalang yang mirip
dengan daun, beberapa larva kupu-kupu Papilionidae yang morfologinya mirip dengan
kotoran burung.
Beberapa
serangga
membangun
struktur
untuk
melindungi
tubuhnya.
Diantaranya adalah ulat famili Psychidae yang membuat selongsong tubuh dari sutra
yang melindungi seluruh tubuhnya dari sinar matahari maupun predator. Selain
Lepidoptera juga Trichoptera. Beberapa larva Trichoptera membuat rumah yang
terbuat dari kerikil, bahan-bahan organik seperti ranting atau daun-daunan untuk
menutupi tubuhnya. Serangga (Hemiptera: Reduviidae) ada yang mempunyai sifat
menutupi tubuhnya dengan menggunakan potongan-potongan daun kering dan seresah
sehingga tubuhnya nyaris tidak terlihat seperti organisme hidup.
Serangga juga ada yang beracun, menggigit jika diganggu, dan menyengat jika
diperlukan. Serangga yang umum kita temukan beracun adalah ulat api (Lepidoptera:
Limacodidae). Serangga-serangga yang apabila diganggu menggigit seperti semut rangrang. Tawon dan lebah mempunyai sengat yang digunakan untuk membuat jera musuhmusuhnya; khususnya lebah madu sengat hanya digunakan sebagai alat pertahanan diri
sedangkan pada jenis tawon selain digunakan sebagai pertahanan diri sengat juga
digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan mangsa.
Kumbang Carabidae dan jenis kepik mempunyai kelenjar yang mengeluarkan zat
dengan bau yang sangat menyengat sehingga dihindari oleh musuhnya. Beberapa
kumbang Carabidae seperti “kumbang pembom” mengeluarkan zat hidroksikuinon
yang mampu melelehkan kulit musuhnya.
Pertahanan diri serangga merupakan respon yang muncul akibat ancaman
musuh alami terhadap kelangsungan hidupnya. Hal ini berkaitan dengan status
serangga
sebagai
pakan
serangga
lain
atau
hewan
lain
selain
serangga
(predator/parasitoid). Pertahanan diri serangga dibagi atas dua kelompok yaitu primer
dan skunder.
Pertahanan diri serangga primer meliputi tiga tipe yaitu crysis, aposematism, dan
mimicry. Crysis yaitu bentuk tubuh serangga yang berkamuflase terhadap lingkungan
sekitarnya atau biasa diartikan tersembunyi. Contoh serangganya adalah ordo
Phasmatodea. Aposematism adalah spesies serangga yang mempunyai warna tubuh
sangat mencolok sebagai tanda bahwa serangga tersebut beracun. Contohnya adalah
serangga ordo Lepidoptera. Mimicry adalah spesies serangga yang mempunyai
kemiripan dengan serangga spesies lain. Pada serangga dikenal ada dua bentuk mimicry
yaitu Batesian dan Mullerian. Sebagai contoh beberapa lalat Syrphidae mempunyai
bentuk morfologi yang mirip dengan lebah, lebah mempunyai sengat untuk proteksi
dirinya sementara lalat Syrphidae tidak mempunyai proteksi yang berupa sengat. Disini
menunjukkan bahwa lalat Syrphidae diuntungkan oleh serangga model dalam hal ini
adalah lebah. Jenis mimicry semacam ini termasuk dalam kategori mimicry Batesian,
sedangkan serangga yang kedua-duanya memiliki alat proteksi diri termasuk dalam
kategori mimicry Mullerian, contohnya adalah beberapa ngengat (Lepidoptera:
Sphingidae) yang mempunyai sayap transparan sangat mirip dengan tawon Vespidae.
Ngegat ini tubuhnya sangat beracun sedangkan tawon Vespidae memiliki sengat yang
juga sangat beracun, pada kedua serangga ini masing-masing mepunyai alat proteksi
diri yang berupa racun sehingga kedua-duanya disebut sebagai serangga model.
Pertahanan diri serangga skunder meliputi pola terbang, pura-pura mati,
menyengat, melepaskan bagian anggota tubuh, mengelak serangan, mengejutkan, dan
menggunakan bahan kimia. Serangga tertentu mempunyai pola terbang yang sangat
unik yang berfungsi sebagai pertahanan diri terhadap serangan musuhnya. Contoh
serangganya adalah golongan ngengat yang mengelak serangan kelelawar dengan
memanfaatkan pendeteksian gelombang ultrasonic (Gambar 65).
