pengaruh realitas sosial terhadap kehidupan

advertisement
PENGARUH REALITAS SOSIAL TERHADAP KEHIDUPAN
PASANGAN CAMPURAN DALAM NOVEL L’HISTOIRE DE LA
FEMME CANNIBALE KARYA MARYSE CONDÉ
Oleh :
Rita Nurhasanah
180510070020
PROGRAM STUDI SASTRA PERANCIS
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
Agustus, 2012
Pengaruh Realitas Sosial Terhadap Kehidupan Pasangan Campuran
Dalam Novel L’histoire de la femme cannibale Karya Maryse Condé
Oleh :
Rita Nurhasanah*
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Pengaruh realitas sosial terhadap kehidupan pasangan
campuran dalam novel L’histoire de la femme cannibale, karya Maryse Condé yang
bersumber dari novel yang ditulis oleh pengarang pada tahun 2003.
Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan pengaruh realitas sosial
terhadap kehidupan pasangan campuran di dalam novel ini. Untuk mencapai tujuan
tersebut digunakan analisis alur, analisis tokoh, analisis latar dan analisis sudut
pandang. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif.
Dari seluruh rangkaian analisis ini, kita dapat melihat realitas sosial yang
terjadi di Afrika Selatan, diantaranya pemisahan kaum kulit putih dengan kaum kulit
hitam, maraknya aksi kejahatan seperti pembunuhan, kekerasan dan penindasan,
situasi kultural seperti masih adanya kepercayaan yang kuat terhadap dukun, serta
pencarian identitas pada diri tokoh utama.
Kata kunci : realitas sosial di Afrika Selatan, politik Apartheid, Perkawinan
campuran, Metis (anak keturunan campuran), diskriminasi ras, sosial budaya Afrika
Selatan.
*penulis adalah mahasiswi program studi Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya yang lulus pada tanggal 18 juli
2012
ABSTRACT
This thesis entitled “The Influence of Social Reality towards Intermarriage
Life in the novel L’histoire de la femme cannibale, by Maryse Condé, written in
2003”.
The research was aimed at demonstrating the influence of social reality
towards intermarriage life in the novel. Analysis on plots, figures, backgrounds and
perceptions were carried out in order to gain the result. The method used in this paper
was descriptive analysis method.
From this whole series of analysis, we can see the social reality in South
Africa, including the race discrimination, the rise of crime such as murder, violence
and intimidation, as well as cultural situation on belief towards witches or magic, and
the search self-identity on the main character.
PENDAHULUAN
Afrika Selatan merupakan satu-satunya negara yang dinamai sesuai dengan
letak geografisnya yang berada di bagian selatan benua Afrika. Negara ini mempunyai
sejarah dan kebudayaan yang sangat terkenal di seluruh dunia, termasuk pula sistem
politiknya yang sangat kontroversial pada satu abad yang lalu, yaitu politik Apartheid.
Politik ini pada prinsipnya bertujuan untuk memisahkan orang berkulit putih dengan
orang berkulit hitam, memberi keuntungan yang sangat besar kepada orang berkulit
putih sebagai kaum minoritas untuk menguasai segala bidang baik dalam bidang
pemerintahan, perekonomian maupun sosial kemasyarakatan, dan memperbudak
orang berkulit hitam yang merupakan kaum mayoritas di negara tersebut. Akibat
politik diskriminatif itu, seluruh dunia mengutuk Afrika Selatan, begitu juga Dewan
Keamanan PBB yang memberikan ultimatum agar politik Apartheid segera dihapus.
Dengan adanya politik tersebut, orang berkulit hitam sangat dirugikan dan
begitu menderita. Selain itu juga, politik ini melarang adanya pernikahan atau
hubungan sebagai pasangan campuran antara orang berkulit putih dan orang berkulit
hitam. Oleh karena itu, pasangan campuran di Afrika Selatan dianggap sebagai
pasangan yang ilegal dan melanggar hukum. Meskipun politik Apartheid telah
dihapuskan, namun pasangan campuran tetap dianggap sebagai hal yang tidak wajar,
karena realitas sosial mengenai pasangan campuran di negara tersebut sudah menjadi
sebuah mitos negatif, sehingga para pasangan campuran akan selalu mendapatkan
sanksi sosial.
