GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA

advertisement
GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA
PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.L
RAHMAT HIDAYAT
SKRIPSI
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN
MAS Cyprinus carpio.L
adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan oleh penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Desember 2008
RAHMAT HIDAYAT
C14103044
RAHMAT HIDAYAT, C14103044. Gambaran Histologis Testis Muda dan
Dewasa pada Ikan Mas Cyprinus carpio.L. (Dibimbing oleh Dinar Tri
Soelistyowati dan Alimuddin).
Tekanan pada populasi ikan diberbagai ekosistem perairan, baik didarat
maupun dilautan, yang disebabkan oleh meningkatnya pencemaran, kerusakan
habitat, predasi, maupun penangkapan yang berlebih berpotensi mengancam
kepunahan suatu spesies. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya perikanan,
suatu spesies ikan perlu dipertahankan atau ditingkatkan produksinya agar dapat
memenuhi kebutuhan pangan bagi umat manusia serta bebas dieksploitasi untuk
kebutuhan generasi mendatang. Solusi dari permasalahan tersebut adalah
rehabilitasi dan konservasi biologi stok, terutama pada spesies ikan yang memiliki
fekunditas kecil dan fertilitas yang rendah, sehingga perbanyakan populasi
menjadi kendala yang serius. Salah satu teknologi pengembangbiakan dalam
akuakultur adalah menghasilkan keturunan suatu spesies ikan dengan menitipkan
gametnya pada spesies ikan lain, yaitu melalui transplantasi sel spermatogonia.
Sel spermatogonia ini akan menurunkan informasi genetik ke generasi berikutnya
melalui pematangan gonad dan fertilisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran histologis testis
terkait dengan populasi sel spermatogonia pada ikan mas Ciprynus carpio. L
muda dan dewasa. Penelitian berlangsung dari bulan Februari sampai Agustus
2008 di Laboratorium Pengembangbiakan Ikan dan Genetika Ikan, Laboratorium
Kesehatan Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Sampel ikan mas yang digunakan terdiri dari ikan muda dan dewasa masingmasing sebanyak 3 ekor yang bervariasi bobot tubuhnya. Preparat histologis testis
dibuat dengan cara fiksasi menggunakan larutan Bouin selama ± 24 jam, dehidrasi
dengan alkohol, secara bertingkat (70 %, 80 %, 90 %, 95 %) dan alkohol absolut
(alkohol 100 %) I, II, III, Clearing dengan larutan xylol, infiltrasi dalam parafin
cair, embedding dalam blok parafin, pemotongan blok parafin, deparafinisasi,
rehidrasi dengan xylol dan alkohol bertingkat, pewarnaan menggunakan
Hematoksilin-eosin (HE), dan Pengamatan dengan mikroskop.
Gambaran histologis testis muda dan dewasa menunjukkan populasi sel
spermatogonia yang paling banyak ditemukan pada ikan mas yang lebih muda
yang memiliki nilai GSI paling kecil yaitu pada ikan berukuran terkecil,
sedangkan pada ikan yang berukuran besar terdapat perbedaan GSI yang
mencolok pada ikan yang telah mengalami pemijahan dibandingkan dengan yang
belum memijah, nilai GSI yang lebih kecil menunjukkan siklus reproduksi telah
berulang paska pemijahan yaitu menunjukkan populasi spermatogonia yang lebih
tinggi, sebaliknya GSI lebih besar menunjukkan puncak kematangan, yaitu lebih
banyak ditemukan spermatozoa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa GSI kecil merupakan
indikator ketersediaan spermatogonia yang lebih banyak, sedangkan pada
penggunaan ikan dewasa perlu mempertimbangkan korelasi GSI dengan bobot
tubuhnya untuk meminimalisasi kesalahan pemilihan donor pada transplantasi sel
dan meningkatkan keberhasilannya.
GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA
PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.L
RAHMAT HIDAYAT
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Perikanan pada
Departemen Budidaya Perairan
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
SKRIPSI
Judul Skripsi
Nama Mahasiswa
NRP
Program Studi
: Gambaran Histologis Testis Muda dan Dewasa
pada Ikan Mas Cyprinus carpio. L
: Rahmat Hidayat
: C14103044
: Teknologi dan Manajemen Akuakultur
Menyetujui,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Dinar Tri Soelistyowati
NIP. 131413353
Dr. Alimuddin
NIP. 132133953
Mengetahui,
Wakil Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, MSc
NIP. 131578799
Tanggal lulus :
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, dengan perkenan-Nya jua penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Skripsi ini berjudul “Gambaran Histologi Testis Muda dan Dewasa pada
Ikan Mas Cyprinus carpio.L”, yaitu gambaran secara deskriptif morfologi dan
jumlah populasi sel spermatogonia testis ikan mas muda dan dewasa. Berkenaan
dengan selesainya penulisan skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Dinar Tri Soelistyowati dan Bapak Dr. Alimuddin yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahannya dalam penelitian dan penulisan skripsi
ini,
2. Bapak Ir. Irzal Effendi, M.Si yang telah berkenan menguji penulis dan
memberikan masukannya,
3. Bapak Adi Winarto P.hD atas arahan dan masukannya.
4. Abah dan Mamah, Teteh, Aa tercinta atas dukungan dan do’anya selama ini,
5. Teman-teman dan adik- adik BDP (Firman, Anna, Bambang, Erik, Dwi, Ma’ul,
Hendi, Uu) atas segala bantuannya.
6. Abang-abang dan teman-temanku (mas Warsito, mas Geru, mas Insan, Dekri,
Yanuar, Adit, Wasis, Komar, Hilman) atas dorongan dan bantuannya.
7. Semua pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi ini.
Skripsi ini tidak luput dari kekurangan, namun penulis berharap dapat
bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Bogor, Desember 2008
Penulis
i RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cikedal, Pandeglang, Banten, pada tanggal 8
Agustus 1985 sebagai anak ke empat dari empat bersaudara, dari
ayah bernama Ardin, dan ibu bernama Badriyah.