Serangga ordo Coleoptera tertentu mempunyai kekhasan dengan pura-pura
mati. Predator serangga umumnya tertarik oleh mangsa yang bergerak dan akan
menghindari serangga mati, oleh karena itu dengan perilaku pura-pura mati ordo
Coleoptera tersebut akan terhindar dari serangan predator. Selain ordo Coleoptera juga
beberapa semut (Polyrhachis spp.) yang mempunyai perilaku berpura-pura mati dengan
menelangkupkan kakinya ketika terganggu.
Beberapa serangga mempunyai anggota tubuh pada integumennya yang bisa
terlepas tanpa berakibat negatif terhadap serangga yang bersangkutan. Hal ini bisa
ditunjukkan seperti golongan Hemiptera yang terbalut lapisan lilin atau tepung,
rambut-rambut Trichoptera, dan sisik Lepidoptera. Thomas Eisner dan kawankawannya dari Cornell university melaporkan bahwa imago Lepidoptera dan
Trichoptera seringkali terperangkap pada jaring laba-laba hanya untuk sementara
waktu karena imago Lepidoptera mempunyai sisik dan Trichoptera mempunyai
rambut-rambut sehingga dengan mudah sisik dan rambut tersebut terlepas tanpa
melukai serangga yang bersangkutan.
Gambar 65. Beberapa pola terbang ngengat [a,b,c, dan d] untuk melarikan diri dari
serangan kelelawar
Beberapa sayap kupu-kupu khususnya famili Lycaenidae bagian posterior sayap
belakangnya terdapat bagian sayap yang memanjang dan bergerak-gerak menyerupai
antena. Sebagian sayap yang menyerupai antena ini akan mengecoh predatornya dan
predator tersebut akan menyerang bagian yang menyerupai antena sehingga kupukupu
dapat
terlepas.
Serangga-serangga
dengan
perilaku
yang
tiba-tiba
membentangkan sayapnya (pada ngengat) atau membesarkan bagian toraknya pada
larva Papilionidae sehingga membuat predator terkejut dan tidak jadi memangsanya.
Assessment Pertemuan XI
1. Jelaskan pengertian pertahanan diri serangga!
2. Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe pertahanan diri serangga!
3. Jelaskan pengertain pertahanan diri primer dan sekunder!
4. Jelaskan pengertian cryptic, aposematism, dan mimicry!
5. Jelaskan pengertian mimikri Mullerian!
6. Jelaskan pengertian mimikri Batesian!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-12, 13, dan 14
KLASIFIKASI, TAKSONOMI, DAN IDENTIFIKASI
SERANGGA
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Mengklasifikasikan
serangga
 Memahami metode
identifikasi serangga
 Mengidentifikasi
Ordo dan famili
serangga penting
secara benar
VII.Klasifikasi,
Taksonomi, dan
Identifikasi
Serangga
7.1. Review klasifikasi
serangga
7.2. Review taksonomi
serangga
7.3. Metode
identifikasi
serangga
7.4. Pengenalan Ordo
dan Famili
serangga
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
12, 13,
& 14
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
√ √ √ √ √ √
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
berbagai
metode
identifikasi
serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Pembelajaran
kolaboratif
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
berbagai
metode
identifikasi
serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Aktivitas
Mahasiswa
Berdiskusi mengurutkan
metode identifikasi
serangga dari yang akurat
sampai yang tidak akurat
menurut kelompoknya
masing-masing
Mendiskripsikan Ordo dan
Famili serangga penting di
dalam bidang pertanian
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
1, 2, 9b
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
VII. KLASIFIKASI, TAKSONOMI, DAN IDENTIFIKASI SERANGGA
Klasifikasi, taksonomi, dan identifikasi organisme hidup adalah sebuah ilmu
pengetahuan yang sangat komplek. Klasifikasi adalah pengelompokan, yaitu
pengelompokan organisme berdasarkan ciri-ciri morfologi, fisiologi, dan perilaku yang
sama. Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani [taxis = susunan dan nomos =
hukum] yang berarti “the arranging of species and groups thereof into a sistem which
shall exhibit their relationship to each other and their places in a natural
classification”{glossary of entomology}. Identifikasi adalah pemilahan organisme dan
memasukkannya pada takson dalam urutan klasifikasi.
Klasifikasi, taksonomi, dan identifikasi serangga merupakan salah satu hal yang
menarik untuk dipelajari karena jumlah spesies serangga yang sangat banyak,
merupakan hewan purba, dan mempunyai peranan penting bagi manusia.