Oleh karena itu, keberadaan pasangan campuran selalu menimbulkan konflik,
baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Hal tersebut membuat kehidupan
pasangan berbeda warna kulit ini menjadi tidak tenang dan tidak berjalan sebaik
kehidupan pasangan berkulit warna sama. Maka dari itu, pasangan ini senantiasa
berada dalam tekanan, yang kemudian berpengaruh terhadap sisi psikologis masingmasing individunya.
Seperti dalam novel L’histoire de la femme cannibale, Maryse Condé
mengangkat tema mengenai hubungan pasangan campuran di Afrika Selatan yang
dihubungkan dengan realitas sosial, budaya dan sejarah negara tersebut. Pasangan
campuran yang dimaksud dalam novel ini adalah wanita kulit hitam yang
berpasangan dengan lelaki kulit putih. Keberadaan pasangan campuran tersebut tidak
terlepas dari pengaruh situasi negara yang tidak kondusif dan sarat dengan konflik itu.
Di samping hal tersebut, dalam novel ini juga terlihat adanya dampak negatif
dari sejarah Afrika Selatan, seperti banyaknya aksi kriminal dan masih terjadinya
fenomena diskriminasi ras yang mengganggu sisi psikologis para tokoh.
Latar
tersebut kemudian memancing tokoh utama dalam buku ini untuk melakukan suatu
tindakan tertentu terhadap realitas sosial yang ada di Afrika Selatan.
Alur adalah salah satu elemen penting pembentuk karya sastra. Dalam
konteksnya dapat dikatakan bahwa alur merupakan rangkaian tahapan-tahapan
peristiwa yang kemudian membentuk suatu cerita yang dihadirkan oleh para tokoh.
Menurut Goldenstein dalam bukunya Pour Lire Le Roman (1988 : 63), alur adalah
konstruksi terpenting yang dibuat oleh pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa
yang secara kronologis dan logis saling berkaitan, dan yang diakibatkan atau dialami
oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Fungsinya adalah sebagai suatu sarana yang
memudahkan para pembaca untuk dapat mengikuti perkembangan kejadian dalam
cerita. Terdapat dua cara untuk menyusun alur teks naratif yaitu sekuen dan episode.
Tokoh adalah elemen penting sebagai pembentuk karya sastra. Cerita dalam
karya sastra merupakan pengembangan dari peristiwa yang dialami atau yang dilihat
oleh tokoh. Tokoh-tokoh yang ditemukan dalam cerita dibentuk dari elemen-elemen
yang ditiru dari kehidupan nyata. Oleh karena itu, tokoh-tokoh dalam suatu karya
sastra dapat dikatakan lahir dari persilangan antara imajinasi pengarang dengan
kenyataan (Schmitt dan Viala, 1982 : 69).
Dalam analisis latar, novel ini menggunakan tiga jenis latar dalam ceritanya,
seperti latar tempat, waktu dan sosial untuk menunjukkan dan menggambarkan
realitas sosial di Afrika Selatan.
Element lain yang sama pentingnya juga yaitu sudut pandang. Menurut
Roland Barthes (1977 : 40), sudut pandang adalah kedudukan atau tempat
berpijaknya narator terhadap cerita atau posisi narator dalam menyajikan sebuah
cerita. Sebagai cara pandang pengarang dan pembaca yang diwakilkan pada pencerita
(narrateur) dalam karya sastra, sudut pandang sangat penting keberadaannya dalam
memberitahukan tendensi dari pesan yang akan disampaikan pengarang, karena teks
sastra bukanlah teks yang bersifat netral tetapi selalu memuat perasaan-perasaan dan
ideologi pengarang dari sudut pandang tertentu. (Schmitt, 1982 : 30)
ISI/PEMBAHASAN
Novel L’histoire de la femme cannibale ditulis oleh Maryse Condé. Ia
merupakan seorang penulis besar frakofon yang lahir pada tanggal 11 februari 1937
di Pointe-à-Pitre, Guadeloupe. Ia merupakan Ketua Departemen Studi Perancis di
Universitas Kolombia dan juga bekerja untuk mempromosikan kesusastraan Karibia.