Pendidikan Taman Kanak-kanak penulis selesaikan di TK Mathla’ul
Anwar pada tahun 1992 dan pendidikan Dasar di SDN Tunas Karya pada tahun
1997. Tahun 2000 lulus dari SMPN 1 Menes dan menyelesaikan pendidikan
menengah umum di SMUN 1 Menes pada tahun 2003. Pendidikan di Institut
pertanian Bogor (IPB) penulis tempuh sejak tahun 2003 melalui Undangan
Saringan Masuk IPB (USMI) dengan memilih Departemen Budidaya perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Selama mengikuti pendidikan penulis pernah aktif dalam keanggotaan
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (BEM - C),
(2006 - 2007) Penulis juga pernah aktif sebagai asisten Pendidikan Agama Islam
(2005 - 2006 dan 2006 - 2007). Untuk menambah wawasan tentang dunia perikanan
penulis lakukan dengan mengikuti Praktek Lapang (PL) di Balai Besar
Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung pada bulan Juni sampai bulan
September 2006 dengan judul “Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kerapu Tikus
Cromileptes altivelis di Balai Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut
(BBPBL) Lampung”. Penulis melaksanakan tugas akhir dengan judul penelitian
“Gambaran Histologis Testis Muda dan Dewasa pada Ikan Mas Cyprinus
carpio.L”.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI …………………………………………………………
i
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………. .
ii
I.
PENDAHULUAN …………………………………………...
1
1. 1. Latar Belakang ………………………………………….
1
1. 2. Tujuan …………………………………………………..
2
TINJAUAN PUSTAKA …………………………………….
3
2. 1. Sel Stem …………………………………………………
3
2. 2. Testis ……………………………………………………
4
2. 3. Transplantasi ……………………………………………
6
2. 4. Transplantasi Stem Sel Spermatogonia …………………
8
METODOLOGI ……………………………………………..
10
3. 1. Waktu dan Tempat ………………………………………
10
3. 2. Prosedur Kerja …………………………………………..
10
3. 3. Analisis Data …………………………………………….
11
HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………...
12
4. 1. Gonado Somatic Index (GSI) …………………………...
12
4. 2. Morfologi Sel germinal …………………………………
13
KESIMPULAN ……………………………………………..
18
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….
19
LAMPIRAN …………………………………………………………
21
II.
III.
IV.
V.
i
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Gambar histologis testis ikan …………………………………..
6
2. Grafik perbandingan bobot testis dengan nilai GSI pada
ikan mas ukuran kecil dan besar ……………………………….
12
3. Gambar testis secara histologis pada ikan mas
ukuran kecil dan besar ………………………………………….
15
ii
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kegiatan budidaya ikan dilakukan dengan tujuan memproduksi ikan sesuai
dengan performa yang diinginkan, seperti morfologi, pertumbuhan, pertambahan
jumlah dan kelangsungan hidup yang tinggi. Namun untuk mendapatkan tingkat
produksi yang optimal, ternyata banyak sekali kendala yang dihadapi. Pada jenis
ikan tertentu, terdapat ikan yang memiliki fekunditas yang kecil dan tingkat
fertilitas yang rendah, masa kritis pada fase larva yaitu masa peralihan dari kuning
telur menuju pakan alami sebagai sumber energi, serta siklus reproduksi yang
terganggu akibat faktor lingkungan seperti predasi atau overeksploitasi oleh
manusia, sehingga tidak mampu menghasilkan keturunan dalam jumlah yang
besar. Selain itu, beberapa jenis ikan budidaya juga membutuhkan waktu lama
untuk mencapai matang kelamin pertama. Teknologi dalam akukultur telah
berhasil menghasilkan keturunan suatu spesies ikan yang salah satu sel gametnya
dihasilkan pada spesies ikan lain, yaitu dengan melalui transplantasi sel
spermatogonia. Teknologi ini mungkin dapat digunakan untuk menjadi alternatif
program pengembangbiakan ikan yang jumlahnya terus berkurang, dan
diharapkan dapat merevolusi teknik pemeliharaan ikan yang dikembangkan
selama ini, sehingga dapat mengkonservasi populasi ikan yang terancam punah.
Sel spermatogonia dihasilkan dalam proses spermatogenesis, yaitu
merupakan
sel
yang
mengandung
populasi
sel
stem.
Dalam
proses
spermatogenesis, spermatogonia berkembang menjadi spermatosit, spermatid
hingga sperma. Sel spermatogonia dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu sel
spermatogonia yang belum terdiferensiasi dan sel spermatogonia yang telah
terdiferensiasi. Sel spermatogonia yang telah terdiferensiasi akan mengalami
perbanyakan melalui pembelahan mitotik dan meiotik hingga menjadi
spermatozoa. Sedangkan sel yang belum terdiferensiasi memiliki kemampuan
memperbaharui diri sepanjang hidup organisme dan berkembang menjadi
spermatozoa sama dengan sel spermatogonia yang telah terdiferensiasi. Stem sel
spermatogonia yang belum terdiferensiasi ini dapat menurunkan informasi genetik
1
ke generasi berikutnya melalui pematangan gonad dan fertilisasi. Apabila sel
spermatogonia yang belum terdiferensiasi ini ditransplantasikan ke embrio ikan
lain, maka akan berkembang menjadi sel gonia dan sel gamet yang sesuai dengan
jenis kelaminnya. Kemudian, melalui pembuahan secara buatan dengan ikan
donor yang menginjeksikan sel spermatogonia-nya, maka akan menghasilkan
keturunan dari ikan donor tersebut. Teknologi rekayasa ini diprediksi akan sangat
berguna untuk menyimpan (back-up) material genetik berbagai jenis ikan yang
saat ini terancam kepunahan disebabkan karena sel spermatogonia mudah
diawetkan dengan pembekuan (cryopreserve) pada suhu yang amat rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Goro Yoshizaki dan koleganya dari
Tokyo University of Marine Science and Teknologi, telah berhasil membuat ikan
salmon jantan memproduksi sperma ikan trout aktif setelah menyuntiknya dengan
sel spermatogonia dari ikan trout. Sperma itu mampu membuahi telur ikan trout
dan menghasilkan anak-anak ikan trout yang sehat. Kemudian Prof. Goro
Yoshizaki juga telah menghasilkan seratus persen sel sperma dan sel telur ikan
trout dari ikan salmon jantan dan betina yang mandul menggunakan teknologi
triploidisasi.