Seorang naturalis Swedia yaitu Carolus Linneaus (1707-1778) mengelompokkan
organisme hidup pada tingkatan ordo. Sistem pengelompokkan tersebut berdasarkan
pada persamaan-persamaan struktur morfologi organisme hidup dan anatominya.
Sistem ini dikenal dengan nama Sistema Natural yang dipublikasikan pertama kali pada
tahun 1758. Saat itulah pertama kali dikenalkan sistem penamaan binomial. Pada tahun
1775 seorang murid Linneaus yaitu Fabricius mempublikasikan Sistema Entomology
yaitu sistem penamaan binomial pada serangga. Sistem penamaan binomial ini artinya
adalah pemberian nama ilmiah spesies/jenis serangga dengan dua nama yaitu istilah
umum [nama Genus] plus istilah khusus [nama Spesies], kedua nama ini harus ditulis
miring atau digaris bawah atau ditulis berbeda dengan tulisan yang lain.
Sampai saat ini sistem penamaan pada serangga menggunakan sistem penamaan
binomial yang secara umum diklasifikasikan kedalam tujuh kategori utama, yaitu:
Kingdom: Animalia
Filum: Artropoda
Klas: Insekta
Ordo: { 29 Ordo; sebagian besar berakhiran ptera}
Famili: { > 1.000 Famili; semuanya berakhiran idae}
Genus:
Spesies:
Pada beberapa serangga, kategori utama ini dibagi lagi dengan menambahkan awalan
Super pada Klas, Ordo, dan Famili; dan awalan Sub pada Filum, Klas, Ordo, Famili, dan
Genus. Selain itu juga dikenal beberapa kategori tambahan, yaitu: infraklas, kohort,
divisi, tribe, dan seri; tetapi kategori ini jarang sekali dipakai. Penulisan nama taxon di
atas spesies terdiri dari satu kata (uninominal).
Serangga termasuk kedalam superklas Hexapoda yang berasal dari bahasa
Yunani [heksa = enam dan podos = kaki] yang berarti artropoda yang berkaki enam
{pada saat fase dewasanya}. Superklas Hexapoda terdiri dari dua klas, yaitu klas
Entognatha dan klas Insekta. Klas Insekta terdiri dari dua subklas, yaitu subklas
Apterygota dan subklas Pterygota. Keduanya berasal dari bahasa Yunani [a = tidak dan
pteron = sayap] yang berarti subklas Apterygota adalah kelompok serangga-serangga
yang tidak bersayap sedangkan subklas Pterygota adalah kelompok serangga-serangga
bersayap. Di bawah subklas adalah infraklas, serangga terdiri dari dua infraklas yaitu
Neoptera [serangga yang sayap belakangnya terlipat pada saat posisi istirahat] dan
infraklas Palaeoptera [serangga yang sayap belakangnya terbentang/tidak terlipat pada
saat posisi istirahat]. Dua Infraklas serangga ini terdiri dari dua divisi yaitu divisi
Endopterygota dan divisi Exopterygota dan bawah divisi adalah ordo yang sebagian
besar berakhiran ptera. Di bawah ordo berturut-turut adalah subordo, superfamili yang
selalu berakhiran oidea, famili yang selalu berakhiran idae, subfamili yang selalu
berakhiran inae, genus yang terdiri dari satu kata dengan awalan huruf kapital, dan
spesies yang terdiri dari satu kata tanpa huruf kapital [penulisan spesies harus selalu
didahului oleh nama genus].
Sebagai
contoh,
kumbang
diklasifikasikan sebagai berikut:
moncong
[Hypomeces
squamosus
Fabricius]
Kingdom: Animalia
Filum: Artropoda
Subfilum: Mandibulata
Superklas: Hexapoda
Klas: Insekta
Subklas: Pterygota
Infraklas: Neoptera
Divisi: Endopterygota
Ordo: Hemiptera
Subordo: Polyphaga
Superfamili: Curculionoidea
Famili: Curculionidae
Subfamili: Brachyderinae
Genus: Hypomeces
Spesies: Hypomeces squamosus
Ketentuan dalam penulisan nama spesies adalah harus selalu didahului dengan
nama genus, jadi spesies kumbang moncong tersebut diatas harus ditulis Hypomeces
squamosus [secara binomial=dua nama “genus dan spesies”] tidak boleh ditulis hanya
squamosus saja. Nama spesies inilah yang disebut sebagai nama ilmiah suatu jenis
serangga. Nama ilmiah yang digunakan umumnya berasal dari bahasa Latin, selain
bahasa Latin kadang-kadang juga digunakan bahasa Yunani dan bahasa lain dengan
ketentuan bahwa bahasa apapun yang digunakan harus selalu dilatinkan.