Selama perjalanannya di Afrika dan Karibia, Maryse Condé lebih
memfokuskan pandangannya pada perbedaan ras kulit hitam dan putih. Selain
mengenai ras, ia juga mengangkat gagasan tentang feminisme, identitas diri dan
kebudayaan lokal. Maryse Condé menulis novel pertamanya yang berjudul
Heremakhonon pada tahun 1976. Kemudian ia menulis novel kembali pada tahun
1981 yang berjudul Une saison à Rihata, dan novel berjudul Traversée de la
mangrove pada tahun 1989. Condé berdiri di antara para penulis Karibia
kontemporer. Dalam novel-novelnya, para protagonis terpecah di antara dua budaya,
sehingga mereka harus mencari identitas diri. Pada tahun 1984, ia menerbitkan novel
barunya yang berjudul Segou. Setahun kemudian ia mendapatkan penghargaan atas
novel terbarunya, dan itu merupakan awal kesuksesan dalam karir menulisnya.
Setelah itu, ia mendapatkan lagi beberapa penghargaan atas novel-novelnya. Dua
novel yang mendapatkan penghargaan terbaik yaitu Moi, Tituba, sorcière noire de
Salem yang ditulis pada tahun 1986 dan mendapatkan le grand prix de la femme pada
tahun yang sama, dan novel berjudul La Vie scélérate yang ditulis pada tahun 1987
mendapatkan penghargaan dari l’Académie Française setahun kemudian. Pada tahun
1997, ia mendapatkan le prix Carbet de la Caraïbe untuk novel berjudul Desirada,
dan pada tahun 1999 le prix Marguerite Yourcenar untuk novel berjudul Le coeur à
rire et à pleurer. Akhirnya, Condé mendapatkan penghargaan kehormatan seni dan
sastra pada tahun 2001 dan masih banyak penghargaan lain yang ia dapatkan dari
novel-novelnya.
Novel L’histoire de la femme cannibale menceritakan tentang seorang wanita
bernama Rosélie Thibaudin. Ia yang mempunyai bakat melukis merupakan seorang
wanita berkulit hitam yang cantik dengan rambut tebal, berpostur tubuh tinggi dan
indah. Saat kecil, Rosélie tidak mempunyai teman karena kecemburuan dan sifat
posesif ibunya yang hanya menginginkan Rosélie menghabiskan waktunya bersama
dengan keluarganya. Kesepian selalu menyelimuti Rosélie karena ia merasa tidak
cocok dengan kebiasaan sepupu-sepupunya yang hanya membicarakan tentang hal
yang Rosélie anggap tidak menarik. Oleh sebab itu gadis ini lebih suka menyendiri.
Rosélie melanjutkan kuliahnya di Paris, kemudian ia bertemu dengan SalamaSalama, seorang lelaki yang membawanya pergi ke Afrika Selatan. Kemudian tanpa
alasan yang jelas, Salama-Salama pergi meninggalkan Rosélie seorang diri di
N’Dossou.
Setelah kepergian Salama-Salama, Rosélie memutuskan untuk menjadi
seorang pelacur agar dapat bertahan hidup di N’Dossou. Kemudian, ia bertemu
dengan lelaki berkulit putih yang bernama Stephen Stewart, seorang dosen yang
mengajar sastra Irlandia. Setelah perkenalan tersebut, mereka menjalin hubungan
asmara. Rosélie dan Stephen menjelajahi beberapa negara. Mereka pernah tinggal di
Amerika Serikat selama tujuh tahun, kemudian mereka pindah ke Jepang sebelum
akhirnya kembali lagi ke Afrika Selatan, lebih tepatnya ke kota Cap. Meski
sebenarnya hubungan mereka tidak disetujui oleh keluarga Rosélie karena dalam
tradisi keluarganya tidak menghendaki adanya perkawinan campuran, tetapi Rosélie
dan Stephen tetap menjalani hubungan mereka sehingga menjadi pasangan yang
bahagia. Selain itu, hubungan mereka pun ditolak oleh lingkungan sosial akibat dari
adanya politik Apartheid.
Namun, terkadang Stephen memandang rendah Rosélie, karena wanita
tersebut berkulit hitam. Oleh karena itu, Rosélie berselingkuh dengan dengan seorang
lelaki bernama Ariel. Pada akhirnya Stephen mengetahui perselimgkuhan tersebut.
Dengan kebesaran hatinya, Stephen memaafkan semua kesalahan Rosélie.
Simone Bazin des Roseraies adalah teman wanita pertama Rosélie. Mereka
bertemu di Pusat Kebudayaan Perancis di Afrika Selatan. Simone yang merupakan
wanita berkulit hitam dan mempunyai suami berkulit putih, selalu tertarik mengenai
politik dan mengemukakan opininya mengenai semua hal seperti diktator, demokrasi,
Islam, homoseksuel, terorisme, konflik India-Pakistan. Oleh karena kebiasaannya itu,
secara tidak langsung Rosélie mendapatkan pengetahuan mengenai politik.