Penerapan teknologi transplantasi memerlukan informasi dasar mengenai
gambaran sel spermatogonia pada ikan. Informasi ini diperlukan untuk
mengetahui donor yang baik dengan porsi sel spermatogonia yang banyak. Donor
dengan porsi sel yang banyak dapat menghasilkan induk semang (Surrogate
broodstock) yang lebih banyak.
1.2. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran histologis
testis terkait dengan jumlah populasi sel spermatogonia pada ikan mas Cyprinus
carpio.L pada tingkat kedewasaan yang berbeda.
2
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sel Stem
Sel stem ialah sel yang belum berdiferensiasi dan memiliki potensi untuk
berdiferensiasi menjadi jenis sel lain. Kemampuan berdiferensiasi tersebut
memungkinkan sel stem ini menjadi sistem perbaikan tubuh dengan menyediakan
sel-sel baru selama organisme bersangkutan hidup. Sel stem ini merupakan suatu
jenis sel yang spesial dengan kemampuannya yang sangat unik untuk
memperbanyak dan memperbaharui dirinya sendiri. Keunikan lainnya adalah
kemampuannya untuk dapat berubah menjadi berbagai macam jenis sel yang
berbeda-beda, sesuai dengan lingkungannya. Bila sel stem di tanam dalam
jaringan otak, maka akan menjadi sel otak, bila ditanam di jantung, akan menjadi
sel jantung, dan bila ditanam di jaringan tulang maka berkembang menjadi sel
tulang (Faried, 2007).
Sel-sel induk dapat digolongkan berdasarkan potensi yang dimiliki oleh sel
tersebut maupun berdasarkan asalnya. Berdasarkan potensi yang dimiliki oleh sel
stem, terdapat 4 macam sel induk, yaitu : 1). Sel induk ber-totipotensi (toti = total)
adalah sel induk yang memiliki potensi untuk berdiferensiasi menjadi semua jenis
sel. Sel induk bertotipotensi diperoleh dari sel induk embrio , hasil pembuahan sel
telur oleh sel sperma; 2). Sel induk ber-pluripotensi (plur I = jamak); 3). Sel induk
ber-multipotens; 4). Sel induk ber-unipotensi (uni = tunggal) adalah sel induk
yang hanya dapat menghasilkan satu jenis sel tertentu, tetapi memiliki
kemampuan memperbarui diri yang tidak dimiliki oleh sel yang bukan sel induk.
Sedangkan berdasarkan jenis dan asal sel stem, sel induk dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu : 1). Embryonal stem cells, yaitu berasal dari embrio pada fase
blastosit (5-7 hari setelah pembuahan). Massa sel bagian dalam mengelompok dan
mengandung sel-sel induk embrionik. Sel-sel diisolasi dari massa sel bagian
dalam dan dikultur secara in vitro. Sel induk embrional dapat diarahkan menjadi
semua jenis sel yang dijumpai pada organisme dewasa, seperti sel-sel darah, selsel otot, sel-sel hati, sel-sel ginjal, dan sel-sel lainnya. Embryonal stem cells ini
terbagi dua yaitu (Faried, 2007) : a). Embryonic stem cells, berasal dari kumpulan
sel, bernama inner cell mass, yang merupakan bagian dari embryo fase awal yang
3
dikenal sebagai blastocyte; b). Embryonic germ cells: berasal dari jaringan fetus.
Sel tersebut diisolasi dari primordial stem cells yang di ambil dari jaringan gonad.
2). Adult stem cells, yaitu berasal dari sel yang belum berdiferensiasi pada sel
individu dewasa, tetapi memiliki sifat-sifat menyerupai sel stem (Faried,
2007). Sel induk dewasa mempunyai dua karakteristik, yaitu : a). Sel-sel
tersebut dapat berproliferasi dalam periode yang panjang untuk memperbarui
diri; b). Sel-sel tersebut dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan sel-sel
khusus yang mempunyai karakteristik morfologi dan fungsi yang spesial.
2.2. Testis
Testis merupakan sepasang organ memanjang yang terletak pada dinding
dorsal (Tang dan Affandi, 2002). Pada ikan mas, testis berbentuk lonjong dan
berwarna putih susu. Testis sebagai gonad jantan memiliki fungsi ganda, yaitu
sebagai penghasil spermatogonia dan mensekresi hormon androgen (Nalbandov,
1990). Pada testis muda biasanya terlihat hanya ada sel spermatogonia dan sel
sertoli pada tubulusnya (Prasetyaningtyas, 2006). Tubulus biasanya belum
mengandung rumen dan terdapat jaringan ikat yang tebal di sekitar tubulus
(Prasetyaningtyas, 2001). Terdapat beberapa jaringan di dalam testis (Pergiwa,
2003) yaitu :
1). Tubuli seminiferi, epitelnya terdiri dari dua macam sel yang berbeda, yaitu
sel germinatif dan sel sertoli. Sel Germinatif merupakan sel yang akan
mengalami perubahan selama proses spermatogenesis sebelum siap untuk
mengadakan fertilisasi. Sel sertoli merupakan sel yang berbentuk panjang dan
kadang-kadang seperti piramid, terletak dekat atau diantara sel germinatif. Sel
ini memberi makan kepada spermatozoa yang masih muda, memfagosit sel-sel
spermatozoa yang telah mati atau mengalami degradasi; 2). Sel stroma atau
tenunan pengikat di luar tubuli seminiferi, yang mengandung pembuluh darah,
limfe, sel saraf dan sel makrofag; 3). Sel interstitial dan sel-sel Leydig. Sel
Leydig dapat menghasilkan hormon testosteron, yang juga dihasilkan oleh
spermatozoa dan kelenjar adrenal.