Penulisan nama ilmiah harus mengikuti ketentuan sebagai berikut: penulisan
nama genus harus diawali dengan huruf kapital, sedangkan nama spesies harus diawali
dengan huruf kecil [Contoh: Hypomeces squamosus], kadang-kadang setelah nama
spesies ditambahkan nama author, nama author ditulis tegak dengan diawali huruf
kapital [Contoh: Hypomeces squamosus Fabricius, Fabricius adalah nama author] dan
kalau spesiesnya belum diketahui cukup ditulis sp. saja dan tidak perlu ditulis
miring/digaris bawah [Contoh: Hypomeces sp. atau Hypomeces sp.]. Serangga dalam
satu genus dengan spesies lebih dari satu dan belum diketahui secara pasti masingmasing spesiesnya maka spesiesnya di tulis spp. [Contoh: Hypomeces spp. atau
Hypomeces spp.]. Jadi dengan kata lain sp. menunjukkan satu spesies, sedangkan spp.
menunjukkan lebih dari satu spesies atau banyak spesies.
Nama ilmiah serangga selalu sama dimanapun serangga tersebut berada,
sedangkan nama umum serangga sangat bervariasi berdasarkan negara dimana
serangga tersebut berada. Selain nama ilmiah dan nama umum juga dikenal nama lokal,
nama ini juga sangat bervariasi berdasarkan tempat atau wilayah atau pulau dimana
serangga tersebut berada.
Sebagai contoh hama padi “Walangsangit”:
Nama Ilmiah
: Leptocorisa acuta Thunberg {dipakai di Seluruh Dunia}
Nama Umum
: Walangsangit
Rice Bug
Reiswanze
Chinche Común del Arroz
Rijstwants
Gundhi Bug
Gundi Poka
{Indonesia}
{Inggris}
{Jerman}
{Spanyol}
{Belanda}
{India}
{Bangladesh}
Nama Lokal
: Walang Sangit
Kungkang
Tenang
Pianggang
Empangau
{Jawa}
{Sunda}
{Madura}
{Sumatera}
{Kalimantan}
Contoh diatas menunjukkan bahwa nama ilmiah serangga di seluruh dunia adalah sama,
sedangkan nama umum sangat bervariasi berdasarkan nama umum serangga tersebut
di suatu negara, demikian juga nama lokal sangat bervariasi berdasarkan nama umum
serangga tersebut di suatu wilayah [daerah, suku, atau pulau]. Oleh karena itu nama
ilmiah lebih sesuai digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan karena dengan
disebutkan nama ilmiahnya maka semua orang dimanapun berada akan segera
mengetahui serangga yang dimaksud.
Identifikasi serangga dilakukan dengan menggunakan buku kunci identifikasi.
Banyak buku kunci identifikasi yang tersedia di perpustakaan, selain buku secara
elektronik di internet juga menyediakan kunci identifikasi. Kebanyakan kunci
identifikasi serangga secara dichotomous atau dua-dua pilihan karakter yang selalu
berpasangan.
Contoh:
Karakteristik morfologi spesimen serangga digunakan sebagai dasar identifikasi sampai
tingkat ordo (buku Kunci Determinasi Serangga [Subyanto dan Sulthoni, 1991] halaman
27-40). Cara menggunakan buku kunci determinasi adalah sebagai berikut: amati
morfologi spesimen yang ditemukan dan cocokkan dengan kunci dimulai dari nomor 1a
atau 1b (sebelah kiri).
Apabila cocok maka langsung dilanjutkan pada nomor
selanjutnya berdasarkan nomor yang tertera di sebelah kanan keterangan yang sesuai.
Misalkan:
Serangga yang ditemukan seperti dibawah
Cara mencocokkan:
ini
1(a) karena bersayap
lanjut ke nomor ……….
2
2(a) karena pangkal sayap depan
tebal / seperti kulit serangga
lanjut ke nomor ……….
3
3(b) Karena sayap depan tidak
kecil dan tidak lebih kecil
daripada sayap belakang
lanjut ke nomor ………………
4
4(a) Karena tipe alat mulutnya
pengisap / punya paruh
lanjut ke nomor ……….