Rosélie merasa kesepian setelah kepergian Simone, karena ia tidak
mempunyai teman selain wanita itu. Kemudian, ia bertemu dengan Dido yang
merupakan seorang wanita keturunan campuran. Mereka berteman setelah Rosélie
berhasil menghidupkan lagi suasana batin Dido yang selalu merasa bersalah atas
kematian anaknya.
Suatu hari Stephen ditemukan dalam keadaan bersimbah darah, hingga
akhirnya ia meninggal setelah dirawat di rumah sakit. Rosélie sangat terpukul atas
kematian pasangannya itu. Semenjak itu Rosélie kehilangan gairah hidup, sehingga ia
lebih sering menghabiskan waktunya di kamar. Kebiasaan yang selalu dilakukannya
hanya membaca surat kabar serta mengomentari dengan tajam tiap berita kriminal
yang ada. Kemudian Rosélie mulai berpikir untuk membantu orang-orang yang
menderita akibat diskriminasi ras di Afrika Selatan. Ia memutuskan untuk menjadi
seorang dukun. Ide tersebut berasal dari Dido yang mengkhawatirkan kondisi Rosélie
yang hanya berdiam diri saja. Selain itu, Rosélie memang sudah memiliki bakat
supranatural sejak ia kecil.
Rosélie dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit luar maupun dalam,
sehingga ia menjadi seorang dukun yang sangat terkenal. Rosélie mempunyai banyak
pasien, terutama pasien imigran. Namun, di antara semua pasiennya, terdapat dua
pasien yang selalu berada di pikiran Rosélie, yaitu Faustin dan Fiéla. Faustin
merupakan pasien yang mempunyai hubungan asmara dengan Rosélie. Namun, pada
akhirnya ia meninggalkan Rosélie. Sedangkan Fiéla adalah wanita berkulit hitam
yang telah membunuh suaminya yang berkulit putih. Rosélie merasa tertarik dengan
kasusnya Fiéla dan ia merasa bahwa mereka memiliki banyak kesamaan, sehingga
Rosélie menganggap bahwa ia dan Fiéla merupakan saudara kembar.
Dari hari ke hari, rasa kepedulian Rosélie terhadap orang berkulit hitam
semakin besar, karena ia juga pernah merasakan penderitaan yang sama seperti
mereka. Ia percaya bahwa ia dapat mengalahkan rasisme dengan kecerdasan dan
kemampuannya itu, sehingga ia berusaha melawan realitas sosial tersebut. Ia
mengharapkan agar rasisme segera berakhir, sehingga tidak akan ada lagi orangorang yang menderita akibat diskriminasi ras.
Untuk
menjabarkan struktur cerita secara menyeluruh dan mengetahui
pengaruh realitas sosial terhadap kehidupan pasangan campuran, akan digunakan
teori pembagian cerita secara sekuensial dalam analisis alur. Teori pembagian cerita
secara sekuensial berfungsi untuk mengetahui deretan peristiwa secara kronologis dan
logis yang kemudian diintegrasikan dengan aplikasi teori tindakan. Pada awal cerita,
pengarang mengambarkan Rosélie sebagai wanita berkulit hitam yang mempunyai
pasangan lelaki berkulit putih. selain itu, pengarang juga menggambarkan kehidupan
Rosélie sejak ia kecil, remaja, dewasa dan pekerjaannya sebagai seorang dukun.
Dari analisis alur, terlihat munculnya konflik atau masalah dalam cerita yang
berawal dari terjalinnya hubungan Rosélie, wanita berkulit hitam yang merupakan
tokoh utama dalam novel ini, dengan Stephen, lelaki berkulit putih. Hubungan
tersebut ditentang oleh berbagai pihak, baik dari keluarga Rosélie maupun dari
lingkungan sosial. Meskipun tekanan yang datang begitu bertubi-tubi, namun mereka
tetap menjalani kehidupan sebagai pasangan campuran yang cukup bahagia, hingga
kematian Stephen. Setelah peristiwa itu, Rosélie memulai aksinya untuk melakukan
“pemberontakan” terhadap realitas sosial yang ada di negara itu. Hal tersebut dipicu
oleh rasa kepeduliannya terhadap orang-orang yang menderita akibat realitas tersebut.