Sel spermatozoa merupakan hasil perkembangan dari sel spermatogonia
yang diproduksi oleh tubul seminiferi dari testis pada epitel germinatif dengan
4
cara pembelahan. Hal ini terjadi melalui proses spermatogensesis, secara
sempurna setelah individu mencapai dewasa kelamin. Proses spermatogenesis
dibagi menjadi empat tahap (Ownby, 1999) yaitu :
1) Tahap proliferasi, yaitu dimulai sejak sebelum lahir sampai saat setelah
lahir. Bakal sel kelamin yang ada pada lapisan basal dari tubuli seminiferi
melepaskan diri dan membelah secara mitosis sampai dihasilkan banyak
sel spermatogonia;
2) Tahap tumbuh, yaitu spermatogonia membelah diri secara mitosis
sebanyak empat kali sehingga dihasilkan 16 sel spermatogonia;
3) Tahap menjadi masak, yaitu sel spermatogonia menjadi sel spermatosit.
Pada tahap ini terjadi pembelahan meiosis sehingga sel spermatosit primer
berubah menjadi sel spermatosit sekunder. Kemudian sel spermatosit
sekunder akan berubah menjadi spermatid bersamaan dengan pengurangan
jumlah kromosom dari diploid (2n) menjadi haploid (n);
4) Tahap transformasi, yaitu terjadi proses metamorfosa seluler dari sel
spermatid sehingga terbentuk sel spermatozoa;
Menurut Djuwita dkk. (2000), proses spermatogenesis dibagi menjadi dua
tahap yaitu : 1). Spermatositogenesis, adalah pertumbuhan jaringan spermatogenik
dengan pembelahan mitosis yang diikuti dengan pembelahan reduksi (meiosis).
Pada fase ini spermatogonia mempunyai kemampuan memperbaharui diri,
sehingga menjadi dasar spermatogonial stem cell (Ogawa et al., 1997). Pada
pembelahan meiosis jumlah kromosom dibagi dua sama banyak yaitu dari diploid
(2n) menjadi haploid (n), sehingga pada saat yang bersamaan sel benih primordial
juga berkembang menjadi spermatogonia yang selanjutnya akan berdiferensiasi
menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer akan berkembang menjadi
spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder melalui pembelahan meiosis akan
menghasilkan spermatid; 2). Spermiogenesis,
yaitu sel spermatid akan
mengalami metamorfosa dan membentuk spermatozoa secara sempurna.
Perubahan proses metamorfosa ini meliputi pembentukan akrosom, kepala, badan,
dan ekor dari spermatozoa.
5
Gambar 1.Gambar Histologis Testis Ikan (Takayama dan Hibiya, 1995 )
2. Sel spermatogonium primer, 3. Sel spermatogonium sekunder, 4. Sel spermatosit
primer, 6. Sel spermatosit sekunder 8. Sel spermatid, 9. Sel spermatozoa
2.3. Transplantasi
Transplantasi adalah pemindahan sel, jaringan, maupun organ hidup dari
donor kepada resipien atau dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya dengan
tujuan mengembalikan fungsi yang telah hilang (Nurcahyo, 2007) Jaringan atau
organ yang didonorkan bisa berasal dari tubuh yang masih hidup maupun yang
belum lama mati. Yang lebih efektif adalah jaringan yang berasal dari tubuh yang
masih hidup karena angka keberhasilannya tinggi. Transplantasi sel induk dapat
berupa (Arifin, 2004): 1). Transplantasi autologus, menggunakan sel induk pasien
bersangkutan, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi dosis tinggi; 2).
Transplantasi alogenik menggunakan sel induk dari donor yang cocok, yaitu
berasal dari induk yang memiliki hubungan keluarga atau tanpa hubungan
6
keluarga; 3). Transplantasi singenik, menggunakan sel induk dari saudara kembar
identik.
Masalah terbesar dalam transplantasi adalah rejeksi (penolakan),
sebagaimana kuman atau benda asing yang memasuki tubuh, dan tubuh penerima
akan mengembangkan berbagai reaksi penolakan atau rejeksi terhadap organ dan
jaringan yang baru dicangkokkan tersebut. Untuk mengurangi besarnya penolakan
tersebut, maka sebaiknya jaringan donor dan jaringan resipien harus memiliki
kesesuaian yang semaksimal mungkin. Untuk mencapai tingkat kesesuaian yang
semaksimal mungkin, dilakukan penentuan jenis jaringan donor dan resipien.
Transplantasi yang paling baik dilakukan bila organ atau jaringan pengganti
berasal dari tubuh sendiri (Anonimous, 2002), karena tidak akan menimbulkan
rejeksi. Sebaliknya, organ atau jaringan yang berasal dari orang lain (kecuali
saudara kembar satu telur) sering menimbulkan reaksi penolakan yang mungkin
mengakibtakan berbagai komplikasi.
Jika seseorang menerima jaringan dari donor, maka antigen pada jaringan
yang dicangkokkan tersebut akan memberi peringatan kepada tubuh resipien
bahwa jaringan tersebut merupakan benda asing (Nurcahyo, 2007). Antigen
adalah zat yang dapat merangsang terjadinya suatu respon kekebalan, yang
ditemukan pada permukaan setiap sel di tubuh manusia. Tiga antigen spesifik
pada permukaan sel darah merah adalah A, B dan Rh, yang menentukan apakah
akan terjadi penolakan atau penerimaan pada suatu transfusi darah. Karena itu
darah digolongkan berdasarkan ketiga jenis antigen tersebut. Jaringan lainnya
memiliki berbagai antigen, sehingga penyesuaian menjadi lebih mungkin terjadi.
Sekelompok antigen yang disebut human leukocyte antigen (HLA) merupakan
antigen yang paling penting pada pencangkokan jaringan lain selain darah.