5
5(a) Karena paruhnya muncul dari
bagian depan kepala
Jadi Ordo serangga tersebut
adalah
HEMIPTERA
Cara lain selain menggunakan buku kunci identifikasi, adalah dengan cara
membaca deskripsi perilaku dan ciri morfologinya, mencocokkan dengan gambar,
mencocokkan dengan spesimen standart di museum, dan bertanya kepada ahlinya.
Identifikasi dengan menggunakan Lucid key lebih mudah dilakukan dan
dimengerti karena setiap karakter yang dimaksud selalu diikuti dengan foto/gambar.
Caranya adalah install program Lucid key ke dalam komputer kemudian ikuti petunjuk
di layar monitor hingga sukses install. Setelah sukses install jalankan programnya
dengan mengamati spesimen serangga yang telah dipreservasi/diawetkan serta
cocokkan dengan karakter dan foto-foto spesimen yang tersedia di layar monitor
komputer. Informasi lebih lanjut mengenai Lucid Key silakan buka website http://www.
lucidcentral.org
Apabila ada keragu-raguan atau kesulitan terutama untuk menentuan sampai
tingkat genus atau spesies, hal ini bisa diatasi dengan cara mengirimkan spesimen ke
tempat-tempat yang melayani jasa identifikasi. Ketentuan pengiriman spesimen untuk
diidentifikasi adalah spesimen yang telah diawetkan harus dilengkapi data yang
lengkap selain yang tertera pada labelnya. Data yang harus ada adalah: Nama Pengirim,
Tanggal Pengiriman, Alamat Pengirim, dan Alasan Pengiriman Spesimen (peranan
serangga, kepentingannya untuk apa, dlsb.), Keterangan apakah spesimen tersebut
dikehendaki untuk dikirim kembali setelah diidentifikasi atau tidak (kalau tidak
biasanya secara otomatis akan disimpan di Museum). Data tambahan tersebut ditulis
pada lembaran kertas dengan pensil atau dicetak dengan printer laser. Spesimen yang
akan dikirim dikemas dengan cara dimasukkan ke dalam kotak pengiriman yang
berukuran 13 x 9 x 5 cm. Pada kemasan diberi keterangan “Bahan Penelitian” agar lebih
diperhatikan oleh jasa pengiriman. Contoh penerima jasa identifikasi serangga adalah:
Mr. John Maxen
Insect/Mite Identification Services,
CABI BIOSCIENCE UK Center (Egham),
Bakeham Lane, Egham,
Surrey TW20 9 TY,
United Kingdom
Assessment Pertemuan XII, XIII, dan XIV
1. Jelaskan pengertian klasifikasi serangga!
2. Jelaskan pengertian Neoptera!
3. Jelaskan pengertian Palaeoptera!
4. Jelaskan pengertian Pterigota!
5. Jelaskan pengertian Apterigota!
6. Jelaskan pengertain Polifaga!
7. Jelaskan pengertian Adefaga!
8. Jelaskan pengertian taksonomi serangga!
9. Jelaskan cara-cara identifikasi serangga!
10. Jelaskan pentingnya identifikasi serangga dalam bidang pertanian!
11. Jelaskan ketentuan pemberian nama ilmiah pada serangga!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-15
ENTOMOLOGI MOLEKULER DAN BERITA ENTOMOLOGI
TERKINI
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Memahami
molekuler pada
bidang entomologi
pertanian
 Menjelaskan caracara identifikasi
serangga secara
molekuler
 Memahami dan
menjelaskan cara
kerja tanaman
transgenik tahan
serangan serangga
VIII. Entomologi
Molekuler dan
Berita Entomologi
Terkini
8.1. Review molekuler
pada bidang
pertanian yang
berhubungan
dengan serangga
8.2. Analisis DNA
serangga untuk
identifikasi
8.3. Tanaman trasgenik
tahan serangan
serangga
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
15
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
√ √ √ √ √ √
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
menganalisis
isu-isu
molekuler
serangga
Metode
Ajar
(STAR)
Mahasiswa
dalam
kelompok
menganalisis
berbagai
informasi
molekuler
serangga
dengan cara
diskusi;
didampingi
dosen dan
asisten
Aktivitas
Mahasiswa
Berdiskusi mengenai cara
ektraksi DNA serangga
untuk identifikasi
Berdiskusi mengenai cara
kerja tanaman transgenik
tahan serangan serangga
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Sumber
Ajar
Menilai keaktifan
masing-masing
mahasiswa dalam
memberikan pendapat
7, 9a, 9b
Menilai keakuratan
pendapat mahasiswa
berdasarkan referensi
ilmiah
VIII. ENTOMOLOGI MOLEKULER DAN BERITA ENTOMOLOGI TERKINI
A. Entomologi Molekuler
Mempelajari fungsi dan hubungan serangga di dalam lingkungan merupakan hal
yang sangat menarik dengan memanfaatkan beberapa metode eksperimental. Dewasa
ini telah berkembang tentang konsep biologi molekuler yang merupakan metode yang
didasarkan kepada sesuatu yang lebih spesifik yaitu genetic material (DNA). DNA
adalah deoxyribonucleic acid yang merupakan bahan genetik pada sel, dan komponen
DNA pada sel adalah genome. DNA merupakan sebuah polimer panjang yang terdiri dari
empat basa nitrogen yaitu adenine, thymine, cytosine, dan guanine yang saling terikat
satu sama lain oleh sebuah gula phosphate. DNA merupakan pembawa sifat terkecil dari
suatu organisme. Pada tahun 1970-an pertama kali diketahui bahwa plasmid adalah
bagian yang ideal untuk propagasi atau cloning oleh DNA asing (Gambar 66).
Gambar 66. Formasi molekul DNA rekombinan
Pemanfaatan biologi molekuler dalam bidang entomologi telah banyak dilakukan
khususnya di negara maju, misalnya hiridisasi DNA digunakan untuk estimasi hubungan
antar spesies pada serangga untuk mempelajari phylogenetic pada proses evolusi.
Hadirnya teknik molekuler ini juga sangat bermanfaat untuk kepentingan identifikasi
serangga. Sebuah metode taksonomi yang berdasar pada PCR telah dikembangkan sejak
tahun 1990-an dan diketahui sebagai amplifikasi yang cepat pada polimorfik DNA atau
RAPD. Selain pemanfaatan biologi molekuler yang secara langsung berkaitan dengan
serangga juga terdapat pemanfaatan yang secara tidak langsung berhubungan dengan
serangga, misalnya rekayasa genetik untuk pemuliaan tanaman tahan serangga hama
yang telah banyak dilakukan.
Di Indonesia pernah diintroduksi kapas tahan hama Helicoverpa armigera
(Lepidoptera: Noctuidae) yaitu tepatnya di Sulawesi Selatan. Rekayasa genetik tersebut
dilakukan dengan cara memasukkan gen Cry1Ac bakteri Bacillus thuringiensis yang
mengandung delta endotoksin yang bersifat racun terhadap serangga ordo Lepidoptera
khususnya H. armigera ke dalam tanaman kapas Bollgard. Beberapa peneliti dan
praktisi menyangsikan keberhasilan tanaman transgenik ini di Indonesia dan salah satu
kekhawatirannya adalah terjadinya resistensi ulat penggerek bol kapas (H. armigera)
terhadap delta endotoksin. Penelitian mengenai pengelolaan serangga yang telah tahan
terhadap gen Cry Bacillus thuringiensi telah juga dilakukan (Lampiran 1. Manuscript
Proceedings of the 2nd Indonesia Biotechnology Conference 2001 ).
B. Berita Entomologi Terkini
1. Ditemukan ordo serangga baru di Afrika bagian selatan
Untuk pertama kalinya sejak 87 tahun yang lalu peneliti menemukan serangga
yang termasuk dalam ordo baru. Serangga tersebut di temukan di pegunungan
Brandberg Namibia yang terletak di pesisir barat Afrika bagian selatan. Oliver Zompro
adalah seorang spesialis belalang ranting dari Institut Max Planck di Plon Jerman telah
mengidentifikasi serangga tersebut sebagai makhluk yang unik.
Ciri-ciri morfologi serangga ini menyerupai gabungan antara belalang ranting,
belalang sembah, dan belalang kayu; oleh karena itu serangga baru ini dinamai dengan
ordo baru yaitu Mantosphasmatodea. Ruas pertama abdomennya membesar, kaki
depan dan kaki tengahnya digunakan untuk menangkap mangsa, dan kaki belakangnya
digunakan untuk berjalan (tidak untuk meloncat). Panjang tubuhnya hingga mencapai 4
cm, serangga ini juga disebut “gladiator” yang aktif pada malam hari (Nocturnal), hidup
di rumput yang berada di celah-celah batu-batuan, dan bersifat karnivora.