Analisis alur terdiri dari 70 sekuen yang didominasi oleh jenis sekuen
tindakan (acte). Hal tersebut menunjukkan bahwa tokoh utama cenderung aktif dalam
menggulirkan cerita melalui berbagai aksinya. Tindakan (acte) tersebut tidak terlepas
dari faktor-faktor yang bersifat internal, yaitu suasana hati (état) dan juga eksternal,
yaitu peristiwa (événement) dan hubungan antartokoh (situation). Hal ini berarti
bahwa reaksi yang dilakukan oleh tokoh utama dipengaruhi oleh rasa kepedulian dan
pengalaman hidupnya, yang kemudian semakin terpicu akibat adanya pengaruh
realitas sosial yang sangat merugikan orang-orang di sekitarnya.
Hasil dari analisis tokoh menunjukkan bahwa tokoh utama digambarkan oleh
pengarang sebagai tokoh yang mengalami berbagai macam kesulitan dan
kemalangan, terutama saat menjalani kehidupan pasangan campuran, yang
dipengaruhi oleh realitas sosial di Afrika Selatan. Namun demikian, karakter tokoh
utama mengalami suatu perubahan visi dan misinya setelah mengalami berbagai
peristiwa yang membuatnya harus terus berjuang meski telah kehilangan orang yang
dicintainya.
Selain itu, dalam analisis hubungan antartokoh dapat dilihat bagaimana
hubungan tokoh utama dengan Stephen berperan dalam munculnya konflik dalam
cerita. Hal itu terjadi karena mereka merupakan pasangan campuran kulit hitam dan
putih. Dalam analisis ini, juga dapat diketahui bahwa kehidupan pasangan campuran
tidak berjalan mulus, penyebabnya yaitu adanya pengaruh realitas sosial yang ada di
Afrika Selatan, yang tidak menghendaki adanya hubungan di antara pasangan dengan
warna kulit berbeda. Oleh karena itu, mereka selalu terkucilkan oleh keluarga atau
lingkungan sosial dan tidak mendapatkan kebebasan seperti pasangan biasa lainnya.
Pada analisis hubungan tokoh utama dengan tokoh-tokoh pembantu atau
pelengkap lainnya juga bisa dilihat bahwa sesungguhnya Rosélie adalah sosok wanita
yang mudah untuk jatuh cinta kepada siapa pun tanpa memerdulikan warna kulitnya.
Hal tersebut ditunjukkan dengan kisah cintanya bersama beberapa lelaki seperti
Salama-Salama, Stephen, Ariel dan Faustin. Selain itu, dalam analisis hubungan
antartokoh bisa dilihat juga adanya reaksi yang dilakukan oleh tokoh utama terhadap
realitas sosial yang ada. Tokoh utama berusaha membantu semua korban diskriminasi
ras yang mengalami trauma atau masalah psikologis lainnya. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa secara tidak langsung tokoh utama melakukan suatu
“pemberontakan” terhadap realitas tersebut, yang juga menimpa dirinya.
Selanjutnya, pada analisis latar yang merupakan inti pada penelitian ini, dapat
diketahui bagaimana gambaran kehidupan pasangan campuran di Afrika Selatan.
Pengarang menunjukkan keadaan tempat, waktu, dan sosial di negara itu secara
terperinci, sehingga dapat menimbulkan rasa empati pembaca untuk ikut merasakan
suasana di sana. Semua latar yang telah dianalisis tersebut sangat memengaruhi tokoh
utama, Rosélie, dalam menjalani kehidupan sebagai wanita berkulit hitam yang
memiliki pasangan lelaki berkulit putih, serta memicu rasa kepeduliannya untuk
membantu orang-orang yang menderita karena realitas sosial tersebut.
Analisis sudut pandang sebagai analisis terakhir dalam penelitian ini memiliki
peranan dalam menunjukkan ide-ide, pendapat, pemikiran serta pesan pengarang
dalam novel L’histoire de la femme cannibale. Melalui sudut pandang tak terbatas,
pengarang leluasa keluar masuk pemikiran dan perasaan para tokoh untuk
memaparkan idenya mengenai gambaran kehidupan pasangan campuran. Pandangan
serta ide-ide pengarang semakin ditegaskan melalui penggunaan sudut pandang
terbatas, yang memunculkan penilaian subyektifnya mengenai realitas sosial tersebut,
termasuk pemikiran bahwa rasisme dianggap lebih menyakitkan dibandingkan
dengan penyakit paling berbahaya sekalipun. Penggunaan kedua jenis sudut pandang
ini terbukti efektif digunakan oleh pengarang, untuk membantu pembaca agar dapat
menyelami lebih dalam mengenai realitas sosial yang terjadi di Afrika Selatan.