Semakin sesuai antigen HLA-nya, maka kemungkinan besar pencangkokan akan
berhasil. Biasanya sebelum suatu organ dicangkokkan, jaringan dari donor dan
resipien diperiksa jenis HLA-nya. Pada kembar identik, antigen HLAnya benarbenar sama.
Pada orang tua dan sebagian besar saudara kandung, beberapa memiliki
antigen yang sama, 1 diantara 4 pasang saudara kandung memiliki antigen yang
sama. Meskipun jenis HLA agak mirip, tetapi jika sistem kekebalan resipien tidak
7
dikendalikan, maka organ yang dicangkokkan biasanya ditolak. Penolakan
biasanya terjadi segera setelah organ dicangkokkan, tetapi mungkin juga baru
tampak beberapa minggu bahkan beberapa bulan kemudian. Penolakan bisa
bersifat ringan dan mudah ditekan atau mungkin juga sifatnya berat dan progresif
meskipun telah dilakukan pengobatan. Penolakan tidak hanya dapat merusak
jaringan maupun organ yang dicangkokkan tetapi juga bisa menyebabkan
komplikasi.
2.4. Transplantasi Sel Stem Spermatogonia
Dalam setiap proses reproduksi, pada umumnya benih ikan dihasilkan dari
embrio yang berkembang dari hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma induknya
atau yang dikenal dengan istilah fertilisasi. Sel sperma dan sel telur ini
berkembang dari sel gonia masing - masing yaitu merupakan sel pertama yang
berkembang dari proses gametogenesis. Pada ikan betina disebut sel oogania dan
pada ikan jantan disebut sel spermatogonia.
Teknologi dalam budidaya telah berhasil menghasilkan keturunan suatu
spesies ikan yang salah satu induknya berasal dari spesies lain, yaitu dengan
melalui transplantasi sel spermatogonia. Sel spermatogonia secara alamiah akan
berkembang akan menjadi sperma, tetapi apabila disuntikkan ke dalam perut
embrio ikan betina akan berkembang menjadi sel telur. Namun tak semua spesies
bisa menerima transplantasi semacam itu jika tak menemukan kerabat dekat suatu
spesies bersangkutan untuk menjadi orang tua pengganti.
Sel spermatogonia merupakan sel pertama dari proses spermatogenesis.
Sel spermatogonia akan tetap dalam masa dorman hingga masa pubertas
(Slomianka, 2006). Pada testis muda biasanya terlihat hanya ada sel
spermatogonia dan sel sertoli pada tubulusnya (Prasetyaningtias, 2006). Di dalam
epitel seminiferus sel spermatogonia terbagi menjadi dua tipe sel, yaitu sel
spermatogonia tipe A dan tipe B (Slomianka, 2006) :
1). Sel spermatogonia tipe A memiliki nukleus yang berbentuk bulat dengan
rangkaian
benang-benang
kromatin,
dengan
satu
atau
dua
nukleoli.
Spermatogonia tipe A merupakan sel yang dapat membentuk generasi baru baik
berupa sel spermatogonia tipe B maupun sel spermatogonia tipe A. Sel ini
8
memiliki kemampuan memperbaharui diri (self-renewal) sepanjang hidup
organisme dan juga dapat terus berkembang menjadi spermatozoa seperti halnya
sel spermatogonia terdiferensiasi. Sel spermatogonia tipe A ini dapat menurunkan
informasi genetik ke generasi berikutnya melalui pematangan gonad dan fertilisasi
; 2). Sel spermatogonia tipe B memiliki nuklei yang berbentuk bulat dan benangbenang kromatin berbagai ukuran, biasanya terikat pada membran nuklear dan
satu nukleolus. Meskipun sel spermatogonia tipe B dapat meregenerasi, akan
tetapi tidak dapat berfungsi seperti se steml, dan pembelahan mitosis akhirnya
akan selalu berbentuk spermatosit primer.
Transaplantasi sel spermatogonia telah berhasil dilakukan diantaranya oleh
Goro Yoshizaki dari Universitas Tokyo yaitu dengan mengisolasi spermatogonia
dari testis ikan rainbow trout (Onchorhynchus mykiss) dan mentransplantasikan
dalam rongga perut ikan jantan dan betina lainnya. Pada tubuh ikan jantan, sel
yang ditransplantasikan berkembang menjadi sperma, sedangkan pada ikan betina
menjadi sel telur (Wah, 2006). Dalam riset Yoshizaki, sperma ikan salmon jantan
yang ditransplantasi dengan bakal gonad atau primordial germ cell tahap awal
pembentukan sperma dan digunakan untuk membuahi telur trout hanya
menghasilkan 0,4 persen anak ikan trout sehat, sisanya adalah ikan hibrida yang
tidak berumur panjang. Untuk meningkatkan persentase itu, tim Yoshizaki
berupaya membuat salmon yang didesain memiliki tiga set kromosom sehingga
menjadi mandul. Ketika diinjeksi dengan sel spermatogonia, ikan itu
memproduksi sperma aktif dan telur seluruhnya dari ikan trout. Anak-anak yang
dihasilkan pun 100 persen ikan trout, tak ada lagi ikan hibrida salmon - trout
(Dewi, 2007).
9
III.
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Agustus 2008 di
Laboratorium Kesehatan ikan dan Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika
Ikan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas perikanan dan Ilmu kelautan, dan
di Laboratorium Histologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor.
3.2. Prosedur kerja
Sampel ikan yang digunakan ialah ikan mas yang terdiri dari ikan muda
dan dewasa, masing-masing sebanyak 3 ekor yang bervariasi bobot tubuhnya.
Setiap ekor ikan mas ditimbang bobot tubuhnya, kemudian dibedah untuk diambil
testisnya dan ditimbang untuk menghitung nilai GSI-nya. Testis yang didapatkan
di fiksasi ke dalam larutan Bouin untuk kemudian dibuat preparat histologis.
(Lampiran).