Zompro pertama kali menduga bahwa dia telah menemukan sebuah ordo
serangga baru ketika mengidentifikasi fosil serangga yang menyerupai belalang ranting
yang dikirimkan oleh kolektor-kolektor amber di Jerman. Setelah menemukan
spesimen-spesimen yang mirip pada koleksi-koleksi terbaru di museum London dan
Berlin dia mengira bahwa serangga yang ditemukan pada amber tersebut telah punah
atau bisa jadi masih ada tetapi berada di daerah-daerah yang belum dijamah manusia.
Beberapa tanggapan bermunculan mengenai penemuan ini. Piotr Naskrecki
seorang director of Conservation International’s new Invertebrate Diversity Initiative
menyatakan bahwa penemuan serangga ini bagaikan menemukan seekor gajah
Mastodon atau harimau bertaring pedang. Diana Wall seorang ecologist dari Universitas
Negeri Colorado di Pot Collin menyatakan bahwa penemuan ini adalah sangat hebat dan
mengagumkan. Dia juga menambahkan bahwa buku-buku entomologi yang menuliskan
tentang ordo-ordo serangga perlu dilakukan revisi dengan adanya penemuan baru ini.
Silahkan access atau download:
http://news.nasionalgeographic.com/news/2002/03/0328_0328_TVstickinsect.
html
http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/1937150.stm
2. Terdapat genus serangga yang baru dilaporkan keberadaannya di Yogyakarta
Yogyakarta merupakan kota pelajar dan daerah wisata yang cukup terkenal di
dalam dan luar negeri. Mobilitas manusia dari dan ke Yogyakarta sangat tinggi, hal ini
membawa konskuensi masuknya organisme asing ke wilayah Yogyakarta akan semakin
terfasilitasi. Banyaknya buah dan sayur yang masuk ke wilayah Yogyakarta, baik buah
dan sayur komersial maupun bahan bawaan para turis domestik maupun international,
oleh-oleh dari luar kota (mengingat banyaknya pelajar yang dari luar kota) dan juga
didukung dengan kesadaran masyarakat yang sangat rendah terhadap sanitasi
lingkungan kaitannya dengan adanya bahaya invasive alien species, hal ini mendukung
masuknya organisme asing masuk ke wilayah Yogyakarta.
Penelitian mengenai inventarisasi lalat buah hama di Yogyakarta menunjukkan
bahwa terjadi peningkatan jumlah spesies lalat buah yang terdapat di Yogyakarta.
Survey yang dilakukan pada tahun 1980-an hanya diketahui terdapat 3 spesies lalat
buah, kemudian pada tahun 1990 inventarisasi yang dilakukan oleh Badan Karantina
Tumbuhan menunjukkan terjadinya peningkatan yaitu diketahui terdapat 8 spesies
lalat buah. Inventarisasi lalat buah yang dilakukan Laboratorium Entomologi Dasar
FAPERTA UGM akhir-akhir ini menunjukkan terjadi peningkatan jumlah spesies yaitu
diketahui terdapat 22 spesies lalat buah termasuk dua genus yang baru dilaporkan
keberadaannya di Yogyakarta maupun Indonesia.
Dua genus yang baru dilaporkan keberadaannya di Yogyakarta dan Indonesia
tersebut adalah Dacus longicornis dan D. petioliforma. Keberadaan dua spesies Dacus ini
belum pernah dilaporkan berada di Yogyakarta, bahkan keberadaan D. petioliforma
belum pernah dilaporkan keberadaan di Indonesia. Ciri morfologi kedua spesies ini dan
informasi selebihnya pada Lampiran 2. Manuscript Indonesian Journal of Plant
Protection 2005.
Assessment Pertemuan XV
1. Jelaskan pengertian DNA!
2. Jelaskan pengertian filogenetik serangga berdasarkan DNAnya!
3. Jelaskan pengertian tanaman transgenik gen cry Bacillus thuringiensis tahan
serangan serangga hama!