SIMPULAN
Dari keseluruhan analisis dalam skripsi ini, dapat terlihat ide
pengarang yang mencoba mengetengahkan rumitnya realitas sosial akibat politik
Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan. Politik tersebut telah melibatkan berbagai
aspek kehidupan dan nilai-nilai kehidupan manusia, nilai moral, budaya dan sosial.
Dampak yang ditimbulkan dari politik Apartheid bagi orang-orang berkulit hitam
begitu berkepanjangan, meskipun secara formal politik ini telah ditiadakan. Bahkan,
bagi pasangan campuran, dampak tersebut akan selalu dialaminya, mereka akan
selalu terkucilkan dari lingkungan sosial, karena realitas sosial tersebut telah menjadi
sebuah tradisi yang melembaga.
Melalui novel fiksi yang berjudul L’histoire de la femme cannibale ini,
pengarang juga memperlihatkan adanya suatu sikap dari seorang manusia yang
merasa terpicu rasa kepeduliannya terhadap orang-orang
yang menderita akibat
adanya diskriminasi ras. Seorang wanita yang telah mengalami berbagai tekanan dan
penderitaan, sehingga dapat merasakan rasa sakit orang-orang yang bernasib sama
dengannya. Wanita ini berusaha membantu menyembuhkan luka fisik maupun psikis
para pasiennya, terutama pasien imigran. Sikap wanita tersebut berkaitan dengan
judul novel ini, L’histoire de la femme cannibale yang merupakan judul sebuah
lukisan, dapat diartikan sebagai perjalanan wanita ini dalam melakukan
pemberontakan dan berusaha untuk mengakhiri realitas sosial yang terjadi di Afrika
Selatan, walaupun ia harus melawan takdirnya sendiri.
Setelah membaca novel ini, tampak bahwa pengarang mengajak kita untuk
memaknai kehidupan dengan lebih bijaksana. Bagaimana seharusnya manusia
menempatkan dirinya dengan baik dan seimbang dalam statusnya sebagai makhluk
pribadi, makhluk Tuhan dan juga terutama sebagai makhluk sosial. Dengan
mengutamakan perbuatan baik pada sesama dan tidak memandang rendah orang lain
hanya karena perbedaan fisik, seperti yang dikatakan oleh Muhammad Ali, mantan
petinju Amerika Serikat “Membenci orang karena warna kulitnya itu salah. Tidak
masalah apa ras si pembenci. Hanya saja ini benar-benar salah.”. Setiap perbedaan itu
seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk saling melengkapi satu dengan yang
lainnya. Pada dasarnya, manusia memang diciptakan berbeda, namun tetap memiliki
darah yang sama berwarna merah. Perbedaan tersebut sebaiknya tidak dijadikan
sebagai jurang pemisah kebersamaan, karena masih ada beberapa kesamaan dibalik
semua perbedaan itu, seperti dikutip dari salah satu bukunya Clive Barker, penulis
Inggris, “Setiap orang merupakan sebuah buku yang terbuat dari darah, di mana pun
kita dibuka, kita merah”.
“Ketidaktahuan dan prasangka adalah bagian dari propaganda. Oleh karena itu,
misi kami untuk mengalahkan kebodohan dengan pengetahuan, kefanatikan dengan
toleransi, dan isolasi dengan tangan terentang dari kemurahan hati. Rasisme dapat,
akan, dan harus dikalahkan .” - Kofi AnnanDaftar sumber :
Barthes, Roland. 1981. Introduction à l’Analyse Structurale du Récit. Paris : Seuil.
Condé, Maryse. 2003. L’histoire de la femme cannibale. Mercure de France
Goldenstein, J. P. 1988. Pour Lire le Roman. Brussel-Paris: De Boeck-Duculot
Schmitt, M.P. & A. Viala. 1982. Savoir-lire. Paris: © Les Éditions Didier
www.monsieur-biographie.com/celebrite/biographie/maryse_conde-5707.php :
diakses tanggal 2 Desember 2011
http://www.colby.edu/french/fr128/efdavis/biographie.htm
Desember 2011
:
diakses
tanggal
2
Download