Dengan menggunakan mikroskop cahaya maka secara histologis
didapatkan gambaran mikroskopik morfologi dan jumlah populasi sel germinal
dari jaringan testis pada ikan mas. Penentuan gambaran morfologi dan jumlah
populasi sel germinal ini dtentukan berdasarkan perbedaan warna, bentuk, dan
letak dari masing-masing kelompok sel-nya. Penggunaan pewarna HE
dimaksudkan karena pewarna ini dapat menggambarkan struktur dan komponen
dari suatu jaringan.
Hematoksilin-Eosin (HE) termasuk pewarna mordant dimana terdapat
mordant (metal) sebagai perantara untuk mengikat molekul zat warna.
Hematoksilin adalah zat warna alami yang bersifat basa (basofili) yang akan
mewarnai jaringan yang bersifat asam (asidofilik) yang memberikan warna biru
pada inti. Sedangkan eosin merupakan zat warna sintetik yang bersifat asam
(asidofilik) yang akan mewarnai komponen basa dalam jaringan yaitu yang
terdapat pada protein sitoplasma, sehingga sitoplasma berwarna merah.
10
3.4. Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif yang meliputi parameter berat
tubuh, berat gonad, dan nilai GSI (Gonado Somatic Index) dan disajikan dalam
bentuk grafik dan foto gambaran mikroskopis morfologi dan jumlah sel
spermatogonia secara visual pada sampel histologis. Nilai GSI dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut :
GSI = Wg/W x 100 %
Keterangan :
Wg = Bobot testes
W = Bobot ikan
11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1. Gonado Somatic Index (GSI)
Perkembangan testis berhubungan dengan nilai GSI. GSI merupakan
perbandingan antara bobot gonad dengan bobot tubuh (Effendie, 1997).
Grafik perbandingan bobot testis dengan nilai GSI pada ikan mas ukuran
kecil dan besar disajikan pada Gambar 1.
Gambar 2. Grafik perbandingan bobot testis dengan nilai GSI pada ikan
mas ukuran kecil dan besar
Bobot testis ikan kecil yang terdiri dari 3 ukuran ikan dengan bobot ≤ 30 g
bervariasi dari 0.13 g sampai 0.99 g. Sedangkan pada ikan besar yang mempunyai
bobot ≥ 150 g, bobot testisnya berkisar antara 9.56 g sampai 27.89 g.
Nilai GSI berkisar antara 1.65 sampai 8.99. Nilai GSI terkecil terdapat
pada ikan mas berukuran kecil dengan bobot testis 0.13 g, sedangkan nilai GSI
terbesar terdapat pada ikan mas berukuran besar dengan bobot testis 27.89 g.
Pada ketiga ukuran ikan besar, terdapat perbedaan nilai GSI, yaitu GSI
lebih kecil pada ikan berbobot 270 g dibandingkan dengan ikan yang berbobot
150 g. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan gambaran histologisnya bahwa pada
ikan dengan bobot 270 g (ikan besar ke-III) telah mengalami pemijahan,
sedangkan pada ikan dengan bobot 150 g (ikan besar 1) masih dalam
perkembangan untuk menjadi matang.
12
4. 2. Morfologi sel germinal
Morfologi sel germinal dari setiap organisme secara histologis adalah
spesifik. Sel ini berdiferensiasi mulai dari sel spermatogonia hingga menjadi sel
spermatozoa. Perkembangan testis ikan mas berdasarkan gambaran histologisnya
secara mikroskopis disajikan pada gambar 3. Pada ikan yang masih muda (gambar
3.a) terlihat sel spermatogonia lebih dominan daripada sel lainnya. Sedangkan
pada gambar 3.b dan 3.c terlihat populasi sel spermatid, spermatosit primer dan
sekunder dalam jumlah yang berimbang. Selain itu ditemukan pula sel
spermatogonia dalam jumlah lebih sedikit. Sebaliknya pada ikan yang lebih
dewasa (gambar 3.d dan 3.e), sel spermatozoa tampak lebih dominan, juga
ditemukan sel spermatogonia. Fase tersebut menggambarkan gonad ikan yang
sedang mencapai puncak kematangan dan akan segera memijah. Sedangkan
gambar 2. f memperlihatkan sel spermatozoa yang lebih sedikit dan tampak sel-sel
germinal lain yang sudah mulai terbentuk, menunjukkan ikan sudah melewati
masa pemijahan dan kembali pada siklus awal.
Menurut
Wodzicka-Tomaszewska
dkk
(1991),
sel
spermatogonia
merupakan sel yang paling awal yang terdiri dari dan terletak satu lapis dibawah
membran dasar, sedangkan turunan berikutnya secara cepat mendekati lumen. Sel
spermatosit primer terletak di sekitar sel spermatogonia, tetapi lebih dekat ke
lumen, setiap sel membelah secara meitotik menjadi dua sel yang lebih kecil.
Sedangkan sel spermatosit sekunder, membelah segera setelah pembentukannya,
sehingga jarang terlihat. Sel spermatid merupakan sel yang jauh lebih kecil, sangat
dekat dan berhubungan dengan sel sertoli, kebanyakan dari sel ini mempunyai inti
dan tidak menunjukkan gambaran mitotik, sel-sel ini mengalami perubahan
bentuk menjadi spermatozoa.
Yani (1994) dalam Tang dan Affandi (2002), menjelaskan gambaran
gonad jantan ikan bentulu, Barbichtys laevis dalam 5 fase, yaitu : 1). Pada ikan
muda, sel spermatogonia telah terlihat dengan jelas (pembesaran 200 x), tubulus
seminiferus jelas terlihat yang merupakan tempat spermatozoa dihasilkan, banyak
dijumpai pada jaringan ikat; 2). Tahap perkembangan gonad, gonad lebih
berkembang, jaringan ikat semakin sedikit, kantung tubulus seminiferus sudah
mulai di isi spermatosit primer; 3). Dewasa, spermatosit primer berkembang
13
menjadi spermatosit sekunder. Spermatosit sudah menyebar, namun masih
terbungkus oleh kista; 4). Fase matang, spermatosit sudah berkembang menjadi
spermatid dan spermatozoa. Kantung tubulus seminiferus sudah diisi oleh
spermatozoa; 5). Fase pemijahan, gonad didominasi oleh spermatosit tapi sudah
muncul lagi spermatogonium. Sebagian ruangan gonad terlihat banyak yang
kosong.