4. Jelaskan kegagalan kapas transgenik di Sulawesi Selatan!
5. Apakah anda setuju tanaman transgenik tahan serangan serangga hama
diproduksi dan ditanam di Indonesia? Jelaskan jawaban saudara!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Alamat: Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Fax./Telp. 0274 523926 E-mail: [email protected]
Buku 2 : RPKPM
(Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan)
Modul Pembelajaran Pertemuan Ke-16
UJIAN AKHIR SEMESTER
Sem. Ganjil / 3 sks (2 sks temu kelas, 1 sks prakt.)/ Kode PNH 3102
Oleh:
Dr. Suputa
Dr. Nugroho Susetya Putra
Prof. Dr. Y. Andi Trisyono
Prof. Dr. Edhi Martono
Dr. Witjaksono
Didanai oleh Dana BOPTN P3-UGM
Tahun Anggaran 2013
November 2013
Mahasiswa mampu:
 Memahami dan
menjelaskan secara
komprehensif ilmu
serangga pada bidang
pertanian
Ujian Akhir
Semester
√
Web
Soal-tugas
Audio/Video
Gambar
Presentasi
Media Ajar
Teks
Pertemuan ke
16
Tujuan Ajar/
Keluaran/
Indikator
Topik
(pokok,
subpokok
bahasan, alokasi
waktu)
Metode
Evaluasi
dan
Penilaian
Keaktifan
mahasiswa
dalam
mejawab
pertanyaan
Metode
Ajar
(STAR)
Aktivitas
Mahasiswa
Aktivitas Dosen/
Nama Pengajar
Menjawab pertanyaan
tertulis dan menjawab
langsung pertanyaan saat
wawancara
Mengumpulkan tugastugas
Membuat soal ujian dan
mewawancarai
mahasiswa dan menilai
hasil kerja mahasiswa
(tugas-tugas)
Sumber
Ajar
DAFTAR BACAAN BUKU AJAR
Anonimous, 1995. Encyclopedia of Nature. Dorling Kindersley Multimedia. CD-ROM.
BBC News. 18 April 2002. New Insect Order Discovered. SCI/TECH. http://News.
bbc.co.uk/2/hi/science/nature/ 1937150.stm.
Blum, M.S. 1985. Fundamentals of Insect Physiology. A Wiley-Interscience Publication.
John Wiley and Sons. New York. Chichester. Brisbane. Toronto. Singapore. 598
pages.
Borror D.J. & R.E. White. 1970. A Field Guide to the Insects of America North of Mexico.
Houghton Mifflin. Boston. 404 pages.
Borror, D.J. & D.M. Delong. 1971. An Introduction to the Study of Insects. Third Edition.
Holt, Rinehart, and Winston INC. Printed in the United State of America. 812
pages.
Borror, D.J. & D.M. Delong. 1971. An Introduction to the Study of Insects. Third Edition.
Holt, Rinehart, and Winston INC. Printed in the United State of America. 812
pages.
Borror, D.J. and R.E. White. 1970. A Field Guide to The Insect. Houghton Mifflin Company.
Boston. 404 pages.
Chapman, R.F. 1982. The Insect Structure and Functions. 3th. Harvard University Press.
Cambridge. Massachusetts. Hong Kong. 919 pages.
Chapman, R.F. 1982. The Insect Structure and Functions. Third Edition. Harvard
University Press. Cambridge. Massachusetts. Hong Kong. 919 pages.
Dixon, A.F.G. 1973. Biology of Aphids. Edward Arnold. London. 58 pages.
Evans. 1984. Insect Biology. A Textbook of Entomology. Colorado State University.
Addison-Wesley Publishing Company. Massachusetts. California. London.
Amsterdam. Ontario. Sydney. 436 pages.
Furman, D.P. and E.P. Catts. 1982. Manual of Medical Entomology. 4th Edition. Cambridge
University Press. USA. 207 p ages.
Gullan, P.J. & P.S Craston. 2000. The Insects An Outline of Entomology. 2th ed. Blackwell
Science. Oxford. 473 pages.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta. 237 halaman.
Matthews, R.W. and J.R. Matthews. 1978. Insect Behavior. John Wiley and Sons. New
York, Chichester. Brisbane. Toronto. Singapore. 507 pages.
Romoser, W. and J.G. Stoffolano. 1997. Science of Entomology. McGraw-Hill
Science/Engineering/Math. 4h Edition. 624 pages.
Trivedi, B.P. 2002. New Insect Order Found in South Africa. News. National Geographic.
Http://news.nationalgeographic.com/new/
2002/03/0328_0328_TVstickinsect.html.
Youdeowei, A. 1977. A Laboratory Manual of Entomology. Oxford University Press
Nigeria. Oxford House. Iddo Gate. Ibadan. Nigeria. 208 pages.
Download