14
3.a 3. b 3. c
3. d
3. e
3. f
a. Sel spermatogonia b. Sel Spermatosit primer c. Sel Spermatosit sekunder
d. Sel Spermatid e. sel Spermatozoa
Gambar 3. Gambar testis secara histologis pada ikan mas ukuran kecil dan besar
15
Secara kuantitatif perkembangan testis ikan dapat dilihat dengan
membandingkan gambaran histologis testis secara mikroskopis dengan nilai GSI.
Pada gambar 3.a terlihat populasi sel spermatogonia yang lebih dominan hampir
di seluruh tubulus dengan bentuk bulat dan seragam, terlihat sebuah nukleus di
dalamnya. Menurut Chinabut et al., (1991), kebanyakan sel spermatogonia
mempunyai sebuah nukleus yang bentuknya tidak beraturan serta mempunyai
sebuah nukleolus. Proses akhir sel spermatogonia, akan tumbuh dan membelah
menjadi spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa,
dan bergerak kedalam mendekati lumen. Pada gambar 3.b, populasi sel
spermatogonia jumlahnya jauh lebih sedikit dan populasi sel lainnya sudah mulai
berkembang dan mengelompok dengan warna yang berbeda dan bentuk yang
spesifik. Populasi sel spermatosit primer sudah terlihat cukup banyak dengan
warna biru keunguan, terletak dekat dengan sel spermatogonia dan bentuknya
lebih kecil daripada sel spermatogonia. Sel spermatosit sekunder bentuknya lebih
kecil daripada sel spermatosit sekunder, sedangkan sel spermatid terlihat lebih
kecil daripada sel spermatosit sekunder dengan warna biru pekat, dan jumlahnya
lebih banyak daripada sel germinal lainnya. Gambar 3.c memperlihatkan jumlah
populasi dari sel spermatogonia yang lebih sedikit dan semakin berkurang, dan sel
germinal lainnya yang semakin bertambah. Pada gambar 3.d terlihat populasi sel
spermatozoa yang sangat banyak dengan bentuk yang sangat kecil dan berwarna
merah pekat hampir memenuhi seluruh ruang tubulus, dan populasi sel germinal
lain yang sudah sangat jarang. Populasi sel spermatozoa yang semakin bertambah
banyak dan menyebar, terlihat pada gambar 3.e. Sedangkan pada gambar 3.f
populasi dari sel spermatozoa jumlah populasinya menjadi menurun, terlihat
dengan adanya ruang-ruang kosong pada tubulusnya, sedangkan germinal lainnya
mulai muncul kembali.
Semakin meningkat nilai GSI dan akan mencapai batas maksimum
menunjukkan saat akan terjadi pemijahan (Effendi, 1997). Perkembangan testis ini
terlihat jelas pada gambar 3.d dan 3.e. Nilai GSI juga terlihat meningkat dengan
bertambahnya bobot tubuh dan bobot testis. Nilai terkecil terdapat pada ikan
berukuran kecil I yaitu 1.65 dan terbesar terdapat pada ikan berukuran besar II
yaitu 8.99. Hal ini sesuai yang digambarkan secara histologis (Gambar 3. a).
16
bahwa pada ikan kecil I memperlihatkan testis yang lebih muda, yaitu terlihat
dengan adanya populasi sel spermatogonia dalam jumlah yang lebih banyak.
Pada nilai GSI yang paling besar yaitu ikan besar II, terlihat adanya jumlah
populasi sel spermatozoa yang lebih banyak (Gambar 3.e), hal ini memperlihatkan
bahwa ikan tersebut sedang mencapai puncak pematangan dan akan mulai
memijah. Diantara kelompok ikan besar, ikan besar III nilai GSI-nya lebih kecil,
padahal bobot tubuh dan bobot testisnya lebih besar dari ikan besar I yang nilai
GSI-nya lebih besar (gambar 3.f). Dalam hal ini, nilai GSI yang lebih kecil ini
dikarenakan ikan besar III tersebut sudah melewati proses pemijahan sehingga
bobot tubuh dan bobot testisnya pun menjadi menurun. Secara histologis sel- sel
spermatozoa-nya terlihat lebih sedikit, kemudian terlihat pula sel-sel germinal lain
yang mulai terbentuk kembali.
17
V. KESIMPULAN
Berdasarkan gambaran histologis testis ikan mas Cyprinus carpio.L,
jumlah populasi sel spermatogonia yang paling banyak ditemukan adalah pada
ikan yang memiliki nilai GSI yang paling kecil dengan bobot ikan 7.88 g (ikan
yang lebih muda).
18
VI.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous . 2002. Transplantasi. http://www.republika.co.id
.2008.
Pengobatan
Regeneratif
Dengan
Sel
Induk.
http:www.ristek.go.id.
Arifin, P. 2004. Potensi Transplantasi Sel Induk. http//:www.kompas.com.
Chinabut, S. C. Limsuwan and P. Kitsawat. 1991. Histology Of The Walking
Catfish, Clarias batrachus. International Development Research
Centre, Canada.
Dewi, T. 2007. Demi Sepotong Sushi Tuna. http://www.tempointeraktif.com.
Djuwita, I. Boediono, A. Mohamad, K. 2000. Bahan Kuliah Embriologi.
FKH.IPB. Bogor.
Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama
Faried,
A.
2007.
Cancer,
Stem
cells,
And
Cancer
Stem
Cells.
http://www.ahmadfaried.com.
Nalbandov, AV. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia Dan Unggas.
Keman S, Penerjemah. Jakarta : UI Press.
Nurcahyo. 2007. Pencangkokkan. http://www.indonesiaindinesia.com.
Ogawa, T. Arechaga, J.M. Avarbock, M.R. Brinster, R.L. 1997. Transplantation
of Testis Germinal Cells In To Mouse Seminiferous Tubules. Int J
Dev Biol 41: 111-122.
19
Ownby, C. 1999. Spermatogenesis. http:///www.cvmarkstate.edu.
Pergiwa, S.G. 2003. Gambaran Morfologi Tahapan Spermatogenesis Pada
Kucing Lokal Felis catus. Skripsi. Bogor : FKH. IPB.
Prasetyaningtias, W.E. 2001. Studi Histokimia Lektin Pada Distribusi
Glikokonjugat Di Epitel Tubuli Seminiferi Testis Babi Rusa
Babyrousa babyrussa. Skripsi. Bogor : FKH. IPB.
Prasetyaningtias, W.E. 2006. Transplantasi Testis Muda Sebagai Upaya
Preservasi Gonad In Vivo. Laporan Penelitian Dosen Muda Institut
Pertanian Bogor. IPB.
Slomianka. 2006. Blue Histology - Male Reproduction System. School Of
Anatomy And Human Biology – The University Of Western
Australia. Australia.
Takashima, F and Hibiya, T. 1995. An Atlas Of Fish Histology : Normal and
Features. Second Edition. Tokyo. Kondasha Ltd.
Tang, M. U. Affandi, Ridwan. 2002. Biologi Reproduksi Ikan.
Wah.
2006.
Spermatogonia
ikan
Jantan
Bisa
Betina
Bisa.
http://www.kompas.co.id.
Wodzicka-Tomaszewska, Manika. Sutama, I.K. Putu, I.G. Chaniago, Tamrin.D.
1991. Reproduksi, Tingkah Laku, Dan Produksi Ternak Di
Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
20
LAMPIRAN
Lampiran 1.
Pembuatan Preparat Histologis dengan Pewarna Hematoksilin-Eosin (HE) :
a. Fiksasi
Ikan mas yang telah diambil testisnya dimasukan kedalam larutan fiksatif
(Bouin) selama 24 jam. Setelah fiksasi, beberapa bagian dari testis dipotong dan
dilabeli, kemudian dimasukkan kedalam basket untuk selanjutnya dimasukkan
kedalam larutan dehidrasi.
b. Dehidrasi
Dehidrasi dilakukan dengan memasukkan potongan testes yang telah difiksasi
kedalam alkohol 70 % sebagai stopping point selama jangka waktu yang tidak
ditentukan. Setelah itu potongan testes dipindahkan ke dalam alkohol 80 %, 90 %,
95 %, masing-masing selama 24 jam, sedangkan pada alkohol 100 % (absolut I,
II, III), lama pemaparan masing-masing I jam.
c. Clearing atau Penjernihan
Clearing atau penjernihan dilakukan dengan memindahkan jaringan dari
alkohol absolut III ke larutan penjernih (Xylol). Pemaparan dilakukan dalam
xylol I (30 menit), xylol II (30 menit), dan xylol III (1 jam).
d. Infiltrasi dan Embedding
Infiltrasi dilakukan dalam parafin cair yang ditempatkan dalam inkubator
bersuhu 60-70
o
C dan dilakukan secara bertahap (3 tahap) dengan lama
pemaparan masing-masing selama 1 jam. Embedding dilakukan dengan
memasukkan potongan jaringan ke dalam cetakan embedding yang sebelumnya
telah diisi parafin cair hingga cembung di atas plate panas pada embedding tissue
console. Cetakan embedding selanjutnya dipindahkan ke plate dingin, dan setelah
parafin setengah membeku, label jaringan dtempelkan dan diapungkan di atas air
dingin. Setelah parafin beku sempurna, hasil embedding dapat dilepas dari
cetakannya dan diris-iris berbentuk segi empat, lalu ditempelkan pada blok kayu.
e. Pemotongan Blok Parafin
Proses pemotongan diawali dengan memasang blok jaringan pada mikrotom,
selanjutnya dilakukan pemotongan dengan ukuran 5 µm. Proses pemotongan
dilakukan berkali-kali hingga diperoleh potongan yang sempurna. Hasil potongan
21
diambil dengan cara melekatkan pada kertas basah dan ditempatkan diatas
permukaan air dingin selama beberapa saat, pindahkan ke atas permukaan air
hangat dan selanjutnya ditempelkan pada gelas objek dan diamati di bawah
mikroskop. Hasil potongan yang baik dilabeli pada bagian yang terdapat sediaan,
dikeringkan dan disimpan di dalam inkubator.
f. Deparafinisasi dan Rehidrasi
Proses deparafinisasi dan rehidrasi pada dasarnya membalik rangkaian proses
sebelumnya dengan tujuan sediaan bersih dari parafin dan terisi air kembali
sehingga agen pewarna dapat bekerja untuk mewarnai sel-sel komponen
ekstraseluler. Sediaan dimasukan kedalam xylol sebanyak 3 kali untuk melarutkan
parafin. Rehidrasi dilakukan bertahap dengan cara memasukkan sediaan ke dalam
larutan alkohol bertingkat dari alkohol absolut tiga kali, 95 %, 90 % 80 % dan 70
% dengan lama pada masing-masing tahap 3-5 menit, setelah itu dilakukan
rehidrasi dalam air kran selama 10 menit dan aquades 5 menit.
g. Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE)
Pewarnaan diawali dengan mencuci preparat pada air mengalir selama 10
menit dan destilated water selama 5 menit. Preparat direndam dalam hematoksilin
selama 5-10 menit, kemudian direndam dalam air mengalir selama 15-30 menit,
dan DW selama 5 menit. Setiap tahapan harus diamati di bawah mikroskop untuk
mengetahui apakah pewarnaan sudah cukup baik atau belum. Tanda bahwa
preparat telah terwarnai dengan baik bila inti berwarna biru. Bila sudah member
hasil yang dikehendaki dilanjutkan dengan pewarnaan dengan eosin ± 5 menit,
kemudian dilakukan dehidrasi dimulai dengan alkohol konsentrasi mulai 70 %, 80
%, 90 %, 95 % dan alkohol absolut I, II, dan III. Untuk clearing dilakukan dengan
xylol I, II, dan III.
22
Download